kesesuaian sarana prasarana, kompetensi guru, manajemen, dan

advertisement
Purnomo, Analisis Permintaan Guru SMK ...
87
ANALISIS PEMINTAAN GURU SMK
Oleh:
Purnomo
Dosen Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang
E-mail: [email protected]
Abstrak: Sekolah Menengah Kejuruan adalah bentuk pendidikan menengah yang
diselenggarakan untuk melanjutkan dan meluaskan pendidikan dasar serta mempersiapkan
siswa untuk memasuki lapangan kerja dan mengembangkan sikap profesional. Kualitas tenaga
pendidik adalah salah satu yang menjadi faktor penentu tinggi rendahnya mutu pendidikan.
Jika kekurangan guru baik dari segi kuantitas maupun kualitas tidak segera diatasi, maka mutu
pendidikan di masa depan semakin tidak menentu. Tujuan studi analisis permintaan guru SMK
ini untuk mendapatkan keseragaman dan kesamaaan persepsi dalam menghitung permintaan
guru, terutama dalam pengadaan dan rekruitmen guru baru. Selain itu untuk mendapatkan
kesesuaian kualifikasi dan spesialisasi guru yang diminta dengan latar belakang pendidikan
dan kualifikasi guru yang direkrut. Komponen-komponen untuk menghitung permintaan guru
SMK meliputi: struktur kurikulum, jumlah jam diklat selama 3 tahun atau dapat dijabarkan tiap
tahun, waktu belajar efektif per minggu, jam wajib mengajar guru, jumlah kelas atau rombel,
dan jumlah kelompok belajar (untuk program normatif dan adaptif 1, sedangkan untuk
program produktif. Apabila analisis permintaan guru SMK ini dapat dilaksanakan dengan baik
pada tingkat paling bawah yaitu satuan pendidikan dalam hal ini SMK, maka kekurangan guru
secara nasional baik dari segi kuantitas maupun kualitas dapat segera diatasi.
Abstract: School Vocational is organized in order to continue and expand basic education and
prepare students to enter employment and develop a professional attitude. The quality of
educators is one of the determinants of high to low quality of education. If the teacher shortage
both in terms of quantity and quality are not immediately addressed, the quality of education in
the future increasingly uncertain. The purpose of the study this Vocational School teachers
demand analysis to get uniformity and kesamaaan perceptions in calculating demand for
teachers, especially in procurement and recruitment of new teachers. In addition to getting the
suitability of teacher qualifications and specializations required by educational background and
qualifications of teachers recruited. The components for calculating demand for vocational
school teachers include: the structure of the curriculum, number of hours of training for 3 years
or can be spelled out per year, effective learning time per week, mandatory teaching hours of
teachers, the number of classes or rombel, and number of study groups (normative and adaptive
program for 1, while for a productive program. If the teacher requests analysis of Vocational
School can be implemented properly on the bottom level of the educational unit in this
Vocational School, the shortage of teachers nationally both in terms of quantity as well as
quality can be immediately resolved.
Kata Kunci: permintaan, guru, smk
Perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi telah membawa perubahan di
hampir semua aspek kehidupan manusia
dimana berbagai permasalahan hanya
dapat dipecahkan kecuali dengan upaya
penguasaan dan peningkatan ilmu
pengetahuan dan teknologi. Selain
manfaat bagi kehidupan manusia di satu
88
JURNAL PENDIDIKAN PROFESIONAL, VOLUME 2, NO 3, DESEMBER 2013
sisi perubahan tersebut juga telah
membawa manusia ke dalam era persaingan global yang semakin ketat. Agar
mampu berperan dalam persaingan
global, maka sebagai bangsa kita perlu
terus mengembangkan dan meningkatkan
kualitas sumber daya manusianya. Oleh
karena itu, peningkatan kualitas sumber
daya manusia merupakan kenyataan yang
harus dilakukan secara terencana, terarah,
intensif, efektif dan efisien dalam proses
pembangunan, kalau tidak ingin bangsa
ini kalah bersaing dalam menjalani era
globalisasi tersebut.
