(NIFAS) RSUD dr. SOEKARDJO TASIKMALAYA

advertisement
ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU NIFAS DENGAN
BENDUNGAN ASI DI RUANG VII (NIFAS)
RSUD dr. SOEKARDJO TASIKMALAYA
Laporan Tugas Akhir
Diajukan Guna Melengkapi Sebagian Syarat Mencapai
Gelar Ahli Madya Kebidanan
Oleh:
IRMA SURYANI
NIM. 13DB227065
PROGRAM STUDI D III KEBIDANAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH CIAMIS
2016
ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU NIFAS DENGAN BENDUNGAN ASI DI
RUANG VII (NIFAS) RSUD dr.SOEKARDJOKOTA TASIKMALAYA1
Irma Suryani2Anisa Nur Amalia 3Heni Heryani4
INTISARI
Salah satu masalah menyusui pada masa nifas adalah bendungan ASI
(engorgement of the breast). Dikemukakan angka kejadian bendunagan ASI
yang terjadi diberbagai dunia terjadi dihari ke-2 atau ke-3 ketika produksi ASI
meningkat. Angka kejadian bendungan ASI di RSUD dr. Soekardjo Kota
Tasikmalaya 519 jiwa, kemungkinan hal tersebut disebabkan karena kurangnya
perawatan payudara. Salah satu penyebab terjadinya bendungan ASI
disebabkan karena pengeluaran ASI yang tidak lancar dan produksi ASI yang
meningkat. Tanda gejala bendungan ASI berupapayudara bengkak, keras,
terasa panas sampai suhu badan naik, sehingga menyebabkan air susu tidak
lancar atau keluar sedikit. Pada kasus bendungan ASI yang tidak tertangani akan
terajdi peradangan pada payudara (mastitis).
Tujuan penyusunan Laporan Tugas Akhir ini untuk memperoleh
pengalaman nyata dalam melaksanakan asuhan kebidanan pada bendungan
ASI dengan menggunakan pendekatan proses manajemen kebidanan. Asuhan
kebidanan pada Bendungan ASI ini dilakukan selama 3 hari diruang VII (nifas)
RSUD dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya.
Dari hasil penyusunan Laporan Tugas Akhir ini mendapatkan gambaran
dan pengalaman nyata dalam pembuatan asuhan kebidanan pada ibu nifas
dengan bendangan ASI. Kesimpulan dari hasil pelaksanaan asuhan kebidanan
pada ibu nifas di ruang VII (nifas) RSUD dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya
dilaksankan dengan baik.
Kata Kunci
: Bendungan ASI
Kepustakaan
: 26 sumber (2006-2016)
Halaman
: i-xii, 48 Halaman, 10 Lampiran
1
Judul Penulisan Ilmiah2Mahasiswa STIKes Muhammadiyah Ciamis
3
Dosen STIKes Muhammadiyah Ciamis 4Dosen STIKes Muhammadiyah Ciamis
vii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masa nifas (postpartum/puerperium) berasal dari bahasa latin “puer”
yang berarti anak, parous artinya melahirkan atau masa sesudah melahirkan.
Masa nifas dapat diartikan sebagai masa pulih kembali, mulai dari persalinan
selesai sampai alat-alat kandungan kembali seperti prahamil. Lama pada
masa ini berkisar 6-8 minggu (Sujiyatini, dkk, 2010).
Pada permulaan masa nifas apabila bayi belum menyusu dengan baik
atau apabila kelenjar-kelenjar payudara tidak dikosongkan dengan sempurna,
akan terjadi pembendungan air susu, mammae panas serta keras pada
perabaan nyeri, puting susu bisa mendatar sehingga dapat menyukarkan
bayi untuk menyusu (Wiknjosastro, 2009). Biasanya payudara yang
mengalami bendungan ASI akan terlihat oedema, puting susu kencang, dan
ASI tidak keluar. Akibat terhadap bayi, bayi tidak puas setiap setelah
menyusu, bayi sering menangis atau bayi menolak menyusu (Setyo & Sri,
2011). Jika bendungan ASI tidak ditangani dengan baik maka akan terjadi
mastitis, peradangan payudara, abses payudara, dan akibat lebih lanjut akan
terjadi kematian (Ambarwati dkk, 2008).
Diusia lebih dari 25 tahun sepertiga wanita di Dunia (38%) didapati tidak
menyusui bayinya karena terjadi pembengkakan payudara (WHO, 2010).
Berdasarkan laporan dari data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia
tahun 2012 (SDKI, 2012), menunjukan bahwa sebanyak 27% bayi di
Indonesia mendapatkan ASI eksklusif sampai dengan 4-5 bulan. Sedangkan
Riset Kesehatan Dasar Tahun 2013 (Riskedes, 2013) mendapatkan 30,2%
bayi 0-6 bulan mendapatkan ASI saja pada 24 jam terakhir. Survei Demografi
dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2008-2009 menunjukan bahwa 55%
ibu menyusui mengalami payudara bengkak dan mastitis, kemungkinan hal
tersebut disebabkan karena kurangnya perawatan payudara selama
kehamilan.
Payudara bengkak dapat terjadi karena adanya penyempitan duktus
laktiferus pada payudara ibu dan dapat terjadi pula bila ibu memiliki kelainan
1
2
pada puting susu, misalnya puting susu datar, terbenam, dan panjang
(Manuaba, 2010).
Angka kejadian bendungan ASI sampai saat ini tidak diketauhi secara
pasti. Menurut badan penelitian dan Pengembangan Kesehatan RI pada
tahun 2006 kejadian bendungan ASI di Indonesia terbanyak terjadi pada ibuibu bekerja sebanyak 16% dari ibu menyusui (DepKes RI, 2008). Sementara
hasil Suervei Sosial Ekonomi Daerah (Suseda) Provinsi Jawa Barat yaitu 13% (1-3 kejadian dari 100 ibu menyusui) terjadi diperkotaan dan 2-13% (2-13
kejadian dari 100 ibu menyusui) terjadi dipedesaan (Badan Pusat Statistik
Provinsi Jawa Barat, 2009).
Data yang diperoleh dari Poli Laktasi RSUD dr. Soekardjo Tasikmalaya
pada bulan Januari 2015-Februari 2016 didapatkan data sebagai berikut:
Tabel 1.1 Data Kasus Bendungan ASI di RSUD dr. Soekardjo
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
Bulan
Januari
Februari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
Oktober
November
Desember
Januari
Februari
Jumlah
Masalah / Tindakan
Penyulit ASI
Bendungan ASI
Eksklusif
Breast Care
Konseling
25
1
38
3
44
5
31
4
20
6
3
10
21
6
15
7
12
8
44
12
52
1
59
3
65
31
90
41
519
138
Kasus
Baru
Lama
26
41
49
35
26
13
27
22
20
56
53
62
96
131
659
-
Sumber : Poli Laktasi RSUD dr. Soekardjo Tasikmalaya Januari 2015-Februari 2016
Penelitian yang dilakukan oleh Tania (2014) meneliti tentang bendungan
ASI di RSUD Ambarawa dengan perolehan data dari 6 bulan terakhir yaitu
bulan Desember 2013 sampai bulan Mei 2014 diperoleh hasil dari 234 ibu
yang melahirkan di RSUD Ambarawa dan didapatkan 48% ibu post partum
yang mengalami penyulit lebih banyak pada masa nifas, salah satunya
termasuk kasus bendungan ASI.
3
Pencegahan yang dapat dilakukan agar tidak terjadi komplikasi akibat
bendungan ASI maka dibutuhkan peran bidan antara lain mempersiapkan ibu
pada masa antenatal dengan melakukan pemeriksaan payudara dan
perawatan payudara, memberikan informasi tentang laktasi dan memberikan
motivasi ibu untuk menyusui pada masa nifas dan bidan harus bisa
mengatasi masalah yang sering terjadi yaitu kelainan pada bentuk puting
susu dan puting susu lecet (Perinasia, 2006).
Penanganan bendungan ASI dilakukan yang paling penting adalah
dengan mencegah terjadinya payudara bengkak, susukan bayi segera
setelah lahir, susukan bayi tanpa dijadwal, keluarkan sedikit ASI sebelum
menyusui agar payudara lebih lembek, keluarkan ASI dengan tangan atau
pompa bila produksi melebihi kebutuhan ASI, laksanakan perawatan
payudara setelah melahirkan, untuk mengurangi rasa sakit pada payudara
berikan kompres dingin dan hangat dengan handuk secara bergantian kiri
dan kanan, untuk memudahkan bayi menghisap atau menangkap puting susu
berikan kompres sebelum menyusui, untuk mengurangi bendungan di vena
dan pembuluh bening dalam payudara lakukan pengurutan yang dimulai dari
puting ke arah korpus mammae. Ibu harus rileks, pijat leher dan punggung
belakang (Rukiyah dan Yulianti, 2010).
Dalam ayat yang mulia ini Allah Ta’ala menjelaskan tentang hak
menyusui bagi seorang anak dan kewajiban seorang ibu untuk menyusuinya
serta kewajiban bagi seorang ayah untuk mencukupi kebutuhan mereka baik
mereka dalam kondisi belum bercerai atau telah bercerai. Allah Ta’ala
berfirman.
ُ َ‫َو ْال َوالِد‬
َ‫اعة‬
َ ‫ض‬
َ َّ‫ْن َكا ِملَي ِْن لِ َمنْ أَ َرادَ أَنْ ُي ِت َّم الر‬
ِ ‫ات يُرْ ضِ عْ َن أَ ْوالدَ هُنَّ َح ْولَي‬
“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun
penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan” [QS al-Baqoroh :
233].
