BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Penelitian Terdahulu (State of the art

advertisement
BAB 2
LANDASAN TEORI
2.1
Penelitian Terdahulu (State of the art)
Dalam penelitian ini digunakan beberapa penelitian terlebih dahulu sebagai pedoman
dalam memberikan arahan yang sesuai dengan topik penelitian yang dilakukan. Berikut
penelitian terdahulu yang digunakan sebagai bahan pembahasan dari penelitian ini.
Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu
No
Nama Penulis
Judul Penelitian
Variabel
Penjelasan Penelitian
Penelitian
1.
Yumei Lianty
Analisis
Pengaruh
Empiris Menggunakan
Public data yang terdiri 1,283+0,232X,
Relations Terhadap dari satu
Citra
Berdasarkan Y=
yang
Hero variabel
Supermarket (2012)
menunjukkan
bebas bahwa Y adalah citra
(independent)
Hero
Supermarket,
dengan simbol X dan X adalah Public
dan satu variabel Relations
terikat
Hero
(dependen)
dan
dengan
Supermarket,
setelah
simbol melakukan uji t dan
Y. Variabel
uji
hipotesis, maka
Independent
diperoleh hasil
(X), yaitu
yang
Public Relations
signifikan.
.
demikian
Variabel
menunjukkan
Dependent
Public Relations
(Y), yaitu
mempunyai pengaruh
citra.
positif dan signifikan
positif
dan
Dengan
terhadap citra Hero
Supermarket di
mata konsumen.
2
Dewi Puspitasari
Pengaruh
humas Variabel
terhadap
penelitian
citra Public Relations membuktikan bahwa
perusahaan
pada
(Studi yang terdiri dari terdapat
pengaruh
persepsi publikasi
(X1), positif signifikan yang
peristiwa
(X2), ditujukan oleh Humas
konsumen
telkomsel
GraPari
bebas Hasil
di berita
(X3), secara
telkomsel pelayanan
Jember) (2010)
terhadap
masyarakat
(X4),
simultan
citra
perusahaan.
identitas
media
(X5),
variabel
terikatnya adalah
citra perusahaan.
Cipta
3
Triffianty
Efektivitas
Public Peneliti
Relations
Kesimpulan
Pt. menggunakan
Indonesia
Power dua
dari
penelitian
ini
Variabel, memperlihatkan
Unit Bisnis
yaitu Varibel X bahwa
Pembangkitan
(Efektivitas)
(UBP)
yang terdiri dari Public Relations
Saguling
Melalui 3 kategori yang PT. Indonesia Power
Kegiatan
dijadikan
Pengobatan
ukur sebagai
Gratis
masalah
Perusahaannya Pada tujuan
Masyarakat
(2011)
Pembangkitan (UBP)
Saguling
melalui
yaitu, kegiatan
pengobatan
yang gratis
direncanakan,
Kecamatan Cipatat biaya yang
Bandung
alat Unit Bisnis
Terhadap identifikasi
Citra
Kabupaten
efektivitas
sangat
efektif
terhadap
citra
dianggarkan dan perusahaannya
Barat waktu
yang masyarakat
ditetapkan,
untuk
Y
pada
dan Kecamatan
Cipatat
Variabel Kabupaten
Bandung
Barat
(Citra)
yang terdiri dari
empat
kategori
yang
dijadikan
alat ukur
sebagai
identifikasi
masalah
yaitu,
persepsi,
kognisi,
sikap,
dan
motivasi
4
Joanna
Corporate image in
Penelitian
ini
Minkiewicz
the leisure services
dimaksudkan
untuk
sector (2011)
menguji
secara
empiris
hubungan
antara
citra
perusahaan
dan
kepuasan pelanggan.
