analisis kesalahan penerapan tanda baca dalam

advertisement
ANALISIS KESALAHAN PENERAPAN TANDA BACA
DALAM CERPEN SISWA KELAS VIII SMP DUA MEI
TANGERANG SELATAN TAHUN PELAJARAN 2014/2015
SKRIPSI
Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mencapai
Gelar Sarjana Pendidikan
Oleh
Hedy Afwan
NIM 1110013000059
JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2015
LEMBAR PENGESAHAN DOSEN PEIMBIMBINC
PENEMPATAN TANDA BACA DIALAM CERPEN
A KELAS VIIISMIP DIUA MEI TANGERANC SELATAN
SIS¬ 爾
TAIIUN PELAJARAN 2014/2015
(Pelleliti舞 独Klla壼 tatif
Кhsalall韓 駐務erbtthasa Sisw負 )
導I《IttJJttSI
摯i罐 轟韓nk彎 ぶ a Fa職 ltas
11難u
Tattiyah d鑢 除 群 露機 unmk Mttenthi Syarat
Mettcaptt Oeltt s轟 競a Pttdidik鑢
Disusun tteh
Ntta:菫 edy A島汀all
NILだ 1111001300● 059
NIP。
1970121 200122001
JURUSAN PENDIDIKAN BAttASA BAN SASTRA NDONESIA
FAKULTASILIMV TARBⅣAH DAN KttGURUAN
UNIVERSITASISLAM NEGERISYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2015
/
シ
LEMBAR PENGESAttAN
Skripsi bettudul A島 醸isis Ke,alahan PeneFapan Tanda Baca dalttm Capen Siswa
Kelas VIII SMP Dua Mei TttgeFttg Selattt Tahun Pel巧 盤雛 2014/2015 disusun
oleh HEDY AFWぶ ■omor
II五漱
M由轟siswa
ll10013000059,dittukan kep山
Fakatas IIInu Tattiytt dan ke騨 舞雛 UN SyTif Hidayatlltt J劇 臨曲 晟機 韓lah
di町識 漁 餞 lulus dala臓
輔 ian
munaqosah palda,23 0ktober 2015 ditta/pan dOw蹴
petti,01ell karettL iltu,penulis berhak mettroltt gelar sttana sl(S.Pd,)
dalttn bid額 導Pendidikan Bahasa dtt Sastra lndon16siat
J軸
,23 01oob鍍 2015
Patttiattitt Mttaqos由
Tttggal
軸
Panitia cKema Juns観 麟欝8ram
S輔 )
海ブ 郷鰤
癬篭癬鸞瑠灘‰15
1穆l、
Pen到 lI
み
Dr,Elvi Susanti,ML翌 止
NIP。
19。 .姦91う
196808012008012016
PenguJi II
載F力 ばこ知
DFa.Mahmudah Fittvtt ZpL.Mi Pd._
NIP,196402121997032001
Mclttetahui:
Dektt F
NP.1955
2031007
む
可
∫ ′
′
a Putra,M.A`
198494992011011015
よ
Dol建 _Ali
D
fL
プ す
増
Sekretttis(Sekretaris Jurus錮 /Prodi)
NIP。
Tmtda Tangan
ABSTRAK
Nama: Hedy Afwan NIM: 1110013000059, Penempatan Tanda Baca dalam
Cerpen, Siswa Kelas VIII SMP Dua Mei Tangerang Selatan, Tahun
Pelajaran 2014/2015
Skripsi ini membahas permasalahan mengenai bagaimana bentuk-bentuk
kesalahan penerapan tanda baca dalam cerpen yang dilakukan siswa kelas VIII
SMP Dua Mei Tangerang Selatan, Tahun Pelajaran 2014/2015. Adapun tujuan
dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mendeskripsikan bentuk-bentuk
kesalahan penempatan tanda baca dalam cerpen, siswa kelas VIII SMP Dua Mei
Ciputat Timur, Tangerang Selatan Tahun Pelajaran 2014/2015. Pengumpulan data
skripsi ini menggunakan teknik tes. Data yang didapat dianalisis dengan
menggunakan metode kualitatif deskriptif.
Hasil penelitian yang dilakukan di kelas VIII SMP Dua Mei Tangerang
Selatan, menunjukan bahwa, dari 25 siswa terdapat 4,32% data persentase siswa
yang belum memahami tentang penempatan tanda baca sesuai dengan buku
pedoman ejaan yang disempurnakan.
Kata Kunci: Tanda Baca, Cerpen, Karangan Narasi
i
ABSTRAK
Nama: Hedy Afwan NIM: 1110013000059, The Placement of punctuation in
the short story, the eighth grade students of SMP Dua Mei Tangerang
Selatan 2014/2015.
This thesis raises the issue of how the errors of punctuation placement in
the short story done by the eighth grade of SMP Dua Mei Tangerang Selatan
2014/2015. This research is aimed to find out and describe the errors of
punctuation placement in the short story, the eighth grade of SMP Dua Mei
Ciputat Timur, Tangerang Selatan 2014/2015. The data collecting is done by
giving test technique. Descriptive qualitative method is used for analyzing the
data.
The result of this research which is conducted at the eighth grade of SMP
Dua Mei Tangerang Selatan shows that there are 4,32% data percentage of
students from 25 students who do not understand about punctuation placement
according to enhanced spelling book.
Key words: Punctuation, Short Story, Narrative Essay
ii
KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih dan penyayang.
Puji syukur kepada Allah SWT yang senantiasa memberikan rahmat dan
nikmat ke setiap umat-Nya, senantiasa memberikan petunjuk dan jalan di setiap
kesulitan kepada setiap insan yang bersunguh-sungguh. Tak lupa solawat serta
salam tercurah kepada pemimpin dan panutan umat Islam Nabi Muhammad Swt.
Skripsi ini berjudul “Penempatan Tanda Baca dalam Cerpen, Siswa Kelas
Viii Smp Dua Mei Tangerang Selatan, Tahun Pelajaran 2014/2015 (Penelitian
Kualitatif Kesalahan Berbahasa Siswa)”. Sebuah karya tulis ilmiah yang ditulis
untuk memenuhi syarat memperoleh gelar sarjana strata satu (SI) pada Fakultas
Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Jakarta. Pada kesempatan yang baik ini izinkanlah penulis menyampaikan rasa
hormat dan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang dengan ikhlas
memberikan bantuan dan dorongan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi
ini, terutama kepada yang terhormat:
1. Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Prof. Dr. Ahmad Thib Raya,
MA.
2. Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Makyun Subuki
M. Hum.
3. Pembimbing skripsi Dra. Hindun, M. Pd. Terima kasih atas segala yang
telah diberikan. Mulai dari semangat, waktu, pemikiran, dan salam sapa
keramahan di setiap bimbingan.
4. Terimakasih kepada seluruh dosen jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra
Indonesia yang tak penulis sebutkan seluruhnya. Namun, tak mengurangi
sedikitpun rasa hormat penulis.
5.
Kepala SMP Dua Mei Enjang Supyan, M. Pd.
6. Untuk yang teristimewa, kepada orang tua yang sangat penulis cintai.
Ayahanda H. Nasyaruddin, S. Pd. dan Ibunda Heldawati, S. Pd.
Terimakasih atas dukungan moril, materil dan kasih sayang dalam setiap
langkah pendidikan yang penulis lalui hingga saat ini.
iii
7. Terima ksih kepada Nenek dan Adik-adik penulis. Nenek Siti Sahara,
Adinda Nurul Aulia dan Ahmad Fauzan. Dengan melihat senyum mereka
penulis mendapat semangat tambahan dalam menyelesaikan skripsi ini.
8. Sahabat yang selalu mendukung langkah penulis. Saudara Ridwan, Endri,
Pandu, Rhezky.
9. Terima kasih kepada saudara Rizki Dwi Sumaputra, Megatari Gumilar,
Rizkia Auliani yang juga turut membantu aktiv dalam proses skripsi ini.
10. Teman-teman satu angkatan PBSI A, B, dan C yang tak disebutkan satu
per satu dan seluruh pihak yang terlibat dalam penyusunan skripsi ini.
Semoga bantuan, bimbingan, doa dan dukungan yang diberikan kepada
penulis menjadi berkah dibalas oleh Allah SWT. Penulis menyadari bahawa
skripsi ini belum sempurna, dikarenakan keterbatasan ilmu dan pengalaman
penulis. Oleh sebab itu, kritik dan saran yang membangun sangat dibutuhkan
penulis. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi penivulis dan pembaca.
Jakarta, 22 Juni 2015
Hedy Afwan
iv
DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN DOSEN PEMBIMBING
LEMBAR PENGESAHAN PANITIA UJIAN
SURAT PERNYATAAN KARYA ILMIAH
ABSTRAK ......................................................................................................
i
KATA PENGANTAR .................................................................................... iii
DAFTAR ISI ...................................................................................................
v
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .....................................................................................
1
B. Identifikasi Masalah .............................................................................
4
C. Pembatasan Masalah ............................................................................
4
D. Perumusan Masalah Masalah ...............................................................
5
E. Tujuan Penelitian .................................................................................
5
F. Manfaat Penelitian ...............................................................................
5
BAB II LANDASAN TEORETIS
A. Tanda Baca ...........................................................................................
7
1. Tanda Titik ...............................................................................
7
2. Tanda Koma ............................................................................. 14
3. Tanda Titik Dua ....................................................................... 19
4. Tanda Hubung .......................................................................... 20
5. Tanda Tanya ............................................................................. 23
6. Tanda Seru ............................................................................... 23
7. Tanda Petik Dua ....................................................................... 24
B. Pengertian Karangan dan Cerpen ......................................................... 25
1. Pengertian Karangan ................................................................ 25
2. Karangan Narasi ....................................................................... 26
3. Cerpen ...................................................................................... 28
4. Unsur Intrinsik ......................................................................... 29
v
5. Unsur Ekstrinsik ....................................................................... 34
C. Penelitian yang Relevan ....................................................................... 35
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitan ............................................................... 37
B. Subjek Penelitian.................................................................................. 37
C. Metode Penelitian................................................................................. 37
D. Teknik Pengumpulan Data ................................................................... 38
E. Teknik Pengolahan Data ...................................................................... 39
F. Teknik Analisis Data ............................................................................ 39
G. Instrumen Penelitian............................................................................. 40
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Lokasi Penelitian.................................................................. 43
B. Deskripsi dan Analisis Data ................................................................. 47
C. Pengolahan Data................................................................................... 78
BAB V PENUTUP
A. Simpulan .............................................................................................. 80
B. Saran ..................................................................................................... 87
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
RIWAYAT PENULIS
vi
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang Masalah
Sudah selayaknya kegiatan pembelajaran berlandaskan pemikiran bahwa
proses belajar harus belangsung lebih sederhana. Pada zaman dahulu ketika
belum ada sekolah, seorang anak belajar berlayar dan manangkap ikan dari
orang tuanya. Setiap hari Ia ikut orang tuanya ke laut untuk berlayar
menangkap ikan. Belajar untuk mengenal kapal, belajar membuka dan
menutup layar kapal dan bagaimana cara menjala ikan. Kegiatan pembelajaran
ini melalui proses mengalami langsung. Anak nelayan itu melihat bagaimana
orang tuanya menebar jala ikan, Ia memperhatikan bagaimana orang tuanya
melihat arah angin agar dapat mengemudikan kapal dengan baik. Kemudian, Ia
coba mengendalikan kapal seperti yang orang tuanya lakukan, Ia mencoba
untuk menjala ikan. Dua bulan kemudian, setelah rutin mengikuti orangtuanya
Ia berhasil pulang dengan membawa hasil tangkapan ikannya sendiri. Anak
nelayan tersebut sekarang menjadi nelayan yang baik tanpa sekalipun sekolah
untuk menjadi nelayan.
Begitulah seharusnya proses belajar berlangsung. Peserta didik harus
belajar dari pengalamannya sendiri. Kegiatan pembelajaran harus meniru pola
belajar dari apa yang sudah dikemukakan di atas. Anak belajar sendiri
memahami pola-pola bermakna untuk pengetahuan baru. Pembelajaran di kelas
seharusnya mirip dengan gambaran tersebut. Dimana peserta didik dapat
memperoleh keterampilan dengan cara alamiah.
Pengajaran bahasa Indonesia pada esensinya ialah melatih siswa untuk
mempunyai keterampilan berbahasa. Keterampilan berbahasa mencakup empat
segi, yaitu menyimak, berbicara, membaca dan keterampilan menulis. Tugas
guru adalah melatih keempat keterampilan tersebut dan mengajak peserta didik
berdiskusi sebanyak-banyaknya.
Pelajaran bahasa Indonesia selayaknya diarahkan pada pelatihan
keterampilan berbahasa kreatif, yaitu membaca kreatif, menulis kreatif dan
1
2
berbicara kreatif. Kegiatan berbahasa kreatif ini akan meningkatkan
kemampuan berbahasa siswa, sehingga setelah pembelajaran diharapkan
peserta didik sudah terbiasa berdiskusi dengan baik, membuat opini, meresensi
buku, menyusun iklan, membuat brosur, menyusun berita, menyusun karya
ilmiah dengan baik, menulis sebuah karangan baik berbentuk narasi, deskripsi
dan sebagainya.
Terkait dengan kemampuan menulis, menulis ialah menurunkan atau
melukiskan lambang-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang
dipahami oleh seseorang, sehingga orang-orang lain dapat membaca lambanglambang grafik tersebut kalu mereka memahami bahasa dan gambaran grafik
itu. Menulis merupakan suatu representasi bagian dari kesatuan-kesatuan
ekspresi bahasa.1 Menulis juga dapat dipandang sebagai upaya untuk merekam
ucapan manusia menjadi bahasa baru, yaitu bahasa tulisan. Bahasa tulisan itu
tidak lain adalah suatu jenis notasi bunyi, kesenyapan, infleksi, tekanan nada,
isyarat atau gerakan, dan ekspresi muka yang memindahkan arti dalam ucapan
atau berbicara manusia.2 Oleh sebab itu, kemampuan menulis merupakan
kemampuan yang sangat penting dalam kehidupan, tidak hanya penting dalam
lingkungan pendidikan tapi juga penting untuk dimasyarakat.3
Kegiatan berbahasa menulis memiliki fungsi utama yaitu sebagai alat
komunikasi secara tertulis dan tidak langsung. Namun, fungsi menulis bukan
hanya untuk berkomunikasi secara tulis atau tidak langsung saja, tetapi juga
berfungsi sebagai penataan, pengawetan, penciptaan, dan penyampaian.4
Menulis terlihat seperti keterampilan yang mudah, pada hakikatnya
menulis adalah hal yang sulit jika kita mengacu pada kepenulisan yang baik
dan benar sesuai dengan pengertian yang ada. Menulis adalah tentang
mencurahkan gagasan pikiran untuk dikomunikasikan ke pembaca. Menulis
1
Henry Guntur Tarigan, Menulis: Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa, (Bandung:
Percetakan Angkasa, 2008), h. 22
2
Mukhsin Ahmadi, Strategi Belajar Mengajar: Keterampilan Berbahasa dan Apresiasi
Sastra, (Malang: Yayasan Asih Asah Asuh, 1990), h. 28
3
Budinuryanta Y. dkk, Pengajaran Keterampilan Berbahasa, (Jakarta: Penerbit
Universitas Terbuka, 2008), h. 26
4
Novi Resmini dan Dadan Juanda, Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas
Tinggi, (Bandung: UPI Press, 2007), h. 116
3
termasuk bahasa non verbal. Oleh karena itu, menulis harus memperhatikan
aspek pemilihan kata, penggunaan tanda baca, penggunaan pemenggalan kata,
penggunaan afiks, penggunaan huruf kapital, penggunaan ejaan, dan kerapihan
tulisann dalam karangan.
Kemampuan menulis tidak serta merta mampu dikuasai oleh peserta
didik. Harus ada suatu pembiasaan untuk selalu menulis agar peserta didik
dapat mahir menulis karena terbiasa. Harus ada pemberian pemahaman pada
diri peserta didik mengenai alasan untuk membiasakan menulis. Caryn Mirriam
Goldberg dalam karya berjudul Write Where You Are How to Use Writing to
Make Sesnse of Your Life, menawarkan 12 alasan mengapa harus menulis.
Pertama menulis membantu menemukan siapa dirimu. Kedua, menulis dapat
membantu anda percaya diri dan meningkatkan kebanggaan. Ketiga, saat
menulis anda mendengarkan pendapat unikmu sendiri. Keempat, menulis
menunjukan apa yang dapat anda berikan pada dunia. Kelima, dengan menulis
anda mencari jawaban terhadap pertanyaan dan menemukan pertanyaan baru
untuk ditanyakan. Keenam, menulis meningkatkan kreativitas. Ketujuh, anda
dapat berbagi dengan orang lain melalui kegiatan menulis. Kedelapan, menulis
memberikan anda tempat untuk melepaskan amarah/ketakutan, kesedihan, dan
perasan
menyakitkan
lainnya.
Kesembilan,
Anda
dapat
membantu
menyembuhkan diri dengan menulis. Kesepuluh, Menulis memberi Anda
kesenangan dan cara mengungkapkannya. Kesebelas, menulis membantu Anda
lebih hidup. Terakhir, Anda dapat menemukan impian Anda dengan menulis.5
Namun pada kenyataanya, banyak peserta didik yang menganggap
kegiatan menulis mudah. Oleh sebab itu, peserta didik ketika menulis
cenderung menghasilkan karya tulis yang kurang baik. Karya tulis yang ditulis
tidak memiliki keterbacaan yang baik, karena tidak memperhatikan aspekaspek kepenulisan. Salah satu kesalahan yang paling sederhana adalah peserta
didik tidak memperhatikan penggunaan tanda baca yang benar. ketidaktahuan
akan tanda baca dan malasnya membuka buku pedoman ejaan yang
disempurnakan, mengakibatkan banyaknya ditemukan kesalahan penggunaan
5
Andrias Harefa, Happy writing, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2010), h. 60
4
tanda baca. Kesalahan penggunaan tanda baca ini dapat mengurangi kualitas
sebuah tulisan, yang mengakibatkan terhambatnya ketercapaian pesan atau
gagasan yang ingin disampaikan penulis. Permasalahan ini berlaku dalam
semua karya tulis, baik karya tulis ilmiah atau non ilmiah.
Berdasarkan latar belakang yang sudah dikemukakan maka muncullah
gagasan untuk melakukan penelitian tentang “Penempatan Tanda Baca dalam
Cerpen, Siswa Kelas Viii Smp Dua Mei Tangerang Selatan, Tahun Pelajaran
2014/2015 (Penelitian Kualitatif Kesalahan Berbahasa Siswa)”.
2. Identifikasi Masalah
Berdasarkan penjabaran masalah yang sudah diungkapkan, maka
masalah yang ingin diteliti dapat diidentifikasi sebagai berikut:
1.
Siswa kurang terbiasa menulis dengan memperhatikan tanda baca yang
baik dan benar.
2.
Kurangnya pemahaman penerapan tanda baca dalam kepenulisan.
