teknik-teknik propaganda di twitter pasangan

advertisement
TEKNIK-TEKNIK PROPAGANDA DI TWITTER PASANGAN
JOKOWI-AHOK DAN FOKE-NARA PADA PEMILUKADA
DKI JAKARTA
Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Komunikasi Islam (S.Kom.I)
Oleh
Ryan Rifqi Nugroho
NIM: 109051000133
FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
2013
LEMBAR PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa :
1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi
salah satu persyaratan memperoleh gelar strata 1 di UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta.
2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan
sesuai dengan ketentuan yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya atau
merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima
sanksi yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Ciputat, 15 September 2013
Ryan Rifqi Nugroho
ABSTRAK
Ryan Rifqi Nugroho (109051000133)
Teknik-Teknik Propaganda Di New Media Tim Media Center Pasangan
Jokowi-Ahok dan Foke-Nara Pada Pemilukada DKI Jakarta
Pemilukada DKI Jakarta beberapa saat yang lalu berjalan sangat menarik.
Tim media center kedua pasangan berjuang keras untuk memanfaatkan sektorsektor media mainstream dan new media (Facebook, Twitter, Blog) demi meraih
vote getter. Tidak hanya kampanye yang dilakukan tetapi kedua Tim Media
Center juga memainkan propaganda. Pertanyaan mayornya adalah bagaimana
teknik-teknik propaganda yang dilakukan Tim Media Center Jokowi-Ahok dan
Foke-Nara di Twitter pada Pemilukada DKI putaran kedua? Kemudian minornya
adalah bagaimana etika komunikasi dalam propaganda kedua pasangan di
Twitter? Dan bagaimana kelebihan dan kekurangan implementasi teknik-teknik
propaganda di Twitter pada Pemilukada DKI?
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian
kualitatif. Pendekatan penelitian ini menggunakan studi kasus. Studi kasus yaitu
penelitian yang dilakukan secara intensif, terinci dan mendalam, terhadap suatu
organisasi, lembaga atau masyarakat mengenai gejala-gejala tertentu. Jenis studi
kasus dalam penelitian ini adalah studi kasus intrinsik (intrinsic case study). Jenis
ini ditempuh oleh peneliti yang ingin lebih memahami sebuah kasus tertentu.
Propaganda sangat identik dengan satu aktivitas komunikasi yang
berupaya memanipulasi psikologis khalayak. Dalam politik, propaganda
memainkan peran yang sangat penting karena merupakan satu di antara
pendekatan persuasi politik selain periklanan dan retorika. New Media adalah
teknologi komunikasi yang melibatkan komputer di dalamnya (baik mainframe,
PC maupun notebook) yang memfasilitasi penggunanya untuk berinteraksi antar
sesama pengguna ataupun dengan informasi yang diinginkannya. Twitter adalah
layanan micro-blogging yang mendistribusikan potongan ukuran teks di beberapa
platform, termasuk ponsel, instant messaging dan email.
Dalam penelitian ini peneliti menemukan teknik-teknik propaganda yang
dilancarkan kedua Tim Media Center masing-masing pasangan yakni name
calling, glittering generalities, card stacking, band wagon, plain folks, dan
testimonial melalui strategi yang telah mereka rencanakan. Berikutnya peneliti
mengungkap beberapa teknik propaganda yang bertentangan dengan UU ITE dan
hukum Islam. Terakhir, peneliti menemukan kelebihan dan kekurangan
implementasi teknik propaganda di Twitter dari kedua pasangan.
Kesuksesan Cagub-Cawagub dalam memenangkan Pemilukada tidak luput
dari kinerja Tim Media Centernya. Penggunaan new media Twitter dalam
aktivitas politik menjadi hal baru di Negara ini. Twitter juga menjadi media untuk
melancarkan propaganda. Yang perlu diperhatikan oleh para stake holder politik
bahwa penggunaan propaganda dalam new media harus sesuai dengan hukum
yang berlaku di Indonesia yakni Undang-undang dan juga sebagai muslim perlu
memperhatikan syariat Islam sehingga atmosfir perpolitikan di Indonesia dapat
berjalan secara sehat, jujur, dan tidak saling merugikan.
Keyword: Pemilukada, DKI, Tim Media Center, Propaganda, New Media,
Twitter
i
KATA PENGANTAR
‫ابِسْــــــــــــــــــمِﷲِل َرّحْ َمنِااا َرّحِيم‬
Segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT karena dengan,
rahmat, hidayah serta inayah-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Shalawat
serta salam penulis sanjungkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai suri tauladan
dan panutan kita semua umat Islam.
Karya tulis ini patut penulis syukuri dan banggakan karena penulis berusaha
menyajikan dengan sebaik-baiknya supaya karya tulis ini dapat berguna bagi dunia
akademis. Namun, penulis juga menyadari masih terdapat kesalahan dan kekurangan
yang perlu diperbaiki dalam karya tulis ini.
Dalam proses penyusunan, penulis mendapatkan banyak bantuan, petunjuk,
bimbingan, serta motivasi dari berbagai pihak. Oleh karena itu, sudah sepatutnya
penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi, Bapak Dr. H. Arief
Subhan, M.A, Wakil Dekan I Bidang Akademik, Bapak Drs. Wahidin Saputra,
M.A, Wakil Dekan II Bidang Administrasi Umum, Bapak Drs. Mahmud Jalal,
M.A, serta Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan, Bapak Drs. Study Rizal
L.K, M.A.
2. Bapak Drs. Jumroni, M.Si selaku Ketua Jurusan Komunikasi dan Penyiaran
Islam dan Ibu Umi Musyarofah, M.A selaku Sekretaris Jurusan Komunikasi
dan Penyiaran Islam.
ii
3. Bapak Zakaria, M.Ag selaku Penasehat Akademik yang telah bersedia
meluangkan waktunya kepada penulis untuk berdiskusi.
4. Bapak Dr. Gun Gun Heryanto M.Si sebagai Dosen Pembimbing Skripsi yang
selalu sabar membimbing dan mengarahkan penulis dalam penyusunan skripsi
ini.
5. Para dosen Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Jakarta yang
telah mewariskan ilmu kepada penulis selama masa perkuliahan. Semoga ilmu
yang bapak ibu berikan bermanfaat bagi penulis dan masyarakat serta menjadi
amal sholeh yang akan terus mengalir tanpa putus.
6. Kartika Djoemadi sebagai Ketua Jokowi Ahok Social Media Volunteer
(JASMEV) dan Kahfi Siregar sebagai ketua Tim Media Center Foke-Nara.
7. Keluarga di Jogjakarta. Mama Eny Kushartuti yang selalu mensupport dan
berdoa tanpa henti demi kesuksesan anak-anaknya. Mas Virghi Akbar
Kurniawan, Adikku Melati Rahmaningtyas dan Ilham Sakti Darussalam.
Harapan khusus untuk Papa Askur Susanto semoga disadarkan dan diberi jalan
terbaik dalam menjalani kehidupan.
8. Desima Swakisari Kartika, wanita pemberi semangat yang telah setia menanti
dan sangat sabar.
9. Keluarga HB Studio Harry Budiman, Irsan Ramadhianta beserta keluarga,
Faisal Affandi, Suryanto, Marzuki, Deny Djatnika, Adhit Element, Mumu,
Rusdi, dan Herman.
iii
10. Sahabat-sahabat KPI D 2009 Zidni, Rizky, Ari, Mahdi, Bayu, Reza F.,
Bintang, Tika, Tari, Fitri, Fajrin, Ririn, Yuli, Dina, Rina, Bowo, Eko, Noflim,
Okta, Ana, Yudid, Zakiyah, Nofal, Fadli, Rijal, Ridwan, Rikza, Angga, Yusuf,
M. Reza, dan Devi terima kasih atas segala dukungan dan perhatian yang luar
biasa kepada penulis.
11. Kawan-kawan “KKN SERSAN” Klaten.
12. Semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini
yang tidak bisa disebutkan satu persatu.
Jakarta, 13 September 2013
Ryan Rifqi Nugroho
iv
DAFTAR ISI
ABSTRAK.............................................................................................................
KATA PENGANTAR ................................................................................... ......
DAFTAR ISI ........................................................................................................
DAFTAR TABEL ................................................................................................
DAFTAR GAMBAR . ..........................................................................................
i
ii
v
vii
viii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ..........................................................................
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah ......................................................
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ................................................................
D. Metodologi Penelitian ..............................................................................
E. Tinjauan Pustaka . .....................................................................................
F. Sistematika Penulisan . .............................................................................
1
7
8
9
12
14
BAB II KERANGKA TEORI
A. Konseptualisasi Propaganda ....................................................................
1. Pengertian Propaganda . ......................................................................
2. Perbedaan Propaganda Dengan Kampanye ........................................
3. Jenis-Jenis Propaganda . ......................................................................
4. Teknik-Teknik Propaganda . ...............................................................
5. Prinsip Propaganda Melalui Media Massa . ........................................
B. Konseptualisasi New Media .....................................................................
1. Pengertian New Media . .......................................................................
2. Karakteristik New Media . ....................................................................
3. Kelebihan dan Kekurangan New Media . .............................................
4. Web 1.0 dan 2.0 . ..................................................................................
5. Sosial Media . .......................................................................................
6. Sosial Media dan Politik . ....................................................................
15
15
21
23
28
34
36
36
39
42
44
49
51
BAB III GAMBARAN TIM MEDIA CENTER JOKOWI-AHOK DAN
FOKE-NARA
A. Tim Media Center Joko Widodo dan Basuki Tjahaya Purnama . ............ 56
B. Tim Media Center Fauzi Bowo dan Nachrowi Ramli . ............................ 59
BAB IV TEMUAN DAN ANALISIS DATA
A. Teknik-Teknik Propaganda dalam Pemilukada DKI Jakarta Putaran
Kedua . ..................................................................................................... 61
B. Etika Komunikasi di New Media Twitter dalam propaganda
Pemilukada DKI Putaran Kedua . ............................................................ 76
C. Kelebihan dan Kekurangan Implementasi Teknik Propaganda di
Twitter dalam Pemilukada DKI Jakarta . ................................................. 81
v
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan .............................................................................................. 84
B. Saran ........................................................................................................ 88
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 89
LAMPIRAN-LAMPIRAN .................................................................................. 91
vi
DAFTAR TABEL
Tabel 1: Perbedaan Kampanye Dengan Propaganda………………………………...21
Tabel 2: Perbedaan Antara Web 1.0 Dengan Web 2.0……………………………….49
Tabel 3: Interview Dengan Tim Media Center Masing-Masing Pasangan Mengenai
Pengaruh Twitter……………………………………………………………73
Tabel 4: Interview Dengan Tim Media Center Masing-Masing Pasangan Mengenai
Strategi di New Media………………………………………………………74
Tabel 5: Interview Dengan Tim Media Center Masing-Masing Pasangan Mengenai
Time To Tweet di Twitter…………………………………………………...75
Tabel 6: Interview Dengan Tim Media Center Masing-Masing Pasangan Mengenai
Twitter Account……………………………………………………………..76
Tabel 7: Komparasi Statement Tim Media Center Kedua Pasangan Terhadap
Penggunaan New Media (Twitter)………………………………………….76
vii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 : Pengaruh Isu Sara Terhadap Pilihan Responden Hasil Survei
Majalah TEMPO dan LSI Pada 3-7 September 2012 ...................... 2
Gambar 2 : Data PoliticaWave Tentang Social Media Monitoring Periode
19-25 Mei 2012 ................................................................................ 5
Gambar 3 : Contoh Teknik Propaganda Name Calling Tim Media Center
Jokowi-Ahok.................................................................................... 61
Gambar 4 : Contoh Teknik Propaganda Glittering Generalities Tim Media
Center Jokowi-Ahok ........................................................................ 62
Gambar 5 : Contoh Teknik Propaganda Card Stacking Tim Media Center
Jokowi-Ahok.................................................................................... 63
Gambar 6 : Contoh Teknik Propaganda Plain Folks Tim Media Center
Jokowi-Ahok.................................................................................... 64
Gambar 7 : Contoh Teknik Propaganda Band Wagon Tim Media Center
Jokowi-Ahok.................................................................................... 65
Gambar 8 : Contoh Teknik Propaganda Testimonial Tim Media Center
Jokowi-Ahok.................................................................................... 66
Gambar 9 : Contoh Teknik Propaganda Name Calling Tim Media Center
Foke-Nara... ..................................................................................... 67
Gambar 10 : Contoh Teknik Propaganda Glittering Generalities Tim Media
Center Foke Nara ............................................................................. 68
Gambar 11 : Contoh Teknik Propaganda Card Stacking Tim Media Center
Foke-Nara ........................................................................................ 69
Gambar 12 : Contoh Teknik Propaganda Plain Folks Tim Media Center
Foke-Nara ........................................................................................ 70
Gambar 13 : Contoh Teknik Propaganda Band Wagon Tim Media Center
Foke-Nara ........................................................................................ 71
Gambar 14 : Contoh Teknik Propaganda Testimonial Tim Media Center Foke
Nara .................................................................................................. 72
viii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pemilukada DKI Jakarta putaran kedua telah berlangsung beberapa saat
yang lalu dan terpilihlah pemimpin yang baru. Tidak bisa dimungkiri bahwa
Pemilukada kemarin berjalan sangat menarik dan persaingan kedua pasangan
cagub-cawagub begitu ketat. Tim sukses maupun tim media center dari
masing-masing pasangan berjuang keras untuk memanfaatkan sektor-sektor
media mainstream (televisi, radio, surat kabar) dan new media (Facebook,
Twitter, Blog) demi meraih vote getter. Kalau melihat dan mendengar gayagaya kampanye di media mainstream untuk meraih suara tentunya kita sudah
biasa. Yang jarang dan mungkin belum kita ketahui yaitu mengenai
propaganda yang terdapat di new media (Twitter). Seperti contoh
permasalahan banjir dan macet. Di Twitter, tim media center dari JokowiAhok mengklaim bahwa dua hal tersebut menjadi masalah yang belum
terselesaikan. Tidak setuju dengan pendapat tersebut tim media center FokeNara segera melakukan counter dengan mengatakan bahwa banjir dan macet
sudah berkurang. Pertarungan tersebut merupakan pertarungan propaganda
bandwagon dan masih banyak lagi propaganda yang terdapat di Twitter saat
pemilukada DKI kemarin.
Masih terekam dimemori kita saat seorang “Raja Dangdut” Tanah Air
Rhoma Irama menghimbau agar masyarakat jangan memilih pemimpin yang
1
2
kafir. Pernyataan ini beliau ucapkan di tengah forum atau majelis yang hadir
pula Fauzi Bowo kala itu. Di satu sisi ini merupakan dukungan terhadap
pasangan Fauzi Bowo – Nachrowi Ramli, di sisi lain ini adalah serangan
terhadap pasangan Jokowi – Ahok. Pernyataan Rhoma Irama mengandung dua
teknik propaganda sekaligus yakni name calling dan testimonial.
Gambar 1
Pengaruh Isu Sara Terhadap Pilihan Responden Hasil Survei
Majalah TEMPO dan LSI Pada 3-7 September 20121
Propaganda adalah suatu kegiatan komunikasi yang erat kaitannya
dengan persuasi. Lasswell melihat propaganda membawa masyarakat dalam
1
http://politik.kompasiana.com/2012/09/24/siapa-bilang-sara-tidak-berpengaruh-dipilkada-dki-jakarta-495988.html diakses pada 12 Maret 2013.
3
situasi kebingungan, ragu-ragu, dan terpaku pada sesuatu yang licik yang
tampaknya menipu dan menjatuhkan mereka.2
Propaganda sekarang merupakan bagian politik rutin yang normal dan
dapat diterima, dan tidak hanya terbatas pada pesan-pesan yang dibuat selama
perayaan politik, kampanye, krisis, atau perang. Tujuan propaganda adalah
membelenggu rakyat dengan segala cara untuk mencapai tujuan yang
diinginkan.3
Mengawali masa kampanye, di beberapa daerah bermunculan black
propaganda atau propaganda gelap, baik melalui aneka selebaran gelap,
layanan singkat (SMS), e-mail dan berbagai diskusi dalam komunitas tertentu
untuk menjatuhkan dan menyudutkan pasangan calon kepala daerah. Black
propaganda dalam literatur politik, terutama dalam komunikasi politik
sebenarnya adalah sesuatu yang baru.4
Media baru disebut-sebut sebagai “second media age”, dimana media
tradisional seperti radio, koran, dan televisi telah banyak ditinggalkan oleh
khalayak. Internet sebagai media baru yang dioperasikan dengan seperangkat
alat komputer berjaringan merupakan tonggak dari perkembangan teknologi
interaksi global di akhir dekade abad ke-20.5
2
Hafied Cangara, Komunikasi Politik: Konsep, Teori, dan Strategi, (Jakarta: PT
Rajagrafindo Persada, 2009), h. 332.
3
Gun Gun Heryanto dan Ade Rina Farida, Komunikasi Politik, (Ciputat: Lembaga
Penelitian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2010, cet-1, h. 112.
4
Agust Riewanto, Ensiklopedi Pemilu: Analisis Kritis Instropektif Pemilu 2004 Menuju
Agenda Pemilu 2009, (Yogyakarta: Lembaga Studi Agama & Budaya dan Fajar Pustaka, 2007) cet
ke-1, h.217.
5
Rulli Nasrullah. 2012. Komunikasi Antarbudaya di Era Budaya Siber. Jakarta.
Kencana Pernada Media group. h: 61.
4
Pada masa new media seperti internet berpotensi lebih banyak dipandang
sebagai alat yang banyak bernilai negatif. Hal tersebut memungkinkan
masyarakat memanfaatkan media baru hanya untuk pemenuhan kebutuhan
institusi tertentu yang tidak memikirkan efek negatif untuk masyarakat luas
karena pada saat ini banyak orang yang mengikatkan atau melabelkan dirinya
pada suatu lembaga khusunya dalam bidang politik yang memanfaatkan media
baru untuk mempengaruhi khalayak. Mereka menjalankan arus informasi
untuk mengubah tindakan, opini, pola pikir bahkan pandangan hidup orang
banyak.
New Media kini dimanfaatkan oleh partai-partai politik untuk menjalankan
kepentingan karena media memiliki kekuatan dalam mempengaruhi
masyarakat. Media sangat efektif dalam menjalankan usaha partai politik
untuk mempersuasikan atau melakukan propaganda dalam.
Peneliti memilih Pemilukada DKI karena menurut peneliti Pilkada tersebut
mampu menarik perhatian semua kalangan baik muda maupun tua, bahkan
anak-anak. Pemilukada DKI tidak hanya menjadi perhatian warga Jakarta
namun juga seluruh masyarakat Indonesia. Menariknya lagi adalah kehebohan
Pemilukada DKI ini tidak hanya terdapat pada ruang publik dan media
mainstream tetapi juga di dalam new media khususnya Twitter.
5
Gambar 2
Data PoliticaWave Tentang Social Media Monitoring Periode 19-25 Mei 20126
Foke-Nara
JokowiAhok
Twitter
0
5000
10000
15000
20000
25000
30000
Chart diatas menunjukkan media trend dari kedua pasangan Jokowi-Ahok
dan Foke Nara di jejaring sosial Twitter. Hasil survey PoliticaWave tersebut
terlihat Foke-Nara unggul terhadap pasangan Jokowi-Ahok pada periode 1925 Mei 2012.
Peneliti memilih putaran kedua karena di putaran kedua ini muncul dua
pasangan cagub-cawagub yang memiliki presentase pemilih terbanyak hasil
dari putaran pertama. Tentu peneliti akan lebih fokus meneliti dua pasangan
ini dari pada mengamati lima pasangan yang ada di putaran pertama.
Selanjutnya mengapa peneliti memilih propaganda karena tema ini masih
sangat jarang diangkat khususnya di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN
Syarif Hidayatullah. Banyak dari kita juga yang masih berpandangan bahwa
propaganda adalah kampanye. Padahal jelas propaganda dengan kampanye itu
6
http://giewahyudi.com/perang-sosial-media-jauh-sebelum-kampanye-politik diakses
pada 12 Maret 2013.
6
sangat berbeda. Oleh karena itu penelitian ini akan menjelaskan mengenai
propaganda khususnya dalam kasus Pemilukada DKI.
Alasan mengapa peneliti memilih Twitter karena menurut peneliti Twitter
merupakan jejaring sosial yang masih baru dan sedang hype saat ini serta
penggunanya adalah kalangan menengah terdidik yang notabene familiar
dengan sosial media. Selain itu, menurut peneliti di dalam Twitter terdapat
seni retorika yaitu bagaimana dengan 140 karakter huruf dapat terbentuk twitt
yang singkat, padat, jelas, dan menarik. Lain halnya dengan Facebook yang
karakternya tak terbatas sehingga akan panjang lebar dan terkadang membuat
kita malas untuk membacanya.
Pemilukada DKI Jakarta putaran kedua berlangsung sangat menarik.
