pengaruh diameter oosit sapi bali terhadap tingkat

advertisement
PENGARUH DIAMETER OOSIT SAPI BALI TERHADAP
TINGKAT KEMATANGAN INTI OOSIT SECARA IN VITRO
SKRIPSI
oleh:
RAHMI SYAMSUDDIN
I 111 10 270
PROGRAM STUDI PRODUKSI TERNAK
JURUSAN PRODUKSI TERNAK
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2014
PENGARUH DIAMETER OOSIT SAPI BALI TERHADAP
TINGKAT KEMATANGAN INTI OOSIT SECARA IN VITRO
SKRIPSI
oleh:
RAHMI SYAMSUDDIN
I 111 10 270
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana pada
Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin
PROGRAM STUDI PRODUKSI TERNAK
JURUSAN PRODUKSI TERNAK
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2014
PERNYATAAN KEASLIAN
1. Yang bertanda tangan dibawah ini:
Nama
: Rahmi Syamsuddin
NIM
: I 111 10 270
Menyatakan dengan sebenarnya bahwa:
a. Karya skripsi yang saya tulis adalah asli
b. Apabila sebagian atau seluruhnya dari karya skripsi, terutama dalam Bab
Hasil dan Pembahasan tidak asli atau plagiasi maka bersedia dibatalkan
atau dikenakan sanksi akademik yang berlaku.
2. Demikian pernyataan keaslian ini dibuat untuk dapat dipergunakan
sepenuhnya.
Makassar,
Juni 2014
Rahmi Syamsuddin
HALAMAN PENGESAHAN
JudulPenelitian
: Pengaruh Diameter Oosit Sapi Bali Terhadap Tingkat
Kematangan Inti Oosit Secara In Vitro
Nama
: Rahmi Syamsuddin
No. Pokok
: I 111 10 270
Program Studi
: Produksi Ternak
Jurusan
: Produksi Ternak
Fakultas
: Peternakan
Skripsi ini telah diperiksa dan disetujui oleh :
Pembimbing Utama
Prof.Dr.Ir. H. Herry Sonjaya, DEA. DES.
NIP. 19570129 198003 1 001
Pembimbing Anggota
Prof. Rr. Sri Rachma A. B., M.Sc., Ph.D.
NIP. 19680425 199403 2 002
Dekan Fakultas Peternakan
Ketua Jurusan Produksi Ternak
Prof. Dr. Ir. H. Syamsuddin Hasan, M.Sc
NIP. 19520923 197903 1 002
Prof. Dr. Ir. H. Sudirman Baco, M. Sc
NIP. 19641231 198903 1 025
Tanggal Lulus :
Juni 2014
RINGKASAN
Rahmi Syamsuddin (I 111 10 270), Pengaruh Diameter Oosit Sapi Bali Terhadap
Tingkat Kematangan Oosit Secara In Vitro. Dibawah bimbingan Herry Sonjaya sebagai
pembimbing utama dan Rr. Sri Rachma Aprilita Bugiwati sebagai pembimbing
anggota.
Limbah ovarium sapi Bali dari Rumah Pemotongan Hewan (RPH) mengandung
berbagai ukuran diameter oosit untuk dimanfaatkan sebagai bahan mentah dalam proses
pematangan oosit secara in vitro, namun belum diketahui apakah semua oosit ini bisa
mencapai tahap pematangan akhir secara in vitro. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui pengaruh diameter oosit terhadap tingkat kematangan oosit. Penelitian ini
menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan (diameter oosit :
<110 µm, 110-120 µm, >120 µm) dan 4 ulangan. Ovarium sapi Bali disayat untuk
menghasilkan oosit, lalu oosit dikoleksi berdasarkan sitoplasma yang homogen dan oosit
diukur diameternya. Oosit dikelompokkan berdasarkan 3 kategori diameter, dimaturasi
dan dimasukkan ke dalam inkubator 5 % CO2 dan 38,5C. Oosit diwarnai dengan aceto
orcein 2%, lalu di amati dibawah mikroskop. Parameter yang diamati yaitu tahap tingkat
kematangan oosit yang terdiri dari Germinal Vesical (GV), Germinal Vesical Break
Down (GVBD), Metaphase-I (MI), dan Metaphase-II (MII). Data penelitian dianalisis
dengan analisis ragam dan uji beda nyata terkecil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
tahap GVBD nyata (P<0.05) lebih tinggi pada oosit yang berukuran <110 µm
dibandingkan 2 perlakuan diameter lainnya. Pada tahap MII nyata (P<0.05) lebih tinggi
pada oosit yang berdiameter >120 µm, tetapi tahap MI tidak berbeda nyata (P>0.05)
antara 3 perlakuan. Kesimpulan bahwa oosit yang berdiameter >120 µm merupakan oosit
yang terbaik untuk mencapai tahap Metaphase-II (MII).
Kata Kunci : Ovarium Sapi Bali, Diameter Oosit, Tingkat Kematangan Oosit.
ABSTRACT
Rahmi Syamsuddin (I 111 10 270), Influence of Bali cattle oocytes diameter Against
Maturity Level oocytes in vitro. Under the guidance of Herry Sonjaya as main
supervisor and Rr. Sri Rachma Aprilita Bugiwati as the supervising.
Waste ovarian of Bali cattles in abattoirs contains some varieties of oocytes
diameter sizes to be used as raw materials in the process of In Vitro Maturation (IVM),
but it is not known whether all of these oocytes could reach the stage of finishing
maturation in vitro. Therefore, this study aimed to determine the effects of the oocyte
diameter on the persentage of oocyte maturation stage. This study used a complete
randomized design (CRD) with 3 treatments (oocytes diameter : <110 µm , 110-120 µm ,
>120 µm) and 4 replications. The ovarium of Bali cattles were slice to produce oocytes ,
and the oocytes were collected based on the homogeneity of cytoplasm. The oocytes were
measured and be grouped based on three categories of diameter oocyte maturation, put
into incubator 5 % CO2 and 38.50C. The oocytes were stained with 2 % aceto orcein , and
observed under a microscope. The parameter observed were the oocyte maturity stage
that consists of Germinal Vesical (GV), Germinal Vesical Break Down (GVBD),
Metaphase - I (MI), and Metaphase - II (MII). Data were analyzed using analysis of
variance (ANOVA) and the least significant difference test . The results showed that
GVBD stage were significantly (P<0.05) higher in the oocytes diameter of <110 µm
than the other diameter. Conversely, the oocytes diameter of >120 µm which reach MII
stage were significantly (P<0.05) higher that the other diameter, but all of oocytes at all
diameter were not significantly at MI stages (P>0.05). It’s concluded that the diameter of
>120 µm of oocytes are the best diameter to reach the Metaphase - II stage (MII).
Keywords : Ovarian of Bali Cattle, Oocytes Diameter, Maturation Stage Of Oocyte.
KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, karena rahmat dan
hidayah-Nya sehingga Tugas Akhir / Skripsi ini dapat terselesaikan. Skripsi
dengan judul ”Pengaruh Diameter Oosit Terhadap Tingkat Kematangan Inti
Oosit Secara In Vitro”. Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana
pada Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin, Makassar. Pada kesempatan
ini penulis menghanturkan ucapan terima
kasih dan penghargaan setinggi-
tingginya dengan penuh rasa hormat kepada:
1. Secara khusus penulis mengucapkan banyak terima kasih yang sebesarbesarnya kepada Prof. Dr. Ir. H. Herry Sonjaya, DEA., DES. Selaku
Pembimbing Utama dan Prof. Rr. Sri Rachma Aprilita Bugiwati, M.Sc,
Ph.D. selaku Pembimbing Anggota, atas segala bantuan dan keikhlasannya
untuk memberikan bimbingan, nasehat dan saran sejak awal penelitian sampai
selesainya penulisan skripsi ini.
2. Kedua orang tua, ayahanda Drs. Syamsuddin Jama dan ibunda Hj.
Rukmisah, S.Pd SD tercinta, dan adikku tersayang Rizqullah Asyraf
Syamsuddin, serta keluarga besarku yang terus mendidik dan mendukung
baik materil maupun moril, dan atas segala limpahan doa, kasih sayang,
kesabaran, pengorbanan, dan segala bentuk motivasi yang telah diberikan
tanpa henti kepada penulis.
3. Secara khusus penulis mengucapkan banyak terima kasih yang sebesarbesarnya kepada bapak Hasbi, S.Pt, M.Si, ibu Sri Gustina, S.Pt, M.Si, dan
i
kanda Dzulyadaeni, S.Pt yang telah mengajarkan teknik mengkultur oosit
sapi Bali secara in vitro dan membantu kami dalam penelitian ini..
4. Prof. Dr. Ir. Syamsuddin Hasan, M. Sc selaku Dekan Fakultas Peternakan
Universitas Hasanuddin, dan Bapak wakil Dekan I, II, III, yang telah
menyediakan fasilitas kepada penulis selama menjadi mahasiswa.
5.
Dr. Muhammad Yusuf S.Pt, selaku Penasehat Akademik penulis yang telah
bersedia meluangkan waktunya selama penulis duduk dibangku perkuliahan
dan senantiasa memberikan motivasi dan nasehat yang sangat berarti bagi
penulis.
6. Prof. Dr. Ir. H. Sudirman Baco, M. Sc selaku Ketua Jurusan Produksi
Ternak beserta seluruh dosen dan staf Jurusan Produksi Ternak atas segala
bantuan kepada penulis selama menjadi mahasiswa.
