1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit menular

advertisement
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Penyakit menular seksual sampai sekarang ini, masih menjadi masalah
kesehatan, sosial maupun ekonomi di berbagai Negara (WHO, 2003) peningkatan
insiden infeksi menular seksual dan penyebaran diseluruh dunia tidak dapat
diperkirakan secara tepat.paling tidak insidenya relatif tetap, namun
demikian
disebagian besar negara insidennya penyakit menular seksual relatif masih tinggi.
Angka
penyebaranya sulit ditelusuri sumbernya, sebab tidak pernah dilakukan
registrasi terhadap penderita yang ditemukan. Jumlah penderita yang terdata hanya
sebagian kecil dari penderita sesungguhnya. (Lestari, 2008)
Menurut WHO (2009) terdapat lebih kurang 30 jenis mikroba (bakteri, virus
dan varasit) penyakit menular seksual adalah penyakit yang ditularkan melalui
hubungan seksual. Kondisi paling sering ditemukan adalah infeksi gonorrhe,
chlamydia, syphilis, trichoniasi, chancroid, herpes genetalis, infeksi human
immodeficianenci virus (HIV), yakni HIV dan syphilis, dapat ditularkan melalui
darah dan jaringan tubuh, dari ibu ke anaknya selama kehamilan. (Manuaba, 2009)
Kehamilan membutuhkan pemeriksaan dan pemantauan yang bertujuan
memberikan pelayanan antenatal yang berkualitas dan deteksi dini komplikasi
kehamilan minimal 4 kali selama kehamilan. Pelayanan antenatal adalah kesehatan
1
2
oleh tenaga kesehatan untuk ibu selama masa kehamilan, dilaksanakan sesuai standart
pelayanan kebidanan (SPK).
Yang dalam penerapan meliputi 7T dan meningkat menjadi 10T yakni,
timbang berat badan dan ukur tinggi badan, ukur tekanan darah, nilai status gizi (ukur
lingkaran lengan atas),ukur tinggi fundus uteri,tentukan presentasi janin dan denyut
jantung janin (DJJ), skring status imunisasi Tetanus dan berikan tetanus bila di
perlukan, pemberian tablet zat besi, tes labora torium (rutin dan khusus), tatalaksana
kasus, dan temu wicara. (Depkes, 2009)
Dampak PMS pada kehamilan bergantung pada organisme penyebab, lamanya
infeksi dan usia kehamialn pada saat perempuan terinfeksi. Hasil konsepsi yang tidak
sehat sering kali terjadi PMS, misalya kematian janin (abortus spontan atau lahir
mati), bayi berat lahir rendah (akibat prematuritas, atau retardasi pertumbuhan janin
dalam rahim), dan infeksi congenital atau perinatal (kebutuhan, peneomonia neonates
dan retardasi mental). Kematian janin, baik dalam bentuk abortus sepontan maupun
lahir mati, dapat di temukan pada 20-25%ibu hamil yang menderita sifilis dini, 754% ibu hamil dengan herpes genital primer, dan pada 4-10% pada ibu hamil yang
tidak yang menderita ISR. Bayi berat badan lahir rendah (BBLR) dapat dijumpai 1025% ibu hamil dengan vagenosis bacterial. Resikotransmisi dari ibu yang hamil
menderita gonore kepada janin/neonates diperkirakan 30% pada infeksi klamidia,
resiko tinggi terjadinya konjungtivitas neonates 25-50%.
Diaknos dan manajemen PMS pada kehamilan dapat menurunkan morbiditas
dan mortalitas maternal maupun janin. Sebagian besar PMS bersifat asimptomatik
3
atau muncul dengan gejala yang tidak spesifik. Tanpa adanya tingkat kewaspadaan
yang tinggi dan di ambang batas tes yang lengkap dan melakukan pemeriksaan
skrining yang sesuai pada pasien yang sedang hamil pada saat pemeriksaan prenatal
adalah penting.
Pengamatan peneliti untuk di klinik nilawati Letda Sujono pelaksanaan
standar pelayanan antenatal care masih 7T dan yang terlaksana dengan baik adalah
5T sedangkan untuk 2T yaitu tes penyakit menular seksual dan temu wicara, dalam
pelaksanaanya jarang dilakukan bahwa tidak dilakukan, hal ini menggambarkan
adanya pelayanan yang tidak memenuhi standar, yang dapat di pengaruhi oleh Dalm
beberapa faktor, minimya pengetahuan dan kepedulian/sikap bidan dalam
melaksanakan tes PMS pada kehamilan pada RS.
Berdasarkan hal tersebut diatas pentingnya pelaksanan tes penyakit menular
seksual pada kehamilan, member dasar kepada peneliti untuk merumuskan
pertanyaan penelitian ”bagaimana hubungan pengetahuan dan sikap bidan terhadap
tes penyakit menular seksual pada kehamilan di wilayah klinik Nilawati tahun 2002.
1.2. Perumusan Masalah
Adapun perumusan masalah dalam penelitian ini adanya hubungan penderita
penyakit menular seksual pada kehamilan di RSUD Kabupaten Deli Serdang Lubuk
Pakam.
4
1.3. Tujuan Masalah
1.3.1. Tujuan Umum
Menganalisis hubungan pengetahuan dan sikap bidan tentang tes penyakit
menular seksual pada kehamilan di RSUD Deli Serdang Lubuk Pakam.
1.4.1. Tujuan Khusus
1.
Diketahuinya pengetahuan bidan tentang tes penyakit menular seksual pada
kehamilan
2.
Diketahuinya sikap bidan tentang tes penyakit menular seksual pada kehamilan.
1.5. Manfaat Peneliti
1.5.1 Bagi Peneliti
1.
Dari segi pengembangan ilmu, hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan
bahan masukan dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan untuk kemajuan
profesi kebidanan dalam bidang pengetahuan dan tehnologi.
2.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah ilmu kebidanan tentang tes
penyakit menular seksual
1.5.2. Manfaat bagi Institute
Dapat memberikan informasi tentang pentingya tes penyakit menular seksual
pada kehamilan atau sebagai sumbangan ilmiah
1.5.3. Manfaat bagi Pendidikan
Sebagai syarat kelulusan untuk menyelesaikan pendidikan D III Akademi
Kebidanan Audi Husada Medan.
