koordinasi antar instansi dalam perolehan ijin lokasi

advertisement
KOORDINASI ANTAR INSTANSI DALAM PEROLEHAN IJIN
LOKASI UNTUK PEROLEHAN HAK ATAS TANAH BAGI
PEMBANGUNAN PERUMAHAN MEGA RESIDENCE
DI KOTA SEMARANG
TESIS
untuk memenuhi sebagian persyaratan
mencapai derajat Sarjana S-2
Program Studi Magister Kenotariatan
YENIE DAMAYANTI,SH.
B4B 004 195
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2006
TESIS
KOORDINASI ANTAR INSTANSI DALAM PEROLEHAN IJIN
LOKASI UNTUK PEROLEHAN HAK ATAS TANAH BAGI
PEMBANGUNAN PERUMAHAN MEGA RESIDENCE
DI KOTA SEMARANG
Disusun Oleh :
YENIE DAMAYANTI, SH
B4B 004 195
Telah dipertahankan di depan Tim Penguji
Pada Tanggal 12 Agustus 2006
dan dinyatakan telah memenuhi syarat untuk diterima
MENYETUJUI
Pembimbing
Ana Silviana,SH.MHum.
Nip. 132.046.692
Ketua Program Studi
Magister Kenotariatan
Mulyadi,SH.MS.
Nip. 130.529.429
PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis adalah hasil pekerjaan saya sendiri dan
di dalamnya tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar
kesarjanaan di suatu perguruan tinggi dan lembaga pendidikan lainnya.
Pengetahuan yang diperoleh dari hasil penerbitan maupun yang belum/tidak
diterbitkan, sumbernya dijelaskan di dalam tulisan dan daftar pustaka.
Semarang, 12 Agustus 2006
Yang menyatakan
Yenie Damayanti,SH
iii
MOTTO DAN PERSEMBAHAN

Yang terbaik bagimu adalah yang bermanfaat bagi orang lain.

Semakin dekat engkau menggapai cita-cita, semakin berat cobaan yang akan
engkau hadapi (Jenderal Sudirman).

Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah
yang lebih baik dari pada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin
(QS : Al Maidah : 50).
Kupersembahkan Karya Kecil ini teruntuk :
1.
Almamaterku Universitas Diponegoro
Semarang.
2.
Kedua Orang Tuaku Yang Tak Pernah
Kering
Akan
Cinta
dan
Kasih
Sayangnya.
3.
Adik-adikku
Tersayang
Wara
Apriyani, Putrie Rahayu dan Putro
Wicaksono, yang memberikan warna
dalam hidupku.
4.
Mas Rismiyanto yang selalu memberi
dukungan, kasih sayang dan setia
menantikanku.
iv
KATA PENGANTAR
Dengan mengucap Alhamdulillah serta memanjatkan puji syukur
kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, hidayah dan karunia-Nya
sehingga penulisan tesis ini dapat terselesaikan.
Tesis ini sebagai bentuk pertanggungjawaban keilmuan dan merupakan
salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Kenotariatan pada Program,
Pasca Sarjana Magister Kenotariatan Universitas Diponegoro Semarang. Dalam
penulisan tesis ini penulis telah berupaya untuk berbuat semaksimal mungkin
dengan sekuat tenaga dan pikiran untuk membahas dan menguraikan semua
permasalahan yang menjadi pokok penyusunan tesis sesuai dengan pengetahuan
dan kemampuan yang ada. Namun demikian harus disadari bahwa dalam
penyusunan tesis ini ibarat pepatah mengatakan “tak ada gading yang tak retak”,
maka dalam penyusunan tesis ini masih kurang sempurna, oleh karena itu segala
kritik dan saran yang bersifat membangun sangat diharapkan.
Dalam menyelesaikan tesis ini penulis mendapatkan dorongan, semangat
dan kasih sayang serta doa dari banyak pihak sehingga meskipun banyak kendala,
namun pada akhirnya dapat terselesaikan. Dorongan untuk selalu maju, selalu
ditanamkan oleh orangtua, kepada beliau sembah sujud ananda haturkan.
Beliaulah yang telah mengukir jiwa raga, membesarkan, mendidik serta
memberikan arah dalam menjalani hidup.
Ucapan terima
kasih
terkhusus
penulis
tujukan
kepada
Ibu Ana Silviana, SH.,MHum, selaku pembimbing dan yang telah meluangkan
waktu dan mencurahkan semua ilmu pengetahuannya penuh kesabaran, kearifan
dan keikhlasan dalam membimbing penulis, sehingga tesis ini dapat terselesaikan,
semoga amalan beliau mendapatkan pahala dari Allah SWT.
v
Ucapan terima kasih juga penulis tujukan kepada semua pihak yang
telah membantu penyusunan tesis ini, sehingga dapat terselesaikan. Pada akhirnya
penulis juga ingin mengucapkan terima kasih kepada :
1. Prof.Ir.Eko Budiharjo,MSc., selaku Rektor Universitas Diponegoro Semarang.
2. Prof.Dr.dr.Suharyo Hadisaputro, selaku Direktur Program Pasca Sarjana
Universitas Diponegoro.
3. Ahmad Busro,SH.,MHum., selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas
Diponegoro.
4. Mulyadi,SH.,MS., selaku Ketua Program Studi Magister Kenotariatan
Universitas Diponegoro Semarang.
5. Yunanto,SH.,MHum., selaku Sekretaris Program Bidang Akademi Program
Studi Magister Kenotariatan Universitas Diponegoro Semarang.
6. Budi Ispriyarso,SH.,MHum., selaku Sekretaris Program Bidang Administrasi
Umum dan Keuangan Program Studi Magister Kenotariatan Universitas
Diponegoro Semarang.
7. Prof.Budi Harsono,SH., selaku pengampu mata kuliah Hukum Agraria.
8. Achmad Chulaemi,SH., selaku tim review proposal dan tesis.
9. Dwi Purnomo,SH.,MHum., selaku tim review proposal dan tesis.
10. Noor Rahardjo,SH.,MHum, selaku Dosen Wali.
11. Seluruh staf pengajar Magister kenotariatan Universitas Diponegoro
Semarang.
12. Suharta,SH, selaku staf Asisten I Pemerintahan Kota Semarang yang telah
memberikan ijin dan keterangan-keterangan yang diperlukan dalam rangka
penyusunan tesis ini.
vi
13. Bambang Prasetya, selaku sekretaris PT.Nusa Prima Intiniaga yang telah
berkenan memberikan ijin dan data-datanya dalam rangka penyusunan tesis
ini.
14. Bintarwan Widiatso,SH, selaku Kasubsi Pemberian Hak Atas Tanah di Kantor
Pertanahan Semarang, yang telah memberikan data-data guna penyusunan
tesis ini.
15. Om Arnaidi,SH, yang telah memberikan dukungan untuk masuk Magister
Kenotariatan.
16. Sahabat-sahabatku : Tatik, Yanto, Lopi, Rio N’Dhut, Erwan dan Mas Endi.
17. Sobat-sobatku : Asep Yuyun Zakaria (N’Cep), Nur Iman Ramadona
(Rama ½), Mbak Lilis Kuryani, Mona Octaviani, Devi Kurniasari, Eva
Purnawati, Nur Hidayanti, Andre Setiabudi Iskandar, Risyad Mahfudz, Dicky
Antoni (om Bob), Mbak Ambar, Fratma, Ferti, Rully, Bana Bayu Wibowo
(Benju), Pak Yuli, Pak Parno, Pak Supri, Pak Aksan, Pak Benhart,Pak Mul
(mbah Mul), Pak Paul, Prastowo, Benyamin (Ben-dhot), Mas Panji dan lainlain yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah banyak
membantu dalam suka dan duka selama ini.
18. Sobat-sobat kos : Mbak Nunuk (ma’e), Mbak Menik, Ibu Andri (bu wartel),
Mbak Astri (ucrit), Ima (T’Lor), Sunu (Un’ju), Putri (Boru), Friska (istri Kan),
Arma, Anggi, Reza (hai-hai), Andri, P-Men, Nandar, Ando (dodoredo).
19. Seluruh
teman-teman
Magister
Kenotariatan
Angkatan 2004.
vii
Universitas
Diponegoro
Semoga tesis ini bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan
menambah kepustakaan di bidang kenotariatan serta berguna bagi masyarakat.
Semarang, 12 Agustus 2006
Penyusun
Yenie Damayanti,SH.
viii
ABSTRAK
Koordinasi Antar Instansi Dalam Perolehan Ijin Lokasi Untuk Perolehan
Hak Atas Tanah Bagi Pembangunan Perumahan Mega Residence Di Kota
Semarang
Perolehan tanah untuk keperluan tertentu khususnya untuk kepentingan
pembangunan perumahan akan terkait beberapa instansi, karena akan melalui
beberapa tahapan yang harus dilewati dari ijin prinsip, ijin lokasi, ijin mendirikan
bangunan, dan yang lainnya. Setiap tahapan tersebut dituntut adanya koordinasi
yang baik antar instansi yang berwenang. Pelaksanaan koordinasi dapat
berlangsung baik secara vertikal maupun horizontal. Dalam memperoleh ijin
lokasi diperlukan adanya koordinasi antara pihak Pemkot dengan Kantor
Pertanahan. Setelah memperoleh ijin lokasi perusahaan yang membutuhkan tanah
baru dapat memperoleh tanahnya. Perolehan tanahnya dapat melalui pelepasan
hak dan dapat juga secara langsung dengan para pemilik tanah dengan cara
pemindahan hak serta permohonan hak atas tanah Negara.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui koordinasi antar
instansi dalam perolehan ijin lokasi untuk perolehan hak atas tanah bagi
pembangunan perumahan Mega Residence di Kota Semarang, untuk mengetahui
faktor yang mendukung dan menghambat koordinasi antar instansi dalam
perolehan ijin lokasi untuk perolehan hak atas tanah bagi pembangunan
perumahan Mega Residence di Kota Semarang, dan untuk mengetahui proses
ix
perolehan hak atas tanah bagi pembangunan perumahan Mega Residence di Kota
Semarang.
Metode pandekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Yuridis
Empiris, artinya dalam penelitian ini yang ditinjau tidak hanya melihat dari sudut
hukum positif saja akan tetapi juga melihat kondisi yang mempengaruhi hukum
tersebut. Data yang diperlukan adalah data primer yaitu data yang diperoleh
langsung dari hasil penelitian dan data sekunder yaitu data yang diperoleh melalui
bahan kepustakaan.
Hasil penelitian mengenai koordinasi antar instansi dalam perolehan ijin
lokasi untuk perolehan hak atas tanah bagi pembangunan perumahan Mega
Residence di Kota Semarang menunjukkan bahwa koordinasi antar instansi dalam
pemberian ijin lokasi dilakukan oleh Walikota dan cara perolehan tanah dari pihak
PT. Nusa Prima Intiniaga dilakukan dengan cara jual beli langsung kepada
pemilik tanah dihadapan PPAT.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa koordinasi yang dilakukan
antar instansi dalam perolehan ijin lokasi untuk pembangunan perumahan Mega
Residence telah dilakukan sesuai prosedur, sehingga dapat diketahui bahwa
koordinasi oleh instansi dilakukan secara horizontal artinya bahwa hal-hal yang
berkaitan dengan ijin lokasi menjadi kewenangan tim koordinasi yang dibentuk
oleh Walikota sedangkan hal-hal yang berhubungan dengan perolehan hak atas
tanah menjadi kewenangan Kantor Pertanahan.
Kata Kunci
: Koordinasi, Ijin Lokasi, Perolehan Hak atas Tanah
x
ABSTRACT
Coordination Between Institution Within Permission Acquisition Of The Location
For Land Right Acquisition To Housing Development Of Mega Residence In
Semarang City
Ground acquisition for certain need especially to housing development
importance will related with some institution, because will pass a several stages
which must be passed from the principal, location, found building permissions,
and the others. Each stage mentioned is demanded the existing of good
coordination among institution whose have authority. The coordination
implementation can be take place neither vertically nor horizontally. In get
permission of the location is needed the existence of coordination between city
governance with land affairs office. After getting the company location
permission which need the new land can get the land. The ground acquisition can
pass release of right and can also directly with landowner by sales.
The purpose of this research is to recognize coordination between
institutions in the location permission acquisition for land right acquisition for
housing development of Mega Residence in Semarang, to recognize the factor
which supporting and impeding coordination between institutions in location
permission acquisition for land right acquisition for housing development of Mega
Residence in Semarang, and to recognize the process of land right acquisition for
housing development of Mega Residence.
xi
Approach method which used in this research is Juridical Empirical; the
meaning is within the evaluated research do not only seeing just from the aspect
of positive law but also seeing the condition which influencing the law. The
needed data is primary data that is the obtained data directly of the research result
and secondary data that is data which obtained through a literature study.
The research result of coordination between institutions in location
permission acquisition for land right acquisition for housing development of Mega
Residence in Semarang city have shown that coordination between institutions in
giving permission of location is done by Mayor and ground acquisition from PT.
Nusa Prima Intiniaga party is done by direct sales to landowner in the front of
PPAT.
The conclusion of the research that the coordination is done between
institution in permission acquisition of the location for housing development of
Mega Residence have been done as the procedure, so that can be recognized that
the coordination by institution is done horizontally says that the things that related
with permission of the location become authority of coordination tim which
formed by the Major while the things which related with land right acquisition
become Land Affairs Office Authority.
Keywords: Coordination, Permission of the Location, Land Right Acquisition.
xii
DAFTAR ISI
xiii
Halaman
HALAMAN JUDUL ……………………………………………………
i
HALAMAN PENGESAHAN …………………………………………
ii
PERNYATAAN…………………………………………………………
iii
MOTTO DAN PERSEMBAHAN ………………………………………
iv
KATA PENGANTAR …………………………………………………
v
ABSTRAK ………………………………………………………………
ix
ABSTRACT……………………………………………………………..
x
DAFTAR ISI ……………………………………………………………
xi
DAFTAR TABEL……………………………………………………….
xiv
DAFTAR GAMBAR……………………………………………………
xv
DAFTAR LAMPIRAN............................................................................
xvi
BAB I
BAB II
: PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ……… …………………………..
1
B. Perumusan Masalah ………………………………
8
C. Tujuan Penelitian …………………………………
9
D. Manfaat Penelitian………………………………..
9
E. Sistematika Penulisan Tesis………………………
10
: TINJAUAN PUSTAKA
A. Koordinasi………………………………………..
12
1. Pengertian Koordinasi…………………………
12
xiv
2. Sinkronisasi Koordinasi……………………….
13
B. Perencanaan………………………………………
17
C. Pembangunan……………………………………..
17
D. Pengadaan Tanah untuk Pembangunan…………..
20
1. Pengertian Pengadaan Tanah………………….
20
2. Dasar Hukum Pengaturan tentang Pengadaan
BAB III
Tanah…………………………………………..
23
3. Macam-macam Pengadaan Tanah.....................
24
E. Cara Memperoleh Tanah........................................
27
1. Tata Cara Memperoleh Tanah Negara...............
28
2. Tata Cara Memperoleh Tanah Hak....................
29
F. Tata Cara Perolehan Tanah Oleh Pihak Swasta….
31
1. Ijin Lokasi..........................................................
31
2. Dasar Hukum Ijin Lokasi...................................
33
3. Tata Cara Pemberian Ijin Lokasi.......................
33
4. Tata Cara Perolehan Tanah……………………
35
: METODE PENELITIAN
A. Metode Pendekatan………………………………..
39
B. Spesifikasi Penelitian………………………………
39
C. Populasi dan Sampel………………………………
40
D. Metode Pengumpulan Data ………………………
42
E. Metode Analisis Data ……………………………..
45
xv
BAB IV
: HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Koordinasi antar Instansi dalam Perolehan Ijin
Lokasi untuk Perolehan Hak Atas Tanah bagi
Pembangunan
Perumahan
Mega
Residence
di Kota Semarang………………………………….
47
1. Gambaran Umum Kota Semarang………..
47
2. Tata Ruang Wilayah Kota Semarang…….
49
3. Koordinasi antar Instansi dalam Perolehan
Ijin Lokasi untuk Perolehan Hak Atas
Tanah bagi Pembangunan Perumahan Mega
Residence di Kota Semarang……………..
B. Faktor
yang
Mendukung
dan
57
Menghambat
Koordinasi antar Instansi dalam Perolehan Ijin
Lokasi untuk Perolehan Hak Atas Tanah bagi
Pembangunan Perumahan Mega Residence di Kota
Semarang ………………………………………….
78
C. Perolehan Hak Atas Tanah bagi Pembangunan
Perumahan Mega Residence di Kota Semarang…..
BAB IV
:
82
PENUTUP
A. Kesimpulan ……………………………………….
89
B. Saran………………………………………………
91
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
xvi
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 4.1
Luas Wilayah Kota Semarang per Kecamatan……………
47
Tabel 4.2
Tim Koordinasi Pemberian Ijin Lokasi………………….
59
Tabel 4.3
Daftar Sertipikat yang Telah Diturunkan Haknya………
85
xvii
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 4.1
Skema Perolehan Ijin Lokasi……………………………
xviii
71
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1
:
Surat Keterangan Penelitian tanggal 22 Mei 2006, Nomor
070/254, dari Pemerintah Kota Semarang Sekretariat Daerah.
Lampiran 2
:
Surat Keterangan Penelitian tanggal 3 Agustus 2006, Nomor
050.7-1546-I-2006, dari Kepala Kantor Pertanahan Kota
Semarang.
Lampiran 3
:
Surat Keterangan Penelitian tanggal 2 Agustus 2006, Nomor
001/MR/VIII/2006, dari PT. Nusa Prima Intiniaga Kota
Semarang.
Lampiran 4
:
Keputusan
Walikota
Semarang
Nomor 593.6/5
tentang
Pembentukan Tim Koordinasi Tata Cara Pemberian Ijin Lokasi
Dalam Rangka Penanaman Modal di Kota Semarang.
Lampiran 5
:
Keputusan Walikota Semarang
Nomor 593.6/116 tentang
Pemberian Ijin Lokasi kepada Perseroan Terbatas (PT) Nusa
Prima Intiniaga untuk Keperluan Pembangunan Perumahan
seluas ± 9 HA (Kurang Lebih Sembilan Hektar) terletak di
Kelurahan
Pudakpayung
Kecamatan
Banyumanik
Kota
Semarang.
Lampiran 6
: Site Plan Perumahan Mega Residence (PT. Nusa Prima
Intiniaga).
xix
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Garis-Garis Besar Haluan Negara menetapkan bahwa pembangunan
perumahan dan permukiman merupakan upaya untuk memenuhi salah satu
kebutuhan dasar manusia, sekaligus untuk meningkatkan mutu lingkungan
kehidupan, memberi arah pada pertumbuhan wilayah, memperluas lapangan
kerja serta menggerakkan kegiatan ekonomi dalam rangka peningkatan dan
pemerataan kesejahteraan rakyat. Sehubungan dengan itu upaya pembangunan
perumahan
dan
permukiman
terus
ditingkatkan
untuk
menyediakan
perumahan dengan jumlah yang makin meningkat, dengan harga yang
terjangkau
oleh
masyarakat.
Dalam
pembangunan
perumahan
dan
permukiman, termasuk pembangunan kota-kota baru, perlu diperhatikan
kondisi dan pengembangan nilai-nilai sosial budaya masyarakat, laju
pertumbuhan penduduk dan penyebarannya, pusat-pusat produksi dan tata
guna tanah dalam rangka membina kehidupan masyarakat yang maju.
Pembangunan perumahan dan permukiman harus pula dapat mendorong
perilaku hidup sehat dan tertib serta ikut mendorong kegiatan pembangunan
disektor lain.
Pembangunan perumahan pada saat ini sangat menonjol, terutama di
kota-kota besar, khususnya di kota Semarang. Pembangunan perumahan selalu
menarik perhatian pihak pemerintah untuk turut serta menanganinya. Hal ini
xx
dikarenakan keterbatasan masyarakat untuk memiliki rumah yang semestinya
menjadi tempat tinggal mereka, sehingga saat ini banyak sekali dijumpai
orang-orang yang tinggal dipermukiman kumuh atau bahkan tinggal di kolong
jembatan.
Dilihat tanah sebagai faktor produksi, jumlah tanah yang tersedia tetap,
sedangkan kebutuhan akan lahan tanah untuk berbagai macam kepentingan
terus bertambah, sehingga mengakibatkan harga tanah semakin meningkat
diberbagai tempat yang potensial untuk kegiatan industri. Harga tanah yang
semakin mahal beserta praktek-praktek spekulasi tanah yang terjadi dapat
mengakibatkan terjadinya suatu kendala dalam proses pembangunan
industrialisasi.
