makalah benda langit dan tata surya

advertisement
MAKALAH “Tata Surya dan Benda Langit Yang
Terikat Dengan Gravitasi”
Desen : Bp. Jumani,M.Pd.
Disusun oleh :
1. Ady Setiono
2. Budi Siswantoro
3. Purwanto
4. Usman Abidin
STKIP MUHAMMADIYAH BATANG
Prodi PGSD S1
Tahun Ajaran 2011/201
KATA PENGANTAR
Puji syukur senantiasa saya ucapkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena
atas segala rahmat, petunjuk, dan karunia-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan
makalah ini untuk memenuhi tugas Bahasa Indonesia Keilmuan. Makalah ini dapat
digunakan sebagai wahan untuk menambah pengetahuan, sebagai teman belajar, dan
sebagai referensi tambahan dalam belajar Tata Surya. Makalah ini dibuat sedemikian
rupa agar pembaca dapat dengan mudah mempelajari dan memahami Tata Surya secara
lebih lanjut. Makalah ini juga dilengkapi dengan gambar-gambar sehingga pembaca
tidak bosan.
Ucapan terima kasih saya ucapkan kepada semua pihak yang namanya tidak bisa
saya sebutkan satu per satu yang telah membantu dalam mempersiapkan, melaksanakan,
dan menyelesaikan penulisan makalah ini. Segala upaya telah dilakukan untuk
menyempurnakan makalah ini, namun tidak mustahil apabila dalam makalah ini masih
terdapat kekurangan dan kesalahan. Oleh karena itu, saya mengharapkan kritik dan
saran yang dapat dijadikan masukan dalam menyempurnaan makalah selanjutnya.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca untuk menambah
pengetahuan dan wawasan tentang Tata Surya. Jangan segan bertanya jika pembaca
menemui kesulitan. Semoga keberhasilan selalu berpihak pada kita semua.
Batang, 1 November 2011
Penulis
2
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR …………………………………………………………..........2
DAFTAR ISI.................................................................................................................3
BAB I PENDAHULUAN ………………………………………………………...... 5
1.1 Latar Belakang …………………………………………………………………...5
1.2 Rumusan Masalah …………………………………………………………….....5.
1.3 Tujuan Penulisan ………………………………………………………………....6
BAB II PEMBAHASAN …………………………………………………………......7
2.1 Asal-usul Tata Surya ……………………………………………..........................7
2.2 Sejarah Penemuan Tata Surya …………………………………...........................8
2.3 Struktur Tata Surya …………………………………………................................9
2.3.1 Terminologi ……………………………………………....................................10
2.3.2 Zona Tata Surya ……………………………………….....................................11
2.3.3 Matahari ……………………………………………….....................................12
2.3.4 Tata Surya Bagian Dalam ……………………………......................................13
2.3.4.1 Planet-planet Bagian Dalam …………………...............................................13
2.3.4.1.1 Merkurius …………………………...........................................................14
2.3.4.1.2 Venus ……………………………..............................................................14
2.3.4.1.3 Bumi ……………………...……................................................................14
2.3.4.1.4 Mars ………………………........................................................................14
Sabuk Asteroid ……………………………..............................................................15
2.3.5 Tata Surya Bagian Luar ………………………………....................................15
3
2.3.5.1 Planet-planet Bagian Luar …………………..................................................15
2.3.5.1.1 Yupiter ………………….............................................................................15
2.3.5.1.2 Saturnus ……………………………...........................................................16
2.3.5.1.3 Uranus ……………………………..............................................................16
2.3.5.1.4 Neptunus …………......................................................................................16
2.3.5.1.4 Neptunus ………………………………......................................................16
2.3.5.2 Komet ……………………………………….................................................16
2.3.6 Daerah trans-Neptunus ………………………………......................................17
2.3.6.1 Sabuk Kuiper ………………………………..................................................17
2.3.6.2 Piringan Tersebar …………………………...................................................17
2.3.7 Daerah Terjauh ………………………………………......................................18
2.4 Konteks Galaksi ………………………………………………...........................18
BAB III PENUTUP …………………………………………………………...........20
3.1 Kesimpulan ……………………………………………………..........................20
3.2 Saran ……………………………………………………………........................20
DAFTAR RUJUKAN ………………………………………………………............21
4
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tata Surya adalah kumpulan benda langit yang terdiri atas sebuah bintang yang
disebut Matahari dan semua objek yang terikat oleh gaya gravitasinya. Objek-objek
tersebut termasuk delapan buah planet yang sudah diketahui dengan orbit berbentuk
elips, lima planet kerdil, 173 satelit alami yang telah diidentifikasi, dan jutaan benda
langit (meteor, asteroid, komet) lainnya.
Tata Surya terbagi menjadi Matahari, empat planet bagian dalam, sabuk
asteroid, empat planet luar, dan di bagian terluar adalah Sabuk Kuiper dan Piringan
Terbesar. Enam dari delapan planet dan tiga dari lima planet kerdil itu dikelilingi oleh
satelit alami yang biasa disebut dengan bulan. Contoh: Bulan atau satelit alami Bumi.
Masing-masing planet bagian luar dikelilingi oleh cincin planet yang terdiri dari debu
dan partikel lain.
Itulah sedikit gambaran tentang Tata Surya. Tetapi, Bagaimana Tata Surya bisa
berbentuk seperti sekarang? Bagaimana awal mula terbentuknya Tata Surya? Apa yang
menarik tentang Tata Surya? Pertanyaan-pertanyaan ini sering muncul di sekitar kita
dan saya akan mencoba menjawab lewat makalah ini. Oleh karena itu, pada kesempatan
kali ini penulis membuat makalah yang berjudul “Tata Surya dan Semua Benda Langit
yang Terikat dengan Gravitasi” dengan harapan dapat membantu para pembaca..
