KESEHATAN, KESEJAHTERAAN SOSIAL,
DAN PERANAN WANITA
BAB XVIII
KESEHATAN, KESEJAHTERAAN SOSIAL, DAN
PERANAN WANITA
A. PENDAHULUAN
Pembangunan nasional adalah pembangunan manusia se utuhnya dan pembangunan seluruh masyarakat In do nes i a.
Pembangunan dalam Repelita V ditujukan untuk meningkatkan
taraf hidup, kecerdasan dan kesejahteraan seluruh rakyat yang
makin merata dan adil. Sejalan dengan prioritas pembangunan pada
bidang ekonomi, maka pembangunan sosial budaya dan lain -lain
makin ditingkatkan secara s e pa d a n . Dalam kaitan tersebut
pengembangan sumber daya manusia perlu diselenggarakan secara
menyeluruh, terarah dan terpadu di berbagai bidang. Pem bangunan kesehatan, kesejahteraan sosial dan peranan wanita
merupakan bagian terpadu dari pembangunan nasion al dalam
rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) 1988 mengamanat kan bahwa pembangunan di bidang kesehatan dalam Repelita V
ditingkatkan untuk mewujudkan perbaikan kualitas manusia dan
XVIII/3
kualitas kehidupan masyarakat dengan mempertinggi derajat
kesehatan termasuk keadaan gizi masyarakat.
Dalam pembangunan kesejahteraan sosial, GBHN 1988
mengamanatkan agar dalam Repelita V jangkauan pelayanan
kesejahteraan sosial ditingkatkan sehingga kesadaran, tanggung
jawab serta kemampuan setiap warga negara untuk ikut berperan
serta aktif dalam pembangunan terns meningkat. Pelayanan
kesejahteraan sosial terutama ditujukan untuk anggota masyarakat
yang kurang beruntung agar dapat hidup layak sesuai dengan
harkat dan martabatnya, mandiri dan produktif sehingga dapat ikut
berperan serta dalam pembangunan. Peranan wanita dalam
pembangunan telah mendapat penekanan yang besar dalam
Pembangunan Jangka Panjang Pertama (PJP I). GBHN 1988
mengarahkan bahwa dalam melaksanakan pembangunan, wanita
merupakan mitra sejajar yang mempunyai hak kewajiban dan
kesempatan yang sama dengan kaum pria, serta mempunyai
peranan sangat penting dalam pembinaan keluarga karena secara
langsung akan mempengaruhi kualitas generasi muda dan
kesejahteraan keluarga.
Kebijaksanaan dalam Rencana Pembangunan Lima Tahun
Kelima (Repelita V), untuk pembangunan kesehatan, kesejahteraan
sosial dan peranan wanita adalah sebagai berikut.
Pembangunan kesehatan dikembangkan melalui berbagai
kebijaksanaan yang meliputi: peningkatan mutu dan pemerataan
kesehatan; peningkatan efisiensi pemanfaatan dana, tenaga dan
sarana; peningkatan berbagai upaya kesehatan dengan perhatian
khusus untuk menekan angka kematian bayi, anak dan ibu;
peningkatan kesehatan lingkungan untuk memasyarakatkan sikap
dan perilaku hidup bersih; peningkatan status gizi masyarakat;
peningkatan penyediaan obat dan alat kesehatan; penurunan tingkat
kesuburan; peningkatan pengadaan dan pengelolaan tenaga
kesehatan serta peningkatan kesegaran jasmani terutama pada
kelompok usia kerja.
XVIII/4
Pembangunan kesejahteraan sosial diutamakan pada kegiatan
yang bersifat perbaikan, peningkatan dan perluasan pelayanan dan
rehabilitasi sosial bagi fakir miskin, penyandang cacat, lanjut usia
yang tidak mampu, anak terlantar, anak nakal dan korban
narkotika, gelandangan pengemis, wanita tuna susila dan korban
bencana alam. Kegiatan-kegiatan tersebut dilaksanakan dengan
melibatkan sebanyak mungkin organisasi-organisasi sosial dan
lembaga-lembaga swadaya masyarakat, termasuk lembaga-lembaga
keagamaan yang melaksanakan usaha-usaha kesejahteraan sosial.
Dengan keterlibatan lembaga-lembaga tersebut jangkauan dan mutu
pelayanan sosial dapat makin ditingkatkan.
Pembangunan peranan wanita diarahkan kepada peningkatan
kedudukan wanita dalam masyarakat dan peranannya dalam
pembangunan sesuai dengan kodrat, harkat, dan martabatnya
sebagai wanita; peningkatan peran aktif wanita tidak saja sebagai
sasaran tetapi juga sebagai pelaku kegiatan dan penikmat basil
pembangunan; peningkatan pengetahuan dan keterampilan wanita;
peningkatan kesejahteraan keluarga atas dasar peran serta aktif
masyarakat dalam kegiatan pembangunan; dan peningkatan
peranan dan tanggung jawab wanita dalam pembangunan.
Pembangunan kesehatan telah memperluas cakupan dan
meningkatkan mutu pelayanan kesehatan yang selanjutnya
berdampak terhadap peningkatan derajat kesehatan masyarakat.
Pada akhir Repelita V di semua kecamatan telah berfungsi 6.954
puskesmas, 19.977 puskesmas pembantu, dan 6.024 puskesmas
keliling. Selanjutnya pada akhir PJP I rumah sakit umum telah
berjumlah 830 buah dengan 97.197 tempat tidur, dan rumah sakit
khusus dan swasta berjumlah 843 buah dengan 28.784 tempat
tidur.
Dalam Repelita V kegiatan pencegahan dan pemberantasan
penyakit telah ditingkatkan sehingga terjadi percepatan penurunan
angka kesakitan dan kematian. Hal ini tercermin antara lain dari
penurunan angka kematian penyakit demam berdarah yang pada
XVIII/5
awal Repelita I masih di atas 40 persen turun menjadi 2,40 persen
dan penyakit malaria dari 1,3 persen turun menjadi sekitar 0,1
persen untuk daerah Jawa Bali pada 'akhir Repelita V. Demikian
juga terjadi penurunan angka kesakitan dan kematian penyakit
diare, tuberkulosa paru, kusta, kaki gajah (filariasis) dan frambusia
secara bermakna. Cakupan imunisasi lengkap secara nasional telah
mencapai 91,1 persen, berarti telah melewati sasaran Universal
Child Immunization (UCI) yang ditetapkan oleh KTT anak sedunia
(World Summit for Children) pada tahun 2000 yaitu sebesar 80
persen.
Selanjutnya untuk mendukung pelayanan kesehatan dasar
terutama kegiatan pelayanan kesehatan ibu dan anak melalui
puskesmas, selama Repelita V telah ditempatkan dokter sebagai
pegawai tidak tetap (dokter PTT) dan bidan di desa, masing
masing sebanyak 4.952 orang dokter dan 19.712 orang bidan.
Jumlah dokter meningkat dari 4,3 dokter untuk melayani 100.000
penduduk pada tahun 1968 menjadi 16,9 dokter untuk 100.000
penduduk pada tahun 1993/94.
Dampak dari peningkatan dan perluasan cakupan dan mutu
pelayanan kesehatan tercermin dari perbaikan berbagai indikator
kesehatan masyarakat. Angka kematian bayi turun dari 145 per
1.000 kelahiran hidup pada tahun 1967, menjadi .58 per 1.000
kelahiran hidup pada tahun 1993, sedangkan angka kematian ibu
turun dari 450 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 1986
menjadi 425 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 1992. Selain
itu angka prevalensi kurang energi dan protein (KEP) sedang dan
berat pada anak balita turun dari 18,9 persen pada tahun 1978
menjadi 11,8 persen pada tahun 1992 dan prevalensi kurang
vitamin A turun dari 1,3 persen pada awal Repelita I menjadi 0,35
persen pada akhir PJP I. Sejalan dengan itu angka harapan hidup
waktu lahir meningkat dari 45,7 tahun pada tahun 1967 menjadi
62,7 tahun pada tahun 1993.
XVIII/6
Sementara itu pembangunan kesejahteraan sosial telah
meningkatkan kemampuan pelayanan yang dilakukan melalui
pembangunan, rehabilitasi dan penyempurnaan panti-panti sosial
baik milik pemerintah maupun masyarakat serta meningkatkan
mutu pelayanan dan rehabilitasi sosial. Selama Repelita V telah
diberikan penyantunan bagi 452.015 anak terlantar, 116.979 lanjut
usia yang tidak mampu, 113.735 penyandang cacat, pelayanan
sosial dan bantuan modal usaha bagi 76.841 kepala keluarga
miskin serta pembinaan bagi 5.286 kepala keluarga masyarakat
terasing. Selanjutnya dalam rangka meningkatkan peran serta
masyarakat dalam pelayanan sosial telah ditingkatkan pengetahuan
dan keterampilan 59.640 orang PSM, diberikan bantuan paket
sarana usaha bagi 2.985 Karang Taruna dan diberikan bantuan
sarana pelayanan bagi 2.977 organisasi sosial (orsos) yang
memiliki panti serta diberikan pelatihan manajemen dan profesi
pekerjaan sosial bagi 6.000 dan 3.180 pengurus orsos.
Dengan demikian selama PJP I pembangunan bidang kesejahteraan sosial telah berhasil meningkatkan taraf kesejahteraan sosial
masyarakat yang kurang beruntung terutama penyandang cacat,
anak terlantar, lanjut usia yang tidak mampu, dan masyarakat
terasing dan meningkatkan peran serta masyarakat dalam pelayanan
sosial yang tercermin dari meningkatnya kesadaran, kesetiakawanan dan tanggung jawab sosial masyarakat.
Dalam PJP I peranan wanita dalam berbagai kehidupan dan
pembangunan telah meningkat pesat. Hal ini terlihat dari data
mengenai peranan wanita di bidang pendidikan, kesehatan dan
tenaga kerja. Di bidang pendidikan jumlah penduduk wanita yang
mampu membaca dan menulis huruf latin dalam tahun 1990
tercatat 76,7 persen, meningkat dari 61,1 persen pada tahun 1980.
Jumlah wanita yang memperoleh pendidikan formal tercatat 78,2
persen dalam tahun 1990 atau meningkat 37,8 persen dibanding
keadaan pada tahun 1980 yaitu sebesar 40,4 persen. Demikian pula
angka partisipasi sekolah dasar murid perempuan sudah hampir
seimbang dengan murid laki-laki.
XVIII/7
Di bidang kesehatan kemajuan yang dicapai antara lain
tercermin pada peningkatan angka harapan hidup wanita yang pada
tahun 1993 telah mencapai 64,4 tahun, atau meningkat 10,4 tahun
dari keadaan tahun 1976. Peranan wanita dalam meningkatkan
derajat kesehatan dan keadaan gizi ibu dan anak juga cukup
meningkat, antara lain melalui peningkatan penggunaan air susu
ibu (PP-ASI) dan pembinaan pertumbuhan dan perkembangan anak
melalui kegiatan bind keluarga balita (BKB).
Peningkatan peranan wanita di bidang ketenagakerjaan
ditunjukkan oleh tingkat partisipasi tenaga kerja (TPAK) yang telah
mencapai 40,8 persen pada akhir Repelita V, atau meningkat
sekitar 8 persen dibandingkan dengan kondisi dalam tahun 1980.
Peningkatan peranan wanita dalam pembangunan, terutama di
perdesaan yang amat menonjol dalam PJP I adalah ber
kembangnya gerakan Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK),
yang makin efektif peranannya dalam kehidupan masyarakat di
perdesaan termasuk dalam pengentasan kemiskinan. Dewasa ini
gerakan PKK telah menjangkau hampir semua desa di Indonesia.
Secara keseluruhan pembangunan selama PJP I telah berhasil
meningkatkan kemampuan dan memperluas kesempatan bagi para
wanita untuk lebih berperan dalam pembangunan sesuai kodrat,
bakat, kemampuan, dan perhatiannya, dan mengurangi
kesenjangan antara pria dan wanita di berbagai segi kehidupan
masyarakat.
B. KESEHATAN
Sesuai dengan arahan GBHN 1988, pembangunan kesehatan
dalam Repelita V dilaksanakan melalui berbagai program:
(1) upaya pelayanan kesehatan masyarakat; (2) upaya kesehatan
rujukan; (3) pemberantasan penyakit menular; (4) perbaikan gizi;
XVIII/8
(5) penyediaan air bersih; (6) penyehatan lingkungan permukiman;
(7) penyuluhan kesehatan masyarakat; (8) pengendalian,
pengadaan dan pengawasan obat makanan dan sebagainya; dan (9)
pendidikan, latihan dan pendayagunaan tenaga kesehatan.
Program-program di atas didukung oleh program penyempurnaan
efisiensi aparatur kesehatan dan pengawasan, penyempurnaan
prasarana fisik kesehatan; pembinaan generasi muda dalam
pembangunan kesehatan dan peningkatan peranan wanita dalam
pembangunan kesehatan.
1. Program Upaya Pelayanan Kesehatan Masyarakat
Program ini bertujuan meningkatkan kemampuan masyarakat
untuk hidup sehat sehingga tercapai tingkat kesehatan yang optimal
dengan melakukan pencegahan penyakit dan memberikan
pelayanan kesehatan dasar. Kegiatan pokok program ini meliputi
peningkatan lembaga pelayanan kesehatan, peningkatan pelayanan
kesehatan ibu dan anak (KIA), pemeliharaan kesehatan usia
sekolah, pelayanan kesehatan gigi dan mulut, pelayanan kesehatan
jiwa dan pelayanan laboratorium kesehatan.
Berbagai kegiatan program ini dilaksanakan melalui pusat
kesehatan masyarakat (puskesmas) dan jaringannya yaitu
puskesmas perawatan, puskesmas keliling dan puskesmas
pembantu. Pelaksana kegiatan adalah tenaga medis dan paramedis
termasuk bidan. Untuk mendukung berbagai kegiatan tersebut,
partisipasi masyarakat dibina dan dikembangkan melalui pos
pelayanan terpadu (posyandu).
a. Peningkatan Lembaga Pelayanan Kesehatan
Kegiatan ini bertujuan untuk mendekatkan, meratakan dan
meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan masyarakat dengan
mengembangkan dan memantapkan jaringan upaya kesehatan
sampai tingkat keluarga.
XVIII/9
Pada tahun 1993/94 telah dibangun 140 puskesmas dan 1.387
puskesmas pembantu (Tabel XVIII-1A). Selanjutnya selama
Repelita V telah dibangun 775 puskesmas, dan 7.205 puskesmas
pembantu. Dengan demikian pada akhir PJP I telah berfungsi
sebanyak 6.954 puskesmas dan 19.977 puskesmas pembantu dan
setiap puskesmas rata-rata telah didukung oleh 3 puskesmas
pembantu (Tabel XVIII-1B). Bila dibandingkan dengan sasaran
yang harus dicapai pada akhir Repelita V yaitu masing -masing
6.196 puskesmas dan 20.062 puskesmas pembantu, maka tingkat
realisasi pencapaian sasaran sebesar 112,6 persen dan 99,6 persen.
Bagi puskesmas dan puskesmas pembantu yang mengalami
kerusakan ringan maupun berat, telah dilaksanakan perbaikan
yang dalam tahun 1993/94 jumlahnya masing-masing 1.575 dan
2.900 gedung (Tabel XVIII-1A). Sampai dengan akhir Repelita V
jumlah puskesmas dan puskesmas pembantu yang diperbaiki
masing-masing
berjumlah
14.613
dan
18.539 gedung
(Tabel XVIII-1B).
Selain itu, selama tahun 1993/94 telah dibangun 300 rumah
dokter dan 250 rumah dokter gigi, sehingga sampai dengan tahun
1993/94 jumlahnya masing-masing menjadi 5.200 rumah dokter
dan 450 rumah dokter gigi (Tabel XVIII-1B).
Untuk meningkatkan mobilitas puskesmas melayani
masyarakat yang berada di wilayah kerjanya, telah dilaksanakan
pengadaan puskesmas keliling sebanyak 720 unit, sehingga
jumlahnya sampai dengan tahun 1993/94 menjadi 6.024 unit. Bagi
daerah-daerah yang sukar dijangkau oleh sarana transportasi
dilaksanakan puskesmas keliling jalan kaki yang pada tahun
1993/94 telah mencakup 308 desa, meningkat dari 170 desa pada
tahun 1992/93 atau peningkatan lebi h dari dua kali lipat (Tabel
XVIII-1B). Melalui pelaksanaan kegiatan puskesmas keliling jalan
kaki, tenaga kesehatan dari puskesmas akan berjalan berhari -hari,
pindah dari satu lokasi ke lokasi lainnya untuk memberikan pela yanan kesehatan terhadap penduduk yang bertempat tinggal di
daerah yang sukar dijangkau kendaraan.
XVIII/10
TABEL XVIII — IA
PERKEMBANGAN PELAKSANAAN PEMBANGUNAN PUSKESMAS,
1973/74, 1988/89, 1989/90 — 1993/94
1)
2)
Angka kumulat if 5 tahunan untuk kolo m yang bertuliskan
Akhir Repelita 1, yang lain adalah angka tahunan
Angka diperbaiki
TABEL XVIII – 1 B
PERKEMBANGAN JUMLAH PUSKESMAS,
1968,1988/89,1989/90 — 1993/94
1)
2)
Angka kumulat if sejak awal Repelita I
Angka diperbaiki
XVIII/11
Melalui peningkatan berbagai upaya itu telah berhasil di
tingkatkan pelayanan kesehatan dasar antara lain pelayanan
kesehatan ibu dan anak (KIA), penyuluhan kesehatan masyarakat,
usaha kesehatan sekolah (UKS),. gigi dan mulut, kesehatan jiwa
dan laboratorium kesehatan secara bermakna.
b. Peningkatan Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA)
Salah satu kegiatan pelayanan kesehatan dasar yang berperan
penting dalam upaya penurunan angka kematian, bayi, anak di
bawah umur lima tahun (balita) dan ibu melahirkan adalah
pelayanan KIA. Kegiatannya antara lain meliputi pencegahan
penyakit, perawatan, pemulihan dan peningkatan kesehatan ibu dan
anak. Pelaksana kegiatan adalah tenaga paramedis, khususnya
bidan, yang penempatannya,tersebar di desa-desa. Dalam tahun
1993/94, telah selesai dididik dan siap ditempatkan sekitar 10.319
bidan, sedangkan penempatan bidan sejak tahun 1989/90 sampai
dengan tahun 1992/93 berjumlah 19.712 orang. Peningkatan yang
mencolok dari jumlah bidan yang ditempatkan di desa-desa selama
Repelita V disebabkan oleh adanya kebijaksanaan untuk mempercepat penurunan angka kematian bayi dan angka kematian ibu
melahirkan. Dibandingkan dengan sasaran yang hams dicapai pada
akhir Repelita V yaitu menempatkan 18.000 bidan di tingkat desa,
maka sasaran tersebut telah dilampaui.
Walaupun demikian jika dibandingkan antara jumlah desa
yang membutuhkan yaitu sekitar 58.000 desa dengan jumlah bidan
yang telah ditempatkan, masih terdapat perbedaan yang cukup
besar. Untuk itu peranan dukun bayi sebagai mitra kerja terus
dibina dan kemampuan mereka terus ditingkatkan. Pada tahun
1993/94 telah dilatih sebanyak 1.105 dukun bayi, sedangkan
pembinaan dukun bayi dilaksanakan terhadap 15.339 orang.
XVIII/12
Sejalan dengan penambahan tenaga tersebut, maka pelayanan
kegiatan KIA semakin meningkat. Cakupan imunisasi lengkap bayi
pada tahun 1993/94 adalah sebesar 91,1 persen, meningkat dari
tahun 1992/93 yaitu 89,9 persen. Selanjutnya pertolongan
persalinan oleh tenaga terlatih meningkat menjadi 70 persen dari 65
persen, sesuai dengan sasaran yang harus dicapai pada akhir
Repelita V. Selain itu cakupan kunjungan anak balita juga
meningkat menjadi 75 persen dari 70 persen. Kegiatan-kegiatan
tersebut telah memberikan dampak yang sangat berarti dalam
mempercepat penurunan angka kematian bayi dan anak.
c. Pemeliharahn Kesehatan Usia Sekolah
Kegiatan ini dilaksanakan melalui usaha kesehatan sekolah
(UKS) dengan sasaran anak sekolah mulai dari sekolah dasar (SD)
sampai dengan sekolah menengah lanjutan tingkat atas (SLTA)
termasuk sekolah-sekolah agama. Tujuannya adalah untuk
memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan anak sekolah,
melalui kegiatan penyuluhan, pemeriksaan kesehatan, bimbingan
kepada guru, pemeliharaan kebersihan lingkungan dan upaya
perbaikan gizi.
Pada tahun 1993/94 kegiatan UKS telah dilaksanakan di
24.218 sekolah, sama halnya seperti cakupan tahun sebelumnya.
Dengan dilaksanakannya pemeriksaan kesehatan secara berkala
terhadap anak sekolah, dapat diketahui secara dini kemungkinan
adanya kelainan fisik dan rohani. Bagi anak yang menderita
kelainan atau anak luar biasa, akan diberikan pelayanan kesehatan
lanjutan di puskesmas atau dirujuk ke rumah sakit (RS).
Pada tahun 1993/94, pelayanan kesehatan bagi anak luar biasa
dilaksanakan di 567 puskesmas, meningkat dari 150 puskesmas
pada tahun 1992/93 atau peningkatan hampir empat kali lipat.
Selanjutnya untuk anak sekolah di desa tertinggal, secara selektif
diberikan makanan tambahan untuk memperbaiki keadaan gizinya.
XVIII/13
d.
Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut
Dalam rangka meningkatkan dan meratakan kegiatan
pelayanan kesehatan gigi dan mulut, secara bertahap jumlah dokter
gigi ditambah setiap tahunnya sehingga selama Repelita V telah
ditempatkan 2.087 orang dokter gigi baik di puskesmas maupun di
rumah sakit. Pada tahun 1993/94, jumlah dokter gigi yang
ditempatkan' 336 orang sedangkan pada tahun 1992/93 telah
ditempatkan 520 orang. Penurunan ini disebabkan terbatasnya
jumlah formasi yang tersedia pada 1993/94, serta dimulainya
rencana pengangkatan dokter gigi melalui hubungan kerja sebagai
pegawai tidak tetap.