5
Aloys Nyagechi External
Hasil penelitian ini
Kiriago
Communication and
membuktikan bahwa
its
komunikasi
Influence
on
Secondary Schools
mulut
Corporate Image :
merupakan
A Case Study of
yang
Kitale
digunakan
Secondary
(2013)
Academy
School
ke
sangat
target
external.
dari
mulut
saluran
sering
untuk
audiens
2.2 Kerangka Konseptual/Teoritis
2.2.1
Public Relations
Menurut Cutlip, Center dan Broom (2004:4) “Public Relations adalah fungsi
manajemen yang menemukan, menetapkan, dan mempertahankan hubunganhubungan yang saling menguntungkan antara sebuah organisasi serta berbagai
golongan publik yang menjadi penentu kesuksesan maupun kegagalan organisasi
tersebut.”
Menurut Harlow dalam Nova (2011:44) “Public Relations adalah fungsi
manajemen yang khas yang membantu pembentukan dan pemeliharaan garis
komunikasi dua arah, saling pengertian, penerimaan, dan kerjasama antara organisasi
dan masyarakatnya yang melibatkan dalam manajemen problem atau masalah,
membantu manajemen untuk selalu mendapatkan informasi dan merespons pendapat
umum, mendefinisikan dan menekankan tanggung jawab manajemen dalam melayani
kepentingan masyarakat, membantu manajemen mengikuti dan memanfaatkan
perubahan dengan efektif, berfungsi sebagai sistem peringatan awal untuk membantu
antisipasi kecendrungan, dan menggunakan riset serta komunikasi yang masuk akal
dan etis sebagai sarana utamanya”
Sedangkan menurut Jefkins & Yadin dalam Puspokusumo (2011:205) Public
Relations didefinisikan sebagai sebuah bentuk komunikasi yang terencana, antara
suatu organisasi dengan semua khalayaknya dalam rangka mencapai tujuan-tujuan
spesifikasi yang berlandaskan pada saling pengertian.
Dari kutipan-kutipan diatas penulis menyimpulkan bahwa Public Relations
merupakan sebuah bentuk komunikasi terencana yang dapat menghubungkan antara
organisasi dengan publik untuk mencapai tujuan bersama.
2.2.2 Peran Public Relations
Menurut Rosady Ruslan dalam bukunya yang berjudul “Kiat dan Strategi
Kampanye Public Relations” (2007:10), peran Public Relations adalah sebagai
berikut:
a) Communicator
Memiliki kemampuan sebagai penghubung secara langsung maupun tidak
langsung dengan menggunakan media cetak atau elektronik serta lisan. Dimana
pada intinya seorang PR harus dapat menjadi perwakilan sebuah perusahaan
dalam menjadi seorang komunikator yang baik dengan publik internal maupun
public eksternal perusahaan.
b) Relationship
Memiliki kemampuan untuk membina hubungan dengan baik antar lembaga atau
perusahaan yang diwakili dengan publik internal maupun eksternal. Yaitu
kemampuan untuk saling memberikan kepercayaan dan pengertian antara kedua
belah pihak.
c) Back up management
Dapat serta menjalankan kegiatan manajemen promosi dan pemasaran untuk
mencapai cita-cita bersama di perusahaan dalam kerangka tujuan pokok
perusahaan maupun organisasi.
d) Corporate image
Dapat membangun serta menjaga citra atau publikasi yang positif dimata publik.
2.2.3 Tujuan Public Relations
Menurut Rosady Ruslan (2010;246) tujuan Public Relations adalah sebagai
berikut:
a) Menumbuh kembangkan citra perusahaan yang positif untuk publik eksternal
atau masyarakat dan konsumen.
Citra positif sangat diperlukan agar sebuah perusahaan dapat terus bertahan di
tengah persaingan.
b) Mendorong tercapainya saling pengertian antara publik sasaran dengan
perusahaan.
PR diharuskan untuk dapat berkomunikasi dengan baik kepada publik,
tujuannya agar terciptanya rasa saling
percaya antara perusahaan dan
masyarakat.
c) Mengembangkan sinergi fungsi pemasaran dengan Public Relations.
PR juga dinilai harus dapat bekerja multifungsi, salah satunya dapat
mengembangkan fungsi pemasaran.
d) Efektif dalam membangun pengenalan merek dan pengetahuan merek.
