Transparansi dan Publikasi Laporan Bank

advertisement
Transparansi dan Publikasi Laporan
Bank
DISCLAIMER
Isi kodifikasi ini adalah himpunan peraturan Bank Indonesia yang disusun secara sistematis
berdasarkan kelompok dan topik tertentu untuk memudahkan pembaca memahami peraturan
dan menelusuri rekam jejak keberlakuan suatu peraturan Bank Indonesia. Penyusunan kodifikasi
ini telah melalui proses pemeriksaan dan editing terkait keakuratan dan kelengkapan peraturan
yang dikodifikasikan. Namun demikian mengingat bahwa peraturan Bank Indonesia dapat
berubah dari waktu ke waktu, maka setiap akses dan penggunaan atas kodifikasi ini agar
dilakukan secara bijaksana dengan memperhatikan tanggal unggah dan sumber orisinal dari
masing-masing peraturan Bank Indonesia yang dirujuk.1
1
Peraturan Bank Indonesia dapat diakses pada situs resmi Bank Indonesia http://www.bi.go.id/ atau melalui fasilitas
pencarian peraturan pada situs resmi Bank Indonesia (http://www.bi.go.id/web/id/Peraturan/Search/).
Kodiifikasi P
Peratu
uran Baank Ind
donesiaa Lik
kuiiditas R
Rup
piah
h Tra
anspa
aran
nsi da
an Pu
ublik
kasi Lap
poran
n Bank
Tim Peny
yusun Ramlan G
Ginting C
Chandra M
Murniadi Dudy Isk
kandar Gaantiah Wuryandani
Zu
ulkarnain S
Sitompul
Siti Asttiyah Wahyu Yu
uwana Komala Dewi W
Wirza Ayu N
Novriana Riska Rossdiana S
Safyra Prim
madhyta Pusat Riset d
dan Edukasi Bank Sentraal (PRES) Bank Indoneesia Telp: 021 29
9817321 Fax.: 021 23
311580 email: PRES@
@bi.go.id Hak Cipta ©
© 2013, Bank Indonesia 2013 Likuiditas Rupiah Transparansi dan Publikasi Laporan Bank DAFTAR ISI Paragraf Daftar Isi Rekam Jejak Regulasi Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Dasar Hukum Regulasi Terkait Regulasi Bank Indonesia Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Ketentuan Umum Laporan Tahunan Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan Laporan Keuangan Publikasi Bulanan Laporan Keuangan Konsolidasi Laporan Keuangan Konsolidasi yang Disajikan pada Laporan Tahunan Laporan Keuangan Konsolidasi yang Disajikan pada Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan Laporan Tertentu kepada Bank Indonesia Laporan Publikasi Lain Lain‐Lain Pelaksanaan Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia Pelaksanaan Pedoman Akuntansi Perbankan Syariah Sanksi Sanksi Laporan Tahunan Sanksi Laporan Keuangan Tahunan dan Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan Sanksi Laporan Keuangan Publikasi Bulanan Sanksi Laporan Keuangan Konsolidasi Sanksi Laporan Publikasi Lain Halaman
Hal. i – xiv Hal. xv
Hal. xvi Hal. xvi Hal. xvi – xvii Par. 1 – 2 Par. 3 – 6 Par. 7 – 14 Par. 15 – 17 Par. 18 – 24 Hal. 1 – 5 Hal. 6 – 24 Hal. 24 – 34 Hal. 34 – 36 Hal. 36 – 42 Par. 19 – 20 Par. 21 Hal. 37 – 39 Hal. 39 – 40
Par. 22 – 24 Hal. 40 – 42 Par. 25 – 26 Par. 27 – 32 Hal. 42 – 43 Hal. 43 – 48 Par. 31 Par. 32 Hal. 44 – 45 Hal. 45 ‐ 48 Par. 33 – 39 Hal. 48 – 51 Par. 33 – 35 Hal. 48 – 49 Par. 36 Par. 37 Par. 38 Par. 39 Hal. 50 – 51 Hal. 51 Hal. 51 Hal. 51 Par. 40 – 47 Par. 48 Hal. 51 – 65 Hal. 65– 68 Par. 48 Hal. 65 ‐ 68 Par. 49 – 50 Par. 51 – 55 Par. 56 – 63 Par. 64 – 67 Par. 68 Par. 69 Par. 70 – 72 Hal. 68 – 69
Hal. 69 – 76 Hal. 76 – 83 Hal. 83 – 86 Hal. 86
Hal. 86 – 87
Hal. 87 – 94 Par. 70 – 71 Par. 72 – 73 Hal. 87 – 89 Hal. 89 – 94 Transparansi Kondisi Keuangan Bank Hubungan antara Bank, Akuntan Publik, dan Bank Indonesia Sanksi Sanksi bagi Akuntan Publik dan Kantor Akuntan Publik Transparansi Kondisi Keuangan Bank Perkreditan Rakyat Ketentuan Umum Laporan Tahunan Laporan Keuangan Publikasi Hubungan Antara BPR, Akuntan Publik, dan Bank Indonesia Tanggung Jawab Laporan Keuangan Keadaan Memaksa Sanksi Laporan Tahunan Laporan Keuangan Publikasi i Likuiditas Rupiah Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Hubungan antara Akuntan Publik dan Kantor Akuntan Publik Lain‐Lain Ketentuan Penutup Par. 74 – 75 Hal. 94 Par. 76 – 78 Par. 79 – 80 Hal. 94 – 96 Hal. 96
Transparansi Kondisi Keuangan Bank Perkreditan Rakyat Syariah Ketentuan Umum Laporan Tahunan Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan Hubungan antara BPRS, Akuntan Publik, Dewan Pengawas Syariah dan Bank Indonesia Laporan Keuangan Konsolidasian Tanggung Jawab Laporan Keuangan Pedoman Akuntansi Perbankan Syariah Sanksi Laporan Tahunan Laporan Keuangan Publikasi Akuntan Publik dan Kantor Akuntan Publik Par. 81 – 82 Par. 83 – 86 Par. 87 – 91 Par. 92 – 95 Hal. 96 – 97 Hal. 98 – 101
Hal. 101– 105
Hal. 105– 108
Par. 96 – 97 Par. 98 Par. 99 Par. 100 – 103 Hal. 108
Hal. 108
Hal. 108
Hal. 109 –111 Par. 100 – 101 Par. 102 Par. 103 Lain‐lain Keadaan Memaksa (Force Majeure) Par. 104 – 105 Par. 106 Lampiran Lampiran 1 Pedoman Akuntansi Perbankan Syariah Indonesia Tahun 2013 Bagian I Pendahuluan I.1 Latar Belakang I.2 Asas dan Karakteristik Transaksi Syariah Hal. 109 Hal. 109 – 110 Hal. 110 – 111 Hal. 111 Hal. 111 – 112 Hal. 113 – 350 Hal. 114 – 122 Hal. 114 – 115 Hal. 116 – 120 A. Asas Transaksi Syariah Hal. 116 – 118 B. Karakteristik Transaksi Syariah Hal. 119 – 120 Hal. 120 ‐ 121 Hal. 120 I.3 Tujuan dan Ruang Lingkup A. Tujuan B. Ruang Lingkup I.4 Acuan Penyusunan I.5 Ketentuan Lain Bagian II Laporan Keuangan Bank Syariah II.1 Ketentuan Umum Laporan Keuangan A. Tujuan Laporan Keuangan B. Tanggung Jawab atas Laporan Keuangan C. Komponen Laporan Keuangan D. Bahasa Laporan Keuangan E. Mata Uang Fungsional dan Pelaporan F. Kebijakan Akuntansi G. Penyajian H. Konsistensi Penyajian I. Materialitas dan Agregasi J. Saling Hapus K. Periode Pelaporan L. Informasi Komparatif Hal. 121 Hal. 121 Hal. 122 Hal. 123 – 138 Hal. 123 ‐ 129 Hal. 123 Hal. 123 Hal. 123 – 124 Hal. 124 Hal. 124 Hal. 124 – 125 Hal. 125 Hal. 126 Hal. 126 Hal. 126 Hal. 127 Hal. 127 ii Likuiditas Rupiah Transparansi dan Publikasi Laporan Bank M. Laporan Keuangan Interim Hal. 128 N. Laporan Keuangan Konsolidasian Hal. 128 – 129 II.2 Keterbatasan Laporan Keuangan Hal. 130 II.3 Metode Pencatatan Transaksi Mata Uang Asing Hal. 131 – 138 Hal. 139 – 150 Bagian III Keterterapan PSAK 50,55, dan 60 III.1 Definisi Instrumen Keuangan III.2 Klasifikasi A. Aset Keuangan B. Liabilitas Keuangan III.3 Pengakuan dan Pengukuran A. Pengakuan dan Penghentian Pengakuan B. Pengukuran C. Penurunan Nilai D. Nilai Wajar III.4 Estimasi Penurunan Nilai Kolektif dengan Keterbatasan Pengalaman Kerugian Spesifik A. Cakupan Hal. 139 – 140 Hal. 141 – 142 Hal. 141 – 142 Hal. 142 Hal. 143 – 146 Hal. 143 Hal. 143 – 144 Hal. 144 – 145 Hal. 145 – 146 Hal. 147 – 150 Hal. 147 B. Penerapan Hal. 147 – 148 C. Kondisi Keterbatasan Hal. 149 D. Periode Penerapan Estimasi Hal. 150 E. Pengungkapan Hal. 150 Hal. 151 – 177 IV.1 Murabahah Hal. 151 – 165 A. Definisi Hal. 151 B. Dasar Pengaturan Hal. 151 C. Penjelasan Hal. 151 – 157 D. Perlakuan Akuntansi Hal. 157 Hal. 157 – 159 Bagian IV Akad Jual Beli D.1. Pengakuan dan Pengukuran D.2. Penyajian Hal. 159 – 160 Hal. 160 – 164 E. Ilustrasi Jurnal F. Pengungkapan Hal. 164 – 165 Hal. 166 – 171 Hal. 168 – 169 IV.2 Istishna A. Definisi B. Dasar Pengaturan C. Penjelasan D. Perlakuan Akuntansi D.1. Pengakuan dan Pengukuran D.2. Penyajian E. Ilustrasi Jurnal F. Pengungkapan IV.3. Salam A. Definisi B. Dasar Pengaturan C. Penjelasan D. Perlakuan Akuntansi D.1. Pengakuan dan Pengukuran Hal. 166 Hal. 166 Hal. 166 – 168 Hal. 168 – 170 Hal. 169 – 170 Hal. 170 – 171 Hal. 171 Hal. 172 – 175 Hal. 172 Hal. 172 Hal. 172 – 173 Hal. 173 – 174 Hal. 173 – 174 iii Likuiditas Rupiah Transparansi dan Publikasi Laporan Bank D.2. Penyajian E. Ilustrasi Jurnal Hal. 174 Hal. 174 – 175 E.1. Bank Sebagai Pembeli Hal. 174 E.2. Bank Sebagai Penjual Hal. 174 – 175 Hal. 175 F. Pengungkapan IV.4. Persediaan A. Definisi B. Dasar Pengaturan C. Penjelasan D. Perlakuan Akuntansi D.1. Pengakuan dan Pengukuran D.2. Penyajian E. Ilustrasi Jurnal F. Pengungkapan Bagian V Akad Bagi Hasil V.1. Pembiayaan dan Mudharabah A. Definisi B. Dasar Pengaturan C. Penjelasan D. Perlakuan Akuntansi D.1. Pengakuan dan Pengukuran D.2. Penyajian E. Ilustrasi Jurnal F. Pengungkapan V.2. Pembiayaan Musyarakah A. Definisi B. Dasar Pengaturan C. Penjelasan D. Perlakuan Akuntansi D.1. Pengakuan dan Pengukuran D.2. Penyajian E. Ilustrasi Jurnal F. Pengungkapan V.3. Dana Syirkah Temporer A. Definisi B. Dasar Pengaturan C. Penjelasan D. Perlakuan Akuntansi D.1. Pengakuan dan Pengukuran D.2. Penyajian E. Ilustrasi Jurnal F. Pengungkapan Bagian VI Akad Sewa VI.1 Ijarah atas Aset Berwujud A. Definisi B. Dasar Pengaturan Hal. 176 – 177 Hal. 176 Hal. 176 Hal. 176 Hal. 177 Hal. 177 Hal. 177 Hal. 177 Hal. 177 Hal. 178 – 192 Hal. 178 – 182 Hal. 178 Hal. 178 Hal. 178 – 179 Hal. 180 Hal. 180 Hal. 180 Hal. 181 Hal. 181 – 182 Hal. 183 – 187 Hal. 183 Hal. 183 Hal. 183 – 184 Hal. 184 – 185 Hal. 184 – 185 Hal. 185 Hal. 185 – 186 Hal. 186 – 187 Hal. 188 – 192 Hal. 188 Hal. 188 Hal. 188 – 189 Hal. 189 – 190 Hal. 189 – 190 Hal. 190 Hal. 190 – 191 Hal. 191 – 192 Hal. 193 – 202 Hal. 193 – 199 Hal. 193 Hal. 193 iv Likuiditas Rupiah Transparansi dan Publikasi Laporan Bank C. Penjelasan D. Perlakuan Akuntansi D.1. Pengakuan dan Pengukuran D.2. Penyajian E. Ilustrasi Jurnal F. Pengungkapan VI.2 Ijarah atas Jasa A. Definisi B. Dasar Pengaturan C. Penjelasan D. Perlakuan Akuntansi D.1. Pengakuan dan Pengukuran D.2. Penyajian E. Ilustrasi Jurnal F. Pengungkapan Bagian VII Akad Pinjaman Qardh VII.1 Pinjaman Qardh yang Diberikan A. Definisi B. Dasar Pengaturan C. Penjelasan D. Perlakuan Akuntansi D.1. Pengakuan dan Pengukuran D.2. Penyajian E. Ilustrasi Jurnal F. Pengungkapan VII.2 Pinjaman Qardh yang Diterima A. Definisi B. Dasar Pengaturan C. Penjelasan D. Perlakuan Akuntansi D.1. Pengakuan dan Pengukuran D.2. Penyajian E. Ilustrasi Jurnal F. Pengungkapan Bagian VIII Surat Berharga VIII.1 Investasi pada Surat Berharga A. Definisi B. Dasar Pengaturan C. Penjelasan C.1. Investasi pada Sukuk dan Surat Berharga Lain yang Sejenis C.2. Investasi pada Reksadana Syariah C.3. Tagihan Reverse Repo Syariah D. Perlakuan Akuntansi D.1. Pengakuan dan Pengukuran D.2. Penyajian E. Ilustrasi Jurnal Hal. 193 – 195 Hal. 195 – 196 Hal. 195 – 196 Hal. 196 Hal. 197 – 198 Hal. 198 – 199 Hal. 200 – 202 Hal. 200 Hal. 200 Hal. 200 Hal. 200 – 201 Hal.200 Hal. 200 – 201 Hal. 201 – 202 Hal. 202 Hal. 203 – 207 Hal. 203 – 205 Hal. 203 Hal. 203 Hal. 203 – 204 Hal. 204 Hal. 204 Hal. 204 Hal. 204 – 205 Hal. 205 Hal. 206 – 207 Hal. 206 Hal. 206 Hal. 206 Hal. 206 Hal.206 Hal. 206 Hal. 206 – 207 Hal. 207 Hal. 208 – 225 Hal. 208 – 216 Hal. 208 Hal. 208 Hal. 208 Hal.208 – 210 Hal. 210 Hal.210 – 211 Hal. 211 – 212 Hal.211 – 212 Hal. 212 Hal. 211 – 212 v Likuiditas Rupiah Transparansi dan Publikasi Laporan Bank E.1. Sukuk dalam Kategori ‘Diukur pada Nilai Wajar’ E.2. Sukuk dalam Kategori ‘Biaya Perolehan’ E.3. Reksadana Syariah dalam Kategori ‘Diukur pada NIlai Wajar melalui Laba Rugi’ E.4. Reksadana Syariah dalam Kategori ‘Tersedia untuk Dijual’ E.5. Tagihan Reverse Repo Syariah F. Pengungkapan VIII.2. Penyertaan A. Definisi B. Dasar Pengaturan C. Penjelasan D. Perlakuan Akuntansi D.1. Pengakuan dan Pengukuran D.2. Penyajian E. Ilustrasi Jurnal F. Pengungkapan VIII.3. Surat Berharga yang Diterbitkan A. Definisi B. Dasar Pengaturan C. Penjelasan D. Perlakuan Akuntansi D.1. Pengakuan dan Pengukuran D.2. Penyajian E. Ilustrasi Jurnal E.1. Surat Berharga dengan Akad Ijarah dan Akad Lain E.2. Surat Berharga dengan Akad Mudharabah dan Musyarakah F. Pengungkapan Bagian IX Penempatan pada Bank Indonesia dan Bank Lain IX.1. Kas A. Definisi B. Dasar Pengaturan C. Penjelasan D. Perlakuan Akuntansi D.1. Pengakuan dan Pengukuran D.2. Penyajian E. Ilustrasi Jurnal F. Pengungkapan IX.2. Penempatan pada Bank Indonesia A. Definisi B. Dasar Pengaturan C. Penjelasan D. Perlakuan Akuntansi D.1. Pengakuan dan Pengukuran D.2. Penyajian E. Ilustrasi Jurnal F. Pengungkapan Hal.212 – 213 Hal. 214 Hal.213 – 214 Hal.214 – 215 Hal. 215 Hal. 215 – 216 Hal. 217 – 221 Hal. 217 Hal. 217 Hal. 217 – 219 Hal. 219 Hal. 219 Hal. 219 Hal. 219 – 220 Hal. 220 – 221 Hal. 222 – 225 Hal. 222 Hal. 222 Hal. 222 Hal. 222 – 223 Hal. 222 – 223 Hal. 223 Hal. 223 – 224 Hal. 223 – 224 Hal. 224 Hal. 225 Hal. 226 – 236 Hal. 226– 227 Hal. 226 Hal. 226 Hal. 226 Hal. 227 Hal. 227 Hal. 227 Hal. 227 Hal. 227 Hal. 228 – 230 Hal. 228 Hal. 228 Hal. 228 – 229 Hal. 229 Hal. 229 Hal. 229 Hal. 229 ‐ 230 Hal. 230 vi Likuiditas Rupiah Transparansi dan Publikasi Laporan Bank IX.3. Penempatan pada Bank Lain A. Definisi B. Dasar Pengaturan C. Penjelasan D. Perlakuan Akuntansi D.1. Pengakuan dan Pengukuran D.2. Penyajian E. Ilustrasi Jurnal F. Pengungkapan IX.4. Simpanan dari Bank Lain A. Definisi B. Dasar Pengaturan C. Penjelasan D. Perlakuan Akuntansi D.1. Pengakuan dan Pengukuran D.2. Penyajian E. Ilustrasi Jurnal F. Pengungkapan Bagian X Aset Tetap, Aset Tidak Berwujud, dan Aset yang Diambil‐alih X.1. Aset Tetap A. Definisi B. Dasar Pengaturan C. Penjelasan D. Perlakuan Akuntansi D.1. Pengakuan dan Pengukuran D.2. Penyajian E. Ilustrasi Jurnal F. Pengungkapan X.2. Aset Tidak Berwujud A. Definisi B. Dasar Pengaturan C. Penjelasan D. Perlakuan Akuntansi E. Ilustrasi Jurnal F. Pengungkapan X.3. Aset yang Diambil‐alih A. Definisi B. Dasar Pengaturan C. Penjelasan D. Perlakuan Akuntansi D.1. Pengakuan dan Pengukuran D.2. Penyajian E. Ilustrasi Jurnal F. Pengungkapan Bagian XI Liabilitas Lain XI.1. Simpanan Hal. 231 – 234 Hal. 231 Hal. 231 Hal. 231 Hal. 231 – 232 Hal. 231 – 232 Hal. 232 Hal. 232 – 233 Hal. 233 – 234 Hal. 235 – 236 Hal. 235 Hal. 235 Hal. 235 Hal. 235 – 236 Hal. 235 – 236 Hal. 236 Hal. 236 Hal. 236 Hal. 237 – 254 Hal. 237 – 247 Hal. 237 Hal. 237 Hal. 237 – 243 Hal. 243 – 244 Hal. 243 – 244 Hal. 244 Hal. 244 – 245 Hal. 245 – 247 Hal. 248 – 251 Hal. 248 Hal. 248 Hal. 248 – 249 Hal. 249 Hal. 249 Hal. 249 – 251 Hal. 252 – 254 Hal. 252 Hal. 252 Hal. 252 Hal. 252 – 253 Hal. 252 Hal. 253 Hal. 253 Hal. 253 ‐ 254 Hal. 255 – 269 Hal. 255 – 256 vii Likuiditas Rupiah Transparansi dan Publikasi Laporan Bank A. Definisi B. Dasar Pengaturan C. Penjelasan D. Perlakuan Akuntansi D.1. Pengakuan dan Pengukuran D.2. Penyajian E. Ilustrasi Jurnal F. Pengungkapan XI.2. Liabilitas Segera A. Definisi B. Dasar Pengaturan C. Penjelasan D. Perlakuan Akuntansi D.1. Pengakuan dan Pengukuran D.2. Penyajian E. Ilustrasi Jurnal F. Pengungkapan XI.3. Liabilitas Lainnya A. Definisi B. Dasar Pengaturan C. Penjelasan D. Perlakuan Akuntansi D.1. Pengakuan dan Pengukuran D.2. Penyajian E. Ilustrasi Jurnal F. Pengungkapan XI.4. Hutang Pajak A. Definisi B. Dasar Pengaturan C. Penjelasan D. Perlakuan Akuntansi D.1. Pengakuan dan Pengukuran D.2. Penyajian E. Ilustrasi Jurnal F. Pengungkapan XI.5. Estimasi Kerugian Komitmen dan Kontinjensi A. Definisi B. Dasar Pengaturan C. Penjelasan D. Perlakuan Akuntansi D.1. Pengakuan dan Pengukuran D.2. Penyajian E. Ilustrasi Jurnal F. Pengungkapan G. Ketentuan Lain‐lain XI.6. Pinjaman Subordinasi Hal. 255 Hal. 255 Hal. 255 Hal. 255 – 256 Hal. 255 – 256 Hal. 256 Hal. 256 Hal. 256 Hal. 257– 259 Hal. 257 Hal. 257 Hal. 257 Hal. 257 Hal. 257 Hal. 257 Hal. 258 – 259 Hal. 259 Hal. 260 – 261 Hal. 260 Hal. 260 Hal. 260 Hal. 260 – 261 Hal. 260 – 261 Hal. 261 Hal. 261 Hal. 261 Hal. 262 – 263 Hal. 262 Hal. 262 Hal. 262 Hal. 262 Hal. 262 Hal. 262 Hal. 263 Hal. 263 Hal. 264 – 266 Hal. 264 Hal. 264 Hal. 264 Hal. 264 – 265 Hal. 264 – 265 Hal. 265 Hal. 265 – 266 Hal. 266 Hal. 266 Hal. 267 – 269 viii Likuiditas Rupiah Transparansi dan Publikasi Laporan Bank A. Definisi B. Dasar Pengaturan C. Penjelasan D. Perlakuan Akuntansi D.1. Pengakuan dan Pengukuran D.2. Penyajian E. Ilustrasi Jurnal F. Pengungkapan G. Ketentuan Lain‐lain Bagian XII Ekspor dan Impor XII.1. Tagihan dan Kewajiban Akseptasi Hal. 267 Hal. 267 Hal. 267 – 268 Hal. 268 Hal. 268 Hal. 268 Hal. 268 – 269 Hal. 269 Hal. 269 Hal. 270 – 305 Hal. 270 – 305 A. Definisi Hal. 270 – 271 B. Dasar Pengaturan Hal. 271 – 273 C. Penjelasan Hal. 273 – 281 D. Pengakuan dan Pengukuran Hal. 281 – 287 D.1. Pengakuan dan Pengukuran Hal. 281 – 285 D.2. Penyajian Hal. 286 – 287 E. Ilustrasi Jurnal Hal. 287 – 304 F. Pengungkapan Hal. 304 – 305 G. Ketentuan Lain‐lain Hal. 305 Hal. 306 – 320 Bagian XIII Ekuitas XIII.1. Ekuitas A. Ekuitas XIII.2. Modal Disetor Hal. 306 Hal. 306 Hal. 307 – 310 Hal. 307 A. Definisi B. Dasar Pengaturan Hal. 307 C. Penjelasan Hal. 307 D. Perlakuan Akuntansi Hal. 308 – 309 D.1. Pengakuan dan Pengukuran Hal. 308 Hal. 308 – 309 E. Ilustrasi Jurnal Hal. 309 F. Pengungkapan Hal. 309 – 310 G. Ketentuan Lain‐lain Hal. 310 D.2. Penyajian Hal. 311 – 315 XIII.3. Tambahan Modal Disetor A. Definisi Hal. 311 B. Dasar Pengaturan Hal. 311 C. Penjelasan Hal. 311 – 312 D. Perlakuan Akuntansi Hal. 313 D.1. Pengakuan dan Pengukuran Hal. 313 D.2. Penyajian Hal. 313 E. Ilustrasi Jurnal Hal. 313 – 314 F. Pengungkapan Hal. 314 – 315 Hal. 316 – 317 XIII.4. Penghasilan Komprehensif Lain A. Definisi Hal. 316 B. Dasar Pengaturan Hal. 316 C. Penjelasan Hal. 316 ix Likuiditas Rupiah Transparansi dan Publikasi Laporan Bank D. Perlakuan Akuntansi Hal. 316 E. Ilustrasi Jurnal Hal. 317 F. Pengungkapan Hal. 317 XIII.5. Saldo Laba Hal. 318 – 320 A. Definisi Hal. 318 B. Dasar Pengaturan Hal. 318 C. Penjelasan Hal. 318 D. Perlakuan Akuntansi Hal. 319 E. Ilustrasi Jurnal Hal. 319 F. Pengungkapan Hal. 319 – 320 Hal. 321 – 330 Bagian XIV Laporan Laba Rugi Komprehensif XIV.1. Pengertian Hal. 321 – 322 XIV.2. Komponen Laba Rugi Hal. 323 – 326 A. Definisi Hal. 323 B. Dasar Pengaturan Hal. 323 C. Penjelasan Hal. 323 – 324 D. Perlakuan Akuntansi Hal. 325 – 326 E. Ilustrasi Jurnal Hal. 326 F. Pengungkapan Hal. 326 Hal. 327 – 330 Hal. 327 XIV.3. Komponen Penghasilan Komprehensif Lain A. Definisi B. Dasar Pengaturan Hal. 327 C. Penjelasan Hal. 327 – 328 D. Perlakuan Akuntansi Hal. 328 – 329 E. Ilustrasi Jurnal Hal. 329 – 329 F. Pengungkapan Hal. 330 Hal. 331 – 332 Bagian XV Laporan Perubahan Ekuitas A. Definisi Hal. 331 B. Dasar Pengaturan Hal. 331 C. Penjelasan Bagian XVI Laporan Arus Kas Hal. 331 – 332 Hal. 333 – 336 A. Definisi Hal. 333 B. Dasar Pengaturan Hal. 333 C. Penjelasan Bagian XVII Laporan Rekonsiliasi Pendapatan dan Bagi Hasil Hal. 333 – 336 Hal. 337 – 340 A. Definisi Hal. 337 B. Dasar Pengaturan Hal. 337 C. Penjelasan Hal. 337 – 339 D. Pengungkapan Hal. 340 Hal. 341 – 343 Hal. 341 Bagian XVIII Laporan Sumber dan Penyaluran Dana Zakat A. Definisi B. Dasar Pengaturan Hal. 341 C. Penjelasan Hal. 341 – 342 D. Perlakuan Akuntansi Hal. 342 E. Ilustrasi Jurnal Hal. 342 F. Pengungkapan Hal. 342 – 343 x Likuiditas Rupiah Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Bagian XIX Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Kebajikan Hal. 344 – 346 A. Definisi Hal. 344 B. Dasar Pengaturan Hal. 344 C. Penjelasan Hal. 344 – 345 D. Perlakuan Akuntansi Hal. 345 E. Ilustrasi Jurnal F. Pengungkapan Hal. 346 Hal. 347 ‐ 350 Hal. 347 Bagian XX Catatan Atas Laporan Keuangan Hal. 345 – 346 A. Definisi B. Dasar Pengaturan Hal. 347 C. Penjelasan Hal. 347 – 350 Lampiran 2 Pedoman Penyusunan Laporan Tahunan Bank Umum dan Laporan Tertentu yang Disampaikan kepada Bank Indonesia A. Petunjuk Umum B. Petunjuk Khusus 1. Pedoman Pengisian Pengungkapan Struktur Permodalan 2. Pedoman Pengisian Pengungkapan Tagihan Bersih Berdasarkan Wilayah 3. Pedoman Pengisian Pengungkapan Tagihan Bersih Berdasarkan Sisa Jangka Waktu Kontrak 4. Pedoman Pengisian Pengungkapan Tagihan Bersih Berdasarkan Sektor Ekonomi 5. Pedoman Pengisian Pengungkapan Tagihan dan Pencadangan Berdasarkan Wilayah 6. Pedoman Pengisian Pengungkapan Tagihan dan Pencadangan Berdasarkan Sektor Ekonomi 7. Pedoman Pengisian Pengungkapan Rincian Mutasi Cadangan Kerugian Penurunan Nilai Hal. 351 – 396 8. Pedoman Pengisian Pengungkapan Tagihan Bersih Berdasarkan Kategori Portofolio dan Skala Peringkat 9. Pedoman Pengisian Pengungkapan Risiko Kredit Pihak Laws (Counterparty Credit Risk) 10. Pedoman Pengisian Pengungkapan Tagihan Bersih Berdasarkan Bobot Risiko setelah Memperhitungkan Dampak Mitigasi Risiko Kredit 11. Pedoman Pengisian Pengungkapan Tagihan Bersih dan Teknik Mitigasi Risiko Kredit 12. Pedoman Pengisian Pengungkapan Transaksi Sekuritisasi 13. Pedoman Pengisian Pengungkapan Ringkasan Aktivitas Transaksi Sekuritisasi dimana Bank Bertindak sebagai Kreditur Asal 14. Pedoman Pengisian Pengungkapan Perhitungan ATMR Risiko Kredit dengan Menggunakan Pendekatan Standar 15. Pedoman Pengisian Pengungkapan Risiko Pasar Menggunakan Metode Standar 16. Pedoman Pengisian Pengungkapan Risiko Pasar dengan Modal Internal (Value at Risk/VaR) 17. Pedoman Pengisian Pengungkapan Risiko Operasional 18. Pedoman Pengisian Pengungkapan Profil Maturitas Rupiah dan Valas Lampiran 3 Lampiran 3a Lampiran 4 Lampiran 4a Lampiran 5 Lampiran 5a Lampiran 6 Lampiran 7 Laporan Posisi Keuangan/ Neraca Triwulanan (Bank Umum) Laporan Posisi Keuangan/ Neraca Bulanan (Bank Umum) Laporan Laba Rugi Komprehensif Triwulanan (Bank Umum) Laporan Laba Rugi Bulanan (Bank Umum) Laporan Komitmen dan Kontinjensi Triwulanan (Bank Umum) Laporan Komitmen dan Kontinjensi Bulanan (Bank Umum) Laporan Transaksi Spot dan Derivatif Triwulanan (Bank Umum Laporan Kualitas Aset Produktif dan Infomrasi Lainnya Triwulanan (Bank Umum) Lampiran 7a Laporan Kualitas Aset Produktif dan Informasi Lainnya Bulanan (Bank Umum) Lampiran 8.1 Laporan Perhitungan Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Hal. 352 ‐ 353 Hal. 354 ‐ 396 Hal. 354 – 355 Hal. 356 – 357 Hal. 358 – 359 Hal. 360 – 362 Hal. 363 – 364 Hal. 364 – 366 Hal. 367 – 368 Hal. 368 – 370 Hal. 371 – 373 Hal. 374 – 376 Hal. 377 – 379 Hal. 380 – 381 Hal. 381 – 383 Hal. 383 – 389 Hal. 390 Hal. 390 – 391 Hal. 392 Hal. 393 – 396 Hal. 397 – 398 Hal. 399 – 400
Hal. 401 – 402
Hal. 403 – 404
Hal. 405
Hal. 406 – 407
Hal. 408
Hal. 409 – 410 Hal. 411 – 412
Hal. 413 – 414
xi Likuiditas Rupiah Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Lampiran 8.a.1 Lampiran 8.2 Lampiran 8.a.2 Lampiran 9 Lampiran 10 Lampiran 10a Lampiran 11 Lampiran 11a Lampiran 12 Lampiran 13 Lampiran 14 Lampiran 15.1 Lampiran 15.2 Lampiran 16 Lampiran 17 Lampiran 17a Lampiran 18 Lampiran 18a Lampiran 19 Lampiran 19a Lampiran 20 Lampiran 20a Lampiran 20b Lampiran 20c Lampiran 21 Lampiran 21a Lampiran 22 Lampiran 23 Lampiran 24 Lampiran 25 Lampiran 26 Triwulanan Bank Umum (Bank Umum) Laporan Perhitungan Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Bulanan Bank Umum (Bank Umum) Laporan Perhitungan Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Triwulanan Bank Asing (Bank Umum) Laporan Perhitungan Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Bulanan Bank Asing (Bank Umum) Laporan Rasio Keuangan Triwulanan (Bank Umum) Pedoman Penyusunan Laporan Posisi Keuangan/ Neraca Triwulanan (Bank Umum) Pedoman Penyusunan Laporan Posisi Keuangan/ Neraca Bulanan (Bank Umum) Pedoman Penyusunan Laporan Laba Rugi Komprehensif Triwulanan (Bank Umum) Pedoman Penyusunan Laporan Laba Rugi Bulanan (Bank Umum) Pedoman Penyusunan Laporan Komitmen dan Kontinjensi (Bank Umum) Pedoman Penyusunan Laporan Transaksi Spot dan Derivatif (Bank Umum) Pedoman Penyusunan Laporan Kualitas Aset Produktif dan Informasi Lainnya (Bank Umum) Pedoman Perhitungan Modal Bank Umum (Bank Umum) Pedoman Perhitungan Modal Bank Asing (Bank Umum) Pedoman Perhitungan Rasio Keuangan (Bank Umum) Neraca (BUS dan UUS) Neraca Publikasi Bulanan (BUS dan UUS) Laporan Laba/ Rugi dan Saldo Laba (BUS dan UUS) Laporan Laba/ Rugi dan Saldo Laba – Publikasi Bulanan (BUS dan UUS) Komitmen dan Kontinjensi (BUS dan UUS) Komitmen dan Kontinjensi Publikasi Bulanan (BUS dan UUS) Kualitas Aktiva Produktif dan Informasi Lainnya (BUS dan UUS) Kualitas Aktiva Produktif dan Informasi Lainnya – Publikasi Bulanan (BUS dan UUS) Kualitas Aktiva Produktif dan Informasi Lainnya (BUS dan UUS) Pedoman Penyusunan Laporan Kualitas Aktiva Produktif dan Informasi Lainnya (BUS dan UUS) Perhitungan Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Tahunan (BUS dan UUS) Perhitungan Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (BUS dan UUS) Tabel Perhitungan Rasio Keuangan (BUS dan UUS) Pedoman Penyusunan Neraca (BUS dan UUS) Pedoman Penyusunan Laba/Rugi dan Perubahan Saldo Laba (BUS dan UUS) Pedoman Penyusunan Laporan Komitmen dan Kontinjensi (BUS dan UUS) Pedoman Perhitungan Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (BUS dan UUS) Hal. 414 – 415
Hal. 416
Hal. 417
Hal. 418 – 419 Hal. 420 – 421 Hal. 422 – 423
Hal. 424 – 428
Hal. 429 – 433
Hal. 434
Hal. 435 – 436 Hal. 437 – 439 Hal. 440 – 442
Hal. 443 – 444
Hal. 445 – 450
Hal. 451 – 452
Hal. 453 – 454
Hal. 455 Hal. 456
Hal. 457
Hal. 458
Hal. 459 – 460 Hal. 461
Hal. 462 – 463 Hal. 464 – 466 Hal. 467 – 468
Hal. 469 – 470
Hal. 471 – 472
Hal. 473 – 478
Hal. 479 – 482
Hal. 483
Hal. 484 – 486 xii Likuiditas Rupiah Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Lampiran 27 Pedoman Perhitungan Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) Berdasarkan LBUS (BUS dan UUS) Pedoman Perhitungan Modal (BUS dan UUS) Pedoman Perhitungan Rasio Keuangan (BUS dan UUS) Laporan Sumber dan Penggunaan Dana ZIS (BUS dan UUS) Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Qardh (BUS dan UUS) Laporan Perubahan Dana Investasi Terikat (BUS dan UUS) Distribusi Bagi Hasil (BUS dan UUS) Informasi Keuangan Usaha Syariah (BUS dan UUS) Pedoman Penyusunan Neraca – UUS (BUS dan UUS) Pedoman Penyusunan Laba/Rugi – UUS (BUS dan UUS) Pedoman Penyusunan Komitmen dan Kontinjensi ‐ UUS Penyesuaian Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia (PAPI) 2008 Permohonan Pendaftaran Akuntan Publik sebagai Auditor Bank (BUS dan UUS) Daftar Riwayat Hidup (BUS dan UUS) Laporan Pemeriksaan atas Bank (Bank dan UUS) Permohonan Pendaftaran Akuntan Publik sebagai Auditor Bank (Bank Umum) Daftar Riwayat Hidup (Bank Umum) Laporan Pemeriksaan atas PT Bank (Bank Umum) Penyusunan Laporan Keuangan Publikasi (BPR – September 2013) Lampiran 28 Lampiran 29 Lampiran 30 Lampiran 31 Lampiran 32 Lampiran 33 Lampiran 34 Lampiran 35 Lampiran 36 Lampiran 37 Lampiran 38 Lampiran 39a Lampiran 39b Lampiran 40 Lampiran 41a Lampiran 41b Lampiran 42 Lampiran 43A Bab I Penjelasan Umum I. Tujuan Penyusunan Laporan Keuangan Publikasi II. BPR Pelapor III. Penyampaian Pertanyaan Bab II Pedoman Pengisian Laporan Keuangan Publikasi Tabel 1 Neraca Penjelasan Pos‐pos Neraca Aktiva Pasiva Tabel 2 Laporan Laba Rugi Penjelasan Laporan Laba Rugi Pendapatan Beban Tabel 3 Laporan Komitmen dan Kontinjensi Penjelasan Laporan Komitmen dan Kontinjensi Komitmen Kontinjensi Tabel 4 Kualitas Aktiva Produktif dan Informasi Lainnya Penjelasan Formulir Kualitas Aktiva Produktif dan Informasi Lainnya Lampiran 43 Penyusunan Laporan Keuangan Publikasi (BPR) Bab I Penjelasan Umum Bab II Pedoman Pengisian Laporan Keuangan Publikasi Laporan Neraca Penjelasan Pos‐pos Neraca I.
Aset Hal. 487 – 489
Hal. 490 – 492
Hal. 493 – 496
Hal. 497
Hal. 498
Hal. 499
Hal. 500
Hal. 501
Hal. 502 – 506 Hal. 507 – 510
Hal. 511 Hal. 512 – 516 Hal. 517 – 518
Hal. 519 – 520
Hal. 521 Hal. 522 – 524 Hal. 525 – 526 Hal. 527 Hal. 528 – 547 Hal. 529 Hal. 529 Hal. 529 Hal. 529 Hal. 530 – 547 Hal. 530 – 531 Hal. 532 – 537 Hal. 532 – 533 Hal. 534 – 537 Hal. 538 Hal. 539 – 541 Hal. 539 Hal. 539 – 541 Hal. 542 Hal. 543 Hal. 543 Hal. 543 Hal. 544 Hal. 545 – 546 Hal. 548 – 583 Hal. 549 Hal. 550 – 583 Hal. 550 – 551 Hal. 552 – 562 Hal. 552 – 557 xiii Likuiditas Rupiah Transparansi dan Publikasi Laporan Bank II.
Kewajiban III.
Ekuitas Laporan Laba Rugi Penjelasan Laporan Laba/Rugi I.
Pendapatan Operasional II.
Beban Operasional III.
Laba/Rugi Operasional IV.
Pendapatan Non – Operasional V.
Beban Non – Operasional VI.
Laba/Rugi Non – Operasional VII.
Taksiran Pajak Penghasilan VIII.
Laba/ Rugi Bersih Laporan Kualitas Aktiva Produktif Penjelasan Laporan Kualitas Aktiva Produktif I.
Penempatan pada Bank Lain II.
Kredit yang Diberikan III.
Kolektibilitas IV.
Rasio‐rasio Laporan Komitmen dan Kontinjensi Penjelasan Laporan Komitmen dan Kontinjensi I.
Komitmen II.
Kredit yang Diberikan Laporan Informasi Lainnya Penjelasan Informasi Lainnya I.
Pengurus Bank II.
Pemilik Bank dan Pemegang Saham Lampiran 44 Lampiran 45 Lampiran 46 Lampiran 47 Lampiran 48 Lampiran 49 Lampiran 50 Lampiran 51 Lampiran 52 Contoh Perjanjian antar BPR dan Kantor Akuntan Publik Neraca (BPRS) Perhitungan Laba Rugi (BPRS) Daftar Komitmen dan Kontinjensi (BPRS) Kualitas Aktiva Produktif & Informasi Lainnya Publikasi (BPRS) Laporan Sumber dan Pengguna ZIS (BPRS) Laporan Sumber dan Penggunaan Qardh (BPRS) Tabel Distribusi Bagi Hasil (BPRS) Laporan Perubahan Dana Investasi Terikat (Mudharabah Muqayyadah) (BPRS) Hal. 557 – 560 Hal. 560 – 562 Hal. 563 Hal. 564 – 574 Hal. 564 – 567 Hal. 567 – 571 Hal. 571 Hal. 571 – 572 Hal. 572 – 573 Hal. 573 Hal. 573 Hal. 574 Hal. 575 Hal. 576 – 578 Hal. 576 Hal. 576 Hal. 577 Hal. 577 – 578 Hal. 579 Hal. 580 – 581 Hal. 580 Hal. 580 – 581 Hal. 582 Hal. 583 Hal. 583 Hal. 583 Hal. 584 – 592 Hal. 593 Hal. 594
Hal. 595
Hal. 596
Hal. 597
Hal. 598
Hal. 599
Hal. 600
xiv Likuiditas Rupiah Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Rekam Jejak Regulasi Transparansi dan Publikasi Laporan Bank xv Likuiditas Rupiah Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Dasar Hukum : ‐ Undang‐Undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah ‐ Undang‐Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia sebagaimana telah diubah beberapa kali, terakhir dengan Undang‐Undang Nomor 6 Tahun 2009 ‐ Undang‐Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang‐
undang Nomor 10 Tahun 1998 Regulasi Terkait : ‐ Peraturan Bank Indonesia Nomor 14/12/PBI/2012 tentang Laporan Kantor Pusat Bank Umum ‐ Peraturan Bank Indonesia Nomor 12/23/PBI/2010 tentang Penilaian Kemampuan dan Kepatutan ‐ Peraturan Bank Indonesia Nomor 8/13/PBI/2006 tentang Batas Maksimum Pemberian Kredit Bank Umum ‐ Peraturan Bank Indonesia Nomor 4/7/PBI/2002 tentang Prinsip Kehati‐hatian dalam Rangka Pembelian Kredit oleh Bank dari Badan Penyehatan Perbankan Nasional ‐ Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 15/1/DPNP 2013 perihal Transparansi Informasi Suku Bunga Dasar Kredit ‐ Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 14/31/DPNP 2012 perihal Laporan Kantor Pusat Bank Umum ‐ Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 13/26/DPNP 2011 Perubahan Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 13/8/DPNP 2011 perihal Penilaian Kemampuan dan Kepatutan ‐ Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 7/14/DPNP 2005 perihal Batas Maksimum Pemberian Kredit Bank Umum Regulasi Bank Indonesia : ‐ Peraturan Bank Indonesia Nomor 15/3/PBI/2013 tentang Transparansi Kondisi Keuangan Bank Perkreditan Rakyat ‐ Peraturan Bank Indonesia Nomor 14/14/PBI/2012 tentang Transparansi Dan Publikasi Laporan Bank ‐ Peraturan Bank Indonesia Nomor 7/50/PBI/2005 tentang Perubahan atas PBI 3/22/PBI/2001 tentang Transparansi Kondisi Keuangan Bank ‐ Peraturan Bank Indonesia Nomor 7/47/PBI/2005 tentang Transparansi Kondisi Keuangan Bank Perkreditan Rakyat Syariah ‐ Peraturan Bank Indonesia Nomor 3/22/PBI/2001 tentang Transparansi Kondisi Keuangan Bank ‐ Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 15/43/DPNP 2013 perihal Perubahan atas Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 15/29/DKBU tanggal 31 Juli 2013 perihal Laporan Tahunan dan Laporan Keuangan Publikasi Bank Perkreditan Rakyat ‐ Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 15/29/DKBU 2013 perihal Laporan Tahunan dan Laporan Keuangan Publikasi Bank Perkreditan Rakyat ‐ Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 15/26/DPbS 2013 perihal Pelaksanaan Pedoman Akuntansi Perbankan Syariah Indonesia ‐ Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 13/30/DPNP 2011 perihal Perubahan Ketiga atas Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 3/30/DPNP 2001 perihal Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan dan Bulanan Bank Umum serta Laporan Tertentu yang Disampaikan kepada Bank Indonesia ‐ Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 14/35/DPNP Tahun 2012 tentang Laporan Tahunan Bank Umum dan Laporan Tahunan Tertentu yang Disampaikan kepada Bank Indonesia. ‐ Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 12/14/DKBU 2010 perihal Pelaksanaan Pedoman Akuntansi Bank Perkreditan Rakyat ‐ Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 12/11/DPNP 2010 perihal Perubahan Kedua atas Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 3/30/DPNP 2001 perihal Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan dan Bulanan Bank Umum serta Laporan Tertentu yang Disampaikan kepada Bank Indonesia ‐ Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 11/33/DPNP Tahun 2009 perihal Perubahan atas Surat Edaran No. 11/4/DPNP tanggal 27 Januari 2009 tentang Pelaksanaan Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia. ‐ Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 11/4/DPNP tanggal 27 Januari 2009 perihal Pelaksanaan Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia xvi Likuiditas Rupiah Transparansi dan Publikasi Laporan Bank ‐
‐
‐
‐
‐
‐
‐
Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 8/11/DPbS tahun 2006 perihal Perubahan SE No. 7/56/DPbS tahun 2005 tentang Laporan Tahunan, Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan dan Bulanan serta Laporan tertentu dari Bank yang Disampaikan kepada Bank Indonesia Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 7/57/DPbs 2005 Hubungan antara Bank yang Melaksanakan Kegiatan Usaha Berdasarkan Prinsip Syariah, Kantor Akuntan Publik, Akuntan Publik, Dewan Pengawas Syariah dan Bank Indonesia Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 7/56/DPbS tahun 2005 perihal Laporan Tahunan, Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan dan Bulanan serta Laporan tertentu dari Bank yang Disampaikan kepada Bank Indonesia Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 7/52/DPbS tahun 2005 perihal Transparansi Kondisi Keuangan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 7/10/DPNP tahun 2005 perihal Perubahan atas SE 3/30/DPNP 2001 perihal Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan dan Bulanan Bank Umum serta Laporan Tertentu yang Disampaikan kepada Bank Indonesia Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 3/32/DPNP 2001 perihal Hubungan Antara Bank, Akuntan Publik dan Bank Indonesia Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 3/30/DPNP 2001 perihal Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan dan Bulanan Bank Umum serta Laporan Tertentu yang Disampaikan kepada Bank Indonesia xvii Likuiditas Rupiah Paragraf Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Sumber Regulasi Moneter
Likuiditas Rupiah
BAB I Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Ketentuan Umum
1 Pasal 1 14/14/PBI/2012 Ayat 1 – 14 1. Bank adalah Bank Umum sebagaimana dimaksud dalam Undang‐
Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang‐Undang Nomor 10 Tahun 1998, termasuk kantor cabang bank asing dan Bank Umum Syariah sebagaimana dimaksud dalam Undang‐Undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah. 2. Pengendalian adalah perseorangan atau perusahaan/badan, baik secara langsung maupun tidak langsung yang: a. memiliki lebih dari 50% (lima puluh persen) saham yang memiliki hak suara pada suatu perusahaan/badan lain; b. memiliki 50% (lima puluh persen) atau kurang saham yang memiliki hak suara pada suatu perusahaan/badan lain, tetapi: 1) terdapat perjanjian dengan pemegang saham lain sehingga memiliki hak suara lebih dari 50 (lima puluh persen); 2) mempunyai kewenangan untuk mengatur kebijakan keuangan dan operasional perusahaan/badan lain berdasarkan anggaran dasar atau perjanjian; 3) mempunyai kewenangan untuk menunjuk atau mengganti sebagian besar direksi dan dewan komisaris atau organ lainnya yang setara dan mengendalikan perusahaan/badan lain melalui direksi dan dewan komisaris atau organ lainnya tersebut; dan/atau 4) mampu menguasai suara mayoritas pada rapat direksi dan dewan komisaris atau organ lainnya yang setara dan mengendalikan perusahaan/badan melalui direksi dan dewan komisaris atau organ lainnya tersebut. 3. Perusahaan Induk (parent company/holding company) adalah badan hukum/perusahaan yang mengkonsolidasikan satu atau lebih perusahaan anak dalam suatu kelompok usaha dan melakukan Pengendalian terhadap Bank. 4. Perusahaan Induk di Bidang Keuangan (financial parent company/financial holding company) adalah badan hukum/perusahaan yang mengkonsolidasikan seluruh aktivitas satu atau lebih perusahaan anak pada kelompok usaha yang bergerak di bidang keuangan dan melakukan Pengendalian terhadap Bank. 5. Perusahaan Anak adalah badan hukum yang dimiliki atau dikendalikan oleh Bank, baik secara langsung maupun tidak langsung, yang terdiri dari: a. Perusahaan Subsidiari (subsidiary company) yaitu Perusahaan Anak dengan kepemilikan Bank lebih dari 50% (lima puluh persen); dan/atau b. Perusahaan Partisipasi (participation company) adalah Perusahaan Anak dengan kepemilikan Bank 50% (lima puluh persen) atau kurang, namun Bank memiliki Pengendalian terhadap perusahaan. Ketentuan 1 Likuiditas Rupiah Paragraf 2 Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Sumber Regulasi Ketentuan 6. Perusahaan Afiliasi adalah Perusahaan Anak dari Perusahaan Induk atau dari Perusahaan Induk di Bidang Keuangan yang tergabung dalam suatu kelompok usaha yang sama dengan Bank karena dikendalikan oleh Perusahaan Induk yang sama. 7. Pihak Terkait adalah pihak yang terkait dengan Bank sebagaimana dimaksud dalam ketentuan Bank Indonesia mengenai Batas Maksimum Pemberian Kredit. 8. Pihak‐pihak Berelasi adalah pihak‐pihak berelasi sebagaimana dimaksud dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan tentang Pengungkapan Pihak‐pihak Berelasi. 9. Akuntan Publik adalah akuntan publik sebagaimana dimaksud dalam Undang‐Undang tentang Akuntan Publik. 10. Laporan Tahunan adalah laporan lengkap mengenai kinerja suatu Bank dalam kurun waktu 1 (satu) tahun. 11. Laporan Keuangan Tahunan adalah laporan keuangan akhir tahun Bank yang disusun berdasarkan standar akuntansi keuangan. 12. Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan adalah laporan keuangan yang disusun berdasarkan standar akuntansi keuangan dan dipublikasikan setiap triwulan, sesuai dengan ketentuan Bank Indonesia. 13. Laporan Keuangan Publikasi Bulanan adalah laporan keuangan yang disusun berdasarkan Laporan Bulanan Bank Umum dan dipublikasikan setiap bulan, sesuai dengan ketentuan Bank Indonesia. 14. Tahun Buku adalah tahun takwim atau tahun yang dimulai dari bulan Januari sampai dengan bulan Desember. SE 7/56/DPbS 15. Unit Usaha Syariah, yang selanjutnya disebut UUS, adalah unit kerja di 2005 kantor pusat bank umum yang melaksanakan kegiatan usaha secara Romawi I. 7 konvensional yang berfungsi sebagai kantor induk dari kantor cabang syariah dan atau unit syariah, atau unit kerja di kantor cabang dari bank yang berkedudukan diluar negeri yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional yang berfungsi sebagai kantor induk dari kantor cabang pembantu syariah dan atau unit syariah. Dalam rangka transparansi kondisi keuangan, Bank wajib menyusun dan Pasal 2 14/14/PBI/2012 menyajikan laporan keuangan, yang terdiri atas: a. Laporan Tahunan; Huruf a A. Bank Umum Konvensional SE 14/35/DPNP 1. Publikasi Laporan Tahunan Bank dimaksudkan untuk 2012 memberikan informasi berkala mengenai kondisi Bank secara Romawi I.1 – I.6 menyeluruh, termasuk perkembangan usaha dan kinerja Bank serta kelompok usaha. Seluruh informasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan transparansi kondisi keuangan Bank kepada publik dan menjaga kepercayaan masyarakat terhadap lembaga perbankan 2. Laporan Tahunan selain disampaikan kepada pemegang saham, wajib disampaikan paling kurang kepada Bank Indonesia dan lembaga lain yang berkepentingan terhadap perkembangan usaha Bank, seperti Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), lembaga pemeringkat di Indonesia, asosiasi perbankan di 2 Likuiditas Rupiah Paragraf Sumber Regulasi SE 7/56/DPbS 2005 Romawi I .1 – I.3, I.6, I.11 3.
