FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN STRATEGI
KOPING PADA PENDERITA DIABETES MELITUS DI PUSKESMAS
SUNGAI PANCUR KECAMATAN SUNGAI BEDUK
KOTA BATAM
Adi Arianto
Dosen Program Studi Pendidikan Dokter Universitas Batam
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya faktor-faktor yang berhubungan
dengan strategi koping pada penderita diabetes melitus. Jumlah subjek 29 orang.
Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah total sampling yang diambil
berdasarkan data pasien yang datang berobat di Puskesmas Sungai Pancur tahun 2013.
Kriteria untuk sampel penelitian yaitu (1) Pasien DM yang ada di Puskesmas Sungai
Pancur Kecamatan Sungai Beduk (2) Dapat membaca dan menulis (3) Sehat jiwa (4)
Mampu mendengar. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner
dalam bentuk pertanyaan positif berdasarkan Scale Survey Strategies Coping
yang sesuai dengan teori Lazarus dan Folkman (1984). Adapun hasil yang diperoleh
pada penelitian ini yaitu responden yang berumur dewasa tengah (41-60 th) sebanyak
72,4 %, dewasa akhir (>60 th) sebesar 17,2% dan dewasa awal (21-40 th) sebesar
10,4 %. Pada kepribadian didapat sebesar 75,9 % berkepribadian tipe A dan
yang berkepribadian tipe B 24,1 %. Sedangkan 96,6 % mempunyai kecakapan tinggi dan
yang memiliki kecakapan rendah sebesar 3,4 %. Pada dukungan sosial didapat 69,0 %
mempunyai dukungan sosial tinggi dan dukungan sosial rendah sebesar 31,0 %.
Selanjutnya pada strategi koping adaptif diperoleh sebesar 51,7% dan yang
menggunakan strategi koping maladaptif sebanyak 48,3 %. Dapat disimpulkan bahwa
ada hubungan antara umur, kepribadian individu, kecakapan dan dukungan social
dengan strategi koping pada penderita diabetes melitus.
Kata Kunci
: Diabetes Melitus, Strategi Koping dukungan sosial
PENDAHULUAN
sempurna menjadi CO2 dan air 5%
diubah menjadi glikogen dan kira-kira
30-40% diubah menjadi lemak.
Latar Belakang
Diabetes melitus adalah suatu sindroma
klinik yang ditandai oleh poliuria,
polidipsi
dan
polifagi,
disertai
peningkatan kadar glukosa darah atau
hiperglikemia kronik. Bila diabetes
melitus tidak segera diatasi akan terjadi
gangguan metabolisme karbohidrat,
lemak, protein dan resiko timbulnya
gangguan
mikrovaskular
atau
makrovaskular
meningkat.
Hiperglikemia
timbul
akibat
berkurangya insulin sehingga glukosa
dan tidak dapat masuk ke sel-sel otot,
jaringan adipose atau hepar dan
metabolismenya terganggu. Dalam
keadaan normal, kira-kira 50% glukosa
yang dimakan mengalami metabolism
Pada diabetes melitus semua proses
tersebut terganggu, glukosa tidak dapat
masuk ke dalam sel hingga energy
terutama diperoleh dari metabolism
protein dan lemak. Penyakit diabetes
melitus merupakan suatu keadaan yang
memberikan rasa kekhawatiran bagi
seseorang saat didiagnosa dokter
adalah terkena diabetes melitus atau
kencing
manis.
Sebagian besar
penderita diabetes melitus yang putus
asa karena penyakitnya.
Seseorang
yang kehilangan sebagian anggota
17
tubuh maka akan mengalami trauma
karena
merasa
dirinya tidak
sempurna. Khususnya bagi pria yang
masih berusia produktif, ia akan
kehilangan
jati
dirinya sebagai
seorang pria. Penyakit diabetes melitus
banyak menarik perhatian karena
prevalensinya
yang
semakin
meningkat.
Terdapat
350
juta
penderita diabetes melitus di dunia
pada tahun 2011. Diperkirakan jumlah
penderita diabetes melitus di dunia
akan mencapai 479 juta jiwa pada
tahun 2017.
menimbulkan
dampak
masalah
yang
sangat kompleks dan luas.
Masalah yang ditimbulkan bukan
hanya dilihat dari segi medis saja,
tetapi bisa meluas sampai kepada
masalah ekonomi, sosial budaya,
keamanan, dan ketahanan sosial
(Departemen Kesehatan
Republik
Indonesia 2008).
