PDF - Jurnal UNESA

advertisement
MATHEdunesa
Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika Volume 3 No. 5 Tahun 2016
ISSN : 2301-9085
EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN MENGGUNAKAN SOAL
OPEN-ENDED PADA METODE PENUGASAN DISERTAI PEMBERIAN UMPAN BALIK
Imama Sabilah
Pendidikan Matematika, FMIPA, Universitas Negeri Surabaya, e-mail : [email protected]
Dr. Janet Trineke Manoy, M.Pd
Pendidikan Matematika, FMIPA, Universitas Negeri Surabaya, e-mail : [email protected]
Abstrak
Umpan balik merupakan pemberian informasi berupa tanggapan, nilai, dan komentar kepada siswa berkaitan
dengan tugas yang diberikan. Tugas yang diberikan melatih siswa secara mandiri untuk memperluas pengetahuan
mereka melalui pemberian tugas, pelaksanaan tugas dan pertanggungjawaban tugas dalam metode penugasan.
Penugasan yang baik memperhatikan tingkat kesulitan tugas. Tingkat kesulitan tugas terdiri dari tugas yang rendah,
sedang, dan tinggi. Tugas berupa soal open-ended termasuk tugas yang tingkat kesulitannya sedang sampai tinggi. Soal
open-ended baik untuk melatih pengetahuan siswa agar pembelajaran menjadi efektif.
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang bertujuan untuk mendeskripsikan pengelolaan pembelajaran
oleh guru, aktivitas siswa, hasil belajar siswa, dan respons siswa dalam pembelajaran matematika dengan menggunakan
soal open-ended pada metode penugasan disertai pemberian umpan balik. Subjek dalam penelitian ini yaitu guru
matematika kelas VIII dan siswa kelas VIII-A SMP Negeri 3 Krian tahun ajaran 2015/2016. Rancangan penelitian
menggunakan one shot case study.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 11 dari 15 aspek yang diamati dalam pengelolaan pembelajaran
dilaksanakan dengan sangat baik oleh guru; setiap aktivitas siswa yang relevan dengan pembelajaran telah dilaksanakan
oleh siswa sehingga aktivitas siswa dikatakan aktif; hasil belajar dari 32 siswa melebihi nilai KKM yang ditentukan
sekolah sehingga nilai hasil belajar siswa secara klasikal dikatakan tuntas; dan dari 10 pernyataan hasil respons siswa 5
pernyataan termasuk dalam kategori sangat kuat dan 5 pernyataan termasuk dalam kategori kuat sehingga respons siswa
dikatakan positif. Dengan demikian dari hasil penelitian yang diperoleh dapat disimpulkan pembelajaran matematika
dengan menggunakan soal open-ended pada metode penugasan disertai pemberian umpan balik dikatakan efektif.
Kata Kunci: pembelajaran, umpan balik, metode penugasan, open-ended
Abstract
Feedback is giving information to students related their task past through the value of learning outcome, reaction,
and commentary. Students can exercise independently in their task and can develop mathematics skill past through
giving task, implementation task and accountability task in assignment method. Assignment was good considering the
level of difficulty of the task. Task difficulity level consist of low, middle and high. Open-ended questions as task is a
task that the diffuculity level is middle to high. Open-ended questions is good for excercise students knowledge.
This research is descriptive research which the aims are to describe learning management by teacher , student’s
activity, student’s learning outcome, and student’s response in mathematics learning using by open-ended questions in
assignment method with gift feedback. The subjects in this research are mathematics teacher of the eighth class and
students of the eighth-A class of SMP Negeri 3 Krian year 2015/2016. Research design used the one shot case study.
The result showed that: eleven of fifteen aspect observed in the learning management has been implemented very
well by the teacher;every student’s activity that was relevant to learning has been carried out by students; learning
outcome of thirty two students in class had reached completeness, and five of ten student’s response statement included
in the category of very strong so that student’s response can be said to be positive. Therefore, it can be concluded that
mathematics learning using by open-ended questions in assignment method with gift feedback is effective.
Key words: learning, feedback, assignment method, open-ended.
Volume 3 No. 5 Tahun 2016
Di sekolah, siswa cenderung mendapatkan waktu
belajar yang relatif singkat jika digunakan untuk
mencerna informasi terkait benda abstrak seperti dalam
mata pelajaran matematika. Metode penugasan
memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencapai
pemahaman yang lebih luas dari hasil belajar itu sendiri
sehingga pengetahuan yang diperoleh dapat diingat lebih
lama (Hamdani, 2011). Pengetahuan yang diingat lebih
lama akan mengendap dalam sistem memori dan
membentuk informasi yang lebih matang. Hal ini
menunjukkan bahwa penting adanya metode penugasan
dalam proses belajar siswa untuk membuat aktivitas
belajar siswa menjadi lebih baik. Aktivitas belajar yang
lebih baik akan mendapatkan hasil belajar yang lebih
baik juga.
