mengembangkan politik berwatak kerakyatan (studi elaborasi

advertisement
MENGEMBANGKAN POLITIK BERWATAK KERAKYATAN
(STUDI ELABORASI NORMATIF-HISTORIS TERHADAP
KONSEP UMMAH DALAM AL-QURAN)
Rohimin
Abstract: The Qur’an has a variety of concepts and offer of a problem, including in developing the political concept
of Islam. This paper attempts to collaborate and offer the effort to develop the popular character of political
Islam through normative-historical approach. This approach is done in order to know theoretically deductive
and its implementation in the history of Islamic civilization, especially in matters relating to politics in Islam.
To develop the necessary political popular character main instruments as development hubs. Instrumentation
Islamic politics in an attempt to strengthen the political as a force of human development, enhancement, and
preservation of human dignity as well as advocacy for the rights and duties of man. Strength and honor human
being can be realized in a religious political system that is framed by a political instrument pluralist and humanist.
Keywords: Al-Quran, develop character, and populist politics.
Abstrak: Al-Quran memiliki variasi konsep dan tawaran terhadap suatu masalah, termasuk dalam mengembangkan konsep politik Islam. Tulisan ini mencoba mengolaborasi dan menawarkan upaya mengembangkan politik Islam berwatak kerakyatan melalui pendekatan normatif-histotris. Pendekatan ini
dilakukan agar diketahui secara teoritis deduktif dan implementasinya dalam sejarah peradaan Islam, terutama
dalam hal-hal yang berkaitan dengan politik dalam Islam. Untuk mengembangkan politik berwatak kerakyatan
dibutuhkan instrumen-instrumen utama sebagai poros pengembangan. Instrumenisasi politik dalam Islam
merupakan upaya untuk memperkuat politik sebagai suatu kekuatan pembangunan manusia, peningkatan,
dan penjagaan harkat dan martabat manusia dan sekaligus sebagai advokasi terhadap hak dan kewajiban
manusia. Kekuatan dan kehormatan manusia bisa diwujudkan dalam sistem politik religius yang terbingkai
oleh instrument politik yang pluralis dan humanis.
Kata kunci : Al-Quran, mengembangkan, watak, dan politik kerakyatan.
Pendahuluan
Pengenalan al-Quran terhadap sebuah konsep
bersifat komprehensif, sekalipun pengenalannya itu
tidak dalam satu redaksi ayat yang runtun, karena
kelengkapan dan kekomprensifanya kadangkala
diungkapkan dalam redaksi ayat yang lain, pada
ayat dan surah yang berbeda. Oleh karena itu,
dalam keilmuan tafsir diperkenalkan pendekatan
tematik (maudhu’i). Selain itu, term yang digunakan
untuk memperkenalkan sebuah konsep dan muatan
kandungan makna sebuah term memiliki muatan
tersendiri, tidak cukup hanya diwakili oleh makna
suatu bahasa. Penelaahan dan pendalaman terhadap
sebuah konsep seringkali mengandung banyak sisi,
demikian pula halnya dengan konsep ummah1.
1
Penjelasan umum para
ahli, bahwa term
ummah
Konsep ummah ini, selain sebagai konsep
tawaran yang diajukan al-Quran, yaitu masyarakat
berasal dari kata bahasa Arab amma yang artinya bermaksud,
menghendaki (qasada) dan berniat keras (‘azima). Dengan
pengertian semacam ini, ummah mempunyai tiga pemahaman,
yaitu: ‘gerakan’, ‘tujuan’ dan ‘ketetapan hati yang sadar’. Kata
amma pada mulanya mencakup arti ‘kemajuan’, maka secara
substansial kata ini memperlihatkan kosa kata yang memiliki
pemahaman, diantaranya; usaha, gerakan, kemajuan dan tujuan.
Selain pengertian diatas, ada juga para ahli menyatakan, bahwa
pada awalnya kata ummah berarti orang-orang yang bermaksud
untuk mengikuti seorang pimpinan (imam), hukum (syari’ah), dan
jalan (manhaj). Dari perkataan dasar Ummah ini pula menurut
para ahli memunculkan dua konsep penting, yaitu mengenai
masyarakat dan agama. Kedua konsep ini sering dipergunakan
dengan digabungkan sehingga muncul pengertian masyarakat
keagamaan. Selain itu, sebagian pakar menyatakan bahwa kata
ummah terambil dari kata bahasa Arab amma-yaummu yang
berarti menuju, menumpu, dan meneladani. Dari akar kata yang
sama lahir kata lain, ummu yang berarti ibu dan imam yang
berarti pemimpin; karena keduanya menjadi teladan, tumpuan
pandangan dan harapan anggota masyarakat.
NUANSA Vol. VIII, No. 2, Desember 2015
99
Rohimin: Mengembangkan Politik Berwatak Kerakyatan
ideal, dalam praktek dan implementasinya
dibutuhkan instrumen-instrumen yang berkembang
dalam masyarakat. Melalui tawaran konsep ini
dapat dikembangkan wujud politik yang berwatak
kerakyatan, yang menghargai hak-hak sipil, karena
konsep ummah dipandang sebagai konsep yang
terbuka dan dinamis. Oleh karena itu, Dalam
memahami ayat al-Quran yang berkaitan dengan
politik kekuasaan, khususnya yang berkaitan dengan
ummah, bisa dikembangkan melalui nalar deduktif
dan induktif, kedua nalar ini dalam penerapannya
bisa juga dikembangkan secara bersamaan, bahkan
pengembangan kedua nalar secara bersamaan
akan semakin ideal dalam menggali petunjuk
ayat. Sebagai sumber pengembangan politik, ayatayat al-Quran, hadis dan pendapat para pakar
tentang politik ayat al-Quran tidak diposisikan
sebagai ayat yang berdiri sendiri, tetapi bersifat
interaktif. Berinteraksi dengan ayat al-Quran berarti
berinteraksi dengan kalamullah yang senantiasa
memberi hidayah sesuai dengan kebutuhan
manusia secara kontinyu 2.
Sebagaimana diketahui, bahwa kitab suci AlQuran diturunkan sebagai panduan dan rujukan
dalam berbagai persoalan, mulai dari persoalan
keyakinan, ekonomi, sosial, Negara, hingga
persoalan politik. Dalam persoalan politik, alQuran telah membicarakannya ketika manusia
pertama (nabi Adam as.) hendak diciptakan 3 .
