FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERTUMBUHAN LABA

advertisement
Vol:IINo:5Januari2015
Jurankunman(JurnalAkuntansidanManajemen)
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERTUMBUHAN LABA PADA
PERUSAHAAN CONSUMER GOODS DENGAN UKURAN PERUSAHAAN
SEBAGAI VARIABEL MODERATING
ADAT MULI PERANGINANGIN, S.E., MSi
(SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI SURYA NUSANTARA)
ABSTRAK
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji dan menganalisis pengaruh Modal Kerja ke
Asset (WCTA), Current Ratio (CR), Pendapatan operasi untuk Jumlah Kewajiban (OITL),
Total Asset Turnover (TAT), Gross Profit Margin (GPM) , dan Net Profit Margin (NPM)
pada Laba Pertumbuhan dengan Ukuran Firm sebagai variabel moderating pada perusahaan
barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Penelitian ini menggunakan
metode penelitian kausal dan data sekunder. Populasi adalah 38 perusahaan barang konsumsi
yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada periode 2009-2013, dan 22 dari mereka
digunakan sebagai sampel, yang diambil dengan menggunakan teknik purposive sampling.
Data dianalisis dengan menggunakan analisis regresi linier berganda dan uji residual untuk
variabel moderasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Modal Kerja ke Asset (WCTA),
Current Ratio (CR), Pendapatan operasi untuk Jumlah Kewajiban (OITL), Total Asset
Turnover (TAT), Gross Profit Margin (GPM), dan Net Profit Margin (NPM ) dipengaruhi
pertumbuhan laba. Sebagian, Modal Kerja ke Asset (WCTA), Current Ratio (CR),
Pendapatan operasi untuk Kewajiban (OITL), Total Asset Turnover (TAT), Net Profit
Margin (NPM), dan Gross Profit Margin (GPM) memiliki pengaruh yang signifikan terhadap
Laba Pertumbuhan. Itu juga menemukan bahwa Ukuran Perusahaan itu variabel moderasi.
Kata kunci: Modal Kerja ke Asset (WCTA), Current Ratio (CR), Pendapatan operasi
untuk Jumlah Kewajiban (OITL), Total Asset Turnover (TAT), Gross Profit Margin
(GPM), Net Profit Margin (NPM), Profit Pertumbuhan, Firm Ukuran
Vol:IINo:5Januari2015
Jurankunman(JurnalAkuntansidanManajemen)
PENDAHULUAN
Latar Belakang Penelitian
Kegiatan bisnis yang ada didunia ini, akan selalu mengharapkan pertumbuhan yang
berkesinambungan dengan baik dan menghasilkan imbal balik bagi setiap dana yang telah
diinvestasikan. Dalam mengukur keberhasilan suatu kegiatan bisnis, laporan keuangan
adalah suatu cermin bagi perusahaan untuk menyatakan seberapa besar keberhasilan atau
kegagalan yang dicapai oleh perusahaan dalam menjalankan roda kegiatan bisnisnya.
Melalui laporan keuangan pihak internal (manajemen) maupun pihak eksternal(pemegang
saham, kreditur, dll) dapat melihat kinerja perusahaan selama satu periode waktu tertentu
(bulanan, semesteran, tahunan).Didalam laporan keuangan yang disampaikan oleh
manajemen, yang menjadi salah satu fokus utama perhatiaan para pemangku kepentingan
adalah laba.
Pencapaian kinerja yang baik akan dapat dilihat melalui laba yang meningkat. Laba
sebagai suatu pengukuran kinerja perusahaan merefleksikan terjadinya proses peningkatan
atau penurunan modal dari berbagai sumber transaksi (Takarini dan Ekawati,2003).
Pertumbuhan laba adalah perubahan persentase kenaikan laba yang diperoleh
perusahaan (Simorangkir,2003) dan (Hapsari, 2007). Pertumbuhan laba yang baik akan
memberikan nilai bagi perusahaan serta keuntungan bagi pemegang saham karena mereka
akan mendapat dividen demikian juga bagi manajemen yang akan mendapatkan bonus atas
pencapaian laba yang maksimal.Untuk pengukuran laba serta menganalisis akan pencapaian
laba maka dapat dilakukan dengan menggunakan rasio keuangan.
Bagi pihak yang berkepentingan atas laporan keuangan tersebut, laporan
keuangan/informasi akan bermanfaat dan berguna jika melalui laporan keuangan tersebut
akan dapat memberikan informasi tentang masa yang akan datang bahkan diharapkan dapat
memprediksi yang akan terjadi dimasa yang akan datang (Prastowo dan Juliaty, 2005).
Dengan melakukan suatu teknik tertentu yang sering digunakan seperti analisa
laporan keuangan maka laporan keuangan tersebut diharapkan akan dapat memberikan
informasi tentang apa yang akan mungkin terjadi dimasa yang akan datang.
Didalam melakukan analisa laporan keuangan atas laporan keuangan suatu
perusahaan, maka dibutuhkan suatu teknik yang baku dan terukur serta dapat diaplikasikan
untuk semua jenis laporan keuangan. Teknik analisa laporan keuangan yang sering
digunakan adalah rasio.
Rasio merupakan alat ukur yang digunakan perusahaan untuk menganalisa laporan
keuangan. Dengan menggunakan alat analisa berupa rasio keuangan dapat menjelaskan dan
memberikan gambaran kepada penganalisa tentang baik atau buruknya keadaan atau posisi
keuangan suatu perusahaan dari suatu periode ke periode berikutnya.
Rasio keuangan secara umum dapat dikelompokkan menjadi lima rasio yaitu rasio
likuiditas, rasio leverage, rasio aktivitas, rasio profitabilitas, dan rasio penilaian.
Tabel 1.1 Contoh Pertumbuhan Laba Pada Perusahaan Consumer Goods Tahun 20092013
No Nama Pe rus ahaan
1 PT Gudang Garam Tbk
2 PT
3 PT
4 PT
5 PT
6 PT
7 PT
8 PT
Tahun
2009
2010
2011
2012
2013
Indofarma Tbk
2009
2010
2011
2012
2013
Langgeng Makmur Industri Tbk
2009
2010
2011
2012
2013
Merck Tbk
2009
2010
2011
2012
2013
Schering-Plough Indonesia Tbk
2009
2010
2011
2012
2013
Mandom Inonesia Tbk
2009
2010
2011
2012
2013
Darya Varia Laboratoria Tbk
2009
2010
2011
2012
2013
Indofood Sukses Makmur Tbk
2009
2010
2011
2012
2013
Sumber: www.idx.co.id (data diolah)
2
Laba Rugi
Pe rtumbuhan Laba
3.594.321
4.214.789
14,72%
4.268.102
1,25%
4.878.711
12,52%
5.249.932
7,07%
2.125.733.472
12.546.667.359
83,06%
36.919.316.551
66,02%
42.385.114.982
12,90%
(54.222.595.302)
-178,17%
5.991.716.796
2.794.104.212
-114,44%
5.424.322.790
48,49%
2.340.674.019
-131,74%
(12.040.411.197)
-119,44%
146.700.178
118.794.278
-23,49%
231.158.647
48,61%
107.808.155
-114,42%
175.444.757
38,55%
10.789.275
(8.043.270)
-234,14%
(25.420.338)
68,36%
(17.996.909)
-41,25%
(12.167.645)
-47,91%
101.611.778.666
131.445.098.783
22,70%
371.238.819.641
64,59%
398.703.851.969
6,89%
1.069.148.465.833
62,71%
72.272.233
110.880.522
34,82%
120.915.340
8,30%
163.909.089
26,23%
186.796.473
12,25%
3.486.781
3.934.808
11,39%
4.091.673
3,83%
5.049.446
3,12%
5.116.635
1,31%
Vol:IINo:5Januari2015
Jurankunman(JurnalAkuntansidanManajemen)
Berdasarkan Tabel 1.1, diatas menunjukkan bahwa dari delapan perusahanConsumer
Goods ada empat perusahaan yang mampu konsisten dan bertumbuh dalam menghasilkan
laba dalam kurun waktu 2009 – 2013, yaitu PT Mandom Indonesia Tbk, PT Gudang Garam
Tbk, PT Darya Varia Laboratoria Tbk dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk. Walaupun
pertumbuhan tersebut tidak selalu meningkat dari tahun ke tahun tetapi masih menunjukkan
pertumbuhan laba yang positif, sedangkan empat diantara perusahaan yang ada di Tabel 1.1
mengalami pertumbuhan yang tidak stabil dan bahkan ada yang mengalami penurunan laba
secara terus menerus dalam kurun waktu 2009 -2013. Salah satu contoh Pertumbuhan Laba
yang positif ditunjukkan oleh PT Mandom Indonesia Tbk, dimana pada tahun 2010
mengalami pertumbuhan sebesar 22,70% dari Rp.101.611.778.666,- menjadi
Rp.131.445.098.783,- Pada tahun 2011 mengalami pertumbuhan sebesar 64,59% dari
Rp.131.445.098.783,-menjadi Rp.371.238.819.641,- Pada tahun 2012 juga mengalami
pertumbuhan sebesar 6,89% dari Rp.371.238.819.641,- menjadi Rp.398.373.851.969.Demikian juga pada tahun 2013 juga mengalami pertumbuhan sebesar 62,71% dari
Rp.398.373.851.969.- menjadi Rp.1.069.148.465.833,Sedangkan contoh pertumbuhan laba yang mengalami ketidakkonsistenan dan
fluktuasi pertumbuhan adalah Pada tahun 2012, ada empat perusahaan yang mengalami
penurunan laba yaitu: PT Langgeng Makmur Industri Tbk. Perusahaan ini dari tahun 20092013 cenderung mengalami trend pertumbuhan yang menurun kecuali pada tahun 2011 yang
menunjukkan pertumbuhan positif sebesar 48,49 %. Bahkan pada tahun 2013 perusahaan
mengalami pertumbuhan laba negatif yang besar yaitu -119,44 % sehingga perusahaan
mengalami defisit sebesar Rp. 12.040.411.197.
