COVER DEPAN

advertisement
EVALUASI STRATEGI KOMUNIKASI PENDIDIKAN DAN BUDAYA ANTI KORUPSI
PADA KEMENTERIAN DAN LEMBAGA TAHUN 2013
COVER DEPAN
i
LAPORAN EVALUASI STRATEGI KOMUNIKASI
PENDIDIKAN DAN BUDAYA ANTI KORUPSI
PADA KEMENTERIAN DAN LEMBAGA TAHUN 2013
DIREKTORAT KOMUNIKASI PUBLIK
DIREKTORAT JENDERAL INFORMASI DAN KOMUNIKASI PUBLIK
KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
2014
EVALUASI STRATEGI KOMUNIKASI PENDIDIKAN DAN BUDAYA ANTI KORUPSI
PADA KEMENTERIAN DAN LEMBAGA TAHUN 2013
LAPORAN EVALUASI STRATEGI KOMUNIKASI PENDIDIKAN DAN BUDAYA ANTI
KORUPSI PADA KEMENTERIAN DAN LEMBAGA TAHUN 2013
Tim Penulis:
Drs. Tulus Subardjono
Dr. Yanuar N, S.E.
Drs. Mariaman Purba
Mulyani
Frans Hendra SS
Nurul Hidayah Putri
Fransisca Rosalia
MT. Hidayat, M.Comn.
Edisi Pertama
Cetakan Pertama, Desember 2014
Penerbit:
DIREKTORAT KOMUNIKASI PUBLIK DIREKTORAT JENDERAL INFORMASI DAN KOMUNIKASI PUBLIK
KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
SAMBUTAN
Semangat Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi yang dilaksanakan
secara nasional adalah pelaksanaan kegiatan pencegahan dan pemberantasan korupsi secara komprehensif, terencana dan bersama-sama.Termasuk dalam meningkatkan upaya pendidikan daninternalisasi budaya anti
korupsi bagi seluruh elemen bangsa yakni aparatur pemerintah, swasta dan
masyarakat.
Kementerian Komunikasi dan Informatika diberikan mandat terkait Strategi Nasional Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi sejak tahun 2011 melalui Instruksi Presiden No 1 Tahun 2011 tentang Percepatan
Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi. Dua produk yang dihasilkan sebagai pendorong pelaksanaan PBAK yaitu Cetak Biru Strategi Komunikasi
Pendidikan dan Budaya Anti Korupsi dan Pedoman Penyusunan Strategi
Komunikasi Pendidikan dan Budaya Anti Korupsi.
Sebagai sebuah dokumen dinamis, Cetak Biru Strategi Komunikasi
PBAK memiliki tahap-tahap yang membutuhkan penilaian dan evaluasi
agar senantiasa selaras dengan Strategi Nasional Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi.Oleh karena itu, Laporan Evaluasi Strategi Komunikasi
PBAK pada Kementerian dan Lembaga ini sangat penting artinya sebagai
salah satu dokumen dalam pelaksanaan penilaian dan evaluasi terhadap
pencapaian Cetak Biru Strategi Komunikasi PBAK. Secara khusus,laporan
ini merupakan bagian dari monitoring dan evaluasi pelaksanaan Strategi
Komunikasi PBAK dan menakar kontribusinya dalam Strategi Nasional
Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi.
Laporan ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai acuan untuk
mengembangkan Strakom PBAK memiliki fokus dan tujuan yang sinergis
satu sama lain. Bahkan melalui evaluasi ini diharapkan dapat dikembangkan strategi komunikasi yang lebih baik melalui Cetak Biru Strategi Ko-
v
EVALUASI STRATEGI KOMUNIKASI PENDIDIKAN DAN BUDAYA ANTI KORUPSI
PADA KEMENTERIAN DAN LEMBAGA TAHUN 2013
munikasi PBAK dan sebagai bagian dari Strategi Nasional Pencegahan dan
Pemberantasan Korupsi, sesuai dengan tugas dan fungsi, serta khalayak
sasaran masing-masing K/L.
Jakarta, 30 November 2014
Direktur Komunikasi Publik
Tulus Subardjono
KATA PENGANTAR
Pendidikan dan Budaya Anti Korupsi (PBAK) merupakan salah satu
strategi dalam Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2012 tentang Strategi
Nasional Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi (Stranas PPK). Strategi itu PBAK diarahkan untuk mengembangkan berbagai kampanye yang
memberikan ruang bagimasyarakat untuk turut berpartisipasi dalam upaya
pemberantasankorupsi. Salah satu kanal utamanya adalah melalui pendidikan daninternalisasi budaya anti korupsi di lingkungan pemerintah, swasta,
masyarakat, maupun pemangku kepentingan lainnya.
Laporan ini merupakan salah satu rangkaian dari hasil evaluasi terhadap pelaksanaan aksi Strategi Komunikasi Pendidikan dan Budaya Anti
Korupsi pada 47 (empat puluh tujuh) kementerian dan lembaga di tingkat
pusat selama tahun 2013. Hal itu sejalan dengan tugas Kementerian Komunikasi dan Informatika adalah menjadi pendamping bagi kementerian
dan lembaga dalam menyusun strategi komunikasi yang diterapkan pada
masing-masing instansi pada tahun 2013 dalam Aksi Percepatan Pemberantasan Korupsi sesuai dengan Inpres No 1 Tahun 2013.
Hasil evaluasi ini diharapkan dapat menjadi bagian penting dalam
perencanaan dan peningkatan upaya Strategi Pendidikan dan Budaya Anti
Korupsi di tahun-tahun mendatang, agar tetap sejalan dan memberikan
dampak sesuai dengan kerangka Strategi Nasional Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi.
Jakarta, 30 November 2014
TIM PENYUSUN
vii
EVALUASI STRATEGI KOMUNIKASI PENDIDIKAN DAN BUDAYA ANTI KORUPSI
PADA KEMENTERIAN DAN LEMBAGA TAHUN 2013
viii
Sambutanii
Kata Pengantar
iii
Daftar Isi
ix
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Dasar Pemikiran
1.2. Maksud dan Tujuan
1.3 Sistematika
1
3
6
6
BAB II KERANGKA KERJA
2.1. Pertimbangan Konseptual
2.2. Lingkup Evaluasi
2.3. Tahapan
2.3.1. Tahap Persiapan 2.3.2. Pengumpulan Data dan Informasi 2.3.3. Diskusi Terbatas dan Rapat Koordinasi
2.3.4. Tahap Analisis Data 2.4. Metode
8
9
12
13
13
13
14
14
14
BAB III TEMUAN DATA
3.1. Gambaran Umum
3.2. Kerangka Pelaksanaan
3.3. Pelaksanaan Strakom PBAK oleh K/L
3.3.1. Aspek Pemilihan Pesan
3.3.2. Pemilihan Media
3.3.3. Aksi Yang Direncanakan 3.3.4. Pelaksanaan Aksi
17
19
20
22
23
25
27
28
BAB IV HASIL EVALUASI
4.1 Institusi Yang Memiliki Skor PBAK tertinggi
4.1.1. Kementerian Dalam Negeri
4.1.2. Kepolisian Republik Indonesia 4.1.3. Kejaksaan Agung
4.2. Institusi Yang Memiliki Skor PBAK Terendah
4.2.1. Kementerian Koordinator Bidang Politik Hukum
dan Keamanan
4.2.2. Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal
4.2.3. Kementerian BUMN
33
35
35
37
38
40
40
41
42
ix
x
DIREKTORAT JENDERAL INFORMASI DAN KOMUNIKASI PUBLIK
KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
EVALUASI STRATEGI KOMUNIKASI PENDIDIKAN DAN BUDAYA ANTI KORUPSI
PADA KEMENTERIAN DAN LEMBAGA TAHUN 2013
4.3. Institusi Yang Mengalami Peningkatan PBAK tertinggi
4.3.1. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
4.3.2. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas)
4.4. Perubahan Budaya Anti Korupsi di Lokus Pelaksanaan Strakom PBAK
43
43
44
BAB V KONTRIBUSI DALAM STRATEGI NASIONAL PPK
5.1. Relasi Strakom PBAK dengan Strategi Nasional PPK
5.2. Capaian Berdasar Indeks Perilaku Anti Korupsi
51
53
54
BAB VI PENUTUP
5.1 Kesimpulan
5.2 Rekomendasi
59
61
62
47
Referensi65
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Peta Jalan Komunikasi PBAK Jangka Menengah
10
Gambar 2. Model Evaluasi Kebijakan
11
Gambar 3. Sebaran Pilihan Pesan dalam Komunikasi PBAK
24
Gambar 4. Penggunaan Media dalam Komunikasi PBAK
26
Gambar 5. Sebaran Aksi yang Direncanakan dalam Komunikasi PBAK 27
Gambar 6. Sebaran Aksi Komunikasi PBAK
29
Gambar 7. Kerangka Pelaksanaan Strakom PBAK
54
Gambar 8. Perkembangan Indeks Perilaku Anti Korupsi (IPAK) Indonesia,
2012–2013
56
DAFTAR TABEL
Tabel 1 Aspek yang diamati dalam Assessment
Tabel 2 Perencanaan Komunikasi PBAK di LIPI
Tabel 3 Komunikasi PBAK LIPI dan Bappenas
Tabel 4 Signifikansi Perubahan Budaya Anti Korupsi
Tabel 5 Signifikansi Perubahan Budaya Anti Korupsi
Tabel 6 Perubahan Budaya Anti Korupsi
22
44
46
47
48
49
BAB I
PENDAHULUAN
EVALUASI STRATEGI KOMUNIKASI PENDIDIKAN DAN BUDAYA ANTI KORUPSI
PADA KEMENTERIAN DAN LEMBAGA TAHUN 2013
1.1. Dasar Pemikiran
Selama sepuluh tahun terakhir, pemerintah Indonesia telah
melakukan pemberantasan korupsi paling agresif dalam sejarah Indonesia
merdeka. Hasil dari agenda pemberantasan korupsi di Indonesia kian
nyata. Iklim takut akan korupsi semakin terbangun. Demikian pula upaya
bersama untuk mengembangkan semangat antikorupsi dalam setiap aspek
kehidupan berbangsa dan bernegara.
Upaya tersebut juga ditopang dengan adanya Strategi Nasional
Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi (Stranas PPK) Jangka Menengah
2011-2014. Dalam dokumen strategi nasional tersebut pendidikan dan
pembudayaan antikorupsi merupakan sarana efektif untuk melembagakan
nilai-nilai antikorupsi, khususnya menciptakan karakter bangsa yang
berintegritas.
Salah satu akar penyebab berkembangnya praktik korupsi patut
diduga berasal dari rendahnya integritas para pelakunya dan masih
kentalnya budaya permisif terhadap tindakan korupsi. Selain itu, rendahnya
efek deteren bagi pelaku korupsi inilah yang turut mendukung maraknya
praktik korupsi.
Oleh karena itu perlu dikembangkan sistem nilai tertentu yang
bersifat universal harus ditegakkan dalam organisasi, baik di lingkungan
pemerintahan maupun swasta. Sistem tersebut dapat terbentuk jika terdapat
individu-individu yang mampu mempengaruhi dan bertindak untuk
mencegah adanya tindakan koruptif, tidak hanya pasif untuk mencegah
korupsi oleh dirinya sendiri melalui pendidikan dan budaya anti korupsi.
Tujuan Pendidikan dan Budaya Anti Korupsi (PBAK) adalah
memperkuat setiap individu dalam mengambil keputusan yang etis dan
berintegritas. Selain juga untuk menciptakan budaya zero tolerance terhadap
korupsi. Dalam level masyarakat diharapkan setiap individu menjadi
pelaku aktif pencegahan dan pemberantasan korupsi sehingga mampu
mempengaruhi keputusan yang etis dan berintegritas di lingkungannya,
lebih luas dari diri setiap individu.
Komunikasi merupakan sarana yang sangat vital dalam Kampanye
Pendidikan dan Budaya Anti Korupsi. Tanpa proses komunikasi yang
baik, pesan mengenai nilai-nilai antikorupsi tidak dapat disampaikan
3
4
DIREKTORAT JENDERAL INFORMASI DAN KOMUNIKASI PUBLIK
KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
secara efektif kepada khalayak. Oleh karena itu, proses internalisasi nilai
budaya anti korupsi membutuhkan strategi komunikasi. Strategi tersebut
memuat memuat materi yang efektif dan cara penyampaian pendidikan dan
kampanye anti korupsi pada khalayak yang lebih tepat sasaran.
Selama tahun 2013, sesuai dengan Instruksi Presiden Nomor
1 Tahun 2013 tentang Percepatan Pencegahan dan Pemberantasan
Korupsi, sebanyak 47 Kementerian dan Lembaga (K/L) di tingkat pusat
melaksanakan aksi generik Strategi Komunikasi PBAK. Aksi tersebut
ditujukan agar upaya PBAK berlangsung secara terencana, sinergis dan
terpantau pencapaiannya secara optimal yang berlangsung dalam tiga
pilar pencegahan dan pemberantasan korupsi yakni di lingkungan aparatur
pemerintah, swasta dan masyarakat.
Strategi komunikasi PBAK dibutuhkan untuk menanamkan nilainilai budaya anti korupsi pada level aparatur pemerintah. Sesuai dengan
tujuan PBAK untuk mengubah budaya aparatur, maka dibutuhkan
strategi dan waktu yang cukup panjang agar budaya anti korupsi bisa
berkembang dan diterapkan pada semua unit/satuan kerja. Terutama untuk
menginternalisasikan sembilan nilai budaya anti korupsi yang meliputi
Jujur, Peduli, Mandiri, Disiplin, Tanggung Jawab, Sederhana, Kerja Keras,
Berani dan Adil.
Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi (PPK) telah menjadi
komitmen bersama, oleh karena itu pelaksanaannya harus didukung oleh
seluruh Kementerian/Lembaga Pemerintah (K/L) baik di pusat maupun
daerah. Pada tahun 2013, pelaksanaan Strategi Komunikasi PBAK telah
dilaksanakan pada 47 kementerian dan lembaga. Tahun ini, sesuai dengan
Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2014 tentang Percepatan Pencegahan
dan Pemberantasan Korupsi, Kementerian Komunikasi dan Informatika
memiliki tanggung jawab untuk melaksanakan aksi evaluasi terhadap Cetak
Biru Komunikasi PBAK sebagai basis pelaksanaan Strategi Komunikasi
PBAK di lingkungan aparatur pemerintah.
Sesuai amanat Inpres No. 17 Tahun 2011 dan Perpres No. 55 Tahun
2012, disusun Cetak Biru Strakom PBAK. Dokumen itu menjadi bagian
integral dari Stranas PPK, khususnya Stranas PPK Jangka Menengah 20112014, serta menjadi jawaban terhadap kebutuhan eksisting PPK saat ini.
EVALUASI STRATEGI KOMUNIKASI PENDIDIKAN DAN BUDAYA ANTI KORUPSI
PADA KEMENTERIAN DAN LEMBAGA TAHUN 2013
Cetak Biru Komunikasi Pendidikan dan Budaya Anti Korupsi
merupakan dokumen yang dapat menjadi acuan bagi lembaga pemerintah,
sektor swasta dan masyarakat untuk meningkatkan peran dalam PPK
melalui strategi, program dan aktivitas di bidang komunikasi. Pola pikir
(framework) cetak biru ini disusun berdasarkan permasalahan mengenai
komunikasi PBAK, model komunikasi anti korupsi yang selama ini
dilakukan, serta mengacu pada Strategi Nasional PPK.