Dengan adanya kenyataan seperti itu, diperlukan adanya penanganan
secara proporsional terhadap kebijaksanaan pemerintah dalam penyediaan
tanah guna keperluan pembangunan, termasuk penyediaan tanah guna
pembangunan perumahan dan permukiman. Hal ini mengingat tanah
merupakan faktor yang sangat dominan dalam kehidupan manusia, karena
dalam segala aspek kehidupan manusia tidak dapat melepaskan diri dari
hubungannya dengan tanah. Penguasaan tanah tidak hanya berarti ekonomi
dalam arti sebagian sumber kehidupan, akan tetapi berkaitan juga dengan
aspek sosial, politik, budaya, dan bahkan cenderung mempunyai arti magis.
Tanah secara geologis agronomis, merupakan lapisan lepas permukaan
bumi yang paling atas. Tanah dapat dimanfaatkan untuk menanam tumbuhtumbuhan yang disebut tanah garapan, tanah pekarangan, tanah perkebunan,
xxi
dan tanah pertanian, sedangkan tanah yang dipergunakan untuk mendirikan
bangunan dinamakan tanah bangunan. Selaku fenomena yuridis dalam hukum
positif, tanah dapat dikualifikasikan sebagai permukaan bumi, sedangkan
dalam pengertian bumi itu termasuk pula tanah dan tubuh bumi.
Penjelasan tubuh bumi dibawahnya serta apa yang berada dibawah air
terdapat dalam Undang-Undang Pokok Agraria Pasal 14 (1) jo Pasal 1 butir
(4), yaitu : dalam pengertian bumi, selain permukaan bumi, termasuk pula
tubuh bumi dibawahnya serta yang berada dibawah air, sehingga dengan
adanya hal tersebut pemerintah dalam rangka sosialisme Indonesia membuat
suatu rencana umum mengenai persediaan, peruntukan, dan penggunaan bumi,
air dan ruang angkasa serta kekayaan alam yang terkandung didalamnya,
untuk keperluan :
a. Negara;
b. Peribadatan dan keperluan suci lainnya, sesuai dengan dasar ketuhanan
Yang Maha Esa;
c. Pusat-pusat kehidupan masyarakat, sosial, kebudayaan dan kesejahteraan;
d. Memperkembangkan produksi pertanian, peternakan dan perikanan serta
sejalan dengan itu;
e. Memperkembangkan industri, transmigrasi dan pertambangan.
Sedangkan pembatasan mengenai pengertian tanah dengan permukaan
bumi dapat jumpai di dalam penjelasan pasal demi pasal. Penjelasan Umum
Bagian II/(1) menegaskan bahwa hanya permukaan bumi saja yang disebut
tanah, yang kemudian dapat dihaki oleh seseorang.
xxii
Hanya saja problem agraria pada saat ini telah menimbulkan masalah
yang lebih serius bagi kaum pemilik tanah terutama petani, yang secara politik
kedudukannya sangat lemah. Sebagian besar proyek-proyek pembangunan
dimotori dan disokong oleh pemerintah, sehingga mengakibatkan adanya
perubahan terhadap sikap netralisasi pemerintah pusat atau pun daerah dalam
menghadapi persoalan pertanahan. Menyadari akan pentingnya fungsi tanah
maka dalam pengelolaan pertanahan pada tahap pembangunan saat ini harus
diarahkan kepada sasaran dan usaha-usaha yang sifatnya menunjang kegiatan
pembangunan antara lain dalam penyediaan tanah untuk keperluan perumahan
dan permukiman, walaupun hasilnya masih sangat terbatas dan belum dapat
mengimbangi kebutuhan masyarakat akan perumahan.
Peran Pemerintah sebagai pemegang policy pertanahan nasional
diharapkan adanya peningkatan peranannya secara aktif dalam pengaturan dan
penguasaan tanah, agar dapat dicapai apa yang menjadi tujuan kebijakan
pertanahan nasional sebagai yang diamanatkan dalam Pasal 33 ayat (3) UUD
1945 yaitu : Bahwa tanah harus dikuasai dan digunakan untuk mencapai
“sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”. Kemakmuran rakyat yang dimaksud
adalah kemakmuran yang benar-benar adil dan merata.1
Hakekat pembangunan adalah pembangunan manusia seutuhnya dan
pembangunan seluruh masyarakat Indonesia. Berarti bahwa pembangunan
mencakup, Pertama, kemajuan lahiriah seperti pangan, sandang, perumahan,
dan lain-lain, Kedua, kemajuan batiniah seperti pendidikan, rasa aman, rasa
xxiii
keadilan, rasa sehat, Ketiga, kemajuan yang meliputi seluruh rakyat
sebagaimana tercantum dalam perbaikan hidup yang berkeadilan sosial.
Dengan begitu dapat diketahui bahwa ruang lingkup pembangunan sangatlah
luas, sehingga dalam tahap pencapaiannya dilakukan secara bertahap dan
berkesinambungan.
Berdasarkan Pasal 5 ayat (1) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor
5 Tahun 1974, menyatakan :2
“Perusahaan Pembangunan Perumahan adalah suatu perusahaan
yang berusaha dalam bidang pembangunan perumahan dari berbagai jenis
dalam jumlah yang besar, diatas suatu areal tanah yang merupakan satu
kesatuan lingkungan permukiman, yang dilengkapi dengan prasaranaprasarana lingkungan dan fasilitas-fasilitas sosial yang diperlukan oleh
masyarakat yang menghuninya.”
Sehubungan penguasaan dan penggunaan tanah oleh siapapun dan
untuk keperluan apapun harus ada landasan haknya. Hal ini didasarkan atas
adanya hubungan hak-hak atas tanah yang primer, jenis-jenisnya berupa hak
milik, hak guna usaha, hak guna bangunan, hak pakai dan hak pengelolaan.
Ada pula hak-hak atas tanah yang diberikan oleh pemilik tanah, yang disebut
hak-hak atas tanah sekunder, yaitu : hak guna bangunan diberikan oleh
pemilik tanah, hak pakai, hak sewa, hak gadai, hak usaha bagi hasil dan hak
menumpang. Di daerah perkotaan khususnya untuk pembangunan perumahan
status hak atas tanahnya adalah hak guna bangunan, hak pakai dan hak
1
Ana Silviana, Kebijakan Pertanahan Kaitannya dengan Pembangunan bagi sebesar-besarnya
Kemakmuran Rakyat, Masalah-Masalah Hukum, Majalah Fakultas Hukum UNDIP, Nomor.4
Tahun 1997, halaman 18.
2
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor.5 Tahun 1974 tentang Ketentuan-Ketentuan mengenai
Penyediaan dan Pemberian Tanah untuk Keperluan Perusahaan, Pasal 5 ayat (1).
xxiv
pengelolaan, sedangkan bagi Warga Negara Indonesia dapat membangun
rumah tinggalnya diatas tanah hak milik.3
Indonesia sebagai negara hukum bertujuan untuk mewujudkan
kesejahteraan umum, membuat suatu masyarakat adil dan makmur yang
berdasarkan Pancasila (Negara Hukum dan Negara Kesejahteraan). Menurut
Freiderich Julius negara hukum mempunyai ciri-ciri sebagai berikut : 4
1. Adanya perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia.
2. Pemisahan dan pembagian kekuasaan untuk menjamin hak asasi manusia
itu (Trias Politica).
3. Pemerintah yang berdasarkan peraturan-peraturan.
Penyediaan tanah guna keperluan pembangunan perumahan dewasa ini
harus ditempuh melalui beberapa prosedur. Kenyataan ini disebabkan makin
terbatasnya persediaan tanah, serta harus diperhatikan juga persyaratan hak
atas tanah dimana lokasi perumahan akan di bangun. Karena kebutuhan akan
tanah semakin hari semakin meningkat, sedangkan keadaan tanah itu sendiri
bersifat tetap.
Dapat di ketahui bahwa tanah merupakan komponen yang paling
utama bagi kehidupan manusia, yang dalam konteksnya tanah bersifat
multidimensional, yaitu dimensi fisik, kimia, biologi, sosial, ekonomi, politik,
dan magis religius, yang masing-masing berpotensi memberikan kesejahteraan
bagi kehidupan umat manusia. Tanah sebagai sumber daya alam memiliki
nilai ekonomis, sehingga kebijaksanaan pembangunan pertanahan haruslah
3
Sitorus. Pelepasan atau Penyerahan Hak sebagai cara Pengadaan Tanah, (Jakarta : Dasamedia
xxv
merupakan bagian yang tidak dapat terpisahkan (integral) dari kebijaksanaan
pembangunan nasional. Pada saat ini permintaan akan tanah semakin besar,
hal ini disebabkan oleh meningkatnya pembangunan, sedangkan jumlah
penduduk tidak merata. Hal inilah yang menyebabkan semakin kompleksnya
permasalahan
tanah.
Akhirnya
untuk
dapat
dimanfaatkan
potensi
maksimalnya, tanah haruslah dikelola sangat hati-hati, lebih terencana,
terkoordinasi, serta terpadu.
Pengertian perumahan dalam Pasal 1 ayat (2) Undang-Undang Nomor
4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman, didefinisikan sebagai
“Kelompok rumah yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau
lingkungan hunian yang dilengkapi dengan sarana dan prasarana lingkungan”.
Sedangkan permukiman pada Pasal 1 ayat (3), dimaksudkan sebagai “Bagian
dari lingkungan hidup diluar kawasan lindung, baik yang berupa kawasan
perkotaan maupun pedesaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal
atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan
dan kehidupan”.
Seiring dengan perkembangan pembangunan dan pesatnya pertumbuhan
penduduk, sehingga meningkat pula kebutuhan akan tanah untuk keperluan
pembangunan, sedangkan tanah yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan itu
sudah sangat terbatas. Pelaksanaan pembangunan perumahan dilakukan juga
oleh pihak swasta yang bertindak sebagai pengembang atau developer. Dalam
perolehan tanahnya akan terkait beberapa instansi, karena melalui beberapa
Utama,1995), halaman 15.
xxvi
tahapan dari ijin prinsip, ijin lokasi, ijin mendirikan bangunan, dan lain-lain.
Sehingga dituntut adanya koordinasi yang baik antar instansi yang berwenang
untuk hal tersebut.
Semarang sebagai kota yang terus giat melaksanakan pembangunan
dituntut pula untuk menyediakan tempat hunian yang layak bagi
penduduknya. Di Kota Semarang banyak sekali pengembang yang
menyelenggarakan pembangunan di bidang perumahan, salah satunya adalah
PT. Nusa Prima Intiniaga sebagai developer Perumahan Mega Residence.
Bagaimana jalannya koordinasi dalam memperoleh tanah oleh PT. Nusa Prima
Intiniaga dan bagaimana jalannya koordinasi antar instansi yang terkait yaitu
Pemerintah Kota dan Kantor Pertanahan dalam pemberian ijin lokasi. Untuk
mengetahui lebih dalam jalannya koordinasi tersebut, maka penulis tertarik
untuk meneliti lebih lanjut dalam suatu tesis yang berjudul : “KOORDINASI
ANTAR INSTANSI DALAM PEROLEHAN IJIN LOKASI UNTUK
PEROLEHAN
HAK
ATAS
TANAH
BAGI
PEMBANGUNAN
PERUMAHAN MEGA RESIDENCE DI KOTA SEMARANG”
B. Perumusan Masalah
Sebagaimana yang telah diuraikan diatas, dapatlah dirumuskan
masalah penelitian ini sebagai berikut :
4
Tap MPR No.II/MPR/1998, halaman 55.
xxvii
1. Bagaimana koordinasi antar instansi dalam perolehan ijin lokasi untuk
perolehan hak atas tanah bagi pembangunan perumahan Mega Residence
di Kota Semarang ?
2. Faktor apa yang mendukung dan menghambat koordinasi antar instansi
dalam perolehan ijin lokasi untuk perolehan hak atas tanah bagi
pembangunan perumahan Mega Residence di Kota Semarang ?
3. Bagaimana perolehan hak atas tanah bagi pembangunan perumahan Mega
Residence di Kota Semarang ?
C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui koordinasi antar instansi dalam perolehan ijin lokasi
untuk perolehan hak atas tanah bagi pembangunan perumahan Mega
Residence di Kota Semarang.
2. Untuk mengetahui faktor yang mendukung dan menghambat koordinasi
antar instansi dalam perolehan ijin lokasi untuk perolehan hak atas tanah
bagi pembangunan perumahan Mega Residence di Kota Semarang.
3. Untuk mengetahui perolehan hak atas tanah bagi pembangunan perumahan
Mega Residence di Kota Semarang.
D. Manfaat Penelitian
Kegunaan penelitian ini antara lain :
1. Kegunaan Akademis
xxviii
Diharapkan hasil penelitian ini mempunyai kegunaan bagi perkembangan
ilmu hukum khususnya hukum agraria, berkaitan dengan koordinasi antar
instansi dalam perolehan ijin lokasi yang sesuai dengan Peraturan Menteri
Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 2 Tahun 1999.
2. Kegunaan Praktis
a. Menambah wawasan penulis dalam masalah koordinasi antar instansi
dalam perolehan ijin lokasi untuk perolehan hak atas tanah bagi
pembangunan perumahan Mega Residence di Kota Semarang.
b. Sebagai bahan masukan yang dapat memberikan sumbangan
pemikiran bagi para pihak yang terkait dengan masalah tesis ini.
c. Dapat digunakan sebagai bahan penelitian-penelitian berikutnya.
E. Sistematika Penulisan Tesis
Adapun untuk kejelasan dan gambaran tentang tesis ini, penulis
memandang perlu untuk mengemukakan sistematika, adalah :
Bab I berisi tentang pendahuluan, yang meliputi : latar belakang
penulisan, perumusan masalah, tujuan penulisan, kegunaan penulisan dan
sistematika penulisan tesis.
Bab II berisi tentang Tinjauan Pustaka, yang meliputi : pengertian
koordinasi,
perencanaan,
pembangunan,
xxix
pengadaan
tanah
untuk
pembangunan, cara memperoleh tanah, dan tata cara memperoleh tanah oleh
pihak swasta.
Bab III berisi tentang metode penelitian, yang meliputi : metode
pendekatan, spesifikasi penelitian, populasi dan sampel, metode pengumpulan
data, dan analisis data.
Bab IV berisi tentang hasil penelitian dan pembahasan, yang meliputi :
uraian-uraian tentang hasil penelitian yang dilakukan sehubungan dengan
permasalahan yang dirumuskan pada Bab I atau sebagai jawaban atas
permasalahan yang ada, yaitu tentang koordinasi antar instansi dalam
perolehan ijin lokasi untuk perolehan hak atas tanah bagi pembangunan
perumahan Mega Residence di Kota Semarang, faktor yang mendukung dan
menghambat koordinasi antar instansi dalam perolehan ijin lokasi untuk
perolehan hak atas tanah bagi pembangunan perumahan Mega Residence di
Kota Semarang, perolehan hak atas tanah bagi pembangunan perumahan
Mega Residence di Kota Semarang.
Bab V berisi tentang penutup, yang meliputi : kesimpulan secara
menyeluruh berdasarkan permasalahan dan pembahasannya. Selain itu bab ini
berisi pula saran-saran untuk melengkapi jawaban permasalahan yang ada
sehingga dapat menghasilkan tulisan yang dapat berguna bagi siapa saja yang
ingin memperoleh pengetahuan mengenai koordinasi antar instansi dalam
perolehan ijin lokasi untuk perolehan hak atas tanah bagi pembangunan
perumahan Mega Residence di Kota Semarang.
xxx
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Koordinasi
1. Pengertian Koordinasi
Suatu kegiatan bersama yang melibatkan beberapa bagian,
komponen, kelompok atau organisasi diperlukan koordinasi guna untuk
menyempurnakan usaha bersama untuk mencapai suatu tujuan yang
efektif. Koordinasi adalah perihal mengatur suatu organisasi dan cabangcabangnya sehingga peraturan-peraturan dan tindakan-tindakan yang akan
dilaksanakan
tidak
saling bertentangan atau simpang siur.5 Dengan
adanya koordinasi memungkinkan suatu kesatuan usaha bersama dari
beberapa bagian, komponen, kelompok, atau organisasi tersebut, yang
dalam bermacam-macam sikap, tugas dan wewenang masing-masing,
sehingga terciptanya suatu keserasian, keselarasan, dan kesatuan tindakan
untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan bersama.
5
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta : Balai
Pustaka, 1991), halaman 524.
xxxi
Manfaat dari koordinasi, menurut Sutarto dalam bukunya DasarDasar Organisasi 1993, ialah sebagai berikut :6
a. Dengan koordinasi dapat dihindarkan perasaan lepas satu sama lain
antara satua-satuan organisasi atau antara para pejabat yang ada dalam
organisasi;
b. Dengan koordinasi dapat dihindarkan perasaan atau suatu pendapat
bahwa satuan organisasinya atau jabatannya merupakan yang paling
penting;
c. Dengan koordinasi dapat dihindarkan kemungkinan timbulnya
pertentangan antar satuan organisasi atau antar pejabat;
d. Dengan koordinasi dapat dihindarkan timbulnya rebutan fasilitas;
e. Dengan koordinasi dapat dihindarkan terjadinya peristiwa waktu
menunggu yang memakan waktu lama;
f. Dengan
koordinasi
dapat
dihindarkan
kemungkinan
terjadi
kekembaran pengerjaan terhadap suatu aktivitas oleh satuan-satuan
organisasi atau kekembaran pengerjaan terhadap tugas oleh para
pejabat;
g. Dengan koordinasi dapat dihindarkan kemungkinan terjadinya
kekosongan pengerjaan terhadap suatu aktivitas oleh satuan-satuan
organisasi atau kekosongan pengerjaan terhadap tugas oleh para
pejabat;
6
Sotarto, Dasar-Dasar Organisasi, cet 16, (Yogyakarta : Gadjah Mada University Press, 1993),
halaman 74.
xxxii
h. Dengan koordinasi dapat ditumbuhkan kesadaran di antara pejabat
untuk saling bantu satu sama lain terutama di antara pejabat yang ada
dalam satuan organisasi yang sama;
i. Dengan koordinasi dapat ditumbuhkan kesadaran di antara para
pejabat untuk saling memberitahu masalah yang dihadapi bersama
sehingga dapat dihindarkan kemungkinan terjadinya kebaikan bagi
dirinya, keselamatan bagi dirinya atas kerugian atau kejatuhan antara
sesama pejabat lainnya;
j. Dengan koordinasi dapat dijamin kesatuan sikap antar pejabat;
k. Dengan koordinasi dapat dijamin adanya kesatuan kebijaksanaan antar
pejabat;
l. Dengan koordinasi dapat dijamin adanya kesatuan langkah antar para
pejabat;
m. Dengan koordinasi dapat dijamin adanya kesatuan tindakan antar
pejabat.
Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa koordinasi adalah suatu
penyesuaian diri dari bagian-bagian dalam memberikan sumbangan untuk
menyelesaikan suatu masalah agar didapatkan hasil yang maksimum
secara keseluruhan.
2. Sinkronisasi Koordinasi
Hubungan koordinasi diantara pihak-pihak didalam melaksanakan
kerjasama untuk mencapai suatu tujuan dapat dibedakan antara :
1) Hubungan vertikal (pengawas, kontrol, dsb)
xxxiii
Hubungan
hubungan
secara
pengawasan
vertikal
yang
dapat
diumpamakan
dilaksanakan
oleh
sebagai
badan-badan
pemerintah yang lebih tinggi tingkatannya terhadap badan-badan yang
lebih rendah tingkatannya. Tugas-tugas pemerintah dapat berjalan
dengan baik apabila ada pengawasan dari tingkat yang lebih tinggi
kepada tingkat yang lebih rendah. Untuk pengawasan dapat
dikemukakan alasan-alasan berikut :7
a) Koordinasi
:
mencegah
atau
mencari
penyelesaian
konflik/perselisihan kepentingan,
b) Pengawasan kebijaksanaan : disesuaikannya kebijaksanaan dari
aparat pemerintah yang lebih rendah terhadap yang lebih tinggi,
c) Pengawasan kualitas : kontrol atas kebolehan dan kualitas teknis
pengambilan keputusan dan tindakan-tindakan aparat pemerintah
yang lebih rendah,
d) Alasan-alasan keuangan : peningkatan kebijaksanaan yang tepat
dan seimbang dari aparat pemerintah yang lebih rendah,
e) Perlindungan hak dan kepentingan warga : dalam situasi tetentu
mungkin diperlukan suatu perlindungan khusus untuk kepentingan
seorang warga.
