PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
DEMOKRATISASI MUSIK: PENGARUH GLOBALISASI
TERHADAP IDENTITAS PEMELUK GAYA HIDUP NETLABEL
DI INDONESIA
Tesis
Untuk memenuhi persyaratan mendapat gelar Magister Humaniora (M.Hum.) di
Program Magister Ilmu Religi dan Budaya, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta
Oleh:
Kusuma Prasetyo Putro
116322002
Program Magister Ilmu Religi dan Budaya
Universitas Sanata Dharma
Yogyakarta
2013
i
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
ii
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
SURAT PERNYATAAN KEASLIAN
Yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama
: Kusuma Prasetyo Putro
NIM
: 116322002
Program : Program Pascasarjana Ilmu Religi dan Budaya
Institusi : Univ. Sanata Dharma Yogyakarta
Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa tesis
Judul : DEMOKRATISASI MUSIK: PENGARUH GLOBALISASI
TERHADAP IDENTITAS PEMELUK GAYA HIDUP NETLABEL DI
INDONESIA
Pembimbing : 1. Benedictus Hari Juliawan, S.J. Ph.D.
2. Dr. FX. Baskara T. Wardaya
Tanggal diuji : 26 Agustus 2013
Adalah benar-benar karya saya
Di dalam skripsi/ karya tulis/ makalah ini tidak terdapat keseluruhan atau sebagian
tulisan atau gagasan orang lain yang saya ambil dengan cara menyalin atau meniru
dalam bentuk rangkaian kalimat atau simbol yang saya akui seolah-olah sebagai
tulisan saya sendiri tanpa memberikan pengakuan kepada penulis aslinya.
Apabila kemudian terbukti bahwa saya ternyata melakukan tindakan menyalin atau
meniru tulisan orang lain atau seolah-olah hasil pemikiran saya sendiri, saya bersedia
menerima sanksi sesuai peraturan yang berlaku di Program Pascasarjana Ilmu Religi
dan Budaya Univ. Sanata Dharma Yogyakarta termasuk pencabutan gelar Magister
Humaniora (M.Hum) yang telah saya peroleh.
iv
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
LEMBARPERNYATAANPDRSETUJUAN
PUALIKASIKARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINCAN
AKADEMIS
blqah irri,say.mah$i$r Universnrs
sanat.Dhffmai
I Ku mnPr.serloPuko
.
6122001
Demi penecrnbangrn
Inu pengetahuxn,
sayxhcmberikankcpadaPeryustakaan
Univeciras
SanxkDhrm! krrla ilmi:h salayafgbeiudull
Df,MOKR-ATISASI
MUSIK: PINGARUH GLOBALTSAST
TERHADAP IDENTITAS PEMELUK GAYA HIDUP NETI,IB-EI DI
INDONESIA
(Lrilaada).Densandemikiatr
beena pemnskdylns diperlukan
say. mcmberikan
kepadaPe9Nrak.anUnivositm San.tx Dhxrmahak untuk Drenyimpan,
me
nCallhklndalambentukmediahir, Dcneclolanyx
dxlambenfukpangklm d l
me0distribusikxn
sec.mre6xras.d memprblikasikarDya
di lnrefietaraumedi0
l.'
dnu\ \eDe f tr'&n o\ade1'.'droo p- |
h,.'flJ
Jdi
J)J n,'F'
ndn
"n
berihn rcyaliikepada
sayaselama
telapmcncantumkan
nxfrasalasebagaipennlis
Defrikiaipeh!.ran iniyaDgsaydbuatdengan
sebcmrny..
PxdJrrn$Jl .23 Ottober20ll
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
PERSEMBAHAN
I’d rather be hated for who I am, than loved for who I’m not
(Kurt Cobain)
v
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
KATA PENGANTAR
Sudah dua tahun berlalu sejak pertama kali saya masuk kelas IRB. Waktu
yang cepat sekali berlalu, sepertinya baru beberapa waktu lalu kita saling bergosip
tentang teman sekelas. Sepertinya baru kemarin saya pontang-panting mengerjakan
tugas kuliah. Ya sudahlah, semuanya ada kalanya berlalu. Saya merasa bangga
menjadi bagian dari keluarga besar Magister Ilmu Religi dan Budaya.
Terima kasih saya ucapkan kepada dosen sekaligus pembimbing pertama
saya, Romo Beni. Saya ingat sekali pada hari pertama kuliah beliau memperkenalkan
diri sebagai dosen baru kepada seluruh mahasiswa, dengan nada malu-malu,
berpakaian rapi, kemeja warna biru muda yang dimasukkan. Dua tahun kemudian,
saya lulus dari IRB dan beliau juga pindah tugas di Jakarta. Selama perkuliahan saya
merasa dekat dengan beliau, karena semua masalah perkuliahan bisa di “curhat” kan
kepada beliau dan yang paling penting saya bisa bimbingan tesis pada malam hari
setelah pulang kerja. Beliau memberi semangat “muda” ke IRB di tengah keruwetan
mata kuliah dan hal membosankan lainnya. Beliau mempunyai gaya mengajar yang
menginspirasi. Kalau boleh jujur, tesis ini sebenarnya lebih cocok kalau ditulis atas
nama beliau, karena banyak sekali pemikiran beliau yang saya masukkan di tesis ini.
Terima kasih untuk pertemanannya Romo.
vi
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Terima kasih selanjutnya ingin saya tujukan kepada pembimbing kedua saya,
Romo Baskara. Sejujurnya sejak pertama kali masuk IRB saya sudah sering
mendengar “gossip” mengenai beliau, tetapi saya baru berkesempatan bertemu pada
semester 3 setelah beliau pulang dari Amerika. Sebelum bertemu beliau saya sempat
memiliki rasa takut terhadap tokoh ini, bayangkan saja beliau ilmuwan yang sudah
menulis banyak buku, mengajar di Amerika, dan banyak berita “wah” lainnya. Saya
takut ketika bertemu beliau lalu saya di bombardir dengan pertanyaan yang sama
sekali tidak bisa saya jawab. Tapi apa yang terjadi? Itu semua hanya mitos dan
ketakutan saya yang sama sekali tak beralasan. Beliau adalah orang yang “Humble”
dan pendengar yang baik. Beliau mampu menyederhanakan hal yang paling sulit
sekalipun. Setiap selesai bimbingan beliau selalu mengucapkan, “Terima kasih juga,
Saya juga belajar banyak dari kalian.” Kata-kata yang sederhana, tetapi itu sungguh
bisa membuat saya bersemangat mengerjakan tesis sampai larut malam.
Sungguh, saya tidak pandai berbasa-basi seperti ini. Saya ingin mengucapkan
terima kasih yang sebesar-besarya kepada orang tua saya yang mengijinkan saya
kuliah di IRB. Terima kasih juga kepada seluruh dosen IRB dan sekretariat IRB yang
selalu ramah dalam melayani. Tidak lupa terima kasih kepada teman-teman kuliah
saya di IRB dan juga teman nge-band saya yang memberi hiburan saat “weekend
tour”. Terima kasih juga buat teman-teman musisi, komunitas netlabel, dan band
yang bersedia repot-repot memberikan waktunya untuk saya wawancarai.
vii
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Well, emmmm….. Tesis ini sempat terhenti 3 bulan, buku teori Giddens yang
sempat saya “untel-untel” karena susah dipahami, dan berbagai kendala lainnya.
Akhirnya tesis ini selesai juga.
Kusuma Prasetyo Putro
2013
viii
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
ABSTRAK
Netlabel adalah perusahaan rekaman berbasis internet. Kemunculan Netlabel
tidak dapat dilepaskan dari pengaruh globalisasi musik. Kehadiran Netlabel
memberikan pengaruh kepada pemilik Netlabel, musisi maupun konsumennya.
Proses mempengaruhi inilah yang pada akhirnya memunculkan suatu strategi baru
dalam mencipta maupun mengkonsumsi musik.
Konsep Netlabel adalah konsep yang berasal dari luar negri, dan ketika
Netlabel dihadirkan di Indonesia memiliki pemaknaan berbeda. Di luar negri Netlabel
hadir sebagai bentuk demokratisasi di bidang musik dan merupakan bagian dari scene
musik. Sementara itu di Indonesia, Netlabel hadir sebagai bagian dari maraknya
pembajakan dan pengunduhan musik secara illegal. Tidak hanya itu, di Indonesia
Netlabel hadir di tengah cepatnya laju modernitas yang membuat Negara-negara
Berkembang seperti Indonesia menjadi pontang-panting mengikuti arusnya.
Modernitas yang terjadi di Indonesia tidak sesempurna yang dibayangkan karena
dalam masyarakat modern banyak hal tidak dapat diprediksi. Modernitas di Indonesia
mengalami berbagai hambatan. Itulah sebabnya modernitas yang terjadi di Indonesia
membentuk identitas yang berbeda dari negara-negara lain. Pemahaman tersebut
dapat kita gunakan untuk menjawab pertanyaan: Bagaimana modernitas dan
globalisasi berpengaruh terhadap terbentuknya Netlabel di Indonesia? dan Bagaimana
posisi Netlabel dalam membentuk identitas seseorang dalam mengkonsumsi musik di
Indonesia?
Perkembangan Netlabel di Indonesia saya anggap perlu dibahas karena
lahirnya Netlabel di Indonesia tidak hanya sebatas tren, tetapi merupakan suatu
pergerakan. Pergerakan ini mulanya hadir dari berbagai macam keterbatasan, namun
kini Netlabel menjadi sikap politik terhadap industri rekaman. Untuk menganalisis
hal tersebut saya menggunakan teori-teori Giddens tentang modernitas, globalisasi
dan identitas. Dari kajian yang telah dilakukan ternyata kehadiran Netlabel di
Indonesia lahir dengan berbagai misi, di antaranya misi anti-kapitalisme,
demokratisasi pasar, dan misi untuk hadir dengan semangat Do It Yourself.
Semangat-semangat itulah yang merupakan identitas pemeluk gaya hidup Netlabel.
Kata kunci: Globalisasi, Modernitas, Identitas, Teknologi, Musik, Netlabel
ix
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
ABSTRACT
Netlabel is an internet based recording label. The emergence of Netlabel
cannot be separated from the influence of music globalization. Netlabel gives
influences to its owners, its musicians, and its customers. This influencing process
would deliver a new strategy in creating and consuming music.
Netlabel is a common concept abroad, but when it is presented in Indonesia,
the sense is also different. Netlabel abroad came as a democratic way in music and a
part of music scene. However, it is different in Indonesia. Netlabel in Indonesia
emerged when the popularity of piracy and downloading music illegally were rising.
Not only that, Netlabel became apparent in Indonesia when modernity makes
Developing Countries like Indonesia are having difficulties to get along with it.
Modernity in Indonesia is not perfect as an ideal because everything cannot be
predicted in modern society. Modernity in Indonesia undergoes many obstacles.
Therefore modernity in Indonesia has different identities from other countries. This
view can be used to answer the questions: How does modernity and globalization
influence the existence of Netlabel in Indonesia? and How does Netlabel position
shape someone’s identity in consuming music in Indonesia?
The development of Netlabel in Indonesia is worth analyzed because the birth
of Netlabel in Indonesia is not a mere trend, but also a movement. At first, this
movement came with many limits, but now Netlabel serves as a political standpoint
against recording industry. This thesis uses Giddens’ theories of modernity,
globalization, and identities to analyze those subjects. From the analysis, it can be
concluded that Netlabel in Indonesia was born with Do It Yourself spirit and various
missions, which includes the mission of anti-capitalism and democratization of
market. Those spirits are the identities of those who have Netlabel lifestyle.
Keywords: Globalization, Modernity, Identity, Technology, Music, Netlabel
x
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL……………….………………………………………………….i
HALAMAN PERSETUJUAN………………………………………………………..ii
HALAMAN PENGESAHAN………………………………………………………..iii
HALAMAN PERNYATAAN………………………………………………………..iv
PERSEMBAHAN…………………………………………………………………….v
KATA PENGANTAR………………………………………………..……………...vi
ABSTRAK………………………………………………………...………………...vii
ABSTRACT………………………………………...……………………………......ix
DAFTAR ISI…………………………………………………..……………………..x
BAB I: PENDAHULUAN………..………………………..………………………..1
1. Latar Belakang…………………………………………..………………………...1
2. Tema……………………………………………..………………………………..8
3. Rumusan Masalah……………………………………..…………………………..9
4. Tujuan Penelitian………………………………..………………………………...9
5. Pentingnya Penelitian………………………………………..…………………..10
6. Tinjauan Pustaka ...................................................................................................10
xi
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
7. Kerangka Teoritis………………………………………......................................15
8. Metode Penelitian……………………………………………..…………………20
9. Sistematika Penulisan……………………………………………..……………..23
BAB II: REVOLUSI MUSIK DIGITAL DAN INTERNET……...………..……25
1. Periode Kaset sampai Compact Disc (CD)…………..…………………………..26
2. Periode Internet…………..……………………………………………………....27
3. Musik Digital dan Internet di Indonesia…………..……………………………..32
4. Netlabel..................................................................................................................39
5. Kesimpulan……………..………………………………………………………..44
BAB III: KEGAGALAN MODERNITAS DALAM TEKNOLOGI MUSIK DI
INDONESIA………………………………………………………………………..47
1. Keterbatasan Expert System dan Symbolic Tokens di Indonesia………..……….48
2. Lemahnya Penegakan Hukum di Indonesia………….………………………….57
3. Sistem Ekomoni dan Terhambatnya Modernitas……….……………………….64
4. Trust, Risk dan Ontological Security…………..………………………………...69
5. Kesimpulan……………..………………………………………………………..74
BAB IV: KETERBATASAN MENIKMATI MUSIK SEBAGAI AGENDA
POLITIK…………………………………………………………………………....77
1. Indonesian Netaudio Festival sebagai Proklamasi Identitas…….………………78
2. Gaya Hidup Indie Sebagai Sikap Politik…………..…………………………….88
3. Semangat Berbagi melalui Netlabel……………………......................................99
4. Netlabel Sebagai Media Alternatif Dalam Mengkonsumsi Musik…………..…110
5. Jejaring Netlabel dengan Sesama Komunitas Penganut Life Politics.................113
6. Kesimpulan…………………………..…………………………………………117
BAB V: KESIMPULAN…….…………………………………………………… 109
xii
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
1. Pembentukan Identitas Baru Melalui Netlabel………………..………………..121
2. Identitas Netlabel Berubah Menjadi Agenda Politik…………..……………….125
3. Apakah Netlabel Masih Bertahan di Masa Depan? ............................................127
GLOSARIUM…….………………………………………………………………. 129
DAFTAR PUSTAKA………………………………..……………………………..131
LAMPIRAN............................................................................................................ 133
xiii
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
BAB I
PENDAHULUAN
Penyebab utama penurunan album rekaman di Indonesia adalah pembajakan dan
perkembangan teknologi informasi.
Putranto (2009: 113)
1.
Latar Belakang
Membaca pernyataan Putranto di atas membuat saya tertarik untuk meneliti
mengenai industri musik di Indonesia saat ini. Maraknya pembajakan album rekaman
di Indonesia menjadi daya tarik tersendiri untuk saya. Apakah pembajakan album
rekaman yang terjadi di Indonesia merupakan dampak dari perkembangan teknologi
informasi yang pesat? Kalau memang pembajakan merupakan dampak dari
perkembangan teknologi informasi, mengapa pembajakan album rekaman tidak
terjadi di negara-negara lain yang notabene memiliki teknologi yang lebih maju?
Kegelisahan inilah yang membuat saya melakukan penelitian untuk menjawab
kegelisahan-kegelisahan tersebut.
Dunia rekaman musik bermula sekitar akhir abad 19. Saat itu Thomas Alfa
Edison menemukan alat perekam suara yang disebut dengan fonograf. Sejak itu
musik segera menjadi bentuk komersil dan menjadi objek kapitalis (Rez, 2008:69).
Dalam masyarakat borjuis, seni dimanipulasi untuk kepentingan ekonomi dan politik.
Mulanya, orang harus memasukkan koin agar dapat mendengarkan rekaman selama
dua menit. Lalu seiring berkembanganya teknologi, dimulailah era piringan hitam,
1
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
lalu kaset, dan CD yang mengakibatkan masyarakat dapat memiliki dan mengoleksi
musik. Benda-benda ini selalu laris terjual (Budiarto, 2001:32). Menurut Adorno
dengan adanya industrialisasi, rekaman musik seakan mengalami puncak komoditi
yaitu mengalami “pengalengan” besar-besaran dalam piringan hitam bahkan kasetkaset yang dijual umum di pasaran.1
Perkembangan teknologi rekaman yang pesat selama 30 tahun terakhir
membuat musik menjadi lebih mudah diakses. Rekaman analog perlahan tapi pasti
telah digantikan oleh rekaman digital. Era rekaman digital dimulai sejak tahun 1990an. Era itu dapat dilihat melalui peralihan media mendengarkan musik dari kaset ke
CD. Selanjutnya perkembangan informasi dan teknologi saat ini ditandai dengan
populernya internet pada awal tahun 2000. Internet memungkinkan semua orang
untuk menduplikasi dan mengunduh musik dengan cepat dan tak terbatas ruang dan
waktu. Hal itu sesuai yang diungkapkan Rosen (2008:649) bahwa perkembangan
teknologi yang sangat pesat menimbulkan dampak dramatis terhadap distribusi karyakarya yang dilindungi hak cipta lewat media komunikasi massa, terutama internet di
masa ini. Hal ini menghasilkan peperangan budaya dan bisnis antara (1) pemilik hak
cipta dan pemilik modal di satu pihak, dan (2) pencipta teknologi dan pengguna
teknologi yang melanggar hak cipta karya di pihak lain.
1
Budiarto, Teguh. 2001. Musik Modern dan Ideologi Pasar. Yogyakarta:Tarawang Press. Hlm 60.
Pada bagian tersebut Budiarto mengutip Adorno tentang bagaimana sebelumnya musik dinikmati
secaragratis sebelum era industrialisasi, tetapi setelah ditemukannya alat perekam maka musik menjadi
diperjual belikan.
2
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Perlahan tapi pasti, era digital telah menyebar ke seluruh dunia, termasuk
Indonesia. Di Indonesia sendiri era digital saat ini mengakibatkan terjadinya
pembajakan terhadap musik secara besar-besaran. Salah satu sumber menyebutkan
bahwa album rekaman fisikal yang beredar secara resmi di Indonesia hanya tinggal
8%, sementara album bajakannnya telah mencapai 92%.2 Munculnya teknologi
digital memberikan dampak yang sangat luar biasa dalam dunia musik, terutama
mempengaruhi media yang digunakan untuk mengantarkan musik ke pendengar.
Cara mengkonsumsi musik masyarakat berubah dari format analog (kaset dan
piringan hitam) ke digital (CD danMP3). John Kenneddy, ketua IFPI (International
Federation of the Phonographic Industry), mengungkapkan bahwa industri rekaman
hari ini telah berubah menjadi pemikiran digital. “Keuntungan pada 2006 naik dua
kali lipat menjadi US$2 milyar dan pada 2010 kami perkirakan sedikitnya seperempat
dari seluruh penjualan musik dunia bakal berubah digital,” ungkap Kenneddy. 3
Perubahan teknologi komunikasi saat ini membuat pola pikir dan pola
konsumsi orang terhadap musik berubah. Dulu orang harus membeli kaset untuk
mendengarkan musik dari satu album, tetapi saat ini semua orang bisa memiliki
musik dengan cara mengunduh dari internet, atau bahkan lebih mudah lagi, dengan
menggandakan dari komputer lain.
2
Putranto, Wendi. 2009 . Roling Stone Music Biz, Manual Cerdas Mengusai Bisnis Musik Yogyakarta:
Bentang Pustaka. hlm 79. Dalam artikelnya Putranto menjelaskan bahwa pembajakan pada era digital
di Indonesia sudah sampai pada taraf tertinggi.
3
Putranto, Wendi. 2009 . Roling Stone Music Biz, Manual Cerdas Mengusai Bisnis Musik Yogyakarta:
Bentang Pustaka. hlm 108. Putranto menjelaskan bahwa perubahan pola konsumsi musik menjadi
digital tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga terjadi di seluruh dunia.
3
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Perubahan konsumsi musik masyarakat dari analog menjadi digital lambat
laun akan menjadi kebiasaan dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan
informasi saat ini. Ada potensi besar yang dimiliki oleh penggunaan media internet,
yakni kemampuannya untuk menjangkau berbagai macam kalangan masyarakat baik
lokal maupun internasional. Hal ini sesuai dengan apa yang diungkapkan Arnel
Afandi (Managing Director EMI Musik Indonesia) bahwa penyebab penurunan
rekaman fisik adalah pembajakan dan perkembangan teknologi komunikasi dan
informasi yang demikian pesat sehingga pola konsumsi orang berubah.4
Menurut Putranto (2009:108) IFPI mengungkapkan bahwa hingga kini format
digital menguasai 10% pasar musik secara keseluruhan. Dari keterangan tersebut
dapat diasumsikan bahwa perkembangan teknologi dan informasi membuat
perubahan selera konsumen yang tadinya harus membeli sekarang hanya tinggal
mengunduh. Konsumen mendapatkan kemudahan dengan teknologi digital saat ini,
karena dengan teknologi digital kita dengan mudah mengunduh dan mendengarkan
musik. Kita tidak perlu lagi harus pergi ke toko rekaman dan membeli album, kita
bisa memperoleh lagu-lagu itu dimana saja asalkan terdapat jaringan internet, entah
dari komputer atau telepon genggam.
Tidak hanya pola pikir konsumen yang mulai berubah. Pola pikir musisi
dalam mendistribusikan musiknya juga berubah. Dengan era digital seperti sekarang
ini musisi bisa dengan mudah menyebarkan karya-karyanya untuk didengarkan
4
Putranto, Wendi. 2009. Roling Stone Music Biz, Manual Cerdas Mengusai Bisnis Musik Yogyakarta:
Bentang Pustaka. hlm 108. Arnel Afandi dalam salah satu wawancara dengan Rolling Stone Indonesia.
4
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
banyak orang. Musisi hanya cukup mengunggah karyanya pada situs tertentu dan
semua orang dapat mengunduhnya dengan mudah. Dengan menyebarkan karyanya
sebanyak mungkin dengan mudah, otomatis musisi menghemat biaya untuk
berpromosi. Itu semua tidak terjadi pada era rekaman analog, karena dalam era
analog musisi harus merekam kaset mereka satu-persatu melalui tape recorder untuk
selanjutnya dibagikan sebagai promosi.
Di luar negeri pendistribusian secara digital dipopulerkan oleh band Inggris
Radiohead yang merilis albumnya secara digital dan membebaskan pembelinya untuk
menentukan harga. Di Indonesia hal ini dimulai dengan banyak bermunculan netlabel
yang menggratiskan musiknya untuk diunduh secara gratis. Netlabel adalah
perusahaan rekaman berbasis internet. Contohnya KOIL yang menggratiskan album
Back Light Shines On, setelah sebelumnya mereka bergabung dengan major label.
The Upastairs dan White Shoes and The Couples Company juga menggratiskan
albumnya. Ini menandai suatu era baru yaitu era digital karena setelah itu diikuti oleh
hampir semua musisi di Indonesia.
Netlabel mendistribusikan musik mereka dengan pengunduhan lagu melalui
internet, baik berbayar maupun gratis. Dengan demikian netlabel menandakan suatu
era baru dalam industri musik. Industri musik yang telah mapan selama berpuluhpuluh tahun kini satu persatu mengalami kebangkrutan. Kebangkrutan industri
rekaman paling besar dikarenakan tidak lakunya penjualan rekaman secara fisik,
sebagai akibat pola konsumsi seperti yang telah dijelaskan di atas.
5
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Di Indonesia sendiri netlabel telah berkembang pesat selama beberapa tahun
terakhir. Dalam kaitannya dengan kajian budaya, kehadiran netlabel di Indonesia
merupakan cerminan dari kecenderungan perubahan pola konsumsi musik pada
masyarakat Indonesia. Pola konsumsi yang dulunya mengharuskan orang membeli
untuk bisa mendengarkan musik, saat ini orang bisa mendapatkan secara gratis.
Selain perubahan pola konsumsi musik pada masyarakat, juga terjadi perubahan pola
pikir pendistribusian musik oleh musisi. Dengan adanya netlabel musisi dapat
membagikan musiknya secara cuma-cuma melalui internet. Berdasarkan kedua fakta
tersebut saya berasumsi bahwa sebuah era baru dalam dunia musik telah dimulai, di
mana semua musik bisa didapatkan dan didistribusikan secara gratis.
Perubahan pola konsumsi dan distribusi musik seperti itu tidak bisa
dilepaskan dari dinamika era globalisasi. Fenomena perubahan pola konsumsi dan
distribusi musik yang disebabkan oleh netlabel merupakan akibat dari pembentukan
budaya dalam masyarakat yang didorong oleh adanya globalisasi. Selanjutnya,
fenomana baru tersebut membentuk atau mengkonstruksi identitas baru. Indentitas
baru yang terbentuk melalui teknologi internet tersebut tidak hanya terjadi secara
personal, melainkan juga secara komunal, yakni melalui bentuk kampanye life
politics. Giddens (1990: 214) mengemukakan bahwa life politics adalah proses
aktualisasi diri yang menyangkut gaya hidup. Artinya life politics berhubungan
dengan isu-isu politik yang muncul dalam proses aktualisasi diri dalam konsep
masyarakat post-traditional. Selanjutnya Giddens mengungkapkan bahwa perubahan
bentuk dalam self-identity dan globalisasi adalah dua kutub yang saling berhubungan
6
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
dalam dialektika lokal dan global dalam kondisi high modernity.5 Maksudnya, terjadi
hubungan saling mempengaruhi antara yang terjadi secara lokal dan global. Hal-hal
yang terjadi secara global berpengaruh terhadap yang terjadi secara lokal, begitu pula
sebaliknya. Dalam kasus penelitian ini, teknologi internet yang berkembang pesat
secara global telah berpengaruh terhadap perkembangan teknologi komunikasi di
Indonesia. Perubahan yang terjadi karena perkembangan teknologi tersebut
berpengaruh dalam perubahan identitas baik secara personal maupun komunal.
Lebih lanjut Giddens menjelaskan bahwa manusia dapat memakai teknologi
yang sedemikian canggih, yang tidak ada pada masa-masa sebelumnya, untuk
mengubah atau membentuk aktualisasi dirinya. Dalam hal ini, netlabel menyediakan
piranti atau sarana untuk mengkonstruksi identitas baru dalam budaya mendengarkan,
mengkonsumsi dan mendistribusikan musik di Indonesia. Identitas baru tersebut
terbentuk karena perkembangan teknologi dan informasi yang memungkinkan orang
untuk mengkonsumsi dan mendistribusikan musik secara berbeda dari sebelumnya.
Ketika teknologi internet sangat maju dan melahirkan netlabel-netlabel di
negara-negara maju seperti Amerika, dampaknya sampai ke Indonesia. Kemungkinan
netlabel yang ada di Indonesia saat ini merupakan imbas dari tren yang terjadi di
seluruh dunia. Lebih lanjut Giddens mengungkapkan bahwa globalisasi adalah
hubungan yang intensif antara relasi-relasi sosial yang mengglobal yang
menghubungkan wilayah-wilayah lokal yang berjauhan sehingga peristiwa-peristiwa
5
Giddens, Anthony. 1993. Modernity And Identity: Self and Society in th Modern Age. Cambridge:
Blackwell Publisher. hlm 32. High Modernity merupakan karakteristik modernitas yang terjadi dan
Globalisasi merupakan bentuk High Modernity yang sedang kita alami.
7
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
lokal dibentuk oleh hal-hal yang terjadi bermil-mil jauhnya dan sebaliknya.6 Dengan
begitu dapat diartikan juga bahwa globalisasi merupakan fenomena yang sering
terjadi sehubungan dengan meningkatnya hubungan dalam bermacam-macam hal di
dunia termasuk perkembangan teknologi dan informasi yang terjadi di semua tempat.
Dalam arti bahwa globalisasi merupakan proses lintas batas yang menjadi bagian dari
sejarah umat manusia. Tetapi yang penting adalah bagaimana hal itu muncul dan
berkembang di Indonesia. Ketika netlabel menjadi bagian dalam masyarakat dan
beradaptasi dengan masyarakat Indonesia dapat diduga akan timbul dampak dalam
perkembangan budaya di Indonesia.
2.
Tema
Tema utama penelitian ini adalah modernitas dan globalisasi yang
berpengaruh terhadap proses pembentukan identitas sebagaimana tampak dalam
konsumsi dan distribusi musik melalui internet. Identitas yang terbentuk tersebut
tidak dapat dipisahkan dari modernitas dan globalisasi yang terjadi. Modernitas
adalah suatu diskontinuitas karena modernitas tumbuh dan perkembangannya sangat
berbeda dari peradaban pra-modern. Sedangkan identitas seseorang merupakan irisanirisan dari berbagai hal yang terjadi di sekitarnya, dan identitas tersebut senantiasa
diperbaharui seiring perkembangan modernitas. Penelitian ini ingin melihat
perubahan sosial yang terjadi karena modernitas dan globalisasi sebagaimana tampak
dalam perubahan cara mendistribusikan dan mengkonsumsi musik di Indonesia.
6
Giddens, Anthony. 1990. The Consequences of Modernity, Cambridge: Polity Press. Hlm 64
8
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
3.
Rumusan Masalah
Latar belakang di atas memunculkan pertanyaan sebagai berikut:
1)
Bagaimana modernitas dan globalisasi berpengaruh terhadap terbentuknya
netlabel di Indonesia?
2)
Bagaimana posisi netlabel dalam membentuk identitas seseorang dalam
memproduksi dan mengkonsumsi musik di Indonesia?
4.
Tujuan Penelitian
Netlabel
berkembang
sejalan
dengan
berkembangnya
modernitas.
Perkembangan modernitas yang terjadi mengakibatkan fenomena mengkonsumsi dan
mendistribusikan musik dengan netlabel sudah menjadi hal yang wajar. Penelitian ini
merupakan karya ilmiah yang bertujuan untuk meneliti secara mendalam
perkembangan musik dan netlabel di Indonesia dalam kaitannya dengan konteks
global (yang berjalan seiring dengan modernitas). Di samping itu peneliti akan
mendeskripsikan gejala yang terjadi di masyarakat tentang cara mengkonsumsi dan
mendistribusikan musik di Indonesia. Selanjutnya penelitian ini juga bertujuan untuk
melihat pengaruh teknologi terhadap pembentukan identitas di antara masyarakat
konsumen dewasa ini.
9
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
5.