Dengan adanya makalah ini bukan berarti benda langit hanya itu saja tetapi masih ada
banyak lagi yang tidak dapat ditangkap oleh indera manusia sehingga kita harus banyak
belajar agar dapat menemukan benda langit yang baru.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan Latar Belakang Masalah yang telah dijelaskan, maka secara garis besar
ada empat rumusan masalah sebagai berikut.




Bagaimana Asal-usul Tata Surya?
Bagaimana Sejarah Penemuan Tata Surya?
Bagaimana Struktur Tata Surya?
Bagaimana Konteks Galaksi Tata Surya?
5
1.2 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut.




Mengetahui Asal-usul Tata surya.
Mengetahui Sejarah Tata Surya.
Mengetahui Struktur Tata Surya.
Mengetahui Konteks Galaksi Tata Surya.
6
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Asal-usul Tata Surya
Banyak ahli telah mengemukakan hipotesis tentang asal-usul Tata Surya,
diantaranya.

Hipotesis Nebula
Hipotesis Nebula pertama kali dikemukakan oleh Emanuel Swedenborg (16881772) tahun 1734 dan disempurnakan oleh Immanuel Kant (1724-1804) pada tahun
1775. Hipotesis serupa juga dikembangkan oleh Pierre Marquis de Laplace secara
independen pada tahun 1796. Hipotesis ini lebih dikenal dengan Hipotesis Nebula KantLaplace yang menyebutkan bahwa pada tahap awal Tata Surya masih berupa kabut
raksasa. Kabut ini terbentuk dari debu, es, dan gas yang disebut nebula dan unsur gas
yang sebagian besar hidrogen. Gaya gravitasi yang dimilikinya menyebabkan kabut itu
menyusut dan berputar dengan arah tertentu, suhu kabut memanas, dan akhirnya
menjadi bintang raksasa (matahari). Matahari raksasa terus menyusut, berputar semakin
cepat, dan cincin-cincin gas dan es terlontar ke sekeliling matahari. Akibat gaya
gravitasi tersebut gas-gas memadat seiring dengan penurunan suhunya dan membentuk
planet dalam dan planet luar.

Hipotesis Planetisimal
Hipotesis Planetisimal pertama kali dikemukakan oleh Thomas C. Chamberlin dan
Forest R. Moulton pada tahun 1900. Hipotesis planetisimal mengatakan bahwa Tata
Surya kita terbentuk akibat adanya bintang lain yang lewat cukup dekat dengan
matahari. Pada masa awal pembentukan matahari, kedekatan tersebut menyebabkan
terjadinya tonjolan pada permukaan matahari dan bersama proses internal matahari,
menarik materi berulang kali dari matahari. Efek gravitasi bintang mengakibatkan
terbentuknya dua lengan spiral yang memanjang dari matahari. Sementara sebagian
besar materi tertarik kembali dan sebagian lain akan tetap di orbit, mendingin, memadat,
dan menjadi benda-benda berukuran kecil yang disebut planetisimal dan beberapa yang
besar sebagai protoplanet. Objek-objek tersebut bertabrakan dari waktu ke waktu
sehingga membentuk planet dan bulan, sementara sisa-sisa materi lainnya menjadi
komet dan asteroid.
7

Hipotesis Pasang Surut Bintang
Hipotesis Pasang Surut Bintang pertama kali dikemukakan oleh James Jeans pada
tahun 1917. Planet dianggap terbentuk karena mendekatnya bintang lain kepada
matahari. Keadaan yang hampir bertabrakan menyebabkan tertariknya sejumlah besar
materi dari matahari dan bintang lain oleh gaya pasang surut yang kemudian
terkondensasi menjadi planet. Namun astronom Harold Jeffreys tahun 1929 membantah
bahwa tabrakan yang sedemikian itu hampir tidak mungkin terjadi. Demikian pula
astronom Henry Norris Russell mengemukakan keberatannya atas hipotesis tersebut.

Hipotesis Kondensasi
Hipotesis kondensasi mulanya dikemukakan oleh astronom Belanda yang bernama
G.P. uiper (1905-1973) pada tahun 1950. Hipotesis kondensasi menjelaskan bahwa Tata
Surya terbentuk dari bola kabut raksasa yang berputar membentuk cakram raksasa.

Hipotesis Bintang Kembar
Hipotesis Bintang Kembar awalnya dikemukakan oleh Fred Hoyle (1915-2001)
pada tahun 1956. Hipotesis Bintang Kembar menjelaskan bahwa Tata Surya berupa dua
bintang yang hampir sama ukurannya dan saling berdekatan. Kemudian salah satunya
meledak dan meninggalkan serpihan-serpihan kecil. Serpihan itu terperangkap oleh
gravitasi bintang yang tidak meledak dan mulai mengelilinginya.
2.2 Sejarah Penemuan
Lima planet terdekat ke Matahari selain Bumi,Merkurius, Venus, Mars, Yupiter,
dan Saturnus) telah dikenal sejak zaman dahulu karena mereka semua bisa dilihat
dengan mata telanjang. Banyak bangsa di dunia memiliki nama sendiri untuk masingmasing planet.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pengamatan pada lima abad lalu
membawa manusia untuk memahami benda-benda langit terbebas dari selubung
mitologi. Galileo Galilei (1564-1642) dengan teleskop refraktornya mampu menjadikan
mata manusia “lebih tajam” dalam mengamati benda langit yang tidak bisa diamati
melalui mata telanjang. Karena teleskop Galileo bisa mengamati lebih tajam sehingga ia
bisa melihat berbagai perubahan bentuk penampakan Venus seperti Venus Sabit atau
Venus Purnama sebagai akibat perubahan posisi Venus terhadap Matahari. Penalaran
Venus mengitari Matahari makin memperkuat teori heliosentris yaitu bahwa matahari
adalah pusat alam semesta. Susunan heliosentris adalah Matahari dikelilingi oleh
Merkurius hingga Saturnus.
