1-TM-Paradigma-Perekonomian-Indonesia-pd-Masa-Orde

advertisement
MATERI I
Paradigma Perekonomian Indonesia
 Orde Lama
 Orde Baru
 Reformasi
Elistia, SE, MM
1
Pengenalan Gambaran Sejarah
Perekonomian Indonesia
 Materi pertemuan 1 ini adalah untuk menggambarkan dan
menganalisis perekonomian Indonesia adalah melalui
perspektif sejarah secara kronologis-historis.
 Hal ini sangat beralasan karena peristiwa yang terjadi biasanya
tidak terlepas dari peristiwa sebelumnya.
 Berdasarkan perspektif tersebut, perekonomian Indonesia
umumnya dibagi ke dalam tiga kurun waktu yaitu:
1. Orde Lama (1945-1966),
2. Orde Baru (1966-1998), dan
3. Orde Reformasi (1998-sekarang).
Elistia, SE, MM
2
A. Perekonomian Pada Masa Orde Lama
(1945-1966) / 21 tahun
 Perekonomian Indonesia pada masa Orde Lama dimulai sejak
Indonesia merdeka tanggal 17 Agustus 1945 sampai 10 Maret 1966.
 Selama masa Orde Lama, perekonomian Indonesia berkembang
kurang menggembirakan. Keadaan ini tidak terlepas dari stabilitas
politik yang tidak menguntungkan kehidupan ekonomi, Demokrasi
yang dianut pada masa Orde Lama adalah demokrasi terpimpin
dengan kabinet parlementer, yaitu para menteri bertanggung jawab
kepada parlemen (wakil rakyat/DPR).
 Pada masa itu pemerintah mengalami jatuh bangun dan kabinet silih
berganti. Selama Desember 1949—Agustus 1959 telah terjadi 8
pergantian kabinet, mulai dari kabinet Hatta sampai kabinet Djuanda.
Elistia, SE, MM
3
Situasi Perekonomian pada
Masa Orde Lama (1945-1966)
1. Pertumbuhan ekonomi
 Pertumbuhan ekonomi yang cukup menggembirakan dengan laju 6,9
persen dalam periode 1952-1958, lalu turun drastis menjadi 1,9 persen
dalam periode 1960-1965.
 Pada periode 1951-1966, pertumbuhan ekonomi hanya mencapai 2,7
persen per tahun. Sementara itu, defisit anggaran belanja pemerintah
terus membengkak dari tahun ke tahun.
 Kebijakan yang diambil untuk mengatasi defisit itu hanya dilakukan dengan
cara mencetak uang baru, yang mengakibatkan inflasi yang tinggi, yakni
sebesar 23,5 persen per tahun selama kurun waktu 1955-1960.
 Bahkan pada masa kabinet Hatta, Desember 1949-1950, telah terjadi
reformasi moneter melalui devaluasi mata uang secara serempak dan
pemotongan jumlah uang yang beredar pada bulan Maret 1950.
Elistia, SE, MM
4
Situasi Perekonomian pada Masa Orde Lama
(1945-1966)
2.
Nasionalisasi Perusahaan Asing
 Pada tahun 1951 terjadi nasionalisasi perusahaan asing (terutama milik
Belanda) yang dilaksanakan secara besar-besaran pada tahun 1958 sebagai
realisasi dari pemberlakuann UU No. 78/ 1958 tentang investasi Asing,
yang pada intinya berisikan kebijakan anti-investasi asing.
 Saat itu investasi asing dianggap dapat menghambat pembangunan
ekonomi Indonesia, karena diduga hendak menguasai kehidupan
perekonomian.
 Kejadian ini semakin memperburuk keadaan perekonomian Indonesia,
karena pemerintah saat itu kurang mempertimbangkan dampaknya.
 Dampak yang paling parah adalah penutupan Bursa Efek Jakarta (Djakarta
Stock Exchange) pada tahun 1958. Penutupan ini dilakukan karena
perusahaan yang terdaftar dalam Bursa Efek Jakarta sebagian besar justru
perusahaan asing, sehingga terjadi pelarian modal secara substansial.
Elistia, SE, MM
5
Situasi Perekonomian pada Masa Orde Lama
(1945-1966)
3.
Merger Lembaga Keuangan Bank Pemerintah
 Pada tahun 1965 didirikan Bank Berjuang yang merupakan
penggabungan semua bank milik pemerintah.
 Tujuan dari bank ini adalah mengelola dan mengendalikan langsung
aktivitas serta sistem perbankan oleh hanya satu tangan, yaitu
pemerintah saja, sekaligus demi melaksanakan gagasan ekonomi
terpimpin yang dilancarkan oleh pemerintah ketika itu.
 Pada masa Orde Lama, sistem perbankan Indonesia hanya sekedar
sebagai pemasok dana proyek pemerintah melalui pencetakan uang,
terutama proyek-proyek khusus presiden.
Elistia, SE, MM
6
Situasi Perekonomian pada Masa Orde Lama
(1945-1966)
4.
Ketenagakerjaan
 Ditinjau dari segi Angkatan Kerja, pekerjaan, dan upah, pada masa Orde Lama hampir
sebagian besar (72 persen) bekerja di sektor pertanian, sedangkan sisanya sebesar 9,5
persen di sektor jasa, 6,7 persen di sektor perdagangan dan keuangan, dan 5,7 persen
di sektor industri.
 Menurut sensus tahun 1961, jumlah angkatan kerja Indonesia sebanyak 34,5 juta dan
yang 29,5 juta merupakan bukan angkatan kerja. Jumlah pengangguran pada masa
Orde Lama hanya sebanyak 1,8 juta dari 34,5 juta angkatan kerja. Jika dilihat dari jenis
kelamin, ternyata jumlah penganggur wanita lebih banyak daripada laki-laki (6,9
persen wanita dan pria 4,87 persen).
 Upah yang diterima pekerja pada masa Orde Lama relatif sangat rendah, bahkan pada
kurun waktu 1950-1960 terjadi perkembangan upah riil yang negatif. Ini berarti bahwa
perubahan harga lebih cepat dibandingkan perubahan upah minimal.
Elistia, SE, MM
7
Situasi Perekonomian pada Masa Orde Lama
(1945-1966)
5.
Neraca Ekonomi Nasional
 Ditinjau dari neraca ekonomi nasional pada masa Orde Lama sangatlah
memprihatinkan. Anggaran pemerintah selama tahun 1955-1965 senantiasa
mengalami defisit yang semakin membesar. Rata-rata defisitnya adalah 137
persen dari pendapatan. Ini berarti bahwa pengeluaran pemerintah lebih besar
dibandingkan pendapatan.
 Untuk mengatasi difisit tersebut, usaha yang dilakukan oleh pemerintah adalah
melalui pencetakan uang baru. Selain anggaran pemerintah yang defisit, defisit
neraca ekonomi nasional pada masa Orde Lama juga tercermin dalam neraca
perdagangan dan pembayaran. Defisit neraca pembayaran dan neraca
perdagangan ini mencerminkan bahwa nilai ekspor lebih kecil dari impor.