Untuk menjamin pencapaian
lulusan yang mampu dan berdaya saing,
satuan pendidikan dituntut memenuhi
standar minimum yang mengacu pada
standar nasional pendidikan sebagaimana
yang tertera pada PP No. 19 Tahun 2005.
Untuk itu, pendidik dan tenaga
kependidikan diharapkan memiliki kemampuan untuk mengembangkan potensi
peserta didik untuk menjawab tantangan
yang terus berkembang.
Tiga isu pokok di bidang
pendidikan saat ini adalah (1) mutu
pendidikan, (2) pemerataan akses, dan
(3) efisiensi anggaran. Mutu pendidikan
terkait dengan: kualitas input, kualitas
pendidik, kurikulum, metode pembelajaran, bahan ajar, media pembelajaran,
relevansi, dan manajemen program studi.
Seluruh aspek mutu tersebut saling kait
mengait, namun kualitas input dan
kualitas tenaga pendidik tetap menjadi
faktor penentu tinggi rendahnya mutu
pendidikan.
Sekolah Menengah Kejuruan
selanjutnya disingkat SMK adalah bentuk
pendidikan menengah yang diselenggarakan untuk melanjutkan dan meluas-
kan pendidikan dasar serta mempersiapkan siswa untuk memasuki lapangan
kerja dan mengembangkan sikap
profesional. Oleh karena itu SMK salah
satu dari sistem pendidikan yang
lulusannya akan langsung memasuki
dunia kerja, maka mutu lulusannya harus
dijaga.
Tenaga pendidik dalam hal ini
guru sebagai sumber daya manusia yang
ada di sekolah khususnya Sekolah
Menengah Kejuruan (SMK) mempunyai
peranan
yang
menentukan
dan
merupakan kunci keberhasilan dalam
mencapai tujuan institusional, karena
guru adalah pengelola kegiatan belajar
mengajar. Menurut Prosser dan Allen
(1925) pendidikan kejuruan akan efektif
jika diajar oleh guru dan instruktur yang
telah memiliki pengalaman dan berhasil
di dalam menerapkan keterampilan dan
pengetahuan mengenai operasi dan
proses kerja yang dilakukan. Oleh karena
itu agar kegiatan belajar mengajar
berjalan efektif dan efisien harus
disediakan guru yang sesuai dengan
permintaan tiap-tiap SMK baik kuantitas
(jumlah) maupun kualitasnya. Oleh sebab
itu pemenuhan permintaan guru di SMK
baik kuantitas maupun kualitas perlu
mendapat perhatian yang serius dari
semua pihak yang terkait.
Data dari Depdiknas Guru SMK
yang memenuhi kualifikasi sebanyak
76.804 guru dari 136.077 guru atau
56,4%, dan yang tidak memenuhi
kualifikasi 43,6%. (Suara Merdeka, 28
Juni 2005). Persentase guru yang tidak
memenuhi kualifikasi tersebut sangat
besar. Dengan demikian dapat dipahami
jika mutu pendidikan nasional masih
rendah. Ini berarti 43,6% tersebut
Purnomo, Analisis Permintaan Guru SMK ...
mengajar apa adanya atau bahkan kurang
selayaknya mengajar. Implikasinya sudah
sangat jelas, yakni makin merosotnya
mutu pendidikan nasional. Jika kekurangan guru yang berkualifikasi tersebut
tidak segera diatasi, maka mutu pendidikan semakin tidak menentu di masa
depan.
Dalam Renstra Depdiknas 20052009 pada butir utama menambah jumlah
dan kualitas SMK di Indonesia.
Kemudian menurut Direktur Pembinaan
SMK menyebutkan pada tahun 2009
perbandingan SMK dengan SMA
menjadi 50:50 yang pada tahun 2007
38:62. Dari kebijakan ini maka
kekurangan guru akan lebih banyak lagi,
baik dari segi kuantitas (jumlah) atau
kualitasnya (kompetensinya). Selain itu
Direktur Pembinaan SMK dalam Kompas, 23 Juli 2008 mengatakan lonjakan
daya tampung siswa SMK beberapa
tahun terakhir belum mampu diikuti
dengan peningkatan kuantitas guru.