Dampak terhadap psikologi dapat
berupa
marah,
cemas,
depresi,
ketakutan, rasa bersalah atau rasa
malu. Selain itu juga berdampak
bagi tubuh yang berupa metabolik
kontrol yang jelek.
Masalah yang timbul akibat diabetes
melitus
tersebut
membutuhkan
penyusuaian
diri
karena
dapat
mengganggu kesimbangan. Jika tidak
dapat dikendalikan dengan baik, maka
akan muncul gangguan badan atau
jiwa. Masalah yang dialami eleh
penderita diabetes
melitus
akan
mendorong penderita tersebut untuk
melakukan
adaptasi dengan cara
mengatasi masalah yang muncul
dengan menggunakan strategi mecahan
masalah atau mekanisme koping.
Organisasi Kesehatan Dunia (World
Health Organisation) memperkirakan
jumlah penyandang diabetes di
Indonesia akan melonjak drastis. Bila
di tahun 2000 jumlah penyandangnya
baru sekitar 8,4 juta, diprediksi
meningkat menjadi 21,3 juta di tahun
2030. Diperkirakan prevalensi penyakit
diabetes melitus di Indonesia menurut
penelitian berkisar 1,5 – 2,3 % dari
penduduk diatas usia 15 tahun.
Berdasarkan data dari Puskesmas
Sungai Pancur pada tahun 2013
jumlah penderita
diabetes melitus
sebanyak 20 orang dan pada tahun
2014
penderita diabetes melitus
sebanyak 24 orang. Jumlah itu
merupakan gabungan dari rawat inap
dan rawat jalan sehingga dapat
disimpulkan
terjadi
peningkatan
penderita diabetes melitus. Rata-rata
penderita diabetes melitus tersebut
adalah usia 45-54 tahun. Puskesmas
Sungai Pancur merupakan Puskesmas
yang
memiliki
pelayanan yang
bersifat komprehensif baik rawat
jalan maupun rawat inap bagi semua
jenis penyakit
yang
ada
di
Puskesmas tersebut.
Koping didefinisikan pikiran dan
perilaku yang digunakan untuk
mengatur tuntutan internal maupun
eksternal dari situasi yang menekan.
Koping dipengaruhi oleh beberapa
faktor antara lain umur, kepribadian
individu, kecakapan, dan dukungan
sosial. Menurut penelitian yang
dilakukan oleh Prambandani (2005)
mengatakan bahwa
faktor-faktor
tersebut mampu mengatasi masalah
pada
penderita. Tetapi
terkadang
hal
ini
kurang
di perhatikan
penderita, maka hal ini bisa dijadikan
dasar
bagi
penderita
untuk
menyesuaikan diri dalam menghadapi
masalah. Penelitian ini diketahuinya
faktor-faktor
yang
berhubungan
dengan strategi koping penderita
diabetes melitus.
Diabetes melitus merupakan penyakit
kronis yang tidak dapat disembuhkan
sehingga dapat menimbulkan masalah.
Penyakit diabetes melitus
dapat
18
METODE
Subjek penilitian ini adalah seluruh
penderita diabetes melitus yang
ada di Wilayah Kerja Puskesmas
Sungai Pancur Kecamatan Sungai
Beduk
Kota Batam.
Jumlah
penderita
diabetes
melitus
di
Puskesmas
Sungai
Pancur
sebanyak 29 orang pada tahun 20132014. Instrumen penelitian yang
digunakan dalam penelitian ini adalah
kuesioner dalam bentuk pertanyaan
positif berdasarkan scale survey
strategies coping yang sesuai dengan
teori Lazarus dan Folkman (1984).
Jumlah
kuesioner sebanyak 36
pertanyaan, yang akan dikelompokkan
menjadi tiga bagian yaitu bagian A
berisi 4 pertanyaan yang meliputi
umur, jenis kelamin, pendidikan, dan
jenis pekerjaan. Bagian B berisi 12
pertanyaan tentang faktor-faktor yang
mempengaruhi strategi koping. Bagian
C berisi 15 pertanyaan positif dan 5
pertanyaan negatif tentang strategi
koping penderita diabetes melitus.
Penulis mengumpulkan data untuk
mendapatkan data dengan kuesioner
yang sesuai dengan tujuan penelitian.
Penelitian ini dilakukan dengan cara
menyebarkan
kuesioner
yang
sebelumnya telah diuji validitanya
dengan teknik kolerasi product
Moment, dan reabilitas kuesioner
dengan menggunakan teknik Alfa
Cronbach.