Keadaan ini mendorong negara Indonesia melakukan pinjaman luar negeri.
 Pinjaman Iuar negeri yang terbesar pada masa Orde Lama berasal dari Blok
Komunis (59 persen), Blok Barat (25 pesren), Asia dan Afrika (11,2 persen), dan
IMF (4,3 persen). Keadaan ini tidak mengherankan karena pada masa Orde Lama
baik politik maupun perekonomian cenderung berkiblat pada Blok Komunis.
Elistia, SE, MM
8
B. Perekonomian Pada Masa Orde Baru
(1966-1998) / 32 tahun
 Masa Orde Baru berlangsung mulai dari 11 Maret 1966, yaitu bertepatan
dengan dikeluarkannya surat perintah sebelas maret (SUPERSEMAR),
sampai lengsernya Soeharto dari kursi kepresidenan Republik Indonesia
pada tanggal 21 Mei 1998.
 Untuk memudahkan dalam mendeskripsilcan perekonomian Indonesia pada
masa Orde Baru tersebut, kita membedakannya menjadi dua bagian yaitu
jangka pendek dan jangka panjang yang pada dasarnya saling berkaitan.
 Pelaksanaan Perekonomian Indonesia dalam jangka pendek biasanya
dibedakan menjadi empat tahapan berikut:
 Tahap Penyelamatan (Juli — Desember 1966)
 Tahap Rehabilitasi (Januari — Juni 1967)
 Tahap Konsolidasi (Juli — Desember 1967)
 Tahap Stabilisasi
(Januari — Juli 1968)
Elistia, SE, MM
9
Situasi Perekonomian pada Masa Orde Baru
(1966-1998)
1.
Program Ekonomi Jangka Pendek
 Pada program ekonomi jangka pendek Indonesia juga membuka peluang
bagi masuknya investasi asing dan menaruh kepercayaan besar pada
kekuatan pasar. Dalam jangka pendek akan dilakukan berbagai kebijakan
antara Iain:
a)
Di sektor moneter dilakukan reformasi besar-besaran atas sistem
perbankan yaitu dengan dikeluarkannya tiga Undang-Undang baru tentang
Perbankan: UU tentang Perbankan tahun 1967, UU tentang Bank Sentral
tahun 1968, dan UU tentang Bank Asing tahun 1968. Ini merupakan Basis
Legal bagi Pelaksanaan dan Pengaturan Kerangka Sistem Moneter, dan
dapat berperan dalam memobilisasi tabungan masyarakat guna
mendukung pertumbuhan ekonomi selain memainkan peranan penting
dalam pembangunan pasar uang dan pasar modal.
b)
Dalam mendukung kebijakan pembangunan jangka pendek pemerintah
memperkenalkan Kebijakan Anggaran Berimbang (Balanced Budget Policy).
Elistia, SE, MM
10
Situasi Perekonomian pada Masa Orde Baru
(1966-1998)
1.
Program Pembangunan Lima Tahunan (Pelita I – VI)
 Dalam perspektif jangka panjang dituangkan melalui pembangunan lima tahunan.
Program jangka panjang ini dilakukan setelah berhasil memulihkan stabilitas
perekonomian yang dimulai sejak 1 April 1969.
 Program pembangunan jangka panjang ini dibagi ke dalam tahapan pembangunan lima
tahunan atau yang lebih dikenal dengan Pelita. Jika dilihat dari kurun waktu Orde Baru,
maka Pelita yang dapat dijalankan sampai berakhirnya masa Orde Baru adalah enam
Pelita.
 Pelaksanaan pembangunan lima tahunan ini senantiasa menerapkan strategi
pembangunan yang dilanjutkan dengan kebijakan pembangunan yang berlandaskan
pada trilogi pembangunan yaitu pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi, pemerataan
hasil-hasil pembangunan, dan stabilitas nasional yang sehat serta dinamis.
 Ketiga logi tersebut merupakan sasaran penting dalam pembangunan selama Orde
Baru. Ketiga logi tersebut selama Orde Baru terus berubah-ubah dalam prioritasnya
sesuai dengan masalah dan situasi yang dihadapi oleh Indoonesia pada saat itu.
Elistia, SE, MM
11
Situasi Perekonomian pada Masa Orde Baru
(1966-1998)
2.
Pelita I – II (1969 – 1979)
 Pada Pelita I (1969-1974) prioritas pertama diarahkan pada sasaran
pemeliharaan stabilitas perekonomian, diikuti oleh pertumbuhan ekonomi
yang cukup tinggi dan pemerataan hasil-hasil pembangunan.
 Berdasarkan urutan prioritas tersebut terlihat bahwa pada masa Pelita I,
pemerintah Indonesia belum memikirkan pemerataan hasil pembangunan
tetapi justru lebih menitikberatkan pada stabilitas perekonomian.
 Hal ini dapat dipahami karena pada masa itu dapat dikatakan sebagai masa
transisi dari Orde Lama ke Orde Baru yang memang perekonomian pada
masa tersebut tidak stabil, khususnya yang berkaitan dengan inflasi. Keadaan
ini berbeda dengan Pelita Il (1974-1979) yang mengurutkan pertumbuhan
ekonomi yang cukup tinggi sebagai prioritas pertama, diikuti oleh
pemerataan hasil-hasil pembangunan, dan stabilitas perekonomian.
Elistia, SE, MM
12
Situasi Perekonomian pada Masa Orde Baru
(1966-1998)
2.
Pelita I – II (lanjutan)
 Dari urutan prioritas tersebut terlihat bahwa Pelita I sebagai tonggak
pembangunan sudah dianggap sukses dalam menstabilkan perekonomian,
sehingga pada Pelita Il sasaran yang harus dicapai adalah bagaimana
meningkatkan pendapatan nasional Indonesia melalui produk domestik brutonya
sehingga pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi dapat tercapai. Keadaan ini
tidak terlepas dari keberhasilan Pelita I yang mampu mencapai pertumbuhan
ekonomi sebesar 8,56 persen per tahun.
 Selama Pelita Il yang memprioritaskan pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi
sebagai prioritas pertama sampai akhir Pelita Il mampu menciptakan
pertumbuhan ekonomi rata-rata 6,96 persen per tahun.
 Berdasarkan gambaran tersebut, tampak bahwa pembangunan Indonesia pada
awal Orde Baru melalui Pelita I dan Il telah mampu menciptakan pertumbuhan
ekonomi yang cukup tinggi. Tingginya pertumbuhan ekonomi tersebut tidak
terlepas dari pengaruh internasional, khususnya yang berkaitan dengan bonanza
atau rezeki nomplok dari minyak bumi.
Elistia, SE, MM
13
Situasi Perekonomian pada Masa Orde Baru
(1966-1998)
2.