Pada tahun 1993/94 cakupan pelayanan kesehatan gigi sekolah
meliputi 113.780 SD, sama halnya dengan tahun 1992/93 tetapi
dengan mutu pelayanannya malcin ditingkatkan antara lain melalui
penambahan peralatan gigi. Pada tahun 1993/94, disediakan 2.088
set peralatan gigi untuk puskesmas melengkapi penyediaan pada
tahun 1992/93 yaitu sebanyak 2.238 set. Dengan penambahan
tersebut kebutuhan peralatan sebagian besar dokter gigi dan
perawat gigi telah terpenuhi. Upaya peningkatan kesehatan gigi
dan mulut bagi masyarakat desa antara lain ditempuh melalui
kegiatan usaha kesehatan gigi masyarakat desa (UKGMD). Salah
satu kegiatannya adalah pelatihan kader UKGMD. yang pada tahun
1993/94 dilaksanakan di 6.336 desa. Untuk menunjang pelayanan
kegiatan ini maka pembangunan perumahan bagi dokter gigi terus
ditingkatkan. Pada tahun 1993/94 telah dibangun 250 unit
perumahan bagi dokter gigi, meningkat jika dibandingkan dengan
tahun 1992/93 yaitu 200 unit.
e.
Pelayanan Kesehatan Jiwa
Kegiatan pelayanan kesehatan jiwa, sudah dikembangkan
menjadi kegiatan yang diintegrasikan antara kegiatan di Rumah
Sakit Jiwa dengan kegiatan pelayanan di puskesmas dan rumah
sakit umum. Tujuannya agar puskesmas dan rumah sakit umum
XVIII/14
mampu menangani masalah kesehatan jiwa di lingkungan
masyarakat melalui bimbingan dan pembinaan dari rumah sakit
jiwa.
Pada tahun 1993/94 kegiatan tersebut sudah dilaksanakan di
146 puskesmas dan 69 rumah sakit umum, sedangkan untuk tahun
1992/93 dilaksanakan di 145 puskesmas dan 94 rumah sakit, di 20
propinsi.
Kegiatan lain dari pelayanan kesehatan jiwa bagi masyarakat
adalah penjaringan gelandangan yang berpenyakit jiwa (psikotik).
Kegiatan ini dilaksanakan secara terpadu oleh berbagai instansi dan
pada tahun 1993/94 telah dilaksanakan di 18 propinsi.
Selanjutnya dalam pelayanan kesehatan jiwa dilaksanakan
penyuluhan kesehatan yang ditujukan kepada masyarakat umum
terutama keluarga penderita mengenai cara-cara mencegah dan
mengatasi gangguan kejiwaan. Kegiatan penyuluhan ini pada tahun
1993/94 dilaksanakan sebanyak 4.648 kali, sedangkan tahun
1992/93 tercatat sebanyak 2.280 kali, atau meningkat lebih dari dua
kali lipat. Selain itu sebagai upaya untuk terus memantau
perkembangan kesehatan jiwa penderita setelah keluar dari rumah
sakit jiwa, diadakan kunjungan kepada para bekas penderita
penyakit jiwa, yang pada tahun 1993/94 dilaksanakan terhadap
4.649 bekas pasien penyakit jiwa.
f. Laboratorium Kesehatan
Pelayanan laboratorium kesehatan dilaksanakan untuk
mendukung pelayanan kesehatan baik di rumah sakit maupun
puskesmas. Untuk mendukung kegiatan pelayanan laboratorium
pada tahun 1993/94 dilaksanakan rehabilitasi sarana di 15 balai
laboratorium kesehatan (BLK), dan pengadaan alat-alat laboratorium sebanyak 161 unit. Untuk meningkatkan pengetahuan dan
keterampilan petugas dilaksanakan pendidikan dan pelatihan teknis
bagi tenaga laboratorium terdiri dari 87 orang dari BLK,
XVIII/15
160 orang dari Rumah Sakit dan 1.040 orang dari Puskesmas.
Pelatihan tenaga laboratorium di tingkat puskesmas mendapat
perhatian penting, sehingga jumlahnya meningkat hampir dua kali
lipat jika dibandingkan dengan hasil yang dicapai tahun 1992/93
yaitu 585 orang. Pemeriksaan dan pengambilan spesimen di
lapangan tahun 1993/94 meliputi 161 lokasi dengan jumlah
spesimen sebanyak 3.220 buah.
Kemampuan pemeriksaan laboratorium terus ditingkatkan,
antara lain ditunjukkan oleh kemampuan pemeriksaan virus
HIV/AIDS pada tahun 1993/94 yang telah dapat dilaksanakan di 27
BLK, 39 rumah sakit umum dan 149 laboratorium PMI.
Pemeriksaan awal virus HIV/AIDS ini didukung oleh laboratorium
rujukan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta. Dalam rangka
meningkatkan kemampuan pelayanan laboratorium di rumah sakit
pada tahun 1993/94 telah dilaksanakan bimbingan teknis terhadap
304 laboratorium RSU. Pelayanan laboratorium kesehatan di klinik
swasta juga berkembang sehingga jumlahnya pada tahun 1993/94
menjadi 507 laboratorium.
Dengan bertambahnya jumlah laboratorium, didukung dengan
peralatan yang memadai dan tenaga terlatih, maka kemampuan
dan kualitas pemeriksaan laboratorium meningkat. Dengan
demikian selama Repelita V terjadi peningkatan jumlah
laboratorium yang mampu melakukan pemeriksaan virus
HIV/AIDS yaitu sebanyak 19 buah BLK, 36 buah laboratorium RS
dan 147 buah laboratorium PMI.
2. Program Upaya Kesehatan Rujukan
Program upaya kesehatan rujukan bertujuan untuk
memantapkan sistem pelayanan rujukan antara puskesmas dan
rumah sakit serta meningkatkan mutu dan fungsi pelayanan yang
dilakukan oleh semua kelas rumah sakit, dimulai dari kelas D, C,
B dan A. Kegiatan peningkatan pelayanan rujukan meliputi :
penambahan dan pemerataan persebaran tenaga dokter ahli,
XVIII/16
penggantian dan pengadaan peralatan medis berdasarkan standar
pelayanan di masing-masing unit pelayanan rujukan, bantuan obatobatan, peningkatan biaya operasional dan pemeliharaan rumah
sakit, dan peningkatan keterampilan petugas di berbagai bidang
pelayanan di semua unit pelayanan rujukan.
Dalam rangka peningkatan penampilan fisik rumah sakit dan
mutu pelayanan, sejak tahun 1990/91 diberikan biaya untuk
kegiatan operasional dan pemeliharaan untuk seluruh rumah sakit
pemerintah, baik pusat maupun daerah.
Pada tahun 1993/94, secara kumulatif jumlah rumah sakit
seluruhnya tercatat 1.673 buah dengan 125.981 tempat tidur yang
terdiri dari 830 rumah sakit umum (RSU) dengan 97.197 tempat
tidur dan 843 rumah sakit khusus (RSK) dengan 28.784 tempat
tidur. Jika dibandingkan dengan tahun 1992/93 terdapat
pertambahan 29 rumah sakit dengan 2.540 tempat tidur
(Tabel XVIII-2).
Pelayanan rumah sakit terutama di rumah sakit kelas C dan D
ditingkatkan melalui peningkatan jenis dan mutu pelayanannya.
Selama tahun 1993/94 telah ditempatkan 434 orang dokter ahli dari
empat keahlian dasar yaitu ahli bedah, ahli anak, ahli penyakit
dalam dan ahli kebidanan-kandungan di berbagai rumah sakit
kelas C dan D atau peningkatan hampir dua kali lipat jika
dibandingkan dengan tahun 1992/93. Selain itu telah dilaksanakan
pula pengadaan alat bagi empat keahlian dasar sebanyak 117
paket; sedangkan peralatan untuk tiga keahlian penunjang (ahli
anestesi, ahli radiologi, ahli laboratorium) sebanyak 151 paket dan
peralatan untuk dokter spesialis lainnya sebanyak 523 paket. Jika
dibandingkan dengan tahun 1992/93, pengadaan peralatan tahun
1993/94 naik dua kali lipat. Upaya peningkatan kemampuan
pelayanan di rumah sakit mencakup pula pengadaan peralatan
yang pada tahun 1993/94 berupa 1.124 unit peralatan medik dan
769 unit peralatan nonmedik, dan pengadaan 66 unit kendaraan/
ambulans.
XVIII/17
TABEL XVIII – 2
PERKEMBANGAN JUMLAH RUMAH SAKIT (RS) DAN TEMPAT TIDUR (TT) 1)
1968, 1988/89, 1989/90 – 1993/94
1) Angka kumulatif sejak awal Repelita I
2) Angka diperbaiki
3) Terdiri dari 550 Rumah Sakit Umum dan 240 Rumah Bersalin, mulai awal Repelita I jumlah Rumah Bersalin tidak dimasukkanlagi dalam penghitungan Rumah Sakit Umum
XVIII/18
Selain itu diberikan pula bantuan peralatan dan obat-obatan
kepada RSU Pemerintah kelas C dan D sebanyak 157 RSU, dan
terhadap RS swasta sebanyak 19 RS.
Untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petugas,
telah dilaksanakan berbagai pelatihan yang pada tahun 1993/94
diikuti oleh 2.438 orang. Dalam rangka persiapan pembangunan
dan perluasan rumah sakit di masa datang telah disusun 11
rencana induk rumah sakit dan 3 studi kelayakan. Di samping itu
untuk mewujudkan kesehatan lingkungan di rumah sakit telah
dilakukan program analisa mengenai dampak lingkungan
(AMDAL) di 81 rumah sakit.
Dengan dilaksanakannya berbagai kegiatan tersebut di atas
maka selama Repelita V telah dibangun 83 buah rumah sakit umum
(RSU) dengan 6.916 buah tempat tidur dan 92 rumah sakit khusus
dan swasta dengan 2.218 tempat tidur. Selanjutnya dalam kurun
waktu PJP I, telah dibangun 280 buah rumah sakit umum dengan
36.034 buah tempat tidur dan 516 buah rumah sakit khusus dan
swasta dengan 7.001 buah tempat tidur. Dengan demikian sampai
pada akhir PJP I, secara keseluruhan jumlah rumah sakit umum
menjadi 830 buah dengan 97.197 tempat tidur sedangkan rumah
sakit khusus dan swasta menjadi 843 buah dengan 28.784 tempat
tidur.
3. Program Pemberantasan Penyakit Menular
Tujuan program ini adalah untuk meningkatkan upaya
pencegahan dan pemberantasan penyakit terutama yang mempunyai
ciri-ciri seperti penyakit dengan angka kesakitan dan atau angka
kematian yang tinggi, dapat menimbulkan wabah dan menyerang
bayi, anak dan golongan usia produktif. Kegiatan dari program ini
dilaksanakan secara terpadu melalui pelayanan kesehatan di
Puskesmas dan rujukan kesehatan, bekerja sama dengan sektor
terkait serta melibatkan peran serta masyarakat.
XVIII/19
a. Penyakit Malaria
Kegiatan pemberantasan penyakit malaria dititikberatkan pada
pemberantasan vektor melalui penyemprotan rumah dan
lingkungannya. Di samping itu secara teratur juga dilakukan
kegiatan pengumpulan dan pemeriksaan sediaan darah untuk
menemukan penderita dan pengobatan penderita. Pemberantasan
penyakit ini diprioritaskan pada daerah-daerah yang masih
dianggap rawan, terutama daerah-daerah transmigrasi, permukiman baru di luar Pulau Jawa-Bali, dan daerah perbatasan.
Untuk daerah rawan malaria di Jawa-Bali penyemprotan rumah
dengan DDT diganti dengan insektisida alternatif yang mudah
terurai yaitu Fenetrothion, Karbamat dan L-sihalothrin. Hal ini
dimaksudkan untuk menghindari dampak negatif penggunaan DDT
terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat.
Pada tahun 1993/94 telah dilaksanakan . pengumpulan dan
pemeriksaan sediaan darah tersangka penderita sebanyak 5,8 juta
sediaan, pengobatan terhadap tersangka malaria 5,8 juta orang, dan
kegiatan penyemprotan yang mencakup sekitar 1,4 juta rumah
(Tabel XVIII-3). Jumlah rumah yang disemprot menurun dari
tahun 1992/93, karena selain dengan cara penyemprotan dalam
pemberantasan nyamuk malaria ditingkatkan penggunaan metode
pengendalian biologis. Dengan demikian selama Repelita V jumlah
penderita malaria yang diobati sekitar 24,3 juta orang dan
penyemprotan rumah sekitar 6,6 juta buah rumah.
Angka kesakitan malaria diukur dengan satuan API (Annual
Parasite Index). Pada tahun 1993/94 API di Jawa dan Bali tercatat
0,19 per 1.000 penduduk, lebih tinggi bila dibandingkan dengan
API tahun 1992/93 sebesar 0,13 per 1.000 penduduk. Ini bukan
berarti terjadi kenaikan angka kesakitan, tapi karena semakin
meluasnya daerah yang dicakup dalam survai malaria.
XVIII/20
b. Penyakit Diare dan atau Kholera
Penyakit ini penyebabnya berkaitan erat dengan keadaan
lingkungan dan perilaku masyarakat yang kurang mendukung
hidup sehat. Kegiatan utama dalam pemberantasan penyakit ini
dititikberatkan pada usaha menggiatkan pencarian dan pengobatan
penderita diare dan atau kholera sedini mungkin.
Pada tahun 1993/94 melalui upaya pencarian dan pengobatan
penderita ditemukan 14.800 orang tersangka kholera dan 4,1 juta
orang penderita diare, menurun dari angka tahun 1992/93 masingmasing sebesar 41 ribu orang dan 6,2 juta orang. Selama Repe
lita V, pencarian dan pengobatan penderita telah dilakukan
terhadap sekitar 25,9 juta orang penderita diare dan terhadap
sekitar 185,8 ribu penderita tersangka kholera (Tabel XVIII-3).
Upaya pemberantasan penyakit diare dan atau kholera yang
makin intensif ditunjang dengan pemanfaatan berbagai hasil
kemajuan teknologi kesehatan dan penggunaan oralit yang semakin
meluas, menyebabkan angka kematian akibat penyakit ini
menurun secara bermakna. Penurunan angka kematian ini
disebabkan antara lain karena semakin baiknya penatalaksanaan
penanganan kasus dan semakin meningkatnya kesadaran
masyarakat dalam upaya pencegahan penyakit. Di samping itu dari
basil kegiatan puskesmas panduan menunjukkan angka penggunaan
oralit pada golongan umur balita sebesar 87 persen, sedangkan
untuk seluruh golongan umur sebanyak 86 persen. Penggunaan
infus di puskesmas untuk penderita diare untuk semua umur hanya
3 persen. Angka yang rendah ini menunjukkan tingkat kesadaran
masyarakat untuk pencegahan diare antara lain dengan penggunaan
oralit sudah baik, sehingga kebutuhan penggunaan infus menurun.
Selanjutnya program pengembangan pemberantasan penyakit diare
kecamatan (P4D) semakin luas jangkauannya. Bila pada tahun
1992/93 jumlah puskesmas yang tercakup dalam P4D Baru 5.400
puskesmas, pada tahun 1993/94 telah mencapai 5.985 puskesmas.
XVIII/21
TABEL XVIII - 3
PERKEMBANG AN USAHA PEMBERANTASAN DAN PENCEGAHAN PENYAKIT MENULAR,
1973/74, 1958/89, 1989/90 – 1993/94
(ribuan)
No.
Jenis Usaha
Satuan
Pemberantasan Penyakit Malaria
- Pengumpulan dan Pemeriksaan
Sediaan Darah
- Pengobatan Penderita
- Penyemprotan Rumah
2.
Pemberantasan Penyakit Kholera/
Gastroenteritis Acuta
- Mencari dan Mengobati Penderita
- Tenangka Kholera
Diare
- Pengembangan Program Pemberantasan
Penyakit Diare Kecamatan(P4D)
3.
Pemberantasan Penyakit TB Paru
- Pemerikuao Bakleriologi
- Pengobatan
5.
Pemberantasan Filariasis
- Survei Darah
- Pengobatan M a s a l
6.
Imunisasi
- Vakainui BCG
- Vaksinasi T FT/ I T
- Vakainasi DPT
- Revaksinaal Polio
- Vakainasi DT
- Campak
Pengamatan Penyakit Menular
- Sunni Epidemiologi
- Survei K h u s u s
32.069,0
32.327,0
7.809,0
Repelita V
1989/90
1990/91
5278,0
4.348,0
5318,0
4.072,0
1.193,0 1220,0
5.427,0
4.162,0
1.310,0
199/93
1993/94
5226,0 5.852,4
4390,0 5.852,4
1.638,0 1.378,9
127,0
168,0
0,0
13.195,0
puskesmas
0,0
4,3
rumah
Rumah
0,0
0,0
2.713,0
1.397,0
orang
orang
0,0
28,0
766,0
83,0
174,0
23,0
274,0
29,0
370,0
66,0
792,0
74,0
972,4
68,0
sediaan
orang
76,0
0,0
487,0
306,0
17,0
34,0
28,0
57,0
2,0
185,0
0,0
131,0
2,4
168,0
4.412,04.728,0
4290,0
4227,0
3.891,04.407,0
3.991,04.473,0
3.063,0 2239,0
3.541,0 4297,0
4.685,0
4.977,0
4.486,0
4.502,0
2.990,0
4.358,0
Bayi
ibu hamil/anak
Anak
Anak
Anak
Anak
KLB
rumah sakit
38.303,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
15.4120
19.135,0
14.065,0
11283,0
11.676,0
8.920,0
11,0
1,0
41,0
199/92
orang
1 ) Angka kumulalif 5 tahunan untuk kolam yang bertuliskan
Akhir Repelila I den IV, yang lain adalah angka tahunan
XVIII/22
32527,0
32.641,0
8.629,0
Akhir 1)
Repelila IV
(1988189)
Orang
Pemberantasan Arbovirosis
- Aplikasi Abate
- Fogging
4.
7.
sediaan
orang
Rumah
Akhir 1)
Repelita I
(1973/74)
59,0
30,0
41,0
14,8
5.392,05.181,0
5.028,0
6243,0
4.153,7
3,7
5,1
5,4
6,0
1.955,01.151,0
1.624,01.127,0
1.689,0
2.302,0
4,5
1,8
0,2
1,5
-
3,3
-
2.341,0 2.937,4
3.408,0 2577,3
4.732,0
5.309,0
4366,0
4.645,0
3.991,0
4.429,0
3,4
-
4.687,9
5.419,6
4.8285
4.485,3
4.484,1
4.381,1
3,8
-
c. Penyakit Demam Berdarah (Arbovirosis)
Penyakit demam berdarah (PDB) masih merupakan penyakit
yang endemis terutama di 19 propinsi yang mencakup 122 daerah
tingkat II. Pada tahun 1993/94 angka kejadian penyakit ini tercatat
2,40 per 100.000 penduduk atau terjadi sedikit penurunan jika
dibandingkan tahun 1992/93 yaitu sebesar 2,45 per 100.000
penduduk. Penurunan ini menunjukkan makin intensifnya kegiatan
pencegahan dan pemberantasan penyakit ini.
Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit ini terutama
dilakukan dengan cara abatisasi masal dan penyemprotan masal di
tempat-tempat pembiakan nyamuk Aedes Aegypti. Di samping itu
juga dilakukan peningkatan pemantauan dan pengobatan penderita
secara dini yang ditunjang dengan kegiatan pemberantasan penyakit
menular secara terpadu dan efektif melalui berbagai sarana
pelayanan kesehatan yang ada.
Pada tahun 1993/94 dilakukan kegiatan abatisasi masal yang
mencakup sekitar 2,9 juta rumah, atau terjadi peningkatan jika
dibandingkan tahun 1992/93 yang baru mencapai 2,3 juta rumah.
Selain dengan metode abatisasi masal, kegiatan pemberantasan
nyamuk dilakukan pula dengan metode biologis di tempat-tempat
pembiakan nyamuk. Dalam metode biologis dilaksanakan pengendalian lingkungan yang bertujuan mengurangi atau menghilangkan
vektor.'antara lain dengan penebaran ikan kepala timah dan
penyaluran air tergenang yang menjadi tempat perindukan vektor.
Metode ini lebih baik karena mengurangi pencemaran lingkungan,
lebih murah dan lebih efektif.
Selain dengan abatisasi dan penyemprotan, untuk memberantas
nyamuk pembawa PDB dilakukan juga pengasapan (fogging) di
rumah-rumah yang tersangka menjadi sarang nyamuk pembawa
PDB. Kegiatan pengasapan rumah pada tahun 1993/94 mencakup
2,6 juta rumah. Pengurangan jumlah rumah yang menerima
pengasapan dibandingkan dengan tahun 1992/93 disebabkan
meningkatnya penggunaan metode biologis. Selama Repelita V
XVIII/23
jumlah rumah yang telah diabatisasi sekitar 9,9 juta rumah dan
pengasapan dilaksanakan terhadap sekitar 11,1 juta rumah.
Berkat berbagai upaya pemberantasan dan
pencegahan
tersebut maka laju kenaikan angka kesakitan penyakit ini dapat
ditekan. Pada tahun 1993/94 angka kematiannya sekitar 2,4
persen, sedangkan pada tahun 1992/93 masih sekitar 2,9 persen.
d.
Penyakit Tuberkulosa Paru
Sampai saat ini penyakit Tuberkulosa Paru masih merupakan
masalah yang memerlukan perhatian karena prevalensinya masih
cukup tinggi dan penyakit ini terutama menyerang masyarakat
berpenghasilan rendah dan yang tinggal di daerah perdesaan. Upaya
pemberantasan penyakit ini meliputi penemuan penderita,
pemeriksaan bakteriologis dan pengobatan penderita. Pemeriksaan
bakteriologis pada tahun 1993/94 dilakukan pada 972 ribu orang,
sedangkan pada tahun 1992/93 jumlah pemeriksaan menjangkau
792 ribu orang. Upaya pengobatan terhadap penderita pada tahun
1993/94 telah dilakukan pada 68 ribu orang. Pengurangan jumlah
pemeriksaan dan jumlah penderita yang mendapat pengobatan
sejalan dengan kebijaksanaan baru dalam pemberantasan
tuberkulosa yaitu lebih meningkatkan pengawasan pengobatan
untuk mempertinggi tingkat kesembuhan penderita. Di samping itu
kegiatan pencegahan dan pemberantasan penyakit ini didukung pula
oleh peran serta masyarakat melalui organisasi perkumpulan
pemberantasan tuberkulosa Indonesia (PPTI).
e.
