peningkatan aktivitas peserta didik pada

advertisement
PENINGKATAN AKTIVITAS PESERTA DIDIK PADA
PEMBELAJARAN MATEMATIKA MELALUI METODE
PEMECAHAN MASALAH DI KELAS IV
SEKOLAH DASAR NEGERI 02
SUNGAI PINYUH
ARTIKEL PENELITIAN
OLEH
YULIANA RUBINEM
NIM F34211435
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
JURUSAN PENDIDIKAN DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2013
PENINGKATAN AKTIVITAS PESERTA DIDIK PADA
PEMBELAJARAN MATEMATIKA MELALUI METODE
PEMECAHAN MASALAH DI KELAS IV
SEKOLAH DASAR NEGERI 02
SUNGAI PINYUH
Yuliana Rubinem, Suryani, Marzuki
PGSD, FKIP Universitas Tanjungpura, Pontianak
email: [email protected]
Abstrak:Masalah dalam penelitian ini adalah apakah metode
pemecahan masalah dapat meningkatkan aktivitas peserta didik pada
pembelajaran Matematika di kelas IV Sekolah Dasar Negeri 02
Sungai Pinyuh.Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan
aktivitaspeserta didik pada pembelajaran Matematika di kelas IV
Sekolah Dasar Negeri 02 Sungai Pinyuh.Penelitian ini menggunakan
metode deskriptif dan pendekatan kualitatif dengan rancangan
penelitian tindakan kelas.Kemampuan peneliti merencanakan
pembelajaran, berdasarkan IPKG 1 untuk siklus 1 sebesar 3
(baik).Kemudian pada siklus kedua menjadi 4 (sangat baik), dan telah
sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang mengacu pada
KTSP, silabus dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 41
tahun 2007.Kemampuan peneliti melaksanakan pembelajaran sudah
baik dan melaksanakan pembelajaran berdasarkan RPP yang telah
dibuat.Berdasarkan pengamatan menggunakan IPKG 2 untuk siklus 1
sebesar 2,97(cukup), dan pada siklus kedua menjadi 3,95(baik).
Aktivitas belajar peserta didik mengalami peningkatan signifikan
dimana pada pengamatan awal sebesar 49%, kemudian meningkat
19% pada siklus pertama menjadi sebesar 68%, dan pada siklus kedua
meningkat sebesar 14% menjadi 82%. Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa penggunaan metode pemecahan masalah dapat
meningkatkan aktivitas belajar peserta didik pada pembelajaran
matematika di kelas IV SD Negeri 02 Sungai Pinyuh
Kata Kunci:Metode pemecahan masalah, pembelajaran matematika
Abstract:The problem in this study is whether the method can
improve the problem-solving activities of students in the learning of
Mathematics in class IV SDN 02 Sungai Pinyuh. The purpose of this
study is to increase the activity of students in the learning of
Mathematics in class IV SDN 02 Sungai Pinyuh. This study uses
descriptive and qualitative approach to the design of classroom action
research. The ability of researchers to plan learning, based IPKG 1 for
cycle 1 of 3 (good). Then in the second cycle to 4 (very good), and in
accordance with the lesson plan, the syllabus and the Regulation of the
Minister of National Education. 41 in 2007. Implement the learning
ability of researchers has been well and implement learning based
lesson plans that have been made. Based on observations using IPKG
2 for 1 cycle of 2.97 (enough), and in the second cycle to 3.95 (good).
Learners' learning activities increased significantly where the initial
observations by 49%, then increased by 19% in the first cycle to 68%,
and in the second cycle increased by 14% to 82%. It can be concluded
that the use of problem-solving methods can enhance learners'
learning activities in the learning of mathematics in class IV SDN 02
Sungai Pinyuh.
Key Words: problem-solving methods, the learning of mathematics
Matematika sebagai salah satu ilmu dasar harus diperhatikan dalam proses
pembelajaran karena disamping sebagai ilmu dasar, Matematika juga dipandang
sebagai mata pelajaran yang sulit bahkan tidak jarang peserta didik merasa tegang
dan takut dengan mata pelajaran matematika. Hal ini disebabkan Matematika
merupakan suatu bahan kajian yang memiliki objek abstrak dan dibangun melalui
proses penalaran deduktif, yaitu kebenaran suatu konsep diperoleh sebagai akibat
logis dari kebenaran sebelumnya yang sudah diterima, sehingga keterkaitan antar
konsep dalam matematika bersifat sangat kuat dan jelas.
Dalam pembelajaran matematika di sekolah dasar (SD), materi perkalian
dengan teknik bersusun pendek merupakan salah satu materi yang sulit dipahami
oleh siswa.Hal ini dipengaruhi oleh berbagai faktor dalam pembelajaran tersebut,
misalnya pembelajaran yang abstrak dan kurang menggunakan media
pembelajaran untuk meningkatkan daya tarik peserta didik untuk belajar dengan
menggunakan media yang disediakan guru.Selain itu, sulitnya memahami materi
banyak siswa yang kurang mengerti dan berdampak pada hasil belajar yang tidak
memuaskan.Selain faktor peserta didik, masalah pembelajaran Matematika juga
dapat dipengaruhi oleh faktor lain seperti guru, sistem pendidikan, sarana dan
prasarana pendidikan khususnysa media/alat peraga pembelajaran. Guru sebagai
salah satu faktor yang ikut mempengaruhi pendidikan matematika merupakan
komponen pembelajaran yang memegang peranan penting dan utama.
Keberhasilan dalam proses pembelajaran matematika sangat ditentukan oleh
faktor guru dalam menyajikan materi pembelajaran kepada siswa melalui kegiatan
belajar mengajar yang efektif.
Keberhasilan guru dalam menyampaikan materi sangat tergantung pada
kelancaran interaksi komunikasi antar guru dengan peserta didik.Ketidak lancaran
komunikasi membawa akibat terhadap pesan yang disampaikan guru sulit
dipahami peserta didik. Oleh karena itu, guru harus melakukan berbagai upaya
untuk melakukan komunikasi yang efektif sehingga dapat meraih keberhasilan
dalam proses penbelajaran misalnya dengan menggunakan media pengajaran
sebagai alat bantu berkomunikasi dengan peserta didik ketika mengajar dengan
maksud agar peserta didik dengan mudah memahami materi yang disampaikan
guru.
