2-143 - Pascasarjana UNDIKSHA

advertisement
ANALISIS PENGENDALIAN MUTU PENDIDIKAN
(SUATU KAJIAN TEORITIK DAN BERBAGAI PERMASALAHANNYA)
OLEH
I NYOMAN NATAJAYA
PROGRAM STUDI ADMINISTRASI PENDIDIKAN
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS PENDIDIKAN GENESHA
SINGARAJA
1
2012
PRAKATA
Puja dan puji syukur kami panjatkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Waca Tuhan
Yang Maha Esa, karena berkat rahmat dan bimbingan-Nya, kami dapat menyelesaikan penu-lisan
buku ajar dengan judul Analisis Pengendalian Mutu Pendidikan (Suatu Kajian Teoretik dan
Berbagai Permasalahannya) dapat dislesaikan tepat sesuai dengan jadwal waktu yang
direncanakan.
Buku ajar ini adalah sebagai salah satu produk dari pelaksanaan penelitian pengembangan perangkat pembelajaran pada Program Pascasarjana Undiksha Singaraja dalam rangka
untuk mendukung perkuliahan mata kuliah Analisis Pengendalian Mutu Pendidikan pada
Program Studi S2 Administrasi Pendidikan.
Buku ajar ini dapat diselesaikan sudah tentunya tidak dapat dilepaskan dari bantuan
berbagai pihak terutama Direktur Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha yang
berkenan membiayai penelitian dan penulisan buku ajar ini. Lembaga Penelitian Undiksha
Singaraja yang berkenan memfasilitasi secara administrasi pelaksanaan penelitian dan penulisan
buku ajar ini. Demikian juga pihak-pihak lain yang telah membantu mencer-mati, mengkritisi dan
memberikan saran yang diperlukan, sehingga penelitian dan penulisan buku ajar ini dapat
dilaksanakan dan selesai tepat sesuai dengan waktu yang direncanakan. Melalui kesempatan ini
kami mengucapkan terima kasih.
Kami menyadari bahwa buku ajar sebagai produk dalam penelitian pengembangan ini
masih ada kekurangannya, oleh karena itu tegur sapa, masukkan dan koreksi dari berbagai pihak
terutama yang memiliki perhatian terhadap laporan penelitian dan buku ajar ini masih tetap kami
harapkan demi untuk menambah kesempurnaannya.
2
Singaraja,
Nopember 2012
Peneliti,
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ............................................................................................................. i
PRAKATA .......................................................................................................................... ii
DAFTAR ISI ....................................................................................................................... iii
BAB. I PENDAHULUAN ...............................................................................................
1
A. Rasional Penulisan Buku ............................................................................. 1
B. Standar Kompetensi .................................................................................... 4
BAB. II HAKEKAT PENGENDALIAN MUTU PENDIDIKAN .................................. 5
A.
B.
C.
D.
E.
F.
G.
H.
Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaiannya ............................... 5
Pengertian Pengendalian Mutu Pendidikan ....................................... 11
Sejarah Pengendalian Mutu Pendidikan ........................................... 11
Tujuan Pengendalian Mutu Pendidikan............................................. 16
Basis Pengendalian Mutu Pendidikan ............................................... 18
Prinsip-prinsip Pengendalian Mutu Pendidikan ................................ 19
Rangkuman ........................................................................................ 20
Evaluasi ............................................................................................. 21
BAB. III SISTEM PENGENDALIAN MUTU PENDIDIKAN ............................ 22
A.
B.
C.
D.
E.
F.
Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaiannnya ............................ 22
Pengendalian sebagai Sistem Sibernetika .......................................... 22
Pengendalian sebagai Sistem Umpan Muka dan Umpanbalik .......... 23
Pengendalian sebagai Sitem Informasi pada Waktu Kejadian …...… 25
Rangkuman ……………………………….………………………… 26
Evaluasi ……………………………………...……………...…….. 26
BAB. IV PROSES PENGENDALIAN MUTU PENDIDIKAN ..........………….. 27
A. Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaiannya .............................. 27
B. Syarat-syarat Pengendalian Mutu Pendidikan ................................... 27
C. Titik-titik Kritis dalam Pengendalian Mutu Pendidikan ................... 34
3
D. Tahap-tahap Pengendalian Mutu Pendidikan ....................................
1. Menetapkan Standar ....................................................................
2. Mengukur Prestasi kerja .............................................................
3. Menetapkan Prestasi Kerja yang Sesuai dengan Standar ............
4. Membetulkan penyimpangan .....................................................
E. Rangkuman ......................................................................................
F. Evaluasi ............................................................................................
39
39
40
41
41
42
43
BAB. V MUTU PENDIDIKAN ........................................................................... 44
A. Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaiannya ............................. 44
B. Pengertian Mutu Pendidikan .............................................................. 44
C. Komponen Input Sebagai Faktor Pendukung Mutu Pendidikan ...... 49
D. Komponen Proses Sebagai Faktor Pendukung Mutu Pendidikan .... 54
E. Komponen Produk Sebagai Hasil Pendidikan ................................... 56
F. Rangkuman ........................................................................................ 57
G. Evaluasi ............................................................................................. 57
BAB. VI STANDAR MUTU PENDIDIKAN DI INDONESIA ........................... 58
A.
B.
C.
D.
E.
F.
G.
H.
I.
J.
K.
Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaiannya .............................. 58
Standar isi Pendidikan ........................................................................ 59
Standar Proses Pembelajaran ............................................................ 63
Standar Kompetensi Lulusan ............................................................ 64
Standar Tenaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan ....................... 65
Standar Sarana Prasarana Pendidikan .............................................. 68
Standar Pengelola Pendidikan ......................................................... 69
Standar Biaya Pendidikan ................................................................. 71
Standar Penilaian Pendidikan .......................................................... 73
Rangkuman ........................................................................................ 74
Evaluasi ........................................................................................... 75
BAB. VII. MANAJEMEN MUTU TERPADU DAN SEKOLAH EFEKTIF ........ 76
A.
B.
C.
D.
E.
F.
G.
Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaiannya ............................. 76
Konsep Sekolah Efektif .................................................................. 76
Karakteristik dan Indikator Sekolah Efektif .................................. 80
Manajemen Mutu Trepadu dan Sekolah Efektif ............................. 97
Strategi dalam Mengimplementasikan Manajemen Mutu Terpadu . 106
Rangkuman ....................................................................................... 108
Evaluasi ........................................................................................... 109
DAFTAR PUSTAKA
........................................................................................... 110
4
BAB. I
PENDAHULUAN
A. Rasional Penulisan Buku
Program studi yang dibina di lingkungan program pascasarjana Universitas
Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja terdiri dari Program Studi Pendidikan Bahasa
Indonesia, Program Studi Penelitian dan Evaluasi Pendidikan, Program Studi Administrasi Pendidikan, Program Studi Teknologi Pendidikan, Program Studi Pendidikan
Dasar, Program Studi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam, dan Program Studi
Pendidikan Matematika. Semua program studi yang ada dan dikelola di lingkungan
Undiksha ini memiliki visi, misi dan tujuan masing-masing. Program Studi Adminsitrasi
Pendidikan misalnya memiliki visi menjadikan Program Studi Administrasi Pendidikan
memiliki kualitas yang unggul dan andal dalam pengembangan sumberdaya manusia,
dapat mengikuti tantangan dan tuntutan kemajuan pembangunan pendidikan nasional,
dan kompetitif dalam perkembangan dunia global. Misi Program Studi Administrasi
Pendidikan adalah pertama menyelenggarakan program pendidikan yang menyiapkan
tenaga ahli dalam bidang kependidikan, tenaga pendidik yang profesional (Dosen), calon
kepala sekolah dari tingkat SD sampai pada SMTA, calon pengawas dari tingkat SD
sampai pada tingkat SMTA, dan tenaga ahli perencanaan dalam bidang pendidikan,
kedua menyelenggarakan penelitian dalam bidang pendidikan utamanya dalam bidang
administrasi pendidikan dalam arti yang luas, dan yang ketiga adalah menyelenggarakan
pengabdian pada masyarakat dalam rangka ikut memecahkan berbagai masalah dalam
bidang kependidikan dan masalah-masalah pembangunan yang lainnya di tingkat
kabupaten, propinsi, dan tingkat nasional. Kemudian tujuan dari Program Studi Admi-
5
nistrasi Pendidikan adalah pertama menghasilkan lulusan sebagai tenaga ahli dalam
bidang kependidikan, tenaga pendidik yang profesional (Dosen) dalam Administrasi
Pendidikan, calon kepala sekolah tingkat SD sampai SMTA, pengawas dari tingkat SD
sampai SMTA, tenaga ahli perecanaan, dan tenaga ahli perencanaan dalam bidang
pendidikan, kedua menghasilkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan
humaniora yang menunjang pengembangan ilmu kependidikan, dan pelaksanaan tugas
profesi tenaga pendidikan (Dosen), utamanya dalam bidang administrasi pendidikan
dalam arti yang yang luas, serta yang ketiga adalah menyelenggarakan pengabdian pada
masyarakat dalam rangka ikut memecahkan berbagai masalah dalam bidang kependidikan umumnya dan bidang manajemen pendidikan pada khususnya, dan masalahmasalah pembangunan yang lainnya di tingkat kabupaten, propinsi, dan tingkat nasional.
Pada saat sekarang ini di tahun 2012 terungkap berbagai permasalahan yang
dihadapi oleh Program Pascasarjana Program S2 Undiksha Singaraja, khususnya Program
Studi Administrasi Pendidikan, seperti masa studi mahasiswa adalah berkisar antara lima
sampai dengan tujuh semester. Demikian pula IPK komulatif yang dicapai oleh para
lulusan berkisar antara 3,00 sampai dengan 3, 55. Dilihat dari masa studi dan IPK yang
dicapai mahasiswa menunjukkan bahwa proses penyelenggaraan pendidikan pada
program Pascasarjana di Undiksha belum terlaksana secara maksimal.
Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan penyelenggaraan pendidikan pada
Program Pascasarjana Undiksha belum dapat dilaksanakan secara maksimal, diantaranya
adalah fasilitas yang mendukung perkuliahan seperti buku literatur yang tersedia baik di
perpustakaan umum di Undiksha maupun di perpustakaan Program Pascasajana masih
terbatas dan kurang lengkap. Keterbatasan pasilitas buku-buku di perpustakaan ini
6
terungkap dalam laporan dan temuan penelitian Trecer Study yang dilakukan oleh tim
dosen Program Pascasajana di Undiksha terhadap lulusan Program Pascasarjana yang
dilakukan secara berturut-turut dalam waktu dua tahun terakhir ini yaitu tahun 2010 dan
tahun 2011 (Koyan, dkk. 2010, 2011). Keterbatasan dan kelangkaan buku-buku literatur
tersebut lebih diperparah dengan mahalnya harga buku, sulitnya dan sangat jarang dapat
ditemukan di toko-toko buku sehingga sulit dapat dicari dan dibeli untuk dimiliki bagi
para mahasiswa.
Permasalahan lainnya yang dihadapi oleh mahasiswa program Pascasarjana pada
saat ini adalah bahwa sebagian besar inputnya berasal dari guru-guru mulai dari guru SD,
SMTP, dan SMTA yang tersebar di seluruh pulau Bali. Untuk mengakses semua guru
yang akan melanjutkan studi lanjut, maka perkuliahan untuk mahasiswa program
pascasarjana tersebut dikonsentrasikan di dua kampus yaitu kampus Singaraja, dan
kampus Pegok Denpasar. Di sisi yang lain pada saat sekarang ini teknologi imformasi
komunikasi begitu pesat perkembangannya dan sangat canggih. Lebih dari itu teknologi
imformasi komunikasi sudah dikembangkan dalam penyelengagaran pendidikan jarak
jauh pada beberapa jenjang pendidikan dan dapat berhasil dengan baik.
Untuk mengatasi permasalahan kelangkaan buku-buku yang mendukung kelancaran perkulihan mahasiswa yang berlokasi pada dua lokasi yang cukup berjauhan yaitu
di kampus Singaraja dan kampus Pegok Denpasar, maka perlu dilakukan penelitian
pengembangan dengan mengangkat judul ”Pengembangan Perangkat Pembelajaran Mata
Kuliah Analisis Pengembangan Sumberdaya Pendidikan, Analisis Pengendalian Mutu
Pendidikan, Supervisi Pendidikan, dan Problematika pendidikan Berbasis E-Learning”
7
Jadi dengan dilakukannya penelitian ini diharapkan akan menghasilkan produk
paling tidak empat buah buku yang diharapkan dapat mendukung materi perkuliahan
dalam mata kuliah: (1) Analisis pengembangan sumberdaya pendidikan, (2) Analisis
pengendalian mutu pendidikan, (3) Supervisi pendidikan, dan (4) Problematika pendidikkan dengan berbagai keterbatasannya yang dapat mengatasi kelangkaan ketersediaan
buku-buku literatur, dan secara teknis ada peluang untuk mengembangkan proses pembelajaran yang berbasis E-Learning.
Jadi tujuan utama penulisan buku ini adalah pembangunan perangkat lunak
(software) yang akan dipasang pada portal web e-learning Program Pascasarjana
Undiksha untuk menyediakan sumber belajar alternatif kepada mahasiswa khususnya
untuk mendukung materi mata kuliah Analisis Pengendalian Mutu Pendidikan.
B. Standar Kompetensi
Melalui mata kuliah ini mahasiswa diharapkan memiliki kemampuan, wawasan,
pemahaman terhadap berbagai konsep dan teori tentang Analisis Pengendalian Mutu
Pendidikan, serta mampu mengaplikasikannya dalam memecahkan berbagai masalah
dalam upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan.
8
BAB. II
HAKEKAT PENGENDALIAN MUTU PENDIDIKAN
A. Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaiannya
Kompetensi Dasar
Indikator Pencapaiannya
Memahami pengertian pengendalian dalam Dapat menyebutkan salah satu pengertian
pendidikan.
pengendalian.
Memahami sejarah pengendalian sebagai Dapat menjelaskan sejarah pengendalian
fungsi manajemen
sebagai fungsi manajemen.
Memahami hambatan penerapan total qua-
Dapat menjelaskan hambatan penerapan
lity management dalam bidang pendidikan.
total quality management dalam bidang
pendidikan.
Memhami hubungan basis pengendalian
Dapat menjelaskan hubungan basis pe-
dengan strategi pengendalian.
ngendalian dengan strategi pengendalian
Memahami prinsip-prinsip pengendalian.
Dapat menjelaskan prinsip-prinsip pengendalian
B. Pengertian Pengendalian Mutu Pendidikan
Pendidikan di sekolah merupakan salah satu dari tri pusat pendidikan, di samping
pendidikan dalam keluarga dan pendidikan dalam masyarakat (Dewantara. 1977). Pendidikan di sekolah merupakan suatu sistem pendidikan yang dilakukan dan diorganisasikan
secara formal. Sekolah sebagai organisasi pendidikan merupakan suatu sistem yang
sangat kompleks, di dalamnya terdiri dari berbagai komponen yang mempunyai tugas dan
9
fungsi secara sendiri-sendiri maupun saling berkaitan satu sama lainnya, dan berproses
dalam rangka mencapai tujuannya.
Untuk dapat berfungsi dan berprosesnya berbagai komponen sekolah tersebut
secara efektif dalam mencapai tujuan pendidikan, maka berbagai fungsi manajemen
dalam lembaga pendidikan sekolah supaya dilakukan secara benar. Fungsi-fungsi
manajemen yang dimaksudkan diantaranya adalah fungsi perencanaan, pengorgasian,
komunikasi, pengarahan, kepemimpinan, pengendalian, pengawasan, evaluasi, monitoring, dan berbagai fungsi yang lainnya.
Pengendalian seperti fungsi manajemen perencanaan, pengorganisasian, penganggaran, kepemipinan, koordinasi dan fungsi yang lainnya merupakan fungsi manajemen
yang sangat vital. Fungsi pengendalian dalam organisasi mempunyai peranan penting
untuk dapat memastikan berbagai pelaksanaan operasi secara teratur dan akuntabilitas
tindakan terhadap suatu keberlangsungan hidup dan pertumbuhan suatu organisasi.
Pengendalian dalam manjemen adalah merupakan suatu konsep yang telah berevolusi
dari waktu ke waktu, mulai penekanan pada kekuatan, kemudian diikuti dengan suatu
penekanan pada perilaku, dan akhirnya penekanan pada multidimensional. Dalam
manajemen pengendalian manajemen diberikan pengertian yang bermacam-macam.
Pengendalian manajemen diberikan pengertian sebagai suatu proses pemantauan,
penilaian, dan pelaporan rencana atas pencapaian tujuan yang telah ditetapkan untuk
tindakan korektif guna penyempurnaan lebih lanjut (Usman. 2006). Ada juga pendapat
yang menyatakan bahwa pengendalian manajemen adalah suatu proses untuk memastikan
bahwa aktifitas sebenarnya sesuai dengan aktifitas yang direncanakan (Stoner. dkk.
1996). Stoner, dkk lebih lanjut dengan mengutip pendapat dari Robert J. Mockler juga
10
menyatakan bahwa pengendalian adalah suatu usaha yang sistematis untuk menetapkan
standar prestasi kerja dengan tujuan perencanaan untuk mendesain sistem umpan balik
informasi, untuk membandingkan prestasi yang sesungguhnya dengan standar yang telah
ditetapkan terlebih dahulu, untuk menetapkan apakah ada devisi dan untuk mengukur
signifikansinya, serta mengambil tindakan yang diperlukan untuk memastikan bahwa
semua sumberdaya perusahaan untuk digunakan dengan cara yang efektif dan seefisien
mungkin untuk mencapai tujuan perusahaan. Kemudian pengendalian sebagai proses
mengukur dan mengkoreksi prestasi kerja bawahan guna memastikan, bahwa tujuan
organisasi disemua tingkat dan rencana yang didesain untuk mencapainya sedang dilaksanakan (Koontz, dkk.1984., Pidarta.1988., Winardi.1990., Suadi. 2001). Demikian juga
ada yang menguraikan bahwa pengendalian mutu pada dasarnya merupakan suatu proses
untuk mendapatkan umpan balik dalam rangka meningkatkan pengelolaan mutu,
efisiensi, efektivitas, pemerataan, dan relevansi pendidikan. Proses pengendalian ini
dilakukan dalam tindakan perencanaan, dalam pelaksanaan, dan dalam evaluasi (Antony,
Dearden, dan Berford.1989). Begitu penting dan vitalnya pengendalian tersebut tidak saja
diyakini sebagai salah satu fungsi manajemen dalam suatu orgnisasi, tetapi eksestensi
pengendalian dalam bidang pendidikan khususnya di Indonesia tampaknya juga
mempunyai landasan hukum yang sangat kuat, karena memang sudah diatur dalam
peraturan dan perundang-undang yang berlaku, yaitu dalam Undang-undang No. 20
Tahun 2003 tentang Sisdiknas, di dalam undang-undang ini diatur bahwa evaluasi
pendidikan terdiri dari kegiatan pengendalian, penjaminan dan penetapan mutu pendidikan. Kemudian Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional
Pendidikan Pasal 18, 19 tentang Standar Kompetensi Pendidikan Tinggi. Pasal 45
11
Tentang Pengendalian Mutu, kemudian PP Tentang Pendidikan Tinggi yang mengatur
tentang pengendalian dan penjaminan mutu pendidikan. Demikian juga dalam kerangka
pembangunan perguruan tinggi jangka panjang 2003-2010 yang menekankan pentingnya
kualitas, yang didasarkan atas aspek otonomi, akuntabilitas, evaluasi.
GAMBAR 2.1
BAGAN FUNGSI MANAJEMEN
Fungsi
Manajamen
Perencanaan
Pengorganisasaian
Penggerakan
Bidang
Manusia
Uang
Fasilitas
Material
Produktifitas
Pendidikan
(Sekolah)
Pengendalian
Kepemimpinan
Komunikasi
Motivasi
Dari gambar di atas dapat dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan manusia yang
dikendalikan dalam suatu oraganisasi seperti sekolah tersebut adalah kepala sekolah,
guru, konselor, laboran, pustakawan, tenaga administratif, beserta fungsi, kewenangan,
tanggungjawab, kewajiban, hak, kemudian rencana dan program, ketentuan-ketentuan
untuk menjalankan tugas, pengendalian, dan kesan positif yang ditanamkan oleh kepala
sekolah kepada warga sekolah.
Uang atau faktor biaya dalam bidang pendidikan meliputi biaya investasi, yang
meliputi biaya penyediaan sarana dan prasarana, pengembangan sumberdaya manusia,
dan modal kerja tetap, (2) biaya personal, meliputi biaya pendidikan yang harus
dikeluarkan oleh peserta didik untuk bisa mengikuti proses pembelajaran secara teratur
dan berkelanjutan, dan (3) biaya operasi, meliputi: gaji pendidik dan tenaga kependi-
12
dikan serta segala tunjangan yang melekat pada gaji, bahan atau peralatan pendidikan
habis pakai, dan biaya operasi pendidikan tak langsung berupa daya, air, jasa telekomukasi, pemeliharaan sarana prasarana, uang lembur, transportasi, konsumsi, pajak,
asuransi, dan lain sebagainya.
Kemudian material yang dimaksudkan adalah berupa lahan, ruang kelas, ruang
pimpinan satuan pendidikan, ruang pendidik, ruang tata usaha, ruang perpustakaan, ruang
laboratorium, ruang bengkel kerja, ruang unit produksi, ruang kantin, instalasi daya dan
jasa, tempat berolahraga, tempat beribadah, tempat bermain, tempat berekreasi, dan ruang
tempat lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan
berkelanjutan.
Kemudian fasilitas berupa berbagai peralatan pendidikan yang meliputi mulai
kurikulum, buku dan sumber belajar lainnya, media pendidikan, bahan habis pakai, serta
perlengkapan lainnya termasuk mesin-mesin, teknologi komputer, radio, televisi, mobil,
metode-metode khususnya metode pembelajaran, yaitu cara-cara, tenik dan strategi yang
dikembangkan oleh sekolah yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang
teratur dan berkelanjutan.
Berdasarkan pada beberapa pengertian dari pengendalian tersebut maka sesungguhnya dapat dipahami bahwa pengendalian tersebut memiliki manfaat sebagai berikut:
(1) pengendalian digunakan untuk menstandarisasi ferformansi agar meningkatkan
efisiensi dan memperkecil biaya, termasuk diantaranya adalah studi waktu dan gerak,
inspeksi, prosedur yang tertulis atau jawal produksi, (2) pengendalian digunakan untuk
mengamankan aktiva perusahaan dari pencurian, pemborosan dan penyalahgunaan,
pengendalian yang demikian secara tipikal akan menekankan pembagian tanggungjawab,
13
pemisahan operasional, aktivitas dan penyimpanan dan sistem otorisasi dan catatan yang
memadai, (3) pengendalian digunakan untuk menstandarisasi mutu agar memenuhi
spesifikasi, baik pelanggan, cetak biru, inspeksi dan pengendalian mutu statistikal,
melambangkan tolak ukur yang digunakan untuk memelihara integritas produk yang
dipasarkan oleh organisasi, (4) pengendalian dirancang untuk menentukan batasan yang
ada didalamnya terdapat wewenang yang didelegasi yang dapat dijalankan tanpa
persetujuan manajemen puncak, (5) pengendalian digunakan untuk mengukur performa
”on-the-job”. Pengendalian demikian yang tipikal adalah laporan khusus keluaran
perjam, perkaryawan, pemeriksaan item, anggaran dan biaya standar, (6) pengendalian
digunakan untuk perencanaan dan operasi pemerograman. Pengendalian yang demikian
termasuk penjualan dan ramalan penjualan, anggaran berbagai standar biaya, dan standar
pengukuran kerja, (7) pengendalian yang diperlukan untuk memungkinkan manajemen
puncak mempertahankan berbagai macam rencana perusahaan dan program dalam
keseimbangan, pengendalian yang demikian tipikal adalah anggaran induk, manual
kebijakan, manual organisasi dan teknik organisasi, seperti komite/panitia dan penggunaan konsultan luar. Kebutuhan untuk pengendalian demikian akan memberikan modal
yang diperlukan untuk operasi sekarang dan jangka panjang untuk memaksimalkan laba,
dan (8) pengendalian yang didesain untuk memotivasi individual dalam suatu oragnisasi
untuk mengkontribusi usaha mereka yang terbaik. Pengendalian demikian perlu mencakup cara-cara mengakui pencapaian melalui hal-hal seperti promosi, hadiah untuk usulan,
atau beberapa bentuk pembagian laba (Tunggal. 1993).
Tampaknya pengendalian mutu dalam bidang pendidikan yang dicanangkan oleh
pemerintah khususnya departemen pendidikan pada saat sekarang ini tidak lain keber-
14
manfaatannya adalah dalam rangka untuk dapat terciptanya suatu standarisasi ferformansi
dalam bidang pendidikan yang didukung oleh suatu sistem yang efisien, mengamankan
penyelengaraan pendidikan dari pemborosan dan penyalahgunaan tanggungjawab, menjaga mutu agar memenuhi spesifikasi sesuai dengan tolak ukur yang digunakan untuk
memelihara integritas produk pendidikan, untuk menentukan batasan wewenang yang
dapat didelegasikan dan dijalankan tanpa persetujuan manajemen puncak, untuk perencanaan dan operasi pemerograman anggaran berbagai standar biaya, dan standar pengukuran kerja, untuk memungkinkan manajemen puncak mempertahankan berbagai macam
rencana program, memberikan biaya yang diperlukan untuk operasi sekarang dan jangka
panjang dalam memaksimalkan pencapaian tujuan pendidikan, dan untuk memotivasi
individual agar mereka menjadi yang terbaik dalam melaksanakan tugasnya sebagai
karayawan melalui hal-hal seperti promosi, dan kompensasi kesejahteraan yang lainnya.
C. Sejarah Pengendalian Mutu Pendidikan
Menurut Garvin dalam Nasution (2001) menjelaskan bahwa mutu sebagai suatu
konsep sudah dikenal sejak lama, namun kemunculannya sebagai salah satu fungsi
manajemen baru muncul pada akhir-akhir belakangan ini. Garvin membagi pendekatan
modern terhadap kualitas ke dalam empat era kualitas, yaitu inspeksi, pengendalian
kualitas secara statistik, jaminan kualitas, dan manajemen kualitas strategik.