Di SMK yang memiliki berbagai
bidang keahlian dan program keahlian
dalam menghitung permintaan guru harus
diperhatikan
spesialisasinya
dan
kewenangannya. Di lapangan sering
dijumpai adanya perbedaan cara menghitung permintaan guru yang dilakukan
oleh sekolah/SMK. Dari permasalahan di
atas agar terdapat persamaan persepsi
antara
pihak-pihak
terkait
dalam
perencanaan ketenagaan SMK, khususnya dalam menghitung permintaan guru
SMK maka diperlukan studi analisis
permintaan guru SMK.
Tujuan studi analisis permintaan
guru SMK ini untuk mendapatkan
keseragaman dan kesamaaan persepsi
dalam menghitung permintaan guru,
89
terutama
dalam
pengadaan
dan
rekruitmen guru baru. Selain itu untuk
mendapatkan kesesuaian kualifikasi dan
spesialisasi guru yang diminta dengan
latar belakang pendidikan dan kualifikasi
guru yang direkrut.
Pengertian permintaan guru SMK
adalah jumlah guru yang seharusnya ada
di SMK baik jumlah maupun spesialisasi
agar pelaksanaan kegiatan belajar
mengajar berjalan secara efektif dan
efisien.
Guru spesialisasi adalah guru
yang mengajar satu atau lebih mata
pelajaran tertentu baik teori maupun
praktik sesuai dengan spesialisasinya.
Kebutuhan Guru SMK adalah guru yang
dibutuhkan baik dalam jumlah maupun
kesesuaian dengan mata pelajaran
(normatif, adaptif dan produktif) untuk
terlaksananya kegiatan belajar mengajar
yang bermutu.
Kelas atau Rombongan Belajar
(Rombel) adalah rombongan belajar
klasikal, dengan rasio layanan kelas dan
siswa antara (30 - 40 siswa).
Kelompok Praktik adalah bagian
dari kelas pada suatu tingkat pendidikan
yang mengikuti mata pelajaran praktik
(jumlah maksimal 15 - 20 siswa).
Guru Spesialisasi (Guru mata
pelajaran produktif) adalah guru yang
layak mengajarkan dan/atau melatih satu
atau lebih mata pelajaran tertentu baik
teori dan/atau praktik sesuai dengan
kompetensi profesinya.
Guru Bimbingan dan Konseling
adalah guru dengan beban mengajar tatap
muka 6 jam pelajaran per minggu dan
mengampu bimbingan dan konseling
sekurang-kurangnya 150 siswa.
90
JURNAL PENDIDIKAN PROFESIONAL, VOLUME 2, NO 3, DESEMBER 2013
Prinsip perhitungan permintaan
guru SMK adalah sebagai berikut.
a. Setiap program studi atau spesialisasi
sekurang-kurangnya 1 (satu) orang
guru dengan beban mengajar wajib
minimal 2 jam pelajaran per minggu.
b. Guru yang mengajar kurang dari 24
jam pelajaran per minggu, diserahi
mengajar mata pelajaran lain yang
sesuai dengan spesialisasi pendidikannya atau diserahi mengajar di
sekolah lain baik negeri maupun
swasta terdekat atau diserahi kegiatan
bimbingan dan konseling apabila
yang bersangkutan pernah mengikuti
penataran atau diserahi kegiatankegiatan lain yang berkaitan dengan
proses belajar mengajar.
c. Kepala SMK wajib mengajar tatap
muka 6 jam pelajaran per minggu
sesuai kompetensinya.
d. Jumlah wakil kepala sekolah minimal
1 orang dan maksimum 4 orang
(bidang Kurikulum, Sarana dan
Prasarana, Kesiswaan, dan Humas),
tergantung jumlah siswa.