Penyakit. Kaki Gajah dan Demam Keong
Penyakit kaki gajah masih diderita oleh sebagian penduduk
perdesaan di wilayah-wilayah Wtentu. Penyakit ini dapat
menyebabkan turunnya produktivitas kerja. Atas dasar suatu survai
yang diadakan pada tahun 1991/92 di daerah endemis diketahui
bahwa angka kesakitan penyakit kaki gajah (Filariasis) adalah
sekitar 43 per 1.000 penduduk. Sebagai tindak lanjut dari survai
XVIII/24
tersebut pada tahun 1993/94 dilakukan pengobatan masal terhadap
168 ribu orang, dari 238 desa yang endemis penyakit filariasis di
22 propinsi. Upaya ini merupakan kelanjutan dari tahun 1992/93
yang mencakup 131 ribu orang, dari 964 desa di 21 propinsi.
Upaya pemberantasan penyakit demam keong (Schistosomiasis) terutama ditujukan di daerah-daerah endemis yaitu di
Propinsi Sulawesi Tengah di sekitar Lembah Lindu, Kabupaten
Donggala dan Lembah Napu, Kabupaten Poso. Berjangkitnya
penyakit ini erat kaitannya dengan faktor lingkungan sebagai
habitat vektor penyakit demam keong. Penanggulangan penyakit
ini antara lain mencakup kegiatan pemeriksaan tinja dan peng
obatan penderita, di samping pengelolaan lingkungan berupa upaya
mengubah lingkungan setempat menjadi daerah irigasi pertanian
sehingga tidak memberi tempat hidup binatang/vector penyakit
ini. Pengobatan masal terhadap penduduk dilaksanakan dengan
menggunakan obat praziquantel secara rutin setiap 6 bulan.
Kegiatan ini diikuti dengan pengamatan penyakit, dan pemberantasan fokus keong penular.
f. Imunisasi
Salah satu program utama yang dilaksanakan dalam rangka
mempercepat penurunan angka kesakitan dan kematian bayi dan
anak balita adalah program Imunisasi. Cakupan imunisasi, sesuai
sasaran yang ditetapkan KTT Anak Sedunia (World Summit for
Children) pada tahun 2000 adalah 80 - 80 - 80. Artinya sasaran
cakupan imunisasi dasar (BCG, DPT, polio, Campak) pada tingkat
nasional, propinsi dan kabupaten masing-masing minimal harus
mencakup 80 persen bayi. Sasaran yang ditetapkan oleh KTT Anak
Sedunia tersebut dikenal dengan sasaran UCI.
Secara nasional Indonesia telah mencapai cakupan imunisasi
lengkap sebesar 91,1 persen untuk tahun 1993/94, yang berarti
telah melewati UCI. Angka cakupan imunisasi pada akhir Repe
lita V ini meningkat jika dibandingkan dengan angka cakupan pada
akhir Repelita IV yaitu sebesar 64,2 persen.
XVIII/25
Untuk memantapkan hasil imunisasi ini pengadaan sarana
yang dibutuhkan terus ditingkatkan, terutama untuk pengadaan
vaksin, alat sterilisator, cold chain, pelatihan petugas, dan sarana
pendukung operasional. Di samping itu dilakukan pula pemantauan
pelaksanaan di lapangan, terutama terhadap mutu vaksin dan
sebagainya.
g.
Penyakit Kusta
Upaya penanggulangan penyakit kusta terus ditingkatkan,
terutama bagi daerah-daerah yang prevalensinya cukup tinggi
seperti DI Aceh, Sulawesi Tenggara, Irian Jaya, Nusa Tenggara
Timur dan Sulawesi Selatan. Kegiatan penanggulangannya adalah
berupa pencarian penderita, pemantauan kasus dan pengobatan
penderita. Pada tahun 1993/94 telah dilaksanakan pemantauan
kasus di 5.000 desa, pemeriksaan terhadap 432 ribu orang anggota
keluarga yang mempunyai kontak erat dengan penderita,
pemeriksaan terhadap 3,4 juta anak sekolah dasar, dan pengobatan
teratur terhadap 39 ribu orang. Selama Repelita V penemuan
penderita baru berjumlah 11,7 juta orang, sedangkan jumlah
penderita yang melaksanakan pengobatan teratur adalah sekitar 321
ribu orang.
h.
Penyakit Frambusia
Pelaksanaan kegiatan ini terutama ditujukan untuk pemberantasan penyakit Frambusia didaerah endemis seperti propinsi
Jawa Timur, Sumatera Barat, Kalimantan Tengah, Nusa Tenggara
Timur, Maluku, Irian Jaya dan Timor Timur. Pada tahun 1993/94
pemeriksaan dilakukan terhadap sekitar 28 ribu orang, lebih besar
jumlahnya dari yang diperiksa tahun 1992/93 yang baru mencakup
21,9 ribu orang. Di samping pemeriksaan juga dilakukan kegiatan
pengobatan. Pada tahun 1993/94 jumlah penderita yang diobati
adalah 241 ribu orang, menurun sedikit jika dibandingkan dengan
tahun 1992/93 sebanyak 248 ribu. Selama Repelita V jumlah
penderita yang telah diobati adalah sekitar 2,4 juta orang.
XVIII/26
i. Penyakit Kelamin dan AIDS
Penanggulangan penyakit kelamin makin diintensifkan sejak
ditemukannya penderita Acquired Immuno Deficiency Syndrome
(AIDS) di Indonesia pada tahun 1987. Jumlah penderita Human
Immuno Deficiency Virus (HIV) positif dan penderita AIDS
menunjukkan kecenderungan meningkat dengan cepat. Jika pada
tahun 1987 baru dilaporkan 2 kasus AIDS dan 4 kasus HIV positif
maka sampai bulan Maret 1994 telah meningkat menjadi 55 kasus
AIDS dan 158 kasus HIV positif.
Kegiatan utama pencegahan dan penanggulangan penyakit
kelamin dan AIDS ditekankan pada kegiatan penyuluhan secara
intensif tentang cara-cara pencegahan terhadap penyakit ini, dan
pencarian tersangka penderita. Cara dan bahan penyuluhan
disesuaikan dengan nilai-nilai budaya dan agama yang berkembang
dimasyarakat. Bagi penderita penyakit kelamin bukan AIDS
diberikan pengobatan, sedangkan bagi penderita AIDS diberikan
pembinaan dan pengobatan khusus.
Selama Repelita V telah dilaksanakan kegiatan sero survai
AIDS dan sifilis terhadap 74.967 contoh, pemeriksaan Serologic
Test f o r Syphilis (STS) terhadap 29.367 contoh, dan pemeriksaan
virus HIV terhadap 669.951 kolf darah yang akan ditransfusikan.
Untuk meningkatkan pencegahan dan penanggulangan AIDS di
Indonesia secara menyeluruh, terpadu dan terkoordinasi, maka pada
tahun 1993/94 telah disiapkan pengaturan kerja sama antara
pemerintah, lembaga swadaya masyarakat dan pihak terkait lainnya
di bawah koordinasi Menteri Negara Koordinator Bidang
Kesejahteraan Rakyat.
XVIII/27
j. Karantina dan Kesehatan Pelabuhan (KKP)
Tujuan dari program ini adalah meningkatkan pengamatan
penyakit di pelabuhan-pelabuhan dengan prioritas utama pelabuhan
yang merupakan tempat masuknya sebagian besar wisatawan
asing. Hal ini sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan oleh
WHO dalam International Health Regulation, yang mengatur
tentang pemantauan dan pengamatan terhadap penyakit menular
tertentu di pelabuhan-pelabuhan. Kegiatan utama program ini
adalah berupa pelatihan petugas dan pengadaan peralatan
penunjang.
Upaya tersebut selanjutnya ditingkatkan dengan kegiatan
pemberantasan terhadap vektor nyamuk. Pada tahun 1993/94, telah
dilakukan pemberantasan vektor nyamuk di sekitar pelabuhanpelabuhan yang termasuk wilayah kerja KKP meliputi seluas
kurang lebih 10.491 hektare, sedangkan pada akhir Repelita IV
baru mencakup 3.222 hektare. Untuk mendukung kegiatan KKP
dilanjutkan kegiatan rehabilitasi dan pembangunan seluas 2.250
meterpersegi dan pengadaan peralatan serta pengadaan mobil
ambulans sebanyak 32 unit untuk 8 daerah KKP.
Dengan ditingkatkannya pelaksanaan program kegiatan
pencegahan dan pemberantasan penyakit maka sainpai dengan
Repelita V terjadi percepatan penurunan angka kesakitan dan
kematian. Hal ini antara lain dapat dilihat dari penurunan angka
kematian penyakit demam berdarah yang pada awal Repelita I
masih di atas 40 persen menurun menjadi 2,40 persen dan penyakit
malaria dari 1,3 persen menurun menjadi 0,1 persen untuk daerah
Jawa-Bali pada akhir PJP I. Demikian juga terjadi penurunan
angka kesakitan dan kematian untuk penyakit diare, TB paru,
kusta, kaki gajah dan frambusia secara bermakna.
XVIII/28
4. Program Perbaikan Gizi
Keadaan gizi masyarakat merupakan salah satu indikator
derajat kesehatan masyarakat dan kualitas hidup bangsa. Program
perbaikan gizi masyarakat akan mendukung upaya penurunan
angka kematian bayi, anak balita dan angka kematian ibu
melahirkan. Kegiatan program ini dalam tahun 1993/94 meliputi
usaha perbaikan gizi keluarga (UPGK), penanggulangan kurang
vitamin A, penanggulangan gangguan akibat kurang iodium
(GAKI), penanggulangan anemia gizi besi dan pengembangan
sistem kewaspadaan pangan dan gizi (SKPG).
Kegiatan utama UPGK berupa penyuluhan gizi masyarakat,
pelayanan gizi di posyandu dan pemanfaatan lahan pekarangan.
Kegiatan UPGK dilaksanakan secara lintas sektor dan didukung
oleh peran serta aktif masyarakat. Pada tahun 1993/94, UPGK telah
dilaksanakan di seluruh propinsi dan kabupaten/kota madya
meliputi 3.680 kecamatan, 61.766 desa. Pelayanan gizi di
posyandu dilakukan melalui kegiatan penimbangan bulanan anak
balita, penyuluhan gizi dan pemberian paket pertolongan gizi.
Jumlah posyandu yang melakukan pelayanan kegiatan gizi tahun
1993/94 adalah sebanyak 244.843 buah atau bertambah dengan
lebih dari 3.500 posyandu baru jika dibandingkan dengan tahun
1992/93. Dengan meningkatnya jumlah posyandu, meningkat pula
jumlah anak balita yang dilayani.
Upaya penanggulangan kurang vitamin A meliputi penyuluhan
gizi untuk meningkatkan konsumsi pangan yang kaya vitamin A,
terutama sayuran dan buah-buahan, dan pemberian kapsul vitamin
A dosis tinggi kepada anak balita yang didistribusikan melalui
posyandu dan sarana pelayanan kesehatan lainnya. Pada tahun
1993/94 jumlah anak balita yang mendapatkan kapsul ini berjumlah
lebih dari 13,7 juta atau meningkat sekitar 300 ribu dari tahun
1992/93.
XVII.I/29
Anemia gizi terutama pada ibu hamil, akibat kekurangan zat
besi, masih merupakan masalah gizi yang memerlukan perhatian
besar. Kegiatan utama penanggulangan anemia gizi adalah
pemberian tablet besi kepada ibu hamil dan penyuluhan gizi
tentang pentingnya makanan yang bergizi seimbang. Pada tahun
1993/94 jumlah ibu hamil yang mendapatkan tablet besi adalah
sekitar 1,8 juta orang lebih, atau meningkat sekitar 400 ribu lebih
jika dibandingkan dengan tahun 1992/93.
Upaya penanggulangan GAKI terus ditingkatkan. Kegiatannya
meliputi penyuluhan gizi untuk meningkatkan konsumsi pangan
yang kaya akan iodium, iodisasi garam dan pemberian kapsul
iodium terhadap penduduk di daerah endemik. Pada tahun 1993/94
jumlah penduduk yang mendapatkan kapsul iodium adalah sekitar
11 juta penduduk atau meningkat sekitar 2,4 juta penduduk jika
dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Kegiatan iodisasi garam
juga dilanjutkan dengan meningkatkan kesadaran masyarakat
dalam upaya mencegah penyakit gondok dengan cara mengonsumsi
garam beriodium. Perhatian lebih besar diberikan pada penyempurnaan peraturan perundangan tentang iodisasi garam sebagai
persiapan intensifikasi program dalam Repelita VI.
Kegiatan SKPG seperti halnya tahun 1992/93 lebih ditekankan
pada pelaksanaan pemantauan status gizi (PSG) anak balita..
Kegiatan ini pada tahun 1993/94 telah dilaksanakan di 10.365
posyandu dari 1.203 kecamatan, 102 kabupaten dan 8 propinsi. Jika
dibandingkan dengan tahun 1992/93 jumlah posyandu yang
melaksanakan kegiatan ini meningkat sekitar 2.500 posyandu.
Dengan demikian pelaksanaan program perbaikan gizi telah
berhasil meningkatkan cakupan yang cukup berarti pada akhir
Repelita V. Jumlah desa yang melaksanakan UPGK sampai akhir
Repelita V tercatat lebih dari 61,7 ribu desa, sedangkan jumlah
posyandu sejak mulai dirintis telah meningkat menjadi 245 ribu
buah. Begitu pula halnya dengan cakupan penduduk yang
mendapatkan preparat iodiuln dalam rangka pencegahan GAKI
XVIII/30
sampai akhir PJP I sebanyak 36,5 juta orang. Sedangkan jumlah
anak balita yang mendapatkan kapsul vitamin A selama PJP I telah
mencakup 75,0 juta anak. Hal ini berdampak terhadap penurunan
prevalensi penyakit gizi kurang, terutama prevalensi kurang
vitamin A yang telah menurun dari 1,3 persen pada awal Repelita I
menjadi 0,35 persen pada akhir PJP I. Dengan demikian, program
perbaikan gizi, khususnya kegiatan penanggulangan kurang vitamin
A telah berhasil menurunkan jumlah penderita kebutaan, dan
berpengaruh pula terhadap penurunan angka kematian bayi dan
anak balita.
5. Program Penyediaan Air Bersih
Program penyediaan air bersih terutama diarahkan untuk
mencukupi kebutuhan penyediaan air bersih yang memenuhi syarat
kesehatan bagi seluruh masyarakat, khususnya bagi penduduk
perdesaan dan perkotaan yang kurang mampu. Kegiatan pokoknya
meliputi peningkatan peran serta masyarakat, penyuluhan
kesehatan dan peningkatan kualitas air, pengembangan institusi
pengelola air, pembangunan sarana penyediaan air bersih dan
pengawasan kualitas air.
Kegiatan pengawasan kualitas air pada tahun 1993/94
meliputi monitoring kualitas air, survai kualitas air bersih dan
pengawasan kualitas air pada badan-badan air. Untuk mendukung
kegiatan ini pada tahun 1993/94 dilaksanakan pengadaan 30 paket
alat laboratorium untuk pemeriksaan kualitas bakteriologis air.
Khusus untuk Puskesmas di daerah terpencil disediakan 30 paket
alat laboratorium (water test kit). Untuk meningkatkan cakupan air
bersih bagi penduduk pada tahun 1993/94 telah dibangun berbagai
sarana penyediaan air bersih yang terdiri dari penampungan air
bersih dengan sistem perpipaan (PP) 61 buah, penampungan air
hujan (PAH) 997 bak, perlindungan mata air 43 buah, sumur
pampa tangan dangkal (SPTDK) 1.235 buah, sumur pompa tangan
dalam (SPTDL) 1.451 buah, sumur gali 2.487 buah dan hidran
umum 6.311 buah. Jumlah sarana ini meningkat jika dibandingkan
dengan tahun sebelumnya (Tabel XVIII-4).
XVIII/31
TABEL XVIII — 4
JUMLAH SARANA PENYEDIAAN AIR BERSIH
DAN SARANA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN
1973/74, 1988/89, 1989/90 — 1993/94
Akhir 1)
No.
Jenis Program
Satuan
Repelita I
(1973174)
Akhir 1)
Repelita IV
(1988189)
Repelita V
1989/90
1990/91
1991,92 1992,93
41
543
60
59
534
90
157
417
95
3.015 1.485
2389.
1993/94
A. Sarana Penyediaan Air Bersih
1.
2.
3.
4.
5.
Penampungan Mata Air dengan
Perpipaan (PP)
Penampungan Air Hujan (PAR)
Perlindungan Mata Air
Sumur Artetis (SA)
Sumur Pompa Tangan Dangkal (SPTDK)
buah
buah
bak
buah
sumur
sumur
108
24
10
3
150
14.942
1.357
67
162.931
45
429
115
61
997
43
1.117 1235
2.882
6.
7.
8.
Sumur Pompa Tangan Dalam (SPTDL)
Sumur Gali
Hidran Umum
26.834
46.953
sumur
sumur
buah
0
0
buah
2.456
68.587
buah
0
53.774
1.023 679
808
1522
1.075 2.749
1.103 225
340
2.087
5.101 4.702
1.451
2.487
6.311
B. Sarana Kesehatan Perumahan dan
Lingkungan
1.
2.
Pembangunan Jamban Keluarga
Sarana Pembuangan Air Limbah
(SPAL)
4.760
11.665
20.019
1.735 1.069
1) Angka kumulatif 5 tahunan untuk kolom yang bertuliskan Akhir Repelita I dan IV, yang lain adalah angka tahunan
XVIII/32
24.137
3.639 634
51271
3.408
Dalam rangka meningkatkan partisipasi masyarakat, telah
dilaksanakan penyuluhan penyehatan air, peningkatan kegiatan
kelompok pemakai air, dan pembentukan desa percontohan
kesehatan lingkungan. Kegiatannya' pada tahun 1993/94 mencakup
sekitar 144 kabupaten, 251 kecamatan dan 3.348 desa.
Dibandingkan dengan tahun sebelumnya jumlah desa percontohan
meningkat lebih dari 16 kali lipat.
Dengan dilaksanakannya program ini, selama Repelita V
telah berhasil dibangun sarana penyediaan air bersih sebanyak
2.920 buah bak penampung air hujan, 9.241 buah sumur pompa
tangan dangkal, 4.481 buah sumur pompa tangan dalam dan
19.938 hidran umum yang baru dimulai pembangunannya pada
awal Repelita V. Secara keseluruhan, pada akhir PJP I, jumlah
sarana yang telah dibangun adalah sebanyak 38.566 bak PAH,
385.172 buah SPTDK, 56.315 buah SPTDL. Dengan demikian,
pada akhir PJP I cakupan air bersih bagi penduduk telah mencapai
80 persen untuk daerah perkotaan dan 50 persen untuk daerah
perdesaan.
6. Program Penyehatan Lingkungan Permukiman
Kegiatan penyehatan Iingkungan permukiman pada tahun
1993/94 dilaksanakan melalui pembangunan sarana kesehatan
perumahan dan lingkungan, penyehatan perumahan dan lingkungan, penyehatan daerah industri dan wisata, penyehatan makanan
serta pengawasan dan pengendalian pestisida.
Program ini bertujuan untuk mewujudkan lingkungan permukiman yang sehat, terutama bagi kelompok masyarakat yang
mempunyai risiko tinggi terhadap penyakit dan gangguan akibat
lingkungan yang kurang sehat.
Pada tahun 1993/94 telah dilaksanakan penyehatan perumah
an dan lingkungan di 519 lokasi, penyehatan makanan di 10.055
XVIII/33
tempat pengelolaan makanan, dan pengawasan serta pengendalian
pestisida di 572 lokasi. Selain itu telah dibangun jamban keluarga
dan sarana pembuangan air limbah masing-masingnya berjumlah
51.271 buah dan 3.408 buah. Dibandingkan dengan tahun 1992/93
pembangunan jamban keluarga meningkat dua kali lipat, sedangkan
pembangunan sarana pembuangan air limbah meningkat lima kali
lipat.
Selanjutnya melalui program pemugaran perumahan dan
lingkungan desa terpadu (P2LDT) yang dilaksanakan secara lintas
sektor, telah dilakukan upaya penyehatan rumah di 4.246 desa
dengan pemugaran 63.690 rumah.
Melalui peningkatan pelaksanaan berbagai kegiatan tersebut di
atas, selama lima tahun Repelita V telah dibangun 111.852 buah
jamban keluarga dan 10.485 buah sarana pembangunan air limbah,
sehingga pada akhir PJP I, telah berhasil dibangun sekitar 1,9 juta
buah jamban keluarga dan 95.024 buah sarana pembuangan air
limbah. Jika pada awal PJP I kegiatan program ini lebih ditekankan
pada kegiatan pembangunan sarana, maka selama Repelita V lebih
ditekankan pada kegiatan penyuluhan kesehatan dan pengawasan
mutu lingkungan untuk mewujudkan kualitas lingkungan yang lebih
sehat.
7. Program Penyuluban Kesehatan Masyarakat
Tujuan program ini adalah untuk mengubah perilaku
perorangan, keluarga dan masyarakat, dalam rangka membina dan
memelihara perilaku hidup sehat dan lingkungan sehat serta untuk
meningkatkan peran aktif mereka dalam upaya mewujudkan derajat
kesehatan yang optimal. Kegiatan pokoknya adalah berupa
pengembangan metode dan penyelenggaraan penyuluhan, penyebar luasan informasi kesehatan, dan pengembangan potensi swadaya
masyarakat di bidang kesehatan.
XVIII/34
Kegiatan penyebarluasan informasi kesehatan tahun 1993/94
meliputi pengadaan dan distribusi media penyuluhan sebanyak 1,7
juta lembar, penyebarluasan informasi melalui radio sebanyak 192
ribu kali, dan penyiaran melalui televisi sebanyak 883 kali.
Kegiatan lainnya yaitu, penyuluhan kelompok telah dilakukan
192.055 kali meningkat 16 kali jika dibandingkan dengan tahun
1992/93. Kelompok masyarakat yang menjadi sasaran penyuluhan
adalah organisasi wanita, pemuda dan organisasi keagamaan serta
profesi sehingga peran kelompok tersebut dapat meningkat dalam
pembangunan kesehatan. Penyuluhan kesehatan di rumah sakit
dilakukan terhadap penderita rawat jalan atau rawat inap dan
keluarganya yang ditujukan untuk meningkatkan kesadaran mereka
akan perlunya upaya pencegahan, pengobatan dan pemulihan
kesehatan.
Pengembangan penyelenggaraan penyuluhan antara lain dilaksanakan dengan cara melatih para petugas penyuluh kesehatan di
tingkat propinsi, kabupaten dan puskesmas yang pada tahun
1993/94 berjumlah 827 orang. Jenis pelatihannya antara lain
meliputi pelatihan teknis penyuluhan, pelatihan media dan pela
tihan penyuluhan kesehatan masyarakat di rumah sakit (PKM-RS).
