BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Keamanan

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Keamanan manusia berkembang menjadi isu penting dalam hubungan
internasional terutama sejak awal tahun 90-an, seiring dengan berakhirnya Perang
Dingin. Konsep keamanan tradisional yang berpusat pada keamanan negara,
kemudian bergeser pada keamanan individu. Dalam Human Development Report
United Nation Development Programme (UNDP) tahun 1994, keamanan manusia
ini digambarkan sebagai ―freedom from fear‖ dan “freedom from want”.
Keamanan manusia mencakup tujuh aspek keamanan individu yaitu economic
security, food security, health security, environmental security, personal security,
community security dan political security. Negara-negara yang menyatakan
memakai
konsep keamanan manusia ini sebagai panduan kebijakan luar
negerinya di antaranya adalah Jepang dan Kanada. 121
Pada tahun 90-an Kanada aktif mempromosikan keamanan manusia,
Kanada memprakarsai Ottawa Convention yang isinya berupa kesepakatan untuk
melarang penggunaan anti-personal landmines. Kanada bergabung bersama 12
negara lain yaitu Austria, Chili, Kosta Rika, Yunani, Irlandia, Yordania, Mali,
Belanda, Norwegia, Switzerland, Slovenia dan Thailand membentuk Human
Security
Network
(HSN).
Kanada
bersama
negara-negara
HSN
ini
menyelenggarakan sejumlah pertemuan tingkat menteri yang membahas isu-isu
seperti hak asasi manusia, pencegahan konflik, HIV/AIDS dan health security.
Pada 2001, Canadian International Commission on Intervention and State
Sovereignty (ICISS) mempelopori pembahasan mengenai konsep responsibility to
protect (R2P) dalam mempromosikan perdamaian dan keamanan manusia.122
121
Shahrbanou Tadjbaksh dan Anuradha M. Chenoy,. Human Security Concepts and Implications,
New York , Routledge, 2007.
122
Ibid, hal. 23
1
Pada 2001 serangan kelompok terorisme di Amerika membawa warna
baru dalam politik internasional. Peristiwa serangan kelompok Al-Qaeda terhadap
gedung World Trade Center pada 11 September menjadi pemicu munculnya
gagasan “war on terrorism” yang digagas oleh Amerika Serikat. Peristiwa
tersebut telah menimbulkan banyak kerugian dan korban jiwa bagi Amerika. Bagi
Kanada sendiri, setidaknya 24 warga negaranya juga menjadi korban dalam
kejadian tersebut.123 Amerika di bawah kepemimpinan George W. Bush Jr, lalu
mengajak negara lain, terutama anggota North Atlantic Treaty Organisation
(NATO), untuk turut serta melancarkan perang terhadap terorisme. Seruan
Amerika ini sangat gencar dilakukan. Sejumlah negara kemudian dicurigai
menjadi tempat persembunyian kelompok-kelompok teroris.
Menurut Amerika salah satu negara yang menjadi sarang teroris adalah
Afghanistan. Afghanistan di bawah kepemimpinan Taliban, yang dicurigai telah
melindungi kelompok Al-Qaeda dan sikap pemerintahan Taliban yang dianggap
tidak mau bekerja sama oleh Amerika, menyebabkan Afghanistan kemudian
menjadi target operasi “war on terrorism” Amerika. Keputusan untuk menginvasi
Afghanistan ini dikeluarkan oleh pemerintah Bush pada Oktober 2001, selang
sebulan dari peristiwa 11 September. Invasi Amerika ke Afghanistan yang
dinamai Operation Enduring Freedom, secara resmi dijalankan di Afghanistan
pada 7 Oktober 2001 dan masih berlangsung sampai saat ini.
Invasi Amerika ini juga didukung oleh negara-negara NATO termasuk
Kanada. Kanada berjanji untuk mendukung Amerika dalam invasinya. Respon
awal Kanada adalah dengan mengizinkan pasukan angkatan bersenjatanya yang
sedang dalam misi pertukaran dengan militer Amerika untuk ikut membantu
dalam Operation Enduring Freedom (OEF) Amerika ini. Lalu diikuti dengan
penempatan kapal perang dan personil angkatan laut Kanada untuk menjaga
wilayah perairan Asia barat daya. Akhirnya pemerintah Kanada mengirimkan
123
“List of Canadian Victims of 9-11” diakses dari http://www.ctvnews.ca/list-of-canadianvictims-of-9-11-1.693626 pada 11 Januari 2012
2
pasukannya ke wilayah Afghanistan. Ada banyak misi militer Kanada di
Afghanistan dari 2002 - 2011.124Afghanistan kemudian menjadi penerima bantuan
dan pasukan militer terbesar dari Kanada. 125 Mulai 2002 - 2011 Pemerintah
Kanada mengucurkan bantuan sebesar $ 1,2 milyar. Padahal sebelumnya
frekuensi hubungan Kanada dan Afghanistan bisa dikatakan sangat rendah.
