LAPORAN PRAKTEK PROFESI II

advertisement
BAB IV
KONSEP
4.1.
Ide Awal
4.1.1. Latar Belakang Tema
Tema menyatu dengan alam diambil dengan mempertimbangkan keadaan
yang sudah ada dan yang ingin dicapai. Sangat disayangkan apabila lokasi di daerah
rural dengan potensi alam yang indah tidak dimanfaatkan dalam perencanaan yang
terintegrasi. Pemilihan material konstruksi, sampai perletakan masa memperhatikan
aspek lingkungan dan ingin tetap menghargai bentukan alami lahan.
Dengan kehadiran masjid ini, diharapkan konsep tersebut tidak hilang bahkan
diharapkan makin kuat dan terasa oleh pengguna. Tapak tempat direncanakan fungsi
masjid memiliki karakter yang khas dengan posisinya di atas bukit dan view yang
luas ke segala arah. Fungsi tempat ibadah diharapkan dapat menciptakan suasana
yang ramah, bersahabat, dan memberikan penyegaran selama pengunjung berada di
dalamnya. Menyatu dengan alam dengan memasukkan unsur-unsur alam ke dalam
arsitektur dapat menjadi sebuah eksplorasi yang menarik yang menghasilkan suasana
baru yang benar-benar berbeda dan segar.
Potensi tapak yang memiliki view maksimal terhadap Gunung Geulis di
sebelah timur serta vegetasi eksisting menciptakan komposisi yang menarik untuk
diolah. Keberadaannya di atas bukit, titik tertinggi di sebelah timur kampus dengan
sebagian lahan yang diperuntukan sebagai lahan penghijauan juga merupakan
keuntungan tersendiri sebagai tempat didirikannya fungsi masjid yang bertema
menyatu dengan alam.
4.1.2. Pengertian Tema Menyatu dengan Alam
Menyatukan alam dengan arsitektur merupakan suatu proses perancangan
yang berusaha menyatukan unsur arsitektur dengan alam, baik yang alami maupun
yang buatan, sehingga dapat menciptakan keserasian dan kesinambungan antara
keduanya.
Tema ini berusaha untuk menghubungkan manusia dan alam sebagai bagian
dari kehidupan manusia yang menghargai alam dengan cara memadukan keduanya
secara harmonis. Pemaduan ini dapat dilakukan dengan memusatkan perhatian pada
hubungan
antara
bagian-bagian
bangunan
atau
antara
bengunan
dengan
lingkungannya. Potensi alam yang ada dieksplorasi sebanyak mungkin untuk
dimanfaatkan dan dinikmati dengan tetap menjaga kesinambungannya.
Gambar 23. Optimalisasi pemandangan terhadap lingkungan di sekitar tapak Masjid Unpad
Sumber : dokumentasi pribadi
Lokasi tapak yang berada di lingkungan kampus dengan budayanya tersendiri
memerlukan penangan khusus yang berbeda apabila tema ini diterapkan pada lokasi
publik. Lokasi di dalam kampus memberikan karakter khas pada fasilitas dan
menjadikan terintegrasi dengan alam adalah salah satu tantangan bagi kasus ini.
4.1.3. Tinjauan Teori
Ruang luar adalah ruang yang tercipta dengan membatasi alam. Ia mengalami
keterpisahan dengan alam karena adanya bingkai luar yang berbeda dengan alam itu
sendiri yang membentang tanpa batas. Dia merupakan lingkungan buatan manusia
yang berguna. Integrasi alam dan arsitektur merupakan proses menyatukan alam dan
arsitektur baik yang asli maupun buatan sehingga tercipta keserasian dan keterpaduan
40
serta kesinambungan keduanya. Pemasukan unsur-unsur alam dalam arsitektur
menjadi suatu eksplorasi yang menarik dan menghasilkan fasilitas akomodasi yang
benar-benar berbeda. Secara visual diwujudkan dengan cara: 1
a. Transparansi dan kontak visual
b. Memasukkan unsur alam ke dalam bangunan dan sebaliknya
c. Kontinuitas ruang luar dan ruang dalam
d. Mengekspos keaslian material
Untuk menyatu dengan alam dapat melalui 4 cara, yaitu : 2
a. kontekstual dengan alam
b. memunculkan ekspresi material alami dengan menggunakan tekstur atau
bahan alam dalam bangunan.
c. Teori in between
Kontinuitas ruang luar dan ruang dalam ialah aspek menerus antara dua jenis
ruang hasilnya berupa fusi atau penggabungan antara kualitas yang terdapat
antara dua jenis ruang tersebut (kualitas fungsi, sekuens, pengulangan irama,
bentuk, ukuran, proporsi, skala, hierarki, keseimbangan, dan persepsi ruang)
d. Interpretasi spasial
Melakukan usaha saling susup antara alam dan buatan serta antara ruang luar
dan ruang dalam.