Bersamaan dengan meningkatnya kegiatan program penyuluhan kesehatan selama kurun waktu PJP I, peran serta masya
rakat dalam pembangunan kesehatan juga meningkat yang
tercermin antara lain dari peningkatan jumlah posyandu dari 25
ribu buah pada tahun 1983 menjadi 244.843 buah pada akhir
Repelita V.
8. Program Pengendalian, Pengadaan dan Pengawasan Obat
Makanan dan Sebagainya
Tujuan dari program ini adalah untuk menyediakan obat yang
bermanfaat secara merata dan terjangkau oleh rakyat banyak.
Selain itu untuk menjamin mutu dan keamanan obat, makanan,
minuman, dan kosmetika yang beredar di masyarakat.
XVIII/35
Upaya penyediaan obat yang makin merata dan terjangkau
oleh rakyat banyak ditempuh melalui peningkatan pemanfaatan
obat generik berlogo (OGB). Nilai peredaran OGB tahun 1993/94
adalah Rp63,9 miliar sedikit meningkat jika dibandingkan dengan
tahun 1992/93 yang nilainya Rp63,6 miliar. Demikian pula halnya
dengan jumlah industri farmasi yang memproduksi OGB meningkat
dari 22 menjadi 26 industri yang memproduksi 167 jenis obat yang
beredar.
Penilaian dan pengujian keamanan obat, makanan, kosmetik,
dan alat kesehatan yang dilakukan pada tahun 1993/94 meliputi
1.710 jenis obat, 250 jenis obat tradisional, 3.000 jenis makanan
dan minuman, dan 2.600 jenis kosmetika dan alai kesehatan.
Selama tahun 1993/94 dilaksanakan pula operasi pemeriksaan
sarana produksi dan distribusi terhadap 10.949 unit. Selanjutnya
dilaksanakan penyelidikan terhadap, peredaran produk gelap, palsu
serta pelanggaran lainnya meliputi 312 kasus. Selain itu telah
dilaksanakan analisis laboratorium terhadap 39.800 contoh dalam
rangka pengawasan mutu sediaan farmasi, makanan dan alat
kesehatan.
Selanjutnya dilakukan bimbingan dan pembinaan secara
intensif tentang penerapan cara produksi obat yang baik (CPOB)
terhadap 91 industri farmasi. Hal ini meningkat hampir dua kali
lipat jika dibandingkan dengan tahun 1992/93 yang baru mencakup
52 industri farmasi.
Dalam rangka peningkatan kemampuan pengelola obat
khususnya perencanaan obat di Dati II, pada tahun 1993/94 telah
dilatih 357 orang petugas pengelola obat Dati II. Untuk
mendukung kegiatan pengelolaan obat pada tahun 1993/94
dibangun lagi 3 gudang farmasi baru di Dati II, sehingga gudang
farmasi yang telah dibangun total berjumlah 299 buah. Dengan
demikian pada akhir Repelita V hampir semua Dati II telah
memiliki gudang farmasi.
XVIII/36
Dengan dilaksanakannya kegiatan-kegiatan dalam program ini,
maka pada akhir Repelita V sekitar 98 persen dari nilai kebutuhan
obat nasional telah dapat diproduksi di dalam negeri. Keberhasilan
lain yang penting dari program ini adalah dalam hal peningkatan
pemanfaatan OGB. Jika pada tahun 1990 nilai peredaran OGB
adalah sebesar Rp24 miliar maka pada tahun terakhir Repelita V
telah menjadi Rp63,9 miliar atau terjadi peningkatan hampir 3 kali
lipat. Begitu pula halnya jenis obat yang diproduksi meningkat dari
109 jenis menjadi 167 jenis. Dengan demikian kegiatan program ini
makin mengarah kepada tujuan program, yaitu tersedianya obat
secara merata dengan harga yang terjangkau oleh rakyat banyak.
9. Program Pendidikan, Latihan dan Pendayagunaan Tenaga
Kesehatan
Program ini bertujuan untuk mendukung penyediaan tenaga
kesehatan yang cukup jumlahnya, bermutu dan
merata
distribusinya sesuai dengan kebutuhan pelayanan kesehatan. Untuk
mendukung penambahan jumlah dan jenis tenaga kesehatan, selama
tahun 1993/94 telah dibangun 9 institusi pendidikan baru terdiri
dari 6 institusi pendidikan paramedis perawatan dan 3 institusi
pendidikan paramedis nonperawatan. Dengan demikian jumlah
institusi pendidikan kesehatan pada tahun 1993/94 menjadi 483,
meningkat jika dibandingkan dengan tahun 1992/93
yang
berjumlah 474 buah. Sejalan dengan pertambahan jumlah institusi
pendidikan maka jumlah peserta didik dan lulusan meningkat pula
yaitu dari 87.320 orang dan 29.298 orang tahun 1992/93 menjadi
100.843 orang dan 32.972 orang.
Untuk meningkatkan kualitas pendidikan, selama tahun
1993/94 telah diangkat 373 tenaga guru. Selain itu untuk
meningkatkan kemampuan guru dalam proses belajar mengajar
telah dilaksanakan program akta mengajar III dan IV terhadap 283
orang guru, dan pelatihan untuk pendalaman bidang studi terhadap
1.846 guru.
XVIII/37
Upaya peningkatan pengetahuan, sikap dan keterampilan
tenaga kesehatan, antara lain dilaksanakan melalui berbagai
pelatihan yang dikoordinasikan oleh balai latihan kesehatan
masyarakat (BLKM) dan pusat pendidikan latihan pegawai
(pusdiklat). Kegiatan pelatihan pada tahun 1993/94 meliputi 8.793
orang latihan prajabatan, 13.508 teknis fungsional, 1.993 orang
latihan administrasi manajemen dan 662 orang pelatihan
widyaiswara.
Untuk lebih memeratakan distribusi tenaga kesehatan, dalam
tahun 1993/94 telah diangkat dan ditempatkan 1.700 dokter, 336
dokter gigi, 4.490 paramedis perawatan termasuk bidan, 3.803
paramedis nonperawatan dan 605 orang tenaga akademis bidang
kesehatan (Tabel XVIII-5). Dibandingkan dengan jumlah tenaga
yang diangkat pada tahun 1992/93 -sebanyak 16.050 orang telah
terjadi penurunan, disebabkan adanya keterbatasan formasi untuk
pengangkatan tenaga baru. Penempatan dokter sebagai pegawai
tidak tetap (PTT) pada 1992/93 lebih besar dari tahun 1993/94 oleh
karena jumlah tersebut selain untuk semua dokter lulusan tahun
1992 juga dimasukkan dokter lulusan tahun-tahun sebelumnya.
Seluruh lulusan pendidikan dokter tahun 1993 telah diangkat
sebagai dokter PTT pada tahun 1993/94.
Melalui program ini telah berhasil ditempatkan. berbagai jenis
tenaga kesehatan yang selama Repelita V berjumlah sebanyak
78.543 orang termasuk 4.952 orang dokter PTT dan 19.712 orang
bidan di desa. Dengan demikian dalam kurun waktu PJP I, yaitu
sejak awal Repelita I sampai dengan akhir Repelita V, secara
keseluruhan penempatan tenaga kesehatan berjumlah 502.235
orang. Selain itu jumlah dokter meningkat dari 4,3 dokter untuk
melayani 100.000 penduduk pada tahun 1968 menjadi 16,9 dokter
untuk 100.000 penduduk pada tahun 1993/94.
Dampak dari peningkatan dan perluasan cakupan dan mutu
pelayanan kesehatan tercermin dari perbaikan berbagai indikator
XVIII/38
TABEL XVIII - 5
PERKEMBANGAN JUMLAH BEBERAPA JENIS TENAGA KESEHATAN,
1968, 1988/89, 1989/90 - 1993/94
No.
Jenis Tenaga
1. Dokter
2.
Dokter Gigi
3.
Perawat)
1968 1)
5.000
Repelita V
1989/90
24.070
749
1990/91
1.632
1.096
346
263
10.840
11.003
1991/92
1992/93
924
622
1993/94
2.604
520
1.700
336
3.767
Perawat Kesehatan 2)
4.
Akhir 1)
Repelita IV
(1988/89)
Bidan )
77.935
7.090
9.655
4.490
3.863
5. Paramedis Non Perawat dan
Pekarya Kcsehatan
2.085
67.762
5.145
4.983
3.199
1.904
3.803
6. Tenaga akademis bidang
kesehatan
1.182
8.752
1.251
1.605
1.560
1.367
605
15.897
179.268
.Iumlah
19.214
1) Angka kumulatif untuk tahun 1968/69 dan Akhir Repelita IV, yang lain angka tahunan
2) Mulai tahun 1976/77 Perawat dan Bidan ditingkatkan menjadi tenaga Perawat Kesehatan
XVIII/38
18.950
13.395
16.050 10.934
kesehatan masyarakat. Angka kematian bayi.turun dari 145 per
1.000 kelahiran hidup pada tahun 1967, menjadi 58 per 1.000
kelahiran hidup pada tahun 1993, sedangkan angka kematian ibu
turun dari 450 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 1986
menjadi 425 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 1992. Selain
itu angka prevalensi kurang energi dan protein (KEP) sedang dan
berat pada anak balita turun dari 18,9 persen pada tahun 1978
menjadi 11,8 persen pada tahun 1992 dan prevalensi kurang
vitamin A turun dari 1,3 persen pada awal Repelita I menjadi 0,35
persen pada akhir PJP I. Dengan demikian angka harapan hidup
waktu lahir meningkat dari 45,7 tahun pada tahun 1967 menjadi
62,7 tahun pada tahun 1993. Perluasan cakupan dan peningkatan
rnutu pelayanan kesehatan antara lain dapat dilihat dari
pertambahan sarana pelayanan kesehatan terutama pelayanan
kesehatan dasar, penambahan dan penyebaran tenaga yang semakin
merata dan peningkatan cakupan kegiatan berbagai program
pembangunan kesehatan serta peningkatan partisipasi masyarakat
dalam pembangunan kesehatan.
C. KESEJAHTERAAN SOSIAL
Pembangunan di bidang kesejahteraan sosial dilaksanakan
melalui program-program: (1) pembinaan dan pengembangan
kesejahteraan sosial; (2) pelayanan clan rehabilitasi sosial; (3) pembinaan generasi muda; (4) peningkatan peranan wanita; (5) pendidikan dan pelatihan tenaga kesejahteraan sosial; dan (6)
penelitian dan pengembangan kesejahteraan sosial.
1. Program Pembinaan dan Pengembangan Kesejahteraan
Sosial
Program ini bertujuan untuk membina dan mengembangkan
swadaya masyarakat dengan menggerakkan potensi dan sumbersumber kesejahteraan sosial yang ada di masyarakat. Dengan
demikian diharapkan dapat dicegah atau diperkecil timbulnya
XVIII/40
kerawanan sosial di dalam masyarakat sehingga taraf kehidupan
masyarakat meningkat. Program ini dilaksanakan bersama dengan
Pekerja Sosial Masyarakat (PSM), pemuda yang tergabung dalam
Karang Taruna dan organisasi-organisasi sosial lainnya.
Dalam tahun 1993/94 kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan
dalam program ini meliputi: (a) penyuluhan sosial dan pembinaan
pekerja sosial masyarakat; (b) pembinaan swadaya masyarakat
bidang perumahan dan lingkungan; (c) pembinaan kesejahteraan
sosial masyarakat terasing; (d) pembinaan nilai-nilai kepahlawanan
dan keperintisan; (e) pembinaan organisasi sosial masyarakat.
a. Penyuluhan Sosial dan Pembinaan Pekerja Sosial
Masyarakat.
Penyuluhan sosial yang merupakan kegiatan pokok dalam
usaha kesejahteraan sosial dilaksanakan untuk menciptakan kondisi
agar masyarakat makin dapat menerima dan mendukung nilai -nilai
pembaharuan yang ditentukan oleh pembangunan. Untuk
meningkatkan efektivitas kegiatan penyuluhan sosial, tenaga PSM
terus dibina dan ditingkatkan pengetahuan dan keterampilannya
melalui berbagai pelatihan.
Dalam tahun 1993/94 telah dilatih dan dibina sebanyak 12.750
PSM yang terdapat di semua propinsi. Jumlah tersebut hampir sama
dengan jumlah PSM yang dilatih dan dibina pada tahun
sebelumnya. Dengan demikian dalam Repelita V PSM yang telah
dilatih dan dibina seluruhnya berjumlah 59.640 orang
yang
tersebar di seluruh Indonesia (Tabel XVIII-6). Sedangkan PSM
yang telah dilatih dan dibina selama PJP I seluruhnya berjumlah
207.058 orang. Jumlah tersebut merupakan cerminan dari besarnya
potensi kesadaran dan partisipasi masyarakat yang dapat diharap kan dalam menangani permasalahan kesejahteraan sosial. Dengan
makin bertambahnya tenaga PSM yang lebih tinggi pengetahuan,
keterampilan dan pengabdiannya, makin tersedia tenaga yang lebih
profesional untuk memperluas dan meningkatkan mutu pelayanan
sosial disemua daerah.
XVIII/41
TABEL XVIII,- 6
PEMBINAAN PEKERJA SOSIAL MASYARAKAT (PSM) 1)
MENURUT DAERAH TINGKAT I, 1973/74,1988/89,1989/90 - 1993/94 (orang)
Akhir
No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
Daerah Tingkat 1/
Propinsi
D K I Jakarta
Jawa Barat
Jawa Tengah
D I Yogyakarta
Jawa Timur
D I Aceh
Sumatera Utara
Sumatera Barat
Riau
Jambi
Sumatera Selatan
Bengkulu
Lampung
Kalimantan Barat
Kalimantan Tengah
Kalimantan Selatan
Kalimantan Timur
Sulawesi Utara
Sulawesi Tengah
Sulawesi Selatan
Sulawesi Tenggara
Maluku
B a l i
Nusa Tenggara Barat
Nusa Tenggara Timur
Irian Jaya
Timor Timur
Jumlah
1)
Repelita I
(1973/74)
Akhir
Repelita IV
(1988/89)
Repelita V
1989/90
90
330
360
180
390
60
60
60
60
60
60
60
180
60
30
60
60
90
90
180
90
120
90
120
90
810
5.310
7.270
1.080
7.760
4.360
6.340
3.870
1.622
2.040
2.830
1.140
2.320
3.733
1.260
1.680
1.800
1.170
1.470
2.070
1.530
1.500
1•.280
880
2.400
2.430
1.710
360
420
510
360
600
450
600
540
300
360
300
180
130
300
270
210
300
300
270
600
210
360
300
390
450
750
180
3.030
71.665
10.000
1990/91
380
600
875
240
925
600
600
300
210
180
240
240
210
480
300
540
480
600
420
690 180
240
240
180
300
540
210
11.000
1991/92
1993/94
300
600
780
330
900
780
600
450
330
300
720
450
360
510
390
600
390
540
360
810
420
300
450
300
360
180
390
150
1.260
1.590
300
1.110
630
720
690
210
240
510
300
600
240
480
240
360
240
480
210
270
540
180
600
180
270
150
12.990
12.900
12.750
Angka kumulatif lima tahunan untuk kolom yang bertuliskan Akhir Repelita, yang lain adalah angka tahunan
XVIII/42
1992/93
300
720
900
300
930
540
510
420
210
360
690
510
390
270
270
660
510
390
480
1.020
240
330
600
510
390
270
270
b.
Pembinaan Swadaya Masyarakat Bidang Perumahan
dan Lingkungan
Kegiatan pembinaan swadaya masyarakat bidang perumahan
ditujukan terutama untuk masyarakat perdesaan agar memiliki
kesadaran akan pentingnya rumah dan lingkungan yang bersih dan
sehat, sehingga secara gotong royong dan berantai bersedia
memperbaiki atau memugar rumah yang kurang memenuhi syarat.
Pembinaan swadaya masyarakat ini dilakukan melalui kegiatan
penyuluhan, pembuatan rumah-rumah contoh, perbaikan bangunan
rumah, perbaikan jalan lingkungan, pengadaan sarana Mandi Cuci
Kakus (MCK), pengadaan sarana air bersih dan pemberian
stimulan usaha produksi bahan bangunan. Kegiatan ini dilak
sanakan secara terpadu antarinstansi pemerintah terkait di bawah
koordinasi Kantor Menteri Negara Perumahan Rakyat.
Pada tahun 1993/94 telah diperbaiki dan dipugar sejumlah
63.690 rumah di 4.246 desa yang tersebar di seluruh propinsi.
Jumlah ini hampir sama dengan tahun sebelumnya. Dalam Repe
lita V telah diperbaiki dan dipugar 264.868 rumah di 22.008 desa
(Tabel XVIII-7). Dengan demikian sejak dimulainya kegiatan ini
pada Repelita I sampai dengan tahun terakhir Repelita V telah
diperbaiki dan dipugar sebanyak 422.397 rumah di 32.927 desa
di Indonesia. Melalui kegiatan pemugaran rumah perdesaan ini
maka kebiasaan masyarakat desa tinggal di rumah yang gelap,
lembab dan tidak sehat, lambat lawn makin berubah ke arah rumah
dan lingkungan yang bersih dan sehat. Hal ini merupakan kemajuan
yang penting dalam kehidupan masyarakat desa.
c.
Pembinaan Kesejahteraan Sosial Masyarakat Terasing
Tujuan utama kegiatan ini adalah untuk membantu "membuka
jalan" masyarakat terasing ke arah cara hidup bermasyarakat yang
lebih maju seperti yang telah dimiliki oleh masyarakat di desa-desa
sekitarnya. Kegiatan yang dilaksanakan adalah berupa penyuluhan
XVIII/43
TABEL XVIII - 7
PELAKSANAAN PEMBINAAN SWADAYA MASYARAKAT 1)
BIDANG PERUMAHAN DAN LINGKUNGAN
MENURUT DAERAH TINGKAT I, 1973/74,
1988/89, 1989/90 - 1993/94
(rumah)
No. Daerah Tingkat I/
Propinsi
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
DKI Jakarta
Jawa Barat
Jawa Tengah
D I Yogyakarta
Jawa Timur
D I Aceh
Sumatera Utara
Sumatera Barat
Riau
Jambi
Sumatera Selatan
Bengkulu
Lampung
Kalimantan Barat
Kalimantan Tengah
Kalimantan Selatan
Kalimantan Timur
Sulawesi Utara
Sulawesi Tengah
Sulawesi Selatan
Sulawesi Tenggara
Maluku
Bali
Nusa Tenggara Barat
Nusa Tenggara Timur
Irian Jaya
Timor Timur
Jumlah : R u m a h
Desa
Akhir
Repelita I
(1973/74)
5
59
59
8
28
6
40
27
4
8
3
3
36
2
288
19
Akhir
Repelita IV
(1988/89)
1989/90
Repelita V
11.982
20.433
3.016
14.649
6.026
6.640
5.602
6.358
2.220
2.890
3.856
2.893
6.578
2.379
3.001
2.205
2.923
2.338
4.952
2.132
1.350
2.389
3.339
6.107
1.622
1.305
6.105
6.120
135
6.120
1.395
2.025
1.650
570
780
1.335
795
1.950
795
450
1.395
420
1.395
765
1.410
465
435
135
630
450
225
150
129.185
9.029
38.100
3.178
1990/91
5.172
4.872
276
7.788
1.608
1.788
1.836
1.656
1.176
1.272
1.356
1.284
1.872
1.248
1.548
1.500
1.392
2.268
1.320
984
1.308
744
972
1.380
888
756
48.264
4.022
1991/92
1992/93
5.196
5.046
720
7.212
3.072
1.896
2.064
1.320
1.308
1.260
1.008
1.704
1.320
840
1.968
2.124
1.248
840
1.464
1.044
1.056
1.032
1.080
1.500
900
756
6.888
6.852
756
6.912
4.044
2.937
2.112
2.076
2.016
2.208
1.860
2.200
1.788
1.812
2.316
1.608
2.040
1.920
2.796
1.441
1.364
1.416
1.980
2.148
1.356
990
48.978
4.104
65.836
6.458
1993/94
5.685
6.825
1.095
10.095
3.720
2.670
2.745
1.950
1.560
2.055
1.440
2.055
1.335
1.920
1.875
1.335
1.575
1.935
2.190
1.485
1.350
1.080
1.515
1.995
1.260
945
63.690
4.246
1) Angka kumulatif lima tahunan untuk kolom yang bertuliskan Akhir Repelita, yang lain adalah angka tahunan
XVIII/44
dan bimbingan sosial, perintisan perkampungan, penyediaan sarana
sosial yang dilengkapi dengan penyediaan lahan, rumah, jaminan
hidup, pemberian bimbingan keterampilan seperti pertanian,
peternakan yang diikuti dengan pemberian bermacam bibit. Upaya
pembinaan masyarakat terasing ini dilakukan secara terpadu
dengan instansi pemerintah terkait seperti Departemen Kesehatan,
Departemen Pertanian, Departemen Agama, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Badan Pertanahan Nasional, Pemerintah
Daerah dan lembaga sosial masyarakat termasuk lembaga keaga maan.
Pada tahurl 1993/94 masyarakat terasing yang dibina
seluruhnya sejak awal Repelita V (1989/90) berju mlah 5.286
kepala keluarga termasuk tambahan baru pada tahun 1993/94
sejumlah 316 kepala keluarga (Tabel XVIII-8). Apabila
dibandingkan dengan repelita-repelita sebelumnya, khususnya
Repelita I dan Repelita IV, jumlah keseluruhan yang dibina dalam
Repelita V lebih sedikit. Hal tersebut disebabkan oleh adanya
upaya-upaya penyempurnaan pola dan peningkatan intensitas
pembinaan bagi mereka. Pembinaan yang dilakukan dalam Repe lita I dan II masih sangat sederhana oleh karena itu hasilnya
kurang memadai. Berdasarkan pengalaman tersebut, sejak Repe lita III paket pembinaan diberikan tidak hanya dalam bentuk
penyuluhan dan bimbingan sosial, perintisan perkampungan dan
penyediaan sarana sosial, tetapi juga dilengkapi dengan penyediaan
lahan, rumah, jaminan hidup, pemberian keterampilan praktis,
bibit pertanian dan peternakan. Dalam Repelita V paket pembinaan
ini dilanjutkan dan lebih disempurnakan lagi dengan mening katkan intensitas penyuluhan dan bimbingan sosial bagi mereka.
Dengan paket yang lebih lengkap ini keluarga yang dapat
dimasyarakatkan dalam satu tahun jumlahnya lebih terbatas tetapi
pembinaannya lebih efektif.