Kuesioner
dalam
penelitian ini terdiri dari sejumlah
pertanyaan yang digunakan untuk
memperoleh informasi dari responden.
Kuesioner terdiri dari tiga bagian yaitu
data demografi dan
responden,
pertanyaan
tentang
faktor-faktor
yang berhubungan dengan strategi
koping, dan pertanyaan tentang strategi
koping.
HASIL PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan pada tanggal 27 April sampai 17 februari 2014 pada 29
responden di Puskesmas Sungai Pancur Kabupaten Sungai Beduk.
Karakteristik Umur Responden
Tabel 1.
Distribusi penderita diabetes melitus berdasarkan umur, jenis kelamin,
pendidikan, dan pekerjaan di Puskesmas Sungai Pancur Kabupaten Sungai
Beduk (N=29).
No
Karakteristik Umur
Frekuensi (n)
Presentase (%)
1 Dewasa awal (21-40) tahun
3
10,3
2 Dewasa tengah (41-60) tahun
21
72,4
3 Dewasa akhir (>60) tahun
5
17,2
Total
29
100
Hasil penelitian ini dapat diketahui
pada tabel 1. bahwa jumlah responden
yang berumur dewasa tengah lebih
banyak
dibanding
dengan umur
dewasa awal dan dewasa lanjut:
dengan jumlah proporsi dewasa awal
sebanyak 3 orang (10,4%), dewasa
tengah sebesar 21 orang (72,4%),
dan dewasa lanjut sebanyak 5 orang
(17,2%).
19
Keperibadian individu responden
Tabel 2.
Distribusi Penderita Diabetes Melitus berdasarkan Kepribadian individu di
Puskesmas Sungai Pancur Kabupaten Sungai Beduk (N=29).
No
Kepribadian individu
Frekuensi (n)
Prosentase (%)
1
Tipe A
22
75,9
2
Tipe B
7
24,1
Total
29
100,0
Berdasarkan tabel 2. diatas diketahui
bahwa sebagian besar responden
mempunyai kepribadian tipe A
dengan
artian
memliki
jenis
kepribadian
individu
bersifat
kompetitif dan agresif. Jumlah
responden yang berkepribadian tipe A
sebanyak 22 orang (75,9%) dan
Responden yang berkepribadian tipe
B sebanyak 7 orang (24,1%).
Kecakapan responden
Tabel 3.
Distribusi Penderita Diabetes Melitus berdasarkan Tingkat kecakapan di
Puskesmas Sungai Pancur Kabupaten Sungai Beduk (N=29).
No
Kecakapan
Frekuensi (n)
Prosentase (%)
1
Rendah
1
3,4
2
Tinggi
28
96,6
Total
29
100,0
Gambaran hasil data yang terlihat
pada tabel 3. diketahui bahwa dari
sebagian besar responden mempunyai
kecakapan tinggi dengan artian
mampu menyelesaikan masalah secara
terencana, dengan proporsi responden
yang mempunyai kecakapan tinggi
sebanyak 28 orang (96,6%) dan
responden
yang
mempunyai
kecakapan rendah sebanyak 1 orang
(3,4%). Hal ini berarti kecakapan
tinggi lebih besar dari pada kecakapan
rendah.
Dukungan Sosial responden
Tabel 4.
Distribusi Penderita Diabetes Melitus berdasarkan tingkat dukungan sosial
responden di Puskesmas Sungai Pancur Kabupaten Sungai Beduk (N=29).
No
Dukungan sosial
Frekuensi (n)
Prosentase (%)
1
Rendah
9
31,0
2
Tinggi
20
69,0
Total
29
100,0
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
tabel 4. sebagian besar mempunyai
dukungan sosial tinggi dengan artian
hubungan antara keluarga, teman, tim
kesehatan, atasan dan sebagainya
sangat
baik.
Responden
yang
mempunyai dukungan sosial tinggi
frekuensinya sebanyak 20 orang
(69,0%)
dan
responden
yang
mempunyai dukungan sosial rendah
sebanyak 9 orang (31,0%).
20
Strategi Koping
Tabel 5.
Distribusi Penderita Diabetes Melitus berdasarkan Strategi Koping di
Puskesmas Sungai Pancur Kabupaten Sungai Beduk (N=29)
No
Strategi Koping
Frekuensi (n)
Prosentase (%)
1
Maladaptif
13
44,8
2
Adaptif
16
55,2
29
100,0
Total
Setelah dilakukan penelitian dapat
diketahui pada table 5. bahwa
responden yang menggunakan strategi
koping adaptif lebih banyak dari
pada responden yang menggunakan
strategi koping maladaptif. Ini
menandakan bahwa sebagian besar
responden mampu mengatasi masalah
yang muncul baik dari dalam
maupun dari luar. Responden yang
menggunakan strategi koping adaptif
sebanyak 16 orang (55,2%) dan
responden yang menggunakan strategi
koping m aladaptif sebanyak 13 orang
(44,8%).
