Sinyal-sinyal neural dikonduktasikan dari korteks motorik primer ke

advertisement
MODUL PERKULIAHAN
SISTEM SENSORI MOTOR
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
Fakultas
Psikologi
2014
7
Topik utama:
Tiga Prinsip Fungsi Sensorimotor
Korteks Asosiasi Sensorimotor
Korteks Motorik Sekunder
Korteks Motorik Primer
Serebelum dan Ganglis Basalis
Jalur-jalur Motorik
Sirkuit Spinal Sensorimotor
Program-program Sensorimotor Sentral
Program
Studi
Psikologi
Tatap
Muka
05
Kode MK
Disusun Oleh
61045
Firman Alamsyah AB, MA
Abstract
Kompetensi
Sistem
Mampu
menyebutkan,
mengidentifikasi,
menjelaskan,
menjabarkan
dan
membedakan
konsep-konsep
dalam
system
sensorimotor
BIOPSIKOLOGI
Firman Alamsyah AB, MA
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
A. TIGA PRINSIP FUNGSI SENSORIMOTOR
Terdapat tiga prinsip fungsi sensorimotor yaitu:
1. System sensorimotor terorganisasi secara hierarkis.
Keunggulan organisasi hierarkis ini adalah tingkat-tingkat yang lebih tinggi
dalam hierarki dibiarkan bebas melakukan fungsi-fungsi yang lebih kompleks.
Sistem
sensorimotor adalah
sistem
hierarki yang
bersifat
paralel dan
terorganisasi secara fungsional. Perbedaan utama antara sistem sensori dan
sistem sensorimotor adalah arah aliran informasi primernya. Dalam sistem
sensori informasi terutama mengalir naik melalui hierarki, sedangkan dalam
sistem sensorimotor, informasi terutama mengalir turun.
2. Output motorik dipandu oleh input sensori
Sistem sensorimotor yang meliputi mata, organ-organ keseimbangan dan
reseptor-reseptor di kulit, otot, dan persendian semuanya memantau responrespon tubuh dan mereka mengumpanbalikkan informasi itu ke dalam sirkuitsirkuit sensorimotor. Pada kebanyakan kasus, sensory feedback (arus balik
sensori) berperan penting dalam mengarahkan kesinambungan berbagai respon
yang dihasilkannya. Satu-satunya respon yang biasanya tidak dipengaruhi oleh
umpan balik sensori adalah ballistic movements (gerakan balistik) yaitu gerakangerakan pendek, all-or-none, dan berkecepatan tinggi. Banyak penyesuaian
dalam output motorik yang terjadi sebagai respon terhadap umpan balik sensorik
yang dikontrol secara tak sadar oleh tingkat hierarki sensorimotor yang lebih
rendah tanpa keterlibatan tingkat-tingkat yang lebih tinggi.
3. Belajar mengubah sifat dan lokus control sensorimotor
Terjadi perubahan dalam proses belajar sensorimotor. Selama tahap-tahap awal
belajar motorik, setiap respon individual dikerjakan di bawah kontrol yang
disadari, kemudian setelah banyak latihan, respon-respon individual menjadi
terorganisasi menjadi sekuensi-sekuensi tindakan yang terintegrasi secara
berkesinambungan yang mengalir lancar dan disesuaikan oleh umpan balik
sensori tanpa regulasi sadar.
2014
5
Biopsikologi
Firman alamsyah AB, MA
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Model umum fungsi system sensorimotor, digambarkan sebagai berikut:
Gambar, ilustrasi beberapa prinsip organisasi system sensorimotor.
B. Korteks Asosiasi Sensorimotor
Korteks asosiasi berada di puncak hierarki sensorimotor. Terdapat dua
daerah korteks asosiasi sensorimotor utama yaitu:
1. Korteks asosiasi parietal posterior
Sebelum sebuah gerakan efektif dapat diawali informasi tertentu dibutuhkan.
Sistem saraf harus tahu posisi awal bagian-bagian tubuh yang akan digerakkan
dan ia juga harus tahu posisi objek eksternal dengan siapa tubuh akan
berinteraksi. Korteks asosiasi parietal posterior (porsi neokorteks parietal yang
letaknya posterior terhadap korteks somatosensori primer) berperan penting
dalam mengintegrasikan kedua macam informasi ini dan dalam mengarahkan
perhatian. Pada gilirannya, banyak output korteks parietal posterior pergi ke
daerah-daerah korteks motorik, yang berlokasi di kortesk frontal, ke korteks
asosiasi prefrontal dorsolateral ke berbagai daerah korteks motorik sekunder dan
ke medan mata frontal (sebuah daerah kecil korteks prefrontal yang mengontrol
gerakan-gerakan mata.
