Pengaruh harga minyak dunia dan variabel

advertisement
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1.
Pasar Modal
Pasar modal adalah pasar dari berbagai instrumen keuangan (sekuritas)
jangka panjang yang dapat diperjualbelikan, baik dalam bentuk hutang (obligasi)
maupun modal sendiri (saham) yang diterbitkan pemerintah atau perusahaan
swasta. Pada dasarnya fungsi pasar modal sebagai wahana demokratisasi
pemilikan saham yang ditunjukkan dengan semakin banyaknya institusi dan
individu yang memiliki saham perusahaan yang telah go public (Husnan dan
Pudjiastuti 1994).
Pasar modal memiliki peranan penting dalam mobilisasi dana untuk
menunjang pembangunan nasional. Akses dana dari pasar modal telah
mengundang banyak perusahaan nasional maupun patungan untuk menyerap dana
masyarakat tersebut dengan tujuan yang beragam. Namun, sasaran utamanya
adalah meningkatkan produktivitas kerja melalui ekspansi usaha dan/atau
mengadakan pembenahan struktur modal untuk meningkatkan daya saing
perusahaan.
2.2
Harga Minyak Mentah Dunia
Minyak mentah merupakan sumber energi vital bagi masyarakat dunia saat
ini. Sebagian besar industri di dunia menjalankan industrinya dengan
menggunakan sumber energi yang berasal dari olahan minyak mentah, contohnya
avtur yang merupakan bahan bakar pesawat terbang. Tidak hanya kalangan
industri, masyarakat awam pun sangat bergantung pada minyak mentah,
contohnya bensin yang digunakan untuk bahan bakar kendaraan bermotor.
Kebutuhan minyak mentah dunia yang semakin meningkat secara langsung
berdampak pada pergerakan harga minyak mentah dunia. Ada beberapa jenis
harga minyak mentah yang dikelompokkan berdasarkan kualitas minyak mentah
yang dihasilkan dari ladang minyak (The International Crude Oil Market
Handbook 2004). Beberapa harga minyak mentah dunia tersebut adalah West
Texas Intermediate atau lebih dikenal dengan minyak light sweet, Brent Blend,
Russian Export Blend, OPEC Basket price. Diantara keempat harga minyak
12
mentah tersebut, harga minyak jenis light sweet menjadi acuan harga minyak
mentah dunia hingga saat ini. Jika dikaitkan dengan perekonomian suatu negara
maka pergerakan harga-harga minyak tersebut tentu akan berpengaruh terhadap
negara-negara yang selama ini menjadi pemasok dan konsumen minyak mentah
dunia.
2.2.1. Harga Minyak dan Fluktuasi Ekonomi di Negara Eksportir Minyak
Bagi negara eksportir minyak, kenaikan harga minyak mempengaruhi
perekonomian melalui dua jalan yakni pertama, melalui penambahan penerimaan
dan kesejahteraan. Kenaikan harga minyak menrepresentasikan adanya transfer
kesejahteraan dari importir minyak ke eksportir minyak. Pengaruh jangka
menengah ke jangka panjang, bagaimanapun, tergantung pada apa yang dilakukan
produsen minyak (dalam hal ini pemerintah) terhadap tambahan penerimaan
tersebut. Jika penerimaan tersebut digunakan untuk belanja barang dan jasa di
negara bersangkutan, maka kenaikan harga minyak akan menyebabkan aktivitas
ekonomi domestik yang lebih tinggi. Oleh karena itu, kesejahteraan secara
nasional akan meningkat begitu pula dengan permintaan yang meningkat. Potensi
keuntungan dari sektor energi juga dapat menyediakan peluang investasi dan
bisnis secara keseluruhan, dengan meningkatnya permintaan terhadap tenaga kerja
dan modal. Bagaimanapun, aktivitas ekonomi yang tinggi dapat berakibat
munculnya tekanan pada inflasi dan mata uang lokal, yang terapresiasi di negara
pengekspor minyak. (Haldane 1997).
