MUSIK - WordPress.com

advertisement
TINJAUAN TERHADAP RUANG - RUANG DALAM PAROLE
MUSIKALISASI PUISI! (SEBUAH PEMIKIRAN)
EKA P KUSUMAH.
’Seni dapat mengungkapkan hal-hal yang tidak dapat diungkapkan secara lain, seni
memberikan penglihatan kepada pemikiran spekulatif, sehingga yang ”buta” dapat ”melihat”
transedensi, antara keabadian dan waktu. Seni merupakan suatu dunia antara mistik dan
eksistensi,.......................... seni merupakan puncak kesadaran. Dalam seni kesadaran
membebaskan diri dari kemelaratan hidup. Tetapi karena seni tidak mengenal keterlibatan dan
tidak menerima ikatan, maka dalam seni hanya diciptakan ruang, dan hanya diberikan
mekungkinan-kemungkinan. (Karl Jaspers).
Berbicara mengenai musikalisasi puisi sebagai medium seni, lantas menyadarkan
kita tentang pemahaman kesadaran akan ”ruang-ruang seni yang otonom”, yang
terkandung didalamnya yaitu ruang ’musik’ dan ruang ’puisi’ yang bersatu didalam
interaksi ”kerangka situasi” sebuah pementasan (pertunjukan).
Dua entitas seni tersebut menjadi medium pokok interpretasi didalam
penggarapan karya musikalisasi puisi, tentu didalam proses kreatifnya akan memiliki
perbedaan-perbedaan karakteristik yang berorientasi kedalam konsep pementasan.
Perbedaan tafsiran (multi tafsir) sangat umum didalam penggarapan sebuah konsep
pementasan dan bukanlah hal yang tabu.
Sebagai contoh, jika seniman musik yang menafsirkan sebuah karya sastra dalam
hal ini teks puisi tentu akan mengadirkan interpretasi yang berbeda didalam konsep
pementasannya secara menyeluruh, bisa saja musik menjadi ruang yang ”kuat” didalam
garapannya bahkan mungkin hanya sedikit bahasa puisi yang terungkap secara lisan yang
karena kesemuanya hampir ’terwakilkan’ oleh bahasa musik yang memainkan simbolsimbol didalam komponen musik (warna bunyi, intensitas bunyi, aksentuasi, harmoni,
contrapung, lick, dll) sebagai penafsiran atas teks puisi, tentunya ini sah-sah saja.
Juga jika orientasi dilakukan oleh seniman puisi, tentu ’form’ dasar didalam
penggarapan MP menjadi lain pula dalam hasil akhirnya. Puisi secara tekstual (main
idea) yang di ’gabungkan’ dengan elemen musik dalam konteks MP tentu akan
menghasilkan sebuah konsep pertunjukan yang ’berbeda’ pula, elemen musik sebagai
’ruang’ tentu akan lebih difungsikan hanya sebagai medium ’pelengkap’ saja didalam
penggarapannya, mungkin hanya dijadikan backsound untuk lebih menghidupkan/
membangun atmosfir sesuai dengan interpretasi dari seniman puisi yang bersangkutan,
1
atau mungkin pula akan menghasilkan bentuk-bentuk pementasan yang lain (tidak baku)
bukan hanya sekedar pembacaan puisi yang diiringi musik an sich.
Komposisi musik vokal yang juga sering dijadikan ”altar” penguat atas
interptretasi sebuah teks puisi (yang sering bernuansa kelam, biru dan romantis) dalam
bentuk koor, gospel dan canon yang dijadikan bahan untuk membangun interpretasi
(pemaknaan secara musikal).
Bahkan sering pula teks puisi di ”insert” kedalam sebuah komposisi musik
berbentuk lagu dengan penyesuaian-penyesuaian teks atas nada atau sebaliknya untuk
mendapatkan atmosphir yang dikehendaki secara subjektif. Dan tentunya ini sah juga,
tidak ada yang salah!.
REKONSTRUKSI TERHADAP RUANG ”PUISI”
Puisi sebagai medium seni sastra memiliki kompleksitas tersendiri didalam
sosoknya yang intristik, pemahaman mendalam mengenai struktur bangunan tekstual
puisi berdasarkan kepada kode-kode yang membangun dasar makna atas teks yaitu ; kode
bahasa, kode budaya dan kode sastra. Ketiga kode ini secara krusial menjadi komponen
penting didalam menggali pemaknaan atas puisi.