Kerusakan pada korteks parietal posterior dapat mengakibatkan yang paling
utama adalah:
2014
5
Biopsikologi
Firman alamsyah AB, MA
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
a) Apraxia (apraksia), gangguan gerakan disengaja yang tidak dapat
diatribusikan pada sebuah defisit motorik sederhana atau pada defisit
apapun dalam komprehensi atau motivasi.
b) Contralateral neglect, gangguan pada kemampuan pasien untuk
merespon stimuli pada satu sisi tubuh yang berlawanan (kontralateral)
dengan sisi lesi otak, tanpa disertai adanya defisit sensorik atau defisit
motorik sederhana.
Gambar input kortikal utama dan jalur-jalur output korteks asosiasi parietal posterior
2. Korteks asosiasi prefrontal dorsolateral
Daerah besar lain di korteks asosiasi yang memiliki fungsi sensorimotor penting
adalah korteks asosiasi prefrontal dorsolateral yang menerima proyeksi-proyeksi
dari korteks parietal posterior dan mengirimkan proyeksi-proyeksi ke daerahdaerah korteks motorik sekunder, ke korteks motorik primer dan ke medan mata
frontal. Korteks prefrontal dorsolateral tampaknya berperan dalam evaluasi
stimuli eksternal dan inisiasi reaksi-reaksi yang disengaja terhadapnya.
Gambar input kortikal utama
dan jalu-jalur output korteks
asosiasi prefrontal dorsolateral
2014
5
Biopsikologi
Firman alamsyah AB, MA
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
C. Korteks Motorik Sekunder
Daerah-daerah korteks
motorik
sekunder adalah daerah-daerah yang
menerima banyak inputnya dari korteks asosiasi dan mengirimkan banyak outputnya
ke korteks motorik primer. Selama bertahun-tahun, hanya ada dua daerah korteks
motorik sekunder yang diketahui dan terlihat jelas di permukaan lateral lobus frontal,
tepat pada posisi anterior terhadap korteks motorik primer, yaitu:
1. Daerah motorik suplementer
Daerah tersebut menutupi bagian puncak lobus frontal dan memanjang,
menuruni permukaan medialnya ke dalam fisura longitudinal
2. Korteks premotorik
Yang mengalir ke dalam bentuk strip dari daerah motorik suplementer ke
fisura lateral.
Konsepsi dua daerah sederhana untuk korteks motorik sekunder itu telah
menjadi lebih kompleks. Terdapat bukti bahwa paling tidak ada dua daerah motorik
singulat pada manusia, dan ada alasan yang kuat untuk mensubdivisikan daerah
motorik suplementer maupun korteks premotorik. Untuk dapat dikualifikasikan
sebagai kortkes motorik sekkunder, sebuah daerah harus dihubungkan dengan tepat
dengan daerah-daerah sensorimotor lainnya. Dari perspektif fungsional, stimulasi
elektrik terhadap sebuah daerah korteks motorik sekunder biasanya memicu gerakan
kompleks, yang seringkali melibatkan kedua sisi tubuh dan neuron-neuron dalam
sebuah daerah korteks motorik sekunder sering menjadi lebih aktif tepat sebelum
inisiasi sebuah gerakan yang disengaja dan terus aktif sepanjang gerakan itu
dilakukan.
2014
5
Biopsikologi
Firman alamsyah AB, MA
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Gambar Empat daerah
korteks motorik sekunder
dan output mereka ke
korteks motorik primer
Dari penelitian yang dilakukan, hanya beberapa penemuan yang mampu
memuaskan minat para pakar neurosains yaitu penemuan mirror neurons. Mirror
neurons adalah neuron-neuron yang menembak ketika seorang individu melakukan
gerakan tangan tertentu yang mengarah – ke- tujuan atau ketika ia melihat gerakan
mengarah- tujuan yang sama dilakukan oleh orang lain. Mirror neurons ditemukan
pada awal tahun 1990-an di laboratorium Giacorno Rizzolatti (dalam Pinel, 2012).
Dukungan untuk ide bahwa mirror neurons berperan dalam kognisi sosial datang
dari berbagai demonstrasi bahwa mirror neurons merespon terhadap pemahaman
tentang sebuah tindakan, bukan pada aspek superfisialnya.
