Terhadap Penurunan Kadar Gula Darah Pada Tikus

advertisement
UJI EFEKTIVITAS EKSTRAK ETANOL DAUN SIDAGURI (Sida rhombifolia L.)
TERHADAP PENURUNAN KADAR GULA DARAH PADA TIKUS PUTIH JANTAN
GALUR Sprague Dawley
Indah Permatasari1, Moerfiah2 dan Ike Yulia Wiendarlina3
Program Studi Farmasi, FMIPA, Universitas Pakuan, Bogor.
2)
Program Studi Biologi, FMIPA, Universitas Pakuan, Bogor.
1,3)
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas dan mengetahui dosis yang paling efektif
ekstrak etanol daun sidaguri terhadap penurunan kadar gula darah pada tikus putih jantan galur
Sprague Dawley yang telah diinduksi aloksan. Hewan uji yang digunakan sejumlah 20 ekor tikus
putih jantan yang di bagi dalam 5 kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 4 ekor tikus. Kelompok
dosis I diberi ekstrak etanol daun sidaguri peroral dengan dosis 70 mg/200 g BB, kelompok dosis II
35 mg/200 g BB, kelompok dosis III 140 mg/200 g BB, kelompok kontrol positif diberi Metformin
dosis 12,6 mg/200 g BB dan kelompok kontrol negatif diberi larutan CMC (Carboxy Methyl Cellulose)
0,5 %. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak etanol daun sidaguri efektif
menurunkan kadar gula darah pada tikus. Dosis III dengan dosis 140 mg/200 g BB mempunyai
efektivitas paling baik terhadap penurunan kadar gula darah selama pengobatan 14 hari.
Kata Kunci: Diabetes Mellitus, Antidiabetes, Daun Sidaguri
ABSTRACT
The research was aimed to effectivenees test and determine the most effective dose of ethanol
extract sidaguri leaves decrease blood glucose level on white male rats of Sprague Dawley strain induced
Alloxan. Research was conducted in 20 rats male that were divided into 5 group. Each treatment group
consisted of 4 rats. Group I with a dose 70 mg/200 g BW, Group II with a dose 70 mg/200 g BW, group
III with a dose 140 mg/200 g BW, Positive control was given Metformin orally with a dose 12,6 mg/200 g
BW and negative control with Carboxy Methyl Cellulose 0,5 %. The result showed that ethanol extract
sidaguri leaves could used as antidiabetic. The most effectivitnees dose to decrease blood glucose level is
140 mg/200 g BW ethanol extract sidaguri leaves for 14 days.
Keyword: Diabetes Mellitus, Antidiabetic, Sidaguri Leaves
digunakan untuk mengobati penyakit degeneratif
seperti Diabetes Mellitus.
Diabetes Mellitus (DM) adalah suatu penyakit
gangguan metabolisme karbohidrat, yang ditandai
dengan kadar glukosa darah yang tinggi
(hiperglikemi) dan adanya glukosa dalam urin
(glukosuria). Penyebab Diabetes Mellitus adalah
kegagalan pankreas menghasilkan insulin, dalam
jangka panjang penyakit ini mengakibatkan risiko
gangguan lebih lanjut pada retina dan ginjal,
kerusakan saraf perifer dan mendorong terjadinya
penyakit aterosklerosis pada jantung, kaki dan
otak. Seseorang dikatakan menderita Diabetes
Mellitus secara klinis apabila terdapat gejala
banyak makan, banyak minum, sering kencing dan
berat badan turun, serta didapatkan hasil
pemeriksaan kadar glukosa darahnya saat tidak
puasa ≥ 200 mg/dL, kadar gula darah saat puasa
≥126 mg/dL (Soeryoko, 2011).
Tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai
obat tradisional untuk pengobatan Diabetes
Mellitus salah satunya adalah tanaman sidaguri,
banyak terdapat di pulau Jawa, tetapi belum banyak
dimanfaatkan sebagai obat herbal antidiabetes.
Komponen kimia dari tanaman ini yang telah
PENDAHULUAN
Penyakit degeneratif semakin meningkat
dengan pesat, sehingga menambah banyak metode
pengobatan yang ditawarkan kepada masyarakat.
Metode pengobatan modern yang ada sekarang ini
cenderung menimbulkan efek samping yang
berbahaya, karena bahan obatnya yang berasal dari
bahan kimia sintetik, serta dapat menimbulkan efek
resistensi terhadap tubuh jika pemakaian tidak
teratur, sehingga penggunaannya tidak efektif.
Akhir-akhir ini sebagian besar masyarakat lebih
memilih metode pengobatan tradisional, yang
dikenal juga dengan istilah “Back to Nature” untuk
mengobati berbagai penyakit.
Pengobatan dengan menggunakan tanaman
obat telah ada dan dikenal oleh masyarakat
Indonesia sejak dahulu, banyak tanaman obat yang
sudah dilaporkan mempunyai efek terapi untuk
beberapa penyakit. Pengetahuan tentang khasiat
dan keamanan obat alami ini kebanyakan hanya
bersifat empiris dan belum diuji secara ilmiah, oleh
sebab itu perlu penelitian tentang obat tradisional,
untuk mengetahui keseluruhan efek khasiat yang
terkandung dalam tanaman obat tersebut, terutama
untuk tanaman atau bagian tanaman yang
1
dilaporkan adalah
flavonoid, quinon, tanin,
alkaloid, saponin, terpenoid dan steroid (Annisaa,
2008), kandungan-kandungan tersebut diduga
berpotensi menurunkan kadar gula darah.