Inspeksi, pendekatan inspeksi ini mulai diterapkan pada permulaan abad 19.
Pengendalian kualitas mencakup beberapa model yang seragam dari suatu produk untuk
mengukur kinerja sesungguhnya. Keseragaman seperti itu dimungkinkan pada manufakturing yang dilengkapi dengan pengembangan peralatan yang dirancang untuk menjamin
operasi mesin-mesin agar menghasilkan bagian-bagian yang identik sehingga dapat
15
saling menggantikan. Inspeksi terhadap output dapat dilakukan secara langsung maupun
dengan bantuan alat tertentu dirancang untuk mengukur output fisik dibandingkan dengan
standar yang seragam. Sejak awal abad 20, kegiatan inspeksi dikaitkan secara lebih
formal dengan pengendalian mutu, di mana mutu itu sendiri dipandang sebagai fungsi
manajemen yang berbeda.
Pengendalian kualitas secara statistik, gerakan kualitas yang menggunakan
pendekatan ilmiah untuk pertama kalinya pada tahun 1931 dengan dipublikasikannya
karya WA Schewart seorang peneliti kualitas dari Belll Telephone Laboratories. Ia
menyatakan bahwa variabelitas merupakan suatu kenyataan dalam industri dan hal ini
dapat dipahami dengan menggunakan prinsip probabilitas dan statistik. Kontribusi
utamanya adalah bagan pengendalian proses untuk merencanakan nilai produksi guna
menentukan apakah nilai tersebut masuk dalam rentang yang dikehendaki. Dua rekan
Shewhart mengembangkan teknik statistik untuk melakukan sampling sejumlah item
yang terbatas di setiap kelompok produksi sasarannya adalah untuk melakukan trade-off
antar biaya tinggi akibat inspeksi 100 % dan resiko dari salah satu keadaan: (1) menerima
suatu kelompok produksi yang sesungguhnya terdiri atas item-item yang rusak dalam
prosentase tinggi, atau (2) menolak suatu kelompok produksi yang sesungguhnya
memenuhi standar kualitas. Perbaikan dalam skala besar terhadap teknik statistik
dilakukan selama masa perang dunia II untuk mempercepat produksi dan penyerahan
perbekalan meliter untuk menghindari inspeksi yang membuang waktu, tenaga dan biaya.
Jaminan kualitas, dalam era ini terdapat pengembangan empat konsep baru yang
penting mengenai jaminan kualitas, yaitu biaya kualitas, pengendalian kualitas terpadu,
reliability engineering, dan zero defects. Biaya kualitas merupakan istilah yang dicipta-
16
kan oleh Joseph M. Juran untuk menjawab pertanyaan seberapa besar kualitas dirasa
cukup. Menurut Juran biaya untuk mencapai tingkat kualitas tertentu dapat dibagi
menjadi biaya yang dapat dihindari dan biaya yang tidak dapat dihindari. Biaya yang
tidak dapat dihindari adalah biaya yang dikaitkan dengan inspeksi dan pengendalian
kualitas yang dirancang untuk mencegah terjadinya kerusakan. Biaya yang dapat
dihindari adalah biaya kegagalan produk, meliputi bahan baku yang rusak, jam kerja yang
dipergunakan untuk pengerjaan ulang dan perbaikan, pemerosesan keluhan, dan kerugian
finansial akibat pelanggan yang kecewa. Implikasi dari pandangan Juran ini adalah
bahwa pengeluaran tambahan untuk perbaikan kualitas dapat dibenarkan selama biaya
kegagalan masih tinggi.
Pengendalian kualitas terpadu merupakan pemikiran Armand Feigenbaum yang
dikemukakan pada tahun 1956. Armand Feigenbaum menyatakan bahwa pengendalian
harus dimulai dari perancangan produk dan berakhir hanya jika produk telah sampai ke
tangan pelanggan yang puas. Prinsip utamanya adalah mutu merupakan pekerjaan setiap
orang. Ia menyatakan bahwa kegiatan kualitas dapat dikelompokan dalam tiga kategori,
yaitu: pengendalian rancangan baru, pengendalian bahan baku yang baru datang,
pengendalian productshop floor. Sistem kualitas saat ini juga memasukkan pengembangn
produk baru, seleksi pemasuk, dan pelayanan pelanggan. Reliability engineering atau
rekayasa keandalan muncul pada dekade 1950 an yang didorong oleh kebutuhan angkatan bersenjata Amerika untuk memiliki peralatan elektornik dan senjata udara yang dapat
diandalkan, bekerja dengan baik, serta menghindari kebutuhan untuk penggantian suku
cadang yang mahal. Zero defects (tidak boleh ada yang salah) pertama kali dimunculkan
oleh Martin Company pada tahun 1962. Konsep ini timbul karena kebutuhan pelanggan
17
meliter akan produks yang tidak hanya bekerja baik saat pertama kali, tetapi juga
diserahkan tepat waktu. Konsep zero defect lebih dipusatkan pada harapan menajemen
dan hubungan antar pribadi daripada keterampilan rekayasa. Tujuan utamanya adalah
mengharapkan kesempurnaan pada saat pertama dan fokusnya adalah indentifikasi
masalah pada sumbernya dengan perhatian khusus untuk mengkoreksi penyebab umum
kesalahan karyawan, seperti kurang pengetahuan, fasilitas yang kurang tepat, dan
kurangnya perhatian, kesadaran, dan motivasi karyawan. Menurut konsep zero defects
kesalahan yang disebabkan oleh kurangnya pengetahuan dapat diatasi dengan menggunakan teknik-teknik pelatihan modern, kesalahan karena kurangnya fasilitas dapat diatasi
dengan survei pabrik dan peralatan secara periodik, sedangkan kesalahan yang
disebabkan karena kurangnya perhatian adalah merupakan kesalahan yang paling sulit
dideteksi. Oleh karena itu perlu diatasi dengan program zero defects. Era ketiga
manajemen kualitas ini menandai titik balik yang menentukan. Konsep ini menaruh
perhatian utama pada pelanggan dan inisiatif karyawan sebagai masukkan penting bagi
program peningkatan kualitas. Gerakan manajemen kualitas dengan penekanan pada
karyawan muncul bersamaan dengan pemikiran baru manajemen sumberdaya manusia.
Berbagai konsep seperti teori Y dan Scanlon plan, mendorong manajer untuk menawarkan wewenang yang lebih besar kepada karyawan, seperti halnya zero defect yang
berfokus pada motivasi dan inisiatif karyawan.
Total quality management dimulai dari studi yang dilakukan oleh F. W. Taylor
yang dikenal dengan bapak manajemen ilmiah. Pada dekade 1920 an. Aspek yang paling
penting dalam manajemen ilmiah adalah adanya pemisahan antara perencanaan dan
pelaksanaan. Dengan adanya pemisahan tugas telah menimbulkan peningkatan yang
18
besar dalam produktifitas. Sebenarnya konsep pembagian tugas tersebut telah menyisihkan konsep lama mengenai keahlian atau keterampilan, dimana individu yang sangat
terampil melakukan semua pekerjaan yang dibutuhkan untuk menghasilkan produk yang
berkualitas. Manajemen ilmiah mengatasi hal ini dengan membuat perencanaan tugas
manajemen dan tugas tenaga kerja. Untuk mempertahankan kualitas produks dan jasa
yang dihasilkan, maka dibentuklah departemen kualitas yang terpisah. Bersamaan dengan
adanya peningkatan kompleksitas dari manufakturing kualitas juga menjadi hal yang
semakin sulit, dan mendorong timbulnya quality engineering 1920 an, reliability
engineering 1950 an. Quality engineering kemudian mendorong timbulnya penggunaan
metode-metode statistik dalam pengendalian mutu, yang mengarah pada konsep control
chart dan statistical process control. Kedua konsep terakhir inilah kemudian merupakan
aspek dasar dari total quality management.
Gerakan manajemen mutu terpadu dalam dunia pendidikan tampaknya masih
relatif baru, masih sedikit buku yang memuat referensi tentang ini, beberapa upaya
reorganisasi dengan konsep kerja total quality management telah dilaksanakan pada
beberapa universitas di Amerika dan beberapa universitas di Inggris, bahkan pada tahun
1990 an di kedua negara tersebut sangat berkembang pesat dan gagasan-gagasan mutu
tersebut terus menerus diteliti dan diimplementasi pada sekolah-sekolah. Namun
demikian jika penelitian-penelitian total quality management di dunia pendidikan
terutama pada program-program studi bisnis dan program MBA di Amerika dan Inggris
terjadi kesenjangan kebutuhan industri terhadap pengajaran dan penelitian total quality
management dibandingkan dengan kurikulum program-program bisnis. Jadi ada semacam kesenjangan dalam beberpa pendidikan di Inggris untuk menerapkan metodelogi dan
19
bahasa manjemen industri. Hal inilah yang kemungkinannya menyebabkan jauh pendidikan dari visi gerakkan mutu. Beberapa pelaku pendidikan tidak suka menarik analogi
antara proses pendidikan dan penciptaan produk-produk industri (Sallis. 2010). Pada saat
sekarang telah berkembang insiatif yang baru menempatkan guru dalam industri dan
kerjasama antara pendidikan dan bisnis telah membuat hubungan semakin dekat dan
membuat konsep-konsep industri semakin dapat diterima dalam dunia pendidikan.
D. Tujuan Pengendalian Mutu Pendidikan
Pengendalian manajemen sebagai salah satu fungsi dari manajemen mempunyai
tujuan dalam rangka mencapai tujuan organisasi. Ada beberapa pendapat yang menjelaskan tentang tujuan dari pengendalian tersebut. Ada pendapat yang menyatakan bahwa
tujuan pokok pengendalian mutu adalah untuk mengetahui sampai sejauh mana proses
dan hasil produk atau jasa yang dibuat sesuai dengan standar yang ditetapkan prusahaan
(Prawirosentono. 2004). Pendapat yang lainnya menyatakan bahwa tujuan pengendalian
mutu adalah: (1) menghentikan dan meniadakan kesalahan, penyimpangan, penyelewengan, pemborosan, hambatan, dan ketidakadilan, (2) mencegah terulangnya kembali
kesalahan, penyimpangan, penyelewengan, pemborosan, hambatan, dan ketidakadilan,
(3) mendapat cara-cara yang lebih baik untuk pemberian yang telah baik, (4) menciptakan suasana keterbukaan, kejujuran, partisipasi, dan akuntabilitas organisasi, (5)
meningkatkan kelancaran operasi organisasi, (6) meningkatkan organisasi kinerja, (7)
memberikan opini atas kinerja organisasi, (8) mengarahkan manajemen untuk melakukan
koreksi atas masalah-masalah pencapaian kinerja yang ada, dan (9) menciptakan
terwujudnya pemerintahan yang bersih (Usman. 20060). Kemudian pendapat yang
lainnya menyatakan bahwa pengendalian dilakukan agar: (1) perilaku personalia
20
organisasi mengarah pada tujuan organisasi, bukan semata-mata ke tujuan individual
mereka masing-masing, ini tidak berarti meniadakan tujuan-tujuan invidual membuat
manusia menjadi robot, melainkan mengusahakan agar tujuan individual tidak merugikan
organisasi. Perilaku yang memadukan tujuan individual dengan tujuan organisasi disebut
perilaku organisasi, (2) agar tidak terjadi penyimpangan yang berarti antara rencana
dengan pelaksanaan perencanaan tersebut (Pidarta. 2004). Penyimpangan antara perencanaan dengan penyimpangan sangat mungkin terjadi kalau tidak ada atau tidak ada
pengendalian. Sudah menjadi kodrat manusia bahwa mereka pada umumnya tidak dapat
bertahan lama bekerja dengan baik dan mencapai hasil kerja yang baik sesuai dengan apa
yang sudah direncanakan. Jarang manusia yang berbakti secara sungguh-sungguh
terhadap tugasnya, oleh karena itulah dibutuhkan kontrol atau pengendalian agar
pelaksanaannya tidak menyimpang secara berarti dari rencananya. Demikian sesungguhnya tujuan pengendalian tersebut memiliki dua sasaran, yaitu individu sebagai orangorang yang memperoses input menjadi ouput dan output organisasi itu sendiri. Demikian
juga ada pendapat lainnya yang menyatakan bahwa tujuan pengendalian adalah: untuk
mengarahkan beragam aktifitas perencanaan sumberdaya manusia dan mengidentifikasi
penyimpangannya dari rencana beserta sebab-sebabnya (Simamora. 2004), untuk menjamin agar semua peraturan dan perintah organisasi ditaati dan diikuti (Etzioni. 1985). Jadi
tampaknya dari beberapa tujuan pengendalian manajemen tersebut pada dasarnya
semuanya menyebutkan bahwa pengendalian manajemen tersebut sangat penting untuk
mendukung tercapainya tujuan organisasi apakah organisasi tersebut berupa perusahaan,
industri ataupun organisasi pendidikan.
E. Basis Pengendalian Mutu Pendidikan
21
Menurut Tunggal (1993) pengendalian didasarkan pada beberapa bentuk kukuatan. Setiap bentuk kekuatan menentukan dan mempengaruhi strategi pengendalian.
Disebutkan oleh Tunggal ada 6 jenis kekuatan, yaitu; (1) reward power adalah pola
persepsi yang dipegang seseorang atau kelompok bahwa orang lain atau kelompok lain
mempunyai kemampuan untuk memberikan ganjaran yang bervariasi untuk performa
yang berbeda, (2) coercipe power adalah didasarkan pada persepsi yang dipegang
sesorang atau sekelompok orang, bahwa orang lain atau kelompok lain mempunyai
kemampuan untuk memberikan hukuman, (3) legitimate power adalah didasarkan pada
persepsi yang dipegang orang atau kelompok orang bahwa orang lain atau kelompok lain
mrmpunyai hak untuk mempengaruhi tindakan yang terlebih dahulu, (4) referent power
adalah pola persepsi yang dipegang seseorang atau kelompok orang bahwa orang lain
atau kelompok lain mempunyai harus diidentifikasi dengan meniru tindakan, gaya dan
kepercayaan yang terakhir, (5) expert power adalah pola persepsi yang dipegang
seseorang atau kelompok orang bahwa orang lain atau kelompok lain harus diidentifikasi
karena pengetahuan dan keahlian yang terakhir, (6) integration of power yaitu suatu hasil
dari penggunaan dalam setiap organisasi dari semua tipe kekuatan reward power,
coercipe power, legitimate power, referent power, expert power, dan integration of
power. Dalam kenyataannya setiap jenis adalah efektif hanya dalam situasi khusus,
artinya bahwa dalam suatu sistem manajemen yang organik akan cocok dengan
perusahaan yang akan beroperasi di lingkungan pemasaran yang berubah, dan sistem
yang mekanis cocok untuk perusahaan yang beroperasi dalam lingkungan pemasaran
yang relatif stabil. Sebab itu dalam suatu sistem manajemen organik yang dicirikan oleh
perubahan yang lebih sering dari posisi dan peranan kurang struktur hiarkhis dan lebih
22
dinamis saling mempengaruhi antar berbagi fungsi dari suatu organisasi untuk berhubungan dengan kondisi yang tidak stabil dan berubah expert power atau reward power
mungkin cocok. Meskipun demikian dalam suatu sistem manajemen yang mekanistik
untuk perusahaan yang beroperasi dalam suatu lingkungan yang relatif stabil dan dengan
daya rutin, coercipe power dan legitimate power mungkin lebih dominan. Demikian pula
halnya dengan organisasi dalam bidang pendidikan tampaknya dalam sistem manjemennya lebih mekanik dan beroperasi pada lingkungan yang relatif stabil dan dengan daya
yang rutin maka mungkin cocok juga expert power, reward power dan legitimate power
digunakan sebagai basis pengendalian manajemennya.
F. Prinsip-prinsip Pengendalian Mutu Pendidikan
Menurut Pidarta (2004) ada beberapa prinsip yang dipegang oleh seorang manajer
untuk dapat dilaksanakannya pengendalian secara efektif. Prinsip-prinsip tersebut adalah:
(1) tertuju kepada strategi kunci sasaran yang menentukan keberhasilan, (2) kontrol harus
menggunakan umpan balik sebagai bahan revisi dalam mencapai tujuan, (3) harus
fleksibel dan responsif terhadap perubahan-perubahan kondisi lingkungan, (4 ) cocok
dengan organisasi pendidikan misalnya adalah organisasi sebagai sistem terbuka, (5)
merupakan kontrol diri sendiri, (6) bersifat langsung yaitu pelaksanaan kontrol di tempat
pekerja, (7) memperhatikan hakekat manusia dalam mengontrol para petugas pendidikan.
Untuk lebih efektifnya pelaksanaan pengendalian disamping prinsip-prinsip
pengendalian yang harus dipegang lebih dari itu soeorang menajer harus menerapkan apa
yang disebut setrategi manjemen. Startegi yang dimaksudkan adalah: (1) pengendalian
hendaknya diterjemahkan kedalam peraturan-peraturan atau kebijakan-kebijakan yang
dibuat secara bersam-sama oleh manajer, (2) desain organisasi harus jelas, strukturnya
23
yang jelas, deskripsi tugas dan tanggung jawab yang jelas, agar setiap anggotanya
merasa tidak tumpang tindih, (3) unit personalia harus berfungsi dengan baik. Ini dapat
dilakukan dimulai dengan prosedur seleksi yang baik sesuai dengan kebutuhan,
menempatkan karyawan sesuai dengan bidangnya dan kompetensi masing-masing (4)
memiliki dan memberi hadiah, kemajuan pekerjaan karyawan perlu dinilai dan dihargai
secara berkala dan bagi yang berprestasi perlu diberikan penghargaan serta motivasi kerja
karyawan yang tetap dijaga, (5) anggaran belanja, setiap unit perlu memiliki anggarananggaran serta prioritas-prioritas yang berkaitan dengan sistem penganggaran, dan (6)
pemakaian teknik yang tepat, yang dimaksudkan di sini adalah apabila proses pengendalian tersebut melakukan pengendalian terhadap peralatan atau mesin-mesin maka perlu
menggunakn teknik umpan balik yang tertutup. Demikian juga pengendalian dapat
menggunakan teknik informasi dengan memanfaatkan data informasi sebagai bahan
mengadakan perbaikan.
G. Rangkuman
Pengendalian mutu pendidikan pada dasarnya merupakan suatu proses untuk
mendapatkan umpan balik dalam rangka meningkatkan pengelolaan mutu, efisiensi,
efiktivitas, pemerataan, dan relevansi pendidikan. Proses pengendalian ini dilakukan
dalam tindakan perencanaan, dalam pelaksanaan, dan dalam evaluasi. Begitu penting dan
vitalnya pengendalian tersebut tidak saja diyakinkan sebagai salah satu fungsi manjemen
dalam suatu oragnisasi, tetapi eksestensi pengendalian dalam bidang pendidikan tampaknya juga mempunyai landasan hukum yang sangat kuat, karena memang sudah diatur
dalam peraturan dan perundang-undanga yang berlaku, yaitu dalam Undang-undang No.
20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas, di dalam undang-undang ini diatur bahwa evaluasi
24
pendidikan terdiri dari kegiatan pengendalian, penjaminan dan penetapan mutu pendidikan. Kemudian Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional
Pendidikan Pasal 18, 19 tentang Standar Kompetensi Pendidikan Tinggi. Pasal 45
Tentang Pengendalian Mutu, kemudian PP Tentang Pendidikan Tinggi yang mengatur
tentang pengendalian dan penjaminan mutu pendidikan. Demikian juga dalam kerangka
pembangunan perguruan tinggi jangka panjang 2003-2010 yang menekankan pentingnya
kualitas, yang didasarkan atas aspek otonomi, akuntabilitas, dan evaluasi.
Untuk dapat pengendalian terlaksanakan dengan efektif maka pengendalian harus
dilaksanakan dengan berpegang pada prinsip-prinsip dan strategi yang tepat sesuai
dengan organisasinya.
H. Evaluasi
1. Sebutkan salah satu pengertian pengendalian.
2. Jelaskan sejarah pengendalian sebagai fungsi manajemen.
3. Jelaskan hambatan penerapan total quality management dalam bidang pendidikan.
4. Jelaskan hubungan basis pengendalian dengan strategi pengendalian.
5. Jelaskan prinsip-prinsip pengendalian.
BAB. III
25
SISTEM PENGENDALIAN MUTU PENDIDIKAN
A. Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaiannya
Kompetensi Dasar
Indikator Pencapaiannya
Memahami pengendalian sebagai sistem Dapat menjelaskan pengendalian sebagai
sibernetika
sistem sibernetika
Memahami pengendalian sebagai sistem Dapat menjelaskan pengendalian sebagai
umpan muka, dan umpan balik
sistem umpan muka, dan umpan balik
Memahami pengendalian sebagai infor-
Dapat menjelaskan pengendalian sebagai
masi pada waktu kejadian
informasi pada waktu kejadian
B. Pengendalian sebagai sistem sibernetika
Pengendalian dalam manajemen pada pokoknya merupakan proses dasar yang
sama seperti yang terdapat dalam sistem kimia, fisika, biologi, dan sosial. Wiener seperti
yang dikutip oleh Koontz dkk (1984) menyebutkan bahwa komunikasi atau transfer
informasi dan pengendalian terjadi dalam banyak sistem yang disebutnya dengan
kibernetika. Lebih lanjut dijelaskan bahwa dalam semua sistem kibernetika akan terjadi
pengawasan terhadap dirinya sendiri dengan umpan balik informasi yang mengungkapkan kekeliruan dalam pencapaian tujuan dan memprakarsai dilakukan tindakan untuk
perbaikan atau pembetulan. Dengan kata lain, bahwa sistem kibernetika menggunakan
beberapa energinya untuk mengumpan balik informasi yang membandingkan prestasi
kerja dengan standar. Proses-proses ini terjadi dalam sistem kerja mesin, demikian juga
pada badan manusia dalam mengendalikan suhu, tekanan darah, sistem elektrik dalam
pengaturan voltase, dan lain-lain.
26
Pengendalian kibernetika ini dalam batas-batas tertentu sebenarnya bisa dilakukan
dalam pengendalian sistem pendidikan baik secara makro, maupun secara mikro di
sekolah oleh pimpinan ataupun oleh suatu unit yang ditugaskan untuk mengendalikan
mutu pendidikan, oleh karena pendidikan pada tingkat persekolahan dan peguruan tinggi
pada dasarnya merupakan sistem. Sistem yang dimaksudkan kalau mengikuti alur
berpikir dalam manajemen peningkatan mutu terdiri dari: (1) kontek, (2) input, (3)
proses, (4) out put, dan (5) out come. Semua komponen ini merupakan suatu kompleksitas yang terdiri dari beberapa indikator yang saling berhubungan dan ketergantungan,
kait berkait, dan berproses untuk mencapai tujuan pendidikan yang bemutu, yang
kemudian dalam model pengendalian mutu pendidikan di sekolah dan perguruan tinggi
secara initernal semua komponen sistem tersebut seharusnya dibuatkan standar-standar
oleh masing-masing sekolah dan perguruan tinggi yang ditetapkan dalam Rencana
Setrategi Pengembangannya, dalam rencana operasional lima tahunnya, dan rencana satu
tahunnya. Dengan demikian kalau terjadi gejala aktivitas kinerja dalam proses pelaksanaan pendidikan yang tidak sesuai dengan standar-standar yang telah ditetapkan, maka
dengan segera akan dapat diketahui, dan lebih lanjut akan segera pula dapat dilakukan
perbaikkannya.
D. Pengendalian sebagai sistem umpan muka, dan umpan balik
Dalam pengendalian sebagai sistem umpan muka cukup baik dalam memonitor in
put ke dalam proses untuk memastikan input adalah sesuai dengan rencana. Jika input
yang mencakup instrumental input seperti kebijakan pendidikan, program pendidikan,
kurikulum, personil pimpinan, dosen, pegawai administrasi, sarana fasilitas, media, dan
mungkin juga biaya, row input seperti kondisi mahasiswa seperti; intelek, fisik dan
27
kesehatannya, sikap sosial, peer group, dan environmental input seperti lingkungan
kampus, lingkungan keluarga, masyarakat, lembaga sosial tidak sesuai, maka input atau
prosesnya perlu dilakukan perubahan untuk memastikan bahwa tujuan pendidikan yang
berupa lulusan dilihat dari aspek; pengetahuan, kepribadian, dan perfomasi tersebut dapat
dicapai.
Demikian pula sebaliknya sistem umpan balik mengukur output suatu proses
yang berupa lulusan dilihat dari aspek pengetahuan, kepribadian dan ferformasinya
apabila rendah dan tidak sesuai standar-standar yang telah dietapkan sebelumnya, maka
berdasarkan atas output tersebut akan dapat untuk mengumpan tindakan koreksi ke dalam
proses apakah dalam pengajaran, pelatihan, pembimbingan, evaluasi, ekstrakurikuler,
pengelolaan dan bahkan untuk mengkoreksi input untuk memperoleh output yang
dikehendaki.
Nilai output
yang dikehendaki
(standar)
Input
Proses
output
Umpan muka
Umpan balik
D. Pengendalian sebagai informasi pada waktu kejadian
28
Pengendalian sebagai informasi pada waktu kejadian, dengan menggunakan dan
melalui teknik tertentu berbagai data dapat dikumpulkan dalam saat kejadian yang sedang
berlangsung, untuk meyakinkan bahwa semua kegiatan, proses dan prosedur telah
berjalan dengan baik, sesuai dengan ketentuan atau dengan rencana. Pimpinan atau
manajer dapat melakukan pengendalian dengan melakukan observasi secara langsung
pada saat bawahannya yang sedang melakukan tugasnya. Dengan demikian apabila
seorang bawahannya tidak dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, maka segera pula
akan dapat diketahui dan pada saat itu pula akan bisa dilakukan perbaikan.
Dari beberapa konsep pengendalian tersebut pada dasarnya semuanya menyimpulkan bahwa dengan dilaksanakannya pengendalian tersebut penjaminan mutu akan
dapat dilakukan atau diwujudkan dalam arti proses penetapan dan pemenuhan standar
mutu pengelolaaan secara konsisten berkelanjutan sehingga semua stakeholder mendapat
kepuasaan.
