BADAI KRISIS EKONOMI Dan

advertisement
PROYEKSI EKONOMI INDONESIA 2012:
BADAI KRISIS EKONOMI
DAN JEBAKAN LIBERALISASI
M. FADHIL HASAN
INDEF
INSTITUTE FOR DEVELOPMENT OF ECONOMICS AND FINANCE (INDEF)
PEREKONOMIAN INDONESIA 2011
1. Pertumbuhan Ekonomi
Sisi Jenis Penggunaan
Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga
Pengeluaran Konsumsi Pemerintah
Pembentukan Modal Tetap bruto (PMTB)
Ekspor Barang dan Jasa
Dikurangi Impor Barang dan Jasa
PDB
Pertumbuhan Ekonomi (yoy)
Persen
Q1
Q2
Q3 Q1-Q3
4,5
4,6
4,8
4,6
2,8
4,5
2,5
3,3
7,3
9,2
7,1
7,9
12
17,4 18,5
16,2
16
16
14,2
14,6
6,5
6,5
6,5
6,5
Struktur PDB*
Persen
Q3
54,2
9,1
31,8
26,5
24,9
100
Sumber: Badan Pusat Statistik, 2011
* Struktur PDB atas dasar harga berlaku, tidak memperhitungkan perubahan inventori dan diskrepansi statistik
• Sampai dengan triwulan III 2011, penyumbang tersebesar
pertumbuhan adalah pengeluaran konsumsi, sebesar 63,3%.
2
INSTITUTE FOR DEVELOPMENT OF ECONOMICS AND FINANCE (INDEF)
Lapangan Usaha
Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan
Pertambangan dan Penggalian
Industri pengolahan
Listrik, Gas, dan Air Bersih
Konstruksi
Perdagangan, Hotel, dan Restoran
Pengangkutan dan Komunikasi
Keuangan, Real Estat dan Jasa perusahaan
Jasa-Jasa
PDB
Pertumbuhan Ekonomi (yoy)
Persen
Q1
Q2 Sem-1 Q3 Q1-Q3
3,6
3,9
3,7
2,7
3,4
4,3
0,8
2,5
0,3
1,7
5
6,1
5,6
6,6
5,9
4,3
3,9
4,1
5,2
4,5
5,3
7,4
6,4
6,4
6,4
7,9
9,6
8,7 10,1
9,3
14
10,7
12,1 9,5
11,2
7,3
6,9
7,1
7
7
7
5,7
6,3
7,8
6,8
6,5
6,5
6,5
6,5
6,5
Sumber: Badan Pusat Statistik, 2011
•
•
•
Dari sisi lapangan usaha, sektor non-tradeable mengalami pertumbuhan lebih tinggi
dibanding sektor tradeable.
Sektor non-tradeable, seperti sektor pengangkutan dan komunikasi selama Q1-Q3
2011, tumbuh sebesar 11,2% (yoy).
Sektor non tradable relatif padat modal dengan penciptaan nilai tambah dan
penyerapan tenaga kerja relatif rendah.
3
INSTITUTE FOR DEVELOPMENT OF ECONOMICS AND FINANCE (INDEF)
2. Moneter & Perbankan
• Tekanan inflasi hingga Q3 2011 baik berasal dari sisi internal maupun sisi
eksternal masih terjaga pada kisaran sasaran inflasi 5% ± 1%, tepatnya
4,61 (yoy).
• BI Rate diturunkan 50 bps ke level 6,0% pada November 2011, didorong
oleh inflasi yang terkendali serta antisipasi terhadap kontraksi
perekonomian akibat dampak perlambatan permulihan perekonomian
global.
• Suku bunga deposito rata-rata berada pada level 6,8% (Q3 2011),
sedangkan suku bunga Kredit Modal Kerja (KMK), Kredit Investasi (KI) dan
Kredit Konsumsi (KK) rata-rata berada pada level 12,5%, 12,1% dan 14,3%
atau turun sebesar 10 bps, 3 bps dan 7 bps dibandingkan triwulan
sebelumnya.
• Nilai tukar rupiah selama Q2-2011, mengalami apresiasi sebesar 3,47
persen (qtq), sementara di Q3-2011 mengalami depresiasi sebesar 2,42
persen atau bergeser ke level Rp 8790 per US$. Depresiasi dipicu oleh
faktor risiko ketidakpastian perekonomian global yang berdampak menjadi
sentimen negatif terhadap negara-negara emerging market.
