BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Konstruksionis Paradigma

advertisement
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Konstruksionis
Paradigma konstruksionis memandang realitas kehidupan sosial bukanlah
realitas yang natural, tetapi terbentuk dari hasil konstruksi. Karenanya,
konsentrasi analisis pada paradigma konstruksionis adalah menemukan bagaimana
peristiwa atau realitas tersebut dikonstruksi, dengan cara apa konstruksi itu
dibentuk. Dalam studi komunikasi, paradigma konstruksionis ini sering sekali
disebut sebagai paradigma produksi dan pertukaran makna. Ia sering dilawankan
dengan paradigma prositivis atau paradigma transmisi. 5
Pradigma ini melihat komunikasi sebagai produksi dan pertukaran makna.
Yang menjadi titik perhatian bukan bagaimana seorang mengirim pesan, tetapi
bagaimana
masing-masing
pihak
dalam
lalu
lintas
komunikasi
saling
memproduksi dan mempertukarkan makna. Disini diandaikan tidak ada pesan
dalam arti yang statis yang saling dipertukarkan dan disebarkan. Pesan itu sendiri
dibentuk secara bersama-sama antara pengirim dan penerima atau pihak yang
berkomunikasi dan dihubungkan dengan konteks sosial dimana mereka berada.
Fokus menelitian ini adalah bagaimana pesan politik dibuat dan diciptakan oleh
komunikator dan bagaimana pesan secara aktif ditafsirkan oleh individu sebagai
penerima.6
5
6
Eriyanto, Analisis Framing, Yogyakarta: LKiS, 2002 Hlm:43
Ibid. 46
7
Pradigma konstruksionis ini mempunyai posisi dan pandangan tersendiri
terhadap
media
dan
teks
berita
yang
dihasilkan.
Konsep
mengenai
konstruksionisme diperkenalkan oleh sosiolog interpretatif Peter L. Berger
bersama Thomas Luckman, ia banyak mengembangkan aliran ini dengan banyak
menulis karya dan tesis mengenai konstruksi sosial atas realitas. Tesisi utama dari
Berger adalah manusia dan masyarakat adalah produk yang dialektis, dinamis, dan
plural secara terus-menerus mempunyai aksi kembali terhadap penghasilnya.
Sebaliknya, manusia adalah hasil atau produk dari masyarakat. Seseorang baru
menjadi seorang pribadi yang beridentitas sejauh ia tetap tinggal dalam
masyarakat.
Proses dialektis tersebut mempunyai tiga tahapan. Berger dalam Eriyanto
(2002:16-17) menyebutnya sebagai momen. Ada tiga tahap peristiwa. Pertama
eksternalisasi, yaitu usaha pencurahan ke tempat dimana ia berada. Manusia tidak
dapat kita mengerti sebagai ketertutupan yang lepas dari dunia luarnya. Manusia
berusaha menangkap dirinya, dalam proses inilah dihasilkan suatu dunia, dengan
kata lain manusia menemukan dirinya sendiri dalam suatu dunia.
Kedua, objektivasi, yaitu hasil yang telah dicapai baik mental maupun fisik
dari kegiatan eksternalisasi manusia tersebut. Hasil ini menghasilkan realitas
objektif yang bisa jadi akan menghadapi si penghasil itu sendiri sebagai suatu
faktisitas yang berada diluar dan berlainan dari manusia yang menghasilkannya.
Lewat proses objektivitas ini, masyarakat menjadi suatu realitas sui generis. Hasil
dari eksternalisasi kebudayaan itu misalnya, manusia menciptakan alat demi
kemudahan hidupnya, atau kebudayaan non material dalam bentuk bahasa.
8
Baik alat maupun bahasa tadi adalah kegiatan eksternalisasi manusia ketika
berhadapan dengan dunia, ia adalah hasil dari kegiatan manusia. Setelah
dihasilkan, baik benda atau bahasa sebagai produk eksternalisasi tersebut menjadi
realitas yang objektif. Bahkan ia dapat menghadapi manusia sebagai penghasil
dari produk kebudayaan. Kebudayaan yang telah berstatus realitas objektif, ada
diluar kesadaran manusia, ada “disana” bagi setiap orang. Realitas objektif itu
berbeda dengan kenyataan subjektif perorangan. Ia menjadi kenyataan empiris
yang bisa dialami oleh setiap orang.
Ketiga, Proses internalisasi merupakan penyerapan kembali dunia objektif
ke dalam kesadaran sedemikian rupa sehingga subjektif individu dipengaruhi oleh
struktur dunia sosial. Berbagai macam unsur dari dunia yang telah terobjektifkan
tersebut akan ditangkap sebagai gejala realitas diluar kesadaranya, sekaligus
sebagai gejala internal bagi kesadaran. Melalui iternalisasi, manusia menjadi hasil
dari masyarakat.
Bagi Berger, relitas itu tidak dibentuk secara ilmiah, namun tidak juga turun
karena campur tangan tuhan, tetapi sebaliknya ia dibentuk dan dikonstruksi.7
Dengan pemahaman seperti ini, realitas berwajah ganda atau plural. Oleh sebab
itu realitas yang sama bisa ditanggapi, dimaknai dan dikonstruksi secara berbedabeda oleh setiap orang. Karena setiap orang mempunyai pengalaman, preferensi,
pendidikan tertentu dan lingkungan pergaulan atau kehidupan sosial tertentu,
dimana kesemua itu suatu saat akan digunakan untuk menafsirkan realitas sosial
7
Ibid. 18-21
9
yang ada disekelilingnya dengan konstruksinya masing-masing. Selain plural,
konstruksi sosial juga bersifat dinamis.