5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Penyakit Menular Seksual
2.1.1. Definisi Penyakit Menular Seksual
Penyakit menular seksual adalah penyakit yang ditularkan melalui hubungan
seksual. Penyakit menular seksual adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri, virus,
parasit, atau jamur, yang penularannya terutama melalui hubungan seksual dari
seseorang yang terinfeksi kepada mitra seksualya.
Seksual relatif sering terjadi pada kehamilan, terutama pada penduduk
perkotaan, prostitusi mewabah. Penapisan, identifikasi, edukasi dan terapi merupakan
konmponen penting pada perawatan prenatal wanita yang beresiko tinggi mengidap
penyakit2 ini. Penyakit menular seksual yang sering diperiksa adalah siflis, gonorea,
klamidia, herpes, HIV, dan HPV.
Penyakit menular seksual adalah penyakit kelamin yang cara penularannya
melalui hubungan kelamin.dulu penyakit ini dikenal dengan nama “venaral diseases”
berarti penyakit Dewi cinta menurut versi yunani.
2.1.2. Tanda dan Gejala
Adapun tanda dan gejala penyakit menular seksual adalah: sekitar 20-30% ibu
hamil mempunyai parasit trokomonas sebagai komensal. Infeksi berkembang jika
terjadi perubahan pH cairan vagina, dengan menimbulkan gejala :
5
6
1.
Mengeluarkan lekorea hijau – kuning
2.
Gatal dan berbau
3.
Cairannya purulen.
4.
Terdapat erithema pada vulvaginal dan gambaran strawberry pada serviks,
pengaruhnya kehamilan tidak terlalu besar, karena infeksi bersifat lokal.
2.1.3. Klasifikasi Penyakit Menular seksual
Pengetahuan dicakup didalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan
menurut Bloom (Notoatmojo S, 2007)
1.
Tahu (Know)
Tahu diartikan sebagai pengingat suatu materi yang telah dip dipelajari
sebelumnya dan mengingat kembali terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan
yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima
2.
Memahami (Comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar
tentang objek yang diketahui dan dapat menginterprestasi materi tersebut secara
benar
3.
Aplikasi
Aplikasi berarti kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari
pada situasi dan kondisi sebenarnya. Aplikasi disini dapat diartikan penggunaan
hukum-hukum, metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi lain
7
4.
Analisis
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek,
komponen-komponen, tetapi masih didalam suatu struktur organisasi tersebut dan
masih ada kaitannya satu sama lain
5. Sintesis
Sintes Sintesis menunjukkan kepada suatu kemampuan untuik meletakkan
atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk kesuluruhan yang baru
6.
Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan penilaian terhadap
suatu materi atau objek.
2.2 Defenisi Penyakit Menular Seksual
Penyakit menular Penyakit menular seksual adalah infeksi yang disebabkan
oleh bakteri, virus, parasit, atau jamur, yang penularannya terutama melalui hubungan
seksual dari seseorang yang terinfeksi kepada mitra seksualya.
seksual reltif sering terjadi pada kehamilan, terutama pada penduduk
perkotaan, prostitusi mewabah. Penapisan, identifikasi, edukasi dan terapi merupakan
konmponen penting pada perawatan prenatal wanita yang beresiko tinggi mengidap
penyakit2 ini . penyakit menular seksual yang sering diperiksa adalah siflis, gonorea,
klamidia, herpes, HIV, dan HPV.(Cunningham,2005).
.
8
. Di Indonesia yang terletak diantar dua samudra dan dua benua, 245.000
orang telah (75 %) penularan terjadi melalui hubungan seksual, tidak dapat diobati
belum mengidap infeksi HIV.tingkat infeksi pada perempuan hamil di Negara-negara
Asia diperkirakan Virus masuk ke dalam tubuh manusia terutama melalui perantara
darah, semen, dan secret vagina sebagian melebihi 3-4%, tetapi epideminya
berpotensi untuk terjadi lebih besar.pada tahun 1999 The Institut Of Medicine (IOM)
telah merekomendesikan pemeriksaan HIV untuk semua perempuan hamil Diseluruh
dunia, diperkirakan 30 juta orang ,telah mengidap infeksi HIV, sedangkan anak-anak
diperkirakan sekitar 1,4-2 juta tertular dengan berbagai cara,sementara yang sedang
menderita sepengatahuan perempuan tersebut, disertai hak pasien untuk menolak.
seksual relatif sering terjadi pada kehamilan, terutama pada penduduk perkotaan,
prostitusi mewabah. Penapisan, identifikasi, edukasi dan terapi merupakan
komponen penting pada perawatan prenatal wanita yang beresiko tinggi mengidap
penyakit2 ini. Penyakit menular seksual yang sering diperiksa adalah siflis, gonorea,
klamidia, herpes, HIV, dan HPV. (Cunningham, 2005).
Telah banyak bukti menunjukan bahwa keberadaan IMS meningkatkan
kemudahan IMS dianggap sebgai kofaktor HIV. Oleh karena itu, upaya pengendalian
infeksi HIV dapat dilaksanakan dengan melakukan pengendalian IMS.
2.2.1. Faktor Resiko
Human papilloma virus cepat berkembang saat hamil mungkin karena beberapa
faktor,;
9
1) Perubahan hormonal, sehingga makin banyak terjadi sekresi pada kelenjar sekitar
jalan lahir, dan menyebabkan suasana selalu basah
2) Perubahan pH cairan jalan lahir yang mungkin memberikan kemudahan untuk
berkembangnya virus dan menimbulkan papiloma.
Tempat papiloma berkembang, disekitar vagina, perineum, bahkan dalam
vagina akan menyulitkan persalinan. Liang vagina agak kaku dan mudah berdarah
2.2.2. Patofisiologi
Masa kehamilan, dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin. Lamanya hamil
normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung dari hari pertama
haid terakhir. Kehamilan dibagi dalam 3 triwulan yaitu triwulan pertama dimulai dari
konspsi sampai 3bulan, triwulan kedua dari bulan keempat sampai 6 bulan, triwulan
ketiga dari bulan ketujuh sampai 9 bulan. (Prawirahardjo, 2002)
Kehamilan dapat terjadi karena adanya hubungan seksual antara perempuan dan
laki-laki.jika dalam 35 menit dalam perjalanan
Sperma bertemu dengan sel telur/ovum, akan terjadi pembuahan, dengan
masuknya sperma dalam ovum, selanjutnya akan berubah menjadi sel baru yang
sama(zygote).kemudian zygote tersebut membelah menjadi 2 sel, sehingga terbentuk
lingkaran sel yang disebut morula. Morula ini akan mengalami pembelahan diri
secara berulang- ulang dan berubah menjadi blastosit. Kemudian blstosit akan
menempel pada dinding rahim (implantasi), disitulah tempat janin memperoleh
nutrisi dan oksigen dari ibunya sampai ia tumbuh dan membesar.