Penulis tertarik untuk membahas keterlibatan Kanada di Afghanistan
mulai 2002 sampai 2011, di mana banyak sekali kebijakan yang dikeluarkan oleh
Pemerintah Kanada dalam operasinya di Afghanistan. Bahkan Afghanistan
kemudian menjadi penerima bantuan terbesar Kanada meskipun Afghanistan
secara langsung tidak memiliki aspek kepentingan nasional yang vital terhadap
Kanada. Penulis ingin membahas mengapa pemerintah Kanada menggunakan
keamanan manusia dalam keterlibatannya di Afghanistan pasca invasi dan
bagaimana Pemerintah Kanada menjalankan konsep keamanan manusia-nya ini di
Afghanistan. Sehingga penulis merumuskan pertanyaan sebagai berikut :
2. Rumusan Masalah
1. Mengapa Kanada menggunakan keamanan manusia dalam keterlibatannya
di Afghanistan ?
2. Bagaimana Kanada menerapkan keamanan manusia dalam keterlibatannya
di Afghanistan (tahun 2002-2011) ?
3. Jangkauan Penelitian
Penelitian ini akan difokuskan pada periode pasca invasi yaitu pada 2002
sampai 2011, saat di mana Kanada memutuskan untuk menarik pasukannya dari
Afghanistan.
124
“Canada in Afghanistan (2001-2010 ") diakses dari
http://www.thememoryproject2.com/docs/DbHistoricaDominion/documents/Afghan_LearningToo
ls_ENG_v1.pdf pada 14 November 2011
125
Julian Wright, “Canada in Afghanistan, assessing 3-D Approach‖ diakses dari
http://www.irpp.org/miscpubs/archive/wright_cigi.pdf, pada 13 Jan 2012.
3
4. Tinjauan Pustaka
Untuk tinjauan pustaka penulis akan membahas beberapa tulisan yang
membahas mengenai konsep-konsep keamanan manusia dalam praktek kebijakan
luar negeri. Ada beberapa pendapat mengenai bagaimana konsep keamanan
manusia ini dijadikan panduan dalam kebijakan atau tindakan suatu negara.
Menurut beberapa akademisi luasnya cakupan konsep keamanan manusia
memberikan kemudahan dan fleksibilitas bagi para pembuat kebijakan untuk
memberikan pendekatan mereka masing-masing terhadap suatu isu. Ada juga
pendapat yang pesimis dalam melihat penerapan konsep keamanan manusia ke
dalam kebijakan luar negeri suatu negara, karena konsepnya yang masih tidak
jelas dan terbatas pada moral dan etika pergaulan internasional, terutama jika
dihadapkan dengan kepentingan nasional negara tersebut.
Sascha Wertes dan Tobias Debiel126 menulis bahwa konsep keamanan
manusia memang memiliki sifat yang beraneka bentuknya. Sehingga untuk
menganalisa konsepsi keamanan manusia dalam kebijakan luar negeri suatu
negara harus dianalisa dari perspektif aktor-aktor yang berbeda, yang
pendekatannya terhadap motif utama (leitmotif) bisa jadi merupakan gambaran
dari latar belakang yang spesifik dan pilihan kebijakan dari aktor tersebut. Dengan
memahami mengapa keamanan manusia ini menarik bagi aktor yang berbeda dan
mengapa mereka menekankan varian atau prioritas yang berbeda, bisa
memudahkan akademisi untuk menunjukkan di mana kesempatan paling besar
untuk menjalankan kebijakan-kebijakan gabungan.
Pada kasus Jepang, didapatkan penjelasan bahwa konsep keamanan
manusia
dalam
kebijakan
Official
Developmental
Aid
(ODA)
Jepang
merefleksikan nilai masyarakat Jepang yang didedikasikan untuk perdamaian dan
sikap anti-militer. Keamanan manusia dalam kasus Jepang juga dilihat sebagai
upaya para pembuat kebijakan Jepang untuk meningkatkan peran Jepang dalam
perdamaian dan keamanan internasional. Wertes dan Debiel menyimpulkan
126
Tobias Debiel dan Sascha Werthes (ed), Human Security on Foreign Policy Agendas, Changes,
Concepts and Cases., INEF Report, Essen, University of Duisberg, 2006. hal.16
4
bahwa dalam hubungannya dengan strategi dan instrument kebijakan, fleksibilitas
konsep keamanan manusia ini membuat beragam aktor dapat memberikan
pendekatan dengan cara mereka sendiri, dan di lain pihak juga menawarkan
peluang untuk menjalankan kebijakan-kebijakan gabungan.
