BAB II METODE HAFALAN KOSA KATA BAHASA ARAB DAN

advertisement
BAB II
METODE HAFALAN KOSA KATA BAHASA ARAB
DAN KETERAMPILAN BERBICARA
A. Metode Hafalan Kosa Kata Bahasa Arab
1. Pengertian Metode Hafalan dan Kosa Kata Bahasa Arab
a. Metode Hafalan
Metode pembelajaran adalah teknik penyajian yang dikuasai
oleh seorang guru untuk menyajikan materi pelajaran kepada murid
didalam kelas baik secara individual atau secara kelompok agar
materi pelajaran dapat diserap, dipahami dan dimanfaatkan oleh
murid dengan baik.1
Metode yang biasa digunakan dalam pembelajaran kosa kata
adalah metode mahfuzat (menghafal). Metode menghafal atau
hafalan yakni cara menyajikan materi pelajaran bahasa arab,
dengan menyuruh siswa untuk menghafal kalimat-kalimat berupa
syair, cerita, kata-kata hikmah, dan lain-lain yang menarik hati.2
Dalam belajar, menghafal bahan pelajaran merupakan salah satu
kegiatan dalam rangka penguasaan bahan. Bahan pelajaran yang
harus dikuasai tidak hanya dengan cara mengambil intisarinya
1
Abu Ahmadi dan Joko Tri Prastya, Strategi Belajar Mengajar, (Bandung: CV Pustaka
Setia, 2005), hlm. 52
2
Tayar Yusuf dan Syaiful Anwar, Metodolodi Pengajaran Agama dan Bahasa Arab,
(Jakarta: PT Raja Grafindo,1997), hlm. 205
18
19
(pokok pikirannya), tetapi ada juga bahan pelajaran yang harus
dikuasai dengan cara menghafalnya. Dalam menghafal, proses
mengingat memegang peranan penting. Orang akan sukar
menghafal bahan pelajaran bila daya ingatnya sangat rendah. Oleh
karena itu daya ingat yang kuat sangat mendukung ketahanan
hafalan seseorang.
Untuk menghafal kosa kata tertentu dalam bahasa asing tidak
perlu seluruhnya dihafal, tetapi cukup mencari akar katanya (kata
dasar). Misalnya dalam bahasa inggris, ada kata harder atau
hardest. Kata-kata ini sebenarnya berasal dari kata hard yang
artinya “keras”.3
b. Kosa Kata Bahasa Arab
Kosa kata merupakan salah satu unsur bahasa yang harus
dikuasai oleh pembelajar bahasa asing untuk dapat memperoleh
kemahiran
berkomunikasi
dengan
bahasa
tersebut.
Tetapi
mempelajari bahasa tidak identik dengan mempelajari kosa kata.
Artinya untuk memiliki kemahiran berbahasa tidak cukup hanya
dengan menghafal kosa kata saja.
Menurut pendapat Mahmud Kamil Naqoh pengertian kosa kata
adalah sebuah alat-alat untuk pengambilan makna, sebagaimana
kosa kata itu digunakan di waktu tertentu dan media untuk berfikir,
maka dengan kosa kata ini pembicara dapat berfikir dan
3
Daryanto dan Mulyo Rahardjo,
Media, 2012), hal. 75
Model Pembelajaran Inovatif, (Yogyakarta : Gava
20
menerjemahkan pikiran tersebut kedalam sebuah kata-kata yang
ingin dibawakan atau diungkapkan.4
Makna sebuah kata dapat dibedakan menjadi dua, yaitu makna
denotative (ashli) dan makna konotatif (idhai). Makna denotatif
adalah makna yang terdapat dalam kamus. Ada dua macam makna
denotatif yaitu makna hakiki dan makna kiasan. Kata al- umm
makna hakikatnya adalah “ibu yang melahirkan”. Sedangkan kata
al-Umm dalam “Umm al-kitab” mengandung makna kiasan. Makna
denotatif juga bisa dibedakan antara makna asal dan makna istilah.
Kata al-Hatif, makna asalnya adalah “orang yang berbisik”, sedang
makna istilahnya adalah “telepon”.