Pelita I – II (lanjutan)
 Pada dekade Pelita I dan Il, yaitu tahun 1973, dunia internasional mengalami
krisis energi sehingga harga minyak dunia mengalami peningkatan dari US $3 per
barrel menjadi US $10 per barel. Krisis energi tersebut terjadi karena konflik
antara Arab Israel, yang pada saat itu telah mampu mempersatukan negaranegara Arab dalam menghadapi Israel dan sekutu-sekutunya yaitu Amerika
Serikat dan Inggris.
 Pada saat itu, negara-negara Arab penghasil dan pengekspor minyak (yang
tergabung dalam OPEC di mana Indonesia dan beberapa negara pengekspor
minyak non-arab juga menjadi anggota) melancarkan aksi embargo minyak.
Negara-negara itu menghentikan penjualan minyaknya kepada negara-negara
Barat yang memihak Israel.
 Karena menguasai pangsa pasar minyak dunia, aksi tersebut menyebabkan krisis
energi. Indonesia sebagai negara anggota OPEC diuntungkan dengan tingginya
harga minyak di pasaran internasional. Karena itu, pada dekade tersebut
perekonomian Indonesia sering dikenal dengan masa Oil boom yang merupakan
sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Elistia, SE, MM
14
Situasi Perekonomian pada Masa Orde Baru
(1966-1998)
3.
Pelita III – VI
 Berbeda dengan Pelita III sampai Pelita V yang menitikberatkan pada
pemerataan hasil-hasil pembangunan sebagai prioritas pertama, yang kemudian
diikuti oleh pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi dan stabilitas nasional,
pertumbuhan ekonomi kembali mengalami penurunan yaitu dengan rata-rata
pertumbuhan ekonomi sebesar 6,02 persen per tahun pada Pelita III, 5,21
persen per tahun pada Pelita IV, dan 6,76 persen per tahun pada Pelita V.
 Kondisi ini tidak terlepas dari pengaruh internasional yang pada saat itu krisis
energi dunia sudah dapat teratasi sehingga harga minyak internasional kembali
mengalami penurunan.
 Indonesia yang hanya mengandalkan migas sebagai komoditi ekspornya
melupakan komoditi nonmigas. Oleh karena itu, pada dekade pertengahan
tahun Pelita III sampai Pelita VI senantiasa diambil berbagai kebijakan yang
diarahkan untuk menggalakkan serta menumbuhkan komoditi nonmigas
sebagai komoditi ekspor.
Elistia, SE, MM
15
Situasi Perekonomian pada Masa Orde Baru
(1966-1998)
4.
Peningkatan Stabilitas Nasional
 Relatif terpeliharanya stabilitas nasional sekaligus manjadi kesuksesan
mengatasi masalah paling mendasar dalam perekonomian, yaitu menekan laju
inflasi. Laju inflasi sebesar 650 persen pada masa Orde Lama menurun menjadi
rata-rata 17 persen pada tahun 1970-an dan 9 persen pada tahun 1980-an,
sedangkan pada tahun 1990-an masih dapat ditekan menjadi satu digit.
5.
Kondisi Penerimaan Pendapatan Negara
 Struktur perekonomian Indonesia pada masa Orde Baru sudah lebih kokoh dan
seimbang jika dilihat baik dari Sisi penerimaan negara, penerimaan devisa dan
penerimaan ekspor, maupun dari Sisi investasi.
 Dalam konteks pendapatan negara, ketergantungan penerimaan dari sektor
migas semakin berkurang, dan hal tersebut tergantikan oleh sektor penerimaan
pajak. Begitu pula struktur perolehan devisa sebagian besar bersumber dari
ekspor komoditi nonmigas. Di bidang investasi, peranan sektor swasta sebagai
sumber utama investasi kian berkembang.
Elistia, SE, MM
16
Situasi Perekonomian pada Masa Orde Baru
(1966-1998)
6.
Kondisi Kebijakan Fiskal

Dałam bidang fiskal, prinsip anggaran berimbang yang dinamis
senantiasa dianut. Berimbang di sini berarti bahwa penerimaan
senantiasa harus sama dengan pengeluaran.
Dinamis berarti bahwa apabila terjadi defisit, maka pengeluaran akan
disesuaikan agar keseimbangan tetap terjaga. Sebaliknya, jika realisasi
penerimaan melebihi, maka pengeluaran dapat ditingkatkan agar
keseimbangan tetap terpelihara.
Dengan prinsip semacam iłu, tabungan pemerintah diupayakan terusmenerus sehingga porsinya dałam membiayai pembangunan menjadi
lebih besar. Namun demikian, harapan tersebut masih jauh dałam
pelaksanaannya, sehingga untuk menutupi defisist anggaran
senantiasa memanfaatkan bantuan luar negeri.


Elistia, SE, MM
17
Situasi Perekonomian pada Masa Orde Baru
(1966-1998)
7.
Kebijakan Moneter

Dałam bidang moneter terjadi perubahan struktur secara mendasar
setelah diluncurkan paket deregulasi kebijakan 27 Oktober 1988, yaitu
jumlah bank sebanyak 111 dengan 1.728 kantor dałam tahun 1988
melonjak menjadi 239 bank dengan 6.022 kantor pada tahun 1994.

Selama kurun waktu tersebut, jumlah bank-bank umum swasta terus
bertambah, di mana hal ini tidak terlepas dari kemudahan-kemudahan
dałam pendirian bank berdasarkan fakta tersebut.

Selain dunia perbankan, lembaga-lembaga nonbank juga tumbuh. Dałam
bidang perasuransian dan reasuransi bertambah dari 102 menjadi 151
perusahaan antara dekade 1987-1994.
Elistia, SE, MM
18
Situasi Perekonomian pada Masa Orde Baru
(1966-1998)
8.
Hutang Luar Negeri
 Dałam hal hutang luar negeri, pembayaran kembali angsuran pokok dan bunga
utang kian membesar baik jumlah mutlak maupun peranan relatifnya terhadap
seluruh pengeluaran rutin. Selama PJP I, pembayaran kembali angsuran pokok
dan bunga utang luar negeri meningkat rata-rata 33,6 persen per tahun.
 Dalam Pelita I, II, dan III porsi pelunasan utang masih kecil dari porsi
pengeluaran rutin masing-masing sebesar 9,3 persen Pelita I, 11,8 persen Pelita
II, dan 17,3 persen Pelita III. Mulai Pelita IV beban pelunasan utang semakin
membesar yang memakan porsi 41,2 persen dari seluruh pengeluaran rutin.
 Beban tersebut semakin berat lagi pada Pelita V yang mampu menyita sebesar
44,6 persen pengeluran rutin. Membesarnya porsi tersebut tidak terlepas dari
dua hal yaitu membesarnya jumlah pembayaran hutang yang jatuh tempo dan
apresiasi nilai yen Jepang terhadap dolar Amerika Serikat atau yendaka.