Sebuah teks berupa berita tidak bisa kita samakan seperti sebuah kopi dari
realitas, ia harus dipandang sebagai konstruksi atas realitas. Karenanya, sangat
potensial terjadi peristiwa yang saman dikonstruksi secara berbeda. Wartawan
juga mempunyai pandangan dan konsepsi yang berbeda ketika melihat suatu
peristiwa, dan hal itu dapat dilihat dari bagaimana mereka mengkonstruksikan
peristiwa itu, yang diwujudkan dalam teks berita. Berita dalam pandangan
konstruksi sosial, bila merupakan peristiwa atau fakta dalam arti yang riil. Disini
realitas bukan dioper begitu saja sebagai berita. Ia adalah produk interaksi antara
wartawan dengan fakta. Dalam proses internalisai, wartawan dilanda oleh realitas.
Realitas dialami oleh wartawan dan diserap dalam kesadaran wartawan. Dalam
proses eksternalisasi, wartawan menceburkan dirinya untuk memaknai realitas.
Konsepsi tentang fakta diekspresikan untuk melihat realitas. Hasil dari berita
adalah produk dari proses interaksi dan dialektika tersebut. 8
8
Ibid. 17
10
Pendekatan konstruksionis mempunyai penilaian sendiri bagaimana media,
wartawan, dan berita dilihat, yaitu pada tabel berikut:
Penilaian
Paradigma
Paradigma Positivis
Konstruksionis
Fakta/peristiwa adalah hasil Fakta merupakan
Ada fakta yang “riil” yang
konstruksi atas realitas.
konstruksi.
diatur oleh kaidah-kaidah
Kebenaran suatu fakta
tertentu yang berlaku
bersifat relatif, berlaku
universal.
sesuai konteks tertentu.
Media adalah agen
Media sebagai agen
Media sebagai saluran
konstruksi.
konstruksi pesan.
pesan.
Berita bukan refleksi dari Berita tidak mungkin
Berita adalah cermin dan
realitas. Ia hanyalah
merupakan cermin dan
refleksi dari kenyataan.
Karena itu, berita haruslah
konstruksi dari realitas.
refleksi dari realitas.
sama dan sebangun
Karena berita yang
terbentuk nerupakan
dengan fakta yang hendak
konstruksi atas realitas.
diliput.
Berita bersifat
Berita bersifat subyektif, Berita bersifat oyektif,
subyektif/konstruksi atas
opini tidak dapat
menyingkirkan opini dan
realitas.
dihilangkan karena ketika pandangan subyektif dari
meliput, wartawan melihat pembuat berita.
dengan perspektif dan
pertimbangan subyektif.
Wartawan bukan pelapor. Ia Wartawan sebagai
Wartawan sebagai
agen konstruksi realitas.
partisipan yang
pelapor.
menjembatani keragaman
subyektifitas pelaku
sosial.
Etika, pilihan moral, dan
Nilai, etika, atau
Nilai, etika, opini, dan
keberpihakan wartawan
keberpihakan wartawan pilihan moral berada
adalah bagian yang integral tidak dapat dipisahkan
diluar proses peliputan
dari proses peliputan dan berita.
dalam produksi berita.
pelaporan suatu peristiwa.
Etika, dan pilihan moral
Nilai, etika, dan pilihan
Nilai, etika, dan pilihan
peneliti, menjadi bagian
moral bagian tak
moral harus berada di luar
yang integral dalam
terpisahkan dari suatu
proses penelitian.
penelitian.
penelitian.
Khalayak mempunyai
Khalayak mempunyai
Berita diterima sama
penafsiran tersendiri atas
penafsiran sendiri yang
dengan apa yang
berita.
bisa jadi berbeda dari
dimaksudkan oleh
pembuat berita.
pembuat berita.
11
Karakteristik penelitian isi media yang berkatagori konstruksionis
terutama dilakukan dengan melakukan pembedaan dengan paradigma positivis,
yaitu pada tabel berikut:
Penilaian
Tujuan penelitian:
rekonstruksi realitas
sosial
Peneliti sebagai
fasilitator keragaman
subyektifitas sosial.
Makna suatu teks adalah
hasil negosiasi antara
teks dan peneliti.
Penafsiran bagian yang
tak terpisahkan dalam
analisis.
Menekankan empati dan
interaksi dialektis antara
peneliti— teks.
Kualitas penelitian
diukur dari otentisitas
dan refleksivitas temuan.
Paradigma
Paradigma Positivis
Konstruksionis
Rekonstruksi realitas sosial Eksplanasi, prediksi, dan
secara dialektis antara
kontrol.
peneliti dengan pelaku
sosial yang diteliti.
Peneliti sebagai passionate Peneliti berperan sebagai
participant, fasilitator yang disinterested scientist.
menjembatani keragaman
subyektifitas pelaku sosial.
Negosiasi; makna adalah Transmisi; makna secara
hasil dari proses saling
inheren ada dalam teks, dan
mempengaruhi antara teks ditransmisikan kepada
dan pembaca. Makna
pembaca.
bukan ditransmisikan,
tetapi dinegosiasikan.
Subyektif; penafsiran
Obyektif; analisis teks tidak
bagian tak terpisahkan dari boleh menyertakan
penelitian teks. Bahkan
penafsiran atau opini
dasar dari analisis teks.
peneliti.
Reflektif/dialektik;
Intervensionis; pengujian
menekankan empati dan
hipotesis dalam struktur
hipoteticodeductive method.
interaksi dialektis antara
peneliti—teks untuk
Melalui lab eksperimen
merekonstruksi realitas
atau survai eksplanatif,
dengan analisis kuantitatif.
yang diteliti melalui
metode kualitatif.
Kriteria kualitas penelitian; Kriteria kualitas penelitian;
otentisitas dan refleksivitas, obyektif, validitas, dan
sejauh mana temuan
reliabilitas (internal dan
merupakan refleksi otentik eksternal).
dari realitas dihayati oleh
para pelaku sosial.