Kedua, kenaikan harga minyak dapat mempengaruhi perekonomian
melalui efek negatif dari perdagangan. Kenaikan harga minyak menyebabkan
negara pengimpor minyak mengurangi permintaan barang dan jasa dari negara
pengekspor minyak. Jika kenaikan harga minyak terus terjadi maka bisa berakibat
sektor ekspor dari negara pengekspor minyak akan turun dan merupakan stimulus
negatif bagi negara pengekspor minyak.
2.2.2. Harga Minyak dan Fluktuasi Ekonomi di Negara Importir Minyak
Guncangan harga minyak biasanya memiliki pengaruh terhadap banyak
sektor, khususnya sektor usaha yang input dalam proses produksinya
13
menggunakan energi minyak. Harga energi yang lebih tinggi mempengaruhi
output yang dihasilkan melalui fungsi produksi agregat. Perusahaan harus
mengurangi jumlah energi yang digunakan dalam proses produksi karena naiknya
biaya produksi akibat kenaikan harga energi. Hal tersebut pada akhirnya membuat
perusahaan menurunkan output yang dihasilkan serta profit yang diperoleh pun
berkurang (Adebiyi et al. 2009). Dari sisi konsumen, pengurangan output dan
pendapatan membuat konsumen di negara pengimpor minyak harus mengurangi
konsumsinya (begitu juga dengan investasi) dan akhirnya akan mengurangi
permintaan aggregat (Bohi 1989).
2.2.3. Hubungan Harga Minyak Mentah Dunia dengan Harga Saham
Mekanisme yang menjelaskan pengaruh harga minyak dunia terhadap
harga saham telah banyak diungkapkan, khususnya dari perspektif saluran
permintaan dan penawaran. Salah satunya dalam penelitian Adebiyi et al. (2009)
yang mengungkapkan bahwa bahan bakar minyak adalah salah satu input penting
bagi produksi sehingga jika ada kenaikan harga bahan bakar minyak akan
meningkatkan biaya produksi dan mengurangi produktivitas. Peningkatan biaya
produksi dan menurunnya produktivitas akan mempengaruhi jumlah output yang
dihasilkan serta harga jual output. Hal tersebut selanjutnya akan berpengaruh
terhadap daya beli konsumen, dimana naiknya biaya produksi akan membuat
naiknya harga jual serta konsumen akan cenderung mengurangi jumlah barang
yang dikonsumsi sehingga penerimaan produsen akan cenderung menurun dan
mempengaruhi arus kas. Arus kas yang menurun akan dipandang tidak baik oleh
investor sehingga hal tersebut akan membuat investor tidak tertarik untuk
menginvestasikan dananya pada saham perusahaan. Selain berpengaruh pada daya
beli konsumen, peningkatan harga bahan bakar minyak juga akan membuat
produsen mensubstitusi penggunaan energinya, dari bahan bakar minyak ke
sumber energi lain. Hal ini karena jumlah biaya penggunaan sumber energi lain,
seperti batu bara, yang harus dikeluarkan oleh produsen relatif lebih kecil
dibandingkan biaya penggunaan bahan bakar minyak sebagai input produksi.
Pengaruh kenaikan harga minyak tidak selalu sama bagi setiap negara.
Secara umum, bagi negara eksportir minyak, kenaikan harga minyak merupakan
14
berkah karena pendapatan negara meningkat dan berujung pada tingkat
kesejahteraan yang lebih baik. Sebaliknya bagi negara importir minyak, kenaikan
harga minyak akan meningkatkan pengeluaran negara pada sektor energi.
Basher dan Sadorsky (2006) mengungkapkan bahwa bahan bakar minyak,
begitu pula dengan modal, tenaga kerja dan bahan baku merupakan komponen
penting dalam produksi barang dan jasa, sehingga perubahan harga input-input ini
akan mempengaruhi arus kas. Pada kasus negara importir minyak (Gambar 7),
peningkatan harga minyak akan meningkatkan biaya produksi karena tidak adanya
input substitusi antara faktor-faktor produksi tersebut. Biaya produksi yang tinggi
mengurangi arus kas dan pada akhirnya menurunkan harga saham. Kenaikan
harga minyak juga mempengaruhi tingkat bunga diskonto. Kenaikan harga
minyak sering menunjukkan tekanan inflasi yang bank sentral dapat mengontrol
dengan menaikkan suku bunga. Bagi tipe investor yang memiliki kecenderungan
berhati-hati (risk averter), kenaikan suku bunga membuat investasi pada
instrumen obligasi lebih menarik daripada saham, selain untuk mengantisipasi
resiko fluktuasi harga saham, hal tersebut menyebabkan penurunan harga saham
karena para investor memindahkan dananya ke instrumen obligasi.