7. Semua dosen-dosen Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin yang telah
memberi ilmunya kepada penulis.
8. LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) selaku Lembaga yang
memberikan bantuan baik berupa alat maupun bahan yang menunjang dalam
penelitian ini.
9. Bapak Direktur Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Tamangapa,
Makassar, terkhusus kepada Bapak Syarir, Bapak Firman dan para
pegawai RPH yang telah membantu kami untuk mendapatkan bahan utama
yaitu Ovarium Sapi Bali.
10. Tidak lupa penulis mengucapkan terima kasih kepada rekan-rekan sepenelitian
Andi Mutmainna, Andi Fausiah, dan Ahmad Mujahid yang telah
ii
mencurahkan segenap tenaga dan perhatiannya, sekali lagi terima kasih
banyak yang sebesar-besarnya.
11. Secara khusus penulis banyak mengucapkan terima kasih kepada Restiawan
AR., Drs. Abd. Rakhman Rasyid, Dra. Siti Kusuma dan Muh. Rum
Ramadhan yang telah membantu baik baik secara moril dan material.
12. Kepada sahabat-sahabatku yang terbaik saudari Inna, Uchi, Tenri, Weny,
Iyan, Nurmi, Ifa, Dhian, Putri, Lili, Vivi, dan saudara Alam, Farid, David,
Aldes, Yafet, Ibnu, Ichwan, Iccank, Herman terkhusus Angkatan 2010
L10N, yang telah membantu baik material maupun moril.
13. Serta tak lupa pula menghanturkan banyak terima kasih kepada teman-teman
MATADOR 10 dan SITUASI 2010, dan kepada para senior terutama
RUMPUT 07, BAKTERI 08, MERPATI 09, dan Semua pihak yang tidak
dapat penulis sebut satu persatu, terima kasih atas bantuannya.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan tapi
penulis membuka diri terhadap kritik dan saran yang membangun demi
kesempurnaan skripsi ini dan demi kemajuan ilmu pengetahuan nantinya. Akhir
kata, semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita semua terutama bagi diri
penulis sendiri. Amin.
Makassar,
Juni 2014
Penulis
iii
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL
HALAMAN PENGESAHAN
ABSTRAK
KATA PENGANTAR…………………………………………………….
i
DAFTAR ISI …………...............................................................................
iv
DAFTAR TABEL ………………………………………………………
vi
…………………………………………………..
vii
DAFTAR LAMPIRAN .............................................................................
viii
……………………………………………………
1
DAFTAR GAMBAR
PENDAHULUAN
TINJAUAN PUSTAKA
Ovarium …………………………………………………………..
Folikulogenesis ……………………………………………………
Oogenesis …………………………………………………………..
Pematangan Oosit secara in vitro(In Vitro Maturation, IVM) ……..
Diameter Oosit ………………………………………………………
3
4
5
8
10
METODE PENELITIAN
Waktu dan Tempat ………………………………………………….
Materi Penelitian ……………………………………………………
Metode Penelitian …………………………………………………..
Parameter yang Diamati …………………………………………….
Analisis Data ………………………………………………………..
12
12
13
18
19
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pengaruh Diameter Oosit terhadap Tingkat Kematangan Oosit .......
21
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan ………………………………………………………….
Saran ……………………………………………………..................
28
28
iv
DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………….
29
LAMPIRAN ………………………………………………………………
33
RIWAYAT HIDUP ………………………………………………………
47
v
DAFTAR TABEL
No.
Halaman
Teks
1.
Nama-nama Larutan ……………………………………………..
13
vi
DAFTAR GAMBAR
No.
Halaman
Teks
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
Proses Oogenesis ..........................................................................
Proses Pembelahan Meiosis padaOosit .........................................
Skema Prosedur Penelitian ...........................................................
Diameter Oosit .............................................................................
Perkembangan Oosit Sapi Bali ....................................................
Status Inti Oosit setelah Pematangan in vitro ...............................
Histogram Pengaruh Diameter Oosit Sapi Bali terhadap
Rata-rata persentase Tingkat Kematangan Oosit ..........................
5
7
14
16
17
19
21
vii
DAFTAR LAMPIRAN
No.
Halaman
Teks
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
Jumlah Oosit yang Memiliki Beberapa Diameter .........................
Pengaruh Diameter Oosit terhadap Tingkat Kematangan
Oosit In Vitro ................................................................................
Pengaruh Diameter Oosit terhadap Tingkat Kematangan Oosit
In Vitro (%) ...................................................................................
Analysis of variance (ANOVA) pada tahap GVBD .....................
Analysis of variance (ANOVA) pada tahap MI ............................
Analysis of variance (ANOVA) pada tahap MII ..........................
Dokumentasi Penelitian ................................................................
33
33
34
36
38
39
41
viii
PENDAHULUAN
Salah satu upaya peningkatan produktivitas reproduksi ternak dapat
dilakukan dengan berbagai macam cara, yaitu dengan menerapkan teknologi
reproduksi seperti Produksi Embrio In Vitro (PEIV). Produksi embrio in vitro
(PEIV) adalah salah satu assited reproductive technology (ART) yang terdiri atas
in vitro maturation (IVM), in vitro fertilization (IVF) dan in vitro culture (IVC)
(Rahman, et al., 2008 ; Hegab, et al., 2009). Dengan teknik PEIV materi genetik
dari hewan-hewan yang fungsi reproduksinya tidak normal masih dapat
diselamatkan.
Banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan proses PEIV antara lain
materi genetik yang digunakan dan sistem kultur akan sangat menentukan kualitas
oosit yang dihasilkan.
Sistem kultur seperti pemilihan jenis medium yang
digunakan untuk setiap tahapan produksi embrio yang berkaitan dengan pH, suhu
dan osmolaritas, lingkungan untuk PEIV, lama inkubasi dan sebagainya akan
sangat berpengaruh terhadap keberhasilan produksi embrio (Sumantri dan
Anggraeini, 1999). Materi genetik seperti kualitas oosit yang berasal dari ovarium
sapi betina untuk menghasilkan embrio.
Salah satu faktor yang menentukan
kualitas oosit adalah diameter oosit (Arlotto, et al., 1996). Oosit yang mempunyai
diameter lebih besar akan mempunyai
kemampuan yang lebih besar untuk
mencapai meiosis I, oosit yang berasal dari folikel yang lebih besar mempunyai
peluang yang lebih besar untuk mencapai metaphase II dibanding oosit yang
berasal dari folikel yang berdiameter lebih kecil. Hal tersebut terlihat pada
1
penelitian yang menggunakan misalnya oosit babi (Tsafriri,1985), oosit domba
(Lonergan, et al., 1994), serta oosit sapi yang berasal dari folikel antrum yang
kecil ternyata mempunyai kemampuan yang rendah untuk mengalami germinal
vesicle breakdown (GVBD) dan metaphase I (Pavlok, et al., 1992). Lonergan, et
al., (1992) menyatakan bahwa diameter oosit mempunyai hubungan yang kuat
dengan kualitas oosit yang dihasilkan.
Ketersediaan sapi Bali betina produktif yang dipotong di Rumah
Pemotongan Hewan (RPH) Tamangapa Makassar memungkinkan untuk
pemanfaatan ovariumnya, yang biasanya dibuang namun masih mempunyai oosit
yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan mentah dalam proses In Vitro Maturation
(IVM) atau pematangan oosit secara in vitro. Oosit dalam ovarium sapi Bali
betina mempunyai diameter yang berbeda-beda, dan diameter oosit merupakan
salah satu indikator penentu tingkat keberhasilan pematangan inti oosit secara in
vitro. Studi dan informasi ilmiah mengenai pengaruh diameter oosit terhadap
tingkat kematangan khususnya untuk sapi Bali masih sangat terbatas. Oleh karena
itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kualitas pematangan
oosit yang dikultur secara in vitro dengan berbagai ukuran diameter oosit sapi
Bali.
2
TINJAUAN PUSTAKA
Ovarium
Ovarium adalah organ reproduksi betina yang terletak di ruang abdomen
seekor hewan.Ovarium dapat bekerja sebagai organ eksokrin (menghasilkan sel
telur) dan endokrin (menghasilkan hormon) (Thomas, and Joanna, 2002) yang
berfungsi untuk memproduksi hormon-hormon pada siklus reproduksi (Turner,
and Bagnara, 1988).
Ovarium terdiri atas bagian medula yang mengandung
jalinan vaskular luas di dalam jaringan ikat selular longgar dan bagian korteks
merupakan tempat dijumpai folikel ovarium, yang mengandung oosit (Junqueira,
et al., 1995).
Pada saat fetus, ovarium menghasilkan oogonia melalui pembelahan
mitosis. Sekitar 1 (satu) juta oosit berkembang setelah fetus dilahirkan namun
hanya beberapa ratus oosit yang akan diovulasikan.
Umumnya oosit akan
berkurang karena mengalami degenerasi dan atresia (Schatten, and Gheorghe,
2007).
Sel gamet pada betina dinamakan ovum. Ovum mengandung deutoplasma
atau yolk yaitu cadangan makanan yang terdiri dari butiran-butiran lemak,
karbohidrat dan protein.
Ovum dilapisi tiga macam selaput pelindung yaitu
selaput primer dihasilkan oleh ovum itu sendiri disebut membran vitteline, selaput
sekunder pada mamalia disebut zona pellusida yang dihasilkan oleh oosit dan selsel folikel (Yatim, 1994) dan selaput tersier yang terbentuk setelah pembuahan
dihasilkan oleh kelenjar-kelenjar saluran kelamin betina.
