peningkatan nilai hasil belajar pendidikan agama islam dan budi

advertisement
”PENINGKATAN NILAI HASIL BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
DAN BUDI PEKERTI MELALUI MODEL PEMBELAJARAN LANGSUNG (DIRECT
INSTRUCTION) DIBANTU MEDIA FILM PADA MATERI MENELADANI PERJUANGAN
DAKWAH RASULULLAH SAW DI MADINAH DI KELAS X BUSANA BUTIK 1 SMKN 1
KENDAL TAHUN PELAJARAN 2015/2016”.
(oleh : Drs. Mukhamad Umar, M.S.I. Guru PAI SMKN 1 Kendal Jawa Tengah)
A. Latar Belakang Masalah
Nabi Muhammad saw. adalah figur dan teladan sempurna bagi seluruh umat manusia.
Dengan keteladanannya, ia mampu merubah bangsa Arab yang pada awalnya sebagai
bangsa Baduwi yang terbelakang, biadab, tidak bermoral dan tidak mengenal Tuhan
(jahiliyyah) menjadi bangsa yang ber-tauhid kepada Allah swt berakhlak, terhormat dan
memiliki toleransi tinggi terhadap kelompok agama lain : Yahudi dan Nasrani. Fenomena ini
terjadi melalui perjuangan dan pengorbanan panjang dari seorang rasul bernama Muhammad
saw. sebagai pemimpin sejati.
Dimulai dari periode Mekkah, selama 10 tahun Muhammad saw. berdakwah dari
rumah ke rumah secara sembunyi-sembunyi (sirriyah) hingga setelah banyak para pembesar
kafir Quraisy masuk Islam, ia melakukan dakwah secara terang-terangan (jahriyyah), dan
akhirnya dalam waktu yang relatif tidak lama pengikutnya bertambah banyak dan semakin
kuat. Namun demikian, tantangan dan hambatan yang dialami Muhammad saw. semakin
berat terutama dari kelompok Abu Jahal, Abu Lahab, dan Abu Sofyan yang kebenciannya
terhadap Muhammad saw. semakin meningkat, hingga pada akhirnya meraka berusaha
membunuh Muhammad saw. dan para pengikutnya. Pada saat kondisi seperti ini, akhirnya
Muhammad saw. beserta Kaum Muhajirin (orang-orang Mekkah yang ikut berhijrah)
memutuskan untuk berhijrah ke Yatsrib (Madinah).
Di Yatsrib (Madinah) Muhammad saw. disambut oleh Kaum Anshar dengan suka cita
dan penghormatan yang luar biasa, sebagai kebanggaan terhadap orang mulia yang
dirindukan yang memiliki akhlak mulia yang digambarkan sebagai cahaya yang menerangi
kegelapan. Setelah Muhammad saw. beserta pengikutnya tidak lama tinggal di Madinah,
dibangunlah masjid pertama kali yang diberi nama “Masjid Quba” sebagai tempat ibadah
dan berkumpulnya umat Islam. Dibangunnya masjid tersebut dengan tujuan utamanya yaitu
ingin membangun persatuan dan persaudaran di antara kaum muslimin.
1
Berdasarkan uraian singkat di atas, penulis sebagai Guru Pendidikan Agama Islam
dan Budi Pekerti merasa terpanggil untuk melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
pada materi: Meneladani Perjuangan Dakwah Rasulullah saw. di Madinah melalui media
tayangan film di kelas yang penulis ajar yaitu kelas X Jurusan Busana Butik 1, dengan
alasan sebagai berikut :
1. Sejarah perjuangan dakwah Rasululah saw. di Madinah sangat penting diajarkan kepada
peserta didik melalui pemahaman yang utuh dan jelas;
2. Pembelajaran materi keteladanan
dakwah Rasululah saw.
di Madinah akan
meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta kecintaan peserta didik kepada Rasulullah
saw;
3. Melalui media tayangan film diharapkan peserta didik dapat meningkatkan perhatian
dalam kegiatan pembelajaran di kelas pada materi: Keteladanan Dakwah Rasulullah saw.
di Madinah, dan sekaligus dapat meningkatkan nilai hasil belajarnya.
Pada sisi lain, berdasarkan hasil nilai harian ditemukan pada pembelajaran
Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti terutama pada materi Keteladanan perjuangan
dakwah Rasulullah saw di Madinah di kelas X Busana Butik 1 menunjukkan adanya nilai
hasil belajar yang rendah. Hal ini dilihat dari hasil pengamatan ketika proses belajar
mengajar berlangsung masih dijumpai peserta didik yang kurang perhatian, bersenda gurau,
mengantuk, berbicara dengan teman sebangku, dan dari hasil ulangan harian yang
diperoleh peserta didik belum semuanya tuntas, dan ditemukan dalam ulangan sebanyak 12
peserta didik
dari 35 peserta didik (34 %) yang nilainya di bawah KKM (Kriteria
ketuntasan Minimal), yaitu peserta didik yang mendapat nilai 65 sebanyak 3 anak, yang
mendapat nilai 70 sebanyak 9 anak, sedangkan peserta didik yang mendapat nilai di atas 75
berjumlah 23 anak (66 %). Kenyataan ini belum sesuai dengan kebijakan SMK Negeri 1
Kendal bahwa KKM (Kriteria Kutantasan Minimal) untuk mata pelajaran normatif adalah
75 dan untuk mata pelajaran produktif adalah 78.
Faktor penyebab permasalahan tersebut di atas antara lain tidak dipergunakannya
media pembelajaran yang efektif, dan pembelajaran yang masih berpusat pada guru dengan
hanya menggunakan metode ceramah yang abstrak dan membosankan.
Di antara upaya agar pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti
terutama yang terkait dengan sejarah perjuangan dakwah Rasulullah saw di Madinah dapat
2
diserap oleh peserta didik dengan jelas dan konkrit, maka untuk meningkatkan nilai hasil
belajar berikutnya penulis menggunakan Model Pembelajaran Langsung (Direct
Instruction) dengan dibantu media tayangan film. Diharapkan dari penggunaan media
tayangan film tersebut nilai hasil belajar Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti pada
kelas X Busana Butik 1 dapat ditingkatkan.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut di atas, dapat dirumuskan pokok
permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimanakah tingkat perhatian peserta didik terhadap materi Keteladanan Perjuangan
Dakwah Rasululullah saw. melalui Model Pembelajaran Langsung (Direct Instruction )
dibantu dengan media film?