8
Teleskop Galileo terus disempurnakan oleh ilmuwan lain seperti Christian
Huygens (1629-1695) yang menemukan Titan, satelit Saturnus, yang berada hampir 2
kali jarak orbit Bumi-Yupiter. Perkembangan teleskop juga diimbangi pula dengan
perkembangan perhitungan gerak benda-benda langit dan hubungan satu dengan yang
lain melalui Johannes Kepler (1571-1630) dengan Hukum Kepler. Dan puncaknya, Sir
Isaac Newton (1642-1727) dengan hukum gravitasi. Dengan dua teori perhitungan
inilah yang memungkinkan pencarian dan perhitungan benda-benda langit selanjutnya
William Herschel (1738-1822) menemukan Uranus pada 1781. Perhitungan
cermat orbit Uranus menyimpulkan bahwa planet ini ada yang mengganggu. Kemudian
Neptunus ditemukan pada Agustus 1846. Penemuan Neptunus ternyata tidak cukup
menjelaskan gangguan orbit Uranus. Pluto kemudian ditemukan pada 1930. Pada saat
Pluto ditemukan, ia hanya diketahui sebagai satu-satunya objek angkasa yang berada
setelah Neptunus. Kemudian pada 1978 ditemukan satelit yang mengelilingi Pluto yaitu
Charon yang sebelumnya sempat dikira sebagai planet karena ukurannya tidak jauh
berbeda dengan Pluto.
Para astronom kemudian menemukan sekitar 1.000 objek kecil yang letaknya
melampaui Neptunus (disebut objek trans-Neptunus) yang juga mengelilingi Matahari.
Di sana mungkin ada sekitar 100.000 objek serupa yang dikenal sebagai Objek Sabuk
Kuiper (Sabuk Kuiper adalah bagian dari objek-objek trans-Neptunus). Belasan benda
langit termasuk dalam Objek Sabuk Kuiper di antaranya Quaoar (1.250 km pada Juni
2002), Huya (750 km pada Maret 2000), Sedna (1.800 km pada Maret 2004), Orcus,
Vesta, Pallas, Hygiea, Varuna, dan 2003 EL61 (1.500 km pada Mei 2004). Penemuan
2003 EL61 cukup menghebohkan karena Objek Sabuk Kuiper ini diketahui juga
memiliki satelit pada Januari 2005 meskipun berukuran lebih kecil dari Pluto. Dan
puncaknya adalah penemuan UB 313 (2.700 km pada Oktober 2003) yang diberi nama
oleh penemunya Xena. Selain lebih besar dari Pluto, objek ini juga memiliki satelit.
2.3 Struktur Tata Surya
Komponen utama sistem Tata Surya adalah matahari, sebuah bintang deret
utama kelas G2 yang mengandung 99,86 persen massa dari sistem dan mendominasi
seluruh dengan gaya gravitasinya. Yupiter dan Saturnus merupakan dua komponen
terbesar yang mengedari matahari menyangkup kira-kira 90 persen massa selebihnya.
Hampir semua objek-objek besar yang mengorbit matahari terletak pada bidang edar
bumi yang disebut ekliptika. Semua planet terletak sangat dekat pada ekliptika,
sementara komet dan objek-objek sabuk Kuiper biasanya memiliki beda sudut yang
sangat besar dibandingkan ekliptika. Planet-planet dan objek-objek Tata Surya juga
mengorbit mengelilingi matahari dengan berlawanan arah jarum jam jika dilihat dari
atas kutub utara matahari kecuali Komet Halley.
9
Hukum Gerakan Planet Kepler menjabarkan bahwa orbit dari objek-objek Tata
Surya sekeliling matahari bergerak mengikuti bentuk elips dengan matahari sebagai
salah satu titik fokusnya. Objek yang berjarak lebih dekat dari matahari memiliki tahun
waktu yang lebih pendek. Pada orbit elips, jarak antara objek dengan matahari
bervariasi sepanjang tahun. Jarak terdekat antara objek dengan matahari disebut
perihelion, sedangkan jarak terjauh dari matahari disebut aphelion. Semua objek Tata
Surya bergerak tercepat di titik perihelion dan terlambat di titik aphelion. Orbit planet
hampir berbentuk lingkaran sedangkan komet, asteroid, dan objek sabuk Kuiper
orbitnya berbentuk elips.
Untuk mempermudah representasi, kebanyakan diagram Tata Surya menunjukan
jarak yang sama antar orbit. Semakin jauh letak sebuah planet atau sabuk dari matahari,
semakin besar jarak antara objek itu dengan jalur edar orbit sebelumnya. Sebagai
contoh: Venus terletak sekitar sekitar 0,33 SA dari Merkurius, Saturnus adalah 4,3 SA
dari Yupiter, dan Neptunus terletak 10,5 SA dari Uranus. Beberapa upaya telah dicoba
untuk menentukan korelasi jarak antar orbit ini (hukum Titus-Bode), tetapi sejauh ini
tidak satu teori pun telah diterima.
Hampir semua planet-planet di Tata Surya memiliki sistem sekunder yang
kebanyakan adalah benda pengorbit alami (satelit atau bulan). Beberapa benda ini
memiliki ukuran lebih besar dari planet. Hampir semua satelit alami yang paling besar
terletak di orbit sinkron, dengan satu sisi satelit berpaling ke arah planet induknya
secara permanen. Empat planet terbesar juga memiliki cincin yang berisi partikelpartikel kecil yang mengorbit secara serempak.
2.3.1 Terminologi
Secara informal, Tata Surya dapat dibagi menjadi tiga daerah. Tata Surya bagian
dalam mencakup empat planet kebumian dan sabuk asteroid utama. Tata Surya bagian
luar terdapat empat gas planet raksasa. Sejak ditemukan Sabuk Kuiper, bagian terluar
Tata Surya dianggap wilayah tersendiri yang meliputi semua objek melampaui
Neptunus.
