PENGARUH PEMBERIAN UANG LEMBUR TERHADAP SIKAP

advertisement
PENGARUH PEMBERIAN UANG LEMBUR TERHADAP
SIKAP KERJA KARYAWAN
Yulinda Novi Widiyas Tuti
Muhammad Bachtiar
Intisari
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh pemberian
uang lembur terhadap sikapi kerja seorang karyawan. Uang lembur yang diberikan
oleh perusahaan bertujuan untuk meningkatkan kinerja para karyawan perusahaan.
Sikap kerja yang tinggi dan rendah dapat dipengaruhi oleh adanya faktor luar yang
mempengaruhinya. Dalam hal ini sikap kerja juga dapat dipengaruhi dari dalam yang
meliputi keadaan bagaimana seseorang puas terhadap kinerja dan hasil yang
didapatkan.
Subjek penelitian ini adalah karyawan CV TATONAS Yogyakarta. Metode yang
digunakan adalah wawancara terstuktur dengan metode pengambilan data secara FGD (
Focus Group Discusion). Responden wawancara berjumlah tiga orang. Dari wawancara
tersebut didapatkan motivasi kerja seseorang dipengaruhi oleh faktor luar. Faktor luar
diantaranya adalah pemberian imbalan yang sesuai dengan pekerjaan yang
dikerjakannya. Dan ketika seseorang dituntut untuk menyelesaikan suatu pekerjaan
sesuai dengan waktu yang telah ditentukan dengan cara lembur maka orang tersebut
pantas untuk mendapatkan kompensasi atas kerjanya tersebut.
Kata Kunci: Sikap kerja, Peraturan pemberian uang lembur
BAB I
A.Latar Belakang
Karyawan pabrik akhir-akhir ini banyak yang melakukan demo-demo yang dilatar
belakangi adanya kebijakan perusahaan yang dinilai oleh para karyawan tersebut sangat
merugikan karyawan. Mereka merasa adanya ketidak adanya penghargaan atas hasil
kerja mereka. Karyawan tersebut banyak melakukan pemogokan masal yang dilatar
belakangi adanya tuntutan para karyawan pabrik yang meminta untuk diberikan uang
lembur yang merupakan hak mereka dalam bekerja untuk perusahaan tersebut. Mereka
merasa selama ini mereka bekerja melebihi waktu yang telah ditetapkan oleh KEP Men
102 /MEN/VI/2004 yang berbunyi sebagai berikut ” waktu kerja lembur adalah waktu
kerja yang melebihi 7 ( tujuh) jam sehari dan 40 ( empat puluh ) jam 1 ( satu ) minggu
untuk 6 ( enam ) hari kerja dalam 1 ( satu ) minggu untuk 5 (lima ) hari kerja dalam 1 (
satu ) minggu atau waktu kerja pada istirahat mingguan dan atau pada hari libur resmi
yang ditetapkan oleh pemerintah”.
Karyawan perusahaan banyak yang berpendapat bahwa meskipun sudah bekerja
puluhan tahun tetapi upah yang diberikan perusahaan hampir sama dengan yang baru
bekerja. Jikapun berbeda hanya sekitar 10 ( sepuluh ) sampai 20 ( dua puluh ) ribu.
Para karyawan tersebut meminta diberikannya upah lembur khususnya bagi karyawan
harian yang bekerja lebih dari delapan jam per hari. Untuk karyawan harian ini, mereka
hanya diberikan upah selama delapan jam perhari dan tidak diberikan uapah lembur (
Sriwijaya Post, 2004 ). Adanya pihak perusahaan yang kadang dalam membayarkan
uang tersebut mengalami keterlambatan seperti yang dilakukan pada PT Central Star KC
(seperti yang dikutip dari harian Pikiran Rakyat, 2006)
Mesin –mesin baru yang banyak ditemukannya yang dapat dengan mudah membantu
semua pekerjaan yang dilakukan manusia menjadikan salah satu penyebab yang lain
adanya pengalihan tugas dalam proses produksi yang semula dilakukan oleh manusia
dialih tugaskan ke mesin. Dimana pihak perusahaan merasa dengan pengalih tugasan
ke mesin tersebut perusahaan dapat mengirit pembiayaan di faktor penggajian
karyawan, dan juga perusahaan hanya menanggung biaya perawatan mesin saja yang
tidak begitu besar, sehingga jalannya produksi perusahaan dapat ditekan biayanya dan
juga harga dapat memenuhi permintaan konsumen yang ada.