2. Bagaimanakah nilai hasil belajar peserta didik pada materi Keteladanan Perjuangan
Dakwah Rasululullah saw. di Madinah melalui Model Pembelajaran Langsung (Direct
Instruction) dibantu dengan media film?
C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui tingkat perhatian peserta didik
terhadap materi Keteladanan
Perjuangan Dakwah Rasululullah saw melalui model pembelajaran langsung (direct
instruction) dibantu dengan media film.
2. Untuk mengetahui nilai hasil belajar peserta didik pada materi Keteladanan Perjuangan
Dakwah Rasululullah saw. melalui Model Pembelajaran Langsung (Direct Instruction )
dibantu dengan media film;
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan memiliki manfaat sebagai berikut :
1. Guru :
a. Dengan penelitian ini dapat dijadikan feedback bagi guru Pendidikan Agama Islam
dan Budi Pekerti untuk selalu mengadakan improvisasi secara berkesinambungan;
b. Dengan Model Pembelajaran Langsung dibantu dengan media film pembelajaran
Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti lebih efektif dan efisien;
c. Guru Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti akan menjadi lebih profesional.
3
2. Peserta didik :
a. Melalui Model Pembelajaran Langsung (Direct Instruction) dibantu dengan media
tayangan film tingkat perhatian belajar peserta didik di kelas lebih meningkat,
menghilangkan kejenuhan dan rasa bosan, karena materi diajarkan dengan metode
yang atraktif;
b. Nilai hasil belajar peserta didik Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti akan
meningkat, sebab dengan media tayangan film bahan ajar akan lebih mudah
dipahami;
c. Peserta didik lebih termotivasi untuk senantiasa mengikuti pembelajaran Pendidikan
Agama Islam dan Budi Pekerti dengan rasa senang hati.
E. Pembahasan
.
1. Pendidikan Agama Islam, Dakwah Rasulullah saw., Hasil Belajar, Media Film
a. Pengertian Pendidikan Agama Islam
Penjelasan tentang pengertian Pendidikan Agama Islam dapat dikemukakan
beberapa pendapat, di antaranya adalah sebagai berikut:
a. Syeikh M. Yusuf al-Qardhawi, ”Pendidikan Islam adalah pendidikan manusia
seutuhnya; akal dan hatinya; rohani dan jasmaninya; akhlaq dan keterampilannya”
(Prof. Dr. Azyumardi Azra, M.A., 2002:5).
b. Prof. Dr. Hasan Langgulung, merumuskan pendidikan Islam ”sebagai suatu proses
penyiapan generasi muda untuk mengisi peranan, memindakan pengetahuan dan nilainilai Islam yang diselaraskan dengan fungsi manusia untuk beramal di dunia dan
memetik hasilnya di akhirat”.
c. Dr. Armai Arief M.A. berpendapat bahwa, ”Pendidikan Islam yaitu sebuah proses yang
dilakukan untuk menciptakan manusia-manusia yang seutuhnya; beriman dan bertaqwa
kepada Tuhan serta mampu mewujudkan eksistensinya sebagai khalifah Allah di muka
bumi”.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat diambil suatu pengertian bahwa
Pendidikan Agama Islam adalah suatu usaha melalui proses pendidikan, agar anak didik
dapat memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran Islam sebagai pedoman hidup
yang diyakininya, sehingga ia
mendapatkan kebahagiaan yang hakiki di dunia dan
akhirat.
4
2. Dasar Konstitusional Pendidikan Agama Islam
Adapun yang menjadi dasar konstitusional Pendidikan Agama Islam wajib
diajarkan di setiap jenjang pendidikan di antaranya tercantum dalam Undang-Undang RI
No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bagian ke sembilan tentang
Pendidikan Keagamaan pasal 30 ayat 1 dan 2 berbunyi sebagai berikut:
”(1) Pendidikan keagamaan diselenggarakan oleh pemerintah dan kelompok
masyarakat dari pemeluk agama sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
(2). Pendidikan keagamaan berfungsi menyiapkan peserta didik menjadi anggota
masyarakat yang memahami dan mengamalkan nilai-nilai ajaran agama dan atau
menjadi ahli ilmu agama”.
Berdasarkan uraian di atas, bahwa Pendidikan Agama Islam merupakan bagian
yang tidak terpisahkan dari UU Sisdiknas RI No. 20 tahun 2003. Ini berarti peranan
Pendidikan Agama Islam dalam proses belajar mengajar merupakan salah satu strategi
Pemerintah untuk menjadikan manusia Indonesia yang beriman dan bertaqwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa.
3. Hakikat dan Karakteristik Pendidikan Agama Islam
Pada hakikatnya Pendidikan Agama Islam merupakan nilai-nilai moral yang
berasal dari Allah swt. yang disampaikan kepada para rasul untuk diajarkan kepada umat
manusia, agar mereka menjadikannya sebagai
pedoman hidup untuk mencapai
kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat.
Adapun Pendidikan Agama Islam dibagi beberapa bagian, yaitu akidah, ibadah dan
akhlak. Akidah merupakan keyakinan yang berhubungan dengan adanya Dzat, Sifat dan
Perbuatan Allah, sedangkan ibadah suatu bentuk penyembahan dan pengabdian seseorang
sebagai bentuk pengakuan tentang adanya Allah. Adapun akhlak ialah perbuatan mulia
yang berupa ucapan, sikap dan perilaku seseorang sebagai manifestasi dari nilai-nilai
keyakinan dan ibadah tadi. (Zakiyah Daradjat, 1976: 25).
4. Pengertian Dakwah
Dakwah berasal dari kata
yang berarti menyeru, memanggil,
mengajak berbuat pada sesuatu hal. Menurut istilah, dakwah adalah kegiatan mengajak
orang lain, seseorang atau lebih ke jalan Allah Swt. secara lisan atau perbuatan. Di sini
5
dikenal adanya da’wah billisān dan da’wah bilhāl. Kegiatan bukan hanya ceramah, tetapi
juga aksi sosial yang nyata. Misalnya, santunan anak yatim, sumbangan untuk
membangun fasilitas umum, dan lain sebagainya. (Kemendikbud, Pendidikan Agama
Islam dan Budi Pekerti SMK Kelas X, 2014, hal. 58).
