Pidato Dr. Susilo Bambang Yudhoyono

advertisement
Pidato
Dr. Susilo Bambang Yudhoyono
Presiden Republik Indonesia
Pada Peringatan Satu Tahun Tsunami
Banda Aceh, Indonesia, 26 Desember 2005
Bismillahirrahmaanirrohiim
Saudara Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat,
Saudara-saudara Menteri,
Yang Mulia tamu-tamu dari Negara sahabat, para Duta Besar
Saudara Kepala Badan Pelaksana Badan Rehabilitasi dan
Rekonstruksi Aceh-Nias
Saudara Plt. Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam,
Saudara-saudaraku di seluruh Indonesia,
Pertama-tama, marilah kita mengucapkan terima kasih kepada anakanak Aceh yang telah menyanyikan
lagu yang indah tadi. Mereka telah menghangatkan suasana hati kita.
Saudara-saudara,
Nama saya Susilo Bambang Yudhoyono, dan saya berbicara di sini atas nama rakyat dan bangsa Indonesia
menyampaikan selamat datang kepada saudara-saudara semua di Banda Aceh, Indonesia. Saya hadir di
sini, bersama-sama Saudara-saudara untuk mengenang dan memberikan penghormatan kepada para
korban, kepada keluarga yang ditinggalkan dan juga untuk menyampaikan
penghargaan.
Acara hari ini merupakan acara yang sangat khusus, di mana kita semua, seluruh warga dunia, dengan
beragam suku, agama, dan kebudayaan dipersatukan oleh tragedi dan rasa kemanusiaaan. Di bawah langit
biru terbuka dan dikelilingi oleh keindahan Pantai Ulee Lheue yang tenang, kita mengikat kebersamaan
sebagai umat Tuhan.
Persis setahun yang lalu, di bawah langit biru terbuka seperti ini pula, si empunya bumi menunjukkan
kedigdayaannya dan menimbulkan kerusakan yang luar biasa.
Dimulai dengan gempa bumi berskala massif yang terjadi sekitar 250 km di laut lepas di sekitar Sumatera.
Tetapi, ternyata gempa bumi dahsyat itu hanyalah sebuah pembukaan dari sebuah bencana yang
mengerikan. Karena 15 menit kemudian, muncul tiga gelombang tsunami raksasa yang mematikan, dengan
ketinggian 9 meter dan bergerak dengan kecepatan tinggi 250 km per jam, menghempas pantai-pantai di
Lautan Hindia dan meluluhlantakkan apa saja hingga berkeping-keping.
Indonesia menderita akibat terburuk, di sini di Aceh dan Nias dengan korban jiwa lebih dari 160.000 wafat
dan hilang.
Di Sri Lanka, 31.000 orang wafat, dan 4.000 lainnya hilang. Pantai selatan India kehilangan 8.000 jiwa, dan
kepulauan Andaman dan Nicobar menelan korban lebih dari 2.000 jiwa. Kematian di Thailand mencapai
5.300 orang, banyak di antara mereka turis yang sedang berlibur. 2.800 jiwa lainnya hilang. Di samping itu
masih banyak lagi bangsa-bangsa yang harus kehilangan kerabat yang dicintainya: Malaysia, Maladewa,
Somalia, Tanzania, Bangladesh, Myanmar dan Seychelles.
Dalam hitungan menit, lebih dari 280.000 manusia kehilangan nyawa.
Dan lebih dari satu juga orang di sekitar Lautan Hindia serta merta menjadi tunawisma.
Hari ini, setahun kemudian, kita bersama-sama hadir di tempat ini untuk mengingat mereka yang
menderita, menghormati mereka, sekali lagi, untuk mereka orang-orang baik, perempuan, laki-laki, anakanak kita, orang dewasa, yang hilang ditelan gelombang
tsunami.
Kita tundukkan kepala, memanjatkan doa khusuk, agar arwah mereka yang kita cintai, baik yang
ditemukan maupun yang tidak kita temukan, yang dimakamkan di bumi, maupun terkubur di laut,
kesemuanya memperoleh tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa.