Asi Menumbuhkan Tulang Dan Daging, Ibnu Mas’ud rodhiyallohu
anhu berkata :
َ ‫اع ِاالَّ َما اَ ْن َش َز ْال َع ْظ َم َو اَ ْن َب‬
‫ت اللَّحْ َم‬
َ ‫ض‬
َ ‫الَ َر‬
4
“Tidaklah dikatakan persusuan kecuali apa-apa yang menguatkan
tulang dan menumbuhkan daging. (HR. Abu Dawud no. 2059, dishohihkan
al-Albani. Yakni secara mauquf dengan syawahid-nya pada riwayat Ahmad,
ad-Daruquthni dan al-Baihaqi).
Pemberian ASI secara eksklusif selama 6 bulan dan dianjurkan
kurang lebih 2 tahun penuh merupakan salah satu program pemerintah,
pemberian ASI secara dini juga dapat mencegah ibu dari berbagai masalah
pada payudara seperti bendungan ASI, mastitis, dan abses. Begitu banyak
sekali firman Allah SWT yang membahas mengenai pemberian ASI salah
satunya dalam surat AL-Baqoroh ayat 233 yang bermakna bahwa Allah
menyeru kepada umatnya (para ibu) agar menyusu anak-anaknya selama 2
tahun penuh. Bahkan pemberian ASI selama 2 tahun penuh merupakan
penyempurnaan penyusuan bagi seorang muslim. Manfaat pemberian ASI
Juga terdapat dalam hadist yang dikatakan oleh ibnu mas’ud rodhiyallohu
anhu bahwa ASI dapat menguatkan tulang dan serta menumbuhkan daging.
Berdasarkan
latar
belakang
tersesbut
penulis
tertarik
untuk
mengambil kasus nifas dengan bendungan ASI sebagai Laporan Tugas Akhir
dengan judul “Asuhan Kebidanan Pada Ibu Nifas terhadap Ny. S umur 32
tahun P3A1 2 hari Post Partum dengan Bendungan ASI di Ruang VII (Nifas)
RSUD dr. Soekardjo Tasikmalaya”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas maka rumusan masalah
pada
studi kasus
ini adalah
“Bagaimana Penatalaksanaan
Asuhan
Kebidanan Pada Ibu Nifas terhadap Ny. S umur 32 tahun P3A1 2 hari Post
Partum dengan Bendungan ASI di Ruang VII (Nifas) RSUD dr. Soekardjo
Tasikmalaya?”
C. Tujuan Pengkajian
1. Tujuan Umum
Melaksanakan
asuhan
kebidanan
pada
ibu
nifas
dengan
Bendungan ASI terutama pada Ny. S umur 32 tahun P3A1 2 hari Post
Partum dengan Bendungan ASI di Ruang VII (Nifas) RSUD dr. Soekardjo
Tasikmalaya dengan menggunakan pendekatan manajemen kebidanan.
5
2. Tujuan Khusus
a. Dapat mengumpulkan data dasar dalam asuhan kebidanan pada Ny. S
umur 32 tahun P3A1 2 hari Post Partum dengan Bendungan ASI di
Ruang VII (Nifas) RSUD dr. Soekardjo Tasikmalaya.
b. Dapat menginterpretasi data dasar dalam asuhan kebidanan pada Ny.
S umur 32 tahun P3A1 2 hari Post Partum dengan Bendungan ASI di
Ruang VII (Nifas) RSUD dr. Soekardjo Tasikmalaya.
c. Dapat mengidentifikasi diagnosis/masalah potensial dan antisipasi
penanganannya pada asuhan kebidanan pada Ny. S umur 32 tahun
P3A1 2 hari Post Partum dengan Bendungan ASI di Ruang VII (Nifas)
RSUD dr. Soekardjo Tasikmalaya.
d. Dapat menetapkan tindakan segera dalam asuhan kebidanan pada
Ny. S umur 32 tahun P3A1 2 hari Post Partum dengan Bendungan ASI
di Ruang VII (Nifas) RSUD dr. Soekardjo Tasikmalaya.
e. Dapat
menyusun
rencana
asuhan
menyeluruh
dalam
asuhan
kebidanan pada Ny. S umur 32 tahun P3A1 2 hari Post Partum dengan
Bendungan ASI di Ruang VII (Nifas) RSUD dr. Soekardjo Tasikmalaya.
f. Dapat melaksanakan langsung asuhan dengan efisien dan aman
dalam asuhan kebidanan pada Ny. S umur 32 tahun P3A1 2 hari Post
Partum dengan Bendungan ASI di Ruang VII (Nifas) RSUD dr.
Soekardjo Tasikmalaya.
g. Dapat mengevaluasi hasil tindakan dalam asuhan kebidanan pada Ny.
S umur 32 tahun P3A1 2 hari Post Partum dengan Bendungan ASI di
Ruang VII (Nifas) RSUD dr. Soekardjo Tasikmalaya.
D. Manfaat Pengkajian
1. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian kasus diharapkan dapat digunakan sebagai bahan
informasi bagi perkembangan
ilmu kebidanan, khususnya dalam
memberikan asuhan kebidanan pada kasus bendungan ASI.
2. Manfaat Praktis
a.
Bagi Lahan Praktik
Sebagai acuan dalam meningkatkan mutu pelayanan asuhan
kebidanan dalam mengatasi ibu nifas dengan bendungan ASI.
6
b.
Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai bahan masukan untuk menghasilkan lulusan bidan
yang profesional dan mandiri dan juga sebagai penambahan bahan
kepustakaan yang dapat dijadikan studi banding untuk penelitian
studi kasus selanjutnya.
c.
Bagi Penulis
Dapat meningkatkan pola pikir ilmiah dalam memberikan
asuhan kebidanan pada ibu nifas patologis dan juga sebagai bahan
masukan atau informasi untuk peneliti agar mampu mengaplikasikan
seluruh teori ilmu yang telah didapat selama perkuliahan dan praktik
lapangan.
d.
Bagi Klien
Menambah pengetahuan dan wawasan klien dalam mengatasi
masalah bendungan ASI sehingga tidak ada kesulitan dalam
menyusui bayinya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Dasar Nifas
1. Definisi Masa Nifas
Masa nifas (peurperium) berasal dari kata puer artinya bayi, parous
artinya melahirkan atau masa sesudah melahirkan, yang berlangsung
selama 6 minggu (Saleha, 2009).
Masa nifas (puerperium) atau periode pasca persalinan (post partum)
ialah masa waktu antara kelahiran plasenta dan membran yang menandai
berakhirnya
periode
inpartum
sampai
menuju
kembalinya
sistem
reproduksi wanita tersebut kekondisi tidak hamil (Varney, 2007).
Masa nifas (peurperium) dimulai setelah plasenta lahir dan berakhir
ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa
nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu atau 42 hari, Masa nifas atau
post partum disebut juga peurperium yang berasal dari bahasa lain yaitu
dari kata “Puer” yang artinya bayi dan “Parous” berarti melahirkan. Nifas
yaitu darah yang keluar dari rahim karena sebab melahirkan atau setelah
melahirkan (Sari dan Rimandini, 2014).
Jadi masa nifas adalah masa setelah persalinan selesai yaitu setelah
kelahiran plasenta dan berakhir setelah 6 minggu dimana sistem
reproduksi kembali kepada keadaan sebelum hamil.
2. Tujuan asuhan Masa Nifas
Menurut Maryunani (2015), tujuan dari pemberian asuhan masa nifas
adalah sebagai berikut:
a. Menjaga kesehatan ibu dan bayinya baik fisik maupun psikologisnya.
b. Mendeteksi masalah, mengobati dan merujuk apabila terjadi komplikasi
pada ibu maupun bayinya.
c. Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri,
nutrisi, cara dan manfaat menyusui, imunisasi, serta perawatan bayi
sehari-hari.
d. Memberikan pelayanan KB
7
8
3. Periode Masa Nifas
Menurut Maryunani (2015) Masa nifas dibagi dalam 3 periode, yaitu :
a. Puerperium dini (Periode Immediate Postpartum)
Masa segera setelah plasenta lahir sampai dengan 24 jam. Masa
segera setelah plasenta lahir sampai kepulihan dimana ibu sudah
diperbolehkan mobilisasi jalan. Masa pulih/kepulihan dimana ibu telah
diperbolehkan berdiri dan berjalan-jalan.
b. Puerperium intermedial (Periode Early Postpartum 24 jam-1 minggu)
Masa kepulihan menyeluruh alat-alat genitalia yang lamanya 6-8
minggu. Peran bidan pada masa ini bidan memastiakn involusi uteri
dalam keadaan normal
tidak ada perdarahan, lochea tidak berabau
busuk, tidak demam, ibu cukup mendapakan makanan dan cairan serta
ibu dapat menyusui bayinya dengan baik.
c. Remote puerperium (Periode Late Postpartum, 1 minggu-5 minggu)
Adalah waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna
terutama bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai
komplikasi. Masa ini bisa berlangsung 3 bulan bahkan lebih.
4. Peran dan Tanggung Jawab Bidan Dalam Masa Nifas
Menurut Sari dan Rimandini (2014) bidan memiliki peranan yang
sangat penting dalam pemberian asuhan post partum. Adapun peran dan
tanggung jawab bidan dalam masa nifas antara lain:
a. Memberikan dukungan secara berkesinambungan selama masa nifas
sesuai dengan kebutuhan ibu untuk mengurangi ketegangan fisik dan
psikologis selama masa nifas.
b. Memberikan dukungan serta memantau kesehatan fisik ibu dan bayi.
c. Mendukung dan memantau kesehatan psikologis, emosi, sosial, serta
memberikan semangat kepada ibu.
d. Sebagai promotor hubungan antara ibu dan bayi serta keluarga.
e. Membantu ibu dalam menyusui bayinya dengan meningkatkan rasa
nyaman.
f. Membangun kepercayaan diri ibu dalam perannya sebagai ibu.
g. Membuat kebijakan, perencana program kesehatan yang berkaitan ibu
dan anak dan mampu melakukan kegiatan administrasi.
h. Mendeteksi komplikasi dan perlunya rujukan.
