Modal sosial, pembangunan, pariwisata budaya

advertisement
i
Laporan Studi Pustaka (KPM 403)
DAMPAK AKTIVITAS PEMBANGUNAN PARIWISATA BUDAYA
TERHADAP MODAL SOSIAL KOMUNITAS
ROHMAH KHAYATI
DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN
MASYARAKAT
FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2016
ii
PERTANYAAN MENGENAI PROPOSAL PENELITIAN DAN SUMBER
INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA
Dengan ini saya menyatakan bahwa Laporan Studi Pustaka yang berjudul
“Dampak Aktivitas Pembangunan Pariwisata Budaya Terhadap Modal
Sosial Komunitas” adalah benar hasil karya saya sendiri dengan arahan dari
komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan
tinggi dan lembaga mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari
pustaka yang diterbitkan manapun tidak diterbitkan dari penulis lain telah
disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir
skripsi ini.
Daftar pustaka di bagian akhir Laporan Studi Pustaka. Demikian
pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan saya bersedia
mempertanggungjawabkan pernyataan ini.
Bogor, Desember 2015
Rohmah Khayati
NIM. I34120033
iii
ABSTRAK
ROHMAH KHAYATI, Dampak Aktivitas Pembangunan Pariwisata Budaya
Tehadap Modal Sosial Komunitas (Kasus Setu Babakan, Serengseng Sawah,
Jagakarsa, Jakarta Selatan). Dibawah bimbingan SAHARUDDIN
Sektor pariwisata di Indonesia merupakan salah satu sektor yang menjadi andalan
dan prioritas pengembangan perekonomian. Potensi kekayaan dan keindahan alam
yang ada di Indonesia merupakan daya tarik suatu wilayah untuk meningkatkan
sumber pendapatan pemerintah melalui retribusi. salah satu fungsi dari pariwisata
budaya adalah menjaga identitas, nilai serta norma bangsa. Pengelolaan yang
baik dalam pariwisata budaya dapat mengantisipasi dampak negative globalisasi
yakni masuknya budaya asing yang bertolak belakang dengan budaya lokal,
perilaku konsumtif dan kapasitas yang dibawa warga Negara asing yang mulai
ditiru oleh masyarakat lokal sehingga tergeruslah kearifan lokal dan menurunnya
modal sosial (Ningrum 2014).
Pengaruh modal sosial pada komunitas atau masyarakat baik modal sosial
struktural maupun kognitif berpengaruh terhadap pengelolaan pariwisata budaya.
Semakin kuat modal sosial yang dimiliki maka akan mendorong pengelolaan yang
lebih baik.
Kata kunci : Modal sosial, pembangunan, pariwisata budaya
ABSTRACT
ROHMAH KHAYATI Impact of Development Activities of Cultural Tourism
against of social capital community (cases Setu Babakan, Serengseng Sawah
Jagakarsam South Jakarta) . Under direction of SAHARUDIN
The tourism sector in Indonesia is one sector which is the mainstay and economic
development priorities .Potential of wealth and natural beauty that exist in
Indonesia is the attractiveness of an area to improve the source of government
revenue through levies. One of functions of cultural tourism is keeping the
identity, values, and norms of the nation. Good governance in cultural tourism
can anticipate the negative impacts of globalization which is the entry of foreign
culture that is contrary to the local culture, consumer behavior and capacities
brought foreign nationals are being copied by local communities so scraped local
wisdom and declining social capital (Ningrum 2014).
The influence of social capital in a community or society, both structural and
cognitive social capital influence on the management of cultural tourism. The
stronger the social capital possessed it will encourage better management.
Keywords : Social Capital, Development, Cultural Tourism
iv
DAMPAK AKTIVITAS PEMBANGUNAN PARIWISATA BUDAYA
TERHADAP MODAL SOSIAL KOMUNITAS
Oleh
ROHMAH KHAYATI
I34120033
Laporan Studi Pustaka
Sebagai syarat kelulusan KPM 403
Pada
Mayor Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat
Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat
Fakultas Ekologi Manusia
Institut Pertanian Bogor
DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT
FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2015
v
LEMBAR PENGESAHAN
Dengan ini menyatakan bahwa Studi Pustaka yang disusun oleh:
Nama Mahasiswa : Rohmah Khayati
Nomor Pokok
: I34120033
Judul
: Dampak Aktivitas Pembangunan Pariwisata Budaya
Terhadap Modal Sosial Komunitas
dapat diterima sebagai syarat kelulusan Mata Kuliah Studi Pustaka (KPM 403)
pada Mayor Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Departemen
Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia,
Institut Pertanian Bogor.
Disetujui oleh
Dr.Saharuddin
Dosen Pembimbing
Diketahui oleh
Dr. Ir. Siti Amanah M.Sc
Ketua Departemen
Tanggal Pengesahan: _______________
vi
PRAKATA
Puji dan syukur penulis ucapkan ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan Studi
Pustaka berjudul Dampak Aktivitas Pembangunan Pariwisata Budaya Terhadap
Modal Sosial Komunitas ini dengan baik. Laporan Studi Pustaka ini ditujukan
untuk memenuhi syarat kelulusan Mata Kuliah Studi Pustaka (KPM 403) pada
Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi
Manusia, Institut Pertanian Bogor.
Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Dr Saharuddin sebagai
pembimbing yang telah memberikan saran dan masukan selama proses penulisan
hingga penyelesaian laporan Studi Pustaka ini. Penulis juga menyampaikan
hormat dan terimakasih kepada Ibu Sulatin dan Bapak Dwi Hartono, orang tua
tersayang, serta Dewi Suhandary, adik tercinta sebagai sumber motivasi utama
yang telah membantu serta mendukung segala pilihan penulis. Tidak lupa
terimakasih juga penulis sampaikan kepada teman-teman Sains Komunikasi dan
Pengembangan Masyarakat angkatan 49, teman-teman di UKM Lises Gentra
Kaheman , serta teruntuk Haerani Aslesmana, Yulinda Devianty, Paramita Dwi
Febriani, Nuraini, Fithriyah Sholihah yang selalu mengisi hari-hari dalam
menempuh pendidikan di KPM yang telah memberi semangat dan dukungan
dalam penyusunan laporan Studi Pustaka ini.
Semoga laporan Studi Pustaka ini bermanfaat bagi semua pihak.
Bogor, Desember 2015
Rohmah Khayati
NIM. I34120033
vii
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Jakarta pada tanggal 10 Maret 1994 dari Bapak Dwi
Hartono dan Ibu Sulatin.Penulis merupakan putrid pertama dari dua bersaudara.
Penulis menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar (SD), Sekolah
Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Atas (SMA) di Depok, yaitu
SD Negeri Gandul 01 lulus tahun 2006, SMP Negeri 13 Depok lulus tahun 2009,
dan SMA Negeri 6 Depok lulus tahun 2012. Pada tahun 2012 penulis di terima
sebagai salah satu mahasiswa di Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui SNMPTN
(Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) tertulis Departement Sains
Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Mssyarakat,
Institut Pertanian Bogor. Selain aktif dalam perkuliahan penulis juga aktif sebagai
anggota UKM Lises Gentra Kaheman 2013-2014, kemudian menjadi anggota
Divisi Kominfo UKM Lises Gentra Kaheman 2015-2016. Serta sebagai anggota
Redaksi Online di Majalah Komunitas FEMA Februari-Desember 2014.
viii
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI..................................................................................................................... viii
DAFTAR TABEL...............................................................................................................ix
DAFTAR GAMBAR ..........................................................................................................ix
PENDAHULUAN .............................................................................................................. 1
Latar Belakang ................................................................................................................ 1
Tujuan tulisan.................................................................................................................. 3
Metode Penulisan ............................................................................................................ 3
RINGKASAN DAN ANALISIS PUSTAKA ..................................................................... 4
Penguatan Modal Sosial Untuk Pengembangan Nafkah Berkelanjutan dan Berkeadilan
........................................................................................................................................ 4
Peran Modal Sosial (Social Capital) Dalam Perdagangan Hasil Pertanian .................... 6
Analisis Peran Modal Sosial Terhadap Pemberdayaan Masyarakat dalam Melestarikan
Kebudayaan dan Pengembangan Sektor Pariwisata ....................................................... 8
Peran Komunitas Kreatif dalam Pengembangan Pariwisata Budaya di Situs
Megalitikum Gunung Padang ....................................................................................... 10
Interaksi Sosial Masyarakat Dalam Pengembangan Wisata Alam Di Kawasan Gunung
Salak Endah .................................................................................................................. 12
Membangun Kota Pariwisata Berbasis Komunitas: Suatu Kajian Teoritis................... 14
Dampak Sosial Budaya Interaksi Wisatawan dengan Masyarakat Lokal di Kawasan
Sosrowijayan ................................................................................................................. 16
Modal Sosial Dalam Pengelolaan Hutan ...................................................................... 18
Modal Sosial Masyarakat dalam Mengembangkan Ekowisata Bahari di Pulau Pramuka
DKI Jakarta ................................................................................................................... 20
Strategi Pengelolaan Oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata kabupaten Kepulauan
Sitaro ............................................................................................................................. 21
Kajian Aspek Sosiologi Wisatawan di Objek Agrowisata (Kasus di Kampung Wisata
Cinangneng, Kabupaten Bogor Provinsi Jawa Barat .................................................... 23
RANGKUMAN DAN PEMBAHASAN .......................................................................... 25
Modal Sosial ................................................................................................................. 25
Konsep Modal Sosial ................................................................................................ 25
Dimensi dan Tipologi Modal Sosial ......................................................................... 27
Unsur-unsur Pembentuk Modal Sosial ..................................................................... 29
ix
Pariwisata ...................................................................................................................... 33
Konsep Pariwisata ..................................................................................................... 33
Pengembangan Pariwisata Budaya ........................................................................... 34
Pengelolaan Wisata Budaya .......................................................................................... 35
Strategi Pengelolaan Pariwisata ................................................................................ 35
SIMPULAN ...................................................................................................................... 40
Hasil Rangkuman dan Pembahasan .............................................................................. 40
Usulan Kerangka Analisis Baru .................................................................................... 45
Perumusan Masalah dan Pernyataan Penelitian Skripsi................................................ 46
DAFTAR PUTAKA ......................................................................................................... 47
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Data Potensi Objek dan Daya Tarik Wisata Di Provinsi Jawa Barat
Tahun 2012…………………………………………………………………….1
Tabel 2. Dimensi social capital dalam tipologi bounding dan bridging……...29
Tabel 3. Kategori Modal Sosial………………………………………………..34
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Kerangka Pemikiran…………………………………………………4
x
1
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Dalam suatu pembangunan atau pemberdayaan masyarakat maupun
komunitas di suatu organisasi ataupun non-organisasi, dibutuhkan suatu modal
sosial untuk keberlanjutan suatu kegiatan atau program yang sedang dilaksanakan.
Modal sosial merupakan modal sumberdaya berupa jaringan kerja yang memiliki
pengetahuan tentang nilai, norma, struktur sosial atau kelembagaan yang memiliki
semangat kerja sama, kejujuran atau kepercayaan, berbuat kebaikan sebagai
pengetahuan sikap bertindak atau berperilaku yang akan memberikan implikasi
positif kepada produktivitas (output) dan hasil (outcome).
Sektor pariwisata di Indonesia merupakan salah satu sektor yang menjadi
andalan dan prioritas pengembangan perekonomian. Potensi kekayaan dan
keindahan alam yang ada di Indonesia merupakan daya tarik suatu wilayah untuk
meningkatkan sumber pendapatan pemerintah melalui retribusi. Dengan
diberlakukannya UU No.32 Tahun 2004, UU No. 33 Tahun 2004 yang
memberikan kewenangan lebih luas pada Pemerintah Daerah untuk mengelola
wilayahnya, membawa implikasi semakin besarnya tanggung jawab dan tuntutan
untuk menggali dan mengembangkan potesi sumber daya yang dimiliki didaerah
dalam rangka menopang perjalanan pembangunan daerah.
Pengembangan dan pembangunan di sektor pariwisata, merupakan salah
satu bentuk dari pemenuhan kebutuhan masyarakat dalam bidang ekonomi, sosial,
politik dan kepuasan batiniah karena semua manusia memiliki kesempatan untuk
mencari hiburan. Dengan pemenuhan kebutuhan tersebut banyak keutnungankeuntungan yang didapatkan dari pihak-pihak pemilik, pengelola dan pihak
negara seperti keuntungan finansial atau membuat suatu daerah tersebut menjadi
lebih dikenal. Namun, jika keuntungan tersebut tidak dipersiapkan dan dikelola
dengan baik, justru akan menimbulkan permasalahan-permasalahan yang
merugikan khususnya kepada masyarakat. Untuk menjamin supaya suatu daerah
yang memiliki sektor pariwisata dapat berkembang dengan baik dan berkelanjutan
seta mendatangkan manfaat bagi manusia meminimalisasi dampak negatif atau
konflik yang mungkin akan timbul maka pengembangan masyarakat pariwisata
perlu didahului dengan kajian mendalam, yakni dengan melakukan penelitian
terhadap semua daya pendukungnya (Wardiyanta 2006:47).
Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya
dalam rangka bermasyarakat yang dijadikan miliki manusia dengan belajar.
Kebudayaan memiliki tiga wujud (i) ide, gagasan, nilai atau norma; (ii) aktivitas
atau pola tindakan dalam masyarakat; (iii) benda atau hasil karya.
(Koentjaraningrat (1979: 186-187) dalam Oktinaldi (2012:21)
2
Pariwisata budaya merupakan salah satu fungsi dalam menjaga identitas,
nilai serta norma bangsa. Pengelolaan yang baik dalam pariwisata busaya dapat
mengantisipasi dampak negative globalisasi yakni masuknya budaya asing yang
bertolak belakang dengan budaya lokal, perilaku konsumtif dan kapasitas yang
dibawa warga Negara asing yang mulai ditiru oleh masyarakat lokal sehingga
tergeruslah kearifan lokal dan menurunnya modal sosial (Ningrum 2014).
Dalam aktivitas pembangunan pariwisata budaya terdapat beberapa
strategi yang dibutuhkan seperti aspek regulasi, aspek manajemen pembangunan
sarana dan prasarana ODTW yang menunjang dan mencakup pengembangan
infrastruktur kawasan wilayah pariwisata, aspek manajemen kelembagaan
meliputi pemanfaatan dan peningkatan kapasitas institusi, mekanisme yang
mengatur berbagai kepentingan secara operasional serta koordinasi agar memiliki
efisiensi yang tinggi, aspek SDM, aspek manajemen permasaran dan promosi,
aspek manajemen pengelolaan yang meliputi aspek fisik lingkungan dan sosial
ekonomi dari ODTW dengan profesionalisme dan pengelolaan ODTW yang siap
mendukung kegiatan usaha pariwisata dab mampu memanfaatkan potensi ODTW
secara lestari.
Kemampuan pembangunan pariwisata dalam pemenuhan kebutuhan,
berbanding lurus dengan perkembangan global yang demakin pesat, dampak yang
terjadi pun tidak sedikit. Salah satu dampak yang dirasakan adalah klaim budaya
Nusantara. Berawal dari akhir 2007 oleh Negara Malaysia mengklaim Reog
Ponorogo, pada tahun 2008 klaim lagu Rasa Sayange dari Maluku dan pada
Januari 2009 terjadi klaim Batik. Dampak negative lainnya adalah masuknya
budaya asing yang bertolak belakan dengan budaya lokal berpengaruh dengan
perilaku konsmtif dan kapitalis yang dibawa warga negara asing yang mulai ditiru
oleh masyarakat lokal sehingga tergeruslah kearifan lokal dan menurunnya modal
sosial.
Mawardi (2007) mengemukakan bahwa dalam pelaksanaan pemberdayaan
masyarakatnya (ekonominya) di banyak negara termasuk di Indonesia terlalu
menekankan pentingnya peranan modal alam (natural capital) dan modal
ekonomi (economi capital) modern seperti barang-barang modal buatan manusia,
teknologi dan manajemen dan sering mengabaikan pentingnya modal sosial
seperti kelembagaan lokal, kearifan lokal, norma-norma dan kebiasaan lokal.
“Komunitas dalam masyarakat tampak semakin tidak terkelola dan
rentan. Sedikit sekali tanda-tanda terbangunnya modal sosial dan
kepercayaan sosial. Situasi ini menuntut adanya upaya-upaya inovatif
untuk pemecahan masalah. Mendorong partisipasi publik dalam
pengambilan keputusan adala bentuk inovasi yang sangat esensia agar
bangsa Indonesia dapat bertahan mengahadapu krisis sekaligus
3
membangun kapasitas untuk menghadapi globalisasi dan mencegah
dampak negatif desentralisasi. Melalui pendekatan partispatif dan inovatif,
akan dihasilkan solusi yang akan mendorong capaian lebih dari biasanya.
Tanpa itu, sulit dicapai proses percepatan untuk pemecahan masalah.”
(Sumarto 2009)
Masyarakat yang memiliki sikap modal sosial yang tinggi mampu
menyelesaikan permasalahan-permasalahan dengan lebih mudah. Saling percaya,
toleransi antara beberapa pihak dan kerjasama mereka dapat membangun jaringan
baik jaringan internal kelompok, maupun jaringan diluar masyarakat lain.
Pengembangan pariwisata dengan modal sosial dianggap mampu mengembangan
Sumber Daya Manusia (SDM) dan Sumber Daya Alam (SDA) serta
meningkatkan ekonomi dan lapangan pekerjaan.