2) Hubungan horizontal (perjanjian kerjasama diantara para pejabat yang
berada pada tingkat yang sama)
7
Philipus M.Hadjan, Pengantar Hukum Administrasi Indonesia, (Yogyakarta : Gadjah Mada
University Press, 1994), halaman 74
xxxiv
Hubungan secara horizontal dapat diumpamakan sebagai
kerjasama antara kotapraja dengan kotapraja, propinsi dengan propinsi,
atau propinsi dengan kotapraja. Banyak tugas-tugas Pemerintah hanya
dapat dilaksanakan secara memuaskan melalui jalan kerjasama. Bagi
suatu kerjasama diantara para instansi pemerintah diperoleh berbagai
macam jalan. Jalan yang pertama adalah dengan menandatangani
perjanjian yang sifatnya hukum perdata. Disamping itu dibeberapa
Negara dapat ditemukan adanya kemungkinan kerjasama yang sifatnya
hukum publik diantara para pejabat instansi atas dasar suatu undangundang yang dibuat untuk hal tersebut. Dengan demikian, di Negeri
Belanda dikenal aturan-aturan yang berlaku untuk (masyarakat) umum.
Aturan-aturan tersebut terdiri dari tiga macam kerjasama :8
a) Fungsi yang dipusatkan
Dalam rangka kerjasama, beberapa wewenang dari kotaprajakotapraja yang ikut ambil bagian, diserahkan/dikuasakan pada
salah satu dari yang mengambil bagian, yaitu suatu kotapraja yang
merupakan suatu sentrum (pemusatan) yang besar.
b) Badan/lembaga untuk bersama
Suatu bentuk kerjasama yang yang lebih berat ialah mengenai
pembentukan suatu badan bersama tanpa memiliki sifat dari badan
hukum. Lembaga ini jadinya hanya memiliki wewenang untuk
melaksanakan wewenang yang sifatnya hukum publik.
8
Ibid, halaman 78.
xxxv
c) Badan hukum untuk bersama
Bentuk yang paling maju dalam bidang kerjasama ialah suatu
badan hukum menurut undang-undang hukum perdata dengan
adanya lembaga-lembaga yang bersifat hukum publik seperti :
pengurus umum, pengurus harian dan seorang ketua.
Koordinasi yang dimaksud oleh penulis tesis ini adalah koordinasi
yang sifatnya horizontal, yaitu sebagai bentuk kerjasama antar instansi
dalam rangka pemberian keputusan untuk memperoleh suatu hak atas
tanah melalui tahapan-tahapan tertentu sehingga berjalan sesuai dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
B. Perencanaan
Pada umumnya suatu kegiatan pembangunan baru dapat dilaksanakan
apabila perencanaan pembangunannya telah mengenai sasaran yang akan
dituju. Menurut Sondang P.Siagian perencanaan adalah keseluruhan proses
pemikiran dan penentuan secara matang dari hal-hal yang dikerjakan di masa
yang akan datang dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditentukan.9
Memperhatikan pendapat di atas maka dapat diketahui bahwa
perencanaan merupakan pemikiran-pemikiran ke muka yang secara matang
diwujudkan sebagai persiapan untuk melakukan tindakan-tindakan pada masa
yang akan datang. Suatu rencana saja belum banyak berarti sebelum rencana
9
Sondang P.Siagian, Administrasi Pembangunan, (Jakarta : Bumi Aksara, 1983), halaman 4.
xxxvi
tersebut dilaksanakan, meskipun dengan berhasilnya disusun suatu rencana
sudah merupakan bagian penting dari suatu manajemen secara keseluruhan.
Setiap pembangunan memiliki arah dan sasaran yang memerlukan
tindakan perencanaan yang merupakan proses berkelanjutan untuk menata
pertumbuhan, dalam hal ini adalah pertumbuhan Kota Semarang. Penetapan
Rencana Kota Semarang merupakan alat pedoman untuk mengarahkan,
mengontrol, mengendalikan pertumbuhan fisik kota secara terus-menerus dan
merupakan perpaduan dari rencana-rencana pembangunan kota yang
berlingkup Regional dan Nasional dan juga merupakan alat pedoman bagi
penyusunan Tata Guna Tanah. Dalam tata guna tanah terdapat tiga (3) konsep
:
1. Persediaan, yaitu kegiatan yang paling awal tentang bagaimana mengatur
persediaan tanah untuk semua kegiatan dengan memperhatikan kondisi
pemanfaatan lahan yang sudah ada;
2. Peruntukan, yaitu proses penentuan kegiatan di suatu wilayah tertentu;
3. Penggunaan, yaitu sudah merupakan suatu realisasi dimana tanah tersebut
sudah mulai ditempati, diatur dan ditata.
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata guna tanah diatur dalam
Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2004 tentang Penatagunaan Tanah
yang pada Pasal 1 Angka 1 menyebutkan : “Penatagunaan tanah adalah sama
dengan pengelolaan tata guna tanah yang meliputi penguasaan, penggunaan
dan pemanfaatan tanah melalui pengaturan kelembagaan yang terkait dengan
xxxvii
pemanfataan tanah sebagai satu kesatuan system untuk kepentingan
masyarakat secara adil”.
C. Pembangunan
Pembangunan dapat diartikan sebagai suatu proses tindakan untuk
mengubah kondisi kehidupan dan penghidupan penduduk, sehingga dapat
memenuhi segala macam bentuk kebutuhannya secara baik dan layak, bahkan
mampu memenuhi peningkatan kebutuhan perkembangan penduduknya serta
sesuai dengan perkembangan ilmu, teknologi dan teknik yang semakin maju.
Saul M.Katz (1971) membuat definisi pembangunan sebagai
perubahan sosial yang besar dari suatu keadaan nasional tertentu ke keadaan
nasional yang lain yang dipandang lebih bernilai. Disini kata “lebih bernilai”
bersifat spesifik dari waktu ke waktu, dari budaya yang satu ke budaya yang
lain atau dari Negara yang satu ke Negara yang lain. Sifat multi interpretasi
konsep pembangunan tersebut, sesungguhnya dapat dibenarkan karena
ternyata bahwa konsep tersebut adalah suatu gejala transcendental dan
multidisipliner, suatu idiologi yang berakar dalam sejarah suatu Negara dan
tertanam dalam suatu konfigurasi sosial budaya.10
10
Warsito, Manajemen Otonomi Daerah Membangun Daerah Berdasarkan Paradigma Baru,
(Semarang : Glogapps Diponegoro University, 2001), halaman 47.
xxxviii
Menurut Sondang P. Siagian pembangunan adalah suatu usaha atau
rangkaian usaha pertumbuhan dan perubahan yang berencana yang dilakukan
secara sadar oleh suatu bangsa, Negara dan pemerintah menuju modernitas
dalam rangka pembinaan bangsa (national building).11
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pembangunan adalah
suatu tindakan dari pemerintah dan/atau swasta untuk memenuhi kebutuhan
masyarakat akan kehidupan yang layak terutama dalam hal ini adalah dibidang
perumahan.
D. Pengadaan Tanah untuk Pembangunan
1. Pengertian Pengadaan Tanah
Berbicara tentang pembangunan selalu bertitik tolak pada tanah,
sehingga dapat dikatakan bahwa tanah adalah suatu benda yang bernilai
ekonomis dan dalam penggunaannya untuk pembangunan sering terjadi
hambatan.
Pengadaan tanah untuk pembangunan dapat dibedakan antara
sifatnya yang aktif dan pasif. Bersifat aktif karena dilakukan kegiatan
untuk mengadakan tanah, sedangkan bersifat pasif karena walaupun
banyak yang membutuhkan tanah tetapi belum diwujudkan dalam suatu
tindakan atau kegiatan. Keperluan akan tanah ada dalam rangka
pembangunan fisik yang dilakukan oleh pihak pemerintah maupun pihak
swasta.
11
Sondang P. Siagian Op.Cit. halaman 2.
xxxix
Tanah-tanah yang diperlukan dapat berstatus tanah Negara dan
tanah hak. Sedangkan status hukum dari pihak yang memerlukan tanah
akan menentukan cara yang akan ditempuh, oleh karena terkait dengan
ketentuan-ketentuan dan syarat-syarat sebagai subyek hak atas tanah.12
Sebagaimana tersebut di atas, maka pengertian pengadaan tanah
diatur dalam Pasal 1 butir 1 Keputusan Presiden Republik Indonesia
Nomor 55 Tahun 1993 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan
Pembangunan untuk Kepentingan Umum, dinyatakan bahwa : “Pengadaan
tanah adalah setiap kegiatan untuk mendapatkan tanah dengan cara
memberikan ganti kerugian kepada yang berhak atas tanah tersebut.” 13
Jika dalam menentukan besarnya ganti rugi tersebut tidak dicapai
kata sepakat antara pimpinan proyek dengan para pemegang hak atas
tanah, dengan demikian pemimpin proyek dapat mencari lokasi lain
sebagai penggantinya dengan memberitahukan hal tersebut kepada camat
atau walikota paling lambat dalam waktu 3 (tiga) hari sejak kata sepakat
tidak tercapai.14
Pengadaan tanah menurut Peraturan Presiden Republik Indonesia
Nomor 36 Tahun 2005 Pasal 1 Butir 3 tentang Pengadaan Tanah Bagi
Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum, dinyatakan bahwa :
“Pengadaan tanah adalah setiap kegiatan untuk mendapatkan
tanah dengan cara memberikan ganti rugi kepada yang melepaskan atau
menyerahkan tanah, bangunan, tanaman, dan benda-benda yang berkaitan
dengan tanah atau dengan pencabutan hak atas tanah.”
12
Ana Silviana, Op.Cit, halaman 21.
Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 55 Tahun 1993 tentang Pengadaan Tanah bagi
Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum, Pasal 1 butir 1.
14
I Wayan Suandra. Hukum Pertanahan Indonesia, (Jakarta : Rineka Cipta, 1991), halaman 28.
13
xl
Istilah pengadaan tanah di pergunakan oleh Keppres 55 Tahun 1993
dan Perpres 36 Tahun 2005, sedangkan kegiatan perolehan tanah untuk
pembangunan yang pakai oleh peraturan perundang-undangan sebelumnya
disebut dengan pembebasan tanah. Namun Perpres 36 Tahun 2005 dicabut
dengan Perpres 65 Tahun 2006 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan
Pembangunan untuk Kepentingan Umum yang berlaku efektif
pada
tanggal 5 Juni 2006.
Pengertian pembebasan tanah ditemukan dalam Pasal 1 ayat (1)
Permendagri Nomor 15 Tahun 1975, yang menyebutkan bahwa :
“Pembebasan tanah adalah melepaskan hubungan hukum yang semula
terdapat diantara pemegang hak/penguasa atas tanahnya dengan cara
memberikan ganti rugi”. Istilah yang dipakai sekarang untuk mendapatkan
tanah bagi pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum adalah
pengadaan tanah.
Pelepasan hak atas tanah menurut Pasal 1 Butir 6 Perpres 36 Tahun
2005 menentukan : “Pelepasan atau penyerahan hak atas tanah adalah
kegiatan melepaskan hubungan hukum antara pemegang hak atas tanah
dengan tanah yang dikuasainya dengan memberikan ganti rugi atas dasar
musyawarah”.
Kedua perbuatan hukum tersebut, yaitu pengadaan/pembebasan
tanah dengan pelepasan hak atas tanah pada prinsipnya mempunyai
pengertian yang sama. Letak perbedaannya ada pada pihak siapa yang
memerlukan/membutuhkan tanah.
xli
Pembebasan tanah dan pelepasan hak atas tanah dilakukan apabila
pihak yang membutuhkan tanah tidak memenuhi syarat sebagai pemegang
hak (subyek hak). Dalam pembebasan tanah biasanya dilakukan terhadap
areal tanah yang dibutuhkan sangat luas. Perbuatan hukum ini dilihat dari
pihak yang membutuhkan tanah. Sedangkan pelepasan hak atas tanah
dilakukan oleh pihak pemilik tanah yang melepaskan haknya kepada
Negara untuk kepentingan pihak lain secara sukarela. Dalam hal ini dilihat
dari pihak pemilik tanah.
Acara pelepasan hak atas tanah dapat digunakan bagi perolehan
tanah untuk pelaksanaan pembangunan baik bagi kepentingan umum
maupun kepentingan swasta.
2. Dasar Hukum Pengaturan tentang Pengadaan Tanah
Guna kelengkapan uraian di atas perlu diketahui beberapa
peraturan yang pernah digunakan dalam pengadaan tanah baik untuk
kepentingan umum maupun kepentingan swasta, yaitu :
1) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 15 Tahun 1975 tentang
Ketentuan Mengenai Tata Cara Pembebasan Tanah.
2) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 2 Tahun 1976 tentang
Penggunaan Acara Pembebasan Tanah untuk Kepentingan Pemerintah
Bagi Pembebasan Tanah oleh Pihak Swasta.
3) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 2 Tahun 1985 tentang Cara
Pengadaan Tanah untuk Keperluan Proyek Pembangunan di Wilayah
Kecamatan, yang kemudian bersamaan dengan Peraturan Menteri
xlii
Negara Nomor 2 Tahun 1985 dicabut dengan Keputusan Presiden
Nomor 55 Tahun 1993.
4) Keputusan Presiden Nomor 55 Tahun 1993 tentang Pengadaan Tanah
Bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum, yang
diatur lebih lanjut dalam peraturan pelaksanaan yaitu Peraturan
Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nomor 1 Tahun
1994 tentang Ketentuan Pelaksanaan Keputusan Presiden Nomor 55
Tahun 1993, yang sampai saat ini masih tetap berlaku efektif meskipun
telah dikeluarkan Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2005.
5) Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2005 tentang Pengadaan Tanah
bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum.
6) Peraturan Presiden Nomor 65 Tahun 2006 tentang Pengadaan Tanah
bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum.
7) Keputusan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan
Nasional Nomor 21 Tahun 1994 tentang Tata Cara Perolehan Tanah
bagi Perusahaan dalam Rangka Penanaman Modal.
3. Macam-macam Pengadaan Tanah
Pada umumnya pengadaan tanah terbagi menjadi dua macam, yaitu :
1) Pengadaan tanah bagi pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan
umum oleh pemerintah.
Meningkatnya pembangunan untuk kepentingan umum yang
memerlukan tanah, untuk pengadaannya perlu dilakukan secara cepat
dan transparan dengan tetap memperhatikan prinsip penghormatan
xliii
terhadap hak-hak yang sah atas tanah. Berdasarkan Pasal 1 butir 3
Keppres 55 Tahun 1993 kepentingan umum adalah kepentingan
seluruh lapisan masyarakat. Sedangkan pengertian kepentingan umum
menurut Perpres 36 Tahun 2005 adalah kepentingan sebagian besar
lapisan masyarakat.
Dengan demikian dapat ditentukan bahwa pelepasan atau
penyerahan hak atas tanah bagi pelaksanaan pembangunan untuk
kepentingan umum sangat menghendaki tanah yang bersangkutan
harus diambil oleh negara tetapi hak orang yang menjadi pemegang
hak harus tetap dihormati. Hal ini bukan berarti kemutlakan bagi
pemegang hak untuk bersikeras tidak mau menyerahkan hak atas
tanahnya karena hak atas tanah itu mempunyai fungsi sosial.
Pasal 6 Undang-Undang Pokok Agraria, menyatakan : ”Semua
hak atas tanah mempunyai fungsi sosial”
15
dengan fungsi sosial
tersebut, maka penggunaan tanah harus disesuaikan dengan keadaan
dan sifat dari haknya, hingga bermanfaat baik bagi kesejahteraan dan
kebahagiaan yang mempunyai tanah maupun bagi masyarakat dan
Negara.
Sehingga apabila pemerintah benar-benar memerlukan tanah,
maka pemegang hak dapat melepaskan hak atas tanah yang selama ini
dikuasai atau dimiliki secara sukarela untuk kepentingan yang lebih
tinggi.
Sedangkan
apabila
xliv
yang
bersangkutan
tidak
bersedia
menyerahkan dengan sukarela, maka langkah terakhir adalah melalui
”pencabutan hak atas tanah”. Menurut Undang-Undang Nomor 20
Tahun 1961 pencabutan hanya dapat dilakukan untuk usaha-usaha
pembangunan bagi kepentingan umum.
2) Perolehan tanah bagi perusahaan dalam rangka penanaman modal oleh
swasta.
Dalam
Pasal
1
butir
1
Keputusan
Menteri
Negara
Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 21 Tahun 1994,
menyatakan :16
”Perolehan tanah adalah setiap kegiatan untuk mendapatkan
tanah melalui pemindahan hak atas tanah atau dengan cara
penyerahan atau pelepasan hak atas tanah dengan pemberian ganti
kerugian kepada yang berhak.”
Bagi perusahaan pembangunan perumahan yang pengadaan
tanah/cara perolehan tanahnya dilaksanakan oleh perusahaan swasta,
maka cara perolehan tanahnya dapat dilakukan dengan cara jual-beli,
tukar menukar atau cara lain yang disepakati secara sukarela oleh
pihak-pihak yang bersangkutan.
Jadi pengadaan tanah selain untuk pelaksanaan pembangunan
untuk
kepentingan
umum,
15
dilakukan
secara
langsung
antara
Undang-Undang Pokok Agraria Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok
Agraria, Pasal 6.
16
Keputusan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 21 Tahun 1994
tentang Tata Cara Perolehan Tanah bagi Perusahaan dalam Rangka Penanaman Modal, Pasal 1
Butir 1.
xlv
pengusaha/developer dengan pemilik tanah, bisa melalui pemindahan
hak atau dengan cara pelepasan hak atas tanah.
Pembebasan tanah untuk kepentingan pihak swasta, harus
berdasarkan perencanaan tata kota yang dikeluarkan oleh Pemerintah
Daerah setempat, mengacu pada peruntukan tertentu, sesuai dengan
Rencana Tata Ruang Wilayah. Selain itu juga harus memperhatikan
tata guna keperluan serta peruntukan atau penggunaan tanah yang akan
dibebaskan.
E. Cara Memperoleh Tanah
Tanah yang diperuntukan bagi pembangunan suatu proyek dapat
digunakan tanah yang berstatus sebagai tanah negara dan tanah hak. Cara
perolehan tanah untuk suatu pembangunan dapat dilakukan dengan cara
sebagai berikut :17
b. Apabila status tanahnya adalah tanah negara, maka perolehan haknya
melalui proses permohonan dan pemberian hak atas tanah oleh
pemerintah. Bagi keperluan industri, pihak atas tanah yang dapat diberikan
adalah HGB atau Hak Pengelolaan (khusus BUMN). Dasar yang mengatur
mengenai penyediaan dan pemberian hak atas tanah khusus untuk kawasan
industri adalah Keputusan Kepala BPN Nomor 18 Tahun 1989.
17
Boedi Harsono. Hukum Agraria Nasional, (Bandung : Djambatan, 1994), halaman 202.
xlvi
c. Apabila status tanah adalah tanah hak, maka dilihat apakah pihak yang
memerlukan tanah memenuhi syarat atau tidak sebagai pemegang hak atas
tanah yang bersangkutan.
d. Apabila asas kesepakatan tidak tercapai atau apabila tidak ada kesediaan
dari pemilik tanah sedangkan proyeknya adalah untuk kepentingan umum,
maka perolehan haknya dapat dilakukan melalui proses ”pencabutan hak”
yaitu proses pengambilan tanah secara paksa. (Undang-Undang Nomor 20
Tahun 1961 tentang Pencabutan Hak Atas Tanah).
Dengan memperhatikan hal diatas maka untuk memperoleh tanah
harus diperhatikan ketentuan sebagai berikut :18
2) Apa yang menjadi status tanah yang bersangkutan
3) Status pihak yang memerlukan tanah
4) Ada/tidaknya kesediaan pemegang hak untuk melepaskan/menjual
tanahnya
Tata cara perolehan tanah oleh swasta berdasarkan Pasal 2 Keputusan
Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 21 Tahun
1994, menyatakan :19
1) Perolehan tanah oleh perusahaan hanya boleh dilaksanakan diareal yang
telah ditetapkan di dalam ijin lokasi.
2) Perolehan tanah dilaksanakan secara langsung antara perusahaan
dengan pemilik atau pemegang hak atas tanah atas dasar kesepakatan.
3) Pemerintah melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan perolehan hak
atas tanah sebagaimana dimaksud dalam Ayat (2).