Secara dinamis dan fisik, objek yang mengorbit matahari dapat diklasifikasikan
dalam tiga golongan, yaitu: planet, planet kerdil, dan benda kecil Tata Surya. Planet
adalah sebuah badan yang mengedari matahari dan mempunyai massa cukup besar
untuk membentuk bulatan diri dan telah membersihkan orbitnya dengan
menginkorporasikan semua objek-objek kecil di sekitarnya. Menurut definisi ini, Tata
Surya memiliki delapan planet: Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Yupiter, Saturnus, dan
Neptunus. Pluto telah dilepaskan status planetnya karena tidak dapat membersihkan
orbitnya dari objek-objek Sabuk Kuiper. Planet kerdil adalah benda angkasa bukan
satelit yang mengelilingi matahari dan mempunyai massa yang cukup untuk bisa
membentuk bulatan diri tetapi belum dapat membersihkan daerah sekitarnya. Menurut
definisi ini, Tata Surya memiliki lima buah planet kerdil, yaitu: Ceres, Pluto, Haumea,
10
Makemake, dan Eris. Objek lain yang mungkin akan diklasifikasikan sebagai planet
kerdil adalah Sedna, Orcus, dan Quaoar. Planet kerdil yang memiliki orbit di daerah
trans-Neptunus disebut plutoid.
Sisa objek-objek lain yang mengitari matahari adalah benda kecil Tata Surya.
Ilmuwan ahli planet menggunakan istilah gas, es, dan batu untuk mendeskripsi kelas zat
yang terdapat di dalam Tata Surya. Batu digunakan untuk menyebut bahan bertitik lebur
tinggi (lebih besar dari 500 K). Contoh: silikat. Bahan batuan ini sangat umum terdapat
di Tata Surya bagian dalam yang merupakan komponen pembentuk utama hampir
semua planet kebumian dan asteroid. Gas adalah bahan-bahan bertitik lebur rendah
seperti atom, hidrogen, helium, dan gas mulia. Bahan-bahan ini mendominasi wilayah
tengah Tata Surya yang didominasi oleh Yupiter dan Saturnus. Es seperti air, metana,
amonia, dan karbon dioksida memiliki titik lebur sekitar ratusan derajat kelvin. Bahan
ini merupakan komponen utama dari sebagian besar satelit planet raksasa. Ia juga
merupakan komponen utama Uranus dan Neptunus (es raksasa) serta berbagai benda
kecil yang terletak di dekat orbit Neptunus.
2.3.2 Zona Tata Surya
Gambar 2.1 Zona Tata Surya
Zona Tata Surya yang meliputi, planet bagian dalam, sabuk asteroid, planet
bagian luar, dan sabuk Kuiper.
Di zona planet bagian dalam, Matahari adalah pusat Tata Surya dan letaknya
paling dekat dengan planet Merkurius (jarak dari matahari 57,9 × 106 km, atau
0,39 SA), Venus (108,2 × 106 km, 0,72 SA), Bumi (149,6 × 106 km, 1 SA) dan Mars
(227,9 × 106 km, 1,52 SA). Ukuran diameternya antara 4.878 km dan 12.756 km,
dengan massa jenis antara 3,95 g/cm3 dan 5,52 g/cm3.
Sabuk asteroid adalah kumpulan batuan metal dan mineral yang terletak di
antara Mars dan Yupiter.. Kebanyakan asteroid-asteroid ini hanya berdiameter
sekitar100 km atau lebih. Orbit asteroid-asteroid ini sangat eliptis, bahkan sampai
menyimpang Merkurius (Icarus) dan Uranus (Chiron). Ceres adalah bagian dari
kumpulan asteroid ini yang berukuran sekitar 960 km dan dikategorikan sebagai planet
kerdil.
Pada zona planet luar, terdapat planet gas raksasa Yupiter (778,3 × 106 km,
5,2 SA), Uranus (2,875 × 109 km, 19,2 SA) dan Neptunus (4,504 × 109 km, 30,1 SA)
dengan massa jenis antara 0,7 g/cm3 dan 1,66 g/cm3. Jarak rata-rata antara planet-planet
dengan matahari bisa diperkirakan dengan menggunakan baris matematis Titus-Bode.
Regularitas jarak antara jalur edaran orbit-orbit ini kemungkinan merupakan efek
resonansi sisa dari awal terbentuknya Tata Surya. Anehnya pada planet Neptunus tidak
11
muncul di baris matematis Titus-Bode sehingga membuat para pengamat berspekulasi
bahwa Neptunus merupakan hasil tabrakan kosmis.
2.3.3 Matahari
Gambar 2.2 Matahari di lihat dari Spektrum Sinar-X
Matahari adalah bintang induk Tata Surya dan merupakan komponen utama
sistem Tata Surya.Bintang ini berukuran 332.830 kali dari massa bumi. Massa yang
besar ini menyebabkan kepadatan inti yang cukup besar untuk bisa mendukung
kesinambungan fusi nuklir dan menyemburkan sejumlah energi yang dahsyat.
Kebanyakan energi ini dipancarkan ke luar angkasa dalam bentuk radiasi
eletromagnetik yang termasuk spektrum optik.
Matahari dikategorikan ke dalam bintang kerdil kuning yang berukuran
tengahan. Nama ini menyebabkan kesalahpahaman karena dibandingkan dengan
bintang-bintang yang ada di dalam galaksi Bima Sakti matahari termasuk cukup besar
dan cemerlang. Bintang diklasifikasikan dengan diagram Hertzsprung-Russell yaitu
sebuah grafik yang menggambarkan hubungan nilai luminositas sebuah bintang
terhadap suhu permukaannya. Secara umum, bintang yang lebih panas akan lebih
cemerlang. Bintang-bintang yang mengikuti pola ini dikatakan terletak pada deret utama
dan matahari terletak persis di tengah deret ini. Akan tetapi bintang-bintang yang lebih
cemerlang dan lebih panas dari matahari adalah langka sedangkan bintang-bintang yang
lebih redup dan dingin adalah umum.