Dari Tabel 1.1 dan uraian yang telah dikemukakan diatas menunjukkan bahwa
perusahaan yang berada didalam sektor Consumer Goods telah mengalami fluktuasi
pertumbuhan laba dalam kurun waktu 2009-2013, dengan besaran pertumbuhan yang
bervariasi.
Berdasarkan pertentangan antar peneliti-peneliti terdahulu (research gap) dan
fenomena yang ada maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang Faktor-Faktor
yang Mempengaruhi Pertumbuhan Laba pada perusahaan Consumer Goods di Bursa Efek
Indonesia yang diproksikan dengan rasio keuangan(Working Capital to Asset(WCTA),
Current Ratio(CR), Operating Income to Total Liabilities(OITL). Total Asset
Turnover(TAT), Gross Profit Margin(GPM), dan Net Profit Margin(NPM) terhadap
pertumbuhan laba pada perusahaan Consumer Goods dengan ukuran perusahaan sebagai
variabel moderating yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada periode 2009 sampai
dengan 2013.
TELAAH LITERATUR DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS
Analisis Rasio keuangan
Analisis rasio merupakan salah satu alat analisis keuangan yang paling banyak
digunakan. Suatu rasio mengungkapkan hubungan matematika antara suatu jumlah dengan
jumlah lainnya atau perbandingan antara satu pos dengan pos lainnya, meskipun rasio
hanyalah merupakan hubungan matematikan akan tetapi penjabaran dan intrepretasinya
dapat mempunyai arti dan kompleks.
Menurut Prastowo dan Juliaty (2005) analisis rasio keuangan adalah merupakan alat
analisis yang dapat memberikan jalan keluar dan mengambarkan simptom(gejala-gejala yang
tampak) suatu keadaan. Jika diterjemahkan secara tepat, rasio juga dapat menunjukkan areaarea yang memerlukan penelitian dan penanganan yang lebih mendalam.
Dalam hubungannya dengan keputusan yang diambil oleh perusahaan, analisis rasio
bertujuan untuk menilai efektivitas keputusan yang telah diambil oleh perusahaan dalam
rangka menjalankan aktivitas usahanya.
Secara garis besar analisis rasio keuangan dibagi menjadi lima area analisis yang
akan diharapkan dapat memberikan gambaran dan interpretasi mengenai kekuatan dan
kelemahan perusahaan terutama sebagai dasar pertimbangan untuk pengambilan keputusan.
Menurut Lubis dan Putra (2012) Rasio Keuangan dapat dibagi atas:
3
Vol:IINo:5Januari2015
Jurankunman(JurnalAkuntansidanManajemen)
1. Rasio Likuiditas, digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi
kewajiban jangka pendeknya.. Rasio Likuiditas terdiri dari :
a. Current Ratio yaitu perbandingan antara aktiva lancar dan hutang lancar
b. Quick Ratio yaitu perbandingan antara aktiva lancar dikurangi persediaan terhadap
hutang lancar
c. Working Capital to Total Asset (WCTA) yaitu perbandingan antaraaktiva lancar
dikurangi hutang lancar terhadap jumlah aktiva.
Dalam penelitian ini rasio likuiditas diproksikan dengan Working Caiptal to
Assetdan Current Ratio, karena menurut peneliti sebelumnya, rasio ini yang paling
berpengaruh terhadap pertumbuhan laba. Working Caiptal to Asset (WCTA) dapat
dirumuskan sebagai berikut (Riyanto, 1995).
Aktiva Lancar − Hutang Lancar
WCTA =
Jumlah Aktiva
Aktiva lancar berupa kas, persediaan dan trade receivables (pendapatan dari
dagang). Hutang lancar berupa trade payable, taxes payable dan currentmaturities of long
term debt. Jumlah aktiva merupakan penjumlahan dariaktiva lancar dengan aktiva tetap,
sedangkan Current Ratio(CR) yang juga digunakan dalam penelitian ini dapat dirumuskan
sesuai dengan Lubis dan Putra (2012).
Aktiva Lancar
CR =
Hutang Lancar
Aktiva lancar menggambarkan alat bayar dan diasumsikan semua aktiva lancar
benar-benar bisa digunakan untuk membayar, sedangkan hutang lancar menggambarkan
yang harus dibayar dan diasumsikan semua hutang lancer benar-benar harus dibayar. Rasio
Likuiditas, digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan
2. Rasio Solvabilitas/Leverage
Rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka
panjangnya. Rasio ini dapat diproksikan dengan (Ang, 1997, Mahfoedz, 1994 dan
Ediningsih, 2004):
a.
b.
Debt Ratio (DR) yaitu perbandingan antara total hutang dengan totalasset
Debt to Equity Ratio (DER) yaitu perbandingan antara jumlah hutanglancar dan
hutang jangka panjang terhadap modal sendiri
c.
Long Term Debt to Equity Ratio (LTDER) yaitu perbandingan antarahutang
jangka panjang dengan modal sendiri.
d.
Times Interest Earned (TIE) yaitu perbandingan antara pendapatansebelum pajak
(earning before tax, selanjutnya disebut EBIT) terhadap bunga hutang jangka
panjang.
e. Current Liability to Inventory (CLI) yaitu perbandingan antara hutanglancar
terhadap persediaan.
f. Operating Income to Total Liability (OITL) yaitu perbandingan antaralaba operasi
sebelum bunga dan pajak (hasil pengurangan dari penjualan bersih dikurangi harga
pokok penjualan dan biaya operasi) terhadap total hutang.
Dalam penelitian ini rasio leverage diproksikan denganOperating Income to Total
Liability (OITL), karena menurut peneliti sebelumnya, rasio-rasio ini yang paling
berpengaruh terhadap pertumbuhan laba. OITL dapat dirumuskan sebagai berikut (Riyanto,
1995):
Laba Operasi Sebelum Bunga Dan Pajak
OITL
=
Jumlah Hutang
Laba operasi sebelum bunga dan pajak merupakan hasil pengurangan dari penjualan
bersih, harga pokok penjualan dan biaya operasi. Jumlah hutang yang dimaksud adalah
penjumlahan antara hutang lancar dan hutang tetap .
3. Rasio Aktivitas
Menurut Kasmir (2011), rasio yang digunakan mengukur efektivitas perusahaan
4
Vol:IINo:5Januari2015
Jurankunman(JurnalAkuntansidanManajemen)
dalam menggunakan aset yang dimilikinya disebut rasio aktivitas. Sedangkan menurut
Harahap (2012), rasio aktivitas menggambarkan aktivitas yang dilakukan perusahaan dalam
menjalankan operasinya baik dalam kegiatan penjualan, pembelian dan kegiatan lainnya..
Rasio aktivitas dapat dibagi menjadi beberapa rasio:
a.
Total Asset Turnover (TAT) yaitu perbandingan antara penjualan bersihdengan
jumlah aktiva
b.
Inventory Turnover (IT) yaitu perbandingan antara harga pokokpenjualan dengan
persediaan rata-rata
c.