Faktor-faktor yang berhubungan dengan strategi koping
Tabel 6.
Hubungan antara umur, kepribadian, kecakapan, dukungan sosial dengan strategi
koping di Puskesmas Sungai Pancur Kecamatan Sungai Beduk (N=29)
Variabel
Strategi Koping
Maladaptif
(n) / %
Umur
Dewasa awal (21-40) thn
Dewasa tengah (41-60) thn
Dewasa lanjut (>60) thn
Total
Kepribadian Individu
Tipe A
Tipe B
Total
Kecakapan
Rendah
Tinggi
Total
Dukungan Sosial
Rendah
Tinggi
Total
*p < 0,05, dan **p < 0,01
Adaptif
Correlation
Nilai r
Nilai p
(n) / %
1 (33,3)
9 (42,9)
3 (60,0)
13
2 (66,7)
12 (57,1)
2 (40,0)
16
0,519**
0,004
9 (40,9)
4 (57,1)
13
13 (59,1)
3 (42,9)
16
0,508**
0,005
1 (100)
12 (42,9)
13
0 (0)
16 (57,1)
16
0,210
0,275
6 (66,7)
7(35,0)
13
3 (33,3)
13(65,0)
16
0,744**
0,000
Pada penelitian ini digunakan uji
korelasi Pearson Product Moment
yaitu pada hubungan antara umur,
kepribadian,
kecakapan
dan
dukungan sosial terhadap strategi
koping. Pada hasil uji Pearson
21
Product Moment didapatkan ada
hubungan antara umur dengan
strategi koping dilihat pada tabel
4.6. didapat r = 0,519 dan p = 0,004
(p<
0.05).
Dengan
proporsi
responden yang berumur dewasa
awal
dengan koping maladaptif
sebanyak 1 orang (33,3%) dan
adaftif sebanyak 2 orang (66,7%),
responden dengan umur dewasa
tengah yang menggunakan strategi
koping maladaptif sebanyak 9 orang
(42,9%) dan adaptif sebanyak 1 2
orang (57,1) dan responden yang
berumur
dewasa
lanjut
yang
menggunakan
strategi
koping
maladaptif sebanyak 3 orang (60,0%)
dan adaptif sebanyak 2 orang (40,0%).
Setelah dilakukan uji Pearson Product
Moment diperoleh hasil tidak ada
hubungan antara kecakapan dengan
strategi koping. Dengan nilai r =
0,210 dan p = 0,275 (p > 0,05).
Sebagian
besar
responden
mempunyai kecakapan tinggi yaitu
proporsi
responden
yang
kecakapannya rendah menggunakan
strategi koping maldaptif sebanyak 1
orang (100%), responden yang
kecakapannya tinggi menggunakan
strategi koping maladaptif sebanyak
12 orang (42,9%), dan responden yang
menggunakan strategi koping adaptif
sebesar 16 orang (57,1%).
Sedangkan pada dukungan sosial
didapatkan hasil adanya hubungan
antara dukungan sosial dengan strategi
koping dengan nilai r = 0,744 dan p
= 0,000 (p < 0,05).
Jumlah
responden dengan dukungan sosial
rendah yang menggunakan strategi
koping maladaptif sebanyak 6 orang
(66,7%), dan adaptif sebanyak 3
orang (33,3%). Sedangkan jumlah
responden dengan dukungan sosial
tinggi yang menggunakan strategi
koping maladaptif sebanyak 7 orang
(35,0%)
dan
responden
yang
menggunakan strategi koping adaptif
sebesar 13 orang (65,0%).
Sedangkan pada kepribadian individu
didapatkan hasil ada hubungan antara
kepribadian individu dengan strategi
koping. Dengan nilai r = 0,508 dan p
= 0,005 (p
<
0,05). Jumlah
responden yang berkepribadian tipe
A
yang menggunakan strategi
koping maladaptif
sebanyak
9
orang (40,9%) dan adaptif sebanyak
13 orang
(59,1%).
Sedangkan
responden
yang
berkepribadian
tipe B yang menggunakan strategi
koping maladaptif sebanyak 4
orang (57,1%) dan adaptif sebanyak
3 orang (42,9%).