Hasil penelitian sebelumnya diketahui bahwa
ekstrak daun sidaguri memiliki aktivitas
hipourisemia pada mencit jantan (Yettrie dkk,
2012). Beberapa penelitian lain juga melaporkan
bahwa ekstrak etanol daun sidaguri menghambat
aktivitas xantin oksidase sehingga dapat
menurunkan kadar asam urat (Siti, 2012) dan
menghambat pertumbuhan bakteri Klebsiella
pneumonia (Agasta dan Sri, 2012). Penelitian
khasiat daun sidaguri sebagai obat asam urat sudah
dilakukan oleh beberapa peneliti, sementara
khasiatnya sebagai penurun gula darah belum
banyak diteliti hanya dilakukan secara empiris oleh
masyarakat. Daun sidaguri diharapkan dapat
menjadi obat alternatif untuk menurunkan kadar
gula darah.
Analisis Karakteristik Serbuk Simplisia dan
Ekstrak Kental
a. Penetapan Kadar Air
Penetapan kadar air serbuk simplisia
dilakukan dengan menggunakan alat moisture
balance, yaitu dengan cara menyalakan tombol
on/off terlebih dahulu, kemudian pinggan diletakan
di tengah dan penahan punch diatasnya, atur
program akurasi dan temperatur sesuai dengan
simplisia yang akan diuji lalu ditara. Ditimbang
simplisia sebanyak 5 gram (akurasi sedang),
disimpan di atas punch dengan jumlah serbuk yang
telah disesuaikan, diratakan sampai menutupi
permukaan punch lalu ditutup, setelah proses
selesei persen kadar air dari simplisia akan tertera
secara otomatis pada moisture balance.
Penetapan kadar air ekstrak kental dilakukan
menggunakan metode gravimetri, dengan cara
ditimbang ekstrak kental sebanyak 2 gram
kemudian dimasukkan kedalam cawan porselen
yang sebelumnya telah ditara terlebih dahulu, lalu
dimasukkan kedalam oven dengan suhu 105ºC
selama 24 jam.
b. Penetapan Kadar Abu
Penetapan kadar abu dilakukan dengan cara
menimbang masing-masing
sampel serbuk
simplisia dan ekstrak kental sebanyak 2-3 gram,
lalu dimasukkan ke dalam krus kosong yang
sebelumnya telah dipijarkan dan ditara, kemudian
dimasukkan ke dalam tanur sampai menjadi abu,
setelah itu ditunggu sampai dingin di dalam alat
desikator, lalu ditimbang hingga beratnya konstan
(DepKes, 1995).
Analisis Fitokimia
Uji Alkaloid
Sebanyak 500 mg serbuk simplisia dan
ekstrak kental masing-masing ditimbang, kemudian
ditambahkan 1 ml asam klorida 2 N dan 9 ml air,
dipanaskan diatas penangas air selama 2 menit lalu
didinginkan dan disaring, selanjutnya filtrat
digunakan sebagai larutan percobaan yang akan
digunakan dalam pengujian berikut :
a. Filtrat pada kaca arloji, ditambahkan 2
tetes Bouchardat LP. Hasil positif
ditujukan dengan adanya endapan coklat
sampai hitam.
b. Filtrat pada kaca arloji, ditambahkan 2
tetes Mayer LP. Hasil positif ditujukan
dengan adanya endapan putih atau kuning
yang larut dalam methanol P.
c. Filtrat pada kaca arloji, ditambahkan 2
tetes Dragendorff LP. Hasil positif
ditujukan dengan adanya endapan jingga
coklat (DepKes, 1995).
Uji Flavonoid
Sebanyak 500 mg serbuk simplisia dan
ekstrak kental masing-masing ditimbang, kemudian
dilarutkan dalam 5 ml etanol 95 %, diambil 2 ml
larutan dan ditambahkan 0,1 g serbuk magnesium,
kemudian ditambahkan 10 tetes asam klorida pekat,
METODE PENELITIAN
Pengumpulan Bahan
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini
adalah daun segar sidaguri, yang didapat dari Balai
Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik
(BALITTRO), Cimanggu, Bogor.
Pembuatan Serbuk Simplisia Daun Sidaguri
Daun segar sidaguri sebanyak 8 kg dicuci
dengan air mengalir sampai bersih, setelah itu
dikeringkan menggunakan oven pada suhu 40-60°
C selama 1 hari. Daun yang telah kering berwarna
hijau kecoklatan dan mudah rapuh, lalu dihaluskan
menggunakan grinder sehingga menjadi serbuk.
Serbuk diayak dengan pengayak mesh 30,
selanjutnya serbuk ditimbang dan ditempatkan
pada wadah tertutup rapat. Rendemen serbuk
simplisia total dihitung dengan membagi berat
serbuk simplisia yang dihasilkan dengan berat awal
daun segar.
