2.2.7 Media Komunikasi Organisasi

advertisement
BAB 2
KAJIAN PUSTAKA
2.1
Penelitian Sebelumnya / State of The Arts
Tabel 2.1 Penelitian Sebelumnya I
Judul Jurnal
Pentingnya Peran Logo Dalam
Membangun Brand
Nama dan Tahun
Angela Oscario (2013)
Sumber
Jurnal Humaniora – Brand Image
Metodologi
Kualitatif
Hasil Penelitian
Brand merupakan aset yang tak terwujud,
dalam brand terdapat logo yang
mencerminkan sebuah brand. Di dalam
brand, logo merupakan hal yang penting,
tetapi masih banyak yang tidak sadar
akan pentingnya logo dalam membangun
sebuah brand.
Hubungan Penelitian
Dalam penelitian ini memilih jurnal
diatas, karena berkaitan dengan penelitian
ini karena menjelaskan pentingnya
sebuah logo pada brand.
Sumber: Binus Library, 2013
Table 2.2 Penelitian Sebelumnya II
Judul Jurnal
Model Pelestarian Lingkungan Hidup
Berbasis Teknologi Informasi Pada
Aktivitas Sosialisasi Berbasis Masyarakat
Sebagai Sentra Partisipan
Nama dan Tahun
Wahyu Sardjono (2011)
Sumber
Jurnal Comtech
Metodologi
Kualitatif
Hasil Penelitian
Dalam merancang model sosialisasi
diawali dengan analisis kebutuhan
sosialisasi pelestarian lingkungan hidup
dan prioritas pada lembaga yang terkait,
kemudian diakhiri dengan melakukan
perbandingan dan evaluasi tentang
sosialisasi yang telah dilakukan dengan
yang seharusnya dilakukan
Hubungan Penelitian
Dari jurnal diatas, dikaitakan dengan
penelitian ini bahwa sebelum melakukan
kegiatan sosialisasi maka harus
mengetahui dulu apa yang menjadi
kebutuhan publiknya setelah itu
mengevaluasi hasil dari sosialisasi yang
telah dilakukan tersebut.
Sumber: Binus Library, 2011
Table 2.3 Penelitian Sebelumnya III
Judul Jurnal
White Logistic Univeills New Look After
Rebranding
Nama dan Tahun
Anonymous (2011)
Sumber
Trade Journals – Gardening and
Horticulture
Metodologi
Kualitatif
Hasil Penelitian
Perusahaan distribusi motor terbesar di
Inggris melakukan upaya rebranding
dengan cara mengganti logo perusahaan
mereka menjadi warna biru dan putih
serta memiliki filosofi tersendiri dari logo
baru tersebut, selain itu upaya rebranding
pada logo ini bertujuan untuk menarik
pelanggan baru dan menjaga loyalitas
pelanggan. Alasan lain perusahaan ini
melakukan rebranding karena perusahaan
distribusi motor ini sangat terkenal di
Inggris sehingga harus membuat satu
perubahan pada perusahaannya tak hanya
di logo perubahan pun dilakukan pada
website resmi perusahaan distribusi motor
ini.
Hubungan Penelitian
Hubungan antara jurnal diatas dengan
penelitian ialah karena sama-sama
melakukan rebranding pada logo
perusahaan agar menjaga loyalitas dan
adanya perubahan filosofi pada logo baru.
Sumber: Proquest, 2011
Tabel 2.4 Penelitian Sebelumnya IV
Judul Jurnal
(Re)Branding As a Fundamental
Prerequisite Future Development of
Montenegrin Tourism
Nama dan Tahun
Andela Jaksic Stojanovic (2013)
Sumber
Journal of Arts and Humanities
Metodologi
Kualitatif
Hasil Penelitian
Dalam melakukan rebranding faktanya
adalah bahwa nama, logo dan slogan
menjadi hal yang sangat penting dalam
melakukan rebranding ini. Hal-hal
tersebut menjadi sangat penting untuk
mengidentifikasi keuntungan dan
kerugian dari rebranding yang dilakukan
dengan cara branding sistem Montenegro.
Hubungan Penelitian
Penelitian sebelumnya ini memliki
hubungan dengan penelitian yang
dilakukan, dimana dalam melakukan
rebranding sangat penting memikirkan
logo, nama dan slogan dan juga adanya
sistem setelah melakukan rebranding
untuk disosialisasikan kepada publik
internal dan untuk mendapat keuntungan
dari rebranding yang telah dilakukan.
Sumber : Proquest, 2013
Tabel 2.5 Penelitian Sebelumnya V
Judul Jurnal
The Impact of Corporate Rebranding on
The Firm’s Market Value
Nama dan Tahun
Branca, Sofia Ana dan Maria Rosa
Borges (2011)
Sumber
International Journal of Latest Trends in
Finance and Economic Sciences
Metodologi
Kuantitatif
Hasil Penelitian
Rebranding menciptakan nama, istilah
dan simbol baru dengan tujuan untuk
mengembangkan posisi bisnis yang ada.
Dalam melakukan rebranding maka
perusahaan harus memiliki perbedaan dari
perusahaan lainnya agar citra perusahaan
tetap baik dimata publik, dengan
rebranding yang dilkukan perusahaan
harus lah memiliki identitas dari merek
baru yang dimilikinya.
Hubungan Penelitian
Dari jurnal diatas, hubungannya dengan
penelitian ini adalah PT JGC memiliki
perbedaan dari perusahaan EPC lainnya
dimana perusahaan ini sudah memiliki
nama baik dimata eksternal pasca
rebranding yang dilakukan dan juga
memiliki identitas sendiri.
