Makalah yoghurt kacang hijau - Blog UB

advertisement
PEMBUATAN PRODUK YOGHURT SUSU
NABATI KACANG HIJAU (Phaseolus radiatus L.)
SEBAGAI ALTERNATIF MINUMAN
KESEHATAN
Oleh:
Devy Setayana
105100701111039
Enggar Dwi Kartikasari
105100701111005
M.Lutfi Almer Hasan
105100701111031
Irvan Diar Anggoro
105100701111025
Sigit Prayitno
105100713111002
JURUSAN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2013
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Pola hidup masyarakat yang cenderungm menyadari akan pentingnya
kesehatan menyebabkan kebutuhan pangan tidak sebatas pada pemenuhan
kebutuhan gizi konvensional bagi tubuh serta pemuas mulut dengan citarasa yang
enak melainkan pangan diharapkan mampu berfungsi menjaga kesehatan dan
kebugaran tubuh. Produk pangan seperti ini biasa disebut sebagai pangan
fungsional. Produk pangan yang banyak yang dikembangkan sebagai pangan
fungsional antara lain adalah produk-produk probiotik. Probiotik mmerupakan
bakteri hidup yang diberikan melalui mulut sebagai menu tambahan sehari-hari.
Banyak spesies bakteri telah lama digunakan sebagai probiotik sebagian besar
merupakan bakteri asam laktat misalnya : Lactobacillus sp. dan Streptococcus sp
(Winarno et. al., 2003).
Salah satu produk probiotik yang mengandung bakteri asam laktat yaitu
yoghurt. Yoghurt adalah produk koagulasi susu yang dihasilkan melalui proses
fermentasi bakteri asam laktat, Lactobaccilus bulgaricus dan Streptococcus
thermophilus dengan atau tanpapenambahan bahan lain yang diizinkan.
(Nakazawa dan Hosono, 1992). Efek-efek kesehatan yang telah dibuktikan karena
konsumsi susu fermentasi (termasuk yoghurt) adalah memacu pertumbuhan
karena dapat meningkatkan pencernaan dan penyerapan zat-zat gizi, dapat
mengurangi atau membunuh bakteri jahat dalam saluran pencernaan, dapat
menormalkan kerja usus besar (mengatasi konstipasi dan diare), memiliki efek
anti kanker, dapat mengatasi masalah lactosa intolerance, berperan dalam
detoksifikasi dan mengatasi stres, serta mengontrol kadar kolesterol dalam darah
dan tekanan darah (Robinson, et al., 1999). Telah banyak produk yoghurt yang
dikembangkan dari susu hewani namun hanya sedikit yoghurt yang dibuat dari
produk susu nabati. Produk yoghurt dari susu nabati sebenarnya sangat berpotensi
untuk dikembangkan karena selain kandungan gizi yang tinggi harga produk
yoghurt nabati relatif lebih murah jika dibandingkan dengan yoghurt susu hewani.
Dengan adanya produk yoghurt susu nabati diharapkan akan meningkatkan daya
beli masyarakat terhadap produk probiotik yang selama ini relatif mahal. Kacang
hijau (Phaseolus radiatus L.) di Indonesia berpotensi dikembangkan menjadi
produk pangan fungsional. Selain produksi kacang hijau Indonesia yang mencapai
297.189 ton /tahun (BPS, 2008), belum banyak produk turunan kacang hijau yang
beredar di pasaran.
Untuk itu sangat tepat jika kacang hijau dikembangkan menjadi produk
yoghurt. Pembuatan yoghurt kacang hijau pada prinsipnya sama dengan
pembuatan yoghurt pada susu hewani, yaitu dengan menginokulasikan bakteri
asam laktat Lactobaccilus bulgaris dan Streptococcus thermophilus pada susu
nabati kacang hijau. Permasalahan yang dihadapi pada pembuatan yoghurt pada
umumnya adalah ketidak sesuaian tekstur yoghurt. Selain itu pada susu nabati
tidak mengandung laktosa sebagai sumber karbon sebagai substrat utama bakteri
asam laktat, oleh sebab itu diperlukan penambahan sumber karbon lain. Untuk
memproduksi yoghurt dari susu kacang hijau dalam skala besar tentunya
diperlukan serangkaian tahapan penelitian mulai dari produksi susu kacang hijau,
produksi yoghurt skala laboratorium sampai dengan scale up hasil penelitian skala
laboratorium pada skala yang lebih besar. Pada penelitian ini dilakukan produksi
yoghurt kacang hijau skala 1000 ml yang merupakan peningkatan dari skala
produksi 250 ml.