Kedua pasangan memanfaatkan media baru sebagai peluang utama
mendapatkan pemilih yang potensial. Namun di sisi lain mereka menyusupkan
kesan propaganda dalam media baru ketika kampanye berlangsung. Perang isu
politik dan janji-janji para kandidat disebarluaskan ke khalayak dalam bentuk
propaganda guna memperoleh pengaruh langsung berupa tindakan dan efek
sesuai tujuan propagandis. Dalam studi kasus pemilukada ini yang
menggunakan media baru adalah para juru kampanye profesional. Mereka ini
yang berperan aktif merespon setiap isu propaganda yang berkembang di
masyarakat. Ketika isu negatif muncul terhadap kandidatnya maka tim
suksesnya akan langsung memutarbalikkan fakta dengan menggunakan data
yang tidak akurat kepada tim sukses lawan. Inilah yang terjadi antara kedua
pasangan tersebut dalam masa kampanye. Media baru dijadikan cara pandang
7
lembaga politik dalam berkampanye. Namun mengapa isu yang diangkat oleh
para kandidat berkesan tidak akurat dan hanya untuk memanipulasi pikiran
khalayak? Apakah hal itu menjadi strategi politikus dalam memperoleh suara
dalam pemilihan umum? Tim sukses manakah dari kedua pasangan calon
gubernur DKI yang berhasil menjalankan penyebaran arus informasi berlatar
belakang propaganda melalui media perantara jejaring sosial dalam hal ini
Twitter? Strategi apa yang akan digunakan mereka ketika kampanye pada
media baru berlangsung? Hal-hal tersebut yang membuat peneliti memberi
judul skripsi “Teknik-Teknik Propaganda Di New Media Tim Media Center
Pasangan Jokowi-Ahok dan Foke-Nara Pada Pemilukada DKI Jakarta”.
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah
1. Pembatasan Masalah
Dari banyaknya masalah yang ada dan mengacu pada latar belakang di
atas, maka peneliti membatasi penelitian ini yaitu:
a. Penelitian ini dilakukan pada new media Twitter.
b. Timeline yang diteliti dari tanggal 1 hingga 20 September 2012
(Sebelum putaran kedua).
c. Twitt yang diteliti adalah tweet dari tim media center Jokowi-Ahok dan
Foke-Nara. Terutama Jokowi-Ahok (@KartikaDjoemadi,
@datuakrajoangek) dan Foke-Nara (@Kahfi_Siregar, @bangfauzibowo).
2. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, maka dapat
dikemukakan perumusan masalah sebagai berikut :
8
a.
Bagaimana teknik-teknik propaganda yang dilakukan Tim Media Center
Jokowi-Ahok dan Foke-Nara di Twitter pada Pemilukada DKI putaran
kedua?
b.
Bagaimana etika komunikasi dalam propaganda pasangan Jokowi-Ahok
dan Foke-Nara di new media (Twitter)?
c.
Bagaimana kelebihan dan kekurangan implementasi teknik-teknik
propaganda di Twitter pada Pemilukada DKI putaran kedua?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Untuk mengetahui teknik-teknik propaganda yang digunakan kedua
pasangan di Twitter dalam pemilukada DKI putaran kedua.
b. Untuk mengetahui etika komunikasi dalam propaganda pasangan
Jokowi-Ahok dan Foke-Nara di new media (Twitter).
c. Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan implementasi teknikteknik propaganda di Twitter pada Pemilukada DKI putaran kedua.
2. Manfaat Penelitian
a. Penelitian ini diharapkan memberi sumbangan penelitian guna
memperkaya kajian ilmu komunikasi khususnya komunikasi politik
hubungannya dengan pemanfaatan media baru.
b. 1. Penelitian ini diharapkan memberikan gambaran tentang praktik
propaganda di media baru.
9
2. Menjadi data awal untuk penelitian sejenis bagi peneliti selanjutnya
yang tertarik mengkaji media baru.
3. Masukkan untuk konsultan komunikasi politik dan para politisi
terkait penggunaan sosial media.
D. Metode Penelitian
1. Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah
penelitian kualitatif. Pendekatan penelitian ini menggunakan studi kasus.
Studi kasus yaitu penelitian yang dilakukan secara intensif, terinci dan
mendalam, terhadap suatu organisasi, lembaga atau masyarakat mengenai
gejala-gejala tertentu.7
Jenis studi kasus dalam penelitian ini adalah studi kasus intrinsik
(intrinsic case study). Jenis ini ditempuh oleh peneliti yang ingin lebih
memahami sebuah kasus tertentu. Jenis ini ditempuh bukan karena suatu
kasus mewakili kasus-kasus lain atau karena menggambarkan sifat atau
problem tertentu, namun karena, dalam seluruh aspek kekhususan dan
kesederhanaannya, kasus itu sendiri menarik minat.8
Hal terpenting bagi seorang peneliti kualitatif yang menggunakan
pendekatan studi kasus adalah sebagai berikut:
a. Membingkai kasus dan mengonseptualisasikan objek penelitian
7
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta: PT. Asdi
Mahasatya, 2006), Cet.XIII, hlm. 142.
8
Robert E. Stake, “Studi Kasus”, dalam Norman K. Denzin dan Yvonna S. Lincoln (eds),
Handbook of Qualitative Research, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2009), hlm. 301.
10
b. Memilih fenomena (gejala), menentukan tema-tema atau isu-isu
yang menjadi fokus pertanyaan riset
c. Melacak pola-pola data untuk memperkaya isu-isu dalam penelitian
d. Menghadirkan beberapa alternatif penafsiran
e. Merumuskan pernyataan sikap atau generalisasi tentang kasus.9
2. Subjek dan Objek
Dalam penelitian ini, yang menjadi subjek penelitian disini adalah
Tim Media Center pasangan Jokowi-Ahok dan Foke-Nara. Dengan
alasan untuk mengetahui strategi di twitter masing-masing pasangan.
Adapun yang menjadi objek dalam penelitian ini adalah tweet yang
mengandung unsur propaganda yang dilancarkan oleh kedua Tim
Media Center di timeline Twitter.
3. Teknik Pengumpulan Data
Adapun teknik pengumpulan data, penulis menggunakan metode
yang bersumber pada penelitian lapangan (field research) yaitu sebagai
berikut:
a. Observasi
Observasi adalah penelitian yang dilakukan dengan cara
mengadakan pengamatan terhadap objek.10 Pengumpulan data dengan
observasi
langsung
adalah
cara
pengambilan
data
dengan
menggunakan mata tanpa ada pertolongan alat standar lain untuk
9
Robert E. Stake, “Studi Kasus”, dalam Norman K. Denzin dan Yvonna S. Lincoln (eds),
Handbook of Qualitative Research, hlm. 313.
10
Muhammad Ali, Strategi Penelitian Pendidikan, (Bandung: Angkasa, 1993), hlm. 72.
11
keperluan tersebut.11 Dalam observasi ini, penulis mengikuti timeline
dari kedua Tim Media Center masing-masing pasangan.
b. Wawancara
Lexy J. Moleong mengartikan wawancara (interview) adalah
percakapan dengan maksud tertentu yang dilakukan oleh dua pihak,
yaitu interviewer (pewawancara) sebagai pengaju pertanyaan dan
interviewee (terwawancara) sebagai pemberi jawaban. Tujuan dari
metode interview ini adalah mengkonstruksi mengenai orang,
kejadian, organisasi, perasaan, kepedulian, dan lain sebagainya.12
Pendapat itu senada dengan Muhammad Ali, Wawancara adalah
pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui Tanya
jawab, sehingga dapat dikonstruksikan makna dalam satu topik
tertentu.
Teknik yang digunakan dalam wawancara adalah dengan
wawancara terstruktur yaitu wawancara yang pewawancaranya
menetapkan sendiri masalah dan pertanyaan-pertanyaan yang akan
diajukan.13 Dalam penelitian ini penulis melakukan wawancara
dengan Ketua Tim Media Center masing-masing pasangan.
c. Dokumentasi
Dalam hal ini peneliti mengumpulkan data-data yang diperoleh
dari Tim Media Center Jokowi-Ahok dan Foke-Nara serta foto-foto
11
Moh. Nadzir, Metode Penelitian, (Bogor: Ghalia Indah, 2005), cet. Ke-VI, hlm. 193-
194.
12
Lexy J. Moelong, Metodologi Penelitian Kualitatif (edisi revisi), (Bandung:
Rosdakarya, 2005), Cet. XXI, hlm. 186.
13
Lexy J. Moelong, Metodologi Penelitian Kualitatif (edisi revisi), hlm. 190.
12
yang berkaitan dengan penelitian, dan hasil rekaman dengan nara
sumber.
E. Tinjauan Pustaka
Setelah peneliti melihat dan mencari judul skripsi yang ada di
perpustakaan utama Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dan
perpustakaan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi, peneliti
menemukan ada beberapa skripsi yang membahas tentang komunikasi politik.
Namun yang diteliti mahasiswa sebelumnya sangat berbeda dengan yang
diteliti oleh peneliti. Oleh karena itu untuk menghindari dari hal-hal yang
tidak diinginkan seperti menjiplak karya orang lain, maka peneliti
mempertegas perbedaan antara masing-masing judul, isi maupun konten.
1. Skripsi yang pertama berjudul Komunikasi Politik Dewan Pimpinan
Cabang Partai Persatuan Pembangunan (DPC – PPP) Kabupaten Bogor
Dalam Pilkada Bupati Tahun 2009 oleh Teedy Khumaedi berisikan
tentang pesan politik DPC PPP Kabupaten Bogor, komunikator DPC PPP
Kabupaten Bogor dalam Pilkada bupati Bogor, dan saluran politik yang
digunakan oleh DPC PPP Kabupaten Bogor pada Pilkada Kabupaten
Bogor. Persamaannya terletak pada kajian ilmu yaitu komunikasi politik,
sedangkan perbedaannya yaitu pada subjek, objek, permasalahan, dan
lokasi penelitian. Teedy Khumaedi meneliti strategi komunikasi politik
dalam Pilkada sedangkan peneliti meneliti teknik-teknik propaganda.
Subjeknya pun lain, kalau Teedy PPP maka peneliti meneliti Tim Media
Center Jokowi-Ahok dan Foke-Nara.
13
2.
Skripsi
yang
kedua
dengan
judul
Strategi
Komunikasi
dalam
Pembentukan Opini Publik Partai Persatuan Pembangunan pada Pemilu
Legislatif 2009 oleh Yuswita Lailah berisikan tentang strategi DPP PPP
dalam pembentukan opini publik pada Pemilu Legislatif dan program
pembangunan citra PPP pada Pemilu legislatif 2009. Persamaan dengan
permasalahan yang peneliti teliti adalah kajian ilmunya yaitu komunikasi
politik, sedangkan perbedaannya adalah pada subjek penelitiannya, jika
Yuswita mengambil PPP maka penulis meneliti Tim Media Center
Jokowi-Ahok
dan
Foke-Nara.
penelitiannya,
jika
Yuswita
pembentukan opini
Perbedaan
meneliti
maka penulis
berikutnya
strategi
meneliti
pada
objek
komunikasi
dalam
tentang teknik-teknik
propaganda.
3.
Skripsi yang ketiga dengan judul Ekspresi Afeksi Dalam Twitter Studi
Pada Remaja Followers Di Akun @SOALCINTA oleh Arbitya Pradiza
Putra berisikan tentang bagaimana pengguna Twitter yang sebagian besar
adalah remaja dengan kisaran usia 12-25 tahun membuat Twitter menjelma
menjadi sebuah lifestyle. Persamaan dengan permasalahan yang peneliti
teliti adalah mengenai media yang digunakan. Yaitu media baru (Twitter).
Sedangkan perbedaannya terdapat pada subjek, objek, dan permasalahan.
14
F. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan ini dibagi dalam lima bab, setiap bab dirinci
kedalam sub-sub sebagai berikut :
Bab I Pendahuluan
Bab ini akan memaparkan mengenai latar belakang masalah, pembatasan
dan perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, metodologi penelitian,
tinjauan pustaka, sistematika penulisan.
Bab II Kerangka Teori
Bab ini akan menguraikan pengertian propaganda yang terdapat pada
politik. Kemudian menjelaskan tentang pengertian new media.
Bab III Gambaran Umum Tim Media Center Jokowi-Ahok dan Foke-Nara
Bab ini membahas tentang sejarah singkat, visi dan misi Tim Media
Center Jokowi-Ahok dan Foke-Nara. Sarana dan Prasarana di badan Tim
Media Center Jokowi-Ahok dan Foke-Nara.
Bab IV Temuan dan Analisis Data
Bab ini berisikan teknik-teknik propaganda yang dilakukan Tim Media
Center Jokowi-Ahok dan Foke-Nara di new media (Twitter). Lalu strategi
pemenangan kedua pasangan melalui new media (Twitter).
Bab V Kesimpulan dan Saran
Bab ini mengenai kesimpulan dan saran.
BAB II
KERANGKA TEORI
A. Konseptualisasi Propaganda
1. Pengertian Propaganda
Kini istilah propaganda sangat identik dengan satu aktivitas komunikasi
yang berupaya memanipulasi psikologis khalayak. Dalam politik, propaganda
memainkan peran yang sangat penting karena merupakan satu di antara
pendekatan persuasi politik selain periklanan dan retorika. Dalam praktiknya,
propaganda mengelaborasi pesan politik guna mendapatkan pengaruh secara
persuasif. Biasanya digunakan oleh seseorang atau sekelompok orang
terorganisir yang ingin menciptakan partisipasi aktif atau pasif dalam
tindakan individu-individu masyarakat yang dipersatukan melalui manipulasi
psikologis. Sementara itu, tak dapat dimungkiri bahwa hampir seluruh
pendekatan persuasi kepada khalayak di era informasi ini menempatkan
media massa sebagai instrumen saluran yang mesti digunakan. Media massa
mempengaruhi persepsi khalayak tentang apa yang dianggap penting.1
Di antara bahasan yang menonjol dalam kajian Komunikasi Politik
adalah menyangkut isi pesan. Bahasan ini sama pentingya dari bahasan
komunikator, media, khalayak, dan efek komunikasi politik. Dalam beberapa
literature disebutkan, inti komunikasi politik adalah komunikasi yang
diarahkan kepada pencapaian suatu pengaruh. Urgensinya dalam suatu sistem
1
Gun Gun Heryanto dan Ade Rina Farida, Komunikasi Politik, (Ciputat: Lembaga
Penelitian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), 2010, cet-1, h. 109-110.
15
16
politik tak diragukan lagi, karena komunikasi politik terjadi saat keseluruhan
fungsi dari sistem politik lainnya dijalankan.
Menurut Dan Nimmo ada tiga pendekatan kepada persuasi politik, yakni
propaganda, periklanan, dan retorika. Semuanya serupa dalam beberapa hal
yakni bertujuan (purposive), disengaja (intentional) dan melibatkan pengaruh;
terdiri
atas
hubungan
timbal
balik
antara
orang-orang
semuanya
menghasilkan berbagai tingkat perubahan dalam persepsi, kepercayaan, nilai,
dan pengharapan pribadi. Tentu saja ketiganya juga memiliki kekhususan
yang membedakan satu dengan lainnya.
Banyak ahli mendefinisikan persuasi, salah satunya adalah Erwin P.
Bettinghaus. Menurut dia, persuasi tidak lain adalah usaha yang disadari
untuk mengubah sikap, kepercayaan atau prilaku orang melalui transmisi
pesan. Bisa saja, banyak definisi yang dikemukakan, tapi diantara
karakteristik
umumnya
persuasi
selalu
melibatkan
tujuan
melalui
pembicaraan. Sifatnya juga dialektis dan merupakan proses timbal balik.
Dalam hal ini dengan sengaja atau tidak menimbulkan perasaan responsif
pada orang lain. Selain dia juga bercirikan kemungkinan.
Dan ketiga pendekatan persuasi seperti di atas, propaganda memiliki
catatan konseptual dan historis yang menarik untuk diamati. Menurut Jacques
Ellul dalam Dan Nimmo, propaganda sebagai komunikasi yang digunakan
oleh suatu kelompok terorganisasi yang ingin menciptakan partisipasi aktif
atau pasif dalam tindakan-tindakan suatu massa yang terdiri atas individu-
17
individu, dipersatukan secara psikologis melalui manipulasi psikologis dan
digabungkan di dalam suatu organisasi.2
Harrold D. Lasswell mendefinisikan propaganda dengan formulasi,
“Propaganda semata merujuk pada kontrol opini, dengan simbol-simbol
penting, atau berbicara lebih konkrit dan kurang akurat melalui cerita, rumor,
berita, gambar, atau bentuk-bentuk komunikasi sosial lainnya. “Lasswell
dalam Arifin
kemudian memberikan definisi yang agak berbeda dengan
definisi beberapa tahun sebelumnya yaitu “Propaganda dalam arti yang paling
luas adalah teknik memengaruhi tindakan manusia dengan memanipulasi
representasi (penyajian). “Representasi bias berbentuk lisan, tulisan, gambar,
atau musik, sehingga periklanan dan publisitas ada di dalam wilayah
propaganda.
Lasswell melihat propaganda membawa masyarakat dalam situasi
kebingungan, ragu-ragu dan terpaku pada sesuatu yang licik yang tampaknya
menipu dan menjatuhkan mereka. Propaganda diartikan sebagai proses
disemasi informasi untuk memengaruhi sikap dan tingkah laku seseorang atau
kelompok masyarakat dengan motif indoktrinasi ideologi.3
Herbert Blumer mengemukakan bahwa propaganda dapat dianggap
sebagai suatu kampanye politik yang dengan sengaja mengajak dan
membimbing untuk memngaruhi, membujuk atau merayu banyak orang guna
menerima suatu pandangan, idiologi atau nilai.4 Leonardo W.Dobb (1966)
2
Ibid., h. 110-111.
Hafid Cangara, Komunikasi Politik:Konsep, Teori, dan Strategi, (Jakarta Utara: PT Raja
Grafindo Persada, Jakarta), 2011, cet-3, h. 270.
4
Anwar Arifin, Komunikasi Politik, (Jogjakarta: Graha Ilmu), 2011, edisi kedua, h. 133.
3
18
propaganda dipahami sebagai suatu usaha individu atau individu-individu
yang berkepentingan untuk mengontrol sikap kelompok individu lainnya
dengan jalan menggunakan sugesti.5
Pakar psikologi Roger Brown dalam Saverin dan Tankard menyatakan
bahwa usaha-usaha persuasif adalah propaganda, jika bermanfaat bagi yang
melakukan dan merugikan bagi yang menerima. Sementara di Indonesia,
istilah propaganda antara lain diartikan sebagai penyampaian pesan benar
atau salah dengan tujuan meyakinkan orang agar menganut suatau aliran,
sikap atau arah suatu tindakan tertentu yang biasanya disertai dengan janji
yang muluk-muluk.6 Propaganda sendiri memiliki banyak tipe, diantaranya
propaganda politik, propaganda non politik, bahkan ada propaganda
antipolitik, meski pada akhirnya menghasilkan konsekuensi politis.7
Istilah propaganda ini dapat ditelusuri hingga masa Paus Gregorius XV
yang membentuk suatu komisi para kardinal, Congregatio de propaganda
Fide, untuk menumbuhkan keimanan kristiani diantara bangsa-bangsa lain.
Namun pada perkembangannya, propaganda meluas ke wilayah politik, yakni
diperuntukkan untuk memperoleh pengaruh dan pada akhirnya kekuasaan.
Praktek propaganda misalnya pernah dilakukan Partai Nazi, Hitler. Dengan
memanipulasi lambang dan oratori yang penuh emosi, Hitler mambangkitkan
rasa identifikasi, komitmen dan kesetiaan khalayak. Kata-kata yang sangat
5
Ibid., h. 133.
Hafid Cangara, Komunikasi Politik:Konsep, Teori, dan Strategi, h. 270.
7
Gun Gun Heryanto dan Ade Rina Farida, Komunikasi Politik, (Ciputat: Lembaga
Penelitian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), 2010, cet-1, h. 111.
6
19
popular waktu itu “Ein Volk, ein Reich, ein Fuhrer” (satu bangsa, satu
imperium, satu pemimpin).8
Propaganda sekarang merupakan bagian politik rutin yang normal dan
dapat diterima, dan tidak hanya terbatas pada pesan-pesan yang dibuat selama
perayaan politik, kampanye, krisis, atau perang. Penggunaan propaganda
sebagai senjata persuasi bukan barang baru dalam komunikasi sebab kegiatan
propaganda sudah ada sejak manusia ada di bumi ini, meskipun istilah
propaganda baru dikenal pada pertengahan abad ke-17 ketika gereja mulai
mempraktikkan penyebaran agama Kristen. Propaganda mulai membawa
pengaruh negatif ketika dipraktikkan dalam Perang Dunia II. Pada waktu itu,
Menteri Propaganda Jerman Dr. Joseph Gobbels mengatakan bahwa
“propaganda tidak mengenal aturan dan etika. Tujuannya ialah membelenggu
rakyat dengan segala cara untuk mencapai tujuan yang diinginkan. “Doktrin
politik
Machiavelli
yang
mengabaikan
relevansi
moral,
dimana
ketidakjujuran dibenarkan dalam mencari dan mempertahankan kekuatan
politik.9
Edward Barnays justru melihat propaganda bukan sebuah usaha yang
patut dicela dalam meracuni pikiran orang dengan penuh kebohongan,
melainkan lebih dari itu yakni suatu usaha yang terkelola untuk
menyebarluaskan
8
sesuatu
untuk
mendapat
kepercayaan
atau
opini.