12
Secara sederhana kontruksionis dapat disimpulkan sebagai pandangan yang
melihat fakta atau peristiwa sebagai hasil konstruksi media bukan suatu realitas
sebenarnya, karena tidak ada realitas yang bersifat objektif. Realitas itu hadir
karena dihadirkan oleh konsep subjektif (sudut pandang) dari wartawan yang
membuat beritannya. Berita sudah direkonstruksi dan dibingkai oleh media
dengan makna tertentu. Jadi tidak heran jika berita yang sama akan disajikan
berbeda tergantung dari sudut pandang medianya.
Penyajian berita yang berbeda-beda dengan makna tertentu yang sudah
dikonstruksi tidak begitu saja terjadi, tetapi memiliki beberapa tahap proses.
Proses konstruksi sosial media massa melalui tahapan sebagai berikut : 9
1.
Tahap menyiapkan materi konstruksi
Menyiapkan materi konstruksi sosial media massa adalah tugas
redaksi media massa, tugas itu didistribusikan pada desk editor yang ada
disetiap media massa. Masing-masing media memiliki desk yang berbedabeda sesuai dengan kebutuhan dan visi suatu media. Isu-isu penting setiap
hari menjadi fokus media massa, terutama yang berhubungan tiga hal yaitu
kedudukan, harta, dan perempuan. Ada tiga hal penting dalam penyiapan
materi konstruksi sosial yaitu :
a.
Keberpihakan media massa kepada kapitalisme. Sebagaimana kita
ketahui, saat ini hampir tidak ada lagi media massa yang tidak dimiliki
oleh kapitalis. Dalam arti kekuatan-kekuatan kapital untuk menjadikan
media massa sebagai mesin penciptaan uang dan pelipat gandaan.
9
Burhan Bungin, Konstruksi Sosial Media Massa : Kencana, Jakarta :2008, Hlm: 195-200
13
b.
Keberpihakan semu kepada masyarakat. Bentuk dari berpihakan ini
adalah dalam bentuk empati, simpati dan berbagai partisipasi kepada
masyarakat, namun ujung-ujungnya adalah juga untuk menjual berita
demi kepentingan kapitalis.
c.
Keberpihakan kepada kepentingan umum. Bentuk dari keberpihakan
kepada kepentingan umum dalam arti sesungguhnya sebenarnya
adalah visi setiap media massa, namun akhir-akhir ini visi tersebut tak
pernah menunjukan jati dirinya, namun slogan-slogan tentang visi ini
tetap terdengar. Jadi, dalam menyiapkan materi konstruksi, media
massa memosisikan diri pada tiga hal tersebut diatas, namun pada
umumnya keberpihakan pada kepentingan kapitalis menjadi sangat
dominan mengingat media massa adalah mesin produksi kapitalis
yang mau ataupun tidak harus menghasilkan keuntungan.
2.
Tahap sebaran konstruksi
Sebaran konstruksi media massa dilakukan melalui strategi media
massa. Konsep konkret strategi sebaran media massa masing-masing media
berbeda, namun prinsip utamanya adalah real time. Media cetak memiliki
konsep real time terdiri dari beberapa konsep hari, minggu atau bulan,
seperti terbitan harian, terbit mingguan atau terbitan beberapa mingguan
atau bulanan. Walaupun media cetak memiliki konsep real time yang
sifatnya tertunda, namun konsep aktualitas menjadi pertimbangan utama
sehingga pembaca merasa tepat waktu memperoleh berita tersebut. Pada
umumnya sebaran konstruksi sosial media massa menggunakan model satu
14
arah, dimanamedia menyodorkan informasi sementara konsumen media
tidak memiliki pilihan lain kecuali mengkonsumsi informasi itu. Prinsip
dasar dari sebaran konstruksi sosial media massa adalah semua informasi
harus sampai pada pembaca secepatnya dan setepatnya berdasarkan pada
agenda media. Apa yang dipandang penting oleh media menjadi penting
pula bagi pembaca.
3.
Tahap pembentukan konstruksi realitas
a.
Tahap pembentukan konstruksi realitas
Tahap berikut setelah sebaran konstruksi, dimana pemberitaan
telah sampai pada pembaca yaitu terjadi pembentukan konstruksi di
masyarakat melalui tiga tahap yang berlangsung secara generik.
Pertama,
konstruksi
realitas
pembenaran,
kedua,
kesediaan
dikonstruksi oleh media massa, ketiga, sebagai pilihan konsumtif.
Tahap pertama adalah konstruksi pembenaran sebagai suatu bentuk
konstruksi media massa yang terbangun di masyarakat yang
cenderung membenarkan apa saja yang ada (tersaji) di media massa
sebagai sebuah realitas kebenaran. Dengan kata lain, informasi media
massa sebagai otoritas sikap untuk membenarkan sebuah kejadian.
Tahap kedua adalah kesedian dikonstruksi oleh media massa, yaitu
sikap generik dari tahap pertama. Bahwa pilihan seseorang untuk
menjadi pembaca media massa adalah karena pilihanya untuk bersedia
pikiran-pikirannya dikonstruksi oleh media massa.
15
Tahap ketiga adalah menjadikan konsumsi media massa sebagai
pilihan konsumtif, dimana seseorang secara habit tergantung pada
media massa. Media massa adalah bagian kebiasaan hidup yang tak
bisa dilepaskan. Pada tingkatan tertentu, seseorang merasa tak mampu
beraktivitas apabila ia belum membaca koran.
b.