Saat ini Matahari tumbuh semakin cemerlang. Pada awal kehidupannya, tingkat
kecemerlangannya adalah sekitar 70 persen dari kecermelangan sekarang. Matahari
secara metalisitas dikategorikan sebagai bintang “populasi I”. Bintang kategori ini
terbentuk lebih akhir pada tingkat evolusi alam semesta sehingga mengandung banyak
unsur yang lebih berat daripada hidrogen dan helium (metal) dibandingkan dengan
bintang “populasi II”. Unsur-unsur yang lebih berat daripada hidrogen dan helium
terbentuk di dalam inti bintang purba yang kemudian meledak. Bintang-bintang
generasi pertama perlu punah terlebih dahulu sebelum alam semesta dapat dipenuhi oleh
unsur-unsur yang lebih berat ini. Bintang-bintang tertua mengandung sangat sedikit
metal, sedangkan bintang baru mempunyai kandungan metal yang lebih tinggi. Tingkat
metalitas yang tinggi ini diperkirakan mempunyai pengaruh penting pada pembentukan
sistem Tata Surya, karena terbentuknya planet adalah hasil penggumpalan metal.
Gambar 2.3 Lembar Aliran Heliosfer
Disamping cahaya, matahari juga secara berkesinambungan memancarkan
semburan partikel bermuatan (plasma) yang dikenal sebagai angin matahari. Semburan
partikel ini menyebar keluar kira-kira pada kecepatan 1,5 juta kilometer per jam
12
sehingga menciptakan atmosfer tipis (heliosfer) yang merambah Tata Surya sejauh 100
SA. Kesemuanya ini disebut medium antarplanet.
Badai geomagnetis pada permukaan matahari, seperti semburan matahari (solar
flares) dan pengeluaran massa korona (coronal mass ejection) menyebabkan gangguan
pada heliosfer sehingga menciptakan cuaca ruang angkasa. Struktur terbesar dari
heliosfer dinamai lembar aliran heliosfer (heliospheric current sheet), yaitu sebuah
spiral yang terjadi karena gerak rotasi magnetis matahari terhadap medium antarplanet.
Medan magnet bumi mencegah atmosfer bumi berinteraksi dengan angin matahari.
Venus dan Mars yang tidak memiliki medan magnet karena atmosfernya habis terkikis
ke luar angkasa. Interaksi antara angin matahari dan medan magnet bumi menyebabkan
terjadinya aurora yang dapat dilihat dekat kutub magnetik bumi.
Heliosfer juga berperan melindungi Tata Surya dari sinar kosmik yang berasal
dari luar Tata Surya. Medan magnet planet-planet menambah peran perlindungan
selanjutnya. Densitas sinar kosmik pada medium antarbintang dan kekuatan medan
magnet matahari mengalami perubahan pada skala waktu yang sangat panjang sehingga
derajat radiasi kosmis di dalam Tata Surya sendiri adalah bervariasi meskipun tidak
diketahui seberapa besar.
Medium antarplanet juga merupakan tempat berada dua daerah mirip piringan
yang berisi debu kosmis. Daerah pertama, awan debu zodiak yang terletak di Tata Surya
bagian dalam dan merupakan penyebab cahaya zodiak. Ini kemungkinan terbentuk dari
tabrakan dalam sabuk asteroid yang disebabkan oleh interaksi dengan planet-planet.
Daerah kedua, membentang antara 10 SA sampai sekitar 40 SA dan mungkin
disebabkan oleh tabrakan yang mirip tetapi tejadi di dalam Sabuk Kuiper.
2.3.4 Tata Surya Bagian Dalam
Tata Surya bagian dalam adalah nama umum yang mencakup planet kebumian
dan asteroid. Terutama yang terbuat dari silikat dan logam. Objek dari Tata Surya
bagian dalam melingkup dekat dengan matahari. Radius dari seluruh daerah ini lebih
pendek dari jarak antara Yupiter dan Saturnus.
2.3.4.1 Planet-Planet Bagian Dalam
Gambar 2.4 Planet-Planet Bagian Dalam
Planet-planet bagian dalam. Dari kiri ke kanan: Merkurius, Venus, Bumi, dan
Mars. Empat planet bagian dalam atau planet kebumian (terrestrial planet) memiliki
komposisi batuan yang padat dan hampir tidak mempunyai bulan dan sistem cincin.
Komposisi utama planet ini adalah mineral bertitik leleh tinggi, seperti silikat yang
membentuk kerak dan selubung dan logam seperti besi dan nikel yang membentuk
intinya. Venus, Bumi dan Mars memiliki atmosfer, kawah meteor, dan sifat-sifat
13
permukaan tektonis seperti gunung berapi dan lembah pecahan. Planet yang letaknya di
antara matahari dan bumi (Merkurius dan Venus) disebut juga planet inferior.
2.3.4.1.1 Merkurius
Merkurius (0,4 SA) adalah planet terdekat dari matahari serta terkecil (0,055
massa bumi). Merkurius tidak memiliki satelit alami dan ciri geologisnya di samping
kawah meteorid yang diketahui adalah lobed ridges atau rupes, kemungkinan terjadi
karena pengerutan pada perioda awal sejarahnya. Atmosfer Merkurius yang hampir bisa
diabaikan terdiri dari atom-atom yang terlepas dari permukaannya karena semburan
angin matahari. Besarnya inti besi dan tipisnya kerak Merkurius masih belum bisa dapat
diterangkan. Menurut dugaan hipotesis lapisan luar planet ini terlepas setelah terjadi
tabrakan raksasa dan perkembangan (akresi) penuhnya terhambat oleh energi awal
matahari.