Pentingnya Penelitian
Secara akedemis penelitian ini diharapkan akan menumbuhkan kepekaan
terhadap fenomena yang terjadi, dalam hal ini netlabel. Selain itu, penelitian ini
diharapkan dapat melengkapi karya-karya kajian empiris yang berkaitan dengan
globalisasi, modernitas, dan identitas. Penelitian mengenai netlabel ini saya anggap
penting bagi kajian budaya karena perlunya memahami relasi antara teknologi
informasi dan proses-proses produksi budaya. Fenomena netlabel adalah contoh
relasi tersebut. Netlabel saya pandang sebagai fenomena global yang timbul akibat
munculnya modernitas. Konteks global di sini saya pandang dari dua sisi, karena
globalisasi bukan fenomena satu arah, tetapi fenomena dua arah yang saling timbal
balik. Selanjutnya saya ingin menunjukkan bahwa globalisasi musik tidak hanya
dikendalikan oleh aktor-aktor global. Masyarakat di Indonesia tidak sama sekali
kehilangan kontrol terhadap apa yang terjadi secara global. Di Indonesia budaya
global tersebut diadopsi dan menghasilkan sesuatu yang baru.
6.
Tinjauan Pustaka
Penelitian ini menggunakan teori-teori Giddens dalam buku Consequences of
Modernity (1990) dan Modernity And Identity: Self and Society in the Modern Age
(1993) sebagai rujukan utama. Pada Conseguences of Modernity (1990), Giddens
menjelaskan bahwa modernitas mengubah karakter dalam individu maupun
10
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
hubungannya dengan orang lain. Giddens menggambarkan modernitas sebagai sarana
berbagai hal dalam relasinya secara dialektis. Maksudnya kehidupan pribadi
masyarakat modern mempunyai peran penting dalam hubungan antar manusia yang
dipengaruhi oleh situasi global. Dalam penelitian ini modernitas yang mengakibatkan
tumbuh suburnya netlabel di Indonesia mempengaruhi cara konsumsi dan distribusi
musik di Indonesia, dan itu merupakan identitas baru orang Indonesia yang timbul
akibat petukaran informasi secara global. Modernitas adalah sesuatu yang tidak stabil
serta selalu bergerak dan itu ditandai dengan masuknya banyak informasi dalam
kehidupan sehari-hari.
Lebih lanjut hal tersebut dijelaskan Giddens dalam buku Modernity And
Identity: Self and Society in the Modern Age (1993). Dalam buku tersebut Giddens
menjelaskan bagaimana modernitas yang mengakibatkan globalisasi berpengaruh
pada identitas seseorang dan hubungannya dengan masyarakat. Secara keseluruhan
buku ini lebih berfokus pada menganalisa daripada mendeskripsikan. Pada bagian
awal buku ini Giddens memberikan contoh-contoh yang gamblang bagaimana yang
lokal dan yang global bertransformasi dan membentuk identitas dalam kehidupan
sehari-hari.
Perihal globalisasi dalam dunia musik juga bukan pertama kali dibahas.
Robert Burnet dalam bukunya yang berjudul The Global Jukebox (1996) membahas
tentang musik telah mengglobal dan semua itu dikendalikan oleh aktor-aktor global.
Dalam buku tersebut diperlihatkan bagaimana industri-industri rekaman raksasa
11
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
menjelma menjadi perusahaan-perusahaan yang berada di negara maju dan negara
berkembang. Buku ini juga menunjukkan bagaimana globalisasi dalam dunia musik
menjadi saling terkait, semuanya menjadi seragam, dan memiliki efek timbal balik.
Penelitian saya ini memiliki sudut pandang yang hampir sama dengan buku Burnet
tersebut, tetapi saya menempatkan netlabel sebagai objek penelitian. Lebih spesifik
lagi yaitu tentang netlabel di Indonesia yang sebenarnya tak bisa dilepaskan dari
konteks global.
Peter Tschumuck dalam bukunya yang berjudul Creativity and Innovation in
the Music Industry (2006) membahas bagaimana teknologi dan modernitas yang
terjadi dalam masyarakat saat ini mempengaruhi cara mendistribusikan dan
mengkonsumsi musik. Buku ini berfokus pada sejarah dan era perkembangan
teknologi dari awal abad 20 di mana baru ditemukan mesin perekam sampai dengan
era digital saat ini. Tschumuck mendeskripsikan bagaimana perkembangan teknologi
dan modernitas berpengaruh erat dengan dunia musik. Buku ini akan saya gunakan
untuk menganalisis bagaimana perkembangan teknologi internet berdampak besar
dalam industri musik dan dampak seperti yang terjadi saat ini belum pernah terjadi
sebelum teknologi digital diperkenalkan dalam dunia musik. Penelitian saya memiliki
fokus yang sedikit berbeda karena tidak akan membahas modernitas dalam perspektif
teknologi tetapi lebih membahas bagaimana modernitas tersebut menyebabkan
globalisasi musik diseluruh dunia dan itu semua berpengaruh pada identitas
seseorang. Penelitian saya menggunakan perspektif bahwa teknologi dalam industri
musik yang didukung dengan majunya teknologi internet menyebabkan orang lebih
12
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
mudah mengakses musik dan itu mengakibatkan musik tersebar luas secara mudah
dan cepat.
John O‟Flynn (2003) dalam National Identity and Music in Transition : Issues
of Authenticity in a Global Setting membicarakan bagaimana hubungan identitas
lokal dan global saling berhubungan dalam kreativitas menghasilakan karya dan
mendistribusikan
karya.
Di
sana
juga
dipaparkan
bagaimana
globalisasi
mempengaruhi identitas dan keotentikan budaya lokal. Hal serupa juga di bahas lebih
dalam oleh John Connell dan Chris Gibson dalam bukunya Sound Track : Popular
Music, Identity and Place (2003)dan juga Dick Hebdidge dalam Cut and Mix :
Culture, Identity and Carebean Music (2000). Penelitian saya hampir mirip tetapi
saya sekali lagi mengunakan objek material pengguna netlabel dan saya tempatkan
dalam konteks Indonesia. Menurut saya penelitian saya akan lebih unik dibandingkan
yang sudah dipaparkan dalam buku-buku tersebut, karena saya berasal dari negara
yang sering disebut terkena dampak globalisasi. Saya melihat fenomena-fenomena itu
secara langsung dalah kehidupan sehari-hari.
Buku The Multilingual Internet : Language, Culture and Comunication
Online (2007), suatu kumpulan esai yang diedit oleh Brenda Danet dan Susan C.
Herring saya gunakan untuk menganalisis bagaimana dunia internet yang diciptakan
di Barat ketika dipakai oleh orang Indonesia, dalam kasus ini netlabel. Modernitas
mengakibatkan internet berkembang dengan pesat dan ketika dipakai oleh orang
Indonesia hal itu difungsikan untuk hal yang belum pernah terjadi sebelumnya, yaitu
penyebaran musik secara gratis. Dari buku tersebut saya ingin melihat apakah dengan
13
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
mudahnya mengakses internet secara tidak langsung ada ideologi atau maksud
khusus. Kita di Negara Berkembang yang sering disebut-sebut sebagai korban dari
globalisasi mendapatkan media yang disediakan secara mudah agar ideologi dari
negara asal internet itu dibuat dapat masuk ke Negara-negara Berkembang seperti
Indonesia. Selain menyebarkan ideologi apakah ada motif ekonomi yang terselubung
dari mudahnya akses internet tersebut?
Sejauh yang saya ketahui, masih sangat minim sekali literatur yang berkaitan
dengan netlabel. Salah satu karya ilmiah yang berkaitan dengan netlabel adalah
skripsi dari Andaru Pramudita yang berjudul Free Culture Sebagai Alternatif Dalam
Gerakan Musik Swadaya (Studi Kasus Netlabel Yes No Wave Music) (2010). Skripsi
dari mahasiswa Universitas Indonesia tersebut membahas kemunculan Netlabel yang
mengadopsi free culture serta mencipatakan paradigma baru bagaimana industri
musik melakukan kegiatan distribusinya. Free culture merupakan budaya tanding
dari apa yang disebut sebagai raksasa industri atau monopoli hak paten. Gerakan ini
mencoba memberikan kebebasan terutama dalam ranah informasi digital. Skripsi ini
menunjukkan bagaimana sifat free culture yang memberikan kesempatan bagi tenaga
kerja kreatif dalam memposisikan diri untuk bebas dari tekanan industri kreatif.
Penelitian Andaru Pramudita dan penelitian ini memiliki fokus yang berbeda.
Penelitian Andaru Pramudita memang menyinggung masalah free culture yang
adalah budaya import yang ketika diterapkan di Indonesia akan menghasilkan
tabrakan budaya. Penelitian Andaru Pramudita memang menyinggung masalah
modernitas dan globalisasi, tetapi masalah itu tidak banyak dibahas. Penelitian saya
14
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
bertujuan untuk menjelaskan bahwa budaya free culture yang masuk ke Indonesia
tersebut adalah imbas dari modernitas yang terjadi. Dalam penelitian saya ini saya
akan lebih memfokuskan pada pembentukan identitas pengguna netlabel di
Indonesia. Hal tersebut merupakan dampak dari modernitas yang mengglobal dan
akhirnya membentuk suatu identitas baru.
Buku yang secara khusus membahas tentang netlabel setahu saya belum ada.
Buku dari Wendi Putranto yang berjudul Rolling Stone Musik Biz, Manual Cerdas
Mengusai Bisnis Musik (2008) memang banyak membahas industri musik di
Indonesia, tetapi pembahasan tentang musik digital khususnya netlabel sangat sedikit.
Buku ini berisi kumpulan artikel dari Wendi Putranto tentang industri musik di
Indonesia yang ditulis untuk majalah Rolling Stone Indonesia. Buku ini membantu
saya dalam mendapatkan data serta memperkuat argumen-argumen saya.
7.
Kerangka Teoritis
Teknologi internet adalah bagian dari modernitas. Teknologi internet yang
berkembang beberapa tahun belakangan menimbulkan dampak yang signifikan dalam
berbagai hal, termasuk dalam industri musik. Munculnya internet memungkinkan
semua orang mengunduh dan mengunggah lagu secara cepat dan mudah. Kemudahan
mengunggah dan mengunduh lagu tersebut menimbulkan masalah baru yaitu karyakarya musik yang dulunya diperjualbelikan, sekarang dapat diakses secara mudah dan
gratis. Hal itu menimbulkan banyak perdebatan tentang karya cipta musik dan hak
15
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
cipta. Tidak hanya itu, hal itu juga menimbulkan kerugian besar-besaran dalam dunia
industri musik melalui pemabajakan. Di tengah masalah yang pelik tersebut muncul
perusahaan rekaman yang berbasis internet, atau sering disebut netlabel. Netlabel
bekerja
seperti
perusahaan
rekaman
pada
umumnya,
hanya
saja
semua
pendistribusiannya dilakukan melalui jasa mengunduh data dari internet. Lebih
menariknya lagi netlabel menggratiskan semua karya musisi yang berada didalamnya
tetapi tetap menggunakan lisensi hak cipta yang bernama Creative Common Lisence.
Fenomena netlabel ini menarik minat saya untuk meneliti lebih lanjut.
Alasannya karena era musik gratis seperti yang ditawarkan netlabel tersebut belum
pernah terjadi sebelumnya. Menurut saya fenomena netlabel merupakan dampak dari
modernitas. Dalam Consequences of Modernity (1990), Giddens memandang bahwa
modernitas
adalah
suatu
diskontinuitas
karena
modernitas
tumbuh
dan
perkembangannya sangat berbeda dari peradaban pra-modern. Karena itulah
pemilihan teori-teori Giddens dirasa cocok dengan penelitian ini. Netlabel dan
penyebaran musik secara cepat melalui media internet tidak pernah terjadi pada masa
pra-modern. Dalam buku itu Giddens juga membicarakan fenomena globalisasi
dalam perspektif modernitas. Giddens menganggap globalisasi sebagai fenomena
yang terjadi seiring tumbuhnya modernitas. Cara pandang Giddens tersebut
membantu penelitian ini memahami fenomena yang terjadi di sekitar kita, dalam hal
ini adalah netlabel.
Giddens (1990: 4-5) mengungkapkan bahwa modernitas sebagai periode posttraditional society. Penanda paling unik modernitas dalam kebudayaan adalah
16
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
berakhirnya peran tradisi sebagai lembaga tunggal pengatur ruang dan waktu
kehidupan pribadi maupun kehidupan bersama. Modernitas merupakan diskontinuitas
karena modernitas tumbuh dan perkembangannya sangat berbeda dari peradaban pramodern. Modernitas yang terjadi menimbulkan perkembangan teknologi secara cepat,
dan itu mendorong laju globalisasi. Menurut Giddens (1993: 17-18) Modernitas
ditandai oleh tiga ciri, yaitu separation of time and space, disembedding mechanism,
dan institutional reflexivity. Separation of time and space merupakan kondisi yang
tidak lagi dikungkung oleh ruang dan waktu. Kondisi tersebut hanya memungkinkan
terjadi dengan bantuan teknologi. Kondisi yang tidak lagi dikungkung ruang dan
waktu tersebut memungkinkan terjadinya Disembedding mechanism atau mekanisme
pencabutan. Mekanisme pencabutan hanya mungkin terjadi kalau tersedia Simbolic
tokens (alat tukar/uang) dan expert system (sistem canggih). Dalam penelitian ini
tindakan mengunggah dan mengunduh musik tidak lagi dikungkung ruang dan waktu.
Peristiwa tersebut dapat dilakukan dalam waktu yang bersamaan meskipun berjarak
ribuan kilometer. Hal itu hanya mungkin terjadi dalam kondisi high modernity dan
tersedianya simbolic tokens (alat tukar/uang) dan expert system (sistem canggih).
Kondisi tersebut memungkinkan terjadinya keterbukaan terhadap informasi baru.
Keterbukaan terhadap informasi baru tersebut membentuk cara baru menikmati musik
melalui teknologi yang bernama netlabel. Hal ini sesuai dengan teori Giddens
mengenai institutional reflexivity. Menurut Giddens (1993: 20) institutional
reflexivity sebagai ciri modernitas menunjuk pada keterbukaan kehidupan sehari-hari
pada perubahan yang disebabkan oleh derasnya informasi dan pengetahuan baru.
17
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Globalisasi merupakan wajah modernitas yang intensif sekaligus ekstensif.
Maksudnya, globalisasi tidak hanya mempengaruhi hal yang terjadi secara lokal,
tetapi globalisasi juga dipengaruhi oleh hal yang terjadi secara lokal. Dalam era
globalisasi seperti saat ini batas-batas ruang dan waktu menjadi semakin tipis.
Dengan menipisnya batas ruang dan waktu tersebut orang dari berbagai belahan dunia
dapat terhubung secara lintas batas. Seperti ungkapan Giddens bahwa dalam
masyarakat pra modern ruang dan waktu selalu berkaitan, sedangkan dalam
masyarakat modern hubungan ruang dan waktu menjadi teputus. Artinya jika pada
masyarakat pra-modern orang harus bertatap muka untuk bisa berkomunikasi, tetapi
pada masyarakat modern orang tidak lagi harus bertemu untuk berkomusikasi, tetapi
cukup menggunakan telepon atau internet.
Banyak hal yang terjadi dalam
masyarakat modern yang tidak mungkin terjadi dalam masyarakat pra-modern.
Karena itulah Giddens menganggap modernitas itu bercirikan diskontinuitas.
Diskontinuitas
diperlihatkan
dengan
perkembangan
teknologi
menyebabkan
perkembangan yang pesat dalam berbagai hal. Selain itu diskontinuitas juga
diperlihatkan ketika wilayah-wilayah di dunia saling terhubung mengakibatkan
perubahan terjadi secara global.7 Lebih lanjut Giddens mengatakan bahwa modernitas
kira-kira dapat dipahami sebagai the industrialized world, sejauh diakui bahwa
industrialisasi tidak hanya menyangkut dimensi kelembagaan. Giddens menggunakan
industrialisasi untuk merujuk pada hubungan sosial yang terjadi akibat pengaruh
7
Giddens, Anthony. 1990. The Consequences of Modernity, Cambridge: Polity Press. Hlm 4 sampai 5
18
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
perkembangan kapitalisme.8 Negara seperti Amerika mengontrol terjadinya
modernitas yang terjadi di negara seperti Indonesia karena negara seperti Amerika
memiliki komoditi.
Globalisasi digerakkan oleh kemajuan teknologi yang mengacu pada dunia
barat khususnya Amerika. Hal ini otomatis akan berdampak pada Negara-negara
Berkembang seperti Indonesia. Globalisasi memicu perubahan-perubahan budaya
termasuk cara mengkonsumsi berkonsumsi dan konstruksi identitas. Globalisasi
memicu perubahan budaya dalam hal ini adalah era baru mengkonsumsi dan
mendistribusikan musik yang terjadi di Indonesia. Terhubungnya berbagai macam
orang dari berbagai belahan dunia otomatis terjadi proses pembentukan identitas baru.
Dalam penelitian ini proses terbentuknya identitas pemeluk gaya hidup netlabel
terjadi melalui berbagai keterbatasan. Keterbatasan akses internet, keterbatasan alat
tukar dan sebagainya memaksa masyarakat Indonesia menemukan cara baru dalam
mengkonsumsi musik yaitu melalui netlabel. Netlabel memiliki andil besar dalam
proses pembentukan identitas baru dalam mengkonsumsi musik di Indonesia. Proses
pembentukan identitas dikalangan pemeluk gaya hidup netlabel merupakan bagian
yang terpisahkan dari life politics. Giddens (1990: 214) mengemukakan bahwa life
politics mengacu pada isu-isu politik yang muncul dalam proses aktualisasi diri
dalam konsep masyarakat post-traditional. Masyarakat post-traditional menurut
Giddens adalah masyarakat yang tidak lagi dikungkung oleh aturan-aturan, termasuk
8
Giddens, Anthony. 1993. Modernity And Identity: Self and Society in th Modern Age. Cambridge:
Blackwell Publisher. hlm 15
19
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
aturan-aturan yang mengatur gaya hidup. Life politics menjadi ekspresi kebebasan
terhadap pilihan-pilihan yang ada, dan oleh karena itulah life politics sering disebut
politics of choice. Dalam penelitian ini life politics pemeluk gaya hidup netlabel
dikampanyekan melalui berbagai hal, yaitu melalui festival, pertunjukan musik, gaya
hidup indie, dan sebagainya. Life politics dalam netlabel memberikan identitas baru
secara individu maupun secara kelompok. Life politics merupakan proses aktualisasi
diri yang berfokus pada masing-masing individu, termasuk identitas.
Pada bab ketiga Modernity And Identity: Self and Society in the Modern Age
Giddens menjelaskan bagaimana identitas seseorang berkaitan dengan sejarah dan
modernitas yang berlangsung. Menurut Giddens identitas seseorang merupakan
irisan-irisan dari berbagai hal yang terjadi, dan identitas tersebut senantiasa
diperbaharui seiring perkembangan modernitas. Konsep ini akan saya gunakan untuk
menganalisa bagaimana industri musik yang telah mapan sejak setengah abad yang
lalu tiba-tiba menjadi kolaps dengan munculnya teknologi internet. Dan
perkembangan modernitas melalui teknologi internet tersebut mengubah identitas
seseorang secara signifikan dalam mengkonsumsi dan mendistribusikan musik.
8.
Metode Penelitian
Isu-isu lokal dan global banyak memberikan dampak yang sering bernuansa
kontradiktif. Menurut saya globalisasi tidak selamanya menjadi sesuatu yang
20
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
merugikan bagi Negara-negara Berkembang seperti Indonesia. Dalam penelitian ini
saya ingin menunjukkan bahwa globalisasi juga merupakan suatu proses yang harus
diperhatikan secara sosiologis, historis, regional, global dan lokal. Karena bagi saya
dalam globalisasi tidak ada benar atau salah, apa menyebabkan apa. Semuanya adalah
proses yang terus bergerak dan terjadi secara timbal balik. Globalisasi memungkinkan
kita untuk mepelajari kecenderungan hubungan dalam wilayah tertentu dalam
kehidupan termasuk dalam identitas seseorang. Identitas seseorang dalam era
globalisasi saat ini bercampur dengan apa yang terjadi secara global. Penelitian ini
melihat hubungan antara orang yang saling terhubung dan menjadi satu kesatuan
dalam membentuk sesuatu yang bersifat global.
Dalam penelitian ini menggunakan wawancara untuk mendapatkan data.
Wawancara inti dilakukan kepada 10 orang konsumen netlabel. Wawancara kepada
konsumen lebih berfokus pada motivasi mereka untuk sering mengunduh musik
melalui netlabel, mengingat bahwa selain netlabel juga ada banyak website yang
menyediakan jasa unduh gratis. Selain itu banyak juga karya-karya yang
diperjualbelikan secara online maupun dalam bentuk fisik. Selanjutnya saya ingin
mengetahui apakah pengguna netlabel merupakan orang-orang penggemar musik
tertentu dan berasal dari komunitas tertentu. Menurut saya pengguna netlabel sangat
terbatas dan musik-musik yang ditawarkan netlabel juga bukan musik yang sedang
populer saat ini.
21
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Wawancara juga dilakukan kepada kurator netlabel yang ada di Indonesia.
Wawancara dilakukan kepada empat orang, yaitu Wok The Rock (Yes No Wave
Music), Rizkan (Stone Age Records), Arie (Mindblasting Records), dan Hilman (Ear
Alert Records). Yes No Wave Music saya pilih karena Yes No Wave Music adalah
Netlabel pertama di Indonesia, serta memiliki pengunjung yang paling banyak. Yes
No Wave Music juga menggratiskan album-album yang dirilis serta menggunakan
suatu lisensi yang disebut Creative Commons License untuk melindungi hak cipta
musisinya. Setelah Yes No Wave Music hadir, secara beruntun mulai bermunculan
netlabel-netlabel di Indonesia. Untuk memperkuat data saya juga mengadakan
wawancara dengan para kurator dari netlabel lain, yakni Stone Age Records,
Mindblasting Records dan Ear Alert Records.
Selain melakukan wawancara kepada pengguna dan kurator netlabel, saya
juga melakukan wawancara dengan lima orang musisi yang bernaung dalam netlabel.
Wawancara kepada musisi yang bernaung dalam netlabel tersebut dimaksudkan
untuk menemukan alasan kenapa mereka mau menggratiskan musik mereka, padahal
untuk membuat suatu karya dibutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Metode untuk mendapatkan data lainnya adalah observasi, yakni observasi
atas peristiwa-peristiwa yang berhubungan dengan netlabel yang ada di Indonesia.
Saya juga mengakses data dari netlabel-netlabel tersebut berupa data statistik jumlah
pengunduhan lagu, jumlah pengunjung, dan data mengenai dari mana asal
pengunjung dan pengunduh tersebut. Data-data ini nantinya akan saya gunakan untuk
memperkuat argumen yang saya bangun.
22
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
9.
Sistematika Penulisan
Tulisan ini akan saya bagi menjadi beberapa bab, yakni:
Bab I yang berisi Pendahuluan dan meliputi Latar Belakang Kajian, Tema,
Rumusan Masalah, Tujuan dan Manfaat Penelitian, Tinjauan Pustaka, Kerangka
Teori, Metode Penelitian, dan Sistematika Penulisan.
Bab II berisi deskripsi atas sejarah musik digital di dunia dan di Indonesia.
Pendiskripsian tersebut meliputi kemunculan CD sebagai produk musik secara digital
yang pertama sampai dengan kemunculan internet dan netlabel saat ini. Bab ini juga
berisi teori serta argumen-argumen saya untuk menjawab kegelisahan saya tentang
bagaimana modernitas dan globalisasi berpengaruh terhadap menjamurnya netlabel di
Indonesia.
Bab III berisi deskripsi tentang kegagalan modernitas yang terjadi di
Indonesia. Bab ini menerangkan kegagalan expert system dan symbolic tokens,
lemahnya penegakan hukum di Indonesia, serta lemahnya sistem ekonomi.
Kegagalan-kegagalan yang terjadi tersebut membuat konsumen musik di Indonesia
berusaha menemukan caranya sendiri dalam mengkonsumsi musik.
Bab IV berisi pembentukan identitas dan kampanye mengenai identitas baru
yang bernama netlabel. Pada Bab ini akan dipaparkan ”proklamasi” identitas melalui
Indonesian Netaudio Festival, sikap politik melalui gaya hidup indie, semangat
23
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
berbagi melalui netlabel, serta netlabel sebagai media alternatif dalam mengkonsumsi
musik. Semua hal tersebut akan diterangkan menggunakan konsep life politics.
Bab V berisi kesimpulan.
24
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
BAB II
Revolusi Musik Digital dan Internet
Pendistribusian musik secara gratis melalui pengunduhan di Internet diprediksi akan
menjadi tren dan fenomena industri musik Indonesia nantinya.
(Putranto, 2009:120)
Sejak awal tahun 2000 pembahasan mengenai fenomena musik digital seakanakan tidak ada habisnya. Teknologi internet memunculkan fenomena baru dalam
mendistribusikan musik, yaitu melalui kegiatan mengunduh. Album rekaman yang
dirilis hari ini dapat langsung diunggah dan diunduh di berbagai tempat saat ini juga.
Apakah hal ini merupakan cara mendistribusikan musik di masa depan? Apakah ini
merupakan awal kehancuran industri musik? Fenomena baru ini merupakan sebagian
dari wajah modernitas. Modernitas yang ditandai oleh tiga hal, yaitu separation of
time and space , disembedding mechanisms, dan institutional reflexivity.
Bab II ini berisi sejarah perkembangan musik digital di dunia dan di
Indonesia. Selanjutnya Bab ini memaparkan perkembangan musik dari format analog
(kaset) menjadi format digital (CD dan MP3), dilanjutkan pemeparan mengenai
perkembangan musik digital dan pengaruh internet terhadap perkembangan musik
digital. Pada akhir bab ini berisi sejarah netlabel baik di dunia maupun di Indonesia.
25
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Pada sub bab “Periode Kaset sampai Compact Disc (CD)” dan “Periode
Internet”, saya akan banyak mengutip buku Peter Tschmuck yang berjudul Creativity
and Innovation in the Music Industry (2006). Alasan saya menjadikan buku tersebut
sebagai rujukan utama adalah karena buku tersebut memiliki data yang paling
lengkap, detail dan akurat.
1.
Periode Kaset sampai Compact Disc (CD)
Mulai awal tahun 1980-an terjadi stagnansi dalam industri musik. Pada
periode tersebut piringan hitam telah ditinggalkan dan industri musik beralih ke
teknologi kaset. Alat perekam kaset rumahan mulai diperkenalkan sehingga
konsumen dapat menggandakan musik mereka sendiri dirumah. Hal itulah yang
membuat stagnansi industri musik. Pada tahun 1980 sampai tahun 1982 perusahaan
rekaman di Amerika tidak mengalami peningkatan dalam penjualan. Pada tahuntahun berikutnya perusahaan rekaman tersebut mengalami peningkatan penjualan
tetapi tidak signifikan. Menurut Tsumuck (2006:148) penurunan penjualan rekaman
dimulai pada akhir 1970-an dan mengalami stagnansi pada pertengahan tahun 1980an.
Teknologi penggandaan kaset yang bisa dilakukan secara pribadi dengan
cepat tersebar luas di pasaran. Piranti pemutar kaset tersebut dimulai ketika Philips
menciptakan teknologi tape recorder dan dipatenkan hak ciptanya. Menurut Tsumuck
(2006:147-148) dengan teknologi baru tersebut orang menjadi sangat mudah
26
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
menggandakan kaset. Di Eropa, Jepang dan Amerika teknologi tersebut tidak
diantisipasi. Dengan sangat cepat teknologi tersebut merambah negara-negara di
Afika, Asia, dan Amerika Latin. Bahkan pada tahun 1991, India menjadi negara
produsen kaset kosong terbesar kedua di dunia dan produksinya mencapai 217 juta
kopi. Selain itu di negara seperti Tunisia pembajakan mencapai 90% dari penjualan.
Selain teknologi penggandaan kaset, pada tahun 1979 Philips dan Sony
menemukan prototype Compact Disc (CD). CD adalah awal mula revolusi musik
digital yang dimulai pada awal tahun 1980-an. Inovasi CD sangat signifikan dalam
dunia musik karena menghasilkan suara yang lebih jernih dibandingkan kaset dan
piringan hitam. Pada tahun 1983 teknologi CD diperkenalkan ke pasar Eropa oleh
perusahaan Philips dan Sony. Tiga tahun kemudian dapat diprediksi bahwa teknologi
CD dapat menggeser kaset dan piringan hitam, karena pada tahun 1986 perusahaan
rekaman menjual 130 juta CD diseluruh dunia. Pasar Amerika merupakan kunci
sukses dari CD karena pada tahun yang sama lebih dari 53 juta kopi CD terjual di
Amerika. Puncaknya terjadi pada tahun 1990-an ketika semua perusahaan rekaman
memproduksi CD. 9
2.
Periode Internet
Internet telah membuat revolusi dunia komputer dan dunia musik yang tidak
pernah diduga sebelumnya. Internet atau interconnection-networking ialah sistem
9
Tsumuck (2006:152) menjelaskan bagaimana teknologi rekaman digital dengan cepat menggantikan
rekaman analog.
27
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
global dari seluruh jaringan komputer yang saling terhubung menggunakan standar
Internet Protocol Suite (TCP/IP) untuk melayani miliaran pengguna di seluruh dunia.
Melalui Internet distribusi musik dilakukan dengan cara menggunakan data-data
elektronik. Internet ditemukan pada tahun 1960 saat perusahaan yang bernama
American Rand Corporation mulai mengerjakan projek untuk militer Amerika yang
disebut “Comunication Network”. Baru pada tahun 1981 sebanyak 213 komputer
terhubung oleh ARPANET. Setahun kemudian nama Internet digunakan untuk sarana
komunikasi. Menurut Tsumuck (2006:169) pengenalan M-Bone-System pada tahun
1992 sangat penting dalam pengiriman data-data audio dan video. Dengan begitu
sangat mudah mengirimkan data berupa musik melalui internet. 10
Pada awal tahun 1990-an ditemukan metode memadatkan data audio yang
bernama MP3 (Motion Picture Expert Group-1/Layer 3). Sejak saat itu baru
dimungkinkan untuk mengirimkan musik dengan kualitas seperti kualitas CD melalui
Internet. Data musik dengan format MP3 ini memungkinkan musik disebarluaskan
keseluruh dunia. Dengan begitu orang di seluruh dunia mampu mengkonsumsi musik
secara gratis dan tanpa memperdulikan hak cipta. Hal itu membuat industri rekaman
mengalami kebingungan dengan hak cipta dan keruntuhan industri rekaman. Dengan
begitu
perusahaan
rekaman
juga
tidak
bisa
mengontrol
artisnya
untuk
mendistribusikan musik mereka tanpa memiliki kontrak dengan perusahaan rekaman.
10
M Bone-System digunakan untuk berbagi insformasi dalam waktu yang bersamaan walaupun berada
ditempat yang bejauhan. M Bone-System digunakan untuk memperkecil jumlah data yang digunakan
untuk audio dan video conference.