Pembentukan konstruksi citra
Pembentukan konstruksi citra bangunan yang diinginkan oleh tahap
konstruksi. Dimana bangunan konstruksi citra yang dibangun oleh
media massa ini terbentuk dalam dua model: 1) model good news dan
2) model bad news.Model good news adalah sebuah konstruksi yang
cenderung mengkonstruksi suatu pemberitaan sebagai pemberitaan
yang baik. Pada model ini objek pemberitaan dikonstruksi sebagai
sesuatu yang memiliki citra baik sehingga terkesan lebih baik dari
sesungguhnya kebaikan yang ada pada objek itu sendiri. Sementara
pada model bad news adalah sebuah konstruksi yang cenderung
mengkonstruksi kejelekan atau cenderung memberi citra buruk pada
objek pemberitaan sehingga terkesan lebih jelek, lebih buruk, lebih
jahat dari sesungguhnya sifat jelek, buruk, dan jahat yang ada pada
objek pemberitaan itu sendiri.
4.
Tahap konfirmasi
Konfirmasi adalah tahapan ketika media massa mampu pembaca
memberi argumentasi dan akuntabilitas terhadap pilihannya untuk terlibat
dalam tahap pembentukan konstruksi. Bagi media, tahapan ini perlu sebagai
16
bagian untuk menjelaskan mengapa ia terlibat dan bersedia hadir dalam
proses konstruksi sosial. Ada beberapa alasan yang sering digunakan dalam
konfirmasi ini yaitu: a) kehidupan modern menghendaki pribadi yang selalu
berubah dan menjadi bagian dari produksi media massa. b) kedekatan
dengan media massa adalah life style orang modern, dimana orang modern
sangat menyukai popularitas terutama sebagai subjek media massa itu
sendiri,
dan
c)
media
massa
walaupun
memiliki
kemampuan
mengkonstruksi realitas media berdasarkan subjektivitas media, namun
kehadiran media massa dalam kehidupan seseorang merupakan sumber
pengetahuan tanpa batas yang sewaktu-waktu dapat diakses.
Konstruksi sosial media massa tidak secara tiba-tiba ada, tetapi
melalui proses yang simultan dan melalui tahap-tahap tertentu. Pertama
mulai dari penyiapan materi konstruksi, lalu disebarkan ke khalayak
menggunakan metode satu arah. Setelah sampai kepada pembaca maka
terjadi tahap pembentukan kostruksi di masyarakat. Selanjutnya tahap
konfirmasi.
2.2. Media Massa
Media massa adalah alat-alat komunikasi yang bisa menyebarkan pesan
secara serempak, cepat kepada audience yang luas dan sangat heterogen. Alex
Sobur mendefinisikan media massa sebagai berikut, “Suatu alat untuk
menyampaikan berita, penilaian, atau gambaran umum tentang banyak hal, ia
mempunyai kemampuan untuk berperan sebagai institusi yang dapat membentuk
17
opini publik, antara lain karena media juga dapat berkembang menjadi kelompok
penekanan atas suatu ide atau gagasan, dan bahkan suatu kepentingan atau citra
yang ia representasikan untuk diletakan dalam konteks kehidupan yang lebih
empiris”10
Maka itu media memiliki peranan yang sangat penting dalam
membangun opini publik dalam melihat sebuah peristiwa.
Media Massa merupakan tempat dimana berbagai keyakinan digambarkan.
Media massa adalah institusi yang menghubungkan seluruh unsur masyarakat satu
dengan lainnya dengan melalui produk media massa dihasilkan. Secara spesifik
institusi media massa adalah 1. Sebagai saluran produksi dan distribusi konten
simbolis. 2. Sebagai institusi publik yang bekerja sesuai aturan yang ada. 3.
Keikutsertakan baik sebagai pengirim atau penerima sukarela. 4. Mengunakan
standar profesional dan birokrasi. 5. Media sebagai perpaduan antara kebebasan
dan kekuasaan. 11 Peranan media sebagai institusi yang menghubungkan seluruh
unsur masyarakat satu dengan lainya maka konsekuensinya adalah perubahan
sosial yang ada didalam masyarakat, baik itu kearah positif maupun negatif.
Bagaikan pedang bermata dua, disatu sisi media berfungsi sebagai sarana
penyebaran ideologi penguasaan, alat legitimasi, dan kontrol atas wacana publik.
Namun, di sisi lain media juga bisa menjadi alat untuk membangun budaya dan
ideologi yang sangat berpengaruh bagi kepentingan kelas yang berkuasa.
Meskipun pandangan keduanya berbeda, namun terdapat kesamaan bahwa media
massa merupakan sesuatu yang netral dan seimbang dengan berbagai kepentingan
yang ada didalamnya. Tidak hanya ideologi, akan tetapi media massa memiliki
10
Alex Sobur, Analisis Teks Media, Bandung:Remaja Rosdakarya, 2002 Hal:31
Apriadi Tamburaka, Agenda Setting Media Massa,Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2013
Hal.13
11
18
kepentingan lain untuk disampaikan. Misalnya kepentingan kapitalisme pemilik
modal, demonstrasi buruh, dan lain sebagainya. Ini berarti, media massa tidak
mungkin selalu berdiri di tengah-tengah, akan tetapi bergerak, bergeser sesuai
dengan hal-hal yang baru atau yang sedang bermain.
Denis Mcquail menjabarkan beberapa poin penting dan mendasar dari
media, antara lain :
1.
Media merupakan industri yang berubah dan berkembang yang menciptakan
lapangan kerja, barang dan jasa serta menghidupkan industri lain yang
terkait. Media juga merupakan industri tersendiri yang memiliki aturan dan
norma-norma yang menghubungkan institusi tersebut dengan masyarakat
dan institusi sosial lainya. Dilain pihak institusi media diatur oleh
masyarakat.
2.
Media massa merupakan sumber alat kekuatan alat kontrol, manajemen, dan
inovasi dalam masyarakat yang dapat didayagunakan sebagai pengganti
kekuatan dan sumber daya lainya.
3.
Media merupakan lokasi atau forum yang semakin berperan untuk
menampilkan peristiwa-peristiwa kehidupan masyarakat baik yang bersifat
nasional maupun internasional.