Ibid., h. 112.
Hafid Cangara, Komunikasi Politik:Konsep, Teori, dan Strategi, (Jakarta Utara: PT Raja
Grafindo Persada, Jakarta), 2011, cet-3, h. 270-271.
9
20
Propaganda menurut Barnays sangat dibutuhkan bagi peradaban umat
manusia.10
Seperti yang dikutip Arifin peran Gobbels dalam melakukan propaganda
dinamakan propagandis politik. Pada umumnya propagandis politik adalah
politikus atau aktivis politik yang memiliki kemampuan dalam melakukan
kegiatan propaganda, dan mampu merayu atau membujuk publik dalam
upaya membangun citra dan membentuk opini publik yang positif dengan
cara menjangkau khalayak yang lebih besar. Propagandis politik harus
mampu menciptakan suasana yang mudah kena sugesti sehingga khalayak itu
sendiri dengan mudah bisa mengalami sugesti. Hal ini berarti propaganda
politik mampu merayu opini publik sehingga sampai sekarang masih sering
digunakan oleh para politikus, meskipun bertentangan dengan moralitas,
nilai-nilai demokrasi dan kemanusiaan.
Untuk meningkatkan efektivitas propaganda, seorang juru kampanye perlu
mengetahui tipe atau bentuk propaganda, yakni:11
1. Propaganda putih, yaitu propaganda yang menyebarkan informasi idiologi
dengan menyebut sumbernya.
2. Propaganda kelabu, yaitu propaganda yang dilakukan oleh kelopmpok
yang tidak jelas. Biasanya ditujukan untuk mengacaukan pikiran orang
lain, seperti adu domba, intrik, dan gosip.
3.
Propaganda hitam, yaitu propaganda yang menyebarkan informasi palsu
untuk menjatuhkan moral lawan, tidak mengenal etika dan cenderung
10
Hafid Cangara, Komunikasi Politik:Konsep, Teori, dan Strategi, (Jakarta Utara: PT
Raja Grafindo Persada, Jakarta), 2011, cet-3, h. 271.
11
Ibid, h. 271-272.
21
berpikir sepihak. Misalnya CIA dan KGB saling menyebarkan berita palsu
untuk sekadar menggertak atau menakut-nakuti lawan.
2. Perbedaan Propaganda dengan Kampanye
Ada beberapa perbedaan mendasar antara kampanye dengan propaganda
meski kedua-duanya juga kerap bersinggungan dalam level praktis. Perbedaan
tersebut mulai dari waktu, sifat gagasan, tujuan, modus penerimaan, modus
tindakan dan sifat kepentingan. Kalau aktivitas kampanye hampir selalu bisa
diperdebatkan propaganda sebaliknya kerap berorientasi linear meski dalam
praktiknya berinteraksi dengan banyak pihak. Jika kita memosisikan
propaganda dalam gradasi intensitas komunikasi, maka propaganda masuk
kategori komunikasi yang berupaya menyampaikan pesan kepada pihak lain,
kemudian menjelaskan dan memersuasi khalayak agar mengikuti frame
berpikir propagandis serta kerap menyisipkan fakta dan non fakta secara
bersamaan. Secara lebih jelas ada sejumlah faktor yang bisa kita komparasikan
antara propaganda dengan kampanye. Perbedaan tersebut meliputi.
Tabel 1
Perbedaan Kampanye dengan Propaganda (sumber: Venus, 2004:6)
ASPEK PEMBEDA
Sumber
KAMPANYE
Selalu jelas
Waktu
Terikat
dan
waktunya
Terbuka dan diperdebatkan Tertutup dan dianggap
khalayak
sudah mutlak
Tegas, spesifik dan variatif Umum dan ditunjukkan
untuk
mengubah
system kepercayaan
Kesukarelaan/persuasi
Tidak menekankan
kesukarelaan dan
melibatkan
Sifat gagasan
Tujuan
Modus Penerimaan
Pesan
PROPAGANDA
Cenderung
samarsamar
dibatasi Tak terikat waktu
22
paksaan/koersif
Diatur kode bertindak/etika Tanpa aturan etis
Mempertimbangkan
Kepentingan sepihak
kepentingan kedua belah
pihak
Dari tabel di atas, nampak jelas bahwa dari aspek sumber kampanye
Modus Tindakan
Sifat kepentingan
biasanya sumbernya jelas, atau ada yang bertanggungjawab atas aktivitas
kampanye yang dilakukan, sementara propaganda seringnya samar-samar
bahkan terkadang tidak ketahuan siapa sumbernya.12
Dari sudut waktu kampanye dibatasi dari tanggal sekian bulan sekian dan
berakhir tanggal sekian bulan sekian. Dengan demikian terikat dengan waktu
kapan sebuah kampanye dilakukan. Sementara propaganda kapan saja bisa
dilakukan.
Dari sudut gagasan, kampanye biasanya terbuka untuk diperdebatkan
karena terdokumentasikan dalam paparan janji-janji baik dalam teks
pidato/kampanye, script naskah iklan, talkshow televisi atau radio maupun
pemberitaan di media massa.
Dari sudut modus penerimaan pesan, kampanye itu berlangsung penuh
kesukarelaan
artinya
khalayak
diajak
untuk
mengikuti
keinginan
lembaga/kandidat tanpa memaksanya. Sementara propaganda sebaliknya tak
menekankan pada kesukarelaan bahkan kerapkali juga terjebak dengan paksaan
atau koersif. Kampanye memiliki kode etik yang disepakati dalam
mengimplementasikan program-program atau janji-janji sementara propaganda
tanpa aturan etis, dengan demikian kerapkali menyebabkan konflik dalam
12
Gun Gun Heryanto dan Ade Rina Farida, Komunikasi Politik, (Ciputat: Lembaga
Penelitian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), 2010, cet-1, h. 114-115.
23
penyelenggaraan Pemilu. Sementara menyangkut sifat kepentingan, kampanye
lebeih mementingkan kedua belah pihak sementara propaganda mementingkan
sepihak yakni kepentingan propagandis.13
3. Jenis-Jenis Propaganda
1.
Propaganda Sosial
Tipe propaganda ini berlangsung secara berangsur-angsur,
sifatnya merembes ke dalam lembaga-lembaga ekonomi, sosial,
dan politik. Melalui propaganda orang disuntik dengan suatu cara
hidup atau ideology. Hasilnya, suatu konsepsi umum tentang
masyarakat yang dengan setia dipatuhi oleh setiap orang kecuali
beberapa orang yang dianggap sebagai “penyimpang” (deviants).
Misalnya propaganda melalui produk-produk budaya seperti filmfilm hollywood. Secara terus-menerus penduduk dunia secara
perlahan tapi berkepanjangan dipengaruhi oleh cara pandang, trend
life style bahkan cara pandang tentang politik melalui film-film dan
isi siaran televisi dan media cetak dan buku yang menanamkan
pengaruh yang tidak serta merta melainkan perlahan-lahan.14
2. Propaganda Politik
Beroprasi melalui imbauan-imbauan khas berjangka pendek.
Biasanya
melibatakan
usaha-usaha
pemerintah,
partai
atau
golongan berpengaruh untuk mencapai tujuan strategis dan taktis.
Misalnya
13
dalam
jangka
pendek
partai
politik
bermaksud
Gun Gun Heryanto dan Ade Rina Farida, Komunikasi Politik, (Ciputat: Lembaga
Penelitian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), 2010, cet-1,, h. 116.
14
Ibid., h. 116-117.
24
menaikkan legitimasinya sekaligus mendelegitimasi pihak lawan,
maka partai tersebut membuat beragam bentuk propaganda yang
dalam jangka pendek diharapkan berpengaruh secara langsung
pada persepsi dan perilaku politik khalayak yang menjadi target.
Sebagaimana yang dikutip Arifin, Jacquas ellul menyatakan
bahwa propaganda politik adalah kegiatan yang dilakukan oleh
pemerintah, partai politik dan kelompok kepentingan untuk
membentuk dan membina opini publik dalam mencapai tujuan
politik (strategis atau taktis) dengan pesan-pesan khas yang lebih
berjangka pendek. Dengan begitu dapat kita tarik kesimpulan
bahwa propaganda politik dapat merupakan kegiatan komunikasi
politik yang dilakukan secara terencana dan sistematik dengan
menggunakan
sugesti
(mempermainkan
emosi)
untuk
memengaruhi, membentuk, atau membina opini publik. Hal ini
dilakukan dengan cara memengaruhi seseorang atau kelompok
orang, khalayak atau komunitas yang lebih besar (bangsa), agar
melaksanakan atau menganut suatu ide (ideology, definisi sampai
sikap) dan atau kegiatan tertentu dengan kesadarannya sendiri
tanpa merasa dipaksa atau merasa terpaksa.15
3. Propaganda Agitasi
Propaganda agitasi berusaha agar orang-orang bersedia
memberikan pengorbanan yang besar bagi tujuan yang langsung,
15
134.
Anwar Arifin, Komunikasi Politik, (Jogjakarta: Graha Ilmu), 2011, edisi kedua h. 133-
25
mengorbankan jiwa mereka dalam usaha mewujudkan cita-cita
dalam tahap-tahap yang merupakan suatu rangkaian. Biasanya
propaganda jenis ini diisi dengan sejumlah doktrin bahkan upaya
“cuci otak” guna mendapatkan loyalitas dari target atau sasaran
propaganda. Misalnya, dengan menyuntikkan gagasan seputar
„jihad‟ atau revolusi dalam konteks yang keliru. Dalam konteks
inilah operasi propaganda kerapkali disebut sebagai operasi non
perang. Dalam khazanah politik ada dua jenis operasi, yakni
operasi militer dalam perang dan operasi non perang berbentuk
propaganda yang biasanya dilakukan secara intensif.
Sebagaimana yang diungkapkan Arifin bahwa Agitasi juga
berarti hasutan kepada orang banyak yang biasanya dilakukan ileh
tokoh atau aktivis politik untuk mengadakan gerakan politik,
seperti unjuk rasa (demonstrasi), huru-hara atau pemeberontakan.
Herbert Blamer, menyatakan bahwa agitasi beroperasi untuk
membangkitkan rakyat kepada suatu gerakan, terutama gerakan
politik dengan kata lain, agitasi adalah suatu upaya untuk
menggerakkan massa secara lisan atau tulisan, dengan cara merayu
dan bahkan merangsang dan membangkitkan emosi khalayak.
Selanjutnya, Blamer menyatakan bahwa agitasi dimulai dengan
cara membuat kontradiksi atau pertentangan dalam masyarakat.
Rakyat digerakkan untuk menentang kenyataan hidup yang dialami
selama ini (ketidakpastian dan penderitaan) dengan tujuan
26
menimbulkan kegelisahan dikalangan massa. Kemudian sebagai
solusinya, rakyat harus bergerak untuk mendukung gagasan baru
atau ideologi politik baru dengan menciptakan keadaan yang
baru.16
Para agiator politik selalu berupaya agar khalayak bersedia
memberikan pengorbanan yang besar bagi tujuan yang langsung
dan bersedia mengorbankan jiwa untuk mewujudkan sebuah citacita
politik.
Melalui
agitasi
politik,
seorang
pemimpin
mempertahankan kegairahan para pengikutnya untuk memperoleh
kemenangan, yang akan diikuti oleh usaha-usaha selanjutnya dalam
serangkaian tujuan.17
4.
Propaganda Integrasi
Menggalang kesesuaian di dalam mengejar tujuan-tujuan
jangka panjang. Melalui propaganda ini orang mengabdikan diri
kepada tujuan-tujuan yang mungkin tidak akan terwujud dalam
waktu bertahun-tahun. Propaganda ini biasanya berorientasi pada
loyalitas jangka panjang. Propaganda ini mirip jenis propaganda
sosial yang bekerja tidak dalam hitungan hari atau minggu
melainkan dalam suatu rentang yang panjang dan bertahap.18
5.
16
Propaganda Vertikal
Anwar Arifin, Komunikasi Politik, (Jogjakarta: Graha Ilmu), 2011, edisi kedua, h. 131.
Ibid., h. 131.
18
Gun Gun Heryanto dan Ade Rina Farida, Komunikasi Politik, (Ciputat: Lembaga
Penelitian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), 2010, cet-1, h. 119.
17
27
Bentuk propaganda ini adalah representasi propaganda satu-kepada-banyak (one-to-many). Seorang atau sekelompok propagandis
yang
menjalankan
skema
kegiatan
sistematis
berupaya
memaksimalkan saluran-saluran yang dalam waktu cepat dan
mudah bisa menjangkau khalayak atau sasaran propaganda.
Misalnya melalui media massa, propagandis menyebarkan isu
sehingga isu tersebut diterima secara massif dan serentak.
Propaganda ini memang tidak semata identik dengan media massa,
bisa juga melalui sebuah struktur organisasi yang memungkinkan
dalam waktu singkat seluruh komponen organisasi terpengaruh.
Masalanya propaganda ini dijalankan lewat orang atau sekelompok
orang yang menjadi pimpinan di sebuah organisasi.19
6.
Propaganda Horizontal
Propaganda
keanggotaan
ini
berlangsung
kelompok
ketimbang
lebih
dari
banyak
di
pemimpin
antara
kepada
kelompok. Artinya, propaganda ini lebih banyak menggunakan
komunikasi interpersonal dan komunikasi organisasi, ketimbang
melalui komunikasi massa. Ini yang membedakan dengan jenis
propaganda vertical yang sifatnya massif dan linear. Propaganda
horizontal justru lebih tertarik mengembangkan jejaring dengan
sesama teman, kolega dan sejumlah organisasi lainnya. Dalam
pandangan Ellul sebagaimana dikutip Nuruddin bahwa propaganda
19
Gun Gun Heryanto dan Ade Rina Farida, Komunikasi Politik, (Ciputat: Lembaga
Penelitian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), 2010, cet-1, h. 119-120.
28
horizontal adalah propaganda yang dilakukan seorang pemimpin
suatu organisasi atau kelompok pada anggota organisasi atau
kelompok itu melalui tatap muka/komunikasi antarpersonal dan
biasanya tidak mengandalkan media massa. Contohnya, kegiatan
silaturahmi yang diadakan partai politik, mengadakan anjangsana,
temu kader, dan lain-lain.20
4. Teknik-Teknik Propaganda
Dalam Praktik komunikasi politik, sejumlah teknik propaganda kerapkali
digunakan bahkan diandalkan dalam upaya mengubah cara pandang.
1. Name Calling
Memberi label buruk kepada gagasan, orang, objek atau tujuan agar
orang menolak suatu tanpa menguji kenyataannya. Misalnya, menuduh
lawan pemilihan sebagai penjahat, teroris, fundamentalis, koruptor.
Propaganda dengan cara memberikan label buruk ini bukan sekali dua kali
dilakukan. Hampir setiap hari dalam setahun jenis propaganda ini
dilakukan.
Salah satu ciri yang melekat pada teknik ini adalah propagandis
menggunakan sebutan-sebutan yang buruk pada lawan yang dituju.
Misalnya, menuduh lawan pemilihan sebagai “penjahat”. Hal ini
dimaksudkan untuk menjatuhkan ataua menurunkan derajat seseorang atau
kelompok tertentu. Teknik ini sering digunakan dalam propaganda lisan.
Contoh lain teknik name calling ini, di zaman Orde Baru, setiap kelompok
20
Gun Gun Heryanto dan Ade Rina Farida, Komunikasi Politik, (Ciputat: Lembaga
Penelitian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), 2010, cet-1, h. 120.
29
atau orang yang menentang rezim akan disebut sebagai PKI. Propaganda
ini berhasi l dengan merebaknya ketakutan di masyarakat. 21
2. Glittering Generalities
Menggunakan “kata yang baik” untuk melukiskan sesuatu agar
mendapat dukungan, lagi-lagi tanpa menyelidiki ketepatan asosiasi itu.
Misal AS menyebut operasi mereka ke Afganistan beberapa waktu lalu
sebagai “Operasi Keadilan Tak Terhingga”, dengan misi “hukum tanpa
batas” begitu juga saat merencanakan serangan ke Irak, AS menyebutnya
sebagai misi kemanusiaan untuk membebaskan manusia dari terror senjata
pemusnah massal. Contoh lain Amerika senantiasa menunjukkan
negaranya sebagai negara demokrasi terbesar, super power atau Dunia
Pertama. Semua label positif ini tidak alamiah melainkan dikonstruk.
Nurudin menjelaskan, Glittering Generalities adalah mengasosiasikan
sesuatu dengan suatu “kata bijak” yang digunakan untuk membuat kita
menerima dan menyetujui hal itu tanpa memeriksanya terlebih dahulu.
Misal, AS menyebut operasi mereka ke Afganistan beberapa waktu lalu
sebagai “Operasi Keadilan Tak Terhingga”, dengan misi “hokum tanpa
batas” begitu juga saat merencanakan serangan ke Irak, AS menyebutnya
sebagai misi kemanusiaan untuk membebaskan manusia dari terror senjata
pemusnah massal.
Teknik propaganda ini digunakan untuk menonjolkan propagandis
dengan mengidentifikasi dirinya dengan segala apa yang serba luhur dan
21
Gun Gun Heryanto dan Ade Rina Farida, Komunikasi Politik, (Ciputat: Lembaga
Penelitian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), 2010, cet-1., h. 120-121.
30
agung. Dengan kata lain, propagandis berusaha menyanjung dirinya
mewakili sesuatu yang luhur dan agung. Ungkapan kalimat “demi keadilan
dan kebenaran” menjadi salah satu ciri teknik propaganda ini. Nurudin
menyontohkan dalam teks pidato, “Demi keadilan dan kebenaran, maka
demokrasi harus ditegakkan dalam semua bentuknya” yang pernah sangat
marak ketika era reformasi tiba dan banyak diteriakkan oleh mahasiswa.
Teknik ini muncul untuk mempengaruhi persepsi masyarakat agar mereka
ikut serta mendukung gagasan propagandis. Hanya kelemahannya, kadang
sang propagandis sangat menonjolkan dirinya dengan sebutan agung dan
luhur serta menganggap dirinya paling benardan orang lain salah.
Sanjungan itu mempunyai kelemahan jika sang propagandis termasuk
orang yang tak mau kompromi dan mempunyai tujuan terselubung pada
setiap tindakannya. Akibatnya dapat terjadi klaim kebenaran sepihak.22
3. Card Stacking
Nurudin menjelaskan card stacking adalah memilih dengan teliti
pernyataan yang akurat dan tidak akurat, logis dan tak logis dan
sebagainya
untuk
membangun
suatu
kasus.
Misalnya
kata-kata
“pembunuhan terhadap pemimpin kita, benar-benar menunjukkan
penghinaan terhadap partai kita!”. Dalam konteks propaganda ini yang
dibidik sesungguhnya adalah efek domino dari sebuah pernyataan. Jika
kita analogikan seperti kita menyusun kartu, setelah tersusun maka jika
ada kartu yang jatuh maka biasanya akan menimbulkan dampak pada
22
Gun Gun Heryanto dan Ade Rina Farida, Komunikasi Politik, (Ciputat: Lembaga
Penelitian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), 2010, cet-1, h. 121-122.
31
susunan kartu-kartu lainnya. Teknik propaganda yang hanya menonjolkan
hal-hal atau segi baiknya saja, sehingga publik hanya melihat dari satu sisi
saja. Program Pak Harto adalah “Bapak Pembangunan” yang pernah
dicanangkan oleh Ali Moertopo seolah mengklaim hanya dialah pelopor
dan penggerak pembangunan di Indonesia dengan menafikan sisi
buruknya.23
4. Plain Folks
Imbauan yang mengatakan bahwa pembicara berpihak kepada
khalayaknya dalam usaha bersama yang kolaboratif. Misalnya “saya salah
seorang dari anda, hanya rakyat biasa”. Peryataan tersebut disampaikan
misalnya oleh seorang politisi. Bisa jadi pernyataannya secara faktual
benar dan hanya dramatugi dalam konteks politik citra. Tetapi terlepas dari
apapun motifnya propaganda jenis ini selalu berupaya menyerap empati
publik.
Dalam Nurudin Plain Folks juga merupakan propaganda dengan
menggunakan cara member identifikasi terhadap suatu ide. Teknik ini
mengidentikkan yang dipropagandakan milik atau mengabdi pada
komunikan. Misalanya dengan kata-kata “milik rakyat, atau dari
rakyat.”Golkar pernah mempropagandakan Soeharto sebagai milik rakyat
serta dikehendaki rakyat (meskipun rakyat yang mana, tidak begitu jelas)
dan ia kembali terpilih pada SU MPR tahun 1998. PDI juga pernah
mengklaim sebagai partai “wong cilik”. Seolah hanya partai tersebutlah
23
Gun Gun Heryanto dan Ade Rina Farida, Komunikasi Politik, (Ciputat: Lembaga
Penelitian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), 2010, cet-1, h. 122-123.
32
yang bisa mewakili kelas tersebut. Begitupun dengan PPP mengklaim diri
sebagai partai yang mewakili aspirasi Islam dan seolah menganggap partai
lain tidak Islami. Terlebih, saat kampanye, PPP sering menggunakan ayatayat Al-Quran.