Pembuatan Ekstrak Etanol Daun Sidaguri
Sebanyak 2000 g serbuk daun sidaguri
dimaserasi dengan pelarut etanol 70% sebanyak 20
L. Maserasi dilakukan 4x dengan masing-masing
500 g serbuk daun sidaguri dan 5 L etanol 70 %,
kemudian dimaserasi selama 3x24 jam dalam botol
kaca coklat. Botol diaduk setiap 6 jam sekali
selama 15 menit, setelah direndam 24 jam,
kemudian disaring dengan kain batis. Filtrat
disimpan dalam botol kaca coklat yang lain,
sedangkan residunya dimaserasi kembali dengan
pelarut etanol 70 %, setelah selesai dimaserasi
disaring dengan kain batis. Residu ditambahkan
kembali dengan sisa pelarut, lalu disaring kembali
dengan kain batis. Filtrat digabungkan, lalu
dienaptuangkan. Ekstrak lalu diuapkan pelarutnya
menggunakan vacuum dry agar diperoleh ekstrak
kental. Rendemen ekstrak total dihitung dengan
membagi berat ekstrak kental yang dihasilkan
dengan berat serbuk.
2
dikocok perlahan. Warna merah jingga hingga
merah ungu yang terbentuk menunjukkan positif
adanya flavonoid (DepKes, 1995).
Uji Saponin
Sebanyak 500 mg serbuk simplisia dan
ekstrak kental masing-masing ditimbang, kemudian
dimasukkan kedalam tabung reaksi, ditambahkan
10 ml air suling panas, didinginkan dan kemudian
dikocok kuat-kuat selama 10 detik. Hasil positif
ditandai dengan terbentuknya buih yang mantap
selama tidak kurang dari 10 menit, setinggi 1 cm
sampai 10 cm. Pada penambahan 1 tetes asam
klorida 2 N buih tidak hilang (DepKes, 1995).
Uji Tanin
Sebanyak 200 mg serbuk simplisia dan ekstrak
kental masing-masing ditimbang, kemudian
dilarutkan dalam 5 ml air panas dan diaduk, setelah
dingin disentrifugasi dan bagian cair didekantisir,
diberi larutan NaCl 10 % kemudian saring. 1 ml
ditambahkan 3 ml larutan gelatin 10 %,
diperhatikan adanya endapan.
Sebanyak 1 gram serbuk simplisia dan ekstrak
kental masing-masing ditimbang, kemudian
ditambahkan 100 ml air, dididihkan selama 5
menit, disaring 10 ml filtrat ditambahkan FeCl3 1
%, jika terbentuk warna hitam kehijauan atau biru
menunjukkan adanya tanin (Fransworth, 1966).
Pemeliharaan Hewan Coba
Hewan coba yang digunakan pada penelitian
ini adalah tikus putih jantan galur Sprague Dawley
berumur 3-4 bulan dengan bobot sekitar 200-250 g.
Sebanyak 20 ekor tikus dibagi menjadi 5 kelompok
perlakuan, masing-masing kelompok terdiri dari 4
ekor. Selama penelitian semua kelompok tikus
diberi pakan pellet BR-21E dan minum secara ad
libitum.
Pengukuran Kadar Gula Darah
Pengujian antidiabetes dilakukan pada tikus
dengan cara mengukur kadar gula darah
menggunakan alat Easy Touch®, dengan
mengambil darah tikus dari ekornya. Darah
diteteskan pada strips yang selanjutnya dipasang
pada alat Easy Touch® untuk dilihat kadar glukosa
darahnya. Pengamatan kadar glukosa darah
dilakukan setelah aklimatisasi selama 7 hari, pada
hari ke 0 pengukuran kadar gula darah normal
sebelum induksi, hari ke-3 pengukuran kadar gula
darah setelah induksi, hari ke-7 dan hari ke-14
setelah pemberian perlakuan. Kadar glukosa darah
dinyatakan dalam mg/dL.
Analisis Data
Data-data yang diperoleh dianalisa dengan
analisis sidik ragam untuk rancangan acak lengkap
(RAL) pola faktorial dengan menggunakan
program SPSS.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil Determinasi Tanaman
Hasil determinasi yang dilaksanakan di
Herbarium Bogoriense, LIPI-Bogor, dinyatakan
bahwa sampel yang digunakan dalam penelitian ini
adalah tanaman sidaguri yang termasuk ke dalam
keluarga Malvaceae, genus Sida dan jenis Sida
rhombifolia L.
Hasil Pembuatan Serbuk Daun Sidaguri
Serbuk daun sidaguri dibuat dengan
menggunakan daun segar sidaguri yang telah dicuci
bersih dengan air mengalir, hal ini dilakukan untuk
menghilangkan kotoran atau bahan organik asing
yang terdapat dalam tanaman seperti tanah, debu,
batu dan lain-lain. Proses pembuatan serbuk
simplisia dilanjutkan dengan pengeringan yang
bertujuan untuk mengurangi kadar air yang terdapat
pada simplisia (DepKes, 1985), tahap terakhir
pembuatan serbuk simplisia yaitu penghalusan,
dalam pembuatan serbuk simplisia derajat halus
mempengaruhi pada saat proses ekstraksi. Menurut
Heinrich (2009) partikel besar akan sulit
diekstraksi, sedangkan partikel kecil memiliki luas
permukaan yang lebih besar sehingga dapat
diekstraksi secara lebih efisien.