Pembinaan masyarakat terasing yang berhasil, dapat dilihat
pada beberapa lokasi pembinaan seperti di permukiman Taramanu
di Propinsi Sulawesi Selatan dimana masyarakat telah berkebun
XVIII/45
TABEL XVIII — 8
PEMBINAAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT TERASING
MENURUT DAERAH TINGKAT I,
1973/74, 1988/89, 1989/90 — 1993/94
(kepala keluarga)
Akhir
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
Daerah Tingkat I/
Propinsi
Jawa Barat
D I Aceh
Sumatera Utara
Sumatera Barat
R i a u
Jambi
Sumatera Selatan
Bengkulu
Kalimantan Barat
Kalimantan Tengah
Kalimantan Selatan
Kalimantan Timur
Sulawesi Utara
Sulawesi Tengah
Sulawesi Selatan
Sulawesi Tenggara
Maluku
Nusa Tenggara Barat
Nusa Tenggara Timur
Irian Jaya
Jumlah
Repelita I
1973/74)
1)
—
150
400
700
2.400
—
400
—
220
600
—
415
600
`
150
—
1.000
7.035
Akhir
Repelita IV
(1988/89) 1)
1989/90
.1990/91
1991/92
1992/93
1993/94
100
75
45
200
465
75
55
175
465
190
92
345
50
536
310
300
500
250
375
2.715
—
40
45
75
225
70
47
—
90
45
150
300
70
47
—
150
45
213
351
70
91
25
190
45
263
425
115
191
100
246
—
238
352
317
187
300
—
87
120
50
131
45
100
400
50
87
220
50
181
50
95
150
496
101
134
353
50
230
98
141
201
536
153
186
478
50
280
140
191
246
586
210
192
525
—
232
180
247
203
50
665
100
91.5
145
1.115
204
1.252
259
1.212
7.318
2.050
3.000
3.984
4.970
5.286
1)
Angka kumulatif lima tahun untuk yang bertuliskan Akhir Repelita
2)
Angka kumulatif sejak tahun 1989/90
XIII/46
Repelita V 2)
tanaman coklat sebagai mata pencaharian dan telah mampu
membayar pajak; permukiman Suru di Propinsi Irian Jaya yang
semakin giat membuat karya seni ukir Asmat untuk dipasarkan
diluar lokasi mereka; permukiman Harantan di Propinsi
Kalimantan Selatan merupakan desa budaya sebagai obyek wisata;
permukiman Turang di Propinsi Kalimantan Barat yang telah
mengembangkan tanaman jeruk dan coklat; permukiman
Rarantikala di Propinsi Sulawesi Tengah yang telah berkembang
menjadi pusat perekonomian di tingkat kecamatan dengan hasil
kacang hijau dan kedele, anak-anak telah bersekolah dan bahkan
ada yang bersekolah di Perguruan Tinggi; dan permukiman Bone
Kacintala di Propinsi Sulawesi Tenggara dimana warganya telah
mengembangkan perkebunan jambu mete seluas 170 hektare dan
merupakan penghasil jambu mete terbesar di Kabupaten Muna.
Desa ini telah pula berhasil menjadi ' juara lomba PKK tingkat
propinsi dan desa teladan.
Mengingat masyarakat terasing pada umumnya termasuk
masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan, maka upaya
untuk memajukan kehidupan mereka merupakan bagian pula dari
upaya penanggulangan kemiskinan.
d. Pembinaan Nilai-nilai Kepahlawanan dan
Keperintisan
Tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk melestarikan
pewarisan dan penyebarluasan nilai-nilai kepahlawanan dan
keperintisan para Pahlawan Pejuang dan Perintis Kemerdekaan
agar senantiasa dihargai dan dihayati oleh generasi muda sebagai
generasi penerus bangsa. Kegiatan yang dilaksanakan meliputi
pemugaran dan pembangunan Taman-taman Makam Pahlawan
(TMP), Makam Pahlawan Nasional (MPN), dan Makam Perintis
Kemerdekaan (MPK) yang terdapat di hampir semua daerah.
D'alam tahun 1993/94 TMP dan MPN/MPK yang diperbaiki dan
dipugar berjumlah 46 buah TMP, dan 112 MPN/MPK tersebar di
11 propinsi. Pada tahun 1992/93 jumlah yang diperbaiki dan
XVIII/47
dipugar adalah 40 buah TMP dan 101 buah MPN/MPK. Dengan
demikian dalam Repelita V dari 260 TMP/TMPN yang ada telah
diperbaiki dan dipugar sebanyak 131 buah.
Di samping itu pada tahun 1993/94 telah dicetak dan
disebarluaskan 5.000 eksemplar buku otobiografi dan sejarah
perjuangan para pahlawan pejuang kemerdekaan yang disebar luaskan ke sekolah-sekolah tingkat SLTP dan SLTA seluruh
Indonesia. Selama lima tahun Repelita V telah dicetak dan
disebarluaskan 25.000 eksemplar buku otobiografi yang memuat
32 orang Pahlawan Nasional dan Perintis Kemerdekaan.
e. Pembinaan Organisasi Sosial Masyarakat
Tujuan utama kegiatan ini adalah membimb ing dan
memantapkan organisasi sosial masyarakat yang bergerak di bidang
usaha kesejahteraan sosial agar kemampuan dan profesionalisasi
pelayanannya meningkat. Pembinaan bag i organisasi -organisasi
sosial (orsos) dilaksanakan melalui berbagai macam pelatih an
antara lain pelatihan manajemen organisasi sosial, pelatihan profesi
pekerjaan sosial, di samping penyelenggaraan forum komunikasi
antara warga mampu dengan para pengurus orsos dan forum
komunikasi antara orsos yang kuat dengan orsos yang lemah.
Untuk lebih memantapkan dan memperluas jangkauan pelayanan
sosial diberikan pula bantuan sarana pelayanan bagi organisasi organisasi sosial yang memiliki panti.
Dalam tahun 1993/94 terdapat 843 organisasi sosial yang
mendapatkan bantuan sarana panti. Di samping itu telah
dilaksanakan pula pelatihan manajemen bagi 1.050 pengurus orsos
dan pelatihan profesi pekerjaan sosial bagi 1.380 pengurus orsos.
Dalam lima tahun Repelita V telah diberikan bantuan sarana
pelayanan sosial bagi 2.977 o r s o s , dilaksanakan pelatihan
manajemen bagi 6.000 pengurus orsos dan pelatihan profesi
pekerjaan sosial bagi 3.180 pengurus orsos. Dengan demikian
sejak dimulainya kegiatan ini pada Repelita III sampai dengan
XVIII/48
akhir Repelita V secara kumulatif telah diberikan bantuan
perlengkapan dan sarana panti untuk 5.177 orsos yang memiliki
panti, dan dilaksanakan pelatihan manajemen bagi 27.000 pengurus
orsos.
Dalam Repelita V telah semakin banyak organisasi sosial dan
kelompok masyarakat berperan serta dalam memberikan pelayanan
sosial. Hal ini menunjukkan meningkatnya kesadaran dan
kesetiakawanan sosial sebagai upaya perwujudan kehidupan
bermasyarakat yang peduli akan lingkungan dan nasib sesamanya.
2. Program Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial
Program Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial bertujuan untuk
memulihkan,
memelihara,
melayani
dan
meningkatkan
kesejahteraan sosial para penyandang masalah sosial yang tidak
dapat menjalankan fungsi sosialnya secara wajar. Melalui kegiatan
ini diharapkan dapat dipulihkan harga diri dan kepercayaan diri
para penyandang masalah sosial sehingga dapat hidup mandiri
secara layak dan dapat melaksanakan fungsi sosialnya secara wajar
serta dapat berperan aktif dalam pembangunan.
Dalam tahun 1993/94 kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan
melalui program ini meliputi: (a) penyantunan lanjut usia, anak terlantar dan yatim piatu; (b) penyantunan dan pengentasan
penyandang cacat; (c) penyantunan tuna sosial, anak nakal dan
korban narkotika; (d) bantuan pengentasan fakir miskin;
(e) bantuan rehabilitasi korban bencana.
a. Penyantunan Lanjut Usia, Anak Terlantar dan Yatim
Piatu
Penyantunan yang diberikan bagi para lanjut usia ditujukan
bagi mereka yang tidak mampu, baik yang tinggal sendiri ataupun
bersama keluarganya yang tidak mampu, dan mereka yang tinggal
di panti lanjut usia (Panti Tresna Werdha). Penyantunan yang
XVIII/49
diberikan pada lanjut usia di dalam panti adalah jaminan hidup
termasuk jaminan kesehatan dan rasa aman. Sementara itu bentuk
bantuan bagi mereka yang berada , di luar panti adalah berupa
sarana usaha agar dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri.
Dalam tahun 1993/94 jumlah bantuan kepada para lanjut usia
yang tidak mampu meningkat lebih dari dua kali lipat yaitu 40.144
orang dibanding dengan jumlah tahun 1992/93 yang berjumlah
19.021 orang. Selama Repelita V seluruhnya telah berhasil
dibantu sebanyak 116.979 lanjut usia yang tidak mampu (Tabel
XVIII-9). Dengan demikian sejak Repelita I sampai dengan tahun
terakhir Repelita V telah dibantu sebanyak 551.589 orang lanjut
usia tidak mampu. Di samping itu untuk mendukung pelayanan
bagi mereka pada tahun 1993/94 telah diperbaiki, dibangun dan
disempurnakan sebanyak 26 panti lanjut usia milik pemerintah.
Kegiatan penyantunan bagi anak terlantar dan yatim piatu
diberikan dalam bentuk bimbingan dan motivasi, serta pemberian
pelatihan berbagai jenis keterampilan. Pelatihan keterampilan
dilaksanakan dengan kerja sama antara lain dengan Balai Latihan
Kerja Indonesia (BLKI) Departemen Tenaga Kerja. Dalam tahun
1993/94 telah dibina dan dientaskan sebanyak 118.938 anak
terlantar atau meningkat sebanyak 11.232 orang anak (10,43
persen) bila dibandingkan dengan tahun 1992/93. Dengan demikian
selama Repelita V seluruhnya telah berhasil dibina sebanyak
452.015 orang (Tabel XVIII-9). Sementara itu sejak Repelita I
sampai dengan akhir Repelita V telah dibina dan dientaskan
sebanyak 1.010.365 orang anak terlantar. Di samping itu pada
tahun 1993/94 telah dilaksanakan perbaikan dan pembangunan
panti anak terlantar sebanyak 35 panti milik pemerintah dan 58
panti milik masyarakat.
b. Penyantunan dan Pengentasan Penyandang Cacat
Upaya penyantunan dan pengentasan penyandang cacat
bertujuan untuk meningkatkan harkat dan martabat serta
XVIII/50
TABEL XVIII - 9
PELAKSANAAN PENYANTUNAN KEPADA PARA LANJUT USIA DAN ANAK TERLANTAR
MENURUT DAERAH TINGKAT I,t)
1968, 1988/89, 1989/90 - 1993/94
(orang)
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
IS.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
Daerah Tingkat I/
Propinsi
Akhe
Repelita IV
Repelita V
________________________ 1968 ______________ (1988,/89) _______ 1989/90 ____________ 1990,91 __________ 1991,92 _____________ 1992/931993194
Lanjut Anak
Lanjm
Anak
Lan jut
Anak
Lanjm
Anak
Lanjm
Anak
Lanjm
Amok
Lan jut
Anak
Usia Terlantar
Usia
Teriantar
Usia Teriantar
Usia
Tedamar
Usia
Terlamar
Usia
Terianlar Usia
Tertantar
DKI Jakarta
Jawa Barest
Java Tenph
D I Yogyakarta
Jawa Maur
D I Aceh
Sumatera Utara
Sum-atom Barat
Riau
Jambi
Sumatera Selatan
Bengkulu
Lampung
Kalimantan Barat
Kalimantan Tengah
Kalimantan Selatan
KalknantanTimur
Sulawesi Utara
Sulawesi Tengah
Sulawesi Selatan
Sulawesi Tenggara
Maluku
Bali
Nusa Tenggara Sara t
Nusa Tenggara Timur
Irian Jaya
Timor Timur
80
40
40
30
40
40
30
40
30
20
30
30
20
30
30
30
30
30
30
30
20
30
20
-
200
120
120
90
120
80
90
120
90
60
80
90
Jumlah
750
2.100
50
80
20
90
70
70
20
90
20
90
90
60
90
-
12.016
I2389
12.174
5.745
13.025
6245
9.829
6.748
4.955
422A
8262
3.855
6.025
5.369
4.700
4.925
3.815
6.631
3.685
7.314
3.125
4.705
5.445
5.093
5.100
4.845
320
170.560
12.390
19.180
18.480
7.620
21375
7.956
12.707
9.247
6.437
6.384
8.760
6.340
8.894
5.857
6.000
7.552
6.210
7.677
6.480
13.320
5.752
7.351
8.548
9.430
8.070
8.370
613
247.000
1.945
2.010
2.070
650
2.120
445
1253
556
265
370
792
315
520
373
270
465
335
577
265
390
305
295
405
477
470
225
102
18265
3.910
8591
6.445
2.401
10.718
1.557
3.535
2235
1.504
902
1.007
513
855
1226
569
1.870
1.381
1.345
752
3.247
826
746
2.370
2.973
1298
1.309
717
2591
2248
2263
640
2.047
345
1255
425
335
330
742
375
620
533
395
425
505
668
365
590
405
395
485
321
460
255
190
64.802 20.208
1) Angka kumulatif lima tahunan untuk kolom yang bertuliskan akhir Repelita, yang lain adalah angka tahunan
XVIII/51
4.316
10572
6.819
2271
10.596
2.732
4.038
3.152
1.632
709
1.779
542
1.836
1.465
604
1.400
1.558
1253
1.439
2.751
661
726
1.925
3.326
393
2.591
2.739
2.882
2.193
2.020
580
2.047
515
910
310
285
265
782
375
520
473
355
390
335
688
475
560
335
375
375
435
350
315
196
4.413
11517
7.771
2.645
11.171
3.766
5.107
3.431
2.483
1226
1.587
757
2.009
1.832
678
1585
1.738
1.784
2.079
3.789
685
1.210
2229
4.960
.
835
3.556
1.901
3.375
1.542
1.801
633
1.898
525
766
410
285
300
825
400
525
599
355
385
345
645
475
525
335
375
405
440
340
315
197
4333
12.465
6284
2.632
15255
3.609
5.883
11.760
1.641
1.004
2.585
1.502
2.336
2.743
1.014
2.425
2.085
2.552
2.389
3.997
1.881
1.566
2.579
5.640
2.823
2.912
1.811
2.551
3.980
3.831
1.003
3.741
1.150
2.256
1.407
800
1.327
1258,
1.414
960
635
1.000
1270
1.155
1.079
1.695
834
1.096
875
1.415
1.360
1240
377
435
4.886
16.740
6.782
2.971
21.333
4210
12.703
4581
2.757
1.181
2.502
2282
2.879
1.062
2293
2299
1.908
2.417
5.409
1.251
1288
2.095
6.061
1.787
2.577
853
1.831
73.825
19.341
86.744
19.021
107.706
40.144
118.938
produktivitas penyandang cacat sebagai sumber daya manusia.
Upaya. tersebut dilaksanakan melalui pemberian motivasi,
rehabilitasi fisik, bimbingan mental dan sosial, serta pelatihan
keterampilan yang diikuti dengan praktek belajar kerja pada
perusahaan-perusahaan tertentu. Berbagai kegiatan tersebut
dilakukan dalam panti-panti rehabilitasi sosial penyandang cacat
yang didahului oleh santunan awal di luar panti melalui Unit
Rehabilitasi Sosial Keliling (URSK): dan pelatihan di Loka Bina
Karya (LBK).
Pada tahun 1993/94 telah diberikan pelayanan dan rehabilitasi
sosial bagi 44.701 penyandang cacat. Jumlah ini meningkat
sebanyak 16.659 orang (59,4 persen) dibanding tahun sebelumnya
(Tabel XVIII-10). Dengan demikian selama Repelita V telah
dilayani dan direhabilitasi penyandang cacat sebanyak 133,735
orang. Sejak Repelita I sampai tahun kelima Repelita V telah
berhasil dilayani dan direhabilitasi sebanyak 429.382 penyandang
cacat di seluruh Indonesia. Di samping itu pada tahun 1993/94
telah pula dilaksanakan pembangunan dan rehabilitasi panti
pemerintah dan masyarakat sebanyak 48 buah, pembangunan 8
buah LBK dan rehabilitasi gedung LBK sebanyak 31 buah clan
pengadaan 10 buah URSK.
Selanjutnya telah pula diberikan bantuan pengasramaan bagi
murid Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB) sebanyak 2.995 orang di
173 SDLB milik Pemerintah Daerah.
Dengan , berbagai upaya pelayanan dan rehabilitasi sosial
tersebut, telah banyak perusahaan-perusahaan yang menggunakan
penyandang cacat sebagai tenaga kerja produktif. Sebagai contoh di
Jawa Timur, para penyandang cacat telah bekerja di perusahaanperusahaan pakaian jadi, alat-alat rumah tangga, elektronika dan
mebel. Sementara itu di Sumatera Selatan para penyandang cacat
telah bekerja di pabrik perusahaan pakaian jadi. Di samping itu
Kelompok Usaha Produktif (KUP) penyandang cacat telah
dipercaya untuk memperoleh kredit dengan bunga ringan dari Bank
XVIII/52
T A B E L XVIII - 10
P E L A K S A N A A N P E N Y A N T U N A N DAN PENGENTASAN PARA CACAT
M E N U R U T D A E R A H TINGKAT I, 1)
1968, 1988/89, 1989/90 – 1993/94
(orang)
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
Daerah Tingkat I/
Propinsi
DKI Jakarta
Jawa Barat
Jawa Tengah
D I Yogyakarta
Jawa Timur
D I Aceh
Sumatera Utara
Sumatera Barat
Riau
Jambi
Sumatera Selatan
Bengkulu
Lam pu n g
Kalimantan Barat
Kalimantan Tengah
Kalimantan Selatan
Kalimantan Timur
Sulawesi Utara
Sulawesi Tengah
Sulawesi Selatan
Sulawesi Tenggara
Maluku
Bali
Nusa Tenggara Barat
Nusa Tenggara Timur
Irian Jaya
Timor Timur
Jumlah
1968
1.210
735
1.300
525
830
210
620
120
120
120
520
210
220
120
80
520
80
420
220
420
120
120
430
420
310
10.000
Akhir
Repelita IV
(1988/89)
Repelita V
1989/90
1990/91
1991/92
1992/93
1993/94
12.130
9.879
14.708
2.409
7.319
1.980
5.534
3.702
1.654
1.422
5.886
1.374
2.069
1.293
1.434
3.774
1.050
3.769
4.305
6.913
1.309
3.154
3.169
3.700
3.140
1.846
315
525
1.571
2.124
312
1.435
240
1.380
490
134
177
781
180
435
114
285
444
154
736
305
402
184
239
310
167
210
200
190
1.762
2.269
1.599
1.149
2.095
1.100
1.305
985
409
172
1.186
198
335
264
240
1.070
1.285
1.552
275
462
539
714
345
632
445
290
405
1.300
1.900
1.707
1.115
2.160
1.025
1.405
850
524
495
1.278
371
1.040
630
465
1.075
850
900
590
750
520
715
524
662
700
335
300
' 965
1.921
2.585
890
2.185
1.050
1.705
1.155
505
490
1.545
730
975
845
565
835
710
760
610
1.450
710
990
865
1.121
840
565
475
1.504
3.100
4.107
1.263
3.810
1.785
2.144
1.920
1.075
910
2.570
1.753
1.180
995
1.525
1.228
1.190
905
2.540
990
1.215
880
1.607
1.400
1.005
1.015
1.085
109.237
13.724
23.082
24.186
28.042
44.701
1) Angka kumulatif lima tahunan untuk kolom yang bertuliskan Akhir Repelita, yang lain adalah angka tahunan
XVIII/53
Rakyat Indonesia (BRI) dalam bentuk Kredit Modal Kerja
Permanen (KMKP) di 12 propinsi. Kepercayaan melalui pemberian
dan pembinaan kredit ini semakin luas dengan adanya tawaran
kredit antara lain dari PT Telekomunikasi, Indosat, dan Bukit Asam
serta proyek Pembinaan Peningkatan Pendapatan Petani Kecil
(P4K) Departemen Pertanian.
Pada tahun 1993/94 telah dilakukan rehabilitasi sosial bagi
para bekas penyandang penyakit kusta di luar permukiman
sebanyak 100 orang di Propinsi Nusa Tenggara Barat, dan 885
prang dalam permukiman di Propinsi Kalimantan Barat,
Kalimantan Timur, Sulawesi Tenggara, Maluku, Nusa Tenggara
Barat, dan Irian Jaya. Dengan demikian dalam Repelita V telah
dilakukan rehabilitasi sosial bagi 8.866 orang bekas penyandang
penyakit kusta baik yang dilakukan di dalam permukiman maupun di
luar permukiman.
c. Penyantunan Tuna Sosial, Anak Nakal dan Korban
Narkotika
Tujuan kegiatan ini adalah menyantun dan mengentaskan para
tuna sosial, dan anak nakal dan korban penyalahgunaan narkotika
agar mereka dapat kembali menjadi anggota masyarakat yang hidup
secara baik dan layak. Rehabilitasi sosial bagi tuna sosial yaitu
gelandangan dan pengemis, tuna susila dan bekas narapidana
terutama dilakukan dengan bimbingan sosial dan motivasi, pembinaan mental dan spiritual, dan pelatihan keterampilan untuk dapat
memanfaatkan kesempatan kerja yang ada. Sementara itu kegiatan
rehabilitasi untuk anak nakal dan korban penyalahgunaan narkotika
ditekankan pada upaya pencegahan yang dilakukan dalam bentuk
penyuluhan tentang bahaya narkotika melalui pertemuan dengan
warga masyarakat dan penyebaran selebaran berisi informasi
tentang hal tersebut. Bagi para penderita diupayakan rehabilitasi
sosial baik di dalam panti maupun di luar panti melalui bimbingan
mental, sosial dan fisik serta pelatihan keterampilan.
XVIII/54
Dalam tahun 1993/94 telah direhabilitasi dan diresosialisasi
sebanyak 950 orang tuna susila, 1.550 orang gelandangan dan
pengemis, dan 2.396 orang anak nakal dan korban penyalahgunaan
narkotika. Jumlah ini meningkat bila dibandingkan dengan tahun
sebelumnya terutama untuk anak nakal dan korban penyalahgunaan
narkotika sebanyak 413 orang (20,83 persen). Dengan demikian
selama Repelita V yang telah direhabilitasi dan diresosialisasi
4.418 tuna susila, 6.674 gelandangan dan pengemis dan 9.158 anak
nakal dan korban penyalahgunaan narkotika.