 Uraian tentang kajian APBN ini akan dikaji lebih jauh pada materi selanjutnya
tentang Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara Indonesia.
Elistia, SE, MM
19
C. Perekonomian Indonesia pada Masa Reformasi
(1998 – sekarang)
 Perekonomian Indonesia pada masa Pemerintahan Reformasi diawali
dengan krisis moneter/depresiasi rupiah sejak semester II tahun 1997, yaitu
kinerja perekonomian Indonesia menurun tajam dan berubah menjadi krisis
yang berkepanjangan diberbagai bidang.
 Proses penyebaran krisis berkembang cepat mengingat tingginya
keterbukaan perekonomian Indonesia dan ketergantungan pada sektor luar
negeri yang sangat besar. Krisis tersebut kemudian berkembang semakin
parah karena adanya berbagai kelemahan mendasar dalam perekonomian
nasional, terutama ditingkat mikro.
 Pengelolaan perekonomian dan sektor usaha (corporate governance) yang
kurang efisien serta sistem perbankan yang rapuh menyebabkan gejolak
nilai tukar berubah menjadi krisis utang swasta dan krisis perbankan.
Elistia, SE, MM
20
Kondisi Perekonomian pada Masa Reformasi
(1998 - sekarang)
1.
Krisis Ekonomi
 Untuk mengatasi krisis yang semakin dalam, pemerintah telah menempuh berbagai
upaya. Akan tetapi, upaya-upaya tersebut belum menunjukkan hasilnya karena krisis
kepercayaan terhadap kemampuan pengelolaan dan prospek perekonomian
semakin meluas.
 Berbagai isu politik yang muncul bersamaan dengan semakin memburuknya kinerja
perekonomian, semakin mempersulit upaya pemulihan perekonomian. Dengan
semakin parahnya krisis yang terjadi, kegiatan intermediasi di sektor keuangan,
terutama perbankan, menjadi terganggu sehingga aliran dana untuk membiayai
kegiatan investasi dan produksi mengalami berbagai hambatan.
 Hal ini mengakibatkan kegiatan ekonomi mengalami kontraksi yang tajam, sehingga
secara keseluruhan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) merosot menjadi
4,7 persen pada tahun 1997 dibandingkan dengan 8,0 persen pada tahun
sebelumnya. Tingkat pengangguran terbuka diperkirakan meningkat tajam dari 4,9
persen pada tahun 1996 menjadi 7,5 persen pada tahun 1997, dan laju inflasi
melonjak dari 5,17 persen pada tahun 1996/1997 menjadi 34,22.
Elistia, SE, MM
21
Kondisi Perekonomian pada Masa Reformasi
(1998 - sekarang)
2.
Upaya Pemulihan Kondisi Perekonomian
 Dengan kondisi yang sedemikian buruknya, serta menyadari masih adanya
beberapa kelemahan mendasar baik di sektor riil maupun sektor Iainnya,
pemerintah berinisiatif menempuh program stabilisasi dan reformasi untuk
menyehatkan serta memulihkan perekonomian.
 Program tersebut kemudian mendapat bantuan teknis dan dukungan keuangan
dari beberapa lembaga internasional serta negara-negara sahabat yang
dikoordinasikan oleh IMF. Pada tanggal 5 November 1997, IMF telah menyetujui
pemberian pinjaman siaga (stand-by credit) kepada Indonesia senilai SDR 7,3
miliar (sekitar $10 miliar).
 Bank Dunia dan ADB juga telah memberikan komitmen bantuannya masingmasing sejumlah $4,5 miliar dan $3,5 miliar. Di luar paket tersebut, pemerintah
Indonesia juga mendapat bantuan keuangan sebagai second line of defence dari
negara-negara sahabat seperti Jepang, Singapura, Amerika Serikat, Malaysia,
Brunei Darussalam, Australia, Tiongkok, dan Hongkong.
Elistia, SE, MM
22
Kondisi Perekonomian pada Masa Reformasi
(1998 - sekarang)
2.
Upaya Pemulihan Kondisi Perekonomian (lanjutan)
 Perkembangan ekonomi sampai dengan bulan Januari 1998 yang semakin kurang
menguntungkan, yang antara Iain tercermin pada merosotnya nilai rupiah dan
melonjaknya laju inflasi, pemerintah memandang perlu untuk mempercepat proses
penyehatan ekonomi sekaligus merevisi target-target makroekonomi.
 Inilah yang mendasari kesepakatan lanjutan antara Indonesia dan IMF pada tanggal 15
Januari 1998. Selanjutnya, dalam bulan Maret 1998, IMF melakukan pengkajian terhadap
pelaksanaan program stabilisasi dan reformasi. Berdasarkan pemenuhan performance
criteria yang telah ditetapkan pada kesepakatan sebelumnya dan hasil pengamatan
terhadap perkembangan ekonomi, pemerintah dan IMF membahas program-program
terdahulu yang diperlukan untuk mempercepat pemulihan ekonomi Indonesia.
 Langkah-langkah yang telah ditempuh pemerintah dalam menjalankan program
penyehatan ekonomi hingga 31 Maret 1998, pada dasarnya berkaitan dengan kebijakan
makroekonomi yang meliputi kebijakan moneter dan kebijakan fiskal. Selain kedua
kebijakan tersebut, juga ada kebijakan Iainnya yang berkaitan dengan restrukturisasi
sektor keuangan, reformasi di sektor riil, perdagangan luar negeri, investasi, privatisasi
dan deregulasi, serta jaringan pengaman sosial.
Elistia, SE, MM
23
Kondisi Perekonomian pada Masa Reformasi
(1998 - sekarang)
3.
Kebijakan Fiskal
 Langkah-langkah di bidang fiskal pada dasarnya ditujukan untuk meningkatkan
penerimaan negara dan melakukan berbagai penghematan yang diikuti dengan
peningkatan disiplin anggaran. Langkah-langkah tersebut adalah:
 Memperbaiki administrasi dan struktur pajak.
 Meningkatkan penerimaan pajak melalui peningkatan pajak barang mewah, cukai minuman







beralkohol, dan cukai tembakau.
Menghapus pengecualian PPN.
Meningkatkan proporsi tanah dan bangunan kena pajak bagi usaha perkebunan dan kehutanan
menjadi 40 persen.
Mengurangi subsidi secara bertahap untuk BBM dan Listrik.
Melaksanakan transparansi fiskal dengan memasukkan dana reboisasi dan dana investasi dalam
anggaran pemerintah.
Membatalkan/menunda proyek-proyek infrastruktur.
Menghapus pengecualian pajak, bea masuk, dan credit priviledges yang semula diberikan pada
proyek IPTN.
Menanggung biaya subsidi kredit yang diberikan kepada pengusaha kecil.
Elistia, SE, MM
24
Kondisi Perekonomian pada Masa Reformasi
(1998 - sekarang)
4.
Kebijakan Moneter
 Langkah-langkah di bidang moneter ditujukan untuk menyesuaikan kebutuhan
likuiditas perekonomian dan suku bunga demi menstabilkan nilai tukar rupiah.
