I. PENDAHULUAN

advertisement
I.
PENDAHULUAN
Tanaman singkong merupakan jenis tanaman pangan yang cukup penting di
Indonesia karena kandungan karbohidrat dan kalori yang cukup tinggi. Singkong di
Indonesia merupakan salah satu tanaman pangan terbesar ketiga setelah beras dan jagung
(Lingga et al., 1987). Semangun (1985) menyatakan bahwa singkong dapat tumbuh pada
kisaran 10-1.500 m di atas permukaan air laut (dpl), dengan ketinggian tempat yang paling
baik dan ideal antara 10-700 m dpl. Rukmana (1997) mengemukakan bahwa kelembaban
udara optimal untuk pertumbuhan tanaman singkong adalah antara 60-65%, dengan
temperatur udara minimal sekitar 10°C dan temperatur optimum 25°C-28°C, serta curah
hujan diatas 500 mm/tahun.
Menurunnya produksi singkong di Indonesia salah satunya disebabkan oleh serangan
dari tungau hama. Salah satu tungau hama yang menurunkan hasil dari produksi
perkebunan singkong hingga 60% jumlah produksi adalah T. urticae (Belloti, 2002). Ciri-ciri
kerusakan yang terjadi akibat serangan tungau hama T. urticae yaitu adanya bercak-bercak
kuning di sepanjang tepi daun yang kemudian menyebar ke semua bagian daun sehingga
daun menjadi kemerah-merahan, dan berwarna cokelat atau seperti karat. Serangan berat
yang terdapat pada daun akan menunjukkan warna terang, mengering, serta berwarna
coklat kemerahan sehingga tanaman menjadi lemah dan akhirnya mati. Tanaman singkong
yang diserang oleh T. urticae lebih banyak terjadi pada periode musim kemarau, yang
merupakan periode musim dengan pertumbuhan tanaman singkong yang lebih baik
(Bakker, 1994).
Sebagian besar spesies dari Familia Tetranychidae merupakan hama yang bersifat
polifag (Kalshoven, 1981; Walter dan Proctor, 1999; Zhang 2003). T. urticae merupakan
salah satu spesies dari Familia Tetranychidae yang sangat merusak dan bersifat kosmopolit.
Tungau ini dapat dijumpai di berbagai belahan dunia dan menyerang lebih dari 100 spesies
tanaman pertanian dan tanaman hias (Zhang, 2003). Tungau ini mudah ditemukan pada
tanaman singkong, karena mempunyai ciri-ciri yang khas. Telur berwarna putih jernih atau
kuning muda, berbentuk bulat dengan diameter ± 0,15 mm (Kalshoven, 1981).
Stadium perkembangan tungau T. urticae pada tahap awal Telur menetas setelah
berumur 3-4 hari dan menjadi larva kemudian mengalami moulting menjadi nimfa dalam
beberapa jam setelah stadium larva. Nimfa terlihat sama dengan dewasa tetapi ukurannya
lebih kecil, selanjutnya tungau mengalami perkembangan menjadi dewasa (Pracaya, 1991).
Tungau dewasa T. urticae mempunyai ukuran panjang antara 0,25-0,5 mm dan mempunyai
3
4 pasang kaki. Tungau hama ini mempunyai warna kuning pucat atau hijau muda dengan
dua bercak hitam pada bagian dorsolateral (Berry, 1998).
Imago betina tungau T. urticae berbentuk bulat telur dan imago jantan agak
berbentuk runcing pada bagian posteriornya. Tungau mempunyai alat mulut menggigit,
menusuk dan menghisap karena terjadinya modifikasi pada chelicera menjadi stilet, pada
bagian dorsal belakang terdapat rambut-rambut (setae) yang tersusun tidak beraturan atau
acak, yang mempunyai fungsi sebagai indera sentuh (Krantz, 1978). Tetranychus sp.
mengalami beberapa tahap perkembangan yaitu telur, larva nimfa dan imago.
Metamorfosis ini disebut sebagai epimorfosis (Van de Vrie et al., 1972).
Beberapa Familia tungau predator yang biasa digunakan untuk pengendali hayati
tungau T. urticae salah satunya adalah dari Familia Phytoseiidae yang lebih banyak
dimanfaatkan sebagai agen pengendalian hayati dari berbagai spesies Familia
Tetranychidae (Huffaker dan Messenger, 1976 dalam Puspitorini, 2003). Tungau predator
dari Familia Phytoseiidae banyak digunakan sebagai agen pengendalian hayati karena
mempunyai kemampuan predasi yang terbaik dan stabil terhadap mangsa. Tungau Familia
Phytoseiidae mempunyai daya jelajah yang luas sehingga tidak hanya ditemukan pada
tanaman singkong saja namun juga berbagai jenis tanaman gulma yang tumbuh di sekitar
tanaman singkong, seperti Ageratum conyzoides dan Cyperus rotundus. Daya jelajah yang
luas ini juga sekaligus menjelaskan kemampuan lulus hidup tungau Familia Phytoseiidae
pada saat kepadatan tungau hama, T. urticae rendah (Budianto dan Pratiknyo, 2009).