1. Tata Cara Memperoleh Tanah Negara
18
Achmad Chulaimi, Pengadaan Tanah Untuk Keperluan Tertentu Dalam Rangka Pembangunan,
Majalah Hukum UNDIP No.1 Tahun 1992, halaman 10.
xlvii
Tanah Negara adalah tanah yang belum dipunyai sesuatu hak atas
tanah menurut UUPA. Tanah tersebut langsung dikuasai oleh Negara,
artinya tidak ada pihak lain yang menguasai di atas tanah itu. Tanah
negara dapat berasal dari :
a.
Tanah negara yang belum ada haknya, masih murni;
b.
Tanah negara yang sudah pernah ada haknya namun karena jangka
waktu habis, maka kembali menjadi tanah negara;
c.
Tanah yang ada haknya namun dilepaskan/dibebaskan untuk
kepentingan umum dengan diberi ganti rugi;
d.
Tanah dengan ketentuan Pasal 21 ayat (3) UUPA, yaitu orang asing
yang memperoleh Hak Milik karena pewarisan tanpa wasiat;
e.
Tanah dengan ketentuan Pasal 26 ayat (2) UUPA, yaitu memindahkan
Hak Milik baik secara langsung maupun tidak langsung dengan cara
jual-beli, penukaran, penghibahan, pemberian dengan wasiat dan
perbuatan-perbuatan lain kepada orang asing atau warga negara
Indonesia yang mempunyai kewarganegaraan asing.
Tata cara memperoleh tanah negara, yaitu dengan melakukan
permohonan hak atas tanah baru kepada instansi yang bersangkutan
(Badan Pertanahan Nasional) sesuai dengan kewenangannya. Syarat
pengajuan hak untuk tanah negara, yaitu :
19
1)
Identitas pemohon atau status badan hukum
2)
Identitas tanah yang dimohon
Keputusan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 21 Tahun 1994
xlviii
3)
Surat lain yang diminta (bukti wajib pajak PBB)
2. Tata Cara Memperoleh Tanah Hak
Tanah hak adalah tanah yang di atasnya ada hak seseorang/badan
hukum. Tanah itu juga dikuasai oleh negara, tetapi penguasaannya tidak
langsung, sebab ada hak atas tanah dari pihak tertentu di atasnya.bila hak
atas tanah tersebut kemudian hapus, maka tanah itu menjadi tanah yang
langsung dikuasai negara.
Tanah hak atau tanah hak atas tanah diatur dalam Pasal 16 UUPA
yang meliputi :
1)
Hak milik
2)
Hak guna usaha
3)
Hak guna bangunan
4)
Hak pakai
5)
Hak sewa
6)
Hak membuka tanah
7)
Hak memungut hasil hutan
8)
Hak-hak lain yang tidak termasuk dalam hak-hak tersebut di atas
yang akan ditetapkan dengan undang-undang serta hak-hak yang
sifatnya sementara seperti hak gadai, hak usaha bagi hasil, hak
menumpang dan hak sewa tanah pertanian diatur untuk membatasi
safat-sifatnya yang bertentangan dengan UUPA dan hak-hak tersebut
diusahakan hapusnya di dalam waktu yang singkat.
tentang Tata Cara Perolehan Tanah bagi Perusahaan dalam Rangka Penanaman Modal, Pasal 2
xlix
Tata cara memperoleh tanah hak, yaitu :
1)
Peralihan hak, yang mempunyai dua unsur yaitu :
a. Tanah yang dialihkan kepada orang lain dengan adanya unsur
kesengajaan;
b. Tanah yang dialihkan seseorang kepada orang lain tanpa adanya
unsur kesengajaan.
2)
Jika pembeli tidak memenuhi kriteria/syarat sebagai pemegang hak,
maka dapat dilakukan pelepasan hak.
3)
Dalam rangka perolehan tanah untuk kepentingan umum, maka dapat
dilakukan pembebasan tanah hak yang diganti dengan kata pengadaan
tanah untuk kepentingan pembangunan dalam rangka kepentingan
umum (Kepres 55 Tahun 1993).
4)
Jika cara perolehan tanah hak yang ke tiga tidak ada kesepakatan,
maka dapat dilakukan pencabutan hak (Pasal 18 UUPA jo UU Nomor
20 Tahun 1961)
F. Tata Cara Perolehan Tanah Oleh Pihak Swasta
1. Ijin Lokasi
Ijin lokasi adalah ijin yang diberikan kepada perusahaan untuk
memperoleh tanah yang diperlukan dalam rangka penanaman modal yang
berlaku pula sebagai ijin pemindahan hak dan untuk menggunakan tanah
tersebut guna keperluan usaha penanaman modal.
l
Ijin lokasi sangat erat hubungannya dengan pelaksanaan pengadaan
tanah untuk pembangunan. Pengadaan tanah untuk pembangunan harus
dilakukan pula dengan memperhatikan keadaan masyarakat pada
umumnya, oleh sebab itu jika ada suatu kegiatan pemerintah yang
membutuhkan suatu tanah/lokasi maka tanah itu harus dibebaskan dari
segala macam hak atas tanah dan dimohonkan kembali hak yang sesuai
dengan maksud dari perusahaan tersebut. Perusahaan yang mebutuhkan
lahan harus memperoleh ijin terlebih dahulu sebelum pembangunan
dilakukan atau disebut ijin lokasi.
Jadi
perolehan
tanahnya
harus
didahului
dengan
adanya
permohonan ijin lokasi, yaitu ijin yang diberikan kepada perusahaan untuk
memperoleh tanah sesuai dengan tata ruang wilayah, yang berlaku pula
sebagai ijin pemindahan hak. Sesuai dengan Pasal 6 Peraturan Menteri
Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 2 Tahun 1999,
tentang ijin lokasi, menjelaskan bahwa Surat Keputusan mengenai ijin
lokasi ditandatangani oleh Bupati/Walikota. Diatur lebih lanjut dalam
Pasal 7, bahwa : ”Apabila cara pemberian ijin lokasi belum ditentukan
oleh Bupati/Walikota, maka pemberian ijin lokasi dilaksanakan menurut
Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional
Nomor 2 Tahun 1993 tentang Tata Cara Memperoleh Ijin Lokasi dan Hak
Atas Tanah bagi Perusahaan Dalam Rangka Penanaman Modal”.
li
Pasal 1 butir 1 Peraturan Menteri Agraria / Kepala Badan
Pertanahan Nasional Nomor 2 Tahun 1999, menyatakan :20
”Ijin lokasi adalah ijin yang diberikan kepada perusahaan untuk
memperoleh tanah yang diperlukan dalam rangka penanaman modal yang
berlaku pula sebagai ijin pemindahan hak, dan untuk menggunakan tanah
tersebut guna keperluan usaha penanaman modalnya.”
Lebih lanjut dalam Pasal 4 ayat (1) angka a, yang menyebutkan
bahwa :
”Ijin Lokasi dapat diberikan kepada perusahaan yang sudah
mendapat persetujuan penanaman modal sesuai ketentuan yang belaku
untuk memperoleh tanah dengan luas tertentu sehingga apabila
perusahaan tersebut berhasil membebaskan seluruh areal yang ditunjuk,
maka luas penguasaan tanah oleh perusahaan tersebut dan perusahaanperusahaan lain yang merupakan satu group perusahaan dengannya, untuk
usaha pengembangan perumahan dan pemukiman tidak lebih dari 400 Ha
dalam satu propinsi dan 4000 Ha untuk seluruh Indonesia”.
3. Dasar Hukum Ijin Lokasi
2. Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional
Nomor 2 Tahun 1993 tentang Ijin Lokasi dan Hak Atas Tanah Bagi
Perusahaan Dalam Rangka Penanaman Modal.
3. Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional
Nomor 2 Tahun 1999 tentang Ijin Lokasi, Pengganti dari Peraturan
Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 2
Tahun 1993.
4. Keputusan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional
Nomor 21 Tahun 1994 tentang Tata Cara Perolehan Tanah bagi
Perusahaan dalam Rangka Penanaman Modal.
20
Peratuan Menteri Negara Agraria / Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 2 Tahun 1999
lii
3. Tata Cara Pemberian Ijin Lokasi
Pasal 6 Peraturan Menteri Agraria/Kepala Badan Pertanahan
Nasional Nomor 2 Tahun 1999, menyatakan tata cara pemberian ijin
lokasi :
(1) Ijin lokasi diberikan berdasarkan pertimbangan mengenai aspek
penguasaan tanah dan teknis tata guna tanah yang meliputi keadaan
hak serta penguasaan tanah yang bersangkutan, penilaian fisik
wilayah penggunaan tanah, serta kemampuan tanah.
(2) Surat keputusan pemberian ijin lokasi ditandatangani oleh
Bupati/Walikotamadya atau, untuk Daerah Khusus Ibukota Jakarta
oleh Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta setelah
diadakan rapat koordinasi antar instansi terkait, yang dipimpin oleh
Bupati/Walikotamadya atau, untuk Daerah Khusus Ibukota Jakarta
oleh Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta, atau oleh
pejabat yang ditunjuk secara tetap olehnya.
(3) Bahan-bahan untuk keperluan pertimbangan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dan rapat koordinasi sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) dipersiapkan oleh Kepala Kantor Pertanahan.
(4) Rapat koordinasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disertai
konsultasi dengan masyarakat pemegang hak atas tanah dalam lokasi
yang dimohon.
(5) Konsultasi sebagaimana dimaksud pada ayat (4) meliputi empat
aspek sebagai berikut :
a. Penyebarluasaan informasi, mengenai rencana penanaman
modal yang akan dilaksanakan, ruang lingkup dampaknya dan
rencana perolehan tanah secara penyelesaian masalah yang
berkenaan dengan perolehan tanah tersebut;
b. Pemberian kesempatankepada pemegang hak atas tanah untuk
memperoleh penjelasan tentang rencana penanaman modal dan
mencari alternatif pemecahan masalah yang ditemui;
c. Pengumpulan informasi langsung dari masyarakat untuk
memperoleh data sosial dan lingkungan yang diperlukan;
d. Peran serta masyarakat berupa usulan tentang alternatif bentuk
dan besarnya ganti kerugian dalam perolehan tanah dalam
pelaksanaan ijin lokasi.
tentang Tata Cara Memperoleh Ijin Lokasi dan Hak atas Tanah bagi Perusahaan dalam rangka
Penanaman Modal, Pasal 1 butir 1.
liii
Disamping itu, pemberian ijin untuk pembangunan juga harus
memperhatikan beberapa aspek yang meliputi :21
1) Jenis proyek pembangunan
Jenis proyek pembangunan dalam hal ini, pembangunan seperti apa
yang ada diatas sebidang tanah, dan perlu dibedakan proyek untuk
kepentingan :
a) Pribadi calon pemegang hak yang bersangkutan
b) Kegiatan usaha atau bisnis
c) Pembangunan untuk kepentingan umum (Keppres No 55 Tahun
1993)
2) Lokasi proyek pembangunan
Lokasi proyek pembangunan merupakan penetapan lokasi proyek
berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah yang telah ditetapkan oleh
Pemerintah Daerah. Rencana Tata Ruang Wilayah merupakan
pedoman pemanfaatan lahan dan menetapkan peruntukan tanah sesuai
dengan fungsi tanahnya.
3) Tanah tersedia di lokasi proyek
Tanah yang tersedia di lokasi proyek atau lahan yang akan
dipergunakan bagi proyek pembangunan tersebut apakah dilekati
dengan status tertentu hak atas tanah.
4) Tata cara perolehan hak atas tanah
21
Sunaryo Basuki, Penyediaan Tanah Untuk Pembangunan, (Jakarta : Fakultas Hukum
liv
Tata cara perolehan tanah tersebut sesuai dengan ketentuan-ketentuan
yang ada baik yang mengatur tentang pembebasan tanah maupun
tentang pencabutan hak atas tanah.
5. Tata Cara Perolehan Tanah
Berdasarkan Pasal 1 Butir 1 Keputusan Menteri Negara
Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 21 Tahun 1994,
menyatakan : Perolehan tanah adalah setiap kegiatan untuk mendapatkan
tanah melalui pemindahan hak atas tanah atau dengan cara penyerahan
atau pelepasan hak atas tanah dengan pemberian ganti kerugian kepada
yang berhak.
Menurut
Pertanahan
Peraturan
Nasional
Menteri
Nomor
pengembang/developer
2
memperoleh
Negara
Tahun
tanah
Agraria/Kepala
1993,
untuk
sebelum
Badan
pihak
pembangunan
perumahan, terlebih dahulu mengajukan ijin lokasi kepada instansi yang
berwenang dengan persyaratan :
a. Pihak pengembang/developer terlebih dahulu mengajukan permohonan
ijin lokasi kepada pihak yang berwenang yaitu kepada Kantor
Pertanahan, tetapi sekarang pengajuan ijin lokasi kepada Pemerintah
Kota;
b. Bersamaan ijin lokasi pihak pemohon melampirkan rekaman surat
persetujuan penanaman modal bagi PMDN dan surat pemberitahuan
Universitas Indonesia, 2001), halaman 5.
lv
persetujuan Presiden bagi PMA atau surat persetujuan prinsip dari
Departemen Teknis bagi non PMA/PMDN;
c. Permohonan ijin lokasi harus sudah dikeluarkan selambat-lambatnya
12 (dua belas) hari kerja terhitung sejak diterimanya permohonan
secara lengkap;
d. Setelah surat keputusan ijin lokasi dikeluarkan, maka perusahaan dapat
memulai Kegiatan perolehan tanah;
e. Jangka waktu ijin lokasi diberikan selama 12 (dua belas) bulan dan
hanya dapat diperpanjang 1 (satu) kali untuk selama 12 (dua belas)
bulan.
Setelah ijin lokasi diberikan kepada pihak perusahaan, maka
berdasarkan Keputusan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan
Nomor 21 Tahun 1994 pihak perusahaan baru dapat melakukan perolehan
tanah diareal yang telah ditetapkan didalam surat keputusan ijin lokasi.
Perolehan tanah dapat dilakukan dengan syarat-syarat sebagai berikut :
a. Perolehan tanah dapat dilakukan secara langsung antara peerusahaan
dengan pemilik atau pemegang hak atas tanah dengan cara
musyawarah atas dasar mufakat;
b. Perolehan tanah dapat dilakukan melalui cara pemindahan hak atas
tanah atau melalui penyerahan atau pelepasan hak atas tanah yang
diikuti dengan pemberian hak;
c. Perolehan tanah dengan cara pemindahan hak dilakukan apabila tanah
yang bersangkutan sudah mempunyai hak atas tanah yang sama
lvi
jenisnya dengan hak atas tanah yang diperlukan oleh pihak perusahaan,
dan apabila pihak perusahaan yang bersangkutan menghendaki, maka
hak atas tanah tersebut juga dapat dilepaskan dan kemudian dapat
dimohonkan kembali haknya sesuai dengan ketentuan dalam
keputusan ini;
d. Perolehan tanah melalui penyerahan atau pelepasan hak dilakukan
apabila tanah yang diperlukan dipunyai dengan hak milik atau hak lain
yang tidak sesuai dengan jenis hak yang diperlukan oleh perusahaan
dalam menjalankan usahanya, dengan ketentuan bahwa jika yang
diperlukan adalah tanah dengan hak guna bangunan, maka apabila
perusahaan yang bersangkutan menghendaki, perolehan tanahnya
dapat dilakukan melalui pemindahan hak dengan mengubah hak atas
tanah tersebut menjadi hak guna bangunan menurut ketentuan dalam
keputusan ini.
lvii
BAB III
METODE PENELITIAN
Dalam penelitian termasuk Penelitian Hukum, dikenal bermacam-macam
jenis dan tipe penelitian. Hal ini dapat dilihat berdasarkan sudut pandang dan cara
peninjauannya, serta pada umumnya suatu penelitian sosial termasuk penelitian
hukum dapat ditinjau dari segi sifat, bentuk, tujuan dan penerapan yang dapat
dilihat dari berbagai sudut disiplin ilmu. Penentuan macam atau jenis penelitian
dapat dipandang penting karena erat kaitannya antara jenis penelitian itu dengan
sistematika dan metode serta setiap analisa data yang harus dilakukan untuk setiap
penelitian, semua itu harus dilakukan guna untuk mencapai nilai validitas data
yang tinggi, baik dari data yang dikumpulkan hingga hasil akhir dari penelitian
yang dilakukan.22
Menurut Soerjono Soekanto, penelitian merupakan suatu kegiatan ilmiah
yang berkaitan dengan analisa dan konstruksi yang dilakukan secara metodologis,
sistematis dan konsisten.23 Penguasaan metode penelitian akan bermanfaat secara
nyata bagi seorang peneliti dalam melakukan tugas penelitian. Peneliti akan dapat
melakukan penelitian lebih baik dan benar, sehingga hasil yang diperoleh tentu
berkualitas prima.24
Sehingga dapat dikatakan bahwa metodologi merupakan unsur yang
mutlak untuk melakukan suatu penelitian, maka dalam penyusunan tesis ini
penulis menggunakan beberapa metode penelitian yaitu :
22
Bambang Waluyo, Penelitian Hukum Dalam Praktek, (Jakarta : Sinar Grafika, 1991), halaman 7.
lviii
A. Metode Pendekatan
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan
metode pendekatan secara Yuridis Empiris. Pendekatan secara yuridis karena
penelitian bertitik tolak dengan menggunakan kaedah hukum terutama ditinjau
dari sudut ilmu hukum agraria dan peraturan-peraturan tertulis yang direalisasikan
pada penelitian terhadap hal-hal yang berkaitan dengan penatagunaan tanah bagi
pembangunan perumahan dan permukiman di Kota Semarang. Sedangkan
penelitian hukum empiris atau penelitian Non Doktrinal yaitu penelitian berupa
studi-studi empiris untuk menemukan teori-teori mengenai proses terjadinya dan
mengenai proses bekerjanya hukum di dalam masyarakat.25
B. Spesifikasi Penelitian
Pada penelitian ini spesifikasi yang dipergunakan adalah deskriptif
analitis, yaitu suatu penelitian yang menggambarkan secara menyeluruh dan
sistematis obyek dari pokok permasalahan.26
Pada penulisan tesis ini, penulis dapat menganalisis serta menyusun
data yang telah terkumpul, untuk dapat diambil kesimpulannya serta
memberikan suatu gambaran tentang koordinasi antar instansi dalam
perolehan ijin lokasi untuk perolehan hak atas tanah bagi pembangunan
perumahan Mega Residence di Kota Semarang.
23
Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitiaan Hukum, (Jakarta : UI Press, 1986), halaman 4.
Bambang Waluyo, Op Cit, halaman 17.
25
Bambang Sunggono, Metodologi Penelitian Hukum, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003),
halaman 42.
26
Bambang Sunggono, Metode Penelitian Hukum, (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 1997),
halaman 122.
24
lix
C. Populasi dan Sampel
Penelitian ini berkaitan dengan koordinasi antar instansi dalam hal
pengadaan tanah untuk perumahan oleh pengusaha pegembangan/developer.
Dalam
mencari
data
dan
keterangan
yang
berhubungan
dengan
pelaksanaannya, penulis melakukan survei dilapangan dengan terlebih dahulu
menentukan
wilayah penelitian, populasi, dan sampel yang akan diteliti.
Peneliti disini selalu berhadapan dengan masalah sumber data yaitu populasi
dan sampel penelitian. Sumber data ditentukan tergantung pada masalah yang
akan diteliti, disini tampak bahwa populasi dan sampel mempunyai peranan
yang sangat penting.
1. Populasi
Populasi/universe adalah seluruh obyek atau seluruh individu atau
seluruh gejala atau seluruh kejadian atau seluruh unit yang akan diteliti.27
Populasi biasanya sangat besar dan luas, sehingga tidak mungkin untuk
meneliti seluruhnya, tetapi cukup diambil sebagian saja untuk diteliti
sebagai sampel sehingga memberikan gambaran yang tepat dan benar.
Populasi dapat dikatakan sebagai : 28
a) Sekumpulan unsur atau elemen yang menjadi obyek penelitian dan
elemen populasi itu merupakan satuan analisis ;
b) Sekelompok obyek, baik manusia, gejala, benda atau peristiwa ;
c) Semua individu untuk siapa kenyataan-kenyataan yang diperoleh dari
sampel itu hendak digeneralisasikan ;
lx
d) Jumlah keseluruhan unit analisis yang ciri-cirinya akan diduga.
Populasi dalam penelitian ini pihak pengembang yang bergerak
dalam bidang pembangunan perumahan di Kota Semarang..