28
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Revolusi industri musik ini mengubah kenyataan bahwa bisnis musik tidak lagi
berbasis rekaman dalam bentuk fisik melainkan dalam bentuk data yang
disebarluaskan melalui internet.11
Dalam dunia internet dikenal dua cara mendengarkan musik yaitu dengan
streaming
dan
download.
Streaming
memungkinkan
mendengarkan
musik
menggunakan koneksi internet. Sedangkan download memungkinkan mengunduh
data dan data tersebut dapat disimpan serta dapat didengarkan tanpa terkoneksi
internet. Dengan cara mengunduh inilah industri musik terancam karena hak cipta
tidak lagi dapat dilindungi. Dengan mengunduh pula seluruh data musik di internet
dapat dengan mudah tesimpan di komputer seluruh dunia.
Pada awal mula kepopuleran mengunduh musik melalui internet banyak
sekali situs yang menyediakan jasa pengunduhan lagu. Pelopor penyedia
pengunduhan gratis adalah Internet-company MP3 yang diprakarsai oleh Michael
Robertson pada November 1997 di San Diego, California. Pada 1998. Perusahaan
tersebut memulai bisnis pertama di dunia dalam Digital Automatic Music Service
yaitu memperbolehkan konsumen membuat mixtape12 dan oleh MP3.com digandakan
lalu dikirimkan kepada konsumen. Konsumen juga bisa memilih rentang harga dari
$6.99 sampai $30.00. Jasa ini bebas biaya bagi musisinya, sebagai gantinya musisi
tidak perlu menandatangani kontrak apapun yang berhubungan dengan hak cipta.
11
Tsumuck (2006: 170) menjelaskan bagaimana penemuan MP3 sangat berpengaruh terhadap
perkembangan penyebaran musik digital melalui internet, karena MP3 memiliki format dengan
kualitas CD tetapi dapat di unggah dan diunduh melalui internet.
12
Mixtape adalah menggabungkan lagu dari beberapa musisi dalam satu album rekaman.
29
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Saat itu pula major label13 gencar menolak MP3.com karena MP3.com
menyediakan jasa yang bernama MyMp3 Service. Jasa tersebut memperbolehkan
konsumen untuk menguggah data dari CD yang mereka miliki, sementara CD
tersebut masih dijual di pasaran. Setetelah konflik melalui jalur hukum tersebut,
akhirnya MP3 setuju untuk membayar kompensasi sebesar $80 juta kepada lima
major label. 14
Sejak terjadi konflik tentang hak cipta tersebut penyedia jasa mengunduh
musik dibagi menjadi dua. Pertama adalah yang berbayar seperti iTunes, EMusik, dan
yang tidak berbayar seperti Napster. Dengan adanya jasa pengunduhan tidak berbayar
konsumen bebas mengunduh lagu berformat MP3 dan menyebarkannya ke komputer
lain. Setelah itu juga muncul website dan blog yang menyediakan jasa mengunggah
dan mengunduh data pribadi seperti Mediafire.com dan Rapidshare.com. Dengan
begitu konsumen bebas mengunggah data MP3 dari komputernya dan juga
mengunduh data MP3 dari orang lain.
Penyebaran musik melalui internet merupakan salah satu bentuk modernitas
yaitu separation of time and space. Tidakan mengunggah dan mengunduh musik
13
Menurut Putranto (2009:58) di dunia internasional major label dikenal dengan nama “The Big
Four”. Major label itu diantaranya Universal Music Group, Sony BMG, Warner Music Group, dan
EMI. “The Big Four” menguasai 80% pasar musik di Amerika dan seluruh dunia. Major label juga
membawahi bisnis hiburan seperti penerbitan musik, perusahaan manufaktur dan perusahaan distribusi
rekaman. Di Indonesia major label dibedakan menjadi dua, yaitu major label internasional dan major
label lokal. Perusahaan rekaman terbesar di Indonesia adalah Musica Studios. Major label yang ada di
Indonesia juga membawahi musik, perusahaan manufaktur dan perusahaan distribusi rekaman.
14
Tsumuck (2006: 170-172) menjelaskan bahwa pada awal mula kemunculan jasa pengunduhan data
MP3 melalui internet menimbulkan masalah dengan perusahaan rekaman yang berkaitan dengan hak
cipta.
30
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
tidak lagi dikungkung oleh ruang dan waktu, maksudnya jutaan orang dapat
mengunggah dan mengunduh musik pada waktu yang bersamaan meskipun mereka
terpisah ruang dan waktu. Sebagai contoh, album rekaman yang baru hari ini dirilis di
Amerika dapat langsung diunggah di internet dan pada saat itu pula album rekaman
tersebut dapat diunduh di seluruh dunia melalui internet. Menurut Giddens (1993: 16)
dalam era modern relasi atau hubungan antar manusia yang terjadi lintas ruang dan
waktu demikian lebar. Hal tersebut hanya memungkinkan terjadi dengan bantuan
teknologi, dalam hal ini berupa Internet.
Internet memiliki kemampuan penyiaran ke seluruh dunia, memiliki
mekanisme penyebaran informasi, serta sebagai media untuk berkolaborasi dan
berinteraksi antara individu dengan komputernya tanpa dibatasi oleh kondisi
geografis. Internet memungkinkan terjadinya disembedding mechanisms atau
mekanisme pencabutan. Menurut Giddens (1993: 17-18) mekanisme pencabutan
merupakan salah satu ciri dari modernitas. Tindakan manusia tidak lagi dikungkung
oleh ruang dan waktu, dan hal tersebut hanya bisa terjadi dengan bantuan teknologi
dan alat yang memungkinkan. Dalam kasus ini internet yang memungkinkan untuk
berinteraksi tanpa di batasi kondisi geografis dan waktu. Internet sebagai sebuah
teknologi memungkinkan terjadinya mekanisme pencabutan.
Menutur Giddens (1993: 18) mekanisme pencabutan memungkinkan terjadi
kalau terdapat dua hal yaitu symbolic tokens” dan expert system”. Symbolic tokens
adalah barang yang berlaku simbolik dan dapat berlaku di mana saja, dalam hal ini
31
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
adalah uang. Sedanglan expert system adalah sistem canggih yang memungkinkan
mekanisme pencabutan terjadi. Dalam kasus ini pembelian musik digital hanya
dimungkinkan terjadi bila konsumen memiliki kartu kredit, kartu kredit tersubut
adalah sebuah symbolic tokens. Selain itu penyebaran musik digital tidak mungkin
terjadi kalau tidak terdapat terknologi canggih, dalam hal ini komputer dan koneksi
internet cepat, inilah yang disebut dengan expert system.
3.
Musik Digital dan Internet di Indonesia
Masuknya industri musik ke era digital secara signifikan telah mengubah
wajah industri musik Indonesia. Pada awalnya akhir tahun 1990an orang masih
mendengarkan musik melalui kaset atau CD. Seiring berkembanganya waktu maka
orang mulai mendengarkan musik melalui komputer. Orang yang mendengarkan
musik dari komputer atau MP3 player semakin banyak sementara pendengar musik
dari stereo-tape semakin sedikit.
Dengan kehadiran internet dan teknologi MP3, kini kita dapat memiliki lagu
dengan mudah dan murah. Selain itu musisi juga lebih mudah dalam
memperkenalkan karyanya. Menurut Putranto (2009: 96) kini seiring dengan
perkembangan teknologi ketergantungan artis terhadap “otoritas” industri musik
konvensional semakin berkurang dengan hadirnya internet.
32
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Selain menimbulkan pengunduhan musik melalui internet, musik digital di
Indonesia juga menyababkan pembajakan besar-besaran. Menurut Suyoso Karsono
kondisi pembajakan di Indonesia yang sangat parah membuat bangkrut 117
perusahaan rekaman lokal.
15
Selanjutnya menurut Putranto (2009: 108) pada tahun
2006 total penjualan kaset, CD dan VCD mengalami punurunan 21% jika
dibandingkan tahun 2005, dan terus menurun setiap tahunnya. Tidak hanya
perusahaan rekaman dan artis, pemenrintah Indonesia juga mengalami kerugian yang
tidak sedikit. Menurut Putranto (2009:118) pemerintah Indonesia mengalami
kerugian sebanyak 3 trilyun rupiah karena kasus pelanggaran hak cipta yang
disebabkan oleh pembajakan. Menurut IFPI (International Federation of the
Phonographic Industry) Indonesia berada dalam daftar 10 Priority Countries
pembajakan musik di seluruh dunia bersama Brasil, Kanada, Yunani, Korea Selatan,
Cina, Italia, Meksiko, Rusia, dan Spanyol. 16
Penurunan rekaman fisik terjadi sejak ditemukannya new media di dunia.
Sebelumnya di seluruh dunia juga terjadi penurunan akibat naiknya tren mengunduh
musik secara digital. Tetapi di Indonesia penyebab utama penurunan penjualan fisik
tetaplah pembajakan CD.17 Sebelum format MP3 keluar para pembajak menggelar
produknya dalam bentuk CD Audio bajakan dengan harga jauh dibawah CD Audio
original. Begitu media MP3 mulai marak para pembajak menggelar produk bajakan
15
Putranto (2009:106) Mas Yos atau Suyoso Karsono adalah pendiri perusahaan rekaman pertama di
Indonesia yang bernama Irama.
16
Putranto (2009:115) Indonesia menjdi Negara denga tingkat pembajakan yang tinggi, bahakan kaset
dan CD bajakan di eksport ke Negara lain.
17
Putranto (2009: 108) Wawancara dengan Arnel Affandi, Managing Director EMI Music Indonesia.
33
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
dalam bentuk CD kompilasi musik MP3 yang mampu memuat sampai beberapa
album yang mencakup ratusan singles dengan harga yang lebih murah dari CD Audio
bajakan (karena perbandingan harga dan jumlah lagu yang bisa didapat dalam satu
CD).
Sekarang perubahan sedang kembali terjadi. Dulu orang masih suka beli CD
kompilasi musik format MP3 bajakan. Sekarang kecenderunganya orang cenderung
selektif dengan cara mengunduh lagu yang mereka inginkan saja. Menurut Putranto
(2009: 108) selain pembajakan penyebab menurunnya penjualan fisik adalah
perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang demikian pesat sehingga
pola konsumsi orang berubah. Hal itu tidak hanya terjadi di Indonesia saja tetapi juga
terjadi secara global. Yang sebenarnya sedang terjadi adalah sebuah revolusi media
yang disebabkan oleh perkembangan teknologi yang sangat pesat.
Selain
pembajakan
besar-besaran
wujud
perdagangan
musik
yang
berkembang di Indonesia adalah melalui internet dan Ring Back Tone (RBT). Bisa
dilihat dari tren RBT yang laku keras penjualannya di atas satu juta download.18
Bergesernya konsumen kepada internet dan RBT telah memotong beberapa jalur
distribusi industri, seperti distributor dan toko-toko kaset. Hal ini jelas menurunkan
angka penjualan album rekaman dalam bentuk konvensional. Selain itu, saat ini
produser rekaman harus berbagi keuntungan dengan provider telepon seluler. Tetapi
di sisi lain, Putranto (2009:118) menyebutkan bahwa salah satu major label di
18
Putranto (2009: 109) wawancara dengan Jerry Bidara, Label Manager Indo Semar Sakti.
34
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Indonesia mengungkapkan berhasil meraup untung 40 milyar rupiah dari penjualan
RBT. Indonesia menduduki peringkat keempat di Asia dalam penjualan musik
melalui telepon seluler.
Full track download seperti iTunes belum bisa berkembang di Indonesia
sampai sekarang, dikarenakan lambannya akses internet. Selain itu juga karena
banyaknya masyarakat yang menggunakan ponsel dan banyak beredarnya CD dan
MP3 bajakan. 19 Bisnis penjualan musik digital di Indonesia dimulai dengan hadirnya
perusahaan seperti IM:port, EquinoxDMD, Digital Beat Store, dan Indigo. Dari
semuanya hanya IM:port dan Equinox DMD yang telah melakukan penjualan musik
secara online. Keduanya telah beroprasi di Indonesia sejak 2006. 20
Penjualan musik seperti iTunes tidak berjalan dengan baik di Indonesia karena
lambatnya koneksi Internet dan kesulitan akses disebabkan kepemilikan kartu kredit.
Menurut Adib Hidayat dalam Music Biz: Music Apartheid (Rolling Stone Online)
model digital download yang dipopulerkan oleh iTunes sejak tahun 2003 sebenarnya
tidak layak untuk Indonesia karena sangat bergantung pada kepemilikan kartu kredit.
Dari 240 juta orang Indonesia, hanya sekitar enam juta orang yang memiliki kartu
kredit dan tidak semua dari mereka adalah pengguna Internet. Triawan Munaf,
praktisi iklan yang juga ayah dari Sherina dan pernah memperkuat band Giant Steps,
kemudian berbagi cerita tentang bagaimana susahnya membeli lagu, aplikasi, dan
19
Putranto (2009: 110-111) wawancara dengan Abdee Slank pendiri portal musik digital bernama
IM:port.
20
Putranto (2009:120-121) iTunes tidak berkembang di Indonesia karen lambannya koneksi internet
serta masalah kepemilikan kartu kredit di Indonesia.
35
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
film di iTunes/App Store di Indonesia. Karena akses membeli lagu, aplikasi, film di
iTunes negara seperti Inggris atau Amerika yang memiliki koleksi lengkap tidak bisa
dilakukan di Indonesia dengan memakai kartu kredit.
Di luar penjualan musik digital secara online, di Indonesia juga telah tersedia
layanan distribusi musik digital yang dijual melalui kios-kios musik digital legal
seperti Digital Beat Store (DB Store) dan Terra Group. DB Store kebanyakan
menawarkan musik dari artis-artis Indonesia dengan harga jual Rp. 5.000,00 per lagu
(Putranto, 2009:121). Menurut David Karto, Penggagas DB Store. “Konsep awal DB
Store sebenarnya online, hanya setelah berkonsultasi dengan departemen IT ternyata
Indonesia masih sulit sekali mengembangakan bisnis ke arah sana. Permasalahan
utamanya muncul dari kapasitas bandwith yang kecil, sistem dan mekanisme
pembayaran hingga pertanyaan perusahaan rekaman tentang Digital Right
Management (DRM) yang diharapkan mamapu membatasi penduplikasian file MP3
secara Ilegal.” (Putranto, 2009:121-122)
Saat ini perubahan industri musik di Indonesia kembali terjadi. Salah satu
yang menjadi isu utama dalam industri musik di Indonesia adalah sekarang penjualan
RBT telah runtuh. Di Taiwan dan Singapura tren RBT telah mengalami penurunan
drastis. Hal itu mungkin juga akan terjadi di Indonesia beberapa tahun ke depan.
(Putranto, 2009:119). RBT mengalami penurunan yang parah dalam hal adopsi
karena larangan atas layanan SMS premium yang kerap disalahgunakan oleh
penyedia berbagai konten untuk mendapatkan uang secara cepat. Menurut Hidayat
36
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
dalam Music Biz: Music Apartheid (Rolling Stone Online) Ringback tone (RBT) yang
menjadi penyelamat sebagian pihak di industri musik Indonesia mulai mengalami
penurunan drastis. Kasus pencurian pulsa dari SMS premium membuat pihak
Menkominfo dan BRTI (Badan Regulasi Teknologi Indonesia) melakukan
pengaturan ulang untuk menertibkan beberapa layanan ponsel berlangganan termasuk
RBT. Hal tersebut dilakukan mulai 18 Oktober 2011.
Menurut saya perkembangan musik digital di Indonesia berbeda dengan
perkembangannya di negara-negara maju. Teknologi komputer dan internet di
Indonesia tidak memungkinakan terjadinya modernitas seperti yang terjadi di negaranegara maju. Expert system tidak terjadi secara maksimal di Indonesia. Sebagai
contoh, koneksi internet yang lambat membuat orang Indonesia mengalami kesulitan
bila ingin mendengarkan atau mengunduh musik melalui internet. Selain itu koneksi
internet juga tidak dimiliki oleh semua orang Indonesia, sehingga tidak semua orang
mampu mengakses musik melalui internet. Menurut Ya'aro Hulu (General Manager
Telkom Indonesia) berdasarkan penelitian pada tahun 2012, dari 100 rumah tangga di
Indonesia hanya 34 saja yang memiliki peluang mengakses internet. Arinya koneksi
internet di rumah tangga Indonesia baru 34 persen. 21
21
Melalui http://www.tribunnews.com, Ya'aro Hulu mengungkapkan rendahnya akses koneksi
internet terhadap rumah tangga di Indonesia. Jika dibandingkan dengan negara maju seperti Korea
Selatan, akses internet di Indonesia masih rendah karena di Korea Selatan 80% rumah tangga dapat
mengakses internet dengan mudah. Telkom mempunyai target hingga 2014 harus ada 13 juta rumah
yang sudah bisa mengakses internet.
37
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Selain expert system yang tidak tersedia di Indonesia, hal lain yang
mempengaruhi perkembangan musik digital di Indonesia adalah symbolic tokens.
Symbolic tokens merupakan alat tukar atau dalam kasus ini adalah kartu kredit. Di
negara-negara maju semua orang memiliki kartu kredit dan kartu kredit tersebut
dengan mudah dapat digunakan untuk membeli musik melalui internet. Di Indonesia
kartu kredit hanya dimiliki oleh sebagian orang saja, Selain itu kartu kredit di
Indonesia mengalami kesulitan jika digunakan untuk membeli musik melalui internet.
Menurut GPT (Global Payment Tracker) 84% masyarakat Indonesia masih
menggunakan uang tunai sebagai alat transaksi utama. GPT juga mencatat, lebih dari
25 persen konsumen memiliki kartu debit dan 2 persen konsumen memiliki kartu
kredit.22 Dari hal tersebut kita dapat melihat bahwa masyarakat Indonesia mengalami
kesulitan untuk mengakses musik digital secara legal disebabkan symbolic tokens
yang tidak tersedia.
Dengan tidak tersedianya expert system dan symbolic tokens di Indonesia
maka perkembangan modernitas yang terjadi di Indonesia berbeda dengan modernitas
yang terjadi di negara-negara maju. Dengan tidak tersedianya dua hal tersebut,
perkembangan musik digital di Indonesia memicu akibat yang tidak diduga yaitu
pembajakan besar-besaran. Ketika orang tidak dapat membeli dan menikmati musik
secara legal maka orang Indonesia memilih mengunduh secara ilegal. Selain itu
22
Melalui Tempo.com GPT mengungakapkan kepemilikan kartu kredit di Indonesia masih sangat
rendah jika dibandingkan oleh negara-negara lain. Meskipun deminkian Indonesia memiliki potensi
besar karena masyarakat Indonesia mulai terbiasa melakukan transaksi menggunakan pembayaran
elektronik.
38
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
karena tidak semua orang Indonesia memiliki media mendengarkan musik melalui
komputer maka masyarakat Indonesia menggunakan media lain yaitu VCD player
dan telepon seluler. Hal itulah yang membuat hampir seluruh musik digital yang
tersebar di Indonesia didapatkan dengan cara ilegal.
4.
Netlabel
Menurut Putranto (2009: 59) perkembangan teknologi internet sejak akhir
dekade 1990-an melahirkan fenomena baru dalam mendistribusikan musik secara
digital, yakni pendistribusian musik melalui netlabel. Selanjutnya menurut
netlabel.org, netlabel adalah bentuk perusahaan rekaman yang mendistribusikan
musik melalui format audio digital (seperti MP3, Ogg Vorbis, FLAC, atau WAV)
melalui Internet. Sebuah netlabel biasanya beroperasi secara gratis atau jika
konsumennya harus membayar untuk mengunduh musiknya maka metode
pembayarannya dilakukan melalui Pay Pal23. netlabel biasanya menekankan
distribusi online gratis, dan cenderung berada di bawah lisensi (misalnya, Creative
Commons License), sehingga seniman tetap bias memiliki hak cipta atas karyanya.
netlabel kebanyakan mengandalkan sepenuhnya pada distribusi digital dan sarana
23
PayPal adalah cara aman dan mudah untuk melakukan transaksi secara online. Layanan ini
memungkinkan setiap orang untuk membayar melalui kartu kredit, rekening bank, kredit pembeli atau
saldo rekening. PayPal memudahkan dalam pembayaran secara online karena PayPal mirip dengan
rekening bank online. Kita hanya perlu membuka PayPal.com untuk mebuat akun PayPal secara gratis,
setelah itu kita dapat memanfaatkan rekening PayPal.
39
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
dari internet dalam menyediakan produknya. Dengan tidak mendistribusikan produk
fisik, cara ini memangkas banyak biaya yang biasanya diperlukan oleh perusahaan
rekaman tradisional. 24
Netlabel lahir ketika MP3 menjadi populer di akhir 1990-an. Pada awalnya
masih didedikasikan untuk musik elektronik dan genre yang terkait, namun hal ini
berubah dengan cepat, beriringan dengan kualitas download yang semakin tinggi
seperti penggunaan download dengan kualitas seperti CD. Tren itupun secara cepat
berpengaruh ke Indonesia.
Menurut Wok The Rock kehadiran netlabel di Indonesia tidak dapat
dipisahkan dari kepopuleran internet dan MP3. Di Indonesia konsumen musik
menggunakan internet untuk mengunduh MP3 secara ilegal. Dari hal itulah Wok The
Rock berpikir untuk mendirikan netlabel. Netlabel meungkinkan kita mengunduh
musik secara gratis tetapi legal dan mempunyai hak cipta.25 Konsep netlabel diawali
oleh kemunculan oleh Tsefula/Tsefulha Records yang merupakan self-released label
dari Shorthand Phonetics, sebuah band Indie Rock/Wizard Rock dari Jakarta pada
tahun 2004. Fenomena netlabel di Indonesia diawali secara luas oleh Yes No Wave
Music pada tahun 2007. Netlabel yang muncul pada kurun waktu tersebut dan kini
24
Putranto (2009: 60) walaupun music didistribusikan secara online, tetapi seniman tetap memiiki hak
cipta atas karya serta berhak merilisnya secara fisik.
25
Wok The Rock adalah pendiri Netlabel pertama di Indonesia, yaitu Yes No Wave Music. Pernyataan
ini disampaikan dalam suatu diskusi “Berbagi Musik Sebagai Pemberdayaan Budaya” di Kedai Kebun
Forum, Yogyakarta, pada 16 November 2012. Acara tersebut diadakan dalam rangkaian Indonesian
Netaudio Festival, yang akan dibahas lebih lanjut pada Bab IV.
40
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
sudah tidak aktif lagi antara lain; Reload Your Stereo (Malang), Oneloop (Bandung),
Invasi Records (Jakarta), dan Stone Well Sound Records (Jakarta). Sedangkan
Netlabel yang masih aktif antara lain; In My Room Records (Jakarta), Hujan!
Rekords (Bogor), Stone Age Records (Jakarta), dan Mindblasting (Jember), dan lainlain.
Semua netlabel yang ada di Indonesia hingga kini membebaskan katalog
mereka diunduh secara gratis. Menurut Putranto (2009: 60) perbedaan Netlabel dengan
perusahaan rekaman lainnya adalah netlabel biasanya tidak memproduksi album
rekaman sendiri, tapi hanya membantu proses pendistribusiannya saja. Di dalam
netlabel biasanya juga disediakan link untuk mengunduh artwork sampul album, lirik
lagu bagi yang tertarik untuk menciptakan CD sebagai koleksi secara pribadi.
Yang menarik dari jalur distribusi netlabel adalah penggunaan Creative
Commons License. Creative Commons License memberikan izin kepada setiap orang
untuk mempelajari, mengembangkan, dan menumbuhkan ilmu pengetahuan, seni, dan
sastra. Creative Commons License membuka kesempatan untuk semua orang untuk
melindungi karyanya cengan cara yang mudah dan gratis. Dengan adanya lisensi
Creative Commons License timbullah kesempatan untuk semua orang yang ingin
mempublikasikan karyanya tanpa harus takut karyanya akan disalahgunakan. Hal itu
selaras dengan apa yang diungkapkan oleh Lawrence Lessige26 (Penggagas Creative
Commons License ), Creative Commons License
26
adalah sebuah solusi untuk
Dikutip melalui www.creativecommons.org pada 12 Januari 2013
41
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
menghargai sebuah karya cipta, namun tidak semata didasarkan atas nilai ekonomi,
tetapi berdasarkan kepada sejauh mana hasil karya kita bisa kita bagikan dan bisa
memberikan manfaat yang banyak bagi masyarakat luas.
Saya melihat perkembangan netlabel di Indonesia dengan konsep Giddens
yang disebut dengan institutional reflexivity. Institutional reflexivity adalah salah satu
ciri dari modernitas selain separation of time and space
mechanism.
dan disembeding
Menurut Giddens (1993: 20) institutional reflexivity sebagai ciri
modernitas menunjuk pada keterbukaan kehidupan sehari-hari pada perubahan yang
disebabkan oleh derasnya informasi dan pengetahuan baru. Institutional atau lembaga
di sini bukan merujuk pada organisasi formal, tetapi merujuk pada proses atau
mekanisme yang terjadi setiap saat secara berulang-ulang. Derasnya informasi yang
masuk ke Indonesia tanpa diimbangi infrastruktur internet yang bagus membuat
masyarakat Indonesia membentuk caranya sendiri dalam menikmati musik digital.
Dengan kata lain kebiasaan masyarakat Indonesia menikmati musik melalui netlabel
terbentuk karena lemahnya infrastruktur internet dan lemahnya penegakan hukum di
Indonesia sehingga netlabel menemukan bentuk dan pemaknaan yang baru di
Indonesia.
Netlabel merupakan expert system. Menurut saya netlabel di Indonesia
berkembang dalam konteks terbatasnya Expert system dan symbolic tokens.
Perkembangan musik digital di Indonesia yang berbeda dengan negara-negara maju.
Popularitas netlabel di Indonesia antara lain didorong oleh lemahnya infrastruktur
42
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
internet dan pembayaran berbasis internet. Hal ini juga merupakan wujud dari expert
system yang tidak sempurna. Netlabel merupakan bentuk institutional reflexifity
karena merupakan pemilihan cara menikmati musik yang berbeda dengan
kebanyakan orang Indonesia. Ketika sebagian besar orang Indonesia memilih
menikmati musik dengan cara ilagal, netlabel muncul dengan sesuatu yang legal
tetapi tetap gratis. Netlabel memilih identitasnya sendiri dengan cara menggratiskan
musik yang dirilis, tetapi menggunakan lisensi Creative Commons untuk melindungi
karya musisinya.
Ketika ditilik dari teori institutional reflexifity, kurator netlabel di Indonesia
merupakan orang dengan latar belakang pengetahuan musik yang berbeda. Hal itu
bisa dibuktikan dengan pemilihan musik yang dirilis oleh netlabel di Indonesia.
Musik-musik yang dirilis bukanlah musik yang sedang popular atau mainstream,
tetapi musik yang unik dan memiliki penggemar yang terbatas (segmented).
Pemilihan musik yang segmented tersebut merupakan bukti bahwa pemilihan
identitas netlabel merupakan bagian dari latar belakang pengetahuan kurator netlabel.
Selain kurator netlabel, musisi dan konsumen netlabel merupakan orang
dengan
latar
belakang
ilmu
pengetahuan
yang
segmented.
Musisi
yang
mendistribusikan karyanya melalui netlabel secara sadar menggratiskan karyakaryanya. Musisi mengeluarkan uang untuk memproduksi karya-karyanya tersebut,
tetapi dengan sukarela menggratiskan karya mereka. Orang yang mengunduh musik
melalui netlabel juga merupakan orang dengan latar belakang pengetahuan yang
43
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
berbeda. Ketika kita menilik bahwa musik yang dirilis oleh netlabel adalah musik
yang segmented, pasti konsumennya juga sangat segmented. Netlabel juga
menyediakan musik yang legal dengan Creative Commons License, dan itulah yang
menjadi alasan beberapa konsumen memilih mengunduh musik melalui netlabel.
5.
Kesimpulan
Perkembangan dunia musik menjadi era digital di seluruh dunia secara cepat
berpengaruh terhadap perkembangan musik di Indonesia. Meskipun demikian
perubahan yang terjadi di Indonesia tidak semata-mata seperti yang terjadi di negara
maju seperti Amerika. Era digital di Indonesia menimbulkan pembajakan besarbesaran, penjualan RBT yang fantastis dan pengunduhan lagu secara ilegal. Menurut
Putranto (2009:118) jika di Amerika dan Eropa penjualan musik digital mengalami
kenaikan dan perlahan menggantikan penjualan rekaman fisik, di Indonesia hanya
RBT saja yang mengalami kenaikan. Pengunduhan musik berbayar belum terjadi
peningkatan.
Berkaitan dengan hal ini, Mathew Danile, vice president sebuah distributor
musik digital di Cina memiliki pemikiran menarik. Menurutnya, apa yang terjadi di
Asia, termasuk Indonesia, adalah music Apartheid. Penikmat musik di Asia tidak
diberi hak yang sama untuk menikmati musik digital. Berbagai gadget mutakhir
dirilis tiap hari. Namun akses membeli musik secara legal lewat Amazon dan iTunes
44
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
tidak bisa dilakukan di Asia. Padahal penjualan iPod dan MP3 player sangat tinggi di
kawasan Asia. ”Ke mana konsumen mengisi lagu-lagu untuk iPod dan MP3 Player
mereka? Sudah pasti akan mencari di Internet. Mengunduh lagu-lagu tanpa harus
membayar!”, ungkap Danile.27
Dari hal tersebut kita bisa menilik bahwa yang disebut disembedding
mechanisms tidak berlaku secara sempurna di Indonesia dan negara Asia lainnya.
Music apartheid menunjukkan lobang besar dalam bekerjanya disembedding
mechanism di Indonesia. Tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk
memiliki pengalaman di dunia maya karena penyebaran disembedding mechanism
yang tidak rata. Perkembangan gadget yang canggih tanpa dibarengi alat tukar yang
yang dapat diakses dengan mudah akan menyebabkan penyebaran modernitas
menjadi tidak merata. Modernitas yang terjadi di Indonesia tidak dibarengi dengan
expert system atau teknologi canggih. Karena itu perkembangan modernitas yang
terjadi di Negara Berkembang seperti Indonesia mengalami perbedaan dengan
modernitas yang terjadi di negara maju seperti di Amerika dan Eropa.
Sebaliknya, industri musik digital di Amerika berkembang menjadi penjualan
musik secara digital melalui portal musik seperti iTunes. Menurut Putranto (2009: 117)
Amerika sebagai pasar musik terbesar di dunia mengalami penurunan dalam
penjualan CD pada tahun 2006 sebanyak 19%, namun penjualan musik digital
27
Adib Hidayat dalam Music Biz: Music Apartheid (Rolling Stone Online) menjelaskan bahwa
perkembangan dunia musik terjdi secara tidak merata. Perkembangan musik digital menemui
masalahnya masing-masing disetiap Negara.
