4.1.2 Deskripsi Hasil Belajar Setelah

advertisement
PENERAPAN METODE SQ3R DALAM MENINGKATKAN
HASIL BELAJAR MATERI HIMPUNAN PADA SISWA KELAS
VII SMP NEGERI 1 PULAU HARUKU
OLEH
HALAWATIA TUASIKAL
DIBIMBING OLEH
Zumrotus Sya’diyah, S.Si, M.Si
Selaku pembimbing I
Andy Muhammad Ayyub, M. Pd
Selaku pembimbing II
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (F-KIP)
UNIVERSITAS DARUSSALAM AMBON
2013
I. PENDAHULAUN
LATAR BELAKANG



Keberhasilan siswa dalam meningkatkan hasil belajar, bukan saja
pesan guru tetapi didukung oleh metode pembelajaran yang
menimbulkan minat belajar, keingintahuan siswa terhadap apa yang
dipelajari. Proses belajar mengajar akan berjalan dengan efektif bila
terjalin interaksi antara guru dan siswa melalui metode
pembelajaran, (Arsyad, 1996:50).
Berdasarkan observasi yang telah peneliti lakukan menunjukkan
bahwa hasil belajar matematika siswa masih rendah (nilai rata-rata
kelasnya 5,5) dari nilai KKM yang telah ditetapkan. Kurikulum yang
digunakan di sekolah ini yaitu KTSP, namun paradigma lama dimana
guru merupakan pusat kegiatan belajar di kelas masih
dipertahankan dengan alasan pembelajaran seperti ini adalah yang
paling praktis dan tidak menyita banyak waktu. Materi yang peneliti
pilih pada penelitian ini adalah himpunan, karena pada materi ini
diperlukan kemampuan visualisasi yang tinggi dan banyak dijumpai
pada kehidupan sehari-hari.
Dari uraian latar belakang diatas maka penulis ingin melakukan penelitian
dengan judul “Penerapan Metode SQ3R Dalam Meningkatkan Hasil Belajar
materi himpunan Pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Pulau Haruku”.
RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan urain latar belakang diatas, maka yang
menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah: “Apakah
Dengan Penerapan Metode SQ3R Dapat Meningkatkan Hasil
Belajar materi himpunan Pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 1
Pulau Haruku?”
TUJUAN PENELITIAN
Berdasarkan masalah di atas, maka tujuan
penelitian ini adalah :“untuk mengetahui manfaat
penerapan metode SQ3R dalam upaya meningkatkan
hasil belajar siswa pada materi himpunan”.
MANFAAT PENELITIAN
➣ Sumber informasi bagi guru matematika
umumnya dan khususnya guru matematika pada
SMP Negeri 1 Pulau Haruku agar dapat menentukan
metode pembelajaran yang baik dalam usaha
meningkatkan mutu pendidikan matematika.
➣ Melalui penerapan metode SQ3R siswa mampu
memecahkan berbagai persoalan matematika.
➣ Merupakan pengalaman yang berharga bagi
penulis dalam menyusun karya ilmiah khususnya
masalah pendidikan.
PENJELASAN ISTILAH
1. Agar tidak terjadi salah presepsi ataupun menimbulkan penafsiran
kata atau kalimat dalam penulisan ini, maka perlu diuraikan
beberapa istilah sebagai berikut:
2. SQ3R
SQ3R adalah S singkatan dari survey (memeriksa atau meneliti
atau mengidentifikasi seluruh teks), Q adalah Question (menyusun
daftar pertanyaan yang relevan dengan teks) dan 3R singkatan
dari Read (membaca teks secara aktif untuk mencari jawaban atas
pertanyaan-pertanyaan yang telah tersususn) recite (menghafal
setiap jawaban yang telah ditemukan) review (meninjau ulang
seluruh jawaban atas pertanyaan yang tersususun), (Syah, 2007 :
130).
3. Himpunan
Himpunan adalah kumpulan beberapa benda atau objek yang
didefenisiskan dengan jelas,(Pattiapon, 2006:01).
4. Hasil Belajar
Hasil balajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa
setelah ia menerima pengalaman belajarnya, (Sudjana, 2009:22).
II. TINJAUAN PUSTAKA
 Pengertian
Belajar
 Hasil Belajar
 Metode SQ3R
 Kelebihan Dan
Kekurangan
 Ruang Lingkup Materi
 Kerangka Berpikir
III. METODE PENELITIAN
TIPE PENELITIAN
Sesuai dengan karakteristik dan tujuan penelitian ini, maka penelitian ini merupakan
penelitian deskriptif kualitatif dengan tipe penelitian tindakan kelas (Class Action
Research).
TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN


Tempat
Penelitian dilaksanakan pada kelas VII1 SMP Negeri 1
Pulau Haruku
Waktu penelitian
Penelitian dilaksanakan pada tanggal 15 Februari
sampai dengan tanggal 15 Maret 2013
SUBJEK PENELITIAN
Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII1,
SMP Negeri 1 Pulau Haruku yang terdiri dari 25
siswa.