3
Folikulogenesis
Folikulogenesis adalah suatu perkembangan folikel dalam ovarium dari
sudut besarnya, jumlah lapisan sel granulosa, perkembangan sel teka interna dan
eksterna, posisi sel telur di sekeliling kumulus oophorusnya, dan peningkatan
volume cairan rongga folikel. Oosit berada di dalam folikel yang terdapat pada
bagian korteks ovarium. Folikel mengalami berbagai tahap perkembangan yang
berawal dari terbentuknya folikel primordial sampai berkembang menjadi folikel
matang dan oosit siap diovulasikan.
Berdasarkan perubahan morfologisnya, folikel di klasifikasikan dalam 3
kelompok yaitu folikel primer, folikel sekunder dan folikel tersier atau Degraaf.
Folikel primer terdiri dari oosit yang dikelilingi oleh selapis sel epitel sedangkan
sel teka belum terbentuk, sebagian besar folikel primer tersebut akan mengalami
regresi atau tetap tidak berkembang sama sekali. Lapisan sel-sel yang
mengelilingi folikel primer disebut stratum granulosum atau lapisan granulosa.
Telur berada pada satu sisi folikel dalam gundukan sel-sel granulosa yang disebut
kumulus oophorus dan lapisan sel granulose yang langsung menyelubungi sel
telur disebut korona radiata (Partodiharjo, 1980). Tingkat kedua adalah folikel
sekunder yang mengandung oosit dalam volume maksimal dan letaknya eksentrik
atau agak ke pinggir seperti pada folikel primer. Sel-sel granulose terdiri dari 612 lapis sel.Pada folikel sekunder ovum sudah dilengkapi zona pelusida yang
bergerak menuju korteks (Yatim, 1994). Stadium terakhir adalah perkembangan
folikel tersier, yang juga disebut folikel de graaf. Sel-sel folikel yang melengkapi
4
oogonia akan membentuk antrum atau membentuk ruangan yang berisi cairan.
Ruangan ini dikelilingi oleh sel-sel yang disebut membran granulosa.
Pengelompokan folikel berdasarkan ukuran diameternya terbagi menjadi
tiga kelompok yaitu dilakukan oleh tiga kelompok folikel tersebut adalah folikel
ukuran kecil (2-3 mm), folikel ukuran sedang (3,1 – 5 mm), folikel ukuran besar
(>5 mm) (Crozet, et al., 1995).
Oogenesis
Oogenesis adalah proses pembentukan sel telur (ovum) di dalam ovarium.
Oogenesis dimulai dengan pembentukan bakal sel-sel telur yang disebut oogonia
(tunggal: oogonium). Pertumbuhan oosit antara lain berupa peningkatan diameter
oosit, pertambahan ukuran dari organel-organel, dan disertai dengan perubahan
atau perkembangan pada inti dan sitoplasma (Telfer, 2008).
Gambar 1. Proses Oogenesis
Sumber: Campbell, et al. (2000)
Proses oogenesis (Gambar 1) terdiri dari beberapa tahap yaitu oogonium
mengalami pembelahan mitosis berubah menjadi oosit primer, yang memiliki 46
5
kromosom. Oosit primer melakukan meiosis (tahap I), yang menghasilkan dua sel
anak yang ukurannya tidak sama. Sel anak yang lebih besar adalah oosit sekunder
yang bersifat haploid (n). Ukurannya lebih besar dari yang lain karena berisi lebih
banyak sitoplasma dari oosit primer yang lain. Sel anak yang lebih kecil disebut
badan polar pertama yang kemudian membelah lagi.
Oosit sekunder meninggalkan folikel ovarium menuju tuba fallopi.
Apabila oosit sekunder dibuahi oleh sel sperma (fertilisasi), maka akan mengalami
pembelahan meiosis yang kedua, begitu pula dengan badan polar pertama
membelah menjadi dua badan polar kedua yang akhirnya mengalami degenerasi.
Namun apabila tidak terjadi fertilisasi, menstruasi dengan cepat akan terjadi dan
siklus oogenesis diulang kembali. Selama pemebelahan meiosis kedua, oosit
sekunder menjadi bersifat haploid (n) dengan 30 kromosom dan selanjutnya
disebut dengan oosit. Ketika inti nukleus sperma dan ovum siap melebur menjadi
satu, saat itu juga oosit kemudian mencapai perkembangan akhir atau finalnya
menjadi ovum yang matang.
Peristiwa pengeluaran sel telur dikenal dengan
istilah ovulasi. Pada setiap ovulasi hanya satu telur yang matang dan dapat hidup
24 jam. Jika ovum yang matang tersebut tidak dibuahi, maka sel telur tersebut
akan mati dan luruh bersama dengan dinding rahim pada awal siklus menstruasi
(Campbell, et al., 2000).
Perkembangan oosit terdiri dari tiga tahap yaitu proliferasi, pertumbuhan,
dan pematangan. Pada tahap proliferasi terjadi proses mitosis oogonium menjadi
beberapa oogonia yang terjadi pada saat pralahir atau sesaat setelah lahir
kemudian oogonia berdiferensiasi menjadi oosit primer dengan inti tahap profase
6
I. Inti oosit pada tahap ini disebut Germinal Vesicle (GV) yang ditandai dengan
adanya membrane inti yang utuh dan nucleus yang jelas. Selanjutnya oosit akan
memasuki tahap pertumbuhan dan pematangan yang berlangsung bersamaan
dengan proses perkembangan folikel.
Pertumbuhan oosit ditandai dengan
peningkatan diameter oosit dan pertambahan ukuran dari organel-organel seperti
kompleks golgi, retikulum endoplasmik halus, butir lemak, peningkatan proses
transkip untuk sintesis protein. Tahap pematangan oosit ditandai dengan beberapa
proses perkembangan inti oosit (Hafez and Hafez, 2000).
Gambar 2. Proses Pembelahan Meiosis pada Oosit
Sumber : Citra (2013).
Proses pembelahan oosit secara meiosis pada Gambar 2, menjelaskan
tentang mekanisme pengaturan dan fisiologi perkembangan oosit primer secara
singkat. Awal pembelahan meiosis dimulai dari janin, pada saat itu inti oosit
berada pada tahap pembelahan profase I, atau tahap dictyate (fase istirahat).
Proses pembelahan meiosis pada oosit dilanjutkan kembali setelah individu hewan
7
mengalami pubertas (Hafez and Hafez, 2000). Kelanjutan pembelahan meiosis
berturut-turut akan melewati tahap diakinesis (awal pemisahan dan kondensasi
pasangan
kromosom),
metafase
(semua
kromosom
berada
pada
pusat
pembelahan) dan anaphase (pemisahan masing-masing kromosom sepanjang
pusat belahan spindle) dan telofase (pembagian kromosom selesai). Pembelahan
meiosis yang pertama menghasilkan 2 sel telur yang masing-masing berisi
setengah komplemen kromosom.
Salah satu dari sel telur tersebut yang
mendapatkan hampir seluruh sitoplasma disebut oosit sekunder dan oosit
sekunder inilah yang nantinya akan menjalani proses pembelahan lebih lanjut.
Pada saat inti berada pada tahap metaphase II oosit diovulasikan dari folikel,
namun proses maturasi oosit masih berlanjut hingga terjadi proses fertilisasi
antara ovum dengan sperma dan badan kutub kedua terbentuk.
Pematangan Oosit secara in vitro (In Vitro Maturation, IVM)
Pematangan oosit in vitro adalah pematangan oosit pada medium di luar
tubuh dan dikultur secara in vitro (Gotto, et al., 1995).
Melalui tehnik
pematangan in vitro dimungkinkan untuk memperoleh oosit matang dalam jumlah
besardengan cara menanam telur yang belum diovulasikan dalam medium
pematangan (Bavister, 1992).
Shamsudin, et al., (1993) menyatakan bahwa
pematangan oosit primer dapat berkembang menjadi oosit sekunder yang akan
melakukan proses pembelahan meiosis dengan normal dan sempurna sehingga
menghasilkan sel telur yang siap untuk dibuahi.
Lima faktor yang sangat
berkompeten dalam keberhasilan pematangan oosit adalah morfologi kumulus,
8
ukuran dan kesehatan folikel, stimulasi ovarium dan prosedur pematangan oosit
dari sebelum mulai diinkubasi (Sirard, and Blondin, 1996).
Laju proses maturasi oosit sapi, domba, dan babi lambat karena
membutuhkan waktu untuk melakukan sintesa protein aktif untuk persiapan
permulaan meiosis. Pada sapi proses maturasi inti secara in vivo membutuhkan
waktu selama ± 24 jam (Gordon, 1994).
Pematangan ini meliputi berbagai
perubahan kronologi tahapan meiosis (Gordon, 2003). Proses pematangan inti
berhubungan dengan aktivitas sintesis RNA, ditandai dengan perubahan inti dari
fase diploten ke metaphase II. Membran inti akan mengadakan penyatuan dengan
vesicle
membentuk Germinal Vesicle (GV) dan kemudian akan mengalami
pelepasan membran inti membentuk Germinal Vesicle Break Down (GVBD).