2. Sampel
Berdasarkan pupolasi, kemudian penulis menentukan sampel yang
akan diteliti berdasarkan teknik ”purposive non-random sampling”. Teknik
purposive non-random sampling dilakukan dengan cara mengambil
subyek yang memenuhi syarat-syarat : 29
a) Harus didasarkan pada ciri-ciri, sifat-sifat, atau karakteristik tertentu
yang merupakan ciri-ciri utama populasi ;
b) Penentuan karakteristik populasi dilakukan dengan teliti ;
c) Sampel
benar-benar
merupakan
subyek
yang
paling
banyak
mengandung ciri-ciri yang terdapat pada populasi.
Terpilih yaitu PT. Nusa Prima Intiniaga sebagai developer Mega
Residence yang kemudian dijadikan responden. Untuk melengkapi data
tersebut dilakukan juga pengumpulan data dari pihak-pihak yang terkait
yang kemudian dijadikan narasumber yaitu :
1. Kantor Pertanahan Kota Semarang, Seksi Perolehan Hak Atas Tanah.
2. Pemerintah Kota Semarang yaitu Kabag Pemerintahan Umum.
3. PT. Nusa Prima Intiniaga sebagai Developer Mega Residence di
Semarang
27
Ronny Hanitijo Soemitro, Metode Penelitian Hukum dan Jurimetri, (Jakarta : Ghalia Indonesia,
1990), halaman 44.
28
Herman Wasito, Pengantar Metodologi Penelitian, (Jakarta : Gramedi, 1993), halaman 49.
29
Ronny Hanitijo Soemitro, Op.Cit, halaman 51.
lxi
D. Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data merupakan suatu tahapan dalam proses penelitian
dan sifatnya mutlak untuk dilakukan karena data merupakan fenomena yang
akan diteliti. Data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah data primer
dan data sekunder. Untuk memperoleh gambaran tentang fenomena yang
diteliti hingga penarikan suatu kesimpulan, maka penulis tidak mungkin
terlepas dari kebutuhan suatu data yang valid. Data valid tidak diperoleh
begitu saja, tetapi harus menggunakan teknik pengumpulan data sebagai
berikut :
1) Data Primer adalah data yang relevan dengan pemecahan masalah
pembahasan yang didapat dari sumber utama yang berkaitan dengan
masalah yang diteliti dan dikumpulkan langsung oleh peneliti dari obyek
penelitian. Data primer diperoleh dengan cara :
a). Observasi atau Pengamatan
Dengan teknik ini penulis melakukan pengamatan secara
langsung terhadap tindakan-tindakan atau prilaku yang berhubungan
dengan masalah yang sedang diteliti, sehingga diperoleh atau dapat
diketahui kenyataan yang sebenarnya. Observasi merupakan teknik
pengumpulan data dimana peneliti melakukan suatu pengamatan dan
pencatatan data-data yang akan diteliti sesuai dengan kenyataan yang
terjadi.
b). Wawancara
lxii
Dengan cara ini penulis melaksanakan komunikasi langsung
untuk mendapatkan keterangan yang diperlukan dan sesuai dengan
penulisan. Wawancara/interview merupakan suatu proses tanya jawab
secara lisan dimana 2 orang atau lebih berhadapan secara fisik. Dalam
proses interview ada 2 pihak yang menempati kedudukan yang
berbeda
satu
pihak
sebagai
pencari
informasi/disebut
informan/responden.30
Peneliti melakukan wawancara ini dengan menggunakan teknik
wawancara terarah (directive interview) yaitu peneliti terlebih dahulu
merencanakan
pelaksanaan
wawancara.
Wawancara
dilakukan
berdasarkan suatu daftar pertanyaan yang telah dipersiapkan terlebih
dahulu. Pertanyaan disusun terbatas pada aspek-aspek dari masalah
yang diteliti. Dengan melalui wawancara, peneliti akan memperoleh
data sesuai dengan keinginan dan permasalahan yang akan dibahas.
Wawancara dilakukan untuk responden dan narasumber.
2) Data Sekunder adalah data yang diperoleh melalui bahan kepustakaan.
Diperoleh
dengan
cara
melakukan
penelitian
kepustakaan
guna
mendapatkan landasan teoritis berupa pendapat-pendapat atau tulisan para
ahli atau pihak-pihak lain yang berwenang. Data sekunder didapat dari :
a) Bahan Hukum Primer
1. Peraturan Dasar, yaitu Undang-Undang Dasar 1945;
2. Peraturan perundang-undangan, yaitu :
30
Ronny Hanitijo Soemitro, Metodelogi Penelitian Hukum, (Jakarta : Ghalia, 1983), halaman 47.
lxiii
a. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar
Pokok Agraria;
b. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan
Pemkiman.
3. Keputusan Presiden Nomor 55 Tahun 1993 tentang Pengadaan
Tanah bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum;
4. Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2005 tentang Pengadaan
Tanah bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum;
5. Peraturan Menteri, yaitu :
a. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 5 Tahun 1974 tentang
Ketentuan-Ketentuan mengenai Penyediaan dan Pemberian
Tanah untuk Keperluan Perusahaan;
b. Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan
Nasional Nomor 2 Tahun 1993 tentang Tata Cara Memperoleh
Ijin Lokasi dan Hak atas Tanah bagi Perusahaan dalam Rangka
Penanaman Modal;
c. Keputusan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan
Nasional Nomor 21 Tahun 1994 tentang Tata Cara Perolehan
Tanah bagi Perusahaan dalam Rangka Penanaman Modal;
d. Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan
Nasional Nomor 2 Tahun 1999 tentang Ijin Lokasi.
b) Bahan Hukum Sekunder
lxiv
Bahan hukum sekunder yaitu bahan-bahan yang erat kaitannya
hubungannya dengan bahan hukum primer dan dapat membantu
menganalisa dan memahami bahan hukum primer, meliputi :
1. Buku-buku mengenai Hukum Agraria Indonesia, buku Hukum
Administrasi Nasional, buku mengenai pengadaan tanah, buku
mengenai
perumahan
dan
permukiman,
serta
buku-buku
metodelogi penelitian.
2. Hasil karya ilmiah para sarjana tentang Pertanahan.
3. Hasil penelitian tentang Pertanahan.
c) Bahan Hukum Tertier
Bahan hukum yang memberikan informasi tentang bahan hukum
primer dan sekunder yaitu : Kamus Besar Bahasa Indonesia
E. Analisis Data
Analisa adalah suatu metode atau cara untuk memecahkan suatu
masalah atau menguji suatu hipotesis, berdasarkan data yang telah
dikumpulkan dan pada akhirnya diinterprestasikan untuk menjawab suatu
masalah.
Dalam penelitian ini analisis data yang dipergunakan analisis kualitatif
adalah suatu cara penelitian yang menghasilkan data deskriptif analitis yaitu
yang dinyatakan oleh responden secara tertulis atau lisan serta tingkah laku
yang nyata, yang diteliti dan dipelajari sebagai sesuatu yang utuh,31
31
Ibid, halaman 93.
lxv
maksudnya data yang diperoleh disusun secara sistematis kemudian dianalisis
secara kualitatif agar diperoleh kejelasan masalah yang akan dibahas.
Data yang diperoleh baik dari studi lapangan maupun studi dokumen
pada dasarnya merupakan data yang dianalisis secara deskriptif kualitatif,
yaitu setelah data terkumpul kemudian dituangkan dalam bentuk uraian logis
dan sistematis, selanjutnya dianalisis (dikelompokkan, digolongkan sesuai
dengan karakteristiknya) untuk memperoleh kejelasan penyelesaian masalah
dalam tesis ini. Kemudian ditarik kesimpulan secara induktif, yaitu proses
berawal dari proposisi-proposisi khusus (sebagai hasil pengamatan) dan
berakhir pada suatu kesimpulan (pengetahuan baru) berupa asas umum. 32
32
Bambang Sunggono, Op.Cit, halaman 11
lxvi
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Koordinasi antar Instansi dalam Perolehan Ijin Lokasi untuk Perolehan
Hak Atas Tanah bagi Pembangunan Perumahan Mega Residence di Kota
Semarang
1. Gambaran Umum Kota Semarang
Kota Semarang termasuk salah satu kota besar di Indonesia dan
merupakan Ibukota Propinsi Jawa Tengah. Kota Semarang secara
geografis terletak di Pantai Utara Jawa Tengah dengan posisi antara garis
lintang 06’ 50” – 07’ 10” Lintang Selatan dan bujur bumi 109’ 50” – 110’
35” Bujur Timur. Luas wilayah Kota Semarang cukup besar, yaitu
37.360.497 Ha atau 373,1 Km2 yang dapat diperinci sebagai berikut :
Tabel 4.1
Luas Wilayah Kota Semarang per Kecamatan
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
Nama Kecamatan
Kecamatan Semarang Tengah
Kecamatan Semarang Utara
Kecamatan Semarang Timur
Kecamatan Gayamsari
Kecamatan Genuk
Kecamatan Pedurungan
Kecamatan Semarang Selatan
Kecamatan Candisari
Kecamatan Gajahmungkur
Kecamatan Tembalang
Kecamatan Banyumanik
Kecamatan Gunungpati
Kecamatan Semarang Barat
Kecamatan Mijen
Kecamatan Ngaliyan
Kecamatan Tugu
Jumlah
Sumber : Data sekunder Pemkot Semarang tahun 2006
lxvii
Luas
604,997 ha
1.135,275 ha
770,255 ha
636,560 ha
2.738,442 ha
1.984,948 ha
848,046 ha
553,512 ha
765,004 ha
4.420,057 ha
2.509,084 ha
5.399,085 ha
2.386,473 ha
6.213,266 ha
3.260,584 ha
3.133,359 ha
37.360,947 ha
Secara administrasi Kota Semarang terdiri dari 16 Kecamatan dan
177 Kelurahan. Adapun batas-batas administrasi wilayah Kota Semarang
adalah sebagai berikut :
Sebelah Utara
:
Laut Jawa
Sebelah Selatan
:
Kabupaten Semarang
Sebelah Barat
:
Kabupaten Kendal
Sebelah Timur
:
Kabupaten Demak
Kota Semarang terbagi atas wilayah dataran rendah dan wilayah
perbukitan. Wilayah dataran rendah berupa lereng-lereng yang mempunyai
permukaan datar dengan kemiringan 2-5° dengan luas 65,22% dari seluruh
wilayah perbukitan, sedangkan wilayah dengan kemiringan 15-40° dan
40° ke atas umumnya berupa pegunungan yang terletak di sepanjang tepi
Kali Garang, Kali Kripik, Kali Blimbing dan lereng Gombel, pegunungan
Sureng, Gunung Dua Gogor dan sepanjang perbukitan dari Kecamatan
Tugu, Mijen dan Gunungpati. Di Kota Semarang terdapat juga beberapa
kawasan tanah bergerak.
Suhu udara minimum Kota Semarang rata-rata menunjukkan
angka 22,6°C, sedangkan suhu udara maksimum adalah 32,1°C. jadi suhu
rata-rata 27,3°C. Kota Semarang memiliki temperatur yang cukup baik
untuk aktifitas-aktifitas pertanian, pariwisata dan sebagainya.
Kecamatan yang mempunyai jumlah penduduk terpadat adalah
Kecamatan Semarang Barat dengan jumlah 160.068 jiwa per km2,
Kecamatan Semarang Utara dengan jumlah 147.401 jiwa per km2,
Kecamatan Pedurungan dengan jumlah 135.435 jiwa per km2, Kecamatan
lxviii
Banyumanik dengan jumlah
107.733 jiwa per km2 dan yang paling
sedikit jumlah penduduknya adalah Kecamatan Tugu sebanyak 26.030
jiwa per km2. Berdasarkan data tersebut di atas maka dapat diketahui
bahwa penyebaran penduduk di Kota Semarang belum merata, di mana
penduduknya masih terkonsentrasi pada beberapa Kecamatan tertentu saja.
2. Tata Ruang Wilayah Kota Semarang
Penataan ruang yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Semarang
memberikan gambaran mengenai perkembangan Kota Semarang yang
mempunyai kecenderungan menuju ke arah :33
a. Selatan, yaitu sekitar Jatingaleh dan Banyumanik yang
mempunyai potensi permukiman.
b. Timur, yaitu Kecamatan Genuk yang mempunyai potensi
permukiman dan industri.
c. Barat, yaitu Kecamatan Tugu yang mempunyai potensi
permukiman dan industri.
d. Barat Daya, yaitu Kecamatan Mijen dan Gunungpati yang
mempunyai potensi Agraris.
Kecenderungan tersebut sangat dipengaruhi oleh perkembangan
kegiatan antar kota/daerah serta daerah-daerah belakangnya yang melewati
jalur-jalur utama yang menghubungkan Semarang Jakarta, Semarang
Surabaya dan Semarang Yogyakarta/Solo terutama kegiatan perdagangan
dan pengangkutan antar daerah tersebut. Pertumbuhan fisik yang
diperkirakan lamban adalah wilayah Barat Daya, yakni wilayah
lxix
Kecamatan Gunungpati dan Mijen yang didukung hinterland yang masih
berkembang di sektor agraris.
Arah kecenderungan perkembangan secara fisik Kota Semarang
berjalan ke arah Barat Laut (Kecamatan Tugu) memanjang ke arah Timur
(Kecamatan Genuk) dan membentang berkembang ke bagian Tengah
Selatan dan Tenggara. Perkembangan ini cenderung sebagai “Wilayah
Terbangun” (Built up area) Kota Semarang.
Perencanaan pola struktur Kota Semarang disusun dengan
mempertimbangkan berbagai faktor, yaitu :34
a. Karakteristik Kota Semarang dengan pola kegiatan yang ada
meliputi kegiatan sosial dan ekonomi kota.
b. Pengarahan pengembangan fisik Kota Semarang
Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan di atas, maka pengembangan
struktur Kota Semarang diarahkan pada pengembangan pola konsentris dengan
corak yang disesuaikan dengan spesifikasi kegiatan yang ada dan yang akan
dikembangkan pada masing-masing daerah. Pemilihan pola ini ditujukan untuk
membatasi ekstensi dari kota keluar daerah, meningkatkan kegiatan-kegiatan yang
spesifik dari masing-masing wilayah, mencegah terjadinya ekspansi dari kegiatankegiatan yang spesifik. Tujuan-tujuan tersebut akan dicapai melalui :
a. Penyusunan
rencana
wilayah-wilayah
pembagian
wilayah
pelayanan
sesuai
pengembangan
Semarang.
33
Pemerintah Kota Semarang, Semarang dalam Angka, tahun 2003, halaman 59
lxx
dengan
di
Kota
b. Pemilihan corak dari pola pengembangan yang sesuai dengan
sifat dari masing-masing wilayah pengembangan.
Menurut ketentuan Pasal 11 ayat (2) Peraturan Daerah Kota
semarang Nomor 5 tahun 2004 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah
(RTRW) Kota Semarang tahun 2000-2010, Kota Semarang berfungsi
sebagai :
a. Pusat pelayanan pemerintahan Propinsi Jawa tengah dan
pemerintahan Kota Semarang
b. Pusat pertumbuhan dan pusat aktivitas regional
c. Pusat pelayanan perdagangan dan asa
d. Pusat pelayanan transportasi
e. Pusat pelayanan umum
Agar dapat menciptakan kehidupan kota serasi perlu direncanakan
suatu susunan yang secara garis besar menyangkut susunan pusat-pusat
permukiman dan jangkauan pelayanan penduduk pada tiap-tiap pusat
tersebut, yaitu :
a.
Struktur pusat-pusat permukiman
1) Pusat permukiman hirarki pertama adalah pusat kota juga
sebagai pusat hirarki pertama dalam konsep makro.
2) Pusat permukiman hirarki kedua merupakan pusat
Kecamatan di luar pusat permukiman hirarki pertama
3) Pusat permukiman hirarki ketiga adalah pusat-pusat
kelurahan.
34
Ibid, halaman 95
lxxi
b. Pembagian wilayah pelayanan
1) Bagian Wilayah Kota I, terbagi atas pusat kota dan
eksistensi pusat kota yang berfungsi sebagai pusat
kegiatan
permukiman,
perdagangan-jasa,
campuran
perdagangan dan jasa, permukiman, perkantoran, serta
spesifik/budaya. Bagian Wilayah Kota I meliputi
Kecamatan Semarang Tengah, Kecamatan Semarang
Timur dan Kecamatan Semarang Selatan.
2) Bagian Wilayah Kota II, terbagi atas Kecamatan
Candisari
dan
Kecamatan
Gajahmungkur.
Bagian
Wilayah Kota II berfungsi sebagai pusat permukiman,
perdagangan-jasa,
campuran
perdagangan
jasa
dan
permukiman, perkantoran, perguruan tinggi dan olah raga
serta rekreasi.
3) Bagian Wilayah Kota III, terbagi atas Kecamatan
Semarang Barat dan Kecamatan Semarang Utara. Bagian
Wilayah Kota III ini berfungsi sebagai pusat transportasi,
pergudangan
(warehouse),
kawasan
rekreasi,
permukiman, perdagangan dan jasa, perkantoran serta
industri
(Bonded
Zone
Industri/Central
Business
District).
4) Bagian Wilayah Kota IV yang meliputi Kecamatan
Genuk. Bagian Wilayah Kota IV berfungsi sebagai pusat
industri,
transportasi,
permukiman.
lxxii
budidaya
perikanan
dan
5) Bagian Wilayah Kota V meliputi Kecamatan Pedurungan
dan Kecamatan Gayamsari. Bagian Wilayah Kota V
berfungsi sebagai pusat permukiman, perdagangan dan
jasa, perguruan tinggi, industri serta transportasi.
6) Bagian Wilayah Kota VI meliputi Kecamatan Tembalang.
Bagian Wilayah Kota VI berfungsi sebagai pusat
permukiman, perguruan tinggi, perdagangan dan jasa,
perkantoran, campuran perdagangan dan jasa serta
permukiman, dan konservasi.
7) Bagian
Wilayah
Kota
VII
meliputi
Kecamatan
Banyumanik. Wilayah ini berfungsi sebagai pusat
permukiman,
perkantoran,
perdagangan
dan
jasa,
kawasan khusus militer, campuran perdagangan, jasa dan
permukiman, konservasi serta transportasi.
8) Bagian
Wilayah
Kota
VIII
meliputi
Kecamatan
Gunungpati. Bagian Wilayah Kota ini berfungsi sebagai
pusat
konservasi,
wisata/rekreasi,
pertanian,
campuran
perguruan
perdagangan,
jasa
tinggi,
dan
permukiman, serta permukiman.
9) Bagian Wilayah Kota IX meliputi Kecamatan Mijen yang
berfungsi
sebagai
pusat
pertanian,
permukiman,
konservasi, wisata/rekreasi, campuran perdagangan jasa
dan permukiman, pendidikan dan industri (techno park).
lxxiii
10) Bagian Wilayah Kota X terdiri atas Kecamatan Ngaliyan
dan Kecamatan Tugu yang berfungsi sebagai pusat
industri, permukiman, perdagangan dan jasa, tambak,
rekreasi serta pergudangan (ware house).
Tujuan perencanaan penataan ruang Kota Semarang adalah
menciptakan kesejahteraan penghuninya melalui penciptaan lingkungan
permukiman yang “habitable” dengan kelengkapan sarana melalui
rangkaian tindakan pendayagunaan fungsi alam (tanah) atas dasar
keseimbangan hubungan antara manusia dengan alamnya.
Pada dasarnya penataan ruang Kota Semarang diarahkan sebagai
wilayah perdagangan dan industri didukung dengan pendidikan, kesehatan
dan pemerintahan dan permukiman dengan kepadatan rendah sampai
tinggi yang meliputi 4 (empat) wilayah pengembangan, yaitu :35
a. Wilayah Pengembangan I
Terbagi atas pusat kota dan eksistensi pusat kota yang
berfungsi sebagai pusat kegiatan pelayanan umum (central
business
district)
meliputi
perbelanjaan,
transportasi
regional/lokal, pergudangan, perumahan dengan kepadatan
tinggi.
b. Wilayah Pengembangan II
Terbagi atas :
1) Wilayah Tugu termasuk di dalamnya sebagian dari
wilayah Kecamatan Tugu yang berfungsi sebagai daerah
35
Pemerintah Kota Semarang, Rencana Induk Kota Semarang tahun 1975-2000, Pemkot
Semarang, halaman 96
lxxiv
sub urban dan akan dikembangkan menjadi wilayah
industri (industri estate), rekreasi pantai dan perumahan
dengan kepadatan rendah. Sub pusat pengembangan di
Mangkang Kulon, Tugurejo, Ngaliyan.