Membangun pengenalan merek sangatlah penting, karena itu PR dituntut agar
dapat menyebarluaskan pengetahuan merek kepada semua lapisan masyarakat.
e) Mendukung bauran pemasaran.
Dapat disimpulkan dari kutipan-kutipan diatas bahwa tujuan dari Public
Relations adalah untuk menciptakan, membangun serta menjaga citra
perusahaan atau organisasi. Citra yang positif dapat menghasilkan keloyalan
masyarakat terhadap suatu produk. Public Relations juga memiliki tujuan untuk
menciptakan dan memelihara hubungan yang harmonis antara lembaga dengan
masyarakat umum.
2.2.4 Fungsi Public Relations
Seorang Public Relations dikatakan berfungsi apabila dapat mengerjakan
tugas-tugasnya serta dapat mencapai tujuan akhir dengan hasil yang baik.
Pada intinya fungsi Public Relations adalah:
1. Dapat menjalin komunikasi dengan baik
Seorang PR harus dapat menjalin hubungan komunikasi yang baik, terutama
membangun hubungan komunikasi antara perusahaan dan masyarakat. Agar
terjalin rasa saling percaya dan juga terciptanya hubungan yang harmonis,
dimana hal tersebut akan sangat menjadi nilai plus bagi perusahaan di mata
khalayak.
2. Berperilaku baik dan menjaga moral
Seorang PR yang baik akan selalu menjaga tingkah lakunya, tidak melakukan
hal-hal yang dapat membahayakan perusahaan, karena bagaimanapun seorang
PR mewakili perusahaan sehingga moral harus selalu terjaga.
3. Mementingkan kepentingan umum
Seorang PR juga diharuskan untuk selalu mementingkan kepentingan umum
diatas kepentingan pribadi, karena kinerja PR ialah meliputi banyak
masyarakat. Sehingga kepentingan publik menjadi prioritas.
2.2.5 Manfaat Public Relations
Di dalam bukunya yang berjudul Public Relations (2004;13) Frank Jefkins
menjelaskan apa saja manfaat dari Public Relations yaitu:

Manajemen krisis
Dari beberapa decade belakangan ini, hampir semua perusahaan atau organisasi
pernah mengalami krisis, atau minimal resiko akan terkena krisis. Hal ini
kemudian disadari oleh para perusahaan untuk membuat sebuah manajemen krisis
yang bertugas untuk menghadapi masalah-masalah di sebuah perusahaan,
terutama yang berhubungan dengan pers atau media.

Penerbitan Desktop
PR bertanggung jawab penuh atas jurnal internal komputer perusahaan. Oleh
karena itu, biasanya perusahaan memiliki bagian internal Relations untuk
mengurusi hal-hal tersebut.

Identitas perusahaan
Identitas perusahaan merupakan sebuah wahana komunikasi bagi segenap
karyawan perusahaan, para pemilik saham, para agen atau dealer, konsumen,
lembaga-lembaga keuangan dan berbagai pihak lainnya yang punya kepentingan
dan kaitan dengan organisasi. Tim PR adalah bagian yang bertanggung jawab
untuk menciptakan dan memelihara identitas sebuah perusahaan.

Hubungan parlementer
PR wajib menjalin hubungan parlementer yang baik. Hubungan parlementer
dalam konteks ini adalah hubungan-hubungan antara berbagai organisasi dengan
pihak pemerintah, para anggota parlemen, serta para birokrat dari berbagai
departemen dan instansi pemerintah. Legistator atau regulator adalah publik yang
sangat penting dalam keberlangsungan usaha suatu perusahaan.

PR financial
Sebagai sebuah perusahaan yang telah go public, maka perusahaan memerlukan
tim PR yang melakukan kegiatan-kegiatan PR di seputar peristiwa keuangan atau
bisnis dalam rangka mendukung rencana perusahaan kliennya untuk memasuki
bursa saham atau dalam rangka mendukung peluncuran laporan keuangan
tahunan.