Secara umum, bangunan kerangka pendidikan dan upaya
internalisasi budaya anti korupsi pada lingkungan birokrasi, sektor swasta
dan masyarakat, dijabarkan arah kebijakan dan strategi yang kemudian
dioperasionalkan menjadi program, jangka waktu pelaksanaan dan evaluasi
yang selaras dengan Stranas PPK.
Pelaksanaan evaluasi tersebut dilakukan agar Cetak Biru
Komunikasi PBAK selaras dengan aspek praktis pelaksanaan kegiatan di
setiap lingkungan aparatur pemerintah, khususnya yang berlangsung di 47
Kementerian dan Lembaga, serta pada sisi yang lebih strategis memiliki
daya ungkit dan daya dorong dalam pencapaian Strategi PBAK sebagai
salah satu Strategi Nasional Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi. Hal
tersebut menjadi perhatian khusus bagi Kementerian Komunikasi dan
Informatika karena Jangka Menengah target dalam Cetak Biru Strategi
Komunikasi PBAK berakhir pada tahun ini.
Secara khusus, sebagai dokumen strategi perlu ditinjau secara
berkala agar dapat memastikan arah dan tahapan pencapaian sesuai ataukah
mengalami penyimpangan. Oleh karena itu evaluasi merupakan keharusan
untuk mengetahui apakah langkah dan tahapan dalam Strategi Komunikasi
PBAK sesuai dengan arah dan tahapan yang disusun ataukah memerlukan
penyesuaian dan pengembangan kegiatan agar selaras dengan Stranas PPK.
Keberadaan hasil evaluasi ini diharapkan dapat menjadi bahan
penyempurnaan beragam upaya sinergis untuk mendorong lembaga
pemerintah, sektor swasta dan masyarakat untuk meningkatkan peran
dalam PPK melalui strategi, program dan aktivitas di bidang komunikasi.
Upaya itu merupakan bagian dari agenda bersama pemerintah, swasta dan
masyarakat agar dapat terwujud Indonesia yang bebas dari korupsi.
5
6
DIREKTORAT JENDERAL INFORMASI DAN KOMUNIKASI PUBLIK
KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
1.2. Maksud dan Tujuan
Dalam laporan ini disajikan data mengenai gambaran tentang
evaluasi Strategi Komunikasi PBAK berdasarkan pemetaan hasil dan aspekaspek penting pelaksanaan Strategi Komunikasi pada setiap kementerian
dan lembaga yang telah dilaksanakan pada tahun 2013.
Maksud dari penyusunan laporan ini adalah melakukan
penyempurnaan Cetak Biru Strategi Komunikasi PBAK guna penyelarasan
pentahapan pencapaian target sebagaimana dinyatakan dalam Strategi
Nasional Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi.
Adapun tujuan utama penyusunan laporan ini antara lain:
1. membandingkan pelaksanaan Strategi Komunikasi PBAK yang telah dilaksanakan K/L dalam unit kerja terpilih pada tahun 2013,
2.mengidentifikasi faktor pendorong dan penghambar pelaksanaan Strategi Komunikasi PBAK yang telah dilaksanakan K/L pada tahun 2013
sebagai bahan dalam evaluasi pelaksanaan Strategi Komunikasi PBAK,
dan
3.mengidentifikasi kontribusi strategi komunikasi terhadap perubahan budaya anti korupsi baik dalam lingkup kementerian dan lembaga serta
Startegi Nasional PPK.
1.3. Sistematika
Laporan ini merupakan dokumen akhir dalam rangkaian Evaluasi
Cetak Biru Strategi Komunikasi PBAK, setelah sebelumnya terdokumentasi
data pelaksanaan Strategi Komunikasi PBAK di 47 kementerian dan
lembaga.
Dalam laporan ini disajikan hasil evaluasi data mengenai gambaran
tentang hasil dan aspek-aspek penting pelaksanaan Strategi Komunikasi
PBAK pada setiap kementerian dan lembaga yang telah dilaksanakan pada
tahun 2013. Selain itu disajikan mengenai kontribusi Strategi Komunikasi
PBAK dalam pencapaian Stranas PPK.
Adapun sistematika laporan ini meliputi Bab I Pendahuluan, Bab II
Kerangka kerja, Bab III Temuan data, Bab IV Hasil Evaluasi, dan Bab V
Kontribusi Dalam Strategi Nasional PPK dan BAB VI Penutup.
EVALUASI STRATEGI KOMUNIKASI PENDIDIKAN DAN BUDAYA ANTI KORUPSI
PADA KEMENTERIAN DAN LEMBAGA TAHUN 2013
BAB II
KERANGKA KERJA
EVALUASI STRATEGI KOMUNIKASI PENDIDIKAN DAN BUDAYA ANTI KORUPSI
PADA KEMENTERIAN DAN LEMBAGA TAHUN 2013
2.1. Pertimbangan Konseptual
Evaluasi Strategi Komunikasi PBAK pada tahun 2013 merupakan
salah satu tahapan yang penting dalam pelaksanan salah satu Strategi
Nasional Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi.
Evaluasi terhadap pelaksanaan strategi komunikasi dimaksudkan
untuk melihat atau mengukur kinerja pelaksanaan Cetak Biru Strategi
Komunikasi PBAK. Secara khusus evaluasi dilaksanakan untuk digunakan
untuk melihat apakah sebuah kebijakan telah dilaksanakan sesuai dengan
petunjuk teknis dan petunjuk pelaksanaan yang telah ditentukan.
Cetak Biru Strakom PBAK adalah untuk mendorong terciptanya
tata kepemerintahan yang bersih dari korupsi melalui internalisasi nilainilai dan budaya anti korupsi di lingkungan pemerintah, sektor swasta dan
masyarakat. Strategi Komunikasi PBAK dirancang untuk mewujudkan
misi membangun dan menginternalisasikan budaya anti korupsi pada
tata-kepemerintahan publik, swasta dan masyarakat. Oleh karena itu,
setiap bagian strategi komunikasi diarahkan dengan prinsip dan sasaran
perubahan yang diinginkan di lingkungan aparat pemerintah, sektor swasta
dan masyarakat umum, sebagai entitas yang tak terpisahkan.
Pencapaian strategi komunikasi PBAK dirancang dengan
mengembangkan program dan kegiatan komunikasi tentang nilai
antikorupsi dengan memperhatikan tingkatan perubahan. Perubahan yang
dimaksud dibagi dalam urutan pada level individu, kelompok, lembaga,
komunitas dan masyarakat luas sebagai bagian yang tidak terpisahkan.
Agar perubahan dari komunikasi PBAK bisa sejalan dan
berkesinambungan maka konteks strategi akan diselaraskan dengan prinsip
kebijakan komunikasi PBAK yaitu sosialisasi, advokasi dan edukasi.
Tahapan pengembangan komunikasi PBAK dilakukan melalui
tahapan transformasi budaya di lingkungan lembaga pemerintah, swasta dan
masyarakat sehingga terwujud budaya anti korupsi. Pada tahap awal proses
transformasi ini dikembangkan melalui insiasi, instalasi dan konsolidasi di
masing-masing lembaga pemerintah baik di tingkat pusat maupun daerah.
9
10
DIREKTORAT JENDERAL INFORMASI DAN KOMUNIKASI PUBLIK
KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
Gambar 1 Peta Jalan Komunikasi PBAK Jangka Menengah
Sumber: Cetak Biru Strategi Komunikasi PBAK Kominfo, 2013
Selanjutnya dilakukan tahapan pengembangan yang secara umum
dikembangkan melalui penyediaan pesan komunikasi yang tunggal dan
berlaku nasional namun memungkinkan dikemas secara variatif (strategi
kemasan pesan) dan cara penyampaian atau komunikasi (strategi, taktik,
dan teknik komunikasi) dengan memperhatikan aspek mempertimbangkan
aspek perencanaan, pelaksanaan, kelembagaan serta peran publik.
Adapun desain pentahapan dalam jangka menengah secara lebih
rinci dijabarkan dalam 3 (tiga) tahap sebagai berikut:
1.Tahap inisiasi (2012) diawali dengan pemetaan informasi PBAK,
sinkronisasi pesan komunikasi, pemetaan lembaga dengan layanan
informasi dan komunikasi PBAK, sebagai basis perancangan pola
koordinasi dan sinergi komunikasi PBAK;
2.Tahap instalasi (2013), pengembangan sinergi komunikasi PBAK
yang mencakup pemanfaatan potensi kelembagaan, sumber daya, dan
pengembangan program atau kegiatan lintas sektor dalam komunikasi
PBAK; dan
3.Tahap konsolidasi (2014), mengembangkan sinergi dan konsolidasi
seluruh potensi dan peluang strategi, taktik dan teknik komunikasi.
Tahapan ini dilakukan dengan penguatan kapasitas lembaga dan
peningkatan kuantitas serta kualitas kerjasama lembaga pemerintahan,
sektor swasta dan masyarakat.
EVALUASI STRATEGI KOMUNIKASI PENDIDIKAN DAN BUDAYA ANTI KORUPSI
PADA KEMENTERIAN DAN LEMBAGA TAHUN 2013
Untuk memahami kesesuaian capaian dalam setiap tahapan yang
dilakukan, maka dilakukan evaluasi terhadap pelaksanaan kebijakan
yang tertuang dalam strategi komunikasi PBAK. Evaluasi yang dimaksud
merupakan evaluasi kebijakan. Evaluasi kebijakan menurut Samudro, dkk
(1994) dilakukan untuk mengetahui : 1) proses pembuatan kebijakan; 2)
proses implementasi; 3) konsekuensi kebijakan ; 4) efektivitas dampak
kebijakan.
Dalam evaluasi terhadap implementasi kebijakan, yang diarahkan
untuk mengidentfikasi bagaimana kebijakan tersebut dilaksanakan, apa
faktor-faktor yang mempengaruhinya dan bagaimana performance dari
kebijakan tersebut. Menurut Bressman dan Wildavsky (Jones, 1991)
implementasi adalah suatu proses interaksi antara suatu perangkat tujuan
dan tindakan yang mampu mencapai tujuan. Dalam mengkaji implementasi
kebijakan, para ahli kebijakan publik banyak menggunakan model
implementasi yang salah satunya adalah model Merilee S Grindle (1980).
Gambar 2. Model Evaluasi Kebijakan
(Merilee S. Grindle. 1980: 11)
Pada gambar 1 terlihat bahwa suatu kebijakan memiliki tujuan
yang jelas sebagai wujud orientasi nilai kebijakan. Tujuan implementasi
kebijakan diformulasi ke dalam program aksi dan proyek tertentu yang
11
12
DIREKTORAT JENDERAL INFORMASI DAN KOMUNIKASI PUBLIK
KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
dirancang dan dibiayai. Program dilaksanakan sesuai dengan rencana.
Implementasi kebijakan atau program – secara garis besar – dipengaruhi
oleh isi kebijakan dan konteks implementasi.
Keseluruhan implementasi kebijakan dievaluasi dengan cara
mengukur luaran program berdasarkan tujuan kebijakan. Luaran program
dilihat melalui dampaknya terhadap sasaran yang dituju baik individu dan
kelompok maupun masyarakat. Luaran implementasi kebijakan adalah
perubahan dan diterimanya perubahan oleh kelompok sasaran.
Model Grindle menyajikan 3 (tiga) komponen kelayakan yaitu: (1)
tujuan kebijakan, (2) aktivitas pelaksanaan yang dipengaruhi oleh content
yang terdiri atas: kepentingan yang dipengaruhi, tipe manfaat, derajat
perubahan, posisi pengambilan keputusan, pelaksanaan program, sumber
daya yang dilibatkan, dan (3) konteks yang terdiri atas: kekuasaan,
kepentingan dan strategi yang dilakukan pelaksana; karakteristik rezim dan
lembaga; compliance serta responsiveness. Model tersebut menggambarkan
semua variabel yang berpengaruh dalam pencapaian tujuan dan hasil
kebijakan.
2.2. Lingkup Evaluasi
Analisis evaluasi kebijakan pelaksanaan Strategi Komunikasi
PBAK mengkaji akibat-akibat pelaksanaan komunikas PBAK dan
membahas hubungan antara cara-cara yang digunakan dengan hasil yang
dicapai oleh 47 K/L.
Evaluasi terhadap pelaksanaan Strakom PBAK termasuk dalam
tipe evaluasi hasil (outcomes of public policy implementation) yang
berdasarkan pada tujuan kebijakan. Adapun lingkup dalam proses evaluasi
ini meliputi:
1.perilaku badan atau lembaga administratif yang bertanggung
jawab terhadap suatu program komunikasi PBAK, dalam hal ini 47
Kementerian dan Lembaga dengan fokus pada unit kerja yang terpilih
2.khalayak sasaran komunikasi PBAK pada masing-masing K/L dan
diukur dari dampak strategi komunikasi PBAK,
3.faktor pendukung atau penghambat dalam pelaksanaan komunikasi
PBAK,
EVALUASI STRATEGI KOMUNIKASI PENDIDIKAN DAN BUDAYA ANTI KORUPSI
PADA KEMENTERIAN DAN LEMBAGA TAHUN 2013
4.dampak implementasi komunikasi PBAK sehingga dapat diketahui
apakah kebijakan tersebut berjalan efektif dan bermanfaat, terutama
dalam aspek pesan, media, dan aktivitas komunikasi, serta
5.kontribusi terhadap pelaksanaan Strategi Nasional Pencegahan dan
Pemberantasan Korupsi.
2.3. Tahapan
Dalam evaluasi ini digunakan analisis dokumen yang berkaitan
dengan pelaksanaan Strakom PBAK, khususnya dokumen mengenai
pencapaian pelaksanaan komunikasi PBAK pada tahun 2013. Waktu yang
dibutuhkan untuk pelaksanaan evaluasi adalah 9 (sembilan) bulan kalender,
dimulai pada Januari 2014 dan berakhir pada bulan September 2014.
Adapun tahapan yang dilakukan antara lain tahapan persiapan,
pengumpulan data dan informasi, diskusi terbatas dan rapat koordinasi,
analisis data dan penulisan laporan.
2.3.1. Tahap Persiapan
Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan meliputi:
1.Mengkaji berbagai literatur/data sekunder tentang pelaksanaan
strategi komuniasi PBAK;
2. Menyusun metode analisis untuk tiap tahap;
3.Menyiapkan checklist data dan kuesioner.
2.3.2. Pengumpulan Data dan Informasi
Untuk mengumpulkan data dan informasi, maka ada sejumlah
metode yang digunakan, yaitu:
1.Pengumpulan Data Primer didapatkan dengan kunjungan ke Instansi terkait (Kementerian/Lembaga) untuk mengumpulkan data
sekunder dan literatur yang berhubungan dengan pelaksanaan Strakom PBAK.
2.Wawancara (in depth interview) dan konsultasi dengan kementerian/lembaga terpilih tentang berbagai aspek yang berkaitan dengan
pelaksanaan Strakom PBAK.
3.Pengumpulan Data Sekunder yang dilakukan dengan memanfaat-
13
14
DIREKTORAT JENDERAL INFORMASI DAN KOMUNIKASI PUBLIK
KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
kan data evaluasi pencapaian Instruksi Presiden No 1 Tahun 2013
tentang Percepatan Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi Tahun
2013. Data diambil dari Bappenas dan Unit Kerja Presiden untuk
Percepatan dan Pengawasan Pembangunan (UKP4).
