pembinaan keluarga sakinah dan nilai

advertisement
Nurlaili, Pembinaan Keluarga Sakinah dan Nilai-nilai Positif Di dalamnya
254
PEMBINAAN KELUARGA SAKINAH DAN NILAI-NILAI POSITIF
DI DALAMNYA
Nurlaili
Abstraction; This article told about well family and how to apply it in our
life. It is interested to discuss since there are many hardness in family right
now which lead to broken home. Well family is a home where there is calm,
love and affection feelings. If those feeling always appear in our home, we
feel heaven in our home. To achive it, we must have planning organizing
directing and controlling in our house. Those steps must be applied by
moeslim people in order to get well family.
Kata Kunci: Pembinaan, Keluarga, Sakinah
A. PENDAHULUAN
Allah telah menciptakan manusia yang menghuni bumi ini dalam bentuk dua
jenis, yaitu laki-laki dan perempuan. Dari sana pulalah, Allah menanamkan benih
cinta dan kasih sayang antara dua makhluk ini, sehingga dari hubungan kedua jenis
manusia ini lahirlah anak cucu yang akan melanjutkan kehidupan untuk memelihara
bumi sampai akhir zaman.
Agar hubungan kedua anak manusia itu senantiasa sehat dan terjaga, Islam
telah mengaturnya secara lugas dan lengkap dalam Al-qur'an al-karim dan hadits,
dengan jalan memasuki satu babak baru dalam kehidupan yaitu pemikahan.
Pemikahan adalah peristiwa sakral yang paling dikenang dalam perjalanan hidup
seseorang.
Pernikahan menurut pandangan Islam adalah penyatuan hati-hati yang suci,
sebagai landasan bagi tumbuhnya rasa tentram, tenang dan aman serta merasa
terlindungi.
Menikah juga merupakan momen penuh berkah yang diharapkan oleh setiap
insan, mengikat janji dengan nama Allah, menyatukan langkah menuju rumah
tangga Islami, dengan pendamping hidup pilihan. Lalu timbul pertanyaan, apa
sebenarnya yang dimaksud dengan rumah tangga islami itu? Apakah rumah tangga
yang dihuni oleh anggota keluarga yang semuanya beragama Islam? Apakah lantaran
rumahnya dihiasi dengan stiker dan gambar-gambar perjuangan Islam? Lalu
254
Nurlaili, Pembinaan Keluarga Sakinah dan Nilai-nilai Positif Di dalamnya
255
bagaimana indikasinya?
Rumah tangga Islami adalah rumah yang di dalamnya terdapat sakinah,
mawaddah dan rahmah (perasaan tenang, cinta dan kasih sayang). Perasaan itu
senantiasa melingkupi suasana rumah setiap harinya. Seluruh anggota keluarga
merasakan suasana surga di dalamnya. Baiti jannati, demikian slogan mereka
sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.
Hal itu terjadi karena Islam telah mengatur berbagai aspek kehidupan
manusia, baik yang berskala individu, kelompok, bahkan antar negara sekalipun.
Demikian pula dalam keluarga, terdapat peraturan-peraturan baik rinci maupun
global yang mengatur individu maupun keseluruhannya sebagai satu kesatuan.
Inilah ciri khas rumah tangga islami. Antar anggota keluarga bersama-sama
untuk berkhidmat pada aturan Allah SWT. Mereka bergaul dan bekerja sama di
dalamnya untuk saling menguatkan dalam beribadah kepada-Nya.
Membentuk rumah tangga islami, merupakan tugas berat setiap anggota
keluarga. Menurut Cahyadi Takariawan, paling tidak ada sepuluh konsekuensi dasar
yang menjadi landasan bagi tegaknya rumah tangga islami, yakni: didirikan atas
landasan ibadah, terjadi internalisasi nilai-nilai islam secara kaffah, terdapat
qudwah, yang nyata, penempatan posisi masing-masing anggota keluarga harus
sesuai dengan syari'at, terbiasa tolong menolong dalam menegakkan adab-adab
Islam, rtunah tangga harus kondusif bagi terlaksananya peraturan Islam, tercukupi
kebutuhan materi secara wajar, menghindari hal-hal yang tidak sesuai dengan
semangat Islam, berperan dalam pembinaan masyarakat dan terbentengi dari
pengaruh lingkungan yang buruk.