9
i. Memberikan konseling untuk ibu dan keluarganya mengenai cara
mencegah perdarahan, mengenali tanda-tanda bahaya, menjaga gizi
yang baik, serta mempraktekan kebersihan yang aman.
j. Melakukan manajemen asuhan dengan cara mengumpulkan data,
menetapkan diagnosa, dan rencana tindakan serta melaksanakannya
untuk mempercepat proses pemulihan, mencegah komplikasi dengan
memenuhi kebutuhan ibu dan bayi selama periode nifas.
k. Memberikan asuhan secara profesional.
5. Kebijakan Program Nasional Masa Nifas
Kebijakan Program Nasional Masa Nifas yaitu paling sedikit 4 kali
kunjungan masa nifas, dilakukan untuk menilai status ibu dan BBL juga
untuk mencegah, mendeteksi dan menangani masalah-masalah yang
terjadi dalam masa nifas (Martalia, 2012).
6. Kunjungan Masa Nifas
Menurut Sarwono (2010) kunjungan yang bertujuan untuk menilai
status ibu dan bayi baru lahir juga untuk mencegah, mendeteksi serta
menangani masalah-masalah yang terjadi maka Asuhan Kunjungan Masa
Nifas Normal adalah sebagai berikut.
Tabel .1.2 Asuhan Kunjungan masa nifas
Kunjungan
Waktu
Asuhan
I
2-6Jam
Post
Partum
II
2-6 Hari
Post
Partum
1. Mencegah perdarahan masa nifas karena
atonia uteri.
2. Pemantauan keadaan umum ibu.
3. Melakukan hubungan antara bayi dan ibu.
4. Pemberian ASI awal.
1. Memastikan involusi uterus berjalan normal,
uterus berkontraksi, fundus dibawah umbilicus
dan tidak ada tanda-tanda perdarahan
abnormal.
2. Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi
dan perdarahan abnormal.
3. Memastikan ibu mendapatkan cukup makana,
cairan, dan istirahat.
4. Memastikan ibu menyusui dengan baik dan
tidak memperlihatkan tanda-tanda penyulit.
5. Konseling mengenai asuahan pada bayi.
10
III
2 Minggu
Post
Partum
6 Minggu
Post
Partum
IV
Asuhan pada 2 minggu postpartum sama
dengan asuhan yang diberikan pada
kunjungan 6 hari post partum.
1. Menanyakan pada ibu tentang penyulit-penyulit
yang ia alami.
2. Memberikan konseling untuk KB secara dini,
imunisasi, senam nifas, dan tanda-tanda
bahaya yang dialami oleh ibu dan bayi.
Sumber : Prawihardjo, 2010
7. Proses Nifas
Uterus berangsur- angsur menjadi kecil sehingga akhirnya kembali seperti
sebelum hamil.
a. Involusi TFU Berat Uterus
Tabel 1.3 proses involusi uterus
Involusi
Tinggi Fundus
Berat Uterus
Plasenta lahir
Sepusat
1000 gram
7 hari (1 minggu)
Pertengahan pusat-simfisis
500 gram
14 hari (2 minggu)
Tak teraba
350 gram
42 hari (6 minggu)
Tak teraba
50 gram
56 hari (8 minggu)
Normal
30 gram
Sumber : (Manuaba, 2007)
b. Plasental bed mengecil karena kontraksi dan menonjol ke kavum uteri
dengan diameter 7,5 cm, minggu ke-3 menjadi 3,5 cm, minggu ke-6
menjadi 2,4 cm dan akhirnya pulih. Luka-luka pada jalan lahir apabila
tidak disertai infeksi akan sembuh dalam 6-7 hari. Lochea adalah cairan
yang berasal dari kavum uteri dan vagina pada masa nifas. Ada
beberapa macam lochea yaitu :
1)
Lochea rubra cruenta): berisi darah segar dan sisa- sisa selaput
ketuban, sel-sel desidua, vernik caseosa, lanugo dan mekonium,
selama dua hari pasca persalinan.
2)
Lochea sanguinolenta: berwarna merah kuning berisi darah dan
lendir, hari ke-3 sampai ke-7 pasca persalinan.
3)
Lochea serosa: berwarna kuning, cairan tidak berubah lagi, pada
hari ke-7 sampai ke-14 pasca persalinan.
4)
Lochea alba: cairan putih setelah 2 minggu.
11
5)
Lochea purulenta: terjadi infeksi, keluar cairan seperti nanah dan
berbau busuk.
6)
Lochiostasis: lochea tidak lancar keluarnya.
c. Setelah persalinan bentuk servik agak mengganggu seperti corong
berwarana merah kehitaman, konsistensinya lunak, kadang-kadang
terdapat perlukaan kecil.
d. Ligamen, fasia dan diafragma pelvis yang meregang pada waktu
persalinan, setelah bayi lahir secara berangsur- angsur menjadi ciut dan
pulih kembali sehingga tidak jarang uterus jatuh kebelakang dan
menjadi retrofleksi karena ligamentum rotundum menjadi kendor.
8. Penanganan Masa Nifas
a. Mobilisasi: setelah persalinan ibu harus beristirahat, tidur terlentang,
kemudian boleh miring-miring ke kanan dan ke kiri untuk mencegah
terjadinya trombosis dan tromboemboli. Pada hari kedua diperbolehkan
duduk, hari ketiga
jalan-jalan, dan hari keempat/kelima
sudah
diperbolehkan pulang.
b. Makanan harus bermutu, bergizi, dan cukup kalori. Sebaiknya makan
makanan yang mengandung protein, banyak cairan, sayur-sayuran dan
buah-buahan.
c. Hendaknya kencing dapat dilakukan sendiri secepatnya. Kadangkadang wanita mengalami sulit kencing, karena sfingter uretra ditekan
oleh kepala janin dan spasme oleh iritasi musculus sfingter ani selama
persalinan, juga oleh karena adanya edema kandung kemih yang terjadi
selama persalinan.
d. Perawatan payudara telah dimulai sejak wanita hamil supaya puting
susu lemas, tidak keras, dan kering sebagai persiapan untuk menyusui
bayinya.
e. Untuk menghadapi masa laktasi sejak dari kehamilan telah terjadi
perubahan-perubahan pada kelenjar mammae yaitu:
1)
Proliferasi kelenjar- kelenjar, alveoli dan jaringan lemak bertambah.
2)
Keluaran cairan susu jolong dari duktus laktiferus disebut colostrum
berwarna kuning-putih susu.
3)
Hipervaskularisasi pada permukaan dan bagian dalam, dimana
vena-vena berdilatasi sehingga tampak jelas.
12
4)
Setelah persalinan, pengaruh supresi estrogen dan progesteron
hilang. Maka timbul pengaruh hormon laktogenik (LH) atau prolaktin
yang akan merangsang air susu. Disamping itu, pengaruh oksitosin
menyebabkan mio-epitel kelenjar susu berkontraksi sehingga air
susu keluar. Produksi akan banyak sesudah 2-3 hari pasca
persalinan.
9. Tanda bahaya masa nifas
Menurut Maryunani (2015), ada beberapa tanda bahaya yang harus
diperhatikan oleh bidan/tenaga kesehatan atau ibu sendiri,yaitu :
a. Demam (>37,50C). Menurut teori Sari dan Rimandini (2014), 24 jam
postpartum, suhu badan akan naik sedikit (37,5 0C-380C) sebagai akibat
kerja keras sewaktu melahirkan, kehilangan cairan, dan kelelahan.
Apabila keadaan normal, suhu badan menjadi biasa yaitu 36,5- 37,50C.
b. Perdarahan aktif dari jalan lahir. Dalam hal ini, perdarahan pervagina
yang luar biasa atau tiba-tiba bertambah bnyak sekitar 500 cc atau lebih
dari traktus genetaliasetelah melahirkan.
c. Bekuan darah yang banyak.
d. Muntah.
e. Rasa sakit waktu Buang Air Kecil/berkemih.
f. Pusing atau sakit kepala yang terus menerus atau masalah penglihatan.
g. Lochea berbau, yakni pengeluaran dari vagina yang baunya menusuk.
h. Sakit perut yang yang hebat/rasa sakit dibagian bawah abdomen atau
punggung dan nyeri ulu hati.
i. Merasa sangat letih atau nafas terengah-engah.
j. Merasa sangat sedih atau tidak mampu mengasuh sendiri bayinya atau
diri sendiri.
k. Pembengkakan
1)
Pembengkakan di wajah dan di tangan
2)
Rasa sakit, merah dan bengkak di kaki.
l. Kehilangan nafsu makan dalam waktu yang lama.
m. Sulit dalam menyusui atau payudara yang berubah menjadi merah
panas dan terasa sakit.
13
B. Bendungan ASI
1. Definisi
Bendungan Air Susu Ibu adalah terjadinya pembengkakan pada
payudara
karena
peningkatan
aliran
vena
dan
limfe
sehingga
menyebabkan bendungan ASI dan rasa nyeri di sertai kenaikan suhu
badan (Maryunani, 2015).
Bendungan ASI dikarenakan penyempitan duktus laktiferus atau oleh
kelenjar-kelenjar yang tidak dikosongkan dengan sempurna atau karena
kelainan pada puting susu (Maryunani, 2015).