Menemukan
penyimpangan
Membandingkan
prestasi kerja yang
menimbulkan penyimpangan
Menganalisis
sebab-sebab
kepincangan
Rencana
tindakan
koreksi
Pengukuran prestasi
kerja yang sesungguhnya
Pelaksanaan
tindakan koreksi
E. Rangkumam
29
Prestasi kerja
sesungguhnya
Prestasi
kerja
yang dikehendaki
Pengendalian mutu pada dasarnya merupakan suatu proses untuk mendapatkan
umpan balik dalam rangka meningkatkan pengelolaan mutu, efisiensi, efiktivitas, pemerataan, dan relevansi pendidikan. Proses pengendalian ini dilakukan dalam tindakan
perencanaan, dalam pelaksanaan, dan dalam evaluasi. Begitu penting dan vitalnya
pengendalian tersebut bagi suatu organisasi, dan pengendalian tersebut dilihat dalam
melakukan proses koreksi dan membetulkan berbagai penyimpangan yang terjadi dikenal
dengan sistem sibernetika, sistem pengendalian umpan muka dan umpan balik, dan
sebagai sistem imfomasi pada waktu kejadian.
F. Evaluasi
1. Jelaskan pengendalian sebagai sistem sibernetika
2. Jelaskan pengendalian sebagai sistem umpan muka, dan umpan balik
3. Jelaskan pengendalian sebagai informasi pada waktu kejadian
BAB. IV
PROSES PENGENDALIAN MUTU PENDIDIKAN
30
A. Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaiannya
Kompetensi Dasar
Indikator Pencapaiannya
Memahami syarat-syarat pengendalian
Dapat menjelaskan syarat-syarat pengenda-
manajemen mutu.
lian manjemen mutu.
Memahmai titik-titik kritis dalam pengen-
Dapat menjelaskan titik kritis dalam mana-
dalian manajemen mutu
jemen pengendalian mutu.
Memahami tahap-tahapan pelaksanan pe-
Dapat menjelaskan tahap-tahapan pengen-
ngendalian manjemen mutu.
dalian manjemen mutu.
B. Syarat-syarat Pengendalian Pendidikan
Ada dua persyaratan yang harus dipenuhi oleh seorang manajer agar dapat
merecanakan suatu sistem pengendalian yang efektif. Dalam sistem pengendalian
manajemen sebenarnya banyak orang terlebih dahulu justru memusatkan dan memperhatikan terhadap teknik dan sistem pengendalian tanpa terlebih dahulu memastikan bahwa
apakah dua persyaratan tersebut telah dipenuhi. Kedua persyaratan yang dimaksudkan
adalah bahwa suatu pengendalian manajemen memerlukan perencanaan yang baik dan
membutuhkan suatu struktur organisasi yang jelas (Koontz, dkk. 1984).
Jelaslah kiranya bahwa sebelum pengendalian dapat dipergunakan atau disusun
sistemnya, pengendalian manajemen harus berdasarkan pada perencanaan yang baik,
lebih lengkap, dan lebih terpadu akan dapat meningkatkan efektifitas pengendalian
manajemen. Secara sederhana dapat dipahami dan dijelaskan bahwa tidak akan ada
kemungkinan bagi manajer untuk memastikan bahwa unit oragnisasinya sedang melaksa-
31
nakan apa yang diinginkan dan yang diharapkannya, kecuali apabila manajer tersebut
telah mengetahui terlebih dahulu yang diharapkan menjadi tujuan organisasi.
Pengendalian manajemen merupakan sisi lain dari perencanaan. Pada awalnya
manajerlah yang merencanakan, kemudian rencana tersebut dijadikan standar yang
dipergunakan untuk sebagai tolak ukur bagi kegiatan-kegiatan yang diinginkan. Kenyataan yang sederhana ini dalam perakteknya mengandung berbagai arti. Salah satu
diantaranya adalah bahwa semua teknik pengendalian yang bermanfaat, pertama-tama
adalah teknik perencanaan. Arti yang lainnya adalah akan sia-sia saja untuk mendesain
pengendalian tanpa meneliti lebih dahulu perencanaan untuk mengetahui baik tidaknya
rencana itu dibuat. Gambaran yang paling jelas mengenai hal ini adalah dalam soal
merencanakan suatu anggaran. Anggaran diidentifikasi sebagai sebuah perencanaan yang
diutarakan dengan angka-angka. Untuk menganggap anggaran semata-mata sebagai suatu
bentuk pengendalian saja akan menjadikannya tidak mempunyai arti sama sekali dan
tidak efektif. Meskipun demikian sampai sekarang beberapa badan usaha dan instansi
pemerintah serta organisasi-organisasi lain masih tetap dan malah banyak menganggap
anggaran mempunyai fungsi seperti itu.
Persyaratan lainnya seperti yang telah disebut terdahulu bahwa pengendalian
memerlukan struktur suatu organissai yang jelas. Karena tujuan pengendalian adalah
untuk mengukur aktivitas dan mengambil tindakan guna menjamin bahwa rencananya
sedang dilaksanakan maka manajer tersebut harus mengetahui siapakah dalam perusahaan yang bertanggungjawab atas terjadinya penyimpangan dari rencana tadi dan yang
harus mengambil tindakan untuk membetulkannya. Aktifitas pengendalian dilakukan
melalui orang-orang. Akan tetapi dapat diketahui siapakan yang akan bertanggungjawab
32
atas terjadinya penyimpangan dan tindakan koreksi yang perlu dilakukan, kecuali apabila
tanggungjawab dalam organisasi itu dinyatakan dengan jelas dan terperinci. Oleh karena
itu maka prasyarat yang penting untuk pengendalian adalah adanya struktur organisasi
yang jelas seperti halnya dalam perencanaan, makin jelas makin lengkap dan makin
bersatu-padunya struktur tersebut, makin besar pula efektifitas pengendaliannya. Oleh
karena itu dalam dunia pendidikan khususnya di sekolah perlu memiliki suatu
perencanaan yang jelas. Demikian pula yang dimaksud bisa perencanaan tersebut bisa
berupa perencanaan jangka panjang, perencanaan jangka menengah dan perencanaan
jangka pendek yang dikenal perencanaan tahunan sehingga dengan demikian akan lebih
mudah dapat dievaluasi apakah tujuan yang telah ditetapkan dalam perencanaan tersebut
sudah dapat dicapai apa belum. Demikian pula struktur aliran dan alur tugas dan
wewenang yang jelas sehingga tidak terjadi tumpang tindih antara satu unit dengan unit
yang lainnya. Dengan demikian tidak akan terjadi atau menimbulkan banyak frustrasi di
kalangan manajer, sebab apabila seorang manajer mengetahui adanya sesuatu yang tidak
beres dalam perusahaan pada salah satu bagian atau salah satu departemennya, namun
tidak mengetahui dengan pasti siapakah yang seharusnya bertanggungjawab atas ketidak
beresan itu. Jika biayanya tertalu tinggi, suatu kontrak terlambat datangnya atau
persediaan sudah melampoi tingkat yang diinginkan, sedangkan manajer tidak
mengetahui siapakah yang harus bertanggungjawab atas terjadinya penyimpanganpenyimpangan itu, maka mereka yang bertugas melaksanakan operasi tidak dapat berbuat
apa-apa untuk mengatasi situasi tersebut. Dalam sebuah perusahaan misalnya dilaporkan
bahwa persediaan sudah melampoi berjuta-juta dolar di atas tingkat yang dianggap layak.
Ketika dilakukan pengusutan siapakah yang bertangungjawab atas perencanaan penye-
33
diaan dan pengendaliannya, ternyata bahwa tidak ada seorangpun selain direktur
perusahaan itu sendiri yang memikul tanggungjawab tersebut, akan tetapi karena harus
melaksanakan kewajiban lainnya yang mendesak, dia tidak dapat menangani sendiri
pengendalian atas persediaan tersebut.
Di sisi yang lain Koontz, dkk. ( 1984) juga menjelaskan bahwa persyaratan suatu
pengendalian untuk dapat memadai dan memuaskan dalam proses perjalanannya, maka
harus memenuhi persyaratan khusus diantaranya adalah: (1) pengendalian harus disesuaikan dengan rencana dan kedudukan. Semua teknik dan sistem pengendalian harus
dirancang untuk mencerminkan perencanaan yang harus diikuti. Tiap-tiap rencana dan
tiap jenis serta tahap kegiatannya mempunyai ciri-ciri yang khas, yang harus diketahui
oleh manajer, ia harus mendapat semua informasi yang memberitahukan kepadanya
tentang perkembangan rencana yang menjadi tanggungjawabnya. Sebab infomasi perkembangan rencana tentang pemasaran akan berbeda dengan rencana yang dibutuhkan
untuk mencek rencana produksi.
Dengan cara yang sama, pengendalian harus menyesuaikan dengan posisi atau
kedudukan, apa yang mencukupi bagi direktur yang bertanggungjawab atas produksi,
tentunya tidak cocok bagi pengawas toko, artinya pengendalian untuk departemen penjualan berbeda dengan departemen keuangan, dan berbeda pula dengan departemen
pembelian. Demikian pula perusahaan yang lebih kecil akan membutuhkan sistem
pengendalian yang berbeda dengan perusahan yang besar. Dengan demikian semakin
pengendalian tersebut didesain untuk mencerminkan sifat dan struktur yang khas dari
perencanaan akan makin efektif. (2) pengendalian harus cocok dengan individu manajer
dan kepribadiannya. Pengendalian harus disesuaikan dengan kepribadian individu
34
manajer. Sistem pengendalian dan informasi ditujukan untuk membantu manajer dalam
melaksanakan fungsi pengendaliannya. Jika sistem tersebut tidak merupakan jenis yang
dapat atau mau dipahami oleh manajer, maka sistem itu tidak ada gunanya. Dalam kedua
hal ini maka laporan tersebut tidak dipahami. Dan apa yang tidak dapat dipahami oleh
individu tidak akan dipecaya, dan apa yang tidak dipercayainya tidak akan digunakannya.
(3) pengendalian harus dapat mununjukkan pengecualian atau penyimpangan pada titik
kritis. Salah satu cara yang paling penting untuk membuat agar pengendalian dapat
dilaksanakan secara efektif dan efisien ialah dengan memastikan, bahwa pengendalian
tersebut telah didesain sedemikian rupa sehingga dapat menunjuklan penyimpangan.
Dengan kata lain dengan memusatkan perhatian terhadap penyimpangan dari prestasi
kerja yang direncanakan, pengendalian didasarkan pada prinsip penyimpangan yang
berlaku sepanjang masa, memungkinkan para manajer untuk menemukan tempat yang
memerlukan perhatian mereka dan memang seharusnya diberikan. Akan tetapi tidak
cukup hanya memperhatikan penyimpangan saja. Beberpa penyimpangan dari standar
tidak mempunyai arti yang begitu penting, tetapi ada penyimpangan lain yang besar
sekali artinya. Penyimpangan-penyimpangan kecil di tempat-tempat tertentu mungkin
lebih penting daripada penyimpangan-penyimpangan yang lebih besar di tempat yang
lain. Seorang manajer akan merasa cemas apabila biaya tenaga kantor menyimpang 5 %
dari anggaran, tetapi akan tidak memperdulikannya harga perangkat naik sebesar 20 %.
(4) pengendalian harus bersifat obyektip. Bidang manajemen banyak mengandung unsurunsur yang subyektif. Akan tetapi seorang bawahan yang melaksanakan tugasnya dengan
baik, secara ideal tidak boleh dijadikan sebagai sasaran untuk mengambil keputusan yang
subyektif. Jika pengendalian bersifat subyektif maka kepribadian manajer atau bawahan-
35
nya dapat mempengaruhi penilaian yang tidak tepat mengenai prestasi kerja. Orang akan
memberi alasan untuk menghilangkan pengendalian yang obyektif atas prestasi kerja
mereka, terutama jika standar dan ukurannya ditetapkan berdasarkan perkembangan
terakhir melalui peninjauan kembali secara periodik. Hal ini mungkin dapat diusahakan
dengan mengatakan bahwa pengendalian yang terbaik membutuhkan standar yang
obtyektif, akurat dan yang cocok. (5) pengendalian harus mudah disesuaikan. Pengendalian harus tetap dapat dilaksanakan sekalipun telah dilakukan perubahan dalam perencanaan, terjadi keadaan yang tidak terduga, atau terjadi kesalahan yang mendadak.
Program rencana manajerial yang rumit dapat menemui kegagalan dalam keadaan
tertentu. Sistem pengendalian harus dapat melaporkan kegagalan semacam itu dan harus
mengandung unsur-unsur yang cukup luwes untuk mempertahankan terus dilaksanakannya pengendalian manjerial atas operasi organisasi sekalipun telah terjadi kesalahan
tersebut. Dengan kata lain pengendalian harus tetap berfungsi efektif, (6) sistem
pengendalian harus cocok dengan suasana organisasi. Agar dapat berfungsi efektif tiaptiap sistem atau teknik pengendalian harus cocok dengan suasana organisasi. Jika sistem
pengendalian yang ketat ingin diterapkan dalam suatu organisasi, dimana aparat
karyawannya sebelumnya mempunyai kebebasan dan partisipasi yang besar, hal ini akan
berlawanan sekali dengan suasana organisasi itu, sehingga pasti menemui kegagalan. Di
lain pihak apabila pengawas hanya sedikit saja memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk turut serta dalam pengambilan keputusan maka sukar sekali untuk
menerapkan sistem pengendalian yang umum dan yang lunak. Orang-orang yang hanya
sedikit mempunyai keinginan untuk turut serta, mungkin sekali akan menghendaki agar
ditetapkan standar dan pengukuran yang jelas serta diberitahukan apa yang harus mereka
36
lakukan. (6) pengendalian harus murah dan ekonomis. Pengendalian harus sepadan
dengan biaya. Meskipun syarat tersebut sederhana akan tetapi dalam kenyataannya
kerapkali sulit, karena manajer mungkin akan menghadapi kesulitan untuk mengetahui
berapa besarnya manfaat suatu sistem pengendalian yang khusus atau berapa besar
jumlah biaya yang diperlukan untuk itu. Istilah ekonomis itu adalah relatif, karena
manfaat yang diperoleh berbeda-beda tergantung pada pentingnya kegiatan, besarnya
operasi, biaya yang mungkin harus dikeluarkan karena tidak adanya pengendalian dan
kontribusi yang dapat diberikan oleh sistem itu.
Ada juga pendapat lainnya yang menyatakan bahwa persyaratan yang harus
dipenuhi untuk dapat pengendalian manjemen tersebut dapat efektif adalah seperti yang
dinyatakan oleh Mitchell (1978) syarat-syarat yang dimaksudkan adalah sebagai berikut:
(1) personalia mengerti akan makna pengendalian, (2) personalia berpartisipasi dalam
pengendalian, (3) pengendalian bersifat fleksibel, (4) pengendalian mencakup umpan
balik, dan (5) ada kejujuran dalam melakukan pengendalian. Persoalannya adalah
sudahkah dalam organissai dalam bidang pendidikan tersebut terpenuhi persyaratan
perencanaan yang jelas, struktur pengorganisasian yang jelas, dan lebih dari itu personalia sudah mengerti makna pengendalian, berpartisipasi dalam pengendalian, sudahkah
pengendaliannya dilakukan secara fleksibel, sudah mencakup umpan balik dan juga
dilandasi oleh kejujuran semua personalia.
Dengan demikian berarti didalam melaksanakan pengendalian dalam bidang
pendidikan personalia harus berpartisipasi dalam pengendalian sebab personalia yang
seharusnya paling terlibat dalam melakukan pengendalian terhadap diri mereka sendiri.
Demikian juga agar mereka dapat melakukan pengendalian secara baik perlu diberikan
37
pemahaman akan makna pengendalian yang sudah tentunya yang melakukan tersebut
adalah para manajer. Lebih dari itu agar pelaksanaan dan tujuan pendidikan dapat dicapai
dengan baik sesuai dengan rencana, penjelasan pengarahan tersebut dilakukan setiap
terjadi penyimpangan.
Sesungguhnya dengan adanya partisipasi dari personalia dalam pengendalian, dan
demikian juga dengan adanya penjelasan pada setiap terjadi penyimpangan maka sudah
terjadi umpan balik, terjadi fleksibelitas sebab jenis tugas apapun dapat dijabarkan
menjadi kegiatan-kegiatan bulanan, mingguan dan harian yang dapat dikerjakan pada
saat yang akan datang sebegitu rupa dengan dilandasi kesadaran diri, kejujuran dan
secara berkelanjutan.
C. Titik-titik Kritis dalam Pengendalian Mutu Pendidikan
Dalam uraian pengendalian sebagai umpan muka, dan umpan balik telah
disinggung bahwa pendidikan di sekolah atau perguruan tinggi merupakan suatu sistem.
Sebagai suatu sistem dalam melaksanakan fungsi dalam rangka mencapai tujuan pendidikan, maka semua komponen sistem tersebut saling terkait, dan saling ketergantungan
satu sama lainnya. Dalam proses mencapai tujuan tersebut, tidak dapat terlaksana dan
tercapai secara mudah, tetapi juga akan menghadapi berbagai hambatan, yang dalam
pengendalian mutu distilahkan dengan titik-titik kritis, karena memerlukan standarstandar yang jelas. Terdapat beberapa titik kritis yang memerlukan standar-standar
tersebut seperti yang dapat dilihat dalam gambar bagan di bawah ini.
38
GAMBAR BAGAN 4.1
TITIK KRITIS DALAM ORGANISASI (PENDIDIKAN)
Tujuan
aspirasi
Pihak-pihak
berkepentingan
Standar, norma-norma
Efektivitas
Akuntabilitas internal
Masukan/
input
Efisiensi
- masukan dasar
- instrumental
- lingkungan
(Diambil
dari Makm
sekolah/
kampus
proses
Produk
tivitas
Keluaran hasil/
output
- pemanfaatan
masukan
- iklim/suasana
- manusia/
lulusan
- produk/karya
- jasa
Apresiasi
Relevansi
Link &
Match
Dampak
outcome
- return
- kepuasan
- perubahan
(Makmun. 1997)
Dalam gambar bagan di atas tampak titik-titik kritis, yang seharusnya dibuatkan
dan ditetapkan standar mutunya seperti kualitas input, kualitas proses, kualitas produk
yang mencakup keluaran dan dampak. Semua standar mutu yang disebutkan tersebut
tampaknya pada saat ini sudah diatur dan dikembangkan dengan berbagai kebijakan yang
mengatur mutu pendidikan. Secara teoritik standar mutu memang memiliki dua pengertian yang berbeda, yaitu mutu yang diberikan pengertian absolut dan relatif (Nurkolis.
2003). Dalam pengertian absolut mutu dianggap sebagai sesuatu yang memenuhi standar
tertinggi dan sempurna. Oleh kerena itu tidak ada sesuatu yang melebihi, jadi paling,
paling-paling, paling tertinggi, maka biasanya juga mahal. Berbeda dengan mutu dalam
pengertian relatif, mutu dianggap sebagai sesuatu yang memenuhi spesifikasi yang
ditetapkan. Dalam pengertian relatif mutu bukan merupakan tujuan akhir, tetapi hanya
39
merupakan alat ukur atas produk akhir dari standar yang ditetapkan. Dengan demikian
sesuatu yang bermutu tidak perlu mahal, dan tidak harus spesial. Jadi biasa-biasa saja,
bersifat umum, dan dikenal orang banyak, yang penting sudah sesuai dengan tujuan.
Sejalan dengan alur berpikir seperti tersebut, Sallis (1993) menguraikan bahwa mutu itu
bisa dilihat dari dua sisi, yaitu dari standar konsumen yang akan memilih produk tersebut,
dan dari standar produk dan layanan sebagai produsen. Sesuatu itu bermutu menurut
standar konsumen kalau menyenangkan konsumen, memuaskan konsumen, dan memenuhi harapan konsumen. Sedangkan sesuatu itu bermutu menurut standar produk dan
layanan, kalau sesuatu itu sesuai dengan spesifikasi, sesuai dengan tujuan, tidak memiliki
cacat, dan kondisinya baik saat pertama mulai digunakan dan seterusnya.
Tampaknya masalah standar efisiensi, produktivitas, efektifitas, relevansi output,
apresiasi terhadap outcome, pemenuhan terhadap aspirasi pihak-pihak berkepentingan
dan standar efektivitas pencapaian tujuan, sampai pada saat ini masih dalam tataran
normatif, teoritik, dan relatif sehingga variasi dalam pemahaman, penerapan, dan
evaluasinya secara nyata belum bisa dijadikan sebagai suatu pedoman yang jelas, praktis
dan mengikat.
Namun demikian masalah-masalah standar yang mencakup standar efisiensi,
produktivitas, efektifitas, relevansi output, apresiasi terhadap outcome, kesesuaian dengan
aspirasi pihak-pihak berkepentingan dalam pencapaian tujuan sesuai dengan gagasan di
atas paling tidak harus dapat dijelaskan. Mengapa demikian, kerena persyaratan ambang
yang merupakan perangkat peraturan, norma-norma, ukuran-ukuran standar kelayakan
sistem (input, proses, dan produk), dan kelayakan kinerja sistem (efisiensi, produktivitas,
efektivitas, dan relevansi) yang secara minimal seharusnya dipenuhi.
40
Efisiensi pada dasarnya menunjuk pada ukuran tingkat kemampuan sistem dalam
memanfaatkan seluruh atau sebagian dari sumberdaya secara optimal pada pelaksanaan
proses dalam mencapai hasil yang telah ditetapkan, norma-norma sebagai ambang batas
standarnya sudah jelas karena diatur oleh pemerintah, seperti, misalnya pengaturan
prosedur, persyaratan dan cara-cara penerimaan mahasiswa baru, pengaturan tentang
kelengkapan fasilitas perguruan tinggi, pengaturan pembiayaan, dan kelengkapan
sumberdaya tenaga kependidikan. Sampai saat ini penerapannya masih sangat relatif pada
masing-masing institusi pendidikan atau perguruan tinggi berbeda-beda. Angka daya
tampung setiap bervariasi, ada yang menerima mahasiswa dalam jumlah yang besar
walaupun perguruan tinggi itu masih kecil, ruang kuliah yang terbatas, sehingga isinya di
setiap kelas lebih dari 40 orang. Sumber belajar yang terbatas, laboratorium yang tidak
lengkap, perpustakaan yang tidak lengkap, rasio dosen dengan mahasiswa tidak imbang,
biaya kuliah yang terlalu tinggi, sumber daya yang lainnya juga kurang memadai. Jadi
norma-norma yang dianggap sebagai ambang batas dalam standar efisiensi boleh
dikatakan diabaikan.
Produktivitas pada prinsipnya menunjukkan suatu ukuran keberhasilan proses
dalam mencapai sasaran yang telah ditetapkan. Dalam melaksanakan proses pendidikan
berbagai ambang persyaratan telah ditetapkan oleh pemerintah sebagai ukuran standarnya. Berbagai standar dapat ditentukan indikatornya, seperti proses perkuliahan yang
efektif, proses pengelolaan lingkungan yang aman dan tertib, pengelolaan sumberdaya
yang efektif, pengelolaan budaya mutu, partisipasi warga masyarakat yang tinggi,
pengelolaan sistem evaluasi yang berkelanjutan, sistem pertanggungjawaban, dan
41
pelayanan yang lainnya. Pada saat ini pelaksanaannya masih sangat relatif, dalam arti
sangat ditentukan oleh sekolah masing-masing.
Relevansi pada dasarnya menunjuk pada suatu ukuran tingkat keluaran hasil atau
output dan peluang diterima pada pasar kerja. Atau dengan kata lain kesesuaian antara
keluaran hasil atau output dengan dunia kerja. Semua jenis pendidikan atau sekolah
sudah diatur oleh pemerintah, seperti keberadaan pendidikan atau sekolah kejuruan dan
pendidikan umum. Pendidikan sekolah kejuruan diharapkan menyiapkan output sebagai
tenaga kerja yang siap pakai di dunia kerja, pendidikan tinggi memiliki tujuan untuk
menyiapkan output sebagai tenaga kerja, Kenyataannya walaupun sudah diatur demikian,
output pendidikan kita memiliki mutu yang rendah, angka penganguran yang tinggi,
relevansi output dengan dunia kerja juga rendah, angka tidak melanjutkan pada
pendidikan yang lebih tinggi sangat tinggi. Gejala ini menunjukkan ada sesuatu yang
tidak sesuai dengan rencana, yang perlu diluruskan melalui pengendalian mutu.
Efektivitas pada dasarnya menunjukkan kepada suatu ukuran tingkat kesesuaian
antara hasil yang dicapai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Misalnya jumlah
kelulusan, prestasi lulusan, kompetensi lulusan, kesesuaian lulusan dengan dunia kerja,
penghargaan terhadap lulusan, kepuasan masyarakat dan dunia kerja/industri. Semua
indikator efektivitas tersebut masih relatif dilihat dari perguruan tinggi sebagai institusi
produsen, maupun masyarakat sebagai pelanggan, dan dunia kerja sebagai user.
Perguruan Tinggi sebagai institusi yang memproduksi mempunyai standar sendiri,
kemudian disisi lain dunia kerja/industri dan masyarakat sebagai user dan pelanggan juga
memiliki standar tersendiri.
42
D. Tahap-tahap dalam Pengendalian
Dalam melaksanakan proses pengendalian, terdapat beberapa tahapan yang harus
dilalui, yaitu: (1) menetapkan standar kerja, (2) mengukur kinerja, (3) mengidentifikasi
penyimpangan dari standar yang telah ditetapkan, dan (4) melakukan tindakan koreksi
terhadap penyimpangan (Pearce dan Robinson. 1996., Jauch dan Glueck. 1988). Demikian juga Stoner, dkk (1995) menjelaskan bahwa tahap-tahap dalam pelaksanaan
pengendalian manjemen tersebut harus melalui empat tahap. Tahapan yang dimaksudkan
adalah: (1) menetapkan standard an metode mengukur prestasi kerja, (2) mengukur
prestasi kerja, (3) mengidentifikasi apakah prestasi kerja sesuai dengan standar yang telah
ditetapkan, dan yang (4) adalah mengambil tindakan korektif mengevaluasi ulang standar
yang telah ditetapkan. Dalam hubungan ini Koontz dkk (1984) menggabungkan tahapan
mengidentifikasi dan tindakan koreksi menjadi satu, sehingga ada tiga tahapan dalam
proses pengendalian. Untuk lebih jelasnya dari masing-masing tahapan tersebut, maka di
bawah ini diuraikan secara satu persatu.