Untuk itu, menciptakan sakinah, mawaddah dan rahmah dalam sebuah
keluarga bukanlah hal sepele, meski tak layak kiranya kita mempersulit diri untuk
mewujudkannya. Memang banyak unsur harus dipersiapkan dan diperhatikan untuk
mencapai itu semua. Islam menetapkan berbagai patokan dan pola yang harus
dilalui, direncanakan dan dilaksanakan sejak memilih jodoh, menentukan siapa
yang boleh dikawini dan yang tidak boleh, penilaian terhadap calon suami dan istri,
penetapan wali dan akad, yaitu ijab qabul sampai kepada syarat dan rukun nikah,
mahar, nafkah dan lain sebagainya.
Nurlaili, Pembinaan Keluarga Sakinah dan Nilai-nilai Positif Di dalamnya
256
Berbagai ayat dan haditspun menunjukkan bagaimana suami dan istri
harus menjaga keutuhan rumah tangga serta selalu mengontrol jalannya
kehidupan keluarga dengan penuh kasih sayang, sabar dan penuh tanggung
jawab. Bahkan jika terjadi perselisihan, Islam memberikan petunjuk bagaimana
mengatasi dan menyelesaikannya, sehingga rumah tangga tersebut akan tetap
utuh dan berjalan pada rel yang dikehendaki oleh Allah.
Dari ketentuan-ketentuan tersebut di atas, nyatalah bahwa prinsip
manajemen moderen juga diterapkan dalam ajaran perkawinan islam, yaitu
adanya planning dalam pemikahan, organizing, directing, sampai kepada
controlling rumah tangga. Itulah diantaranya langkah-langkah yang harus
diterapkan oleh keluarga muslim untuk mewujudkan tujuan pernikahan, yakni
terciptanya tata kehidupan sakinah, mawaddah dan rahmah dalam keluarga.
B. PEMBAHASAN
a) Makna Sakinah
Kata sakinah terambil dari akar kata sakana, dan berdasarkan hasil
telaah yang telah dilakukan, kata sakinah dalam Al-Qur’an disebutkan
sebanyak 69 kali dalam bentuk derivasi yang berbeda, terkadang disebutkan
dalam bentuk fi'il madhi, mudhori', amr, isim mashdar, isim fa'il, sifat, isim
makan dan isim maf ul
Kata sakana yang berarti diam atau tenangnya sesuatu setelah bergejolak.
Itulah sebabnya mengapa pisau dinamakan sikkin karena sikkin adalah alat yang
menjadikan binatang yang disembelih tenang, tidak bergerak, setelah tadinya ia
meronta.
Sedangkan menurut kajian semantik Arab, sakana memiliki arti althuma'ninah yang berarti ketenangan dan al-rahmah (kasih sayang).15 M. Rasyid
Ridho mengemukakan bahwa sakinah adalah sikap jiwa yang timbul dari suasana
ketenangan dan lawan dari kegoncangan batin dan ketakutan. Sedangkan Raqib alIsfahan (ahli fiqh dan tafsir) mengartikan sakinah dengan tidak adanya rasa gentar
dalam menghadapi sesuatu.
Mengacu kepada pengertian sakinah yang disebutkan dalam al-Qur’an
Nurlaili, Pembinaan Keluarga Sakinah dan Nilai-nilai Positif Di dalamnya
257
sebanyak 69 ayat, mempunyai makna yang hampir sama dengan Q.S al-Rum (30):21
dan al-A'raf (7): 189 adalah :
1.
Sakinah adalah ketenangan batin yang diturunkan (barasal) dari Allah SWT.
2.