Adapun makna konotatif, adalah makna tambahan yang
terkandung di dalamnya nuansa atau kesan khusus sebagai akibat
dari pengalaman para pemakai bahasa. Sebagai contoh, kata alUmm makna konotatifnya adalah kasih sayang dan perlindungan.
Dari segi fungsi, kosa kata dibedakan menjadi dua : mufradat
mu’jamiyah dan mufradat wazifiyah. Yang pertama adalah kosa
kata yang mempunyai makna dalam kamus seperti bayt, qalam,
sayyarah, (rumah, pena, mobil). Sedangkan yang kedua adalah kosa
kata yang mengemban suatu fungsi, misalnya huruf al-jar, asma’
al-mausul, damair, dan sejenisnya.5
4
Madmud Kamil Naqoh, Ta’limul Lughatul Arabiyah, (makkah: Jami’ah Ummul Quro,
1985), hlm. 161
5
Ahmad Fuad Effendy, Metodologi Pengajaran Bahasa Arab, (Malang: Misykat, 2012),
hlm. 126-127
21
Mempelajari kosa kata harus dimulai dari kosa kata dasar. Kosa
kata dasar adalah kata-kata yang tidak mudah berubah atau sedikit
sekali kemungkinannya dipungut dari bahasa lain. Kosa kata dasar
terdiri atas :
 Istilah kekerabatan; misalnya : ayah, ibu, anak, adik, kakak,
nenek, kakek, paman, bibi, menantu, mertua.
 Nama-nama bagian tubuh; misalnya: kepala, rambut, telinga,
hidung, mulut, bibir, gigi, lidah, pipi, leher, dagu, bahu, tangan,
jari, dada, perut, pinggang, paha, kaki, betis, telapak, punggung,
darah, nafas.
 Kata ganti (diri, penunjuk); misalnya : saya, kamu, dia, kami,
kita, mereka, ini, itu, sini, situ, sana.
 Kata bilangan pokok; misalnya : satu, dua, tiga, empat, lima, dan
seterusnya.
 Kata kerja pokok; misalnya : makan , minum, tidur, bangun.
 Kata keadaan pokok; misalnya : suka, duka, senang, susah.
 Benda-benda universal; misalnya : tanah, api, air, udara, langit.6
2. Langkah-langkah Metode Hafalan
Langkah-langkah yang ditempuh dalam penggunaan metode
hafalan antara lain:
a. Test awal dan apersepsi
6
Henry Guntur Tarigan, Pengajaran Kosa Kata, (Bandung : Angkasa, 2011), hlm. 3
22
b. Hendaklah materinya disesuaikan dengan tingkat kemampuan dan
perkembangan peserta didik, serta materinya menarik untuk
dipelajari.
c. Untuk tahap awal dipilih kalimat-kalimat yang tidak terlalu
panjang, dan pada tahapan selanjutnya dapat diberikan cerita-cerita
menarik, kata kata hikmah, atau bait-bait syair yang indah.
d. Materinya sebaiknya tertulis, dan ditulis dengan tulisan yang indah
sehingga dapat membangkitkan motivasi dan menggugah semangat
untuk belajar dan dibaca secara bersama-sama untuk mempercepat
proses hafalannya.7
Menurut pendapat Ismail Shinny dan Abdullah mengatakan bahwa
sebaiknya mengajarkan kosa kata melalui cara tahapan berikut ini :
a. Dengan cara menunjuk langsung pada benda (kosa kata) yang
diajarkan. Sebagai contoh kalau guru mengajarkan kosa kata
dimana referensinya ada dalam lingkungan kelas maka guru tinggal
menunjuk benda tersebut
“‫”سبورة‬
maka guru tidak usah
menterjemahkan kata tersebut, akan tetapi langsung menunjuk pada
benda yang dimaksud, yaitu papan tulis.
b. Dengan cara menghadirkan miniatur dari benda (kosa kata) yang
diajarkan. Contoh : guru ingin memberikan kosa kata sebuah rumah
yang indah, nyaman dan asri, maka guru cukup menghadirkan
sebuah miniatur dari rumah tersebut.