1. Menetapkan Standar
Karena perencanaan merupakan tolak ukur untuk merancang pengendalian, maka
hal itu berarti bahwa langkah pertama yang dilakukan adalah menyususun perencanaan.
Demikian pula untuk mudahnya melakukan pengendalian maka perlu dilakukan standarstandar khusus. Standar khusus yang paling sederhana biasanya berupa tujuan atau
sasaran yang dapat diperiksa kebenarannya baik secara kuantitatif maupun secara
kualitatif. Hal ini sangat penting dilakukan mengingat sasaran dengan kata-kata yang
merupakan seperti memperbaiki keterampilan karyawan hanya berupa selogan kosong
sampai manajer yang mulai menetapkan apa yang mereka maksudkan dengan meperbaiki
43
dan apa yang mereka ingin mereka perbaiki dengan sasaran ini, dan kapan. Kemudian
barangkali sasaran yang kata-katanya lebih tepat seperti memperbaiki keterampilan
karyawan dengan melaksanakan seminar di perusahaan selama seminggu sekali selama
kegiatan bisnis menurun pada bulan-bulan tertentu lebih mudah dapat dievaluasi
ketepatannya dan kegunaannya dari pada selogan-selogan kosong. Dengan demikian
kata-kata yang tepat, tujuan yang dapat diukur, dan mudah dapat dikomunikasikan
menjadi standar dan metode yang dapat dipergunakan untuk mengukur prestasi kerja.
Mengingat sasaran begitu pentingnya dalam melaksanakan pengendalian manajemen
maka dalam hubungan ini kemudian dikenal dengan manajemen berdasarkan sasaran
(MBO) atau disebut dengan management by objectives oleh Drucker (Sukristono. 1955).
Namun demikian seperti yang telah diuraikan di atas, bahwa standar-standar yang
ditetapkan dalam pengendalian tersebut tidak saja berkaitan dengan tujuan atau sasaran,
tetapi termasuk komponen-komponen kontek, input, proses, dan produk. Dalam bidang
bidang pendidikan khususnya di perguruan tinggi misalnya bisa berupa jumlah daya
tampung, rasio dosen dengan mahasiswa, syarat untuk bisa lulus, syarat-syarat untuk
bisa diterima, untuk bisa naik kelas, dll.
2. Mengukur prestasi Kerja
Jika standar telah ditetapkan secara tetap, dan tersedia sarananya untuk mengetahui apakah sebenarnya yang sedang dilakukan oleh stafnya, maka penilaian atas
prestasi kerja yang nyata diharapkan akan mudah dilakukan. Pengukuran dalam
pengendalian manajemen ini adalah merupakan proses yang dilakukan secara berulangulang dan beralangsung secara terus menerus. Frekuensi pengukurannya tergantung pada
jenis aktifitas yang akan diukur. Perlu pula disadari bahwa didalam melakukan
44
pengukuran berbagai aktivitas akan sulit dibuatkan standarnya dan sulit untuk diukur,
seperti di dalam mengukur proses, relevansi out put dengan lapangan kerja, mengukur
outcome pendidikan. Namun demikian sasaran, proses, produk supaya diusahakan
dijabarkan secara operasional, kuantitatif dan terukur dalam perencanaan, karena inilah
kemudian dijadikan standar-standar.
3. Menetapkan Prestasi Kerja yang Sesuai dengan Standar.
Menetapkan prestasi kerja yang sesuai dengan standar adalah merupakan tahapan
langkah yang mudah dilakukan dalam proses pengendalian. Kompleksitasnya sudah
dianggap ditangani dalam langkah pertama yaitu dalam menetapkan standar. Langkah ini
hanya membandingkan hasil pengukuran dengan target atau sasaran yang telah ditetapkan. Apabila prestasi telah sesuai dengan standar yang telah ditetapkan manajer mungkin
menganggap bahwa segala sesuatu sudah dalam kendali.
4. Membetulkan Penyimpangan
Pengendalian disebutkan sebagai proses pembetulan penyimpangan yang terjadi,
tidak saja lebih ditekankan pada pendikteksian (penelitian) dan pembetulan produk atau
pada prestasi kerja yang tidak baik atau yang berada di bawah standar yang telah
ditetapkan, tetapi mencakup seluruh sistem dengan melihat bagian-bagian dari sistem
kerja tersebut sebagai keseluruhan, mulai dari komponen kontek, input, proses, dan
produknya baik output dan outcomenya. Jadi mutu ditentukan oleh sistem secara
keseluruhan. Oleh karena itu kemudian pengendalian mutu itu dikenal dan disebut
dengan total quality in education (Sallis.1993., Paine. 1993).
45
Kemudian untuk lebih mudahnya dapat dipahami dari tahap-tahap pengendalian
manajemen tersebut mulai dari menetapkan setandar, mengukur pretasi, menetapkan
prestasi kerja yang sesuai dengan standar, dan melakukan koreksi atau perbaikan dapat
dilihat dalam gambar bagan berikut di bawah ini.
GAMBAR BAGAN 4.2
SIKLUS IMPLEMENTASI PENGENDALIAN MUTU PENDIDIKAN
Input
Output
Tenaga kerja, uang,
dan perencanaan
Proses atau
operasi
Pendeteksian
penyimpangan
Tindakan
pembetulan
Tujuan
Umpan
balik
Proses
pembetulan
GAMBAR BAGAN. 4.3
SIKLUS IMPLEMENTASI PENGENDALIAN MUTU PENDIDIKAN
Standar
Pelaksanaan
Monitoring
Standar Baru
Pengangkatan
Mutu
Rumusan
Koreksi
Evaluasi
Diri
E. Rangkuman
Suatu organisasi akan dapat mencapai tujuannya dengan baik, akan sangat
tergantung kepada efektifnya sistem pengendalian yang ada dan dikembangkan dalam
46
suatu organisasi tersebut. Sehubungan dengan itu suatu sistem pengedalian disebut efektif
apabila memenuhi persyaratan dari pengendalian yaitu perencanaan program dan struktur
organisasi tersebut harus jelas. Demikian juga titik titik kritis dan tahap-tahapan pengendalian harus dipahami betul oleh manajer perusahaan atau organisasi tersebut.
E. Evaluasi
1. Jelaskan syarat-syarat pengendalian manjemen mutu!.
2. Jelaskan titik kritis dalam manajemen pengendalian mutu!.
3. Jelaskan tahap-tahap pengendalian manjemen mutu!.
47
BAB. V
MUTU PENDIDIKAN
A. Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaiannya
Kompetensi Dasar
Indikator Pencapaiannya
Memahami pengertian mutu
Dapat menjelaskan pengertian mutu.
Memahami komponen input sebagai faktor
Dapat menjelaskan komponen input seba-
pendukung mutu pendidikan
gai faktor pendukung mutu pendidikan
Memahami komponen proses sebagai
Dapat menjelaskan komponen proses seba-
faktor pendukung mutu pendidikan
gai faktor pendukung mutu pendidikan
Memahami komponen produk sebagai hasil Dapat menjelaskan komponen produk sebapendidikan.
gai hasil pendidikan.
B. Pengertian Mutu Pendidikan
Pengertian mutu dianggap suatu hal yang sangat membingungkan dan sulit
diukur. Mutu dalam pandangan orang yang satu terkadang berbeda dengan pandangan
orang yang lainnya, sehingga merupakan suatu yang wajar kalau diantara para pakar
tidak memiliki kesimpulan yang sama tentang cara bagaimana membentuk dan menggambarkan suatu organisasi yang bermutu termasuk dalam hal ini organisasi pendidikan
yang disebut sekolah. Dalam uraian selanjutkan akan dikutipkan beberapa definisi dari
mutu tersebut. Nasution (2001) dalam bukunya yang berjudul Manajemen Mutu Terpadu
mengutip beberapa pengertian tentang mutu, seperti pengertian dari Juran, Deming,
Feigenbaum, dan Garvin. Menurut Juran mutu produk adalah kekcocokan penggunaan
produk untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan pelanggan. Kecocokan penggunaan itu
48
didasarkan pada lima ciri utama, sebagai berikut: (1) teknologi berarti memiliki
kekuatann dan daya tahan, (2) psikhologis, yaitu citra rasa atau status, (3) waktu, yaitu
keandalan, (4) kontraktual yaitu adanya jaminan, dan (5) etika, yaitu sopan santun, ramah
dan jujur. Dengan demikian sesuatu yang bermutu apabila suatu produk tersebut
mempunyai daya tahan penggunaan yang lama, meningkatkan citra yang memakainya,
tidak mudah rusak, adanya jaminan kualitas, dan sesuai dengan etika bila digunakan,
demikian juga khususnya untuk jasa diperlukan pelayanan kepada pelanggan yang ramah,
sopan, serta jujur sehingga dapat menyenangkan atau memuaskan pelanggan.
Kecocokan penggunaan produk di atas memiliki dua aspek utama, yaitu ciri-ciri
utamanya produknya memenuhi tuntutan pelanggan dan tidak memiliki kelemahan.
Memenuhi tuntutan pelanggan artinya apabila memiliki ciri-ciri yang khusus atau
istimewa berbeda dari produk pesaing dan dan dapat memenuhi harapan atau tuntutan
sehingga dapat memuaskan pelanggan. Kualitas yang lebih tinggi memungkinkan
peruasahaan meningkatkan kepuasan pelanggan, membuat produk laku dijual, dapat
bersaing, meningkatkan pangsa pasar dan volume penjualannya dapat dijual harga yang
lebih tinggi. Sedangkan tidak memiliki kelemahan berarti tidak ada sedikit cacatpun.
Kualitas yang tinggi menyebabkan perusahaan dapat mengurangi tingkat kesalahan,
mengurangi pengerjaan kembali dan pemborosan, mengurangi pembajaran biaya garansi,
mengurangi ketidak puasan pelanggan, mengurangi inspeksi dan pengujian, mengurangi
waktu pengiriman produk ke pasar, meningkatkan hasil, meningkatkan utilisasi kapasitas
produksi serta memperbaiki kinerja penyampaian produk atau jasa kepada pelanggan.
Kemudian pengertian mutu yang lainnya adalah dari Crosby memberikan pengertian
mutu sebagai sesuatu yang sesuai dengan yang disyaratkan atau distandarkan. Suatu
49
produk memiliki mutu apabila sesuai dengan standar yang telah ditentukan. Standar mutu
meliputi standar bahan baku, proses produksi, dan produk jadi. Deming memberikan
pengertian mutu sebagai keksesuaian dengan kebutuhan pasar. Apabila juran mendifinisikan mutu sebagai sesuatu yang sesuai dengan yang disyaratkan atau distandarkan, maka
Deming memberikan pengertian mutu sebagai kesesuaian dengan kebutuhan pasar atau
konsumen. Perusahaan harus benar-benar dapat memahami apa yang menjadi kebutuhan
konsumen atau suatu produk yang akan dihasilkan. Demikian juga Feigenbaum
memberikan pengertian mutu sebagai kepuasan pelanggan sepenuhnya. Suatu produk
disebut bermutu apabila dapat memberi kepuasan sepenuhnya kepada konsumen, yaitu
sesuai dengan apa yang diharapkan konsumen atas suatu produk. Nasution juga mengutip
pendapat dari Ganvin yang memberikan pengertian terhadap mutu tersebut sebagai suatu
kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, mausia atau tenaga kerja, proses dan
tugas, serta lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan pelanggan atau konsumen.
Selera atau harapan konsumen pada suatu produk selalu berubah sehingga mutu juga
harus berubah atau disesuaikan. Dengan perubahan mutu produk tersebut, diperlukan
perubahan atau peningkatan keterampilan tenaga kerja, perubahan proses produksi dan
tugas.
Dari beberapa pengertian mutu di atas kalau dicermati secara hati-hati tampak ada
persamaannya, dan ada perbedaan cara pandangnya. Persamaannya yaitu bahwa dalam
semua pengertian mutu tersebut disebutkan: (1) mutu mencakup usaha memenuhi atau
harapan pelanggan, (2) mutu mencakup produk, jasa manusia, proses, dan lingkungan,
dan (3) mutu merupakan kondisi yang selalu berubah misalnya apa yang dianggap
merupakan mutu saat ini mungkin dianggap kurang pada masa yang akan datang.
50
Perbedaannya tampak mutu tersebut terkesan bahnwa dalam satu pengertiannya hanya
untuk memenuhi pihak tertentu seperti pelanggan, ada yang menekankan pada konsumen
dan pasar, dan ada pula yang menekankan pada produsen.
Sejalan dengan alur berpikir seperti tersebut diatas, tampaknya Sallis (1993)
memberikan pengertian mutu tersebut terkesan dengan kompromis dari pendapatpendapat tersebut di atas dengan mengambil jalan tengah dengan menguraikan bahwa
mutu itu sesungguhnya bisa dilihat dari dua sisi, yaitu dari standar konsumen yang akan
memilih produk tersebut, dan dari standar produk dan layanan sebagai produsen. Sesuatu
itu bermutu menurut standar konsumen kalau menyenangkan konsumen, memuaskan
konsumen, dan memenuhi harapan konsumen. Sedangkan sesuatu itu bermutu menurut
standar produk dan layanan, kalau sesuatu itu sesuai dengan spesifikasi, sesuai dengan
tujuan, tidak memiliki cacat, dan kondisinya baik saat pertama mulai digunakan dan
seterusnya.
Berdasarkan pada beberapa pengertian mutu tersebut maka kemudian dapat
dirumuskan bahwa dimensi dari mutu tersebut adalah sebagai berikut: (1) performa
(performance), berkaitan dengan aspek fungsional dari produk dan merupakan
karakteristik utama yang dipertimbangkan pelanggan ketika ingin membeli suatu produk.
Sebagai contoh, misalnya, performa TV berwarna adalah memiliki gambar yang jelas,
performa mobil adalah akselerasi, kecepatan, kenyamanan, dan pemeliharaan, performa
dari produk jasa penerbangan misalnya ketepatan waktu, kenyamanan, keramahan dan
lain-lain. (2) Features merupakan aspek kedua dari performa yang menambah fungsi
dasar, berkaitan dengan pilihan-pilihan dan pengembangannya. Sebagai contoh features
untuk produksi penerbangan adalah memberikan minuman atau makanan gratis dalam
51
pesawat, pembelian tiket melalui telpon, dan penyerahan tiket diantar kerumah, pelaporan
pemberangkatan di kota dan diantar ke lapangan terbang. Features dari produk mobil
misalnya atap yang bisa dibuka, dan lain-lain. Seringkali terdapat kesulitan untuk
memisahkan karakteristik performa dengan feature. (3) Keandalan (Realibilty) berkaitan
dengan kemungkinan suatu produk berfungsi secara berhasil dalam periode waktu
tertentu di bawah kondisi tertentu. Dengan demikian keandalan merupakan karakteristik
yang merefleksikan kemungkinan tingkat keberhasilan dalam penggunaan suatu produk,
misalnya mobil memiliki keandalan kecepatan. (4) Konformitas (Conformance) berkaitan
dengan tingkat kesesuaian produk terhadap spesifikasi yang telah ditetapkan sebelumnya
berdasarkan keinginan pelanggan. Konformitas merefleksikan derajat dimana karakteristik desain produk dan karakteristik operasi memenuhi standar yang telah ditetapkan,
serta sering didefinisikan sebagai konformitas terhadap kebutuhan atau prosentase produk
yang gagal memenuhi sekumpulan standar yang telah ditetapkan dan karena itu perlu
dikerjakan ulang atau diperbaiki. Contohnya seperti semua pintu untuk mobil tertentu
yang diproduksi berada dalam rentang dan tolerasi yang dapat diterima 30-0,01 inci. (5)
Daya tahan merupakan ukuran masa pakai suatu produk, Karakteristik ini berkaitan
dengan daya tahan dari suatu produk. Misalnya pelanggan akan membeli ban mobil
berdasarkan daya tahan ban itu dalam penggunaannya. Dengan demikian ban mobil yang
memiliki masa pakai yang lebih panjang tentu akan mmerupakan salah satu karaketristik
produk mutu yang dipertimbangkan oleh pelanggan ketika akan membeli ban. (6)
Kemampuan pelayanan merupakan karakteristik yang berkaitan dengan kecepatan/
kesopanan, kompetensi, kemudahan, serta akurasi dalam perbaikan. Sebagai contoh,
banyak perusahaan otomotif yang memberikan pelayanan perawatan atau perbaikan
52
mobil sepanjang hari (24 Jam) atau permintaan pelayanan melalui telpon dan perbaikan
mobil dilakukan di rumah. (7) Estetika (Aesthetics) merupakan karakteristik mengenai
keindahan yang bersifat subyektif sehingga berkaitan dengan pertimbangan pribadi dan
refleksi dari preferensi atau pilihan individual. Dengan demikian estetika dari suatu
produk lebih banyak berkaitan dengan perasaan pribadi dan mencakup karakteristik
tertentu, seperti keelokan, kemulusan, suara yang merdu, selera dan lain-lain, dan dimensi
yang ke (8) adalah kualitas yang dipersepsikan (perceivel quality) bersifat subyektif
berkaitan dengan perasaan pelanggan dalam mengkomsumsi suatu produk, seperti
meningkatkan harga diri. Hal ini dapat juga berupa karakteristik yang berkaitan dengan
reputasi, sperti sesorang akan membeli produk elektronik merek Sony karena memiliki
reputasi sebagai produk yang berkualitas, meskipun orang itu belum pernah menggunakannya (Nasution. 2001., Prawirosentono. 2004).
C. Komponen Input sebagai Faktor Pendukung Mutu pendidikan
Input adalah berbagai faktor yag diperlukan untuk mendukung suatu institusi yang
disebut bermutu. Input tersebut dapat merupakan bahan baku, bahan pembantu, suku
cadang untuk dirakit, imformasi yang diperlukan untuk membangun suatu tugas kerja.
Untuk industri jasa misalnya sekolah sebagai institusi disebut bemutu apabila didukung
oleh beberapa faktor input tersebut. Faktor-faktor input tersebut kalau diidentifikasi
adalah dapat berupa manusia, uang, material, metode-metode dan mesin-mesin
(Komariah, Triatna. 2004., Prawirosentono. 2004).
Manusia adalah unsur utama yang memungkinkan terjadinya proses penambahan
nilai. Kemampun manusia untuk melakukan suatu tugas adalah kemampuan, pengalaman,
pelatihan, dan potensi kreativitas yang beragam. Manusia sebagai masukkan dalam
53
proses pendidikan adalah sebagai bahan utama atau bahan mentah (raw input). Untuk
mencapai hasil pendidikan adalah manusia yang seutuhnya diperlukan manusia yang
memiliki potensi untuk dididik, dilatih, dibimbing, dan dikembangkan menjadi manusia
yang seutuhnya. Dalam upaya mencapai tujuan pendidikan itu maka sekolah yang
mempunyai tugas memperosesnya sudah tentu di sekolah dilakukan oleh suatu tim yang
terdiri dari banyak orang, seperti misalnya kepala sekolah yang lazim disebut sebagai
pemimpin, manajer, adminitrator, sebagai supervisor, dan yang lainnya. Kepala sekolah
harus memberikan layanan terbaik kepada guru, personel non guru, peserta didik, dan
pihak lain yang berkepentingan dengan sekolah. Untuk dapat memberikan layanan yang
terbaik kepala sekolah menyusun program sekolah berbasis data dan informasi mengenai
sekolah yang dipimpinnya, membina kelompok guru, konselor, laboran, pustakawan,
tenaga administratif dan tenaga kependidikan yang lainnya. Kepala sekolah bertanggung
jawab menyelenggarakan pendidikan di sekolah yang dipimpinnya dengan menjamin
terselenggaranya layanan pembelajaran dan layanan yang lainnya sesuai dengan standar
yang dipersyaratkan. Kepala sekolah mempertinggi mutu layanan belajar murid dengan
memberdayakan seluruh potensi sekolah untuk meningkatkan mutu penyelengagraan
yang lebih kompetetitif.
Guru sebagai anggota tim di sekolah harus mampu bertindak sendiri, guru
merupakan ujung tombak dan penggerak kemajuan pendidikan, guru adalah suatu profesi,
oleh akrena itu sebagai seorang profesional dalam memberikan pelayanan belajar akan
melakukan sentuhan pendidikan sesuai dengan nilai-nilai yang menggambarkan
kompetensi pedagogik, profesional, kepribadian, dan sosial. Guru memberikan layanan
belajar untuk membantu peserta didik menjelaskan dan meluruskan konsep-konsep yang
54
keliru. Menuntun muridnya untuk menggunakan sumber informasi dan menantang
mereka melakukan belajar mandiri di luar teks. Tanggungjawab terhadap kompetensi
profesionalnnya guru mengajar dan mendidik, melaksanakan tugas pokok sebagai
pengajar, pemimpin, model, dan manajer kelas, mampu menyusun silabus mengacu pada
standar isi, dan menyusun rencana pembelajaran mengacu pada silabus, serta
mengimplementasikannya dalam kegiatan belajar dan mengajar. Artinya guru harus
memahami dengan seksama tugas dan tanggungjawabnya.
Konselor yang melaksanakan tugas bimbingan dan penyuluhan memegang
peranan penting dalam membantu mengatasi kesulitan belajar peserta didik karena: (1)
sekolah merupakan lingkungan hidup kedua bagi peserta didik sesudah rumah, dimana
anak-anak untuk setiap jam setiap hari mengisi hidupnya, (2) dalam masa perkembangan,
anak memerlukan bantuan dari berbagai pihak termasuk bantuan dari guru dan konselor,
(3) sebagai tempat untuk mempersiapkan anak menghadapi kehidupannya sebaik-baiknya
sebagai pribadi dalam keluarga, dalam masyarakat sesuai dengan tujuan bimbingan dan
penyuluhan akan sangat membantu meningkatkan kualitas layanan belajar bagi peserta
didik (Sagala. 2010).
Kepala tata usaha bertugas mengatur kelancaran kegiatan pembelajaran di
sekolah. Layanan tata usaha ini diberikan kepada pendidik, sehingga guru, konselor dan
kepala sekolah dapat memperoleh kebutuhan yang berkaitan dengan sejumlah formulir
yang diperlukan, bahan-bahan pelajaran yang dibutuhkan dan disediakan oleh sekolah,
pemakaian dan penggunaan ruangan belajar beserta seluruh fasilitasnya. Kemudian
peserta didik mendapat layanan prima dari tata usaha berkaitan dengan sejumlah formulir
yang diperlukan untuk kegiatan belajar, surat-surat yang diperlukan siswa, dokumen-
55
dokumen nilai hasil belajar dan data kesiswaan lainnya yang menyangkut kebutuhan
peserta didik dalam memperlancar kegiatan belajarnya.
Pustakawan di sekolah sudah tentunya memegang peranan penting bagi peserta
didik, karena merekalah yang memfasilitasi terciptanya suasana pendidikan yang
terpelajar, terbiasa membaca, dan berbudaya tinggi. Peserta didik di sekolah mendapat
layanan belajar di perpustakaan sehingga mempunyai wawasan dan pandangan yang luas,
madiri dan percaya diri.
Laboran di setiap sekolah harus dapat memberikan layanan belajar yang
berkualitas. Pengelolaan laboratorium yang baik dapat mengakomodasi semua pihak
yang berkepentingan untuk menggunakan laboratorium, menjadi jaminan belajar untuk
mendalami ilmu pengetahuan melalui kegiatan peraktik adalah bagian yang sangat
penting bagi peserta didik untuk mencapai kompetensi yang ditentukan.
Dana atau biaya merupakan masukan yang melancarkan pemerosesan bahan
mentah. Biaya walaupun sebenarnya bukan yang esensial, uang bukan segala-galanya
tetapi apabila tidak ada biaya tampaknya proses berbagai aktifitas dalam melaksanakan
program pendidikan tersebut akan bisa terganggu tidak akan dapat mencapai tujuannya
dengan optimal.
Material atau barang-barang atau bahan-bahan termasuk bahan-bahan yang
bersifat fisik yang diperlukan untuk menunjang terjadinya proses pembelajaran dan
jalannya pendidikan di sekolah untuk membentuk manusia seutuhnya. Barang-barang
berupa sarana yang meliputi perabot, peralatan pendidikan, media pendidikan, buku dan
sumber belajar lainnya, bahan habis pakai, serta perlengkapan lainnya yang diperlukan
untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan. Kemudian
56
prasarana yang meliputi lahan, ruang kelas, ruang pimpinan satuan pendidikan, ruang
pendidik, ruang tata usaha, ruang perpustakaan, ruang laboratorium, ruang bengkel kerja,
ruang unit produksi, ruang kantin, instalasi daya dan jasa, tempat berolahraga, tempat
beribadah, tempat bermain, tempat berekreasi, dan ruang tempat lain yang diperlukan
untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan.
Metode-metode di dalam pendidikan lebih dikhususkan pada metode pembelajaran, yaitu cara-cara, tehnik dan strategi yang dikembangkan oleh sekolah dalam
melaksanakan proses pendidikan.
Mesin-mesin adalah seperangkat yang mendukung terlaksananya proses pembelajaran, dalam arti memang benar seperangkat pembelajaran untuk mendukung terlaksananya proses pembelajaran, tetapi ada kalanya perangkat pembelajaran tersebut justru
juga menjadi obyek yang dipelajarinya. Demikian juga perangkat pembelajaran tersebut
dapat berupa teknologi komputer, radio, televisi, mobil, dan media-media yang
menggunakan teknologi. Pada bagian yang lain Komariah dan Triatna (2006) juga
menjelaskan dan mengulas tentang faktor masukkan ini dapat dikelompokan menjadi dua
macam, yaitu keompok: (1) faktor sumberdaya, dan (2) faktor manajemen.