2.2.6 Tugas Public Relations
Rumanti dalam bukunya yang berjudul “Dasar-Dasar Public Relations Teori Dan
Praktik” (2005:39) mengelompokkan tugas Public Relations menjadi lima bagian yaitu
:
1. Menyampaikan dan bertanggungjawab atas pemberian informasi secara lisan,
tertulis, melalui gambar (visual) kepada publik, agar publik mempunyai
pengertian yang benar tentang organisasi atau perusahaan, tujuan, serta kegiatan
yang dilakukan.
2. Memonitor, merekam, dan mengevaluasi tanggapan serta pendapat khalayak atau
masyarakat. Di samping itu PR juga menjalankan serta bertanggungjawab
terhadap kehidupan kita bersama dengan lingkungan.
3. Memperbaiki citra organisasi. Bagi Public Relations, menyadari citra yang baik
tidak hanya terdapat pada bentuk gedung, persentasi, publikasi, dan seterusnya,
tetapi juga terletak pada:

Bagaimana sebuah organisasi dapat mencerminkan organisasi yang
dipercayai, memiliki kekuatan serta dapat mengadakan perkembangan
secara berkesinambungan yang selalu terbuka untuk dikontrol dan
dievaluasi.

Dapat dikatakan bahwa citra tersebut merupakan gambaran komponen
yang kompleks.
4. Tanggung jawab sosial. Public Relations merupakan instrumen untuk bertanggung
jawab terhadap semua kelompok yang berhak terhadap tanggung jawab tersebut.
Terutama kelompok publik sendiri, publik internal, serta pers.
5. Komunikasi. Public Relations memiliki bentuk komunikasi yang khusus, yaitu
komunikasi timbal-balik, maka pengetahuan komunikasi menjadi modalnya.
Dalam fungsinya, komunikasi itu sentral. Perlu juga untuk dimiliki adalah
pengetahuan manajemen dan kepemimpinan, struktur organisasi.
Menurut H.Fayol yang dikutip dari buku “Crisis Communication Public
Relations” (Nova, 2011:56), beberapa sasaran kegiatan Public Relations adalah
sebagai berikut:
1. Membangun identitas dan citra perusahaan, yaitu menciptakan identitas dan
citra perusahaan yang positif di mata masyarakat.
2. Mendukung kegiatan komunikasi timbal balik dua arah dengan berbagai
pihak.
3. Menghadapi krisis, dengan mengatasi keluhan dan menghadapi krisis yang
terjadi dengan membentuk manajemen krisis dan bertugas memperbaiki citra
yang terlanjur rusak.
4. Mempromosikan aspek kemasyarakatan, seperti mempromosikan hal-hal yang
menyangkut kepentingan publik dan mendukung kegiatan kampanye sosial.
2.2.7 Ruang Lingkup Public Relations
Menurut pendapat Cutlip, Center dan Bloom. sebagaimana dikutip oleh
Morissan (2008:13) dalam buku “Manajemen Public Relations” ada tujuh bidang
pekerjaan Public Relations, ke tujuh bidang pekerjaan public relations ini adalah
publisitas, iklan, press agentry, public affairs, manajemen isu, lobi (lobbying) dan
hubungan investor. Namun ketujuh bidang pekerjaan public relations ini dapat
dipadatkan lagi menjadi enam bidang pekerjaan yaitu dengan menjadikan iklan bagian
dari pemasaran dan press agentry ke dalam publisitas. Hal ini karena pada dasarnya
iklan (advertising) merupakan salah satu kegiatan dari pemasaran dan press agentry
bagian dari publisitas.
Dengan demikian Morissan (2010:14-30) menjelaskan bahwa ruang lingkup
pekerjaan public relations dibagi menjadi enam bidang pekerjaan, yaitu adalah:
1. Publisitas
Publisitas merupakan suatu kegiatan yang menempatkan berita mengenai
seseorang, organisasi atau perusahaan di media massa. Dengan kata lain
publisitas merupakan kegiatan di mana individu, organisasi atau perusahaan
diberitakan oleh media massa. Berita-berita yang disampaikan oleh
perusahaan kepada media massa dapat berupa artikel, tulisan, foto, siaran pers
(press release) atau mengadakan jumpa pers (press conference). Apabila
siaran pers dan jumpa pers tersebut diterima dan disebarluaskan maka
organisasi atau perusahaan tersebut telah melakukan kegiatan publisitas.