PEMBAHASAN
yang berkurang, obat-obatan, genetik
dan adanya penyakit-penyakit lain
yang terdapat bersamaan pada usia
lanjut
akan
mempermudah
seseorang tersebut terkena diabetes
melitus.
Umur
Secara umum dari hasil penelitian
didapatkan bahwa sebagian besar
penderita diabetes melitus berumur
dewasa tengah (41–60 th) sebesar
72,4 %. Sedangkan pada umur
dewasa awal (21–40 th) sebesar 10,4
%, dan pada umur dewasa akhir
sebesar 17,2 ( > 61 th). Menurut
Askandar (1994) diabetes melitus
sering terjadi pada usia lebih dari
40 tahun. Pada tingkat
umur
tersebut fungsi alat tubuh mengalami
kemunduran,
selain
itu
juga
terdapat faktor obesitas, aktifitas
Kepribadian Individu
Penelitian ini menunjukkan dari 29
responden sebagian besar memiliki
kepribadian tipe A sebanyak 75,9 %.
Kepribadian tipe A pada penderita
diabetes melitus yaitu suatu tipe yang
besifat kompetitif dan agresif,
kepribadian tersebut muncul karena
22
responden
mampu
menghadapi
masalah dengan penuh semangat.
Penelitian ini sesuai
dengan
pendapat
Friediabetes
melitusan
dan
Rosenman dalam
buku
Abraham C (1997) yang mengatakan
bahwa seseorang dengan kepribadian
tipe A itu bersifat kompetitif dan
agresif, sebaliknya pada kepribadian
tipe B yang bersifat lamban dalam
merespon masalah Kepribadian pada
penderita diabetes melitus adalah
bersifat kompetitif, agresif dan
cekatan dalam menghadapi masalah.
disekitarnya. Selain itu penderita
juga
mempunyai sumber koping
yang baik, bersifat terbuka terhadap
orang lain sehingga banyak orang
yang memberikan dukungan terhadap
dirinya.
Hal ini sesuai pendapat Wiscar dan
Sandra bahwa dukungan sosial
bersumber dari dukungan emosi
dimana seseorang merasa dicintai,
dukungan
harga
diri
berupa
pengakuan dari orang lain akan
kemampuan yang dimiliki, dan
perasaan yang dimiliki dalam sebuah
kelompok.
Kecakapan
Berdasarkan hasil penelitian ini
diperoleh jumlah responden yang
kecakapannnya tinggi lebih besar dari
pada responden yang kecakapannya
rendah. Responden yang mempunyai
kecakapan tinggi sebesar 96,6 % dan
yang mempunyai kecakapan rendah
sebesar 3,4 %. Kecakapan yang tinggi
tersebut disebabkan karena penderita
diabetes melitus sudah banyak
mendapatkan pengalaman tentang
pengelolan diabetes melitus. Dengan
pengalaman
tersebut
penderita
mampu merencanakan penyelesaian
masalah dengan baik
Hubungan antara umur dengan
strategi koping
Berdasarkan hasil
uji
dengan
metode Pearson Product Moment
didapatkan hasil ada hubungan antara
umur dengan strategi koping pada
penderita diabetes melitus
dengan
nilai r sebesar 0,519 dan p
0,004 (p<0,05). Penelitian ini sesuai
dengan
penelitian
yang
dilakukan oleh Nur Arifin (2005)
yang menyatakan
ada
hubungan
antara
umur
dengan
tingkat
kecemasan
pada penderita gagal
ginjal, dengan nilai X2 = 6,724 dan
Hasil
ini
sesuai
dengan
penelitiannya Atik Kadaryati yang
menyatakan bahwa kecakapan yang
tinggi itu akan mampu menetapkan
prioritas masalah, identifikasi respon
perasaan,
pikiran dan
perilaku
terhadap
masalah, memperhatikan
semua kemungkinan penyelesaian,
mengidentifikasi keuntungan dan
kerugian setiap tindakan, dan memiliki
penyelesain yang terbaik
p= 0.010 (p < 0,05).
Umur
dengan
strategi
koping
mempunyai arah hubungan yang
positif.