Kemudian selanjutnya, dalam konteks kekuasaan
politik ini, Al-Quran memerintahkankan kepada
Nabi Muhammad Saw untuk menyampaikan
2
Konsep normatif ummah punya signifikansi dialektis
tersendiri bila dihadapkan pada realitas ummah pada tingkat
empirik. Bila pada tingkat normatif ummah terdiri dari usrah,
qaryah, dan jamah, maka pada tingkat empirik ummah terdiri
atas berbagai kelas sosial yang sangat mungkin terjadi benturan
satu sama lain. Konsep ummah yang normatif dan empirik
tidak boleh dipisahkan secara kategoris, keduanya harus
diintegrasikan. Menurut Kontowijoyo, caranya perlu objektivikasi
konsep ummah normatif, misalnya, dengan menjabarkan
pada stratifikasi sosial mana ummah secara empirik berada,
kemudian dilakukan pembelaan dan pembinaan; selanjutnya
perlu subjektivikasi bahwa pada struktur empirik manapun kita
berada, kita tetap satu kesatuan sosial dengan cita-cita normatif
yang sama. (lihat, Asrori S. Karni, Sivil Society & Ummah Sintesa
Diskursif “Rumah” Demokrasi,, (Jakarta, Logos, 1999), h.. 58.
3
Kenyataan tersebut terungkap dalam Q. S. Al-Baqarah/2 :
30. ”ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat:
”Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah
di muka bumi ” mereka berkata: ”Mengapa Engkau hendak
menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat
kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami
Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan
Engkau?” Tuhan berfirman: ”Sesungguhnya aku mengetahui apa
yang tidak kamu ketahui.”
pernyataan tegas, “Katakanlah: “Wahai Tuhan
yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan
kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki
dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau
kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau
kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau
kehendaki. di tangan Engkaulah segala kebajikan.
Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala
sesuatu 4.”
Menggali hubungan Islam (baca al-Quran)
dengan politik sudah menjadi wacana klasik yang
terus relevan untuk digali. Elaborasi normatifhistoris terhadap instrument politik keislaman yang
humanis dan populis yang bisa dikembangkan dari
pesan moral agama menjadi ciri politik kerakyatan,
sebagai sebuah tawaran konsep politik yang elegan
dan memberi tampilan gaya politik kekuasaan.
Hasil elaborasi normatif-historis ini diharapkan
menjadi bacaan dan tawaran dalam memberi
nilai-nilai keagamaan politik kekuasaan.
Memperhatikan petunjuk Al-Quran tentang
politik, maka tidak ditemukan pernyataan alQuran secara eksplisit, bagaimana sistem politik
itu dibentuk dan diwujudkan dalam masyarakat.
Hanya saja al-Quran menegaskan bahwa kekuasaan
politik dijanjikan kepada orang-orang beriman dan
beramal saleh. Bagaimana politik itu dikembangkan
dan apa watak yang hendak diberikan sangat
tergantung dengan ruang dan waktu. Sementara
itu, pada sisi lain, keberadaan sebuah sistem
politik terkait pula dengan ruang dan waktu
tersebut. Kenyataan ini berarti menunjukkan bahwa
pengembangan politik sangat tergantung dengan
budaya manusia, sehingga keberadaannya tidak
dapat dilepaskan dari dimensi kesejarahan. Karena
itu lahirnya sistem politik yang bercorak islami
harus ditelusuri dari sebuah peristiwa sejarah.
Kehadiran al-Quran dapat memperbaharui dan
merubah semenanjung Arab dari belenggu jahiliyah
dengan segala kerusakan dan kesesatan yang
telah terjadi dan dapat menuju kepada komunitas
terbaik dan melahirkan tokoh teladan yang
mengagumkan. Maka dengan diturunnya al-Quran
kepada Nabi Muhammad saw dan disampaikan
apa adanya kepada umat manusia, kemudian
orang beriman kepadanya maka dapat mengubah
hidup mereka dan melahirkan tokoh-tokoh teladan
dari kalangan mereka dan menjadi pilar utama
4
Lihat Q.S. Ali Imran [3]: 26).
100
Rohimin: Mengembangkan Politik Berwatak Kerakyatan
bagi tegaknya instrumen politik Islam. Sehingga
melalui merekalah terjadinya ke berbagai belahan
dunia. Dalam kenyataannya kita dapat melihat
bahwa aqidah Islam telah menguasai diri mereka
sehingga mereka mampu menghadapi berbagai
bentuk penyiksaan dan siap mengorbankan jiwa
dan harta mereka demi untuk mempertahankan
aqidah dan wilayah tumpah darah mereka.
Oleh karena itu, berangkat dari beberapa
asumsi di atas, tulisan ini mencoba menggali
normativisme ajaran agama tentang politik serta
penerapannya dalam sejarah peradaban Islam,
khususnya dalam menerapkan politik kekuasaan.
Melalui hasil penggalian dan elaborasi ini, kiranya
akan didapati instrument-instrumen politik Islam
yang agamis dan religius. Politik sebagai kekuatan
kekuasaan muncul dan tampil untuk melindungi
hak dan kewajiban rakyat. Politik yang memiliki
watak kerakyatan akan menjadi pilihan utama dan
dapat mewujudkan realita politik Islam yang ideal.
Pembahasan
A. Al-quran dan politik
Kehidupan manusia dengan politik bagaikan
dua sisi mata uang yang saling berkaitan, satu
sama lain saling membutuhkan, itulah sebabnya
muncul ungkapan bahwa “manusia adalah makhluk
politik”. Ungkapan ini menggambarkan betapa
urgennya keberadaan politik bagi manusia, atas
dasar asumsi ini maka keberadaan politik perlu
dikembangkan dengan sempurna dalam suasana
religius, etis, dan profetis melalui penggalian nilainilai yang diajarkan dalam norma-norma agama.
Terlebih lagi, bilamana tugas manusia sebagai
pemguasa (khalifah), pemimpin, maupun sebagai
pemegang tanggung jawab yang telah dibebankan
oleh Tuhan kepadanya, sehingga mengharuskan
dia untuk selalu berurusan, berjuang dan berkifrah
dalam persoalan politik. Manusia perlu untuk
menjalankan perpolitikannya sesuai dengan
politik yang telah digariskan dalam al-Quran
melalui elemen-elemen penting dalam politik.
Tugas kekhalifahan akan bisa dijalani dengan baik
manakala asfek folitik ini bisa dikembangkannya
dengan baik dalam wadah yang pantas.