Salah satu kewajiban umat Islam adalah berdakwah. Sebagian ulama menyebut
berdakwah itu hukumnya
fardu kifayah (kewajiban kolektif, sebagian lainnya
menyatakan fardu ain. Meski begitu, Rasulullah saw. tetap selalu mengajarkan agar
seorang muslim selalu menyeru pada jalan kebaikan dengan cara-cara yang baik. Setiap
dakwah hendaknya bertujuan untuk mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan hidup di
dunia dan di akhirat dan mendapat
rida dari Allah swt. Nabi Muhammad saw.
mencontohkan dakwah kepada umatnya dengan berbagai cara melalui lisan, tulisan dan
perbuatan.
4.1. Dakwah Rasulullah saw. di Madinah
Dalam sejarah Islam, dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah saw. di
Madinah diawali sejak Rasulullah saw. berhijrah dari Mekkah ke Yatsrib (Madinah).
Setelah tiba dan diterima penduduk Yatsrib (Madinah), Rasulullah saw. menjadi
pemimpin penduduk kota itu. Di Madinah Rasulullah saw. memiliki kedudukan
bukan hanya sebagai kepala agama, tetapi juga sebagai kepala negara. Dengan kata
lain, dalam diri nabi terkumpul dua kekuasaan, kekuasaan spiritual dan kekuasaan
duniawi. Kedududukannya sebagai rasul secara otomatis merupakan kepala Negara.
(Harun Nasution, 1985, hal. 101).
4.2. Strategi Dakwah Rasulullah saw. di Madinah
Dalam rangka memperkokoh masyarakat dan negara baru itu, Rasulullah saw.
segera meletakkan dasar-dasar kehidupan bermasyarakat, yaitu :
4.2.1. Membangun masjid
Dibangunnya masjid, selain untuk tempat shalat, juga sebagai sarana penting untuk
mempersatukan kaum Muslimin dan mempertalikan jiwa mereka, di samping sebagai
tempat bermusyawarah merundingkan segala masalah yang dihadapi. Masjid pada
masa nabi bahkan juga berfungsi sebagai pusat pemerintahan.
6
4.2.2. Ukhuwwah Islamiyah
Persaudaraan sesama muslim, adalah prioritas kedua strategi dakwah Rasulullah saw.
di Madinah setelah membangun masjid. Rasulullah saw. mempersaudarakan antara
golongan Muhajirin (orang-orang yang hijrah dari Mekkah ke Madinah), dan Anshar,
penduduk Madinah yang sudah masuk Islam, dan ikut membantu kaum Muhajirin
tersebut. Dengan demikian, diharapkan, setiap muslim merasa terikat dalam satu
persaudaraan dan kekeluargaan. Apa yang dilakukan Rasulullah saw. ini berarti
menciptakan suatu bentuk persaudaraan yang baru yaitu persaudaraan agama,
menggantikan persaudaraan berdasarkan darah.
4.2.3. Hubungan persahabatan dengan pihak-pihak lain yang tidak beragama Islam.
Di Madinah, di samping orang-orang Arab Islam, juga terdapat golongan masyarakat
Yahudi dan Nasrani serta orang-orang Arab yang masih menganut agama nenek
moyang mereka. Agar stabilitas masyarakat dapat diwujudkan, Rasululllah saw.
mengadakan ikatan perjanjian dengan mereka. Sebuah piagam yang menjamin
kebebasan beragama orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai komunitas
dimaklumatkan. Setiap golongan masyarakat memiliki hak tertentu dalam bidang
politik dan keagamaan. Kemerdekaan beragama dijamin dan seluruh anggota
masyarakat berkewajiban mempertahankan keamanan negara Madinah dari serangan
luar. (Muhammad Husein Haekal, 1990, hal.199). Perjanjian tersebut, dalam
pandangan ketatanegaraan sekarang disebut dengan “Konstitusi Madinah”.
Dengan terbentuknya negara Madinah, Islam makin bertambah kuat dan semakin
diterima oleh masyarakat Madinah.
2. Model Pembelajaran Langsung (Direct Instruction), dan Media Film
2.1. Pengertian Model Pembelajaran Langsung
Model Pembelajaran Langsung (Direct Instruction) adalah pembelajaran yang
menekankan kepada proses penyampaian materi secara verbal dari seorang guru kepada
sekelompok siswa dengan maksud agar peserta didik menguasai materi pelajaran secara
optimal. Peserta didik tidak dituntut untuk menemukan materi, akan tetapi peserta didik
berperan aktif, memperhatikan dan konsentrasi terhadap apa yang diterangkan oleh
seorang guru. Jadi, materi pelajaran seakan-akan sudah jadi dan siap disajikan. Wina
7
Sanjaya (2008 : 179), menyebut model ini sebagai model Ekspositori, yang sering juga
disebut dengan ”chalk and talk”, yaitu sebuah pembelajaran yang bersumber pada materi
yang telah ditulis dan siap disajikan (diajarkan) kepada peserta didik secara terbuka.
Model
pembelajaran
langsung ini
merupakan
bentuk
dari
pendekatan
pembelajaran yang berorientasi pada guru (teacher centered approach). Dikatakan
demikian, sebab dalam model ini guru memegang peran penting yang sangat dominan.
Melalui model pembelajaran langsung ini guru menyampaikan materi pembelajaran
secara terstruktur dengan harapan materi yang disampaikan itu dapat dikuasai peserta
didik dengan baik. Fokus utama model pembelajaran ini adalah kemampuan akademik
peserta didik.
Model pembelajaran langsung bertumpu pada prinsip-prinsip psikologi perilaku
dan teori belajar sosial, khususnya tentang pemodelan (modelling), yang telah
dikembangkan oleh Albert Bandura. Menurut Albert Bandura, ″Belajar yang dialami
manusia sebagian besar diperoleh dari suatu pemodelan, yaitu meniru perilaku dan
pengalaman (keberhasilan dan kegagalan orang lain” (Adi W. Gunawan : 2004 : 32).