45
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
mengalami kenaikan hingga 54%. Di Inggris terjadi penurunan penjualan CD
sebanyak 11%, namun penjualan musik digital mengalami kenaikan 30%. Dari hal
tersebut kita juga dapat menilik bahwa disembeding mechanisms tidak hanya
terbentur masalah sistem canggih yang tidak merata, tetapi juga terbentur masalah
symbolic tokens atau alat tukar. Alat tukar yang digunakan untuk membeli musik
digital, yaitu kartu kredit tidak dimiliki oleh semua warga masyarakat Indonesia.
Akibatnya perkembangan modernitas yang terjadi di Indonesia memiliki alur yang
berbeda dengan yang terjadi di negara-negara maju.
Di Indonesia sendiri perkembangan musik digital menyebabkan munculnya
banyak netlabel. Netlabel seakan menjadi alternatif karena pengunduhan musik
melalui portal musik seperti iTunes mengalami banyak masalah di Indonesia, seperti
masalah kartu kredit. Fenomena netlabel di Indonesia seakan membuktikan kepada
kita bahwa perkembangan teknologi dan informasi tidak sepenuhnya tersebar secara
merata. Karena penyebaran teknologi dan informasi yang tidak merata tersebut
masyarakat yang berada pada kondisi ini berusaha menemukan jalan keluar dengan
menemukan cara baru mengkonsumsi musik. Cara baru mengkonsumsi musik
tersebut dibangun di seputar fenomena netlabel. Meskipun ide mengenai netlabel
diambil dari negara maju, tetapi netlabel memiliki pemaknaan tersendiri ketika
muncul di Negara Berkembang seperti Indonesia.
46
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
BAB III
Kegagalan Modernitas dalam Teknologi Musik di Indonesia
Industri musik sekarang sudah berubah. Pakem yang dulu dijadikan parameter sudah
tidak bisa lagi menjadi parameter. Munculnya era digital sekarang membuat hal itu
semakin tidak jelas!
(Maki Ungu 28)
Membaca ungkapan di atas terlintas dalam pikiran saya, “Sehebat itukah
dampak perkembangan teknologi? Apa benar era digital membuat segalanya menjadi
tidak jelas?” Maki dari band Ungu sebagai seorang musikus merasa kebingungan
dengan industri musik yang semakin tidak jelas. Kebingungan Maki tersebut sesuai
dengan ungkapan Giddens bahwa kondisi modernitas saat ini semuanya serba tidak
jelas dan dapat berubah dengan cepat. Hal itulah yang akan saya jelaskan pada bab 3
ini, yaitu modernitas yang terjadi di Indonesia dan berbagai permasalahannya.
Pada Bab III ini saya akan menunjukkan kegagalan expert system dan
symbolic tokens, kegagalan penegakan hukum, dan pengaruh kondisi ekonomi
masyarakat Indonesia terhadap pembentukan identitas konsumen netlabel di
Indonesia. Identitas seseorang akan terus menerus berubah, karena dalam kondisi
high-modernity seperti saat ini tidak ada lagi skenario tunggal. Giddens (1990: 18)
mengungkapkan bahwa identitas seseorang merupakan bentuk keputusan dalam
28
Ungkapan Maki dari band Ungu tersebut diambil dari artikel Putranto ( 2009:120).
47
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
kehidupan sehari-hari mengenai hal-hal yang sangat mendasar seperti prinsip hidup
dan gaya hidup. Proses pembentukan identitas tersebut terus berubah dalam kasus ini
perubahan identitas tersebut dipengaruhi oleh teknologi.
1.
Keterbatasan Expert System dan Symbolic Tokens di Indonesia
Seperti yang sudah saya jelaskan pada Bab II, yang dimaksud dengan expert
system adalah sistem canggih yang memungkinkan terjadinya mekanisme
pencabutan. Berkaitan dengan pembahasan ini, yang disebut expert system adalah
komputer dan koneksi Internet yang cepat. Expert system memungkinkan manusia
melakukan kegiatan secara efektif dan efisien. Kemajuan teknologi komunikasi dan
informasi tidak hanya mempermudah hubungan masyarakat, tetapi juga mengubah
keseluruhan kehidupan masyarakat global sampai pada lingkupnya yang paling kecil,
yaitu individu.
Modernitas memungkinkan terjadinya pemampatan ruang dan waktu. Berkat
teknologi internet kita dapat menikmati musik tanpa batas ruang dan waktu. Sebagai
contoh ketika koneksi internet lancar konsumen dengan mudah melakukan streaming
lagu yang mereka inginkan, mungkin saja bersamaan dengan orang yang jaraknya
sangat jauh dan berbeda zona waktu. Sebaliknya, tanpa expert system atau teknologi
canggih, modernitas juga akan terhambat.
Bagian ini akan menjelaskan perilaku konsumen yang lebih memilih
mengunduh lagu daripada streaming. Streaming adalah kegiatan mendengarkan
48
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
musik dengan menggunakan koneksi internet. Ketika tidak ada koneksi internet
streaming tidak mungkin dilakukan. Ketika koneksi Internet lancar maka streaming
dapat dilakukan dengan mudah, tetapi berbeda dengan kondisi yang terjadi di
Indonesia. Di Indonesia koneksi internet tidak selalu lancar dan tidak mudah diakses.
Karena itulah ketika koneksi internet lancar maka konsumen menggunakan
kesempatan tersebut untuk mengunduh musik. Dengan mengunduh musik maka
konsumen bisa menyimpan data dalam bentuk MP3 di komputer dan dapat diputar
sewaktu-waktu tanpa harus terhubung dengan koneksi Internet.
Koneksi internet yang tidak lancar dan tidak mudah diakses menyebabkan
konsumen musik lebih memilih mengunduh daripada streaming. Hal itu dapat kita
lihat dari hasil wawancara berikut ini:
Ya jelas memilih unduh dong. Soalnya biar bisa diputar berulang-ulang kalo
Streaming kan enggak, terus kadang suka buffering ketika koneksi internetnya lagi
lemot.(Iman Distractor) 29
Hal senada juga diungkapkan oleh konsumen musik yang lain seperti berikut:
Lebih memilih download karena musik yang di download bisa disimpan dalam
komputer dalam jangka waktu tidak terbatas dan suka-suka, kalau Streaming repot
harus masang jaringan internet dulu untuk bisa Streaming dan tidak efisien (Yogi
Surya) 30
Ada juga konsumen musik yang berpendapat sebagai berikut:
Rilisan Netlabel itu seperti merchandise. Terutama bagian info/artwork artist
tersebut. Selain itu bisa disimpan di gadget dan memperdengarkannya ke temanteman. (Wafig Giotama) 31
29
Iman Distractor adalah seorang pemerhati dan penikmat musik. Iman juga seorang penulis fanzine
musik yang bernama Distractor.
30
Yogi Surya adalah konsumen musik sekaligus musisi yang tergabung dalam band Indie yang
bernama Energy Nuclear.
31
Wafig Giotama adalah konsumen musik sekaligus musisi yang tergabung dalam band Indie yang
bernama Answer Sheet.
49
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Kutipan pertama dan kedua di atas menjelaskan bahwa koneksi internet yang
menjadi alasan narasumber memilih mengunduh sebuah lagu daripada streaming.
Selain itu dengan mengunduh lagu, narasumber dapat mendengarkan lagu yang
diunduh
berulang-ulang.
Sedangkan
kutipan
ketiga
memaparkan
bahwa
mendengarkan musik melalui netlabel tidak hanya sekadar mendengarkan musiknya
saja. Terdapat kepuasan lain ketika konsumen juga dapat menyimpan atau membaca
rilisan dari netlabel itu sendiri.
Dari kutipan-kutipan di atas saya melihat kegagalan expert system di
Indonesia, yaitu ketika expert system tidak tersedia, masyarakat Indonesia membuat
caranya sendiri yaitu mengunduh. Saya mengamati bahwa mengunduh itu
memerlukan waktu, jadi tidak dapat dinikmati saat itu juga. Maksud saya ketika
melakukan streaming dengan koneksi yang lancar, kita dapat menikmati musik
tersebut pada saat itu juga tetapi dengan mengunduh orang perlu menunggu hasil
yang diunduh lalu memutarnya. Dengan begitu dapat kita simpulkan bahwa
kegagalan expert system juga berakibat pada gagalnya disembedding mechanisms
atau mekanisme pencabutan. Dengan gagalnya disembedding mechanisms modernitas
juga terhambat karena ruang dan waktu tidak benar-benar tercabut. Maksudnya,
dalam kondisi modernitas yang dibayangkan Giddens ruang dan waktu benar-benar
tercabut, tetapi ketika expert system terganggu, mekanisme pencabutan ruang dan
waku juga terganggu.
50
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Giddens juga berbicara tentang arti kedirian dalam kondisi masyarakat
modern. Bagi saya kebiasaan mengunduh merupakan bagian dari pembentukan
identitas baru yang terjadi karena kegagalan expert system di Indonesia. Berkat expert
system masyarakat modern memberikan kehidupan yang efektif dan lebih mudah,
tetapi ketika expert system berkembang begitu pesat di satu bidang tanpa diikuti
perkembangan yang pesat dibidang lain, maka mansyarakat akan membuat caranya
sendiri untuk beradaptasi. Dalam hal ini teknologi informasi berkembang cepat,
teknologi komputer berkembang pesat dan teknologi mendengarkan musik
berkembang pesat tetapi teknologi dalam hal koneksi internet terganggu maka
masyarakat berusaha menemukan celah untuk mengatasinya. Dalam hal ini ketika
expert system tidak bekerja dengan baik, tidak dimungkinkan melakukan streaming,
karena itu untuk menikmati lagu tersebut konsumen menggunakan cara lain yaitu
mengunduh.
Di sini netlabel berelasi erat dengan media internet. Keberadaan netlabel tidak
dapat dilepaskan dari perkembangan media internet yang saat ini sedang berkembang
pesat. Di sini internet sangat berpengaruh terhadap penyebaran musik dan konsumsi
musik di Indonesia. Perkembangan netlabel di Indonesia juga tak dapat dipisahkan
dari perkembangannya di dunia. Dalam salah satu wawancara saya dengan Wok The
Rock, dia mengatakan bahwa mendapatkan ide mendirikan netlabel berasal dari
keinginan dia untuk menyalurkan hasrat bermusiknya. Dalam pencarian di internet,
Wok The Rock menemukan ide mengenai netlabel yang sudah ada di luar negeri.
Wok The Rock bercerita sebelum mendirikan netlabel, dulu dia mempunyai
51
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
perusahaan rekaman yang merilis rekaman musik. Tetapi dengan perkembangan
teknologi internet dan perubahan mengkonsumsi musik maka dia memutuskan untuk
mendirikan netlabel. Menurutnya hal tersebut dipengaruhi oleh mudahnya akses
internet dan kemudahan mendistribusikan musik melalui internet.
Dalam salah satu wawancara Wok The Rock menceritakan pengalamannya
mengunduh lagu, seperti yang diungkapkan dibawah ini:
Dulu untuk mengunduh lagu tu susah, biasanya mengunduh hanya satu lagu, itupun
kualitasnya jelek. Lalu muncul Rapidshare dan web yang menyediakan jasa
pengunduhan. Baru setelah itu bisa download full album dengan kualitas bagus.
(Wok The Rock)
Dari pernyataan Wok The Rock tersebut saya melihat bahwa modernitas
mengubah segala tatanan sosial dari kehidupan masyarakat. Perubahan tersebut
terjadi secara ekstensif dan intensif. Perubahan secara ekstensif berarti perubahan
tersebut meliputi batas wilayah geografis yang tak terbatas. Sedangkan perubahan
intensif berarti perubahan tersebut juga terjadi dalam wilayah paling intim dalam
kehidupan sehari-hari, termasuk identitas diri. Dalam kasus ini perkembangan
teknologi berimbas pada perubahan mengkonsumsi musik secara global tanpa
dibatasi oleh wilayah geografis. Hampir semua wilayah di dunia mengkonsumsi
musik secra digital dan itu membentuk identitas baru dalam mengkonsumsi musik.
Hal tersebut dapat kita lihat dari pengalaman Wok The Rock bahwa pada awalnya
mengunduh lagu itu susah namun ketika muncul website pengunduhan yang
memungkinkan menunduh full album maka kondisi saat itu berubah. Menurut saya
perubahan tersebut terjadi secara ekstensif, maksudnya perubahan yang terjadi dalam
52
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
dunia internet secara global juga berpengaruh pada cara Wok The Rock
mengkonsumsi musik. Ketika di dunia muncul website yang menyediakan jasa
mengunduh musik full album maka akan lebih mudah pula bagi Wok The Rock untuk
mendapatkan musik yang ia inginkan.
Wok The Rock juga mengungkapkan bahwa dia ingin membuat sebuah
perusahaan rekaman yang dikemas secara bagus, Ia ingin membuat perusahaan
rekaman berbasis internet yang gratis dan legal, seperti yang diungkapkan sebagai
berikut:
Saya pernah mengunduh musik melalui iTunes dan kualitasnya sama dengan kita
mengunduh Ilegal, MP3 128kbps, ya akhirnya saya males dong, apa bedanya sama
yang Ilegal. Koneksi internet di sini juga ga memungkinkan untuk streming terusterusan. Makanya saya ingin membuat perusahaan rekaman yang memungkinkan
pengunduhan gratis, legal dan dengan semangat berbagi. (Wok The Rock)
Hal serupa juga diungkapkan oleh Arie Mindblasting. Ari adalah pendiri
sekaligus pemilik netlabel Mindblasting yang berbais di Jember.
Sebelumnya yang jadi masalah adalah di mana saya bisa menyimpan musik di ranah
internet dengan bebas dan gratis tanpa batasan waktu. Beberapa kali saya coba
menyimpan file di beberapa filehoster gratisan. Akan tetapi ternyata dibatasi oleh
waktu, selama 30 hari sudah di hapus atau delete dan berbagai masalah seperti, host
yang drop, berat untuk diakses dan sebagainya. (Arie Mindblasting)
Dari kutipan-kutipan di atas kita dapat melihat kegagalan expert system terjadi
secara luas di Indonesia. Expert system berupa internet mengalami kendala yaitu
koneksi yang lambat membuat konsumen musik di Indonesia kesulitan ketika ingin
mendengarkan musik dengan cara streaming. Selain kegagalan expert system
mengenai koneksi, Kegagalan expert system lainnya mengenai berbagai masalah
dengan “media penyimpanan data secara gratis” di Internet. Karena kegagalan expert
53
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
system tersebut maka Wok The Rock dan Arie Mindblasting berusaha menemukan
caranya sendiri dalam mendistribusikan musik mereka, yaitu membuat netlabel.
Selain tidak sempurnanya expert system di Indonesia, keterbatasan symbolic
tokens juga mempengaruhi perkembangan modernitas di Indonesia. Symbolic tokens
adalah media tukar yang dapat diterima oleh semua kelompok masyarakat, atau
dalam hal ini adalah uang. Bukti bahwa symbolic tokens berpengaruh dalam
perkembangan modernitas yaitu ketika konsumen tidak mengunduh melalui portal
musik legal seperti iTunes karena mereka menganggap harga perlagu terlalu mahal
dan tidak memiliki akses berupa kartu kredit. Namun konsumen juga mengunduh
secara ilegal karena dianggap mudah. Hal tersebut sesuai dengan yang diungkapakan
Ahmad Alvan Rahadi berikut ini:
Saya belum punya Pay Pal dan kartu kredit untuk iTunes, jadi saya download ilegal.
Sudah sejak beberapa tahun yang lalu, dulu pake tape, nggak ada perbedaan kok.
Cuma lebih simple aja karena nggak perlu muter bolak-balik kaset tape (Ahmad
Alvan Rahadi) 32
Dalam kutipan di atas Alvan mengemukakan bahwa mengonsumsi musik
dengan cara mengunduh dirasa lebih mudah daripada mengkonsumsi lagu melalui
kaset (fisik). Di sini, Alvan lebih menekankan segi kepraktisan. Namun kita bisa
melihat dari wawancara tersebut bahwa konsumen musik di Indonesia memiliki
kesulitan dalam mengkonsumsi musik secara legal. Konsumen memiliki keterbatasan
dalam pembayaran, dalam hal ini PayPal.
32
Ahmad Alvan Rahadi adalah penikmat musik sekaligus aktif dalam pergerakan musik indie di
Malang.
54
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Menurut saya itulah salah satu penyebab tidak meratanya modernitas di
Indonesia karena salah satu syarat modernitas tidak terpenuhi, yaitu symbolic tokens.
Dengan tidak tersedianya symbolic tokens tersebut, konsumen memilih mengunduh
musik secara ilegal. Yang menarik dari pengamatan saya adalah teknologi
pembayaran digital seperti PayPal diciptakan untuk mempermudah transaksi
pembayaran, tetapi dalam kasus ini hal tersebut justru menjadi penghambat dalam
transaksi pembayaran. Dalam hal ini saya melihat bahwa modernitas yang terjadi juga
merupakan sebuah diskriminasi, maksud saya teknologi yang seharusnya menjadi
solusi justru menimbulkan masalan baru. Seperti yang diungkapkan Giddens,
modernitas yang terus berkembang membuat masyarakat tenggelam dalam masalah
yang ingin diatasi.
Kegagalan expert system dan tidak memadainya symbolic tokens di Indonesia
berpengaruh
pada refleksifitas sebagai faktor yang mempengaruhi modernitas.
Menurut Giddens (1990: 18) refleksifitas merupakan praktek sosial yang terus
berubah berdasarkan informasi yang datang. Refleksifitas merujuk pada praktek
keseharian yaitu pengalaman kita saat mengubah keputusan kita karena adanya
informasi yang baru. Praktek keseharian atau realitas yang terjadi di Indonesia
terbentuk karena kegagalan expert system dan tidak memadainya symbolic tokens.
Kegagalan expert system dan tidak memadainya symbolic tokens memaksa orang
untuk mencari cara-cara baru mengonsumsi musik, termasuk bila cara itu sebenarnya
ilegal. Keputusan-keputusan semacam ini pada gilirannya memicu perubahan cara
55
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
pandang terhadap dunia sekitarnya dan terhadap dirinya sendiri. Dengan kata lain,
adaptasi yang dipicu kegagalan modernitas membentuk identitas baru.
Dalam refleksifitas ini terjadi hubungan antara agen dan struktur yang terus
menerus membentuk tindakan mereproduksi ulang. Pada dunia dalam kondisi highmodernity seperti saat ini kegiatan mengkonsumsi musik melalui mengunduh musik
dulunya merupakan adaptasi dari kondisi tersebut. Kegiatan adaptasi tersebut
dilakukan terus menerus dan membentuk identitas baru. Penyesuaian diri tersebut
berubah menjadi semacam gerakan yang berkembang di seputar netlabel. Dengan
kata lain netlabel terbentuk karena penikmat musik di Indonesia mengalami kesulitan
dalam mengakses teknologi maka penikmat musik di Indonesia menemukan cara lain
dengan membuat netlabel.
Selanjutnya Giddens (1990: 36) mengungkapkan bahwa refleksifitas
merupakan karakteristik mendasar dari aktivitas manusia. Giddens menjelaskan
bahwa tindakan mengamati atau monitoring kedirian seseorang merupakan tindakan
dasar setiap orang. Dalam kasus netlabel, ketika penikmat musik di Indonesia
mengalami kesulitan yang sama dalam menikmati musik maka dengan bersama-sama
mereka membentuk teknologi yang memfasilitasi cara mengkonsumsi musik melalui
internet. Teknologi tersebut bernama netlabel. Melalui netlabel ini konsumen musik
mengkonstruksi identitas baru. Konstruksi indentitas baru tersebut terbentuk melalui
berbagai masalah menikmati musik melalui internet. Perubahan identitas yang terjadi
tersebut mengubah realitas dari cara mengkonsumsi dan mendistribusikan musik.
Selanjutnya realitas yang baru tersebut mengubah kembali identitas pengguna
56
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
netlabel, dan terus menerus berputar seperti itu. Hal itu terjadi karena di kondisi highmodernity saat ini sudah tidak ada lagi realitas yang pakem atau realitas yang tunggal,
atau dengan kata lain semuanya sudah tidak dapat diprediksi.
2.
Lemahnya Penegakan Hukum di Indonesia
Dalam sub bab ini akan dijelaskan beberapa hal, di antaranya mengenai
pembajakan musik yang terjadi di Indonesia beserta nilai kerugiannya. Selain itu juga
akan dibahas mengenai Creative Commons License33 dan bagaimana Creative
Commons License tersebut “bekerja” dalam netlabel sekaligus memberikan pengaruh
kepada musisi yang berada dibawah naungan netlabel. Netlabel menggunakan
Creative Commons Lisense sebagai pengganti hak cipta di dunia digital. Creative
Commons License tersebut memungkinkan sebuah band untuk mendistribusikan
karya mereka secara legal.
Masalah pembajakan di bidang musik rupanya telah menjadi masalah
nasional. Seperti yang ungkapkan detik.com, beberapa musisi Indonesia telah
mendatangi mentri perdagangan Gita Wirjaman untuk “curhat” mengenai tingginya
33
Creative Commons License adalah organisasi non-profit yang berada di Mountain View,
California, Amerika Serikat yang bergerak dibidang lisensi hak cipta yang dikenal dengan nama
Creative Commons License. Creative Commons License, dibuat oleh profesor hukum Stanford
University yaitu Lawrence Lessig bersama temannya Hal Abelson, dan Eric Eldred pada bulan
Desember 2002. Creative Commons License sudah digunakan digunakan di sekitar 50 negara
termasuk Indonesi. Hanya dengan membuka web www.creativecommons.org pengguna dapat
melisensikan karyanya. Creative Commons License menyebut pencipta karyanya yang menggunakan
karyannya sebagai lisensor. Creative Commons License memungkinkan kita mempertahankan hak
cipta, tapi juga memungkinkan orang lain untuk menggunakan karya tanpa izin dan tanpa pembayaran,
selama mereka mencantumkan sumber dan penciptanya.
57
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
angka pembajakan yang belum ditindaklanjuti oleh pemerintah. Pertumbuhan
masyarakat Indonesia berkembang namun penjualan album musik berjalan stagnan.
Musisi-musisi tersebut meminta pemerintah harus lebih serius menindak para pelaku
pembajakan liar. Indonesia harus mencontoh negara Prancis dalam membasmi para
pelaku pembajakan.
34
Tahun 1975 penjualan album best seller dipegang Oma (Rhoma Irama) dengan 1 juta
copy keping sedangkan Bimbo di tahun yang sama 500 ribu copy keping. Tahun
2012 penyanyi Agnes Monica hanya 2 juta copy itu best seller mestinya 20 juta
padahal penduduk Indonesia terus naik dari 110 juta jadi 240 juta. (Sam Bimbo
melalui detik.com pada tanggal 17 Mei 2013)
Menteri Perdagangan Gita Wirjawan mengatakan bahwa potensi kerugian
industri musik Indonesia akibat pembajakan mencapai Rp 4,5 triliun rupiah per tahun.
Dan pendapatan musisi Indonesia hanya sepuluh persen dari 4,5 triliun rupiah
tersebut.
Jika nilai konsumsi musik per orang sebesar Rp 20.000 per tahun, nilai potensi
konsumsi musik mencapai Rp 5 triliun per tahun. Namun, yang bisa dinikmati oleh
para musisi tersebut hanya sepuluh persen. (Gita Wiryawan melalui detik.com pada
tanggal 17 Mei 2013)
Dari data yang berhasil ditemukan, terlihat betapa pembajakan di Indonesia
sudah mencapai level yang tidak dapat dikatakan main-main. Kita dapat melihat
bahwa penegakan hukum di Indonesia masih lemah. Dengan tingkat pembajakan
yang tinggi maka masyarakat dan penikmat musik di Indonesia seakan menjadi acuh
terhadap hukum yang ada di Indonesia.
34
http://finance.detik.com/read/2013/05/17/181505/2249223/1036/gita-wirjawan-dicurhati-para-artissoal-pembajakan-musik. Data mengenai tingginya tingkat pembajakan di Indonesia diakses melalui
detik.com pada 21 Juni 2013.
58
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Berkaitan dengan lemahnya penegakan hukum di Indonesia saya akan menilik
konsep Giddens mengenai institutional dimension of modernity”. Giddens (1990: 5558) beranggapan bahwa dunia modern saat ini terbentuk dan berubah seiring dengan
perkembangan teknologi dan birokrasi. Dalam dunia modern saat ini terdapat empat
faktor yang mempengaruhi berkembanganya modernitas, yaitu Kapitalisme,
Industrialisme, surveilance atau pengawasan, dan Kekuatan Militer. Ke-empat hal
tersebut saling berhubungan dan saling mempengaruhi.
Ketika diterapkan dalam analisis penelitian ini kapitalisme musik di Indonesia
berkembang pesat. Pemilik modal memilki uang untuk merilis karya-karya musisi
yang ada di Indonesia. Selain memiliki uang untuk merilis karya musisi Indonesia,
pemilik modal juga memiliki teknologi untuk memproduksi dan melipat gandakan
karya dan kapital mereka. Atau dengan kata lain industrialisme juga berjalan lancar di
Indonesia. Tetapi saya melihat bahwa surveilence (pengawasan) dan kekuatan militer
tidak bekerja maksimal di Indonesia, maka modernitas di Indonesia menjadi timpang.
Pengawasan yang saya maksudkan di sini adalah pengawasan negara terhadap
pembajakan yang tidak ditindak tegas. Pembajakan seperti dibiarkan di negeri ini,
maka saya sebut pengawasan yang dilakukan oleh negara gagal. Dengan gagalnya
pengawasan yang dilakukan oleh negara, kekuatan militer juga tidak bekerja
maksimal, karena kekuatan militer bekerja berdasarkan pengawasan negara. Dari
pemaparan di atas kita dapat melihat bahwa Modernitas yang terjadi di Indonesia
terhambat karena empat faktor yang mempengaruhi modernitas tidak berjalan
59
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
beriringan. Dengan terhambatnya modernitas tersebut konsumen musik di Indonesia
berusaha menemukan cara baru dalam menkonsumsi dan mendistribusikan musik.
Dari hasil wawancara saya dengan musisi yang bergabung dengan netlabel,
semua musisi tersebut mengetahui Creative Commons License. Saya sangat tertarik
dengan penjelasan Denda Omnivora35 tentang Creative Commons License sebagai
perlindungan hak cipta dan pandangannya mengenai hak cipta. Denda Omnivora
berpendapat sebagai berikut:
Lisensi Creative Commons adalah beberapa lisensi hak cipta yang diterbitkan pada
16 Desember 2002 oleh Creative Commons, suatu perusahaan nirlaba Amerika
Serikat yang didirikan pada tahun 2001. Banyak di antara lisensi-lisensi tersebut,
terutama lisensi original, yang memberikan "hak dasar" , seperti hak untuk
mendistribusikan karya berhak cipta tanpa perubahan, tanpa biaya apapun. Beberapa
lisensi yang lebih baru tidak memberikan hak tersebut. Lisensi Creative Commons
saat ini tersedia dalam 34 yurisdiksi yang berbeda di seluruh dunia, dengan sembilan
lainnya dalam tahap pengembangan. Kenapa? Semua lisensi original memberikan
"hak dasar". Detail masing-masing lisensi ini bergantung pada versi, dan terdiri dari
pilihan masing-masing (Denda Omnivora)
Selanjutnya Denda Omnivora mengungakapkan hal sebagai berikut:
Belakangan hari ini dalam menyediakan rilisan netaudio free download belum
diimbangi dengan edukasi hak intelektual yang cukup kepada audiensnya. Sebagian
besar rilisan album/ single free mp3 yang bisa kita temui sepanjang tahun 2012
bahkan tidak memiliki metadata dan disertai perlindungan lisensi yang baik. Kita
terlalu sibuk dibombardir promosi dan dimanjakan dengan iming-iming produk
gratis, tapi lupa bahwa di setiap karya netaudio yang kita unduh mengandung hak
intelektual penciptanya sekaligus juga kewajiban kita untuk mengkonsumsinya
dengan fair; apakah ia boleh di-copy dan dibagi ke teman-teman yang menyukainya,
apakah ia boleh digunakan untuk kepentingan pendidikan dan komersial, apakah ia
bebas untuk diperdengarkan di cafe, toko atau ruang publik, ataukah ia dapat kita
modifikasi dan kita sebarluaskan ulang sebagai derivasi karya baru dengan lisensi
yang sama. (Denda Omnivora)
35
Denda Omnivora merupakan Vokalis sekaligus motor utama band punk yang bernama Denda
Omnivora and The White Liar. Denda Omnivora and The White Liar merupakan salah satu band yang
merilis karyanya melalui Yes No Wave Music.
60
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Dari sisi hasil wawancara saya dengan pemilik netlabel saya menemukan hal
yang menarik. Dari hasil wawancara tersebut bisa kita lihat bahwa mereka tidak lagi
percaya dengan penegakan hukum hak cipta di Indonesia. Pemilik netlabel
menganggap bahwa hak cipta di Indonesia tidak mampu melindungi karya seniman
dengan baik, seperti yang diungkapkan berikut:
Creative Commons License itu membebaskan kok. Creative Commons License itu
melindungi artis/band dengan karyanya. Sekaligus melindungi Netlabel juga. Karena
disana dijelaskan bahwa bebas untuk mengunduh, menyebarluaskan bahkan meremix sebuah karya tentunya dengan menyebutkan sumbernya. Creative Commons
License itu lebih sederhana. Karena dijelaskan hanya dengan memakai simbol-simbol
yang nyata dan mudah dipahami. Coba saja kamu baca undang-undang hak cipta
Indonesia. Mampus puyeng kalau tidak paham artinya. Dan proses untuk
mendapatkan pengakuan hak cipta, ribet. Baca undang undang hak atas kekayaan
intelektual dan di sana ada prosedurnya. Dan dengan lisensi ini, paling tidak netlabel
dan artis terlindungi secara legal. Dengan cara yang sederhana tentunya. (Arie
Mindblasting)
Hal hampir senada juga diungkapkan oleh pemilik netlabel lainnya:
Karena hak cipta konvensional, seperti yang diatur dalam UU No.19 Tahun 2002
tidak memiliki fleksibilitas yang mumpuni, dan kepastian hukum yang mumpuni
untuk melindungi Hak Cipta dari karya-karya yang saya rilis. (Hilman Fathoni)36
Selanjutnya pemilik netlabel yang lain juga mengungkapkan hal sebagai berikut:
Creative Commons License saya gunakan sebagai alternaif hak cipta di Indonesia.
Creative Commons License itu gratis dan mudah,karena hak cipta di Indonesia tu dah
ga da gunanya. Kita bisa liat orang jualan CD bajakan di depan kantor polisi, padahal
kita semua tau bahwa itu melanggar hukum. Itulah kebobrokan hukum kita. Daripada
susa-susah nyari hakcipta tapi tetep aja dibajak, mending pake Creative Commons
License karena disini kamu ngopi dan menyebarkan , bahkan mau di-remix ulang pun
boleh. (Wok The Rock)
Dalam salah satu wawancara saya menanyakan kepada Wok The Rock bahwa
menurut saya Creative Commons License merupakan bentuk anti hak cipta, karena di
36
Hilman Fathoni adalah pemilik sekaligus pendiri netlabel yang bernama Ear Alert Records dari
Yogyakarta.
