FILSAFAT HUKUM BARAT DAN PENGARUHNYA TERHADAP

advertisement
FILSAFAT HUKUM BARAT DAN PENGARUHNYA
TERHADAP TEORI HUKUM ISLAM
(Interelasi Filsafat Pragmatisme Charles S. Peirce
dan Rumusan Maqashid al-Syari’ah al-Syatibi)
Dr. Didi Kusnadi, S.Ag
Pendahuluan
Sejak runtuhnya Dinasti Islam Turki Ustmani, perhatian kalangan
orientalis Barat dalam mengkaji hukum Islam diwujudkan dalam bentuk
mempelajari, menyelidiki, menterjemahkan, mengkaji dan menertibkan
terhadap berbagai buku fikih standar. Salah satu bentuk karya orientalis
Barat dalam menelusuri kajian-kajian hukum Islam adalah Revue Internationale de Droit Compare (Majalah Internasional Untuk Hukum Perbaningan) di Perancis. Bahkan para sarjana hukum Barat seperti Kohler dari
Jerman, Wignore dan Delvechis dari Amerika telah mengakui bahwa
adanya fleksibilitas dan universalitas hukum Islam mampu merespon
perkem-bangan masyarakat sepanjang masa, dan berani mensejajarkan
hukum Islam dengan hukum Romawi dan Inggris di berbagai negara. Hal
ini diakui oleh Lambert seorang sarjana hukum Perancis dalam seminar
internasional untuk perbandingan hukum pada 1932.
Di kalangan pemikir hukum Islam muncul suatu sikap kritis untuk
membangun konsep hukum Islam agar senantiasa relevan dengan kebutuhan zaman. Sebut saja, salah satunya al-Syatibi. Ia dikenal sebagai bapak
maqashid al-syari’ah. Teori maqashid al-syari’ah al-syatibi kini telah banyak
dikembangkan oleh pemikir hukum modern. Namun di saat bersamaan,
kalangan pemikir hukum Islam modern juga mengakui bahwa persoalan
mendasar saat ini adalah kesulitan merumuskan metodologi hukum yang
tepat agar hukum Islam bisa berlaku secara keseluruhan. Hampir di
sebagian besar negara Muslim yang menerapkan hukum Islam selalu
melahirkan konflik sosial. Bahkan konflik bukan hanya antara Muslim
dengan Muslim, melainkan pula antara Muslim dan Non Muslim.
Atas dasar itu, kini banyak pemikir hukum Islam yang mencoba
membongkar tradisi hukum Islam sebelumnya – yang dibangun dari
ijtihad – dengan pemikiran baru yang berasal dari Barat. Pada gilirannya,
terjadilah pergeseran norma hukum Islam di masyarakat karena
masuknya pengaruh hukum Barat tersebut. Sebagai contoh, tulisan ini
akan menjelaskan masuknya filsafat ajaran pragmatisme ke dalam proses
pengembangan hukum dan perundang-undangan Islam di negara-negara
Muslim.
1
Memperkenalkan Filsafat Pragmatisme
Istilah Pragmatisme berasal dari kata Yunani pragma yang berarti
perbuatan (action) atau tindakan (practice). Isme di sini sama artinya
dengan isme-isme lainnya, yaitu berarti aliran atau ajaran atau paham.
Dengan demikian Pragmatisme itu berarti ajaran yang menekan¬kan
bahwa pemikiran itu menuruti tindakan.Pragmatisme memandang bahwa
kriteria kebenaran ajaran adalah “faedah” atau “manfaat”. Suatu teori
atau hipotesis dianggap oleh Pragmatisme benar apabila membawa suatu
hasil. Dengan kata lain, suatu teori itu benar kalau berfungsi (if it works).
Dari pengertian di atas, dapat diambil sebuah pengertian bahwa
Pragmatisme masuk ke dalam pembahasan teori kebenaran (the theory of
truth), sebagaimana yang nampak menonjol dalam pandangan William
James, terutama dalam bukunya The Meaning of The Truth (1909).
Kebenaran menurut James adalah sesuatu yang terjadi pada ide, yang
sifatnya tidak pasti. Sebelum seseorang menemukan satu teori berfungsi,
tidak diketahui kebenaran teori itu. Atas dasar itu, kebenaran itu bukan
sesuatu yang statis atau tidak berubah, melainkan tumbuh dan
berkembang dari waktu ke waktu. Kebenaran akan selalu berubah, sejalan
dengan perkembangan pengalaman, karena yang dikatakan benar dapat
dikoreksi oleh pengalaman berikutnya.
Dalam The Meaning of The Truth (1909), James menjelaskan metode
berpikir yang mendasari pandangannya di atas. Dia mengartikan kebenaran itu harus mengandung tiga aspek. Pertama, kebenaran itu
merupakan suatu postulat, yakni semua hal yang di satu sisi dapat
ditentukan dan ditemukan berdasarkan pengalaman, sedang di sisi lain,
siap diuji dengan perdebatan atau diskusi. Kedua, kebenaran merupakan
suatu pernyataan fakta, artinya ada sangkut pautnya dengan pengalaman.
Ketiga, kebenaran itu merupakan kesimpulan yang telah diperumum
(digeneralisasikan) dari pernyataan fakta.
Dari ketiga point tersebut, William James dapat dilihat sebagai
penganjur Empirisme dengan cara berpikir induktif. Menurut James,
pemikir Rasionalis adalah orang yang bekerja dan menyelidiki sesuatu
secara deduktif, dari yang menyeluruh ke bagian-bagian. Rasionalis
berusaha mendeduksi yang umum ke yang khusus, mendeduksi fakta
dari prinsip. Sedangkan pemikir Empirisme, berangkat dari fakta yang
khusus (partikular) kepada kesimpulan umum yang menyeluruh. Seorang
Empiris membuat generalisasi dari induksi terhadap fakta-fakta yang
partikular.
2
Tetapi Empirisme William James adalah ”Empirisme Radikal”,
berbeda dengan empirisme tradisional yang kurang memperhatikan
hubungan-hubungan antar fakta. Empirisme radikal melihat bahwa
hubungan yang mempertautkan pengalaman-pengalaman, harus merupakan hubungan yang dialami. Pragmatisme yang diserukan oleh James
disebut Practicalisme, sebenarnya merupakan perkembangan dan olahan
lebih jauh dari Pragmatisme Peirce. Hanya saja, Peirce lebih menekankan
penerapan Pragmatisme ke dalam bahasa, yaitu untuk menerangkan artiarti kalimat sehingga diperoleh kejelasan konsep dan pembedaannya
dengan konsep lain. Dia menggunakan pendekatan matematik dan logika
simbol (bahasa), berbeda dengan James yang menggunakan pendekatan
psikologi.
Dalam memahami kemajemukan kebenaran (pernyataan), Peirce
membagi kebenaran menjadi dua. Pertama adalah Trancendental Truth,
yaitu kebenaran yang bermukim pada benda itu sendiri. Yang kedua
adalah Complex Truth, yaitu kebenaran dalam pernyataan. Kebenaran
jenis ini dibagi lagi menjadi kebenaran etis atau psikologis, yaitu
keselarasan pernyataan dengan apa yang diimani si pembicara, dan
kebenaran logis atau literal, yaitu keselarasan pernyataan dengan realitas
yang didefinisikan. Semua kebenaran pernyataan ini, harus diuji dengan
konsekuensi praktisnya melalui pengalaman.
John Dewey diketahui mengembangkan lebih jauh Pragmatisme
James. Jika James mengembangkan Pragmatisme untuk memecahkan
masalah-masalah individu, maka Dewey mengembangkan Pragmatisme
dalam rangka mengarahkan kegiatan intelektual untuk mengatasi
masalah sosial yang timbul di awal abad ini. Dewey menggunakan
pendekatan biologis dan psikologis, berbeda dengan James yang tidak
menggunakan pendekatan biologis. Dewey menerapkan Pragmatismenya
dalam dunia pendidikan Amerika dengan mengembangkan suatu teori
problem solving, yang mempunyai langkah-langkah sebagai berikut:
1. Merasakan adanya masalah.
2. Menganalisis masalah itu, dan menyusun hipotesis-hipotesis yang
mungkin.
3. Mengumpulkan data untuk memperjelas masalah.
4. Memilih dan menganalisis hipotesis.
5. Menguji, mencoba, dan membuktikan hipotesis dengan melakukan
eksperimen/pengujian.
Meskipun berbeda-beda penekanannya, tetapi ketiga pemikir
utama Pragmatisme menganut garis yang sama, yakni kebenaran suatu
3
ide harus dibuktikan dengan pengalaman. Demikianlah Pragmatisme
berkhotbah dan menggurui dunia, bahwa yang benar itu hanyalah yang
mempengaruhi hidup manusia serta yang berguna dalam praktik dan
dapat memenuhi kebutuhan manusia.