Otto von Feigenblatt127 menganalisa paradigma keamanan manusia yang
dipakai Jepang dalam kebijakan luar negerinya terutama bantuan luar negeri
Jepang dengan menggunakan pendekatan Konstruktivis untuk menunjukkan
bagaimana penggunaan bahasa keamanan manusia dalam bantuan luar negeri
Jepang memiliki dampak yang sangat penting tidak hanya pada keseluruhan
implementasi kebijakan makro ekonomi tapi juga pada formulasi, perencanaan
dan implementasi masing-masing proyek yang didanai oleh Official Development
Assistance (ODA) Jepang. Feigenblatt menggambarkan bahwa pembuatan
kebijakan adalah proses yang kompleks dan melibatkan banyak aktor pembuat
kebijakan dan faktor yang menyertainya, dan kebijakan ODA Jepang adalah hasil
dari negosiasi yang kompleks dan interaksi antar pembuat kebijakan baik di dalam
maupun di luar Jepang dalam menanggapi lingkungan nasional dan internasional.
Di sini Jepang bisa menempatkan konsep keamanan manusia sejalan dengan
kepentingan nasional Jepang. Dengan latar belakang dan sejarah Jepang sebagai
negara imperialis, upaya Jepang mempromosikan keamanan manusia adalah salah
satu cara bagi Jepang agar mendapatkan pengakuan atas kontribusinya dalam
perdamaian dan keamanan internasional.
Menurut Rodger A. Payne dalam tulisannya ―Human Security and
American Foreign Policy‖
128
, yang menganalisa konsep keamanan manusia
dalam kebijakan luar negeri Amerika, menemukan bahwa meski Amerika tidak
127
Otto von Feigenblatt, “Japan and Human Security : 21st Century Official Development Policy
Apologetic and Discursive Co-Optation ―, Paper dipresentasikan di MAIDS Chulalongkorn
University, 9 Agustus 2007, diakses dari
http://humansecurityconf.polsci.chula.ac.th/Documents/Presentations/Otto.pdf pada 10 November
2011
128
Rodger A. Payne, ―Human Security and American Foreign Policy”, paper dipresentasikan di
University of Missouri, Columbia, MO, March 2004 diakses dari
http://louisville.academia.edu/RodgerPayne/Papers/553518/_Human_Security_and_American_For
eign_Policy_ pada 4 Oktober 2011
5
secara gamblang menyatakan memakai konsep keamanan manusia sebagai
panduan kebijakan luar negerinya, serta beberapa kali memiliki pandangan
berbeda terhadap kesepakatan-kesepakatan internasional yang berkaitan dengan
isu-isu keamanan manusia seperti misalnya Mine Ban Treaty dan Protokol Kyoto,
namun bukan berarti Amerika sama sekali tidak memperhatikan isu-isu keamanan
manusia dalam kebijakannya.
Jadi negara yang memakai konsep keamanan manusia ini bisa fokus pada
satu atau banyak dari jenis ancaman terhadap individu dan bisa memakai cara
yang berbeda untuk mendapatkan security tersebut. Terkadang suatu negara
membuat kebijakan yang mempromosikan tatanan dunia yang alasannya secara
umum sama dengan tujuan keamanan manusia, ada juga negara yang tidak
menyebut konsep keamanan manusia secara langsung tapi dengan memakai istilah
lain. Meskipun suatu negara tidak secara eksplisit menggunakan konsep
keamanan manusia sebagai panduan dalam pembuatan kebijakannya, namun tiaptiap kebijakan domestik ataupun luar negeri yang ditujukan demi kebaikan dan
kepentingan manusia dapat dianggap turut mempromosikan keamanan manusia.
Sementara itu T.S Hataley dan Kim Richard Nossal dalam tulisan mereka
yang berjudul The Limits of the Human Security Agenda : The Case of Canada‘s
Response to the Timor Crisis129, mencoba melihat tindakan-tindakan yang diambil
oleh Pemerintah Kanada di bawah Perdana Menteri Chretien dan Menteri Luar
Negeri Lloyd Axworthy dalam merespon krisis di Timor Timur pada 1999,
dengan melihat konsep keamanan manusia dalam kebijakan-kebijakan yang
dikeluarkan oleh Pemerintah Kanada. Meskipun banyak sekali aspek-aspek dari
keamanan manusia yang seharusnya ditanggapi oleh Kanada dengan sigap, guna
menjaga keberlangsungan keamanan warga Timor. Keengganan dan kelambanan
Pemerintah Kanada dalam merespon krisis Timor ini menurut Hataley dan Nossal
dikarenakan motif politik utama atau kepentingan Kanada dalam kasus Timor
Timur ini sangat sedikit. Di sini terlihat bahwa realpolitik-lah yang memainkan
129
T.S Hataley dan Kim Richard Nossal ,”The Limits of The Human Security Agenda : The Case
of Canada‟s Response to the Timor Crisis” , Global Change, Peace and Security, Vol 16, no. 1,
February 2004, Carfax Publishing.
6
peran besar dalam kebijakan Kanada, aspek keamanan manusia yang walaupun
sempat menjadi agenda besar Kanada, terlihat kecil sekali perannya dalam
kebijakan Kanada terhadap krisis Timor.