Dalam wujudnya yang kompleks tersebut, puisi memiliki elemen-elemen penting yang
menjadi jalinan utama (main frame) didalam keutuhan menyeluruh sebagai sebuah karya
sastra. Elemen-elemen tersebut diantaranya ;
rima dan ragam bunyi, komposisi kata-
kata, enjambemen dan lain sebagainya. Sedangkan didalam proses pembacaan teks puisi
juga dikenal dengan adanya tempo dan irama ( rima akhir, rima awal, asonansi, aliterasi,
onomatopi, cachopony, euphony, negasi dll).
Dari komponen-komponen dasar yang dimiliki ruang puisi, tentunya kematangan
puisi sebagai sebuah karya seni jelaslah tampak dari nilai estetikanya yang holistik
membangun ruang ekspresi dan pemaknaan atas kata dan intensitas bunyi dari kata yang
dirangkai sehingga menghasilkan struktur bunyi musikal yang identik dengan pencapaian
atmosphir yang di bangun oleh komposisi kata, tempo dan gaya pembacaan dari
penyairnya!.
Apabila kita menganggap bahwa puisi butuh media musikal dari luar
dirinya, maka pada dasarnya puisipun memiliki makna ’musikal’ internalnya sendiri.
2
Bahkan ada pernyataan ekstrim ”kenikmatan membaca puisi, yaitu ketika membacanya
tanpa musik, karena sejatinya alam disekitarnya adalah irama musik bagi puisinya”.
REKONSTRUKSI TERHADAP RUANG ”MUSIK-ALISASI”
Definisi dari musik adalah ” ilmu pengetahuan dan seni tentang kombinasi ritmik
dari nada-nada, baik vokal maupun instrumental, yang meliputi melodi dan harmoni
sebagai ekspresi dari segala sesuatu yang ingin diungkapkan terutama aspek emosional”
(david Ewen, the home of musical knowledge, 1965.)
Sama seperti puisi yang juga memiliki konsep membangun pemaknaan emosional
dalam karyanya, maka puisi dan musik memiliki prinsip dasar yang identik diantara
keduanya. Bentuk musik terbentang dalam ruang yang sifatnya spesial, maka musik dapat
disejajarkan dengan bentuk-bentuk dalam karya seni sastra. Jika bentuk-bentuk sastra
ditulis dari kiri ke kanan (kecuali dalam bahasa tertentu misalnya; bahasa Simetik dan
bahasa-bahsa oriental), bentuk-bentuk musik juga ditulis dari kiri ke kanan dan dari
bawah ke atas, sehingga arah dari kiri ke kanan menunjukan ruang dimensi waktu,
sedangkan dari bawah ke atas menunjukan ruang dimensi yang sifatnya akustik musikal.
Kesejajaran dalam kalimat musik, seperti halnya dalam kalimat bahasa, terjadi antara
frase anteseden dan frase konsekuen. Ini dapat dilihat dari tulisan musik secara horisontal
dari kiri ke kanan. Sedangkan kesejajaran vertikal diantara dua garis melodi atau lebih
yang berbunyi bersamaan, dapat dilihat dari tulisan musik secara horisontal sekaligus
vertikal,
dan
pengamatan
secara
vertikal
khusus
bagi
keselarasan
bunyi
(harmoni).Suhatjarja.
DEFINISI YANG TAK TERDEFINISIKAN!
Dalam perkembangannya, musikalisasi puisi (MP) banyak mendapat respon dari
medium-medium seni yang lain seperti teater dan tari yang juga mulai banyak
mengadaptasi puisi sebagai konsep dasar dalam karya pementasannya. Dan ini tentu akan
memberikan khasanah baru yang akan memperkaya bentuk-bentuk pertunjukan MP.
3
Musikalisasi Puisi (MP) sebagai media ekspresi tentu memiliki nilai-nilai estetis
yang tidak terbatas (terbuka) terhadap pengembangan didalam pencarian ”bentuk” nya
yang kaya akan keberagaman tafsir dan akan menghadirkan sebuah bentuk pertunjukan
seni yang mampu mengakomodir berbagai entitas seni (bersinergi), aspiratif dan nilai
makna dalam entitas puisi dapat ’tertangkap’ oleh apresiasi penonton (pendukungnya).