Secara umum kata politik berasal dari kata
politic (inggris) yang menunjukkan sifat pribadi
atau perbuatan, sesuatu yang berhubungan dengan
warga negara atau warga kota. Kata “politic”
kemudian diserap ke dalam bahasa Indonesia
dengan tiga arti umum, yaitu, segala urusan dan
tindakan, baik berupa kebijaksanaan, siasat, dan
sebagainya.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia,
politik biasanya diartikan sebagai segala urusan
dan tindakan (kebijakan, siasat, dsb) mengenai
pemerintahan negara atau terhadap negara lain,
dan cara bertindak (dalam menghadapi atau
menangani suatu masalah); maupun kebijaksanaan.
Dari berbagai definisi yang ada ditemukan dua
kecenderungan pendefinisian politik. Pertama,
pandangan yang mengaitkan politik dengan negara,
yakni dengan urusan pemerintahan pusat atau
pemerintahan daerah; kedua, pandangan yang
mengaitkannya dengan masalah kekuasaan,
otoritas, dan atau dengan konflik.
B. Refleksi ummah dalam al-quran
Perjalanan sejarah Islam yang panjang bermula
dari turunnya wahyu al-Quran dan sejak itu pula
nilai-nilai kemanusiaan ditumbuhkembangkan.
Melalui wahyu ini kemudian dapat membenahi
tradisi jahiliyah yang tidak sesuai dengan fitrah
kemanusiaan. Melalui ajakan agama yang di
dakwahkan dapat menggetarkan wahyu tersebut
ke seluruh jazirah Arab dan nilai-nilai kemanusiaan
dapat ditegakkan. Seruan agama tauhid yang
mengajarkan bagaimana menata masyarakat yang
bermartabat dapat merubah wajah masyarakat
jahiliyah menuju ke tatanan masyarakat yang
manusiawi, harmonis, dan dinamis.
Selanjutnya, dengan hijrahnya Rasulullah
ke Madinah menjadi momentum baru untuk
mewujudkan nilai-nilai kemanusiaan di tengahtengah pluralitas manusia, sehingga semakin dapat
ruang untuk mewujudkan masyarakat yang dicitacitakan Kitab Suci al-Quran dan dalam waktu
relatif singkat .adalah suatu momentum bagi
kecemerlangan Islam di saat-saat selanjutnya.
Dalam waktu yang relatif singkat Rasulullah telah
berhasil membina jalinan persaudaraan antara
berbagai suku, agama dan etnis. Dasar-dasar
politik, dan sosial ekonomi bagi masyarakat baru
dapat diwujudkan.
Masyarakat muslim Madinah yang berhasil
dibentuk Rasulullah oleh sebagian intelektual
muslim masa kini disebut dengan negara kota
(city state). Lalu, dengan dukungan kabilah-kabilah
dari seluruh penjuru jazirah Arab yang masuk
Islam, maka muncullah kemudian sosok negara
101
Rohimin: Mengembangkan Politik Berwatak Kerakyatan
bangsa (nation state).
Walaupun sejak awal Islam tidak memberikan
ketentuan yang pasti tentang bagaimana bentuk
dan konsep negara yang dikehendaki, namun
suatu kenyataan bahwa Islam adalah agama yang
mengandung prinsip-prinsip dasar kehidupan,
termasuk politik dan negara. Dalam masyarakat
muslim yang terbentuk itulah kemudian Rasulullah
menjadi pemimpin dalam arti yang luas, yaitu
sebagai pemimpin agama dan juga sebagai
pemimpin masyarakat. Konsepsi Rasulullah yang
diilhami oleh al Qur’an ini kemudian menghasilkan
Piagam Madinah sebagai panduan bersama.
C. Pemetaan term ummah dalam al-quran
Pengungkapan term ummah dalam al-Quran
terjadi pada periode Makkah dan Madinah, ada pada
ayat Makiyah dan ada pula pada ayat Madaniyah.
Pada dua periode dan kategori ayat ini, al-Quran
merespons konsep ummah sebagai konsep politik
dan ummah sebagai konsep kemasyarakatan
dan keagamaan. Kenyataan ini menggambarkan
bahwa konsep ummah, baik sebagai konsep politik
maupun kemasyarakatan dan keagamaan memiliki
arti penting untuk disikapi dan diwujudkan dalam
sejarah peradaban Islam. Frekuensi penyebutan
kata Ummah dalam al-Qur’an cukup tinggi, baik
dalam bentuk mufrad dan jamak, yaitu sebanyak
62 kali yang tersebar dalam 25 surat. Dalam bentuk
mufrad kata Ummah disebutkan dalam al-Qur’an
sebanyak 49 kali dalam 22 surat. Dalam bentuk
jamak, kata Ummah disebutkan sebanyak 13
kali dalam 9 surat. Selanjutnya ayat-ayat tentang
Ummah diturunkan pada akhir periode Makkah
dan pada periode Madinah. Dengan perkataan
lain ayat-ayat Ummah diturunkan di Makkah
dan Madinah, sehingga ayat-ayat tersebut dapat
diklasifikasikan berdasar tempat turunnya. Ayatayat Ummah yang diturunkan di Makkah sebanyak
35 ayat dalam 19 surat. Sementara itu ayat-ayat
Ummah yang diturunkan di Madinah lebih sedikit
bila dibandingkan dengan ayat-ayat yang diturunkan
di Makkah, yaitu 16 ayat dalam 7 surat.
Term ummah merupakan salah satu term
yang digunakan al-Quran untuk mengungkapkan
sebuah perkumpulan manusia, komunitas atau
perkumpulan manusia. Penggunaan term ini lebih
mengarah kepada pengertian masyarakat, yaitu
masyarakat yang ideal, masyarakat yang dicitacitakan.
Menurut Ali Nurdin5, pengungkapan al-Quran
tentang masyarakat atau manusia melalui bentuk
term yang bervariasi yaitu, ummah, qaum, sya’b,
qabilah, firqah, tha’ifah, al-nas, ahl al-Qurra’,
asbath, fauj, dan al-hizb, Term-term tersebut
kemudian oleh Nurdin diungkapkan secara
mendetil dalam pembahasan tematis-semantis
dengan menampilkan sejumlah ayat-ayat al-Quran
yang berkaitan. Bahkan ungkapan-ungkapan alQuran tentang kelompok masyarakat tersebut
kemudian ditampilkan dalam bagan model
konseptual. Dari uraian yang ditampilkan jelas
bahwa al-Quran secara istilah memiliki konsep
dasar tentang masyarakat dengan pengungkapan
yang bermacam-macam
D. Kosep politik ummah dalam al-quran
Pengenalan al-Quran terhadap sebuah konsep
bersifat komprehensif, sekalipun pengenalannya itu
tidak dalam satu redaksi ayat yang runtun, karena
kelengkapan dan kekonprensifanya kadangkala
diungkapkan dalam redaksi ayat yang lain, pada
ayat dan surah yang berbeda. Oleh karena itu
dalam keilmuan tafsir diperkenalkan pendekatan
tematik. Selain itu, term yang digunakan untuk
memperkenalkan sebuah konsep dan muatan
kandungan makna sebuah term memiliki muatan
tersendiri, tidak cukup hanya diwakili oleh makna
suatu bahasa. Penelaahan dan pendalaman
terhadap sebuah konsep seringkali mengandung
banyak sisi, demikian pula halnya dengan konsep
ummah.