10
1. Perkembangan Kehamilan
Mengamati pertumbuhan dan perkembangan bayi merupakan suatu peristiwa
yang sangat mengaggumkan. Bagaimana tidak, hanya dari sebutir sel tunggal yang
akan tumbuh menjadi calon manusia baru, sembilan bulan tumbuh dalam rahim
ibunya menjadi manusia sempurna dan lahir kedunia.
2. Tidak Datangnya Menstruasi
Seseorang yang telah melakukan hubungan seksual dan dalam 1minggu atau
lebih tidak mendapatkan menstruasi dari jadwal yang seharuisnya, kemungkinan
besar hamil. Akan tetepi tidak menstruasi bukan berarti hamil, ingat kehamilan hanya
terjadi bila ada pembuahan antara sel telur dan sperma melalui hubngan seksual,
keterlambatan menstruasi dapat disebabkan karena program diet, strees, dan lain-lain.
3. Perubahan pada Payudara
Payudara akan memedat dan kencang yang akan berlansung lama dan akan
semakin membesar disertai dengan rasa kesemutan. Perubahan ini disebabkan karena
pengaruh hormon progesterone dan estrogen. Selain itu saluran saluran jaringan
payudara telah dialiri darah dan bahkan telah memproduksi ASI oleh pengaruh
hormone proklaktin
4. Sering Buang Air Kecil
Hal ini disebabkan karena kerja ginjal meningkat sehingga kandung kencing
cepat terisi.
11
5. Mual-muntah dan Muntah
Biasanya terjadi pada pagi hari pada trtimester 1 kehamilan dan akan berakhir
setelah umur kehamilan 12 minggu. Penyebabnya belum jelas, tapi diduga faktor
emosi dan cemas yang berlebihan bisa jadi pemicunya. Pada pagi hari mual
disebabkan asam lambung sisa malam hari masuih memenuhi lambung. Cara
mengatasinya adalah dengan menghindari makanan yang berlemak, jika sangat
mengganggu harus segera memeriksakan diri pada bidan/dokter.
Selain mual muntah, adapula yang mengalami ngidam yaitu kelakuan aneh
tanpa alasan yang tepat misalnya menginginkan sesuatu yang aneh-aneh.
6. Perkembangan janin (usia kehamilan 6 minggu)
2.2.3. Diagnostik
1. Timbang berat badan dan ukur tinggi badan.
2. Ukur tekanan darah.
3. Nilai status gizi (ukur lingkar lengan atas).
4. Ukur tinggi fundus uteri
5. Tentukan presentasi janin dan denyut jantung janin(DJJ)
6. Skrining status imunisasi Tetanus dan berikan imunisasi Tetanus Toksoid (TT)
bila diperlukan
7. Pemberian tablet zat besi minimal 90 tablet selama kehamilan.
8. Test laboratorium (rutin dan khusus).
9. Tatalaksana kasus
12
10. Temu wicara (konseling), termasuk perencanaan persalinan dan pencegahan
komplikasi (PSK) serta KB pasca persalinan.
2.2.4. Komplikasi Penyakit Menular Seksual
Untuk memutuskan rantai penularan infeksi Penyakit Menular Seksual, dan
untuk mencegah berkembangnya penyakit menular seksual dan komplikasinya.
Tujuan Tersebut dapat di capai melalui:
1. Mengurangi pajanan PMS dengan program penyuluhan untuk menjaukan
masyarakat terhadap perilaku resiko tinggi.
2. Mencegah infeksi dengan anjuran pemakaian komdom bagi yang berprilaku
resiko tinggi
3. Meningkatkan kemampuan diagnosis dan pengobatan sertya anjuran untuk
mencari pengobatan dini dan efektif baik.
2.2.5. Penatalaksanaan Penyakit Menular Seksual
Infeksi chlamidai trachomatis merupakan infeksi yang disebabkan oleh bakteri
Chlamidia trachomatis, berukuran 0,2 – 1,5 mikron, berbentuk sferis, tidak bergerak,
dan merupekan parasit intarsel obligat.n infeksi hubungan seksual yang sering
bersamaan dengan infeksi
Infeksi CT merupaka neisseria gonorrhea perbedaannya bersifat ringan,tetapi
berjalan menahun dan dapat menimbulkan kerusakan khususnya pada tuba falopii,
serta menimbulkan infertilitas.
Perempuan yang hamil yang terinfeksi denga chlamidia trachomatis
menunjukkan gejala keluarnya, secret vagian, perdarahan, disuria dan nyeri panggul.
13
Dampak CT Pada kehamilan dapat mengakibatkan abortus spontan, kelahiran
frematur, dan kematian perinatal. Oleh karena itu untuk perempuan hamil dengan
resiko tinggi juga dianjurkan untuk dilakukan skrining terhadap infeksi CT pada saat
datang pertama kali dan juga pada trimester ketiga kehamilan
Infeksi herpes simpleks merupakan IMS virus yang menempati urutan kedua
tersering di dunia dan penyebab tersering dinegara maju.Trasmisi virus dapat terjadi
melalui kontak seksual dengan pasangan yang terinfeksi, tetapi juga dapat secara
vertical dari ibu kepada janin yang dikandungnya. Sekitar 70 % infeksi pada neonates
terjadi pada saat persalinan ketika bayi barkontak lansung melalui jaln lahir dengan
duh vagina ibu yang terinfeksi. Selain itu infeksi dapat terjadi pada saat janin berada
didalam kandungan secara asendens dari serviks atau vulva, maupun translasental.
Penatalaksanaan HG pada kehamilan dapat dibedakan antara perempuan hamil
dengan episode primer dan perempuan hamil dengan episode rekurens.
a. Penyakit Sifilis
Angka kejadian di Indonesia tidak diketahui dengan pasti karena penderita
sifilis stadium primer tidak menimbulkan keluhan sehingga penderita tidak berobat.
