BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

advertisement
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Indonesia merupakan Negara yang mempunyai kepulauan berciri
nusantara yang disatukan oleh wilayah perairan dan udara dengan batas –
batas, hak – hak, dan kedaulatan yang ditetapkan oleh Undang – Undang.
Bahwa dalam upaya mencapai tujuan nasional yang berdasarkan Pancasila
dan Undang – Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945,
mewujudkan wawasan nusantara serta menetapkan ketahanan nasional
diperlukan sistem transportasi nasional yang mendukung pertumbuhan
ekonomi, pengembangan wilayah mempererat hubungan antar bangsa, dan
memperkukuh kedaulatan rakyat. Sebagai neraga yang berkembang.
Bangsa Indonesia harus melaksanakan pembangunan nasional dari segala
bidang, pembangunan yang dilaksanakan di Indonesia merupakan bentuk
kemajuan. Salah satu sarana yang menjadi sasaran perkembangan nasional
adalah dari bidang ekonomi karena perekonomian suatu Negara
memegang peranan penting dalam menunjang berhasilnya pembangunan
di Negara Indonesia sejalan dengan perkembangan Indonesia terutama
dalam peningkatan produksi barang dan jasa, maka perlu sekalia adanya
2
sarana
guna menunjang mobilitas orang, barang dan jasa dari suatu
tempat ke tempat lain guna memenuhi kebutuhan masyarakat. Salah satu
jasa yang dibutuhkan dalam kegiatan tersebut adalah pengangkutan.
Jasa pengangkutan sangat dibutuhkan dalam pembangunan hingga
saat ini oleh karena itu, pengangkutan diharapkan dapat memberikan jasa
sebaik mungkin dengan fungsinya, yaitu dengan memindahkan barang
atau orang dari satu tempat ke tempat lain dengan maksud untuk
meningkatkan daya guna dan nilai.1 Subekti mendefinisikan perjanjian
pengangkutan adalah suatu perjanjian, dimana satu pihak menyanggupi
untuk dengan aman membawa orang atau barang dari satu tempat ke
tempat lain sedangkan pihak yang lain menyanggupi akan membayar
ongkosnya2, sedangkan perjanjian pengangkutan menurut H. M. N.
Purwosutjipto S.H. adalah perjanjian timbal balik antara pengangkut
dengan penumpang atau pengirim, dimana pengangkut mengikatkan diri
untuk menyelenggarakan pengangkutan barang atau orang dari suatu
1
2
Soekardono R, 1981, Hukum Dagang Indonesia jilid 11, Rajawali Press, Jakarta, hlm. 4.
R. Subekti, 1985, Hukum Perjanjian, PT Internasional , Jakarta, hlm. 1.
3
tempat tujuan - tujuan tertentu dengan selamat, sedangkan pengirim atau
penumpang mengikatkan diri untuk membayar uang angkutan 3.
Pasal 1 ayat (1) Undang – Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang
Penerbangan, difinisi penerbangan adalah “Penerbangan adalah satu
kesatuan sistem yang terdiri atas pemanfaatan wilayah udara, pesawat
udara, Bandar udara, angkutan udara, navigasi penerbangan, keselamatan
dan keamanan, lingkungan hidup, serta fasilitas penunjang dan fasilitas
umum lainnya”.
Timbulnya maskapai penerbangan yang sangat banyak di
Indonesia berawal dari diratifikasinya World Trade Organization/General
Aviation Training & Testing Service (WTO/GATTs) 4 oleh Indonesia,
dimana dengan diratifikasinya World Trade Organization/General
Aviation Training & Testing Service(WTO/GATTs) tersebut tidak
dibenarkan lagi pemerintah Indonesia melakukan monopoli dibidang
perusahaan jasa penerbangan5, sehingga para pelaku usaha berlombalomba untuk mendirikan perusahaan angkutan udara, dimana pada tahun
3
4
5
R. Subekti, 1989, Aneka Perjanjian, Bandung, Citra Aditya Bakti, hlm. 69.
WTO/GATTs, 2004, Dikelola oleh: Biro Kerjasama Luar Negeri, Makalah Direktorat
Perdagangan dan Perindustrian Multilateral, Ditjen Multilateral Ekubang, Deplu.
Saefullah Wiradipradja, 2006, “Tanggung Jawab Perusahaan penerbangan Terhadap
Penumpang Menurut hukum udara Indonesia“, Jurnal hukum Bisnis, hlm. 5
4
2007 terdapat sekitar 20 maskapai domestik baik berjadwal maupun tidak
berjadwal yang telah berdiri.