Bendungan air susu dapat terjadi pada hari ke-2 atau ke-3 ketika
payudara telah memproduksi air susu. Bendungan disebabkan oleh
pengeluaran air susu yang tidak lancar, karena bayi tidak cukup sering
menyusui, produksi meningkat, terlambat menyusukan, hubungan dengan
bayi yang kurang baik, dan dapat pula terjadi akibat pembatasan waktu
menyusui (Prawirohardjo, 2011).
2. Anatomi Payudara
Payudara (mammae, susu) adalah kelenjar yang terletak dibawah kulit,
diatas otot dada, dan fungsinya memproduksi susu untuk nutrisi bayi.
Manusia mempunyai sepasang kelenjar payudara, dengan berat kira-kira
200 gram, yang kiri umumnya lebih besar dari yang kanan. Pada waktu
hamil, payudara membesar mencapai 600 gram dan pada waktu menyusui
bisa mencapai 800 gram (Maryunani, 2015).
Payudara disebut pula galndula mamalia yang ada baik pada wanita
maupun pria. Pada pria secara normal tidak berkembang kecuali jika
dirangsang oleh hormon. Pada wanita tetap berkembang setiap pubertas
sedangkan hamil dan berkembang terutama berkembang pada saat
menyusui (Sari dan Rimandini, 2014).
Ukuran payudara berbeda untuk setiap individu, juga bergantung pada
stadium perkembangan dan umur. Tidak jarang salah satu payudara
ukurannya agak lebih besar daripada payudara yang lain (Sari dan
Rimandini, 2014).
14
Gambar 2.1 Anatomi Payudara
Sumber : Maryunani (2015)
3. Bagian Utama Payudara
Menurut Maryunani (2015), Ada tiga bagian utama payuadara yaitu :
a. Korpus (badan) yaitu bagian yang membesar.
b. Areola yaitu bagian yang menghitam di tengah. Bagian ini terdiri dari
kulit yang longgar dan mengalami pigmentasi dan masing-masing
payudara bergaris tengah kira-kira 2,5 cm. Areola ini berwarna merah
muda pada wanita pada wanita yang berkulit cerah, lebih gelap pada
wanita yang berkulit coklat dan warna tersebut menjadi lebih gelap pada
waktu hamil. Didaerah areola ini terletak kira-kira glandula sebecea.
Pada kehamilan areola ini membesar dan disebut
tuberculum
montgomery.
c. Papilla, atau puting, yaitu bagian yang menonjol di puncak payudara,
dengan panjang kira-kira 6 mm, tersusun atas jaringan erektil berpigmen
dan merupakan bangunan yang sangat peka. Permukaan papila mamae
berlubang-lubang berupa ostium papilare kecil-kecil yang merupakan
muara ductus lactifer ini dilapisi oleh epitel. Bentuk puting ada empat
yaitu: normal, pendek/datar, panjang dan terbenam (inverted).
15
Gambar 2.2 : Bentuk putting
Sumber :Maryunani (2015)
4. Proses Laktasi dan Menyusui
Laktasi atau menyusui mempunyai dua pengertian, yaitu produksi dan
pengeluara ASI. Payudara mulai dibentuk sejak embrio berumur 18-19
minggu, dan baru selesai ketika mulai menstruasi dengan terbentuknya
hormon estrogen dan progesteron yang berfungsi maturasi alveoli,
sedangkan hormon prolaktin adalah hormon yang yang berfungsi untuk
memproduksi ASI. Selama masa kehamilan hormon ptolaktin dari placenta
meningkat, tetapi ASI biasanya belum keluar karena masih dihambat oleh
kadar estrogen yang tinggi (Maryunani, 2015).
Pada hari kedua atau ketiga pasca persalinan kadar estrogen dan
progesterone turun drastis, sehingga pengaruh hormon prolaktin lebih
dominan pada saat inilah terjadi sekresi ASI. Dengan menyusukan lebih
dini, terjadi perangsangan puting susu, terbentuklah prolaktin dan hipofisis,
sehingga sekresi ASI lebih lancar (Maryunani, 2015).
Dua refleks penting dalam proses laktasi, yaitu:
a. Reflek Prolaktin
Dalam puting susu terdapat banyak ujung syaraf sensoris, bila ini
dirangsang timbul impuls yang menuju hipotalamus selanjutnya ke
kelenjar hipofisis bagian depan sehingga kelenjar ini mengeluarkan
hormon prolaktin, hormon inilah yang berperan dalam produksi ASI.
16
b. Reflek aliran (let down refkes)
Rangsangan puting susu tidak hanya diteruskan sampai ke kelenjar
hipofisis depan, tetapi juga ke kelenjar hipofisis bagian belakang yang
mengeluarkan hormon oksitosin, hormon ini berfungsi memacu kontraksi
otot polos yang ada di dinding alveolus dan dinding saluran, sehingga
ASI dipompa keluar. Makin sering menyusui pengosongan alveolus dan
saluran makin baik sehingga kemungkinan terjadinya bendungan air
susu makin kecil.
Tiga refleks refleks penting dalam mekanisme hisapan bayi, yaitu:
a. Reflek Menangkap (Rooting Reflex)
Refleks ini timbul bila bayi tersentuh pipinya, bayi akan menoleh ke
arah sentuhan, bila bayi bibirnya dirangsang dengan papilla mammae,
maka bati akan membuka mulutnya dan berusaha untuk menangkap
puting susu.
b. Reflek Menghisap (Sucking Reflex)
Refleks ini timbul apabila langit-langit mulut bayi tersentuh,
biasanya oleh puting. Supaya puting mencapai bagian belakang
palatum, maka sebagian besar areola harus tertangkap mulut bayi.
c. Refleks menelan (Swallowing Reflex)
Bila mulut bayi sudah terisi ASI, ia akan menelannya.
5. Faktor-faktor penyebab Bendungan ASI
Menurut Rukiyah dan Yulianti (2010), beberapa faktor yang dapat
menyebabkan bendungan ASI, yaitu:
a. Pengosongan mamae yang tidak sempurna (Dalam masa laktasi, terjadi
peningkatan produksi ASI pada Ibu yang produksi ASI-nya berlebihan.
apabila bayi sudah kenyang dan selesai menyusu, & payudara tidak
dikosongkan, maka masih terdapat sisa ASI didalam payudara. Sisa ASI
tersebut jika tidak dikeluarkan dapat menimbulkan bendungan ASI).
b. Faktor hisapan bayi yang tidak aktif (Pada masa laktasi, bila Ibu tidak
menyusukan bayinya sesering mungkin atau jika bayi tidak aktif
mengisap, maka akan menimbulkan bendungan ASI).
c. Faktor posisi menyusui bayi yang tidak benar (Teknik yang salah dalam
menyusui dapat mengakibatkan puting susu menjadi lecet dan
17
menimbulkan rasa nyeri pada saat bayi menyusu. Akibatnya Ibu tidak
mau menyusui bayinya dan terjadi bendungan ASI).
d. Puting susu terbenam (Puting susu yang terbenam akan menyulitkan
bayi dalam menyusu. Karena bayi tidak dapat menghisap puting dan
areola, bayi tidak mau menyusu dan akibatnya terjadi bendungan ASI).
e. Puting susu terlalu panjang (Puting susu yang panjang menimbulkan
kesulitan pada saat bayi menyusu karena bayi tidak dapat menghisap
areola dan merangsang sinus laktiferus untuk mengeluarkan ASI.
Akibatnya ASI tertahan dan menimbulkan bendungan ASI).
f. Pengeluaran ASI (Bendungan juga dapat terjadi pada ibu yang ASI nya
tidak keluar sama sekali (agalaksia), ASI sedikit (oligolaksia) dan ASI
terlalu banyak (poligalaksia) tapi tidak dikeluarkan/disusukan.
6. Tanda dan Gejala Bendungan ASI
Mammae panas serta keras pada perabaan dan nyeri, puting susu
bisa mendatar sehingga bayi sulit menyusu. Pengeluaran susu kadang
terhalang oleh duktuli laktiferi menyempit. Payudara bengkak, keras,
panas, nyeri bila ditekan, warnanya kemerahan, suhu tubuh sampai 38 0C.
(Rukiyah dan Yulianti, 2010).
Bendungan air susu ibu ditandai dengan payudara bengkak, keras,
terasa panas sampai suhu badan sedikit naik. Sehingga menyebabkan air
susu tidak lancar atau keluar sedikit. Bendungan ASI merupakan
permulaan kemungkinan infeksi payudara atau mastitis. Apabila masih
terjadi akan menimbulkan demam, nyeri lokal pada payudara, terjadi
pemadatan dan terjadi pemadatan perubahan warna pada payudara
(Laksono,2010).
7. Penanganan Bendungan ASI
Penanganan yang dilakukan yang paling penting adalah dengan
mencegah terjadinya payudara bengkak dengan cara :
a. Susukan bayi segera setelah lahir
b. Susukan bayi tanpa di jadwal
c. Keluarkan sedikit ASI sebelum menysusui agar payudara lebih lembek
d. Keluarkan ASI dengan tangan atau pompa bila produksi ASI melebihi
ASI.
18
e. Untuk mengurangi rasa sakit pada payudara berikan kompres dingin
dan hangat dengan handuk secara bergantian kiri dan kanan.
f. Untuk memudahkan bayi menghisap atau menangkap puting susu
berikan kompres sebelum menyusui.
g. Untuk mengurangi bendungan di vena dan pembuluh getah bening
dalam payudara lakukan pengurutan yang di mulai dari puting ke arah
korpus mammae, ibu harus rileks, pijat leher dan punggung belakang
(Rukiyah dan Yulianti, 2010).
8. Penatalaksanaan Bendungan ASI
Penatalaksanaan Kasus pada ibu nifas dengan bendungan ASI adalah:
a. Cara menyusui yang baik dan benar
Menurut Maryunani (2015), cara menyusui yang baik dan benar
adalah sebagai berikut:
1)
Sebelum menyusui, keluarkan sedikit ASI untuk mengolesi puting
ibu agar bayi mencium aromanya dan lebih berselera menyusu.
