Peranan Reseptor Sigma pada pengobatan Depresi dan Ansietas

advertisement
Peranan Reseptor Sigma pada pengobatan Depresi dan
Ansietas
Oleh: dr. Ign. Darmawan Budianto SpKJ(K)
Pengobatan depresi dan ansietas selama ini masih sering membingungkan karena sedemikian banyak
nya jenis obat antidepresan dan anticemas, karena masing2 mempunyai etiologi yang berbeda-beda dan
mekanisme serta afinitas yang berbeda dari masing masing antidepresan dan anticemas terhadap
reseptor yang ada pada masing2 saraf yang terkait. Terkadang malah banyak yang digunakan secara
“trial and error’” untuk mendapatkan antidepresan atau anticemas yang cocok dan pas untuk diagnose
tersebut. Seperti kita ketahui banyak antidepresan dan anticemas yang baru dengan masing2 daya kerja
yang berbeda beda titik tangkapnya dan nerotransmiter yang spesifik untuk masing2 obat tersebut.
Diantara obat2 baru yang sekarang populer dan banyak digunakan adalah golongan SSRI (Serotonin
Selective Reuptake Inhibitor) dengan berbagai nama dagang dan variasi dalam generiknya. Sedemikian
gencarnya penelitian antidepresan yang tergolong dalam Serotonin Selective Reuptake Inhibitor ini
sehingga penelitian tertuju kpd SSRI ini.
Pada makalah ini saya akan memfokuskan pembicaraan pada sigma reseptor yang pada beberapa
penelitian terdahulu sudah dikemukakan , namun dalam beberapa waktu belakangan sudah tidak
banyak dibicarakan. Namun demikian toh ada beberapa aspek dari sigma reseptor yang perlu juga
diketahui agar pengobatan yang efektif dan efisien didapatkan untuk kemanfaatannya bagi penderita
depresi dan ansietas khususnya.
Beberapa fungsi kognitif berhubungan dengan lokasi tertentu diotak a.l. adalah daerah prefrontal cortex
yang berkaitan dengan gangguan ingatan(memori), pengambilan keputusan dan perhatian(attention).
Daerah Amygdala berkaitan dengan kecemasan dan ketakutan, sedangkan daerah hippocampus
bertanggung jawab terhadap “contextual memory” dan daya ingat. Dengan adanya mild cognitive
impairment (MCI), adakalanya hal ini berkembang menjadi Demensia. 60 – 65% penderita dengan mild
cognitive impairment berkembang menjadi demensia. Dengan demikian Depresi yang berkaitan dengan
MCI juga dapat berkembang menjadi demensia. Hal ini bias terjadi pada usia berapa saja dari saat
adolesen sampai usia lanjut. Untuk itu perlu diketahui betul obat2 antidepresan yang baik dan tidak
mempunyai efek ‘intrinsic neurotoxic potential” yang bias menyebabkan significant neural atrophy
melalui efeknya pada reseptor –reseptor alpha-1, anticholinergik dan antihistamin. Hal ini tidak saja
berakibat berlawanan atau antagonis, tapi juga bertambah merugikan bagi mereka yang mendapat obat
obat jenis ini, misalnya berupa gangguan kognitif. Gangguan pada reseptor alpha – 1 oleh entidepresan
trisiklik seperti Amitriptylin menyebabkan gangguan koordinasi sensori-motor dan sering menyebabkan
penderita jatuh. Pda reseptor Histamine, akan menyebabkan penderita mengalami sedasi yang kuat dan
ini menyebabkan gangguan kognisi juga. Sifat potent antikolinergik juga menyebabkan gangguan berupa
keadaan seperti demensia. Keadaan ini dapat dibuktikan dengan test CFF (Critical Flicker Frequency).
Maka diperlukan kearifan dan pengetahuan yang cukup dalam pemilihan pemberian antidepresan
kepada penderita
Antidepresan dapat digolongkan dalam kategori ber macam macam
dalam fungsinya yang
mempengaruhi fungsi kognisinya, diantaranya dikatakan bias menyebabkan eksitasi, atau sedasi; yang
lain bersifat netral atau malah memperkuat fungsi kognisi nya, oleh karena itu dianjurkan untuk
menghindari pemakaian antidepresan trisiklik. Dalam hal ini patut dipertimbangkan bahwa reseptor
sigma – 1, tidak hanya mempunyai efek antidepresi, tapi juga mempunyai efek memperbaikin fungsi
kognisi dan proses belajar dan juga terhadap proses nerogenesis.
Diantara SSRI yang sudah diteliti, dikatakan bahwa fluvoxamine saat ini tidak atau sedikit sekali
berpengaruh terhadap fungsi kognisi (netral) yang ditunjukkan dengan tidak adanya pengaruh pada CRT
=Choice Reaction Time) yaitu suatu indicator yang reliable untuk test psychomotor retardation
(Hindmarch, 1995) .