Dari pemaparan di atas, bisa dikatakan bahwa Pragmatisme adalah
aliran yang mengukur kebenaran suatu ide dengan kegunaan praktis
yang dihasilkannya untuk memenuhi kebu-tuhan manusia. Ide semacam
ini keliru jika dilihat dari tiga sisi. Pertama, Pragmatisme mencampur
adukkan kriteria kebenaran ide dengan kegunaan praktisnya. Kebenaran
suatu ide adalah satu hal, sedang kegunaan praktis ide itu adalah hal lain.
Kebenaran sebuah ide diukur dengan kesesuaian ide itu dengan realitas,
atau dengan standar-standar yang dibangun di atas ide dasar yang sudah
diketahui kesesuaiannya dengan realitas. Sedang kegunaan praktis suatu
ide untuk memenuhi hajat manusia, tidak diukur dari keberhasilan
penerapan ide itu sendiri, tetapi dari kebenaran ide yang diterapkan.
Maka, kegunaan praktis ide tidak mengandung implikasi kebenaran ide,
tetapi hanya menunjukkan fakta terpuaskannya kebutuhan manusia.
Kedua, Pragmatisme menafikan peran akal manusia. Menetapkan
kebenaran sebuah ide adalah aktivitas intelektual dengan menggunakan
standar-standar tertentu. Sedang penetapan kepuasan manusia dalam
pemenuhan kebutuhannya adalah sebuah identifikasi instinktif. Memang
identifikasi instinktif dapat menjadi ukuran kepuasan manusia dalam
pemuasan hajatnya, tapi tak dapat menjadi ukuran kebenaran sebuah ide.
Maka, Pragmatisme berarti telah menafikan ak¬tivitas intelektual dan
menggantinya dengan identifikasi instinktif. Atau dengan kata lain,
Pragmatisme telah menundukkan keputusan akal kepada kesimpulan
yang dihasilkan dari identifikasi instinktif.
Ketiga, Pragmatisme akan menimbulkan relativitas dan kenisbian
kebenaran sesuai dengan perubahan subjek penilai ide – baik individu,
kelompok, dan masyarakat – dan perubahan konteks waktu dan tempat.
Dengan kata lain, kebenaran hakiki Pragmatisme baru dapat dibuktikan –
menurut Pragmatisme itu sendiri – setelah melalui pengujian kepada
seluruh manusia dalam seluruh waktu dan tempat. Keadaan ini mustahil
dan tak akan pernah terjadi. Maka, Pragmatisme berarti telah menjelaskan
inkonsistensi internal yang dikandungnya dan menafikan dirinya sendiri.
Pragmatisme adalah aliran pemikiran yang memandang bahwa
benar tidaknya suatu ucapan, dalil, atau teori, semata-mata bergantung
kepada berfaedah atau tidaknya ucapan, dalil, atau teori tersebut bagi
manusia untuk bertindak dalam kehidupannya. Ide ini merupa¬kan
4
budaya dan tradisi berpikir Amerika khususnya dan Barat pada
umumnya, yang lahir sebagai sebuah upaya intelektual untuk menjawab
problem-problem yang terjadi pada awal abad ini. Pragmatisme mulai
dirintis di Amerika oleh Charles S. Peirce (1839-1942), yang kemudian
dikembangkan oleh William James (1842-1910) dan John Dewey (18591952).
Pragmatisme tak dapat dilepaskan dari keberadaan dan perkembangan ide-ide sebelumnya di Eropa. Tak dapat diingkari pula bahwa
adanya pengaruh dan imbas balik Pragmatisme terhadap ide-ide yang
dikembangkan lebih lanjut di Eropa. William James mengatakan bahwa
Pragmatisme yang diajarkannya, merupakan “nama baru bagi sejumlah
cara berpikir lama”. Ia sendiri pun menganggap pemikirannya sebagai
kelanjutan dari Empirisme Inggris, seperti yang dirintis oleh Francis
Bacon (1561-1626), yang kemudian dikembangkan oleh Thomas Hobbes
(1558-1679) dan John Locke (1632-1704).
Selama berabad-abad, Pragmatisme telah mempengaruhi filsafat
Eropa dalam berbagai bentuknya, baik filsafat Eksistensialisme maupun
Neorealisme dan Neopositivisme. Pragmatisme, telah menjadi semacam
ruh yang menghidupi tubuh ide-ide dalam ideologi Kapitalisme, yang
telah disebarkan Barat ke seluruh dunia melalui penjajahan dengan gaya
lama maupun baru. Dalam konteks inilah, Pragmatisme dapat dipandang
berbahaya karena telah mengajarkan dua sisi kekeliruan sekaligus kepada
dunia yakni standar kebenaran berfikir dan berbuat bagi manusia.
Atas dasar itu, mereka yang bertanggung jawab terhadap kemanusiaan tak dapat mengelak dari sebuah tugas mulia yang menantang,
yakni menelaah lebih kritis ajaran filsafat Pragmatisme sebagai landasan
strategis untuk melakukan dekonstruksi (penghancuran bangunan ide)
Pragmatisme sebaiknya dijadikan alat untuk mengkonstruk ideologi dan
peradaban Islam sebagai alternatif dari Kapitalisme yang telah mengalami
pembusukan dan hanya menghasilkan penderitaan pedih bagi umat
manusia.
Secara ontologis, Pragmatisme akan diawali dengan penjelasan
ringkas tentang sejarah mata rantai pemikiran Barat, agar diperoleh
gambaran komprehensif tentang posisi Pragmatisme dalam konstelasi
pemikiran Barat. Setelah melalui Abad Pertengahan (abad V-XV M) yang
gelap dengan ajaran gereja yang dominan, Barat mulai menggeliat dan
bangkit dengan Renaissance, yakni suatu gerakan atau usaha –yang
berkisar antara tahun 1400-1600 M– untuk menghidupkan kembali
kebu¬dayaan klasik Yunani dan Romawi. Berbeda dengan tradisi Abad
5
Pertengahan yang hanya mencurahkan perhatian pada masalah metafisik
yang abstrak, seperti masalah Tuhan, manusia, kosmos, dan etika,
Renaissance telah membuka jalan ke arah aliran Empirisme.
William Ockham (1285-1249) dengan filsafat Gulielmus-nya yang
mendasarkan pada pengenalan inderawi, telah mulai menggeser dominasi
filsafat Thomisme, ajaran Thomas Aquinas yang meno¬njol di Abad
Pertengahan, yang mendasarkan diri pada filsafat Aristoteles. Ide Ockham
ini dianggap sebagai benih awal bagi lahirnya gerakan Renaissance.
Semangat gerakan Renaissance ini, sesungguhnya terletak pada upaya
pembebasan akal dari kekangan dan belenggu gereja dan menjadikan
fakta empirik sebagai sumber pengetahuan, tidak terletak pada filsafat
Yunani itu sendiri.
Dalam pada itu, Barat hanya mengambil karakter utama pada
filsafat dan seni Yunani, yakni keterlepasannya dari agama, atau dengan
kata lain, adanya kebebasan kepada akal untuk berkreasi. Ini terbukti
antara lain dari ide beberapa tokoh Renaissance, seperti Nicolaus
Copernicus (1473-1543) dengan pandangan heliosentriknya, yang
didukung oleh Johanes Kepler (1571-1630) dan Galileo Galilei (1564-1643).
Juga Francis Bacon (1561-1626) dengan teknik berpikir induktifnya, yang
berbeda dengan teknik deduk¬tif Aristoteles (dengan logika silogismenya)
yang diajarkan pada Abad Pertengahan. Jadi, Barat tidak mengambil
filsafat Yunani apa adanya, sebab justru filsafat Yunani itulah yang
menjadi dasar filsafat Kristen pada Abad Pertengahan, baik periode
Patristik (400-1000 M) dengan filsafat Emanasi Neoplatonisme yang
dikembangkan oleh Augustinus (354-430), maupun periode Scholastik
(1000-1400 M) dengan filsafat Thomisme yang bersandar pada Aristoteles.
Semua filsafat Yunani ini membahas metafisika, tidak membahas fakta
empirik sebagaimana yang dituntut oleh Renaissance. Jadi, semangat
Renaissance itu tidak bersumber pada filsafat Yunaninya itu sendiri, tetapi
pada karakternya yang terlepas dari agama.
Pragmatisme dan Renaissance di Eropa
Renaissance juga diperkuat adanya Reformasi, sebuah upaya
pemberontakan terhadap dominasi gereja Katholik yang dirintis oleh
Marthin Luther di Jerman (1517). Gerakan ini bertolak dari korupsi umum
dalam gereja – seperti penjualan Surat Tanda Pengampunan Dosa
(Afllatbrieven), penindasannya yang telanjang, dan dominasinya terhadap
negara-negara Eropa. Meskipun Reformasi tidak secara langsung ikut
memperjuangkan apa yang disebut “pembebasan akal”, tetapi gerakan ini
6
secara tak sadar telah memperkuat Renasissance dengan mempelopori
kebebasan beragama (Protestan) dan telah memperlemah posisi Gereja
dengan memecah kekuatan Gereja menjadi dua aliran; Katholik dan
Protestan. Kritik-kritik terhadap Injil di Jerman sekitar abad XVII juga
dianggap implikasi tak langsung dari adanya Reformasi. Meskipun
demikian, Gereja Katholik dan tokoh Reformasi memiliki sikap sama
terhadap upaya Renaissance, yakni menentang ide-ide yang tidak sesuai
dengan Injil. Calvin, seorang tokoh Reformasi di Jenewa (Swiss),
mendukung pembakaran hidup-hidup terhadap Servetus dari Spanyol
(1553), yang menentang Trinitas. Gereja Katholik dan Reformasi juga
sama-sama menolak ide Copernicus (1543) tentang matahari sebagai pusat
tatasurya, seraya mempertahankan doktrin Ptolemeus yang menganggap
bumi sebagai pusat tatasurya.