2)
Susui bayi setiap kali ia menginginkannya dan selama yang ia
mau.
3)
Saat menyusui, letakan bayi dalam pangkuan sedemikian rupa
hingga wajah dan tubuhnya menghadap ke payudara ibu.
Posisinya harus lurus searah dari telinga, hidung, dan badannya.
Dagunya menempel di payudara ibu.
4)
Duduklah dalam posisi yang nyaman dan tegak, jangan
membungkuk, kalau perlu sangga tubuh bayi dengan bantal. Ibu
yang baru saja menjalani persalinan dengan operasi sesar tak
perlu khawatir karena posisi bayi berada di atas perut.
5)
Jika paudara menyusu pada payudra kiri, letakkan kepalanya di
siku lengan kiri ibu. Lengan kiri bayi bebas ke arah payudara.
Begitu pula sebalikya.
6)
Topanglah payudara dengan meletakan ibu jari tangan ibu diatas
puting dan keempat jari menyangga payudara.
7)
Usai menyusui, bayi akan melepaskan isapannya. Kalau tidak
lepaskan puting dengan memasukan jari kelingking ibu ke mulut
bayi melalui sudut mulut atau tekan dagu bayi agar bibir
bawahnya terbuka. Jangan langsung menarik puting terlalu kuat
19
selagi masih berada
didalam mulut bayi karena akan
membuatnya lecet.
8)
Bila puting lecet, lakukan kompres dingin di payudara dan
tetaplah menyusui bayi. Usai menyusui, usapkan tetesan ASI
untuk pelumasan dan pelindungan. Jika menggunakan obat
dokter, seka puting dengan air atau waslap basah yang lembut
setiap kali akan menyusui.
Gambar 2.3 tekhnik menyusui yang baik dan benar
Sumber: Maryunani (2015)
b. Menurut Prawirohardjo
(2010),
yang
mengatakan
berikan
parasetamol 500 mg per oral bagi ibu yang menyusui maupun tidak
menyusui. Informasi Spesialite Obat Indonesia (2016), paracetamol
500 mg tablet, indikasi : anti nyeri dan penurun panas, dosis : 3-4 kali
sehari 1-2 tablet/kapsul atau sesuai petunjuk dokter
c. Perawatan Payudara
Menurut Wahyuni dan Purwoastuti (2015), perawatan payudara
adalah suatu tindakan untuk merawat payudara terutama pada masa
nifas (masa menyusui) untuk memperlancar ASI. Perawatan
payudara adalah perawatan payudara setelah melahirkan dan
menyusui yang merupakan suatu cara yang dilakuakan untuk
merawat payudara agar air susu keluar dengan lancar. Perawatan
payudara sangat penting dilakuakan selama hamil sampai masa
20
menyusui. Hal ini dikarenakan payudara merupakan satu-satu
penghasil ASI yang merupakan makanan pokok bayi yang baru lahir
sehingga harus dilakukan sedini mungkin. Perawatan payudara
pasca persalinan merupakan kelanjutan perawatan payudara semasa
hamil, yang mempunyai tujuan sebagai berikut:
1)
Untuk menjaga kebersihan payudara sehingga terhindar dari
infeksi.
2)
Untuk mengenyalkan puting susu, supaya tidak mudah lecet.
3)
Untuk menonjolkan puting susu yang terbenam.
4)
Menjaga bentuk buah dada tetap bagus.
5)
Untuk mencegah terjadinya penyumbatan.
6)
Untuk memperbanyak produksi ASI.
7)
Untuk mengetahui adanya kelainan.
Pelaksanaan perawatan payudara pasca persalinan dimulai
sedini mungkin yaitu 1-2 hari sesudah bayi dilahirkan. Hal itu
dilakukan 2 kali sehari (Wahyuni dan Purwoastuti, 2015)
Langkah-langkah perawatan payudara yaitu:
1)
Persiapan Alat
a)
Baby oil secukupnya.
b)
Kapas secukupnya.
c)
Waslap 2 buah.
d)
Handuk bersih 2 buah.
e)
Bengkok.
f)
Dua baskom berisi air (hangat dan dingin).
g)
BH yang bersih dan terbuat dari katun untuk menyokong
payudara.
2)
Persiapan ibu
Cuci tangan dengan sabun dibawah air mengalir dan
keringkan dengan handuk.
a)
Baju ibu dibuka.
b)
Letakkan
handuk
diatas
pangkuan ibu
dan
tutuplah
payudara dengan handuk, buka handuk pada daerah
payudara.
21
3)
Pelaksanaan perawatan payudara
a)
Puting susu dikompres dengan menggunakan kapas minyak
selama 3-4 menit, kemudian bersihkan dengan kapas
minyak tadi.
b)
Pengenyalan yaitu puting susu dipegang dengan ibu jari,
dan jari telunjuk diputar kedalam dengan kapas minyak tadi.
c)
Penonjolan puting susu yaitu:
(1) Puting susu cukup di tarik sebanyak 20 kali.
(2) Dirangsang dengan menggunakan ujung waslap.
(3) Memakai pompa puting susu.
d)
Pengurutan payudara:
(1) Telapak tangan petugas diberi baby oil kemudian
diratakan.
(2) Sokong payudara kiri dengan tangan kiri, lakukan
gerakan kecil dengan dua atau tiga jari dengan tangan
kanan, mulai dari pangkal payudara berakhir dengan
gerakan spiral pada daerah puting susu.
(3) Buatlah gerakan memutar sambil menekan dari pangkal
payudara dan berakhir pada puting susu diseluruh
bagian payudara (lakukan gerakan seperti ini pada
payudara kanan).
(4) Kedua telapak tangan diantara kedua payudara, urutlah
dari atas sambil mengangkat kedua payudara dan
lepaskan keduanya perlahan. Lakukan gerakan ini
kurang lebih 30 kali.
(5) Sangga payudara dengan satu tangan, sedangkan
tangan
lainnya
mengurut
payudara
dengan
sisi
kelingking dari arah pangkal payudara ke arah puting
susu. Lakuakan gerakan ini sekitar 30 kali.
(6) Merangsang payudara dengan air hangat dan dingin
secara bergantian.
(7) Setelah itu usahakan menggunakan BH yang longgar
atau khusus, yang dapat menopang payudara.
22
Gambar 2.4 cara perawatan payudara
Sumber: Maryunani (2010)
C. ASI Eksklusif
1. Definisi
Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2012 tentang
pemberian ASI Eksklusif, ASI adalah cairan hasil sekresi kelenjar payudara
ibu.
ASI adalah makanan dan minuman terbaik dan paling ideal untuk bayi
dalam masa 6 bulan pertama kehidupan, ASI eksklusif merupakan
pemberian ASI saja selama 6 bulan pada bayi tanpa diberikan tambahan
makanan apapun (Maryunani, 2015).
Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2012 tentang
pemberian ASI Eksklusif, ASI Eksklusif adalah ASI yang diberikan kepada
Bayi sejak dilahirkan sampai bayi berusia 6 bulan, tanpa tambahan
makanan atau minuman lain.
Menurut Undang-Undang Kesehatan No. 36 Tahun 2009 pasal 128.
Setiap bayi berhak mendapatkan air susu ibu eksklusif sejak dilahirkan
23
selama enam bulan, kecuali atas indikasi medis. Artinya Setiap bayi berhak
mendapatkan air susu ibu eksklusif adalah memberikan seorang anak
hanya ASI untuk jangka waktu minimum 6 bulan, dengan kemungkinan
untuk melanjutkan hingga usia 2 tahun bersama-sama dengan makanan
pendamping. Apa yang dimaksud “indikasi medis” adalah ketika seorang
profesional dalam bidang kesehatan mengindikasikan bahwa seorang ibu
sedang berada dalam keadaan yang tidak cukup sehat untuk memberikan
air susu.
2. Komposisi ASI
Komposisi ASI berhubungan dengan jumlah sekresi, tahap laktasi,
serta perbedaan perorangan seperti umur, jumlah anak, tingkat kesehatan,
dan tingkat sosial. Lama anak dalam kandungan ternyata juga berpengaruh
terhadap komposisi ini. Komposisi gizi ASI dapat dilihat pada tabel.
Tabel 1.3 Komposisi Gizi ASI (Per liter)
Zat Gizi
Jumlah
Zat Gizi
Energi (kkal)
680,00
Mineral
Protein (g)
10,50
Kalsium (mg)
280,00
Lemak (g)
39,00
Fosfor (mg)
140,00
Laktosa (g)
72,00
Natrium (mg)
180,00
Kalium (mg)
525,00
Vitamin
Jumlah
Vitamin A (RE)
670,00
Klor (mg)
420,00
Vitamin D (µg)
0,55
Magnesium (mg)
35,00
Vitamin E (mg)
2,30
Besi (mg)
0,30
Vitamin K (µg)
2,10
Yodium (µg)
110,00
Tiamin (mg)
0,21
Mangan (µg)
6,00
Riboflavin (mg)
0,35
Kuprum (mg)
0,25
Niasin (mg)
1,50
Seng (mg)
1,20
Piridoksin (µg)
93,00
Selenium (µg)
20,00
Asam folat (µg)
85,00
Flour (mg)
16,00
Kobalamin (µg)
0,97
Krom (µg)
50,00
Asam Askorbat (mg)
40,00
Sumber : Almatsier, Soetardjo, Soekatri (2009)
24
3. Manfaat Pemberian ASI
Menurut Saleha (2009), berikut adalah manfaat yang didapatkan dari
pemberian ASI bagi bayi, ibu, keluarga, dan negara.
a. Bagi Bayi
1) Komposisi sesuai kebutuhan.