Sampai akhirnya Kanada memutuskan untuk mengirimkan pasukan
penjaga perdamaiannya ke Timor Timur, alasannya bukanlah karena sepenuhnya
faktor keamanan manusia yang diusung Pemerintah Kanada masa itu, namun
lebih karena tekanan dari masyarakat Kanada yang menginginkan keterlibatan
Kanada untuk turut serta membantu penyelesaian krisis ini, guna mengangkat
citra Kanada di mata dunia. Kedua penulis ini menutup tulisan mereka dengan
kesimpulan bahwa sangat sulit bagi sebuah pemerintahan untuk mewujudkan
retorika keamanan manusia ke dalam agenda nyata ataupun ke dalam inisiatif
kebijakan konkrit, dan ketika suatu pemerintahan harus memilih antara keamanan
orang lain dan keamanan warganya sendiri, maka negara akan lebih cenderung
untuk mengamankan dirinya terlebih dahulu. Hataley dan Nossal melihat bahwa
konsep keamanan manusia sangat sulit diterapkan pada realitas politik yang
konkrit, meskipun negara itu sendiri telah mengusung konsep keamanan manusia
dalam panduan kebijakan politik luar negerinya, seperti Kanada. Tetap saja ada
faktor-faktor yang lebih besar yang kemudian mempengaruhi suatu negara untuk
mengambil kebijakan, meskipun keamanan manusia itu sendiri tidak betul-betul
diabaikan, hanya saja kemudian menjadi alasan nomor sekian dari alasan-alasan
utama lainnya.
Sementara itu Asteris Huliaras dan Nikolaos Tzifakis dalam tulisan
mereka yang berjudul ―Contextual Approaches to Human Security‖
130
memakai
kasus Balkan untuk melihat sejauh apa Pemerintah Kanada dan Jepang yang
merupakan promotor wacana keamanan manusia mewujudkan ide dan konsep
keamanan manusia dalam kebijakan luar negeri mereka dan melihat bagaimana
pendekatan yang digunakan kedua negara tersebut terhadap wilayah Balkan.
Huliaras dan Tzifakis memilih Balkan karena pasca Perang Dingin daerah ini
130
Asteris Huliaras dan Nikolaos Tzifakis, “Contextual Approaches to Human Security”,
International Journal, 2007, Vol.62.No.3 page 557-575
7
menghadapi banyak masalah keamanan manusia, dan sementara itu baik
Pemerintah Kanada ataupun Jepang tidak mempunyai kepentingan nasional yang
vital terhadap daerah tersebut.
Pendekatan freedom from fear Kanada dan freedom from want Jepang
yang mereka kembangkan merupakan usaha dari masing-masing negara ini untuk
mengadaptasi konsep keamanan manusia ke dalam konteks instrumen kebijakan
mereka yang lebih spesifik dan juga didasarkan pada motivasi masing-masing
pemerintah, bukan karena kebutuhan dari masalah keamanan manusia itu sendiri.
Pendekatan keamanan manusia Jepang dan Kanada dikonstruksikan dalam sebuah
kerangka yang merefleksikan pertemuan baik itu dari faktor sistem internasional
dan faktor domestik. Pendekatan mereka ini mewakili keistimewaan konteksusaha spesifik untuk menyesuaikan konsep dengan persepsi yang sudah ada.
Dalam
kenyataannya,
perspektif
Jepang
dan
Kanada
berusaha
untuk
mengharmonisasikan konsep keamanan manusia dengan prioritas dan kepentingan
nasional mereka yang lainnya.
Menurut Huliaras dan Tzifakis, ternyata kebijakan Kanada dan Jepang
terhadap kawasan Balkan tidak banyak banyak dipengaruhi oleh prioritas-prioritas
keamanan manusia. Kedua penulis ini menyimpulkan bahwa kebijakan Kanada di
Balkan jelas didasarkan pada prinsip peacekeeping, meski alasan pendorong
keterlibatannya memang sangat politis. Sebagian secara ideologis karena visi
Menteri Luar Negeri Lloyd Axworthy mengenai keamanan manusia dan sebagian
lagi karena komitmen Kanada pada aliansi Atlantik (NATO). Bantuan
pembangunan dari Pemerintah Kanada lebih terbatas.
Namun bantuan
pembangunan ini juga didasari motivasi politik. Alasan komersial nampaknya
bukan menjadi alasan bantuan Kanada karena kepentingan ekonomi Kanada di
wilayah Balkan sangat minimal.
