paritas dan kelainan letak dengan kejadian ketuban

advertisement
PARITAS DAN KELAINAN LETAK DENGAN KEJADIAN KETUBAN PECAH
DINI
Ery Kartika Sari*, Henny Juaria*
*Akademi Kebidanan Griya Husada, Jl. Dukuh Pakis Baru II no.110 Surabaya
Email : [email protected]
ABSTRAK
Pendahuluan: Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban inpartu yaitu bila pembukaan pada
primipara kurang dari 3 cm dan pada multipara kurang dari 5 cm, tanpa memperhatikan usia
gestasi. Penyebab KPD diantaranya paritas dan kelainan letak akibat dari kelemahan intrinsik
uterus sehingga menyebabkan ketuban pecah. Dampak dari KPD adalah infeksi maternal dan
neonatal, persalinan prematur, hipoksia karena kompresi tali pusat, dan deformitas janin. Di
Puskesmas Balongsari Surabaya dari tahun 2010-2012 kejadian KPD rata-rata 12 % dibandingkan
dengan harapan kejadian ketuban pecah dini menurut Saifudin, A.B (2010) (8-10 %) dan Depkes
(2010) (6-10 %). Tujuan penelitian yaitu diketahuinya hubungan antara paritas dan kelainan letak
dengan kejadian KPD di Puskesmas Balongsari Surabaya tahun 2013. Metode: Penelitian ini
menggunakan analitik observasional, jenis cross sectional dengan data sekunder. Populasi
penelitian sejumlah 252 ibu bersalin dan besar sampel 117 orang yang dipilih secara Systematic
Random Sampling. Hasil penelitian dibuat tabel frekuensi, tabulasi silang dan dianalisis
menggunakan uji Chi-Square dengan  = 0,05. Hasil: Hasil penelitian didapatkan paritas ibu
bersalin mayoritas multipara 62,39 %, kelainan letak 17,95 %. Kejadian KPD dengan paritas
multipara, grandemultipara 31,17 % dan dikarenakan kelainan letak 42,86 %. Hasil uji Chi-Square
didapatkan bahwa pada paritas dan kelainan letak janin χ2 hitung > χ2 tabel yang artinya Ho
ditolak. Ada hubungan antara paritas dan kelainan letak dengan kejadian KPD. Diskusi: Peran
petugas kesehatan yaitu mendeteksi kelainan letak sedini mungkin, memperbaiki status gizi ibu
hamil, membatasi jumlah kelahiran.
Kata Kunci : Paritas, Kelainan Letak, KPD
PENDAHULUAN
World Health Organization (WHO) pada
tahun 2008,
memperkirakan kematian
maternal lebih dari 300-400 per 100.000
kelahiran hidup. Hal ini disebabkan oleh
perdarahan 28%, eklampsia 12%, abortus
13%, sepsis 15%, partus lama 18%, dan
penyebab lainnya 2% (Rachmaningtyas, A.,
2013).
Upaya untuk memperbaiki kesehatan ibu,
bayi baru lahir dan anak telah menjadi
prioritas utama dari pemerintah, bahkan
sebelum Millenium Development Goal's 2015
ditetapkan. Angka Kematian Ibu (AKI) dan
Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan
salah satu indikator utama derajat kesehatan
suatu negara. AKI dan AKB juga
mengindikasikan kemampuan dan kualitas
pelayanan kesehatan, kapasitas pelayanan
kesehatan,
kualitas
pendidikan
dan
pengetahuan masyarakat, kualitas kesehatan
lingkungan, sosial budaya serta hambatan
dalam memperoleh akses terhadap pelayanan
kesehatan (Depkes, 2010).
Saat ini status kesehatan ibu dan anak di
Indonesia masih jauh dari yang diharapkan,
ditandai dengan masih tingginya Angka
Kematian Ibu (AKI), dan angka kematian bayi
(AKB). Berdasarkan Survei Demografi dan
Kesehatan Indonesia (SDKI) 2007 didapatkan
data Angka Kematian Ibu (AKI) sebesar 228
per 100.000 kelahiran hidup, mengalami
penurunan jika dibandingkan dengan Angka
Kematian Ibu (AKI) tahun 2002 yaitu 307 per
100.000 kelahiran hidup. Data AKI tersebut
membuat Indonesia mulai optimis bahwa
target
Millenium Development
Goal’s
(MDG’s) untuk Angka Kematian Ibu (AKI)
tahun 2015 adalah sebesar 102 per 100.000
kelahiran hidup dapat tercapai. Namun
optimisme tersebut menjadi kecemasan setelah
melihat hasil Survei Demografi dan Kesehatan
Indonesia (SDKI) 2012 bahwa Angka
Kematian Ibu (AKI) tercatat mengalami
kenaikan yang signifikan yaitu sebesar 359 per
100.000 kelahiran hidup (Sindonews, 2013).