3.
Kurangnya buku pendukung mata pelajaran Bahasa Indonesia.
4.
Rendahnya motivasi untuk membaca buku pedoman ejaan yang
disempurnakan.
5.
Kurangnya minat membaca cerpen.
6.
Rendahnya perhatian guru dalam membimbing siswa agar mau menulis
dengan baik.
7.
Kurang
tepatnya
metode
pembelajaran
yang
digunakan
dalam
pembelajaran Bahasa Indonesia.
8.
Media yang digunakan guru mata pelajaran bahasa Indonesia dalam
pelajaran menulis kurang bervariasi.
9.
Anggapan peserta didik terhadap pelajaran bahasa Indonesia bahwa
pelajaran bahasa Indonesia merupakan pelajaran yang mudah.
3. Pembatasan Masalah
Penelitian ini memiliki fokus penelitian yang akan didalami. Pemilihan
fokus ini, dimaksudkan memilih informasi mana yang lebih dulu didalami,
5
karena paling mungkin untuk mendapatkan penjelasan tentang akar masalah.6
Maka penulis meneliti masalah sebagai berikut:
a. Penempatan tanda baca titik (.), tanda koma (,), tanda titik dua (:), tanda
seru (!), tanda tanya (?), tanda hubung (-) dan tanda petik dua (“...”).
b. Cerpen yang disesuaikan berjudul Akibat Jajan Sembarangan oleh Adinta
Asfiratun Husna dalam buku paket Bahasa Indonesia Mahir Berbahasa
Indonesia untuk SMP/MTs Kelas VIII terbitan Penerbit Erlangga, pada tahun
2013.
c. Siswa kelas VIIIA SMP Dua Mei yang berjumlah 27 orang. 17 laki-laki dan
10 perempuan.
4. Perumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah yang telah diuraikan, maka masalah
yang diteliti dirumuskan sebagai berikut: “Bagaimanakah bentuk Kesalahan
Penempatan Tanda Baca dalam Cerpen, Siswa Kelas VIII SMP Dua Mei
Ciputat Timur, Tangerang Selatan Tahun Pelajaran 2014/2015?”
5. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini, yaitu untuk mengetahui dan mendeskripsikan
bentuk-bentuk kesalahan penempatan tanda baca dalam cerpen siswa kelas
VIII SMP Dua Mei Ciputat Timur, Tangerang Selatan Tahun Pelajaran
2014/2015.
6. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoretis
Hasil penelitian ini
diharapkan dapat memberikan tambahan
pengetahuan pada tingkat teoritis kepada pembaca dan guru dalam
mengetahui permasalahan peserta didik, khususnya pada kemampuan
keterampilan menulis.
6
10
Nusa Putera, Penelitian Kualitatif: Proses dan Aplikasi, (Jakarta: PT. Indeks, 2011), h.
6
2. Manfaat Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan solusi nyata untuk
menangulangi kurangnya kemampuan menulis siswa, khususnya dari segi
kesalahan penempatan tanda baca pada sebuah karya tulis. Hasil penelitian
ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi peserta didik, guru dan
sekolah.
1) Manfaat Bagi Siswa
Siswa
dapat
meningkatkan
keterampilan
menulis
dengan
memperhatikan tanda baca sehingga menghasilkan karya tulis yang
baik.
2) Manfaat bagi Guru
Sebagai masukan dan bahan pertimbangan bagi guru dalam
memilih metode pembelajaran Bahasa Indonesia berdasarkan hasil
penelitian ini.
3) Manfaat bagi Sekolah
Hasil Penelitian ini dapat digunakan sebagai pengembangan proses
pengajaran Bahasa Indonesia dalam meningkatkan keterampilan
menulis karangan di SMP Dua Mei Ciputat Timur, Tangerang Selatan.
4) Manfaat bagi Peneliti
Sebagai bahan ilmu pengetahuan yang di ambil dari kemampuan
siswa dalam menulis karya tulis khususnya cerpen.
BAB II
LANDASAN TEORETIS
A. Kesalahan Berbahasa
Kesalahan berbahasa tulis dapat terjadi dalam berbagai bentuk. Mulai
kesalahan penggunaan huruf kapital, kesalahan penggunaan bahasa atau kesalahan
dalam penggunaan tanda baca pada sebuah karya tulis baik fiksi maupun nonfiksi.
Para sarjana bahasa dan leteraturnya membedakan dua macam kesalahan
berbahasa. Dalam literatur bahasa inggris dipergunakan istilah serta dibedakan
antara mistake (kekeliruan) dan eror (kesalahan). Mistake adalah penyimpangan
yang disebabkan oleh faktor-faktor performance (kinerja) seperti keterbatasan
ingatan. Kesalahan seperti ini mudah diperbaiki jika penutur atau pembicara
diingatkan. Eror adalah penyimpangan-penyimpangan yang sistematis dan
konsisten serta menjadi ciri khas berbahasa siswa yang belajar bahasa pada
tingkat tertentu.1
B. Tanda Baca
Tanda baca adalah suatu alat kalimat yang berupa tanda-tanda ekstra lingual,
seperti koma, titik, tanda seru, dan sebagainya yang sangat besar perananya
dalam menentukan makna kalimat. Berikut adalah penjabaran lengkap dari
penggunaan tanda baca:
1. Tanda Titik (.)
a. Tanda titik dipakai pada akhir kaliamat yang bukan pertanyaan atau seruan.
Misalnya:
Ayah tinggal di Solo.
Biarlah mereka duduk di sana.
Dia menanyakan siapa yang datang.
1
Parera, Analisis Kontrastif Bahasa dan Analisis Kesalahan Berbahasa, (Jakarta:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan IKIP Jakarta, 1997), h. 56
7
8
Catatan:
Tanda titik tidak digunakan pada akhir kalimat yang unsur akhirnya sudah
tanda titik. Misalnya:
Buku itu disusun oleh Drs. Sudjatmiko, M. A.
Dia memerlukan meja, kursi, dsb.
Dia mengatakan, “kaki saya sakit.”2
b. Tanda titik dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan,
ikhtisar, atau daftar. Misalnya:
a. III. Departemen Dalam Negeri
A. Direktorat Jenderal Pembangunan Masyarakat Desa
B. Direktorat Jenderal Agraria
b. 1. Patokan Umum
1.1 Isi Karangan
1.2 Ilustrasi
1.2.1 Gambar Tangan
1.2.2 Tabel
1.2.3 Grafik
Catatan:
Tanda tiik tidak dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu
bagan atau ikhtisar jika angka atau huruf itu merupakan yang terakhir
dalam deretan angka atau huruf.3
c. Tanda Titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang
menunjukan waktu. Misalnya:
Pukul 1.35.20 (pukul 1 lewat 35 menit 20 detik atau pukul 1, 35
menit, 20 detik)
2
Inoer Hidayati, Buku Pintar EYD: Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang
Disempurnakan, (Yogyakarta: Indonesia Tera, 2012), h. 39
3
Mendikbud, EYD Pedoman Ejaan yang Disempurnakan, (Yogyakarta: Pustaka
Widyatama, 2007), h. 37
9
Catatan:
Penulisn waktu dengan angka dapat menikuti salah satu cara berikut.
a) Penulisan waktu dengan angka dalam sistem 12 dapat
dilengkapi dengan keterangan pagi , siang, sore, atau
malam. Mislnya:
Pukul 9.00 pagi
Pukul 11.00 siang
Pukul 5.00 sore
Pukul 8.00 malam
b) Penulisan waktu dengan angka dalam sistem 24 tidak
memerlukan
keterangan
pagi,
siang,
atau
malam.
Miasalnya:
Pukul 00.45
Pukul 07.30
Pukul 11.00
Pukul 22.00
d. Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang
menunjukan jangka waktu. Misalnya:
1.35.20 jam (1 jam, 35 menit, 20 detik)
0.20.30 jam (20 menit, 30 detik)
0.0.30 jam (30 detik)
e. Tanda titik dipakai dalam daftar pustaka di antara nama penulis, judul
tulisan yang tidak berakhir dengan tanda tannya atau tanda seru, dan tempat
terbit. Misalnya:
10
Alwi, Hasan, Soenjono Dardjowidjojo, Hans Lapoliwa, dan
Anton Siregar, Merari. 1920. Azab dan Sengsara. Weltevreden:
Balai Poestaka.
Catatan:
Urutan informasi mengenai daftar pustaka tergantung pada lembaga
yang bersangkutan.
f. Tanda titik dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya
yang menunjukan jumlah. Misalnya:
Desa itu berpenduduk 24.200 orang.
Siswa yang lulus masuk perguruan tinggi negeri 12.000 orang.
Penduduk jakarta lebih dari 11.000.000 orang
Catatan:
a) Tanda titik tidak dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau
kelipantannya yang tidak menunjukan jumlah. Misalnya:
Dia lahir pada tahun 1956 di Bandung.
Lihat halaman 2345 dan seterusnya.
Nomor gironya 5645678.
b) Tanda titik tidak dipakai pada akhir judul yang merupakan kepala
karangan atau ilustrasi, tabel, dan sebagainya. Misalnya:
Acara Kunjungan Menteri Pendidikan Nasional
Bentuk dan kedaulatan (Bab I UUD 1945)
Salah Asuhan
11
c) Tanda titik tidak dipakai dibelakang (a) nama dan alamat pengirim
surat, dan (c) dibelakang tanggal surat. Misalnya:
Yth. Kepala Kantor Penempatan Tenaga
Jalan Cikini 71
Jakarta
Yth. Sdr. Moh. Hasan
Jalan Arif Rahmad 43
Palembang
Adinda
Jalan Diponegoro 82
Jakarta
21 April 2008
d) Pemisah bilangan ribuan atau kelipatannya dan desimal dilakukan
sebagai berikut.
Rp200.250,75
$ 50,000.50
8.750 m
8,750 m4
g. Tanda titik dipakai pada penulisan singkatan. Singkatan ialah bentuk singkat
yang erdiri atas satu huruf atau lebih.
a) Singkatan nama orang, nama gelar, sapaan, jabatan, atau pangkat
diikuti dengan tanda titik di belakang tiap-tiap singkatan itu.
Misalnya:
A. H. Nasution
4
Abdul Haris Nasution
Inoer Hidayati, Buku Pintar EYD: Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang
Disempurnakan, (Yogyakarta: Indonesia Tera, 2012), h. 42
12
H. Hamid
Haji Hamid
Suman Hs.
Suman Hasibuan
W.R. Supratman
Wage Rudolf Supratman
M.B.A.
master of business administration
M. Hum.
Magister Humaniora
M. Si.
Magister sains
Bpk.
Bapak
Sdr.
Saudara
Kol.
Kolonel
b) Singkatan nama resmi lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan
atau organisasi, serta nama dokumen resmi yang terdiri atas gabungan
huruf awal kata ditulis dengan huruf kapital dan tidak diikuti dengan
tanda titik. Misalnya:
DPR
Dewan Perwakilan Rakyat
PBB
Perserikatan Bangsa-Bangsa
WHO
Worl Health Organization
PGRI
Persatuan Guru Republik Indonesia
c) Singkatan kata yang berupa gabungan huruf diikuti dengan tanda titik.
Misalnya:
Jml.
Jumlah
Kpd.
Kepada
Tgl.
Tanggal
Hlm.
Halaman
Dl.
Dalam
No.
Nomor
13
d) Singkatan gabungan kata yang terdiri atas tiga huruf diikuti dengan
tanda titik. Misalnya:
Dll.
dan lain-lain
Dsb.
dan sebagainya.
Dst.
dan seterusnya
Sda.
sumber daya alam
Ybs.
yang bersangkutan
Catatan:
Singkatan itu dapat digunakan untuk keperluan khusus,
seperti dalam perbuatan catatan rapat dan kuliah.
e) Singkatan gabungan kata yang terdiri atas dua huruf (lazim dugunakan
dalam surat menyurat) masing-masing diikuti oleh tanda titik.
Misalnya:
a.n.
atas semua
d.a.
dengan alamat
u.b.
untuk beliau
u.p.
untuk perhatian
f) Lambang kimia, singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan, dan
mata uang tidak diikuti tanda dengan titik. Misalnya:
Cu
kuprum
Cm
sentimeter
Kg
kilogram
KVA kilovolt-ampere
L
liter
Rp
rupiah
14
TNT
trinitrotoluene5
2. Tanda Koma (,)
a.
Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu perincian atau
bilangan. Misalnya:
Saya membeli kertas, pena, dan tinta.
Surat biasa, surat kilat, ataupun surat kilat khusus memerlukan
perangko.
Satu, dua, ... tiga !
b.
Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari
kalimat setara berikutnya yang didahului dengan kata seperti tetapi,
melainkan, sedangkan, dan kecuali. Misalnya:
Saya akan membeli buku-buku puisi, tetapi kau yang
memilihnya.
Ini bukan buku saya, melainkan buku ayah saya.
Dia senang membaca cerita pendek, sedangkan adiknya suka
membaca puisi.
Semua mahasiswa harus hadir, kecuali, yang tinggal diluar kota.
c.
Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat
jika anak kalimat itu mendahului induk kalimat. Misalnya:
Kalau ada undangan, saya akan datang.
Karena tidak congkak, dia mempunyai banyak teman.
Agar memiliki wawasan yang luas, kita harus banyak membaca
buku.
5
Inoer Hidayati, Buku Pintar EYD: Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang
Disempurnakan, (Yogyakarta: Indonesia Tera, 2012), h. 30
15
Catatan:
Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari
induk kalimat jika anak kalimat itu mengiringi induk kalimatnya.
Saya akan datang kalau ada undangan.
Dia mempunyai banyak teman karena tidak congkak.
Kita harus membaca banyak buku agar memiliki wawasan yang
luas.
d.
Tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung
antarkalimat yang ter-dapat pada awal kalimat, seperti oleh, karena itu,
jadi, dengan demikian, sehubungan dengan itu, dan meskipun begitu.
Misalnya:
Anak itu rajin dan pandai. Oleh karena itu, dia memperoleh
beasiswa belajar di luar negeri.
Anak itu memang rajin membaca sejak kecil. Jadi, wajar kalu
dia menjadi bintang pelajar.
Meskipun begitu, dia tidak pernah berlaku sombong kepada
siapapun.
Catatan:
Ungkapan penghubung antarkalimat, seperti oleh karena itu.
jadi, dengan demikian, sehubungan dengan itu, dan meskipun begitu,
tidak dipakai pada awal paragraf.
e.
Tanda koma dipakai untuk memisahkan kata seru, seperti o, ya, wah,
aduh, dan kasihan, atau kata-kata yang digunakan sebagai sapaan, seperti
Bu, Dik, atau Mas dari kata lain yang terdapat dalam kalimat. Misalnya:
O, begitu?
16
Wah, bukan main!
Hati-hati, ya, jalannya licin.
Mas, kapan pulang?
Mengapa kamu diam, Dik?
Kue ini enak, Bu.
f. Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dan bagian lain
dalam kalimat. Misalnya:
Kata Ibu, “Saya gembira sekali.”
“saya gembira sekali,” kata Ibu, “karena lulus ujian.”
g. Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian
lain yang mengiringinya dalam kalimat jika petikan langsung itu berakhir
dengan tanda tanya atau tanda seru. Misalnya:
“Di mana saudara tinggal?” tanya Pak Guru.
“Masuk ke kelas sekarang!” perintahnya.
h. Tanda koma dipakai di antara (a) nama alamat, (b) bagian-bagian alamat,
(c) tempat dan tanggal, serta (d) nama tempat dan wilayah atau negeri
yang ditulis berurutan. Misalnya:
Sdr. Abdullah, Jalan Pisang Batu 1, Bogor
Dekan Fakultas Kedokteran, Universtas Indonesia, Jalan
Salemba Raya 6, Jakarta
Surabaya, 10 mei 1960
Tokyo, Jepang
i. Tanda koma dipakai untuk memisahkan bagian nama yang dibalik
susunannya dalam daftar pustaka. Misalnya:
17
Gunawan, Ilham. 1984. Kamus Politik Internasional. Jakarta:
Restu Agung.
Halim, Amran (Ed.) 1976. Politik Bahasa Nasional. Jilid 1.
Jakarta: Pusat Bahasa.
Junus, H. Mahmud. 1973. Kamus Arab-Indonesia. Jakarta:
Yayasan Penyelenggara Penerjemah/Penafsir Alquran.
Sugono, Dendy, 2009. Mahir Berbahasa Indonesia dengan
benar. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
j. Tanda koma dipakai di antara bagian-bagian dalam catatan kaki atau
catatan akhir. Misalnya:
Alisjahbana, S. Takdir, Tata Bahasa Baru Bahasa Inndonesia.
Jilid 2 ( Jakarta: Pustaka Rakyat, 1950), hlm. 25.
Hilman, Hadikusuma, Ensiklopedi Hukum Adat dan Adat
Budaya Indonesia, (Bandung: Alumni, 1977), hlm. 12
Poerwadarminta, W.J.S. Bahasa Indonesia untuk Karangmengarang (Jogjakarta: UP Indonesia, 1967), hlm. 4.
k. Tanda koma dipakai di antara nama orang dan gelar akademik yang
mengikutinya dari singkatan nama diri, keluarga, atau marga. Misalnya:
B. Ratulangi, S. E.
Ny. Khadijah, M.A.
Bambang Irawan, S.H.
Siti Aminah, S.E., M.M.
Catatan:
Bandingkan Siti Khadihah, M.A. dengan Siti Khadijah M.A. (Siti
Khadijash Mas Agung).
18
l. Tanda koma dipakai di muka angka desimal atau diantara rupiah dan sen
yang dinyatakan dengan angka. Misalnya:
12,5 m
27,3 kg
Rp500,50
Rp750.00
Catatan:
Bandingkan dengan penggunaan tanda titik yang dimulai dengan
angka desimal atau di antara dollar dan sen.
m. Tanda koma dipakai untuk mengapit keterangan tambahan
yang
sifatnyatidak membatasi. Misalnya:
Guru saya, Pak Ahmad, Pandai sekali.
Di daerah kami, misalnya, masih banyak orang laiki-laki yang
makan sirih.
Semua siswa, baik laki-laki maupun perempuan, mengikuti
latihan paduan suara.
Catatan:
Bandingkan dengan keterangan pewatas yang pemakaiannya tidak
diapit dengan tanda koma. Misalnya
Semua siswa yang lulus ujian akan mendapat ijazah.
n. Tanda koma dapat dipakai untuk menghindari salah baca/salah pengertian di
belakang keterangan yang terdapat pada awal kalimat. Misalnya:
19
Dalam pengenbangan bahasa, kita dapat memamfaatkan bahasabahasa di kawasan nusantara ini.
Atas perhatian saudara, kami ucapkan terima kasih.
3. Tanda Titik Dua (:)
a. Tanda titik dua dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap yang diikuti
rangkaian atau pemerian. Misalnya:
Kita sekarang memerlukan perabot rumah tangga: kursi, meja,
dan lemari.
Hanya ada dua pilihan bagi para pejuang kemerdekaan hidup
atau mati.