1)  500 siswa, seorang wakil kepala
sekolah
2) 501 - 1000 siswa, 2 orang wakil
kepala sekolah
3) 1001 - 1500 siswa, 3 orang wakil
kepala sekolah
4)  1501 siswa, 4 orang wakil
kepala sekolah
e. Wakil
Kepala
Sekolah
wajib
mengajar sekurang-kurangnya 12 jam
pelajaran/minggu sesuai dengan
kompetensinya.
f. Guru Bimbingan dan Konseling
sekurang-kurangnya diberi tugas
beban mengajar tatap muka 6 jam
pelajaran per minggu dan membim-
bing sekurang–kurangnya 150 orang
siswa.
g. Khususnya guru agama, apabila di
sekolah lebih dari satu mata pelajaran
agama,
maka
perlu
diadakan
perhitungan sesuai dengan kebutuhan
dan peraturan yang berlaku.
Komponen dasar perhitungan
kebutuhan guru sebagai berikut.
a. Struktur kurikulum edisi tahun 2004,
yang berisi program keahlian, mata
diklat program normatif, adatif, dan
produktif, serta durasi waktu dan jam.
b. Jumlah
Kelas/Rombel
menurut
tingkat atau jumlah kelas seluruh
tingkat.
c. Kelompok Praktik adalah bagian dan
kelas/rombel pada suatu tingkat yang
mengikuti pelajaran produktif.
d. Jumlah jam mata diklat per minggu
pada suatu mata pelajaran sama
dengan durasi waktu mata diklat
dibagi 3 tahun, dan dibagi 38 minggu
e. Jam wajib mengajar bagi seorang
guru per minggu adalah 24 jam
pelajaran.
f. Pembulatan dilakukan pada akhir
perhitungan setiap hasil perhitungan
kebutuhan guru.
Formula perhitungan permintaan
guru SMK mengunakan rumus sebagai
berikut.
a. Formula menghitung jumlah permintaan guru per mata pelajaran
(kelompok normatif dan adaptif):
Purnomo, Analisis Permintaan Guru SMK ...
Keterangan :
KG = Jumlah guru per mata
pelajaran/bidang studi (guru
mata pelajaran kelompok
normatif dan adaptif )
∑MP = Jumlah jam mata pelajaran
per minggu pada suatu mata
pelajaran adalah Durasi
Waktu (DW) Mata Diklat
dibagi 3 tahun, dan dibagi
38 minggu
∑K = Jumlah kelas/rombel pada
suatu
tingkat
yang
mengikuti mata pelajaran
yang sama untuk semua
spesialisasi;
∑W = Jumlah jam wajib per
minggu (24 jmp)
1,2...n = Tingkat kelas
b. Formula menghitung permintaan guru
spesialisasi (guru mata pelajaran
kelompok produktif):
Keterangan:
KGs = permintaan
guru
per
spesialisasi (guru mata
pelajaran
kelompok
produktif)
∑MP = Jumlah jam mata pelajaran
per minggu pada suatu mata
pelajaran
adalah Durasi
waktu DW mata diklat
produktif dibagi 3 tahun,
dan dibagi 38 minggu
∑K = Jumlah kelas/rombel pada
suatu
tingkat
yang
mengikuti mata pelajaran
produktif pada spesialisasi
tertentu;
∑KP = Jumlah kelompok pelajaran
produktif (teori dan praktik)
91
setiap rombel pada suatu
tingkat yang mengikuti mata
pelajaran produktif tertentu.
∑W = Jumlah jam wajib mengajar
guru spesialisasi per minggu
(24 jmp)
1,2...n = Tingkat kelas
METODE PENELITIAN
Penelitian ini termasuk jenis
penelitian studi kasus. Penelitian ini
dilaksanakan di SMK Negeri 6 Malang
pada tahun ajaran 2008/2009. Analisis
data yang digunakan mengacu pada
perhitungan perencanaan kebutuhan guru
yang dikeluarkan oleh Direktorat Profesi
Pendidik Direktorat Jenderal Peningkatan
Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan
Departemen Pendidikan Nasional Tahun
2007.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Analisis Deskriptif
1. SMK Negeri 6 Malang dipimpin oleh
1 orang Kepala Sekolah, 1 orang
Wakil Manajemen Mutu, dan 4 orang
Wakil Kepala Sekolah.