Serbuk simplisia disimpan pada wadah yang
tertutup rapat yang dilengkapi dengan silika gel
sehingga
dapat
menghambat
pertumbuhan
mikroorganisme. Hasil serbuk simplisia yang
diperoleh yaitu sebanyak 2,170 kg.. Rendemen
serbuk simplisia daun sidaguri diperoleh sebesar
27,12 %.
Pengujian Ekstrak Etanol Daun Sidaguri
Induksi Aloksan
Tikus diinduksi Aloksan dengan dosis 150
mg/kg BB. Volume dosis yang telah dihitung
diinduksi secara intraperitoneal (i.p), setelah 3 hari
pemberian Aloksan, kadar gula darah tikus
diperiksa.
Pemberian Ekstrak Etanol Daun Sidaguri
Tabel 1. Uji Pemberian Perlakuan
Kelompok
Perlakuan
Dosis I Ekstrak etanol daun
I
sidaguri 70 mg/200 g BB
Dosis II Ekstrak etanol daun
II
sidaguri 35 mg/200 g BB
Dosis III Ekstrak etanol daun
III
sidaguri 140 mg/200 g BB
Kontrol positif yang diberi
IV
Metformin 12,6 mg/200 g BB
Kontrol negatif yang diberi
V
larutan CMC 0,5 %
Ekstrak etanol daun sidaguri dilarutkan dalam
larutan CMC (Carboxy Methyl Cellulose) 0,5 %.
Hasil Pembuatan Ekstrak Etanol Daun Sidaguri
Ekstrak etanol daun sidaguri dibuat dengan
cara maserasi yang merupakan penyarian
sederhana, keuntungan utama cara ini yaitu metode
ekstraksi yang mudah karena ekstrak tidak
3
dipanaskan sehingga kemungkinan kecil bahan
alam menjadi terurai (Heinrich, 2009). Penggunaan
pelarut etanol pada proses maserasi diharapkan
mampu menarik zat-zat yang terdapat dalam daun
sidaguri yang berpotensi menurunkan kadar gula
darah. Menurut Harborne (1987) senyawa
flavonoid tanpa gula terikat (aglikon) cenderung
lebih mudah larut dalam pelarut semi polar sampai
non polar seperti etanol.
Filtrat digabungkan, lalu dienaptuangkan
dengan tujuan memisahkan endapan yang terdapat
dalam filtrat. Ekstrak cair dipekatkan menggunakan
vacuum dry agar diperoleh ekstrak kental. Ekstrak
etanol daun sidaguri yang diperoleh sebanyak
483,3 g. Besarnya rendemen ekstrak menunjukkan
banyaknya jumlah komponen senyawa aktif yang
terekstrak selama proses ekstraksi. Rendemen yang
diperoleh dari ekstrak etanol daun sidaguri adalah
24,17 %, hasil tersebut memenuhi syarat rendemen
ekstrak etanol daun sidaguri yang terdapat dalam
literatur yaitu tidak kurang dari 14,3 % (KemenKes
RI, 2011).
b. Hasil Penetapan Kadar Abu
Prisnsip penetapan kadar abu yaitu bahan
dipanaskan pada temperatur dimana senyawa
organik dan turunannya terdekstruksi kemudian
menguap, sehingga tinggal unsur mineral dan
anorganik. Penentuan kadar abu berguna untuk
memberikan gambaran kandungan mineral internal
dan eksternal yang berasal dari proses awal sampai
terbentuknya ekstrak (DepKes, 2000). Penetapan
kadar abu dilakukan duplo, hasil rata-rata
penetapan kadar abu serbuk simplisia daun sidaguri
yaitu 5,08 %, hasil tersebut memenuhi syarat
karena syarat kadar abu serbuk simplisia daun
sidaguri kurang dari 8 % (DepKes RI, 1995).
Hasil rata-rata penetapan kadar abu ekstrak
etanol daun sidaguri yaitu 3,31 %, hasil tersebut
memenuhi syarat kadar abu ekstrak etanol sidaguri
yaitu tidak boleh lebih dari 5,9 % (KemenKes RI,
2011).
Hasil Analisis Fitokimia
Uji fitokimia dilakukan untuk mengetahui
golongan senyawa yang terkandung dalam suatu
tanaman. Dalam penelitian ini uji fitokimia
dilakukan pada serbuk simplisia dan ekstrak etanol
daun sidaguri. Senyawa-senyawa yang diuji
meliputi alkaloid, flavonoid, saponin dan tanin.
Hasil Analisis fitokimia dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Hasil Analisis Fitokimia
Hasil Analisis
Golongan
Hasil
Senyawa
Serbuk
Ekstrak
Alkaloid
-Bouchardat
Endapan
+
+
LP
coklat
-Mayer LP
Endapan
+
+
putih
-Dragendorff Endapan
+
+
LP
jingga
Flavonoid
Warna
+
+
jingga
Saponin
Timbul
+
+
buih
Tanin
-Larutan
Endapan
+
+
gelatin
putih
-Larutan
Warna
+
+
FeCl3
hitam
kehijauan
Alkaloid merupakan golongan terbesar dari
senyawa hasil metabolit sekunder pada tanaman.