4
INSTITUTE FOR DEVELOPMENT OF ECONOMICS AND FINANCE (INDEF)
Indikator Kinerja Perbankan Nasional
Indikator
Total Aset (T Rp)
Simpanan (T Rp)
CAR (Capital Adequacy Ratio) (%)
Gross Non performing Loans
Net Non Performing Loans
Return on Assets (%)
Net Interest Margin (%)
Biaya /Pendapatan Operasional (%)
Loan to Deposit Ratio (%)
Jumlah Bank
Dec-07
1986.5
1510.8
19.3
4.6
1.9
2.8
5.7
84.1
66.3
130
Dec-08
2310.6
1753.3
16.8
3.8
1.5
2.3
5.7
88.6
74.6
124
Dec-09
2534.1
1973
17.4
3.8
0.9
2.6
5.6
86.6
72.9
121
Dec-10
3008.9
2338.8
17
2.9
0.7
2.7
5.7
80
75.5
122
Aug-11
3252.6
2459.9
17.3
3.1
1
3
5.9
80.8
82.6
120
Sumber: Departemen Keuangan & Bank Indonesia, Oktober 2011
• Stabilitas perbankan tetap terjaga, CAR sebesar 17,3%, kredit macet
di bawah 5% (3,1% pada Agustus 2011), LDR meningkat 82,6%.
• Struktur dana perbankan dana mahal, di dominasi deposito.
 Selama Sebelum Krisis (1990-1997) rata-rata 53,37%
 Saat krisis (1998-2002) membengkak menjadi 59,02 persen
 Pascakrisis (2003-2010) relatif membaik rata-rata 47,64%.
INSTITUTE FOR DEVELOPMENT OF ECONOMICS AND FINANCE (INDEF)
5
3. Perdagangan
18.8
20
18.2 18.3
17.8
17.4
18
16.5
16.3
16.2
15.1
15.1 15.1
16 14.6 14.4
14.4 14.8 14.8
14
12.5
11.7
12
Ekspor (US$ miliar)
10
Impor (US$ miliar)
8
Net Ekspor (US$ miliar)
6
3.7
3.4
3.2
4
2.7
2.7
2.1
1.9
1.7
1.2
2
0
Sumber: BPS, 2011
Seiring dengan penurunan harga komoditi pertanian di pasar global, nilai Ekspor
Indonesia bulan September turun 4,45 persen, bila penurunan ini berlanjut
sampai akhir tahun, maka besar kemungkinan akan mengganggu target ekspor
2011 sebesar US$200 miliar.
6
INSTITUTE FOR DEVELOPMENT OF ECONOMICS AND FINANCE (INDEF)
4. Pasar Modal
Sumber: IDX Quarterly Statistics, 3rd Quarter 2011
• Secara umum IHSG memiliki tren yang meningkat sejak Januari
2011, walaupun sempat mengalami koreksi akibat berita buruk
mengenai perlambatan ekonomi dunia pada 22 September 2011.
7
INSTITUTE FOR DEVELOPMENT OF ECONOMICS AND FINANCE (INDEF)
5. Harga Minyak Dunia
140
120
100
80
60
40
Crude oil, avg, spot, $/bbl, current$
20
0
Sumber: Worldbank, 2011
• Harga minyak di pasar internasional mengalami tren
menurun jika dibandingkan pada triwulan sebelumnya.