Infeksi sifilis berlansung tiga tahap dengan masa inkubasi 60 – 90 hari dan rata –rata
6 minggu (42 hari) (Manuaba,2007)
Sifilis merupakan penyakit infeksi sitemik disebabkan oleh Treponema
pallidum yang dapat mengenai organ tubuh, mulai kulit, mukosa, jantung hingga
susunan saraf pusat dan juga dapat tanpa manifestasi lesi ditubuh. Infeksi terbagi atas
beberapa fase, yaitu sifilis primer, sifils sekunder, sifilis laten dini dan lanjut, serta
14
neurosifilis. Sifilis umumnya ditularkan lewat kontak namun juga dapat secara
vertical pada masa kehamilan. Pada kehamilan gejala klinik tidak banyak berbeda
dengan keadaan tidak hamil.Tranmisi treponema dari ibu kejanin umunya terjadi
setelah plasenta terbentuk utuh, kira – kira sekitar umur kehamilan 16 minggu,oleh
karena itu bila sifils primer atau sdekunder ditemukan pada 16 minggu, kemungkinan
untuk timbulnya sifilis congenital lebih memungkinkan.
b. Gonorrhea
Angka kejadian pada ibu hamil dan masyarakat tidak diketahui karena tidak
semuanya memeriksakan diri. Infeksi gonorrhea pada kehamilan tidak menimbulkan
kelainan kongenita, tetapi menyebabkan infeksi terutama pada mata dan
menimbulkan konjungtivitis blnorrhea dan dapat menyebabkankebutaan jika
pengobatannya terlambat Infeksi gonore selama kehamilan telah diasosiaskan dengan
pelvic inflammatory disease (PID). Infeksi ini sering ditemukanpada trimester
pertama sebelum korion berfusi denga desidua dan mengisi kavum uteri
Pada tahap lanjut, Neisserioniria gonorrhea diasisiasikan dengan rupture
membrane frematur, kelahiran premature, korioamnionitis, dan infeksi pasca
persalinan. Oleh karena itu, untuk perempuan hamil dengan resiko tinggi dianjurkan
untuk dilakukan skrining terhadap infeksi gonore pada saat datang untuk pertama kali
antenatal dan juga trimestaer ketiga kehamilan. Dosis dan obat- obat yang diberikan
tidak berbeda dengan keadaan tidak hamil.( Prawirohardjo dkk,2008)
15
C. Chlamidia Trachomatis
Infeksi chlamidai trachomatis merupakan infeksi yang disebabkan oleh
bakteri Chlamidia trachomatis, berukuran 0,2 – 1,5 mikron, berbentuk sferis, tidak
bergerak, dan merupekan parasit intarsel obligat.n infeksi hubungan seksual yang
sering bersamaan dengan infeksi.
Infeksi CT merupaka neisseria gonorrhea perbedaannya bersifat ringan,tetapi
berjalan menahun dan dapat menimbulkan kerusakan khususnya pada tuba falopii,
serta menimbulkan infertilitas.
Perempuan yang hamil yang terinfeksi denga chlamidia trachomatis
menunjukkan gejala keluarnya, secret vagian, perdarahan, disuria dan nyeri panggul.
Dampak CT Pada kehamilan dapat mengakibatkan abortus spontan, kelahiran
frematur, dan kematian perinatal. Oleh karena itu untuk perempuan hamil dengan
resiko tinggi juga dianjurkan untuk dilakukan skrining terhadap infeksi CT pada saat
datang pertama kali dan juga pada trimester ketiga kehamilan.
d. Herpes Simplek pada Kehamilan
Infeksi herpes simpleks merupakan IMS virus yang menempati urutan kedua
tersering di dunia dan penyebab tersering dinegara maju.Trasmisi virus dapat terjadi
melalui kontak seksual dengan pasangan yang terinfeksi, tetapi juga dapat secara
vertical dari ibu kepada janin yang dikandungnya. Sekitar 70 % infeksi pada neonates
terjadi pada saat persalinan ketika bayi barkontak lansung melalui jaln lahir dengan
duh vagina ibu yang terinfeksi. Selain itu infeksi dapat terjadi pada saat janin berada
didalam kandungan secara asendens dari serviks atau vulva, maupun translasental.
16
Penatalaksanaan HG pada kehamilan dapat dibedakan antara perempuan hamil
dengan episode primer dan perempuan hamil dengan episode rekurens.
2.2.6. Penanggulangan Obstetri
Masa kehamilan, dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin. Lamanya hamil
normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung dari hari pertama
haid terakhir. Kehamilan dibagi dalam 3 triwulan yaitu triwulan pertama dimulai dari
konspsi sampai 3bulan, triwulan kedua dari bulan keempat sampai 6 bulan, triwulan
ketiga dari bulan ketujuh sampai 9 bulan. (Prawirahardjo, 2002)
Kehamilan dapat terjadi karena adanya hubungan seksual antara perempuan dan
laki-laki.jika dalam 35 menit dalam perjalanan
2.3. Perkembangan Kehamilan
Mengamati pertumbuhan dan perkembangan bayi merupakan suatu peristiwa
yang sangat mengaggumkan. Bagaimana tidak, hanya dari sebutir sel tunggal yang
akan tumbuh menjadi calon manusia baru, Sembilan bulan tumbuh dalam rahim
ibunya menjadi manusia sempurna dan lahir kedunia.
Pelayanan antenatal adalah pelayanan kesehatan oleh tenaga kesehatan untuk
ibu selama masa kehamilannya, dilaksanakan sesuai dengan standar pelayanan
antenatal yanmg ditetapkan dalam standar pelayanan kabidanan (SPK). Pelayanan
antenatal sesuai dengan standar meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik (umum dan
kebidanan), pemeriksaan laboratorim rutin dan khusus, sertsa intervensi umum dan
khusus(sesuai resiko yang ditemukan dalam pemeriksaan
17
2.3.1. Penyebab
Penyebab Treponema palladium yang dapat menembus plasenta setelah
kehamilan 16 minggu, oleh karena itu ada baiknya melakukan pemeriksaan serelogis
sebelum hamil sehingga pengobatan dapat diterapkan sampai sembuh.