Tujuan tulisan
1. Mengidentifikasi konsep-konsep modal sosial komunitas budaya
2. Mengidentifikasi factor-faktor yang mempengaruhi aktivitas pariwisata
budaya
Metode Penulisan
Metode yang digunakan dalam penulisan studi pustaka ini adalah metode
analisis data sekunder atau metode studi literarature yakni dimulai dengan
meringkas dan menganalisis literature. Bahan pustaka yang digunakan dalam
penulisan studi pustaka ini berasala dari hasil penelitian, yakni berupa disertasi,
laporan penelitian, jurnal ilmiah dan buku teks dan sebagainya yang didapatkan
melelui internet maupun pustaka cetak dengan tema yang berkaitan dengan studi
pustaka ini.Bahan pustaka yang didapatkan akan akan dibuat suatu rangkuman
dan pembahasan, yang disimpulkan menjadi sebuah konsep-konsep yang menjadi
fokus pembahasan dalam laporan studi pustaka ini menjadi suatu kerangka
pemikiran serta pertanyaan penelitian yang akan digunakan sebagai acuan dalam
penelitian selanjutnya. Analisis pustaka dilakukan dengan cara membuat
riangkasan pusataka pada masing-masing pustaka serta menganalisis dan
mengkritisi seluruh aspek termasuk berkaitan antara variabel dengan hasil
penelitian pada jurnal. Tulisan yang disusun menggunakan beberapa literatur,
menyintesiskan hasil dari konsep-konsep yang dibahas, yakni modal sosial
komunitas, faktor-faktor yang mempengaruhi, bentuk-bentuk modal sosial dan
pengukuran komunitas. Selanjutnya menyimpulkan konsep-konsep yang menjadi
fokus pembahasan laporan studi pustaka ini dapat memenuhi keseluruhan
substansi yang diperlukan.
4
RINGKASAN DAN ANALISIS PUSTAKA
Judul
Tahun
Jenis Pustaka
Bentuk Pustaka
Nama Penulis
Judul Buku
Volume (Edisi), Hal
Alamat URL / doi
Tanggal Unduh
: Penguatan Modal Sosial Untuk Pengembangan
Nafkah Berkelanjutan dan Berkeadilan
: 2012
: Prosiding
: Online
: Slamet Widodo
: Strategi Nafkah keberlanjutan Bagi Rumah
Tangga Miskin di Daerah Pesisir
: http://agribisnis.trunojoyo.ac.id/wpcontent/uploads/2015/05/Penguatan-Modal-SosialUntuk-Pengembangan-Nafkah-Berkelanjutan-danBerkeadilan.pdf
: 17 September 2015
Ringkasan Pustaka
Tujuan dari penelitian adalah menganalisis modal sosial yang ada di
masyarakat, menganalisis strategi nafkah yang dijalankan oleh masyarakat dan
penyusunan model penguatan modal sosial yang ada di masyarakat yang
diarahkan pada pembentukan nafkah keberlanjutan. Instrument yang digunakan
untuk menganalisis modal sosial adalah Social Capital Assessment Tool
(SOCAT), menganalisis stategi nafkah menggunakan instrument The Livelihood
Assessment Tool-kit (LAT).
Fluktuasi musim, akses terhadap modal, konflik sosial, bencana alam dan
kebijakan pemerintah merupakan faktor kerentanan yang selama ini dihadapi oleh
masyarakat yang berada di daerah pesisir.
Dengan menggungkan metode SOCAT yang merupakan salah satu fitur
penting informasi rinci tentang modal sosial struktural dan kognitif yang
dikumpulkan pada tingkat rumah tangga,yang sangat penting untuk
menghubungkan informasi modal sosial dengan kesejahteraan kemiskinan dan
rumah tangga.
Dari hasil penelitian menunjukan bahwa pada masyarakat perdesaan,
pelapisan sosial seringkali muncul berdasarkan kepemilikkan aset produksi.
Pelapisan sosial ini terlihat antara nelayan tradisional dan nelayan modern,
sehingga terjadilah kesenjangan antara nelayan tersebut. Namun jika dilihat dari
pemanfaatan modal sosial antar nelayan tradisional sangat kuat. Strategi sosial
dilakukan dengan jalan memanfaatkan ikatan-ikatan sosial baik berupa lembaga
kesejahteraan lokal, hubungan produksi hingga jejaring sosial berbasis
5
kekerabatan atau pertemanan. Lembaga kesejahteraan lokal yang masih bertahan
di Desa Karang Agung ini adalah kegiatan dalam sambatan dan anjeng.
Rasa percaya antar warga (trust) sangat tinggi, menyebabkan pola hutang
–piutang antar rumah tangga dapat berjalan dengan baik. Hutang menjadi salah
satu bentuk strategi nafkah bagi rumah tangga miskin yang memanfaatkan jejaring
sosial yang ada. Pola relasi yang egaliter menyebabkan rumah tangga miskin
dapat dengan mudah mengakses berbagai bentuk kelembagaaan lokal.
Untuk strategi nafkah di desa Karang Agung yang dijalankan antara lain
dengan pola nafkah ganda, penggunaan tenaga kerja dari dalam rumah tangga dan
melakukan migrasi. Modal sosial masih terbatas digunakan untuk pemenuhan
kebutuhan jangka pendek (konsumtif), belum mengarah pada pemenuhan
kebutuhan jangka panjang (produktif). Modal sosial masih dalam tahap bounding
(pengikat) , belum sebagai bridging (jembatan) yang menghubungkan potensi
warga. Strategi penguatan modal sosial di Karang Agung dapat dilakukan dengan
memperkuat kapasitas mengembangkan jejaring kerjasama antar kelompok secara
internal maupun eksternal.
Analisis Pustaka :
Kerangka Penelitian
Penguatan Modal Sosial
1. Kerja sama
2. Perluasan jaringan kerja
3. Peningkatan daya saing
kolektif yang berkelanjutan
Keterangan :
Strategi Nafkah
Berkelanjutan
1. Akses terhadap modal
2. Kegiatan produktif untuk
meningkatkan pendapatan
yang berkelanjutan dan
berkeadilan
: Mempengaruhi
Kepercayaan para nelayan sangat bergantung dengan alam, pada saat
musim ombak besar, sangat tidak memungkinkan bagi nelayang kecil untuk pergi
melaut. Inilah yang menyebabkan jumlah ikan yang dapat ditangkap mengalami
penurunan.
Untuk Akses yang digunakan, nelayan tradisional masih
menggunakan peralatan yang sederhana, berbeda dengan nelayan modern yang
memiliki alat yang canggih, inilah yang menyebabkan terjadinya pelapisan sosial
antar nelayan. Namun, pada komunitas nelayan tradisional tidak muncul adanya
pelapisan sosial dan ini yang menyebabkan penguatan modal sosial dalam rasa
kepercayaan, dan jejaring sosial sangat tinggi dilingkup komunitas ini, karena
mereka memiliki satu rasa yaitu sama-sama menempati lapisan paling bawah
dalam stratifikasi masyarakat.
Namun dalam kasus penelitian ini, penguatan modal sosial di desa Karang
Agung hanya dalam permasalahan hutang-piutang dan dalam kegiatan hajatan,
6
atau modal sosial yang tergolong konsumtif dan berlaku jangka pendek. Rasa
percaya dan jejaring sosial antar komunitas nelayan tradisonal, mungkin dapat
dimanfaatkan pada kelompok sosial dilingkungan tersebut untuk penguatan
dalam sektor perekonomian, seperti diberikan suatu pelatihan kerajinan untuk ibuibu pengajian di desa tesebut.
Penguatan modal sosial dan strategi nafkah harus dikembangkan. Ikatan
jejaring sosial diluar komunitas nelayan tradisional, agar ada kerjasama yang kuat
dalam peningkatan produksi dan pemasaran. Tingkat kepercayaan antar warga
yang tinggi sangat bermanfaat untuk memulai kegiatan simpan pinjam dan
merintis usaha melalui modal bersama. Peran pemerintah diharapkan dapat
memberikan fasilitas kredit melalui lembaga koperasi.
Tahun
: Peran Modal Sosial (Social Capital) Dalam
Perdagangan Hasil Pertanian
: 2008
Jenis Pustaka
: Jurnal
Judul
Bentuk Pustaka
: Online
Nama Penulis
: Syahyuti
Kota dan Nama Penerbit : Bogor, Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan
Kebijakan Pertanian
Volume (Edisi), Hal
: http://pse.litbang.pertanian.go.id/ind/pdffiles/
FAE26-1c.pdf, Volume 26 No. 1
Alamat URL/ doi
Tanggal Unduh
: 29 September 2015
Ringkasan Pustaka
Tulisan ini merupakan kajian sistem sosial perdagangan hasil pertanian,
sebagai upaya memahami kondisi yang melatarbelakangi sistem perdagangan
yang berjalan. Modal sosial memiliki dampak yang signifikan terhadap prosesproses pembangunan. Pada kenyataannya jaringan sosial, sebagai bagian dari
modal sosial belum mampu menciptakan modal fisik dan modal finansial yang
juga dibutuhkan. Agar modal sosial tumbuh baik dibutuhkan adanya “nilai saling
berbagi” serta pengorganisasian peran yang diekpresikan dalam hubungan
personal, kepercayaan dan common sense tentang taunggung jawab bersama;
sehingg masyarakat menjadi lebih dari sekedar kumpulan individu belaka.
Ada dua pendapat tentang dimana posisi modal sosial. Menurut pendapat
pertama, modal sosial melekat pada jaringan hubungan sosial. Hal ini terlihat dari
kepemilikkan informasi, rasa percaya, saling memahami, kesamaan nilai dan
saling mendukung. Sementara pendapat lain meyakini bahwa modal sosial dapat
dilihat sebagai karakteristik yang melekat pada individu.
7
Dalam penelitian yang dilakukan oleh penulis disini, melihat bagaiman
peran modal sosial dalam sistem perdagangan hasil pertanian. Faktor kunci
keberhasilan berdagang menurut pedagang adalah reputasi dan relasi, yang
merupakan komponen pokok modal sosial. Reputasi terbangun karena
kepercayaan yang diberikan pihak lain kepada kita, sedangkan relasi merupakan
wadah dimana interaksi dapat dijalankan.
Peran modal sosial yang dijalankan oleh pedagang tersebut dilihat dari
peminjaman kredit antar pedagang, khususnya pedagang kecil kepada pedagang
besar, kemudian pada sistem kontrak jual beli antar kedua belah pihak, jika terjadi
suatu perselisihan, solusi yang digunakan adalah melalui negosiasi karena pada
prinsipnya semua pedagan ingin melanjutkan hubungannya. Hubungan pedagang
dan pemasok dangat penting dalam sistem perdagangan ini karena dapat
menghindarkan pedagang dari kerugian karena kualitas bahan yang buruk.
Modal sosial yang tumbuh dalam sistem perdagangan, memang sangat
berpengaruh dalam kinerja. Modal sosial juga mampu mengurangi dampak
negative seperti kerugian, kualitas barang yang buruk dan dapat mereduksi biaya
transaksi dan dapat juga membantu jika menghadapi kesulitan keuangan. Untuk
mengembangkan modal sosial kata kuncinya adalah “waktu”.
Analisis Pustaka
Dari tujuan yang digunakan oleh penulis, hasil yang diperoleh terlihat
bagaimana perilaku dalam berdagang dipengaruhi oleh relasi yang dibangun
antara pedagang dengan pihak lain yang mendukung kegiatan perdagangan
tersebut. Dilihat dari hubungan atau jaringan pada pelaku transportasi, pemasok
bahan atau barang dan pedagang lainnya.
Batasan dan variable-variabel modal sosial dan penelitian ini, penulis
menggunakan konsep dari World Bank, Putnam, Coleman, Grootaert, Subejo
yang disimpulkan modal sosial melekat pada jaringan hubungan sosial, terlihat
dari kepemilikkan informasi, rasa percaya, saling memahami, kesamaan nilai dan
saling mendukung, kemudian penulis juga menggunakan konsep didala
kelembagaan perdagangan menurut Fafchamps dan Minten (1999) mengukur
modal sosial yang dimiliki seorang pedagan atas empat hal yaitu (a) jumlah
hubungan dalam sistem perdagangan, (b) jumlah pedagang yang diketahui, (c)
jumlah orang yang dapat membantu financial dan (d) jumlah pedagang pemasok
dan penerimaan yang dikenal secara mendalam.
Dari konsep yang dipilih oleh penulis dapat dilihat hasilnya (a) jumlah
hubungan sistem pedagangan, pedagang mengambil keuntungan tidak secara
langsung didapatkan mereka melibatkan para uruh yang membantu pedagang,
pelaku transportasi, penyedia jasa dalam penimbangan, bongkar muatan dan lain-
8
lain. (b) jumlah pedagang yang diketahui, dalam satu jaringan dijumpai begitu
banyaknya pedagang yang terlibat, mulai pedagang pengumpul tingkat desa,
pedagang pengumpul kecamatan, kemudian ke pedagang penumpul yang lebih
tinggi lagi sampai akhirnya pada pedagang antar daerah, antar pulau atau
eksportir. (c) jumlah orang yang dapat membantu secara financial, pedagan kecil
jika mengalami suatu kesulitan mereka akan dibantu oleh keluarga dan orang lain,
namun terkadang mereka lebih mngandalkan kemampuan yang dimiliki, berbeda
dengan pedagang besar yang memiliki pengaruh. Atau dengan cara lain mereka
berusaha dengan menggunakan sumber kredit, disinilah modal sosial memainkan
perannya, sistem kredit dibrikan hanya kepada orang yang telah memiliki
hubungan yang cukup lama dalam bekerja sama. (d) jumlah pedagang pemasok
dan penerimaan yang dikenal secara mendalam, guna dari konsep ini sangat
berpengaruh dalam mendapatkan bahan atau barang yang akan diperoleh
pedagang. Pedagang akan mempercayai pemasok yang telah dikenalnya, karena
untuk menghindarkan pedagang dari kerugian karena buruknya kualitas barang.
Dari kesimpulan yang dibuat oleh penulis, modal sosial terbukti tumbuh
dan terakumulas menurut waktu, dalam penelitiannya belum ditemukan hubungan
modal sosial dengan waktu yang disebutkan didalam kesimpulan. Mungkin
sebaiknya dibuat jangka waktu dalam menumbuhkan hubungan antar pihak.
Judul
Tahun
Jenis Pustaka
Bentuk Pustaka
Nama Penulis
Kota dan Nama Penerbit
Volume (Edisi), Hal
Alamat URL/ doi
Tanggal Unduh
: Analisis Peran Modal Sosial Terhadap
Pemberdayaan Masyarakat dalam Melestarikan
Kebudayaan dan Pengembangan Sektor
Pariwisata
: 2014
:
:
:
:
:
Jurnal
Online
Indriani Rahma Ningrum
Malang
http://jimfeb.ub.ac.id/index.php/jimfeb/article/
view/1360/1255
: 3 Oktober 2015
Ringkasan Pustaka
Penulis melakukan penelitian ini adalah untuk melihat masyarakat dan
pemerintah dalam upaya pelestarian budaya yang ada di Ubud di era globalisasi
ini. Kajian yang digunakan pada penelitian ini adalah (1) pemberdayaan
masyarakat meningkatkan kesejahteraan
masyarakat, dimana konsep
pemberdayaan disini, masyarakat sebagai subjek dan pelaku utama. Pembangunan
dalam pendekataan bottom-up bertujuan menumbuhkan partisipasi masyarakat.
Dari implementasi atau tujuan pemberdayaan meningkatkan juga kesejahteraan
9
masyarakat baik dalam pemenuhan jasmaniah, rohaniah dan sosial. (2) peran
modal sosial dan kehidupan bermasyarak, modal sosial ini dibentuk karena
adanya relasi antar indvidu yang memiliki tujuan yang sama, (3) Pelestarian
budaya sebagai penunjang sektor pariwisata.
Adanya aturan yang menjadi pedoman kehidupan masyarakat atau sebagai
control desa Padang Tegal yang disebut awig-awig, fungsinya adalah untuk
menyakngkal dampak buruk dari banyaknya budaya luar yang berlalu lalang.
Adanya dampak negative modal sosial pun terjadi di masyarkat desa Padang
Tega, yaitu adanya batasan akses terhadap pihak luar desa yang tercantum dalam
awig-awig. Untuk meminimalkan dampak negative tersebut, masyarakat
menanam kepercayaan dengan cara menumbuhkan kebudayaan gotong royong.
Kegiatan ini merupakan hal wajib yang telah disepakati. Jaringan juga dapat
menumbuhkan dampak positif dari peran modal sosial, jaringan yang dibangun
oleh masyarakat melalui suatu kerjasama oleh pihak masyarakat dengan pihak
luar melaui suatu oraganisasi dalam pariwisata. Keuntungan dalam membangun
jaringan ini masyaraka dapat berbagi ilmu serta pengalaman, lantas
berkembanglah kreasi dan inovasi alam dunia pariwisata. Dengan adanya peran
modal sosial yang baik, maka partisipasi dalam masyarakat akan akif, oleh karena
ini pemberdayaan masyarakat bisa tercipta dan mampu mandiri tanpa adanya
bantuan pemerintah.
Tri Hita Kirana merupakan penunjang modal sosial masyarakat desa
Padang Tegal di Era Globalisasi. Penerapan makna Tri Hita Kirana di segala
aspek kehidupan masyarakat Bali, tidak hanya kehidupan sosial keagamaan, juga
dalam bentuk rumah, dalam hal pariwisata harus mengamalkan azas tersebut.
Dengan berbekal falsafah, masyarakat menjaga dengan baik hubungan manusia
dengan Tuhan, manusia dengan manusia juga manusia dengan alam. Sehingga
nilai, norma kepercayaan, jaringan dan informasi dapat berjalan baik di
masyarakat karena masyaraka mengamalkan azas tersebut.
Modal sosial berfungdi untuk meningkatkan kesejahteraan baik rohani
maupun jasmani. Pelestarian budaya merupakan kesejahteraan rohani, sedangkan
kesejahteraan jasmanidiukur dari pengembangan sektor pariwisata.
Analisis Pustaka
Peran modal sosial di internal masyarakat Desa Padang Tegal memang
sangat kuat, apalagi didukung oleh pedoman-pedoman yang telah di buat secara
budaya sehingga dalam pemberdayaan masyarakat menjadi semkin kuat dan
partisipatif, namun pemberdayaan masyarakat seogyanya dilakukan bersama-sama
oleh pemerintah dan masyarakat. Jika pemerintah adat dan masyarakt telah
bekerja sama, maka peran dari pemerintah dinas pun menjadi hal yang dinantikan
masyarakat.