Berdasarkan tinjauan teori diatas, didapatkan kesimpulan bahwa penataan bangunan
menyatu dengan alam diwujudkan dalam beberapa aspek, diantaranya :
a. Didasari pada pemikiran bahwa menyatu dengan alam merupakan perwujudan
dari penataan lanskap sebagai pembentukan dari massa bangunan, maka akan
lebih baik jika penataan tidak merusak lanskap dan vegetasi eksisting.
b. Massa bangunan merupakan satu wujud dari penataan ruang terbuka, maka
berbagai kegiatan dimungkinkan untuk dilakukan pada ruang terbuka.
c. Pola sirkulasi yang didapat dari hasil analisis dapat dimanfaatkan sebagai
dasar dari pencarian bentuk dan massa bangunan.
1
2
Pfeiffer, Bruece Brooks. 1995. Frank Lloyd Wright, Collected Writings Volume 5.
Ibid.
41
d. Diwujudkan dengan bentuk bangunan berteras mengikuti kemiringan kontur.
e. Arah pandang pada lingkungan sekitar area perencaaan dapat dimanfaatkan
sebagai dasar pemikiran bagi pembentukkan massa bangunan
f. Penataan bentuk bangunan rela untuk tidak terlihat, perwujudan ini tidak
diwujudkan dengan bentuk bangunan yang tidak terlihat seluruhnya karena
tidak dikategorikan sebagai bangunan bawah tanah.
Menurut Frank Lloyd Wright, arsitektur adalah perwujudan kreatif yang
selalu berubah. Dalam arsitektur menyatu dengan alam terdapat sifat-sifat dari alam
yang dapat diterapkan dalam bangunan sehingga sesuai dengan alam dan memberikan
rasa pada manusia sebagai bagian dari alam. Sifat-sifat ini tertuang dalam prinsipprinsip berikut:
a.
Kesatuan 3
Kesatuan yang dimaksudkan disini adalah kesatuan di dalam bangunan
maupun antara bangunan dengan lingkungannya. Kesatuan di dalam bangunan dapat
dicapai bila semua elemen-elemen bangunan saling terkait dan tidak ada yang berdiri
sendiri. Hubungan antara denah dan tampak terbentuk secara harmonis. Dengan satu
solusi di satu tempat menjadi ekspresi solusi juga di tempat yang lain. Pemilihan
material juga diperhatikan secara seksama sehingga memunculkan karakteristik yang
diinginkan dari saling menyatukan antara unsur-unsurnya.
Gambar 24. Falling water karya Frank Lloyd Wright
3
Sumber : www.architectural-models.com
Ibid Hlm. 162.
42
Kesatuan antara bangunan dan lingkungan dimaksudkan dengan bangunan
tidak hanya berdiri sendiri pada lingkungan alamnya tetapi memiliki kesatuan kuat
dan menciptakan keserasian keduanya. Penerapan dari hal ini berupa bentuk
bangunan yang harmonis terhadap lingkungan sekitarnya.
Pemanfaatan potensi alam dilakukan sebagai pendukung utama dalam seluruh
aspek kegiatan dalam fungsi sehingga dapat dinikmati manusia sebagai bagian dar
arsitektur. ”from his experience and subsequently his respect for nature, his building,
where placed in the landscape, had this one aim in commen : to let the hunan being
experience and participate in te joys and wonderment of natural beauty.”