Nur
Arifin
dalam
penelitiannya
tentang
tingkat
kecemasan menyatakan bahwa pada
umur dewasa muda terdapat 87,6
%
pasien mengalami tingkat
kecemasan berat. Hal ini disebabkan
karena
penderita yang
harus
menjalani terapi hemodialisa yang
membutuhkan biaya cukup banyak
dan waktu yang tidak diketahui
sampai kapan
pengobatan
itu
berakhir. Sedangkan dalam penelitian
ini didapatkan semua penderita
diabetes melitus pada usia dewasa
awal lebih banyak menggunakan
strategi koping adaptif dari pada
Dukungan sosial
Hasil penelitian ini menggambarkan
bahwa penderita diabetes melitus
mempunyai dukungan sosial tinggi
sebesar 69,0 %. Dukungan sosial
itu diperoleh
karena penderita
diabetes melitus yang tinggal di
daerah pinggiran kota, sehingga
penderita dekat
dengan
orang
23
maladaptif. Cara tersebut digunakan
penderita karena penderita belum
semuanya banyak
mendapatkan
pengalaman
tentang
penanganan
masalah diabetes melitus, sehingga
penderita masih ada menggunakan
strategi koping yang maladaptif.
strategi koping dengan nilai r =
0,508 dan p = 0,005 (p < 0,05).
Hasil ini sesuai dengan pendapat
Friediabetes melitusan dan Rosenman
pada tahun 1974 dalam buku
Abraham C (1997) yang menyatakan
bahwa
kepribadian
akan
mempengaruhi
seseorang
dalam
menyelesaikan masalah. Dalam buku
itu menyatakan bahwa kepribadian
individu dengan strategi koping
mempunyai arah hubungan yang
positif. Pada penelitian ini responden
yang berkepribadian jenis A sebagian
besar mempunyai strategi koping
adaptif, hal ini terjadi karena
responden
mempunyai
sifat
kompetitif dan merasa terlibat dalam
suatu persaingan untuk mencapai
lebih dalam waktu yang singkat, hal
ini terbukti dengan jumlah responden
sebesar
59,1
% menggunakan
koping adaptif. Sebaliknya dengan
tipe B yang menunjukkan sikap tidak
kompetitif,
tidak
begitu
memperdulikan waktu dan lamban
dalam merespon suatu masalah,
dalam penelitian ini terdapat 57,1 %
responden yang menggunakan koping
maladaptif.
Namun penelitian ini berbada dengan
penelitian yang dilakukan oleh
Parjiem yang mengatakan bahwa
tidak ada hubungan antra umur
dengan strategi koping pada orang
tua
anak
penderita
Leukemia,
2
dengan nilai X
= 2.318 dan
p= 0.350. Tidak adanya hubungan
antara umur dengan strategi koping
dikarenakan adanya pengalaman yang
sama pernah menghadapi anak yang
harus menjalani terapi hemodialisa,
sehingga orang tua sudah siap dengan
segala resiko yang akan terjadi. Oleh
karena itu orang tua cenderung
melakukan strategi koping konstruktif.
Tetapi ada orang tua yang mengatakan
bahwa terapi hemodialisa merupakan
pengalaman yang pertama kali,
sehingga orang tua
cenderung
melakukan strategi koping destruktif
karena tidak mampu menyelesaikan
stresor yang dihadapi, maka akan
terjadi masalah yang berkepanjangan.
Hubungan antara kecakapan dengan
strategi koping
Setelah dilakukan uji Pearson Product
Moment diketahui tidak ada hubungan
antara kecakapan dengan
strategi
koping, nilai r = 0,210 dan p =
0,275 (p > 0,05). Penelitian ini tidak
sesuai
dengan penelitian
yang
dilakukan oleh Atik Kadaryati (2005)
yang menyatakan
menyelesaikan
masalah secara terencana merupakan
koping yang tepat.
Perbedaan penelitian ini dengan
penelitian yang dilakukan oleh
Parjiem (disebabkan karena tempat
penelitian yang berbeda. Penelitian
ini dilakukan di Puskesmas Sungai
Pancur yang mayoritas penderita
tinggal di pinggiran kota. Sedangkan
penelitian yang dilakukan oleh
Parjiem dilakukan di
Yayasan
Leukimia
di
Semarang
yang
respondennya
bertempal
tinggal
didaerah yang berbeda-beda.
Pada penelitian ini responden yang
menggunakan Kecakapan tinggi dengan
koping adaptif sebesar 57,1 %. Hal ini
disebabkan karena penderita diabetes
melitus
yang
sudah
banyak
mendapatkan
pengalaman
namun
tidak
dapat menginterpretasikannya.