Banyak ulasan-ulasan tentang pemaknaan kata dari bentuk musikalisasi puisi,
mulai dari penafsiran musik yang mengiringi puisi, puisi yang di musikalisasi, musik
berpuisi, gerak teatetrikal puisi (puisi teatrikal), dramatisasi puisi dan lain sebagainya,
tentu ini akan memperkaya MP sebagai entitas karya seni yang mendapat tempat dan
respon positif dari medium seni lainnya. Tapi ada juga yang masih terjebak didalam
’kedangkalan’ tafsir terhadap MP, seolah-olah MP adalah sebuah karya yang ”mutlak”
dengan bentuknya yang ada, seolah-olah dibuat baku sehingga tidak boleh di rubah-rubah
(tanpa aturan yang jelas dan mendasar), sehingga MP menjadi kaku dan miskin akan
eksplorasi, aspirasi, interpretasi dan pemaknaan ekspresi. Ini tidak sejalan dengan wujud
dari sebuah bentuk kesenian yang membutuhkan proses kreatif dan penggalian ide-ide
original (avant garde) yang terus ber-evolusi bahkan berevolusi seiring dengan
perkembangan diskursus seni yang kontemporer!.
’dengan menggambarkan tiga contoh, masing-masing dari gaya pribadi,gaya
nasional dan gaya periode, telah dijelaskan mengenai tujuan sejarah kesenian yang
menganggap gaya terutama sebagai ekspresi, yaitu ekspresi dari jiwa suatu bangsa
sebagai ekspresi dari tempramen pribadi.
...deskripsi mengenai perbedaan antara raphael dan rembrandt adalah sematamata penghindaran dari masalah utama sebab yang penting bukanlah untuk menunjukan
perbedaan keduanya, melainkan bagaimana keduanya dengan cara yang berbeda telah
mengasilkan yang sama, yaitu seni yang agung’.Heinrich Wolfflin, 1929, h 10.
MUSIKALISASI PUISI KARYA SENI MUTLAK, ATAU MEDIUM KREATIVITAS?
Ada beberapa pertanyaan mendasar ketika medium puisi yang terus berkembang
seiring semangat kemajuan dunia seni kontemporer (post modernisme), pertanyaannya
adalah : Apakah Musikalisasi Puisi merupakan langkah etis dalam estetika puisi ?,
Apakah hanya entitas musik saja yang ’mampu’ menghidupkan realitas pementasan
sebuah karya puisi?, Apakah hanya musik dan puisi dua entitas yang koheren sebagai
komponen dasar dalam MP?, Lalu bagaimana dengan teks puisi yang digubah kedalam
4
”lagu” dengan gaya tertentu juga tidak akan merubah makna intristik dari puisi tersebut?
Bagaimana pemaknaan ekspresi antara puisi yang dibacakan tanpa musik dengan puisi
yang dimusikalisasi? Bentuk musikalisasi seperti apa yang menjadi idiom baku dalam
MP?, Apa batasan-batasan konkret untuk sebuah wujud real dari karya Musikalisasi
Puisi? Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin akan mendapat jawaban yang
beragam dan kompleks, bahkan akan terbuka peluang lahirnya interpretasi baru terhadap
wacana musikalisasi puisi!.
Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan diatas menjadi narasi besar didalam proses
pencarian bentuk dan penafsiran atas pemaknaan tekstual dalam konteks ruang-ruang
otonom Musikalisasi Puisi. Entah mau di bentuk seperti apa musikalisasi puisi oleh setiap
seniman yang menggarapnya, kebebasan ada ditangan kreatornya, tanpa batasan nilai
baku yang dikodifikasi dan tentunya output yang dihasilkan akan memberikan gaung
segar atas originalitas karya dan etetika yang tidak dipaksakan.Toh didalam kenyataan
bahwa sebuah karya seni yang otonom akan menjadi karya yang apresiatif ketika
mendapat respon dari penonton (pendukungnya) sehingga komunikasi yang kondusif
sejatinya terjadi diatas pentas.
Kita tak berharap terus berenang dalam samudera abstraksi yang tanpa batas dan
akhir, setidaknya kita coba menggapai tepian pemikiran yang konkret dan membumi atas
dasar fitrahnya sebuah karya seni yang menjadi milik bersama!.
Penulis adalah pencinta seni karawang
Pendiri teater 567 karawang , STK (Study Teater Karawang), Forum Apresiasi dan Kajian
Seni Karawang
Email : [email protected]
5
Download