Namun karena kegiatan publisitas bersifat tidak berbayar, maka seorang PR
tidak bisa mengatur konten yang akan dimuat, selain itu PR juga tidak bisa
memastikan apakah berita yang telah dikirim pasti akan di muat atau tidak.
2. Pemasaran
Seorang pekerja PR di bagian pemasaran dalam prakteknya adalah melakukan
penelitian atau riset terhadap konsumen, mendesain produk, mengemas produk
sedemikian rupa agar menarik, menentukan harga jual, melakukan promosi
hingga mendistribusikan produk ke masyarakat. Tujuan dari pemasaran ini
adalah untuk menarik dan memuaskan klien atau pelanggan dalam jangka
panjang sebagai upaya untuk mencapai tujuan ekonomi dari perusahaan.
3. Public Affairs
Public affairs dapat didefinisikan sebagai salah satu bidang khusus public
relations yang bertugas untuk membangun serta mempertahankan hubungan
baik dengan pemerintah dan khalayak agar dapat mempengaruhi kebijakan
publik. Dari definisi ini penulis menyimpulkan bahwa fokus utama public
affairs adalah menciptakan hubungan baik dengan pemerintah serta khalayak
dengan tujuan dapat mempengaruhi kebijakan publik agar tidak memberikan
dampak buruk kepada perusahaan atau organisasi.
4. Manajemen isu
Manajemen isu merupakan salah satu upaya organisasi atau perusahaan untuk
melihat kecenderungan isu atau opini publik yang muncul ditengah
masyarakat dalam upaya organisasi atau perusahaan memberikan tanggapan
atau respons sebaik-baiknya. Tanggapan yang positif tentunya dibutuhkan
agar isu atau opini publik yang berkembang di tengah-tengah masyarakat tidak
menjadi semakin berlarut-larut. Menurut Howard Chase, faktor-faktor
manajemen isu meliputi tindakan mengindetifikasi isu, menganalisis isu,
menetapkan prioritas, menentukan strategi program, menetapkan program
tindakan dan komunikasi serta melakukan evaluasi efektivitas kerja.
(Morissan, 2008:26)
5. Lobi
Lobi merupakan salah satu bidang khusus PR yang bertujuan mempengaruhi
peraturan dan perundang-undangan sehingga dapat memberikan keuntungan
bagi perusahaan atau organisasi. Dari definisi ini, penulis mengambil
kesimpulan bahwa seorang pelobi (orang yang melakukan lobi) berusaha
untuk menjalin hubungan baik dengan pemerintah utama agar dapat
mempengaruhi suatu peraturan atau perundang-undangan yang mungkin dapat
memberikan dampak atau efek yang merugikan bagi perusahaan atau
organisasi.
6. Hubungan investor
Menurut Cutlip, Center, Broom dalam buku “Effective Public Relations”
(2007: 11) hubungan investor merupakan bidang khusus public relations
korporat yang bertujuan untuk membangun dan mempertahankan hubungan
yang saling menguntungkan dengan pemegang saham dan pihak lainnya
dalam masyarakat keuangan untuk memaksimalkan nilai pasar. Cutlip juga
memberikan rincian
dari tugas hubungan investor yaitu mengikuti
perkembangan bursa saham, menyediakan informasi mengenai kondisi
perusahaan kepada masyarakat keuangan, memberikan saran kepada
manajemen terkait dengan saham perusahaan dan memberikan jawaban
terhadap berbagai pertanyaan bidang keuangan (Morissan, 2010:30). Penulis
menyimpulkan bahwa tugas hubungan investor secara keseluruhan adalah
untuk memaksimalkan harga saham yang lebih tinggi, maka akan semakin
baik. Kemudian memberi saran kepada manajemen perusahaan, dan
menciptakan serta menjaga hubungan baik dengan para investor lainnya, dari
hubungan baik tersebut maka akan lebih dimudahkan untuk menjalin
kerjasama lainnya.