D. Korteks Motorik Primer
Korteks motorik primer terletak di girus prefrontal lobus frontal yang
merupakan titik konvergensi utama dari sinyal-sinyal sensorimotor kortikal sebagai
titik awal, tetapi bukan satu-satunya dari sinyal-sinyal sensorimotor dari korteks
serebral. Terdapat dua pandangan tentang fungsi korteks motorik primer, yaitu:
1. Pandangan konvensional
Pandangan ini menemukan bahwa korteks motorik primer terorganisasi
secara somatotopik yaitu menurut peta tubuh. Susunan somatotopik korteks
motorik primer manusia biasa disebut sebagai homunculus motorik. Sebagian
besar korteks motorik primer digunakan untuk mengontrol bagian-bagian tubuh
yang mampu melakukan gerakan-gerakan ruwet seperti tangan dan mulut. Hal
penting yang harus diketahui bahwa korteks motorik primer menerima umpan
balik sensori dari reseptor-reseptor dalam otot dan persendian yang dipengaruhi
2014
5
Biopsikologi
Firman alamsyah AB, MA
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
lokasi tersebut. Fungsi korteks motorik primer diyakini bahwa setiap lokasi di
korteks motorik primer mengontrol sebuah otot di bagian kontralateral tubuh, dan
bahwa setiap neuron menghasilkan gerakan dengan arah tertentu.
Gambar homunkulus motorik: Peta somatotopik korteks motorik primer
manusia
2. Pandangan mutakhir
Upaya-upaya mutakhir untuk memetakan korteks motorik primer telah
menggunakan sebuah teknik stimulasi baru. Alih-alih menstimulasi dengan
getaran arus listrik tepat di atas ambang untuk menghasilkan reaksi, para
peneliti telah menggunakan letupan arus listrik yang lebih singkat yang lebih
mirip dengan durasi respon motorik dengan intensitas yang sedikit lebih tinggi.
Hasilnya, alih-alih menimbulkan kontraksi otot-otot individual, arus listrik ini
menimbulkan sekuensi respon kompleks yang tampak natural.
Bukti bahwa
banyak korteks motorik primer dipaskan dengan gerakan ke arah tertentu telah
mendapat tantangan. Pentingnya target gerakan dan bukan arah gerakan bagi
fungsi korteks motorik primer juga tampak jelas dalam studi-studi stimulasi
Graziano, yang menghasilkan implikasi dari temuan tersebut yaitu:
1) Sinyal-sinyal dari setiap lokasi di korteks motorik primer sangat divergen
sehingga setiap titik tertentu memiliki kemampuan untuk membawa
sebuah bagian tubuh ke lokasi target, terlepas dari posisi awalnya.
2) Sistem sensorimotor memang plastis.
2014
5
Biopsikologi
Firman alamsyah AB, MA
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Efek-efek Lesi Korteks Motorik Primer
Kerusakan ekstensif pada korteks motorik primer memiliki efek yang lebih
sedikit daripada yang mungkin kita duga, mengingat korteks ini merupakan titik
awal utama serabut-serabut saraf dari korteks serebral. Lesi besar pada korteks
motorik primer dapat mendisrupsi kemampuan pasien untuk menggerakkan salah
satu
bagian
tubuhnya
secara
independen,
yang
dapat
menghasilkan
astereognosia (defisit dalam stereognosis) dan dapat mengurangi kecepatan,
keakuratan dan kekuatan gerakan pasien. Akan tetapi, lesi semacam itu tidak
mengeliminasi gerakan yang disengaja, mungkin karena da jalur-jalur paralel
yang langsung turun dari daerah-daerah motorik sekunder ke sirkuit-sirkuit
motorik subkortikal tanpa melewati korteks motorik primer
E. SEREBELUM DAN GANGLIA BASALIS
Serebelum dan ganglia basalis merupakan struktur sensorimotor yang penting,
tetapi bukan merupakan bagian utama jalur yang dilalui sinyal-sinyal yang turun
melalui hierarki sensorimotor. Interkoneksi di antara daerah-daerah sensori dan
motorik melalui serebelum dan ganglia basalis diduga menjadi salah satu alasan
mengapa kerusakan yang terjadi pada penghubung kortikal di antara daerah
korteks visual dan daerah motorik frontal tidak meniadakan respon-respon yang
dipandu secara visual.
Serebelum
Kompleksitas cerebellum (serebelum) ditunjukkan oleh strukturnya. Meskipun
ia hanya mencakup 10% massa otak, ia berisi lebih dari setengah neuronnya.
Serebelum menerima informasi dari korteks motorik primer dan sekunder,
informasi tentang sinyal-sinyal motorik yang turun dari nuklei motorik batang otak,
dan umpan balik dari respon-respon motorik melalui sistem somatosensorik dan
vestibuler.
Serebelum diduga membandingkan ketiga sumber input ini dan mengoreksi
gerakan-gerakan yang sedang berlangsung, yang menyimpang dari sumber yang
diinginkan. Dengan menjalankan fungsi ini, ia diyakini memainkan peran utama
dalam belajar motorik, khususnya dalam mempelajari sekuensi-sekuensi gerakan
yang timing-nya merupakan faktor kritis.