Ketenangan tersebut hanya diberikan kepada Rasul dan orang-orang beriman
dan orang yang senantiasa bertaqwa kepada Allah.
3.
Ketenangan tersebut merupakan kemantapan hati yang terjaga dari pengaruh
negatif, sehingga seseorang merasakan suatu kebahagiaan tertentu (rasa
sukses)
Dari berbagai ungkapan di atas, dapat dipahami bahwa sakinah adalah
ketentraman, ketenangan, kedamaian, rahmat dan thuma'ninah yang berasal dari
Allah dan secara khusus diberikan kepada orang-orang beriman pada saat
menghadapi kesulitan.
Maka makna sakinah dalam suatu pernikahan adalah ketentraman jiwa dan
ketenangan batin yang diperoleh sepasang suami isteri setelah keduanya memasuki
gerbang pemikahan. Sebab, sesudah perkawinan berlangsung Allah akan
memperlihatkan kekuasaan-Nya, yaitu melimpahkan perasaan cinta kasih dan
saling menyayangi dan membutuhkan antara suami istri sehingga akan muncul
ketentraman jiwa yang dalam bahasa qur'an disebut sakinah.
B. DEFINISI KELUARGA SAKINAH
Dari arti-arti etimologi tersebut di atas, kita memperoleh gambaran yang
jelas bahwa keluarga sakinah yang dikehendaki oleh fitrah manusia dan agama
adalah keluarga yamg dibina atas perkawinan yang syah, mampu memenuhi hajat
hidup spiritual dan material secara layak dan seimbang, diliputi suasana kasih
sayang antara anggota keluarga dan lingkungannya dengan selaras, serasi serta
mampu mengamalkan, menghayati dan memperdalam nilai-nilai keimanan,
ketaqwaan dan akhlak mulia.
Merujuk kepada pemyataan di atas, untuk membentuk keluarga sakinah
haruslah diawali dengan jalinan hubungan yang syah yakni melalui pemikahan.
Rumah tangga yang terbina melalui pernikahan yang syah, akan Allah limpahkan
rahmat-Nya berupa cinta kasih sejati antara anggota keluarga, dan Allah pun
Nurlaili, Pembinaan Keluarga Sakinah dan Nilai-nilai Positif Di dalamnya
258
inenjanjikan ketentraman antara dua insan suami istri tersebut, bahkan lebih dari itu
dengan pernikahan akan terpelihara kehormatan dan pada hakekatnya merupakan
manifestasi ketaatan seorang hamba terhadap aturan Allah dan sunah Nabi.
Berikut akan diungkapkan ciri-ciri keluarga sakinah, diantaranya adalah :
1.
Suasana kehidupan keluarga yang damai, tenang dan Baling percaya
mempercayai, bebas dan kesukaran dan bencana sera sejahtera.
2.
Suasana kehidupan yang tercipta dalam keluarga dimaksud tumbuh dari rasa
kasih sayang antara sesama anggotanya yang bersumber dan keimanan kepada
Allah SWT.
3.
Karena keimanan tersebut maka Allah SWT menumbuhkan sakinah dalam
kehidupan berkeluarga, yaitu berupa kemantapan dan ketenangan batin.
Untuk memperoleh ketenangan batin yang hakiki, hendaknya setiap manusia
selalu mengingat Allah di setiap waktu dan tempat dan di setiap sendi kehidupan.
Hubungan antara hal itu makin diperkuat dengan hasil penelitian biokimia oleh
Prof. Dr. Muhammad Mahmud Abdul Kadir dalam bukunya Biologi Iman. la
menyirnpulkan bahwa di dalam diri manusia terdapat kelenjar-kelenjar tertentu yang
secara mekanis dapat mempengaruhi sikap dan suasana hati seseorang. Dan
suasana itu akan twnbuh jika seseorang itu merasa dirinya terlindungi, tentram,
bahagia dan damai serta saling mencintai. Namun dalam kadar yang paling puncak,
perasaan tersebut hanya mungkin terpenuhi bila hal itu diproyeksikan dalam bentuk
iman kepada Allah.