Sumber : Google Scholars
2.2
Landasan Konseptual
Dalam penelitian ini teori yang digunakan sesuai dengan judul skripsi
ini “Sosialisasi Perubahan Filosofi Logo PT JGC Indonesia Pada Publik
Internal Perusahaan”, maka penelitian ini menggunakan teori dasar/umum
yang dapat dipakai dalam bahasa skripsi kali ini yakni diantara;
2.2.1
Komunikasi
Komunikasi merupakan salah satu aspek yang penting dalam
kehidupan manusia. Manusia sangat dipengaruhi oleh komunikasi.
Dimana manusia tidak dapat hidup sendiri dan tentunya memerlukan
komunikasi untuk mempertahankan kelangsungan hidup. Kata
komunikasi atau communication dalam bahasa Inggris berasal dari kata
Latin
yaitu
communis
yang
berarti
‘”sama”,
communico,
communication, atau communicare yang berarti “membuat sama” (to
make common) (Mulyana, 2005).
Sedangkan menurut (Rohim, S, 2009) dalam bukunya yang
berjudul
Teori
Komunikasi:
Perspektif:Ragam
dan
Aplikasi,
menjelaskan bahwa komunikasi merupakan suatu hal yang sangat
mendasar dalam kehidupan manusia dan bahkan komunikasi telah
menjadi suatu fenomena bagi terbentuknya suatu masyarakat atau
komunitas yang terintegrasi oleh informasi, dimana masing-masing
individu dalam masyarakat itu sendiri saling berbagi informasi untuk
mencapai tujuan bersama. Secara sederhana komunikasi dapat terjadi
apabila ada kesamaan antara penyampaian pesan
dan orang yang
menerima pesan.
Dari
kedua
definisi
diatas
dapat
disimpulkan
bahwa
komunikasi tidak terlepas dari kegiatan manusia karena komunikasi
merupakan proses penyampaian pesan dari pengirim kepada penerima.
Komunikasi dapat diterapkan untuk dapat melakukan proses kontak
sosial dengan lingkungan sekitar dalam melakukan sosialisasi pun
komunikasi menjadi hal yang sangat penting agar tercipatanya
sosialisasi yang baik.
2.2.2
Tujuan Komunikasi
(Agus Hermawan, 2012) terdapat empat tujuan komunikasi yaitu:
1.
Menemukan
Salah satu tujuan utama komunikasi menyangkut penemuan diri
(personal discovery) adalah saat kita berkomunikasi dengan orang
lain maka kita harus mengenal diri sendiri. Selain itu persepsi diri
kita sebagian besar dihasilkan dari apa yang telah kita pelajari
tentang diri melalui perjumpaan dan melakukan interaksi dengan
orang lain.
2.
Untuk Berhubungan
Hal yang paling memotivasi kita adalah berhubungan, karena
dengan berhubungan kita dapat membina hubungan dengan orang
lain. Dalam hal ini kita dapat menghabiskan banyak waktu dan
energi komunikasi kita untuk membina dan memelihara hubungan
sosial.
3.
Untuk Meyakinkan
Media massa sebagian besar untuk meyakinkan kita agar
mengubah sikap dan perilaku kita. Dengan komunikasi yang
dilakukan secara baik maka dengan mudahnya media massa
mempengaruhi masyarakat.
4.
Untuk Bermain
Komunikasi yang ini dilakukan saat kita sedang bermain atau
menghibur diri. Seperti kektika kita sedang mendengar musik,
lawakan atau hal yang dapat membuat kita senang, komunikasi ini
dilakukan sebagai cara untuk mengikat perhatian orang lain
sehingga kita dapat mencapai tujuan-tujuan lain.
2.2.3
Komunikasi Organisasi
Komunikasi organisasi adalah pemahan tentang peristiwaperistiwa komunikasi yang terjadi didalamnya, seperti intstruksi dari
atasan kepada bawahan apakah instruksi sudah dikerjakan dengan
benar
oleh
bawahan
ataupun
bagaimana
bawahan
mencoba
menyampaikan keluhan kepada atasan dengan melihat apakah tujuan
organisasi yang telah ditetapkan sudah tercapai sesuai dengan hasil
yang diharapkan, (Burhan Bungin, 2006).
Dalam buku Pengantar Manajemen (Munandar, M. Jono,
2014) dalam komunikasi organisasi terdapat komunikasi formal dan
informal. Komunikasi formal adalah komunikasi yang mengikuti
aturan resmi atau merupakan bagian komunikasi yang dibutuhkan
untuk melakukan perkejaan formal, sedangkan komunikasi informal
adalah komunikasi yang tidak didefinisikan oleh hierarki struktur
organiasi.
Menurut R. Wyane Pace dan Don F. Faules yang dalam (Poppy
Ruliana, 2014) komunikasi organisasi sebagai pertunjukan dan
penafsiran antara unit-unit komunikasi yang merupakan bagian dari
satu organisasi tertentu. Dengan demikian, bila suatu organisasi terdiri
dari unit-unit tersebut maka dalam hubungan hierarki antara satu dan
lainnya menjadi berfungsi dalam suatu lingkugan.
Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa
komunikasi organisasi merupakan kegiatan komunikasi yang berada di
dalam satu organisasi agar dapat mempermudah serta mengurangi
terjadinya kesalah pahaman jalannya komunikasi pada suatu
organisasi.