Faktor-faktor berikut meningkatkan kesempatan anda melahirkan bayi prematur
kematian dalam rahim dan terinfeksi bayi dalam bentuk lues kongenitas:
a. Ibu memiliki PMS
b. Ibu memiliki gestasional PMS
c. Ibu atau induk besar
d. Berat badan semakin menurun dalam kehamilan
2.3.2 Pencegahan
Infeksi CT merupaka neisseria gonorrhea perbedaannya bersifat ringan,tetapi
berjalan menahun dan dapat menimbulkan kerusakan khususnya pada tuba falopii,
serta menimbulkan infertilitas.
Perempuan yang hamil yang terinfeksi denga chlamidia trachomatis
menunjukkan gejala keluarnya, secret vagian, perdarahan, disuria dan nyeri panggul.
Dampak CT Pada kehamilan dapat mengakibatkan abortus spontan, kelahiran
frematur, dan kematian perinatal. Oleh karena itu untuk perempuan hamil dengan
resiko tinggi juga dianjurkan untuk dilakukan skrining terhadap infeksi CT pada saat
datang pertama kali dan juga pada trimester ketiga kehamilan.
18
2.4. Penelitian yang Releven
Menurut Peneliti R,Si.T.M K M,600.000 unit sehari selama sepuluh hari.Ibu
mengatakan dari kemaluanya dan dubur keluar cairanyang berbeda dari biasanya
berwarna putih susu,disertai berak darah dan bau yang tidak enak perih nyeri dan
panas saat BAK (buang air kecil) ibu mengatakan mules-mules semakin sering dan
semakin kuat,ibu merasakan pengeluaran lender banyak,dari kemaluan dan dubur
keluar cairan yang berbeda dati biasanya berwarna putih susu, disertai berak darah
dan bau yang tidak enak dan paerih.
Tingginya jumlah pengida penyakit menular seksual pada ibu hamil tingginya
resiko terjadinya gangguan pada janin. Peneliti yang dilakukan AiYeyeh R,S. Si. T,
M K M,bahwa bayi beresiko mengalami kurus dari penderita ibu yang mengalami
penyakit menular seksual selain itu peneliti yang dilakukan terhadap 600. Kehamilan
menunjukkan peningkatan resiko tinggi pada bayi.
2.5. Hepotensi Penelitian
Ho: Tidak ada hubungan antara ibu penderita penyakit menular seksual dengan
dan kejadian premature.
Ha: Ada hubungan antara ibu dengan penderita penyakit menular seksual pada
bayi premature.
19
2.6. Kerangka Konsep
Adapun kerangka konsep dalam penelitian hubungan pengetahuan dan sikap
bidan terhadap penyakit menular seksual pada kehamilan di RSUD Deli Serdang
Lubuk Pakam Kab.Deli serdang tahun2013-2014;
Independen
- Pengetahuan
- Sikap
Dependen
Penyakit Menular
Seksual
Gambar 2.1. Kerangka Konsep Penelitian
20
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah Penelitian survey yang bersifat analitik,penelitih
yang di arahkan untuk menjelaskan suatu keadaan atau situasi dengan pendekatan
croos yaitu jenis penelitian pada waktu pengukuran observasi data dan variable
indevenden devenden hanya satu kali pada suatu saat yaitu menganalisis hubungan
Pengetahuan dan Sikap Bidan terhadap Penyakit Menular seksual pada Kehamilan di
RSUD Kabupaten Deli serdang Lubuk Pakam tahun 2013.
3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian
3.2.1. Lokasi Penelitian
Penelitian akan dilaksanakan di RSUD Kabupaten Deli Serdang Lubuk
Pakam tahun 2013. Adapun alsan pengambilan lokasi penelitian ini di RSUD
Kabupaten Deli Serdang Lubuk Pakam masih terjadi Penyakit Menular Seksual.
3.2.2. Waktu Penelitian
Waktu Penelitian dilakukan dari bulan Juni-Maret 2014
3.3. Populasi dan Sampel
3.3.1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu hamil yang berkunjung ke
RSUD Kbupaten Deli Serdang Lubuk Pakam 40 orang.
20
21
3.3.2. Sampel
Pengambilan Sampel dalam penelitian ini digunakan total sampel yaitu
seluruh ibu hamil yang berkunjung RSUD Kabupaten Deli Serdang Lubuk Pakam
yang berjumlah 40 orang.
3.4. Metode Pengumpulan Data
3.4.1. Jenis Data
a. Data Primer
Diperoleh dengan melakukan wawancara langsung kepada ibu hamil melalui
kuesioner (pertanyaan) yang dibuat berdasarkan konsep teoritisya. Sebelum
wawancara dan pengumpulan data dilakukan,diberikan berlebihan dahulu penjelasan
tentang isi daftar pertanyaan,setelah itu ibu mengerti lalu dipersilahkan untuk
menjawab.
b. Data Sekunder
Data Sekunder diperoleh dari data di RSUD Kabupaten Deli Serdang Lubuk
Pakammedan periode tahun 2013.Data tersebut berisi hasil mengenai jumlah ibu
hamil, untuk mengetahui penyebab terjadinya penyakit menular seksual.
3.5. Defenisi Operasional
3.5.1. Variabel Independen
1. Penyakit menular seksual adalah Penyakit yang ditularkan melaluihubungan
seksual dengan pasangan yang sudah tertular sehingga menyebabkan infeksi pada
alat reproduksi laki-laki maupun wanita.
22
Kategori : Ya
Tidak
2. Riwayat kehamilanya sebelumya adalah apakah ibu tersebut mengalami riwayat
PMS sebelumya.
Kategori : Ada
Tidak
3.5.2. Variabel Dependen
1. Penyakit Menular seksual adalah penyakit yang ditularkan melalui hubungan
seksual dengan pasangan yang sudah tertular penyakit menular seksual.
1. Ya
2. Tidak
3.6. Metode Pengukuran
Tabel 3.1. Variabel, Alat Ukur dan Skala Ukur
Variabel
Variabel Bebas
pengetahuan
Sikap
Variabel Terikat
PMS
Cara dan Alat Ukur
Skala Ukur
Wawancara
(Kusioner)
Wawancara
(Kusioner)
Ordinal
Wawancara
(Kusioner)
Nominal
Ordinal
Hasil Ukur
1. Baik
2. Buruk
1. Ada
2. Tidak
1.Ya
2.Tidak
23
3.7. Pengelolaan Data dan Analisis Data
3.7.1. Pengelolaan Data
Langkah-langkah pengelolaan data :
1. Editing
Adalah memeriksa kembali data yang telah dikumpulkan, apakah telah sesuai
seperti yang diharapkan atau tidak kemudian mengelakukan pengelolaan data.