10
Judul
Tahun
Jenis Pustaka
Bentuk Pustaka
Nama Penulis
Kota dan Nama Penerbit
Nama Jurnal
Volume (Edisi), Hal
Alamat URL/ doi
Tanggal Unduh
: Peran Komunitas Kreatif dalam Pengembangan
Pariwisata Budaya di Situs Megalitikum
Gunung Padang
: 2013
:
:
:
:
:
:
Jurnal
Online
Oktaniza Nafila
Bandung
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota
V0l. 24 No. 1 April 2013, hlm 65-80
http://sappk.itb.ac.id/jpwk1/wpcontent/uploads/2014/04/173-181.pdf
: 5 Oktober 2015
Ringkasan Pustaka
Penelitian yang dilakukan di Gunung Padang, yang merupkan salah satu
cagar budaya yang berada di Kabupaten Cianjur. Walaupun masih dalam tahap
perencanaan destinasi wisata wisata ini sangat diminati. Salah satu stakeholder
yang membawa pengunjung datang ke Gunung Padang adalah komunitas kreatif.
Komunitas kretif ini mengembangkan produk wisata yang berbeda sesuai dengan
target peserta tur tersebut. Komunitas kreatif ini merupakan unit analisis dari
penelitian ini. Tujuan dari peneliti adalah mengidentifikasi karakteristik destinasi
eisata budaya Situs Megalitikum Gunung padang, mengidentifikasi karakteristik
komunitas kreatif yang mengembangkan produk wisata ke Situs Magalit Gunung
Padang, Mengidentifikasi produk wisata yang direncanakan dan dikembangkan
oleh komunitas kreatif dan mengidentifikasi peran komunitas kreatif dalam
pengembangan pariwisata Situs Megalitikum Gunung Padang.
Hasil penelitian yang dijabarkan, dengan beberapa literature yang
digunakan didapatkan bahwa destinasi wisata Gunung Padang yang masih dalam
tahap perencanaan memiliki banyak potensi yang menarik termasuk budaya
masyarakat local dan masyrakat yang masih menjadikan situs ini sebagai tempat
ritual pemujaan kepercayaan Sunda Kuna. Meskipun daya tarik dalam Gunung
Padang sudah dapat menarik pengunjung yang cukup tinggu, namun fasilitas
seperti jala, rumah makan dan fasilitas pendukung lainnya belum memadai.
Terdapat tiga komunitas yang membawa wisatawan ke Situs Megalit
Gunung Padang yaitu Komunita Aleut!, Komunitas Geotrek dan Komunitas
Mahanagari. Komunitas ini memiliki perbedaan dan peran tersenditi dalam
mengembangkan wisata budaya Gunung Padang. Dari hasil penelitian, produk
atau hasil wisata Komunitas Kreatif yang telah disebutkan di Situs Gunung
11
Padang. Produk wisata yang dikembangkan tiap komunitas memiliki ciri khas
tersendiri. Komunitas Aleurt! Melaksanakan kegiatannya dengan prinsip dari
komunitas, oleh komunitas dan untuk komunitas. Komunitas Geotrek Indonesia
mengembangkan perjalanan yang lebih nyaman dan aman, karena mereka
menawarkan fasilitas-faslititas yang menggiurkan, menyampaikan pengetahuan
dengan cara yang menyenangkan. Sedangkan Mahanagari, mengasumsikan
sebagai sebuah perusahann mengutamakan konsumen sebagai raja.
Komunitas-komunitas kreatif telah berperan dalam memberikan manfaat
kepada masyarakat setempat melalui pemberian kesempatan melalui pemberian
kesempatan kerja sebagai local guides atau interpreter dan menyediakan alokasi
pendapatan untuk penjagaan konservasi dan penyajiaan objek wisata.
Analisis Pustaka
Dari beberapa literature yang digunakan untuk mencapai tujuan-tujuan
dalam penelitian, peneliti menggunakan konsep dari Goeldner (2003) melihat
pariwisata dari empat perspektif yang berbeda yaitu dari wisatawan, pebisnis yang
menyediakan pelayanan bagi wisatawan, pemerintah setempat dan masyarakat
setempat. Dengan unit analisisnya adalah komunitas kreatif yang ada di Gunung
Padang, komunitas kreatif disini berperan sebagai pengembangan destinasi wisata.
Merujuk pada konsep Florida (2002), Richard dan Wilson (2006) dan Widiastuti
(2010) disimpulkan bahwa komnitas kreatif itu akan menumbuhkan krativitas dan
menguatkan peran yang dimainkan, mempunyai daya tarik yang lebih luas
dibandingkan dengan industry budaya yang sudah ketinggalan jaman. Komunitas
kreatif bisa membuat ruang terbuka yang tidak berfungs menjadi lebih menarik
untuk didatangai dan menggunakannya untuk kegiatan yang mereka suka.
Dalam pengembangan wisata Gunung Padang terdapat tiga komunitas
kreatif yang telah mengembangan wisata ini. Kararkteristik bagi masing-masing
komunitas memiliki ciri dan keunikan tersendiri. Hasil-hasil yang diperoleh
berdasarkan literature kreatif yang digunakan, komunitas kreatif tersebut telah
membuat masyarakat memiliki kesempatan kerja, memberikan interpretasi yang
meningkatkan apresiasi dan pengetahuan tentang pusaka budaya, mengkonservasi
nilai intrinsic, memberikan interpretasi yang mendorong kepedulian dan
dukungan public terhadap pusaka budaya, mengubah pusaka budaya menjadi
produk wisata budaya untuk memfasilitasi konsumsi pengalaman, memberikkan
kesempatan bagi pengunjung dan komunitas setempat untuk mengalami dan
mengerti budaya dan pusaka komunitas secara langsung, mendorong pengunjung
mengetahui lebih banyak merasakan pusaka budaya di suatu wilayah, memastikan
pengunjung puas, senang dan mendapat pengalaman, menyajikan informasi yang
berkualitas untuk mengoptimalkan pengertian dan pengetahuan terhadap pusaka
budaya. Jadi dari hasil yang telah dilakukan oleh ketiga komunitas kreatif tersebut
12
telah menunjukan perannya dengan cara mereka masing-masing, dengan
menggunakan media sosial seperti facebook dan blog, informasi tentang tempat
yang didatangi akan cepat menyebar.
Tahun
: Interaksi Sosial Masyarakat Dalam
Pengembangan Wisata Alam Di Kawasan
Gunung Salak Endah
: 2011
Jenis Pustaka
Bentuk Pustaka
Nama Penulis
Volume (Edisi), Hal
Alamat URL/ doi
Tanggal Unduh
: Jurnal
: Online
: E. Rachmawati et al.
: http://download.portalgaruda.org/article.ph
p?article=86372&val=245.
:
Judul
Ringkasan Pustaka
Pada pustaka ini, peneliti menerapkan variable modal sosial pada
masyarakat di sekitar kawasan Gunung Salak Endah, untuk mengoptimalkan
perkembangan wisata di kawasan GSE, masyarakat setempat yang memiliki peran
penting diharapkan dapat memiliki jaringan sosial yang kuat. Oleh karena itu
perlu diteliti mengani interaksi sosial yang terjadi di masyarakat dalam kaitannya
dengan pengembangan wisata. Interaksi sosial merupakan proses sosial yang
terjadi apabila terdapat kontak sosial baik bersifat positif maupun negative dalam
bentuk primer atau sekunder dan komunikasi antar pihak yang terlibat.
Soekanto (2009) menyebutkan bahwa bentuk-bentuk proses interaksi
sosial terdiri dari kerja sama, persaingan, akomodasi dan pertentangan atau
konflik. Interaksi sosial antar indivudu dakam satu kelompok (interpersonal
bersifat primer positif akan mengarah pada kerja sama, sedangakan interaksi
sosial sekunder negative akan mengarahkan pada persaingan. Di Kawasan GSE
interaksi yang terjadi adalah primer positif. Setiap individu memiliki status dan
peran masing-masing, misalnya ada yang menjadi penyedia konsumsi, akomodasi
dan pemandu wisata. Diantara mereka juga telah terbangun kesepakatan untuk
pembagian manfaat/ keuntungan yang diperoleh.
Interaksi antarindividu beda kelompok terjadi pada stakeholder di Desa
Gunung Bunder 2 dan kelompok-kelopok lain yang ada, interaksi yang terjadi
antar indivudu yang berbeda kelompok, yang dapat mendukung terbentuknya
jaringan sosial, lebih banyak yang bersifat sekunder (tidak langsung) atau bahkan
bersifat negative yang mengarahkan persaingan dan perpecahan. Hal ini akan
mendorong terjadinya pengklusteran dalam pengembangan wisata alam yang
menyebabkan lemahnya jaringan sosial yang ada.
13
Kemudian Interaksi antara individu dan kelompok terjadi antara ketua
kelompok dan para anggotanya interaksi ketua KOMPEPAR Gunung Sari, Ketua
KSM GSE, coordinator paguyuban Villa, ketua BLVRI, ketua KOMPEPAR Desa
Gunung Bunder 2, Koordinator Valunteer, coordinator Format dan para masingmasing anggotanya bersifat primer positif, sedangkan kepala desa dengan
masyarakatnya bersifat sekunder.
Interaksi antarkelompok yang terjadi adalah interaksi antara KOMPEPAR
dengan KSM GSE. Sifat interaksinya adalah sekunder negatif yang berbentuk
pesaingan yang mengarah pada pertikaian (kontraversi). Akan ttapi, persaingan ini
masih bersifat tertutup (latent), pertikaian terjadi karena prinsip yang berbeda.
Permasalahan tersebut menyebabakan tidak optimalnya pengembangan wisata
alam di GSE. Adanya interaksi sekunder positif yang mengarah pada akomodasi
dapat dijadikkan awal untuk membentuk jaringan sosial yang meningkat menjadi
suatu kerja sama dalam pengembangan wisata.
Jaringan sosial menunjukan hubungan yang terjalin antara individu yang
terlibat dalam pengembangan wisata alam di GSE. Pihak-pihak yang terlibat
dalam pengembangan wisata alam di kawasan GSE belum membentuk jaringan
sosial tersebut. . Interaksi yang bersifat negatif lebih banyak terjadi di wilayah
Desa Gunung Sari.
Analisis Pustaka
Interaksi yang ada di Kawasan GSE sangat bervariasi, namun dilihat dari
stakeholder yang terlibat interaksi sekunder negatif masih dirasakan dalam
pengembangan wisata ini terkait pentingnya jaringan sosial yang dibentuk.
Kemudian adanya persaingan antar kelompok yang memiliki prinsip yang berbeda
dapat berdampak dalam pengembangan wisata, perlu adanya pertemuan secara
langsung agar dapat berkerjasama dalam menyatukan pemikiran atau persepsi
antar kelompok-kelompok tersebut.
Penelitian ini harus ditambahkan modal sosial, seperti trust atau
kepercayaan bagaimana tingkat kepercayaan bagi masing-masing individu dengan
kelompok, antar individu dengan kelompok lain dan antar kelompok agar jaringan
sosial dalam kerjasama dapat terjalin dengan baik dalam pengembangan wisata.
Interaksi yang bsifat negatf dapat di minimalisirkan.
Tidak hanya trust, norma atau nilai yang dianut oleh masyarakat perlu
diperhatikan, agar masyarakat tidak merasa dirugikan, dalam penelitian ini
interaksi yang terjadi antarkelompok lebih pada kepentingan ekonomi jangka
pendek dari kegiatan wisata alam daripada pengembangan jangka panjangnya. Hal
ini menyebabkan kurangnya hubungan kerja sama antar stakeholder dan tidak
14
terbangunnya jaringan sosial untuk mendukung keberhasilan pengembangan
wisata alam. Oleh karena tidak sedikit dampak yang diterima oleh masyarakat.
Judul
Tahun
Jenis Pustaka
Bentuk Pustaka
Nama Penulis
Nama Editor
Judul Buku
Kota dan Nama
Penerbit
Nama Jurnal
Volume (Edisi), Hal
Alamat URL / doi
Tanggal Unduh
: Membangun Kota Pariwisata Berbasis Komunitas:
Suatu Kajian Teoritis
: 2008
: Prosiding
: Online
: BRA Baskoro dan Cecep Rukendi
: :
:
: Jurnal Kepariwisataan Indonesia
: Vol. 3 No. 1, Maret 2008 ISSN 1907-9419
http://demografi.bps.go.id/phpfiletree/bahan/DHS/1%23.pdf
: 8 November 2015
Ringkasan Pustaka
Pada jurnal ini mencoba untuk menganalisis aspek teori tentang pariwisata
berbasis komunitasdi Jalan Jaksa, Jakarta Pusat. Jalan jaksa merupakan tempat
berinteraksinya pariwisata urban seperti turis asing dari backpackerss. Kegiatan
turis ini di atur oleh Komunitas yang ada di Jalan Jaksa, bukan dari pemerintah
daerah. Komunitas ini juga yang secara mandiri melalui berbagai organisasi
masyarakat yang ada mengelola keberadaan daya tarik wisata Jalan Jaksa. Salah
satu kegiatan yang populer dilakukan oleh komunitas ini adalah Festival Jalan
Jaksa. Untuk mengelola keberadaan objek dan daya tarik wisata di Jalan Jaksa,
komunitas tersebutlah yang merancang dan mengelola secara langsung
keberadaan objek dan daya tarik wisata tersebut.
Dalam jurnal ini terdapat tujuan untuk meneliti 1) apakah ada korelasi
secara teoritik antara pembangunan kota pariwisata dengan pembangunan
komunitas, 2) apakah ada social and economic benefits dari pembangunan kota
pariwisata dalam mengatasi pembangunan perkotaan?
Menelaah konsep pembangunan kota pariwisata berbasis komunitas.
Pembangunan sangat terkait dengan modernisasi, transformasi perubahan
masyarakat dalam segenap aspek. Menurut Sghoorl modernisasi masyarakat
sebagai penerapan pengetahuan ilmiah yang ada ke dalam semua aktivitas, semua
bidang kehidupan atau kepada semua aspek-aspek masyarakat. Menurut Todaro
(1997) pembangunan merupakan suatu proses perbaikan kualitas sgenap bidang
15
kehidupan manusia yang meliputi tiga aspek penting 1) peningkatan standar hidup
setiap orang (pendapatan, tingkat konsumsi pangan, sandang, papan, pelayanan
kesehatan, pendidikan dan lain-lain) melalui proses-proses pertumbuhan ekonomi
yang relavan 2) penciptaan berbagai kondisi yang memungkinkan tumbuhnya rasa
percaya diri setiap orang melalui pembentukan segenap sistem ekonomi dan
lembaga sosial, politik dan juga ekonomi yang mampu mempromosikan jati diri
dan penghargaan hakekat manusia, dan 3) peningkatan kebebasan setiap orang
melalui perluasan jangkauan pilihan mereka serta peningkatan kualitas maupun
kuantitas aneka barang dan jasa.
Kota sebagai nodes atau titik awal pertumbuhannya pembangunan,
penyerap dan penerus dari laju ini kepada jejaring keterhubungan pembangunan.
Community based Tourism,yaitu menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama
melalui pemberdayaan masyarakat dalam berbagai kegiatan kepariwisataan,
sehingga kemanfaatan kepariwisataan sebesar-besarnya diperumtukan bagi
masyarakat. Tujuan yang ingin diraih adalah pemberdayaan sosial-ekonomi
komunitas itu sendiri dan melekatkan nilai lebih dalam berpariwisata, khususnya
kepada para wisatawan. Dalam pengembangan community based tourism ada 5
aspek yang harus diberdayakan, yakni: 1) social assets yang dimilikki oleh
komunitas tersebut, seperti: budya, adat istiadat, social networks, trust, gaya
hidup; 2) saran dan prasarana, bagaimana sarana dan prasarana objek wisata
tersebut apakah sudah ideal dalam rangka memenuhi kebutuhan wisatawan; 3)
organisasi, apakah telah ada organisasi masyarakat yang mamu secara mandiri
mengelola objek dan daya tarik wisata; 4) aktivitas ekonomi; 5) proses
pembelajaran.
Secara teoritis, pembangunan kota pariwisata akan mampu meningkatkan
taraf kehidupan komunitas di sekitar objek dan daya tarik wisata. Hal ini hanya
bisa dilakukan apabila kebijakan, program dan strategi pemerintah serta dunia
usaha mendukung pembangunan pariwisata berbasis aset dan menyediakan akses
dana bagi mereka.
Analisis Pustaka
Dari jurnal didapatkan teori-teori bagaimana membangun kota pariwisata
berbasis komunitas. Kota yang merupakan peran penting terhadap pembangunan
melalui jejaring keterhubungan pembangunan.sistem perkotaan yang erat
kaitannya dengan faktor-faktor urbanisasi, yakni inovasi, kesempatan dan
transformasi sosial-ekonomi-politik, yang semuanya akan berdampak pada
peningkatan kesejahteraan masyarakat. Integrasi sosial diharapkan dapat tercapai
melaui partisipasi masyarakatdalam penerapan good governance dalam
pengelolaan pembangunan. Peningkatan modernisasi juga berperan malalui
16
penciptaan kerangka kelembagaan yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk
merangsang maupun menerima perubahan yang akan terjadi.
Dalam konsep pembangunan komunitas bisa dilakukan sejalan dengan
pembangunan pariwisata di suatu daerah tertentu. Melalui pembangunan
pariwisata, komunitas tersebut secara aktif berpartisipasi untuk mendorong
terjadinya social interaksi antar individu dalam komunitas dan juga dengan para
wisatawan. Penekanannya lebih kepada partisipatid aktif komunitas dan pola
hubungan yang terjalin antar komunitas lokal dan wisatawan.
Community based development adalah konsep yang menekankan kepada
pemberdayaan komunitas untuk menjadi lebih memahami nilai-nilai dan asset
yang mereka miliki seperti kebudayaan, adat istiadat, masakan kuliner dan gaya
hidup. Peranannya adalah pembuatan keputusan, menciptakan kesempatan kerja,
mengurangi kemiskinan dan membawa dampak positif terhadap pelestarian
lingkungan dan budaya asli setempat yang pada akhirnya diharapkan akan mampu
menumbuhkan jati diri dan rasa bangga dari penduduk setempat yang tumbuh
akibat peningkatan kegiatan pariwisata.
