MENJADI GEREJA ORANG BASUDARA Oleh

advertisement
MENJADI GEREJA ORANG BASUDARA
Oleh:
Pdt. Dr. Jannes Alexander Uhi, M.Si
Sekretaris Balitbang GPM
[email protected]
Judul tulisan di atas diambil dari pernyataan Pimpinan Sinode Gereja Protestan Maluku
(GPM) yang telah mengalami pergumulan bersama pimpinan agama lainnya dalam rangka
mengupayakan kerukunan dan perdamaian di Maluku. Sebelum menjadi Ketua Sinode GPM,
Pdt. A.J.S. Werinussa diberikan tanggung jawab sebagai Sekretaris Forum Kerukunan Umat
Beragama (FKUB) Maluku. Suatu tanggung jawab yang mengharuskan beliau berinteraksi,
berelasi, berkomunikasi, bahkan beradaptasi dengan pimpinan dan komunitas agama-agama
lainnya. Hal ini mengisyaratkan bahwa pemikiran dan perjuangan untuk menciptakan GPM
sebagai gereja orang basudara bukanlah sebuah mimpi, namun suatu cita-cita.
Pernyataan menjadi gereja orang basudara pada hakikatnya ingin menekankan bahwa kita
(umat Kristen dan umat beragama lainnya) bersaudara, yang berarti kita semua adalah satu
keluarga. Tidak ada perbedaan di antara kita. Banyak hal yang di utarakan oleh Mahatma Gandhi
dalam bukunya “semua manusia bersaudara”, antara lain tentang agama dan kebenaran, cara dan
tujuan, bagaimana mengendalikan diri, apa itu perdamaian dunia, beda dengan manusia mesin,
bahwa kemiskinan ada di tengah-tengah kelimpahan, demokrasi dan rakyat, pendidikan, kaum
wanita serta serba-serbi pandangan lainnya. Semua ini dipaparkan secara lengkap agar sang
pembaca memahami arti persaudaraan di antara manusia. Gandhi mempertegas hal tersebut
dengan menyatakan “semua manusia bersaudara”. Artinya, menurut Gandhi yang membedakan
seluruh umat manusia hanya ras, suku, bangsa, agama dan lain sebagainya. Namun pada
hakikatnya kita sama, dan karena itu kita semua membutuhkan satu sama lainnya. Hal ini
pertanda bahwa tidak ada seorang manusia pun yang dapat hidup sendiri tanpa bantuan orang
lain. Tidak ada salah satu suku/etnis yang dapat hidup sendiri tanpa membutuhkan suku/etins
lainnya. Begitu juga dalam hal agama, tidak ada agama apapun yang dapat hidup sendiri tanpa
bantuan agama lain. Manusia bukan hidup karena penghancuran. Rasa cita diri sebagai manusia
selalu mendorong dirinya untuk mementingkan orang lain. Bangsa-bangsa hidup rukun karena
terdapat rasa saling mengindahkan kalangan warganya. Jelasnya, setiap manusia adalah sama
dalam pandangan Tuhan. Tentu saja terdapat perbedaan suku, agama dan bangsa serta perbedaan
derajat dan martabat, namun itu tidak berarti manusia yang satu harus melawan dan memusuhi
manusia lainnya. Kian tinggi martabat seseorang, kian bertambah berat pula tanggung jawabnya.
Semakin kuat kadar iman seseorang pada Tuhan dalam agamanya, harus semakin kuat pula
hidup persaudaraan orang tersebut dengan orang yang berkepercayaan lain.
Dalam beberapa moment gerejawi akhir-akhir ini ketua Sinode GPM, Pdt. Ates
Werinussa, selalu mengatakan bahwa ke depan hendaknya GPM menjadi “gereja orang basudara
(bersaudara)”. Pernyataan ini sudah tentu memiliki dasar dan alasan yang sangat kuat dan
mendasar, bahwa semua manusia bersaudara (sebagaimana yang Gandhi sebutkan). Selain itu,
pernyataan tersebut hendak menegaskan bahwa sudah saatnya gereja masa kini dan masa depan
menaruh perhatian pada upaya membangun sikap hidup yang inklusif, terbuka bagi orang lain.
Lebih dalam lagi, pernyataan “gereja orang basudara” hendak menempatkan gereja pada suatu
pemahaman mendalam, bahwa bermisi dalam konteks dewasa ini bukan lagi dilakukan dalam
kerangka membuat “orang lain” menjadi “kita” melainkan tetap membiarkan “orang lain”
menjadi “dirinya” sendiri. Artinya, misi gereja kontemporer adalah mengingatkan “orang lain”
bahwa tantangan dan permasalahan bersama yang gereja dan agama-agama lain hadapi saat ini
adalah masalah ketidakadilan sosial, kemiskinan, narkoba, HIV/AIDS, korupsi, pengrusakan
lingkungan, pelanggaran HAM, pelecehan seksual, perdagangan manusia, dsb. Masalah-masalah
ini kini dihadapi oleh semua agama yang ada di Indonesia, sebab masalah-masalah tersebut telah
masuk, merasuk, dan merusak tatanan kehidupan seluruh umat beragama di Indonesia. Masalahmasalah tersebut masuk dan menghinggapi semua kehidupan umat beragama tanpa memandang,
memilih, dan memilah umat beragama berdasarkan kelompok agama tertentu saja. Ada orang
Kristen yang mengalami masalah tersebut, namun ada juga umat beragama lainnya (Muslim,
Hindu, Budha, Katolik, dll) yang mengalaminya juga.