Perubahan Harga Minyak Dunia (naik)
Depresiasi
Inflasi naik
Biaya Produksi meningkat
Pengeluaran
konsumen naik
Suku bunga naik
Output turun
Investasi di obligasi meningkat
Arus kas turun
Harga saham turun
Gambar 7
Hubungan Harga Minyak Dunia dengan Harga Saham di Negara
Importir Minyak
15
Jika dilihat dari sudut pandang perusahaan, pengaruh kenaikan harga
minyak sebenarnya tergantung pada apakah perusahaan menggunakan bahan
bakar minyak sebagai sumber energi utama dalam proses produksinya. Sejak
banyaknya perusahaan di dunia yang menggunakan bahan bakar minyak sebagai
sumber energi utama dalam proses produksinya, pengaruh kenaikan harga minyak
terhadap pasar saham menjadi lebih bersifat negatif. Pergerakan harga minyak
dunia, yang dinotasikan dengan mata uang US Dollar, akan mempengaruhi nilai
tukar setiap negara melalui suplai dan permintaan minyak karena perubahan
suplai dan permintaan terhadap minyak akan ikut menggerakkan nilai US Dollar
terhadap mata uang setiap negara, baik eksportir maupun importir minyak
(Coudert et al. 2008). Nilai tukar dapat mempengaruhi pasar saham melalui
ekspektasi inflasi. Peningkatan harga minyak, karena naiknya permintaan
terhadap minyak, akan memicu terjadinya depresiasi di negara importir. Di sisi
lain, depresiasi mata uang suatu negara akan menurunkan harga saham karena
investor beranggapan bahwa inflasi akan meningkat. Inflasi merupakan salah satu
informasi buruk bagi pasar saham karena inflasi akan memicu naiknya
pengeluaran konsumen dan menurunkan pendapatan perusahaan, yang berujung
pada turunnya harga saham perusahaan tersebut (Dimitrova 2005).
Saat ini penggunaan energi di negara berkembang lebih efisien
dibandingkan 20 tahun yang lalu. Efisiensi energi terjadi karena adanya
pengurangan intensitas energi melalui inovasi teknologi dan peningkatan
diversifikasi sumber energi lainnya. Negara berkembang cenderung menggunakan
energi yang lebih banyak dibandingkan negara maju, sehingga terjadinya
kenaikan harga minyak akan sangat berpengaruh pada penerimaan dan harga
saham di negara berkembang.
2.3.
Hubungan Kebijakan Moneter dengan Harga Saham
Suku bunga merupakan salah satu resiko yang harus dipertimbangkan oleh
investor sebelum berinvestasi di sebuah negara. Mishkin (2001) mengungkapkan
bahwa kebijakan moneter tidak hanya mempengaruhi perekonomian melalui
instrumen utang namun bisa melalui harga aset. Salah satu harga aset yang
dipengaruhi oleh suku bunga melalui mekanisme transmisi adalah harga saham.
16
Fluktuasi harga di pasar saham, yang dipengaruhi oleh kebijakan moneter,
memiliki pengaruh penting terhadap ekonomi. Mekanisme transmisi yang
melibatkan pasar saham terdiri dari tiga jenis yakni pengaruh pasar saham
terhadap investasi, pengaruh neraca perusahaan, pengaruh kesejahteraan rumah
tangga, dan pengaruh likuiditas rumah tangga.
Khusus untuk pengaruh pasar saham terhadap investasi. Teori Tobin’s q
menjelaskan mekanisme penting tentang bagaimana pergerakan harga saham
dapat mempengaruhi perekonomian. Tobin’s q dapat diartikan sebagai nilai pasar
perusahaan dibagi dengan biaya penggantian modal. Jika q tinggi, harga pasar
perusahaan relatif tinggi terhadap biaya penggantian modal, dan pabrik baru serta
peralatan relatif murah terhadap nilai pasar perusahaan. Perusahaan dapat
menerbitkan saham dan menperoleh harga saham yang tinggi terhadap biaya
fasilitas dan peralatan mereka beli. Pengeluaran untuk investasi akan meningkat
karena perusahaan dapat membeli banyak instrumen investasi hanya dengan
menerbitkan sedikit saham.