Untuk itu dapat dipahami bahwa terdapat hubungan yang berarti antara
unsur-unsur kimiawi yang ada dalam tubuh manusia dengan keimanan pada Allah
SWT. Oleh sebab itulah dapat dilihat adanya hubungan antara keluarga sakinah
dengan tingkat keimanan seseorang. Tingkat keimanan seseorang dapat dilihat
melaui tingkah laku dan sikapnya terhadap perintah Tuhan. Maka keluarga sakinah
adalah suatu potret tentang keluarga yang selalu berada dalam koridor hukum-Nya
dan setiap anggota keluarga senantiasa meniti kehidupan dengan aturan-aturan-Nya.
Nurlaili, Pembinaan Keluarga Sakinah dan Nilai-nilai Positif Di dalamnya
259
C. PEMBINAAN DAN NILAI POSITIF DALAM KELUARGA SAKINAH
Al-Quran melukiskan jalinan rasa cinta dan ikatan antara suami istri
dengan kata-kata yang indah dan gaga bahaga yang apik dalam Q.S. al-Rum
(30):.21. Dimana hakekat yang terkandung dalam jalinan cinta tersebut adalah
mawaddah dan rahmah sebagai suatu ketentraman (sakinah) yang dibutuhkan oleh
masing-masing individu (pria dan wanita). Maka dan itu hanya dengan
pasangannyalah is dapat menikmati manisnya cinta dan indahnya kasih sayang serta
kerinduan tatkala jauh dan pasangannya.
Itulah antara lain firman Allah yang memberikan identifikasi tentang prmsip
pembinaan rumah tangga yang sakinah dalam Islam. Ayat tersebut secara tersirat
dan tersurat menjelaskan bahwa rumah tangga yang lebih berhasil dalam arti yang
mendatangkan perasaan tenang, tentram dan sakinah adalah setelah proses
pemikahan itu berlangsung.
Setiap manusia mengetahui bahwa mereka mempunyai perasaan tertentu
terhadap lawan jenisnya. Dan perasaan-perasaan itu timbullah saling
keterkaitan dan akhirnya terjadilah perkawinan antara laki-laki dan perempuan
itu. Dalam sebuah perkawinan itulah laki-laki menganggap hanya istrinyalah
wanita yang paling cantik dan baik, sedang bagi wanita itu, hanya suaminyalah
laki-laki yang menarik hatinya.
Lebih dan itu, wanita adalah sumber ketenangan, ketentraman dan
stabilitas mental bagi laki-laki. la juga berperan sebagai pelindung bagi putraputrinya dari kondisi ketidakacuhan dan keterasingan. Bahkan wanita juga
dainggap sebagai sumber kasih, cinta dan kasih sayang yang senantiasa
memancar untuk suami dan putra-putnnya.
Semuanya ini merupakan modal yang paling berharga dalam membina
rumah tangga. Dengan adanya rumah tangga yang bahagia, jiwa dan pikiran
akan menjadi tentram, tubuh dan hati menjadi tenang, kehidupan dan
penghidupan menjadi mantap, tak terkecuali kegairahan hiduppun akan muncul
dan pads akhirnya ketentraman secara menyelunrh akan tercapai.
Dari ayat tersebut di atas (al-rum (30):21), Mahmud Syaltut dalam
tafsirnya mengemukakan bahwa kebahagiaan hidup suami istri itu dilandaskan
Nurlaili, Pembinaan Keluarga Sakinah dan Nilai-nilai Positif Di dalamnya
260
atas tiga unsur, ketentraman, kecintaan dan kasih sayang. 2' Ungkapan ini
mempunyai nilai tersendiri dan menuntut adanya ketulusan dan pemeliharaan
hati antara suami istri sehingga keluarga sakinah yang menjadi cita-cita
perkawinannya, akan terwujud.