Perusahaan dengan adanya faktor tersebut merasa diuntungkan dengan adanya
bantuan dari alat-alat yang ada, dan juga perusahaan tidak menanggung resiko yang
besar jika terjadi adanya kesalahan yang dilakukan oleh manusia ( human error ).
Wignjosoebroto (Sulastri, 2004) menyatakan bahwa
sekarang tampak terjadi
pengembangan teknologi produksi yang meningkat cepat, yang secara konkret
membawa perubahan dalam rancangan kerja dari yang bersifat manual menjadi
mekanik atau otomatis penuh. Hal ini dilakukan untuk menggantikan fungsi dan peran
manusia dengan mesin, baik sebagai sumber energi maupun kendali kerja, namun peran
manusia masih saja merupakan komponen kerja yang lebih diandalkan untuk
melaksanakan, mengendalikan, dan memonitor proses produksi.
Demo yang dilakukan oleh para karyawan pabrik sedikit banyak telah
menyebabkan kerugian yang tidak sedikit yang diderita oleh perusahaan, dengan
adanya peraturan yang diterapkan oleh pemerintah tersebut mempengaruhi kinerja para
karyawan itu sendiri. Setidaknya mereka meresa kecewa dengan apa yang terjadi.
Karyawan
bekerja dengan tingkat kepuasan kerja yang rendah dikarenakan adanya
peraturan yang mengatur nya tersebut. Dengan adanya pengaruh tersebut maka akan
berpengaruh secara langsung terhadap unjuk kerja yang akan dilakukan oleh karyawan,
dan itu akan berpengaruh pada terganggunya proses produksi yang dilakukan di
perusahaan tersebut.dan senua itu menyebabkan tingkat produktivitas karyawan
menjadi menurun dibandingkan dengan adanya peraturan tersebut.ditambah lagi
karyawan sekarang yang tidak adanya sistem penerimaan pegawai tetap, tetapi
menggunakan sistem kontrak yang dilihat akan menjadikan mereka seperti hanya
sebagai boneka perusahaan. Dengan sistem kontrak tersebut pihak perusahaan tidak
dibebani oleh adanya jaminan hari tua maupun dengan kesejahteraan yang lain. Karena
pihak perusahaan bisa dengan seenaknya memberhentikan dan mengangkat karyawan
sesukanya. Untuk itu penulis ingin meneliti adanya pemberian uang lembur tersebut
akan mempengaruhi terhadap sikap kerja para karyawan yang bekerja di perusahaan.
A. Tujuan Penelitian
Mengetahui pengaruh adanya pemberian uang lembur dengan sikap kerja
karyawan.
B. Manfaat Penelitian Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Secara teoritis, diharapkan penelitian yang akan dilakukan akan dapat memberi
manfaat bagi khasanah ilmu psikologi pada khususnya. Terutama disini adalah berkaitan
dengan disiplin ilmu psikologi Industri dan Organisasi khususnya, Psikologi Sosial, serta
ilmu
pengetahuan
yang
mengkaji
tentang
mengembangkan tingkat kesejahteraan masyarakat.
2. Manfaat Praktis
sumber
daya
manusia
dalam
Manfaat praktis diharapkan penelitian ini dapat memberi pengetahuan luas pada
perusahaan atau organisasi guna meningkatkan sikap kerja karyawannya sehingga
dapat juga menjadi acuan untuk dilakukan perubahan pada tubuh perusahaan tersebut,
dan dapat memperbaiki iklim kerja yang terjadi di perusahaan tersebut.
Bagi
karyawan
dapat
dijadikan
sebagai
acuan
dalam
bekerja
dapat
memaksimalkan kemampuan yang dipunyai Karyawan tersebut sehingga dalam bekerja
karyawan dapat lebih bertanggung jawab dengan tugas yang diberikan.
Bagi masyarakat pada umumnya dapat memberikan pengetahuan bahwa tingkat
pemberian upah yang tinggi bukan berarti akan mendapat kepuasan kerja yang baik ,
tetapi pekerjaan yang memang dapat memuaskan pekerja dapat dipengaruhi pula oleh
adanya lingkungan perusahaan dan juga iklim kerja di tempat kerja tersebut.
C. Keaslian Penelitian
Susatyo Yuwono ( 2006) Pegawai Berpenghasilan Tinggi dan Sikap Kerjanya
dimana subjek penelitian adalah para karyawan perusahaan pertambangan TOTAL
Compy. Yang menghasilkan kesimpulan bahwa walaupun mendapatkan penghasilan
yang diatas rata-rata tetapi unsur kognitif, afektif dan konatif dalam diri seseorang yang
tidak tersalurkan menyebabkan adanya tingkat kejenuhan dalam bekerja di perusahaan
tersebut.