INSTRUMEN PENELITIAN
Adapun instrumen yang peneliti gunakan dalam
penelitian ini adalah :
 Instrumen tes
 Lembar observasi
 a. Siswa
 b. Guru
 Angket
PROSEDUR PENELITIAN
Sesuai dengan jenis penelitian yang dipilih, yaitu penelitian
tindakan, maka penelitian ini menggunakan model
penelitian tindakan kelas dengan menggunakan siklus I dan
Siklus II, dimana kedua siklus saling berkaitan. Kegiatan
disetiap siklusnya dilaksanakan sesuai dengan perubahan
yang dicapai dengan beberapa kali pertemuan. Setiap siklus
meliputi planning (rencana), action (tindakan), observation
(pengamatan), dan reflection (refleksi). Langkah pada siklus
berikutnya adalah perncanaan yang sudah direvisi,
tindakan, pengamatan, dan refleksi. Sebelum masuk pada
siklus 1 dilakukan tindakan pendahuluan yang berupa
identifikasi permasalahan.
TEKNIK ANALISA DATA

Data yang diperoleh, diolah dan dianalisis
dengan menggunakan analisis data
kuantitatif dan analisis data kualitatif.
IV. HASIL PENELITIAN
4.1 Deskripsi Hasil Penelitian
4.1.1deskripsi Hasil Tes Awal
Diperoleh data kualifikasi tingkat penguasaan siswa yang berbedabeda. Data kualifikasi tingkat penguasaan siswa materi himpunan
pada tes awal ditunjukan pada tabel 4.1
Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Dan Persentase Tes Awal Kemampuan
Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Pulau Haruku.
Tingkat
KKM
≥ 60
< 60
Jumlah
Frekuensi
Persentase
Keterangan
5
20
25
20 %
80 %
100 %
Tuntas
Tidak tuntas
Berdasarkan tabel 4.1 di atas, menunjukan bahwa oleh 5 siswa
(20 %) dikatakan tuntas dan 20 siswa (80 %) dikatakan tidak
tuntas.
4.1.2 Pelaksanaan Tindakan
Siklus I (2x pertemuan)
Siklus pertama terdiri dari 4 tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan,
pengamatan (observasi) dan refleksi. Pokok bahasan yang diajarkan pada
siklus pertama ini adalah memahami pengertian dan notasi himpunan serta
penyajiannya.
Tingkat
KKM
≥ 60
Aspek Afektif siswa
Frekuensi
Persentase
Keterangan
Tuntas
80%
< 60
5
Tidak tuntas
20%
Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa kemampuan afektif siswa pada siklus I
dengan tuntas diperoleh oleh 20 Siswa (80%), dan tidak tuntas diperoleh oleh 5
siswa (20%).
20
Hasil lembaran observasi aspek psikomotor siswa dapat dilihat pada
berikut ini :
Tingkat
KKM
60
Aspek Psikomotor siswa
Frekuensi
Persentase
16
64%
9
36%
Keterangan
Tuntas
Tidak tuntas
tabel
Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa kemampuan psikomotor
siswa pada siklus I dengan tuntas terdapat 16 siswa (64%), dan tidak
tuntas diperoleh 9 siswa (36%).
Disamping melakukan observasi terhadap siswa, peneliti juga melakukan
analisis hasil belajar pada aspek kognitif siswa pada siklus I untuk lebih
jelasnya dapat dilihat pada tabel 4.4 berikut :
Tingkat
KKM
60
Aspek kognitif siswa
Frekuensi
Persentase
18
72%
7
28%
Keterangan
Tuntas
Tidak tuntas
Dari tabel di atas jika dikaitkan dengan kriteria ketuntasan minimal (KKM)
dengan ketuntasan belajar maka hasil belajar yang diperoleh siswa sebagai
berikut : 18 siswa (72%) dikategorikan tuntas dan 7 siswa (28%)
dikategorikan tidak tuntas.
Siklus II (2x pertemuan)
Bertitik tolak dari refleksi pada siklus I, maka peneliti melanjutkan
proses pembelajaran pada siklus II.
Tingkat
KKM
Aspek Afektif siswa
Frekuensi
Persentase
≥ 60
25
< 60
-
100%
-
Keterangan
Tuntas
Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa kemampuan afektif siswa
pada siklus II dengan tuntas diperoleh oleh 25 Siswa (100%).
Hasil lembaran observasi aspek psikomotor siswa siklus II dapat
dilihat pada tabel berikut :
Tingkat
KKM
≥ 60
< 60
Aspek Psikomotor siswa
Frekuensi
Persentase
22
3
88%
12%
Keterangan
Tuntas
Tidak tuntas
Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa kemampuan psikomotor
siswa pada siklus II dengan tuntas terdapat 22 siswa (88%), dan tidak
tuntas diperoleh 3 siswa (12%).