Aliran psikologi belajar yang sangat mempengaruhi model pembelajaran langsung
adalah aliran belajar behavioristik, yaitu aliran belajar yang lebih menekankan pada
pemahaman, bahwa perilaku manusia pada dasarnya keterkaitan antara stimulus dan
respon, oleh karenanya dalam implementasinya peran guru sebagai stimulus merupakan
faktor yang sangat penting dalam pembelajaran. Dari asumsi ini berbagai konsep
bagaimana agar guru dapat memfasilitasi sehingga hubungan stimulus-respon itu bisa
berlangsung secara efektif. Hubungan antara guru (stimulus) dan peserta didik (respon)
dalam proses belajar mengajar dikenalkan pertama kali oleh Thorndike yang mengadakan
eksperimen melalui percobaan terhadap seekor kucing yang dimasukkan dalam suatu
tempat tertutup
dan dibiarkan lapar, lalu di luar disajikan sepotong daging untuk
diketahui apakah seekor kucing tadi merasa terangsang untuk memakan sepotong daging
apa tidak, ternyata melalui pengamatan Thorndike, bahwa seekor kucing tadi ada
kemauan keras untuk segera keluar dari tempatnya, dan ingin segera menemukan
sepotong daging tadi. (Nana Syaudih Sukmadinata : 2003:19). Dari eksperimen
Thorndike ini para ahli pendidikan berpendapat, jika kondisi pembelajaran di sekolah
benar-benar disiapkan oleh guru dan peserta didik pun dalam kondisi siap menerima
8
materi pelajaran, serta pembelajaran ditampilkan oleh guru secara atraktif, maka materi
pembelajaran dari guru tadi akan dipahami oleh peserta didik secara efektif. Untuk
memperkuat argumentasi terhadap aliran behavioristik ini tersebut, Waston pengikut
fanatik aliran behaviorisme dari Amerika Serikat mengatakan hal sebagai berikut :
″Berilah aku sejumlah anak yang baik keadaan badannya dan situasi yang saya
butuhkan; dan dari setiap anak orang, entah yang mana, dapat saya jadikan dokter,
seorang pedagang, seorang ahli hukum, atau jika memang dikehendaki, akan saya
jadikan ia seorang pengemis atau pencuri”(Ngalim Purwanto: 2002 : 59).
Berdasarkan penjelasan di atas, model pembelajaran langsung dapat membentuk
perilaku peserta didik sesuai yang diharapkan oleh guru, sebab dengan model yang
ditampilkan oleh guru secara langsung akan berpengaruh pada pengetahuan, perilaku dan
kepribadian peserta didik.
2.2. Ciri-ciri dan tujuan Model Pembelajaran Langsung (Direct Instruction)
Ada beberapa ciri/karakteristik model pembelajaran langsung (direct instruction)
ini, yaitu:
a. Pembelajaran langsung dilakukan dengan cara menyampaikan materi pelajaran secara
verbal, artinya bertutur secara lisan merupakan alat utama dalam melakukan strategi
ini, oleh karena itu sering diidentikkan dengan ceramah;
b. Biasanya materi pelajaran yang disampaikan adalah materi pelajaran yang sudah jadi,
seperti data, atau fakta, konsep-konsep tertentu yang harus dihafal sehingga tidak
menuntut peserta didik berpikir ulang. Ada yang menyebut dengan istilah
pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif. (Sumber diambil dari : Diklat
BDK Kementerian Agama, Peningkatan Guru PAI SMK se-Jawa Tengah, tanggal 22
Nopember s/d 29 Nopember 2010).
Adapun tujuan dari model pembelajaran langsung adalah untuk menjadikan peserta
didik berbagi pengetahuan secara aktif. Pembelajaran langsung ini di-desain untuk
mengenalkan peserta didik terhadap mata pelajaran guna membangun minat,
menimbulkan rasa ingin tahu, dan merangsang mereka untuk untuk berpikir. Peserta didik
tidak bisa berbuat apa-apa jika pikiran mereka tidak dikembangkan oleh guru. Banyak
guru yang membuat kesalahan dalam mengajar, yakni sebelum peserta didik belum
merasa terlibat dan siap secara mental guru langsung memberikan materi pelajaran.
9
2.3. Strategi (Langkah-langkah) Model Pembelajaran Langsung
Sebelum diuraikan tahapan model pembelajaran langsung, terlebih dahulu diuraikan
beberapa hal yang harus dipahami oleh setiap guru yang akan menggunakan model
pembelajaran langsung ini, yaitu: Pertama, rumuskan tujuan yang ingin dicapai.
Merumuskan tujuan merupakan langkah awal yang harus dipersiapkan. Tujuan yang
ingin dicapai sebaiknya dirumuskan dalam bentuk perubahan tingkah laku yang spesifik
yang berorientasi kepada hasil belajar. Dengan demikian, melalui tujuan yang jelas selain
dapat membimbing peserta didik dalam menyimak materi pelajaran juga akan diketahui
efektivitas dan efisiensi penggunaan model pembelajaran ini.
Kedua, kuasai materi pelajaran dengan baik. Penguasaan materi yang sempurna,
akan membuat kepercayaan diri guru meningkat, sehingga guru akan mudah mengelola
kelas, ia akan bebas bergerak; berani menatap peserta didik, tidak takut dengan perilakuperilaku peserta didik yang dapat mengganggu jalannya proses pembelajaran.
Ketiga, kenali medan dan berbagai hal yang dapat memengaruhi proses
penyampaian. Pengenalan medan yang baik memungkinkan guru dapat mengantisipasi
berbagai kemungkinan yang dapat mengganggu proses penyajian materi pelajaran.
(Diklat BDK Kementerian Agama, Peningkatan Mutu Guru PAI SMK se- Jawa Tengah
di Bandungan pada tanggal 22 s/d 29 Nopember 2010).
3. Film
Secara
harfiah, film
(sinema)
adalah cinematographie
yang berasal dari
kata cinema (gerak), tho atau phytos (cahaya), dan graphie atau grhap (tulisan, gambar,
citra). Jadi pengertiannya adalah melukis gerak dengan cahaya, dan agar dapat melukis
gerak dengan cahaya, harus menggunakan alat khusus, yang biasa disebut kamera. Film
sebagai karya seni sering diartikan hasil cipta karya seni yang memiliki kelengkapan dari
beberapa unsur seni untuk memenuhi kebutuhan yang sifatnya spiritual. Dalam hal ini
unsur seni yang terdapat dan menunjang sebuah karya film adalah: seni rupa, seni
fotografi, seni arsitektur, seni tari, seni puisi sastra, seni teater, seni musik. Kemudian
ditambah lagi dengan seni pantomin dan novel. Kesemuannya merupakan pemahaman
dari sebuah karya film yang terpadu dan biasa kita lihat. (htp:/www.media.com, 2015).