Penjelasan di atas menunjukkan bahwa penelitian yang akan dilaksanakan ini
orisinil berdasarkan :
1. Keaslian Topik
Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif yaitu mengambil topik
pengaruh pemberian uang lembur terhadap sikap kerja karyawan
2. Keaslian Teori
Pada penelitian ini teori yang digunakan adalah teori sikap Azwar (1998)
menyebutkan bahwa sikap terdiri dari tiga aspek yaitu aspek kognitif, afektif, konatif.
Aspek kognitif
berisi persepsi, kepercayaan, dan stereotype yang dimiliki individu
mengenai sesuatu. Persepsi positif ataupun negatif muncul pada bagimana seseorang
memandang suatu objek dan bila seseorang mengalami peristiwa atau memandang
objek itu sendiri dan menjadi suatu kepercayaan maka akan menimbulkan stereotype .
aspek afektif adalah emosional subjektifitas seseorang terhadap sesuatu objek sikap,
aspek ini disamakan dengan perasaan yang dimiliki terhadap sesuatu objek dan aspek
konatif adalah bagaimana perilaku atau kecenderungan berperilaku yang ada dalam diri
seseorang berkaitan dengan objek sikap yang dihadapi.
3. Keaslian Alat Ukur
Pengambilan data dengan menggunakan metode kualitatif dengan metode
FGD ( Forum Group Discusion ). Dimana menggunakan metode tersebut agar di
dapat hasil perbandingan antara persepsi seseorang yang satu dengan yang lain.
Sehingga hasil tersebut dapat dibandingkan dan dapat menghasilkan kesimpulan
yang realistis. Dalam hal ini dapat melihat mengapa pemberian uang lembur di
tempatnya bekerja tersebut tidak mempengaruhi motivasi kerja karyawan.
4. Keaslian Responden
Subjek penelitian yang dilakukan adalah karayawan
Yogyakarta yang diambil secara random oleh peneliti.
pada
CV.TATONAS
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Uang Lembur
Kerja lembur adalah waktu kerja yang melebihi 7 (tujuh) jam sehari dan 40
(empat puluh) jam 1 (satu) seminggu untuk 6 (enam) hari kerja dalam 1 (satu) minggu
atau 8 (delapan) jam sehari dan 40 (empat puluh) jam 1 (satu) minggu untuk 5 (lima)
hari kerja dalam 1 (satu) minggu atau waktu kerja pada hari istirahat mingguan dan
atau pada hari istirahat resmi yang ditetapkan Pemerintah " (pasal 1 butir 1 Keputusan
Menakertrans No. 102/MEN/VI/2004.
Ketentuan waktu kerja lembur berlaku untuk semua perusahaan, kecuali bagi
perusahaan pada sektor usaha tertentu atau pekerjaan tertentu yang akan diatur sendiri
dengan Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Tetapi hingga saat ini
ketentuan tersebut belum diatur.
WAKTU KERJA LEMBUR
Pasal 78 ayat (1) huruf b Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 dan Pasal 3
Kepmenakertrans No. 102/MEN/VI/2004 tentang Waktu Kerja Lembur dan Upah Kerja
Lembur menyatakan secara tegas bahwa "Waktu Kerja Lembur hanya dapat dilakukan
paling banyak 3 (tiga) jam dalam 1 (satu) hari dan 14 (empat belas) jam dalam 1 (satu)
minggu".
Meskipun Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 telah secara tegas membatasi
waktu kerja lembur seperti tersebut diatas, tetapi karena mempertimbangkan
keentingan perusahaan dan dunia usaha, ketentuan undang-undang tersebut oleh
Keputusan Menakertrans No. 102/MEN/VI/2004 agak sedikit dianulir seperti diatur dalam
Pasal 3 ayat (2) yang menyatakan bahwa "Ketentuan waktu kerja lembur seperti
tersebut diatas termasuk kerja lembur yang dilakukan pada waktu istirahat mengguan
atau harian resmi".
Ketentuan Keputusan Menakertrans, hendaknya jangan dipandang dari sudut
ketentuan tersebut bertentangan dengan peraturan perusahaan yang lebih tinggi yaitu
Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tetapi sebaiknya harus dipandang dari adanya
kebutuhan dunia usaha yang memerlukan kerja lembur lebih dari 40 (empat puluh) jam
dalam seminggu yang oleh Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tidak diakomodir.