Hal yang terpenting dari model Tobin’s q adalah adanya hubungan antara
harga saham dan pengeluaran investasi. Kemudian bagaimana kebijakan moneter
mempengaruhi harga saham. Kebijakan moneter ekspansif dimana suku bunga
diturunkan akan membuat obligasi tidak menarik dibandingkan saham dan
meningkatkan permintaan terhadap saham yang harganya akan meningkat.
Dengan mengkombinasikan hal tersebut dengan pengeluaran investasi, maka
harga saham yang tinggi akan meningkatkan pengeluaran investasi. Mekanisme
transmisinya dapat dilihat dalam skema berikut ini peningkatan jumlah uang
beredar menunjukan kebijakan moneter ekspansif. Jika penetapan harga saham
menggunakan model dividend discount, maka kebijakan moneter akan
mempengaruhi harga saham melalui suku bunga karena investasi di saham lebih
menguntungkan dibandingkan di obligasi (Hildebrand 2006). Kemudian jumlah
saham yang dimiliki meningkat dan mengindikasikan pengeluaran investasi
meningkat. Dengan demikian akan terjadi peningkatan pada permintaan aggregat
yang akan meningkatkan output.
Investasi perusahaan tidak hanya melalui obligasi tetapi dapat pula melalui
penerbitan saham baru. Biaya modal perusahaan akan relatif turun ketika harga
17
saham tinggi karena perusahaan memperoleh dana yang lebih besar dari
penerbitan saham baru tersebut. Ketika harga saham tinggi maka pengeluaran
investasi akan meningkat karena biaya modal yang rendah. Kebijakan moneter
ekspansif
meningkatkan
harga
saham,
menurunkan
biaya
modal
dan
menyebabkan investasi dan output meningkat.
2.4.
Tinjauan Penelitian Empiris
Gejolak harga minyak dunia yang dimulai dari sejak awal tahun 2002 dan
pada saat yang sama terjadi bullish pada indeks harga saham global, menimbulkan
banyak ketertarikan peneliti untuk menganalisa hubungan antara harga minyak
dunia dan pasar keuangan, khususnya pasar saham di negara-negara eksportir
maupun importir minyak. Beberapa penelitian di bawah ini fokus pada pengaruh
harga minyak dunia terhadap perekonomian salah satu tipe negara, baik negara
eksportir minyak dan importir minyak sekaligus negara maju dan berkembang.
Beberapa penelitian yang menunjukan pergerakan indeks harga saham di
negara eksportir minyak diantaranya ialah penelitian Bjornland (2008) yang
dilakukan di salah satu negara eksportir minyak di Eropa yakni Norwegia. Dengan
menggunakan metode SVAR, Bjornland (2008) mengungkapkan bahwa kenaikan
harga minyak dunia akan menaikkan indeks harga saham. Hal tersebut karena
kenaikan harga minyak dunia menstimulasi perekonomian Norwegia sehingga
terjadi peningkatan kesejahteraan dan permintaan aggregat, artinya masyarakat
dengan
tingkat
kesejahteraan
masyarakat
yang
tinggi
akan
cenderung
menginvestasikan dananya pada instrumen saham.
Hasil penelitian Bjornland (2008) serupa dengan hasil penelitian Abdelaziz
et al. (2008) yang menggunakan VECM untuk menguji pengaruh harga minyak
dunia terhadap indeks harga saham empat negara eksportir minyak di Timur
Tengah yakni Arab Saudi, Mesir, Oman, dan Kuwait. Hasil penelitian Abdelaziz
menunjukan bahwa harga minyak dunia menjadi penentu pergerakan nilai tukar
dan harga saham di empat negara tersebut. Hasil tersebut mengindikasikan bahwa
kondisi perekonomian keempat negara tersebut cukup terpengaruh oleh
pergerakan harga minyak dunia karena keempat negara eksportir tersebut adalah
produsen minyak mentah terbesar di dunia.