Pesawat udara, sebagai salah satu komponen sistem transportasi
nasional, pada hakekatnya mempunyai peranan yang sangat penting dalam
penyediaan jasa layanan angkutan dalam negeri maupun diluar negeri.
Terutama dalam rangka menghubungkan daerah-daerah yang sulit
dijangkau dengan modal angkutan lain secara cepat dan efisien untuk jarak
tertentu. Penerbangan umum adalah satu dari dua kategori penerbangan
sipil. Sebutan ini merujuk pada semua penerbangan selain penerbangan
militer dan maskapai terjadwal dan kargo reguler, apakah pribadi atau
komersial. Ada berbagai macam penerbangan umum, mulai dari glider dan
parasut bertenaga hingga penerbangan jet kargo besar non-terjadwal.
Hasilnya, mayoritas lalu lintas udara dunia jatuh ke dalam kategori ini,
dan sebagian besar bandara di dunia melayani penerbangan umum.
Pasal 1 ayat (8) Undang – Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang
Penerbangan, erlindunesawat udara sipil adalah, “Pesawat Udara Sipil
adalah pesawat udara yang digunakan untuk kepentingan angkutan udara
niaga dan bukan niaga.”
5
Kegiatan penerbangan dan angkutan udara di Indonesia dapat
digolongkan menjadi dua golongan yaitu kegiatan komersiil dan kegiatan
non-komersiil6. Secara yuridis istilah charter harus dipergunakan dengan
lebih hati – hati, terutama dalam hubungan dengan masalah tanggung
jawab pengangkutan udara. Konvensi Guadalajara tahun 1961, yang
mengatur mengenai tanggung jawab pengangkut pada charter pesawat
udara untuk angkutan udara internasional yang semula direncanakan
bernama “Convention On Hire Charter and Interchange of Aircraft”,
akhirnya dinamakan “Convention, Supplementary of The Warsaw
Convention, For The Unification of Certain Rules Relating to
International Carriage By Air Performed By A Person Other Than The
Contracting Carrier.”7 Menurut ICAO, “Charter services is services
operated under special arrangements, flaghts booked in toto and
thereafter not open to member of the public”, tetapi kemudia pengertian
charter diperluar “the term charter is used in the special sense that it has
acquired in the air transport field to indicate the purchase of the whole
capacity of an aircraft for a specific flight or flights, for the use of the
6
7
S.K. Menteri Perhubungan No. SK 31/U/1970 tanggal 10 Februari 1970 tentang
Syarat – Syarat dan Ketentuan – Ketentuan Mengenai Penggunaan Pesawat Umum
(General Aviation) Yang Bersifat Nonkomersiil Dalam Wilayah Republik Indonesia.
Konvensi ini membedakan antara “Contractual Carrier” dan “Actual Carrier. Lebih
lanjut, infra pada masalah tanggung jawab.
6
purchaser (individual or group). The term thus covers a wide variety of
specialized air transport operations from the taxi flight to large scale
operations (for the carriage of passengers or goods on private or
governmental contracts.8
Perkembangan usaha perjanjian pengangkutan udara ini tidak lepas
dengan adanya suatu perjanjian yang digunakan mengakomodirkan
kegiatan perjanjian tersebut. Dalam kegiatan ini, suatu kegiatan haruslah
memenuhi hak dan kewajiban dari para pihak yang bersangkutan yaitu
pihak pelaku usaha dan pihak konsumen untuk menjamin hak dan
kewajiban masing – masing pihak maka haruslah dibuat suatu perjanjian
dalam bentuk tertulis maupun secara lisan. Perjanjian tertulis ini banyak
digunakan dalam kegiatan perekomian saat ini salah satunya adalah
perjanjian baku (standardiced agreement / standardized contract).
Perjanjian baku ini terjadi biasanya keadaan dimana salah satu
pihak yang lebih kuat ekonomi, psikologis, dan sosialnya untuk
menentukan syarat dan isi dalam suatu perjanjian tersebut, sedangkan
pihak yang lain hanya bisa menerima atau menolak isi perjanjian tersebut (
take it or leave it ). Pengertian perjanjian baku diatur dalam Pasal 1 angka
8
ICAO dokumen No. 7278, “Report: Definition of Scheduled Air Services.”