2.3.3. Diskusi Terbatas dan Rapat Koordinasi
Kemudian
Kementerian Komunikasi dan Informatika
melaksanakan klasifikasi terhadap data yang ada, sesuai dengan tujuan
pelaksanaan evaluasi yang dimaksudkan yakni mengidentifikasi faktor
pendorong dan penghambar pelaksanaan Strategi Komunikasi PBAK yang
telah dilaksanakan K/L pada tahun 2013 sebagai bahan dalam evaluasi
pelaksanaan Strategi Komunikasi PBAK.
2.3.4. Tahap Analisis Data
Semua data yang terkumpul akan dianalisa sesuai dengan jenis data.
Pada evaluasi ini, alat analisis yang digunakan meliputi deskriptif kualitatif
melalu pemaparan dan penjelasan temuan data. Selain itu pendekatan
evaluasi kebijakan digunakan untuk menyusun sintesa serta menyusun
formulasi rekomendasi.
2.4. Metode
Berdasarkan tipe evaluasi, sumatif yang meliputi usaha untuk
memantau pencapaian tujuan dan target formal setelah suatu kebijakan
atau program diterapkan untuk jangka waktu tertentu. Oleh karena
itu, pendekatan yang menggunakan metode-metode diskriptif untuk
menghasilkan informasi yang dapat dipertanggung jawabkan dan valid
mengenai hasil-hasil kebijakan yang secara eksplisit dinilai oleh berbagai
macam pelaku kebijakan.
Evaluasi dilakukan dengan menggunakan metode mixed method
research (M2R). Metode ini diaplikasikan karena aspek evaluasi dicermati
dari segi keluaran (outcomes) dan prosesnya, serta menyangkut kombinasi
antara metode kuantitatif dan kualitatif dalam pengolahan datanya. Karena
berfokus pada outcomes dan proses, maka desain M2R biasa digunakan
dalam penelitian evaluasi program (Bryman, Hanson dalam McMillan,
EVALUASI STRATEGI KOMUNIKASI PENDIDIKAN DAN BUDAYA ANTI KORUPSI
PADA KEMENTERIAN DAN LEMBAGA TAHUN 2013
2008: 309).
Laporan ini juga disusun dengan pendekatan kuantitatif yang
dilakukan dengan survey dengan mencermati data hasil pre assessment dan
post assessment yang telah dilaksanakan di lingkungan kementerian dan
lembaga yang diamati. Sementara data-data kualitatif didapatkan melalui
interview pada key-informan yang ditetapkan secara purposif.
15
EVALUASI STRATEGI KOMUNIKASI PENDIDIKAN DAN BUDAYA ANTI KORUPSI
PADA KEMENTERIAN DAN LEMBAGA TAHUN 2013
BAB III
TEMUAN DATA
18
DIREKTORAT JENDERAL INFORMASI DAN KOMUNIKASI PUBLIK
KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
EVALUASI STRATEGI KOMUNIKASI PENDIDIKAN DAN BUDAYA ANTI KORUPSI
PADA KEMENTERIAN DAN LEMBAGA TAHUN 2013
3.1. Gambaran Umum
Dalam Strategi Nasional Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi
(Stranas PPK) Jangka Panjang dan Jangka Menengah disebutkan, tantangan
komunikasi terbesar yang dihadapi selama ini adalah absennya strategi
komunikasi. Ketiadaan strategi komunikasi menyebabkan tidak adanya
perencanaan yang baik dalam pemilihan khalayak, pesan, sumber, media,
dan efek komunikasi. Tanpa perencanaan yang baik, pelaksanaan dan
dampak komunikasi PBAK tidak akan tercapai secara optimal.
Sesuai amanat Inpres No. 17 Tahun 2011 dan Perpres No. 55 Tahun
2012, disusun Cetak Biru Strakom PBAK yang menjadi bagian integral
dari Stranas PPK, khususnya Stranas PPK Jangka Menengah 2011-2014,
serta menjadi jawaban terhadap kebutuhan eksisting PPK saat ini.
Kementerian Kominfo telah menyusun Pedoman Strategi
Komunikasi PBAK amanat dari Inpres No 1 Tahun 2012 tentang Percepatan
Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi. Dokumen ini merupakan
dokumen yang lebih operasional untuk memandu lembaga pemerintah
dalam mengembangkan strategi dan kegiatan komunikasi terutama yang
berkaitan dengan pendidikan dan budaya anti korupsi.
Strategi Komunikasi PBAK merupakan dokumen yang berisikan
tahapan dan langkah dalam menetapkan strategi dan teknik komunikasi
bagi lembaga pemerintah secara efektif dan efisien. Kerangka pikir umum
strategi komunikasi PBAK meliputi rangkaian aksi yang direncanakan
berdasarkan analisis situasi, penentuan tema dan pengemasan pesan serta
pemilihan media untuk berkomunikasi kepada khalayak sasaran.
Strategi komunikasi dibuat dengan tujuan untuk memastikan agar isu
PBAK pada lembaga sampai ke khalayak secara efektif dan efisien. Melalui
strategi komunikasi, khalayak akan terikat dan memiliki pemahaman, sikap
dan perilaku yang mendukung isu atau kebijakan PBAK yang disampaikan
oleh lembaga.
Pengertian Pendidikan, secara umum berarti daya upaya untuk
memajukan budi pekerti (karakter, kekuatan batin), pikiran (intelektual) dan
jasmani selaras dengan alam dan masyarakatnya. Sedangkan Budaya berarti
sebuah warisan sosial dan segala sesuatu yang tercipta atau dilakukan oleh
sekumpulan individu di suatu tempat tertentu di masa lalu dan kemudian
19
20
DIREKTORAT JENDERAL INFORMASI DAN KOMUNIKASI PUBLIK
KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
melalui waktu hingga sampai di masa selanjutnya. Pemberian itu kemudian
diulang sebagai sebuah tradisi yang sebagian berasal dari warisan masa lalu
oleh generasi sekarang.
Korupsi berdasarkan pemahaman pasal 2 Undang-Undang Nomor
31 Tahun 1999 yang diubah menjadi Undang-Undang Nomor 20 Tahun
2001 merupakan tindakan melawan hukum untuk memperkaya diri
sendiri/orang lain baik di level perseorangan atau sebuah perusahaan
atau organisasi, yang secara langsung maupun tidak langsung merugikan
keuangan atau prekonomian negara, yang dari segi materiil perbuatan itu
dipandang sebagai perbuatan yang bertentangan dengan nilai-nilai keadilan
masyarakat. Sedangkan Anti Korupsi merupakan semua tindakan yang
melawan, memberantas, menentang, dan mencegah korupsi
Dengan demikian Pendidikan dan Budaya Anti Korupsi merupakan
upaya memberikan pemahaman dan penanaman nilai-nilai kepada
masyarakat dan atau aparat pemerintah agar berperilaku atau memiliki
tradisi anti korupsi.
3.2. Kerangka Pelaksanaan
Pada tahun 2013, sosialisasi Pedoman Strakom PBAK dilaksanakan
oleh Kementerian Kominfo kepada aparat birokrasi, khususnya yang akan
melaksanakan komunikasi PBAK di lingkup internal lembaga. Dalam
pelaksanaannya pesan dikemas untuk memberikan pengetahuan dan
keterampilan dalam menggunakan Pedoman Strakom PBAK.
Pelaksanaan strategi komunikasi PBAK dilaksanakan pada lokus
terpilih yang ditetapkan oleh masing-masing Kementerian dan Lembaga.
Hal itu disebabkan karena sasaran khalayak sangat beragam dan tersebar
dalam unit kerja di lingkungan masing-masing kementerian dan lembaga.
Pemilihan lokus dan pemilihan unit atau satuan kerja kementerian dan
lembaga mengacu pada kriteria sebagai berikut:
1. Unit atau Satuan Kerja yang memberikan layanan kepada masyarakat/
pengguna berupa layanan dasar ataupun layanan lain yang menjadi
tugas fungsi kementerian dan lembaga, baik secara langsung
maupun administratif. Pemilihan unit layanan masyarakat ini dengan
pertimbangan, beberapa jenis layanan langsung kepada masyarakat
EVALUASI STRATEGI KOMUNIKASI PENDIDIKAN DAN BUDAYA ANTI KORUPSI
PADA KEMENTERIAN DAN LEMBAGA TAHUN 2013
menjadi indikator dalam penentuan Indeks Persepsi Korupsi (IPK/
CPI) yang dilakukan lembaga independen.
2. Unit atau Satuan Kerja yang membawahi tugas pengadaan barang
dan jasa berkaitan dengan program prioritas nasional atau bidang
(kementerian/lembaga). Pemilihan itu dilandasi pertimbangan
adanya kerawanan atau pontensi penyimpangan baik dari sisi
anggaran maupun dalam aspek yang menyangkut tindak korupsi
lainnya.
3. Unit atau Satuan Kerja yang melaksanakan tugas perencanaan
program dan kegiatan dalam kementerian/lembaga. Pemilihan itu
didasari pertimbangan bahwa potensi korupsi dapat terjadi mulai dari
perencanaan program.
Sebelum dirancang dan dilaksanakan komunikasi PBAK, pada
masing-masing unit kerja dilakukan penilaian terhadap budaya anti korupsi.
Penilaian ini dapat diketahui apakah dan pada level mana nilai budaya
budaya dari sebuah organisasi (satker) yang terpilih. Hasil dari penilaian
budaya ini kemudian akan dijadikan rujukan dalam menentukan arah dan
strategi komunikasi yang sesuai.
Adapun klasifikasi budaya anti korupsi dikategorikan sebagai
Budaya Anti Korupsi Sangat permisif dengan skor 0-25%, kemudian
Permisif (26-50%) dan Anti Korupsi (51-75%) dan Sangat anti korupsi
(76-100%). Persentase tersebut diperoleh dari hasil penilaian melalui
kuesioner mengenai 8 dimensi Budaya Anti Korupsi yang terdiri dari (1)
Sikap Kepemimpinan, (2) Rekan Sejawat, (3) Mitra Kerja Aparatur Satker
Inferior, (4) Mitra Kerja Aparatur Satker Superiror, (5) Mitra Kerja Non
Aparatur, (6) Peraturan/Ketentuan Kerja, (7) Kebutuhan Pribadi, dan (8)
Persepsi terhadap Gratifikasi.
Penilaian budaya organisasi dan arah komunikasi dilihat pada skor
prosentasi total (helicopter view) untuk menetapkan awal dan perubahan
yang diinginkan dalam komunikasi PBAK. Kemudian untuk implementasi
strategi yang lebih spesifik dan menentukan isi pesan komunikasi, dilihat
pada skor prosentasi terkecil dari ke-8 dimensi budaya (sniper view).
Hasil dari penilaian budaya ini kemudian disesuaikan dengan cetak
21
22
DIREKTORAT JENDERAL INFORMASI DAN KOMUNIKASI PUBLIK
KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
biru strategi komunikasi budaya anti korupsi. Kemudian penetapan isi
pesan dari strategi komunikasi yang digunakan ini disesuaikan dengan
kualifikasi budaya anti korupsi dari organisasi (satuan kerja). Sementara
implementasi program secara spesifik dapat dilihat pada pilihan aktivitas
yang mengacu pada Program Komunikasi Berdasarkan Strategi Pencapaian
(Lihat Cetak Biru Strakom PBAK).
3.3. Pelaksanaan Strakom PBAK oleh Kementerian dan Lembaga
Sebelum melakukan perencanaan strakom PBAK 47K/L di
minta untuk melakukan proses pre assessment sebagai baseline dalam
merencanakan stratkom PBAK. Untuk mendapatkan hasil pelakasanaan
dari strategi komunikasi dan bagaimana hasil nya terhadap target khalayak
47 kementerian dan lembaga tersebut melakukan post assessment.
Aktivitas pre assessment dan post assessment ditujukan untuk
memperoleh gambaran aspek budaya anti korupsi dan aspek komunikasi
dalam pendidikan dan budaya anti korupsi sebagai dasar penyusunan
dokumen Strakom PBAK serta evaluasi dokumen Strakom PBAK.
Penilaian dilakukan terhadap seluruh pegawai pada satuan kerja
terpilih mengenai aspek berikut ini:
Tabel 1. Aspek yang diamati dalam Assessment
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
ASPEK BUDAYA
Sikap Kepemimpinan
Rekan Sejawat
Mitra Kerja Aparatur Satker Inferior
Mitra Kerja Aparatur Satker Superior
Mitra Kerja non Aparatur
Peraturan/Ketentuan Kerja
Kebutuhan Pribadi
Persepsi Gratifikasi
1.
2.
3.
4.
5.
ASPEK KOMUNIKASI
Aktifitas Komunikasi
Media Komunikasi
Pesan Komunikator
Komunikator komunikasi
Kebutuhan komunikasi
Pelaksanaan pre assessment dilakukan dengan metode survey
menggunakan alat bantu kuesioner yang terdiri dari instrumen pengukuran
budaya anti korupsi dan instrumen pengukuran komunikasi anti korupsi.
Sasaran survey adalah seluruh pegawai yang ada di satuan kerja baik PNS
maupun honorer. Selanjutnya dilakukan pengolahan dan analisis data
EVALUASI STRATEGI KOMUNIKASI PENDIDIKAN DAN BUDAYA ANTI KORUPSI
PADA KEMENTERIAN DAN LEMBAGA TAHUN 2013
sehingga diperoleh gambaran data analisis situasi budaya anti korupsi dan
pelaksanaan kegiatan komunikasi dalam PBAK.
Terkait sumber, kampanye pendidikan dan budaya antikorupsi
(PBA) sering tidak dilakukan oleh orang yang memiliki kapasitas memadai
untuk menyampaikan hal tersebut, sehingga kredibilitasnya diragukan.
Sumber juga sering kurang atraktif, kaku, sehingga tidak menarik perhatian
khalayak.
Pemilihan khalayak juga belum dilakukan secara baik. Seleksi
khalayak masih cenderung dilakukan berdasarkan intuisi, tanpa didukung
riset yang memadai. Hal tersebut berimbas pada tidak efektifnya
penyampaian pesan. Sementara efek komunikasi juga cenderung tidak
terukur, karena tidak adanya mekanisme monitoring dan evaluasi dari
proses komunikasi yang telah dilakukan.
Target khalayak sangat penting dalam menetapkan strategi
komunikasi yang akan dibuat. Memahami target khalayak dari berbagai
sisi seperti tingkatan (leveling), demografis, psikografis dan lainnya akan
membuat tujuan strategi komunikasi menjadi sukses dan tepat sasaran.
Hasil assesement tersebut akan di bahas dalam bagian ini cukup
mendetil pada bagian ini untuk memberikan acuan bagi arah pengembangan
strakom yang lebih baik lagi. Dari hasil pengumpulan data terhadap
stratkom PBAK yang dilaksanakan oleh 47 kementerian dan lembaga.
3.3.1. Aspek Pemilihan Pesan
Aspek pemilihan pesan merupakan aspek yang paling penting dalam
komunikasi karena komunikasi adalah suatu proses interpersonal, mengirim
dan menerima simbol yang terdapat pesan di dalamnya. Komunikasi yang
efektif akan terjadi apabila pesan yang dimaksudkan oleh pengirim sama
dengan pesan yang diterima oleh pengirim nya.
Dalam hasil assessment didapatkan bahwa pesan yang paling banyak
diambil oleh 47 kementerian dan lembaga adalah tentang Kedisiplinan dan
Tanggung Jawab sesuai dengan pesan utama di tahun 2013 menurut Cetak
Biru Strakom PBAK.