Dalam melakukan editing ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yakni:
a. Memeriksa kelengkapan data
b. Memeriksa kesenambungan data
2. Coding
Adalah Pengkodean data setiap variable yang dibutuhkan lalu dimasukkan ke
dalam tabel distribusi frekuensi.Cara melakukan Coding yaitu:
a. Memberi symbol-symbol tertentu
b. Mengelompokkan Menurut Kategori
3. Tabulating
Mengelompokkan data kedalam suatu tabel tertentu sifat-sifat yang dimilikinya
sesuai dengan tujuan penelitian.
4.
Data Entry
Adalah kegiatan memesukkan data yang telah dikumpulkan kedalam master
table atau data base computer, kemudian membuat distribusi frekuensi sederhana
atau dengan membuat kontigensi.
24
5.
Melakukan Teknik Analisis
Dalam melakukan analis,khususnya terhadap data penelitian akan menggunakan
statistic terapan yang disesuaikan dengan tujuan yang hendak dianalisis
3.7.2. Analisis Data
1. Univariat
Analisa data secara univariat dilakukan untuk mendapatkan gambaran
distribusi frekuensi responden.Analisis ini digunakan untuk memperoleh gambaran
pada masing-masing variable independen.
2. Bivariat
Analisis bivariat dilakukan untuk menguji ada tidaknya hubungan pengetahuan
dan sikap bidan terhadap Penyakit Menular seksual pada kehamilan di RSUD Deli
Serdang Lubuk Pakam Kab.Deli Serdang lalu dilakukan uji chisquare kemudian
hasilnya dinarasikan.
25
BAB IV
HASIL PENELITIAN
4.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
1. Alamat : Jln. Thamrin, Kec. Lubuk Pakam Kab. Deli Serdang kode pos 20511
dipinggiran kota
2. Pelayanan berdiri Tahun 1964
3. Tanggal berdirinya RS.3 Februari 1994
4. Type B
5. Syarat RS Type B
6. dr. Spesialis anak 3
Dr.obgyn 5, dr.mata 2, poly paru 2, dr. neurologi 2, penyakit dalam 3, dr. gigi 3,
penyakit kulit 2, pisikiatri 1, poly THT 3, dr. ortopedi 2, dr. Bedah 4.
4.1.1. Visi dan Misi Rumah Sakit
Adanya Visi dan Misi RSUD Deli Serdang lubuk pakam Kab. Deli Serdang
yaitu :
1. Misi
Pelayanan yang unggul dalam mutu prima dalm pelayanan 3 menjadi pusat
rujukan. Kesehatan yang paripurna @ proaktifk untuk mewujutkan masyarakat
sehat.
25
26
2. Misi
1. Memberikan
pelayanan
yang
professional
terjangkau,mudah
sering
bertanggung jawab.
2. Mengembangkan dan meningkatkan kualitas SDM maupun sarana-sarana
prasarana sesuai kebutuhan secara universal terarah, berkesenambungan.
3. Mengembangkan sisi administrasi, info dan komunikasi serta pengelolaan
data dan pelaporan secara cepat dan akurat
4. Membina, mengembangkan hubungan kerjasama sekitar pelayanan kesehatan
Pendididkan penelitian lingkungan denganinstansi, perusahaan, lembaga,
pendididkan, sera lembaga social.
5. Meningkatkan serta mengembangkan sisi management yang transparan serta
akomodasi dan rensponssif.
MOTTO
Cermat, cepat, efesiensi, ramah, memuaskan, aman-aman, terjangkau.
3S
1. Sambut dengan senyum
2. Sapa dengan ramah dan Santun
3. Sentuhan dengan kasih dan sayang
Nama Pemilik : Pem Kab. Deli Serdang, Dr. Isnaini Daqri.
Rujukanya RS, RS Adam Malik, RS Haji
27
4.2. Gambaran Umum Responden
Untuk Melihat gambaran umum responden pada penelitian meliputi : umur,
pekerjaan dan pendidikan.
4.3. Analisis Unuivariat
4.3.1. Pengetahuan
Untuk melihat distribusi responden pengetahuan di RSUD Deli Serdang Lubuk
Pakam Kab.deli Serdang berdasarkan umur dapat dilihat pada tabel 4.3.2 adalah
sebagai berikut:
Tabel 4.1.
Distribusi Responden Berdasarkan Pengetahuan di RSUD Deli
Serdang Lubuk Pakam Kab. Deli Serdang Tahun 2014
No
Pengetahuan
1. Baik
2. Buruk
Jumlah
Frekuensi
16
24
40
%
40
60
100
Berdasarkan tabel diatas dapat dapat dilihat bahwa pengetahuan sebanyak
responden 16(40%) dan tidak tahu sebanyak 24responden(60%) .
4.3.2. Sikap
Untuk melihat distribusi responden berdasarkan sikap di RSUD Deli Serdang
Lubuk Pakam Kab.Deli Serdang tahun 2014.
28
Tabel 4.2.
No
1.
2.
Distribusi Responden Berdasarkan Sikap di RSUD Deli Serdang
Lubuk Pakam Kab. Deli Serdang Tahun 2014
Sikap
f
20
20
40
Positif
Negatif
Jumlah
%
50
50
100
Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa sikap positif 20 responden (50%)
dan negative sebanyak 20 responden (50%).
4.3.3. Distribusi Frekuensi Penyakit Menular Seksual
Tabel 4.3.
No
1
2
Distribusi Frekuensi Penyakit Menular Seksual di RSUD Deli
Serdang Lubuk Pakam Kab. Deli Serdang Tahun 2014
PMS
Terkena
Tidak terkena
Jumlah
Frekunsi
24
16
40
%
60
40
100
Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat yang terkena penyakit menular seksual 24
responden (60 %),dan yang tidak terkena penyakit penyakit menular seksual adalah
16 responden (40 %).