Average Collection Period (ACP) yaitu perbandingan antara piutangrata-rata
dikalikan 360 dibanding dengan penjualan kredit.
d.
Working Capital Turnover (WCT) yaitu perbandingan antara penjualanbersih
terhadap modal kerja.
Dalam penelitian ini rasio aktivitas diproksikan dengan Total Asset Turnover (TAT),
karena menurut peneliti sebelumnya, rasio ini yang palingberpengaruh terhadap
pertumbuhan laba. TAT dapat dirumuskan sebagai berikut Ang ( 1997).
Penjualan
𝑇𝐴𝑇 =
Total Aktiva
Penjualan bersih (net sales) merupakan hasil penjualan bersih selama satu tahun.
Total aktiva merupakan penjumlahan dari total aktiva lancar dan aktiva tetap.
4. Rasio Profitabilitas
Menurut Prastowo dan Juliaty (2005),rasio profitabilitas/rentabilitas digunakan untuk
mengukur efisiensi suatu perusahaan dalam menggunakan aktivanya, efisiensi ini dikaitkan
dengan penjualan yang berhasil diciptakan. Rasio profitabilitas dapat diproksikan dengan:
a.
Net Profit Margin (NPM) yaitu perbandingan antara laba bersih setelahpajak
(NIAT) terhadap total penjualannya.
b.
Gross Profit Margin (GPM) yaitu perbandingan antara laba kotorterhadap
penjualan bersih.
c.
Return on Asset (ROA) yaitu perbandingan antara laba setelah pajakdengan jumlah
aktiva.
d.
Return on Equity (ROE) yaitu perbandingan antara laba setelah pajak terhadap
modal sendiri.
Dalam penelitian ini rasio profitabilitas diproksikan dengan NPM dan GPM, karena
menurut peneliti sebelumnya, rasio-rasio ini yang paling berpengaruh terhadap pertumbuhan
laba. NPM dapat dirumuskan sebagai berikut Prastowo dan Juliaty(2005).
Laba Bersih Setelah Pajak
𝑁𝑃𝑀 =
Penjualan Bersih
Laba bersih setelah pajak dihitung dari laba sebelum pajak penghasilan dikurangi pajak
penghasilan. Penjualan bersih menunjukkan besarnya hasil penjualan yang diterima oleh
perusahaan dari hasil penjualan barang-barang dagangan atau hasil produksi sendiri
(Reksoprayitno, 1991).
GPM dapat dirumuskan sebagai berikut Prastowo dan Juliaty(2005):
Laba Kotor
𝐺𝑃𝑀
=
Penjualan Bersih
Laba kotor atau Gross Profit Margin adalah selisih antara penjualan dan harga pokok
penjualan. Rasio ini mengukur efisiensi produksi dan penentuan harga jual.
Pertumbuhan Laba
Dalam perkembangan perjalanan suatu operasi kegiatan bisnis mendapatkan laba
adalah merupakan tujuan utamanya. Dengan laba yang diperoleh akan dapat menunjang
pengembangan bisnis ke arah yang lebih baik dan maju, demikian juga untuk menunjang
investasi yang lebih besar dilakukan dengan menggunakan laba sebagai modal untuk
penambahan investasi serta dengan laba yang dicapai oleh manajamen akan menunjukkan
pencapaian kinerja manajemen. Posisi laba yang ditunjukkan dilaporan keuangan akan
5
Vol:IINo:5Januari2015
Jurankunman(JurnalAkuntansidanManajemen)
menjadi dasar bagi pemegang saham dalam menilai kinerja manajemen serta menjadi salah
satu dasar bagi pemegang saham/investor dalam pen Laba sebagai suatu alat prediktif yang
membantu dalam peramalan laba mendatang dan peristiwa ekonomi yang akan datang. Nilai
laba di masa lalu, yang didasarkan pada biaya historis dan nilai berjalan, terbukti berguna
dalam meramalkan nilai mendatang. Laba terdiri dari hasil opersional atau laba biasa dan
hasil-hasil nonoperasional atau keuntungan dan kerugian luar biasa di mana jumlah
keseluruhannya sama dengan laba bersih. Laba bisa dipandang sebagai suatu ukuran
efisiensi. Laba adalah suatu ukuran kepengurusan (stewardship) manajemen atas
sumberdaya suatu kesatuan dan ukuran efisiensi manajemen dalam menjalankan usaha suatu
perusahaan. (Belkaoui,2007).
Laba yang digunakan dalam penelitian ini adalah laba setelah pajak (Earning After
Tax), pertumbuhan laba dapat dirumuskan sebagai berikut (Usman,2003):
ΔYit = (Yit-Yit-1)
Yit-1
Dimana :
ΔYit = pertumbuhan laba pada periode t
Yit
= laba perusahaan i pada periode t
Yit-1=laba perusahaan i pada periode t-1
Ukuran Perusahaan
Secara umum besar kecilnya suatu perusahaan akan menentukkan bagaimana dia
dapat menguasai persaingan yang timbul dalam kegiatan bisnis. Ukuran perusahaan yang
besar cenderung dapat mengendalikan pasar dan sebaliknya jika ukuran perusahaan kecil
maka akan sulit bersaing dalam kegiatan bisnis. Menurut Panjaitan (2004) ukuran
perusahaan adalah suatu skala dimana dapat diklasifikasikan besar kecilnya perusahaan
menurut berbagai cara, antara lain: total aktiva, penjualan aset, log size, nilai pasar saham,
kapitalisasi pasar, dan lain-lain yang semuanya berkorelasi tinggi. Jika ada peningkatan atas
penjualan, total aktiva, log size, nilai pasar saham, serta kapitalisasi pasar maka dapat
dikatakan bahwa terjadinya juga peningkatan atas ukuran perusahaan.
Penelitian ini menggunakan total aktiva sebagai proksi dari ukuran perusahaa. Total
aktiva dipilih sebagai proksi ukuran perusahaan dengan mempertimbangkan bahwa nilai
aktiva relative lebih stabil dibandingkan dengan nilai market capitalized dan penjualan
(Sudarmadji 2007).Semakin besar aktiva suatu perusahaan, maka akan semakin besar pula
modal yang ditanam, semakin besar total penjualan suatu perusahaan maka akan semakin
banyak juga perputaran uang dan semakin besar kapitalisasi pasar maka semakin besar pula
kemampuan dalam mendapatkan laba.
Variabel ukuran perusahaan diukur dengan Logaritma Natural (Ln) dari total aktiva.
Hal ini dikarenakan besarnya total aktiva masing-masing perusahaan berbeda bahkan
mempunyai selisih yang besar, sehingga dapat menyebabkan nilai yang ekstrim. Untuk
menghindari adanya data yang tidak normal tersebut maka data total aktiva perlu di Ln kan.
Logaritma Natural sendiri adalah logaritma yang berbasis e adalah 2,7182818….yang
terdefinisikan untuk semua bilangan real positif x dan dapat juga didefinisikan untuk
bilangan kompleks yang bukan nol.
Adapun perhitungan ukuran perusahaan menurut Arini(2009) adalah sebagai berikut
:
Ukuran Perusahaan =Ln. Total Aktiva
Kerangka Konseptual
Berdasarkan latar belakang masalah, landasan teori dan masalah penelitian, maka
peneliti mengembangkan kerangka konsep yang diuji secara simultan dan partial
sebagaimana terlihat pada gambar 1
6
Vol:IINo:5Januari2015
Jurankunman(JurnalAkuntansidanManajemen)
Gambar 1: Kerangka konseptual
Hipotesis Penelitian
Berdasarkan latar belakang masalah, rumusan masalah dan kerangka konseptual, maka
hipotesis penelitian ini adalah:
1. Rasio keuangan WCTA, CR, OITL, TAT, NPM dan GPM berpengaruh secara simultan
dan parsial terhadap pertumbuhan laba pada perusahaan sector Consumer Goods yang
terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
2. Ukuran perusahaan dapat memoderasi hubungan WCTA, CR, OITL, TAT, NPM dan
GPM dengan pertumbuhan laba pada perusahaan sector Consumer Goods yang terdaftar
di Bursa Efek Indonesia.
METODOLOGI
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif eksplanasi yaitu
penelitian ini mencari berbagai variabel yang timbul dimasyarakat yang menjadi objek
penelitian. Tipe penelitian kuantitatif yang digunakan adalah penelitian kausal komparatif
yaitu penelitian dengan karakteristik masalah berupa sebab akibat antara dua variabel atau
lebih dan dalam waktu yang berbeda (Lubis,2012).
Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian sedangkan sampel adalah sebagian
atau wakil dari populasi yang diteliti. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh
perusahaan Consumer Goods di Indonesia yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
(BEI).Pemilihan sampel dalam penelitian ini menggunakanmetodenonprobabilitysampling
dengan jenis metode purposive sampling yaitu teknik penentuan sampel berdasarkan
kriteria-kriteriatertentu (Lubis,2012). Metode purpose sampling pada penelitian ini
dilaksanakan dengan memasukkan semua perusahaan Consumer Goods yang terdaftar di
BEI kemudian dibatasi pada perusahaan Consumer Goods yang memiliki kriteria sebagai
berikut:
1. Perusahaan Consumer Goods yang terdaftar di BEI dan konsisten ada selama periode
penelitian (tahun 2009 sampai dengan 2013).
2. Perusahaan Consumer Goods yang menyediakan data laporan keuangan selama kurun
waktu penelitian tahun secara kontinu (2009 sampai dengan 2013).
3. Perusahaan yang tidak mempunyai laba negatif selama waktu penelitian (2009 sampai
dengan 2013).
Definisi Operasional Variabel
Variabel Dependen
Variabel dependen dalam penelitian ini adalah pertumbuhan laba. Laba yang
digunakan dalam penelitian ini adalah laba setelah pajak (Earning After Tax),dapat
dirumuskan sebagai berikut (Usman, 2003).
(Yit − Yit − 1)
βˆ†Yit =
Yit − 1
Dimana :
ΔYit
= pertumbuhan laba pada periode t
Yit=laba perusahaan I pada periode t
Yit-1=laba perusahaan i pada periode t-1
Variabel Independen
7
Vol:IINo:5Januari2015
Jurankunman(JurnalAkuntansidanManajemen)
1. Working Capital to Total Asset (WCTA)
WCTA merupakan salah satu rasio likuiditas yang menunjukkan kemampuan
perusahaan dalam menggunakan aktiva lancar perusahaan, sehingga mampu membayar
utang jangka pendeknya tepat pada waktu yang dibutuhkan (Machfoedz, 1994).Working
Capital to Total Asset (WCTA) merupakan perbandingan antaraaktiva lancar dikurangi
hutang lancar terhadap jumlah aktiva.WCTA dapat dirumuskan sebagai berikut
(Riyanto, 1995).
WCTA =
Aktiva Lancar − Hutang Lancar
Jumlah Aktiva
2. Current Ratio(CR)
CRmerupakan salah satu rasio likuiditas yang menunjukkan kemampuan perusahaan
dalam menggunakan aktiva lancar perusahaan, sehingga mampu membayar hutang
jangka pendeknya tepat pada waktu yang dibutuhkan (Machfoedz, 1994).
Aktiva Lancar
CR =
Hutang Lancar
3. Operating Income to Total Liabilities (OITL)
Mahfoedz (1994) menyatakan bahwa OITL merupakan rasio solvabilitas/leverage yang
menunjukkan akan kemampuan pendapatan operasi perusahaan dalam melunasi seluruh
kewajibannya. OITL dapat dirumuskan sebagai berikut (Riyanto, 1995):
Laba Operasi Sebelum Bunga dan Pajak
OITL =
Jumlah Hutang
4. Total Asset Turnover (TAT)
TAT merupakan salah satu rasio profitabilitas yang menunjukkan efisiensi penggunaan
seluruh aktiva (total assets) perusahaan untuk menunjang penjualan (sales). TAT dapat
dirumuskan sebagai berikut (Ang, 1997).
Penjualan
TAT =
Total Aktiva
5. Net Profit Margin (NPM)
NPM termasuk salah satu rasio profitabilitas. NPM menunjukkan kemampuan
perusahaan dalam menghasilkan pendapatan bersihnya terhadap total penjualan
bersihnya (Riyanto, 1995). NPM dapat dirumuskan sebagai berikut (Ang, 1997).
Laba Bersih Setelah Pajak
NPM =
Penjualan Bersih
6) Gross Profit Margin (GPM)
GPM merupakan salah satu rasio profitabilitas yang menunjukkan tingkat kembalian
keuntungan kotor terhadap penjualan bersihnya (Ang, 1997). GPM dapat dirumuskan
sebagai berikut (Ang, 1997):
Laba Kotor
GPM =
Penjualan Bersih
Variabel Moderating
Variabel moderating adalah variabel independen yang memperkuat atau
memperlemah hubungan antara variabel independen lainnya terhadap variabel
dependen.Variabel moderating ini adalah penting tetapi bukanlah yang utama, dianggap
berpengaruh terhadap variabel dependen, tetapi tidak mempunyai pengaruh utama.
Variabel moderating yang digunakan dalam penelitian ini adalah Ukuran perusahaan
(Size) yang diproksikan dengan total asset perusahaan.Adapun perhitungan ukuran
perusahaan menurut Arini(2009) adalah sebagai berikut :
Ukuran Perusahaan =Ln. Total Aktiva
8
Vol:IINo:5Januari2015
Jurankunman(JurnalAkuntansidanManajemen)
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Statistik Deskriptif
Deskriptif statistik menyajikan nilai minimum, maksimum, rata-rata dan standar
deviasi dari masing-masing variabel bebas dan variabel terikat dapat dilihat pada tabel 6
berikut ini.
Tabel 6 : Deskriptif Statistik
Descriptive Statistics
N
WCTA
CR
OITL
TAT
NPM
GPM
Ukr.Perusahaan
Pertumbuhan Laba
Valid N (listwise)
110
110
110
110
110
110
110
110
110
Minimum
.00
.20
.02
.10
.01
.10
12.09
.00
Maximum
.73
13.00
3.09
6.00
.40
.72
33.00
1.10
Mean
.3155
3.1387
.6737
1.4305
.1075
.3680
22.8628
.2319
Std. Deviation
.19108
2.56455
.65227
.76092
.07553
.16501
5.74175
.23532
Sumber : Hasil penelitian, 2015 (data diolah)
Hasil Pengujian Asumsi Klasik
Dalam sebuah penelitian ilmiah untuk memastikan apakah penelitian tersebut adalah
layak untuk diuji atau tidak sebagai model regresi maka diperlukan pengujian terlebih dahulu
yaitu: uji asumsi klasik. Uji asumsi klasik yang digunakan dalam penelitian ini adalah
normalitas, multikoliniearitas. autokorelasi, dan heteroskedastisitas. Pengujian ini dilakukan
untuk memastikan bahwa normalitas terdapat pada data serta multikolinearitas, autokorelasi,
dan heteroskedastisitas tidak terdapat dalam model yang digunakan. Bila semua syarat yang
dipenuhi maka data yang digunakan telah layak untuk digunakan sebagai bahan untuk
pengujian model analisis regresi.
Hasil Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi , variabel
penganggu atau resdiual memiliki distribusi normal. Pada penelitian ini uji normalitas
digunakan dengan cara uji statistik non parametrik Kolmogorov-Smirnov (K-S). Uji K-S
dilakukan dengan membuat hipotesis:
H0 : Data residual tidak berdistribusi normal
Ha : Data residual terdistribusi normal
Untuk menentukannya maka kriterianya adalah sebagai berikut:
H0 : diterima apabila nilai signifikansinya (Asymp.Sig) < 0,05
Ha : diterima bila nilai signifikansinya ( Asymp.Sig ) > 0,05
Tabel 5.2 Hasil uji Normalitas
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
N
Normal Parameters a,b
Most Extreme
Differences
Mean
Std. Deviation
Absolute
Positive
Negative
Kolmogorov-Smirnov Z
Asymp. Sig. (2-tailed)
Unstandardized
Residual
110
.0000000
4.66913507
.061
.060
-.061
.637
.812
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
Sumber : Hasil Penelitian, 2015 (Data Diolah)
Tabel 5.2 memperlihatkan bahwa nilai Kolmogorov-Smirnov Z sebesar 0,637 dan
signifikansinya pada 0,812 nilainya diatas α = 0,05 (asymp.sig = 0,812 > 0,05) sehingga
hipotesis Ha diterima, yang berarti data residual terdistribusi normal.