Dalam Nurudin Sifat “merakyat” juga sering muncul dalam
propaganda ini. Richard Nixon menggunakan secara halus dan cerdik
selama menjadi presiden, terutama dalam melawan tuduhan Watergate.
Selama melakukan perjalanan ke Houston, dia minum kopi di sebuah
counter makanan ringan di dalam took obat dan ngobrol dengan pelayan.
Potert dari pemandangan itu dipublikasikan ke seluruh penjuru dunia. Cara
yang dilakukan Nixon ini (basa basi politik) seolah menunjukkan bahwa ia
milik rakyat, bagian dari mereka dana akan berada di depan dalam
memperjuangkan kepentingan mereka pula.24
5. Band Wagon
Band Wagon adalah usaha untuk meyakinkan khalayak agar gagasan
besarnya bisa diterima dan banyak orang akan turut serta ke dalam
gagasan
tersebut.
Misalnya,
Orde
Baru
menyusun
propaganda
pembangunan sehingga hampir seluruh rakyat Indonesia masuk ke dalam
dimensi pembangun yang diusung Orde Baru. Persuasi model ini terus
dilakukan sehingga rakyat mengidentifikasikan diri menjadi bagian dari
anggota Orde Baru. Jenis propaganda ini bukan pada tujuan jangka
pendek, melainkan pada aktivitas jangka panjang. Konsep yang ditawarkan
24
Gun Gun Heryanto dan Ade Rina Farida, Komunikasi Politik, (Ciputat: Lembaga
Penelitian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), 2010, cet-1, h. 123-124.
33
biasanya adalah konsep atau gagasan besar yang tidak akan tercapai
tujuannya dalam jangka pendek. Dalam penjelasan Nurudin, Band wagon
merupakan teknik propaganda yang dilakukan dengan menggembargemborkan kesuksesan yang dicapai oleh seseorang, suatu lembaga, atau
suatu organisasi. Di bidang politik, Golkar sering menggembar-gemborkan
propaganda kesuksesan pembangunan nasional.25
6. Testimonial
Memperoleh ucapan orang yang dihormati atau dibenci untuk
mempromosikan atau meremehkan suatu maksud. Kita mengenalnya
dalam dukungan politik yang digunakan oleh tokoh terkenal, dll. Misalnya
guna mengukuhkan dukungan, propaganda ini terwujud dalam bentuk
kutipan kalimat menguntungkan posisinya. Tetapi bukan ucapan orang
biasa yang dijadikan sandaran melainkan tokoh atau public figure yang
sudah dikenal luas di masyarakat. Pola yang sama dengan menggunakan
kutipan atau kalimat orang terkenal bisa juga menyerang atau melemahkan
pihak lawan propagandis.
Pengertian yang dikemukakan Nurudin, testimonial berisi perkataan
manusia yang dihormati atau dibenci bahwa idea tau program/produk
adalah baik atau buruk. Propaganda ini sering digunakan dalam kegiatan
komersial meskipun juga bisa digunakan untuk kegiatan politik.
Dalam teknik ini, digunakan nama seseorang terkemuka yang
mempunyai otoritas dan prestis sosial tinggi di dalam menyodorkan dan
25
Gun Gun Heryanto dan Ade Rina Farida, Komunikasi Politik, (Ciputat: Lembaga
Penelitian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), 2010, cet-1, h. 124.
34
meyakinkan sesuatu hal dengan jalan menyatakan bahwa hal tersebut
didukung oleh orang-orang terkemuka tadi. Dalam kampanye politik John
Wayne pernah berbicara untuk calon presiden Richard Nixon dan Paul
Neuman yang tampil atas nama calon lain yakni George MCGovern.26
5. Prinsip Propaganda Melalui Media Massa
Dalam Dan Nimmo tentu saja untuk mengefektifkan propaganda
politik di media mass juga sangat perlu memperhatikan beberapa prinsipprinsip umum yang diturunkan dari riset mengenai pengaruh komunikator
dalam keberhasilan usaha persuasif: 27
1. Status Komunikator. Artinya setiap peran membawa status atau
prestise tersendiri. Secara umum, semakin tinggi posisi atau status
seseorang di tengah masyarakat, maka akan semakin mampu dia
melakukan persuasi. Dengan demikian pemilihan propagandis
terutama dalam media massa yang diorientasikan mencapai khalayak
yang heterogen membutuhkan mereka yang punya status kuat.
Misalanya Orde Baru, Soeharto merupakan propagandis konsep
developmentalism, sementara era Orde Lama Soekarno menjadi
propagandis dari tujuan revolusi.
2.
Kredibilitas Komunikator. Sasaran propaganda mempersepsi para
komunikator dengan beberapa cara. Sejauh mereka mempersepsi
bahwa propagandis itu memiliki keahlian, dapat dipercaya dan
memiliki otoritas, mereka menganggap bahwa komunikator itu
26
Gun Gun Heryanto dan Ade Rina Farida, Komunikasi Politik, (Ciputat: Lembaga
Penelitian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), 2010, cet-1, h. 124-125.
27
Ibid., h. 125-127.
35
kredibel. Memang pada perkembangannya, khalayak media dalam
menerima pesan juga membedakan antara apa yang dikatakan dengan
kredibilitas sumbernya.
3.
Daya tarik komunikator, hal ini meningkatkan daya tarik persuasive.
Hal ini terutama berlaku pada homofili, yakni tingkat kesamaan usia,
latar belakang dll seperti dipersepsi orang. Persuasi itu sebagian besar
berhasil bila orang mempersepsi komunikator seperti dirinya sendiri
secara gamblang.
Karena persuasi dalam hal ini propaganda politik merupakan upaya
penyebaran informasi dan pengaruh satu-kepada-banyak maka instrumen
teknologi yang dapat menyebarkan pesan kepada anggota kelompok
merupakan hal yang tepat dilakukan. Salah seorang ahli propaganda
Goebbels,
dalam
memikirkan
strategi
kampanye
persuasifnya
membedakan antara haltung dan Stimmung. Haltung merupakan upaya
mempengaruhi prilaku, sikap dan perbuatan orang. Sementara stimmung
merupakan morel mereka, penerimaan dan retensi imbauan persuasif.
Berbagai pesan propagandis berhubungan dengan efektif tidaknya dua
hal. Pertama isi pesan, hal ini menyangkut model pilihan isi yang
dikemukakan dalam propaganda di media massa. Bisa jadi isi yang
mengancam orang (isi membangkitkan rasa takut) akan mempersuasi
khalayak dalam kondisi tertentu. Kedua struktur pesan, bisa jadi karena
media yang dipakai adalah media massa yang memiliki keterbatasan waktu
atau tempat menyebabkan penyusunan struktur pesan yang efekti dan
36
efisien. Namun terlepas dari segala keterbatasan waktu dan tempat,
propaganda di media massa bisa dilakukan secara terus-menerus sehingga
menjadi suatu terpaan (exposure). Misalnya, propaganda AS melawan
terorisme disampaikan lewat media-media global yang berpengaruh secara
internasional. MIsalnya CNN, NBC, VOA, FOX dll. Hal itu juga
dilakukan dengan membuat agenda setting di media-media seluruh dunia,
mengukuhkan (reinforcement) kalau terorisme itu memang penggeraknya
adalah orang-orang Timur Tengah dan penganut Islam.
B. Konseptualisasi New Media
1. Pengertian New Media
Ron Rice mendefinisikan media baru sebagai teknologi komunikasi yang
melibatkan komputer di dalamnya (baik mainframe, PC maupun notebook)
yang memfasilitasi penggunanya untuk berinteraksi antar sesama pengguna
ataupun dengan informasi yang diinginkannya.28
Menurut McQuail, media baru adalah tempat dimana saluran pesan
komunikasi terdesentralisasi; distribusi pesan lewat satelit meningkat
penggunaan jaringan kabel dan komputer; keterlibatan audiens dalam proses
komunikasi yang semakin meningkat; semakin seringnya terjadi komunikasi
interaktif (dua sisi); dan juga meningkatnya derajat fleksibilitas untuk
menentukan bentuk dan konten melalui digitalisasi dari pesan.29
28
Leah A. Liverouw dan Sonia Livingstone. Introduction to the Updated Student
Edition. Dalam Leah A. Liverouw dan Sonia Livingstone (Ed.). The Handbook of New Media.
London: Sage Publications Ltd, 2006, page. 21
29
Nicholas W. Jankowski. Creating Community with Media. Dalam Leah A. Liverouw
dan Sonia Livingstone (Ed.). The Handbook of New Media. London: Sage Publications Ltd, 2006,
page. 56
37
Marshall McLuhan menyatakan bahwa media yang lebih lama (older
media) sering kali menjadi isi dari media yang lebih baru.30
Salah satu definisi dari new media adalah teknologi-teknologi informasi
dan komunikasi dan konteks-konteks sosial yang terkait, serta infrastruktur
yang terdiri dari tiga komponen, yakni: alat-alat yang akan digunakan untuk
berkomunikasi atau menyampaikan informasi, aktivitas-aktivitas dimana
orang-orang terlibat untuk berkomunikasi atau membagikan informasi dan
pengaturan sosial atau bentuk-bentuk organisasional yang berkembang
melalui alat-alat dan aktivitas-aktivitas tersebut.31
Selain itu new media ini juga dapat dipahami sebagai media digital.
Media digital ini merupakan suatu bentuk dan isi dari media yang
menggabungkan data, teks, suara, dan gambar dalam bentuk digital dan
didistribusikan melalui network.32
Adapun ciri-ciri media baru adalah sebagai berikut:33
1. Pesan individual dapat dikirimkan ke sejumlah orang yang tak terbatas,
secara bersamaan, dan
2. Setiap orang yang terlibat dalam suatu isi media dapat mengontrol
timbal balik atas konten tersebut.
30
Leah A. Liverouw dan Sonia Livingstone. Introduction to the Updated Student Edition.
Dalam Leah A. Liverouw dan Sonia Livingstone (Ed.). The Handbook of New Media. London:
Sage Publications Ltd, 2006, page. 1
31
Ibid., page 2.
32
Terry Flew. New Media An Introduction. 2005. Oxford University Press. UK. 2005.
Page 2.
33
Vin Crosbie. 2002. What is New Media?. Diakses pada 28 Juli 2010. Terarsip di
http://www.sociology.org.uk/as4mm3a.doc
38
Hadirnya media baru secara konsekuensi membuatnya berbeda dengan sistem
media massa, proses komunikasi massa maupun massa audiens yang telah ada
sebelumnya. Setidaknya ada dua konsekuensi yang timbul dari hadirnya
media, yaitu ubiquitas dan interaktivitas.34
Ubiquitas (ubiquity), menurut McLuhan adalah kenyataan bahwa
teknologi yang dibawa oleh media baru mempengaruhi setiap orang di
masyarakat di mana mereka bertempat tinggal, walau tentunya tidak semua
orang di tempat tersebut benar-benar menggunakan teknologi tersebut.
Kemajuan
teknologi
perbankan,
sistem
militer,
pendidikan
sampai
transportasi hari ini tentu tidak bisa dilepaskan dari kemajuan teknologi
komunikasi berbasis komputer (ICT) yang telah berkembang.
Sedangkan, interaktivitas (interactivity) bermakna hadirnya media baru
membuat para penggunannya secara otonom dapat menyeleksi dari mana saja
sumber informasi yang akan dia pilih dan juga dengan siapa saja dia akan
berinteraksi langsung. Bahkan pengguna media baru juga dapat membuat
content tersendiri untuk kemudian dibagikan ke khalayak ramai. Dalam
berbagai hal, seperti kehadiran sosial (social presence) dan kesegeraan dalam
melontarkan tanggapan balik, media baru secara substantif benar-benar
menawarkan pengalaman yang amat berbeda ketimbang media massa
sebelumnya. Walaupun tentu di sana ada debat yang berkepanjangan tentang
kualitas interaksi interpersonal yang mampu dihadirkan oleh media baru.
34
Leah A. Liverouw dan Sonia Livingstone. Introduction to the Updated Student Edition.
Dalam Leah A. Liverouw dan Sonia Livingstone (Ed.). The Handbook of New Media, h. 6-7.
39
Kesemua konsekuensi yang lahir dari media baru sejalan dengan tesis
technological determinism yang melihat bahwa teknologi secara tidak
terelakkan mendorong manusia untuk melakukan tindakan dan juga perubahan
sosial.
a. Pengertian Twitter
Micro-blogging adalah alat yang menggabungkan unsur blogging
dengan instant messaging dan jaringan sosial.
Twitter adalah layanan micro-blogging yang mendistribusikan
potongan ukuran teks di beberapa platform, termasuk ponsel, instant
messaging dan email. Pesan sering digunakan untuk update status
tentang apa yang dilakukan oleh pengguna.
Pengguna twitter dapat mengirim pesan sampai 140 karakter
langsung ke berbagai platform. 90% dari interaksi twitter tidak dibuat
melalui situs twitter, tetapi melalui pesan teks ponsel, pesan instan, atau
aplikasi desktop seperti twitterific. Fleksibilitas lebih ditingkatkan oleh
kemampuan untuk berlangganan update melalui RSS.
Penggunaan Twitter bervariasi. Twitter populer di kalangan pekerja
rumahan dan freelancer, yang menggunakannya sebagian sebagai
'pendingin air virtual'. Orang lain menggunakannya hanya untuk tetap
berhubungan dengan jaringan yang dekat dan berbagi pikiran atau
memulai percakapan. Kesesuaian sebagai kendaraan untuk berita telah
mendorong BBC dan CNN untuk memperkenalkan feed twitter. bahkan
calon presiden AS telah dibawa ke twitter (misalnya, Barack Obama).
40
Fitur penting untuk dicatat adalah bahwa twitter dapat di indeks melalui
google. Seperti kebanyakan di web, itu adalah platform yang umum,
sehingga perlu diingat seperti penggunaannya mungkin menjadi bagian
dari 'catatan permanen' anda. 35
2.
Karakteristik New Media
Menurut Jan Van Dijk dalam bukunya The Network Society, new media
are media which are both integrated and interactive and also use digital
code at the turn of the 20th and 21st centuries.36 Artinya media baru adalah
media yang memiliki tiga karakteristik utama yaitu integrasi, interaktif, dan
digital.
Martin Lister mengungkapkan beberapa karakteristik new media, antara
lain:37
a. Bentuk pengalaman baru dalam teks, hiburan, kesenangan, dan pola
dari konsumsi media (permainan computer, simulasi, efek khusus
film).
b. Cara baru dalam mempresentasikan dunia, penggunaan media yang
dan menawarkan kemungkinan representasional baru.
c. Bentuk hubungan baru antara pengguna, konsumen, dengan teknologi
media.
d. Bentuk pengalaman baru dari identitas diri maupun komunitas dalam
berinteraksi.
35
Antony Mayfield. What is Social Media?. iCrossing, 2008, page 27.
Jan Van Dijk. The Network Society. SAGE Publications Ltd. 2006, page 9.
37
Martin Lister, Jon Dovey, Seith Gidding, Lain Grant, Kieran Kelly. New Media : a
Critical Introduction. London: Routledge. 2009. Page 12-13.
36
41
e. Bentuk konsepsi baru dari hubungan manusia secara biologis dengan
teknologi media.
f. Pola baru dalam organisasi dan produksi, sebuah integrasi dalam media
seperti budaya, industry, ekonomi, akses informasi, kepemilikan,
kontrol, dan undang-undang.
Menurut Sirous Panahi, Jason Watson, dan Helen Partridge (2012)
dalam World Academy of Science Journal membagi karakteristik media
sosial dapat dikategorikan menjadi lima fitur, yakni:38
a. User-generated content
Penciptaan konten adalah salah satu dari karakteristik utama dari media
sosial. Pengguna tidak lagi hanya sederhana sebagai pembaca,
melainkan mereka dapat berkontribusi dalam membuat, mengedit,
memberikan komentar, anotasi, mengevaluasi, dan mendistribusikan isi
asli dalam ruang media sosial.
b. Peer to peer communication
Yang membedakan sosial media dari teknologi web lama adalah
kekuatan dalam menghubungkan pengguna ke pengguna (one-to-many)
dengan
cara
yang
interaktif,
dibandingkan
pendekatan
lama
menghubungkan pengguna dengan isi. Konektivitas adalah fitur utama
dari media sosial, memungkinkan orang mudah untuk tetap terhubung
dengan satu sama lain dalam waktu real dan dalam basis global.
38
Sirous Panahi, Jason Watson, and Helen Partridge. Social Media and Tacit Knowledge
Sharing: Developing a Conceptual Model. World Academy of Science Journal , 2012, page 1096.
42
c. Networking
Membangun komunitas dengan pengguna lain utama karakteristik
media sosial. Ini telah memungkinkan orang-orang dengan minat yang
sama berkumpul dalam secara online ruang, menemukan satu sama lain,
berbagi profil mereka, merek sendiri, mengembangkan hubungan,
berdiskusi bebas tentang mereka sehari-hari masalah, dan mentransfer
pengetahuan dan pengalaman.
d. Multimedia oriented
Karakteristik utama dari sosial media aplikasi yang memungkinkan
pengguna untuk menyimpan dan berbagi beberapa konten bentuk
seperti teks, gambar, audio, video, dan lainnya format dengan cara yang
interaktif dan mudah.
e.
User friendly
Media Sosial terkenal karena kemudahan penggunaan aplikasi yang
tidak membutuhkan kemampuan teknis tinggi atau panjang kursus
formal jangka.
3. Kelebihan dan Kekurangan New Media
a. Kelebihan New Media
Dalam The Network Society:
1. Memungkinkan kita untuk berhubungan dengan mudah kepada hampir
semua orang, bahkan jarak jauh.
2. Media baru memungkinkan komunikasi yang baik antar warga,
karyawan dan konsumen untuk memiliki komunikasi secara langsung,
43
partisipasi ke dalam, lembaga-lembaga dalam mengambil keputusan,
sesuai prinsip, dan memperkuat demokrasi.39
3. Secara teori, media baru dapat membantu untuk mengembangkan
keterampilan mental yang lebih baik daripada media yang terdahulu,
karena media baru mengintegrasikan berbagai mode komunikasi.40
4. Di masa depan media baru akan menjadi tutor bagi mahasiswa untuk
belajar secara mandiri dan duduk di depan kelas komputer atau di
rumah dengan menggunakan alat
yang dikembangkan untuk
pendidikan jarak jauh.41
b. Kekurangan New Media
1. Kualitas komunikasi berkurang karena orang-orang menarik diri ke
komunikasi komputer dan berinteraksi hanya dengan aman dalam
lingkungan sosial yang dipilih masing-masing. 42
2. Mempengaruhi perilaku (pragmatik) yang tampak marjinal: kegiatan
individu dan organisasi-organisasi sangat sensitif terhadap informasi
setelah memasuki tahap tertentu. 43
3. Kita mungkin menjadi semacam cyborg, setengah komputer dan
setengah manusia. Sherry Turkle (1984) menyatakan waktu yang lama
bahwa komputer dapat berfungsi sebagai 'diri kedua'. Sudah pasti
bahwa hubungan kita dengan media telah dipersonalisasi: kita
39
Jan Van Dijk. The Network Society. SAGE Publications Ltd. 2006, page 3.
Ibid, page 216.
41
Ibid., page 224.
42
Ibid., page 3.
43
Ibid., page 199.
40
44
memperlakukan media yang seperti manusia (Reeves dan Nass,
1996).44
4. Web 1.0 dan 2.0
a. Web 1.0
Menurut Brian Getting (2007) web 1.0 muncul bersamaan dengan
lahirnya World Wide Web (WWW), dimana web 1.0 ini hanya
menyediakan sebuah halaman website yang terhubung dengan hyperlink.
Web 1.0 merupakan read-only web, dimana hanya ada satu jalur
komunikasi dalam website tersebut sehingga disebut juga sebagai
brochureware.
Dalam web 1.0, sejumlah kecil penulis menciptakan halaman web
untuk sejumlah besar pembaca. Akibatnya, orang bisa mendapatkan
informasi dengan pergi langsung ke sumbernya. WWW atau Web 1.0
adalah sistem saling terkait, dokumen hypertext yang diakses melalui
Internet.
Implementasi pertama dari web merupakan web 1.0, yang menurut
Berners-Lee, dapat dianggap sebagai "read-only web" Dengan kata lain,
web awal memungkinkan kami untuk mencari informasi dan membacanya.
Ada sangat sedikit di jalan interaksi pengguna atau kontribusi konten.
Namun, ini adalah apa yang sebagian besar pemilik situs inginkan: Tujuan
44
Jan Van Dijk. The Network Society. SAGE Publications Ltd. 2006, page 211.