Setelah GVBD terjadi, kromosom dibungkus oleh mikrotubulus dan mikrofilamen
yang sangat mempengaruhi keberhasilan pembelahan meiosis. Oosit yang telah
mengalami GVBD selanjutnya akan mencapai tahap metaphase I (MI). Pada
oosit sapi, metaphase I terjadi setelah 12-14 jam inkubasi dan diikuti oleh tahap
anaphase (AI) dan telophase (TI) yang berlangsung relatife singkat (14-18 jam)
setelah masa inkubasi (Chohan, and Hunter, 2003). Tahap metaphase II (MII)
akan terjadi dan ditandai dengan terbentuknya badan kutub I dan oosit yang sudah
matang siap untuk difertilisasi (Pawshe, et al., 1994).
Kemampuan inti oosit untuk dapat membelah secara meiosis selama
proses maturasi oosit sangat bergantung pada stimulasi hormonal terhadap oosit
yang berkumulus kompak. Analisa mekanisme rangsangan hormonal terhadap
pembelahan meiosis tidak terlepas dari peran gonadotropin, steroid, prostaglandin,
9
siklus AMP, sintesa makromolekular dan energi metabolisme folikular (Tsafriri,
1985).
Penentuan kualitas oosit dilakukan dengan melakukan beberapa evaluasi
terhadap oosit yang akan digunakan pada proses PEIV. Seleksi oosit yang banyak
digunakan adalah pemilihan oosit berdasarkan morfologi sel kumulus yang berada
disekitar oosit (Alvarez, et al., 2009).
Wood, and Wildt (1997) melaporkan
bahwa teknik grading dengan mengevaluasi sel-sel kumulus oosit yang kompleks
dapat mengidentifikasi kualitas oosit yang lebih mudah dan objektif. Keberadaan
sel kumulus mendukung pematangan oosit sampai pada tahap matefase II dan
berkaitan dengan pematangan sitoplasma yang diperlukan untuk kemampuan
perkembangan setelah fertilisasi (Abeydeera, 2002).
Umumnya oosit dengan
kumulus yang multilayer digunakan dalam produksi embrio secara in vitro (Qian,
et al.,2005).
Diameter Oosit
Oosit dapat diambil langsung dengan berbagai cara seperti aspirasi,
puncture dan penyayatan (slicing) dari folikel dengan diameter <2 mm akan
mencapai metafase II dengan persentase yang rendah. Oosit dengan diameter
110-125 m, memiliki kemampuan mencapai tahap M-II lebih tinggi dan dapat
dikoleksi dari folikel berukuran 3-4 dan > 4 mm (Ferreira, 2009). Oosit dengan
diameter <110 m tidak dapat melakukan sintesis RNA maternal dan beberapa
protein esensial dengan sempurna sehingga tidak dapat mencapai tahap M-II
10
(Otoi, et al., 1997). Pada oosit kambing, kompetensi meiosis diperoleh ketika
diameter oosit lebih besar dari 136 m. Beberapa studi menyimpulkan bahwa
diameter oosit adalah berbanding lurus dengan diameter folikel, karena
keduanyameningkatkan kemampuan perkembangan oosit pada sapi (Gandolfi, et
al., 1997).
Menurut Hyttel, et al., (1987) bahwa pada sapi oosit yang berdiameter 100
m memiliki kemampuan untuk memulai meiosis dan oosit dengan diameter 110
m memiliki kemampuan penuh untuk menyelesaikan pematangan dan untuk
mempertahankan perkembangan embrio. Sesuai dengan klasifikasi diameter oosit
menyimpulkan bahwa oosit sapi yang lebih besar dari 110 m telah mencapai
kemampuan meiosis, tetapi untuk memperoleh kemampuan perkembangan embrio
harus memiliki diameter lebih besar dari 120 m.
Kompetensi perkembangan oosit ke tahap selanjutnya sengat dipengaruhi
oleh kualitas oosit yang digunakan pada proses produksi embrio secara in vitro.
Oosit yang berkualitas baik tidak hanya akan berhasil mencapai tahap pematangan
inti namun juga akan mampu melewati berbagai tahap dalam pematangan
sitoplasma yang dibutuhkan untuk dapat mencapai tahap fertilisasi. Kualitas oosit
memberi pengaruh terhadap pematangan oosit (maturasi), perkembangan dan
kemampuan embrio untuk tetap bertahan hidup dan pemeliharaan pada
kebuntingan dan perkembangan fetus (Krisher, et al., 2007).
11
METODE PENELITIAN
Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian dilakukan di Laboratorium Terpadu Pusat Kegiatan Penelitian
(PKP), Universitas Hasanuddin pada bulan Desember 2013sampai Januari 2014.
Materi Penelitian
Bahan yang digunakan adalah ovarium sapi Bali sebanyak 10-12 pasang
yang diperoleh dari Rumah Potong Hewan (RPH) Tamangapa, Kota Makassar,
Provinsi Sulawesi Selatan. Oosit diseleksi berdasarkan keadaan sitoplasma yang
homogen dan sel-sel kumulus yang kompak.
Alat yang digunakan adalah syringe, kaca arloji , petri dish, inkubator CO2
5% 38,5 C, pipet, wadah sampel, mikropipet yang berukuran 2,5 µl, 50 µl, dan
1000 µl, cawan petri, objek glass, cover glass, gunting bedah, scalpel, gelas kimia,
labu ukur 1 liter dan 500 ml, autoclaf, timbangan electrik, oven dengan suhu 65
C, wadah larutan yang berukuran 2 ml, 1 ml, dan 0,5 ml, dan mikroskop Axio
Cam.
Medium yang digunakan dalam penelitian ini terbagi atas tiga yaitu
medium transportasi, medium koleksi, dan medium maturasi. Adapun larutan
yang digunakan dapat dilihat pada Tabel 1.
12
Tabel 1. Nama-nama Larutan yang digunakan dalam Penelitian
Volume/
No.
Nama Larutan
Ket.
Satuan
1.
Larutan NaCl
0,9%
2.
Fetal Bovine Serum (FBS)
10%
Gibco, Grand Island,
NY, USA
3.
Enzim hyaluronidase
0,25%
4.
KCl
0,7%
Sigma, USA
5.
Aceto orcein
2%
6.
Asam asetat
25%
7.
Penicillin
100 IU/ml
8.
Streptomycin sulfate
100 µ/ml
9.
Gentamycin
50 µg/ml
Sigma, USA
10. Phosphate buffered saline (PBS)
22,5 ml
Gibco, Grand Island,
NY, USA
11. Tissue culture medium (TCM)
1800 µl
Sigma, USA
199
12. Pregnant
mare
serum
200 µl
Intergonan,
Intervet
gonadotrophin (PMSG)
Deutschland GmbH
13. Human chorionic gonadotrophin
100 µl
Chorulon,
Intervet
(hCG)
international
B.V.
14. Parafin dan vaselin
1:9
Boxmeer-Holland
15. Ethanol dan asam asetat
3:1
16. Ethanol absolute
Secukupnya
17. Mineral oil
Secukupnya Sigma Chemical Co.
St. Louis MO, USA
18. Larutan kuteks bening
Secukupnya
Metode Penelitian
1.
Rancangan Penelitian
Penelitian menggunakan metode eksperimental laboratorium berdasarkan
Rancangan Acak Lengkap (RAL) yaitu 3 perlakuan dan 4 ulangan. Jenis
perlakuan antara lain :
D1 : Oosit yang berdiameter <110 m
D2 : Oosit yang berdiameter 110-120 m
D3 : Oosit yang berdiamater >120 m
13
2.
Prosedur Penelitian
Adapun secara rinci prosedur kerja penelitian disajikan pada Gambar 3
Ovarium Sapi Bali
dari RPH Tamangapa
Ukur diameter oosit
dengan mikroskop
Maturasi Oosit
in vitro ±24 jam
Laboratorium
(larutan 0,9% NaCl + 100 IU/ml penicillin+ 100
µ/ml streptomycin sulfate + 50 µg/ml
Gentamycin
Koleksi
Oosit
Pembuatan Medium
Maturasi ±1 jam
Oosit yang sudah dimaturasi sel
kumulus dihilangkan dengan
menggunakan enzim
Pewarnaan
Oosit
Evaluasi Tingkat Kematangan Oosit
in vitro
Gambar 3. Skema Prosedur Penelitian
Pembuatan Medium Maturasi
Pertama-tama yang dilakukan sebelum membuat medium maturasi,
terlebih dahulu dilakukan pengenceran TCM-199 (50 ml), dengan cara
menimbang TCM-199 sebanyak 0,475 gram ditambah dengan 0,11 gram NaHCO3
yang diencerkan dengan aquades 50 ml. Setelah itu larutan TCM-199 difilter
dengan menggunakan saringan. Untuk membuat medium maturasi larutan yang
14
dicampurkan adalah Tissue culture medium (TCM) 199 sebanyak 1800 µl,
Pregnant mare serum gonadotrophin (PMSG) 200 µl, Fetal Bovine Serum (FBS)
10%,
human
Chorionic
Gonadotrophin
(hCG)
100
µl,
dan
2,5
µl
Gentamycindengan menggunakan mikropipet. Lalu ditampung dalam wadah yang
berukuran 2 ml. setelah itu medium maturasi diinkubasi selama 2 jam, tetapi
pembuatan medium maturasi dilakukan 1 jam sebelum oosit dikoleksi.