10
F. Kerangka Berpikir
Berdasarkan permasalahan dan kajian teori di atas, diharapkan nilai hasil belajar
peserta didik kelas X Busana Butik 1 SMKN 1 Kendal tentang materi Meneladani dakwah
Rasulullah saw. di Madinah melalui model pembelajaran langsung (direct instruction)
dibantu media tayangan film dapat lebih meningkat, sebab dengan meningkatnya nilai hasil
belajar kelas X Busana Butik 1 di atas dapat terpenuhinya standar KKM yang ditentukan.
Penelitian ini akan membuktikan, bahwa telah terjadi peningkatan nilai hasil belajar
yang signifikan tentang materi Meneladani dakwah Rasulullah saw. di Madinah pada kelas
X Kompetensi Keahlian : Busana Butik 1 SMKN 1 Kendal pada semester genap tahun
pelajaran 2015/2016, setelah penulis memodernisasikan pembelajarannya melalui model
pembelajaran langsung, dan dibantu dengan media film.
Berdasarkan penjelasan teori-teori di atas, maka diduga adanya peningkatan nilai
hasil belajar dan perhatian peserta didik kelas X Busana Butik 1 tentang materi Meneladani
Dakwah Rasulullah saw. di Madinah melalui Model Pembelajaran
Langsung dibantu
dengan media tayangan film pada tahun pelajaran 2015/ 2016.
G. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan pada kerangka berpikir di atas, dapat diajukan hipotesis sebagai berikut:
1. Ada peningkatan perhatian peserta didik kelas X Busana Butik 1 terhadap pembelajaran
materi meneladani dakwah Rasulullah saw. di Madinah melalui Model Pembelajaran
Langsung dibantu dengan media tayangan film.
2. Ada peningkatan nilai hasil belajar peserta didik kelas X Busana Butik1 pada materi
meneladani dakwah Rasulullah saw. di Madinah melalui Model Pembelajaran Langsung
dibantu dengan media tayangan film.
F. Metode Penelitian
1. Setting Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian yang berbasis kelas dengan lokasi kelas X
Kompetensi Keahlian : Busana Butik 1 SMKN 1 Kendal Propinsi Jawa Tengah, sebuah
lokasi di mana penulis mengajar. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini dilakukan sejak
minggu ke-2 bulan Januari s/d minggu ke- 2 bulan April 2016 sebanyak 3 kali siklus,
11
pada semester 2 (genap) tahun pelajaran 2015/2016 dengan melibatkan 35 peserta didik
yang beragama Islam.
3. Subyek Penelitian
Subyek penelitian ini adalah peserta didik kelas X Busana Butik 1 semester 2 (genap)
SMK Negeri 1 Kendal tahun pelajaran 2015/2016 yang berjumlah 35 peserta didik.
Argumentasi dipilihnya kelas di atas karena ketika proses pembelajaran berlangsung
dijumpai sebagian besar peserta didik kurang memperhatikan, tidak konsentrasi,
mengantuk, bicara sendiri-sendiri, dan ketika ditanya tentang materi yang diajarkan
sebagian besar tidak paham dan tidak bisa menjawab, dan ketika dilaksanakan ulangan,
nilainya kurang memuaskan (tidak tuntas).
4. Jenis Penelitian
Penelitian tindakan kelas yang penulis lakukan ini adalah penelitian kualitatif, yaitu
prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan
dari orang-orang dan perilaku yang diamati. (Moeleong, 1989: 3).
Penelitian ini diarahkan pada dua variabel. Variabel pertama, yaitu Model
Pembelajaran langsung dibantu tayangan film dengan indikator : tingkat perhatian peserta
didik selama proses pembelajaran berlangsung. dan Variabel kedua, nilai hasil belajar
dengan indikator : hasil ulangan harian.
5. Sumber Data
Sumber data yang dijadikan referensi oleh penulis adalah sebagai berikut:
a. Lembar pengamatan yang digunakan oleh penulis untuk mencatat peristiwa-peristiwa
yang terjadi selama kegiatan belajar mengajar berlangsung;
b. Lembar nilai ulangan harian ; dan
c. Angket/ lembar tanggapan siswa.
6. Teknik dan Alat Pengumpulan Data
a. Teknik
Teknik pengumpulan data dalam PTK ini ada 2 (dua), yaitu : instrumen tes dan non tes.
1) Tes
Tes yang digunakan untuk mengukur tingkat kemampuan peserta didik yang diperoleh
adalah dengan melaksanakan ulangan harian, yaitu suatu gambaran secara riil seberapa
12
nilai yang diperoleh setiap peserta didik setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar
pada suatu standar kompetensi/kompetensi dasar dari suatu bahan ajar.
2) Non Tes
Teknik non tes yang digunakan pada penelitian ini yaitu melalui pengamatan,
digunakan untuk mengetahui secara langsung mengenai aktivitas peserta didik selama
kegiatan pembelajaran pada materi Meneladani Dakwah Rasulullah saw. di Madinah
dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti, apakah ada
perubahan yang signifikan pada diri peserta didik terutama tingkat perhatian terhadap
materi yang diajarkan.
b.
Alat Pengumpulan Data
1) Daftar Nilai
Daftar nilai digunakan untuk mengetahui hasil nilai siswa yang dilaksanakan melalui
ulangan harian.
2) Lembar Tanggapan/ Angket
Digunakan untuk mengetahui feedback (umpan balik) terhadap materi yang telah
diajarkan. Dengan lembar tanggapan/angket ini akan diketahui seberapa jauh tingkat
perhatian peserta didik, apakah pada tingkatan rendah, sedang, atau tinggi. Lembar
tanggapan ini berisi tentang pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan metode
pembelajaran, minat belajar, perhatian dan kesungguhan dalam mengikuti
pembelajaran. Setelah peserta didik mengikuti pembelajaran pada setiap siklus,
peserta didik diberikan lembar tanggapan ini, dan selanjutnya diberikan penilaian.
3) Lembar Pengamatan
Digunakan untuk mengamati segala sikap dan perilaku peserta didik selama kegiatan
pembelajaran berlangsung di kelas. Dalam hal ini penulis berkolaborasi dengan teman
guru sejawat untuk mengamati perilaku siswa selama KBM berjalan.