Judul
Tahun
Jenis Pustaka
Bentuk Pustaka
Nama Penulis
Nama Jurnal
Volume (Edisi), Hal
Alamat URL/ doi
Tanggal Unduh
: Dampak Sosial Budaya Interaksi Wisatawan
dengan Masyarakat Lokal di Kawasan
Sosrowijayan
: 2013
Jurnal
Online
Sri Safitri Oktaviyanti
Jurnal Nasional Pariwisata
Volume 5, nomer 3, Desember 2013 (201208) ISSN 1411-9862
http://jurnal.ugm.ac.id/tourism_pariwisata/
article/download/6693/5256.
: 19 September 2015
:
:
:
:
:
Ringkasan Pustaka
Sosrowijayan merupakan kawasan pariwisata di Yogyakarta, dimana
interaksi antara wisatawa dan masyarakat local member dampak pada
pertumbuhan kehidupan pariwisata. Bentuk interaksi berdasarkan motivasi dan
pelaku interaksi. Pertama, dilakukan untuk transaksi bisnis, wisatawan sebagai
konsumen dan pelaku usaha sebagai penyedia. Kedua terjadi saat wisatawan dan
masyarakat bertemu di atraksi wisata yang sama, yitu café resto dengan motivasi
17
pertemanan, kuangan dan romantisme. Interaksi berikutnya terjadi saat kedua
belah pihak menggali informasi, baik mengenai pariwisata, budaya maupun data
pribadi. Interaksi untuk bertransaksi wisatawan dengan masyarakat pekerja, dan
dengan masyarakat non pekerja. Dampak sosial budaya akibat interaksi tersebut
meliputi efek demonstrative, perubahan nilai sosial, contoh: norma perubahan
pandangan akan hubungan pria dan wanita, sifat materialistis dan nilai budaya
pada pertunujukan sen, pembelajaran budaya serta budaya pariwisata. Narasumber
yang dipilih dengan sistem purposive sampling yaitu orang yang sianggap tahu
diharapkan dapat memberikan informasi yang diperlukan sebanyak-banyaknya
(Prastowo, 2011). Data diperoleh melalui wawancara, observasi dan dokumentasi.
Interaksi wisatawan dan masyarakat lokal, terdapat tiga interaksi 1)
Interaksi untuk transaksi wisata, contohnya seperti membeli produk wisata.
Interaksi berlangsung singkat apabila tujuannya hanya mencapai pada transaksi.2)
Interaksi di atraksi wisata yang sama, kontak terjadi saat wisatawan bertemy
masyarakat lokal di resto, café atau area umum lain.3) Interaksi untuk
mendapatkan informasi, contohnya pemberian informasi pariwisata, budaya,
pengalaman pribadi
Dampak sosial budaya interaksi wisatwan dan masyarakat lokal a) efek
demonstartif adalah perubahan nilai, sikap dan perilaku masyarakat sebagai
akibat wisatawan yang membawa budaya asing, imitasi budaya asing termasuk
pada perubahan gaya hidup seperti mengobrol sampai larut malam, minum
alcohol, bermesraan di tempat umum dan kesukaan akan musik asing seperti
reggae dan blues. b) perubahan nilai-nilai, seperti 1) adanya budaya konsumtif
dan materilistik, contohnya keinginan kamera dan handphone terbaru. 2)
Perubahan persepsi hubungan pria dan wanita terutama sebagai akibat interaksi
antara wisatawan asing Kaukasi yang disebut bule dengan para pemburu bule
disebut sebagai bule hunter (menjalin hubungan negara asing). 3) Berkurangnya
tenggang rasa dan menghargai. c) Pembelajaran budaya, wisatawan dan
masyarakat bertemu, keduanya membaca sikap dan perilaku satu sama lain
menghormati perbedaan yang ada. d) Budaya pariwisata, budaya yang
berdasarkan kebutuhan wisatawan.
Analisis Pustaka
Dalam pusataka ini, menggunakan variable interaksi antara wisatawan
lokal dengan dampak sosial budaya damapak nya bisa positif maupun negative.
Pelaku interaksinya adalah wisatawan, masyarakat pekerja dan masyarakat non
pekerja. Pada interaksi untuk transaksi wisata dan saat bertemu disatu atraksi
wisata, kedua pihak dapat melakukan kontak baik dengan intensitas rendah atau
tinggi, sementara interaksi untuk mendapatkan informasi cnderung berintenstas
rendah. Dampak sosial budaya sebagai akibat dari terjadinya interaksi meliputi
18
terjadinya efek demonstratif, munculnya perubahan nilai sosial seperti pada
perubahan norma, pandangan mengenai hubungan pria dan wanita, sifat
materialism dan perubahan unsur budaya dalam pertunjukan seni, adanya
pembelajaran budaya serta terciptanya budaya pariwisata. Dampak ini lebih
berpengaruh pada masyarakat lokal dibandingkan pada wisatawan dikarenakan
singkatnya masa kunjungan wisatawan. Adapun interaksi yang memberi lebih
banyak dampak pada kehidupan keduanya berasal dari kontak akan tercapainya
transaksi wisata dan saat keduanya bertemu di atraksi wisata yang sama.
Kesemuanya dapat bersifat positif maupun negatif mengingat meskipun terjadi
perubahan pada nilai sosial budaya masyarakat setempat, hal ini menarik
perhatian wisatawan untuk berkunjung ke Sosrowijayan.
Judul
Tahun
: Modal Sosial Dalam Pengelolaan Hutan
Rakyat Lestari Di Kabupaten Wonogiri
Provinsi Jawa Tengah
: 2012
Jenis Pustaka
Bentuk Pustaka
Nama Penulis
Volume (Edisi), Hal
Alamat URL/ doi
: Thesis
: Online
: Nengsih Anen
: http://repository.ipb.ac.id/handle/1234567
89/63118
Tanggal Unduh
: 19 September 2015
Ringkasan Pustaka
Modal sosial (social capital) sebagai salah satu konsep yang dapat
digunakan untuk mengukur kapasitas masyarakat (Seragelsin and Grootaert,
2000), memiliki peranan yang cukup penting dalam memelihara dan membangun
integrasi dalam masyarakat dan merupakan factor penting yang mendorong
percepatan.
Kajian keterkaitan antara modal sosial dan pengelolaan sumberdaya hutan
berbasis masyarakat atau hutan rakyat belum banyak diteliti. Sistem pengelolaan
hutan rakyat tidak terlepas dari peran modal sosial yang dimiliki oleh masyarakat.
Tujuan dari penelitian adalah untuk mengukur modal sosial dalam pengelolaan
hutan rakyaat lestari di Kabupaten Wonogiri dan menjelaskan hubungan modal
sosial terhadap performansi hutan rakyat.
Konsep modal sosial yang digunakan dalam penelitian ini adalah yang
dikembangkan oleh Uphoff (2002). Mengacu Uphoff (2000) modal sosial dirinci
menjadi dua kategori, yaitu structural dan kognitif. Pada kategori structural,
unsure yang dikaji ditekankan pada peranan (roles), aturan (rules), dan jaringan
(networks). Sedangkan pada kategoru kognitifm unsure yang dikaju ditekankan
19
pada kepercayaan (trust) dan solidaritas (Solidarity), kedua unsure tersbut datang
dari norma (norm), nilai (value), sikap (Attitudes), kepercayaan (belief) yang
menciptakan dan memperkuat kesalingketergantungan positif dan mendorong
peningkatan aliran manfaat yang dapat dirasakan oleh komunitas pengelolaan
hutan rakyat lestari. Dalam sistem pengelolaan hutan rakyat terdapat beberapa sub
siste untuk menjaga mempertahankan performasi hutan rakyat antara dipengaruhi
oleh (1) sub sistem produksi yaitu sistem penguasaan dan pengambilan keputusan
apakah secara individual atau komunal. Sistem penguasaan dan pengambilan
keputusan pengelolaan mempengaruhi responsibilitas terhadap ekonomi pasar dan
model ekonomi sosialnya (2) Sub sistem pengolahan dasil (orientasi usaha),
apakan subsisten atau komunal. Tingkat subsistensi dan komersialisasi merupakan
ukuran reposnsibilitas terhadap ekonomi pasar; (3) Sub sistem pemasaran hasil,
jenis dan keragaman produk yang sikonsumdi atau dipasarkan merupakan
responsibilitas terhadap kebutuhan dan pasar yang sekaligus mempengaruhi
performasi pengelolaannya. Penulis yang menggunakan konsep modal sosial dari
Uphoff, dalam bentuk struktural (peranan, aturan, prosedur, preseden dan
jaringan) dengan cara menurunkan biaya transaksi, mengkoordinaskan berbagai
usaha, menciptakan harapan dan membuat kemungkinan berhasil lebih besar dan
menyediakan jaminan tentang bagaimana orang lain akan bertindak dan
sebagainya. Terdapat tiga variable, yaitu unsur peranan, unsr aturan dan unsure
persaingan.
Analisis Pustaka
Dalam konsep yang dipilih oleh penulis yaitu konsep modal sosial yang
diambil dari konsep Uphoff yaitu dalam bentuk struktural dan kognitif serta
konsep dalam pengelolaan hutan rakyat yang mengacu pada lembaga penelitian
IPB (1990).
Dalam modal sosial struktural, unsur peranan mendukung empat fungsi
dasar dan kegiatan yang diperlukan untuk tidakan kolektif yaitu pembuatan
keputusan, mobilisasi dan pengelolaan sumberdaya, komunikas dan koordinasi
dan resolusi konflik. Pihak yang terlibat di dalamnya, baik secara langsung
maupun tidak langsung. Kemudian ada dua tingkatan peranan para pihak yang
ditinjau dalam mendukung kegiatan pengelolaan hutan rakyat. Pertama tingkat
peranan pihak informal dan pihak formal. Tingkat peranan tertinggi dalam sub
sistem produksi yang mengambil keputusan berada di tingkat
petani/individu/rumah tangga. Lembaga formal yang terkait langsung dalam
pengelolaan hutan rakyat di kelurhan Seloputo yang sangat sering sebagai sarana
informasi adalah kelompok tani dan Gapoktan, pertemuan/ komunikasi dan
koordinasi sering dilakukan dalam kegiatan pertemuan Kelompok Tani yang
silakukan secara rutin tiap bulan atau tiap selapanan. Kemudian tingkat kejelasan
peran dan posisi pengurus organisasi Kelompok Tani dan Gapoktan di Kelurahan
20
Selopuro tergolong tinggi. Ini membuktikan tingkat modal sosial di keluruhan ini
lebih tinggi dibandingkan di Desa Belikurip.
Dalam Unsur Aturan, Kelurahan Selopuro juga lebih tinggi karena
memiliki pengetahuan, pemahaman dan kepatuhan petani terhadap pelaksanaan
aturan, namun tingkat pelanggaran juga lebih tinggi di daerah ini. Petani lebih
mematuhi nilai, norma, kesepakatan dan kebiasaan yang ada di masyarakat.
Tingkat jaringan modal sosial pun lebih tinggi di kelurahan Selopuro, ini
ditunjukan tingkat keeratan dan intensitas hubungan/ interaksi antar petani
dengan internal, external dan pihak lain lebih kuat.
Bentuk modal sosial kognitif dala kategori kepercayaan, kelurahan
Selopuro juga tinggi, ditunjukan tingkat kepercayaan respon terhadap peran dan
posisi para pihak yang terlibat aturan (aturan tertulis dan aturan tudak tertulis),
jaringan, kepatuhan dan kemampuan anggota masyarakat dalam melaksanakan
aturan, manfaat hutan rakyat, kepatuhan dan kemampuan para pihak dalam
menjaga kelestarian hutan rakyat, warga masyarakat lain memiliki kemampuan
untuk bekerjasama dalam mendukung pengelolaan hutan rakyat dan tingkat
kepercayaan terhadap warga masyarakat bersedia untuk saling menguatkan
hubungan sosial. Tingkat solidaritas kelurahan Selopuro juga cukup tinggi. Modal
sosial yang dimiliki di kelurahan Selopuroberpengaruh nyata terhadap
pengelolaan hutan rakyat terutama dalam menjaga performasinya. Modal sosial
struktural lebih tinggi dibandingkan modal sosial kognitif.
Judul
Tahun
Jenis Pustaka
Bentuk Pustaka
Nama Penulis
Nama Editor
Judul Buku
Kota dan Nama
Penerbit
Nama Jurnal
Volume (Edisi), Hal
Alamat URL/ doi
Tanggal Unduh
: Modal Sosial Masyarakat dalam
Mengembangkan Ekowisata Bahari di Pulau
Pramuka DKI Jakarta
: 2015
: Skripsi
: Cetak
: Yandra Azhari
:
:
:
:
: http://repository.ipb.ac.id/handle/12345678
9/66322
: 29 September 2015
Ringkasan Pustaka
Sumberdaya alam merupakan factor yang sangat menentukan bagi
kehidupan manusia. Hal ini dikarenakan dalam kehidupannya, manusia tidak
21
dapat hidup tanpa adanya sumberdaya alam. Ketergantungan manusia akan
sumberdaya alam tersebut berpengaruh terhadap pola pemanfaatan dan
pengelolaan sumberdaya alam yang ada. Indonesia sebagai negara sedang
berkembang, dimana peningkatan jumlah penduduk yang terus terjadi
mengakibatkan semakin meningkatnya jumlah permintaan akan pemenuhan
kebutuhan hidup dari sumberdaya alam, maka hal ini akan berkorelasi terhadap
semakin eksploitatifnya pemanfaatan sumberdaya alam yang ada (Sulton 2011).
Sumberdaya alam di wilayah pesisir di pulau pramuka menjadi suatu potensi dan
pendukung dalam pengembangan ekowisata bahari.
Konsep yang digunakan oleh peneliti yaitu mengenai pengembangan
ekowisata bahari yang mencakup tingkat keterlibatan masyarakat dalam
melestarikan alam, tingkat pelaksanaan dan manajemen ekowisata berkelanjutan,
tingkat pengetahuan lingkungan serta manfaat terhadap masyarkat lokal yang
kemudian konsep tersebut dihubungkan dengan konsep modal sosial, unsur modal
sosial yang digunakan adalah (1) Norma, untuk mengetahui pemahaman terhadap
norma, (2) kepercayaan, untuk mengetahui tingkat kepercayaan terhadap
masyarakat, dan (3) Jaringan. Modal sosial pada pustaka ini dilihat dari individu
unit analisisnya, yaitu kepala keluarga pada masyarakat pulau pramuka.
Analisis Pustaka
Hubungan antara usia dengan modal sosial kepala keluarga. Pertama yang
di analisis adalah mengenai norma, diketahui tingkat pemahaman masyarakat
terhadap norma lebih tinggi pada usia dewasa dibandingkan dengan usia lain.
Pada tingkat kepercayaan usia tidak terlalu terpengaruh.sedangkan hubungan
dengan jumlah orang yang dikenal cenderung lebih tinggi pada usia sedang atau
dewasa, tidak hanya usia yang mempengaruhi namun karakteristik setiap individu
turut mempengaruhi keeratan antar jumlah orang yang dikenal.
Pengaruh hubungan tingkat pendidikan dengan modal sosial. Unsur norma
dengan pendidikan tidak terlalu mempengaruhi dalam menjalankan peraturannya.
Sedangkan hubungan kepercayaanya dengan pendidikannya masih tergolong
masih kurang di masyarakat. Kemudian melihat hubungan tingkat pendidikan
dengan jumlah orang yang dikenal tergolong tinggi pada tingkat pendidikan yang
rendah.
Tahun
: Strategi Pengelolaan Oleh Dinas Kebudayaan
dan Pariwisata kabupaten Kepulauan Sitaro
: 2013
Jenis Pustaka
Bentuk Pustaka
Nama Penulis
: Jurnal
: Online
: Meydrikson Hiborang
Judul
22
Volume (Edisi), Hal
Alamat URL/ doi
Tanggal Unduh
: http://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/jurnal
eksekutif/article/viewFile/4833/4358
: 2 Desember 2015
Ringkasan Pustaka
Pengembangan pariwisata Indonesia telah tercermin dalam rencana
strategi yang dirumuskan oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI,
yakni: (1) meningkatkan kesejateraan masyarakat dengan membuka kesempatan
berusaha dan lapangan kerja seta pemerataan pembangunan di bidang pariwisata;
(2) mewujudkan pembangunan pariwisata yang berkesinambungan sehingga
memberikan manfaat sosial-budya, sosial ekonomi bagi masyarakat dan daerah,
serta terpeliharanya mutu lingkungan hidup; (3) meningkatkan kepuasan
wisatawan dan memperluasan pangsapasar; dan (4) menciptakan iklim yang
kondusif bagi pembanguan pariwisata Indonesia sebagai berdayaguna, produktif,
transparan dan bebas KKN untuk melaksanakan fungsi pelayanan kepada
masyakat, dalam intitusi yang merupakan amanah yang dipertanggungjawabkan
(accoutanble). Demikianlah pandangan Kementarian Kebudayaan dan Pariwisata
RI, bahwa pengembangan pariwisata Indonesia harus didahului dengan
pemahaman mengenai berbagaitantangan dan hambatan yang harus dihadapi
dalam merencakan dan melaksanakan pengembangan pariwisata di Indonesia.
Peranan pemerintah sebagai fasilitator sangat strategis dalam mewujudkan
upaya-upaya ke arah pengembangan pariwisata tersebut melalui kepemimpinan
institusinya bertanggung jawab atas empat hal utama yaitu; perencanaan
(planning) daerah atau kawasan pariwisata, pembangunan (development) fasilitas
utama dan pendukung pariwisata, pengeluaran kebijakan (policy) pariwisata, dan
pembuatan dan penegakan peraturan (regulation).
Menjadikan suatu daerah menjadi daerah tujuan wisata andalan diperlukan
adanya suatu perencanaan strategi yang baik dan adanya introspeksi terhadap
isu/faktor strategis, sehingga dengan adanya strategi yang baik dalam
pengembangan sektor pariwisata maka akan meningkatkan penerimaan bagi
pendapatan asli daerah (PAD) dengan demikian dapat mengetahui prospek
perkembangan sektor pariwisata daerah kedepannya.