Sedangkan untuk Angka Kematian Bayi
(AKB) di Indonesia walaupun masih jauh dari
angka target MDGs yaitu Angka Kematian
Bayi (AKB) tahun 2015 sebesar 23 per 1000
kelahiran hidup tetapi tercatat mengalami
penurunan yaitu dari sebesar 35 per 1000
kelahiran hidup (SDKI 2002) menjadi sebesar
34 per 1000 kelahiran hidup (SDKI 2007), dan
terakhir menjadi 32 per 1000 kelahiran hidup
(SDKI 2012) (Maulana, 2013).
Pada tahun 2010 Angka Kematian Ibu
(AKI) di Provinsi Jawa Timur sebesar
83,2/100.000 kelahiran hidup dan pada tahun
2011 sebesar 104,3/100.000 kelahiran hidup.
Adapun faktor penyebab langsung kematian
ibu adalah perdarahan 40-60 %, preeklamsi
20-30 %, infeksi 20-30 %. Salah satu
penyebab infeksi adalah kejadian ketuban
pecah dini yang tidak segera mendapatkan
penanganan (Depkes, 2010).
Ketuban pecah dini atau spontaneous
/early/premature rupture of the membrane
(PROM) adalah pecahnya ketuban inpartu
yaitu bila pembukaan pada primipara kurang
dari 3 cm dan pada multipara kurang dari 5
cm, tanpa memperhatikan usia gestasi. KPD
dapat terjadi pada akhir kehamilan maupun
jauh sebelum waktunya melahirkan. KPD
preterm adalah KPD sebelum usia kehamilan
37 minggu, sedangkan KPD yang memanjang
adalah KPD yang terjadi lebih dari 12 jam
sebelum waktunya melahirkan (Nugroho, T.,
2012).
Menurut Saifudin, A.B (2010) pecahnya
selaput ketuban berkaitan dengan perubahan
proses biokimia yang terjadi dalam kolagen
matriks ekstra seluler amnion, korion, dan
apoptosis membran janin. Membran janin dan
desidua bereaksi terhadap stimuli seperti
infeksi dan peregangan selaput ketuban
dengan
produksi
mediator
seperti
prostaglandin, sitokinin, dan protein hormon
yang merangsang aktivitas “matrix degrading
enzym”.
Ketuban pecah dini (KPD) merupakan
penyebab yang paling sering pada saat
mendekati persalinan. Angka insidensi
ketuban pecah dini pada tahun 2010 berkisar
antara 6-10 % dari semua kelahiran. Angka
kejadian KPD yang paling banyak terjadi ada
kehamilan cukup bulan yaitu 95 %, sedangkan
pada kehamilan prematur terjadi sedikit 34 %
(Depkes, 2010).
Menurut Oxorn. H (2010) insiden KPD
terjadi sekitar 10 %-12 % dari semua
kehamilan. Sedangkan insiden KPD menurut
Varney. H, Kriebs. J.M dan Gegor. C.L (2007)
sekitar 2,7 %-17 %, bergantung pada lama
periode laten yang digunakan untuk
menegakkan diagnosis. Menurut Saifudin, A.B
(2010) dalam keadaan normal 8-10 %
perempuan hamil aterm akan mengalami
ketuban pecah dini. Ketuban pecah dini
prematur terjadi pada 1 % kehamilan.
Berdasarkan data Puskesmas Balongsari
Surabaya pada Register Persalinan Puskesmas
Balongsari Surabaya, tahun 2010-2012
menunjukkan bahwa kejadian KPD cenderung
mengalami peningkatan dari tahun 2010
sampai 2012. Dari tahun 2010 sampai 2011
terjadi peningkatan (7,1 %), sedangkan dari
tahun 2011 sampai 2012 terjadi peningkatan
(2,7 %). Jadi rerata kejadian KPD (12 %). Hal
ini relatif lebih tinggi dari keadaan normal
perempuan hamil aterm yang mengalami
ketuban pecah dini menurut Saifudin, A.B
(2010) yaitu 8-10 %.
Menurut Morgan. G dan Hamilton. C
(2009) kemungkinan yang menjadi faktor
penyebab terjadinya KPD adalah usia ibu yang
lebih tua mungkin menyebabkan ketuban
kurang kuat dari pada ibu muda, paritas,
infeksi, kelainan letak janin, inkompetensi
serviks, riwayat KPD sebelumnya sebanyak 2
kali atau lebih, dan merokok selama
kehamilan. Nugroho. T (2012) menambahkan
faktor penyebab terjadinya KPD adalah
tekanan intrauterin yang meninggi atau
meningkat secara berlebihan (overdistensi
uterus: misalnya hidramnion, gemelli), trauma
yang menyebabkan tekanan intrauterin (intra
amniotik) mendadak misalnya hubungan
seksual, keadaan sosial ekonomi, faktor
golongan darah, faktor disproporsi antar
kepala janin dan panggul ibu dan defisiensi
gizi dari tembaga atau asam askorbat (vitamin
C). Sedangkan Manuaba, I.B.G (2010)
menambahkan
status
pekerjaan
yang
memerlukan aktifitas fisik yang berlebihan
dapat memberikan tekanan pada rahim dan
merangsang rahim berkontraksi sehingga
dapat menyebabkan KPD.