2.3.4.1.2 Venus
Venus (0,7 SA) berukuran 0,815 kali dari massa bumi. Planet ini memiliki
selimut kulit silikat yang tebal dan berinti besi, atmosfer yang tebal dan memiliki
aktivitas geologi. Akan tetapi planet ini lebih kering dari bumi dan atmosfernya
sembilan kali lebih padat dari bumi. Venus tidak memiliki satelit. Venus adalah planet
terpanas dengan suhu permukaan mencapai 400 °C yang kemungkinan besar
disebabkan jumlah gas rumah kaca yang terkandung di dalam atmosfer. Sejauh ini
aktivitas geologis Venus belum dideteksi dan karena planet ini tidak memiliki medan
magnet yang bisa mencegah habisnya atmosfer diduga sumber atmosfer Venus berasal
dari gunung berapi.
2.3.4.1.3 Bumi
Bumi adalah planet bagian dalam yang terbesar dan terpadat. Bumi adalah satusatunya yang diketahui memiliki aktivitas geologi dan memiliki mahluk hidup.
Hidrosfer-nya yang cair adalah khas di antara planet-planet kebumian dan juga
merupakan satu-satunya planet yang diobservasi memiliki lempeng tektonik. Atmosfer
bumi sangat berbeda dibandingkan planet-planet lainnya karena dipengaruhi oleh
keberadaan mahluk hidup yang menghasilkan 21% oksigen. Bumi memiliki satu satelit
yaitu bulan dan satu-satunya satelit besar dari planet kebumian di dalam Tata Surya.
2.3.4.1.4 Mars
Mars (1,5 SA) berukuran lebih keci dari bumi dan Venus (0,107 massa bumi).
Planet ini memiliki atmosfer tipis yang kandungan utamanya adalah karbon dioksida.
Permukaan Mars yang dipenuhi gunung berapi raksasa seperti Olympus Mons dan
lembah retakan seperti Valles marineris menunjukan aktivitas geologis yang terus
terjadi sampai belakangan ini. Warna merahnya berasal dari warna karat tanahnya yang
14
kaya besi. Mars mempunyai dua satelit alami kecil yaitu Deimos dan Phobos yang
diduga merupakan asteroid yang terjebak gravitasi Mars.
2.3.4.2 Sabuk Asteroid
Gambar 2.5 Sabuk Asteroid Utama
Asteroid adalah obyek Tata Surya yang terdiri dari batuan dan mineral logam
beku. Sabuk asteroid utama terletak di antara orbit Mars dan Yupiter yang berjarak
antara 2,3-3,3 SA dari matahari. Asteroid merupakan sisa dari bahan formasi Tata Surya
yang gagal menggumpal karena pengaruh gravitasi Yupiter. Gradasi ukuran asteroid
adalah ratusan kilometer sampai mikroskopis. Semua asteroid, kecuali Ceres yang
terbesar diklasifikasikan sebagai benda kecil Tata Surya. Beberapa asteroid seperti
Vesta dan Hygiea mungkin akan diklasifikasi sebagai planet kerdil jika terbukti telah
mencapai kesetimbangan hidrostatik. Sabuk asteroid terdiri dari beribu-ribu hingga
jutaan objek yang berdiameter satu kilometer. Meskipun demikian, massa total dari
sabuk utama ini tidaklah lebih dari seperseribu massa bumi. Sabuk utama tidaklah rapat
karena kapal ruang angkasa secara rutin menerobos daerah ini tanpa mengalami
kecelakaan. Asteroid yang berdiameter antara 10 dan 10-4 m disebut meteorid.
2.3.5 Tata Surya Bagian Luar
Pada bagian luar dari Tata Surya terdapat gas-gas raksasa dengan satelit-satelit
yang berukuran planet. Banyak komet berperioda pendek termasuk beberapa Centaur
yang juga berorbit di daerah ini. Badan-badan padat di daerah ini mengandung jumlah
volatil (contoh: air, amonia, metan, yang sering disebut es dalam peristilahan ilmu
keplanetan) yang lebih tinggi dibandingkan planet batuan di bagian dalam Tata Surya.
2.3.5.1 Planet-Planet Bagian Luar
Keempat planet luar yang disebut planet raksasa gas (gas giant) atau planet
jovian secara keseluruhan mencakup 99% massa yang mengorbit matahari. Yupiter dan
Saturnus sebagian besar mengandung hidrogen dan helium. Uranus dan Neptunus
memiliki proporsi es yang lebih besar. Para astronom mengusulkan bahwa keduanya
dikategorikan sendiri sebagai raksasa es. Keempat raksasa gas ini semuanya memiliki
cincin, meski hanya sistem cincin Saturnus yang dapat dilihat dengan mudah dari bumi.
Gambar 2.6 Raksasa-raksasa gas dalam Tata Surya dan Matahari
2.3.5.1.1 Yupiter
Yupiter (5,2 SA) merupakan planet yang berukuran 318 kali massa bumi dan 2,5
kali massa dari gabungan seluruh planet lainnya. Kandungan utama planet ini adalah
hidrogen dan helium. Sumber panas di dalam Yupiter menyebabkan timbulnya beberapa
15
ciri semi-permanen pada atmosfernya seperti pita pita awan dan Bintik Merah Raksasa.
Sejauh yang diketahui Yupiter memiliki 63 satelit. Empat yang terbesar adalah
Ganymede, Callisto, Io, dan Europa yang menampakan kemiripan dengan planet
kebumian, seperti gunung berapi dan inti yang panas. Ganymede, yang merupakan
satelit terbesar di Tata Surya berukuran lebih besar dari Merkurius.
2.3.5.1.2 Saturnus
Saturnus (9,5 SA) yang dikenal dengan sistem cincinnya memiliki beberapa
kesamaan dengan Yupiter yaitu komposisi atmosfernya. Meskipun Saturnus hanya
sebesar 60% volume Yupiter, namun planet ini hanya seberat kurang dari sepertiga
Yupiter atau 95 kali massa bumi sehingga membuat planet ini sebuah planet yang paling
tidak padat di Tata Surya. Saturnus memiliki 60 satelit yang diketahui sejauh ini dan 3
yang belum dipastikan. Dua di antaranya yaitu Titan dan Enceladus yang menunjukan
activitas geologis meskipun hanya terdiri dari es saja. Titan berukuran lebih besar dari
Merkurius dan merupakan satu-satunya satelit di Tata Surya yang memiliki atmosfer
yang cukup berarti.