4.
5.
6.
Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Ketentuan Indonesia, Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), 2 (dua) lembaga penelitian di bidang ekonomi dan keuangan, dan 2 (dua) majalah ekonomi dan keuangan. Sedangkan laporan tahunan tertentu hanya wajib disampaikan kepada Bank Indonesia. Batas waktu penyampaian Laporan Tahunan dan laporan tahunan tertentu paling lama 5 (lima) bulan setelah Tahun Buku berakhir. Laporan Tahunan wajib disusun untuk 1 (satu) Tahun Buku dan disajikan paling kurang dengan perbandingan 1 (satu) Tahun Buku sebelumnya. Laporan Tahunan wajib dicantumkan dalam website Bank paling lama 1 (satu) hari kerja setelah batas waktu penyampaian Laporan Tahunan, dan dipelihara dalam website Bank paling kurang untuk 2 (dua) periode laporan berturut‐
turut. Laporan Tahunan Bank harus disusun dalam Bahasa Indonesia. Dalam hal Laporan Tahunan juga dibuat selain dalam Bahasa Indonesia, baik dalam dokumen yang sama maupun terpisah, maka Laporan Tahunan dimaksud harus memuat informasi yang sama. Mata uang yang digunakan dalam Laporan Tahunan adalah Rupiah. B. Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah 1. Sesuai dengan Undang‐Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang‐undang Nomor 10 Tahun 1998, Bank diwajibkan untuk menyampaikan keterangan dan penjelasan yang berkaitan dengan kegiatan usaha Bank dalam rangka pemantauan keadaan usaha Bank oleh publik dan Bank Indonesia. 2. Dalam rangka pemenuhan informasi yang disampaikan Bank yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah (Bank) dan UUS untuk mencapai dan memelihara kepercayaan investasi masyarakat terhadap Bank serta upaya meningkatkan transparansi kondisi keuangan Bank kepada publik, maka informasi dalam laporan tersebut harus bisa menyajikan hak dan kewajiban dari pihak terkait, memberikan kontribusi untuk melindungi aset Bank dan pemenuhan prinsip syariah dalam semua transaksi, serta dapat memberikan informasi yang berguna tentang perkembangan usaha dan kinerja Bank kepada para pihak terkait (stakeholders) dalam hubungannya dengan Bank. 3. Bentuk penyampaian keterangan dan pengumuman atau publikasi kegiatan usaha Bank dalam rangka pemantauan oleh publik dan Bank Indonesia adalah berupa Laporan Tahunan, Laporan Keuangan Publikasi, dan Laporan Informasi Tertentu yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.; 4. Apabila Laporan Tahunan, Laporan Keuangan Publikasi dan Laporan Informasi Tertentu juga dibuat selain dalam Bahasa Indonesia, baik dalam dokumen yang sama maupun terpisah, maka Laporan dimaksud harus memuat informasi yang sama. 3 Likuiditas Rupiah Paragraf Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Sumber Regulasi Ketentuan 5. Angka‐angka dalam Laporan wajib disajikan dalam mata uang Rupiah. b. Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan; Pasal 2 14/14/PBI/2012 Huruf b A. Bank Umum Konvensional SE 3/30/DPNP 2001 1. Sesuai dengan Undang‐undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Romawi I Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang‐undang Nomor 10 Tahun 1998, Bank diwajibkan untuk menyampaikan keterangan dan penjelasan yang berkaitan dengan kegiatan usaha Bank dalam rangka pemantauan keadaan usaha Bank oleh publik dan Bank Indonesia. 2. Bentuk penyampaian dan pengumuman atau publikasi keterangan dan informasi sebagaimana dimaksud pada angka 1 yang ditetapkan Bank Indonesia adalah laporan keuangan tahunan dan laporan berkala lainnya dengan waktu penyampaian dan pengumuman secara tahunan, semesteran, triwulanan maupun bulanan. 3. Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan disusun antara lain untuk memberikan informasi mengenai posisi keuangan, kinerja atau hasil usaha Bank serta informasi keuangan lainnya kepada berbagai pihak yang berkepentingan dengan perkembangan usaha Bank. Agar laporan keuangan Bank dapat diperbandingkan, perlu ditetapkan bentuk dan cakupan penyajian yang didasarkan pada Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) yang relevan untuk industri perbankan, Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia (PAPI), serta ketentuan dan pedoman yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.
4. Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan yang wajib disajikan adalah laporan keuangan untuk posisi akhir Maret, Juni, September dan Desember. Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan ini selain wajib diumumkan dalam surat kabar juga akan diumumkan dalam home page Bank Indonesia. Bank Indonesia juga akan mengumumkan Laporan Bulanan Bank Umum dalam bentuk Laporan Keuangan Publikasi Bulanan pada home page Bank Indonesia. SE 12/11/DPNP 5. Perlakuan akuntansi untuk pos‐pos dalam Laporan Keuangan 2010 Publikasi Triwulanan dan Laporan Keuangan Publikasi Bulanan Nomor 6 didasarkan pada Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) yang berlaku, Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia (PAPI) serta ketentuan dan pedoman terkait yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. SE 7/56/DPbS B. Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah 2005 1. Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan disusun untuk Romawi I.4, I.5, memberikan informasi mengenai posisi keuangan, kinerja atau I.8, I.9, I.10, I.11 hasil usaha Bank dan UUS serta informasi keuangan lainnya kepada berbagai pihak yang berkepentingan dengan perkembangan usaha Bank dan UUS. Agar Laporan Keuangan 4 Likuiditas Rupiah Paragraf Sumber Regulasi Pasal 2 14/14/PBI/2012 Huruf c – e 2.
3.
4.
5.
6.
Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Ketentuan Publikasi dapat diperbandingkan, perlu ditetapkan bentuk dan cakupan penyajian yang didasarkan pada Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) yang relevan untuk perbankan syariah, Pedoman Akuntansi Perbankan Syariah Indonesia (PAPSI), serta ketentuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan yang wajib disajikan oleh Bank adalah laporan keuangan untuk posisi akhir Maret, Juni, September dan Desember. Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan ini selain wajib diumumkan dalam surat kabar juga akan diumumkan dalam home page Bank Indonesia. Bank Indonesia juga akan mengumumkan Laporan Bulanan dalam bentuk Laporan Keuangan Publikasi Bulanan pada homepage Bank Indonesia. Unit Usaha Syariah harus menyajikan informasi keuangan syariah secara triwulanan untuk posisi Maret, Juni, September dan Desember berupa neraca, laba rugi, komitmen dan kontinjensi sebagaimana tercantum dalam lampiran 16, informasi perhitungan bagi hasil sebagaimana tercantum dalam Lampiran 15, dan pedoman penyusunan neraca, laba rugi dan komitmen dan kontinjensi sebagaimana tercantum dalam Lampiran 17, Lampiran 18 dan Lampiran 19 (Lampiran 34, Lampiran 33, Lampiran 35, Lampiran 36 dan Lampiran 37 dalam kodifikasi ini). Informasi kegiatan usaha syariah tersebut harus ditanda tangani oleh Dewan Pengawas Syariah dan Pimpinan Unit Usaha Syariah. Khusus untuk pelaporan publikasi UUS posisi bulan Juni dan Desember, selain menyajikan laporan , harus pula menyajikan Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Zakat, Infaq dan Shadaqah (ZIS) sebagaimana tercantum dalam Lampiran 12 (Lampiran 30 dalam kodifikasi ini); Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Qardh sebagaimana tercantum dalam Lampiran 13 (Lampiran 31 dalam kodifikasi ini) ; serta Laporan Perubahan Dana Investasi Terikat, jika ada sebagaimana tercantum dalam Lampiran 14 (Lampiran 32 dalam kodifikasi ini). UUS melalui kantor pusatnya harus menyajikan laporan publikasi triwulanan, termasuk juga akan diumumkan kedalam home page Bank Indonesia. Angka‐angka dalam Laporan wajib disajikan dalam mata uang Rupiah. c. Laporan Keuangan Publikasi Bulanan; Penjelasan tentang ini untuk Bank Umum Konvesional dapat dilihat pada Paragraf 2 butir b.A.4 dan butir b.A.5 di atas, sedangkan untuk Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah dapat dilihat pada Paragraf 2 butir b.B.2 dan butir b.B.6. d. Laporan Keuangan Konsolidasi; dan e. Laporan Publikasi Lain. 5 Likuiditas Rupiah Paragraf 3 Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Sumber Regulasi Ketentuan BAB II Laporan Tahunan
(1) Bank wajib menyusun Laporan Tahunan yang paling kurang Pasal 3 mencakup: 14/14/PBI/2012 a. Informasi umum yang meliputi: 1. kepengurusan; 2. kepemilikan; 3. perkembangan usaha Bank dan kelompok usaha Bank termasuk perkembangan usaha Unit Usaha Syariah (UUS); 4. strategi dan kebijakan manajemen termasuk strategi dan kebijakan manajemen UUS; dan 5. laporan manajemen termasuk laporan manajemen UUS; b. Laporan Keuangan Tahunan yang meliputi: 1. Laporan Posisi Keuangan (Neraca); 2. Laporan Laba Rugi Komprehensif; 3. Laporan Perubahan Ekuitas; 4. Laporan Arus Kas; 5. catatan atas laporan keuangan, termasuk informasi mengenai komitmen dan kontinjensi; c. opini dari Akuntan Publik; d. jenis risiko dan potensi kerugian (risk exposures) yang dihadapi Bank serta praktek manajemen risiko yang diterapkan Bank; e. seluruh asperk transparansi dan informasi yang diwajibkan untuk Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan; f. aspek pengungkapan (disclosure) lain sebagaimana diwajibkan dalam Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku, dalam hal belum tercakup dalam huruf a sampai dengan huruf e di atas; dan g. informasi lain. (2) Bagi Bank Umum Konvensional, selain pengungkapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), wajib dilakukan pengungkapan mengenai: a. permodalan bank; dan b. jenis risiko, potensi kerugian, dan penerapan manajemen risiko, paling kurang untuk risiko kredit, risiko pasar, risiko operasional, risiko likuiditas, risiko strategic, risiko reputasi; risiko kepatuhan; dan risiko hukum. (3) Bagi Bank Umum Syariah (BUS) dan Bank Umum Konvensional yang memiliki UUS, selain laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, wajib menyampaikan: a. laporan Sumber dan Penggunaan Dana Zakat, Infaq, dan Shadaqah (ZIS); b. laporan Sumber dan Penggunaan Dana Qardh; dan c. laporan Perubahan Dana Investasi Terikat. (4) Laporan Keuangan Tahunan wajib diaudit oleh Akuntan Publik. (5) Laporan Tahunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3) wajib disusun untuk 1 (satu) Tahun Buku dan disajikan paling kurang dengan perbandingan 1 (satu) Tahun Buku sebelumnya. (6) Dalam hal terdapat perubahan cakupan Laporan Tahunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 (Paragraf 3 dalam kodifikasi ini) akan diatur lebih lanjut dengan Surat Edaran Bank Indonesia. 6 Likuiditas Rupiah Paragraf Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Sumber Regulasi Ketentuan A. Bank Umum Konvensional SE 14/35/DPNP Cakupan Laporan Tahunan 2012 Laporan Tahunan paling kurang mencakup hal‐hal sebagai berikut: Romawi II 1. Informasi Umum Informasi Umum dalam Laporan Tahunan paling kurang memuat: a. kepengurusan, yang meliputi susunan anggota Dewan Komisaris, Direksi, dan pejabat eksekutif beserta jabatan dan ringkasan riwayat hidupnya; b. rincian kepemilikan, berupa nama pemilik dan persentase kepemilikan saham; c. perkembangan usaha Bank dan kelompok usaha Bank, yang memuat data mengenai: 1) ikhtisar data keuangan penting, yang paling kurang mencakup pendapatan bunga bersih, laba operasional, laba sebelum pajak, laba bersih, laba bersih per saham, aset produktif, dana pihak ketiga, pinjaman diterima, total biaya dana (cost of fund), modal sendiri, jumlah lembar saham yang ditempatkan dan disetor; dan 2) rasio keuangan yang wajib disajikan, yang paling kurang mencakup rasio keuangan sebagaimana diatur dalam ketentuan Bank Indonesia mengenai transparansi dan publikasi laporan Bank. d. strategi dan kebijakan manajemen dalam pengembangan usaha Bank; e. laporan manajemen yang memuat informasi mengenai pengelolaan Bank oleh pengurus dalam rangka good corporate governance, dan paling kurang mencakup: 1) struktur organisasi; 2) aktivitas utama; 3) teknologi informasi; 4) jenis produk dan jasa yang ditawarkan, termasuk penyaluran kredir kepada debitur Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM); 5) tingkat suku bunga penghimpunan dan penyediaan dana; 6) perkembangan perekonomian dan target pasar; 7) jaringan kerja dan mitra usaha baik di dalam dan/atau di luar negeri; 8) jumlah, jenis, dan lokasi kantor; 9) kepemilikan Direksi, Komisaris, dan pemegang saham dalam kelompok usaha Bank; 10) perubahan‐perubahan penting yang terjadi di Bank dan kelompok usaha Bank dalam tahun yang bersangkutan; 11) hal‐hal penting yang diperkirakan terjadi di masa mendatang; dan 12) sumber daya manusia, meliputi jumlah, struktur pendidikan, pelatihan, dan pengembangan sumber daya manusia. 2. Laporan Keuangan Tahunan Laporan Keuangan Tahunan paling kurang mencakup: a. Laporan Keuangan Bank yang telah diaudit oleh Akuntan 7 Likuiditas Rupiah Paragraf Sumber Regulasi Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Ketentuan Publik, yang meliputi: 1) Laporan Posisi Keuangan (Neraca); 2) Laporan Laba Rugi Komprehensif; 3) Laporan Perubahan Ekuitas; 4) Laporan Arus Kas; dan 5) Catatan atas Laporan Keuangan, termasuk informasi mengenai Komitmen dan Kontinjensi. b. Bagi Bank yang memiliki Perusahaan Anak, selain Laporan Keuangan Bank secara individual sebagaimana dimaksud pada huruf a, Laporan Keuangan Tahunan juga mencakup Laporan Keuangan Konsolidasi yang telah diaudit oleh Akuntan Publik, yang merupakan konsolidasi Laporan Keuangan Bank dan Perusahaan Anak, yang paling kurang terdiri atas: 1) Laporan Posisi Keuangan (Neraca); 2) Laporan Laba Rugi Komprehensif; 3) Laporan Perubahan Ekuitas; dan 4) Komitmen dan Kontinjensi. c. Bagi Bank yang merupakan bagian dari suatu kelompok usaha, selain laporan sebagaimana dimaksud pada huruf a dan huruf b, Bank juga wajib menyampaikan Laporan Keuangan Tahunan yang terdiri atas: 1) Laporan Keuangan Perusahaan Induk yang telah diaudit oleh Akuntan Publik, yang merupakan hasil konsolidasi dari seluruh perusahaan di dalam kelompok usaha sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku, yang paling kurang meliputi: a) Laporan Posisi Keuangan (Neraca); b) Laporan Laba Rugi Komprehensif; c) Laporan Perubahan Ekuitas; dan d) Komitmen dan Kontinjensi; 2) Laporan Keuangan Perusahaan Induk di Bidang Keuangan, yang telah diaudit oleh Akuntan Publik, yang merupakan hasil konsolidasi dari seluruh perusahaan di dalam kelompok bidang keuangan sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku, dan paling kurang meliputi: a) Laporan Posisi Keuangan (Neraca); b) Laporan Laba Rugi Komprehensif; c) Laporan Perubahan Ekuitas; dan d) Komitmen dan Kontinjensi. Dalam hal kelompok usaha tidak memiliki Perusahaan Induk di Bidang Keuangan maka laporan keuangan yang disampaikan adalah Laporan Keuangan Perusahaan Induk yang telah diaudit oleh Akuntan Publik. 3. Opini dari Akuntan Publik Opini dari Akuntan Publik antara lain memuat pendapat atas Laporan Keuangan Tahunan sebagaimana dimaksud dalam angka 2. 4. Pengungkapan Permodalan serta Pengungkapan Eksposur Risiko dan Penerapan Manajemen Risiko Bank 8 Likuiditas Rupiah Paragraf Sumber Regulasi Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Ketentuan a. Pengungkapan permodalan serta pengungkapan eksposur risiko dan penerapan manajemen risiko bertujuan untuk meningkatkan transparansi kepada publik dengan menetapkan persyaratan pengungkapan minimum, sehingga publik dapat menilai profil risiko dan kecukupan permodalan Bank. b. Bank harus memiliki kebijakan tertulis yang disetujui oleh Direksi mengenai pengungkapan sebagaimana diatur dalam angka ini. Kebijakan antara lain terkait dengan isi pengungkapan yang akan dilaporkan dan pengendalian internal dalam proses pengungkapan. c. Pengungkapan dilakukan dengan mengacu pada Pedoman pengungkapan sebagaimana tercantum dalam lampiran, yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Surat Edaran Bank Indonesia ini. Pengungkapan informasi sebagaimana dimaksud pada huruf a, terdiri atas: a. Pengungkapan Permodalan Pengungkapan paling kurang mencakup: 1) Pengungkapan kualitatif, yang antara lain memuat informasi tentang: a) Struktur permodalan yang memuat penjelasan mengenai instrumen modal yang diterbitkan oleh Bank antara lain: karakteristik, jangka waktu instrumen, fitur opsi beli, fitur step‐up, tingkat imbal hasil, dan peringkat (apabila tersedia); dan b) Kecukupan permodalan yang berisi penjelasan mengenai pendekatan yang digunakan Bank dalam menilai kecukupan modal untuk mendukung aktivitas yang dilakukan, baik saat ini maupun yang akan datang. 2) Pengungkapan kuantitatif mengenai struktur permodalan Bank sebagaimana dimaksud pada Tabel 1.a dan Tabel 1.b. (pada Lampiran 2 dalam kodifikasi ini) b. Pengungkapan Eksposur Risiko dan Penerapan Manajemen Risiko Pengungkapan paling kurang mencakup: 1) Pengungkapan mengenai penerapan Manajemen Risiko Bank secara umum, yang mencakup informasi mengenai: a) Pengawasan aktif Dewan Komisaris dan Direksi; b) Kecukupan kebijakan, prosedur, dan penetapan limit; c) Kecukupan proses identifikasi, pengukuran, pemantauan, dan pengendalian risiko, serta Sistem Informasi Manajemen Risiko; dan d) Sistem pengendalian intern yang menyeluruh. 2) Pengungkapan mengenai eksposur risiko dan penerapan Manajemen Risiko Bank secara khusus, yang terdiri dari: a) Risiko Kredit, yang mencakup: (1) Pengungkapan kualitatif, yang mencakup antara lain: 9 Likuiditas Rupiah Paragraf Sumber Regulasi Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Ketentuan (a) Pengungkapan kualitatif, yang mencakup antara lain: i. Informasi mengenai penerapan manajemen risiko untuk risiko kredit, termasuk: i.1. organisasi manajemen risiko kredit; i.2. strategi manajemen risiko kredit untuk aktivitas yang memiliki eksposur risiko kredit yang signifikan; i.3. kebijakan pengelolaan risiko konsentrasi kredit; dan i.4. mekanisme pengukuran dan pengendalian risiko kredit. ii. definisi tagihan yang telah jatuh tempo dan tagihan yang mengalami penurunan nilai/ impairment; dan iii. penjelasan mengenai pendekatan yang digunakan untuk pembentukan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) individual dan kolektif, serta metode statistik yang digunakan dalam perhitungan CKPN. (b) Pengungkapan kuantitatif sebagaimana dimaksud pada Tabel 2.1.a sampai dengan Tabel 2.6.b (pada Lampiran 2 dalam kodifikasi ini), yang mencakup: i. Pengungkapan Tagihan Bersih Berdasarkan Wilayah sebagaimana Tabel 2.1.a dan Tabel 2.1.b (pada Lampiran 2 dalam kodifikasi ini); ii. Pengungkapan Tagihan Bersih Berdasarkan Sisa Jangka Waktu Kontrak sebagaimana Tabel 2.2.a dan Tabel 2.2.b (pada Lampiran 2 dalam kodifikasi ini); iii. Pengungkapan Tagihan Bersih Berdasarkan Sektor Ekonomi sebagaimana Tabel 2.3.a dan Tabel 2.3.b (pada Lampiran 2 dalam kodifikasi ini); iv. Pengungkapan Tagihan dan Pencadangan Berdasarkan Wilayah sebagaimana Tabel 2.4.a dan Tabel 2.4.b (pada Lampiran 2 dalam kodifikasi ini); v. Pengungkapan Tagihan dan Pencadangan Berdasarkan Sektor Ekonomi sebagaimana Tabel 2.5.a dan Tabel 2.5.b (pada Lampiran 2 dalam kodifikasi ini); dan vi. Pengungkapan Rincian Mutasi Cadangan Kerugian Penurunan Nilai sebagaimana 10 Likuiditas Rupiah Paragraf Sumber Regulasi Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Ketentuan Tabel 2.6.a dan Tabel 2.6.b (pada Lampiran 2 dalam kodifikasi ini). (2) Pengungkapan Risiko Kredit dengan Pendekatan Standar, yang terdiri dari: (a) Pengungkapan kualitatif, yang mencakup: i. informasi mengenai kebijakan penggunaan peringkat dalam perhitungan Aset Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) untuk risiko kredit; ii. kategori portofolio yang menggunakan peringkat; iii. lembaga pemeringkat yang digunakan; dan iv. pengungkapan risiko kredit pihak lawan (counterparty credit risk), termasuk jenis instrumen mitigasi yang lazim diterima/diserahkan oleh Bank. (b) Pengungkapan kuantitatif sebagaimana dimaksud pada Tabel 3.1.a sampai dengan Tabel 3.2.c.2 (pada Lampiran 2 dalam kodifikasi ini), yang mencakup: i. Pengungkapan Tagihan Bersih Berdasarkan Kategori Portofolio dan Skala Peringkat sebagaimana Tabel 3.1.a dan Tabel 3.1.b (pada Lampiran 2 dalam kodifikasi ini); dan ii. Pengungkapan Risiko Kredit Pihak Lawan (Counterparty Credit Risk) sebagaimana Tabel 3.2.a, Tabel 3.2.b.1, Tabel 3.2.b.2, Tabel 3.2.c.1, dan Tabel 3.2.c.2. (pada Lampiran 2 dalam kodifikasi ini) (3) Pengungkapan Mitigasi Risiko Kredit dengan menggunakan Pendekatan Standar, yang terdiri dari: (a) Pengungkapan kualitatif, yang mencakup: i. informasi mengenai kebijakan Bank untuk jenis agunan utama yang diterima; ii. kebijakan, prosedur, dan proses untuk menilai dan mengelola agunan; iii. pihak‐pihak utama pemberi jaminan/garansi dan kelayakan kredit (credit worthiness) dari pihak‐pihak tersebut; dan iv. informasi tingkat konsentrasi yang ditimbulkan dari penggunaan teknik mitigasi risiko kredit. (b) Pengungkapan kuantitatif sebagaimana dimaksud pada Tabel 4.1.a sampai dengan Tabel 4.2.b (pada Lampiran 2 dalam kodifikasi ini), yang mencakup: 11 Likuiditas Rupiah Paragraf Sumber Regulasi Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Ketentuan i. Pengungkapan Tagihan Bersih Berdasarkan Bobot Risiko setelah Memperhitungkan Dampak Mitigasi Risiko Kredit sebagaimana Tabel 4.1.a dan Tabel 4.1.b (pada Lampiran 2 dalam kodifikasi ini); dan ii. Pengungkapan Tagihan Bersih dan Teknik Mitigasi Risiko Kredit sebagaimana Tabel 4.2.a dan Tabel 4.2.b (pada Lampiran 2 dalam kodifikasi ini). (4) Pengungkapan Sekuritisasi Aset, yang terdiri dari: (a) Pengungkapan kualitatif, yang mencakup antara lain: i. pengungkapan umum manajemen risiko, yang mencakup hal‐hal seperti tujuan Bank melakukan aktivitas sekuritisasi aset, sejauh mana aktivitas sekuritisasi aset yang dilakukan dapat memindahkan risiko kredit dari Bank ke pihak lain atas transaksi yang menjadi underlying aktivitas sekuritisasi aset, fungsi yang dijalankan Bank dalam aktivitas sekuritisasi aset, dan penjelasan mengenai keterlibatan Bank dalam setiap fungsi; ii. ringkasan kebijakan akuntansi untuk aktivitas sekuritisasi aset, yang mencakup antara lain transaksi yang diperlakukan sebagai penjualan atau pendanaan, pengakuan keuntungan dari aktivitas sekuritisasi, dan asumsi yang digunakan untuk menilai ada tidaknya keterlibatan berkelanjutan dari aktivitas sekuritisasi, termasuk perubahan dari periode sebelumnya dan dampak dari perubahan dimaksud; dan iii. nama lembaga pemeringkat yang digunakan dalam aktivitas sekuritisasi aset dan eksposur sekuritisasi aset yang diperingkat oleh lembaga pemeringkat dimaksud. (b) Pengungkapan kuantitatif sebagaimana dimaksud pada Tabel 5.1.a sampai dengan Tabel 5.2.b (pada Lampiran 2 dalam kodifikasi ini), yang mencakup: i. Pengungkapan Transaksi Sekuritisasi sebagaimana Tabel 5.1.a dan Tabel 5.1.b (pada Lampiran 2 dalam kodifikasi ini); dan 12 Likuiditas Rupiah Paragraf Sumber Regulasi Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Ketentuan ii. Ringkasan Aktivitas Transaksi Sekuritisasi dimana Bank Bertindak sebagai Kreditur Asal sebagaimana Tabel 5.2.a dan Tabel 5.2.b (pada Lampiran 2 dalam kodifikasi ini). (5) Pengungkapan kuantitatif Perhitungan ATMR Risiko Kredit Pendekatan Standar sebagaimana dimaksud pada Tabel 6.1.1 sampai dengan Tabel 6.2.7 (pada Lampiran 2 dalam kodifikasi ini). b) Risiko Pasar, yang mencakup: (1) Perhitungan risiko pasar dengan menggunakan Metode Standar, yang antara lain terdiri atas: (a) Pengungkapan kualitatif, yang mencakup antara lain: i. Informasi mengenai penerapan manajemen risiko termasuk: i.1. Organisasi manajemen risiko pasar; i.2. Pengelolaan portofolio trading book dan banking book serta metodologi valuasi yang digunakan; dan i.3. Mekanisme pengukuran risiko pasar untuk keperluan pemantauan risiko secara periodik maupun untuk perhitungan kecukupan modal, baik pada banking book maupun trading book. ii. cakupan portofolio (trading dan banking book) yang diperhitungkan dalam Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM); dan iii. langkah‐langkah dan rencana dalam mengantisipasi risiko pasar atas transaksi mata uang asing baik karena perubahan kurs maupun fluktuasi suku bunga, termasuk penjelasan mengenai semua penyediaan dana dan ikatan tanpa proteksi atau lindung nilai, serta utang yang suku bunganya berfluktuasi atau yang tidak ditentukan terlebih dahulu. (b) Pengungkapan kuantitatif yang paling kurang mencakup pengungkapan risiko pasar menggunakan metode standar sebagaimana dimaksud pada Tabel 7.1 (pada Lampiran 2 dalam kodifikasi ini). (2) Perhitungan risiko pasar dengan menggunakan Model Internal, yang terdiri atas: (a) Pengungkapan kualitatif, yang mencakup antara lain: i. Informasi mengenai penerapan manajemen risiko, termasuk: 13 Likuiditas Rupiah Paragraf Sumber Regulasi Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Ketentuan i.1. organisasi manajemen risiko pasar; i.2. pengelolaan portofolio trading book serta metodologi valuasi yang digunakan; dan i.3. mekanisme pengukuran risiko pasar untuk keperluan pemantauan risiko secara periodik maupun untuk perhitungan kecukupan modal pada trading book. ii. portofolio yang tercakup dalam Model Internal dan kebijakan valuasi yang digunakan untuk menghitung posisi dalam trading book; iii. untuk setiap portofolio yang dicakup oleh Model Internal diungkapkan karakteristik model yang digunakan, deskripsi stress testing yang digunakan terhadap portofolio dan deskripsi pendekatan yang digunakan untuk backtesting/validasi terhadap akurasi dan konsistensi Model Internal dan proses pengembangan model; iv. portofolio yang menggunakan Model Internal yang telah disetujui oleh Bank Indonesia; dan v. jumlah frekuensi penyimpangan antara Value at Risk (VaR) dan kerugian aktual selama periode laporan. (b) Pengungkapan kuantitatif, yang paling kurang mencakup pengungkapan risiko pasar dengan menggunakan model internal (Value at Risk/ VaR) sebagaimana Tabel 7.2.a dan Tabel 7.2.b (pada Lampiran 2 dalam kodifikasi ini). c) Risiko Operasional, yang mencakup: (1) Pengungkapan kualitatif, yang antara lain mencakup informasi mengenai penerapan manajemen risiko untuk risiko operasional, termasuk: (a) organisasi manajemen risiko operasional; (b) mekanisme yang digunakan Bank untuk mengidentifikasi dan mengukur risiko operasional; dan (c) mekanisme untuk memitigasi risiko operasional. (2) Pengungkapan kuantitatif mengenai risiko operasional, sebagaimana dimaksud pada Tabel 8.1.a dan Tabel 8.1.b (pada Lampiran 2 dalam kodifikasi ini). 14 Likuiditas Rupiah Paragraf Sumber Regulasi Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Ketentuan d) Risiko Likuiditas, yang mencakup: (1) Pengungkapan kualitatif, yang antara lain mencakup informasi mengenai penerapan manajemen risiko untuk risiko likuiditas, termasuk: (a) organisasi manajemen risiko likuiditas; (b) indikator peringatan dini permasalahan likuiditas; dan (c) mekanisme pengukuran dan pengendalian risiko likuiditas. (2) Pengungkapan kuantitatif mengenai risiko likuiditas, yang paling kurang mencakup: (a) Pengungkapan Profil Maturitas Rupiah sebagaimana dimaksud pada Tabel 9.1.a dan Tabel 9.1.b (pada Lampiran 2 dalam kodifikasi ini); dan (b) Pengungkapan Profil Maturitas Valas sebagaimana dimaksud pada Tabel 9.2.a dan Tabel 9.2.b (pada Lampiran 2 dalam kodifikasi ini). e) Risiko Hukum, yang berisi pengungkapan kualitatif mengenai penerapan manajemen risiko untuk risiko hukum yang antara lain mencakup: (1) organisasi manajemen risiko hukum; dan (2) mekanisme pengendalian risiko hukum. f) Risiko Stratejik, yang mengungkapan informasi kualitatif mengenai penerapan manajemen risiko untuk risiko stratejik yang antara lain mencakup: (1) organisasi manajemen risiko stratejik; (2) kebijakan yang memungkinkan Bank untuk dapat mengidentifikasi dan merespon perubahan lingkungan bisnis, baik eksternal maupun internal; dan (3) mekanisme untuk mengukur kemajuan yang dicapai dari rencana bisnis yang ditetapkan. g) Risiko Kepatuhan, yang mengungkapkan informasi kualitatif mengenai penerapan manajemen risiko untuk risiko kepatuhan yang mencakup: (1) organisasi manajemen risiko kepatuhan; (2) strategi manajemen risiko dan efektivitas penerapan manajemen risiko untuk risiko kepatuhan, terutama dalam rangka memastikan penyusunan kebijakan dan prosedur telah sesuai dengan standar yang berlaku secara umum, ketentuan, dan/atau peraturan perundangundangan yang berlaku; dan (3) mekanisme pemantauan dan pengendalian risiko kepatuhan. 15 Likuiditas Rupiah Paragraf Sumber Regulasi Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Ketentuan h) Risiko Reputasi, yang mengungkapkan informasi kualitatif mengenai penerapan manajemen risiko reputasi yang antara lain mencakup: (1) organisasi manajemen risiko reputasi, termasuk pelaksanaan manajemen risiko untuk risiko reputasi oleh unit‐unit terkait (Corporate Secretary, Humas, dan unit bisnis terkait); (2) kebijakan dan mekanisme dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan kepada nasabah dan pemangku kepentingan lainnya (stakeholders) untuk mengendalikan risiko reputasi; dan (3) pengelolaan risiko reputasi pada saat krisis. 5. Aspek Transparansi sesuai Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan Laporan Keuangan Tahunan sebagaimana dimaksud dalam butir 2.a dan butir 2.b wajib dilengkapi dengan seluruh aspek pengungkapan (disclosure) sebagaimana dipersyaratkan untuk laporan keuangan publikasi triwulanan. Pengungkapan tersebut paling kurang mencakup: a. transaksi spot dan transaksi derivatif; b. jumlah dan kualitas aset produktif dan informasi lainnya, antara lain untuk: 1) penyediaan dana kepada pihak terkait; 2) penyediaan dana kepada debitur Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM); 3) kredit yang memerlukan perhatian khusus (antara lain kredit yang direstrukturisasi dan kredit properti); dan 4) jumlah cadangan penyisihan kerugian; c. rasio keuangan Bank, antara lain: 1) persentase pelanggaran dan pelampauan Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK); dan 2) rasio Posisi Devisa Neto (PDN); dan d. perhitungan Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM). 6. Aspek Pengungkapan yang terkait dengan Kelompok Usaha a. struktur kelompok usaha Bank, yang paling kurang terdiri atas: 1) struktur kelompok usaha Bank, yang disajikan mulai dari Bank, perusahaan anak, perusahaan afiliasi, perusahaan induk di bidang keuangan, dan/atau perusahaan induk sampai dengan pemegang saham pengendali terakhir (ultimate shareholder); 2) struktur keterkaitan kepengurusan dalam kelompok usaha Bank; dan 3) pemegang saham yang bertindak atas nama pemegang saham lain (shareholders acting in concert). Pengertian pemegang saham yang bertindak atas nama pemegang saham lain adalah pemegang saham perorangan atau perusahaan/badan hukum yang memiliki tujuan bersama 16 Likuiditas Rupiah Paragraf Sumber Regulasi SE 7/56/DPbs B.
2005 Romawi II Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Ketentuan yaitu mengendalikan Bank, berdasarkan atau tidak berdasarkan suatu perjanjian. b. transaksi antara Bank dengan pihak‐pihak berelasi dalam kelompok usaha Bank, dengan memperhatikan hal‐hal sebagai berikut: 1) informasi transaksi dengan pihak‐pihak berelasi disajikan baik yang dilakukan Bank maupun yang dilakukan oleh setiap perusahaan atau badan hukum di dalam kelompok usaha Bank yang bergerak di bidang keuangan; 2) pihak‐pihak yang berelasi adalah pihak‐pihak sebagaimana diatur dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) yang berlaku; 3) jenis transaksi dengan pihak‐pihak yang berelasi, antara lain meliputi: a) kepemilikan silang (cross shareholdings); b) transaksi dari suatu kelompok usaha yang bertindak untuk kepentingan kelompok usaha yang lain; c) pengelolaan likuiditas jangka pendek dalam kelompok usaha; d) penyediaan dana yang diberikan atau diterima oleh perusahaan lain dalam satu kelompok usaha; e) eksposur kepada pemegang saham mayoritas antara lain dalam bentuk pinjaman, komitmen dan kontinjensi; dan f) pembelian, penjualan dan/atau penyewaan aset dengan perusahaan lain dalam suatu kelompok usaha, termasuk yang dilakukan dengan repurchase agreement. c. pemberian penyediaan dana, komitmen maupun fasilitas lain yang dapat dipersamakan dengan itu dari setiap perusahaan atau badan hukum yang berada dalam satu kelompok usaha dengan Bank kepada debitur yang telah memperoleh penyediaan dana dari Bank. 7. Aspek Pengungkapan sesuai Standar Akuntansi Keuangan Aspek pengungkapan (disclosure) lain sebagaimana diwajibkan dalam Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku, dalam hal belum tercakup dalam angka 1 sampai dengan angka 6 di atas. 8. Informasi Lain Cakupan dalam informasi lain terdiri dari: a. aset Bank yang dijaminkan; b. transaksi‐transaksi penting lainnya dalam jumlah yang signifikan; dan c. informasi kejadian penting setelah tanggal laporan Akuntan Publik (subsequent event). Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah Laporan Tahunan Bank paling sedikit mencakup: 1. Informasi Umum Informasi Umum dalam Laporan Tahunan paling sedikit berisi: a. kepengurusan, meliputi susunan Dewan Komisaris, Direksi, 17 Likuiditas Rupiah Paragraf Sumber Regulasi b.
c.
d.
e.
Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Ketentuan Dewan Pengawas Syariah dan pejabat eksekutif beserta jabatan dan ringkasan riwayat hidupnya ; rincian Kepemilikan Saham, berupa nama pemilik dan besaran kepemilikan ; perkembangan usaha Bank dan kelompok usaha Bank, yang memuat data mengenai : 1) Ikhtisar data keuangan penting paling sedikit mencakup pendapatan penyaluran dana, laba rugi bersih, laba operasi, laba sebelum pajak, aktiva produktif, sumber dana dan komposisinya, pembiayaan dan komposisinya, modal sendiri, jumlah lembar saham yang ditempatkan dan disetor ; dan 2) Rasio keuangan yang wajib disajikan paling sedikit mencakup rasio keuangan sebagaimana diatur dalam ketentuan Bank Indonesia tentang Transparansi Kondisi Keuangan Bank khususnya Bab tentang Laporan Keuangan Publikasi Bank Umum sepanjang tidak bertentangan dengan prinsip syariah. sasaran, strategi dan kebijakan manajemen yang digunakan dalam pengembangan usaha Bank laporan manajemen yang menyajikan informasi mengenai pengelolaan Bank oleh pengurus atau manajemen dalam rangka good corporate governance, dan paling sedikit mencakup: 1) stuktur organisasi; 2) aktivitas utama; 3) teknologi informasi; 4) jenis produk dan jasa yang ditawarkan, termasuk penyaluran Kredit Usaha Kecil (KUK); 5) tanggung jawab sosial perusahaan; 6) realisasi bagi hasil/imbalan dan metode penghitungan distribusi bagi hasil; 7) perkembangan perekonomian dan target pasar; 8) jaringan kerja dan mitra usaha baik di dalam dan atau di luar negeri; 9) jumlah, jenis dan lokasi kantor; 10) kepemilikan Direksi, Komisaris dan pemegang saham dalam kelompok usaha Bank, dan perubahan dari tahun sebelumnya; 11) perubahan‐perubahan penting yang terjadi di Bank dan kelompok usaha Bank dalam tahun yang bersangkutan; 12) hal‐hal penting yang diperkirakan terjadi di masa mendatang; 13) sumber daya manusia, meliputi jumlah, struktur pendidikan, pelatihan dan pengembangan SDM; 14) pengungkapan remuneration policy yang mencakup fees and salaries dan fasilitas yang diterima lainnya termasuk bonus dan tantiem untuk direksi sampai dengan satu level di bawah direksi, komisaris, dan Dewan Pengawas Syariah; dan 18 Likuiditas Rupiah Paragraf Sumber Regulasi Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Ketentuan 15) pemeringkatan oleh perusahaan pemeringkat yang diakui, jika ada. f. UUS melalui kantor pusatnya harus menyajikan informasi kegiatan UUS yang mencakup paling sedikit: 1) sasaran, strategi dan kebijakan manajemen yang digunakan dalam pengembangan Unit Usaha Syariah ; 2) perkembangan usaha syariah, yaitu penyaluran dana beserta komposisinya, laba bersih, Return on Asset (ROA), Non Performing Financing (NPF), sumber dana beserta komposisinya, jumlah aset dan informasi lainnya yang relevan ; 3) jenis produk dan jasa yang ditawarkan ; 4) tanggung jawab sosial perusahaan ; dan 5) realisasi bagi hasil/imbalan dan metode penghitungan distribusi bagi hasil. 2. Laporan Keuangan Laporan Keuangan Tahunan ini paling sedikit mencakup hal‐hal sebagai berikut; a. Laporan Keuangan, yang terdiri dari: 1) Neraca; 2) Laporan Laba Rugi; 3) Laporan Arus Kas; 4) Laporan Perubahan Ekuitas; 5) Laporan Perubahan Dana Investasi Terikat; 6) Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Zakat, Infaq, dan Shadaqah (ZIS); 7) Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Qardh; dan 8) Catatan atas Laporan Keuangan, termasuk informasi mengenai Komitmen dan kontinjensi serta hak minoritas. b. Laporan Keuangan Konsolidasi yang telah diaudit yang merupakan konsolidasi Laporan Keuangan Bank dan Perusahaan Anak, yang terdiri dari: 1) Neraca ; 2) Laporan Laba Rugi ; 3) Laporan Perubahan Ekuitas ; 4) Laporan Arus Kas ; 5) Catatan atas Laporan Keuangan, termasuk informasi mengenai komitmen dan kontinjensi serta hak minoritas. Laporan keuangan konsolidasi ini disertai dengan opini dari Akuntan Publik. c. Laporan Keuangan Perusahaan Induk di bidang keuangan yang telah diaudit oleh Akuntan Publik, yang terdiri dari: 1) Laporan Keuangan Perusahaan Induk di bidang keuangan merupakan hasil konsolidasi dari seluruh perusahaan di dalam kelompok bidang keuangan sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku, dan meliputi: a) Neraca ; b) Laporan Laba Rugi ; c) Laporan Perubahan Ekuitas ; dan d) Daftar Komitmen dan Kontinjensi; 19 Likuiditas Rupiah Paragraf Sumber Regulasi Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Ketentuan 2) Dalam hal kelompok usaha tidak memiliki Perusahaan Induk di bidang keuangan maka laporan keuangan yang disampaikan adalah Laporan Keuangan Perusahaan Induk. d. Laporan Keuangan Perusahaan Induk yang telah diaudit oleh Akuntan Publik, yang merupakan hasil konsolidasi dari seluruh perusahaan di dalam kelompok usaha sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku, yang terdiri dari: 1) Neraca ; 2) Laporan Laba Rugi ; 3) Laporan Perubahan Ekuitas ; dan 4) Daftar Komitmen dan Kontinjensi. 3. Opini dari Akuntan Publik Opini dari Akuntan Publik antara lain memuat pendapat Akuntan Publik atas laporan keuangan konsolidasi sebagaimana dimaksud dalam angka 2. huruf b. 4. Aspek Transparansi yang Terkait dengan Kelompok Usaha Sesuai dengan Pasal 25 Peraturan Bank Indonesia No. 3/22/PBI/2001 tentang Transparansi Kondisi Keuangan Bank (PBI), dinyatakan bahwa Laporan Tahunan yang disampaikan oleh Bank wajib memuat pula informasi yang terkait dengan kegiatan di dalam kelompok usaha, yang terdiri dari : a. Struktur kelompok usaha Bank, yang disajikan sampai dengan pemilik terakhir (ultimate shareholder), serta struktur keterkaitan kepengurusan dan pemegang saham yang bertindak atas nama pemegang saham lain (shareholders acting in concert). Pengertian pemegang saham yang bertindak atas nama pemegang saham lain adalah pemegang saham perorangan atau perusahaan/badan hukum yang memiliki tujuan bersama yaitu mengendalikan Bank, berdasarkan atau tidak berdasarkan suatu perjanjian. b. Transaksi dengan pihak‐pihak yang mempunyai hubungan istimewa (related party transaction), dengan memperhatikan hal ‐ hal sebagai berikut : 1) informasi transaksi dengan pihak‐pihak yang mempunyai hubungan istimewa disajikan baik yang dilakukan Bank maupun yang dilakukan oleh setiap perusahaan atau badan hukum di dalam kelompok usaha Bank yang bergerak di bidang keuangan ; 2) pihak‐pihak yang mempunyai hubungan istimewa adalah pihak‐pihak sebagaimana diatur dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) yang berlaku ; 3) jenis transaksi dengan pihak‐pihak yang mempunyai hubungan istimewa, antara lain meliputi; a) kepemilikan silang (cross shareholders) ; b) transaksi dari suatu kelompok usaha yang bertindak untuk kepentingan kelompok usaha yang lain; c) pengelolaan likuiditas jangka pendek yang dipusatkan dalam kelompok usaha; 20 Likuiditas Rupiah Paragraf Sumber Regulasi Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Ketentuan d) penyediaan dana yang diberikan atau diterima oleh perusahaan lain dalam satu kelompok usaha ; e) eksposur kepada pemegang saham mayoritas antara lain dalam bentuk pinjaman, komitmen dan garansi ; f) pembelian atau penjualan aset dengan perusahaan lain dalam suatu kelompok usaha, termasuk yang dilakukan dengan repurchase agreement. c. Pemberian penyediaan dana, komitmen maupun fasilitas lain yang dapat dipersamakan dengan itu dari setiap perusahaan atau badan hukum yang berada dalam satu kelompok usaha dengan Bank kepada debitur yang telah memperoleh penyediaan dana dari Bank. 5. Aspek Transparansi sesuai PSAK yang berlaku,dan Pedoman Akuntansi Perbankan Syariah Indonesia Laporan Keuangan Tahunan sebagaimana dimaksud dalam angka 2 huruf a dan angka 2 huruf b wajib memenuhi seluruh aspek pengungkapan (disclosure) sebagaimana ditetapkan dalam Pernyataan Standar Akuntasi Keuangan untuk perbankan syariah dan PAPSI yang berlaku. Pengungkapan tersebut paling sedikit terdiri dari: a) Laporan Keuangan yang meliputi neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan ekuitas, laporan arus kas, laporan perubahan dana investasi terikat jika ada, laporan sumber dan penggunaan dana zakat, infaq dan shadaqah (ZIS) , serta laporan sumber dan penggunaan dana qardh ; b) Komitmen dan Kontinjensi ; c) Jumlah aktiva produktif yang diberikan kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa ; d) Jumlah aktiva produktif yang telah direstrukturisasi dan informasi lain tentang aktiva produktif yang direstrukturisasi selama periode berjalan ; e) Klasifikasi aktiva produktif menurut jangka waktu, dan kualitas aktiva produktif ; f) Persentase pelanggaran dan pelampauan Batas Maksimum Pemberian Kredit ; g) Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif (PPAP) yang telah dibentuk dibandingkan dengan Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif (PPAP) yang wajib dibentuk ; h) Perhitungan Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM); i) Rasio Posisi Devisa Neto ; j) Aktiva Bank yang dijaminkan; k) Beberapa rasio keuangan Bank; dan l) Kredit Usaha Kecil (KUK). 6. Ekposur dan Manajemen Risiko Informasi mengenai eksposur dan manajemen risiko paling sedikit mencakup informasi mengenai identifikasi risiko (risk identification) dan pengukuran terhadap risk exposure yang dihadapi bank (risk measurement) serta praktek manajemen 21 Likuiditas Rupiah Paragraf Sumber Regulasi 4 Pasal 4 14/14/PBI/2012 SE 14/35/DPNP 2013 Romawi IV Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Ketentuan risiko lainnya yaitu pemantauan (risk monitoring) dan pengendalian risiko (risk controlling). 7. Informasi Lain Cakupan dalam informasi lain terdiri dari: a. Langkah‐langkah dan rencana dalam mengantisipasi risiko pasar atas transaksi mata uang asing karena perubahan kurs. b. Transaksi‐transaksi penting lainnya dalam jumlah yang signifikan. c. Informasi kejadian penting setelah tanggal laporan Akuntan Publik (subsequent event). d. Karakteristik kegiatan usaha Bank dan jasa utama yang disediakan. e. Peranan, tugas dan kewenangan Dewan Pengawas Syariah dalam melakukan pengawasan syariah atas operasional Bank berdasarkan fatwa dan ketentuan hukum lainnya. (1) Laporan Tahunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 (Paragraf 3 dalam kodifikasi ini), selain disampaikan kepada pemegang saham, wajib disampaikan paling kurang kepada: a. Bank Indonesia; b. Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI); c. Lembaga Pemeringkat di Indonesia; d. Asosiasi perbankan di Indonesia; e. Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI); f. 2 (dua) Lembaga Penelitian di bidang ekonomi dan keuangan; g. 2 (dua) Majalah ekonomi dan keuangan, paling lama 5 (lima) bulan setelah Tahun Buku berakhir. (2) Penyampaian laporan kepada Bank Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a disampaikan dengan disertai surat pengantar penyampaian Laporan Tahunan yang memuat informasi mengenai penyampaian Laporan Tahunan kepada pihak‐pihak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b sampai dengan huruf g. A. Bank Umum Konvensional Batas Waktu Penyampaian Laporan Tahunan Dan Laporan Tahunan Tertentu 1. Laporan Tahunan wajib disampaikan paling lama 5 (lima) bulan setelah Tahun Buku berakhir. 2. Bank dinyatakan terlambat menyampaikan Laporan Tahunan, apabila Bank menyampaikan Laporan Tahunan kepada Bank Indonesia setelah batas akhir waktu penyampaian laporan sebagaimana dimaksud pada angka 1 sampai dengan paling lama 1 (satu) bulan sejak batas akhir waktu penyampaian laporan. 3. Bank dinyatakan tidak menyampaikan Laporan Tahunan apabila: a. Bank belum menyampaikan Laporan Tahunan; dan/atau b. Bank belum menyampaikan Laporan Keuangan Tahunan yang diaudit oleh Akuntan Publik yang terdaftar di Bank Indonesia sampai dengan berakhirnya batas waktu keterlambatan sebagaimana dimaksud pada angka 2. 22 Likuiditas Rupiah Paragraf Sumber Regulasi Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Ketentuan Contoh: Untuk Laporan Tahunan yang berakhir pada bulan Desember 2012: a. batas akhir waktu penyampaian : 31 Mei 2013 b. terlambat menyampaikan : 1 Juni s.d. 30 Juni 2013 c. tidak menyampaikan : 1 Juli 2013 seterusnya. dan 4. Bank yang dinyatakan tidak menyampaikan Laporan Tahunan sebagaimana dimaksud pada angka 3 tetap wajib menyampaikan Laporan Tahunan. 5. Batas waktu penyampaian laporan tahunan tertentu mengacu pada ketentuan angka 1 sampai dengan angka 4. SE 14/35/DPNP 2013 Romawi V SE 7/56/DPbS 2005 Romawi IV Alamat Penyampaian Laporan Laporan Tahunan Bank dan laporan tahunan tertentu disampaikan kepada Bank Indonesia dengan alamat: a. Departemen Pengawasan Bank, Jl. M.H. Thamrin No. 2, Jakarta 10350, bagi Bank yang berkantor pusat atau Kantor Cabang Bank Asing yang berada di wilayah kerja kantor pusat Bank Indonesia; atau b. Kantor Perwakilan Bank Indonesia setempat, bagi Bank yang berkantor pusat di luar wilayah kerja kantor pusat Bank Indonesia.
B. Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah Batas Waktu Dan Alamat Penyampaian Laporan Tahunan Bank Syariah 1. Laporan Tahunan dan Laporan Keuangan Tahunan Bank sebagaimana dimaksud dalam Angka II (Paragraf 3 Huruf B dalam kodifikasi ini) wajib disampaikan selambat‐lambatnya 5 (lima) bulan setelah Tahun Buku berakhir. 2. Bank dianggap terlambat menyampaikan laporan, apabila Bank menyampaikan Laporan Tahunan melampaui batas akhir waktu penyampaian laporan, tetapi belum melampaui 1 (satu) bulan sejak batas akhir waktu penyampaian laporan. Selanjutnya Bank dianggap tidak menyampaikan laporan apabila lebih dari 1 (satu) bulan sejak batas akhir waktu penyampaian, Bank tidak menyampaikan Laporan Tahunan atau Laporan Keuangan Tahunan tidak diaudit oleh Akuntan Publik yang terdaftar di Bank Indonesia. Contoh : Untuk Laporan Tahunan yang berakhir pada bulan Desember 2005 : a. batas akhir waktu penyampaian : 31 Mei 2006 b. terlambat menyampaikan : 1 Juni s.d. 30 Juni 2006 c. tidak menyampaikan : 1 Juli 2006 dan seterusnya, atau Laporan Keuangan Tahunan tidak 23 Likuiditas Rupiah Paragraf Sumber Regulasi Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Ketentuan diaudit oleh Akuntan Publik yang Terdaftar di Bank Indonesia. 3. Laporan Tahunan dan Laporan Tahunan Tertentu Bank disampaikan kepada Bank Indonesia dengan alamat : a. Direktorat Perbankan Syariah, Jl.M.H.Thamrin No.2 Jakarta 10110, bagi Bank yang berkantor pusat atau Kantor Cabang Bank Asing yang berada diwilayah kerja kantor pusat Bank Indonesia; atau b. Kantor Bank Indonesia setempat, bagi Bank yang berkantor pusat di luar wilayah kerja kantor pusat Bank Indonesia. (1) Bank dinyatakan terlambat menyampaikan Laporan Tahunan apabila Bank menyampaikan Laporan Tahunan kepada Bank Indonesia setelah batas akhir waktu penyampaian laporan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 (Paragraf 4 dalam kodifikasi ini) sampai dengan paling lama 1 (satu) bulan sejak batas akhir waktu penyampaian laporan. (2) Bank dinyatakan tidak menyampaikan Laporan Tahunan apabila: a. Bank belum menyampaikan Laporan Tahunan; dan/atau b. Bank belum menyampaikan Laporan Keuangan Tahunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) huruf b (Paragraf 3 ayat (1) huruf b dalam kodifikasi) yang diaudit oleh Akuntan Publik yang terdaftar di Bank Indonesia, sampai dengan berakhirnya batas waktu keterlambatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (3) Bank yang dinyatakan tidak menyampaikan Laporan Tahunan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tetap wajib menyampaikan Laporan Tahunan. (1) Bank wajib mengumumkan Laporan Tahunan dalam website Bank. Yang dimaksud dengan website Bank adalah website berdomain Indonesia yang bukan merupakan bagian dari website perusahaan induk atau kelompok usaha Bank. (2) Pengumuman Laporan Tahunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling lama dilakukan 1 (satu) hari kerja setelah batas waktu penyampaian Laporan Tahunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 (Paragraf 4 dalam kodifikasi ini). (3) Pengumuman sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib dipelihara dalam website Bank paling kurang untuk 2 (dua) periode laporan berturut‐turut. 5 Pasal 5 14/14/PBI/2012 6 Pasal 6 14/14/PBI/2012 BAB III Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan 7 Pasal 7 14/14/PBI/2012 (1) Bank wajib menyusun Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan dalam mata uang rupiah, yang paling kurang mencakup: a. Laporan keuangan, yang terdiri atas: 1. Laporan Posisi Keuangan (Neraca); dan 2. Laporan Laba Rugi Komprehensif; 24 Likuiditas Rupiah Paragraf Sumber Regulasi SE 3/30/DPNP 2001 Romawi II.1.a – II.1.c Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Ketentuan b. komitmen dan kontinjensi; c. transaksi spot dan transaksi derivatif; d. jumlah dan kualitas aset produktif dan informasi lainnya, antara lain untuk: 1. penyediaan dana kepada pihak terkait; 2. penyediaan dana kepada debitur Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM); 3. kredit yang memerlukan perhatian khusus (antara lain kredit yang direstrukturisasi dan kredit properti); dan 4. jumlah cadangan penyisihan kerugian; e. rasio keuangan Bank, antara lain: 1. persentase pelanggaran dan pelampauan Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK); dan 2. rasio Posisi Devisa Neto (PDN). f. perhitungan Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM); dan g. informasi mengenai komposisi pemegang saham dan susunan pengurus. (2) Bagi Bank Umum Syariah (BUS) dan Bank Umum Konvensional yang memiliki UUS, dalam Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a wajib pula memuat: a. laporan Sumber dan Penggunaan Dana Zakat, Infaq dan Shadaqah (ZIS); b. laporan Sumber dan Penggunaan Dana Qardh; dan c. Laporan Perubahan Dana Investasi Terikat, untuk pelaporan publikasi posisi bulan Juni danDesember. (3) Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) wajib disajikan paling kurang dalam bentuk perbandingan dengan Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan tahun sebelumnya. (4) Ketentuan mengenai penetapan periode pembanding untuk Laporan Publikasi Triwulanan diatur dengan Surat Edaran Bank Indonesia. A. Bank Umum Kovensional Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan Posisi Akhir Maret dan September 1. Pedoman Umum a. Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan yang disajikan terdiri dari laporan keuangan Bank secara individu dan laporan keuangan Bank secara konsolidasi dengan anak perusahaan. b. Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan wajib disusun dalam bahasa Indonesia dan angka‐angka yang disajikan dalam jutaan Rupiah. c. Format Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan merupakan standar minimal yang wajib dipenuhi. Apabila terdapat pos yang jumlahnya material dan tidak terdapat dalam format tersebut, Bank dapat menyajikan pos tersebut secara tersendiri, namun apabila pos dimaksud jumlahnya tidak material dapat digabungkan dengan pos lain yang sejenis. 25 Likuiditas Rupiah Paragraf Sumber Regulasi SE 12/11/DPNP 2010 Romawi II.1.d SE 3/30/DPNP 2001 Romawi II.1.e – II.1.g SE 13/30/DPNP 2011 Romawi II.2 Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Ketentuan d. Pos‐pos yang memiliki saldo nihil dalam format Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan yang diumumkan di surat kabar tetap harus dicantumkan dengan member garis pendek (‐) pada pos yang bersangkutan, kecuali ditetapkan secara khusus dalam Lampiran. e. Penyajian Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan 1) Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan wajib disajikan sekurang‐kurangnya dalam bentuk perbandingan dengan laporan pada periode yang sama tahun sebelumnya; 2) Posisi pembanding hendaknya disajikan sesuai format yang sama dengan posisi Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan yang diumumkan; 3) Khusus untuk perlakuan akuntansi yang baru berlaku dalam posisi laporan maka penyajian posisi pembanding hendaknya mengacu kepada PSAK Nomor 25 tentang Laba atau Rugi Bersih untuk Periode Berjalan, Kesalahan Mendasar dan Perubahan Kebijakan Akuntansi; f. Bagi bank yang tidak memiliki anak perusahaan, kolom konsolidasi dapat ditiadakan. g. Untuk pengisian pemilik Bank dalam format Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan, nama pemegang saham yang wajib dicantumkan adalah perorangan atau perusahaan yang memiliki saham sebesar 5% (lima perseratus) atau lebih dari modal Bank, baik melalui atau tidak melalui Pasar Modal. 2. Cakupan a. Laporan yang wajib disajikan dalam Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan paling kurang terdiri atas: 1) Posisi Keuangan/ Neraca; 2) Laba Rugi Komprehensif; 3) Komitmen dan Kontinjensi; 4) Transaksi Spot dan Derivatif; 5) Kualitas Aset Produktif dan Informasi lainnya; 6) Perhitungan Kewajiban Penyediaan Modal Minimum, dan 7) Rasio Keuangan. Format laporan sebagaimana butir II.2.a.1) sampai dengan butir II.2.a.7) (butir A.2.a.1) sampai dengan butir A.2.a.7) dalam kodifikasi ini) masing‐masing menggunakan format sebagaimana dimaksud pada Lampiran 1, Lampiran 2, Lampiran 3, Lampiran 4, Lampiran 5, Lampiran 6, dan Lampiran 7 (Lampiran 3, Lampiran 4, Lampiran 5, Lampiran 6, Lampiran 7, Lampiran 8, Lampiran 9 dalam kodifikasi ini). b. Dalam penyusunan Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, Bank wajib berpedoman pada: 1) Pedoman Penyusunan Laporan Posisi Keuangan/ Neraca; 2) Pedoman Penyusunan Laporan Laba Rugi Komprehensif; 3) Pedoman Penyusunan Laporan Komitmen dan Kontinjensi; 4) Pedoman Penyusunan Laporan Transaksi Spot dan Derivatif; 5) Pedoman Penyusunan Laporan Kualitas Aset Produktif dan Informasi lainnya; 26 Likuiditas Rupiah Paragraf Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Sumber Regulasi Ketentuan 6) Pedoman Perhitungan Modal; dan 7) Pedoman Perhitungan Rasio Keuangan. Pedoman penyusunan laporan sebagaimana butir II.2.b.1) sampai dengan butir II.2.b.7) (butir A.2.b.1) sampai dengan butir A.2.b.7) dalam kodifikasi ini) masing‐masing adalah sebagaimana pada Lampiran 8, Lampiran 9, Lampiran 10, Lampiran 11, Lampiran 12, Lampiran 13, dan Lampiran 14 (Lampiran 10, Lampiran 11, Lampiran 13, Lampiran 15, Lampiran 16 dalam kodifikasi ini). SE 7/56/DPbS B. Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah 2005 Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan Posisi Akhir Bulan Maret Dan Romawi V September 1. Pedoman Umum a. Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan yang disajikan terdiri dari laporan keuangan Bank secara individu dan laporan keuangan Bank secara konsolidasi dengan anak perusahaan. b. Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan wajib disusun dalam bahasa Indonesia dan angka‐angka yang disajikan dalam jutaan Rupiah. c. Format Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan merupakan standar minimal yang wajib dipenuhi. Apabila terdapat pos yang jumlahnya material dan tidak terdapat dalam format tersebut, Bank dapat menyajikan pos tersebut secara tersendiri, namun apabila pos dimaksud jumlahnya tidak material dapat digabungkan dengan pos lain yang sejenis. d. Pos‐pos yang memiliki saldo nihil dalam format Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan yang diumumkan di surat kabar tetap harus dicantumkan dengan memberi garis pendek (‐) pada pos yang bersangkutan. e. Penyajian Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan 1) Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan wajib disajikan paling sedikit dalam bentuk perbandingan dengan laporan pada periode yang sama tahun sebelumnya. 2) Posisi pembanding hendaknya disajikan sesuai format yang sama dengan posisi Laporan Keuangan Publikasi Triwulan yang diumumkan. 3) Khusus untuk perlakuan akuntansi yang baru berlaku dalam posisi Laporan, maka penyajian posisi pembanding hendaknya 4) mengacu kepada PSAK Nomor 25 tentang Laba atau Rugi Bersih untuk Periode Berjalan, Kesalahan Mendasar dan Perubahan Kebijakan Akuntansi. f. Bagi Bank yang tidak memiliki anak perusahaan, kolom konsolidasi dapat ditiadakan. g. Untuk pengisian pemilik Bank dalam format Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan, nama pemegang saham yang wajib dicantumkan adalah perorangan atau perusahaan yang memiliki saham sebesar 5% (lima perseratus) atau lebih dari modal Bank, baik melalui atau tidak melalui Pasar Modal. 27 Likuiditas Rupiah Paragraf Sumber Regulasi Ketentuan 8 Pasal 8 14/14/PBI/2012 Ayat (1) Transparansi dan Publikasi Laporan Bank 2. Cakupan a. Laporan yang wajib disajikan dalam Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan paling sedikit terdiri dari : 1) Lampiran 1 : Neraca (Lampiran 17 dalam kodifikasi ini) 2) Lampiran 2 : Laporan Laba Rugi dan Saldo Laba (Lampiran 18 dalam kodifikasi ini) 3) Lampiran 3 : Komitmen dan Kontinjensi (Lampiran 19 dalam kodifikasi ini) 4) Lampiran 4 : Kualitas Aktiva Produktif dan Informasi Lainnya (Lampiran 20 dalam kodifikasi ini) 5) Lampiran 5 : Perhitungan Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (Lampiran 21 dalam kodifikasi ini) 6) Lampiran 6 : Rasio Keuangan (Lampiran 22 dalam kodifikasi ini) 7) Lampiran 15 : Tabel Distribusi Bagi hasil (Lampiran 33 dalam kodifikasi ini) b. Dalam penyusunan Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, untuk kolom laporan keuangan Bank secara individu, Bank wajib berpedoman pada pedoman penyusunan sebagai berikut : 1) Lampiran 4b : Pedoman Penyusunan KAP berdasarkan LBUS (Lampiran 20b dalam kodifikasi ini) 2) Lampiran 4c : Pedoman Penyusunan Laporan Kualitas Aktiva Produktif dan Informasi lainnya (Lampiran 20c dalam kodifikasi ini) 3) Lampiran 7 : Pedoman Penyusunan Neraca (Lampiran 23 dalam kodifikasi ini) 4) Lampiran 8 : Pedoman Penyusunan Laporan Laba Rugi dan Perubahan Saldo Laba (Lampiran 24 dalam kodifikasi ini) 5) Lampiran 9 : Pedoman Penyusunan Komitmen dan Kontinjensi (Lampiran 25 dalam kodifikasi ini) 6) Lampiran 10 : Pedoman Perhitungan Rasio Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (Lampiran 26 dalam kodifikasi ini) 7) Lampiran 10a : Pedoman Perhitungan Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (Lampiran 27 dalam kodifikasi ini) 8) Lampiran 10b : Pedoman Perhitungan Modal (Lampiran 28 dalam kodifikasi ini) 9) Lampiran 11 : Pedoman Perhitungan Rasio Keuangan (Lampiran 29 dalam kodifikasi ini) (1) Bank wajib mengumumkan Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 (Paragraf 7 dalam kodifikasi ini) paling kurang 4 (empat) kali dalam 1 (satu) tahun yaitu laporan posisi akhir bulan Maret, bulan Juni, bulan September, dan bulan Desember. 28 Likuiditas Rupiah Paragraf Sumber Regulasi SE 3/30/DPNP 2001 Romawi III, IV Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Ketentuan Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan posisi akhir bulan Maret, bulan Juni, dan bulan September menyajikan laporan keuangan interim sedangkan Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan posisi akhir bulan Desember menyajikan laporan keuangan akhir tahun. A. Bank Umum Konvensional 1. Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan Posisi Juni Format dan cakupan Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan untuk posisi Juni adalah sama dengan format dan cakupan Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan untuk posisi Maret dan September (Paragraf 7 ayat (4) huruf A dalam kodifikasi ini) dengan beberapa tambahan yang ditetapkan sebagai berikut: 1. Bagi Bank yang merupakan bagian dari suatu kelompok usaha, selain menyajikan laporan keuangan Bank secara individu dan laporan keuangan Bank secara konsolidasi dengan anak perusahaan, Bank wajib menyajikan Neraca, Laporan Laba Rugi, Laporan Perubahan Ekuitas, dan Daftar Komitmen dan Kontinjensi perusahaan induk di bidang keuangan yang merupakan hasil konsolidasi dari seluruh perusahaan di dalam kelompok bidang keuangan sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku. Dalam hal kelompok usaha tidak memiliki perusahaan induk di bidang keuangan, Bank wajib menyajikan Neraca, Laporan Laba Rugi, Laporan Perubahan Ekuitas, dan Daftar Komitmen dan Kontinjensi perusahaan induk yang merupakan hasil konsolidasi dari seluruh perusahaan di dalam kelompok usaha sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku. 2. Neraca dan Laporan Laba Rugi perusahaan induk di bidang keuangan atau perusahaan induk wajib disajikan dalam bentuk perbandingan dengan posisi yang sama pada tahun sebelumnya. 2. Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan Posisi Akhir Desember Format dan cakupan Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan untuk posisi Desember adalah sama dengan format dan cakupan Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan untuk posisi Maret, Juni dan September (Paragraf 7 ayat (4) huruf A dalam kodifikasi ini) dengan beberapa tambahan sebagai berikut: 1. Bagi Bank yang merupakan bagian dari suatu kelompok usaha, selain menyajikan laporan keuangan Bank secara individu dan laporan keuangan Bank secara konsolidasi dengan anak perusahaan, Bank wajib menyajikan Neraca, Laporan Laba Rugi, Laporan Perubahan Ekuitas, dan Daftar Komitmen dan Kontinjensi perusahaan induk di bidang keuangan yang merupakan hasil konsolidasi dari seluruh perusahaan di dalam kelompok bidang keuangan sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku. Dalam hal kelompok usaha tidak memiliki perusahaan induk di bidang keuangan, Bank wajib menyajikan Neraca, Laporan Laba Rugi, Laporan Perubahan Ekuitas, dan Daftar Komitmen 29 Likuiditas Rupiah Paragraf Sumber Regulasi SE 7/56/DPbs 2005 Romawi VI Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Ketentuan dan Kontinjensi perusahaan induk yang merupakan hasil konsolidasi dari seluruh perusahaan di dalam kelompok usaha sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku. 2. Laporan keuangan sebagaimana dimaksud dalam angka 1 wajib diaudit oleh Akuntan Publik. Dalam penyajian Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan wajib dicantumkan nama Akuntan Publik yang bertanggung jawab (partner in charge), nama Kantor Akuntan Publik dan opini yang diberikan. 3. Format Neraca dan Laporan Laba Rugi perusahaan induk di bidang keuangan atau perusahaan induk disesuaikan dengan Neraca dan Laporan Laba Rugi yang disajikan dalam laporan audit (audit report). 4. Neraca dan Laporan Laba Rugi perusahaan induk di bidang keuangan atau perusahaan induk wajib disajikan dalam bentuk perbandingan dengan posisi yang sama pada tahun sebelumnya. B. Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan Posisi Juni dan Posisi Akhir Desember Format dan cakupan Laporan Keuangan Publikasi untuk posisi Juni dan posisi akhir Desember adalah sama dengan format dan cakupan Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan untuk posisi Maret dan September (Paragraf 7 ayat (4) huruf B dalam kodifikasi ini) dengan beberapa tambahan laporan dan informasi yang ditetapkan sebagai berikut : 1. Laporan Sumber dan Penggunaan Dana ZIS sebagaimana tercantum dalam Lampiran 12 (Lampiran 30 dalam kodifikasi ini), Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Qardh sebagaimana tercantum dalam Lampiran 13 (Lampiran 31 dalam kodifikasi ini), dan Laporan Perubahan Dana Investasi Terikat jika ada sebagaimana tercantum dalam Lampiran 14 (Lampiran 32 dalam kodifikasi ini). 2. Bagi Bank yang merupakan bagian dari suatu kelompok usaha, selain menyajikan laporan keuangan Bank secara individu dan laporan keuangan Bank secara konsolidasi dengan anak perusahaan, Bank wajib menyajikan neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan ekuitas, serta daftar komitmen dan kontinjensi perusahaan induk di bidang keuangan yang merupakan hasil konsolidasi dari seluruh perusahaan didalam kelompok bidang keuangan sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku. Dalam hal kelompok usaha tidak memiliki perusahaan induk di bidang keuangan, Bank wajib menyajikan neraca, laporan laba rugi, dan daftar komitmen dan kontinjensi perusahaan yang merupakan hasil konsolidasi dari seluruh perusahaan di dalam kelompok usaha sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku. 3. Neraca dan Laporan laba rugi perusahaan induk di bidang keuangan atau perusahaan induk wajib disajikan dalam bentuk 30 Likuiditas Rupiah Paragraf 9 10 Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Sumber Regulasi Ketentuan perbandingan dengan posisi yang sama pada tahun sebelumnya. 4. Khusus untuk posisi akhir Desember, a. Laporan keuangan sebagaimana dimaksud dalam angka 2 wajib diaudit oleh Akuntan Publik, dan wajib mencantumkan nama Akuntan Publik yang bertanggung jawab (partner in charge), serta nama Kantor Akuntan Publik dan opini yang diberikan. b. Format Neraca dan Laporan Laba Rugi perusahaan induk di bidang keuangan atau perusahaan induk disesuaikan dengan Neraca dan Laporan Laba Rugi yang disajikan dalam laporan audit (audit report). Pasal 8 (2) Dalam hal diperlukan, selain mengumumkan laporan sebagaimana 14/14/PBI/2012 dimaksud pada ayat (1), Bank Indonesia dapat meminta Bank untuk Ayat (2) mengumumkan: a. laporan keuangan publikasi selain periode sebagaimana dimaksud pada ayat (1); dan/atau b. informasi lain yang akan ditentukan oleh Bank Indonesia. Pertimbangan Bank Indonesia untuk meminta Bank mengumumkan laporan keuangan publikasi selain periode sebagaimana dimaksud pada ayat (1) atau informasi lain yang ditentukan Bank Indonesia antara lain pertimbangan transparansi publik dalam rangka tindakan penyehatan Bank, transparansi mengenai produk/jasa tertentu yang diterbitkan/dilaksanakan oleh Bank, serta proses merger, konsolidasi, dan akuisisi Bank. Pasal 9 (1) Pengumuman Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan sebagaimana 14/14/PBI/2012 dimaksud dalam Pasal 8 (Paragraf 8 dalam kodifikasi ini) wajib ditandatangani oleh paling kurang 2 (dua) orang anggota Direksi Bank. Penandatanganan oleh Direksi Bank dilakukan dengan mencantumkan namanya secara jelas. (2) Pengumuman Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan untuk posisi akhir bulan Desember sebagaimana dimaksud dalam Paragraf 8 ayat (1) wajib mencantumkan nama Kantor Akuntan Publik yang melakukan audit Laporan Keuangan Tahunan berikut nama Akuntan Publik yang bertanggung jawab dalam audit (partner in charge) serta opini yang diberikan. (1) Pengumuman Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan sebagaimana Pasal 10 dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) (Paragraf 7 ayat (1) dalam kodifikasi 14/14/PBI/2012 ini) wajib dilakukan paling kurang dalam 1 (satu) surat kabar harian berbahasa Indonesia yang mempunyai peredaran luas di tempat kedudukan kantor pusat Bank atau di tempat kedudukan Kantor Cabang Bank Asing. 31 Likuiditas Rupiah Paragraf 11 Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Sumber Regulasi Ketentuan Pengumuman pada surat kabar harian yang mempunyai peredaran luas dimaksudkan agar informasi dalam laporan keuangan dapat diketahui oleh masyarakat luas. (2) Pengumuman Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan paling lambat pada: a tanggal 15 bulan kedua setelah berakhirnya bulan laporan untuk laporan posisi akhir bulan Maret, bulan Juni, dan bulan September; b tanggal 15 April tahun berikutnya untuk laporan posisi akhir bulan Desember. (1) Bank wajib menyampaikan kepada Bank Indonesia: Pasal 11 a. bukti pengumuman berupa fotokopi atau guntingan surat kabar 14/14/PBI/2012 yang memuat pengumuman Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (1) (Paragraf 10 ayat (1) dalam kodifikasi ini) paling lambat 5 (lima) hari kerja setelah pengumuman di surat kabar; dan b. Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan secara on‐line melalui Laporan Kantor Pusat Bank Indonesia (LKPBU) sesuai tata cara, format, dan jangka waktu yang ditetapkan Bank Indonesia dalam ketentuan mengenai laporan kantor pusat bank umum. (2) Selama penyampaian laporan secara on‐line sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b belum dapat dilakukan, Bank harus menyampaikan softcopy laporan secara off‐line kepada Bank Indonesia dalam bentuk compact disc. (3) Penyampaian softcopy laporan dalam bentuk compact disc kepada Bank Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan paling lama 5 (lima) hari kerja sejak tanggal pengumuman di surat kabar. SE 3/30/DPNP A. Bank Umum Konvensional 2001 Alamat Penyampaian Laporan Romawi VII 1. Guntingan surat kabar atau fotokopi Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan disampaikan kepada Bank Indonesia dengan alamat: a. Direktorat Pengawasan Bank, Jl. M.H. Thamrin No.2 Jakarta 10110, sesuai dengan Direktorat yang mengawasi Bank yang bersangkutan, dengan tembusan kepada Direktorat Perizinan dan Informasi Perbankan, bagi Bank yang berkantor pusat atau Kantor Cabang dari bank yang berkedudukan di luar negeri, di wilayah kerja kantor pusat Bank Indonesia; atau b. Kantor Bank Indonesia setempat, dengan tembusan kepada Direktorat Perizinan dan Informasi Perbankan, bagi Bank yang berkantor pusat di luar wilayah kerja kantor pusat Bank Indonesia. 2. Disket yang berisi informasi Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan disampaikan kepada Direktorat Perizinan dan Informasi Perbankan, Jl. M.H. Thamrin No.2 Jakarta 10110, atau melalui e‐mail dengan alamat [email protected]. 32 Likuiditas Rupiah Paragraf 12 Sumber Regulasi SE 7/56/DPbs 2005 Romawi IX Pasal 12 14/14/PBI/2012 Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Ketentuan 3. Laporan tertentu sebagaimana dimaksud dalam angka VI (Paragraf 23 dalam kodifikasi ini) disampaikan kepada Bank Indonesia dengan alamat : a. Direktorat Pengawasan Bank, Jl. M.H. Thamrin No.2 Jakarta 10110, sesuai dengan Direktorat yang mengawasi Bank yang bersangkutan, bagi Bank yang berkantor pusat atau Kantor Cabang dari bank yang berkedudukan di luar negeri, di wilayah kerja kantor pusat Bank Indonesia; atau b. Kantor Bank Indonesia setempat, bagi Bank yang berkantor pusat di luar wilayah kerja kantor pusat Bank Indonesia. B. Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah 1. Fotokopi atau guntingan surat kabar Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan, serta Laporan Tertentu disampaikan kepada Bank Indonesia dengan alamat : a. Direktorat Perbankan Syariah, Jl. M.H. Thamrin No.2 Jakarta 10110, dengan tembusan kepada Direktorat Perizinan dan Informasi Perbankan, bagi Bank yang berkantor pusat atau Kantor Cabang dari bank yang berkedudukan di luar negeri, di wilayah kerja kantor pusat Bank Indonesia; atau b. Kantor Bank Indonesia setempat, dengan tembusan kepada Direktorat Perizinan dan Informasi Perbankan, bagi Bank yang berkantor pusat di luar wilayah kerja kantor pusat Bank Indonesia. 2. Disket yang berisi informasi Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan disampaikan kepada Direktorat Perizinan dan Informasi Perbankan, Jl. M.H. Thamrin No. 2 Jakarta 10110, atau dengan melalui e‐mail dengan [email protected]. (1) Bank dinyatakan terlambat mengumumkan Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan apabila Bank mengumumkan Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan setelah batas akhir waktu pengumuman sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (2) (Paragraf 10 ayat (2) dalam kodifikasi ini) sampai dengan paling lama 1 (satu) bulan sejak batas akhir waktu pengumuman laporan. (2) Bank dinyatakan terlambat menyampaikan bukti pengumuman sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (1) huruf (Paragraf 11 ayat (1) dalam kodifikasi ini) apabila bukti pengumuman disampaikan setelah batas akhir waktu penyampaian sampai dengan paling lama 1 (satu) bulan sejak batas akhir waktu penyampaian bukti pengumuman. (3) Selama belum dimungkinkan pelaporan secara on‐line, Bank dinyatakan terlambat menyampaikan softcopy Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan dalam bentuk compact disc sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (2) (Paragraf 11 ayat (2) dalam kodifikasi ini) apabila disampaikan setelah batas akhir waktu penyampaian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (3) (Paragraf 11 ayat (3) dalam kodifikasi ini) sampai dengan paling lama 1 (satu) bulan sejak batas akhir waktu penyampaian laporan. 33 Likuiditas Rupiah Paragraf Sumber Regulasi 13 Pasal 13 14/14/PBI/2012 14 Pasal 14 14/14/PBI/2012 Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Ketentuan (4) Bank dinyatakan tidak mengumumkan atau tidak menyampaikan Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan apabila Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan belum diumumkan atau belum disampaikan sampai dengan berakhirnya batas waktu keterlambatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3). Bank Indonesia mengumumkan Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan yang disampaikan oleh Bank sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (1) huruf b atau ayat (2) (Paragraf 11 ayat (1) huruf b atau ayat (2) dalam kodifikasi ini), pada website Bank Indonesia. Ketentuan dalam Pasal ini dimaksudkan untuk lebih mempermudah dan memperluas akses masyarakat dalam memperoleh informasi mengenai kondisi keuangan Bank. (1) Bank wajib mengumumkan Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan dalam website Bank. (2) Pengumuman Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan paling lama 1 (satu) hari kerja setelah batas waktu pengumuman Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan dalam surat kabar. (3) Pengumuman sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib dipelihara dalam website Bank paling kurang untuk 2 (dua) periode laporan berturut‐turut. 15 BAB IV Laporan Keuangan Publikasi Bulanan Pasal 15 14/14/PBI/2012 (1) Bank wajib mengumumkan Laporan Keuangan Publikasi Bulanan melalui website Bank Indonesia. (2) Laporan Keuangan Publikasi Bulanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling kurang memuat: a. laporan keuangan, yang terdiri atas: 1. Laporan Posisi Keuangan (Neraca); dan 2. Laporan Laba Rugi; b. komitmen dan kontinjensi; c. Perhitungan KPMM; dan d. kualitas aset produktif dan informasi lainnya, antara lain: 1. jumlah penyediaan dana; 2. kredit kepada debitur UMKM; 3. kredit yang memerlukan perhatian khusus (antara lain kredit yang direstrukturisasi dan kredit properti); dan 4. cadangan penyisihan kerugian. SE 3/30/DPNP 2001 Romawi V A. Bank Umum Konvensional 1. Laporan Bulanan Bank Umum yang disampaikan oleh Bank kepada Bank Indonesia untuk posisi bulan Januari sampai dengan Desember akan diumumkan pada home page Bank Indonesia. 2. Format yang digunakan untuk Laporan Keuangan Publikasi Bulanan tersebut ditetapkan sesuai format pada Lampiran 1a, Lampiran 2a, Lampiran 3a, Lampiran 5a, dan Lampiran 6a (Lampiran 3a, Lampiran 4a, Lampiran 5a, Lampiran 7a, Lampiran 8.a.1, dan Lampiran 8.a.2 dalam kodifikasi ini). 34 Likuiditas Rupiah Paragraf 16 Sumber Regulasi SE 7/56/DPbs 2005 Romawi VII Pasal 16 14/14/PBI/2012 Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Ketentuan 3. Penyusunan penyajian publikasi berpedoman pada Lampiran 8, Lampiran 9, Lampiran 10, Lampiran 12 dan Lampiran 13 (Lampiran 10, Lampiran 11, Lampiran 12, Lampiran 14, dan Lampiran 15 dalam kodifikasi ini). Laporan Keuangan Publikasi Bulanan merupakan laporan keuangan Bank secara individu yang merupakan gabungan antara kantor pusat Bank dengan seluruh kantor Bank. B. Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah 1. Laporan Bulanan yang disampaikan oleh Bank kepada Bank Indonesia untuk posisi bulan Januari sampai dengan Desember akan diumumkan pada home page Bank Indonesia. 2. Format yang digunakan untuk Laporan Keuangan Publikasi Bulanan tersebut sebagaimana tercantum dalam Lampiran 1a, Lampiran 2a, Lampiran 3a, Lampiran 4a, Lampiran 5a (Lampiran 17a, Lampiran 18a, Lampiran 19a, Lampiran 20a, dan Lampiran 21a dalam kodifikasi ini). 3. Penyusunan penyajian publikasi sebagaimana tercantum dalam Lampiran 4b, Lampiran 4c, Lampiran 7, Lampiran 8, Lampiran 9, Lampiran 10 (Lampiran 20b, Lampiran 20c, Lampiran 23, Lampiran 24, Lampiran 25 dalam kodifikasi ini). 4. Laporan keuangan Publikasi Bulanan merupakan laporan keuangan Bank secara individu yang merupakan gabungan antara kantor pusat Bank dengan seluruh kantor Bank. (1) Laporan Keuangan Publikasi Bulanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (1) (Paragraf 15 ayat (1) dalam kodifikasi ini) disusun berdasarkan data Laporan Bulanan Bank Umum (LBU) yang telah direklasifikasi oleh Bank Indonesia dengan berpedoman pada Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan dan ketentuan Bank Indonesia. Pengumuman Laporan Keuangan Publikasi Bulanan oleh Bank melalui Bank Indonesia didasarkan pada LBU dengan maksud agar terdapat kesesuaian informasi yang diterima oleh Bank Indonesia dan publik serta untuk menghindari duplikasi pelaporan oleh Bank mengingat Bank telah menyampaikan LBU kepada Bank Indonesia. Tujuan reklasifikasi LBU adalah untuk memfasilitasi pelaku pasar (market participant) dalam menilai laporan keuangan dan laporan lainnya dari Bank. LBU yang dipergunakan sebagai dasar reklasifikasi merupakan laporan keuangan gabungan antara kantor pusat Bank dengan seluruh kantor Bank. (2) Sebelum dilakukan pengumuman, LBU yang telah direklasifikasi oleh Bank Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (1), disampaikan kepada Bank secara on‐line melalui Laporan Kantor Pusat Bank Umum (LKPBU) untuk dilakukan penelitian dan penyesuaian mengenai akurasi laporan serta penambahan informasi yang diperlukan dalam rangka penyusunan Laporan Keuangan Publikasi Bulanan. 35 Likuiditas Rupiah Paragraf Sumber Regulasi Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Ketentuan (3) Bank wajib menyampaikan Laporan Keuangan Publikasi Bulanan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada Bank Indonesia secara on‐line melalui Laporan Kantor Pusat Bank Umum (LKPBU). (4) Bank Indonesia mengumumkan Laporan Keuangan Publikasi Bulanan yang disampaikan oleh Bank sebagaimana dimaksud pada ayat (3) melalui website Bank Indonesia. (5) Tata cara, format, dan jangka waktu penyampaian Laporan Keuangan Publikasi Bulanan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) melalui Laporan Kantor Pusat Bank Umum (LKPBU) berpedoman pada ketentuan Bank Indonesia mengenai laporan kantor pusat bank umum. 17 Pasal 17 14/14/PBI/2012 (1) Selama penyampaian LBU yang telah direklasifikasi kepada Bank secara on‐line sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (2) (Paragraf 16 ayat (2) dalam kodifikasi ini) belum dapat dilakukan, Bank Indonesia menyampaikan laporan dimaksud kepada Bank secara off‐line. (2) Selama penyampaian Laporan Keuangan Publikasi Bulanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (3) (Paragraf 16 ayat (3) dalam kodifikasi ini) belum dapat dilakukan secara on‐line, Bank harus menyampaikan laporan dimaksud secara off‐line dalam jangka waktu paling lama 10 (sepuluh) hari kerja setelah Bank menerima LBU yang telah direklasifikasi. (3) Bank Indonesia mengumumkan Laporan Keuangan Publikasi Bulanan berdasarkan Laporan Keuangan Publikasi Bulanan yang disampaikan Bank sebagaimana dimaksud pada ayat (2) paling lama 60 (enam puluh) hari setelah bulan laporan. 18 BAB V Laporan Keuangan Konsolidasi
Pasal 18 14/14/PBI/2012 (1)
(2)
(3)
(4)
Bank yang merupakan bagian dari suatu kelompok usaha dan/atau Bank yang memiliki Perusahaan Anak wajib menyampaikan laporan keuangan konsolidasi yang disusun berdasarkan standar akuntansi keuangan. Laporan keuangan konsolidasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disajikan pada Laporan Keuangan Tahunan dan Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan. Bank Indonesia berwenang menetapkan cakupan perusahaan yang laporan keuangannya wajib dikonsolidasikan dengan laporan keuangan Bank selain yang telah ditetapkan dalam standar akuntansi keuangan. Penyertaan Bank yang mengakibatkan timbulnya Pengendalian namun hanya bersifat sementara dikecualikan dari penyusunan laporan keuangan konsolidasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Yang dimaksud dengan bersifat sementara antara lain Pengendalian yang akan dilepaskan dalam jangka waktu paling lama 12 (dua belas) bulan sejak posisi laporan keuangan pada tahun perolehan Pengendalian atau penyertaan modal sementara dalam rangka restrukturisasi kredit. 36 Likuiditas Rupiah Paragraf 19 20 Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Sumber Regulasi Ketentuan Bagian Kesatu Laporan Keuangan Konsolidasi yang Disajikan pada Laporan Tahunan Pasal 19 14/14/PBI/2012 Pasal 20 14/14/PBI/2012 (1) Bank yang merupakan bagian dari suatu kelompok usaha dan/atau Bank yang memiliki Perusahaan Anak dalam menyusun Laporan Tahunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 (Paragraf 3 dalam kodifikasi ini), selain menyajikan Laporan Keuangan Tahunan secara individual, juga wajib menyajikan Laporan Keuangan Tahunan secara konsolidasi. (2) Laporan Keuangan Tahunan secara konsolidasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang telah diaudit oleh Akuntan Publik, terdiri atas: a. Laporan Keuangan Konsolidasi Bank; b. Laporan Keuangan Konsolidasi Perusahaan Induk di Bidang Keuangan; dan Yang dimaksud dengan ”laporan keuangan konsolidasi Perusahaan Induk di Bidang Keuangan” adalah hasil konsolidasi dari laporan keuangan seluruh perusahaan di dalam kelompok usaha di bidang keuangan sesuai dengan standar akuntansi. c. Laporan Keuangan Konsolidasi Perusahaan Induk. Yang dimaksud dengan “laporan keuangan konsolidasi Perusahaan Induk” adalah hasil konsolidasi dari seluruh laporan keuangan perusahaan di dalam kelompok usaha sesuai dengan standar akuntansi. (3) Dalam hal kelompok usaha tidak memiliki Perusahaan Induk di Bidang Keuangan maka cukup disajikan Laporan Keuangan Konsolidasi Perusahaan Induk sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c. (4) Dalam hal audit Laporan Keuangan Tahunan perusahaan lain di luar Bank dilakukan oleh Akuntan Publik yang berbeda dengan Akuntan Publik yang mengaudit Laporan Keuangan Tahunan Bank maka Bank dalam menyajikan Laporan Keuangan Tahunan secara Konsolidasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib mencantumkan nama Kantor Akuntan Publik yang melakukan audit Laporan Keuangan Tahunan berikut nama Akuntan Publik yang bertanggung jawab dalam audit (partner in charge) serta opini yang diberikan. (5) Laporan Keuangan Konsolidasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2), paling kurang meliputi: a. Laporan Posisi Keuangan (Neraca); b. Laporan Laba Rugi Komprehensif; c. Laporan Perubahan Ekuitas; dan d. komitmen dan kontinjensi. Bank yang merupakan bagian dari suatu kelompok usaha dan/atau Bank yang memiliki Perusahaan Anak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) (Paragraf 19 ayat (1) dalam kodifikasi ini), dalam Laporan Tahunan selain wajib menyajikan Laporan Keuangan Tahunan secara konsolidasi, juga wajib menyampaikan informasi sebagai berikut: a. struktur kelompok usaha Bank; 37 Likuiditas Rupiah Paragraf Sumber Regulasi Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Ketentuan Struktur kelompok usaha Bank disajikan sebagai berikut: 1. mulai dari Bank, Perusahaan Anak, Perusahaan Afiliasi, Perusahaan Induk di Bidang Keuangan, dan/atau Perusahaan Induk sampai dengan pemegang saham pengendali terakhir (ultimate shareholder). 2. struktur keterkaitan kepengurusan dan pemegang saham yang bertindak atas nama pemegang saham lain (shareholder acting in concert). Pemegang saham yang bertindak atas nama pemegang saham lain adalah pemegang saham perorangan atau perusahaan yang memiliki tujuan bersama untuk mengendalikan Bank yang didasarkan atau tidak didasarkan atas suatu perjanjian. b. transaksi antara Bank dengan Pihak‐pihak Berelasi; Contoh transaksi dengan Pihak‐pihak Berelasi meliputi: 1. kepemilikan silang (cross shareholdings); 2. transaksi dimana suatu kelompok usaha bertindak untuk kepentingan kelompok usaha yang lain; 3. pengelolaan likuiditas jangka pendek yang dipusatkan dalam kelompok usaha; 4. penyediaan dana yang diberikan atau diterima oleh perusahaan lain dalam satu kelompok usaha; 5. eksposur kepada pemegang saham mayoritas antara lain dalam bentuk pinjaman, komitmen dan kontinjensi; dan 6. pembelian, penjualan, dan penyewaan aset dengan perusahaan lain dalam suatu kelompok usaha, termasuk yang dilakukan dengan repurchase agreement. c. transaksi dengan Pihak‐pihak Berelasi yang dilakukan oleh setiap perusahaan di dalam kelompok usaha Bank yang bergerak di bidang keuangan; Contoh transaksi dengan Pihak‐pihak Berelasi yang dilakukan oleh setiap perusahaan di dalam kelompok usaha Bank yang bergerak di bidang keuangan meliputi: 1. kepemilikan silang (cross shareholdings); 2. transaksi dimana suatu kelompok usaha bertindak untuk kepentingan kelompok usaha yang lain; 3. pengelolaan likuiditas jangka pendek yang dipusatkan dalam kelompok usaha; 4. penyediaan dana yang diberikan atau diterima oleh perusahaan lain dalam satu kelompok usaha; 5. eksposur kepada pemegang saham mayoritas antara lain dalam bentuk pinjaman, komitmen dan kontinjensi; dan 6. pembelian, penjualan, dan penyewaan aset dengan perusahaan lain dalam suatu kelompok usaha, termasuk yang dilakukan dengan repurchase agreement. 38 Likuiditas Rupiah Paragraf 21 Sumber Regulasi Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Ketentuan d. penyediaan dana, komitmen maupun fasilitas lain yang dapat dipersamakan dengan itu dari setiap perusahaan yang berada dalam satu kelompok usaha dengan Bank kepada debitur yang telah memperoleh penyediaan dana dari Bank; dan e. pengungkapan mengenai permodalan, jenis risiko, potensi kerugian, dan manajemen risiko sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) (Paragraf 3 ayat (2) dalam kodifikasi ini) secara konsolidasi, bagi Bank Umum Konvensional. Bagian Kedua Laporan Keuangan Konsolidasi yang Disajikan pada Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan Pasal 21 14/14/PBI/2012 ayat (1)‐(3) SE 7/10/DPNP 2005 Nomor 4.b (1) Bank yang merupakan bagian dari suatu kelompok usaha dan/atau Bank yang memiliki Perusahaan Anak dalam menyusun Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 (Paragraf 7 dalam kodifikasi ini), selain menyajikan Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan secara individual, juga wajib menyajikan Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan secara konsolidasi. (2) Bank yang memiliki Perusahaan Anak, dalam menyusun Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 (Paragraf 7 dalam kodifikasi ini) wajib menyajikan: a. laporan keuangan Bank secara individual; dan b. laporan keuangan Bank secara konsolidasi. (3) Bank yang merupakan bagian dari kelompok usaha, dalam menyusun Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 (Paragraf 7 dalam kodifikasi ini) untuk posisi akhir bulan Juni dan Desember, wajib menyajikan: a. laporan keuangan Bank secara individual; dan b. laporan keuangan Perusahaan Induk di Bidang Keuangan; atau c. laporan keuangan Perusahaan Induk apabila tidak terdapat laporan keuangan Perusahaan Induk di Bidang Keuangan. Sesuai pasal 26 ayat (2) Peraturan Bank Indonesia Nomor 3/22/2001 tanggal 13 Desember 2001 tentang Transparansi kondisi Keuangan Bank (sebagaimana telah dicabut oleh PBI Nomor 14/14/PBI/2012 tentang Transparansi dan Publikasi Laporan Bank pada tanggal 18 Oktober 2012 dan diatur kembali oleh Pasal 21 ayat (3) PBI 14/14/PBI/2012 / Paragraf 21 ayat (3) dalam kodifikasi ini), dalam hal Bank merupakan bagian dari kelompok usaha, selain menyajikan laporan keuangan Bank secara individual serta Laporan keuangan konsolidasi Bank yang merupakan hasil konsolidasi dari laporan keuangan Bank dan Perusahaan Anak, untuk posisi akhir bulan Juni dan Desember, Bank diwajibkan pula menyajikan : 1) Laporan keuangan perusahaan induk di bidang keuangan; atau 2) Laporan keuangan perusahaan induk apabila tidak terdapat laporan keuangan perusahaan induk di bidang keuangan. Laporan yang wajib disajikan meliputi Neraca, Laporan Laba Rugi, Laporan Perubahan Ekuitas serta Daftar Komitmen dan Kontinjensi. Penyajian disesuaikan dengan transaksi yang dilakukan oleh perusahaan induk. 39 Likuiditas Rupiah Paragraf Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Sumber Regulasi Ketentuan (4) Dalam hal Bank sebagaimana dimaksud pada ayat (3) juga memiliki Pasal 21 perusahaan anak, dalam menyusun Laporan Triwulanan, juga wajib 14/14/PBI/2012 menyajikan laporan keuangan triwulanan Bank secara konsolidasi ayat (4)‐(6) sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b. (5) Laporan Keuangan Konsolidasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b, paling kurang meliputi: a. Laporan Posisi Keuangan (Neraca); b. Laporan Laba Rugi Komprehensif; c. Laporan Perubahan Ekuitas; dan d. komitmen dan kontinjensi. (6) Laporan keuangan triwulanan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan ayat (3) untuk posisi akhir bulan Desember wajib diaudit oleh Akuntan Publik. Bagian Ketiga Laporan Tertentu kepada Bank Indonesia 22 Pasal 22 14/14/PBI/2012 (1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
Bank yang merupakan bagian dari kelompok usaha dan/atau Bank yang memiliki Perusahaan Anak, selain menyampaikan Laporan Tahunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 (Paragraf 4 dalam kodifikasi ini) kepada Bank Indonesia, Bank wajib menyampaikan laporan tahunan tertentu. Laporan tahunan tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1), paling kurang mencakup: a. Laporan tahunan Perusahaan Induk dan laporan tahunan Perusahaan Induk di Bidang Keuangan; b. Laporan tahunan pemegang saham langsung yang memiliki saham mayoritas atau laporan tahunan perusahaan yang melakukan Pengendalian langsung kepada Bank; dan c. Laporan tahunan Perusahaan Anak. Apabila kelompok usaha tidak memiliki Perusahaan Induk di Bidang Keuangan, maka laporan tahunan tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a yang wajib disampaikan oleh Bank adalah laporan tahunan Perusahaan Induk. Apabila kelompok usaha tidak memiliki laporan tahunan Perusahaan Induk dan laporan tahunan Perusahaan Induk di Bidang Keuangan, maka laporan tahunan tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a yang wajib disampaikan oleh Bank adalah laporan keuangan tahunan Perusahaan Induk dan laporan keuangan tahunan Perusahaan Induk di Bidang Keuangan. Apabila kelompok usaha tidak memiliki perusahaan induk di bidang keuangan dan tidak memiliki laporan tahunan Perusahaan Induk maka laporan tahunan tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a yang wajib disampaikan oleh Bank adalah laporan keuangan tahunan Perusahaan Induk. Batas waktu penyampaian laporan tahunan atau laporan keuangan tahunan Perusahaan Induk dan Perusahaan Induk di Bidang Keuangan kepada Bank Indonesia mengacu pada Pasal 4 (Paragraf 4 dalam kodifikasi ini). 40 Likuiditas Rupiah Paragraf Sumber Regulasi SE 14/35/DPNP 2013 Romawi III Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Ketentuan A. Bank Konvensional Umum 1. Selain menyampaikan Laporan Tahunan, Bank yang merupakan bagian dari kelompok usaha dan/atau Bank yang memiliki Perusahaan Anak, wajib menyampaikan laporan tahunan tertentu kepada Bank Indonesia yang paling kurang mencakup: a. Laporan tahunan Perusahaan Induk dan laporan tahunan Perusahaan Induk di Bidang Keuangan; b. Laporan tahunan pemegang saham langsung yang memiliki saham mayoritas atau laporan tahunan perusahaan yang melakukan pengendalian langsung kepada Bank; dan c. Laporan tahunan Perusahaan Anak. 2. Apabila kelompok usaha tidak memiliki Perusahaan Induk di Bidang Keuangan, maka laporan tahunan tertentu yang wajib disampaikan oleh Bank adalah laporan tahunan Perusahaan Induk. 3. Apabila kelompok usaha tidak memiliki laporan tahunan Perusahaan Induk dan laporan tahunan Perusahaan Induk di Bidang Keuangan, maka laporan tahunan tertentu yang wajib disampaikan oleh Bank adalah laporan keuangan tahunan Perusahaan Induk dan laporan keuangan tahunan Perusahaan Induk di Bidang Keuangan. 4. Apabila kelompok usaha tidak memiliki perusahaan induk di bidang keuangan dan tidak memiliki laporan tahunan Perusahaan Induk maka laporan tahunan tertentu yang wajib disampaikan oleh Bank adalah laporan keuangan tahunan Perusahaan Induk. 5. Batas waktu penyampaian laporan tahunan atau laporan keuangan tahunan Perusahaan Induk dan Perusahaan Induk di Bidang Keuangan kepada Bank Indonesia mengacu pada angka IV (Paragraf 4 Huruf A dalam kodifikasi ini). SE 7/56/DPbS 2005 Romawi III B.