Koleksi oosit
Koleksi oosit dilakukan dengan menyayat/mencacah (slicing) folikel yang
ada di permukaan ovarium sehingga cairan folikel keluar. Selanjutnya dilakukan
pembilasan (flushing) dengan penyemprotan NaCl 0,9% menggunakan syringe ke
dalam folikel bekas sayatan, agar oosit dapat keluar. Selanjutnya oosit diseleksi
menggunakan mikroskop (hanya oosit dengan keadaan sitoplasma yang homogen
dan dikelilingi ≥ 3 lapis sel kumulus yang digunakan) dan ditampung dalam petri
dish yang berisi media phosphate buffered saline yang disuplementasi dengan
Fetal Bovine Serum 10%. Oosit hasil koleksi dicuci dalam medium koleksi yang
terdiri atas PBS ditambah 10% FBS. Selanjutnya, diukur diameter oosit dengan
menggunakan mikroskop dan oosit dicuci dengan medium maturasi masingmasing sebanyak dua kali.
Adapun diameter oosit di kelompok menjadi tiga yakni diameter <110 µm,
110-120 µm, dan diameter >120 µm (Gambar 4).
15
A.
B.
C.
Gambar 4. A. Oosit yang berdiameter Bar <110 µm; B. Oosit yang berdiameter
Bar 110-120 µm; C. Oosit yang berdiameter >120 µm.
Morfologi oosit dikategorikan atas empat kelompok (Lonergan, et al.,
1992), yaitu (1) Complete, terdapat sel-sel kumulus oophorus, terdiri lebih dari
tiga lapisan tebal (lima lapisan), oosit kelihatan kompak. (2) Expanded, terdapat
sel-sel kumulus oophorus, terdiri dari tiga (3-5) lapisan tebal, dengan salah satu
bagian tidak utuh. (3) Partial, terdapat hanya dua lapisan sel-sel kumulus
oophorus. (4) Nude, tidak ada sel-sel yang mengelilingi oosit, oosit hanya
dikelilingi zona pellucida secara merata. Salah satu contoh morfologi oosit dari
keempat kelompok tersebut dapat dilihat pada Gambar 5.
16
A
B
Gambar 5. Perkembangan oosit sapi Bali in vitro.
A
: Oosit sebelum pematangan
B
: Oosit setelah pematangan
O
: Oosit
SK : Sel-sel kumulus
ESK : Eskpansi sel kumulus
Maturasi oosit in vitro
Sebelum dilakukan maturasi terlebih dahulu membuat empat tetesan
(drop) pada petri dish (50 µL/drop) dan ditutup dengan mineral oil. Oosit yang
diseleksi dan telah melalui dua kali pencucian menggunakan PBS, FBS dan
Gentamicyhin, di masukkan kedalam drop yang telah dibuat. Kemudian
dimasukkan dalam inkubator CO2 5%, temperatur 38,5oC selama 24 jam.
Evaluasi Tingkat Pematangan Inti Oosit
Oosit yang telah dimaturasi dibersihkan dari sel-sel kumulusnya
(denudase) dengan batuan enzim hyaluronidase (Sigma, USA) 0,25% dengan
cara dipipet berulang-ulang menggunakan pipet berdiameter yang sesuai dengan
ukuran oosit. Oosit yang memiliki ukuran diameter yang samadiletakkan pada
17
drop KCl 0.7% diatas kaca objek, lalu difiksir dengan kaca penutup yang
memiliki bantalan parafin dan vaselin (1:9) pada keempat sudutnya. Preparat oosit
yang telah jadi, difiksasi pada ethanol dan asam asetat dengan perbandingan (3:1)
selama 3-4 hari pada temperatur kamar. Setelah difiksasi preparat direndam
terlebih dahulu dalam larutan ethanol absolute selama satu jam.
Perwarnaan Oosit
Sebelum oosit diwarnai, preparat dikeringkan menggunakan tissue.Lalu
oosit diwarnai dengan aceto orcein 2% selama 5 menit.Kemudian zat pewarna
dibersihkan dengan asam asetat 25% dan keempat sisi kaca penutup diberi larutan
kuteks bening untuk selanjutnya dilakukan pengamatan dibawah mikroskop fase
kontras.
Parameter yang diamati
Parameter yang diamati untuk mengetahui tingkat pematangan oosit yaitu :
1. Menghitung jumlah oosit dengan diameter yang berbeda-beda
2. Melihat tahap perkembangan meiosis, meliputi :
a. Fase germinal vesicle (GV) ditandai dengan adanya membran inti dan
nukleolus terlihat jelas ditepi.
b. Fase germinal vesicle breaking down (GVBD) ditandai dengan
robeknya membran inti sehingga nukleolus tidak terlihat jelas.
18
c. Fase metaphase–I (M-I) ditandai dengan adanya kromosom homolog
yang berpasangan dan berderet di bidang equator.
d. Fase metaphase-II (M-II) ditandai adanya badan kutub I dan susunan
kromosom yang sama dengan tahap M-I, fase anaphase dan telofase.
A
B
C
D
Pembesaran : 400 kali
Gambar 6.Status inti oosit setelah pematangan in vitro.
A : Germinal Vesicle (GV)
B : Germinal Vesicle Break Down (GVBD)
C :Metaphase I (MI)
D:Metaphase II (MII) (tanda panah)
Tingkat pematangan oosit dapat dihitung berdasarkan rumus dibawah ini :
Rumus =
19
Analisis Data
Tingkat kematangan oosit dianalisis menggunakan Rancangan Acak
lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 4 ulangan. Data penelitian sebelum
dianalisis dengan analysis of variance (ANOVA) terlebih dahulu ditransformasi
dengan Arsin √ untuk memperoleh penyebaran data distribusi normal (Gaspersz,
1991) dan apabila terdapat perngaruh diantara perlakuan dilanjutkan dengan uji
beda nyata terkecil (BNT) (Steel and Torrie, 1981). Data diolah menggunakan
software SPSS 18.0 for windows. Model matematika yang digunakan adalah :
Yij
Keterangan :
Yij =
µ =
ᴛi =
ɛ =
= µ + ᴛi + ɛi
i
= 1,2,3,
j
= 1,2,3,4
Hasil pengamatan dari tingkat pematangan oosit dengan ukuran
diameter oosit ke-i dengan ulangan ke-j
Rata-rata pengamatan
Pengaruh diameter oosit ke-i
Pengaruh galat percobaan dari perlakuan ke-i dan ulangan ke-j
20
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pengaruh Diameter Oosit Terhadap Tingkat Kematangan Oosit
Hasil pengamatan tingkat kematangan oosit disajikan pada Gambar 7:
Tingkat Kematangan Oosit (%)
80
b
70
60
ab
50
Diameter Oosit
40
<110 µm
110-120 µm
a
30
>120 µm
a
20
10
ab
b
0
GV
GVBD
MI
MII
Tahap Perkembangan Oosit
Gambar 7. Histogram Pengaruh Diameter Oosit Sapi Bali terhadap Ratarata persentase Tingkat Kematangan Oosit. GV: germinal vesicle,
GVBD: germinal vesicle breakdown, MI: metaphase I, MII: metaphase II.
Huruf yang berbeda pada grafik batang yang sama menunjukkan perbedaan
yang nyata (P<0.05).
Hasil analisis ragam (Lampiran 5 dan 7) menunjukan bahwa perlakuan
diameter berpengaruh nyata (P<0.05) terhadap kematangan oosit pada tahap
Germinal Vesicle Break Down (GVBD) dan Metaphase-II (MII), tetapi tidak
berpengaruh nyata (P>0.05) pada tahap Germinal Vesicle (GV) dan Metaphase-I
(MI) (Lampiran 6).
Pada tahap Germinal Vesicle Break Down (GVBD) persentase tingkat
kematangan oosit yang tertinggi pada oosit yang berdiameter <110 µm dan oosit
21
yang berdiameter >120 µm tidak mengalami tahap GVBD. Hal ini mungkin
disebabkan oleh laju pertumbuhan oosit. Oosit yang berdiameter <110 µm
memiliki persentase yang tinggi, disebabkan baru mengalami tahap meiosis dan
laju pertumbuhan oosit untuk mencapai meiosis I agak lambat, sehingga oosit
yang dikultur banyak yang mengalami tahap Germinal Vesicle Break Down
(GVBD). Persentase oosit yang tinggi pada stadium GVBD tanpa diikuti oleh
persentase oosit yang meningkat pada stadium meiosis selanjutnya menandakan
bahwa oosit kurang memiliki kompetensi untuk melanjutkan meiosis dalam kultru
in vitro (Hirao, et al., 1994). Tingkat kematangan inti oosit yang berdiameter
<110 µm dan 110-120 µm sama, namun oosit yang berdiameter <110 µm dan
>120 µm berbeda nyata. Pada oosit yang berdiameter >120 µm tidak terdapat
oosit yang mengalami tahap GVBD. Hal ini disebabkan bahwa oosit yang
berdiameter >120 µm pada saat dikultur sudah mencapai tahap meiosis
selanjutnya.
Pada tingkat kematangan tahap Metaphase-II (MII) oosit yang berdiameter
>120 µm memiliki persentase tertinggi dan yang terendah <110 µm (Gambar 4).