Sedangkan menurut Quraish Shihab, ada empat unsur yang mana
antar keempat unsur ini saling berkaitan satu sama lain dan jaringan keterkaitan
inilah yang harus dimiliki oleh sepasang suami istri untuk mengantarkannya
kepada rumah tangga yang sakinah, atau diistilahkan oleh beliau sebagai tali
temali, ruhani perekat pernikahan, yaitu cinta, mawaddah, rahmah dan amanah
Allah.
Kata cinta tentu sangat akrab dengan pasangan suami istri yang telah
melangsungkan pemikahan. Sebab atas dasar inilah seorang suami dan istri berani
memutuskan untuk hidup bersama.
Diantara tanda cinta itu adalah:
1. Tunduk pada perintah orang yang dicintai, bahkan lebih dari itu adalah penyatuan
kehendak orang yang mencintai dan dicintai.
2. Bersabar menghadapi kebiasaan, ucapan, dan tindak tanduk orang yang dicintai.
3. Mendengarkan perkataan orang yang dicintai.
4. Mau berkorban demi menyenangkan orang yang dicintai.
Tanda-tanda tersebut di atas hendaklah kita perhatikan dan kita evaluasi
apakah tetap berlangsung sampai beberapa tahun berumah tangga apakah hanya di
tahun-tahun pertama saja? Dengan suasana penuh cinta tersebut, terciptalah perasaan
sama-sama senang dan meredam emosi yang negatif sehingga kehidupan
keluarga membawa kebaikan dan ketenangan bagi anggota keluarga dan
lingkungannya.
Mawaddah tersusun dari huruf-huruf m-w-d-d, yang maksudnya berkisar
pada kelapangan dan kekosongan. Mawaddah adalah kelapangan dada dan
kekosongan jiwa dari kehendak yang buruk. Mawaddah adalah cinta plus,
demikian Quraish Shihab mengibaratkannya. Sebab seseorang yang diliputi
hatinya dengan mawaddah, tidak akan memutuskan hubungan dengan pasangannya,
Nurlaili, Pembinaan Keluarga Sakinah dan Nilai-nilai Positif Di dalamnya
261
dikarenakan hatinya akan lapang dan kosong dari keburukan sehingga pintu hatinya
akan senantiasa tertutup untuk menerima keburukan dari pasangannya.
Dengan kata lain, mawaddah akan mampu membuat seseorang menerima
dengan ikhlas segala kekurangan dan keburukan yang ada pada diri pasangannya.
Tentu saja kondisi kejiwaan ini terbentuk sejak awal, apakah niatnya menikah.
Sebab niat yang suci akan berpengaruh pada terhadap apa yang ada di dalam hatinya
dan dari sanalah muncul mawaddah.
Menurut Ibrahim al-Biqa'i, mawaddah adalah cinta yang pengaruhnya
terlihat pada perlakuan, seperti tampaknya kepatuhan akibat rasa kagum dan hormat
pada seseorang.
Sebagaimana mawaddah, kata rahmah yang selalu dihubungkan dengan
pemikahan, juga terambil dari ayat 21 dalam surat al-rum. Rahmah adalah kondisi
psikologis yang muncul di dalam hati akibat menyaksikan ketidakberdayaan
sehingga mendorong yang bersangkutan untuk memberdayakannya2' Oleh sebab itu
dalam kehidupan berumah tangga masing-masing pasangan suami istri hendaknya
sating melengkapi dan membantu satu sama lain, karena selayaknya mereka
menyadari bahwa betapapun hebatnya seseorang is pasti mempunyai kekurangan
begitu juga sebaliknya bagaimanapun lemahnya seseorang atau serba kekurangan
sekalipun pastilah terdapat unsur kelebihannya.
Satu tali pernikahan lagi yang tak kalah pentingnya adalah amanah.
Amanah adalah sesuatu yang diserahkan kepada pihak lain dan selanjutnya
menjadi tanggung jawab orang yang diamanati itu. Demikian juga dengan
sualni istri, istri adalah amanah di pelukan suami dan suami pun amanah di
pangkuan istrinya.
