Perkembangan dan Prospek Perekonomian Global dan Domestik

advertisement
Perkembangan dan Prospek
Perekonomian Global dan Domestik
November 2016
PERKEMBANGAN DAN PROSPEK PEREKONOMIAN GLOBAL
Data terkini dari beberapa negara maju mengindikasikan bahwa pemulihan ekonomi dunia
belum menggembirakan. Hal ini antara lain terlihat pada kinerja ekonomi beberapa negara besar
seperti Amerika Serikat, Eropa, Jepang, China dan India yang secara umum masih dalam tren
yang mendatar bahkan sebagian masih menurun. Di Amerika Serikat misalnya, data indikator
makroekonomi yang menggambarkan kondisi ekonomi terkini masih dalam tren pertumbuhan
menurun seperti terlihat pada pertumbuhan composite coincident economic index (CEI) nya yang
masih menurun. Kondisi yang hampir sama terlihat di Eropa dan Jepang dimana pertumbuhan
indikator makroekonominya yang menggambarkan keadaan ekonomi terkini (seperti penjualan
ritel, composite coincident economic index) masih dalam tren mendatar bahkan ada
kecenderungan menurun.
Sementara itu kondisi ekonomi terkini di Tiongkok dan India mulai menunjukkan tanda-tanda
pertumbuhan ekonomi yang stabil. Hal ini antara lain terlihat pada pertumbuhan ekonomi
Tiongkok yang dalam 3 triwulan 2016 ini secara berturut-turut tumbuh stabil 6.7% dan indeks
produksi industri yang tumbuh stabil sekitar 6.0% dari 5.4% pada bulan Februari tahun 2016.
Pertumbuhan ekonomi India juga masih dalam tren membaik dengan rata-rata pertumbuhan
selama semester I 2016 sebesar 7.5%, yang berarti lebih baik dibandingkan dengan
pertumbuhan sepanjang tahun 2015 sebesar 7.2%.
Contact Us
PT Sarana Multigriya
Finansial (Persero)
Grha SMF
Jl. Panglima Polim I No 1
Jakarta 12160
Telp. + 62 21 2700400
Fax. + 62 21 2701400
[email protected]
www.smf-indonesia.co.id
Selanjutnya indikator makroekonomi yang menggambarkan prospek ekonomi dunia kedepan
tampak mulai ada tanda perbaikan, sebagaimana terlihat pada indikator makroekonomi
beberapa negara besar yang disebutkan diatas. Di Amerika Serikat misalnya, pertumbuhan
composite leading economic index (LEI) nya sudah 3 bulan berturut-turut mengalami kenaikan,
yang berarti perlambatan pertumbuhan ekonomi yang terjadi saat ini berpotensi akan membaik
dalam 9 – 12 bulan mendatang. Sedangkan di Eropa dan Jepang perkembangan indikator
makroekonomi yang menggambarkan prospek ekonomi nya kedepan hanya sedikit mengalami
kenaikan, bahkan ada kecenderungan mendatar. Artinya prospek pertumbuhan ekonomi kedua
negara ini kedepan akan cenderung tidal berbeda jauh dengan kondisi saat ini. Sementara itu
perekonomian Tiongkok dan India diproyeksikan akan mengalami perbaikan secara bertahap.
Meskipun tidak akan tumbuh double digit (seperti awal tahun 2000-an), namun pertumbuhan
yang ditargetkan pemerintahnya sangat mungkin untuk dicapai. Dengan demikian
perekonomian dunia tahun 2016 ini diproyeksikan akan sedikit melambat dari tahun 2015,
namun akan tumbuh lebih baik pada tahun 2017 dan 2018.
Dengan perkembangan dan prospek makroekonomi dunia seperti itu, maka respon kebijakan
moneter di banyak negara masih akan cenderung longgar berupa suku bunga yang relatif rendah
serta quantitative easing. Jadi suku bunga acuan the Fed juga diperkirakan belum akan
mengalami kenaikan yang agresif dalam jangka pendek ini, terlebih setelah kemenangan Donald
Trump sebagai Presiden Amerika Serikat yang diluar ekspektasi pasar dan menyebabkan gejolak
dipasar keuangan dunia. Kebijkan fiskal pun masih akan cenderung ekspansif. Dengan kebijakan
moneter dan fiskal seperti itu, diharapkan dapat memberikan stimulus untuk mendorong
peningkatan pertumbuhan ekonomi dunia kedepan.