7
Wa muna, Metodologi Pembelajaran bahasa Arab, (Yogyakarta : Teras, 2011) hal. 75
23
c. Dengan cara memberikan gambar dari kosa kata yang ingin
diajarkan. Contoh : apabila seorang guru ingin mengajarkan kosa
kata tentang sapi atau kambing , maka guru cukup menunjukkan
gambar dari kosa kata tersebut.
d. Dengan
cara
memperagakan
dari
kosa
kata
yang
ingin
disampaikan. Contoh : seorang guru ingin menyampaikan kosa kata
(khususnya yang terkait dengan kata kerja) maka guru bisa
melakukannya dengan cara memperagakan kosa kata tersebut tanpa
harus menterjemah kedalam bahasa ibu, seperti kosa kata
“‫”بيتي‬
guru cukup memperagakan berjalan di depan kelas.
e. Dengan cara memasukkan kosa kata yang ingin diajarkan dalam
kalimat. Apabila seorang guru ingin mengajarkan kosa kata
“‫”جميل‬
maka ia harus meletakkannya didalam jumlah “‫الفصل‬
‫ ”جميل ونظيف او أحمد جميل‬tidak
usah diterjemahkan kedalam
bahasa ibu.
f. Dengan cara memberikan padanan kata “‫”الترادف‬, contoh : ketika
guru memberikan kosa kata
padanannya “‫”صف‬.
“‫”فصل‬
maka ia harus memberikan
24
g. Dengan cara memberikan lawan kata
“‫”التضاد‬,
contoh : ketika
“‫”كبير‬
maka ia harus
guru ingin menyampaikan kosa kata
memberikan lawan katanya
“‫”صغير‬.
h. Dengan cara memberikan definisi dari kosa kata yang diberikan.
Contoh : guru memberikan kosa kata
memberikan definisinya ‫واالعتكاف‬
“‫”المسجد‬
maka ia cukup
‫”مكان الصالة‬.
Apabila dari langkah-langkah tersebut di atas masih belum dapat
dipahami oleh siswa atau ada kosa kata yang tidak bisa diungkapkan
dengan delapan langkah yang ada maka mengartikan kosa kata
kedalam bahasa ibu sebagai langkah yang terakhir.8
3.
Cara Penerapan Metode Hafalan
Menurut Tayar Yusuf dan Syaiful Anwar dalam bukunya
Metodelodi Pengajaran Agama dan Bahasa Arab teknik menghafal
antara lain:
a. Guru membacakan teks mahfudzat, setelah lebih dahulu dituliskan
di papan tulis, kemudian diikuti oleh semua siswa bersama-sama,
hingga hafal di luar kepala. Kemudian guru menguji masingmasing siswa tentang hafalannya di depan kelas dengan fasih. Dan
setelah mendapat giliran, baru murid menyalinnya di buku tulis.
8
Abdul Wahab Rasyid, Media Pembelajaran Bahasa Arab, (Malang : UIN Malang Press,
2009), hal. 55
25
b. Membacakan mahfudzat sekaligus secara keseluruhan tanpa dibagibagi dalam potongan yang kecil. Kemudian dibaca berkali-kali
sampai hafal betul.
c. Kebalikan dari point 2: yaitu dengan cara membagi dalam bagian
yang kecil materi mahfudzat dan dihafal, setelah hafal betul bagian
pertama, berpindah ke bagian yang lain, dan seterusnya hingga
semuanya hafal di luar kepala.9
Adapun tahapan dan teknik pengajaran mufradat atau pengalaman
belajar siswa dalam mengenal dan memperoleh makna mufradat
adalah sebagai berikut :
a. Mendengarkan kata
Ini adalah tahap yang pertama. Berikan kesempatan kepada
siswa untuk mendengarkan kata yang diucapkan guru, baik berdiri
sendiri maupun didalam kalimat. Apabila unsur bunyi dari kata itu
sudah dikuasai oleh siswa, maka dalam dua atau tiga kali
pengulangan, siswa telah mampu mendengarkan secara benar.