Sementara untuk Jepang sendiri, secara keseluruhan motivasi ekonomi dan
politiklah yang mempengaruhi bantuan Jepang di Balkan. Pertimbangan ekonomi
yang mempengaruhi bantuan Jepang di Balkan timur, sementara motivasi politik
8
(dikaitkan pada usaha Jepang untuk duduk sebagai anggota tidak tetap Dewan
Keamanan PBB dan pada persepsi pemerintah Jepang mengenai keamanan
manusia) menjadi lebih penting dalam bantuan Jepang di Balkan Barat. Meskipun
begitu bantuan Jepang untuk Balkan masih terbatas. Wacana keamanan manusia
yang diperkenalkan dalam politik luar negeri Jepang nampaknya tidak membawa
pengaruh besar terhadap kebijakan Jepang di wilayah Balkan. Meski praktek
keamanan manusia Jepang di Balkan masih sangat terbatas, tapi dari sudut
pandang lain, pembedaan program bantuan, instrumen yang digunakan serta
komitmen Jepang di Balkan, menunjukkan pemahaman yang jelas hubungan
penting bahwa agenda keamanan manusia membantu cara penanganan terhadap
masalah-masalah yang ada di Balkan.
Studi kasus Balkan ini memberikan bukti bahwa Jepang dan Kanada
memberikan bantuan yang signifikan terhadap stabilisasi Balkan. Tetapi jika
melihat bantuan yang diberikan Kanada dan Jepang (di luar bantuan militer
Kanada yang sangat besar dan mengesankan, yang menunjukkan komitmen pada
prinsip keamanan manusia) bantuan kedua negara ini bisa dibilang kecil, tidak
hanya jika dibandingkan dengan bantuan yang diberikan aktor internasional
lainnya, tapi juga jika dibandingkan dengan persentase anggaran bantuan masingmasing negara ini sendiri. Dari perspektif Realis, pendekatan keamanan manusia
Jepang –dan sedikit- dan Kanada hanya dimaksudkan untuk memberi bentuk baru
dan efektifitas untuk kebijakan yang sudah ada dan yang equivalent dengan
kebijakan yang sudah ada, bukannya membentuk kembali instrument dan
kebijakan yang sudah ada sebelumnya. Meskipun begitu, pendekatan Kanada dan
Jepang juga merefleksikan “garis ketergantungan” yang dinamis
yang
menghasilkan sebuah trend yang memperkuat negara masing-masing. Di sini
Huliaras dan Tzifakis juga menggaris bawahi kefleksibelan konsep keamanan
manusia yang menyebabkan tiap negara bisa mencari sendiri cara yang tepat
untuk memakai konsep ini ke dalam agenda kebijakan luar negeri mereka.
9
Jasmin H. Cheung-Gertler dalam tulisannya ―A Model Power for a
Troubled World? Canadian National Interest and Human Security‖131
menganalisa perkembangan kepentingan nasional Kanada dikaitkan dengan
konsep keamanan manusia yang pada masa pemerintahan Menteri Luar Negeri
Llyod Axworthy dijadikan panduan dalam kebijakan-kebijakan luar negeri
Kanada. Setelah Axworthy tidak lagi menjabat, pendekatan keamanan manusia
dalam kebijakan luar negeri Kanada menghadapi tantangan karena adanya
perubahan iklim politik domestik dan internasional. Pasca peristiwa 11
September, pembuatan kebijakan publik mengadaptasi kombinasi antara
ketakutan
dan
ancaman
yang
lebih
mengutamakan
keamanan
publik,
counterterrorism dan pengeluaran untuk pertahanan dibanding hak asasi manusia,
bantuan asing dan pembangunan internasioal.
Dari tulisan-tulisan di atas penulis melihat bahwa konsep keamanan
manusia yang diusung suatu negara seperti Kanada, bisa mengalami pasang surut
dalam implementasinya ke dalam kebijakan. Karena dalam pembuatan kebijakan,
ternyata keamanan manusia tidak selalu murni dijalankan sebagai konsep yang
mendasari sebuah kebijakan, terutama jika dihadapkan pada kepentingan nasional,
situasi politik internasional dan kondisi-kondisi domestik. Akan tetapi karena
fleksibilitas yang dimiliki oleh konsep keamanan manusia, maka konsep ini bisa
tetap dijalankan dalam derajat tertentu dalam politik luar negeri suatu negara.
Oleh karena itu penelitian ini akan dimaksudkan untuk melihat sejauh apa suatu
negara, dalam hal ini Pemerintah Kanada, menerapkan konsep keamanan manusia
ini (yang nantinya akan dilihat sebagai norma keamanan manusia) dengan
menspesifikkan pada kasus keterlibatan Kanada di Afghanistan.
Dari beberapa literatur yang telah penulis baca, maka penulis memutuskan
menggunakan teori norma internasional terutama yang berasal dari pendekatan
Konstruktivis. Hal ini untuk melihat mengapa Kanada menggunakan konsep
keamanan
manusia
dalam
kebijakannya
131
terhadap
Afghanistan,
Jasmin H. Cheung-Gertler, “A Model Power for a Troubled World ? Canadian National
Interests and Human Security in the 21st Century”,International Journal, Vol. 62, No.3
10
karena
Konstruktivis menilai norma, nilai dan ide (struktur non-materi) sama pentingnya
dengan struktur materi dalam memengaruhi tindakan negara dan keamanan
manusia sebagai sebuah norma atau idea yang sedang berkembang dalam
hubungan internasional akan dapat dilihat sebagai faktor yang memengaruhi
kebijakan aktor negara yang menerima norma keamanan manusia, dalam kasus ini
adalah Kanada.