Ruang lingkup pekerjaan public relations ini secara keseluruhan dapat
disimpulkan bahwa tujuan utama pekerjaan dari public relations adalah untuk
menciptakan, membangun, menjaga hubungan baik perusahaan dengan pihak lainnya.
Serta memperbaiki citra perusahaan yang sudah terlanjur rusak. Dimana hubungan
baik antara perusahaan dengan publik akan membuat konsumen menjadi semakin
loyal kepada perusahaan
Selain itu hubungan konsumen yang harmonis dapat membuat masyarakat
lebih mudah untuk berkomunikasi dengan perusahaan serta perusahaan dapat
mengetahui apa saja keinginan konsumen.
2.3 Pengertian Citra
Menurut Frank Jeffkins (Nova, 2011:298) menyimpulkan bahwa “Citra secara
umum diartikan sebagai kesan seseorang/individu tentang suatu yang muncul sebagai
hasil dari pengetahuan dan pengalamannya.“
Bill Canton dalam Sukatendel (Soemirat dan Ardianto, 2004: 111)
mengatakan bahwa citra adalah kesan, perasaan, gambaran diri publik terhadap
perusahaan, kesan yang dengan sengaja diciptakan dari suatu objek, orang atau
organisasi. Menurut Sukatendel, citra itu sengaja perlu diciptakan agar bernilai positif.
Citra merupakan salah satu aset terpenting dari suatu perusahaan atau organisasi.
Menurut Kotler (Prihastiti & Kusumastuti, 2012:118) mengungkapkan bahwa
“citra merupakan seperangkat keyakinan, ide, dan kesan yang dimiliki seseorang
terhadap suatu obyek.”
Menurut Onong Uchjana Efeendy dalam Nova (2011:298) citra (image)
didefinisikan sebagai berikut :
1. Gambaran antara fisik yang menyerupai kenyataan seperti manusia, binatang
atau benda sebagai hasil lukisan, perekaman oleh kamera foto, film, atau
televisi.
2. Penampilan secara optis dari suatu objek seperti yang dipantulkan oleh sebuah
cermin.
3. Perwakilan atau representasi secara mental dari sesuatu baik manusia benda
atau lembaga yang mengandung kesan tertentu.
Dari kutipan diatas dapat disimpulkan bahwa citra merupakan kesan yang
diberikan oleh seseorang terhadap suatu obyek berdasarkan pengalamannya yang
berkaitan dengan objek tersebut. Selain itu, citra dapat bersifat negatif maupun positif.
2.3.1 Jenis Citra
Menurut Frank Jefkins (Jefkins & Yadin, 2004:20), ada lima jenis citra
(image) yang dijelaskan, yaitu :
1. Citra bayangan
Citra bayangan merupakan citra yang dianut oleh orang-orang di dalam
organisasi mengenai pandangan orang luar terhadap organisasinya. Citra ini
tidaklah akurat akibat tidak memadainya informasi yang diberikan, sehingga
citra ini tidak dapat dijadikan panutan.
2. Citra yang berlaku
Citra yang berlaku (current image) adalah pandangan yang dianut oleh pihak
luar mengenai suatu organisasi, citra ini sangat melekat pada organisasi
tersebut.
3. Citra yang diharapkan
Citra harapan (wish image) adalah suatu citra yang diinginkan oleh pihak
manajemen. Meskipun terkadang citra yang terlalu baik juga merepotkan,
karena banyak orang yang menaruh ekspetasi yang terlalu tinggi kepada
perusahaan tersebut yang mungkin tidak semuanya benar.
4. Citra perusahaan
Citra perusahaan (atau ada pula yang menyebutnya sebagai citra lembaga)
adalah citra dari suatu organisasi secara keseluruhan, bukan hanya citra dari
produk atau layanannya saja tetapi juga terbentuk dari sejarah perusahaan,
keberhasilan di bidang keuangan, kualitas produk, reputasi, kesediaan turut
memikul tanggung jawab sosial, dan komitmen mengadakan riset. Citra ini
terbentuk dari kinerja dan perilaku perusahaan tersebut selama waktu yang
tidak sebentar.