Nugroho. T (2012) KPD merupakan
komplikasi
yang berhubungan dengan
kehamilan kurang bulan, dan mempunyai
kontribusi yang besar pada angka kematian
perinatal pada bayi yang kurang bulan.
Pengelolaan KPD pada kehamilan kurang dari
34 minggu sangat kompleks, bertujuan untuk
menghilangkan
kemungkinan
terjadinya
prematuritas dan RDS (Respiration Dystress
Syndrome).
KPD merupakan masalah penting dalam
bidang kesehatan yang berkaitan dengan
penyulit kelahiran prematur dan terjadinya
infeksi korioamnionitis sampai sepsis, serta
menyebabkan infeksi pada ibu yang
menyebabkan meningkatnya morbiditas dan
mortalitas ibu dan bayi (Saifudin, A.B., 2010).
Manuaba, I.B.G (2010) menambahkan, KPD
kemungkinan besar menimbulkan kompresi
tali pusat. Semua ibu hamil dengan KPD
sebaiknya di evaluasi untuk kemungkinan
terjadinya korioamnionitis.
Pengelolaan Ketuban Pecah Dini (KPD)
merupakan masalah dalam kebidanan.
Pengelolaan yang optimal dan baku masih
belum ada selalu berubah. KPD sering kali
menimbulkan konsekuensi yang dapat
menimbulkan morbiditas dan mortalitas pada
ibu maupun bayi, terutama kematian perinatal
yang cukup tinggi. Kematian perinatal yang
cukup tinggi ini antara lain disebabkan karena
kematian akibat kurang bulan, dan kejadian
infeksi yang meningkat karena partus tak
maju, partus lama, dan partus buatan yang
sering dijumpai pada pengelolaan kasus KPD
terutama pada pengelolaan konservatif
(Varney. H, Kriebs. J.M dan Gegor C.L.,
2007).
Upaya dari tenaga kesehatan untuk
menekan kejadian ketuban pecah dini yaitu
dengan melakukan penatalaksanaaan sesuai
dengan prosedur dan tindakan segera dalam
pengelolaan kasus ketuban pecah dini. Sebagai
bidan tentunya juga harus melaksanakan
penatalaksanaan sesuai dengan kewenangan
dan mendeteksi ketuban pecah dini sedini
mungkin.
METODE
Penelitian ini menggunakan desain Cross
sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah
seluruh ibu bersalin di Puskesmas Surabaya
Tahun 2013 yang berjumlah 252 ibu bersalin.
Besar sampel adalah 117 orang yang diambil
dengan tehnik “systematic random sampling”
Variabel penelitian adalah paritas,
kelainan letak, dan kejadian ketuban pecah
dini. Data dikumpulkan dari data sekunder
(buku register persalinan) di Puskesmas
Balongsari Surabaya. Selanjutnya data
dianalisis menggunakan uji Chi-Square,
dimana skla ordinal direduksi menjadi skala
nominal.
HASIL
Paritas Ibu Bersalin
Tabel 1 Frekuensi Paritas Ibu Bersalin di
Puskesmas Balongsari Surabaya
Tahun 2013
Paritas
Frekuensi
Persentase
(%)
Primipara
40
34,19
Multipara
73
62,39
Grandemultipara
4
3,42
Jumlah
117
100
Berdasarkan Tabel 1 dapat disimpulkan
bahwa mayoritas paritas ibu bersalin di
Puskesmas Balongsari Surabaya tahun 2013
multipara (62,39 %).
Kelainan Letak
Tabel 2 Frekuensi Kelainan Letak di
Puskesmas Balongsari Surabaya
Tahun 2013
Kelainan
Frekuensi
Persentase
letak
(%)
Ya
21
17,95
Tidak
96
82,05
Jumlah
117
100
Berdasarkan Tabel 2 dapat disimpulkan
bahwa frekuensi kelainan letak di Puskesmas
Balongsari Surabaya tahun 2013 (17,95 %)
Kejadian KPD
Tabel 3 Frekuensi Kejadian KPD Ibu
Bersalin di Puskesmas Balongsari
Surabaya Tahun 2013
KPD Frekuens Persentase
i
(
%
)
Ya
29
24,79
Tidak
88
75,21
Jumla
117
100
h
Berdasarkan Tabel 3 dapat disimpulkan
bahwa frekuensi kejadian KPD di Puskesmas
Balongsari Surabaya tahun 2013 (24,79 %).