Faktor sumberdaya meliputi sumberdaya manusia dan sumber daya lainnya. Sumberdaya manusia di sekolah terdiri dari kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan
yang lainnya, sedangkan sumberdaya yang lainnya bisa berupa uang, peralatan, perlengkapan, bahan, bangunan, dan sebagainya. Sumberdaya tersebut tampaknya untuk dapat
mendukung terlaksananya peroses pembelajaran dengan baik maka seharusnya sudah
disiapkan sebelumnya seperti kelengkapannya, kualitasnya, dan lain sebagainya.
57
Kemudian yang dimaksudkan dengan faktor manajemen adalah seperangkat tugas
yang dilengkapi dengan fungsi, kewenangan, tanggungjawab, kewajiban, dan hak,
kemudian rencana dan program, ketentuan-ketentuan untuk menjalankan tugas, pengendalian, dan kesan positif yang ditanamkan oleh kepala sekolah kepada warga sekolahnya.
D. Komponen Proses sebgai Faktor Pendukung Mutu pendidikan
Proses adalah sebagai integrasi sekuensial dari orang, material, metode dan mesin
atau peralatan dalam suatu lingkungan guna menghasilkan nilai tambah output untuk
pelanggan. Suatu proses mengkonversi input terukur ke dalam ouput terukur melalui
sejumlah langkah sekuensial yang terorganisasi (Nasution. 2001). Pendapat lainnya yang
menyatakan bahwa proses adalah berubahnya sesuatu menjadi sesuatu yang lain
(Komariah, Triatna. 2004). Sedangkan sesuatu dari hasil proses disebut output. Proses
berlangsungnya di sekolah pada dasarnya adalah berlangsungnya pembelajaran, yaitu
terlaksananya interaksi antara peserta didik dengan guru-guru yang didukung dengan
perangkat yang lainnya sebagai bagian berlangsungnya proses pembelajaran. Sehingga
dengan demikian pada dasarnya proses tersebut adalah sebagai pendukung dari mutu
pendidikan di sekolah. Proses pembelajaran tersebut dapat terlaksana dengan baik karena
juga di didukung oleh proses-proses yang lainnya yaitu: (1) proses kepemimpinan yang
menghasilkan berbagai keputusan-keputusan kelembagaan, pemotivasian staf, dan
penyebaran inovasi, dan (2) proses manajemen yang menghasilkan aturan-aturan
penyelenggaraan pengelolaan kelembagaan, pengelolaan prgoram, mengkoordinasikan
kegiatan, memonitoring dan evaluasi.
Kemudian proses kepemimpinan yang menghasilkan berbagai keputusankeputusan kelembagaan seharusnya bersifat partispatif atau keputusan bersama antara
58
warga sekolah mulai dari kepala sekolah, guru, siswa, orang tua siswa, para ahli dan
orang-orang yang berkepentingan terhadap pendidikan. Keputusan tentang bagaimana
keberlangsungan sekolah yang didasarkan atas partisipasi diharapkan dapat menumbuhkan rasa memiliki bagi semua kelompok kepentingan sekolah. Pelibatan kelompok
kepentingan sekolah dalam proses pengambilan keputusan harus mempertimbangkan
keahlian, yurisdiksi, dan relevansinya dengan tujuan pengambilan keputusan.
Penyelengraan sekolah dari dimensi kepemimpinan ini diharapkan juga agar
mendukung terjadinya pemotivasian terhadap staf agar mereka terus semangat bekerja
dan menghasilkan karya yang berguna dan bermutu. Sebab dalam jaman globalisasi ini
dituntut keahlian yang terus harus dikembangkan seiring dengan inovasi-inovasi yang
ditemukan dalam bidang pendidikan. Oleh karena itu maka kepala sekolah dituntut agar
mampu melaksanakan fungsinya sebagai agent of change dan selalu berupaya untuk bisa
terlaksananya apa yang disebut dengan difusi dan inovasi dalam bidang pendidikan.
Di samping proses kepemimpinan, di sekolah sangat banyak kegiatan yang perlu
ditata dan dikoordinasikan. Oleh karena itu terlaksananya proses manajemen yang
menangani kompleksitas yang terjadi di sekolah, dan komfleksitas yang terjadi di sekolah
tergambar dari: (1) perencanaan, pengembangan, dan evaluasi program, (2) pengembangan kurikulum,(3) pengembangan proses pembelajaran, (4) pengelolaan sumberdaya
manusia, (5) pelayanan siswa, (6) pengelolaan fasilitas, (7) pengelolaan keuangan, (8)
pengelolaan hubungan sekolah dengan masyarakat, dan (9) perbaikan program.
Kegiatan lainnya yang harus juga dilakukan di sekolah adalah proses monitoring
dan evaluasi sebagai langkah untuk memperoleh kejelasan tentang output yang akan
dicapai. Monitoring dilakukan sebagai upya sekolah untuk mengetahui pelaksanaan
59
proses, apakah berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan atau terjadi
penyimpangan sebagai bahan evaluasi atau penilaian terhadap aspek-aspek yang terjadi
dalam pelaksanaan program. Hasil evaluasi akan digunakan sebagai masukan bagi
pengambilan keputusan sekolah.
E. Komponen Produk sebagai Hasil Pendidikan
Sekolah sebagai suatu sistem, seharusnya menghasilkan ouput yang dapat dijamin
kepastiannya. Produk aktifitas sekolah adalah segala sesuatu yang dipelajari di sekolah,
yaitu seberapa banyak yang dipelajari, dan seberapa baik mempelajarinya. Apa yang
dipelajari bisa berupa pengetahuan kognitif, ketrampilan, dan sikap-sikap. Produk
sekolah secara mudah dapat dikatakan berupa siswa yang berhasil belajar sebagai
pemenang dari ajang pergumulan ilmu yang diakhiri dengan ujian-ujian
dan
menghasilkan suatu nilaipenghargaan, berpa angka-angka nilai. Sebutan bagi penyandangnya, yaitu siswa yang lulus dengan terpuji atau siswa yang lulus dengan biasa-biasa
saja. Produk sekolah memang fokusnya pada siswa khususnya siswa yang memiliki
kompetensi yang sesuai dengan yang dipersyaratkan. Kompetensi ini tidak hanya
kompetensi nalar, tetapi juga kompetensi lain yang dipersyaratkan dalam kehidupan yaitu
kompetensi inteltual, agama, sosial budaya, ekonomi dan politik.
Pendidikan adalah investasi human cavital sehingga keberadaannya harus terkait
kembali dengan hasil atau keluaran yang bermanfaat menguntungkan secara finansial
dan sosial. Apabila ditinjau dari sudut kelulusan produk sekolah adalah lulusan sekolah
yang bergunan bagi kehidupan, yaitu yang bermanfaat bagi dirinya, keluarganya, dan
lingkungannya, artinya lulusan ini menyangkut outcome, yaitu hasil dari investasi
pendidikan yang selama ini dijalani siswa untuk menjadi sesuatu yang berguna dan
60
bermanfaat. Secara kasat mata outcome pendidikan sekolah dasar dan menengah adalah
siswa dapat melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, sedangkan bila ia
tidak melanjutkan maka dalam kehidupannya dapat emncari nafkah dengan bekerja pada
orang lain atau mandiri, hidup layak, dapat bersosialisasi, dan bermasyarakat.
Produk sekolah tidak hanya diukur dari lulusannya saja, pada umumnya produk
sekolah diukur dari tingkat kinerja. Kinerja sekolah bukan semata-mata kinerja siswa
yang belajar, tetapi kinerja seluruh komponen sistem, artinya kinerja sekolah adalah
pencapaian atau prestasi sekolah yang dihasilkan melalui proses persekolahan.
F. Rangkuman
Pengertian mutu dianggap suatu hal yang sangat membingungkan dan sulit
diukur. Mutu dalam pandangan orang yang satu terkadang berbeda dengan pandangan
orang yang lainnya, sehingga merupakan suatu yang wajar kalau diantara para pakar
tidak memiliki kesimpulan yang sama tentang cara bagaimana membentuk dan menggambarkan suatu organisasi yang bermutu termasuk dalam hal ini organisasi pendidikan
yang disebut sekolah.
Ada beberapa faktor yang disebut sebagai pendukung mutu tersebut, yaitu faktor
input, proses dan produk.
G. Evaluasi
1. Jelaskan pengertian mutu !.
2. Jelaskan komponen input sebagai faktor pendukung mutu pendidikan !.
3. Jelaskan komponen proses sebagai faktor pendukung mutu pendidikan !.
4. Jelaskan komponen produk sebagai hasil pendidikan!.
61
BAB. VI
STANDAR MUTU PENDIDIKAN DI INDONESIA
A. Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaiannya
Kompetensi Dasar
Indikator Pencapaiannya
Memahami standar isi pendidikan
Dapat menjelaskan standar isi pendi-dikan.
Memahami standar proses pembelajar-an
Dapat menjelaskan standar proses pembelajaran.
Memahami standar komptensi lulusan.
Dapat menjelaskan standar komptensi
lulusan
Memahami standar tenaga pendidik.
Dapat menjelaskan standar tenaga pendidik dan kependidikan.
Memahami standar sarana dan prasarana.
Dapat menjelaskan standar sarana dan
prasarana,
Memahami standar pengelolaan pendi-
Dapat menjelaskan standar pengelolaan
dikan.
pendidikan
Memahami standar pembiayaan pendi-
Dapat menjelaskan standar pembiayaan
dikan.
pendidikan.
Memahami standar penilaian pendidikan.
Dapat menjelaskan standar penilaian
pendidikan.
62
B. Standar Isi Pendidikan
Dalam PP. No.19 tahun 2005 yang mengatur tentang standar Nasional Pendidikan
dalam pasal 5 dijelaskan bahwa standar isi mencakup lingkup materi dan tingkat
kompetensi untuk mencapai lulusan pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Standar
isi sebagaimana yang diatur ayat 1 memuat kerangka dasar dan struktur kurikulum, beban
belajar, kurikulum tingkat satuan pendidikan dan kalender pendidikan/ akademik.
Kemudian kalau secara lebih khusus dilihat standar isi tentang kurikulum tingkat
satuan pendidikan secara jelas dapat dilihat seperti yang diatur Dalam PP. No. 19 tahun
2005 pasal 17 sebagai berikut:
(1) Kurikulum tingkat satuan pendidikan SD/MI/SDLB, SMP/MTs/SMPLB, SMA/MA/
SMALB, SMK/MAK, atau bentuk lain yang sederajat dikembangkan sesuai dengan
satuan pendidikan potensi daerah/karakteristik daerah, sosial budaya masayarakat
setempat, dan peserta didik.
(2) Sekolah dan komite sekolah, atau madrasah dan komite madrasah, mengembangkan
kurikulum tingkat satuan pendidikan dan silabusnya berdasarkan kerangka dasar
kurikulum dan standar kompetensi lulusan, di bawah supervisi dinas kabupaten/kota
yang bertanggungjawab di bidang pendidikan untuk SD, SMP, SMA, dan SMK, dan
departemen yang menangani urusan pemerintahan di bidang agama untuk MI, MTs,
MA dan MAK.
(3) Kurikulum tingkat satuan pendidikan dan silabusnya untuk program paket A, B, dan
C ditetapkan oleh dinas kabupaten/kota yang bertanggungjawab di bidang pendidikan berdasarkan kerangka dasar kurikulum sesuai dengan peraturan pemerintah ini
dan standar kompetensi lulusan.
63
Berdasarkan pada bunyi pasal 17 standar isi tentang kurikulum tingkat satuan
pendidikan tersebut di atas maka Yamin dengan mengutip pendapatnya Hamalik (2002)
menjelaskan bahwa isi kurikulum sebaiknya berpatokan pada karakteristik masyarakat
sebagai pihak-pihak yang terkait berdasarkan kriteria-kriteria tertentu. Kriteria yang
dimaksudkan oleh Hamalik adalah mencakup:
1. Isi kurikulum harus bersifat kekinian, artinya isinya harus memuat pengetahuan,
penemuan-penemuan baru.
2. Isi kurikulum memberikan kemudahan-kemudahan untuk memahami prinsip-prinsip
pokok dan generalisasi-generalisasi. Genralisasi menjadikan landasan dalam memilih
data faktual dalam ruang lingkup pengetahuan yang sedang berkembnag.
3. Isi kurikulum dapat memberi kontribusi pengembangan keterampilan, kecakapan
hidup, berpikir bebas, dan disiplin berdasarkan pengetahuan, individu harus mampu
menggunakan kemampuan nasional, berpikir logis serta membedakan fakta dan
perasaan.
4. Isi kurikulum menyumbang terhadap pengembangan moralitas yang esensial dan
yang berkenaan dengan evaluasi dan penggunaan pengetahuan. Pendidikan profesional harus mampu membuat keputusan yang berjangka panjang.
5. Isi kurikulum menyediakan suatu ukuran keberhasilan dan suatu tantangan. Belajar
mempengaruhi tingkah laku dan mengembangkan keinginan untuk belajar terus,
karena itu pemilihan isi kurikulum harus berdasarkan pada tingkat kematangan dan
pengalaman siswa.
6. Isi kurikulum menyumbang terhadap pertumbuhan yang seimbang yakni pertumbuhan siswa secara menyeluruh, seperti: pertumbuhan kepribadian, kemasyarakatan, dan
64
perkembangan sebagai tenaga pengajar. Jadi program pendidikan harus menyumbang
terhadap kompetensi yang diperlukan dalam situasi-situasi kehidupan.
7. Isi kurikulum mengarahkan tindakan sehari-hari dan mengarahkan pelajaran serta
pengalaman selanjutnya.
Kemudian lebih lanjut Hamalik memerinci kriteria memilih isi pendidikan umum
dan spesialisasi. Kriteria pemilihan isi pendidikan umum, yang meliputi:
1. Isi pendidikan umum bermakna bagi pemecahan masalah-masalah yang dihadapi oleh
siswa dalam situasi-situasi sosial, mempelajari berbagai bidang pengetahuan dan
melaksanakannya dalam pemecahan berbagai masalah.
2. Isi pendidikan umum menyumbang terhadap pengembangan berbagai keterampilanketerampilan, misalnya keterampilan grafis untuk menyajikan gagasan-gagasan,
gagasan dan kemampuan mengembangkan media massa.
3. Isi pendidikan umum menyumbang terhadap interaksi dengan orang lain. Hubungan
antar pribadi yang efektif merupakan tujuan-tujuan tingkah laku yang penting dalam
kehidupan sehari-hari sebagaimana halnya dimensi hubungan internasional. Isi pendidikan umum membantu siswa memperoleh perspektif yang berkenaan dengan kontribusi bidang-bidang pengetahuan terhadap manusia, misalnya untuk survival, perbaikan kualitas hidup, memahami orang lain, dan sebagainya.
4. Isi pendidikan umum menyumbang terhadap kehidupan yang kreatif. Kreatif
menunjukkan eksplorasi gagasan-gagasan dan kegiatan-kegiatan baru dan memberikan kepuasan serta dorongan untuk memperluas eksplorasinya. Kesempatan kreatif
membantu siswa mengembangkan kesehatan mental dan kompetensi keribadian yang
bersangkutan.
65
5. Isi pendidikan umum menyediakan landasan dalam rangka memilih daerah spesialisasi. Pendalaman pengetahuan dan inquari materi memberi perasaan memiliki
sendiri pada diri siswa tentang suatu bidang dan ini menjadi langkah pertama dalam
program pendidikan umum.
Kemudian kriteria dalam memilih isi pendidikan spesialisasi, adalah sebagai berikut:
1. Isi pendidikan spesialisasi memiliki makna bagi keputusan-keputusan yang dibuat
guru dalam membimbing siswa. Luas dan kedalaman isi yang dipilih dipengaruhi
oleh maknanya bagi penyelesaian masalah-masalah person dan sosial siswa.
2. Isi pendidikan spesialisasi membantu siswa untuk memahami bidang spesialisasi. Di
dalamnya mencakup mengenai struktur keteraturan, dan hubungan antara unsur-unsur
metoda dan pendekatan dalam spesialisasi itu.
3. Isi pendidikan spesialisasi membantu pemahaman tentang bidang daerah pengajaran.
Bidang pengajaran ini meliputi konsep-konsep dan prinsip-prinsip.
4. Isi pendidikan spesialisasi meliputi tentang studi daerah tertentu secara mendalam dan
menganalisis disiplin-disiplin yang berhubungan dengan itu. Bagi guru SD spesialisasi mungkin meliputi studi yang mendalam tentang bidang tersebut dan studi yang
intensif tentang macam-macam aspek pendidikan umum. Bagi guru sekolah lanjutan,
spesialisasi dalam suatu bidang didukung oleh studi terhadap ruang lingkup yang
lebih luas atau daerah yang berhubungan dengan itu.
5. Isi pendidikan spesialisasi disusun berdasarkan pendidikan umum. Spesialisasi memiliki hubungan intrinsik dengan pendidikan umum dan isinya dipilih berdasarkan
pemahaman dan keterampilan yang telah diperoleh dalam pendidikan umum.
66
C. Standar Proses Pembelajaran
Dalam PP. No. 19 tahun 2005, pasal 19 (1) berbunyi bahwa proses pembelajaran
pada satuan pendidikan disenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan,
menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartispasi aktif, serta memberikan ruang
yang cukup bagi prakarsa, kreatif, dan kemadirian sesuai dengan bakat, minat, dan
perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Selanjutnya dalam pasal 20 disebutkan
bahwa seorang guru merencanakan proses pembelajaran meliputi tujuan pembelajaran,
materi ajar, metode mengajar, sumber belajar, dan penilaian hasil belajar. Kemudian
Meire yang dikutip oleh Hamalik (2002) menyatakan bahwa belajar tersebut harus
dilakukan dengan aktivitas yaitu menggerakkan fisik pada waktu belajar, dan memanfaatkan indra sebanyak mungkin dan membuat seluruh tubuh/pikiran terlibat dalam proses
belajar. Model pendekatan pembelajaran yang ditawarkan beliau tersebut disebut dengan
pendekatan SAVI, yang sesunguhnya merupakan singkatan dari:
1. Somatis
: belajar dengan bergerak dan berbuat.
2. Auditori
: adalah belajar dengan berbicara dan mendengar.
3. Visual
: belajar dengan mengamati dan menggambarkan.
4. Intelektual : belajar dengan memecahkan masalah dan merenung.
Keempat cara belajar ini harus ada agar belajar bisa berjalan optimal, dalam arti
terjadi hubungan gerakan fisik dengan gerakan intelektual dan pengunaan semua indera
dapat berpengaruh besar pada pembelajaran. Semua unsur ini bisa terpadu, belajar yang
paling baik adalah bila semua ini bisa berlangsung digunakan secara simultan.
67
Atas dasar pemikiran di atas maka kemudian Hamalik yang dikutip oleh Yamin
(2007) menyarankan kepada guru-guru supaya di dalam melakukan pembelajaran berpegang pada prinsip-prinsip:
1. Pendidikan bukan mempersiapkan siswa untuk hidup sebagai orang dewasa, melainkan membantu agar siswa mampu hidup dalam kehidupan sehari-hari.
5. Siswa sebaiknya dididik sebagai suatu kesatuan, sebagi unit organisme.
6. Pendidikan bertujuan untuk memperbaiki kualitas kehidupan.
7. Para siswa belajar dengan berbuat.
8. Secara luas belajar dilakukan melalui kesan-kesan pengeindraan.
9. Belajar bergantung pada kemampuan individu siswa.
10. Belajar adalah suatu proses berkelanjutan
11. Kondisi sosial dan alamiah menyusun situasi-situasi belajar,
12. Motivasi belajar hendaknya bersifat intrinsik dan asli alamiah.
13. Pengajaran hendaknya disesuaikan dengan kebutuhan-kebutuhan individu murid.
14. Hubungan-hubungan antar guru dan murid, dan murid dengan murid dilaksanakan
melalui kerjasama.
15. Metode, isi dan alat pembelajaran besar pengaruhnya terhadap individu siswa.
D. Standar Kompetensi Lulusan
Undang-undang Sistem pendidikan Nasional Undang-undang No. 20 tahun 2003
pasal 35 (1) mengatur bahwa ”standar kompetensi lulusan digunakan sebagai pedoman
penilaian dalam penentuan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan.”. Kemudian
dalam PP No 19 tahun 2005 pasal 25 (2) mengatur bahwa standar kompetensi lulusan
adalah meliputi kompetensi untuk seluruh mata pelajaran atau kelompok mata pelajaran
68
dan mata kuliah. Kemudian secara lebih jelasnya diatur dalam pasal 26 bahwa standar
kompetensi lulusan setiap jenjang pendidikan, mencakup:
1. Standar kompetensi lulusan pada jenjang pendidikan dasar bertujuan untuk meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
2. Standar kompetensi lulusan pada jenjang pendidikan menengah umum bertujuan
untuk meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta
keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
3. Standar kompetensi lulusan pada jenjang pendidikan menengah kejuruan bertujuan
untuk meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta
keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai
dengan kejuruannya.
4. Standar kompetensi lulusan pada jenjang pendidikan tinggi bertujuan untuk
mempersiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang berakhlak mulia
memiliki pengetahuan, keterampilan, kemandirian, dan sikap untuk menemukan
mengembangkan, serta menerapkan ilmu, teknologi, dan seni, yang bermanfaat bagi
kemanusiaan.
E. Standar Tenaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan
Dalam PP No.19 tahun 2005, dalam pasal 28 (1) berbunyi bahwa pendidik harus
memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani
dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
Guru yang memiliki kualifikasi akademik adalah guru yang sesuai dengan surat
keputusan Menteri Pendidikan Nasional No. 034/U/2003 adalah bahwa tenaga kependi-
69
dikan harus memiliki pengetahuan kependidikan, keterampilan-keterapilan yang telah
diatur dalam undang-undang, peraturan pemerintah dan keputusan menteri. Oleh karena
itu, kalau diperhatikan pasal 9 undang-undang guru dapat diketahui bahwa kualifikasi
akademik seorang guru diperoleh melalui pendidikan tinggi program sarjana, atau
diploma empat (D4). Sementara itu kalau diperhatikan pasal 42 (2) undang-undang
sistem pendidikan nasional disebutkan bahwa pendidikan formal pada jenjang usia dini,
pendidikan dasar, pendidikan menengah, kualifikasi akademik seorang guru haruslah
berlatar belakang pendidikan tinggi dan dihasilkan oleh perguruan tinggi. Demikian pula
dalam PP No. 19 tahun 2005 dalam pasal 29 (2) disebutkan bahwa guru SD/MI/SDLB
harus berpendidikan S1 atau D4 bidang PGSD, psikologi, atau pendidikan lainnya.
Kemudian dalam pasal yang sama ayat tiganya disebutkan bahwa guru SMP/MTs/
SMPLB harus berpendidikan S1 atau D4 dengan progam studi yang sesuai dengan mata
pelajaran yang diajarkan. Dari bunyi ketentuan-ketentuan yang diatur dalam undangundang dan peraturan pemerintah tersebut, tampaknya kualifikasi guru seperti menuntut
suatu persyaratan kualifikasi pendidikan seorang guru tersebut adalah sama, yaitu lulusan
pendidikan tinggi S1 atau D4. Namun demikian jika makna bunyi pasal-pasal yang diatur
dan terdapat dalam undang-undang sistem pendidikan nasional, undang-undang guru, dan
PP No. 19 tahun 2005 dirunut dan disenergikan dapat disimpulkan bahwa untuk menjadi
guru di Indonesia haruslah minimum berpendidikan S1 atau D4 dari program studi yang
relevan, misalnya untuk menjadi guru taman kanak-kanak dipersyaratkan harus lulusan
pergruan tinggi S1 atau D4 PAUD/PGTK/Psikologi/ kependidikan lainnya. Seseorang
untuk dapat diangkat menjadi guru SD/MI/SDLB dipersyaratkan harus lulusan perguruan
tinggi program S1 atau D4 PGSD/Psikologi/Kependidikan lainnya. Untuk menjadi guru
70
Matematika SMP/MTS/SMPLB atau SMA/MA/SMK/SMALB dipersyaratkan lulusan
perguruan tinggi program S1 atau D4 Matematika atau Pendidikan Matematika. Persyaratan kualifikasi pendidikan minimum bagi guru ini merupakan suatu lompatan yang
cukup signifikan dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan di negara kita (Samani,
dkk. 2006).
Di samping kualifikasi akademik seorang guru juga dituntut sehat jasmani dan
rohani. Persyaratan ini menunjukkan bahwa tugas guru adalah tugas yang berat lahir
bathin. Seorang guru tidak mungkin dapat melakukan tugasnya dalam pembelajaran
dengan baik kalau dalam keadaan sakit jasmani, atau guru dalam keadaan memiliki
penyakit yang menular yang akan bisa jadi menular kepada anak-anaknya. Kesehatan
jasmani sangat akan menopang keberhasilan guru mengajar di kelas. Oleh karena itu guru
dituntut prima, cekatan, dan berwibawa dalam memberi pembelajaran, disamping itu
persayaratan sehat rohani juga adalah suatu syarat yang mutlak harus dienuhi oleh
seorang guru.
Disamping kualifikasi akademik seorang guru disebut sebagai agen pembelajaran
juga dituntut memiliki kompetensi. Oleh karena itu maka dalam pasal 28 (3) disebutkan
bahwa guru itu adalah agen pembelajaran pada jenjang pendidikan dasar dan menengah
serta pendidikan usia dini pendidikan. Sebagai agen pembelajaran dituntut untuk
memiliki kompetensi: (1) kompetensi pedagogik, (2) kompetensi kepribadian, (3) kompetensi profesional, dan (4) kompetensi sosial.
Dengan ditetapkan standar kualifikasi tenaga kependidikan oleh perintah tampak
sudah sangat jelas arahnya adalah tidak lain daripada untuk meningkatkan kualifikasi
tenaga pendidikan, yang kemudian akan berdampak pada kualitas proses pembelajar-
71
annya dan hasil belajar siswa, dan pada akhirnya akan dapat meningkatkan mutu
pendidikan nasional.