2. SMK Negeri 6 Malang mempunyai
98 orang guru, yang terdiri dari PNS
57 orang, Guru Bantu 1 orang, dan
GTT 40 orang.
3. SMK Negeri 6 Malang mempunyai 4
Bidang Keahlian yaitu
a. Teknik Mesin (membuka Program
Keahlian Permesinan dan Teknik
Mekanik Otomotif).
b. Teknologi
Informasi
dan
Komunikasi (membuka Program
Keahlian Teknik Komputer dan
Jaringan dan Teknik Rekayasa
Perangkat Lunak).
92
JURNAL PENDIDIKAN PROFESIONAL, VOLUME 2, NO 3, DESEMBER 2013
c. Teknik Bangunan (membuka
Program Keahlian Perabot Kayu
dan Teknik Gambar Bangunan).
d. Ketenagalistrikan
membuka
Program Keahlian Pemanfaatan
Tenaga Listrik.
4. Kurikulum yang digunakan adalah
Kurikulum SMK Edisi Tahun 2004
5. SMK Negeri 6 Malang mempunyai 65
kelas/rombel, yang terdiri dari kelas X
ada 28 rombel, kelas XI ada 23
Rombel, kelas XII ada 14 rombel.
6. Jumlah siswa SMK Negeri 6 Malang
ada 2392 orang, yang terdiri dari kelas
X 1099 orang (Laki-laki 849 orang
dan perempuan 250 orang), kelas XI
848 orang (Laki-laki 684 orang dan
perempuan 164 orang), kelas XII 445
orang (Laki-laki 390 orang dan
perempuan 55 orang).
Hasil Analisis Permintaan Guru SMK
Negeri 6 Malang
Dari data analisis deskriptif di
atas program keahlian yang dibuka dan
komposisi kelas/rombel dapat dilihat
pada Tabel 1.
Perhitungan permintaan guru program
diklat Normatif
Di SMK Negeri 6 Malang
program diklat normatif dan Adaptif
diajarkan pada kelas X dan kelas XII
dengan komposisi kelas X 2/3 x
Durasi/Waktu (jam) dan Kelas XII 1/3 x
Durasi/Waktu (jam). Pembagian ini
karena sistem pembelajaran di SMK
Negeri 6 Malang pada kelas XI praktik
industri selama 1 tahun (untuk program
keahlian TPM, TMO, dan PK) dan
praktik industri 1 semester (untuk
program keahlian TKJ, RPL, GB, dan
PTL). Permintaan guru normatif SMK
Negeri 6 Malang dapat pada Tabel 2.
Perhitungan permintaan guru program
diklat Adaptif
Perhitungan permintaan guru
adaptif SMK Negeri 6 dipaparkan pada
Tabel 3.
Perhitungan permintaan guru program
diklat Produktif
Di SMK Negeri 6 Malang
program diklat Produktif diajarkan pada
kelas X 1/4 x Durasi/Waktu (jam)
produktif, kelas XI 1/2 x Durasi/Waktu
(jam) produktif dan Kelas XII 1/4 x
Durasi/Waktu (jam) produktif. Pembagian ini karena sistem pembelajaran di
SMK Negeri 6 Malang pada kelas XI
praktik industri selama 1 tahun (untuk
program keahlian TPM, TMO, dan PK)
dan praktik industri 1 semester (untuk
program keahlian TKJ, RPL, GB, dan
PTL). Permintaan guru normatif SMK
Negeri 6 Malang dapat pada Tabel 4.
Guru Bimbingan dan Konseling
sekurang-kurangnya diberi tugas beban
mengajar tatap muka 6 jam pelajaran per
minggu dan membimbing sekurang–
kurangnya 150 orang siswa. Jumlah
siswa SMK Negeri 6 Malang ada 2392
orang maka diperlukan guru Bimbingan
Konseling 16 orang.