Karena adanya amanah dari berbagai pihak pulalah (suami, istri dan
keluarga masing-masing), seorang laki-laki dan perempuan bersedia hidup bersama
dengan segala perbedaannya. Menikah berarti slap menerima persmaan dan
perbedaan, kesenangan dan penderitaan, kecocokan dan percekcokan, kaya dan
miskin dan sebagainya.
Penafsiran M. Said Tantowi dalam tafsimya al-Wash menjelaskan bahwa
mawaddah berarti cinta (mahabbah) sedang rahmah berarti santun atau belas
Nurlaili, Pembinaan Keluarga Sakinah dan Nilai-nilai Positif Di dalamnya
262
kasihan (ra'fah). Tafsiran senada diungkapkan oleh Ibnu Katsir, untuk itu seorang
laki-laki meminang wanita ada kalanya dengan berdasarkan cintanya dan ada
kalanya dengan belas kasihannya, yang mana keduanya ini sangat dibutuhkan dalam
berumah tangga.
Zuhaili dalam tafsimya menjelaskan bahwa Allah menumbuhkan perasaan
mawaddah kepada dua jenis laki-laki dan perempuan (suami istri) yang berarti
mahabbah dan rahmah, yaitu adanya syafagah (belas kasib) dalam dua insan
tersebut sehingga antara satu dengan lain saling tolong menolong dalam
mengarungi bahtera nunah tangga hingga sakinah, thuma'ninah dan khudu' dalam
sebuah keluarga akan terwujud sempurna.
Sedangkan menurut Mujahid dan Ikrimah kata mawaddah adalah sebagai
ganti dari kata nikah (bersetubuh, bersenggama) dan kata rahmah adalah sebagai
kata ganti dari anak. Jadi menurut Mujahid dan Ikrimah, maksud perkataan Tuhan
"Bahwa Dia menjadikan antara suami dan istri rasa kasih sayang ialah adanya
perkawinan sebagai yang disyari'atkan Tuhan antara seorang laki-laki dengan
seorang wanita dari jenisnya sendiri, yaitu jenis manusia dan akan terjadilah
persenggatnaan yang menyebabkan adanya anak-anak dan keturunan".
Dari beberapa penafsiran tentang mawaddah dan ralunah di atas, penulis
lebih cenderung kepada penafsiran mawaddah dan rahmah sebagai jiwa yang suci
dan bersth yang siap menerima dan menyempumakan segala kekurangan yang ada
pada pasangannya. Dengan adanya ini, semua masalah yang timbul mudahmudahan dapat dihadapi oleh setiap pasangan dan perkawinan akan menjadi
sakinah, sebab suami mampu bersikap baik terhadap kekurangan dan keburukan istri
demikian juga sebaliknya.
Untuk itu jadikanlah perkawinan sebagai ladang amal. Niatkanlah menikah
sebagai jembatan untuk mencapai ridho Allah. Suami yang sibuk menyayangi dan
membahagiakan istrnya lahir dan batin, niscaya akan mendapatkan balasan
setimpal dari Allah dan istrinya. Demikian juga istri yang ingin disayangi oleh
suami hendaklah memuliakan suaminya dengan ikhlas, Allah pun akan melembutkan
hati sang suami untuk menyayanginya dengan penuh keikhlasan pula.
Dari sini kita dapat memahami bahwa perkawinan menurut pengertian Al-
Nurlaili, Pembinaan Keluarga Sakinah dan Nilai-nilai Positif Di dalamnya
263
Qur'an bukanlah suatu (yang terlihat mata) proses berkumpulnya pria kepada wanita
saja, akan tetapi perkawinan adalah suatu proses pembuangan prediket
individualitas secara psikologis dan organis dengan mempertemukan secara
sempurna antara suami istri agar bercampur, saling mempngaruhi dan memberi
pengaruh, berhubungan dan mengikat seluruh perasaan jiwa dan raganya untuk
menyempurnakan keutuhan antara mereka berdua.