Kesulitan-kesulitan dapat bersumber pula pada aspek kebahasaan, materi,
dan penguasan konsep-konsep yang mendasar.Permasalahan ini akan mengurangi
ketiga aspek tersebut dan strategi pembelajaran soal cerita yang disajikan tidak
dapat dipahami dan diselesaikan dengan mudah. Meraih tujuan pembelajaran
umum Matematika memang tidak mudah seperti mengembalikan telapak tangan,
tetapi harus diusahakan dengan sungguh-sungguh dan mau bekerja keras untuk
mencapainya.Kegiatan pembelajaran di sekolah membutuhkan kerjasama yang
baik antara guru dengan peserta didik.Metode pemecahan masalah dalam
pembelajaran matematika kaitannya untuk meningkatkan kemampuan peserta
didik dalam menyelesaikan soal cerita merupakan yang cukup tepat. Karena
secara teoritis metode dengan langkah-langkah Polya (pemecaham masalah) ini
membuat peserta didik untuk cermat, prosedural, teliti dan sistematis sesuai
dengan yang diharapkan dari penyelesaian soal cerita tersebut.
Berdasarkan pengamatan awal, ada sebagian besar peserta didik yang
mengalami kesulitan untuk menyelesaikan soal-soal cerita. Hal ini dikarenakan
guru kurang konvensional dalam mengerjakan soal Matematika, guru kurang
menggunakan media dalam pembelajaran Matematika dan guru selama ini banyak
menggunaka metode ceramah sehingga suasana kelas menjadi kaku, anak kurang
memperhatikan guru, dan kurang ada interaksi antara siswa.Peserta didik yang
mengalami kesulitan belajar sebanyak 16 siswa dari 34 siswiatau 47%. Dengan
kata lain belajar dalam menyelesaikan soal cerita baik pada proses pembelajaran
maupun pada hasil yang dicapai belum menunjukan hasil yang sesuai dengan apa
yang diharapkan. Kesulitan-kesulitan dapat bersumber pada aspek kebahasaan,
materi maupun penguasaan konsep-konsep yang mendasar.Sebagai salah satu
upaya perbaikan kualitas pembelajaran dan untuk menumbuhkan keaktifan peserta
didik agar lebih tertarik terhadap penguasaan Matematika khususnya pada
pembelajaran pemecahan soal cerita.
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan, maka yang menjadi
permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana kemampuan guru dalam
perencanaan pembelajaran matematika dengan metode pemecahan masalah di
kelas IV SDN 02 Sungai Pinyuh, bagaimana kemampuan guru dalam pelaksanaan
pembelajaran matematika dengan metode pemecahan masalah di kelas IV SDN 02
Sungai Pinyuh, bagaimana peningkatan aktivitas belajar peserta didik pada
pembelajaran Matematika dengan menggunakan metode pemecahan masalah di
kelas IV SDN 02 Sungai Pinyuh. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk
mendeskripsikan kemampuan guru dalam perencanaan pembelajaran matematika
dengan menggunakan metode pemecahan masalah di kelas IV SDN 02 Sungai
Pinyuh, mendeskripsikan kemampuan guru dalam pelaksanaan pembelajaran
matematika dengan menggunakan metode pemecahan masalah di kelas IV SDN
02 Sungai Pinyuh, mendeskripsikan peningkatan aktivitas belajar peserta didik
pada pembelajaran Matematika dengan menggunakan metode pemecahan masalah
di kelas IV SDN 02 Sungai Pinyuh. Manfaat teoritis dari penelitian ini diharapkan
dapat dijadikan referensi atau acuan bagi pemahaman konsep pembelajaran
penyelesaian soal cerita dengan pemanfaatan metode pemecahan masalah, dapat
dijadikan sebagai referensi bagi penelitian yang sejenis. Sedangkan, manfaat
praktis penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dalam melakukan inovasi
metode pembelajaran dan merupakan bahan analisis untuk menerapkan berbagai
metode pembelajaran yang ada dan juga sebagai pijakan guru untuk meningkatkan
kemampuan penguasaan materi operasi perkalian dan pembagian, serta
pengembangan berbagai tuntutan karakteristik anak di semua tingkatan
kelas.Peserta didik mendapatkan kemudahan dalam menguasai dan mamahami
materi perkalian dan pembagian, sehingga nantinya dijenjang kelas yang lebih
tinggi akan lebih mudah dalam menguasai materi pembelajaran matematika.
Selain itu peserta didikakan menemukan kepercayaan diri dan keterampilan dalam
berhitung. Hasil penelitian ini dapat bermanfaat untuk pengembangan kurikulum
di tingkat sekolah dasar secara umum dan di tingkat kelas seacara khusus. Dengan
kemampuan belajar Matematika yang baik dapat meningkatkan prestasiSekolah
Dasar Negeri 02 Sungai Pinyuh.
Gagne dalam Herman Hudoyo (2003:36) mengatakan bahwa dalam belajar
matematika ada dua yang dapat diperoleh peserta didik, yaitu obyek langsung dan
tidak langsung. Obyek langsung berupa fakta, keterampilan, konsep atau aturan.
Sedangkan obyek tak langsung antara lain kemampuan menyelediki dan
memecahkan
masalah,
belajar
mandiri
bersikap
positif
terhadap
matematika.Jhonson dan Myklebust dalam Mulyono (1999:252) menyebutkan
bahwa Matematika adalah bahasa simbol yang fungsi praktisnya untuk
mengekspresikan hubungan-hubungan kuantitatif dan keruangan, sedangkan
fungsi teoritisnya adalah untuk memudahkan berpikir. Sedangkan Learner dalam
Mulyono (1999: 252) mengemukakan bahwa matematika merupakan bahasa
simbolis dan ciri utamanya adalah penggunaan cara bernalar dedukatif.Mulyono
Abdurahman (1999:254) mengemukakan bahwa masalah matematika digunakan
orang untuk menghadapi masalah yang dihadapinya, manusia akan menggunakan
matematika untuk informasi berkaitan dengan masalah dan ukuran, dan
kemampuan untuk menghitung serta kemampuan untuk mengingat dan
menggunakan hubungan-hubungan. Cockroft dalam Mulyono (1999:253)
menyebutkan bahwa ada beberapa alasan perlunya matematika diajarkan pada
peserta didik yaitu selalu digunakan dalam segala segi kehidupan, semua bidang
studi memerlukan keterampilan matematika yang sesuai, merupakan sarana
komunikasi yang kuat, dapat digunakan untuk menyajikan informasi dalam
berbagai cara, meningkatkan kemampuan berpikir logis, ketelitian, kesadaran, dan
keruangan. memberi kepuasan terhadap usaha memecahkan masalah yang
menantang. Tujuan matematika adalah untuk meningkatkan keterampilan
berhitung, pemecahan masalah, memacu kemampuan bernalar peserta didik yang
pada akhirnya dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan pada
penyelesaian yang melibatkan matematika
Aktivitas belajar menurut Oemar Hamalik(2010), “Merupakan segala
kegiatan yang dilakukan dalam proses interaksi (gurudan peserta didik) dalam
rangka mencapai tujuan belajar”.Rochman Natawijaya (dalam Oemar
Hamalik,2010) menyatakan, “belajar aktif adalah suatu sistem belajar mengajar
yang menekankan keaktifan peserta didik secara fisik, mental intelektual dan
emosional guna memperoleh hasil belajar berupa perpaduan antara aspek kognitif,
afektif dan psikomotorik”.Dari hal tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa
aktivitas belajar adalah serangkaian kegiatan yang saling berkaitan antara
mentalitas peserta didik, fisik maupun kondisi pada saat pembelajaran yang
melibatkan pengetahuan, nilai-nilai sikap, dan keterampilan peserta didik guna
mencapai tujuan pembelajaran. Aktivitas belajar dikelompokan menjadi tiga
kelompok aktivitas yaitu aktivitas fisik, aktivitas mental, dan aktivitas
emosional.Aktivitas fisik, meliputi peserta didik aktif mencatat, aktif
mengamati/menggunakan media yang digunakan guru, memperhatikan guru pada
saat diberikn instruksi, mengerjakan latihan atau tugas yang diberikan guru,
meyiapkan peralatan belajarnya, dan lain-lain.Aktivitas mental, meliputi peserta
didik yang terampil dalam berhitung, peserta didik dapat memecahkan contoh soal
yang diberikan, menyebutkan jawaban dari pertanyaan yang diberikan dengan
tepat dan bersungguh-sungguh menyimak/mendengarkan ketika guru menjelaskan
materi ajar.Aktivitas emosional, meliputi peserta didik berani menjawab
pertanyaan, berantusias dalam proses pembelajaran, aktif bertanya, saling
memberikan pendapat, berani tampil ke depan kelas, dan sebagainya.