Analisa Data Menggunakan Tabulasi Silang
Tabel 4 Tabulasi Silang antara Paritas Ibu
Bersalin dengan Kejadian KPD di
Puskesmas Balongsari Surabaya
Tahun 2013
Berdasarkan Tabel 4 dapat disimpulkan
bahwa kejadian KPD di Puskesmas Balongsari
Surabaya tahun 2013 lebih banyak terjadi
pada paritas multipara, grandemultipara
(31,17 %), dibandingkan primipara (12,5 %),
sedangkan yang tidak mengalami KPD lebih
banyak terjadi pada primipara (87,5 %).
Tabel 5 Tabulasi Silang antara antara
Kelainan Letak dengan Kejadian
KPD di Puskesmas Balongsari
Surabaya Tahun 2013
Berdasarkan Tabel 6 dapat disimpulkan
bahwa kejadian KPD di Puskesmas Balongsari
Surabaya tahun 2013 lebih banyak terjadi
karena kelainan letak (42,86 %), dibandingkan
dengan yang disebabkan bukan kelainan letak
(20,83 %), sedangkan yang tidak mengalami
KPD meskipun mengalami kelainan letak
(57,14 %).
Uji Chi-Square
Tabel 6 Uji Chi-Square antara Paritas Ibu
Bersalin dengan Kejadian KPD di
Puskesmas Balongsari Surabaya
Tahun 2013
Dari hasil penghitungan dan analisa data
didapatkan bahwa χ2 hitung (4,91) > χ2 tabel
(3,84), maka H0 ditolak dan H1 diterima
berarti ada hubungan antara paritas ibu
bersalin dengan kejadian KPD di Puskesmas
Balongsari Surabaya Tahun 2013.
Tabel 7 Uji Chi-Square Hubungan antara
Kelainan Letak dengan Kejadian
KPD di Puskesmas Balongsari
Surabaya Tahun 2013
Dari
penghitungan
dan
analisa
didapatkan bahwa χ2 hitung (4,50) > χ2 tabel
(3,84), maka H0 ditolak dan H1 diterima
berarti ada hubungan antara kelainan letak
dengan kejadian KPD di Puskesmas
Balongsari Surabaya Tahun 2013.
PEMBAHASAN
Ketuban pecah dini merupakan pecahnya
ketuban saat inpartu dengan pembukaan pada
primipara kurang dari 3 cm dan pada
multipara kurang dari 5 cm, tanpa memandang
usia gestasi. Ketuban pecah dini lebih banyak
terjadi pada kehamilan aterm dibandingkan
dengan
kehamilan
prematur.
Adapun
penyebab KPD ini belum diketahui secara
pasti namun kemungkinan besar disebabkan
oleh faktor paritas, dan kelainan letak
(Nugroho, T., 2012).
Berdasarkan Tabel 5.5 dapat disimpulkan
bahwa kejadian KPD di Puskesmas Balongsari
Surabaya tahun 2013 lebih banyak terjadi pada
paritas multipara, grandemultipara (31,17 %).
Menurut Morgan. G dan Hamilton. C (2009)
bahwa pada multipara, grandemultipara
kejadian KPD semakin besar hal ini bukan
disebabkan oleh peningkatan aktivitas uterus
melainkan dari kelemahan intrinsik uterus
yang disebabkan oleh trauma sebelumnya pada
serviks khususnya pada tindakan riwayat
persalinan pervaginam, dilatasi serviks,
kuretase. Keadaan ini dibuktikan dengan
adanya dilatasi serviks tanpa rasa nyeri dalam
trimester II atau awal trimester III kehamilan
yang disertai dengan prolapsus membran
amnion lewat serviks dan penonjolan membran
tersebut dalam vagina, peristiwa ini diikuti
oleh pecahnya ketuban dan selanjutnya
ekspulsi janin immatur sehingga kemungkinan
janin akan meninggal. Selain itu susunan
serviks pada multipara, grandemultipara lebih
banyak serabut saraf daripada jaringan ikat
dibandingkan serviks normal. Rusaknya
jaringan serviks tersebut maka kemungkinan
otot dasar dari uterus meregang. Proses
peregangan terjadi secara mekanis yang
merangsang beberapa faktor di selaput ketuban
seperti prostaglandin E 2 dan interleukin-8.
Selain itu peregangan juga merangsang
aktivitas MMP-1 pada membran. Interleukin-8
yang diproduksi dari sel amnion dan korionik
bersifat kemotaktik terhadap neutrofil dan
merangsang aktifitas kolegenase. Hal-hal
tersebut akan menyebabkan terganggunya
keseimbangan proses sintesis dan degradasi
matriks
ektraseluler
yang
akhirnya
menyebabkan pecahnya selaput ketuban.
Aktivitas kehamilan multipel, pengaruh
hormon dan infeksi dapat berperan sebagian.