Untuk itu, pemerintah melaksanakan kebijakan moneter yang ketat sampai nilai
tukar stabil dengan tetap memperhatikan kebutuhan-kebutuhan likuiditas,
terutama bagi usaha kecil-menengah dan koperasi. Langkah-langkah tersebut
adalah:
1)
Meningkatkan suku bunga SBI untuk semua jangka waktu.
2)
Melakukan intervensi di pasar valas apabila dirasakan efektif, baik yang
dilakukan oleh BI maupun secara bersama-sama dengan bank sentral negara
Iain (concerted intervention).
3)
Melakukan pembatasan transaksi forward bank-bank nasional dengan
nonresiden sampai dengan $5 juta.
Elistia, SE, MM
25
Kondisi Perekonomian pada Masa Reformasi
(1998 - sekarang)
4.
Kebijakan Moneter (lanjutan)
4)
5)
6)
7)
8)
9)
Elistia, SE, MM
Menurunkan Giro Wajib Minimum valas dari 5 persen menjadi 3
persen atas dana pihak ketiga dalam valas.
Memberikan kewenangan penuh pada bank pemerintah untuk
menyesuaikan suku bunga kredit dan simpanan.
Memberikan fasilitas swap khusus untuk eksportir tertentu (PET) dan
fasilitas forward kepada importir produk ekspor.
Memperluas cakupan fasilitas rediskonto wesel ekspor kepada PET
dari hanya rediskonto pascapengapalan (post-shipment), menjadi
termasuk prapengapalan (pre-shipment).
Meningkatkan independensi Bank Indonesia dalam menetapkan suku
bunga dan melaksanakan kebijakan moneter.
Membentuk tim penyelesaian utang luar negeri swasta untuk
membantu penyelesaian utang luar negeri swasta.
26
Kondisi Perekonomian pada Masa Reformasi
(1998 - sekarang)
5. Restrukturisasi Sektor Keuangan
 Restrukturisasi sektor keuangan ditujukan untuk menyehatkan dan memperkuat
sistem keuangan nasional melalui restrukturisasi perbankan serta memperkuat
kerangka hukum dan pengawasan perbankan. Langkah-langkah tersebut adalah:
1) Mencabut izin usaha 16 bank insolven.
2) Menempatkan bank pembangunan daerah yang tidak sehat di bawah
pengawasan ketat BI.
3) Mengumumkan rencana merger bank-bank pemerintah dan diikuti dengan
rencana merger bank-bank swasta.
4) Memberikan jaminan penuh kepada semua deposan dan kreditor semua bank
umum yang berbadan hukum Indonesia.
5) Memberikan dukungan terhadap skim pinjaman luar negeri yang dijamin oleh
negara pemberi pinjaman dan menyalurkan pinjaman tersebut melalui bankbank di Indonesia dengan memberikan jaminan atas L/C impor serta
mengecualikannya dari ketentuan PKLN bank.
Elistia, SE, MM
27
Kondisi Perekonomian pada Masa Reformasi
(1998 - sekarang)
5. Restrukturisasi Sektor Keuangan
6) Memberikan bantuan likuiditas bagi bank-bank dengan persyaratan kondisi
7)
8)
9)
10)
11)
12)
13)
yang diperketat.
Membentuk BP PN yang fungsi utamanya adalah melaksanakan sistem
penjaminan dan proses restrukturisasi perbankan seefektif mungkin. BPPN
bertanggung jawab langsung kepada Menteri Keuangan.
Meningkatkan ketentuan modal minimum bank-bank umum secara bertahap.
Menetapkan kriteria bank-bank Iemah yang akan dialihkan ke BPPN.
Selanjutnya 54 bank yang tidak sehat dialihkan pengawasannya kepada BPPN.
Merevisi kerangka kerja hukum untuk operasi perbankan termasuk UU
Kepailitan, UU Keterbukaan Perbankan, dan masalah jaminan.
Meningkatkan transparansi dan keterbukaan dalam perbankan.
Menghapus pembatasan pembukaan cabang bank asing.
Menghapus batasan pembelian saham bagi investor asing maksimal sebesar 49
persen, yang diperdagangkan pada perdagangan perdana, kecuali saham
perbankan.
Elistia, SE, MM
28
Kondisi Perekonomian pada Masa Reformasi
(1998 - sekarang)
6.
Reformasi Struktural di Sektor Riil
 Untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing nasional serta mengurangi berbagai
hambatan perdagangan luar negeri, pemerintah melakukan restrukturisasi sektor
riil. Restrukturisasi tersebut dilaksanakan melalui reformasi di bidang perdagangan,
investasi, deregulasi, dan privatisasi.
 Sektor riil dalam pertumbuhan ekonomi yang menjadi penyumbang terbesar di
Indonesia, seharusnya adalah pergerakan ekonomi sektor riil berupa pertanian,
perikanan/kelautan, perindustrian, perdagangan, transportasi, pariwisata dan usaha
sektor jasa dan sebagainya), bukan hanya pergerakan ekonomi sektor nonriil berupa
pasar uang, pasar modal, bursa saham, investasi asing, utang luar negeri, perbankan
dan sebagainya.
 Faktor utama penyebab belum bergeraknya sektor riil yakni pemerintah belum
mempunyai visi dan misi mengarahkan kebijakan ekonomi dengan memberdayakan
pengelolaan sumber daya alam dibidang : pertambangan, pertanian, kehutanan,
kelautan, perdagangan, perindustrian dan inftastruktur lainnya.
Elistia, SE, MM
29
Kondisi Perekonomian pada Masa Reformasi
(1998 - sekarang)
6.
Perdagangan Luar Negeri
1) Kebijakan yang diambil oleh pemerintah pada masa Reformasi ini berkaitan
dengan hal-hal berikut:
2) Mengurangi tarif produk makanan hingga maksimum 5 persen.
3) Menghapus ketentuan kandungan lokal pada produk susu.
4) Mengurangi tarif produk kimia sebesar 5 persen.
5) Mengurangi tarif produk pertanian nonmakanan sebesar 5 persen.
6) Mengurangi tarif produk besi/baja sebesar 5 persen.
7) Menghapus pembatasan impor kapal baru dan kapal bekas.
8) Menghapus pajak ekspor produk kulit, cork, ores, dan produk alumunium.
9) Menghapus PPN untuk pembelian bahan baku dan jasa dari pemasok dalam
negeri kepada perusahaan berstatus PET (Perusahaan Eksportir Tertentu).
10) Menambah jenis komoditi dalam cakupan PET dari 10 menjadi 29.
11) Mengurangi secara bertahap pajak ekspor produk-produk tertentu, kecuali yang
bertujuan untuk menjaga kelestarian lingkungan.