Berdasarkan potensi alam dan hubungannya dengan fungsi pada arsitektur,
Frank Lloyd Wright menginterpretasikan hubungan tersebut menjadi ciri-ciri yang
sering dipakainya yaitu :
1) Horizontalisme
Garis horisontal bangunan yang sejajar dengan permukaan tanah memberikan
kesan bahwa bangunan tersebut dekat dengan tanah atau bumi yang memberikan
kesan serasi dengan alam.”...that plane pararel to the earth in buildings identify
themselves with the ground, do must to make building belong to the ground …”
2) Kontinuitas
“we have no longer an outside as outside. We have no longer an outside and
inside as a separate things. Now the outside may come inside and the inside may and
does go outside. They are of each other …”
Kontinuitas diwujudkan dengan pengaturan ruang yang mengalir dan tidak
memiliki sekat yang tidak perlu. Ruang dalam dan ruang luar dianggap
bukan
sebagai ruangan yang berbeda. Ruang dalam bangunan bukan lagi kotak tertutup
(destruction of the box) tapi lebih ditentukan oleh space yang tercipta. Pembentukkan
ruang merupakan permainan bentuk dari susunan dinding lantai dan atap.
b.
Kekhasan 4
setiap bangunan memiliki kekhasan yang menjadikan setiap bangunan unik,
tergantung pada tempat, waktu, dan untuk siapa bangunan itu didirikan. Kesesuaian
4
Ibid Hlm. 166
43
dengan waktu, diterapkan dalam perwujudan bangunan yang sesuai dengan zamannya
baik dalam bentuk maupun penggunaan struktur. Kesesuaian dengan tempat
diterapkan dalam memperhatikan karakteristik
lingkungan dimana bangunan itu
berdiri. Kesesuaian dengan pamakai, dapat dilakukan dengan memperlajari
karakteristik maupun jenis pengguna. Hal ini akan berkaitan dengan studi
kenyamanan sutu bangunan.
Kejujuran 5
c.
Kejujuran yang dimaksudkan disini adalah kejujuran dalam semua elemen
arsitektur. Kejujuran sistem struktur dapat ditunjukkan dengan menampilkan secara
jelas sistem arsitektur yang digunakan. Kejujuran material yang memperlihatkan
keindahan asli bahan dan cara seorang perancang memanfaatkan keindahan tersebut
untuk lebih ditingkatkan. Kejujuran dalam proses perwujudan bangunan yang dapat
merefleksikan fungsi-fungsi yang ada di dalamnya. Arsitektur menyatu dengan alam
bukan hanya sekedar memasukkan alam ke dalam bangunan atau sebaliknya, namun
juga merupakan suatu proses kreatif yang pada dasarnya mengikuti aturan-aturan
alam yang sesuai dengan prinsip kesatuan, kejujuran, dan kekhasan.
4.2.
Konsep Tapak
4.2.1. Konsep Perencanaan Tapak
Berdasarkan analisa kekuatan dari tapak masjid ini ada 3, yaitu :
•
Lokasinya yang berada ditengah asrama mahasiswa
•
Bentuk tapak yang unik di atas bukit dengan pandangan maksimal ke segala arah
dari dalam maupun luar kawasan
•
Lingkungan di sebelah timur ke arah gunung sangat potensial dikembangkan
untuk view bagi pengunjung
Dalam perancangan tapaknya, ketiga hal tersebut diatas ingin ditonjolkan.
Supaya pengunjung dapat menikmati suguhan visual yang berbeda pada setiap lokasi.
Semua titik dalam tapak hanya dapat diakses lewat jalur pedestrian melalui selasar-
5
Ibid Hlm. 168
44
selasar yang menimbulkan kesan dekat degan alam, karena sifatnya yang transparan
berhubungan langsung sengan ruang-ruang luar yang berfungsi sebagai elemen estetis.
Mahasiswa atau masyarakat kampus di sekitar kawasan akan melihat menara
masjid sebagai penanda. Saat melewati jalan kampus, sosok masjid yang monumental
akan memberikan kesan pertama bagi pengunjung yang melintasinya. Ketika menaiki
tangga pada akses masuk utama, terlihat menara yang menjulang tinggi menjadi
penangkap pertama. Kemudian atap masjid yang menarik menjadi kesan visual kedua
yang akan ditangkap saat menaiki tangga masuk utama ini. Pengunjung disambut
dengan sebuah gerbang dan plaza penerima. Mulai dari tangga masuk utama hingga
plaza penerima ini, pengunjung dapat merasakan prosesi awal menuju masjid.