Hal ini disebakan pada oosit yang berdiameter <110 µm memiliki persentase yang
rendah untuk mencapai tahap MII belum mampu secara maksimal untuk mencapai
tahap MII dan membutuhkan waktu yang lama untuk perkembangan oosit. Oosit
yang memiliki diameter >120 µm lebih berkompeten untuk mencapai tahap
meiosis II dan siap untuk dibuahi dan memiliki kemampuan mencapai tahap M-II
lebih tinggi dan dapat dikoleksi dari folikel berukuran 3-4 dan > 4 mm (Ferreira,
2009). Oosit dengan diameter <110 m tidak dapat melakukan sintesis RNA
22
maternal dan beberapa protein esensial dengan sempurna sehingga tidak dapat
mencapai tahap M-II (Otoi, et al., 1997).
Hasil yang didapatkan tidak terdapat oosit yang mengalami tahap pada
tingkat kematangan GV (germinal vesical).
Hal ini disebabkan oosit yang
dikoleksi sudah mengalami pembelahan meiosis dan pematangan ooplasmic.
Menurut Rahman, et al., (2008), secara in vivo sama seperti oosit mamalia lainnya
maka oosit kambing dan domba akan beristirahat setelah memasuki fase dictyate
atau fase germinal vesicle (GV) hingga kambing dan domba memasuki masa
pubertas. Secara in vitro oosit akan mengalami pertumbuhan yang optimal setelah
keluar dari folikel dan ketika dikultur dalam media maturasi secara spontan akan
mengalami pembelahan meiosis dan pematangan ooplasmic.
Diameter tidak berpengaruh (P>0,05) terhadap tingkat kematangan inti
oosit tahap Metaphase-I (MI) (Lampiran 6). Persentase tingkat kematangan MI
antara tiga kategori diameter oosit hampir sama untuk mencapai MI. Namun,
demikian secara deskriptif ada perbedaan nilai yaitu tertinggi pada oosit yang
berdiameter <110 µm dan terendah >120 µm. Hal ini disebabkan oosit yang
dikultur secara in vitro pada tahap Metaphase-I (MI) memiliki persentase tingkat
kematangan oosit yang tinggi pada oosit yang berdiameter <110 µm, karena laju
pertumbuhan agak lambat untuk mencapai tahap meiosis II dan membutuhkan
waktu lam untuk mencapai tahap meiosis selanjutnya. Oosit yang berdiameter
>120 µm baru mulai tahap Metaphase-I (MI). Hal ini diduga hampir semua
diameter oosit memiliki kemampuan yang sama untuk mencapai tahap MI dan
23
disebabkan oleh laju perkembangan oosit yang dikultur secara in vitro sudah
mencapai tahap meiosis II.
Persentase tingkat kematangan oosit yang berdiameter >120 µm
mempunyai nilai 0 % pada tahap GV dan GVDB, tetapi tahap pematangan inti
oosit pada Metaphase-I dan Metaphase-II terdapat nilai oosit yang mengalami MI
dan MII. Hal ini disebabkan karena oosit yang dikultur pada kategori diatemer
>120 µm sudah mencapai tahap meiosis I dan meiosis II.
Yang, et al., (1990) melaporkan bahwa kemampuan oosit dengan diameter
>125 µm nyata lebih tinggi (78,02 %) untuk mencapai tahap MII dibandingkan
dengan oosit berdiameter <110 µm (20,96 %), 110-125 µm (57,97 %) pada
kondisi prepubertas.
Gambar 7 menunjukkan oosit yang memiliki diameter <110 µm mencapai
tingkat kematangan GVBD, MI, sampai MII, hal ini sama dengan diameter 110120 µm tingkat kematangan inti oosit dimulai dari tahap GVBD, MI, sampai MII.
Pada diameter >120 µm tahap tingkat kematangan inti oosit dimulai dari MI,
sampai MII. Hal ini menunjukan bahwa diameter oosit sapi Bali berpengaruh
(P<0.05) terhadap tingkat kematangan oosit.
Menurut Hyttel, et al., (1987) bahwa pada sapi oosit yang berdiameter 100
m memiliki kemampuan untuk memulai meiosis memiliki kemampuan penuh
untuk menyelesaikan pematangan dan untuk mempertahankan perkembangan
embrio. Oosit sapi yang lebih besardari 115 m telah mencapai kemampuan
meiosis, tetapi untuk memperoleh kemampuan perkembangan embrio harus
memiliki diameter lebih besar dari 120 m.
24
Berdasarkan kondisi tingkat kematangan pada tahap MII, terihat bahwa
diameter oosit >120 µm memiliki persentase peningkatan tingkat kematangan
oosit terbesar diikuti dengan oosit yang berdiameter 110-120 µm dan <110
µm.Secara keseluruhan <110 µm memiliki laju pertumbuhan lebih rendah
dibandingkan dengan laju pertumbuhan oosit yang berdiameter 110-120 µm dan
>120 µm. Beberapa studi menyimpulkan bahwa diameter oosit adalah berbanding
lurus dengan diameter folikel, karena keduanya meningkatkan kemampuan
perkembangan oosit pada sapi (Gandolfi, et al., 1997).
Perbedaan ukuran diameter dari 125 oosit dalam ovarium sapi Bali
tersebut disebabkan oleh laju pertumbuhan oosit, proses pertumbuhan folikel,
keadaan populasi folikel dalam ovarium sapi Bali, dan pada waktu pengambilan
ovarium dari RPH di Tamangapa.
Arlotto, et al. (1996) telah menguji hubungan antara diameter oosit dengan
pertumbuhan folikel. Oosit terus bertumbuh setelah pembentukan antrum, yang
melibatkan oosit yang berasal dari folikel berukuran 10-15 mm. Perbedaan
diameter oosit yang berasal dari folikel besar dengan folikel kecil sekitar 5%.
Perbedaan diameter oosit akan berpengaruh terhadap perkembangan oosit mulai
perkembangan dini sampai blastosis.
Pengaruh diameter oosit terhadap kemampuannya untuk berkembang
mungkin berhubungan dengan lama pembentukan polar bodi pertama. Semakin
cepat polar bodi pertama terbentuk (matang lebih awal) akan meningkatkan
keberhasilan dalam pembentukan blastosis (Dominko dan First, 1992). Oosit yang
25
matang lebih awal cenderung pada oosit yang memiliki diameter lebih besar
(Arlotto, et al., 1996).
Sel-sel kumulus berperan penting dalam proses pematangan oosit secara in
vitro (Setiadi, 2002), yang selanjutnya juga akan mempengaruhi kualitas embrio
yang dihasilkan. Saat pematangan, sel-sel kumulus berperan dalam menyediakan
nutrisi bagi oosit serta membantu sintesis protein untuk pembentukan zona
pelusida (Mayes, 2002). Apabila sel-sel kumulus dilepaskan sebelum pematangan,
maka akan terjadi keterlambatan dalam proses pematangan oosit atau bahkan
tidak terjadi pematangan. Menurut Mayes (2002) ekspansi kumulus berkorelasi
dengan Germinal Vesicle Break Down (GVBD). Berdasarkan hal tersebut,
terjadinya ekspansi sel-sel kumulus dapat digunakan untuk memperkirakan
terjadinya pematangan oosit secara in vitro (Setiadi, 2002).Tingkat pematangan
oosit secara in vitro juga dipengaruhi oleh kualitas oosit yang digunakan.
Bilodeau, and Panich (2002) menyatakan persentase tingkat pembelahan sel yang
berasal dari oosit yang memiliki lebih dari lima lapis sel kumulus mencapai angka
yang lebih tinggi dan berbeda nyata daripada tingkat pembelahan sel yang berasal
dari oosit dengan lapisan sel kumulus kurang dari lima lapis, walaupun
sitoplasmanya homogen. Keberadaan sel kumulus dapat mendukung pematangan
oosit melalui zat metabolit yang dihasilkan dan disekresikan melalui mekanisme
gap junction ke sel oosit.
Ekspansi sel-sel kumulus dapat dijadikan indikator terjadinya pematangan
oosit (Setiadi, 2002).
Menurut Vanderhyden, et al., (1990) bahwa terdapat
hubungan antara perkembangan oosit untuk melalui GVBD, kemampuan oosit
26
untuk mensekresikan faktor penyebab ekpansi sel-sel kumulus dan terjadinya
ekspansi sel-sel kumulus. Akibat terjadinya ekspansi sel-sel kumulus tidak lagi
sebagai penghambat dalam proses pematangan oosit atau Oocyte Maturation
Inhibitor (OMI). Sel-sel kumulus disebut sebagai OMI, karena mensekresikan
Cyclic Adenosine Monophosphate (cAMP) yang merupakan faktor penghambat
pematangan oosit (Sirard and Blondin, 1996).
27
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Persentase tingkat kematangan oosit tertinggi pada tahap GVBD
dihasilkan oleh oosit yang berdiameter <110 µm, sedangkan untuk tahap MII
dicapai oleh oosit yang berdiameter >120 µm.
Saran
Perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk mengetahui kemampuan oosit
dari 3 kategori ukuran diameter, untuk tahap perkembangan fertilisasi sampai
tahap menjadi embrio.
28
DAFTAR PUSTAKA
Abeydeera, L. R. 2002. In vitro production of embryos in swine. Theriogenology.
57(7):256-273.
Alvarez G. M. 2009. Immature oocyte quality and maturational competence of
porcine cumulusoocyte complexes subpopulations.Biocell.33:167-177.
Arlotto, T., J. L. Schwarctz, and N. L. First. 1996. Aspect follicle and oocyte stage
that affect in vitro maturation and development of bovine oocytes.
Theriogenology. 45:943–956.
Bavister, B. D. 1992. Analysis of Culture Media for in Vitro Fertilization and
Criteria for Success.in L. Mastroianni Jr. and J. D. Biggers (Eds.).