Elistia, SE, MM
30
Kondisi Perekonomian pada Masa Reformasi
(1998 - sekarang)
Investasi
 Kebijakan yang diambil oleh pemerintah pada masa Reformasi yang
berkaitan dengan investasi antara lain:
1) Menghapus batasan 49 persen pemilikan saham perusahaan
yang tercatat di bursa oleh investor asing (kecuali perbankan).
2) Menghapus larangan investasi asing dalam perkebunan kelapa
sawit.
3) Mencabut larangan investasi asing dalam perdagangan eceran.
4) Deregulasi dan privatisasi.
6.
Elistia, SE, MM
31
Kondisi Perekonomian pada Masa Reformasi
(1998 - sekarang)
6.
Investasi
 Kebijakan yang diambil oleh pemerintah pada masa Reformasi yang berkaitan
dengan deregulasi dan privatisasi antara lain:
1. Menghapus pembatasan pemasaran semen, kertas, dan kayu lapis.
2. Menghapus kendali harga semen (HPS).
3. Membolehkan produsen semen yang hanya memiliki izin eksportir umum untuk
mengekspor.
4. Menghapus tata niaga cengkeh.
5. Melarang
6.
7.
8.
9.
pemerintah daerah membatasi perdagangan di dalam dan
antarprovinsi, termasuk perdagangan cengkeh dan vanila.
Menghapus secara bertahap monopoli BULOG, kecuali dalam hal distribusi dan
penetapan harga dasar beras serta kedelai.
Membebaskan pihak swasta untuk melakukan impor dan penjualan gandum,
tepung terigu, kedelai, bawang putih, serta gula; penjualan dan distribusi
tepung terigu; impor dan pemasaran gula.
Membebaskan petani dari kewajiban menanam tebu.
Mempercepat proses privatisasi BUMN.
Elistia, SE, MM
32
Kondisi Perekonomian pada Masa Reformasi
(1998 - sekarang)
7.
Jaringan Pengaman Sosial (Social Safety Net)
1)
Mempertahankan anggaran pemerintah untuk pengeluaran kesehatan dan
pendidikan.
2)
Meningkatkan pemberian bantuan kepada rakyat kecil dengan memperkuat
kemampuan lembaga perkreditan untuk usaha kecil dan menengah,
khususnya dalam penilaian kredit dan pengawasannya.
3)
Menyediakan kredit likuiditas terutama untuk program pengembangan usaha
kecil (KKPA, KKUD, dll).
4)
Memberikan fasilitas pembiayaan modal kerja bagi usaha kecil dan
mempermudah akses untuk memperoleh pembiayaan tersebut.
5)
Memperluas proyek-proyek yang berbasis partisipasi rakyat setempat.
Elistia, SE, MM
33
Kebijakan Ekonomi Masa Pemerintahan
Susilo Bambang Yudhoyono (2004 – 2009)
1. Pemerintahan Indonesia Bersatu Jilid I Era Susilo Bambang Yudhoyono
dan Jusuf Kaila (2004-2009)
 Langkah Presiden SBY untuk merangkul parpol-parpol yang kalah dalam
Pemilu 2009 adalah bagian dari kebijakan Soft Power, atau kebijakan untuk
bergotong-royong. Keadaan sistem ekonomi Indonesia pada masa
pemerintahan gotong royong memiliki karakteristik sebagai berikut:
a) Rendahnya
pertumbuhan
ekonomi
akibat
masih
kurang
berkembangnya investasi yang terutama disebabkan oleh masih tidak
stabilnya kondisi sosial politik dalam negeri.
b) Dalam hal ekspor, sejak tahun 2000, nilai ekspor non-migas Indonesia
terus merosot dari 62,1 miliar dollar AS menjadi 56,3 miliar dollar AS
tahun 2001, dan tahun 2002 menjadi 42,56 miliar dollar AS.
Elistia, SE, MM
34
Kebijakan Ekonomi Masa Pemerintahan
Susilo Bambang Yudhoyono (2004 – 2009)
1. Pemerintahan Indonesia Bersatu Jilid I Era Susilo Bambang Yudhoyono dan
Jusuf Kaila (2004-2009)
 Masa kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono terdapat kebijakan yang
kontroversial yaitu mengurangi subsidi BBM, atau dengan kata Iain menaikkan
harga BBM. Kebijakan ini dilatarbelakangi oleh naiknya harga minyak dunia.
Anggaran subsidi BBM dialihkan ke subsidi sektor pendidikan dan kesehatan
serta bidang-bidang yang mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat.
 Kebijakan kontroversial pertama itu menimbulkan kebijakan kontroversial
kedua, yakni Bantuan Langsung Tunai (BLT) bagi masyarakat miskin. Kebanyakan
BLT tidak sampai ke tangan yang berhak, dan pembagiannya menimbulkan
berbagai masalah sosial. Kebijakan yang ditempuh untuk meningkatkan
pendapatan per kapita adalah mengandalkan pembangunan infrastruktur
massal demi mendorong pertumbuhan ekonomi serta mengundang investor
asing dengan janji memperbaiki iklim investasi. Salah satunya adalah
mengadakan Indonesian Infrastructure Summit pada bulan November 2006,
Yang mempertemukan para investor dengan kepala-kepala daerah.
Elistia, SE, MM
35
Kebijakan Ekonomi Masa Pemerintahan
Susilo Bambang Yudhoyono (2004 – 2009)
1. Pemerintahan Indonesia Bersatu Jilid I Era Susilo Bambang Yudhoyono dan
Jusuf Kaila (2004-2009)
 Selain itu, pada periode ini pemerintah juga melaksanakan beberapa program
baru yang dimaksudkan untuk membantu ekonomi masyarakat kecil seperti
PNPM Mandiri dan Jamkesmas. Pada prakteknya, program-program ini berjalan
sesuai dengan yang ditargetkan meskipun masih banyak kekurangan di sanasini.
 Pada pertengahan bulan Oktober 2006, Indonesia melunasi seluruh Sisa utang
pada IMF sebesar 3,2 miliar dolar AS. Dengan ini, diharapkan Indonesia tidak
lagi mengikuti agenda-agenda IMF dalam menentukan kebijakan dalam negeri.
Namun, wacana untuk berutang lagi pada luar negeri kembali mencuat, setelah
keluarnya laporan bahwa kesenjangan ekonomi antara penduduk kaya dan
miskin menajam, dan jumlah penduduk miskin meningkat dari 35,10 jiwa di
bulan Februari 2005 menjadi 39,05 juta jiwa pada bulan Maret 2006.
Elistia, SE, MM
36
Kebijakan Ekonomi Masa Pemerintahan
Susilo Bambang Yudhoyono (2004 – 2009)
1. Pemerintahan Indonesia Bersatu Jilid I Era Susilo Bambang Yudhoyono dan
Jusuf Kaila (2004-2009)
 Semua itu disebabkan oleh beberapa hal, antara Iain karena pengucuran
kredit perbankan ke sektor riil masih sangat kurang (perbankan lebih suka
menyimpan dana di SBI), sehingga kinerja sektor riil kurang dan berimbas
pada turunnya investasi.