Tetapi hari ini, besok, lusa dan hari-hari mendatang, bukanlah lagi akan menjadi hari-hari yang penuh
penderitaan, karena kita juga berhimpun di sini untuk menghormati mereka yang hidup, lolos dari bencana
maut. Anak-anak kita ini, saudara-saudara kita, para orangtua kita, adik-kakak, - mereka semuanya ingin
membangun kembali kehidupannya.
Saudara-saudara semua akan menyaksikan para korban Tsunami yang lolos dari maut, di mana-mana di
seluruh Aceh, Nias, Pukhet, Phang Na, Jaffna, di Negara Kerala, Tamil, Nadu, Andhra Pradesh; di Kepulauan
Andaman dan Nicobar, dan dimanapun di wilayah-wilayah yang terhempas Tsunami.
Mereka menyambut Saudara-saudara dengan senyum, semangat, dan harapan. Tetapi senyum mereka
yang indah menandakan kekuatan besar yang langsung diungkapkan. Dan kita berhutang kepada mereka
semua.
Di Aceh, kita punya seorang sahabat bernama Martunis, seorang anak berusia tujuh tahun yang terapung di
laut lepas selama 21 hari, hanya berpegang pada sebuah ranting pohon. Sebotol air yang kebetulan hanyut
di depan matanya-lah yang membuat dia bertahan hidup; dan tentu saja karena tekadnya yang kuat untuk
terus bertahan hidup.
Ada pula Malawati, yang kehilangan suami dan hanyut ke laut selama lima hari. Malawati tak bisa
berenang, karena itu dia hanya mampu berpegang pada batang pohon yang hanyut ke sana ke mari.
Keajaiban alam menyelamatkannya , karena cintanya pada bayi yang dikandungnya. Dengan rahmat Allah
SWT, si bayi bertahan hidup dan terlahir selamat.
Dan tentu saja, kita memiliki kekuatan yang luar biasa dari anak-anak yang baru saja tampil menyanyikan
lagu cinta bagi kita semua.
Semua dari mereka telah menjadi yatim piatu akibat tsunami, dan mereka dengan semangat terus
berusaha mencoba menjadi anakanak seperti lazimnya.
Kita hormati kekuatan dan keberanian mereka, para korban yang bertahan hidup. Mereka semua
mengingatkan kita betapa indahnya kehidupan, dan betapa bermaknanya perjuangan untuk
mempertahankan hidup. Sekali lagi, kita harus hormati perjuangan itu; sisa umur Anda semua haruslah
menjadi hari-hari yang penuh harapan.
Kita semua akan memerlukan begitu banyak harapan, sebagaimana yang diberikan oleh Tsunami kepada
masyarakat kita. Di sini, di Aceh dan Nias; jalan-jalan, jembatan, bangunan musnah dan hilang;
pemerintah daerah tidak mampu berfungsi dengan baik. Ketika peristiwa itu terjadi, tak ada listrik,
sambungan telepon terputus, tidak ada mobil, dan bahan bakar. Persoalan logistik ketika itu sepertinya
bertumpuk-tumpuk menjadi satu tanpa ada pemecahan yang pasti — suatu ketika, hanya tinggal satu
helikopter yang tersedia di Aceh.
Kita semua menderita kelumpuhan total. Sekedar untuk membersihkan puing-puing saja, kita memerlukan
waktu berbulanbulan.
Toh, kita harus terus bergerak maju hari demi hari. Dalam ukuran yang sangat luar biasa, kita
menyaksikan kerusakan di mana-mana.
Tetapi, melalui hari-hari yang sudah lewat, Saudara-saudara telah menyaksikan berbagai kemajuan.
Melewati jalan-jalan yang sedang mulai dibangun kembali, termasuk jalan raya Banda Aceh-Meulaboh,
Saudara-saudara akan menyaksikan desa-desa yang mulai berbenah. Saudara akan melihat pasar-pasar
mulai bangkit. Anak-anak mulai kembali ceria dan bersekolah, banyak guru-guru baru sudah dilatih dan
mengajar kembali, berkilo-kilometer jalan sedang giat dibangun, dan berkilo-kilo meter saluran dan pipa air
sedang dikerjakan.
Pelabuhan dan perahu nelayan sedang dibangun di mana-mana, seperti juga klinik-klinik dan rumah sakit.