5. Kerangka Pemikiran
5.1 Teori Norma Internasional
Menurut Gary Goertz dan Paul F. Diehl
132
, norma internasional memiliki
empat elemen atau ciri khas yaitu :
1. Regularity and consistency of behaviour, yaitu tingkah laku yang
konsisten dari para aktor, norma tidak dilihat dari bagaimana cara berpikir
tetapi melalui tingkah laku. Ada keteraturan dan konsistensi dalam tingkah
laku aktor.
2. Its relationship to self-interest : bahwa norma dan dampaknya terhadap
tingkah laku tidak bisa dipisahkan dari isu-isu power dan self-interest.
Dengan mengetahui dua aspek tadi yaitu power dan self-interest kita bisa
memahami dampak nyata dari norma terhadap tingkah laku.
3. Sanction : ada sanksi yang diterapkan dalam pelaksanaan norma, namun
sanksi itu sendiri tidak harus selalu berhubungan dengan hukum, namun
bisa berupa pandangan dari masyarakat internasional atau kecaman.
Sanksi bisa berkaitan atau didorong oleh hal-hal yang dianggap tabu dalam
suatu komunitas.
4. Normative : berkaitan dengan soal moral dan etika, bahwa norma berarti
normative, ada isu-isu mengenai keadilan dan hak dalam sebuah moral
atau karakteristik.
132
Garry Goertz dan Paul F. Diehl. Toward a theroty of International Norms : Some Conceptual
and Measurement Issues dalam The Journal of Conflict Resolution, Vol.36, No.4 (Dec.,1992).
11
Martha Finnemore dan Kathryn Sikkink 133 mengatakan bahwa norma tidak
bisa dilepaskan dari penilaian sebuah komunitas atau masyarakat, artinya
memerlukan semacam persetujuan bersama. Apa yang dianggap baik oleh
masyarakat bisa menjadi norma, sedangkan yang tidak sesuai dengan penilaian
masyarakat akan dianggap melawan norma. Finnemore dan Sikkink sendiri tidak
menekankan pada berapa jumlah tertentu mengenai berapa banyak aktor yang
menerima suatu norma. Norma bisa saja bersifat regional, tidak global. Meski
dalam suatu komunitas , norma-norma lebih bersifat berkelanjutan daripada
dikotomi, dengan norma berbeda menuntut tingkat kesepakatan yang berbeda
pula.
Untuk melihat bagaimana efek norma terhadap perilaku negara, penting
untuk mengoperasionalisasikan sebuah norma dengan cara yang membedakan
norma dari perilaku negara atau non-negara yang dirancang untuk dijelaskan.
Harus dibedakan antara norm existence atau kekuatan norma dari perubahan
aktual perilaku dalam operasionalisasi. Martha Finnemore dan Kathryn Sikkink
juga menjelaskan bagaimana pengaruh dari suatu norma dapat dilihat dalam tiga
proses tahapan norm life cycle, pertama adalah norm emergence, tahap kedua
adalah norm cascade dan yang terakhir adalah internalization.
Di dalam tahap norm emergence, yang menjadi ciri khas nya adalah
adanya persuasi dari norm enterpreuner (aktor yang memunculkan suatu norma
baru). Norm enterpreneur ini akan berusaha untuk meyakinkan para pemimpin
negara, terutama negara-negara besar untuk mulai memakai norma baru ini.
Sedangkan ciri dari tahap kedua norm cascade adalah adanya upaya dari para
133
Martha Finnemore dan Katrhryn Sikkink. International Norms and Political Change dalam
International Organization, Vol. 52, No.4, 1998.
12
pemimpin negara yang telah memakai norma baru ini agar negara lainnya juga
turut memakai norma tersebut, alasan diterimanya norma ini oleh suatu populasi
negara sendiri bervariasi, bisa jadi karena suatu negara ingin memperbesar
legitimasinya di dunia atau karena para pemimpin negara ingin menambah
kepercayaan diri dengan mulai memakai suatu norma yang telah dianut secara
bersama. Tahap dua ini akan berujung pada tahap internalization, di mana suatu
norma baru sudah tidak lagi diperdebatkan dan diterima begitu saja oleh negaranegara yang ada.