Peningkatan paritas juga menyebabkan
berkurangnya kelenturan leher rahim sehingga
dapat terjadi pembukaan dini pada serviks.
Pembukaan serviks yang prematur terkait
dengan
terjadinya
perubahan-perubahan
seperti penurunan jumlah jaringan kolagen dan
terganggunya
struktur
kolagen,
serta
peningkatan aktivitas kolagenolitik. Degradasi
kolagen tersebut terutama disebabkan oleh
matriks metaloproteinase (MMP). MMP
merupakan suatu grup enzim yang dapat
memecah
komponen-komponen
matriks
ektraseluler. Enzim tersebut diproduksi dalam
selaput ketuban. MMP-1 dan MMP-8 berperan
pada pembelahan triple helix dari kolagen
fibril (tipe I dan III), dan selanjutnya
didegradasi oleh MMP-2 dan MMP-9 yang
juga memecah kolagen tipe IV. Pada selaput
ketuban
juga
diproduksi
penghambat
metaloproteinase
atau tissue inhibitor
metalloproteinase
(TIMP).
TIMP-1
menghambat aktivitas MMP-1, MMP-8,
MMP-9 dan TIMP-2 menghambat aktivitas
MMP-2. TIMP-3 dan TIMP-4 mempunyai
aktivitas yang sama dengan TIMP-1. Keutuhan
dari selaput ketuban tetap terjaga selama masa
kehamilan oleh karena aktivitas MMP yang
rendah dan konsentrasi TIMP yang relatif
lebih tinggi. Ketidakseimbangan kedua enzim
tersebut dapat menyebabkan degradasi
patologis pada selaput ketuban. Aktivitas
kolagenase
diketahui
meningkat
pada
kehamilan aterm dengan ketuban pecah dini.
Sedangkan pada preterm didapatkan kadar
protease yang meningkat terutama MMP-9
serta kadar TIMP-1 yang rendah.
Cunningham, F. G et al. (2005)
menambahkan bagian terendah janin belum
masuk PAP juga berpengaruh. Hal ini
disebabkan pada primipara bagian terendah
janin turun ke rongga panggul masuk ke PAP
pada akhir minggu 36 kehamilan, sedangkan
pada multipara terjadi saat mulainya
persalinan. Sehingga pada multipara tidak ada
bagian terendah janin yang menutup PAP,
yang dapat mengurangi terhadap membran
bagian bawah.
Hasil penelitian ini sesuai dengan
penelitian yang dilakukan oleh Lestari. I
(2008) bahwa paritas lebih dari 3 bermakna
sebagai faktor risiko yang mempengaruhi
kejadian KPD. Demikian juga hasil penelitian
(Gumilang, A., 2013) yang menyatakan bahwa
ibu yang mengalami kejadian KPD paritas
multipara (52,38 %). Hasil penelitian ini juga
didukung dengan penelitian Nurhanifah (2012)
yang menyatakan bahwa ibu yang mengalami
kejadian KPD dengan paritas multipara
(75,68 %).
Sedangkan kejadian KPD di Puskesmas
Balongsari Surabaya tahun 2013 yang terjadi
pada paritas primipara (12,5 %). Hal ini
disebabkan ibu primipara saat menjalani
kehamilannya
yang
pertama
kalinya
mengalami berbagai perubahan fisik maupun
psikis yang dapat menjadi suatu stresor,
karena kehamilan tidak sesuai dengan yang
diharapkan. Di samping itu pengalaman ibu
yang masih terbatas kadang membuat ibu
hamil dengan mudah mempercayai informasi
yang tidak sesuai kesehatan dan berbagai nilainilai budaya yang dianut oleh ibu, yang
akhirnya berdampak terhadap ibu dan atau
janinnya. Menurut Nugroho. T (2012)
kemungkinan terdapat faktor lain yang
menyebabkan KPD pada paritas primipara
yaitu infeksi, pekerjaan, trauma, kelainan
letak, kehamilan ganda, hidramnion.
Hasil penelitian ini sesuai dengan
penelitian yang dilakukan oleh Gumilang. A
(2013) yang menyatakan bahwa ibu yang
mengalami kejadian KPD dengan paritas
primipara (27,66 %). Hasil penelitian ini juga
didukung dengan penelitian Nurhanifah (2012)
yang menyatakan bahwa ibu yang mengalami
kejadian KPD dengan paritas primipara
(24,32 %).
Hasil ini didukung dengan Uji Chi-Square
didapatkan bahwa χ2 hitung > χ2 tabel yaitu
(4,91) > (3,84) maka H0 ditolak dan H1
diterima sehingga dapat disimpulkan ada
hubungan antara paritas ibu bersalin dengan
kejadian KPD. Hal ini menunjukkan bahwa
semakin banyak jumlah kelahiran maka
semakin tinggi pula risiko terjadinya KPD.