Pada analisis fitokimia golongan alkaloid
digunakan tiga pereaksi yaitu Bouchardat LP,
Mayer LP dan Dragendorff LP. Hasil uji alkaloid
pada penambahan Bouchardat LP menunjukkan
hasil positif yang ditandai dengan terbentuknya
endapan coklat. Pada penambahan Mayer LP
menghasilkan reaksi positif yaitu terbentuk
endapan putih kalium-alkaloid. Hasil uji alkaloid
dengan penambahan Dragendorff LP menunjukkan
reaksi positif yang ditandai dengan adanya endapan
Hasil Analisis Karakteristik Serbuk dan
Ekstrak Kental
Senyawa kimia yang bertanggung jawab
terhadap respon biologis harus mempunyai
spesifikasi kimia, yaitu komposisi zat berkhasiat
termasuk jenis dan kadar masing-masing, berkaitan
dengan hal tersebut maka penetapan karakterisasi
suatu simplisia perlu dilakukan guna menjamin
mutunya (DepKes, 1989).
Tabel 2. Hasil Analisis Karakteristik Serbuk
dan Ekstrak Kental
Kadar Air
Kadar Abu
Ulangan
Serbuk Ekstrak Serbuk Ekstrak
1
3,52 %
8,08 %
5,05 %
3,27 %
2
3,50 %
8,55 %
5,12 %
3,36 %
Rata2
3,51 %
8,31 %
5,08 %
3,31 %
a. Hasil Penetapan Kadar Air
Penetapan kadar air adalah pengukuran
kandungan air yang berada didalam bahan
dilakukan dengan cara yang tepat, penentuan kadar
air berguna untuk memberikan batasan minimal
atau rentang tentang besarnya kandungan air
didalam bahan (DepKes, 2000). Penetapan kadar
air dilakukan duplo, hasil rata-rata penetapan kadar
air serbuk simplisia daun sidaguri yaitu 3,51 %,
hasil tersebut memenuhi syarat karena apabila tidak
dinyatakan lain, kadar air simplisia tidak boleh
lebih dari 10 % (DepKes, 1995). Hasil rata-rata
penetapan kadar air ekstrak etanol daun sidaguri
yaitu 8,31 %, hasil tersebut memenuhi syarat
karena syarat kadar air ekstrak etanol daun sidaguri
yaitu tidak lebih dari 17,5 % (KemenKes RI, 2011).
4
jingga, hal ini disebabkan karena kandungan yang
terdapat dalam Dragendorff LP yaitu bismuth nitrat
yang ditambahkan dilarutkan dalam HCl agar tidak
terjadi reaksi hidrolisis. (Harborne, 1987).
Pada pengujian flavonoid menunjukkan hasil
positif terbentuk warna jingga, hal ini terjadi karena
reduksi flavonoid dengan Mg menghasilkan
senyawa kompleks yang berwarna merah atau
jingga. Pada pengujian saponin menunjukkan hasil
positif dimana terdapat buih setelah pengocokan.
Pengujian tanin hasil positif ditandai dengan
adanya endapan putih bila ditambahkan dengan
gelatin dan warna hijau kehitaman bila
ditambahkan FeCl3, hal ini membuktikan bahwa
sampel mengandung senyawa tanin karena tanin
merupakan senyawa polifenol.
Struktur aloksan yang mirip dengan glukosa
menyebabkan aloksan memasuki sel tersebut
dengan cara yang sama seperti glukosa memasuki
sel-β pankreas.
Rata-rata kadar gula darah tikus sebelum
diinduksi aloksan adalah 113,05±9,73, setelah
dilakukan induksi kadar gula darah tikus meningkat
menjadi 331,35±10,94.
Hasil Perlakuan Ekstrak terhadap Penurunan
Kadar Gula Darah
Perlakuan
dilakukan
terhadap
tikus
hiperglikemik dengan kadar gula darah ≥200
mg/dL setelah diinduksi. Kelompok perlakuan tikus
terdiri atas: Ekstrak etanol daun sidaguri dosis I
(dosis awal) yaitu 70 mg/200 g BB, Ekstrak etanol
daun sidaguri dosis II (½ dosis awal) yaitu 35
mg/200 g BB, Ekstrak etanol daun sidaguri dosis
III (2x dosis awal) yaitu 140 mg/200 g BB, Kontrol
positif dengan Metformin 12,6 mg/200 g BB dan
Kontrol negatif dengan Larutan CMC 0,5 %.
Pemberian ekstrak dilakukan secara oral
setiap hari selama 14 hari dan kadar gula darah
diukur pada hari ke-7 dan hari ke-14 setelah
perlakuan.
Pengukuran
dilakukan
dengan
menggunakan alat Easy Touch®, parameter yang
diukur adalah kadar gula darah tikus setelah
pemberian ekstrak etanol daun sidaguri. Data yang
diperoleh kemudian dilakukan uji statistik
menggunakan Rancangan Acak Lengkap Pola
Faktorial dan dilanjutkan dengan uji Duncan untuk
melihat perbedaan antar perlakuan.