2) Kalori dari ASI memenuhi kebutuhan bayi sampai usia 6 bulan.
3) Perkembangan psikomotorik lebih cepat.
4) ASI mempunyai zat pelindung.
5) Menunjang perkembangan kognitif.
6) Menunjang perkembangan penglihatan.
7) Memperkuat ikatan batin antara ibu dan anak.
8) Dasar untuk perkembangan emosi yang hangat.
9) Dasar untuk perkembangan kepribadian yanng percaya diri.
b. Bagi ibu
1) Mempercepat
proses
pemulihan
rahim
keukuran
sebelum
melahirkan. Isapan bayi pada saat menyusu akan mendorong otot
rahim untuk tetap berkontraksi.
2) Proses kontraksi ini akan mencegah terjadinya pendarahan setelah
melahirkan.
3) Mengurangi terjadinya kanker paayudara dikemudian hari.
4) Dapat digunakan sebagai metode kontrasepsi alamiah karena pada
ibu yang menyusui secara eksklusif, ASI menekan kesuburan.
5) Menghemat
tidak
mengeluarkan
biaya
serta
mudah
mendapatkannya.
6) Mempunyai keuntungan psikologis, karena menimbulkan rasa
bangga dan diperlukan.
c. Bagi Keluarga
1) Mudah dalam poses pemberiannya.
2) Mengurangi biaya rumah tangga.
3) Bayi yang mendapat ASI jarang sakit, sehingga dapat menghemat
biaya untuk berobat.
4) Cukup istirahat pada malam hari dan tidak banyak yang harus
dipersiapkan.
25
d. Bagi Negara
1) Penghematan untuk subsidi anak sakit dan pemakaian obat-obatan.
2) Penghematan devisa dalam hal pembelian susu formula dan
perlengkapan menyusui.
3) Mengurangi polusi.
4) Mendapatkan sumber daya manusia (SDM) masa dengan yang
berkualitas.
D. Teori Manajemen Kebidanan
1. Pengertian Manajemen Kebidanan
Manajemen kebidanan adalah pendekatan yanng digunakan oleh
bidan dalam menerapkan metode pemecahan masalah secara sistematis,
mulai dari pengkajian, analisa data, diagnosa kebidanan, perencaraan,
pelaksanaan dan evaluasi (Wahyuni dan Purwoastuti, 2015),
Manajemen kebidanan diadaptasi dari sebuah konsep yang
dikembangkan oleh Helen Varney dalam buku Varney’s Midwifery, edisi
ketiga tahun 1997, menggambarkan proses manajemen asuhan kebidanan
yang terdiri dari tujuh langkah yang berurut secara sistematis dan siklik
(Soepardan, 2008).
2. Langkah Dalam Manajemen Kebidanan
Manajemen kebidanan terdiri dari beberapa langkah yang berurutan
yang dimulai dengan pengumpulan data dasar dan diakhiri dengan
evaluasi. Setiap langkah dalam manajemen kebidanan akan dijabarkan,
sebagai berikut:
a. Langkah I: Pengumpulan Data Dasar
b. Langkah pertama dikumpulkan semua informasi (data) yang akurat dan
lengkap dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi klien. Untuk
memperoleh data dilakukan dengan cara:
1)
Anamnenis
Anamnesis
dilakukan
untuk
mendapatkan
biodata,
riwayat
menstruasi, riwayat kesehatan, riwayat kehamilan, persalinan dan
nifas, spiritual, serta pengetahuan klien.
2)
Pemeriksaan fisik sesuai dengan kebutuhan dan pemeriksaan
tanda-tanda vital, meliputi:
26
a)
Pemeriksaan
khusus
(inspeksi,
palpasi,
auskultasi,
dan
perkusi).
b)
Pemeriksaan penunjang (laboratorium dan catatan terbaru
serta catatan sebelumnya).
c. Langkah II: Interpretasi Data Dasar
Langkah
kedua dilakukan identifikasi terhadap diagnosis atau
masalah berdasarkan interpretasi yang benar atas data-data yang telah
dikumpulkan. Data dasar tersebut kemudian diinterpretasikan sehingga
dirumuskan diagnosis dan masalah yang spesifik.
d. Langkah III: Identifikasi Diagnosis/Masalah Potensial dan Antisipasi
Penanganannya
Langkah ketiga mengidentifikasi masalah potensial atau diagnosis
potensial berdasarkan diagnosis/masalah yang sudah diidentifikasi.
Langkah ini membutuhkan antisipasi, bila memungkinkan dilakukan
pencegahan. Bidan diharapkan dapat waspada dan bersiap-siap
mencegah diagnosis/masalah potensial ini menjadi kenyataan. Langkah
ini penting sekali dalam melakukan asuhan yang aman.
e. Langkah IV: Menetapkan Perlunya Konsultasi dan Kolaborasi segera
dengan Tenaga Kesehatan Lain.
Bidan mengidentifikasi perlunya bidan atau dokter melakukan
konsultasi atau penanganan segera bersama anggota tim kesehatan
lain sesuai dengan kondisi klien.
f. Langkah ke empat mencerminkan kesinambungan proses menejemen
kebidanan.
Jadi menejemen tidak hanya langsung selama asuhan primer
priodik atau kunjungan prenatal saja, tetapi selama wanita tersebut
dalam dampingan bidan. Misalnya, pada waktu wanita tersebut dalam
persalinan. Dalam kondisi tertentu, seorang bidan mungkin juga perlu
melakukan konsultasi atau kolaborasi dengan dokter atau tim kesehatan
lain seperti pekerjaan sosial, ahli gizi, atau seorang ahli perawatan klinis
bayi baru lahir. Dalam hal ini, bidan harus mampu mengevaluasi kondisi
setiap klien untuk menentukan kepada siapa sebaiknya konsultasi dan
kolaborasi dilakukan.
27
g. Langkah V: Menyusun Rencana Asuhan Menyeluruh
Pada langkah kelima direncanakan asuhan menyeluruh yang
ditentukan berdasarkan langkah-langkah sebelumnya. Langkah ini
merupakan kelanjutan manajemen untuk masalah atau diagonis yang
telah diidentifikasi atau diantisipasi. Pada langkah ini informasi data
yang tidak lengkap dapat dilengkapi. Rencana asuhan yang menyeluruh
tidak hanya meliputi segala hal yang sudah teridentifikasi dari kondisi
klien atau dari setiap masalah yang terkait, tetapi juga dari kerangka
pedoman antisipasi untuk klien tersebut. Pedoman antipasi ini
mencangkup setiap hal berkaitan dengan semua aspek asuhan
kesehatan dan sudah disetujui oleh kedua belah pihak, yaitu bidan dan
klien, agar bisa dilaksanakan secara efektif. Semua keputusan yang
telah disepakati dikembangkan dalam asuhan menyeluruh. Asuhan ini
harus bersifat rasional dan valid yang dilaksanakan pada pengetahuan,
teori terkini (up to date), dan sesuai dengan asumsi dengan apa yang
akan dilakukan klien.
h. Langkah VI: Pelaksanaan Langsung Asuhan dengan Efisien dan Aman
Pada langkah ke enam, rencana asuhan menyeluruh dilakukan
dengan efisien dan aman. Pelaksanaan ini bisa dilakukan oleh bidan
atau sebagian dikerjakan oleh klien atau anggota tim kesehatan lainnya.
Walau bidan tidak melakukan sendiri, namun ini tetap tanggung jawab
untuk mengarahkan pelaksanaannya (misalnya dengan memastikan
bahwa langkah tersebut benar-benar terlaksana).
Dalam situasi ketika bidan berkolaborasi dengan dokter untuk
menangani klien yang mengalami komplikasi, bidan tetap bertanggung
jawab terhadap terlaksananya rencana bersama yang menyeluruh
tersebut.
Penatalaksanaan
yang
efesien
dan
berkualitas
akan
berpengaruh pada waktu serta biaya.
i. Langkah VII Evaluasi
Evaluasi dilakukan secara siklus dan dengan mengkaji ulang
aspek asuhan yang tidak efektif untuk mengetahui faktor nama yang
menguntungkan atau menghambat keberhasilan asuhan yang diberikan.
Pada langkah terakhir, dilakukan evaluasi keefektifan asuhan yang
sudah diberikan. Ini meliputi pemenuhan kebutuhan akan bantuan:
28
apakah benar-benar terpenuhi sebagai mana diidentifikasi didalam
diagnosis dan masalah. Rencana tersebut dapat dianggap efektif jika
memang benar efektif dalam pelaksanaannya. Ada kemungkinan bahwa
sebagian rencana tersebut efektif, sedang sebagian lagi belum efektif.
Mengingat bahwa proses menejemen asuhan merupakan suatu
kegiatan yang bersinambungan, maka bidan perlu mengulang kembali
setiap asuhan yang tidak efektif melalui proses manajemen untuk
mengidentifikasi mengapa rencana asuhan tidak berjalan efektif serta
melakukan penyesuaian pada rencana asuhan tersebut (Soepardan,
2008).
Melaksanakan asuhan kebidanan secara komprehensif, efektif,
efisien dan aman kepada klien dalam bentuk promotif, preventif, kuratif,
dan rehabilitative. Dilaksanakan secara mandiri, kolaborasi dan rujukan
(Kepmenkes no 938, 2007).
3. Pendokumentasian Manajemen Kebidanan dengan Metode SOAP
Pendokumentasian yang benar adalah pendokumentasian mengenai
asuhan yang telah dan akan dilakukan pada seorang pasien, didalamnya
tersirat proses berfikir bidan yang sistematis dalam menghadapi seorang
pasien sesuai langkah manajemen kebidanan. Pendokumentasian atau
catatan manajemen kebidanan dapat diterapkan dengan metode SOAP.