2.3.5.1.3 Uranus
Uranus (19,6 SA) yang memiliki 14 kali massa bumi adalah planet yang paling
ringan di antara planet-planet luar. Planet ini memiliki kelainan ciri orbit. Uranus
mengedari matahari dengan berukuran poros 90° pada ekliptika. Planet ini memiliki inti
yang sangat dingin dibandingkan gas raksasa lainnya dan hanya sedikit memancarkan
energi panas. Uranus memiliki 27 satelit yang diketahui dan yang terbesar adalah
Titania, Oberon, Umbriel, Ariel, dan Miranda.
2.3.5.1.4 Neptunus
Neptunus (30 SA) meskipun sedikit lebih kecil dari Uranus namun memiliki 17
kali massa bumi sehingga membuatnya lebih padat. Planet ini memancarkan panas dari
dalam tetapi tidak sebanyak Yupiter atau Saturnus. Neptunus memiliki 13 satelit yang
diketahui. Yang terbesar adalah Triton. Triton memiliki geyser nitrogen cair dan
geologinya aktif. Triton adalah satu-satunya satelit besar yang orbitnya terbalik arah
(retrogade). Neptunus juga didampingi beberapa planet minor pada orbitnya yang
disebut Trojan Neptunus. Benda-benda ini memiliki resonansi 1:1 dengan Neptunus.
2.3.5.2 Komet
Gambar 2.7 Komet Halley-Bopp
Komet adalah badan Tata Surya kecil yang biasanya hanya berukuran beberapa
kilometer dan terbuat dari es volatil. Badan-badan ini memiliki eksentrisitas orbit tinggi.
Secara umum, perihelionnya terletak di planet-planet bagian dalam dan letak
16
aphelionnya lebih jauh dari Pluto. Saat sebuah komet memasuki Tata Surya bagian
dalam dan mendekati matahari menyebabkan permukaan esnya bersumblimasi dan
berionisasi yang menghasilkan koma, ekor gas, dan debu panjang yang sering dapat
dilihat dengan mata telanjang.
Komet berperioda pendek memiliki kelangsungan orbit kurang dari dua ratus
tahun. Sedangkan komet berperioda panjang memiliki orbit yang berlangsung ribuan
tahun. Komet berperioda pendek dipercaya berasal dari Sabuk Kuiper, sedangkan komet
berperioda panjang seperti Hale-bopp, berasal dari Awan Oort. Banyak kelompok
komet, seperti Kreutz Sungrazers terbentuk dari pecahan sebuah induk tunggal.
Sebagian komet berorbit hiperbolik mungkin berasal dari luar Tata Surya tetapi
menentukan jalur orbitnya secara pasti sangatlah sulit. Komet tua yang bahan
volatilesnya telah habis karena panas matahari sering dikategorikan sebagai asteroid.
2.3.6 Daerah trans-Neptunus
Daerah yang terletak jauh melampaui Neptunus disebut daerah trans-Neptunus
yang sebagian besar belum dieksplorasi. Menurut dugaan daerah ini sebagian besar
terdiri dari dunia-dunia kecil (yang terbesar memiliki diameter seperlima bumi dan
bermassa jauh lebih kecil dari bulan) dan terutama mengandung batu dan es. Daerah ini
juga dikenal sebagai daerah luar Tata Surya meskipun berbagai orang menggunakan
istilah ini untuk daerah yang terletak melebihi sabuk asteroid.
2.3.6.1 Sabuk Kuiper
Sabuk Kuiper adalah sebuah cincin raksasa mirip dengan sabuk asteroid tetapi
komposisi utamanya adalah es. Sabuk ini terletak antara 30 dan 50 SA dan terdiri dari
benda kecil Tata Surya. Beberapa objek Kuiper yang terbesar seperti Quaoar, Varuna,
dan Orcus mungkin akan diklasifikasikan sebagai planet kerdil. Para ilmuwan
memperkirakan terdapat sekitar 100.000 objek Sabuk Kuiper yang berdiameter lebih
dari 50 km tetapi diperkirakan massa total Sabuk Kuiper hanya sepersepuluh massa
bumi. Banyak objek Kuiper memiliki satelit ganda dan kebanyakan memiliki orbit di
luar bidang eliptika.
Sabuk Kuiper secara kasar bisa dibagi menjadi resonansi dan sabuk klasik.
Resonansi adalah orbit yang terkait pada Neptunus. Sabuk klasik terdiri dari objek yang
tidak memiliki resonansi dengan Neptunus dan terletak sekitar 39,4 SA- 47,7 SA.
Anggota dari sabuk klasik diklasifikasikan sebagai cubewanos.
2.3.6.2 Piringan Tersebar
Piringan tersebar (scattered disc) berpotongan dengan sabuk Kuiper dan
menyebar keluar jauh lebih luas. Daerah ini diduga merupakan sumber komet
berperioda pendek. Objek piringan tersebar diduga terlempar ke orbit yang tidak
17
menentu karena pengaruh gravitasi dari gerakan migrasi awal Neptunus. Kebanyakan
objek piringan tersebar (scattered disc objects atau SDO) memiliki perihelion di dalam
sabuk Kuiper dan apehelion hampir sejauh 150 SA dari matahari. Orbit OPT juga
memiliki inklinasi tinggi pada bidang ekliptika dan sering hampir bersudut siku-siku.
Beberapa astronom menggolongkan piringan tersebar hanya sebagai bagian dari sabuk
Kuiper dan menjuluki piringan tersebar sebagai “Objek Sabuk Kuiper Tersebar”.