Menurut Santrock (2014), penilaian tidak hanya
mendokumentasikan yang diketahui dan dapat dilakukan
siswa, tetapi mempengaruhi pembelajaran dan minat
belajar mereka. Nilai bukan merupakan satu hal yang
paling utama, melainkan juga pada bagaimana aktivitas
dari pembelajaran itu dimaknai. Menurut Arifin(2010),
jalan untuk mendapatkan makna dari pendidikan itu
sendiri bukan hanya dengan mengkonstruksi pengetahuan
siswa sehingga dapat melakukan aktivitas belajar,
melainkan juga membuat siswa dapat mengambil sikap
dari hasil usaha mereka setelah aktivitas belajar
dilakukan.
Menurut Nur (2010), pemberian umpan balik dalam
hal pengenalan hasil belajar siswa penting dilakukan
untuk meningkatkan nilai informatif dan motivatif. Siswa
perlu mengenali letak kesalahan dari hasil belajarnya
untuk diperbaiki dan letak kebenaran dari hasil belajarnya
untuk dipertahankan. Permendikbud No. 66 th. 2013
tentang Standar Penilaian Pendidikan menyatakan bahwa
pengenalan hasil belajar dilakukan lebih sering untuk
dapat mendorong semangat belajar siswa. Penilaian hasil
belajar
oleh
guru
yang
dilakukan
secara
berkesinambungan bertujuan untuk memantau proses dan
kemajuan belajar siswa serta untuk meningkatkan
efektivitas pembelajaran. Sejauh ini, pengenalan hasil
belajar siswa secara berkelanjutan jarang dilakukan.
Menurut Wahidmurni (2012), fungsi penting bagi guru
dalam mengevaluasi belajar siswa yaitu memberikan
umpan balik kepada siswa dalam mempertimbangkan
efektivitas dan efisiensi dari proses pembelajaran yang
dilakukan. Hal ini berarti pemberian umpan balik secara
berkelanjutan penting dilakukan untuk meningkatkan
efektivitas pembelajaran.
Keefektifan suatu pembelajaran tidak cukup apabila
hanya diukur berdasarkan nilai ujian semester. Suatu
pembelajaran bukan hanya tentang nilai akhir saja, tetapi
juga proses siswa mencari tahu dari ketidaktahuan.
PENDAHULUAN
Pendidikan
merupakan
proses
pemerolehan
pengetahuan yang menjadi hak untuk setiap warga
negara. Undang Undang Dasar 1945 pasal 31 ayat 1
menyatakan bahwa “setiap warga negara berhak
mendapatkan pendidikan yang layak”. Pendidikan yang
layak dapat diperoleh di sekolah maupun di luar sekolah.
Pendidikan di sekolah dipengaruhi oleh berbagai metode
pembelajaran yang digunakan dan diharapkan metode
pembelajaran bukan hanya sesuai dan menyenangkan,
tetapi juga bermakna. Kebermaknaan ini memperbaiki
mutu pendidikan dan meningkatkan wawasan siswa
terhadap penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Menurut Arifin(2010), dasar-dasar ilmu pengetahuan dan
teknologi dilahirkan dari matematika sehingga
matematika disebut dengan mother of sciences. Jadi, agar
suatu negara bisa maju haruslah memiliki masyarakat
berkemampuan tinggi dalam bidang matematika.
Hasil Ujian Nasional (UN) siswa jenjang Sekolah
Menengah Pertama (SMP) tahun ajaran 2014/2015
menurun dibandingkan tahun ajaran sebelumnya
2013/2014, menurut Murdaningsih (2015), terjadi
penurunan nilai ujian tingkat SMP sebesar 3,40 dari
tahun lalu, yaitu dari 65,20 menjadi 61,80, diperkirakan
penyebabnya karena 10% bagian dari soal tersebut
merupakan soal-soal yang sulit. Hal ini dapat menjadi
alasan bahwa siswa belum terbiasa menghadapi berbagai
macam soal. Kemungkinan lain penyebabnya karena
fokus pembelajaran siswa di kelas yaitu memenuhi
kompetensi memperoleh hasil belajar yang standar,
akibatnya minat siswa untuk belajar hanya mengarah
pada pemenuhan standar hasil belajar yang berlaku sesuai
kurikulum yang digunakan.
Soal open-ended merupakan pertanyaan yang dibuat
untuk memberikan peluang munculnya berbagai macam
jawaban dengan berbagai strategi atau cara masingmasing untuk mengembangkan potensi intelektual dan
pengalamannya dalam menemukan sesuatu yang
baru(Arifin, 2010). Menurut Atkinson (dalam Budayasa
dan Nur, 2010), tingkat kesulitan tugas yang sedang
sampai yang sulit lebih baik daripada tugas yang mudah
untuk belajar. Hal ini berarti bahwa seseorang belajar
dengan lebih baik jika kesulitan tugas yang diberikan
juga meningkat. Mahmudi (2008) menyatakan bahwa
penggunaan soal open-ended perlu dibudidayakan dalam
pembelajaran matematika untuk mengoptimalkan
pengembangan potensi siswa. Untuk itu perlu dibiasakan
latihan dengan tipe soal yang dapat mengoptimalkan
pengembangan potensi siswa, seperti tipe soal openended agar siswa dapat terbiasa menghadapi berbagai tipe
soal.