5. Citra majemuk
Citra majemuk menunjukkan bahwa citra yang dimiliki oleh suatu perusahaan
dapat dikatakan sama banyaknya dengan jumlah pegawai yang dimilikinya.
Dan untuk menghindari berbagai hal yang tidak diinginkan, variasi citra harus
ditekan seminimal mungkin dan citra perusahaan secara keseluruhan harus
ditegakkan.
6. Citra yang baik dan yang buruk
Citra baik atau buruk tercipta dari adanya citra-citra yang sudah berlaku dan
dapat bersifat negatif atau positif. Sebuah citra Public Relations yang baik
merupakan kesan yang memang berasal dari pengalaman, pengetahuan, dan
kenyataan langsung yang sesungguhnya, bukan hanya sekedar gosip atau
cerita belaka yang belum bisa dipastikan kebenarannya. Karena apabila kesan
yang dialami sendiri maka akan lebih terpercaya kredibilitasnya.
Menurut penjelasan Frank Jefkins diatas dapat disimpulkan kegiatan Public
Relations yang di jalankan oleh perusahaan ialah untuk menciptakan citra atau image
yang positif di mata masyarakat dan juga menjaga kepercayaan masyarakat.
2.3.4 Citra Perusahaan
Citra perusahaan yang positif dan kuat tentu akan memberikan banyak sekali
manfaat seperti apa yang dikemukakan oleh Siswanto Sutojo dalam Arafat (2006 :12)
sebagai berikut:
a. Mid and ling term sustainable competition position
Bagi perusahaan yang bergerak di bidang penyediaan barang maupun jasa,
dengan memiliki corporate image yang positif maka hal ini dapat melindungi
dan menjaga perusahaan dari serangan perusahaan saingan. Citra perusahaan
yang baik dan kuat akan tumbuh menjadi “kepribadian” perusahaan. Oleh
karena itu, perusahaan saingan tidak akan mudah menjiplak apa yang kita
lakukan, karena kepercayaan masyarakat dibangun dalam waktu yang tidak
sebentar dan tidak mudah untuk dicuri.
b. An insurance for adverse time
Pada saat sebuah perusahaan berada pada masa kritis, terlilit oleh masalah dan
kemudian terendus oleh pihak media massa, maka dalam waktu singkat
masyarakat luas akan mengetahuinya. Namun jika perusahaan memiliki image
atau citra yang baik di mata masyarakat, maka sebagian besar masyarakat akan
dapat memaklumi dan memaafkan kesalahan yang dibuat oleh perusahaan
tersebut.
c. Attracting the best executives available
Perusahaan yang memiliki citra positif tidak akan kesulitan untuk merekrut
karyawan-karyawan terbaik karena sudah dapat dipastikan akan banyak
karyawan yang akan melamar ke perusahaan tersebut.
d. Increasing the effectiveness of marketing instrument
Image positif sebuah perusahaan dapat menunjang efektifitas strategi
pemasaran produk. Citra yang positif akan membangun rasa percaya kepada
masyarakat sehingga membuat konsumen semakin loyal dan memiliki
ekspektasi yang baik ketika perusahaan tersebut membuat produk baru
sehingga produk baru tersebut dapat dipastikan akan memiliki penjualan yang
cukup baik.
e. Cost saving
Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, perusahaan dengan citra positif
akan mudah dalam merekrut karyawan handal sehingga perusahaan tidak perlu
mengeluarkan dana ekstra untuk proses recruitment dan training bagi
karyawan tersebut. Dan tidak hanya itu, perusahaan hanya membutuhkan
usaha dan biaya yang lebih sedikit untuk mempromosikan produk mereka ke
pasar.