Di dalam hasil assessment juga masih ditemukan beberapa
kementerian dan lembaga yang masih berminat untuk mengambil pesan lain
23
24
DIREKTORAT JENDERAL INFORMASI DAN KOMUNIKASI PUBLIK
KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
selain pesan utama yang disarankan cetak biru Strakom PBAK untuk tahun
2013. Pesan tersebut adalah: Keterbukaan, Keadilan, Jujur, Kepatuhan,
dan Sederhana.
Gambar 3. Sebaran Pilihan Pesan dalam Komunikasi PBAK
Sumber: Olahan Data
Hasil Assessment menunjukkan level budaya di kementerian dan
lembaga terbanyak adalah sangat anti korupsi dengan arah komunikasi
Advokasi. Sementara untuk dimensi terendah adalah Kebutuhan Pribadi
dan dimensi Tertinggi adalah terhadap Mitra Kerja Non Aparatur. Untuk
selanjut nya pola Komunikasi terbanyak adalah pergerakan.
Sesuai dengan tujuan PBAK untuk mengubah budaya aparatur,
maka dibutuhkan strategi dan waktu yang cukup panjang agar budaya
anti korupsi bisa berkembang dan diterapkan pada semua unit/satuan
kerja. Apalagi budaya anti korupsi merupakan hasil internalisasi nilainilai sembilan anti korupsi yang meliputi Jujur, Peduli, Mandiri, Disiplin,
Tanggung Jawab, Sederhana, Kerja Keras, Berani dan Adil.
Terkait pesan kunci, mengacu pada Stranas PPK Jangka Menengah
2011-2014, pesan kunci nilai-nilai antikorupsi yang perlu dikampanyekan
ada tiga, yakni: kejujuran, keterbukaan, dan integritas. Tiga pilar nilai
EVALUASI STRATEGI KOMUNIKASI PENDIDIKAN DAN BUDAYA ANTI KORUPSI
PADA KEMENTERIAN DAN LEMBAGA TAHUN 2013
tersebut belum dikomunikasikan secara baik kepada tiga sasaran yakni
pemerintah, sektor swasta maupun masyarakat. Secara umum, sebagian
besar target khalayak yang menjadi stakeholders Kominfo sudah mengetahui
dan paham (aware) pada isu-isu korupsi. Namun ada juga target yang masih
ditingkatkan awareness-nya terhadap isu ini.
Pada sebagian besar yang sudah memiliki tingkat pengetahuan dan
pemahaman yang memadai, hanya pada tingkat aware ini saja belum cukup
untuk setidaknya membentuk perilakuk anti korupsi. Oleh karenanya perlu
untuk masuk pada tingkat selanjutnya yaitu perlu perubahan sikap dan
perilaku anti korupsi, baik secara gradual atau bertahap maupun dengan
cepat pada tingkat individual maupun organisasi.
3.3.2. Pemilihan Media
Media komunikasi yang digunakan untuk mengkomunikasikan
PBAK mencakup media penyiaran, media cetak, media baru/online/
internet, media tatap muka, media luar ruang, dan media pertunjukan rakyat.
Pemanfaatan media tersebut disesuaikan dengan tujuan komunikasi, target
sasaran dan isi pesan.
Dalam hal penggunaan media, belum semua media dimanfaatkan
dengan baik sesuai dengan kemudahan akses para pihak. Media massa dan
media publik belum dipergunakan secara maksimal sebagai penyampai
pesan antikorupsi, padahal kedua jenis media memiliki kemampuan sebagai
wahana pendidikan publik di ruang publik.
Pemilihan media merupakan aspek yang tidak kalah penting nya
dalam komunikasi. Salah satu sebab tidak efektifnya komunikasi adalah
pemilihan media komunikasi yang tidak tepat. Pemilihan media harus
memperhatikan information richness yaitu banyaknya informasi yang
mampu disampaikan oleh media.
Adapun jenis media yang biasa digunakan dalam menyampaikan
pesan:
1.Media tatap muka: Diskusi, seminar, lokakarya forum komunikasi
reform corner, ceramah/agama;
2.Media massa penyiaran: Membuat acara telivisi/radio bersisi berita,
dialog, dialog interaktif, drama radio, iklan layanan dan, film pendek
25
26
DIREKTORAT JENDERAL INFORMASI DAN KOMUNIKASI PUBLIK
KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
tentang aktivitas PBAK,
3. Media Massa Cetak: Melalui surat himbauan/edaran, Banner, Majalah:
4. Media baru: Situs intranet, Jejaring Sosial, dan Mailing List,
5. Special Event: Event khusus yang diselenggarakan melibatkan
karyawan/masyarakat dalam rangka kampanye aktivitas PBAK
Dari hasil asessment dapat terlihat bahwa media yang paling
banyak diminati oleh target khalayak adalah media tatap muka kemudian
dilanjutkan dengan media luar ruang, media massa, media baru dan special
event seperti yang tergambarkan dalam gambar di bawah ini:
Gambar 4. Penggunaan Media dalam Komunikasi PBAK
EVALUASI STRATEGI KOMUNIKASI PENDIDIKAN DAN BUDAYA ANTI KORUPSI
PADA KEMENTERIAN DAN LEMBAGA TAHUN 2013
3.3.3. Aksi Yang Direncanakan
Setelah melakukan penentuan pesan dan pemilihan media, hal
selanjutnya yang dilakukan oleh tim hubungan masyarakat kementerian
dan lembaga. Di dalam hasil assessment disimpulkan bahwa tahapan yang
paling banyak dilakukan di dalam aksi adalaha tahapan edukasi. Di dalam
tahapan ini banyak menekankan pada pemahaman perubahan sikap hingga
ke perubahan perilaku.
Hampir secara merata tahapan sosialisasi masih terus dijalankan
oleh semua kementerian dan lembaga yang terus menekankan pada
penyampaian pesan berupa imbauan, persuasi dan internalisasi nilai-nilai
anti korupsi dalam penyampaian pesan, penggunaan media komunikasi
dan target khalayak, dengan mengedepankan kepentingan dan kebutuhan
khalayak sasaran agar pesan bisa tersampaikan secara efektif dan efisien.
Sosialisasi diarahkan untuk memberikan dorongan tanpa henti agar setiap
individu dapat mengetahui, menghayati, serta mendalami sikap dan
nilaianti korupsi. Tahap aksi yang dilakukan oleh 47 K/L tergambarkan
dalam gambar berikut ini:
Gambar 5. Sebaran Aksi yang Direncanakan dalam Komunikasi PBAK
Sumber: Olahan Data
Di dalam hasil assessment masih belum terpetakan mengapa 47
kementerian dan lembaga lebih memilih media tatap muka sebagai media
yang efektif dalam menyebarkan pesan dan seberapa efektif pesan yang
disampaikan kepada khalayak melalui media tatap muka dibandingkan
dengan media lain nya.
Dengan mengetahui alasan dan derajat efektifitas media tatap muka
tentu nya akan menjadi pijakan bagi penyusunan strategi komunikasi
selanjut nya dan menjadi pertimbangan dalam pemilihan media yang
efektif dalam penyampaian pesan kepada khalayak sasaran.
Sumber: Olahan Data
27
28
DIREKTORAT JENDERAL INFORMASI DAN KOMUNIKASI PUBLIK
KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
Kegiatan Komunikasi dilaksanakan sebagai keterpaduan antara
bentuk, pilihan strategi dan manajemen kegiatan komunikasi yang akan
dilaksanakan. Kegiatan komunikasi dituangkan dalam rencana aksi yang
mencakup segala sesuatu yang akan atau harus dilakukan dalam rangkaian
komunikasi dalam bentuk uraian sistematik dan rinci sehingga bisa
dijadikan pedoman dalam pelaksanaannya.
Perencanaan aksi merupakan bagian penting untuk menentukan
bentuk, pilihan strategi dan manajemen kegiatan komunikasi yang akan
dilaksanakan. Dalam rencana aksi ditulis segala sesuatu yang akan atau harus
dilakukan dalam rangkaian komunikasi dalam bentuk uraian sistematik
dan rinci sehingga bisa dijadikan pedoman dalam pelaksanaannya.
Rencana aksi digunakan sebagai pedoman yang dapat membantu memperudah pelaksanaan suatu kegiatan. Mengapa demikian, sebab tidak
tertutup kemungkinan bahwa dalam suatu proyek komunikasi orang-orang
yang terlibat dalam suatu proses perencanaan belum tentu sekaligus terlibat
sebagai pelaksana, dan sebalinya para pelaksana kegiatan komunikasi
bisa saja bukan merupakan orang-orang yang terlibat dalam proses
perencanaannya.
3.3.4. Pelaksanaan Aksi
Pada pelaksanaan aksi nya dari hasil assessment yang dilakukan,
99% yang dilakukan oleh kementerian dan lembaga ada sosialisasi dan
edukasi melalui tatap muka dengan mengikutsertakan pegawai dan
staf dalam bentuk workshop, seminar atau diskusi informal. Di dalam
sosialisasi tersebut juga disebarkan materi-materi pesan dengan pemilihan
komunikator yang sesuai dengan kriteria.
Media luar ruang turut mengambil peran penting dalam
mengedukasi khalayak sasar. Pesan yang dibuat sedemikian rupa menarik
nya dalam bentuk X banner, Sticker, Standing Banner, leaflet, spanduk,
pin, poster dan lain-lain.
Di antara 47 kementerian dan lembaga juga banyak yang
memanfaatkan media baru sebagai bagian dari sosialisasi seperti website,
social media/media jejaring sosial dan mailing list internal. Tidak
EVALUASI STRATEGI KOMUNIKASI PENDIDIKAN DAN BUDAYA ANTI KORUPSI
PADA KEMENTERIAN DAN LEMBAGA TAHUN 2013
ketinggalan pembangunan sistem seperti sistem penanganan pengaduan
menjadi bagian dari sosialisasi dan edukasi.
Berikut gambar aksi yang dilakukan di 47 kementerian dan lembaga
dan 99% yang dilakukan oleh kementerian dan lembaga adalah tahap
sosialisasi.
Gambar 6. Sebaran Aksi Komunikasi PBAK
Sumber: Olahan Data
Hasil assessment menunjukkan level budaya di kementerian dan
lembaga terbanyak adalah sangat anti korupsi dengan arah komunikasi
Advokasi. Sementara untuk dimensi terendah adalah Kebutuhan Pribadi
dan dimensi Tertinggi adalah terhadap Mitra Kerja Non Aparatur.Untuk
selanjut nya pola Komunikasi terbanyak adalah pergerakan.
Pendidikan dan Budaya Anti Korupsi ditujukan untuk memperkuat
setiap individu dalam mengambil keputusan yang etis dan berintegritas,
selain juga untuk menciptakan budaya zero tolerance terhadap
korupsi. Masyarakat diharapkan menjadi pelaku aktif pencegahan dan
pemberantasan korupsi sehingga mampu memengaruhi keputusan yang
etis dan berintegritas di lingkungannya, lebih luas dari dirinya sendiri.
Pada tahap awal pendidikan dan budaya antikorupsi bisa terwujud
29
30
DIREKTORAT JENDERAL INFORMASI DAN KOMUNIKASI PUBLIK
KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
dengan baik jika terdapat persamaan cara pandang dan pola pikir bahwa
korupsi sangat merugikan masyarakat. Selanjutnya untuk mensinergikan
prakarsa-prakarsa positif yang mengarah pada perbaikan dapat terjadi
secara massfi dibutuhkan beragam pendekatan komunikasi, termasuk
sosialisasi, advokasi dan edukasi agar nilai-nilai budaya antikorupsi dapat
terinternalisasi di setiap tingkatan kehidupan masyarakat.
Kehadiran PBAK sangat strategis karena mempengaruhi
keberhasilan pelaksanaan kelima strategi lainnya dalam Strategi
Nasional yang telah dirumuskan. Sebaik apapun kita membangun dan
memantapkan sistem, mekanisme, kapasitas pencegahan korupsi yang
terpadu secara nasional, dan reformasi peraturan perundang-undangan
nasional dalam mendukung pencegahan dan penindakan korupsi secara
konsisten, terkonsolidasi, sistematis dan implementasi Stranas PPK secara
terintegrasi, namun jika tidak didukung oleh aparatur yang berintegritas,
maka kebijakan-kebijakan dan program yang disusun dalam pelaksanaan
Stranas PPK tidak akan mencapai sasaran seperti yang diinginkan.
EVALUASI STRATEGI KOMUNIKASI PENDIDIKAN DAN BUDAYA ANTI KORUPSI
PADA KEMENTERIAN DAN LEMBAGA TAHUN 2013
BAB IV
HASIL EVALUASI
EVALUASI STRATEGI KOMUNIKASI PENDIDIKAN DAN BUDAYA ANTI KORUPSI
PADA KEMENTERIAN DAN LEMBAGA TAHUN 2013
Selama tahun 2013, sesuai dengan Instruksi Presiden No 1 Tahun
2013 tentang Percepatan Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi,
sebanyak 47 kementerian dan lembaga di tingkat pusat melaksanakan aksi
generik Strategi Komunikasi PBAK. Aksi tersebut ditujukan agar upaya
PBAK berlangsung secara terencana, sinergis dan terpantau pencapaiannya
secara optimal. Strategi komunikasi dibutuhkan untuk menanamkan nilainilai budaya anti korupsi pada level aparatur pemerintah.
Setelah pelaksanaan Strategi Komunikasi PBAK pada 47
kementerian dan lembaga, pada tahun ini, sesuai dengan Instruksi Presiden
Nomor 2 Tahun 2014 tentang Percepatan Pencegahan dan Pemberantasan
Korupsi, Kementerian Komunikasi dan Informatika memiliki tanggung
jawab untuk melaksanakan aksi evaluasi terhadap Cetak Biru Komunikasi
PBAK sebagai basis pelaksanaan Strategi Komunikasi PBAK di lingkungan
aparatur pemerintah.
Maksud dari penyusunan evaluasi ini adalah untuk melihat
efektivitas aksi PBAK yang telah dilakukan oleh kementerian dan lembaga
berdasarkan unsur-unsur dalam strategi komunikasi terutama pesan, media
dan aktivitas komunikasi, yang dalam pelaksanaan aksi strategi komunikasi
PBAK ditetapkan minimal 3 aksi pada setiap kementerian dan lembaga
yang berjumlah 47 instansi.
Secara umum hasil pemetaan dari 47 kementerian dan lembaga
menunjukkan bahwa terdapat 4 pesan yang diusung oleh kementerian dan
lembaga tersebut yaitu Keterbukaan, Kedisiplinan, Tanggung Jawab dan
Keadilan sesuai dengan pesan utama di tahun 2013 menurut Cetak Biru
Strakom PBAK. Sedangkan media yang paling banyak digunakan adalah
media tatap muka kemudian dilanjutkan dengan media luar ruang, media
massa, media baru dan special event.
Aksi yang banyak direncanakan oleh 47 kementerian dan lembaga
adalah sosialiasi kepada khalayak yang sudah ditentukan sebelumnya
dilanjutkan ke edukasi dan advokasi. Pada pelaksanaannya 47 kementerian
dan lembaga melaksanakan aksi sesuai dengan perencanaan awal saat
penyusunan strakom yang menitikberatkan pada sosialisasi, edukasi dan
advokasi.