Konsep ummah dalam al-Quran bisa dilihat
dalam bentuk konsep politis dan bisa pula dilihat
dalam bentuk konsep sosiologis. Sekalipun kedua
bidang garapan ini tidak bisa dipisahkan, karena
keduanya saling berkaitan dan menjadi konsep
turunan. Ali Syariati, salah seorang pemikir muslim
produktif pernah menulis buku berjudul, “Ummah
dan imamah suatu tinjauan sosiologis” yang
diterbitkan oleh Pustaka Hidayah Bandung pada
tahun 1989 M. Di dalam bukunya ini Ali Syariati
telah memberi kupasan dan ulasan yang luar
biasa tentang ummah. Menurut Syariati konsep
ummah memiliki muatan makna kemanusiaan
yang dinamis, bukan entitas beku dan statis. Term
ummah mengandung banyak muatan makna yang
5
Ali Nurdin, Quranic Society, Menelusuri Konsep Masyarakat
Ideal Dalam al-Quran, ( Jakarta, Erlangga, 2002 ), h. 57.
102
Rohimin: Mengembangkan Politik Berwatak Kerakyatan
variatif, antara lain; konsep kebersamaan dalam
arah dan tujuan; konsep gerakan menuju arah
dan tujuan tersebut; serta konsep keharusan
adanya pemimpin dan penunjuk kolektif. Dengan
demikian ummah bagi Syariati, adalah ”kumpulan
manusia yang para anggotanya memiliki tujuan
yang sama, satu sama lain bahu-membahu,
bergerak menuju cita-cita bersama, berdasarkan
kepemimpinan bersama. Hanya saja sayangnya
menurut Asrori S. Karni, konsep ummah Ali Syariati
ini cenderung eksklusif, hanya terbatas di kalangan
orang yang beriman. Dan bagi Syariati tampaknya
hal itu tidak terlalu bermasalah, karena target
utama elaborasinya tentang ummah lebih untuk
menegaskan keharusan adanya imamah dalam
ummah itu sendiri6
tentang hal yang mereka perselisihkann itu dengan
kehendak-Nya. dan Allah selalu memberi petunjuk
orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang
lurus. (Q.S. al-Baqarah/2 : 213).
Sisi politis dari pengungkapan term ummah
dalam al-Quran dan penawaran konsep ummah
meenurut al-Quran diperkenalkan dalam banyak
ayat dari ayat-ayat yang berkenaan dengan ummah.
Pemikiran dan gerakan politik, idealnya dan
seharusnya bersifat universal, untuk setiap umat
manusia dan membawa misi rahmatan lilalamin.
Politik sebagai sebuah kekuasaan yang dimiliki
manusia pada hakekatnya adalah kekuasaan
pencipta manusia itu sendiri, yaitu kekuasaan tuhan
(maalik al-mulk). Manusia hanya menerima tetesan
kekuasaan dari Tuhannya. Bangunan teologi dan
fosofi politik semacam ini akan menghasilkan
bangunan politik yang profan-religius. Religiusitas
politik akan mencerahkan politik kerakyatan dan
menjadi cerminan kehidupan. Adanya pengakuan
kekuasaan sebagai kekuasaan Tuhan akan
membawa kekuasaan politik yang terbimbing,
yaitu bimbingan yang bersifat hidayah. Politik
kekuasaan terbimbing hanya akan diberikan
kepada orang yang dikehendaki oleh Tuhan dan
akan menantarkannya kepada kemuliaan.
Artinya: manusia itu adalah umat yang satu.
(setelah timbul perselisihan), Maka Allah mengutus
Para Nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah
menurunkan bersama mereka kitab yang benar,
untuk memberi keputusan di antara manusia
tentang perkara yang mereka perselisihkan.
tidaklah berselisih tentang kitab itu melainkan
orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab,
Yaitu setelah datang kepada mereka keteranganketerangan yang nyata, karena dengki antara
mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk
orang-orang yang beriman kepada kebenaran
6
Asrori S. Karni, Sivil Society & Ummah Sintesa Diskursif
“Rumah” Demokrasi,, (Jakarta, Logos, 1999), h.. 48-49.
Artinya: dan hendaklah ada di antara kamu
segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan,
menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah
dari yang munkar; merekalah orang-orang yang
beruntung.
E. Instrumen politik berwatak kerakyatan
Artinya: Katakanlah: ”Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada
orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut
kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau
muliakan orang yang Engkau kehendaki dan
Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. di
tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya
Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS Ali
Imran [3]: 26).
Pengakuan teologis politik kekuasaan sebagai tetesan kekuasaan Tuhan menjadi panduan
untuk mewujudkan politik berwatak kerakyatan.
Pengakuan ini menjadi poros utama untuk
103
Rohimin: Mengembangkan Politik Berwatak Kerakyatan
memanfaatkan politik kekuasaan sebagai sebuah
kekuatan dalam menerapkan aktivitas politik.
Selain itu, pengakuan semacam ini akan membawa
kemuliaan kepada penguasa dan rakyat, itulah
sebabnya antara politik dengan agama selalui
memiliki hubungan yang tak terpisahkan dan saling
berkaitan. Tinjauan terhadap hubungan antara Islam
dengan politik dan sistem kenegaraan telah menjadi
fakta sejarah yang sangat membanggagakan dan
menjadi elemen politik Islam. Karena Islam adalah
sebuah sistem kepercayaan yang menguatkan halhal yang berkaitan dengan perlindungan manusia.