Pada abad XVII, perkembangan Renaissance telah melahirkan dua
aliran pemikiran yang berbeda: aliran Rasionalisme dengan tokohtokohnya seperti Rene Descartes (1596-1650), Baruch Spinoza (1632-1677),
dan Pascal (1623-1662), dan aliran Empirisme dengan tokoh-tokohnya
Thomas Hobbes (1558-1679), John Locke (1632-1704). Rasionalisme
memandang bahwa sumber pengetahuan yang dapat dipercaya adalah
rasio (akal), sedang Empirisme beranggapan bahwa sumber pengetahuan
adalah empiri, atau pengalaman manusia dengan menggunakan panca
inderanya.
Kemudian datanglah Masa Pencerahan (Aufklarung) pada abad
XVIII yang dirintis oleh Isaac Newton (1642-1727), sebagai perkembangan
lebih jauh dari Rasionalisme dan Empirisme dari abad sebelumnya. Pada
abad sebelumnya, fokus pembahasannya adalah pemberian inter¬pretasi
baru terhadap dunia, manusia, dan Tuhan. Sedang pada Masa
Aufklarung, pembaha¬sannya lebih meluas mencakup segala aspek
kehidupan manusia, seperti aspek pemerintahan dan kenegaraan, agama,
ekonomi, hukum, pendidikan dan sebagainya.
Bertolak dari prinsip-prinsip Empirisme John Locke, George
Berkeley (1685-1753) mengembangkan “immaterialisme”, sebuah
pandangan yang lebih ekstrim daripada pandangan John Locke. Jika
Locke berpandangan bahwa kita dapat mengenal esensi sebenarnya
(hakikat) dari fenomena material dan spiritual, Berkeley menganggap
bahwa substansi-substansi material itu tidak ada, Yang ada adalah ciri-ciri
yang diamati. Pandangan Locke dan Berkeley dikem¬bangkan lebih lanjut
oleh David Hume (1711-1776), dengan dua ide pokoknya; yakni tentang
skeptisisme (keragu-raguan) ekstrim bahwa filsuf itu mampu menemukan
7
kebenaran tentang apa saja, dan keyakinan bahwa “pengetahuan tentang
manusia” akan dapat menjelaskan hakikat pengetahuan yang dimiliki
manusia.
Selain George Berkeley dan David Hume, Immanuel Kant (17241804) juga dianggap salah seorang tokoh Masa Pencerahan. Filsafat Kant
disebut Kritisisme, yakni aliran yang mencoba mensintesiskan secara
kritis Empirisme yang dikembangkan Locke yang bermuara pada
Empirisme Hume, dengan Rasionalisme dari Descartes. Kant mulai
menelaah batas-batas kemampuan rasio, berbeda dengan dengan para
pemikir Rasionalisme yang mempercayai kemampuan rasio bulat-bulat.
Namun demikian, Kant juga mempercayai Empirisme. Walhasil dia
berpandangan bahwa semua pengetahuan mulai dari pengalaman,
namun tidak berarti semua dari pengalaman. Obyek luar ditangkap oleh
indera, tetapi rasio mengorganisasikan bahan-bahan yang diperoleh dari
pengalaman tersebut.
Pada abad XIX, filsafat Kant tersebut dikembangkan lebih lanjut di
Jerman oleh J. Fichte (1762-1814), F. Schelling (1775-1854) dan Hegel (17701831). Namun yang mereka kembangkan tidaklah filsafat Kant seutuhnya,
tetapi lebih memprioritaskan ide-ide, yakni tidak memfokuskan pada
pembahasan fakta empirik. Karenanya, aliran mereka disebut dengan
Idea¬lisme. Dari ketiganya, Hegel merupakan tokoh yang menonjol,
karena banyak pemikir pada abad ke-19 dan ke-20 yang merupakan
murid-muridnya, baik langsung maupun tidak. Mereka terbagi dalam dua
pandangan, yaitu pengikut Hegel aliran kanan yang membela agama
Kristen seperti John Dewey (1859-1952), salah seorang peletak dasar
Pragmatisme yang menjadi budaya Amerika (baca : Kapitalisme) saat ini,
dan pengikut Hegel aliran kiri yang memusuhi agama, seperti Feuerbach,
Karl Marx, dan Engels dengan ide Materialisme yang merupakan dasar
ideologi Komunisme di Rusia.
Empirisme itu sendiri pada abad XIX dan XX berkembang lebih
jauh menjadi beberapa aliran yang berbeda, yaitu Positivisme,
Materialisme, dan Pragmatisme. Positivisme dirintis oleh August Comte
(1798-1857), yang dianggap sebagai Bapak ilmu Sosiologi Barat.
Positivisme sebagai perkembangan Empirisme yang ekstrim, adalah
pandan¬gan yang menganggap bahwa yang dapat diselidiki atau
dipelajari hanyalah “data-data yang nyata/empirik”, atau yang mereka
namakan positif. Nilai-nilai politik dan sosial menurut Posi¬tivisme dapat
digeneralisasikan berdasarkan fakta-fakta yang diperoleh dari penyeidikan terhadap kehidupan masyarakat itu sendiri. Nilai-nilai politik dan
8
sosial juga dapat dijelaskan secara ilmiah, dengan mengemukakan
perubahan historis atas dasar cara berpikir induktif. Jadi, nilai-nilai
tersebut tumbuh dan berkembang dalam suatu proses kehidupan dari
suatu masyarakat itu sendiri.
Materialisme adalah aliran yang menganggap bahwa asal atau
hakikat segala sesuatu adalah materi. Di antara tokohnya ialah Feuerbach
(1804-1872), Karl Marx (1818-1883) dan Fredericht Engels (1820-1895). Karl
Marx menerima konsep Dialektika Hegel, tetapi tidak dalam bentuk
aslinya (Dialektika Ide). Kemudian dengan mengambil Materialisme dari
Feuerbach, Karl Marx lalu mengubah Dialektika Ide menjadi Dialektika
Materialisme, sebuah proses kemajuan dari kontradiksi-kontradiksi tesis –
antitesis – sintesis, yang sudah diujudkan dalam dunia materi. Dialektika
Materialisme lalu digunakan sebagai alat interpretasi terhadap sejarah
manusia dan perkembangannya. Interpretasi inilah yang disebut sebagai
Historis Materialisme, yang menjadi dasar lahirnya ideologi SosialismeKomunisme (Marxisme) di Eropa Timur.
Pada gilirannya, Pragmatisme dianggap juga salah satu aliran yang
berpangkal pada Empirisme, kendatipun ada pula pengaruh Idealisme
Jerman (Hegel) pada John Dewey, seorang tokoh Pragmatis¬me yang
dianggap pemikir paling berpengaruh pada zamannya. Selain John
Dewey, tokoh Pragmatisme lainnya adalah Charles Pierce dan William
James.
Konsep Maqashid al-Syari’ah al-Syatibi
Musthafa Said al-Khin dalam bukunya al-Kafi al-Wafi fi Ushul alFiqh al-Islamy membuat sebuah terobosan baru mengenai kecenderungan
aliran dalam Ilmu Ushul Fiqh. Bila sebelumnya hanya dikenal dua aliran
saja, yaitu Mutakallimin dan fuqaha atau Syafi’iyyah dan Hanafiyyah, alKhin membaginya menjadi lima bagian: Mutakallimin, Hanafiyyah, alJam’i, Takhrij al-Furu’ ‘alal Ushul dan Syathibiyyah. Musthafa Said alKhin dalam bukunya al-Kafi al-Wafi fi Ushul al-Fiqh al-Islamy membuat
sebuah terobosan baru mengenai kecenderungan aliran dalam Ilmu Ushul
Fiqh. Bila sebelumnya hanya dikenal dua aliran saja, yaitu Mutakallimin
dan fuqaha atau Syafi’iyyah dan Hanafiyyah, al-Khin membaginya
menjadi lima bagian: Mutakallimin, Hanafiyyah, al-Jam’i, Takhrij al-Furu’
‘alal Ushul dan Syathibiyyah.
Pembagian ini, merupakan pembagian terbaru di mana thariqah
yang ditempuh Imam Syathibi dalam al-Muwafaqat menjadi salah satu
bagian corak aliran yang terpisah dari aliran ushul lainnya. Tidak
9
berlebihan memang, karena dalam coraknya al-Syathibi mencoba
menggabungkan teori-teori (nadhariyyat) Ushul Fiqh dengan konsep
Maqashid al-Syari’ah sehingga produk hukum yang dihasilkan lebih hidup
dan lebih kontekstual.