Metode pemecahan masalah adalah suatu cara menyajikan pelajaran
dengan mendorong peserta didik untuk mencari dan memecahkan suatu
masalah/persoalan dalam rangka pencapaian tujuan pengajaran(Anjar G,
http://aginista.blogspot.com/2013/02/metode-pembelajaran-pemecahanmasalah.html, diakses tanggal 17 April 2013). Terdapat tiga ciri utama dari
metode pemecahan masalah yaitu:pertama, merupakan rangkaian aktivitas
pembelajaran artinya dalam implementasinya ada sejumlah kegiatan yang harus
dilakukan siswa, kedua aktivitas pembelajaran diarahkan untuk menyelesaiakn
masalah, yang menempatkan masalah sebagai kunci dari proses belajar, ketiga,
pemecahan masalah dilakukan dengan menggunakan pendekatan berfikir secara
ilmiah (Wina Sanjaya, 2008; 114-115). Herman Hudoyo (2001:42) menyatakan
bahwa pemecahan masalah biasanya ada lima langkah yang harus ditempuh,
yaituenyajikan masalah dalam bentuk yang lebih jelas, yang mudah untuk
dipahami peserta didik, menyatakan masalah dalam bentuk yang lebih
operasional, menyusun hipotesis-hipotesis alternatif dan prosedur kerja yang
diperkirakan baik. mengetes hipotesis dan melakukan kerja untuk memperoleh
hasilnya, dan mengecek kembali hasil yang sudah diperoleh.Berdasarkan teori
belajar yang dikemukakan Gagne (dalam Herman Yudoyono, 2001:42) bahwa
keterampilan intelektual tingkat tinggi dapat dikembangkan melalui pemecahan
masalah. Pemecahan masalah merupakan tipe belajar paling tinggi dari delapan
tipe belajar yang dikemukakan Gagne, yaitu: belajar, isyarat, stimulus respon,
rangkaian gerak, rangkaian verbal, membedakan pembentukan konsep,
pembentukan aturan, dan pemecahan masalah.
Metode pemecahan masalah (George Polya) meliputi menyajikan masalah
dalam bentuk yang lebih jelas, menyatakan masalah dalam bentuk yang lebih
operasional, menyusun hipotesis-hipotesis kerja dan prosedur kerja yang
perkiraan baik, mengetes hipotesis dan melakukan kerja untuk memperoleh hasil
yang sudah diperoleh (Hudoyo, 2001:84). Langkah-langkah metode pemecahan
masalah pada dasarnya adalah belajar metode-metode ilmiah atau berpikir secara
sistematik, logis, dan teratur secara teliti.Tujuannya adalah kognitif untuk
memecahkan masalah secara rasional, lugas dan tuntas.
Penggunaan metode pemecahan masalah memiliki keuntungan antara lain
elatih peserta didik untuk menghadapi problema-problema atau situasi yang
timbul secara spontan, peserta didik menjadi aktif dan berinisiatif sendiri serta
bertanggung jawab sendiri, pendidikan disekolah relevan dengan kehidupan.
Sedangkan kelemahan dari penggunaan metode pemecahan masalah yaitu
memerlukan waktu yang lama, murid yang pasif dan malas akan tertinggal, sukar
sekali untuk mengorganisasikan bahan pelajaran, sukar sekali menentukan
masalah yang benar-benar cocok dengan tingkat kemampuan peserta didik. Cara
yang dapat digunakan untuk menyelesaikan soal cerita dibuat lebih operasional
seperti memahami masalah, membuat rencana penyelesaian, pelaksanaan rencana
penyelesaian pelaksanaan, memeriksa kembali.
METODE
Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif.
Menurut Suharsimi Arikunto (2003: 83) deskriptif artinya memaparkan,
menggambarkan. Deskriptif adalah bersifat menjelaskan (Sugiyono, 2006 : 17) .
Sedangkan deskripsi itu sendiri mempunyai arti pemaparan, penggambaran,
pelukisan, pemerian. Menurut Hadari Nawawi (1985: 12), dalam penelitian
deskriptif, penelitian diarahkan untuk memaparkan gejala-gejala, fakta–fakta
atau kejadian - kejadian.
Pendekatan yang dilakukan adalah pendekatan kualitatif, dan
menggunakan bentuk penelitian Survei dengan jenis penelitian yaitu penelitian
tindakan kelas. Jenis penelitian yang digunakan suatu penelitian yang ditunjang
oleh
data-data
yang
diperolehmelalui
penelitian
lapangan
(field
research).Suharsimi Arikunto (2006:2-3), menyatakan penelitian Tindakan Kelas
(PTK) merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan pembelajaran berupa
sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara
bersamaan.
Subjek dalam penelitian ini adalah guru kelas dan peserta didik kelas
VSekolah Dasar Negeri02 Sungai Pinyuh yang berjumlah 34 orang, terdiri dari 16
laki-laki dan 18 perempuan.
Langkah-langkah penelitian tindakan kelas terdiri dari tahap perencanaan,
pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi serta diikuti dengan perencanaan
ulang jika diperlukan.Menurut Wijaya Kusumah & Dedi Dwitagama (2010:44)
tahapan pelaksanaan PTK adalah perencanaan (planning), tindakan (acting),
pengamatan (observing), refleksi (reflecting).Setelah diamati, barulah guru dapat
melakukan refleksi (reflecting) dan dapat menyimpulkan apa yang telah terjadi
dalam kelasnya.Teknik pengumpulan data dalam melakukan penelitian tindakan
kelas ini menggunakan teknik observasi langsung dengan alat lembar observasi,
wawancara dan teknik komunikasi dengan alat catatan langsung.Pada penelitian
ini, peneliti menggunakan alat pengumpulan data antara lain Pedoman Observasi,
Komunikasi Langsung, dan komunikasi tidak langsung.