 Selain itu, birokrasi pemerintahan juga terlalu kental, sehingga menyebabkan
kecilnya realisasi belanja Negara dan daya serap karena inefisiensi
pengelolaan anggaran. Jadi, di satu Sisi pemerintah berupaya mengundang
investor dari luar negeri, tapi di Iain pihak, kondisi dalam negeri masih kurang
kondusif. Namun, selama masa pemerintahan SBY, perekonomian Indonesia
memang berada pada masa keemasannya. Indikator yang cukup menyita
perhatian adalah inflasi.
Elistia, SE, MM
37
Kebijakan Ekonomi Masa Pemerintahan
Susilo Bambang Yudhoyono (2004 – 2009)
1. Pemerintahan Indonesia Bersatu Jilid I Era Susilo Bambang Yudhoyono dan
Jusuf Kaila (2004-2009)
 Sejak tahun 2005-2009, inflasi berhasil ditekan pada single digit dari 17,11% pada
tahun 2005 menjadi 6,96% pada tahun 2009. Tagline strategi pembangunan
ekonomi SBY yang berbunyi pro-poor, pro-job, dan pro growth (dan kemudian
ditambahkan dengan pro environment) benar-benar diwujudkan dengan
turunnya angka kemiskinan dari 36,1 juta pada tahun 2005 menjadi 31,02 juta
orang pada tahun 2010.
 Imbas dari pertumbuhan PDB yang berkelanjutan adalah peningkatan konsumsi
masyarakat yang mempengaruhi peningkatan kapasitas produksi di sektor riil
yang, tentu saja, banyak membuka lapangan kerja baru.
 Terobosan pembangunannya berupa master plan Percepatan dan Perluasan
Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). Melalui langkah MP3EI, percepatan
pembangunan ekonomi akan mampu menempatkan Indonesia sebagai negara
maju pada tahun 2025 dengan pendapatan per kepita antara USS 14.250-USS
15.500, dengan nilai total perekonomian (PDB) berkisar antara USS 4,0-4,5 triliun.
Elistia, SE, MM
38
Kebijakan Ekonomi Masa Pemerintahan
Susilo Bambang Yudhoyono (2004 – 2009)
1. Pemerintahan Indonesia Bersatu Jilid II Era Susilo Bambang Yudhoyono dan




Boediono (2009-2014)
Pada periode ini, pemerintah khususnya melalui Bank Indonesia menetapkan
empat kebijakan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional yaitu:
 BI rate, Nilai tukar, Operasi moneter, Kebijakan makroprudensial untuk
pengelolaan likuiditas dan makroprudensial lalu lintas modal.
Dengan kebijakan ekonomi tersebut, diharapkan pemerintah dapat meningkatkan
pertumbuhan ekonomi negara yang akan berpengaruh pula terhadap
peningkatan kesejahteraan masyarakat Indonesia.
Beberapa pengamat ekonomi bahkan berpendapat kekuatan ekonomi Indonesia
sekarang pantas disejajarkan dengan 4 raksasa kekuatan baru perekonomian
dunia yang terkenal dengan nama BIRC (Brazil, Rusia, India, dan Tiongkok).
Krisis global yang terjadi pada tahun 2008 semakin membuktikan ketangguhan
perekonomian Indonesia. Di saat negara-negara superpower seperti Amerika
Serikat dan Jepang berjatuhan, Indonesia justru mampu mencetak pertumbuhan
yang positif sebesar 4,5% pada tahun 2009.
Elistia, SE, MM
39
Kebijakan Ekonomi Masa Pemerintahan Jokowi
2014 - sekarang
1. Paket Kebijakan Ekonomi Tahap I
 Demi mengatasi perlambatan perekonomian global yang berimbas terhadap
perlambatan pertumbuhan ekonomi domestik adalah memaksimalkan
wewenang pemerintah melalui kebijakan fiskal dan moneter.
 Paket ekonomi pertama ini dibagi menjadi 3 aspek penting: Pertama, menjaga
daya beli masyarakat. Kedua, menarik kembali dana asing yang keluar secara
massive (capital intflow). Ketiga, memacu pertumbuhan investasi baik asing
maupun domestik melalui deregulasi dan debirokrasi.
 Jika dilihat, paket ekonomi tahap I merupakan gambaran secara makro tentang
hal-hal yang dibutuhkan perekonomian saat ini. Melalui sektor moneter
diharapkan jika marjin kredit turun, maka bunga kredit rendah.
Elistia, SE, MM
40
Kebijakan Ekonomi Masa Pemerintahan Jokowi
2014 - sekarang
1. Paket Kebijakan Ekonomi Tahap I
 Pemerintah meluncurkan paket kebijakan ekonomi tahap Il pada tanggal 29
September 2015. Melalui paket ekonomi ini pemerintah berusaha menarik investor
dengan memangkas perizinan melalui deregulasi dan debirokratisasi. Dengan
dipangkasnya perizinan, investasi diharapkan dapat meningkat seiring dengan
kemudahan yang diterima investor.
 Menurut Menko Perekonomian Darmin Nasution, untuk meningkatkan investasi
dan menarik investor, salah satu kemudahan yang dapat diberikan pemerintah
adalah melalui pemberian layanan yang cepat atas perizinan yang hanya
memerlukan waktu 3 jam di kawasan industri.
 Regulasi yang dibutuhkan adalah Peraturan Kepala Badan Koordinasi Penanaman
Modal (BKPM) nomor 14 tahun 2015 tentang Pedoman dan Tata Cara Izin
Penanaman Modal.
Elistia, SE, MM
41
Kebijakan Ekonomi Masa Pemerintahan Jokowi
2014 - sekarang
2. Paket Kebijakan Ekonomi Tahap II
 Diharapkan dengan insentif ini, sektor industri di Indonesia dapat bertumbuh guna
menopang pertumbuhan ekonomi yang sedang mengalami penurunan. Menurut
data BPS, proporsi sektor industri terhadap PDB pada tahun 2014 adalah 21%
sehingga sektor ini memang harus selalu didukung guna memacu pertumbuhan
ekonomi di atas 5 %.
 Selain itu, paket tahap Il juga memberikan insentif bagi para eksportir yang
menyimpan dana hasil ekspornya di perbankan Indonesia. Insentif yang diberikan
adalah pengurangan pajak sesuai lama waktu penyimpanan.
 Selain itu, insentif lebih juga diberikan pemerintah bagi yang menyimpan dananya
dalam bentuk mata uang Rupiah. Dampak yang diharapkan adalah likuiditas
perbankan di Indonesia terbantu karena banyaknya dana yang masuk dan mengisi
bank-bank di Indonesia dari investasi sehingga modal bank bertambah.
Harapannya, dana tersebut dapat disalurkan melalui kredit dan mendongkrak
pertumbuhan ekonomi domestik Indonesia.