1.2 Perumusan Masalah
1. Apakah susu kacang hijau dapat dijadikan bahan baku yoghurt?
1.3 Tujuan
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik yoghurt
susu nabati kacang hijau berdasarkan acuan SNI 01-2981-1992.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Kacang Hijau
Kacang hijau ( Vigna radiata L.) merupakan salah satu komoditas
tanaman kacang-kacangan yang banyak dimakan rakyat Indonesia, seperti: bubur
kacang hijau dan isi onde-onde, dan lain-lain. Kecambahnya dikenal sebagai
tauge. Tanaman ini mengandung zat-zat gizi, antara lain: amylum, protein, besi,
belerang, kalsium, minyak lemak, mangan, magnesium, niasin, vitamin (B1, A,
dan E). Manfaat lain dari tanaman ini adalah dapat melancarkan buang air besar
dan menambah
semangat hidup. Selain itu juga dapat
digunakan untuk
pengobatan hepatitis, terkilir, beri-beri, demam nifas, kepala pusing/vertigo,
memulihkan kesehatan, kencing kurang lancar, kurang darah, jantung mengipas,
dan kepala pusing (Achyad dan Rasyidah, 2006).
Tabel 2.1. Kandungan Gizi pada kacang hijau.
Sumber : Kay, D.E. 1997
2.2Definisi Yoghurt
Yogurt adalah hasil pemeraman susu yang mempunyai cita rasa spesifik
sebagai hasil fermentasi oleh bakteri-bakteri tertentu. Tahap-tahap pembuatan
yogurt adalah pemanasan, pendinginan dan pemeraman. Yogurt dengan
pembiakan yang aktif menyehatkan bagi saluran pencernaan dan juga rendah
laktose (Mayasari, 2007).
Yogurt yaitu susu yang diasamkan dengan bakteri yang ada dalam susu
(laktosa) menjadi asam susu (asam laktat). Dengan penambahan keasaman pada
susu ini, maka protein susu akan mengendap dan menjadi padat lagi kenyal.
Yogurt merupakan makanan yang baik untuk dikonsumsi orang sehat, orang sakit
dan orang yang baru sembuh dari sakit (As-sayyid, 2006).
2.3 Kandungan Yoghurt
Yogurt merupakan sumber asam pantotenat atau disebut juga vitamin B5.
Yogurt juga mengandung enzim lactase inaktif, yang akan diaktivasi oleh suhu
dan pH duodenum. Aktivasi laktase ini mengganti kekurangan laktase endogen.
Yogurt segar ditoleransi lebih baik dari yogurt beku (Wong, 2008).
There are little data on ice cream made only from yogurt instead of milk.
Produced ice cream using only yogurt at 1% lactic acidity. Converted 78% of the
total milk to yogurt at 1% lactic acidity, dissolved ice cream ingredients such as
sucrose, butter and emulsifier in the remaining milk and then blended this syrup
with yogurt. Nagar et al. (2002) blended yogurt (pH 4.4) with ice cream pre-mix
(1:1). Some researchers used probiotic bacteria (Lactobacillus acidophilus and
Bifidobacterium bifidum) in the production of ice cream) (Guner, Ardıc, Keles
dan Dogruer, 2007).
Ada sedikit data tentang es krim yang dibuat hanya dari yoghurt bukannya
susu. Menghasilkan es krim menggunakan yoghurt hanya pada keasaman laktat
1%. Dikonversi 78% dari total susu yogurt pada keasaman laktat 1%, bahan
terlarut krim es seperti sukrosa, mentega dan emulsifier dalam susu yang tersisa
dan kemudian dicampur sirup ini dengan yogurt. Nagar et al. (2002) dicampur
yoghurt (pH 4.4) dengan es krim pra-campuran (1:1). Beberapa peneliti
menggunakan bakteri probiotik (Lactobacillus acidophilus dan Bifidobacterium
bifidum) dalam produksi es krim) (Guner, Ardıc, Keles dan Dogruer, 2007).