4.
Media seringkali berperan sebagai wahana perkembangan kebudayaan,
bukan saja dalam pengertian pengembangan tata cara mode gaya hidup dan
norma-norma.
5.
Media telah menjadi sumber dominan. Bukan saja bagi individu untuk
memperoleh gambaran dan citra realitas sosial, tetapi juga bagi masyarakat
19
dan kelompok secara kolektif, media menyuguhkan nilai-nilai dan penilaian
normative yang dibaurkan dengan berita dan hiburan.
Media massa pada dasarnya dapat dibagi menjadi dua kategori, yakni media
massa cetak dan media elektronik. Media cetak yang dapat memenuhi kriteria
sebagai media massa adalah surat kabar dan majalah. Sedangkan media elektronik
yang memenuhi kriteria media massa adalah radio siaran, televisi, film, media online (internet).12
Dalam komunikasi media massa adalah institusi atau alat yang
menghubungkan seluruh unsur masyarakat satu dengan lainnya dengan melalui
produk media massa dihasilkannya dalam menyebarkan informasi.
2.3
Surat Kabar
Surat kabar merupakan media massa yang paling tua dibandingkan dengan
jenis media massa lainya. Sejarah telah mencatat keberadaan surat kabar dimulai
sejak ditemukannya mesin cetak oleh Johann Guternberg di Jerman. Prototipe
pertama surat kabar diterbitkan di Bremen Jerman pada tahun 1609. Pada tahun
yang sama, surat kabar yang sangat sederhana terbit di Strasborg Jerman. Bentuk
surat kabar yang sesungguhnya terbit pada tahun 1620 di Frankfurt, Berlin,
Humberg, Vienna, Amsterdam dan Antwerp.
Keberadaan surat kabar di Indonesia ditandai dengan perjalanan panjang
melalui lima periode yakni masa penjajahan Belanda, Penjajahan Jepang,
menjelang kemerdekaan dan awal kemerdekaan, serta zaman orde lama dan serta
12
Ardianto,Elvinaro, dkk, Komunikasi Massa Suatu Pengantar, Bandung: Simbiosa Rekatama
Media, 2007, Hlm:103
20
orde baru. Di Indonesia surat kabar sering disebut juga dengan istilah koran.
Namun dari penelitian seksama, bahasa yang mendekati kata “koran” adalah
“Quran” dari bahasa Arab yang berarti bacaan. Selain itu ada juga kata yang
cukup dekat dengan kata “koran” yaitu “Courantos” merupakan sebuah buletin
yang terbit di Jerman pada abad ke-16 masehi. Menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia, surat kabar adalah lembaran-lembaran kertas bertuliskan berita dan
sebagainya, koran.
Surat kabar adalah lembaran yang dicetak dan didistribusikan dengan selang
waktu tertentu, terbit dalam bentuk harian atau mingguan serta mengutamakan
penyajian berita. Atau dengan kata lain adalah alat komunikasi massa dalam arti
pernyataan manusia yang bersifat umum atau terbuka dan waktu terbitnya serta
dalam bentuk tercetak, yang isinya aktual meliputi perwujudan kehidupan
manusia.13
2.3.1. Karakteristik Surat Kabar
Karateristik surat kabar sebagai media massa mencakup antara lain:
1.
Publisitas
Publisitas atau Publicity adalah penyebaran pada publik atau
khalayak. Salah satu karakteristik komunikasi massa adalah pesan dapat
diterima oleh sebanyak-banyaknya khalayak yang tersebar diberbagai
tempat, karena pesan tersebut penting untuk diketahui umum, atau menarik
bagi khalayak pada umumnya. Dengan demikian, semua aktivitas manusia
yang menyangkut kepentingan umum dan atau menarik untuk umum
13
Anwar Arifin, Jurnal Penelitian Pers dan Pendapat Umum, Vol 3, No.2. 1999.
21
adalah layak untuk disebarluaskan. Pesan-pesan melalui surat kabar harus
memenuhi kriteria tersebut.
2.
Periodesitas
Periodesitas menunjuk pada
keteraturan terbitnya, bisa harian,
mingguan, atau dwi mingguan. Sifat periodesitas sangat penting dimiliki
media massa, khususnya surat kabar. Kebutuhan manusia akan informasi
sama halnya dengan kebutuhan manusia akan makan, minum, dan pakaian.
Setiap hari manusia selalu membutuhkan informasi. Bagi penerbit surat
kabar, selama ada dana dan tenaga yang terampil, tidaklah sulit untuk
menerbitkan surat kabar secara periodik. Disekeliling kita banyak sekali
fakta serta peristiwa yang dapat dijadikan berita dalam surat kabar. Selama
ada kehidupan, selama itu pula surat kabar terbit.
3.
Universalitas
Universalitas menunjuk pada kesemastaan isinya, yang beraneka
ragam dan dari seluruh dunia. Dengan demikian atau isi surat kabar meliputi
seluruh aspek kehidupan manusia, seperti masalah sosial, ekonomi, budaya,
agama, pendidikan, keamanan dan lain-lain. Selain itu, lingkup kegiatannya
bersifat lokal, regional, nasional bahkan internasioanl. Jadi, apabila ada
penerbit (sekalipun bentuknya surat kabar) yang hanya memuat atau berisi
salah satu aspek saja, maka penerbit tersebut tidak dapat dikategorikan
sebagai surat kabar. Contohnya PT.Telkom yang memiliki karyawan ribuan
orang menerbitkan sejenis surat kabar, dan isinya adalah berita seputar
22
perusahaan, maka surat kabar PT. Telkom itu bukan media massa karena
pesannya bukan untuk konsumsi umum.
4.
Aktualitas
Aktualitas menurut kata asalnya, berarti “kini” dan “keadaan
sebenarnya” . Kedua istilah tersebut erat kaitannya dengan berita, karena
definisi berita adalah laporan tercepat mengenai fakta-fakta atau opini yang
penting atau menarik minat, atau kedua-keduanya bagi sejumlah besar
orang.