Disamping itu ketentuan Keputusan Menakertrans mengenai kerja lembur pada
hari istirahat mingguan dan libur resmi tidak melanggar kepentingan dan hak pekerja,
karena untuk melakukan kerja lembur harus atas persetujuan dari pekerja/buruh yang
bersangkutan, sehingga pekerja tidak dapat dipaksa untuk melakukan kerja lambur
Dengan adanya ketentuan waktu kerja lembur pada hari istirahat mingguan dan hari
libur resmi, maka dimungkinkan waktu kerja lembur lebih dari 40 (empat puluh) jam
dalam seminggu.
2. KEWAJIBAN PERUSAHAAN
a.Membuat daftar pelaksanaan kerja lembur yang memuat nama pekerja/buruh yang
bekerja lembur dan lamanya waktu kerja lembur
b.Membayar upah lembur
c.Memberi kesempatan untuk istirahat secukupnya. Waktu istirahat ini harus mengacu
pada ketentuan Pasal 79 ayat (2) huruf a Undang-undang Nomor 13 tahun 2003 yang
menetapkan bahwa "Istirahat abtara jam kerja, sekurang-kurangnya setengah jam
setelah bekerja selama 4 (empat) jam terus menerus dan waktu istirahat tidak termasuk
jam kerja".
d.Memberikan makan dan minumnya sekurang-kurangnya 1.400 (seribu empat ratus)
kalori apabila kerja lembur selama 3 (tiga) jam atau lebih. Pemberitahuan makanan
tidak boleh diganti dengan uang, hal ini dimaksudkan agar kesehatan ekerja dapat tetap
terpelihara
B. Sikap
Sikap
Sikap adalah kecenderungan tingkah laku yang didasari oleh proses evaluatif
atau penilaian
dalam diri individu terhadap suatu objek tertentu (Ajzen & Fishbein,
1980). Menurut Azwar ( Yuwono,2006), sikap dikatakan sebagai suatu respon evaluatif.
Respon hanya akan timbul apabila individu dihadapkan pada suatu stimulus yang
menghendaki adanya reaksi individual. Respon evaluatif berarti bahwa bentuk reaksi
yang dinyatakan sebagai sikap itu timbulnya didasari oleh proses evaluasi dalam diri
individu yang memberi kesimpulan terhadap stimulus dalam bentuk nilai baik-buruk,
positif-negatif,
menyenangkan-tidak
menyenangkan,
yang
kemudian
mengkristal
sebagai potensi reaksi terhadap obyek sikap.
Wexley dan Yukl ( Yuwono,2006) menyatakan bahwa sikap kerja merupakan
bagian perasaan terhadap pekerjaan. Adanya perasaan puas terhadap aspek-aspek
dalam bekerja akan sangat berpengaruh terhadap baik buruknya sikap kerja karyawan.
Miner (1992) menjelaskan bahwa sikap kerja adalah perasaan positif atau negatif yang
dimiliki karyawan terhadap tempat kerja atau teman bekerja. Hal ini berarti sikap kerja
merupakan perasaan menyatu yaitu adanya perasaan suka atau tidak suka terhadap
pekerjaannya. Azwar,1998 menyebutkan bahwa sikap terdiri dari tiga aspek yaitu aspek
kognitif, afektif, konatif. Aspek kognitif berisi persepsi, kepercayaan, dan stereotype
yang dimiliki individu mengenai sesuatu. Persepsi positif ataupun negatif muncul pada
bagimana seseorang memandang suatu objek dan bila seseorang mengalami peristiwa
atau memandang objek itu sendiri dan menjadi suatu kepercayaan maka akan
menimbulkan stereotype . aspek afektif adalah emosional subjektifitas seseorang
terhadap sesuatu objek sikap, aspek ini disamakan dengan perasaan yang dimiliki
terhadap
sesuatu
objek
dan
aspek
konatif
adalah
bagaimana
perilaku
atau
kecenderungan berperilaku yang ada dalam diri seseorang berkaitan dengan objek sikap
yang dihadapi
C. Pemberian Uang Lembur Terhadap Tingkat Sikap Kerja
Uang lembur yang diberikan oleh perusahaan bertujuan untuk meningkatkan
semangat
kinerja para karyawan
perusahaan. Uang lembur tersebut akan
memepengaruhi karyawan dalam melakukan pekerjaannnya, dalam hal ini karyawan
dituntut untuk adapat bertanggung jawab terhadap pekerjaannya. Dengan diberikannya
uang lembur tersebut seseorang dituntut untuk lebih menentukan sikap dalam
menghadapi pekerjaannya. Menurut Fraser (1992 ) kepuasan kerja itu bukan keadaan
yang tetap, karena dapat dipengaruhi dan diubah oleh kekuatan - kekuatan baik dari
dalam maupun dari luar lingkungan kerja. Karyawan dituntut untuk dapat lebih
bertanggung jawab terhadap pekerjaannya dan juga perasaan yang berpengaruh dalam
melakukan kerja yang diembannya.