2.2.4
Tujuan Komunikasi Organisasi
Adapun tujuan dalam melakukan komunikasi organisasi yaitu
untuk mempermudah, melaksanakan dan melancarkan jalannya suatu
organisasi. Menurut Liliweri dalam (Ruliana, 2014) mengemukakan
terdapat empat tujuan komunikasi organisasi yaitu:
1. Menyatakan pikiran, pandangan dan pendapat;
2. Membagi informasi;
3. Menyatakan perasaan dan emosi; dan
4. Melakukan koordinasi.
2.2.5
Fungsi Komunikasi dalam Organisasi
Menurut Sendjaja dalam buku Sosilogi Komunikasi karya
(Burhan Bungin 2006), organisasi yang beriorientasi mencari
keuntungan (profit) maupun nir-laba (non-proft) memiliki empat
fungsi organisasi yaitu:
a. Fungsi Informatif
Organisasi dapat dipandang sebagai suatu sistem proses
informasi (information-procesisng system) dimana suatu
informasi yang didapat memungkinkan setiap organisasi dapat
melaksanakan pekerjaan secara lebih pasti, seluruh anggota
organisasi.
b. Fungsi Regulatif
Fungsi ini berkaitan dengan peraturan-peraturan yang berlaku
dalam suatu organisasi, pada semua lembaga atau organisasi.
c. Fungsi Persuasif
Suatu organisasi tidak selalu menggunakan kekuasan dan
kewenangan karena dua hal itu tidak selalu membawa hasil
yang sesuai harapan. Maka dari itu banyak pimpinan yang lebih
suka untuk memersuasi bawahannya dari pada memerintah,
agar pekerjaan yang dilakukan oleh karyawan secara sukarela
dapat dilakukan dengan baik.
d. Fungsi Integratif
Fungsi organisasi ini merupakan pelaksanaan aktivitas yang
membutuhkan keinginan untuk berpatisipasi lebih besar dalam
diri karyawan terhadap organisasi.
2.2.6
Komunikasi Internal
Dalam buku “Komunikasi Organisasi Teori dan Studi Kasus”
Effendy yang dikutip oleh (Poppy Ruliana, 2014), mengatakan bahwa
komunikasi internal ialah komunikasi yang terjadi dalam suatu
organisasi yang terdiri dari seluruh karyawan semua level yang disebut
publik internal. Istilah publik internal itu mencakup dari atasan sampai
bawahan yang ada di dalam organisasi atau perusahaan.
Cutlip, Centre dan Broom dalam (Ruliana, 2014) komunikasi
internal didasarkan pada pernyataan visi dan misi
dalam sebuah
organisasi, yang memiliki tujuan dalam memajukan organisasi.
Dari kedua definsi diatas dapat disimpulkan bahwa komunikasi
internal adalah komunikasi yang terjadi di dalam sebuah organisasi
atau perusahaan antar publik internal yang memiliki tujuan untuk
mewujudkan visi serta misi perusahaan atau organisasi.
2.2.7
Media Komunikasi Organisasi
Media
komunikasi
adalah
alat
yang
digunakan
oleh
komunikator untuk menyebarluaskan suatu pesan dengan tujuan
memperoleh respon atau feedback yang baik. Menurut Brent & Stewart
yang merangkum pendapat R. Wayne Pace,
Ruliana, 2014), menyatakan
ada beberapa alat untuk media
komunikasi organisasi dapat melalui:
1. Memo
2. Telepon
3. Laporan Berkala
4. E-mail
5. Persentasi Video
6. Konferensi
7. Pidato
8. Poster
9. Kotak Saran
10. Pertemuan Sosial
11. Acara Keluarga (family gathering)
12. Sesi Pelatihan
13. Komite
14. Faksimile
15. Bulletin
16. Iklan
17. Notifications
dalam buku (Poppy
Jenis-jenis media komunikasi diatas merupakan variasi metode dan
merupakan media komunikasi yang digunakan dalam organisasi.
Metode-metode diatas dapat digunakan berbentuk tulisan, lisan atau
kombinasi antara tulisan dan lisan yang sifatnya two way
communication (komunikasi dua arah) dan mendapat timbal balik.
Sementara itu ada media komunikasi berifat khusus (special media)
seperti internet, DVD, facsimile, pamphlet, poster.
2.2.8
Hambatan dalam Komunikasi Organisasi
Warren R. Plunkket & Raymond F. Atner dalam buku
Komunikasi Organisasi (Ruliana, 2014) menjelaskan ada lima
hambatan dalam komunikasi organisasi yaitu:
1. Manajemen Level (tingkatan manajemen)
Dalam organisasi terdapat peringkat manajemen dari top
sampai lower management, pada tingkat manajemen tersebut
dapat saja salah menyampaikan pesan/ informasi yang tidak
sesuai, komunikasi tidak lancar bisa dari top down atau pun
bottom up.
2. Number of People Supervised (Jumlah staff yang berada dalam
pengawasan)
Dalam hal ini dijelaskan bila staff yang berada dalam
pengawasan kurang dari 12 orang maka komunikasi berjalan
baik, tapi sebaliknya bila lebih dari 12 orang maka komunikasi
akan terhambat.
3. The Rank Of Position In The Organization (Jenjang jabatan
dalam organisasi)
Jika jenjang jabatan dalam sebuah organisasi terlalu jauh maka
komunikasi yang terjadi akan kurang lancar dan menjadi kaku.
4. Change In Manager (Pergantian Manajer)
Perubahan Manager dalam perusahaan dapat mengakibatkan
perubahan pola komunikasi dari atasan ke bawahan.
5. Manager Interpration (Interpretasi Manajer)
Dalam hal ini komunikasi menjadi terhambat karena adanya
penilaian dari manajer terhadap karyawannya.