Tahapan mendengarkan ini sangat penting karena kesalahan dalam
pendengaran ini berakibat pada kesalahan atau ketidakakuratan
dalam pengucapan dan penulisan.
b. Mengucapkan kata
9
Tayar Yusuf dan Syaiful Anwar, Metodelodi Pengajaran Agama dan Bahasa Arab,…..
hlm. 206-207
26
Tahap berikutnya adalah memberi kesempatan kepada siswa
untuk mengucapkan kata yang telah didengarnya. Mengucapkan
kata baru membantu siswa mengingatnya dalam waktu yang lebih
lama. Guru harus memperhatikan dengan sungguh-sungguh
keakuratan pelafalan atau pengucapan setiap kata oleh siswa
karena kesalahan dalam pelafalan mengakibatkan kesalahan dalam
penulisan.
c. Mendapatkan makna kata
Berikan arti kepada siswa dengan sedapat mungkin menghindari
terjemahan, kecuali kalau tidak ada jalan lain.
d. Membaca kata
Setelah siswa mendengar, mengucapkan dan memahami makna
kata-kata baru, guru menulisnya di papan tulis. Setelah itu siswa
diberi kesempatan untuk membacanya dengan suara keras.
e. Menulis kata
Akan sangat membantu penguasaan kosa kata, kalau siswa
diminta menulis kata-kata yang baru dipelajarinya pada saat makna
kata-kata itu masih segar dalam ingatan siswa. Siswa menulis
dibukunya masing-masing dengan mencontoh apa yang ditulis
guru di papan tulis.
f. Membuat kalimat
Tahap terakhir dari kegiatan pengajaran kosa kata adalah
menggunakan kata-kata baru itu dalam sebuah kalimat yang
27
sempurna, secara lisan maupun tulisan. Guru memberikan contoh
kalimat kemudian meminta siswa membuat kalimat serupa. Latihan
seperti ini sangat membantu memantapkan pengertian siswa
terhadap makna kata. 10
4. Tujuan Metode Hafalan
Tujuan mempelajari mahfudzat adalah sebagai berikut :
a. Mengembangkan daya fantasi anak didik, serta melatih daya
ingatannya.
b. Memperkaya perbendaharaan kata dan percakapan
c. Mempermudah siswa dalam mempelajari sastra arab dan uslubuslub gaya bahasa yang menarik hati.
d. Mendidik jiwa ksatria dan menanamkan budi luhur.
e. Melatih anak didik agar baik ucapannya, indah perkataannya,
menarik hati pendengar-pendengarnya.
f. Melatih jiwa dan mental yang disiplin.11
Adapun tujuan utama pembelajaran mufrodat (kosa kata) bahasa
arab adalah sebagai berikut :
a. Memperkenalkan kosakata baru kepada siswa atau mahasiswa, baik
melalui bahan bacaan maupun fahm al-masmu’.
b. Melatih siswa atau mahasiswa untuk dapat melafalkan kosakata itu
dengan baik dan benar karena pelafalan yang baik dan benar
10
Ahmad Fuad Effendy, Metodologi Pengajaran Bahasa Arab,……… hal. 129-133
Ahmad Muhtadi Anshor, Pengajaran Bahasa Arab Media dan Metodenya,…..hlm. 62
11
28
mengantarkan kepada kemahiran berbicara dan membaca secara
baik dan benar pula.
c. Memahami makna kosakata, baik secara denotative atau leksikal
(berdiri sendiri) maupun ketika digunakan dalam konteks kalimat
tertentu (makna konotatif dan gramatikal).
d. Mampu mengapresiasi dan memfungsikan mufrodat itu dalam
berekspresi lisan (berbicara) maupun tulisan (mengarang) sesuai
dengan konteksnya yang benar.12
B. Keterampilan Berbicara
1.