Ketika pertama kali diperkenalkan dalam Human Development Report dari
UNDP pada 1994, keamanan manusia telah menjadi konsep baru dalam dunia
internasional. Dari sini beberapa negara seperti Jepang dan Kanada mulai
mengadopsi konsep ini ke dalam politik luar negeri mereka. Jepang dan Kanada
ini bisa dikategorikan sebagai norm enterpreneur, yang kemudian terus
mempromosikan dan melakukan penelitian dalam mengembangkan pendekatanpendekatan untuk dapat mencapai tujuan-tujuan keamanan manusia. Saat ini
semakin banyak negara yang concern mengenai keamanan manusia, sudah banyak
perjanjian dan kerjasama yang diadakan dalam rangka mengurangi ancaman
terhadap keamanan manusia. Kanada dalam perkembangannya mempunyai
pendekatan sendiri dalam menjalankan konsep keamanan manusia ini. Melihat
perkembangannya, konsep keamanan manusia sudah bisa dikatakan sebagai
sebuah norma yang mulai dijalankan oleh banyak negara di dunia, maka tindakantindakan yang mengancam atau bertentangan dengan keamanan manusia akan
menjadi sorotan dan bisa mendapat kecaman.
5.2 Konsep Keamanan manusia
Pendekatan keamanan manusia menekankan dan menerima bahwa tekanan
sosial ekonomi yang ekstrim, arus pengungsi dan migrasi lintas batas, terorisme
transnasional, diskriminasi dan tindakan represif dari elite yang otoriter,
perdagangan senjata ilegal dan narkotika merupakan hasil atau akar dari
ketidakamanan manusia di dunia yang saling tergantung, dan pendekatan
13
keamanan yang hanya berfokus pada keamanan negara sudah tidak memadai lagi.
Untuk mendapatkan hasil dan yang lebih penting lagi untuk mendapatkan akar
penyebab ketidakamanan dunia sekarang ini, UNDP mengeluarkan sebuah konsep
yang komprehensif mengenai keamanan manusia. Konsep keamanan manusia ini
mencakup perspektif yang melihat keamanan manusia sebagai freedom from fear
yang mencakup ancaman yang mengancam fisik dan integritas psikologis manusia
dan juga perspektif freedom from want yang luas, yang menunjukan ancaman
terhadap kondisi sosial ekonomi manusia. 134
Berdasarkan Human Development Report dari UNDP tahun 1994, ada
tujuh komponen dalam keamanan manusia : ekonomi, pangan, kesehatan,
lingkungan, personal, komunitas dan politik. 135 Dari ke tujuh komponen itu bisa
digolongkan ke dalam sudut pandang freedom from fear atau freedom from want.
Sehingga ada ruang yang sangat luas untuk mengimplementasikan konsep
keamanan manusia ke dalam kebijakan. Seperti yang dikatakan oleh Wertes dan
Debiel136 bahwa dalam hubungannya dengan strategi dan instrumen kebijakan,
fleksibilitas konsep keamanan manusia ini membuat beragam aktor dapat
memberikan pendekatan dengan cara mereka sendiri, dan di lain pihak juga
menawarkan peluang untuk menjalankan kebijakan-kebijakan gabungan.
Menurut Sharbanou Tadjbakhsh
137
, keamanan manusia sebagai kebijakan
luar negeri adalah suatu kesempatan bagi negara-negara middle power untuk
mendapatkan perhatian dan status dalam arena internasional. Namun sebagai
suatu pilihan kebijakan luar negeri menunjukkan kepentingan pemerintah pada
kesejahteraan masyarakat di negara lain ketimbang di masyarakat negaranya
sendiri, sehingga terkadang bisa memunculkan kecurigaan. Kanada sebagai
negara middle power telah berhasil memanfaatkan munculnya gagasan baru
134
Tobias Debiel dan Sascha Werthes, op.cit., hal.10
Shahrbanou Tadjbaksh dan Anuradha M. Chenoy, Op.Cit. hal. 15
136
Tobias Debiel dan Sascha Werthes, loc cit.
137
Sharbanou Tadjbakhsh, Human Security : Concepts and Implications. Centre d‟etudes et de
recherches internationales, Sciences Po, 2005. Diakses dari
http://www.cerisciencespo.com/publica/etude/etude117_118.pdf pada 10 November 2011
135
14
mengenai konsep keamanan manusia ini dengan memakainya sebagai kerangka
dalam pembuatan kebijakan luar negerinya. Di panggung internasional, Kanada
memiliki tempat tersendiri sebagai negara yang peduli terhadap keamanan
manusia, menggalang pertemuan dan kerjasama untuk membahas masalahmasalah berkaitan dengan keamanan manusia.
Masih menurut Tadjbakhsh, seperangkat kebijakan keamanan manusia
harus terdiri dari beberapa hal seperti ; pencegahan terjadinya konflik, menangani
efek dari konflik tersebut terhadap manusia, membangun mekanisme untuk
mencegah konflik tersebut muncul kembali. Hal ini membutuhkan baik itu respon
terhadap situasi darurat jangka pendek dan jangka panjang serta strategi
pencegahan. Kebijakan keamanan manusia juga harus multi dimensi, karena
ancaman terhadap keamanan manusia itu sendiri memiliki banyak sisi dan saling
terkoneksi. Dengan banyaknya penyebab krisis itu sendiri, diperlukan pendekatan
antar disiplin dengan mengombinasikan strategi ekonomi, politik dan sosiologi.