Analisis Pustaka
Dalam pengelolaan kawasan pariwisata untuk upaya mencapai tujuan
terdapat beberapa sejumlah isu dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsi Dinas
Kebudayaan dan Pariwisata. Isu-isu strategis meliputi (1) belum efektifnya
regulasi dalam rangka efektifitasnya pengembangan dan pengendalian
pembangunan pariwisata, (2) Kurangnya sarana dan prasarana pariwisata, (3)
Tidak adanya koordinasi dan keterpaduan program antar stakeholder maupun
23
sektor terkait, (4) Kurangnya kualitas dan kuantitas sumber daya manusia
pariwisata yang professional dan berkemampuan tinggi, (5) Belum optimalnya
program promosi dan pemasaran yang membeerikan kontribusi positif terhadap
Pendapatan Asli Daerah (PAD), (6) Belum optimalnya pengembangan
pengelolaan dan pelestarian obyek dan daya tarik wisata dan kebudayaan daerah,
(7) Belum optimalnya jaringan hubungan kemitraan berbasis kerakyatan.
Strategi pengembangan potensi kepariwisataan meliputi: (1) Aspek
regulasi, (2) Aspek manajemen pembangunan sarana prasarana ODTW yang
menunjang pengembangan infrastruktur kawasan wilayah pariwisata, (3) Aspek
Manajemen Kelembagaan meliputi pemanfaatan dan peningkatan kapasitas
institusi, mekanisme yang dapat mengatur berbagai kepentingan secara
operasional serta koordinasi agar memiliki efisiensi tinggi, (4) Aspek SDM, (5)
Aspek pemasaran dan promosi, (6) Aspek manajemen pengelolaan yang meliputi
aspek fisik lingkungan dan sosial ekonomi dari ODTW dengan professionalism
dan pola pengelolaan ODTW yang siap mendukung kegiatan usaha pariwisata dan
mampu memanfaatkan potensi ODTW secara lestari.
Judul
Tahun
Jenis Pustaka
Bentuk Pustaka
Nama Penulis
Nama Editor
Judul Buku
Kota dan Nama
Penerbit
Nama Jurnal
Volume (Edisi), Hal
Alamat URL/ doi
Tanggal Unduh
: Kajian Aspek Sosiologi Wisatawan di Objek
Agrowisata (Kasus di Kampung Wisata
Cinangneng, Kabupaten Bogor Provinsi Jawa
Barat)
: 2012
:
:
:
:
:
:
Jurnal
Online
Dina Ratih Dewi, Hepi Hapsari
Jurnal Ilmiah Pariwisata
JAKARTA, PUSLITDIMAS
: Jurnal Ilmiah Pariwisata
: Vol 17, No. 2, Juli 2012, Hal 121- 138
http://www.stptrisakti.ac.id/puslit/jurnal/JIPariwisata-Vol%2017%20No%202Juli2012.pdf
: 7 Desember 2015
Ringkasan Pustaka
Kampung wisata Cinangneng (KWC) merupakan objek wisata dengan
konsep “Pariwisata Berbasis Masyarakat (Pariwisata Inti Rakyat)”- pariwisaya
yang berlandaskan semangat ekonomi kerakyatan dan diharapkan dapat bertahan
di tengah krisis ekonomi. Bauran pemasaran kampong wisata Cinangneng 1)
Product/Service, seperti jasa penginapan dan kegiatan wisata focus dalam
24
penelitian ini adala program Poelang Kampoeng. 2) Price, dikenakan biaya Rp
95.000/ min 20 orang biaya tersebut mendapatkan semua fasilitas yang ada. Harga
ditetapkan berdasarkan pertimbangan karena dalam pengadaan paket wisata ini
KWC bekerja sama dengan masyarakat setempat. 3) Place/ Location, 4)
Promotion, promosi dilakukan hanya melalui web pribadi dan penyebaran brosur
serta promosi dari mulut ke mulut yang berkembang ke Koran, tabloid sampai ke
stasiun televisi. 5) People, hampir semua karyawannya penduduk sekitar. 6)
Physical Evidence, bangunannya seperti rumah dengan desain unik dengan
budaya Indonesia, berbagai tanaman dan pepohonan tumbuh dengan baik dan
tertata rapi. 7) Process, wisatawan yang berkunjung ke KWC bisa mendapatkan
informasi tentang KWC melalui tema, kerabat, internet tentang paket wisata. 8)
Power, KWC sangat mengandalkan kekayaan alam dan kebudyaan. 9) Promise,
Para tamu akan merasa puas dan senang.
Dampak sosial ekonomi dari keberadaan Kampoeng Wisata Cinangneng
bagi Masyarakat sekitar adalah pembukaan lapangan kerja karena tenaga kerja
KWC diambil dari penduduk sekitar KWC serta peningkatan pendapatan
penduduk yang tidak terlibat langsung dalam perusahaan. Damapak positif lain
adalah hubungan antara KWC dengan masyarakat juga terjalin baik, serta
mengdapatkan pengetahuan.
Analisis Pustaka
Berdasarkan hasil penelitian, motivasi wisatawan KWC pada Paket
Program Poelang Kampoeng yang tertinggi adalah keinginan untuk mendapatakan
kegembiraan dan pengalaman baru.
Faktor penarik yang mempengaruhi kunjungan wisatawan KWC adala
keindahan, fasilitas, pelayanan, harga, dan semua kegiatan wisata pada Paket
Program Poelang Kampoeng yaitu Tour ke Kampoeng, belajar angklung dll. Pada
variable aksesbilitas dan jarak tempuh merupakan factor penarik wisata ini. Faktor
penarik ini cukup memlilki kekuatan dalam menarik untuk berwisata ke KWC.
Faktor Pendorong yang memengaruhi kunjungan wisata ke KWC terdiri
dari anggaran wisata yang similiki, waktu senggang yang tersedia serta kejelasan
informasi mengenai KWC dan sumber informasi yang diperoleh pengunjung.
25
RANGKUMAN DAN PEMBAHASAN
Modal Sosial
Konsep Modal Sosial
Modal sosial dalam pengertiannya memiliki unsur modal yang berarti
memiliki kesamaan dengan modal fisik dan modal manusia. Seperti odal fisik,
modal sosial memerlukan investasi awal dan perawatan berkala, dalam bentuk
interaksi yang berulang atau membangun perilaku kepercayaan. Modal sosial juga
memberikan gambaran yang berbeda dibandingkan modal fisik, modal sosial
manusia (Bastelaer dan Grootaert 2002). Perhatian terhadap konsep ini didorong
oleh masalah yang sama, sebab banyak pengalaman di dunia yang menunjukkan
bahwa inisiatif pembangunan yang tidak mempertimbangkan dimensi manusia
termasuk faktor-faktor seperti nilai, norma, budaya, motivasi, solidaritas, akan
cenderung kurang berhasil dibanding dengan yang mempertimbangkan dimensi
manusia. Sehingga bukan hal yang aneh kalau model pembangunan yang
mengabaikan semua itu akan berujung pada kegagalan. Saat ini, konsep modal
sosial lebih menarik, karena jika berhasil memahaminya, maka dapat berinvestasi
di dalamnya untuk menciptakan aliran manfaat yang lebih besar (Uphoff 2000).
Coleman (1998) menjelaskan modal sosial adalah suatu keragaman entitas
yang empunyai dua karakter umum, yaitu keseumanya mengandung aspek-aspek
struktur sosial, dan memfasilitasi aksi individu dalam struktur tersebu,…modal
sosial dalam hal ini merupakan struktur hubungan antar individu diantara
individu-individunya. Modal sosial tersebut didefinisikan berdasarkan fungsinya,
bukanlah suatu entitas tunggal tetapi terdiri dari sejumlah entitas dengan dua
elemen yang sama yaitu (1) semua terdiri dari aspek struktur-struktur sosial dan
(2) memfasilitasi tindakan-tindakan antara orang perorang dalam struktur. Dalam
hal ini, Coleman (1988) memandang modal sosial dari sudut pandang struktur
sosial yang memiliki berbagai tindakan dan aturan yang dapat dimanfaatkan
bersama.
Poli (2007) menjelaskan bahwa modal sosial adalah saling percaya yang
mempersatukan masyarakat sebagai kesatuan hidup yang beradab. Muncul dari
pengalaman bersama yang memuaskan, karena itu diulang-uangi sehingga
membentuk pola prilaku, yang dipertahankan melalui aturan yang disepakati,
sehingga menyatukan masyarakat dalam suatu struktur tertentu. Pengalaman
bersama yang memuaskan dapat muncul secara spontan maupun melalui rekayasa
manajemen. Poli pun menjelaskan mengenai ciri-ciri dari modal sosial seperti:
a. Dimiliki bersama,
b. Dapat digunakan untuk pencapaian tujuan bersama
c. Dapat bertambah dan dapat pula berkurang
d. Kian dibagi-bagi kian bertambah
e. Kian tidak dibagi-bagi, kian berkurang.
26
Putnam dalam Yularmi (2011) mengatakan bahwa, modal sosial mengacu kepada
ciri organisasi sosial, seperti jaringan, norma dan kepercayaan yang memfasilitasi
koordinasi dan kinerja agar saling menguntungkan. Dia melihat modal sosial
sebagai bentuk barang publik berbeda dengan pengaruhnya terhadap kinerja
ekonomi dan politik pada level kolektif. Dia menekankan bahwa partisipasi
orang-orang dalam kehidupan asosiasional menghasilkan institusi publik lebih
efektif dan layanan lebih baik.
Modal sosial adalah informasi, kepercayaan, dan norma dari timbal balik
yang melekat dalam jaringan sosial (Woolcock, 1998 dalam Yuliarmi, 2011).
Modal sosial mengacu kepada ciri-ciri organisasi sosial seperti jaringan, norma
dan kepercayaan yang memfasilitasi koordinasi dan kerjasama saling
menguntungkan. Modal sosial juga menambahkan elemen-elemen subyektif,
proses budaya seperti kepercayaan dan norma dari timbal balik yang memfasilitasi
aksi sosial. Perbedaan ini menunjukkan hubungan timbal balik di antara modal
sosial, organisasi sosial masyarakat, dan jaringan sosial. Jaringan sosial dan
organisasi sosial masyarakat memberikan sumber daya yang dapat digunakan
untuk memfasilitasi aksi. Modal sosial pada gilirannya menghasilkan sumber daya
lebih lanjut yang memberikan kontribusi kepada organisasi sosial masyarakat dan
sumber daya jaringan sosial (Voydanoff dalam Yuliarmi, 2011).
Menurut Uphoff (2000), modal sosial adalah akumulasi dari beragam tipe
sosial, psikologis, budaya, kognitif, kelembagaan, dan aset-aset yang terkait yang
dapat meningkatkan kemungkinan manfaat bersama dari perilaku kerjasama. Aset
disini diartikan segala sesuatu yang dapat mengalirkan manfaat untuk membuat
proses produktif di masa mendatang lebih efisien, efektif, inovatif dan dapat
diperluas atau disebarkan dengan mudah. Sedangkan perilaku bermakna sama
positifnya antara apa yang dilakukan untuk orang lain dengan perilaku untuk diri
sendiri. Artinya, perilaku tersebut bermanfaat untuk orang lain dan tidak hanya
diri sendiri. Dalam hal ini, Uphoff (2000) menghubungkan konsep modal sosial
dengan proposisi bahwa hasil dari interaksi sosial haruslah dapat mendorong
lahirnya “manfaat bersama” (Mutually Beneficial Collective Action/MBCA).
Uphoff (2000) menjelaskan unsure-unsur modal sosial yang dirinci
menjadi dua kategori yang saling berhubungan, yaitu struktural dan kognitif. Aset
modal sosial struktural bersifat ekstrinsik dan dapat diamati, sementara aspek
kognitif tidak dapat diamati, namun keduanya saling terkait di dalam praktik,
asset struktural datang dari hasil proses kognitif.
Lebih jauh Uphoff (2000), menegaskan bahwa kedua kategori modal
sosial ini memiliki ketergantungan yang sangat kuat, bentuk yang satu
mempengaruhi bentuk yang lain dan keduanya mempengaruhi perilaku individu
hingga mekanisme terbentuknya harapan (ekspektasi). Keduanya terkondisikan
oleh pengalaman dan diperkuat oleh budaya, semangat pada masa tertentu
(zeitgeist), dan pengaruh-pengaruh lainnya.
27
Dalam kajian modal sosial yang dijelaskan oleh beberapa ahli, modal
sosial yang secara garis besat menujukan bahwa modal sosial merupakan peranan
penting dalam suatu organisasi atau pembangunan yang berkelanjutan. Peranan
tersebut mencakup nilai-nilai, norma, aturan, sikap, kepercayaan masyarakat
dalam mengatur hubungan-hubungan sosial dan perilaku secara individu maupun
bersama dalam pemanfaatan sumberdaya secara lestari.
Dimensi dan Tipologi Modal Sosial
Dimensi modal sosial menurut Coleman (2010) mengklasifikasikan modal
kedalam dua tipe yaitu modal manusia (human capital) dan modal sosial (social
capital), dua tipe ini seringkali saling melengkapi.
Dimensi yang menarik perhatian adalah yang terkait dengan tipologi
modal sosial, yaitu bagaimana perbedaan pola-pola interaksi berikut
konsekuensinya antara modal sosial yang berbentuk bonding/exclusive dan
bridging/ inclusive. Keduanya memiliki implikasi yang berbeda pada hasil-hasil
yang dapat dicapai dan pengaruh-pengaruh yang dapat muncul dalam proses
kehidupan dan pembangunan masyarakat.
Modal sosial terikat adalah cenderung bersifat eksklusif (Hasbullah, 2006).
Apa yang menjadi karakteristik dasar yang melekat pada tipologi ini, sekaligus
sebagai ciri khasnya, dalam konteks ide, relasi dan perhatian, adalah lebih
berorientasi ke dalam (inward looking) dibandingkan dengan berorientasi keluar
(outward looking). Ragam masyarakat yang menjadi anggota kelompok ini pada
umumnya homogenius (cenderung homogen).
Di dalam bahasa lain bonding social capital ini dikenal pula sebagai ciri
sacred society. Menurut Putman (1993), pada masyarakat sacred society dogma
tertentu mendominasi dan mempertahankan struktur masyarakat yang totalitarian,
hierarchical, dan tertutup. Di dalam pola interaksi sosial sehari-hari selalu
dituntun oleh nilai-nilai dan norma-norma yang menguntungkan level hierarki
tertentu dan feodal.
Hasbullah (2006) menyatakan, pada mayarakat yang bonded atau inward
looking atau sacred, meskipun hubungan sosial yang tercipta memiliki tingkat
kohesifitas yang kuat, akan tetapi kurang merefleksikan kemampuan masyarakat
tersebut untuk menciptakan dan memiliki modal sosial yang kuat. Kekuatan yang
tumbuh sekedar dalam batas kelompok dalam keadaan tertentu, struktur hierarki
feodal, kohesifitas yang bersifat bonding. Salah satu kehawatiran banyak pihak
selama ini adalah terjadinya penurunan keanggotaan dalam perkumpulan atau
asosiasi, menurunnya ikatan kohesifitas kelompok, terbatasnya jaringan-jaringan
sosial yang dapat diciptakan, menurunnya saling mempercayai dan hancurnya
nilai-nilai dan norma-norma sosial yang tumbuh dan berkembang pada suatu
entitas sosial.
28
Misalnya seluruh anggota kelompok masyarakat berasal dari suku yang
sama. Apa yang menjadi perhatian terfokus pada upaya menjaga nilai-nilai yang
turun temurun yang telah diakui dan dijalankan sebagai bagian dari tata perilaku
(code conduct) dan perilaku moral (code of ethics). Mereka lebih konservatif dan
mengutamakan solidarity making dari pada hal-hal yang lebih nyata untuk
membangun diri dan kelompok masyarakatnya sesuai dengan tuntutan nilai-nilai
dan norma-norma yang lebih terbuka.
Hasbullah (2006), bentuk modal sosial yang menjembatani atau Bridging
Social Capital ini biasa juga disebut bentuk modern dari suatu pengelompokan,
group, asosiasi, atau masyarakat. Prinsip-prinsip pengorganisasian yang dianut
didasarkan pada prinsip-prinsip universal tentang: (a) persamaan, (b) kebebasan,
serta (c) nilai-nilai kemajemukan dan humanitarian (kemanusiaan, terbuka, dan
mandiri).
Prinsip persamaan, bahwasanya setiap anggota dalam suatu kelompok
masyarakat memiliki hak-hak dan kewajiban yang sama. Setiap keputusan
kelompok berdasarkan kesepakatan yang egaliter dari setiap anggota kelompok.
Pimpinan kelompok masyarakat hanya menjalankan kesepakatan-kesepakatan
yang telah ditentukan oleh para anggota kelompok.
Prinsip kebebasan, bahwasanya setiap anggota kelompok bebas berbicara,
mengemukakan pendapat dan ide yang dapat mengembangkan kelompok tersebut.
Iklim kebebasan yang tercipta memungkinkan ide-ide kreatif muncul dari dalam
(kelompok), yaitu dari beragam pikiran anggotanya yang kelak akan memperkaya
ide-ide kolektif yang tumbuh dalam kelompok tersebut.
Prinsip kemajemukan dan humanitarian, bahwasanya nilai-nilai
kemanusiaan, penghormatan terhadap hak asasi setiap anggota dan orang lain
yang merupakan prinsip dasar dalam pengembangan asosiasi, group, kelompok,
atau suatu masyarakat. Kehendak kuat untuk membantu orang lain, merasakan
penderitaan orang lain, berimpati terhadap situasi yang dihadapi orang lain, adalah
merupakan dasar-dasar ide humanitarian.
Sebagai konsekuensinya, masyarakat yang menyandarkan pada bridging
social capital biasanya heterogen dari berbagai ragam unsur latar belakang
budaya dan suku. Setiap anggota kelompok memiliki akses yang sama untuk
membuat jaringan atau koneksi keluar kelompoknya dengan prinsip persamaan,
kemanusiaan, dan kebebasan yang dimiliki. Bridging social capital akan
membuka jalan untuk lebih cepat berkembang dengan kemampuan menciptakan
networking yang kuat, menggerakkan identitas yang lebih luas dan reciprocity
yang lebih variatif, serta akumulasi ide yang lebih memungkinkan untuk
berkembang sesuai dengan prinsip-prinsip pembangunan yang lebih diterima
secara universal.