2.2.9
Karakteristik Organisasi
Dalam buku “Pengantar Manajemen Sumber Daya Manusia
(MSDM)” karya (Akhmad Subekhi & Mohammad Jauhari, 2012)
menjelaskan bahwa karakterisitik organisasi merupakan ciri khusus yang
dimiliki oleh suatu organisasi tertentu, misalnya :
1. Terdapat komunikasi dua arah
2. Tujuan kelompok jelas dan diterima oleh anggota
3. Kontrovensi dan konflik tidak diabaikan, diingkari atau ditekan
Sehingga katrakteristik tidak memiliki pengaruh yang signifikan
terhadap perilaku individu. Hanya saja individu dapat menyesuaikan dengan
karakteristik organisasi tersebut yaitu dengan berupa peraturan-peraturan
organisasi.
2.2.10 Mengatasi Hambatan Komunikasi Organisasi
Bovee & Thill dalam buku karya (Ruliana, 2014) menjelaskan
cara-cara mengatasi hambatan komunikasi organisasi yaitu:
1. Memelihara iklim komunikasi tersebut
2. Bersungguh-sungguh dalam etika berkomunikasi
3. Berusaha memahami kesulitan komunikasi antara budaya
4. Komunikasi berpusat pada penerima pesan
5. Menggunakan teknologi secara bijaksana
6. Menciptakan dan memproses pesan secara efektif dan efisien,
dilakukan dengan cara :
a. Memahami penerima pesan
b. Menyesuaikan pesan dengan penerima
c. Mengembangkan dan menghubungkan gagasan
d. Mengurangi jumlah pesan
e. Memilih saluran atau media komunikasi yang tepat
f. Meningkatkan keterampilan berkomunikasi
7. Memberikan feedback atau umpan balik secara cepat.
2.2.11 Pengertian Public Relations
Pada dasarnya Public Relations merupakan kegiatan dalam
berkomunikasi dengan masyarakat untuk menciptakan good image
atau citra yang baik di masyarakat.
Menurut Scott M. Cutlip, Allen H. Centre, Glen M. Broom,
public relations adalah fungsi manajemen dalam membentuk dan
memelihara hubungan yang menguntungkan antara organisasi dengan
masyarakatnya dalam (Nova, 2009)
Sementara menurut The British Institute of Public Relations
(Morisan, 2008), menjelaskan bahwa public relations merupakan suatu
upaya untuk membangun dan mempertahankan saling pengertian
antara organisasi dengan publiknya.
Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa seorang
public relations merupakan kegiatan terencana dan terarah agar dapat
menjaga hubungan baik dengan pihak internal dan eksternal demi
mencapai tujuan yang baik.
2.2.12 Fungsi PR Internal & Eksternal
Menurut (Silih Agung Wasesa, 2013) fungsi PR internal dan
eksternal yaitu:
Internal
1. Mengkomunikasikan kebijakan direksi dan manajemen kepada
karyawan;
2. Menjelaskan perubahan kebijakan direksi dan manajemen agar
para karyawan dapat memahami dasar pengambilan keputusan;
3. Menjadi jaringan komunikasi antar karyawan, direksi dan
manajemen;
4. Membantu dalam proses restruktrisasi / penataan kembali,
dengan cara sosialisasi kebijakan hingga penelitian guna
mengurangi dampak buruk restruktrisasi;
5. Menigkatkan rasa memiliki karyawan terhadap perusahaan; dan
6. Membantu perusahaan dalam mewujudkan visi organisasi.
Eksternal:
1. Mensosialisasikan kebijakan perusahaan kepada publik;
2. Menjelaskan hasil Rapat Umum Pemegang Saham;
3. Menjelaskan dari hasil dan dasar diadakannya Rapat Umun
Luar Biasa Pemegang Saham;
4. Membantu pemasaran dalam mencipatakan produk;
5. Mensosialisasikan prestasi yang dicapai oleh perusahaan;
6. Mengembangkan program-program masyarakat sebagai bentuk
tanggung jawab perusahaan;
7. Menyiapkan sasaran bagi publik untuk melihat perusahaan
secara langsung; dan
8. Menyiapkan
sasaran
bagi
pemerintah
terhadap
kinerja
perusahaan.
2.2.13 Tujuan Public Relations
Tujuan Public Relations merupakan sesuatu yang ingin dicapai,
dituju atau diraih (goals). Tujuannya untuk mengarahkan kegiatan
public relations, sehingga tidak melenceng atau salah sasaran. Menurut
(Kriyanto, 2012) dalam bukunya yang berjudul “PR Writing Teknik
Produksi Media Public Relations dan Publisitas Korporat”, dalam
perusahaan terdapat tujuan public relations antara lain :
1. Menciptakan pemahaman (mutual understanding) antara
perusahaan dengan publiknya.
Tujuan kegiatan public relations pertama kali adalah berupaya
menciptakan
saling
pengertian
antara
perusahaan
dan
publiknya. Melalui kegiatan komunikasi diharapkan terjadi
kondisi kecukupan informasi (well-informed) antara perusahaan
dan publiknya. Kecukupan informasi agar tidak salah persepi.
Salah paham atau salah persepi menjadi hal yang mendasar
penyampaian
informasi
dalam
komunikasi
(primary-
breakdown of communication).
Ketercukupan informasi akan terwujud bila public relations
menyediakan
saluran
komunikasi
yang
terbuka
(open
communication) dan memungkinkan terjadinya komunikasi dua
arah yang timbal balik (two way recipcoral). Saluran informasi
yang tersedia harus memungkinkan terjadinya proses memberi
dan menerima informasi secara berimbang antara kedua belah
pihak. Sehingga antar karyawan dapat saling mengenal satu
sama lain.
Membangun citra korporat (corporate image)
Citra (image) gambaran yang ada dalam benak publik tentang
perusahaan. Citra merupakan persepi / anggapan publik tentang
perusahaan itu sendiri budaya perusahaan, perilaku perusahaan
atau perilaku individu-individu dalam perusahaan dan lainnya.
Persepi juga akan mempengaruhi perilaku publik internal
perusahaan itu sendiri.