Pengertian Keterampilan Berbicara
Berbicara (Kalam) secara etimologis adalah perkataan, percakapan,
dan pembicaraan. Sedangkan menurut pakar gramatika bahasa arab,
kalam adalah lafal yang tersusun memberikan faidah dan dilakukan
secara sengaja. Adapun pengertian Berbicara (Kalam) dalam
perspektif terminologis adalah mengucapkan bunyi-bunyi bahasa arab
secara benar dan akurat, dan bunyi-bunyi tersebut keluar dari makhraj
al-huruf yang telah menjadi konsensus pakar bahasa.13
Menurut pendapat yang lain Keterampilan berbicara adalah
mengucapkan bunyi suara bahasa Arab dengan benar, di mana huruf
12
Abdul Hamid, Mengukur Kemampuan Bahasa Arab Untuk Studi Islam, (Malang : UINMaliki Press, 2010), hal. 33
13
Zulhannan, Teknik Pembelajara Bahasa Arab Interaktif, (Jakarta: PT Raja Grafindo,
2014), hlm. 95
29
kata perkata yang diucapkan keluar melalui jalannya yang sesuai dan
diakui oleh ahli bahasa.14
Berdasarkan uraian di atas, keterampilan berbicara adalah
kemampuan seseorang untuk mengucapkan artikulasi bunyi-bunyi
atau kata-kata dengan aturan-aturan kebahasaan tertentu untuk
menyampaikan ide dan perasaan. Maka keterampilan berbicara bahasa
Arab adalah mempergunakan bunyi-bunyi bahasa Arab (aswat
arabiyah) secara tepat dengan menggunakan tata bahasa (qawaid
nahwiyyah wa sarfiyyah) dan mengatur penyusunan kata demi kata
sehingga dapat digunakan untu mengungkapkan apa yang ia
katakan.15
Tidak dipungkiri bahwa saya, berbicara itu termasuk modal
kegiatan berbahasa yang sangat penting bagi orang dewasa maupun
anak-anak dalam kehidupan sehari-hari. Orang-orang menggunakan
pembicaraan lebih banyak dari pada penulisan, artinya mereka lebih
banyak melakukan segala sesuatu melalui pembicaraan dari pada
menuliskan sesuatu untuk disampaikan kepada orang lain. Dari sini
mungkin berbicara yaitu suatu bentuk atau bahan utama guna
menghubungkan bahasa ungkapan menurut orang-orang. Oleh karena
14
Abdullah al-Gali dan Abdul Hamid Abdullah, Menyusun Buku Ajar Bahasa Arab,
(Padang: Akademia Permata, 2012), hlm. 34
15
Aziz Fachrurrozi dan Erta Mahyuddin, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab,
(Bandung: CV Pustaka Cendaka Utama, 2012), hlm. 326
30
itu ungkapan kalam (bicara) itu bagian yang terpenting didalam
pembiasaan berbahasa dan juga dalam menggunakan bahasa.16
Selanjutnya perlu dipahami beberapa prinsip umum atau faktor
yang mendasari kegiatan berbicara, antara lain:
a. Membutuhkan paling sedikit dua orang, seorang pembicara dan
pendengar.
b. Mempergunakan suatu sandi linguistic yang dipahami bersama.
c. Adanya penerimaan atau pengakuan atas suatu wilayah referensi
umum.
d. Merupakan suatu pertukaran antara partisipan.
e. Menghubungkan setiap pembicara dengan yang lainnya dan kepada
lingkungannya dengan segera.
f. Berhubungan atau berkaitan dengan masa kini.
g. Melibatkan organ atau perlengkapan yang berhubungan dengan
suara/bunyi bahasa dan pendengaran.
h. Secara tidak pandang bulu menghadapi serta memperlakukan apa
yang nyata dan apa yang diterima sebagai dalil dalam
perlambangan dengan bunyi.
16
Ali Ahmad Madzkur, Tadris Funun
Thobi’ Makhfudzoh, 1991), hlm. 107
Lughotul Arobiyah, (Darrossyawaq: Khuququ
31
Seseorang berbicara karena adanya dorongan untuk berinteraksi
dengan orang lain dalam rangka memenuhi kebutuhan atau untuk
mengungkapkan apa yang ada dalam dirinya kepada orang lain.
Karena itu kesuksesan dalam berbicara tidak hanya tergantung pada
penguasaan faktor kebahasaan, (seperti ketetapan dalam pemilihan
kata, dan penggunaan kaidah bahasa), tetapi juga ditentukan oleh
penguasaan atas factor-faktor non-kebahasaan (seperti kelancaran,
penghargaan terhadap pendapat orang lain, serta penguasaan atas topik
pembicaraan).