Untuk itu, instrumen utama ini akan menjadi kokoh
dan terbangun manakala diikuti oleh instrumeninstrumen lainnya. Instrumen tersebut diantaranya
ialah dapat dikembangkan sebagai berikut:
1.Keumatan
Keumatan sebagai salah satu instrumen
politik dalam pengembangan politik berwatak
kerakyatan akan menjadi landasan utama dalam
perpolitikan. Pengenalan instrumen ini dalam alQuran begitu penting dan maksimal, guna untuk
dijadikan sebagai landasan filosofis dan sosiologis
dalam perpolitikan. Prinsip keumatan menjadi
dasar kerja sama di antara kelompok-kelompok
sosial yang ada dalam masyarakat. Pentingnya
instrumen ini dikembangkan mengingat sebuah
kenyataan bahwa manusia itu menurut tabiatnya
adalah makhluk yang sosial dan makhluk politik
yang suka berkelompok, berkumpul, dan bekerja
sama, sehingga mereka perlu memiliki wadah
dan pengorganisasian. Sementara, kenyataannya
setiap kelompok memiliki keyakinan yang berbeda,
agama yang berbeda, ideologi yang berbeda,
wilayah dan geografis yang berbeda, tingkat
ekonomi yang berbeda, etnis yang berbeda, dan
kepentingan yang berbeda.
Instrumenisasi keumatan dalam rangka mengembangkan peraktek politik, sebagaimana yang
diterapkan Rasulullah dalam Piagam Madinah
merupakan pelajaran berharga dalam politik
Islam. Konsep ummah memiliki muatan makna
kemanusiaan yang dinamis, bukan entitas beku
dan statis. Term ummah mengandung banyak
muatan makna yang variatif, antara lain; konsep
kebersamaan dalam arah dan tujuan; konsep
gerakan menuju arah dan tujuan tersebut; serta
konsep keharusan adanya pemimpin dan penunjuk
kolektif.
Organisasi umat yang dibentuk Rasulullah
merupakan organisasi keumatan yang terbuka,
bukan organisasi masyarakat yang eksklusif bagi
kaum muslimin. Rasulullah mengumpul semua
golongan penduduk Madinah, baik golongan
Madinah yang menerima risalahnya, maupun
yang tidak menerima, seperti kaum Yahudi dan
sekutunya. Perbedaannya keyakinan mereka
tidak menjadi alasan untuk tidak bersatu dalam
kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Oleh
karena itu, gagasan dan praktek membentuk satu
umat dari berbagai unsur kelompok sosial yang
hetrogen untuk saat itu dapat dikatakan merupakan
suatu terobasan atau gerakan yang revolusioner 7.
2. Demokrasi
Islam datang membawa sistem politik yang
sama sekali berbeda dengan sistem politik yang
sedang berkembang pada saat itu dan sebelumnya
di berbagai belahan dunia. Prakek politik di awal
Islam, pada komunitas awal Islam betul-betul
dicirikan dengan sistem demokrasi. Oleh karena
itu, tidak mengherankan kalau usaha-usaha
komunitas muslim di era sekarang ini menjadikan
komunitas awal itu (komunitas Madinah) sebagai
rujukan. Demokrasi Madinah ini tidak menampilkan
ego putra mahkota dan dinasti.
Bahkan selanjutnya, sampai kepada kekuasaan
Khalifah al-Rashidin ada tiga model yang dikembangkan sebagi bentuk representasi dari
konsep agama Islam, yaitu:
pertama, model musyawarah, yang terjadi
pada waktu pemilihan Khalifah Abubakar ashSiddiq, dimana pada waktu itu khalifah dipilih
melalui hasil musyawarah wakil-wakil dari utusan
Muhajirin dan wakil dari Anshar secara terbatas
pada hari pertama Rasulullah wafat dengan
mengambil tempat di Tsaqifah Bani Sa’idah di
rumah Sa’ad bin Ubadah di Madinah, selanjutnya
kemudian dilanjutkan dengan bai’at tha’at di Masjid
Nabawi pada hari kedua Rasulullah wafat.
Kedua, model wasiat, yaitu pada waktu
pemilihan Umar bin Khattab. Pergantian khalifah
pada waktu pemilihan Umar Khattab ini melalui
surat wasiat yang dibacakan ke hadapan kaum
muslimin pada waktu itu dan kemudian kaum
7
J. Suyuthi Pulungan, Prinsip-prinsip Pemerintahan Dalam
Piagam Madinah Ditinjau Dari Pandangan Al-Quran, ( Jakarta,
LSIK, 1994 ), h. 138.
104
Rohimin: Mengembangkan Politik Berwatak Kerakyatan
muslimin memberikan bai’at,8 serta tunduk mematuhi wasiat. Menjelang wafatnya Abu Bakar
mewasiatkan jabatan khalifah kepada Umar dan
yang menuliskan wasiat tersebut ialah Usman
bin Affan.
Ketiga, model majlis sura, yaitu pada waktu
pemilihan Usman bin Affan. Pergantian khalifah
pada waktu pemilihan Usman bin Affan ini melalui
sebuah majlis syura yang beranggotakan sebanyak
enam orang, dimana Umar menunjukkan Usman
bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Thalhah bin Ubaidillah,
Az-Zubair bin Awwam, Sa’ad bin Abi Waqqash,
dan Abdurrahman bin ’Auf untuk bermusyawarah.
Sedangkan pemilihan Ali bin Abi thalib kembali
kepada model yang pertama (musyawarah),
sebab khalifah Usman yang mati terbunuh tidak
menyampaikan wasiat semacam Abu Bakar dan
juga tidak menunjukkan formatur (majlis syura)
semacam Umar. Setelah Usman terbunuh kaum
muslimin mendatangkan Ali bin Abi Thalib untuk
membai’atkan dirinya sebagai khalifah dan Ali
menolaknya dengan menghindarkan diri pergi ke
rumah Bani Amru bin Mabdzul, kemudian kaum
muslimin membawa serta Thalhah bin Zubair
seraya menyampaikan pernyataan dan mendesak,
bahwa daulah ini (daulah Islamiyah) tidak akan
bertahan tanpa ada seorang amir (seorang
penguasa), sehingga kemudian akhirnya Ali bin
Abi Thalib bersedia menerimanya.
3. Pertahanan dan keamanan
Pertahan dan keamanan merupakan instrumen
penjaminan hak dan kewajiban dalam setiap
anggota masyarakat. Pengembangan politik
berwatak kemasyarakatan sangat dicirikan oleh
kekuasaan dan kekuatan politik yang menunjukkan
pada penjaminan hak dan kewajiban bersama.
Penjaminan ini berkaitan dengan adanya berbagai
ancaman yang pada setiap saat bisa saja muncul.