4.4. Analisis Bivariat
Analisis bivariat untuk menguji apakah Hubungan pengetahuan dan sikap
yang dipakai dengan uji chi-squarre dan dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
29
Tabel 4.4. Distribusi Hubungan Antara Pengetahuan dan Sikap tentang
Penyakit Menular Seksual pada Ibu Hamil di RSUD Deli Serdang
Lubuk Pakam
No
1
2
Pengetahuan
Tahu
Tidak Tahu
N
20
20
40
Sikap
PMS
Tidak PMS
%
n
%
50
24
60
50
16
40
100
40
100
Total
n
%
16
40
24
60
40
100
Prob
000
Dari tabel 4.4.dapat dilihat bahwa dari 16 responden terkena penyakit menular
seksual pada kehamilan 24 orang(60 %),dan yang tidak terkena panyakit menular
seksual pada kehamilan 16 orang (40 %).kemudiamdari hasil analisis data statistik
dengan uji statistic mendapat probabitas (0,000)<(0,001),berarti ditolak terdapat
hubungan ibu penderita penyakit menular seksual pada kehamial dan pada bayi pada
responden Di RSUD Deli serdang kabupaten lubuk pakam Periode juni-maret 2014.
30
BAB V
PEMBAHASAN
5.1. Karakteristik Responden
Hasil penelitian diperoleh pengetahuan tentang Penyakit Menular seksual pada
kehamilan sebesar 60%.Mengacu pada hasilpresentase menyatakan hubungan
pengetahuan dan sikap bidan tentang Penyakit menular Seksual,artinya semakin
banyak ibu hamil dengan PMS maka akan semakin tinggi bayi lahir berat badan
rendah di RSUD Deli Serdang Kab. Lubuk Pakam Deli Serdangperiode juni-maret
2014 maka pembahsan sebagai berikut.
5.1.1. Distribusi Responden Menurut Pengetahuan Ibu Hamil dengan Penyakit
Menular Seksual di RSUD Deli Serdang Kab. Lubuk Pakam Deli
Serdang Tahun 2014
Dari tabel 4.1 terlihat bahwa mayoritas responden pengetahuan ibu sebanyak
16 orang (40%).Mayoritas pola pengetahuan ibu yang tidak tahu sebanyak 24 oranag
(60%). Menurut Anik Maryuni Ummu Aeman, (2008) pola pengetahuan ibu tentang
pengetahuan penyakit menular seksual mengakibatkan keturunan dari suaminya
karena suami mau gontak ganti pasangan maknya mengalami penyakit menular
seksual.
5.1.2. Distribusi Responden Menurut Sikap Pengetahuan Ibu Hamil di RSUD
Deli Serdang Kab. Lubuk Pakam Deli Serdang Tahun 2014
Dari tabel 4.2 terlihat bahwa mayoritas sikap positif tentang PMS 20 orang
(50%) dan yang mayoritas yang tidak negatif tentang PMS 20 (20%).
30
31
Menurut Anik Maryuni Ummu Aeman (2008) pola sikap ibu tentang penyakit
menular seksual. Factor ini tidak keturunan kepada si ibu tapi ini bias membuat resiko
kepada kehamilan si ibu mengalami premature dan mungkin abortus.
Menurut asumsi Peneliti yang diperoleh bahwa renponden sikap ibu tentang
penyakit menular seksual adalah biasa padahal itu bias mengalami premature kepada
bayinya.
5.1.3. Distribusi Responden Menurut Penyakit Menular Seksual di RSUD Deli
Serdang Kab. Lubuk Pakam Deli Serdang Tahun 2014
Dari tabel 4.3 bahwa mayoritas responden Penyakit Menular seksual ibu yang
terkena PMS 24 orang (60%) dan mayoritas yang tidak terkena PMS 16 orang (40%).
Menurut Hj.Maemunah 2004 kehamilan dengan masalah /komplikasi yang
terkenah PMS pada ibu hamil menganjurkan untuk merencanakan kunjungan ulang
untuk memeriksakan kehamilanya.
5.2. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Ibu yang Mengalami Penyakit Menular
Seksual pada Kehamilan di RSUD Deli Serdang Kab. Lubuk Pakam Deli
Serdang Tahun 2014
Dari tabel 4.4. mayoritas ibu yang tidak terkena penyakit menular seksual
sebanyak 16 responden (40 %)dan mayoritas ibu yang terkena penyakit menular
seksual sebanyak 24 responden (60 %).
Jumlah penderita penyakit menular seksual di mengikuti data di Indosesia dari
pada dinegara maju.di Indonesia sendiri angaka kejadian PMS pada ibu hamil tahun
1994
adalah 58%, 29% adalah infeksi genital nonspesifik, kemudian 10,2%
Vanogenis Bakteri 9,1% gonorea, 3,4% trikomonasis 1,1% gonorea bersama
32
trikomoninasis 1,1% penyakit menular seksual menyebabakan kelahiran premature,
cacat bawaan (saefudin 2000).
Dampak PMS pada kehamilan bergantung pada organisme penyebab, lamanya
infeksi dan usia kehamilan pada perempuan terinfeksi.hasil konsepsi yang tidak sehat
sering kali terjadi akibat PMS, misalnya kematian janin (abortus spontan atau lahir
mati), bayi berat lahir rendah (akibat premaruritas, atau retardasi pertumbuhan janin
dalam rahim), dan infeksi kogonital dan perinatal (kebuatan peneomania neonates dan
retardasi mental) kematian janin baik dalam abortus, spontan maupu lahir mati.
Menurut asumsi peneliti bahwa responden yang mengalami penyakit menular
seksual akan mengalami berat badan bayi rendah (BBLR), terjadi kongjungtivitas
neonates 20-25% dan manajemen PMS pada kehamialn dapat menurunkan mortaditas
dan mortaditas maternal maupun janin
33
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1. Kesimpulan
1.
Responden yang mengetahui penyakit menular seksual pada ibu hamil
adalah 16 responden atau (40 %) dan yang tidak tau tentangpenyakit menular
seksual 24 responden (60 %).
2. Responden sikap tentang penyakit menular seksual pada ibu hamil yang
negative 20 responde atau (50 %) dan yang positif terkena penyakit menular
seksual sebanyak 20 responden (50 %).
3.
Dari 24 responden yang terkena penyakit menular seksual pada kehamilan
(60%)sedang ibu yang tidak terkena penyakit menular seksual pada
kehamilan 16 Reonden atau (40 %) maka dapat disimopulkan bahwa ibu
yang menderita penyakit menular seksual berhubungan pada kehamilan.