Catatan:
Tanda titik dua tidak dipakai jika rangkaian atau pemerian itu
merupakan pelengkap yang mengakhiri pernyataan. Misalnya:
Kita memerlukan kursi, meja, dan lemari.
Fakultas itu mempunyai jurusan Ekonomi Umum dan Jurusan
Ekonomi Perusahaan.
b. Tanda titik dua dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan
pemerian. Misalnya:
Ketua
: Ahmad Wijaya
Sekretaris
: Siti Aryani
Bendahara
: Aulia Arimbi
Tempat
: Ruang Sidang Nusantara
Pembawa Acara
:Bambang S.
Hari, Tanggal
: Selasa, 28 Oktober 2008
Waktu
: 09.00-10.30
20
c. Tanda titik dua dapat dipakai dalam naskah drama sesudah kata yang
menunjukan pelaku dalam percakapan. Misalnya:
Ibu : “Bawa kopor ini, Nak!”
Amir
: “Baik, Bu.”
Ibu : “Jangan lupa. Letakan baik-baik!”
d. Tanda titik dua dipakai di antara (a) jilid atau nomor dalam halaman, (b) bab
dan ayat dalam kitab suci, (c) judul dan anak judul suatu karangan, serta (d)
nama kota dan penerbit buku acuan dalam karangan. Misalnya:
Horison, XLIII, No. 8/2008: 8
Surah Yasin: 9
Dari Pemburu ke Terapeutik: Antologi Cerpen Nusantara
Pedoman Umum Pembentukan Istilah Edisi Ketiga. Jakarta:
Pusat Bahasa
4. Tanda Hubung (-)
a. Tanda huung menyambung suku-suku kata yang terpisah oleh pergantian
baris. Misalnya:
Di samping cara lama diterapkan juga cara baru.
Sebagaimana kata pribahasa, tak ada gading yang tak retak.
b. Tanda hubung menyambung awalan dengan bagian kata yang mengikutinya
atau akhiran dengan bagian kata yang mendahuluinya pada pergantian baris.
Misalnya:
Kini ada cara yang baru untuk meng-
21
ukur panas.
Kukuran baru ini memudahkan kita mengukur kelapa.
Senjata ini merupakan sarana pertahanan yang canggih.
c. Tanda hubung digunakan untuk menyambung unsur-unsur kata ulang.
Misalnya:
Anak-anak
Berulang-ulang
Kemerah-merahan
Selain digunakan pada kata ulang, tanda hubung digunakan
untuk merangkaikan, unsur terikat dengan kata berikutnya yang
dimulai dengan huruf kapital singkatan yang berupa huruf
kapital dengan huruf kecil ke- dengan angka, dan angka dengan
akhiran –an.6
d. Tanda hubung digunakan untuk menyambung bagian-bagian tanggal dan
huruf dalam kata yang dieja satu-satu. Misalnya:
8-4-2008
p-a-n-i-t-i-a
e. Tanda hubung boleh dipakai untuk memperjelas (a) hubungan bagianbagian kata atau ungkapan dan (b) penghilangan bagian frasa atau kelompok
kata. Misalnya:
6
Asih Anggarani dkk, Mengasah Keterampilan Menulis Ilmiah di Perguruan Tinggi,
(Yogyakarta: Graha Ilmu, 2006), h. 53
22
Ber-evolusi
Dua-puluh ribuan (20 x 1.000)
Tanggung-jawab-dan-kesetiakawanan sosial ( tanggung jawab
dan kesetiakawanan sosial)
Karyawan boleh mengajak anak-isteri ke acara pertemuan
besok.
Bandingkan dengan:
Be-revolusi
Dua-puluh-ribuan (1 x 20.000)
Tanggung jawab dan kesetiakawanan sosial.
f. Tanda hubung dipakai untuk merangkai:
a. Se- dengan kata berikutnya yang dimulai dengan huruf
kapital,
b. Ke- dengan angka,
c. Angka dengan –an,
d. Kata atau imbuhan dengan singkata huruf kapital,
e. Kata ganti dengan berbentuk imbuhan, dan
f. Gabungan kata yang merupakan kesatuan. Misalnya:
Se-Indonesia
Peringkat ke-2
Tahun 1950-an
Hari-H
Sinar-X
Mem-PHK-kan
Ciptaan-Nya
Atas rahmat-Mu
Bandara Soekarno-Hatta
23
Alat pandang-dengar
g. Tanda hubung dipakai untuk merangkai unsur bahasa Indonesia dengan
unsur bahasa asing. Misalnya:
di-smash
di-mark-up
pen-tackle-an
5. Tanda tanya (?)
a. Tanda tanya dipakai pada akhir kalimat tanya. Mislanya:
Kapan dia berangkat?
Saudara tahu, bukan?
b. Tanda tanya dipakai di dalam tanda kurung untuk menyatakan bagian
kalimat yang disangsikan atau kurang dapat dibuktikan kebenarannya.
Misalnya:
Dia dilahirkan pada tahun 1963 (?)
Uang sebanya sepuluh juta rupiah (?) hilang.
6. Tanda seru (!)
Tanda seru dipakai untuk mengakhiri ungkapan atau pernyataan yang
berupa seruan atau perintah yang menggambarkan kesungguhan, ketidak
percayan, ataupun emosi yang kuat. Misalnya:
Alangkah indahnya taman laut ini!
Bersihkan kamar itu sekarang juga!
Sampai hati benar dia meninggalkan isterinya!
Merdeka!
24
7. Tanda petik (“...”)
a. Tanda petik dipakai untuk mengapit petikan langsung yang berasal dari
pembicaraan, naskah, atau bahan tertulis lain. Misalnya:
Pasal 36 UUD 1945 menyatakan, “Bahasa negara ialah bahasa
Indonesia.”
Ibu berkata, “Paman berangkat besok pagi.”
“Saya belum siap,” kata dia, “tunggu sebentar!”
b. Tanda petik dipakai untuk mengapit judul puisi, karangan, atau bab buku
yang dipakai dalam kalimat. Misalnya:
Sajak “pahlawanku” terdapat pada halaman lima buku itu.
Saya sedang membaca “Peningkatan Mutu Daya Ungkapbahasa
Indonesia” dalam buku Bahasa Indonesia Menuju Masyarakat
Madani.
Bacalah “Penggunaan Tanda Baca” dalam buku Pedoman
Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan.
Makalah “Pembentukan Insan Cerdas Kompetitif” menarik
perhatian peserta seminar.
c. Tanda petik digunakan untuk mengapit istilah ilmiah yang kurang dikenal
atau kata yang mempunyai arti khusus. Misalnya:
Pekerjaan itu dilaksanakan dengan cara “coba dan ralat” saja.
Dia bercelana panjang yang dikalangan remaja dikenal dengan
nama “cutbrai”.
Catatan:
a)
Tanda petik penutup mengikuti tanda baca yang mengakhiri petikan
langsung. Misalnya:
25
Kata dia, “saya juga minta satu.”
Dia bertanya, “apakah saya boleh ikut?”
b) Tanda baca penutup kalimat atau bagian kalimat ditempatkan di
belakang tanda petik yang mengapit kata atau ungkapan yang dipakai
dengan arti khusus pada ujung kalimat atau bagian kalimat. Misalnya:
Bang Komar sering disebut “pahlawan”; ia sendiri tidak
tahu sebabnya.
Karena warna kulitnya, dia mendapat julukan “Si Hitam”.
c) Tanda petik pembuka dan tanda petik penutup pada pasangan tanda petik
itu ditulis sama tinggi di sebelah atas baris.
d) Tanda petik (“) dapat digunakan sebagai pengganti idem atau sda.
(sama dengan diatas) atau kelompok kata di atasnya dalam penyajian
yang berbentuk daftar. Misalnya:
Zaman bukan jaman
“
Asas
Plaza
“
plasa
Jadwal
“
jadual
Bus
“
azas
bis
C. Pengertian Karangan dan Cerpen
1. Pengertian Karangan
Karangan adalah pembuatan cerita dan penyusunannya. Pengarang adalah
penulis cerita, karena ia yang mengarang cerita baik idenya berdasarkan
26
imajinasi sendiri maupun berasal dari tema yang sengaja dipilihnya. 7 Imajinasi
ini bisa bermula dari sebuah pengalaman, perasaan, pendapat, pengetahuan,
keinginan, ajakan, himbauan, penolakan, dan kegundahan batin sorang penulis.
Secara teoritis lahirnya sebuah tulisan dapat dipengaruhi oleh tujuan
penulisan, gaya pengungkapan, media yang digunakan, dan sebagainya.
Tulisan yang berkembang dimasyarakat sangat beragam, seperti cerita fiksi,
non fiksi, iklan, pengumuman, surat, catatan harian, dan sebagainya.8 Karangan
terbagi menjadi empat jenis, yaitu narasi, eksposisi, deskripsi, dan argumentasi.
2. Karangan Narasi
Penulisan yang sifatnya bercerita, baik berdasarkan pengamatan maupun
perekaan, dan tujuannya lebih banyak menghimpun, tergolong kategori
pengisahan. Hasilnya dapat disebut kisahan atau narasi.9
Secara harfiah, narasi merupakan suatu cerita. Cerita yang menuturkanatau
menyajikan hal, kejadian, atau, peristiwa secara berurutan dengan menonjolkan
tokoh. Didalam kejadian itu, tokoh cerita mengalami atau menghadapi suatu
konflik atau pertikaian. Rangkaian kejadian, latar, tokoh dan konflik ini
merupakan unsur pokok sebuah narasi, dan ketiganya, secara kesatuan biasa
pula terangkai dalam satu plot atau alur. Dengan demikian, narasi adalah cerita
berupa kejadian atau peristiwa berdasarkan alur.10 Munurut Keraf karangan
narasi itu sasaran utamanya adalah tindakan-tindakan yang dijalin dan
dirangkaiakan menjadi sebuah peristiwa yang terjadi dalam suatu kesatuan
waktu. Berikut contoh karangan narasi, sebuah penggalan cerpen karya
Wahyudi S. berjudul Suamiku:
Setelah selesai berpidato, kulihat wajah suamiku begitu cerah dan
bersinar. Sebelumnya, aku belum pernah melihat ia begitu lega saat ia selesai
7
Abdul Aziz Abdul Majid, Mendidik Dengan Cerita, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,
2002), h. 9
8
Sukino, Menulis Itu Mudah: Panduan Praktis Menjadi Penulis Handal, (Yogyakarta:
Pustaka Populer, 2010), h 56
9
Alek A. dan H. Achmad H.P., Bahasa Indonesia Untuk Perguruan Tinggi, (Jakarta:
Prenada Media Group, 2010), h. 184
10
Sukino, Menulis Itu Mudah: Panduan Praktis Menjadi Penulis Handal, (Yogyakarta:
Pustaka Populer, 2010), h. 57
27
berpidato seperti malam ini. Tidak sia-sia rasanya beberapa malam ini ia
belajar berpidato. Entah mengapa, suamiku harus belajar berpidato.
Untuk urusan pidato, aku tidak ingin memuji dan tidak perlu
meragukannya lagi. Suamiku memang jago dalam berpidato. Tidak hanya itu.
ia juga pandai meniru-niru gaya seseorang. Bahkan, pernah ia dengan persis
meniru gaya bicara penyanyi dangdut terkenal.
Tapi entah mengapa untuk pidato kali ini ia harus belajar segala. Kalau
karena alasan yang hadir, aku lihat yang hadir malam itu relatif sama dengan
saat ia berpidato yang kemarin-kemarin. Yang datang teman-teman
sekantornya beserta istri-istri mereka. Hanya saja kali ini memang kepala
kantornya baru.
Tapi tunggu sebentar. Aku baru ingat. Selama belajar berpidato, ia
berusaha keras untuk mengatakan kan dan bukan ken. Ia begitu berhati-hati
mengucapkan
kata-kata
tekankan,
instruksikan,
sabarkan,
salurkan,
sembunyikan. Kalau dulu kalau dulu pasti yang keluar dari mulutnya adalah
tekanken, instruksiken, sebarken, salurken, sembunyiken.
Lima bulan setelah berpidato, kedudukan suamiku naik menjadi kepala
subbagian di kantornya. Sejak itu, beban pekerjaannya bertambah-tambah.
Yang semula sehabis pulang ke rumah ia bisa bermain-main dan jagongan
dengan tetangga, sekarang waktu untuk itu sedikit sekali.
Tidak jarang ia pulang agak malam. Biasa, alasan pekerjaan, disuruh
kepala bagiannya, dipercaya kepala kantornya, atau alasan rapat, pertemuan
dan tektek bengek lainnya.
Aku sebagai istri sih tidak keberatan. Bagiku ini justru menaikkan
gengsiku. Setiap tetangga bertanya, ke mana suamiku, aku jawab dengan
jawaban yang itu tadi: ngurus pekerjaan, disuruh kepala bagiannya, dipercaya
kepala kantornya, atau alasan rapat, pertemuan.mereka terheran-heran
campur kagum. Kekaguman mereka juga tercampur dengan ketidakmengertian
28
mereka terhadap pekerjaan pegawai. Memang, di kampungku tidak ada
seorang pun yang menjadi pegawai, kecuali suamiku.11
3. Cerpen
Cerita pendek atau cerpen termasuk ke dalam kategori teks sastra. Sastra
itu sendiri memiliki pengertian pengungkapan realitas kehidupan masyarakat
secara imajiner atau secara fiksi. Dalam hal ini, sastra memang representasi
dari cerminan masyarakat. Senada dengan apa yang diungkapkan oleh George
Lukas bahwa sastra merupakan sebuah cermin yang memberikan kepada kita
sebuah refleksi realitas yang lebih besar, lebih lengkap, lebih hidup, dan lebih
dinamik.12
Cerpen itu sendiri adalah kisahan yang memberikan kesan tunggal
dominan tentang suatu tokoh dalam satu latar dan satu situasi yang dramatik.
Sumardjo dalam Sukino mengungkapkan bahwa cerita pendek adalah seni,
keterampilan menyajikan cerita, yang di dalamnya merupakan satu kesatuan
bentuk utuh, manunggal, dan tidak ada bagian-bagian yang tidak perlu, tetapi
juga ada bagian yang terlalu banyak. Semuanya pas, integral, dan mengandung
suatu arti.13
Berdasarkan pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa pengertian
cerpen adalah cerita fiksi (rekaan)yang mengisahkan tokoh dan karakternya
serta memiliki cakupan ide yang tunggal.
Cerpen masuk dalam kategori prosa rekaan modern. Bentuk prosa rekaan
modern bisa dibedakan atas roman, novel, novelet, dan cerpen. Karena tidak
ada penelitian yang mendukung, pembedaan atas bentuk tersebut lebih banyak
didasarkan pada panjang-pendeknya dan luas-tidaknya masalah yang
dipaparkan dalam prosa rekaan. Walaupun tidak selalu benar. Ada juga yang
dasar pembedaanya ditambah dengan bahasa dan lukisannya.14
11
Wahyudi Siswanto, Pengantar Teori Sastra, (Jakarta: Grasindo, 2008), h. 130
Endah Tri Priyatni, Membaca Sastra dengan Ancangan Literasi Kritis, (Jakarta: Bumi
Aksara, 2010), h. 12
13
Sumardjo dalam Sukino, Menulis Itu Mudah: Panduan Praktis Menjadi Penulis
Handal, (Yogyakarta: Pustaka Populer, 2010), h. 142
14
Wahyudi Siswanto, Pengantar Teori Sastra, (Jakarta: Grasindo, 2008), h. 140
12
29
Untuk menentukan panjang pendeknya cerpen, khususnya berkaitan
dengan kata yang digunakan, berikut ini dikemukakan beberapa pendapat.
Menurut Guerin cerpen biasanya menggunakan 15.000 kata atau 50 halaman.
Sedangkan Nugroho Notosusanto dalam Zulfahnur menyatakan bahwa jumlah
kata yang digunakan dalam cerpen 5.000 kata atau kira-kira 17 halamankuarto
spasi rangkap.15
Cerpen dapat dikategorikan kembali menjadi cerpen yang panjang
(cerpenpan) dan cerpen yang pendek, biasa disebut cerita mini (misalnya
“Cermin” di majalah Gadis). Cerpen panjang dapat kita temui, antara lain
dalam karya Budi Darma yang berjudul “Fofo” (42 halaman) dan “Kritikus
Adinan” (56 halaman). Cerita mini biasanya terdiri atas satu halaman atau
kurang dari itu. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia cerpen diartikan
sebagai kisahan pendek (kurang dari 10.000 kata) yang memberikan kesan
tunggal yang dominan dan memusatkan diri pada satu tokoh di satu situasi
(pada suatu ketika).16
Cerita pendek selain kependekannya ditunjukan oleh jumlah kata yang
digunakan. Ternyata peristiwa dan isi cerita yang disajikan juga sangat pendek.
Peristiwa ang disajikan memang singkat, tetapi mengandung kesan yang
mendalam. Isi cerita memang pendek karena mengutamakan kepadatan ide.
Oleh karena peristiwa dan isi cerita dalam cerpen singkat, maka pelaku-pelaku
dalam cerpen pun relatif lebih sedikit jika dibandingkan dengan roman/novel.17
4. Unsur Intrinsik
Aminuddin mengatakan unsur intrinsik adalah elemen-elemen fiksional
yang membangun karya fiksi itu sendiri sebagai suatu wacana. Sedangkan
soedjijono menyatakan bahwa unsur instrinsik adalah unsur yang berkaitan
dengan eksistensi sastra sebagai struktur verbal yang otonom.
15
Zulfahnur dalam Endah Tri Priyatni, Membaca Sastra dengan Ancangan Literasi
Kritis, (Jakarta: Bumi Aksara, 2010), h. 126
16
Wahyudi Siswanto, Pengantar Teori Sastra, (Jakarta: Grasindo, 2008), h. 142
17
Endah Tri Priyatni, Membaca Sastra dengan Ancangan Literasi Kritis, (Jakarta: Bumi
Aksara, 2010), h. 126
30
Jokob sumardjo dan saini K.M. mengungkapkan bahwa unsur intrinsik
prosa fiksi meliputi: alur, tema, tokoh dan penokohan, suasana, latar, sudut
pandang, dan gaya.pendapat ini selaras dengan pernyataan William Kenney
bahwa unsur intrinsik itu mencakup: plot, karakter, setting, point of view, gaya,
tone, dan tema.
Dari berbagai pendapat diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa unsur
instrinsik prosa fiksi ada tujuh, yaitu tema, tokoh dan penokohan, alur atau
plot, gaya, setting atau latar, point of view dan suasana (mood and
atmosphere)18
a. Tokoh, Watak dan Perwatakan
a) Tokoh
Yang dimaksud dengan tokoh adalah para pelaku atau subjek lirik
dalam karya fiksi. Tokoh, berdasarkan bentuknya dapat dibedakan
menjadi dua, yaitu: tokoh fiksi dan tokoh imajiner. Suyitno mengatakan
Tokoh fiksi adalah tokoh yang ditampilkan pengarang sebagai manusia
yang hidup di alam nyata. Dalam karya fiksi, tokoh semacam ini dapat
dilihat pada karya prosa fiksi konvensional. Sedangkan tokoh imajiner
adalah tokoh yang ditampilkan sebagai manusia yang hidup dalam
fantasi. Dari tokoh imajiner ini kita tidak akan menjumpai sifat-sifat
manusia secara wajar. Biasanya tokohnya berupa manusia yang serba
super, tokoh tidak memiliki watak, sifat dan perangai seperti layaknya
manusia biasa.