18
Hasil berbeda justru diungkapkan oleh Adebiyi et al. (2009) yang
mengestimasi pengaruh harga minyak dunia, nilai tukar, suku bunga, dan indeks
produksi industri terhadap indeks harga saham di Nigeria. Dengan menggunakan
metode VAR, hasil penelitian menunjukan bahwa harga minyak dunia
berpengaruh negatif terhadap indeks harga saham, yang artinya bahwa naiknya
harga minyak dunia akan menurunkan indeks harga saham di Nigeria. Hasil
tersebut tidak sesuai dengan apa yang diharapkan karena Nigeria merupakan
negara pengekspor minyak mentah sekaligus negara anggota Organization of
Petroleum Exporting Countries (OPEC), dimana kenaikan harga minyak dunia
seharusnya meningkatkan indeks harga saham di Nigeria. Perbedaan penelitian
Adebiyi et al. (2009) dengan dua penelitian sebelumnya yakni Bjornland (2008)
dan Abdelaziz et al. (2008) adalah penelitian Adebiyi et al. (2009)
membandingkan shocks harga minyak dunia dan shocks suku bunga terhadap
pasar saham untuk menentukan variabel mana yang lebih berperan menggerakkan
indeks harga saham di Nigeria. Hasilnya adalah shocks suku bunga memiliki
pengaruh yang lebih besar dari pada shocks harga minyak dunia. Hal tersebut
mengindikasikan bahwa kebijakan moneter di Nigeria secara sistematis
mengantisipasi inflasi yang ditimbulkan oleh kenaikan harga minyak dunia
dengan peningkatan suku bunga, yang pada akhirnya akan menurunkan indeks
harga saham.
Sedangkan penelitian yang dilakukan terhadap indeks harga saham negara
importir minyak yakni penelitian Masih et al. (2010) yang menjelaskan dampak
perubahan harga minyak dunia dan volatilitas harga minyak dunia terhadap indeks
harga saham, produksi industri, dan suku bunga di Korea Selatan, yang
merupakan importir minyak. Hasil penelitian menunjukan bahwa pergerakan
harga minyak dunia mempengaruhi pasar saham. Adanya shock harga minyak
dunia dan volatilitas harga minyak dunia membuat harga saham turun secara
perlahan dalam kurun waktu 9 bulan. Dalam kurun waktu tersebut suku bunga
juga mempengaruhi pergerakan harga saham. Artinya, instrumen suku bunga
digunakan oleh pemegang kebijakan ekonomi di Korea Selatan untuk
mengantisipasi inflasi yang ditimbulkan oleh pergerakan harga minyak dunia.
19
Sementara itu, penelitian tentang pengaruh harga minyak dunia terhadap
indeks harga saham di negara-negara maju dilakukan oleh Apergis dan Miller
(2008) yang menguji pengaruh pasar minyak dunia terhadap pasar saham di
delapan negara yakni Australia, Kanada, Perancis, Jerman, Italia, Jepang, dan
Inggris dengan menggunakan VECM. Penelitian Apergis dan Miller (2008) ini
tidak spesifik melihat pengaruh shock harga minyak dunia namun lebih pada
pengaruh shock suplai minyak dunia terhadap indeks harga saham. Hasil
penelitian menunjukan bahwa pasar saham di delapan negara tersebut tidak terlalu
merespon perubahan suplai minyak dunia. Jika dikaitkan dengan penelitian
Basher et al. (2010) yang menjelaskan bahwa konsumsi minyak mentah negaranegara maju cenderung stabil dan bahkan turun, maka penelitian ini membuktikan
hal tersebut dimana indeks harga saham negara-negara maju tidak terlalu reaktif
dengan apa yang terjadi di pasar minyak dunia karena negara-negara tersebut
memiliki tingkat konsumsi minyak yang stabil dan bahkan di beberapa negara
konsumsi minyaknya cenderung menurun.