Saat ini dan dimasa-masa yang mendatang populasi orang lanjut usia akan semakin banyak dengan
bertambahnya kemajuan kesehatan pada Lansia. Namun demikian kesehatan fisik, kebanyakan tidak
diiringi dengan kesehatan mental yang memadai diusia lanjut, bahkan ada kecenderungan bahwa
masalah psikis pada lansia cenderung meningkat, terutama dalam hal depresi dan kecemasan. Terutama
masalah kecemasan banyak diderita oleh kaum lanjut usia baik di kalangan yang harus dirawat di rumah
sakit maupun yang diluar rumah sakit. Tambahan pula kecemasan tampaknya merupakan suatu
gangguan yang kronis, berlangsung lama dan seringkali disertai dengan eksaserbasi dan remisi. Jadi
pemberian terapi pada penderita seperti ini juga harus diperhitungkan keamanan, efikasi dan
tolerabilitasnya. Hal ini penting oleh karena lansia saat ini dan juga dikemudian hari merupakan
golongan yang paling cepat pertumbuhannya. Untuk itu dilakukan beberapa penelitian untuk
mendapatkan obat obatan yang aman dan efektif untuk golongan lanjut usia ini.
Diantara obat2 antidepresan yang diteliti yang berkaitan dengan sigma reseptor antara lain adalah dari
golongan SSRI antara lain sertralin, fluvoxamin dan paroxetin. Sigma reseptor 1 dikatakan mempunyai
kaitan erat dengan patofisiologi dari berbagai gangguan psikiatrik. Didapatkan bahwa fluvoxamin
mempunyai afinitas paling kuat terhadap reseptor sigma 1. Berikutnya adalah sertralin sedangkan
paroxetin mempunyai afinitas paling rendah. Penelitian ini dikerjakan dengan menggunakan positron
emission tomography (PET) . Hasil studi menunjukkan bahwa fluvoxamin terikat kuat dengan reseptor
sigma 1 sedangkan paroxetin kurang. Penemuan ini juga memperkuat dugaan bahwa reseptor sigma 1
mungkin memainkan peranan penting dalam kerja dari fluvoxamin (Ishikawa)
Dalam pengobatan terhadap kecemasan (anxiety disorder) , gangguan panic dan gangguan obsesi
kompulsi, juga didapatkan bahwa fluvoxamin terbukti efektif dalam menanggulangi gangguan gangguan
tersebut, setidak tidaknya mengurangi kecemasan terutama pada gangguan cemas menyeluruh
(generalized anxiety disorder) (Wylie et al). Studi tentang pengobatan untuk gangguan cemas
menyeluruh(GAD), gangguan panik (PD) dengan atau tanpa agoraphobia, serta gangguan obsesikompulsi (OCD) telah dilakukan oleh Wylie et al. dengan menggunakan berbagai alat ukur/asesmen
anatar lain Hamilton Anxiety Scale dan MWQ (Multiple Worries Questinnaire). Untuk gangguan panik
dilakukan asesmen dengan PDSS (Panic Disorder Severity Scale.
Untuk Gangguan obsesi kompulsi dilakukan asesmen dengan menggunakan Y-BOCS. Penapisan terhadap
pasien yang akan dilakukan asesmen dilakukan dengan eksklusi pada penderita penderita yang
mendapatkan angka 23 keatas pada penilaian dengan menggunakan MMSE (Folstein Mini Mental State
Examination dan beberapa kriteria lain antara lain adanya resiko bunuh diri yang serius, pasien sedang
menggunakan benzodiazepine dsb. Didapatkan hasil yang memadai dimana tingkat depresi dan
kecemasan terutama pada orang orang usia lanjut yang diteliti ini mendapatkan hasil yang memuaskan
dalam waktu yang relative singkat baik untuk masalah depresi dan kecemasannya.
Penutup
Dengan meningkatnya populasi usia lanjut di dunia, diperlukan peneiltian mengenai terapi yang aman
bagi kaum usia lanjut ini, guna mendapatkan obat yang aman, efektif dan rasional serta berhasil guna
dalam menangani problem mental (anxietas dan depresi terutama) . Dari hasil penelitian ini didapatkan
bahwa salah satu SSRI yang diklaim sebagai antidepresan SSRI (Serotonine Selective Reuptake Inhibitor)
yi fluvoxamine ternyata mempunyai efek yang sangat baik untuk mengatasi problem kecemasan dan
depresi (dengan atau tanpa halusinasi dan delusi). Diduga kuat ini adalah merupakan
keterkaitan/afinitas yang kuat dari ikatan fluvoxamin terhadap reseptor Sigma 1.
Download