Pada penelitian Atik Kadaryati yang
mempunyai kecakapan tinggi dengan
Hubungan antara kepribadian
individu dengan strategi koping
Berdasarkan
analisis
dengan
metode Pearson Product Moment
penelitian ini didapat ada hubungan
antara kepribadian individu dengan
24
strategi koping adaptif sebanyak 55,5%,
hal ini disebabkan karena responden
mampu
menetapkan
prioritas
masalah, identifikasi respon perasaan,
pikiran dan
perilaku terhadap
masalah,
memperhatikan
semua
kemungkinan
penyelesaian,
mengidentifikasi
keuntungan
dan
kerugian
tiap tindakan, dan memilih
penyelesaian yang terbaik
Dalam penelitian Suhartini tentang
dukungan sosial itu terjadi karena
adanya dukungan emosi, dukungan
instrumental, dukungan informasi, dan
dukungan penghargaan. Hal ini
disebabkan karena responden yang
mempunyai sifat terbuka terhadap
orang lain. Oleh karena itu responden
mendapatkan support dari orang di
sekitarnya.
Hubungan antara dukungan sosial
dengan strategi koping
Berdasarkan hasil analisa dengan
metode Pearson Product Moment
didapat
ada
hubungan
antara
dukungan sosial dengan strategi
koping dengan nilai r = 0,744 dan p
= 0,000 (p < 0,05). Penelitian
sesuai derngan penelitian Suhartini
(2005) yang
menyatakan ada
hubungan antara dukungan sosial
dengan tingkat ketaatan pasien
diabetes melitus menjalankan diet
diabetes melitus, dengan nilai X2 =
Hasil
dalam
penelitian
ini
diperoleh
sebagian
besar
responden
mempunyai dukungan
sosial tinggi menggunakan strategi
koping adaptif. hal ini terjadi karena
dukungan tersebut mampu menekan
tingkat stresor yang muncul. tetapi
ada
beberapa
responden
yang
mempunyai dukungan sosial rendah
mampu menggunakan strategi koping
yang adaptif. Hal ini terjadi karena
responden mempunyai sumber koping
yang baik. Persamaan penelitian ini
dengan
penelitian
Suhartini
disebabkan karena jenis penyakitnya
yang
sama,
yaitu
sama-sama
penyakit diabetes melitus sehingga
karakter orangnya cederung sama.
6,434 dan p = 0,011 (p < 0,05).
KESIMPULAN
Dari penelitian yang dilakukan pada
29 responden pederita diabetes
melitus di Puskesmas Sungai Pancur
Kabupaten Sungai Beduk dapat
diambil kesimpulan bahwa:
1. Responden yang berumur dewasa
tengah (41-60 th) sebanyak 72,4
%, dewasa akhir (>60 th) sebesar
17,2% dan dewasa awal (21-40 th)
sebesar 10,4 %.
2. Responden
yang
memiiliki
kepribadian tipe A didapat sebesar
75,9 % dan yang berkepribadian
tipe B 24,1 %.
3. Responden yang mempunyai k
ecakapan tinggi sebesar 96,6 %
dan
yang memiliki kecakapan
rendah sebesar 3,4 %.
4. Responden
yang
mempunyai
dukungan sosial tinggi didapat
69,0% dan dukungan sosial rendah
sebesar 31,0 %.
5. Responden yang menggunakan
strategi koping adaptif diperoleh
sebesar 55,2%
dan
yang
menggunakan
strategi
koping
maladaptif sebanyak 44,8%. Ada
hubungan signifikan antara umur,
kepribadian individu, dukungan
sosial dengan strategi koping pada
penderita diabetes melitus masing masing secara berurutan dengan
nilai p = 0,004, 0,005, 0,000.
25
SARAN
Dari hasil penelitian yang dilakukan
penulis maka penulis memberikan
saran-saran yaitu:
1. Bagi Responden Berkepribadian
Individu Tipe B
Perlu menciptakan rasa percaya
diri dalam menghadapi masalah
dengan penuh semangat agar
terciptanya sifat yang kompetitif
dan agresif.
2. Bagi
Responden
Yang
Kecakapannya Rendah
Perlu memiliki penyelesaian yang
terbaik,
mampu
menetapkan
prioritas masalah, identifikasi
respon perasaan, pikiran dan
perilaku terhadap masalah.
3. Bagi Responden Yang Dukungan
Sosialnya Rendah
Perlu menciptakan sifat yang
terbuka terhadap orang lain
sehingga banyak orang yang
akan memberikan dukungan
terhadap dirinya.
4. Bagi Puskesmas
Meningkatkan
penyuluhan
kepada
penderita
diabetes
mellitus
agar
tetap
mempertahankan strategi koping
yang adaptif.