Tabel 2. Dimensi social capital dalam tipologi bounding dan bridging
Tipologi Social Capital
Bounding
Bridging
29
• Terikat/ketat, jaringan yang eksklusif
• Pembedaan yang kuat antara “orang
kami” dan “orang luar”
• Hanya ada satu alternatif jawaban
• Sulit menerima arus perubahan
• Kurang akomodatif terhadap pihak luar
• Mengutamakan kepentingan kelompok
• Mengutamakan solidaritas kelompok
• Terbuka
• Memiliki jaringan yang lebih fleksibel
• Toleran
• Memungkinkan untuk memiliki banyak
alternatif jawaban dan penyelesaian
masalah
• Akomodatif untuk menerima perubahan
• Cenderung memiliki sikap yang altruistik,
humanitarianistik dan universal
Unsur-unsur Pembentuk Modal Sosial
Lubis (2002) dalam Badaruddin (2006) mengemukakan teori modal sosial
lebih lanjut, dimana modal sosial beriintikan elemen-elemen pokok yang
mencakup:
a. Saling percaya (trust), yang meliputi adanya kejujuran (honesty),
kewajaran (fairness), sikap egaliter (egalitarianism), toleransi
(tolerance), tanggung jawab (responsibility), kemurahan hati
(generoity) kerjasama (collaboration/cooperation) dan keadilan
(equity);
b. Jaringan sosial (social networking), yang meliputi adanya
partisipasi(participations), solidaritas (solidarity);
c. Pranata (institution), yang meliputi nilai-nilai yang dimiliki
bersama (shared valueI), norma-norma dan sanksi-sanksi (norms
and sanctionsI) dan aturanaturan (rules).
Elemen-elemen modal sosial tersebut bukanlah sesuatu yang tumbuh dan
berkembang dengan sendirinya, melainkan harusdirekreasikan dan ditransmisikan
melalui mekanisme-mekanisme sosial budaya di dalam sebuah unit sosial seperti
keluarga, komunitas, asosiasi sukarela, negara dan sebagainya. Merujuk pada
Ridell (1997) dikutip Suharto (2006), terdapat tiga komponen atau parameter
kapital sosial yaitu kepercayaan (trust), norma-norma (norms), dan
jaringanjaringan (networks). Kasih (2007) mendefinisikan modal sosial sebagai
suatu norma yang muncul secara informal melandasi kerjasama diatara dua atau
lebih individu. Selain pendefinisian tersebut, pada hal ini juga menjelaskan
manfaat umum yang diperoleh dari modal sosial antara lain:
a.
Modal sosial memungkinkan masyarakat memecahkan masalah-masalah
bersama dengan lebih mudah.
b. Modal sosial menumbuhkan rasa saling percaya dalam hubungan sosial
untuk mewujudkan kepentingan bersama.
c. Modal sosial memungkinkan terciptanya jaringan kerja sehingga mudah
mendapatkan informasi. Masyarakat yang memiliki modal sosial lebih
mudah bekerjasama mencapai kepentingan bersama baik bidang sosial
maupun ekonomi, dibanding dengan masyarakat sebaliknya.
30
Flassy et al. (2009), menyatakan bahwa unsur utama dan terpenting dari
modal sosial adalah kepercayaan (trust) sebagai syarat keharusan (necessary
condition) terbangunnya modal sosial dari suatu masyarakat.
Modal sosial mempunyai tiga pilar utama, yaitu:
1.
Trust (Kepercayaan)
Fukuyama (2002) berpendapat, unsur terpenting dalam modal sosial adalah
kepercayaan (trust) yang merupakan perekat bagi langgengnya kerjasama dalam
kelompok masyarakat. Dengan kepercayaan (trust) orang-orang akan bisa bekerja
sama secara lebih efektif. Modal sosial di negara-negara yang kehidupan sosial
dan ekonominya sudah modern dan kompleks. Elemen modal sosial adalah
kepercayaan (trust) karena menurutnya sangat erat kaitannya antara modal sosial
dengan kepercayaan. Fukuyama (2002: 36) menambahkan kepercayaan (trust)
adalah pengharapan yang muncul dalam sebuah komunitas yang berperilaku
normal, jujur dan kooperatif berdasarkan norma-norma yang dimiliki bersama,
demi kepentingan anggota yang lain dari komunitas itu. Ada tiga jenis perilaku
dalam komunitas yang mendukung kepercayaan ini, yaitu perilaku normal, jujur
dan kooperatif.
Hal lainnya pun dikemukakan oleh Lawang (2004) kepercayaan adalah rasa
percaya yang terjadi antara dua orang atau lebih untuk saling berhubungan.
Ada tiga hal yang saling terkait dalam kepercayaan, yaitu:
1) Hubungan antara dua orang atau lebih. Termasuk dalam hubungan tersebut
adalah institusi, yang dalam hal ini diwakili oleh orang. Sesorang percaya
pada institusi tertentu untuk kepentingannya, karena orang-orang dalam
institusi itu bertindak.
2) Harapan yang akan terkandung dalam hubangan itu, yang kalau
direalisasikan tidak akan merugikan salah satu atau kedua belah pihak.
3) Interaksi sosial yang memungkinkan hubungan dan harapan itu terwujud.
Ketiga dasar tersebut kepercayaan dapat diartikan sebagai hubungan antara
dua pihak atau lebih yang mengandung harapan yang menguntungkan salah satu
atau kedua belah pihak melalui interaksi sosial.
2.
Networking (Jaringan)
Menurut Coleman (1998) jaringan sosial merupakan sebuah hubungan sosial
yang terpola atau disebut juga pengorganisasian sosial. Jaringan sosial juga
menggambarkan jaring-jaring hubungan antara sekumpulan orang yang saling
terkait baik langsung maupun tidak langsung. Membahas jaringan sosial, tentu
saja tidak bisa terlepas dari komunikasi yang terjalin antar individu (interpersonal
communication) sebagai unit analisis dan perubahan prilaku yang disebabkannya.
Hal ini menunjukkan bahwa jaringan sosial terbangun dari komunikasi antar
individu (interpersonal communication) yang memfokuskan pada pertukaran
31
informasi sebagai sebuah proses untuk mencapai tindakan bersama, kesepakatan
bersama dan pengertian bersama (Rogers & Kincaid 1980).
Coleman (1998) sebagai salah satu seorang penggagas konsep modal sosial,
melihat bahwa jaringan (networks) dalam modal sosial merupakan konsekuensi
yang telah ada ketika kepercayaan diterapkan secara meluas dan didalamnya
terdapat hubungan timbale balik yang terjalin dalam masyarakat dengan adanya
harapan-harapan dalam masyarakat.
Granovetter dalam Mudiarta (2009) menjelaskan gagasan mengenai pengaruh
struktur sosial terutama yang dibentuk berdasarkan jaringan terhadap manfaat
ekonomis khususnya menyangkut kualitas informasi. Menurutnya terdapat empat
prinsip utama yang melandasi pemikiran mengenai adanya hubungan pengaruh
antara jaringan sosial dengan manfaat ekonomi, yakni: Pertama, norma dan
kepadatan jaringan (network density). Kedua, lemah atau kuatnya ikatan (ties)
yakni manfaat ekonomi yang ternyata cenderung didapat dari jalinan ikatan yang
lemah. Dalam konteks ini ia menjelaskan bahwa pada tataran empiris, informasi
baru misalnya, akan cenderung didapat dari kenalan baru dibandingkan dengan
teman dekat yang umumnya memiliki wawasan yang hampir sama dengan
individu, dan kenalan baru relatif membuka cakrawala dunia luar individu.
Ketiga, peran lubang struktur (structural holes) yang berada di luar ikatan lemah
ataupun ikatan kuat yang ternyata berkontribusi untuk menjembatani relasi
individu dengan pihak luar. Keempat, interpretasi terhadap tindakan ekonomi dan
non ekonomi, yaitu adanya kegiatan-kegiatan non ekonomis yang dilakukan
dalam kehidupan sosial individu yang ternyata mempengaruhi tindakan
ekonominya. Dalam hal ini Granovetter menyebutnya ketertambatan tindakan non
ekonomi dalam kegiatan ekonomi sebagai akibat adanya jaringan sosial.
3.
Norm (Norma)
Norma-norma terdiri dari pemahaman-pemahaman, nilai-nilai, harapanharapan dan tujuan yang diyakini dan dijalankan bersama oleh sekelompok orang.
Norma-norma dapat bersumber dari agama, panduan moral, maupun standarstandar sekuler seperti halnya kode etik profesional. Norma-norma dibangun dan
berkembang berdasarkan sejarah kerjasama di masa lalu dan diterapkan untuk
mendukung iklim kerjasama (Putnam 1993 dalam Suharto 2006). Norma-norma
dapat merupakan pra-kondisi maupun produk dari kepercayaan sosial.
Sementara Lawang (2004) mengatakan norma tidak dapat dipisahkan dari
jaringan dan kepentingan. Kalau struktur jaringan itu terbentuk karena pertukaran
sosial yang terjadi antara dua orang atau lebih, sifat norma kurang lebih sebagai
berikut:
a) Norma itu muncul dari pertukuran yang saling menguntungkan, artinya
kalau pertukaran itu keuntungan hanya dinikmati oleh salah satu pihak
saja, pertukaran sosial selanjutnya pasti tidak akan terjadi. Karena itu,
norma yang muncul disini, bukan sekali jadi melalui satu pertukaran saja.
32
Norma muncul karena beberapa kali pertukaran yang saling
menguntungkan dan ini dipegang terus-meneruas menjadi sebuah
kewajiban sosial yang harus dipelihara.
b) Norma bersifat resiprokal, artinya isi norma menyangkut hak dan
kewajiban kedua belah pihak yang dapat menjamin keuntungan yang
diperoleh dari suatu kegiatan tertentu. Orang yang melanggar norma ini
yang berdampak pada berkurangnya keuntungan di kedua belah pihak,
akan diberi sanksi negativ yang sangat keras.
c) Jaringan yang terbina lama dan menjamin keuntungan kedua belah pihak
secara merata, akan memunculkan norma keadilan, dan akan melanggar
prinsip keadilan akan dikenakan sanksi yang keras juga.
Uphoff (2000) menjelaskan unsur-unsur modal sosial dirinci menjadi dua
kategori yang saling berhubungan, yaitu struktural dan kognitif. Kategori
struktural berkaitan dengan beragam bentuk organisasi sosial. Peranan (roles) dan
aturan (rules) mendukung empat fungsi dasar dan kegiatan yang diperlukan untuk
tindakan kolektif, yaitu pembuatan keputusan, mobilisasi dan pengelolaan
sumberdaya, komunikasi dan koordinasi, dan resolusi konflik. Hubunganhubungan sosial membangun pertukaran (exchange) dan kerjasama (cooperation)
yang melibatkan barang material maupun non material. Hubungan-hubungan
sosial membentuk jejaring (networks). Peranan, aturan, dan jejaring memfasilitasi
tindakan kolektif yang saling menguntungkan (mutually beneficial collective
action/MBCA).
Kategori kognitif datang dari proses mental yang menghasilkan
gagasan/pemikiran yang diperkuat oleh budaya dan ideologi. Norma, nilai, sikap,
dan kepercayaan memunculkan dan menguatkan saling ketergantungan positif
dari fungsi manfaat dan mendukung MBCA. Terdapat dua orientasi, yaitu
orientasi ke arah pihak/orang lain dan orientasi mewujudkan tindakan. Orientasi
pertama, yaitu norma, nilai, sikap, dan kepercayaan yang diorientasikan kepada
pihak lain, bagaimana seseorang harus berfikir dan bertindak ke arah orang lain.
Kepercayaan (trust) dan pembalasan (reciprocation) merupakan cara membangun
hubungan dengan orang lain. Sedangkan tujuan membangun hubungan sosial
adalah solidaritas. Kepercayaan (trust) dilandasi oleh norma, nilai, sikap, dan
kepercayaan (belief) untuk membuat kerjasama dan kedermawanan efektif.
Solidaritas juga dibangun berdasarkan norma, nilai, sikap, dan kepercayaan untuk
membuat kerjasama dan kedermawanan bergairah.
Orientasi Kedua, yaitu norma, nilai, sikap, dan kepercayaan yang
diorientasikan untuk mewujudkan tindakan (action), bagaimana seseorang harus
berkemauan untuk bertindak. Kerjasama (cooperation) merupakan cara tindakan
bersama dengan yang lain. Sedangkan tujuan dari tindakan adalah kedermawanan
(generosity). Kerjasama dilandasi oleh norma, nilai, sikap, dan kepercayaan
(belief) untuk memunculkan harapan bahwa pihak/orang lain akan bersedia
kerjasama dan membuat tindakannya efektif. Kedermawanan juga dilandasi oleh
33
norma, nilai, sikap, dan kepercayaan untuk memunculkan harapan bahwa
“moralitas yang tinggi akan mendapat penghargaan (virtue will be rewarded)”.
Unsur-unsur modal sosial berdasarkan kategori struktural dan kognitif disajikan
pada Tabel 3.
Tabel 3. Kategori Modal Sosial
Kategori
Struktural
Kognitif
Sumber dan
perwujudannya/manifestasi
Domain/ranah
Faktor-faktor dinamis
Elemen umum
Peran dan aturan
Norma-norma
Jaringan dan hubungan
Nilai-nilai
antar
Sikap
pribadi lainnya
Keyakinan
Prosedur-prosedur dan
preseden-preseden
Organisasi sosial
Budaya sipil/kewargaan
Hubungan horisontal
Kepercayaan, solidaritas,
Hubungan vertikal
kerjasama, kemurahan
Harapan yang mengarah pada perilaku kerjasama, yang
akan
menghasilkan manfaat bersama Harapan yang mengarah
pada perilaku kerjasama, yang akan
menghasilkan manfaat bersama
Sumber: Uphoff (2000)
Dua kategori pembentuk unsur modal sosial tersebut secara intrinsik saling
terkait. Walaupun peran, aturan, jaringan preseden dan prosedur dapat diamati di
dalamnya, itu semua tetap datang dari hasil proses kognitif. Aset modal sosial
struktural bersifat ekstrinsik dan dapat diamati, sementara aspek kognitif tidak
dapat diamati, namun keduanya saling terkait di dalam praktik (Uphoff 2000).
Pariwisata
Konsep Pariwisata
Pariwisata menurut UU no. 9/1990 merupakan kegiatan perjalanan yang
dilakukan secara sukarela dan bersifat sementara, serta perjalanan itu sebagian
atau seluruhnya bertujuan untuk menikmati objek dan daya tarik wisata. Menurut
Yoeti ( 1996:12) seringkali pariwisata dianggap sebagai bingkai ekonomi, padahal
ia merupakan rangkaian dari kekuatan ekonomi, lingkungan, sosial budaya yang
bersifat global. Manfaat daripada pelestarian sektor pariwisata antara lain: (i)
pelestarian budaya dan adat istiadat; (ii) peningkatan kecerdasan masyarakat; (iii)
peningkatan kesehatan dan kesegaran; (iv) terjaganya sumber daya alam dan
lingkungan lestari; (v) terpeliharanya peninggalan kuno dan warisan leluhur; dsb.
Dasar hukum pengembangan pariwisata yang sesuai dengan prinsip
pengembangan adalah Undang-Undang RI Nomor 10 Tahun 2009 Tentang
Kepariwisataan tentang Pembangunan Kepariwisataan (Pasal 6: Pembangunan
kepariwisataan dilakukan berdasarkan asas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2
yang diwujudkan melalui pelaksanaan rencana pembangunan kepariwisataan
dengan memperhatikan keanekaragaman, keunikan, dan kekhasan budaya dan
alam, serta kebutuhan manusia untuk berwisata, Pasal 8: 1) Pembangunan
34
kepariwisataan dilakukan berdasarkan rencana induk pembangunan
kepariwisataan yang terdiri atas rencana induk pembangunan kepariwisataan
nasional, rencana induk pembangunan kepariwisataan provinsi, dan rencana induk
pembangunan kepariwisataan kabupaten/kota. 2) Pembangunan kepariwisataan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan bagian integral dari rencana
pembangunan jangka panjang nasional. Pasal 11: Pemerintah bersama lembaga
yang terkait dengan kepariwisataan menyelenggarakan penelitian dan
pengembangan kepariwisataan untuk mendukung pembangunan kepariwisataan.)
serta UUNo 10 tahun 2009 tentang Kawasan Strategis (Pasal 12: 1) Aspek-aspek
penetapan kawasan strategis pariwisata).
Wisata adalah salah satu kegiatan yang dibutuhkan setiap manusia. Dalam
Undang-undang No. 10 tahun 2009, wisata adalah kegiatan perjalanan yang
dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dengan mengunjungi tempat
tertentu untuk tujuan rekreasi, pengembangan pribadi, atau mempelajari keunikan
daya tarik wisata yang dikunjungi dalam waktu sementara. Goeldner (2003)
melihat pariwisata dari empat perspektif yang berbeda yaitu dari wisatawan,
pebisnis yang menyediakan pelayanan bagi wisatawan, pemerintah setempat dan
masyarakat setempat. Dengan melihat keempat persperktif tersebut, Goeldner
(2003) mendefinisikan pariwisata sebaga proses, kegiatan dan hasil yang didapat
dari hubungan dan interaksi antara wisatawan, tourism-suppliers, pemerintah
setempat, masyarakat setempat dan lingkungan sekitar yang dilibatkan
ketertarikan dan tuan rumah dari pengunjung, “Tourism may be defined as
processes, activities, and outcomes rising from the relationships and the
interactions among tourist, tourism-suppliers, host governments, host
communities, and surrounding enironments that are involved in the attracting and
hosting of visitor” (Goeldner, 2003)
Pengembangan Pariwisata Budaya
Pariwisata Budaya adalah salah satu jenis pariwisata yang menjadikan
budaya sebagai daya tarik utama. International Council on Monuments and Sites
(ICOMOS) (2012) menyatakan pariwisata budaya meliputi semua pengalaman
yang didapat oleh pengunjung dari sebuah tempat yang berbeda dari lingkungan
tempat tinggalnya. Dalam pariwisata budaya pengunjung diajak untuk mengenali
budaya dan komunitas lokal, pemandangan, nilai dan gaya hidup lokal, museum
dan tempat bersejarah, seni pertunjukan, tradisi dan kuliner dari populasi lokal
atau komunitas asli1. Pariwisata budaya mencakup semua aspek dalam perjalanan
untuk saling mempelajari gaya hidup maupun pemikiran (Goeldner, 2003).