61
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Creative Commons License kita bisa melakukan apa saja, istilah saya “membajak
dengan disadari oleh pelaku dan musisinya”. Wok The Rock menjawab bahwa
menurutnya Creative Commons License memang semacam gerakan anti hak cipta
yang dilakukan secara halus. Indonesia bukan tidak mempunyai undang-undang yang
mengatur hak cipta. Namun dalam perkembangannya, undang-undang tersebut dirasa
kurang memadai dalam menampung aspirasi para pegiat seni, sehingga para pegiat
seni terutama musik memilih untuk menggunakan Creative Commons License dalam
melindungi karya mereka. Selain dinilai fleksibel, Creative Commons License juga
dinilai lebih praktis dan mudah dimengerti prosedurnya.
Dari ungkapkan di atas muncul pertanyaan, lalu apa gunanya melindungi
karya menggunakan Creative Commons License? Menurut saya terjadi perbedaan
dalam memposisikan perlindungan karya seni yang dianut netlabel dan major label.
Ketika musisi bergabung dengan major label, karya musisi tersebut memang layak
mendapatkan kejelasan hukum, karena karya tersebut dijual. Ketika karya tersebut
dijual maka perlindungan hal cipta menjadi hal penting agar karya cipta musisi
tersebut tidak dibajak dan musisi merasa dirugikan. Berbeda kasusnya ketika hak
cipta tersebut diterapkan pada netlabel dengan Creative Commons License. Karya
yang didistribusikan netlabel di Indonesia semuanya digratiskan dan boleh
disebarluaskan. Lalu apa gunanya Creative Commons License? Saya melihat Creative
Commons License berfungsi sebagai “pemberian nama pencipta karya secara sah”.
62
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Creative Commons License tidak melindungi dari pembajakan, karena karya tersebut
memang sudah digratiskan.
Dari kalangan konsumen sendiri ada beberapa orang yang mengaku tidak tahu
apa itu Creative Commons License, ada juga yang pernah mendengar tetapi tidak tahu
itu maksudnya apa. Tapi sebagian besar konsumen mengetahui Creative Commons
License. Jika saya melihat dari beberapa jawaban konsumen mengenai Creative
Commons License, mereka terkesan tidak peduli mengenai hal ini, yang penting
mereka bisa mendapatkan musik secara gratis.
Creative Commons License dinilai mampu melakukan penyesuaian terhadap
kondisi saat ini. Creative Commons License dinilai mampu membangun kesadaran
pengguna
internet
terhadap
hak
cipta.
Usaha-usaha
ini
dipercaya
akan
mengefektifkan penegakan hak cipta sekaligus mendorong penyebaran dan
pemanfaatan karya. Creative Commons License berusaha menawarkan efektifitas
penegakan hak cipta sekaligus mendorong penyebaran dan pemanfaatan karya. Bagi
saya kemunculan Creative Commons License yang berusaha memperbaiki hak cipta
merupakan bentuk kegagalan penegakan hukum di Indonesia. Hak cipta yang ada di
Indonesia dinilai tidak lagi bermanfaat dalam melindungi kaya seni yang diciptakan.
Kalau saja hak cipta di Indonesia berjalan dengan baik, tidak lagi diperlukan Creative
Commons License.
63
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Berkaitan dengan penegakan hukum yang gagal di Indonesia, saya ingin
menghubungkan dengan fenomena musik yang terjadi di Banyuwangi. Pada obrolan
saya secara pribadi dengan Wok The Rock, fenomena perlindungan hak cipta di
Banyuwangi
merupaka
suatu
fenomena
yang
menarik.
Wok
The
Rock
mengungkapkan bahwa pemerintah derah Banyuwangi dan musisi bekerjasama
dalam membasmi bajakan. Semua kaset dan CD bajakan dimusnahkan dari kota
Banyuwangi dan orang yang mengedarkan kaset dan CD bajakan ditindak sesuai
dengan hukum yang berlaku. Dari tindakan tersebut musisi mencari cara agar karya
mereka tetap bisa diedarkan di kota Banyuwangi. Mengingat tingkat ekonomi yang
rendah di Banyuwangi maka musisi merilis karya mereka dengan harga yang sama
dengan harga CD bajakan. Mereka merilis karya mereka kurang lebih seharga Rp
10.000,00 , dan itu merupakan CD Original dengan cukai dari pemerintah daerah.
Dari hal ini kita dapat melihat bahwa ketika kesadaran hukum berjalan dengan
semestinya maka tidak lagi diperlukan perlindungan hukum lainnya.
3.
Sistem Ekomoni dan Terhambatnya Modernitas
Dalam sub bab berikut ini saya akan melihat pengaruh sistem ekonomi di
Indonesia terhadap pembentukan identitas konsumen netlabel. Tingginya harga jual
musik secara fisik berbanding terbalik dengan pendapatan masyarakat Indonesia
terutama masyarakat kelas bawah. Dengan tingginya harga jual kaset atau CD yang
tidak sebanding dengan pendapatan masyarakat, tidak mengherankan jika masyarakat
lebih memilih untuk mengunduh musik daripada membeli rilisan dalam bentuk fisik.
64
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Selain itu, mahalnya membuat perusahaan rekaman konvensional membuat sebagian
kalangan lebih meminati netlabel sebagai sarana untuk menyalurkan hasrat
bermusiknya.
Dengan adanya netlabel, konsumen merasa mendapatkan keuntungan secara
ekonomi dengan mengunduh gratis melalui netlabel. Hal tersebut dapat dibuktikan
dari hasil wawancara berikut:
Harga kaset dan CD di Indonesia sangat mahal. Karena netlabel lebih cepat
membantu mengenal band-band secara digital, karena 50% waktu saya habiskan di
depan komputer dan internet. Keuntungannya ya murah meriah banget nyaris gratis
soalnya ngunduhnya pake pulsa internet dan itu harus dibayar. Jadi tidak gratis juga
kan? Ya seenggaknya cara ngedapetinnya. Kerugiannya ada, suka membuat jadi
males beli rilisan fisik soalnya keasyikan ngedapetin album yang gratisan. Tapi balik
lagi ke kesadaran sama support si konsumen kepada si bandnya sih, soalnya band itu
ngebikin karya juga pake modal masa kita pengen enaknya aja.(Iman Distractor)
Konsumen netlabel yang lain mengungkapkan hal sebagai berikut:
Jelas secara ekonomi gratis sehingga nggak mengganggu dapur rumah supaya tetap
ngebul. harga CD sekarang mahal banget, realistis saja kalo saya yang suka musik
tapi dengan kantong pas pas an lebih memilih lagu via netlabel. dan sebagai timbal
baliknya, band saya pun sering di rilis via netlabel, jadi adil. Kerugiannya buat saya
sih gak ada, paling kalo jaringan lagi lelet jadi lama download nya. Hei, tapi kan ini
pake komputer kantor. (Indra Menus) 37
Selanjutnya konsumen netlabel lainnya mengungkapkan bahwa:
Untungnya jelas ga keluar duit kecuali untuk biaya koneksi modem. Ruginya ga bisa
megang case pas ndengerin musiknya dan ga bisa di-collect. (Ahmad Alvan Rahadi)
Menurut Iman, mengunduh musik melalui netlabel menguntungkan karena
tidak perlu mengeluarkan biaya yang banyak. Namun kerugiannya membuat
konsumen malas membeli rilisan secara fisik. Ada anggapan bahwa dengan membeli
lagu dalam bentuk fisik (CD atau kaset) berarti mendukung si musisi tersebut.
37
Indra Menus adalah seorang konsumen musik sekaligus musisi yang tergabung dalam band
Grindcore bernama To-Die.
65
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Selanjutnya menurut Menus, mengunduh lagu sangat menguntungkan secara
ekonomi. Bahkan ketika lagu-lagu dari bandnya dirilis melalui netlabel pun dia
merasa tidak ada masalah. Di sinilah dia merasa ada timbal balik dan merasa benarbenar tidak dirugikan dengan adanya netlabel. Namun bagi Arvan, mengkoleksi lagu
dalam bentuk fisik seperti kaset atau CD masih merupakan hal yang penting. Ketika
hal tersebut tidak dapat diperolehnya dari mengunduh lagu melalui internet, dia
mengemukakan bahwa disitulah letak kerugian mengunduh lagu melalui internet.
Dari pernyataan pemilik netlabel kita juga bisa menyimpulkan bahwa factor
ekonomi juga mempengaruhi, hal tersebut dapat kita lihat dalam wawancara berikut:
Netlabel saya pilih karena saya miskin. Tidak ada dana lebih untuk gaya gayaan
bikin perusahaan rekaman. Perusahaan rekaman saya anggap waktu itu bukan
“wilayah” saya. Karena saya tidak memproduksi rekaman atau karya musik dalam
bentuk fisik. Yang saya maksud fisik adalah berbentuk CD, DVD, dan kaset dan
terlebih lagi ini adalah passion saya pribadi. Perusahaan rekaman pasti ada target
pemasaran, gimana dagangan bisa laku, promosi, distribusi, hitungan ongkos
produksi, break event point, apapun itu yang hubungannya dengan duit. Dan memang
saya anggap waktu itu bukan wilayah saya dan saya sendiri tidak tertarik. (Arie
Mindblasting)
Selanjutnya pemilik netlabel lainnya mengungkapkan bahwa:
Saya membuat Yes No Wave Music setelah perusahaan rekaman saya yang bernama
Realino Records berantakan, uangnya ga tau kemana. Saya tetep ingin bikin
perusahaan rekaman tapi yang ga keluar duit untuk biaya produksi, dan aku bikin
netlabel karena paling cuma bayar biaya buat hosting aja, murah. (Wok The Rock)
Dari pernyataan Arie Mindblasting dan Wok The Rock di atas kita bisa
melihat bahwa faktor ekonomi menjadi alasan mereka mendirikan netlabel. Mereka
mendirikan netlabel karena merekan merasa membuat netlabel lebih murah
dibandingkan membuat perusahaan rekaman yang merilis rekaman fisik. Netlabel
66
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
tidak perlu mengeluarkan uang banyak untuk membiayai biaya rekaman musisinya,
tak perlu memikirkan biaya promosi, dan tak perlu mengeluarkan biaya
menggandakan rilisan fisik seperti kaset atau CD.
Selain dari pemilik netlabel alasan ekonomi juga diungkapkan oleh band yang
bergabung
dengan
netlabel.
Yennu
Belkastrelka
mengungkapkan
bahwa
menggratiskan karya melalui netlabel merupakan promosi yang efektif.
Menggratiskan lagu melalui internet bukan semata mata menggratiskannya begitu
saja melainkan salah satu strategi dalam rencana atau tujuan ngeband. toh misalnya
artis major label baru harus mengeluarkan 20 juta untuk bisa masuk acara Dasyat,
biaya promo band juga menelan biaya ratusan juta rupiah. Menggratiskan album
untuk promosi masih bisa dikatakan sebagai usaha promosi yang murah (Yennu
Belkastrelka)38
Dari pernyataan Yennu Belkastrelka di atas kita bisa melihat bahwa netlabel
merupakan sarana promosi yang murah. Mereka menganggap penyebaran musik
melakui netlabel merupakan sarana yang efektif dan tidak perlu mengeluarkan biaya
besar seperti yang dilakukan oleh major label.
Berkaitan dengan aspek kebudayaan, globalisasi telah menyebabkan
terjadinya penyebaran berbagai aspek ke seluruh dunia, termasuk musik. Globalisasi
yang terjadi menyebabkan adanya kesamaan minat orang-orang dalam berbagai
bidang, termasuk musik. Ketika menghubungkan dengan kasus netlabel saya melihat
faktor ekonomi yang lemah membuat masyarakat Indonesia menemukan identitas
baru melalui netlabel. Ketika masyarakat Indonesia ingin mengakses musik dengan
mudah semuanya terbentur masalah harga rilisan fisik yang mahal. Selain rilisan fisik
38
Yennu Belkastrelka merupakan seniman yang tergabung dalam band Belkastrelka sekaligus aktif
dalam organisasi teater Garasi.
67
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
yang mahal membeli musik melalui portal musik legal pun dinilai mahal. Di sini kita
bisa melihat bahwa penyebaran modernitas juga dipengaruhi oleh faktor ekonomi.
Ketika faktor ekonomi tidak mendukung, penyebaran modernitas pun juga terhambat.
Dengan kata lain, masyarakat modern mengalami ketidakpastian yang
diciptakan sebagai konsekuensi dari modernitas. Situasi ini merujuk pada
ketidakpastian yang dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari sebagai akibat dari
perkembangan ilmu pengetahuan serta campur tangan manusia terhadap kehidupan
sosial dan alam. Dalam kasus ini saya melihat ketika pemilik netlabel ingin membuat
perusahaan rekaman tapi memiliki keterbatasan ekonomi maka mereka menggunakan
teknologi internet untuk membentuk teknologi yang memfasilitasi konstruksi
identitas baru yang bernama netlabel. Ketika musisi memiliki keterbatasan finansial
untuk mempromosikan karyanya maka mereka menganggap teknologi berupa
netlabel merupakan solusi untuk sarana promosi secara murah. Selanjutnya ketika
penikmat musik menganggap membeli rilisan fisik mahal maka konsumen memilih
mengunduh musik melalui netlabel karena mereka merasa mendapatkan keuntungan
secara ekonomis, yaitu gratis. Dari hal tersebut kita dapat melihat bahwa identitas
baru telah terbentuk melalui teknologi yang bernama netlabel. Identitas baru tersebut
terbentuk salah satunya karena keterbatasan ekonomi dalam mengkonsumsi musik.
68
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
4.
Trust, Risk dan Ontological Security
Trust atau kepercayaan menurut Giddens (1990: 34) merupakan kepercayaan
seseorang terhadap sistem yang bekerja dan menghasilkan sesuatu untuk
mempermudah kehidupan manusia. Trust menjadi keharusan dalam modernitas
karena dituntut oleh pemisahan ruang dan waktu serta abstract system yang menandai
kehidupan sehari-hari. Kepercayaan merupakan hal penting bagi kehidupan
masyarakat modern karena tanpa kepercayaan terhadap abstract system maka sistem
tersebut tidak lagi operasional bagi penggunanya. Secanggih apapun abstract system
pasti mengandalkan kepercayaan agar berjalan sesuai keinginan. Sebagai contoh
penggunaan uang dan sistem perbankan sebagai alat tukar membutuhkan kepercayaan
dari orang-orang yang menggunakannya. Ketika kepercayaan itu hilang, sistem
perbankan akan runtuh seperti yang terjadi saat krisis ekonomi 1997.
Bila kita menghubungkan dengan kondisi dunia musik di Indonesia, kita
dapat melihat bahwa trust atau kepercayaan terhadap sistem di Indonesia sangat
lemah. Expert system dan symbolic tokens yang ada di Indonesia tidak seperti yang
dibayangkan Giddens di dunia Barat yang bejalan lancar. Expert system dan symbolic
tokens banyak mengalami gangguan
maka masyarakat Indonesia berusaha
menemukan cara sendiri dalam mengkonsumsi musik. Trust menjadi penting dalam
kehidupan modern karena kehidupan mengkonsumsi musik masyarakat di Indonesia
tidak bisa lepas dari era digital. Netlabel digunakan konsumen musik Indonesia
sebagai sarana dalam mendefinisikan ulang identitasnya karena kegagalan abstract
69
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
system di Indonesia. Ketika trust terhadap abstract system tidak lagi ada maka
masyarakat Indonesia kembali melakukan adaptasi dalam pembentukan dirinya.
Bentuk adaptasi tersebut melalui netlabel, dan wujud adaptasi tersebut dilakukan
secara berulang-ulang dan membentuk suatu ekspresi identitas mereka.
Berkaitan dengan trust, saya menemukan bahwa pada mulanya Wok The
Rock susah mencari musisi yang mau bergabung dengan netlabel nya. Beberapa
musisi menolak tawaran Wok The Rock karena mereka masih awam mengenai
konsep netlabel. Wok The Rock mengungkapkannya sebagai berikut:
Dulu saya sempat kesulitan mau mengajak musisi yang mau bergabung dengan netlabel. Saya
menawarkan konsep netlabel ini kepada beberapa musisi punk, dengan etos DIY- nya. Tapi
saya mengalami banyak penolakan, mereka tidak percaya dengan penggratisan karya. Mereka
berpikir kami rekaman mahal, enak aja mau digratiskan. Setelah itu saya bisa bilang, konsep
punk mereka semua cuma omong kosong, katanya mereka anti-kapitalis, tapi masih memiliki
pola pikir kapitalis bahwa musik itu harus dijual. Bagi saya netlabel ini revolusi. (Wok The
Rock)
Dari hal tersebut kita bisa melihat bahwa untuk membentuk identitas baru
memerlukan trust. Ketika expert system dan symbolic tokens yang ada di Indonesia
tidak berjalan seperti yang dibayangkan, kepercayaan musisi terhadap sistem yang
berlaku di Indonesia menjadi hilang. Lalu ketika Wok The Rock menawarkan satu
identitas baru yang bernama netlabel, maka musisi-musisi masih belum percaya pada
satu sistem yang bernama netlabel. Wok The Rock perlu mengkampanyekan idenya
tentang sebuah revolusi bernama netlabel kepada musisi-musisi. Kampanye atau
promosi tersebut berguna untuk membentuk trust musisi kepada sistem baru yang
bernama netlabel. Dari hal tersebut dapat kita simpulkan bahwa netlabel merupakan
sistem yang baru maka lebih susah membangun trust pada penggunanya.
70
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Selanjutnya Giddens (1993: 3-4) menjelaskan
bahwa kepercayaan
masyarakat modern diiringi dengan kehadiran resiko didalamnya. Globalisasi sebagai
akibat dari modernitas memunculkan berbagai resiko. Modernitas adalah kondisi
yang penuh dengan resiko, pada satu sisi modernitas mengurangi resiko pada satu
bidang namun menimbulkan resiko baru pada bidang lainnya. Resiko yang terjadi di
era modern saat ini tidak pernah terjadi pada mayarakat pra-modern. Selanjutnya
Giddens menjelaskan bahwa konsep resiko merupakan pengganti dari konsep takdir
pada masyarakat pra-modern. Masyarakat pra-modern percaya bahwa segala sesuatu
yang terjadi merupakan kodrat, pada masyarakat modern segala perbuatan manusia
menimbulkan suatu resiko.
Berkaitan dengan resiko saya akan menghubungkan kasus ini dengan
wawancara dengan Rully ZOO39. Rully ZOO mengungkapkan bahwa menggratiskan
musik memiliki resiko, seperti yang diungkapkan berikut:
Memang biaya rekaman tidak sedikit, tapi tidak selalu „biaya‟ harus kembali dalam bentuk
keuntungan finansial. Itu prinsip kapitalis namanya. Menggratiskan musik memiliki manfaat
yang jauh lebih besar daripada uang, yaitu kemudahan akses orang terhadap karya kita,
seperti yang saya bilang di awal tadi, karya bisa dinikmati tanpa batasan geografis atau
finansial. (Rully Zoo: 2013)
Dari hasil wawancara dengan Rully ZOO kita bisa melihat bahwa Trust selalu
diiringi dengan resiko. Rully ZOO menaruh kepercayaan kepada sistem baru yang
bernama netlabel, maka Rully ZOO juga mengetahui resiko yang dihadapinya. Ketika
39
Rully ZOO adalah seorang penulis yang dikenal dengan nama Rully Sang Merah. Rully ZOO
merupakan vokalis dari band ZOO yang merilis karyanya melalui Yes No Wave Music.
71
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Rully ZOO mempercayakan karyanya digratiskan, maka Rully ZOO tahu bahwa
mereka tidak akan mendapatkan keuntungan dari karya tersebut.
Dalam
kaitannya
dengan
identitas
diri,
kepercayaan
bukan
untuk
meminimalkan resiko melainkan untuk mencegah rasa gelisah yang merupakan
sumber krisis identitas. Kepercayaan tersebut menciptakan ontological security.
Menurut Giddens (1993: 38-39) ontological security merupakan perasaan aman
seseorang terhadap sistem yang berjalan di dunia ini, termasuk kepercayaan terhadap
orang. Kepercayaan tersebut dibutuhkan seseorang untuk merasa tetap aman dan
menghindari ketakutan akan terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Ontological security
kita butuhkan agar kita merasa menguasai realitas yang ada. Ontological security
ditentukan oleh rutinitas kehidupan sehari-hari yang terus berubah. Rutinitas
kehidupan sehari-hari tersebut menimbulkan identitas yang terus menerus diperbarui.
Identitas tersebut muncul sebagai kontrol terhadap kehidupan sehari-hari dan juga
dalam upaya mengendalikan lingkungan sosial.
Dalam penelitian ini, ontological security atau perasaan aman terhadap sistem,
sudah tidak dimiliki oleh masyarakat Indonesia. Hal tersebut mengakibatkan adanya
Creative Common Lisence yang kedudukannya “seolah-olah” menggantikan undangundang hak cipta yang dibuat oleh pemerintah dalam upaya untuk melindungi karya
cipta musisi. Namun, Creative Common Lisence ini juga harus diuji kekuatannya
dalam melindungi karya cipta musisi. Hal tersebut mengingat masih banyaknya
konsumen musik yang tidak tahu bahkan tidak peduli dengan Creative Common
Lisence. Karena ketidak tahuan dan ketidak pedulian konsumen musik terhadap
72
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Creative Common Lisence, alih-alih ingin mengganti Undang-Undang hak cipta
konvensional justru nantinya akan bernasib sama dengan Undang-Undang hak cipta
konvensional tersebut.
Saya melihat bahwa “rasa kepemilikan” terhadap suatu karya memiliki
perbedaan ketika karya tersebut digunakan untuk komersil atau digratiskan. Ketika
karya sengaja dibuat untuk dijual, seniman akan memperjuangkan hak cipta karena
hal ini berhubungan dengan keuntungan finansial. Tetapi ketika karya seni sengaja
ingin digratiskan maka rasa kepemilikan terhadap karya tersebut berkurang, hak cipta
hanya menjadi semacam “penulisan nama secara legal pada karya”. Saya melihat
ontological security pengguna netlabel berada dalam situasi yang serba salah. Seperti
yang diungkapkan Wok The Rock, “Daripada membuat karya susah-susah lalu
dibajak, mending sekalian aja karya tersebut digratiskan, karena istilah pembajakan
menjadi hilang”.
Selanjutnya Giddens (1990: 36) menjelaskan bahwa reflektifitas merupakan
karakteristik dari kegiatan manusia. Aktivitas manusia terus berubah mengikuti
kecanggihan teknologi informasi. Menurut Giddens monitoring reflextive action
merupakan tindakan manusia yang selalu berhubungan dengan dengan lingkungan
sekitar yang mengakibatkan kita memiliki keinginan untuk mengubah diri. Ketika
keinginan mengubah diri tersebut dilakukan oleh sekelompok masyarakat maka akan
membentuk modernitas yang baru. Perubahan tersebut mengubah realitas yang ada
dan realitas yang baru tersebut membentuk identitas lagi. Itu berarti dalam kehidupan
sehari-hari seseorang pasti terlibat dalam proses beradaptasi pada perubahan ilmu
73
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
pengetahuan. Proses adaptasi tersebut cepat atau lambat akan mempengaruhi dirinya
dan membentuk identitas baru.
Monitoring reflektive action dalam penelitian ini berkaitan dengan tindakan
konsumen musik yang selalu berinteraksi dengan konsumen musik lain. Dengan
kemajuan teknologi dan globalisasi konsumen musik di Indonesia dimungkinkan
memiliki pengetahuan yang sama dengan konsumen musik di luar negeri. Kemajuan
pengetahuan inilah yang mengakibatkan adanya keinginan untuk membuat netlabel
sekaligus mengkonsumsi lagu lewat internet. Kegiatan tersebut pada akhirnya
mengubah diri konsumen sehingga terbentuklah suatu identitas dan modernitas baru.
5.
Kesimpulan
Seperti yang sudah kita lihat dalam pembahasan di atas, bagi dunia musik
internet itu bagaikan pisau bermata dua.
Di satu sisi internet seringkali
dikambinghitamkan sebagai sumber dari aktivitas pembajakan musik, namun di sisi
lain internet juga menguntungkan sebagai media promosi dan distribusi music secara
lebih luas.
Namun demikian “pengambinghitaman” terhadap internet tidak terjadi begitu
saja. Media internet selalu dikaitkan dengan globalisasi dan modernitas. Sebagaimana
kita lihat, globalisasi dan modernitas di Indonesia terjadi bukan tanpa masalah. Salah
satu masalahnya adalah terhambatnya proses globalisasi dan modernitas itu sendiri.
Dengan terhambatnya modernitas di Indonesia, konsumen musik di Indonesia
mengalami perubahan identitas yang berbeda dengan negara-negara lainnya. Musik
74
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
dalam format digital dengan cara mengunduh cenderung lebih digemari konsumen
karena dirasa lebih murah dan mudah dalam mengaksesnya. Sebagai contoh album
fisik musisi lokal biasanya berkisar Rp 25.000,00 sampai dengan Rp 45.000,00. Bila
dibandingkan mengunduh lagu melalui internet harga tersebut terasa sangat mahal.
Sebagai contoh kita dapat mengakses internet yang cepat melalui warnet hanya
dikenakan biaya Rp. 3.000,00 sampai dengan Rp 5.000,00 per jam. Dengan koneksi
yang cepat kita dapat mengunduh beberapa album dalam waktu satu jam. Pemaparan
di atas menunjukkah bahwa sistem ekonomi di Indonesia juga berpengaruh terhadap
modernitas di Indonesia.
Lemahnya penegakan hukum khususnya dalam hak cipta menjadi topik yang
selalu
hangat
untuk
diperbincangkan.
Lemahnya
penegakan
hukum
ini
mengakibatkan adanya Creative Commons License yang dianggap dapat melindungi
karya cipta musisi. Creative Commons License yang hadir sebagai suatu sistem yang
baru, yang diharapkan dapat mengatasi dan mempermudah kegiatan distribusi dan
konsumsi musik pun nantinya akan menghasilkan masalah baru. Hal tersebut
terutama berkaitan dengan minimnya pengetahuan konsumen musik terhadap
Creative Commons License itu sendiri.
Keterbatasan expert system dan symbolic tokens menjadi serangkaian
keterbatasan yang pada akhirnya mengakibatkan kegiatan mengunduh musik terjadi.
Selain itu, kegiatan mengunduh lagu dengan cara modern yaitu melalui situs berbayar
juga bukan tanpa masalah. Situs berbayar justru menuai masalah baru mengingat
tidak semua warga masyarakat Indonesia memiliki sarana untuk membayar lagu
75
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
melalui situs berbayar tersebut. Sampai di sini saya berkesimpulan bahwa modernitas
yang pada awalnya diharapkan dapat mengatasi permasalahan justru dapat
menimbulkan masalah baru. Dalam konteks penelitian ini, permasalahan yang
dimaksud adalah permasalahan pengunduhan musik di era digital.
Netlabel hadir di tengah berbagai masalah pelik yang terjadi pada industri
musik di Indonesia. Ide mengenai netlabel memang datang dari dunia Barat tetapi
netlabel di Indonesia mengalami pemaknaan yang berbeda dengan netlabel yang ada
di negara-negara maju. Netlabel hadir di tengah kondisi masyarakat Indonesia yang
mengalami berbagai masalah ketika ingin mengkonsumsi musik. Netlabel di
Indonesia hadir di tengah kegagalan expert system dan symbolic tokens, lemahnya
penegakan hukum, dan lemahnya daya beli masyarakat di Indonesia. Dari hal tersebut
netlabel di Indonesia merupakan identitas baru konsumen musik di Indonesia yang
terbentuk melalui teknologi. Perihal identitas baru tersebut akan kita bahas lebih
lanjut pada Bab IV.
76
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
BAB IV
Keterbatasan Menikmati Musik Sebagai Agenda Politik
Anti kapitalis bullshit!!!,
Inilah revolusi digital!!!
Demokrasi digital!!!
Anti kapitalisme industri musik!!!
(Wok The Rock)
Dari pernyataan Wok The Rock di atas kita dapat melihat bahwa netlabel
bukan hanya merupakan perusahaan rekaman yang menggratiskan musiknya melalui
internet, melainkan juga sebuah usaha yang memiliki misi tertentu. Hal ini tampak
misalnya dalam usaha netlabel di Indonesia membentuk Indonesian Netaudio Festival
guna menunjukkan keberadaan komunitas ini. Netlabel merilis musik yang unik,
mengkampanyekan budaya berbagi dan memproklamasikan diri sebagai media
alternatif dalam mengkonsumsi musik. Hal-hal inilah yang akan kita bicarakan pada
Bab IV ini.
Pada Bab IV ini saya akan memaparkan bagaimana identitas yang terbentuk
bukan hanya identitas individual, melainkan juga identitas kolektif. Maksudnya,
modernitas dengan segala kelemahannya akan membentuk identitas baru secara
personal maupun kolektif. Ketika modernitas membentuk seseorang dan itu terjadi
secara kolektif maka hal tersebut membentuk modernitas baru. Modernitas yang baru
tersebut juga mempengaruhi pembentukan identitas individu baru, dan hal tersebut
77
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
berlangsung secara berulang-ulang. Bab ini juga berisi proses pembentukan identitas,
baik di kalangan musisi maupun penggemar musik ini, yang oleh Giddens disebut
sebagai bagian tak terpisahkan dari life politics.
1.
Indonesian Netaudio Festival sebagai “Proklamasi” Identitas
Netlabel adalah perusahaan rekaman yang mendistribusikan rilisannya dalam
format digital audio melalui jaringan Internet. Sebagaimana kita lihat, idenya adalah
menyebarkan musik secara bebas dan tanpa batas geografis. Yes No Wave Music
menyebut netlabel sebagai aksi gift economy, sebuah eksperimentasi dalam
menerapkan model musik gratis kepada pecinta musik di dunia yang kapitalistik.
Aksi ini bukanlah dimaksudkan untuk menghancurkan industri musik yang sudah
mapan puluhan tahun, tetapi lebih dimaksudkan sebagai tawaran alternatif dalam
mendistribusikan karya musik. Bebas untuk diedarkan, diperdengarkan dan digubah
oleh siapa saja. Dapat dikatakan bahwa aksi yang dilakukan oleh Yes No Wave
Music ini merupakan sebuah pembebasan kreativitas, dan internet telah memberikan
peluang untuk melakukan hal itu.
Indonesian Netlabel Union merupakan satu gerakan kolektif netlabel
Indonesia yang ditujukan untuk memulai jaringan antar netlabel dan juga untuk
mengenalkan eksistensi netlabel lokal kepada publik serta menjadi sebuah wadah
dalam mengkaji wacana musik di era teknologi informasi. Langkah awal dimulai
78
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
dengan merilis seri album kompilasi secara serentak pada tanggal 1 Januari 2011.