Tabel 4.7 Hasil Penilaian Aspek Kognitif Siswa Siklus II
Tingkat
KKM
≥ 60
< 60
Aspek Kognotif siswa
Frekuensi
Persentase
23
2
92%
8%
Keterangan
Tuntas
Tidak tuntas
Dari tabel di atas jika dikaitkan dengan kriteria ketuntasan minimal
(KKM) dengan ketuntasan belajar maka hasil belajar yang diperoleh
siswa sebagai berikut : 23 siswa (92%) dikategorikan tuntas dan 2
siswa (8%) dikategorikan tidak tuntas.
4.1 Pembahasan
4.1.1 Hasil Tes Awal
Dari hasil tes awal (pre tes) dapat dilihat bahwa 5 siswa (20%)
dikategorikan tuntas dan 20 siswa (80%) dikategorikan tidak tuntas.
4.1.2 Deskripsi Hasil Belajar Setelah Penerapan Metode SQ3R
Setelah tes awal dilaksanakan, maka dilanjutkan dengan proses
pembelajaran dengan menggunakan metode SQ3R, siswa dinilai
melalui 3 aspek yaitu :
• Aspek kognitif
Pada tabel 4.4 menunjukkan bahwa aspek kognitif siklus I 18
siswa (72%) dikatakan tuntas (mencapai KKM) dan 7 siswa (28%)
dikatakan tidak tuntas (mencapai KKM). Dikarenakan ketujuh siswa
tersebut kurang memperhatikan apa yang dijelaskan oleh guru,
kurang serius dalam proses pembelajaran dan kurang teliti dalam
menyelesaikan soal. Sedangkan pada siklus II meningkat dari
sebelumnya yang tuntas (mencapai nilai KKM) sebanyak 23 siswa
(92%) dan yang tidak tuntas (mencapai nilai KKM) terdapat 2 siswa
(8%). Siswa yang belum mencapai nilai KKM itu disebabkan siswa
tersebut dari siklus I hingga siklus II kurang memperhatikan, kurang
serius dalam proses pembelajaran melalui metode SQ3R dan kurang
teliti dalam menyelesaikan soal.
•
Aspek psikomotor
Dari hasil penelitian pada siklus I ditemukan ada 7 siswa yang
tidak tuntas pada aspek kognitif, diantaranya ART, BBT, IBT, IP, IAP,
MSL, dan MS. 7 siswa yang tidak tuntas pada aspek kognitif karena
kurang memperhatikan apa yang dijelaskan oleh guru, kurang serius
dalam proses pembelajaran dan kurang teliti dalam menyelesaikan
soal. Sedangkan siswa yang tidak tuntas pada aspek afektif
diantaranya : ART, disebabkan kurang adanya perhatian dalam
mengikuti pelajaran, kurang adanya minat dalam belajar serta kurang
serius dalam mengerjakan soal yang diberikan.
4.2.3 Hasil Tanggapan Siswa Terhadap Pernyataan Angket
Angket yang ditanyakan dalam penelitian ini sebanyak 10
pernyataan terkait metode SQ3R yang diterapkan guru dalam proses
pembelajaran berlangsung. Dari hasil siswa terhadap angket bahwa
76,07% Setuju dan 23,93% Ragu-ragu, ini menunjukan bahwa
metode yang diterapkan guru dalam pembelajaran itu baik dan cocok
untuk diterapkan dalam proses pembelajaran.
V. PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa
dengan menerapkan metode SQ3R, dapat meningkatkan hasil belajar aspek
kognitif, aspek afektif, dan aspek psikomotor, khususnya pada tes akhir belajar
pada 25 siswa, siswa mencapai KKM dengan ketuntasan 18 siswa (72%), dan tidak
tuntas 7 siswa (28%), dibanding dengan tes awal siswa yang hanya mencapai
KKM 5 siswa (20%).
4.2 Saran
Berdasarkan hasil yang ditemukan selama penelitian ini, ada beberapa saran
yang perlu dipertimbangkan dalam proses pembelajaran matematika yaitu:
 Hendaknya para guru lebih banyak memilih model pembelajaran yang akan
digunakan saat akan melakukan pelaksanaan pembelajaran, Agar pembelajaran
tidak menjadi bosan dan monoton dan siswa belajar dengan aktif. Salah satu
metode yang dapat digunakan pada pelajaran matematika yakni metode SQ3R
 Peneliti yang terjun langsung sebagai guru sebaiknya sebelum melakukan
penelitian harus lebih banyak berdiskusi terlebih dahulu dengan guru bidang studi
matematika mengenai kondisi kelas dan siswa.
 Setiap selesai melaksanakan pembelajaran sebaiknya guru dan peneliti selalu
berkoordinasi tentang rencana tindakan selanjutnya agar terjadi keserasian dalam
“GURU SEJATI ADA DIDALAM HATI MANUSIA
YANG PALING DALAM”
Pesan seorang pendekar (Jacky Chen)
kepada muridnya dalam “FORBIDDEN KINGDOM”
Thank You For Your Attention
Download