Timothy dan Nyaupane (2009) menyebutkan bahwa pariwisata budaya
yang disebut sebagai heritage tourism biasanya bergantung kepada elemen hidup
atau terbangun dari budaya dan mengarah kepada penggunaan masa lalu yang
tangible dan intangible sebagai riset pariwisata. Hal tersebut meliputi budaya
35
yang ada sekarang, yang diturunkan dari masa lalu, pusaka non-material seperti
musik, tari, bahasa, agama, kuliner tradisi artistik dan festival dan pusaka material
seperti lingkungan budaya terbangun termasuk monumen, katredal, museum,
bangunan bersejarah, kastil, reruntuhan arkeologi dan relik.
Ahimsa-Putra (2004) mendefinisikan wisata budaya yang lestari
(sustainable) adalah wisata budaya yang dapat dipertahankan keberadaannya.
Tumbuhnya model pariwisata budaya yang berkelanjutan atau sustainable cultural
tourism tampak sebagai reaksi terhadap dampak negatif dari pariwisata yang
terlalu menekankan tujuan ekonomi (Suranti, 2005), yang pada dasarnya
bertujuan agar eksistensi kebudayaan yang ada selalu diupayakan untuk tetap
lestari. Untuk mempertahankan keberadaan suatu wisata budaya maka harus
mempertahankan pula budaya menjadi daya tarik utama dari wisata ini. Dengan
kata lain harus ada pengelolaan pusaka budaya yang baik.
Menurut McKercher dan du Cros (2002), pertumbuhan pariwisata budaya
bertepatan dengan timbulnya apresiasi massa dalam kebutuhan untuk menjaga dan
mengkonservasi aset budaya dan pusaka budaya yang mulai berkurang.
Selanjutnya, mereka menyatakan bahwa pariwisata bisa dilihat sebagai pisau
bermata dua bagi komunitas pengelolaan pusaka budaya. Di satu sisi, kebutuhan
wisata memberikan justifikasi politik dan ekonomi yang kuat untuk memperluas
kegiatan konservasi. Akan tetapi di sisi lain, peningkatan kunjungan, pemakaian
yang berlebihan, pemakaian yang tidak pantas dan komodifikasi aset yang sama
tanpa menghargai nilai budaya yang memberikan ancaman bagi integritas aset.
Pengkomodifikasian tersebut seringkali bertentangan dengan prinsip-prinsip
pengelolaan pusaka budaya. MacCannel (1992) dan Greenwood (1989) dalam
Soeriaatmaja, (2005) mempermasalahkan “pengkomoditasan” (commodification)
budaya dimana budaya menjadi pelayan dari konsumerisme sehingga nilai-nilai
mendalam, fungsi-fungsi sosial dan authenticity (keaslian) hilang menjadi sesuatu
yang dangkal. Soeriaatmaja menjelaskan bahwa istilah authenticity bisa
mencerminkan suatu benda, budaya atau lingkungan secara sebenar-benarnya.
Pengelolaan Wisata Budaya
Strategi Pengelolaan Pariwisata
Strategi pengembangan Kawasan Obyek dan Daya Tarik Wisata (ODTW)
meliputi:
1) Aspek Regulasi. Penguatan Instrumen kebijakan dan penguatan sistem
regulasi pariwisata dalam pemanfaatan dan pengembangan fungsi kawasan
untuk mendukung potensi pariwisata. Kelemahan yang mendasar pada
birokrasi tidak lain adalah kelemahan dalam sistem koordinasi. Pada
pemerintahan sekarang ini, banyak kebijakan lintas sektoral yang
terbengkalai karena masalah birokrasi.Jika hendak mengatasi masalah itu,
kita perlu membangun sistem koordinasi yang diwajibkan UU agar sektor
terkait memberikan dukungan kuat terhadap kebijakan dan program untuk
36
pencapaian tujuan dan sasaran pariwisata serta efektif untuk
menyelesaikan masalah-masalah yang ada.
2) Aspek Manajemen Pembangunan Sarana Prasarana ODTW yang
menunjang dan mencakup pengembangan infrastruktur kawasan wilayah
pariwisata. Peningkatan dukungan sarana prasarana serta infrastruktur
pendukungnya guna menunjang aksesibilitas objek dan atau kawasan yang
telah ada. Adanya sarana dan prasarana yang representatif pada kawasan
site wisata merupakan daya tarik tertentu untuk dikunjungi wisatawan
lokal dan wisatawan mancanegara. Namun, kondisi sarana dan prasarana
tersebut belum memadai. Pemerintah daerah berkewajiban melaksanakan
koordinasi, perencanaan, pelaksanaan serta monitoring pengembangan
obyek dan daya tarik wisata serta meningkatkan keterpaduan perencanaan
pengembangan wilayah yang mampu menjadi penggerak perekonomian
lokal daerah secara berkesinambungan. Dalam hal ini peran Infrastruktur
merupakan salah satu komponen utama dalam pengembangan kawasan
pariwisata. Pengembangan komponen ini tergantung pada tingkat
pelayanan pendukungnya, seperti jumlah penduduk, tingkat dan skala
pelayanan, sumberdaya alam/fisik yang tersedia, sistem jaringan
transportasi dan distribusi.Adapun pembangunan prasarana dan prasana
infra-struktur yang non-fisik materil dalam tulisan ini ditujukan pada
pembangunan atau rekonstruksi kepariwisataan oleh masyarakat
Kepulauan Siau Tagulandang Biaro. Konsep pengembangan infrastruktur
kawasan pariwisata merupakan salah satu komponen utama dalam
pengembangan kawasan pariwisata.Pengembangan sistem transportasi di
kawasanperencanaan merupakan bagian integral terhadap pengembangan
sistem transportasi daerah secara keseluruhan. Maka diperlukan
pengemasan ulang (re-packaging) secara menyeluruh serta strategi yang
lebih pas mengenai pengembangan potensi wisata dengan manajemen dan
konsep yang baik dan internalisasi nilai-nilai yang mendukung
kepariwisataan itu sendiri, sehingga yang menjadi perhatian dalam
pengembangan kawasan pariwisata adalah aspek pendukung dalam dunia
pariwisata tentunya perlu sarana dan prasarana pendukung seperti
membangun infrastruktur penunjang seperti fasilitas umum, tourist
information, art trade, fasilitas jalan, transportasi, akomodasi, dan pos
pengamanan serta akses penerangan.
3) Aspek Manajemen Kelembagaan meliputi pemanfaatan dan peningkatan
kapasitas institusi, mekanisme yang dapat mengatur berbagai kepentingan
secara operasional serta koordinasi agar memiliki efisiensi tinggi.
Meningkatkan kapabilitas dan efektifitas institusi kelembagaan terhadap
fungsi dan peran dalam pembangunan pariwisata ditinjau dari aspek
keterpaduan koordinasi dan interaksi yang sinergis antar stakeholder
terkait. Koordinasi dan peran serta keterlibatan dan keterpaduan program
37
antar stakeholder maupun sektor terkait dalam pengembangankebudayaan
dan pariwisata masih sangat kurang. Pengembangan kawasan wisata
merupakan salah satu konsep pengembangan jaringan. Pola
pengembangan jaringan pariwisata memerlukan kerjasama antar
pemerintah daerah maupun sektor swasta secara sinergis.
4) Aspek SDM. Menggalang kapabilitas dan kemampuan SDM profesional
serta mempunyai etos kerja yang tinggi dan senantiasa mengikuti dan
meningkatkan penguasaan IPTEK dalam pengelolaan kawasan pariwisata.
Kurangnya kualitas dan kuantitas sumber daya manusia pariwisata
yangprofesional dan berkemampuan tinggi dirasakan sampai saat ini, yang
mana human resources ini belum sesuai dengan apa yang diharapkan yakni
the right man and the right place. Pelaku pariwisata sangat kurang
jumlahnya dan kualitasnya tidak sesuai dengan sumber daya yang ada di
dinas maupun di lapangan. Oleh karena itu diperlukan pendidikan dan
pelatihan yang berkaitan dengan pengembangan Kebudayaan dan
Pariwisata.
5) Aspek Manajemen Pemasaran dan promosi. Promosi adalah strategi pokok
dalam pemasaran suatu industri wisata. Peran serta organisasi – organisasi
kepariwisataan mutlak diperlukan melalui program promosi wisata.
Tindakan promosi harus berdasarkan pada analisis terhadap situasi dan
permintaan pasar terkini. Ini berarti bahwa promosi yang dilakukan harus
berdasarkan hasil analisis data penelitian tentang segmentasi pasar
pariwisata, bukan merupakan pendapat dan perasaan penguasa atau
pemegang yang memandang perlu atau tidaknya diadakan promosi. Belum
optimalnya program promosi dan pemasaran dalam rangka peningkatan
misi yang merupakan sesuatu yang harus diemban atau dilaksanakan agar
memberikan konstribusi positif terhadap Pendapatan Asli Daerah
(PAD).Pelaksanaan promosi wisata daerah yang belum digarap secara
optimal, dapat dilihat dari data kunjungan wisatawan mancanegara dan
wisatawan lokal yang berkunjung. Unsur promosi pariwisata diharapkan
menjadi alat utama untuk melakukan destinasi pariwisata. Oleh karena itu
pengembangan dan peningkatan usahausaha promosi terus ditingkatkan
dari tahun ke tahun sehingga konstribusi Pendapatan dari sektor
kebudayaan dan pariwisata dapat lebih meningkat.
6) Aspek Manajemen pengelolaan yang meliputi aspek fisik lingkungan, dan
sosial ekonomi dari ODTW dengan profesionalisme dan pola pengelolaan
ODTW yang siap mendukung kegiatan usaha pariwisata dan mampu
memanfaatkan potensi ODTW secara lestari. Pembangunan, pemeliharaan
dan peningkatan produktifitas pengelolaan potensi kawasan wisata
(ODTW) yang potensial serta alternatif usaha pariwisata yang kreatif dan
inovatif.
38
Aktivitas Pembangunan Pariwisata
Konsep kebijakan yang diambil di dalam buku II RPJMN tahun 20102014, khususnya Bab II: Sosial Budaya dan Kehidupan Beragama, pembangunan
bidang kebudayaan diprioritaskan pada penguatan jati diri bangsa dan pelestarian
budaya yang dilakukan melalui empat focus prioritas:
1. Penguatan jati diri dan karakter bangsa yang berbasis pada keragaman
budaya, dengan menungkatkan: (a) pembangunan karakter dan pekerti
bangsa yang dilandasi oleh nilai-nilai kearifan lokal; (b) pemahaman
tentang kesejarahan dan kewawasan kebangsaan; (c) pelestarian,
pengembangan dan aktualisasi nilai dan tradisi dalan rangka
memperkaya dan memperkokoh khasanah budaya bangsa; (d)
pemberdayaan masyarakat adat; dan (e) pengembangan promosi
kebudayaan dengan pengiriman misi kesenian, pameran dan
pertukaran budaya.
2. Peningakatan apresiasi terhadap keragaman serta kreativitas seni dan
budaya, melalui (a) peningkatan perhatian dan kesetaraan pemerintah
dalam program-rogram seni budaya yang diinisiasi oleh masyarakat
dan mendorong berkembangnya apresiasi terhadap kemajemukan
budaya; (b) penyediaan sarana yang memadai bagi pengembangan,
pendalaman dan pagelaran seni budaya di kota besar dan ibu kota
kabupaten; (c) pengembangan kesenian seperti seni rupa, seni
pertunjukan, seni media, dan berbagai industri kreatif yang berbasis
budaya; (d) pemberian insentif kepada para pelaku seni dalam
pengembangan kualitas seni dan budaya dalam bentuk fasilitasi,
pendukung dan penghargaan.
3. Peningkatan kualitas perlindungan, penyelamatan, pengembangan dan
pemanfaatan warisan budaya, melalui: (a) penetapan dan pembentukan
pengelolaan terpadu untuk pengelolaan cagar budaya, revitalisasi
museum dan perpustakan di seluruh Indonesia; (b) perlindungan,
pengembangan,dan pemanfaatan peninggalan purbakala, termasuk
peninggalan bawah air; (c) pengembangan permuseuman nasional
sebagai sarana edukasi, rekreasi, serta pengembangan kesejarahan dan
kebudayaan; dan (d) penelitian dan pengembangan arkeologi nasional.
4. Pengembangan sumber budaya kebudayaan, melalui
(a)
pengembangan kapasitas nasional untuk pelaksanaan penelitian,
penciptaan dan inovasi dan memudahkan akses dan penggunaan oleh
masyarakat luas dibidang kebudayaan, (b) peningkatan jumlah,
pendayagunaan, serta kompetensi dan profesionalisme SDM
kebudayaan; (c) peningkatan pendukung sarana dan prasarana dan
pengembangan seni dan budaya masyarakat; (d) peningkatan
penelitian dan pengembangan kebudayaan; (e) peningkatan kualitas
39
informasi dan basis data kebudayaan; dan (f) pengembangan kemitraan
antara pemerintahan pusat dan daerah, sektor terkait, masyarakat dan
swasta.
Dampak dalam Pembangunan Pariwisata Budaya
Dampak positif dari pembangunan pariwisata (budaya) yaitu
meningkatkan neraca perdagangan, pemenuhan kebutuhab dalam negeri yang
tidak dapat dipenuhi oleh produksi domestik (Ningrum 2014). Yoeti (2008)
mengemukakan bahwa pariwisata (termasuk budaya) sebagai katalisator dalam
pembangunan karena dampak yang diberikannya terhadap kehidupan
perekonomian di negara yang dikunjungi wisatawan. Kegiatan ekowisata
memberikan dampak pada berbagai aspek seperti sosialbudaya, ekonomi, dan
lingkungan. Dampak yang ditimbulkan dapat berupa dampak positif dan negatif.
Berdasarkan kacamata ekonomimakro, jelas pariwisata (termasuk budaya)
memberikan dampak positif yaitu :
1. Dapat menciptakan kesempatan berusaha.
2. Dapat meningkatkan kesempatan kerja.
3. Dapat meningkatkan pendapatan sekaligus mempercepat pemerataan
pendapatan masayarakat, sebagai akibat multiplier effect yang terjadi dari
pengeluaran wisatawan yang relatif kcukup besar itu.
4. Dapat meningkatkan penerimaan pajak pemerintah dan retribusi daerah.
5. Dapat meningkatkan pendapatan nasional atau Gross Domestic Bruto
(GDB)
6. Dapat mendorong peningkatan investasi dari sektor industri pariwisata dan
sektor ekonomi lainnya. Dapat memperkuat neraca pembayaran. Bila
neraca pembayaran mengalami surplus, dengan sendirinya akan
memperkuat neraca pembayaran Indonesi dan sebaliknya (Yoeti 2008).
Dampak negatif yang terjadi akibat pengembangan pariwisata (termasuk
budaya) adalah :
1. Sumber-sumber hayati menjadi rusak, yang menyebabkan Indonesia
kehilangan daya tariknya untuk jangka panjang
2. Pembuangan sampah sembarangan, selain menyebabkan bau tidak sedap,
juga membuat tanaman di sekitarnya mati.
3. Sering terjadi komersialisasi seni-budaya
4. Terjadinya demonstration effect, kepribadian anak-anak muda rusak. Cara
berpakain anak-anak sudah mendunia berkaos oblong dan bercelana
kedodoran (Yoeti 2008).
40
SIMPULAN
Hasil Rangkuman dan Pembahasan
DAMPAK AKTIVITAS PEMBANGUNAN PARIWISATA BUDAYA
TERHADAP PENGARUH MODAL SOSIAL KOMUNITAS
Perkembangan global semakin pesat berkembang, dampak yang terjadi
pun tidak sedikit. Salah satu dampak yang dirasakan adalah klaim budaya
Nusantara. Bermula pada November 2007 terhadap Reog Ponorogo yang diklaim
oleh Negara Malaysia, pada tahun 2008 klaim lagu Rasa Sayange dari Maluku
dan pada Januari 2009 terjadi klaim pada batik pernyataan tersebut diuraikan oleh
wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Kebudayaan yaitu Wiendu
Nuryanti (Marboen 2012).
Masuknya budaya asing yang bertolak belakang dengan budaya lokal
berpengaruh dengan perilaku konsumtif dan kapitaslis yang dibawa warga Negara
asing yang mulai ditiru oleh masyarakat lokal sehingga tergeruslah kearifan lokal
dan menurunnya modal sosial.