Pendekatan ini harus fleksibel dan mampu merespon kondisi dan situasi yang
cepat berubah.
Kanada memiliki pendekatan sendiri dalam pelaksanaan konsep keamanan
manusia ini, dengan memfokuskan kebijakan mereka pada pendekatan freedom
from fear. Dengan fokus pada pendekatan freedom from fear tersebut Kanada
menerapkan kebijakannya di Afghanistan, keamanan Afghanistan menjadi
perhatian penting pemerintah Kanada, meskipun tetap dengan tidak mengabaikan
aspek lain seperti pembangunan. Dalam website resminya, pemerintah Kanada
menyatakan bahwa tujuan Kanada adalah ―to leave Afghanistan to Afghans, better
governed and self-sustaining, more stable and secure, and never again a safe
haven for terrorists. Because without security, there can be no development.”138
6. Argumen Utama
1. Kanada menggunakan keamanan manusia dalam keterlibatnnya di
Afghanistan agar perilakunya dapat kembali sesuai dengan norma
138
Transcript: Canada's achievements in Afghanistan, diakses dari
http://www.afghanistan.gc.ca/canadaafghanistan/multimedia/trans_2011_10_21.aspx?lang=eng&v
iew=d, pada 10 Januari 2011
15
keamanan manusia. Sebagai sebuah norma yang diadopsi oleh Kanada,
keamanan manusia memberikan batasan, petunjuk dan arahan mengenai
tingkah laku yang patut atau layak untuk dijalankan terhadap suatu isu.
Penerimaan keamanan manusia dalam politik luar negeri Kanada juga
memberikan identitas baru bagi Kanada yaitu sebagai norm entrepreuner
keamanan manusia, yang membuat Kanada harus menjaga dan
menjalankan tindakan-tindakan
yang sesuai dengan norma keamanan
manusia untuk dapat mempertahankan identitasnya tadi. Dengan
menerapkan keamanan manusia di Afghanistan, bisa mengakomodir
beberapa kepentingan Kanada sekaligus yaitu mempertahankan pengaruh
dan identitasnya sebagai norm entrpreneur
di mata komunitas
internasional dan juga menjaga hubungan baik dengan Amerika dan
NATO.
2. Kanada menggunakan pendekatan freedom from fear dalam penerapan
konsep keamanan manusia-nya di Afghanistan. Dengan pendekatan 3D
atau Whole of Government sebagai upaya untuk mengatasi masalah failed
states dari segala sisi, Kanada mengintegrasikan defense, development dan
diplomacy dalam satu pendekatan. Pelaksanaan program-program Kanada
di Afghanistan tidak mudah, dengan situasi dan kondisi keamanan serta
masalah koordinasi dan komando di lapangan serta tantangan-tanganan
lainnya yang berpotensi menggagalkan misi Kanada. Bahkan banyak juga
yang mengkritisi tindakan Kanada di Afghanistan yang mengejar tujuantujuan keamanan manusia dengan menggunakan kekuatan militer.
7. Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
penelitian
kualitatif
yang
dilakukan
lewat
studi
kepustakaan,
menggunakan sumber-sumber seperti buku, jurnal, koran dan situs internet.
16
dengan
8. Sistematika Penulisan
BAB I
: Bab ini terdiri dari pendahuluan yang berisi latar
belakang, rumusan masalah, jangkauan penelitian, tinjauan pustaka, konsep
pemikiran, argumen utama, metode penelitian serta sistematika penulisan yang
akan digunakan dalam penelitian ini selanjutnya.
BAB II
: Dalam bab ini penulis akan menggunakan teori norma
internasional dari perspektif Konstruktivis untuk melihat keamanan manusia
sebagai sebuah norma dan kemudian menjabarkan bagaimana norma keamanan
manusia ini membentuk identitas baru bagi Kanada sebagai norm entrepreuner
dan posisi konsep ini dalam tindakan-tindakan Kanada di luar negeri.
BAB III
hubungan
: Bab ini akan membahas mengenai perubahan dalam
internasional
sebagai
akibat
peristiwa
11
September
yang
memposisikan Afghanistan sebagai isu penting dan bagaimana Kanada
meresponnya, lalu dilanjutkan dengan menguraikan interaksi Kanada dan
Afghanistan.
BAB IV
: Dalam bab ini penulis akan menjawab bagaimana
penerapan keamanan manusia dalam keterlibatan Kanada di Afghanistan pada
periode 2002-2011.
BAB V
: Bab ini akan berisi jawaban dan kesimpulan dari
pertanyaan-pertanyaan penelitian yang telah diajukan.
17
Download