8
INSTITUTE FOR DEVELOPMENT OF ECONOMICS AND FINANCE (INDEF)
FAKTOR EKSTERNAL : KRISIS UTANG UE
Neraca Anggaran Pemerintah dan Rasio Utang di Euro Area (% thdp PDB)
Negara
2007
Neraca Anggaran
2008
2009 2010
2011
2007
2008
Utang
2009
2010
2011
Belgia
Jerman
Irlandia
-0.2
0.2
0.3
-1.2
0.0
-7.2
-5.9
-3.4
-12.5
-5.8
-5.0
-14.7
-5.8
-4.6
-14.7
84.2
65.0
25.1
89.8
65.9
44.1
97.2
73.1
65.8
101.2
76.7
82.9
104.0
79.7
96.2
Yunani
-3.7
-7.7
-12.7
-12.2
-12.8
95.6
99.2
112.6
124.9
135.4
Spanyol
1.9
-4.1
-11.2
-10.1
-9.3
36.1
39.7
54.3
66.3
74.0
Perancis
Italia
-2.7
-1.5
-3.4
-2.7
-8.3
-5.3
-8.2
-5.3
-7.7
-5.1
63.8
103.5
67.4
105.8
76.1
114.6
82.5
116.7
87.6
117.8
Cyprus
Luxemburg
Malta
Belanda
Austria
Portugal
Slovenia
Slovakia
Finlandi
Euro Area
3.4
3.7
-2.2
0.2
-0.6
-2.6
0.0
-1.9
5.2
-0.6
0.9
2.5
-4.7
0.7
-0.4
-2.7
-1.8
-2.3
4.5
-2.0
-3.5
-2.2
-4.5
-4.7
-4.3
-8.0
-6.3
-6.3
-2.8
-6.4
-5.7
-4.2
-4.4
-6.1
-5.5
-8.0
-7.0
-6.0
-4.5
-6.9
-5.9
-4.2
-4.3
-5.6
-5.3
-8.7
-6.9
-5.5
-4.3
-6.5
58.3
6.6
62.0
45.5
59.5
63.6
23.3
29.3
35.2
66.0
48.4
13.5
63.8
58.2
62.6
66.3
22.5
27.7
34.1
69.3
53.2
15.0
68.5
59.8
69.1
77.4
35.1
34.6
41.3
78.2
58.6
16.4
70.9
65.6
73.9
84.6
42.8
39.2
47.4
84.0
63.4
17.7
72.5
69.7
77.0
91.1
48.2
42.7
52.7
88.2
Sumber: European Central Bank, Ad Van Riet (2010)
•
Krisis UE menuju ke skala penyebaran yang meluas akibat meningkatnya rasio
utang terhadap GDP di beberapa negara.
INSTITUTE FOR DEVELOPMENT OF ECONOMICS AND FINANCE (INDEF)
 Transmisi & Implikasi Krisis UE
•
Jalur perdagangan  Krisis dapat menyebabkan penurunan pendapatan dan
penurunan permintaan impor yang kemudian memengaruhi ekspor, dan neraca
perdagangan. Krisis di satu negara menyebabkan mata uangnya terdepresiasi yang
dapat mengurangi daya saing ekspor relatif terhadap negara lain.
•
Jalur perbankan  Meskipun perbankan di Asia telah mengurangi pinjaman dari
perbankan dan negara Eropa, namun penularan tetap dapat terjadi melalui bankbank asing, yang menjual asetnya, dan tidak melanjutkan (roll over) pinjaman yang
jatuh tempo, dan mengurangi kredit di Asia jika mereka mengalami kerugian besar
di negara sendiri.
•
Jalur pasar modal  Meskipun memiliki tren yang meningkat sejak Januari 2011,
namun pasar modal Indonesia sempat mengalami koreksi akibat perlambatan
ekonomi global. Hal ini memicu sentimen investor, antara lain berupa aktivitas
deleveraging, yaitu investor (investor asing) mengalami kesulitan likuiditas dan
menarik dana yang diinvestasikan di Indonesia. Selain itu, faktor adanya flight to
quality, yaitu penyesuaian portfolio dari aset yang dipandang berisiko ke aset yang
lebih aman juga menjadi pemicu.