F. Standar Sarana dan Prasarana
Sesuai dengan PP No. 19 Tahun 2005 pasal 42 (1) diatur bahwa setiap satuan
pendidikan wajib memiliki sarana yang meliputi perabot, peralatan peralatan pendidikan,
media pendidikan, buku dan sumber belajar lainnya, bahan habis pakai, serta perlengkapan lainnya yang diperlukan untuk menunjang proses pemeblajaran yang teratur dan
berkelanjutan.
Kemudian didalam pasal yang sama ayat 2 nya diatur bahwa setiap satuan
pendidikan wajib memiliki prasarana yang meliputi lahan, ruang kelas, ruang pimpinan
satuan epndidikan, ruang pendidik, ruang tata usaha, ruang perpustakaan, ruang
laboratorium, ruang bengkel kerja, ruang unit produksi, ruang kantin, instalasi daya dan
jasa, tempat berolahraga, tempat beribadah, tempat bermain, tempat berekreasi, dan ruang
tempat lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan
berkelanjutan.
Melihat masalah sarana dan prasarana pendidikan tersebut sudah diatur dalam
peraturan pemerintah, maka sebenarnya adalah merupakan suatu kewajiban oleh
pemerintah untuk dipenuhi terutama satuan pendidikan yang dikelola oleh pemerintah
agar proses pembelajaran dapat berjalan lancar dan lebih dari itu agar mencapai tujuan
dan hasil yang bermutu. Fakta atau data di lapangan walaupun tidak merupakan hasil
penelitian dapat disimpulkan bahwa masih banyak sekolah yang belum dapat memenuhi
sarana dan prasarana seperti yang diwajibkan dalam ketentuan tersebut. Lebih dari pada
itu satuan pendidikan yang dikelola swasta sudah tentunya lebih terbatas fasilitas sarana
72
dan prasarananya. Sehingga kalau dalam keseharian di masyarakat ada pendapat yang
menyatakan bahwa pendidikan di Indonesia masih memiliki mutu yang rendah tampak
ada benarnya, karena persyaratan sarana dan prasarananya belum terpenuhi padahal
masalah sarana dan prasarana tersebut sudah diatur dalam undang-undang maka sudah
tentu seharusnya wajib dilakukan atau disediakan.
G. Standar Pengelolaan Pendidikan
Suatu lembaga pendidikan membutuhkan pengelola atau pemimpin. Pemimmpin
adalah seorang yang dapat mengatur terlaksananya proses pendidikan di sekolah dan
tercapainya tujuan pendidikan yang telah dirumuskan sebelumnya. Seorang pemimpin
lembaga pendidikan harus mampu untuk merencanakan, mengorganisasikan, mengendalikan dan menilai proses pendidikan agar terlaksana dan tercapai tujuan pendidikan
pendidikan. Dalam hubungannya dengan standar pengelolaan pendidikan ini pemerintah
sudah mengaturnya dalam PP No. 19 Tahun 2005 dalam pasal 50 sebagai berikut:
(1)
Setiap satuan pendidikan dipimpin oleh seorang kepala sekolah sebagai penanggung
jawab pengelolaan pendidikan.
(2)
Dalam melaksanakan tugasnya kepala sekolah satuan pendidikan SMP/MTs/SMP
LB atau bentuk lain yang sederajat dibantu minimal oleh satu orang wakil kepala
satuan pendidikan.
(3)
Pada satuan pendidikan SMA/MA/SMALB, SMK/MAK atau bentuk lain yang
sederajat kepala satuan pendidikan dalam melaksanakan tugasnya dibantu oleh tiga
wakil kepala satuan pendidikan yang masing-masing secara berturut-turut membidangi akademik, sarana prasarana, serta kesiswaan.
73
Seorang dapat ditunjuk, diangkat menjadi kepala sekolah sebagai penanggungjawab pengelolaan pendidikan apabila telah memiliki pengalaman sebagaimana yang
diatur dalam PP No.19 tahun 2005 pasal 38 (1), (2), (3), (4), dan(5)
(1) Kriteria menjadi kepala TK/RA meliputi:
a. Bersetatus sebagai guru TK/RA
b. Memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pemebalajaran
sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
c. Memiliki pengalaman mengajar sekurang-kurangnya 3 (tiga) tahun di TK/RA,
dan,
d. Memiliki kemampuan kepemimpinan dan kewirausahaan di bidang pendidikan.
(2) Kriteria untuk menjadi kepala SD/MI meliputi:
a. Bersetatus sebagai guru SD/MI
b. Memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran sesuai
ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
e. Memiliki pengalaman mengajar sekurang-kurangnya 5 (lima) tahun di SD/MI,
dan,
d. Memiliki kemampuan kepemimpinan dan kewirausahaan di bidang pendidikan.
(3) Kriteria untuk menjadi kepala SMP/MTs/SMA/MA/SMK/MAK meliputi:
a. Bersetatus sebagai guru SMP/MTs/SMA/MA/SMK/MAK.
b. Memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran sesuai
ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
f. Memiliki pengalaman mengajar sekurang-kurangnya 5 (lima) tahun di SMP/MTs/
SMA/MA/SMK/MAK , dan
74
d. Memiliki kemampuan kepemimpinan dan kewirausahaan di bidang pendidikan.
(4) Kriteria untuk menjadi kepala SDLB/SMPLB/SMALB meliputi:
a. Bersetatus sebagai guru pada satuan pendidikan khusus.
b. Memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran sesuai
dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
g. Memiliki pengalaman mengajar sekurang-kurangnya 5 (lima) tahun di satuan
pendidikan khusus, dan
d. Memiliki kemampuan kepemimpinan dan kewirausahaan di bidang pendidikan.
(5) Kriteria kepala satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat 1 sampai dengan
ayat 4 dikembangkan oleh BSNP dan ditetapkan dengan peraturan menteri.
H. Standar Biaya Pendidikan
Dalam Undang-undang No. 20 Tahun 2003 pasal 46 (1) menyatakan bahwa
pembiayaan pendidikan adalah merupakan tanggungjawab bersama antara pemerintah,
pemerindtah daerah, dann masyarakat. Kemudian dalam ayat 2 nya pemerintah dan
pemrintah daerah bertanggungjawab menyediakan anggaran pendidikan sebagaimana
yang diatur dalam pasal 31 (4) Undang-undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945.
kemudian dalam PP. No. 19 tahun 2005 pasal 1 (10) menyebutkan bahwa standar pembiayaan adalah standar yang mengatur tentang komponen dan besarnya biaya operasi
satuan pendidikan yang berlaku dalam selama satu tahun. Kemudian dalam PP. No. 19
tahun 2005 pasal 62 menyebutkan bahwa pembiayaan pendidikan meliputi (1) biaya
investasi, yang meliputi biaya penyediaan sarana dan prasarana, pengembangan
sumberdaya manusia, dan modal kerja tetap, (2) biaya personal, meliputi biaya pendidikan yang harus dikeluarkan oleh peserta didik untuk bisa mengikuti proses
75
pembelajaran secara teratur dan berkelanjutan, dan (3) biaya operasi, mepiputi: gaji
pendidik dan tenaga kependidikan serta segala tunjangan yang melekat pada gaji, bahan
atau peralatan pendidikan habis pakai, dan biaya operasi pendidikan tak langsung berupa
daya, air, jasa telekomukasi, pemeliharaan sarana prasarana, uang lembur, transportasi,
konsumsi, pajak, asuransi, dan lain sebagainya. Standar biaya operasi satuan pendidikan
ditetapkan dengan Permen berdasarkan usulan BSNP.
Sumber pembiayaan pendidikan terutama sekolah negeri adalah berasal dari
anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) dan anggaran pendapatan dan belajan
daerah (APBD), bantuan operasional sekolah (BOS) yang berasal dari pengurangan
subsidi BBM, komite sekolah, dan dana yang bersumber dari masyarakat atau orang tua
murid, sedangkan sumber dana untuk sekolah swasta adalah uang pembangunan, subsidi
pemerintah, SPP, komite sekolah dan donatur.
Perencanaan anggaran harus diusahakan dapat menampung seluruh kegiatan
yang berupa kegiatan rutin, pembangunan (proyek) dalam bentuk daftar isisan pelaksanaan anggaran (DIPA). Perencanaan itu disusun berupa anggaran pendapatan dan belanja
negara (APBN) untuk tingkat pemerintah pusat dan anggaran pendapatan dan belanja
daerah (APB) untuk tingkat pemrintah daerah provinsi dan daerah kabupaten dan
kotamadya. Angaran berarti suatu rencana keuangan yang disusun untuk mewujudkan
kegiatan dalam suatu usaha kerjasama guna mencapai tujuan jangka waktu tertentu yang
biasanya untuk waktu satu tahun. Anggaran untuk waktu satu tahun diselenggrakan
penggunaan dan pengelolaannya dalam tahun anggaran yang bersangkutan, yang dimulai
dari bulan Januari sampai akhir bulan Desember. Tahun anggaran ini bersifat sambung
76
menyambung, dan perencanaan sudah dimulai beberpa bulan sebelum bulan Januari,
yaitu bulan Mei untuk rencana tahun berikutnya.
H. Standar Penilaian Pendidikan
Dalam PP. No. 19 tahun 2005 pasal 78 disebutkan bahwa evaluasi pendidikan
adalah meliputi: (a) evaluasi keinerja yang dilakukan oleh satuan pendidikan sebagai
bentuk akuntabilitas penyelenggaraan pendidikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan, (b) evaluasi kinerja oleh pemerintah, (c) evaluasi kinerja yang dilakukan oleh
pemerintah daerah provinsi, (d) evaluasi kinerja yang dilakukan oleh pemerintah daerah
kabupaten/kota, dan (e) evaluasi lembaga evaluasi mandiri yang dibentuk masyarakat
atau organisasi profesi untuk menilai pencapaian standar nasional pendidikan.
Evaluasi yang dilakukan oleh satuan pendidikan dilakukan pada akahir semester,
yang meliputi: (a) tingkat kehadiran peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan, (b)
pelaksanaan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan kegiatan ekstrakurikuler, (c) hasil
belajar peserta didik, dan (d) realisasi anggaran. Kemudian hasil evaluasi dilaporkan
kepada pihak-pihak yang berkeptinngan.
Evaluasi kinerja pendidikan yang dilakukan oleh pemerintah dilakukan oleh
menteri terhadap pengelola satuan, jalur, jenjang, dan jenis pendidikan pada jenjang
pendidikan tinggi dilakukan oleh pemerintah secara berkala, kemudian evaluasi kinerja
pendidikan yang menangani urusan pemerintahan di bidang agama terhadap pengelolaan
satuan, jalur, jenjang dan jenis pendidikan keagamaan secara berkala.
Evaluasi kinerja yang dilakukan oleh pemerintah daerah provinsi, dilakukan
terhadap pengelola, satuan, jalur, jenjang, dan jenis pendidikan, pada pendidikan dasar
77
dan menengah serta pendidikan nonformal termasuk pendidikan anak usia dini, secara
berkala.
Evaluasi kinerja yang dilakukan oleh pemerintah daerah kabupaten/kota, dilakukan terhadap pengelola, satuan, jalur, jenjang, dan jenis pendidikan, pada pendidikan
dasar dan menengah serta pendidikan nonformal termasuk pendidikan anak usia dini,
secara berkala.
Evaluasi kinerja pendidikan yang dilakukan oleh pemerintah, pemerintah daerah
provinsi, dan evaluasi kinerja yang dilakukan oleh pemerintah daerah kabupaten/kota
dilakukan sekurang-kurangnya setahun sekali.
Kemudian dalam pasal 85 (1) disebutkan untuk mengukur dan menilai pencapaian
standar nasional pendidikan oleh peserta didik, program dan/atau satuan pendidikan,
masyarakat dapat membentuk lembaga evaluasi mandiri.
J. Rangkuman
Standarisasi mutu pendidikan di Indonesia sudah dilakukan sejak tahun 2005
dengan dikeluarkannya PP No 19 tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan.
Kemudian suatu badan yang diberikan wewenang untuk mengembangkan dan melakukan
penilaian atas standar pendidikan nasional tersebut adalah dilakukan oleh Badan Standar
Nasional Pendidikan. Badan ini yang menilai mutu pendidikan nasional berdasarkan pada
pasal 35 Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional yang mencakup delapan bidang,
yaitu: (1) standar isi, (2) standar proses pembelajaran, (3) standar komptensi lulusan, (4)
standar tenaga pendidik, (5) standar sarana dan prasarana, (6) standar pengelolaan
pendidikan, (7) standar pembiayaan pendidikan, dan (8) standar penilaian pendidikan.
78
K. Evaluasi
1. Dapat menjelaskan standar isi pendidikan
2. Dapat menjelaskan standar proses pembelajaran
3. Dapat menjelaskan standar komptensi lulusan
4. Dapat menjelaskan standar tenaga pendidik dan kependidikan.
5. Dapat menjelaskan standar sarana dan prasarana,
6. Dapat menjelaskan standar pengelolaan pendidikan
7. Dapat menjelaskan standar pembiayaan pendidikan.
7. Dapat menjelaskan standar penilaian pendidikan
79
BAB. VII
MANAJEMEN MUTU TERPADU DAN SEKOLAH EFEKTIF
A. Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaiannya
Kompetensi Dasar
Indikator Pencapaiannya
Memahami konsep sekolah efektif.
Dapat menjelaskan konsep sekolah efektif.
Memahami karakteristik dan indikator
Dapat menjelaskan karakteristik dan indi-
sekolah efektif .
kator sekolah efektif.
Memahami kaitan antara manajemen mutu Dapat menjelaskan kaitan antara manaterpadu dan sekolah efektif.
jemen mutu terpadu dan sekolah efektif
Memahami setrategi dalam mengimple-
Dapat menjelaskan setrategi dalam
mentasikan manajemen mutu terpadu.
mengimplementasikan manajemen mutu
terpadu
B. Konsep Sekolah Efektif
Efektifitas suatu organisasi tidak dapat dipisahkan dari perencanaan yang mantap,
baik perencanaan strategik maupun perencanaan opersionalnya. Efektifitas pada dasarnya
menunjuk kepada suatu ukuran tingkat kesesuaian antara hasil yang dicapai dengan yang
diharapkan sebagaimana yang telah ditetapkan terlebih dahulu. Parameternya akan dapat
diungkapkan sebagai angka nilai rasio antara jumlah hasil seperti kelulususan, produk
jasa, produk barang, dan lain sebagainya yang dicapai dalam kurun waktu tertentu
dibandingkan dengan jumlah yang serupa yang diproyeksikan atau ditargetkan dalam
kurun waktu tersebut (Makmun. 1997). Stoner, Freeman dan Gilbert (1996) mengartikan
bahwa efektifitas itu adalah melakukan sesuatu itu dengan tepat. Demikian juga Etzioni
80
(1964) menguraikan bahwa efektifitas organisasi tersebut diartikan sebagai sejauh mana
organisasi berhasil mencapai tujuannya. Namun demikian perlu diingat bahwa pengertian
yang disebutkan di atas tampaknya kurang lengkap (Muhyadi. 1989). Tercapainya tujuan
atau tingkat produktifitas yang tinggi dari suatu organisasi sebenarnya hanyalah merupakan salah satu aspek gambaran efektifitas suatu organisasi itu. Jadi masih ada aspek
yang lainnya dari efektifitas oragnisasi itu, seperti tingkat kepuasan anggota, kualitas
produk yang dihasilkan, kemampuan menciptakan dan memelihara stabilitas dan
mungkin juga ada yang lainnya. Kemudian ada juga pendapat yang menyatakan bahwa
efektifitas adalah adanya kesesuaian antara orang yang melakasanakan tugas dengan
sasaran yang dituju. Efektifitas adalah bagaimana suatu oerganisasi berhasil mendapatkan
dan memanfaatkan sumber daya dalam usaha mewujudkan tujuan organisasi. Efektifitas
juga diartikan tercapainya tujuan, ketepatan waktu, dan adanya partisipasi aktif dari
anggotan (Mulyasa. 2002). Berdasarkan pada pengertian efektifitas tersebut, maka
sesunguhnya efektifitas berkaitan dengan terlaksananya suatu tugas pokok. Efektifitas
juga berakaitan erat dengan perbandingan antara tingkat pencapaian tujuan dengan
rencana yang telah disusun sbelumnya, atau perbandingan hasil nyata dengan hasil yang
direncanakan. Dengan demikian maka efektifitas tersebut juga mencakup efektifitas
jangka pendek, efektifitas jangka menengah, dan efektifitas jangka panjang. Demikian
juga Engkoswara (1987) menyatakan bahwa produktifitas sebagai tujuan pendidikan
mencakup dua aspek yaitu: aspek efektifitas dan efisiensi. Aspek efektifitas mencakup
atau memiliki kriteria (1) masukan yang merata, (2) keluaran yang banyak dan bermutu
tinggi, (3) ilmu dan keluaran yang gayut yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan,
(4) pendapatan tamatan atau keluaran yang yang memadai. Sedang efisiensi mencakup
81
atau memiliki kriteria (1) kegairahan atau motivasi belajar, (2) semangat bekerja yang
besar, (3) mendapat kepercayaan dari bebagai pihak, dan (4) pembiayaan, waktu dan
tenaga sekecil mungkin tetapi menghasilkan yang besar.
Sehubungan dengan pengukuran terhadap efektifitas atau keberhasilan organisasi
tersebut sebenarnya dapat digunakan berbagai informasi dan data dasar yang dijadikan
indikator atau kriterianya, terutama dalam organisasi atau lembaga pendidikan itu sendiri,
seperti misalnya (1) analisis posisi sistem pendidikan untuk indikator pemerataan, (2)
proforsi pengangguran misalnya untuk indikator relevansi, (3) angka efisiensi edukasi
berdasarkan data kenaikan atau kelulusan, mengulang atau putus studi, untuk indikator
efisiensi, (4) angka kelulusan, melanjutkan studi, NEM dan sebagainya untuk indikator
kualitas.
Melihat begitu luasnya pengertian dari efektifitas organisasi tersebut, maka
sesungguhnya kriteria itu tidak hanya mencakup bagaimana hasil secara kuantitatif yang
menggambarkan berbagai rasio berbagai parameter seperti yang telah diuraikan di atas,
tetapi juga menyangkut masalah kualitas hasil (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
1996). Demikian juga kalau masalah kualitas tersebut dicermati secara lebih jauh maka
akan mencakup masalah yang lebih luas karena mencakup moral kerja, disiplin kerja,
motivasi kerja, nilai-nilai lainnya dan masalah pendanaan. Sehubungan dengan inilah
maka kemudian Gibson dkk (1988) menguraikan bahwa ada lima aspek dari efektifitas,
yaitu produkdi, efisiensi, kepuasan, kemampuan adaptasi, dan pengembangan organisasi.
Setelah dijelaskan dan sedikit tergambar apa yang dimaksud dengan efektifitas
organisasi, maka persoalannya yang muncul adalah bagaimanakan suatu sekolah tersebut
disebut efektif. Esensi fungsi sekolah pada dasarnya adalah sebagai tempat belajar yang
82
memiliki kewajiban untuk menyelenggarakan memberikan pengalaman pembelajaran
yang bermutu bagi peserta didik. Tempat belajar dimaknai sebagai suatu organisasi
pendidikan yang memiliki bidang garapan yang cukup kompleks, yaitu bidang kesiswaan,
kurikulum, kepegawaian, sarana dan prasarana, keuangan hubungan dengan masyarakat,
pengelolaan kelas, kebijakan, pelayanan khusus, seperti bimbingan dan penyuluhan,
perpustakaan, laboratorium, ekstrakurikuler, kantin, koperasi dan transpotasi sekolah.
Semua bidang tersebut dikelola untuk kebermanfaatan sekolah bagi siswa dalam
belajar. Dengan demikian sekolah efektif adalah sekolah yang menjalankan fungsinya
sebagai tempat belajar yang paling baik yang menyediakan layanan pembelajaran yang
bermutu bagi siswa. Hasil belajar yang memuaskan semua pihak dengan komprehensipnya hasil belajar yang diperoleh siswa atau sekolah yang menunjukkan tingkat kinerja
yang diinginkan dalam penyelenggaraan proses belajar mengajar dengan menunjukkan
hasil belajar yang bermutu para peserta didik sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan (
Komariah & Triatna. 2004).
Sekolah efektif juga terkait dengan kualitas. Kualitas adalah gambaran dan karakteristik menyeluruh lulusan yang menunjukkan kemampuannya dalam meuaskan kebutuhan yang ditentukan atau yang tersirat, misalnya nilai hasil ujian akhir, prestasi olah
raga, prestasi karya tulis, dan prestasi pentas seni. Kualitas tamatan dipengaruhi oleh
tahapan-tahapan kegiatan sekolah yang saling berhubungan, yaitu perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.
Sekolah efektif menunjukkan adanya proses perekayasaan berbagai sumber dan
metode yang diarahkan pada terjadinya pembelajaran di sekolah secara optimal. Efektifitas sekolah merujuk pada pemberdayaan pada semua komponen sekolah sebagai
83
organisasi tempat belajar berdasarkan tugas pokok dan fungsinya masing-masing dalam
struktur program dengan tujuan agar siswa belajar dan mencapai hasil yang telah
ditetapkan, yaitu memiliki kompetensi. Kemudian Thomas yang dikutip oleh Mulyasa
(2002) menjelaskan bahwa efektifitas pendidikan yang disebutnya dengan istilah
produktivitas, memaknai efektifitas dari tiga dimensi, yaitu (1) the administrator
production function, meninjau produktifitas sekolah tersebut dari segi keluaran administaratif, yaitu seberapa besar dan baik layanan dapat diberikan dalam suatu proses
pendidikan, baik oleh guru, kepala sekolah dan pihak-pihak lainnya yang berkepentingan,
(2) the psychologist’s production function, meninjau produktifitas sekolah dari sisi
keluaran, perubahan perilaku yang terjadi pada peserta didik, dengan melihat nilai-nilai
yang diperoleh peserta didik sebgai suatu gambaran dari prestasi akademik yang telah
dicapainya dalam periode belajar tertentu di sekolah, (3) the economics’s production
function, meninjau produktifitas sekolah dari segi keluaran ekonomis yang berkaitan
dnegan pembiyaaan layanan pendidikan di sekolah. Hal ini mencakup harga layanan yang
diberikan atau pengorbanan biaya dan perolehan (earning) yang ditimbulkan oleh
layanan itu atau disebut juga peningkatan nilai balik.
C. Karakteristik dan Indikator Sekolah Efektif
Kajian terhadap efektifitas terhadap suatu organisasi termasuk organisasi pendidikan atau sekolah tersebut kemudian menimbulkan permalahan baru yaitu apa saja yang
menjadi karakteristik dan indikator pendidikan atau sekolah efektif tersebut. Menurut
Mukhtar dan Iskandar (2009) bahwa karakteristik sekolah efektif adalah: (1) fokus
manajemen didasrakan pada lembaga pendidikan yang bersangkutan dengan menekankan
pada prosedur pengembangan organisasi yang aktual dan penggunaan waktu yang efektif,
84
berpusat pada hasil dan tujuan yang jelas terukur, semua anggota memiliki komitmen dan
harapan yang tinggi terhadap organisasi, (2) berfungsinya komponen-komponen
organisasi secara optimal dan keefektipan manajerial ditandai kepemimpinan instruksional yang lugas dan kuat oleh kepala sekolah, kinerja guru, dan tenaga kependidikan
yang profesional ditopang oleh oleh kemampuan teknologi yang baik dan kecakapan
individual dan motivasi yang kuat, dan (3) kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan
harus menggambarkan sikap kosisten, memiliki pikiran luas dan terbuka, memiliki
integritas yang tinggi, jujur, percaya diri, kreatif dan lain sebagainya. Mukhtar dan
Iskandar (2009) lebih lanjut dengan mengutip pendapat dari Shanon dan Bylsma juga
menjelaskan karakteristik sekolah efektif sebagai berikut: (1) fokus bersama dan jelas,
(2) standar dan harapan yang tinggi bagi semua siswa, (3) kepemimpinan sekolah yang
efektif, (4) tingkat kerjasama dan komunikasi inovatif, (5) kurikulum pembelajaran dan
evaluasi yang melampui standar, (6) frekuensi pemantaun terhadap belajar dan mengajar
tinggi, (7) pengembangan staf pendidikan dan tenaga kependidikan yang tefokus, (8)
lingkungan yang mendukung pelajar, dan (9) keterlibatan yang tinggi dari keluarga dan
masyarakat.
Kajian tentang efektifitas pendidikan yang lebih sistemmatis adalah harus dilihat
mulai dari masalah input, process, output dan outcome (Mulyasa. 2002). Sekolah efektif
diidenti-fikasikan sebagai sekolah yang dapat menyelenggarakan proses belajar yang
efektif karena ciri khas dari lembaga sekolah adalah terjadinya proses belajar mengajar.