7
10 Undang – Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan
Konsumen yang berisi, Setiap aturan atau ketentuan dan syarat – syarat
telah dipersiapkan dan diterapkan terlebih dahulu secara sepihak oleh
pelaku usaha yang dituangkan dalam suatu dokumen dan/atau perjanjian
yang mengikat dan wajib dipenuhi oleh konsumen. Klausula eksonerasi
adalah klausula yang mengandung unsur berat sebelah antara pihak satu
dengan pihak lainnya seperti ketimpangan antara pihak satu dengan pihak
lainnya. Klausula ini dapat berupa pengurangan, pembatasan maupun
pembebasan tanggung jawab sakah satu pihak dan melimpahkannya
tanggung jawabnya kepihak lain yang semestinya adalah tanggung
jawabnya atau tanggung jawab itu seharusnya di tanggung bersama – sama
menurut hukum yang berlaku.
Ketentuan – ketentuan pada KUHPerdata khususnya pada BAB III
Tentang Perikatan Secara Umum sudah cukup melindungi kepentingan
konsumen. Hal tersebut dapat dilihat dalam Pasal 1338 ayat (3)
KUHPerdata yang menentukan bahwa setiap perjanjian yang dibuat oleh
siapapun juga harus dilakukan dengan itikad baik, baik pembuat maupun
pelaksanaan perjanjiannya tidak boleh bertentangan dengan undang –
undang, ketertiban umum dan kesusilaan sebagaimana pengaturan dalam
8
Pasal 1320 jo 1337 KUHPerdata tentang
“kausa yang legal” yang
merupakan salah satu syarat objektif sahnya perjanjian tersebut. Namun
dengan adanya ketentuan – ketentuan tersebut tidak menjamin tidak
terjadinya penyelewengan dalam pembuatan suatu perjanjian, walaupun
sudah adanya ketentuan – ketentuan itu, tetap saja terjadi polemic antara
pelaku usaha dengan konsumen yang berkaitan dengan klausula
eksonerasi, hal ini disebabkan karena itikad adanya suatu itikad yang
kurang atau tidak baik dari pelaku usaha dengan memamfaatkan keadaan
konsumen yang cenderung lebih lemah ekonomi, psikologis, dan
sosialnya. Seperti contoh prakteknya pencantuman klausula eksonerasi
dalam perjanjian baku adalah Tiket Trasportasi Udara, Laut, Kereta Api,
dll.
PT. Pelita Air Sevice (PT PAS) merupakan perusahaan
penerbangan nasional. Pelita Air Service adalah
badan usaha anak
perusahaan Pertamina. Dinas Penerbangan Pertamina sangat berperan
sebagai pendukung kegiatan penyedia sarana angkutan udara dan pada
awal kegiatannya PT Pelita Air Service hanya ditujukan untuk melayani
kebutuhan perusahaan induk, yaitu Pertamina serta mitra-mitra kerjanya.
Kemudian PT Pelita Air Service memperluas bidang dengan terjun ke
9
bidang penerbangan reguler komersial pada tahun 2000. Saat ini PT Pelita
Air Service secara garis besar memiliki dua bidang usaha yaitu
penerbangan charter dan penerbangan reguler.
Penerbangan charter pada umumnya, rute penerbangan charter
maskapai Pelita tidak tetap, tetapi beberapa rute charter pesawat yang
sudah lama dijalani Maskapai Pelita dan konsumennya adalah:
1.
Dumai-Palembang-Jakarta/halim-Yogyakarta-Surabaya-MakassarSorong (dicarter oleh PT Pertamina, dengan pesawat Fokker
F100);
2.
Karawang-Makassar-Kaimana (dicarter oleh PT Antar Mitra
Sembada di Depok, dengan pesawat ATR 72) (rencana);
3.
Gorontalo-Raha-Karawang (dicarter oleh PT. Arga Swara Kencana
Musik, dengan pesawat Airbus A310 MRTT) (rencana);
4.
Karawang-Sorong-Kaimana (dicarter oleh PT Asia Sakti Wahid
Foods di Kota Depok Baru dengan pesawat Airbus A320)
(rencana);
5.
Jakarta/halim-Pekanbaru-Dumai-Jakarta/halim (dicarter oleh PT
Chevron Pacific Indonesia dengan pesawat Fokker F100);
10
6.
Balikpapan-Bontang-Balikpapan (dMedanicarter oleh PT Pupuk
Kaltim dengan pesawat Dash-7(sekarang sudah tdk beroperasi) );
7.