Salah satu jenis tungau predator dari Familia Phytoseiidae yang biasa digunakan
sebagai musuh alamiah tungau hama T. urticae pada tanaman singkong adalah Amblyseius
sp. yang memiliki kemampuan predasi yang cukup tinggi (Ehara, 2002), Takafuji dan Hiroshi
(2003) juga menjelaskan tungau golongan Phytoseiidae dapat digunakan sebagai agen
pengendali hayati yang cukup efisien dalam mengendalikan tungau hama T. urticae. Tungau
predator Amblyseius sp. berdasarkan dalam siklus hidupnya mengalami metamorfosis
dengan 4 stadia perkembangan yaitu telur, larva, nimfa dan dewasa (Ehara, 2002). Tungau
Amblyseius sp. berdasarkan morfologinya mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: ventral shield
membulat, kaki ada 8 buah atau 4 pasang pada tungau dewasa, tubuhnya transparan, tipe
mulutnya pencucuk dan penghisap, mempunyai setae yang terdiri dari dua setae yang
panjang dan dua setae yang pendek pada bagian posterior tubuhnya. Cheliceranya normal,
jantan mempunyai sternogenital dan ventrianal shield, betina mempunyai epyginial dan
ventrianal shield. Ventrianal shield di dalamnya terdapat 8 setae dan 3 setae yang lain
terletak pada bagian samping dan bawah anus, panjang tubuh keseluruhan yaitu dari
4
gnatosoma sampai idiosoma mencapai rata-rata 526,36 µm, untuk setae yang terletak di
bagian posterior mencapai panjang rata-rata 372,4 µm (Budianto, 2001).
Tungau Amblyseius sp. sebagai predator tungau hama dapat bertahan hidup pada
populasi mangsa yang rendah dan dengan demikian berpotensi untuk mengatur populasi
tungau hama pada tingkat kepadatan yang rendah (Kalshoven, 1981). Selain memangsa
tungau hama, tungau predator Amblyseius sp. juga memangsa serangga kecil dan bahkan
banyak juga yang dapat memakan embun madu dan polen selama dalam masa kekurangan
mangsa (Kabicek, 2003). Kemampuan menjelajah dan menyisir daun yang penuh dengan
trikoma juga akan berpengaruh terhadap keefektivannya sebagai agen pengendali hayati
(McMurtry dan Croft, 1997).
Dalam rangka meningkatkan efektivitas tungau Amblyseius sp. sebagai agen
pengendali hayati yang efektif untuk menangani tungau hama T. urticae dapat terlihat dari
kemampuan predasi yang dimangsa oleh setiap individu predator selama satuan waktu
tertentu. Jatala (1986) mengemukakan efektivitas predasi tungau predator pada umumnya
dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu karakteristik tungau hama, jenis agen pengendali
dan kondisi lingkungan tempat tinggalnya.
Tahap awal dalam penelitian tentang karakteristik predasi tungau Amblyseius sp.
sebaiknya terlebih dahulu untuk menerapkannya di rumah kaca sebelum diterapkan pada
skala lapang. Menurut Enoch (1998) Rumah kaca atau Greenhouse didefinisikan sebagai
bangunan tertutup untuk menumbuhkan atau melindungi tanaman, atau sebuah bangunan
yang dapat menyediakan kondisi optimal untuk pertumbuhan tanaman secara memuaskan
sepanjang tahun. Faktor yang berpengaruh diantaranya adalah temperatur, sinar matahari,
kelembaban, dan udara yang disediakan, dipertahankan dan diditribusikan secara merata
dalam rumah kaca secara optimal (Von Zabeltitz, 1998). Tujuan penggunaan rumah kaca
adalah menciptakan iklim mikro yang kondusif untuk pertumbuhan tanaman ketika kondisi
iklim tidak kondusif (Suhardiyanto, 2009).
Kondisi lingkungan berupa temperatur dan kelembaban yang terdapat dalam rumah
kaca secara tidak langsung akan berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman dan
efektivitas tungau predator sebagai agen pengendali hayati (Hanan et al., 1978). Kedua
faktor lingkungan tersebut juga dapat mempengaruhi lama waktu tungau Amblyseius sp.
untuk menunggu dan mencari mangsa, lama waktu untuk menangani mangsa dan lama
waktu mempredasi mangsa yang merupakan bagian terpenting untuk menentukan
karakteristik predasi search and destroy type atau lying-in wait type sebelum diterapkan di
skala lapang. Karakteristik predasi (search and destroy type) adalah kemampuan predator
sebagai agen pengendali hayati dalam mencari, menemukan dan mempredasi mangsanya,
5
sedangkan karakteristik predasi (lying-in wait type) adalah kemampuan predator dalam
menunggu, menangani dan mempredasi mangsanya.
Berdasarkan asumsi-asumsi tersebut maka masalah yang dapat dirumuskan adalah
bagaimana karakteristik predasi tungau Amblyseius sp. terhadap tungau hama T. urticae
skala rumah kaca, dengan demikian tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan
karakteristik predasi tungau Amblyseius sp. terhadap tungau hama T. urticae skala rumah
kaca.
6
Download