Peningkatan Kadar Gula Darah Tikus Setelah
Induksi Aloksan
Pada penelitian ini digunakan tikus putih
jantan (Rattus norvegicus L.) galur Sprague
Dawley umur 3-4 bulan, dengan berat badan 200250 g. Tikus diinduksi aloksan secara
intraperitoneal dengan dosis yang diberikan 150
mg/kg BB. Pengecekan kadar gula darah dilakukan
sebelum induksi untuk mengetahui kadar gula
darah normal, keadaan tikus hiperglikemik dicapai
pada hari ke-3 setelah diinduksi. Keadaan fisiologis
tikus yang berbeda mempengaruhi kenaikan kadar
gula darah, sehingga kadar gula darah setiap tikus
tidak sama rata namun tetap dalam keadaan
hiperglikemia. Grafik rata-rata peningkatan kadar
gula darah setelah induksi dapat dilihat pada
Gambar 3.
Gambar 1. Grafik Rata-rata Hasil Pengukuran
Kadar Gula Darah Tikus Sebelum dan Setelah
Induksi dengan Aloksan
Gambar 2. Histogram Rata-rata Kadar Gula Darah
Tikus Selama Perlakuan
Tabel 4. Persentase Rata-rata Peningkatan
Kadar Gula Darah Setelah Induksi (%)
Berdasarkan Histogram rata-rata pada Gambar
2, menunjukkan waktu pemberian ekstrak
berpengaruh terhadap penurunan kadar gula darah
pada tikus. Pengukuran kadar gula darah tikus pada
hari ke-7 sudah menunjukan adanya penurunan
pada setiap kelompok perlakuan. Pada kelompok
kontrol positif Metformin mulai menunjukkan
penurunan kadar gula darah yang signifikan pada
hari ke-7. Menurut Soeryoko (2011) kadar gula
darah normal yaitu ≤150 mg/dL, pada hari ke-14
kadar gula darah tikus yang diberi Metformin
mencapai kadar gula darah normal, hal ini
Kelompok
Hari
Hari
Persentase
Perlakuan
ke-0
ke-3
Peningkatan
Dosis 1
129,75
335,25
158,38
Dosis 2
113,25
316,5
179,47
Dosis 3
107,75
342,25
217,63
Kontrol +
108,75
339,25
211,95
Kontrol 105,75
323,5
205,91
Rata-rata
113,05
331,35
193,10
Aloksan memiliki sifat sebagai diabetonik
karena aloksan merupakan molekul radikal bebas
yang merusak sel-sel β-pankreas secara selektif.
5
disebabkan oleh mekanisme kerja Metformin yaitu
perlambatan absorpsi glukosa dari saluran cerna
dengan meningkatkan ambilan glukosa sehingga
kadar gula darah menurun (Katzung, 2010),
sedangkan pada kelompok kontrol negatif
memberikan pengaruh yang tidak signifikan
terhadap penurunan kadar gula darah tikus karena
hanya diberikan Larutan CMC 0,5 %. Penurunan
kadar gula darah yang terjadi pada kontrol negatif
disebabkan oleh faktor fisiologis dari masingmasing tikus yang baik.
Pada perlakuan ekstrak etanol daun sidaguri
dosis 1, dosis 2 dan dosis 3 mengalami penurunan
kadar gula darah pada hari ke-7, tetapi kadar gula
darah setiap perlakuan dosis masih tergolong
tinggi. Pada pengukuran gula darah yang lebih
signifikan terjadi pada hari ke-14, namun kadar
gula darah tikus dengan perlakuan ekstrak secara
signifikan masih lebih besar dari kontrol positif.
Penurunan kadar gula darah yang terjadi pada
pemberian ekstrak etanol daun sidaguri disebabkan
oleh kandungan-kandungan senyawa yang terdapat
dalam ekstrak tersebut.
Kandungan-kandungan
senyawa
yang
terdapat dalam ekstrak etanol daun sidaguri yang
diduga berpotensi menurunkan kadar gula darah
adalah alkaloid, flavonoid dan saponin. Flavonoid
mempunyai sifat sebagai antioksidan sehingga
dapat melindungi kerusakan sel-sel pankreas dari
radikal bebas. Daun sidaguri mengandung
flavonoid total tidak kurang dari 0,72 % yang
dihitung sebagai kuarsetin (KemenKes RI 2011).
Alkaloid dapat menurunkan glukosa darah dengan
cara menghambat absorbsi glukosa di usus.
Saponin bekerja dengan cara menurunkan absorbsi
glukosa di usus, menghambat transporter glukosa
dan
meningkatkan pemanfaatan glukosa di
jaringan perifer dan penyimpanan glikogen
(Whorter, 2001).
Tabel 5. Rata-rata Kadar Gula Darah Tikus
Selama Perlakuan
Hari
Hari
Hari
Perlakuan
Rata2
ke-0
ke-7
ke-14
Dosis 1
335,25 228,25 161,25 241,58b
Dosis 2
316,5
246,25 185,75 249,50b
Dosis 3
342,25 209,25 153,75 235,08b
Kontrol +
339,25 155,5
94,75
196,50c
Kontrol 323,5
320
317,75 320,42a
a
b
Rata-rata
331,35 231,85 182,65c
Keterangan: Angka yang diikuti oleh huruf
superskrip yang berbeda ke arah kolom ataupun
baris menunjukkan berbeda sangat nyata. (P<0,01).