Data penelitian ini berupa data proses dan data hasil tindakan yang
diperoleh dari hasil pengamatan, wawancara, dan dokumentasi. Sumber data
dalam penelitian ini adalah guru dan peserta didik dalam proses pembelajaran
penyelesaian soal cerita menggunakan metode pemecahan masalah. Instrument
pertama penelitian ini adalah peneliti sendiri yang bertindak sebagai pengumpul
data dengan menggunakan instrument penunjang berupa lembar observasi,
panduan wawancara, dokumentasi, dan tes.Analisis data dilakukan dengan
mengikuti alur analisis data yang meliputi pengumpulan data, reduksi data,
penyajian data, dan penarikan kesimpulan.
Data yang direduksi akan disajikan dalam bentuk tabel terhadap nilai RPP,
nilai pelaksanaan pembelajaran dan nilai hasil belajar peserta didik. Untuk
mengetahui peningkatan hasil belajar peserta didikakan dihitung prosentase
perolehan nilai berkelompok dengan rumus:
𝑛
𝑥% = × 100%
𝑁
Keterangan:
𝑥% = persentase nilai
𝑛
= frekuensi nilai
𝑁
= jumlah peserta didik
Indikator- indikator dalam penelitian ini antara lain peserta didik dapat
menyatakan apa yang diketahui pada soal cerita, peserta didik dapat menyatakan
apa yang ditnyakan pada soal cerita, peserta didik dapat mengubah kalimat
bahasa pada soal cerita ke dalam kalimat matematika, peserta didik dapat
menyelesaikan soal cerita dengan kalimat matematika, peserta didik bersungguhsungguh dalam mengikuti proses pembelajaran
HASIL DAN PEMBAHASAN
Deskripsi hasil Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dapat peneliti
uraikan dalam tahapan siklus-siklus pembelajaran yang dilakukan.Peserta didik
yang mengikuti pembelajaran tindakan tentang aktivitas pembelajaran
penyelesaian soal cerita pada operasi perkalian di Kelas IV Sekolah Dasar Negeri
02 Sungai Pinyuh berjumlah 34 orang.Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan
sebanyak 2 siklus.Sebelum melakukan tindakan pada siklus I, peneliti melakukan
pengamat-an awal pada awal bulan Januari 2013 untuk menentukan base line agar
mempermudah melihat hasil yang tertuju pada peningkatan aktivitas pembelajaran
penyelesaian soal cerita sebelum dan sesudah melakukan tindakan. Pengamatan
awal pada kegiatan belajar peserta didik kelas IV Sekolah Dasar Negeri 02 Sungai
Pinyuh yang terdiri dari 34 orang sebagai berikut.
Hasil Observasi Awal Aktivitas Belajar Peserta Didik
Keterangan
Kemunculan Prosentase
menyatakan apa yang diketahui pada soal cerita
16 orang
47%
menyatakan apa yang ditnyakan pada soal cerita
16 orang
47%
mengubah kalimat bahasa pada soal cerita ke dalam 16 orang
47%
kalimat Matematika
menyelesaikan soal cerita dengan kalimat Matematika
18 orang
53%
bersungguh-sungguh dalam mengikuti proses
18 orang
53%
pembelajaran
Rata-rata aktivitas peserta didik pada pengamatan awal
49%
No. Aspek yang diobservasi
1.
2.
3.
4.
5.
Berdasarkan data hasil pengamatan awal terhadap aktivitas perserta didik
pada pembelajaran matematika dapat diketahui bahwa rata-rata peserta didik
belum aktiv dalam kegiatan pembelajaran matematika. Dari kelima indikator
aktivitas yang diamati tingkat keaktivan siswa masih rendah dimana rata-rata
aktivitas siswa sebesar 49% dan belum mencapai 60%.
Hasil Data Siklus I
Tahap Perencanaan
Hal-hal yang dilakukan dalam tahap perencanaan adalah sebagai berikut.
Refleksi awal dilakukan pada hari sabtu tanggal 2 Februari 2013 dimulai dengan
mengadakan perbincangan dengan kepala sekolah dengan guru guna mengadakan
waktu serta peralatan yang perlu disiapkan untuk melaksanakan tindakan yang
dimulai pada tanggal 23 Januari sampai dengan 28 Februari 2013.Melakukan
analisis kurikulum unttuk mengetahui kompetensi dasar yang akan disampaikan
kepada peserta didik dalam pembelajaran. Dalam kompetensi dasar ini yaitu
melakukan operasi hitung bilangan bulat dalam pemecahan masalah.Kurikulum
yang digunakan adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan
digunakan untuk merancang Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
Menetapkan dan menyusun rancangan tindakan secara garis besar.
Rancangan tindakan tersebut antara lain, guru membuat rencana pembelajaran
dengan mengacu pada tindakan yang diterapkan dalam PTK, rencana
pembelajaran yang dibuat adalah materi pembelajaran Matematika, melakukan
operasi hitung bilangan bulat dalam pemecahan masalah, menyiapkan metode
yang sesuai dengan materi pembelajaran, membuat instrumen yang digunakan
dalam siklus PTK, menyusun lembar evaluasi yang dibuat sesuai dengan materi
pembelajaran.
Tahap Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan siklus I dilakukan pada hari Jumat tanggal 1 Februari 2013
selama 70 menit yaitu 2 jam pelajaran. Pelaksanaan pembelajaran pada siklus I
ini dilakukan oleh guru (peneliti). Pada tahap pelaksanaan ini guru (peneliti)
melaksanakan pembelajaran sesuai dengan RPP. Pelaksanaan ini dimulai dari
kegiatan awal yaitu guru melakukan appersepsi, menginformasikan materi, tujuan
serta kegiatan yang dilakukan pada saat proses pembelajaran.
Kemudian peserta didik dibagi menjadi 11 kelompok, setiap kelompok
terdiri dari 3 orang.Secara berkelompok peserta didik mengerjakan soal cerita
dengan menggunakan metode pemecahan masalah. Pada saat ini kelihatan peserta
didik marasa senang, bersungguh-sungguh dalam menyimak guru membaca dan
peserta didik termotivasi untuk membaca dan menulis.Peserta didikdibimbing
guru dalam mengerjakan soal cerita.