Para petani sudah mulai kembali bercocok tanam, puluhan ribu pekerja sedang dilatih untuk memperoleh
keterampilan baru agar mereka segera kembali bekerja. Dan, dengan segala ketakutan tentang wabah
penyakit yang diakibatkan oleh tsunami, kita bersyukur dapat melaluinya dengan selamat. Tentu saja,
bukan karena keberuntungan semata, melainkan karena tekad yang kuat dan kerja keras.
Saudara-saudara sekalian,
Saya ingin menekankan bahwa pembentukan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi akan membuat proses
membangun kembali Aceh dan Nias dapat dilaksanakan dengan penuh harga diri, transparan, dan mampu
membangun komitmen dan keterlibatan masyarakat yang kuat. Karena itu saya ingin mengajak Saudasaudara semua untuk memberi selamat dan semangat kepada Dr. Kuntoro Mangkusubroto dan seluruh
jajarannya di BRR untuk semua dedikasi dan kerja kerasnya dalam membangun kembali Aceh dan Nias.
Usaha kita untuk membangun kembali Aceh dan Nias masih jauh dari selesai. Kita bersama-sama harus
membangun rumah bagi ratusan ribu pengungsi. Kita terus bergerak secepat mungkin. Dalam bulanbulan
mendatang, kita akan membangun sekurang-kurangnya 5.000 rumah setiap bulan.
Tentu saja, masih sangat banyak yang harus kita kerjakan. Kita harus mendorong agar ekonomi bergerak
cepat, agar kita dapat menciptakan sebanyak mungkin lapangan kerja. Kita harus berupaya keras agar
para pengusaha kita kembali bergerak. Kita perlu dan harus memenuhi kebutuhan mereka; tidak saja yang
tinggal di kota-kota, tetapi juga saudara-saudara kita yang tinggal di
pelosok-pelosok desa.
Menghadapi semua tantangan tadi, catat kata-kata saya: kita memiliki enerji, komitmen, dan kemauan
keras untuk menjawab tantangan dan tanggung jawab itu. Kita songsong tahun 2006 dengan penuh
keyakinan untuk menyelesaikan banyak persoalan.
Kita akan bangun kembali Aceh dan Nias, bahkan kita harus bangun Aceh dan Nias, lebih baik dari
sebelumnya.
Saudara-saudaraku,
Saya percaya bahwa salah satu dari dampak yang paling signifikan dari musibah tsunami adalah munculnya
kebersamaan dari warga dunia. Tidak pernah terjadi sebelumnya suatu bencana alam menghadirkan
semangat berkorban, solidaritas, dan rasa cinta yang demikian besar dari sesama warga dunia.
Di Indonesia, segenap bangsa menangis, dan setiap orang, kaya dan miskin, bahu membahu mengirimkan
makanan dan bantuan bagi saudara-saudara mereka di Aceh dan Nias. Ribuan relawan berbondongbondong datang ke lokasi bencana untuk membantu korban.
Hal yang sangat luar biasa, bantuan dari seluruh dunia datang dengan berbagai cara dan dalam berbagai
bentuk.
Empat puluh empat negara mengirimkan prajurit Angkatan Bersenjatanya untuk memberikan bantuan
kemanusiaan. Patut dicatat bahwa, inilah sebuah operasi militer non perang terbesar yang pernah terjadi
sesudah Perang Dunia II.
NGO dan donor mencatat rekor bantuan dana, yang seluruhnya mencapai lebih dari 7 milyar dollar telah
dijanjikan untuk membangun kembali Aceh dan Nias. Warga Negara dari Dilli hingga Ankara, London hingga
Mexico, Los Angeles hingga Melbourne, Beijing hingga Teheran, dan banyak lagi; kesemuanya tergerak
untuk bertindak karena kepedulian, merespon sebuah peristiwa besar yang memerlukan perhatian segera.
Kepedulian dan kasih mereka melintasi batas-batas agama, suku, ras, dan kebudayaan; kesemuanya
bersatu atas nama solidaritas global. Pagi hari ini di tengah-tengah kita hadir wakil-wakil dari seluruh
penjuru dunia, dalam beragam agama, suku bangsa, dan budaya; sebagai symbol dari solidaritas global itu.