183
Volume 3 No. 5 Tahun 2016
Berdasarkan pengalaman saat mengajar PPP di sekolah
mitra, berbagai kasus penilaian terjadi. Salah satunya
yaitu adanya siswa pandai dalam kesehariannya namun
mendapat nilai buruk ketika ujian. Hal ini tentu mengarah
pada pembelajaran di kelas yang kurang efektif.
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan,
peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang
berjudul “Efektivitas Pembelajaran Matematika dengan
Menggunakan Soal Open-Ended pada Metode Penugasan
disertai Pemberian Umpan Balik” yang selanjutnya
disingkat SOEMPPU.
Tujuan penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan
efektivitas
pembelajaran
matematika
dengan
menggunakan soal open-ended pada metode penugasan
disertai pemberian umpan balik. Secara khusus untuk
mendeskripsikan:
1. Pengelolaan pembelajaran oleh guru dalam
pembelajaran matematika dengan menggunakan
SOEMPPU.
2. Aktivitas siswa dalam pembelajaran matematika
dengan menggunakan SOEMPPU.
3. Hasil belajar siswa dalam pembelajaran matematika
dengan menggunakan SOEMPPU.
4. Respons siswa dalam pembelajaran matematika
dengan menggunakan SOEMPPU.
2. Metode Tes
Tes digunakan untuk mengukur hasil belajar
siswa setelah mengikuti pembelajaran matematika
dengan menggunakan SOEMPPU. Tes yang
digunakan merupakan tes uraian yang dikerjakan
siswa secara individu, dan diberikan pada pertemuan
ketiga.
3. Metode Angket
Angket digunakan untuk mengetahui bagaimana
respons siswa terhadap pembelajaran matematika
dengan menggunakan SOEMPPU. Siswa mengisi
lembar angket yang sudah disediakan pada pertemuan
ketiga setelah mengerjakan soal tes. Jenis angket yang
digunakan merupakan angket tertutup karena berisi
pernyataan-pernyataan yang sudah disediakan pilihan
jawaban. Pengisian angket tidak berpengaruh pada
nilai siswa.
Teknik analisis data yang digunakan sebagai berikut.
1. Analisis Data Pengelolaan Pembelajaran.
Dari hasil observasi diperoleh data pengelolaan
pembelajaran yang dianalisis dengan menghitung
rata-rata skor setiap aspek pada setiap pertemuan.
Tahap-tahap yang dilakukan antara lain sebagai
berikut.
a. Menghitung skor rata-rata gabungan pengelolaan
pembelajaran dari pertemuan pertama dan kedua
untuk tiap aspek.
b. Menghitung skor rata-rata total untuk semua aspek
dengan menggunakan rumus yang diadaptasi dari
Masriyah(2006) sebagai berikut.
π‘…π‘Žπ‘‘π‘Ž − π‘Ÿπ‘Žπ‘‘π‘Ž π‘†π‘˜π‘œπ‘Ÿ π‘ƒπ‘’π‘›π‘”π‘’π‘™π‘œπ‘™π‘Žπ‘Žπ‘› πΎπ‘’π‘™π‘Žπ‘ 
π½π‘’π‘šπ‘™π‘Žβ„Ž π‘π‘–π‘™π‘Žπ‘– πΎπ‘’π‘ π‘’π‘™π‘’π‘Ÿπ‘’β„Žπ‘Žπ‘›
=
π΅π‘Žπ‘›π‘¦π‘Žπ‘˜π‘›π‘¦π‘Ž π΄π‘ π‘π‘’π‘˜ π‘¦π‘Žπ‘›π‘” π·π‘–π‘Žπ‘šπ‘Žπ‘‘π‘–
c. Menginterpretasikan
rata-rata
pengelolaan
pembelajaran oleh guru pada setiap item
pernyataan dengan menggunakan kategori berikut.
METODE
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, yang
dilaksanakan pada semester genap tahun ajaran
2015/2016 di SMP Negeri 3 Krian. Subjek penelitian ini
yaitu guru matematika kelas VIII sebagai subjek
pengamatan pengelolaan pembelajaran, 4 siswa kelas
VIII-A yang dipilih secara acak sebagai subjek
pengamatan aktivitas siswa, serta seluruh siswa kelas
VIII-A sebagai subjek hasil belajar dan respons.
Rancangan penelitian yang digunakan yaitu “One Shot
Case Study” (Arikunto, 2006:85).
Metode pengumpulan data yang digunakan sebagai
berikut.
1. Metode observasi
Observasi
dilakukan
selama
proses
pembelajaran matematika dengan menggunakan
SOEMPPU. Observasi dilakukan oleh pengamat yaitu
mengamati pengelolaan pembelajaran oleh guru dan
aktivitas siswa selama mengikuti pembelajaran.
Pengamat aktivitas siswa yaitu rekan peneliti sesama
mahasiswa pendidikan matematika Universitas Negeri
Surabaya (Unesa) yang telah berdiskusi mengenai tata
cara pengisian lembar observasi. Pengamat aktivitas
siswa diamati oleh dua mahasiswa yaitu pengamat 1
dan pengamat 2 yang disimbolkan P1 dan P2.
Pengamat pengelolaan pembelajaran oleh guru
diamati oleh peneliti.