8
Praktek bai’at dan istilah bai’at ini seringkali muncul
dalam dunia perpolitikan, gerakan, dan dakwah agama. Bai’at
berasal dari kata bay yang secara bahasa berarti jual beli atau
transaksi. Peraktek dan pelaksanaan bai’at ini biasanya dilakukan
atas dasar sukarela (ridha), atas dasar pilihan tanpa paksaan
dan dalam bai’at ini biasanya ada ijab-qabul (penyerahan dan
penerimaan) sebagaimana layaknya dalam transaksi atau jual
beli. Dalam konteks suksesi politik, bai’at merupakan perbuatan
penyerahan dari umat, yang merupakan pemilik kekuasaan
kepada calon pemimpin. Bai’at ini terjadi ketika seorang atau
sekelompok individu memberitahukan kepada orang lain
bahwa mereka mendukung posisi kepimimpinan seseorang dan
menyatakan taat setia kepadanya.
Oleh karena itu, setiap orang tanpa terkecuali,
baik yang seagama maupun tidak, dari etnis
dan kelompok yang berbeda tetap bertanggung
jawab terhadap pertahanan wilayah, keamanan
dan ketertiban, apapun bentuk ancaman yang
mungkin terjadi hendaklah dihindari9.
Artinya: Allah tidak melarang kamu untuk berbuat
baik dan Berlaku adil terhadap orang-orang yang
tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula)
mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah
menyukai orang-orang yang Berlaku adil (Q.S. alMumtahanah/60: 8).
4. Supremasi hukum
Kehidupan bersama yang dilatarbelakangi
oleh kelompok yang berbeda dimungkinkan
akan terjadi pelanggaran yang dilakukan oleh
warga
masyarakat, baik pelanggaran yang
bersifat individu maupun kelompok. Untuk itu,
penegakan supremasi hukum menjadi penting.
Keadilan, ketertiban, dan keamanan masyarakat
akan terjamin manakala supremasi hukum ini
menjadi instrumen pengembangan politik berwatak
kemasyarakatan dan kerakyatan. Penegakan
supremasi hukum dan menjadikan hukum sebagai
panglima terhadap berbagai pelaku kejahatan
dan para pihak yang secara politis menunjukkan
sikap perlawanan, pengacauan, penghianatan, dan
permusuhan dengan memberikan sanksi yang
wajar dan sebanding, akan menjadi kekuatan
politik yang berpihak pada kepentingan rakyat.
F. Prinsip-Prinsip Politik Dalam al-Quran.
Al-Quran sebagai sumber utama agama Islam
menyediakan petunjuk-petunjuk umum tentang
politik. Keumuman petunjuk ini menjadi salah satu
9
Berkaitan dengan pertahanan dan keamanan umum
dan bersama ini, al-Quran mengingatkan agar dikembangkan
prinsip bersama dan bekerja sama dalam mempertahankan
pertahanan dan keamanan dengan kebolehan bekerja sama,
”Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan Berlaku adil
terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama
dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya
Allah menyukai orang-orang yang Berlaku adil ( lihat Q.S. alMumtahanah/60 : 8). .
105
Rohimin: Mengembangkan Politik Berwatak Kerakyatan
di antara sekian banyak keistimewaan Kitab Suci
al-Quran dan membedakannya dengan kitab-kitab
agama lain, itulah sebabnya agama Islam menjadi
fleksibel dan dinamis dalam mengembangkan
ajaran agamanya dan dapat beradaptasi secara
kontinyu, termasuk dalam persoalan politik.
Menurut Bahtiar Effendy, Agama seperti
dinyatakan banyak orang, dapat dilihat sebagai
instrumen ilahiyah untuk memahami dunia.
Islam dibandingkan dengan agama-agama lain,
sebenarnya merupakan agama yang paling mudah
untuk menerima premis semacam ini. Alasan
utamanya terletak pada ciri Islam yang paling
menonjol, yaitu sifatnya yang ”hadir di manamana ( omnipresence ). Ini sebuah pandangan
yang mengakui bahwa ”di mana-mana,” kehadiran
Islam selalu memberikan panduan moral yang
benar bagi tindakan manusia”. Pandangan ini
telah mendorong sejumlah pemeluknya untuk
percaya bahwa Islam mencakup cara hidup yang
total. Penumbuhannya dinyatakan dalam syariah (
hukum Islam ). Bahkan sebagian kalangan Islam
melangkah lebih jauh dari itu, mereka menekankan
bahwa ”Islam adalah sebuah totalitas yang padu
yang menawarkan pemecahan terhadap semua
masalah kehidupan”. Tak diragukan lagi, mereka
percaya akan sifat Islam yang sempurna dan
menyeluruh sehingga, menurut mereka, Islam
meliputi tiga ”D” ( din, agama; dunya, dunia; dan
daulah, negara)10.
Secara teologis, sebagaimana diungkapkan
di atas bahwa kekuasaan politik sesungguhnya
dianugerahkan oleh Allah Swt kepada manusia.
Penganugerahan ini dilakukan melalui satu ikatan
perjanjian yang disebut sebagai amanah dan ikatan
ini terjalin antara seorang hamba sebagai pemegang
kekuasaan politik duniawi dengan Allah Swt di satu
pihak dan dengan masyarakatnya di pihak lain.
Perjanjian dengan Allah ini kemudian dinamai
dalam Al-Quran dengan sebuah ikatan perjanjian
(‘ahd ), sedangkan perjanjian dengan anggota
masyarakat dinamai dengan pengakuan atau
pengukuhan ( bai’at ). Perjanjian ini, baik antara
penguasa dengan masyarakat, maupun antara dia
dengan Tuhannya merupakan amanat yang harus
disampaikan. Karena itu, tidaklah mengherankan
10
Bahtiar Effendy, ”Agama Dan Politik : Mencari Keterkaitan
Yang Memungkinkan Antara Doktrin Dan Kenyataan Empirik”,
dalam M. Din Syamsuddin, ”Islam dan Politik Orde Baru”, (
Jakarta, Logos, 2001 ), h. IX-X.
jika kemudian perintah taat kepada penguasa
(ulil amr) didahului oleh perintah menunaikan
amanah tersebut11.