2.3.7 Daerah Terjauh
Titik tempat Tata Surya berakhir dan ruang antar bintang mulai tidaklah persis
terdefinisi. Batasan-batasan luar ini terbentuk dari dua gaya tekan yang terpisah yaitu
angin matahari dan gravitasi matahari. Batasan terjauh pengaruh angin matahari kira
kira berjarak empat kali jarak Pluto dan matahari. Heliopause ini disebut sebagai titik
permulaan medium antar bintang. Akan tetapi, Bola Roche Matahari jarak efektif
pengaruh gravitasi matahari diperkirakan mencakup sekitar seribu kali lebih jauh.
Banyak hal dari Tata Surya kita yang masih belum diketahui. Medan gravitasi
matahari diperkirakan mendominasi gaya gravitasi bintang-bintang sekeliling sejauh
dua tahun cahaya (125.000 SA). Perkiraan bawah radius Awan Oort, di sisi lain tidak
lebih besar dari 50.000 SA sekalipun Sedna telah ditemukan. Daerah antara Sabuk
Kuiper dan Awan Oort adalah sebuah daerah yang memiliki radius puluhan ribu SA.
Selain itu, juga ada studi yang mempelajari daerah antara Merkurius dan Matahari.
Objek-objek baru mungkin masih akan ditemukan di daerah yang belum dipetakan.
2.4 Konteks Galaksi
Tata Surya terletak di galaksi Bima Sakti yaitu sebuah galaksi spiral yang
berdiameter sekitar 100.000 tahun cahaya dan memiliki sekitar 200 milyar bintang.
Matahari berlokasi di salah satu lengan spiral galaksi yang disebut Lengan Orion. Letak
Matahari berjarak antara 25.000 dan 28.000 tahun cahaya dari pusat galaksi dengan
kecepatan orbit mengelilingi pusat galaksi sekitar 2.200 kilometer per detik. Setiap
revolusinya berjangka 225-250 juta tahun. Waktu revolusi ini dikenal sebagai tahun
galaksi Tata Surya.
Lokasi Tata Surya di dalam galaksi berperan penting dalam evolusi kehidupan di
Bumi. Bentuk orbit bumi adalah mirip lingkaran dengan kecepatan hampir sama dengan
lengan spiral galaksi sehingga bumi sangat jarang menerobos jalur lengan. Lengan
spiral galaksi memiliki konsentrasi supernova tinggi yang berpotensi bahaya sangat
besar terhadap kehidupan di Bumi. Situasi ini memberi Bumi jangka stabilitas yang
panjang yang memungkinkan evolusi kehidupan.
Di daerah pusat, tarikan gravitasi bintang-bintang yang berdekatan bisa
menggoyang benda-benda di Awan Oort dan menembakan komet-komet ke bagian
dalam Tata Surya. Ini bisa menghasilkan potensi tabrakan yang merusak kehidupan di
18
Bumi. Intensitas radiasi dari pusat galaksi juga mempengaruhi perkembangan bentuk
hidup tingkat tinggi. Walaupun demikian, para ilmuwan berhipotesis bahwa pada lokasi
Tata Surya sekarang ini supernova telah mempengaruhi kehidupan di Bumi pada 35.000
tahun terakhir dengan melemparkan pecahan-pecahan inti bintang ke arah matahari
dalam bentuk debu radiasi atau bahan yang lebih besar lainnya, seperti berbagai benda
mirip komet.
19
BAB III
PENUTUP
3.2 Kesimpulan
Ada beberapa hipotesis yang menyatakan asal-usul Tata Surya yang telah
dikemukakan oleh beberapa ahli, yaitu Hipotesis Nebula, Hipotesis Planetisimal,
Hipotesis Pasang Surut Bintang, Hipotesis Kondensasi, dan Hipotesis Bintang Kembar.
Sejarah penemuan Tata surya di awali dengan dilihatnya planet-planet dengan mata
telanjang hingga ditemukannya alat untuk mengamati benda langit lebih jelas yaitu
Teleskop dari Galileo. Perkembangan teleskop diimbangi dengan perkembangan
perhitungan benda-benda langit dan hubungan satu dengan yang lainnya. Dari mulai
mengetahui perkembangan planet-planet hingga puncaknya adalah penemuan UB 313
yang ternyata juga mempunyai satelit.
Tata surya adalah kumpulan benda langit yang terdiri atas sebuah bintang yang
disebut Matahari dan semua objek yang terikat oleh gaya gravitasinya. Objek-objek
tersebut termasuk delapan buah planet yang sudah diketahui dengan orbit berbentuk
elips, lima planet kerdil atau katai, 173 satelit alami yang telah diidentifikasi, dan jutaan
benda langit (meteor, asteroid, komet) lainnya. Tata Surya terbagi menjadi Matahari,
empat planet bagian dalam, sabuk asteroid, empat planet bagian luar, dan di bagian
terluar ada Sabuk Kuiper dan Piringan Tersebar.
3.2 Saran
Sebaiknya semua pihak mempelajari Tata Surya agar dapat mengetahui dari
mana sebenarnya Tata Surya itu berasal sehingga kita tidak dapat mengada-ada atau
merekayasanya. Mengetahui Tata Surya juga sangat penting agar kita dapat mengetahui
kebesaran Tuhan Yang Maha Esa sehingga kita dapat meningkatkan keimanan dan
ketakwaan.
20
DAFTAR RUJUKAN
Amalia, Lily. 2004. Fisika 1 Kelas X. Bandung: PT. Rosdakarya.
Barata, Bima. 2002. Fisika Untuk SMA. Jakarta: Sagufindo Kinarya.
Saukah, Ali, dkk. 2007. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Malang: UM Press.
Widyartono, Didin. 2008. Kaidah-Kaidah Menulis. Malang: Indus Nesus Private.
Wikipedia.2009.Tata Surya,(Online),(http://wikipediafoundation.org/,diakses
November 2011).
Wikipedia.2009.Planet,(Online)
21
23
Download