Menurut Gumilang. A (2013) terdapat
hubungan yang signifikan antara paritas
dengan kejadian ketuban pecah dini. Hasil
penelitian ini juga didukung dengan penelitian
Nurhanifah (2012) yang menyatakan bahwa
ada hubungan yang signifikan antara paritas
dengan kejadian KPD.
Selain paritas, kelainan letak merupakan
salah satu faktor yang dapat menyebabkan
kejadian KPD. Berdasarkan Tabel 5.6 dapat
disimpulkan bahwa kejadian KPD di
Puskesmas Balongsari Surabaya tahun 2013
lebih banyak terjadi karena kelainan letak
(42,86 %). Hal ini sesuai dengan Saifudin, A.B
(2010) bahwa insiden kelainan letak 3-5 %
dari keseluruhan kehamilan tunggal dengan
umur kehamilan cukup bulan. Menurut
Nugroho. T (2012) salah satu faktor penyebab
KPD adalah kelainan letak. Hal ini
dikarenakan posisi janin dalam rahim yang
tidak sesuai dengan jalan lahir, misalnya letak
sungsang dan letak lintang sehingga
menyebabkan tidak ada bagian terendah anak
yang menutupi PAP, yang dapat mengurangi
tekanan terhadap membran bagian bawah.
Pada letak lintang, ketuban dapat mengalami
ruptur segera setelah awal kontraksi karena
seluruh kekuatan kontraksi ditranmisikan
secara langsung pada cairan di depannya.
Sejalan dengan Fraser, D.M dan Cooper, M.A
eds (2009), bahwa setiap kelainan letak, sering
dihubungkan dengan awalnya pecah ketuban
oleh karena terjadi penekanan membran yang
tidak merata pada kantung yang meliputi
cairan ketuban, hal ini dapat meningkatkan
morbiditas dan mortalitas ibu dan bayi.
Letak janin dalam uterus bergantung pada
proses adaptasi janin terhadap ruang dalam
uterus. Pada kehamilan < 32 minggu, jumlah
air ketuban relatif lebih banyak sehingga
memungkinkan janin bergerak dengan leluasa,
dan demikian janin dapat menempatkan diri
dalam letak sungsang/letak lintang. Pada
kehamilan trimester terakhir janin tumbuh
dengan cepat dan jumlah air ketuban relatif
berkurang. Karena bokong dengan kedua
tungkai yang terlipat lebih besar daripada
kepala maka bokong dipaksa untuk menempati
ruang yang lebih luas di fundus uteri,
sedangkan kepala berada di dalam ruangan
yang lebih kecil di segmen bawah rahim.
Letak sungsang dapat
memungkinkan
ketegangan rahim meningkat, sedangkan pada
letak lintang bagian terendah adalah bahu
sehingga tidak dapat menutupi pintu atas
panggul yang dapat menghalangi tekanan
terhadap membran bagian bawah, maupun
pembukaan serviks. Pembukaan menjadi lebih
lama, kemungkinan infeksi lebih besar
(Morgan. G dan Hamilton, C., 2009).
Hasil penelitian ini sesuai dengan
penelitian yang dilakukan oleh Nurhanifah
(2012) menyatakan bahwa ibu yang
mengalami kejadian KPD dengan kelainan
letak (38,46 %). Hasil penelitian ini juga
didukung dengan penelitian Lestari. I (2008)
yang menyatakan bahwa ibu yang mengalami
kejadian KPD dengan malpresentasi (75 %).
Sedangkan kejadian KPD di Puskesmas
Balongsari Surabaya tahun 2013 yang
disebabkan bukan kelainan letak (20,83 %).
Hal ini dapat terjadi dikarenakan aktivitas ibu
yang terlalu berat saat hamil sehingga iu
terlalu lelah bekerja baik berdiri maupun
berjalan. Aktivitas tersebut akan meningkatkan
gaya gravitasi dari kepala yang merupakan
bagian keras janin. Faktor lain seperti infeksi,
trauma, dan jatuh juga dapat menyebabkan
kejadian KPD disebabkan kelainan letak.
Hasil penelitian ini sesuai dengan
penelitian yang dilakukan oleh Nurhanifah
(2012) menyatakan bahwa ibu yang
mengalami kejadian KPD disebabkan bukan
kelainan letak (8,16 %). Hasil penelitian ini
juda didukung dengan penelitian Lestari
(2008) yang menyatakan bahwa ibu yang
mengalami kejadian KPD dengan yang tidak
mengalami malpresentasi (25 %).