Dalam konteks permasalahan bersama seperti ini, agama yang satu tidak bisa lagi
menganggap agama yang lain sebagai lawan, apalagi sebagai musuh. Gereja tidak bisa
menganggap umat beragama lain sebagai orang lain: lawan atau musuh. Begitu pun, umat
beragama lain (Muslim, Hindu, Budha, Katolik, dan lainnya) tidak bisa menganggap gereja
(umat Kristen) sebagai orang lain: lawan atau musuh. Pandangan bahwa agama lain itu lawan
atau musuh dari dulu hingga kini semestinya tidak mendapat tempat dalam kehidupan
bermasyarakat. Alasannya, lawan/musuh orang Kristen bukan orang Muslim atau Budha atau
Hindu atau Katolik atau lainnya. Begitu pula, lawan/musuh umat beragama lain (Muslim, Budha,
Hindu, Katolik, atau lainnya) bukanlah orang Kristen. Lawan/musuh orang Kristen, Muslim,
Budha, Hindu, Katolik, dan lainnya adalah ketidakadilan sosial, kemiskinan, narkoba,
HIV/AIDS, korupsi, pengrusakan lingkungan, pelanggaran HAM, pelecehan seksual,
perdagangan manusia, dsb. Masalah-masalah inilah yang harus diperangi secara bersama. Jadi,
salah satu faktor untuk menghadapi dan mengatasi masalah-masalah ini adalah dengan jalan
agama-agama harus menyadari dan menyatakan diri bahwa agama-agama itu bersaudara. Orang
Kristen dan orang beragama lainnya adalah orang basudara.
Bagi GPM, untuk mengatasi permasalahan yang ada maka agama yang satu harus
menganggap dan menjadikan agama yang lain sebagai teman, sahabat, bahkan sebagai saudara.
Hal inilah yang hendak dikedepankan oleh GPM dalam membangun hubungan dan kerjasama
lintas agama. Hubungan lintas agama yang selama ini sudah dibangun perlu diimplementasi
lebih dalam lagi, dengan mengedepankan aspek penguatan hubungan agama-agama sebagai
hubungan ade-kaka, atau dalam hubungan orang basudara gandong.
Wujud menjadikan GPM sebagai gereja orang basudara sudah mulai nampak pada
Perguruan Tinggi. UKIM (Kristen) dan IAIN Ambon (Islam) telah mengikat keberadaan mereka
dalam ikatan budaya pela. Ikatan pela antara UKIM dan IAIN Ambon dirasa belum cukup.
Sebaiknya (bahkan semestinya) jalinan pela UKIM dan IAIN Ambon disertai dengan wujud
persudaraan yang lebih konkrit, yakni melalui pengangkatan dosen Muslim yang mengajar
secara tetap di Fakultas Teologi UKIM (kerjasama dengan Kopertis Wilayah XII Maluku dan
Maluku Utara) dan dosen Kristen yang mengajar secara tetap di IAIN Ambon (kerjasama dengan
Kementrian Agama Provinsi Maluku).
Pernyataan “menjadi gereja orang basudara” setidaknya akan menjadi inspirasi pada Hari
Ulang Tahun (HUT) ke- 81 tahun Gereja Protestan Maluku (GPM) yang jatuh tepat tanggal 6
September 2016. Artinya, di HUT GPM ini gereja harus siap untuk merangkul dan dirangkul
oleh agama lainnya menjadi bagian dari persaudaraan agama-agama dan agama-agama orang
bersaudara di Maluku. Persaudaraan agama-agama dan agama-agama orang basudara tersebut
bukan suatu rekayasa, melainkan sebuah ketulusan hati dari semua agama yang ada di Maluku
untuk bersatu pikir dan tindakan dari level tertinggi sampai ke akar rumput saling menopang
mengatasi masalah dan memerangi musuh bersama agama-agama, yaitu masalah kemanusiaan,
kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan yang ada di Maluku. Itulah yang sejati dari hidup
orang beragama dan yang esensial dari agama-agama yang hidup. Agama yang saling
bermusuhan adalah agama bermartabat barbar, sedangkan agama yang saling merangkul dalam
ikatan hidup orang basudara adalah agama yang diberkati Tuhan Maha Pencipta dan Yang Maha
Esa….. Dirgahayu Gereja Protestan Maluku. Tuhan Memberkati semua orang basudra di
Maluku…….
**Telah ditayangkan pada Koran Ambon Expres dan Siwalima Sejak 6 September 2016
Download