Balikpapan-Bontang-Balikpapan(dicarter oleh PT.Badak NGL
dengan pesawat ATR 42-500 (PK-PAX) );
8.
Karawang-Gorontalo-Karawang
(dicarter
oleh
PT
Penerbit
Erlangga dengan pesawat Fokker F100) (rencana).
Penerbangan Balikpapan – Bontang – Balikpapan dengan
menggunakan pesawat ATR 42-500 (PK-PAX merupakan pesawat yang
telah di charter secara khusus oleh perusahan PT Badan NGL yang
bertempatan di Bontang, Kalimantan Timur. PT Badak Natural Gas
Liquefaction atau lebih dikenal dengan PT Badak NGL adalah perusahaan
penghasil gas alam cair (LNG (Liquid Natural Gas) terbesar di Indonesia
dan salah satu kilang LNG yang terbesar di dunia. Perusahaan ini
berlokasi di Bontang, Kalimantan Timur. Perusahaan ini memiliki bandara
udara secara peribadi untuk pesawat yang di charter secara khusus yang di
peruntukan fasilitas untuk pengguna jasa penerbangan tersebut.
Bandara Udara PT Badak NGL Bontang, merupakan bandara
udara yang dikelolah secara khusus oleh perusahaan PT Badak NGL
Bontang. Bandara tersebut menjadi tempat penerbangan dan pendaratan
11
dari pesawat yang di charter oleh Perusahaan PT Badak NGL Bontang,
yaitu Maskapai Pelita, tetapi tidak hanya pesawat yang di charter oleh PT
Badak NGL Bontang yang melakukan pendaratan dan penerbangan di
bandara tersebut, salah satu perushaaan terbesar di Indonesia yaitu
perusahaan PT Pupuk Kaltim juga melakukan penerbangan dan
pendaratan dengan menggunakan pesawat charter untuk perusahaannya.
Dalam pengoperasiannya, PT Badak LNG memiliki struktur
organisasi yang terdiri atas beberapa bidang yang memiliki tugas masingmasing demi tetap berjalannya perusahaan gas terbesar ini salah satunya
adalah Business Support Division bertanggung jawab atas pengelolaan
sumber daya manusia, manajemen, meningkatkan kemampuan dan
kesejahteraan karyawan. Divisi ini membawahi tujuh departemen, yang
salah satunya adalah Procurement and Contract Department. Departemen
ini terbagi menjadi dua seksi, yaitu Procurement Section dan Contract
Section. Departemen ini bertanggung jawab untuk melaksanakan
pengadaan equipment dan menangani permasalahan kontrak dengan
perusahaan lain. Dalam melaksanakan perjanjian sewa menyewa pesawat
khusus
charter
Department
tersebut
dipercaya
departement
untuk
Procurement
mewakili
PT
Badak
and
Contract
NGL
untuk
12
melaksanakan perjanjian kontrak dengan PT Pelita Air Service. Dalam
penggunaan jasa penerbangan tersebut terdapat dua belas (12) golongan,
yaitu :
1. VVIP;
2. Medical treatment;
3. Emergency;
4. Pengiriman peti jenazah;
5. Karyawan dinas perusahaan;
6. Karyawan cuti;
7. Beban organisasi internal PT Badak terkait dan/atau
melalui HUMAS/PUBLIC RELATIONS SECTION;
8. Penumpang dependent;
9. Tamu departement;
10. Penumpang dari pihak diluar organisasi PT Badak NGL
11. Go show
12. Seat available
Dua belas golongan diatas menjelaskan bahwa dari penggunaan
jasa penerbangan pesawat charter terdapat jenjang penggunaan jasa
penerbangan yang mengakibatkan dari dua belas golongan tersebut
13
terdapat pihak prioritas dan pihak ketiga. Awal mula terbaginya golongang
tersebut dikarenakan pesawat khusus charter ini memang dikhususkan
untuk fasilitas manajemen, para karyawan dan keluarga karyawan, adapun
mengapa pihak ketiga dapat menggunakan pesawat tersebut dikarenakan
adanya itikad baik dari pihak PT Badak NGL agar dapat membantu pihak
ketiga untuk dapat melaksanakan perjanlanannya dari Bontang –
Balikpapan atau Balikpapan – Bontang selama seat yang tersedia belum
penuh atau belum digunakan oleh pihak prioritas. Pihak
merupakan
golongan
yang
diutamakan
dalam
prioritas
penggunaan
jasa
pernerbangan, maka dari itu segala kepentingannya harus didahului,
sedangkan pihak ketiga merupakan golongan yang kepentingannya
dikesampingkan dengan maksud maka golongan ini harus mengikuti dari