Dari hasil pemetaan pre assessment ditemukan bahwa terdapat 31
33
34
DIREKTORAT JENDERAL INFORMASI DAN KOMUNIKASI PUBLIK
KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
kementerian dan lembaga yang memiliki Level Budaya sangat Anti Korupsi,
kemudian 9 kementerian dan lembaga memiliki level budaya anti Korupsi,
dan hanya 1 kementerian dan lembaga yang memiliki level budaya permisif
terhadap korupsi. Sedangkan, arah komunikasi yang sesuai untuk strategi
komunikasi PBAK adalah advokasi (36 kementerian dan lembaga), Edukasi
(4 kementerian dan lembaga), Sosialisasi (1 kementerian dan lembaga).
Dua kementerian dan lembaga tidak menampilkan arah komunikasi, dan
enam kementerian dan lembaga tidak ada laporan.
Hasil analisa pre assessment menunjukkan bahwa dimensi Terendah
dari budaya anti korupsi adalah Kebutuhan Pribadi (14 kementerian dan
lembaga), Peraturan Ketentuan kerja (12 kementerian dan lembaga), Mitra
Kerja- Satker superior (5 kementerian dan lembaga), Sikap Kepemimpinan
(5 kementerian dan lembaga), dan Gratifikasi (1 kementerian dan
lembaga). Sedangkan dimensi Tertinggi adalah: Mitra Kerja-non aparatur
(10 kementerian dan lembaga), Mitra Kerja-Aparatur di Satker Superior;
Satker pengawas/pemberi anggaran(9 kementerian dan lembaga), Mitra
Kerja- Satker Inferior (9 kementerian dan lembaga), sikap Kepemimpinan
(6 kementerian dan lembaga), dan Rekan sejawat (2 kementerian dan
lembaga).
Secara umum, hasil assessment menunjukkan Level budaya di
Kementerian dan Lembaga terbanyak adalah sangat anti korupsi dengan
arah komunikasi Advokasi. Sementara untuk dimensi terendah adalah
Kebutuhan Pribadi dan dimensi Tertinggi adalah terhadap Mitra Kerja Non
Aparatur. Untuk selanjutnya pola Komunikasi terbanyak adalah pergerakan.
Untuk memperdalam pemahaman terhadap institusi yang memiliki
persepsi budaya sangat anti korupsi, maka dilakukan analisa strategi
komunikasi PBAK, maka dilakukan analisa terhadap kementerian
dan lembaga yang memiliki skor PBAK diatas 90, dimana terdapat 3
kementerian dan lembaga, yaitu: Kementerian Dalam Negeri, POLRI, dan
Kejaksaan Agung.
Selain itu, pemahaman yang mendalam terhadap kementerian dan
lembaga yang memiliki persepsi permisif terhadap korupsi juga diperlukan,
sehingga kami juga menganalisa kementerian dan lembaga yang memiliki
skor budaya anti korupsi dibawah 55, dimana terdapat 3 kementerian dan
EVALUASI STRATEGI KOMUNIKASI PENDIDIKAN DAN BUDAYA ANTI KORUPSI
PADA KEMENTERIAN DAN LEMBAGA TAHUN 2013
lembaga, yaitu: Kemkopolhukam, KPDT, dan KEMENTERIAN BUMN.
Analisa yang lebih penting akan dilakukan terhadap 2 kementerian dan
lembaga (LIPI dan Bappenas) yang memiliki skor kenaikan persepsi budaya
anti korupsi diatas dua digit, setelah direalisasikannya aksi komunikasi
PBAK.
4.1 Institusi Yang Memiliki Skor PBAK tertinggi
Berdasarkan penelusuran data pelaporan pelaksanaan Strakom
PBAK pada tahun 2013 teradapat tiga institusi yang memiliki Skor PBAK
tertinggi, yakni Kementerian Dalam Negeri, Kepolisian Republik Indonesia
dan Kejaksaaan Agung.
4.1.1. Kementerian Dalam Negeri
Kementerian Dalam Negeri Memiliki skor PBAK Pre Assesment
sebesar 92, locus yang terpilih adalah Dit. Fasilitasi Kepala Daerah, DPRD
dan Hubungan Antar Lembaga, dengan persepsi budaya adalah sangat
anti korupsi, arah komunikasi advokasi, dan pola komunikasi bersifat
penggerakkan. Hasil post assessment menunjukkan bahwa pola komunikasi
meningkat menuju pembudayaan.
Strategi komunikasi yang dijalankan adalah sebagai berikut:
1. Pemberitahuan (announcing), menyampaikan informasi sehingga orang
menjadi tahu dari tidak tahu untuk pihak internal Direktorat Fasilitasi
KDH, DPRD, dan HAL, maupun Direktorat Jenderal Otonomi Daerah
serta pihak eksternal lainnya,
2.Menyebarkan informasi (informing) mengenai arti penting tindakan
anti korupsi di lingkungan sekitar.
3.Menerangkan (explaining) kepada satker superior sebagai target
khalayak agar satuan kerja locus dapat melaksanakan pekerjaannya
sesuai dengan prosedur yang berlaku.
4.Menyarankan (suggesting) kepada khalayak agar menjauhi tindakantindakan yang mengarah pada perilaku koruptif.
5.Memotivasi (motivating): membayangkan orang lain akan menjadi
seperti apa, dan berupaya memenuhi kebutuhan orang itu untuk
mencapai bentuk terbaik orang itu.
35
36
DIREKTORAT JENDERAL INFORMASI DAN KOMUNIKASI PUBLIK
KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
6.Membujuk (persuade) kepada target sasaran baik khalayak internal
dan eksternal Dit. Fasilitasi KDH, DPRD dan HAL untuk menjauhi
tindak korupsi atau tindakan penyelewengan keuangan neoara/daerah,
7.Mengundang (inviting) seluruh khalayak untuk selalu bekerja dan
bertindak sesuai dengan prosedur dan ketentuan peraturan yang berlaku.
8.Meyakinkan (convince) bahwa tindakan korupsi itu perbuatan tercela
dan dapat meningkatkan jumlah masyarakat yang hidup / berada
dibawah qaris kemiskinan.
9.Mendidik (educating) agar pesan-pesan anti korupsl dapat
dicerminkan dalam keseharian, yang pada akhirnya diharapkan
menumbuhkembangkan wujud “korupsi bukanlah kepribadian kami”.
10.Mendukung pembuatan keputusan (supporting) keputusan dapat
menimbulkan pro dan kontra.
Khalayak yang menjadi target komunikasi adalah Direktorat
Fasilitasi Kepala Daerah, DPRD dan Hubungan Antar Lembaga yang
melaksanakan fungsi Pelayanan Administrasi terkait dengan Penyelesaian
Surat Keputusan Kepala Daerah Wakil Kepala Daerah.
Sedangkan pesan utma yang akan disampaikan Disiplin dan
Keterbukaan. Pesan-pesan ini akan disampaikan melalui Media tatap muda
dengan diskusi, workshop/seminar, media luar ruang dengan standing
banner, media baru memlalui situs wesbite ditjen otda dan mailing list.
Untuk mendukung strategi komunikasi ini, maka didukung oleh adanya
komunikator dari Dit. Fasilitasi KDH, DPRD dan Hubungan Antar
Lembaga.
Aksi strategi komunikasi yang dilaksanakan oleh Kementerian
Dalam Negeri adalah:
1.Mendorong dan mengembangkan kesadaran seluruh pegawai di lingkungan Direktorat Fasilitasi Kepala Daerah, DPRD dan Hubungan
antar lembaga untuk berani menolak memberikan dan/atau menerima
gratifikasi, mandiri dalam bertindak, serta peduli untuk melaporkan
tindakan berindikasi Korupsi.
2.Mendorong setiap unit kerja di lingkungan Direktorat Fasilitasi Kepala Daera, DPRD dan Hubungan antar Lembaga Ditjen Otda untuk
EVALUASI STRATEGI KOMUNIKASI PENDIDIKAN DAN BUDAYA ANTI KORUPSI
PADA KEMENTERIAN DAN LEMBAGA TAHUN 2013
mengembangkan diskusi mengenai praktik dan nilai anti korupsi dalam
organisasi.
3. Menyebarluaskan informasi mengenai peran penting dan manfaat dari
adanya whistle blower system dan justice collaborator dalam organisasi.
Kegiatan yang dilaksanakan berkaitan dengan aksi strategi
komunikasi budaya anti korupsi adalah dengan melakukan aktivitas sebgaai
berikut:
1. Peningkatan kepedulian terhadap budaya anti korupsi dengan membuat
banner/slogan dengan kata - kata yaitu :
• “Bantu kami untuk bekerja sesuai dengan prosedur yang berlaku”
• “Ayo, bantu kami lebih baik dengan tidak korupsi”
• “Keterbukaan dalam pelayanan pilar anti korupsi”
2. Melakukan kegiatan diskusi kelompok baik secara resmi institusional
maupun diskusi informal.
3. Melakukan kegiatan penjaminan keamanan identitas bagi whistleblowerlpemberi informasi dengan dikeluarkannya surat edaran dari Direktur
Jenderal Otonomi Daerah.
4.1.2. Kepolisian Republik Indonesia
POLRI memiliki skor PBAK Pre Assesment sebesar 92, lokus
terpilih adalah Ditlantas Polda Metro Jaya, dengan persepsi budaya
anti korupsi, sedangkan arah komunikasi nya bersifat advokasi, dan
pola komunikasi bersifat penggerakan.Sasaran dari strategi komunikasi
PBAK POLRI adalah meyakinkan untuk tetap bersikap anti korupsi dan
melaksanakannya, serta memberikan pendidikan dan keteladanan, serta
menggerakkan setiap orang dalam organisasi untuk mendukung pembuatan
keputusan pimpinan sekalipun dapat menimbulkan pro dan kontra.
Khalayak yang menjadi target pesan komunikasi ini adalah
pegawai di Ditlantas Polda Metro Jaya, dengan pesan utama disiplin dan
tanggungjawab. Media yang digunakan untuk menyampaiakan pesan
adalah melalui tatap muka dan media cetak. Sedangkan komunikator yang
digunakan adlah dari internal dalam Ditlantas Polda Metro Jaya.
37
38
DIREKTORAT JENDERAL INFORMASI DAN KOMUNIKASI PUBLIK
KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
Aksi strategi komunikasi budaya anti korupsi yang dijalankan oleh
POLRI adalah sebagai berikut:
1.Mendorong dan mengembangkan kesadaran seluruh pegawai di lingkungan Direktorat Lalulintas Polda Metro Jaya untuk berani menolak memberikan dan/atau menerima gratifikasi, mandiri dalam
bertindak,serta peduli untuk melaporkan tindakan berindikasi korupsi.
2. Mendorong setiap unit kerja di lingkungan Direktorat Lalulintas Polda
Metro Jaya untuk mengembangkan diskusi mengenai praktik dan nilai
anti korupsi dalam organisasi.
3. Menyebarluaskan informasi mengenai peran penting dan manfaat dari
adanya whistle blower system dan justice collaborator di dalam organisasi
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan untuk mengimplementasikan
aksi strategi komunikasi PBAK adalah:Penyusunan modul Budaya Anti
Korupsi, Menyusun buku saku anti korupsi, Sharing (Pelaksanaan forum
sharing anti korupsi), Pojok Anti Korupsi,Pemilihan tokoh anti korupsi (role
model),dan Sosialisasi. Sedangkan inti pesan yang disampaikan adalah:
“Taati peraturan & Jalani kewajiban”,”Disiplin jadi keseharian kami”,
“Pojok Anti Korupsi”, “Ayo bantu kami untuk lebih baik dengan tidak
korupsi”,”Mandiri dalam bertindak,Jangan paksa kami untuk menyuap”,
“Ingat Maklumat Kapolri Nomor 1 tahun 2011”.
4.1.3. Kejaksaan Agung
Kejaksaan Agung memiliki skor PBAK Pre Assesment sebesar 90,
lokus yang terpilih: Biro Perlengkapan pada Jasa Agung Muda Pembinaan,
dengan persepsi budaya sangat anti korupsi, arah komunikasinya advokasi,
dan pola komunikasi bersifat pembudayaan pembudayaan. Sasaran dari
strategi komunikasi PBAK yang direncanakan adalah sebagai berikut:
Berbagi pengtahuan umum tentng PBAK di biro perlengkapan dan
unit pelayanan publik.
1. Sosialisasi peran, nilai, kebiasaan anti korupsi kepada para pegawai.
2. Pencapaian konsensus agar sesuai dengan nilai-nilai anti korupsi.
3. Menguji, mempelajari realitas, kesempatan dan bahaya kasus korupsi.
EVALUASI STRATEGI KOMUNIKASI PENDIDIKAN DAN BUDAYA ANTI KORUPSI
PADA KEMENTERIAN DAN LEMBAGA TAHUN 2013
4. Memperoleh pengetahuan dan keterampilan ttg anti korupsi yang dapat
digunakan secara positif dalam kehidupan
Khalayak yang menjadi target dari strategi komunikasi PBAK
adalah pejabat, staf administrasi/ tata usaha di lingkungan lokus terpilih,
dengan komunikator pimpinan biro perlengkapan, pimpinan di lingkungan
JAMP, kepala pusat penerangan hukum, JAMP, jaksa agung dan wakil
jaksa agung RI. Pesan utama yang hendak disampaikan adalah disiplin dan
keterbukaan. Pesan utama ini disampaikan melalui beberapa alat, yaitu:
1.Media cetak: banner, leaflet/brosur, buku saku, majalah internal
2.Media elektronik: website, TV informasi
3.Media baru: intranet
4.Media tatap muka: forum sharing, apel pagi, diskusi, pengarahan pimpinan
Aksi yang diselenggarakan oleh Kejaksaan Agung untuk
melaksanakan strategi komunikasi PBAK adalah sebagai berikut:
1.Mendorong penyelengaraan kegiatan bersama terkait PBAK dengn
aparatur pemerintah dan pihak terkait, terutama mitra kerja superior.
2. Mendorong dan mengmbangan kesadaran aparatur pemerintah dan masyarakat untuk memiliki nilai berani menolak gratifikasi dan melaporkan korupsi, mandiri dalam bertindak.
3. Penyebarluasan informasi mengenai peran penting dan manfaat whistleblower system dan justice collaborator.
Kegiatan yang terlaksana adalah Workshop “Pendidikan Anti
Korupsi Bagi Keluarga Kejaksaan RI” pada 23 Desember 2013 di Ruang
Sasana Pradana Kejaksaan Agung, Jakarta. Khalayak dari kegiatan ini
adalah Jaksa Agung Muda Intelejen, Jaksa Agung Muda Pidsus, Jaksa
Agung Muda Pembinaan, Jaksa Agung Muda Pengawasan, IAO Pusat,
pegawai di Kejaksaan RI.
Sedangkan komunikator dari kegiatan ini adalah Wakil Jaksa
Agung RI, Wakil Ketua KPK, Anggota Bidang Studi Hukum Pidana Fak.
Hukum UI. Kegiatan ini dilakukan melalui media komunikasi tatap muka,
dengan inti pesan “Peran keluarga dalam pencegahan dan pemberantasan
39
40
DIREKTORAT JENDERAL INFORMASI DAN KOMUNIKASI PUBLIK
KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
korupsi”.
4.2. Institusi Yang Memiliki Skor PBAK Terendah
Adapun institusi yang memiliki Skor PBAK Terendah antara
lain Kementerian Koodinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan,
Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Kementerian BUMN.