45
mereka untuk sebuah situs web adalah untuk mendirikan sebuah kehadiran
online dan membuat informasi yang tersedia untuk siapa pun setiap saat.45
Melihat Web 1.0 aplikasi tradisional pada kawat itu biasanya latihan
membosankan. Satu umumnya akan melihat potongan besar HTML turun
dari server, diikuti dengan beberapa gambar dan mungkin sedikit
JavaScript untuk menu. Dalam AJAX aplikasi tions, rasio ini telah
berubah secara signifikan. Sementara potongan besar HTML dan besar
nomer gambar masih termasuk, jumlah JavaScript diturunkan oleh server
telah berkembang dengan pesat. Lewatlah sudah hari di mana JavaScript
digunakan hanya sebagai perekat untuk terus bersama bagian statis kecil
dari aplikasi, seperti menu drop-down-JavaScript kini sebagian besar
aplikasi itu sendiri. Ini telah benar-benar mengubah cara sebuah aplikasi
terlihat pada kawat, karena aplikasi AJAX, tidak seperti Web 1.0 aplikasi
tradisional, tidak terbatas pada pengiriman data dalam format pasangan
nama-nilai HTTP POST. Dengan kebebasan objek Permintaan XMLHttp,
sebuah aplikasi dapat berkomunikasi dengan server dalam format yang
dipilihnya. 46
Dalam dunia Web 1.0, proses ini sering panjang dan rawan
kesalahan. Ini karena untuk sepenuhnya memetakan metode terpapar oleh
aplikasi, setiap sudut aplikasi harus dieksplorasi. Akun pengguna harus
dibuat pada setiap tingkat akses, dan setiap kombinasi bentuk harus
45
Brian Getting. Basic Definitions: Web 1.0, Web. 2.0, Web 3.0. Available at http://
www.practicalecommerce.com/articles/464/Basic-Definitions-Web-10-Web-20-Web-30/
(Accessed on 06/01/2008)
46
Rich Canning, Himansu Dwivedi, Zane Lackey. Hacking Exposed Web 2.0:Web 2.0
Security Secrets and Solutions. US: The McGraw-Hill Companies, 2008, page 147.
46
diserahkan. Setelah ini selesai, penyerang harus menangkap menganalisis
lalu lintas dari semua kegiatan tersebut dan memilih fungsi dari log. Inilah
sebabnya mengapa web kerentanan scanner aplikasi biasanya telah
kompleks
dan
mahal
sepasang
perangkat
lunak,
mereka
harus
mensimulasikan mengklik manusia melalui setiap area aplikasi sebelum
daftar lengkap metode dapat diperoleh dan serangan komprehensif dapat
dimulai. Dalam dunia Web 2.0, proses ini sering sangat disederhanakan.
Sedangkan Web 1.0 komplikasi yang umumnya cukup sekuensial dan
terkendali, aplikasi AJAX memiliki kemampuan untuk mengirim
permintaan kapan saja dan dalam urutan apapun. Karena fakta ini, klien
perlu tahu semua fungsi server depan. Hal ini sering berarti potongan besar
Javascript dikirim ke klien selama beberapa permintaan awal, yang
menggambarkan semua metode yang server mengekspos. Jika sebuah
aplikasi turunkan file JavaScript dengan daftar semua metode terpapar,
metode penemuan dapat dikurangi dari jam ke menit. Proses sebenarnya
metode penemuan dalam aplikasi AJAX bervariasi pada kasus per kasus
dan demi kerangka kerangka dasar. Namun, pelajaran dari melakukan
metode penemuan terhadap satu kerangka umumnya mengajarkan
penyerang bagaimana melakukan metode penemuan terhadap kerangka
kerja lainnya. Sebuah analisis identifikasi kerangka kerja dan metode
penemuan terhadap lima kerangka populer disediakan dalam bagian
berikut dari. Selain itu, langkah-demi-langkah contoh adalah untuk
47
berjalan melalui identifikasi kerangka kerja dan proses penemuan metode
menggunakan utilitas gratis WebScarab.47
b. Web 2.0
Istilah Web 2.0 diperkenalkan oleh Darcy DiNucci dalam artikelnya
berjudul “Fragmented Future”, DiNucci menyebutkan bahwa, “Website
yang kita ketahui sekarang (web 1.0), masih berupaya layar statis.
Permulaan web 2.0 baru dimulai, website dimana awalnya hanya berupa
layar yang berisikan teks dan grafik namun sekarang sudah menjadi
mekanisme transportasi. Hal yang memungkinkan adanya interaksi antar
user”.
Web 2.0 merupakan jaringan dimana kita tidak hanya dapat melihat
konten yang kita inginkan, tapi juga dapat membuat atau bertukar
informasi dengan bebas, seperti social media (Blogger & Wordpress) dan
social network (Flixster & Facebook), memungkinkan komunikasi dua
arah antar user. Dapat dikatakan bahwa web 2.0 merupakan peningkatan
kemampuan dari web 1.0 (Getting et all, 2007).
Pada tahun 2004, Tim O‟Reilly memprakarsai sebuah seminar dengan
menggunakan nama Web 2.0. Menurut Paul Graham (Dalam Sudarsono,
2009), nama 2.0 muncul dari sebuah brainstorming uneuk memberi nama
konferensi tentang Web yang baru. Pada sesi pertemuan berikutnya Tim
O‟Reilly mencoba mendefinisikan ulang Web 2.0. Batasan yang muncul
adalah beberapa kriteria sebagai berikut:
47
Rich Canning, Himansu Dwivedi, Zane Lackey. Hacking Exposed Web 2.0:Web 2.0
Security Secrets and Solutions, page 153.
48
1. Web 2.0 menggunakan jaringan sebagai landasan kerja yang
menjangkau semua peralatan terkoneksi.
2. Penerapan Web 2.0 memanfaatkan keunggulan hakiki landasan kerja
tersebut.
3. Menyediakan piranti lunak yang secara terus menerus diperbaiki
karena semakin banyak pengguna yang berpartisipasi dalam upaya itu.
4. Memakai dan memadukan data dari beragam sumber termasuk dari
setiap individu pemakai.
5. Menyediakan data dan jasa dalam format yang mungkin dipadukan
oleh pihak lain.
6. Menciptakan keunggulan jaringan dengan memakai arsitektur yang
cocok untuk partisipasi berbagai pihak.
7. Melebihi kemampuan Web 1.0 karena diperkaya oleh pengalaman para
pengguna.
Kriteria di atas menunjuk pada dua hal yang saling mendukung dan
menguatkan, yaitu sisi teknologi dan sisi hubungan manusia dalam bentuk
partisipasi. Sisi teknologi diwakili oleh kelompok perangkat seperti Blog,
wikis, podcast, RSS, feeds, dll. Sedangkan sisi sosial diwakili dengan
tebentuknya jejaring sosial.
49
Tabel 2
Perbedaan antara Web 1.0 dengan Web 2.048
1.
2.
3.
4.
Ciri-ciri
Bentuk
Interaksi
Sifat
Bentuk Frame
Web 1.0
Statis
Hanya online guestbook
Hanya bisa dibaca
Frame sets
5. Konten
6. Kunjungan Web
Gif resolusi 88 x 17
Dalam web yang sama
7. Contoh
Geocities
Web 2.0
Dinamis
Jejaring Sosial
Read and write
Dapat dimodifikasikan
dengan
tema
dan
wallpaper
Dinamis
Melihat web tanpa
mengunjung
web
tersebut
Facebook,
Yahoo,
Twitter
5. Sosial Media
Media sosial saat ini mengacu pada penggunaan web-based dan
teknologi mobile untuk mengubah komunikasi menjadi dialog yang lebih
interaktif. Kaplan dan Michael Haenlein membuat definisi mengenai Sosial
Media sebagai sebuah grup dari aplikasi dengan dasar Internet yang
membangun dasar dari ideology dan teknologi dari Web 2.0, dan
memperbolehkan pembuatan dan pertukaran user-generated content atau
konten yang dibuat oleh penggunanya, sebagai satu kesatuan metode untuk
mengembangkan komunikasi sosial, dimana juga menggunakan akses
ubiquitous dan terukur dari teknik komunikasi yang dibangun.49
48
http://r4tn46.blogspot.com/2011/04/perbedaan-web-10-20-dan-30.html diakses 20
Maret 2013.
49
Andreas Kaplan & Michael Haenlein. "Users of the world, unite! The challenges and
opportunities of Social Media". Business Horizons, 2010.
50
Menurut Mayfield, media online social merupakan sebuah media online
jenis baru yang memiliki karakteristik sebagai berikut:50
1.
Partisipasi
Media sosial mendukung kontribusi dan umpan balik dari semua orang
yang tertarik di dalamnya, sehingga tercipta sebuah partisipasi dari
pengguna di media tersebut.
2.
Keterbukaan
Sebagian besar pelayanan sosial media terbuka untuk umpan balik dan
partisipasi. Mereka mendukung adanya voting, comment, dan saling
membagi informasi. Sedikit kemungkinan adanya batasan untuk
mengakses atau menggunakan konten yang tersedia memang ditujukan
bagi para penggunanya.
3.
Percakapan
Dimana media tradisional lebih mengandalkan “broadcast” (konten
didistribusikan kepada pengguna) sedangkan media sosial lebih terlihat
sebagai komunikasi dua arah.
4.
Komunitas
Media sosial memungkinkan komunitas terbentuk lebih cepat dan lebih
efektif untuk berkomunikasi. Komunitas berbagi beberapa hal yang
sama, seperti kesukaan terhadap kuliner, sebuah isu politik, atau
sebuah acara televisi.
50
Anthony
Mayfield.
What
is
Social
Media?
(Online
resource:
http://www.icrossing.co.uk/fileadmin/uploads/eBooks/What_is_Social_Media_iCrossing_ebook.p
df), 2007, page 5.
51
5.
Connectivity
Kebanyakan media sosial mengandalkan konektivitas mereka dengan
dunia internet. Seperti dengan link ke website lain sehingga interaksi
yang tercipta tidak hanya pada media sosial tersebut, namun juga ke
berbagai sumber yang mendukung kekayaan interaksi bagi user itu
sendiri.
6. Sosial Media dan Politik
Dalam Arrianie komunikasi Politik melibatkan apa yang dinamakan
“pembicaraan”.
Pembicaraan
dalam
komunikasi
politik
meliputi
pembicaraan dalam arti yang sangat (gambar, gerakan, isyarat, pakaian)
maupun dalam bentuk perlambangan lainnya. Dalam Riswandi definisi
komunikasi politik menurut Richard Fagen. mengungkapkan bahwa
komunikasi politik adalah kegiatan komunikasi yang terdapat dalam suatu
sistem politik yang mempunyai dampak secara akurat dan potensial. Dengan
pengertian ini, sebagai sebuah ilmu terapan, komunikasi politik bukanlah
hal yang baru.
Dalam Alfian, komunikasi politik mengalirkan pesan-pesan politik
berupa tuntutan, protes, dan dukungan (aspirasi dan kepentingan) ke pusat
pemrosesan sistem politik, dan hasil pemrosesan itu yang tersimpul dalam
fungsi-fungsi out-put, dialirkan kembali oleh komunikasi politik yang
selanjutnya menjadi feedback sistem politik.51
51
Alfian. Komunikasi Politik dan Sistem Politik Indonesia. Jakarta : PT. Gramedia
Pustaka Utama. 1993, hal 1.
52
McQuail mengatakan dalam Riswandi bahwa komunikasi politik
merupakan semua proses penyampaian informasi (termasuk fakta, pendapatpendapat, keyakinan-keyakinan dan seterusnya), pertukaran dan pencarian
itu semua yang dilakukan oleh para partisipan dalam konteks kegiatan
politik. Fungsi komunikasi politik dari suatu sistem politik diibaratkan
seperti aliran darah dalam sistem tubuh manusia, ia mengalirkan pesanpesan atau informasi tentang politik, baik di dalam masing-masing
unsur/bagian dari sistem politik itu sendiri, atau juga mengalirkan pesanpesan politik dari satu bagian ke bagian lain dari sistem politik itu sediri.52
Dalam paparannya mengenai new media, McQuail menyatakan bahwa
media massa lama dianggap memainkan peran yang sangat besar dalam
pelaksanaan politik demokratis. Manfaat media massa dalam bidang politik
adalah memberikan informasi kepada publik mengenai agenda politik
pemerintah dan politisi dan membuka kesempatan kepada masyarakat untuk
mengritisi pemerintah. Namun demikian, lebih jauh McQuail berpendapat
bahwa peran media massa di bidang politik juga memiliki sisi negative
misalnya adanya dominasi media oleh kelompok tertentu dan juga dominasi
aliran suara vertical, serta komersialisme media yang kerap mengabaikan
peran komunikasi yang demokratis.53
Ada harapan baru bagi media baru, khususnya internet yang
berkembang saat ini, bahwa media ini bisa menjadi cara yang
potensialdalam mendobrak politik demokrasi massa yang opresif, yang sulit
52
Riswandi. Komunikasi Politik. Yogyakarta: Graha Ilmu. 2009, hal. 35.
Dennis McQuail. McQuail’s Mass Communication Theory, 5th Edition. London: Sage
Publications Ltd . 2005. page 150-152.
53
53
menyuarakan suara dari bawah ke atas, yang kerap dengan power yang
dimiliki, dimanfaatkan oleh penguasa untuk kepentingan golongannya.
Internet diharapkan bisa menjadi media baru mengalirnya informasi dua
arah yang interaktif antara politisi dan pendukungnya. Internet menjanjikan
akan memberikan forum yang seluas-luasnya bagi pengembangan kelompok
kepentingan dan sebagai sarana penyaluran opini.
Dahlberg dalam McQuail menggambarkan adanya tiga model dasar
pemanfaatan internet dalam konteks politik baru, yaitu:54
1. Model “Cyber-libertarianism” yang menginginkan pendekatan politik
didasarkan pada model pasar konsumen. Dalam hal ini media baru bisa
menjadi sarana dalam melakukan survey plebisit (pemilihan umum di
suatu daerah untuk menentukan status daerah itu), dan televoting,
menggantikan proses yang dilakukan melalui media lama.
2. Ada pandangan komunitarian yang mengharapkan adanya saluran yang
terbuka lebar antara partisipan grass-roots yang bisa memberikan
masukan yang bermanfaat bagi partai/politisi dan ini pada gilirannya
akan memperkuat komunitas politik pada tingkat local.
3. Terjadi interaksi dan pertukaran ide pada ruang publik melalui
teknologi internet
yang memberikan manfaat signifikan bagi
berkembangnya demokrasi deliberatif.
Margolis dan Resnick dalam Nayar mengidentifikasi salah satu jenis
politik internet (internet politics) sebagai pemanfaatan politisi jaringan
54
Dennis McQuail. McQuail’s Mass Communication Theory, page 151.
54
(net) yang mengacu pada pemanfaatan jaringan untuk memengaruhi opini
publik dan aktivitas politik offline.55 Situs-situs politik akan mendorong
masyarakat untuk terlibat dalam kampanye dan mengirim e-mail kepada
pemerintah. Dengan pengenalan electronic voting, jaringan akan mampu
meningkatkan partisipasi demokratis.
Van
Dijk
memakai
istilah
digital
democracy
yang
dalam
pandangannya secara luas diterjemahkan sebagai upaya mempraktikkan
demokrasi tanpa batasan waktu, tempat, dan kondisi fisik lainnya, dengan
menggunakan peralatan digital, dan sebagai tambahannya, demokrasi
digital ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan praktik politik “analog”
tradisional.
Dalam The Network Society, Van Dijk menjelaskan beberapa manfaat
dari pengaplikasian digital democracy, yakni:56
1. Digital democracy dan e-government memperbaiki pencarian dan
pertukaran informasi bidang politik antara pemerintah, administrasi
publik, anggota DPR, organisasi dan komunitas politik, serta individu
masyarakat.
2. Digital democracy dan e-government mendukung terjadinya debat
politik serta pembentukan deliberasi dan komunitas.
3. Digital democracy dan e-government meningkatkan partisipasi warga
Negara dalam proses pengambilan keputusan.
55
Pramod K Nayar. Virtual World: Culture and Politics in The Age of Cybertechnology.
New Delhi: Sage Publications India Pvt Ltd, 2004, h. 174-175.
56
Jan Van Dijk. The Network Society, page 104.
55
Peran internet dalam bidang politik khususnya dalam perkembangan
demokrasi memiliki kelebihan dan kekurangan. Bentivegna dalam
McQuaill (2005) mengungkapkan yakni:57
1. Mendobrak paradigma media lama yang hanya bersifat satu arah,
melalui keunggulan interaktivitasnya.
2. Memungkinkan terjadinya komunikasi vertical dan horizontal,
sehingga terjadi keseimbangan antara partai/politisi dan masyarakat
sebagai pemegang kekuasaan.
3. Meminimalkan peran jurnalisme daam hubungan antara masyarakat
dan politisi.
4. Tidak memakan biaya yang mahal.
5. Memiliki daya kirim pesan yang sangat tinggi dibandingkan media
tradisional.
6. Tidak memiliki batas ruang dan waktu.
57
Dennnis McQuail. McQuail’s Mass Communication Theory, 5th Edition. London: Sage
Publications Ltd, 2005, page 151-152.
BAB III
GAMBARAN UMUM TIM MEDIA CENTER
JOKOWI-AHOK DAN FOKE-NARA
A. Tim Media Center Jokowi dan Ahok
Jokowi-Ahok Social Media Volunteers (JASMEV) yaitu para relawan
yang mendukung kampanye Jokowi-Ahok di media sosial. Merupakan wadah
atau tempat para relawan pendukung Jokowi-Ahok di media sosial, untuk
mendapatkan informasi terkini dan mengoreksi isu-isu yang tidak benar.
Selain itu Jasmev mengundang para relawan untuk ikut mendukung
kampanye “Jakarta Baru” dengan menggunakan handphone, komputer atau
perangkat komunikasi lainnya. Jasmev juga memberikan panduan kepada
para relawan untuk dapat berkomunikasi di media sosial dengan simpatik dan
menanggapi kritik dengan bijaksana. Sistem bekerjanya sukarela yakni tidak
memberikan imbalan uang atau materi apapun kepada para relawan untuk
turut serta berkampanye di media sosial. Penghargaan dari Jasmev bagi para
volunteers berupa pemberian sertifikasi elektronis (e-certificate) ucapan
terima kasih kepada para relawan yang akan diberikan melalui email
selambatnya tgl. 15 Oktober 2012. Prinsip bekerjanya mengajak semua
relawan dan pendukung Jokowi-Ahok untuk bersaing dengan jujur dan untuk
menang dengan elegan.
56
57
JASMEV diketuai oleh Kartika Djoemadi (@KartikaDjoemadi), berikut
profil beliau1
Seorang spesialis komunikasi dan praktisi kebijakan publik dengan latar
belakang komunikasi manajemen dan ekonomi makro khususnya di
komunikasi strategis, lobi dan advokasi, juga proses pembuatan kebijakan di
negara-negara berkembang dari program Pasca Sarjana Universitas Indonesia.
Kartika Djoemadi membangun The Spindoctors Indonesia untuk tujuan
menjembatani kurangnya komunikasi antara pembuat kebijakan dan
pemangku kepentingan kebijakan dalam kebijakan dan pelaksanaan proses
pembuatan. DeeDee juga dosen tamu di beberapa Universitas di Indonesia
dengan
studi
utama
manajemen
komunikasi,
manajemen
branding,
komunikasi politik, hubungan masyarakat, studi media, kebijakan publik,
kepemimpinan, kewirausahaan, lobi dan advokasi, dan memiliki banyak
pengalaman sebagai fellows penelitian di beberapa Universitas di Amerika
Serikat.
Sebagai praktisi bisnis di sektor riil, DeeDee memiliki berbagai jaringan
di sektor industri swasta dan organisasi profesional sebagai salah satu Komite
Dewan di Kamar Dagang Indonesia dan Industri (KADIN Indonesia), Junior
Chamber International Indonesia (JCI Indonesia), The National Youth
Council Badan Pusat Indonesia (DPP KNPI), The Basket Ball Dewan
Asosiasi Indonesia Pusat (PP Perbasi) dan Himpunan Pengusaha Muda
1
http://www.spindoctors-indonesia.com diakses pada 1 April 2013.
58
Indonesia (BPP HIPMI) dengan ide-ide yang luar biasa dan kontribusi
profesional.
Gambaran Umum Kartika Djoemadi::2
Kartika
Djoemadi
adalah
lulusan
Universitas
Indonesia
jurusan
Komunikasi dan Ekonomi. Dia juga sebagai pendiri dan pemilik PT
Spindoctors Indonesia, PT Imagia Insightama, dan PT Catur Partial Fastindo.
Selain beberapa itu, Kartika Djoemadi juga bergerak dalam grup dan
asosiasi seperti Kadin Indonesia, Himpunan Pengusaha Muda Indonesia
(HIPMI), Junior Chamber International (JCI Indonesia), DPP KNPI,
Lemabaga Pengusaha Pemuda Pancasila, PP PERBASI, Indonesia Oil and
Gas, Indonesia Public Policy, dan Alumni UI.
2
2013.
http://id.linkedin.com/pub/deedee-kartika-djoemadi/13/525/614 diakses pada 3 April
59
B. Tim Media Center Fauzi Bowo – Nachrowi Ramli
Personel tim sukses Foke-Nara mempunyai latar belakang berbeda. Ada
yang dari pensiunan birokrat Pemprov DKI, LSM, sampai konsultan politik.
Sebelum menangani Pemilukada DKI, Kahfi Siregar (@Kahfi_Siregar),
Kepala Media Center Foke-Nara, pernah mengantar SBY memenangi Pilpres
2009.
Kahfi mengungkapkan pengalamannya kala menjadi bagian dari tim
sukses SBY-Boediono, yang kini menjadi penguasa Indonesia. Menurutnya,
ada pengalaman yang tak terlupakan dengan Presiden SBY. Saat itu, SBY
sempat mampir ke ruang kerjanya, ketika ia bekerja di kantor konsultan
Bravo Media Center.