6.2. Saran
1. Diharapkan agar tenaga medis terutama biadanlebih mendeteksi dini penyakit
menular seksual pada kehamialan selama masa kehamilan.
2. Diharapkan kepada Tenaga medis dokter, bidan, untuk memberikan
informasi sekitar tanda bahasa penyakit menular seksual yang dapat
membahayakan ibu dan janin.
33
34
3. Diharapkan kepada pendidikan untuk menambahkan reperensi dan sumber
informasi mengenai tentan penyakit menular seksual untuk menambah
pengetahuan dan wawasan.
4. Diharapkan kepada peneliti dimasa yang akan datang untuk dapat
melanjutkan penelitian ini yaitu tentang penyakit menular seksualpada
kehamilan.
35
DAFTAR PUSTAKA
Maryuni, A. 2005. Asuhan Ibu Hamil Dengan HIV/AIDS.
Manuaba, Ida Ayu Candra dinata,2009.Patologi Obstetri,EGC. Jakarta
Riono,P (2005) Pencegahan Penyakit Menular Seksual. Jakarta
Samsuridjal D@Zubairi D(2002)Penatalaksanaan HIV/AIDS di Pelayanan Kesehatan
Dasar. Jakarta, FKUI
Hj.Lilik Susilawati amkeb.,m.Kes
Depkes RI (2008)Pedoman Tatalaksana Infeksi HIV dan Terapi Antiretroviral pada
Anak di Indonesia. Jakarta
Yayasan
Spiritia (2003). Lembaga Informasi tentang HIV/AIDS untuk Orang
Yang Hidup dengan HIV/AIDS(ODHA). Jakarta
Kompas (19 juli 2008). Pengidap HIV Sulit Akses Obat dan 61 Anak Balita Positif
HIV. Jakarta
Anik Maryunani Ummu Aeman (2004) Buku Saku Untuk Bidan. EGC. Jakarta
Nursalam (2007). Asuhan Keperawatan pada Pasien Terinfeksi HIV/AIDS. Jakarta,
Salemba Medika
36
Lampiran 1.
KUESIONER PENDATAAN
HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU HAMIL TERHADAP
PENYAKIT MENULAR SEKSUAL PADA KEHAMILAN
DI RSUD DELI SERDANG LUBUK PAKAM
KAB.DELI SERDANG TAHUN 2014
Petunjuk Pengisian:
BAGIAN A
Jawablah pertanyaan dibawah ini sesuai dengan pernyataan dan pilihan ibu
DATA UMUM
1. Nomor Ibu :
2. Nama Ibu :
3. Alamat :
4. Umur :
5. Pekerjaan :
6. Pendidikan:
BAGIAN B
Jawablah pertanyaan dibaawah ini dengan member tanda silang (x) pada kolom
jawaban sesuai dengan pilihan ibu
I. UMUR
1. Apakah ibu memiliki riwayat keluarga yang mengidap penyakit menular
seksual
a. Ya
b. Tidak
37
2. Pada umur berapakah ibu hamil pertama
a. >21
b. >35
3. Apakah ibu mersa kesakitan pada kemaluaanya
a. Ya
b. Tidak
4. Apakah ibu perna memeriksakan kehamilanya pada kesehatan
a. Ya
b. Tidak
5. Berapakah berat badan bayi yang dilahirkan ibu
a. <2200-<2300
b. <2400
6. Setiap pemeriksaan apakah ibu adakeluhan yang lain
a. Ya
b. Tidak
7. Apakah ibu mengetahui resiko berat badan bayi rendah lahir
a. tidak
b. tau
8. Bagaiman sikap ibu tentang keadaan ya dirinya dengan calan bayi
a. takut
b. senang
9. Apakah bahaya ada cakupan bahaya kehamilan dengan PMS
a. ada
b. tidak
38
Lampiran 2. : MASTER DATA
HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU HAMIL TERHADAP
PENYAKIT MENULAR SEKSUAL PADA KEHAMILAN
DI RSUD DELI SERDANG KAB.LUBUK PAKAM
DELI SERDANG TAHUN 2014
NO
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
PENGETAHUAN
1
1
1
2
1
1
1
1
2
2
2
1
2
1
1
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
1
2
2
2
1
2
SIKAP
2
2
1
1
1
2
2
2
1
1
2
2
2
1
2
1
2
2
2
1
1
2
1
2
1
1
2
2
1
2
1
1
PMS
2
2
2
2
2
2
2
1
2
1
1
1
1
2
1
2
1
1
1
2
2
1
1
1
1
1
1
1
1
1
2
1
39
33
34
35
36
37
38
39
40
2
1
2
1
1
2
2
1
2
1
1
1
2
1
1
2
1
2
1
2
1
1
2
1
40
Lampiran 3. Hasil Statistik
Frequencies
Statistics
pengetahuan
N
Valid
sikap
Penyakit menular seksual
40
40
40
0
0
0
Missing
Frequency Table
Pengetahuan
Frequency
Valid
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
tahu
16
40.0
40.0
40.0
tidak tahu
24
60.0
60.0
100.0
Total
40
100.0
100.0
Sikap
Frequency
Valid
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
positif
20
50.0
50.0
50.0
negatif
20
50.0
50.0
100.0
Total
40
100.0
100.0
41
Penyakit menular seksual
Frequency
Valid
Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
terkenah
24
60.0
60.0
60.0
tidak terkenah
16
40.0
40.0
100.0
Total
40
100.0
100.0
Crosstabs
Case Processing Summary
Cases
Valid
N
pengetahuan * Penyakit
menular seksual
sikap * Penyakit menular
seksual
Missing
Percent
N
Total
Percent
N
Percent
40
100.0%
0
.0%
40
100.0%
40
100.0%
0
.0%
40
100.0%
pengetahuan * Penyakit menular seksual Crosstabulation
Count
Penyakit menular seksual
terkenah
pengetahuan
tahu
tidak tahu
Total
tidak terkenah
Total
6
10
16
18
6
24
24
16
40
42
sikap * Penyakit menular seksual Crosstabulation
Count
Penyakit menular seksual
terkenah
sikap
Total
tidak terkenah
Total
positif
8
12
20
negatif
16
4
20
24
16
40
Download