2.3 Manfaat Yoghurt
Kerja bakteri asam laktat memfermentasikan susu ternyata meningkatkan
kandungan gizi yoghurt. Khususnya vitamin B-kompleks, di antaranya vitamin B1
(tiamin), vitamin B2 (riboflavin), vitamin B3 (niasin), vitamin B6 (piridoksin),
asam folat, asam pantotenat, dan biotin. Sederet vitamin tersebut membantu
meningkatkan kesehatan sistem reproduksi, kekebalan tubuh, dan ketajaman
fungsi berpikir. Dengan rajin minum yoghurt, terutama yang murni/polos, dapat
merangsang tubuh mempercepat proses peremajaan sel. Tak heran jika yoghurt
sudah digunakan untuk mandi rendam, masker, dan luluran di lingkungan
kekaisaran Konstantinopel ratusan tahun lalu (Wong, 2008).
2.4 Macam-Macam Yoghurt
Tergantung pada metode pembuatannya, yogurt dapat dikategorikan (Wong,
2008) :
- strained, yaitu dibuat dengan cara mengangkat air dadih dari susu
- set yoghurt, teksturnya lembut dan mampu dimasukkan ke boks karton
- stirred, yaitu yogurt yang diaduk dan ditambahkan jus atau potongan buah
2.5 Kandungan Lemak Yoghurt
Berdasarkan kandungan lemaknya, yogurt dikategorikan (Wong, 2008) :
- penuh lemak (6% -10% lemak)
- lemak sedang (3% - 5% lemak)
- rendah lemak (1% - 3% lemak)
- skimmed (0% lemak)
2.6 Proses Pembuatan Yoghurt
Pada proses pembuatan yoghurt yaitu memfermentasi susu dengan menggunakan
biakan Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermophilus. Secara skematis
proses pembuatan yoghurt dapat dilihat pada Gambar (Sirait, 2008).
Gambar 1. Proses Pembuatan Yoghurt (Sirait, 2008).
Susu yang akan difermentasi dipanaskan terlebih dulu dan pemanasan ini
sangat bervariasi, baik dalam penggunaan susu maupun lama pemanasannya. Tapi
pada dasarnya memiliki
tujuan
yang
sama,
yaitu untuk
menurunkan
populasimikroba dalam susu dan memberikan kondisi yangbaik bagi pertumbuhan
biakan yoghurt. Selain itu, pemanasan susu sebelum dibuat yoghurt juga bertujuan
untuk mengurangi airnya, sehingga akan diperoleh yoghurt yang lebih padat (5) .
Menurut Foster (5), pemanasan susu dilakukan sampai 85 0 - 90 0C selama 10 15 menit, atau 80 0 - 85 0C selama 15 - 20 menit, kemudian didinginkan sampai
48°C, selanjutnya diinokulasi biakan ("starter") sebanyak 2 – 3 persen dan
diinkubasikan pada suhu 45 0C sampai keasaman mencapai 0,85 - 0,90 persen
asamlaktat (Sirait, 2008).
Menurut Dewipadma (4), mula-mula susu dipanaskan pada api yang kecil
sampai volumenya menjadi 2/3 atau 1/2 dari volume semula, kemudi an
didinginkan sampai suhu 45 °C dan selanjutnya diinokulasi starter sebanyak 2 - 5
persen . Lalu diinkubasikan pada suhu 45 0C selama 4 - 6 jam, sampai keasaman
mencapai 0,7 - 1,0 persen asam laktat . Secara tradisional, yoghurt dibuat dari
susu yang dipanaskan pada suhu tinggi selama beberapa waktu untuk menguapkan
sebagian kandungan airnya sampai 1/3 bagian dari volume asal, namun sekarang
proses penguapan dapat dilakukan pada suhu rendah dalam keadaan vakum
(Sirait, 2008).