Citra dimulai dari identitas korporat sebagai titik
pertama yang tercermin, melalui nama perusahaan (logo) dan
tampilan lainnya, laporan tahunan, company profile, interior
kantor, seragam karyawan, newsletter, dan lainnya. Identitas
korporat juga berbentuk non-fisik seperti nilai-nilai dan
filosofis perusahaan, corporate values, filosofi logo, cara kerja
dan komunikasi, baik internal maupun eksternal. Corporate
image dibangun melalui 4 area yaitu:
1) Produk / service ( termasuk kualitas produk, customer
care)
2) Social Responsibility
3) Environments (kantor, showroom, pabrik)
4) Communications (iklan, public relations, personel
communications, program-program idenitas korporat)
2. Membentuk goodwill dan kerjasama
Tujuan public relations sudah ada pada tahap tindakan nyata.
Artinya sudah tercipta kerja sama dalam bentuk perilaku yang
mendukung
keberhasilan
perusahaan.
Dalam
tahap
ini
diharapkan publik secara nyata mendukung program-program
perusahaan, misalnya publik turut menyukseskan kampanye
public relations atau kegiatan lain yang dilakukan perusahaan.
Goodwill dan kerja sama dapat tercipta dengan baik
karena hal ini dilakukan berulang-ulang oleh public relations
perusahaan
untuk
menanamkan
saling
pengertian
dan
kepercayaan kepada publiknya. Kemudian diikuti tindakan
nyata perusahaan untuk komitmen dalam mewujudkannya.
2.2.14 Citra Internal
(Silih Agung Wasesa, 2006) dalam bukunya yang berjudul
“Strategi Public Relations”, menjelaskan bahwa citra perusahaan
merupakan persepsi yang berkembang di benak publik terhadap
realitas yang ada, citra perusahaan pengaruh penting bagi perusahaan
atau dampak internal.
Sementara dalam buku “Dasar-Dasar Public Relations” karya
Soemirat dan (Ardianto, 2012) citra internal adalah gambaran diri
publik terhadap perusahaan, kesan yang dengan sengaja diciptakan dari
suatu obyek, orang atau organisasi. Citra internal sendiri merupakan
salah satu aset yang penting bagi perusahaan atau organiasi.
Dari kedua definisi diatas dapat dikatakan citra internal
merupakan gambaran atau persepi publik terhadap organiasi atau
perusahaan. Citra internal sengaja diciptakan agar bernilai positif pada
khalayak.
2.2.15 Pengertian Brand/Merek
(Idris Mootee, 2013) mengatakan bahwa Brand merupakan
nama atau simbol yang bersifat membedakan. Brand memiliki makna
yang kuat dalam pikiran seseorang, brand juga memiliki pesan yang
kuat dan berbeda, brand juga sebagai pesan yang otentik dalam
memberitahukan siapa anda dan apa yang anda ingin lakukan.
Dalam
Kamus
Brand
karya
(Wiryawan,
2008)
yang
menjelaskan Brand/Merek adalah persepsi, pengalaman, harapan,
terhadap sebuah produk, jasa, pengalaman, personal, ataupun
organisasi brand merupakan gabungan dari berbagai atribut baik
secara nyata maupun tidak dan harus dikelola dengan baik agar dapat
menciptakan nilai dan pengaruh.
Melissa Davis dalam buku More Than A Name (2005)
menjelaskan bahwa Brand identik dengan bisnis, brand juga
menawarkan nilai, visi, sikap yang ditetapkan dari perusahaan guna
membangun posisi merek untuk mendapatkan citra yang baik dari
masyarakat.
Dari beberapa definisi diatas, maka dapat disimpulkan bahwa
brand memiliki arti yang sangat penting karena brand merupakan
identitas yang melambangkan suatu perusahaan , brand juga dapat
dirasakan dalam benak konsumen. Brand menjadi elemen yang sangat
penting dalam strategi pemasaran karena dapat menciptakan reputasi
yang baik untuk meraih kepercayaan masyarakat.
2.2.16 Membangun Brand Yang Kuat
Dalam bukunya yang berjudul 60 Minute Brand Strategist,
(Mootee, 2013) menjelaskan ada 3 kunci penting dalam membangun
sebuah brand yang kuat yaitu:
1. Adanya kepercayaan antara merek dan pelanggan
2. Identitas yang umum antara merek dan pengguna
3. Memiliki titik perbedaan antara merek yang satu dengan merek
yang lainnya
Maka dari itu dalam membangun sebuah brand yang kuat harus
memliki perbedaan antara brand satu dengan lainnya, brand yang kuat
juga harus mampu menjaga kualitasnya agar terus dipercaya oleh
pelanggan.
2.2.17 Fungsi Merek/Brand
Dalam
buku
yang berjudul
“Dasar-Dasar
Manajemen
Pemasaran”Karya (Sunyoto, 2014) terdapat beberapa fungsi dari
merek yaitu:
1. Fungsi Identitas
Dengan adanya mereka dapat diketahui produk maupun
identitas sebuah perusahaan, karena di dalam merek terdapat
hal yang wajib dicantumkan seperti, nama perusahaan,
komposisi perusahaan, komposisi penduduk, aturan pakai, efek
samping, hal-hal yang perlu dihindari dan lainnya.
2. Fungsi Kualitas
Sebuah merek juga dapat menujukkan kualitas produk. Jika
pada suatu merek sudah terkenal dan mapan, maka produk
tersebut telah diakui oleh konsumen. Seorang konsumen tidak
akan melakukan pembelian ulang bila kualitas produk tidak
baik. Sebaliknya bila produk memiliki kualitas yang baik maka
konsumen secara berulang membeli produk tersebut.