Melalui program ini sejak Repelita I sampai tahun terakhir
Repelita V telah direhabilitasi dan dientaskan gelandangan dan
pengemis sebanyak 55.098 orang. Sedangkan untuk tuna susila dan
anak nakal dan korban penyalahgunaan narkotika yang
rehabilitasinya dilaksanakan sejak awal Repelita II sampai dengan
tahun terakhir Repelita V masing-masing berjumlah 17.213 dan
20.891 orang.
Untuk menunjang kegiatan ini pada tahun 1993/94 telah
direhabilitasi dan disempurnakan 26 Panti Karya Wanita, 9 Panti
Rehabilitasi Anak Nakal dan Korban Narkotika dan 6 buah
Lingkungan Pondok Sosial (LIPOSOS) di beberapa daerah dan 5
Sasana Rehabilitasi Pengemis Gelandangan dan Orang Terlantar
(SRPGOT).
Upaya rehabilitasi anak nakal dan korban narkotika yang
dilakukan oleh Panti Rehabilitasi Sosial Korban Narkotika Wisma
Teratai, Surabaya (Jawa Timur) misalnya, telah berhasil
memperoleh kepercayaan dari pengusaha-pengusaha yang
memesan barang-barang industri rotan, kulit, sepatu dan tas yang
dihasilkan oleh anak-anak binaan panti tersebut. Panti Rehabilitasi
Sosial Korban Narkotika di Lembang (Jawa Barat) telah menjalin
hubungan kerja sama dengan perusahaan pakaian jadi dan sebagian
besar anak-anak binaannya dapat disalurkan untuk bekerja pada
perusahaan tersebut.
XVIII/55
d. Bantuan Pengentasan Fakir Miskin
Tujuan utama kegiatan ini adalah membantu meningkatkan
taraf kesejahteraan sosial kelompok masyarakat yang sangat miskin
terutama di daerah perdesaan yang dilakukan melalui pemberian
motivasi, pembentukan kelompok, dan pemberian paket usaha
produktif yang diawali dengan pelatihan keterampilan. Paket usaha
produktif dikelola secara berkelompok yang masing-masing terdiri
dari 10 kepala keluarga. Di setiap desa miskin yang terpilih
disantun rata-rata 3-5 Kelompok Usaha Bersama (KUB).
Kegiatan ini baru dimulai pada akhir Repelita IV dengan
jumlah kepala keluarga miskin yang dibina sebanyak 2.710. Pada
tahun 1993/94 jumlah kepala keluarga miskin yang berhasil dibantu
telah berjumlah 21.600 kepala keluarga yang tersebar di. 474 desa
di seluruh propinsi (Tabel XVIII-11). Jumlah ini meningkat bila
dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebanyak 4.970 kepala
keluarga (29,89 persen). Dalam Repelita V telah berhasil dibantu
76.841 kepala keluarga miskin. Mengingat jumlah kepala keluarga
miskin yang memerlukan bantuan masih banyak, maka dalam
kegiatan ini diupayakan adanya peran serta masyarakat sebagai
wujud kesetiakawanan sosial.
Sebagai contoh yang berhasil di desa Giri Rejo Imogiri
Kabupaten Bantul (DI Yogyakarta) bantuan berupa sejumlah
ternak sapi dalam beberapa tahun telah berlipat jumlahnya
sehingga dapat meningkatkan pendapatan masyarakat miskin
bahkan kemudian telah dapat disumbangkan pada keluarga miskin
lainnya yang belum memperoleh bantuan. Sementara itu di desa
Giri Wungu Kabupaten Gunung Kidul bantuan ternak sapi
sebanyak 27 ekor untuk 5 kelompok dalam beberapa tahun
berkembang menjadi 72 ekor. Setengah dari jumlah sapi tersebut
telah dijual untuk membiayai kebutuhan hidup dan sisanya dipelihara untuk dikembangkan lagi.
XVIII/56
TABEL XVIII — 11
PENYANTUNAN DAN PENGENTASAN FAKIR MISKIN
MENURUT DAERAH TINGKAT I, 1)
1988/89, 1989/90 — 1993/94
(desa dan kepala keluarga)
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
Daerah Tingknt I/
Propinsi
DKI Jakarta
Jawa Barat
Jawa Tengah
D I Yogyakarta
Jawa Timur
D I Aceh
Sumatera Utara
Sumatera Barat
Riau
Jambi
Sumatera. Selatan
Bengkulu
Lampung
Kalimantan Barat
Kalimantan Tengah
Kalimantan Selatan
Kalimantan Timur
Sulawesi Utara
Sulawei Tengah
Sulawesi Selatan
Sulawesi Tenggara
Maluku
Bali
Nusa Tenggara Barat
Nusa Tenggara Timur
Irian Jaya
Timor Timor
Jumlah
1)
Akhir
Repelita IV
_
(1988/89)
desa
kk
13
47
39
17
31
15
19
800
3.440
3.440
960
2.740
775
920
310
Repelita V
1989/90
desa
kk
55
41
13
49
29
33
1.930
1:400
360
1.710
560
720
8
8
19
7
13
23
8
10
9
160
160
430
140
300
430
160
200
180
280
120
120
200
120
610
550
150
300
1
24
550
750
2
9
11
100
585
910
9
23
IS
770
1.130
910
6
450
12
4
4
10
4
24
22
7
15
296
19.540
427
11.350
1990/91
desa
kk
48
36
22
38
20
44
1991/92
desa
kk
desa
1992/93
kk
1.920
1.440
880
1,520
400
1.330
29
28
13
26
17
23
1.160
1.120
520
1.040
340
690
62
60
22
59
13
21
2.490
2.420
900
2.360
380
650
11
20
20
22
13
26
33
330
600
600
440
260
780
810
13
13
17
20
11
24
20
13
16
260
420
340
600
330
700
600
260
320
20
17
21
16
17
19
20
—
15
18
19
15
—
20
20
8
19
600
510
630
400
425
570
500
—
375
576
475
450
—
600
600
160
380
—.
—
20
14
15
17
13
12
13
10
12
20
26
11
—
17
16
9
18
15.140
400
12.121
480
500
1993/94
desa
kk
600
420
480
480
420
370
400
320
370
620
790
330
—
510
500
270
550
44
46
14
52
12
20
15
10
6
17
20
20
12
15
12
15
12
10
18
17
10
7
20
22
6
22
2.340
2.460
880
2.810
480
790
610
430
290
720
830
810
430
590
520
700
410
360
750
700
330
400
890
960
220
890
16.630
474
21.600
Angka kumulad[ lima tahunan untuk kolom yang bertuliskan Akhir Repelita, yang lain adalah angka tahunan
XVIII/57
e. Bantuan Rehabilitasi Korban Bencana Alam
Kegiatan ini bertujuan untuk meringankan beban para korban
bencana alam, khususnya mereka yang tidak mampu, yang
diberikan dalam bentuk bantuan bahan makanan, obat-obatan, dan
bahan bangunan rumah untuk memperbaiki rumah mereka yang
rusak atau hancur akibat bencana.
Pada tahun 1993/94 tercatat serangkaian kejadian bencana
alam yang relatif besar. Bersama dengan masyarakat telah
diberikan bantuan darurat dan rehabilitasi rumah sebanyak 2.904
unit bagi korban bencana kebakaran Kotabaru di Kalimantan
Selatan. Di samping itu bantuan darurat dan rehabilitasi rumah
sebanyak 1.000 unit telali diberikan bagi korban gempa bumi di
Kabupaten Maluku Utara dan Halmahera Tengah di Maluku. Untuk
korban gempa Liwa di Lampung telah diberikan bantuan darurat
berupa bahan bangunan rumah sebanyak 10.387 unit, di samping
bantuan perbaikan sarana pelayanan umum, antara lain rehabilitasi
115 SD dan 13 buah puskesmas yang rusak akibat bencana.
Dalam rangka kesiapsiagaan penanggulangan bencana alam,
dalam tahun 1993/94 telah dilatih Satuan Tugas Sosial
Penanggulangan Bencana (SATGASOS PB) sebanyak 1.240 orang
dan diadakan sejumlah peralatan penanggulangan bencana dan
penyelamatan para korban.
Selama PJP I tercatat beberapa bencana besar, antara lain
meletusnya gunung Kelud di Jawa Timur, gunung Agung di Bali;
gunung Colo dan Soputan di Sulawesi Utara, gunung Galunggung di
Jawa Barat, gunung Kie Besi dan gunung Gamalama di Maluku;
tanah longsor di lembah Baliem (Irian Jaya), Padang (Sumatera
Barat), Kurima (Irian Jaya), Tasikmalaya (Jawa Barat), Lampung
Selatan (Lampung) dan Lumajang (Jawa Timur); gempa bumi di
Daerah Istimewa Aceh, Bali, Sulawesi Utara, Majalengka (Jawa
XVIII/58
Barat), Flores (Nusa Tenggara Timur), dan beberapa kabupaten di
Nusa Tenggara Timur yaitu Ende, Sikka, Ngada, Flores Timur,
Manggarai, Sumba Timur dan Alor, Maluku Utara dan Halmahera
(Maluku) dan Liwa (Lampung); kekeringan di gunung Kidul (Jawa
Tengah) dan Nusa Tenggara Timur; dan kebakaran di Kota Baru
(Kalimantan Selatan).
3. Program Pembinaan Generasi Muda
Pembinaan generasi muda di bidang kesejahteraan sosial
dipusatkan pada peningkatan pembinaan Karang Taruna, sebagai
organisasi sosial kepemudaan di tingkat desa/kelurahan. Karang
Taruna berfungsi pula sebagai wadah untuk mencegah kenakalan
remaja dan berperan dalam penanggulangannya, serta membantu
mengatasi masalah sosial di lingkungannya. Dalam rangka itu
Karang Taruna dibina agar anggota-anggotanya memiliki
keterampilan yang handal sehingga mampu menciptakan lapangan
pekerjaan bagi diri dan lingkungannya.
Pembinaan Karang Taruna sejak Repelita I sampai dengan
Repelita IV dititikberatkan pada upaya menumbuhkan Karang
Taruna di seluruh desa di Indonesia. Upaya ini telah berhasil
dilakukan. Dalam Repelita V pembinaan Karang Taruna
dititikberatkan pada upaya memantapkan dan meningkatkan mutu
organisasi melalui kegiatan pelatihan berbagai keterampilan
seperti pertanian dan industri serta pemberian bantuan paket Sarana
Usaha Karang Taruna.
Pada tahun 1993/94 telah diberikan bantuan paket Sarana
Usaha Karang Taruna kepada 2.985 Karang Taruna yang tersebar di
seluruh propinsi (Tabel XVIII-12). Selama.Repelita V telah
diberikan modal kerja bagi 13.288 Karang Taruna dari sekitar
65.000 Karang Taruna yang ada di Indonesia. Di samping itu pada
tahun 1993/94 telah dilaksanakan pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan kemampuan manajemen dan keterampilan bekerjasama
dengan Pusat Pendidikan Zeni Angkatan Darat (PUSDIKZIAD)
XVIII/59
11
TABEL XVIII — 12
BANTUAN PAKET SARANA USAHA KARANG TARUNA 1) MENURUT DAERAH
TINGKAT I,
1989/90 — 1993/94
(Karang Taruna)
Repelita V
No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23,
24.
25.
26.
27.
Daerah Tingkat It
Propinsi
DKI Jakarta
Jawa Barat
Jawa Tengah
D I Yogyakarta
Jawa Timur
D I Aceh
Sumatera Utara
Sumatera Barat
Riau
Jambi
Sumatera Selatan
La mpung
Kalimantan Barat
Kalimantan Tengah
Kalimantan Selatan
Kalimantan Timur
Sulawesi Utara
Sulawesi Tengah
Sulawesi Selatan
Sulawesi Tenggara
Maluku
Bali
Nusa Tenggara Barat
Nusa Tenggara Timur
Irian Jaya
Bengkulu
Timor Timur
Jumlah
1) Angka tahunan
XVIII/60
1989/90
1990/91
1991/92
1992/93
1993/94
42
199
200
54
200
140
145
118
55
50
X80
49
50
50
50
75
50
49
49
60
50
50
50
50
60
50
50
50
230
240
56
240
165
180
118
50
51
86
56
57
44
75
52
52
45
61
48
58
57
52
56
50
50
46
47
245
240
50
265
215
226
125
90
75
130
100
85
70
106
70
70
70
130
70
75
76
75
75
75
75
70
55
270
251
40
270
166
150
115
100
71
160
75
65
116
79
70
70
110
60
75
40
60
75
50
80
115
65
26
331
331
36
341
171
202
151
71
56
125
100
81
56
121
56
56
66
106
53
91
43
52
99
46
67
51
2.125
2.325
3.000
2.853
2.985
di Bogor dan dengan Balai Pelatihan Pertanian di Ciawi,
pembudidayaan udang galah dan peternakan di Tasikmalaya, serta
dalam pembudidayaan udang windu di Jepara, kerajinan rotan dan
kulit di Sidoarjo, dan peternakan dan pertanian terpadu di Tapos.
Selanjutnya telah diselenggarakan pula temu karya, bhakti sosial
dan tukar menukar informasi dan pengalaman• antar Karang Taruna
dari berbagai propinsi.
Hasil pembinaan Karang Taruna dapat dilihat antara lain dari
tumbuhnya usaha-usaha Karang Taruna dalam bidang industri
kecil, kerajinan rotan, kulit, bambu, kayu, perbengkelan,
pertambakan, dan pertanian di beberapa daerah, seperti di desa
desa Raba (Bima), Pagar Dewa (Bengkulu), Sido Mulyo (Magetan), Babat (Lamongan), Purwodadi (Pasuruan), Wonoatu
(Trenggalek), Singasari (Tasikmalaya), Potobo (Donggala),
Bangunjiwo (Bantul), dan Pakem (Kaliurang). Selain itu terdapat
pula beberapa Karang Taruna dari sejumlah desa di Jawa Timur,
Jawa Tengah, Jawa Ba'rat, Sumatera Selatan dan Kalimantan
Selatan yang ikut mengelola Posyandu, memberikan pelayanan
Keluarga Berencana dan melaksanakan Program Paket Kerja dan
Belajar (Kejar) dari Program Pendidikan Masyarakat.
4. Program Peningkatan Peranan Wanita
Upaya ini bertujuan untuk meningkatkan peran serta wanita
desa dalam pembangunan melalui peningkatan keterampilan kaum
wanita yang rawan sosial ekonominya, yang dilakukan dengan
bimbingan usaha swadaya wanita desa (USWD), usaha pencegahan
urbanisasi wanita usia muda ke daerah perkotaan, serta pelatihan
kepemimpinan sosial wanita untuk dapat menanggulangi dan
mencegah, masalah kenakalan remaja, masalah tuna karya dan tuna
susila.
Dalam tahun 1993/94 telah dilaksanakan pelatihan
kepemimpinan sosial wanita bagi 120 orang pimpinan organisasi di
6 kabupaten, dan peningkatan keterampilan kaum wanita yang
XVIII/61
rawan sosial ekonomi melalui bimbingan USWD untuk 1.282
orang di 106 desa dari 23 propinsi. Pada tahun yang sama
dilakukan pula usaha-usaha penyuluhan pencegahan urbanisasi
wanita muda usia di desa-desa yang rawan sosial ekonominya.
Kegiatan ini telah dapat menjangkau sekitar 985 orang di 81 desa,
termasuk pemberian bantuan sarana usaha produktif untuk
meningkatkan pendapatan mereka. Dengan demikian dalam
Repelita V telah dilaksanakan pelatihan kepemimpinan sosial
wanita bagi 2.050 orang pimpinan organisasi dan peningkatan
keterampilan kaum wanita yang rawan sosial ekonomi melalui
USWD untuk 5.742 orang.
Melalui program ini sejak Repelita III sampai dengan Repelita V kegiatan pelatihan kepemimpinan sosial wanita bagi
pimpinan organisasi dan peningkatan keterampilan kaum wanita
yang rawan sosial ekonomi yang diberikan dalam bentuk
bimbingan USWD secara berturut-turut telah dilaksanakan bagi
10.205 orang dan 55.217 orang wanita yang rawan sosial
ekonominya.
5. Program Pendidikan dan Pelatihan Tenaga Kesejahteraan
Sosial
Program ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan,
keahlian dan keterampilan serta wawasan tenaga-tenaga pelaksana
pembangunan bidang kesejahteraan sosial baik pegawai pemerintah
maupun tenaga kesejahteraan sosial masyarakat, melalui berbagai
pelatihan administrasi dan pelatihan profesi pekerjaan sosial.
Dalam tahun 1993/94 telah dilaksanakan pelatihan profesi
pekerjaan sosial untuk 300 petugas sosial kecaniatan (PSK) dan
dalam Repelita V PSK yang dilatih berjumlah 800 orang.
Melalui program ini pada tahun 1993/94 dilaksanakan pula
pelatihan bagi pemuda potensial sebagai PSM Satuan Tugas Sosial
(PSM SATGASOS) yang akan bertugas sebagai penggerak
XVIII/62
pembangunan, dan sukarelawan di daerah terpencil dan terasing.
Di daerah-daerah tersebut mereka akan membina masyarakat
terpencil dan terasing agar dapat membangun sendiri keluarga dan
masyarakatnya melalui kegiatan pertanian ,
peternakan,
pertukangan dan lain sebagainya. Pada tahun 1993/94 telah dilatih
PSM SATGASOS sebanyak 350 orang dan telah ditempatkan di
Propinsi Riau, Sumatera Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan
Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara dan Propinsi Nusa
Tenggara Barat. Jumlah ini lebih kecil dari tahun 1992/93 karena
pola pelatihan SATGASOS akan diterapkan untuk melatih seluruh
pegawai baru di Departemen Sosial pada tahun berikutnya, sehingga
setiap pegawai baru paling tidak memiliki semangat dan
keterampilan yang setara dengan SATGASOS. Dalam Repelita V
telah dilatih dan ditempatkan 1.950 PSM SATGASOS.
6. Program Penelitian dan Pengembangan
Sosial
Kesejahteraan
Program ini bertujuan untuk mengkaji dan menyempurnakan
sistem dan pola penanganan masalah dalam rangka meningkatkan
efisiensi dan efektivitas pelaksanaan program kesejahteraan sosial
sesuai dengan keadaan dan perkembangan masalah sosial yang
dihadapi. Kegiatan-kegiatan yang telah dilaksanakan dalam tahun
1993/94 meliputi :
a)
Kaji tindak (Action Research) Pola Konsentrasi Proyek-proyek
Pembangunan Bidang Kesejahteraan Sosial.
b) Evaluasi Kesiapsiagaan Tenaga Pelaksana pembangunan
Bidang Kesejahteraan Sosial Dalam Rangka Pelaksanaan
Kebijaksanaan Desentralisasi dan Otonomi Daerah.
c)
Evaluasi Pelaksanaan Pembinaan Rehabilitasi Sosial Bekas
Penyandang Penyakit Kusta di lokasi Permukiman.
XVIII/63
d) Evaluasi Program Penyantunan dan Pengentasan Anak
Terlantar melalui Sistem dalam Panti/Sasana.
e). Penelitian Eksploratif Terhadap Permasalahan Kesejahteraan
Sosial di Daerah Sentra Industri (tinjauan terhadap sumber
timbulnya wanita tuna susila di Batam dan Bontang).
f)
Penelitian Fungsi dan Peranan PSK dalam melaksanakan tugas
Pelayanan Kesejahteraan Sosial.
g) Penelitian Determinan Perilaku Penyalahgunaan Obat/
Narkotika.
h) Penelitian Peranan PSM dalam Penanganan Masalah
Kesejahteraan Sosial.
i)
Penelitian efektivitas kegiatan pelaksanaan SATGASOS PB
dalam rangka meningkatkan Kesiapsiagaan Masyarakat di
Daerah Rawan Bencana.
D. PERANAN WANITA DALAM PEMBANGUNAN
BANGSA
Peningkatan peranan wanita dalam Repelita V dilaksanakan
melalui: (1) pembinaan dan pelatihan, (2) penataan kelembagaan,
(3) kerja sama internasional, dan (4) penyelenggaraan kegiatan
terpadu secara lintas sektoral.
1. Pembinaan dan Pelatihan
Dalam Repelita V telah dilaksanakan pembinaan dan pelatihan
melalui: (a) latihan kepemimpinan wanita (LKW), (b) pelatihan
teknik analisa gender (TAG), (c) peningkatan peranan wanita
menuju keluarga sehat sejahtera (P2WKSS), (d) kegiatan-kegiatan
pembinaan kesejahteraan keluarga (PKK), (e) bina keluarga balita
(BKB), (f) peningkatan penggunaan air susu ibu (PP-ASI),
XVIII/64
(g) pendidikan pendahuluan bela negara, dan (h) pengembangan
pusat studi wanita (PSW).
a.
Latihan Kepemimpinan Wanita (LKW)
Pelatihan kepemimpinan bagi wanita yang menduduki jabatan
pimpinan bertujuan untuk meningkatkan jumlah wanita pemimpin
yang berkualitas agar mampu menjadi penggerak masyarakat dan
terlibat dalam proses pengambilan keputusan, perencanaan dan
pengelolaan program dan dilaksanakan oleh berbagai sektor
pembangunan. Untuk itu pada tahun 1993/94 telah dilatih sebanyak
5.832 orang peserta LKW dan 30 orang pelatih LKW dan selama
lima tahun dalam Repelita V telah dilatih sebanyak 21.465 orang
dan 320 orang pelatih LKW.
b.
Pelatihan Teknik Analisa Gender (TAG)
Pelatihan TAG ditujukan agar di dalam proses perencanaan
pembangunan kepentingan wanita mendapat perhatian melalui
suatu analisis yang memperhatikan data dan informasi berdasarkan
jenis kelamin. Dengan teknik analisa tersebut diharapkan makin
dapat diwujudkan peningkatan peranan wanita sebagai mitra sejajar
pria baik sebagai pelaku pembangunan maupun sebagai penikmat
hasil pembangunan.
Pada tahun 1993/94 telah dilatih sebanyak 604 orang atau
peningkatan sebesar 72 persen dibandingkan dengan jumlah orang
yang dilatih pada tahun 1992/93 yaitu sebanyak 351 orang.