Tahap Pengamatan (Observasi)
Tahap observasi ini dilakukan oleh peneliti terhadap peserta didik dan guru
kolaborator pada saat proses pembelajaran. Hasil temuan yang berhubungan
dengan hasil pengamatan kolaborator ( observer) dari data yang diperoleh dari
IPKG 1 pada siklus 1 menunjukkan tentang pembelajaran yang dilakukan oleh
peneliti dan sekaligus sebagai guru sebesar 3 (baik).
Hasil temuan yang berhubungan dengan kemampuan guru dalam
melaksanakan pembelajaran yang diperoleh dari IPKG 2 pada pembelajaran
matematika melalui pemanfaatan metode tutor teman sebaya sebesar 2,97
(cukup baik). Hasil observasi pada siklus I juga dapat dilihat pada tabel berikut.
Aktifitas peserta didik dalam pembelajaran pada siklus I
Keterangan
No. Aspek yang diobservasi
Kemunculan Prosentase
1.
Menyatakanapa yang diketahui pada soal cerita 20 orang
58%
2.
Menyatakan apa yang ditanyakan pada soal 20 orang
58%
cerita
Mengubahkalimat bahasa pada soal cerita ke 24 orang
70%
3.
dalam kalimat Matematika
Menyelesaikansoal cerita dengan kalimat 26 orang
76%
4.
Matematika
Bersungguh-sungguhdalam mengikuti proses 26 orang
76%
5.
pembelajaran
Rata-rata aktivitas peserta didik pada pengamatan awal
68%
Berdasarkan data hasil pengamatan pada siklus 1 terhadap aktivitas
perserta didik pada pembelajaran matematika dapat diketahui bahwa dari kelima
indikator aktivitas yang diamati, pada indikator 1 yaitu Peserta didikdapat
menyatakan apa yang diketahui pada soal cerita dan indikator 2 yaitu Peserta
didikdapat menyatakan apa yang ditanyakan pada soal cerita, prosentase
keaktivan peserta didik pada dua indikator tersebut masing masing 58% (dibawah
60%), sedangkan untuk indikator 3, 4, dan 5 telah diatas 60% yaitu 70% untuk
indikator 3, 76% untuk indikator 4, dan 76% untuk indikator 5. Gambaran
penjelasan setiap indikator sebagai berikut.
Peserta didik dapat menyatakan apa yang diketahui pada soal
cerita.Indikator ini diukur menggunakan lembar observasi pada saat kegiatan
pembelajaran berlangsung dan tes.Pengamatan ini dilihat dari partisipasi peserta
didik dalam mengerjakan soal cerita dan dilihat dari nilai evaluasi peserta
didik.Pada siklus I ini terjadi peningkatan dari 47 % menjadi 58 %.
Peserta didik dapat menyatakan apa yang ditanyakan pada soal cerita.
Indikator ini diukur dengan menggunakan lembar observasi pada saat
pembelajaran berlangsung dan tes.Pengamatan ini dilihat dari partisipasi peserta
didik dalam mengerjakan soal cerita dan dilihat dari nilai evaluasi peserta
didik.Pada siklus I ini terjadi peningkatan dari 47 % menjadi 58 %.
Peserta didik dapat mengubah kalimat bahasa pada soal cerita ke dalam
kalimatiMatematika.Indikator ini diukur dengan menggunakan lembar observasi
pada saat pembelajaran berlangsung dan tes.Pengamatan ini dilihat dari partisipasi
peserta didik dalam mengerjakan soal cerita dan diliihat dari evaluasi peserta
didik.Pada siklus I ini terjadi peningkatan dari 47% menjadi 70 %.
Peserta didik dapat menyelesaikan soal cerita dengan kalimat
Matematika.Indikator ini diukur dengan menggunakan lembar observasi pada saat
pembelajaran berlangsung.Pengamatan ini dilihat dari keaktifan peserta didik
dalam mengerjakan soal cerita dan dilihat dari evaluasi peserta didik.Pada siklus I
ini terjadi peningkatan dari 53 % menjadi 76 %.
Peserta didik bersungguh-sungguh dalam mengikuti proses pembelajaran.
Indikator ini diukur dengan menggunakan lembar observasi dan angket kepuasan
peserta didik. Pengamatan ini dilihat dari keseriusan peserta didik dalam
mengikuti proses pembelajaran. Pada siklus I ini terjadi peningkatan dari 53 %
menjadi 76 %.
Refleksi
Pada siklus I terjadi peningkatan keberhasilan yang ditandai dengan
naiknya prosentase pencapaian. Ini memberikan gambaran bahwa metode yang
peneliti gunakan cukup berhasil walaupun tidak sesuai dengan target yang
diharapkan. Oleh karena itu peneliti memperhatikan beberapa hal penting yang
akan menjadi pertimbangan dalam pelaksanaan siklus kedua. Kelebihan dan
kelemahan pada pelaksanaan siklus I dari refleksi yang dilakukan sebagai berikut.
Kelebihan Siklus I antara lain, hasil pengamatan terhadap beberapa aspek
indikator kinerja sudah mulai mengalami peningkatan dari hasil pengamatan awal
sebelum menggunakan metode pemecahan masalah, guru sudah melaksanakan
kegiatan pembelajaran sesuai dengan RPP yang telah dibuat, metode pemecahan
masalah yang digunakan sudah mulai mampu meningkatkan aktivitas
pembelajaran penyelesaian soal cerita pada operasi perkalian.
Kelemahan Siklus I antara lain, masih terdapat beberapa aspek yang masih
belum maksimal tercapai seperti peserta didik belum terampil dalam berhitung
dan mengerjakan soal cerita dengan tepat, hasil dari siklus I baru 20 orang, peserta
didik masih kurang termotivasi untuk menyelesaikan soal cerita.Hal ini
disebabkan karena peserta didik masih malu-malu dan belum terbiasa dengan
metode pemecahan masalah.Untuk memperbaiki segala kelemahan yang terdapat
pada siklus I, maka peneliti bersama guru kolaborator mengambil kesimpulan dan
kesepakatan untuk melaksanakan tindakan pada siklus II.
Hasil Data Siklus II
Tahap Perencanaan
Perencanaan pembelajaran matematika menggunakan metode pemecahan
masalah pada siklus II berdasarkan refleksi pada siklus I antara lain dengan
memberikan penguatan kepada peserta didik dengan lebih variatif, guru lebih
membimbing peserta didik dalam menyelesaikan soal cerita, peneliti bersama
guru kolaborator merancang RPP, perencanaan berikutnya dengan
mempersiapkan lembar observasi untuk peserta didik.
Tahap Pelaksanaan
Pelaksanaan siklus II dilakukan pada hari Jumat tanggal 8 Februari 2013
selama 70 menit yaitu 2 jam pelajaran. Pelaksanaan pembelajaran pada siklus II
ini dilakukan oleh guru. Pada tahap pelaksanaan ini guru melaksanakan
pembelajaran sesuai dengan RPP.