4.2.1. Kementerian Koordinator Bidang Politik Hukum dan
Keamanan
Kemkopolhukam memiliki skor PBAK Pre Assesment sebesar 40,
lokus yang dipilih adalah Para pejabat Eselon 1, para pejabat eselon 2, para
pejabat di unit pelayanan pengadaan barang dan jasa, dan para anggota staf
keuangan, staf rumah tangga, dan staf biro perencanaan. Persepsi budaya
di Kementerian Koordinasi Politik Hukum dan Keamanan adalah permisif
terhadap korupsi, dengan arah komunikasi edukasi, dan pola komunikasi
pergerakan.
Sasaran strategi komunikasi PBAK yang akan dilakukan adalah
menyarankan (to suggest), memotivasi (motivating), membujuk (to
persuade), dan mendukung pembuatan keputusan (supporting decision
making).
Sedangkan khalayak penerima pesan adalah Para pejabat Eselon 1,
eselon 2 dan unit pelayanan pengadaan barang dan jasa, pejabat pembuat
komitmen, staf keuangan, staf rumah tanggadan staf biro perencanaan,
unit dan lembaga pengawas eksternal dan yang berwenang di bidang
anggaran. Pesan utama yang hendak disampaikan adalah keterbukaan dan
disiplin, dengan menggunakan media luar ruang, baru, tatap muka dan
media massa. Komunikator yang direncanakan untuk mendukung strategi
komunkasi PBAK adalah Sesmenko Polhukan, tim pelaksana Strakom
PBAK Kemenko Polhukam, dan unsur tokoh sebagai komunikator.
Aksi yang dilakukan untuk melaksanakan strategi komunikasi
PBAK diantaranya adalah Pemasangan Banner, Konten videotron,
konten anti korupsi melalui pporta www.polkam.go,id, kegiatan forum
kkomunikasi, sosialiasai, pemuatan konten di majalah polhukam. Dengan
aktivitas kegiatan antara lain: Penayangan slogan anti korupsi di website
EVALUASI STRATEGI KOMUNIKASI PENDIDIKAN DAN BUDAYA ANTI KORUPSI
PADA KEMENTERIAN DAN LEMBAGA TAHUN 2013
polhukam dan videotron, Pemasangan Banner Anti Korupsi, Forum
komunikasi anti korupsi, pemuatan konten di majalah polhukam.
Inti pesan yang disampaikan dalam aksi PBAK ini adalah :”Ingat!
Korupsi bukan rezeki”, “korupsi hukum nya haram”, “Korupsi untungkan
sesaat,sengsarakan sepanjang hayat”, “anda memasuki wilayah anti suap
menyuap”. Hasil penilaian Post assessment menunjukkan kenaikan persepsi
budaya menjadi Anti korupsi, dengan pola komunikasi pembudayaan.
4.2.2. Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal
Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal (KPDT) memiliki
skor PBAK Pre Assesment sebesar 52, locus yang dipilih adalah Sekretariat
Kem. PDT, dengan persepsi budaya anti korupsi, arah komunikasi edukasi,
dan pola komunikasi bersifat pergerakan. Tujuan dilakukan PBAK adalah
untuk meningkatkan tahapan pola komunikasi dari level penggerakan
menjadi level pembudayaan.
Dalam tahap yang lebih pendek (bukan jangka panjang), yaitu dari
penggerakan persuasi ke penggerakan internalisasi.Media yang digunakan
dalam melaksanakan PBAK adalah kampanye internal, standing banner
dan diklat kekhususan. Sedangkan komunikatornya adalah Sekretaris
Kementerian.
Khalayak yang menjadi target strategi komunikasi PBAK adalah
seluruh pegawai Sekretariat Kem. PDT, dengan pesan utama adalah Adil
dengan kemasan pesan: Kami Melayani Sepenuh Hati dan Adil Dan
Amanah Dalam Melayani.
Kemudian pesan tanggung jawab dengan kemasan pesan antara
lain: Pribadi Yang Bertanggung Jawab Awal Dari Anti Korupsi, Kuatkan
Integritas, Awas Bahaya Laten Korupsi, dan Ayo Lawan Korupsi.
Aksi yang dilakukan untuk mendukung PBAK adalah: 1) Sosialisasi
dan Edukasi Anti Korupsi; 2) Seminar Workshop/Training Mengenai
PBAK bagi Pengajar, Mahasiswa, Pelajar, Manajer Swasta dan Pimpinan
Lembaga Pemerintah; dan 3) Sosialisasi Nilai-nilai Anti Korupsi dalam
Bentuk Cerita atau Pengalaman.Kegiatan pelaksanaan kegiatan strategi
komunikasi PBAK dilakukan tanggal 24 September 2013.Inti pesan dari
aksi PBAK ini adalah Peran BPK dalam pencegahan dan pemberantasan
41
42
DIREKTORAT JENDERAL INFORMASI DAN KOMUNIKASI PUBLIK
KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
tindak pidana korupsi, Strategi pendidikan dan budaya anti korupsi:
perjuangan melawan korupsi tidak pernah sedetikpun, budaya korupsi dan
alternatif solusi mengatasinya.
4.2.3. Kementerian BUMN
Kementerian BUMN memiliki skor PBAK Pre Assesment sebesar
55, dengan locus yang dipilih adalah seluruh unit kerja Eselon I, eselon II,
eselon III, eselon IV dan pelaksana di Kementerian BUMN. Hasil peneilaian
awal menunjukkan bahwa Kementerian BUMN memiliki persepsi budaya
anti korupsi, dengan arah komunikasi edukasi, dan pola komunikasi bersifat
pergerakan.Sasaran dari pelaksanann strategi komunikasi PBAK adalah
Meyakinkan untuk tetap bersikap anti korupsi dan melaksanakannya;
memberikan pendidikan dan keteladanan; serta menggerakkan setiap orang
dalam organisasi untuk mendukung pembuatan keputusan pimpinan dalam
peniadaan korupsi.
Khalayak yang menjadi penerima pesan PBAK adalah seluruh
unit kerja Eselon I, eselon II, eselon III, eselon IV dan pelaksana.
Sedangkan pesan utama yang akan disampaikan adalah Keterbukaan,
Kedisiplinan,Tanggung jawab, Keadilan. Media yang digunakan untuk
penyampaian pesan inimeliputi Penerbitan Internal, Elektronik dan tatap
muka.Komunikator yang menyampaikan pesan merupakan Pimpinan unit
kerja (pejabat Eselon I dan II) d
Aksi PBAK yang dilaksanakan di Kementerian BUMN adalah;
1.Partisipasi aktif dalam kegiatan sosialisasi dan edukasi anti korupsi
yang diprakarsai oleh stakeholders di lingkungan lembaga pemerintah,
swasta dan masyarakat.
2. Memfasilitasi tukar pengalaman terbaik dan “best practices” antarwahana dan komunitas anti korupsi, balk lembaga pemerintah, swasta dan
masyarakat.
3.Pembuatan website atau portal informasi best practices anti korupsi
Kegiatan yang dilakukan untuk menunjang PBAK ini adalah:
1. Mengikutsertakan pegawai sebagai peserta dalam sosialisasi dan edukasi anti korupsi,
EVALUASI STRATEGI KOMUNIKASI PENDIDIKAN DAN BUDAYA ANTI KORUPSI
PADA KEMENTERIAN DAN LEMBAGA TAHUN 2013
2. Menjadi nara sumber dalam acara sosialisasi dan edukasi anti korupsi
3. Sharing Knowledge PBAK, FGD PBAK dan Workshop PBAK,
4. Penambahan fitur dalam portal Kementerian BUMN untuk sosialisasi
dan edukasi anti korupsi,
5. Pembuatan standing banner untuk sosialisasi dan edukasi anti korupsi.
4.3. Institusi Yang Mengalami Peningkatan PBAK tertinggi
Dalam pelaksanaan strategi komunikasi PBAK terdapat dua
institusi yang mengalami kenaikan nilai budaya anti korupsi yang tertinggi,
yaitu: Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia dan Badan Perencanaan
Pembangunan Nasional.
4.3.1. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
LIPI Memiliki peningkatan skor PBAK sebesar 8 poin, hasil pre
assessment menunjukkan bahwa LIPI telah memiliki persepsi budaya
anti korupsi, dengan nilai 73, dengan arah komunikasi advokasi, dan pola
komunikasi penggerakan. Kemudian setelah dilakukan aksi PBAK, nilai
persepsi budaya mereka menjadi sangat anti korupsi, dengan nilai 81.
Strategi komunikasi PBAK yang direncanakan oleh LIPI memiliki
sasaran menuju proses internalisasi nilai-nilai anti korupsi di LIPI. Khalayak
yang menjadi target penerima pesan adalah Biro Umum dan Perlengkapan
LIPI dan sampling pegawai LIPI di seluruh Indonesia, dengan pesan
utama tanggung jawab dan adil. Pesan utama ini akan disampaikan melalui
media Sosialisasi, FGD, Website, Videotron. LIPI menggunakan beberapa
komunikator untuk menyampaiakn pesan, yaitu: Inspektorat LIPI, KPK,
Bappenas, dan Kemenkominfo.
Aksi yang dilakukan oleh LIPI dalam merealisasikan strategi
komunikasi PBAK adalah:
1. Kegiatan sosialisasi paspek-aspek PBAK.
2.FGD untuk mendapatkan inti pesan masukan dari akademisi ttg
hambatan penerima pesan menerima aspek-aspek PBAK
3. Pemanfaatan website dan videotron tentang pesan PBAK
Kegiatan aksi yang terlakana adalah Sosialisasi Pembangunan
43
44
DIREKTORAT JENDERAL INFORMASI DAN KOMUNIKASI PUBLIK
KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
EVALUASI STRATEGI KOMUNIKASI PENDIDIKAN DAN BUDAYA ANTI KORUPSI
PADA KEMENTERIAN DAN LEMBAGA TAHUN 2013
Integritas dalam Percepatan Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi LIPI,
dan FGD Strategi Mewujudkan Wilayah Tertib Administrasi dalam Rangka
PPK, The Green Hotel Ciawi-Bogor, 10 September 2013. Inti pesan dari
aksi ini adalah Peningkatan tertib administrasi di bidang pengadaan barang
dan jasa, pengelolaan keuangan, dan pengelolaan bmn, serta pengoptimalan
tugas dan fungsi.
Secara ringkas strategi komunikasi PBAK yang direncanakan oleh
LIPI dapat dilihat pada tabel 1 dibawah ini
Tabel 2 Perencanaan Komunikasi PBAK di LIPI
Sasaran
Menuju proses
internalisasi
nilai-nilai anti
korupsi di LIP
Khalayak
Pesan
Biro Umum dan
Perlengkapan
LIPI dan
sampling
pegawai LIPI di
seluruh
Indonesia
Tanggung jawab
Adil
Media
Sosialisasi
FGD
Website
Videotron
Komunikator
Inspektorat LIPI
KPK
Bappenas
Kemenkominfo
Peningkatan nilai budaya anti korupsi LIPI dapat menjadi salah satu
contoh bagi K/L yang lainnya. Peningkatan ini disebabkan oleh kesesuaian
antara pesan utama yang direncanakan dalam strategi komunikasi anti
korupsi dengan pelaksanaan komunikasi PBAK. Pesan utama yang
dicanangkan oleh LIPI adalah tanggung jwab dan adil, kemudian LIPI
merealisasikannya melalui inti pesan “Peningkatan tertib administrasi di
bidang pengadaan barang dan jasa, pengelolaan keuangan, dan pengelolaan
bmn, serta pengoptimalan tugas dan fungsi”.
Sasaran strakom PBAK internalisasi nilai, juga terealisasikan melalui
kegiatan yang dilaksanakan oleh LIPI, yaitu Sosialisasi Pembangunan
Integritas dalam Percepatan Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi LIPI,
dan FGD Strategi Mewujudkan Wilayah Tertib Administrasi dalam Rangka
PPK. Secara umum dapat dikatakan bahwa aksi PBAK yang dilakukan oleh
LIPI masih sejalan dengan strategi komunikasi PBAK yang direncanakan.
4.3.2. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas)
Bappenas memiliki peningkatan skor PBAK sebesar 13, dimana
sasaran strategi komunikasi PBAK yang dicanangkan adalah Mengubah
dan memperkuat budaya anti korupsi khususnya pola hidup sederhana
dan pemisahan yang tegas antara barang/dana milik kantor dengan milik
pribadi. Khalayak yang menjadi target penyampaian pesan merupakan
pimpinan,staf organik, staf outsource dan sub-kontraktor direktorat PKPS.
Komunikasi PBAK ini memiliki pesan utama dengan tagline “Menjadi
PNS Tidak Harus Kaya”.
Untuk menyampaiakan pesan, Bappenas menggunakan media
tatap muka melalui diskusi dan Focuss Group Discussion (FGD), dengan
komunikator: Inspektur Utama dan Inspektur Bidang Administrasi Umum
Kementerian PPN/Bappenas, Tokoh agama dan masyarakat, dan Pejabat
KPK.
Aksi yang dilakukan untuk merealisasikan PBAK adalah dengan
Mendorong dan mengembangkan kesadaran pegawai direktorat untuk
memiliki kesadaran dalam menolak dan melaporkan gratifikasi.Selain itu,
Bappenas juga melakukan diskusi mengenai praktik dan nilai anti korupsi.
Selanjutnya diadakan sosialisasi mengenai peran penting dan manfaat
whistle blower system. Aksi-aksi ini terintegrasi dalam kegiatan:
1.Diskusi “Praktik dan Nilai Anti Korupsi melalui Pola Hidup Sederhana” pada 5 September 2013. Narasumber: Inspektur Utama dan Direktur Pengembangan Kerjasama Pemerintah Swasta (PKPS); Prof. Dr.
Komaruddin Hidayat, rektor UIN; Amien Sunaryadi, Ak, MPA, CISA,
mantan wakil ketua KPK.
2. Penguatan Budaya Anti Korupsi dan Uji Publik Internal Draft Permen
tentang Pelaporan Gratifikasi dan Whistle Blowing System pada 17 September 2013. Narasumber: Imam Prasodjo, Sarlito Wirawan, Kepala
Biro Hukum dan Inspektur Utama Bappenas
Inti pesan dari aksi PBAK yang dilakukan oleh Bappenas adalah:
1. “Nilai-nilai Anti Korupsi dan Pola Hidup Sederhana” dan “Praktik dan
Nilai Anti Krupsi dan Pola Hidup Sederhana”
2.Upaya anti korupsi melalui pendekatan budaya anti korupsi harus dilakukan melalui pendekatan perilaku masyarakat, baik sebagai perorangan (psikologi), maupun sebagai kelompok (sosiologi), ataupun
keduanya (psikologi sosial)
45
46
DIREKTORAT JENDERAL INFORMASI DAN KOMUNIKASI PUBLIK
KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
EVALUASI STRATEGI KOMUNIKASI PENDIDIKAN DAN BUDAYA ANTI KORUPSI
PADA KEMENTERIAN DAN LEMBAGA TAHUN 2013
Secara ringkas komunikasi PBAK yang dilakukan oleh LIPI dapat
dilihat pada tabel 3 dibawah ini
Tabel 3 Komunikasi PBAK LIPI dan Bappenas
Sasaran
Khalayak
Mengubah dan
memperkuat
budaya anti
korupsi
khususnya pola
hidup sederhana
dan pemisahan
yang tegas
antara
barang/dana
milik kantor
dengan milik
pribadi
pimpinan,staf
organik, staf
outsourcedan
sub-kontraktor
direktorat PKPS
Pesan
Media
tagline "Menjadi media tatap
PNS Tidak Harus muka melalui
Kaya"
diskusi dan
Focuss Group
Discussion (FGD)
Komunikator
1. Inspektur
Utama dan
Inspektur Bidang
Administrasi
Umum
Kementerian
PPN/Bappenas
2. Tokoh agama
dan masyarakat
3. Pejabat KPK
Bappenas merupakan K/L yang memiliki peningkatan nilai budaya
anti korupsi yang tertinggi, dengan akselerasi sebesar 13 poin. Peningkatan
nilai budaya anti korupsi ini disebabkan oleh selarasnya strategi komunikasi
PBAK dengan pelaksanaannya. Sebelum merencanakan strategi
komunikasi, Bappenas terlebih dahulu mengukur budaya anti korupsi
dari satker yang terpilih menjadi locus, kemudian setelah diukur berbagai
indikatornya, Bappenas mempersiapkan strategi komunikasi PBAK yang
sesuai dengan situasi yang ada dalam locus terpilih tersebut.