Dalam metode SOAP, S adalah data Subjektif, O adalah data Objektif, A
adalah Analysis/Assessment dan P adalah Planning. Merupakan catatan
yang bersifat sederhana, jelas, logis dan singkat. Prinsip dari metode
SOAP ini merupakan proses pemikiran penatalaksanaan manajemen
kebidanan.
a. S (Data Subjektif)
Data subjektif (S), merupakan pendokumentasian manajemen
kebidanan menurut Helen Varney langkah pertama (pengkajian data),
terutama data yang diperoleh melalui anamnesis. Data subjektif ini
berhubungan dengan masalah dari sudut pandang pasien. Ekspresi
pasien mengenai kekhawatiran dan keluhannya yang dicatat sebagai
kutipan langsung atau ringkasan yang akan berhubungan langsung
dengan diagnosis. Data subjektif ini nantinya akan menguatkan
diagnosis yang akan disusun. Pada pasien yang bisu, dibagian data di
29
belakang huruf “S”, diberi tanda huruf “O” atau “X”. Tanda ini akan
menjelaskan bahwa pasien adalah penderita tuna wicara.
b. O (Data Objektif)
Data objektif (O) merupakan pendokumentasian manajemen
kebidanan menurut Helen Varney pertama (pengkajian data) terutama
data yang diperoleh melalui hasil observasi yang jujur dan pemeriksaan
fisik pasien, pemeriksaan laboratorium/pemeriksaan diagnostik lain.
Catatan medik dan informasi dari keluarga atau orang lain dapat
dimasukkan dalam data objektif ini. Data ini akan memberikan bukti
gejala klinis pasien dan fakta yang berhubungan dengan diagnosis.
c. A (Assessment)
A (Analysis) dan interpretasi (kesimpulan) dari data subjektif dan
objektif. Dalam pendokumentasian manajemen kebidanan, karena
keadaan pasien yang setiap saat bisa mengalami perubahan, dan akan
ditemukan informasi baru dalam data subjektif maupun data objektif,
maka proses pengkajian data akan menjadi sangat dinamis. Hal ini juga
menuntut bidan untuk sering melakukan analisis data yang dinamis
dalam rangka mengikuti perkembangan pasien. Analisis yang tepat dan
akurat akan menjamin cepat diketahuinya perubahan pada pasien,
sehingga dapat diambil keputusan/tindakan yang tepat.
Analysis/assessment merupakan pedokumentasian manajemen
kebidanan menurut Helen Varney langkah kedua, ketiga dan ke empat
sehingga mencangkup hal-hal berikut ini diagnosis/masalah kebidanan,
diagnosis/masalah potensial serta perlunya mengidentifikasi kebutuhan
tindakan segera untuk antipasi diagnosis/masalah potensial. Kebutuhan
tindakan segera harus diidentifikasi menurut kewenangan bidan,
meliputi tindakan mandiri, tindakan kolaborasi dan tindakan merujuk
klien.
d. P (Planing)
Planing/Perencanaan, adalah membuat rencana asuhan saat ini
dan yang akan datang. Rencana asuhan disusun berdasarkan hasil
analisis dan interpretasi data. Rencana asuhan ini bertujuan untuk
mengusahakan tercapainya kondisi pasien seoptimal mungkin dan
mempertahankan kesejahteraannya. Rencana asuhan ini harus bisa
30
mencapai kriteria tujuan yang ingin dicapai dalam batas waktu tertentu.
Tindakan yang akan dilaksanakan harus mampu membantu pasien
mencapai kemajuan dan harus sesuai dengan hasil kolaborasi tenaga
kesehatan lain, antara lain dokter. Dalam planning ini juga harus
mencantumkan evaluation/evaluasi, yaitu tafsiran dari efek tindakan
yang telah diambil untuk menilai efektivitas asuhan/hasil pelaksanaan
tindakan.
4. Keterkaitan antara Manajemen Kebidanan dan System Pendokumentasian
SOAP.
Alur pikir Bidan
Pencatatan dari asuhan kebidanan
10.
Proses Management Kebidanan
1)
7 Langkah (varney)
Data
Pendokumentasian
Asuhan Kebidanan
5 Langkah
(kompetensi
bidan)
SOAP
NOTES
Data
Subjektif& Objektif
Masalah/Diagnosa
Antisipasi
masalahpotensial/diagno
selain
Assesment/Diagn
osa
Menetapkan kebutuhan
segera untuk konsultasi,
kolaborasi
Perencanaan Asuhan
Perencanaan
Asuhan
Implementasi
Implementasi
Evaluasi
Evaluasi
Assesment/Diagnosa
Plan :
a. Konsul
b. Tes diagnostik
c. Rujukan
d. Pendidikan
d. Konseling
e. Follow up
Gambar 2.5 : Keterkaitanan antara manajemen kebidanan dan system
pendokumentasian SOAP
Sumber: Muslihatun (2010).
31
E. Konsep Dasar Asuhan Kebidanan Masa Nifas Dengan Bendungan ASI
Konsep dasar asuhan kebiidanan pada ibu nifas dengan bendungan ASI
menurut Prawirohardjo (2005), diagnosa bendungan ASI adalah sebagai
berikut:
1. S : Data Subyektif
Data subyektif diambil berdasarkan anamnesa penderita merasa
payudara bengkak, keras, panas, nyeri bila ditekan. Warnanya kemerahan,
suhu tubuh kadang disertai panas. Bayi rewel, karena sulit untuk menyusui
dan pengeluaran ASI sedikit.
2. O : Data Obyektif
Data Obyektif diambil berdasarkan:
a. Pemeriksaan tanda-tanda vital
Biasanya pada bendungan ASI suhu tubuh ibu lebih dari 37 0C
b. Inspeksi
Pengamatan dengan mata akan tampak payudara tegang, dan
puting tidak terlalu menonjol
c. Palpasi
Merupakan tekhnik pemeriksaan indra peraba, karena tangan dan
jari-jari merupakan indra yang sensitif. Pada kasus benndungan ASI
payudara akan teraba penuh, keras, tegang, dan pengeluaran ASI
sedikit.
3. A : Analisa
Masalah atau diagnosa yang ditegakan berdasarkan data atau
informasi subjektif maupun objektif yang dikumpulkan atau disimpulkan.
Dengan data dasar bendungan ASI dari hasil pemeriksaan didapati
payudara nyeri, terasa penuh, keluar ASI sedikit-sedikit dan badannya
terasa menggigil disertai suhu tubuh yang meningkat sehingga dapat
disimpulkan analisa data menjadi, misalnya : P1A0 2 hari post partum
dengan bendungan ASI.
4. P : Penatalaksanaan
Menggambarkan pendokumentasian dari perencanaan dan evaluasi
berdasarkan analissa, untuk perencanaan, implementasi dan evaluasi.
Perencanaan atau penalaksanaan yang diberikan pada ibu nifas
dengan benndungan ASI menurut Wiknjosastro (2009) adalah :
32
a. Keluarkan ASI sebelum menyusu agar payudara lebih lembek.
b. Keluarkan ASI sebelum menyusu sehingga ASI keluar lebih mudah
ditangkap dan di hisap oleh bayi.
c. Sesudah bayi kenyang keluarkan sisa ASI.
d. Untuk mengurangi rasa sakit pada payudara berikan kompres dingin
dan hangat menggunakan handuk secara bergantian
e. Susukan ASI sesering mungkin tanpa dijadwal (on the mand)
f. Keluarkan ASI dengan tangan/pompa bila produksi ASI melebihi
kebutuhan ASI.
g. Dari penatalksanaan
bendungan
ASI tersebut
untuk
asuhan
kebidanan yang diberikan kepada klien dapat dilakukan:
1) Melakukan observasi keadaan umum dan tanda-tanda vital
2) Menganjurkan ibu untuk banyak istirahat
3) Memberikan konseling tentang keburuhan nutrisi selama masa
nifas
4) Memberikan konseling tentang cara menysui yang benar.
5) Memberitahu ibu untuk melakukan kompres dengan air hangat
pada ke-2 payudara.
6) Memberikan KIE tentang perawatan payudara
7) Melakukan rujukan ke puskesmas bila bendungan ASI tidak
sembuh dalam 1 minggu (Ai yeyeh dan Yulianti, 2010).
Evaluasi pada ibu nifas dengan bendungan ASI menurut Wiknjosastro
(2009), yaitu terpenuhinya kebutuhan ibu untuk banyak istirahat, ibu
mengerti tentang kebutuhan nutrisi selama nifas, ibu mengerti tentang cara
menyusui yang benar dan ibu mengerti tentang perawatan payudara.
33
F. Kewenangan atau Landasan Hukum
Seuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor :
1464/MENKES/PER/X/2010 yang menjadi landasan hukum pada ibu nifas
adalah :
1. BAB III Pasal 9 huruf a
Bidan dalam menjalankan praktek, bidan berwenang untuk memberikan
pelayanan kesehatan ibu.
2. BAB III Pasal 10 ayat 1
Pelayanan kesehatan ibu sebagaimana dimaksud dalam pasal 9 huruf a
diberikan pada masa pra hamil, kehamilan, masa persalinan, masa nifas,
masa menyusui, dan masa antara dua kehamilan.
3. BAB III Pasal 10 ayat 2 huruf d dan e
Pelayanan kesehatan ibu nifas normal dan Pelayanan ibu menyusui.
4. BAB III Pasal 10 ayat 3 huruf f dan h
Bidan dalam memberikan pelayanan fasilitas/bimbingan inisiasi menyusui
dini dan promosi air susu ibu eksklusif.
Bidan berwenang memberikan penyuluhan dan konseling.