Sedangkan penelitian Kilian dan Park (2007) tentang pengaruh harga
minyak dunia terhadap indeks harga saham, khususnya di Amerika Serikat,
menjelaskan bahwa pernyataan “kenaikan harga minyak dunia akan menurunkan
harga saham” sebenarnya tidak mutlak terjadi. Kilian dan Park (2007)
mengungkapkan bahwa pernyataan tersebut hanya berlaku bagi negara-negara
yang memiliki jumlah permintaan atas minyak dunia yang relatif tinggi karena
negara-negara tersebut mengantisipasi berkurangnya suplai minyak dunia dari
eksportir minyak di masa datang. Hasil dari penelitian Kilian dan Park (2007)
tersebut diperoleh setelah keduanya menganalisis shock suplai minyak dan shock
permintaan minyak. Hasilnya diperoleh bahwa suplai minyak tidak signifikan
mempengaruhi harga dan lebih jauh lagi tidak mempengaruhi indeks harga saham.
Sehingga bisa dikatakan bahwa respon indeks harga saham tergantung pada faktor
yang menyebabkan pergerakan harga minyak dunia, apakah karena suplai minyak
atau permintaan minyak.
Hasil berbeda diungkapkan oleh Maghreyeh (2004). Penelitian pengaruh
harga minyak dunia terhadap indeks harga saham di negara-negara berkembang
dilakukan oleh Maghreyeh (2004). Dengan menggunakan metode VAR,
20
Maghreyeh (2004) mengungkapkan bahwa harga minyak dunia tidak terlalu
dominan mempengaruhi indeks harga saham di negara-negara berkembang. Selain
itu, hasil impulse response menunjukan bahwa gejolak pasar minyak dunia yang
ditunjukan oleh harga minyak dunia tidak terlalu direspon oleh indeks harga
saham. Hasil ini menunjukan bahwa pergerakan harga minyak dunia tidak selalu
berarti pergerakan indeks harga saham. Selain itu, hasil penelitian Maghreyeh
(2004) ini juga membuktikan bahwa arus modal di pasar saham negara-negara
berkembang tidak berjalan efektif karena pengaruh spekulasi dari beberapa
investor.
Jika dibandingkan dengan penelitian sebelumnya maka penelitian ini
memiliki perbedaan. Pertama, terkait dengan indeks harga saham di negara
eksportir dan importir minyak. Beberapa penelitian sebelumnya lebih fokus pada
salah satu tipe negara saja, yakni apakah negara tersebut eksportir atau importir
minyak. Pada penelitian ini, hasil analisis akan disajikan berdasarkan apakah
negara tersebut adalah eksportir minyak atau importir minyak. Sekaligus,
penelitian ini juga menyajikan hasil berdasarkan pada tingkat perekonomian
masing-masing negara sehingga diperoleh perbandingan pengaruh harga minyak
dunia terhadap indeks harga saham di negara maju dan indeks harga saham di
negara berkembang. Penelitian ini juga akan menggunakan variabel dummy yakni
krisis subprime mortgage. Hal ini dikarenakan periode penelitian ini mencakup
periode krisis dan sebelum krisis subprime mortgage terjadi. Selain itu,
penggunaan variabel dummy ini diharapkan dapat menunjukan seberapa besar
pengaruh krisis subprime mortgage terhadap pergerakan indeks harga saham.
2.5.
Kerangka Pemikiran
Skema alur pemikiran pada Gambar 8 menunjukan analisis pengaruh
pergerakan harga minyak dunia dan variabel makroekonomi terhadap pergerakan
indeks harga saham. Namun ada beberapa variabel yang tidak dimasukkan dalam
lingkup penelitian yakni jumlah produksi dan konsumsi minyak mentah, investasi
pada instrumen obligasi, pengeluaran konsumen, biaya produksi perusahaan,
output perusahaan dan arus kas perusahaan serta harga saham perusahaan. Selain
itu, penelitian ini memasukkan variabel dummy untuk menjelaskan periode
21
sebelum dan selama krisis subprime mortgage yang terjadi di Amerika Serikat
yang berawal pada bulan Juli 2007. Berdasarkan beberapa literatur teori dan
penelitian terdahulu maka diduga terdapat pengaruh pergerakan harga minyak
dunia dan variabel makroekonomi terhadap indeks harga saham, khususnya di
negara-negara Asia Tenggara, Asia Timur, Eropa, dan Amerika.