2.7 Fermentasi Susu
Dasar fermentasi susu adalah fermentasi komponen gula di dalam susu,
terutama lactosa menjadi asam laktat dan asam-asam lain. Asam laktat yang
dihasilkan dapat memperbaiki flavor dan menurunkan derajat keasaman susu
sehingga sedikit mikroba yang dapat bertahan hidup. Fermentasi susu dapat
menghambat pertumbuhan mikroba patogen dan mikroba perusak susu sehingga
masa simpan susu dapat diperpanjang. Sptreptococcus thermophillus tumbuh
optimal pada suhu 45 oC sampai 47 oC sebaliknya Lactobacillus bulgaricus suhu
pertumbuhan optimalnya adalah 37 oC. Pada pembuatan yoghurt mula-mula
streptococcus thermophillus yang tumbuh kemudian pada saat suhu medium turun
baru Lactobacillus bulgaricus yang pada dasarnya bakteri tersebut memiliki
kemampuan membentuk cita rasa mengambil alih peran streptococcus
thermophillus dan mulai pertumbuhan dengan cepat (Winarno et al., 2003). Pada
dasarnya pembuatan yoghurt susu dari susu nabati sama dengan pembuatan yogurt
dari susu sapi. Meskipun susu nabati tidak mengandung laktosa, sebagian besar
bakteri dapat menggunakan karbohidrat lain seperti sukrosa, stakiosa, dan
raffinosa sebagai sumber energinya (Shurtleff dan Aoyagi, 1984). Silvia (2002)
melaporkan bahwa Strepcoccus thermophilus dapat tumbuh baik pada susu
kedelai dan meghasilkan flavor yang pailng baik. Beberapa hal yang harus
diperhatikan dalam pembuatan yoghurt dari susu nabati agar dihasikan tekstur
yang baik yaitu kandungan protein dalam susu nabati 3,5-4.0 %, jumlah starter
tidak boleh terlalu banyak, inokulasi starter dilakukan saat temperatur susu nabati
turun hingga 47 oC, fermentasi harus dihentikan bila pH mencapai 4,0 dan
megandung 0,75 % asam laktat (Shurtleff dan Aoyagi, 1984).
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Agrokimia, Jurusan Teknologi
Industri Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya Malang.
Adapun waktu penelitian adalah berkisar antara bulan 25 Maret sampai 7 April
2013.
3.2 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam penelitian ini meliputi neraca, neraca analitik,
loyang stainlessteel, sendok, mesin pengupas kulit ari kacang hijau, mesin
penggiling kedelai, filter, kain saring, blender, jerigen, botol kaca, alat gelas untuk
analisis kimia dan mikrobiologi, autoclave, inkubator, dan laminar untuk ruang
inokulasi.
Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi kacang hijau,
sukrosa dan susu skim, dan kultur yogurt (starter). Kultur yogurt (starter) ini
mengandung Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermophilus. Bahan
lain yang digunakan dalam penelitian ini adalah bahan penstabil yaitu Carboxy
Metil Celulose (CMC) dan Calsium Laktat. Selain itu juga digunakan bahanbahan analisa kimia untuk analisa total asam dan analisis proksimat.
3.3 Metode
3.3.1. Pembuatan Susu Kacang Hijau
Pembuatan susu kacang hijau sepertihalnya pembuatan susu kedelai yaitu
dimulai dari proses sortasi kacang hijau, perendaman, pengupasan kulit,
penggilingan, pengenceran, pemanasan, penyaringan dimana filtratnya diambil
baru kemudian ditambahkan bahan penstabil berupa Carboxy Methyl Celulase
(CMC). Tahapan pembuatan susu kacang hijau dapat dilihat pada gambar 1.
Perendaman dilakukan selama 14 jam, hal ini berdasarkan penelitian Triyono et
al. (2009). Setelah kacang hijau dikupas kulitnya kemudian diencerkan dengan
perbandingan kacang hijau kering : air (1:8). Suspensi bubur kacang hijau
dipanaskan sampai mendidih selama kira-kira 10 menit. Kemudian disaring dan
diambil filtratnya Filtrat kacang hijau ditambah dengan stabilizer Carboxy Methil
Celulose (CMC).