10
INSTITUTE FOR DEVELOPMENT OF ECONOMICS AND FINANCE (INDEF)
LIBERALISASI PERBANKAN
 Rangkaian Kebijakan Liberalisasi Perbankan Nasional
 Paket 27 Oktober 1988 (Pakto ‘88)  mengijinkan
pembukaan kantor bank asing di beberapa Ibu Kota
Provinsi di Indonesia
 UU No.10/1988 (pasal 26)  warga negara asing
ataupun badan hukum asing dapat membeli saham
bank umum baik secara langsung dan atau melalui
bursa efek
 PP No.29/1999 (pasal 3)  jumlah kepemilikan saham
bank oleh warga negara asing dan atau badan hukum
asing sebanyak-banyaknya 99 persen
INSTITUTE FOR DEVELOPMENT OF ECONOMICS AND FINANCE (INDEF)
11
 Batasan Kepemilikan Bank Asing
Wilayah
ASEAN
Rata-rata sampai 33%
Indonesia Bank Umum 99%
Bank Komersial 30%
Malaysia
Bank Investasi 70%
Islamic Bank 70%
Singapura Bank Lokal 40%
Thailand
Batasan
Sampai dengan 25% tidak perlu persetujuan bank sentral
Sampai dengan 49% harus dengan persetujuan bank sentral
Lebih dari 49 % harus dengan persetujuan menteri keuangan
Sumber: BI dan Wawancara Kompas, 2011
INSTITUTE FOR DEVELOPMENT OF ECONOMICS AND FINANCE (INDEF)
 Pangsa Jumlah Bank Asing
BUMN
12%
8% 3%
30%
Swasta Nasional Devisa
Swasta Nasional Non Devisa
22%
25%
BPD
Campuran
Sumber: diolah dari BI, Agustus 2011
Asing
• Jumlah bank asing dan bank campuran telah mencapai 20 persen
(24 bank) dari keseluruhan jumlah perbankan nasional (120 bank)
INSTITUTE FOR DEVELOPMENT OF ECONOMICS AND FINANCE (INDEF)
 Rata-rata Pertumbuhan Kantor Bank
Jumlah
Kantor
Bank Lokal
Bank Asing
Total
2005
8.100
136
8.236
2007
9.442
238
9.680
Rata-Rata
2009
2011* Pertumbuhan
2005-2011*
12.369 13.947
9,56
468
447
23,67
12.837 14.394
9,85
Sumber: diolah dari Bank Indonesia, 2011. Ket: * per Agustus
• Pertumbuhan jumlah kantor Bank Asing melesat tinggi yaitu rata-rata
23,67 % per tahun, sedangkan Bank Lokal hanya 9,56% (2005-2011).
• Ketiadaan asas resiprokal dalam ekspansi perbankan lintas negara
harus menjadi perhatian serius pemangku kebijakan.
INSTITUTE FOR DEVELOPMENT OF ECONOMICS AND FINANCE (INDEF)
 Perbandingan Laba Bersih (NIM/Net Interest Margin)
NIM (%)
2010*
2011*
Pertumbuhan
BUMN
6,26
6,49
3,67
Swasta Nasional Devisa
5,30
5,43
2,45
Swasta Nasional Non Devisa
9,47
5,30
-44,03
BPD
8,86
8,12
-8,35
Campuran
3,79
4,03
6,33
Asing
3,53
3,64
3,12
Bank Umum
5,75
5,89
2,43
Sumber: diolah dari Bank Indonesia, 2011. Ket: * per Agustus
• Salah satu indikator daya saing Bank Asing yaitu Net Interest Margin
(NIM), sedangkan NIM Bank Lokal masih sangat tinggi.
INSTITUTE FOR DEVELOPMENT OF ECONOMICS AND FINANCE (INDEF)
LIBERALISASI PERDAGANGAN
 Paradoks utama yang dialami Indonesia dalam soal perdagangan
lebih disebabkan karena Indonesia membuka diri dengan negara
lain, namun persaingan di dalam negeri masih tetap tertutup.
 Indonesia “kedodoran” dan tidak mampu bersaing (selama
semester 1 impor komoditas pertanian mencapai Rp 60 triliun);
 Liberalisasi perdagangan seperti membuka jalur pelaku ekonomi
asing menggerogoti ekonomi nasional;
 kebijakan ekonomi masih jauh dari semangat untuk memperkuat
ekonomi domestik;
 Solusi memagari kebebasan lalu lintas ekonomi dan meniupkan ruh
ekonomi domestik merupakan pilihan yang aman;
INSTITUTE FOR DEVELOPMENT OF ECONOMICS AND FINANCE (INDEF)
16
Neraca Perdagangan Indonesia (Juta US$)
No
URAIAN
2006
2007
2008
2009
2010
TREND
(%)
Jan- Sep
2010
I EKSPOR
100.798,6
114.100,9
137.020,4
116.510,0
157.779,1
- MIGAS
21.209,5
22.088,6
29.126,3
19.018,3
28.039,6
4,17
19.122,0
- NON MIGAS
79.589,1
92.012,3
107.894,2
97.491,7
129.739,5
10,91
91.794,3
II I M P O R **)
61.065,5
74.473,4
129.197,3
96.829,2
135.663,3
20,43
- MIGAS
18.962,9
21.932,8
30.552,9
18.980,7
27.412,7
- NON MIGAS
42.102,6
52.540,6
98.644,4
77.848,5
161.864,1
188.574,3
266.217,7
40.172,4
44.021,4
121.691,7
IV NERACA
- MIGAS
III TOTAL
- MIGAS
- NON MIGAS
- NON MIGAS
9,60 110.916,3
Jan- Sep
2011*)
152.501,
2
PERUB.