Dengan demikian, dalam sekolah yang efektif terdapat proses belajar mengajar efektif,
dengan ciri-ciri: (1) aktif, bukan fasif, (2) tidak kasatmata, (3) rumit, bukan sederhana, (4)
dipengaruhi oleh adanya perbedaan individual di antara peseta didik, dan (5) dipengaruhi
85
oleh berbagai konteks (Komariah &Triatna. 2002). Namun perlu diingat bahwa sekolah
efektif tersebut bukan semata-mata hanya ditentukan dengan terjadinya pembelajaran
yang efektif tetapi sekolah efektif tersebut adalah merupakan suatu sistem, artinya bahwa
sekolah efektif tersebut sangat ditentukan oleh sinergisitas berbagai komponen dalam
mencapai tujuan yang telah ditetapkan dengan bermutu. Berbagai komponen yang
dimaksudkan tersebut antara lain mencakup: (1) rencana strategis memberikan visi
jangka panjang yang diwujudkan dalam program yang bersifat operasional dalam
menentukan pasar dan corak budaya yang diinginkan, (2) kebijakan mutu yang memberikan pola standar program utama yang berisi pernyataan tentang hak-hak peserta didik,
(3) pertanggungjawaban manajemen dari peran-peran badan pemerintah dan aparat dalam
merealisasikan mutu, (4) organisasi mutu sebagai wadah kegiatan dalam mengatur,
mengarahkan, dan memonitor pelaksanaan program, (5) pemasaran dan publisitas dalam
bentuk informal yang jelas, akurat, dan up to date bagi masyarakat pemakai tentang apa
yang ditawarakan dalam program, (6) penyelidikan dan pengakuan terhadap keberadaan
peserta didik dalam wujud sistem administrasi peseta didik yang sesuai dengan
kebutuhannya, (7) induksi melalui program pelatihan peserta didik yang berisi orientasi
tentang sistem, etos, dan gaya pembelajaran yang dialkukan, (8) metode penyampaian
kurikulum ditetapkan dengan rinci untuk setiap aspek program, (9) bimbingan dan
penyuluhan bagi karier peserta didik yang terintegrasi dengan pelaksanaan kurikulum,
dan (10) manajemen belajar diorganisasikan sesuai dengan spesifikasi materi kurikulum,
(11) desain kurikulum termasuk dokumentasi tujuan dan sasaran dari setiap spesifikasi
program harus didasarkan pada kebutuhan peserta didik dan masyarakat pemakai, (12)
pengangkatan, pelatihan, dan pengembangan tenaga kependidikan yang sesuai dan
86
terarah pada kompetensi profesional dan karier staf selanjutnya, (13) kesempatan yang
sama dalam menentukan metode dan prosedur penyampaian tujuan, baik bagimpserta
didik dan tenaga kependidikan yang tertuang dalam dalam kebijakan tertentu, (14)
monitoring dan evaluasi yang kontinu melalui mekanisme dan metode yang sesuai
dengan proses terhadap kemajuan prestasi individu dan keberhasilan program, (15)
pengaturan administrasi yang mendokumentasikan segala bentuk dokumen mengenai
peserta didik termasuk sistem finasialnya yang valid, dan (16) sistem review lembaga
yang dapat membangun kepercayaan dan seklaigus mengevaluasi performa lembaga
secara keseluruhan serta umpan balik bagi perencanaan strategi selanjutnya (Sallis.
1993). Demikian juga ada pendapat yang menyatakatakan bahwa efektifitas sekolah
tersebut dapat dilihat dari efektifitas kepala sekolah dalam melaksanakan tugasnya yang
dapat diidentifikasi: (1) produktifitas, bagaimana peserta didik, guru, kelompok, dan
sekolah pada umumnya mencapai tujuan yang telah ditetapkan, (2) efisiensi, perbandingan individu dan prestasi sekolah dengan biaya yang dikeluarkan untuk mencapai
prestasi tersebut, (3) kualitas, tingkat dan kualitas usaha, tujuan, jasa, hasil, dan
kemampuan yang dihasilkan oleh peserta didik di sekolah, (4) pertumbuhan, perbaikan
kualitas kepedulian dan inovasi, dan tantangan dan prestasi dibandingkan dengan kondisi
di masa lalu, (5) ketidak hadiran, yang berkaitan dengan jumlah waktu dan frekuensi
ketidakhadiran para peserta didik, guru dan pegawai sekolah lainnya, (6) perpindahan,
jumlah perpindahan dan tetapnya peserta didik kepala sekolah dan pegawai yang lainnya,
(7) kepuasan kerja guru, bagaimana tingkat kesenangan yang dirasakan guru terhadap
berbagai macam pekerjaan yang dilakukannya, (8) kepuasan peserta didik, bagaimana
peserta didik merasa senang menerima pelajaran untuk mencapai tujuan yang telah
87
ditetapkan, (9) motivasi, kekuatan kecendrungan dan keinginan guru, peserta didik, dan
pekerja sekolah untuk melibatkan diri dalam kegiatan atau pekerjaan sekolah. Hal
tersebut bukanlah perasaan senang, (10) semangat, perasaan senang guru, peserta didik,
dan personal sekolah yang lainnya, tradisi-tradisi tujuan-tujuannya, sehingga mereka
merasa bahagia menjadi bagian atau anggota sekolah, (11) kepaduan, bagaimana peserta
didik dan guru-guru saling menyukai satu sama lainnya, bekerja sama dengan baik,
berlomunikasi secara penuh dan terbuka, serta mengkoordinasikan usaha-usaha, (12)
keluwesan dan adaptasi, kemampuan sekolah untuk mengubah prosedur dan cara-cara
operasinya dalam merespons perubahan masyarakat dan lingkungannya dengan bauk,
(13) perencanaan dan perumusan tujuan, bagimana anggota sekolah merencanakan
langkah-langkah pada masa yang akan datang dan menghubung-kannya dengan
perumusan dan perubahan masyarakat dan lingkungan lainnya, (14) konsensus tujuan,
bagaimana anggota masyarakat, orang tua, dan peserta didik menyepakati tujuan yang
sama di sekolah, (15) internalisasi tujuan organisasi, penerimaan terhadap tujuan sekolah
dan keyakinan para orang tua, guru, dan peserta didik bahwa tujuan sekolah itu benar dan
layak, (16) keahlian manajemen dan kepemimpinan, keseluruhan tingkat kemampuan
kepala sekolah, supervisor, dan pemimpin yang lainnya dalam melaksanakan tugas-tugas
sekolah, (17) manajemen informasi dan komunikasi, kelengkapan, efisiensi penyebaran
dan akurasi dari informasi dipandang penting bagi efektifitas sekolah oleh semua bagian
yang berkepentingan termasuk guru, orang tua, dan masyarakat luas, (18) kesiagaan,
penilaian menyeluruh sehubungan dengan kemungkinan bahwa sekolah mampu
menyelesaikan sesuatu tugas khusus atau mencapai beberapa tujuan khusus dengan baik
jika diminta, (19) pemanfaatan lingkungan, bagaimana sekolah berhasil berinteraksi
88
dengan masyarakat, lingkungannya yang lain, serta memperoleh dukungan dan sumberdaya yang langka dan beberapa yang diperlukan untuk operasi yang efektif, (20)
penilaian oleh pihak luar, penilaian yang layak mengenai sekolah oleh individu,
organisasi, dan kelompok dalam masyarakat yang berhubungan dengan sekolah, (21)
stabilitas, kemampuan sekolah untuk memelihara struktur fungsi, dan sumberdaya,
sepanjang waktu, khususnya dalam periode-periode sulit, (22) penyebaaran pengaruh,
tingkat partisipasi individu dalam mengambil keputusan yang mempengaruhi mereka
secara langsung, (23) latihan dan pengembanga, jumlah usaha dan sumber-sumber daya
sekolah yang diperuntukkan bagi pengembangan bakat dan kemampuan guru, serta
pegawai yang lainnya (Mulyasa. 2002). Demikian juga Mulyasa dalam buku yang sama
menjelaskan bahwa efektifitas organisasi termasuk lembaga pendidikan dapat dilihat dari
beberapa indikator berikut: (1) efektifitas keseluruhan, behubungan dengan bagimana
organisasi melaksanakan seluruh tugas pokoknya atau mencapai semua sasarannya, (2)
kualitas, menyangkut jasa atau produk primer yang dihasilkan oleh organisasi, (3)
produktifitas, menyangkut volume atau jasa pokok yang dihasilkan organisasi.
Produktifitas dapat diukur dari tiga tingkatan, yaitu tingkat individu, kelompok, dan
keseluruhan organisasi, (4) kesiagaan, berhubungan dengan penilaian menyeluruh tentang
kemungkinan bahwa organisasi mampu menyelesaikan suatu tugas khsusu dengan baik
jika diminta, (5) efisiensi, mencerminkan perbandingan beberapa aspek prestasi unit
terhadap biaya untuk menghasilkan prestasi tersebut, (6) laba atau penghasilan, berkaitan
dengan penanaman modal yang dipakai untuk menjalankan organisasi dilihat dari sudut
pandang si pemilik, (7) pertumbuhan, berkaitan dengan penambahan, sperti tenaga kerja,
fasilitas harta, penjualan, laba, bagian pasar, dan penemuan-penemuan baru. Pertum-
89
buhan ini dilihat dari suatu perbandingan keadaan organisasi sekarang dnegan keadaan
masa lalu, (9) stabilitas, berkaitan dengan pemeliharaan struktur, fungsi, dan sumber daya
sepanjang waktu, khususnya dalam periode-periode sulit, (10) perputaran atau keluar
masuknya pekerja, masayarakat frekuensi atau jumlah pekerja yang keluar atas permintaannya sendiri, (11) semangat kerja, berkaitan dengan kecendrungan anggota organisasi
berusaha lebih keras mencapai tujuan dan sasaran organisasi, termasuk perasaan etrikat.
Semangat kerja adalah gejala kelompok yang mengakibatkan usaha tambahan, kebersamaan tujuan, dan perasaan memiliki, (12) motivasi, berkaitan dengan kekuatan
kecendrungan seorang individu melibatkan diri dalam kegiatan dan bersedia atau rela
bekerja untuk mencapai tujuan pekerjaan, (13) kepuasan, berkaitan dengan tingkat
kesenangan yang dirasakan seseorang atas peranan atau pekerjaannya dalam organisasi,
(14) penerimaan tujuan organisasi, berkaitan dengan diterimanya tujuan oleh setiap
pribadi atau unit-unit dalam organisasi karena mereka percaya bahwa tujuan tersebut
benar dan layak, (15) keluwesan dan adaptasi, berkaitan dengan kemampuan organisasi
untuk mengubah prosedur standar operasi jika lingkungan berubah, untuk mencegah
kebekuan rangsangan lingkungan, (16) penilaian oleh pihak luar, menyangkut penilaian
mengenai organisasi atau unit organisasi oleh mereka dalam lingkungan yakni pihak
dengan siapa organisasi ini berhubungan, kesetiaan, kepercayaan, dan dukungan yang
diberikan kepada organisasi oleh kelompok-kelompok, seperti pemasok, pelanggan,
pemegang saham, para petugas dan masyarakat umum.
Sementara itu berdasarkan konsepsi manajemen mutu berbasis sekolah penilaian
terhadap karakteristik sekolah efektif harus mencakup proses pembe-lajaran dan metode
untuk membantu kemajuan dan memperhatikan multitingkat, yaitu mencakup input,
90
proses dan produk sekolah disamping pekembangan akademik siswa (Nurkolis .2003).
Demikian juga lebih jauh Nurkolis menjelaskan bahwa karakteristik dari input, proses
dan produk adalah sebagai berikut.
Input pendidikan, meliputi hal-hal yang berkaitan dengan: (1) memiliki kebijakan, tujuan dan sasaran mutu yang jelas, (2) sumber daya tersedia dan siap, (3) staf yang
berpotensi dan berdedikasi tinggi, (4) memiliki harapan prestasi yang tinggi, (5) fokus
pada pelanggan, dan (6) input manajemen.
Proses, pendidkan efektif pada umumnya mendidik karakteristik proses sebagai
berikut: (1) proses belajar mengajar yang akatifitasnya tinggi, (2) kepemimpinan sekolah
yang kuat, (3) lingkungan sekolah yang aman dan tertib, (4) pengelolaan kependidikan
yang efektif, (5) sekolah memiliki budaya mutu, (6) sekolah memiliki teamwork yang
kompak cerdas dan dinamis, (7) sekolah memiliki kewenangan kemandirian, (8) partisipasi yang tinggi dari warga sekolah dan masyarakat, (9) sekolah memiliki kemauan
untuk berubah, (10) sekolah melakukan evaluasi dan perbaikan secara berkelanjutan, (11)
sekolah responsif dan antisipatif terhadap kebutuhan, (12) komunikasi yang baik, dan
(13) sekolah memiliki akuntabilitas.
Output pendidikan meliputi hal-hal sebagai berikut: (1) prestasi yang sekolah
yang dihasilkan oleh proses pembelajaran dan manajemen di sekolah (2) output bisa
berupa prestasi akademik seperti NEM, lomba karya ilmiah remaja, lomba bahasa
Inggris, Matematika, Fisika, cara berpikir kritis, kreatif, nalar, rasional, induktif, deduktif,
dan ilmiah. (3) prestasi non akademik, misalnya keingintahuan yang tinggi, harga diri,
kejujuran, kerjasama yang baik, rasa kasih sayang yang tinggi terhadap sesama,
solidaritas yang tinggi, toleransi, kedisiplinan, kerajinan, prestasi olahraga, kesenian, dan
91
kepramukaaan. Kemudian Komariah dan Triatna (2006) menjelaskan bahwa sekolah
efektif ditentukan oleh adanya aspek-aspek yang diperlukan dalam menentukan keberhasilan sekolah. Untuk lebih memperjelas aspek-aspek yang diperlukan dalam menentukan keberhasilan sekolah Komariah dan Triatna kemudian mengutip berbagai pendapat
dan hasil penelitian tentang ciri-ciri sekolah efektif, seperti dari Tola dan Furqon (2002),
Bank dunia (2000), Squires (1983), Scheerens (1992), Mackenzie (1983) Edmons (1979)
Townsend (1994) Henevald (9192), Guldemon (1991), dan Koster (20020).
TABEL. 7.1
CIRI-CIRI EKOLAH EFEKTIF
Tujuan sekolah
Tujuan Sekolah:
dinyatakan secara jelas
1.
Dinyatakan secara jelas.
dan spesifik.
2.
Digunakan untuk mengambil keputusan
3.
Dipahami oleh guru, staf dan siswa.
Pelaksanaan kepe-
Kepala sekolah:
mimpinan pendi-dikan
1.
Bisa dihubungi dengan mudah.
yang kuat oleh kepala
2.
Bersikap responsif kepada guru dan siswa.
sekolah.
3.
Responsif kepada kepada orang tua dan masyarakat.
4. Melaksanakan kepemimpinan yang berfokus kepada
pembelajaran.
5. Menjaga agar rasio antara guru/siswa sesuai dengan rasio
ideal.
Ekspektasi guru dan Guru dan staf:
staf yang tinggi.
1. Yakin bahwa semua siswa bisa belajar dan berprestasi.
2. Menekankan pada hasil akademis.
3. Memandang guru sebagai penentu terpenting bagi
92
keberhasilan siswa.
Ada kerjasama kemi-
Sekolah:
traan antara sekolah
1. Komunikasi secara positif dengan orang tua.
dengan orang tua, dan
1. Memilihara jaringan serta dukungan orang tua dan
masyarakat.
masyarakat.
2. Berbagi tanggungjawab untuk menegakkan displin dan
mempertahankan keberhasilan.
3. Menghadiri acara-acara penting di sekolah.
Adanya iklim yang
Sekolah:
positif dan kondusif
1.
Rapi, bersih, dan aman secar fisik.
bagi siswa untuk
2.
Dipelihara secar baik.
belajar.
3.
Memberi penghargaan kepada yang berprestasi.
4.
Memberi penguatan terhadap perilaku positif siswa.
Siswa:
Menekankan kepada
keberhasilan siswa
1.
Mentaati yang tepat.
2.
umpan balik secara cepat/segera.
3.
Kemampuan berpartisipasi di kelas secara optimal.
4.
Penilaian hasil belajar dari berbagai segi.
Siswa:
1. Melakukan hal terbaik untuk mencapai hasil belajar yang
dalam mencapai ke-
optimal, baik yang bersifat akademis maupun non
terampilan aktivitas
akademis.
yang essensial.
2. Memperoleh keterampilan yang essensial.
Kepala sekolah:
1. Menunjukkan komitmen dan mendukung program keterampilan esesnsial.
Guru:
1. Menerima bahan yang memadai untuk mengajarkan
93
keteram-pilan yang esensial.
Komitmen yang tinggi
dari SDM sekolah
Guru:
1. Membantu merumuskan dan melaksanakan tujuan
terhadap
program pendi-dikan.
pengembangan sekolah:
Staf:
1. memperkuat dan mendukung kebijakan sekolah dan
pemerintah daerah.
2. Menunjukkan profesionalisme dalam bekerja.
Tola dan Furqon (2002),
TABEL. 7.2
CIRI-CIRI EKOLAH EFEKTIF
Supporting inputs
1. Dukungan orang tua dan masyarakat.
2. Lingkungan belajar yang sehat.
3. Dukungan yang efektif dan sistem pendidikan.
4. Kelengkapan buku dan sumber belajar.
Enabling condition
1. Kepemimpinan yang fektif.
2. Tenaga guru yang kompoten, fleksibelitas, dan otonomi.
3. Waktu di sekolah yang lama.
School climate
1. Harapan siswa yang tinggi.
2. Sikap gur4u yang fektif.
3. Keteraturan dan disiplin.
4. Kurikulumm yang terorganisasi.
5. Sistem reward dan insentif bagisiswa dan guru.
94
Teaching leraning
1. Tuntutan waktu belajar yang tinggi.
process
2. Strategi mengjar yang bervariasi.
3. Pekerjaan rumah yang sering, penilaian, dan umpan muka
baik yang sering.
4. Partisipasi (kehadiran, penyelesaian studi, dan kelanjutan
studi). Sistem reward dan insentif bagi siswa dan guru.
Bank dunia (2000)
TABEL. 7.3
CIRI-CIRI EKOLAH EFEKTIF
Konteks
Kebutuhan masyarakat.
Lingkungan sekolah:
1. Dukungan orang tua siswa dan lingkungannya.
2. Adanya hubungan yang baik antara sekolah dengan
orangtua siswa.
3. Dukungan keluarga dan masyarakat terhadap sekolah.
Kebijakan pendidikan:
1. Dukungan yang efektif dari sistem pendidikan.
2. Fleksibelitas dan otonomi.
Input
Kepemimpinan yang kuat:
1. Kepemimpinan dan perhatian kepala sekolah terhadap
kualitas pengajaran.
2. Kepala sekolah mempunyai program inservise, pengawasan, supervisi, serta menyediakan waktu untuk
membuat rencana bersama-sama dengan para guru dan
memungkinkan adanya umpan balik demi keberhasilan
prestasi akademiknya.
95
Visi sekolah:
1. Sistem nilai dan keyakinan.
2. Tujuan sekolah mempunyai standar prioritas sekolah
yang sangat tinggi
3. Penekanan pada pencapaian kemampuan dasar.
Sumber daya:
1. Dukungan materi yang cukup
2. Waktu pembelajaran yang cukup.
Kualitas guru:
1. Sikap positif dari para guru.
2. Pemahaman yang mendalam terhadap pengajaran.
Siswa:
1. Harapan yang tinggi dari siswa
2. Siswa berpendapat kerja keras lebih penting daripada
keberuntungan dapat meraih prestasi.
3. Para siswa diharapkan mempunyai tanggungjawab yang
diakui secara umum.
4. Perilaku siswa yang positif.
Proses
Iklim sekolah:
1. Adanya standar disiplin yang berlaku bagi kepala
sekolah, guru, siswa dan karyawan di sekolah.
2. Lingkungan fisik yang mendukung dan nayaman.
3. Iklim yang nyaman dan tertib bagi berlangsungnya
pengajaran dan pemeblajaran.
4. Pengembangan staf dan iklim sekolah yang kondusif
untuk belajar.
96
5. Peraturan dan disiplin.
6. Adanya penghargaan bagi siswa yang berprestasi.
7. Adanya penghargaan dan insentif.
8. Harapan yang tinggi dari komunitas sekolah.
9. Pengembangan dan kolegialitas pada guru.
Kurikulum:
1. Adanya pengorganisasian kurikulum.
2. Menetapkan sasaran yang jelas dan upaya untuk mencapainya.
Proses Belajar dan Mengajar:
1. Ketertiban dan tanggungjawab siswa.
2. Variasi strategi pembelajaran.
3. Frekuensi pekerjaan rumah.
4. Penilaian secara rutin mengenai program yang dibuat
siswa.
5. Penilaian siswa yang didasarkan pada pengukuran hasil
belajar siswa.
6. Adanya penilaian dan umpan balik sesering mungkin.
7. Pemantauan yang berulang-ulang terhadap kemajuan
belajar siswa.
8. Memusatkan diri pada kurikulum dan instruksional.
9. Siswa diharapkan mampu mencapai tujuan yang telah
direncanakan.
10. Harapan yang tibggi pada prestasi siswa.
Output
Hasil belajar siswa:
1. Siswa diharapkan lulus dengan menguasai pengetahuan
akademik.
2. Mampu mendemontrasikan kebolehannya mengenai
97
seperangkat kriteria.
Pencapaian keseluruhan.
Outcome
1. Kesempatan kerja.
2. Penghasilan.
Squires (1983), Scheerens (1992), Mackenzie (1983), Edmons (1979), Townsend (1994)
Henevald (1992), Guldemon (1991)
TABEL. 7.4
CIRI-CIRI EKOLAH EFEKTIF
Input
Karakteristik sekolah:
1. Luas gedung.
2. Luas laboratorium.
3. Luas perpustakaan.
4. Banyak ruang kelas.
5. Banyak siswa.
6. Banyaknya dana yang disediakan.
Karakteristik guru:
1. Umur.
2. Pendidikan.
3. Pengalaman mengajar.
Karakteristik siswa:
1. jumlah jam belajar siswa di rumah.
2. Jumlah jam les mata pelajaran.
3. Pendidikan orang tua.
4. Penghasilan orang tua.
Proses
Kepuasan guru:
1. Sumberdaya pendidikan.
2. Proses belajar emngajar.
98
3. Prestasi sekolah.
4. penghasilan dan penghargaan
5. Kebebasan melakukan aktifitas.
Iklim sekolah:
1. Kondisi fisik dan fasilitas sekolah.
2. Cara kerja dan gaya kepemimpinan kepala sekolah.
3. Harapan dan prestasi sekolah.
4. Hubungan kerja.
5. Ketertiban dan disiplin sekolah.
Partisipasi orang tua:
1. Ikut menentukan kebiajakan dan program sekolah.
2. Ikut mengawasi pelkasanaan kebijakan dan program
sekolah.
3. Pertemuan rutin di asekolah.
4. Kegiatan ekstrakurikuler.
5. mengawasi mutu sekolah.
6. Pertemuan BP3.
7. membiayai pendidikan.
8. Mengembangkan iklim sekolah.
9. Partisipasi dalam pengembangan sarana dan prasarana
sekolah.
Outcome
Hasil belajar:
1. Pengetahuan tiap mata pelajaran
Konsep diri siswa:
1. Internal: identitas diri, perilaku diri, penilaian diri.
2. Ekternal: fisik diri, etika moral diri, personal diri,
famili diri, sosial diri.
Koster (2002).
99
TABEL. 7.5
CIRI-CIRI EKOLAH EFEKTIF
Konteks
1. Tuntutan pengembangan diri dan peluang tamatan.
2. Dukungan pemerintah dan masyarakat.
3. Kebijakan pemerintah
4. Landasan hukum.
5. Kemampuan Iptek.
6. Nilai dan harapan masyarakat.
7. Tuntutan otonomi.
8. Tuntutan globalisasi.
Input
1. Visi, misi, tujuan dan sasaran.
2. Kurikulum.
3. Pendidik dan tenaga kependidikan.
4. Peserta didik.
5. Sarana dan prasarana.
6. Dana.
7. Regulasi satuan pendidikan.
8. Organisasi.
9. Administrasi.
10. Peranserta masyarakat.
11. Budaya satuan pendidikan.
Proses
Output
Proses PBM.
1. Akademik.
2. Non akademik.
3. Angka mengulang.
4. Angka putus sekolah.
5. Durasi sekolah.
100
Outcome
1. Kesempatan pendidikan.
2. Kesmpatan kerja.
3. Pengembangan diri.
Sagala (2010).
Dari berbagai karakteristik dan indikator sekolah efektif seperti yang diuraikan
terssebut di atas tampaknya diantara pendapat para ahli yang satu dengan yang lainnya
kalau dicermati secara lebih teliti maka dapat diketahui lebih banyak ada kesamaannya,
walaupun yang menjadi persoalan adalah bagaimana gambaran atau deskripsi dari
masing-masing indikator tersebut tidak dijelaskan secara lebih luas dan dalam. Penjelasan
atau deskripsi masing-masing indikator ini adalah sangat penting sekali lebih-lebih dalam
rangka pengukuran untuk mendapatkan data yang diperlukan untuk kepentingan penelitian. Namun demikian sebagai stimulan dan sebagai dasar untuk melakukan pengkajian
dan pembahasan secara lebih luas dan dalam tampaknya akan sangat membantunya.
D. Manajemen Mutu Terpadu dan Sekolah Efektif
Manajemen mutu terpadu adalah merupakan suatu pendekatan dalam menjalankan usaha yang mencoba untuk memaksimumkan daya saing organisasi melalui
perbaikan terus menerus atas produk, jasa, manusia, proses dan lingkungannya (Nawawi.
2003). Manajemen mutu terpadu merupakan suatu pendekatan pengendalian mutu
melalui pertumbuhan partisipasi karyawan. Manajemen mutu terpadu merupakan
mekanisme formal dan dilembagakan yang bertujuan untuk mencari pemecahan
persoalan dengan memberikan tekanan pada partisipasi dan kreatifitas di antara
karyawan. Setiap gugus juga bertindak sebagai mekanisme pemantau yang membantu
101
organisasi dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan dalam memantau
kesempatan, bersifat proaktif, tidak menunggu bergerak kalau persoalan timbul dan tidak
menghentikan kegiatannya kalau suatu persoalan telah ditemukan dan dipecahkan (Rivai
dan Murni. 2009). Manajemen mutu terpadu diartikan sebagai perpaduan semua fungsi
dari suatu perusahaan ke dalam falsafat holistik yang dibangun berdasarkan konsep
kualitas, teamwork, produktifitas, dan pengertian, serta kepuasan pelanggan. Manajemen
mutu terpadu merupakan sistem manajemen yang mengangkat kualitas sebagai setrategi
usaha dan berorientasi pada kepuasan pelanggan dengan melibatkan seluruh anggota
organisasi (Nasution. 2001). Kemudian dalam bidang pendidikan ada pendapat yang
menyatakan bahwa manajemen mutu terpadu memungkinkan memberi peluang untuk
perbaikan mutu sekolah menuju sekolah efektif. Sekolah efektif adalah sekolah yang
berhasil mencapai tujuannya. Sekolah efektif pada intinya adalah pembelajaran yang
efektif. Ada dua sistem pendekatan dalam memahami manajemen mutu terpadu dalam
menuju sekolah efektif. Pertama adalah pendekatan sistem yaitu suatu sistem pendekatan
yang mempercepat perbaikkan dan berkelanjutan yang berhubungan langsung dengan
peserta didik. Kedua adalah pendekatan sistem langsung dan terlibat aktif dalam
pengambilan keputusan dan manjemen sekolah (Syafaruddin. 2002).