Lima netlabel aktif yang turut serta dalam kompilasi tersebut adalah Hujan! Records,
Inmyroom Records, Mindblasting, Stone Age Records, dan Yes No Wave Music.
Indonesian Netlabel Union juga menggelar sebuah booth offline sharing dan
merchandise di RRREC Fest #2 di Jakarta, 3-5 Desember 2011.
Langkah
selanjutnya
dari
Indonesian
netlabel
Union
adalah
menyelenggarakan Indonesian Netaudio Festival yang digelar pada tanggal 16 dan 17
November 2012. Indonesian Netaudio Festival adalah kegiatan offline yang
melibatkan para pelaku, pemerhati, dan penikmat netaudio di Indonesia. Selain
merupakan sosial gathering antar pelaku dan penikmat netaudio, kegiatan yang akan
diselenggarakan berupa offline file-sharing, pengumpulan dana berupa penjualan
merchandise, diskusi, lokakarya, pemutaran film dan pertunjukkan musik oleh musisi
yang merilis album mereka melalui jaringan internet. Festival perdana ini juga
sekaligus merayakan ulang tahun Yes No Wave Music yang kelima.40
Saya melihat dengan diadakannya Indonesian Netaudio Festival seakan-akan
komunitas netlabel ini ingin menunjukkan keberadaan mereka secara offline. Salah
satu tujuan dari Indonesian Netaudio Festival adalah mensosialisasikan Netlabel
beserta netaudio kepada publik dan membangun komunitas netaudio di Indonesia.
Peserta dari event ini antara lain adalah Yes No Wave Music (Yogyakarta),
40
http://indonesianNetlabelunion.net/indonesian-netaudio-festival-1/
(24 Mei 2013)
79
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Inmyroom Records (Jakarta), Hujan! Rekords (Bogor), StoneAges Records (Depok),
MindBlasting (Jember), Pati Rasa Records (Bantul), Tsefula / Tsefuelha Records
(Jatinangor), Kanal 30 (Malang), EarAlert Records (Yogyakarta), Lemari Kota
(Depok), Experia (Bandung), Death Tiwikrama (Australia), Megavoid (Malang),
SoundRespect (Yogyakarta), Flynt Records (Bandung), Valetna Records (Semarang),
Milisi Audiocopy (Surabaya).
Gambar 1: Poster Indonesian Netaudio Festival
Acara hari pertama tanggal 16 November 2012 bertajuk #INFLAB yang
diadalan di Kedai Kebun Forum (KKF) , Jl. Tirtodipuran No.3 Yogyakarta. Acara
80
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
hari pertama ini dibagi menjadi beberapa sesi, antara lain #INFTALK yaitu diskusi
bertemakan Berbagi Musik Sebagai Pemberdayaan Budaya dengan pembicara
Nuraini Juliastuti (KUNCI Cultural Studies), Wok The Rock (Yes No Wave Music),
Anggung KuyKay (Bottlesmokers) dan Ivan Lanin (pakar hukum hak cipta, Creative
Commons Indonesia). Setelah diskusi, audience dihadapkan dengan #INFWORK
yaitu lokakarya pembuatan radio online bersama Hujan! Radio (Bogor) dan
Pamityang-yangan (Yogyakarta). Acara hari pertama ditutup dengan #INFSCREEN
yaitu pemutaran film dokumenter yang bertajuk PressPausePlay, sebuah film yang
membahas tentang demokratisasi seni, film, musik, dan budaya.
Gambar 2: Diskusi Berbagi Musik Sebagai Pemberdayaan Budaya
Selanjutnya pada tanggal 17 November 2012, acara dilangsungkan di
Langgeng Art Foundation dengan berjudul #INFGIG1. Acara tersebut menampilkan
band-band indie dari Yogyakarta. Acara dilanjutkan di Oxen Free Jl. Sosrowijayan
81
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Yogyakarta. Acara tersebut dimeriahkan oleh beberapa DJ dan berlangsung sampai
pagi.
Gambar 3: Pertunjukan Musik dalam Indonesian Netaudio Festival
Menurut Giddens (1990: 225) globalisasi menyatukan komunitas-manusia
secara keseluruhan atau sebagian. Tak seorang pun yang hidup di bumi dapat
melarikan diri dari globalisasi. Pernyataan dari Gidden tersebut nampak dalam
kemunculan netlabel di Indonesia. netlabel di Indonesia muncul akibat globalisasi
musik di seluruh dunia. Netlabel berkembang di Indonesia karena kemajuan
teknologi internet menghilangkan batas-batas geografis secara signifikan. Popularitas
netlabel di Indonesia adalah bentuk konkret dari globalisasi. Ketidakterbatasan
tersebut pada akhirnya dapat menyatukan berbagai komunitas, tidak terkecuali
netlabel-netlabel di Indonesia. Berbagai kegiatan offline yang melibatkan para
pelaku, pemerhati, dan penikmat netaudio di Indonesia, offline file-sharing,
pengumpulan dana berupa penjualan merchandise, diskusi, lokakarya, pemutaran film
82
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
dan pertunjukkan musik oleh musisi yang merilis album mereka melalui jaringan
internet juga merupakan akibat dari adanya globalisasi. Globalisasi juga membuat
manusia-manusia di seluruh dunia menjadi lebih kreatif sehingga mereka berpikir
untuk membuat ataupun mendirikan netlabel.
Gambar 4: Penjualan merchandise Band
Gambar 5: Poster penjualan merchandise Indonesian Netlabel Union
83
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Kampanye gaya hidup seperti yang dilakukan oleh para aktivis netlabel oleh
Giddens disebut sebagai life politics, suatu fenomena khas zaman ini. Giddens (1990:
214) mengemukakan bahwa life politics adalah proses aktualisasi diri yang
menyangkut gaya hidup. Artinya life politics berhubungan dengan isu-isu politik
yang muncul dalam proses aktualisasi diri dalam konsep masyarakat post-raditional.
Masyarakat post-traditional dalam konsep Giddens adalah masyarakat yang tidak lagi
diatur oleh tatanan baku, termasuk tradisi yang mengatur tentang gaya hidup.
Masyarakat post-traditional tidak lagi dikungkung dalam pilihan-pilihan yang sudah
jadi, melainkan terbuka pada berbagai kemungkinan yang ditawarkan oleh konteks
sosialnya. Dalam masyarakat modern pengaruh-pengaruh global masuk dan
mempengaruhi kedirian seseorang. Sebaliknya, proses realisasi kedirian seseorang
juga berpengaruh terhadap keadaan secara sosial. Hal inilah awal mula dari life
politics. Life politics berfokus pada apa yang terjadi pada individu. Maksudnya semua
hal yang ada dalam diri kita bersifat politis, termasuk identitas. Life politics menjadi
ekspresi kebebasan kepada kita dihadapan pilihan-pilihan yang ada. Karena itu, life
politics juga kerap disebut sebagai politics of choice.
Dalam hal ini globalisasi memberikan pengaruh yang besar terhadap identitas
seseorang. Adanya netlabel tidak dapat dilepaskan dari sikap politik dalam bermusik
si pemilik netlabel, musisi maupun konsumen musik. Netlabel muncul sebagai ruang
alternatif ketika perusahaan rekaman konvensional ternyata tidak dapat menampung
kreativitas musisi. Selain tidak dapat menampung kreativitas musisi, perusahaan
rekaman konvensional lebih mahal dalam hal biaya produksi, seperti yang sudah
84
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
dijelaskan pada Bab III. Maksudnya merilis karya musik melalui perusahaan rekaman
konvensional dibutuhkan biaya produksi yang tidak sedikit. Hal itulah salah satu
pemicu muncunya netlabel.
Selain itu yang diungkapkan Giddens berlaku dalam mekanisme netlabel
Indonesia. Netlabel sebagai media bermusik baru tidak terlepas dari sikap politik para
pelakunya (pemilik netlabel, musisi, dan kunsumen musik) karena membebaskan
musisi berkreasi dan konsumen dalam mengkonsumsi. Dengan kata lain, netlabel
memungkinkan musisi dan konsumen untuk membuat pilihan. Yang dimaksud
dengan pilihan di sini adalah pilihan dalam membuat musik dan pilihan dalam
memilih musik yang dikonsumsi.
Indonesian Netaudio Festival merupakan “proklamasi” life politics bagi
pelaku netlabel. Kita bisa melihat bahwa tujuan utama diadakan Indonesian Netaudio
Festival adalah untuk mengkampanyekan netlabel dan netaudio kepada publik serta
membangun komunitas netaudio di Indonesia. Life politics yang ditunjukkan dalam
Indonesian Netaudio Festival merupakan gaya hidup yang semula dianut oleh
beberapa orang, tetapi kini dipromosikan untuk memiliki lebih banyak pengikut.
85
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Gambar 5: Pembukaan Indonesia Netaudio Festival
Pada hari pertama Indonesian Netaudio Festival diadakan diskusi bertemakan
“Berbagi Musik Sebagai Pemberdayaan Budaya” dan pemutaran film tentang
demokratisasi seni, film, musik, dan budaya. Bila kita menilik konsep Giddens
mengenai life politics, diskusi yang diadakan tersebut merupakan proses aktualisasi
diri pemeluk gaya hidup netlabel. Diskusi tersebut memuat isu politik mengenai ide
menggratiskan musik. Proses aktualisasi diri yang dilakukan pemeluk gaya hidup
netlabel seakan ingin melepaskan diri dari kungkungan korporat major label. Konsep
korporat major label adalah menjual musik untuk mendapatkan keuntungan sebesarbesarnya. Hal tersebut ingin dilawan oleh pemeluk gaya hidup netlabel dengan
konsep menggratiskan musik. Kita bisa melihat juga bahwa pemeluk gaya hidup
netlabel ingin meninggalkan gaya hidup yang lama (musik untuk dijual) dengan gaya
hidup yang baru (menggratiskan musik).
86
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Dari hal di atas kita juga dapat melihat bahwa life politics merupakan konsep
dari masyarakat post-traditional yang tidak lagi dikungkung oleh aturan-aturan,
termasuk aturan-aturan yang mengatur gaya hidup. Maksud saya di sini adalah aturan
mengenai penjualan musik yang sudah ada selama berpuluh-puluh tahun, yang kini
mau ditandingi oleh konsep musik gratis. Kebebasan memilih untuk menggratiskan
musik yang dilakukan oleh pemeluk gaya hidup netlabel tersebut merupakan politics
of choice. Menggratiskan musik melalui netlabel merupakan identitas baru pemeluk
gaya hidup netlabel dan identitas inilah yang ditunjukkan kepada khalayak umum
melalui Indonesian Netaudio Festival. Semula identitas pemeluk gaya hidup netlabel
terjadi secara individu, lalu orang-orang yang memiliki pemikiran dan ide yang sama
mengenai musik berkumpul untuk menunjukkan identitas kolektifnya melalui
Indonesian Netaudio Festival.
Indonesian Netaudio Festival menampilakan pementasan band pada hari ke
dua. Band yang ditampilkan di acara tersebut adalah band-band indie dan kebanyakan
band-band tersebut merilis karyanya melalui netlabel. Di sini kita dapat melihat
bahwa acara ini merupakan bentuk politics of choice, karena band-band yang bermain
merupakan band-band indie. Pemeluk gaya hidup netlabel yang erat kaitannya
dengan musik indie juga merupakan bentuk pilihan mereka terhadap musik yang
ingin ditampilkan dalam acara tersebut. Ini adalah salah satu bentuk identitas netlabel
yang ingin ditampilkan, yaitu identitas netlabel yang dekat dengan musik indie.
87
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
2.
Gaya Hidup Indie41 Sebagai Sikap Politik
Dalam sub bab ini akan dijelaskan jenis musik yang dirilis oleh netlabel. Hal
ini penting untuk dipaparkan mengingat ada stigma dalam masyarakat bahwa hanya
jenis musik tertentu saja yang akan dirilis oleh netlabel. Dengan kata lain, netlabel ini
tertutup untuk genre musik tertentu. Selain itu, sub bab ini akan memaparkan bahwa
konsumen netlabel itu terbatas. Maksud dari konsumen terbatas di sini adalah bahwa
konsumen yang mengunduh musik melalui netlabel kebanyakan adalah orang-orang
yang menyukai musik non-maistream.
Stigma yang beredar dalam masyarakat adalah musik yang dirilis netlabel
bukan musik yang sedang popular, tetapi musik yang memiliki penggemar terbatas.
Hal itu sesuai dengan ungkapan Arie Mindblasting berikut ini:
Setiap netlabel memiliki kriteria sendiri sendiri untuk menentukan musik yang
nantinya akan dirilis. Awal-awal dulu membangun Mindblasting netlabel, tujuan
saya pertama adalah bikin rilisan dari lokal Jember saja. Akan tetapi saya berpikir
ulang kalau saya membuat rilisan dari kawan-kawan di Jember juga sampe kapan
karya itu akan bisa berdampingan dengan karya pemusik lain dari kota lain atau
bahkan dari negara lain. Kedua, dulu secara personal saya menyukai musik metal/
rock dan subgenre-nya. Tapi kalau saya melakukan spesialisasi dalam musik yang
saya release berarti saya membatasi netlabel, dan membatasi artis/band yang punya
karya untuk disebarluaskan secara bebas dan luas. Sementara pergaulan saya di
musik lokal tidak terbatas pada musik metal saja, tapi ada komunitas indie, pop,
bahkan tradisional. Mau tidak mau saya harus membuka diri untuk semua genre dan
semua jenis musik yang ada. Makanya di Mindblasting netlabel, tidak ada batasan
musik apa yang bisa diterima ataupun tidak. Pop, metal, noise/experimental, punk,
hardcore, bahkan dangdut sekalipun kalau ada saya mau terima dan untuk dirilis.
Dengan satu syarat bahwa musiknya harus bebas untuk diunduh, bebas untuk
disebarluaskan dan tidak untuk kepentingan komersial. (Arie Minblasting)
41
Kata indie berasal dari kata independent. Asal mula kata independen menjadi indie itu sendiri
bermula dari kebiasaan anak-anak muda di Inggris yang senang memotong kata agar mempermudah
pelafalan informalnya.
88
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Menurut penjelasan Arie di atas, karena netlabel biasanya milik pribadi, maka
musik-musik yang akan dirilis adalah musik-musik yang sesuai dengan selera pemilik
netlabel. Namun lambat laun seiring dengan luasnya pengetahuan bermusik dan
pergaulan dengan sesama musisi, juga adanya keinginan untuk mendistribusikan
lagu-lagu dengan berbagai genre maka pada akhirnya netlabel menerima semua genre
musik untuk dirilis. Penerimaan tersebut bukan tanpa syarat. Syarat yang paling
penting dan utama adalah band atau grup musik harus “rela” musiknya diunduh dan
disebarluaskan tanpa ada kepentingan komersial.
Wok The Rock sebagai pemilik Yes No Wave Music juga memiliki
pengalaman unik berkaitan dengan jenis musik yang dirilis oleh netlabel. Berikut
pemaparan Wok The Rock:
Ada beberapa band “pop alay” yang mengirim demonya ke Yes No Wave Music. Menariknya
budaya download sudah bukan lagi milik kelas menengah, tidak dirilis karena selera. Apakah
band kudu band indie cuma masalhanya selera, label in tergantung selera. Boleh band apa saja
yang penting saya suka. (Wok The Rock)
Selanjutnya Wok The Rock mengemukakan bahwa saat ini netlabel sudah
dikenal luas sehingga banyak genre musik mengirim lagunya ke netlabel dan
berharap netlabel bersedia merilisnya. Sampai di situ dapat simpulkan bahwa saat ini
netlabel bukan hanya milik sebagian orang atau milik genre musik tertentu saja.
Namun kembali lagi, dirilis atau tidak dirilisnya lagu dalam netlabel tergantung dari
selera si pemilik netlabel.
Hal yang menarik di sini adalah jika pada awalnya netlabel diperuntukan bagi
band-band non mainstream kemudian pada perkembangannya band-band “pop
89
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
alay”42 pun ikut berpartisipasi dengan mengirimkan demo lagu mereka. Pertanyaan
selanjutnya adalah dari mana band “pop alay” ini tahu mengenai netlabel? Apa yang
membuat band “pop alay” ini tertarik untuk mengirimkan demo lagu mereka ke
Netlabel Yes No Wave? Identitas baru seperti apa yang ditawarkan dengan kasus
masuknya band pop alay ke netlabel? Saya melihat media berperan besar di sini.
Band “pop alay” tersebut pasti mengetahui adanya netlabel dari berbagai media,
seperti majalah dan media elektronik yaitu internet. Media menampilkan identitas
netlabel dalam memberikan musik gratis dan juga menampilkan bahwa band yang
bergabung dengan netlabel adalah band-band dengan musik yang unik. Selain itu
saya melihat bahwa band “pop alay” tersebut menganggap netlabel sebagai sarana
promosi yang efektif.
Kita telah melihat bahwa band-band “pop alay” tertarik dengan netlabel,
selanjutnya kita akan melihat ketertarikan konsumen musik terhadap musik indie
terhadap netlabel. Beberapa alasan konsumen musik lebih memilih netlabel di
antaranya karena menurut mereka musik yang disajikan sangat unik dan berbeda
dengan musik yang sedang popular. Hal itu dapat kita lihat dari pernyataan konsumen
netlabel sebagai berikut:
Iya ada, menurutku lagu-lagu yg ada di netlabel tuh unik-unik, aneh-aneh gitu. Beda
dengan yang ada di pasaran. Kalau musisi di netlabel cenderung mengekspresikan
musiknya lebih bebas terbukti dari lagu-lagu mereka yang aneh dan antara musisi
satu degan yang lain tu beda karakter bermusiknya (Doan Mitasari)43
Ada juga konsumen musik netlabel yang menyampaikan hal serupa:
42
43
Yang dimaksud band “Pop Alay” disini adalah band-band pop yang musikya mengikutri tren musik.
Doan Mitasari adalah penikmat musik dan konsumen netlabel.
90
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Menurut saya lebih berkualitas dan lebih masuk yang ada di netlabel,tapi bukan
bermaksud untuk tidak mendengarkan yang enggak bergabung dengan netlabel.
Lebih kreatif musisi yang bergabung dengan netlabel (Pika)44
Dari dua kutipan di atas, tampak bahwa bagi mereka musik yang ada di
netlabel lebih variatif dan terkesan unik. Musik yang terdapat dalam netlabel lebih
mengekspresikan apa yang ada dalam diri musisi sehingga musik yang tercipta adalah
musik yang kreatif dan berkarakter. Musik yang kreatif dan berkarakter tentu saja
tercipta dari diri seorang musisi atau band yang kreatif dan berkarakter pula. Hal
tersebut terkait dengan idealisme dalam menciptakan sebuah lagu. Mengapa musik
yang dirilis netlabel lebih kreatif, bervariatif dan berkarakter? Ketiga hal tersebut
tidak dapat lepas dari kebebasan berekspresi yang diberlakukan oleh netlabel.
Netlabel membebaskan musisi untuk mengekspresikan dirinya lewat musik.
Kebebasan berekspresi merupakan bentuk life politics, karena ekspresi yang ingin
ditampilkan tidak dikungkung oleh tradisi-tradisi yang sudah ada, termasuk
komersialisasi dalam industri musik. Dalam masyarakat modern mengekspresikan
diri melalui musik merupakan aktualisasi diri yang ingin ditampilkan sebagai bentuk
identitas musisi-musisi tersebut.
Musisi yang tergabung dengan netlabel juga merupakan musisi indie. Musisi
indie memilih mendistribusikan karyanya melalui netlabel karena netlabel dianggap
mampu menyalurkan segala kreativitasnya. Hal tersebut sesuai dengan hasil
wawancara berikut:
44
Pika adalah penikmat musik sekaligus musisi yang tergabung dalam band punk bernama Rotten
Colony.
91
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Dari segi lagu sih gak ada perbedaannya, gak berarti lagu yg di netlabel itu bagus
terus yg gak di netlabel itu jelek atau sebaliknya itu semua tergantung ke band nya
juga dan gak ada hubungannya sama jenis perusahaan rekamannya. Kalo musisinya
sedikit berbeda terutama kalo yang netlabel biasanya lebih down to earth dan
nyantai. Kalo yang gak di netlabel dikit-dikit stop pembajakan/piracy dan gak bisa
bedain netlabel sama blog, padahal mereka gak tahu bahwa justru karena di bajak itu
distribusi lagu mereka jadi bisa kemana-mana. (Indra Menus)
Hal senada juga diungkapkan oleh konsumen netlabel sebagai berikut:
Kebanyakan musisi yang di netlabel itu musisi2 indie. tapi gak tau kok bisa
gitu.(Wednes)45
Dalam kutipan di atas, Menus mengemukakan bahwa tidak ada perbedaan
yang signifikan antara lagu yang dirilis melalui netlabel dengan lagu yang dirilis
tidak melalui netlabel. Namun Menus menggaris bawahi perbedaan attitude dari si
musisi. Menurut Menus, attitude musisi yang lagu-lagunya dirilis melalui netlabel
lebih bersahabat dan tidak merasa “sok artis”.
Sikap bersahabat dan tidak merasa “sok artis” ini secara tidak langsung
dibentuk oleh masyarakat. Masyarakat masih menganggap bahwa jika ingin merilis
album musik maka musisi atau band harus bergabung dengan perusahaan rekaman
konvensional. Ketika sebuah band atau musisi telah merilis album musik lewat
perusahaan rekaman konvensional dan muncul di televisi dan terkenal, maka
masyarakat akan mengatakan bahwa musisi atau band tersebut adalah artis.
Popularitas dan status selebritas menciptakan jarak antara musisi dengan penggemar.
Berbeda dengan musisi atau band rilisan netlabel yang jarang diketahui oleh
masyarakat awam. Karena masyarakat awam tidak mengenal si musisi, maka si
musisi ini bersikap layaknya orang biasa.
45
Wednes merupakan penikmat musik sekaligus musisi yang tergabung dalam band jazz Kultivasi.
92
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Giddens (1990: 215) berpendapat bahwa pengetahuan dan pengalaman
individu berperan besar dalam pembentukan identitas diri. Dalam penelitian ini yang
dipercaya oleh individu sebagai jalan untuk mengungkap identitas dirinya adalah
netlabel. Berdasarkan data yang saya peroleh, tidak ada musisi yang bertujuan
komersil ketika dia bergabung dengan netlabel. Tujuan si musisi ketika merilis lagulagu bersama netlabel adalah untuk berbagi. Ketika musisi ini sadar akan segala
resiko dari mengijinkan lagunya diunduh secara gratis, maka keinginan berekspresi
mereka akan tercapai.
Saya melihat perbedaan di sini bukan hanya mengenai jenis musik tetapi juga
merupakan sikap membedakan diri dari dunia hiburan. Hal ini bisa kita lihat dari
pernyataan Rully Zoo ketika ditanya apakah lebih memilih netlabel atau major label.
Tetap netlabel, karena prinsip di balik netlabel adalah berbagi, sedangkan major label adalah
untuk mendapatkan profit. Saya bermain musik untuk mendapatkan kepuasan batin,agar bisa
didengarkan oleh banyak orang, kalau mau cari duit saya punya pekerjaan lain yang lebih
menghasilkan. (Rully ZOO)
Dari pernyataan Rully ZOO kita bisa melihat bahwa bergabung dengan
netlabel merupakan suatu keputusan besar. Saya melihat bahwa Rully ZOO tidak
ingin major label atau dunia hiburan campur tangan dengan musik yang dibuatnya.
Rully ZOO memiliki sudut pandang yang berbeda perihal mendistribusikan
musiknya. Rully ZOO memandang distribusi musik gratis merupakan pilihan. Pilihan
tersebut lebih menekankan sisi berbagi dan apresiasi khalayak terhadap suatu karya
musik, daripada menjual musik. Rully ZOO tidak lagi memperhitungkan keuntungan
93
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
ekonomi dalam bingkai untung dan rugi. Justru menjadi kepuasan batin ketika banyak
orang yang mengapresiasi kaya musiknya.
Konsep musik indie ditunjukkan oleh Rully ZOO lewat pernyataanpernyataannya di atas, misalnya konsep berbagi yang diusung oleh netlabel serta
bermusik untuk mendapatkan kepuasan batin. Dengan pemahaman dia yang seperti
itu maka tidak mengherankan ketika dia memilih netlabel untuk mendistribusikan
lagunya. Selain itu, berkat konsep kebebasan dalam membuat musik dan kreativitas
yang diusung oleh netlabel, maka tidak mengherankan pula jika musisi yang diusung
oleh netlabel dapat menghasilkan musik-musik yang unik dengan bermacam-macam
genre karena dalam netlabel juga mengusung semangat indie. Konsep bermusik indie
adalah konsep yang ditawarkan sekaligus sikap yang dikampanyekan oleh musisimusisi netlabel.
Konsep bermusik musisi netlabel saya anggap unik karena jenis musik yang
ditawarkan berbeda dengan musik yang sedang populer di Indonesia. Musisi netlabel
memainkan aliran musik seperti punk, hardcore, noise rock, electro pop, metal, dan
sebagainya. Selain itu ada pula musisi yang bereksperimen dan mencampurkan
beberapa aliran musik seperti mencampurkan musik grindcore dengan musik
tradisional Indonesia. Dari hal tersebut kita dapat melihat bahwa musik yang
dimainkan musisi netlabel adalah musik sebagai ekspresi kebebasan bermusik mereka
bukan musik untuk dikomersilkan. Ini yang menarik untuk saya amati. Ketika musisi
netlabel membuat sebuah karya mereka tidak memikirkan pakem-pakem industri
musik. Masud saya, ketika musisi ingin sukses di industri rekaman maka musisi harus
94
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
mengikuti pakem-pakem yang sudah ditetapkan industri hiburan. Musik yang
diterima industri hiburan biasanya musik yang mudah dicerna46 dan itu berbeda
dengan musik-musik yang ditawarkan musisi netlabel. Jenis musik yang ditawarkan
musisi netlabel mempunyai kemungkinan yang sangat kecil untuk masuk di industri
hiburan karena mempunyai penggemar yang terbatas. Maksud saya di sini musisi
netlabel dan industri hiburan memiliki “arena pertarungan” yang berbeda.
Seorang musisi yang menentang prinsip-prinsip kapitalisme biasanya memilih
jalur indie untuk keberlangungan hidup bermusiknya. Dengan memilih bermusik
dengan cara indie, musisi dapat dengan leluasa menentukan konsep musik salah
satunya dalam memilih genre musik. Sebagai pembanding, kapitalisme dalam
industri musik tidak memberi banyak ruang bagi ekspresi musisi. Sebaliknya,
Netlabel mendorong pemenuhan kepuasan batin musisi dan penggemarnya di atas
kepentingan komersial. Lain halnya dengan musisi yang mengusung konsep indie
dalam praktik bermusiknya. Secara sederhana, musisi dengan konsep indie tidak
semata-mata bermusik demi materi. Musisi indie mempunyai idealisme, mengerti
tentang akar musik yang ingin dimainkan, dan bermusik untuk kepuasan batin. Oleh
karena itu, musisi indie menganggap musik sebagai “makanan” untuk batin mereka.
Menurut Hebdige (1979:17) subculture (dalam hal ini subculture indie)
mengacu pada suatu budaya yang berada di luar budaya dominan, yang melakukan
46
Menurut Storey (1996: 28) musik pop merupakan bentuk penyederhanaan atas bentuk musik yang
terdahulu. Musik populer merupakan sebuah pola-pola pengulangan, sebuah penyederhanaan, bentuk
standarisasi yang memudahkan para penikmatnya untyuk mencernanya.
95
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
tantangan terhadap hegemoni budaya dominan. Tantangan ataupun perlawanan
tersebut dilakukan tidak secara langsung, namun direpresentasikan melalui tandatanda dalam keseharian mereka. Tanda-tanda tersebut misalnya gaya berpakaian, dan
sikap. Dapat disimpulkan bahwa menurut Hebdige subculture itu melawan,
menantang dan berbeda terhadap budaya dominan.
Selain subculture saya menduga netlabel merupakan bagian dari club culture.
Menurut Redhead (1997: 102) club culture merujuk pada kancah musik rave party
underground di Inggris. Redhead dalam contoh-contohnya memaparkan bahwa club
culture merupakan pergerakan anak muda yang terjadi secara kelompok kecil dan
memiliki pengaruh yang kecil. Dalam buku tersebut dicontohkan penggemar band
Oasis memiliki slogan dan simbol pembeda dari penggemar band lain. Penggemar
band Oasis memiliki agenda dalam membuat merchandise, mengoleksi memorabilia,
dan mengorganisasi pertemuan-pertemuan rutin. Dalam buku tersebut diterangkan
juga perbedaannya dengan subculture. Redhead mengatakan bahwa subculture
memiliki pengaruh yang lebih luas. Sebagai contoh musik punk yang memiliki
pengaruh luas ke seluruh dunia. Club culture dan subculture memiliki agenda yang
hampir sama, keduanya sama-sama memiliki agenda membedakan diri dari
kelompok-kelompok yang lain.
Indie lebih mengusung semangat DIY atau Do It Youself. Secara singkat, Do
It Yorself adalah semangat yang mengedepankan kemandirian. Kemandirian dari
mulai memproduksi sampai mendistribusikan lagu. Bagi komunitas subculture musik
indie, independent tidak hanya terletak pada sisi manajerialnya. Namun, lebih pada
96
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
ideologi yang tidak berorientasi pada musik pasar. Semangat DIY tersebut
mengilhami mereka untuk membuat gaya sendiri dalam bermusik seperti
menciptakan fashion, genre, bahkan perusahaan rekaman sendiri. Inilah yang ingin
ditampilkan oleh pemeluk gaya hidup netlabel sebagai identitas mereka, yaitu
kemandirian dan perlawanan terhadap budaya dominan. Pilihan-pilihan inilah yang
disebut sebagai life politics, yaitu kebebasan mengaktualisasikan diri mereka.
Giddens (1990: 215) menulis bahwa life politics merupakan pilihan gaya
hidup dan membentuk aktualisasi diri. Life politics membangun kehidupan yang bisa
dibenarkan secara moral dan yang bisa menjadi wujud aktualisasi diri secara sosial.
Life politics dituntun oleh petanyaan-pertanyaan mengenai bagaimana seharusnya
kita hidup dan tata hidup bersama yang dapat dipertanggungjawabkan secara moral.
Dengan kata lain life politics merupakan usaha untuk menciptakan tatanan hidup yang
lebih etis.