Kebijakan moneter yang longgar dan fiskal yang ekspansif akan berdampak positif terhadap
pasar modal emerging market, karena arus modal akan terjadi dari negara maju (dimana imbal
hasil rendah) ke negara berkembang (dimana imbal hasil relatif lebih tinggi). Namun kondisi
seperti ini rawan mengalami volatilitas. Sebagai contoh kalau ada rencana perubahan kebijakan
di negara maju (misalnya rencana kenaikan suku bunga oleh the Fed) akan menyebabkan
sebagian investor melakukan safe haven walaupun bersifat sementara. Demikian pula dengan
kemenangan Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat (yang diluar perkiraan pelaku
pasar) menyebabkan gejolak di pasar keuangan dunia.
Pertumbuhan Ekonomi Dunia dan Kelompok Negara
Pertumbuhan Ekonomi Dunia, %YoY
6.0
Dunia
Asia
Amerika Utara
Eropa Barat
5.0
4.0
3.5
3.3
3.4
3.1
3.0
2.9
3.1
3.3
2.0
1.0
0.0
-1.0
2012
2013
2014
2015
2016F
2017F
2018F
Source : Bloomberg, diolah
Perkembangan dan prospek ekonomi dunia seperti itu juga mempengaruhi kebijakan moneter
dan fiskal serta perekonomian Indonesia. Kebijakan moneter yang longgar di banyak negara
(disamping faktor makroekonomi domestik seperti inflasi, nilai tukar, neraca transaksi berjalan
dan lain-lain) memberikan ruang bagi Bank Indionesia untuk melonggarkan kebijakan moneter
nya dengan menurunkan suku bunga acuan dan relaksasi makroprudensial. Kebijakan ini
seharusnya dapat memberikan dampak yang positif terhadap pasar perumahan maupun pasar
pembiayaan perumahan. Karena penurunan suku bunga dan relaksasi makroprudensial akan
menurunkan beban bunga maupun uang muka pembelian rumah.
PERKEMBANGAN DAN PROSPEK PEREKONOMIAN DOMESTIK
Pada bulan Oktober terjadi inflasi 0.14 MoM, lebih rendah dibandingkan dengan laju inflasi
bulanan bulan September sebesar 0.22%. Meskipun secara bulanan (month-to-month) laju
inflasi menurun, namun secara tahunan (year-to-year) laju inflasi mengalami kenaikan yang
cukup berarti dari 3.07% YoY pada bulan September menjadi 3.31% pada bulan Oktober.
Kenaikan laju inflasi tahunan ini disebabkan oleh laju inflasi bulanan yang rendah pada bulan
Oktober 2015 sebesar -0.08% MoM (deflasi). Artinya, meskipun secara bulanan laju inflasi kita
relatif rendah pada bulan Oktober (0.14%), namun secara historis seharusnya bisa lebih rendah
dari angka tersebut. Penelusuran yang lebih mendalam menunjukkan bahwa inflasi pada bulan
Oktober tersebut sebagian besar disumbangkan oleh kelompok pengeluaran perumahan akibat
kenaikan tarif dasar listrik (TDL) untuk golongan tarif yang tidak disubsidi. Tanpa kenaikan TDL
tersebut laju inflasi bulanan, dan dengan demikian laju inflasi tahunan pada bulan Oktober 2016
berpotensi lebih rendah dari 0.14% MoM dan 3.31% YoY.