Elistia, SE, MM
42
Kebijakan Ekonomi Masa Pemerintahan Jokowi
2014 - sekarang
3. Paket Kebijakan Ekonomi Tahap III
 Pada tanggal 7 Oktober 2015, Pemerintah memberikan jawaban kepada para
pengusaha melalui paket ekonomi tahap Ill. Dalam paket ekonomi ini, pemerintah
mengedepankan para pelaku industri agar dapat bertumbuh secara sustainable.
 Paket kebijakan itu dibagi menjadi 3 isu pokok, sektor keuangan, pertanian, dan
industri. Jika diamati, paket kebijakan tahap III ini bertujuan meningkatkan sektor
supply bukan secara langsung meningkatkan daya beli masyarakat. Ini terlihat dari
seluruh aspek dalam paket yang mengedepankan sektor industri.
 Salah satu contohnya, pemerintah tidak menurunkan harga BBM jenis premium
melainkan hanya solar. Banyak ekonom yang kurang sepaham dengan paket ini
karena menurut mereka salah satu yang harus ditingkatkan adalah daya beli
masyarakat. Tetapi, jika cermat sisi penawaran memang merupakan sektor yang
sangat penting demi meningkatkan pertumbuhan ekonomi kita pada jangka
menengah dan panjang.
 Namun, masyarakat luas lebih membutuhkan dampak riilnya pada saat sekarang,
karena suntikan kebijakan yang mementingkan daya beli sangat dibutuhkan guna
menstimulasi ekonomi.
Elistia, SE, MM
43
Kebijakan Ekonomi Masa Pemerintahan Jokowi
2014 - sekarang
4. Paket Kebijakan Ekonomi Tahap IV
 Paket kebijakan tahap IV yang dirilis pada 15 Oktober 2015 merupakan paket
kebijakan ekonomi yang bertujuan mensejahterakan para buruh serta pelaku
industri kecil atau mikro. Paket ini merupakan angin segar bagi para pelaku industri
kecil dan juga buruh.
 Penghitungan upah minimum diubah dan juga lebih transparan. Penyaluran KUR
juga dipermudah dan diperbanyak demi memperluas sasaran penerima. Namun,
dalam kenyataanya banyak buruh yang kurang setuju dengan perhitungan upah
yang dikeluarkan pemerintah tersebut.
 Kebijakan ini adalah salah satu terobosan transparansi perhitungan upah yang
selama ini simpang siur dan dapat meningkatkan iklim industri di Indonesia. Selain
itu, kemudahan dan peningkatan jumlah penyaluran KUR juga dapat merangsang
pertumbuhan industri kecil serta menengah untuk berkembang.
 Kedepannya, diharapkan industri berbasis mikro bisa menjadi penopang ekonomi
yang kuat di masa depan dan memperbanyak wirausahawan baru.
Elistia, SE, MM
44
Kebijakan Ekonomi Masa Pemerintahan Jokowi
2014 - sekarang
4. Paket Kebijakan Ekonomi Tahap V
 Pada tanggal 22 Oktober 2015 pemerintah merilis paket kebijakan ekonomi tahap V.
Jika dicermati, paket kebijakan ini berfokus pada Sisi insentif yang dapat diberikan
pemerintah kepada pengusaha.
 Pemerintah beranggapan jika insentif diberikan, maka pengusaha akan semakin
produktif dan berkontribusi terhadap perekonomian saat ini. Insentifyang diberikan
salah satunya melalui pengurangan pajak revaluasi aset. Di masa lalu, pengusaha
enggan melakukan revaluasi karena biayanya terlalu tinggi.
 Akan tetapi, demi mempermudah pengusaha biaya pajak revaluasi kini dipangkas
lebih kecil dari 10% tergantung pada tanggal perusahaan melakukan revaluasi.
Pemerintah berharap dengan dipangkasnya pajak revaluasi aset, banyak
perusahaan yang melakukan revaluasi.
Elistia, SE, MM
45
Kebijakan Ekonomi Masa Pemerintahan Jokowi
2014 - sekarang
4. Paket Kebijakan Ekonomi Tahap V
 Dampak positif yang dirasakan dari revaluasi adalah meningkatnya kondisi laporan
keuangan perusahaan yang dapat digunakan untuk modal usaha. Selain itu,
penghapusan pajak berganda untuk kontrak investasi dan dana investasi real estate
(REITS) juga merupakan bagian dari paket kebijakan ekonomi ini.
 DIRE/REIT adalah surat berharga dengan underlying asset berupa perusahaan
properti. Jadi, dengan penghapusan double tax diharapkan pertumbuhan surat
berharga DIRE dapat membantu pertumbuhan pasar modal di Indonesia.
 Terakhir, pemerintah mempermudah izin atas produk-produk bank berbasis syariah.
Indonesia merupakan Negara berpenduduk Islam terbesar di dunia sehingga
prospek perbankan syariah masih sangat terbuka.
 Dengan dipangkasnya izin, pemerintah berharap agar perbankan syariah mampu
berkembang lebih pesat dan dapat diperhitungkan dalam dunia perbankan
nasional.
Elistia, SE, MM
46
Kebijakan Ekonomi Masa Pemerintahan Jokowi
2014 - sekarang
4. Paket Kebijakan Ekonomi Tahap VI
 Pada tanggal 6 November 2015, paket kebijakan ekonomi tahap VI diluncurkan
Pemerintah. Jika dilihat, paket kebijakan ini ditujukan bagi industri-industri yang
berada di daerah pinggiran dan dengan spesifikasi produk khusus.
 Salah satu kebijakan yang diberlakukan adalah insentif pajak bagi industri di wilayah
Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Pemerintah mulai mendorong agar dunia industri
di daerah dapat tumbuh cepat dengan adanya kebijakan ini. Dengan adanya insentif
yang diberikan melalui insentif fiskal serta deregulasi, pemerintah berharap agar
para investor tertarik melakukan investasi di kawasan KEK.
 Selanjutnya, kebijakan ini juga memberikan kepastian bagi mereka sehingga salah
satu tujuan pemerintah, yaitu hilirisasi industri, dapat terjadi di daerah-daerah.
Dengan kebijakan ini, iklim investasi yang kondusif dan nyaman dapat terwujud
sehingga dapat berkorelasi positif dengan produktivitas industri.
Elistia, SE, MM
47
Tugas Kelompok maks. 2 orang
Buatlah rangkuman ringkasan poin-poin tentang
perekonomian Indonesia pada masa orde lama, orde baru,
dan reformasi. Ringkasan dapat berupa tabel di excel
2. Membuat tulisan yang berisi tentang Master plan
Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi
Indonesia (MP3EI)
3. Mencari data tingkat persentase inflasi dalam kurun waktu
1945 – sekarang, lalu buatkan tabel nya di excel
4. Mencari data bank merger
1.
>> Dikumpulkan via email ke [email protected]
Selambatnya
tanggal 15 Maret 2017
Elistia, SE,
MM
48
Download