Pasal 23 14/14/PBI/2012 Ayat (1) (1)
Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah Selain menyampaikan Laporan Tahunan, dalam hal Bank merupakan bagian dari kelompok usaha dan atau Bank memiliki Perusahaan Anak, wajib menyampaikan Laporan Tahunan (annual report) dari : 1. Perusahaan Induk; 2. Perusahaan Induk di bidang keuangan; dan 3. Perusahaan Anak, Kepada Bank Indonesia selambat‐lambatnya 5 (lima) bulan setelah Tahun Buku terakhir. 23 Bank wajib menyampaikan kepada Bank Indonesia laporan secara triwulanan mengenai transaksi antara Bank dengan Pihak‐Pihak Berelasi. Yang dimaksud dengan ”Bank” dalam ayat ini adalah selain Bank yang merupakan bagian dari kelompok usaha dan/atau Bank yang mempunyai Perusahaan Anak, juga termasuk Bank yang tidak merupakan bagian dari kelompok usaha dan/atau tidak mempunyai Perusahaan Anak. 41 Likuiditas Rupiah Paragraf 24 25 Sumber Regulasi SE 3/30/DPNP 2001 Romawi VI.1 (Bank Umum); SE 7/56/DPbs 2005 Romawi VIII.1 (BUS dan UUS) (2)
Pasal 23 14/14/PBI/2012 Ayat (2) SE 3/30/DPNP 2001 Romawi VI.2 (Bank Umum); SE 7/56/DPbs 2005 Romawi VIII.2 (BUS dan UUS) Pasal 23 (3)
14/14/PBI/2012 Ayat (3) Pasal 24 14/14/PBI/2012 Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Ketentuan Transaksi antara Bank dengan Pihak‐pihak yang Mempunyai Hubungan Istimewa Hal‐hal yang wajib dilaporkan, sekurang‐kurangnya meliputi: a. nama pihak yang memiliki hubungan istimewa dengan Bank; b. hubungan keterkaitan dengan Bank; c. jenis transaksi; d. jumlah atau nominal transaksi; dan e. Kualitas Aktiva Produktif untuk transaksi penyedian dana. Bagi Bank yang merupakan bagian dari kelompok usaha selain wajib menyampaikan laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), juga wajib menyampaikan laporan mengenai pemberian penyediaan dana, komitmen maupun fasilitas lain yang dapat dipersamakan dengan itu dari setiap perusahaan yang berada dalam satu kelompok usaha dengan Bank kepada debitur yang telah memperoleh penyediaan dana dari Bank. Pemberian penyediaan dana, komitmen maupun fasilitas lain yang dapat dipersamakan dengan itu dari setiap perusahaan yang berada dalam setiap kelompok usaha dengan Bank kepada debitur yang telah memperoleh penyediaan dana dari Bank, bagi Bank yang merupakan bagian dari kelompok usaha. Hal‐hal yang wajib dilaporkan, sekurang‐kurangnya meliputi: a. nama debitur; b. jumlah dan kualitas penyediaan dana yang diberikan oleh Bank; c. nama kelompok usaha pemberi penyediaan dana serta hubungan keterkaitan dengan Bank; dan d. jenis penyediaan dana dan jumlah penyediaan dana yang diberikan oleh kelompok usaha. Batas waktu penyampaian laporan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) mengacu pada ketentuan dalam Pasal 10 ayat (2) dan Pasal 12 (Paragraf 10 ayat (2) dan Paragraf 12 dalam kodifikasi ini). Dalam hal terdapat perubahan cakupan Laporan Konsolidasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18, Pasal 19, Pasal 20, Pasal 21, Pasal 22, dan Pasal 23 (Paragraf 18, Paragraf 19, Paragraf 20, Paragraf 21, Paragraf 22, dan Paragraf 23 dalam kodifikasi ini) akan diatur lebih lanjut dengan Surat Edaran Bank Indonesia. BAB VI Laporan Publikasi Lain
Pasal 25 14/14/PBI/2012 (1) Laporan Publikasi Lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf e (Paragraf 2 huruf e dalam kodifikasi ini) meliputi: a. Laporan Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK); dan Yang dimaksud dengan “Laporan Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK)” adalah laporan yang menyajikan perhitungan suku bunga dasar kredit yang antara lain mencakup harga pokok dana untuk 42 Likuiditas Rupiah Paragraf Sumber Regulasi Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Ketentuan kredit (HPDK), biaya overhead, dan marjin keuntungan (profit margin) yang ditetapkan Bank dalam kegiatan perkreditan. b. Laporan Publikasi Lainnya. Laporan Publikasi Lainnya yang wajib disampaikan oleh Bank diatur lebih lanjut dalam Surat Edaran Bank Indonesia. (2) Bank wajib mengumumkan Laporan Publikasi Lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) secara berkala. (3) Bank Indonesia berwenang meminta Bank untuk menyampaikan Laporan Publikasi Lainnya sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan industri perbankan diluar periode penyampaian sebagaimana dimaksud pada ayat (2). 26 Pasal 26 14/14/PBI/2012 (1) Laporan Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) sebagaimana dimaksud pada Pasal 25 ayat (1) (Paragraf 25 ayat (1) dalam kodifikasi ini) huruf a wajib diumumkan di surat kabar yang memiliki peredaran luas paling lama 7 (tujuh) hari kerja setelah akhir bulan Maret, Juni, September, dan Desember. (2) Bank dinyatakan terlambat mengumumkan Laporan SBDK apabila Bank mengumumkan Laporan SBDK setelah batas akhir waktu pengumuman sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan paling lama 1 (satu) bulan sejak batas akhir waktu pengumuman laporan. (3) Bank dinyatakan tidak mengumumkan Laporan SBDK apabila Laporan SBDK belum diumumkan sampai dengan berakhirnya batas waktu keterlambatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2). (4) Format, cakupan, dan tata cara penyampaian serta persyaratan Bank yang wajib mengumumkan laporan SBDK berpedoman pada Surat Edaran Bank Indonesia mengenai transparansi informasi suku bunga dasar kredit. BAB VII Lain – Lain
27 Pasal 27 14/14/PBI/2012 (1) Bagi Bank yang belum memiliki website untuk memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 dan Pasal 14 (Paragraf 6 dan Paragraf 14 dalam kodifikasi ini), wajib memenuhi kewajiban tersebut paling lambat pada akhir bulan Desember 2012. (2) Bank wajib mencantumkan alamat website Bank pada Laporan Tahunan dan Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan yang dicetak. 28 Pasal 28 14/14/PBI/2012 Laporan Tahunan, Laporan Keuangan Tahunan, Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan, Laporan Keuangan Publikasi Bulanan, Laporan Keuangan Konsolidasi, dan Laporan Publikasi Lain yang diwajibkan kepada Bank sebagaimana diatur dalam Peraturan Bank Indonesia ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengurus Bank. Tanggung jawab pengurus Bank termasuk Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan dan Laporan Keuangan Publikasi Bulanan yang disajikan pada website Bank Indonesia berdasarkan data dan informasi yang disampaikan oleh Bank kepada Bank Indonesia. 43 Likuiditas Rupiah Paragraf 29 30 31 Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Sumber Regulasi Ketentuan Pasal 29 Kantor Cabang Bank Asing wajib menyusun laporan keuangan 14/14/PBI/2012 sebagaimana diatur dalam Peraturan Bank Indonesia ini dengan menggabungkan laporan keuangan Kantor Cabang Bank Asing dan seluruh laporan keuangan dari setiap kantor di Indonesia. Bagi Kantor Cabang Bank Asing tidak diwajibkan untuk melaporkan dan menyajikan laporan keuangan kantor pusat Bank, Perusahaan Induk dan Perusahaan Induk di Bidang Keuangan dari bank asing tersebut. Bagi Bank Umum yang melakukan pembelian kredit dari BPPN, tetap SE 7/10/DPNP wajib mencantumkan informasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 2005 Peraturan Bank Indonesia Nomor 4/7/PBI/2002 tanggal 27 September Nomor 4.a 2003 tentang Prinsip Kehati‐hatian dalam Rangka Pembelian Kredit oleh Bank dari Badan Penyehatan Perbankan Nasional. Pelaksanaan Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia A. Dalam rangka peningkatan transparansi kondisi keuangan Bank dan SE 11/4/DPNP penyusunan laporan keuangan yang relevan, komprehensif, andal 2009 dan dapat diperbandingkan, Bank wajib menyusun dan menyajikan Nomor 1‐4 laporan keuangan berdasarkan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan yang relevan bagi Bank, Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia (PAPI), dan ketentuan lain yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. B. PAPI merupakan petunjuk pelaksanaan yang berisi penjabaran lebih lanjut dari beberapa Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) yang relevan bagi industri perbankan. C. Penyesuaian PAPI 2001 menjadi PAPI 2008 diperlukan terkait dengan diterbitkannya PSAK No. 50 (Revisi 2006) tentang Instrumen Keuangan: Penyajian dan Pengungkapan, dan PSAK No. 55 (Revisi 2006) tentang Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran. D. PAPI 2008 merupakan acuan dalam penyusunan dan penyajian laporan keuangan Bank. Mengingat sifat PAPI merupakan petunjuk pelaksanaan dari PSAK maka untuk hal‐hal yang tidak diatur dalam PAPI tetap mengacu kepada PSAK yang berlaku. SE 11/33/DPNP E. Penyesuaian PAPI 2008 2009 1) Menyikapi berbagai tantangan dan permasalahan yang Nomor 4A dihadapi Bank dalam melakukan persiapan penerapan PSAK No. 55 (Revisi 2006) mengenai Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran yang merupakan standar akuntansi yang kompleks dan sejalan dengan standar akuntansi yang berlaku secara internasional, maka dipandang perlu untuk melakukan penyesuaian terhadap PAPI 2008, khususnya pada Bab III Penjelasan Umum angka 2 mengenai Ketentuan Transisi dengan menambahkan huruf D. 2) Penyesuaian PAPI 2008 yang memuat estimasi penurunan nilai kredit secara kolektif dengan keterbatasan pengalaman kerugian spesifik sebagaimana tercantum dalam Lampiran merupakan acuan bagi Bank dalam penyusunan dan penyajian laporan keuangan serta menjadi acuan bagi Akuntan Publik dalam melakukan pemeriksaan laporan keuangan Bank. 44 Likuiditas Rupiah Paragraf Sumber Regulasi Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Ketentuan Pemeriksaan Oleh Akuntan Publik Atas Estimasi Penurunan Nilai Kolektif a) Dalam pelaksanaan audit, Akuntan Publik bertanggung jawab untuk: i. menilai kewajaran penilaian sendiri (self‐assessment) yang dilakukan oleh manajemen dalam rangka menetapkan keberadaan kondisi keterbatasan Bank sebagaimana dimaksud dalam penyesuaian PAPI 2008; dan ii. menilai kewajaran estimasi manajemen dalam menentukan penurunan nilai kredit secara kolektif. b) Apabila dalam pelaksanaan audit, Akuntan Publik menemukan bahwa Bank tidak berada dalam kondisi keterbatasan tetapi tetap menerapkan estimasi penurunan nilai kredit secara kolektif sebagaimana dimaksud dalam penyesuaian PAPI 2008, maka Bank dinilai tidak menerapkan PSAK No. 55 (Revisi 2006) dan PAPI 2008, serta melanggar Surat Edaran ini. c) Akuntan Publik yang menemukan Bank yang tidak menerapkan PSAK No. 55 (Revisi 2006) dan PAPI 2008, serta melanggar Surat Edaran ini sebagaimana dimaksud pada angka 2) harus memberitahukan mengenai temuan tersebut dalam laporan hasil audit dan Surat Komentar (Management Letter) yang wajib disampaikan kepada Bank Indonesia sebagaimana diatur dalam Peraturan Bank Indonesia mengenai transparansi kondisi keuangan bank. Transparansi Penerapan Estimasi Penurunan Nilai Kolektif Dalam rangka memberikan informasi yang lebih transparan kepada masyarakat dan pengguna laporan keuangan Bank, Bank yang menerapkan estimasi penurunan nilai kredit secara kolektif sebagaimana diatur dalam penyesuaian PAPI 2008 wajib mengungkapkan informasi tersebut dalam Catatan atas Laporan Keuangan dalam Laporan Tahunan sebagaimana diatur dalam Surat Edaran Bank Indonesia mengenai laporan tahunan bank umum. Sanksi Pelanggaran dalam penerapan Surat Edaran ini dikenakan sanksi sebagaimana diatur dalam Peraturan Bank Indonesia mengenai transparansi kondisi keuangan bank. 3)
4)
5)
32 SE 15/26/DPbs 2013 Pelaksanaan Pedoman Akuntansi Perbankan Syariah Pelaksanaan Pedoman Akuntansi Perbankan Syariah I. Ketentuan Umum A. Dalam rangka peningkatan transparansi kondisi keuangan bagi Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah, selanjutnya disebut Bank Syariah, dan penyusunan laporan keuangan yang relevan, komprehensif, andal dan dapat diperbandingkan, Bank Syariah menyusun dan menyajikan laporan keuangan berdasarkan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) yang relevan bagi Bank Syariah, Pedoman Akuntansi Perbankan Syariah Indonesia (PAPSI), dan ketentuan lain yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. 45 Likuiditas Rupiah Paragraf Sumber Regulasi Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Ketentuan B. PAPSI merupakan petunjuk pelaksanaan yang berisi penjabaran lebih lanjut dari beberapa Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) yang relevan bagi industri perbankan syariah. C. Dengan diterbitkannya antara lain PSAK khusus tentang transaksi syariah, PSAK No. 50 (Revisi 2010) tentang Instrumen Keuangan: Penyajian, PSAK No. 55 (Revisi 2011) tentang Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran, dan PSAK No. 60 tentang Instrumen Keuangan: Pengungkapan, serta PSAK No.48 (Revisi 2009) tentang Penurunan Nilai Aset maka perlu dilakukan penyesuaian atas PAPSI 2003 menjadi PAPSI 2013 sebagaimana dimaksud pada Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Surat Edaran Bank Indonesia ini. D. PAPSI 2013 merupakan pedoman dalam penyusunan dan penyajian laporan keuangan Bank Syariah. Untuk hal‐hal yang tidak diatur dalam PAPSI 2013 tetap berpedoman kepada PSAK yang berlaku beserta pedoman pelaksanaannya sepanjang tidak bertentangan dengan prinsip syariah. II. Pengakuan Pendapatan Pendapatan dalam Transaksi Jual Beli A. Sesuai dengan Fatwa Dewan Syariah Nasional Nomor: 84/DSN‐
MUI/XII/2012 tanggal 21 Desember 2012 tentang Metode Pengakuan Pendapatan Murabahah di Lembaga Keuangan Syariah (LKS) maka pengakuan pendapatan murabahah untuk Bank Syariah dapat dilakukan dengan menggunakan metode anuitas atau metode proporsional. B. Pengakuan pendapatan dengan menggunakan metode anuitas atau metode proporsional hanya dapat digunakan untuk pengakuan pendapatan pembiayaan atas dasar jual beli. C. Dalam hal Bank Syariah menggunakan metode anuitas maka pencatatan transaksi murabahah wajib menggunakan: 1. PSAK 55 (Revisi 2011): Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran, selanjutnya disebut PSAK 55; 2. PSAK 50 (Revisi 2010): Instrumen Keuangan: Penyajian, selanjutnya disebut PSAK 50; 3. PSAK 60: Instrumen Keuangan: Pengungkapan, selanjutnya disebut PSAK 60; dan 4. PSAK lain yang relevan. D. Dalam hal Bank Syariah menggunakan metode proporsional maka pencatatan transaksi murabahah wajib menggunakan PSAK 102 : Akuntansi Murabahah. E. Penggunaan salah satu metode pengakuan pendapatan wajib digunakan untuk seluruh jenis portofolio pembiayaan murabahah dan diungkapkan dalam kebijakan akuntansi serta dilakukan secara konsisten. III. Pendapatan dan Beban Terkait dengan Transaksi Murabahah A. Dalam praktik penyaluran pembiayaan murabahah, Bank Syariah dapat: 1. menerima pendapatan di luar marjin keuntungan seperti pendapatan administrasi; dan/atau 2. mengeluarkan biaya yang terkait langsung dengan transaksi murabahah seperti biaya komisi, biaya survei, dan biaya lain. 46 Likuiditas Rupiah Paragraf Sumber Regulasi Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Ketentuan B. Dalam hal Bank Syariah menerapkan pengakuan pendapatan dengan metode anuitas, maka pendapatan dan biaya sebagaimana dimaksud dalam huruf A digabungkan dengan nilai pembiayaan murabahah. Selanjutnya nilai tersebut diamortisasi selama masa akad dengan menggunakan metode effective rate sebagaimana diatur dalam PSAK 55, PSAK 50, dan PSAK 60 serta PSAK lain yang relevan. C. Dalam hal Bank Syariah menerapkan pengakuan pendapatan dengan metode proporsional maka pendapatan dan biaya sebagaimana dimaksud dalam huruf A diakui selaras dengan pengakuan pendapatan murabahah secara proporsional selama masa akad. D. Pendapatan dan biaya sebagaimana dimaksud dalam huruf A menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pendapatan murabahah sehingga wajib dibagihasilkan kepada pemilik dana pihak ketiga (shahibul maal). IV. Pembentukan Cadangan Kerugian A. Bank Syariah wajib membentuk cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) atas aset keuangan dan aset non keuangan sesuai dengan standar akuntansi keuangan yang berlaku. B. Dalam rangka menerapkan prinsip kehati‐hatian, Bank Syariah wajib mempertimbangkan CKPN yang dibentuk berdasarkan ketentuan Bank Indonesia pada saat memperhitungkan cadangan kerugian aset keuangan dan aset non keuangan. C. Dalam hal terdapat selisih kurang antara CKPN yang dibentuk oleh Bank Syariah dengan kewajiban pembentukan cadangan kerugian sesuai dengan ketentuan Bank Indonesia maka kekurangan CKPN tersebut akan diperhitungkan sebagai pengurang faktor modal inti dalam perhitungan rasio kewajiban pemenuhan modal minimum (KPMM). V. Estimasi Penurunan NIlai Pembiayaan secara Kolektif dengan Keterbatasan Pengalaman Kerugian Spesifik A. Dalam hal Bank Syariah tidak memiliki ketersediaan data kerugian pembiayaan secara spesifik untuk melakukan perhitungan estimasi penurunan nilai secara kolektif sebagaimana yang diatur dalam PSAK 55 bagi Bank Syariah yang menerapkan metode anuitas dalam pengakuan pendapatan murabahah maka tata cara perhitungan estimasi penurunan nilai secara kolektif berpedoman pada butir III.4 Lampiran Surat Edaran Bank Indonesia ini. B. Bank Syariah dapat menerapkan estimasi penurunan nilai pembiayaan secara kolektif sebagaimana dimaksud dalam huruf A paling lama sampai dengan tanggal 31 Desember 2014. Terhitung sejak 1 Januari 2015, Bank Syariah harus mengukur penurunan nilai pembiayaan dan membentuk CKPN atas pembiayaan secara kolektif dengan menggunakan data pengalaman kerugian spesifik atau kerugian historis dari peer group atas pembiayaan secara kolektif. 47 Likuiditas Rupiah Paragraf Sumber Regulasi C.
D.
E.
F.
33 Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Ketentuan Dalam rangka penerapan estimasi penurunan nilai pembiayaan secara kolektif dengan menggunakan data pengalaman kerugian spesifik, Bank wajib menyampaikan rencana tindak (action plan) yang akan dilakukan. Ketentuan mengenai estimasi penurunan nilai pembiayaan secara kolektif sebagaimana dimaksud dalam huruf B, merupakan acuan bagi Bank Syariah dalam menyusun dan menyajikan laporan keuangan serta menjadi acuan bagi Akuntan Publik dalam melakukan pemeriksaan laporan keuangan Bank Syariah. Hal‐hal yang harus dilakukan oleh Akuntan Publik dalam pemeriksaan atas estimasi penurunan nilai kolektif adalah sebagai berikut: 1. Dalam pelaksanaan audit, Akuntan Publik bertanggung jawab untuk: a. menilai kewajaran penilaian sendiri (self‐assessment) yang dilakukan oleh manajemen Bank Syariah dalam menetapkan keberadaan kondisi keterbatasan pengalaman kerugian spesifik sebagaimana dimaksud dalam Lampiran Surat Edaran Bank Indonesia ini; dan b. menilai kewajaran estimasi oleh manajemen Bank Syariah dalam menentukan penurunan nilai pembiayaan secara kolektif. 2. Apabila dalam pelaksanaan audit, Akuntan Publik menemukan bahwa Bank Syariah tidak berada dalam kondisi keterbatasan pengalaman kerugian spesifik namun menerapkan estimasi penurunan nilai pembiayaan secara kolektif maka Bank Syariah dinilai tidak menerapkan PSAK 55 beserta pedoman pelaksanaannya dan melanggar Surat Edaran Bank Indonesia ini. 3. Temuan Akuntan Publik sebagaimana dimaksud dalam angka 2 harus diungkapkan oleh Akuntan Publik dalam laporan hasil audit dan Surat Komentar (Management Letter) dan wajib disampaikan kepada Bank Indonesia sebagaimana diatur dalam ketentuan Bank Indonesia yang mengatur mengenai transparansi kondisi keuangan bank. Dalam rangka memberikan informasi yang lebih transparan kepada masyarakat dan pengguna laporan keuangan Bank, Bank Syariah yang menerapkan estimasi penurunan nilai pembiayaan secara kolektif wajib mengungkapkan informasi tersebut dalam Catatan atas Laporan Keuangan dalam Laporan Tahunan sebagaimana diatur dalam Surat Edaran Bank Indonesia mengenai laporan tahunan bank umum. BAB VIII
Bagian Kesatu Sanksi
Sanksi Laporan Tahunan
Pasal 30 14/14/PBI/2012 (1) Bank yang terlambat menyampaikan Laporan Tahunan kepada Bank Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) (Paragraf 5 ayat (1) dalam kodifikasi ini), dikenakan sanksi kewajiban membayar sebesar Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah) per hari keterlambatan. 48 Likuiditas Rupiah Paragraf Sumber Regulasi 34 Pasal 31 14/14/PBI/2012 35 Pasal 32 14/14/PBI/2012 Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Ketentuan (2) Bank yang tidak menyampaikan Laporan Tahunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2) (Paragraf 5 ayat (2) dalam kodifikasi ini) kepada pihak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) (Paragraf 4 ayat (1) dalam kodifikasi ini) dikenakan sanksi: a. kewajiban membayar sebesar Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah; dan b. pengumuman nama yang dikenakan sanksi dan alasan pengenaan sanksi pada website Bank Indonesia. Bank yang tidak mengumumkan Laporan Tahunan pada website Bank sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 (Paragraf 6 dalam kodifikasi ini) dikenakan sanksi administratif berupa: (1) teguran tertulis; dan (2) kewajiban membayar sebesar Rp10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah) per hari, paling banyak sebesar Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah). Penerapan sanksi tidak diberlakukan dalam hal terjadi kerusakan sistem teknologi informasi Bank yang disertai dengan bukti dan dokumen pendukung yang disampaikan kepada Bank Indonesia. (1) Apabila menurut penilaian Bank Indonesia, Laporan Tahunan yang disampaikan kepada Bank Indonesia dan/atau yang diumumkan di dalam website Bank secara material tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya dan/atau tidak disajikan sesuai ketentuan dalam Peraturan Bank Indonesia ini dan/atau Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku, dikenakan: a. sanksi teguran tertulis paling banyak 2 (dua) kali dengan tenggang waktu 2 (dua) minggu untuk setiap teguran; b. sanksi kewajiban membayar paling sedikit sebesar Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah) dan paling banyak sebesar Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) apabila setelah diberi teguran tertulis 2 (dua) kali, Bank tidak memperbaiki dan/atau mengumumkan kembali laporan dimaksud pada website Bank; dan c. sanksi administratif lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 Undang‐undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang‐undang Nomor 10 Tahun 1998 dan Pasal 58 Undang‐undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah, berupa: 1. penurunan tingkat kesehatan Bank; 2. pencantuman anggota pengurus, pegawai Bank, pemegang saham dalam daftar orang‐orang yang dilarang menjadi pemilik dan pengurus Bank; dan/atau 3. pembekuan kegiatan usaha tertentu. (2) Nama Bank yang dikenakan sanksi dan alasan pengenaan sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), akan diumumkan oleh Bank Indonesia melalui website Bank Indonesia berdasarkan data yang tersedia di Bank Indonesia. 49 Likuiditas Rupiah Paragraf 36 Sumber Regulasi Bagian Kedua Pasal 33 14/14/PBI/2012 Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Ketentuan Sanksi Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan (1) Bank yang terlambat mengumumkan dan/atau terlambat menyampaikan Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (1) (Paragraf 12 ayat (1) dalam kodifikasi ini), dikenakan sanksi kewajiban membayar sebesar Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah) per hari keterlambatan untuk setiap laporan. (2) Bank yang tidak mengumumkan Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (2) (Paragraf 12 ayat (2) dalam kodifikasi ini), dikenakan sanksi: a. kewajiban membayar sebesar Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah); dan b. pengumuman nama Bank yang dikenakan sanksi dan Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan berdasarkan data yang tersedia di Bank Indonesia pada website Bank Indonesia. Ketentuan dalam ayat ini dimaksudkan untuk tujuan kelangsungan informasi yang diterima oleh masyarakat dalam rangka peningkatan transparansi perbankan Indonesia. (3) Bank yang mengumumkan Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan namun tidak menyampaikan fotokopi atau guntingan surat kabar yang memuat Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan kepada Bank Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (1) huruf a (Paragraf 11 ayat (1) huruf a dalam kodifikasi ini), dikenakan sanksi kewajiban membayar sebesar Rp30.000.000,00 (tiga puluh juta rupiah). (4) Apabila menurut penilaian Bank Indonesia, Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan secara material tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya dan/atau tidak disajikan sesuai ketentuan dalam Peraturan Bank Indonesia ini dan/atau Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku, atau Surat Komentar (Management Letter) dari Akuntan Publik menyatakan adanya kelemahan mendasar dari sistem pelaporan data Bank ke Bank Indonesia, dikenakan: a. sanksi teguran tertulis sebanyak 2 (dua) kali oleh Bank Indonesia dengan tenggang waktu 2 (dua) minggu untuk setiap teguran; b. sanksi kewajiban membayar paling sedikit sebesar Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah) dan paling banyak sebesar Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) apabila setelah diberi teguran tertulis 2 (dua) kali, Bank tidak memperbaiki dan/atau mengumumkan kembali laporan dimaksud; dan c. sanksi administratif lain sebagaimana dimaksud dalam Paragraf 52 Undang‐undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang‐undang Nomor 10 Tahun 1998 dan Paragraf 58 Undang‐undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah, berupa: 1. penurunan tingkat kesehatan Bank; 2. pencantuman anggota pengurus, pegawai Bank, pemegang saham dalam daftar orang‐orang yang dilarang menjadi pemilik dan pengurus Bank; dan/atau 3. pembekuan kegiatan usaha tertentu. 50 Likuiditas Rupiah Paragraf Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Sumber Regulasi Ketentuan (5) Nama Bank yang dikenakan sanksi dan alasan pengenaan sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (4), akan diumumkan oleh Bank Indonesia melalui website Bank Indonesia berdasarkan data yang tersedia di Bank Indonesia. Bagian Ketiga Sanksi Laporan Keuangan Publikasi Bulanan 37 Pasal 34 14/14/PBI/2012 Sanksi atas keterlambatan penyampaian dan koreksi atas Laporan Keuangan Publikasi Bulanan berpedoman pada ketentuan mengenai Laporan Kantor Pusat Bank Umum (LKPBU). Bagian Keempat Sanksi Laporan Keuangan Konsolidasi 38 Pasal 35 14/14/PBI/2012 (1) Bank yang terlambat menyampaikan Laporan Keuangan Konsolidasi kepada Bank Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (2) dan Pasal 21 ayat (2) (Paragraf 19 ayat (2) dan Paragraf 21 ayat (2) dalam kodifikasi ini) dikenakan sanksi kewajiban membayar sebesar Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah) per hari keterlambatan. (2) Bank yang tidak menyampaikan Laporan Keuangan Konsolidasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (2) dan Pasal 21 ayat (2) (Paragraf 19 ayat (2) dan Paragraf 21 ayat (2) dalam kodifikasi ini), dikenakan sanksi sebagai berikut: a. sanksi kewajiban membayar sebesar Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah); dan b. pengumuman nama Bank dan/atau perusahaan yang tidak menyampaikan Laporan Keuangan Konsolidasi. Pengumuman nama Bank atau perusahaan dapat dilakukan melalui website Bank Indonesia. Bagian Kelima Sanksi Laporan Publikasi Lain
Pasal 36 14/14/PBI/2012 (1) Bank yang terlambat mengumumkan Laporan SBDK sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (2) (Paragraf 26 ayat (2) dalam kodifikasi ini), dikenakan sanksi kewajiban membayar sebesar Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah) per hari keterlambatan. (2) Bank yang tidak mengumumkan Laporan SBDK sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (3) (Paragraf 26 ayat (3) dalam kodifikasi ini), dikenakan sanksi kewajiban membayar sebesar Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah). BAB V Transparansi Kondisi Keuangan Bank Hubungan antara Bank, Akuntan Publik, dan Bank Indonesia
39 40 Pasal 16 3/22/PBI/2001 (1)
Dalam memberikan penugasan audit terhadap Laporan Keuangan Tahunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2), Bank wajib menunjuk Akuntan Publik dan Kantor Akuntan Publik yang telah terdaftar di Bank Indonesia. (2) Penunjukan Akuntan Publik dan atau Kantor Akuntan Publik yang sama oleh Bank paling lama dilakukan untuk periode audit 5 (lima) Tahun Buku berturut‐turut. 51 Likuiditas Rupiah Paragraf Sumber Regulasi Ketentuan Pengaturan ini dimaksudkan agar terdapat penilaian dari pihak yang berbeda dalam rangka meningkatkan independensi profesi Akuntan Publik. Perhitungan jangka waktu 5 (lima) tahun dimulai sejak berlakunya Peraturan Bank Indonesia ini atau sejak Tahun Buku 2001. SE 3/32/DPNP 2001 Romawi I SE 7/57/DPbs 2005 Romawi I Transparansi dan Publikasi Laporan Bank A. Bank Umum Konvensional 1. Sesuai dengan Peraturan Bank Indonesia tersebut di atas, dikemukakan bahwa dalam rangka turut serta menciptakan disiplin pasar (market discipline) perlu diupayakan transparansi kondisi keuangan dan kinerja Bank sehingga dapat lebih memudahkan penilaian bagi kepentingan publik dan peserta pasar melalui publikasi laporan kepada masyarakat luas. 2. Dalam rangka meningkatkan integritas laporan keuangan Bank maka Laporan Keuangan Tahunan Bank wajib diaudit oleh Akuntan Publik dan untuk memperoleh keyakinan yang memadai tentang kemampuan dan kesesuaian tugasnya, Akuntan Publik yang mengaudit Bank harus independen, kompeten, profesional dan objektif serta menggunakan kemahiran profesionalnya secara cermat dan seksama (due professional care) 3. Dalam rangka meningkatkan kualitas hasil audit, perlu ditetapkan persyaratan Akuntan Publik yang diperkenankan melakukan audit terhadap Bank. Akuntan Publik yang diperkenankan untuk mengaudit Bank adalah Akuntan Publik yang terdaftar di Bank Indonesia. Oleh karena itu dalam melakukan penunjukan Akuntan Publik, Bank hendaknya memperhatikan daftar Akuntan Publik yang diumumkan Bank Indonesia pada home page Bank Indonesia. 4. Sesuai dengan Pasal 16 ayat (2) Peraturan Bank Indonesia tersebut di atas (Paragraf 40 ayat (2) dalam kodifikasi ini), penunjukan Akuntan Publik dan Kantor Akuntan Publik yang sama oleh Bank paling lama dilakukan untuk periode audit 5 (lima) tahun buku berturut‐turut dan mulai berlaku sejak dikeluarkannya ketentuan Bank Indonesia dimaksud, yaitu sejak laporan keuangan untuk Tahun Buku 2001. 5. Agar dari audit yang dilakukan Akuntan Publik diperoleh informasi kondisi keuangan Bank yang optimal, perlu adanya komunikasi yang aktif dan transparan antara Akuntan Publik dan Bank Indonesia. B. Bank yang Melaksanakan Kegiatan Usaha Berdasarkan Prinsip Syariah di Indonesia 1. Pengertian Bank dalam Surat Edaran ini adalah Bank sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Bank Indonesia Nomor 3/22/PBI/2001 tentang Transparansi Kondisi Keuangan Bank sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Bank Indonesia Nomor 7/50/PBI/2005 (sebagaimana telah dicabut dan diatur kembali oleh PBI 14/14/PBI/2012 tentang Transparansi dan Publikasi Laporan Bank) dan BPRS sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Bank Indonesia Nomor 7/47/PBI/2005. 52 Likuiditas Rupiah Paragraf 41 Sumber Regulasi Pasal 17 3/22/PBI/2001 Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Ketentuan 2. Dalam rangka turut serta menciptakan disiplin pasar (market discipline) perlu diupayakan transparansi kondisi keuangan dan kinerja Bank sehingga dapat lebih memudahkan penilaian bagi kepentingan publik dan peserta pasar melalui publikasi laporan kepada masyarakat luas. 3. Dalam rangka meningkatkan integritas laporan keuangan Bank maka laporan Keuangan Tahunan Bank wajib diaudit oleh Akuntan Publik, dimana khusus untuk BPRS yang wajib diaudit adalah BPRS yang beraset diatas Rp. 10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah). Untuk memperoleh keyakinan yang memadai atas kualitas hasil audit, maka Akuntan Publik yang mengaudit Bank harus terdaftar di Bank Indonesia serta dalam melakukan audit harus independen, kompeten, profesional dan objektif. 4. Komunikasi aktif dan transparan antara Akuntan Publik dengan pihak‐pihak yang melakukan pengawasan yaitu Bank Indonesia dan Dewan Pengawas Syariah perlu dilakukan agar dapat dihasilkan informasi kondisi keuangan Bank yang optimal. Komunikasi dengan Dewan Pengawas Syariah diperlukan mengingat Dewan Pengawas Syariah adalah dewan yang melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan prinsip syariah yang ada di Bank. (1)
Laporan Keuangan Tahunan Kantor Cabang Bank Asing atau Bank yang sebagian sahamnya dimiliki oleh pihak asing dapat diaudit secara konsolidasi oleh Kantor Akuntan Publik yang sama dengan Kantor Akuntan Publik yang mengaudit kantor pusat Bank atau Perusahaan Induk Bank. Yang dimaksud dengan audit secara konsolidasi oleh Kantor Akuntan Publik adalah audit terhadap kantor pusat dari Kantor Cabang Bank Asing atau audit terhadap perusahaan induk dari bank yang sebagian sahamnya dimiliki pihak asing yang dilaksanakan oleh Kantor Akuntan Publik yang sama, yang ditunjuk oleh kantor pusat atau perusahaan induk. Pengaturan dalam ayat ini berpedoman juga pada ketentuan yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan. (2)
Kantor Cabang Bank Asing atau Bank yang sebagian sahamnya dimiliki oleh pihak asing sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat mengajukan permohonan kepada Bank Indonesia untuk dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (2). (Paragraf 40 ayat (2) dalam kodifikasi ini) Pengecualian sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) wajib disertai alasan yang jelas. Alasan untuk dapat diberikan pengecualian dalam ayat ini antara lain adanya ketentuan di negara asal maupun kebijakan internal yang menjamin adanya independensi yang cukup dari Akuntan Publik yang melakukan audit laporan keuangan. (3)
53 Likuiditas Rupiah Paragraf 42 Sumber Regulasi Pasal 18 (1)
3/22/PBI/2001 (2)
Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Ketentuan Penunjukan Akuntan Publik dan Kantor Akuntan Publik dalam rangka audit Laporan Keuangan Tahunan Bank wajib didasarkan pada perjanjian kerja. Perjanjian kerja antara Bank dan Kantor Akuntan Publik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), sekurang‐kurangnya mencakup: Bagi beberapa Bank yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku wajib diaudit oleh instansi pemerintah seperti Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan, istilah perjanjian kerja disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku. a. nama Kantor Akuntan Publik; b. Akuntan Publik yang bertanggung jawab terhadap audit (partner in charge); c. kewajiban Akuntan Publik untuk melaksanakan audit sesuai Standar Profesional Akuntan Publik; d. ruang lingkup audit; e. jangka waktu penyelesaian audit; Jangka waktu penyelesaian audit disesuaikan dengan batas akhir penyampaian Laporan Keuangan Tahunan ke Bank Indonesia. f. pernyataan dari Bank mengenai izin kepada Kantor Akuntan Publik dan kewajiban Kantor Akuntan Publik untuk menyampaikan pula secara langsung kepada Bank Indonesia: 1) laporan hasil audit; 2) Surat Komentar (Management Letter); 3) informasi lainnya yang dibutuhkan oleh Bank Indonesia dari Akuntan Publik yang dilakukan setiap saat apabila diperlukan; Yang dimaksud dengan informasi lainnya yang dibutuhkan oleh Bank Indonesia meliputi informasi yang diberikan secara tertulis maupun melalui pertemuan dengan Akuntan Publik. (3)
(4)
4) informasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 huruf b (Paragraf 43 ayat (2) dalam kodifikasi ini); g. Kewajiban Akuntan Publik untuk memberitahukan kepada Bank Indonesia sebelum pelaksanaan audit. Laporan hasil audit dan Surat Komentar (Management Letter) sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) huruf f angka 1) dan angka 2) wajib disampaikan kepada Bank Indonesia selambat‐lambatnya 4 (empat) bulan setelah Tahun Buku. Ruang lingkup audit sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) huruf d sekurang‐kurangnya mencakup: a. penggolongan Kualitas Aktiva Produktif dan kecukupan Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif yang dibentuk Bank, yang didasarkan atas penilaian sekurang‐sekurangnya mencakup 70% (tujuh puluh perseratus dari setiap jenis aktiva produktif Bank dengan sekurang‐kurangnya mencakup 25 (dua puluh lima) 54 Likuiditas Rupiah Paragraf Sumber Regulasi Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Ketentuan debitur terbesar atau berdasarkan hasil komunikasi antara Bank Indonesia dengan Akuntan Publik; b. penilaian terhadap rupa‐rupa aktiva termasuk namun tidak terbatas pada agunan yang diambil alih oleh Bank; c. hal‐hal lain yang diatur dalam Standar Akuntansi Keuangan dan Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia yang berlaku, termasuk catatan atas Laporan Keuangan; d. pendapat terhadap kewajaran atas transaksi dengan Pihak‐pihak yang Mempunyai Hubungan Istimewa maupun transaksi yang dilakukan dengan perlakuan khusus; Pihak‐pihak yang Mempunyai Hubungan Istimewa adalah pihak‐
pihak sebagaimana diatur dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku. e. jumlah dan kualitas penyediaan dana kepada Pihak Terkait; f. rincian pelanggaran Batas Maksimum Pemberian Kredit yang meliputi nama debitur, kualitas penyediaan dana, persentase dan jumlah pelanggaran Batas Maksimum Pemberian Kredit; g. rincian pelampauan Batas Maksimum Pemberian Kredit yang meliputi persentase dan jumlah pelampauan Batas Maksimum Pemberian Kredit; h. perhitungan Kewajiban Penyediaan Modal Minimum; i. hal‐hal lain yang ditentukan berdasarkan hasil komunikasi Bank Indonesia dengan Kantor Akuntan Publik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 (Paragraf 44 dalam kodifikasi ini); Penetapan hal‐hal lain pada huruf ini akan disusun oleh Bank Indonesia bersama‐sama dengan Kantor Akuntan Publik dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari ruang lingkup audit. j. transaksi Spot dan transaksi Derivatif; k. rasio Posisi Devisa Neto; dan l. keandalan sistem pelaporan Bank kepada Bank Indonesia dan pengujian terhadap keandalan laporan‐laporan yang disampaikan oleh Bank kepada Bank Indonesia. Perubahan cakupan perjanjian kerja dan ruang lingkup audit sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan ayat (4) akan ditetapkan dengan Surat Edaran Bank Indonesia. (5)
43 Pasal 19 7/50/PBI/2005 (1)
Akuntan Publik dan Kantor Akuntan Publik yang melakukan audit terhadap Laporan Keuangan Tahunan Bank wajib : a. melakukan audit sesuai dengan Standar Profesional Akuntan Publik, serta perjanjian kerja dan ruang lingkup audit sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 (Paragraf 42 dalam kodifikasi ini) ; 55 Likuiditas Rupiah Paragraf Sumber Regulasi Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Ketentuan b. memberitahukan kepada Bank Indonesia selambat‐lambatnya 7 (tujuh) hari kerja sejak ditemukannya : 1) pelanggaran peraturan perundang‐undangan di bidang keuangan dan perbankan ; dan 2) keadaan atau perkiraan keadaan yang dapat membahayakan kelangsungan usaha Bank ; Keadaan atau perkiraan keadaan yang dapat membahayakan kelangsungan usaha Bank termasuk namun tidak terbatas pada : 1. kekurangan Kewajiban Penyediaan Modal Minimum; 2. kekurangan pembentukan Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif yang material; 3. pelanggaran Batas Maksimum Pemberian Kredit; 4. kewajiban Giro Wajib Minimum; 5. kecurangan (fraud) yang bernilai material. c. menyampaikan laporan hasil audit dan Management letter sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (2) huruf f angka 1) dan angka 2) (Paragraf 42 ayat (2) huruf f angka 1) dan angka 2) dalam kodifikasi ini) kepada Bank Indonesia ; dan d. memenuhi ketentuan rahasia Bank sebagaimana diatur dalam Undang‐Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang‐Undang Nomor 10 Tahun 1998. Bagi Akuntan Publik dan Kantor Akuntan Publik yang melakukan audit terhadap Bank yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah, selain memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), juga wajib memperoleh pendapat dari Dewan Pengawas Syariah mengenai ketaatan Bank terhadap pelaksanaan prinsip syariah sebelum menerbitkan Laporan Audit atas Laporan Keuangan Bank. Dewan Pengawas Syariah harus memberikan pendapat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada Akuntan Publik. (2)
(3)
44 Pasal 20 3/22/PBI/2001 (1)
SE 3/32/DPNP 2001 Romawi III A.
(2)
Dalam rangka persiapan dan pelaksanaan audit Akuntan Publik dapat meminta informasi kepada Bank Indonesia mengenai kondisi Bank yang akan diaudit. Bank Indonesia dapat meminta informasi kepada Akuntan Publik meskipun perjanjian kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (1) (Paragraf 42 ayat (1) dalam kodifikasi ini) telah berakhir. Bank Umum Konvensional: Komunikasi Bank Indonesia dengan Akuntan Publik 1. Sesuai dengan Pasal 20 Peraturan Bank Indonesia tersebut di atas (Paragraf 44 dalam kodifikasi ini), Akuntan Publik dapat meminta informasi dari Bank Indonesia mengenai kondisi Bank yang diaudit dalam rangka persiapan dan pelaksanaan audit. Selain itu Bank Indonesia dapat meminta informasi dari Akuntan Publik meskipun perjanjian kerja antara Akuntan Publik dan Bank telah berakhir. 56 Likuiditas Rupiah Paragraf Sumber Regulasi SE 7/57/Dpbs B.
2005 Romawi III Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Ketentuan 2. Apabila dalam pelaksanaan audit, Akuntan Publik menemukan pelanggaran peraturan perundang‐undangan yang berlaku di bidang keuangan dan perbankan serta keadaan dan perkiraan keadaan yang dapat membahayakan kelangsungan usaha Bank, Akuntan Publik wajib menyampaikan pemberitahuan kepada Bank Indonesia selambat‐lambatnya 7 (tujuh) hari kerja sejak ditemukan. Keadaan dan atau perkiraan keadaan yang dapat membahayakan kelangsungan usaha Bank, antara lain keadaan dan atau perkiraan keadaan tentang: a. kekurangan Kewajiban Penyisihan Penyediaan Modal Minimum; b. kekurangan pembentukan Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif yang material; c. pelanggaran Batas Maksimum Pemberian Kredit; d. Kekurangan Giro Wajib Minimum; atau e. kecurangan (fraud) yang bernilai material. 3. Pemberitahuan sebagaimana dimaksud dalam angka 2 tersebut di atas, harus disusun dengan menggunakan formulir sesuai format pada Lampiran 2 (Lampiran 42 dalam kodifikasi ini). Pemberitahuan tersebut bersifat rahasia sampai dengan ditetapkan lebih lanjut oleh Bank Indonesia. Bank yang Melaksanakan Kegiatan Usaha Berdasarkan Prinsip Syariah di Indonesia Komunikasi antara Kantor Akuntan Publik, Akuntan Publik, Dewan Pengawas Syariah dan Bank Indonesia 1. Akuntan Publik dapat meminta informasi dari Bank Indonesia mengenai kondisi Bank yang diaudit dalam rangka persiapan dan pelaksanaan audit. Selain itu, Bank Indonesia dapat meminta informasi dari Kantor Akuntan Publik dan Akuntan Publik meskipun perjanjian kerja antara Akuntan Publik dan Bank telah berakhir. 2. Bank harus memberikan kesempatan kepada Bank Indonesia agar dapat memiliki akses informasi langsung terhadap Kantor Akuntan Publik dan Akuntan Publik dalam hal Bank Indonesia menganggap bahwa hal tersebut adalah dalam rangka melindungi integritas keuangan Bank atau dalam keadaan lain yang dianggap perlu dalam rangka pengawasan. 3. Dalam hal adanya perjanjian kerjasama antara Bank dengan pihak luar (outsourcing agreement), Bank harus memberikan kesempatan kepada Akuntan Publik yang bertugas sebagai auditor eksternal Bank untuk memperoleh akses terhadap informasi yang relevan yang diperlukan untuk memenuhi tanggung jawab pihak luar tersebut. Apabila diperlukan akses tersebut, antara lain adalah melakukan pemeriksaan ditempat penyedia outsourcing (outsourcing provider), serta melaporkan hasilnya kepada Bank Indonesia, jika diminta. 4. Akuntan Publik sebelum menerbitkan laporan audit atas laporan keuangan Bank wajib memperoleh pendapat dari Dewan Pengawas Syariah (DPS) mengenai ketaatan Bank terhadap 57 Likuiditas Rupiah Paragraf 45 Sumber Regulasi Pasal 21 3/22/PBI/2001 SE 3/32/DPNP 2001 Romawi II Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Ketentuan pelaksanaan prinsip syariah. Dalam mengeluarkan pendapat mengenai ketaatan terhadap prinsip syariah harus mengacu kepada ketentuan Bank Indonesia tentang Tugas dan Peran Dewan Pengawas Syariah (DPS). 5. Apabila dalam pelaksanaan audit, Akuntan Publik menemukan pelanggaran peraturan perundang‐undangan yang berlaku di bidang keuangan dan perbankan serta keadaan dan perkiraan keadaan yang dapat membahayakan kelangsungan usaha Bank, Akuntan Publik wajib menyampaikan pemberitahuan kepada Bank Indonesia selambat‐lambatnya 7 (tujuh) hari kerja sejak ditemukan. Keadaan dan atau perkiraan keadaan yang dapat membahayakan kelangsungan usaha Bank antara lain : a. Kekurangan Kewajiban Penyisihan Penyediaan Modal Minimum ; b. Kekurangan pembentukan Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif yang material ; c. Pelanggaran Batas Maksimum Pemberian Kredit ; d. Kecurangan (fraud) yang bernilai material. 6. Pemberitahuan sebagaimana dimaksud angka 5 tersebut diatas, harus disusun dengan menggunakan formulir sebagaimana diatur dalam Lampiran 2 (Lampiran 40 dalam kodifikasi ini). Pemberitahuan tersebut bersifat rahasia, sampai dengan ditetapkan lebih lanjut oleh Bank Indonesia. (1)
Kantor Akuntan Publik dan Akuntan Publik (partner in charge) yang melakukan audit Bank wajib terdaftar di Bank Indonesia. (2) Kantor Akuntan Publik dan Akuntan Publik yang akan mendaftar ke Bank Indonesia wajib memenuhi persyaratan sebagaimana ditetapkan dalam Surat Edaran Bank Indonesia. Pokok‐pokok ketentuan yang diatur dalam Surat Edaran Bank Indonesia antara lain mengenai bukti kompetensi dan pengalaman. A. Persyaratan Akuntan Publik yang Melakukan Audit Bank (Bank Umum Konvensional) 1. Laporan Keuangan Tahunan Bank wajib diaudit oleh Akuntan Publik. Kantor Akuntan Publik serta Akuntan Publik (partner in charge) yang melakukan audit Bank wajib terdaftar di Bank Indonesia dengan memenuhi persyaratan sebagaimana ditetapkan dalam Surat Edaran ini. 2. Persyaratan bagi Kantor Akuntan Publik dan Akuntan Publik yang terdaftar di Bank Indonesia ditetapkan sebagai berikut: a. Mempunyai izin praktek dari Menteri Keuangan; b. tidak pernah melakukan perbuatan tercela dan atau dihukum karena terbukti melakukan tindak pidana di bidang keuangan serta tidak termasuk dalam daftar kredit macet; c. memiliki akhlak dan moral yang baik; d. memiliki pengalaman dan kompetensi audit di bidang perbankan; 58 Likuiditas Rupiah Paragraf Sumber Regulasi Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Ketentuan e. sanggup secara terus menerus mengikuti program pendidikan di bidang akuntansi dan perbankan; f. sanggup melakukan audit sesuai Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) dan Kode Etik Profesi; g. bersikap independen dan profesional dalam penugasan audit; h. bersedia memberitahukan kepada Bank Indonesia apabila ditemukan pelanggaran terhadap peraturan perundang‐
undangan di bidang keuangan dan perbankan serta kondisi atau perkiraan kondisi yang dapat membahayakan kelangsungan usaha Bank; dan i. berkedudukan sebagai Rekan (partner in charge) pada Kantor Akuntan Publik dengan memenuhi persyaratan sebagai berikut: 1) dalam melakukan audit, Akuntan Publik menerapkan sekurang‐kurangnya 2 (dua) jenjang pengendalian atau supervisi yaitu Akuntan Publik yang bertanggung jawab (partner in charge), dan pengawas menengah yang melakukan pengawasan terhadap staf pelaksana; 2) bersedia untuk menjalani review eksternal oleh Ikatan Akuntan Indonesia Kompartemen Akuntan Publik (IAI‐
KAP) tentang pengendalian mutu di Kantor Akuntan Publik yang bersangkutan. 3. Permohonan pendaftaran Kantor Akuntan Publik dan Akuntan Publik yang akan melakukan audit terhadap Bank diajukan secara tertulis kepada Bank Indonesia dengan menggunakan formulir sesuai format pada Lampiran 1a (Lampiran 41a dalam kodifikasi ini) dan disertai dengan dokumen: a. dokumen yang menyangkut Akuntan Publik: 1) daftar riwayat hidup sesuai dengan fomulir sesuai format pada Lampiran 1b (Lampiran 41b dalam kodifikasi ini); 2) izin praktik dari Menteri Keuangan; 3) ijasah pendidikan formal di bidang akuntansi; 4) Nomor Pokok Wajib Pajak; 5) Sertifikat program pelatihan di bidang perbankan; 6) surat pernyataan yang menyatakan bahwa Akuntan Publik tidak pernah melakukan perbuatan tercela dan atau dihukum karena terbukti melakukan tindak pidana di bidang keuangan serta tidak memiliki kredit macet di Bank; 7) surat pernyataan kesanggupan untuk mengikuti secara terus menerus program pendidikan di bidang akuntansi dan perbankan; 8) surat pernyataan yang menyatakan bahwa Akuntan Publik sanggup melakukan audit sesuai dengan Standar Profesional Akuntan Publik dan Kode Etik Profesi, serta senantiasa bersikap independen dan profesional dalam melakukan penugasan audit; 59 Likuiditas Rupiah Paragraf Sumber Regulasi SE 3/32/DPNP 2001 Romawi VI 4.
5.
6.
7.
8.
9.
Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Ketentuan 9) surat pernyataan yang menyatakan bahwa Akuntan Publik yang bersangkutan bersedia memberitahukan kepada Bank Indonesia apabila ditemukan pelanggaran terhadap peraturan perundang‐undangan yang berlaku di bidang keuangan dan perbankan, serta keadaan dan perkiraan keadaan yang dapat membahayakan kelangsungan usaha Bank; dan 10) rekomendasi untuk pendaftaran di Bank Indonesia dari Ikatan Akuntan Indonesia ‐ Kompartemen Akuntan Publik (IAI‐KAP). b. dokumen yang berkaitan dengan Kantor Akuntan Publik: 1) Nomor Pokok Wajib Pajak; 2) izin praktik dari Menteri Keuangan Republik Indonesia bagi Akuntan Publik yang bertindak sebagai pimpinan Kantor Akuntan Publik yang bersangkutan; 3) bagan organisasi yang menunjukkan bahwa dalam melakukan audit, Akuntan Publik menerapkan sekurang‐
kurangnya 2 (dua) jenjang pengendalian atau supervisi yaitu Akuntan Publik yang bertanggung jawab (partner in charge), dan pengawas menengah yang melakukan pengawasan terhadap staf pelaksana; 4) surat pernyataan bahwa Kantor Akuntan Publik Bersedia untuk menjalani review eksternal oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) tentang pengendalian mutu di Kantor Akuntan Publik yang bersangkutan. Dalam rangka memberikan persetujuan atau penolakan sebagaimana dimaksud dalam angka 3, Bank Indonesia melakukan: a. penelitian atas kelengkapan dan kebenaran dokumen; dan b. wawancara terhadap Akuntan Publik, apabila diperlukan. Persetujuan atau penolakan atas permohonan sebagaimana dimaksud dalam angka 4, diberikan dalam jangka waktu selambat‐lambatnya 45 (empat puluh lima) hari sejak diterimanya permohonan tersebut secara lengkap. Nama Akuntan Publik dan Kantor Akuntan Publik yang terdaftar di Bank Indonesia dicantumkan dalam homepage Bank Indonesia. Setiap perubahan yang berkenaan dengan data dan informasi dari Akuntan Publik dan Kantor Akuntan Publik sebagaimana dimaksud dalam angka 3 wajib dilaporkan secara tertulis oleh Akuntan Publik dan atau Kantor Akuntan Publik kepada Bank Indonesia selambat‐lambatnya 14 (empat belas) hari sejak terjadinya perubahan tersebut. Untuk meningkatkan pemahaman dan kemampuan Akuntan Publik dalam melakukan audit terhadap Bank, Bank Indonesia akan melakukan program pendidikan dan pelatihan bagi Akuntan Publik. Berdasarkan penilaian terhadap pelanggaran yang dilakukan oleh Akuntan Publik dan Kantor Akuntan Publik, sesuai dengan ketentuan pada angka IV (Huruf A angka 1 s.d angka 7 dalam 60 Likuiditas Rupiah Paragraf Sumber Regulasi B.