Dampak positifnya yaitu meningkatkan neraca perdagangan, pemenuhan
kebutuhan dalam negeri yang tidak dapat dipenuhi oleh produksi domestik. Ini
merupakan upaya yang dilakukan oleh pemerintah adalah melalui perkembangan
sektor pariwisata. Dasar hukum pengembangan pariwisata yang sesuai dengan
prinsip pengembangan adalah Undang-Undang RI Nomor 10 Tahun 2009
Tentang Kepariwisataan tentang Pembangunan Kepariwisataan (Pasal 6:
Pembangunan kepariwisataan dilakukan berdasarkan asas sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 2 yang diwujudkan melalui pelaksanaan rencana pembangunan
kepariwisataan dengan memperhatikan keanekaragaman, keunikan, dan kekhasan
budaya dan alam, serta kebutuhan manusia untuk berwisata, Pasal 8: 1)
Pembangunan kepariwisataan dilakukan berdasarkan rencana induk pembangunan
kepariwisataan yang terdiri atas rencana induk pembangunan kepariwisataan
nasional, rencana induk pembangunan kepariwisataan provinsi, dan rencana induk
pembangunan kepariwisataan kabupaten/kota. 2) Pembangunan kepariwisataan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan bagian integral dari rencana
pembangunan jangka panjang nasional. Pasal 11: Pemerintah bersama lembaga
yang terkait dengan kepariwisataan menyelenggarakan penelitian dan
pengembangan kepariwisataan untuk mendukung pembangunan kepariwisataan.)
serta UUNo 10 tahun 2009 tentang Kawasan Strategis (Pasal 12: 1) Aspek-aspek
penetapan kawasan strategis pariwisata). Pertumbuhan sektor pariwisata dapat
dilihat dalam tabel 1 di bawah ini:
Tabel 1. Jumlah wisatawan Mancanegara ke Indonesia Tahun 2011-2013
Tahun
Jumlah Wisataean (ribu Penerimaan
Devisa
41
orang)
(Miliar US$)
2011
7.649,7
8.6
2012
8.044,5
9.1
2013
8.802,1
10.1
Sumber: Badan pusat Statistik, data diolah tahun 2012-2013
Berdasarkan data BPS jumlah wisatawan mancanegara yang datang ke
Indonesia pada tahun 2011-2013 tersebut di atas selalu mengalami peningkatan
jumlah wisatawan yang berbanding lurus dengan penerimaan devisa yang
diterima Negara. Pertumbuhan jumlah wisatawan pada tahun 2011-2012 sebesar
5,16% dan pada tahun 2012-2013 sebesar 9,42%.
Dalam pelaksanaan pembangunan nasional, Kementerian Kebudayaan dan
Pariwisata menyelenggarakan fungsi perumusan kebijakan nasional, kebijakan
pelaksanaan, dan kebijakan teknis di bidang kebudayaan telah berperan penting
dalam peningkatan pemahaman keragaman budaya, penyelesaian masalah tanpa
kekerasan, serta pengembangan interaksi antarbudaya. Sementara itu dalam
pembangunan kepariwisataan, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata berperan
penting sebagai penyelenggara pembangunan kepariwisataan yang terintegrasi
dalam pembangunan nasional yang dilakukan secara sistematis, terencana,
terpadu, berkelanjutan, dan bertanggung jawab dengan tetap memberikan
perlindungan terhadap nilai-nilai agama, budaya yang hidup di dalam masyarakat,
kelestarian dan mutu lingkungan hidup, serta peningkatan kemakmuran dan
kesejahteraan masyarakat.
Konsep kebijakan yang diambil di dalam buku II RPJMN tahun 20102014, khususnya Bab II: Sosial Budaya dan Kehidupan Beragama, pembangunan
bidang kebudayaan diprioritaskan pada penguatan jati diri bangsa dan pelestarian
budaya yang dilakukan melalui empat focus prioritas:
5. Penguatan jati diri dan karakter bangsa yang berbasis pada keragaman
budaya, dengan menungkatkan: (a) pembangunan karakter dan pekerti
bangsa yang dilandasi oleh nilai-nilai kearifan lokal; (b) pemahaman
tentang kesejarahan dan kewawasan kebangsaan; (c) pelestarian,
pengembangan dan aktualisasi nilai dan tradisi dalan rangka
memperkaya dan memperkokoh khasanah budaya bangsa; (d)
pemberdayaan masyarakat adat; dan (e) pengembangan promosi
kebudayaan dengan pengiriman misi kesenian, pameran dan
pertukaran budaya.
6. Peningakatan apresiasi terhadap keragaman serta kreativitas seni dan
budaya, melalui (a) peningkatan perhatian dan kesetaraan pemerintah
dalam program-rogram seni budaya yang diinisiasi oleh masyarakat
dan mendorong berkembangnya apresiasi terhadap kemajemukan
budaya; (b) penyediaan sarana yang memadai bagi pengembangan,
42
pendalaman dan pagelaran seni budaya di kota besar dan ibu kota
kabupaten; (c) pengembangan kesenian seperti seni rupa, seni
pertunjukan, seni media, dan berbagai industri kreatif yang berbasis
budaya; (d) pemberian insentif kepada para pelaku seni dalam
pengembangan kualitas seni dan budaya dalam bentuk fasilitasi,
pendukung dan penghargaan.
7. Peningkatan kualitas perlindungan, penyelamatan, pengembangan dan
pemanfaatan warisan budaya, melalui: (a) penetapan dan pembentukan
pengelolaan terpadu untuk pengelolaan cagar budaya, revitalisasi
museum dan perpustakan di seluruh Indonesia; (b) perlindungan,
pengembangan,dan pemanfaatan peninggalan purbakala, termasuk
peninggalan bawah air; (c) pengembangan permuseuman nasional
sebagai sarana edukasi, rekreasi, serta pengembangan kesejarahan dan
kebudayaan; dan (d) penelitian dan pengembangan arkeologi nasional.
8. Pengembangan sumber budaya kebudayaan, melalui
(a)
pengembangan kapasitas nasional untuk pelaksanaan penelitian,
penciptaan dan inovasi dan memudahkan akses dan penggunaan oleh
masyarakat luas dibidang kebudayaan, (b) peningkatan jumlah,
pendayagunaan, serta kompetensi dan profesionalisme SDM
kebudayaan; (c) peningkatan pendukung sarana dan prasarana dan
pengembangan seni dan budaya masyarakat; (d) peningkatan
penelitian dan pengembangan kebudayaan; (e) peningkatan kualitas
informasi dan basis data kebudayaan; dan (f) pengembangan kemitraan
antara pemerintahan pusat dan daerah, sektor terkait, masyarakat dan
swasta.
Dalam suatu pembangunan atau pemberdayaan masyarakat maupun
komunitas di suatu organisasi ataupun non-organisasi, dibutuhkan suatu peran
modal sosial yang kuat untuk keberlanjutan suatu kegiatan atau program yang
sedang dilaksanakan. Modal sosial merupakan modal sumberdaya berupa jaringan
kerja yang memiliki pengetahuan tentang nilai, norma, struktur sosial atau
kelembagaan yang memiliki semangat kerja sama, kejujuran atau kepercayaan,
berbuat kebaikan sebagai pengetahuan sikap bertindak atau berperilaku yang akan
memberikan implikasi positif kepada produktivitas (outpur) dan hasil (outcome).
Semakin derasnya arus globalisai yang didorong oleh kemajuan teknologi
komunikasi dan informasi menjadi tantangan bangsa Indonesia untuk dapat
mempertahankan jati diri bangsa sekaligus memanfaatkannya untuk
pengembangan toleransi terhadap keragaman budaya dan peningkatan daya saing.
Mengacu kepada konsep modal sosial Uphoff (2000) yang lebih
operasional dan unsur-unsurnya terperinci. Uphoff (2000) mengartikan modal
sosial adalah akumulasi dari beragam tipe sosial, psikologis, budaya, kognitif,
43
kelembagaan, dan asset-aset yang terkait yang dapat
kemuningkinan manfaat bersama dari perilaku kerjasama.
meningkatkan
Uphoff (2000) membagi modal sosial menjadi dua kategori,
pertama kategori pertama yaitu unsur struktural yang berkaitan dengan beragam
bentuk organisasi sosial, khususnya terkait peranan, aturan, preseden dan prosedur
serta beragam jaringan yang mendukung kerjasama yang memeberikan manfaat
bersama (MBCA). Kategori kedua adalah kognitif yang berkaitan dengan proses
mental yang menghasilkan gagasan/ pemikiran yang diperkuat oleh budaya dan
ideology masyarakat, meliputi norma, nilai, sikap, keyakinan yang berkontribusi
pada terciptanya perilaku kerjasama dan MBCA. Pada kategori struktural, unsur
yang akan dikaji ditekankan pada peranan (roles), aturan (rules), dan jaringan
(networks). Sedangkan pada kategori kognitif, unsur yang akan dikaji ditekankan
pada kepercayaan (trust) dan solidaritas (solidarity), kedua unsur tersebut datang
dari norma (norms), nilai (value), sikap (attitudes), kepercayaan (belief) yang
menciptakan dan memperkuat kesalingtergantungan positif dan mendorong
meningkatnya harapan akan aliran manfaat yang dapat dirasakan oleh komunitas
pemilik/pengelola.
Kerangka pemikiran yang diuraikan tersebut dapat digambarkan
sebagaimana disajikan pada Gambar .
Aktivitas pembangunan
pariwisata budaya (X)
Dampak
Aktivitas
Pembangun
an
Pariwisata
Budaya
Terhadap
Modal
Sosial
Komunitas
 Penguatan jati diri
dan karakter
bangsa
 Peningkatan
apresiasi seni dan
budaya
 Peningakatan
kualitas warisan
budaya
 Pengembangan
sumberdaya
kebudayaan
Modal Sosial (Y)
Kognitif
Struktural
Peranan
Aturan
Jaringan
Kepercayaan
Solidaritas
Kerangka pemikiran di atas menjelaskan bahwa dampak dari aktivitas
pembangunan yang dilakukan pemerintah terhadap pembangunan pariwisata
budaya berpengaruh terhadap modal sosial yang dimiliki oleh masyarakat.
Pengaruh penguatan jati diri dan karakter akan mempengaruhi tingkat peranan
dari stakeholder yang ikut dalam perkembangan pariwisata, peningkatan apresiasi
seni dan budaya dan peningkatan kualitas warisan budaya akan mempengaruhi
44
tingkat jaringan, kepercayaan dan solidaritas antar masyarakat dan wisatawan, dan
pengaruh pengembangan sumberdaya kebudayaan akan mempengaruhi semua
tingkat modal sosial.
Dari konsep kebijakan dan modal sosial, akan diketahui dampak aktivitas
pembangunan tersebut terhadap modal sosial yang mengarah pertumbuhan
ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan rakyat, dengan tetap memperhatikan
asas manfaat, kekeluargaan, adil dan merata, seimbang, kemandirian, kelestarian,
partisipasi masyarakat, berkelanjutan, demokratis, kesetaraan, dan kesatuan serta
berpegang teguh ada prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan dan tata kelola
pemerintah yang baik (good governance).
45
Usulan Kerangka Analisis Baru
Penelitian ini mengacu kepada konsep modal sosial Uphoff (2000) yang
lebih operasional dan unsur-unsurnya terperinci. Uphoff (2000) mengartikan
modal sosial adalah akumulasi dari beragam tipe sosial, psikologis, budaya,
kognitif, kelembagaan, dan asset-aset yang terkait yang dapat meningkatkan
kemuningkinan manfaat bersama dari perilaku kerjasama.
Uphoff (2000) membagi modal sosial menjadi dua kategori, pertama
kategori pertama yaitu unsur struktural yang berkaitan dengan beragam bentuk
organisasi sosial, khususnya terkait peranan, aturan, preseden dan prosedur serta
beragam jaringan yang mendukung kerjasama yang memeberikan manfaat
bersama (MBCA). Kategori kedua adalah kognitif yang berkaitan dengan proses
mental yang menghasilkan gagasan/ pemikiran yang diperkuat oleh budaya dan
ideology masyarakat, meliputi norma, nilai, sikap, keyakinan yang berkontribusi
pada terciptanya perilaku kerjasama dan MBCA. Pada kategori struktural, unsur
yang akan dikaji ditekankan pada peranan (roles), aturan (rules), dan jaringan
(networks). Sedangkan pada kategori kognitif, unsur yang akan dikaji ditekankan
pada kepercayaan (trust) dan solidaritas (solidarity), kedua unsur tersebut datang
dari norma (norms), nilai (value), sikap (attitudes), kepercayaan (belief) yang
menciptakan dan memperkuat kesalingtergantungan positif dan mendorong
meningkatnya harapan akan aliran manfaat yang dapat dirasakan oleh komunitas
pemilik/pengelola.Adapun aktivitas pembangunan pariwisata budaya adalah
penguatan jati diri dan karakter bangsa, peningkatan apresiasi seni dan budaya,
peningakatan kualitas warisan budaya dan pengembangan sumberdaya
kebudayaan.
Kerangka pemikiran yang diuraikan tersebut dapat digambarkan
sebagaimana disajikan pada Gambar 1.
.
Dampak
Aktivitas
Pembangun
an
Pariwisata
Budaya
Terhadap
Modal
Sosial
Komunitas
Aktivitas pembangunan
pariwisata budaya (X)
 Penguatan jati diri
dan karakter
bangsa
 Peningkatan
apresiasi seni dan
budaya
 Peningakatan
kualitas warisan
budaya
 Pengembangan
sumberdaya
kebudayaan
Modal Sosial (Y)
Kognitif
Struktural
Peranan
Aturan
Jaringan
Kepercayaan
Solidaritas
Gambar 1. Kerangka Pemikiran
46
Perumusan Masalah dan Pernyataan Penelitian Skripsi
Berdasarkan kajian yang digunakan, penelitian ini akan menjelaskan
bagaimana dampak aktivitas dalam pembangunan pariwisata budaya akan
berpengaruh terhadap modal sosial di masyarakat lokal. Pertanyaan dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Berapa besar dampak yang terjadi karena aktivitas pembangunan
pariwisata budaya terhadap modal sosial yang terjadi di masyarakat?
2. Bagaimana hubungan aktivitas pembangunan pariwisata budaya dan
modal sosial masyarakat lokal?
Kategori yang digunakan dalam modal sosial adalah struktural dan kognitif.
Unsur struktural terdiri dari peranan, aturan dan jaringan, sedangkan unsur
kognitif terdiri dari kepercayaan dan solidaritas. Unsur tersebut berkembang di
masyarakat yang merupakan tradisi dalam aktivitas pembangunan dalam
pelestarian budaya. Aktivitas pembangunan yang dimaksud adalah. penguatan jati
diri dan karakter bangsa, peningkatan apresiasi seni dan budaya, peningakatan
kualitas warisan budaya dan pengembangan sumberdaya kebudayaan.
47
DAFTAR PUTAKA
Anen, N. 2012. Modal Sosial Dalam Pengelolaan Hutan Rakyat Lestari Di
Kabupaten Wonogiri Provinsi Jawa Tengah [thesis]. Bogor (ID) : Institut
Pertanian
Bogor.
Dapat
diunduh
dari
:
http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/63118
Azhari, Y. 2015. Modal Sosial Masyarakat dalam Mengembangkan Ekowisata
Bahari di Pulau Pramuka DKI Jakarta [skripsi]. Bogor (ID) : Institut
Pertanian
Bogor.
Dapat
diunduh
dari
:
http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/66322
Baskoro, B & Rukendi, C. 2008. Membangun Kota Pariwisata Berbasis
Komunitas: Suatu Kajian Teoritis. Jurnal Kepariwisataan Indonesia. Vol
3 No. 1, Maret 2008 ISSN 1907-9419. Dapat diunduh dari
http://demografi.bps.go.id/phpfiletree/bahan/DHS/1%23.pdf.
Dewi, D. R. & Hapsari, H. 2012. Kajian Aspek Sosiologi Wisatawan di Objek
Agrowisata (Kasus di Kampung Wisata Cinangneng, Kabupaten Bogor
Provinsi Jawa Barat). Jurnal Ilmiah Pariwisata. Vol 17, No. 2, Juli 2012,
Hal
121138.
Dapat
diunduh
di
http://www.stptrisakti.ac.id/puslit/jurnal/JI-PariwisataVol%2017%20No%202-Juli2012.pdf,
Hiborang, M. 2013. Strategi Pengelolaan Oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata
kabupaten
Kepulauan
Sitaro.
Dapat
diunduh
dari
http://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/jurnaleksekutif/article/viewFile/483
3/4358
Mawardi, M.J. 2007. Peranan Social Capital Dalam Pemberdayaan
Masyarakat.Komunitas 2, Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam.
Nafila, O. 2013. Peran Komunitas Kreatif dalam Pengembangan Pariwisata
Budaya di Situs Megalitikum Gunung Padang. Jurnal Perencanaan
Wilayah dan Kota.Vol 24 : (65-80). Bandung. Dapat diunduh dari
http://sappk.itb.ac.id/jpwk1/wp-content/uploads/2014/04/173-181.pdf
Ningrum, I.R. 2014. Analisis Peran Modal Sosial Terhadap Pemberdayaan
Masyarakat dalam Melestarikan Kebudayaan dan Pengembangan Sektor
Pariwisata (Di Desa Padang Tegal, Kecamatan Ubud, Kabpaten Gianyar,
Bali)[pdf].[internet].[dikutip tanggal 3 September 2015]. Dapat diunduh
dari: http://jimfeb.ub.ac.id/index.php/jimfeb/article/view/1360/1255
Oktaviyanti, S.S. 2013. Dampak Sosial Budaya Interaksi Wisatawan dengan
Masyarakat Lokal di Kawasan Sosrowijayan. Jurnal Nasional
Pariwisata. Volume 5, nomer 3, Desember 2013 (201-208) ISSN 14119862.
Dapat
diunduh
dari
http://jurnal.ugm.ac.id/tourism_pariwisata/article/download/6693/5256.
48
Rachmawati, E. et. al. Interaksi Sosial Masyarakat Dalam Pengembangan Wisata
Alam Di Kawasan Gunung Salak Endah. Dapat diunduh dari
http://download.portalgaruda.org/article.php?article=86372&val=245.
Sumarto, Hetifah Sj. 2009. Inovasi, Patisipasi, dan Good Governance: 20
Prakarsa Inovatif dan Partisipatif di Indonesia. Edisi ke-2. Jakarta.
Yayasan Obor Indonesia.
Syahyuti. 2008. Peran Modal Sosial (Social Capital) Dalam Perdagangan Hasil
Pertanian. Jurnal Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian. Vol. 25
No.1.
Dapat
diunduh
dari
http://pse.litbang.pertanian.go.id/ind/pdffiles/FAE26-1c.pdf.
Widodo, S. 2012. Penguatan Modal Sosial Untuk Pengembangan Nafkah
Berkelanjutan dan Berkeadilan. Strategi Nafkah keberlanjutan Bagi
Rumah Tangga Miskin di Daerah Pesisir. Dapat diunduh dari
http://agribisnis.trunojoyo.ac.id/wp-content/uploads/2015/05/PenguatanModal-Sosial-Untuk-Pengembangan-Nafkah-Berkelanjutan-danBerkeadilan.pdf.
Yoeti, O.A. 1980. Pengantar Ilmu Pariwisata. Bandung [ID]: Angkasa. 372
halaman.
Download