Ada dua nilai penting, hemat penulis, apabila model al-Syathibi ini
dikembangkan para ulama sekarang dalam menggali hukum:
Pertama, dapat menjembatani antara “aliran kanan” dan “aliran
kiri”. “Aliran kanan” yang dimaksud adalah mereka yang tetap teguh
berpegang pada konsep-konsep Ilmu Ushul Fiqh sedangkan “aliran kiri”
adalah mereka yang terakhir ini vokal dengan idenya tajdid Ushul al-Fiqh
dalam pengertian perlu adanya dekonstruksi Ushul Fiqh demi
menghasilkan produk fiqh yang lebih kapabel. Di antara yang paling
vokal menyuarakan konsep ini adalah Hasan al-Turaby dengan bukunya
Tajdid Ushul al-Fiqh—buku ini dinyatakan terlarang dipasarkan.
Meski sesungguhnya penulis kurang sependapat dengan tayyar alyasar ini, namun ada hal yang perlu dicatat bahwa apa yang mereka
lontarkan adalah karena ketidakpuasannya dengan produk-produk fiqh
para ulama yang terlalu terpaku pada teks tanpa mengindahkan konteks.
Dengan demikian, produk hukum yang dihasilkan pun menjadi mati,
ambigu, bahkan terkadang, menurut mereka, kurang manusiawi.[2]
Keambiguan ini disebabkan methodologi yang ditempuh terlalu ushuli
kurang memperhatikan Maqashid al-Syari’ah.
Bisa jadi ulama-ulama Ushul dahulu telah membahas Maqashid alSyari’ah ini menjadi salah satu bagian dari ilmu Ushul. Hanya saja, perlu
dicatat, pembahasan al-mutaqaddimin dengan Maqashid al-Syari’ah ini
boleh dikatakan hanya sebagai “lipstik” saja karena pembahasannya yang
begitu singkat dan cenderung kurang mewakili.
Dengan corak metodologi Imam Syathibi dalam al-Muwafaqat-nya
yang mencoba menggabungkan antara teori-teori Ushul dengan Maqashid
al-Syari’ah akan menjadi penghubung sekaligus jembatan untuk meng“ishlahkan” kedua kecenderungan di atas. Memisahkan teori-teori Ushul
Fiqh dengan Maqashid al-Syari’ah merupakan kesalahan besar karena
tidak semua al-hawadits al-haditsah atau al-qaadimah dapat diselesaikan
dengan Maqashid al-Syari’ah an.sich, meskipun Thahir bin Asyur dalam
bukunya Maqashid al-Syari’ah al-Islamiyyah secara yakin menjadikan
Maqashid al-Syari’ah ini sebagai ilmu mustaqil yang terlepas dari ilmu
Ushul Fiqh.[3] Namun, dalam pandangan penulis, sesungguhnya teoriteori dan kerangka yang dikemukakan Thahir bin Asyur sendiri, disadari
10
atau tidak, adalah teori-teori Ushul Fiqh itu sendiri hanya dengan format
yang berbeda.
Kedua, model al-Syathibi ini akan lebih menghasilkan produk
hukum yang dalam istilah Ibnu Qayyim, al fiqh al-hayy, fiqh yang hidup.
Karena itu, fiqh yang terlalu teksbook yang penulis istilahkan dengan Fiqh
Ushuly akan berubah menjadi Fiqh Maqashidy.
Sedikit penulis mengajak para pembaca untuk bernostalgia ke
Indonesia. Dalam pengamatan penulis, ada kesalahan fatal sikap
masyarakat Indonesia khususnya terhadap fiqh. Ia lebih dipahami sebagai
ilmu yang membahas tentang ritual dan tata cara ibadah an sich, yang
terlepas dari nilai-nilai rububiyyah murni dan nilai-nilai kemanusiaan. Hal
ini terlihat misalnya, mereka lebih asyik dengan menempelkan dahi di
atas sajadah daripada memperhatikan tetangganya yang bergelut
melawan penyakit yang menggerogoti tubuhnya yang kurus kering
kurang gizi. Mereka lebih merasa berdosa tidak berdzikir setelah shalat
atau makan daging anjing dari pada berbohong, menipu dan korupsi.
Paling tidak, kesalahan ini adalah karena fiqh dipahami hanya ibadah
yang kaitannya antara manusia dan Tuhan saja.
Ada semacam pembatasan pemahaman fiqh di kalangan
masyarakat dewasa ini sehingga lebih mementingakn menghapal syarat
sah, syarat wajib, rukun dan lainnya dari pada efek ibadah itu sendiri.
Padahal pada awalnya fiqh mencakup pula persoalan tauhid dan akhlak
seperti yang terdapat dalam Kitab al-Fiqh al-Akbar karya Imam Abu
Hanifah atau Ihya Ulumiddin karya Imam Ghazali.
Di samping itu, silabus pengajaran fiqh di Indonesia,
sepengetahuan penulis, juga kurang mengarah pada Fiqh Maqashidy.
Hampir tidak ada, hemat penulis, silabus yang khusus membahas tentang
Maqashid al-Syari’ah. Karenanya, tidaklah heran ekses fiqh tidak
berpengaruh pada tataran amaliyyah yaumiyyah, ia lebih pada tataran
fardhiyyah syakhsiyyah. Akhirnya, shalat dan ibadah rajin, korupsi jalan
terus. Inilah gambaran bagaiman fiqh itu mati, ambigu, sangat ushuly
tidak hidup dan tidak maqashidy.
Dari paparan di atas jelas, kebutuhan untuk memahami dan
mengkampanyekan Maqashid al-Syari’ah di samping Ushul Fiqh menjadi
sangat penting adanya. Demi menuju ke arah itu, penulis merasa
terpanggil untuk mengungkap sekilas perjalanan Imam Sythibi sebagai
Bapak Maqashid al-Syari’ah Pertama sekaligus sekilas tentang Maqashid
al-Syari’ah versi Syathibi.
11
Imam Syathibi membahas tentang Maqashid al-Syari’ah ini dalam
kitabnya al-Muwafaqat juz II sebanyak 313 halaman (menurut buku
cetakan Dar al-Kutub al-Ilmiyyah). Persoalan yang dikemukakan di
dalamnya sebanyak 62 masalah. Dalam pembahasannya, Imam Syathibi
membagi al-Maqashid ini kepada dua bagian penting yakni Maksud Syari’
(qashdu al-syari’) dan Maksud Mukallaf (qashdu al-mukallaf). Maksud
Syari’ kemudian dibagi lagi menjadi 4 bagian yaitu:
1. Qashdu al-Syari’ fi Wadh’i al-Syari’ah (Maksud Syari’ dalam
Menetapakan Syari’at)
Dalam bagian ini ada 13 permasalahan yang dikemukakan. Namun
semuanya mengacu kepada suatu pertanyaan: “Apakah sesungguhnya
maksud syari dengan menetapkan syari’atnya itu?” Menurut Imam
Syathibi, Allah menurunkan syariat (aturan hukum) tiada lain selain
untuk mengambil kemaslahatan dan menghindari kemadaratan (jalbul
mashalih wa dar’ul mafasid). Dengan bahasa yang lebih mudah, aturanaturan hukum yang Allah tentukan hanyalah untuk kemaslahatan
manusia itu sendiri. Syathibi kemudian membagi maslahat ini kepada tiga
bagian penting yaitu dharuriyyat (primer), hajiyyat (skunder) dan
tahsiniyat (tersier,lux).
Maqashid atau Maslahat Dharuriyyat adalah sesuatu yang mesti
adanya demi terwujudnnya kemaslahatan agama dan dunia. Apabila hal
ini tidak ada, maka akan menimbulkan kerusakan bahkan hilangnya
hidup dan kehidupan[39] seperti makan, minum, shalat, shaum dan
ibadah-ibadah lainnya. Yang termasuk maslahat atau maqashid dharuriyyat
ini ada lima yaitu: agama (al-din), jiwa (al-nafs), keturunan (an-nasl), harta
(al-mal) dan aqal (al-aql).[40]
Cara untuk menjaga yang lima tadi dapat ditempuh dengan dua
cara yaitu: Pertama, Dari segi adanya (min nahiyyati al-wujud) yaitu dengan
cara manjaga dan memelihara hal-hal yang dapat melanggengkan
keberadaannya; Kedua, Dari segi tidak ada (min nahiyyati al- ‘adam) yaitu
dengan cara mencegah hal-hal yang menyebabkan ketiadaannya.
Untuk lebih jelasnya, perhatikan contoh berikut ini:
a. Menjaga agama dari segi al-wujud misalnya shalat dan zakat
b. Menjaga agama dari segi al-‘adam misalnya jihad dan hukuman bagi
orang murtad
c. Menjaga jiwa dari segi al-wujud misalnya makan dan minum
d. Menjaga jiwa dari segi al-‘adam misalnya hukuman qishash dan diyat
e. Menjaga aqal dari segi al-wujud misalnya makan dan mencari ilmu
12
f. Menjaga aqal dari segi al-‘adam misalnya had bagi peminum khamr
g. Menjaga an-nasl dari segi al-wujud misalnya nikah
h. Menjaga an-nasl dari segi al-‘adam misalnya had bagi pezina dan
muqdzif
i. Menjaga al-mal dari segi al-wujud misalnya jual beli dan mencari rizki
j. Menjaga al-mal dari segi al-‘adam misalnya riba, memotong tangan
pencuri.