Laporan tercepat menunjuk pada “kekinian” atau terbaru dan masih
hangat. Fakta dan peristiwa penting atau menarik tiap hari berganti dan
perlu untuk dilaporkan, karena khalayak pun memerlukan informasi yang
paling baru. Hal ini dilakukan oleh surat kabar, karena surat kabar sebagian
besar memuat berbagai jenis berita.
5.
Terdokumentasikan
Dari berbagai fakta yang disajikan surat kabar dalam bentuk berita
atau artikel, dapat dipastikan ada beberapa diantaranya yang oleh pihakpihak tertentu dianggap penting untuk diarsipkan atau dibuat kliping.
Misalnya karena berita tersebut berkaitan dengan instansinya, atau artikel itu
bermanfaat untuk menambah pengetahuan. Kliping berita oleh sebuah
instansi biasanya dilakukan oleh staf public relation untuk dipelajari dalam
rangka menentukan kebijakan selanjutnya.14
14
Ardianto, op.cit., 112-113
23
2.3.2. Fungsi Surat Kabar
Surat kabar memiliki fungsi yaitu : Informasi, edukasi, hiburan dan
persuasif. 15 Dari keempat fungsi tersebut, fungsi yang paling menonjol pada surat
kabar adalah informasi. Hal ini sesuai dengan tujuan utama khalayak membaca
surat kabar yaitu, keingintahuan akan setiap peristiwa yang terjadi di sekitarnya.
Karenanya sebagian besar rubrik surat kabar terdiri dari berbagai jenis berita.
Namun demikian, fungsi hiburan surat kabar pun tidak terabaikan karena
tersedianya rubrik artikel ringan, feature (laporan perjalanan, laporan tentang
profil seseorang yang unik), rubrik cerita bergambar atau komik, serta cerita
bersambung. Begitu pun dengan fungsi mendidik dan memengaruhi akan
ditemukan pada artikel ilmiah, tajuk rencana atau editorial dan rubrik opini.
Fungsi pers, khususnya surat kabar pada perkembanganya bertambah, yakni
sebagai kontrol sosial yang konstruktif.
2.3.3. Kategorisasi Surat Kabar
Surat kabar dapat dikelompokan pada beberapa kategori. Dilihat dari ruang
lingkupnya, maka kategorisasinya adalah surat kabar lokal, regional, dan nasional.
Ditinjau dari bentuknya, ada bentuk surat kabar biasa dan tabloid. Sedangkan
dilihat dari bahasa yang digunakan, ada surat kabar berbahasa Indonesia, bahasa
Inggris dan bahasa daerah.16
Surat kabar nasional, diantaranya Kompas, Suara Pembaruan, Media
Indonesia, Republika, Sindo, Suara Karya. Surat kabar regional, diantaranya
15
16
Ibid. 111-112
Ibid. 114
24
Pikiran Rakyat (Jawa Barat), Jawa Pos dan Surabaya Pos (Jawa Timur), Suara
Merdeka (Jawa Tengah), Waspada (Sumatra Utara), Bali Pos (Bali). Surat Kabar
lokal, diantaranya adalah Tribun Jabar (Bandung-Jabar), Pos Kota (Jakarta),
Kedaulatan Rakyat (Yogyakarta). Surat Kabar bentuk tabloid, adalah Bintang,
Citra, Nova, Wanita Indonesia, Bola, GO (Gema Olahraga). Surat Kabar
berbahasa Inggris, diantaranya The Jakarta Post.
2.4. Berita
Berita adalah salah satu produk informasi yang mempunyai komoditas
tinggi namun juga memiliki citra diri yang dapat membentuk opini masyarakat
terhadap penayangan-penayangan yang telah disiarkannya Menurut Mc Quail
Dennisdalam bukunya “Teori Komunikasi Massa”karena berita merupakan satu
dari sedikit konstribusi media yang orisinal. Berita ditulis dan di laporkan atas
dasar realitas sosial atau fakta sebagai peristiwa yang tidak pernah di rancanakan
atau wacana yang sengaja di munculkan dengan pertanyaan yang secara tidak
langsung sangat berkaitan dengan aspek-aspek informasi tersebut.17
Berita adalah fakta tentang atau pendapat yang penting atau menarik bagi
khalayak yang di sebar luaskan melalui media massa atau” News is a newly report
of fact or opinion which is important or interesting for the audien and published
trhought mass media”.18
17
Syaiful Halim. Post komodifikasi media & Cultural studies, Penerbit Matahati Production.
Jakarta:2012. Hlm: 79
18
Jani Yosef, To Be A Journalist menjadi jurnalis TV, radio dan surat kabar yang professional,
Graha Ilmu, Yogyakarta:2009, Hlm: 22
25
Menurut Kamus Bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka, berita diartikan
sebagai laporan mengenai kejadian atau peristiwa yang hangat. Berita terdiri dari
beberapa bagian. Bagian terkecil dari berita adalah data. Data berasal dari datum,
sedangkan datum diambil dari semua kejadian atau peristiwa. Untuk bisa jadi
berita, data harus dibuat atau diolah lebih dahulu. Jadi berita dapat dikaitkan
dengan kejadian-kejadian atau peristiwa yang terjadi.19
Secara sederhana,berita di definisikan sebagai laporan tentang peristiwa dan
pendapat. Intinya, berita memuat tiga hal yaitu: keterangan atau laporan, peristiwa
dan
pendapat.