Berdasarkan sifat dan watak tokoh, tokoh dapat dibedakan menjadi
dua, yaitu tokoh protagonis dan tokoh antagonis. Menurut pendapat
Aminuddin Tokoh protagonis adalah tokoh yang berwatak baik sehingga
disukai oleh pembaca. Sedangkan tokoh antagonis adalah tokoh yang
berwatak jelek, tidak sesuai dengan apa yang diidamkan oleh pembaca.
18
Endah Tri Priyatni, Membaca Sastra dengan Ancangan Literasi Kritis, (Jakarta: Bumi
Aksara, 2010), h. 110
31
Berdasarkan fungsinya, tokoh dibedakan atas tokoh utama dan
tokoh bawahan/pembantu. Tokoh utama adalah tokoh yang memega
peran utama, frekuensi kemunculannya sangat tinggi, menjadi pusat
penceritaan. Sedangkan tokoh bawahan adalah tokoh yang mendukung
tokoh utama yang membuat cerita lebih hidup.
Berdasarkan
kompleksitas
masalah
yang
dihadapi,
tokoh
dibedakan atas tokoh simple dan tokoh kompleks. Tokoh simple adalah
tokoh yang tidak banyak dibebani masalah, sedangkan tokoh kompleks
adalah tokoh yang banyak dibebani masalah.
Berdasarkan perkembangan watak tokoh, tokoh yang dibedakan
atas tokoh statis dan tokoh dinamis. Tpkoh statis adalah tokoh yang
wataknya tidak mengalami perubahan mulai dari awal hingga akhir
cerita. Sedangkan tokoh dinamis adalah tokoh yang mengalami
perubahan dan perkembangan watak.
b) Watak
Watak adalah sifat dasar, ahklak, atau budi pekerti yang dimiliki
oleh tokoh. Setiap tokoh dalam karya fiksi memiliki sifat, sikap, dan
tingkah laku atau watak-watak tertentu. Yang memperkenalkan watakwatak tersebut adalah pengarang dengan tujuan untuk memperjelas tema
yang ingin disampaikan.
c) Perwatakan
Cara pengarang menampilkan watak para tokoh dalam cerita ada
bermacam-macam. M. Saleh dan Stephen Minot mengungkapkan bahwa
ada dua cara perwatakan, yakni secara langsung atau analitik, secara
dramatik (tidak langsung). Cara analitik adalah cara pengungkapan watah
tokoh secara langsung. Pengarang secara langsung mengungkapkan sifat,
sikap, dan perangai dari tokoh-tokoh yang ditampilkannya. Sedangkan
cara dramati adalah pelukisan watak tokoh secara tidak langsung,
misalnya melalui lingkunganhidup pelaku, monolog, percakapan para
32
pelaku, jalan pikiran pelaku, reaksi pelaku terhadap peristiwa, dan
komentar orang lain terhadap pelaku.
b. Setting atau latar
Peristiwa dalam prosa fiksi dilatari oleh tempat, waktu, dan situasi
tertentu. Sebenernya setting tidak hanya berupa tempat, waktu, yang
bersifat fisikal semata, tetapi juga setting yang bersifat psikologis. Setting
fisik
berkaitan
dengan
tempat,
waktu,
situasi
dan
benda-
benda/lingkungan hidup yang fungsinya membuat cerita menjadi logis.
Sedangkan pada setting psikologis di samping benda, waktu, tempat, dan
situasi tersebut mampu membuat cerita menjadi logis juga mampu
menggerakan emosi atau jiwa pembaca.
c. Alur/Plot
Alur adalah rangkaian peristiwa yang dimiliki hubungan sebabakibat. Dari definisi ini dapat disimpulkan bahwa peristiwa adalah unsur
utama alur. Keterampilan pengarang dalam memgarap peristiwa menjadi
jalinan cerita yang menarik ikut menentukan kualitas cerita yang
ditampilkan pengarang.
Sudjiman membagi tahapan alur dengan menggunakan bagan
sebagai berikut:
1. Paparan (eksposition)
Awal
2. Rangsangan (inciting force)
3. Gawatan (rising action)
4. Tikaian (conflict)
Tengah
5. Rumitan (complication)
6. Klimaks (climacx)
Akhir
7. Leraian (falling action)
8. Selesaian (denoument)
33
d. Gaya (Style)
Dalam istilah sastra gaya mengandung pengertian cara seorang
pengarang menyampaikan gagasanya dengan menggunakan media
bahasa yang indah dan harmonis serta mampu menuansakan makna dan
suasana yang dapat menyentuh daya intelektual dan emosi pembaca.
Jakob Sumardjo dan Saini K. M. mengartikan gaya gaya sebagai
cara khas yang dipakai pengarang untuk mengungkapkan dan meninjau
persoalan. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian gaya
lebih luas dari pada gaya bahasa. Gaya merupakan cermin pribadi
pengarang.
e. Sudut Pandang Pengarang/Point of View
Seorang pengarang dalam memaparkan ceritanya dapat memilih
sudut pandang tertentu. Pengarang dapat memilih satu atau lebih
narator/pencerita yang bertugas memaparkan ide, peristiwa-peristiwa
dalam prosa fiksi. Secara garis besar, pengarang dapat memlih pencerita
AKUAN atau DIAAN.
Seorang pencerita dapat dikatakan sebagai pencerita akuan apabila
pencerita tersebut dalam bercerita menggunakan kata ganti orang
pertama: aku atau saya. Pencerita akuan dapat menjadi salah seorang
pelaku atau disebut narrator acting. Sebagai narrator acting, ia bisa
mengetahui semua gerak fisik maupun psikisnya. Narrator acting yang
demikian ini biasanya bertindak sebagai pelaku utama serba tahu.
Tidak semua narrator acting sebagai pencerita serba tahu.
Terdapat kemungkinan narrator acting ini hanya mengetahui gerak-gerik
fisik dari para pelaku yang bertindak sebagai pelaku bawahan.
Di samping bertindak sebagai pencerita yang terlibat atau narrator
acting, seorang pencerita juga bisa bertindak sebagai pengamat. Pencerita
semacam ini biasanya disebut pencerita DIAAN. Pencerita diaan dalam
bercerita biasanya menggunakan kata ganti orang ketiga. Adapun
penunjuk kebahasaan yang digunakan biasanya: dia, ia, atau mereka.
34
AKUAAN
DIAAN
Kata ganti otang I
Kata ganti orang III
Narrator acting serba tahu
Observer serba tahu
Narrator
acting
terbatas Observe terbatas (objektif)
(objektif)
f. Suasana Cerita
Dalam cerita fiksi terdapat suasana batin dari individu pengarang.
Di samping itu juga terdapat suasana cerita yang ditimbulkan oleh
penataan setting. Suasana cerita yang ditimbulkan oleh suasana batin
individual pengarang disebut mood, sedangkan suasana cerita yang
timbul karena penataan setting disebut atmosphere.
g. Tema
Tema dalam prosa fiksi memiliki kedudukan yang sangat penting
karena semua elemen dalam prosa fiksi dalam sistem oprasionalnya akan
memacu dan menunjang tema. Tema tersebut juga menjadi ide sentral
atau makna sentral suatu cerita. Tema merupakan jiwa cerita dalam karya
fiksi. Pendapat ini selaras dengan pendapat Aminuddin yang menyatakan
bahwa tema adalah ide yang mendasari suatu cerita sehingga berperan
juga sebagai pangkal tolak dalam memaparkan karya fiksi yang
diciptakannya.19
5. Unsur Ekstrinsik
Pengkajian unsur ekstrinsik prosa fiksi mencakup: aspek historis,
sosiologis, psikologis, filsafat dan religius.20
19
Endah Tri Priyatni, Membaca Sastra dengan Ancangan Literasi Kritis, (Jakarta: Bumi
Aksara, 2010), h. 110
20
Ibid. h. 119
35
D. Penelitian yang Relevan
Analisis kesalahan Penggunaan Huruf Kapital dan Tanda Baca dalam
Karangan Narasi pada Siswa Kelas IX Mts Nurul Ihkwan Tahun Pelajaran
2011/2012 oleh Ahmad Razik Irawan. Dari hasil penelitiannya kesalahan
terbanyak ditemukan pada tataran penggunaan tanda baca, yaitu 67% siswa
melakukan kesalahan dalam menggunakan tanda baca.
Nur Rochman Prabowo (2010), mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa dan
Sastra Indonesia dan Daerah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Muhammadiyah Surakarta, melakukan penelitian tanda baca
mengenai “Peningkatan Kemampuan Tanda Baca dalam Paragraf Narasi
dengan Metode Berlatih Menulis Kelompok pada Siswa Kelas VII SMP
Muhammadiyah 7 Banyudono, Boyolali”. Penerapan metode berlatih menulis
ini diharapkan siswa mampu menulis dengan baik. Salah satu kesulitan siswa
adalah penggunaan ejaan bahasa Indonesia yang kurang tepat, yaitu tanda baca.
Kesulitan ini disebabkan siswa tidak paham bagaimana pengunaan tanda baca
yang tepat. Kurangnya pelatihan dan juga metode yang digunakan guru dalam
pembelajaran menulis. Oleh karena itu, diperlukan suatu metode pembelajaran
dalam keterampilan menulis. Salah satu dari metode ini siswa diharapkan
melakukan percobaan dengan tujuan memperoleh pemecahan masalah yang
telah dihadapinya secara berkelompok. Melalui model pembelajaran ini
diharapkan dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk lebih aktif dan
memberikan kesempatan untuk berkomunikasi sehingga pemahaman dan
kemampuan tentang tanda baca yang dimiliki siswa serta prestasi belajar siswa
dapat meningkat.
Khalimi (2012), mahasiswa Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Jakarta, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Jurusan Pendidikan Guru Madrasah
Ibtidaiyah, telah melakukan penelitian dengan judul “Analisis Kesalahan
Penggunaan Ejaan yang Disempurnakan pada Karangan Siswa Kelas VI di
Madrasah Ibtidaiyah Al-Ihsan Palmerah Jakarta Barat. Perbedaan penelitian
tersebut dengan skripsi ini adalah skripsi ini lebih fokus kepada permasalahan
36
penempatan tanda baca, tidak mencakup penggunaan huruf besar seperti yang
tercantum dalam EYD.
Berbagai penelitian di atas, telah dilakukan berbagai penelitian tentang
kesalahan berbahasa dengan metode yang berbeda. Hasilnya dapat disimpulkan
bahwa kesalahan berbahasa masih banyak dilakukan. Oleh karena itu,
penelitian yang menyangkut kesalahan berbahasa ini masih layak untuk
dilakukan.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Smp Dua Mei Ciputat Timur, Tangerang
Selatan. Penelitian ini dilaksanakan selama enam bulan. Terhitung mulai dari
proposal penelitian diajukan. 18 Desember 2014 sampai 6 Agustus 2015
B. Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIIIA Semester genap tahun
pelajaran 2014/2015, dengan jumlah siswa 27 orang. Pertimbangan dipilihnya
kelas tersebut adalah berdasarkan hasil rundingan dengan guru kelas dan guru
bagian kurikulum.
C. Metode Penelitian
Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode penelitian kualitatif
deskriptif. Penelitian kualitatif adalah pendekatan penelitian yang menekankan
pada analisis non numerik dan analisis interpretatif terhadap fenomena sosial.1
Metode penelitian kualitatif sering disebut metode penelitian naturalistik
karena penelitiannya dilakukan pada kondisi yang alamiah (natural/setting).
Kualitatif disebut juga sebagai metode etnografi, karena pada awalnya metode
ini lebih banyak digunakan untuk penelitian bidang antropologi budaya.
Disebut sebagai metode kualiatif, karena data yang terkumpul dan analisisnya
lebih bersifat kualitatif.2
Penelitian kualitatif adalah jenis penelitian yang temuan-temuannya tidak
diperoleh melalui prosedur statistik atau bentuk hitungan lainnya.3
1
Sulistyaningsih, Metodelogi Penelitian Kebidanan: Kuantitatif-Kualitatif, (Yogyakarta:
Graha Ilmu, 2011), h. 107
2
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan Kombinasi, (Bandung:
Alfabeta, 2013), h.12
3
Aselm Strauss dan Juliet Corbin, Dasar-dasar Penelitian Kualitatif, (Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 2009), h. 4
37
38
Penelitian kualitatif menurut para ahli di antaranya Bogdan dan Tylor
mendefinisikan “metodelogi kualitatif” sebagai prosedur penelitian yang
menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orangorang dan prilaku yang dapat diamati.4 Sejalan dengan itu kirk dan miller
mendefinisikan bahwa penelitian kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu
pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada pengamatan pada
manusia dalam kawasannya sendiri dan berhubungan dengan orang-orang
tersebut dalam bahasanya dan dalam peristilahannya.5
Penelitian deskripsi berusaha memberikan dengan sistematis dan cermat
fakta-fakta aktual dan sifat populasi tertentu.6 Sedangan inti dari pengertian
Penelitian deskriptif adalah suatu metode penelitian yang dilakukan untuk
melukiskan dan menafsirkan keadaan yang ada sekarang. Penelitian ini
berkenaan dengan kondisi atau hubungan yang ada, praktek-praktek yang
sedang berlaku, keyakinan, sudut pandang, atau sikap yang dimiliki, prosesproses yang sedang berlangsung, pengaruh-pengaruh yang sedang dirasakan,
atau kecenderungan-kecenderungan yang sedang berkembang.7 Dalam
melakukan penelitian deskriptif tak boleh hanya memindahkan fakta dari
lapangan ke laporan penelitian, tanpa mencari makna.8
D. Teknik Pengumpulan Data
Penelitian yang target datanya berupa keterampilan, kompetensi,
intelegensi, dan bakat, lebih tepat menggunakan teknik tes.9 Mengingat target
data yang ingin didapat dan pernyataan tersebut, maka teknik pengumpulan
data yang digunakan penulis adalah tes.
4
Bogdan dan Tylor dalam Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung:
PT. Remaja Rosdakarya, 2001), h. 3
5
Ibid. h. 3
6
S. Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Jakarta: PT. Asdi Mahasatya, 2010), h.
8
7
Donal Ary Dkk, Pengantar Penelitian dalam Pendidikan, ( Surabaya: Usaha Nasional,
1982), h. 51
8
Tatang M. Amirin, Menyusun Rencara Penelitian, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,
1995), h. 124
9
H.M. Musfiqon, Panduan Lengkap Metodologi Penelitian Pendidikan, (Jakarta: Prestasi
Pustaka Publisher, 2012), h. 131
39
Penggunaan teknik tes ini disesuaikan dengan masalah yang diteliti,
sehingga alat tes yang dipilih sesuai dengan masalah penelitian sehingga
format tes dapat dikembangan sendiri oleh peneliti. Oleh karena itu, peneliti
menggunakan alat tes berupa cerpen yang berjudul Akibat Jajan Sembarangan
oleh Adinta Asfiratun Husna. Peneliti menyajikan cerpen tersebut tanpa
dilengkapi tanda baca agar siswa melengkapi tanda baca yang hilang sesuai
dengan kaidah EYD.
E. Teknik Pengolahan Data
Berdasarkan teknik pengambilan data maka data yang dihasilkan berupa
data teks, maka teknik pengolahan data sebagai berikut:
a. Mengumpulkan data kesalahan, yaitu berupa kesalahan berbahasa yang
dibuat oleh sisswa, misalnya hasil ulangan, karangan atau percakapan.
b. Mengidentifikasi dan mengklasifikasi kesalahan, yaitu mengenali dan
memilah-milah kesalahan berdasarkan kategori kebahasaan. Misalnya
kesalahan-kesalahan pelafalan, pembentukan kata, penggunaan kata dan
penyusunan kalimat.
c. Memperingkat
kesalahan,yaitu
mengurutkan
kesalahan
berdasarkan
frekuensi atau keseringannya.
d. Menjelaskan kesalahan, yaitu menggambarkan letak kesalahan, penyebab
kesalahan, dan memberikan contoh yang benar.
e. Memperkirakan daerah rawan kesalahan, yaitu meramalkan tataran bahasa
yang dipelajari yang potensial mendatangkan kesalahan.
f. Mengoreksi kesalahan, yaitu memperbaiki dan bila dapat menghilangkan
kesalahan melalui penyusunan bahan yang tepat, buku pegangan yang baik,
dan teknik pengajaran yang serasi.
F. Teknik Analisis Data
Teknik analisis yang penulis gunakan yaitu teknik analisis kualitatif
deskriptif. Langkah pertama adalah membuat tabel frekuensi kemudian
40
dilengkapi dengan presentase. Dalam hal ini, penulis menggunakan rumus
sebagai berikut:
F
P= ______ X 100%
N
Keterangan:
P
= Angka Persentase (%)
F
= Frekuensi yang sedang dicari presentasenya (jumlah kesalahan)
N
= Number of Case (jumlah frekuensi/banyaknya individu).10
Setelah
mendapatkan
hasil
presentase,
maka
untuk
mengetahui
keberhasilan siswa dalam menggunakan tanda baca dengan benar dapat dilihat
berdasarkan kriteria dibawah ini:
G. Instrumen Penelitian
Berikut ini adalah instrumen yang penulis gunakan dalam mengolah data
penelitian. Ada tiga tabel analisis. Format tabel yang digunakan sebagai
berikut:
Tabel 1
No
Nama
Kls
Kode Cerpen
Keterangan:
No
: Nomor urut tabel
Nama
: Nama siswa
Kls
: Kelas
Kode Cerpen : Nomor urut cerpen
10
Anas Sudijono, Pengantar Statistik Pendidikan, (Jakarta: PT. Raja Drafindo Persada,
2012) h. 43
41
Tabel 2
No
Kode
Data
Data Ke- Hasil Temuan
Keterangan:
No
: Nomor urut tabel
Kode
: Kode nomor urut cerpen
Data ke-
: Nomor urut data temuan
Hasil temuan : Data temuan
Tabel 3
Kode
Data Ke-
Analisis Kesalahan
Keterangan:
Kode
: Kode nomor urut cerpen
Data ke-
: Nomor urut data temuan
Analisis kesalahan
: analisis dan perbaikan kesalahan
Tabel 4
No
Kode
Komponen
(.)
(,)
(:)
(?)
TKTB
Keterangan:
No
: Nomor urut tabel
Kode
: Kode nomor urut cerpen
(.)
: Tanda titik
(,)
: Tanda koma
(:)
: Tanda titik dua
(?)
: Tanda tanya
(!)
(-)
(“...”)
Jumlah
42
(!)
: Tanda seru
(-)
: tanda hubung
(“...”)