Inti permasalahan pada penelitian ini adalah apakah terdapat pengaruh
pergerakan harga minyak dunia terhadap aktivitas perekonomian dunia, yang
ditunjukan oleh pergerakan pasar saham. Alasan pasar saham dijadikan indikator
aktivitas perekonomian di suatu negara pada penelitian ini ialah karena pasar
keuangan ini merupakan tempat atau sarana bagi aliran modal dari luar negeri
maupun dari domestik yang dipandang memiliki keterkaitan dengan tingkat
kesejahteraan. Dana berlimpah yang dimiliki masyarakat atau perusahaan,
khususnya kalangan investor, akan membuat arus modal semakin aktif mengalir di
pasar saham dan indeks harga saham akan menunjukan tren positif sehingga
aktivitas perekonomian negara tersebut bisa dikatakan baik.
Secara umum, penelitian ini ingin melihat apakah ada pengaruh
pergerakan harga minyak dunia terhadap pergerakan pasar saham di masingmasing negara yang akan diuji. Secara khusus, peneliti akan melihat bagaimana
respon indeks harga saham di setiap negara eksportir dan importir minyak yang
sekaligus merupakan negara maju dan negara berkembang terhadap pergerakan
harga minyak dunia.
Minyak dunia menjadi komoditas penting bagi setiap negara khususnya
bagi negara-negara yang sedang mengembangkan sektor industrinya. Sehingga
pergerakan harga komoditas ini menjadi perhatian khusus bagi pemegang
kebijakan ekonomi di setiap negara. Pengaruh kenaikan harga minyak dunia
sebenarnya tidak sama bagi setiap negara. Secara umum, bagi negara yang
memiliki sumber minyak yang berlimpah, kenaikan harga minyak dunia
merupakan berkah karena pendapatan negara meningkat dan berujung pada
tingkat kesejahteraan yang lebih baik. Sebaliknya bagi negara yang lebih besar
konsumsi daripada produksi minyaknya, kenaikan harga minyak dunia akan
meningkatkan pengeluaran negara pada sektor energi.
22
Bagi negara eksportir minyak, kenaikan harga minyak dunia akan
membuat nilai tukar mata uang lokal mereka terapresiasi. Nilai mata uang lokal
yang meningkat dibandingkan nilai mata uang asing akan membuat industri
sebagai pengguna bahan bakar minyak dalam kegiatan produksinya akan lebih
leluasa mengendalikan biaya produksinya. Biaya produksi yang stabil akan
berimbas pada harga jual produk yang stabil pula. Sehingga tingkat inflasi dapat
dikendalikan oleh bank sentral melalui kebijakan moneter yakni suku bunga
diturunkan atau tetap.
Keadaan ini sebenarnya dapat dilihat dari dua sisi yakni sisi pemerintah
dan perusahaan (dalam hal ini adalah produsen dan pengguna bahan bakar
minyak) dan sisi masyarakat sebagai pemegang dana (investor). Bagi pemerintah,
tambahan penerimaan dari sektor energi merupakan peluang untuk meningkatkan
perekonomian. Pengaruh jangka menengah ke jangka panjang, bagaimanapun,
tergantung pada apa yang dilakukan oleh pemerintah terhadap tambahan
penerimaan tersebut. Jika penerimaan tersebut digunakan belanja barang dan jasa
di negara bersangkutan, kenaikan harga minyak menyebabkan aktivitas ekonomi
domestik lebih tinggi. Oleh karena itu, kesejahteraan secara nasional akan
meningkat begitu pula dengan permintaan yang meningkat. Potensi keuntungan
dari sektor energi juga dapat menyediakan peluang investasi dan bisnis secara
keseluruhan, dengan meningkatnya permintaan terhadap tenaga kerja dan modal.
Bagaimanapun, aktivitas ekonomi yang tinggi dapat berakibat munculnya tekanan
pada inflasi dan mata uang lokal (apresiasi).