9
Vol:IINo:5Januari2015
Jurankunman(JurnalAkuntansidanManajemen)
Histogram
Dependent Variable: Pertumbuhan Laba
Frequency
40
30
20
10
0
-2
0
2
4
Regression Standardized …
Mean =-1.04E-17
Std. Dev. =0.972
N =110
Sumber : Hasil Penelitian, 2015 (Data Diolah)
Gambar 5.1 Histogram
Normal P-P Plot of Unstandardized Residual
Expected Cum Prob
1.0
0.8
0.6
0.4
0.2
0.0
0.0 0.2 0.4 0.6 0.8 1.0
Observed Cum Prob
Sumber : Hasil Penelitian, 2015 (Data Diolah)
Gambar 5.2 Normal P-P Plot
Berdasarkan Gambar 5.1 dan Gambar 5.2 dapat disimpulkan bahwa grafik histogram
berbentuk lonceng sempurna dan grafik normal P-P Plot tersebar sepanjang garis diagonal.
Kedua grafik ini menunjukkkan bahwa data terdistribusi normal.
Hasil Uji Multikolinearitas
Uji multikoliniearitas dilakukan bertujuan untuk mengujji apakah model regresi
ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen). Pengujian Multikoliniearitas
dilakukan dengan menggunakan variance inflation factor (VIF). Data dikatakan tidak
mengalami multikolinearitas apabila nilai Tolerance ≥ 0,10 dan nilai VIF ≤ 10. Hasil
pengujian multikolinearitas atas penelitian ini dapat kita lihat pada Tabel 5.3 berikut ini:
Tabel 5.3 Hasil Uji Multikolinearitas
Coefficientsa
Model
1
WCTA
CR
OITL
TAT
NPM
GPM
Collinearity Statistics
Tolerance
VIF
.678
1.475
.819
1.221
.684
1.462
.907
1.102
.726
1.377
.719
1.390
a. Dependent Variable: Pertumbuhan Laba
Sumber : Hasil Penelitian, 2015 (Data Diolah)
Tabel 5.3 menunjukkan bahwa seluruh variabel independen memiliki nilai
Tolerance ≥ 0,10 dan nilai VIF ≤ 10 sehingga data penelitian ini tidak mengalami masalah
multikolinearitas.
10
Vol:IINo:5Januari2015
Jurankunman(JurnalAkuntansidanManajemen)
Hasil Uji Autokolerasi
Uji autokorelasi bertujuan menguji apakah dalam model regresi linear ada korelasi
antara pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu pada periode t-1
(sebelumnya). Uji Autokorelasi pada penelitian ini dilakukan menggunakan uji run test. Uji
run test dilakukan dengan membuat hipotesis:
H0 : Data tidak mengalami autokorelasi
Ha : Data mengalami autokorelasi
Untuk menentukan maka kriterianya
H0 : diterima bila nilai signifikansinya (Asymp. Sig ) > 0,05
Ha : diterima bila nilai signifikansinya (Asymp. Sig ) < 0,05
Tabel 5.4 Hasil Uji Autokorelasi
Runs Test
Test Valuea
Cases < Test Value
Cases >= Test Value
Total Cases
Number of Runs
Z
Asymp. Sig. (2-tailed)
Unstandardized
Residual
.29517
55
55
110
24
6.130
.720
a. Median
Sumber : Hasil Penelitian, 2015 (Data Diolah)
Tabel 5.4 diatas memperlihatkan nilai signifikansi uji run test adalah sebesar 0,720
dimana nilainya diatas α = 0,05 (Asymp Sig = 0,720 > 0,05) , sehingga dapat ditarik
kesimpulan bahwa data penelitian ini tidak mengandung gejala autokorelasi.
Hasil Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi
ketidaksamaan varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Pengujian
yang dilakukan dalam penelitian ini dengan melihat grafik scatterplot antara nilai prediksi
terkait (ZPRED) dengan residualnya (SRESID). Deteksi ada tidaknya heteroskesdastisitas
dapat dilakukan ddengan melihat ada tidaknya pola tertentu pada scatterplot antar SRESID
dan ZPRED dimana sumbu Y adalah Y yang telah diprediksi, dan sumbu X adalah residual
(Y prediksi- Y sesungguhnya ) yang telah distudentized.
Scatterplot
Regression
Standardized
Residual
Dependent Variable: Pertumbuhan Laba
4
2
0
-2
-2
-1
0
1
2
3
Regression Standardized Predicted Value
Sumber : Hasil Penelitian, 2015(Data Diolah)
Gambar 5. 3 Scatterplot Uji Heteroskedasitas
Dari scatterplot pada Gambar 5.3 diatas menunjukkan bahwa tidak ada pola yang
jelas atas penyebaran titik-titik diatas dan dibawah angka 0 pada sumbu Y sehingga dapat
disimpulkan bahwa data penelitian ini tidak mengandung gejala heteroskedastisitas. Uji
11
Vol:IINo:5Januari2015
Jurankunman(JurnalAkuntansidanManajemen)
heteroskedastisitas juga dapat dilihta melalui uji Glejser. Hasil uji Glejser juga menunjukkan
didalam model penelitian ini tidak terjadi heteroskedastisitas. Berikut ini Tabel 5.5 akan
memperlihatkan hasil uji Glejser.
Tabel 5.5 Hasil Uji Heteroskedastisitas
Coefficientsa
Model
1
(Constant)
WCTA
CR
OITL
TAT
NPM
GPM
Unstandardized
Coefficients
B
Std. Error
.726
.185
.318
.334
.142
.023
.341
.097
.093
.073
.707
.817
.185
.376
Standardized
Coefficients
Beta
.080
.477
.292
.092
.070
.040
t
-3.923
.953
6.256
3.499
1.275
.865
.491
Sig.
.000
.343
.124
.094
.205
.389
.624
a. Dependent Variable: abs_res_1
Sumber : Hasil Penelitian, 2015(Data Diolah)
Uji Glejser jika dilihat dari nilai signifikansi setiap variabel bebas yang harus diatas
0,05. Berdasarkan Tabel 5.5 diatas menunjukkan bahwa nilai signifikansi dari setiap
vatriabel bebas memiliki nilai diatas 0,05 yang berarti bahwa pada model penelitian ini tidak
terjadi heteroskedastisitas.
Hasil Uji Hipotesis
Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan Koefisien Determinasi (R2),
Uji-F secara simultan, Uji-t secara parsial dan uji residual (moderating).
Uji Determinasi (R2) Hipotesis Pertama
Untuk mengetahui seberapa besar variabel independen (WCTA, CR, OITL, TAT,
NPM, GPM) dapat menjelaskan variabel dependen Y (pertumbuhan laba). Hasil uji
koefisien determinasi (R2) dapat dilihat pada Tabel 5.6 berikut ini :
Tabel 5.6 Hasil Uji Determinasi ( R2 )
Model Summaryb
Model
1
R
.565a
R Square
.319
Adjusted
R Square
.280
Std. Error of
the Estimate
.19972
a. Predictors: (Constant), GPM, TAT, CR, NPM, OITL,
WCTA
b. Dependent Variable: Pertumbuhan Laba
Sumber : Hasil penelitian 2015 (Data Diolah)
Tabel 5.6 memperlihatkan bahwa nilai koefisien determinasi (Adjusted R square)
sebesar 0,28 atau 28 %. Hal ini berarti WCTA, CR, OITL, TAT GPM, NPM dapat
menjelaskan pengaruh terhadap Pertumbuhan Laba sebesar 28 % sedangkan sisanya 72 %
dijelaskan oleh variabel bebas lain diluar model estimasi ini.
Uji Hipotesis secara Simultan ( Uji F)
Uji-F dilakukan untuk mengetahui apakah secara simultan semua
variabel independen dalam model penelitian mempunyai pengaruh terhadap variabel
dependen. Hasil uji F yang dilakukan dapat dilihat pada Tabel 5. 7 berikut:
Tabel 5.7 Hasil Uji F
ANOVAb
Model
1
Regression
Residual
Total
Sum of
Squares
1.927
4.108
6.036
df
6
103
109
Mean Square
.321
.040
F
8.054
Sig.
.000a
a. Predictors: (Constant), GPM, TAT, CR, NPM, OITL, WCTA
b. Dependent Variable: Pertumbuhan Laba
Sumber : Hasil Penelitian, 2015(data diolah)
Berdasarkan Tabel 5.7 memperlihatkan bahwa nilai signifikansi
adalah 0,000 lebih kecil dari 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa secara simultan
WCTA, CR, OITL, TAT, NPM, GPM berpengaruh terhadap pertumbuhan laba. Artinya
hipotesis pertama secara simultan dapat diterima.