Hasil ini didukung dengan Uji Chi-Square
didapatkan bahwa χ2 hitung > χ2 tabel yaitu
4,50 > 3,84, maka H0 ditolak dan H1 diterima
sehingga dapat disimpulkan ada hubungan
antara kelainan letak dengan kejadian ketuban
pecah dini. Hal ini menunjukkan bahwa
semakin tinggi kelainan letak maka semakin
tinggi pula risiko terjadinya ketuban pecah
dini. Hasil penelitian ini sesuai dengan
penelitian yang dilakukan oleh Nurhanifah
(2012) menyatakan bahwa terdapat hubungan
yang signifikan antara kelainan letak dengan
kejadian KPD. Hasil penelitian ini juda
didukung dengan penelitian Lestari. I (2008)
yang menyatakan bahwa ada hubungan yang
signifikan antara malpresentasi dengan
kejadian KPD.
Komplikasi yang timbul akibat ketuban
pecah dini bergantung pada usia kehamilan.
Dapat terjadi infeksi maternal dan neonatal,
persalinan prematur, hipoksia karena kompresi
tali pusat, deformitas janin, meningkatnya
insiden seksio sesaria, atau gagalnya
persalinan normal (Saifudin, A.B., 2010).
Sebagai tenaga kesehatan, upaya yang
dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya
kejadian KPD dan segala dampak yang
mungkin terjadi tidak hanya dilakukan pada
saat persalinan tetapi sejak kehamilan dengan
melakukan pemeriksaan antenatal secara
teratur di tempat pelayanan kesehatan
sehingga dapat mendeteksi sedini mungkin
faktor-faktor penyebab KPD dan segala
komplikasi yang mungkin terjadi. Dalam
melakukan pemeriksaan antenatal harus sesuai
dengan
standar.
Dengan
pemeriksaan
kehamilan secara teratur dapat terdeteksi
adanya kelainan letak melalui pemeriksaan
abdomen
maupun
USG.
Selain
itu
merencanakan dan
membatasi
jumlah
kehamilan dengan metode kontrasepsi
sehubungan dengan peningkatan paritas,
mengonsumsi makanan bergizi seimbang
sesuai dengan kebutuhan ibu hamil, menjaga
kebersihan terutama jalan lahir, aktif dalan
kegiatan kelas ibu hamil maupun senam hamil.
Keseluruhan aspek seperti yang diuraikan
tersebut merupakan indikator paritas dan
kelainan letak yang telah terbukti mempunyai
hubungannya dengan kejadian KPD, dimana
semakin meningkatnya paritas dan kelainan
letak akan berkontribusi juga dengan
peningkatan kejadian KPD. Akan tetapi tidak
menutup kemungkinan bahwa masih banyak
faktor yang dapat menyebabkan KPD. Kondisi
ini tentu harus mendapat perhatian khusus dari
bidan selaku ujung tombak dari pelayanan
terhadap ibu dan anak, mengingat risiko yang
dapat terjadi pada baik pada ibu dan atau janin
jika ibu mengalami KPD. Upaya dari tenaga
kesehatan untuk menekan kejadian ketuban
pecah dini yaitu dengan melakukan
penatalaksanaaan sesuai dengan prosedur dan
tindakan segera dalam pengelolaan kasus
ketuban pecah dini. Sebagai bidan tentunya
juga harus melaksanakan penatalaksanaan
sesuai dengan kewenangan dan mendeteksi
ketuban pecah dini sedini mungkin sehingga
dapat memastikan keadaan kesehatan ibu dan
kesejahteraan janin.
SIMPULAN
Terdapat
pengaruh paritas terhadap
angka kejadian KPD karena semakin tinggi
paritas mempengaruhi kerusakan serviks
selama kelahiran sebelumnya. Hal ini
menyebabkan terjadinya pembukaan dini pada
serviks dan mengakibatkan ketuban pecah
dini. Kelainan letak juga mempengaruhi
kejadian ketuban pecah dini. Posisi janin
dalam uterus yang tidak sesuai dengan jalan
lahirmenyebabkan tidak ada bagian terendah
anak yang menutupi PAP, yang dapat
mengurangi tekanan terhadap membran bagian
bawah.
SARAN
Komplikasi yang timbul akibat ketuban
pecah dini bergantung pada usia kehamilan.
Dapat terjadi infeksi maternal dan neonatal,
persalinan prematur, hipoksia karena kompresi
tali pusat, deformitas janin, meningkatnya
insiden seksio sesaria, atau gagalnya
persalinan normal. Maka dari itu, untuk
mengurangi dan atau mencegah kejadian KPD
para ibu hamil diharapkan diharapkan
memeriksakan kehamilannya secara teratur
minimal sesuai dengan standar yaitu 1 kali
pada kehamilan trimester I, 1 kali pada
kehamilan trimester II dan 2 kali pada
kehamilan trimester III untuk mendeteksi
sedini mungkin bila ada penyulit dalam
kehamilan dan melakukan pemeriksaan
kehamilan terutama pada Trimester III.
Begitupun, bagi petugas kesehatan diharapkan
perlu mengadakan upaya untuk mewujudkan
kesehatan bagi ibu hamil yaitu melalui KIE
tentang pentingnya pemeriksaan kehamilan
sesuai standar (K4), dengan prioritas utama
ibu hamil multipara, grandemultipara,ibu
hamil yang mengalami kelainan letak, faktorfaktor lain penyebab KPD.