Lewat proses yang demikian itu, dimaksudkan agar kedua suami istri
menjadi dasar kelangsungan hidup dan pengembangbiakan anak manusia. Sebab
berkembangnya manusia itu sebagai hasil atau satu kesatuan yang saling
melengkapi antara suami istri. Sebagaimana Allah berfirman dalam Q.S. al-A'raf
(7) :189.
Dalam ayat ini tersirat makna bahwa sernua manusia yang tersebar di muka
bumi ini berasal dan Adam dan makna liyaskuna pada ayat ini menurut Ibnu Katsir
adalah, Allah menjadikan Hawa dari tubuh Adam supaya ia jinak, tenang dan
senang kasih kepadanya. Adam tak lengkap tanpa istri dan istri tak lengkap tanpa
suami.
Penafsiran senada juga terdapat dalam tafsir Jalalain, dimana liyaskuna
pada penciptaan istri untuk suami adalah bertujuan agar dia merasa senang hidup
dengan kasih sayang.32 Untuk itu terdapat penafsiran senada dalam QS al-Rum
(30):21 dan al-A'raaf (7):189, dimana ketenangan, ketentraman, suasana sejuk
dalam sebuah keluarga akan terwujud dalam pernikahan yang dibangun diatas
landasan syari'at.
Dari sebuah keluarga sakinah ini, dapat diambil nilai-nilai positff bagi
kehidupan manusia, diantaranya adalah :
1. Rurnah tangga/keluarga sakinah memberikan kesempatan kepada setiap
anggotanya
untuk
melaksanakan
ibadah
secara
maksimal
dan
mengintemalisasikan nilai-nilai ajaran islam secara komprehensif.
2.
Setiap anggota keluarga dapat mengetahui hak dan kewajiban masing-masing
berdasarkan syari'at untuk kemudian melaksanakannya.
3.
Akan terbangun sikap yang kondusif dalam hal sating tolong menolong dalam
menjalankan peraturan Islam.
Nurlaili, Pembinaan Keluarga Sakinah dan Nilai-nilai Positif Di dalamnya
4.
264
Setiap anggota keluarga sakinah mempunyai benteng yang kokoh untuk melawan
semangat-semangat yang bertentangan dengan semangat Islam.
5.
Selalu merasakan suasana ketentraman dan kesejukan dihati masing-masing
anggota keluarga yang berdampak pada psikologis individu yang baik.
6.
Dan keluarga sakinah akan muncul generasi yang kuat baik dalam material
maupun spiritual. Anak-anak shalih yang akan menyejukkan hati orang tua akan
lahir melalui keluarga sakinah.
7.
Selain memberi manfaat bagi anggotanya, keluarga sakinah dapat juga
bennanfaat bagi lingkungan dan masyarakat sekitarnya , setidaknya memberi
contoh yang baik.
III. SIMPULAN
Pernikahan adalah peristiwa sakral dalam kehidupan setiap umat manusia,
dimana pemikahan bukan hanya melegitimasi suatu hubungan kasih sayang antara
pria dan wanita tapi jauh lebih mulia dari semua itu, pemikahan dalam Islam adalah
bentuk ketaatan menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya serta melestarikan
kekhalifahan manusia di muka bumi, diantaranya dengan menikah.
Bentuk pernikahan yang dikehendaki oleh Allah adalah pemikahan yang
dibangun atas dasar-dasar syan'at Islam, yang mana Islam telah menggambarkan
dan membimbing bagaimana proses pemikahan sejak awal dilakukan. Memilih
pasangan yang tepat adalah langkah awal yang hares benar-benar diperhatikan.
"Pilihlah wanita karena agamanya", demikian kurang lebih Rasul mengisyaratkan
jika langkah awal ini sudah tepat kemumgkinan untuk membina keluarga sakinah
bersama pasangan akan terwujud.