Hasil pre assessment buadaya anti korupsi menunjukkan bahwa
dimensi terendah yang harus menjadi perhatian adalah “kebutuhan pribadi”,
kemudian Bappenas menetapkan sasaran untuk mengubah dan memperkuat
budaya anti korupsi khususnya pola hidup sederhana dan pemisahan yang
tegas antara barang/dana milik kantor dengan milik pribadi. Sasaran
strakom PBAK yang dicanangkan oleh Bappenas juga diwujudkan dalam
pesan utama yang diusungnya, yaitu: “Menjadi PNS Tidak Harus Kaya”.
Sasaran dan pesan utama Bappenas kemudian direalisasikan dalam
aksi yang selaras, yaitu: Diskusi “Praktik dan Nilai Anti Korupsi melalui
Pola Hidup Sederhana”, dan Penguatan Budaya Anti Korupsi dan Uji
Publik Internal Draft Permen tentang Pelaporan Gratifikasi dan Whistle
Blowing System. Dimana pesan utama dari aksi kegiatan yang dilakukan
oleh Bappenas adalah tentang kesederhanaan.
4.4. Perubahan Budaya Anti Korupsi di Lokus Pelaksanaan Strakom
PBAK
Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi (PPK) telah menjadi
komitmen bersama pemerintah dan stakeholders pemberantasan korupsi di
Indonesia. Selain itu upaya PPK, merupakan amanat Peraturan Presiden
Nomor 55 Tahun 2012 tentang Strategi Pencegahan dan Pemberantasan
Korupsi. Oleh karena itu pelaksanaannya harus didukung oleh seluruh
Kementerian/Lembaga (K/L) baik di pusat maupun daerah.
Secara umum, tidak terdapat peningkatan persepsi budaya anti
korupsi yang signifikan, Tabel 4 menunjukkan bahwa tingkat signifikansinya
adalah 0,262. Stagnansi persepsi budaya anti korupsi ini dapat disebabkan
oleh nilai skor pre assessment yang rata-rata sudah cukup tinggi (67,32),
sehingga untuk meningkatkan lagi skor persepsi tersebut dibutuhkan upaya
yang lebih serius.
Tabel 4 Signifikansi Perubahan Budaya Anti Korupsi
Masalah utama yang menyebabkan terjadinya stagnansi persepsi
budaya anti korupsi adalah adanya ketidaksesuaian antara strategi
komunikasi dan aksi yang direalisasikan. Mayoritas K/L biasanya
menempelkan aksi PBAK dengan kegiatan lain yang kemungkinan tidak
sesuai dengan sasaran strategi komunikasi PBAK. Ketidaksesuaian ini
mungkin disebabkan oleh ketiadaan anggaran yang khusus dialokasikan
untuk aksi PBAK, sehingga kegiatan aksi PBAK kemudian menginduk
pada kegiatan lain yang memiliki anggaran.
Namun secara umum, dari gambaran di atas dapat dipahami bahwa
secara teoritis bahwa strategi komunikasi untuk mengubah perilaku bukan
hal yang bisa dicapai dengan cepat. Angka ini menunjukkan bahwa ratarata K/L memiliki persepsi budaya yang anti terhadap korupsi (grade 3),
dan arah komunikasi yang sesuai adalah advokasi.
Di sisi lain, strategi komunikasi dengan arah advokasi lebih sulit
diaplikasikan dibandingkan dengan sosialisasi maupun edukasi, karena
47
48
DIREKTORAT JENDERAL INFORMASI DAN KOMUNIKASI PUBLIK
KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
advokasi memerlukan keterlibatan semua pihak. Oleh karena itu untuk
memperbaiki persepsi budaya dari setiap kementerian dan lembaga
diperlukan formulasi strategi komunikasi advokasi yang lebih tajam.
Hasil yang menarik dari evaluasi Strakom PBAK adalah adanya
peningkatan pola komunikasi dari kementerian dan lembaga secara
signifikan, dengan angka signifikansi mencapai 0,003 (Tabel 5). Peningkatan
pola komunikasi yang terjadi pada masing-masing kementerian dan lembaga
menunjukkan bahwa sosialisasi dan pelatihan PBAK yang dilakukan oleh
Kementerian Komunikasi dan Informatika telah berjalan dengan baik, dan
dapat segera diaplikasikan oleh masing-masing kementerian dan lembaga.
Tabel 5 Signifikansi Perubahan Budaya Anti Korupsi
Dalam Strategi Nasional Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi
(Stranas PPK) Jangka Panjang dan Jangka Menengah disebutkan, salah
satu tantangan dalam pencegahan dan pemberantasan korupsi di Indonesia
komunikasi terbesar yang dihadapi selama ini adalah absennya strategi
komunikasi.
Dalam pelaksanaannya, berbagai upaya PPK, khususnya
pelaksanaan Strategi 5: Pendidikan dan Budaya Anti Korupsi (PBAK) harus
dikomunikasikan secara baik oleh K/L kepada para pemangku kepentingan
dan mitra strategis. Oleh karena itu, diperlukan sebuah rencana aksi
komunikasi yang memadai dan termuat dalam rencana aksi masing-masing
lembaga.
Pola komunikasi yang tepat sangat penting dalam peningkatan
persepsi budaya dari masing-masing K/L. Tabel 6 menunjukkan adanya
hubungan linear antara pola komunikasi dan persepsi budaya, dimana
peningkatan 1 satuan nilai pola komunikasi, akan meningkatkan persepsi
budaya sebesar 0,518, dengan persamaan regresi Y= -0,241 + 0,518X,
dimana Y adalah persepsi budaya, dan X adalah pola komunikasi.
EVALUASI STRATEGI KOMUNIKASI PENDIDIKAN DAN BUDAYA ANTI KORUPSI
PADA KEMENTERIAN DAN LEMBAGA TAHUN 2013
Tabel 6 Perubahan Budaya Anti Korupsi
Namun demikian, terdapat beberapa faktor kunci yang mendorong
pelaksanaan Strakom PBAK, bahwa setiap K/L memiliki kewajiban
melaksanakan sebagai aksi generik sesuai dengan Instruksi Presiden
Nomor 1 Tahun 2013 tentang Percepatan Pencegahan dan Pemberantasan
Korupsi di Indonesia.
Secara teknis, faktor kunci pendorong lainnya adalah kegiatan yang
dilaksanakan terintegrasi dengan aktivitas komunikasi unit kerja yang
bersangkutan sehingga tidak membuat pelaksanaan kegiatan tertunda.
Jadi pelaksanaan Strakom PBAK merupakan refocussing, penajaman atas
anggaran yang ada untuk melaksanakan kegiatan kampanye anti korupsi di
lingkup internal lembaga.
49
EVALUASI STRATEGI KOMUNIKASI PENDIDIKAN DAN BUDAYA ANTI KORUPSI
PADA KEMENTERIAN DAN LEMBAGA TAHUN 2013
BAB V
KONTRIBUSI DALAM
STRATEGI NASIONAL PPK
EVALUASI STRATEGI KOMUNIKASI PENDIDIKAN DAN BUDAYA ANTI KORUPSI
PADA KEMENTERIAN DAN LEMBAGA TAHUN 2013
Babakan baru kebijakan pencegahan dan pemberantasan korupsi
(PPK) di Indonesia ditandai dengan kehadiran Strategi Nasional PPK. Jika
selama ini aspek komunikasi kurang mendapatkan perhatian dalam strategi
nasional, kini layanan informasi dan komunikasi publik menjadi bagian tak
terpisahkan dari Stranas PPK.
Namun, komunikasi hanya bisa terlaksana dengan baik jika
didukung keberadaan rencana atau strategi, jaringan komunikasi dan
koordinasi antarlembaga sehingga program dan aktivitas komunikasi bisa
dilaksanakan baik di tingkat pusat dan daerah.
Sejalan dengan kerangka Stranas PPK, pemberantasan korupsi tidak
cukup dengan mengandalkan proses penegakan hukum. Upaya itu perlu
dilakukan dengan tindakan preventif-strategis melalui pembudayaan anti
korupsi di lingkungan lembaga dan aparatur pemerintah. Hal itu ditegaskan
dalam Peraturan Persiden Nomor 55 Tahun 2012 tentang Strategi Nasional
Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi.
5.1. Relasi Strakom PBAK dengan Strategi Nasional PPK
Sesuai dengan tujuan PBAK untuk mengubah budaya aparatur,
maka dibutuhkan strategi dan waktu yang cukup panjang agar budaya anti
korupsi bisa berkembang dan diterapkan pada semua unit/satuan kerja.
Gambar 7. Kerangka Pelaksanaan Strakom PBAK
53
54
DIREKTORAT JENDERAL INFORMASI DAN KOMUNIKASI PUBLIK
KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
Dalam kerangka Strakom PBAK, budaya anti korupsi merupakan
hasil internalisasi nilai-nilai sembilan anti korupsi yang meliputi Jujur,
Peduli, Mandiri, Disiplin, Tanggung Jawab, Sederhana, Kerja Keras,
Berani dan Adil. Dalam proses internalisasi nilai-nilai tersebut dibutuhkan
kegiatan komunikasi yang terencana dan tepat sasaran.
Sejalan dengan tujuan Stranas PPK, kerangka pelaksanaan Strakom
PBAK sebagaimana dalam gambar 7 di atas. Dengan kerangka pikir
tersebut, pelaksanaan strategi komunikasi PBAK dalam lokus atau satker
yang terpilih dilakukan secara bertahap dapat memengaruhi pencapaian
dalam tahapan Strategi Nasional PPK yang diindikasikan dengan adanya
Indeks Perilaku Anti Korupsi (IPAK).
Melalui kegiatan komunikasi PBAK yang terukur dengan pola
assessment dan strategi yang jelas, maka pencapaian keberhasilan Strategi 5
dalam Stranas PPK akan dapat terwujud. Hal itu disebabkan pada dasarnya
IPAK yang menjadi indikator dalam Strategi 5, merupakan akumulasi
dari IPAK masyarakat (IPAKm) dengan IPAK di lingkungan aparatur
pemerintah (IPAKa).
5.2. Capaian Berdasar Indeks Perilaku Anti Korupsi
Indeks Perilaku Anti Korupsi (IPAK) merupakan indikator
komposit sebagai indikator kunci Strategi 5 Pencegahan Korupsi sesuai
amanat Perpres Nomor 55 Tahun 2012 tentang Stranas PPK . Hasil SPAK
setiap tahunnya akan menjadi pedoman dan acuan bagi setiap pengambilan
keputusan oleh para pejabat publik dalam menyusun Aksi Pencegahan dan
Pemberantasan Korupsi (Aksi PPK).
Data tersebut dihasilkan dari survei yang dilakukan oleh Badan
Pusat Statistik pada rumah tangga di 170 kabupaten/kota seluruh Indonesia.
Survei tersebut ditujukan mengukur tingkat permisifitas masyarakat
Indonesia terhadap perilaku korupsi.
Data yang dihasilkan berupa IPAK dan indikator tunggal yang
menggambarkan perilaku anti korupsi, terkait pendapat responden terhadap
kebiasaan di masyarakat dan pengalaman yang berhubungan dengan
layanan publik terkait perilaku penyuapan,pemerasan dan nepotisme.
Dari hasil SPAK yang dilakukan oleh BPS, ditemukan Indeks
EVALUASI STRATEGI KOMUNIKASI PENDIDIKAN DAN BUDAYA ANTI KORUPSI
PADA KEMENTERIAN DAN LEMBAGA TAHUN 2013
Perilaku Anti Korupsi (IPAK) Indonesia pada 2012 sebesar 3,55 dari
skala 5. Artinya masyarakat Indonesia cenderung anti korupsi. Dalam
perhitungan indeks komposit, nilai indeks 0–1,25 sangat permisif terhadap
korupsi, 1,26–2,50 permisif, 2,51–3,75 anti korupsi, 3,76–5,00 sangat anti
korupsi. Hal yang menarik dari hasil survei IPAK di wilayah perkotaan
sedikit lebih tinggi (3,66) dibanding di wilayah perdesaan (3,46).
Nilai IPAK cenderung lebih tinggi pada responden usia kurang
dari 60 tahun dibanding setelah usia 60 tahun ke atas. IPAK penduduk usia
kurang dari 40 tahun sebesar 3,57, usia 40 sampai 59 tahun sebesar 3,58
dan 60 tahun ke atas sebesar 3,45. Artinya semangat anti korupsi antara
usia tua dan usia muda tidak berbeda secara signifikan.
Jika ditelusur lebih dalam, sikap permisif terhadap tipikor sejatinya
muncul dari budaya yang belum sepenuhnya sejalan dengan semangat anti
korupsi. Namun upaya untuk mengubah budaya yang permisif terhadap
korupsi menjadi budaya anti korupsi dalam kenyataannya belum sesuai
harapan publik. Hal itu karena internalisasi nilai budaya integritas belum
dilaksanakan secara kolektif dan sistematis baik di lingkungan masyarakat,
sektor swasta, maupun pemerintahan.
Berdasarkan pendapat responden SPAK 2012 terhadap perilaku
dalam lingkungan keluarga, masih ada sekitar 32 persen istri yang
menerima uang yang diberikan suami tanpa harus mempertanyakan asal
usulnya. Sementara, berdasarkan perilaku di tingkat komunitas, lebih dari
separuh responden menyatakan wajar untuk memberi sesuatu kepada tokoh
informal atau tokoh masyarakat setempat pada saat melaksanakan hajatan.
Hal yang menarik, dalam hasil SPAK 2012 pendidikan berpengaruh
cukup kuat pada semangat anti korupsi. Semakin tinggi pendidikan semakin
tinggi IPAK. IPAK responden berpendidikan SLTP ke bawah sebesar 3,47,
SLTA sebesar 3,78 dan di atas SLTA sebesar 3,93.
Pada tahun 2013, IPAK Indonesia sebesar 3,63 dari skala 0 sampai
5. Angka ini naik 0,08 poin dibandingkan IPAK tahun 2012 (3,55). Meski
demikian kenaikan ini belum merubah kategori indeks, karena masih dalam
kategori yang sama yakni anti korupsi. (Catatan: nilai indeks 0–1,25 sangat
permisif terhadap korupsi, 1,26–2,50 permisif, 2,51–3,75 anti korupsi,
3,76–5,00 sangat anti korupsi).