Laporan
menyangkut
teknik
pelaporan
dengan
aturan
tertentu.Peristiwa merupakan berbagai hal yang terjadi secara nyata atau seperti
disebutkandi
atas,
terkait
dengan
“kreasi”
Tuhan
melalui
alam
atau
manusia.sedangkan pendapat adalah perkatan atau penjelasan seseorang.20
Andrew boyd menjabarkan lebih rinci soal unsur-unsur yang dikandung
sebuah berita yang memiliki berita, yakni proximity, relevance, immediacy,
interest, drama, entertainment.21Deskrpsi masing – masing unsur:
a. Kedekatan Psikologi(proximity), kedekatan psikis (ikatan emosional, meliputi
ras, kebangsaan, kesukuan, agama, jenis kelamin, umur, dsb) antara peristiwa
dan pembaca. Semakin dekat ikatan emosional antara khalayak dan peristiwa
maka berita itu dianggap memiliki nilai berita tinggi.
19
Totok Djuroto. Manajemen Penerbitan Pers, Bandung, Remaja Rosda, 2000, Hal 47
Syaiful Halim.Gado-gado sang jurnalis:Rundown wartawan Ecek-ecek. Gramata Publishing:
Jakarta: 2009 Hlm:3.
21
AndrewBoyd,.Broadcast Journalism: Techniquesof Radio and Television News, Focal Press:
London: 1988 Hal:18.
20
26
b. Relevansi(relevance), hubungan keterpengaruhan antara peristiwa dan massa.
Semakin besar pengaruh peristiwa terhadap khalayak, maka berita itu
dianggap memiliki berita tinggi.
c. Keterbaruan (immediacy) atau aktualitas, keterbaruan fakta yang di sajikan.
Semakin fakta itu baru dan belum di ketahui orang banyak, maka nilai
beritanya di katakana tinggi.
d. Daya tarik (interest), daya magis fakta dalam berita yang dianggap luar biasa
di mata khalayak. Semakin fakta itu dianggap menarik, maka nilai beritanya
pun dianggap tinggi.
e. Drama, berbagai ornamen dramatik dalam berita yang dianggap mengharukan
bagi khalayak, semakin fakta itu dianggap dramatik, maka nilai beritanyapun
dianggap tinggi.
f. Menghibur (entertaiment) kelengkapan unsur menyenangkan pembaca
dengan fakta tertentu. Semakin fakta itu dianggap mampu menyuguhkan
fakta yang menghibur, maka nilai beritanya dianggap tinggi.22
Dengan demikian dapat di simpulkan, bahwa berita bukan sekedar
menghidangkan peristiwa atau pendapat yang mencerminkan sebuah realitas
kenyataan, melainkan berbagai macam aspek kehidupan yang mengandung
informasi dan makna dari sudut pandang yang berbeda. Dan itu terjadi dalam
pengemasan berita.
Berita pada umumnya dapat dikategorikan menjadi tiga bagian yaitu: hard
news (berita berat), soft news (berita ringan), dan investigative reports (laporan
22
Syaiful, loc.cit.,
27
penyelidikan). Pembedaan terhadap tiga kategori tersebut didasarkan pada jenis
peristiwa dan cara-cara pengendalian data, yaitu akan di uraikan seagai berikut:23
1.
Hard News
Hard News (berita berat) adalah berita tentang peristiwa yang
dianggap penting bagi masyarakat baik secara individu, kelompok, maupun
organisasi. Misalnya tentang mulai diberlakukannya suatu kebijakan baru
pemerintah. Ini tentu saja akan menyangkut hajat orang banyak sehingga
orang ingin mengetahuinya karena itu harus di beritakan.
2.
Soft News
SoftNews(berita ringan) seringkali disebut dengan feature, yaitu berita
yang tidak terikat dengan aktualitas namun memiliki daya tarik bagi
pemirsanya. Berita-berita semacam ini seringkali lebih menitik beratkan
pada hal-hal yang dapat menakjubkan atau mengherankan pemirsa.Ia juga
dapat menimbulkan kekhawatiran bahkan ketakutan atau mungkin juga
menimbulkan simpati objeknya bisa manusia, hewan, benda, tempat atau
apa saja yang dapat menarik perhatian pemirsa.
3.
Investigative Reports
Investigative
Report
atau
disebut
juga
laporan
penyelidikan(investigasi) adalah jenis berita yang ekslusif.Datanya tidak
bisa
diperoleh
dipermukaan,
tetapi
23
harus
dilakukan
berdasarkan
Deddy Iskandar Muda, Jurnalistik Televisi Menjadi Reporter Profesional, Remaja Rosdakarya,
Januari 2005, Hlm:40.
28
penyelidikan. Sehingga penyajian berita ini membutuhkan waktu yang lama
dan tentu akan menghabiskan energi reporternya.
2.5. Analisis Framing Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki
Analisis framing secara sederhana dapat digambarkan sebagai analisis untuk
mengetahui bagaimana realitas (peristiwa, aktor, kelompok, atau apa saja)
dibingkai oleh media.24 Disini realitas sosial dimaknai dan dikonstruksi dengan
makna tertentu. Peristiwa dipahami dengan bentuk tertentu. Hasilnya pemberitaan
akan dimaknai dan ditampilkan berbeda-beda oleh setiap media. Maka tidak
mengherankan jika peristiwa yamg sama bisa diperlakukan berbeda oleh media.
Ada peristiwa yang diberitakan, ada yang tidak diberitakan. Ada yang
menganggap penting, ada yang tidak menganggap sebagai berita. Media bukanlah
cerminan realitas yang memberitakan apa adanya, tetapi justru media
mengkonstruksi sedemikian rupa realitas.
Dalam perspektif komunikasi, analisis framing dipakai untuk membedah
cara-cara atau ideologi media saat mengkonstruksikan fakta.25 Analisis ini
mencermati strategi seleksi, penonjolan, dan pertautan fakta kedalam berita agar
lebih bermakna, lebih menarik, lebih berarti atau lebih diingat, untuk mengiringi
interpelasi khalayak sesuai dengan perspektifnya. Dengan cara dan teknik apa
peristiwa ditekankan dan ditonjolkan. Apakah dalam berita itu ada bagian yang
dihilangkan, luput, atau bahkan disembunyikan dalam pemberitaan.