Berdasarkan hal itu untuk bias terampil dalam berbicara, seseorang
harus memiliki empat kompetensi dasar sebagai berikut:
a. Kompetensi gramatika atau sama dengan kompetensi linguistic,
yaitu pengetahuan tentang kaidah tata bahasa yang terkait dengan
ketepatan pengguanaan kata dan kalimat.
b. Kompetensi sosiolinguistik, yaitu yang berhubungan dengan
budaya atau tatanan social masyarakat pengguna bahasa
c. Kompetensi
wacana,
yaitu
kemampuan
seseorang
untuk
menghubungkan bagian-bagian antar kalimat, atau kemampuan
untuk membuat sebuah ungkapkan yang mempunyai makna yang
menyeluruh.
32
d. Kompetensi strategi, yaitu strategi untuk mengatasi kemandengan
dalam komunikasi seperti melalui penjelasan, pengulangan atau
tebakan.17
2.
Teknik Pembelajaran Keterampilan Berbicara
Teknik pembelajaran keterampilan berbicara ini dapat dilakukan
melalui beberapa latihan (praktik) dari apa yang didengar secara pasif
dalam latihan menyimak. Salah satu pendekatan yang paling cocok
dalam pembelajaran keterampilan berbicara (Kalam) bagi pemula
adalah “sam’iyyah syafawiyyah”, dan pendekatan komunikatif.18
Adapun
teknik
pembelajara
keterampilan
berbicara
dapat
dilakukan melalui tiga tahap, yaitu:
a. Latihan Asosiasi dan Identifikasi
Latihan Asosiasi dan Identifikasi ini dimaksudkan untuk melatih
spontanitas peserta didik dan kecermatan mereka di dalam
mengidentifikasi dan mengasosiasikan definisi kosa kata yang
diucapkan atau yang didengar. Format latihan ini adalah sebagai
berikut:
1. Pendidik menyebutkan sebuah kosa kata, selanjutnya peserta
didik mengasosiasikan definisinya dalam sebuah pernyataan.
17
Aziz Fachrurrozi dan Erta Mahyuddin, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab,… hlm.
326-327
18
Zulhannan, Teknik Pembelajara Bahasa Arab Interaktif,……hlm. 96
33
2. Pendidik menyebutkan sebuah Isim, selanjutnya peserta didik
menyebutkan sinonim atau antonimnya.
b. Latihan Pola Kalimat
Latihan pola kalimat ini adalah sebuah format latihan yang
disajikan terhadap peserta didik dengan mempresentasikan polapola kalimat, sehingga lidah mereka menjadi otomatis di dalam
mengekspresikan pola kallimat arab, tanpa ada skeptic atau
keraguan.
c. Latihan Percakapan
Latihan percakapan ini adalah merupakan latihan yang topiktopiknya diambil dari kehidupan sehari-hari, marketable dan aktual
sehingga menarik bagi peserta didik.19
3.
Prinsip-prinsip Keterampilan Berbicara
Agar pebelajar berbicara baik bagi non Arab, maka perlu
diperhatikan hal-hal berikut:
a. Hendaknya guru memiliki kemampuan yang tinggi tentang
keterampilan ini.
b. Memulai dengan suara-suara yang serupa antara dua bahasa
(bahasa pebelajar dan bahasa Arab).
19
Zulhannan, Teknik Pembelajara Bahasa Arab Interaktif,……hlm. 97-98
34
c. Hendaknya pengarang dan pengajar memperhatikan tahapan dalam
pengajaran berbicara, seperti memulai dengan lafadz-lafadz mudah
yang terdiri dari satu kalimat, dua kalimat dan seterusnya.
d. Memulai dengan kosa kata yang mudah.
e. Mengfokuskan pada bagian keterampilan bagi keterampilan
berbicara, yaitu:
 Cara mengucapkan bunyi dari makhrajnya dengan baik dan
benar.
 Membedakan pengucapan harakat panjang dan pendek.