2.3.5 Manfaat Citra
Citra merupakan salah satu faktor penting yang dapat mengukur keberhasilan
suatu perusahaan, semakin positif citra perusahaan tersebut maka semakin banyak
masyarakat dan konsumen yang percaya sehingga dapat mendatangkan keuntungan
bagi perusaahaan.
Beberapa manfaat citra adalah :
1. Membangun keunggulan yang kompetitif (create competitive advantage)
Citra dapat menciptakan proses persaingan yang kompetitif dan juga dapat
membuat perusahaan semakin memperhatikan konsumennya karena daya
saing yang tinggi antar perusahaan.
2. Meningkatkan nilai perusahaan (improve company’s equity)
Semakin positif citra sebuah perusahaan maka akan semakin tinggi nilai
perusahaannya.
3. Meningkatkan penjualan (improve sales)
Memiliki citra yang positif juga membantu perusahaan untuk meningkatkan
penjualan karena citra yang positif membuat masyarakat menjadi percaya dan
loyal kepada sebuah merek dan memiliki harapan yang positif terhadap produk
atau jasa tersebut.
4. Mendukung pengembangan produk baru (support new product development)
Sebuah perusahaan yang memiliki citra yang positif, maka pada saat
perusahaan tersebut meluncurkan produk baru, masyarakat akan menaruh
ekspetasi yang positif terhadap produk tersebut karena berasal dari perusahaan
yang dipercaya oleh banyak masyarakat.
5. Memperkuat hubungan keuangan (Strenghten financial power)
Ketika sebuah perusahaan yang memiliki citra yang positif maka tentu
hubungan keuangannya juga akan kuat, karena citra yang positif membawa
banyak keuntungan bagi perusahaan. Selama perusahaan dapat terus
meningkatkan dan menjaga citranya, maka keuangan perusahaan akan tetap
kuat.
6. Mempererat hubungan antar pegawai (Harmonize employee relation)
Sebuah perusahaan yang memiliki citra yang positif biasanya memiliki
lingkungan yang positif juga, hal ini membuat para karyawan ikut bersamasama menjaga citra perusahaan sehingga hubungan antar karyawan menjadi
tambah erat karena memiliki tujuan yang sama untuk melidungi perusahaan.
7. Mempermudah rekruitmen pegawai (Best bosst recruitment)
Secara tidak langsung, perusahaan yang memiliki citra positif akan membawa
banyak calon pekerja yang akan melamar ke perusahaan tersebut, karena
perusahaan yang memiliki citra positif secara otomatis menjadi incaran
banyak calon pekerja..
8. Membantu penanggulangan krisis (Survive in managing crisis)
Krisis akan mudah diatasi apabila sebelumnya perusahaan memiliki
manajemen krisis dan umumnya perusahaan yang memiliki citra positif sudah
menyiapkannya.
2.3.6 Elemen Citra Perusahaan
Menurut Harrison dalam Prihastiti dan Kusumastuti (2012:109), citra
perusahaan meliputi empat elemen, yaitu:
a. Personality : merupakan keseluruhan karakteristik perusahaan yang
dipahami publik sasaran seperti perusahaan yang dipercaya dan
perusahaan yang mempunyai tanggung jawab sosial.
b. Reputation : merupakan hal yang telah dilakukan perusahaan dan diyakini
publik sasaran berdasarkan pengalaman sendiri maupun pihak lain.
c. Value : melakukan nilai-nilai dan filosofi yang dimiliki suatu perusahaan,
termasuk didalamnya kebijakan internal dan interaksi eksternal dengan
pihak luar yang berhubungan dengan perusahaan.
d. Corporate
Identity
:
merupakan
komponen-komponen
mempermudah pengenalan publik sasaran terhadap perusahaan.
2.4 Kerangka Pikir
Kegiatan dan sasaran Public
Relations (Variabel X)


Membangun identitas dan
citra organisasi
Menghadapi krisis

Mempromosikan
Citra (Variabel Y)
aspek

Personality

Reputations

Value

Corporate Identity
kemasyarakatan.
Gambar 2.2 Kerangka pemikiran
Sumber: Henry Fayol (Ruslan, 2006:18)
yang
Download