Gambar 25. Konsep enterance bangunan dari arah utara dan selatan. Sumber : dokumentasi pribadi
Tujuan utama pengunjung ke tempat ini adalah untuk melaksanakan ibadah di
masjid. Dengan diarahkan pola perkerasan yang berbeda, pengunjung diarahkan
melalui sebuah prosesi menuju ke masjid dengan menaiki tangga ke plaza perluasan
shalat. Saat berada di atas plaza perluasan shalat, pengunjung dapat melihat dengan
jelas seluruh kawasan yang mengitarinya. Kesatuan antara ruang luar dan ruang
dalam mulai terasa dar atas plaza ini. Dengan elemen lunak (vegetasi) penyearah
ditambah deretan elemen lanskap berupa bak untuk bunga yang ditinggikan,
pengunjung merasakan dengan kuat orientasi kearah kiblat.
45
Pengunjung berjalan diatas plaza menuju masjid, saat menuruni tangga
disambut air terjun buatan yang berada di dalam bangunan masjid. Dengan
memasukan elemen ruang luar ke dalam bangunan iharapkan tercipta kesatuan antara
ruang dalam dan ruang luar.
Saat berada di dalam masjid, mihrab dan mimbar menjadi penarik tersendiri.
Dengan permainan cahaya alami, mihrab tampak begitu menarik. Batu kali menjadi
pengisi pada dinding mihrab, setiap cahaya yang mengenai dinding batu kali ini
memperkuat kesan menyatu dengan alam. Salah satu cara yang digunakan untuk
menyatu dengan alam adalah dengan menggunakan material batu alam dan kayu.
Material kayu menutupi lantai masjid mempertegas pola shaf. Dari dalam masjid
terasa aliran angin yang bertiup dengan lembut. Saat keluar menuju serambi di
sebelah selatan pengunjung disuguhkan kolam air buatan yang bertujuan untuk
membuka pandangan menuju keluar sehingga didapatkan pemandangan kampus
Unpad yang maksimal. Sebaliknya dengan dibukanya lahan, masjid menjadi
monumental bila dilihat dari arah gerbang masuk Unpad.
Pengunjung keluar menuju plaza perluasan shalat yang ada di sebelah utara.
Plaza yang terbuka bisa digunakan untuk berbagai aktivitas di ruang luar. Dua pohon
eksisting dipertahankan berada diatas tapak dengan membuat pot. Kedua pohon
tersebut memberikan keteduhan di plaza ini, sehingga terasa menyatu dengan alam
ketika sholat di bawahnya.
Gambar 26. Plaza, kolam, ruang shalat utama.
Sumber : dokumentasi pribadi.
Gambar 27. Tangga yang menghubungkan ruang
luar dan ruang dalam dengan kolam.
Sumber : dokumentasi pribadi.
46
Saat menaiki selasar, pengunjung disuguhkan aliran air disetiap tepiannya,
dengan posisi kolam air yang lebih tinggi daripada selasar. Dari setiap sudut selasar
akan terlihat pemandangan Gunung Geulis di sebelah timur. Dua buah bangunan
yaitu kantin dan bangunan multifungsi membentuk bingkai bagi gunung tersebut.
4.2.1.1.Orientasi
Didasari oleh pemaksimalan view alam untuk pengunjung, semua bangunan
terutama masjid memiliki pandangan ke arah belakang (timur). Kawasan di tengah
sengaja dibuka untuk memberikan celah bagi masjid untuk menangkap pemandangan
gunung. Sehingga massa ditata mengikuti aksis yang tarik dari arah gunung menuju
kiblat dengan masjid sebagai pengakhiran. Dengan demikian setiap bangunan
memiliki pandangan ke arah gunung.
Perletakan bangunan dengan pertimbangan teknis, sangat bergantung pada 3
hal, dan haruslah merupakan optimasi dari ketiganya.
•
Orientasi kuat kearah kiblat
Masjid memiliki orientasi yang kuat
kearah
kiblat,
membingungkan
tidak
boleh
pengunjungnya
mengenali arah kiblat, walaupun mereka
tidak dapat shalat di dalam masjid.
Menata bangunan utama masjid serta
elemen lain yang ada di dalam tapak
seluruhnya berorientasi kearah kiblat.
•
Matahari dan angin
Faktor matahari dan angin ini sangat erat
hubungannya dengan tata letak (orientasi) daripada bangunan yang kita
rencanakan. Posisi tapak yang dikelilingi gunung memungkinkan angin
gunung bertiup sepanjang waktu. Berdasarkan analisa, angin bertiup dari arah
timur laut sehingga meminimalisir bukaan dari arah ini.