 Mengungkapkan ide-ide dengan cara yang benar dengan
memperhatikan kaidah tata bahasa yang ada.
 Melatih siswa bagaimana cara memulai dan mengakhiri
pembicaraan dengan benar.
f. Memperbanyak
latihan-latihan,
seperti
latihan
membedakan
pengucapan bunyi, latihan mengungkapkan ide-ide.20
20
Abd Wahab Rosyidi dan Mamlu’atul Ni’mah, Memahami Konsep Dasar Pembelajaran
Bahasa Arab, (Malang: UIN-Maliki Press, 2012), hlm. 90-91
35
4.
Tahapan Pembelajaran Keterampilan Berbicara
Tahapan-tahapan pembelajaran keterampilan berbicara ini dibagi
menjadi tiga tingkatan, yaitu tahap pada tingkat pemula, tingkat
menengah dan tingkat lanjut. Adapun penjelasannya sebagai berikut:
a. Untuk pembelajar pemula (mubtadi’)
 Guru memulai melatih bicara dengan memberi pertanyaanpertanyaan yang harus dijawab oleh siswa.
 Pada saat yang bersamaan siswa diminta untuk belajar
mengucapkan kata, menyusun kalimat dan mengungkapkan
pikiran.
 Guru mengurutkan pertanyaan-pertanyaan yang dijawab oleh
siswa sehingga berakhir membentuk sebuah tema yang
sempurna.
 Guru menyuruh siswa menjawab latihan-latihan syafawiyah,
menghafal percakapan atau menjawab pertanyaan yang
berhubungan dengan isi teks yang telah siswa baca.
b. Bagi pembelajar lanjut (mutawassith)
 Belajar berbicara dengan bermain peran.
 Berdiskusi tentang tema tersebut.
36
 Bercerita tentang peristiwa yang dialami oleh siswa.
 Bercerita tentang informasi yang telah didengar dari televise,
radio atau lainnya.
c. Bagi pembelajar tingkat lanjut (mutaqaddim)
 Guru memilih tema untuk berlatih kalam.
 Tema yang dipilih hendaknya menarik berhubungan dengan
kehidupan siswa.
 Tema harus jelas dan terbatas.
 Mempersilahkan siswa memilih dua tema atau lebih sampai
akhirnya siswa bebas memilih tema yang dibicarakan tentang
apa yang mereka ketahui.21
5.
Tujuan Keterampilan Berbicara
a. Kemudahan berbicara
Peserta didik harus mendapat kesempatan yang besar untuk
berlatih berbicara sampai mereka mampu mengembangkan
kemahiran ini secara wajar, lancer dan menyenangkan, baik di
dalam kelompok kecil maupun dihadapan pendengar umum yang
lebih besar jumlahnya.
21
Abd Wahab Rosyidi dan Mamlu’atul Ni’mah, Memahami Konsep Dasar Pembelajaran
Bahasa Arab,...... hlm. 93-94
37
b. Kejelasan
Dalam hal ini peserta didik diharapkan mampu berbicara dengan
jelas, baik itu dari artikulasinya maupun diksi kalimat-kalimatnya.
c. Bertanggung jawab
Latihan berbicara yang baik menekankan pembicara agar
bertanggung jawab atas apa yang dibicarakan tersebut, jadi
pembicaranya dapat dipikir-pikir dahulu dengan sungguh-sungguh
mengenai apa yang menjadi topik pembicaraan.
d. Membentuk pendengaran yang kritis
Latihan berbicara yang bagus sekaligus akan mengasah
keterampilan menyimak secara cepat dan kritis.
e. Membentuk kebiasaan
Kebiasaan untuk berbicara bahasa arab tidak dapat dicapai tanpa
adanya niat yang sungguh-sungguh dari pelajar itu sendiri.
Kebiasaan ini akan terwujud dengan adanya latihan rutin dan
interaksi antara dua individu atau lebih yang telah disepakati
sebelumnya.22
22
Iskandar Wassid dan Dadang Sunendar, Strategi Pembelajaran Bahasa, (Bandung: PT
Remaja Rosdakarya, 2011), hlm. 242-243
Download