Tabel 1. Kriteria Pengelolaan Pembelajaran
Skor Rata-rata Total
1,00 ≤ π‘†π‘˜π‘œπ‘Ÿ < 2,00
2,00 ≤ π‘†π‘˜π‘œπ‘Ÿ < 3,00
3,00 ≤ π‘†π‘˜π‘œπ‘Ÿ < 3,50
3,50 ≤ π‘†π‘˜π‘œπ‘Ÿ ≤ 4,00
Kategori
Tidak Baik
Kurang Baik
Baik
Sangat Baik
(Masriyah, 2006)
d. Menentukan kategori pengelolaan pembelajaran
keseluruhan. Kriteria pengelolaan pembelajaran
dikatakan baik jika skor rata-rata total yang
diperoleh minimal termasuk dalam rentang
3,00 ≤ π‘†π‘˜π‘œπ‘Ÿ < 3,50 dengan kategori baik.
2. Analisis Aktivitas Siswa.
Dari hasil observasi diperoleh data aktivitas
siswa selama proses pembelajaran yang dianalisis
dengan menghitung persentase setiap aktivitas siswa
184
Volume 3 No. 5 Tahun 2016
pada setiap pertemuan. Menentukan persentase
aktivitas siswa digunakan tahap sebagai berikut.
a. Menghitung rata-rata persentase aktivitas siswa
untuk setiap kategori aktivitas dari 2 pengamat
pada setiap pertemuan dengan rumus yang
diadaptasi dari Masriyah(2006) antara lain sebagai
berikut.
Persentase aktivitas ke − i
Frekuensi Aktivitas ke − i
=
× 100%
Total Seluruh Aktivitas
Keterangan:
Frekuensi aktivitas ke – i diperoleh dari rata-rata
frekuensi aktivitas ke – i yang diamati oleh 2
pengamat
Total aktivitas dari 4 siswa yang dipilih secara
acak selama mengikuti pembelajaran.
Pengamatan pada 4 siswa yang dipilih secara
acak oleh pengamat dilakukan dari awal sampai
akhir
pembelajaran.
Pembelajaran
yang
dilaksanakan baik pertemuan pertama maupun
kedua jenjang Sekolah Menengah Pertama
masing-masing membutuhkan waktu 2x40 menit,
sehingga apabila aktivitas siswa dibagi setiap
interval 5 menit maka akan mendapatkan 16
bagian per siswa. Oleh karena terdapat 4 siswa
yang diamati, maka total aktivitas siswa yang
yang terpilih secara acak yaitu 64 aktivitas.
b. Menghitung rata-rata persentase aktivitas siswa
pada pertemuan pertama dan pertemuan kedua
untuk setiap kategori aktivitas.
c. Menghitung jumlah aktivitas yang relevan dengan
pembelajaran pada kategori aktivitas 1 sampai
aktivitas 7.
d. Menentukan kriteria aktivitas siswa sesuai
indikator yang telah ditetapkan. Jika jumlah dari
rata-rata persentase pertemuan pertama hingga
kedua dari semua aktivitas lebih dari atau sama
dengan 60%, maka aktivitas siswa selama
pembelajaran dapat dikatakan aktif. Sebaliknya
apabila kurang dari 60%, maka aktivitas siswa
dikatakan pasif. Penentuan persentase ini diadopsi
dari Fatmawati (2014). Kesimpulan diambil
berdasarkan jumlah persentase yang diperoleh dari
seluruh aktivitas kecuali aktivitas yang tidak
relevan.
Aktivitas
yang
paling
tinggi
persentasenya
menunjukkan
kecenderungan
aktivitas siswa.
3. Analisis Hasil Belajar Siswa.
Ketuntasan belajar siswa dalam penelitian ini
berdasarkan nilai hasil belajar siswa. Berdasarkan
kriteria ketuntasan minimal yang berlaku di sekolah
tempat penelitian berlangsung yaitu siswa dikatakan
tuntas jika mendapatkan nilai ≥75. Menentukan hasil
belajar siswa secara individu digunakan tahap sebagai
berikut.
a. Menghitung nilai LKS I dan LKS II melalui
jumlah skor yang diperoleh siswa pada masingmasing langkah.
b. Menghitung rata-rata nilai LKS I dan LKS II.
c. Menghitung nilai tes melalui jumlah skor yang
diperoleh siswa pada masing-masing langkah.
d. Menghitung nilai hasil belajar siswa melalui
rumus yang diadopsi dari Aditama (2014) berikut.
Hasil Belajar Siswa
(2 × Nilai rata − rata LKS) + (3 × Nilai Hasil Tes)
=
5
Dengan hasil belajar siswa ≥75 dikatakan tuntas.
e. Menghitung ketercapaian ketuntasan belajar siswa
secara klasikal dengan rumus berikut.
%ketuntasan belajar secara klasikal
banyaknya siswa yang tuntas
=
× 100%
banyak siswa seluruhnya
Dengan ketuntasan belajar klasikal tercapai jika
minimal 80% siswa tuntas secara individu.
Penentuan
persentase
ini
diadopsi
dari
Asih(2013).
