RINGKASAN RINGKASAN PERATURAN

advertisement
RINGKASAN PERATURAN BANK INDONESIA
Tentang Transaksi Valuta Asing terhadap Rupiah Antara Bank dengan Pihak Asing
I.
Peraturan Bank Indonesia (PBI) ini diterbitkan untuk mendorong pendalaman pasar valuta
asing di dalam negeri melalui pengaturan yang komprehensif terkait transaksi valuta asing
terhadap Rupiah antara Bank dengan pihak asing. PBI ini merupakan penyempurnaan dari
beberapa ketentuan terkait transaksi valuta asing terhadap Rupiah untuk memberikan
panduan transaksi yang lebih jelas dan fleksibilitas kepada pelaku pasar.
II.
Substansi yang diatur di PBI tentang Transaksi Valuta Asing terhadap Rupiah Antara Bank
dengan Pihak Asing, antara lain:
1. Bank wajib memiliki pedoman internal tertulis dalam melakukan Transaksi Valuta Asing
Terhadap Rupiah.
2. Transaksi Valuta Asing Terhadap Rupiah yang dilakukan di atas jumlah tertentu
(threshold) wajib memiliki Underlying Transaksi.
3. Underlying Transaksi untuk Transaksi Valuta Asing Terhadap Rupiah Antara Bank
dengan Pihak Asing meliputi seluruh kegiatan:
a. perdagangan barang dan jasa, baik di dalam maupun di luar negeri; dan/atau
b. investasi berupa foreign direct investment, portfolio investment, pinjaman, modal,
dan investasi lainnya di dalam dan di luar negeri.
4. Tidak termasuk sebagai Underlying Transaksi untuk Transaksi Valuta Asing Terhadap
Rupiah Antara Bank dengan Pihak Asing:
a. penggunaan Sertifikat Bank Indonesia untuk Transaksi Derivatif; dan
b. penempatan pada Bank (vostro) antara lain berupa tabungan, giro, deposito, dan
Negotiable Certificate of Deposit (NCD).
5. Transaksi Spot diatur sebagai berikut:
a. Pembelian valuta asing terhadap Rupiah melalui Transaksi Spot oleh Pihak Asing
kepada Bank sampai dengan jumlah USD100,000.00 (seratus ribu dolar Amerika
Serikat) per bulan per Pihak Asing atau ekuivalennya dapat dilakukan tanpa
Underlying Transaksi .
b. Pembelian valuta asing terhadap Rupiah dilarang melebihi nilai nominal Underlying
Transaksi.
6. Transaksi Derivatif diatur sebagai berikut:
a. Pembelian dan/atau penjualan valuta asing terhadap Rupiah melalui transaksi
derivatif oleh Pihak Asing kepada Bank sampai dengan jumlah USD1,000,000.00
(satu juta dolar Amerika Serikat) baik per transaksi individual maupun per posisi
(outstanding) masing-masing Transaksi Derivatif jual dan Transaksi Derivatif beli per
Bank atau ekuivalennya dapat dilakukan tanpa Underlying Transaksi .
b. Transaksi Derivatif dilarang melebihi nilai nominal dan jangka waktu Underlying
Transaksi.
c. Jangka waktu Transaksi Derivatif dengan Underlying Transaksi berupa investasi
paling singkat 1 minggu yang dihitung berdasarkan tanggal dimulainya Transaksi
Derivatif sampai dengan tanggal valuta Transaksi Derivatif, dan paling lama sama
dengan jangka waktu investasi, kecuali untuk transaksi forward beli valuta asing
terhadap Rupiah Antara Bank dengan Pihak Asing dalam rangka setelmen kegiatan
investasi.
d. Transaksi Derivatif dapat dilakukan atas penghasilan dari investasi berupa dividen,
yang belum dapat dipastikan jumlah dan waktu penerimaannya.
e. Transaksi Derivatif dapat dilakukan oleh Bank dengan Pihak Asing dalam rangka
cover hedging Bank.
7. Bank dilarang melakukan transaksi dengan Pihak Asing, antara lain:
a. Pemberian kredit atau pembiayaan dalam Rupiah dan/atau valuta asing, kecuali:
1
8.
9.
1) Kredit atau pembiayaan non tunai atau garansi yang terkait dengan kegiatan
investasi di Indonesia yang memperoleh counter guaranty dari Prime Bank atau
adanya jaminan setoran sebesar 100% dari nilai garansi yang diberikan.
2) Kredit atau pembiayaan dalam bentuk sindikasi.
3) Kartu kredit.
4) Kredit atau pembiayaan konsumsi yang digunakan di dalam negeri.
5) Cerukan intrahari rupiah dan valuta asing yang didukung dokumen
authenticated yang menunjukkan konfirmasi akan adanya dana masuk ke
rekening bersangkutan pada hari yang sama.
6) Cerukan dalam Rupiah dan valuta asing karena biaya administrasi.
7) Pengambilalihan tagihan dari badan yang ditunjuk pemerintah untuk mengelola
aset Bank dalam rangka restrukturisasi perbankan Indonesia oleh Pihak Asing
yang pembayarannya dijamin oleh Prime Bank.
b. Penempatan dalam Rupiah.
c. Pembelian Surat Berharga dalam Rupiah yang diterbitkan oleh Pihak Asing, kecuali:
1) Pembelian Surat Berharga yang berkaitan dengan kegiatan ekspor barang dari
Indonesia dan impor barang ke Indonesia serta perdagangan dalam negeri.