Pengakuan besar terhadap amanah ini menjadi
sangat penting dalam politik Islam, karena amanah
berkaitan erat dengan banyak instumen lain,
di antaranya adalah perlakuan adil yang harus
diutamakan. Keadilan yang dituntut ini bukan
hanya terhadap kelompok, golongan, atau kaum
Muslim saja, tetapi mencakup seluruh manusia
bahkan seluruh makhluk. Sebab manakala amanah
keadilan ini ditunjukkan akan muncul kewajiban
taat masyarakat terhadap penguasa penguasa itu
sendiri. Kepatuhan rakyat kepada penguasanya
sangat tergantung dengan keadilan yang diberikan
oleh penguasanya. Sebaliknya, manakala kezaliman
yang diberikan oleh penguasa maka penolakan dan
bahkan pembangkangan akan mudah pula terjadi.
Dalam prinsip keadilan sosial, Sayyid Qutub
mengatakan ada tiga dasar yang menjadi landasan
keadilan sosial di dalam islam, yaitu: (1) kebebasan
rohaniah yang mutlak. Kebebasan rohani di dalam
islam didasarkan kepada kebebasan rohani
manusia dari tidak beribadah kecuali kepada Allah
dan kebebasan untuk tidak tunduk kecuali kepada
Allah, tidak ada yang kuasa kecuali Allah. Apabila
tuhan hanya Allah semata, maka segala sesuatu
diarahkan kepada-Nya, tidak ada ibadah kecuali
untuk Allah, dan manusia tidak dapat menuhankan
yang lainnya, termasuk menuhankan manusia.
dengan keyakinan akan sifat-sifat tuhan yang Maha
Adil, Mahakasih Sayang, Pengampun, Penolong,
dan sebagainya yang apabila diterapkan didalam
kehidupan bermasyarakat akan menimbulkan
keadilan sosial. (2) persamaan kemanusiaan yang
sempurna. Prinsip-prinsip persamaan didalam islam
didasarkan kepada kesatuan jenis manusia di
dalam hak dan kewajibannya di hadapan undang-
11
Lihat Q.S. an-Nisa’/4 : 58 dan 59, “Sesungguhnya Allah
menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak
menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan
hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan
adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaikbaiknya
kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha
mendengar lagi Maha melihat”, “Hai orang-orang yang beriman,
taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara
kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu,
Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul
(sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah
dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu)
dan lebih baik akibatnya”. Dari penjelasan kedua ayat ini dapat
dipahami sebagai prinsip-prinsip pokok yang menghimpunkan
ajaran Islam tentang kekuasaan dan pemerintahan.
106
Rohimin: Mengembangkan Politik Berwatak Kerakyatan
undang, di hadapan Allah, di dunia dan di akhirat.
Persamaan ini didasarkan atas kemanusiaan yang
mulia, bahkan persamaan yang berdasarkan
kemanusiaan ini juga berlaku bagi yang nonmuslim. (3) tanggung jawab sosial yang kokoh.
Islam menggariskan tanggung jawab ini didalam
segala bentuknya. Ada tanggung jawab di antara
individu terhadap dirinya, dan ada tanggung jawab
di antara individu terhadap keluarganya, famili dan
kaum kerabatnya, bangsanya dan bangsa-bangsa
lainnya serta tanggung jawab terhadap generasi
yang akan datang12.
Sementara Nur Mahmudah13, berdasarkan
analisanya terhadap kata al-mulk yang berkaitan
dengan kekuasaan politis, mengungkapkan terdapat
beberapa prinsip tentang penyelenggaraan negara.
Prinsip yang pertama berkaitan dengan persoalan
keadilan. Perlakuan adil yang harus diterima baik
oleh seluruh warga negara tanpa melakukan
diskriminasi atas golongan, kelompok bahkan
kepercayaan. Dalam menegakkan keadilan, alQuran meniscayakan perlakuan adil yang harus
diterima oleh seluruh kalangan. Prinsip kedua yang
dapat dianalisis adalah adanya upaya mencari
pertimbangan atau musyawarah dilakukan oleh
penguasa dengan melibatkan masyarakat atau
perwakilannya. Musyawarah, merupakan upaya
untuk meminta pertimbangan dan pandangan dari
pihak lain dalam memutuskan suatu persoalan.
Dalam hal ini, peristiwa yang dimaksud adalah
baiat atau mubayaah keislaman, sebuah perikatan
berisi pengakuan dan penaklukan diri kepada islam
sebagai agama. Konsekuensi dari baiat tersebut
adalah terwujudnya sebuah masyarakat muslim
yang dikendalikan oleh kekuasaan yang dipegang
rasulullah saw. Dengan begitu, terbentuklah sebuah
sistem politik islami yang pertama dengan fungsifungsi dan struktur yang sederhana dalam sebuah
masyarakat dan negara kota.
Bila kita telusuri dalam sejarah politik Islam,
struktur politik yang dibangun oleh Rasulullah
memiliki keunikan tersendiri dan berbeda
dengan otoritas negara konvensional lainnya yang
keabsahannya bersifat mutlak, sementara otoritas
politik yang dibangun oleh Rasulullah lebih bersifat
12
H. A. Djazuli, Fiqh Siyasah: Implementasi Kemaslahatan
Umat dalam Rambu-Rambu Syariah. (jakarta: kencana, 2003),
h.196
13
Nur Mahmudah, tafsir tematik al-Quran dan politik,
prinsip-prinsip pemerintahan jihad dalam islam. (DIPA Ditjen
Kelembagaan Depag RI, 2008), h. 198.
sukarela dan kebersamaan. Kebersamaan dan
kesukarelaan anggota masyarakat dicirikan dengan
rasa tanggung jawab dan sanggup menerima
resiko yang berat sekalipun. Keikutsertaan dan
kontribusi yang diberikan dalam perpolitikan sangat
menonjol dan dalam membuat keputusan politik
sering melibatkan para sahabat.
Setelah wafatnya Nabi saw, muncul dua
prinsip yang lebih maju dalam sistem kenegaraan
islam klasik: ikhtiyar dan bay’ah. Ikhtiyar artinya
pemilihan; seorang khalifah penerus nabi harus
dipilih di antara shahabat-shahabatnya. Setelah
itu, khalifah terpilih harus dikukuhkan dengan
bay’ah (sumpah setia). Keempat penerus Nabi
Muhammad, yakni al-Khulafa’ al-Rasyidin (khalifahkhalifah yang terbimbing) semuanya dipilih dengan
cara yang berbeda secara musyawarah dan disahkan melalui bay’ah umat Muslim.14
Secara teoritis, pada dasarnya dalam Islam
Khalifah bisa dipilih atau dicalonkan oleh
sekelompok pemimpin masyarakat, yaitu oleh
para ulama yang berpengaruh, yang disebut dengan
ahl al-halli wa al-‘aqdi, hanya saja melalui cara ini
jarang sekali terjadi. Selain cara tersebut Khalifah
juga bisa ditunjuk oleh khalifah sebelumnya yang
masih memiliki kewenangan, dan kenyataannya
dengan cara semacam ini lebih sering dilakukan.