Sebelum penulis memaparkan lebih jauh cara kerja dan aflikasi dari
al-dharuriyyat al-khams ini, perlu penulis sampaikan terlebih dahulu urutan
kelima dharuriyyat ini baik menurut Imam Syathibi maupun ulama ushul
lainnya. Hal ini sangat penting karena berpengaruh pada kesimpulan
hukum yang akan dihasilkan. Urutan kelima dharuriyyat ini bersifat
ijtihady bukan naqly, artinya ia disusun berdasarkan pemahaman para
ulama terhadap nash yang diambil dengan cara istiqra. Dalam merangkai
kelima dharuriyyat ini (ada juga yang menyebutnya dengan al-kulliyyat alkhamsah), Imam Syathibi terkadang lebih mendahulukan aql dari pada
nasl, terkadang nasl terlebih dahulu kemudian aql dan terkadang nasl lalu
mal dan terakhir aql. Namun satu hal yang perlu dicatat bahwa dalam
susunan yang manapun Imam Syathibi tetap selalu mengawalinya dengan
din dan nafs terlebih dahulu.
Dalam al-Muwafaqat I/38, II/10, III/10 dan IV/27 urutannya adalah
sebagai berikut: ad-din (agama), an-nafs (jiwa), an-nasl (keturunan), al-mal
(harta) dan al-aql (akal). Sedangkan dalam al-Muwafaqat III/47: ad-din, annafs, al-aql, an-nasl dan al-mal. Dan dalam al-I’tisham II/179 dan alMuwafaqat II/299: ad-din, an-nafs, an-nasl, al-aql dan al-mal.
Perbedaan urutan di atas, menunjukkan bahwa semuanya sah-sah
saja karena sifatnya ijtihadi. Para ulama ushul lainnya pun tidak pernah
ada kata sepakat tentang hal ini. Bagi al-Zarkasyi misalnya, urutan itu
adalah:[41] an-nafs, al-mal, an-nasab, ad-din dan al-‘aql. Sedangkan menurut
al-Amidi:[42] ad-din, an-nafs, an-nasl, al-aql dan al-mal. Bagi al-Qarafi:[43]
an-nufus, al-adyan, al-ansab, al-‘uqul, al-amwal atau al-a’radh. Sementara
menurut al-Ghazali:[44] ad-din, an-nafs, al-‘aql, an-nasl dan al-mal.
Namun urutan yang dikemukakan al-Ghazali ini adalah urutan
yang paling banyak dipegang para ulama Fiqh dan Ushul Fiqh
berikutnya. Bahkan, Abdullah Darraz, pentahkik al-Muwafaqat sendiri,
memandang urutan versi al-Ghazali ini adalah yang lebih mendekati
kebenaran.[45] Cara kerja dari kelima dharuriyyat di atas adalah masingmasing harus berjalan sesuai dengan urutannya. Menjaga al-din harus
lebih didahulukan daripada menjaga yang lainnya; menjaga al-nafs harus
13
lebih didahulukan dari pada al-aql dan nasl begitu seterusnya. Salah satu
contoh yang dapat penulis kemukakan adalah membunuh diri atau
menceburkan diri dalam kebinasaan adalah sesuatu yang dilarang
sebagaimana bunyi teks dalam surat al-Baqarah. Akan tetapi kalau untuk
kepentingan berjihad dan kepentingan agama Allah, menjadi boleh
karena sebagaimana telah disinggung diatas bahwa menjaga agama harus
didahulukan dari pada menjaga jiwa. Oleh kerena itu, sebagian besar para
ulama membolehkan istisyhad para pejuang Palestina dengan
pertimbangan hukum di atas.
Akan tetapi bagaimana dengan kasus orang sakit yang kerena
suatu kebutuhan pengobatan boleh dilihat auratnya atau musafir yang
boleh mengqashar shalat, bukankah itu berarti an-nafs lebih didahulukan
dari pada ad-din? Persoalan ini sesungguhnya bukanlah persoalan baru.
Al-Amidy dalam al-Ahkam-nya, misalnya, telah mengulas secara panjang
lebar yang tidak mungkin penulis kutipkan di sini. Untuk lebih jelasnya
dapat dilihat langsung dalam al-Ahkam fi Ushul al-Ahkam (sebagian
membacanya al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam, akan tetapi penulis lebih condong
membacanya al-Ahkam) juz IV halaman 243-245. Dalam kesempatan ini
penulis hanya akan mengutip pendapat Abdullah Darraz karena lebih
ringkas. Menurutnya bahwa dalam tataran umum agama harus lebih
didahulukan daripada yang lainnya karena ini menyangkut ushul al-din,
sedangakan dalam hal tertentu jiwa dan harta terkadang lebih
didahulukan dari pada agama (mustatsnayyat). Disinilah dibutuhkan
kejelian seorang mujtahid.[46]
Maqashid atau Maslahah Hajiyyat adalah sesuatu yang sebaiknya ada
agar dalam melaksanakannya leluasa dan terhindar dari kesulitan. Kalau
sesuatu ini tidak ada, maka ia tidak akan menimbulkan kerusakan atau
kematian hanya saja akan mengakibatkan masyaqah dan kesempitan.[47]
Misalnya, dalam masalah ibadah adalah adanya rukhsah; shalat jama dan
qashar bagi musafir. Maqashid atau Maslahah Tahsinat adalah sesuatu yang
sebaiknya ada demi sesuainya dengan keharusan akhlak yang baik atau
dengan adat. Kalau sesuatu ini tidak ada, maka tidak akan menimbulkan
kerusakan atau hilangnya sesuatu juga tidak akan menimbulkan masyaqah
dalam melaksanakannya, hanya saja dinilai tidak pantas dan tidak layak
manurut ukuran tatakrama dan kesopanan.
Di antara contohnya adalah thaharah, menutup aurat dan hilangnya
najis. Ada beberapa qaidah penting yang dikemukakan Imam Syathibi
dalam menerangkan keterkaitan atau cara kerja ketiga maslahah di atas
yang tidak mungkin penulis kemukakan di sini mengingat panjangnya
14
pembahasan dimaksud. Namun untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam
masalah ke-4 halaman 13 buku al-Muwafaqat.
2. Qashdu al-Syari’ fi Wadh’I al-Syari’ah lil Ifham (Maksud Syari’
Dalam Menetapkan Syari’atnya Agar Dapat Difahami).
Bagian ini merupakan pembahasan yang peling singkat karena
hanya mencakup 5 masalah. Dalam menetapkan syari’atnya, Syari’
bertujuan agar mukallaf dapat memahaminya, itulah maksud dari bagian
kedua. Ada dua hal penting yang dibahas dalam bagian ini. Pertama,
syari’ah ini diturunkan dalam Bahasa Arab sebagaimana firmanNya
dalam surat Yusuf ayat 2; as-Syu’ara:195. Oleh kerena itu, untuk dapat
memahaminya harus terlebih dahulu memahami seluk beluk dan uslub
bahasa Arab.
Dalam hal ini Imam Syathibi berkata: “Siapa orang yang hendak
memahaminya, maka dia seharusnya memahami dari sisi lidah Arab
terlebih dahulu Karena tanpa ini tidak mungkin dapat memahaminya
secara mantap. Inilah yang menjadi pokok dari pembahasan masalah ini”.
Dengan bahasa lebih mudah, di samping mengetahui bahasa Arab, untuk
memahami syari’at ini juga dibutuhkan ilmu-ilmu lain yang erat
kaitannya dengan lisan Arab seperti Ushul Fiqh, Mantiq, Ilmu Ma’ani dan
yang lainnya. Karenanya, tidaklah heran apabila bahasa Arab, Ushul Fiqh
termasuk salah satu persyaratan pokok yang harus dimiliki seorang
mujtahid.
Kedua, bahwa syari’at ini ummiyyah, maksudnya untuk dapat
memahaminya tidak membutuhkan bantuan ilmu-ilmu alam seperti ilmu
hisab, kimia, fisika dan lainnya. Hal ini dimaksudkan agar syari’ah mudah
dipahami oleh semua kalangan manusia. Apabila untuk memahami
syari’at ini memerlukan bantuan ilmu lain seperti ilmu alam, paling tidak
ada dua kendala besar yang akan dihadapi manusia umumnya, yaitu
kendala dalam hal pemahaman dan dalam pelaksanaan. Syari’ah mudah
dipahami oleh siapa saja dan dari bidang ilmu apa saja karena ia
berpangkal kepada konsep maslahah (fahuwa ajraa ‘ala i’tibari al-maslahah).