2) Wilayah Genuk termasuk di dalamnya sebagian dari
wilayah Kecamatan Genuk yang berfungsi sebagai
wilayah sub urban dan akan dikembangkan menjadi
wilayah industri (industri zone) dan perumahan dengan
kepadatan rendah.
c. Wilayah Pengembangan III
Termasuk di dalamnya wilayah Kecamatan Genuk dan
perluasan Kecamatan Semarang Selatan yang berfungsi
sebagai wilayah sub urban dan akan dikembangkan menjadi
wilayah jasa pendidikan, kesehatan dan pemerintahan dan
perumahan dengan kepadatan rendah sampai tinggi. sub pusat
pengembangan adalah Pedurungan, Bangetayu, Ketileng,
Tembalang, Banyumanik, Rowosari, Meteseh dan Gedawang.
d. Wilayah pengembangan IV
Terbagi atas :
1) Wilayah Kecamatan Gunungpati, berfungsi sebagai sub
urban dan merupakan wilayah cadangan pengembangan.
Wilayah ini dicadangkan untuk pengembangan kegiatan
sektor-sektor pertanian, meliputi perkebunan, peternakan
dan kehutanan, perikanan darat serta sub sektor industri
agraris. Di samping itu juga akan dikembangkan untuk
lxxv
perumahan dengan kepadatan rendah sampai sedang. Sub
pusat pengembangan Gunungpati, Sukorejo, Purwosari.
2) Wilayah Kecamatan Mijen, berfungsi sebagai wilayah
sub urban dan juga merupakan wilayah cadangan
pengembangan.
Wilayah
ini
dicadangkan
pengembangan
kegiatan-kegiatan
sektor
untuk
pertanian
meliputi : perkebunan, peternakan, kehutanan dan
perikanan darat serta sub sektor industri agraris. Di
samping itu juga akan dikembangkan perumahan dengan
kepadatan
rendah
sampai
sedang.
Sub
pusat
pengembangan, yaitu Mijen, Cangkiran, Kedungpane.
3) Wilayah sebagian Kecamatan Tugu bagian Selatan,
berfungsi
sebagai
wilayah
sub
urban
dan
akan
dikembangkan menjadi wilayah jasa kemasyarakatan dan
perumahan dengan kepadatan rendah sampai sedang. Sub
pusat pengembangan, yaitu Mangkang Kulon, Tugurejo
dan Ngaliyan.
Berdasarkan
pembagian
wilayah
kota
dan
wilayah
pengembangan, dapat diketahui bahwa Kecamatan Banyumanik termasuk
dalam wilayah pengembangan III dan Bagian Wilayah Kota VII yang
berfungsi sebagai wilayah jasa pendidikan, kesehatan dan pemerintahan
dan perumahan.
3. Koordinasi antar Instansi dalam Perolehan Ijin Lokasi untuk
Perolehan Hak Atas Tanah bagi Pembangunan Perumahan Mega
Residence di Kota Semarang
lxxvi
Salah satu kebutuhan dasar manusia bagi peningkatan
kualitas hidupnya adalah terpenuhinya rumah tinggal yang
sehat dan layak huni. Pada kenyataannya tidak mudah bagi
seseorang untuk mendapatkan rumah tinggal yang sehat dan
layak huni tersebut. Terbatasnya jumlah perumahan yang
disediakan oleh Perum Perumnas melalui KPR, mendorong
pihak swasta untuk berperan serta. Pihak swasta dalam hal ini
adalah pengembang (developer) berusaha untuk membuka
lahan sendiri dan membangun perumahan untuk kemudian
dijual dan ditawarkan kepada masyarakat baik secara tunai
maupun secara angsuran melalui KPR BTN maupun KPR
lainnya.
PT. Nusa Prima Intiniaga merupakan salah satu perseroan yang
bergerak dalam bidang pembangunan perumahan. Saat ini sedang
membangun perumahan seluas ± 9 ha yang terletak di Kelurahan Pudak
Payung Kecamatan Banyumanik Semarang dengan nama perumahan
Mega
Residence.
Sebelum
melakukan
pembangunan
perumahan,
developer terlebih dahulu harus memenuhi persyaratan administrasi sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Syarat
adminsitrasi yang harus dipenuhi oleh developer adalah surat ijin prinsip
dan ijin lokasi untuk pembangunan perumahan yang dikeluarkan oleh
Walikota Semarang.
Untuk mendapatkan surat ijin lokasi, pengembang (developer)
harus mengajukan permohonan terlebih dahulu kepada Pemerintah Kota
Semarang. Selanjutnya Pemerintah Kota Semarang akan mengadakan
pemeriksaan terhadap semua persyaratan dan melakukan pemeriksaan di
lapangan. Tugas ini tidak ditangani langsung oleh Pemerintah Kota
Semarang, tetapi dilakukan oleh tim koordinasi yang melibatkan berbagai
lxxvii
instansi pemerintah. Secara normatif pembentukan tim koordinasi
didasarkan pada Keputusan Walikota Semarang Nomor 593.6/5 tentang
Pembentukan Tim Koordinasi dan Tata Cara Pemberian Ijin Lokasi Dalam
Rangka Penanaman Modal di Kota Semarang.
Berdasarkan Surat Keputusan Walikota Semarang Nomor
593.6/5 tentang Pembentukan Tim Koordinasi dan Tata Cara Pemberian
Ijin Lokasi Dalam Rangka Penanaman Modal di Kota Semarang, dibentuk
tim koordinasi pemberian ijin lokasi dalam rangka penanaman modal di
Kota Semarang. Tim koordinasi ini bertugas melaksanakan koordinasi
dalam rangka mengkaji kesesuaian penentuan lokasi rencana penggunaan
tanah dengan rencana tata ruang
dan membantu Walikota Semarang
dalam rangka memberikan ijin lokasi bagi perusahaan.
Adapun susunan tim koordinasi pemberian ijin lokasi tersebut
adalah sebagai berikut :
Tabel 4.2
Tim
Koordinasi
Pemberian Ijin Lokasi
No
1
2
Jabatan/Instansi
Assisten Tata Praja
Setda Kota Semarang
Kepala
Bappeda
Semarang
Kedudukan
dalam tim
Ketua
Merangkap anggota
Kota Wakil Ketua
Merangkap anggota
lxxviii
Keterangan
3
4
5
6
7
8
9
10
Kabag Pemerintahan Umum
Setda Kota Semarang
Staf Ahli Walikota bidang
Hukum pemerintahan dan
Kesra
Kepala Kantor Pertanahan
Kota Semarang
Kepala BKPM, PD & A
Kota Semarang
Kepala Dinas Tata Kota dan
Pemukiman Kota Semarang
Kepala Bapedalda Kota
Semarang
Kepala Bagian Hukum
Setda Kota Semarang
Camat yang terkait
kelurahan
Sekretaris
merangkap anggota
Anggota
Anggota
Anggota
Anggota
Anggota
Anggota
Anggota
11
Kepala
terkait
yang Anggota
12
Kepala Instansi terkait kota Anggota
Semarang
Sesuai
letak
tanah
yang
dimohon
Sesuai
letak
tanah
yang
dimohon
Sesuai dengan
peruntukan
tanahnya
Sumber : Data sekunder Pemkot Semarang tahun 2006
Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat bahwa tim koordinasi
pemberian ijin lokasi terdiri dari Sekretariat Daerah Kota Semarang,
Bappeda Kota Semarang, Staf Ahli Walikota Semarang, Kantor
Pertanahan, BKPM, PD dan A Kota Semarang, Dinas Tata Kota dan
Permukiman Kota Semarang, Bapedalda Kota Semarang, Kecamatan,
Kelurahan dan instansi lainnya yang terkait.
Mengenai proses pengajuan permohonan ijin lokasi,
dapat dijelaskan sebagai berikut :36
a. Pemohon mengajukan ijin kepada Walikota Semarang
36
Suharta, wawancara pribadi, Bagian Pemerintahan Umum Sekretariat Daerah Kota Semarang,
tanggal 4 Mei 2006
lxxix
b. Dalam keterangan mengenai orang yang mengajukan
permohonan, harus jelas nama dan alamat orang yang
menandatangani permohonan sesuai dengan Kartu Tanda
Penduduk (KTP) dan bahwa yang bersangkutan bertindak
untuk dan atas nama perusahaan yang menjadi pemohon.
c. Rencana penggunaan tanah dalam permohonan ijin lokasi
harus diuraikan secara jelas.
d. Keterangan tentang perusahaan yang menjadi pemohon harus
jelas, meliputi Nama Badan Usaha, Alamat Perusahaan,
Rekaman Akta Pendirian Perusaahaan, Rekaman Nomor
Pokok Wajib Pajak (NPWP).
e. Keterangan tentang tanah yang dimohonkan ijin lokasinya
harus jelas, meliputi : luas tanah, letak tanah, sketsa/gambar,
kasar lokasi, status penguasaan tanah, penggunan tanah
sekarang.
f. Mengisi/membuat kelengkapan permohonan yaitu :
a. Pernyataan kesanggupan akan memberi ganti rugi dan
atau menyediakan tempat penampungan bagi pemilik
yang berhak atas tanah, dibuat dan ditandatangani oleh
pemohon di atas meterai Rp.6000,b. Uraian rencana kegiatan yang akan dibangun (proposal).
Berdasarkan uraian di atas, diketahui bahwa pemohon
sebelum mengajukan permohonan ijin lokasi, terlebih dahulu
harus membuat permohonan secara tertulis yang ditujukan
kepada Walikota Semarang. Permohonan tertulis tersebut
lxxx
dilampiri proposal kegiatan. Permohonan diajukan ke Asisten
I Tata Praja Sekretariat Daerah Kota Semarang.
Setelah pemohon mengajukan permohonan secara tertulis kepada
Walikota Semarang, proses selanjutnya adalah pencatatan permohonan.
Adapun pencatatan permohonan dilakukan sebagai berikut :37
a. Permohonan
dicatat
dalam
agenda
dan
diteliti
kelengkapannya.
b. Apabila permohonan belum lengkap atau ada yang belum
benar, berkas permohonan dikembalikan kepada pemohon
selambat-lambatnya
2
(dua)
hari
setelah
diterima
permohonan untuk dilengkapi/diperbaiki.
c. Berkas permohonan yang telah lengkap dibuatkan tanda
terima permohonan ijin lokasi dan selanjutnya dicatat dalam
buku agenda.
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa sebelum membuat
surat pengajuan ijin lokasi, pemohon yang dalam hal ini adalah
pengembang (developer) membuat proposal. Pada dasarnya proposal yang
diajukan oleh PT Nusa Prima Intiniaga berisi rencana pengembangan
perumahan pada lokasi yang telah ditentukan. Proposal tersebut dilampiri
dengan : 38
a. Rencana pembangunan atas unit-unit rumah yang akan
dibangun.
37
Ibid, tanggal 14 Mei 2006
Bambang, wawancara pribadi, Pengembang PT Nusa Prima Intiniaga Semarang, tanggal 25
Mei 2006
38
lxxxi
b. UKL-UPL
(Upaya
Pengelolaan
Lingkungan-Upaya
Pemantauan lingkungan) yang dibuat oleh Bapedalda atas
permintaan dari PT Nusa Prima Intiniaga.
c. Rencana keterangan kota yang bentuknya adalah Site Plan
atau sketsa tanah yang meliputi luas kapling, luas jalan dan
saluran air.
Proposal
yang
telah
dibuat
kemudian
diajukan
kepada
Pemerintahan Kota Semarang bagian Pemerintahan Umum. Setelah
proposal diterima, kemudian barulah diadakan pemanggilan kepada pihak
developer untuk memaparkan isi proposal tersebut. Pemaparan tersebut
menjelaskan apakah tanah tersebut cocok untuk dijadikan kawasan
perumahan. Ijin lokasi tersebut apabila lebih dari 2 hektar dan kurang dari
10 hektar harus dibuatkan UKL-UPL (Upaya Pengelolaan Lingkungan dan
Upaya Pemantauan Lingkungan). UKL-UPL tersebut digunakan sebagai
persyaratan permohonan IMB (Ijin Mendirikan Bangunan).39
Secara terperinci dapat diuraikan isi permohonan
proposal ijin lokasi yang diajukan oleh PT Nusa Prima
Intiniaga untuk pembangunan perumahan Mega Residence
adalah sebagai berikut :
a. Nama Pemohon
1) Nama Badan Usaha
:
PT. Nusa Prima Inti Niaga.
2) Alamat
:
Jl. Sisingamangaraja no 10
Semarang
3) Akta Pendirian
:
Nomor 84 10 Juni 2004
4) NPWP
:
1.709.227.1.508
lxxxii
b. Lokasi
1) Luas
:
± 90.000 m2 (± 9 ha)
2) Letak
:
Kelurahan
Pudak
Payung,
Kecamatan Banyumanik, Kota
Semarang,
Propinsi
Jawa
Tengah
3) Status tanah
:
HGB
c. Permohonan rencana pembangunan perumahan disertai
dengan perbandingan untuk lahan perumahan, jalan, saluran
air dan taman, yaitu 60 % untuk perumahan dan 40 % untuk
fasilitas sosial dan fasilitas umum.
d. Lampiran
1) fotokopi KTP (direktur bertindak atas nama perusahaan
selaku pemohon)
2) Data Perusahaan : Akta Pendirian Perusahaan (akta
notaris Prof DR Liliana Tedjosaputro, SH.CN, MS,
nomor 84, tertanggal 10 Juni 2004)
3) Data lokasi : lahan perkebunan milik masyarakat seluas
10 ha yang terletak di Kelurahan Pudak Payung
Kecamatan Banyumanik
4) Sertipikat beberapa tanah yang telah dibeli, yakni
sertipikat HM No 1021, sertipikat HM 2394 dan sertipikat
HM 2376, seluas 1.3302 ha atau sekitar 14,78% dari
tanah yang dibutuhkan.
5) Site Plan atau gambar sketsa kasar.
39
Ibid, tanggal 25 Mei 2006
lxxxiii
6) Tipe rumah yang akan dibangun, yakni standar cotempo
tipe A 75/150, standar cosmo tipe B 95/180, standar
postmo tipe C 125/200.
Permohonan ijin lokasi diajukan ke Pemerintah Kota Semarang,
dilampiri sebagian penguasaan/pembebasan tanah yang sudah dilakukan,
hal tersebut dilakukan dengan tujuan : 40
a. untuk memberikan nilai tambah pada saat proposal ijin lokasi
diajukan.
b. untuk mengendalikan harga.
c. menekan spekulan yang tidak berhak atas ijin lokasi tersebut.
Hal senada juga dikemukakan oleh Suharta, yang
menerangkan
bahwa
untuk
memperolah
ijin
lokasi,
pengembang (developer) harus terlebih dahulu membebaskan
tanah yang bakal dijadikan perumahan sebagian. Pada saat
mengajukan permohonan ijin lokasi, PT Nusa Prima Intiniaga
telah membebaskan/membeli tiga bidang tanah seluas 1,3302
ha atau sekitar 14,78% dari tanah atau lahan yang
dibutuhkan.
Selanjutnya
tanah
sebagian
yang
telah
dibebaskan dicantumkan pada permohonan ijin lokasi.
Adapun fungsi pemberian ijin lokasi pada hakekatnya adalah :
41
a. untuk penyesuaian tata ruang
b. untuk ijin pembelian/pengadaan tanah untuk ijin lokasi
40
Ibid, tanggal 25 Mei 2006
lxxxiv
c. untuk merubah tanah pertanian ke non pertanian
Sesuai dengan ketentuan Pasal 2 Keputusan Menteri
Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nomor 21 Tahun
1994, perolehan tanah oleh perusahaan hanya boleh
dilaksanakan di areal yang telah ditetapkan di dalam ijin
lokasi. Jadi ijin lokasi merupakan ijin untuk menggunakan
dan membebaskan tanah untuk suatu kegiatan pembangunan
oleh badan usaha dalam rangka penanaman modal. Sehingga
perolehan tanah atau pembebasan tanah baru dapat
dilaksanakan oleh badan usaha dalam tesis ini adalah
pengembang (PT Nusa Prima Intiniaga) apabila sudah
mendapatkan surat izin lokasi. Hal ini bertujuan dalam
rangka melindungi masyarakat (pemilik tanah). Karena
pemberian ijin lokasi harus sesuai dengan tata ruang wilayah.
Dikhawatirkan
apabila
perolehan
tanahnya
sudah
dilaksanakan, akan tetapi ijin lokasi tidak disetujui oleh
Bupati/Walikota, maka pemilik tanah dalam posisi yang
lemah. Karena dirugikan, sudah terlanjur tanahnya
diserahkan kepada pengembang. Untuk itu, maka pengembang
harus “mengantongi” surat ijin lokasi terlebih dahulu sebelum
mengadakan kegiatan perolehan tanahnya.
Berdasarkan hasil penelitian, ternyata pengembang (PT Nusa
Prima Intiniaga) sudah membebaskan sebagian lahan (14,78%) dengan
tujuan sebagai nilai tambah dalam proses dan pemberian ijin lokasi, dan
kepastian hukum bagi pengembang untuk perolehan tanah selanjutnya.
Tahap berikutnya adalah proses penerbitan Ijin lokasi
dan alokasi waktu.
a. Atas dasar surat permohonan ijin lokasi, Asisten Tata Praja
memerintahkan kepada Kepala Bagian Pemerintahan Umum
Sekretariat Daerah Kota Semarang untuk :
1) Mempersiapkan bahan pertimbangan yang berkaitan
dengan lokasi perumahan Mega Residence yang terletak
41
Suharta , Op.cit, tanggal 15 Mei 2006
lxxxv
di Kelurahan Pudak Payung Kecamatan Banyumanik,
untuk keperluan rapat koordinasi.
2) Menyiapkan
undangan
rapat
koordinasi
untuk
ditandatangani oleh Asisten Tata Praja Sekretariat Daerah
Kota Semarang.
b. Asisten Tata Praja Sekretariat Daerah Kota Semarang
mengadakan rapat koordinasi sebagai berikut :
1) Yang diundang :
a) Kepala Kantor Pertanahan Kota Semarang.
b) Kepala Bappeda Kota Semarang.
c) Kepala Dinas Tata Kota dan Permukiman Kota
Semarang.
d) Kepala Bapedalda Kota Semarang.
e) Kepala Bagian Hukum Sekretariat Daerah Kota
Semarang.
f) Kepala Instansi, camat dan lurah terkait, yaitu Camat
Banyumanik dan Lurah Pudak Payung.
g) Peserta yang mewakili dalam rapat koordinasi harus
mempunyai
kewajiban
dan
kewenangan
untuk
menandatangani berita acara rapat koordinasi.
2) Hal-hal yang dipertimbangkan di dalam rapat :
a) Kesesuaian dengan Rencana tata Ruang Wilayah atau
rencana lainnya.
b) Kemungkinan adanya tumpang tindih.
lxxxvi
c) Kepastian lokasi dan luasnya yang dapat diberikan.
d) Status tanah yang dimohon.
e) Kepentingan pihak ketiga yang ada di lokasi yang
dimohon.
f) Persyaratan yang masih diperlukan.
c. Apabila dipandang perlu dapat dilaksanakan peninjauan
lapangan.
d. Hasil rapat koordinasi dituangkan dalam Berita Acara Rapat
Koordinasi yang ditandatangani oleh peserta rapat koordinasi.
e. Laporan hasil rapat koordinasi tersebut dapat dipakai sebagai
bahan
pertimbangan
mengambil
keputusan
oleh
walikota
pemberian
Semarang
ijin
lokasi
untuk
atau
penolakannya.
f. Penyiapan naskah dan penandatanganan Keputusan Ijin
lokasi :
1) Kepala Bagian Pemerintahan Umum Sekretariat Daerah
Kota Semarang setelah mendapat petunjuk dari Asisten
Tata
Praja
Sekretariat
Daerah
Kota
Semarang
mempersiapkan naskah keputusan dengan melampirkan
peta lokasi yang diijinkan atau mempersiapkan penolakan
ijin lokasi.
2) Asisten Tata Praja Sekretariat Daerah Kota Semarang
mengirimkan naskah Keputusan Ijin lokasi yang telah
diparaf oleh Kepala Bagian Pemerintahan Umum
lxxxvii
Sekretariat Daerah Kota Semarang dan Asisten Tata Praja
Sekretariat
Daerah
Kota
Semarang
dengan
surat
pengantar yang ditujukan kepada Walikota Semarang
melalui Bagian hukum.