Sikap seseorang untuk bekerja salah satu faktornya dikarenakan untuk lebih
untuk kepuasan seperti yang diungkapkan dalam Lawler dalam Gibson, dkk ( 1997)
(dalam Pandu Prayogi, 2005)
menyatakan dalam penelitiannya bahwa tiap orang
berbeda dalam memandang nilai imbalan yang mereka peroleh dan seberapa
pentingnya imbalan itu bagi mereka. Jadi penerimaan karyawan tergantung bagaimana
mempersepsikan imbalan yang diterimanya dengan kata lain apa yang telah diberikan
dan dirasa cukup oleh perusahaan untuk memenuhi kebutuhan karyawan belum tentu
karyawan mempersepsikan nya demikian. Perasaan-perasaan positif yang ada ketika
seseorang bekerja akan mempengaruhi hasil kerjanya dan juga akan mendapatkan hasil
yang lebih baik.
Karyawan mempersepsikan dalam memperoleh uang lembur juga berbeda-beda,
ada yang senang karena hasil kerjanya dapat dihargai dan ada juga yang menyepelekan
adanya pemberian uang lembur. Dalam suatu kasus terdapat banyak karyawan yang
tidak melakukan pekerjaan lembur dikarenakan uang yang diberikan kepada mereka
hanya sedikit, sehingga pekerjaan yang ada terabaikan. Dari sini kita dapat melihat
bagaimana sikap kerja seseorang untuk kerja lembur dapat meningkat jika diberikannya
uang lembur.
D. Pertanyaan Penelitian
“Apakah pemberian uang lembur dapat mempengaruhi sikap karyawan perusahaan ?”
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Fokus Penelitian
Penelitian ini fokus penelitiannya pada bagaimana meihat pengaruh pemberian
uang lembur yang dilakukan oleh perusahaan terhadap sikap kerja para karyawan
perusahaan atas pekerjaan yang mereka emban. Dimana mengukur tentang bagaimana
sikap seseorang dalam menghadapi permintaan untuk melakukan kerja lembur oleh
perusahaan dengan keinginan apa yang diharapkan dengan melakukan kerja lembur
tersebut. Sehingga dapat melihat harapan apa yang diinginkan oleh para keryawan
tersebut dengan melakukan kerja lembur tersebut.
B. Responden Penelitian
Responden
penelitian yang akan digunakan adalah karyawan perusahaan CV
TATONAS Yogyakarta. Dalam penelitian ini , peneliti mengambil responden berjumlah
tiga orang yang diambil dengan metode haphazard dimana teknik ini menggunakan cara
dalam pengambilan sampel dari populasi secara kebetulan (Azwar,S.1995) .
C. Metode Pengumpulan Data
Pada penelitian kualitatif, dalam pengambilan data sangat bermacammacam sesuai dengan masalah yang diteliti. Metode pengumpulan data pada penelitian
ini, yaitu wawancara. (Poerwandari dalam Idrus, 2005) menyimpulkan bahwa
wawancara adalah percakapan dan tanya jawab yang diarahkan untuk tujuan-tujuan
tertentu.
Sifat wawancara tersebut adalah terstruktur dimana peneliti terlebih dahulu
mempersiapkan bahan pertanyan yang akan diajukan dalam wawancara (Muhammad,
dalam Ami 2007) serta dengan pertanyaan terbuka sehingga orang yang diwawancarai
mendapat kesempatan untuk merespon secara bebas. Pengambilan data dengan
menggunakan metode kualitatif dengan metode FGD ( Focus Group Discusion ) dimana
pengambilan data tersebut mengikut sertakan seluruh responden dalam proses
wawancara dalam bentuk diskusi kelompok, sehingga hasil penelitian yang didapatkan
data yang diperoleh akan lebih kaya, fleksibel luwes, membangkitkan minat informan
untuk mengungkapkan pendapatnya sesuai dengan pertanyaan yang diajukan, bersifat
elaboraif dan akumulatif ( Idrus,2005)
D. Metode Analisis Data
Analisis data dilakukan secara kualitatif. Jagensen ( Poerwandari,1998 )
mengatakan bahwa proses analisis adalah memecah, memisahkan dan membongkar
materi-materi penelitian ke dalam pecahan, bagian, unsur, maupun satuan. Fakta-fakta
dipecah dalam unsur-unsur yang bisa diatur, peneliti mengurutkan dan mengatur faktafakta tersebut, mencapai tipe, kelas, urutan, pola, ataupun kesemuanya itu. Penefsiran
data dilakukan dengan cara menerjemahkan data yang sudah terkumpul dalam tiap-tiap
aspek ke dalam suatu deskripsi ini.