(%)
37,49
65,50
97.389,0
31.647,2
120.854,
0
129.966,
4
6,10
19.438,4
30.264,2
55,69
108.250,6
25,63
77.950,6
27,90
213.339,3
293.442,4
14,03 208.305,3
99.702,2
282.467,
6
59.679,2
37.999,0
55.452,3
60,56
144.552,9
206.538,6
175.340,2
237.990,1
61.911,4
220.556,
3
39.733,2
39.627,5
7.823,1
19.680,8
22.115,8
-17,07
13.527,3
22.534,9
66,59
2.246,6
155,7
-1.426,6
37,6
626,9
0,00
-316,4
1.383,0
-537,15
37.486,6
39.471,7
9.249,7
19.643,2
21.488,9
-16,56
13.843,7
21.151,8
52,79
5,10
38.560,3
16,59 169.745,0
31,66
33,45
35,60
29,93
Sumber: Badan Pusat Statistik, diolah Kementerian Perdagangan
17
INSTITUTE FOR DEVELOPMENT OF ECONOMICS AND FINANCE (INDEF)
Indonesia Terlibas ACFTA
 Keuntungan Indonesia lebih sedikit daripada
keuntungan yang diperoleh oleh negara pesaing.
 Beberapa industri Indonesia mengalami kerugian. Sektor
industri dinilai mendapat pukulan keras akibat ACFTA.
 ACFTA memberikan keuntungan besar bagi China,
namun tidak bagi Indonesia.
 China dapat mengambil keuntungan yang lebih besar
karena memiliki daya saing produk yang lebih tinggi baik
daya saing kualitas maupun harga.
INSTITUTE FOR DEVELOPMENT OF ECONOMICS AND FINANCE (INDEF)
Neraca Perdagangan Indonesia dengan China
(Juta US)
URAIAN
Jan-Apr
2010
Jan-Apr
2011
Perub
(%).
‘10/’11
2006
2007
2008
2009
2010
14.980,4
18.233,3
26.883.6
25.501.4
36.116.8
10.218.5
13.258.5
29,75
4.011,8
3.612,0
4.148.6
3.090.0
2.347.8
603.1
598.6
-0,75
10.968,5
14.621,3
22.735.0
22.411.4
33.768.9
9.615.3
12.659.9
31,66
Ekspor
8.343,5
9.675,5
11.636.5
11.499.3
15.692.6
4.423.3
5.677.1
28,35
- Migas
2.876,9
3.011,4
3.849.3
2.579.2
1.611.6
405.6
478.8
18,05
- Non migas
5.466,6
6.664,1
7.787.1
8.920.0
14.080.9
4.017.7
5.198.3
29,38
Impor
6.636,8
8.557,8
15.247.1
14.002.1
20.424.2
5.795.1
7.581.3
30,82
- Migas
1.134,9
600,6
299.2
510.8
736.2
197.5
119.7
-39,36
- Non migas
5.501,9
7.957,2
14.947.9
13.491.3
19.688.0
5.597.6
7.461.5
33,30
Neraca
1.706,6
1.117,6
-3.610.6
-2.502.8
-4.731.6
-1.371.7
-1.904.1
38,81
- Migas
1.742,1
2.410,7
3.550.1
2.068.4
875.4
208.1
359.0
72,54
-35,3
-1.293,1
-7.160.7
-4.571.2
-5.607.0
-1.579.8
-2.263.2
43,25
Total
- Migas
- Non migas
- Non migas
19
INSTITUTE FOR DEVELOPMENT OF ECONOMICS AND FINANCE (INDEF)
 Gagal
Memanfaatkan Peluang
 Indonesia gagal dalam memanfaatkan peluang liberalisasi;
 Kontribusi perdagangan terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia
masih rendah;
 Penyebab dari kegagalan Indonesia salah satunya adalah faktor daya
saing bangsa yang masih rendah (Cost of doing bussines tinggi) :
 Daya saing (Global Competitiveness index = 94 dari 140 negara)
 Korupsi (Corruption Perception Index (CPI) 2010: 2,8 atau Ranking 110 dari 178
 Lama Perijinan : Untuk memulai bisnis di Indonesia membutuhkan 60 hari
 Infrastruktur (WEF : rangking 76/75 dari 142 negara)
 Biaya Logistik (LPI = Logistik Performance Index 92 dari 150 negara), biaya
logistik berkontribusi sekitar 14,08% dari total nilai penjualan, Jepang hanya
4,88%.