"Saya ingat betul pesannya Pak SBY saat itu. Beliau bilang, Mas Kahfi,
semua informasi yang tidak benar harus segera diklarifikasi," ujarnya,
Minggu (22/7/2012). Kahfi juga mengungkapkan pengalamannya sekantor
dengan Wakil Presiden Boediono, kala masih berstatus cawapres.
Menurutnya, ruangan Boediono di Bravo Media Center yang beralamat di
Jalan Teuku Umar Nomor 51, ada di lantai satu. Sedangkan ruang kerjanya
ada di lantai dua.
"Waktu itu setiap hari ketemu dengan Pak Boediono. Sering ngobrol
bareng. Waktu itu, ketua tim cawapresnya Rizal Malaranggeng," ungkap
Kahfi. Saat ditanya mengenai nominal kontrak dan success fee saat
menangani
SBY-Boediono
pada
Pilpres
2009,
Kahfi
enggan
60
membeberkannya secara rinci. Namun, dari sumber Tribun, nilai kontrak tim
sukses SBY-Boediono kala itu lebih dari Rp 200 miliar.
"Yah, mungkin sekitar itu. Kampanye saja keliling Indonesia. Pemilu ini
mahal. Kalau success fee, saya enggak tahu," imbuhnya. Kahfi juga pernah
menjadi tim sukses calon kepala daerah di provinsi lain, setelah mengantar
SBY-Boediono menduduki kursi RI 1 dan RI 2. Kebanyakan calon yang
ditanganinya, juga merupakan kader Demokrat. "Setelah pilpres, saya jadi tim
sukses di pemilukada Kalsel, Sulut, dan Bengkulu. Itu tiga-tiganya kader
Demokrat. Saat menjadi tim sukses calon bupati Sidoarjo saja kami
menangani kader Golkar. Tapi, di Sidoarjo, kami kalah," paparnya.3
Kahfi Siregar juga menjabat sebagai sekretaris Departemen Informasi &
Komunikasi Gerakan Nasional Anti Narkotika.
3
http://id.berita.yahoo.com/pengalaman-tidak-terlupakan-kahfi-siregar-saat-pilpres-2009154511678.html diakses pada 4 April 2013.
BAB IV
TEMUAN DAN ANALISIS DATA
A. Teknik-Teknik Propaganda dalam Pemilukada DKI Jakarta Putaran
Kedua
1. Teknik-Teknik Propaganda di Twitter Oleh Tim Media Center JokowiAhok
Berdasarkan penjelasan teori yang telah dikemukakan sebelumnya,
peneliti menemukan teknik - teknik propaganda yang dilakukan oleh Tim
Media Center Jokowi-Ahok dalam Pemilukada DKI Jakarta di Twitter.
1. Name Calling
Name Calling adalah memberi label buruk kepada gagasan, orang,
objek atau tujuan agar orang menolak suatu tanpa menguji kenyataannya.
Gambar 3
Contoh Teknik Propaganda Name Calling Tim Media Center Jokowi-Ahok
61
62
Tweet tersebut masuk dalam kategori teknik propaganda name calling
karena terdapat pemberian label buruk pada kata „intelektual mawutmawut‟, sedangkan objek atau orangnya yakni „Foke, Jokowi‟.
2. Glittering Generalities
Glittering Generalities adalah teknik propaganda Menggunakan “kata
yang baik” untuk melukiskan sesuatu agar mendapat dukungan, lagi-lagi
tanpa menyelidiki ketepatan asosiasi itu.
Gambar 4
Contoh Teknik Propaganda Glittering Generalities Tim Media Center
Jokowi-Ahok
Tweet tersebut masuk kedalam kategori teknik propaganda glittering
generalities karena peneliti temukan penggunaan “kata yang baik” atau
“kata bijak” yang membuat kita menerima dan menyetujui hal itu tanpa
memeriksa terlebih dahulu. Dalam Tweet ini tertuju pada kalimat
“JOdohnya Kota betaWI”
63
3. Card Stacking
Card Stacking adalah memilih dengan teliti pernyataan yang akurat
dan tidak akurat, logis dan tak logis dan sebagainya untuk membangun
suatu kasus.
Gambar 5
Contoh Teknik Propaganda Card Stacking Tim Media Center JokowiAhok
Dua Tweet “Survei INES: Jokowi 72,48 persen, Foke 27,52 persen”
dan “ICW Nilai Positif Rancangan Transparansi APBD” tersebut termasuk
dalam teknik propaganda card stacking karena menonjolkan hal-hal atau
segi baiknya saja, sehingga publik hanya melihat dari satu sisi. Di samping
itu tweet ini memunculkan efek domino.
4. Plain Folks
Plain Folks adalah propaganda yang mengatakan bahwa pembicara
berpihak kepada khalayaknya dalam usaha bersama yang kolaboratif.
Plain Folks juga merupakan propaganda dengan menggunakan cara
64
member identifikasi terhadap suatu ide. Teknik ini mengidentikkan yang
dipropagandakan milik atau mengabdi pada komunikan.
Gambar 6
Contoh Teknik Propaganda Plain Folks Tim Media Center Jokowi-Ahok
Tweet tersebut masuk kedalam kategori teknik propaganda plain folks
karena terdapat imbauan yang mengatakan bahwa pembicara berpihak
kepada khalayaknya dalam usaha bersama yang kolaboratif untuk
menyerap empati publik. Mengklaim diri mampu mewakili aspirasi. Kata
yang menguatkan bahwa Tweet tersebut termasuk plain folks adalah „Anak
Tuhan‟ dan „Laskar Kristus‟. Yang dimaksud dengan „Anak Tuhan‟ disini
adalah Ahok. Sedangkan „Laskar Kristus‟ maksudnya adalah kelompok
yang diisi oleh orang-orang yang beragama Nasrani. Tujuannya adalah
agar pemilih beragama Nasrani memilih pasangan Jokowi-Ahok.
65
5. Band Wagon
Band Wagon adalah usaha untuk meyakinkan khalayak agar gagasan
besarnya bisa diterima dan banyak orang akan turut serta ke dalam
gagasan tersebut. Bisa juga Band Wagon adalah teknik propaganda yang
dilakukan dengan menggembar-gemborkan kesuksesan yang dicapai oleh
seseorang, suatu lembaga, atau suatu organisasi.
Gambar 7
Contoh Teknik Propaganda Band Wagon Tim Media Center Jokowi-Ahok
Tweet tersebut masuk dalam teknik propaganda band wagon karena
terdapat
usaha
untuk
menggembar-gemborkan
kesuksesan
dan
meyakinkan khalayak agar gagasan besarnya bisa diterima dan banyak
orang akan turut serta kedalam gagasan. Dalam Tweet tersebut jelas
muncul gagasan-gagasan Tim Media Center Jokowi-Ahok. Gagasangagasan tersebut seperti “30. Keberhasilan ini patut disyukuri warga Solo,
karena daerah ini minim sumber daya alam. Luas lahannya pun hanya 44
66
km2 #Jokowi”. Lalu “ 29. Secara ekonomi, dalam 6 tahun terakhir, APBD
Solo naik pesat dari 350 miliar menjadi 1 triliun lebih. Investor dan
wisatawan datang. #Jokowi”. Yang terakhir “28. Dengan berbagai
perubahan itu, Solo sebagai kota kecil berhasil menggelar event-event
budaya Internasional setiap tahun ada 36 event #Jokowi.”
6. Testimonial
Testimonial adalah memperoleh ucapan orang yang dihormati atau
dibenci untuk mempromosikan atau meremehkan suatu maksud. Kita
mengenalnya dalam dukungan politik yang digunakan oleh tokoh terkenal,
dll. Testimonial berisi perkataan manusia yang dihormati atau dibenci
bahwa idea tau program/produk adalah baik atau buruk. Propaganda ini
sering digunakan dalam kegiatan komersial meskipun juga bisa digunakan
untuk kegiatan politik.
Gambar 8
Contoh Teknik Propaganda Testimonial Tim Media Center Jokowi-Ahok:
67
Tweet tersebut menunjukkan teknik propaganda testimonial karena
syarat dari testimonial sendiri dilakukan oleh public figure atau tokoh
terkenal yang memiliki otoritas dan prestise sosial tinggi sehingga
mampu mempengaruhi pikiran khalayak. Tokoh dalam tweet-tweet
tersebut adalah Hanung Bramantyo, Ralph Tampubolon, dan Fadjroel
Rachman.
2. Teknik-Teknik Propaganda Di Twitter Oleh Tim Media Center Foke
Nara
Berdasarkan penjelasan teori yang telah dikemukakan sebelumnya,
peneliti menemukan teknik - teknik propaganda yang dilakukan oleh Tim
Media Center Foke-Nara dalam Pemilukada DKI Jakarta di Twitter.
1.
Name Calling
Name Calling adalah memberi label buruk kepada gagasan, orang,
objek atau tujuan agar orang menolak suatu tanpa menguji kenyataannya.
Gambar 9
Contoh Teknik Propaganda Name Calling Tim Media Center Foke-Nara
68
Tweet tersebut masuk dalam kategori teknik propaganda name calling
karena terdapat pemberian label buruk yang terdapat pada kata „arogan‟
dan juga „tidak tau sopan santun‟, sedangkan objek atau sasarannya yakni
„ahok‟. Jelas sekali teknik ini menyerang secara langsung.
2. Glittering Generalities
Glittering Generalities adalah teknik propaganda Menggunakan
“kata yang baik” untuk melukiskan sesuatu agar mendapat dukungan,
lagi-lagi tanpa menyelidiki ketepatan asosiasi itu.
Gambar 10
Contoh Teknik Propaganda Glittering Generalitites Tim Media Center
Foke-Nara
Tweet tersebut masuk kedalam kategori teknik propaganda
glittering generalities karena peneliti temukan penggunaan “kata yang
baik” atau “kata bijak” yang membuat kita menerima dan menyetujui
hal itu tanpa memeriksa terlebih dahulu. Dalam Tweet ini tertuju pada
69
kalimat „Jk ada salah kata, mohon di lepaskan, mohon di maafkan dan
ijinkan saya berjuang memenangkan kepentingan rakyat. Mulai detik
ini pikirkan SATU‟.
3. Card Stacking
Card Stacking adalah memilih dengan teliti pernyataan yang akurat
dan tidak akurat, logis dan tak logis dan sebagainya untuk
membangun suatu kasus.
Gambar 11
Contoh Teknik Propaganda Card Stacking Tim Media Center Foke-Nara
Teknik
Propagan
da Card
Stacking
Tweet ‟FPI akan gelar Aksi Damai untuk dukung Fauzi Bowo,
minggu 16 september 2012‟, lalu „Partai Besar Bergabung Dukung
Foke‟, dan „Partai Golkar alihkan dukungannya pada pasangan FokeNara pada pilkada DKI putaran kedua pada 20 September 2012‟
menunjukkan bahwa Foke-Nara didukung oleh partai-partai besar dan
70
juga ormas Islam sehingga mampu mempengaruhi persepsi pemilih.
Inilah yang disebut efek domino sesuai yang diharapkan teknik ini.
4. Plain folks
Plain Folks adalah propaganda yang mengatakan bahwa pembicara
berpihak kepada khalayaknya dalam usaha bersama yang kolaboratif.
Plain Folks juga merupakan propaganda dengan menggunakan cara
member identifikasi terhadap suatu ide. Teknik ini mengidentikkan yang
dipropagandakan milik atau mengabdi pada komunikan
Gambar 12
Contoh Teknik Propaganda Plain Folks Tim Media Center Foke-Nara
Jelas sekali Tweet „Emang salah ya, orang Betawi menyarankan
orang Betawi milih orang Betawi di acara orang2 Betawi‟ menujukkan
himbauan bahwa pembicara berpihak kepada khalayaknya dalam usaha
bersama yang kolaboratif. Dalam kata lain mempropagandakan hanya
orang Betawi yang boleh memimpin Jakarta.
71
5. Band Wagon
Band Wagon adalah usaha untuk meyakinkan khalayak agar gagasan
besarnya bisa diterima dan banyak orang akan turut serta ke dalam
gagasan tersebut. Bisa juga Band Wagon adalah teknik propaganda yang
dilakukan dengan menggembar-gemborkan kesuksesan yang dicapai oleh
seseorang, suatu lembaga, atau suatu organisasi.
Gambar 13
Contoh Teknik Propaganda Band Wagon Tim Media Center Foke-Nara
Tweet „Banjir itu sudah berkurang, Macet juga pelan2 bisa
dikurangi‟ adalah usaha Tim Media Center Foke-Nara menggembargemborkan kesuksesan yang telah dicapai untuk meyakinkan khalayak.
Meskipun tanpa sumber dan data yang jelas. Jelas ini termasuk Plain
Folks.
72
6. Testimonial
Testimonial adalah memperoleh ucapan orang yang dihormati atau
dibenci untuk mempromosikan atau meremehkan suatu maksud. Kita
mengenalnya dalam dukungan politik yang digunakan oleh tokoh terkenal,
dll. Testimonial berisi perkataan manusia yang dihormati atau dibenci
bahwa idea tau program/produk adalah baik atau buruk. Propaganda ini
sering digunakan dalam kegiatan komersial meskipun juga bisa digunakan
untuk kegiatan politik.
Gambar 14
Contoh Teknik Propaganda Testimonial Tim Media Center Foke-Nara
Tweet tersebut menunjukkan teknik propaganda testimonial karena
syarat dari testimonial sendiri dilakukan oleh public figure atau tokoh
73
terkenal yang memiliki otoritas dan prestise sosial tinggi. Tokoh dalam
Tweet ini adalah Ketua DPR Marzuki Alie.
3. Strategi di New Media Kedua Pasangan Foke-Nara dan Jokowi-Ahok
Setelah
melakukan
observasi,
peneliti
melakukan
interview/wawancara terhadap Ketua Tim Media Center kedua pasangan.
Kartika Djoemadi di kubu Jokowi-Ahok, sedangkan Kahfi Siregar pada
Foke-Nara.
Dari interview yang telah kita lakukan dengan nara sumber, dapat kita
peroleh beberapa poin yang menjadi komparasi.
Yang pertama, menurut tim Jokowi jejaring sosial Twitter “Sangat
berpengaruh” dalam meraih pemilih dan kemenangan di Pilkada Jakarta
2012 kemarin. Selain Twitter, jejaring sosial lainnya yang cukup ramai
dalam perdebatan dan berpengaruh adalah Kaskus (forum). Sedangkan
bagi tim Foke, Twitter “Tidak Berpengaruh” dalam meraih vote getter dan
hasil Pilkada.
Tabel 3
Interview Dengan Tim Media Center Masing-Masing Pasangan Mengenai
Pengaruh Twitter
Tim Media Center Jokowi-Ahok
Kenapa sangat penting, karena
volunteer kita banyak yang disitu,
selain itu banyak opinion leader,
seperti Adi MS dan Hanung, mereka
itu opinian leader, karena apa yang
mereka
bicarakan
followersnya
percaya. Jadi, orang-orang itu tidak
dibayar, Adi MS bilang ”siapa yang
Tim Media Center Foke-Nara
Sosial media tidak mempengaruhi
perilaku pemilih, tetapi sejujurnya
pemilih banyak yang di kalangan
bawah dan menjadi meter ukur di
kelas menengah ke atas, bahwa
kandidat mendapat pendukung yang
banyak. Putaran pertama tidak terlalu
memerhatikan di social media.
74
mau bayar saya? Saya saja belum Karena kita yakin masyarakat banyak
pernah ketemu pak Jokowi1
yang memilih kita. Di putaran kedua,
timses Foke-Nara membuat tim
khusus sosial media2
Yang kedua, strategi Twitter dari pasangan tim Jokowi adalah “Fun
and Joke”. Maksudnya untuk melakukan attacking caranya dengan Fun
tweet. Untuk melakukan counter attack caranya dengan Joke tweet.
Sedangkan strategi dari tim Foke yaitu “Attack and Defense”.
Tabel 4
Interview Dengan Tim Media Center Masing-Masing Pasangan Mengenai
Strategi di New Media
Tim Media Center Jokowi-Ahok
Pokoknya membuat akun dimana pak
Jokowi menjadi brandnya anak-anak
muda. Jadi kalau kita ngetweet tidak
boleh buat tweet war. Jadi pokoknya
mengorganize relawan harus yang
changing, harus yang fun. Kita punya
agenda setting sosial media, isunya kita
tentukan, dan cara memberitahukannya
bebas3
Tim Media Center Foke-Nara
Kemarin
kita
ofensif,
kan
sebenarnya mereka menang, mereka
nyerang kita, tapi kita kan tidak
mau diserang, kita serang mereka
juga. Kita punya dua tim, satu
ofensif yang satu defensif4
Yang ketiga, secara time to tweet dari tim Jokowi yaitu menggunakan
sistem shift, jadi bergantian. Sedangkan dari tim Foke tidak memberikan
keterangan yang jelas mengenai waktu tweet-nya tapi mereka hanya
memberikan penjelasan bahwa tweet-nya bisa dilakukan kapan saja.
1
Wawancara dengan Kartika Djoemadi, pada 11 Oktober 2012.
Wawancara dengan Kahfi Siregar, pada 7 Oktober 2012.
3
Wawancara dengan Kartika Djoemadi, pada 11 Oktober 2012.
4
Wawancara dengan Kahfi Siregar, pada 7 Oktober 2012.
2
75
Tabel 5
Interview Dengan Tim Media Center Masing-Masing Pasangan Mengenai
Time To Tweet di Twitter
Tim Media Center Jokowi-Ahok
Saya perlu satu koordinator untuk
mengumpulkan relawan di sosial media,
dikasih wadah lalu di organisir. Supaya
mereka punya 1 isu yang bisa di tweet
bareng. Kalau misalnya ada fitnah, kita
handling bareng-bareng. Pokoknya
kalau mau jadi membernya jasmev,
syaratnya harus ngetweet minimal
sehari tentang Jokowi, tidak ada syarat
lain.5
Tim Media Center Foke-Nara
Kalau itu, bang Fauzi juga
mengelola akunnya sendiri, Namun
saya dan tim kerja kami juga ikut
mengelola masing-masing. Kita
jarang menyebarkan posting, hanya
membalas posting saja. Sedangkan
yang suka mengelola twitter bang
Fauzi tapi bila perlu saja, beliau
jarang ngetweet.6
Yang keempat, tim Jokowi beranggapan bahwa akun Twitter Foke adalah
akun Pseudo account. Akun yang dibuat untuk mencitrakan Jokowi adalah
akun-akun asli. Dan akun-akun tersebut dikelola oleh para volunteer (tanpa
bayaran sama sekali). Mereka juga menganggap bahwa akun-akun pencitraan
Foke adalah akun-akun bayaran. Sedangkan, dari Tim Foke juga beranggapan
bahwa akun Jokowi adalah akun pseudo account dan akun-akun yang dibuat
oleh Foke adalah akun asli.
Tabel 6
Interview Dengan Tim Media Center Masing-Masing Pasangan Mengenai Twitter
Account
Tim Media Center Jokowi-Ahok
Jadi Foke mengeluarkan banyak uang
untuk
orang-orang
yang
mengkampanyekan tentang dirinya di
sosial media. Itupun orang-orangnya
tidak mau terlihat. Jadi, misalnya saya
Dini nih, saya dibayar sama Foke, saya
tidak mau menggunakan akun pribadi
5
6
Tim Media Center Foke-Nara
Kita membuat tim sukses yang di
daftarkan di KPU sekitar 80 orang
punya akun tweeter. Ada FBJ
(Forum Bersama Jakarta) sekitar
ratusan anggotanya punya akun
twitter juga, Cuma terkadang
mereka tidak menggunakan akun
Wawancara dengan Kartika Djoemadi, pada 11 Oktober 2012.
Wawancara dengan Kahfi Siregar, pada 7 Oktober 2012.
76
saya, saya pakai akun anonim saja.
Akhirnya muncullah banyak akun-akun
yang aslinya tuh ownernya dibayar
untuk ngetweet sebanyak-banyaknya
terus dibayar sekian di setiap
minggunya.7
pribadinya. Ya betul, kalau saya
berani bilang seperti itu. Jadi kalau
Jokowi tercitra seperti yang
dibilang di akun-akunnya itu tidak
benar, karena tweetnya banyak yang
pegang.8
Tabel 7
“Komparasi Statement Tim Media Center Kedua Pasangan Terhadap Penggunaan
New Media (Twitter)”
A.
B.
C.
D.
E.
Tim Jokowi
Tim Foke
Twitter “Sangat Berpengaruh”. Selain Twitter “Tidak Berpengaruh”.
Twitter, kaskus juga berpengaruh.
Yang lumayan greget di
Blog/Forum
Strategi Twitter : Fun and Joke
Strategi Twitter : Attack and
Defense
Time to Tweet : Sistem shift. Bukan Bebas, tidak ada waktu yang
memakai aplikasi hoot suite
jelas
Mengklaim bahwa account Twitter Tim Mengklaim bahwa account
Foke “Pseudo account” dan yang Twitter Tim Jokowi “Pseudo
Jokowi asli.
account” dan tim Foke asli.
Mengaku sebagai “Volunteer” dan tim Tidak memberikan penjelasan.