Hasil dari perhitungan permintaan
guru SMK tersebut akhirnya dapat
digunakan untuk menghitung kelebihan
(Surplus) dan kekurangan (Shortage)
guru sesuai dengan mata diklat yang ada
di SMK. Selisih permintaan guru dengan
guru yang ada di SMK Negeri 6 Malang
dipaparkan pada Tabel 5.
Purnomo, Analisis Permintaan Guru SMK ...
Tabel 1. Program keahlian yang dibuka dan komposisi kelas/rombel SMK Negeri 6 Malang
Keterangan:
TPM
= Teknik Permesinan
TMO
= Teknik Mekanik Otomotif
TKJ
= Teknik Komputer dan Jaringan
RPL
= Teknik Rekayasa Perangkat Lunak
PK
= Perabot Kayu
GB
= Gambar Bangunan
PTL
= Pemanfaatan Tenaga Listrik
Tabel 2 Perhitungan Permintaan Guru SMK pada Program Normatif
Keterangan:
DW
Rombel
ME
Jam Wajib
Pokjar
Hasil
Hasil Bagi
= adalah durasi/waktu (jam) mata diklat , 1 jam = 45 menit
= Rombongan belajar
= Minggu efektif, (kelas X = 38 jam dan kelas XII = 14 jam)
= Jam wajib mengajar guru dalam 1 minggu
= Kelompok Belajar (teori 1, praktik 2)
DW x Rombel
=
ME
Hasil
=
x Pokjar
Jam Wajib
Tabel 3 Perhitungan Permintaan Guru SMK pada Program Adaptif
Keterangan:
DW
Rombel
ME
Jam Wajib
Pokjar
= adalah durasi/waktu (jam) mata diklat , 1 jam = 45 menit
= Rombongan belajar
= Minggu efektif, (kelas X = 38 jam dan kelas XII = 14 jam)
= Jam wajib mengajar guru dalam 1 minggu
= Kelompok Belajar (teori 1, praktik 2)
93
94
JURNAL PENDIDIKAN PROFESIONAL, VOLUME 2, NO 3, DESEMBER 2013
DW x Rombel
Hasil
=
ME
Hasil
Hasil Bagi
=
x Pokjar
Jam Wajib
Tabel 4 Perhitungan Permintaan Guru SMK pada Program Produktif
Keterangan:
DW
Rombel
ME
Jam Wajib
Pokjar
Hasil
= adalah durasi/waktu (jam) mata diklat , 1 jam = 45 menit
= Rombongan belajar
= Minggu efektif, (kelas X = 38 jam dan kelas XII = 14 jam)
= Jam wajib mengajar guru dalam 1 minggu
= Kelompok Belajar (teori 1, praktik 2)
DW x Rombel
Hasil
=
Hasil Bagi
= ---------------- x Pokjar
ME
Jam Wajib
Tabel 4. Selisih Permintaan dengan Guru yang Ada di SMK Negeri 6 Malang
Purnomo, Analisis Permintaan Guru SMK ...
Pada Tabel 5 ditemukan bahwa
SMK Negeri 6 Malang secara keseluruhan kekurangan guru pada mata
diklat normatif, adaptif, produktif
(kecuali bidang keahlian bangunan dan
ketenagalistrikan mengalami surplus/
kelebihan),
dan
guru
Bimbingan
Konseling. Dari Tabel 4 menurut
perhitungan permintaan guru seharusnya
181 orang, namun yang ada.hanya 98
orang, jadi SMK Negeri 6 kekurangan
guru 83 orang.
Secara rinci untuk mata diklat
normatif kekurangan guru agama 2
orang, pendidikan kewarganegaraan dan
sejarah 5 orang, bahasa Indonesia 2 orang
dan pendidikan jasmani dan olah raga 7
orang. Sementara untuk mengatasi
kekurangan guru mata diklat normatif ini
Kepala SMK Negeri 6 menambah jam
minggu efektif dari 38 jam per minggu
menjadi 42-44 jam/minggu.