4. Analisis Respons Siswa.
Pembelajaran dengan menggunakan SOEMPPU
dikatakan efektif jika perolehan respons siswa
termasuk dalam kategori positif. Siswa diberikan
angket respons terhadap pembelajaran yang didesain
terdiri dari dua jenis pernyataan, yaitu pernyataan
positif
(favorable)
dan
pernyataan
negatif
(unfavourable). Setiap pilihan jawaban diberikan skor
dengan rentang sangat setuju (SS), Setuju(S), Tidak
Setuju (TS), dan Sangat Tidak Setuju (STS). Berikut
pedoman penskoran angket respons siswa.
Tabel 2. Pedoman Penskoran Angket Respons Siswa
Pilihan
Jawaban
STS
TS
S
SS
Skor untuk butir
Favourable(+)
Unfavourable(−)
0
3
1
2
2
1
3
0
(Masriyah, 2006)
Langkah-langkah untuk menganalisis data respons
siswa disajikan sebagai berikut.
a. Menghitung jumlah responden (siswa) yang
memilih setiap pilihan jawaban pada setiap butir
pernyataan.
b. Menghitung nilai respons siswa untuk setiap butir
pernyataan dengan cara mengalikan jumlah
responden yang memilih dengan skor pilihan
jawaban.
NRS = ∑ 𝑅 × π‘ π‘˜π‘œπ‘Ÿ π‘π‘–π‘™π‘–β„Žπ‘Žπ‘› π‘—π‘Žπ‘€π‘Žπ‘π‘Žπ‘›
185
Volume 3 No. 5 Tahun 2016
NRS = ∑ NRS ke − 𝑖 = Jumlah nilai respons
siswa pada butir pernyataan ke − 𝑖, dengan 𝑖 =
nomor pernyataan (1 − 10)
NRS Maksimum = ∑ R × skor pilihan terbaik
(dengan ∑ R = Jumlah seluruh responden)
e. Menentukan kriteria persentase nilai respons siswa
untuk setiap butir pernyataan (diadaptasi dari
Masriyah, 2006).
0% ≤ 𝑁𝑅𝑆 < 20%
: sangat lemah
20% ≤ 𝑁𝑅𝑆 < 40%
: lemah
40% ≤ 𝑁𝑅𝑆 < 60%
: cukup
60% ≤ 𝑁𝑅𝑆 < 80%
: kuat
80% ≤ 𝑁𝑅𝑆 ≤ 100% : sangat kuat
f. Menghitung banyaknya kriteria sangat lemah,
lemah, cukup, kuat, dan sangat kuat dari seluruh
butir pertanyaan. Kemudian menentukan kategori
untuk seluruh butir pertanyaan sebagai berikut.
1) Jika ≥ 50% dari seluruh butir pernyataan
termasuk dalam kategori sangat kuat atau kuat
maka respons siswa dikatakan positif.
2) Jika< 50% dari seluruh butir pernyataan
termasuk dalam kategori sangat kuat atau kuat
maka respons siswa dikatakan negatif.
Keterangan:
NRS = Nilai Respons Siswa
∑ 𝑅 = Jumlah responden yang memilih jawaban
Rumus untuk menghitung nilai respons siswa
sebagai berikut.
1) Untuk pernyataan positif(favourable)
NRS 𝑆𝑆 = ∑ 𝑅 × 3
NRS S
= ∑𝑅 × 2
NRS TS = ∑ 𝑅 × 1
NRS STS = ∑ 𝑅 × 0
2) Untuk pernyataan negatif(unfavourable)
NRS SS = ∑ 𝑅 × 0
NRS S
= ∑𝑅 × 1
NRS TS = ∑ 𝑅 × 2
NRS STS = ∑ 𝑅 × 3
Keterangan:
NRS SS = Nilai respons siswa untuk jawaban
sangat setuju
NRS S = Nilai respons siswa untuk jawaban
setuju
NRS TS = Nilai respons siswa untuk jawaban
tidak setuju
NRS STS = Nilai respons siswa untuk jawaban
sangat tidak setuju
c. Menghitung jumlah nilai respons siswa untuk
setiap butir pernyataan dengan rumus berikut.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pengambilan data dalam penelitian ini dilaksanakan
di kelas VIIIA SMP Negeri 3 Krian selama tiga
pertemuan, yaitu pada tanggal 23 Februari 2016, 26
Februari 2016, dan 1 Maret 2016.
Pengelolaan Pembelajaran oleh Guru
Hasil
pengamatan
terhadap
pengelolaan
pembelajaran oleh guru selama dua kali pertemuan
dihitung rata-ratanya untuk setiap pernyataan agar dapat
menentukan kategori secara keseluruhan yang sesuai.
NRS = ∑ NRS ke − 𝑖
Tabel 3. Data Hasil Pengamatan Pengelolaan
Pembelajaran oleh Guru
= NRS SS + NRS S + NRS TS + NRS STS
Keterangan:
NRS = ∑ NRS ke − 𝑖 = jumlah nilai respons
siswa pada butir pernyataan ke −𝑖, dengan
𝑖 = nomor pernyataan (1 − 10)
d. Menghitung persentase nilai respons siswa dari
setiap butir pernyataan dengan menggunakan
rumus yang diadaptasi dari Sudjana (2010)
sebagai berikut.