Foke “Bayaran”
B. Etika Komunikasi di New Media Twitter dalam Propaganda Pemilukada
DKI Putaran Kedua
1. Propaganda dalam Undang-Undang Informasi dan Transaksi
Elektronik
Jika kita membahas etika tentunya akan membicarakan mengenai suatu
aturan atau sikap. Di satu sisi propaganda tidak mengenal kata benar atau
salah. Sehingga tidak ada hukum yang mengikat. Di sisi lain dampak
perkembangan teknologi informasi menuntut munculnya peraturan yang
7
8
Wawancara dengan Kartika Djoemadi, pada 11 Oktober 2012.
Wawancara dengan Kahfi Siregar, pada 7 Oktober 2012.
77
diharapkan mampu menjadi pedoman untuk memastikan tidak ada pihak yang
dirugikan dalam kegiatan di dunia maya. Aturan tersebut tertuang di dalam
Undang-undang Republik Indonesia Nomor Sebelas tahun 2008 tentang
Informasi dan Transaksi Elektronik. UU ITE terdiri atas beberapa bab yang di
dalamnya membahas segala hal terkait dengan informasi melalui elektronik.
Bab yang dimaksud adalah Bab VII UU ITE.
Menilik aktivitas propaganda di new media (Twitter) dari masing-masing
Tim Media Center terdapat teknik-teknik propaganda yang berbenturan
dengan UU ITE. Teknik-teknik propaganda yang berbenturan dengan aturan
tersebut adalah teknik propaganda name calling dan plain folks. Seperti
contoh tweet name calling yang peneliti tampilkan di pembahasan
sebelumnya, terlihat jelas bahwa teknik propaganda ini bertentangan dengan
Bab VII UU ITE pasal 27 ayat 3 dan pasal 28 ayat 1 dan 2.
Dalam contoh-contoh yang didapat peneliti pada pembahasan sebelumnya,
peneliti menemukan kata-kata dalam tweet name calling masing-masing Tim
Media Center seperti dari Tim Media Center Foke Nara yaitu „berkali-kali
saya sampaikan ahok itu arogan. Tidak tau sopan santun‟, dan dari Tim
Media Center Jokowi Ahok seperti „Foke Jokowi, kaum intelektual mawutmawut‟ yang ditujukan kepada para calon. Jika mengacu kepada pasal 27 ayat
3 yang berbunyi:
“Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan
dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya
Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki
muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik”
Penggunaan kata-kata dalam tweet tersebut yang tanpa menguji
kebenarannya tentu mengarah kepada muatan penghinaan atau
pencemaran nama baik.
78
Berikutnya, mengacu pada pasal 28 ayat 1 yang berbunyi:
“Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan berita
bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen
dalam Transaksi Elektronik”
Tweet-tweet dengan menggunakan kata-kata atau kalimat seperti di
atas akan mengarah pada penyebaran berita bohong dan menyesatkan
sehingga merugikan para Cagub. Lebih parahnya lagi jika tweet name
calling tadi digunakan untuk menebar rasa kebencian yang mendalam
dan permusuhan dari kedua belah pihak yakni Jokowi-Ahok dan Foke
Nara. Ini tentu mengacu pada pasal 28 ayat 2 yang berbunyi:
“Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan
informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau
permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu
berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA)”
Sementara teknik propaganda plain folks bertentangan dengan pasal 28
ayat 2. Seperti contoh yang telah peneliti jelaskan pada pembahasan
sebelumnya, Tim Media Center masing-masing pasangan melakukan teknik
propaganda dengan menggunakan kata-kata „Laskar Kristus‟ dan kalimat
„Emang salah ya, orang Betawi menyarankan orang Betawi menyarankan
orang Betawi milih orang Betawi di acara orang2 Betawi‟ tentu akan
mengarah kepada SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar golongan). Hal
SARA itu sensitif. Berbahaya jika sudah saling menyinggung dan
menimbulkan kebencian. Bisa saja terjadi perang saudara diantara kita hanya
karena bersaing dalam Pemilukada.
2. Propaganda Dengan Etika Komunikasi Dalam Islam
Mencerna definisi dan penerapan dari beberapa teknik propaganda
ternyata berlawanan dengan ajaran Islam. Dua teknik yang berlawanan
79
tersebut adalah name calling dan glittering of generalities. Dalam sub bab ini
peneliti akan menganalisis.
Pertama adalah name calling. Teknik dengan cara memberikan label
buruk kepada seseorang, gagasan maupun objek agar orang mempercayai
tanpa menguji kebenarannya seperti menuduh seseorang kafir, penjahat,
koruptor dan lain sebagainya ini bertentangan dengan Al-Quran surat AlHujurat ayat 12.
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan sangka-sangka
(dugaan terhadap sesama Muslim), karena sebagian sangka-sangka itu ialah
dosa, dan janganlah kamu mencari-cari „aib orang dan jangan pula setengah
kamu mengumpat yang lain. Sukakah salah seorang kamu, bahwa ia
memakan daging saudaranya yang telah mati (bangkainya)? Maka tentu
kamu benci memakannya. Takutlah kamu kepada Allah. Sesungguhnya
Allah penerima taubat lagi Penyayang”
Islam memerintahkan kita untuk manjauhi prasangka atau dugaan-dugaan,
mencari aib, dan tidak mengumpat. Teknik propaganda name calling jelas
bertetangan dengan ayat ini. Selain itu, jika kita melihat pengertian dan
prakteknya, teknik name calling ini bisa dikatakan mendekati fitnah. Kita bisa
lihat pada contoh-contoh teknik propaganda name calling dari masing-masing
Tim Media Center seperti penggunaan kata „arogan‟, „intelektual mawutmawut‟, dan „tidak tau sopan santun‟. Tentu jika menilik pada teori
80
propaganda, hal tersebut sah-sah saja dilakukan, namun dalam ajaran Islam
serangan verbal yang tanpa bukti dan kebenarannya bisa menjadi fitnah. Islam
sendiri sangat mengecam fitnah dalam surat Al-Baqarah 191.
“Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah
mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu
lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi
mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat
itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka.
Demikanlah balasan bagi orang-orang kafir”.
Kedua, glittering of generalities. Teknik dengan menggunakan “kata-kata
bijak” agar mendapat dukungan secara tidak murni atau alami. Ini bertentangan
dengan Al-Quran surat Al-Ahzab ayat 70.
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan
katakanlah perkataan yang benar”
Dalam ayat tersebut Islam mengajarkan untuk bertutur kata yang tepat.
Maksudnya ialah jujur, sesuai, dan tidak dibuat-buat. Kita bisa melihat kembali
contoh-contoh teknik propaganda glittering of generalities dari masing-masing
Tim Media Center yang peneliti temukan pada pembahasan sebelumnya seperti
kalimat „Jk ada salah kata, mohon di lepaskan, mohon di maafkan dan ijinkan
saya berjuang memenangkan kepentingan rakyat. Mulai detik ini pikirkan
SATU‟ dan „JOdohnya Kota betaWI‟. Penggunaan „kata-kata yang baik‟
81
tersebut digunakan untuk mendapat dukungan meskipun tanpa menyelidiki
ketepatan asosiasinya. Bisa diartikan, punya maksud atau tujuan lain. Jika
menilik pada teori propaganda, cara ini tidak dilarang dan sah saja digunakan.
Namun dalam ajaran Islam teknik propaganda ini bertentangan karena caranya
yang dibuat-buat atau tidak jujur.
C. Kelebihan dan Kekurangan Implementasi Teknik Propaganda di Twitter
dalam Pemilukada DKI Jakarta
1. Jokowi-Ahok
a. Kelebihan
1. Strategi Jasmev adalah fun and joke. Tentunya ini menjadi nilai positif
karena membuat muatan tweet dari Tim Media Center tersebut tidak
terasa berat dan membuat setiap followers akan merasa nyaman
menyimak timeline mereka. Strategi dengan cara mengkomposisi
tweet seperti ini menurut peneliti cukup cerdas karena bagaimana
dengan 140 karakter huruf Tim Media Center mampu mengemas
tweet dengan menarik.
2. Dengan cara kerja shift by shift dalam pengelolaan new media
khususnya Twitter diharapkan efektif mampu meraih vote getter dari
jejaring sosial tersebut. Sebuah tim yang bekerja secara shift by shift
mengelola Twitter menandakan bahwa pengelolaan pada jejaring
sosial ini serius dan intensif. Twitter timeline bersifat continue, jadi
terus menerus dan tidak putus. Sehingga para followers ataupun
82
pengguna Twitter akan terus mengamati tweet dari Tim Media Center
yang bermunculan secara teratur.
b. Kekurangan
Jokowi tidak memegang langsung akun Twitternya. Tim Media
Centernya yang dominan mengelola akunnya. Tentu akan lebih baik
jika Jokowi mengelola akunnya sendiri meski intensitasnya tidak
sering. Bisa saja para followers atau pengguna Twitter beranggapan
bahwa tweet-tweet yang dibuat tidak natural dan dibuat-buat.
2. Foke-Nara
a. Kelebihan
1. Mempunyai dua tim di dalam Twitter yakni offense dan defense. Tentu
ini menjadi kekuatan dalam melancarkan counter tweet maupun
menanggapi mention secara tegas. Strategi ini menunjukkan bahwa Tim
Media Center ini tidak mau basa-basi alias tidak kenal kompromi. Di
saat attacking Tim Media Center ini langsung bermain lugas,
sebaliknya tim lawan politik akan berpikir berulang kali sebelum
melancarkan attacking tweet ke Tim Media Center pasangan ini.
2. Fauzi Bowo mengkomposisi tweet sendiri. Itu merupakan sebuah nilai
positif karena bisa langsung berhubungan langsung dengan para
followers di Twitter. Meskipun Foke jarang melakukan tweet tetapi Tim
Media Centernya yang mem-back up. Twitter merupakan jejaring
sosial. Prinsip jejaring sosial itu terdapat komunikasi dua arah. Tepat
83
sekali jika memang Foke ikut mengelola akunnya sendiri sehingga
prinsip jejaring sosial terpenuhi dan pesan antara komunikator dan
komunikan tersampaikan.
b. Kekurangan
Tidak terlalu menganggap penting pemanfaatan new media khususnya
Twitter sehingga tidak intensif dalam mengelola new media pada
Pemilukada DKI Jakarta kemarin.
Di era perkembangan teknologi informasi seperti sekarang ini
seharusnya para stake holder perpolitikan nasional seperti CagubCawagub memperhatikan sosial media. Tidak hanya paham dalam segi
retorika maupun media mainstream. Jika retorika jangka waktunya
tidak menentu dan media mainstream hanya berjalan satu arah, maka
new media khususnya Twitter bisa menjadi senjata baru karena mampu
berjalan dua arah dan bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
1. Tim Media Center Jokowi-Ahok dan Foke-Nara menerapkan teknik-teknik
propaganda di Twitter pada Pemilukada DKI Jakarta. Enam teknik
propaganda tersebut yakni name calling, glittering of generalities, card
stacking, plain folks, band wagon, dan testimonial. Teknik-teknik itu
dikemas dalam tweet-tweet yang telah tersusun dalam strategi. Masingmasing Tim Media Center baik dari pasangan Jokowi-Ahok dan Foke-Nara
memiliki strategi yang berbeda dalam menghadapi Pemilukada pada new
media Twitter. Bagi Tim Media Center Jokowi-Ahok Twitter sangat
berpengaruh dalam Pemilukada DKI kemarin. Namun bagi Tim Media
Center Foke-Nara jejaring sosial Twitter ini tidak berpengaruh. Strategi
yang dirancang dari kubu Jokowi yaitu fun and joke. Di kubu Foke strategi
yang dipakai adalah Attack and Defense. Dari segi waktu, pengelolaan
Twitter Tim Media Center Jokowi-Ahok bekerja dengan sistem shift,
sebaliknya Tim Media Center Foke-Nara tidak menentukan waktu
pengelolaan Twitter atau dalam artian bebas kapan saja tidak terikat waktu.
Kedua kubu sama-sama mengklaim bahwa akun-akun Twitter lawan adalah
pseudo account. Secara keanggotaan, Tim Media Center Jokowi-Ahok
menjelaskan bahwa timnya diisi oleh para volunteer atau sukarelawan.
Sedangkan dari Tim Media Center Foke-Nara tidak memberikan penjelasan
berkaitan dengan keanggotaan.
84
85
2. Propaganda tidak bisa di golongkan menjadi propaganda yang benar atau
propaganda yang salah. Tetapi jika dihubungkan dengan etika komunikasi
yang berlaku di Indonesia, ada beberapa teknik propaganda yang
bertentangan dengan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik
Bab IV tahun 2008. Teknik-teknik propaganda yang berbenturan dengan
aturan tersebut adalah teknik propaganda name calling dan plain folks.
Seperti contoh tweet name calling yang peneliti tampilkan di pembahasan
sebelumnya, terlihat jelas bahwa teknik propaganda ini bertentangan
dengan UU Republik Indonesia Nomor Sebelas tahun 2008 Bab VII ITE
pasal 27 ayat 3 dan pasal 28 ayat 1 dan 2. Dalam contoh-contoh yang
didapat peneliti pada pembahasan sebelumnya, peneliti menemukan katakata dalam tweet name calling masing-masing Tim Media Center seperti
dari Tim Media Center Foke Nara yaitu ‘berkali-kali saya sampaikan ahok
itu arogan. Tidak tau sopan santun’, dan dari Tim Media Center Jokowi
Ahok seperti ‘Foke Jokowi, kaum intelektual mawut-mawut’ yang
ditujukan kepada para calon. Jika mengacu kepada pasal 27 ayat 3
penggunaan kata-kata dalam tweet tersebut yang tanpa menguji
kebenarannya
tentu
mengarah
kepada
muatan
penghinaan
atau
pencemaran nama baik. Berikutnya, mengacu pada pasal 28 ayat 1 tweettweet dengan menggunakan kata-kata atau kalimat seperti di atas akan
mengarah pada penyebaran berita bohong dan menyesatkan sehingga
merugikan para Cagub. Lebih parahnya lagi jika tweet name calling tadi
86
digunakan untuk menebar rasa kebencian yang mendalam dan permusuhan
dari kedua belah pihak yakni Jokowi-Ahok dan Foke Nara. Ini tentu
mengacu pada pasal 28 ayat 2.
Teknik propaganda plain folks bertentangan dengan pasal 28 ayat 2.
Seperti contoh yang telah peneliti jelaskan pada pembahasan sebelumnya,
Tim Media Center masing-masing pasangan melakukan teknik propaganda
dengan menggunakan kata-kata ‘Laskar Kristus’ dan kalimat ‘Emang salah
ya, orang Betawi menyarankan orang Betawi menyarankan orang Betawi
milih orang Betawi di acara orang2 Betawi’ tentu akan mengarah kepada
SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar golongan).
Selain berbenturan dengan hukum tertulis yang berlaku di Indonesia,
beberapa teknik propaganda juga berlawanan dengan ajaran Islam. Tiga
teknik yang berlawanan yakni name calling dan glittering of generalities.
Name calling, teknik dengan cara memberikan label buruk kepada
seseorang, gagasan maupun objek agar orang mempercayai tanpa menguji
kebenarannya seperti menuduh seseorang kafir, penjahat, koruptor dan lain
sebagainya ini bertentangan dengan Al-Quran surat Al-Hujurat ayat 12 dan
Al-Baqarah ayat 191.
Glittering of Generalities, teknik dengan menggunakan ‘kata-kata bijak’
agar mendapat dukungan secara tidak murni atau alami ini bertentangan
dengan Al-Quran surat Al-ahzab ayat 70.
3.
Kelebihan implementasi teknik-teknik propaganda di Twitter pada
Pemilukada DKI dari Tim Media Center Jokowi-Ahok yaitu pada
87
strateginya. Strategi Jasmev adalah fun and joke. Tentunya ini menjadi
nilai positif karena membuat muatan tweet dari Tim Media Center tersebut
tidak terasa berat dan membuat setiap followers akan merasa nyaman
menyimak timeline mereka. Berikutnya pada sistem kerjanya. Dengan cara
kerja shift by shift dalam pengelolaan new media khususnya Twitter
diharapkan efektif mampu meraih vote getter dari jejaring sosial tersebut.
Sebuah tim yang bekerja secara shift by shift mengelola Twitter
menandakan bahwa pengelolaan pada jejaring sosial ini serius dan intensif.
Kekurangannya, Jokowi tidak memegang langsung akun Twitternya. Tim
Media Centernya yang dominan mengelola akunnya. Tentu akan lebih baik
jika Jokowi mengelola akunnya sendiri meski intensitasnya tidak sering.
Bisa saja para followers atau pengguna Twitter beranggapan bahwa tweettweet yang dibuat tidak natural dan dibuat-buat
Sedangkan kelebihan Tim Media Center Foke-Nara yakni mempunyai dua
tim di dalam Twitter yakni offense dan defense. Tentu ini menjadi
kekuatan dalam melancarkan counter tweet maupun menanggapi mention
secara tegas. Strategi ini menunjukkan bahwa Tim Media Center ini tidak
mau basa-basi alias tidak kenal kompromi. Kedua, Fauzi Bowo
mengkomposisi tweet sendiri. Itu merupakan sebuah nilai positif karena
bisa langsung berhubungan langsung dengan para followers di Twitter
Kekurangannya, tidak terlalu menganggap penting pemanfaatan new
media khususnya Twitter sehingga tidak intensif dalam mengelola new
media pada Pemilukada DKI Jakarta.
88
B.
B. Saran
Cagub-Cawagub beserta Tim Media Centernya harus memperhatikan etika
komunikasi dalam penggunaan new media baik Twitter, Facebook, Blog, dan
media lain sebagai terobosan baru untuk berkampanye atau melancarkan
propaganda. Tentunya etika komunikasi yang dimaksud adalah UndangUndang dan hukum Islam. Tujuannya adalah agar proses Pemilukada terjadi
persaingan yang sehat dan tidak saling menjatuhkan calon satu dengan calon
lainnya.
KPU melalui BAWASLU seharusnya tidak hanya mengawasi atau
memantau kampanye yang terdapat pada media mainstream saja tetapi sektor
new media juga perlu mendapat perhatian khusus dari BAWASLU. Apakah di
new media itu terdapat penyimpangan kampanye maupun propaganda?, apakah
ada kecurangan?, dan apakah ada pihak-pihak yang dirugikan?. Oleh karena itu
BAWASLU perlu berkoordinasi dengan instansi-instansi yang berkaitan
dengan teknologi informasi untuk mengawasi proses pemilukada di new media.
89
DAFTAR PUSTAKA
Alfian. Komunikasi Politik dan Sistem Politik Indonesia. Jakarta: PT. Gramedia
Pustaka Utama, 1993.
Ali, Muhammad. Strategi Penelitian Pendidikan. Bandung: Angkasa, 1993.
Arifin, Anwar. Komunikasi Politik. Jogjakarta: Graha Ilmu, 2011.
Arikunto, Suharsimi. Prosedur Penelitian suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT.
Asdi Mahasatya, 2006.
Arrianie, Lely. Komunikasi Politik, Politisi dan Pecitraan di Panggung Politik.
Bandung: Widya Padjajaran, 2010.
Cangara, Hafid. Komunikasi Politik: Konsep, Teori, dan Strategi. Jakarta Utara: PT.
Raja Grafindo Persada, 2011.
Canning, Rich. dkk. Hacking Exposed Web 2.0:Web 2.0 Security Secrets and
Solutions. US: The McGraw-Hill Companies, 2008.
Crosbie, Vin. What is New Media? 2002.
Flew, Terry. New Media: An Introduction. UK: Oxford University Press, 2002.
Getting, Brian. Basic Definitions: Web 1.0, Web. 2.0, Web 3.0. Available at http://
www.practicalecommerce.com/articles/464/Basic-Definitions-Web-10-Web20-Web-30/ (Accessed on 06/01/2008)
Heryanto, Gun Gun dan Ade Rina Farida. Komunikasi Politik. Jakarta: Lembaga
Penelitian UIN Syarif Hidayatullah, 2010.
Kaplan, Andreas and Michael Haenlein. "Users of the world, unite! The challenges
and opportunities of Social Media". Paris: Business Horizons, 2010.
Lievrouw, Leah and Sonia Livingstone. Handbook of New Media: Social Shaping and
Social Consequences (1-14). Fully revised student edition. London: SAGE
Publications Ltd, 2006.
Lister, Martin. dkk. New Media : a Critical Introduction. London: Routledge, 2009.
Mayfield,
Anthony.
What
is
Social
Media?
(Online
resource:
http://www.icrossing.co.uk/fileadmin/uploads/eBooks/What_is_Social_Media
_iCrossing_ebook.pdf), 2007.
90
McQuail, Dennis. McQuail’s Mass Communication Theory, 5th Edition. London: Sage
Publications Ltd, 2005.
Moelong, Lexy J. Metodologi Penelitian Kualitatif (edisi revisi). Bandung:
Rosdakarya, 2005.
Nadzir, Moh. Metode Penelitian. Bogor: Ghalia Indah, 2005.
Nasrullah, Rulli. Komunikasi Antarbudaya di Era Budaya Siber. Jakarta. Kencana
Pernada Media, 2012.