47
•
Topografi
Rekayasa kontur diadakan pada bangunan masjid, dengan sistem potong
namun hasil potongannya digunakan untuk mengendalikan kontur pada bagian plaza
perluasan shalat baik di sebelah timur maupun utara. bangunan dibuat berteras
sebagai respons terhadap bentuk kontur sehingga tampak kontekstual dengan alam.
4.2.1.2.Sirkulasi
Semua kendaraan bermotor dikumpulkan di bagian tepi l uar tapak. Sirkulasi
pedestrian berlaku pada semua area dalam site, secara vertikal dengan tangga dan
ramp serta horisontal lewat selasar yang digunakan untuk menikmati view dan ruang
luar. Area bersih diberikan antara area wudlu dan masjid sehingga orang yang telah
memiliki wudlu bisa langsung menuju masjid.
Gambar 29. Konsep tapak masjid kampus.
Sumber : dokumentasi pribadi
4.2.1.3.Permintakatan
Plaza menjadi peralihan anatra zona sakral dan profan. Zona sakral (Masjid
dan area wudlu) dipusatkan lebih dekat ke arah kiblat sedangkan zona profan
cenderung pada arah sebaliknya. Zona servis lebih didekatkan dengan parkir
kendaraan terutama untuk gedung serba guna.
4.2.1.4.Pemanfaatan Vegetasi
48
Vegetasi berfungsi sebagai penanda lokasi, misalnya pada pintu masuk
diberikan tanaman penyearah dengan tajuk yang ramping untuk mengarahkan
pengunjung masuk ke dalam kawasan. Begitupun di plaza perluasan shalat, vegetasi
penyearah berupa pohon palem dimaksudkan untuk mempertegas orientasi ke arah
kiblat. Sebaliknya di daerah profan dilakukan penyelesaian yang berbeda, vegetasi
peneduh cenderung lebih dominan mengisi ruang luar.
4.2.1.5.Perancangan Ruang Luar
Ruang luar sebagai sarana edukasi mahasiswa. Papan informasi edukatif
mendeskripsikan pengetahuan tentang titik koordinat arah kiblat masjid dilengkapi
posisi koordinat lintang & bujur masjid Unpad dan masjidil haram diatas permukaan
bumi. Papan edukatif sirkulasi air wudhu terletak di ruang wudhu. Berisi diagram
sistem pemanfaatan air di Masjid Unpad dari sumber - penampungan - pemakaian daur ulang air wudhu.
Gambar 30. Ruang luar berupa amphiteatre dan plaza untuk berkegiatan mahasiswa.
Sumber : dokumentasi pribadi
Ruang
bersama
tempat
mahasiswa
beraktivitas,
kegiatan
mentoring,
mengerjakan tugas, olahraga, seminar. Masjid menjadi saran edukasi pula bagi
mahasiswa untuk mengenal Islam lebih dalam. Unit kajian keislaman, seperti bahasa
arab, jurnalistik, teknologi terapan, lembaga training mahasiswa muslim, ruang rapat
bagi DKM dan LDF. Siaran radio relay dengan RRI bandung setiap Ramadhan.
49
4.3.
Konsep Bangunan
4.3.1. Konsep Massa Bangunan
Konteks fisik masjid sebagai entitas lingkungan binaan yang ramah
lingkungan dan tanggap terhadap iklim tropis (kaya akan matahari, hujan,
kelembaban, sepanjang tahun). Masjid sebagai penanda lokasi (city landmark) atau
oriantasi arah, sebagai sebuah karya seni. Sebagai obyek aplikasi teknologi struktur
dan material yang kuat, tahan gempa, dan low maintenance.
Eksplorasi ide diawali dengan pencarian bentuk dari masjid, karena masjid
kampus menjadi monumental di kawasannya. Bentuk atap yang menjulang ke langit
merupakan perwujudan pengagungan kepada sang Khaliq, Allah SWT. Dengan
pendekatan kontemporer bentuk kubah justru dihindari. Berdasarkan kajian
pengambilan bentuk kubah diprediksi karena tuntutan fungsional yakni adanya
keinginan untuk membentuk struktur bentang lebar pada ruang masjid. Namun karena
bentuk ini ternyata banyak dipakai pada bangunan masjid kemudian dipersepsi
sebagai ciri dan simbol masjid oleh masyarakat, termasuk di Indonesia.