SE 7/57/DPNP 2005 Romawi II Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Ketentuan kodifikasi ini), Bank Indonesia dapat mengajukan usul kepada Menteri Keuangan dan Ikatan Akuntan Indonesia untuk pencabutan izin Kantor Akuntan Publik dan Akuntan Publik. Persyaratan dan Tata Cara Permohonan Pendaftaran Kantor Akuntan Publik dan Akuntan Publik (Bank yang Melaksanakan Kegiatan Usaha Berdasarkan Prinsip Syariah di Indonesia) 1. Kantor Akuntan Publik serta Akuntan Publik (partner in charge) yang melakukan audit Bank wajib terdaftar di Bank Indonesia dengan memenuhi persyaratan sebagaimana yang ditetapkan. 2. Persyaratan bagi Kantor Akuntan Publik dan Akuntan Publik yang terdaftar di Bank Indonesia sebagaimana dimaksud pada angka 1 ditetapkan sebagai berikut : a. mempunyai izin praktek dari Menteri Keuangan ; b. tidak pernah melakukan perbuatan tercela dan atau dihukum karena terbukti melakukan tindak pidana di bidang keuangan serta tidak termasuk dalam daftar kredit macet ; c. memiliki akhlak dan moral yang baik ; d. memiliki pengalaman dan kompetensi audit di bidang perbankan ; e. sanggup secara terus menerus mengikuti program pendidikan di bidang akuntansi dan perbankan ; f. sanggup melakukan audit sesuai Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) dan Kode Etik Profesi ; g. bersikap independen dan profesional dalam penugasan audit ; h. bersedia memberitahukan kepada Bank Indonesia apabila ditemukan pelanggaran terhadap peraturan perundang‐
undangan di bidang keuangan dan perbankan serta kondisi atau perkiraan kondisi yang dapat membahayakan kelangsungan usaha Bank ; dan i. berkedudukan sebagai rekan (partner in charge) pada Kantor Akuntan Publik dengan memenuhi persyaratan sebagai berikut : 1) dalam melakukan audit, Akuntan Publik menerapkan sekurang‐kurangnya 2 (dua) jenjang pengendalian atau supervisi yaitu Akuntan Publik yang bertanggung jawab (partner in charge), dan pengawas menengah yang melakukan pengawasan terhadap staf pelaksana ; 2) bersedia untuk menjalani review eksternal oleh Ikatan Akuntan Indonesia Kompartemen Akuntan Publik (IAI‐
KAP) tentang pengendalian mutu di Kantor Akuntan Publik yang bersangkutan. 3. Akuntan Publik yang dapat melakukan audit terhadap Bank, selain terdaftar di BI dengan memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam angka 2, juga harus memenuhi ketentuan sebagai berikut : a. memiliki pengetahuan dan atau pengalaman serta kompetensi audit dibidang perbankan dan atau keuangan syariah ; 61 Likuiditas Rupiah Paragraf Sumber Regulasi Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Ketentuan b. mempunyai pengetahuan dan pemahaman yang memadai tentang operasional perbankan dan atau keuangan syariah ; Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, dibuktikan dengan adanya sertifikat atau surat tertentu, atau yang dapat dipersamakan dengan itu dari lembaga yang kredibel dibidangnya. 4. Permohonan pendaftaran Kantor Akuntan Publik dan Akuntan Publik yang akan melakukan audit terhadap Bank diajukan secara tertulis kepada Bank Indonesia dengan menggunakan formulir sesuai format pada Lampiran 1a (Lampiran 39a dalam kodifikasi ini) dan disertai dengan dokumen : a. dokumen yang menyangkut Akuntan Publik ; 1) daftar riwayat hidup sesuai dengan formulir sesuai format pada Lampiran 1b (Lampiran 39b dalam kodifikasi ini); 2) izin praktik dari Menteri Keuangan ; 3) ijazah pendidikan formal di bidang akuntansi ; 4) Nomor Pokok Wajib Pajak ; 5) Sertifikat program pelatihan di bidang perbankan, termasuk sertifikat di bidang keuangan dan perbankan syariah; 6) surat pernyataan yang menyatakan bahwa Akuntan Publik tidak pernah melakukan perbuatan tercela dan atau dihukum karena terbukti melakukan tindak pidana di bidang keuangan serta tidak memiliki kredit macet di Bank ; 7) surat pernyataan kesanggupan untuk mengikuti secara terus menerus program pendidikan di bidang akuntansi dan perbankan ; 8) surat pernyataan yang menyatakan bahwa Akuntan Publik sanggup melakukan audit sesuai dengan Standar Profesional Akuntan Publik dan Kode Etik Profesi, serta senantiasa bersikap independen dan profesional dalam melakukan penugasan audit ; 9) surat pernyataan yang menyatakan bahwa Akuntan Publik yang bersangkutan bersedia memberitahukan dan melaporkan kepada Bank Indonesia apabila ditemukan pelanggaran terhadap peraturan perundang‐
undangan yang berlaku di bidang keuangan dan perbankan, serta keadaan dan perkiraan keadaan yang dapat membahayakan kelangsungan usaha Bank ; dan 10) rekomendasi untuk pendaftaran di Bank Indonesia dari Ikatan Akuntan Indonesia – Kompartemen Akuntan Publik (IAI‐KAP) b. dokumen yang berkaitan dengan Kantor Akuntan Publik : 1) Nomor Pokok Wajib Pajak ; 2) izin praktik dari Menteri Keuangan Republik Indonesia bagi Akuntan Publik yang bertindak sebagai pimpinan Kantor Akuntan Publik yang bersangkutan ; 62 Likuiditas Rupiah Paragraf 46 Sumber Regulasi SE 7/57/DPNP 2005 Romawi VI SE 7/57/DPNP 2005 Romawi VII Pasal 22 3/22/PBI/2001 5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Ketentuan 3) bagan organisasi yang menunjukkan bahwa dalam melakukan audit, Akuntan Publik menerapkan sekurang‐
kurangnya 2 (dua) jenjang pengendalian atau supervisi yaitu Akuntan Publik yang bertanggung jawab (partner in charge), dan pengawas menengah yang melakukan pengawasan terhadap staf pelaksana ; dan 4) surat pernyataan bahwa Kantor Akuntan Publik bersedia untuk menjalani review eksternal oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) tentang pengendalian mutu di Kantor Akuntan Publik yang bersangkutan. Dalam rangka memberikan persetujuan atau penolakan atas permohonan sebagaimana dimaksud dalam angka 4, Bank Indonesia melakukan : a. Penelitian atas kelengkapan dan kebenaran dokumen; dan b. Wawancara terhadap Akuntan Publik, apabila diperlukan. Persetujuan atau penolakan atas permohonan sebagaimana dimaksud dalam angka 5, diberikan dalam jangka waktu selambat‐lambatnya 45 (empat puluh lima) hari kalender sejak diterimanya permohonan tersebut secara lengkap. Nama Akuntan Publik dan Kantor Akuntan Publik yang terdaftar di Bank Indonesia dicantumkan dalam homepage Bank Indonesia. Setiap perubahan yang berkenaan dengan data dan informasi dari Akuntan Publik dan Kantor Akuntan Publik sebagaimana dimaksud dalam angka 4 wajib dilaporkan secara tertulis oleh Akuntan Publik dan atau Kantor Akuntan Publik kepada Bank Indonesia selambat‐lambatnya 14 (empat belas) hari kalender sejak terjadinya perubahan tersebut. Untuk meningkatkan pemahaman dan kemampuan Akuntan Publik dalam melakukan audit terhadap Bank, Kantor Akuntan Publik dan Akuntan Publik harus meningkatkan kemampuan dan mengikuti program pendidikan dan pelatihan perbankan dan atau keuangan syariah yang diselenggarakan baik oleh Bank Indonesia atau pihak ketiga lainnya. Berdasarkan penilaian terhadap pelanggaran yang dilakukan oleh Akuntan Publik dan Kantor Akuntan Publik, Bank Indonesia dapat mengajukan usul kepada Menteri Keuangan dan Ikatan Akuntan Indonesia untuk pencabutan izin Kantor Akuntan Publik dan Akuntan Publik. Bagi Kantor Akuntan Publik dan Akuntan Publik yang telah terdaftar di Bank Indonesia, apabila akan melaksanakan pemeriksaan terhadap Bank harus memenuhi persyaratan terlebih dahulu sebagaimana dimaksud dalam angka II.3 (butir B. 3 dalam kodifikasi ini). Dokumen yang berkaitan dengan persyaratan dimaksud adalah sertifikat program pelatihan keuangan dan perbankan syariah yang telah diikuti dari lembaga yang kredibel di bidangnya. Bank Indonesia mengumumkan Kantor Akuntan Publik dan Akuntan Publik yang terdaftar di Bank Indonesia pada home page Bank Indonesia. 63 Likuiditas Rupiah Paragraf Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Sumber Regulasi Ketentuan Alamat home page Bank Indonesia adalah http://www.bi.go.id. A. Bank Konvensional SE 3/32/DPNP Alamat Pendaftaran Akuntan Publik dan Pelaporan 2001 1. Pendaftaran Akuntan Publik ditujukan kepada Bank Indonesia Romawi V Up. Direktorat Perizinan dan Informasi Perbankan, Jl. M.H. Thamrin No.2, Jakarta 10010 dengan menggunakan formulir sesuai format dalam Lampiran 1a (Lampiran 41a dalam kodifikasi ini). Bagi Akuntan Publik yang berkedudukan di luar Jabotabek, tembusan pendaftaran disampaikan kepada Kantor Bank Indonesia setempat. 2. Laporan keuangan yang telah diaudit (audit report) disertai dengan Surat Komentar (Management Letter) disampaikan kepada Bank Indonesia Up. Direktorat Pengawasan Bank, bagi Bank yang berkantor pusat di wilayah kerja kantor pusat Bank Indonesia atau Kantor Bank Indonesia setempat, bagi Bank yang berkantor pusat di luar wilayah kerja kantor pusat Bank Indonesia. 3. Laporan temuan mengenai pelanggaran peraturan perundang‐
undangan yang berlaku di bidang keuangan dan perbankan atau keadaan atau perkiraan keadaan yang dapat membahayakan kelangsungan usaha Bank disampaikan kepada Bank Indonesia Up. Direktorat Pengawasan Bank, bagi Bank yang berkantor pusat di wilayah kerja kantor pusat Bank Indonesia atau Kantor Bank Indonesia setempat bagi Bank yang berkantor pusat di luar wilayah kantor pusat Bank Indonesia. SE 7/57/DPNP 2005 Romawi V B.
Bank yang Melaksanakan Kegiatan Usaha Berdasarkan Prinsip Syariah di Indonesia Alamat Pendaftaran Akuntan Publik dan Pelaporan 1. Pendaftaran Akuntan Publik dilakukan dengan menggunakan formulir sesuai format dalam Lampiran 1a (Lampiran 39a dalam kodifikasi ini). dan ditujukan kepada Bank Indonesia dengan alamat : a. Up. Direktorat Perizinan dan Informasi Perbankan, Jl.M.H.Thamrin No.2, Jakarta 10110, bagi Akuntan Publik yang berkedudukan di Jabotabek ; atau b. Up. Direktorat Perizinan dan Informasi Perbankan, Jl.M.H.Thamrin No.2, Jakarta 10110, bagi Akuntan Publik yang berkedudukan di luar Jabotabek dengan tembusan pendaftaran disampaikan kepada Kantor Bank Indonesia setempat. 2. Laporan keuangan yang telah diaudit (audit report) disertai dengan Surat Komentar (Management Letter) dan Laporan temuan mengenai pelanggaran peraturan perundang‐undangan yang berlaku di bidang keuangan dan perbankan atau keadaan atau perkiraan keadaan yang dapat membahayakan kelangsungan usaha Bank disampaikan kepada Bank Indonesia : a. Up. Direktorat Perbankan Syariah, Jl. M.H.Thamrin No.2, Jakarta 10110, bagi Bank yang berkantor pusat di wilayah kerja kantor pusat Bank Indonesia ; atau 64 Likuiditas Rupiah Paragraf 47 48 Sumber Regulasi Pasal 23 3/22/PBI/2001 Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Ketentuan b. Kantor Bank Indonesia setempat bagi Bank yang berkantor pusat di luar wilayah kantor pusat Bank Indonesia. Bagi Bank yang berdasarkan ketentuan yang berlaku wajib dilakukan audit laporan keuangan tahunan oleh instansi pemerintah, dikecualikan dari ketentuan Pasal 16 dan Pasal 22. (Paragraf 40 dan Paragraf 46 dalam kodifikasi ini) Yang dimaksud dengan instansi pemerintah antara lain adalah Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). BAB IX Sanksi
Bagian Ketiga Pasal 39 7/50/PBI/2005 Sanksi bagi Akuntan Publik dan Kantor Akuntan Publik (1) Akuntan Publik atau Kantor Akuntan Publik yang secara material melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) dan ayat (2) (Paragraf 43 ayat (1) dan ayat (2) dalam kodifikasi ini) dikenakan sanksi administratif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 Undang‐undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang‐undang No. 10 Tahun 1998 berupa : a. penghapusan nama Akuntan Publik dari Daftar Akuntan Publik di Bank Indonesia ; b. penghapusan Kantor Akuntan Publik dari daftar Kantor Akuntan Publik di Bank Indonesia, apabila pelanggaran dilakukan oleh 2 (dua) orang Akuntan Publik yang bertanggung jawab (partner in charge) dalam audit Bank dari Kantor Akuntan Publik yang sama, kecuali untuk instansi pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 (Paragraf 47 dalam kodifikasi ini); dan Perhitungan pelanggaran ketentuan oleh 2 (dua) orang Akuntan Publik yang bertanggung jawab (partner in charge) dapat dilakukan pada periode yang sama maupun pada periode yang berbeda. c. penyampaian usul kepada instansi yang berwenang untuk mencabut atau membatalkan izin usaha sebagai pemberi jasa bagi Bank sesuai dengan ketentuan atau kode etik yang berlaku. Instansi yang berwenang dalam ayat ini adalah Departemen Keuangan dan Ikatan Akuntan Indonesia. (2) Akuntan Publik atau Kantor Akuntan Publik yang tidak memenuhi ketentuan rahasia Bank sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) huruf d (Paragraf 43 ayat (1) huruf d dalam kodifikasi ini), selain dikenakan sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1), juga dapat dikenakan sanksi pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 47 ayat (2) Undang‐undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang‐undang Nomor 10 Tahun 1998. 65 Likuiditas Rupiah Paragraf Sumber Regulasi A.
SE 3/32/DPNP 2001 Romawi IV Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Ketentuan Bank Umum Konvensional 1. Dalam Pasal 39 Peraturan Bank Indonesia tersebut di atas (Paragraf 48 dalam kodifikasi ini), Akuntan Publik dan Kantor Akuntan Publik dapat dihapuskan dari daftar Akuntan Publik di Bank Indonesia apabila tidak memenuhi ketentuan yang ditetapkan dalam Pasal 19. (Paragraf 43 dalam kodifikasi ini) 2. Nama Akuntan Publik dihapuskan dari daftar Akuntan Publik di Bank Indonesia apabila berdasarkan penilaian Bank Indonesia, diketahui bahwa Akuntan Publik: a. tidak memberitahukan temuan pelanggaran sebagaimana dimaksud pada angka III.2 (Paragraf 44 ayat 2 Butir A.2 dalam kodifikasi ini) kepada Bank Indonesia dalam jangka waktu selambat‐lambatnya 7 (tujuh) hari kerja sejak ditemukannya pelanggaran peraturan perundang‐undangan yang berlaku di bidang keuangan dan perbankan atau keadaan atau perkiraan keadaan yang dapat membahayakan kelangsungan usaha Bank; b. tidak menyampaikan tembusan Laporan Keuangan yang telah diaudit (audit report) kepada Bank Indonesia yang disertai dengan Surat Komentar (Management Letter) selambat‐lambatnya 4 (empat) bulan setelah Tahun Buku; c. tidak memenuhi ketentuan rahasia Bank sebagaimana diatur dalam Undang‐undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang‐
undang Nomor 10 Tahun 1998; d. Akuntan Publik telah terbukti melakukan perbuatan tercela dan atau dihukum karena terbukti melakukan tindak pidana di bidang keuangan, baik di Indonesia maupun di negara lain atau memiliki kredit macet; e. Akuntan Publik melakukan audit tidak sesuai dengan Standar Profesional Akuntan Publik dan Kode Etik Profesi, serta tidak bersikap independen dan profesional dalam melakukan penugasan audit; f. Akuntan Publik melakukan audit tidak sesuai dengan perjanjian kerja sebagaimana diatur dalam Pasal 18 Peraturan Bank Indonesia tersebut di atas (Paragraf 42 dalam kodifikasi ini); atau g. Akuntan Publik yang merupakan anggota Kantor Akuntan Publik yang tidak lagi memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam angka II.2. huruf i angka 1 (Paragraf 45 ayat (2) Butir A.2.i.1) dalam kodifikasi ini). 3. Sesuai Pasal 39 ayat (1) Peraturan Bank Indonesia tersebut di atas (Paragraf 48 ayat (1) dalam kodifikasi ini), nama Kantor Akuntan Publik dihapuskan dari daftar Kantor Akuntan Publik di Bank Indonesia apabila terdapat 2 (dua) orang atau lebih Akuntan Publik yang bertanggung jawab (partner in charge) dari Kantor Akuntan Publik yang sama dikenakan sanksi dan dihapuskan dari daftar Akuntan Publik di Bank Indonesia sebagaimana dimaksud dalam angka 2. 66 Likuiditas Rupiah Paragraf Sumber Regulasi B.
SE 7/57/DPbs 2005 Romawi IV Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Ketentuan 4. Penghapusan nama Kantor Akuntan Publik dan Akuntan Publik dari daftar di Bank Indonesia diberitahukan oleh Bank Indonesia kepada Kantor Akuntan Publik dan Akuntan Publik yang bersangkutan serta dilaporkan kepada Ikatan Akuntan Indonesia dan Menteri Keuangan. Bank yang Melaksanakan Kegiatan Usaha Berdasarkan Prinsip Syariah 1. Nama Akuntan Publik dihapuskan dari daftar Akuntan Publik di Bank Indonesia apabila berdasarkan penilaian Bank Indonesia, diketahui bahwa Akuntan Publik : a. tidak memberitahukan temuan pelanggaran sebagaimana dimaksud dalam dalam Butir II.2.h dan atau Angka III. 5 (Paragraf 45 ayat (2) Butir B.2.h dan atau Paragraf 44 ayat (2) Butir B.5 dalam kodifikasi ini) kepada Bank Indonesia dalam jangka waktu selambat‐lambatnya 7 (tujuh) hari kerja sejak ditemukannya pelanggaran peraturan perundang‐
undangan yang berlaku di bidang keuangan dan perbankan atau keadaan atau perkiraan keadaan yang dapat membahayakan kelangsungan usaha Bank ; b. tidak menyampaikan tembusan Laporan Keuangan yang telah diaudit (audit report) kepada Bank Indonesia yang disertai dengan Surat Komentar (Management Letter) selambat‐lambatnya 4 (empat) bulan setelah Tahun Buku ; c. tidak memenuhi ketentuan rahasia Bank sebagaimana diatur dalam Undang‐Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang‐
Undang Nomor 10 Tahun 1998 ; d. Akuntan Publik telah terbukti melakukan perbuatan tercela dan atau dihukum karena terbukti melakukan tindak pidana di bidang keuangan, baik di Indonesia maupun di Negara lain atau memiliki kredit macet ; e. Akuntan Publik melakukan audit tidak sesuai dengan Standar Profesional Akuntan Publik dan Kode Etik Profesi, serta tidak bersikap independen dan professional dalam melakukan penugasan audit ; f. Sebelum mengeluarkan pendapat atas laporan audit Bank, Akuntan Publik tidak meminta pendapat dan atau memperoleh pendapat dari Dewan Pengawas Syariah mengenai ketaatan Bank terhadap prinsip syariah ; g. Akuntan Publik melakukan audit tidak sesuai dengan perjanjian kerja sebagaimana diatur dalam Pasal 18 Peraturan Bank Indonesia tentang Transparansi Kondisi Keuangan Bank dan Pasal 13 Peraturan Bank Indonesia tentang Transparansi Kondisi Keuangan Bank Perkreditan Rakyat Syariah (Paragraf 18 dan Paragraf 93 dalam kodifikasi ini) ; h. Akuntan Publik yang merupakan anggota Kantor Akuntan Publik yang tidak lagi memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam angka II.2 huruf i angka 1) (Paragraf 45 ayat 67 Likuiditas Rupiah Paragraf Sumber Regulasi Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Ketentuan (2) Butir B.2.i.1) dalam kodifikasi ini) ; atau i. Izin praktek dari Menteri Keuangan telah dicabut. 2. Nama Kantor Akuntan Publik dihapuskan dari daftar Kantor Akuntan Publik di Bank Indonesia apabila terdapat 2 (dua) orang atau lebih Akuntan Publik yang bertanggung jawab (partner in charge) dari Kantor Akuntan Publik yang sama dikenakan sanksi dan dihapuskan dari daftar Akuntan Publik di Bank Indonesia sebagaimana dimaksud dalam angka 1. 3. Penghapusan nama Kantor Akuntan Publik dan Akuntan Publik dari daftar di Bank Indonesia diberitahukan oleh Bank Indonesia kepada Kantor Akuntan Publik dan Akuntan Publik yang bersangkutan serta dilaporkan kepada Ikatan Akuntan Indonesia dan Menteri Keuangan. BAB I 49 Pasal 1 15/3/PBI/2013 50 Pasal 2 15/3/PBI/2013 Transparansi Kondisi Keuangan Bank Perkreditan Rakyat
Ketentuan Umum
1. Bank Perkreditan Rakyat yang selanjutnya disingkat BPR adalah Bank Perkreditan Rakyat sebagaimana dimaksud dalam Undang‐Undang tentang Perbankan. 2. Laporan Tahunan adalah laporan lengkap mengenai kinerja suatu BPR dalam kurun waktu 1 (satu) tahun yang berisi Laporan Keuangan Tahunan dan informasi umum. 3. Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku bagi BPR adalah Standar Akuntansi Keuangan bagi Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP) dan Pedoman Akuntansi BPR (PA BPR). 4. Laporan Keuangan Tahunan adalah laporan keuangan akhir tahun BPR yang disusun berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku bagi BPR. 5. Laporan Keuangan Publikasi adalah laporan keuangan BPR yang disusun berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku bagi BPR dan dipublikasikan setiap triwulan sesuai dengan ketentuan Bank Indonesia. 6. Akuntan Publik adalah Akuntan Publik sebagaimana dimaksud dalam Undang‐Undang tentang Akuntan Publik. 7. Kantor Akuntan Publik adalah Kantor Akuntan Publik sebagaimana dimaksud dalam Undang‐Undang tentang Akuntan Publik. 8. Tahun Buku adalah tahun takwim atau tahun yang dimulai dari bulan Januari sampai dengan bulan Desember. 9. Surat Komentar (Management Letter) adalah komentar tertulis dari Akuntan Publik kepada manajemen bank mengenai hasil kaji ulang terhadap struktur pengendalian intern, pelaksanaan Standar Akuntansi Keuangan atau masalah lain yang ditemui dalam pelaksanaan audit, beserta saran‐saran perbaikannya. (1) BPR wajib menyusun dan menyajikan laporan keuangan dengan bentuk dan cakupan sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Bank Indonesia ini, yang terdiri dari: a. Laporan Tahunan; dan b. Laporan Keuangan Publikasi 68 Likuiditas Rupiah Paragraf 51 Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Sumber Regulasi Ketentuan (2) Laporan Tahunan dan Laporan Keuangan Publikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib disusun dalam Bahasa Indonesia. A. Dalam rangka pemantauan keadaan usaha Bank Perkreditan SE 15/29/DKBU Rakyat (BPR) oleh publik, BPR diwajibkan untuk menyampaikan 2013 laporan dan/ atau informasi sesuai dengan waktu dan bentuk Romawi I yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. B. Jenis laporan dan/atau informasi yang ditetapkan oleh Bank Indonesia sebagaimana dimaksud dalam huruf A adalah Laporan Tahunan dan Laporan Keuangan Publikasi. C. Laporan Tahunan disusun antara lain untuk memberikan gambaran lengkap mengenai kinerja BPR dalam kurun waktu satu tahun. D. Laporan Keuangan Publikasi disusun antara lain untuk memberikan informasi mengenai posisi keuangan, informasi lainnya, susunan Pengurus dan komposisi Pemegang Saham termasuk Pemegang Saham Pengendali secara triwulanan kepada berbagai pihak yang berkepentingan dengan perkembangan usaha BPR. E. Agar Laporan Tahunan dan Laporan Keuangan Publikasi dapat diperbandingkan, penyajian laporan tersebut wajib didasarkan pada Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku bagi BPR yaitu Standar Akuntansi Keuangan bagi Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP), Pedoman Akuntansi bagi BPR (PA BPR), dan ketentuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. F. Laporan Tahunan dan Laporan Keuangan Publikasi wajib disusun dalam Bahasa Indonesia. G. Laporan Keuangan Tahunan bagi BPR dengan total aset lebih besar dari atau sama dengan Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah) wajib diaudit oleh Akuntan Publik yang terdaftar di Bank Indonesia. H. Angka dalam Laporan Tahunan dan Laporan Keuangan Publikasi disajikan dalam mata uang Rupiah dan dalam ribuan Rupiah. I. Laporan Tahunan dan Laporan Keuangan Publikasi disampaikan oleh kantor pusat BPR. BAB II Laporan Tahunan Pasal 3 15/3/PBI/2013 (1) Laporan Tahunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) huruf a (Paragraf 50 ayat (1) huruf a dalam kodifikasi ini) paling kurang memuat: a. informasi umum yang meliputi antara lain: 1. kepengurusan; 2. kepemilikan; 3. perkembangan usaha BPR; 4. strategi dan kebijakan manajemen; dan 5. laporan manajemen; b. Laporan Keuangan Tahunan yang terdiri dari: 1. Neraca; 2. Laporan Laba Rugi; 3. Laporan Perubahan Ekuitas; 69 Likuiditas Rupiah Paragraf Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Sumber Regulasi Ketentuan 4. Laporan Arus Kas; dan 5. Catatan atas laporan keuangan, termasuk informasi tentang Komitmen dan Kontinjensi; c. opini dari Akuntan Publik atas Laporan Keuangan Tahunan BPR yang diaudit oleh Akuntan Publik; d. seluruh aspek transparansi dan informasi yang diwajibkan untuk Laporan Keuangan Publikasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (3) huruf b (Paragraf 56 ayat (3) huruf b dalam kodifikasi ini); e. seluruh aspek pengungkapan (disclosure) sebagaimana diwajibkan dalam Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku bagi BPR. (2) Laporan Keuangan Tahunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b wajib disusun untuk 1 (satu) Tahun Buku dan disajikan dengan perbandingan 1 (satu) Tahun Buku sebelumnya. (3) Cakupan Laporan Tahunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) akan diatur lebih lanjut dalam Surat Edaran Bank Indonesia. A. Laporan Tahunan memuat paling kurang: SE 15/29/DKBU 1. Informasi Umum yang meliputi antara lain: 2005 a. Susunan kepengurusan yang meliputi anggota Direksi dan Romawi II Dewan Komisaris, dan Pejabat Eksekutif, dengan informasi mencakup jabatan dan ringkasan riwayat hidup; b. Kepemilikan, berupa nama Pemegang Saham termasuk Pemegang Saham Pengendali dan komposisi serta persentase kepemilikan saham; c. Perkembangan usaha BPR yang antara lain memuat: 1) Riwayat ringkas pendirian BPR meliputi antara lain: a) nomor dan tanggal akta pendirian serta perubahan terakhir, pengesahan dari instansi yang berwenang; b) tanggal mulai beroperasi; c) bidang usaha sesuai anggaran dasar; dan d) tempat kedudukan dan lokasi utama kegiatan usaha; 2) Ikhtisar data keuangan penting, paling kurang mencakup pendapatan dan beban operasional, pendapatan dan beban non operasional, laba sebelum Pajak Penghasilan (PPh), taksiran PPh dan laba bersih. 3) Rasio keuangan, disajikan paling kurang mencakup Kualitas Aktiva Produktif (KAP), Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM), kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL), Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif (PPAP), Return on Asset (ROA), Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO), Cash Ratio, dan Loan to Deposit Ratio (LDR); 4) Perbandingan jumlah kredit bermasalah terhadap total kredit yang diberikan dan penyebab utama kredit bermasalah; dan 5) Perkembangan usaha yang berpengaruh secara signifikan terhadap BPR pada periode laporan seperti ekspansi atau penciutan kegiatan usaha dan/atau jaringan kantor. d. Strategi dan kebijakan manajemen dalam mengelola dan mengembangkan usaha BPR, termasuk informasi mengenai 70 Likuiditas Rupiah Paragraf Sumber Regulasi Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Ketentuan manajemen risiko yang paling kurang mencakup identifikasi dan pengendalian risiko; e. Laporan manajemen yang menyajikan informasi mengenai pengelolaan BPR dalam rangka tata kelola yang baik, paling kurang mencakup antara lain: 1) Struktur organisasi; 2) Bidang usaha sesuai anggaran dasar dan kegiatan utama pada periode pelaporan; 3) Teknologi informasi, meliputi antara lain sistem operasional, sistem keamanan, dan penyedia teknologi informasi; 4) Perkembangan dan target pasar; 5) Jumlah, jenis, dan lokasi kantor; 6) Kerjasama BPR dengan baik atau lembaga lain dalam rangka pengembangan usaha; 7) Kepemilikan oleh anggota Direksi, Dewan Komisaris dan Pemegang Saham dalam kelompok usaha BPR, dan perubahan kepemilikan dari tahun sebelumnya, jika ada; 8) Keterikatan antar pemilik, antar pengurus, dan antara pemilik dengan pengurus BPR; 9) Sumber Daya Manusia (SDM), meliputi jumlah, tingkat pendidikan, dan kegiatan pengembangan SDM selama periode yang bersangkutan; 10) Kebijakan pemberian gaji, tunjangan, dan fasilitas bagi anggota Direksi dan Dewan Komisaris termasuk bonus, tantiem, dan fasilitas lainnya; dan 11) Perubahan penting lainnya yang terjadi di BPR dan/atau di kelompok usaha BPR yang mempengaruhi operasional BPR dalam tahun yang bersangkutan. 2. Laporan Keuangan Tahunan yang disusun untuk 1 (satu) Tahun Buku dan disajikan dengan perbandingan 1 (satu) Tahun Buku sebelumnya paling kurang terdiri dari: a. Neraca; b. Laporan Laba Rugi dari tahun buku yang bersangkutan; c. Laporan Perubahan Ekuitas; d. Laporan Arus Kas; dan e. Catatan atas laporan keuangan, termasuk informasi mengenai Komitmen dan Kontijensi. 3. Opini dari Akuntan Publik apabila Laporan Keuangan Tahunan diaudit oleh Akuntan Publik; 4. Selain pengungkapan sebagaimana dimaksud pada angka 1 dan angka 2, BPR wajib pula melakukan pengungkapan (disclosure) informasi lainnya yang meliputi: a. Ikhtisar kebijakan akuntansi, mencakup: 1) pernyataan bahwa BPR menggunakan SAK ETAP; 2) dasar pengukuran dan penyusunan laporan keuangan; dan 3) kebijakan akuntansi BPR yang antara lain meliputi kebijakan konsep dasar pengukuran, kredit yang diberikan, penyisihan kerugian kredit, investasi di Sertifikat Bank Indonesia, agunan yang diambil alih, kas dan setara kas, 71 Likuiditas Rupiah Paragraf Sumber Regulasi Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Ketentuan aset tetap dan inventaris serta penyusutan, pengakuan pendapatan bunga, pengakuan beban bunga, pajak penghasilan, dan imbalan kerja. b. Penjelasan atas pos‐pos laporan keuangan yang disusun dengan memperhatikan urutan penyajian neraca, laporan laba rugi, laporan arus kas dan laporan perubahan ekuitas serta informasi tambahan sesuai dengan ketentuan pengungkapan pada setiap pos pada bagian yang terkait, ditambah dengan pengungkapan mengenai: 1) Transaksi hubungan istimewa, yang meliputi: a) rincian jumlah masing‐masing pos aset, kewajiban, penghasilan, dan beban kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa beserta persentasenya terhadap total aset, kewajiban, penghasilan dan beban; b) penjelasan transaksi yang tidak berhubungan dengan kegiatan usaha utama dan jumlah utang atau jumlah piutang sehubungan dengan transaksi hubungan istimewa; c) sifat hubungan, jenis, dan unsur transaksi hubungan istimewa termasuk pernyataan apakah BPR menerapkan kebijakan persyaratan yang sama bagi pihak lain yang tidak memiliki hubungan istimewa dengan BPR; dan d) alasan serta dasar pembentukan penyisihan kerugian piutang yang terkait dengan hubungan istimewa. 2) Perubahan akuntansi dan koreksi kesalahan, yang meliputi: a) perubahan estimasi akuntansi: i. hakikat dan alas an perubahan estimasi akuntansi; ii. jumlah perubahan estimasi yang mempengaruhi periode berjalan; dan/atau iii. pengaruh estimasi terhadap periode mendatang; b) perubahan kebijakan akuntansi, antara lain meliputi: i. hakikat, alasan dan tujuan dilakukannya perubahan kebijakan akuntansi; ii. dampak perubahan kebijakan akuntansi terhadap periode berjalan dan periode sebelumnya yang perlu disajikan kembali secara komparatif; dan iii. pernyataan bahwa informasi komparatif telah dinyatakan kembali atau pernyataan bahwa informasi komparatif tidak disajikan karena dianggap tidak praktis; c) kesalahan: i. hakikat kesalahan; ii. jumlah nilai koreksi untuk periode berjalan dan periode‐periode sebelumnya; iii. jumlah nilai koreksi yang terkait dengan periode‐
periode sebelum periode yang tercakup dalam informasi komparatif; 72 Likuiditas Rupiah Paragraf Sumber Regulasi Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Ketentuan iv. pernyataan bahwa informasi komparatif telah dinyatakan kembali atau pernyataan bahwa informasi komparatif tidak disajikan karena dianggap tidak praktis. Komitmen dan Kontinjensi, yang meliputi: 1) pengungkapan komitmen, terdiri dari: a) pengungkapan kontrak atau perjanjian yang menimbulkan komitmen penggunaan dana pada masa yang akan datang, misalnya perjanjian pemberian kredit atau pinjaman. Hal‐hal yang perlu diungkapkan antara lain terdiri dari komitmen kepada pihak yang terkait, periode berlakunya komitmen, nilai keseluruhan dan bagian yang telah terealisasi, serta sanksi; dan b) uraian mengenai sifat, jenis, jumlah dan persyaratan komitmen; 2) pengungkapan kontijensi, terdiri dari: a) pengungkapan perkara atau sengketa hukum yang berpotensi menimbulkan perngeluaran dana pada masa yang akan datang. Hal‐hal yang perlu diungkapkan antara lain meliputi pihak yang terkait, nilai gugatan (perkara atau sengketa), latar belakang perkara, pokok dan status perkara, putusan pengadilan, dan probabilitas risiko dari peristiwa kontinjensi yang diungkapkan berdasarkan prinsip manajemen risiko; b) uraian singkat mengenai peraturan pemerintah yang mengikat dan dampaknya, seperti masalah ketenagakerjaan; dan c) uraian kemungkinan kewajiban pajak tambahan yang meliputi jenis ketetapan atau tagihan pajak, jenis pajak, tahun pajak, jumlah pokok, denda, dan sikap BPR terhadap ketetapan atau tagihan pajak, misalnya: mengajukan keberatan, banding, dan lain‐lain; Perkembangan terakhir SAK ETAP dan peraturan lainnya, meliputi penjelasan mengenai SAK ETAP dan peraturan baru yang akan diterapkan dan mempengaruhi aktivitas BPR serta estimasi dampak penerapan SAK ETAP dan peraturan lama tersebut; Reklasifikasi, terdiri dari sifat, jumlah dan alasan reklasifikasi untuk setiap pos dalam tahun buku sebelum tahun buku terakhir yang disajikan dalam rangka laporan keuangan komparatif; Informasi penting lainnya, antara lain sifat, jenis, jumlah dan dampak dari peristiwa atau keadaan tertentu yang mempengaruhi kinerja BPR; Peristiwa setelah tanggal neraca (subsequent event), meliputi urutan peristiwa serta jumlah moneter yang mempengaruhi akun‐akun laporan keuangan. c.
d.
e.
f.
g.
73 Likuiditas Rupiah Paragraf Sumber Regulasi B.
52 Pasal 4 15/3/PBI/2013 SE 15/29/DKBU 2013 Romawi V.A (1)
(2)
(3)
(4)
Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Ketentuan Pengungkapan sebagaimana dimaksud dalam huruf A angka 1, huruf A angka 2, dan huruf A angka 4 berpedoman pada Standar Akuntansi Keuangan bagi Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP) dan Pedoman Akuntansi BPR (PA BPR). BPR wajib menyampaikan Laporan Tahunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) huruf a (Paragraf 50 ayat (1) huruf a dalam kodifikasi ini) kepada Bank Indonesia. Laporan Tahunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib ditandatangani paling kurang oleh 1 (satu) anggota Direksi BPR dengan mencantumkan nama secara jelas. Dalam hal seluruh anggota Direksi berhalangan, Laporan Tahunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib ditandatangani oleh anggota Dewan Komisaris atau Pejabat yang ditunjuk oleh Rapat Umum Pemegang Saham atau sesuai Anggaran Dasar, dengan mencantumkan nama dan jabatan secara jelas. Laporan Tahunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), wajib disampaikan paling lambat akhir bulan April setelah Tahun Buku berakhir. Alamat Penyampaian Laporan Laporan Tahunan dan bukti pengumuman Laporan Keuangan Publikasi disampaikan kepada Bank Indonesia dengan alamat: 53 Pasal 5 15/3/PBI/2013 a. Kantor Regional Bank I Indonesia, Gedung D, Lantai 7, Jalan M.H. Thamrin Nomor 2 Jakarta Pusat 10350, bagi BPR yang berkedudukan di wilayah DKI Jakarta, Banten, Bogor, Depok, Karawang, dan Bekasi. b. Kantor Perwakilan Dalam Negeri Bank Indonesia yang mewilayahi kantor pusat BPR, bagi BPR yang kantor pusatnya berkedudukan di luar wilayah sebagaimana dimaksud dalam huruf a. (1) Bagi BPR yang mempunyai total aset lebih besar dari atau sama dengan Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah), Laporan Keuangan Tahunan yang disampaikan dalam Laporan Tahunan wajib diaudit terlebih dahulu oleh Akuntan Publik. (2) Bagi BPR yang mempunyai total aset lebih kecil dari Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah), Laporan Keuangan Tahunan yang disampaikan dalam Laporan Tahunan adalah Laporan Keuangan Tahunan yang telah dipertanggungjawabkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham atau Rapat Anggota. Laporan Keuangan Tahunan yang telah dipertanggungjawabkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham atau Rapat Anggota dibuktikan dengan penyampaian risalah Rapat Umum Pemegang Saham atau Rapat Anggota. (3) Dalam hal Laporan Keuangan Tahunan BPR sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diaudit oleh Akuntan Publik, Laporan Keuangan 74 Likuiditas Rupiah Paragraf Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Sumber Regulasi Ketentuan Tahunan yang disampaikan dalam Laporan Tahunan adalah Laporan Keuangan Tahunan yang diaudit. (4) Dalam hal pelaksanaan audit oleh Akuntan Publik sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilakukan melewati batas waktu penyampaian Laporan Tahunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (4) (Paragraf 52 ayat (4) dalam kodifikasi ini), maka selain menyampaikan Laporan Tahunan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), BPR tetap menyampaikan Laporan Keuangan Tahunan yang telah diaudit oleh Akuntan Publik paling lambat 1 (satu) bulan setelah diterimanya hasil audit atas Laporan Keuangan. (5) Laporan Keuangan Tahunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) disusun sesuai Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku bagi BPR. SE 12/14/DKBU 2010 No. 1 – 5 1. Dalam rangka peningkatan transparansi kondisi keuangan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dan penyusunan laporan keuangan yang relevan, komprehensif, andal dan dapat diperbandingkan, BPR wajib menyusun dan menyajikan laporan keuangan berdasarkan standar akuntansi keuangan yang relevan bagi BPR, pedoman akuntansi bagi BPR dan ketentuan lain yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. 2. Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP) merupakan Standar Akuntansi Keuangan yang relevan bagi BPR dan Pedoman Akuntansi BPR (PA‐BPR) merupakan petunjuk pelaksanaan yang berisi penjabaran lebih lanjut dari SAK ETAP. 3. Penyusunan dan penyajian laporan keuangan BPR wajib berpedoman pada PA‐BPR. 4. Perlakuan akuntansi keuangan BPR sejak 1 Januari 2010 yang masih mengacu pada Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia 2001 (PAPI), dengan diberlakukannya Surat Edaran ini agar disesuaikan dengan berpedoman pada Bab II PA‐BPR. 5. Penyesuaian sebagaimana dimaksud pada angka 4 hanya dilakukan dalam rangka penyajian laporan keuangan per 31 Desember 2010 untuk tujuan umum (general purposes). 54 Pasal 6 15/3/PBI/2013 55 Pasal 7 15/3/PBI/2013 BPR yang telah menyampaikan Laporan Tahunan namun: a. Laporan Keuangan Tahunan BPR tidak diaudit oleh Akuntan Publik dan/atau Kantor Akuntan Publik yang terdaftar di Bank Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) (Paragraf 53 ayat (1) dalam kodifikasi ini); atau b. Laporan Keuangan Tahunan BPR belum dipertanggungjawabkan oleh Direksi atau Pengurus kepada Rapat Umum Pemegang Saham atau Rapat Anggota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2) (Paragraf 53 ayat (2) dalam kodifikasi ini), dinyatakan belum menyampaikan Laporan Tahunan. (1) BPR dinyatakan terlambat menyampaikan Laporan Tahunan, apabila BPR menyampaikan Laporan Tahunan kepada Bank Indonesia setelah batas akhir waktu penyampaian laporan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (4) (Paragraf 52 ayat (4) dalam kodifikasi ini), sampai dengan paling lama 1 (satu) bulan sejak batas akhir waktu penyampaian laporan. 75 Likuiditas Rupiah Paragraf Sumber Regulasi (2)
Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Ketentuan Contoh: Penyampaian Laporan Tahunan 2012 yang wajib diaudit oleh Akuntan Publik dinyatakan terlambat apabila disampaikan dalam kurun waktu 1 Mei sampai dengan 31 Mei 2013. BPR dinyatakan tidak menyampaikan Laporan Tahunan, apabila BPR belum menyampaikan Laporan Tahunan dalam kurun waktu keterlambatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Contoh: Laporan Tahunan 2012 yang wajib diaudit oleh Akuntan Publik dinyatakan tidak disampaikan apabila disampaikan setelah tanggal 31 Mei 2013. (3) BPR yang tidak menyampaikan Laporan Tahunan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tetap diwajibkan untuk menyampaikan Laporan Tahunan sebelum tahun buku berikutnya. 56 BAB III Laporan Keuangan Publikasi
Pasal 8 15/3/PBI/2013 (1) BPR wajib mengumumkan Laporan Keuangan Publikasi triwulanan untuk posisi akhir bulan Maret, Juni, September dan Desember sesuai dengan bentuk dan tata cara yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. (2) Laporan Keuangan Publikasi untuk posisi bulan Desember disusun berdasarkan Laporan Keuangan Tahunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 (Paragraf 53 dalam kodifikasi ini). (3) Laporan Keuangan Publikasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) huruf b (Paragraf 50 ayat (1) huruf b dalam kodifikasi ini) paling kurang memuat: a. laporan keuangan yang terdiri dari: 1. Neraca; 2. Laporan Laba Rugi; 3. Laporan Komitmen dan Kontinjensi b. informasi lainnya yang paling kurang terdiri dari: 1. Kualitas Aktiva Produktif (KAP) untuk: a) penempatan pada bank lain; b) kredit yang diberikan, baik kepada pihak terkait maupun pihak tidak terkait; 2. rasio keuangan, yang terdiri dari: a) Kewajiban Penyediaan Modal Minimum; b) Non Performing Loans (NPL) dan Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif; c) Return on Asset (ROA) dan Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO); d) Cash Ratio; dan e) Loan to Deposit Ratio (LDR) c. Susunan Pengurus dan komposisi Pemegang Saham, termasuk Pemegang Saham Pengendali. (4) Laporan Keuangan Publikasi triwulanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib disajikan dalam bentuk perbandingan dengan Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan tahun sebelumnya. 76 Likuiditas Rupiah Paragraf Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Sumber Regulasi Ketentuan SE 15/29/DKBU Laporan Keuangan Publikasi 2013 A. Laporan Keuangan Publikasi yang diumumkan untuk laporan keuangan posisi akhir bulan Maret, Juni, September dan Romawi III Desember disusun dengan mengacu pada Penyusunan Laporan Keuangan Publikasi sebagaimana dimaksud pada Lampiran I (Lampiran 43 dalam kodifikasi ini) yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Surat Edaran Bank Indonesia ini. B. Laporan Keuangan Publikasi merupakan gabungan dari laporan kantor pusat BPR dan seluruh kantor cabang BPR yang bersangkutan. C. Laporan Keuangan Publikasi harus disusun dan disajikan dalam bentuk perbandingan dengan laporan pada periode yang sama tahun sebelumnya. Posisi pembanding wajib disajikan sesuai format yang sama dengan posisi Laporan Keuangan Publikasi yang diumumkan. D. Khusus untuk perlakuan akuntansi yang baru diterapkan dalam posisi Laporan maka penyajian posisi pembanding mengacu pada Pedoman Standar Akuntansi Keuangan Nomor 25 Tahun 2009 tentang Kebijakan Akuntansi, Perubahan Estimasi Akuntansi, dan Kesalahan. E. Untuk memenuhi aspek transparansi, Laporan Keuangan Publikasi memuat pengungkapan (disclosure) sesuai dengan SAK ETAP dan PA BPR. Pengungkapan tersebut paling kurang terdiri dari: 1. Laporan keuangan yang meliputi Neraca, Laporan Laba Rugi, serta Laporan Komitmen dan Kontinjensi; dan 2. Informasi lainnya yang paling kurang terdiri dari: j. Kualitas Aktiva Produk (KAP) untuk: 1) Penempatan pada bank lain; 2) Kredit yang diberikan, baik kepada pihak terkait maupun pihak yang tidak terkait; k. Rasio keuangan, yang terdiri dari: 1) KPMM; 2) NPL (neto) dan PPAP; 3) ROA dan BOPO; 4) Cash Ratio; dan 5) LDR 3. Susunan Pengurus dan komposisi Pemegang Saham, termasuk Pemegang Saham Pengendali; 4. Nama Kantor Akuntan Publik yang mengaudit dan nama Akuntan Publik yang bertanggung jawab dalam audit BPR (partner in charge), bagi BPR yang diaudit oleh Akuntan Publik. F. Aplikasi Laporan Keuangan Publikasi terintegrasi dalam aplikasi Laporan Bulanan BPR. G. Prosedur pengoperasian aplikasi Laporan Keuangan Publikasi berpedoman pada Petunjuk Teknis Aplikasi Laporan Berkala BPR, yang merupakan lampiran dari Surat Edaran Bank Indonesia perihal Laporan Bulanan BPR. 77 Likuiditas Rupiah Paragraf 57 Sumber Regulasi SE 15/43/DPNP 2013 Romawi III.H Pasal 9 15/3/PBI/2013 H.