NRS
%NRS =
× 100%
NRS Maksimum
No
1
2
1
2
Keterangan:
%NRS = %NRS ke − 𝑖= Persentase nilai respons
siswa pada butir pernyataan ke − 𝑖, dengan 𝑖 =
nomor pernyataan (1 − 10)
3
4
186
Ratarata
I. PENDAHULUAN
Aspek yang Diamati
Penyampaian apersepsi.
3,5
Penyampaian motivasi
2,5
pada siswa.
II. KEGIATAN INTI
Penyampaian
tujuan
4
pembelajaran.
Penyampaian
materi
melalui salah satu contoh
4
persoalan
open-ended
materi PLDV.
Membimbing
siswa
3,5
untuk berpikir terbuka.
Penyampaian tugas.
4
Kategori
Sangat
baik
Kurang
baik
Sangat
baik
Sangat
baik
Sangat
baik
Sangat
baik
Volume 3 No. 5 Tahun 2016
No
Aspek yang Diamati
Ratarata
Kategori
3,5
Sangat
baik
4,0
Sangat
baik
3,5
Sangat
baik
3,0
Baik
3,0
Sangat
baik
4,0
Sangat
baik
3,0
Baik
3,5
Sangat
baik
3,0
Baik
3,47
Baik
Membimbing kelompok
belajar
dalam
mengerjakan tugas.
Memberikan
bantuan
apabila siswa mengalami
kesulitan.
Membimbing
siswa
dalam proses penarikan
kesimpulan.
Menanggapi
diskusi
dalam presentasi.
5
6
7
8
9
10
11
1
2
Mengevaluasi
hasil
diskusi dalam presentasi.
Memberikan
umpan
balik melalui tanggapan
terhadap aktivitas siswa
saat pembelajaran.
Memberikan
umpan
balik berupa nilai dan
komentar pada tugas.
III. PENUTUP
Melakukan
refleksi
bersama dengan siswa.
Membimbing
siswa
untuk
mempelajari
materi selanjutnya.
Rata-rata
No
7
8
2
3
4
5
6
Mendengarkan/ memperhatikan
penjelasan guru.
Mengajukan
pertanyaan
mengenai materi/tugas yang
disampaikan,
soal
yang
diberikan atau penjelasan guru.
Mengutarakan pendapat.
Mengerjakan
tugas
yang
diberikan.
Berdiskusi dengan teman.
Mempresentasikan hasil diskusi
tugas kelompok.
4,69
Hasil analisis data hasil belajar siswa merupakan
akumulasi dari rata-rata nilai LKS selama dua pertemuan
dan nilai tes pada pertemuan ketiga setelah dilaksanakan
pembelajaran
matematika
dengan
menggunakan
SOEMPPU. Hasil belajar siswa disajikan dalam tabel
berikut.
Tabel 5. Rekapitulasi Data Hasil Belajar Siswa
Rata
Hasil
Kode -rata Nilai
No.
Belajar Keterangan
Siswa Nilai Tes
Siswa
LKS
AYI
1
80
80
80
Tuntas
ARE
2
87,5
100
95
Tuntas
AR
3
85
80
82
Tuntas
ADM
4
92,5
100
97
Tuntas
APS
5
92,5
100
97
Tuntas
BDP
6
80
90
86
Tuntas
BRWP
7
75
80
78
Tuntas
CAA
8
85
100
94
Tuntas
CDA
9
87,5
100
95
Tuntas
DR
10
87,5
70
77
Tuntas
DFA
11
92,5
80
85
Tuntas
FDC
12
80
90
86
Tuntas
FER
13
80
100
92
Tuntas
HAA
14
92,5
90
91
Tuntas
HLD
15
85
100
94
Tuntas
L
16
57,5
90
77
Tuntas
Tidak
MA
17
75
70
72
Tuntas
MRR
18
80
100
92
Tuntas
NM
19
85
100
94
Tuntas
NFG
20
75
90
84
Tuntas
NSR
21
90
95
93
Tuntas
NH
22
92,5
70
79
Tuntas
23 NHWL
85
100
94
Tuntas
QS
24
90
80
84
Tuntas
Tabel 4. Data Hasil Pengamatan Aktivitas Siswa
1
12,50
Hasil Belajar Siswa
Aktivitas Siswa
Hasil pengamatan terhadap aktivitas siswa selama
dua kali pertemuan dihitung rata-rata frekuensinya dari
dua orang pengamat untuk setiap kategori aktivitas serta
persentase untuk setiap kategori aktivitas.
Kategori Aktivitas Siswa
Mendengarkan, memperhatikan,
bertanya,
atau
memberi
tanggapan hasil presentasi tugas
dari kelompok lain.
Melakukan kegiatan yang tidak
relevan dengan pembelajaran,
misalnya
tidur,
makan,
membuat gaduh di kelas, dan
sebagainya.