3) Walikota
Semarang
menandatangani
Keputusan
Pemberian Ijin Lokasi atau penolakan Ijin lokasi.
4) Untuk kegiatan tersebut di atas dialokasikan waktu
sebagai berikut : 42
a) Pencatatan permohonan dan pemeriksaan
berkas
3 hari
b) Proses Koordinasi
6 hari
c) Penyusunan Surat keputusan
2 hari
d) Penandatanganan surat keputusan
1 hari
Jumlah waktu yang diperlukan
12 hari
Berdasarkan ketentuan di atas, alokasi waktu pengajuan
permohonan ijin lokasi untuk pembangunan perumahan
adalah 12 (dua belas) hari. Pada kenyataannya menurut pihak
pengembang
(developer), proses pemberian ijin lokasi bisa
memerlukan waktu 2 (dua) bulan.43 Hal tersebut dapat
dimengerti mengingat pemohon ijin lokasi tidak hanya
beberapa orang saja, melainkan bisa mencapai puluhan
orang/perusahaan tiap hari. Proses pemberian ijin lokasi ini
42
43
Ibid, tanggal 5 Juni 2006
Heru, wawancara pribadi, Staf PT Nusa Prima Intiniaga, tanggal 24 Mei 2006
lxxxviii
biasanya
memerlukan
waktu
yang
lama
pada
tahap
koordinasi, yakni tahap koordinasi antar instansi yang
berwenang.
Berkaitan dengan koordinasi antar instansi dalam
pemberian ijin lokasi untuk perolehan hak atas tanah, Asisten
Tata Praja Sekretariat Daerah Kota Semarang selaku ketua
tim koordinasi mengadakan rapat koordinasi dengan Kepala
Kantor Pertanahan Kota Semarang, Kepala Dinas Tata Kota
dan Permukiman Kota Semarang untuk membahas status dan
peruntukan tanah yang akan dijadikan lokasi perumahan.
Sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Semarang
serta Rencana Detail Tata Ruang Kota Semarang akan dilihat
peruntukan lokasi yang dimohonkan. Jika lokasi yang
dimohonkan ijin tersebut peruntukannya sesuai dengan
Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Semarang serta Rencana
Detail Tata Ruang Kota Semarang, maka tim koordinasi akan
menyetujui permohonan tersebut, sebaliknya apabila lokasi
yang dimohonkan ijin tersebut peruntukannya tidak sesuai
dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Semarang serta
Rencana Detail Tata Ruang Kota Semarang, maka
permohonan tersebut akan ditolak.
Tim koordinasi hanya memeriksa kesesuaian ijin lokasi dengan
Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Semarang serta Rencana Detail Tata
Ruang Kota Semarang, sedangkan mengenai perolehan hak atas tanah di
lokasi yang akan dijadikan perumahan diserahkan sepenuhnya kepada
Kantor Pertanahan Kota Semarang. Kantor Pertanahan dapat menolak
perubahan peruntukan atas tanah pada lokasi yang dimohonkan jika
dinggap bahwa perubahan peruntukan tersebut dapat mengganggu
stabilitas pertanahan di wilayah tersebut. Misalkan saja tanah yang akan
dijadikan lokasi perumahan adalah tanah persawahan, jika Kantor
Pertanahan melihat perubahan peruntukan tersebut dapat mengganggu
lxxxix
kualitas tanah sekitar, maka permohonan ijin lokasi dapat ditolak
berdasarkan alasan tersebut.
Oleh karena itu bagi pengembang (developer) surat ijin lokasi
merupakan hal yang sangat penting. Pengembang (developer) yang belum
memiliki surat ijin lokasi tidak dapat membangun perumahan di lokasi
yang telah ditentukan.
Secara skematis proses perolehan ijin lokasi dan koordinasi antar
instansi dapat digambarkan sebagai berikut :
Gambar 4.1
Skema Perolehan ijin Lokasi
Pemohon
(Developer)
xc
Bagian
Pemerintan Umum
Pengajuan Permohonan
Persyaratan
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
Tim Koordinasi
Rapat
Koordinasi
Surat Permohonan
Proposal
Fotocopi KTP
Akta Perusahaan
Denah Lokasi
Site Plan
Type rumah
UKL-UPL
Hak atas tanah
Pemeriksaan
Lapangan
Pemberian Ijin Lokasi
Sumber : Data primer yang diolah tahun 2006
Berdasarkan skema tersebut, dapat dilihat bahwa untuk memperoleh ijin
lokasi, pengembang (developer) harus melengkapi surat permohonan
pemberian ijin tersebut dengan Proposal, Fotocopi KTP, Akta Perusahaan,
Denah Lokasi, Site Plan, Type rumah, UKL-UPL, Hak atas tanah yang
telah dibebaskan yang ditujukan ke Walikota Semarang dan diajukan ke
Bagian Pemerintahan Umum Sekretariat Daerah Kota Semarang.
Selanjutnya permohonan pemberian ijin tersebut akan diproses oleh tim
koordinasi yang diketuai oleh Asisten I Tata Praja Sekretariat Daerah Kota
xci
Semarang. Dalam jangka waktu 12 (dua belas) hari, tim koordinasi akan
mengeluarkan keputusan pemberin ijin lokasi yang telah ditandatangani
oleh Walikota Semarang.
Berdasarkan hasil penelitian pada PT Nusa Prima
Intiniaga, diketahui bahwa pengembang (developer) telah
mengajukan ijin lokasi untuk pembangunan perumahan Mega
Residence yang terletak di wilayah Kelurahan Pudak Payung
Kecamatan Banyumanik Kota Semarang melalui surat
permohonan Direktur PT Nusa Prima Intiniaga Nomor :
01/NPI/III/2005 tanggal 08 Maret 2005 tentang Permohonan
ijin lokasi.
Atas permohonan ijin lokasi yang diajukan oleh
Direktur PT Nusa Prima Intiniaga tersebut, Walikota
Semarang telah memberikan ijin lokasi dengan keluarnya
Keputusan Walikota Semarang Nomor : 593.6/116 tanggal 11
Mei 2005 tentang Pemberian Ijin Lokasi Kepada Perseroan
Terbatas (PT) Nusa Prima Intiniaga untuk Keperluan
Pembangunan Perumahan seluas ± 9 ha (kurang lebih
sembilan hektar) terletak di Kelurahan Pudak Payung
Kecamatan Banyumanik Kota Semarang.
Dasar pertimbangan Tim Koordinasi menyetujui
pemberian ijin lokasi dapat dilihat pada diktum menimbang
sebagai berikut :
a. PT
Nusa
Prima
Intiniaga
bermaksud
mengadakan pembangunan perumahan dengan
mengajukan permohonan ijin lokasi seluas ± 9 ha
(kurang lebih sembilan hektar) yang terletak di
Kelurahan
Pudak
Payung
Banyumanik Kota Semarang
xcii
Kecamatan
b. Berdasarkan hasil rapat dan peninjauan lokasi
oleh Tim Koordinasi dan Tata cara pemberian
ijin lokasi dalam rangka penanaman modal di
Kota Semarang, permohonan PT Nusa Prima
Intiniaga disetujui ± 9 ha (kurang lebih sembilan
hektar) dengan pertimbangan bahwa lokasi yang
dimohon sesuai dengan Rencana Detail Tata
Ruang Kota (RDTRK) Bagian Wilayah Kota
(BWK) VII (Kecamatan Banyumanik) Kota
Semarang tahun 2000-2010, fungsi pemanfaatan
lahan merupakan kawasan permukiman.
Ijin lokasi kepada PT Nusa Prima Intiniaga tersebut
diberikan dengan syarat sebagai berikut :
a. Dari luas tanah yang diizinkan 60% untuk
pembangunan perumahan, sedangkan sisanya
40% dari luas tanah dipergunakan untuk
fasilitas umum dan fasilitas sosial.
b. Pemohon harus menyediakan tanah/lahan untuk
tempat pemakaman umum (TPU) seluas 2% dari
luas
tanah
yang
diizinkan
sesuai
Surat
Keputusan Gubernur Jawa Tengah Nomor 3
xciii
tahun
2001
tentang
Pedoman
Penyediaan
Lahan/Tanah untuk Tempat Pemakaman Umum
oleh
Perusahan
sedangkan
Pembangunan
teknis
Perumahan,
pelaksanaannya
agar
dikoordinasikan dengan Dinas Pertamanan dan
Pemakaman Kota Semarang.
c. Penyerahan atau pelepasan
untuk
keperluan
hak atas tanah
pembangunan
perumahan
dilakukan oleh pemegang hak/kuasanya dengan
pernyataan penyerahan atau pelepasan hak atas
tanah yang dibuat di hadapan Kepala Kantor
Pertanahan Kota Semarang dengan pemberian
ganti rugi yang bentuk dan besarnya ditentukan
secara musyawarah mufakat.
d. Pembayaran ganti kerugian tanah serta tanaman
yang tumbuh dan atau bangunan yang ada di
atasnya
ataupun
barang-barang
lain
milik
pemegang hak atas tanah tidak dibenarkan
dilaksanakan melalui perantara dalam bentuk
xciv
dan
nama
apapun
juga
melainkan
harus
dilakukan langsung kepada yang berhak.
e. Pengadaan tanah tidak boleh melebihi tanah
yang diijinkan baik luas maupun batas-batasnya,
sedangkan luas yang sebenarnya berdasarkan
hasil
pengukuran
dari
Badan
Pertanahan
Nasional.
f. Perolehan tanahnya harus diselesaikan dalam
jangka waktu 12 (dua belas) bulan sejak tanggal
ditetapkannya
keputusan
ini
dan
dapat
diperpanjang 1 (satu) kali lagi selama 12 (dua
belas) bulan dan penerima izin diwajibkan
melaporkan perolehan perkembangan tanah
kepada Walikota Semarang setiap triwulan
dengan tembusan Kepala Kantor Pertanahan
Kota Semarang.
g. Untuk tanah yang diperoleh, penerima ijin
diwajibkan mengajukan permohonan hak atas
tanah yang dikuasai kepada pejabat yang
xcv
berwenang
sesuai
dengan
peraturan
yang
berlaku.
h. Pemohon
dilarang
melaksanakan
kegiatan
pembangunan untuk tanah yang berada di
bawah Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi
(SUTET)
dan
pemohon
agar
membangun
boulevard sepanjang tanah yang ada di bawah
jaringan listrik SUTET.
i. Sebelum
mendapatkan
ijin
mendirikan
bangunan (IMB) dari Dinas Tata Kota dan
Permukiman Kota Semarang, pemohon dilarang
mengadakan kegiatan pembangunan di lokasi
yang diajukan.
j. Sebelum membangun segera mengajukan site
plan kepada Walikota Semarang melalui Kepala
Dinas
Tata
Kota
dan
Permukiman
Kota
Semarang.
k. Dalam pembangunan, pemohon harus mengacu
kepada lingkungan hunian yang berimbang
sebagaimana
dimaksud
xcvi
dalam
keputusan
Menteri Negara Perumahan Rakyat Nomor
04/KPTS/BKP4N/1995
l. Sebelum
membangun
agar
mengajukan
permohonan ijin mendirikan bangunan (IMB)
kepada Walikota Semarang melalui Kepala
Dinas
Tata
Kota
dan
Permukiman
Kota
Semarang.
m. Pemegang ijin dilarang mengalihkan hak ijinnya
kepada siapapun dan dengan dalih apapun baik
sebagian atau seluruhnya.
n. Memperhatikan keindahan dan kebersihan serta
melaksanakan
penghijauan
di
lingkungan
perumahan
o. Wajib
kerja
menampung/memprioritaskan
setempat
dalam
tenaga
melaksanakan
pembangunan perumahan.
p. Setelah
selesai
pembangunan
perumahan,
sarana dan prasarana yang ada, fasilitas umum
serta fasilitas sosial segera diserahkan kepada
Pemerintah Kota Semarang.
xcvii
Berdasarkan keputusan di atas, pengembang (developer)
harus segera menyelesaikan perolehan tanahnya untuk
pembangunan perumahan. Jangka waktu yang diberikan oleh
Pemerintah Kota Semarang adalah 12 (dua belas) bulan sejak
tanggal pemberian ijin lokasi. Untuk memperoleh tanah sesuai
dengan ijin yang diberikan, pihak pengembang (developer)
melakukan pendekatan kepada pemegang hak atas tanah
untuk melepaskan tanahnya guna kepentingan pembangunan
perumahan.
Mengenai luas lahan yang dimintakan ijin lokasi oleh PT
Nusa Prima Intiniaga sebenarnya seluas 10 ha, namun dalam
keputusan Walikota hanya diijinkan ± 9 ha saja. Hal tersebut
tidak mempengaruhi rencana peruntukan pembangunan
perumahan, sebab lokasi pembangunan perumahan yang
termasuk daerah resapan, memang didesain sesuai kondisi
lahan. Dalam perkembangannya, lahan yang dipergunakan
oleh PT Nusa Prima Intiniaga untuk membangun perumahan
Mega Residence hanya seluas ± 7-8 ha saja. Hal ini disebabkan
mahalnya harga tanah yang diminta oleh pemilik/pemegang
hak atas tanah, sehingga dari ± 9 ha lahan yang diijinkan, PT
Nusa Prima Intiniaga hanya memanfaatkan ± 7-8 ha saja.
Menurut Bintarwan, Kabag Perolehan Hak atas Tanah Kantor
Pertanahan Kota Semarang, sebelum memberikan perolehan hak atas
tanah, Kantor Pertanahan Kota Semarang akan meminta pengesahan ijin
lokasi ijin dari Walikota Semarang.44 Pada prakteknya perolehan hak atas
tanah dapat segera diproses setelah pihak pengembang (developer)
menunjukkan Surat Keputusan Walikota Semarang yang memberikan ijin
lokasi pembangunan perumahan. Adapun luas lahan yang diajukan juga
sesuai dengan luas lahan yang diijinkan.
Berdasarkan uraian di atas, diketahui bahwa koordinasi yang
dilakukan oleh instansi dilakukan secara horizontal, artinya bahwa hal-hal
xcviii
yang berkaitan dengan ijin lokasi menjadi kewenangan tim koordinasi
yang dibentuk oleh Walikota Semarang, sedangkan hal-hal yang
berhubungan dengan perolehan hak atas tanah menjadi kewenangan
Kantor Pertanahan.
Untuk
mendapatkan
ijin
lokasi,
tim
koordinasi
akan
mempertimbangkan pendapat dari Kantor Pertanahan Kota Semarang
menyangkut fungsi peruntukan lahan/tanah yang akan dibangun tersebut.
Jika fungsi peruntukan lahan/tanah tersebut dapat digunakan untuk
pembangunan perumahan, maka ijin lokasi akan diberikan oleh tim
koordinasi pemberian ijin lokasi Kota Semarang.
B. Faktor yang Mendukung dan Menghambat Koordinasi antar Instansi
dalam Perolehan Ijin Lokasi untuk Perolehan Hak Atas Tanah bagi
Pembangunan Perumahan Mega Residence di Kota Semarang
Berdasarkan hasil penelitian dapat diperoleh faktor-faktor yang
mendukung dan menghambat koordinasi antar instansi dalam perolehan ijin
lokasi untuk perolehan hak atas tanah bagi pembangunan perumahan Mega
Residence di Kota Semarang.
1. Faktor Yang Mendukung
Secara umum faktor-faktor yang mendukung adalah
sebagai berikut :
44
Bintarwan, wawancara pribadi, Kabag Perolehan Hak atas Tanah Kantor Pertanahan Semarang,
tanggal 12 Juni 2006
xcix
a. Masyarakat pemegang hak atas tanah bersedia
untuk melepaskan hak atas tanahnya dengan
ganti kerugian yang telah disepakati.
Salah satu syarat yang harus dipenuhi oleh
pengembang
(developer)
dalam mengajukan
permohonan pemberian ijin lokasi adalah telah
menguasai sebagian hak atas tanah yang akan
dijadikan
lokasi
kenyataannya,
perumahan.
Pada
PT Nusa Prima Intiniaga
telah menguasai sebagian besar lahan yang akan
dijadikan
lokasi
pembangunan
perumahan,
sehingga hal ini memudahkan pihak perusahaan
dalam mengurus permohonan pemberian ijin
lokasi kepada Walikota Semarang. Sebagaimana
telah dijelaskan bahwa salah satu syarat yang
harus dipenuhi untuk dilampirkan adalah bukti
penguasaan hak atas tanah untuk sebagian lahan
lokasi.
Dengan
adanya
penguasaan
lahan
tersebut, maka syarat pengusaan telah dipenuhi
oleh pengembang (developer).
b. Lokasi lahan/tanah yang akan digunakan untuk
pembangunan
perumahan
c
termasuk
dalam
Rencana Detail Tata Ruang Kota (RDTRK) yang
peruntukannya
sebagian
besar
untuk
permukiman dan daerah peresapan.
Sebelum mengajukan permohonan ijin lokasi,
pihak pengembang (developer) terlebih dahulu
melakukan
penelitian
lokasi.
Berdasarkan
Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Semarang,
Rencana Detail Tata Ruang Kota Semarang
diperoleh informasi bahwa lokasi yang akan
dijadikan
lahan
pembangunan
perumahan
tersebut dapat dipergunakan untuk perumahan
dan memang cocok untuk dibangun perumahan.
Atas dasar informasi tersebut, maka PT Nusa
Prima Intiniaga segera mengajukan permohonan
ijin lokasi.
Berdasarkan kedua hal tersebut, maka pemberian ijin
lokasi untuk perolehan hak atas tanah bagi pembangunan
perumahan Mega Residence oleh PT Nusa Prima Intiniaga
dapat segera diproses. Mengenai koordinasi antar instansi
dalam tim koordinasi pemberian ijin lokasi sebagaimana telah
diuraikan di muka dilakukan sesuai tatacara pemberian ijin
lokasi yang diatur dalam keputusan Walikota Semarang.
Koordinasi antara pemerintah Kota Semarang dengan Kantor
Pertanahan Kota Semarang yang bersifat horizontal ini dapat
berjalan dengan lancar. Hal tersebut tidak terlepas dari
kesiapan PT Nusa Prima Intiniaga dalam melengkapi
persyaratan yang ada.
ci
Kunci keberhasilan koordinasi antar instansi tersebut
dapat dilihat dari pemberian ijin lokasi oleh Walikota
Semarang, ijin tersebut dapat diberikan setelah tim koordinasi
melakukan pemeriksaan administrasi dan pemeriksaan
lapangan. Dalam presentasi yang dilakukan di depan tim
koordinasi, PT Nusa Prima Intiniaga dapat dengan tegas
menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan dan dapat
meyakinkan tim koordinasi berkaitan dengan rencana
pembangunan perumahan Mega Residence.45
2. Faktor Yang Menghambat
Mengenai hambatan yang dihadapi dalam perolehan
ijin lokasi guna perolehan hak atas tanah bagi perumahan
Mega Residence, secara umum tidak ada. Namun demikian
bukan berarti tidak ada hambatan sama sekali. Hambatan
yang utama adalah jangka waktu pemberian ijin lokasi yang
secara normatif berdasarkan ketentuan dari Walikota
Semarang seharusnya hanya 12 (dua belas) hari saja, namun
dalam prakteknya bisa mencapai 2 bulan. Hal ini sebetulnya
yang dapat menghambat proses perolehan hak atas tanah di
Kantor Pertanahan Kota Semarang.
Sebagaimana
telah
dijelaskan
bahwa
untuk
memperoleh hak atas tanah, PT Nusa Prima Intiniaga harus
memiliki ijin lokasi dari Walikota Semarang. Dengan adanya
ijin lokasi tersebut, maka Kantor Pertanahan Kota Semarang
akan mengeluarkan hak atas tanah yang telah dikuasai PT
Nusa Prima Intiniaga yang akan dipergunakan untuk
pembangunan perumahan Mega Residence yang terletak di
Kelurahan Pudak Payung Kecamatan Banyumanik. Dengan
keluarnya Keputusan Walikota Semarang Nomor 593.6/116
tentang Pemberian Ijin Lokasi Kepada Peseroan terbatas (PT)
Nusa Prima Intiniaga untuk Keperluan Pembangunan
Perumahan seluas ± 9 ha (kurang lebih sembilan hektar)
terletak di Kelurahan Pudak Payung Kecamatan Banyumanik
Kota Semarang, proses perolehan hak atas tanah yang
diajukan PT Nusa Prima Intiniaga dapat segera dilaksanakan.