(1)
(2)
(3)
Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Ketentuan Khusus Laporan Keuangan Publikasi yang diumumkan untuk posisi akhir bulan September 2013 diatur sebagai berikut: 1. Penyusunan Laporan Keuangan Publikasi mengacu pada format sebagaimana pada Lampiran IA (Lampiran 43A dalam kodifikasi ini) yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Surat Edaran Bank Indonesia ini. 2. Rekaman data Laporan Keuangan Publikasi yang disampaikan kepada Bank Indonesia secara on‐line tidak mencakup rasio Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif (PPAP), rasio Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO), dan Cash Ratio sebagaimana dimaksud pada angka 8, angka 9, dan angka 10 pada Tabel 4 mengenai Kualitas Aktiva Produktif dan Informasi Lainnya (pada Lampiran 43A dalam kodifikasi ini). 3. Bukti pengumuman atas Laporan Keuangan Publikasi sebagaimana dimaksud dalam angka 1 disampaikan kepada Bank Indonesia dalam bentuk: a. halaman surat kabar yang memuat Laporan Keuangan Publikasi; dan/atau b. fotokopi Laporan Keuangan Publikasi yang ditempelkan pada papan pengumuman atau media lainnya. BPR yang mempunyai total aset lebih besar dari atau sama dengan Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah) wajib: a. mengumumkan Laporan Keuangan Publikasi posisi akhir bulan Maret, Juni, dan September dalam surat kabar harian lokal atau menempelkannya pada papan pengumuman atau media lainnya yang mudah dibaca oleh publik; dan b. mengumumkan Laporan Keuangan Publikasi posisi akhir bulan Desember dalam surat kabar harian lokal dan menempelkannya pada papan pengumuman atau media lainnya yang mudah dibaca oleh publik. Yang dimaksud dengan “surat kabar harian lokal” adalah surat kabar yang mempunyai peredaran di wilayah kedudukan BPR. Yang dimaksud dengan “media lainnya” termasuk segala sarana yang digunakan oleh BPR untuk menempelkan laporan keuangan, misalnya dinding depan gedung BPR. Yang dimaksud dengan “mudah dibaca oleh publik” adalah Laporan Keuangan Publikasi yang ditempelkan pada papan pengumuman atau media lain di kantor BPR yang langsung dapat dilihat dan dibaca oleh masyarakat umum. BPR yang mempunyai total aset lebih kecil dari Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah) wajib mengumumkan Laporan Keuangan Publikasi posisi akhir bulan Maret, Juni, September, dan Desember pada surat kabar lokal atau menempelkannya pada papan pengumuman atau media lainnya yang mudah dibaca oleh publik. Pengumuman Laporan Keuangan Publikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) wajib dilakukan paling lambat: a. akhir bulan berikutnya setelah berakhirnya bulan laporan untuk 78 Likuiditas Rupiah Paragraf 58 59 Sumber Regulasi (1)
Pasal 10 15/3/PBI/2013 Pasal 11 15/3/PBI/2013 Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Ketentuan Laporan Keuangan Publikasi posisi akhir bulan Maret, Juni, dan September; dan b. akhir bulan keempat setelah berakhirnya bulan laporan untuk Laporan Keuangan Publikasi posisi akhir bulan Desember. Dalam hal BPR mengumumkan Laporan Keuangan Publikasi dengan menempelkan pada papan pengumuman atau media lainnya yang mudah dibaca oleh publik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 (Paragraf 57 dalam kodifikasi ini) maka Laporan Keuangan Publikasi wajib: a. ditempelkan di seluruh kantor BPR; dan b. terus menerus ditempelkan sampai dengan jangka waktu pelaporan berikutnya. Contoh: Laporan Keuangan Publikasi bulan Maret 2013 ditempelkan pada papan pengumuman/media lainnya hingga masuk periode pengumuman Laporan Keuangan Publikasi bulan Juni 2013 Yang dimaksud dengan kantor BPR adalah Kantor Pusat, Kantor Cabang dan Kantor Kas (2) BPR yang tidak mengumumkan Laporan Keuangan Publikasi sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dinyatakan belum mengumumkan Laporan Keuangan Publikasi. Contoh: Pada saat Pemeriksaan bulan Agustus 2013, BPR tidak menempelkan Laporan Keuangan Publikasi pada papan pengumuman/media lainnya yang mudah dibaca oleh Publik pada salah satu kantor BPR untuk posisi akhir Juni 2013, maka BPR akan dikenakan sanksi tidak mengumumkan Laporan Keuangan Publikasi pada periode Laporan Keuangan Publikasi posisi akhir Juni 2013. (1) BPR dinyatakan terlambat mengumumkan Laporan Keuangan Publikasi, apabila mengumumkan Laporan Keuangan Publikasi setelah batas akhir waktu pengumuman laporan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (3) (Paragraf 57 ayat (3) dalam kodifikasi ini) sampai dengan paling lama 1 (satu) bulan sejak batas akhir pengumuman laporan. Contoh: Untuk Laporan Keuangan Publikasi bulan Maret 2013, BPR dinyatakan terlambat mengumumkan Laporan Keuangan Publikasi jika diumumkan dalam kurun waktu 1 Mei sampai dengan 31 Mei 2013. (2) BPR dinyatakan tidak mengumumkan Laporan Keuangan Publikasi, apabila BPR belum mengumumkan Laporan Keuangan Publikasi dalam kurun waktu keterlambatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). 79 Likuiditas Rupiah Paragraf Sumber Regulasi 60 Pasal 12 15/3/PBI/2013 61 Pasal 13 15/3/PBI/2013 Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Ketentuan Contoh: Untuk Laporan Keuangan Publikasi bulan Maret 2013, BPR dinyatakan tidak mengumumkan Laporan Keuangan Publikasi jika diumumkan setelah tanggal 31 Mei 2013. (3) Apabila BPR telah mengumumkan Laporan Keuangan Publikasi posisi bulan Desember, namun: a. Laporan Keuangan Tahunan untuk Laporan Publikasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) (Paragraf 53 ayat (1) dalam kodifikasi ini) tidak diaudit oleh Akuntan Publik dan/atau Kantor Akuntan Publik yang terdaftar di Bank Indonesia; atau b. Laporan Keuangan Tahunan untuk Laporan Publikasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2) (Paragraf 53 ayat (2) dalam kodifikasi ini) belum dipertanggungjawabkan oleh Direksi atau Pengurus kepada Rapat Umum Pemegang Saham atau Rapat Anggota, BPR dinyatakan belum mengumumkan Laporan Keuangan Publikasi posisi bulan Desember. (1) Laporan Keuangan Publikasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 (Paragraf 56 dalam kodifikasi ini) wajib ditandatangani paling kurang oleh 1 (satu) anggota Direksi BPR dengan mencantumkan nama secara jelas. (2) Dalam hal seluruh anggota Direksi berhalangan, Laporan Keuangan Publikasi ditandatangani oleh anggota Dewan Komisaris atau Pejabat yang ditunjuk oleh Rapat Umum Pemegang Saham atau sesuai Anggaran Dasar, dengan mencantumkan nama dan jabatan secara jelas. (3) Bagi BPR yang laporan keuangannya di audit oleh Akuntan Publik, Laporan Keuangan Publikasi posisi akhir bulan Desember, selain wajib memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) juga wajib mencantumkan nama Akuntan Publik yang bertanggung jawab dalam audit (partner in charge) dan nama Kantor Akuntan Publik yang mengaudit Laporan Keuangan Tahunan. BPR wajib menyampaikan bukti pengumuman kepada Bank Indonesia, berupa: a. halaman surat kabar yang memuat Laporan Keuangan Publikasi; dan/atau b. fotokopi Laporan Keuangan Publikasi yang ditempelkan pada papan pengumuman atau media lainnya, paling lambat tanggal 14 setelah batas akhir pengumuman sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (3) (Paragraf 57 ayat (3) dalam kodifikasi ini). Contoh: Laporan Keuangan Publikasi posisi akhir Maret 2013 wajib diumumkan paling lambat tanggal 30 April 2013. 80 Likuiditas Rupiah Paragraf 62 Sumber Regulasi SE 15/29/DKBU 2013 Romawi VI.A Pasal 14 15/3/PBI/2013 Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Ketentuan Selanjutnya, BPR wajib menyampaikan guntingan surat kabar dan/atau fotokopi Laporan Keuangan Publikasi dan rekaman data Laporan Publikasi paling lambat tanggal 14 Mei 2013. Alamat Penyampaian Laporan Laporan Tahunan dan bukti pengumuman Laporan Keuangan Publikasi disampaikan kepada Bank Indonesia dengan alamat: 1. Kantor Regional Bank I Indonesia, Gedung D, Lantai 7, Jalan M.H. Thamrin Nomor 2 Jakarta Pusat 10350, bagi BPR yang berkedudukan di wilayah DKI Jakarta, Banten, Bogor, Depok, Karawang, dan Bekasi. 2. Kantor Perwakilan Dalam Negeri Bank Indonesia yang mewilayahi kantor pusat BPR, bagi BPR yang kantor pusatnya berkedudukan di luar wilayah sebagaimana dimaksud dalam huruf a. (1) BPR wajib menyampaikan kepada Bank Indonesia rekaman data Laporan Keuangan Publikasi secara on‐line, paling lambat tanggal 14, setelah batas akhir pengumuman sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (3) (Paragraf 57 ayat (3) dalam kodifikasi ini). Penyampaian rekaman data Laporan Keuangan Publikasi secara online dilakukan dengan cara mengirim atau mentransfer rekaman data secara langsung melalui fasilitas ekstranet Bank Indonesia atau sarana teknologi lainnya. (2) Dalam hal BPR tidak dapat menyampaikan rekaman data Laporan Keuangan Publikasi secara on‐line sebagaimana dimaksud pada ayat (1) karena: Penyampaian rekaman data Laporan Keuangan Publikasi secara off‐
line dilakukan dengan cara antara lain seperti mengirimkan USB, compact disk, atau sarana rekaman atau transfer data lainnya. a. BPR berkedudukan di daerah yang belum tersedia fasilitas jaringan telekomunikasi; Yang dimaksud dengan “daerah yang belum tersedia fasilitas jaringan telekomunikasi” adalah daerah yang tidak mempunyai sarana jaringan telekomunikasi sesuai dengan sarana jaringan telekomunikasi yang digunakan untuk sistem Laporan Keuangan Publikasi kepada Bank Indonesia. b. BPR baru beroperasi dengan batas waktu paling lama 2 (dua) bulan setelah melakukan kegiatan operasional; c. BPR mengalami gangguan teknis; dan/atau Yang dimaksud dengan “gangguan teknis” adalah gangguan yang mengakibatkan BPR pelapor tidak dapat menyampaikan Laporan Keuangan Publikasi secara on‐line, antara lain gangguan pada jaringan telekomunikasi, kebakaran atau pemadaman listrik. 81 Likuiditas Rupiah Paragraf 63 Sumber Regulasi SE 15/29/DKBU 2013 Romawi V.B Pasal 15 15/3/PBI/2013 Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Ketentuan d. terjadi kerusakan dan/atau gangguan pada database atau jaringan telekomunikasi di Bank Indonesia, BPR menyampaikan rekaman data Laporan Keuangan Publikasi secara off‐line. Laporan Keuangan Publikasi secara on‐line dilakukan melalui fasilitas jaringan ekstranet Bank Indonesia. Dalam hal laporan disampaikan secara off‐line dalam bentuk rekaman data (soft copy) berupa compact disk atau media perekam data elektronik lainnya maka laporan disampaikan kepada Bank Indonesia dengan alamat: a. Departemen Pengelolaan dan Kepatuhan Laporan, Gedung Syafruddin Prawiranegara, Lantai 16‐17, Jalan M.H. Thamrin Nomor 2, Jakarta Pusat 10350, bagi BPR yang berkedudukan di wilayah DKI Jakarta, Banten, Bogor, Depok, Karawang, dan Bekasi; dan b. Kantor Perwakilan Dalam Negeri Bank Indonesia yang mewilayahi kantor pusat BPR, bagi BPR yang kantor pusatnya berkedudukan di luar wilayah sebagaimana dimaksud dalam huruf a. (1) BPR dinyatakan terlambat menyampaikan bukti pengumuman sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 (Paragraf 61 dalam kodifikasi ini) dan rekaman data Laporan Keuangan Publikasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (1) (Paragraf 62 ayat (1) dalam kodifikasi ini), apabila BPR menyampaikan bukti pengumuman atau rekaman data Laporan Keuangan Publikasi setelah batas akhir waktu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 dan Pasal 14 ayat (1) (Paragraf 61 dan Paragraf 62 ayat (1) dalam kodifikasi ini) sampai dengan paling lama 1 (satu) bulan sejak batas akhir penyampaian. Contoh: Untuk Laporan Keuangan Publikasi bulan Maret 2013, BPR dinyatakan terlambat menyampaikan halaman surat kabar dan/atau fotokopi Laporan Keuangan Publikasi dan rekaman data Laporan Keuangan Publikasi, jika disampaikan dalam kurun waktu 15 Mei sampai dengan 14 Juni 2013. (2) BPR dinyatakan tidak menyampaikan bukti pengumuman sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 (Paragraf 61 dalam kodifikasi ini) atau rekaman data Laporan Keuangan Publikasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (1) (Paragraf 62 ayat (1) dalam kodifikasi ini), apabila BPR belum menyampaikan bukti pengumuman atau rekaman data Laporan Keuangan Publikasi dalam kurun waktu keterlambatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Contoh: Untuk Laporan Keuangan Publikasi bulan Maret 2013, BPR dinyatakan tidak menyampaikan halaman surat kabar atau fotokopi Laporan Keuangan Publikasi yang ditempelkan pada papan 82 Likuiditas Rupiah Paragraf 64 Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Sumber Regulasi Ketentuan pengumuman dan rekaman data Laporan Keuangan Publikasi, jika disampaikan setelah tanggal 14 Juni 2013. (3) Apabila BPR telah menyampaikan rekaman data Laporan Keuangan Publikasi namun datanya tidak sesuai dengan Laporan Keuangan Publikasi yang diumumkan maka BPR dinyatakan belum menyampaikan rekaman data Laporan Keuangan Publikasi. BAB IV Hubungan Antara BPR, Akuntan Publik Dan Bank Indonesia
Pasal 16 15/3/PBI/2013 (1) Dalam memberikan penugasan audit terhadap Laporan Keuangan Tahunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 (Paragraf 52 dalam kodifikasi ini), BPR wajib menunjuk Akuntan Publik dan Kantor Akuntan Publik yang memenuhi kriteria: a. terdaftar di Bank Indonesia; dan b. tidak memiliki keterkaitan dengan BPR. Yang dimaksud dengan “keterkaitan dengan BPR” adalah keterkaitan kepemilikan, kepengurusan dan/atau keuangan sebagaimana dimaksud dalam ketentuan Bank Indonesia tentang Batas Maksimum Pemberian Kredit BPR. (2) Penugasan atau penunjukan Akuntan Publik dan/atau Kantor Akuntan Publik yang sama oleh BPR hanya dapat dilakukan untuk paling lama 3 (tiga) tahun buku berturut‐turut. 65 Pasal 17 15/3/PBI/2013 Pembatasan penugasan atau penunjukan dimaksudkan dalam rangka meningkatkan independensi dalam pelaksanaan audit Laporan Keuangan Tahunan BPR. (1) Penunjukan atau penugasan Akuntan Publik dan Kantor Akuntan Publik dalam rangka audit Laporan Keuangan Tahunan BPR wajib dilakukan dengan perjanjian kerja. (2) Perjanjian kerja antara BPR dan Kantor Akuntan Publik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling kurang mencakup: a. nama Kantor Akuntan Publik; b. Akuntan Publik yang bertanggung jawab terhadap audit (partner in charge); c. kewajiban Akuntan Publik untuk melakukan audit sesuai Standar Profesional Akuntan Publik, kode etik profesi dan peraturan perundang‐undangan yang mengatur mengenai Akuntan Publik; d. pernyataan dari BPR untuk mengizinkan Kantor Akuntan Publik menyampaikan secara langsung kepada Bank Indonesia: 1) laporan hasil audit; 2) Surat Komentar (Management Letter); 3) informasi yang dibutuhkan oleh Bank Indonesia setiap saat apabila diperlukan; dan 4) informasi mengenai temuan audit terkait dengan pelanggaran terhadap ketentuan perundang‐undangan di bidang keuangan dan/atau perbankan yang dapat membahayakan kelangsungan usaha BPR; 83 Likuiditas Rupiah Paragraf Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Sumber Regulasi Ketentuan 5) ruang lingkup audit; 6) Jangka waktu penyelesaian audit; 7) kewajiban Akuntan Publik yang bertanggung jawab dalam melakukan audit untuk melapor kepada Bank Indonesia sebelum pelaksanaan audit; dan 8) kewajiban Kantor Akuntan Publik dan Akuntan Publik untuk tidak menggunakan atau mengungkapkan data atau informasi kepada pihak lain tanpa seizin BPR sesuai dengan ketentuan perundang‐undangan yang berlaku. (3) Ruang lingkup audit sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf d paling sedikit mencakup: a. penilaian atas penggolongan kualitas aktiva produktif dan kecukupan penyisihan penghapusan aktiva produktif yang dibentuk BPR; b. penilaian terhadap aset lain‐lain dan agunan yang diambil alih BPR; c. pendapat mengenai kewajaran atas transaksi dengan pihak yang mempunyai hubungan istimewa maupun transaksi yang dilakukan dengan perlakuan khusus; Pihak yang mempunyai hubungan istimewa adalah pihak‐pihak sebagaimana dimaksud dalam Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku bagi BPR. d. jumlah dan kualitas penyediaan dana kepada pihak terkait; e. rincian pelanggaran batas maksimum pemberian kredit yang meliputi nama nasabah, kualitas penyediaan dana, persentase dan jumlah pelanggaran batas maksimum pemberian kredit; f. rincian pelanggaran batas maksimum pemberian kredit yang meliputi nama nasabah, kualitas penyediaan dana, persentase dan jumlah pelanggaran batas maksimum pemberian kredit; g. perhitungan Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM); h. Loan to Deposit Ratio (LDR); Yang dimaksud dengan penyebab kredit bermasalah adalah kredit yang berpengaruh secara signifikan terhadap NPL BPR. i. Perbandingan jumlah kredit bermasalah terhadap total kredit yang diberikan serta penyebab utamanya. j. Return on Asset (ROA) dan Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO). Pengujian terhadap keandalan laporan termasuk penilaian Akuntan Publik mengenai laporan yang disampaikan ke Bank Indonesia telah disusun dan sesuai dengan data yang ada di BPR. Laporan sebagaimana dimaksud dalam huruf ini termasuk laporan bulanan BPR dan laporan batas maksimum pemberian kredit. 84 Likuiditas Rupiah Paragraf 66 67 Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Sumber Regulasi Ketentuan k. keandalan sistem pelaporan BPR kepada Bank Indonesia dan pengujian terhadap keandalan laporan‐laporan yang disampaikan oleh BPR kepada Bank Indonesia; dan l. hal‐hal lain yang diatur dalam Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku, termasuk catatan atas Laporan Keuangan. (4) Fotokopi perjanjian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib disampaikan BPR kepada Bank Indonesia paling lambat 14 (empat belas) hari sebelum pelaksanaan audit. SE 15/29/DKBU Hubungan Kerja antara BPR dan Akuntan Publik 2013 A. Penugasan Akuntan Publik dan Kantor Akuntan Publik dalam rangka Romawi IV audit Laporan Keuangan Tahunan BPR wajib dilakukan dengan perjanjian kerja; B. Perjanjian kerja antara BPR dan Kantor Akuntan Publik berpedoman pada Lampiran II (Lampiran 44 dalam kodifikasi ini) yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Surat Edaran Bank Indonesia ini. Akuntan Publik dan/atau Kantor Akuntan Publik wajib memberikan data Pasal 18 dan informasi yang diminta Bank Indonesia terkait dengan BPR yang 15/3/PBI/2013 diaudit, meskipun perjanjian kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1) (Paragraf 65 ayat (1) dalam kodifikasi ini) telah berakhir. Akuntan Publik yang melakukan audit terhadap Laporan Keuangan Pasal 19 Tahunan BPR wajib: 15/3/PBI/2013 a. melakukan audit sesuai dengan standar profesional Akuntan Publik, kode etik profesi, dan ketentuan perundang‐undangan yang mengatur mengenai Akuntan Publik, serta perjanjian kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 (Paragraf 65 dalam kodifikasi ini). b. memberitahukan adanya pelanggaran terhadap ketentuan perundang‐undangan di bidang keuangan dan/atau perbankan yang dapat membahayakan kelangsungan usaha BPR kepada Bank Indonesia paling lambat 7 (tujuh) hari kerja sejak ditemukannya pelanggaran; Yang dimaksud dengan “pelanggaran terhadap ketentuan perundang‐
undangan di bidang keuangan dan/atau perbankan yang dapat membahayakan kelangsungan usaha BPR”, antara lain: a. kekurangan kewajiban penyediaan modal minimum; b. kekurangan pembentukan penyisihan penghapusan aktiva produktif yang material; c. pelanggaran batas maksimum pemberian kredit; dan/atau d. kecurangan (fraud) yang bernilai material. c. menyampaikan laporan hasil audit dan Surat Komentar (Management Letter) kepada Bank Indonesia paling lambat 4 (empat) bulan setelah berakhirnya tahun buku yang bersangkutan; dan Laporan Hasil Audit dan Surat Komentar (Management Letter) yang disampaikan kepada Bank Indonesia adalah Laporan Hasil Audit dan 85 Likuiditas Rupiah Paragraf 68 69 Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Sumber Regulasi Ketentuan Surat Komentar yang telah ditandatangani oleh Akuntan Publik yang in charge. d. mematuhi ketentuan rahasia bank sebagaimana diatur dalam Undang‐Undang tentang Perbankan dan kerahasiaan informasi sebagaimana diatur dalam Undang‐Undang mengenai Akuntan Publik dan ketentuan perundang‐undangan lainnya serta perjanjian kerja sebagaimana diatur dalam Pasal 17 ayat (2) huruf h (Paragraf 65 ayat (2) huruf h dalam kodifikasi ini). BAB V Tanggung Jawab Laporan Keuangan Pasal 20 15/3/PBI/2013 BAB VI Laporan Keuangan Tahunan dan Laporan Keuangan Publikasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab Direksi atau pengurus BPR. Pasal 21 15/3/PBI/2013 (1) BPR yang mengalami keadaan memaksa yang dampaknya terhadap BPR melampaui batas waktu seharusnya mengumumkan dan/atau menyampaikan laporan, dikecualikan dari kewajiban mengumumkan dan/atau menyampaikan laporan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (4), Pasal 9 ayat (3), Pasal 13, Pasal 14 ayat (1) (Paragraf 52 ayat (4), Paragraf 57 ayat (3), Paragraf 61 dan Paragraf 62 ayat (1) dalam kodifikasi ini). Yang dimaksud dengan keadaan memaksa (force majeure) adalah keadaan yang secara nyata‐nyata menyebabkan BPR tidak dapat mengumumkan dan/atau menyampaikan laporan, antara lain kebakaran, kerusuhan massa, perang, sabotase, serta bencana alam seperti gempa bumi dan banjir, yang dibenarkan oleh penguasa atau pejabat dari instansi terkait di daerah setempat. Contoh: Apabila BPR mengalami kebakaran di bulan Februari 2013 yang menyebabkan BPR mengalami kerusakan infrastruktur dan kehilangan data dan/atau informasi secara permanen, sehingga tidak dapat menyampaikan laporan atau mengumumkan laporan posisi Desember 2012 sampai dengan batas waktu penyampaian Laporan Tahunan dan pengumuman Laporan Keuangan Publikasi, dikecualikan dari penyampaian pelaporan/pengumuman. (2) Untuk memperoleh pengecualian sebagaimana dimaksud pada ayat (1), BPR harus menyampaikan permohonan secara tertulis kepada Bank Indonesia disertai penjelasan mengenai penyebab terjadinya keadaan memaksa yang dialami dan disertai keterangan pejabat yang berwenang dari instansi terkait di daerah setempat. (3) BPR yang memperoleh pengecualian sebagaimana dimaksud pada ayat wajib mengumumkan dan/atau menyampaikan laporan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (4), Pasal 9 ayat (3), Pasal 13 dan Pasal 14 ayat (1) (Paragraf 52 ayat (4), Paragraf 57 ayat (3), Paragraf 61 dan Paragraf 62 ayat (1) dalam kodifikasi ini), setelah BPR kembali melakukan kegiatan operasional secara normal. Keadaan Memaksa
86 Likuiditas Rupiah Paragraf Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Sumber Regulasi Ketentuan (4) Pengecualian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2) hanya diberikan hingga keadaan memaksa atau berdasarkan pertimbangan Bank Indonesia telah dapat teratasi. BAB VII Bagian Kesatu Sanksi
Laporan Tahunan
70 Pasal 22 15/3/PBI/2013 Ayat (1) SE 15/29/DKBU 2013 Romawi V.B.1.a Pasal 22 15/3/PBI/2013 Ayat (2) SE 15/29/DKBU 2013 Romawi V.B.1.b Pasal 22 15/3/PBI/2013 Ayat (3) (1) BPR yang terlambat menyampaikan Laporan Tahunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) (Paragraf 55 ayat (1) dalam kodifikasi ini), dikenakan sanksi kewajiban membayar sebesar Rp50.000,00 (lima puluh ribu rupiah) per hari keterlambatan. BPR yang terlambat mengumumkan Laporan Tahunan dikenakan sanksi kewajiban membayar sebesar Rp50.000,00 (lima puluh ribu rupiah) per hari keterlambatan. Contoh: BPR paling lambat menyampaikan Laporan Tahunan posisi akhir Desember 2013 pada tanggal 30 April 2014. Apabila BPR menyampaikan Laporan Tahunan tersebut pada tanggal 10 Mei 2014 maka BPR dikenakan sanksi keterlambatan selama 10 (sepuluh) hari sebesar Rp500.000,00 (lima ratus ribu rupiah). (2) BPR yang tidak menyampaikan Laporan Tahunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2) (Paragraf 55 ayat (2) dalam kodifikasi ini), dikenakan sanksi kewajiban membayar sebesar Rp 3.000.000,00 (tiga juta rupiah). BPR yang tidak menyampaikan Laporan Tahunan kepada Bank Indonesia, dikenakan sanksi kewajiban membayar sebesar Rp3.000.000,00 (tiga juta rupiah). Contoh: BPR paling lambat menyampaikan Laporan Tahunan posisi akhir Desember 2013 pada tanggal 30 April 2014. Apabila BPR menyampaikan Laporan Tahunan tersebut setelah tanggal 31 Mei 2014 maka BPR dikenakan sanksi kewajiban membayar sebesar Rp3.000.000,00 (tiga juta rupiah). (3) BPR yang tidak menyampaikan Laporan Tahunan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) hingga periode penyampaian Laporan Tahunan berikutnya dikenakan sanksi administratif sebagaimana diatur dalam Pasal 52 Undang‐Undang No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang‐Undang Nomor 10 Tahun 1998, antara lain : a. penurunan tingkat kesehatan bank; dan/atau b. pencantuman pengurus dan/atau pemegang saham dalam daftar pihak‐pihak yang memperoleh predikat tidak lulus dalam penilaian kemampuan dan kepatutan BPR sebagaimana diatur dalam ketentuan Bank Indonesia mengenai uji kemampuan dan kepatutan. 87 Likuiditas Rupiah Paragraf 71 Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Sumber Regulasi Ketentuan (1) BPR yang menyampaikan Laporan Tahunan yang penyusunan dan Pasal 23 penyajiannya tidak sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud 15/3/PBI/2013 dalam Pasal 3 dan Pasal 4 (Paragraf 51 dan Paragraf 52 dalam Ayat (1) kodifikasi ini) dan/atau Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku bagi BPR sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (5) (Paragraf 53 ayat (5) dalam kodifikasi ini) dikenakan: a. sanksi kewajiban membayar sebesar Rp5.000.000,00 (lima juta rupiah) apabila setelah diberi surat peringatan sebanyak 2 (dua) kali oleh Bank Indonesia dengan tenggang waktu 2 (dua) minggu untuk setiap surat peringatan, BPR tidak memperbaiki dan tidak menyampaikan laporan dimaksud; dan b. sanksi administratif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 Undang‐Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang‐Undang Nomor 10 Tahun 1998, antara lain: 1) penurunan tingkat kesehatan bank; dan/atau 2) pencantuman pengurus dalam daftar pihak yang memperoleh predikat tidak lulus dalam penilaian kemampuan dan kepatutan BPR sebagaimana diatur dalam ketentuan Bank Indonesia mengenai uji kemampuan dan kepatutan. SE 15/29/DKBU 2013 Romawi V.B.1.c BPR yang telah menyampaikan Laporan Tahunan, namun penyusunan dan penyajiannya tidak sesuai dengan ketentuan Bank Indonesia mengenai transparansi kondisi keuangan BPR dikenakan sanksi kewajiban membayar sebesar Rp5.000.000,00 (lima juta rupiah) apabila setelah diberi surat peringatan sebanyak 2 (dua) kali oleh Bank Indonesia dengan tenggang waktu 2 (dua) minggu untuk setiap surat peringatan, BPR tidak memperbaiki dan tidak menyampaikan laporan dimaksud. Contoh: 1) BPR menyampaikan Laporan Tahunan pada tanggal 30 April 2014, namun laporan dimaksud tidak menyajikan perbandingan Laporan Keuangan Tahunan dengan tahun sebelumnya dan tidak ditandatangani oleh Pejabat yang berwenang sesuai Anggaran Dasar. Apabila setelah Bank Indonesia memberikan surat peringatan sebanyak 2 (dua) kali untuk memperbaiki namun tidak ditindaklanjuti dengan perbaikan serta penyampaian Laporan dimaksud maka BPR yang bersangkutan dikenakan sanksi kewajiban membayar sebesar Rp5.000.000,00 (lima juta rupiah). 2) BPR menyampaikan Laporan Tahunan pada tanggal 30 April 2014, namun laporan dimaksud tidak sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan bagi Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP) dan Pedoman Akuntansi BPR (PA BPR). Apabila setelah Bank Indonesia memberikan surat peringatan sebanyak 2 (dua) kali kepada BPR namun tidak ditindaklanjuti dengan perbaikan serta penyampaian Laporan dimaksud maka BPR yang bersangkutan dikenakan sanksi kewajiban membayar sebesar Rp5.000.000,00 (lima juta rupiah). 88 Likuiditas Rupiah Paragraf 72 Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Sumber Regulasi Ketentuan Pasal 23 (2) BPR yang menyampaikan Laporan Tahunan yang isinya secara 15/3/PBI/2013 material tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya sebagaimana Ayat (2) dimaksud dalam Pasal 3 (Paragraf 51 dalam kodifikasi ini) selain dikenakan sanksi kewajiban membayar dan sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1), terhadap anggota Dewan Komisaris, anggota Direksi, pegawai BPR maupun pihak terafiliasi lainnya dapat dikenakan sanksi pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 ayat (1) dan Pasal 50 Undang‐ Undang Nomor 7 tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang‐
Undang Nomor 10 Tahun 1998. Bagian Kedua Laporan Keuangan Publikasi
Pasal 24 15/3/PBI/2013 Ayat (1) SE 15/29/DKBU 2013 Romawi V.B.2.a (1) BPR yang terlambat mengumumkan Laporan Keuangan Publikasi pada surat kabar lokal dan/atau menempelkannya pada papan pengumuman atau media lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (1) (Paragraf 59 ayat (1) dalam kodifikasi ini), masing‐
masing dikenakan sanksi kewajiban membayar sebesar Rp50.000,00 (lima puluh ribu rupiah) per hari keterlambatan. Contoh: a. Apabila BPR mengumumkan Laporan Keuangan Publikasi sesuai ketentuan untuk posisi Maret 2013 pada tanggal 7 Mei 2013, maka BPR tersebut dikenakan denda keterlambatan selama 6 hari senilai Rp300.000,00 (tiga ratus ribu rupiah) b. Untuk BPR dengan total aset lebih besar atau sama dengan RP10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah) wajib mengumumkan Laporan Keuangan Publikasi posisi akhir bulan Desember 2012 pada papan pengumuman atau media lainnya dan surat kabar lokal. Apabila BPR mengumumkan Laporan Keuangan Publikasi posisi akhir bulan Desember 2012 pada tanggal 6 Mei 2013 baik di surat kabar lokal maupun pada papan pengumuman, maka BPR tersebut dikenakan denda sebesar Rp 500,000,00 (lima ratus ribu rupiah) dengan rincian sebagai berikut: 1) Keterlambatan mengumumkan pada papan pengumuman selama 5 hari sebesar Rp 250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah); dan 2) Keterlambatan mengumumkan pada surat kabar lokal selama 5 hari sebesar Rp 250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah) BPR yang terlambat mengumumkan Laporan Keuangan Publikasi pada surat kabar lokal dan/atau menempelkannya pada papan pengumuman atau media lainnya, masing‐masing dikenakan sanksi kewajiban membayar sebesar Rp50.000,00 (lima puluh ribu rupiah) per hari keterlambatan. Contoh: 1) Untuk posisi Juni 2014, BPR wajib mengumumkan Laporan Keuangan Publikasi paling lambat tanggal 31 Juli 2014. Apabila 89 Likuiditas Rupiah Paragraf Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Sumber Regulasi Ketentuan BPR mengumumkan Laporan Keuangan Publikasi tersebut pada tanggal 7 Agustus 2014, maka BPR tersebut dikenakan sanksi keterlambatan selama 7 (tujuh) hari sebesar Rp350.000,00 (tiga ratus lima puluh ribu rupiah). 2) Untuk posisi Desember 2013, bagi BPR dengan total aset lebih besar atau sama dengan Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah) wajib mengumumkan Laporan Keuangan Publikasi pada papan pengumuman atau media lainnya dan surat kabar lokal, paling lambat 30 April 2014. Apabila BPR mengumumkan Laporan Keuangan Publikasi tersebut pada tanggal 10 Mei 2014 maka BPR dikenakan sanksi kewajiban membayar sebesar Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah) dengan rincian sebagai berikut: a) sanksi keterlambatan mengumumkan pada papan pengumuman selama 10 (sepuluh) hari sebesar Rp500.000,00 (lima ratus ribu rupiah); dan b) sanksi keterlambatan mengumumkan pada surat kabar lokal selama 10 hari sebesar Rp500.000,00 (lima ratus ribu rupiah). Pasal 24 (2) BPR yang tidak mengumumkan Laporan Keuangan Publikasi pada 15/3/PBI/2013 surat kabar lokal dan/atau menempelkannya pada papan Ayat (2) pengumuman atau media lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (2) (Paragraf 59 ayat (2) dalam kodifikasi ini), masing‐
masing dikenakan sanksi kewajiban membayar sebesar Rp3.000.000,00 (tiga juta rupiah). Contoh: a. Apabila BPR mengumumkan Laporan Keuangan Publikasi sesuai ketentuan untuk posisi akhir bulan Maret 2013 pada tanggal 5 Juni 2013, maka BPR tersebut dikenakan denda tidak mengumumkan laporan keuangan publikasi posisi akhir bulan Maret 2013 sebesar Rp3.000.000,00 (tiga juta rupiah) b. Untuk BPR dengan total aset lebih besar atau sama dengan Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah) wajib mengumumkan Laporan Keuangan Publikasi posisi akhir bulan Desember 2012 pada papan pengumuman atau media lainnya dan surat kabar lokal. Apabila BPR mengumumkan Laporan Keuangan Publikasi posisi akhir bulan Desember 2012 pada tanggal 20 Juni 2013, maka BPR tersebut dikenakan denda sebesar Rp6.000.000,00 (enam juta rupiah) dengan rincian sebagai berikut: 1) Denda tidak mengumumkan pada papan pengumuman sebesar Rp3.000.000,00 (tiga juta rupiah); dan 2) Denda tidak mengumumkan pada surat kabar lokal sebesar Rp3.000.000,00 (tiga juta rupiah). SE 15/29/DKBU 2013 Romawi V.B.2.b BPR yang tidak mengumumkan Laporan Keuangan Publikasi pada surat kabar lokal dan/atau menempelkannya pada papan pengumuman atau media lainnya, masing‐masing dikenakan sanksi kewajiban membayar sebesar Rp3.000.000,00 (tiga juta rupiah). 90 Likuiditas Rupiah Paragraf 73 Sumber Regulasi Pasal 25 15/3/PBI/2013 Ayat (1) Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Ketentuan Contoh: 1) Untuk posisi akhir bulan September 2013, BPR wajib mengumumkan Laporan Keuangan Publikasi paling lambat pada tanggal 31 Oktober 2013. Apabila BPR mengumumkan Laporan Keuangan Publikasi tersebut setelah tanggal 31 Oktober 2013, maka BPR dikenakan sanksi kewajiban membayar sebesar Rp3.000.000,00 (tiga juta rupiah). 2) Untuk posisi akhir bulan Desember 2013, bagi BPR dengan total aset lebih besar atau sama dengan Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah) wajib mengumumkan Laporan Keuangan Publikasi pada papan pengumuman atau media lainnya dan surat kabar lokal, paling lambat tanggal 30 April 2014. Apabila BPR mengumumkan Laporan Keuangan Publikasi tersebut setelah tanggal 31 Mei 2014 maka BPR tersebut dikenakan sanksi kewajiban membayar sebesar Rp6.000.000,00 (enam juta rupiah) dengan rincian sebagai berikut: a) sanksi tidak mengumumkan pada papan pengumuman sebesar Rp3.000.000,00 (tiga juta rupiah); dan b) sanksi tidak mengumumkan pada surat kabar lokal sebesar Rp3.000.000,00 (tiga juta rupiah). (1) BPR yang terlambat menyampaikan bukti pengumuman dan/atau rekaman data Laporan Keuangan Publikasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (1) (Paragraf 63 ayat (1) dalam kodifikasi ini), masing‐masing dikenakan sanksi kewajiban membayar sebesar Rp50.000,00 (lima puluh ribu rupiah) per hari keterlambatan. Contoh: a. Untuk Laporan Keuangan Publikasi bulan Maret 2013, BPR menyampaikan bukti pengumuman laporan keuangan publikasi atau guntingan surat kabar dan rekaman data sesuai ketentuan untuk pada tanggal 21 Mei 2013, maka BPR tersebut dikenakan denda keterlambatan menyampaikan bukti pengumuman fotokopi Laporan Keuangan Publikasi dan rekaman data senilai Rp600.000,00 (enam ratus ribu rupiah) yang terdiri dari: 1) Denda keterlambatan penyampaian bukti pengumuman Laporan Keuangan Publikasi selama 6 hari senilai Rp300.000,00 (tiga ratus ribu rupiah); dan 2) Denda keterlambatan menyampaikan rekaman data selama 6 hari senilai Rp300.000,00 (tiga ratus ribu rupiah) b. Khusus untuk BPR dengan total aset lebih besar atau sama dengan RP10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah) wajib menyampaikan bukti pengumuman Laporan Keuangan Publikasi posisi akhir bulan Desember 2012 pada papan pengumuman atau media lainnya, surat kabar lokal dan rekaman data. Apabila BPR menyampaikan bukti pengumuman Laporan Keuangan Publikasi, guntingan surat kabar, dan rekaman data posisi akhir bulan Desember 2012 pada tanggal 21 Mei 2013, maka BPR tersebut dikenakan denda 6 hari keterlambatan sebesar Rp 900,000,00 (sembilan ratus ribu rupiah) dengan rincian sebagai berikut : 91 Likuiditas Rupiah Paragraf Sumber Regulasi SE 15/29/DKBU 2013 Romawi V.B.2.c Contoh 1) dan 2) Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Ketentuan 1) Denda keterlambatan penyampaian bukti pengumuman Laporan Keuangan Publikasi selama 6 hari senilai Rp300.000,00 (tiga ratus ribu rupiah); 2) Denda keterlambatan penyampaian guntingan halaman surat kabar selama 6 hari senilai Rp300.000,00 (tiga ratus ribu rupiah); 3) Denda keterlambatan menyampaikan rekaman data selama 6 hari senilai Rp300.000,00 (tiga ratus ribu rupiah) BPR yang terlambat menyampaikan bukti pengumuman dan/atau rekaman data Laporan Keuangan Publikasi, masing‐masing dikenakan sanksi kewajiban membayar sebesar Rp50.000,00 (lima puluh ribu rupiah) per hari keterlambatan. Contoh: 1) Untuk posisi akhir bulan September 2013, BPR wajib menyampaikan bukti pengumuman Laporan Keuangan Publikasi atau guntingan halaman surat kabar dan rekaman data paling lambat tanggal 14 November 2013. Apabila BPR menyampaikan bukti pengumuman Laporan Keuangan Publikasi atau guntingan surat kabar dan rekaman data tanggal 21 November 2013, maka BPR tersebut dikenakan sanksi keterlambatan selama 7 (tujuh) hari sebesar Rp700.000,00 (tujuh ratus ribu rupiah), dengan rincian sebagai berikut: a) sanksi keterlambatan penyampaian bukti pengumuman Laporan Keuangan Publikasi selama 7 (tujuh) hari sebesar Rp350.000,00 (tiga ratus lima puluh ribu rupiah); dan b) sanksi keterlambatan menyampaikan rekaman data selama 7 (tujuh) hari sebesar Rp350.000,00 (tiga ratus lima puluh ribu rupiah). 2) Untuk posisi akhir bulan Desember 2013, bagi BPR dengan total aset lebih besar atau sama dengan Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah) wajib menyampaikan bukti pengumuman Laporan Keuangan Publikasi pada papan pengumuman atau media lainnya dan guntingan halaman surat kabar lokal serta menyampaikan rekaman data, paling lambat tanggal 14 Mei 2014. Apabila BPR menyampaikan bukti pengumuman Laporan Keuangan Publikasi, guntingan surat kabar, dan rekaman data tersebut pada tanggal 24 Mei 2014, maka BPR dikenakan sanksi keterlambatan selama 10 (sepuluh) hari sebesar Rp 1.500.000,00 (satu juta lima ratus ribu rupiah), dengan rincian sebagai berikut: a) sanksi keterlambatan penyampaian bukti pengumuman Laporan Keuangan Publikasi selama 10 hari senilai Rp500.000,00 (lima ratus ribu rupiah); b) sanksi keterlambatan penyampaian guntingan halaman surat kabar selama 10 hari senilai Rp500.000,00 (lima ratus ribu rupiah); dan c) sanksi keterlambatan menyampaikan rekaman data selama 10 hari senilai Rp500.000,00 (lima ratus ribu rupiah). 92 Likuiditas Rupiah Paragraf Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Sumber Regulasi Ketentuan (2) BPR yang tidak menyampaikan bukti pengumuman dan/atau Pasal 25 rekaman data Laporan Keuangan Publikasi sebagaimana dimaksud 15/3/PBI/2013 dalam Pasal 15 ayat (2) (Paragraf 63 ayat (2) dalam kodifikasi ini), Ayat (2) masing‐masing dikenakan sanksi kewajiban membayar sebesar Rp3.000.000,00 (tiga juta rupiah). Contoh: a. Untuk Laporan Keuangan Publikasi bulan Maret 2013, apabila BPR menyampaikan bukti pengumuman Laporan Keuangan Publikasi atau guntingan surat kabar pada tanggal 20 Juni 2013, maka BPR tersebut dikenakan denda tidak menyampaikan bukti pengumuman fotokopi Laporan Keuangan Publikasi atau guntingan surat kabar dan rekaman data senilai Rp6.000.000,00 (enam juta rupiah) yang terdiri dari: 1) Denda tidak menyampaikan bukti pengumuman Laporan Keuangan Publikasi senilai Rp3.000.000,00 (tiga juta rupiah); dan 2) Denda tidak menyampaikan rekaman data senilai Rp3.000.000,00 (tiga juta rupiah). b. Khusus BPR dengan total aset lebih besar atau sama dengan RP10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah) untuk Laporan Keuangan Publikasi bulan Desember 2012, apabila BPR menyampaikan bukti pengumuman laporan keuangan publikasi, guntingan halaman surat kabar, dan rekaman data sesuai ketentuan untuk posisi Desember 2012 pada tanggal 20 Juni 2013 maka BPR tersebut dikenakan denda sebesar Rp9.000.000,00 (Sembilan juta rupiah) yang terdiri dari: 1)
Denda tidak menyampaikan bukti pengumuman Laporan Keuangan Publikasi senilai Rp3.000.000,00 (tiga juta rupiah); 2)
Denda tidak menyampaikan guntingan halaman surat kabar senilai Rp3.000.000,00 (tiga juta rupiah); dan 3) Denda tidak menyampaikan rekaman data senilai Rp3.000.000,00 (tiga juta rupiah). SE 15/29/DKBU BPR yang tidak menyampaikan bukti pengumuman dan/atau rekaman 2013 data Laporan Keuangan Publikasi, masing‐masing dikenakan sanksi Romawi V.B.2.c kewajiban membayar sebesar Rp3.000.000,00 (tiga juta rupiah). Contoh 3) Contoh: a) Untuk posisi bulan September 2013, BPR wajib menyampaikan bukti pengumuman Laporan Keuangan Publikasi atau guntingan surat kabar dan rekaman data, paling lambat tanggal 14 November 2013. Apabila BPR menyampaikan bukti pengumuman Laporan Keuangan Publikasi atau guntingan halaman surat kabar dan rekaman data setelah tanggal 14 November 2013, maka BPR tersebut dikenakan sanksi tidak menyampaikan bukti pengumuman Laporan Keuangan Publikasi atau guntingan halaman surat kabar dan rekaman data senilai Rp6.000.000,00 (enam juta rupiah) dengan rincian sebagai berikut: (1) sanksi tidak menyampaikan bukti pengumuman Laporan Keuangan Publikasi senilai Rp3.000.000,00 (tiga juta rupiah); dan 93 Likuiditas Rupiah Paragraf Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Sumber Regulasi Ketentuan (2) sanksi tidak menyampaikan rekaman data senilai Rp3.000.000,00 (tiga juta rupiah). b) Untuk posisi akhir bulan Desember 2013, bagi BPR dengan total aset lebih besar atau sama dengan Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah) wajib menyampaikan bukti pengumuman Laporan Keuangan Publikasi paling lambat tanggal 14 Mei 2014. Apabila BPR menyampaikan bukti pengumuman Laporan Keuangan Publikasi, guntingan halaman surat kabar, dan rekaman data setelah tanggal 14 Juni 2014 maka BPR tersebut dikenakan sanksi kewajiban membayar sebesar Rp9.000.000,00 (sembilan juta rupiah) yang terdiri dari: (1) sanksi tidak menyampaikan bukti pengumuman Laporan Keuangan Publikasi sebesar Rp3.000.000,00 (tiga juta rupiah); (2) sanksi tidak menyampaikan guntingan halaman surat kabar sebesar Rp3.000.000,00 (tiga juta rupiah); dan (3) sanksi tidak menyampaikan rekaman data sebesar Rp3.000.000,00 (tiga juta rupiah). Bagian Ketiga Hubungan Antara BPR, Akuntan Publik dan Bank Indonesia
74 Pasal 26 15/3/PBI/2013 75 Pasal 27 15/3/PBI/2013 BPR yang tidak menyampaikan fotokopi perjanjian kepada Bank Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (4) (Paragraf 65 ayat (4) dalam kodifikasi ini) dikenakan sanksi administratif sesuai dengan Pasal 52 Undang‐Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang‐Undang Nomor 10 Tahun 1998, berupa teguran tertulis. Akuntan Publik dan/atau Kantor Akuntan Publik yang melanggar ketentuan dalam Pasal 18 dan/atau Pasal 19 (Paragraf 66 dan/atau Paragraf 65 dalam kodifikasi ini) dikenakan sanksi administratif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 Undang‐Undang Nomor 7 tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang‐
Undang Nomor 10 Tahun 1998, berupa: a. penghapusan nama Akuntan Publik dan/atau Kantor Akuntan Publik dari daftar Akuntan Publik dan Kantor Akuntan Publik yang terdaftar di Bank Indonesia; dan/atau b. penyampaian usulan kepada instansi yang berwenang untuk mencabut atau membatalkan izin usaha sebagai pemberi jasa bagi bank sesuai dengan peraturan perundang‐undangan yang berlaku. BAB VII Lain – Lain
76 Pasal 28 15/3/PBI/2013 77 Pasal 29 15/3/PBI/2013 BPR yang telah dikenakan sanksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22, Pasal 23, Pasal 24 dan Pasal 25 (Paragraf 70, Paragraf 71, Paragraf 72 dan Paragraf 73 dalam kodifikasi ini), tetap diwajibkan untuk memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Bank Indonesia . Pembebanan sanksi kewajiban membayar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22, Pasal 23, Pasal 24 dan Pasal 25 (Paragraf 70, Paragraf 71, Paragraf 72 dan Paragraf 73 dalam kodifikasi ini), dilakukan dengan cara transfer atau tunai kepada Bank Indonesia. 94 Likuiditas Rupiah Paragraf Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Sumber Regulasi Ketentuan SE 15/29/DKBU A. Pemenuhan sanksi kewajiban membayar kepada Bank Indonesia dilakukan oleh kantor pusat BPR Pelapor secara tunai atau non tunai. 2013 Romawi V.A SE 15/29/DKBU B. Tata cara pembayaran secara tunai, dilakukan sebagai berikut: 1. Pembayaran pada setiap hari kerja dengan waktu layanan kas 2013 Romawi V.C – V.E pukul 08.00 sampai dengan 12.00 waktu setempat (hari Senin sampai dengan Kamis) atau pukul 08.00 sampai dengan 11.30 waktu setempat (hari Jumat), untuk untung rekening nomor 566.000447.XXX (sesuai sandi satuan kerja Bank Indonesia) –
“Rekening antara sehubungan dengan penerimaan sanksi administratif BPR”. 2. Bagi BPR Pelapor yang berkedudukan di wilayah DKI Jakarta, Banten, Bogor, Depok, Karawang, dan Bekasi, menyetor kepada Departemen Pengedaran Uang c.q. Divisi Pengelolaan Uang Keluar (PgUK). 3. Bagi BPR Pelapor yang kantor pusatnya berkedudukan di luar wilayah sebagaimana dimaksud dalam angka 2, menyetor kepada Kantor Perwakilan Bank Indonesia yang mewilayahi kantor pusat BPR Pelapor. C. Tata cara pembayaran secara non tunai, dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut: 1. Pembayaran melalui kliring Transfer ditujukan ke rekening nomor 566.000447.XXX (sesuai sandi satuan kerja Bank Indonesia) – “Rekening antara sehubungan dengan penerimaan sanksi administratif BPR”, dengan mencantumkan “pembayaran sanksi kewajiban membayar dari BPR XXX untuk Laporan Bulanan periode XXX” pada kolom keterangan. 2. Pembayaran melalui BI‐RTGS Transfer ditujukan ke rekening nomor 566.000447.XXX (sesuai sandi satuan kerja Bank Indonesia) – “Rekening antara sehubungan dengan penerimaan sanksi administratif BPR”, dengan mencantumkan Transaction Reference Number (TRN) BIRBK566 dan pada kolom keterangan dicantumkan “pembayaran sanksi kewajiban membayar dari BPR XXX untuk Laporan Bulanan periode XXX”. D. BPR Pelapor menyampaikan salinan bukti pembayaran sanksi kepada satuan kerja di Bank Indonesia yang melakukan pengenaan sanksi, dengan ketentuan sebagai berikut: 1. Penyampaian bukti pembayaran atas sanksi terkait penyampaian laporan secara on‐line atau off‐line, untuk BPR yang berada diwilayah Jabodetabek, ditujukan kepada Divisi Pengelolaan dan Pengawasan 2 (DPP 2) ‐ Departemen Pengelolaan dan Kepatuhan Laporan (DPKL), Gedung Syafrudin Prawira Negara Lantai 16 ‐ 17, Komplek Perkantoran Bank Indonesia, Jl. M.H. Thamrin No.2, Jakarta – 10350. 2. Penyampaian bukti pembayaran atas sanksi terkait penyampaian laporan secara hard copy untuk BPR yang berada diwilayah Jabodetabek, ditujukan kepada Kantor Regional Bank 1 (KR‐1), Gedung D, Lantai 7, Komplek Perkantoran Bank Indonesia, Jl. M.H. 95 Likuiditas Rupiah Paragraf 78 Sumber Regulasi Pasal 30 15/3/PBI/2013 BAB IX 79 Pasal 33 15/3/PBI/2013 80 Pasal 34 15/3/PBI/2013 BAB I 81 Pasal 1 7/47/PBI/2005 Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Ketentuan Thamrin No.2, Jakarta – 10350 bagi BPR yang berkedudukan di wilayah DKI Jakarta, Banten, Bogor, Depok, Karawang, dan Bekasi. 3. Penyampaian bukti pembayaran atas sanksi terkait penyampaian laporan secara hard copy dan laporan laporan secara on‐line atau off‐ line, untuk untuk BPR yang berada di luar wilayah Jabodetabek, ditujukan kepada Kantor Perwakilan Dalam Negeri Bank Indonesia yang mewilayahi kantor pusat BPR. Apabila batas waktu kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (4), Pasal 5 ayat (4), Pasal 7 ayat (1) dan ayat (2), Pasal 9 ayat (3), Pasal 11 ayat (1) dan ayat (2), Pasal 13, Pasal 14 ayat (1), Pasal 15 ayat (1) dan ayat (2), Pasal 17 ayat (4), dan Pasal 19 (Paragraf 52 ayat (4), Paragraf 53 ayat (4), Paragraf 55 ayat (1) dan ayat (2), Paragraf 57 ayat (3), Paragraf 59 ayat (1) dan ayat (2), Paragraf 61, Paragraf 62 ayat (1), Paragraf 63 ayat (1) dan ayat (2), Paragraf 65 ayat (4), dan Paragraf 67 dalam kodifikasi ini) jatuh pada hari Sabtu atau hari libur, maka batas waktu kewajiban jatuh pada hari kerja berikutnya. Ketentuan Penutup Peraturan Bank Indonesia ini tidak diberlakukan bagi Bank Perkreditan Rakyat eks Badan Kredit Desa (BKD) yang didirikan berdasarkan Staatsblad Tahun 1929 Nomor 357 dan Rijksblad Tahun 1937 Nomor 9. Peraturan Bank Indonesia ini mulai berlaku sejak Laporan Keuangan Publikasi posisi akhir bulan September 2013 dan Laporan Tahunan posisi akhir tahun 2013. Transparansi Kondisi Keuangan Bank Perkreditan Rakyat Syariah Ketentuan Umum
1. Bank Perkreditan Rakyat Syariah yang selanjutnya disebut BPRS adalah Bank Perkreditan Rakyat sebagaimana dimaksud dalam Undang‐undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang‐undang Nomor 10 Tahun 1998, yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah. 2. Kegiatan Usaha Berdasarkan Prinsip Syariah adalah kegiatan usaha perbankan yang dilakukan berdasarkan Prinsip Syariah sebagaimana dimaksud dalam Undang‐undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang‐undang Nomor 10 Tahun 1998. 3. Laporan Tahunan adalah laporan lengkap mengenai kinerja suatu BPRS dalam kurun waktu satu tahun yang berisi Laporan Keuangan Tahunan dan informasi umum. 4. Laporan Keuangan Tahunan adalah laporan keuangan akhir tahun BPRS yang disusun berdasarkan standar akuntansi keuangan yang berlaku. 5. Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan adalah laporan keuangan yang disusun berdasarkan standar akuntansi keuangan yang berlaku 96 Likuiditas Rupiah Paragraf Sumber Regulasi 6. 7. 8. 9. 82 Pasal 2 7/47/PBI/2005 SE 7/52/DPbS 2005 Romawi I No. 1 – 7 Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Ketentuan dan dipublikasikan setiap triwulan sesuai dengan ketentuan Bank Indonesia. Akuntan Publik adalah akuntan yang memiliki izin usaha untuk melakukan kegiatan pemberian jasa audit yang dikeluarkan oleh Menteri Keuangan. Tahun Buku adalah tahun takwim atau tahun yang dimulai dari bulan Januari sampai dengan bulan Desember. Surat Komentar (Management Letter) adalah komentar tertulis dari Akuntan Publik kepada manajemen bank mengenai hasil kaji ulang terhadap struktur pengendalian intern, pelaksanaan standar akuntansi keuangan atau masalah lain yang ditemui dalam pelaksanaan audit, beserta dengan saran‐saran perbaikannya. Dewan Pengawas Syariah adalah dewan yang melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan Prinsip Syariah dalam kegiatan usaha BPRS. Dalam rangka transparansi kondisi keuangan, BPRS wajib membuat dan menyajikan laporan keuangan dengan bentuk dan cakupan sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Bank Indonesia ini, yang terdiri dari: a. Laporan Tahunan; b. Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan. 1. Dalam rangka pemantauan keadaan usaha Bank termasuk BPRS oleh publik, BPRS diwajibkan untuk menyampaikan laporan dan atau informasi sesuai dengan waktu dan bentuk yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. 2. Bentuk penyampaian laporan dan atau informasi yang ditetapkan oleh Bank Indonesia sebagaimana dimaksud dalam angka 1 adalah Laporan Tahunan dan Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan. 3. Laporan Tahunan disusun antara lain untuk memberikan gambaran lengkap mengenai kinerja BPRS dalam kurun waktu satu tahun. 4. Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan disusun antara lain untuk memberikan informasi mengenai posisi keuangan, kinerja atau hasil usaha BPRS serta informasi keuangan lainnya secara triwulanan kepada berbagai pihak yang berkepentingan dengan perkembangan usaha BPRS. 5. Penyajian Laporan Tahunan dan Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan BPRS didasarkan pada Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) yang relevan untuk perbankan syariah, Pedoman Akuntansi Perbankan Syariah Indonesia (PAPSI), serta ketentuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia, agar dapat diperbandingkan. 6. Laporan Tahunan dan Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan disusun dalam Bahasa Indonesia, dalam hal laporan dimaksud juga dibuat selain dalam Bahasa Indonesia baik dalam dokumen yang sama atau terpisah, maka Laporan Tahunan dan Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan tersebut harus memuat informasi yang sama. 7. Angka‐angka dalam laporan disajikan dalam mata uang rupiah dan dalam ribuan rupiah. 97 Likuiditas Rupiah Paragraf 83 Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Sumber Regulasi Ketentuan BAB II Laporan Tahunan
(1) BPRS wajib menyampaikan kepada Bank Indonesia Laporan Tahunan Pasal 3 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf a (Paragraf 82 dalam 7/47/PBI/2005 kodifikasi ini), yang paling sedikit mencakup: a. informasi umum yang terdiri dari: 1. kepengurusan; 2. kepemilikan; 3. perkembangan usaha BPRS dan perkembangan kelompok usaha BPRS, jika ada; 4. strategi dan kebijakan manajemen; dan 5. laporan manajemen. b. Laporan Keuangan Tahunan yang terdiri dari : 1) Neraca; 2) Laporan Laba Rugi; 3) Laporan Arus Kas; 4) Laporan Perubahan Ekuitas; 5) Catatan atas laporan keuangan, termasuk informasi tentang Komitmen dan Kontinjensi; 6) Laporan Perubahan Dana Investasi Terikat, jika ada; 7) Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Zakat, Infaq dan Shadaqah; dan 8) Laporan Sumber dan Penggunaaan Dana Qardh. (2) Laporan Tahunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b bagi BPRS yang mempunyai total aset diatas Rp10.000.000.000,00 (sepuluh milyar rupiah) wajib diaudit oleh Akuntan Publik. (3) Laporan Tahunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib dibuat untuk 1 (satu) Tahun Buku dan disajikan paling sedikit dengan perbandingan 1 (satu) tahun buku sebelumnya. SE 7/52/DPbS A. Laporan Tahunan mencakup: 2005 a. Infomasi umum Romawi II.1 Informasi umum paling sedikit mencakup: 1) kepengurusan, meliputi susunan Komisaris, Direksi dan Dewan Pengawas Syariah beserta jabatan dan ringkasan riwayat hidupnya; 2) rincian kepemilikan saham, berupa nama pemilik dan besaran kepemilikan; 3) perkembangan usaha BPRS, dalam hal terdapat kelompok usaha BPRS maka termasuk perkembangannya yang memuat data mengenai : a) Ikhtisar data keuangan penting paling sedikit mencakup pendapatan penyaluran dana, laba rugi bersih, laba operasi, laba sebelum pajak, aktiva produktif, sumber dana dan komposisinya, pembiayaan dan komposisinya, modal sendiri, jumlah lembar saham yang ditempatkan dan disetor ; dan b) Rasio keuangan yang wajib disajikan paling sedikit mencakup Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM), Non Performing Financing (NPF), Return On Equity (ROE), dan Return On Asset (ROA). 98 Likuiditas Rupiah Paragraf Sumber Regulasi SE 7/52/DPbS 2005 Romawi II.2 Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Ketentuan 4) strategi dan kebijakan manajemen yang digunakan dalam pengelolaan dan pengembangan usaha BPRS, termasuk informasi mengenai manajemen risiko yang paling sedikit mencakup identifikasi risiko (risk identification) dan pengendalian risiko (risk controlling); 5) yang menyajikan informasi mengenai pengelolaan BPRS oleh pengurus atau manajemen dalam rangka good corporate governance, dan paling sedikit mencakup : a) struktur organisasi ; b) aktivitas utama ; c) teknologi informasi, jika ada ; d) jenis produk dan jasa yang ditawarkan, termasuk penyaluran Kredit Usaha Kecil (KUK) ; e) realisasi bagi hasil/imbalan ; f) perkembangan dan target pasar ; g) jaringan kerja dan mitra usaha ; h) jumlah, jenis dan lokasi kantor ; i) kepemilikan Direksi, Komisaris dan pemegang saham dalam kelompok usaha BPRS, dan perubahan dari tahun sebelumnya, jika ada ; j) perubahan‐perubahan penting yang terjadi di BPRS dan kelompok usaha BPRS dalam tahun yang bersangkutan, jika ada ; k) sumber daya manusia, meliputi jumlah, kegiatan pendidikan, pelatihan dan pengembangan SDM ; dan l) Pengungkapan kebijakan yang mencakup fees and salaries/gaji bagi Komisaris, Direksi dan Dewan Pengawas Syariah (DPS) di BPRS termasuk bonus, tantiem dan atau fasilitas lainnya. Laporan Keuangan Tahunan Laporan Keuangan Tahunan meliputi: 1) Neraca; 2) Laporan Laba Rugi; 3) Laporan Arus Kas; 4) Laporan Perubahan Ekuitas; 5) Catatan atas laporan keuangan, termasuk informasi tentang Komitmen dan Kontinjensi; 6) Laporan Perubahan Dana Investasi Terikat, jika ada; 7) Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Zakat, Infaq dan Shadaqah; dan 8) Laporan Sumber dan Penggunaaan Dana Qardh. b.