BAB IV
PELAKSANAAN DAN HASIL PENELITIAN
A. Orientasi Kancah dan Persiapan
1. Orientasi Kancah Penelitian
Peneliti mendatangi perusahaan
CV Instrumentasi Tanah Beton Aspal (
TATONAS) yang bertempat di Daerah Istimewa Yogyakarta. Perusahaan ini bergerak
dalam bidang pembuatan alat-alat laboratorium penegtesan beton dan aspal yang lebih
banyak dipasarkan keinstansi-instansi pendidikan dan juga pemerintah.
Peneliti pada kedatangan pertama bertujuan untuk meminta ijin untuk melakukan
penelitian di perusahaan tersebut. Pada kedatangan kedua kedatangan peneliti untuk
mencari informasi tentang bagaimana sistem pemberian uang lembur di perusahaan
tersebut,
dalam
hal
ini
peneliti
mendapatkan
informasinya
melalui
kepala
personalianya.Responden penelitian kualitatif ini adalah karyawan perusahaan bagian
produksi yang sering mendapatkan jatah kerja lembur dari perusahaannya.
Responden penelitian ini hanya diambil karyawan, hal ini dimaksudkan karena di
perusahaan tersebut yang melakukan kerja lembur adalah karyawan bagian produksi
dan juga administrasi. Dimana perusahaan ini bergerak dalam bidang pembuatan alatalat laboratorium khusus beton dan baja. Dimana perusahaan ini berdiri pada tahun
1997 perusahaan ini rekanan kerja dari Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan
Universitas Islam Indonesia. Dimana perusahaan ini mengambil tenaga ahli dari fakultas
tersebut, dan juga memproduksi untuk umum. Pangsa pasar perusahaan ini adalah
Developer-Developer yang ada di jogja dan sekitarnya, Instansi-Instansi Pemerintah,
perguruan tinggi di jawa dan sekitarnya.
2. Persiapan Penelitian
Persiapan administrasi meliputi perijinan dari Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial
Budaya Universitas Islam Indonesia yang diajukan pada CV TATONAS dengan ijin dari
Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya pada tanggal 14 Mei 2007 dengan nomor
385/DEK/70/Akd/V/2007.
Kemudian peneliti menyerahkan proposal penelitian beserta
surat keterangan atau ijin ke Badan Perencanaan Daerah (BAPEDA) yang tertanggal 30
April
2007
tetapi
diserahkan
nomor351/Dek/70/Akd/IV/2007,
pada
sampai
tanggal
pada
22
akhirnya
Mei2007
peneliti
diijinkan
dengan
untuk
melakukan wawancara dengan surat ijin penelitian yang dikeluarkan oleh BAPEDA yang
berlaku pada tanggal 23 Mei 2007 sampai dengan 23 Agustus 2007.
B. Laporan Pelaksanaan Penelitian
Pada awal proses wawancara, peneliti memberitahukan maksud dan tujuan
dilaksanakannya wawancara, rapport dilakukan hari itu juga. Hal ini dilakukan
dikarenakan responden menginginkan wawancara dilakukan sebanyak satu kali saja.
Dikarenakan perusahaan sedang mendapatkan tender banyak, sehingga setiap bagian
yang ada di perusahaan tersebut mendapatkan tugas yang lebih berat dari biasanya. Hal
ini dikarenakan tenaga yang tersedia di perusahaan tersebut sangat terbatas dan waktu
untuk menyelesaikan tugas sangat mendesak. Karena tahun ajaran baru akan segera
datang dan pelanggan yang banyak yang memperbaiki alat-alat praktikum khususnya
laboratorium baja dan beton di universitas-universitas yang ada di Jogjakarta.
Responden penelitian ini mengambil tiga orang karyawan CV. TATONAS yang
dimana berlatar belakang tugas yang berbeda-beda. Dikarenakan metode pengambilan
data dengan menggunakan metode FGD ( Focus Group Discusion ) maka pengambilan
data untuk ketiga orang tersebut dilakukan secara bersamaan. Hal ini dilakukan untuk
dapat lebih mendalami adanya sikap kerja di adalam perusahaan tersebut.