Di antara landasan bahwa syari’at ini ummiyyah adalah karena
pembawa syari’at itu sendiri (Rasulullah Saw) adalah seorang yang ummi
sebagaimana ditegaskan dalam firmanNya surat al-Jum’ah ayat 2, al-Araf
ayat 158, al-Ankabut 48 dan keterangan-keterangan lainnya. Ada
kecenderungan berlebihan dari sebagian ulama yang tidak sesuai dengan
sifat syari’ah ummiyyah ini, lanjut Syathibi, yaitu bahwa al-Qur’an
mencakup semua bidang keilmuan, baik keilmuan lama ataupun modern.
15
Betul, lanjut Syathibi, al-Qur’an menyinggung dan sesuai dengan berbagai
disiplin ilmu, namun tidak berarti al-Qur’an mencakup semuanya, itu
semua hanyalah isyarat saja dan bukan sebagai legitimasi semua disiplin
ilmu.
Ayat yang sering dijadikan dalil adalah surat an-Nahl 89 yang
berbunyi: “Dan Kami turunkan kepadamu al-Qur’an untuk menjelaskan segala
sesuatu”, dn surat al-An’am ayat 38 yang berbunyi: “Tidaklah Kami lewatkan
sesuatupun dari al-Qur’an”. Menurut Syathibi, kedua ayat di atas
mempunyai makna tertentu. Ayat pertama dimaksudkan mengenai
masalah taklif dan ibadah sedangkan maksud al-kitab dalam ayat kedua
adalah allauh al-mahfudz.
3. Qashdu al-Syari’ fi Wadh’I al-Syari’ah li al-Taklif bi Muqtadhaha
Bagian ini dimaksudkan bahwa maksud Syari’ dalam menentukan
syari’at adalah untuk dilaksanakan sesuai dengan yang dituntutNya.
Masalah yang dibahas dalam bagian ini ada 12 masalah, namun semuanya
mengacu kepada dua masalah pokok yaitu: Pertama, taklif yang di luar
kemampuan manusia (at-taklif bima laa yuthaq).Pembahasan ini tidak akan
dibahas lebih jauh karena sebagaimana telah diketahui bersama bahwa
tidaklah dianggap taklif apabila berada di luar batas kemampuan manusia.
Dalam hal ini Imam Syathibi mengatakan: “Setiap taklif yang di
luar batas kemampuan manusia, maka secara Syar’i taklif itu tidak sah
meskipun akal membolehkannya”.[54] Apabila dakan teks Syari’ ada
redaksi yang mengisyaratkan perbuatan di luar kemampuan manusia,
maka harus dilihat pada konteks, unsur-unsur lain atau redaksi
sebelumnya. Misalnya, furman Allah: “Dan janganlah kalian mati kecuali
dalam keadaan muslim”. Ayat ini bukan berarti larangan untuk mati
karena mencegah kematian adalah di luar batas kemampuan manusia.
Maksud larangan ini adalah larangan untuk memisahkan antara
keislalman dengan kehidupan di dunia ini karena datangnya kematian
tidak akan ada yang mengetahui seorangpun.
Begitu juga dengan sabda Nabi: “Janganlah kamu marah” tidak
berarti melarang marah, karena marah adalah tabiat manusia yang tidak
mungkin dapat dihindari. Akan tetapi maksudnya adalah agar sedapat
mungkin menahan diri ketika marah atau menghindari hal-hal yang
mengakibatkan marah.
Kedua, taklif yang di dalamnya terdapat masyaqah, kesulitan (al-taklif
bima fiihi masyaqqah). Persoalan inilah yang kemudian dibahas panjang
lebar oleh Imam Syathibi. Menurut Imam Syathibi, dengan adanya taklif,
16
Syari’ tidak bermaksud menimbulkan masyaqah bagi pelakunya (mukallaf)
akan tetapi sebaliknya di balik itu ada manfaat tersendiri bagi mukalla. Bila
dianalogkan kepada kehidupan sehari-hari, obat pahit yang diberikan
seorang dokter kepada pasien, bukan berarti memberikan kesulitan baru
bagi sang pasien akan tetapi di balik itu demi kesehatan si pasien itu
sendiri pada masa berikutnya.
Dalam masalah agama misalnya, ketika ada kewajiban jihad, maka
sesungguhnya tidak dimaksudkan dengannya untuk menceburkan diri
dalam kebinasaan, tetapi untuk kemaslahatan manusia itu sendiri yaitu
sebagai wasilah amar makruf nahyil munkar. Demikian pula dengan hukum
potong tangan bagi pencuri, tidak dimaksudkan untuk merusak anggota
badan akan tetapi demi terpeliharanya harta orang lain.
Apabila dalam taklif ini ada masyaqah, maka sesungguhnya ia
bukanlah masyaqah tapi kulfah, sesuatu yang tidak mungkin dapat
dipisahkan dari kegiatan manusia sebagaimana dalam kacamata adat,
orang yang memikul barang atau bekerja siang malam untuk mencari
kehidupan tidak dipandang sebagai masyaqah, tetapi sebagai salah satu
keharusan dan kelaziman untuk mencari nafkah. Demikian juga halnya
dengan masalah ibadah. Masyaqah seperti ini menurut Imam Syathibi
disebut Masyaqah Mu’tadah karena dapat diterima dan dilaksanakan
oleh anggota badan dan karenanya dalam syara’ tidak dipandang sebagai
masyaqah.
Yang dipandang sebagai masyaqah adalah apa yang disebutnya
dengan Masyaqah Ghair Mu’tadah atau Ghair ‘Adiyyah yaitu masaqah yang
tidak lazim dan tidak dapat dilaksanakan atau apabila dilaksanakan akan
menimbulkan kesulitan dan kesempitan. Misalnya, keharusan berpuasa
bagi orang sakit dan orang jompo. Semua ini adalah masyaqah ghair
mu’tadah yang dikecam oleh Islam. Untuk mengatasi masyaqah ini, Islam
memberikan jalan keluar melalui rukhshah atau keringanan.
4. Qashdu al-Syari’ fi Dukhul al-Mukallaf Tahta Ahkam al-Syari’ah
Pembahasan bagian terakhir ini merupakan pembahasan paling
panjang mencakup 20 masalah. Namun semuanya mengacu kepada
pertanyaan: “Mengapa mukallaf melaksanakan hukum Syari’ah?” Jawabannya
adalah untuk mengeluarkan mukallaf dari tuntutan dan keinginan hawa
nafsunya sehingga ia menjadi seorang hamba yang dalam istilah Imam
Syathibi disebut: hamba Allah yang ikhtiyaran dan bukan yang idthiraran.
Atau dalam istilah Dr. Ahmad Zaid: Ikhrajul ‘abd min da’iyatil hawa ila
dairatil ‘ubudiyyah.
17
Untuk itu, setiap perbuatan yang mengikuti hawa nafsu, maka ia
batal dan tidak ada manfa’atnya. Sebaliknya, setiap perbuatan harus
senantiasa mengikuti petunjuk Syari’ dan bukan mengikuti hawa nafsu.
Ada beberapa kaidah penting yang perlu dipahami dalam bagian ini dan
penulis tidak dapat menjelaskannya dalam bahasa Indonesia. Untuk lebih
jelasnya dapat dilihat dalam al-Muwafaqat Juz II hal. 128-150.
Demikian sekilas tentang Maqashid al-Syari’ah menurut Imam
Syathibi. Gambaran di atas tentunya tidak memberikan pemahaman yang
menyeluruh tentang Maqashid Syari’ah itu sendiri, namun paling tidak
tergambar bahwa rumusan Imam Syathibi ini lebih sistematis dan lengkap
dibandingkan rumusan-rumusan para ulama Ushul sebelumnya.
Apa yang tertulis dalam al-Muwafaqat khususnya dan karya-karta
Imam Syathibi lainnya betul-betul telah mempengaruhi pemikiran para
ulama berikutnya semisal Muhammad Abduh, Muhammad Rasyid Ridha,
Abdullah Darraj, Muhammad Thahir bin Asyur dan ‘Allal Fasy.
Muhammad Abduh adalah orang pertama yang mengumumkan
pentingnya ulama-ulama dan para mahasiswa Timur Tengah untuk
mempelajari karya-karya Imam Syathibi terutama al-Muwafaqat. Sama
halnya dengan muridnya, Rasyid Ridha. Bahkan bukan saja terpengaruh
dengan ide maqashidnya Imam Syathibi, ia juga sangat terpengaruh
dengan al-I’tishamnya demi menghidupkan kembali harakah salafiyyah
yang sejak lama diusungnya.
Demikian juga dengan Thahir bin Asyur. Ulama asal Tunis ini telah
mengarang sebuah buku berjudul Maqashid al-Syari’ah al-Islamiyyah yang
sempat menggegerkan ulama Ushul Timur Tengah karena idenya yang
mencoba mengenyampingkan Ushul Fiqh dan menggantinya dengan
Maqashid al-Syari’ah. Baginya, Maqashid al-Syari’ah merupakan ilmu
yang berdiri sendiri (‘ilm mustaqil) dan terlepas dari Ilmu Ushul bahkan
Ilmu Ushul dipandangnya sebagai ilmu yang telah usang dan produk
fiqhnya cenderung kurang manusiawi. Namun demikian, idenya lahir
karena pengaruh dari Imam Syathibi, bahkan Abdul Majid Turki
memandang buku Thahir bin Asyur ini sebagai mustalhaman min kitab alMuwafaqat (jiplakan dari kitab al-Muwafaqat).