24
25
Eriyanto, Analisis Framing, Yogyakarta: LKiS, 2002 Hlm:3
Alex Sobur, Analisis Teks Media, Bandung:Remaja Rosdakarya, 2004 Hal:162
29
Model framing yang diperkenalkan oleh Pan dan Kosicki adalah salah satu
model yang paling populer dan banyak dipakai. Analisis ini lebih banyak dipakai
untuk meneliti dokumen yang dapat berupa teks, gambar, simbol dan sebagainya
untuk memahami budaya atau fenomena dalam suatu konteks sosial atau peristiwa
tertentu. Dalam analisis isi media kualitatif ini semua jenis data atau dokumen
yang dianalisis lebih cenderung disebut dengan istilah “teks” apapun bentuknya.
Baik itu gambar, tanda, simbol, gambar bergerak, dan sebagainya.
Menurut Pan dan Kosicki ada dua konsepsi dari framing yang saling
berkaitan. Pertama, dalam konsep psikologi. Framing dalam konsep ini lebih
menekankan pada bagaimana seseorang memproses informasi dalam dirinya.
Framing berkaitan dengan struktur dan proses kognitif, bagaimana seseorang
mengolah sejumlah informasi dan ditunjukan dalam skema tertentu. Framing
disini dilihat sebagai penempatan informasi dalam suatu konteks yang
unik/khusus dan menempatkan elemen tertentu dari suatu isu dengan penempatan
lebih menonjol dalam kognisi seseorang. Elemen-elemen yang diseleksi dari suatu
isu/peristiwa tersebut menjadi lebih penting dalam mempengaruhi pertimbangan
dalam membuat keputusan tentang realitas. Kedua, konsepsi sosiologis. Kalau
pandangan psikologis lebih melihat pada proses internal seseorang, bagaimana
individu secara kognitif menafsirkan suatu peristiwa dalam cara pandang tertentu,
maka pandangan sosiologis lebih melihat pada bagaimana konstruksi sosial atas
realitas.
Freme
disini
dipahami
sebagai
proses
bagaimana
seseorang
mengklasifikasikan, mengorganisasikan, dan menafsirkan pengalaman sosialnya
untuk mengerti dirinya dan realitas diluar dirinya. Frame disini berfungsi
30
membuat suatu realitas menjadi teridentifikasi, dipahami, dan dapat dimengerti
karena sudah dilabeli dengan label tertentu.26
Disini tampak ada dua konsepsi yang agak berlainan mengenai framing.
Disatu sisi framing dipahami sebagai struktur internal dalam alam pikiran
seseorang, disisi lain framing dipahami sebagai perangkat yang melekat dalam
wacana
sosial/politik.
Pan
dan
Kosicki
membuat
suatu
model
yang
mengintegrasikan secara bersama-sama konsepsi psikologi yang melihat frame
semata sebagai persoalan internal pikiran dengan konsep sosiologis yang lebih
tertarik melihat frame dari sisi bagaimana lingkungan sosial dikonstruksi
seseorang.
Dalam pendekatan ini, perangkat framing dapat dibagi dalam empat struktur
besar. Pertama, struktur sintaksis. Sintaksisi berhubungan dengan bagaimana
wartawan menyusun peristiwa dalam bentuk susunan umum berita. Dapat diamati
dari bagian berita (lead, latar, headline, kutipan yang diambil, dan sebagainya).
Kedua, struktur skrip. Skrip berhubungan dengan bagaimana wartawan
mengisahkan atau menceritakan peristiwa ke dalam bentuk berita. Ketiga, struktur
tematik. Tematik berhubungan dengan bagaimana wartawan mengungkapkan
pandangan atas peristiwa ke dalam proposisi, kalimat atau hubungan antar kalimat
yang membentuk teks secara keseluruhan. Keempat, struktur retoris. Retoris
berhubungan dengan bagaimana wartawan menekankan arti tertentu ke dalam
berita. Struktur ini melihat bagaimana wartawan memakai pilihan kata, idiom,
26
Eriyanto, op.cit., 291
31
grafik, dan gambar yang dipakai bukan hanya mendukung tulisan, melainkan juga
menekankan arti tertentu kepada pembaca. 27
Keempat struktur tersebut dapat digambarkan dalam bentuk skema sebagai
berikut:
Tabel. 2.5
Skema framing model Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki
STRUKTUR
PERANGKAT
FRAMING
SINTAKSIS
Cara wartawan menyusun
fakta
SKRIP
1. Skema Berita
2. Kelengkapan Berita
UNIT YANG
DIAMATI
Headline, lead, latar
informasi, kutipan
sumber, pernyataan,
penutup
5W + 1H
Cara wartawan
mengisahkan fakta
TEMATIK
3.Detail
Cara wartawan
4. Koherensi
menulis fakta
5. Bentuk Kalimat
Paragraf, proposisi,
kalimat, hubungan antar
kalimat
6. Kata Ganti
RETORIS
7. Leksikon
Cara wartawan Menekankan 8. Grafis
fakta
9. Metafora
27
Ibid. 294
32
Kata, idiom,
gambar/foto, grafik
Keempat struktur tersebut merupakan suatu rangkaian yang dapat
menunjukan framing dari suatu media. Kecenderungan wartawan dalam
memahami suatu peristiwa dapat diamati dari keempat struktur tersebut. Dengan
kata lain. Dengan begitu dapat dilihat dan diamati bagaimana wartawan menyusun
peristiwa ke dalam bentuk berita, cara wartawan mengisahkan peristiwa, kalimat
yang dipakai, dan pilihan kata atau idium yang dipilih.
33
Download