Ratarata(%)
Berdasarkan tabel 4 di atas, jumlah rata-rata
aktivitas 1 sampai 7 (aktivitas yang relevan dengan
pembelajaran matematika menggunakan SOEMPPU)
mencapai lebih dari 60%, yaitu 95,31%. Dengan
demikian, aktivitas siswa dalam pembelajaran
matematika dengan menggunakan SOEMPPU dapat
dikatakan aktif.
Berdasarkan Tabel 3, secara keseluruhan
pengelolaan
pembelajaran
matematika
dengan
menggunakan SOEMPPU oleh guru termasuk dalam
kategori baik dengan skor rata-rata sebesar 3,47.
No
Kategori Aktivitas Siswa
Ratarata(%)
23,43
3,13
6,25
15,62
28,91
5,47
187
Volume 3 No. 5 Tahun 2016
25
26
27
28
29
30
31
SNQ
SA
TAF
TPH
TJ
Rata
-rata
Nilai
LKS
90
85
92,5
80
87,5
80
80
32
VR
57,5
70
65
33
34
WH
YDD
90
75
90
90
90
84
No.
Kode
Siswa
RDO
SAK
Nilai
Tes
Hasil
Belajar
Siswa
95
90
70
100
100
80
80
93
88
79
92
95
80
80
No.
Keterangan
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tidak
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Respons Siswa
Data respons siswa diperoleh dari angket yang
diberikan kepada siswa pada pertemuan ketiga setelah tes
hasil belajar selesai dilakukan. Hasil analisis data hasil
respons siswa disajikan sebagai berikut.
Tabel 6. Data Hasil Respons Siswa
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
Pernyataan
Saya menyukai
pembelajaran yang
diterapkan.
Penugasan ini membuat
saya memahami materi
PLDV yang diajarkan.
Saya tidak menyukai
cara guru
menyampaikan materi
PLDV.
Saya merasa lebih
mudah memahami
materi dengan umpan
balik dari guru.
Menurut saya,
pembelajaran yang
diterapkan tidak lebih
baik dari pembelajaran
lainnya.
Saya merasa senang
saat mengikuti
pembelajaran.
Guru tidak membantu
saya selama
pembelajaran.
Apa yang ditunjukkan
guru dalam
pembelajaran sulit
dipahami.
%NRS
Kategori
83,8
Sangat
Kuat
86,9
Sangat
Kuat
80,8
Sangat
Kuat
78,8
Kuat
74,7
Kuat
84,8
Sangat
Kuat
77,8
Kuat
73,7
Kuat
%NRS
Kategori
Saya merasa suasana
kelas menyenangkan
Sangat
9.
95,9
saat pembelajaran ini
Kuat
diterapkan
Tugas yang diberikan
guru membingungkan
10.
78,8
Kuat
sehingga saya sulit
mengerjakannya
Berdasarkan data pada tabel 6 dan perhitungan
secara keseluruhan, banyaknya respons siswa yang
termasuk dalam kategori kuat mencapai 50% dan
banyaknya respons siswa yang termasuk dalam kategori
sangat kuat mencapai 50%. Sesuai indikator yang
ditetapkan yaitu jika ≥ 50% dari seluruh butir pernyataan
termasuk dalam kategori sangat kuat atau kuat maka
respons siswa dikatakan positif, sehingga dapat dikatakan
respons siswa terhadap pembelajaran matematika dengan
menggunakan SOEMPPU termasuk positif.
Pembelajaran matematika dengan menggunakan
SOEMPPU dapat dikatakan efektif karena telah
memenuhi keempat aspek tinjauan. Hal ini berarti
pembelajaran ini dapat diterapkan dan dikembangkan
dalam kegiatan pembelajaran.
Berdasarkan Tabel 5 didapat persentase ketuntasan
belajar secara klasikal sebesar 94,12% (32 siswa
mendapat nilai hasil belajar ≥75). Jadi dapat disimpulkan
ketuntasan belajar klasikal tercapai.
No.
Pernyataan
PENUTUP
Simpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan, dapat
disimpulkan
deskripsi
efektivitas
pembelajaran
matematika dengan menggunakan SOEMPPU ditinjau
dari empat aspek sebagai berikut.
1. Penyampaian apersepsi, tujuan pembelajaran,
materi, dan tugas serta membimbing siswa untuk
berpikir terbuka, membimbing kelompok belajar
dalam mengerjakan tugas, membimbing siswa
dalam proses penarikan kesimpulan, mengevaluasi
hasil diskusi dalam presentasi, memberikan bantuan
apabila siswa mengalami kesulitan dan umpan balik
melalui tanggapan, serta melakukan refleksi telah
dilaksanakan dengan sangat baik oleh guru.
Sehingga pengelolaan pembelajaran oleh guru
dalam
pembelajaran
matematika
dengan
menggunakan SOEMPPU tergolong baik dengan
skor rata-rata sebesar 3,47.
2. Setiap kategori aktivitas yang relevan dengan
pembelajaran telah dilaksanakan oleh siswa seperti
mendengarkan/memperhatikan penjelasan guru,
mengajukan pertanyaan, mengutarakan pendapat,
mengerjakan tugas, berdiskusi dengan teman,
mempresentasikan hasil diskusi kelompok, dan
menanggapi hasil presentasi. Sehingga aktivitas
siswa dalam pembelajaran matematika dengan
188
Volume 3 No. 5 Tahun 2016
Dirjen Dikti. 2013. Permendikbud No. 66 Tahun 2013
tentang Standar Penilaian Pendidikan (Lampiran).