DAFTAR PUSTAKA
Bobak, Lowdermilk dan Jensen., 2005. Buku
Ajar Keperawatan Maternitas. Jakarta :
EGC.
Budijanto. D dan Prajoga., 2005. Metodologi
Penelitian. Surabaya : Dua Tujuh.
Cunningham, F.G et al., 2005. Obstetri
Williams, Ed. 21, Vol. 1. Jakarta : EGC.
Departemen Kesehatan. Profil Kesehatan Jawa
Timur 2010.
www.dinkesjatim.go.id, Diakses tanggal
08 April 2013 pukul 18.45 WIB.
Fraser, D.M dan Cooper, M.A eds., 2009.
Buku Ajar Bidan Myles, Ed. 14. Jakarta
: EGC.
Gumilang, A., 2013. Hubungan antara Usia,
Paritas, dan Riwayat Ketuban Pecah
Dini dengan Kejadian Ketuban Pecah
Dini di RSUD Bangil Pasuruan. Skripsi.
Politeknik
Kesehatan
Kemenkes
Surabaya.
Hidayat, A.A.A., 2010. Metode Penelitian
Kebidanan dan Teknik Analisa Data.
Jakarta : Salemba Medika.
Lailiyana, Laila. A, Daiyah. I dan Susanti, A.,
2011. Buku Ajar Asuhan Kebidanan
Persalinan. Jakarta : EGC.
Lestari.
I.,
2013.
Hubungan
antara
Malpresentasi dan Paritas dengan
kejadian Ketuban Pecah Dini di RSUD
dr.
Soegiri
Lamongan.
Skripsi.
Politeknik
Kesehatan
Kemenkes
Surabaya.
Manuaba, I.B.G., 2010. Ilmu Kebidanan,
Penyakit kandungan, dan KB Untuk
Pendidikan Bidan. Jakarta : EGC.
Maulana, 2013. www.unpad.ac.id, Diakses
tanggal 08 April 2013 pukul 18.45 WIB.
Mochtar, R., 2011. Sinopsis Obstetri : Obstetri
Fisiologis/Obstetri Patologis. Jakarta :
EGC.
Morgan. G. dan Hamilton, C., 2009. Obstetri
& Ginekologi : Panduan Praktik.
Jakarta : EGC.
Notoatmodjo, S., 2010. Ilmu Perilaku, Teori
dan aplikasi. Jakarta : Rineka Cipta.
Notoatmodjo, S., 2010. Metodologi Penelitian
Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.
Nugroho, T., 2012. Obstetri dan Ginekologi
untuk Kebidanan dan Keperawatan.
Yogyakarta : Nuha Medika.
Nurhanifah, 2012. Hubungan antara Usia,
Paritas, dan Kelainan Letak dengan
Kejadian Ketuban Pecah Dini di RSIA
Nyai Ageng Pinatih Gresik. Skripsi.
Politeknik
Kesehatan
Kemenkes
Surabaya.
Nursalam, 2011. Konsep dan Penerapan
Metodologi
Penelitian
Ilmu
Keperawatan Pedoman skripsi, Tesis dan
Instrumen Penelitian Keperawatan, Ed. 2.
Jakarta : Salemba Medika.
Oxorn, H., 2010. Ilmu Kebidanan :
Patofisiologi & Fisiologi Persalinan.
Yogyakarta : ANDI.
Rachmaningtyas, A., 2013. www.jpnn.com,
Diakses tanggal 08 April 2013 pukul
19.00 WIB.
Rohani, Saswita. R dan Marisah., 2011.
Asuhan
Kebidanan
pada
Masa
Persalinan. Jakarta : Salemba Medika.
Saifudin, A.B., 2006. Buku Panduan Praktis
Pelayanan Kesehatan Maternal dan
Neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirahardjo.
Saifudin, A.B., 2006. Buku Acuan Nasional
Pelayanan Kesehatan Maternal dan
Neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirahardjo.
Saifudin, A.B., 2010. Ilmu Kebidanan. Jakarta
:
PT.
Bina
Pustaka
Sarwono
Prawirahardjo.
Sastrawinata, S., 2004. Ilmu Kesehatan
Reproduksi : Obstetri Patologi. Jakarta :
EGC.
Sindonews,
2013.
http://nasional.sindonews.com, Diakses
tanggal 08 April 2013 pukul 18.45 WIB.
Sulistyawati, A,. 2011. Asuhan Kebidanan
pada Ibu Bersalin. Jakarta : Salemba
Medika.
Varney. H, Kriebs. J.M dan Gegor C.L., 2007.
Buku Ajar Asuhan Kebidanan, Ed. 4
Vol. I. Jakarta: EGC.
Download