Pada pelaksanaan siklus II ini dimulai dengan guru melakukan appersepsi
untuk mengingat pembelajaran yang sebelumnya yaitu tentang cara
menyelesaikan soal cerita, kemudian guru memberikan soal cerita kepada peserta
didik. Peserta didik dibimbing guru dalam menyelesaikan soal cerita. Pada saat ini
terlihat peserta didik sangat antusias dalam mengikuti proses pembelajaran dan
termotivasi untuk menyelesaikan soal cerita. Mereka sangat senang mengikuti
proses pembelajaran. Peserta didik melakukan Tanya jawab dengan guru tentang
cara menyelesaikan soal cerita menggunakan metode pemecahan masalah. Pada
saat ini suasana pembelajaran menjadi hidup dan aktif.
Tahap Pengamatan (Observasi) dan Evaluasi
Hasil temuan yang berhubungan dengan Aktivitas dari data yang
diperoleh ternyata dari tindakan yang dilakukan oleh guru pada siklus II pada
IPKG 1 sebesar 4 (sangat baik) dan IPKG 2 sebesar 3,94 (baik), dengan demikian
perkembangan aktivitas guru dalam mempersiapkan dan melaksanakan
pembelajaran matematika melalui pemanfaatan metode tutor teman sebaya
telah mengalami peningkatan dibandingkan siklus 1. Hasil observasi siklus II juga
dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Aktifitas peserta didik dalam pembelajaran pada siklus II
Keterangan
No. Aspek yang diobservasi
Kemunculan Prosentase
1.
Menyatakanapa yang diketahui pada soal cerita 26 orang
76%
2.
Menyatakanapa yang ditanyakan pada soal 26 orang
76%
cerita
Mengubahkalimat bahasa pada soal cerita ke 28 orang
82%
3.
dalam kalimat Matematika
Menyelesaikansoal cerita dengan kalimat 30 orang
88%
4.
Matematika
Bersungguh-sungguh dalam mengikuti proses 30 orang
88%
5.
pembelajaran
Rata-rata aktifitas peserta didik dalam pembelajaran
82%
Peserta didik dapat menyatakan apa yang diketahui pada soal cerita,
indikator ini diukur menggunakan lembar observasi pada saat kegiatan
pembelajaran berlangsung dan tes. Pengamatan ini dilihat dari partisipasi peserta
didik dalam mengerjakan soal cerita dan dilihat dari nilai evaluasi peserta
didik.Pada siklus I ini terjadi peningkatan dari 58 % menjadi 76 %.
Peserta didik dapat mengubah kalimat bahasa pada soal cerita kedalam
kalimat Matematika, indikator ini diukur dengan menggunakan lembar observasi
pada saat pembelajaran berlangsung.Pengamatan ini dilihat dari partisipasi peserta
didik ketika mengerjakan soal cerita dan dari hasil evaluasi peserta didik.Pada
siklus I ini terjadi peningkatan dari 70% menjadi 82 %.
Peserta didik dapat menyelesaikan soal cerita dengan kalimat Matematika,
indikator ini diukur dengan menggunakan lembar observasi pada saat
pembelajaran berlangsung.Pengamatan ini dilihat dari keaktifan peserta didik
dalam mengerjakan soal cerita dan hasil evaluasi peserta didik.Pada siklus I ini
terjadi peningkatan dari 76 % menjadi 78 %.
Peserta didik bersungguh-sungguh dalam mengikuti proses pembelajaran,
indikator ini diukur dengan menggunakan lembar observasi dan angket kepuasan
peserta didik. Pengamatan ini dilihat dari keseriusan peserta didik dalam
mengikuti proses pembelajaran. Pada siklus II ini terjadi peningkatan dari 78 %
menjadi 88%.
Pembahasan Hasil Penelitian
Tahap Perencanaan.
Peningkatan aktivitas pembelajaran penyelesaian soal cerita pada operasi
perkalian menggunakan metode pemecahan masalah memerlukan persiapanpersiapan yang matang agar pelaksanaan pembelajaran lebih terarah sesuai dengan
tujuan yang diharapkan. Karena itu persiapan mestilah dibuat berdasarkan
pertimbangan-pertimbangan yang meliputi kebutuhan peserta didik, bentuk
kegiatan, sarana dan prasarana yang dibutuhkan.Dengan demikian dalam
persiapan peningkatan aktivitas pembelajaran penyelesaian soal cerita pada
operasi perkalian menggunakan metode pemecahan masalah perlu dilakukan
kegiatan-kegiatan menetapkan tujuan, menentukan sasaran informasi, sumbersumber informasi, teknik pemberian informasi,jadwal kegiatan dan kriteria
evaluasi kegiatan.Selanjutnya untuk memperoleh informasi yang tepat sesuai
dengan kebutuhan peserta didik diperlukan pemilihan informasi yang tepat,
pelaksanaan fasilitas yang akan dapat mendukung proses pembelajaran, dengan
cara:
Menetapkan tujuan dan informasi, termasuk alasan-alasannya, adalah
langkah persiapan yang ditempuh guru matematika pada saat mulai memasuki
kelas hendak mengajar.Pada tahap ini guru matematika memeriksa kehadiran
peserta didik, kondisi kelas, dan kondisi peralatan yang tersedia dengan alokasi
waktu yang singkat. Sesuai dengan kegiatan yang singkat tadi, guru perlu
melakukan “appersepsi” dengan menanyakan materi yang disajikan sebelumnya,
serta materi yang akan diajarkan. Kemudian, guru melakukan appersepsi dengan
mengungkapkan kembali secara sekilas materi yang diajarkan sebelumnya lalu
menghubung-kannya dengan materi pelajarkan yang akan segera diajarkan.
Mengidentifikasi sasaran ( peserta didik) yang
akan menerima
informasi.Proses belajar yang dilakukuan peserta didik di sekolah, disamping
banyaknya peserta didik yang berhasil secara gemilang,dalam belajar, sering pula
dijumpai adanya peserta didik yang gagal, seperti nilai prestasi pada mata
pelajaran tertentu yang memperoleh nilai dibawah nilai prestasi belajar, angkaangka rapor rendah, tidak naik kelas, tidak lulus ujian akhir dan sebagainya.
Secara umum peserta didik seperti itu dapat dipandang sebagai peserta didik yang
mengalami masalah belajar.
Mengetahui sumber-sumber informasi, selanjutnya mengenai sumbersumber informasi/bahan yang diberikan juga merupakan salah satu diantara factor
yang sangat penting untuk diperhatikan guru.Artinya bahwa untuk pemberian
informasi yang sebaik-baiknya kepada peserta didik maka guru hendaknya
berpijak pada keluasan dan kedalaman materi.Bilamana materi itu orentasinya
dapat diperluas dan dapat diperdalam, maka hendaknya dibuat seperti yang
dimaksudkan itu, namun demikian harus tetap dalam bentuk sederhana.