Melalui Saudara-saudara semua, ijinkan kami, menyampaikan penghargaan dan terima kasih kami atas
dukungan Saudara-saudara semua dari seluruh dunia. Kami memahami dan tahu persis, dukungan
Saudara-saudara sungguh tulus dan datang dari sanubari, dan karenanya kami sungguh-sungguh berterima
kasih.
Permintaan saya kepada Anda semua adalah tetap menjaga semangat mewujudkan kemauan baik ini.
Jangan sampai semangat ini redup. Jalinan persahabatan, membangun rasa percaya diri dan semangat
bekerjasama, saling memahami – semua yang anda tunjukkan selama masa tanggap darurat adalah aset
yang tak ternilai besarnya yang harus kita pupuk. Semangat solidaritas yang telah Anda semua tunjukkan
adalah bukti sejarah kemanusiaan yang dapat dilakukan oleh kita semua dalam semangat membantu
sesama manusia.
Tsunami telah menghasilkan bibit-bibit persaudaraan global yang tidak pernah diduga sebelumnya: saat ini,
persaudaraan ini telah membantu korban tsunami, namun saya persaya kita dapat melanjutkan
mengembangkan semangat persaudaraan global dan kemauan baik yang jarang terjadi ini untuk menjawab
permasalahan global dan membawa kesejahteraan bagi umat manusia. Saya yakin Anda akan setuju
betapa mulianya hal itu.
Sebagai penutup, di sini di Aceh, kita sudah mendapatkan contoh bagaimana harapan baru perdamaian
dapat timbul dari reruntuhan. Pada tanggal 15 Agustus tahun ini, pemerintah Indonesia menandatangani
perjanjian perdamaian yang bersejarah dengan para pemimpin Gerakan Aceh Merdeka.
Perjanjian damai tersebut mengakhiri 3 dekade konflik berdarah di Aceh. Perjanjian ini memberikan
kesempatan emas bagi warga Aceh untuk memulai kehidupan baru yang bermartabat dan rekonsiliasi di
bawah otonomi khusus, dalam negara kesatuan Republik Indonesia. Mulai saat ini dan selanjutnya masa
depan Aceh bukan lagi masa depan penuh darah dan air mata melainkan masa depan yang penuh kerja
keras dan harapan.
Saudara-saudara sekalian,
Sebagaimana Saudara sekalian ketahui, tidak jauh dari sini, kita merencanakan membangun monumen
peringatan tsunami yang dibangun di sekitar kapal yang terdampar di Punge, sekitar 4 km dari sini.
Namun jika Saudara melihat lebih dalam lagi, ada banyak monumen tsunami di sekitar Saudara. Saya
menyebutnya “monumen yang hidup” dan monumen-monumen hidup ini lebih kuat dari baja atau dinding
beton.
Kehadiran Saudara pada hari ini adalah salah satu tonggak dari monumen ini yaitu monumen solidaritas.
Anak-anak yang mulai dapat bermain lagi di pantai sambil tertawa dan tersenyum, juga menjadi monumen
yang hidup akan harapan dan ketabahan.
Para nelayan yang kembali melaut, adalah monumen kegigihan. Masih ada banyak lagi monumen hidup
yang memberanikan para keluarga yang berkumpul kambali dan diantara mereka yang tunawisma namun
dapat kembali menempati rumah baru. Ada pula monumen hidup yang menghidupkan semangat
spiritualitas di masjid-masjid di Aceh dan gereja-gereja di Nias.
Dan ada monumen hidup perdamaian dalam keheningan dari dentuman senjata di seluruh Aceh.
Maka sebagaimana dikatakan dalam peribahasa Indonesia, “habis gelap, terbitlah terang”. Tsunami
membawa pukulan yang fatal di sepanjang pantai kita. Namun tidak ada pertandingan yang lebih besar
daripada yang kita sebut sebagai semangat kemanusiaan, yaitu semangat untuk hidup, untuk selamat dan
untuk mencintai yang terus ada.
Semangat itu akan tetap hidup dalam diri kita hari ini, esok dan selanjutnya.
Insya Allah, Insya Allah!!
Terima kasih.
Sumber: http://www.acheheye.org/data_files/bahasa_format/indo_gov_bhs/indo_gov_pidato_databhs/indo_gov_pidato_bhs_2005_12_26.html
Koleksi: Perpustakaan Nasional RI, 2006
Download