2014
5
Biopsikologi
Firman alamsyah AB, MA
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Ganglia Basalis
Basal ganglia (Ganglia Basalis) tidak mengandung neuron sebanyak
serebelum, tetapi dalam arti tertentu mereka lebih kompleks. Berbeda dengan
serebelum, yang diorganisasikan secara sistematis dalam berbagai lobus, kolom
dan lapisan; ganglia basalis merupakan sekumpulan nuklei heterogen yang
saling terhubung secara kompleks.
Anatomi ganglia basalis menunjukkan bahwa mereka menjalankan fungsi
modulatorik. Mereka tidak mengontribusikan fibra/ serabut pada jalur-jalur
motorik descending, tetapi merupakan bagian loops neural yang menerima input
kortikal dari berbagai daerah kortikal dan mentransmisikan kembali melalui
talamus ke berbagai daerah korteks motorik.
F. JALUR-JALUR MOTORIK YANG MENGALIR DARI ATAS KE BAWAH
Sinyal-sinyal neural dikonduktasikan dari korteks motorik primer ke neuronneuroan motorik sumsum tulang belakang melalui empat jalur yang berbeda,
yaitu:
 Dua jalur berjalan dari atas ke bawah di daerah dorsalateral sumsum
tulang belakang
 Dua jalur berjalan dari atas ke bawah di daerah ventromedial sumsum
tulang belakang.
Sinyal-sinyal yang dikonduktasikan melalui jalur-jalur ini bekerja bersama-sama
dalam mengontrol gerakan yang disengaja. Sistem sensorimotor tidak dapat
bekerja dengan baik kecuali jika ada jalur komunikasi yang baik dari tingkat
korteks ke sirkuit-sirkuit sumsum tulang belakang dan otot-otot.
Traktus Kortikospinal
Dorsolateral
Dorsolateral
dan
Traktus
Kortikorubrospinal
1. Kelompok akson traktus kortikospinal dorsolateral berjalan turun dari korteks
motorik primer melalui medullaly pyramids (piramida medularia) lalu
berdekusasi dan terus berjalan turun dalam white matter (jaringan saraf)
spinal dorsolateral. Yang paling terkemuka di antara neuron-neuronnya
adalah sel-sel Betz yaitu neuron-neuron piramidal yang luar biasa besar di
korteks motorik primer.
Akson-aksonnya berakhir di daerah-daerah bawah sumsum tulang belakang,
di neuron-neuron motorik yang berproyeksi ke otot-otot kaki. Mereka diduga
sarana kita untuk menerapkan kontrol disengaja dengan cepat dan kuat di
2014
5
Biopsikologi
Firman alamsyah AB, MA
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
atas tungkai kita. Kebanyakan akson traktus kortikospinal dorsolateral
bersinapsis di interneuron- interneuron kecil gray matter (jaringan berwarna
kecokelat-cokelatan-abu-abu) spinal, yang bersinapsis di neuron-neuron
motorik otot-otot distal pergelangan tangan, telapak tangan, jari-jari tangan
dan jari-jari kaki.
2. Kelompok akson traktus kortikorubrospinal dorsolateral yang turun dari
korteks motorik primer bersinapsis di red nucleus otak tengah. Akson-akson
neuron di nukleus merah lalu berdekusasi dan berjalan turun melalui medula,
yang sebagian di antara mereka berakhir di nuklei saraf-saraf kranial yang
mengontrol otot-otot wajah. Sisanya terus berjalan turun di porsi dorsolateral
tulang
belakang.
Akson-akson
traktus
kortikorubrospinal
dorsolateral
bersinapsis di interneuron- interneuron yang pada gilirannya bersinapsis di
neuron-neuron motorik yang berproyeksi ke otot-otot distal lengan dan
tungkai.
Gambar 2 divisi jalur motorik dorsolateral
2014
5
Biopsikologi
Firman alamsyah AB, MA
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Traktus Kortikospinal Ventromedial dan Traktus Korteks-Batang OtakSumsum Tulang Belakang Ventromedial
1. Kelompok akson traktus kortikospinal ventromedial berjalan turun secara
ipsilateral
dari
korteks
motorik
primer,
langsung
ke
daerah-daerah
ventromedial white matter sumsum tulang belakang. Saat masing-masing
akson traktus kortikospinal ventromedial berjalan turun, ia bercabang-cabang
secara menyebar dan menginervasi sirkuit-sirkuit interneuron di beberapa
segmen sumsum tulang belakang yang berbeda di kedua sisi gray matter
sumsum tulang belakang..