Terwujudnya keluarga sakinah adalah dambaan setiap insan. Dan dari
keluarga sakinah inilah nilai-nilai luhur dapat kita petik baik oleh anggota
keluarga maupun oleh masyarakat sekitamya. Hidup di tengah keluarga sakinah,
ajaran, syari'at dan peraturan-peraturan Islam akan mudah diterapkan dalam
kehidupan nyata, sebab bagaimanapun situasi dan kondisi sangat mendukung untuk
terjadinya bimbingan, pengawasan dan arahan oleh setiap anggota keluarga.
Termasuk, suasana kedamaian dalam keluarga sakinah yang berdampak
Nurlaili, Pembinaan Keluarga Sakinah dan Nilai-nilai Positif Di dalamnya
265
pada pembentukan psikologis yang baik semua individu, anak-anak shalih yang
akan meramaikan rumah tangga serta menjadi keluarga ideal dimata Allah dan
masyarakat sekitar juga merupakan nilai-nilai positif yang dapat kita ambil dari
keluarga sakinah.
Sehingga dalam keluarga sakinah akan kita dapati nilai-nilai ajaran Islam
yang benar-benar dijadikan pondasi dan dasar dalam bertingkah laku dan
beraktivitas. Suasana surga akan kita dapati didalam keluarga sakinah ini, untuk itu
akan terungkap kata-kata indah dan setiap anggota keluarga, baiti jannati.
Penulis; Nurlaili, M.Pd.I adalah Dosen Tetap pada Jurusan Tarbiyah STAIN
Bengkulu
DAFTAR PUSTAKA
Amin, Rusli, Rumahku Surgaku, Sukses Membangun Kehuarga Islami, alMawardi Prima, Jakarta, 2002.
Bahreisy, Salim dan Bahreisy, Said, Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsir, Bina
llmu, Surabaya, Jilid.III, 1993,
al-Bagy, Mahmud Fuad, al Mu jam al-Mufahros li al fad:i al-Qur'an alKarim, Maktab al-dahlan, Indonesia, t.t.
Depag RI, al-Our'an dan Tafsirnya, PT. Citra Effhar, Semarang, Jilid VII, t.t.
Depag RI, al-Our'an dan Terjemahnya, Gema Risalah Press,
Bandung, 1992.
Depag RI, Modul Pembinaan Agama don Keluarga, Direktorat Jend. Bimbingan
Masyarakat Islam dan Penyelenggaraan Haji Proyek Peningkatan
Kehidupan Keluarga Sakinah, 2001.
Depag RI, Modul Pembinaan Keluarga Sakinah, Direktorat Jend. Bimbingan
Masyarakat dan Penyelenggaraan Haji Proyek Penmgkatan Kehidupan
Keluarga Sakinah, 2001.
Djalaluddin, Konsep Keluarga Sakinah (Suatu altematif Membangun Keluarga
Bahagia Sejahtera), Jurnal Studi dan Informasi Islam Al-Fatah-1,
LAIN Raden Fatah, Palembang.
Nurlaili, Pembinaan Keluarga Sakinah dan Nilai-nilai Positif Di dalamnya
266
Lembaga Dar al-Tauhid, Kiprah Murlimah dalam Keluarga Muslim, Mizan,
Bandung, 1992.
al-Mahali, Jalaludin dan al-Suyuti, Jalaludin, Terjemah Tafsir Jalalain, Sinar
Baru, Bandung, Jilid. II, 1990.
Muhammad, Abi al-Fadh Jamal al-Din, Luan al-Arab, Dar al-Sadir, Beirut, Jilid
XII1,t.t.
Shihab, Quraish, Wawasan Al-Qur'an, Mizan, Bandung, 1999.
Syaltut, Mahmud, Tafsir al-Our 'an al-Karim:l'endekatan Syallut dalam
Menggali Lsensi Al-Our'an, Diponegoro, Banding, 1990.
Tantawi, M. Said, at-Tafsir al-Wasit al-Our'an al-Karim, Jilid 21, al-Qohiro,
1998.
al-Zuhaily, Wahbah, al-Tafsir al Munir fr al-Agidah wa al-Syariah wa al
Manhaj, Dar al-Fikr al-Ma'asyir, 1991.
Download