Selanjutnya, pemilihan atau penunjukan
seorang khalifah diteruskan dengan penerimaan
komunitas atau pengakuan masyarakat (bay’ah).
Persyaratan moral dari teori politik kekhalifahan
biasanya diikuti dengan kualifikasi resmi bagi
khalifah, yaitu dapat menegakkan keadilan,
memiliki pengetahuan yang baik untuk menafsirkan
dan menerapkan hukum Tuhan (syari’ah), memiliki
karakter yang baik, berani untuk mengikuti
peperangan, dan memiliki kesehatan fisik yang
baik. Sistem khalifah dianggap sebagai sistem
kekuasaan religio-politik yang lebih ditandai oleh
hubungan antara yang sakral (religius) dan yang
politis. Karena khalifah adalah figur di dunia yang
mendapat pengesahan dari kalangan ulama yang
memiliki posisi sebagai penjaga syari’ah dan
beraura keagamaan yang memiliki gelar sebagai
14
Azyumardi Azra, Pergolakan Politik Islam, dari fundamentalisme, modernisme hingga post-modernisme.” (Jakarta,
Paramadina, 1996), h. 3. Berkaitan
dengan perkembangan
pemikiran politik Islam pada masa awal ini bandingkan dengan
penjelasan M. Ali Haidar, ”Nahdatul Ulama Dan Islam di Indonesia,
Pendekatan Fikih dalam Politik”, ( Jakarta, Gramedia Pustaka
Utama, 1998 ), h. 17-21.
107
Rohimin: Mengembangkan Politik Berwatak Kerakyatan
amir al-mu’minin (pemimpin kaum beriman) atau
bahkan sering juga disebut sebagai ziil Allah fi
al-ardh (bayangan Allah di muka bumi).
Penutup
Penegasan al-Quran tentang ummah memiliki
banyak obyek dan konsep, term ummah juga
memiliki sisi tawaran politik dalam Islam yang
bisa dikembangkan sebagai salah satu model
politik berwatak kerakyatan yang membutuhkan
seorang imam sebagai pemimpin. Kepemimpinan
dalam konsep ummah lebih bersifat religius,
diteladani, memiliki karakteristik ketaatan kepada
Tuhan, berpegang pada kebenaran, dan menjaga
eksistensi kebenaran. Pembahasan tentang sistem
masyarakat belumlah lengkap bila konsep ummah
belum diimplementasikan dalam sebuah tatanan
masyarakat. Pilar utama sebagai penyangga dari
konsep Ummah adalah persamaan akidah, karena
akidah menjadi payung besar peneduh hubungan
manusia yang melewati batas kewilayahan dan
sekaligus menjadi perekat manusia secara luas.
Akidah yang merupakan inti sari dari ajaran Islam
yang telah baku menjadi pengendali utama dalam
Ummah.
Posisi tertinggi umat manusia, khususnya umat
Islam, tergantung pada penerapan instrumentinstrumen politik berwatak kemasyarakatan dan
kesediaannya menegakkan amar makruf nahi
munkar, beragama dan beriman yang benar. Politik
yang berwatak kerakyatan perlu ada instrumeninstrumen utama yang mesti dikembangkan sebagai
poros utamanya. Instrumenisasi politik dalam
Islam merupakan upaya untuk memperkuat politik
sebagai suatu kekuatan pembangunan manusia,
peningkatan, dan penjagaan harkat dan martabat
manusia, sekaligus sebagai advokasi terhadap hak
dan kewajiban manusia. Kekuatan dan kehormatan
manusia bisa diwujudkan dalam sistem politik
religius yang terbingkai oleh instrument politik
yang pluralis dan humanis.
Pustaka Acuan
Abdelwahab El-afandi, Masyarakat tak Bernegara,
kritik teori politik islam, yogyakarta, LkiS, 2001.
Abdul Munir Salim, Fiqh Siyasah, Konsepsi
Kekuasaan Politik dalam Al-Quran, Jakarta:
Raja Grafindo Persada, 2002.
Ali Nurdin, Quranic Society, Menelusuri Konsep
Masyarakat Ideal Dalam al-Quran, Jakarta,
Erlangga, 2002.
Asrori S. Karni, Sivil Society & Ummah Sintesa
Diskursif “Rumah” Demokrasi,, Jakarta, Logos,
1999.
Azra, Azyumardi. Pergolakan Politik Islam; dari
Fundamentalisme, Modernisme hingga
Postmodernisme, Jakarta, Paramadina, 1996.
Djazuli, A. Fiqh Siyasah; Implementasi Kemaslahatan
Umat dalam Rambu-Rambu Syariah, Jakarta,
Kencana, 2003.
El-Afendi, Abdelwahab. Masyarakat Tak Bernegara;
Kritik teori Politik Islam, Yogyakarta, LkiS, 2001.
J. Suyuthi Pulungan, Prinsip-prinsip Pemerintahan
Dalam Piagam Madinah Ditinjau Dari
Pandangan Al-Quran, Jakarta, LSIK, 1994 .
Salim, Abdul Munir. Fiqh Siyasah, Konsepsi
Kekuasaan Politik dalam Al-Quran, Jakarta,
Raja Grafindo Persada, 2002.
Mahmudah, Nur. Tafsir Tematik al-Quran dan Politik;
Prinsip-Prinsip Pemerintahan Jihad dalam Islam,
DIPA Ditjen Kelembagaan RI, 2008.
M. Ali Haidar, ”Nahdatul Ulama Dan Islam di
Indonesia, Pendekatan Fikih dalam Politik”,
Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, 1998 .
Shihab, Quraish. Wawasan Al-Quran; Tafsir
Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat,
Bandung, Mizan, 1998.
H. A. Djazuli, Fiqh Siyasah: Implementasi
Kemaslahatan Umat dalam Rambu-Rambu
Syariah., jakarta, kencana, 2003.
Nur Mahmudah, “tafsir tematik al-Quran dan politik,
prinsip-prinsip pemerintahan jihad dalam islam.”
DIPA Ditjen Kelembagaan Depag RI, 2008.
108
Rohimin: Mengembangkan Politik Berwatak Kerakyatan
109
Download