Allal Fasy, ulama asal Maroko, juga termasuk meraka yang
terpengaruh oleh ide Syathibi. Bukunya Difa’ ‘an al-Syari’ah dan Maqashid
al-Syari’ah al-Islamiyyah wa Makarimuha merupakan perluasan dan
terkadang pengulangan dari apa yang tertulis dalam al-Muwafaqat.
Karena besarnya pengaruh Syathibi dengan al-Muwafaqatnya inilah,
ulama-ulama Ushul kemudian sepakat menjadikan Imam Syathibi sebagai
18
Bapak Maqashid al-Syari’ah pertama yang telah menyusun teori-teorinya
secara lengkap, sistematis dan jelas.
Sebagai ilustrasi dapat disebutkan di sini empat teori hukum
terbaru di abad ke-20 yang dapat diketahui orang untuk mempelajari
hukum Barat, antara lain: (1) teori pemakaian hak semena-mena (Isa’atu
isti’malil hak); (2) teori keadaan mendadak (ad-Dhurufat thari’ah); (3) teori
pertanggungan kekuasaan (Massalijatu Adami at-Tamyiz). Namun
formulasi keempat teori hukum tersebut, sebenarnya telah banyak
disinggung dalam prinsip-prinsip dasar pembinaan hukum Islam sejak
masa awal pertumbuhannya. Pada gilirannya, dalam sebuah seminar
hukum di Den Haag Belanda tahun 1937, Syeikh Machmoud Syalthouth
(Rektor Universitas Al-Azhar) dan Dr. Hasan Sufi Abu Thalib
menegaskan bahwa: Pertama, hukum Islam merupakan salah satu sumber
hukum umum; Kedua, hukum Islam merupakan hukum yang hidup dan
berkembang; dan ketiga, hukum Islam merupakan hukum yang berdiri
sendiri dan tidak diambil dari hukum lain.1
Pengaruh Positivisme Dalam Pemikiran Hukum Islam
Kekeliruan Pragmatisme dapat dibuktikan dalam tiga tataran
pemikiran :
1. Kritik dari Segi Landasan Ideologi
Pragmatisme dilandaskan pada pemikiran dasar (Aqidah)
pemisahan agama dari kehi¬dupan (sekularisme). Hal ini nampak dari
perkembangan historis kemunculan Pragmatisme, yang merupakan
perkembangan lebih lanjut dari Empirisme. Dengan demikian, dalam
konteks ideologis, Pragmatisme berarti menolak agama sebagai sumber
ilmu pengetahuan.
Aqidah pemisahan agama dari kehidupan adalah landasan ideologi
Kapitalisme. Aqidah ini, sebenarnya bukanlah hasil proses berpikir.
Bahkan, tak dapat dikatakan sebagai pemikiran yang logis. Aqidah
pemisahan agama dari kehidupan tak lain hanyalah penyelesaian yang
berkecenderungan ke arah jalan tengah atau bersikap moderat, antara dua
pemikiran yang kontradiktif. Kedua pemikiran ini, yang pertama adalah
1
A. Hanafi membuka penilaian atas penelitian hukum Islam sesungguhnya merupakan
hukum yang berlaku umum, tidak terbatas dalam wilayah geografis suatu negara, dan dapat
disesuaikan dengan kebutuhan hidup modern, sebagaimana ia telah membuktikannya dari hasil
Seminar Hukum di Den Haag pada bulan Agustus 1948 dan Seminar Hukum di Paris Perancis
bulan Juli 1951. Lihat Ibid., hlm. 202-203.
19
pemikiran yang diserukan oleh tokoh-tokoh gereja di Eropa sepanjang
Abad Pertengahan (abad V - XV M), yakni keharusan menun¬dukkan
segala sesuatu urusan dalam kehidupan menurut ketentuan agama.
Sedangkan yang kedua, adalah pemikiran sebagian pemikir dan filsuf
yang mengingkari keberadaan Al Khaliq.
Jadi, pemikiran pemisahan agama dari kehidupan merupakan jalan
tengah di antara dua sisi pemikiran tadi. Penyelesaian jalan tengah,
sebenarnya mungkin saja terwujud di antara dua pemikiran yang berbeda
(tapi masih mempunyai asas yang sama). Namun penyelesaian seperti itu
tak mungkin terwujud di antara dua pemikiran yang kontradiktif. Sebab
dalam hal ini hanya ada dua kemungkinan. Yang pertama, ialah
mengakui keberadaan Al Khaliq yang menciptakan manusia, alam
semesta, dan kehidupan. Dan dari sinilah dibahas, apakah Al Khaliq telah
menentukan suatu peraturan tertentu lalu manusia diwajibkan untuk
melaksanakannya dalam kehidupan, dan apakah Al Khaliq akan
menghisab manusia setelah mati mengenai keterika¬tannya terhadap
peraturan Al Khaliq ini.
Sedang yang kedua, ialah mengingkari keberadaan Al Khaliq. Dan
dari sinilah dapat dicapai suatu kesimpulan, bahwa agama tidak perlu
lagi dipisahkan dari kehidupan, tapi bahkan harus dibuang dari
kehidupan. Adapun pendapat yang mengatakan bahwa keberadaan Al
Khaliq tidaklah lebih penting daripada ketiadaan-Nya, maka ini adalah
suatu ide yang tidak memuaskan akal dan tidak menenteramkan jiwa.
Jadi, berdasarkan fakta bahwa aqidah Kapitalisme adalah jalan tengah di
antara pemi¬kiran-pemikiran kontradiktif yang mustahil diselesaikan
dengan jalan tengah, maka sudah cukuplah bagi kita untuk mengkritik
dan membatalkan aqidah ini. Tak ada bedanya apakah aqidah ini dianut
oleh orang yang mempercayai keberadaan Al Khaliq atau yang
mengingkari keberadaan-Nya.
Tetapi dalam hal ini dalil aqli (dalil yang berlandaskan keputusan
akal) yang qath’i (yang bersifat pasti), membuktikan bahwa Al Khaliq itu
ada dan Dialah yang menciptakan manusia, alam semesta, dan
kehidupan. Dalil tersebut juga membuktikan bahwa Al Khaliq ini telah
menetapkan suatu peraturan bagi manusia dalam kehidupannya, dan
bahwasanya Dia akan menghisab manusia setelah mati mengenai
keterikatannya terhadap peraturan Al Khaliq tadi.
Kendatipun demikian, di sini bukan tempatnya untuk melakukan
pembahasan tentang eksistensi Al Khaliq atau pembahasan mengenai
peraturan yang ditetapkan Al Khaliq untuk manusia. Namun yang
20
menjadi fokus pembahasan di sini ialah aqidah Kapitalisme itu sendiri
dan penjelasan mengenai kebatilannya. Dan kebatilan Kapitalisme cukup
dibuktikan dengan menunjukkan bahwa aqidah Kapitalisme tersebut
merupakan jalan tengah antara dua pemikiran yang kontradiktif, dan
bahwa aqidah tersebut tidak dibangun atas dasar pembahasan akal.
Kritik yang merobohkan aqidah Kapitalisme ini, sesungguhnya sudah
cukup untuk merobohkan ideologi Kapitalisme secara keseluruhan.
Sebab, seluruh pemikiran cabang yang dibangun di atas landasan yang
batil –termasuk dalam hal ini Pragmatisme– pada hakekatnya adalah batil
juga.
2. Kritik dari Segi Metode Berpikir
Pragmatisme yang tercabang dari Empirisme nampak jelas
menggunakan Metode Ilmiah (Ath Thariq Al Ilmiyah), yang dijadikan
sebagai asas berpikir untuk segala bidang pemikiran, baik yang berkenaan
dengan sains dan teknologi maupun ilmu-ilmu sosial. Ini adalah suatu
kekeliruan.
Metode Ilmiah adalah suatu metode tertentu untuk melakukan
pembahasan/pengkajian untuk mencapai kesimpulan pengertian
mengenai hakekat materi yang dikaji, melalui serang¬kaian
percobaan/eksperimen yang dilakukan terhadap materi. Metode ini
merupakan metode yang benar untuk objek-objek yang bersifat
materi/fisik seperti halnya dalam sains dan teknologi. Tetapi menjadikan
Metode Ilmiah sebagai landasan berpikir untuk segala sesuatu pemikiran
adalah suatu kekeliruan, sebab yang seharusnya menjadi landasan
pemikiran adalah Metode Akliyah/Rasional (Ath Thariq Al Aqliyah),
bukan Metode Ilmiah. Sebab, Metode Ilmiah itu sesungguhnya hanyalah
cabang dari Metode Aqliyah. Metode Aqliyah adalah sebuah metode
berpikir yang terjadi dalam proses pemahaman sesuatu sebagaimana
definisi akal itu sendiri, yaitu proses transfer realitas melalui indera ke
dalam otak, yang kemudian diinterpretasikan dengan sejumlah informasi
sebelumnya yang bermukim dalam otak.