4) Dokumen berupa foto kegiatan belajar mengajar di kelas.
G. Validasi Data
Untuk kepentingan keabsahan data, penelitian ini menggunakan teknik trianggulasi,
yaitu pengujian validitas data dengan cara membandingkan dan mengecek balik derajat
kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dengan
metode kualitatif. (Lexy J. Moleong, 2002 :178).
13
Trianggulasi data yang digunakan dalam penelitian ini adalah berbentuk ulangan
harian, hasil observasi, pengamatan di tempat penelitian dan umpan balik tanggapan dari
peserta didik kelas X Busana Butik 1 SMK Negeri 1 Kendal terhadap kegiatan pembelajaran
Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti terutama pada materi Keteladanan Dakwah
Rasulullah saw. di Madinah yang berlangsung di kelas.
F. Analisis Data
Data dari hasil observasi selama kegiatan pembelajaran
dianalisis, selanjutnya
diinterpretasikan berdasarkan kajian pustaka dan pengalaman guru.
Untuk analisis nilai hasil belajar berupa hasil ulangan harian diukur berdasarkan
pedoman penilaian yang dibuat oleh guru.
Rumus yang dipakai adalah :
NH = Σ N
Keterangan :
NH = Nilai Ulangan Harian
Σ N = Jumlah Nilai yang diperoleh
Sedangkan lembar tanggapan/angket yang merupakan usaha untuk mengetahui
seberapa jauh tingkat perhatian peserta didik terhadap pembelajaran Keteladanan Dakwah
Rasulullah saw. di Madinah melalui model pembelajaran langsung dengan dibantu tayangan
film, dianalisis berdasarkan kriteria validasi instrumen dengan menggunakan analisis
diskriptif kualitatif dan kuantitatif dengan rumus :
NK
NT = -------R
Keterangan :
NT
= Nilai Tanggapan
NK
= Nilai Komulatif
R
= Responden
Dengan kriteria sebagai berikut :
32 – 40 = Sangat Tinggi (Sangat Baik)
24 – 31 = Tinggi (Baik)
16 – 23 = Sedang
8 – 15 = Rendah
14
G. Indikator Kinerja
Penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan di dalam kelas. Dengan penelitian ini
diperoleh manfaat berupa perbaikan praksis yang berupa penanggulangan berbagai masalah
belajar peserta didik dan kesulitan mengajar yang dialami oleh guru.
Untuk mengevaluasi ada tidaknya dampak positif terhadap tindakan, diperlukan
kriteria keberhasilan yang ditetapkan sebelum tindakan dilakukan. Dari kegiatan refleksi ini
diperoleh ketetapan tentang hal-hal yang telah dicapai menjadi bahan dalam merencanakan
kegiatan siklus berikutnya.
Indikator kenerja dari data kuantitatif ditetapkan kriteria sebagai berikut:
1. 70 % peserta didik mencapai ketuntasan dalam belajar;
2. Semakin meningkat perolehan hasil tes pada kategori di atasnya menunjukkan kriteria
peningkatan pembelajaran dalam penelitian tindakan kelas ini. Jadi seumpama pada
siklus II terdapat peningkatan tingkat perhatian peserta didik terhadap materi yang
diajarkan dibandingkan pada siklus I, maka berarti telah terjadi peningkatan yang positip
seperti yang terlihat dari tabel 1 berikut ini:
Tabel 1: Tabel Tingkat Perhatian dari Hasil Proses Tiga Siklus
Kategori
SangatTinggi/Sangat
Interval Nilai
Frekuensi Nilai
Siklus 1
Siklus 2
Siklus 3
32 – 40
Baik
Tinggi/Baik
24 – 31
Sedang
16 – 23
Rendah
8 – 15
Adapun kinerja dari data kualitatif ditetapkan sebagai berikut:
1. Peserta didik tidak ada yang berbicara sendiri, bersenda gurau, mengantuk dan
sebagainya, selama kegiatan pembelajaran berlangsung peserta didik memperhatikan
dengan sungguh-sungguh;
2. Dari siklus 1 sampai dengan siklus 3 terjadi adanya peningkatan perhatian belajar dari
peserta didik;
15
3. Dari siklus 1 sampai dengan siklus 3 terjadi adanya peningkatan nilai hasil belajar peserta
didik secara signifikan.
F.
Prosedur Penelitian
Penelitian Tindakan Kelas dilaksanakan dalam bentuk proses pengkajian berdaur 4
tahap, yaitu (1) merencanakan, (2) melakukan tindakan, (3) mengamati (observasi), dan (4)
merefleksi.
Penelitian ini adalah hasil observasi secara langsung pada saat pelaksanaan proses
pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti kurikulum 2013 yang terdapat pada
Kompetensi Dasar 3.1.1. yaitu Memahami Substasi dan Strategi Dakwah Rasulllah saw. di
Madinah, dengan materi Meneladani Perjuangan Dakwah Rasulullah saw di Madinah.
Siklus ke-1 bertujuan untuk mengetahui tingkat perhatian peserta didik dalam
pembelajaran materi meneladani perjuangan dakwah Rasulullah saw. di Madinah melalui
Model Pembelajaran Langsung dibantu media tayangan film. Dari Siklus ke-1 tersebut akan
dapat diketahui sejauhmana tingkat perhatian peserta didik terhadap materi yang diajarkan,
dan berapa peserta didik yang telah mencapai ketuntasan belajar dalam bentuk pemberian
ulangan harian.
Apabila dalam siklus ke-1 peserta didik belum bisa mencapai tingkat
perhatian yang diharapkan, dan belum mampu mencapai nilai ketuntasan (KKM), maka
dapat dijadikan refleksi untuk melakukan tindakan pada siklus ke-2.
Pada siklus ke-2. yang dilakukan guru adalah melakukan penajaman terhadap materi
meneladani perjuangan dakwah Rasulullah saw. di Madinah, melalui Model Pembelajaran
Langsung dibantu media tayangan film pada Kompetensi Dasar 3.1.1. yaitu memahami
substasi dan strategi dakwah Rasulllah saw. di Madinah.