Untuk bulan November laju inflasi bulanan diperkirakan masih tetap terjaga sejalan dengan
adanya panen yang masih berlangsung di beberapa daerah, sehingga harga kebutuhan pokok
akan tetap terkendali. Untuk jangka waktu menengah laju inflasi dalam negeri diproyeksikan
juga masih akan tetap terjaga. Prediksi ini didasarkan pada perkiraan bahwa harga komoditas
utama (terutama minyak mentah) di pasar global masih relatif stabil atau hanya sedikit
mengalami kenaikan. Demikian pula dengan nilai tukar rupiah. Artinya tekanan inflasi dari
eksternal dan imported inflation diperkirakan akan relatif kecil. Dari dalam negeri pemerintah
tampaknya akan berupaya semaksimal mungkin untuk mengendalikan inflasi agar target suku
bunga pinjaman 1 dijit semakin mungkin untuk direalisasikan. Upaya pengendalian inflasi di
dalam negeri dikoordinasikan oleh Tim Pengendali Inflasi Pusat dan Daerah dengan menjaga
pasokan bahan pangan, memperlancar distribusi barang, dan lain-lain. Untuk akhir tahun 2016
ini laju inflasi diperkirakan akan berada di sekitar 3.0% dan sedikit naik pada tahun 2017.
Sejalan dengan perkembangan dan prospek inflasi yang tetap terjaga pada level yang relatif
rendah, nilai tukar rupiah yang relatif stabil bahkan ada kecenderungan menguat, neraca
perdagangan yang surplus sehingga defisit neraca transaksi berjalan (current account deficit atau
CAD tetap terjaga dibawah 3.0% PD), maka pada bulan September dan Oktober Bank Indonesia
memotong suku bunga acuannya masing-masing 25 basis poin menjadi 4.75% saat ini.
Pemotongan suku bunga tersebut juga dimaksudkan untuk memberikan stimulus moneter untuk
mendorong peningkatan pertumbuhan ekonomi, ditengah-tengah ekspansi fiskal yang terbatas
menyusul tidak tercapainya penerimaan pajak.
Suku bunga 7-day reverse repo diperkirakan akan bertahan pada level 4.75% sampai akhir tahun
2016 karena kenaikan laju inflasi tahunan pada bulan Nopember serta adanya potensi kenaikan
laju inflasi bulanan pada bulan Desember yang bersifat musiman (musim paceklik). Disamping
itu rencana the Fed yang akan menaikkan suku bunga acuannya pada bulan Desember
menyebabkan peluang penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia relatif kecil. Peluang
tersebut tampaknya semakin kecil menyusul kemenangan Donald Trump yang diluar ekspektasi
pelaku pasar sehingga menyebabkan gejolak di pasar keuangan global yang antara lain terlihat
pada volatilitas nilai tukar rupiah serta penurunan indeks harga saham gabungan dan obligasi.
Pada triwulan ketiga tahun 2016, pertumbuhan ekonoimi Indonesia kembali melambat baik
secara triwulanan (Q-on-Q) maupun secara tahunan (Y-on-Y). Secara triwulanan pertumbuhan
ekonomi Indonesia tumbuh 3.20% QoQ lebih rendah dari triwulan sebelumnya 4.03% QoQ.
Pertumbuhan ekonomi triwulanan sebesar itu merupakan pertumbuhan triwulanan terendah
sejak tahun 2008. Pertumbuhan tersebut juga lebih rendah dari pertumbuhan triwulan ketiga
2015 sebesar 3.36% QoQ, sehingga pertumbuhan PDB tahunan pada triwulan ketiga menurun
menjadi 5.02% dari 5.19% pada triwulan kedua 2016.
Pertumbuhan PDB triwulan ketiga 2016 ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang masih
tumbuh baik 5.01% YoY dan Lembaga Non-Profit yang Melayani Rumah Tangga atau LNPRT
sebesar 6.65% YoY serta investasi 4.06% YoY. Sementara itu konsumsi pemerintah yang pada
triwulan kedua tumbuh bagus 6.23% YoY, justru mengalami kontraksi -2.97% YoY pada triwulan
ketiga. Kontraksi konsumsi pemerintah pada Q3 2016 ini tidak terlepas dari restrukturisasi APBN
yang dilakukan oleh Pemerintah berupa pemotongan beberapa pos anggaran yang dinilai
memiliki efek pengganda yang relatif kecil. Restrukturisasi itu sendiri dimaksudkan untuk
menciptakan APBN yang lebih kredibel. Sementara itu ekspor masih mengalami kontraksi -6.00%
YoY.