Untuk mata diklat adaptif
kekurangan guru matematika 16 orang,
bahasa Inggris 9 orang, KKPI 6 orang,
kewirausahaan 5 orang, dan fisika 4
orang. Sementara untuk mengatasi
kekurangan guru matematika dan fisika
Kepala Sekolah menerapkan alih
spesialisasi, yaitu guru produktif teknik
bangunan dan ketenagalistrikan mengajar
matematika dan fisika, selain juga
menambah jam minggu efektif dari 38
jam/minggu menjadi 42-44 jam/minggu.
Untuk mata diklat bahasa Inggris dan
kewirausahan belum ada jalan pemecahannya. Untuk mata diklat KKPI pihak
SMK Negeri 6 memang tidak menyediakan guru, tetapi proses belajar
mengajarnya
dilaksanakan
melalui
kerjasama dengan lembaga pelatihan
komputer. Informasi dari Kepala Sekolah
95
hal ini dilakukan karena lebih efisien dan
murid langsung dapat sertifikat.
Untuk mata diklat produktif
kekurangan
bidang teknik mesin
(program keahlian teknik permesinan dan
teknik mekanik otomotif) 4 orang, teknik
informasi dan komunikasi (program
keahlian teknik komputer dan jaringan
dan teknik rekayasa perangkat lunak) 20
orang. Sedang untuk bidang teknik
bangunan (perabot kayu dan gambar
bangunan) kelebihan 6 orang dan
ketenagalistrikan kelebihan 2 orang.
Untuk guru bimbingan konseling kalau
dibuat rasio guru dan siswa 1:50
kekurangan
11
guru
bimbingan
konseling.
Untuk mengatasi kekurangan guru
mata diklat produktif dengan cara
mengalihkan spesialisasi guru ”lebih”
untuk mengisi kekurangan guru pada
mata diklat produktif yang mengalami
kekurangan. Selain itu kegiatan belajar
mengajar pada mata diklat produktif
menggunakan sistem blok untuk kelas X
dan XII. Sedangkan untuk kelas XI
kegiatan belajar mengajar dilaksanakan
di lapangan/industri selama 1 tahun untuk
program keahlian teknik permesinan,
teknik mekanik otomotif, dan perabot
kayu. Kelas XI program keahlian teknik
komputer dan jaringan, teknik rekayasa
perangan lunak, gambar bangunan, dan
pemanfaatan tenaga listrik kegiatan
belajar mengajar dilaksanakan di
lapangan/industri selama 1 semester.
Kelebihan dan kekurangan guru
tersebut merupakan masalah bagi SMK,
karena dapat menimbulkan tidak efektif
dan efisiennya pelaksanaan kegiatan
belajar mengajar. Untuk mengatasi
masalah
tersebut
kepala
sekolah
96
JURNAL PENDIDIKAN PROFESIONAL, VOLUME 2, NO 3, DESEMBER 2013
menginformasikan kepada guru untuk
didiskusikan dan dicari solusi terbaik
dengan hasil optimal tanpa mengganggu
pada kegiatan operasional sekolah.
Sekolah yang kelebihan guru ditawarkan
untuk alih spesialisasi atau mutasi ke
sekolah lain yang mengalami kekurangan. Sedangkan sekolah yang
kekurangan guru kepala sekolah segera
menginformasikan ke Dinas Pendidikan
Kota/Kabupaten di mana sekolah berada.
Kemudian kalau permasalahan kekurangan dan kelebihan guru di tingkat
kota/kabupaten tidak dapat diselesaikan,
maka Dinas Pendidikan Kota/Kabupaten
meinformasikan/ melaporkan ke Dinas
Pendidikan Provinsi dan selanjutnya
membahas bersama-sama dengan pihak
terkait, sehingga menghasilkan kesepakatan yang konkrit untuk melakukan alih
spesialisasi atau mutasi guru SMK di
provinsi masing-masing.
20 orang, produktif bidang keahlian
teknik mesin 4 orang, bidang teknik
informasi dan komunikasi 20 orang.
Sedang
untuk
bidang
teknik
bangunan kelebihan 5 orang dan
ketenagalistrikan kelebihan 2 orang.