Kacang Hijau
Sortasi
Air
Kotoran
Perendaman
Pengupasan kulit
Penggilingan
Pengenceran
Pemanasan
Filtrasi
Stabilizier
Residu
Filtrat
Pemanasan
Susu Kacang Hijau
Gambar 2. Diagram alir pembuatan susu kacang
hijau
3.3.2 Pembuatan Yoghurt Kacang Hijau
Pembuatan yoghurt kacang hijau dimulai dengan peremajaan kultur atau
pembutan starter yoghurt dengan cara menginokulasikan 10% starter awal yoghurt
pada susu sapi murni komersial (merk UM) kemudian dilakukan inkubasi selama
18 jam pada suhu 37oC. Setelah itu starter yoghurt diinokulasikan sebanyak 10 %
b/v pada 1000 ml susu kacang hijau steril yang telah ditambahkan sukrosa 5 %
dan susu skim 9%. Penambahan sukrosa dan susu skim berdasarkan penelitian
Triyono et al. (2009). Inkubasi dilakukan selama 18 jam pada suhu 37 oC hal ini
berdasarkan penelitian Muchidi (1993), setelah itu dilakukan analisis karakteristik
produk sesuai dengan SNI 01-2981-1992 berupa keadaan yoghurt (penampakan,
bau, rasa, dan konsentrasi), kadar lemak, berat kering tanpa lemak, kadar protein,
dan kadar abu pada yoghurt yang dihasilkan. Penelitian dilakukan ini dengan dua
kali ulangan. Tahapan pembuatan yoghurt dapat dilihat pada gambar 2.
Starter yoghurt
Peremajaan
Susu kacang hijau
steril(sukrosa 5%,
susu skim 9%)
Starter yoghurt
siap inokulasi
Inokulasi
Inkubasi
Yoghurt
Karakteristik
Gambar 3. Diagram alir pembuatan yoghurt
kacang hijau
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Perbandingan Skala Lab dan Skala Ganda
Tabel 4.1. Perbandingan Yoghurt Kacang Hijau
No
Kriteria Uji
1
Keadaan
1.1
Penampakan
2
1.2 Bau
1.3 Rasa
1.4
Konsentrasi
Kadar Air
Satuan
SNI
Skala Lab
Cairan
kental s/d
Semi padat
Normal/khas
Asam/Khas
Homogen
%,
(b/b)
Cairan
kental
Skala
Ganda 1
Cairan
kental
Skala
Ganda 2
Cairan
kental
Khas
Khas
Khas
Asam/khas Asam/Khas Asam/Khas
Homogen Homogen
Homogen
84,98
13
11,33
Hasil yang didapatkan dari skala ganda dapat diketahui bahwa dari segi
organoleptik meliputi penampakan, bau, rasa dan konsentrasi sama dengan skala
lab. Sedangkan untuk kadar air pada skala ganda tidak sesuai dengan kadar air
pada skala lab. Hal ini dikarenakan berbagai faktor diantaranya:

Metode yang digunakan tidak sama. Metode yang digunakan pada skala
ganda yaitu mengukur cawan petri pada timbangan digital dan didapatkan
hasil 39,75 gram. Kemudian ditambah sampel yoghurt sebanyak 3 gram.
Selanjutnya cawan dan sampel dioven dengan suhu 105°C selama 3 jam.
Didapatkan hasil berat cawan dan sampel kering seberat 40,14 gram.
Sehingga didapatkan kadar air sebesar 13% dengan menggunakan rumus:
Kadar air 1
=Berat cawan&bahan kering – berat cawan awal x 100%
3
= 40,14 – 39,75 x 100% = 13%
3
Kadar Air 2
= 45,08 – 44,74 x 100% = 11,33%
3
4.2 Operation Proces Chart (OPC)
4.3 Daftar Mesin dan Peralatan yang Dibutuhkan
Alat yang digunakan dalam penelitian ini meliputi neraca, neraca analitik,
loyang stainlessteel, sendok, filter, kain saring, blender, jerigen, botol kaca, gelas
ukur, autoclave, inkubator, panci, baskom, kompor dan corong.
Tabel 4.2. Kebutuhan mesin dan Peralatan
No
1.
2.
Nama Alat
Gambar Alat
Fungsi
Neraca
Untuk menimbang bahan
(timbangan
baku kacang hijau,
digital)
sukrosa, dan susu skim.
Neraca analitik
Untuk menimbang bahan
– bahan pendukung
seperti Carboxy Metil
Celulose (CMC) dan
Calsium Laktat.
3.
Loyang
Untuk alas pada
stainlessteel
pengovenan yoghurt
pada perhitungan kadar
air.
4.
Sendok besar
Untuk pengadikan
yoghurt.
5.
Filter
Untuk menyaring
yoghurt yang sudah
dipanaskan agar terpisah
antara filtrat dan
substrat.
6.
Kain saring
Untuk memeras substrat
kacang hijau.
7.
Blender
Untuk menghaluskan
kacang hijau.