Berdasarkan pada beberapa pengertian manajemen mutu terpadu tersebut kemudian Nawawi (2003), Nasution (2001) dan Usman (2006) menjelaskan beberapa karakteristik atau unsur utama manajemen mutu terpadu sebagai berikut di bawah ini.
1. Berfokus pada yang dilayani. Karakteristik ini pada mulanya menekankan bahwa bagi
organisasi non profit keberhasilan akan terlihat dari organisasi tersebut dalam
melaksanakan tugas pokoknya dalam memberikan pelayanan umum dan melaksa-
102
nakan pembangunan yang dapt diukur dengan mengacu pada suatu standar tertentu
yang telah ditetapkan. Tolak ukur itu ternyata tidak seluruhnya benar. Dalam
kenyataannya standar tertentu itu mungkin cocok untuk satu lingkungan msyarakat,
namun tidak cocok untuk lingkungan masyarakat yang lain. Misalnya dalam
pelaksanan wajib belajar, di masyarakat elite yang cukup terdidik terutama di
perkotaan, pelayanan cukup dilakukan di sekolah, karena anggota masyarakat selalu
berusaha untuk menyekolahkan anak-anaknya dengan memilih sekolah yang
kualitasnya sesuai dengan keinginan dan harapannya. Berbeda dengan daerah
pedesaan yang terpencil dan terasing termasuk desa tertinggal di perkotaan,
pemberian pelayanan umum harus dilakukan dengan mendatangi anggota masyarakat
agar menyekolahkan anak-anaknya.
2. Obsesi pada kualitas. Dalam orgnisasi yang menerapkan manajemen mutu terpadu,
pelanggan internal dan ekternal yang menentukan kualitas. Dengan kualitas yang
ditetapkan tersebut, organisasi harus terobsesi untuk memenuhi atau melebihi apa
yang telah ditentukan. Hal ini berarti bahwa semua karyawan pada setiap level harus
berusaha melaksanakan setiap aspek pekerjaannya berdasarkan persepektif ”bagaimana kita dapat melakukannya dengan lebih baik. Bila suatu organisasi terobsesi
dengan kualitas, maka berlaku prinsip good enough is never good enough.
Karakteristik ini harus diwujudkan oleh pemimpin atau manajer dalam semua fungsi
manajemen mulai dari aktif dalam merumuskan perencanaan yang berorientasi pada
kualitas, kemudian aktif pula membagi pembidangan kerja dan mengatur penempatan
personel agar pelaksanaan pekerjaan mampu menghasilkan sesuatu yang berkualitas.
Di samping itu aktif pula dalam mewujudkan fungsi pelaksanaan dengan memberikan
103
pengarahan dan bimbingan, diawali dengan menetapkan dan memerintahkan
keputusan dan atau kebijakan secara berkualitas, memilih dan menetapkan cara
bekerja, sampai pada memberikan pengaarahan dan bimbingan selama pelaksanaan.
Di lingkungan organisasi pendidikan, berarti pemimpin atau manjer dari menteri
sampai kepala sekolah harus aktif dalam menyusun dan mengimpelemtasikan
kurikulum, mengembangkan media pembelajaran, mengembangkan strategi pembelajaran, serta aktif dalam melakukan supervisi dan pengawasan yang berkualitas agar
memperoleh hasil berupa lulusan yang bermutu.
3. Pendekatan ilmiah. Pendekatn ilmiah sangat diperlukan dalam penerapan manajemen
mutu terpadu, terutama untuk merancang pekerjaan dan dalam proses pengambilan
keputusan dan pemecahan masalah yang berkaitan dengan pekerjaan yang dirancang
tersebut. Dengan demikian data yang diperlukan dan digunakan dalam menyusun
patok duga, memantau prestasi dan melaksanakan perbaikan. Oleh karena itu sudah
seharusnya pada organisasi pendidikan pelaksanaan fungsi manajemen dalam
pelaksanaannya manejemen mutu terpadu pengembangan konsep mutunya dengan
menggunakan sarana berteknologi canggih tersebut. Dengan demikian hasilnya akan
lebih akurat, obyektif, dan cepat dengan tingkat ketepatan yang tinggi, sehingga
dalam penggunaan hasilnya pada setiap pengiplementasian fungsi manajemen akan
lebih berkualitas, misalnya dalam mengolah data dilakukan penghitungan dengan
statistik, demikian pula dalam pelaksanaan proses belajar mengajar dengan
menggunakan media dan sarana bertehnologi tinggi.
4. Komitmen jangka panjang. Manajemen mutu terpadu merupakan suatu paradigma
baru dalam melaksanakan bisnis. Untuk itu dibutuhkan budaya perusahaan yang baru
104
pula. Oleh karena itu komitmen jangka panjang sangat penting guna mengadakan
perubahan budaya agar penerapan manajemen mutu terpadu dapat berjalan dengan
sukses. Komitmen jangka panjang seperti ini berarti memerlukan pelaksanaan
pelatihan dan pengembangan personel untuk meningkatkan kualitas, keterampilan,
wawasan, sikap, dan nilai-nilai terhadap pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya
harus dilaksanakan secara terus menerus. Komitmen jangka panjang akan sangat
mendukung bagi terwujudnya kualitas kehidupan kerja tanpa diskriminasi yang
memberikan kesempatan kepada semua personel agar secara terus menerus berusaha
meningkatkan kemampuannya dalam memberikan kontribusi untuk meningkatkan
kualitas, yang pada gilirannya akan menunjang bagi terwujudnya tim kerja dalam
melaksanakan semua fungsi manajemen yang sangat besar pengaruhnya pada
kemampuan semua tugas pokok organisasi. Dalam organisasi pendidikan manajemen
mutu terpadu konsep mutu harus dikembangkan sebagai obsesi setiap personel dalam
melaksanakan tugas pokoknya agar menjadi budaya sekolah. Dengan komitmen
jangka panjang setiap prestasi berupa peningkatan kualitas melalui kreativitas,
inisiatif dan inovasi dalam bekerja selalu dihargai, karena sangat penting untuk
memperkuat perkembangan sikap bersaing secara sehat atas dasar prestasi kerja.
Dengan demikian komitmen jangka panjang adalah merupakan karakter yang harus
diimplementasikan dalam lingkungan organisasi pendidikan atau sekolah.
5. Kerjasama tim. Dalam organisasi yang dikelola secara tradisional, seringkali diciptakan persaingan antar departemen yang ada agar daya saingnya terdongkrak. Akan
tetapi, persaingan internal tersebut cendrung hanya menggunakan dan menghabiskan
energi yang seharusnya dipusatkan pada upaya perbaikan kualitas, yang pada
105
gilirannya untuk meningkat daya saing perusahaan pada lingkungan ekternal. Dalam
organisasi yang menerapkan manajemen mutu terpadu kerjasama tim, kemitraan, dan
hubungan dijalin dan dibina, baik antar karyawan perusahaan maupun dengan
pemasok, lembaga-lembaga pemerintah dan masyarakat sekitarnya. Pemberdayaan
sumberdaya manusia dapat dilakukan melalui penggunaan dan pengembangan cara
bekerja dalam kelompok, agar antar personal dengan personal yang lainnya bekerja
dengan cara saling menunjang, saling isi mengisi atau saling melengkapi kekurangan
atau kelemahan-kelemahan masing-masing. Dengan bekerja di dalam tim kerja secara
efektif, berarti produktifitas dan kualitas kerja dapat ditingkatkan menjadi lebih baik
dibandingkan dengan cara dan hasil kerja individual.
6. Perbaikan sistem secara berkesinambungan. Setiap produk dan atau jasa dihasilkan
dengan memnafaatkan proses-proses tertentu di dalam suatu sistem atau lingkungan.
Oleh karena itu, sistem yang ada perlu diperbaiki secar terus menerus agar kualitas
yang dihasilkan dapat makin meningkat.
7. Pendidikan dan pelatihan. Dewasa ini masih terdapat perusahaan yang menutup mata
terhadap pentingnya pendidikan dan pelatihan karyawan. Mereka beranggapan bahwa
perusahaan bukanlah sekolah yang diperlukan adalah tenaga terampil siap pakai. Jadi
perusahaan-perusahaan seperti itu hanya akan memberikan pelatihan sekadarnya
kepada para karyawan-karyawannya. Kondisi seperti ini menyebabkan perusahaan
yang bersangkutan tidak berkembang dan sulit barsaing dengan perusahaan lainnya,
apalagi dalam era persaingan global. Dalam organisasi yang menerapkan manajemen
mutu terpadu pendidikan dan pelatihan merupakan faktor yang fundamental. Setiap
orang diharapkan dan didorong untuk terus belajar. Dalam hal ini berlaku prinsip
106
bahwa belajar merupakan proses yang tidak ada akhirnya dan tidak mengenal batas
usia. Dengan belajar setiap orang dalam perusahaan dapat meningkatkan keterampilan teknis dan keahlian profesionalnya.
8. Kebebasan yang terkendali. Dalam manajemen mutu terpadu keterlibatan dan
pemberdayaan karyawan dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah
merupakan unsur yang sangat penting. Hal ini dikarenakan unsur tersebut dapat
meningkatkan rasa memiliki dan tanggungjawab karyawan terhadap keputusan yang
telah dibuat. Selain itu, unsur ini juga dapat memperkaya wawasan dan pandangan
dalam suatu keputusan yang diambil karena pihak yang terlibat lebih banyak.
Meskipun demikian kebebasan yang timbul karena keterlibatan dan pemberdayaan
tersebut merupakan hasil dari pengendalian yang terencana dan terlaksana dengan
baik. Pengendalian itu sendiri dilakukan terhadap metode-metode pelaksanaan proses
tertentu. Dalam hal ini, karyawanlah yang melakukan standarisasi proses dan mereka
pula yang berusaha mencari cara untuk meyakinkan setiap orang agar bersedia
mengikuti prosedur standar tersebut.
9. Kesatuan Tujuan. Supaya manajemen mutu terpadu dapat diterapkan dengan baik,
maka perusahaan harus memiliki kesatuan tujuan. Dengan demikian, setiap usaha
dapat diarahkan kepada tujuan yang sama. Akan tetapi kesatuan tujuan ini tidak
berarti bahwa harus selalu ada persetujuan atau kesepakatan antara pihak manajemen
dan karyawan, misalnya mengenai upah dan kondisi kerja.
10. Adanya keterlibatan dan pemberdayaan karyawan. Keterlibatan dan pemberdayaan
karyawan merupakan hal yang penting dalam penerapan manjemen mutu terpadu.
Keterlbtan karyawan membawa dua manfaat utama. Pertama akan memungkinkan
107
meningkatkan dihasilkannya keputusan yang lebih baik, rencan yang lebih baik, atau
perbaikan yang lebih efektif
karena mencakup pandangan dan pemikiran orang
banyak dari pihak-pihak yang langsung berhubungan dengan situasi kerja. Kedua
keterlibatan karyawan juga meningkatkan rasa memiliki dan tanggungjawab atas
keputusan dengan melibatkan orang-orang yang harus melaksanakannya. Pemberdayaan bukan sekedar melibatkan karyawan, melainkan juga melibatkan mereka
dengan memberikan pengaruh yang sungguh-sungguh berarti. Keterlibatan dan
pemberdayaan karyawan dalam organisasi pendidikan seperti sekolah dalam hal ini
guru, dan staf tata usaha dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah
sangat penting karena akan dapat menghasilkan keputusan yang lebih baik, efektif,
karena mencakup pandangan pemikiran dari pihak yang langsung berhubungan
dengan situasi kerja, dan akan meningkatkan rasa memiliki dan tanggungjawab atas
keputusan dengan melibatkan orang yang harus melaksanakannya.
Kemudian Usman (2006) menjelaskan bahwa dalam implementasi manajemen
mutu terpadu tersebut agar dapat terlaksana secara efektif maka ada beberapa prinsip
yang harus dipegang oleh manajer atau pimpinan terutama organisasi dalam bidang
pendidikan. Prinsip-prinsip yang dimaksudkan adalah:
1. Kepuasan pelanggan.
2. Respek terhadap setiap orang
3. Manajemen berdasarkan fakta
4. Perbaikan secara terus menerus.
Mutu tidak hanya bermakna sebagai kesesuaian dengan spesifiksi-spesifiksi tertentu, tetapi mutu tersebut ditentukan oleh pelanggan. Pendidikan adalah pelayanan jasa.
108
Sekolah harus memberikan pelayanan jasa sebaik-baiknya kepada pelanggannya.
Pelanggan sekolah meliputi pelanggan internal dan ekternal sekolah. Pelanggan eksternal
sekolah adalah orang tua siswa, pemerintah dan masyarakat termasuk komite sekolah.
Pelanggan internal sekolah adalah siswa, guru, dan staf tata usaha. Dengan kata yang lain
sekolah memiliki pelanggan primer, sekunder, dan tertier. Pelanggan primer sekolah
adalah adalah siswa, pelanggar sekunder adalah orang tua, dan pelanggar tertier adalah
pemerintah dan masyarakat (Usman. 2006). Kebutuhan pelanggan harus dipuaskan dari
segala aspek, termasuk juga harga, keamanan, dan ketepatan waktu. Oleh karena itu
aktivitasnya harus dikoordinasikan untuk memuaskan para pelanggan. Kualitas yang
dihasilkan oleh suatu peruasahaan sama dengan nilai yang diberikan dalam rangka
peningkatan kualitas hidup pelanggan, semakin tinggi nilai yang diberikan maka semakin
besar pula kepuasan pelanggan
Kemudian dalam rangka menjaga mutu sekolah, maka setiap personel dipandang
memiliki potensi, sebagai aset organisasi, karena itu setiap orang diperlakukan dengan
baik diberikan kesempatan untuk berprestasi, berkarier, dan berpartisipasi dalam
pengambilan keputusan.
Manajemen sekolah sekolah supaya berdasarkan pada fakta dalam arti bahwa setiap
keputusan supaya didasari pada fakta, bukan pada perasaan, atau ingatan semata. Dalam
proses harus dilakukan perbaikan terus menerus secara berkesinambungan mulai dari
perencanaan, melaksanakan rencana, memeriksa hasil pelaksanaan, dan dalam melakukan
tindakan korektif.
109
E. Setrategi dalam Mengimplementasikan Manajemen Mutu Terpadu
Untuk dapat menjadi suatu organisasi atau sekolah yang efektif maka di dalam
mengimplementasikan manajemen mutu terpadu tersebut diperlukan suatu strategi yang
jelas dan mantap. Sallis (1993) menjelaskan bahwa diperlukan adanya setrategi yang
langkah-langkah mencakup: (1) misi yang jelas dan spesifik, (2) perhatian yang jelas
terhadap pemakai jasa, (3) suatu strategi untuk mencapai misinya, (4) keterlibatan seluruh
pemakai jasa baik internal maupun ekternal di dalam pengembangan strategi, (5)
pengembangan kekuatan atau pemberdayaan seluruh staf dengan cara menghilangkan
kendala dan membantu mereka dalam meningkatkan kontribusi maksimal kepada
lembaganya melalui perkembangan kelompok kerja efektif, dan (6) penerapan dan
evaluasi terhadap efektifitas kelembagaan dilihat dari tujuan yang telah disepakati dengan
pemakai jasa. Lebih jauh Sallis juga menjelaskan bahwa untuk dapat berhasilnya
implementasi manajemen mutu terpadu tersebut harus mulai dari atas atau pimpinan,
yang etrgambar dari perilaku adan tindakan pemimpin sebagai berikut: (1) menyenangkan pelanggan melalui peretmuan, diskusi, daftar pertanyaan, dan sebagainya, (2)
membentu fasilitator yang akan memasyarakatakan program dan mengarahkan kelompok
pengarah dalam pengembangan program peningkatan mutu, (3) membentuk kelompok
pengarah peningakatan mutu yang mendorong dan menunjang proses peningakatan mutu,
(4) menunjuk koordinator peningakatan mutu yang membantu dan mengarahkan tim
kerja dalam menemukan pemecahan masalah, (5) menyelengarakan seminar manajemen
untuk mengevaluasi kemajuan, (6) menganalisis dan mendiagnosis situasi yang sedang
berkembang, (7) menggunakan atau mencoba model-model yang telah diterapkan oleh
lembaga lain, (8) menggunakan konsultan dari luar walaupun tidak dapat dilaksanakan
110
sepenuhnya sebagaimana pada perusahaan, (9) meningkatkan latihan yang mengarah
pada mutu yang diutamakan dalam perubahan budaya. (10) menyebarluaskan pengertian
mutu kepada seluruh individu dalam lembaga pendidikan agar semua terlibat dalam
proses peningakatan buaya, (11) mengukur biaya dari mutu, termasuk menghitung
kerugian yang diakibatkan oleh penurunan jumlah siswa baru, drop out, reputasi yang
menurun, kehilangan kesempatan, dan sebagainya, (12) menerapkan alat dan teknik
melalui pengembangan kelompok kerja efektif, dan (13) mengevaluasi program pada
setiap periode tertentu agar program pada setiap periode tertentu sebagaimana direncanakan tidak mengalami kegagalan.
Manajemen mutu terpadu sebagai konsep manajemen modern adalah berusaha
untuk memberikan respon secara tepat terhadap setiap perubahan yang ada baik yang
didorong oleh keuatan ekternal maupun internal organisasi. Sebagai organisasi modern,
lembaga pendidikan sekolah, universitas, akademi, institut harus mengetahui dan
memahami pentingnya mengupayakan lulusan pendidikan yang bermutu. Pendidikan
harus benar-benar menyadari perlunya untuk mengejar mutu dan mengusahakannya
terhadap murid-murid. Ada banyak faktor yang mempengaruhi mutu pendidikan, sperti
pemeliharaan gedung, guru-guru, nilai moral tinggi, hasil ujian yang unggul,dukungan
orang tua, bisnis dan masyarakat, penerapan teknologi, kekuatan kepemimpinan, pemeliharaan dan perhatian terhadap pelajar, kurikulum yang tepat, atau perpaduan berbagi
faktor.
Manajemen mutu terpadu dalam pendidikan merupakan bentuk pengendalian
mutu yang disempurnakan. Filosofy dari manjemen mutu terpadu ini adalah terciptanya
budaya kerja dari seluruh personel yang terlibat dalam pengadaan dan penyajian jasa
111
pendidikan yang dijiwai oleh motivasi dan sikap untuk memenuhi dan memuaskan
harapan pelanggan. Dalam rangka memenuhi harapan pelanggan pendidikan ini, pengelola sekolah secara bertahap dan terus menerus memperbaiki kualitas lulusannya dengan
didukung oleh kepemimpinan yang kuat dari fihak pimpinan serta pembagian
tanggungjawab untuk mencapai mutu.
F. Rangkuman
Sekolah efektif adalah sekolah yang menjalankan fungsinya sebagai tempat
belajar yang paling baik yang menyediakan layanan pembelajaran yang bermutu bagi
siswa. Hasil belajar yang memuaskan semua pihak dengan komprehensip yang diperoleh
siswa atau sekolah yang menunjukkan tingkat kinerja yang diinginkan dalam
penyelenggaraan proses belajar mengajar dengan menunjukkan hasil belajar yang
bermutu para peserta didik sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Sementara itu
berdasarkan konsepsi manajemen mutu berbasis sekolah penilaian terhadap karakteristik
sekolah efektif harus mencakup proses pembelajaran dan metode untuk membantu
kemajuan dan memperhatikan multi tingkat, yaitu mencakup input, proses dan produk
sekolah disamping pekembangan akademik siswa. Manajemen mutu terpadu adalah
merupakan suatu pendekatan dalam menjalankan usaha yang mencoba untuk memaksimumkan daya saing organisasi melalui perbaikan terus menerus atas produk, jasa,
manusia, proses dan lingkungannya. Manajemen mutu terpadu merupakan suatu pendekatan pengendalian mutu melalui pertumbuhan partisipasi karyawan. Manajemen mutu
terpadu merupakan mekanisme formal dan dilembagakan yang bertujuan untuk mencari
pemecahan persoalan dengan memberikan tekanan pada partisipasi dan kreatifitas di
antara karyawan. Manajemen mutu terpadu diartikan sebagai perpaduan semua fungsi
112
dari suatu perusahaan ke dalam falsafat holistik yang dibangun berdasarkan konsep
kualitas, teamwork, produktifitas, dan pengertian, serta kepuasan pelanggan. Manajemen
mutu terpadu merupakan sistem manajemen yang mengangkat kualitas sebagai setrategi
usaha dan berorientasi pada kepuasan pelanggan dengan melibatkan seluruh anggota
organisasi. Kemudian dalam bidang pendidikan manajemen mutu terpadu memberi
peluang untuk perbaikan mutu sekolah menuju sekolah efektif.
G. Evaluasi
1. Jelaskan konsep sekolah efektif !.
2. Jelaskan karakteristik dan indikator sekolah efektif !.
3. Jelaskan kaitan antara manajemen mutu terpadu dan sekolah efektif !.
4. Jelaskan setrategi dalam mengimplementasikan manajemen mutu terpadu !.
113
DAFTAR PUSTAKA.
Antony, R. N.,John Dearden, Norton M. Bedfort. (199). Management control system.
Richard D. Irwin, Inc.
Baroto, T. (2002). Perencanaan dan pengendalian produksi. Jakarta: Ghalia Indonesia
Danim, S. (2006). Visi baru manajemen sekolah dari unit birokrasi ke lembaga
akademik. Jakarta: Bumi Aksara.
Dewantara, Ki Hadjar. (1977). Pendidikan. Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Taman
Siswa.
Engkoswara. (1999). Menuju Indonesia modern 2020. Bandung: Yayasan Amal
Keluarga.
Etzioni, A. (1985). Organisasi-organisasi modern. Jakarta: Universitas Indonesia (UIPress)
Gibson, J. L. Ivancevich, J.M. Donnely Jr. JH. (1988). Organization behavior, structure,
processes. Plano: Business Publication.
Hamalik, O. (2002). Pendidikan guru berdasarkan pendekatan kompetensi. Jakarta:
Bumi Aksara.
Ichsan, M. (1991). Efektifitas organisasi. Malang: BPFIA-Unibraw
Jauch, L. R., W. F. Gluek (1988). Strategic management and business policy. McGrawHILL, Inc.
Kast, F. E. dan James E. Rosenzweig. Oraganisasi dan manajemen 2. Jakarta: Bumi
Akasara.
Komariah, A. dan Cepi Triatna. (2006). Visionary leadership menuju sekolah efektif.
Jakarta: Bumi Akasara.
Koontz, H., C. O Donnel., H. Weihrich. (1984). Management. New York: McGrawHILL, Inc.
Makmun, Tb. A. S. (1997). Analisis posisi pembangunan pendidikan dan kebudayaan.
Jakarta: Biro Perencanaan Sekjen Depdikbud.
Mitchell, T. R. (1978). Peaple in oragnization understanding their behavior. New York:
McGraw-Hill Book Company.
114
Mukhtar, H., Iskandar. (2009). Orientasi baru supervisi pendidikan. Jakarta: Gaung
Persada.
Muhyadi. (1989). Organisasi teori, struktur dan proses. Jakarta: Departemen Pendidikan
dan Kebuyaan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Proyek Pengembangan
Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan.
Mulyadi. (2007). Sistem perencnaan dan pengendalian manajemen: Jakarta: Salemba
Empat.
Mulyasa, E. (2002). Manajmen berbasis sekolah. Bandung; PT. Remaja Rosdakarya.
Nawawi, H. H. (2003). Manajemen strategik organisasi non profit bidang pemerintahan
dengan ilustrasi di bidang pendikan. Yogyakarta: Gajah Mada Universitas Press.
Nurkolis. (2003). Manajemen berbasis sekolah: teori, model, dan aplikasi. Jakarta: PT
Gramedia Widiasarana.
Paine, J., R. Pryke. (1993). Total quality in education. Sydney: Ashton Scholastic
Pidarta, M. (2004). Manajemen pendidikan Indonesia. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Pearce, J. A. & R. B. Robinson. (1996). Strategic management. Richard D Irwin. Inc.
Prawirosentono, S. (2004). Manajemen mutu terpadu. Jakarta: Bumi Akasara.
Rivai,V., Sylviana M. (2009). Education management, analisis teori dan praktik. Jakarta:
PT. Raja Grafindo Persada.
Robbins, S. P. (1987). Teori organisasi, struktur, desain dan aplikasi. Jakarta: Arcan
Sagala. H.S. (2010). Supervisi pembelajaran dalam persepektif profesi pendidikan.
Bandung: Alfabeta
Sagala. H.S. (2010). Manajmen strategik dalam peningakatan mutu pendidikan.
Bandung: Alfabeta
Sallis, E. (1993). Total quality management in education. London: Kogan Page Limited
120 Pentoville.
Sergiovanni, T. J. et.al. (1987). Educational governance and administration. New Jersey:
prentice Hall inc.
Simamora, H. (2004). Manajmen sumberdaya manusia. Yogyakarta: Bagian Penerbitan
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YKPN.
115
Suadi, A. (2001). Sistem pengendalian manajemen. Yogyakarta: BPFE.
Sukristono. (1995). Perencanaan strategis bank. Jakarta:Institut Bankir Indonesia
Stoner, J. A. F., R.E. Freeman., D. R. Gilbert. JR. (1995). Management. New Jersey
Prentice-Hall,Inc.
Syafaruddin. (2002). Manajemen mutu terpadu dalam pendidikan, konsep,strategi, dan
aplikasi. Jakarta: Grasindo.
Tjiptono, F & Anastasia Diana. (2002). Total quality management. Yogyakarta: Andi.
Tunggal, A.W. (1993). Sistem pengendalian manjemen. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Usman, H. (2006). Manajemen, teori, praktik, dan riset pendidikan. Jakarta: Bumi
Aksara.
Winardi. (1990). Asas-Asas manajemen. Bandung: Penerbit Mandar maju.
Yamin, H. M. (2007). Profesionalisasi guru dan implementasi KTSP. Jakarta: Gaung
Persada Press.
116
Download