: Tanda petik
Jumlah
: Jumlah Kesalahan
TKTB
: Total kesalahan tanda baca
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Lokasi Penelitian
1. Dentitas Sekolah
a. Nama Sekolah
: SMP Dua Mei Ciputat Timur Kota
Tangerang Selatan
b. Nomor Statitik Sekolah (NSS): 20 2 280310 014
c. Alamat Sekolah
: Jalan H. Abdul Gani No. 135
: Kecamatan Ciputat Timur
: Kota Tangerang Selatan
: Provinsi Banten
d. Nomor Telepon
: (021) 7490034
e. Status Sekolah
: Swasta
f. Nilai Akreditasi Sekolah : A
g. Tahun Didirikan
: 1986
h. Tahun Beroperasi
: 1986
i. Kepemilikan Tanah
: Yayasan Pendidikan Dua Mei
a) Status Tanah
: Tanah Milik Yayasan
b) Luas Tanah
: 3000 m2
j. Status Bangunan
: Yayasan
a) Surat Izin Bangunan
: No.
b) Luas Seluruh Bangunan :1000 M2
43
44
2. Data Pendidik dan Tenaga Kependidikan
a.
Kepala Sekolah
Jenis
No. Nama
1
2
kelamin
Jabatan
L
P
L
-
Enjang
Kepala
Supyan, M.Pd.
Sekolah
Saptono, S.Pd.
Wakil Kepala L
44
Pendidikan
Masa
terakhir
kerja
S.2
12 Th
S.2
12 Th
Th
Sekolah
a.
Usia
-
41
Th
Guru
a) Kualifikasi Pendidikan, Status, Jenis kelamin, dan jumlah
Jumlah dan status guru
Tingkat
No.
Pendidikan
GT/PNS
GTT/Guru Bantu
L
P
L
Jumlah
P
1
S3/S2
1
1
2
2
S1
6
6
10
3
D-4
4
D3/Sarmud
5
D2
6
D1
7
SMA/Sederajat
Jumlah
2
7
7
45
b) Jumlah Guru dengan tugas mengajar sesuai dengan latar belakang
pendidikan (keahlian)
Jumlah guru dengan latar
Jumlah dengan latar
belakang pendidikan sesuai
belakang pendidikan
dengan tugas mengajar
yang Tidak sesuai dengan
Juml
ah
tugas mengajar
N
Guru
o.
D1/D D3/
S1/D S2/S D1/D D3
S1/D S2/S
2
4
4
Sarm
3
2
ud
/
3
Sar
mu
d
1
2
3
4
IPA
Matemati
ka
Bahasa
Indonesia
Bahasa
Inggris
2
2
1
1
2
1
3
1
1
1
1
1
1
2
2
1
1
Pendidik
5
an
Agama
6
7
8
IPS
Penjaske
s
Seni
Budaya
9
PKn
1
1
10
TIK
1
1
11
BK
1
1
46
12
Lainnya
Jumlah
13
2
1
1
1
16
b) Data Ruang Belajar
Jumla
Jenis
h
Ruangan
(buah
)
1. Perpustak
aan
2. Lab. IPA
3. Keterampi
lan
1
1
1
Ukura
n (p x
l)
7x9
10 x
12
9x9
4. Multimedi
a
Jumla
Kondi
si *)
7x9
(buah
)
Baik
Baik
Baik
Rsk
1
Jenis Ruangan
h
Ringa
6. Lab. Bahasa
7.Lab.
Komputer
1.PTD
Ukura
n (p x
l)
Kondi
si
-
-
-
1
7x9
Baik
-
-
-
-
-
-
-
-
-
2. Serbaguna/A
ula
n
5. Kesenian
-
-
- 6.
-
b. Visi, Misi dan Tujuan
a) Visi
Visi sekolah Menengah Pertama (SMP) Dua Mei Ciputat yaitu
mewujudkan SMP Dua Mei Ciputat sebagai sekolah “Bermutu,
Berakhlak dan Berbudi Pekerti Luhur”
b) Misi
Misi SMP Dua Mei Ciputat yaitu :
1. Bermutu dalam mewujudkan pengembangan pendidikan yang
berdasarkan akhlak mulia
2. Bermutu dalam mewujudkan pengembangan tenaga pendidik
dan
kependidikan
yang
berbudi
pekerti
luhur,
jujur,
profesional, terampil, tangguh dan berkompeten di bidangnya
47
3. Bermutu dalam mewujudkan pengembangan standar proses
pembelajaran yang aktif, kreatif dan menyenangkan
4. Bermutu
dalam
mewujudkan
pengembangan
fasilitas
pendidikan yang lengkap, up to date dan canggih
5. Bermutu dalam mewujudkan peningkatan standar kelulusan
dan prestasi non akademik
6. Bermutu dalam mewujudkan peningkatan kelembagaan serta
manajemen
7. Bermutu
dalam
mewujudkan
pengembangan
standar
pembiayaan
8. Bermutu dalam mewujudkan pengembangan standar penilaian
pendidikan.
c. Tujuan
Tujuan pendidikan di SMP Dua Mei Ciputat Timur adalah:
a) Mendidik siswa menjadi insan yang berakhlak mulia
b) Mendidik siswa menjadi insan yang berbudi pekerti luhur
c) Mendidik siswa menjadi insan yang jujur
d) Mendidik siswa menjadi insan yang trampil
e) Mendidik siswa menjadi insan yang disiplin
f)
Mengembangkan bakat siswa dalam bidang akademik
g) Mengembangkan bakat siswa dalam bidang non akademik
h) Meningkatkaan pembelajaran yang efektif
i)
Meningkatkan mutu pendidikan
j)
Mengantarkan siswa ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
B. Analisis Data
Berikut adalah tabel data siswa yang menjadi sempel penelitian.
Sempel penelitian kelas VIII A dengan jumlah siswa 27 orang.
48
No Nama Siswa
Kelas
1
Ahmad Bachza Baimahdi
VIIIA 2
2
Alfa San
VIIIA 12
3
Anita Sari
VIIIA 24
4
Bayu Cesario Tri Kumorodjati
VIIIA 17
5
Berlian Tri Cahayana Putri
VIIIA 11
6
Bima Antares Alashar
VIIIA -
7
Boby Kriscahyanto
VIIIA 1
8
Daffa Aria Putra
VIIIA 5
9
Diana
VIIIA 8
10
Fahri Supriyatna
VIIIA 23
11
Farhan Sovi Bawazir
VIIIA 14
12
Fauzan Aryatsha
VIIIA 6
13
Feny Rahmawati
VIIIA 18
14
Ilham Adeputra
VIIIA 22
15
Intan Nuryahya saputri
VIIIA 10
16
Khoirul Mawaddah
VIIIA 9
17
Muhammad Aditya Nanang Nasrullah
VIIIA 20
18
Muhammad Alif Raihansyah Sudiman
VIIIA 16
19
Muhammad Ar Razzaq Rafi
VIIIA 25
20
Muhammad Arvansyah S
VIIIA 7
21
Muhammad Fikri Akhrizan
VIIIA -
22
Novita Murtiani
VIIIA 4
23
Puput Nurjanah
VIIIA 3
24
Siti Bunga Nurjanah
VIIIA 19
25
Syahdad Afdalash
VIIIA 21
26
Tanika Candida Karin
VIIIA 13
27
Ubaidillah
VIIIA 15
Keterangan:
No
: Nomor urut tabel
Kode Cerpen
49
Nama
: Nama siswa
Kls
: Kelas
Kode Cerpen : Nomor urut cerpen
Data kesalahan penempatan tanda baca sebagai berikut:
No
Kode
Data
Data Ke- Hasil Temuan
1
1
1
Sudah dua hari ini Imah tidak Masuk sekolah. Padahal
dia itu anak yang rajin
2
Oleh karena itu Aku, Ana, dan Afga berencana
mengunjunginya sepulang sekolah.
2
3
2
3
3
Tiba-tiba mereka mengejutkan ku dan berteriak
1
Tidak lama Imah keluar.
2
Dia berkata “Afga
3
“Afga jajanya dijaga.
4
Jangan jajan sembarangan gitu”
5
“Tahu apa”
6
“ya ampun”
1
Sebab itu, lebih bersih dan terhindar
2
“Astaga. Aku belum mau jadi mayat!”
3
“iya, aku juga ga mau” sahutku.
4
“kalau gitu, besok aku bawa bekal dari rumah” ucap
Afga.
4
4
1
Silahkan masuk dan duduk dulu ya,”
2
Dia berkata “Afga, jajannya dijaga.
3
Imah menjelaskan Ia sakit karena jajan sembarangan, Ia
juga minum es seperti yang sedang dibawa afga.
5
5
4
“ya, ampun”
5
Kata Afga berikut menjauhkan sedotan dari bibirnya
1
Siang harinya sesuai rencana, kami aku pun menunggu
50
2
Menunggu teman temanku disamping pintu gerbang
sekolah.
6
6
3
Mereka mengejutkanku dan berteriak “Dor!
4
“Dor! Kaget ya?”
1
Lagi pula lebih baik bawa bekal dari rumah,
2
“imah lekas sembuh ya” ucap kami sebelum pulang.
3
“Amin, makasih ya teman-teman” jawab Imah.
4
“siap, bos! Semoga kita dapat seratus lagi ya” jawab
Imah.
7
7
5
“Pasti. Semangat!” seru kami.
1
Sebab itu lebih bersih dan terhindar dari zat berbahaya
bagi tubuh.
2
“Astaga! Aku belum mau jadi mayat” seru Afga.
3
“iya, aku juga gak mau” sahutku.
4
“kalau gitu, besok aku bawa bekal aja dari rumah” ucap
Afga.
8
9
8
9
1
“Imah, lekas sembuh ya” ucap kami sebelum pulang.
2
“Amin, makasih ya teman-teman,”
3
“pasti! Semangat” seru kami.
1
Oleh karena itu, Aku, Ana, dan Afga, berencana
mengunjunginya sepulang sekolah.
10
11
10
11
2
“kemana ya mereka?” gumamku.
3
“dor. Kaget
4
Kaget ya?”
1
“Imah lekas sembuh ya” ucap kami sebelum pulang.
2
“Amin, makasih ya teman-teman
3
Teman-teman” jawab Imah.
4
Belajar juga buat ulangan matematika,
5
Semangat” kata Ana.
1
“Astaga! Aku belum mau jadi mayat” seru Afga.
51
2
“Iya, aku juga ga mau” sahutku.
3
“Kalau gitu, besok aku bawa bekal aja dari rumah” ucap
Afga.
12
12
1
“Adi, Ana, dan Afga rupanya. Silahkan masuk dan duduk
dulu ya”
2
Dia berkata “Afga jajannya dijaga. Jangan sembarangan
3
“Afga jajanya dijaga. Jangan sembarangan gitu” sembari
menunjuk ke arah kantong es yang dibawa Afga.
4
“kenapa? Aku haus” jawab Afga dengan polosnya.
5
“ya ampun” kata Afga berikut menjauhkan sedotan dari
bibirnya.
13
13
1
“Adi, Ana, dan Afga rupanya. Silahkan masuk dan duduk
dulu ya”
14
14
2
Dia berkata, “Afga! Jajannya di jaga jangan sembarangan
3
“kenapa? Aku haus” jawab Afga dengan polosnya.
4
“tahu. Apa?” tanyaku.
1
“kemana ya mereka?” gumamku.
2
Tiba-tiba, mereka mengejutkanku dan berteriak “dor!
3
“dor! Kaget ya?”
4
“apaan sih kalian? Mengagetkanku saja. Kalau aku
jantungan gimana?” seruku.
5
“maaf, maaf, soalnya tadi kami mampir dulu ke ruang
guru untuk mengumpulkan tugas dari Pak Marno” pinta
Ana dan Afga.
15
15
1
“kemana ya mereka?” gumamku.
2
Tiba-tiba, mereka mengejutkanku dan berteriak “dor!
3
“apaan sih kalian? Mengagetkanku saja. Kalau aku
jantungan gimana?” seruku.
16
16
1
“astaga! Aku belum mau jadi mayat”
2
“iya aku juga gak mau”
52
17
17
3
“iya aku juga gak mau”
1
“Adi Ana dan Afga rupanya. Silahkan masuk dan duduk
dulu ya”
2
“Adi Ana dan Afga rupanya. Silahkan masuk dan duduk
dulu ya”
3
Dia berkata “Afga jajanya dijaga. Jangan jajan
sembarangan gitu”
4
Dia berkata “Afga jajanya dijaga. Jangan jajan
sembarangan gitu”
5
Dia berkata “Afga jajanya dijaga. Jangan jajan
sembarangan gitu”
18
18
6
Ia juga minum es seperti yang sedang dibawa Afga
7
“ya ampun” tanyaku.
1
“kemana ya mereka?” gumamku.
2
Tiba-tiba, mereka mengejutkanku dan berteriak “dor!
Kaget ya?”
3
Tiba-tiba mereka mengejutkanku dan berteriak “dor!
Kaget ya?”
4
“Maaf, maaf, soalnya tadi kami mampir dulu ke ruang
guru untuk mengumpulkan tugas dari Pak Marno”
19
19
1
“Imah, lekas sembuh ya” ucap kami sebelum pulang.
2
“Amin, makasih ya teman-teman,”
3
“besok kamu jadi masuk sekolah? Belajar juga buat
ulangan matematika. Semangat.” Kata Ana.
20
20
1
“Adi, Ana, dan Afga rupanya. Seilahkan masuk dan
duduk dulu ya” Bu Ina Ibu Imah mempersilahkan kami
masuk.
2
“Adi, Ana, dan Afga rupanya. Seilahkan masuk dan
duduk dulu ya” Bu Ina Ibu Imah mempersilahkan kami
masuk.
53
3
Dia berkata “Afga, jajanya dijaga. Jangan jajan
sembarangan gitu”
4
Dia berkata “Afga, jajanya dijaga. Jangan jajan
sembarangan gitu”
21
21
1
Sebelum kerumah Imah, kami sempat mampir ke warung
untuk membeli roti, Bahkan Afga juga sempat membeli
es karena kehausan.
2
“Adi, Ana, dan Afga rupanya. Silahkan masuk dan duduk
dulu ya” Bu Ina, ibu Imah, mempersilahkan kami masuk.
3
Tidak lama Imah keluar. Dia terlihat kurus dan wajahnya
tampak pucat.
4
Dia berkata “Afga, jajanya dijaga. Jangan jajan
sembarangan gitu” sembari menunjuk ke arah kantong es
yang dibawa Afga.
5
Dia berkata “Afga, jajanya dijaga. Jangan jajan
sembarangan gitu” sembari menunjuk ke arah kantong es
yang dibawa Afga.
22
22
6
“Kenapa? Aku haus” jawab Afga dengan polosnya.
1
Oleh karena itu, Aku, Ana, dan Afga, berencana
mengunjunginya usai pulang sekolah.
2
“Ke mana ya mereka?” gumamku.
3
Tiba-tiba, mereka mengejutkanku dan berteriak “Dor!
Kaget ya?”
4
Tiba-tiba, mereka mengejutkanku dan berteriak “Dor!
Kaget ya?”
23
23
1
“Kemana ya mereka?” Gumamku.
2
Tiba-tiba, mereka mengejutkanku dan berteriak “Dor.
Kaget ya?”
3
Tiba-tiba, mereka mengejutkanku dan berteriak “Dor.
Kaget ya?”
54
4
Tiba-tiba, mereka mengejutkanku dan berteriak “Dor.
Kaget ya?”
5
“Apaan sih kalian? Mengagetkanku saja. Kalau aku
jantungan gimana?” seruku.
6
“Maaf, maaf, soalnya tadi kami Mampir dulu ke ruang
guru untuk mengumpulkan tugas dari Pak Marno,” pinta
Ana dan Afga.
24
24
1
“Astaga. Aku belum mau jadi mayat” seru Afga.
2
“Astaga. Aku belum mau jadi mayat” seru Afga.
3
“Iya, aku juga gak mau” sahutku.
4
“Kalau gitu, besok aku bawa bekal aja dari rumah” ucap
Afga.
25
25
1
“Adi, Ana, dan Afga rupanya. Silahkan masuk dan duduk
dulu ya”
2
Bu Ina, ibu Imah mempersilahkan kami masuk.
3
Dia berkata “Afga, jajanya dijaga. Jangan jajan
sembarangan gitu”
4
Dia berkata “Afga, jajanya dijaga. Jangan jajan
sembarangan gitu”
5
“Ya ampun” kata Afga berikut menjauhkan sedotan dari
bibirnya.
Keterangan:
No
: Nomor urut tabel
Kode
: Kode nomor urut cerpen
Data ke-
: Nomor urut data temuan
Hasil temuan : Data temuan
55
Analisis kesalahan penempatan tanda baca:
Kode Data Ke-
Analisis Kesalahan
1
Data: Sudah dua hari ini Imah tidak masuk sekolah. Padahal
1
dia itu anak yang rajin
Analisis: pada kalimat tersebut terdapat kekurangan dalam
penerapan tanda baca “koma”. Jika melihat EYD, tanda koma
harus diterapkan setelah kata “padahal”. Karena, kata tersebut
adalah ungkapan penghubung antar kalimat yang terdapat pada
awal kalimat.
Perbaikan: Sudah dua hari ini Imah tidak Masuk sekolah.
Padahal, dia itu anak yang rajin
2
Data: Oleh karena itu Aku, Ana, dan Afga berencana
mengunjunginya sepulang sekolah.
Analisis: pada data tersebut terdapat kekurangan penerapan
tanda baca “koma”. Dalam EYD, tanda koma harus diterapkan
setelah kalimat “oleh karena itu”. karena kalimat tersebut
adalah ungkapan penghubung antar kalimat yang terdapat pada
awal kalimat.
Perbaikan: Oleh karena itu, Aku, Ana, dan Afga berencana
mengunjunginya sepulang sekolah.
3
Data: Tiba-tiba mereka mengejutkanku dan berteriak
Analisis: pada data tersebut ada kekurangan penerapan tanda
baca “koma”. setelah kata “tiba-tiba” diberi tanda koma untuk
menghindari salah baca.
Perbaikan: Tiba-tiba, mereka mengejutkanku dan berteriak.
2
1
Data: Tidak lama Imah keluar.
Analisis: pada kalimat tersebut ditemukan kekurangan
penerapan tanda baca “koma”. mengacu pada EYD, kalimat
tersebut harus dilengkapi tanda koma setelah kalimat “tidak
lama”. Ini dimaksudkan untuk menghindari salah baca/salah
56
pengertian.
Perbaikan: Tidak lama, Imah keluar.
2
Data: Dia berkata “Afga
Anaisis: kalimat di atas kurang tanda koma setelam kalimat
“dia berkata”. Seharunya diberi tanda “koma” untuk
memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat.
Perbaikan: Dia berkata, “Afga jajannya dijaga. Jangan jajan
sembarangan gitu,”
3
Data: “Afga jajannya dijaga.
Analisis: Pada data tersebut, kalimat harus dilengkapi tanda
“koma” setelah kata “Afga” untuk menghindari salah baca atau
pengertian.