8.
jirigen
Sebagai wadah air untuk
membuat yoghurt.
9.
Botol kaca
Sebagai wadah yoghurt
yang akan difermentasi.
10. Alat gelas/
Untuk mengukur volume
gelas ukur
air yang akan digunakan.
11. Autoclave
Untuk menstrarilisasi
botol kaca.
12. Inkubator
Untuk menginkubasi
yoghurt selama proses
fermentasi.
13. Panci
Sebagai wadah yoghurt
yang akan dimasal atau
diolah.
14. Baskom
Sebagai wadah kacang
hijau baik saat
perendaman mauun
setelah pengupasan.
15. Kompor Gas
Digunakan untuk
memenaskan atau
memasak yoghurt.
16. Corong
Sebagai penampung
yoghurt agar tidak
tumpah saat dipindah ke
botol kaca.
4.4 Kebutuhan Bahan Baku, Bahan Tambahan dan Utilitas
Bahan baku yang digunakan adalah kacang hijau, sukrosa dan susu skim,
dan kultur yogurt (starter). Kultur yogurt (starter) ini mengandung Lactobacillus
bulgaricus dan Streptococcus thermophilus. Bahan lain yang digunakan dalam
penelitian ini adalah bahan penstabil yaitu Carboxy Metil Celulose (CMC).
Tabel 4.3. Kebutuhan Bahan Baku dan Bahan Tambahan
No
1.
2.
Nama Bahan
Gambar Bahan
Fungsi Bahan
Kacang hijau
Sebagai
bahan
baku
(350gr/skala
utama
ganda)
yoghurt.
Sukrosa
Sebagai penguat rasa
(250gr/skala
manis.
pembuatan
ganda)
3.
Susu skim
Sebagai starter susu
(450gr/skala
ganda)
4.
Kultur yoghurt
Sebagai
starter
(500ml/skala
pembuatan
ganda)
agar
yoghurt
bakteri
starter
pada
berkembang
pada susu kacang hijau
sehingga
yoghurt.
menjadi
5.
Carboxy
Metil
Sebagai stabilizer.
Celulose (CMC)
(3gr/skala ganda)
6.
Air
Untuk
(5liter/skala
pada kacang hijau saat
ganda)
dihaluskan.
Tabel 4.4. Kebutuhan Utilitas
No
1.
Utilitas
Listrik
Kebutuhan
- 250 watt untuk blender
= 250 watt / 1000 watt/jam
= 0,25 watt/ jam
= 0,004 watt/ menit
= 0,03 watt/ 8 menit
- 50 watt untuk inkubator
= 50 watt / 1000 watt/jam
= 0,05 watt/jam
= 0,9 watt/ 18 jam
Total kebutuhan listrik 1x produksi = 0,93 watt
2.
Air
100 Liter untuk memcuci peralatan
penambahan
4.5 Rendemen Produk
Rendemen
= Berat akhir x 100%
Berat Awal
= 5,5 liter x100%
5liter
= 110%
BAB V
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Hasil yang didapatkan dari skala ganda dapat diketahui bahwa dari segi
organoleptik meliputi penampakan, bau, rasa dan konsentrasi sama dengan skala
lab. Sedangkan untuk kadar air pada skala ganda tidak sesuai dengan kadar air
pada skala lab. Metode perhitungan kadar air yang digunakan pada skala ganda
yaitu mengukur cawan petri pada timbangan digital dan didapatkan hasil 39,75
gram. Kemudian ditambah sampel yoghurt sebanyak 3 gram. Selanjutnya cawan
dan sampel dioven dengan suhu 105°C selama 3 jam. Didapatkan hasil berat
cawan dan sampel kering seberat 40,14 gram. Sehingga didapatkan kadar air
sebesar 13% dan pengujian kedua didapatkan hasil kadar air 11,33%.
Alat yang digunakan dalam penelitian ini meliputi neraca, neraca analitik,
loyang stainlessteel, sendok, filter, kain saring, blender, jerigen, botol kaca, gelas
ukur, autoclave, inkubator, panci, baskom, kompor dan corong. Sedangkan
Kebutuhan bahan yang digunakan adalah kacang hijau 350gr/skala ganda,air 5
liter/skala ganda, sukrosa 250gr/skala ganda, susu skim 450gr/ skala ganda, dan
kultur yogurt (starter) 500ml/ skala ganda dan Carboxy Metil Celulose (CMC)
3gr/skala ganda. Kebutuhan utilitas yang digunakan yaitu listrik 0,93 watt dan air
100 liter. Pada perhitungan rendemen didapatkan rendemen produk yaitu sebesar
110%.