golongan prioritas terlebih dahulu apabila dalam penggunaan jasa
pengangkutan udara terdapat seat kosong maka pihak ketiga dapat
memesannya. Pihak prioritas biasanya adalah golongan VVIP, medical
treatment, emergency, peti jenazah, dinas perusahaan, cuti, organisasi
internal PT Badak terkait dan/atau melalui humas/public relations section,
penumpang dependent, tamu department sedangkan, pihak ketiga adalah
beban penumpang dari pihak diluar organisasi PT Badak NGL, go show,
dan seat available. Dari sistem pembelian tiket atau reservasi tiket
14
penerbangan golongan prioritas menggunakan sistem online yang lebih
mempermudah golongan – golongan tersebut dalam melaksanakan
pemesanan tiket dan dalam sistem tersebut pada pukul 4 sore semua
sistem sudah di lock (dikunci) yang mengakibatkan tidak bisa dilakukan
perubahan lagi sementara pihak bukan prioritas dalam melaksanakan
pemesanan tiket atau reservasi ia harus datang kebandara atau public
relations section dan mengisi beberapa formulir Surat – Jaminan dan
membayarnya tunai. Tetapi walaupun sudah terdapat sistem lock dalam
pemesanan tiket pesawat tidak menutup kemungkinan terdapat pembatalan
atau penggeseran seat secara tiba – tiba yang mengakibatkan pihak – pihak
yang dirugikan akan menimbulkan kerugian. Biasanya pihak – pihak yang
dirugikan dalam hal ini adalah pihak ketiga karena pihak prioritas tetap
dinomor satukan tetapi tidak boleh melewati batasnya. Hal tersebut
menimbukan suatu kerugian pihak ketiga dengan keadaan mau tidak mau
harus menerima keadaan tersebut dan harus menerima kerugian yang
timbul dari akibat pembatalan atau penggeseran seat. Keputusan sepihak
yang dilakukan oleh pihak bandara cukup membuat kerugian bagi pihak
ketiga dan hak – haknya dalam penggunan jasa pengangkutan udara
walaupun sebelum transaksi jual beli tiket antara pihak ketiga dengan
pihak bandara sudah dijelasin prosedur dan kemungkinan akan terjadinya
15
pembatalan tiket karena statusnya adalah pihak ketiga. Tanggung jawab
pihak pelaku usaha disini seharusnya di pertanyakan bagaimana dengan
kewajiban – kewajibannya dalam melaksanakan usahanya serta bagaimana
dalam melidungi hak – hak pihak lain yang jauh lebih lemah dibandingkan
pihak yang diprioritaskan.
Adanya tersebut maka penulis tertarik untuk mengadakan
penelitian
sebagai
“TINJAUAN
dasar
penyusunan
YURIDIS
penulisan
KLAUSULA
dengan
BAKU
judul
:
DALAM
PENGANGKUTAN UDARA ANTARA PENUMPANG DENGAN PT
BADAK NGL BONTANG SELAKU PENCHARTER (STUDI
KASUS
:
PERJANJIAN
PENGANGKUTAN
UDARA PADA
PESAWAT PELITA AIR SERVICES BONTANG).”
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana
pelaksanaan
klausula
baku
dalam
perjanjian
pengangkutan udara di pesawat Charter antara penumpang pihak
ketiga dengan pihak PT Badak yang dibuat dalam bentuk
16
perjanjian baku dikaitkan dengan Pasal 18 Undang – Undang
Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen ?
2. Bagaimana perlindungan hukum terhadap penumpang yang berasal
dari pihak ketiga pada pesawat Charter dalam penggunaan jasa
pengangkutan udara PT Pelita Air Service ?
C.
Tujuan Penelitian
Berdasarkan uraian pada latar belakang dan rumusan masalah di
atas, tujuan dari penelitian ini dibagi menjadi dua, yaitu:
1. Tujuan Objektif
a. Untuk mengetahui dan menganalisis pelaksanaan klausula baku
dalam perjanjian pengangkutan udara di pesawat Charter antara
penumpang pihak ketiga dengan pihak PT Badak yang dibuat
dalam bentuk perjanjian baku dikaitkan dengan Pasal 18
Undang – Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan
Konsumen.
b. Untuk mengetahui dan menganalisis perlindungan hukum
terhadap penumpang yang berasal dari pihak ketiga pada
17
pesawat Charter dalam penggunaan jasa pengangkutan udara
PT Pelita Air Service.