 SDM (HDI atau IPM Indonesia peringkat 124 dari 187)
INSTITUTE FOR DEVELOPMENT OF ECONOMICS AND FINANCE (INDEF)
 Upaya Meningkatkan Realisasi Investasi Tidak Diikuti Dengan
Perbaikan Iklim Investasi
 Masalah daya saing Indonesia masih berkutat pada masalah mikro seperti
korupsi dan inefisiensi birokrasi pemerintah.
 Dalam level makro, Indonesia bermasalah dalam penyediaan infrastruktur
sehingga mendorong terciptanya high cost economy.
Masalah Daya Saing di Indonesia 2011-2012
Sumber: World Economic Forum, 2011
INSTITUTE FOR DEVELOPMENT OF ECONOMICS AND FINANCE (INDEF)
Proyeksi Ekonomi Indonesia 2012
Indikator Ekonomi
Proyeksi 2012
Pertumbuhan (%)
6,1 – 6,3%
Inflasi (%)
4,5 – 5,5
Harga Minyak Dunia (USD/Barrel) US$90/barrel
SPN Tiga Bulan (%)
6%
Kemiskinan (%)
11,7%
Kurs (Rp/US$)
8.900 – 9.100
Pengangguran (%)
6,3%
INSTITUTE FOR DEVELOPMENT OF ECONOMICS AND FINANCE (INDEF)
22
Inflasi: 4,5% – 5,5%
• Inflasi lebih didorong sisi cost push inflation (harga
bahan makanan/volatile food , infrastruktur (distribusi)
dan ketersediaan energi.
• Inflasi masih dalam tingkat moderat , karena
Pemerintah tidak akan berani menaikkan Harga BBM
 ongkos politiknya terlalu mahal & mengorbankan
defisit anggaran. Padahal pemicu krisis UE adalah
beban subsidi pemerintah yang terlalu besar.
INSTITUTE FOR DEVELOPMENT OF ECONOMICS AND FINANCE (INDEF)
23
Harga Minyak: US$90/barrel
• Permintaan minyak dunia menurun seiring
memburuknya krisis UE dan belum pulihnya
AS
• Berakhirnya perang di Libya sebagai salah satu
penghasil minyak dunia
INSTITUTE FOR DEVELOPMENT OF ECONOMICS AND FINANCE (INDEF)
24
SPN 3 bulan: 6%
• Suku Bunga relatif tetap, karena belum
mampu mengelola Inflasi (sekitar 5%), dan
untuk memberikan insentif terhadap capital
inflow.
INSTITUTE FOR DEVELOPMENT OF ECONOMICS AND FINANCE (INDEF)
25
Nilai Tukar Rupiah: 8.900 – 9.100
• Ekspor tidak akan tumbuh melonjak karena
tidak dapat memanfaatkan momentum
liberalisasi secara maksimal
• Cadangan devisa yang cukup besar
memungkinkan BI melakukan stabilisasi kurs
INSTITUTE FOR DEVELOPMENT OF ECONOMICS AND FINANCE (INDEF)
26
Pengangguran: 6,3%
& Kemiskinan: 11,7%
• Investasi riil tumbuh lambat, karena walaupun
Indonesia unggul dalam sumber daya alam,
ketersediaan tenaga kerja, dan permintaan
pasar dalam negeri yang cukup besar, tetapi
daya saing investasi masih rendah (cost doing
business tinggi).
• Pertumbuhan yang kurang berkualitas akan
membuat penurunan tingkat kemiskinan
berjalan lambat di tahun depan.
INSTITUTE FOR DEVELOPMENT OF ECONOMICS AND FINANCE (INDEF)
27
Pertumbuhan Ekonomi: 6,1% – 6,3%
• Merupakan “representasi kontribusi konsumsi domestik dan
sektor non-tradeable”
– Sisi penggunaan  dominasi kontribusi sektor konsumsi
– Sisi lapangan usaha  dominasi sektor non-tradeable
– Sisi kewilayahan  Terkonsentrasi Jawa
• Dengan bertumpunya perekonomian pada sektor konsumsi dan sektor non-tradeable membuat harapan untuk mencapai
pertumbuhan ekonomi yang lebih berkualitas (inklusif) susah
direalisasikan.
INSTITUTE FOR DEVELOPMENT OF ECONOMICS AND FINANCE (INDEF)
28
Download