Tahap Pelaksanaan
Pada tahap ini guru matematika menyajikan materi pelajaran (pokok
bahasan) yang disusun lengkap dengan persiapan media, metode, dan strategi
mengajar yang dianggap cocok.Sebelum menguraikan pokok-pokok tersebut
terlebih lanjut, setiap uraian harus dilengkapi dengan contoh dan media
seperlunya.
Dalam penelitian ini metode pemecahan masalah yang digunakan dalam
pembelajaran penyelesaian soal cerita yang dilakukan guru adalah merangsang
semangat peserta didikuntuk terampil dalam berhitung, melatih peserta didik
menjawab soal cerita dengan tepat, mengevaluasi soal cerita, aktif dalam
mengikuti proses pembelajaran, dan mengkaji dalam kehidupan nyata melalui
tanya jawab.
Merangsang semangat peserta didik untuk terampil berhitung.Pada tahap
ini guru mengemukakan masalah.Masalah dapat dianggap dari kehidupan seharihari peserta didik atau ada kaitannya dengan dunia mereka. Maka dari itu guru
menggunakan metode pemecahan masalah dalam proses pembelajaran agar
mereka tertarik untuk Matematika.
Melatih peserta didikmenjawab soal cerita dengan tepat.Pada tahap ini
guru memberikan soal cerita kepada peserta didik untuk dikerjakan.Selanjutnya,
guru melatih peserta didik untuk menjawab soal cerita dengan tepat.
Mengevaluasi soal cerita.Peserta didik membahas gambar berwarna
dengan menjawab pertanyaan contoh:
Ibu membeli 3 kg buah apel. 1 kg buah apel sebanyak 4 buah. Berapa banyak
buah apel yang dibeli ibu?
Diketahui : Ibu membeli 3 kg buah apel. 1 kg buah apel ada 4 buah.
Ditanya : berapa jumlah buah apel yang dibeli ibu?
Jawab
:
3 x 4 = 12
Jadi, jumlah buah apelyang dibeli ibu adalah 12 buah.
Mengkaji dalam kehidupan nyata melalui tanya jawab.Setelah semua
peserta didik mampu menjawab pertanyaan, kemudian jawaban dari pertanyaan
tersebut dibahas secara bersama-sama.Kemudian metode pemecahan masalah itu
dikaitkan dengan kehidupan nyata.
Tahap Evaluasi
Kegiatan yang telah dilaksanakan guru matematika haruslah diketahui
tingkat keberhasilan pelaksanaan pembelajaran.Oleh karena itu, evaluasi
pembelajaran yang telah dilaksanakan guru matematika adalah untuk melihat hasil
belajar peserta didik.
Evaluasi pelaksanaan proses belajar mengajar didasarkan pada kriteria
tertentu sebagai ukuran kebersilan kegiatan yang dilaksanakan. Pelaksanaan
pembelajaran melalui upaya guru Matematika dalam peningkatan aktivitas
pembelajaran penyelesaian soal cerita pada operasi perkalian menggunakan
metode pemecahan masalah, dikatakan berhasil apabila peserta didik mampu
menyelesaikan soal cerita dengan tepat.
Dengan demikian melalui evaluasi pembelajaran upaya guru matematika
dalam meningkatkan aktivitass pembelajaran penyelesaian soal cerita dengan
menggunakan metode pemecahan masalah dapat diketahui tingkat serapan peserta
didik terhadap materi yang diberikan dan dapat digunakan sebagai pedoman
penindak lanjutan, baik yang bersifat pengayaan maupun perbaikan.
Refleksi
Refleksi ini dilakukan setelah melakukan tindakan siklus I dan siklus 2.Dari
data yang diperoleh selama observasi, diadakan perbincangan dengan kolaborator
untuk mendapatkan kesepakatan dan simpulan sebagai bahan perencanaan
tindakan selanjutnya.Pada siklus I terjadi peningkatan keberhasilan yang ditandai
dengan naiknya prosentase pencapaian. Ini memberikan gambaran bahwa media
yang peneliti gunakan cukup berhasil walaupun tidak sesuai dengan target yang
diharapkan. Oleh karena itu peneliti memperhatikan beberapa hal penting yang
akan menjadi pertimbangan dalam pelaksanaan siklus kedua.
Adapun kelebihan dan kelemahan pada pelaksanaan siklus I dari refleksi
yang dilakukan sebagai berikut.Kelebihan Siklus I, guru sudah melaksanakan
kegiatan pembelajaran sesuai dengan RPP yang telah dibuat, metode pemecahan
masalah yang digunakan sudah mulai mampu meningkatkan aktivitas
pembelajaran penyelesaian soal cerita pada operasi perkalian. Sedangkan
kelemahan Siklus I, masih terdapat beberapa aspek yang masih belum maksimal
tercapai seperti peserta didik belum terampil dalam berhitung dan mengerjakan
soal cerita dengan tepat, hasil dari siklus I baru 20 orang, peserta didik masih
kurang termotivasi untuk menyelesaikan soal cerita. Hal ini disebabkan karena
peserta didik masih malu-malu dan belum terbiasa dengan metode pemecahan
masalah.Untuk memperbaiki segala kelemahan yang terdapat pada siklus I, maka
peneliti bersama guru kolaborator mengambil kesimpulan dan kesepakatan untuk
melaksanakan tindakan pada siklus II.
Refleksi II dilakukan setelah pembelajaran siklus II.Dari data yang
diperoleh selama observasi, diadakan perbincangan dengan kolaborator untuk
mendapatkan kesepakatan dan simpulan.Hasil pengamatan terhadap beberapa
aspek indikator kinerja sudah mengalami peningkatan.Secara keseluruhan guru
sudah maksimal dalam melaksanakan pembelajaran menggunakan metode
pemecahan masalah. Metode pemecahan masalah sudah mampu meningkatkan
aktivitas pembelajaran penyelesaian soal cerita pada operasi perkalian di kelas IV.
Peningkatan kemampuan perencanaan dan kemampuan melaksanakan
pembelajaran matematika melalui pemanfaatan metode pemecahan masalah dapat
di lihat pada penilaian IPKG 1 dan IPKG 2 pada siklus I dan siklus II secara
keseluruhan sebagai berikut:
Kemampuan Guru dalam Pembelajaran
Siklus
NO
IPKG
Peningkatan
Siklus I Siklus II
1.
IPKG 1
3
4
1
2.
IPKG 2
2,97
3,95
0,98
Berdasarkan siklus I dan siklu ke II penerapan metode pemecahan
masalah
mampu meningkatkan kemampuan guru dalam pembelajaran
matematika. Sudah banyak aktivitas yang dilakukan guru seperti: memberi
penguatan kepada peserta didik yang sudah aktif supaya peserta didik lebih
bersemangat mengikuti pembelajaran.
Adapun rekapitulasi hasil penelitian dan pembahasan terhadap hasil
observasi aktivitas peserta didik dari siklus I sampai siklus II dapat dilihat pada
tabel berikut ini.