Uji Hipotesis secara Parsial ( Uji t )
Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa jauh satu independen secara
12
Vol:IINo:5Januari2015
Jurankunman(JurnalAkuntansidanManajemen)
individual berpengrauh terhadap variabel dependen (secara parsial) dengan mengganggap
variabel independen yang lain bersifat konstan. Pengujian ini dilakukan dengan
membandingkan nilai signifikansi t yang ditunjukkan oleh Sig dari t. Jika nilai Sig nilai <
0,05 maka variabel independen berpengrauh terhadap variabel. Untuk pengujian uji t pada
penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 5. 8 seperti dibawah ini:
Tabel 5.8 Hasil Uji-t
Coefficientsa
Model
1
(Constant)
WCTA
CR
OITL
TAT
NPM
GPM
Unstandardized
Coefficients
B
Std. Error
.060
.067
.371
.122
.018
.008
.120
.035
.078
.026
.591
.297
.277
.137
Standardized
Coefficients
Beta
.301
.191
.332
.251
.190
.194
t
.898
3.053
2.125
3.382
2.944
1.988
2.023
Sig.
.371
.003
.036
.001
.004
.049
.046
a. Dependent Variable: Pertumbuhan Laba
Sumber : Hasil penelitian 2015 (data diolah)
Berdasarkan Tabel 5.8 dapat ditunjukkan persamaan regresi linear berganda sebagai
berikut:
Y= 0,060+0,37X1+0,018X2+0,120X3+0,078X4+0,591X5+ 0,277X6
Adapun interpretasi dari persamaan regresi linear berganda diatas adalah sebagai
berikut:
1. Konstanta bernilai 0,060. Hal ini menunjukkan bahwa jika tidak ada pengaruh variabel
independen yaitu WCTA, CR, OITL, TAT, NPM dan GPM sama dengan nol, maka
pertumbuhan laba akan tetap sebesar 0,060.
2. WCTA bernilai 0,371. Hal ini menunjukkan bahwa jika WCTA naik 1 satuan, maka
WCTA pun akan naik sebesar 0,371 satuan dengan mengganggap nilai variabel
independen yang lain konstan.
3. CR bernilai 0,018. Hal ini menunjukkan bahwa jika CR naik 1 satuan, maka CR pun
akan naik sebesar 0,018 satuan dengan mengganggap nilai variabel independen yang lain
konstan.
4. OITL bernilai 0,120. Hal ini menunjukkan bahwa jika OITL naik 1 satuan, maka OITL
pun akan naik sebesar 0,120 satuan dengan mengganggap nilai variabel independen yang
lain konstan.
5. TAT bernilai 0,078. Hal ini menunjukkan bahwa jika TAT naik 1 satuan, maka TAT pun
akan naik sebesar 0,078 satuan dengan mengganggap nilai variabel independen yang
lain konstan.
6. NPM bernilai 0,591. Hal ini menunjukkan bahwa jika NPM naik 1 satuan, maka NPM
pun akan naik sebesar 0,591 satuan dengan mengganggap nilai variabel independen yang
lain konstan.
7. GPM bernilai 0,277. Hal ini menunjukkan bahwa jika GPM naik 1 satuan, maka GPM
pun akan naik sebesar 0,277 satuan dengan mengganggap nilai variabel independen
yang lain konstan.
Dari Tabel 5.8 juga dapat dijelaskan pengaruh dari masing-masing variabel
independen secara parsial, yaitu:
1. WCTA (X1) terhadap Pertumbuhan Laba (Y)
Hasil uji t untuk WCTA diperoleh nilai signifikansinya sebesar 0, 003 yang artinya nilai
signifikansinya lebih kecil dari 0,05. Artinya H0 ditolak dan Ha diterima. Hal ini
menunjukkan bahwa WCTA secara parsial berpengaruh terhadap pertumbuhan laba.
2. CR (X2) terhadap Pertumbuhan Laba
Hasil uji t untuk CR diperoleh nilai signifikansinya sebesar 0, 036 yang artinya nilai
signifikansinya lebih besar dari 0,05. Artinya H0 ditolak dan Ha diterima. Hal ini
menunjukkan bahwa CR secara parsial berpengaruh terhadap pertumbuhan laba.
3. OITL (X3) terhadap Pertumbuhan Laba
Hasil uji t untuk OITL diperoleh nilai signifikansinya sebesar 0, 001 yang artinya nilai
signifikansinya lebih kecil dari 0,05. Artinya H0 ditolak dan Ha diterima. Hal ini
menunjukkan bahwa OITL secara parsial berpengaruh terhadap pertumbuhan laba.
13
Vol:IINo:5Januari2015
Jurankunman(JurnalAkuntansidanManajemen)
4.
TAT (X4) terhadap Pertumbuhan Laba
Hasil uji t untuk TAT diperoleh nilai signifikansinya sebesar 0, 004 yang artinya nilai
signifikansinya lebih kecil dari 0,05. Artinya H0 ditolak dan Ha diterima. Hal ini
menunjukkan bahwa OITL secara parsial berpengaruh terhadap pertumbuhan laba.
5. NPM (X5) terhadap Pertumbuhan Laba
Hasil uji t untuk NPM diperoleh nilai signifikansinya sebesar 0, 049 yang artinya nilai
signifikansinya lebih besar dari 0,05. Artinya H0 ditolak dan Ha diterima. Hal ini
menunjukkan bahwa NPM secara parsial berpengaruh terhadap pertumbuhan laba.
6. GPM (X6) terhadap Pertumbuhan Laba
Hasil uji t untuk TAT diperoleh nilai signifikansinya sebesar 0, 046 yang artinya nilai
signifikansinya lebih kecil dari 0,05. Artinya H0 ditolak dan Ha diterima. Hal ini
menunjukkan bahwa GPM secara parsial berpengaruh terhadap pertumbuhan laba.
Uji Residual Moderating
Uji residual dilakukan untuk mengetahui apakah variabel moderating dapat
memperkuat atau memperlemah pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen
seperti terlihat pada Tabel 5.9 dan Tabel 5.10 berikut :
Tabel 5.9. Hasil Uji Residual (Moderating )
Model
1
(Constant)
WCTA
CR
OITL
TAT
NPM
GPM
Unstandardized
Coefficients
B
Std. Error
22.741
1.618
10.089
2.924
.405
.198
2.137
.853
1.294
.635
20.555
7.148
6.891
3.287
Standardized
Coefficients
Beta
.336
.181
.243
.172
.270
.198
t
14.051
3.450
2.045
2.506
2.039
2.876
2.097
Sig.
.000
.001
.043
.014
.044
.005
.038
Sumber : Hasil Penelitian 2015 (Data Diolah)
Tabel 5.10. Hasil Pengujian Variabel Moderating
Coefficientsa
Model
1
(Constant)
Pertumbuhan Laba
Unstandardized
Coefficients
B
Std. Error
-.021
.048
.474
.146
Standardized
Coefficients
Beta
.299
t
-.004
3.253
Sig.
.997
.002
a. Dependent Variable: moderate
Sumber : Hasil Penelitian 2015 (Data Diolah)
Berdasarkan Tabel 5.9 dan 5.10 tersebut di atas dapat disusun persamaan hasil uji
residual :
Z = 22,741 + 10,089X1 + 0,405X2 + 2,137X3 + 1,294X4 + 20,555X5 +
6,891X6 + e
/e/ = -0,021 + 13.474Y
Dari Tabel 5.9 dapat disimpulkan bahwa WCTA (X1), CR (X2), OITL (X3), TAT
(X4), NPM (X5), GPM (X6) berpengaruh terhadap Ukuran Perusahaan (variabel moderating).
Tabel 5.9 ini merupakan tabel proses yang bertujuan untuk mendapatkan nilai residual dari
variabel moderating. Nilai resdiual dari Tabel 5.9 digunakan sebagai variabel dependen pada
tabel 5.10. Pada Tabel 5.10 menunjukkan bahwa nilai signifikan 0,002 lebih kecil dari alpha
0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa ukuran perusahaan terbukti merupakan variabel
moderating yang mampu memperkuat/memperlemah hubunngan antara WCTA, CR, OITL,
TAT, NPM, dan GPM dengan Pertumbuhan Laba. Artinya , hipotesis kedua diterima.
PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN
Pengaruh WCTA terhadap Pertumbuhan Laba
Hasil pengujian WCTA terhadap Pertumbuhan Laba pada penelitian
ini menunjukkan bahwa WCTA berpengaruh positif dan signifikan. Positif dapat dilihat dari
nilai koefisien regresi 0,371 dan nilai signifikan 0,031 lebih kecil dari 0,05. Pengaruh positif
14
Vol:IINo:5Januari2015
Jurankunman(JurnalAkuntansidanManajemen)
menunjukkan bahwa WCTA searah dengan Pertumbuhan Laba dan pengaruh signifikan
menunjukkan bahwa WCTA mempunyai peranan penting dalam penentuan Pertumbuhan
Laba.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Takarini dan
Ekawati (2003) yang menyatakan bahwa WCTA berpengaruh positif dan signifikan
terhadap perubahan laba. Dan hasil penelitian ini juga sesuai dengan penelitian yang telah
dilakukan oleh Riyanto (1995).
Pengaruh CR terhadap Pertumbuhan Laba
Hasil pengujian CR terhadap Pertumbuhan Laba pada penelitian ini menunjukkan
bahwa CR berpengaruh positif dan signifikan. Positif dilihat dari nilai koefisien regresi 0,018
dan nilai signifikan 0, 36 lebih besar dari 0,05. Pengaruh positif menunjukkan bahwa CR
searah dengan Pertumbuhan Laba dan berpengaruh signifikan menunjukkan bahwa CR
mempunyai peranan penting dalam menentukan Pertumbuhan Laba.
Hasil ini menunjukkan adanya persamaan dengan hasil penelitian yang telah
dilakukan oleh Syamsudin dan Primaytua (2008) demikian juga yang dilakukan oleh Hartini
(2012) dimana CR berpengaruh terhadap perubahan laba.
Pengaruh OITL terhadap Pertumbuhan Laba
Hasil pengujian OITL terhadap Pertumbuhan Laba pada penelitian ini menunjukkan
bahwa OITL berpengaruh positif dan signifikan. Positif dapat dilihat dari nilai koefisien
regresi 0,120 dan nilai signifikan 0,01 lebih kecil dari 0,05. Pengaruh positif menunjukkan
bahwa OITL searah dengan Pertumbuhan Laba dan pengaruh signifikan menunjukkan
bahwa OITL mempunyai peranan penting dalam penentuan Pertumbuhan Laba.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rasio OITL berpengaruh terhadap
pertumbuhann laba, hasil ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Hapsari (2007)
dan Suwarno (2004) dengan hasil bahwa OITL tidak berpengaruh signifikan positif terhadap
pertumbuhan laba.
Pengaruh TAT terhadap Pertumbuhan Laba
Hasil pengujian TAT terhadap Pertumbuhan Laba pada penelitian ini menunjukkan
bahwa TAT berpengaruh positif dan signifikan. Positif dapat dilihat dari nilai koefisien
regresi 0,078 dan nilai signifikan 0,004 lebih kecil dari 0,05. Pengaruh positif menunjukkan
bahwa TAT searah dengan Pertumbuhan Laba dan pengaruh signifikan menunjukkan bahwa
TAT mempunyai peranan penting dalam penentuan Pertumbuhan Laba.
Hasil pengujian penelitian ini menunjukkan bahwa rasio TAT berpengaruh terhadap
pertumbuhan laba, hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Hapsari
(2007) dan Meiriewaty (2005) dengan hasil bahwa TAT berpengaruh signifikan positif
terhadap pertumbuhan laba. Hasil yang sama juga ditunjukkan oleh penelitian yang
dilakukan oleh Ang (1997).
Pengaruh NPM terhadap Pertumbuhan Laba
Hasil pengujian NPM terhadap Pertumbuhan Laba pada penelitian ini menunjukkan
bahwa NPM berpengaruh positif dan signifikan. Positif dilihat dari nilai koefisien regresi
0,591 dan nilai signifikan 0,049 lebih kecil dari 0,05. Pengaruh positif menunjukkan bahwa
NPM searah dengan Pertumbuhan Laba dan berpengaruh signifikan menunjukkan bahwa
NPM mempunyai peranan penting dalam menentukan Pertumbuhan Laba.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rasio NPM berpengaruh terhadap
pertumbuhan laba. Hasil ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Takarini
dan Ekawati (2003) dengan hasil bahwa NPM tidak signifikan terhadap Pertumbuhan Laba.
Pengaruh GPM terhadap Pertumbuhan Laba
Hasil pengujian GPM terhadap Pertumbuhan Laba pada penelitian ini menunjukkan
bahwa GPM berpengaruh positif dan signifikan. Positif dapat dilihat dari nilai koefisien
15
Vol:IINo:5Januari2015
Jurankunman(JurnalAkuntansidanManajemen)
regresi 0,271 dan nilai signifikan 0,046 lebih kecil dari 0,05. Pengaruh positif menunjukkan
bahwa GPM searah dengan Pertumbuhan Laba dan pengaruh signifikan menunjukkan
bahwa GPM mempunyai peranan penting dalam penentuan Pertumbuhan Laba.
Hasil penelitian ini memberikan gambaran bahwa rasio GPM berpengaruh positif
terhadap pertumbuhahn laba. Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Taruh
(2012) dan Hartini (2012) bahwa GPM mempunyai pengaruh positif terhadap pertumbuhan
laba.
Ukuran Perusahaan sebagai Variabel Moderating
Ukuran perusahaan merupakan nilai yang menunjukkan besar kecilnya perusahaan.
Ukuran perusahaan biasanya diukur dengan menggunakan total penjualan, total aset, dan
kapitalisasi pasar. Semakin besar nilai total penjualan, total aset, dan kapitalisasi pasar maka
semakin besar pula ukuran perusahaan
Pada penelitian ini menunjukkan bahwa Ukuran Perusahaan terbukti sebagai variabel
moderating. Nilai signifikansi 0,002 adalah lebih kecil dari 0,05 maka dapat disimpulkan
bahwa Ukuran Perusahaan dapat memperkuat/memperlemah hubungan WCTA, CR, OITL,
TAT, NPM, GPM terhadap Pertumbuhan Laba.
KESIMPULAN, KETERBATASAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan yang telah dilakukan pada
penelitian ini maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
Berdasarkan hasil analisis data serta pembahasan yang dilakukan pada bab sebelumnya,
maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Secara simultan WCTA, CR, OITL, TAT, NPM, GPM berpengaruh signifikan terhadap
Pertumbuhan Laba pada perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia sektor
Consumer Goods. Secara parsial WCTA, CR, OITL, TAT, NPM, GPM berpengaruh
dan signifikan terhadap Pertumbuhan Laba pada perusahaan swasta yang terdaftar di
Bursa Efek Indonesiasektor Consumer Goods.
2. Ukuran Perusahaan terbukti dapat memoderasi hubungan WCTA, CR, OITL, TAT,
NPM, GPM dengan Pertumbuhan Laba pada perusahaan Consumer Goods di Bursa
Efek Indonesia.
Keterbatasan Penelitian
Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan, yaitu :
1. Periode penelitian yang singkat. Periode yang diamatidalampenelitianinihanya 5 (lima)
tahun yaitu mulai tahun 2009sampaidengantahun2013.
2. Jumlah sampel perusahaan yang sedikit, hanya 22 perusahaan.
3. Variabel independen yang digunakanhanya mampu menjelaskan 28% pengaruhnya
terhadap Pertumbuhan Laba pada perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
sektor Consumer Goods.
Saran
Berdasarkan keterbatasan penelitian, maka penyempurnaan yang disarankan peneliti
untuk peneliti selanjutnya adalah :
1. Kepada peneliti selanjutnya yang ingin melakukan penelitianlan jutan tentang
Pertumbuhan Laba disarankan agar menggunakan rentang waktu lebih dari 5 tahun
untuk menemukan persamaan regresi yang memberikan gambaran yang
lebihbaikterhadappermasalahan yang diteliti.
2. Kepada peneliti yang ingin melakukan penelitian lanjutan tentang Pertumbuhan
Labadisarankan tidak hanya menggunakan sub sektor pada Perusahaan tertentu agar
16
Vol:IINo:5Januari2015
3.
Jurankunman(JurnalAkuntansidanManajemen)
dapat mendapatkan jumlah sampel yang lebih besar, sehingga akan mendapatkan
gambaran hasil yang lebih banyak
Variabel independen dalam penelitian ini hanya mampu menjelaskan 28% terhadap
Pertumbuhan Laba. Kepada peneliti selanjutnya yang berminat melakukan penelitian
terhadap Pertumbuhan Laba disarankan untuk menambah variabel penelitian, seperti
pertumbuhan ekonomi,.rasio keuangan lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
Ang, Robert, 1997, Buku Pintar: Pasar Modal Indonesia, Mediasoft Indonesia.