B. Aspek Transparansi sesuai PSAK untuk perbankan syariah, PAPSI dan ketentuan Bank Indonesia. Laporan Tahunan sebagaimana dimaksud dalam angka 1, wajib memenuhi seluruh aspek pengungkapan (disclosure) sebagaimana ditetapkan dalam PSAK untuk perbankan syariah, PAPSI dan ketentuan Bank Indonesia. 99 Likuiditas Rupiah Paragraf Sumber Regulasi 84 Pasal 4 7/47/PBI/2005 85 Pasal 5 7/47/PBI/2005 Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Ketentuan Pengungkapan tersebut paling sedikit terdiri dari : a) Laporan Keuangan yang meliputi Neraca, Laporan Laba Rugi, Laporan Arus Kas, Laporan Perubahan Ekuitas, Catatan atas laporan keuangan, termasuk informasi tentang Komitmen dan Kontijensi , Laporan Perubahan Dana Investasi Terikat, jika ada , Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Zakat, Infak dan Shadaqah (ZIS) , serta Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Qardh ; b) Jumlah aktiva produktif yang diberikan kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa ; c) Jumlah aktiva produktif yang telah direstrukturisasi dan informasi lain tentang aktiva produktif yang direstrukturisasi selama periode berjalan; d) Klasifikasi aktiva produktif menurut jangka waktu, kualitas aktiva Produktif ; e) Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif (PPAP) yang telah dibentuk dibandingkan dengan Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif (PPAP) yang wajib dibentuk ; f) Perhitungan Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) ; g) Beberapa rasio keuangan BPRS ; h) Karakteristik kegiatan usaha BPRS dan jasa utama yang disediakan; i) Tugas dan wewenang Dewan Pengawas Syariah dalam melakukan pengawasan Syariah atas operasional BPRS berdasarkan fatwa dan ketentuan lainnya ; dan j) Informasi Lain yang mencakup : a. Transaksi‐transaksi penting lainnya dalam jumlah yang signifikan; b. Informasi kejadian penting setelah tanggal laporan Akuntan Publik (subsequent event), khusus bagi BPRS yang memenuhi persyaratan untuk diaudit oleh Akuntan Publik. (1) Bagi BPRS yang mempunyai total aset sampai dengan Rp10.000.000.000,00 (sepuluh milyar rupiah) Laporan Keuangan Tahunan yang disampaikan adalah laporan keuangan yang dipertanggungjawabkan Direksi atau Pengurus kepada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) atau Rapat Anggota. Yang dimaksud dengan “Pengurus” adalah Pengurus bagi BPRS yang berbadan hukum Koperasi. (2) Dalam hal laporan keuangan BPRS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diaudit oleh Akuntan Publik, maka laporan yang disampaikan adalah laporan yang diaudit. (1) Laporan Tahunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) dan Pasal 4 ayat (2) (Paragraf 83 ayat (2) dan Paragraf 84 ayat (2) dalam kodifikasi ini), wajib disampaikan kepada Bank Indonesia paling lambat akhir bulan April tahun berikutnya. 100 Likuiditas Rupiah Paragraf 86 87 Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Sumber Regulasi Ketentuan (2) Laporan Tahunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) (Paragraf 84 ayat (1) dalam kodifikasi ini) wajib disampaikan kepada Bank Indonesia paling lambat akhir bulan Februari tahun berikutnya. Alamat Penyampaian Laporan SE 7/52/DPbS Laporan Keuangan Tahunan, serta guntingan surat kabar yang berisikan 2005 Laporan Keuangan Publikasi atau fotokopi Laporan Keuangan Publikasi Romawi V yang ditempelkan pada papan pengumuman serta disket yang berisi Laporan Keuangan Publikasi disampaikan kepada Bank Indonesia dengan alamat : a. Direktorat Perbankan Syariah, Jl. M.H. Thamrin No.2 Jakarta 10110, bagi BPRS yang berkantor pusat di wilayah kerja kantor pusat Bank Indonesia; atau b. Kantor Bank Indonesia setempat, bagi BPRS yang berkantor pusat di luar wilayah kerja kantor pusat Bank Indonesia. (1) BPRS dianggap terlambat menyampaikan Laporan Tahunan apabila Pasal 6 BPRS menyampaikan Laporan Tahunan kepada Bank Indonesia 7/47/PBI/2005 melampaui batas akhir waktu penyampaian laporan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 (Paragraf 85 dalam kodifikasi ini) tetapi belum melampaui 1 (satu) bulan sejak batas akhir penyampaian laporan. (2) BPRS dianggap tidak menyampaikan Laporan Tahunan apabila BPRS belum menyampaikan Laporan Tahunan dalam batas waktu keterlambatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) atau Laporan Keuangan Tahunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) dan Pasal 4 ayat (2) (Paragraf 83 ayat (2) dan Paragraf 84 ayat (2) dalam kodifikasi ini) tidak diaudit oleh Akuntan Publik yang terdaftar di Bank Indonesia. BAB III Laporan Keuangan Publikasi Triwulan Pasal 7 7/47/PBI/2005 Ayat (1) (1) BPRS wajib mengumumkan Laporan Keuangan Publikasi secara triwulanan untuk posisi pelaporan akhir bulan Maret, Juni, September dan Desember sesuai dengan bentuk dan tatacara yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. (2) Laporan Keuangan Publikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk posisi pelaporan akhir bulan Maret dan September paling sedikit terdiri dari: a. Laporan Keuangan yang terdiri dari : 1) Neraca; 2) Laporan Laba Rugi ; 3) Komitmen dan Kontinjensi. b. Kualitas Aktiva Produktif dan Informasi lainnya yang terdiri dari: 1. Aktiva Produktif kepada pihak terkait; 2. Kolektibilitas Aktiva Produktif; 3. Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif yang wajib dibentuk; 101 Likuiditas Rupiah Paragraf Sumber Regulasi SE 7/52/DPbS 2005 Romawi III.1 Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Ketentuan 4. Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif yang telah dibentuk; dan 5. Komposisi pemegang saham, susunan pengurus dan Dewan Pengawas Syariah. c. Tabel Distribusi Bagi Hasil. Yang dimaksud dengan Tabel Distribusi Bagi Hasil adalah tabel yang menyajikan informasi tentang jumlah dana penyimpan dan jumlah investor berdasarkan produk beserta jumlah bagi hasil dan bonus yang dibagikan dengan dilengkapi informasi indicative rate of return. (3) Laporan Keuangan Publikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk posisi pelaporan akhir bulan Juni dan Desember, selain paling sedikit disajikan sama dengan posisi akhir bulan Maret dan September sebagaimana dimaksud pada ayat (1), juga wajib menyajikan informasi yang terdiri dari: a. Laporan Sumber dan Penggunaan Dana ZIS dan Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Qardh; dan Yang dimaksud dengan : ‐ Laporan Sumber dan Penggunaan Dana ZIS adalah laporan yang menunjukkan sumber dan penggunaan dana ZIS selama suatu jangka waktu tertentu, serta saldo ZIS pada tanggal tertentu. ‐ Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Qardh adalah laporan yang menunjukkan sumber dan penggunaan dana Qardh selama suatu jangka waktu tertentu, serta saldo Qardh pada tanggal tertentu. b. Laporan Perubahan Dana Investasi Terikat, jika ada. Yang dimaksud dengan Laporan Perubahan Dana Investasi Terikat (Mudharabah muqayyadah) adalah laporan yang menunjukkan penyaluran dana Mudharabah muqayyadah yang dilakukan bank syariah, dimana bank syariah tidak menanggung risiko atas dana yang disalurkan tersebut (channeling agent). (4) Laporan Keuangan Publikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib disajikan dalam bentuk perbandingan dengan laporan pada periode yang sama tahun sebelumnya. Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan 1. Umum a. Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan diumumkan untuk laporan keuangan keuangan posisi akhir bulan Maret, Juni, September dan Desember. b. Format Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan merupakan standar minimal yang wajib dipenuhi. Apabila terdapat pos yang jumlahnya material dan tidak terdapat dalam format tersebut, 102 Likuiditas Rupiah Paragraf Sumber Regulasi SE 7/52/DPbS 2005 Romawi III.2 Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Ketentuan BPRS dapat menyajikan pos tersebut secara tersendiri, namun apabila pos dimaksud jumlahnya tidak material dapat digabungkan dengan pos lain yang sejenis. c. Pos‐pos yang memiliki saldo nihil dalam format Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan tetap harus dicantumkan dengan memberi garis pendek (‐) pada pos yang bersangkutan. d. Untuk pengisian pemilik BPRS dalam format Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan posisi akhir bulan Juni dan Desember, nama pemegang saham yang wajib dicantumkan adalah perorangan atau perusahaan yang memiliki saham sebesar 10 % (sepuluh perseratus) atau lebih dari modal BPRS. e. Penyajian Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan : 1) Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan merupakan laporan gabungan antara kantor pusat BPRS dengan seluruh kantor BPRS yang bersangkutan. 2) Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan disajikan paling sedikit dalam bentuk perbandingan dengan laporan pada periode yang sama tahun sebelumnya. 3) Posisi pembanding hendaknya disajikan sesuai format yang sama dengan posisi Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan yang diumumkan. 4) Khusus untuk perlakuan akuntansi yang baru berlaku dalam posisi Laporan, maka penyajian posisi pembanding hendaknya mengacu kepada PSAK Nomor 25 tentang Laba atau Rugi Bersih untuk Periode Berjalan, Kesalahan Mendasar dan Perubahan Kebijakan Akuntansi. 5) Angka‐angka dalam laporan disajikan dalam mata uang rupiah dan dalam ribuan rupiah. 2. Aspek Transparansi sesuai PSAK untuk perbankan syariah, PAPSI dan ketentuan Bank Indonesia. Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan wajib memenuhi seluruh aspek pengungkapan (disclosure) sebagaimana ditetapkan dalam PSAK untuk perbankan syariah, PAPSI dan ketentuan Bank Indonesia.
Pengungkapan tersebut paling sedikit terdiri dari : a. Laporan Keuangan yang meliputi Neraca , Laporan Laba Rugi serta Komitmen dan Kontinjensi ; b. Kualitas Aktiva Produktif dan informasi lainnya yang terdiri dari : 1) Aktiva produktif kepada pihak terkait. 2) Kolektibilitas aktiva produktif. 3) Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif yang wajib dibentuk. 4) Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif yang telah dibentuk.
5) Komposisi pemegang saham, susunan pengurus dan Dewan Pengawas Syariah. c. Tabel Distribusi Bagi Hasil ; d. Khusus laporan keuangan publikasi triwulanan posisi akhir bulan Juni dan Desember, Laporan Keuangan yang disajikan selain paling sedikit sama dengan sebagaimana dimaksud dalam huruf a sampai dengan c, juga wajib menyajikan Laporan Sumber dan 103 Likuiditas Rupiah Paragraf Sumber Regulasi 88 Pasal 8 7/47/PBI/2005 89 Pasal 9 7/47/PBI/2005 90 Pasal 10 7/47/PBI/2005 Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Ketentuan Penggunaan Dana Zakat Infak dan Shadaqah (ZIS), Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Qardh, serta Laporan Perubahan Dana Investasi Terikat, jika ada. (1) Pengumuman Laporan Keuangan Publikasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) (Paragraf 87 ayat (1) dalam kodifikasi ini) dapat dilakukan pada surat kabar lokal atau ditempelkan pada papan pengumuman di kantor BPRS yang bersangkutan. Yang dimaksud dengan surat kabar lokal adalah surat kabar yang mempunyai peredaran diwilayah BPRS tersebut berada. Papan pengumuman diletakkan pada tempat yang mudah terlihat dan dapat terbaca. (2) Pengumuman Laporan Keuangan Publikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan selambat‐lambatnya: a. 1 (satu) bulan setelah berakhirnya bulan laporan untuk laporan keuangan posisi akhir bulan Maret dan Juni; b. 2 (dua) bulan setelah berakhirnya tahun laporan untuk laporan keuangan posisi akhir bulan Desember yang tidak diaudit oleh Akuntan Publik; c. 4 (empat) bulan setelah berakhirnya tahun laporan untuk laporan keuangan posisi akhir bulan Desember yang diaudit oleh Akuntan Publik. (3) Dalam hal pengumuman dilakukan dengan cara menempelkan pada papan pengumuman, pengumuman dimaksud dilakukan sampai dengan pengumuman Laporan Keuangan Publikasi berikutnya. (1) Laporan Keuangan Publikasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 (Paragraf 87 dalam kodifikasi ini) wajib ditandatangani oleh Direksi BPRS dengan mencantumkan namanya secara jelas. (2) Dalam hal Direksi berhalangan, Laporan Keuangan Publikasi ditandatangani oleh pejabat yang diberi wewenang oleh Direksi dengan mencantumkan namanya secara jelas. (3) Bagi BPRS yang laporan keuangannya diaudit oleh Akuntan Publik, untuk Laporan Keuangan Publikasi posisi akhir bulan Desember, selain wajib memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) juga wajib mencantumkan nama Akuntan Publik yang bertanggung jawab dalam audit dan nama Kantor Akuntan Publik yang mengaudit Laporan Keuangan Tahunan. BPRS wajib menyampaikan kepada Bank Indonesia: a. guntingan surat kabar yang berisikan Laporan Keuangan Publikasi atau fotokopi Laporan Keuangan Publikasi yang ditempelkan pada papan pengumuman, selambat‐lambatnya 2 (dua) minggu sejak tanggal pengumuman; b. disket yang berisi Laporan Keuangan Publikasi. 104 Likuiditas Rupiah Paragraf 91 92 Sumber Regulasi SE 7/52/DPbS 2005 Romawi V Pasal 11 7/47/PBI/2005 BAB IV Pasal 12 7/47/PBI/2005 Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Ketentuan Alamat Penyampaian Laporan Laporan Keuangan Tahunan, serta guntingan surat kabar yang berisikan Laporan Keuangan Publikasi atau fotokopi Laporan Keuangan Publikasi yang ditempelkan pada papan pengumuman serta disket yang berisi Laporan Keuangan Publikasi disampaikan kepada Bank Indonesia dengan alamat : a. Direktorat Perbankan Syariah, Jl. M.H. Thamrin No.2 Jakarta 10110, bagi BPRS yang berkantor pusat di wilayah kerja kantor pusat Bank Indonesia; atau b. Kantor Bank Indonesia setempat, bagi BPRS yang berkantor pusat di luar wilayah kerja kantor pusat Bank Indonesia. (1) BPRS dianggap terlambat mengumumkan atau menyampaikan Laporan Keuangan Publikasi kepada Bank Indonesia, apabila BPRS mengumumkan atau menyampaikan Laporan Keuangan Publikasi melampaui batas akhir waktu pengumuman atau penyampaian laporan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2) dan Pasal 10 (Paragraf 88 ayat (2) dan Paragraf 90 dalam kodifikasi ini), tetapi tidak melampaui 1 (satu) bulan sejak batas akhir waktu pengumuman. (2) BPRS dianggap tidak mengumumkan atau menyampaikan Laporan Keuangan Publikasi, apabila BPRS belum mengumumkan atau menyampaikan Laporan Keuangan Publikasi dalam batas waktu keterlambatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Hubungan antara BPRS, Akuntan Publik, Dewan Pengawas Syariah dan Bank Indonesia (1) BPRS dalam memberikan penugasan audit wajib menunjuk Kantor Akuntan Publik dan Akuntan Publik yang telah terdaftar di Bank Indonesia. (2) Akuntan Publik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib memiliki pengetahuan dan atau pengalaman di bidang perbankan syariah. Memiliki pengetahuan perbankan syariah dibuktikan dengan telah mengikuti pendidikan/pelatihan tentang perbankan syariah antara lain tentang sistem operasional perbankan syariah, produk dan akuntansi syariah. (3) Penugasan atau Penunjukan Akuntan Publik dan atau Kantor Akuntan Publik yang sama oleh BPRS paling lama dilakukan untuk periode audit 5 (lima) tahun buku berturut‐turut. Pengaturan ini dimaksudkan agar terdapat penilaian dari pihak yang berbeda dalam rangka meningkatkan independensi profesi Akuntan Publik. Perhitungan jangka waktu 5 (lima) dimulai sejak berlakunya Peraturan Bank Indonesia ini 105 Likuiditas Rupiah Paragraf 93 Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Sumber Regulasi Ketentuan Pasal 13 (1) Penunjukan Akuntan Publik dan Kantor Akuntan Publik dalam rangka 7/47/PBI/2005 audit Laporan Keuangan Tahunan BPRS wajib didasarkan pada perjanjian kerja. (2) Perjanjian kerja antara BPRS dan Kantor Akuntan Publik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit mencakup: a. nama Kantor Akuntan Publik; b. Akuntan Publik yang bertanggung jawab terhadap audit (partner in charge); c. kewajiban Akuntan Publik untuk melaksanakan audit sesuai Standar Profesional Akuntan Publik; d. ruang lingkup audit; e. jangka waktu penyelesaian audit; f. pernyataan dari BPRS mengenai izin kepada Kantor Akuntan Publik dan kewajiban Kantor Akuntan Publik untuk menyampaikan pula secara langsung kepada Bank Indonesia: 1. laporan hasil audit; 2. Surat Komentar (Management Letter); 3. informasi lainnya yang dibutuhkan oleh Bank Indonesia dari Akuntan Publik yang dilakukan setiap saat apabila diperlukan; 4. informasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 huruf b (Paragraf 95 huruf b dalam kodifikasi ini); g. kewajiban Akuntan Publik untuk memberitahukan kepada Bank Indonesia sebelum pelaksanaan audit. (3) Laporan hasil audit dan Surat Komentar (Management Letter) sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf f angka 1 dan angka 2 wajib disampaikan kepada Bank Indonesia paling lambat 4 (empat) bulan setelah tahun buku. (4) Ruang lingkup audit sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf d, paling sedikit mencakup: a. penggolongan kualitas aktiva produktif dan kecukupan penyisihan penghapusan aktiva produktif yang dibentuk BPRS; b. penilaian terhadap rupa‐rupa aktiva termasuk namun tidak terbatas pada agunan yang diambil alih BPRS; c. hal‐hal lain yang diatur dalam standar akuntansi keuangan yang berlaku dan Pedoman Akuntansi Perbankan Syariah Indonesia, termasuk catatan atas Laporan Keuangan; d. pendapat terhadap kewajaran atas transaksi dengan pihak‐pihak yang mempunyai hubungan istimewa maupun transaksi yang dilakukan dengan perlakuan khusus; Pihak‐pihak yang mempunyai hubungan istimewa adalah pihak‐
pihak sebagaimana dimaksud dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan. e. jumlah dan kualitas penyediaan dana kepada pihak terkait; f. rincian pelanggaran batas maksimum pemberian kredit yang meliputi nama nasabah, kualitas penyediaan dana, persentase dan jumlah pelanggaran batas maksimum pemberian kredit; g. perhitungan kewajiban penyediaan modal minimum; 106 Likuiditas Rupiah Paragraf Sumber Regulasi Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Ketentuan h. keandalan sistem pelaporan BPRS kepada Bank Indonesia dan pengujian terhadap keandalan laporan‐laporan yang disampaikan oleh BPRS kepada Bank Indonesia. Pengujian terhadap keandalan laporan termasuk penilaian Akuntan Publik mengenai laporan yang disampaikan ke Bank Indonesia telah disusun dan sesuai dengan data yang ada di BPRS. Laporan sebagaimana dimaksud dalam huruf ini termasuk namun tidak terbatas pada Laporan Bulanan BPRS, Laporan Batas Maksimum Pemberian Kredit. 94 Pasal 14 7/47/PBI/2005 95 Pasal 15 7/47/PBI/2005 (1) Bank Indonesia dapat menyatakan keberatan atas penunjukan Akuntan Publik tertentu oleh BPRS. Yang dimaksud dengan “keberatan” pada ayat ini, apabila selama penugasan audit Bank Indonesia memiliki informasi tentang Akuntan Publik yang bersangkutan yang bisa berpengaruh tidak baik terhadap kelancaran dan pelaksanaan tugasnya, seperti track record yang tidak baik. (2) Bank Indonesia memiliki akses informasi langsung terhadap Akuntan Publik dalam hal Bank Indonesia menganggap hal tersebut adalah dalam rangka melindungi integritas keuangan BPRS dan atau dalam keadaan lain yang dianggap perlu dalam rangka pengawasan. Akuntan Publik yang melakukan audit terhadap Laporan Keuangan Tahunan BPRS wajib: a. melakukan audit sesuai dengan standar profesional akuntan publik, serta perjanjian kerja dan ruang lingkup audit sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 (Paragraf 93 dalam kodifikasi ini); dan b. memberitahukan ke Bank Indonesia selambat‐lambatnya 7 (tujuh) hari kerja sejak ditemukannya: 1. pelanggaran peraturan perundang‐undangan yang berlaku di bidang keuangan dan perbankan; dan 2. keadaaan dan perkiraan keadaan yang dapat membahayakan kelangsungan usaha BPRS. Yang dimaksud dengan keadaan dan atau perkiraan yang dapat membayakan kelangsungan usaha BPRS, antara lain: a. Kekurangan kewajiban penyediaan modal minimum; b. Kekurangan pembentukan penyisihan penghapusan aktiva produktif yang material; c. Pelanggaran batas maksimum pemberian kredit; d. Kecurangan (fraud) yang bernilai material. c. menyampaikan laporan hasil audit dan Management Letter kepada Bank Indonesia. d. memenuhi ketentuan rahasia Bank sebagaimana diatur dalam Undang‐undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan 107 Likuiditas Rupiah Paragraf Sumber Regulasi e.
Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Ketentuan sebagaimana telah diubah dengan Undang‐undang Nomor 10 Tahun 1998. memperoleh pendapat dari Dewan Pengawas Syariah mengenai ketaatan BPRS terhadap pelaksanaan prinsip syariah, sebelum menerbitkan Laporan Audit atas Laporan Keuangan BPRS. Dalam mengeluarkan pendapat mengenai ketaatan BPRS terhadap prinsip syariah, Dewan Pengawas Syariah harus mengacu kepada ketentuan Bank Indonesia tentang tugas dan peran Dewan Pengawas Syariah. Pendapat dari Dewan Pengawas Syariah ini merupakan bukti audit dan tidak mempengaruhi pendapat Akuntan Publik dalam memberikan pendapat. BAB V Laporan Keuangan Konsolidasian
96 Pasal 16 7/47/PBI/2005 97 Pasal 17 7/47/PBI/2005 (1) BPRS yang merupakan bagian dari suatu kelompok usaha dan atau BPRS yang memiliki perusahaan anak, wajib menyusun laporan keuangan konsolidasi berdasarkan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan. Yang dimaksud dengan perusahaan anak adalah badan hukum yang dimiliki atau dikendalikan oleh BPRS, baik langsung maupun tidak langsung. (2) Penyertaan BPRS yang mengakibatkan timbulnya pengendalian namun hanya bersifat sementara dapat dikecualikan dari penyusunan laporan keuangan konsolidasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Yang dimaksud dengan bersifat sementara antara lain pengendalian yang akan dilepaskan dalam jangka waktu selambat‐lambatnya 12 bulan sejak akhir posisi laporan keuangan pada tahun perolehan pengendalian atau penyertaan modal sementara dalam rangka restrukturisasi. Laporan Keuangan konsolidasi wajib disusun secara konsolidasi untuk Laporan Keuangan Tahunan maupun Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan 98 99 BAB VI Tanggung Jawab Laporan Keuangan Pasal 18 7/47/PBI/2005 BAB VII Laporan Keuangan Tahunan dan Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan sepenuhnya menjadi tanggung jawab Direksi BPRS. Pasal 19 7/47/PBI/2005 BPRS wajib melakukan pencatatan atas kegiatan usahanya berdasarkan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan dan Pedoman Akuntansi Perbankan Syariah Indonesia yang berlaku bagi Perbankan Syariah. Pedoman Akuntansi Perbankan Syariah 108 Likuiditas Rupiah Paragraf 100 Sumber Regulasi BAB VIII Sanksi
Laporan Tahunan
Pasal 20 7/47/PBI/2005 Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Ketentuan (1) BPRS yang terlambat menyampaikan Laporan Tahunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) (Paragraf 86 ayat (1) dalam kodifikasi ini), dikenakan sanksi kewajiban membayar sebesar Rp100.000,00 (seratus ribu rupiah) per hari kerja keterlambatan. (2) BPRS yang tidak menyampaikan Laporan Tahunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) (Paragraf 86 ayat (2) dalam kodifikasi ini), dikenakan sanksi kewajiban membayar sebesar Rp5.000.000,00 (lima juta rupiah). 101 Pasal 21 7/47/PBI/2005 (1) Apabila isi Laporan Tahunan secara material tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya dan atau tidak disajikan sesuai ketentuan dalam Peraturan Bank Indonesia ini dan atau Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku, maka: a. setelah diberi peringatan 2 (dua) kali surat teguran oleh Bank Indonesia dengan tenggang waktu 2 (dua) minggu untuk setiap teguran, BPRS tidak memperbaiki laporan dimaksud, dikenakan sanksi berupa kewajiban membayar sebesar Rp10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah); dan b. dapat dikenakan sanksi administratif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 Undang‐undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang‐undang Nomor 10 Tahun 1998, antara lain berupa: 1. penurunan nilai kredit dalam perhitungan tingkat kesehatan; 2. pencantuman anggota pengurus, pegawai BPRS, pemegang saham dalam daftar orang‐orang yang dilarang menjadi pengurus dan pemilik BPRS; 3. pemberhentian pengurus BPRS dan selanjutnya Bank Indonesia menunjuk dan mengangkat pengganti sementara. Dalam hal materi kesalahan yang sama telah dikenakan sanksi dalam Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan maka BPRS tidak dikenakan sanksi dalam ayat ini. (2) Apabila berdasarkan penilaian Bank Indonesia, Laporan Tahunan BPRS secara material tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya dan atau tidak disajikan sesuai ketentuan dalam Peraturan Bank Indonesia ini dan atau Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku, selain dikenai sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1), terhadap Dewan Komisaris, Direksi, pegawai BPRS maupun pihak terafiliasi lainnya dapat dikenakan sanksi pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 ayat (1) dan Pasal 50 Undang‐undang Nomor 10 Tahun 1998. 102 Laporan Keuangan Publikasi
Pasal 22 7/47/PBI/2005 (1) BPRS yang terlambat mengumumkan atau terlambat menyampaikan Laporan Keuangan Publikasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (1) (Paragraf 91 ayat (1) dalam kodifikasi ini), dikenakan sanksi kewajiban membayar sebesar Rp100.000,00 (seratus ribu rupiah) per hari kerja keterlambatan. 109 Likuiditas Rupiah Paragraf 103 Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Sumber Regulasi Ketentuan (2) BPRS yang tidak mengumumkan atau tidak menyampaikan Laporan Keuangan Publikasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (1) (Paragraf 91 ayat (1) dalam kodifikasi ini), dikenakan sanksi kewajiban membayar setinggi‐tingginya sebesar Rp5.000.000,00 (lima juta rupiah). (3) Apabila menurut penilaian Bank Indonesia Laporan Keuangan Publikasi secara material tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya dan atau Penyataan Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku, maka: a. setelah diberi peringatan 2 (dua) kali surat teguran oleh Bank Indonesia dengan tenggang waktu 2 (dua) minggu untuk setiap teguran, BPRS tidak memperbaiki dan atau mengumumkan kembali laporan dimaksud, dikenakan sanksi kewajiban membayar sebesar Rp5.000.000,00 (lima juta rupiah); dan b. dapat dikenakan sanksi administratif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 Undang ‐undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang‐undang Nomor 10 Tahun 1998, antara lain berupa: 1. teguran tertulis; 2. penurunan nilai kredit dalam perhitungan tingkat kesehatan. (4) Apabila berdasarkan penilaian Bank Indonesia, Laporan Tahunan BPRS secara material tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya dan atau tidak disajikan sesuai ketentuan dalam Peraturan Bank Indonesia ini dan atau Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku, selain dikenai sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (3), terhadap Dewan Komisaris, Direksi, pegawai BPRS maupun pihak terafiliasi lainnya dapat dikenakan sanksi pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 ayat (1) dan Pasal 50 Undang‐undang Nomor 10 Tahun 1998. Akuntan Publik dan Kantor Akuntan Publik Pasal 23 7/47/PBI/2005 (1) Akuntan Publik atau Kantor Akuntan Publik yang secara material melanggar ketententuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 (Paragraf 95 dalam kodifikasi ini) dikenakan sanksi administratif sebagaimana tercantum dalam Pasal 53 Undang‐undang Nomor 7 tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana diubah dengan Undang‐undang Nomor 10 Tahun 1998, berupa: a. penghapusan nama Akuntan Publik dari daftar Akuntan Publik di Bank Indonesia; b. penghapusan Kantor Akuntan Publik dari daftar Kantor Akuntan Publik di BI, apabila pelanggaran dilakukan oleh 2 (dua) orang Akuntan Publik yang bertanggung jawab (partner in charge) dalam audit BPRS dari Kantor Akuntan Publik yang sama; c. penyampaian usulan kepada instansi yang berwenang untuk mencabut atau membatalkan izin usaha sebagai pemberi jasa bagi Bank sesuai dengan ketentuan atau kode etik yang berlaku. (2) Akuntan Publik yang tidak memenuhi ketentuan rahasia bank sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 huruf d (Paragraf 95 huruf d dalam kodifikasi ini), selain dikenakan sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1), juga dapat dikenakan sanksi 110 Likuiditas Rupiah Paragraf Sumber Regulasi Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Ketentuan pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 47 ayat (2) Undang‐
undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang‐undang Nomor 10 Tahun 1998. BAB IX Lain‐Lain
104 Pasal 24 7/47/PBI/2005 105 Pasal 25 7/47/PBI/2005 SE 7/52/DPbS 2005 Romawi IV BPRS yang telah dikenakan sanksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20, Pasal 21 ayat, dan Pasal 22 (Paragraf 100, Paragraf 101 dan Paragraf 102 dalam kodifikasi ini) tetap diwajibkan untuk menyampaikan Laporan dimaksud. (1) Pembebanan sanksi kewajiban membayar sebagaimana dimaksud dalam dalam Pasal 20, Pasal 21 ayat (1), dan Pasal 22 (Paragraf 100, Paragraf 101 ayat (1), dan Paragraf 102 dalam kodifikasi ini), dilakukan dengan cara transfer ke rekening Bank Indonesia. (2) Tatacara transfer ke rekening Bank Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dalam Surat Edaran Bank Indonesia. Tata Cara Pembayaran Sanksi Kewajiban Membayar 1. Pembayaran sanksi kewajiban membayar ke Bank Indonesia dilakukan dengan cara transfer ke rekening Bank Indonesia. Transfer dimaksud dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu : a. Kliring Transfer ditujukan ke rekening nomor 566.000.446 – Rekening penerimaan sanksi administratif BPRS, dan pada kolom keterangan dicantumkan pembayaran sanksi kewajiban membayar. b. BI‐RTGS Transfer ditujukan ke rekening nomor 566.000446 – Rekening penerimaan sanksi administratif BPRS dengan mencantumkan Transaction Reference Number (TRN) BIRBK566 dan pada keterangan dicantumkan pembayaran sanksi kewajiban membayar. 2. Fotokopi bukti pembayaran sanksi kewajiban membayar sebagaimana dimaksud dalam angka 1 disampaikan kepada Bank Indonesia dengan alamat : a. Direktorat Perbankan Syariah, Jl.M.H.Thamrin Nomor 2 Jakarta 10010, Telp. 381‐8778, 381‐8513, atau melalui Fax Nomor 350‐1990, bagi BPRS Pelapor yang berkedudukan di wilayah DKI Jakarta Raya, Banten, Bogor, Depok, Karawang, dan Bekasi. b. Kantor Bank Indonesia setempat bagi BPRS Pelapor yang berkedudukan diluar wilayah sebagaimana dimaksud dalam huruf a. 106 BAB XI Keadaan Memaksa (Force Majeure)
Pasal 26 7/47/PBI/2005 (1) BPRS yang mengalami keadaan memaksa (force majeure) selama lebih dari satu bulan dalam periode di bulan yang terakhir seharusnya mengumumkan dan atau menyampaikan laporan, 111 Likuiditas Rupiah Paragraf Sumber Regulasi Transparansi dan Publikasi Laporan Bank Ketentuan dikecualikan dari kewajiban menyampaikan Laporan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1), Pasal 5 ayat (2), Pasal 8 ayat (2), dan Pasal 10 (Paragraf 85 ayat (1), Paragraf 85 ayat (2), Paragraf 88 ayat (2), dan Paragraf 90 dalam kodifikasi ini). Yang dimaksud dengan keadaan memaksa (force majeure) adalah keadaan yang secara nyata‐nyata menyebabkan BPRS tidak dapat mengumumkan dan/atau menyampaikan laporan, antara lain kebakaran, kerusuhan massa, perang, sabotase, serta bencana alam seperti gempa bumi dan banjir, yang dibenarkan oleh penguasa atau pejabat dari instansi terkait di daerah setempat. (2) BPRS yang mengalami keadaan memaksa (force majeure), wajib menyampaikan permohonan untuk memperoleh pengecualian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) secara tertulis kepada Bank Indonesia, dengan disertai penjelasan mengenai keadaan memaksa yang dialami. (3) BPRS yang memperoleh pengecualian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib mengumumkan dan atau menyampaikan Laporan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1), Pasal 5 ayat (2), Pasal 8 ayat (2) dan Pasal 10 (Paragraf 85 ayat (1), Paragraf 85 ayat (2), Paragraf 88 ayat (2) dan Paragraf 90 dalam kodifikasi ini), setelah BPRS kembali melakukan kegiatan operasional secara normal. 112 Lampiran 1
LAMPIRAN
SURAT EDARAN BANK INDONESIA
NOMOR 15/26/DPbS TANGGAL 10 JULI 2013
PERIHAL
PELAKSANAAN PEDOMAN AKUNTANSI
PERBANKAN SYARIAH INDONESIA
PEDOMAN AKUNTANSI PERBANKAN SYARIAH INDONESIA
TAHUN 2013
113
Lanjutan Lampiran 1
BAGIAN I
PENDAHULUAN
I.1 LATAR BELAKANG
01. Tujuan Laporan Keuangan entitas perbankan syariah (untuk
selanjutnya
disebut
“Bank”)
adalah
untuk
menyediakan
informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja keuangan,
dan arus kas dari aktivitas Bank yang bermanfaat dalam
pengambilan putusan. Selain itu, Laporan Keuangan merupakan
hasil pertanggungjawaban manajemen atas amanah sumber
daya yang dipercayakan.
02. Suatu Laporan Keuangan bermanfaat apabila informasi yang
disajikan dalam Laporan Keuangan tersebut dapat dipahami,
relevan, andal, dan dapat diperbandingkan. Akan tetapi, perlu
disadari pula bahwa Laporan Keuangan tidak menyediakan
semua informasi yang mungkin dibutuhkan oleh pihak-pihak
yang
berkepentingan
dengan
Bank
karena
secara
umum
Laporan Keuangan hanya menggambarkan pengaruh keuangan
dari kejadian masa lalu. Namun dalam beberapa hal, Bank perlu
menyediakan informasi yang mempunyai pengaruh keuangan
masa depan.
03. Bank memiliki fungsi sebagai:
a.
Manajer investasi.
Bank dapat mengelola investasi atas dana nasabah dengan
menggunakan akad mudharabah dan wadiah.
b.
Agen investasi.
Bank dapat mengelola investasi atas dana nasabah dengan
menggunakan akad wakalah.
c.
Investor.
Bank dapat menginvestasikan dana yang dimilikinya dan
dana
nasabah
yang
dipercayakan
kepadanya
dengan
menggunakan instrumen investasi yang sesuai dengan
prinsip Syariah. Keuntungan yang diperoleh dibagihasilkan
sesuai nisbah yang disepakati antara Bank dan nasabah.
1.1
114
Lanjutan Lampiran 1
d.
Penyedia jasa keuangan.
Bank
dapat
melakukan
kegiatan
jasa-jasa
layanan
Perbankan Syariah dengan mengacu kepada UndangUndang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah.
e.
Pengemban fungsi sosial.
Berdasarkan
tentang
Undang-Undang
Perbankan
Syariah
Nomor
Pasal
4
21
Tahun
Ayat
2
2008
dan
3,
menjelaskan:
i.
Bank dapat menjalankan fungsi sosial dalam bentuk
lembaga baitul maal, yaitu menerima dana yang
berasal dari zakat, infak, sedekah, hibah, atau dana
sosial lainnya dan menyalurkannya kepada organisasi
pengelola zakat; dan
ii.
Bank dapat menghimpun dana sosial yang berasal dari
wakaf uang dan menyalurkannya kepada pengelola
wakaf (nazhir) sesuai dengan kehendak pemberi wakaf
(wakif).
04. Bank
sebagai
investor
pada
dasarnya
melakukan
fungsi
intermediari penyaluran dana dalam bentuk pembiayaan yang
meliputi, antara lain transaksi investasi untuk mendapatkan
bagi
hasil,
transaksi
atas
dasar
jual
beli
aset
untuk
mendapatkan keuntungan, dan atau pemberian layanan jasa
untuk mendapatkan imbalan.
1.2
115
Lanjutan Lampiran 1
I.2 ASAS DAN KARAKTERISTIK TRANSAKSI SYARIAH
A.
Asas Transaksi Syariah
01. Transaksi
Syariah
berasaskan
keadilan
(ukhuwah),
pada
(‘adalah),
prinsip
persaudaraan
kemaslahatan
(maslahah),
keseimbangan (tawazun), dan universalisme (syumuliyah).
02. Prinsip persaudaraan (ukhuwah) esensinya merupakan nilai
universal
yang
menata
interaksi
sosial
dan
harmonisasi
kepentingan para pihak untuk kemanfaatan secara umum
dengan
semangat
menjunjung
tinggi
saling
nilai
menolong.
kebersamaan
Transaksi
dalam
Syariah
memperoleh
manfaat (sharing economics) sehingga seseorang tidak boleh
mendapat keuntungan di atas kerugian orang lain. Ukhuwah
dalam transaksi Syariah berdasarkan prinsip saling mengenal
(ta’aruf), saling memahami (tafahum), saling menolong (ta’awun),
saling menjamin (takaful), saling bersinergi dan beraliansi
(tahaluf).
03. Prinsip keadilan (‘adalah) esensinya menempatkan sesuatu
hanya pada tempatnya dan memberikan sesuatu hanya pada
yang berhak serta memperlakukan sesuatu sesuai posisinya.
Implementasi keadilan dalam kegiatan usaha berupa aturan
prinsip muamalah yang melarang adanya unsur:
a.
Unsur bunga dalam segala bentuk dan jenisnya, baik riba
nasiah maupun riba fadhl (riba). Esensi riba adalah setiap
tambahan pada jumlah piutang yang dipersyaratkan dalam
transaksi pinjam-meminjam uang serta derivasinya dan
transaksi tidak tunai lainnya, seperti murabahah tangguh;
dan setiap tambahan yang dipersyaratkan dalam transaksi
pertukaran antar barang ribawi termasuk pertukaran uang
(money exchange) yang sejenis secara tunai maupun
tangguh dan yang tidak sejenis secara tidak tunai.
b.
Unsur yang merugikan diri sendiri, orang lain, maupun
lingkungan
(zalim).
Esensi
zalim
(dzulm)
adalah
menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya, memberikan
sesuatu tidak sesuai ukuran, kualitas dan temponya,
mengambil
sesuatu
yang
bukan
haknya
dan
1.3
116
Lanjutan Lampiran 1
memperlakukan sesuatu tidak sesuai posisinya. Kezaliman
dapat menimbulkan kemudharatan bagi masyarakat secara
keseluruhan,
bukan
hanya
sebagian;
atau
membawa
kemudharatan bagi salah satu pihak atau pihak-pihak yang
melakukan transaksi.
c.
Unsur judi dan sikap spekulatif (maysir). Esensi maysir
adalah setiap transaksi yang bersifat spekulatif dan tidak
berkaitan dengan produktivitas serta bersifat perjudian
(gambling).
d.
Unsur ketidakjelasan (gharar). Esensi gharar adalah setiap
transaksi yang berpotensi merugikan salah satu pihak
karena mengandung unsur ketidakjelasan, manipulasi dan
eksploitasi
informasi
serta
tidak
adanya
kepastian
pelaksanaan akad. Bentuk-bentuk gharar antara lain:
i.
tidak adanya kepastian penjual untuk menyerahkan
obyek akad pada waktu terjadi akad, baik obyek akad
itu sudah ada maupun belum ada;
ii.
menjual
sesuatu
yang
belum
berada
di
bawah
penguasaan penjual;
iii.
tidak adanya kepastian kriteria kualitas dan kuantitas
barang/jasa;
iv.
tidak adanya kepastian jumlah harga yang harus
dibayar dan alat pembayaran;
v.
tidak adanya ketegasan jenis dan obyek akad;
vi.
kondisi obyek akad tidak dapat dijamin kesesuaiannya
dengan yang ditentukan dalam transaksi;
vii. adanya unsur eksploitasi salah satu pihak karena
informasi
yang
ketidaktahuan
kurang
atau
dimanipulasi
atau
ketidakpahaman
dan
yang
ditransaksikan.
e.
Unsur haram baik dalam barang maupun jasa serta
aktivitas operasional yang terkait (haram). Esensi haram
adalah segala unsur yang dilarang secara tegas dalam Al
Quran dan As Sunah.
04. Prinsip kemaslahatan (mashlahah) esensinya merupakan segala
bentuk kebaikan dan manfaat yang berdimensi duniawi dan
1.4
117
Lanjutan Lampiran 1
ukhrawi, material dan spiritual, serta individual dan kolektif.
Kemaslahatan yang diakui harus memenuhi dua unsur yakni
kepatuhan Syariah (halal) serta bermanfaat dan membawa
kebaikan (thayib) dalam semua aspek secara keseluruhan yang
tidak menimbulkan kemudharatan. Transaksi Syariah yang
dianggap bermaslahat harus memenuhi secara keseluruhan
unsur-unsur yang menjadi tujuan ketetapan Syariah (maqasid
syariah) yaitu berupa pemeliharaan terhadap:
a.
akidah, keimanan dan ketakwaan (dien);
b.
akal (‘aql);
c.
keturunan (nasl);
d.
jiwa dan keselamatan (nafs); dan
e.
harta benda (mal).
05. Prinsip
keseimbangan
(tawazun)
esensinya
meliputi
keseimbangan aspek material dan spiritual, aspek privat dan
publik, sektor keuangan dan sektor riil, bisnis dan sosial, dan
keseimbangan aspek pemanfaatan dan pelestarian. Transaksi
Syariah
tidak
hanya
menekankan
pada
maksimalisasi
keuntungan perusahaan semata untuk kepentingan pemilik
(shareholder). Sehingga manfaat yang didapatkan tidak hanya
difokuskan pada pemegang saham, akan tetapi pada semua
pihak yang dapat merasakan manfaat adanya suatu kegiatan
ekonomi.
06. Prinsip universalisme (syumuliyah) esensinya dapat dilakukan
oleh, dengan, dan untuk semua pihak yang berkepentingan
(stakeholder)
golongan,
tanpa
sesuai
membedakan
dengan
suku,
semangat
agama,
kerahmatan
ras
dan
semesta
(rahmatan lil alamin).
07. Transaksi
Syariah
terikat
dengan
nilai-nilai
etis
meliputi
aktivitas sektor keuangan dan sektor riil yang dilakukan secara
koheren tanpa dikotomi sehingga keberadaan dan nilai uang
merupakan cerminan aktivitas investasi dan perdagangan.
1.5
118
Lanjutan Lampiran 1
B.
Karakteristik Transaksi Syariah
01. Implementasi transaksi yang sesuai dengan paradigma dan asas
transaksi
Syariah
harus
memenuhi
karakteristik
dan
persyaratan sebagai berikut:
a.