2. Kelompok akson traktus korteks-batang otak-sumsum tulang belakang
ventromedial terdiri atas akson-askon korteks motorik yang masuk ke
jaringan struktur-struktur batang otak. Akson-akson sebagian neuron dalam
jaringan motorik batang otak yang kompleks ini kemudian berjalan turun
secara bilateral di porsi ventromedial sumsum tulang belakang. Masingmasing sisi membawa sinyal-sinyal dari kedua hemisfer dan masing-masing
neuron bersinapsis di interneuron- interneuron beberapa segmen sumsum
tulang belakang yang berbeda yang mengontrol otot-otot proksimal batang
tubuh dan anggota badan. Terdapat empat struktur batang otak yang
berinteraksi dengan traktus korteks-batang otak-sumsum tulang belakang
ventromedial yaitu:
1) Tektum; yang menerima informasi auditori dan visual tentang
lokasi spasial
2) Nukleus
vestibuler;
yang
menerima
informasi
tentang
keseimbangan dari reseptor-reseptor di kanal-kanal semisirkulertelinga-dalam
3) Formasi retikuler; diantaranya berisi program-program motorik
yang mengatur gerakan-gerakan tipikal-spesies kompleks
4) Nuklei motorik saraf-saraf kranial yang mengontrol otot-otot wajah
2014
5
Biopsikologi
Firman alamsyah AB, MA
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Gambar 2 divisi jalur motorik ventromedial
Perbandingan Kedua Jalur Motorik Dorsolateral dan Kedua Jalur Motorik
Ventromedial
Jalur-jalur dorsolateral dan ventromedial yang berjalan dari atas ke bawah
serupa dalam arti masing-masing terdiri atas dua traktus utama, yang aksonaksonnya berjalan turun secara langsung ke sumsum tulang belakang dan yang
akson-aksonnya bersinapsis di batang otak di neuron-neuron yang pada
gilirannya berjalan turun ke sumsum tulang belakang. Akan tetapi, kedua traktus
dorsolateral berbeda dengan kedua traktus ventromedial dalam dua hal penting
yaitu:
1. Kedua traktus ventromedial jauh lebih terdifusi. Banyak aksonnya yang
menginervasi interneuron- interneuron di kedua sisi gray matter (jaringan
berwarna kecokelat-cokelatan-abu-abu) sumsum tulang belakang dan di
beberapa segmen yang berbeda; sementara akson-akson kedua traktus
dorsolateral berakhir di paruh kontralateral di salah satu segmen sumsum
tulang belakang, kadang-kadang langsung di sebuah neuron motorik.
2. Neuron-neuron motorik yang diaktifkan kedua traktus ventromedial
berproyeksi ke otot-otot proksimal batang tubuh dan anggota badan,
2014
5
Biopsikologi
Firman alamsyah AB, MA
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
sementara neuron motorik yang diaktifkan oleh kedua traktus dorsolateral
berproyeksi ke otot-otot distal.
Oleh karena keempat traktus motorik yang berjalan dari atas ke bawah itu
berasal daru korteks serebral, maka keempatnya diduga memediasi gerkana
disengaja, tetapi perbedaan-perbedaan utama dalam rute dan tujuannya
menunjukkan bahwa mereka memiliki fungsi-fungsi yang berbeda. Dari
penelitian dihasilkan bahwa kedua traktus ventromedial terlibat dalam
pengontrolan postur dan gerakan seluruh tubuh dan bahwa mereka dapat
menerapkan kontrol atas gerakan anggota badan yang terlibat dalam
kegiatan-kegiatan semacam itu. Sebaliknya, kedua traktus dorsolateral
mengontrol gerakan-gerakan anggota badan. Redundancy ini mungkin
merupakan basis bagi pemulihan gerakan anggota badan setelah lesi
pertama
traktus
dorsolateral
kortikospinal.
Akan tetapi
hanya
divisi
kortikospinal sistem dorsolateral yang mampu memediasi gerakan-gerakan
independen jari-jemari.
G. SIRKUIT-SIRKUIT SUMSUM TULANG BELAKANG SENSORIMOTOR
Tingkat paling bawah dari hierarki sensorimotor adalah sirkuit-sirkuit sumsum
tulang belakang dan otot-otot yang mereka kendalikan. Sirkuit-sirkuit motorik
sumsum tulang belakang menunjukkan kompleksitas yang cukup tinggi dalam
fungsinya, terlepas dari sinyal-sinyal yang datang dari otak.