Fertilization andEmbrionic Development in Vitro. Plenum Press. New
York.
Bilodeau-Goeseels, S., and P. Panich. 2002. Effects of oocyte quality on
development and transcriptional activity in early bovine embryos. Anim.
Reprod. Sci. 71:143-155.
Campbell, N.A., Reece J. B., and Mitchel L. G. 2000. Biologi. Wasmen Manali.
Erlangga. Jakarta.
Chohan, K. R., dan Hunter A. G. 2003. Meiotic competence of bovine fetal
oocytes following in vitro maturation.Anim. Reprod. Sci. 76:43-51.
Citra,
S.
R.
2013.
Proses
Oogenesis
Manusia.http://bioedulima.blogspot.com/2013/04/oogenesis-padamanusia-2_8.html. Di akses 2 Desember 2013.
pada
Crozet, N., Ali A., and M. P. Dubos. 1995. Developmental competence of goat
oocytes from follicles of different size categories following maturation,
fertilization and culture in vitro. Reprod. Fertil. 103(2):293-298.
Dominko, T. and N. Fisrt. 1992. Kinetics of bovine oocyte maturation and is
affected by gonadotropins. Theriogenology. 37:203-209.
Ferreira. 2009. Cytoplasmic maturation of bovine oocytes: Structural and
biochemical modifications and acquisition of developmental competence.
Theriogenology. 71:837-848.
29
Gandolfi, F., A. M. Luciano, S. Modina, A. Ponzini, P. Pocar, D. T. Armstrong,
and A. Lauria. 1997. The in vitro developmental competence of bovine
oocytes can be related to the morphology of the ovary. Theriogenology.
48(7):1153-1160.
Gordon, I. 1994 Autocrine, paracrine and environmental factors influencing
embryonic development from zygote to blastocyst. Theriogenology. 41(1):
95-100.
Gordon, I. R. 2003. Laboratory Production of Cattle Embryos.CABI Publishing;
Wallingford UK.
Gotto, K., T. Yasuyuki, T. Wartaru, T. Shinichiro, T. Kazuhisa, Y. Kichi, Syojio,
and N. Yoshihiki, 1995. Evaluation of once-versus twice
weeklytransvaginal ultarsound guided folicular oocyte aspiration with
orwithout FSH stimulation from the same Cows. J. Anim. Reprod. Sci.
4:41-47.
Hafez, B., and E. S. E, Hafez. 2000. Reproduction in Farm Animals. 7th Ed. Lea
and Febiger, Philadelphia. 96-107.
Hegab, A.O., Montasser, A.E., Hamma, A.M., Abu El-Naga E.M.A., Zaabel, S.M.
2009. Improving in vitro maturation and cleavage rates of buffalo
oocytes.Anim. Reprod. 6(2):416-421.
Hirao, R. H. F. 1994. In vitro growth and maturation of pig oocytes. J. Reprod.
Fertil. 100: 333-339.
Hyttel, P. H., Callensen, and T. Greve, 1987. Ultra Structural Features of
Preovulatory Oocytes Maturation in Superovulation Catlle.J.Repod., and
Fert. 76:645-656.
Junqueira, C., Jose C., and Robert K. 1995.Histologi Dasar.Jakarta : EGC.
Krisher, R. L., A. M. Brad, J. R. Herrick, M. L. Sperman, and J. E. Swain. 2007.
A comparative analysis of metabolisme and viability in porcine oocytes
during in vitro maturation. Anim. Reprod. Sci. 98:72-96.
Lanzendorf, S.E., P.M. Gliessman, A.E. Archibong, M. Alexander dan D.D. Wolf.
1990. Collection and quality of rhesus monkey semen. 25:61-66.
Lonergan, P., Sharif, H., Monaghan P., Wahid H., Gallaghar M. and Gordon I.
1992. Effect of size on bovine oocytes morphology and embrios yield
following maturation, fertilization and culture in vitro. Theriogenology
54:1420-1429.
30
Lonergan, P., P. Monaghan, D. Rizos, M.P. Boland, and I. Gordon. 1994. Effect
of follicle size on bovine oocyte quality and developmental competence
following maturation, fertilization, and culture in vitro. Mol. Reprod. and
Developm. 37:48-53.
Mayes. 2002. Ovary. http://www.theses.ulayal.ca/2002/20201.html. Diakses 13
Februari 2014.
Otoi, T., K. Yamamoto, N. Koyama, Tachikawa S, and Suzuki T. 1997.Bovine
oocyte diameter in relation to developmental competence.Theriogenology.
48:769-774.
Partodihardjo, S. 1980. Ilmu Reproduksi Hewan. Mutiara. Jakarta.
Pavlok, A., A. Lucas-Hahn, and H. Nieman. 1992. Fertilization and
developmental competence of bovine oocytes derived from different
categories of antral follicles. Mol. Reprod. and Developm. 31:63-67.
Pawshe, C. H., K. B. C. Appa Rao, S. K. Jain, and S. M. Totey. 1994.
Biochemical studies on goat oocytes timing of nuclear progresian, effect of
protein inhibitor and pattern of polypeptide synthesis during in vitro
maturation. Theriogenology. 42(2):307-320.
Qian, H., Nihorimbere, and Venant. 2005. Antioxidant power of phytochemichals
from psidium guajava leaf. Journal of Zhejiang University Science
5(6):23-28.
Rahman, A., Abdullah R. B., and Wan Khadijah W. E., 2008. In vitro maturation
of oocytes with special reference to goat: A review. Biotechnology
7(4):599-611
Schatten, H., and M. Gheorghe. 2007. Comparative Reproduction Biology. Iowa,
USA: Blaswell Pub.
Setiadi, M.A., 2002. Effect of co-cultur with follicle shell on cumulus expansion
and nuclear maturation porcine oocytes in vitro. Reprotech. I(2):87-91.
Shamsuddin, M. B., H.R. Larrson, and Martinez, 1993. Maturation related
changes in bovine oocytes under different culture condition. J. Anim.
Reprod. Sci.31: 49-58.
Sirard, M.A., and P. Blondin. 1996. Oocytes maturation and IVF cattle. Anim.
Reprod. Sci. 42(1):417-426.
31
Sumantri, C. dan A. Anggraeini. 1999. Hubungan jumlah folikel per ovari dengan
kualitas oosit dan lama hari terbentuknya blastosit fertilisasi invitro pada
sapi Fries Holland. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner. 4(4):142-149.
Telfer, D. J., and R. S. Sharpley. 2008. Tourisme and Development in The
Development in The USA and Canada by Routledge, 270 Madison Ave,
New York.
Thomas, C., and M. B. Joanna. 2002. Clinical Anatomy and Fisiologi for
Veterinary technicians. United State of America: Mosby, Inc.
Tsafriri, A. 1985.The control of meiotic maturation in mamalias. Biology of
Fertilization, 1:221-252.
Turner, C. D., and J. T. Bagnara. 1988. Endokrinologi Umum. Edisi ke-6.
Surabaya: Airlangga University Press.
Vanderhyden, B.C., and D.T. Amstrong. 1990. Role of the cumulus cells and
serum on the in vitro maturation,fertilization, and sub sequent
development of rat oocytes. Biol. Reprod. 40:720-728.
Wood, T. C., and D. E. Wildt. 1997. Effect of the quality of the cumulus-oocyte
complex in the domestic cat on the ability of oocytes to mature, fertilize
and develop into blastocysts in vitro. J. Reprod. Fertil. 110:355-360.
Yang, N.S., K. H. Luand, I. Gordon. 1990. In vitro fertilization (IVF) and cultur
(IVC) of bovine oocytes from stored ovaries. Theriogenology. 333:352.
Yatim, W, 1994. Reproduksi dan Embriologi. Penerbit Tarsito. Bandung.