Perolehan hak atas tanah yang diajukan oleh PT Nusa Prima
45
Heru, Op.cit, tanggal 24 Mei 2006
cii
Intiniaga sekaligus juga disertai dengan permohonan
pendaftaran perubahan/penurunan hak atas tanah dari Hak
Milik menjadi Hak Guna Bangunan untuk beberapa bidang
tanah yang akan segera dibangun perumahan Mega Residence.
Untuk mengatasi hambatan tersebut, saat ini belum
memungkinkan mengingat untuk mempertemukan anggota
tim koordinasi yang terdiri dari berbagai instansi tersebut
tidak mudah. Setiap instansi memiliki jadwal yang padat,
sehingga Ketua tim koordinasi harus menyesuaikan terlebih
dahulu dengan jadwal masing-masing instansi baru kemudian
dapat menentukan jadwal pemeriksaan adminsitrasi dan
lapangan.
C. Perolehan Hak Atas Tanah bagi Pembangunan Perumahan Mega
Residence di Kota Semarang
Perolehan hak atas tanah bagi pembangunan perumahan Mega
Residence di Kota Semarang, tidak berbeda dengan perolehan hak pada
umumnya. Berdasarkan hasil penelitian di lapangan dapat diketahui bahwa
untuk memperoleh hak atas tanah
bagi pembangunan perumahan Mega
Residence, pihak pengembang (developer) dalam hal ini PT Nusa Prima
Intiniaga harus memperoleh ijin lokasi dari Walikota Semarang terlebih
dahulu. Setelah memperoleh ijin lokasi dari Walikota Semarang, langkah
selanjutnya adalah melakukan perolehan hak atas tanah dengan cara
pembelian lahan/tanah yang belum dikuasai PT Nusa Prima Intiniaga dan
telah disetujui oleh Pemkot yang dituangkan dalam ijin lokasi. Dalam
kaitannya dengan pembangunan perumahan Mega Residence ini, pihak
pengembang
(developer)
melakukan
ciii
pendekatan
kepada
masyarakat
pemegang hak atas tanah agar bersedia menjual lahan/tanahnya kepada
pengembang (developer).
Setelah masyarakat pemegang hak atas tanah setuju untuk
melepaskan hak atas tanahnya dengan jalan jual beli, dilakukan musyawarah
untuk mencapai mufakat mengenai besarnya harga tanah permeter. Dalam
proses musyawarah mufakat ini pihak pengembang (developer) tidak
melibatkan tim/panitia pembebasan tanah, sebab bukan untuk kepentingan
umum melainkan untuk kepentingan swasta.
Setelah harga tanah disepakati, kedua belah pihak melakukan jual
beli di hadapan Notaris – PPAT. Akta jual beli sangat penting untuk
pengurusan pendaftaran tanahnya di Kantor Pertanahan Kota Semarang.
Proses perolehan tanah oleh PT Nusa Prima Intiniaga
dilakukan secara langsung/dengan jalan jual beli dengan
pemegang hak atas tanah tanpa memerlukan panitia
pembebasan lahan/tanah. Penentuan harga tanah dilakukan
dengan jalan musyawarah antara kedua belah pihak. Setelah
terjadi kesepakatan harga karena status tanahnya adalah Hak
Milik (HM), maka pemegang hak atas tanah mengajukan
perubahan hak atas tanahnya dari Hak Milik menjadi Hak
Guna Bangunan (penurunan hak) ke Kantor Pertanahan.
Dalam hal ini PT Nusa Prima Intiniaga diberi kuasa oleh
pemilik tanah untuk menurunkan haknya. Setelah sertifikat
Hak Guna Bangunan jadi kemudian dilakukan jual beli
dihadapan Notaris – PPAT Liliana Tedjosaputro atas tanah
tersebut.
Untuk tanah bekas persawahan atau tanah basah, maka
tanah tersebut harus dikeringkan terlebih dahulu. Untuk
melakukan pengeringan tersebut pihak developer harus
mengurus surat-surat yang berkaitan dengan pengeringan dan
juga harus membayar biaya pengeringan.46
46
Heru, Op.cit, tanggal 24 Mei 2006
civ
Sesuai dengan ketentuan status hak atas tanah bagi lahan perumahan
yang diijinkan adalah Hak Guna Bangunan. Dengan demikian tanah-tanah
yang telah dikuasai oleh PT Nusa Prima Intiniaga dengan ijin lokasi untuk
pembangunan perumahan Mega Residence harus diturunkan terlebih dahulu
hak atas tanahnya dari Hak Milik menjadi Hak Guna Bangunan. Penurunan
hak atas tanah yang dikuasai oleh PT Nusa Prima Intiniaga dilakukan
bersamaan dengan pengajuan perolehan hak atas tanah kepada Kantor
Pertanahan Kota Semarang.
Pengajuan permohonan pendaftaran perubahan Hak
Milik menjadi Hak Guna Bangunan berdasarkan ketentuan
Pasal 2 Keputusan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan
Pertanahan Nasional Nomor 16 tahun 1997 tentang Perubahan
Hak Milik Menjadi Hak Guna Bangunan atau Hak Pakai dan
Hak Guna Bangunan Menjadi Hak Pakai disertai dengan :
a. Sertipikat Hak Milik yang dikuasai oleh PT Nusa Prima
Intiniaga
b. Bukti identitas pemohon, yakni direktur PT Nusa Prima
Intiniaga atas nama perusahaan.
Dalam pengajuan permohonan pendaftaran penurunan/perubahan
status hak atas tanah dari Hak Milik menjadi Hak Guna Bangunan ini tidak
dipungut biaya uang pemasukan kepada negara. Hal ini ditegaskan dalam
ketentuan Pasal 1 ayat (2) Keputusan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan
Pertanahan Nasional Nomor 16 tahun 1997 tentang Perubahan Hak Milik
Menjadi Hak Guna Bangunan atau Hak Pakai dan Hak Guna Bangunan
Menjadi Hak Pakai yang menyebutkan :
cv
“Untuk perubahan Hak Milik menjadi Hak Guna Bangunan atau
Hak Pakai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, pemohon tidak
dikenakan kewajiban membayar uang pemasukan kepada negara.”
Mengenai jumlah sertipikat hak atas tanah yang dikuasai oleh PT
Nusa Prima Intiniaga yang telah diturunkan haknya dari Hak Milik menjadi
Hak Guna Bangunan dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel 4.3
Daftar Sertipikat yang telah Diturunkan Haknya
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
Atas Nama
PT Nusa Prima Intiniaga
PT Nusa Prima Intiniaga
PT Nusa Prima Intiniaga
PT Nusa Prima Intiniaga
PT Nusa Prima Intiniaga
PT Nusa Prima Intiniaga
PT Nusa Prima Intiniaga
PT Nusa Prima Intiniaga
PT Nusa Prima Intiniaga
PT Nusa Prima Intiniaga
PT Nusa Prima Intiniaga
PT Nusa Prima Intiniaga
PT Nusa Prima Intiniaga
Status
HGB
HGB
HGB
HGB
HGB
HGB
HGB
HGB
HGB
HGB
HGB
HGB
HGB
No. Sert
1578
1637
1728
1665
1663
1664
1670
1613
1612
1638
1720
1671
1787
Jumlah
Luas (M2)
9.212
2.850
8.202
4.744
3.458
1.958
890
1.330
6.050
1.240
2.000
1.470
2.506
45.910
Sumber : Data primer yang diolah tahun 2005
Berdasarkan tabel di atas, dapat dilihat bahwa hak atas tanah yang
telah diturunkan statusnya dari Hak Milik menjadi Hak Guna Bangunan
sebanyak 13 sertipikat atas nama PT Nusa Prima Intiniaga dengan luas lahan
sebesar 45.910 m2 atau sekitar 4,591 ha. Dengan demikian dari lahan seluas ±
7-8 ha baru sekitar 4,6 ha saja yang sudah diturunkan dan sudah mulai
dilakukan pembangunan perumahan, sementara sisanya masih berupa lahan.
Mengenai belum semua lahan diperoleh/dibeli oleh PT Nusa Prima
Intiniaga didasarkan pada pemikiran ekonomi, yakni kemampuan finansial
cvi
perusahaan yang terbatas. Untuk menjaga kelancaran keuangan perusahaan,
PT Nusa Prima Intiniaga memiliki kebijakan untuk mengajukan permohonan
pendaftaran perubahan/penurunan hak atas tanah oleh PT Nusa Prima
Intiniaga dilakukan secara bertahap. Hal tersebut disesuaikan dengan jumlah
unit rumah yang telah terjual. Setiap ada unit rumah di perumahan Mega
Residence yang terjual, maka pihak pengembang (developer) yang dalam hal
ini adalah PT Nusa Prima Intiniaga akan mengajukan kembali permohonan
pendaftaran perubahan/penurunan status hak atas tanah kepada Kantor
Pertanahan Kota Semarang.47
Adapun proses perolehan hak atas tanah bagi pembangunan
perumahan Mega Residence oleh PT Nusa Prima Intiniaga secara terperinci
dapat digambarkan sebagai berikut :
1. Pihak pengembang dalam hal ini PT Nusa Prima Intiniaga
mengajukan permohonan pendaftaran perolehan hak atas tanah
ke Kantor Pertanahan Kota Semarang. Dengan melampirkan :
a. Surat Keputusan Walikota Semarang Nomor 593.6/116
tentang Pemberian Ijin Lokasi Kepada Peseroan terbatas
(PT) Nusa Prima Intiniaga untuk Keperluan Pembangunan
Perumahan seluas ± 9 ha (kurang lebih sembilan hektar)
terletak
di
Kelurahan
Pudak
Payung
Banyumanik Kota Semarang
b. Perjanjian Akta jual beli tanah dari PPAT
47
Heru, Op.cit, tanggal 24 Mei 2006
cvii
Kecamatan
c. Sertipikat lama yang telah dikuasai oleh PT Nusa Prima
Intiniaga
2. Pihak pengembang juga mengajukan penggabungan sertipikat
yang dimintakan perolehan hak atas tanah tersebut
3. Pihak
Kantor
Pertanahan
Kota
Semarang
selanjutnya
melakukan pemeriksaan dan pengukuran ulang di lapangan.
4. Setelah semua persyaratan dinyatakan lengkap, maka Kantor
Pertanahan Kota Semarang akan mengeluarkan sertipikat hak
atas tanah yang akan dipergunakan untuk pembangunan
perumahan Mega Residence dengan status Hak Guna
Bangunan untuk sebagian bidang tanah yang telah dimintakan
permohonan pendaftaran penurunan hak atas tanahnya.48
Berdasarkan uraian di atas, dapat dijelaskan bahwa
untuk mendapatkan perolehan hak atas tanah guna keperluan
pembangunan perumahan Mega Residence, ada 2 (dua)
tahapan yang harus ditempuh oleh PT Nusa Prima Intiniaga,
yaitu
mengumpulkan
persyaratan
administrasi
dan
mengajukan permohonan penggabungan sertipikat. Dilihat
dari proses perolehan hak atas tanah sebetulnya cukup
sederhana dan mudah. Namun demikian agar dalam
pemberian hak atas tanah tidak menimbulkan persoalan di
masa mendatang, sebelum memberikan hak atas tanah,
Kantor Pertanahan akan melakukan pemeriksaan langsung
mengenai luas tanah dengan cara melakukan pengukuran
ulang dan menetapkan batas-batasnya. Kantor Pertanahan
sebagai institusi yang berwenang di bidang pertanahan
memang perlu bersikap hati-hati dan bertindak cermat dalam
menjalankan tugasnya terutama menyangkut kepemilikan dan
batas-batas lahan.
48
Heru, Op.cit, tanggal 24 Mei 2006
cviii
Demikian proses perolehan hak atas tanah bagi pembangunan
perumahan Mega Residence oleh Kantor Pertanahan Kota Semarang.
cix
BAB V
PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian mengenai koordinasi antar instansi
dalam perolehan ijin lokasi untuk perolehan hak atas tanah bagi pembangunan
perumahan Mega Residence di Kota Semarang dapat ditarik suatu kesimpulan
sebagai berikut :
1. Koordinasi antar instansi dalam perolehan ijin lokasi untuk perolehan hak
atas tanah bagi pembangunan perumahan Mega Residence di Kota
Semarang telah dilakukan sesuai dengan ketentuan. Dalam mengajukan
ijin lokasi, pengembang (developer) melengkapi surat permohonan
pemberian ijin tersebut dengan Proposal, Fotocopi KTP, Akta Perusahaan,
Denah Lokasi, Site Plan, Type rumah, UKL-UPL, Hak atas tanah yang
ditujukan ke Walikota Semarang dan diajukan ke Bagian Pemerintahan
Umum Sekretariat Daerah Kota Semarang. Permohonan pemberian ijin
tersebut akan diproses oleh tim koordinasi yang diketuai oleh Asisten I
Tata Praja Sekretariat Daerah Kota Semarang. Tim koordinasi akan
mempertimbangkan pendapat dari Kantor Pertanahan Kota Semarang
menyangkut fungsi peruntukan lahan/tanah yang akan dibangun tersebut.
2. Faktor-faktor yang mendukung dan menghambat pemberian ijin lokasi
untuk perolehan hak atas tanah bagi pembangunan perumahan Mega
Residence adalah sebagai berikut :
a. Faktor yang mendukung
cx
1) Masyarakat pemegang hak atas tanah bersedia untuk melepaskan
hak atas tanahnya dengan ganti kerugian yang telah disepakati.
2) Lokasi lahan/tanah yang akan digunakan untuk pembangunan
perumahan termasuk dalam Rencana Detail Tata Ruang Kota
(RDTRK) yang peruntukannya sebagian besar untuk permukiman
dan daerah peresapan.
b. Faktor yang Menghambat
Hambatan yang utama adalah jangka waktu pemberian ijin lokasi yang
secara normatif berdasarkan ketentuan dari Walikota Semarang
seharusnyaa hanya 12 (dua belas) hari saja, namun dalam prakteknya
bisa mencapai 2 bulan.
3. Perolehan hak atas tanah bagi pembangunan perumahan Mega Residence
di Kota Semarang, dilakukan secara langsung antara pihak pengembang
dengan masyarakat pemilik tanah dengan cara jual beli dihadapan PPAT.
Karena status tanah yang dimiliki oleh masyarakat adalah Hak Milik,
maka pemilik tanah menurunkan terlebih dahulu haknya di Kantor
Pertanahan, dalam penelitian ini dilakukan oleh PT. Nusa Prima Intiniaga
atas kuasa dari pihak masyarakat dan didaftarkan di Kantor Pertanahan
dengan keluar sertipikat Hak Guna Bangunan. Dalam kaitannya dengan
pembangunan perumahan Mega Residence ini, pihak pengembang
(developer) melakukan pendekatan kepada masyarakat pemegang hak atas
tanah untuk mau melepaskan hak atas tanahnya kepada pengembang
(developer).
cxi
Saran
Mengenai saran yang dapat diberikan dalam penelitian ini dapat
diuraikan sebagai berikut :
1. Mengingat bahwa proses pemberian ijin lokasi menurut ketentuan
maksimal adalah 12 (dua belas) hari, namun pada kenyataan dapat
mencapai 2 (dua) bulan, hal ini disebabkan oleh begitu banyaknya
perusahaan yang mengajukan ijin lokasi, maka kiranya waktu yang ada
lebih diperpanjang.
2. Mengingat bahwa pembangunan perumahan dapat memberikan dampak
positif maupun negatif, maka dalam pemberian ijin lokasi, tidak hanya
didasarkan pada kesesuaian lahan dengan RDTRK saja, tetapi juga harus
melihat aspek sosiologis lainnya, seperti kondisi lingkungan masyarakat
sekitar. Hal ini untuk menghindari apabila perumahan tersebut telah
terbangun dan dihuni, masyarakat sekitar merasa terpinggirkan. Kondisi
ini biasanya dialami oleh masyarakat yang tinggal di sekitar perumahan
mewah.
cxii
DAFTAR PUSTAKA
a. Buku
A.P.Parlindungan, 1991, Komentar Atas Undang-Undang Pokok Agraria,
CV.Mandar Maju, Bandung.
______________, 1993, Pencabutan dan Pembebasan Hak Atas Tanah
Suatu Studi Perbandingan, Mandar Maju, Bandung.
Bambang Sunggono, 1997, Metode Penelitian Hukum, PT. Raja Grafindo
Persada, Jakarta.
Bambang Waluyo, 1991, Penelitian Hukum Dalam Praktek, Sinar Grafika,
Jakarta.
Boedi Harsono, 2003, Hukum Agraria Indonesia, Djambatan, Jakarta.
______________, 1994, Hukum Agraria Nasional, Djambatan, Bandung.
C.Fandeli, 1992, Analisis Mengenai Dampak Lingkungan, Liberty,
Yogyakarta.
D Soetrisno, 2004, Tata Cara Perolehan Tanah untuk Industri, Rineka
Cipta, Jakarta.
Herman Wasito, 1993, Pengantar Metodologi Penelitian, Gramedia,
Jakarta.
I Wayan Suandra, 1991, Hukum Pertanahan Indonesia, Rineka Cipta,
Jakara.
cxiii
Maria S.W, Sumardjono, 2001, Kebijakan Tanah : Antara Regulasi dan
Implementasi, Cetakan 1, Kompas, Jakarta.
Marmin Rosadi, 1979, Pencabutan Hak-Hak Atas Tanah Dan BendaBenda yang ada diatasnya, Ghalia Indonesia, Jakarta.
Philipus M.Hadjan, 1994, Pengantar Hukum Administrasi Indonesia,
Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Ronny Hanitijo Soemitro, 1990, Metode Penelitian Hukum dan Jurimetri,
Ghalia, Jakarta.
_____________________, 1983, Metodelogi Penelitian Hukum, Ghalia,
Jakarta.
S.Arsyad, 1989, Konsevrasi Tanah dan Air, IPB Press, Bogor.
S. Margono , 2003, Metodologi Penelitian Pendidikan, Rineka Cipta,
Jakarta.
S.Tanusubroto, 1982, Masalah Sengketa Perumahan Dalam Praktek,
Alumni, Bandung.
Sitorus, 1995, Pelepasan atau Penyerahan Hak sebagai cara Pengadaan
Tanah, Dasamedia Utama, Jakarta.
Soerjono Soekanto,
1986, Pengantar Penelitiaan Hukum, UI Press,
Jakarta.
Sondang, P. Siagian, 1983, Administrasi Pembangunan, Bumi Aksara,
Jakarta.
cxiv
Sriwiyarti, 1984, Metode Riset III, UNS Surakarta.
Sudaryo Suimin, 1994, Status Hak dan Pembebasan Tanah, Sinar Grafika,
Jakarta.
Sunaryo Basuki, 2001, Penyediaan Tanah Untuk Pembangunan, Fakultas
Hukum Universitas Indonesia, Jakarta.
Sutarto, 1993, Dasar-Dasar Organisasi, Gadjah Mada University Press,
Yogyakarta.
b. Peraturan Perundang-Undangan
Tap MPR No.II/MPR/1998
Undang-Undang Pokok Agraria Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan
Dasar Pokok-Pokok Agraria
Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 55 Tahun 1993 tentang
Pengadaan
Tanah
bagi
Pelaksanaan
Pembangunan
untuk
Kepentingan Umum
Keputusan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional
Nomor 21 Tahun 1994 tentang Tata Cara Perolehan Tanah bagi
Perusahaan dalam Rangka Penanaman Modal.
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 5 Tahun 1974 tentang KetentuanKetentuan mengenai Penyediaan dan Pemberian Tanah untuk
Keperluan Perusahaan
cxv
Peraturan Menteri Negara Agraria / Kepala Badan Pertanahan Nosional
Nomor 2 Tahun 1993 tentang Tata Cara Memperoleh Ijin Lokasi
dan Hak atas Tanah bagi Perusahaan dalam rangka Penanaman
Modal
Peratuan Menteri Negara Agraria / Kepala Badan Pertanahan Nosional
Nomor 2 Tahun 1999 tentang Ijin Lokasi
c. Makalah-Makalah
Ana Silviana, Nomor 4 Tahun 1997, Kebijakan Pertanahan Kaitannya
dengan Pembangunan bagi sebesar-besarnya Kemakmuran Rakyat,
Masalah-Masalah Hukum, Majalah Fakultas Hukum UNDIP.
Endang Srisanti, Nomor 4 Tahun 1997, Oleh-Oleh Seminar Nasional
Kebijakan Pertanahan Dalam Era Industrialisasi, Masalah-Masalah
Hukum, Majalah Fakultas Hukum UNDIP.
d. Kamus-Kamus
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1991, Kamus Besar Bahasa
Indonesia, Jakarta : Balai Pustaka.
cxvi
Download