4.2 Saran
Untuk penelitian ini disarankan agar peneliti lebih memperhatikan sanitasi
proses pembuatan yoghurt kacang hijau agar tidak ada kontaminasi pada bahan
sehingga yoghurt berhasil dan sesuai prosedur. Prosedur pembuatan yoghurt
kacang hijau harus diperhatikan mulai dari bahan baku nyang digunakan dan
mesin atau peralatan yang sesuai. Selain itu Metode perhitungan dan pengujian
juga harus diperhatikan agar hasilnya akurat.
DAFTAR PUSTAKA
Achyad,
D.E.
dan
R.
Rasyidah.
2006.
Kacang
Hijau.
http://www.asiamaya.com/jamu/isi/kacang.hijau_phaseolusradiatus.ht
m. Diakses tanggal 20 Maret 2013.
As-sayyid, A.B.M. Pola Makan Rasulullah : Makanan Sehat Berkualitas
Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah. Almahira. Jakarta.
Badan
Pusat
Statistik.
2008.
Statistics
Indonesia.
http://www.bps.go.id/sector/agri/pangan/foods_crops_statistics/sec
ondary_food_crops.html. Diakses 21/03/2013.
Kay, D.E. 1997. Crop and Product Digest No – 3 Food Legumes. London:
Tropical Product Institute
Mayasari, N. 2007. Mom’sGuide Memilih Makanan Halal. Qultumedia.
Jakarta.
Muchidin, A. (1993). Diktat Teknologi Pengolahan Pangan. Universitas
Bandung Raya.
Nakazawa Y. dan A. Hosono (eds). 1992. Function of Fermented Milk :
Chalange for The Health Science. Elsevier Applied Science, new
York.
Robinson, R. K., C.A. Batt, dan P. D. Patel (eds). 1999. Enciclopedia of Food
Microbiology (eds). Academic Press
Shurtleff, William dan Akiko Aoyagi. 1984. The Book of Tofu : Tofu and
Soymilk Production.Vol 11. The Soybean Center : Lafayette, USA
Silvia, 2002, Pembuatan Yoghurt Kedelai (Soyghurt) dengan Menggunakan
Kultur Campuran Bifidobacterium bifidum dan Streptococcus
thermophilus. Skripsi. Fateta, IPB, Bogor.
Sirait, Celly H . 2008. Proses Pengolahan Susu Menjadi Yoghurt. Jurnal Balai
Penelitian Ternak, Bogor
Triyono, Agus, Taufik Rahman, Wawan Agustina, Nurhaidar Rahman. 2009.
Peningkatan Fungsi dan Keanekaragaman Produk Olahan
Kacang Hijau (Phaseolus radiatus L) Menjadi Susu Nabati dan
Produk Turunannya. Laporan Akhir Program DIKTI, B2PTTG-LIPI.
Subang.
Wong, L 2008. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik. Buku Kedokteran EGC.
Jakarta.
Winarno, F.G, Wida Winaryo A., dan Weni Widjajanto. 2003. Flora Usus dan
Yoghurt. Cetakan satu. M-BRIO Press : Bogor
Lampiran 1. Dokumentasi Kegiatan
Perendaman kacang hijau
Pengupasan kacang hijau
Hasil pengupasan kacang hijau
Kulit ari kacang hijau yang telah
dipisahkan
Penghalusan kacang hijau pada
blender
Hasil penghalusan kacang hijau
Air sari kacang hijau yang siap di
masak (skala ganda 5L)
Proses pengadukan pada pemanasan
air sari kacang hijau
Penimbangan CMC
Penyaringan sari kacang hijau untuk
memisahkan filtrat
Hasil substrat kacang hijau yang
sudah dipisahkan
Penambahan susu skim
Penambahan sukrosa
Susu kacang hijau yang siap
diinokulasi
Starter yoghurt yang digunakan
Pengukuran volume starter yoghurt
Penambahan starter yoghurt pada
susu kacang hijau
Pamasukan yoghurt ke dalam botol
Yoghurt kacang hijau yang siap
difermentasi
Download