32
Lampiran 1. Jumlah oosit yang memiliki beberapa diameter
ULANGAN
I
II
III
IV
TOTAL
PERLAKUAN (DIAMETER OOSIT)
<110
110-120
>120
8
11
12
6
11
10
7
10
13
10
14
13
31
46
48
JUMLAH
OOSIT
31
27
30
37
125
Lampiran 2. Pengaruh Diameter Oosit Terhadap Tingkat Kematangan Oosit In
Vitro
DIAMETER
ULANGAN
OOSIT
<110 µm
I
II
III
IV
TOTAL
Rata-rata
110-120 µm
I
II
III
IV
TOTAL
Rata-rata
>120 µm
TOTAL
Rata-rata
TOTAL
I
II
III
IV
TINGKAT KEMATANGAN OOSIT
GV
-
GVBD
2
1
2
5
1.25
1
1
2
0.5
-
MI
5
4
4
4
17
4.25
2
8
5
6
21
5.25
3
6
3
3
15
3.75
MII
3
2
4
9
2.25
8
3
5
7
23
5.75
9
4
10
10
33
8.25
-
7
53
65
JUMLAH
OOSIT
8
6
7
10
31
7.75
11
11
10
14
46
11.5
12
10
13
13
48
12
125
33
Lampiran 3. Pengaruh Diameter Oosit Terhadap Tingkat Kematangan Oosit In
Vitro (%)
DIAMETER
OOSIT
ULANGAN
<110 mm
I
II
III
IV
Total
Rata-rata
110-120 mm
I
II
III
IV
Total
Rata-rata
>120 mm
Total
Rata-rata
I
II
III
IV
TINGKAT KEMATANGAN OOSIT (%)
GV
GVBD
MI
MII
-
33.33
14.29
20
67.62
16.90
9.09
7.14
16.23
4.06
-
62.5
66.67
57.14
40
226.31
56.58
18.18
72.73
50
42.86
183.77
45.94
25
60
23.08
23.08
131.15
32.79
37.5
0
28.57
40
106.07
26.52
72.73
27.27
50
50
200
50
75
40
76.92
76.92
268.85
67.21
34
Lampiran 4. Pengaruh Diameter Oosit Terhadap Tingkat Kematangan Oosit In
Vitro (Transformasi)
DIAMETER
OOSIT
ULANGAN
<110 mm
I
II
III
IV
Total
Rata-rata
110-120 mm
I
II
III
IV
Total
Rata-rata
>120 mm
Total
Rata-rata
I
II
III
IV
TINGKAT KEMATANGAN OOSIT
GV
GVBD
MI
MII
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
35.25
22.21
26.56
84.02
21.01
17.56
0
0
15.49
33.05
8.26
0
0
0
0
0
0
52.24
54.74
49.09
39.23
195.3
48.83
25.23
58.5
45
40.92
169.65
42.41
30
50.77
28.71
28.71
138.19
34.55
37.76
0
32.33
39.23
109.32
27.33
58.51
31.5
45
45
180.01
45.00
60
39.23
61.27
61.27
221.77
55.44
35
LAMPIRAN 5
UNIANOVA GVBD BY Diameter
/METHOD=SSTYPE(3)
/INTERCEPT=INCLUDE
/POSTHOC=Diameter(LSD)
/EMMEANS=TABLES(Diameter)
/PRINT=DESCRIPTIVE
/CRITERIA=ALPHA(.05)
/DESIGN=Diameter.
Univariate Analysis of Variance
Between-Subjects Factors
N
Diameter
D1
4
D2
4
D3
4
Descriptive Statistics
Dependent Variable: GVBD
Diameter
Mean
D1
21.0050
15.01599
4
D2
8.2625
9.57807
4
D3
.0000
.00000
4
9.7558
12.95958
12
Total
Std. Deviation
N
Tests of Between-Subjects Effects
Dependent Variable: GVBD
Source
Type III Sum of
df
Mean Square
F
Sig.
Squares
Corrected Model
895.800a
2
447.900
4.236
.051
Intercept
1142.115
1
1142.115
10.801
.009
Diameter
895.800
2
447.900
4.236
.050
Error
951.658
9
105.740
Total
2989.574
12
Corrected Total
1847.458
11
a. R Squared = .485 (Adjusted R Squared = .370)
36
Estimated Marginal Means
Diameter
Dependent Variable: GVBD
Diameter
Mean
Std. Error
95% Confidence Interval
Lower Bound
Upper Bound
D1
21.005
5.141
9.374
32.636
D2
8.263
5.141
-3.368
19.893
D3
2.264E-015
5.141
-11.631
11.631
Post Hoc Tests
Diameter
Multiple Comparisons
Dependent Variable: GVBD
LSD
(I) Diameter
(J) Diameter
Mean Difference
Std. Error
Sig.
(I-J)
Lower Bound
Upper Bound
D2
12.7425
7.27117
.114
-3.7060
29.1910
D3
21.0050
*
7.27117
.018
4.5565
37.4535
D1
-12.7425
7.27117
.114
-29.1910
3.7060
D3
8.2625
7.27117
.285
-8.1860
24.7110
D1
*
7.27117
.018
-37.4535
-4.5565
-8.2625
7.27117
.285
-24.7110
8.1860
D1
D2
95% Confidence Interval
-21.0050
D3
D2
Based on observed means.
The error term is Mean Square(Error) = 105.740.
*. The mean difference is significant at the .05 level.
37
LAMPIRAN 6
UNIANOVA M1 BY Diameter
/METHOD=SSTYPE(3)
/INTERCEPT=INCLUDE
/POSTHOC=Diameter(LSD)
/EMMEANS=TABLES(Diameter)
/PRINT=DESCRIPTIVE
/CRITERIA=ALPHA(.05)
/DESIGN=Diameter.
Univariate Analysis of Variance
Between-Subjects Factors
N
Diameter
D1
4
D2
4
D3
4
Descriptive Statistics
Dependent Variable: M1
Diameter
Mean
Std. Deviation
N
D1
48.8250
6.80156
4
D2
42.4125
13.69877
4
D3
34.5475
10.83208
4
Total
41.9283
11.53199
12
Tests of Between-Subjects Effects
Dependent Variable: M1
Source
Type III Sum of
Df
Mean Square
F
Sig.
Squares
409.101a
2
204.550
1.747
.229
Intercept
21095.822
1
21095.822
180.177
.000
Diameter
409.101
2
204.550
1.747
.229
Error
1053.754
9
117.084
Total
22558.677
12
1462.855
11
Corrected Model
Corrected Total
a. R Squared = .280 (Adjusted R Squared = .120)
38
LAMPIRAN 7
UNIANOVA M2 BY Diameter
/METHOD=SSTYPE(3)
/INTERCEPT=INCLUDE
/POSTHOC=Diameter(LSD)
/EMMEANS=TABLES(Diameter)
/CRITERIA=ALPHA(.05)
/DESIGN=Diameter.
Univariate Analysis of Variance
Between-Subjects Factors
N
Diameter
D1
4
D2
4
D3
4
Tests of Between-Subjects Effects
Dependent Variable: M2
Source
Type III Sum of
Df
Mean Square
F
Sig.
Squares
Corrected Model
1615.498a
2
807.749
4.181
.052
Intercept
21768.601
1
21768.601
112.685
.000
Diameter
1615.498
2
807.749
4.181
.050
Error
1738.629
9
193.181
Total
25122.728
12
3354.127
11
Corrected Total
a. R Squared = .482 (Adjusted R Squared = .366)
39
Estimated Marginal Means
Diameter
Dependent Variable: M2
Diameter
Mean
Std. Error
95% Confidence Interval
Lower Bound
Upper Bound
D1
27.330
6.949
11.609
43.051
D2
45.003
6.949
29.282
60.723
D3
55.442
6.949
39.722
71.163
Post Hoc Tests
Diameter
Multiple Comparisons
Dependent Variable: M2
LSD
(I) Diameter
(J) Diameter
Mean Difference
Std. Error
Sig.
(I-J)
Lower Bound
Upper Bound
D2
-17.6725
9.82805
.106
-39.9051
4.5601
D3
*
9.82805
.019
-50.3451
-5.8799
D1
17.6725
9.82805
.106
-4.5601
39.9051
D3
-10.4400
9.82805
.316
-32.6726
11.7926
D1
*
9.82805
.019
5.8799
50.3451
10.4400
9.82805
.316
-11.7926
32.6726
D1
D2
95% Confidence Interval
-28.1125
28.1125
D3
D2
Based on observed means.
The error term is Mean Square(Error) = 193.181.
*. The mean difference is significant at the .05 level.
40
Lampiran 8. Dokumentasi Penelitian
Ovarium Sapi Bali
Alat Reproduksi Sapi Bali Betina
Pengambilan Ovarium di RPH Tamangapa, Makassar
Proses Sciling
Alat dan Bahan yang Digunakan untuk Koleksi Oosit
Mikroskop
41
Alat dan bahan yang Digunakan untuk Medium Maturasi
Mineral Oil, Medium Maturasi, dan empat tetesan (drop) pada petri dish
(50 µL/drop)
Tempat pembuatan medium
42
Mikroskop yang Digunakan untuk Mengukur Diameter Oosit
Medium Koleksi
Inkubator CO2 5 %, 38,5C
Pipet yang Dimodifikasi
43
Pembuatan Pipet
Pengkoleksian Oosit
Pengkoleksian Oosit dibawah mikroskop
Pembuatan empat tetesan drop (50 µL/drop)
44
Preprat Oosit
Preparat Oosit yang difiksasi
Alat dan bahan yang Digunakan untuk Pewarnaan Oosit
45
Proses Fiksasi Oosit
Proses Pewarnaan Oosit
Oosit yang telah di denudase
46
RIWAYAT HIDUP
RAHMI SYAMSUDDIN, Lahir di Barru, 18 Agustus
1992.
Anak pertama dari pasangan Drs. Syamsuddin
Jama
dan
Hj.
Rukmisah,
S.
Pd
SD,
penulis
menyelesaikan pendidikan sekolah dasar di SDN No. 5
Mareto, Barru pada tahun 2004. Pada tahun yang sama
penulis melanjutkan pendidikannya pada salah satu SMP
di Barru yaitu SMP Negeri 3 Tanete Rilau, Kab. Barru . Kemudian pada tahun
2007 Ia melanjutkan sekolah di salah satu Sekolah Menengah Atas SMA NEG. 1
Barru Kab. Barru dan lulus pada tahun 2010, Kemudian di tahun yang sama
penulis diterima pada salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Makassar yaitu pada
Universitas Hasanuddin Makassar dan di terima di Fakultas Peternakan pada
program studi Produksi Ternak.
Selama mengikuti perkuliah penulis aktif disalah satu himpunan di
Fakultas Peternakan yaitu Himpunan Produksi Ternak (HIMAPROTEK) dan aktif
sebagai asisten di Laboratorium Fisiologi Ternak Dasar dan Laboratorium
Kesehatan Ternak. Penulis menyelesaikan kuliah pada tahun 2014.
47
Download