3. Fungsi Loyalitas
Jika identitas produk jelas dan kualitas produk juga baik, serta
konsumen selalu mencari dan melakukan pembelian secara
berulang akan suatu produk artinya perusahaan telah sukses
mencipatkan pelanggan. Untuk itu pihak perusahaan harus
menjaga pelanggan tersebut dengan strategi pemasaran agar
tetap menjadi pelanggan yang loyal terhadap produknya.
4. Fungsi Citra/Image
Pihak perusahaan umumnya wajib menjaga citra produk
melalui merek, karena citra sebagai salah satu penentu
keberhasilan dalam pemasaran. Dengan memiliki citra yang
baik maka pemasaran pun juga dapat ikut berjalan dengan baik.
2.2.18 Karateristik Merek/Brand Yang Baik
(Sunyoto, 2014) menyatakan beberapa karateristik brand yang baik
adalah :
a. Mudah dibaca, diucapkan dan diingat
b. Singkat dan sederhana
c. Merek harus memiliki ciri khas tersendiri dan disenangi oleh
konsumen
d. Merek harus menggambarkan kualitas produk, prestise, produk
dan sebagainya
e.
Merek harus dapat didaftarkan dan mempunyai perlindungan
2.2.19 Rebranding
Rebranding merupakan sarana terakhir yang bisa diberikan
untuk sebuah brand. Rebranding yang dilakukan bukan hanya
mengganti logo tetapi juga harus memastikan bahwa proses
repositioning merupakan agenda utamanya, berjalan dengan baik,
karena persepi konsumen juga harus digiring dengan menciptakan
pengalaman baru pada sebuah brand (Rudyant&Jessica, 2012).
Dalam Kamus Brand karya (Mendiola B Wirayawan, 2008)
menjelaskan re-branding adalah kegiatan terintegrasi dan terencana
untuk mengubah posisi sebuah brand secara internal maupun eskternal,
supaya brand terlihat lebih baru, dan memiliki nilai tambah yang baru
pada brand itu sendiri.
Menurut (Fandy Tjiptono, 2006) rebranding tidak hanya
mengubah nama melainkan perubahan yang bersifat strategik.
Rebranding harus benar-benar dilandasi pertimbangan atau alasan
yang kuat, terutama menyangkut mekanisme proses rebranding
dilakukan.
Dari ketiga definisi diatas dapat disimpulkan rebranding
merupakan kegiatan yang terencana dengan strategi baru serta
memiliki
alasan
kuat
untuk
menciptakan
penyegaran
atau
pembaharuan pada sebuah brand.
2.2.20 Alasan Secara Umum Perusahaan Melakukan Rebranding
Dalam buku (Fandy Tjiptono, 2008) yang berjudul Strategi
Pemasaran,
dijelaskan
beberapa
alasan
mengapa
perusahaan
melakukan rebranding:
1. ‘Menyegarkan kembali’ atau memperbaiki citra merek;
2. Memulihkan citra setelah terjaidnya krisis atau skandal;
3. Bagian dari merger atau akuisisi;
4. Bagian dari de-merger atau spin-off;
5. Mengharmonisasikan merek di pasar International;
6. Mengarasionalisasi portofolio merek; dan
7. Mendukung arah strategi baru perusahaan.
2.2.21 Startegi Pokok yang Ditempuh dalam Upaya Rebranding
Lima Strategi pokok dalam Rebranding (Tjiptono, 2008) yaitu:
1. Phase-in/phase out strategy, yang ditempuh lewat dua tahap.
Dalam tahap phase-in, merek baru masih dilekatkan pada
merek saat ini selama periode introduksi tertentu. Setelah
melewati periode transisi, merek lama perlahan-lahan dihapus.
2. Umbrella Branding Strategy
Menggunakan merek tunggal sebagai ’payung’ bagi hampir
semua lini produk perusahaan di seluruh pasar yang
dimasukinya.
3. Translucent Warning Strategy
Untuk mengingatkan para pelanggan sebelum dan setelah
perubahan nama Merek aktual (biasanya melalui promosi
intensif, pajangan dalam toko, dan kemasan produk).
4. Sudden Eradication Strategy
Secara serta merta mengganti nama merek lama dengan nama
baru tanpa periode transisi. Strategi ini cocok dipilih apabila
perusahaan bermaksud segera melepaskan diri dari citra ’lama’.
Selain itu, merek lemah yang tidak berpotensi untuk dijual atau
dibangkitkan kembali merupakan kandidat utama bagi strategi
ini.
5. Counter – Takeover Strategy
Strategi paska akuisisi yang mengabaikan nama merek sendiri
dan menggantinya dengan nama merek yang diakuisisi.
2.2.22 Empat Tahap Yang Harus Dihindari Dari Rebranding:
(Fandy Tjiptono, 2006) menjelaskan bahwa dalam melakukan
rebranding memakan biaya besar dan penuh dengan resiko, berikut
beberapa hal yang harus dihindari dalam melakukan rebranding:
1.
Heritage Rebranding Trap
Setiap upaya rebranding harus lah dilandasi pemahaman
mendalam atas persepi terhadap merek, hal ini sangat penting
karena merek menjadi aspek yang sangat penting dalam warisan
kultural dan historis merek perusahaan.
2.
Global Rebranding Trap
Rebranding dilakukan karena faktor ikut-ikutan, rebranding
dengan cara ini dapat sangat berisko tinggi hingga merugikan
perusahaan.
3.
Merger Rebranding Trap
Merger seringkali diikuti kampanye rebranding. Biasanya hasil
perusahaan merger mempertahankan ekuitas dan nilai merek
lamanya. Dengan menggabungkan nama perusahaan lama
dengan yang baru, untuk mendapatkan persepsi yang koko pada
perusahaan meger.