Dari siklus ke-2 tersebut akan dapat diketahui sejauhmana tingkat perhatian peserta
didik terhadap materi yang diajarkan, berapa peserta didik yang telah mencapai ketuntasan
belajar dalam bentuk pemberian ulangan harian. Apabila dalam siklus ke-2 peserta didik
belum bisa mencapai tingkat perhatian yang diharapkan, dan belum mampu mencapai nilai
KKM, maka dapat dijadikan refleksi untuk melakukan tindakan pada siklus ke-3.
Pada siklus ke-3, Langkah-langkah yang dilakukan guru adalah melakukan hasil
refleksi dari siklus ke-2, terutama pembelajaran Kompetensi Dasar 3.1.1. yaitu memahami
substasi dan strategi dakwah Rasulllah saw. di Madinah, dengan materi meneladani
perjuangan dakwah Rasulullah saw. di Madinah, melalui Model Pembelajaran Langsung
16
dengan media film dengan memperbaiki strategi, metode dan penajaman terhadap materi
yang diajarkan.
Kesimpulan yang diambil adalah didasarkan pada perubahan dari hasil tes dan non tes
dari siklus ke-1 ke siklus berikutnya. Dari perubahan hasil tes, jika menunjukkan kenaikan
positif secara signifikan berarti terjadi peningkatan hasil pembelajaran, tetapi jika sebaliknya,
maka perlu perbaikan pelaksanaan model pembelajaran yang diterapkan dari siklus ke-1 dan
seterusnya, sedangkan perubahan hasil non tes yang dihasilkan dari wawancara, angket,
maupun jurnal, diungkap apa adanya sesuai hasil yang telah terkumpul sebagai perbandingan
antara siklus ke-1 dengan siklus berikutnya.
G. Hasil Penelitian
Hasil Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang penulis paparkan pada siklus ke-1
sampai dengan siklus ke-3 adalah berupa hasil angket/tanggapan dan hasil nilai ulangan
harian peserta didik kelas X Busana Butik 1 yang berjumlah 35 peserta didik (yang
beragama Islam). Pada siklus ke-1 tersebut materi yang diajarkan adalah Kompetensi
Dasar 3.1.1. : Memahami substansi dan strategi dakwah Rasulullah saw. di Madinah.
Untuk mengetahui lebih jelas mengenai hasil penelitian tersebut di atas, dapat
dilihat dari Tabel berikut ini :
Tabel: 2.Tingkat Perhatian Kelas X Busana Butik 1 dalam Pembelajaran materi
Meneladani Perjuangan Dakwah Rasulullah saw. di Madinah pada Siklus ke-1
No
Kegiatan
Perhatian dalam KBM pembelajaran
materi
Meneladani
Perjuangan
Dakwah Rasulullah saw. di Madinah
melalui
Model
Pembelajaran
Langsung
(Direct
Instruction)
dibantu media Tayangan Film pada
Kompetensi Dasar 3.1.1. Memahami
sbstansi dan strategi dakwah
Rasulullah saw. di Madinah.
17
Rerata Nilai
26,89
Keterangan
Perhatian Tinggi/
Baik
Tabel: 3. Tingkat Perhatian Kelas X Busana Butik 1 dalam Pembelajaran materi
Meneladani Perjuangan Dakwah Rasulullah saw. di Madinah pada Siklus ke-2
NO
Kegiatan
1.
Perhatian dalam KBM pembelajaran
materi
Meneladani
Perjuangan
Dakwah Rasulullah saw. di Madinah
melalui
Model
Pembelajaran
Langsung (Direct Instruction) dibantu
media tayangan film pada Kompetensi
Dasar 3.1.1. : Memahami substansi
dan strategi dakwah Rasulullah saw. di
Madinah.
Rerata Nilai
28,71
Keterangan
Perhatian Tinggi/
Baik
Tabel: 4.Tingkat Perhatian Kelas X Busana Butik 1 dalam Pembelajaran Meneladani
Perjuangan Dakwah Rasulullah saw. di Madinah pada Siklus ke-3
NO
1.
Kegiatan
Rerata Nilai
Keterangan
Perhatian dalam KBM pembelajaran
Meneladani
Perjuangan
Dakwah
Rasulullah saw. di Madinah melalui
Model Pembelajaran Langsung (Direct
Instruction) dibantu media tayangan
film pada Kompetensi Dasar :
Memahami substansi dan strategi
dakwah Rasulullah saw. di Madinah
29,43
Perhatian Tinggi/
Baik
Adapun hasil nilai harian dari siklus ke-1 sampai dengan siklus ke-3 adalah sebagai
berikut :
Tabel: 5. Pencapaian Nilai Hasil Belajar Kelas X Busana Butik 1 dalam Pembelajaran
materi Meneladani Perjuangan Dakwah Rasulullah saw. di Madinah pada
Siklus ke-1
No
1.
2.
3.
4.
Interval
Nilai
Frekuensi
Prosentase
90 – 100
75 – 89
60 – 74
0 – 59
Jumlah
Rerata
Ketuntasan
7
28
35
83,71
20 %
80 %
100 %
KKM= 75
Tuntas
Tidak
Tuntas
7
28
39
0
100 %
18
Ket.
Tabel: 6. Pencapaian Nilai Hasil Belajar Kelas X Busana Butik 1 dalam Pembelajaran
materi Meneladani Perjuangan Dakwah Rasulullah saw. di Madinah pada
Siklus II
No
1.
2.
3.
4.
Interval
Nilai
Frekuensi
Prosentase
90 – 100
75 – 89
60 – 74
0 – 59
Jumlah
Rerata
Ketuntasan
7
28
35
85,71
20 %
80 %
100 %
KKM= 75
Tuntas
Tidak
Tuntas
7
28
35
0
Ket.
100 %
Tabel: 7. Pencapaian Nilai Hasil Belajar Kelas X Busana Butik 1 dalam Pembelajaran
materi Meneladani Perjuangan Dakwah Rasulullah saw. di Madinah pada
Siklus III
No
1.
2.
3.
4.
Interval
Nilai
Frekuensi
Prosentase
90 – 100
75 – 89
60 – 74
0 – 59
Jumlah
11
24
35
31,42 %
68,58 %
Rerata
Ketuntasan
86,57
100 %
KKM= 75
Tidak
Tuntas
11
24
35
0
Tuntas
Ket.