Massa bangunan pada tapak masjid dibuat dengan ekspresi yang sederhana
tidak berlebihan. Selain untuk memunculkan kualitas ruang luar dengan elemen detail
serta pola perkerasn yang menarik. Diharapkan komposisi massa menjadi sesuatu
yang lebih sekunder dibanding alam yang sangat indah di sekelilingnya. Perbedaan
zona juga terjadi dengan perbedaan level ketinggian.
4.3.2. Konsep Elemen Bangunan
4.3.2.1.Atap
Secara
umum
bangunan
pada
kawasan ini tidak beratap jelas hanya
terdapat atap masjid yang menjadi dominan
untuk menunjukkan hierarki tertinggi. Pada
Masjid. Bentuk atap menjulang ke langit
50
sebagai perwujudan dari keagungan pada sang pencipta. Ini merupakan salah satu
pendekatan yang dilakukan perancang dalam mengolah atap, sehingga tidak terjebak
oleh idiom masjid yang selalu beratap kubah. Hal ini dimungkinkan secara
kontekstual, karena masjid ini dibangun di dalam lingkungan kampus yang dekat
dengan pembaharuan dan modernitas.
4.3.2.2.Dinding dan Bukaan
Dinding dan bukaan pada bangunan dimaksimalkan untuk menikmati view
sekitar. Pintu lipat dipilih sebagai bukaan utama pada masjid. Pada penggunaan
sehari-hari pintu lipat dibuka maksimal, sehingga yang terlihat dari tampak adalah
permainan kolom dan void. Tujuannya untuk menyatukan antara ruang luar dan ruang
dalam. Bukaan diatas masjid memungkinkan sirkulasi udara bisa mengalir baik.
Gambar 32. Perpaduan kerawang dan bambu. Sumber: dok. pribadi
Bukaan dengan kisi-kisi dari alumunium disimpan dibagian atap masjid
sebelah timur dan barat. Sedangkan pada dinding masjid sebelah dalam pada bagian
utara dan selatan, permainan kayu dan bambu begitu dominan. Dinding sebelah atas
terbuat dari multi board dengan finishing kayu lapis, disela antara kedua papan
tersebut terdapat bukaan yang membentuk pola geometris Bentuknya seperti
kerawang. Kerawang dibuat dari material HPL Bambu (high pressure laminate),
dengan panel kayu di kanan dan kirinya. Dengan bentuk yang demikian
memungkinkan udara mengalir sepanjang waktu, sehingga tidak memerlukan
51
pengkondisian udara buatan. Jendela pada bagian atasnya memaksimalkan cahaya
matahari untuk masuk pada siang hari.
4.3.2.3.Mezzanine
Pemisahan jamaah pria dan wanita ketika shalat dilakukan secara vertikal.
Wanita memiliki akses tersendiri yang langsung menuju mezzanine dari ruang wudlu
sehingga crossing antara jamaah pria dan wanita bisa diantisipasi. Saat digunakan
shalat jum’at, mezzanine pun digunakan bagi jamaah pria, sehingga diperlukan akses
langsung dari wudlu pria ke lantai mezzanine melalui sisi utara. Pada penggunaan
selain hari jum’at pintu ini bisa ditutup.
4.3.2.4.Material
Untuk memperkuat tema menyatu dengan alam, material yang dipakai pada
sebagian besar façade adalah bambu. Bambu disusun dengan pola kerapatan yang
acak sehingga didapat cahaya yang berselang. Pada ujung bambu dilakukan
penyambungan dengan bambu lain. Pada penyambunggan bambu ini terbentuk
kaligrafi dengan gaya kuffik.
Gambar 33. Material bambu, batu alam, dan beton dipadukan dengan elemen air tanah dan cahaya. Sumber : dok. pribadi
Bambu adalah material yang banyak melimpah di Indonesia, perawatannya
mudah dan pengerjaannya pun mudah. Bambu yang belum diawetkan hanya mampu
bertahan 2 tahun, sedangkan bambuyang telah melalui proses pengawetan seperti
52
dengan diberi borax, direndam, dan sebagainya. Dengan proses pengawetan tersebut
bambu mampu bertahan sampai 50 tahun, dengan syarat tidak terkena matahari
langsung dan air hujan.
Adalah sebuah konsekuensi yang diambail apabila menjadikan bambu sebagai
double skin bagi façade masjid. Bambu diletakkan di lapisan terluar sehingga terkena
panas dan air hujan langsung. Daya tahan bambu menjadi turun sampai 5 tahun sekali.