Untuk triwulan keempat tahun 2016, perekonomian Indonesia diperkirakan akan tumbuh
semakin pesat dibandingkan dengan rata-rata pertumbuhan tiga triwulan 2016. Pelonggaran
kebijakan moneter berupa penurunan suku bunga dan relaksasi makroprudensial (seperti
kanaikan LTV atau loan to value) serta paket-paket deregulasi yang sudah diluncurkan
pemerintah diperkirakan akan mulai memberikan dampak yang positif terhadap peningkatan
aktifitas perekonomian. Di samping itu proyeksi tersebut juga didasarkan pada pertimbangan:
 Belanja pemerintah yang sempat melambat pada triwulan ketiga (menyusul
restrukturisasi APBN) diperkirakan akan mengalami kenaikan yang signifikan pada
triwulan keempat. Optimisme ini juga sejalan dengan keberhasilan implementasi
Undang-Undang Pengampunan Pajak.
 Indeks Kepercayaan Konsumen masih baik dengan tren laju inflasi yang menurun. Hal
ini mengindikasikan daya beli masyarakat yang masih baik. Ditambah dengan prospek
suku bunga yang menurun akan mendorong peningkatan konsumsi rumah tangga
kedepan.
 Indeks sentimen pebisnis masih dalam tren membaik, ditambah dengan prospek
penurunan suku bunga dan peningkatan konsumsi masyarakat akan mampu
mendorong peningkatan produksi dan ekspansi usaha (investasi) kedepan.

Meskipun belum signifikan, ekspor juga diperkirakan akan mulai memberikan
kontribusi (vs selama ini tumbuh negatif), sejalan dengan kenaikan harga beberapa
komoditas unggulan ekspor Indonesia.
DAMPAK TERHADAP PASAR PERUMAHAN DAN PASAR PEMBIAYAAN PERUMAHAN
Sebagaimana kita ketahui daya beli masyarakat sangat mempengaruhi pasar perumahan, dan
dengan demikian juga akan sangat mempengaruhi pasar pembiayaan perumahan. Daya beli itu
sendiri antara lain bisa digambarkan oleh indikator laju inflasi, indeks kepercayaan konsumen,
pendapatan per kapita, beban bunga, dan lain-lain.
Mencermati pembahasan diatas, dimana laju inflasi yang cenderung terjaga dan indeks
kepercayaan konsumen yang relatif tinggi serta suku bunga yang cenderung menurun, maka
seharusnya akan memberikan dampak yang positif terhadap pasar perumahan dan pasar
pembiayaan perumahan. Namun pertumbuhan ekonomi yang melambat menyebabkan
pendapatan per kapita masyarakat belum mengalami perbaikan yang berarti. Akibatnya pasar
perumahan dan pembiayaan nya pun saat ini belum mengalami kenaikan yang berarti. Namun
kedepan, sejalan dengan inflasi yang tetap terjaga, tren suku bunga pinjaman yang masih
menurun serta perbaikan pertumbuhan ekonomi (meningkatkan pendapatan per kapita)
diperkirakan akan mulai memberikan dampak yang semakin positif terhadap pasar perumahan
dan pembiayaan perumahan.
Disclaimer:
The information contained in this report has been taken from sources which we deem reliable. However, none of any PT Sarana
Multigriya Finansial (Persero) and/or their respective employees and/or agents make any representation or warranty (express or implied)
or accepts any responsibility or liability as to, or in relation to, the accuracy or completeness of the information and opinions contained
in this report or as to any information contained in this report or any other such information or opinions remaining unchanged after the
issue thereof. We expressly disclaim any responsibility or liability (express or implied) of PT Sarana Multigriya Finansial (Persero)
employees and agents whatsoever and howsoever arising (including, without limitation for any claims, proceedings, action, suits, losses,
expenses, damages or costs) which may be brought against or suffered by any person as a result of acting in reliance upon the whole or
any part of the contents of this report. For further information please contact our number +6221-2700 400.
Download