55
56
DIREKTORAT JENDERAL INFORMASI DAN KOMUNIKASI PUBLIK
KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
IPAK 2013 untuk masyarakat yang tinggal di wilayah perkotaan
sedikit lebih tinggi (3,71) dibanding di wilayah perdesaan (3,55). IPAK
2013 lebih tinggi pada penduduk usia kurang dari 60 tahun dibanding
penduduk usia 60 tahun ke atas. IPAK penduduk usia kurang dari 40 tahun
sebesar 3,63, usia 40 sampai 59 tahun sebesar 3,65, dan usia 60 tahun ke
atas sebesar 3,55.
Pendidikan berpengaruh cukup kuat pada semangat anti korupsi.
Semakin tinggi pendidikan maka semakin tinggi IPAK. IPAK 2013 untuk
responden berpendidikan SLTP ke bawah sebesar 3,55, SLTA sebesar 3,82
dan di atas SLTA sebesar 3,94.
Jika dibandingkan dapat disimak dalam gambar berikut ini:
Gambar 8. Perkembangan Indeks Perilaku Anti Korupsi (IPAK) Indonesia,
2012–2013
Sumber : Laporan Publikasi SPAK 2013, BPS
Dari data di atas, kenaikan 0,08 poin belum merubah kategori indeks,
karena masih dalam kategori yang sama yakni masyarakat cenderung anti
korupsi.
Perbedaan penting hasil IPAK 2012 dan 2103, adalah pada tahun
2012, sebagian besar responden yang menyatakan mengetahui bahwa
mereka harus membayar lebih (karena diminta langsung oleh petugas) yaitu
pada layanan polisi (sekitar 66 persen responden), guru/kepala sekolah
(sekitar 60 persen), dinas kependudukan dan pencatatan sipil (sekitar 60
persen).
EVALUASI STRATEGI KOMUNIKASI PENDIDIKAN DAN BUDAYA ANTI KORUPSI
PADA KEMENTERIAN DAN LEMBAGA TAHUN 2013
Sementara pada 2013, kebanyakan masyarakat membayar melebihi
ketentuan karena diminta petugas. Pada tahun 2013, persentase terbanyak
terdapat pada lembaga peradilan (76,37 persen), BPN (60,21 persen), dan
rumah sakit/puskemas (56,22 persen).
Kondisi itu menunjukkan bahwa sesungguhnya di tingkat aparatur
khususnya di unit pelayanan publik pemerintah masih belum signifikan
terjadi perubahan budaya anti korupsi.
Hal yang menarik dari IPAK 2013 bahwa sebagian besar (27 persen)
responden menilai pemerintah merupakan sumber yang paling efektif
(mudah diterima, dapat membawa hasil, berguna) dalam memberikan
pengetahuan anti korupsi.
Kondisi itu menunjukkan pola yang sama dengan 2012 bahwa
sebagian besar sejumlah 28,40 persen atau naik 1,1 persen dari 27,30 persen
pada 2012 masyarakat menilai pemerintah merupakan sumber informasi
yang paling efektif.
Lebih dari 60 persen masyarakat menyatakan tidak pernah
mendapatkan pengetahuan tentang anti korupsi dari semua jenis sumber
yakni keluarga/ kerabat/teman, tokoh agama, tokoh masyarakat, organisasi
kemasyarakatan (LSM), pemerintah, dan KPK dan lembaga negara non
pemerintah lainnya, dan akademisi.
Dari aspek media, pada 2012 sekitar 67 persen responden menilai
televisi merupakan jenis media yang paling efektif dalam memberikan
pengetahuan anti korupsi. Sementara pada 2013 secara umum sebesar
70,70 persen atau naik 3,60 persen 67,10 persen masyarakat menilai
televisi merupakan jenis media yang paling efektif dalam memberikan
pengetahuan anti korupsi.
Oleh karena itu, diperlukan pembudayaan anti korupsi dengan
tujuan menyamakan persepsi bahwa korupsi itu jahat dan harus dihindari.
Persepsi tersebut akan mendorong lahirnya sikap anti korupsi. Dan pada
akhirnya, sikap anti korupsi akan menumbuhkan prakarsa-prakarsa positif
bagi upaya PPK pada khususnya, serta perbaikan tata kepemerintahan pada
umumnya.
57
EVALUASI STRATEGI KOMUNIKASI PENDIDIKAN DAN BUDAYA ANTI KORUPSI
PADA KEMENTERIAN DAN LEMBAGA TAHUN 2013
BAB VI
PENUTUP
EVALUASI STRATEGI KOMUNIKASI PENDIDIKAN DAN BUDAYA ANTI KORUPSI
PADA KEMENTERIAN DAN LEMBAGA TAHUN 2013
6.1 Kesimpulan
Strategi komunikasi Pendidikan Budaya Anti Korupsi dilaksanakan
oleh 47 kementerian dan lembaga, dimana hasil pemetaan menunjukkan
bahwa terdapat 4 pesan yang diusung oleh kementerian dan lembaga
tersebut yaitu Keterbukaan, Kedisiplinan, Tanggung Jawab dan Keadilan,
sedangkan media yang paling banyak digunakan adalah media tatap muka.
Aksi yang paling banyak direncanakan adalah sosialiasi kepada khalayak.
Hasil pemetaan pre assessment menunjukkan bahwa terdapat 31
kementerian dan lembaga yang memiliki Level Budaya sangat Anti Korupsi,
kemudian 9 kementerian dan lembagamemiliki level budaya anti Korupsi,
dan hanya 1 kementerian dan lembaga yang memiliki level budaya permisif
terhadap korupsi. Sedangkan, arah komunikasi yang sesuai untuk strategi
komunikasi PBAK adalah advokasi (36 kementerian dan lembaga), Edukasi
(4 kementerian dan lembaga), Sosialisasi (1 kementerian dan lembaga).
Dua kementerian dan lembaga tidak menampilkan arah komunikasi,
dan enam kementerian dan lembaga tidak ada laporan. Sementara untuk
dimensi terendah adalah Kebutuhan Pribadi dan dimensi Tertinggi adalah
terhadap Mitra Kerja Non Aparatur, sedangkan pola komunikasi terbanyak
adalah pergerakan.
Secara umum dapat disimpulkan bahwa efektivitas startegi
komunikasi PBAK dapat ditingkatkan melalui keselarasan antara analisa
situasi pada satker terpilih yang dilakukan melalui pre assessment
dengan strategi komunikasi PBAK yang direncanakan. Pada tahapan ini,
kementerian dan lembaga harus memperhatikan dimensi terendah dari
locus terpilih untuk dijadikan fokus komunikasi PBAK.
Hasil analisa situasi ini kemudian menjadi acuan dalam menyusun
strategi komunikasi PBAK, dan kemudian merealisasikannya dalam aksi
PBAK yang sesuai. Kesuaian antara analisa situasi, strategi komunikasi,
dan aksi akan menjadikan PBAK semakin efektif, dan pada akhirnya akan
meningkatkan persepsi anti korupsi dari lokus terpilih masing-masing
kementerian dan lembaga.
Dalam pencapaian Stranas PPK, Strakom PBAK memiliki
kontribusi nyata dalam satker yang melaksaakan. Meskipun pengaruh
kumukatif tidak terjadi siginifikan terhadap perubahan Indeks Persepsi Anti
61
62
DIREKTORAT JENDERAL INFORMASI DAN KOMUNIKASI PUBLIK
KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
Korupsi, namun demikian sesunggunya komunikasi yang bersifat strategis
melalui Strakom PBAK ditujukan mensosialisasikan, mengedukasi, dan
mengadvokasi setiap aparatur pemerintah agar mengetahui, memahami
dan mengadopsi sembilan nilai anti korupsi dalam keseharian.
Melalui strategi komunikasi diharapkan proses komunikasi
berlangsung baik dan efektif serta terkoordinasi dalam dan antarkementerian
maupun lembaga. melalui keterpaduan tersebut pesan mengenai nilai-nilai
antikorupsi akan dapat disampaikan secara efektif kepada khalayak.
6.2 Rekomendasi
Bagi setiap kementerian dan lembaga, upaya pendidikan dan budaya
antikorupsi membutuhkan strategi komunikasi sebagai pemandu langkah
menuju tahap demi tahap, sehingga apa yang menjadi tujuan komunikasi
dapat dicapai dengan sukses. Strategi komunikasi tidak berfungsi sebagai
peta jalan yang menunjukkan arah saja, tetapi menunjukkan bagaimana
taktik operasional komunikasi mengenai kebijakan pendidikan dan budaya
antikorupsi dilaksanakan di masing-masing kementerain dan lembaga.
Beberapa rekomendasi yang dirumuskan sebagai berikut:
1. Pelaksanaan Pendidikan Budaya Anti Korupsi (PBAK) harus dipertajam
dengan memperbanyak arah komunikasi yang bersifat advokasi.
2.K/L harus melaksanakan aksi PBAK sesuai dengan strategi komunikasi
PBAk yang telah dirancang, dan menggunakan metode yang sesuai
dengan cetak biru yang telah dibuat oleh Kemkominfo, serta mengurangi
kesalahan-kesalahan metodologi, diantaranya adalah:
a. Ketidaksesuaian antara locus pre assessment dan post assessment
b.Ketidaksesuaian inti pesan pada strategi komunikasi PBAK yang
direncanakan dengan pesan utama pada aksi yang dilaksanakan
c.Pesan komunikasi pada aksi PBAK tidak mempertimbangkan
dimensi terendah pada pre assessment
d. Aksi yang dilaksanakan biasanya hanya menempel pada aksi program
lain, yang belum tentu sesuai dengan strategi komunikasi PBAK yang
telah direncanakan dan dipertajam tentang kondisi penganggaran dan
solusinya agar masuk dalam dokumen perencanaan kementerian dan
lembaga.
EVALUASI STRATEGI KOMUNIKASI PENDIDIKAN DAN BUDAYA ANTI KORUPSI
PADA KEMENTERIAN DAN LEMBAGA TAHUN 2013
3.Dalam melaksanakan aksi PBAK, kementerian dan lembaga harus
memperhatikan pola komunikasi yang telah dipetakan pada pre
assessment. Perumusan strategi dan pengembangan selanjutnya perlu
dilakuan konsisten, misalnya dalam aspek:
a. Pemilihan media komunikasi harus disesuaikan dengan temuan yang
ada pada pre assessment
b.Pemilihan komunikator harus disesuaikan dengan profil tokoh anti
korupsi di masing-masing kementerian dan lembaga.
4.Hal yang penting adalah pelaksanaan kontrol dalam implementasi
Strakom PBAK, Kontrol yang dimaksudkan adalah monitoring dan
evaluasi sesuai dengan target Cetak Biru Strakom PBAK.
5.Agar hasil Strakom PBAK memiliki kontribusi terhadap pencapaian
Stranas PPK maka direkomendasikan dilakukan:
a. Identifikasi materi-materi PBAK yang sudah ada di kementerian dan
lembaga (Kemenkominfo, BUMN, Kemendikbud, KPK, kejaksaan,
POLRI, dll) untuk masyarakat
b. Optimalisasi lebih tinggi program PBAK di kementerian dan lembaga
yang memberikan 10 layanan dan melibatkan tokoh agama dalam
PBAK kementerian dan lembaga.
c.Peningkatan penyebaran informasi anti korupsi secara langsung
kepada tokoh agama dan pemerintah (kementerian dan lembaga),
ormas, asosiasi profesi, asosiasi pedagang, asosiasi dan perkumpulanperkumpulan lainnya
d. Mengembangkan jejaring forum anti korupsi sampai ke daerah untuk
menjadi salah satu sumber informasi bagi masyarakat (Critical Mass
agen perubahan, ketokohan dan panutan)
e. Memasukan materi STRANAS PPK pada jalur pendidikan PNS
f. Melibatkan peran Inspektorat, BPK, Pengawasan Internal mendukung
Eksternal dan sebaliknya untuk implementasi STRANAS PPK
6.Khusus berkaitan dengan pelaksanaan Strategi 5 dalam Stranas PPK
maka dibutuhkan pengarusutamaan Stranas PPK ke dalam RPJMN ,
lintas dan semua sektor. Hal itu bisa dilakukan dengan cara:
a.Menjadikan STRANAS PPK pilar penting bagi implementasi
berbagai legislasi dan kebijakan, desa, MP3EI, Investasi, Pendidikan
63
64
DIREKTORAT JENDERAL INFORMASI DAN KOMUNIKASI PUBLIK
KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA
, Kesehatan, maupun prolegnas, reformasi birokrasi, pelayanan
publik
b. Mengembangkan pilot survey integritas , wilayah, lembaga, individu,
dunia usaha, partai politik, maupun organisasi publik lainnya.
c.Khusus bagi kepolisian, menata sistem dan data, dimulainya dari
pengaduan masyarakat, pelayanan yang diberikan, tindak lanjut dan
waktunya, investigasi, penuntutan, sanksi dan hukuman (Data Crime
Statistics)
d.Menyusun kebijakan mengenai insentif dan biaya layanan yang
diberikan oleh tokoh formal dan disosialisasikan kepada masyarakat
f. Mendorong penggunaan Citizen Report Card atau Community Score
Card untuk penilaian kualitas pelayanan publik, hal itu sebagai salah
satu bentuk partisipasi publik dalam peningkatan kualitas layanan
publik yang transparan dan berintegritas.
EVALUASI STRATEGI KOMUNIKASI PENDIDIKAN DAN BUDAYA ANTI KORUPSI
PADA KEMENTERIAN DAN LEMBAGA TAHUN 2013
Referensi
Badan Pusat Statistik, 2013. Hasil Survey Indeks Perilaku Anti Korupsi 2012.
Jakarta: BPS.
Badan Pusat Statistik, 2014. Hasil Survey Indeks Perilaku Anti Korupsi 2014.
Jakarta: BPS.
Dunn, William. N.2000. Analisis Kebijaksanaan Publik. Gadjah Mada
University press; Yogyakarta
Edward III, George C (edited), 1984, Public Policy Implementing, Jai Press
Inc, London-England.
Escobar A. 1995, Encountering Development, The Making and Unmaking of
the Third World. Princeton-NJ, University Press, Princeton.
Goggin, Malcolm L et al. 1990. Implementation, Theory and Practice: Toward
a Third Generation, Scott, Foresmann and Company, USA.
Grindle, Merilee S. 1980. Politics and Policy Implementation in The Third
World, Princnton University Press, New Jersey.
Keban, Yeremias T. 2007. Pembangunan Birokrasi di Indonesia: Agenda
Kenegaraan yang Terabaikan, Pidato Pengukuran Guru Besar pada
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada,
Yogyakarta.
Kementerian Kominfo, 2013 Cetak Biru Strategi Komunikasi PBAK. Jakarta:
Kominfo.
Korten, David C dan Syahrir. 1980. Pembangunan Berdimensi Kerakyatan,
Yayasan Obor Indonesia, Jakarta.
Melkote SR. 1991. Communication for Development in the Third World:
Theory and Practice. New Delhi: Sage.
Mazmanian, Daniel A and Paul A. Sabatier. 1983. Implementation and Public
Policy, Scott Foresman and Company, USA.
Nakamura, Robert T and FrankSmallwood. 1980. The Politics of Policy
Implementation, St. Martin Press, New York.
Bappenas, 2011. Strategi Nasional Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi.
Jakarta: Bappenas.
Wahab, Solichin A. 1991. Analisis Kebijakan dari Formulasi ke Implementasi
Kebijakan, Bumi Aksara Jakarta.
Wibawa, Samodra. 1994. Kebijakan Publik, Intermedia Jakarta.
Winarno, Budi. 2002. Teori dan Proses Kebijakan Publik, Media Pressindo
Yogyakarta.
65
COVER BELAKANG
Download