Kehendak untuk tampil beda yang ingin ditampilkan musisi netlabel
merupakan bentuk life politics. Musisi-musisi tersebut memilih citra yang berbeda
dalam mengekspresikan diri yaitu melalui gaya hidup, prinsip dalam bermusik, dan
jenis musik. Inilah wujud aktualisasi diri pemeluk gaya hidup netlabel. Pada
akhirnya, konsep indie dalam bermusik yang ditunjukan oleh musisi netlabel serta
konsep berbagi yang dilakukan oleh netlabel merupakan suatu sikap politis yang
bertujuan untuk menunjukan identitas mereka. Dalam kerangka life politics, konsep
indie dan konsep berbagi tersebut merupakan gaya hidup bagi musisi dan orang-orang
yang terlibat dalam netlabel. Inilah politics of choice yang membentuk identitas baru
97
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
pemeluk gaya hidup Netlabel. Inlah tata hidup bersama yang ingin ditampilkan
pemeluk gaya hidup Netlabel untuk menciptakan tatanan hidup sosial mereka.
Saya juga menduga bahwa komunitas pemeluk gaya hidup netlabel ini
merupakan club culture. Saya melihat netlabel yang ada di Indonesia memiliki
agenda membedakan diri dari kelompok-kelompok penggemar musik yang lain. Life
Politics komunitas pemeluk gaya hidup netlabel diantaranya membedakan diri
melalui jenis musik yang dirilis dan dikonsumsi. Selain itu pemeluk gaya hidup
netlabel di Indonesia juga berbeda dengan pemeluk gaya hidup netlabel di luar
negeri. Saya melihat pemeluk gaya hidup netlabel di Indonesia lebih gencar
mengkampanyekan life politics mereka karena pemeluk gaya hidup netlabel di
Indonesia berada ditengah keterbatasan-keterbatasan yang sudah saya jelaskan pada
bab dua. Pemeluk gaya hidup netlabel di luar negeri tidak mengalami keterbatasanketerbatasan yang terjadi di Negara Berkembang seperti Indonesia. Selain itu saya
melihat netlabel di Indonesia merupakan komunitas kecil dan memiliki pengaruh
yang sempit. Saya melihat komunitas netlabel ini seperti komunitas penggemar band
Oasis yang dicontohkan Readhead dalam bukunya yang berjudul Subculture to Club
Culture. Saya melihat netlabel merupakan komunitas kecil tetapi memiliki agendaagenda membedakan diri dari kelompok lain karena itulah menurut saya netlabel
adalah sebuah club culture.
Dari beberapa hal di atas kita dapat melihat bahwa dunia internet saat ini
begitu terbuka untuk semua orang. Dengan keterbukaan internet untuk semua orang
maka hal tersebut juga menciptakan paradoks. Maksud saya dalam satu sisi internet
98
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
memungkinkan kita untuk berkomunikasi dengan semua orang, di sisi lain internet
juga memungkinkan kita untuk berkomunikasi dengan kelompok kecil. Internet
memungkinkan pemeluk gaya hidup netlabel untuk berkomunikasi dan membentuk
sebuah club culture melalui media internet.
Saya melihat bahwa netlabel ini kelompok kecil dan tidak bertahan lama.
Maksud saya ketika kelak ditemukan cara baru mendistribusikan musik maka
netlabel diragukan keberadaannya. Selain itu netlabel di Indonesia di jalankan
melalui cara swadaya oleh kurator netlabel karena itulah saya meragukan
keberadaannya di masa depan. Sebagai contoh beberapa netlabel di Indonesia gulung
tikar karena tidak mampu membayar biaya untuk tetap menjalankan website-nya.
3.
Semangat Berbagi Melalui Netlabel
Sub bab ini akan memaparkan bagaimana netlabel menjadi media yang
mempermudah
penyebaran
musik.
Dalam
menyebarkan
musik,
netlabel
menggratiskan semua musik yang dirilisnya. Semuanya dilakukan dengan mudah,
yaitu hanya dengan mengunduh file melalui internet. Semangat berbagi inilah yang
akan kita bahas dalam kerangka life politics.
Ini merupakan pembentukan identitas baru, karena tidak semua musisi
bersedia menggratiskan karya mereka. Musisi yang mendistribusikan musiknya
melalui netlabel pasti mempunyai latar belakang pengetahuan dan pemikiran yang
berbeda untuk membentuk identitas mereka. Dari hal tersebut maka pembentukan
identitas konsumen netlabel merupakan narasi mengenai netlabel itu sendiri yang
99
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
menciptakan identitas konsumen. Maksudnya narasi tentng netlabel berpengaruh
kepada keputusan-keputusan yang diambil oleh musisi dalam mendistribusikan
karyanya. Namun yang menarik untuk dicermati di sini adalah alasan mengapa musisi
yang bergabung dalam netlabel bersedia menggratiskan musiknya untuk dikonsumsi
masyarakat luas melalui internet.
Beberapa musisi memiliki alasan menarik mengenai menggratiskan karya
mereka. Di antaranya mereka menganggap musik mereka sebagai karya seni dan
ungkapan ekspresinya. Musisi-musisi ini mempunyai prinsip bahwa karya mereka
harus dapat dinikmati secara luas, karena itulah menggratiskan karya merupakan cara
yang efektif. Hal tersebut dapat kita lihat dalam wawancara berikut:
Memang biaya rekaman tidak sedikit, tapi tidak selalu „biaya‟ harus kembali dalam
bentuk keuntungan finansial. Itu prinsip kapitalis namanya. Menggratiskan musik
memiliki manfaat yang jauh lebih besar daripada uang, yaitu kemudahan akses orang
terhadap karya kita, seperti yang saya bilang di awal tadi, karya bisa dinikmati tanpa
batasan geografis atau finansial. (ZOO)47
Hal senada juga diungkapkan oleh musisi yang merilis karyanya melalui netlabel
sebagai berikut:
Karena bagi kami, bermusik itu hobi dan kami suka berbagi. Orang ndengerin musik
kami aja udah seneng kok apalagi beli rilisan/download digital rilis nya. Masalah
biaya rekaman,latihan karena itu hobi ya gak masalah keluar duit buat hobi. Duit bisa
di ambil dari penjualan merchandise terus muter untuk rekaman dan produksi rilisan
(To-Die)48
Apa yang dipaparkan oleh ZOO dan To-Die mengindikasikan bahwa musisi
yang tergabung dalam netlabel ini tidak melulu berpikir soal materi. Dengan kata lain
mereka bermusik karena mereka suka bermusik. Selain itu mereka juga
47
48
ZOO merupakan band indie yang merilis karyanya melalui Yes No Wave Music.
To-Die adalah band grindcore yang merilis karyanya melalui netlabel.
100
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
mengemukakan tentang konsep berbagi dimana konsep tersebut menjelaskan bahwa
suatu karya hendaknya dapat dinikmati tanpa harus memikirkan adanya batas-batas
finansial. Sampai di sini terlihat ada yang hendak ditekankan oleh musisi netlabel
bahwa hendaknya musik sebagai karya seni harus dikembalikan pada esensi semula
sebagai seni yang dapat dinikmati oleh berbagai kalangan dan bukan seni yang
diperjualbelikan.
Alasan-alasan yang dikemukakan oleh musisi tersebut menyangkut ideologi
mereka dalam bermusik. Membicarakan mengenai ideologi menjadi suatu hal yang
membingungkan tapi menarik. Narasi mengenai netlabel menjadi hal penting dari
identitas sekaligus ideologi musisi dalam bermusik. Berbeda jika membandingkan
ideologi antara band yang merilis lagunya lewat netlabel dengan band yang merilis
lagu dibawah perusahaan rekaman konvensional. Narasi mengenai netlabel menjadi
penting karena hal tersebut menjadi semacam “daya jual” atau sarana untuk
menunjukkan sikap bermusik. netlabel hadir dengan berbagai misi seperti antikapitalisme, misi berbagi, semangat indie, dan media alternatif. Hal inilah yang
menjadi narasi mengenai netlabel, dengan bergabungnya musisi dengan netlabel
maka secara langsung musisi tersebut mendukung misi-misi netlabel tersebut.
Dengan bergabung dengan netlabel seakan-akan musisi tersebut juga ingin
menunjukkan bahwa mereka memiliki semangat anti-kapitalisme, misi berbagi,
semangat indie, dan media alternatif. Inilah identitas yang ingin ditampilkan musisimusisi tersebut.
101
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Selain itu menjadi lebih menarik ketika band-band yang merilis lagu lewat
netlabel ini ternyata “memanfaatkan” netlabel sebagai sarana mempromosikan lagu
ketika band-band tersebut gagal atau belum dilirik oleh perusahaan rekaman
konvensional. Sampai di sini globalisasi telah berhasil mengaburkan ideologi
netlabel. Jika telah berbicara sampai pada taraf ideologi, berarti telah masuk ke dalam
wilayah bagaimana musik berperan dalam dunia hiburan Indonesia.
Dalam kaitannya dengan hal di atas, Giddens (1990: 218) mengemukakan
bahwa segala hal yang ada dalam kedirian kita dipengaruhi oleh modernitas tinggi,
termasuk hal yang paling intim. Modernitas tinggi telah mempengaruhi hal yang
paling intim termasuk identitas, gaya hidup dan pilihan-pilihan dalam berbagai aspek
kehidupan. Musisi menggunakan teknologi untuk mengekspresikan karyanya.
Kaitannya dalam penelitian ini, teknologi yang dimaksud adalah netlabel. Ketika
muncul netlabel dan serangkaian kegiatan yang berhubungan dengan musik, maka
para musisi berlomba-lomba untuk bekerja, membuat musik yang kreatif dan
mempublikasikannya. Mereka seakan-akan ingin mengatakan “mumpung ada
netlabel mari kita membuat musik sekreatif mungkin” mengingat netlabel
membebaskan musisi ataupun untuk bermusik dengan cara mereka sendiri. Netlabel
dengan proses kegiatan bermusik para musisi tersebut oleh Gidden disebut sebagai
refleksi terhadap identitas dan gaya hidup (1990: 225). Maksudnya, ketika sudah ada
netlabel, maka zaman rekaman konvensional telah berubah menjadi netlabel.
Netlabel dapat mempengaruhi, mengubah ataupun membedakan identitas antar musisi
atau band.
102
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Seperti yang sudah kita bahas pada sub bab sebelumnya, komunitas netlabel
berhubungan erat dengan gaya hidup indie. Semangat perlawanan dan sikap
membedakan diri dari korporat industri musik kali ini ingin ditunjukkan melalui antikomersialisasi musik dan semangat berbagi. Berbicara tentang musik yang sudah
menjadi bagian dari industri, tidak dapat dilepaskan dari ideologi pasar. Secara
singkat, ideologi pasar adalah suatu ideologi di mana pasar menentukan ke mana arah
aktivitas manusia. Aktivitas manusia ditentukan oleh prinsip komersial atau hasrat
untuk mencari keuntungan finansial. Ideologi pasar ini mengukur musik secara
kuantitas yaitu berdasarkan pada jumlah keping album yang terjual pada tiap
produksinya dan seberapa luas jangkauan konsumen. Industri musik memaksa sebuah
band atau musisi untuk bekerja atau berkarya sesuai dengan keinginan pasar. Agen
dari ideologi pasar adalah major label. Menurut saya inilah yang ingin dilawan oleh
agenda anti-komersialisasi musik dan semangat berbagi yang dicetuskan oleh
netlabel.
Menurut Soetomo (2003: 27) dalam dunia kapitalisme, kebudayaan dan
kesenian diubah menjadi industri. Industri kebudayaan menjadi pilar untuk terus
memelihara sistem kapitalis. Dalam sistem kapitalisme terbentuklah industri yang
memonopoli kebudayaan. Yang menyebabkan ideologi pasar menguasai industri
musik adalah paradigma yang mengatakan bahwa sebuah band akan sukses jika
bergabung dengan major label. Langkah yang dilakukan oleh musisi atau band adalah
membuat kesepakatan dengan pihak major label. Kesepakatan-kesepakatan tersebut
103
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
lazim dinamai dengan kontrak. Dalam sebuah kontrak, pihak major label
mengharuskan sebuah grup band membuat beberapa album. Album yang dibuat
diharapkan laku di pasaran dengan jumlah yang besar. Hal tersebut berarti dalam
membuat karya, grup band atau musisi harus mengikuti selera pasar. Masalah yang
kemudian timbul adalah ketika selera pasar tidak sesuai dengan keinginan atau selera
musisi atau grup band. Ada beberapa aturan yang harus dipatuhi seorang musisi atau
grup band ketika mereka ingin atau telah bernaung di bawah major label. Selain lagu
yang dianggap cocok dengan selera pasar, lagu yang diproduksi harus bersifat
menghibur. Selain itu, major label tidak ingin artisnya tersandung masalah dengan
lirik atau lagu yang diproduksi. Dengan kata lain, major label ingin bermain aman.
Dengan hadirnya netlabel dengan konsep berbaginya runtuhlah konsep
industri major label. Musik yang sebelumnya digunakan sebagai komoditi dan
diperjualbelikan oleh netlabel menjadi bebas dinikmati oleh siapa saja. Ini adalah
salah satu life politics yang ditawarkan netlabel untuk merekrut penggemar lebih
banyak. Ini adalah cara netlabel untuk mengkampanyekan politics of choice mereka.
Inilah aktualisasi diri dan upaya menunjukkan pembeda dalam diri pemeluk gaya
hidup netlabel. Ini juga merupakan bentuk life politics yang berupa emansipasi atau
pembebasan dari aturan-aturan dan dominasi sekelompok orang, dalam hal ini major
label.
Netlabel
juga
menggunakan
Creative
Commons
License
dalam
mengkampanyekan life politics anti-komersialisasi musik dan semangat berbagi
104
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
mereka. Creative Commons License
seakan-akan merupakan bentuk perlawanan
terhadap rejim hak cipta.49 Creative Commons License
memungkinkan kita
mempertahankan hak cipta, tapi juga memungkinkan orang lain untuk menggunakan
karya tanpa izin dan tanpa pembayaran, selama mereka mencantumkan sumber dan
penciptanya. Jadi ketika seorang musisi mencantumkan simbol Creative Commons
License maka itu berarti ia mengizinkan karyanya diperbanyak, direpublikasi, dijual,
dan dimodifikasi, sepanjang namanya tetap disebutkan dalam karya tersebut. Atau
dengan kata lain karyanya boleh dibajak tetapi tidak mengijinkan karya tersebut
dijiplak.
Semua Creative Commons License
memiliki ciri-ciri umum yang sama.
Semua lisensi membantu pencipta tetap memiliki hak cipta walaupun mereka
mengizinkan karyanya disalin, didisribusikan, dan digunakan oleh orang lain baik
secara komersial maupun non-komersial. Kombinasi perangkat Creative Commons
Lisence dan pengguna Creative Commons Lisence menjadi suatu wahana digital yang
luas dan terus berkembang. Semua konten yang menggunakan Creative Commons
Lisence dapat disalin, diedarkan, disunting, di-remix, dan ditambah-tambahi, asalkan
tetap di dalam koridor hukum hak cipta.
Creative Commons License sekarang disebut sebagai permulaan gerakan
copyleft. Inti dari gerakan ini adalah bukannya menggunakan all rights reserved
tetapi some rights reserved. Creative Commons License membangkitkan isu
49
Creative Commons License sebagai perlawanan terhadap rejim hak cipta sudah diterangkan di bab 3
105
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
mengenai “properti intelektual” dan pengaruh “commons” di era informasi. Menurut
Lessig (www.creativecommons.org) dalam hal ini kebudayaan modern didominasi
oleh distribusi konten tradisional untuk mengukuhkan domonasi produk-produk
budaya tertentu, misalnya musik populer, film populer, sehingga munculnya Creative
Commons License diharapkan dapat menyediakan solusi alternatif untuk distribusi
produk budaya yang tidak mendominasi.
Sampai di sini berarti Creative Commons License telah membuat terobosan
baru sekaligus mengganti tradisi lama menjadi tradisi baru. Musik yang identik
dengan kepentingan komersial diganti dengan musik sebagai sarana untuk
berkreatifitas sekaligus berbagi. Membagikan karya tanpa perlu mengkhawatirkan
masalah pembajakan yang tidak kunjung dapat diselesaikan.
Adanya netlabel dan Creative Commons License
menunjukkan bahwa
kebutuhan yang dianggap sepele seperti mengkonsumsi musik ternyata dapat
mengancam kekuasaan negara. Yang dimaksud dengan kekuasaan negara di sini
adalah undang-undang hak cipta50, dan perusahaan rekaman konvensional yang pada
praktiknya ternyata tidak mampu menampung kreatifitas musisi. Adanya Creative
50
Copyright banyak di kenal di Indonesia dengan nama Hak Cipta. Undang-undang tentang hak cipta
di Indonesia terdapat pada UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN
2002. Berdasarkan Undang-undang tersebut yang disebut Hak cipta adalah hak eksklusif Pencipta atau
Pemegang Hak Cipta untuk mengatur penggunaan hasil penuangan gagasan atau informasi tertentu.
Suatu karya yang dianggap memiliki hak cipra atau copyright ditandai dengan sebuah huruf c di dalam
lingkaran (yaitu lambang hak cipta, ©), atau kata "copyright", yang diikuti dengan tahun hak cipta dan
nama pemegang hak cipta. Menurut undang undang yang sama pula, Hak Cipta merupakan hak
eksklusif bagi Pencipta atau Pemegang Hak Cipta untuk mengumumkan atau memperbanyak
Ciptaannya, yang timbul secara otomatis setelah suatu ciptaan dilahirkan tanpa mengurangi
pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. Hak cipta tentang musik diatur
dalam undang-undang hak cipta Bagian Keempat tentang Ciptaan yang Dilindungi Pasal 12.
106
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Commons License membuat musisi menemukan alternatif lain dalam melindungi
karya mereka selain undang-undang hak cipta yang selama ini berlaku di Indonesia.
Creative Commons License dianggap sebagai “undang-undang alternatif” karena
dirasa lebih mampu mengakomodir aspirasi kegiatan bermusik para musisi. Creative
Commons License dinilai lebih mampu membebaskan kreatifitas musisi yang selama
ini merasa dibelenggu. Creative Commons License
juga dinilai mampu
membebaskan musisi dari dominasi-dominasi sekelompok orang atau individu yang
selama ini berkuasa terhadap musik khususnya di Indonesia. Dengan adanya Creative
Commons License, dominasi-dominasi tersebut hilang sehingga musisi ataupun band
mampu berkesenian secara maksimal tanpa harus memikirkan sisi komersialitas.
Berkaitan dengan Creative Commons License, konsumen musik mempunyai
pendapat yang unik:
Creative Commons Lisense itu kan undang-undang yangg ngebolehin band buat
share lagu dan kita boleh download kan ya? Menurutku kalau udah ada undangundang yang ngijinin berarti kita bisa download yang banyak dan tidak perlu takut
dibilang mbajak lagu. (Doan Mitasari)
Jika dilihat dari jawaban konsumen musik di atas, rupanya Creative
Commons License
membuat konsumen musik merasa aman dan nyaman dalam
mengunduh musik. Sebelum ada Creative Commons License, ketika konsumen musik
mengunduh lagu via internet, mereka seolah-olah merasa disalahkan dengan
melakukan praktik pengunduhan lagu secara ilegal. Ketika tingkat pembajakan
semakin meningkat, semua seolah-olah menuduh konsumen musik yang mengunduh
lagu sebagai penyebabnya. Dengan adanya Creative Commons License , konsumen
107
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
musik dapat mengunduh lagu tanpa perlu merasa menjadi penyebab tingginya angka
pembajakan di Indonesia.
Saya melihat bahwa Creative Commons License merupakan perwujudan nyata
gerakan anti-komersialisasi musik. Ini adalah pernyatan tegas kampanye life politics
bahwa netlabel juga mengusung misi melawan konsep kapitalisme musik dan konsep
hak cipta. Inilah refleksifitas netlabel yang membentuk pilihan-pilhannya dalam
menyikapi industri musik. Di sini terbentuklah identitas baru melalui netlabel, yaitu
identitas perlawanan terhadap rejim hak cipta dan perlawanan terhadap kapitalisme
musik. Di sini juga terjadi bentuk aktualisasi diri dalam mengubah realitas baru.
netlabel membentuk realitasnya sendiri, membentuk dunianya sendiri, yaitu dunia
yang bebas dari kungkungan korporat major label dan industri musik. Namun di lain
pihak netlabel juga meciptakan penjara baru dalam dunia barunya tersebut. Realitas
baru yang dibentuk netlabel awalnya hanya merupakan gerakan anti-komersialisasi
musik, namun secara tidak langsung
netlabel seakan-akan mengharuskan
penggunanya untuk menyetujui konsep itu. Inilah semacam “penjara baru” yang
diciptakan oleh netlabel dengan berbagai macam misinya.
Hal lain yang menjadi pertanyaan saya adalah: Apakah benar musisi dan
pemilik netlabel ini memiliki semangat berbagi sebagai agenda utamanya? Ataukah
ada agenda lain dibalik semua itu? Pertama, saat ini kita sudah bisa mendengarkan
dan menikmati musik secara gratis di internet, lalu apa istimewanya konsep berbagi
netlabel? Kedua, apakah ada agenda lain dibalik mengkampanyekan konsep berbagi
108
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
musik gratis ini? Sebagai contoh kita bisa menikmati fasilitas umum secara gratis,
tetapi sebenarnya fasilitas umum tersebut dibangun dari uang pajak yang kita bayar.
Inilah yang ingin saya telusuri. Menurut saya saat ini sudah”basi” ketika kita
membicarakan konsep berbagi musik gratis melalui internet karena hampir semua
musik yang ada di internet itu sudah gratis. Menurut saya mengangkat konsep berbagi
musik gratis itu sudah tidak istimewa lagi. Lalu muncul pertanyaan lagi janganjangan “pertarungannya” bukan pada masalah gratisnya? Lalu ada misi apa dibalik
semua itu? Menurut saya yang konsep yang ditawarkan tidak benar-benar gratis.
Konsep gratis ini hanya untuk membuat narasi mengenai netlabel agar memiliki
jargon sebagai identitas netlabel itu sendiri. Musik yang ditawarkan musisi netlabel
memang dapat di unduh secara gratis tetapi musisi mendapatkan promosi gratis dan
hal tersebut mendongkrak penjualan merchandise serta penghasilan tampil “live”.
Netlabel menggratiskan musiknya tetapi netlabel juga menjual mechendise dan
keuntungan dari penjualan tersebut digunakan untuk membiayai biaya operasional
netlabel. Ini bukanlah hal buruk menurut saya, karena menurut saya ini adalah pola
pendistribusian dengan cara baru. Inilah “penjualan” dengan cara baru di era internet
yang serba gratis ini. Dengan kata lain “kami berikan musiknya gratis, tapi kalian
harus bayar dengan cara lain, yaitu membeli merchandise”. Bagi saya ini subsidi
silang agar musisi dan pemilik netlabel bisa terus berkarya. Dengan mendapatkan
keuntungan dari penjualan merchandise maka musisi bisa membiayai rekaman dan
pemilik netlabel bisa membiayai biaya operasional netlabel.
109
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
4.
Netlabel Sebagai Media Alternatif Dalam Mengkonsumsi Musik
Dalam sub bab ini akan dibahas tentang apa arti netlabel sebagai media
alternatif dalam mengkonsumsi musik. Tentu saja dalam perjalanannya, netlabel tidak
langsung menjadi media alternatif yang berguna bagi konsumen musik. Terdapat
serangkaian proses sampai akhirnya konsumen musik memutuskan bahwa netlabel
yang mereka pilih sebagai media dalam mengkonsumsi musik.
Saat ini ada dua kriteria konsumen dalam menikmati musik. Pertama, orang
yang dulunya membeli rilisan fisik sekarang mereka memiliki pilihan satu lagi yaitu
dengan mengunduh, walaupun mereka tidak meninggalkan konsumsi rilisan fisik.
Kedua, konsumen yang dulunya membeli rilisan fisik saat ini berubah kebiasaan
mengkonsumsi musik dengan cara mengunduh, mereka meninggalkan kebiasaan
membeli rilisan fisik karena perkembangan teknologi digital.
Menurut saya inilah yang saya pahami dengan konsep refleksifitas menurut
Giddens. Manusia mempunyai gambaran tentang dirinya dan kondisi sosial
kehidupannya. Para konsumen netlabel paham bahwa dunia internet berkembang
begitu pesat sehingga teknologi mendengarkan musik juga berubah. Walaupun
beberapa orang masih bertahan mengkonsumsi musik dengan membeli rekaman fisik
tetapi mereka tidak bisa menutup diri dari era musik yang berubah. Karena
refleksifitas tersebut maka orang memilih keputusannya dengan tetap membeli rilisan
110
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
fisik dan mengunduh gratis, tetapi bisa juga konsumen meninggalkan kebiasaan
membeli rilisan fisik dan hanya mengunduh melalui internet.
Indra Menus menjelaskan tetang perbedaan cara dia mengkonsumsi musik
dari era sebelum ada internet menuju era digital saat ini.
Sebelumnya lewat tape (dubbing tape), CD player, turntable. Perbedaannya,
sekarang lebih gampang mendapat album yang di inginkan, asal koneksi internet
bersahabat, lancar jaya. Tapi jadi gak ada perjuangannya dibanding dulu yang mau
ngopi lagu aja kudu ke temen yang punya double deck, atau ngopi lagu dari radio.
Jadi dulu tuh kayak lebih menghargai sebuah album,sekarang kalo lagi dengerin
album suka di skip langsung ke lagu yg disukai. (Indra Menus)
Selanjutnya Indra Menus mengungkapkan bahwa:
Biasanya gratis atau membayar sesuai dengan apa yang menurut saya pas sesuai
sama album yang mau saya download tersebut. Saya bukan tipikal kolektor fanatik
album dalam sebuah bentuk fisik tertentu, jadi mau bentuk tape, vinyl, digital pun
gak masalah selama saya punya alat pemutarnya. (Indra Menus)
Dalam kutipan tersebut Menus menjelaskan bahwa mengkonsumsi musik
dengan mengunduh lagu melalui internet lebih mudah, namun saking mudahnya dia
merasa kurang mendapat “greget” dalam mengkonsumsi sebuah lagu. “Greget” itulah
yang pada akhirnya menjadi ukuran seberapa besar seorang konsumen musik dalam
menghargai sebuah karya musik. Namun pada akhirnya Menus mengemukakan
bahwa cara mendapatkan lagu atau musik tidaklah terlalu penting asalkan memiliki
sarana untuk mendengarkan lagu itu sendiri.
Seperti yang telah dijelaskan Giddens bahwa modernitas merupakan
fenomena bermata ganda. Di satu sisi modernitas menyediakan kemudahan tetapi di
sisi lain juga memberikan kegelisahan kepada umat manusia. Seperti kita lihat dalam
kasus diatas, ketika dunia digital telah bekembang pesat, teknologi tersebut
111
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
memberikan kemudahan dan kenyamanan dalam mengkonsumsi musik. Tetapi di lain
pihak konsumen memiliki kegelisahan seperti yang dirasakan oleh Menus. Seperti
yang diungkapkan Gidens bahwa tatanan masyarakat pra-modern telah berakhir dan
kita berada dalam kondisi modern, tetapi kondisi tersebut membuat semuanya
menjadi serba abu-abu dan belum jelas. Modernitas yang berpengaruh pada industri
musik saat ini merupakan suatu peralihan antara yang “lama” dan yang “baru”.
Dalam kondisi modern, yang “lama” akan digantikan dengan yang “baru”, tetapi
sesuatu yang “baru” tersebut bukan merupakan hal yang pasti dan akan terus berubah.
Seperti yang terjadi oleh konsumen netlabel, kegelisahan cara mengkonsumsi musik
yang “lama” yaitu membeli rilisan fisik tergantikan oleh mengkonsumsi musik
dengan cara yang “baru” yaitu mengunduh. Konsumen tidak bisa secara tiba-tiba
meninggalkan kebiasaan lama mereka karena kebiasaan baru mengkonsumsi musik
dengan mengunduh dirasa masih memiliki banyak kerumitan misalnya harus
tersedianya koneksi internet, dan pengunduh harus memiliki pengetahuan cara
mengunduh.
Life politics ini hanya mucul pada masyarakat pasca-tradisional, yaitu pilihan
untuk mengkonsumsi musik melalui netlabel hanya terjadi pada kondisi modern saat
ini. Life politics tersebut muncul dari kecanggihan teknologi informasi dan
komunikasi, sehingga masyarakat mendapatkan banyak informasi. Hal ini
mengakibatkan tradisi menjadi tersisih, Giddens (1991: 100) menyebut ini sebagai
proses detradisionalisasi. Maksudnya, bukan berarti menghilangkan tradisi, tetapi
tradisi yang sudah ada tidak lagi diterima begitu saja melainkan terus-menerus
112
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
dipertanyakan, dikoreksi, atau dimaknai secara baru dalam konteks yang berbeda.
Dalam detradisionalisasi, tradisi bukan satu-satunya dasar dalam membuat keputusan
tetapi banyak lagi peluang dan kemungkinan-kemungkinan baru yang bisa menjadi
bahan pertimbangan. Dalam kasus ini, netlabel hanyalah salah satu alternatif baru
dari pilihan-pilihan yang sudah ada sebelumnya. Konsumen netlabel masih bisa
menikmati musik dengan cara “tradisional” yaitu melalui membeli rekaman fisik,
tetapi di era modern saat ini konsumen diberi pilihan juga untuk mendengarkan musik
melalui mengunduh. Inilah politics of choice yang muncul di era modern, banyak
sekali bentuk dan model dalam mengaktualisasikan diri sebagai bentuk menunjukkan
identitas.
5. Jejaring Netlabel Dengan Sesama Komunitas Penganut Life Politics
Netlabel sebagai lembaga atau komunitas yang menganut suatu life politics
tertentu pasti memiliki jaringan dengan lembaga atau organisasi lain yang menganut
life politics juga. Netlabel banyak sekali berhubungan dengan lembaga-lembaga lain
seperti radio online, majalah online, komunitas indie dan lain-lain. Namun saya tidak
bisa membahas keseluruhan lembaga itu disini, saya hanya akan memilih lembaga
yang saya anggap mewakili dan memiliki misi life politics yang kuat juga.
Contoh kasus yang saya ambil adalah netlabel Yes No Wave Music. Dalam
mengkampanyekan visi dan misi, Yes No Wave Music bekerja sama dengan KUNCI
113
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Cultural Studies Center. Seperti dikutip dalam situsnya kunci.or.id51 KUNCI Cultural
Studies Center adalah lembaga non-profit dan independent yang didirikan di
Yogyakarta, Indonesia, pada tahun 1999 dan bekerja untuk mengembangkan
masyarakat Indonesia yang secara kultural bersifat kritis, terbuka dan berdaya.
Misinya adalah mengembangkan kajian budaya atas dasar semangat eksploratif dan
eksperimental serta mendorongnya menuju gerakan yang lebih luas melalui praktikpraktik pendidikan populer.