Otot-otot
Unit-unit motorik adalah unit-unit terkecil aktivitas motorik. Setiap unit
motorik terdiri atas sebuah neuron motorik tunggal dan semua serabut otot
skeletal individual yang diinervasinya. Ketika neuron motorik menembak, semua
serabut otot unitnya berkontraksi bersama-sama. Unit-unit motorik memiliki
berbeda hal dalam jumlah serabut otot yang dikandungnya.
Sebuah otot skeletal terdiri atas ratusan ribu serabut otot seperti benang yang
dipersatukan dalam sebuah selaput kuat dan dilekatkan pada tulang oleh
sebuah tendon. Acetylcholin (asetilkolin) yang dilepaskan oleh neuron-neuron
motorik di neuromuscular junction (persimpangan neuromuskular) mengaktifkan
motor end-plate di setiap serabut otot dan menyebabkan serabut itu
berkontraksi. Semua neuron motorik yang menginervasi serabut- serabut
sebuah otot disebut dengan motor pool.
2014
5
Biopsikologi
Firman alamsyah AB, MA
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Meskipun terlalu disederhanakan, serabut- serabut otot skeletal sering
dianggap terdiri atas dua tipe dasar yaitu:
1. Serabut otot cepat
Berkontraksi dan kendur dengan cepat. Meskipun mampu menghasilkan
tenaga yang besar, mereka cepat lelah karena tidak tervaskularisasi
dengan baik (yang membuat mereka berwarna pucat).
2. Serabut otot lambat
Meskipun lebih lamban dan lebih lemah, mereka mampu melakukan
kontraksi lebih lama karena vaskularisasinya lebih kaya (yang membuat
mereka tampak lebih merah).
Bergantung fungsinya, otot-otot memiliki proporsi serabut cepat dan lambat
yang berbeda.
Banyak otot skeletal yang tidak jelas menjadi bagian dari kategori yang
fleksor atau ekstensor. Fleksor bekerja untuk membengkokkan atau
melenturkan sendi; sedangkan ekstensor bekerja untuk meluruskan atau
mengulurkannya. Setiap dua otot yang kontraksinya menghasilkan gerakan yang
sama, fleksi maupun ekstensi, dikatakan sebagai otot-otot sinergistik;
sedangkan mereka yang bekerja secara berlawanan seperti bisep dan
trisep,dikatakan sebagai otot-otot antagonistik.
Kontraksi isometrik adalah kontraksi otot yang dapat meningkatkan
ketegangan yang diterapkan pada dua tulang tanpa memperpendek dan
menariknya secara bersama-sama. Atau kontraksi ini dapat memperpendek dan
menariknya secara bersama-sama dan ini disebut dengan kontraksi dinamik.
Gambar bisep dan trisep
2014
5
Biopsikologi
Firman alamsyah AB, MA
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Organ-organ Reseptor Tendon dan Otot
Aktivitas otot-otot skeletal dipantau oleh dua jenis reseptor yaitu:
1. Organ-organ tendon Golgi
Golgi tendon organs (organ tendon Golgi) melekat pada tendon yang
menghubungkan seyiap otot skeletal ke tulang. Organ-organ tendon Golgi
merespon peningkatan ketegangan otot tetapi sama sekali tidak sensitif
terhadap perubahan panjang otot. Dalam kondisi normal, fungsi rganorgan tendon Golgi adalah memberikan informasi kepada sistem saraf
pusat (SSP) tentang ketegangan otot, tetapi mereka juga menjalankan
fungsi protektif. Ketika kontraksi sebuah otot begitu ekstrim sehingga ada
resiko kerusakan, maka organ-organ tendon Golgi membangkitkan
interneuron- interneuron inhibitori di sumsum tulang belakang yang
menyebabkan otot tersebut mengendur.
2. Gelendong otot
Muscel spindles (gelendong otot) melekat pada jaringan otot itu sendiri.
Gelendong- gelendong otot merespon perubahan pada panjang otot,
tetapi tidak merespon ketegangan otot. Masing-masing gelendonggelendong otot memiliki otot intrafusal yang mirip benang, yang
diinervasi oleh neuron motorik intrafusal-nya sendiri. Tanpa input
motorik intrafusal, sebuah gelendong otot akan mengendur tiap kali otot
skeletal (otot ekstrafusal)-nya terkontraksi. Dalam keadaan kendur,
gelendong otot tidak akan dapat melakukan tugasnya, yaitu merespon
perubahan-perubahan kecil pada panjang otot ekstrafusalnya.