Nayar, Pramod K. Virtual World: Culture and Politics in The Age of
Cybertechnology. New Delhi: Sage Publications India Pvt Ltd, 2004.
Panahi, Sirous. dkk. Social Media and Tacit Knowledge Sharing: Developing a
Conceptual Model. World Academy of Science Journal, 2012.
Riewanto, Agust. Ensiklopedi Pemilu: Analisis Kritis Instropektif Pemilu 2004
Menuju Agenda Pemilu 2009. Yogyakarta: Lembaga Studi Agama & Budaya
dan Fajar Pustaka, 2007.
Riswandi. Komunikasi Politik. Yogyakarta: Graha Ilmu, 2009.
Stake, Robert E. “Studi Kasus”, dalam Denzin Norman K dan Lincoln Yvonna S.
(eds), Handbook of Qualitative Research. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009.
Sudarsono, Blasius. Menerapkan konsep Perpustakaan 2.0. Makalah disampaikan
pada Workshop Libray 2.0: Challenge and opportunities to Library
management. 2009. Jurusan Ilmu Perpustakaan Universitas Diponegoro
Semarang.
Van Dijk, Jan. The Network Society. London: SAGE Publications Ltd, 2006.
Wawancara:
Wawancara dengan Kahfi Siregar (Ketua Tim Media Center Foke-Nara). Jakarta 7
September 2012.
Wawancara dengan Kartika Djoemadi (Tim Media Center Jokowi-Ahok). Jakarta 14
September 2012.
LAMPIRAN-LAMPIRAN
DOKUMENTASI
Bersama Kahfi Siregar
Bersama Kartika Djoemadi
Wawancara Narasumber
Nama Informan
: Kahfi Siregar
Jabatan Informan : Ketua Tim Media Center Foke-Nara
Tanggal dan Waktu : 7 Oktober 2012, 14.15 WIB.
1. Seberapa pentingkah new media dalam kampanye putaran ke-2 ?
Sosial media tidak mempengaruhi perilaku pemilih, tetapi sejujurnya pemilih
banyak yang di kalangan bawah dan menjadi meter ukur di kelas menengah ke
atas, bahwa kandidat mendapat pendukung yang banyak. Putaran pertama tidak
terlalu memerhatikan di sosial media. Karena kita yakin masyarakat banyak yang
memilih kita. Di putaran kedua, timses Foke-Nara membuat tim khusus social
media, di antaranya ada Sarasak sebagai pendukung, ada artis yang mendukung,
malahan ada artis yang mau di bayar pertweet, contohnya Radit yang ngetweet
dibayar sampai 1 jt lebih dsb tapi kita tidak mau. Kita membuat tim sukses yang di
daftarkan di KPU sekitar 80 orang punya akun Twitter. Ada FBJ (Forum Bersama
Jakarta) sekitar ratusan anggotanya punya akun twitter juga, Cuma terkadang
mereka tidak menggunakan akun pribadinya.
2. Dimana lokasi media center atau kantor timses Foke Nara ?
Di Menteng, itu seperti studio besar dan sistem kerjanya shift-shiftan.
3. Kalau video yang dibuat Reni Fernandes apakah resmi?
Ya, beberapa video yang dibuat dia itu resmi dari timses Foke-Nara. Kalau kamu
lihat buku atau iklan itu dipersembahkan oleh tim atau pimred itu yang membuat
dia. Tapi yang di Youtube banyak video yang bukan kita yang buat, yang buat
orang lain karena terlihat tidak ada creadit titlenya di akhirnya. Itu banyakan
mahasiswa Moestopo dan UI yang buat dan itu tidak ada biayanya sama seperti
tweeter, buatnya tidak pakai biaya. Saya saja punya 5 akun, tetapi saya jarang
untuk komunikasi yang lain, saya termasuk orang yang benar-benar “masang
barang” kemarin. Benar-benar mengaku, tidak seperti yang lain yang diam-diam
saja. Pak Fauzi Bowo juga main twitter, nama akunnya @bangfauziboem sama
saya dan tim juga.
4. Kalau twitter bang Fauzi Bowo itu, yang jadi admin bang Fauzi sendiri atau
dikelola orang lain?
Kalau itu, bang Fauzi juga mengelola akunnya sendiri, Namun saya dan tim kerja
kami juga ikut mengelola masing-masing. Kita jarang menyebarkan posting, hanya
membalas posting saja. Sedangkan yang suka mengelola twitter bang Fauzi tapi
bila perlu saja, beliau jarang ngetweet.
5. Apa saja desk job bang Kahfi sebagai ketua media center?
Di situ saya pegang 3 jabatan. Sebagai kepala media center, kepala bidang media
tim sukses, dan wakil ketua bidang isu. Tetapi yang resmi daftar di KPU cuma
timses, anggotanya para partai. Saya kan dari partai Demokrat.
6. Kalau strateginya di twitter untuk putaran kedua kemarin seperti apa bang?
Kemarin kita ofensif, kan sebenarnya mereka menang, mereka nyerang kita, tapi
kita kan tidak mau diserang, kita serang mereka juga. Kita punya dua tim, satu
offensif yang satu defensif.
7. Kalau lihat timeline bang kahfi antara tanggal 11-20 kemarin, bang kahfi sering
bilang juga kalau Jokowi hanya menang pencitraaa, apakah benar?
Ya betul, kalau saya berani bilang seperti itu. Jadi kalau Jokowi tercitra seperti
yang dibilang di akun-akunnya itu tidak benar, karena tweetnya banyak yang
pegang. Aslinya Jokowi itu galak, terlihat dari debat cagub di televisi. Bagi foke
pencitraan itu tidak terlalu penting, karena dia berasal dari kalangan ningrat dan
kalau marah, dia beneran marah.
8. Kalau tentang idenya nemenin Jokowi berkeliling Jakarta siapa?
Itu idenya pak Fauzi sendiri, dia bilang akan mengundang Jokowi sholat Jumat dan
menyampaikan, mengenalkan program-program di setiap. Kalau hari Sabtunya
yang dijemput oleh ibu Pagiharto, ide anak-anak dan kita (timses). Jadi kita
membesarkan hati saja, tunjukkin ke orang-orang kalau pak Fauzi tidak sendiri,
dan pidatonya bagus tidak pernah menjelek-jelekkan, seperti “Ayo kita kawal”,
“Jakarta tidak ada matinya”. Kalau saya cinta banget sama pak Fauzi Bowo.
9. Sebelum pilgub putaran kedua, isu apa yang membuat pencitraan pak Fauzi
Twitter itu sebenarnya liar, tidak terlalu bisa dikontrol. Jadi isu apa saja kita pakai,
tapi yang jelas kesuksesan pak Fauzi Bowo yang sering kita posting setiap hari
seperti MRT, banjir, sekolah gratis, sekolah swasta bersubsidi buku. Tetapi tidak
luput dari visi misi kita yaitu lebih maju, lebih aman dan lebih sejahtera. Kan apa
yang kita posting selalu diserang sama mereka.
10. Kalau berita tentang bang Rhoma itu benar dibuat atau hanya kelepasan?
Begini, itu beritanya juga salah, dia kan ceramahnya di sebuah mesjid, lagi buka
puasa dan pak Fauzi di undang kesitu oleh mesjid itu. Materi ceramahnya adalah
surat Al-Imran dan Al-Maidah, bahwa memilih itu pilih yang seagama dan
seiman. Emangnya salah? Kan disampaikan pada jamaahnya, yang salah tuh yang
menyodorkannya. Makanya sampai sekarang KPU tidak mau menunjukkan siapa
yang salah kepada public, yang melepaskan ke youtube kemana-mana.
11. Apakah Foke tidak mengajukan banding?
Kalau boleh jujur kita bisa minta ke MK
12. Kalau gelagatnya lebih semarak Twitter atau Facebook atau yang lain?
Semarak social medianya di Twitter, facebook dan blog. Foke kalah di forum
seperti Kaskus. Yang paling hebat mainstreamingnya adalah TV. Social media
tidak terlalu berpengaruh tetapi “baju kotak-kotak” yang sangat berpengaruh.
Social media gampang banget mengungkapkan fakta.
Wawancara Narasumber
Nama Informan
: Kartika Djoemadi
Jabatan Informan : Ketua Jokowi Ahok Social Media Volunteer (JASMEV)
Tanggal dan Waktu : 11 Oktober 2012, 17.10 WIB.
1. Apa posisi ibu di timses Jokowi-Ahok?
Saya bukan timses, saya cuma relawan karena kalo timses itu dari grup partai dari
PDI-P dan Gerindra. Kalau saya non partisan.
2. Bagaimana strategi timses Jokowi-Ahok di sosial media?
Kebetulan saya aktif di social media, di twitter followers saya lumayan banyak,
jadi saya jadi relawannya Jokowi. Karena saya piker dari putaran pertama, saya
sudah aktif cari informasi tentang Jokowi. Lalu saya tweet, di facebook juga,
segala macam informasi saya twitter tentang Jokowi. Jadi praktis kalau orang
bilang, kalau saya itu partisipannya Jokowilah dari putaran pertama. Terus
diputaran pertama Jokowi menang kan, ternyata prediksi LSI itu salah, yang paling
tepat memprediksikan presentase perolehan suara Jokowi-Ahok itu adalah political
web pada saat itu. Political web itu setiap agensinya bisa melacak semua
percakapan di sosial media. Misalnya, Pilkada DKI mereka harus tau keywordnya
seperti, Jokowi, Joko Widodo, Ahok, Basuki, Fauzi Bowo, Foke, pokoknya
keyword-keyword yang berhubungan dengan pilgub DKI itu dia masukan.
Akhirnya pergerakan sentimen publik di sosial media itu terukur dengan akurat,
dan setiap menit itu selalu berubah. Jadi, misalnya waktu jam 10 pagi itu Jokowi
dapat 40%, Foke 30%, terus berubah lagi. Pokoknya kita bicarakan Jokowi di
sosial media. Pada saat itu sentiman juga bisa diukur positif atau negatif. Kira-kira
kalau nadanya itu menyela berarti negatif, kalau nada-nadanya memuji atau
mendukung berarti positif nah keyword-keyword itu diukur masuk positif atau
negatif.. Begitu putaran pertama selesai, Jokowi menang prediksinya political web
itu yang paling akurat. Nah, diputaran ke-2 baru nih tim Foke itu konsen soal sosial
media. Tadinya mereka pikir sosial media tidak penting. Kita sebenrnya
relawannya Jokowi di twitter itu kan ribuan, nah mereka itu tanpa diminta dan
tanpa dibayar, independen, mereka dari putaran pertama sudah rajin saling
memberi info. Pas putaran ke-2 muncullah akun-akun tim Foke, pokoknya
tujuannya buat kampanye negatif supaya sentimen negatif Jokowi itu naik, setelah
sentimen Jokowi naik, nah publik setelah disurvei di sosial media itu isinya kaum
intelektual, rata-rata opinian leader dan informal leader. Jadi Foke mengeluarkan
banyak uang untuk orang-orang yang mengkampanyekan tentang dirinya di sosial
media. Itupun orang-orangnya tidak mau terlihat. Jadi, misalnya saya Dini nih,
saya dibayar sama Foke, saya tidak mau menggunakan akun pribadi saya, saya
pakai akun anonim saja. Akhirnya muncullah banyak akun-akun yang aslinya tuh
ownernya dibayar untuk ngetweet sebanyak-banyaknya terus dibayar sekian
disetiap minggunya. Gimana caranya supaya bikin fitnah atau apa saja tentang
Jokowi gitu. Saya nyuruh admin lain, jadi Triomacan ada adminnya banyak, terus
ada burung hantu lah segala macam. Jadi misalnya, saya nyuruh adminnya dan
admin itu buat 10 akun, nah induknya itu cuma 1, nanti kalau induknya ngetweet,
nanti kloningannya retweet atau menanggapinya. Terus lama kelamaan pada fitnah,
kita coba membuat culture. Kemudian saya di panggil Jokowi dari Solo, beliau
menanyakan saya aktif ya di sosial media, saya perlu satu koordinator untuk
mengumpulkan relaan di sosial media, dikasih wadah lalu di organisir. Supaya
mereka punya 1 isu yang bisa di tweet bareng. Kalau misalnya ada fitnah, kita
handling bareng-bareng. Akhirnya kita buat judgment Jokowi-Ahok follountir. Jadi
orang sambil nunggu bus atau dijalan macet sambil ngetweet. Kemudian saya cari
donatur, ada PT Arduda Indonesia punya pak Toni, dia itu adalah sosial media
agency, dia kantor infrastrukturnya. Dia yang buat web, sertifikatnya. Pokoknya
waktu kita launcing judgment, kita buka pendaftaran dengan akun-akun aslinya
bukan anonim, kita mau buat sesuatu yang beda saja gitu. Disana kampanye
negatf, disini tidak. Kalau ada informasi negatif kita klarifikasi, kita ngetweet
tentang prestasi-prestasinya Jokowi. Pokoknya kalau mau jadi membernya
jasmev, syaratnya harus ngetweet minimal sehari tentang Jokowi, tidak ada syarat
lain. Jadi, volunteers kita bebas ngetweet dengan bahasa masing-masing, ada yang
gaya bahasanya meledak-ledak ada bahasanya santun tapi ”dalam”, dan ternyata
member judgment itu dari Medan ada, dari Bandung, Solo, dari seluruh Indonesia.
Waktu kita launcing tanggal 12, members kita sudah ada seribu, begitu kemarin
tanggal 20, kan targetnya 10 ribu, itu ternyata 11 ribu-an yang daftar. Dari tanggal
12 sampai 20 itu ada1 juta mantion, ternyata ada 2 juta lebih. Saya bikin setiap
seminggu sekali pertemuan, misalnya minggu ini pertemuan facebooker, minggu
besoknya pertemuan relawan blogger, terus minggu depannya lagi anak twitter.
Kemudian membuat pembekalan tentang sosial media literasi, jadi bagaimana kita
membuat tweet yang elegan, lalu dengan bahasa yang seperti apa. Judgment itu
kan etalasenya pak Jokowi, kalau untuk real campaign itu urusan partai, kita tidak
ikut-ikutan, kita lebih di sosmed saja. Setiap ngetweet selalu sebut nama pak
Jokowi, supaya di political web votingnya tinggi. Yang paling seru adalah
seminggu sebelum pemilihan kita buat tranding topik. Misalnya, hari ini kita ganti
judul lagu dengan Jokowi-Ahok, besok kita ganti judul film Jokowi-Ahok, jadi
strateginya strategi yang fun gitu, bukan strategi memfitnah lawan, beda lah
pokoknya sama ”tetangga sebelah”. Kalau dia kan pakai hardcore kalau kita pakai
softcore. Anak-anak tweet kamil project namanya yang buat iklan itu adalah
sampai 12 juta-an habisnya, dari baju-bajunya, soundnya, dll. Pokonya membuat
akun dimana pak Jokowi menjadi brandnya anak-anak muda. Jadi kalau kita
ngetweet tidak boleh buat tweet war. Jadi pokoknya mengorganize relawan harus
yang changing, harus yang fun. Kita punya agenda setting sosial media, isunya kita
tentukan, dan cara memberitahukannya bebas.
3. Konsonansi?
Jadi, Jokowi-Ahok tidak pernah membayar konsultan politik, konsonansi pun
sebenarnya juga relawan tapi dia dapat sponsor, donaturnya itu tidak mau
disebutkan namanya, dia kasih dana ke Hasan untuk buat tim untuk mengambil
foto-foto pengambilan suara, fotonya lansung dikirim lewat BBM. Kalau Hasan
monitoring pencoblosan sampai penghitungan suara. Jokowi tidak pernah meminta
konsultan politik, malah konsultan itu sendiri yang mau menjadi relawannya.
Kalau soal mainstream media itu yang koordinator Budi Purnomo, kalau saya lebih
ke sosial medianya. Tapi pak Budi juga volunteer.
4. Apakah sosial media sangat berpengaruh?
Ya, sangat berpengaruh. Karena target vouter Jokowi dengan Foke itu berbeda.
Target volunter Jokowi pertamanya adalah masyarakat menengah ke bawah,
pedagang pasar, PKL, itu srateginya pak Jokowi dengan datang langsung (tatap
muka), itu mereka lakukan sendiri. Target vouter kedua adalah pemilih pemula.
Pemilih pemula di dapat di virtual live, ada di sosial media, dunia maya. Kenapa
sangat penting, karena vouter kita banyak yang disitu, selain iut banyak opinion
leader, seperti Adi MS dan Hanung, mereka itu opiniann leadeer, karena apa yang
mereka bicarakan followernya percaya. Jadi, orang-orang itu tidak dibayar, Adi
MS bilang ”siapa yang mau bayar saya? Saya saja belum pernah ketemu pak
Jokowi.”Karena munculnya Triomacan dengan fitnah-fitnah itu, munculah
judgment. Ownernya inilah.com itu adalah pemilik Triomacan. Jadi, judgment itu
yang minta dibuat oleh pak Jokowi, bagaimana kita, teman-teman relawam dibuat
wadah.
5. Apa yang ditakutkan Jokowi terhadap follounternya Foke?
Mahasiswanya, karena mahasiswa punya idealism, mereka kalau sudah pro
terhadap suatu hal, mereka akan gigih memperjuangkan terhadap sesuatu itu,
misalnya saya sudah nge-fans banget sama Foke, bapak saya pak RT dibayar sama
Foke. Jadi, yang ditakuti pak Jokowi terhadap folountirnya Foke adalah
mahasiswa-mahasiswanya, karena mereka informalider, pendapatnya selalu
didengarkan.
6. Sebenarnya yang membuat mainstream ”kotak-kotak” itu siapa?
Pak Jokowi sendiri. Sebenarnya yang bisa membuat brandingnya pak Jokowi itu
adalah ”kotak-kotak”, yang kedua adalah yang ”pendeso” itu, misalkan waktu
debat itu, pak Jokowi hanya menggunakan sepatu yang harganya hanya 180rb
sedangkan foke yang 1 jt-an, pak Jokowi menggunakan mobil inova, itu juga cuma
sewaan selama di Jakarta, sedangkan Foke yang mobil mewah. Bayangkan kalau
Foke yang memegang Jakarta lagi, Jakarta akan menjadi kota mall terbanyak di
Indonesia. Sedangkan Jokowi selama 7 tahun menjabat gubernur di Solo hanya
membangun 2 mall. Jadi masyrakat bawah itu pro dengan Jokowi itu karena
mereka pasti membantu kita. Yang ketiga, Jokowi bisa membuat masyarakat
bergerak mendukung dia tanpa dibayar, karena kita beli baju kotak-kotak 100 ribu.
Jokowi itu natural, apadanya, harmonisasi, jadi timses dan relawan itu bersinergi,
kalau kita ada acara kita lapor kepada timses, kita undang mereka. Bahkan ada
yang bertanya, kalian dibayar berapa sama pak Jokowi untuk buat acara, demi
Allah demi Rasulullah kita tidak pernah dibayar sepeser pun. Kalau yang
profesional dibayar, tapi kalau aku tidak. Kalau di sosial media itu tidak ada, gate
keepernya itu kita sendiri user, saya jadi jurnaslisnya, saya jadi gate kepeernya
juga, saya juga jadi audien gitu. Jadi, info apa pun mau fitnah, mau hujatan, tidak
ada remnya kalau di sosial media itu. Karena itu akhirnya yang membuat putaran
ke-2 timnya Foke konsen kesana. Video yang ada di youtube itu yang di buat sama
timses Foke, isinya fitnah-fitnah Jokowi saja, yang judulnya garis kotak-kotak itu
kampanye negatif. Kalau kita tidak, kita kampaye kreatif, kita buat tidak ada yang
memfitnah Foke, tetapi memang kita hadapi kenyataannya ya begitu. Beda gitu
kualitas kampanyenya. Banyak kok yang bilang. Jokowi cuma habis 31 milyar
kalau Foke 3 triliun buat kampanye, karena birokrat-birokratnya dibayar. Jokowi di
Jakarta dia cuma punya 5 milyar, dan itu hanya untuk biaya akomodasinya selama
bolak-balik ke Jakarta. Berarti kan Jokowi tidak punya apa-apa untuk kampanye
disini, karena itu kita mendalang dana, jualan baju kotak-kotak, jualan ini, jualan
itu.
7. Kalau kinerjanya timses Jokowi sama sosmed penghubung Jokowi juga
dampaknya lebih besar kinerja yang mana, timses atau sosmed penhubung?
Timses kan dari partai, tugasnya pendalangan massa dan koordinir saksi-saksi dan
saksi-saksi itu ribuan orang, saksi-saksi itu dibayar, 1 orang 100 ribu rupiah di
TPS, 1 TPS 3 orang saksi. Relawan bertugas sampai hari pencoblosan. Jadi semua
elemen penting, saksi oleh timses di training, kalau ada masalah komplein. Terus
penggalangan massa pada saat kampanye terbuka kita tidak ikutan, itu tugasnya
timses.
8. Sosial media yang paling ramai dimana, apakah twitter, facebook, atau blog?
Di twitter, karena menggunakan akun asli jadi kita lebih fleksibel. Mereka selalu
mention-mention tidak pernah ada bolongnya. Kalau twitter Foke kan ada
bolongnya, ada sehari tidak ada yang balas.
Download