C. Hasil Penelitian
1. Deskripsi Identitas Responden
Keseluruhan responden dalam penelitian ini berjumlah tiga orang yang bertugas
sebagai karyawan bagian marketing, produksi dan administrasi di CV TATONAS
Yogyakarta. Adapun data lengkap sebagai berikut :
a. Responden 1
Nama
: KH
Umur
: 29 tahun
Jenis Kelamin
: laki-laki
Pekerjaan
: Marketing
b. Responden 2
Nama
: PN
Umur
: 26 Tahun
Jenis Kelamin
: laki-laki
Pekerjaan
: Mekanik
c. Responden 3
Nama
: NA
Umur
: 21 tahun
Jenis Kelamin
: perempuan
Pekerjaan
: Administrasi
2. Deskripsi Hasil Penelitian
Ketiga responden pada umumnya mempunyai sikap kerja yang tinggi. Hal ini
dipengaruhi oleh adanya pemberian imbalan atas hasil kerja mereka dengan sangat
bijaksana oleh pimpinan. Ditambah lagi adanya sikap pimpinan yang sangat menjunjung
tinggi adanya kekeluargaan di tempat kerja tersebut.
Selain untuk memenuhi kebutuhan hidup, para karyawan beranggapan bahwa
dengan bekerja tersebut mereka beribadah. Pemberian uang lembur diperusahaan ini
sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Bahkan pemberian
uang lembur tersebut disesuaikan dengan berat, ringannya pekerjaan yang mereka
emban. Bahkan ketika akan melakukan kerja lembur di perusahaan ini pimpinan
menerapkan sikap kekeluargaan yang dimana sebelum melakukan kerja lembur
karyawan dipersilahkan untuk menyiapkan diri untuk melakukan kerja lembur. Hal ini
membuat karyawan merasa bahwa dirinya merasa dihargai di perusahaan ini.
D. PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil penelitan yang dilakukan oleh peneliti mendapatkan
kesimpulan bahwa
sikap kerja dipengaruhi juga oleh adanya lingkungan kerja itu
sendiri. Maka dapat diketahui bahwa sikap merupakan suatu bentuk yang terdiri dari tiga
elemen yang berbeda yaitu kognitif, afeksi, dan konatif, sesuai dengan teori yang
dikemukakan oleh Azwar (1998), bahwa sifat terdiri dari tiga aspek yaitu kognitif, afektif
dan konatif. Kognitif merupakan keyakinan seseorang terhadap objek, kognitif berisi
persepsi, kepercayaan, dan stereotype yang dimiliki individu mengenai sesuatu,
kemudian afektif suatu emosional subjektifitas seseorang terhadap sesuatu objek sikap
serta aspek konatif ini adalah bagaimana perilaku atau kecenderungan berperilaku yang
ada dalam diri seseorang berkaitan dengan objek sikap yang dihadapi.
Peneliti menggunakan teori Schuler dan Jackson ( Ajzen, I & Fishbein, M. 1980 )
pada umumnya setiap karyawan bekerja untuk memperoleh imbalan. Baik materiil
maupun non materiil atas pekerjaannya yang telah dilakukannya. Seseorang bekerja
pasti mengharapkan sesuatu untuk di dapatkan, baik berupa materiil maupun non
materiil. Hal ini mendasari ketika seseorang bekerja maka yang ingin dia dapatkan
adalah berupa materiil untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Walaupun ada sebagian
orang yang beranggapan bahwa tujuan mereka bekerja adalah untuk beribadah tetapi
hal yang mendasar seseorang bekerja tersebut adalah untuk mendapatkan kompensasi
atas hasil kerjanya tersebut. Dari keterangan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa
perusahaan ini antar karyawannya dapat bekerja sama dengan baik
begitu pula
loyalitas para pekerja kepada perusahaan mendorong perusahaan berubah menjadi
lebih baik dari sebelumnya dan dalam hal ini berpengaruh juga terhadap kedisiplinan
kerja karyawan, bersikap positif terhadap tugas-tugas yang diberikan oleh atasan,
mempunyai inisiatif dalam bekeja dan juga sangat membanggakan terhadap perusahaan
tempat dirinya bekerja. Dikarenakan karyawan merasa dihormati dan diberikan
kompensasi yang layak atas hasil kerja mereka.