Perbaikan: “Afga, jajannya dijaga. Jangan jajan sembarangan
gitu,”
4
Data: “Tahu apa”
Analisis: kalimat tersebut harus dilengkapi dengan tanda
“tanya” diakhir kalimat tersebut. Karena, kalimat tersebut
kalimat tanya.
Perbaikan: “Tahu apa?”
5
Data: “Ya ampun”
Analisis: kalimat di atas harus diakhiri dengan tanda “koma”
sebelum tanda “petik dua tutup” untuk memisahkan petikan
langsung dari bagian lain dalam kalimat.
Perbaikan: “Ya ampun,”
3
1
Data: Sebab itu, lebih bersih dan terhindar
Analisis: Kalimat tersebut dalam penempatan tanda baca
“koma” kurang tepat.
Perbaikan: Sebab, itu lebih bersih dan terhindar dari zat
berbahaya bagi tubuh.
2
Data: “Astaga. Aku belum mau jadi mayat!”
57
Analisis: kalimat di atas kurang tepat dalam pemberian tanda
baca. Setelah kata “Astaga” seharusnya bukan diberi tanda
“titik” tetapi “seru”. Salah satu fungsi tanda seru dipakai untuk
ungkapan yang menggambarkan emosi yang kuat.
Perbaikan: “Astaga! Aku kan belum mau jadi mayat!”
3
Data: “Iya, aku juga ga mau” sahutku.
Analisis: ada kekurangan penerapan tanda baca “koma” dalam
kalimat tersebut. Tanda koma dipakai untuk memisahkan
petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat. Diakhir
kalimat harus diberi tanda baca koma sebelum diberi tanda
“petik tutup”.
Perbaikan: “Iya, aku juga ga mau,” sahutku.
4
Data: “Kalau gitu, besok aku bawa bekal dari rumah” ucap
Afga.
Analisis: kesalahan pada data keempat dicerpen ketiga ini
sama seperti data ketiga.
Perbaikan: “Kalau gitu, besok aku bawa bekal dari rumah,”
ucap Afga.
4
1
Data: Silahkan masuk dan duduk dulu ya,”
Analisis: pada kalimat tersebut, kurang pemberian tanda
“koma” setelah kata “dulu”. Karena, kata “ya” adalah kata seru
yang harus dipisahkan dengan tanda “koma”.
Perbaikan: Silah kan masuk dan duduk dulu, ya,”
2
Data: Dia berkata “Afga, jajannya dijaga.
Analisis: kalimat di atas kurang pemberian tanda “koma”
untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam
kalimat.
Perbaikan: Dia berkata, “Afga, Jajannya dijaga. Jangan jajan
sembarangan gitu,”
3
Data: Imah menjelaskan Ia sakit karena jajan sembarangan, Ia
58
juga minum es seperti yang sedang dibawa afga.
Analisis: perberian tanda “koma” pada kalimat diatas kurang
tepat. Lebih tepat jika diberi tanda “titik”, untuk mengakhiri
kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan.
Perbaikan: Imah menjelaskan Ia sakit karena jajan
sembarangan. Ia juga minum es seperti yang sedang dibawa
afga.
4
Data: “ya, ampun”
Analisis: kalimat tersebut harus dilengkapi dengan “koma”
setelah kata “ampun”, untuk memisahkan petikan langsung.
Perbaikan: “ya, ampun,”
5
Data: Kata Afga berikut menjauhkan sedotan dari bibirnya
Analisis: kalimat di atas kurang sempurna, karena tidak
diakhiri dengan tanda “titik”. Tanda tersebut untuk menandai
akhir kalimat bukan pertanyaan atau seruan.
Perbaikan: Kata Afga berikut menjauhkan sedotan dari
bibirnya.
5
1
Data: Siang harinya sesuai rencana, kami akupun menunggu
Analisis: Dalam kalimat tersebut terdapat kekeliruan dalam
penempatan tanda baca “koma”. Penempatan koma tidak
seharunya setelah kata “rencana” melainkan setelah kata
“kami” untuk menghindari salah baca/pengertian.
Perbaikan: Siang harinya sesuai rencana kami, aku pun
menunggu teman-temanku disamping pintu gerbang sekolah.
2
Data: Menunggu teman temanku di samping pintu gerbang
sekolah.
Analisis: data tersebut memiliki kesalahan tanda baca.
Kesalahan terdapat pada unsur tanda baca “hubung”. Kata
hubung digunakan untuk menyambung unsur-unsur kata ulang.
Kesalahan terjadi pada kata “tema temanku”
59
Perbaikan: Menunggu teman-temanku di samping pintu
gerbang sekolah.
3
Data: Mereka mengejutkanku dan berteriak “Dor!
Analisis: data tersebut memiliki kesalaha tanda baca “koma”.
setelah kata “berteriak” seharunya diberi “koma” untuk
memisahkan petikan langsung.
Perbaikan: Mereka mengejutkanku dan berteriak, “Dor!
Kaget, ya?”
4
Data: “Dor! Kaget ya?”
Analisis: kalimat tersebut memiliki kesalahan tanda baca
“koma”. setelah kata “kaget” harus diberi tanda koma untuk
memisahkan kata seru “ya”.
Perbaikan: “Dor! Kaget, ya?”
6
1
Data: Lagi pula lebih baik bawa bekal dari rumah,
Analisis: data tersebut kurang dalam penerapan tanda “koma”.
setelah “lagi pula” harus diberi tanda koma, karena itu adalah
ungkapan penghubung antar kalimat.
Perbaikan: Lagi pula, lebih baik bawa bekal dari rumah,
2
Data: “imah lekas sembuh ya” ucap kami sebelum pulang.
Analisis: kalimat di atas kurang dilengkapi tanda “koma”.
seharusnya kata “ya” harus dipisahkan dengan koma, karena
itu adalah kata seru menurut EYD.
Perbaikan: “Imah lekas sembuh, ya,” ucap kami sebelum
pulang.
3
Data: “Amin, makasih ya teman-teman” jawab Imah.
Analisis: kalimat di atas kurang tepat. Kata “ya” harus
dipisahkan dengan “koma”. tanda koma dipakai untuk
memisahkan kata seru.
Perbaikan: “Amin, makasih, ya, teman-teman” jawab Imah.
4
Data: “siap, bos! Semoga kita dapat seratus lagi ya” jawab
60
Imah.
Analisis: data tersebut memiliki kesalahan tanda baca. Kata
“ya” harus dipisahkan dengan tanda “koma”. karena “ya”
adalah kata seru.
Perbaikan: “Siap, bos! Semoga kita dapat seratus lagi, ya,”
jawab Imah.
5
Data: “Pasti. Semangat!” seru kami.
Analisis: data di atas penerapan tanda bacanya kurang tepat.
Setelah kata “pasti” lebih tepat menggunakan tanda “seru”.
Tanda seru digunakan untuk mengakhiri ungkapan yang
berupa seruan atau emosi yang kuat.
Perbaikan: “Pasti! Semangat!” seru kami.
7
1
Data: Sebab itu lebih bersih dan terhindar dari zat berbahaya
bagi tubuh.
Analisis: Terjadi kekurangan dalam penerapan tanda baca
“koma” dalam kalimat tersebut. Setelah kata “sebab” diberi
tanda koma, untuk menandakan itu ungkapan penghubung
antarkalimat.
Perbaikan: Sebab, itu lebih bersih dan terhindar dari zat
berbahaya bagi tubuh.
2
Data: “Astaga! Aku belum mau jadi mayat” seru Afga.
Analisis: Data tersebut kurang tanda “koma” setelah kata
“mayat”. Lebih tepat jika ditambah tanda koma untuk
memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat.
Perbaikan: “Astaga! Aku belum mau jadi mayat” seru Afga.
3
Data: “iya, aku juga gak mau” sahutku.
Analisis: Dalam kalimat ini juga memiliki masalah yang sama
dengan data kedua. Setelah kata “mau” harus diberi tanda
“koma” agar memisahkan petikan langsung dengan kalimat
lain.
61
Perbaikan: “Iya, aku juga gak mau” sahutku.
4
Data: “kalau gitu, besok aku bawa bekal aja dari rumah” ucap
Afga.
Analisis: dalam kalimat ini juga memiliki kekurangan yang
sama. Tanda “koma” harus disisipkan setelah kata “rumah”,
untuk memisahkan petikan langsung dengan kalimat.
Perbaikan: “Kalau gitu, besok aku bawa bekal aja dari
rumah,” ucap Afga.
8
1
Data: “Imah, lekas sembuh ya” ucap kami sebelum pulang.
Analisis: Pada data tersebut, pada kata “ya” harus dilengkapi
dengan tanda “koma”. dimaksudkan untuk memisahkan kata
seru.
Perbaikan: “Imah, lekas sembuh, ya,” ucap kami sebelum
pulang.
2
Data: “Amin, makasih ya teman-teman,”
Analisis: kalimat di atas harus dilengkapi tanda “koma” pada
kata “ya”, karena itu adalah kata seru.
Perbaikan: “Amin, makasih, ya, teman-teman,”
3
Data: “pasti! Semangat” seru kami.
Analisis: kalimat tersebut harus dilengkapi dengan tanda
“seru” setelah kata “semangat”, untuk menandakan ungkapan
emosi yang kuat.
Perbaikan: “Pasti! Semangat!” seru kami.
9
1
Data: Oleh karena itu, Aku, Ana, dan Afga, berencana
mengunjunginya sepulang sekolah.
Analisis: ada yang harus diperbaiki dalam kalimat tersebut.
Tanda “koma” setelah “Afga” tidak diperlukan. Tanda koma
dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu perincian. Namun,
pada perincian terakhir tanda koma tak diperlukan.
Perbaikan: Oleh karena itu, Aku, Ana, dan Afga berencana
62
mengunjunginya sepulang sekolah.
2
Data: “ke mana ya mereka?” gumamku.
Analisis: pada kata “ya” dalam kalimat tersebut harus
dilengkapi tanda “koma”. karena, kata “ya” adalah kata seru.
Perbaikan: “Ke mana, ya, mereka?” gumamku.
3
Data: “dor. Kaget
Analisis: pada data tersebut terdapat kekeliruan penerapan
tanda baca. Pada kata “dor” lebih tepat menggunakan tanda
“seru”. Hal ini untuk menunjukan kata itu adalah sebuah
ungkapan yang menggambarkan kesungguhan atau emosi yang
kuat.
Perbaikan: “Dor! Kaget, ya?”
4
Data: Kaget ya?”
Analisis: data di atas harus dilengkapi dengan tanda baca
“koma” pada kata “ya”. Karena, itu adalah kata seruan.
Perbaikan: “Dor! Kaget, ya?”
10
1
Data: “Imah lekas sembuh ya” ucap kami sebelum pulang.
Analisis: kalimat di atas terdapat kekurangan. Pada kata “ya”
harus dilengkapi dengan tanda “koma”. karena kata tersebut
adalah kata seru.
Perbaikan: “Imah lekas sembuh, ya,” ucap kami sebelum
pulang.
2
Data: “Amin, makasih ya teman-teman
Analisis: pada kata “ya” di kalimat tersebut harus diiringi
dengan tanda “koma”. kata tersebut adalah kata seru.
Perbaikan: “Amin, makasih, ya, teman-teman,”
3
Data: Teman-teman” jawab Imah.
Analisis: pada data tersebut setelah “teman-teman harus
diikuti tanda “koma” untuk memisahkan petikan langsung
dengan kalimat selanjutnya.
63
Perbaikan: Teman-teman,” jawab Imah.
4
Data: Belajar juga buat ulangan matematika,
Analisis: kalimat tersebut lebih tepat jika diakhiri dengan
tanda “titik”. Kalimat tersebut adalah kalimat bukan
pertanyaan atau seruan.
Perbaikan: Belajar juga buat ulangan matematika.
5
Data: Semangat” kata Ana.
Analisis: diakhir kata semangat harus diikuti tanda “seru”,
untuk menggambarkan ungkapan kesungguhan.
Perbaikan: Semangat!” kata Ana.
11
1
Data: “Astaga! Aku belum mau jadi mayat” seru Afga.
Analisis: Terlihat ada kekurangan dalam penerapan tanda baca
“seru” dalam kalimat tersebut. Setelah kata “mayat” harus
diberi tanda seru untuk menggambarkan ungkapan emosi atau
kesungguhan yang kuat.
Perbaikan: “Astaga! Aku belum mau jadi mayat!” seru Afga.
2
Data: “Iya, aku juga ga mau” sahutku.
Analisis: kalimat di atas kurang tepat, seharusnya setelah kata
“mau” harus diberi “koma” untuk memisahkan petikan
langsung dari bagian lain dalam kalimat.
Perbaikan: “Iya, aku juga gak mau,” sahutku.
3
Data: “Kalau gitu, besok aku bawa bekal aja dari rumah” ucap
Afga.
Analisis: Dalam kalimat tersebut, setelah kata “rumah” harus
diberi “koma”, untuk memisahkan petikan langsung dengan
kalimat lain.
Perbaikan: “Kalau gitu, besok aku bawa bekal aja dari
rumah,” ucap Afga.
12
1
Data: “Adi, Ana, dan Afga rupanya. Silahkan masuk dan
duduk dulu ya”
64
Analisis: akhir kalimat tersebut terdapat kekurangan tanda
baca “koma” yang seharunya ditempatkan setelah kata “ya”.
kata “ya” di sini adalah kata seru.
Perbaikan: “Adi, Ana, dan Afga rupanya. Silah kan masuk
dan duduk dulu ya,”
2
Data: Dia berkata “Afga jajannya dijaga. Jangan sembarangan
Analisis: dalam data tersebut terjadi kekurangan penerapan
tanda baca “koma”. tanda koma harus diterapkan setelah kata
“berkata”, untuk memisahkan petikan langsung dari kalimat.
Perbaikan: Dia berkata “Afga jajannya dijaga. Jangan
sembarangan gitu,”
3
Data: “Afga jajanya dijaga. Jangan sembarangan gitu”
sembari menunjuk ke arah kantong es yang dibawa Afga.
Analisis: Kurangnya penerapan tanda koma juga terjadi pada
kalimat diatas. Setelah kata “gitu” harus diiringi tanda “koma”,
untuk memisahkan petikan langsung dengan kalimat.
Perbaikan: “Afga jajanya dijaga. Jangan sembarangan gitu,”
sembari menunjuk ke arah kantong es yang dibawa Afga.
4
Data: “kenapa? Aku haus” jawab Afga dengan polosnya.
Analisis: pada kalimat di atas harus dilengkapi tanda “titik”
setelah kata “haus”. Karena, tanda titik tersebut berperan untuk
mengakhiri kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan.
Perbaikan: “Kenapa? Aku haus.”
5
Data: “ya ampun” kata Afga berikut menjauhkan sedotan dari
bibirnya.
Analisis: kalimat diatas kurang sempurna dalam pemaikaian
tanda baca. Setelah kata “ampun” harus dilengkapi dengan
tanda “koma”, untuk memisahkan petikan langsung dengan
bagian kalimat lainnya.
Perbaikan: “Ya ampun,” kata Afga berikut menjauhkan
65
sedotan dari bibirnya.
13
1
Data: “Adi, Ana, dan Afga rupanya. Silahkan masuk dan
duduk dulu ya”
Analisis: pada data tersebut terdapat kekurangan tanda baca
“koma” yang seharunya ditempatkan setelah kata “ya”. kata
“ya” disini adalah kata seru.
Perbaikan: “Adi, Ana, dan Afga rupanya. Silah kan masuk
dan duduk dulu, ya,”
2
Data: Dia berkata, “Afga! Jajannya dijaga jangan
sembarangan
Analisis: dalam kalimat tersebut terdapat kekeliruan dalam
penerapan tanda baca. Setelah kata “Afga” lebih tepat jika
menggunakan tanda “koma”. tanda itu digunakan untuk
menghindari salah baca atau pengertian.
Perbaikan: Dia berkata, “Afga! Jajannya dijaga jangan
sembarangan gitu,”
3
Data: “kenapa? Aku haus” jawab Afga dengan polosnya.
Analisis: pada kalimat di atas harus dilengkapi tanda “titik”
setelah kata “haus”. Karena, tanda titik tersebut berperan untuk
mengakhiri kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan.
Perbaikan: “kenapa? Aku haus.”
4
Data: “tahu. Apa?” tanyaku.
Analisis: jika melihat struktur kalimat, setelah kata “tahu”
kurang tepat jika diberikan tanda “titik”. Karena kalimat
tersebut satu kesatuan utuh kalimat tanya. Jika diberi titik akan
terjadi kesalahan baca atau pengertian kalimat dan tidak
relevan dengan kalimat sebelumnya.
Perbaikan: “tahu apa?” tanyaku.
14
1
Data: “kemana ya mereka?” gumamku.
Analisis: dalam kalimat tersebut terdapat kata “ya”. kata itu
66
harus diberi tanda “koma”. karena, kata itu adalah kata seru.
Perbaikan: “Ke mana, ya, mereka?” gumamku.
2
Data: Tiba-tiba, mereka mengejutkanku dan berteriak “dor!
Analisis: setelah kata “berteriak” harus diberi tanda “koma”,
untuk menandakan atau memisahkan petikan langsung dari
bagian kalimat lain.
Perbaikan: Tiba-tiba, mereka mengejutkanku dan berteriak,
“dor!
3
Data: “dor! Kaget ya?”
Analisis: kata “ya” adalah kata seru, maka harus dipisah
dengan tanda “koma”.
Perbaikan: “Dor! Kaget, ya?”
4
Data: “apaan sih kalian? Mengagetkanku saja. Kalau aku
jantungan gimana?” seruku.
Analisis: dalam kalimat tanya “apaan sih kalian?” terdapat
kata “sih”. Jika mengacu pada EYD, kata tersebut harus
dipisah dengan tanda “koma”.
Perbaikan: “Apaan, sih, kalian? Mengagetkanku saja. Kalau
aku jantungan gimana?” seruku.
5
Data: “maaf, maaf, soalnya tadi kami mampir dulu ke ruang
guru untuk mengumpulkan tugas dari Pak Marno” pinta Ana
dan Afga.
Analisis: di akhir kata “marno” harus diberi tanda “koma”
untuk memisahkan petikan langsung dengan kalimat
selanjutnya.
Perbaikan: “Maaf, maaf, soalnya tadi kami mampir dulu ke
ruang guru untuk mengumpulkan tugas dari Pak Marno,” pinta
Ana dan Afga.
15
1
Data: “kemana ya mereka?” gumamku.
Analisis: didata tersebut terdapat kata “ya”. kata itu harus
67
diberi tanda “koma”. karena, kata itu adalah kata seru.
Perbaikan: “Ke mana, ya, mereka?” gumamku.
2
Data: Tiba-tiba, mereka mengejutkanku dan berteriak “dor!
Analisis: dalam kalmat tersebut, setelah kata “berteriak” harus
diberi tanda “koma”, untuk menandakan atau memisahkan
petikan langsung dari bagian kalimat lain.