Hasil uji lanjut Duncan dilihat dari pemberian
dosis yaitu menunjukkan bahwa perlakuan kontrol
positif (+) dengan kontrol negatif (-) berbeda
sangat nyata. Pemberian dosis 1, dosis 2, dosis 3
tidak berbeda sangat nyata, tetapi bila
dibandingkan dengan kontrol positif (+) dan
kontrol negatif (-) hasilnya berbeda sangat nyata.
Berdasarkan hasil uji Duncan dilihat dari lamanya
waktu pemberian, dinyatakan bahwa lama
perlakuan pada hari ke-0, hari ke-7 dan hari ke-14
berbeda sangat nyata terhadap penurunan kadar
gula darah tikus. Penurunan persentase kadar gula
darah setelah perlakuan dilihat dari hari ke-7
sampai hari ke-14, data dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Persentase Rata-rata Penurunan Kadar
Gula Darah Setelah Pemberian Ekstrak Etanol
Daun Sidaguri (Perlakuan)
Persentase Penurunan (%)
Kelompok
Perlakuan
Hari ke-7
Hari ke-14
Dosis 1
-31,92
-51,90
Dosis 2
-22,20
-41,31
Dosis 3
-38,86
-55,08
Kontrol +
-54,16
-72,07
Kontrol -1,08
-1,78
Keterangan : (-) penurunan
Penurunan kadar gula darah tikus pada
pengukuran hari ke-7 dan hari ke-14, dapat dilihat
pada dosis 1 (70 mg/200g BB), dosis 2 (35
mg/200g BB) dan dosis 3 (140 mg/200g BB)
penurunan paling tinggi adalah pada dosis 3 (140
mg/200g BB). Data diatas menunjukkan bahwa
ekstrak etanol daun sidaguri mempunyai efektivitas
terhadap penurunan kadar gula darah, hal ini dilihat
dari penurunan kadar gula darah antar kelompok
perlakuan dosis ekstrak yang menunjukan adanya
potensi penurunan gula darah.
Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat
dinyatakan bahwa pemberian ekstrak etanol daun
sidaguri pada semua dosis efektif menurunkan
kadar gula darah selama pengobatan 14 hari. Dosis
3 dengan dosis 140 mg/200 g BB mempunyai
efektivitas paling baik terhadap penurunan kadar
gula darah, tetapi belum mendekati kontrol positif.
Pengaruh Perlakuan terhadap Berat Badan
Tikus Putih Jantan
Berat badan tikus menunjukkan adanya
perubahan selama perlakuan.
Tabel 7. Persentase Rata-rata Pengaruh
Perlakuan terhadap Berat Badan Tikus
Perlakuan
Berdasarkan data rata-rata kadar gula darah
tikus selama perlakuan yang tertera pada Tabel 5,
menunjukkan bahwa hasil uji statistik pemberian
dosis
dan
lamanya
waktu
pemberian
mempengaruhi penurunan kadar gula darah tikus,
serta adanya interaksi sangat nyata antara dosis
pemberian dengan lamanya waktu perlakuan.
Dosis 1
Dosis 2
Dosis 3
Kontrol +
Kontrol -
6
Berat Badan Tikus (g)
Sesudah
Normal
Perlakuan
229,5
212,25
245,25
234,25
239,75
222,5
242
217,5
243,5
227
Persentase
(%)
-7,52
-4,48
-7,19
-10,12
-6,78
terhadap Staphylococcus aureus. FKIP
Universitas
Negeri
Semarang.
http://jurnal.fkip.uns.ac.id/index.php/prosb
io/article/view/1173. Diakses Sabtu, 13
Desember 2014 Pukul 16.29 WIB.
Annisaa, S. 2008. Induksi Pembentukan Senyawa
Sekunder Tanaman Sidaguri (Sida
rhombifolia L.) melalui Perlakuan
Cekaman Air. Bogor: Departemen Biologi
FMIPA IPB.
Gambar 3. Histogram Rata-rata Hasil Penimbangan
Berat Tikus Sebelum dan Setelah Perlakuan
Penurunan berat badan tikus dapat dilihat
pada Tabel 7, pada kelompok kontrol positif
memiliki persentase penurunan berat badan yang
paling tinggi, yaitu sebesar 10,12 %, hal ini
disebabkan oleh mekanisme kerja Metformin yaitu
meningkatkan ambilan glukosa dan menekan nafsu
makan sehingga berpengaruh terhadap penurunan
berat badan tikus.
Berdasarkan Histogram pada Gambar 3, dapat
dilihat perubahan berat badan tikus selama
perlakuan. Berat badan tikus mengalami penurunan
selama perlakuan 14 hari. Faktor fisiologis tikus
mempengaruhi perubahan berat badan yang
bervariasi selama perlakuan, sehingga penurunan
berat badan setiap tikus tidak relatif sama.
Penurunan berat badan ini disebabkan oleh tikus
hiperglikemi mengalami
kerusakan pankreas
sehingga asupan glukosa sebagai sumber energi
utama menjadi terganggu. Tubuh mengatasi
masalah tersebut menggunakan cadangan energi
lain yang berasal dari lemak dan protein, bila hal
ini terjadi secara terus menerus maka tubuh akan
mengalami penurunan berat badan.