Jakarta: Depdiknas.
Fatmawati, Anisa. 2014. Penerapan Pendekatan Auditory
Intellectually
Repetition(AIR)
pada
Materi
Pertidaksamaan di Kelas X-C SMAN 1 Kauman
Tulungagung. Skripsi tidak diterbitkan. Surabaya:
Universitas Negeri Surabaya.
Hamdani. 2011. Strategi Belajar Mengajar. Bandung:
CV Pustaka Setia.
Masriyah. 2006. Modul 9 Penyusunan Non Tes.
Surabaya: Universitas Terbuka.
Mahmudi,
Ali.
2008.
Mengembangkan
Soal
Terbuka(Open-Ended
Problem)
dalam
Pembelajaran
Matematika,
(Online),
(http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/penelitian/A
li%20Mahmudi,%20S.Pd,%20M.Pd,%20Dr./Makal
ah%2002%20PIPM%202008%20_Mengembangka
n%20Soal%20Terbuka_.pdf, diunduh 2 Oktober
2015).
Murdaningsih, Dwi. 11 juni 2015. Nilai UN SMP
Menurun, Ada Apa?,(Online),
(http://m.republika.co.id/berita/pendidikan/education/15/
06/11/nprxlv-nilai-un-smp-menurun-ada-apa,
diakses 27 November 2015)
Nur, Mohamad dan Budayasa, I Ketut. 2010. Teori
Pembelajaran Perilaku. Surabaya: UNIPRESS.
Nur, Mohamad. 2010. Pemotivasian Siswa untuk Belajar.
Surabaya: UNIPRESS.
Santrock, John W. Terjemahan oleh Harya Bhimasena.
2014. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Salemba
Humanika.
Sudjana, Nana. 2010. Penilaian Hasil Proses Belajar
Mengajar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Tim Redaksi Pustaka Baru Press. 2015. Undang-undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Yogyakarta: Pustaka Baru Press.
Wahidmurni, Alfin Mustikawan, dan Ali Ridho. 2010.
Evaluasi Pembelajaran: Kompetensi dan Praktek.
Yogyakarta: Nuha Litera.
menggunakan SOEMPPU dapat dikatakan aktif
dengan jumlah persentase aktivitas yang relevan
mencapai lebih dari 60%, yaitu 95,31%.
3. Hasil belajar dari 32 siswa melebihi nilai KKM
yang ditentukan sekolah sehingga nilai hasil belajar
siswa secara klasikal dikatakan tuntas. Persentase
ketuntasan hasil belajar siswa dalam pembelajaran
matematika dengan menggunakan SOEMPPU dapat
dikatakan tercapai dengan lebih dari 80%, yaitu
94,12% siswa tuntas secara klasikal.
4. Dari 10 pernyataan hasil respons siswa 5 pernyataan
termasuk dalam kategori sangat kuat dan 5
pernyataan termasuk dalam kategori kuat sehingga
respons siswa terhadap pembelajaran matematika
dengan menggunakan SOEMPPU di kelas VIIIA
SMP Negeri 3 Krian dikatakan positif.
Berdasarkan kesepakatan awal dapat disimpulkan
bahwa pembelajaran matematika dengan menggunakan
SOEMPPU dapat dikatakan efektif. Hal ini berarti
pembelajaran ini dapat diterapkan dan dikembangkan
dalam kegiatan pembelajaran.
Saran
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, peneliti
memberikan beberapa saran sebagai berikut.
1. Bagi guru supaya menerapkan pembelajaran
matematika dengan menggunakan SOEMPPU dengan
persiapan pembelajaran yang baik terutama pemberian
atensi yang kuat saat pembelajaran agar siswa tetap
terkondisi walau terdapat kejadian yang tidak
diinginkan
sehingga
setiap
langkah-langkah
pembelajaran matematika dengan menggunakan
SOEMPPU dapat berjalan secara maksimal.
2. Bagi para peneliti yang hendak melakukan penelitian
serupa, disarankan untuk meminimalkan kelemahan
yang ada pada penelitian ini, seperti membuat
pernyataan angket respons sehingga bahasanya dapat
mudah diserap oleh siswa.
DAFTAR PUSTAKA
Aditama, Firman. 2014. Efektivitas Pembelajaran
Induktif berbantuan Geogebra pada Materi Garis
Singgung Persekutuan Dua Lingkaran di Kelas VIII
SMP Negeri 1 Surabaya.
Arifin, Zaenal. 2010. Membangun Kompetensi Pedagogis
Guru Matematika. Surabaya: Lentera Cendikia.
Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu
Pendekatan Praktek Edisi Revisi V. Jakarta: Rineka
Cipta.
Asih, Siti Surya. 2013. Efektivitas Strategi Quick On The
Draw pada Materi Tabung dan Kerucut di Kelas IX
SMP Negeri 31 Surabaya. Skripsi tidak diterbitkan.
Surabaya: Universitas Negeri Surabaya.
189
Download