Perbaikan: Tiba-tiba, mereka mengejutkanku dan berteriak,
“dor! Kaget, ya?”
3
Data: “apaan sih kalian? Mengagetkanku saja. Kalau aku
jantungan gimana?” seruku.
Analisis: dalam kalimat tanya “apaan sih kalian?” terdapat
kata “sih”. Jika mengacu pada EYD, kata tersebut harus
dipisah dengan tanda “koma”.
Perbaikan: “Apaan, sih, kalian? Mengagetkanku saja. Kalau
aku jantungan gimana?” seruku.
16
1
Data: “astaga! Aku belum mau jadi mayat”
Analisis: setelah kata “mayat” harus diiringi tanda “seru”.
Menandakan kalimat itu ungkapan seruan yang
menggambarkan kesungguhan.
Perbaikan: “Astaga! Aku belum mau jadi mayat!”
2
Data: “iya aku juga gak mau”
Analisis: setelah kata “iya” harus diberi tanda “koma”, untuk
menghindari salah baca atau pengertian.
Perbaikan: “Iya, aku juga gak mau”
3
Data: “iya aku juga gak mau”
Analisis: masih dalam kalimat yang sama dengan data kedua
di cerpen ke-16, terdapat kekurangan penerapan tanda baca.
Setelah kata “mau” harus dilengkapi tanda “koma”, untuk
memisahkan petikan langsung dengan bagian lain dalam
kalimat.
68
Perbaikan: “Iya, aku juga gak mau,”
17
1
Data: “Adi Ana dan Afga rupanya. Silahkan masuk dan duduk
dulu ya”
Analisis: terdapat kekuragan dalam penerapan tanda baca
“koma”. dalam kalimat “Adi Ana dan Afga rupanya” harus
dipisah dengan koma, untuk menandakan unsur perincian.
Perbaikan: “Adi, Ana, dan Afga rupanya.”
2
Data: “Adi Ana dan Afga rupanya. Silahkan masuk dan duduk
dulu ya”
Analisis: masih dalam kalimat yang sama. Terjadi kekurangan
penerapa tanda baca. Pada kata “ya” harus diberi tanda
“koma”. Kata “ya” adalah kata seru.
Perbaikan: Silah kan masuk dan duduk dulu, ya,”
3
Data: Dia berkata “Afga jajanya dijaga. Jangan jajan
sembarangan gitu”
Analisis: setelah “berkata” harus diberi “koma”, untuk
memisahkan petikan langsung.
Perbaikan: Dia berkata, “Afga jajanya dijaga. Jangan jajan
sembarangan gitu,”
4
Data: Dia berkata “Afga jajanya dijaga. Jangan jajan
sembarangan gitu”
Analisis: masih dalam kalimat yang sama, terjadi kesalahan
penerapan tanda baca “koma”. setelah kata “Afga” harus diberi
“koma”, untuk menghindari salah baca.
Perbaikan: “Afga, jajanya dijaga.
5
Data: Dia berkata “Afga jajanya dijaga. Jangan jajan
sembarangan gitu”
Analisis: masih dalam kalimat yang sama, terjadi kesalahan
penerapan tanda baca “koma”. setelah “gitu” harus diberi
“koma” untuk memisahkan petikan langsung dari bagian
69
kalimat lainnya.
Perbaikan: Jangan jajan sembarangan gitu,”
6
Data: Ia juga minum es seperti yang sedang dibawa Afga
Analisis: dari data kali ini, kesalahan terjadi pada tanda “titik”.
Diakhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan, harus
diberi “titik”.
Perbaikan: Ia juga minum es seperti yang sedang dibawa
Afga.
7
Data: “ya ampun” tanyaku.
Analisis: setelah kata “ampun” harus diberi “koma”, agar
memisahkan petikan langsung dengan kalimat selanjutnya.
Perbaikan: “Ya ampun,” tanyaku.
18
1
Data: “kemana ya mereka?” gumamku.
Analisis: kata “ya” adalah kata seru. Oleh sebab itu, harus
dipisah dengan “koma”.
Perbaikan: “Ke mana, ya, mereka?” gumamku.
2
Data: Tiba-tiba, mereka mengejutkanku dan berteriak “dor!
Kaget ya?”
Analisis: setelah kata berteriak harus diberi “koma”, agar
memisahkan petikan langsung dengan bagian lain dalam
kalimat.
Perbaikan: Tiba-tiba, mereka mengejutkanku dan berteriak,
“dor! Kaget, ya?”
3
Data: Tiba-tiba, mereka mengejutkanku dan berteriak “dor!
Kaget ya?”
Analisis: masih dalam kalimat yang sama, juga terjadi
kesalahan penerapa tanda baca “koma”. Kata “ya” harus diberi
tanda koma. Karena, kata “ya” adalah kata seru.
Perbaikan: Tiba-tiba, mereka mengejutkanku dan berteriak
“dor! Kaget, ya?”
70
4
Data: “Maaf, maaf, soalnya tadi kami mampir dulu ke ruang
guru untuk mengumpulkan tugas dari Pak Marno”
Analisis: diakhir kalimat harus diakhiri dengan “titik”.
Diterapkan setelah kata “Marno”, untuk memisahkan petikan
langsung.
Perbaikan: “Maaf, maaf, soalnya tadi kami mampir dulu ke
ruang guru untuk mengumpulkan tugas dari Pak Marno.”
19
1
Data: “Imah, lekas sembuh ya” ucap kami sebelum pulang.
Analisis: kata “ya” adalah kata seru. Oleh sebab itu, harus
dilengkapi dengan “koma”.
Perbaikan: “Imah, lekas sembuh, ya,” ucap kami sebelum
pulang.
2
Data: “Amin, makasih ya teman-teman,”
Analisis: data di atas kurang sempurna. Kata “ya” adalah kata
seru. Oleh sebab itu, harus dilengkapi dengan “koma”.
Perbaikan: “Amin, makasih, ya, teman-teman,”
3
Data: “besok kamu jadi masuk sekolah? Belajar juga buat
ulangan matematika. Semangat.” Kata ana.
Analisis: tanda “titik” setelah kata”semangat” kurang tepat.
Lebih tepat menggunakan tanda “seru”, untuk menandakan
sebuah ungkapan seruan.
Perbaikan: “besok kamu jadi masuk sekolah? Belajar juga
buat ulangan matematika. Semangat!” Kata ana.
20
1
Data: “Adi, Ana, dan Afga rupanya. Seilahkan masuk dan
duduk dulu ya” Bu Ina Ibu Imah mempersilahkan kami masuk.
Analisis: kalimat tersebut memiliki kekurangan tanda baca.
Pada kata “ya”, harus diberi “koma”. kata tersebut adalah kata
seru.
Perbaikan: “Adi, Ana, dan Afga rupanya. Silah kan masuk
dan duduk dulu, ya,”
71
2
Data: “Adi, Ana, dan Afga rupanya. Seilahkan masuk dan
duduk dulu ya” Bu Ina Ibu Imah mempersilahkan kami masuk.
Analisis: masih dalam kalimat yang sama juga terjadi
kekurangan penerapan tanda baca. “Bu Ina Ibu Imah” harus
dilengkapi dengan “koma” untuk menghindari salah baca.
Perbaikan: Bu Ina, Ibu Imah, mempersilahkan kami masuk.
3
Data: Dia berkata “Afga, jajanya dijaga. Jangan jajan
sembarangan gitu”
Analisis: setelah kata “berkata” harus diakhiri dengan “koma”
untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam
kalimat.
Perbaikan: Dia berkata, “Afga, jajanya dijaga. Jangan jajan
sembarangan gitu,”
4
Data: Dia berkata “Afga, jajanya dijaga. Jangan jajan
sembarangan gitu”
Analisis: masih dalam kalimat yang sama, juga terjadi
kesalahan diakhir kalimat. Setelah kata “gitu” harus diberi
“koma” utuk memisahkan petikan langsung dengan kalimat
lain dari kalimat.
Perbaikan: Dia berkata, “Afga, jajanya dijaga. Jangan jajan
sembarangan gitu,”
21
1
Data: Sebelum ke rumah Imah, kami sempat mampir ke
warung untuk membeli roti, Bahkan Afga juga sempat
membeli es karena kehausan.
Analisis: pemaikaian “koma” setelah kata “roti” kurag tepat.
Lebih tepat menggunakan “titik”, untuk mengakhiri kalimat
yang bukan pertanyaan atau seruan.
Perbaikan: Sebelum ke rumah Imah, kami sempat mampir ke
warung untuk membeli roti. Bahkan Afga juga sempat
membeli es karena kehausan.
72
2
Data: “Adi, Ana, dan Afga rupanya. Silahkan masuk dan
duduk dulu ya” Bu Ina, ibu Imah, mempersilahkan kami
masuk.
Analisis: kata “ya” dalam kalimat tersebut adalah kata “seru”.
Maka harus dipisah dengan “koma”
Perbaikan: “Adi, Ana, dan Afga rupanya. Silahkan masuk
dan duduk dulu, ya,” Bu Ina, ibu Imah, mempersilahkan kami
masuk.
3
Data: Tidak lama Imah keluar. Dia terlihat kurus dan
wajahnya tampak pucat.
Analisis: di awal kalimat setelah kata “lama” harus diberi
“koma” untuk menghundari salah baca atau pengertian.
Perbaikan: Tidak lama Imah keluar. Dia terlihat kurus dan
wajahnya tampak pucat.
4
Data: Dia berkata “Afga, jajanya dijaga. Jangan jajan
sembarangan gitu” sembari menunjuk ke arah kantong es yang
dibawa Afga.
Analisis: setelah “kata berkata harus diberi “koma”. fungsinya
adalah untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain
dari kalimat.
Perbaikan: Dia berkata, “Afga, jajanya dijaga. Jangan jajan
sembarangan gitu” sembari menunjuk ke arah kantong es yang
dibawa Afga.
5
Data: Dia berkata “Afga, jajanya dijaga. Jangan jajan
sembarangan gitu” sembari menunjuk ke arah kantong es yang
dibawa Afga.
Analisis: masih dalam kalimat yang sama, setelah kata “gitu”
juga harus diberi “koma”. agar memisahkan petikan langsung
dengan kalimat selanjutnya.
Perbaikan: Dia berkata, “Afga, jajanya dijaga. Jangan jajan
73
sembarangan gitu,” sembari menunjuk ke arah kantong es yang
dibawa Afga.
6
Data: “Kenapa? Aku haus” jawab Afga dengan polosnya.
Analisis: setelah kata “haus” harus diberi “titik”. Untuk
mengakhiri kaimat yang bukan pertanyaan atau seruan.
Perbaikan: “Kenapa? Aku haus.” jawab Afga dengan
polosnya.
22
1
Data: Oleh karena itu, Aku, Ana, dan Afga, berencana
mengunjunginya usai pulang sekolah.
Analisis: kalimat tersebut terdapat penggunaan tanda baca
“koma” yang sebenarnya sudah benar, tapi menjadi kurang
tepat jika setelah kata “Afga” tetap diberi “koma”. untuk
memisahkan sebuah perician dirincian terakhir tak perlu diberi
“koma”
Perbaikan: Oleh karena itu, Aku, Ana, dan Afga berencana
mengunjunginya usai pulang sekolah.
2
Data: “Ke mana ya mereka?” gumamku.
Analisis: kata “ya” adalah kata seru. Oleh sebab itu, harus
diberikan tanda “koma”
Perbaikan: “Ke mana, ya, mereka?” gumamku.
3
Data: Tiba-tiba, mereka mengejutkanku dan berteriak “Dor!
Kaget ya?”
Analisis: petikan langsung harus dipisah dengan bagian dari
kalimat lain dengan “koma”. Jadi, setelah kata “berteriak”
harus diikuti “koma”
Perbaikan: Tiba-tiba, mereka mengejutkanku dan berteriak,
“Dor! Kaget, ya?”
4
Data: Tiba-tiba, mereka mengejutkanku dan berteriak “Dor!
Kaget ya?”
Analisis: masih dalam kalimat yang sama, juga terjadi
74
kekurangan penerapan tanda baca. Kata “ya” harus diiringi
dengan “koma”
Perbaikan: Tiba-tiba, mereka mengejutkanku dan berteriak,
“Dor! Kaget, ya?”
23
1
Data: “Ke mana ya mereka?” Gumamku.
Analisa: kata “ya” termasuk kata seru. Jadi, kalimat diatas
kurang sempurna.
Perbaikan: “Ke mana, ya, mereka?” Gumamku.
2
Data: Tiba-tiba, mereka mengejutkanku dan berteriak “Dor.
Kaget ya?”
Analisa: petikan langsung harus dipisah dengan “koma”. oleh
sebab itu, setelah kata “berteriak” harus diberi “koma”.
Perbaikan: Tiba-tiba, mereka mengejutkanku dan berteriak,
“Dor! Kaget, ya?”
3
Data: Tiba-tiba, mereka mengejutkanku dan berteriak “Dor.
Kaget ya?”
Analisa: masih dalam kalimat yang sama, setelah kata “dor”
lebih tepat menggunakan tanda “seru”. Karena itu adalah tanda
untuk ungkapan seruan yang menggambarkan kesungguhan
atau emosi yang kuat.
Perbaikan: Tiba-tiba, mereka mengejutkanku dan berteriak,
“Dor! Kaget, ya?”
4
Data: Tiba-tiba, mereka mengejutkanku dan berteriak “Dor.
Kaget ya?”
Analisa: masih dalam kalimat yang sama, diakhir kalimat
pada kata “ya” harus dipisah dengan “koma”.
Perbaikan: Tiba-tiba, mereka mengejutkanku dan berteriak,
“Dor! Kaget, ya?”
5
Data: “Apaan sih kalian? Mengagetkanku saja. Kalau aku
jantungan gimana?” seruku.
75
Analisa: kata “sih” termasuk kata seru. Oleh sebab itu, harus
dipisah dengan tanda “koma”.
Perbaikan: “Apaan, sih, kalian? Mengagetkanku saja. Kalau
aku jantungan gimana?” seruku.
6
Data: “Maaf, maaf, soalnya tadi kami Mampir dulu ke ruang
guru untuk mengumpulkan tugas dari Pak Marno” pinta Ana
dan Afga.
Analisa: setelah kata “Marno” harus diberi “koma”, untuk
memisahkan petikan langsung dengan bagian lain dari kalimat.
Perbaikan: “Maaf, maaf, soalnya tadi kami Mampir dulu ke
ruang guru untuk mengumpulkan tugas dari Pak Marno,” pinta
Ana dan Afga.
24
1
Data: “Astaga. Aku belum mau jadi mayat” seru Afga.
Analisis: pada data tersebut terdapat kekeliruan penggunaan
tanda baca. Setelah “astaga” bukan diberi “titik”, lebih tepat
menggunakan tanda “seru”. Dimaksudkan untuk menunjukan
ungkapan yangberupa seruanyang menggambarkan
kesungguhan atau emosi yang kuat.
Perbaikan: “Astaga! Aku belum mau jadi mayat” seru Afga.
2
Data: “Astaga. Aku belum mau jadi mayat” seru Afga.
Analisis: masih dalam kalimat yang sama, juga terjadi
kesalahan di akhir kalimat. Setelah kata “mayat” harus diberi
tanda “seru”, untuk ungkapan seruan yang menggambarkan
emosi yang kuat atau kesungguhan.
Perbaikan: “Astaga! Aku belum mau jadi mayat!” seru Afga.
3
Data: “Iya, aku juga gak mau” sahutku.
Analisis: petikan langsung harus dipisah dari bagia lain dalam
kalimat dengan “koma”. oleh sebab itu, pada kalimat tersebut
setelah kata “mau” harus diberi “koma”.
Perbaikan: “Iya, aku juga gak mau,” sahutku.
76
4
Data: “Kalau gitu, besok aku bawa bekal aja dari rumah” ucap
Afga.
Analisa: setelah kata “rumah” harus diberi “koma”.
Dimaksudkan untuk memisahkan petikan langsung dari bagian
lain kalimat.
Perbaikan: “Kalau gitu, besok aku bawa bekal saja dari
rumah,” ucap Afga.
25
1
Data: “Adi, Ana, dan Afga rupanya. Silahkan masuk dan
duduk dulu ya”
Analisis: kata “ya” dalam kalimat tersebut adalah kata seru.
Sehingga, harus diberikan tanda “koma”.
Perbaikan: “Adi, Ana, dan Afga rupanya. Silahkan masuk
dan duduk dulu, ya,”
2
Data: Bu Ina, ibu Imah mempersilahkan kami masuk.
Analisis: kalimat di atas kurang sempurna. Setelah “Imah”
harus diberi “koma”. dimaksudkan untuk menghindari salah
baca atau pengertian.
Perbaikan: Bu Ina, ibu Imah, mempersilahkan kami masuk.
3
Data: Dia berkata “Afga, jajanya dijaga. Jangan jajan
sembarangan gitu”
Analisis: petikan langsung harus dipisah dengan tanda
“koma”. Oleh sebab itu, setelah “berkata” harus ada “koma”.
Perbaikan: Dia berkata, “Afga, jajanya dijaga. Jangan jajan
sembarangan gitu”
4
Data: Dia berkata “Afga, jajanya dijaga. Jangan jajan
sembarangan gitu”
Analisis: masih dalam kalimat yang sama, juga terjadi
kesalahan yang sama. Setelah kata “gitu” harus diberi “koma”,
untuk memisahkan petikan langsung dengan bagia lain
kalimat.
77
Perbaikan: Dia berkata, “Afga, jajanya dijaga. Jangan jajan
sembarangan gitu,”
5
Data: “Ya ampun” kata Afga berikut menjauhkan sedotan dari
bibirnya.
Analisis: setelah kata “ampun” harus diberi “koma”. karena itu
adalah petikan langsung.
Perbaikan: “Ya ampun,” kata Afga berikut menjauhkan
sedotan dari bibirnya.
Keterangan:
Kode
: Kode nomor urut cerpen
Data ke-
: Nomor urut data temuan
Analisis kesalahan
: analisis dan perbaikan kesalahan
No
Kode
Komponen
(.)
(,)
(:)
(?)
(!)
(-)
(“...”)
Jumlah
1
1
-
3
-
-
-
-
-
3
2
2
-
4
-
1
-
-
-
5
3
3
-
3
-
-
1
-
-
4
4
4
2
3
-
-
-
-
-
5
5
5
-
3
-
-
-
1
-
4
6
6
-
4
-
-
1
-
-
5
7
7
-
4
-
-
-
-
-
4
8
8
-
2
-
-
1
-
-
3
9
9
-
3
-
-
1
-
-
4
10
10
1
3
-
-
1
-
-
5
11
11
-
2
-
-
1
-
-
3
12
12
1
4
-
-
-
-
-
5
13
13
2
2
-
-
-
-
-
4
14
14
-
5
-
-
-
-
-
5
15
15
-
3
-
-
-
-
-
3
78
16
16
-
2
-
-
1
-
-
2
17
17
1
6
-
-
-
-
-
7
18
18
1
3
-
-
-
-
-
4
19
19
-
2
-
-
1
-
-
3
20
20
-
4
-
-
-
-
-
4
21
21
2
4
-
-
-
-
-
6
22
22
-
4
-
-
-
-
-
4
23
23
-
5
-
-
1
-
-
6
24
24
1
2
-
-
1
-
-
5
25
25
-
5
-
-
-
-
-
5
11
85
-
1
10
1
-
108
TKTB
Keterangan:
No
: Nomor urut tabel
Kode
: Kode nomor urut cerpen
(.)