Refleks Perentangan
Stretch Reflex (Refleks Perentangan) adalah refleks yang dibangkitkan
oleh kekuatan perentangan eksternal pada sebuah otot. Ekstensi tungkai yang
diakibatkan oleh ketukan itu disebut dengan patellar tendon reflex (refleks
tendon patelar). Metode yang digunakan dokter untuk membangkitkan refleks
tendon patelar yaitu dengan pukulan tajam ke tendon otot yang benar-benar
relaks, dirancang untuk membuat refleks itu dapat dilihat dengan mudah. Akan
tetapi, hal ini sebenarnya tidak banyak mengkomunikasikan signifikansi
fungsionalnya. Dalam situasi riil, fungsi refleks perentangan adalah untuk
mencegah kekuatan eksternal untuk mengubah posisi tubuh yang diinginkan.
Ketika kekuatan eksternal menyebabkan perentangan otot ekstrafusal yang tidak
2014
5
Biopsikologi
Firman alamsyah AB, MA
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
diantisipasi, sirkuit umpan balik gelendong otot menghasilkan sebuah kontraksi
kompensatorik tiba-tiba pada otot yang melawan kekuatan itu.
Refleks Menarik Diri
Withdrawal Reflex (Refleks Menarik Diri) tidak monosinaptik. Ketika
sebuah stimulus menyakitkan mengenai tangan, respon pertama direkan di
neuron-neuron motorik otot-otot fleksor lengan selama sekitar 1,6 milisekon,
kira-kira sama dengan waktu yang dibutuhkan oleh sebuah sinyal neural untuk
menyeberangi dua sinapsis. Rute terpendek dalam sirkuit refleks menarik-diri
melibatkan sebuah interneuron. Respon-respon lain direkam dalam neuronneuron motorik otot-otot fleksor lengan setelah rentetan penembakan pertama;
respon dibangkitkan oleh sinyal-sinyal yang telah berjalan melewati jalur-jalur
multisinaptik yang sebagian melibatkan korteks.
Inervasi Resiprokal
Resiprocal innervation (inervasi resiprokal) adalah salah satu prinsip
penting sirkuit sumsum tulang belakang. Ia mengacu pada fakta bahwa otot-otot
antagonistik diinervasikan dengan cara memungkinkan respon motorik yang tak
terhalang. Ketika yang satu terkontraksik, yang lain relaks. Sebuah input sensori
tunggal menghasilkan sebuah pola output motorik yang terkoordinasi, aktivitasaktivitas agonis dan antagonis dikoordinasikan secara otomatis oleh sirkuit
internal sumsum tulang belakang.
Gerakan paling cepat ketika ada eksitasi simultan terhadap seluruh
agonis dan inhibisi penuh terhadap antagonis. Akan tetapi hal ini bukanlah cara
bagaimana gerakan disengaja biasanya dihasilkan. Kebanyakan otot selalu
dalam keadaan terkontraksi dengan derajat tertentu dan gerakan dihasilkan oleh
penyesuaian
tingkat
ko-kontraksi
relatif
antar-antagonis.
Gerakan
yang
dihasilkan oleh cocontraction (ko-kontraksi adalah gerakan halus dan dapat
dihentikan dengan tepat oleh sedikit peningkatan dalam kontraksi otot-otot
antagonistik. Selain itu, ko-kontraksi menginsulasi kita dari efek kekuatan
eksternal yang tak terduga.
Recurrent Collateral Inhibition
Serabut-serabut otot dan neuron-neuron motorik yang menginervasi
mereka sesekali membutuhkan istirahat, dan ada neuron-neuron inhibitorik di
sumsum tulang belakang yang memastikan bahwa mereka mendapatkannya.
2014
5
Biopsikologi
Firman alamsyah AB, MA
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Setiap neuron motorik bercabang tepat sebelum ia meninggalkan sumsum
tulang belakang dan cabangnya bersinapsis pada sebuah interneuron inhibitorik
yang menghambat neuron motorik yang sama, dari mana menerima input.
Inhibisi yang dihasilkan oleh sirkuit- sirkuit umpan balik lokal ini disebut
dengan recurrent collateral inhibition dan interneuron- interneuron inhibitorik
kecil yang memediasi recurrent collateral inhibition disebut dengan sel-sel
Renshaw. Akibat recurrent collateral inhibition, tiap kali sebuah neuron motorik
menembak, neuron itu sejenak menghambat dirinya sendiri dan mengalihkan
tanggung jawab untuk kontraksi otot tertentu ke anggota- anggota lain di pool
motorik otot tersebut.
Berjalan: Refleks Sensorimotor yang Kompleks
Kebanyakan refleks jauh lebih kompleks dibanding menarik-diri dan
refleks perentangan. Kita bisa memikirkan kompleksitas program aneka refleks
yang dibutuhkan untuk mengontrol aktivitas seperti berjalan. Program semacam
itu harus mengintegrasikan informasi visual dari mata; informasi somatosensori
dari telapak kaki, lutut, pinggull, lengan dan seterusnya. Berdasarkan informasiinformasi ini, program itu harus menghasilkan serangkaian gerakan terintegrasi
yang melibatkan otot-otot batang tubuh, tungkai, telapak kaki, dan lengan atas.