Meskipun demikian bambu tetap dipilih sebagai material pengisi bangunan. Oleh
karena itu detail pemasangan bambu mendukung terhadap low maintenance dengan
pemasangan yang mudah dan dapat dilakukan berkala.
4.3.2.5.Interior
Untuk memberi kesan menyatu dengan alam, interior dirancang sangat lepas
dengan eksterior bahkan meminimalisir pemisahan antara keduanya. Misalnya pada
ruang sholat utama yang menerus ke plaza perluasan shalat. Lantai dasar ruang
serbaguna yang dibuat panggung sehingga bisa lebih terasa menyatu dengan alam
disekitarnya. Memasukkan elemen ruang uar ke ruang shalat utma, seperti kolam dan
mihrab yang menggunakan material batu kali. Permainan cahaya digunakan pada
bagian mihrab untuk memperkuat kesan mihrab.
Gambar 34. Permainan cahaya pada dinding mihrab, berupaya menghadirkan alam ke ruang dalam . Sumber : dok. pribadi
4.4.
Konsep Struktur
Masjid Unpad menggunakan beton sebagai struktur utamanya untuk
mewujudkan atap pada bentang terpanjang 22.4 meter. Dengan menggunakan prinsip
53
cangkang tipis (shell) beban atap manjadi lebih
ringan. Bentuk cangkang yang hiperbola memiliki
konsekuensi, yaitu beban terbesar berada pada
titik
terendah.
pembagian
Oleh
pembebanan
karenanya
dilakukan
dengan
menambah
tumpuan pada posisi tersebut sehingga didapatkan bentang sepanjang 16,6 m. Dengan
menerapkan prinsip portal beton, atap ditumpu oleh empat buah balok yang terdiri
dari struktur komposit beton bertulang. Baja roll digunakan untuk membentuk
tulangan baja pada portal tersebut.
4.5.
Konsep Utilitas
4.5.1. Sistem Penyediaan Air Bersih
Gambar 36. Tempat cadangan air
Sumber. Presentasi kuliah MEP untuk Arsitektur
4.5.2. Daur Ulang Air Wudlu
Konsep sustainable environment diterapkan dalam desain Masjid Universitas
Padjadjaran sebagaimana tema ”Menyatu Bersama Alam”. Air hujan dan air bekas
wudhu ditampung kemudian didaur ulang sebagai cadangan sumber air wudhu, toilet,
dan menyiram tanaman. Air hujan ditampung dalam bak penampungan khusus,
setelah melalui proses penyaringan air hujan masuk ke ruang wudlu. Air hujan
merupakan air suci mensucikan yang bisa langsung digunakan berwudlu. Sisa air
bekas wudlu disalurkan untuk filtrasi, lalu disimpan dalam bak penampung air
54
bekas
wudlu sebagai cadangan air wudlu dan sebagian air diresapkan sebagai
cadangan air tanah.
Gambar 37. Skema daur ulang air wudhu
Sumber : dokumentasi PT. Tsana Mulia
Teknologi daur ulang air wudlu memiliki tingkat kesulitan yang unik dan khas,
karena dihubungkan pula dengan syarat fiqh Islam. Menurut Fiqh Islam, air yang
digunakan berwudlu tidak berubah warna dan berubah rasa. Perubahan warna dapat
diidentifikasi dengan alat ukur visual yang terdapat di laboratorium. Tapi perubahan
rasa sampai saat ini belum ada alat ukurnya. Untuk menghilangkan bau air bekas
wudlu, digunakan karbon aktif. Sedangkan untuk mengurangi jumlah bakteri
digunakan disinfektan, umumnya kaporit. Dengan demikian apabila bau hilang dan
jumlah bakteri sedikit, air tersebut layak digunakan kembali.
Air Bekas Wudlu
INFLUEN
Filtrasi
Disinfeksi
EFLUEN
Pembuangan
Pemakaian
Filter Pasir Aktif
(wudlu,
menyiram
tanaman)
Filter Karbon Aktif
Klorinasi
Air daur ulang
(ke bak penampungan air wudlu)
55
Gambar 38. Bagan proses daur ulang air wudhu
Sumber : LPU YPM Salman ITB
Gambar 39. Bagan proses penyaringan
Sumber : LPU YPM Salman ITB
56
Download