Bila kita lihat Yes No Wave Music dan KUNCI Cultural Studies Center
memiliki misi yang sama dalam mengkampanyekan life politics-nya. Mereka samasama mengakampanyekan identitas non-profit dan semangat independent dalam
semua pergerakannya. Selain itu mereka juga sama-sama mengkampanyekan budaya
kritis terhadap budaya yang dominan. Saya pernah menghadiri acara mengenai
Fanzine52 yang diadakan KUNCI Cultural Studies Center dan Yes No Wave Music.
Dalam acara tersebut diadakan pameran Fanzine dan KUNCI Cultural Studies Center
menyediakan mesin fotokopi yang bisa digunakan memperbanyak Fanzine secara
gratis. Dari situ kita bisa melihat bahwa mereka mempunyai agenda politik yang
sama, mereka juga sama-sama ingin mengaktualisasikan pandangan politik mereka.
Mereka sama-masa memiliki pandangan politik anti-komersialisasi dan semangat
berbagi. Inilah life politics yang berpengaruh pada kedirian seseorang dan ingin
51
Diakses pada hari Minggu 21 Juli 2013.
Fanzine semacam majalah atau selebaran yang dibuat secara independen. Kebanyakan berisi tentang
musik, gaya hidup indie dan pandangan tentang politik. Biasanya Fanzine ini diperbanyak
menggunakan dengan cara difotokopi dan dibagikan secara gratis.
52
114
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
disebarkan ke khalayak banyak agar banyak orang yang mengetahui pandangan
politik mereka.
Selain bekerjasama dengan KUNCI Cultural Studies Center, Yes No Wave
Music memiliki jaringan dengan Ruang MES 56. Ruang MES 56 adalah sebuah
lembaga non-profit yang didirikan di Jogja pada tahun 2002 oleh sekelompok
seniman, yang memfungsikan dirinya sebagai laboratorium produksi dan diseminasi
gagasan seni berbasis fotografi, serta menitik beratkan pada pendekatan yang bersifat
eksploratif dan eksperimental, secara konsep maupun konteks. Dengan tujuan untuk
membangun wacana seni rupa kontemporer dan budaya visual, serta mengoptimalkan
jaringan seni di wilayah Asia Tenggara melalui beberapa program seperti residensi,
presentasi/diskusi, pameran, maupun proyek-proyek seni lintas disiplin. Ruang MES
56 dapat dikatakan sebagai sebuah situs atau tempat seni dan budaya. Hal tersebut
dikarenakan selain sebagai galeri ruang seni untuk pameran atau exhibition, Ruang
MES 56 juga sering digunakan untuk tempat berkumpul oleh para pecinta seni. 53
Yes No Wave Music pernah bekerjasama dengan Ruang MES 56 Workshop
Zine54 Bersama Danielle Hakim. Danielle Hakim adalah Seniman Australia yang
sedang dalam masa residensinya di Ruang MES 56. Workshop diadakan pada tanggal
1 sampai 3 Maret 2013. Dalam kegiatan tersebut peserta diwajibkan membawa
peralatan sendiri dan diajarkan berbagai metode dalam membuat Fanzine. Acara ini
gratis dan dibuka untuk umum.
53
54
Diakses melalui http://mes56.com/pada tanggal 31 Juli 2013
Zine merupakan singkatan dari Fanzine
115
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Yes No Wave Music juga mempunyai wadah untuk menampilkan band-band
dalam suatu panggung yang bernama Yes No Klub55. Yes No Klub awalnya digagas
sebagai wadah berekspresi musisi-musisi indie yang diadakan rutin setiap bulan. Yes
No Klub juga merupakan wadah untuk menampung musisi-musisi Indonesia maupun
luar negeri ketika mengadakan tour di Yogyakarta. Yes No Klub awalnya bertempat
di Ruang MES 56, tetapi kini tempat untuk Yes No Klub berbindah-pindah. Yes No
Wave Music juga memiliki webzine56 bernama XEROXED57 . XEROXED berisi
berita tentang musik indie dan acara seni lainnya, termasuk acara yang diadakan oleh
KUNCI Cultural Studies Center dan Ruang MES 56.
Yes No Wave Music, KUNCI Cultural Studies Center dan Ruang MES 56
meiliki jaringan yang kuat. Ketiga lembaga ini saling mendukung dalam masing
masing proyek seni yang mereka adakan. Di sini kita bisa melihat bahwa Yes No
Wave Music ingin melebarkan sayap life politics-nya secara lebih luas. Tidak hanya
terbatas oleh musik dan subculture indie saja tetapi melingkupi seni visual dan
fotografi. Yang menarik untuk dicermati adalah, Yes No Wave Music, KUNCI
Cultural Studies Center dan Ruang MES 56 sama-sama mengusung misi non-profit.
Semangat non-profit tersebut yang menjadikan ketiga lembaga tersebut memiliki life
politics yang sama.
55
Diakses melalui http://yesnoklub.yesnowave.com/ pada tanggal 31 Juni 2013
Webzine merupakan Fanzine yang dapat diakses secara online.
57
Diakses melalui http://xeroxed.yesnowave.com/ pada tanggal 31 Juni 2013
56
116
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
6.
Kesimpulan
Kemunculan netlabel tidak dapat dilepaskan dari fenomena globalisasi.
Globalisasi membuat netlabel pada akhirnya sampai di Indonesia dan digunakan
sebagai media alternatif dalam mendistribusi dan mengkonsumsi musik. Ideologi
berbagi yang digunakan oleh netlabel membuat para musisi tidak lagi merisaukan
pengunduhan lagu oleh konsumen musik. Sebaliknya, konsumen musik dapat dengan
leluasa mengunduh lagu-lagu tanpa harus takut dijerat dengan berbagai aturan yang
memberatkan.
Globalisasi yang pada akhirnya memunculkan netlabel ini ternyata pada
akhirnya menjadi agenda politik tersendiri. Netlabel menjadi agenda politik terutama
ketika netlabel berhasil memberikan identitas baru bagi kelompok tertentu maupun
individu. Indonesian Netaudio Festival menjadi semacam kampanye identitas
pengguna netlabel. Netlabel juga telah berhasil menjadi sarana pembeda antar
kelompok maupun antar identitas. Musisi atau band yang dirilis melalui netlabel
dianggap sebagai musisi ataupun band non-mainstream. Sedangkan band yang tidak
dirilis netlabel adalah musisi atau band mainstream. Ketika sebuah band atau musisi
dikategorikan menjadi musisi atau band non-mainstream, maka terdapat ideologiideologi tertentu yang melingkupinya. Misalnya musisi non-mainstream dinilai lebih
rendah hati daripada musisi ataupun band mainstream. Sampai di sini berarti
globalisasi tidak hanya sekadar memunculkan netlabel yang kemudian memunculkan
identitas-identitas baru, namun lebih dari itu, netlabel rupanya juga telah masuk ke
117
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
dalam ranah ideologi tertentu yang pada akhirnya memunculkan stigma-stigma
tertentu pula. Pada akhirnya, netlabel dinilai berhasil membebaskan musisi dan
konsumen musik dari cengkraman undang-undang hak cipta ketika memunculkan
Creative Commons License. Creative Commons License dinilai mampu menjadi
“undang-undang baru” yang mampu mengakomodir seluruh pecinta musik baik dari
sisi musisi maupun konsumen musik.
Dengan adanya netlabel identitas pribadi menjadi identitas politik. Identitas
pribadi menjadi identitas politik ketika terjadi emansipasi atau pembebasan terhadap
bermusik melalui semangat anti-komersialisasi. Maksud dari pembebasan di sini
adalah pembebasan dari tradisi dan pembebasan dari dominasi sekelompok orang
atau individu yaitu perusahaan rekaman konvensional. Netlabel juga dinilai berhasil
memberikan ideologi baru yaitu ideologi bermusik untuk berbagi. Yang dimaksud
berbagi di sini adalah karya seni dapat didapatkan atau dibagikan secara cuma-cuma
tanpa mementingkan sisi komersial. Ketika musisi tidak selalu berpikir mengenai
komersialisasi musik, maka musisi telah terbebas dari indeologi industri rekaman.
Semua itu adalah life politics, politik yang berfokus pada individu masingmasing orang, dan di dalamnya meliputi identitas. Life politics dan identitas pemeluk
gaya hidup netlabel yang akan terus diperbaharui. Pembaharuan life politics dan
identitas tersebut dipengaruhi keadaan secara global.
118
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Bab V
Kesimpulan
Kesulitan utama dalam mempelajari industri musik dan teknologi adalah
perkembangannya yang terjadi dengan cepat. Hal ini membuat semua orang menjadi
kesulitan untuk tetap “up to date”. Produk budaya baru dengan cepat ditemukan,
kebijakan-kebijakan baru dibuat dan hal tersebut membuat konsekuensi-konsekuensi
baru dalam industri musik
Burnett (1996: 149)
Kutipan di atas mampu menggambarkan bahwa industri musik dan teknologi
selalu berkembang. Penelitian saya ini akan menjadi penelitian yang tidak menarik
lagi ketika dilakukan beberapa tahun ke depan, karena pasti banyak hal baru yang
terjadi dalam industri musik. Dalam sepuluh tahun terakhir pembahasan mengenai
musik digital seperti tidak ada habisnya. Bahkan akhir-akhir ini anak muda disuguhi
tren “baru”, yaitu mengoleksi rekaman dalam bentuk kaset dan piringan hitam.
Banyak yang beranggapan bahwa musik digital sudah membosankan, dan saatnya
kembali ke kaset dan piringan hitam. Inikah strategi baru industri musik untuk
mempertahankan keberadaannya? Tidak ada yang mampu menjawab pertanyaan ini
karena industri musik dan teknologi selalu berkembang. Sebagaimana dikatakan oleh
Giddens, modernitas selalu menghasilkan dua sisi yang bertentangan, yakni sisi rasa
aman dan sisi resiko.
119
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Tema utama penelitian ini adalah modernitas dan globalisasi yang
berpengaruh terhadap proses pembentukan identitas sebagaimana tampak dalam
konsumsi dan distribusi musik melalui internet. Modernitas yang terjadi tidak
sepenuhnya menjadi jalan keluar dari masalah-masalah dalam bidang musik,
melainkan justru menjadi masalah baru. Salah satu kasus adalah maraknya
pembajakan musik di Indonesia. Pembajakan musik di Indonesia menyebabkan
penurunan penjualan album rekaman musik di Indonesia. Beberapa tahun terakhir
musisi, perusahaan rekaman, dan penikmat musik Indonesia melalukan reaksi
terhadap pembajakan musik di Indonesia melalui berkampanye anti-pembajakan dan
berusaha menyuarakan agar konsumen membeli rilisan resmi. Kampanye yang
dilakukan tersebut bukan tanpa alasan. Penurunan penjualan rekaman menjadi alasan
utama, karena penjualan album rekaman mampu menghasilkan uang yang dapat
menghidupi perusahaan rekaman dan musisi. Bisa dibayangkan bila mayoritas
pendengar musik lebih memilih mengunduh atau mengkopi lagu mereka secara gratis
daripada membeli karya resmi para musisi. Ladang penghasilan perusahaan rekaman
dan musisi selama ini tentunya bisa mengering. Bila sudah begitu, tentu kebangkrutan
menjadi ancaman utama yang akan dialami oleh perusahaan rekaman dan musisi.
Industri musik di Indonesia saat ini tengah terombang-ambing oleh kehadiran
teknologi yang mampu membuat suatu karya diunduh atau dikopi secara gratis.
Modernitas dengan segala kegagalannya di Indonesia telah menjadi arena baru
bagi pencarian dan pembentukan identitas generasi penggemar musik. Dalam
120
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
penelitian ini saya ingin menunjukkan bagaimana modernitas mengakibatkan
terjadinya globalisasi dan membentuk identitas baru terhadap masyarakat, khususnya
konsumen netlabel di Indonesia. Netlabel berelasi erat dengan media internet yang
berkembang pesat. Dan internet sangat berpengaruh terhadap penyebaran musik serta
konsumsi musik di Indonesia.
1.
Pembentukan Identitas Baru Melalui Netlabel
Modernitas memiliki kecepatan berubah, bersifat dinamis, dan pergerakannya
jauh melebihi era pra-modern. Perkembangan teknologi secara global telah melebihi
batas-batas yang terjadi sebelumnya. Dalam penelitian ini saya telah mencoba
menggali lebih dalam pengunduhan musik melalui internet. Saya melihat bahwa
konsumen musik di Indonesia semakin dimudahkan dengan teknologi digital dalam
hal mencari, menemukan dan mengkonsumsi musik. Saat ini konsumen musik di
Indonesia semakin lama menghabiskan waktunya dengan internet. Dengan perangkat
teknologi komputer maupun telepon seluler orang semakin menikmati berselancar di
dunia maya.
Kegemaran masyarakat Indonesia mengunduh musik digital ditambah
perkembangan teknologi informasi yang kian canggih membuat masyarakat menjadi
gagap sekaligus tamak. Maksudnya, kasus yang terjadi di Indonesia berbeda dengan
yang terjadi di negara-negara maju. Di negara-negara maju seperti Amerika penjualan
musik digital mengalami peningkatan menggantikan penjualan fisik. Di Indonesia,
121
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
konsumen musik berlomba-lomba mengunduh secara ilegal. Hal ini mengakibatkan
penjualan rekaman secara fisik maupun online menjadi menurun drastis. Hal itu
terjadi karena timbul berbagai masalah yang menyebabkan terhambatnya modernitas
di Indonesia. Dengan kata lain modernitas yang terjadi di Indonesia memiliki lobang
besar yang membuat penyebarannya berbeda dengan yang terjadi di negara-negara
Amerika dan Eropa.
Keterbatasan koneksi internet dan sulitnya memiliki alat tukar untuk
bertransaksi di internet merupakan salah satu penyebab terhambatnya modernitas.
Keterbatasan tersebut mendorong konsumen untuk menemukan caranya sendiri, yaitu
mengunduh secara ilegal. Dengan mengunduh, konsumen dapat menyimpan lagu dan
bisa memutarnya tanpa harus terkoneksi internet. Selain itu mengunduh secara ilegal
tidak dikenakan biaya, karena itulah tidak perlu memiliki alat tukar berupa kartu
kredit.
Dari hal di atas mucul pertanyaan, mengapa pengunduhan musik secara ilegal
dimungkinkan terjadi di Indonesia? Jawabnya karena penegakan hukum di Indonesia
tidak berjalan secara baik. Hal itu bisa dibuktikan dengan banyaknya penjual CD
bajakan di Indonesia yang terjadi secara terang-terangan. Penjualan secara terangterangan saja tidak mendapat tindakan hukum apalagi hanya mengunduh secara
ilegal. Lalu muncul pertanyaan lagi, mengapa CD bajakan itu laku? Mengapa
mengunduh ilegal juga dijadikan pilihan? Jawabnnya tidak lain karena tingginya
harga jual rekaman jika dibandingkan dengan tingkat ekonomi masyarakat Indonesia.
122
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Ketika masyarakat Indonesia memiliki tingkat ekonomi seperti di negara maju seperti
Amerika maka harga CD original akan dianggap murah.
Hakikat dari berbagai masalah yang kompleks yang terjadi di industri musik
Indonesia, konsumen tidak lagi memiliki kepercayaan terhadap sistem yang berjalan.
Kepercayaan merupakan hal yang penting agar sistem berjalan sesuai keinginan.
Dengan tidak adanya kepercayaan maka sistem tersebut tidak lagi operasional bagi
penggunanya. Dalam hal ini terjadi kegagalan dalam bidang teknologi, kegagalan
dalam bidang penegakan hukum, dan kegagalan dalam sistem ekonomi di Indonesia.
Karena kegagalan-kegagalan itulah maka sistem yang berjalan di Indonesia tidak lagi
dipercaya oleh konsumen musik Indonesia.
Di tengah semua permasalahan mengenai industri musik di atas, muncullah
netlabel. Netlabel hadir di tengah kegemaran masyarakat Indonesia mengunduh
musik melalui internet secara ilegal. Netlabel menawarkan pengunduhan musik
secara gratis dan legal. Konsumen tidak perlu memiliki kartu kredit untuk membayar
musik yang ditawarkan oleh netlabel. Netlabel juga mengklaim bahwa musik yang
mereka tawarkan adalah legal dan dengan persetujuan dari artis yang bersangkutan.
Tidak hanya itu netlabel juga melindungi memakai Creative Commons License
sebagai perlindungan hukum terhadap karya musik yang dirilisnya. Saya melihat
netlabel menawarkan semacam gaya hidup baru bagi konsumen musik di Indonesia,
gaya hidup yang merupakan identitas baru bernama netlabel.
123
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Saya melihat bahwa netlabel di Indonesia berusaha menawarkan suatu trust
baru kepada konsumen musik di Indonesia. Dengan menawarkan musik yang gratis,
legal dan berlisensi, netlabel seakan ingin membangun trust baru pada konsumen
musik di Indonesia. Trust baru perlu dibangun karena masyarakat Indonesia tidak lagi
memiliki trust kepada industri musik di Indonesia. Hilangnya trust tersebut
disebabkan berbagai masalah pelik yang sudah dijelaskan sebelumnya, yaitu
kegagalan teknologi, alat tukar, penegakan hukum, dan sistem ekonomi. Trust baru
yang ditawarkan netlabel bertujuan agar konsumen musik di Indonesia memiliki
ontological security. Ontological security merupakan rasa aman yang terkait dengan
jati diri dan pembentukannya. Dalam hal ini, rasa aman yang dimaksud muncul dari
keyakinan bahwa Creative Commons License memberi pembenaran terhadap
tindakan mengunduh dan menikmati tanpa berbayar. Perasaan aman dibutuhkan oleh
konsumen musik di Indonesia agar konsumen musik merasa nyaman ketika
mengunduh musik melalui netlabel. Maksudnya, ketika mengunduh musik melalui
netlabel, konsumen musik di Indonesia tak perlu merasa khawatir mengenai sistem
pembayaran dan masalah hukum, karena semuanya gratis dan legal.
Netlabel berusaha menghapuskan segala permasalahan yang ada di industri
musik Indonesia saat ini. Netlabel berusaha membuat realitas yang baru melalui
sistemnya sendiri, dan hal tersebut membentuk identitas baru bagi konsumen musik
di Indonesia. Identitas yang terus menerus berubah, identitas yang muncul sebagai
124
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
kontrol terhadap kehidupan sehari-hari dan juga dalam upaya mengendalikan
lingkungan sosial.
2.
Identitas Netlabel Berubah Menjadi Agenda Politik
Seperti yang sudah kita lihat sebelumnya awal kemunculan netlabel sebagai
bentuk penyesuaian diri konsumen musik di Indonesia terhadap berbagai masalah
yang terjadi. Namun lambat laun proses adaptasi tersebut menjadi semacam agenda
untuk mengkampanyekan diri dan mengkampanyekan suatu identitas baru.
Konsumen yang sebelumnya mengunduh musik secara ilegal melalui internet kini
merasa bangga dan menemukan semacam identitas baru dengan adanya netlabel.
Netlabel bukan lagi sebagai proses adaptasi saja tapi sudah menjadi semacam bentuk
pemberontakan terhadap musik mainstream dan industri korporat major label.
Netlabel menjadi bentuk politik eksistensial dan gaya hidup yang membedakan
dengan gaya hidup yang lainnya. Konsumen musik Indonesia yang dulunya
mengunduh musik secara ilegal, kini mempunyai alat mengekspresikan dirinya
melalui Netlabel.
Netlabel mempunyai komunitasnya sendiri dan membuat sebuah festival.
Komunitas netlabel ingin menunjukkan diri, menunjukkan gaya hidup dan
keberadaan mereka. Festival digunakan sebagai sarana untuk mengkampanyekan
ide-ide komunitas netlabel mengenai industri musik. Festival digunakan sebagai
125
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
agenda politik untuk merekrut orang lain agar memiliki gaya hidup yang sama.
Agenda pribadi yang bernama netlabel kini menjadi konsumsi publik.
Saya melihat kehadiran netlabel di Indonesia bukan hanya karena tren semata.
Netlabel di Indonesia memiliki sesuatu yang lebih spesial karena hadir di tengah
berbagai masalah mengenai industri musik di Indonesia. Netlabel berada dalam ranah
musik indie yang menggunakan pergerakannya sebagai sikap politik terhadap
korporat industri rekaman. Netlabel menggunakan semangat indie sebagai sarana
membedakan diri dari komunitas-komunitas lainnya. Netlabel mampu menjadikan
segala keterbatasan yang ada dalam menikmati musik menjadi suatu kekuatan
membedakan dirinya. Semula keterbatasan menikmati musik karena tidak memiliki
akses kartu kredit dan keterbatasan ekonomi kini menjadi suatu agenda antikapitalisme dan budaya berbagi. Inilah yang saya sebut dengan identitas baru netlabel
di Indonesia. Teknologi dan ide mengenai netlabel memang berasal dari negara maju
seperti Amerika, tetapi ketika berkembang di Indonesia hal tersebut memiliki
pemaknaan yang berbeda. Inlah yang disebut identitas baru konsumen musik di
Indonesia yang terbentuk melalui teknologi bernama netlabel.
Semua hal yang kita bahas merupakan bentuk dari life politics. Life politics
berisi keputusan dari gaya hidup yang dijalani sehingga menghasilkan kekuasaan
untuk mengubah realita yang ada. Life politics bertujuan membangun kehidupan yang
bisa dibenarkan secara moral dan bisa menjadi wujud aktualisasi secara sosial. Life
politics bertujuan menciptakan tatanan hidup yang lebih etis, dan dituntun oleh
126
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
pertanyaan, bagaimana kita seharusnya menjalani kehidupan. Dengan kata lain life
politics akan terus menerus diperbaharui oleh berkembanganya modernitas yang
memiliki sifat cair dan tidak bisa di prediksi.
3.
Apakah Netlabel Masih Bertahan di Masa Depan?
Sejauh ini saya masih bertanya-tanya apakah netlabel masih bisa terus
bertahan di masa depan? Atau apakah netlabel akan memiliki wajah baru di masa
depan? Berkaitan dengan pertanyaan tersebut saya teringat pada Wok The Rock yang
dalam wawancara mengatakan, netlabel ini hanya sebuah alat atau tools yang tidak
lebih dari teknologi komputer. Ketika di masa depan ada teknologi baru lagi, saya
akan beralih menggunakan teknologi baru tersebut. Yang penting adalah passion saya
untuk membuat perusahaan rekaman.” Dari pernyataan tersebut kita bisa melihat
bahwa modernitas dan perkembangan teknologi sangat berpengaruh terhadap
tindakan seseorang. Ketika di masa depan ditemukan teknologi baru dalam dunia
rekaman maka teknologi tersebut akan menyebar dan digunakan secara luas. Dengan
kata lain, modernitas selalu berubah-ubah, baik itu teknologi informasi ataupun
teknologi yang berhubungan dengan mesin.
Saat ini teknologi tersebut berkembang sangat cepat, melebihi batas-batas
yang terjadi sebelumnya. Modernitas bersifat tidak bisa diprediksi karena
keterbatasan dan pemicu yang berbeda-beda. Netlabel di masa depan akan
127
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
mempunyai wajah baru, atau mungkin tidak lagi menggunakan nama netlabel. Tidak
ada yang mampu memprediksi ke mana arah modernitas yang terjadi, seperti yang
diungkapkan Sindhunata mengenai moderntas, “Dunia ini berlari. Lebih tepat lagi:
dunia ini tunggang-langgang. Artinya, begitu mau dipegang, dunia ini luput seperti
belut.”58
Penelitian ini memperlihatkan peran teknologi dalam proses pembentukan
budaya. Ditinjau dari perkembangan teknologi rekaman, perubahan yang terjadi saat
ini mungkin saja memiliki dampak yang lebih besar daripada ketika ditemukan alat
perekam untuk pertama kalinya. Ketika ditemukan alat perekam untuk pertama
kalinya musik menjadi bentuk komersil dan objek kapitalisme. Namun dengan
ditemukannya teknologi internet kita mampu menduplikasi musik dengan mudah. Hal
yang menjadi kekhawatiran korporat musik kini tidak dapat dihindari lagi, yaitu
musik tidak bisa lagi dijual. Musik kembali menjadi produk yang bebas dinikmati
oleh semua orang. Semua orang berhak berkarya, semua orang berhak menentukan
pilihan musik yang ingin didengarkan, semua orang memiliki kebebasan yang sama
dalam mendistribusikan musiknya melalui internet. Semua hal tersebut dapat
dilakukan dimanapun, kapanpun, dan oleh siapapun. Semua orang memiliki
kesempatan yang sama di era digital seperti saat ini. Kita sedang berada dalam
sebuah era baru: Era Demokratisasi Musik!
58
Sindhunata dalam majalah BASIS edisi khusus Anthony Giddens , Januari-Februari 2000.
128
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
GLOSARIUM
Band: Kumpulan yang terdiri atas dua atau lebih musisi yang memainkan alat musik.
CD: Sebuah cakram optik yang digunakan untuk menyimpan data digital
DIY: Singkatan dari Do It Yourself; suatu etos kemandirian yang dimiliki oleh pegiatpegiat subculture musik indie.
Download: Untuk menyalin data dari sumber utama ke perangkat periferal
eMusik: Toko musik online yang beroperasi dengan berlangganan. Pengguna eMusic
berlangganan secara bulanan dengan fasilitas mengunduh yang tetap per
bulannya dengan menggunakan mp3 player.
Indie: Sebuah gerakan bermusik yang mengandung perlawanan
Perusahaan rekaman indie: Perusahaan rekaman indie juga disebut minor label. Suatu
perusahaan rekaman yang dibentuk secara swadaya.
Internet: Jaringan global yang menghubungkan jutaan komputer. Lebih dari 100
negara terhubung ke jaringan ini.
iPod: Media player portabel yang dirancang dan dipasarkan oleh Apple Inc
iTunes: Sebuah media player yang dibuat oleh Apple Computer yang digunakan
untuk memainkan file musik atau video digital.
129
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Kaset: Format rekaman audio dan playback.
Major Label: Perusahaan yang memiliki modal besar dan berorientasi pada profit.
MP3: Jenis teknologi yang memungkinkan musik atau file audio untuk dikompresi ke
dalam jumlah yang sangat kecil tetapi dengan kualitas suara tetap terjaga.
Napster: Layanan musik online. Layanan musik ini didirikan sebagai file layanan
internet sharing peer-to-peer yang menekankan berbagi file audio dalam
format MP3.
Netlabel: Perusahaan rekaman yang mendistribusikan musik format audio digital
melalui Internet.
Piringan hitam: Media penyimpanan suara analog yang terdiri dari piringan pipih
dengan alur spiral tertulis dan termodulasi.
RBT (Ring Back Tone): Dering suara yang terdengar pada saluran telepon oleh pihak
penelepon setelah panggilan dan sebelum panggilan dijawab
Tape recorder: Perangkat penyimpanan audio yang mencatat dan memainkan kembali
suara.
Turntable: Perangkat yang diperkenalkan pada tahun 1877 untuk rekaman dan
mereproduksi rekaman suara.
VCD: CD yang berisi gerak dan gambar suara.
130
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Daftar Pustaka
Appadurai, Arjun. 1996. Modernity at Large: Cultural dimensions of Globalization.
Mineapolis: University of Minnesota.
BASIS. Edisi Khusus Anthony Giddens, Januari- Februari tahun 2000. Yogyakarta.
Bennet, Toni, dkk. 1993. Rock and Polular Music: Politics, Policies, and Institution.
New York: Rouledge.
Budiarto , Teguh. 2001. Musik Modern dan Ideologi Pasar. Yogyakarta:Tarawang
Press.
Burnett, Robert. 1996. The Global Jukebox. London: Rouledge.
Castells , Manuel. 1997. The Power of Identity. Oxford: Blackwell.
Connell, John dan Chris Gibson .2003.Sound Track : Popular Music, Identity and
Place London: Rouledge.
Danet, Brenda dan Susan C. Herring. 2007. The Multilingual Internet : Language,
Culture and Comunication Online. New York: Oxford.
Giddens, Anthony. 1990. The Consequences of Modernity, Cambridge: Polity Press.
Giddens, Anthony. 1993. Modernity And Identity: Self and Society in the Modern
Age. Cambridge: Blackwell Publisher.
Hebdige, Dick. 1979. Subculture: The Meaning Of Style. Routledge, London and
New York.
Hebdidge, Dick. 2000. Cut and Mix : Culture, Identity and Carebean Music. New
York: Rouledge.
Kim, Minjeong . (2007). The Creative Commons Liscense and Copyright Protection
in The Digital Era: Uses of Creative Commons License Licenses. Journal
of Computer-Mediated Communication, 13(1), article 10.
Machin , David .2010.Analyzing Popular Music: Image, Sound, and Text
Pitt, Ivan. L. 2010. Economic Analisis of Musical Copyright. New York: Springer.
Pramudito, Andaru. 2010. Free Culture Sebagai Alternatif Dalam Gerakan Musik
Swadaya (Studi Kasus Netlabel Yes No Wave Music). Jakarta: Universitas
Indonesia.
131
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Putranto, Wendi. 2009 . Rolling Stone Music Biz, Manual Cerdas Mengusai Bisnis
Musik Yogyakarta : Bentang Pustaka.
Redhead, Steve. 1997. Subculture to Clubculture. Massachusetts: Blackwell
Publisher Ltd
Rez , Idhar .2008. Musik Records, Indie Label. Bandung: Dar! Mizan.
Rosen, Ronald S. 2008. Music and Copyright. New York: Oxford University Press,
Inc.
Sauko, Paula. 2003. Doing Research in Cultural Studies. London: SAGE.
Soetomo, Greg. 2003. Krisis Seni Krisis Kesadaran. Kanisius. Yogyakarta
Storey, John. 1996. Cultural Studies and the Study of Popular Culture: Theories and
Methods. Edinburgh: Edinburgh University Press.
Tschmuck , Peter. 2006. Creativity and Innovation in the Music Industry. Netherland:
Springer.
www.creativecommons.org
Music Biz: Music Apartheid (Rolling Stone Online)
132
PLAGIAT
PLAGIATMERUPAKAN
MERUPAKANTINDAKAN
TINDAKANTIDAK
TIDAKTERPUJI
TERPUJI
Lampiran
Berikut ini adalah nama-nama narasumber yang berhasil diwawancarai. Wawancara
dilakukan secara tatap muka dan menggunakan media internet (email dan facebook).
Konsumen Netlabel
1. Iman Distraktor
2. Wafig Giotama
3. Alvan Ahmad Rahadi
4. Wednes Mandra
5. Pika
6. Indra Menus
7. Rifki
8. Yogi Surya Adam
9. Doan Mitasari
10. Eko marjani
Musisi Netlabel
1.
2.
3.
4.
5.
Denda Omnivora and The White Liar
ZOO
To-Die
Sabarbar
Belkastrelka
Pemilik Netlabel
1.
2.
3.
4.
Wok The Rock (Yes No Wave Music)
Rizkan Al Maududi (Stone Age Records)
Arie Mindblasting (Mindblasting Records)
Hilman Fathoni (Ear Alert Records)
133
Download

plagiat merupakan tindakan tidak terpuji plagiat