100 %
Untuk memperjelas peningkatan perhatian belajar peserta didik pada saat KBM
maupun hasil nilai harian dari siklus ke-1 sampai dengan ke-3 dapat dilihat dari grafik
berikut ini :
19
Grafik Analisa Tingkat Perhatian
Belajar
dan Nilai Hasil Belajar
90
80
70
60
50
40
30
20
10
0
83,71
86,57
85,71
26,89
28,71
29,43
Siklus 1
Siklus 2
Siklus 3
Perhatian belajar
Rata-rata Nilai Hasil Belajar
Berdasarkan pada tabel dan grafik di atas, membuktikan bahwa perhatian belajar
peserta didik kelas Busana Butik 1 telah terjadi perubahan yang signifikan. Hal tersebut dapat
dijelaskan sebagai berikut :
a. Siklus 1 tingkat perhatian belajar dengan nilai 26,89 yang berada pada kriteria
tinggi/baik, rerata nilai hasil belajar yang dicapai 83,71 dengan
kriteria baik/tuntas;
b. Siklus 2 tingkat perhatian belajar dengan nilai 28,71 yang berada pada kriteria
tinggi/baik, rerata nilai hasil belajar yang dicapai 85,71 dengan kriteria baik/tuntas; dan
c. Siklus 3 tingkat perhatian belajar dengan nilai 29,43 yang berada pada kriteria
tinggi/baik, rerata nilai hasil belajar yang dicapai 86,57 dengan kriteria baik/tuntas.
H. Kesimpulan
Berdasarkan pada tiga siklus yang penulis lakukan dalam pembelajaran materi
meneladani perjuangan dakwah Rasulullah saw. di Madinah di kelas X Busana Butik 1
melalui Model Pembelajaran Langsung (Direct Instruction) dibantu dengan media tayangan
film dapat dijelaskan hasil yang dicapai sebagai berikut :
20
1. Kelas X Busana Butik 1 yang berjumlah 35 peserta didik (muslim) setelah mendapatkan
tindakan-tindakan dari siklus 1, 2, dan 3 mengalami peningkatan perhatian dalam
mengikuti kegiatan pembelajaran tentang materi meneladani perjuangan dakwah
Rasulullah saw. di Madinah dibandingkan sebelumnya, yaitu : siklus 1 (26,89), siklus 2
(28,71), dan siklus 3 (29,43) pada kriteria tinggi/baik. Demikian pula dengan nilai hasil
belajar peserta didik juga mengalami peningkatan yaitu : siklus 1 (nilai rata-rata 83,71),
siklus 2 (nilai rata-rata 85,71). dan siklus 3 (nilai rata-rata 86,57) pada kriteria baik.
2. Tingkat ketuntasan belajar peserta didik mulai dari siklus 1, 2, dan 3 sebesar 100 %.
3. Ketika kegiatan pembelajaran berlangsung, berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh
penulis maupun observer lain tidak terdapat siswa yang mengantuk, bersenda gurau,
keluar masuk ruangan dan lain-lain, tetapi peserta didik mengikuti KBM dengan rasa
senang, antusias dan sungguh-sungguh.
4. Pada guru (penulis) sendiri juga terjadi peningkatan gairah dan motivasi mengajar, sebab
mengajar dengan berbagai metode apalagi dibantu dengan penggunaan media tayangan
film akan sangat membantu guru dalam menyampaikan materi ajar serta mempermudah
peserta didik memahami materi yang diajarkannya.
21
DAFTAR PUSTAKA
Al-Qardhawi , Muhammad, Yusuf, 1980, Pendidikan Islam dan Madrasah Al-Banna, terjemahan
Prof. H. Bustami A. Gani dan Drs. Zaenal Abidin Ahmad, Jakarta: Bulan Bintang.
Andreas Priyono, 2000, Pedoman Praktis Pelaksanaan Tindakan Kelas (Classroom-Based
Action Research), Proyek Perluasan dan Peningkatan Mutu SLTP Kantor Wilayah
Depdiknas, Propinsi Jawa Tengah.
Aqib Zaenal, dkk., 2009. Penelitian Tindakan Kelas Untuk Guru SMP, SMA, SMK, Bandung:
CV. Yrama Widya.
Arief, Armai, Dr., M.A., Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, Jakarta: Ciputat
Pers.
Arikunto, Suharsimi, Prof., Dr., dkk., 2010, Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta: Bumi Aksara.
Azra, Azyumardi, Prof.,Dr., 2002, Pendidikan Islam : Tradisi dan Modernisasi Menuju
Milenium Baru, Jakarta: Logos Wacana Ilmu.
BDK, Kementerian Agama, Jawa Tengah, 2010, Materi : Peningkatan Guru PAI SMK se-Jawa
Tengah.
Daradjat, Zakiyah, 1986, Ilmu Jiwa Agama, Jakarta: PT. Rajawali Press.
Depag., RI., 1971, Al-Qur’an dan Terjemahannya, Jakarta : Depag RI.
Diklat BDK Kementerian Agama, Peningkatan Guru PAI SMK se-Jawa Tengah, tanggal 22
Nopember s/d 29 Nopember 2010
Haekal, Muhammad Husain, 1990, Sejarah Hidup Muhammad, Jakarta: Litera Antarnusa.
Kemendikbud, 2013, Buku Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti SMK Kelas X, Jakarta:
Depag.
Komang T., Dewa, dkk., 2004, Pedoman Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta: Direktorat
Pembinaan Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat Ditjen Pendidikan Tinggi.
Langgulung, Hasan, Prof., Dr., 1980, Beberapa Pemikiran tentang Pendidikan Islam, Bandung:
Al-Maarif.
Lexy J. Moleong, 2002, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Nasution, Harun, Prof., Dr., 1985, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Jakarta:UI Press.
Ngalim Purwanto, Ngalim, 2002, Ilmu Pendidikan Teoritis Dan Praktis,Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya.
22
Saminanto, 2010, Ayo Praktik PTK, Semarang: Media Group
Suhandjono, Azis, Hoesein, dkk., 1996, Pedoman Penyusunan Karya Tulis Ilmiah di Bidang
Pendidikan, Depdikbud, Dikdasmen.
Sukmadinata, Syaudih, Nana, Prof., Dr., 2003, Landasan Psikologi Proses Pendidikan,
Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Sumarno, 1997, Pedoman Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta: Ditjen Dikti.
htp://www.media.com, 2015
Undang-Undang Sisdiknas No. 20 Tahun 2003.
Usman, Uzer, Moh., 2003. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
23
Download