Peningkatan yang cukup besar tersebut disebabkan oleh perluasan
cakupan peserta pelatihan termasuk para peneliti dan widyaiswara
dari berbagai departemen dan lembaga pemerintah nondepartemen
yang belum dilatih pada tahun-tahun sebelumnya. Dengan
demikian, dalam Repelita V, yaitu sejak dimulainya pelatihan TAG
pada tahun 1990/91 sampai dengan tahun 1993/94, telah berhasil
dilatih sebanyak 1.486 orang.
XVIII/65
c.
Peningkatan Peranan Wanita Menuju Keluarga Sehat
Sejahtera (P2WKSS)
Kegiatan P2WKSS ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan, kemampuan, keterampilan, kesadaran dan sikap mental
wanita dalam mewujudkan dan mengembangkan kehidupan
keluarga sehat, sejahtera, dan bahagia. Untuk itu, sejak Repelita III
telah dilaksanakan kegiatan P2WKSS dengan sasaran utama wanita
usia 10-44 tahun dari keluarga yang tergolong berpendidikan
rendah dan berpenghasilan rendah di desa rawan sosial dan
ekonomi. Kegiatan yang dilakukan antara lain berupa pemasyarakatan P-4, pemberantasan tiga buta, pembinaan kesehatan
lingkungan, keluarga berencana,, gizi, dan pertanian.
Dalam Repelita V, telah dilaksanakan pembinaan P2WKSS
terhadap 592 desa per tahun, sehingga jumlah desa P2WKSS yang
telah dibina selama 5 tahun Repelita V tercatat sebanyak 2.960
desa. Dengan demikian sejak dimulainya kegiatan P2WKSS pada
Repelita III sampai akhir Repelita V, desa yang telah melaksanakan
dan mendapat pembinaan kegiatan P2WKSS secara keseluruhan
berjumlah 8.276 desa yang tersebar di 3.839 kecamatan di
berbagai propinsi. Kegiatan tersebut telah meningkatkan peranan
wanita tidak saja sebagai sasaran pembangunan tetapi juga sebagai
pelaku pembangunan.
d. Gerakan Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK)
Pembinaan Kesejahteraan Keluarga ditujukan untuk meningkatkan keterampilan dan memperluas pengetahuan wanita dalam
mewujudkan keluarga sehat sejahtera, dengan didasarkan atas 10
program pokok PKK. Pelaksanaan kegiatan PKK dalam Repelita V
diutamakan untuk mendukung penyelenggaraan pendidikan di luar
sekolah melalui kelompok belajar Paket A, program kesehatan
dan gizi, serta keluarga berencana melalui posyandu dan
Dasawisma. Kegiatan-kegiatan tersebut dilaksanakan oleh kaderkader PKK yang dilatih khusus urttuk berbagai keterampilan PKK
XVIII/66
termasuk keterampilan pengelolaan PKK. Sejak dibentuknya
kader-kader PKK pada tahun 1982 dalam Repelita III sampai akhir
Repelita V telah dibina kurang lebih 6,3 juta orang kader yang
terdiri dari 4,0 juta orang kader PKK umum dan 2,3 juta orang
kader PKK khusus. Pembentukan kader dan pembinaannya
dilaksanakan melalui pembentukan satuan penggerak PKK. Untuk
kurun waktu yang sama yaitu sejak tahun 1982 sampai akhir
Repelita V, pembentukan satuan penggerak PKK sampai dengan
tahun 1993/94 telah mencakup 296 kabupaten/kotamadya, 28 kota
administratif, dan 3.526 kecamatan di semua propinsi.
Untuk mendorong perkembangan dan kemajuan PKK, sejak
tahun 1982/83 Pemerintah memberikan bantuan biaya operasional
sebesar Rp250.000,- untuk setiap PKK di setiap desa. Dalam
Repelita V bantuan tersebut ditingkatkan secara bertahap sehingga
pada tahun 1992/93 menjadi Rp900.000,- Pada tahun 1993/94
bantuan tersebut dinaikkan lagi menjadi Rpl.000.000,- untuk tiap
PKK di setiap desa yang disalurkan melalui Inpres Bantuan Desa.
Sejak awal pembentukkannya, PKK telah melaksanakan
kegiatan yang mendukung program pendidikan luar sekolah
melalui kegiatan pemberantasan tiga buta terutama dengan
peningkatan penyelenggaraan kegiatan Kejar Paket A. Selama
Repelita V PKK juga telah mendukung kegiatan-kegiatan berbagai
sektor seperti, kegiatan perbaikan rumah sehat bagi sekitar 27,3 juta
rumah di perdesaan, dan pembentukan 3,7 juta kelompok P-4 dan
kelompok usaha seperti kelompok Prakoperasi, dan Kelompok
Usaha Bersama (KUB) yang tersebar di hampir semua daerah di
Indonesia.
Kegiatan PKK lainnya yang menonjol dalam Repelita V adalah
peranannya dalam mendorong perluasan pembentukan posyandu.
Pada tahun 1993/94 telah terbentuk posyandu baru sebanyak 3.607
buah atau merringkat sebanyak 445 buah bila dibandingkan dengan
jumlah posyandu yang dibentuk dalam tahun 1992/93 yaitu
sebanyak 3.158 buah. Secara keseluruhan, dalam Repelita V
XVIII/67
tambahan jumlah posyandu selama 5 tahun tercatat sebanyak
20.144 buah. Dengan demikian sejak terbentuknya posyandu dalam
Repelita III sampai dengan akhir Repelita V secara keseluruhan
telah mencapai jumlah 244,8 ribu buah. Sementara itu, peran serta
aktif dari PKK dalam mendukung pembangunan kesehatan dan
perbaikan gizi terutama melalui posyandu telah mendapat
penghargaan internasional berupa Maurice Pate Memorial Award
dari UNICEF di New York tanggal 18 April 1988 dan Sasakawa
Health Prize dari WHO pada tanggal 4 Mei 1988 di Jenewa.
Sejalan dengan perkembangan kegiatan PKK, pembentukan
Dasawisma sebagai unit pelayanan dan penerangan kesehatan serta
keluarga berencana terkecil dalam lingkungan PKK yang terdiri
dari 10-20 keluarga, terus ditingkatkan. Dalam tahun 1993/94 telah
dibentuk 997 ribu kelompok Dasawisma atau meningkat 28 kali
lipat dibandingkan dengan jumlah yang dibentuk dalam tahun
1992/93 yaitu sekitar 34 ribu kelompok. Dengan demikian sampai
akhir PJP I seluruhnya sudah terbentuk sebanyak 2.216 ribu
kelompok Dasawisma.
e. Bina Keluarga Balita (BKB)
Kegiatan 13KB bertujuan untuk meningkatkan kemampuan ibu
dan anggota keluarga lainnya dalam membina pertumbuhan dan
perkembangan anak balita secara optimal. Kegiatan ini telah
dimulai sejak tahun 1981, dan sepuluh tahun kemudian oleh
Presiden Soeharto dicanangkan menjadi "Gerakan BKB". Sampai
akhir Repelita V Gerakan BKB telah menyebar ke seluruh propinsi
melalui berbagai bentuk kegiatan yang dilaksanakan oleh beberapa
sektor pemerintah yang didukung oleh masyarakat terutama PKK.
Selama Repelita V gerakan BKB mengalami perkembangan
yang sangat pesat. Pada tahun 1993/94 terdapat penambahan
sejumlah 39,6 ribu kelompok yaitu dari 67,1 ribu pada tahun
1992/93 sehingga menjadi 106,7 ribu kelompok BKB. Dalam
XVIII/68
kurun waktu yang sama, gerakan BKB juga sudah menjangkau
lebih dari 42 ribu desa, atau bertambah 15 ribu desa dibandingkan
jumlah desa yang dijangkau sampai dengan tahun 1992/93 yang
baru mencapai 27 ribu desa. Dalam Repelita III dan Repelita IV
BKB baru mencakup 1.200 desa.
Gerakan BKB telah dirasakan manfaatnya bagi perkembangan
anak balita di perdesaan. Gerakan ini telah mendukung dan
melengkapi kegiatan-kegiatan posyandu, KB dan UPGK yang
pelaksanaannya dilakukan secara terpadu. Dengan berbagai
kegiatan BKB tersebut mutu fisik, mental dan spiritual anak-anak
dapat ditingkatkan.
f. Peningkatan Penggunaan Air Susu Ibu (PP ASI)
Kegiatan Peningkatan Penggunaan Air Susu Ibu (PP-ASI)
bertujuan untuk meningkatkan penggunaan ASI sebagai makanan
bayi yang utama. Kegiatan ini mulai dirintis dalam Repelita II
oleh lembaga swadaya masyarakat (LSM), dan dicanangkan
sebagai Gerakan Nasional Penggunaan ASI oleh Presiden Soeharto
pada Hari Ibu tanggal 22 Desember 1990.
Pada tahun 1993/94, dilanjutkan berbagai kegiatan penyuluhan
tentang manfaat ASI baik oleh masyarakat antara lain melalui
LSM maupun instansi Pemerintah. Kegiatan PP-ASI
juga
dilakukan di rumah-rumah sakit melalui kegiatan rawat gabung ibu
dan anak, dan telah digalakkan lagi, dengan diselenggarakannya
Lomba Rumah Sakit Sayang Bayi. Dalam lomba ini dinilai
perhatian dan mutu pelayanan persalinan di rumah sakit yang
mendorong penggunaan ASI sejak di rumah sakit. Pada tahun
1993/94 sebanyak 23 rumah sakit di Indonesia telah mendapat
akreditasi internasional sebagai Rumah Sakit Sayang Bayi atau
Baby Friendly Hospital Initiative (BFHI). Jumlah tersebut telah
meningkat tiga kali lipat dari hanya 7 rumah sakit pada tahun 1992
yang memperoleh akreditasi internasional. Selain berbagai kegiatan
tersebut telah digalakkan pula pelaksanaan kode etik pemasaran
XVIII/69
susu formula bayi di kalangan produsen susu yang ditetapkan oleh
WHO dalam International Code of Marketing of Breastmilk
Substitutes.
g.
Pendidikan Pendahuluan Bela Negara (PPBN)
Dalam upaya pembentukan manusia Indonesia seutuhnya dan
pernantapan ketahanan dan stabilitas nasional, wanita mempunyai
kedudukan yang strategis dan bertanggung jawab dalam
pelaksanaan PPBN bagi anak dan remaja sejak dini dalam
keluarga. PPBN mengandung nilai kebangsaan yang perlu
ditanamkan kepada generasi muda untuk mencintai tanah air,
menjunjung tinggi kehormatan bangsa dan negara dan rela
berkorban apabila bangsa dan negara dalam bahaya. Sasaran
kegiatan ini terutama adalah penduduk di daerah-daerah perbatasan
dan daerah lain yang rawan terhadap pengaruh negatif dari
interaksi antar bangsa.
Kegiatan PPBN dilaksanakan sejak tahun 1990/91, dan
dimulai dengan penyusunan materi pesan simulasi PPBN untuk
wanita di daerah perdesaan, dan telah diujicobakan di DKI Jakarta.
Pada tahun 1993/94 telah diadakan evaluasi basil uji coba
pelaksanaan PPBN terhadap sejumlah tenaga kerja wanita di
bidang industri di DKI Jakarta, Pulau Batam, Maluku dan di
Kalimantan Timur. Melalui kegiatan-kegiatan ini peranan wanita
tidak hanya terbatas pada memberikan pengertian untuk
meningkatkan kesadaran serta kemampuan bela negara di
lingkungan keluarganya, tetapi dapat ikut pula berpartisipasi aktif
dalam pelaksanaan bela negara sebagai unsur rakyat yang terlatih.
h. Pengembangan Pusat Studi Wanita
Pusat Studi Wanita (PSW)/Kelompok Studi Wanita (KSW)
yang mulai didirikan pada tahun 1990/91, bertugas melakukan
penelitian dan analisis untuk mengenali dan memecahkan berbagai
permasalahan wanita dalam pembangunan termasuk pembangunan
XVIII/70
regional dan daerah. Hasil penelitian dan pengkajian PSW/KSW
dijadikan masukan bagi perumusan kebijaksanaan pembangunan
terutama untuk Pemerintah Daerah.
Dalam tahun 1993/94 telah terbentuk 5 PSW/KSW baru yaitu
di Universitas Trisakti di Jakarta, IAIN Imam Bonjol di Padang,
Universitas Muhammadiyah Jember, Universitas Muhammadiyah
Malang, dan IAIN Lampung. Secara keseluruhan, sampai akhir
Repelita V sudah terdapat 57 PSW/KSW di perguruan tinggi negeri
dan swasta di Indonesia. Beberapa penelitian penting yang telah
dilaksanakan oleh PSW/KSW antara lain adalah penelitian
mengenai aspek sosial budaya dari wanita miskin di kota,
penelitian mengenai masalah ekonomi tenaga kerja wanita di luar
negeri, dan penelitian mengenai partisipasi wanita dalam politik di
DK1 Jakarta.
2. Pemantapan Mekanisme dan Kelembagaah Peningkatan
Peranan Wanita
Sejak diprogramkannya upaya peningkatan peranan wanita
dalam Repelita III telah dilakukan berbagai usaha penataan dan
pemantapan kelembagaan kegiatan tersebut. Pemantapan kelembagaan yang terpenting adalah diterbitkannya Surat Keputusan (SK)
Menteri Dalam Negeri Tahun 1990/91 yang menetapkan Wakil
Gubernur dan Asisten Sekwilda Tingkat I Bidang Kesejahteraan
Rakyat di setiap daerah sebagai koordinator program Peningkatan
Peranan Wanita (P2W) di daerah. Pada tahun 1991, SK Menteri
Dalam Negeri tersebut ditindakianjuti dengan SK Menteri Negara
Urusan Peranan Wanita Nomor 02/KEP/MenUPW/IV/91 tentang
Pengesahan Pedoman Pelaksanaan Peningkatan Peranan Wanita
Dalam Pembangunan Bangsa di Pusat dan Daerah. Dengan adanya
SK ini maka kelembagaan koordinasi peningkatan peranan wanita
di pusat dan di daerah berjalan semakin mantap.
XVIII/71
Sampai dengan tahun 1993/94, di tingkat propinsi telah
diadakan rapat-rapat koordinasi antarinstansi pemerintah dan
organisasi wanita untuk membantu program-program peningkatan
peranan wanita di daerah. Rapat-rapat tersebut dipimpin oleh
Wakil Gubernur dan Asisten Sekwilda Tingkat I Bidang
Kesejahteraan Rakyat. Beberapa daerah telah melakukan kegiatan
koordinasi perencanaan dan pelaksanaan program peningkatan
peranan wanita pada tingkat kabupaten dan kecamatan.
3. Kerja Sama Luar Negeri
Kegiatan kerja sama internasional dan regional telah dibina
sejak Repelita III. Di tingkat regional, kegiatan tersebut
diselenggarakan antara lain melalui Association of Southeast Asian
Nations (ASEAN) Women's Programme (AWP) dan ASEAN
Confederation of Women's Organization (ACWO). Dengan
Deklarasi Singapura tahun 1992, yang menyatakan komitmen
negara-negara ASEAN mengenai peranan wanita, maka kegiatan
UPW di tingkat regional ASEAN menjadi lebih mantap.
Dalam tahun 1993/94 Indonesia menjadi tuan rumah bagi
kegiatan ASEAN Network of Indicators and Statistics on Women
untuk menentukan variasi dan macam data yang mungkin
dikumpulkan oleh negara-negara ASEAN guna menunjang upaya
meningkatkan peran wanita dalam pembangunan. Selain itu, dalam
kegiatan AWP Indonesia berperan sebagai koordinator Asean
Network of Clearinghouses on Information of Women in
Development. Dalam kaitan dengan kegiatan ini, pada tahun 1993
telah diselenggarakan Workshop on the Improvement of Thesaurus
on Women in Development. Pada tahun 1993 Indonesia hadir ,
sebagai peserta dalam pertemuan internasional Sidang Majelis
Umum PBB ke 48 Komite 3 Cluster tentang Kedudukan Wanita,
dan telah ikut serta pula dalam Konperensi Dunia tentang flak
Azasi Manusia, dan secara khusus telah menyampaikan pernyataan dalam penyusunan pokok-pokok Hak Azasi Manusia khususnya wanita. Kegiatan lainnya dalam tahun 1993/94 adalah penyeXVIII/72
lenggaraan seminar dan workshop dalam rangka mempersiapkan
Asia Pasific Conference on Women in Development yang
diselenggarakan di Jakarta pada bulan Juni 1994.
Selama Repelita V, Indonesia telah ikut serta dalam berbagai
kegiatan internasional, seperti secara aktif berperan dalam
Komisi PBB tentang Kedudukan Wanita (UN Commission on the
Status of Women) dalam tahun 1990-1992, dan menjadi salah satu
wakil ketua untuk periode 1992-1993. Kedudukan Indonesia dalam
organisasi internasional lainnya adalah sebagai anggota senior
Women's Advisor Group dari Executive Board UNEP yang
berkedudukan di Nairobi, Kenya, dan menjabat sebagai salah satu
wakil ketua International Council of Women (ICW) yang berpusat
di Paris untuk kurun waktu 1988-1993. Juga telah diikuti
berbagai pertemuan lain di tingkat internasional, seperti sidang
tahunan ke 47 ESCAP di Seoul pada tahun 1990/91 dan
Konperensi Puncak Peningkatan Ekonomi Wanita Perdesaan di
Jenewa pada tahun 1992.
Partisipasi Indonesia dalam berbagai kegiatan internasional
tentang wanita dalam pembangunan merupakan wujud nyata
penggalangan kerja sama antar negara dalam rangka meningkatkan
peranan wanita. Melalui partisipasi tersebut Indonesia turut serta
dalam upaya meningkatkan peranan wanita seperti memasyarakatkan konsep penghapusan segala bentuk diskriminasi
berdasarkan jenis kelamin yang merupakan sasaran prioritas dari
masyarakat internasional. Di samping itu, Indonesia ikut berperan
dalam menyumbangkan pikiran dan pendapat dalam penyusunan
konsep-konsep internasional tentang wanita dalam pembangunan
seperti konsep kemitrasejajaran antara pria dan wanita, kemandirian, dan usaha pengentasan kemiskinan.
4. Kegiatan di Berbagai Sektor Pembangunan
Pelaksanaan kegiatan peningkatan peranan wanita (P2W) di
masing-masing sektor pembangunan diselenggarakan dengan
XVIII/73
sasaran para wanita berusia 10-44 tahun. Pada umumnya kegiatan
lebih ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan dan
kete
rampilan wanita agar dapat ikut serta memperbaiki tingkat
kesejahteraan keluarganya. Kegiatan ini sejalan dengan rencana
pembangunan di masing-masing sektor atau merupakan rencana
pembangunan dengan koordinasi lintas sektor.
a. Sektor Pertanian
Kegiatan peningkatan peranan wanita di sektor pertanian
bertujuan untuk meningkatkan peran serta wanita tani dan nelayan
dalam upaya meningkatkan produksi serta meningkatkan nilai
tambah dalam proses panen dan pemasaran hasil-hasil pertanian
melalui kegiatan penyuluhan, pelatihan, dan pembinaan.
Pada tahun 1993/94, kegiatan pelatihan bagi wanita taninelayan yang telah dilaksanakan sejak, Repelita III, sudah mencapai
6.209 kelompok atau bertambah sebanyak 438 kelompok dari
jumlah kelompok yang dicapai pada tahun 1992/93 yaitu sebesar
5.771 kelompok. Selain itu sejak tahun 1990/91 telah dilaksanakan
pula pelatihan perkreditan bagi kelompok wanita tani-nelayan.
Pada tahun 1993/94 jumlah kelompok pelatihan perkreditan telah
mencapai 106 kelompok, sehingga secara keseluruhan sejak tahun
1990/91 kegiatan ini telah mencakup 314 kelompok wanita tani
nelayan.
Untuk menunjang berbagai kegiatan tersebut, pada tahun
1993/94 disediakan sarana usaha tani bagi 332 kelompok usaha
bersama (KUB), atau meningkat hampir dua kali lipat jika
dibandingkan dengan jumlah sarana usaha tani yang disediakan
pada tahun 1992/93 yaitu untuk 114 KUB. Selama Repelita V
jumlah KUB yang telah diberi sarana usaha tani sudah mencapai
834 KUB.
XVIII/74
b.
Sektor Industri
Kegiatan peningkatan peranan wanita di sektor industri
bertujuan membina para wanita dalam kegiatan usaha industri
kecil dan kerajinan rumah tangga,. guna memperoleh lapangan
kerja, meningkatkan pendapatan keluarga, dan sekaligus mencegah
urbanisasi kaum wanita ke kota. Cabang industri kecil yang dibina
meliputi pengolahan pangan, sandang, dan kerajinan. Kegiatan
yang dilaksanakan adalah pelatihan perawatan dan penggunaan
peralatan produksi, pengembangan dan diversifikasi produksi,
pengelolaan permodalan, dan pemasaran hasil produksi. Sasaran
kegiatan ini adalah para wanita motivator, wanita pengrajin, dan
tenaga kerja wanita dalam. kegiatan industri kecil yang tergabung
dalam KUB.
Melalui kegiatan ini, dalam tahun 1993/94 telah dibina
sejumlah 35 KUB, atau hampir sama dengan jumlah yang dibina
pada tahun 1992/93 yaitu sebanyak 34 KUB. Selama Repelita V
telah dibina sejumlah 148 KUB, sehingga secara keseluruhan dari
tahun 1981/82 sampai dengan tahun terakhir Repelita V telah
berhasil dibina sejumlah 566 KUB. Sejalan dengan itu dilakukan
pula pembinaan bagi motivator KUB dan tenaga kerja wanita yang
tergabung dalam KUB. Pada tahun 1993/94 telah dibina sebanyak
600 orang motivator KUB dan 1.800 orang tenaga kerja wanita,
sehingga selama Repelita V telah dibina 3.425 orang motivator
KUB dan 10.275 orang tenaga kerja wanita. Dengan demikian
jumlah motivator KUB dan tenaga kerja wanita yang dibina sejak
tahun 1981/82 sampai dengan akh.ir Repelita V berturut-turut
berjumlah 13.875 orang dan 41.625 orang.
c.
Sektor Perdagangan
Kegiatan peningkatan peranan wanita di sektor perdagangan
bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan
berdagang bagi para wanita yang mempunyai jiwa wirausaha,
XVIII/75
terutama pedagang kecil dari golongan ekonomi lemah. Kegiatan
yang dilakukan meliputi penataran keterampilan perdagangan,
penyuluhan, temu usaha, dan partisipasi dalam pameran dagang.