DepKes RI. 1985. Cara Pembuatan Simplisia.
Jakarta: Departemen Kesehatan Republik
Indonesia.
_________. 1989. Materia Medika Indonesia. Jilid
V.
Jakarta:
Direktorat
Jenderal
Pengawasan Obat dan Makanan.
_________. 1995. Materia Medika Indonesia. Jilid
VI.
Jakarta:
Direktorat
Jenderal
Pengawasan Obat dan Makanan.
_________. 2000. Parameter Standar Umum
Ekstrak
Tumbuhan
Obat.
Jakarta:
Direktorat Jenderal Pengawasan Obat Dan
Makanan.
Fransworth,
N.R.
1966.
Biological
and
phytochemical screening of plants.
Journal of Pharmaceutical science. 55
(3).
http://www.researchgate.net/publication/
227978906_Biological_and_phytochemi
cal_screening_of_plants. Diakses Jum’at
12 Desember 2014 Pukul 13.35 WIB.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan
dapat disimpulkan bahwa :
1. Ekstrak etanol daun sidaguri (Sida
rhombifolia L.) efektif dapat menurunkan
kadar gula darah tikus putih jantan galur
Sprague Dawley.
2. Dosis 3 dengan dosis 140 mg/200 g BB
mempunyai efektivitas paling baik
terhadap penurunan kadar gula darah
selama pengobatan 14 hari, tetapi belum
mendekati kontrol positif.
Saran
Perlu dilakukan penambahan pengukuran
waktu pengobatan pada masing-masing dosis,
untuk mengetahui penurunan kadar gula darah yang
lebih signifikan dengan kontrol positif.
Harborne, J. B. 1987. Metode Fitokimia: Penuntun
dan
Cara
Modern
Menganalisa
Tumbuhan,
Diterjemahkan:
Padmawinata, K., dan Soediro, I. Edisi
III. Bandung: Institut Teknologi
Bandung.
Heinrich, M. 2009. Farmakognosi dan Fitoterapi.
Penerjemah Winny R. Syarief. Jakarta:
Buku Kedokteran EGC. Halaman 117119.
Katzung, B.G. 2010. Farmakologi Dasar dan
Klinik. Penerjemah: Aryandhito W.N.
Edisi 10. Jakarta: Buku Kedokteran
EGC. Halaman 704-705, 718.
KemenKes RI, 2011. Suplemen II Farmakope
Herbal Indonesia. Jakarta: Kementrian
Kesehatan Republik Indonesia. Halaman
81, 85.
DAFTAR PUSTAKA
Agasta, R.S dan M. Sri. 2012. Ekstrak Metanol dan
Etanol Daun Sidaguri (Sida rhombifolia
L.) Menghambat Pertumbuhan Bakteri
Klebsiella pneumonia
tetapi tidak
7
Siti, M.L. 2012. Uji Penghambatan Ekstrak Daun
Sidaguri (Sida rhombifolia L.) terhadap
Aktivitas Xantin Oksidase dan Identifikasi
Golongan Senyawa pada Fraksi yang
Aktif. (Skripsi). Depok: FMIPA Farmasi
Universitas Indonesia.
in
Diabetes.
http://spectrum.diabetesjoumals.
org/cgi/content/full/l 4/4/199. Diakses
Selasa, 10 Maret 2015 Pukul 14.36 WIB.
Wulandari, C. 2014. Efektivitas Sediaan Granul
Instan Kombinasi Ekstrak Daun Salam
(Syzygium polyantum Wight.) dan Ekstrak
Buah
Mahkota
Dewa
[Paleria
macrocarpa (Scheff.) Boerl.] sebagai
Antidiabetes pada Tikus Putih Jantan
(Sprague Dawley). (Skripsi). Bogor :
Farmasi FMIPA UNPAK.
Soeryoko, H. 2011. 25 Tanaman Obat Ampuh
Penakluk Diabetes Mellitus. Yogyakarta:
C.V Andi Offset. Halaman 17.
Suharmiati.
2003.
Pengujian
Bioaktivitas
Antidiabetes Mellitus Tumbuhan Obat.
Surabaya:
Balai
Penelitian
dan
Pengembangan Kesehatan Pusat Penelitian
dan Pengembangan Pelayanan dan
Teknologi Kesehatan DepKes RI.
Yettrie, B.C., S. Awaluddin ., B. Saiful. 2012. Efek
Hipourikemia Ekstrak Daun Sidaguri
(Sida rhombifolia L.) pada Mencit Jantan.
Journal
of
Pharmaceutics
and
Pharmacology Vol. 1 (1): hal 21-28.
http://jurnal.usu.ac.id/index.php/jpp/article
/view/1962
Diakses Sabtu, 13 Desember 2014 Pukul
16.15 WIB.
Szkudelski, T. 2001. The Mechanism Of Alloxan
And Streptozotocin Action In β Cells Of
The Rat Pancreas, Physiology Research,
50: 536-54.
Whorter, Mc L.S. 2001. Biological Complementary
Therapies: A Focus on Botanical Products
8
Download