4.
Celebrity Rebranding Trap
Dalam melakukan upaya rebranding tidak jarang perusahaan
melakukannya dengan menggunakan selebriti, karena dengan
menggunakan selebriti dapat menimbulkan resiko besar pada
perusahaan.
2.2.23 Sosialisasi
Sosialisasi dilihat dari dua sudut pandang. Pertama, dari sudut
pandang ‘karyawan’ dan kedua dari sudut pandang ‘manajemen
organisasi’. Sosialisasi berarti proses belajar bagi karyawan baru
tentang nilai-nilai dan perilaku yang dianggap layak untuk mencapai
sukses sebagai anggota organisasi dalam Jurnal Sosialisasi dan
Dampak Budaya Organisasi karya (Hardjana, 2010).
Dalam (Soekanto, 2007), M.J
Herskovios menjelaskan
sosialisasi merupakan suatu proses dimana seorang anak dapat
menyesuaikan diri dengan lingkungan sesuai dengan norma-norma
yang berlaku.
Dari kedua definisi diatas maka dapat disimpulkan sosialisaisi
adalah proses belajar bagi seseorang untuk mengenal lingkungannya
sesuai dengan norma-norma atau aturan yang berlaku di keluarga
maupun di masyarakat guna mencapi satu tujuan yang di harapkan.
2.2.24 Tujuan Sosialisasi
Dalam bukunya yang berjudul “Be Smart Ilmu Pengetahuan
Sosial” karya (Ida Widaningsih, 2006) menjelaskan bahwa sosialisasi
diantara bertujuan sebagai berikut :
a. Sosialisasi merupakan sebuah proses panjang dari interaksi
sosial yang terus menerus. Sosialisasi yang dilakukan juga
sebagai wadah bagi individu untuk memperoleh identitas secara
fisik, mental dan kemampuan sosial yang dibutuhkan dalam
kehidupan bermasyarakat.
b. Sosialisasi
memungkinkan
seseorang
untuk
dapat
mengembangkan potensinya serta belajar cara berpikir,
berbicara dan bertindak sesuai yang dibutuhkan dalam
kehidupan sosial.
c. Sosialisasi merupakan kebutuhan individu untuk bertahan dan
berkembang.
Dalam
hal
ini,
banyak
orang
yang
mengedepankan kebutuhan materi dan sosial untuk memajukan
identitas pribadinya.
Proses sosialisasi dapat berjalan efektif bila dari individunya
sendiri dapat beradaptasi dan mau menerima keadaan lingkungannya
dengan baik.
2.2.25 Bentuk-Bentuk Sosialisasi
Menurut (Kun Maryati dan Juju Suryawati, 2006) dalam
bukunya yang berjudul “Sosiologi Untuk SMA dan MA Kelas X”
bahwa, sosialisasi dapat kita bagi dalam dua bentuk, yakni sosialisasi
primer dan sekunder. Light Keller, dan Callhoun mengemukkan bahwa
setelah seorang mendapatakan sosialisasi dini yang dinamakannya
sosialisasi primer (primer socialization), maka selanjutnya ia
mendapatkan sosialisasi sekunder (secondary socialization). Menurut
tahapannya sosialisasi dibedakan menjadi dua tahap yakni :
a) Sosialisasi Primer
Sosialisasi pada tahap awal kehidupan seseorang sebagai
manusia. Pada tahap sosialisasi ini terjadi dijalani individu
semasa kecil, dimana ia belajar menjadi anggota masyarakat
b) Sosialisasi Sekunder
Merupakan proses selanjutnya untuk memperkenalkan individu
ke dalam lingkungan di luar keluarganya, seperti sekolah,
lingkungan bermain, lingkungan kerja
Oleh karena itu sosialisasi primer merupakan bentuk dasar dari
sosialisasi sekunder, sosialisasi primer akan menjadi fondasi yang
paling penting bagi seorang individu untuk bisa melanjutkan proses
perkenalan dirinya dengan lingkungan diluar keluarga.
2.2.26 Syarat-Syarat Terjadinya Sosialisasi
Menurut (Soekantor, S., & Sukanto, S, 2007) dalam bukunya
yang berjudul Sosiologi: Suatu Pengantar mengungkapkan bahwa:
a) Adanya kontak Sosial
Kontak sosial dapat berlangsung dalam tiga bentuk, yaitu antarindividu, antar individu dengan kelompok dan antarkelompok.
Selain itu suatu kontak dapat pula bersifat langsung dan tidak
langsung.
b) Adanya Komunikasi
Yaitu seorang memberi arti penting pada perilaku orang lain
(seperti, pembicaraan, gerak-gerik badan atau sikap), perasaanperasaan apa yang ingin disampaikan oleh orang tersebut.
Orang yang bersangkutan kemudian memberi reaksi terhadap
perasaan yang ingin disampaikan orang tersebut.
2.2.27 Logo
Menurut (Jessica Dianda dan Rudyant Siswanto, 2015) logo
bukan merupakan satu-satunya lambang, melainkan salah satu bagian
dari identitas. Sebuah identitas dapat memiliki satu nilai yang baik
melalui pencipta dan perusahaan yang menggunakan. Logo adalah
pusat aplikasi visual, tetapi dalam membangun visual merek yang kuat
maka diperlukan juga elemen yang kuat sehingga dapat mendukung
identitas yang baik.
Sementara
dalam
jurnal
tentang
logo
yang
berjudul
Perencanangan Logo Dalam Dunia Design karya Monica dan Luzar
Christina (2013) logo diartikan sebagai perpaduan antara seni dan sains
yang menyampaikan sebuah janji sebagai wujud dari nilai dan emosi
perusahaan tersebut. Perusahaan berusaha untuk menjalin hubungan
langsung dengan pelanggan secara emosional untuk memenuhi
kebutuhan, loyalitas serta dukungan dari pelanggan secara terus
menerus.