: Tanda titik
(,)
: Tanda koma
(:)
: Tanda titik dua
(?)
: Tanda tanya
(!)
: Tanda seru
(-)
: tanda hubung
(“...”)
: Tanda petik
Jumlah
: Jumlah Kesalahan
TKTB
: Total kesalahan tanda baca
C. Pengolahan data
Dalam pengolahan data ini, untuk mengetahui kesalahan penempatan
tanda baca dalam cerpen oleh siswa SMP Dua Mei kelas VIII, peneliti
menggunakan rumus persentase sebagai berikut:
F
P= ______ X 100%
N
79
Keterangan:
P
= Angka Persentase (%)
F
= Frekuensi yang sedang dicari presentasenya (jumlah kesalahan)
N
= Number of Case (jumlah frekuensi/banyaknya individu).1
Dari tabel pengelompokan antara data temuan dan analisis yang sudah
dipaparkan sebelumnya, maka kesalahan tersebut dapat dipersentasikan sebagai
berikut:
108
P= ______ X 100% = 4,32
25
1
Anas Sudijono, Pengantar Statistik Pendidikan, (Jakarta: PT. Raja Drafindo Persada,
2012), h. 43
BAB V
PENUTUP
A. Simpulan
Kesalahan penerapan tanda baca yang dilakukan siswa-siswi SMP Dua
Mei Tangerang Selatan tahun pelajaran 2014/2015. Terdapat kesalahankesalahan penerapan tanda baca sebanyak 108 tanda baca dari 25 penggalan
cerpen. Pada umumnya terjadi pada tanda baca “koma”. Kesalahan yang terjadi
pada tanda baca koma sebanyak 85 temuan. Keslahan yang terjadi pada tanda
titik sebanyak 11 temuan. Kesalahan yang terjadi pada tanda baca seru
sebanyak 10 temuan. Keslahan tanda baca tanya hanya satu. Kesalahan pada
tanda hubung juga hanya satu. Secara keseluruhan persentase kesalahan 4,32%.
Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kesalahan penempatan tanda baca
dalam cerpen, kesalahan terbanyak terjadi pada tanda baca koma.
B. Saran
Peningkatan kemampuan siswa dalam menerapkan tanda baca dalam
sebuah karangan menjadi hal yang sangat penting. Oleh sebab itu, guru bahasa
Indonesia harus meningkatkan kreativitas dalam kegiatan belajar-mengajar
khususnya pada materi penggunaan tanda baca. Guru harus memberikan
pemahaman
akan
pentingnya
membaca
disempurnakan.
80
buku
pedoman
ejaan
yang
DAFTAR PUSTAKA
A, Alek dan H. Achmad H.P. Bahasa Indonesia Untuk Perguruan Tinggi, Jakarta:
Prenada Media Group, 2010.
Abdul Majid, Abdul Aziz. Mendidik Dengan Cerita. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya, 2002.
Ahmadi, Mukhsin. Strategi Belajar-Mengajar: Keterampilan Berbahasa dan
Apresiasi Sastra. Malang: Yayasan Asih Asah Asuh, 1990.
Amirin, Tatang M. Menyusun Rencara Penelitian. Jakarta: PT. Raja Grafindo
Persada, 1995.
Anggarani, Asih dkk. Mengasah Keterampilan Menulis Ilmiah di Perguruan
Tinggi. Yogyakarta: Graha Ilmu, 2006.
Ary, Donal Dkk. Pengantar Penelitian dalam Pendidikan. Surabaya: Usaha
Nasional, 1982.
Harefa, Andrias. Happy writing. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2010.
Hidayati, Inoer. Buku Pintar EYD: Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
yang Disempurnakan. Yogyakarta: Indonesia Tera, 2012.
J. Moleong, Lexy. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya, 2001.
Margono, S. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: PT. Asdi Mahasatya,
2010.
Mendikbud. EYD Pedoman Ejaan yang Disempurnakan.Yogyakarta: Pustaka
Widyatama, 2007.
Musfiqon, H.M. Panduan Lengkap Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta:
Prestasi Pustaka Publisher, 2012
81
82
Parera. Analisis Kontrastif Bahasa dan Analisis Kesalahan Berbahasa. Jakarta:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan IKIP Jakarta, 1997.
Priyatni, Endah Tri. Membaca Sastra dengan Ancangan Literasi Kritis. Jakarta:
Bumi Aksara, 2010.
Putera, Nusa. Penelitian Kualitatif: Proses dan Aplikasi. Jakarta: PT. Indeks,
2011.
Resmini, Novi dan Dadan Juanda. Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di
Kelas Tinggi. Bandung: UPI Press. 2007.
Siswanto,Wahyudi. Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Grasindo, 2008.
Strauss, Aselm dan Juliet Corbin. Dasar-dasar Penelitian Kualitatif. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 2009.
Sudijono, Anas. Pengantar Statistik Pendidikan. Jakarta: PT. Raja Drafindo
Persada, 2012.
Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan Kombinasi. Bandung:
Alfabeta, 2013.
Sukino. Menulis Itu Mudah: Panduan Praktis Menjadi Penulis Handal.
Yogyakarta: Pustaka Populer, 2010.
Sulistyaningsih. Metodelogi Penelitian Kebidanan: Kuantitatif-kualitatif.
Yogyakarta: Graha Ilmu, 2011.
Tarigan, Henry Guntur. Menulis: Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa.
Bandung: Percetakan Angkasa, 2008.
Y. Budinuryanta, dkk, Pengajaran Keterampilan Berbahasa. Jakarta: Penerbit
Universitas Terbuka, 2008.
Namな Muレ am“ ad Arv
ansgah
Kelas:8a
不?d': ■ (S′ Lu)
Akibat Jttan SC
Sudah dua ha五 ini lmah tidak
yang rttin dan sebelumya tidak pё
r
A_na)dan Afga berenctta mengunJunginya usai pulang sekolah.
Siang ha餞 nya sesuai rencana kanli)aku pun menunggu teman―
temanku di samping pintu gerbang sekolah.
CCKe mana)ya、
merek■
』
kll.
ダロ ロ
1七 Uロ nttIロ
Tila― til(il)ereka lnengttutkattku dan b,rteriakギ
こ
こ
ヽ
ノ
4paan)silh)kalian7
Menga唖
3etkanku珂 att
町
〕
0型 IKaget)yalJ)
Kalau aku jantungaは 1
gimanarteruku.
CtMaaf》
maaち Di Soahya tadi katti Mampir dulu ke ruttg gum
untuk menguttulh tugas d轟 Pak M凛 oギ
a Ana dan Afga,
“
ヽ
ト
Nam azAhrnod
gorlrta
R
Kelas:8ノ
Kod∝ 9
Sebelum kerumah lm山 ′
kanisempat mamptt ke wttmg
membeli roti.Bahkan AfgaJtta sempat membeli es karena kehausan.
Tak terasa kami telah sampai di depan pintu rurn乏 山 I:m山 .Kaimi
pun mengetuk serta mengucttktt sal狙 。
′
Adi′ Ana′ dtt Atta rupanya′ Silahktt masuk d狙 油nd燎 山 lu′
ya′
句
Bu lna,ibulmahiMempersil副 bl kami masuk.
Tidよ
I単
1
山 keluar.Dia“ rlihtt
kurus dan w電 流nya
tampak pucat.
g e
E)ia berka
″
Kenarp二
鳳ふ 1耗 Iiふ
7月b kan haus."jaw由
″
pol,snya′
h面i
penasaran.
Kamu tahu'々 ucap hah yang me血 bu滋
11ahu裏
=:
ハfga“ ngan
轟
aku・
Im山 瓢珂 elttkan bahwa dia sJttt krena河 独 semb=a/ngttθ
la
Nama:Pu?υ し ヽuf3anふ
Kelas:v■■lA
Koda b
ni kiau lebih bank kita membawa
bih bersh dan terhindtt dari盆
adalJl Ztt pewana y=lg tidよ
│“
ditturkan untuk makan狙 ;borよ S′ 誠鋤
b激鑢 fomalino
bttdin itu digmよ 狙 untuk mengawetkan ma.y滋
“
As
ヽ
町山
1′
Padttal
.
kan belum mttjadi may就 ゞseru Afga.
jtta gよ
mθ sahutku.
轟 小轟
Ba.
噂 A懃
.
Nama:Ⅳ o、 tte
l■ ortO雨
Kelas:Sa
Kode:4
Sebelum kerumah lmah′ kami semp〔 純InaII)ir ke w
membeli rOti.B
AfgaJuga semptt membeli es karena kehausttθ
Tak tertta lclni tel〔
量l sampai di dcpan pintu rumah lmahθ Kanli
pun mengetuk serta lnengucapkan salam θ
褻
Adi,AnaJ dm Afga rupanyaθ
`
ya′ ]Bu lna′
ibu lm山 ′
Mempersil」 ロヒ
〔
Tidak l〔 ma′
Imtt kelu額 .Dia ttrlihtt kurus dtt w可 山 nya
ta/mpよ puc誠
laga.Jangan JaJan sembttangan
gitu′
゛
ng es yang dibttva Atta′
`
Kbnapa7Aku ktt hasFjarab Afga dengttpolosnya・
゛
Kttu装山ul″ ucap hah yang血 embutt kani penasamn.
lTahuttaγ tanyaku
Iコ直
h
menJel猟 〕
kan bttwa dia sakitl賤
凛班haJaJan sembar電
jugamlnum es seperti yang sё dttlg dibawaAfga.
゛
..
1一
¨
■■■一一
■︱
一
︰
︱
︲
︰■
一 一 一 一一一
・
.
bい 供
`
供 や
Nama:▲ aT平 へ 釈ヽ
Keh=ゝ ヘ
Kode: Б
AMbat Jttan Sembarangan
sudah dua hari ini lmah tidak ke sekolaho PadahalD dia itu anak
yang ralln dan sebelumya tidttk pemah beglnio C)leh kttena itul AIkul
Ana rdan Afga berencana mengunjunginya usai pulang sekolah .
Siang harinya sesuai
,"n Su,kami
pun l■tenunggu te
temanku di samping pintu gerbang sekolah.
‖
Kle manalyatmerekttTgumamku.
TibantibalJttterekamingttutk山
t■
Ь
〕
OrlKa貿
ll)
'anb le:1
paanl sht kalianlMettagetkm珂
a.Kaltt aku i
gmanal)is
.
an
`l,と
Ц
ttf、 maaftI〕i Soalnya tadi kami Mampir‐ dulu ke ruang guru
untuk mengumpulkm tugas dari Pak Mamof〕 kata Ana dan Afga.
ふ
卜ヽ
︱.t
a
uJ
A=
F
Namaz IlaU?gn
Kelas: 0A
Kode: 6
me
bekal dari rulnahi terus uang sakunya bisa ditabung untuk keperluan
yang lebih beman■
M疵 .
Lp kami sebelum pulttg.
manl Jawab lmah.
ゝesok kamuj配i
masuk sekol瑚
〕
Bettarjuga butt ulang鑢
mttemttika.S颯 鑢gぶ kata Ana.
゛
Si■ ′
bosISemOga kita d叩 試seratus
゛
Fa
'sen
emanttatゞ
h崎
獅あぃ血
.
ュkami.
Pttalanan kmi di h薇 itu berJmir dengan senyuman d鑢
semngatuttkmengrhaⅢ l ulangan diesOk hi.
UJI REFERENSI
Judul Buku
Pengarang
Penerbit,
Menulis:
Henry
Gunfur
Tarig&n,
Pcrcetakan
Ceto Tahun
Sebagai
Suatu
Halaman
Skripsi
2
Footnote
2
2
Angkasa,
Bandung,
Keterampilan
Edisi
Berbahasa.
Revisi,
Paraf
Dtl
No
2008.
2
Mukhsin
Ahmadi.
Strategi
Belaj ab
Asuh,
Malang,
Cetakan
Pertama,
MengaJar
Keterampilan
Berbahasa
dan Apresiasi
1990.
Keterampilan
Berbahasa.
Sastra
No宙
Resmlnl
dan Dadan
hdonesla di
Juanda,
Pendidikan
Bahasa dan
KelaS Tinggi.
5
Happy
writing.
Penerbit
Universitas
Terbuka,
Jakarta,
Cetakan
Pertama
2008.
UPI Press
Bandung,
Cetakan
Pertama,
2007
And五 as
Grmedia
Harefa.
Pustaka
Utama,
3
3
4
4
5
5
6
0 ヽ
4
Budinurya
nta Y.
Dkk.
9 一
astra.
Pengaj aran
S
3
Yayasan
Asih Asah
Jakarta,
Cetakan
Pertana,
2010。
6
Peneliti狙
Nusa
Putera.
Kualitati食
Proses dan
PT.Indeks,
Jakarta,
Cetakan
2011。
7
Buku Pintar
EYD:
Pedoman
Umum Ejaan
Bahasa
│1111■
‐
││■ ■
││
■●1■ ■■
│
hoer
Indonesia
耳idaytti.
Tera,
JakaFta,
Cetよ 狙
Pertana
9,
13,16,
8,11,
12,
い/1
Keha
Aplkasi.
2012.
8
9
10
Mendikbu
Pustaka
Pedoman
d
Widyatanra,
Asih
Anggttanl
,dkk.
Ce五 ta。
Abdul
Mttid
Aziz
Panduan
Praktis
Mettadi
Penulis
Untuk
Perguruan
PT. Rernaja
Rosdakaryz,
Bandung,
Cetakan
Kedua,
2002.
Pustaka
Populer,
Yogyakarta,
Cetakan
Pertama,
2010.
29
14
Alek A.
dan H.
Achttnad
H.P.
Prenada
29
16
Tinggi
31,32,
18,21,
33
23
32,33
34,39
22,24,
25,26,27
29,30,
32
ヽ
0
2
Sukino.
:
Handale
Bahasa
Indonesia
13
Yogyakarta,
Cetakan
Pertama,
2006.
7
ltu
24
Graha llmu,
5
1
Mud山
9
Cetakan
Abdul
Men■ llis
10
Ketiga
2447.
Mendidik
Dengan
Bandung
12
ヘ
EYD
Ejaan yang
Disempurnak
all.
Mengasah
Keterampilan
Menulis
Ilmiah di
Perguruan
Tinggi.
■ ζ ト ヽ Oχ■
Indonesia
yang
Disempurnak
all.
Media
Group,
Rawamangu
n, Cetakan
201 0.
13
Pengantar
Wahyudi
Teori Sastra.
Siswanto,
Graslndo,
Jaktta,
Cetakan
Pertttmta,
Membaca
Endah T五
Sastra dengan
P五 yatni.
Ancangan
Literasi
Kritis.
■
Bumi
Aksara,
Jakarta,
Cetakan
Pertama,
2010.
IF ノ や▼ヽ
︲・
︲
2008.
14
0ドヽ
Pertama
15
Metodelogi
Penelitian
Sulistyani
ngsih.
Kё bidanan:
16
Metode
Sugiyono,
Penelitian
Kuantitatit
Kualitatit
dan
Kombinasl.
17
Dasar― dasar
Aselm
Penelitian
Strauss
Kualitatil
dan Juliё
Pustaka
Pelajar,
t
Corbin.
18
Metodologi
Penelitian
Lexy J.
Moleong.
41
28
41
29
42
30,
42
31,32
42
33
42
34
42
35
43
36
IFや
K:uantitatif―
kualitatif
Graha llmu,
Yogyakarta,
Cetakan
Kedua,
2011.
Alfabeta,
Bandutrg,
Cetakan
ketiga,
2013.
Yogyakarta,
Cetakan
Ketiga,
2009.
PT.RemaJa
Rosdakarya,
Bnadung,
Cetakan
Kualitatif
Ke-15,
2001.
19
Metodologi
Penelitian
Pendidikan.
S.
PT.Rineka
Margono.
Cipta,
Jakarta,
Cetakan
Kedelapan
2010。
20
Donal
Usaha
Penelitian
dalam
Pendidikan.
Menyusun
Rencara
Penelitian.
AFy,Dkk.
Nasional,
SIabaya,
1982.
Tatang M,
Ami五 n.
PTe Rtta
GraflndO
Persada,
Jaktta,
Cetよan
22
Pandu狙
Lёnょ 叩
MetOd01oJ
Ketiga,1995
H.M.
Musfiqon.
Prestasi
Pustattla
Publisher,
Peneliti狙
Jakarta,
Pendidikan.
Cetよan
Pertama,
2012
ハr ヽ
21
Pengantar
23
P叫 鑢 t額
S装 泣istik
P雛壷dikane
Anas
Sudijono.
PT.Rtta
44
37
Draflndo
Persadち
J
Cdttkan
Ke-24,
2012.
dun,M.Pd.
012152009122001
RIWAYAT PENULIS
Seorang insan akademisi yang
sangat
menggemari
traveling
dan
musik ini lahir pada tanggal 3 April
1993 di Tangerang. Anak pertama dari
tiga bersaudara atas pernikahan Bapak
H. Nasyaruddin S. Pd.
Heldawati S. Pd.
dan
Ibu
memiliki riwayat
pendidikan dan organisasi yang cukup.
Mulai tamat sekolah di Madrasah
Ibtidaiyah Nurul Ahksan, kemudian
melanjutkan sekolah menegah pertama di Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Parung,
dalam menjalani pendidikan di MTsN tersebut penulis masuk dalam Organisasi
Siswa Intra Sekolah. Berlanjut pada pendidikan selanjutnya di SMAN 1 Parung,
di sekolah ini, penulis juga aktif dalam OSIS dan menjadi pengurus dalam
Organisasi ekstrakurikuler seni musik. Dalam ekstrakurikuler ini penuis berhasil
menorehkan prestasi dalam menjuarai berbagai festival musik siswa. Diantaranya
adalah menjuarai festival musik SMA Kabupaten Bogor yang di selengarakan di
SMAN 1 Rumpin dan menjadi juara ke-2 dalam festival musik yang di adakan
SMAN 5 Depok.
Merasa belum cukup ilmu yang diperoleh untuk mewujudkan cita-cita
yang hakiki, penulis melanjutkan studi kejenjang perguruan tinggi. Universitas
Islam Negeri Syarif Hidayatullah menjadi pilihan. Masuk melalui jalur ujian
mandiri, penulis memantapkan diri untuk mengais butir-butir pengetahuan dalam
naungan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Jurusan Pendidikan Bahasa dan
Sastra Indonesia.
Inilah selayang pandang riwayat penulis yang dapat dipaparkan, semoga
setiap karya tulis yang tercipta oleh penulis dapat bermanfaat bagi pembaca.
Download