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.369/MENKES/
SK/III/2007 tentang Standar Pofesi Bidan mengenai layanan kolaborasi
adalah layanan yang dilakukan oleh bidan sebagai anggota tim yag
kegiatannya dilakukan secara bersamaan atau sebagai salah satu dari
sebuah proses kegiatan pelayanan kesehatan.
UU Kesehatan Nomor. 23 Tahun 1992 yaitu: Pasal 14 mengungkapkan
bahwa setiap orang berhak untuk mendapatkan untuk mendapatkan
kesehatan optimal. Pasal 53 menyebutkan bahwa setiap pasien berhak atas
informasi, rahasia kedokteran dan hak opini kedua. Pasal 55 menyebutkan
bahwa setiap pasien berhak amendapatkan ganti rugi karena kesalahan dan
kelalaian petugas kesehatan.
34
G. Masa Nifas dan Menyusui dalam Islam
Nifas adalah darah yang keluar dari rahim disebabkan kelahiran, baik
bersamaan dengan kelahiran itu, sesudahnya atau sebelumnya (2 atau 3 hari)
yang disertai rasa sakit.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah-rahimahullah-mengatakan, “Darah yang
dilihat seorang wanita ketika mulai merasa sakit adalah darah nifas”. Beliau
tidak memberikan batasan 2 atau 3 hari. Dan maksudnya yaitu rasa sakit yang
kemudian disertai kelahiran. Jika tidak, maka itu bukan nifas.
Para ulama berbeda pendapat tentang apakah masa nifas itu ada batas
minimal dan maksimalnya. Menurut Syaikh Taqiyuddin dalam risalahnya
tentang sebutan yang dijadikan kaitan hukum oleh pembawa syari’at hal. 37:
“Nifas tidak ada batas minimal maupun maksimalnya. Andai kata ada seorang
wanita mendapati darah lebih dari 40, 60 atau 70 hari dan berhenti, maka itu
adalah darah nifas. Namun jika berlanjut terus maka itu adalah darah kotor,
dan bila demikian yang terjadi maka batasnya 40 hari, karena hal itu
merupakan batas umum sebagaimana dinyatakan oleh banyak hadits.
Seorang ibu yang baru saja melahirkan anaknya yaitu ibu nifas
mempunyai kewajiban untuk memelihara dan menyusui anak yang baru saja
dilahirkannya.
Menyusui bayi atau anak di bawah usia 2 tahun mempunyai dampak yang
baik terhadap bayi atau anak. Berikut ini adalah kajian tentang menyusui bayi
dengan dasar dari Kitabullah Al-Qur’an mengenai menyusui bayi dari sudut
pandang kesehatan berdasarkan hasil dari penelitian kesehatan.
Anjuran Menyusui bayi dalam Al-Qur’an
Dalil Firman Allah swt dalam Al-Qur’an yang berbunyi :
ُ َ‫َو ْال َوالِد‬
‫اع َة‬
َ ‫ض‬
َ َّ‫ْن َكا ِملَي ِْن لِ َمنْ أَ َرادَ أَن ُي ِت َّم الر‬
ِ ‫ات يُرْ ضِ عْ َن أَ ْوالَدَ هُنَّ َح ْولَي‬
‫َو َع َلى ْال َم ْولُو ِد َل ُه ِر ْزقُهُنَّ َوكِسْ َو ُتهُنَّ ِب ْال َمعْ ُروفِ الَ ُت َكلَّفُ َن ْفسٌ إِالَّ وُ سْ َع َها‬
ْ‫ث م ِْث ُل َذل َِك َفإِن‬
ِ ‫ار‬
َ ‫الَ ُت‬
ِ ‫ضآرَّ َوالِدَ ةُ ِب َو َل ِد َها َوالَ َم ْولُو ُدُُ لَّ ُه ِب َو َل ِد ِه َو َع َلى ْال َو‬
‫اح َع َلي ِْه َما َوإِنْ أَ َر ْد ُت ْم أَن‬
ٍ ‫ِصاالً َعن َت َر‬
َ ‫اض ِّم ْن ُه َما َو َت َشاوُ ٍر َفالَ جُ َن‬
َ ‫أَ َرادَ ا ف‬
‫اح َع َل ْي ُك ْم إِ َذا َسلَّ ْم ُتم مَّآ َءا َت ْي ُتم ِب ْال َمعْ رُوفِ َوا َّتقُوا‬
َ ‫َتسْ َترْ ضِ عُوا أَ ْوالَدَ ُك ْم َفالَ جُ َن‬
ُُُ‫ون َبصِ ير‬
َ ُ ‫هللا ِب َما َتعْ َمل‬
َ َّ‫هللا َواعْ َلمُوا أَن‬
َ
35
Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh,
yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah
memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma´ruf. Seseorang
tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang
ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena
anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin
menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan
permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin
anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu
memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada
Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.
(QS. al-Baqarah: 233).
Dari firman Allah swt. di atas, maka jelaslah bahwa ibu berkewajiban
untuk menyusui anaknya atau bayinya. Dan dengan maka, anak berhak untuk
mendapatkan ASI (air susu ibu) dari ibunya. Dan menyusui bayi atau anak
hendaknya dan sebaiknya disempurnakan selama dua tahun. Sedangkan
kewajiban ayah adalah untuk menafkahi untuk mencukupi kebutuhan anggota
keluarganya termasuk istri dan anaknya.
Berdasarkan
dari sumber al-Qur’an, dan juga dari hasil penelitian
kesehatan maka menyusui bayi adalah sangat dianjurkan, merupakan
kewajiban ibu serta hak bagi anak untuk ASI eksklusif dan sebaiknya
menyempurnakannya hingga dua tahun. Hal ini karena ASI eksklusif sangat
penting bagi pertumbuhan, perkembangan anak serta efek psikologis bagi
keduanya. Islam begitu sempurna dan salah satu ajarannya adalah
memberikan yang terbaik kepada anak, mencintai mereka, menjaga dan
merawat mereka sehingga mereka tumbuh menjadi generasi yang sehat dan
unggul.
DAFTAR PUSTAKA
Ayat Al-Qur’an surat Al-baqarah ayat 233
HR. Abu Dawud no. 2059 http://bit.ly/24UDtos [diakses 3 Mei 2016]
HR. Abu Dawud no.311 http://rumaysho.com/thoharoh/-darah-nifas-tidakberhentisetelah-40-hari-6413.html [diakses 3 Mei 2016
Ambarwati & Wulandari. (2010). Asuhan kebidanan nifas. Yogyakarta: Mitra
Cendikia Press.
Chasanah., S (2013). Asuhan Kebidanan pada Ibu Nifas Pada Ny. M G 1P0
Dengan Bendungan Saluran ASI di BPS Yunita Setyo Margono
Sambungmacan Sragen. http://blt.ly/1NvFJbw [diakses 13 April 2016]
Elisbeth, Endang. (2015). Asuhan Kebidanan Masa Nifas dan Menyusui.
Yogyakarta : pustakabarupress
Finalia., Lian N (2014) Asuahan Kebidanan Ibu Nifas Pada Ny. I P1A0 Dengan
Bendungan ASI di RSUD Sukoharjo. http://eprint.uns.ac.id/id/eprint/18817
[diakses 19 April 2016]
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 938 tahun (2007)
Standar Asuhan Kebidanan.terdapat padahttp://bit.ly/1T7eEDY [diakses 6
Mei 2016].
Martalia, Dewi. (2012) Asuhan Kebidanan Nifas dan Menyusui. Yogyakarta :
Pustaka Pelajar.
Maryunani, A. (2015) Asuhan Ibu Nifas dan Asuahan Ibu Menyusui. Bogor :
Penerbit IN MEDIA-Anggota IKAPI
Menkes RI. (2010) Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.
1464/Menkes/Per/X/2010 tentang Standar Profesi Bidan. Jakarta.
M.Sujiyatini., Nurdjanah., & Ana Kurniati. (2010) Catatan Kuliah Asuhan Ibu Nifas
ASKEB III. Yogyakarta : Cyrilus Publisher.
Notoatmodjo, S. (2010). Metodologi penelitian kesehatan. Jakarta: rineka cipta
Prawirohardjo, Sarwono. (2011) Ilmu Kandungan. Jakarta: EGC
Prawirohardjo, Sarwono. (2010) Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal.
Jakarta: Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo
Rekam Medik RSUD dr. Soekardjo Tasikmalaya
Rukiyah, Aiyeyeh., Lia Yulianti., & Meida Liana (2013) Asuhan Kebidanan III
(Nifas). Jakarta : CV Trans Info Media.
Rukiyah, Aiyeyeh., Lia Yulianti., (2010) Asuhan Kebidanan 4 Patologi Kebidanan.
Jakarta : Trans Info Media.
Saifudin. (2006). Buku acuan nasional pelayanan kesehatan maternal dan
neonatal. Jakarta : JPNKKR
Sarwono (2010). Asuhan kebidanan. Jakarta : EGC
Sirait, M. (2016). Informasi spesialite obat. Jakarta: PT ISFI Penerbitan
Saleha, Sitti, (2009). Asuhan Kebidanan Pada Masa Nifas. Jakarta : Salemba
Medika.
Sari, Eka Puspita., Kurnia D. (2014) Asuhan Kebidanan Masa Nifas (Postnatal
Care). Jakarta Info Media
Tania., E (2014). Studi kasus Asuhan Kebidanan pada Ibu Nifas dengan
Bendungan
ASI
di
RSUD
Ambarawa.
http://www.academia.edu/10798124/NaskahPublikasi.
Varney. (2007). Buku ajar asuhan kebidanan. Jakarta: EGC.
Winkjosastro. (2007). Ilmu kebidanan. Jakarta: yayasan bina pustaka sarwono
prawirohardjo.
Download