2. Tujuan Subjektif
Untuk memperoleh data dan bahan yang releven dengan
topik
Tinjauan Yuridis Klausula Baku Dalam Pengangkutan
Udara Antara Penumpang Dengan PT Badak NGL Bontang Selaku
Pencharter (Studi Kasus : Perjanjian Pengangkutan Udara Pada
Pesawat Pelita Air Services Bontang) yang diperlukan dalam
menyusun penulisan hukum sebagai salah satu syarat yang harus
dipenuhi untuk memperoleh gelas Sarjana Hukum (SH) pada
Falkutas Hukum Universitas Gadjah Mada.
D. Keaslian Penulis
Sepanjang penelusuran kepustakaan yang telah penulis lakukan di
perpustakaan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, penulis
menemukan beberapa penelitian yang hanya membahas sebagian unsur
penelitian dengan kajian yang berbeda, diantaranya:
18
1. Tahun 2010, Valencia Wibowo melakukan penelitian dengan
judul
Perlindungan
Hukum
terhadap
Konsumen
Jasa
Pengangkutan Udara (studi Kasus pada BPSK) Yogyakarta.
Penulis memfokuskan penelitiannya pada perlindungan hukum
bagi konsumen pengguna jasa pengangkutan udara dalam hal
jika terjadi keterlambatan penerbangan maupun dalam hal
bagasi yang dibawa penumpang dan cara penyelesaiannya
melalui Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK).
2. Tahun 2011, Rahmadhani Hartiningtrias melakukan penelitian
dengan judul Perlindungan Hukum bagi Konsumen Pengguna
Jasa Transportasi Udara di Yogyakarta. Penulis memfokuskan
penelitiannya pada perlindungan konsumen bagi pengguna jasa
pengangkutan udara dilihat dari berbagai masalah yang sering
muncul dalam pengangkutan udara, seperti keterlambatan
penerbangan maupun kehilangan bagasi penumpang.
3. Tahun 2014, Yustika Irianita Fanty melakukan penelitian
dengan judul Tinjauan Yuridis Pemberlakuan Klausula Baku
dalam Sebuah Perjanjian Pengangkutan (Kasus Pembatalan
Klausula Baku Pada Tiket Maskapai Lion Air oleh Pengadilan
19
Negeri Jakarta Pusat Nomor 309/PDT.G/2007/PN. Penulis
memfokuskan tentang dasar pertimbangan hakim yang
memutuskan pernyataan bahwa klausula baku yang tercantum
dalam perjanjian pengangkutan Lion Air batal demi hukum dan
tidak memiliki kekuatan hukum yang mengikat pada putusan
Nomor309/PDT.G/2007/PN.Jkt.Pst,
jika
didasarkan
pada
ketentuan KUHPerd dan Undang-Undang Nomor 8 Tahun
1999 tentang Perlindungan Konsumen serta akibat hukum yang
timbul dari putusan tersebut
Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka penulisan hukum
berjudul “TINJAUAN YURIDIS KLAUSULA BAKU DALAM
PENGANGKUTAN
DENGAN
UDARA
PT
BADAK
PENCHARTER
(STUDI
ANTARA
NGL
PENUMPANG
BONTANG
KASUS
:
SELAKU
PERJANJIAN
PENGANGKUTAN UDARA PADA PESAWAT PELITA AIR
SERVICES BONTANG)” menurut penulis belum pernah
dilakukan dan memiliki perbedaan dengan penulisan hukum yang
sudah dijelaskan ditas, akan tetapi jika terdapat penelitian serupa di
luar sepengetahuan penulis, diharapkan penilitian ini dapat saling
melengkapi.
20
E.
Manfaat Penelitian
1.
Manfaat akademis
Hasil dari penelitian yang penulis lakukan ini diharapkan dapat
menambah pengetahuan penulis dalam bidang hukum perdata,
khususnya terkait dengan aspek bidang klausula baku dalam
perjanjian pengangkutan udara.
2. Manfaat praktis
Penelitian ini diharapkan menjadi bahan pertimbangan bagi para
pengusaha angkutan udara yang menggunakan perjanjian baku
agar lebih mengusahakan adanya keseimbangan dalam pengikatan
konsumen dengan suatu perjanjian.
Download