Metode Aqliyah ini sesungguhnya merupakan asas bagi kelahiran
Metode Ilmiah, atau dengan kata lain Metode Ilmiah sesungguhnya
tercabang dari Metode Aqliyah. Argumen untuk ini, sebagaimana
disebutkan Taqiyuddin An-Nabhani dalam At Tafkir halaman 32-33, ada
dua point :
a. Bahwa untuk melaksanakan eksperimen dalam Metode Ilmiah, tak
dapat tidak pasti dibutuhkan informasi-informasi sebelumnya. Dan
21
informasi sebelumnya ini, diperoleh melalui Metode Akliyah, bukan
Metode Ilmiah. Maka, Metode Akliyah berarti menjadi dasar bagi
adanya Metode Ilmiah.
b. Bahwa Metode Ilmiah hanya dapat mengkaji objek-objek yang bersifat
fisik/materi¬al yang dapat diindera. Dia tak dapat digunakan untuk
mengkaji objek-objek pemikiran yang tak terindera seperti sejarah,
bahasa, logika, dan hal-hal yang ghaib. Sedang Metode Akliyah, dapat
mengkaji baik objek material maupun objek pemikiran. Maka dari itu,
Metode Akliyah lebih tepat dijadikan asas berpikir, sebab
jangkauannya lebih luas daripada Metode Ilmiah.
Atas dasar dua argumen ini, maka Metode Ilmiah adalah cabang
dari Metode Akliyah. Jadi yang menjadi landasan bagi seluruh proses
berpikir adalah Metode Akliyah, bukan Metode Ilmiah, sebagaimana yang
terdapat dalam Pragmatisme.
3. Kritik Terhadap Pragmatisme Itu Sendiri
Pragmatisme adalah aliran yang mengukur kebenaran suatu ide
dengan kegunaan prak¬tis yang dihasilkannya untuk memenuhi
kebutuhan manusia. Ide ini keliru dari tiga sisi:
Pertama, Pragmatisme mencampur adukkan kriteria kebenaran ide
dengan kegunaan praktisn¬ya. Kebenaran suatu ide adalah satu hal,
sedang kegunaan praktis ide itu adalah hal lain. Kebenaran sebuah ide
diukur dengan kesesuaian ide itu dengan realitas, atau dengan standarstandar yang dibangun di atas ide dasar yang sudah diketahui
kesesuaiannya dengan realitas. Sedang kegunaan praktis suatu ide untuk
memenuhi hajat manusia, tidak diukur dari keberhasilan penerapan ide
itu sendiri, tetapi dari kebenaran ide yang diterapkan. Maka, kegunaan
praktis ide tidak mengandung implikasi kebenaran ide, tetapi hanya
menunjukkan fakta terpuaskannya kebutuhan manusia.
Kedua, Pragmatisme menafikan peran akal manusia. Menetapkan
kebenaran sebuah ide adalah aktivitas intelektual dengan menggunakan
standar-standar tertentu. Sedang penetapan kepuasan manusia dalam
pemenuhan kebutuhannya adalah sebuah identifika¬si instinktif. Memang
identifikasi instinktif dapat menjadi ukuran kepuasan manusia dalam
pemuasan hajatnya, tapi tak dapat menjadi ukuran kebenaran sebuah ide.
Maka, Pragmatisme berarti telah menafikan aktivitas intelektual dan
menggantinya dengan identifikasi instinktif. Atau dengan kata lain,
Pragmatisme telah menundukkan keputusan akal kepada kesimpulan
yang dihasilkan dari identifikasi instinktif.
22
Ketiga, Pragmatisme menimbulkan relativitas dan kenisbian
kebenaran sesuai dengan perubahan subjek penilai ide –baik individu,
kelompok, dan masyarakat– dan perubahan konteks waktu dan tempat.
Dengan kata lain, kebenaran hakiki Pragmatisme baru dapat dibuktikan –
menurut Pragmatisme itu sendiri– setelah melalui pengu¬jian kepada
seluruh manusia dalam seluruh waktu dan tempat. Dan ini mustahil dan
tak akan pernah terjadi. Maka, Pragmatisme berarti telah menjelaskan
inkonsistensi internal yang dikandungnya dan menafikan dirinya sendiri.
4. Kontradiksi Pragmatisme Dengan Islam
Jelas sekali bahwa Pragmatisme –sebagai standar ide dan
perbuatan– sangat bertentan¬gan dengan Islam. Sebab Islam memandang
bahwa standar perbuatan adalah halal haram, yaitu perintah-perintah dan
larangan-larangan Allah. Bukan kemanfaatan atau kegunaan riil untuk
memenuhi kebutuhan manusia yang dihasilkan oleh sebuah ide, ajaran,
teori, atau hipotesis.
Allah SWT berfirman: “Berilah keputusan di antara mereka dengan
apa yang diturunkan Allah” (Al Maaidah : 48). Syaikh An Nabhani
menjelaskan ayat ini dalam Muqaddimah Dustur, bahwa ukuran
perbuatan adalah apa yang diturunkan oleh Allah, bukan konsekuensikonsekuesi
yang
dihasilkan dari
aktivitas-aktivitas
manusia.
Selain itu, Allah SWT telah memerintahkan untuk mengikuti apa yang
diturunkan-Nya, yaitu Syari’at Islam. Allah SWT berfirman:
“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu, dan janganlah
kamu mengikuti wali (pemimpin/sahabat/sekutu) selainnya…” (Al A’raaf
:3)
Mafhum Mukhalafah (pengertian kebalikan) dari ayat di atas
adalah, janganlah kita mengikuti apa yang tidak diturunkan Allah,
termasuk manfaat-manfaat atau kegunaan-kegunaan yang muncul
sebagai konsekuensi dari aktivitas kita, sebab semuanya bukan termasuk
apa yang diturunkan Allah. Allah SWT juga telah berfirman: “Apa yang
diberikan oleh Rasul kepadamu, maka ambillah dia. Dan apa yang
dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah dia…” (Al Hasyr : 7)
Mafhum Mukhalafah ayat ini adalah, janganlah kita mengambil
apa saja (pandangan hidup) yang tidak berasal dari Rasul, termasuk ide
Pragmatisme. Ide ini tidak berasal dari Muhammad Rasulullah saw, tetapi
dari orang-orang kafir yang berasal dari Eropa dan Ameri¬ka.
Jelas, bahwa Pragmatisme bertentangan dengan Islam. Sebab ukuran
perbuatan dalam Islam adalah perintah dan larangan Allah, bukan
23
manfaat riil suatu ide untuk memenuhi kebu¬tuhan manusia.
Namun demikian, bukan berarti Islam tidak memperhatikan
kemanfaatan. Islam terbukti telah memperhatikan aspek kemanfaatan,
seperti misalnya sabda Rasulullah saw: “Apabila anak Adam meninggal
dunia, maka terputuslah amalnya, kecuali tiga perkara; shadaqah jariyah,
ilmu yang bermanfaat, anak shaleh yang mendoakan kedua orang
tuanya.” (HSR. Muslim)
Benar, Islam memang memperhatikan kemanfaatan, tetapi
kemanfaatan yang telah dibenarkan oleh syara’, bukan kemanfaatan
secara mutlak tanpa distandarisasi lebih dulu oleh syara’. Hal ini karena
nash-nash yang berhubungan dengan manfaat tidak dapat dipahami
secara terpisah dari nash-nash lain yang menegaskan aspek halal haram.
Maka, kemanfaatan yang diperhatikan oleh Islam adalah kemanfaatan
yang
dibenarkan oleh syara’,
bukan sembar¬ang
manfaat.
Jadi, ketika dinyatakan bahwa standar perbuatan adalah syara’, dan
bukan manfaat, maka hal ini tidak berarti bahwa Islam menafikan aspek
kemanfaatan. Tetapi maknanya adalah, manfaat itu bukan standar
kebenaran untuk ide atau perbuatan manusia. Sedang kemanfaatan yang
dibenarkan Islam, yakni yang telah diukur dan ditakar dengan standar
halal haram, maka itu adalah manfaat yang yang dapat diambil oleh
manusia sesuai kehendaknya.
Dekonstruksi Pragmatisme, Suatu Kewajiban. Pragmatisme adalah
ide batil dan ide kufur yang sangat mungkar, karena ide tersebut
dibangun di atas landasan ideologi yang kufur, dihasilkan dengan metode
berpikir yang tidak tepat, serta mengandung kerancuan dan kekacauan
pada dirinya sendiri. Oleh karena itu, karena Pragmatisme adalah suatu
kemungkaran, maka seorang muslim wajib menghancurkan dan
membuang Pragmatisme dengan sekuat tenaga serta melawan siapa saja
yang hendak menyesatkan umat dengan menjajakan ide hina dan
berbahaya ini di tengah-tengah umat Islam yang sedang berjalan menuju
kepada kebangkitannya.
Sumber: Muhammad shiddiq al-jawi dalam
http://ayok.wordpress.com/2006/12/20/dekonstruksi-pragmatisme/
24
Download