2) Pembelian bank draft dalam Rupiah yang diterbitkan oleh bank di luar negeri
untuk kepentingan Tenaga Kerja Indonesia (TKI).
d. Tagihan antar kantor dalam Rupiah.
e. Tagihan antar kantor dalam valuta asing dalam rangka pemberian Kredit atau
Pembiayaan di luar negeri.
f. Penyertaan modal dalam Rupiah.
g. Transaksi Valuta Asing Terhadap Rupiah apabila transaksi atau potensi transaksi
tersebut terkait dengan structured product.
Transfer Rupiah diatur sebagai berikut:
a. Bank dilarang melakukan Transfer Rupiah ke luar negeri.
b. Transfer Rupiah dapat dilakukan ke rekening Pihak Asing atau joint account pada
Bank di dalam negeri dengan nilai nominal sampai dengan ekuivalen
USD1,000,000.00 (satu juta dolar Amerika Serikat) atau dilakukan antar rekening
Rupiah yang dimiliki oleh Pihak Asing yang sama.
c. Transfer Rupiah dengan nilai nominal di atas USD1,000,000.00 (satu juta dolar
Amerika Serikat) wajib berdasarkan Underlying Transaksi, kecuali Transfer Rupiah
yang dilakukan dalam rangka penyelesaian transaksi melalui perpanjangan transaksi
(roll over), percepatan penyelesaian transaksi (early termination), dan pengakhiran
transaksi (unwind).
d. Bank penerima transfer rupiah wajib melakukan verifikasi terhadap status pihak
penerima dana Transfer Rupiah.
Penyelesaian transaksi diatur sebagai berikut:
a. Penyelesaian Transaksi Spot antara Bank dengan Pihak Asing wajib dilakukan
dengan pemindahan dana pokok secara penuh.
b. Penyelesaian Transaksi Derivatif antara Bank dengan Pihak Asing dapat dilakukan
secara netting untuk perpanjangan transaksi (roll over), percepatan penyelesaian
transaksi (early termination), dan pengakhiran transaksi (unwind).
c. Penyelesaian Transaksi Derivatif secara netting dengan nilai nominal paling banyak
sebesar USD1,000,000.00 (satu juta dolar Amerika Serikat) dapat dilakukan
sepanjang didukung dengan Underlying Transaksi. Dalam hal pada saat
penyelesaian transaksi Pihak Asing tidak dapat menyampaikan dokumen Underlying
Transaksi maka penyelesaian transaksi dilakukan dengan pemindahan dana pokok
secara penuh.
d. Jangka waktu Transaksi Derivatif untuk penyelesaian transaksi melalui perpanjangan
transaksi (roll over), percepatan penyelesaian transaksi (early termination), dan
pengakhiran transaksi (unwind) paling singkat 1 minggu.
2
10. Dokumen transaksi yang wajib dilampirkan dalam transaksi pembelian dan/atau
penjualan valuta asing terhadap rupiah diatur sebagai berikut:
Transaksi
Valuta Asing
Pembelian
Jenis
Transaksi
Spot
Derivatif
Penjualan
Derivatif
Penyelesaian netting untuk
transaksi derivatif awal
Nominal
Transaksi
Jenis Dokumen
Underlying
Transaksi
Surat
Pernyataan
> Threshold
√
√
≤ Threshold
x
√
> Threshold
√
√
≤ Threshold
x
x
> Threshold
√
√
≤ Threshold
x
x
> Threshold
x
x
≤ Threshold
√
√
11. Penyampaian dokumen diatur sebagai berikut:
a. Dokumen Underlying Transaksi dan/atau dokumen pendukung disampaikan untuk
setiap transaksi berdasarkan tanggal transaksi.
b. Dokumen Underlying Transaksi dan/atau dokumen pendukung untuk Transaksi Spot
wajib diterima Bank paling lambat pada tanggal valuta.
c. Dokumen Underlying Transaksi dan/atau dokumen pendukung untuk Transaksi
Derivatif wajib diterima Bank paling lambat 5 hari kerja setelah tanggal transaksi.
d. Dalam hal Transaksi Derivatif memiliki Underlying Transaksi berupa kegiatan
perdagangan barang dan jasa di dalam dan di luar negeri dengan jatuh waktu
kurang dari 5 hari kerja setelah tanggal transaksi, dokumen Underlying Transaksi
dan/atau dokumen pendukung wajib diterima Bank paling lambat pada tanggal
jatuh waktu.
12. Bank wajib menatausahakan dokumen Underlying Transaksi Valuta Asing Terhadap
Rupiah.
13. Bank yang melanggar ketentuan dalam PBI ini dikenai sanksi sebagai berikut:
a. Sanksi administratif berupa teguran tertulis.
b. Sanksi kewajiban membayar sebesar 1% dari nilai nominal transaksi yang dilanggar
untuk setiap pelanggaran, dengan jumlah sanksi paling sedikit sebesar
Rp10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah) dan paling banyak sebesar
Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).
14. Penghitungan sanksi kewajiban membayar menggunakan kurs Jakarta Interbank Spot
Dollar Rate (JISDOR) pada tanggal terjadinya pelanggaran.
3
Download