Responden dalam melihat fenomena adanya pemberian uang lembur di
perusahanannya tersebut mengatakan bahwa dalam memberikan uang lembur tersebut
perusahaan sangat menjunjung tinggi kekeluargaan. Perusahaan tersebut sebelum
karyawannya melakukan kerja lembur mencari kesepakatan terlebih dahulu dengan
karyawannya. Agar dalam memberikan kompensasi terhadap pekerjaan yang diluar jam
kerja tersebut tidak membebani karyawan yang mengerjakannnya. Seperti yang tertera
dalam Keputusan Menakertrans No. 102/MEN/VI/2004 yang menyatakan sebagai berikut
“ Waktu kerja lembur adalah waktu kerja yang melebihi 7 (tujuh) jam sehari dan 40
(empat puluh) jam 1 (satu) seminggu untuk 6 (enam) hari kerja dalam 1 (satu) minggu
atau 8 (delapan) jam sehari dan 40 (empat puluh) jam 1 (satu) minggu untuk 5 (lima)
hari kerja dalam 1 (satu) minggu atau waktu kerja pada hari istirahat mingguan dan
atau pada hari istirahat resmi yang ditetapkan Pemerintah” (pasal 1 butir 1 Keputusan
Menakertrans No. 102/MEN/VI/2004.) dimana telah diatur bahwa waktu kerja adalah
tujuh jam dalam sehari daan 40 jam dalam satu minggu. Hal ini mewajibkan kepada
perusahaan-perusahaan yang melebihi batas waktu tersebut untuk memberikan uang
yang lebih ketika karyawannya tersebut melakukan pekerjaannnya diatas jam tersebut.
Tetapi juga dibarengi dengan adanya kesepakatan yang telah disetujui oleh kedua belah
pihak. Dimana ada kesepakatan antara perusahaan dan juga karyawan itu sendiri.
Perusahaan yang peneliti teliti menerapkan bahwa pemberian uang lembur
tersebut disesuaikan dengan tugas-tugas yang diemban karyawan, dikarenakan dalam
memberikan besaran uang lembur tersebut melihat seberapa berat pekerjaan yang
ditanggungnya. Hal itu dilakukan karena antara satu bagian dengan bagian yang lain
dalam mengerjakan tugasnya membutuhkan keahlian yang berbeda-beda dan hal
tersebut yang menyebabkan adanya perbedaan pemberian uang lembur tersebut.
Dalam merapkan peraturan mengenai kerja lembur ini perusahaan tersebut berpedoman
pada asas kekeluargaan yang dijunjung tinggi diperusahaan ini. Dimana ketika
seseorang telah memberikan sesuatu kepada perusahaan maka perusahaan wajib
memberikan yang sama besar kepada hasil kerja karyawannya tersebut. Dan hal ini
membuat karyawan yang bekerja di perusahaan tersebut merasa senang dalam
mengerjakan tugas-tugas yang diembannnya. Tiap orang berbeda dalam memandang
nilai imbalan yang mereka peroleh dan seberapa pentingnya imbalan itu bagi mereka.
Jadi penerimaan karyawan tergantung bagaimana mempersepsikan imbalan yang
diterimanya dengan kata lain apa yang telah diberikan dan dirasa cukup oleh
perusahaan
untuk
memenuhi
mempersepsikan nya demikian.
kebutuhan
karyawan
belum
tentu
karyawan
Tetapi dalam perusahaan ini semua itu dikaburkan
dengan adanya sistem kekeluargaan yang sangat erat di antara karyawannya tersebut.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Secara umum ketiga karyawan CV TATONAS
mempunyai pengertian yang positif
terhadap tugas yang diembannya dan juga imbalan yang diterimanya. Hal itu dibuktikan
dengan adanya penerimaan mereka terhadap tugas yang diperintahkan oleh atasan
yang mereka lakukan dengan senang hati. Dalam melekukan kerja lembur pun mereka
mengerjakannya dengan senang hati. Hal itu dipengaruhi oleh kepemimpinan atasan
yang
tidak
membeda-bedakan
karyawan
dengan
dirinya,
dan
juga
pimpinan
menerapkan sistem kekeluargaan di dalam perusahaan yang dipimpinnya.
B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian, peneliti menyarankan kepada peneliti selanjutnya
agar dapat lebih menggali pertanyaan-pertanyaan yang lebih pada diri pribadi, sehingga
dapat meningkatkan kualitas dari penelitian. Frekuensi wawancara di perbanyak dan
juga intensitas pertemuan dengan responden ditambah sehingga dapat lebih menggali
penelitian ini. Pengambilan responden harus ditentukan kriterianya sehingga tidak
terjadi ketidak tahuan responden dengan tujuan penelitian yang dilakukan. Struktur dari
questioner disesuaikan dengan responden agar responden paham dengan maksud
peneliti.
Download