Program aneka refleks ini juga pasti luar biasa plastis. Ia harus mampu segera
menyesuaikan outputnya dengan berbagai perubahan naik-turunnya medan
yang dilalui, dengan berbagai perintah dari otak, dan dengan berbagai kekuatan
eskternal. Hal tersebut dapat ditunjukkan bahwa berjalan dapat dikontrol oleh
sirkuit-sirkuit sumsum tulang belakang.
H. PROGRAM-PROGRAM SENSORIMOTOR SENTRAL
Salah satu teori tentang fungsi sensorimotor adalah sistem sensorimotor
terdiri atas sebuah hierarki program-program sensorimotor sentral. Teori program
sensorimotor sentral mengatakan bahwa kecuali tingkat tertinggi dalam sistem
sensorimotor memiliki pola-pola aktivitas tertentu yang diprogramkan ke dalamnya
dan bahwa gerakan-gerakan kompleks dihasilkan dengan mengaktifkan kombinasikombinasi yang tepat di antara program-program tersebut.
Begitu diaktifkan, setiap tingkat sistem sensorimotor mampu beroperasi
berdasarkan umpan balik sensori saat itu, tanpa kontrol langsung dari tingkat-tingkat
yang lebih tinggi. Dengan kata lain, meskipun tingkat-tingkat yang lebih tinggi dalam
2014
5
Biopsikologi
Firman alamsyah AB, MA
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
sistem sensorimotor kita menahan opsi mengontrol secara langsung aktivitas kita,
kebanyakan respon individual yang kita lakukan tanpa keterlibatan langsung korteks,
dan kita hampir tidak menyadarinya. Dalam sistem sensorimotor,mekanismemekanisme ini tampaknya menjadi tanggungajawab serebelum dan ganglia basalis.
Ekuivalensi motorik adalah suatu fakta bahwa gerakan dasar yang sama
dapat dilakukan dengan beragam cara yang melibatkan otot-otot yang berbeda dan
mengilustrasikan plastisitas yang melekat pada sistem sensorimotor.
Meskipun program sensorimotor sentral untuk sebagian perilaku dapat
dibentuk dengan melatihkan perilaku-perilaku tersebut, program sensorimotor sentral
untuk banyak perilaku tipikal-spesies dibentuk tanpa latihan eksplisit untuk perilaku
tersebut. Walaupun begitu, latihan adalah suatu cara untuk membuat atau
memodifikasi program sensorimotor sentral.
Teori tentang Belajar Sensorimotor
Teori-teori tentang belajar sensorimotor menekankan pada dua macam
proses yang mempengaruhi belajar program sensorimotor sentral yaitu:
1. Response Chunking
Menurut Response Chunking hypothesis, latihan mengkombinasikan
program-program sensorimotor sentral yang mengontrol respon individual
menjadi program-program yang mengontrol sekuensi-sekuensi (chunks)
perilaku. Salah satu prinsip penting chunking (memotong-motong) adalah
chunks itu sendiri dapat dikombinasikan menjadi chunks dengan tingkat
yang lebih tinggi.
2. Mengalihkan kontrol ke tingkat-tingkat yang lebih rendah dalam
sistem sensorimotor.
Dalam proses mempelajari sebuah program sensorimotor sentral, kontrol
dialihkan dari tingkat hierarki sensorimotor yang lebih tinggi ke tingkat
yang lebih rendah. Mengalihkan tingkat pengontrolan ke tingkat yang
lebih rendah dalam sistem sensorimotor selama latihan memiliki dua
keuntungan yaitu:
1) Membebaskan tingkat-tingkat yang lebih tinggi dalam sistem untuk
menangani aspek-aspek performa yang lebih esoterik
2) Memungkinkan kecepatan tinggi karena sirkuit - sirkuit yang
berbeda di tingkat yang lebih rendah dalam hierarki dapat bekerja
secara simultan, tanpa saling mengganggu
2014
5
Biopsikologi
Firman alamsyah AB, MA
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Daftar Pustaka
Kalat, W. J. 2010. Biopsikologi. Penerbit Salemba Humanika. Edisi kesembilan. Jakarta
Selatan.
Pinel, P. J, J. 2012. Bopsikologi. Penerbit Pustaka Pelajar. Edisi ketujuh. Celeban Timur
Yogyakarta.
2014
5
Biopsikologi
Firman alamsyah AB, MA
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Download