Dari kedua definisi diatas yang menjelaskan tentang logo dapat
diambil kesimpulan bahwa logo bukan hanya sekedar lambang yang
ada pada brand atau perusahan tetapi logo melaikan sebagai identitas
yang mewakili brand atau perusahaan.
2.2.28 Alasan Perusahaan Melakukan Perubahan Identitas/Logo
Menurut (Jessica & Rudyant, 2015) ada beberapa alasan perusahaan
melakukan perubahan identitas yaitu:
1. Perusahaan Baru
Kelahiran perusahaan baru, anak perusahaan atau pembentukkan
perusahaan induk (group holding) memerlukan identitas visual yang
dapat menggambarkan visi-misi dan tujuan perusahaan ke depan.
2. Pemilik Baru
Merger dan akuisisi atau konsolidasi pada perusahaan, dalam hal ini
antara pemilik lama dan pemilik baru perusahaan menggabungkan
identitas
yang
lama
dengan
identitas
yang
baru
dengan
mengkombinasikan kedua identitas tersebut agar identitas terlihat lebih
segar tetapi tidak menghilangkan identitas yang lama.
3. Produk Baru
Banyaknya persaingan dalam mempertahankan keunggulan, hal ini
membuat
perusahaan
harus
terus
melakukan
inovasi
dengan
menciptakan produk – produk baru dengan berbagai kelebihan.
Perubahan besar yang sering dilakukan juga harus disertai dengan
identitas baru.
4. Program Baru
Sebuah perusahaan yang menggunakan teknologi baru sebagai metode
produksinya dalam mengelola industri, informasi dan komunikasi akan
melakukan perubahan mendasar pada cara kerja. Hal ini berpengaruh
pada proses bisnis yang belangsung dan hubungan dengan pelanggan,
oleh karena itu perubahan identitas menandakan adanya sistem yang
baru.
5. Pasar Baru
Dalam meraih keuntungan tentu saja suatu perusahaan harus
mengembangkan usaha mereka bukan hanya di lokal saja tetapi pada
skala international. Melakukan kerja sama dengan pihak asing atau
ekspanis global ke Negara lain, perlunya suatu perusahaan untuk
memiliki identitas yang baru guna meraih kepercayaan pasar agar
dapat diterima di Negara yang dituju dengan cara menyesuaikan diri
terhadap budaya dan karakter mereka
6. Predikat Baru
Perusahaan yang terus mengalami pertumbuhan menjadi perusahaan
kelas atas, maka perusahaan juga harus melakukan pergantian status.
Sebab dengan adanya identitas baru dapat mendukung perusahan untuk
memperoleh pengakuan publik terhadap statusnya
7. Peluang Baru
Perusahaan yang berumur panjang adalah perusahaan yang dirawat
dengan baik sehingga mampu beradaptasi. Perubahan yang terjadi
menghadirkan tantangan sekaligus peluang baru dalam bisnis.Salah
satunya melalui upaya rebranding yang dilakukan oleh setiap
perusahaan.
8. Pemimpin Baru
Pergantian pemimpin dalam perusahaan menajdi salah satu faktor
terjadinya perubahan pada perusahaan. Mulai dari segi manajemen dan
kebijakan pun semua diperbaharui agar dapat mencapai tujuan visi-
misi perusahaan. Selain itu juga dengan melakukan pembaharuan
merupakan salah satu cara terbaik untuk menghidupkan dan memberi
kesegaran pada perusahaan dan pasar.
2.2.29 Aplikasi Penggunaan Logo
Pada dasarnya logo dapat digunakan diberbagai media sesuai
dengan kebutuhan perusahaan. Berikut beberapa pengaplikasian logo
pada media (Jessica & Rudyant, 2015) :
1. Stationery
Logo biasa diletakkan pada kartu nama, amplop,kop surat,
map, notes dan alat tulis kantor lainnya.
2. Interior dan Eksterior
Logo diaplikasikan pada papa nama, system tanda, display,
dekorasi dan sebagainya.
3. Publikasi
Logo juga berguna sebagau publikasi yaitu dalam bentuk
company profile, buku panduan dan laporan tahunan.
4. Merchandiser
Logo ditempatkan pada mug, seragam, topi, payung, pin dan
sebagainya.
5. Digital
Logo juga biasanya diletakkan pada websiter perusahaan,
online banner, dan pada email.
6. Produk dan Kemasan.
7. Iklan dan Promosi.
8. Media kreatif lainnya.
2.2.30 Syarat Logo Yang Baik dan Menguntungkan
Dalam membuat logo selain harus mewaikili identitas suatu
perusahaan, logo juga harus dapat menguntungkan. Bebarapa syarat
logo yang baik dan menguntunkan (Jessica dan Rudyant, 2015) yaitu:
1. Mewaikili citra serta mencerminkan aktivitas dan fungsi yang
dilogokan.
2. Bersifat sederhana namun tetap dengan elemen semaksimal
mungkin, karena setiap mata manusia memiliki kemampuan
melihat elemen yang terbatas dan melihat elemen-elemen yang
tidak saling berhubungan
3. Harus orisinil (asli) tidak memiliki kesamaan dengan logo
lainnya atau logo yang sudah pernah ada.
4. Logo harus mengandung nilai artistik.
2.3
Kerangka Konseptual
PT JGC Indonesia
Rebranding Logo
Professionalitas
Komitmen
Tinggi
Loyalitas
Sosialisasi
Publik Internal Perusahaan
Gambar 2.1Kerangka Konseptual
Kekayaan
Pengetahuan
Download