Dalam tahun 1993/94 dilaksanakan lanjutan penataran
keterampilan perdagangan bagi 1.400 orang wanita dan kegiatan
temu usaha bagi 3.540 orang. Di samping itu pada tahun 1993/94
juga telah dilakukan pembinaan bagi 660 orang pedagang di pasar
tradisional yang dilaksanakan secara terpadu oleh berbagai sektor
yang dikoordinir oleh para walikota. Kegiatan tahun 1993/94 ini
lebih meningkat bila dibandingkan dengan kegiatan tahun 1992/93
yang mencakup sebanyak 440 orang pedagang.
Dalam Repelita V, kegiatan peranan wanita di sektor
perdagangan meliputi penataran keterampilan berdagang, temu
usaha, pembinaan pedagang di pasar tradisional, dan pameranpameran dagang. Seluruh kegiatan tersebut selama lima tahun
Repelita V telah diikuti oleh kurang lebih 20.000 pedagang dan
mengikuti pameran dagang di 404 lokasi.
d. Sektor Koperasi
Pembinaan peranan wanita di sektor koperasi yang dimulai
sejak tahun 1978/79 ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan
wanita terutama di perdesaan dan di perusahaan mengenai manfaat
dan pentingnya koperasi sebagai sarana untuk meningkatkan
kesejahteraan keluarga dan membina peranan wanita di bidang
perkoperasian.
Dalam tahun 1993/94 telah dilaksanakan kegiatan pelatihan
perkoperasian bagi 2.940 orang wanita. Jumlah tersebut meningkat
dibanding yang dilatih pada tahun 1992/93 yaitu sebanyak 2.650
orang. Selama Repelita V, melalui kegiatan ini telah dilatih
sebanyak 19.055 orang. Sehingga, secara keseluruhan jumlah
wanita yang dilatih di sektor koperasi selama PJP I adalah
sebanyak 27.639 orang. Melalui kegiatan pelatihan di atas telah
XVIII/76
banyak wanita yang turut aktif dalam mengelola koperasi, baik
sebagai anggota pengurus, anggota badan pemeriksa, maupun
sebagai karyawan. Bahkan sudah banyak pula para kader koperasi
yang berupaya mendirikan koperasi-koperasi wanita atau
mempelopori pendirian koperasi karyawan di perusahaan tempat
mereka bekerja.
e. Sektor Tenaga Kerja
Kegiatan peningkatan peranan wanita di sektor tenaga kerja
yang dimulai pada tahun 1989/90 diarahkan agar tenaga kerja
wanita d.apat Iebih berperan dalam dunia kerja baik di sektor
formal maupun informal sesuai dengan kodrat dan martabatnya.
Kegiatan yang dilakukan adalah berupa penyuluhan dan pelatihan
bagi tenaga kerja wanita baik yang sudah bekerja maupun yang
sedang mencari pekerjaan.
Pada tahun 1993/94 telah dilaksanakan pelatihan bagi 140
pengusaha wanita di sektor informal di tujuh propinsi di Sumatera
Utara, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur,
Kalimantan Timur dan Sulawesi Selatan. Acara pelatihan ditekankan pada pengetahuan dan keterampilan untuk meningkatkan
kemampuan menciptakan kondisi dan lingkungan kerja yang
memenuhi syarat untuk mendorong peningkatan keselamatan dan
produktivitas kerja. Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari tahuntahun sebelumnya, tetapi dengan sasaran yang berbeda. Pada tahun
1993/94 ini, sasaran pelatihan adalah para pengusaha. Sedang pada
tahun sebelumnya lebih banyak ditujukan untuk para pelatih yang
akan melatih dan menyebarluaskan pengetahuan dan keterampilan
mengenai keselamatan dan produktivitas kerja bagi wanita di
perusahaan.
Guna meningkatkan keterampilan tenaga kerja wanita di sektor
informal, pada tahun 1993/94 telah dilaksanakan pelatihan bagi 30
orang calon pelatih yang akan diberi tugas memberikan bimbingan
dan pembinaan langsung kepada para pekerja wanita di sektor
XVIII/77
informal. Pada tahun 1993/94, calon-calon pelatih tersebut sudah
langsung melatih sebanyak 200 orang fasilitator. Dengan pola
pelatihan seperti di atas, diharapkan jumlah tenaga kerja wanita
yang dapat dilatih akan meningkat dengan pesat.
Kegiatan lain dalam tahun 1993/94 adalah pelatihan bagi
pelaksana tempat penitipan anak (TPA) bagi sebanyak 200 orang di
10 propinsi. Jumlah ini meningkat bila dibandingkan dengan
pelatihan yang dilaksanakan pada tahun 1992/93 yaitu bagi
sebanyak 120 orang. Selanjutnya pada tahun 1993/94 telah pula
dilaksanakan pelatihan peningkatan penggunaan ASI bagi 360
orang tenaga kerja wanita yang bekerja di sektor informal di 18
propinsi.
Dalam Repelita V, dilanjutkan kegiatan penyuluhan bagi
tenaga kerja wanita antara lain mengenai peraturan perundangundangan yang menyangkut ketenagakerjaan, khususnya tentang
hak dan kewajiban bagi tenaga kerja di perusahaan serta
keselamatan dan produktivitas kerja. Pelatihan untuk meningkatkan
produktivitas tenaga kerja wanita torus ditingkatkan baik di sektor
formal maupun di sektor informal.
f. Sektor Transmigrasi
Kegiatan peningkatan peranan wanita di bidang transmigrasi
yang dimulai pada Repelita IV bertujuan untuk meningkatkan
keterampilan wanita transmigran sehingga dapat berperan serta
dalam upaya meningkatkan kesejahteraan keluarganya dan
memajukan daerah permukimannya. Kegiatan yang dilaksanakan
meliputi pelatihan keterampilan, kepemimpinan dan P4 bagi wanita
transmigran; pelatihan dan pembinaan kader-kader PKK, BKB,
Kejar Paket A, dan KUB; pemanfaatan tanaman obat keluarga; dan
pembinaan bagi dukun bayi.
Pada tahun 1993/94 telah dilakukan pelatihan bagi 1.754 orang
wanita transmigran yang ada di 9 propinsi dan meliputi 27
XVIII/78
Unit Permukiman Transmigrasi (UPT) serta terdiri dari 240 orang
melalui pelatihan keterampilan, 270 orang melalui pelatihan
kepemimpinan, 270 orang melalui pelatihan P-4, 240 orang kader
PKK, 240 orang kader BKB, 200 orang tutor Kejar Paket A, 270
orang melalui pemantapan KUB, dan pelatihan 24 orang dukun
bayi. Jumlah tersebut di atas merupakan suatu peningkatan
dibandingkan dengan yang dilatih pada tahun 1992/93 yang secara
keseluruhan berjumlah 1.631 orang dan tersebar di 20 UPT yang
ada di 7 propinsi. Secara keseluruhan selama Repelita V dalam
rangka peningkatan peranan wanita di bidang transmigrasi, telah
dilatih dan dibina sebanyak 7.845 orang wanita transmigran di 91
UPT yang tersebar di 19 propinsi.
Sektor Kesehatan
Peningkatan peranan wanita di sektor kesehatan diarahkan
untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku yang
membantu dalam pemeliharaan kesehatan perorangan, keluarga,
masyarakat dan lingkungannya. Di samping itu diarahkan pula
untuk menolong para wanita agar aktif berperan serta sebagai
kader kesehatan yang akan mengelola kegiatan kesehatan, gizi,
keluarga berencana, kebersihan lingkungan, Kesehatan Ibu dan
Anak (KIA) melalui posyandu, dasawisma dan BKB.
Pada tahun 1993/94 kegiatan program ini
terutama
ditekankan pada pelatihan dengan materi pelatihan yang ditekankan
pada kebersihan lingkungan, kesehatan ibu dan anak, pemanfaatan
air susu ibu (ASI), dan pembinaan posyandu. Selain itu
dilaksanakan pula lomba posyandu yang dikelola oleh Dharma
Wanita di tingkat pusat, dan pameran mengenai perbaikan
kesehatan wanita dalam rangka peringatan Hari Ibu. Kegiatan
lainnya adalah berupa evaluasi program peningkatan peranan
wanita di sektor kesehatan di 27 propinsi dalam rangka
peningkatan manajemen program di masa datang.
XVIII/79
Selama Repelita V kegiatan yang dilakukan meliputi
pelatihan bagi kelompok organisasi wanita tentang gerakan
kebersihan yang dilaksanakan di 27 propinsi mencakup 300
kabupaten dan 600 kecamatan, dan setiap kelompok latihan
berkisar antara 16-20 orang. Di samping itu telah dilaksanakan
pelatihan kesehatan kerja bagi wanita nelayan, petani, dan
pengrajin di 15 propinsi. Kegiatan-kegiatan lainnya meliputi
pelatihan tentang kepemimpinan kesehatan yang telah dilaksanakan
di 300 daerah tingkat II; penyuluhan penanggulangan narkotik dan
obat berbahaya (narkoba) bagi organisasi wanita di 14 propinsi;
pelatihan kelompok kerja gerakan kebersihan organisasi wanita di
27 propinsi; dan penggalakkan penggunaan ASI di 27 propinsi
dengan cara melaksanakan lomba pemahaman tentang penting'riya
ASI. Selain itu dilaksanakan pula kajian nasional tentang peningkatan penggunaan ASI di 5 regional yaitu di Jawa Timur, Sumatera
Utara, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan dan Timor Timur
serta di tingkat Pusat. Untuk menunjang pelaksanaan tempat
penitipan anak (TPA) telah disusun kurikulum dan program
pelatihan tenaga pengasuh anak. Dalam Repelita V untuk program
ini telah diterbitkan dan diedarkan 10.500 eksemplar buku
pedoman tentang penyelenggaraan peningkatan peranan wanita
dalam pembangunan kesehatan.
Peningkatan kegiatan program ini memberi andil yang besar
terhadap peningkatan kesehatan ibu, bayi dan anak balita. Hal ini
ditunjukkan dengan turunnya angka kematian bayi dan ibu
melahirkan, dan perbaikan status gizi anak balita.
h. Sektor Agama
Di sektor agama, program ini bertujuan untuk meningkatkan
dan mengembangkan peranan wanita dalam pembangunan melalui
pendekatan agama selaras dengan tanggung jawab dan peranannya
dalam mewujudkan dan mengembangkan keluarga yang beriman,
sehat, bahagia, dan sejahtera.
XVIII/80
Pada tahun 1993/94 telah dilakukan penataran dan penyu
luhan keluarga bahagia sejahtera, baik di perdesaan maupun
perkotaan, termasuk santri putri pada pondok pesantren. Dalam
rangka menunjang upaya peningkatan kesejahteraan ibu dan anak
serta menurunkan angka kematian balita, peran serta aktif
lembaga-lembaga swadaya masyarakat (LSM) wanita berlatar
belakang agarna dalam kegiatan penyuluhan kesehatan, makin
ditingkatkan dan diperluas antara lain melalui kegiatan Pengembangan Kelangsungan Hidup Anak (PKHA).
Pada tahun 1993/94 telah dilaksanakan kegiatan pelatihan
kepemimpinan wanita untuk 30 orang, penataran keluarga bahagia
sejahtera (KBS) bagi santri putri yang diikuti oleh lebih dari 4 ribu
orang, disertai dengan penyediaan buku pedoman, modul dan
leaflet sebanyak lebih dari 37 ribu eksemplar, serta pemberian
bantuan paket sarana. peribadatan sebanyak 750 paket. Sejak tahun
1991/92, telah diselenggarakan latihan kepemimpinan bagi.
pimpinan organisasi wanita yang diikuti oleh 190 orang. Penataran
KBS yang dimulai sejak Repelita III telah diikuti oleh sekitar 85,8
ribu orang santri putri.
Kegiatan PKHA dilaksanakan antara lain berupa penyuluhan
tentang imunisasi, pemeliharaan kesehatan ibu hamil dan balita,
dan penyuluhan mengenai peranan posyandu dengan pendekatan
ajaran agama kepada motivator dan supervisor dari LSM wanita
yang berlatar belakang agama. Pada tahun 1993/94 dilakukan
pelatihan bagi 220 orang motivator baru dan 21 orang supervisor
baru serta pengadaan lebih dari 37 ribu eksemplar buku pedoman.
Dengan demikian, kegiatan PKHA yang dilaksanakan sejak tahun
1986 telah diikuti oleh lebih dari 25 ribu orang motivator dan
sekitar 3 ribu orang supervisor dari 20 LSM wanita di 15 propinsi.
i. Sektor Pendidikan dan Kebudayaan
Di sektor pendidikan dan kebudayaan, program ini ditujukan
antara lain untuk mempercepat tercapainya pembebasan wanita dari
XVIII/81
tiga buta yaitu buta aksara dan angka, buta bahasa Indonesia, dan
buta pengetahuan dasar, serta memperbesar peluang wanita untuk
memperoleh pekerjaan dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan
pembangunan.
Dalam rangka meningkatkan kemampuan wanita dalam
peningkatan kesejahteraan keluarga, pada tahun 1993/94 telah
dilaksanakan berbagai pelatihan keterampilan praktis bagi wanita di
tingkat kecamatan yang melibatkan 3,6 ribu orang, sehingga
selama Repelita V telah melibatkan 13,6 ribu orang wanita.
Pada tahun 1993/94 juga diselenggarakan pelatihan kepemimpinan wanita di berbagai kabupaten/kotamadya yang
melibatkan sekitar 2,6 ribu orang. Selama Repelita V, telah
diselenggarakan pelatihan kepemimpinan wanita bagi sekitar 8,6
ribu orang. Kegiatan-kegiatan tersebut ditunjang dengan
penyediaan sarana belajar berupa buku pendidikan kesejahteraan
keluarga dan teknologi. Pada tahun 1993/94 telah disediakan
sekitar 57 ribu eksemplar, sehingga selama Repelita V buku yang
disediakan telah mencapai 464 ribu eksemplar.
Pada tahun 1993/94 kegiatan Kejar Paket A telah menjangkau
sekitar 1,65 juta orang yang sebagian besar pesertanya adalah
wanita. Bila dibandingkan dengan tahun 1992/93 yang menjangkau
sekitar 1,35 juta orang, terdapat penambahan sekitar 300 ribu
orang atau terjadi peningkatan sekitar 20 persen. Selama Repe
lita V jumlah peserta kegiatan Kejar Paket A selalu meningkat dari
tahun ke tahun.
j. Sektor Kesejahteraan Sosial
Di sektor kesejahteraan sosial, kegiatan peningkatan peranan
wanita ditujukan untuk membantu meningkatkan kesejahteraan
sosial kelompok wanita dari keluarga yang rawan sosial
ekonominya. Kegiatan yang dilakukan berupa bimbingan usaha
swadaya bagi wanita, pelatihan kepemimpinan sosial wanita untuk
XVII1/82
dapat menanggulangi dan mencegah timbulnya permasalahan
kenakalan remaja, masalah pengangguran, dan tuna susila. Dalam
pelaksanaannya, kegiatan-kegiatan ini diintegrasikan dengan
kegiatan PKK dan P2WKSS.
Pada tahun 1993/94 telah dilaksanakan pelatihan kepemim
pinan sosial wanita bagi 120 orang pimpinan organisasi wanita di
6 kabupaten.dan peningkatan keterampilan kaum wanita yang
rawan sosial ekonomi melalui bimbingan Usaha Swadaya Wanita
Desa (USWD) bagi 1.282 orang wanita di 23 propinsi. Dengan
demikian selama Repelita V telah dilatih sebanyak 2.050 orang
pimpinan organisasi wanita dan dibina 5.742 orang wanita melalui
USWD. Melalui program ini sejak Repelita III sampai dengan akhir
Repelita V telah dilaksanakan latihan kepemimpinan bagi 10.205
wanita dan dibina 55.217 orang wanita melalui USWD.
k. Sektor Hukum
Peningkatan peranan wanita di sektor hukum ditujukan untuk
meningkatkan kesadaran hukum kaum wanita akan hak dan
kewajiban, peranan, serta kedudukannya sebagai warga negara
dan anggota masyarakat. Tujuan tersebut antara lain diupayakan
melalui pembentukan keluarga sadar hukum (kadarkum) wanita,
dengan bentuk kegiatan antara lain temu sadar hokum , simulasi
dan tebak silang dengan materi yang berkaitan dengan pemahaman
akan berbagai hak, kewajiban, dan kesempatan bagi wanita, baik di
lingkungan keluarga maupun dalam masyarakat dan dalam
pembangunan.
Pada tahun 1993/94 telah diselenggarakan seb. nyak 37 kali
lomba kadarkum wanita di tingkat propinsi, dan 2 kali lomba di
tingkat nasional. Selain itu, telah dilakukan pula suatu penelitian
mengenai segi hukum wanita korban pelaku kejahatan.
Kegiatan kadarkum wanita dimulai pada tahun 1989/90 di
7 propinsi. Pada akhir Repelita V kegiatan tersebut telah dilakXVIII/83
sanakan di semua propinsi dan pada tahun 1993/94 telah
dikembangkari di tingkat kecamatan dan desa.
Di samping itu, pada tahun 1993/94 telah dilakukan pula
kegiatan kajian peraturan perundang-undangan di bidang ketenagakerjaan termasuk yang berkaitan dengan tenaga kerja wanita.
Dari kegiatan tersebut telah dihasilkan naskah akademis peraturan
perundang-undangan, antara lain mengenai aspek hukum dan sosial
budaya yang mempengaruhi hak-hak wanita di bidang ketenagakerjaan dan perlindungan tenaga kerja wanita dan anak.
1. Sektor Penerangan
Di sektor penerangan, kegiatan peningkatan peranan wanita
ditujukan untuk mendorong terbentuknya iklim sosial budaya yang
mendukung peranan wanita yang selaras dengan upaya
pembentukkan keluarga sehat, sejahtera, dan bahagia. Kegiatan
tersebut dilakukan terutama melalui siaran televisi dan radio.
Pada tahun 1993/94 telah dilakukan kegiatan pembuatan paket
siaran radio sebanyak 233 paket siaran dan untuk televisi sebanyak
11 paket siaran. Untuk mendukung kegiatan tersebut, telah
dilaksanakan pelatihan bagi 28 orang tenaga produsen dan penyiar
radio dan televisi untuk acara-acara siaran wanita dalam
pembangunan.
Pada tahun 1993/94 juga telah diselesaikan pembuatan film
"Peningkatan Peranan Wanita Dalam Pembangunan" yang
menggambarkan perkembangan peranan wanita dalam PJP I. Selain
itu, juga telah diproduksi rekaman audio dan sound slide mengenai
peranan wanita yang disebarluaskan ke semua propinsi; diadakan
pameran peranan wanita pada peringatan Hari Ibu tanggal 22
Desember 1993; dan telah diberikan penyuluhan bagi 320 orang
wanita di daerah transmigrasi dan di desa-desa nelayan yang
tergabung dalam kelompencapir di propinsi Riau, Jawa Tengah,
Jawa Timur, dan Bali.
XVIII/84
Dalam Repelita V telah diproduksi dan disiarkan sebanyak
1.241 paket siaran radio dan 47 paket siaran televisi termasuk
pelatihan tenaga teknisnya sebanyak 241 orang.
m. Sektor Pengelolaan Sumber Alam dan Lingkungan
Hidup
Kegiatan peningkatan peranan wanita di sektor pengelolaan
sumber daya alam dan Lingkungan hidup yang dimulai pada tahun
1991/92 terutama diarahkan untuk membantu meningkatkan
pendapatan keluarga melalui beberapa usaha budi daya sumber alam
secara sederhana dan dalam lingkup kecil. Sasaran kegiatan ini
terutama adalah wanita perdesaan yang tinggal di kawasan dekat
hutan dan konservasi taman nasional.
Dalam tahun 1993/94 telah dilaksanakan pengembangan unit
percontohan sutera alam bagi kader PKK di Sumatera Barat, Jawa
Barat, dan Sulawesi Selatan. Selain itu telah dilakukan pula
pengembangan budi daya jamur kayu oleh kelompok PKK di unit
percontohan di propinsi Riau, Jawa Tengah, Kalimantan Barat,
Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Utara, dan pengembangan budi
daya lebah madu yang dilakukan di propinsi Sumatera Utara dan
Nusa Tenggara Timur.
Kegiatan yang dilakukan pada tahun 1993/94 tersebut
merupakan tindak lanjut dari kegiatan yang dilakukan pada tahun
1992/93. Dengan demikian sejak tahun 1991/92 sampai dengan
tahun 1993/94 telah dilakukan pelatihan bagi lebih dari 60 orang
wanita kader usaha sutera alam, 95 orang kader usaha budi daya
jamur kayu, dan 110 orang wanita kader peternakan lebah madu.
Kegiatan-kegiatan tersebut didukung oleh sekitar 50 macam buku
pedoman yang disusun sejak tahun 1991/92.
XVIII/85
n. Sektor Perumahan Rakyat dan Permukiman
Kegiatan peningkatan peranan wanita di bidang perumahan
dan permukiman dimulai pada tahun 1990/91 ditujukan untuk
meningkatkan peran serta wanita dalam pembangunan dan
perbaikan perumahan sehat di perdesaan, melalui pelatihan dan
penyuluhan yang dilaksanakan oleh kader-kader penyuluh
perumahan dan permukiman.
Pada tahun 1993/94 kegiatan penyuluhan dilakukan di 26
desa percontohan perumahan sehat yang tersebar di 17 propinsi.
Pada tahun 1992/93 desa percontohan ini baru mencakup 16 desa
yang tersebar di 7 propinsi. Di desa-desa percontohan tersebut
selain dibangun contoh rumah sehat, dibangun pula dengan peran
serta masyarakat termasuk wanita berbagai sarana air bersih,
MCK, pembuangan limbah rumah tangga dan tempat-tempat
pembuangan sampah.
o.
Sektor Pariwisata
Kegiatan peningkatan peranan wanita di bidang pariwisata
yang baru dimulai pada tahun 1991/92 bertujuan untuk
meningkatkan peluang berusaha dan kesempatan kerja bagi wanita
guna meningkatkan kesejahteraan keluarganya. Pada tahun
1993/94, telah diselenggarakan pelatihan mengenai kepariwisataan
bagi 25 orang wanita pengusaha di bidang pariwisata di Pulau
Batam. Kegiatan ini dilaksanakan atas dasar hasil suatu studi
kelayakan yang memberikan gambaran kemungkinan dikembangkan desa wisata dan pusat kerajinan di Pulau Batam yang
dipelopori oleh pengusaha-pengusaha wanita.
XVIII/86
Download

Kesehatan, Kesejahteraan Sosial dan Peranan Wanita