Untuk guru bimbingan konseling
kekurangan 11 orang.
4. Apabila analisis permintaan guru
SMK ini dapat dilaksanakan dengan
baik pada tingkat paling bawah yaitu
satuan pendidikan dalam hal ini
SMK,
maka
kekurangan
dan
kelebihan guru secara nasional baik
dari segi kuantitas maupun kualitas
dapat segera diatasi.
5. Dengan analisis permintaan guru
SMK ini dapat juga digunakan untuk
memprediksi permintaan guru 10 atau
15 tahun ke depan dengan cara
memasukan variabel umur guru yang
ada dan prediksi siswa masuk SMK.
Saran
PENUTUP
Kesimpulan
Dari analisis permintaan guru
SMK studi kasus di SMK Negeri 6
Malang dapat disimpulkan sebagai
berikut.
1. Untuk menghitung permintaan guru
SMK harus dikelompokkan menjadi
3, yaitu kelompok guru program
normatif, guru adaptif dan guru
produktif.
2. Hasil
permintaan
guru
SMK
dikurangi guru yang ada di SMK
merupakan kekurangan dan kelebihan
guru di SMK yang bersangkutan.
3. Hasil analisis permintaan guru SMK
Negeri 6 ditemukan kekurangan guru
mata diklat normatif 16 orang, adaptif
Dari analisis permintaan guru
SMK studi kasus di SMK Negeri Malang
ini dapat disarankan sebagai berikut.
1. SMK jika akan membuka program
keahlian menghitung permintaan guru
dengan mengacu pada struktur
kurikulum yang digunakan.
2. Jumlah kelas atau rombongan belajar
mempengaruhi jumlah permintaan
guru, oleh karena itu dalam menerima
siswa juga memperhitungkan jumlah
guru yang ada.
3. Kepala SMK secara periodik minimal
1 tahun harus melaporkan hasil
analisis permintaan guru ke dinas
pendidikan, sehingga kelebihan atau
kekurangan guru dapat segera diatasi.
Purnomo, Analisis Permintaan Guru SMK ...
97
4. Analisis permintaan guru SMK ini
masih terbatas permintaan pada
kuantitas (jumlah), maka disarankan
ada studi lagi permintaan guru SMK
pada kualitasnya.
DAFTAR RUJUKAN
Depdiknas. 2004. Kurikulum SMK Edisi
2004, Bagian I, II, dan III. Jakarta:
Direktorat Pendidikan Menengah
Kejuruan, Depdiknas.
Kompas, 23 Juli 2008. Indonesia Kekurangan 10.000 guru SMK
Depdiknas. 2000. Pedoman Analisis
Kebutuhan
Guru
Sekolah
Menengah
Kejuruan.
Jakarta:
Direktorat Menengah Kejuruan,
Dirjen Dikdasmen.
Depdiknas. 2007. Perhitungan Perencanaan Kebutuhan. Guru Jakarta:
Depdiknas
Depdiknas. 2007. Rencana Strategis
Departemen Pendidikan Nasional
Tahun 2005 – 2009. Jakarta:
Depdiknas
Direktur Pembinaan Sekolah Menengah
Kejuruan. 2006. Kebijakan Pembinaan SMK. Jakarta: Departemen
Pendidikan Nasional
Peraturan Pemerintah. 2005. Peraturan
Pemerintah, Nomor 19, Tahun
2005, tentang Standar Nasional
Pendidikan.
Permendiknas.
2006.
Permendiknas
Nomor 22 dan 23 Tahun 2006,
tentang Standar Isi dan Standar
Kompetensi Lulusan untuk Satuan
Pendidikan Dasar dan Menengah.
Jakarta: Sinar Grafika.
Prosser, C.A.& Allen, C.R. 1925.
Vocational Education in a
Democracy. New York: Century
SMK Negeri 6. 2008. Buku Panduan
Siswa Tahun 2008-2009. Malang:
SMK Negeri 6
Suara Merdeka, 28 Juni 2005. Tantangan
Guru Profesional.
Download