Bagi masyarakat sebagai pemegang dana (investor), keadaan mata uang
yang terapresiasi serta penetapan suku bunga yang cenderung rendah oleh bank
sentral membuat berinvestasi pada instrumen dengan pendapatan tetap (fixed
income), seperti obligasi, menjadi tidak menarik. Suku bunga rendah juga dapat
memicu meningkatnya jumlah uang beredar karena masyarakat tidak akan tertarik
menyimpan dananya di deposito ataupun obligasi dan lebih memilih untuk
menginvestasikannya pada instrumen investasi yang tidak tergantung pada tingkat
suku bunga. Instrumen dengan likuiditas tinggi seperti saham menjadi pilihan
investasi bagi sebagian kalangan dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan.
Potensi keuntungan di instrumen obligasi yang kurang menarik membuat
23
instrumen saham menjadi alternatif pilihan bagi investor untuk berinvestasi. Hal
tersebut akan meningkatkan indeks harga saham.
Pergerakan Harga Minyak Dunia
Krisis subprime mortgage
Negara-negara Asia Tenggara, Asia Timur, Eropa, dan Amerika
Jumlah Produksi dan Konsumsi Minyak
Nilai Tukar
Inflasi
Suku Bunga
Pengeluaran Konsumen
Biaya Produksi
Output
Indeks Harga Saham
Investasi Obligasi
Arus Kas
Perusahaan
Vector Autoregression
Harga Saham
Perusahaan
Pengaruh Harga Minyak Dunia dan Variabel
Makroekonomi Terhadap Indeks Harga Saham
Keterangan :
= alur penelitian
Gambar 8 Kerangka Pemikiran
Jika kenaikan harga minyak dunia merupakan keuntungan bagi negara
eksportir minyak maka sebaliknya bagi negara importir minyak. Pada saat terjadi
kenaikan harga minyak mentah dunia maka negara importir minyak membutuhkan
lebih banyak US Dollar untuk mengimpor minyak sehingga nilai tukar mata uang
24
lokal negara importir terdepresiasi. Dimitrova (2005) mengungkapkan bahwa jika
terjadi depresiasi maka ekspektasi inflasi akan meningkat karena ada
kekhawatiran bahwa harga akan naik setelah terjadinya kenaikan harga minyak
dunia. Bank sentral sebagai otoritas moneter dapat mengendalikan ekspektasi
inflasi melalui penetapan suku bunga nominal, sesuai dengan persamaan Fisher
bahwa salah satu faktor yang menentukan tingkat suku bunga nominal, selain
suku bunga riil, adalah tingkat ekspektasi inflasi (Mankiw 2007). Jika tingkat
ekspektasi inflasi tinggi maka bank sentral perlu menaikkan suku bunga nominal,
dengan kata lain bahwa bank sentral melakukan kebijakan moneter kontraktif.
Menurut mekanisme transmisi suku bunga yang diungkapkan oleh Miskhin
(2001), kebijakan moneter kontraktif, yakni menaikkan suku bunga nominal akan
mempengaruhi tingkat bunga di instrumen obligasi. Hal ini akan mempengaruhi
harga saham (turun) karena instrumen obligasi jauh lebih menarik dan beresiko
rendah karena tingkat return-nya ditentukan oleh tingkat suku bunga.
2.6.
Hipotesis Penelitian
Berdasarkan literatur-literatur yang mendasari penelitian serta dari hasil
penelitian sebelumnya, maka penulis memiliki hipotesis sebagai berikut:
1. Diduga pergerakan indeks harga saham di masing-masing negara yang berada
di kawasan Asia Tenggara, Asia Timur, Eropa, dan Amerika disebabkan oleh
pergerakkan harga minyak dunia.
2. Diduga pergerakan harga minyak dunia berpengaruh terhadap indeks harga
saham di masing-masing negara yang berada di kawasan Asia Tenggara, Asia
Timur, Eropa, dan Amerika. Kenaikan harga minyak akan meningkatkan
indeks harga saham di negara eksportir minyak. Sedangkan di negara importir
minyak, kenaikan harga minyak akan menurunkan indeks harga saham.
3. Diduga variabel makroekonomi seperti nilai tukar, inflasi, dan suku bunga
ikut memberi kontribusi dalam fluktuasi indeks harga saham di masingmasing negara yang berada di kawasan Asia Tenggara, Asia Timur, Eropa,
dan Amerika.
Download