DAFTAR PUSTAKA
Abraham. C. (1997). Psikososial
untuk perawat. Alih bahasa
Leoni Sall
Maitimu. Jakarta: EGC.
Atik Kadaryati. (2005). Strategi
koping pasien
karsinoma
stadium I
dan stadium II
dibeberapa rumah sakit.
Barry, P.D. (1996). Psychososial
nursing:care of pysically ill
patients and their
families 3rd edition, New York:
pengembangan tenaga kerja
Republik Indonesia.
Hadjono Suprapto. (2002). Mewarnai
gambar pada anak.Jakarta:
FKUI
Lazarus.Ricard.S.& Folkman. (1964).
Stress, apprasial, and coping.
New York: Spinger Publishing
Company.
Marimis,W.F, Ilmu Kedokteran Jiwa,
Airlangga University Press,
Surabaya,
2005.
Mc.
Cartney,
dkk.
(1994).
Psychososial issue in the care
of gynecologic cancer patiens.
National
Safety
Council.
T.c.
Gilchrest.
(2004).
Manajemen
stress
alih
bahasa Widyastutik. Jakarta:
EGC.
Notoatmodjo,
Soekidjo.
(2010).
Metodologi
penelitian
kesehatan.
Jakarta: Rineka
Cipta.
Nur Arifin (2000). Analisis faktorfaktor
yang
berhubungan
dengan
kecemasan pasien
gagal ginjal terminal selama
menjalani terapi hemodialisis
di bidang pelayanan kesehatan
RSU tidar kota Magelang
Lippincoott revem Pubiseers.
Brouwer
M.A.W.
(1984).
Kepribadian
dan
Perubahannya.
Jakarta:
Gramedia.
Cancer Bacups Cancer Support
Services. (2003). Coping with
depresion and cabcer. http//
www. Cancerbacup. org. uk
Chaims Douglas. (2007). Diabetes dan
penurunan
kualitas
hidup.
http//www.
Ikkc.or.id.
Departemen Tenaga kerja. (2006).
Hiperkes dan keselamatan
kerja.
Pusat hiperkes dan
keselamatan
kerja
badan
perencanaan
dan
26
Parjiem. (2006). Hubungan antara
karakteristik
orang
tua
dengan strategi koping yang
digunakan orang tua anak
leukemia
di
yayasan
hematologi yasmia Semarang
Jawa Tengah. Skripsi (tidak
diterbitkan).
PERKENI. (2006). Konsesus pengelolan
DM di Indonesia.Jakarta.
Pilletry. (1999). Adolle child health
nursing, care of child and
family.
Philadelphia: Lippinchott.
Purnamasari Dyah. (2009). Diagnosis
dan
klasifikasi
diabetes
ajar
ilmu
melitus : buku
penyakit dalam. Jakarta
Smeltzer, Suzanne C. (2002). Buku
ajar
keperawatan medikal
bedah (Edisi
8).Jakarta:EGC.
Soegondo
Sidartawan.
(2009).
Farmakoterapi
pada
pengendalian
glikemia
diabetes mellitus tipe 2: buku
ajar ilmu penyakit dalam.
Jakarta
Stuart
dan Sundeen. (1998).
Buku saku keperawatan jiwa
edisi 3 alih bahasa Achir
Yani.s. Jakarta: EGC.
Sugiyono. 2007. Metode Penelitian
kuantitatif, Kualitatif, R&D.
Bandung: Alfabeta.
Suhartini (2005). Hubungan antara
dukungan sosial keluarga
dengan ketaatan pasien DM
dalam menjlankan diet DM
di wilayah kerja Puskesmas
Gemuh Kendal.
Suherman, Suharti. K. 2007. Insulin dan
Antidiabetik
Oral.
Dalam:
Farmakologi
Taylor
dan
Carol.
(2009).
Fundamental of nursing; the
Art and science of
nursing care3rd
edition.
Philadelphia: Lippinchott.
Tjokroprawiro. Askandar.
(1994).
Simposium national diabetes
& lipid.
Surabaya: FK UNAIR
Waspadji,
S.
(2007). Diabetes
Melitus: Mekanisme dasar
dan
pengelolaanya
yang
rasional.
Dalam
Penatalaksanaan
diabetes
melitus terpadu.
Jakarta:
Balai Penerbit FKUI.
WHO. Programmes and projects.
Diabetes
Action
Online.
Defining diabetes.
Dikutip 3 December 2010.
Dapat di
akses di
:
http://www. who. int /
diabetesactiononline / diabetes /
en .
27
Download

faktor-faktor yang berhubungan dengan strategi