Rekapitulasi Aktivitas Peserta Didik
No. Indikator
1.
2.
3.
4.
5.
Menyatakan apa yang diketahui pada soal
cerita
Menyatakan apa yang ditanya pada soal cerita
Mengubah kalimat bahasa pada soal cerita ke
dalam kalimat Matematika
Menyelesaikan soal cerita dengan kalimat
Matematika
Bersungguh-sungguh dalam mengikuti proses
pembelajaran
Rata-rata aktivitas peserta didik
Base
Lane
Capaian
Siklus I
47 %
58%
Siklus II
76%
47 %
47 %
58%
70%
76%
82%
53 %
76%
88%
53 %
76%
88%
49%
68%
82%
Berdasarkan data diatas dapat dikatakan bahwa aktivitas peserta didik
selama pembelajaran matematika dengan menggunakan metode pemecahan
masalah mengalami peningkatan yang signifikan mulai dari tahap pengamatan
awal sebesar 49%, kemudian meningkat 19% pada siklus 1 menjadi sebesar 68%,
dan pada siklus 2 meningkat sebesar 14% menjadi 82%.Disamping data yang
diperoleh melalui observasi, digunakan juga alat pengumpul data lainnya yaitu
Angket Kepuasan yang diambil langsung dari peserta didik.
Data dari Angket Kepuasan
Angket Kepuasan ini gunanya untuk memferivikasi atau mendukung
dan untuk menyakinkan data yang diperoleh melalui alat observasi adalah benar
adanya dan dapat diyakini kebenarannya. Data yang diperoleh melalui Angket
Kepuasan adalah seperti dalam tabel berikut ini.
Angket Kepuasan Peserta didik
Siklus I
No
1.
2.
Kondisi Belajar
Apakah pembelajaran dengan Metode
Pemecahan Masalah dapat membuat
kamu memahami soalcerita yang
diberikan guru?
Apakah menurut kamu pembelajaran ini
membuat kamu berani ketika diminta
untuk menjawab soal cerita?
Siklus II
Ya
Tidak
Ya
Tidak
20
orang
14
orang
24
orang
10
orang
24
orang
24
orang
10
orang
10
orang
28
orang
28
orang
6
orang
6
orang
24
orang
10
orang
3.
Apakah pembelajaran ini menyenangkan?
4.
Apakah pembelajaran ini mampu
meningkatkan kemampuan kamu dalam
menyelesaikan soal cerita dalam kalimat
Matematika?
24
orang
10
orang
5.
Apakah pembelajaran dengan kalimat
Matematika membuat kamu lebih paham?
26
orang
8
orang
6.
Apakah kamu mengikuti pembelajaran ini
dengan sungguh-sungguh?
26
orang
8
orang
30
orang
30
orang
4
orang
4
orang
PENUTUP
Simpulan
Kemampuan peneliti merencanakan pembelajaran dengan metode
pemecahan masalah pada pembelajaran Matematika, berdasarkan pengamatan
menggunakan lembar IPKG 1 untuk siklus 1 sebesar 3 dengan kategori baik.
Kemudian mengalami peningkatan 1 pada siklus kedua menjadi 4 dengan
kategori sangat baik.Hal ini juga dapat di lihat dari Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran yang mengacu pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, silabus
dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 41 tahun 2007.
Kemampuan peneliti melaksanakan pembelajaran dengan metode
pemecahan masalah pada pembelajaran Matematika sudah baik dan
melaksanakan pembelajaran berdasarkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
yang telah dibuat sebelumnya.Berdasarkan pengamatan menggunakan lembar
IPKG 2 untuk siklus 1 sebesar 2,97 dengan kategori cukup. Kemudian
mengalami peningkatan 0,98 pada siklus kedua menjadi 3,95 dengan kategori
baik.
Aktivitas belajar peserta didik setelah mengikuti pembelajaran dengan
menggunakan metode pemecahan masalahmengalami peningkatan yang
signifikan mulai dari tahap pengamatan awal sebesar 49%, kemudian meningkat
19% pada siklus 1 menjadi sebesar 68%, dan pada siklus 2 meningkat sebesar
14% menjadi 82%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penggunaan
metode pemecahan masalah dapat meningkatkan aktivitas belajar peserta didik
pada pembelajaran matematika di kelas IV SD Negeri 02 Sungai Pinyuh
Saran
Penggunaan metodepemecahan masalah dalam pembelajaran matematika
ternyata dapat menciptakan pembelajaran yang efektif, mampu meningkatkan
aktivitas belajar peserta didik. Oleh sebab itu kepada rekan-rekan guru yang
membaca skripsi ini kiranya dapat menerapkannya di sekolah masing-masing.
Guru yang akan menerapkan pemecahan masalah dalam mengajarkan
suatu materi matematika harus betul-betul berlatih, menyiapkan media yang
relevan, memiliki strategi pada saat pelaksanaanya dan kesabaran dalam
membimbing peserta didik.
Metode pemecahan masalah ini dapat pula diterapkan pada mata pelajaran
lain selain matematika namun seorang guru perlu mempersiapkan dengan baik
guna mengkondisikan pembelajaran yang menyenangkan tapi sarat akan makna.
Sebagai seorang guru hendaknya kita secara terus menerus mendiagnosis
kekeliruan-kekeliruan belajar peserta didik yang disebabkan cara mengajar guru
maupun dari peserta didik sehingga dapat menemukan cara-cara yang tepat untuk
memperbaiki proses pembelajaran di kelas untuk semua mata pelajaran di SD.
DAFTAR RUJUKAN
BSNP. (2006). Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Mata Pelajaran
Matematika Sekolah Dasar. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
Depdikbud, (1994).Kurikulum Sekolah Dasar / GBPP. Jakarta
Depdiknas, (2002).Suplemen Kurikulum Pendidikan Dasar Mata Pelajaran
Matematika. Jakarta
Hadari Nawawi.(1990). Metode Pendidikan Bidang Sosial. Yogyakarta: Gajah
Mada Universitas Press.
Herman Hudoyo.(2001). Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran
Matematika.Malang: Fakultasa MIPA Universitas Negeri Malang.
IGAK Wardhani dan Kuswaya.(2008). Penelitian Tindakan Kelas. (cetakan ke4). Jakarta: Universitas Terbuka.
Mulyono.(2002).Metode Penelitian Kualitatif Paradigma Baru Ilmu
Komunikasi Lainnya. Bandung: Remaja Rosdakarya
Sugiyono. (2009). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif,
Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Suharsimi Arikunto. (2006). Prosedur Penelitian Revisi VI. Jakarta: Rineka
Cipta.
Wijaya Kusumah dan Dedi Dwitagama.(2010). Mengenal Penelitian Tindakan
Kelas. Jakarta: Indeks.
Download