Arini, Riska Irva. 2009. Analisis Pengaruh Ukuran Perusahaan, Kualitas Aktiva Produktif,
Likuiditas Dan Tingkat Suku Bunga Terhadap Kinerja Keuangan Bank Syariah
Periode 2005-2008. Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro.
Arif, Abubakar, 2006,”Analisis Rasio Keuangan Dalam Memprediksi Pertumbuhan Laba
pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI”. Jurnal Informasi Perpajakan,
Akuntansi, dan Keuangan Publik. Vol. 1.
Asyik, Nur Fadjrih dan Soelistyo, 2000,”Kemampuan Rasio Keuangan dalam Memprediksi
Laba”, Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia, Vol.15, No. 3
Baridwan, Zaki, 2004. Intermediate Accounting. Edisi 8. : BPFE, Yogyakarta.
Belkaoui dan , Ahmed Riahi 2007, Teori Akuntansi, Edisi Kedua, Erlangga.
Chariri danGhozaliImam, 2004 Teori Akuntansi,Badan Penerbit Universitas Diponegoro,
Semarang.
Daulay, Murni. 2010, Metodologi Penelitian Ekonomi,USU Press. Medan.
Ediningsih, Sri Isworo, 2004, ”Rasio Keuangan dan Prediksi Pertumbuhan Laba: Studi
Empiris pada Perusahaan Manufaktur di BEJ”,Wahana, Vol. 7, No. 1.
Financial Accounting Standards Board (FASB), 1978, Statement of FinancialAccounting
Concepts No.1: Objectives of Financial Reporting by BusinessEnterprises, Stamfort,
Connecticut.
Ghozali, Imam, 2006, Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS, Badan Penerbit
Universitas Diponegoro.
Gujarati, Damodar, 1999, Basic Econometrics, Mc Graw Hill Inc: New York.
Gunawan, Wahyuni, 2013,” Pengaruh Rasio Keuangan terhadap Pertumbuhan pada
Perusahaan Perdagangan di Indonesia,Jurnal Manajemen & Bisnis Vol. 13 No.1.
Hapsari, Epri Ayu dan Prasetiono, 2007, “Analisis Rasio Keuangan Untuk Memprediksi
Pertumbuhan Laba (Studi Kasus: Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar di Bursa
Efek Jakarta Periode 2001 sampai dengan 2005),Jurnal Studi Manajemen dan
Organisasi, Vol.6.No.1.
Harahap, Sofyan Syafri, 2012, “Teori Akuntansi”Rajawali Press, Jakarta.
Innocent, Chinedu Enekwe, Okwo Ifeoma Mary, Ordu Monday Matthew (2013),” Financial
Ratio Analysis as a Determinant of Profitability in Nigerian Pharmaceutical
Industry”International Journal Business and Management, Vol.8 No.8
Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). 2009. Standar Akuntansi Keuangan, Salemba Empat,Jakarta
Juliana, Roma Uly dan Sulardi, 2003, ”Manfaat Rasio Keuangan Dalam Memprediksi
Perubahan Laba Perusahaan Manufaktur ”, Jurnal Bisnis & Manajemen, Vol. 3, No.2
Lusiana, Noor Andriyani, 2008, “Analisis Kegunaan Rasio-Rasio Keuangan Dalam
Memprediksi Perubahan Laba: Studi Empiris Pada Perusahaan Yang Terdaftar Di
BEI.
Kasmir, 2011, “Analisis Laporan Keuangan”, Rajagrafindo Persada, Jakarta.
Lubis,Fatma Ade dan Adi Syahputra, 2012,”Metodologi Penelitian Akuntansi dan Format
Penulisan Tesis” USU Press, Medan.
Machfoedz, Mas’ud, 1994, “Financial Ratio analysis and The Prediction of Earnings
Changes In Indonesia”, Kelola,Vol III,No. 7.
Munawir, S, 2004, “Analisa Laporan Keuangan”,Edisi Keempat, Liberty, Yogyakarta.
17
Vol:IINo:5Januari2015
Jurankunman(JurnalAkuntansidanManajemen)
Meriewaty dan Setyani, 2005, “Analisis Rasio Keuangan terhadap Perubahan Kinerja pada
Perusahaan di Industri Food and Beverages yang terdaftar di BEJ”. SNA VIII.
Meythi, 2005, “Rasio Keuangan yang paling baik Untuk Memprediksi Pertumbuhan Laba:
Suatu studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek
Jakarta”,Jurnal Ekonomi dan Bisnis Vol. XI No. 2.
Nugroho, Augustinus Heri, 2003, “Evaluasi Terhadap Alternatif-Alternatif Penilaian Kinerja
Perusahaan”, Antisipasi, Vol. 7, No. 2.
Ou, Jane A., 1990, “The Information Content of Nonearnings Accounting Numbers as
Earnings Predictors”, Journal of Acounting Research, Vol. 2, No. 1.
Panjaitan, Yunia dkk, 2004. Analisis Harga Saham, Ukuran Perusahaan dan RisikoTerhadap
Return Yang Diharapkan Investor Pada Perusahaan-PerusahaanSaham Aktif, Jurnal
Balance Vol. 1, No.1 .
Prastowo, Dwi dan Juliaty Rifka, 2005, Analisis Laporan Keuangan, Konsep dan Aplikasi,
Edisi 2, UPP AMP YKPN.
Reksoprayitno, Soediyono, 1991, Analisis Laporan Keuangan: Analisis Rasio,
Liberty, Yogyakarta.
Riyanto, Bambang, 1995, “Dasar-dasar Pembelanjaan Perusahaan”,Edisi 4,
BPFE,Yogyakarta.
Salvatore, Dominick, 2001, Managerial Economics in a Global Economy 4th
Edition, Harcourt College Publishers.
Sawir,Agnes Sawir, 2009, Analisis Kinerja Keuangan dan Perencanaan Keuangan
Perusahaan, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Simorangkir, Charles (2003), Manajemen Keuangan, Jakarta: Badan Penerbitan FE
Universitas Indonesia.
Syamsudin dan Priyatua, 2008, “Rasio Keuangan dan Prediksi Perubahan Laba Perusahaan
Manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia”,Jurnal Manajemen dan Bisnis,
Vol.13, No. 1.
Syahyunan, 2013, Manajemen Keuangan, USU Press.
Sudarmadji, Ardi Murdoko dan Sularto, 2007. “Pengaruh Ukuran Perusahaan, Profitabilitas,
leverage, dan Tipe Kepemilikan Perusahaan Terhadap Luas Voluntary Disclosure
Laporan Keuangan Tahunan”, Proceeding PESAT, Vol 2.
Suwarno, Agus Endro, 2004, “Manfaat Informasi Rasio Keuangan Dalam Memprediksi
Perubahan Laba (Studi Empiris terhadap Perusahaan Manufaktur Go Publik di Bursa
Efek Jakarta)”. Jurnal Akuntansi dan Keuangan, Vol. 3, No. 2.
Takarini, Nurjanti dan Erni Ekawati, 2003, “Analisis Rasio Keuangan dalam Memprediksi
Perubahan Laba Pada Perusahaan Manufaktur di Pasar Modal Indonesia”, Ventura,
Vol. 6 No. 3.
Taruh, Victorson, 2012,” Analisis Rasio Keuangan dalam Memprediksi Pertumbuhan Laba
Pada Perusahaan Manufaktur di BEI”, Jurnal Akuntansi dan Auditing, Vol.3 No.12.
Usman, Bahtiar, 2003, “Analisis Rasio Keuangan dalam Memprediksi Perubahan Laba pada
Bank-Bank di Indonesia”,Media Riset Bisnis & Manajemen, Vol 3 No. 1.
Wibowo, Pujiati, 2011,” Analisis Rasio Keuangan Dalam Memprediksi Perubahan Laba
pada Perusahaan Real Estate dan Property di Bursa Efek Indonesia(BEI) dan
Singapura(Sgx)”The Indonesian Accounting Review Vol.1, No.2.
Windi, Hartini, 2012,”Pengaruh Rasio Keuangan Terhadap Pertumbuhan Laba dengan
Pengungkapan Corporate Social Responsibility sebagai Variabel Pemoderasi”,
Management Analysis Journal.
Wijayati, 2005, “Kemampuan Informasi Keuangan Memprediksi Perubahan Laba”,Jurnal
Bisnis dan Manajemen, Vol. 5, No. 1.
Wild, Jhon J, Subramanyam dan Robert F Halsey (2005).”Analisis Laporan
Keuangan”,Buku Satu Edisi 8. Jakarta: Salemba Empat.
18
Download
Study collections