Transaksi hanya dilakukan berdasarkan prinsip saling
paham dan saling ridha;
b.
Prinsip kebebasan bertransaksi diakui sepanjang objeknya
halal dan baik (thayib);
c.
Uang hanya berfungsi sebagai alat tukar dan satuan
pengukur nilai, bukan sebagai komoditas;
d.
Tidak mengandung unsur riba;
e.
Tidak mengandung unsur kezaliman;
f.
Tidak mengandung unsur maysir;
g.
Tidak mengandung unsur gharar;
h.
Tidak mengandung unsur haram;
i.
Tidak menganut prinsip nilai waktu dari uang (time value of
money) karena keuntungan yang didapat dalam kegiatan
usaha terkait dengan risiko yang melekat pada kegiatan
usaha tersebut sesuai dengan prinsip al-ghunmu bil ghurmi
(no gain without accompanying risk);
j.
Transaksi dilakukan berdasarkan suatu perjanjian yang
jelas dan benar serta untuk keuntungan semua pihak tanpa
merugikan
pihak
lain
sehingga
tidak
diperkenankan
menggunakan standar ganda harga untuk satu akad serta
tidak
menggunakan
dua
transaksi
bersamaan
yang
berkaitan (ta’alluq) dalam satu akad;
k.
Tidak ada distorsi harga melalui rekayasa permintaan
(najasy), maupun melalui rekayasa penawaran (ihtikar); dan
l.
Tidak mengandung unsur kolusi dengan suap menyuap
(risywah).
02. Transaksi Syariah dapat berupa aktivitas bisnis yang bersifat
komersial maupun aktivitas sosial yang bersifat nonkomersial.
Transaksi Syariah komersial dilakukan, antara lain, berupa
investasi untuk mendapatkan bagi hasil, jual beli barang untuk
mendapatkan laba, dan atau pemberian layanan jasa untuk
mendapatkan imbalan.
1.6
119
Lanjutan Lampiran 1
03. Transaksi Syariah nonkomersial dilakukan, antara lain, berupa
pemberian
dana
pinjaman
atau
talangan
(qardh)
serta
penghimpunan dan penyaluran dana sosial, seperti zakat, infak,
sedekah, wakaf dan hibah.
I.3 TUJUAN DAN RUANG LlNGKUP
A.
Tujuan
01. Tujuan dari penyusunan Pedoman Akuntansi Perbankan Syariah
Indonesia (untuk selanjutnya disebut “Pedoman”) antara lain:
a. Membantu Bank menyusun Laporan Keuangan supaya
sesuai dengan tujuan Laporan Keuangan.
b. Menciptakan keseragaman penerapan perlakuan akuntansi
dan penyajian Laporan Keuangan sehingga meningkatkan
daya banding antara Laporan Keuangan Bank.
c. Menjadi acuan minimum yang harus dipenuhi oleh Bank
dalam menyusun Laporan Keuangan. Namun, keseragaman
penyajian sebagaimana diatur dalam Pedoman ini tidak
menghalangi
masing-masing
Bank
untuk
memberikan
informasi yang relevan bagi pengguna laporan sesuai kondisi
masing-masing Bank.
1.7
120
Lanjutan Lampiran 1
B.
Ruang Lingkup
01. Pedoman ini berlaku untuk Bank yang menjalankan fungsi
sebagai:
a. Bank Umum Syariah; dan
b. Bank umum konvensional yang melakukan kegiatan usaha
berdasarkan prinsip Syariah (Unit Usaha Syariah).
I.4 ACUAN PENYUSUNAN
01. Acuan
yang
digunakan
dalam
menyusun
Pedoman
ini
didasarkan pada referensi yang relevan. Adapun referensi yang
digunakan adalah:
a.
Kerangka
Dasar
Penyusunan
dan
Penyajian
Laporan
Keuangan Syariah dan Pernyataan Standar Akuntansi
Keuangan Syariah;
b.
Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan dan Interpretasi
Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan sepanjang tidak
bertentangan dengan prinsip Syariah;
c.
Ketentuan yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia;
d.
Fatwa yang dikeluarkan oleh Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia;
e.
Financial Accounting Standard (Accounting and Auditing
Organization for Islamic Financial Institutions/AAOIFI);
f.
International Financial Reporting Standards (International
Accounting
Standards
Board/IASB)
sepanjang
tidak
bertentangan dengan prinsip Syariah;
g.
Peraturan
perundang-undangan
yang
relevan
dengan
Laporan Keuangan; dan
h.
Praktik-praktik akuntansi yang berlaku umum, sepanjang
tidak bertentangan dengan prinsip Syariah.
02. Berdasarkan referensi di atas diadopsi ketentuan yang relevan
dan sesuai dengan kondisi lingkungan usaha berdasarkan
prinsip Syariah di Indonesia yang kemudian dikodifikasi dalam
Pedoman ini. Selanjutnya sebagai dasar pengaturan penyusunan
Laporan Keuangan Bank digunakan ketentuan-ketentuan yang
diatur dalam Pedoman ini.
1.8
121
Lanjutan Lampiran 1
I.5 KETENTUAN LAIN
01. Ilustrasi jurnal yang digunakan dalam Pedoman ini hanya
merupakan ilustrasi dan tidak bersifat mengikat. Bank dapat
mengembangkan metode pencatatan dan pengakuan sesuai
sistem masing-masing sepanjang memberikan hasil yang tidak
berbeda. Ilustrasi jurnal yang dicantumkan dalam Pedoman ini
menggambarkan pencatatan akuntansi secara manual.
02. Transaksi yang dicantumkan pada Pedoman ini diprioritaskan
pada transaksi yang umum terjadi pada setiap Bank.
03. Pedoman ini secara periodik akan dievaluasi dan disesuaikan
dengan perkembangan bisnis dan produk perbankan syariah,
ketentuan
SAK,
ketentuan
Bank
Syariah
Indonesia,
dan
ketentuan lainnya yang terkait dengan industri perbankan
syariah.
1.9
122
Lanjutan Lampiran 1
BAGIAN II
LAPORAN KEUANGAN BANK SYARIAH
II.1 KETENTUAN UMUM LAPORAN KEUANGAN
A.
Tujuan Laporan Keuangan
01.
Memberikan
informasi
mengenai
posisi
keuangan,
kinerja
keuangan, dan perubahan posisi keuangan yang bermanfaat
bagi pengguna Laporan Keuangan dalam membuat keputusan
ekonomi;
02.
Sarana
pertanggungjawaban
manajemen
atas
penggunaan
sumber daya yang dipercayakan kepada manajemen;
03.
Meningkatkan kepatuhan terhadap pemenuhan prinsip Syariah
dalam semua transaksi dan kegiatan usaha;
04.
Memberikan informasi kepatuhan terhadap pemenuhan prinsip
Syariah, serta informasi aset, liabilitas, pendapatan dan beban
yang tidak sesuai dengan prinsip Syariah, bila ada, dan
bagaimana perolehan dan penggunaannya;
05.
Memberikan informasi mengenai pemenuhan tanggung jawab
manajemen terhadap amanah dalam mengamankan dana,
menginvestasikannya pada tingkat keuntungan yang layak;
06.
Memberikan
informasi
tingkat
keuntungan
investasi
yang
diperoleh penanam modal dan pemilik dana syirkah temporer;
dan
07.
Memberikan informasi pemenuhan kewajiban fungsi sosial,
termasuk penerimaan
dan penyaluran dana zakat, dan juga
pengelolaan dana infak, sedekah, dan wakaf.
B.
Tanggung Jawab Atas Laporan Keuangan
Manajemen Bank bertanggung jawab atas penyusunan dan penyajian
Laporan Keuangan.
C.
Komponen Laporan Keuangan
01.
Laporan Posisi Keuangan;
02.
Laporan Laba Rugi Komprehensif;
03.
Laporan Perubahan Ekuitas;
04.
Laporan Arus Kas;
2.1
123
Lanjutan Lampiran 1
D.
05.
Laporan Rekonsiliasi Pendapatan dan Bagi Hasil;
06.
Laporan Sumber dan Penyaluran Dana Zakat;
07.
Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Kebajikan; dan
08.
Catatan Atas Laporan Keuangan.
Bahasa Laporan Keuangan
01. Laporan Keuangan harus disusun dalam bahasa Indonesia. Jika
Laporan Keuangan juga disusun dalam bahasa lain selain dari
bahasa Indonesia, maka Laporan Keuangan dalam bahasa lain
tersebut harus memuat informasi yang sama dan waktu yang
sama (tanggal posisi dan cakupan periode).
02. Selanjutnya, Laporan Keuangan dalam bahasa lain tersebut
harus diterbitkan dalam waktu yang sama seperti Laporan
Keuangan
dalam
inkonsistensi
bahasa
dalam
Indonesia.
penyajian
Dalam
laporan,
hal
maka
terjadi
yang
dipergunakan sebagai rujukan adalah dalam bahasa Indonesia.
E.
Mata Uang Fungsional Dan Pelaporan
01. Mata uang fungsional dan mata uang pelaporan adalah Rupiah.
Apabila transaksi Bank menggunakan mata uang selain Rupiah,
maka harus dijabarkan dalam mata uang Rupiah dengan
menggunakan
kurs
laporan
yang
ditetapkan
oleh
Bank
Indonesia.
02. Keuntungan atau kerugian dalam periode berjalan yang terkait
dengan transaksi dalam mata uang asing dinilai dengan
menggunakan
kurs
laporan
yang
ditetapkan
oleh
Bank
Indonesia.
F.
Kebijakan Akuntansi
01. Kebijakan Akuntansi harus mencerminkan prinsip kehati-hatian
dan mencakup semua informasi yang material dan sesuai
dengan Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku.
02. Apabila PSAK Syariah belum mengatur masalah pengakuan,
pengukuran, penyajian atau pengungkapan dari suatu transaksi
atau peristiwa, maka harus ditetapkan kebijakan agar Laporan
Keuangan
yang
disajikan
memuat
informasi
yang
dapat
2.2
124
Lanjutan Lampiran 1
diandalkan dan relevan dengan kebutuhan para pengguna
Laporan Keuangan untuk pengambilan keputusan.
03. Dalam menetapkan kebijakan akuntansi, manajemen harus
memperhatikan sumber dengan urutan sebagai berikut:
a.
Definisi, kriteria pengakuan, dan konsep pengukuran untuk
aset,
liabilitas,
penghasilan,
dan
dana
syirkah
beban
temporer,
dalam
ekuitas,
Kerangka
Dasar
Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan Syariah.
b.
Persyaratan dan panduan dalam SAK umum yang sesuai
dengan SAK Syariah, yang berhubungan dengan masalah
serupa dan terkait.
c.
Standar akuntansi terkini yang dikeluarkan oleh badan
penyusun standar akuntansi lain yang menggunakan
kerangka dasar yang sama untuk mengembangkan standar
akuntansi, literatur akuntansi lain, dan praktik akuntansi
industri
yang
berlaku,
sepanjang
tidak
bertentangan
dengan prinsip Syariah.
G.
Penyajian
01. Laporan Keuangan harus menyajikan secara wajar posisi
keuangan, kinerja keuangan, dan perubahan posisi keuangan
disertai
pengungkapan
yang
diharuskan
sesuai
dengan
ketentuan yang berlaku.
02. Aset disajikan berdasarkan karakteristiknya menurut urutan
likuiditas, liabilitas disajikan menurut urutan jatuh temponya,
dan dana syirkah temporer disajikan dalam unsur tersendiri.
03. Saldo transaksi sehubungan dengan kegiatan operasi normal
Bank disajikan dan diungkapkan secara terpisah antara pihakpihak berelasi dan pihak-pihak tidak berelasi. Dalam hal ini
yang dimaksud dengan pihak yang
berelasi adalah termasuk
pihak-pihak terkait sesuai dengan ketentuan Bank Indonesia.
04. Disamping hal-hal di atas, penyajian Laporan Keuangan bagi
Bank
wajib
mengikuti
ketentuan
yang
dikeluarkan
Bank
Indonesia, sedangkan bagi Bank yang telah go public wajib pula
mengikuti ketentuan yang dikeluarkan oleh otoritas pasar
modal.
2.3
125
Lanjutan Lampiran 1
H.
Konsistensi Penyajian
01. Penyajian dan klasifikasi pos-pos dalam Laporan Keuangan
antar periode harus konsisten, kecuali:
a.
setelah terjadi perubahan yang signifikan terhadap sifat
operasi perbankan Syariah atau kaji-ulang atas Laporan
Keuangan, terlihat secara jelas bahwa penyajian atau
klasifikasi lain akan lebih tepat untuk digunakan, dengan
mempertimbangkan
kriteria
dalam
penentuan
dan
penerapan kebijakan akuntansi; atau
b.
perubahan tersebut diperkenankan oleh suatu Pernyataan
Standar Akuntansi Keuangan (PSAK).
02. Apabila penyajian atau klasifikasi pos-pos dalam Laporan
Keuangan diubah, maka penyajian periode sebelumnya perlu
direklasifikasi untuk memastikan daya banding, sifat, jumlah
dan alasan reklasifikasi tersebut juga harus diungkapkan.
Dalam hal reklasifikasi dianggap tidak praktis maka cukup
diungkapkan alasannya.
I.
Materialitas dan Agregasi
01. Penyajian
Laporan
Keuangan
didasarkan
pada
konsep
materialitas.
02. Pos-pos yang jumlahnya material disajikan tersendiri dalam
Laporan Keuangan, sedangkan yang jumlahnya tidak material
dapat digabungkan sepanjang memiliki sifat atau fungsi yang
sejenis.
03. Informasi
dianggap
material
apabila
kelalaian
untuk
mencantumkan (ommission) atau kesalahan dalam mencatat
(misstatement)
informasi
tersebut
dapat
mempengaruhi
pengguna laporan dalam pengambilan keputusan ekonomi.
J.
Saling Hapus
Pos-pos aset, liabilitas, dan dana syirkah temporer serta pendapatan
dan beban tidak boleh disaling-hapuskan, kecuali disyaratkan atau
diizinkan oleh suatu Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan
(PSAK).
2.4
126
Lanjutan Lampiran 1
K.
Periode Pelaporan
01. Laporan Keuangan wajib disajikan secara tahunan berdasarkan
tahun takwim.
02. Dalam hal Bank baru berdiri, Laporan Keuangan dapat disajikan
untuk periode yang lebih pendek dari satu tahun takwim. Selain
itu, untuk kepentingan pihak lainnya, Bank dapat membuat dua
laporan yaitu dalam tahun takwim dan periode efektif dengan
mencantumkan:
a.
Alasan penggunaan periode pelaporan selain periode satu
tahunan;
b.
Fakta bahwa jumlah yang tercantum dalam Laporan Posisi
Keuangan, Laporan Laba Rugi Komprehensif, Laporan
Perubahan
Ekuitas,
Laporan
Arus
Kas,
Laporan
Rekonsiliasi Pendapatan dan Bagi Hasil, Laporan Sumber
dan
Penyaluran
Dana
Zakat,
Laporan
Sumber
dan
Penggunaan Dana Kebajikan, dan Catatan Atas Laporan
Keuangan tidak dapat dibandingkan.
L.
Informasi Komparatif
01. Laporan Posisi Keuangan tahunan dan interim harus disajikan
secara komparatif dengan periode akhir pada tahun sebelumnya.
Sedangkan untuk Laporan Laba Rugi Komprehensif interim
harus mencakup periode sejak awal tahun buku sampai dengan
akhir periode interim yang dilaporkan.
02. Informasi komparatif yang bersifat naratif dan deskriptif dari
Laporan Keuangan periode sebelumnya wajib diungkapkan
kembali apabila relevan untuk pemahaman Laporan Keuangan
periode berjalan.
03. Tambahan Laporan Posisi Keuangan harus disajikan untuk
posisi awal periode sajian, jika:
a.
Menerapkan kebijakan akuntansi secara retrospektif;
b.
Membuat penyajian kembali secara retrospektif akibat
koreksi kesalahan; atau
c.
Membuat reklasifikasi pos-pos dalam Laporan Keuangan.
2.5
127
Lanjutan Lampiran 1
M.
Laporan Keuangan Interim
01. Laporan Keuangan interim adalah Laporan Keuangan yang
diterbitkan di antara dua laporan tahunan dan harus dipandang
sebagai
bagian
integral
dari
laporan
periode
tahunan.
Penyusunan Laporan Keuangan interim dapat dilakukan secara
bulanan, triwulan atau periode yang lain yang kurang dari satu
tahun.
02. Laporan Keuangan interim memuat komponen yang sama
seperti Laporan Keuangan tahunan.
03. Ilustrasi periode komparatif Laporan Keuangan interim:
Periode interim
Periode komparatif
30 Jun 2013
31 Des 2012
Untuk periode 6 bulan
1 Jan s.d. 30 Jun
1 Jan s.d. 30 Jun
Untuk periode 3 bulan
2013
2012
1 Apr s.d 30 Jun
1 Apr s.d 30 Jun
2013
2012
1 Jan s.d. 30 Jun
1 Jan s.d. 30 Jun
2013
2012
1 Jan s.d. 30 Jun
1 Jan s.d. 30 Jun
2013
2012
Laporan Rekonsiliasi Pendapatan dan Bagi
1 Jan s.d. 30 Jun
1 Jan s.d. 30 Jun
Hasil
2013
2012
Laporan Sumber dan Penyaluran Dana
1 Jan s.d. 30 Jun
1 Jan s.d. 30 Jun
Zakat
2013
2012
Laporan Sumber dan Penggunaan Dana
1 Jan s.d. 30 Jun
1 Jan s.d. 30 Jun
Kebajikan
2013
2012
Laporan Posisi Keuangan
Laporan Laba Rugi Komprehensif
Laporan Perubahan Ekuitas
Laporan Arus Kas
N.
Laporan Keuangan Konsolidasian
01. Laporan Keuangan Konsolidasian adalah Laporan Keuangan
suatu kelompok usaha yang disajikan sebagai suatu entitas
ekonomi tunggal.
02. Agar
Laporan
Keuangan
Konsolidasian
dapat
menyajikan
informasi keuangan dari kelompok usaha tersebut sebagai satu
kesatuan ekonomi, maka perlu dilakukan hal-hal berikut ini:
a.
Transaksi dan saldo resiprokal antara Bank (entitas induk)
dan entitas anak harus dieliminasi.
b.
Keuntungan dan kerugian yang belum direalisasi, yang
timbul dari transaksi antara Bank dan entitas anak harus
dieliminasi.
2.6
128
Lanjutan Lampiran 1
c.
Laporan Keuangan Bank dan entitas anak harus disusun
dengan tanggal
yang sama. Jika tanggal menyusun
Laporan Keuangan tersebut berbeda, maka:
i.
Entitas anak menyusun Laporan Keuangan tambahan
untuk tujuan konsolidasi dengan tanggal yang sama
dengan entitas induk.
ii.
Jika tidak praktis, Laporan Keuangan entitas anak
disusun dengan tanggal berbeda dengan entitas induk
sepanjang perbedaan tanggal tersebut tidak melebihi
tiga bulan, lamanya periode pelaporan dan perbedaan
antar akhir periode pelaporan adalah sama dari
periode
ke
periode,
dan
dilakukan
atas
dampak
signifikan
yang
terjadi
Keuangan
entitas
anak
dilakukan
transaksi
penyesuaian
atau
peristiwa
antara
tanggal
Laporan
dengan
tanggal
Laporan
disusun
dengan
Keuangan Bank.
d.
Laporan
Keuangan
Konsolidasian
menggunakan kebijakan
akuntansi yang sama untuk
transaksi, peristiwa dan keadaan yang sama atau sejenis.
e.
Kepentingan non-pengendali disajikan dalam ekuitas secara
terpisah dari kepentingan Bank sebagai entitas induk.
2.7
129
Lanjutan Lampiran 1
II.2 KETERBATASAN LAPORAN KEUANGAN
Laporan Keuangan memiliki keterbatasan, antara lain:
01.
Bersifat historis yang menunjukkan transaksi dan peristiwa
yang telah lampau.
02. Bersifat umum, baik dari sisi informasi maupun manfaat bagi
pihak pengguna. Biasanya informasi khusus yang dibutuhkan
oleh pihak tertentu tidak dapat secara langsung dipenuhi
semata-mata dari Laporan Keuangan saja.
03. Tidak luput dari penggunaan berbagai pertimbangan dan
taksiran.
04. Hanya melaporkan informasi yang material.
05. Bersifat konservatif dalam menghadapi ketidakpastian. Apabila
terdapat beberapa kemungkinan yang tidak pasti mengenai
penilaian suatu pos, maka dipilih alternatif yang menghasilkan
laba bersih atau nilai aset yang paling kecil.
06. Lebih
menekankan
pada
penyajian
suatu
peristiwa
atau
transaksi sesuai substansi dan realitas ekonomi daripada
bentuk hukumnya (formalitas).
07. Adanya
berbagai
alternatif
metode
akuntansi
yang
dapat
digunakan sehingga, menimbulkan variasi dalam pengukuran
sumber daya ekonomi dan tingkat kesuksesan antar bank.
2.8
130
Lanjutan Lampiran 1
II.3 METODE PENCATATAN TRANSAKSI MATA UANG ASING
01. Transaksi dalam mata uang asing dijabarkan ke dalam Rupiah
dengan menggunakan kurs laporan (penutupan) yang ditetapkan
oleh Bank Indonesia, yaitu kurs tengah yang merupakan ratarata kurs beli dan kurs jual berdasarkan Reuters pada pukul
16.00 WIB setiap hari.
02. Dalam melakukan pencatatan transaksi mata uang asing
terdapat dua metode yangdapat digunakan yaitu:
a.
Single currency (satu jenis mata uang).
b.
Multi currency (lebih dari satu jenis mata uang).
03. Single currency adalah pencatatan transaksi mata uang asing
dengan membukukan langsung ke dalam mata uang dasar (base
currency) yang digunakan yaitu mata uang Rupiah/Indonesian
Rupiah (IDR).
Karakteristik dari single currency adalah sebagai berikut:
a.
Laporan Posisi Keuangan yang diterbitkan hanya dalam
mata uang Rupiah;
b.
Saldo
pos
dalam
mata
uang
asing
dicatat
secara
extracomptable;
c.
Penjurnalan tidak menggunakan pos-pos perantara mata
uang asing;
d.
Penjabaran (revaluasi) saldo pos mata uang asing dilakukan
langsung per pos yang bersangkutan.
04. Multi currency adalah pencatatan transaksi mata uang asing
dengan membukukan langsung ke dalam mata uang asing asal
(original currency) yang digunakan pada transaksi tersebut.
Karakteristik dari multi currency adalah sebagai berikut:
a.
Laporan Posisi Keuangan dapat diterbitkan dalam setiap
mata uang asing asal (original currency) yang digunakan;
b.
Untuk mengetahui posisi keuangan gabungan seluruh mata
uang, diterbitkan Laporan Posisi Keuangan dalam mata
uang dasar (base currency);
c.
Penjurnalan menggunakan pos perantara; dan
d.
Penjabaran (revaluasi) saldo pos mata uang asing dilakukan
melalui
pos
perantara
mata
uang
asing.
Penjabaran
ekuivalen Rupiah dari pos-pos tersebut hanya dilakukan
2.9
131
Lanjutan Lampiran 1
dalam rangka pelaporan Laporan Posisi Keuangan.
05. Pencatatan beban dan pendapatan mata uang asing dilakukan
sebagai berikut:
a.
Jika menggunakan single currency
Seluruh beban dan pendapatan mata uang asing dicatat
dalam Rupiah.
b.
Jika menggunakan multi currency
i.
Seluruh beban dan pendapatan mata uang asing
dicatat dalam mata uang asal.
ii.
Agar saldo beban dan pendapatan mata uang asing
tidak menimbulkan selisih kurs maka pada setiap
akhir hari, saldo pos beban dan pendapatan mata uang
asing tersebut dipindahbukukan ke pos beban dan
pendapatan Rupiah.
06. Contoh transaksi valuta asing yang pencatatannya dilakukan
dengan dua sistem, yaitu single currency dan multi currency.
a.
Bank melakukan beberapa transaksi valuta asing sebagai
berikut:
i.
Pembelian
bank
notes
USD
sebesar
USD200,
pembayaran dilakukan secara tunai/kas.
ii.
Nasabah
setor
Rupiah/tunai
untuk
keuntungan
rekening giro USD sebesar USD200.
iii.
Pembelian
bank
notes
SGD
sebesar
SGD1.000,
pembayaran dilakukan atas keuntungan rekening giro
Rupiah nasabah.
iv.
Pembelian
bank
notes
HKD
sebesar
HKD1.000,
pembayaran dilakukan atas keuntungan rekening giro
Rupiah nasabah.
v.
Penjualan bank notes USD sebesar USD100, disetor
atas beban rekening tabungan nasabah.
b.
Catatan kurs yang terjadi adalah sebagai berikut:
Mata uang asing
Kurs beli Bank
Kurs jual Bank
Kurs tengah BI
USD1
Rp8.000
Rp8.500
Rp8.300
SGD1
Rp4.900
Rp5.100
Rp5.000
HKD1
Rp1.080
Rp1.090
Rp1.085
2.10
132
Lanjutan Lampiran 1
c.
Catatan kurs untuk penilaian/revaluasi valuta asing sesuai
dengan kurs yang ditetapkan oleh Bank Indonesia adalah:
Mata uang asing
Kurs revaluasi
USD1
Rp8.400
SGD1
Rp5.100
HKD1
Rp1.084
07. Kurs pembukuan
menggunakan kurs tengah yang ditetapkan
Bank Indonesia
a.
i.
Menggunakan sistem single currency
Db
Bank notes (USD200 x Rp8.300)
Kr
Kas Rupiah (USD200 x Rp8.000)
Rp1.600.000
Kr
Pendapatan
Rp60.000
selisih
Rp1.660.000
kurs
transaksi
ii.
Db
Kas Rupiah (USD200 x 8.500)
Kr
Giro USD (USD200 x 8.300)
Kr
Pendapatan
selisih
Rp1.700.000
Rp1.660.000
kurs
Rp40.000
transaksi
iii.
Db
Bank notes SGD (SGD1.000 x
Rp5.000.000
5.000)
Kr
Giro Rupiah (SGD1.000 x 4.900)
Rp4.900.000
Kr
Pendapatan
Rp100.000
selisih
kurs
transaksi
iv.
Db
Bank notes HKD (HKD1.000 x
Rp1.085.000
1.085)
Kr
Giro Rupiah (HKD1.000 x 1.080)
Rp1.080.000
Kr
Pendapatan
Rp5.000
selisih
kurs
transaksi
v.
Db
Tabungan (USD100 x 8.500)
Kr
Bank
notes
USD
Rp850.000
(USD100
x
Rp830.000
8.300)
Kr
Pendapatan
selisih
kurs
Rp20.000
transaksi
2.11
133
Lanjutan Lampiran 1
b.
i.
Menggunakan system multi currency
Db
Bank notes
USD200
Kr
Rekening Perantara USD
Db
Rekening Perantara Rupiah
Kr
Kas Rupiah
Kr
Pendapatan
USD200
Rp1.660.000
Rp1.600.000
selisih
kurs
Rp60.000
transaksi
ii.
Db
Kas Rupiah
Rp1.700.000
Kr
Rekening Perantara Rupiah
Kr
Pendapatan
selisih
Rp1.660.000
kurs
Rp40.000
transaksi
iii.
Db
Rekening Perantara USD
Kr
Giro USD
Db
Bank notes SGD
Kr
Rekening Perantara SGD
Db
Rekening Perantara Rupiah
Kr
Giro Rupiah
Kr
Pendapatan
USD.200
USD.200
SGD.1.000
SGD.1.000
Rp5.000.000
Rp4.900.000
selisih
kurs
Rp100.000
transaksi
iv.
Db
Bank notes HKD
HKD1.000
Kr
Rekening Perantara HKD
Db
Rekening Perantara Rupiah
Kr
Giro Rupiah
Kr
Pendapatan
HKD1.000
Rp1.085.000
Rp1.080.000
selisih
kurs
Rp5.000
transaksi
v.
Db
Tabungan
Rp850.000
Kr
Rekening Perantara Rupiah
Kr
Pendapatan
selisih
Rp830.000
kurs
Rp20.000
transaksi
Db
Rekening Perantara USD
Kr
Bank notes USD
USD100
USD100
2.12
134
Lanjutan Lampiran 1
08. Kurs pembukuan menggunakan kurs transaksi Bank
a.
i.
ii.
iii.
Menggunakan sistem single currency
Db
Bank notes (USD200 x 8.000)
Rp1.600.000
Kr
Kas Rupiah
Db
Kas Rupiah
Kr
Giro USD (USD200 x 8.500)
Db
Bank notes SGD (SGD1.000 x Rp4.900.000
Rp1.600.000
Rp1.700.000
Rp1.700.000
4.900)
iv.
Kr
Giro Rupiah
Rp4.900.000
Db
Bank notes HKD (HKD1000 x Rp1.080.000
1.080)
v.
Kr
Giro Rupiah
Db
Tabungan
Kr
Bank notes USD (USD1.000 x
Rp1.080.000
Rp850.000
Rp850.000
8.500)
b.
i.
ii.
iii.
iv.
Menggunakan sistem multi currency
Db
Bank notes USD
Kr
Rekening Perantara USD
Db
Rekening Perantara Rupiah
Kr
Kas Rupiah
Db
Kas Rupiah
Kr
Rekening Perantara Rupiah
Db
Rekening Perantara USD
Kr
Giro USD
Db
Bank notes SGD
Kr
Rekening Perantara SGD
Db
Rekening Perantara Rupiah
Kr
Giro Rupiah
Db
Bank notes HKD
Kr
Rekening Perantara HKD
Db
Rekening Perantara Rupiah
Kr
Giro Rupiah
USD200
USD200
Rp1.600.000
Rp1.600.000
Rp1.700.000
Rp1.700.000
USD200
USD200
SGD1.000
SGD1.000
Rp4.900.000
Rp4.900.000
HKD1.000
HKD1.000
Rp.1.080.000
Rp.1.080.000
2.13
135
Lanjutan Lampiran 1
v.
Db
Tabungan
Rp850.000
Kr
Rekening Perantara Rupiah
Db
Rekening Perantara USD
Kr
Bank notes USD
Rp850.000
USD100
USD100
09. Jurnal pembukuan penilaian/revaluasi valuta asing
a.
Kurs
pembukuan
menggunakan
kurs
tengah
yang
ditetapkan Bank Indonesia
i.
Menggunakan sistem single currency
1)
Posisi saldo rekening valuta asing adalah sebagai
berikut:
Bank notes USD sebesar USD100
= Rp
Bank
notes
830.000
SGD
sebesar
= Rp 5.000.000
HKD
sebesar
= Rp 1.085.000
SGD1.000
Bank
notes
HKD1.000
Giro USD sebesar USD.200
2)
= Rp 1.660.000
Jurnal pembukuan penilaian:
a)
Db
Bank notes USD100
Bank notes
USD
(USD100 x
Rp
840.000
8.400)
Kr
Bank notes USD
Rp
830.000
Kr
Keuntungan selisih kurs
Rp
10.000
b)
Db
Bank notes SGD1.000
Bank notes SGD (SGD1.000 x
Rp 5.100.000
5.100)
Kr
Bank notes SGD
Rp 5.000.000
Kr
Keuntungan selisih kurs
Rp
c)
Db
100.000
Bank notes HKD1.000
Bank notes HKD (HKD.1000 x
Rp 1.084.000
1.084)
Db
Kerugian selisih kurs
Rp
Kr
Bank notes HKD
Rp 1.085.000
d)
1.000
Giro USD200
Db
Giro USD
Rp 1.660.000
Db
Kerugian selisih kurs
Rp
Kr
Giro USD (USD200 x 8.400)
Rp 1.680.000
20.000
2.14
136
Lanjutan Lampiran 1
ii.
Menggunakan sistem multi currency
1)
Saldo rekening posisi valuta asing, tergambar
dalam tabel berikut:
Mata
Saldo posisi
uang
Rupiah
Rupiah
lama
baru
Laba rugi
USD
100 D
830.000 D
840.000 D
10.000 R
SGD
1.000 K
5.000.000 K
5.100.000 K
100.000 L
HKD
1.000 K
1.085.000 K
1.084.000 K
1.000 R
5.255.000 D
5.255.000 D
5.255.000 D
IDR
89.000 D
2)
b.
0
89.000 L
Jurnal pembukuan penilaian:
Db
Posisi Rupiah
Rp
89.000
Kr
Keuntungan selisih kurs
Rp
89.000
Kurs pembukuan menggunakan kurs transaksi Bank
i.
Menggunakan sistem single currency
1)
Posisi saldo rekening valuta asing adalah sebagai
berikut:
Bank notes USD sebesar USD100
= Rp
Bank
notes
750.000
SGD
sebesar
= Rp 4.900.000
HKD
sebesar
= Rp 1.080.000
SGD1.000
Bank
notes
HKD1.000
Giro USD sebesar USD200
2)
= Rp 1.700.000
Jurnal pembukuan penilaian:
a)
Db
Bank notes USD100
Bank notes
USD
(USD100 x
Rp
840.000
8.400)
Kr
Bank notes USD
Rp
750.000
Kr
Keuntungan selisih kurs
Rp
90.000
b)
Db
Bank notes SGD1.000
Bank notes SGD (SGD1.000 x
Rp 5.100.000
5.100)
Kr
Bank notes SGD
Rp 4.900.000
Kr
Keuntungan selisih kurs
Rp
200.000
2.15
137
Lanjutan Lampiran 1
c)
Db
Bank notes HKD1.000
Bank notes HKD (HKD1.000 x
Rp 1.084.000
1.084)
Kr
Keuntungan selisih kurs
Rp
Kr
Bank notes HKD
Rp 1.080.000
d)
ii.
4.000
Giro USD200
Db
Giro USD
Rp 1.700.000
Kr
Keuntungan selisih kurs
Rp
Kr
Giro USD (USD200 x 8.400)
Rp 1.680.000
20.000
Menggunakan sistem multi currency
1)
Saldo rekening posisi valuta asing, tergambar dalam
tabel sebagai berikut:
Mata
uang
Rupiah
Rupiah
lama
baru
Laba rugi
USD
100 D
950.000 D
840.000 D
110.000L
SGD
1.000 K
4.900.000 K
5.100.000 K
200.000L
HKD
1.000 K
1.080.000 K
1.084.000 K
4.000L
5.030.000 D
5.030.000 D
5.030.000 D
0
0
314.000 D
314.000L
IDR
2)
Saldo posisi
Jurnal pembukuan revaluasi
Db
Posisi Rupiah
Rp
314.000
Kr
Keuntungan selisih kurs
Rp
314.000
2.16
138
Lanjutan Lampiran 1
BAGIAN III KETERTERAPAN PSAK 50, 55, DAN 60
III.1 DEFINISI INSTRUMEN KEUANGAN
01. Instrumen keuangan adalah setiap kontrak yang menambah nilai
aset keuangan dan liabilitas keuangan entitas atau instrumen
ekuitas entitas lain.
02. Aset keuangan adalah setiap aset yang berbentuk:
a. Kas.
b. Instrumen ekuitas yang diterbitkan oleh entitas lain.
c.
Hak kontraktual untuk:
i. menerima kas atau aset keuangan lainnya dari entitas
lain, atau
ii. mempertukarkan aset keuangan atau liabilitas keuangan
dengan entitas lain dengan kondisi yang berpotensi
menguntungkan.
d. Kontrak yang akan atau mungkin diselesaikan dengan
menggunakan instrumen ekuitas yang diterbitkan oleh
entitas dan merupakan:
i. non-derivatif
di
mana
entitas
harus
atau
mungkin
diwajibkan untuk menerima suatu jumlah yang bervariasi
dari instrumen ekuitas yang diterbitkan entitas; atau
ii. derivatif yang akan atau mungkin diselesaikan selain
dengan mempertukarkan sejumlah tertentu kas atau aset
keuangan
lain
dengan
sejumlah
tertentu
instrumen
ekuitas yang diterbitkan entitas.
03. Liabilitas keuangan adalah setiap liabilitas yang berupa:
a. Kewajiban kontraktual:
i. untuk menyerahkan kas atau aset keuangan lain kepada
entitas lain; atau
ii. untuk mempertukarkan aset keuangan atau liabilitas
keuangan dengan entitas lain dengan kondisi yang
berpotensi merugikan entitas tersebut.
b. Kontrak yang akan atau mungkin diselesaikan dengan
menggunakan instrumen ekuitas yang diterbitkan entitas
dan merupakan suatu:
3.1
139
Lanjutan Lampiran 1
i. non-derivatif
di
mana
diwajibkan
untuk
entitas
harus
menyerahkan
suatu
atau
mungkin
jumlah
yang
bervariasi dari instrumen ekuitas yang diterbitkan entitas;
atau
ii. derivatif yang akan atau mungkin diselesaikan selain
dengan mempertukarkan sejumlah tertentu kas atau aset
keuangan
lain
dengan
sejumlah
tertentu
instrumen
ekuitas yang diterbitkan entitas.
04. Instrumen ekuitas adalah setiap kontrak yang memberikan hak
residual atas aset suatu entitas setelah dikurangi dengan
seluruh liabilitasnya.
3.2
140
Lanjutan Lampiran 1
III.2 KLASIFIKASI
A.
Aset Keuangan
Aset keuangan selain sukuk dapat diklasifikasikan ke dalam empat
kategori sebagai berikut:
01. Diukur pada nilai wajar melalui laba rugi.
Persyaratannya adalah:
a. Aset keuangan untuk tujuan diperdagangkan (trading); atau
b. Aset keuangan yang pada saat pengakuan awal telah
ditetapkan untuk diukur pada nilai wajar melalui laba rugi
(fair value option).
Contoh aset keuangan yang dimiliki Bank dalam kategori ini
antara lain reksadana Syariah dan forward.
02. Dimiliki hingga jatuh tempo.
Persyaratannya adalah:
a. Aset keuangan non-derivatif dengan pembayaran tetap atau
telah ditentukan, dan jatuh temponya telah ditetapkan; dan
b. Entitas mempunyai intensi positif dan kemampuan untuk
memiliki aset keuangan tersebut hingga jatuh tempo.
03. Pinjaman yang diberikan dan piutang.
Persyaratannya adalah:
a. Aset keuangan non-derivatif dengan pembayaran tetap atau
telah ditentukan; dan
b. Tidak mempunyai kuotasi di pasar aktif.
Contoh aset keuangan yang dimiliki Bank dalam kategori ini
antara lain pembiayaan murabahah yang menggunakan metode
anuitas dan tagihan reverse repo Syariah.
04. Tersedia untuk dijual.
Persyaratannya adalah:
a. Aset keuangan non-derivatif yang ditetapkan sebagai tersedia
untuk dijual; atau
b. Aset keuangan non-derivatif yang tidak dapat diklasifikasikan
sebagai diukur pada nilai wajar melalui laba rugi, dimiliki
hingga jatuh tempo, atau pinjaman yang diberikan dan
piutang.
3.3
141
Lanjutan Lampiran 1
Contoh aset keuangan yang dimiliki Bank dalam kategori ini
antara lain reksadana Syariah dan penyertaan.
B.
Liabilitas Keuangan
Liabilitas keuangan selain sukuk dapat diklasifikasikan ke dalam dua
kategori sebagai berikut:
01. Diukur pada nilai wajar melalui laba rugi.
Persyaratannya adalah:
a. Liabilitas keuangan untuk tujuan diperdagangkan (trading);
atau
b. Liabilitas keuangan yang pada saat pengakuan awal telah
ditetapkan untuk diukur pada nilai wajar melalui laba rugi
(fair value option).
Contoh liabilitas keuangan yang dimiliki Bank dalam kategori ini
antara lain forward yang diterbitkan.
02. Diukur pada biaya perolehan diamortisasi.
Persyaratannya adalah liabilitas keuangan yang tidak termasuk
dalam kategori diukur pada nilai wajar melalui laba rugi.
Contoh liabilitas keuangan yang dimiliki Bank dalam kategori ini
antara lain kewajiban segera.
3.4
142
Lanjutan Lampiran 1
III.3 PENGAKUAN DAN PENGUKURAN
A.
Pengakuan dan Penghentian-Pengakuan
01. Aset keuangan diakui pada saat Bank terikat dengan ketentuan
dalam perjanjian. Khusus untuk aset keuangan yang diperoleh di
pasar reguler diakui pada tanggal perdagangan (trading date).
02. Aset keuangan dihentikan-pengakuannya jika:
a.
hak kontraktual atas arus kas yang berasal dari aset
keuangan tersebut telah berakhir; atau
b.
telah ditransfer dan transfer tersebut memenuhi kriteria
penghentian pengakuan.
03. Liabilitas keuangan diakui pada saat Bank terikat dengan
ketentuan dalam perjanjian.
04. Liabilitas keuangan dihentikan-pengakuannya ketika liabilitas
keuangan berakhir, yaitu diselesaikan, dilepaskan, dibatalkan,
atau kadaluarsa.
B.
Pengukuran
01. Aset keuangan dalam kategori ‘diukur pada nilai wajar melalui
laba rugi’.
a.
Pada saat pengakuan awal, aset keuangan diukur pada nilai
wajar, dimana biaya transaksi yang terjadi diakui sebagai
beban.
b.
Pada pengukuran selanjutnya, aset keuangan tersebut
diukur pada nilai wajar dimana perubahannya diakui di laba
rugi.
02. Aset keuangan dalam kategori ‘tersedia untuk dijual’.
a.
Pada saat pengakuan awal, aset keuangan diukur pada nilai
wajar ditambah biaya transaksi.
b.
Pada pengukuran selanjutnya, aset keuangan tersebut
diukur pada nilai wajar dimana perubahannya diakui di
penghasilan komprehensif lain.
03. Aset keuangan dalam kategori ‘dimiliki hingga jatuh tempo’.
a.
Pada saat pengakuan awal, aset keuangan diukur pada nilai
wajar ditambah biaya transaksi.
3.5
143
Lanjutan Lampiran 1
b.
Pada pengukuran selanjutnya, aset keuangan tersebut
diukur pada biaya perolehan yang diamortisasi dengan
menggunakan effective rate.
04. Aset keuangan dalam kategori ‘pinjaman yang diberikan dan
piutang’.
a.
Pada saat pengakuan awal, aset keuangan diukur pada nilai
wajar ditambah biaya transaksi.
b.
Pada pengukuran selanjutnya, aset keuangan tersebut
diukur pada biaya perolehan yang diamortisasi dengan
menggunakan effective rate.
05. Liabilitas keuangan dalam kategori ‘diukur pada nilai wajar
melalui laba rugi’.
a.
Pada saat pengakuan awal, liabilitas keuangan diukur pada
nilai wajar, dimana biaya transaksi yang terjadi diakui
sebagai beban.
b.
Pada pengukuran selanjutnya, liabilitas keuangan tersebut
diukur pada nilai wajar dimana perubahannya diakui di laba
rugi.
06. Liabilitas keuangan dalam kategori ‘diukur pada biaya perolehan
diamortisasi’.
a. Pada saat pengakuan awal, liabilitas keuangan diukur pada
nilai wajar ditambah biaya transaksi.
b. Pada pengukuran selanjutnya, liabilitas keuangan tersebut
diukur pada biaya perolehan yang diamortisasi dengan
menggunakan effective rate.
C.
Penurunan Nilai
01. Penurunan nilai adalah suatu kondisi dimana terdapat bukti
obyektif terjadinya peristiwa yang merugikan sebagai akibat dari
satu atau lebih peristiwa yang terjadi setelah pengakuan awal
aset keuangan. Peristiwa yang merugikan tersebut berdampak
pada estimasi arus kas masa datang.
02. Peristiwa-peristiwa yang merugikan antara lain:
a.
Kesulitan keuangan signifikan yang dialami penerbit atau
pihak peminjam (nasabah).
3.6
144
Lanjutan Lampiran 1
b.
Pelanggaran kontrak, seperti terjadinya wanprestasi atau
tunggakan pembayaran pokok atau bagi hasil/marjin/ujrah.
c.
Pemberian keringanan pada pihak peminjam (nasabah) yang
tidak mungkin diberikan jika pihak peminjam (nasabah)
tidak mengalami kesulitan.
d.
Terdapat kemungkinan pihak peminjam (nasabah) akan
dinyatakan pailit atau melakukan reorganisasi keuangan
lain.
e.
Hilangnya pasar aktif dari aset keuangan akibat kesulitan
keuangan.
f.
Data
yang
dapat
diobservasi
mengindikasikan
adanya
penurunan estimasi arus kas masa depan dari kelompok
aset keuangan, meskipun belum dapat diidentifikasi secara
individual, termasuk:
i.
memburuknya status pembayaran pihak peminjam
(nasabah) dalam kelompok.
ii.
kondisi ekonomi nasional atau lokal yang berkorelasi
dengan wanprestasi atas aset dalam kelompok.
03. Aset keuangan dalam kategori ‘diukur pada nilai wajar melalui
laba
rugi’
tidak
diterapkan
ketentuan
penurunan
nilai.
Sedangkan aset keuangan dalam kategori ‘tersedia untuk dijual,
dimiliki hingga jatuh tempo, pinjaman yang diberikan dan
piutang’ diterapkan ketentuan penurunan nilai.
04. Penurunan nilai diakui di laba rugi. Untuk pembalikan dari
penurunan nilai diakui juga di laba rugi, kecuali untuk
instrumen ekuitas pembalikan tersebut diakui di penghasilan
komprehensif lain.
D.
Nilai Wajar
01. Nilai wajar ditentukan dengan hirarki sebagai berikut:
a.
Kuotasi harga di pasar aktif dimana harga kuotasi tersedia
sewaktu-waktu dan dapat diperoleh secara rutin, dan harga
tersebut mencerminkan transaksi pasar yang aktual dan
rutin dalam suatu transaksi yang wajar.
3.7
145
Lanjutan Lampiran 1
b.
Teknik penilaian yang meliputi penggunaan harga transaksitransaksi wajar yang paling kini dan referensi nilai wajar
instrumen lain yang secara substansi sama.
3.8
146
Lanjutan Lampiran 1
III.4
ESTIMASI
PENURUNAN
NILAI
KOLEKTIF
DENGAN
KETERBATASAN PENGALAMAN KERUGIAN SPESIFIK
A.
Cakupan
01. Penerapan estimasi ini hanya berlaku untuk penurunan nilai
aset keuangan dalam bentuk Pembiayaan dalam yang dilakukan
secara kolektif (collective impairment).
02. Penerapan estimasi ini hanya dapat dilakukan oleh Bank-Bank
tertentu yang memiliki kondisi keterbatasan sebagaimana pada
huruf C.
B.
Penerapan
01. Evaluasi penurunan nilai harus dilakukan berdasarkan suatu
proses estimasi yang dapat menghasilkan satu nilai kerugian
atau kisaran nilai kerugian terbaik yang mungkin terjadi.
Estimasi penurunan nilai secara kolektif terhadap kelompok aset
keuangan dimaksud didasarkan pada kerugian historis yang
pernah dialami aset keuangan yang memiliki karakteristik risiko
kredit yang serupa dengan karakteristik risiko kredit kelompok
aset keuangan tersebut.
Jika Bank tidak atau kurang memiliki pengalaman kerugian
yang spesifik, maka Bank juga dapat menggunakan pengalaman
peer group atas kelompok aset keuangan yang sebanding.
02. Dalam hal Bank belum dapat melakukan proses estimasi yang
memadai dan belum memiliki data kerugian historis yang
memadai untuk menentukan besarnya penurunan nilai atas
Pembiayaan secara kolektif sesuai persyaratan dalam PSAK 55,
termasuk pedoman pelaksanaannya dan Pedoman Akuntansi
Perbankan Indonesia (PAPI), maka pembentukan Cadangan
Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) dapat menggunakan estimasi
yang didasarkan pada ketentuan Bank Indonesia yang berlaku
mengenai Penilaian Kualitas Aktiva Bank Umum Syariah. Acuan
pada ketentuan Bank Indonesia dilakukan dengan pertimbangan
bahwa penyusunan ketentuan tersebut telah didasarkan pada
analisis kondisi perbankan di Indonesia mengenai estimasi
3.9
147
Lanjutan Lampiran 1
besarnya
kebutuhan
pencadangan
yang
didasarkan
pada
probability of default dan kerugian historis.
03. Penerapan estimasi ini dilakukan setelah Bank melakukan
proses sebagai berikut:
a.
Bank harus mengklasifikasikan Pembiayaan yang akan
dievaluasi secara kolektif; dan
b.
Bank
harus
mengevaluasi
terdapatnya
bukti
obyektif
mengenai penurunan nilai secara periodik atas Pembiayaan
yang dinilai secara kolektif tersebut.
04. Pembentukan
CKPN
atas
Pembiayaan
secara
kolektif
sebagaimana dimaksud pada angka 02. di atas dilakukan
dengan mengacu pada pembentukan cadangan umum dan
cadangan khusus sebagaimana diatur dalam ketentuan Bank
Indonesia mengenai Penilaian Kualitas Aktiva Bank Umum
Syariah, yaitu sebagai berikut:
a.
1% atas Pembiayaan yang memenuhi kualitas Lancar,
kecuali untuk bagian Pembiayaan yang dijamin dengan
agunan tunai sesuai ketentuan Bank Indonesia dimaksud;
b.
5%
atas
Pembiayaan
yang
memenuhi
kualitas
Dalam
Perhatian Khusus setelah dikurangi nilai agunan sesuai
ketentuan Bank Indonesia dimaksud;
c.
15% atas Pembiayaan yang memenuhi kualitas Kurang
Lancar setelah dikurangi nilai agunan sesuai ketentuan
Bank Indonesia dimaksud;
d.
50% atas Pembiayaan yang memenuhi kualitas Diragukan
setelah dikurangi nilai agunan sesuai ketentuan Bank
Indonesia dimaksud; dan/atau
e.
100% atas Pembiayaan yang memenuhi kualitas Macet
setelah dikurangi nilai agunan sesuai ketentuan Bank
Indonesia dimaksud.
05. Perhitungan CKPN sebagaimana pada angka 04. di atas dihitung
atas
dasar
jumlah
tercatat
berdasarkan
biaya
perolehan
diamortisasi.
3.10
148
Lanjutan Lampiran 1
C.
Kondisi Keterbatasan
01. Bank dapat menerapkan estimasi penurunan nilai Pembiayaan
secara kolektif sebagaimana pada huruf B angka 04. di atas
sepanjang berada dalam kondisi berikut:
a.
Bank tidak atau kurang memiliki data tentang pengalaman
kerugian yang spesifik dan andal untuk menentukan
besarnya penurunan nilai Pembiayaan secara kolektif; dan
b.
Tidak terdapat data pengalaman kerugian historis dari peer
group atas kelompok Pembiayaan yang sebanding sebagai
dasar untuk menentukan besarnya penurunan nilai atas
Pembiayaan secara kolektif.
02. Bank yang tidak menghadapi kondisi sebagaimana pada angka
01. di atas, tidak diperkenankan untuk menggunakan estimasi
penurunan nilai Pembiayaan secara kolektif sebagaimana pada
huruf B. angka 04. di atas.
03. Bank harus melakukan penilaian sendiri (self assessment) atas
terdapat atau tidaknya kondisi sebagaimana pada angka 01. di
atas
yang
memungkinkan
Bank
menerapkan
estimasi
penurunan nilai Pembiayaan secara kolektif sebagaimana pada
huruf B. angka 04.
04. Bank
harus
menyusun
dan
mendokumentasikan
hal-hal
berikut:
a. Hasil self-assessment sebagaimana dimaksud pada angka 03.
untuk menerapkan estimasi penurunan nilai Pembiayaan
secara kolektif;
b. Rencana tindak (action plan) yang memuat langkah-langkah
yang akan dilakukan untuk memperoleh data tentang
pengalaman kerugian spesifik atau kerugian historis dari
peer
group
atas
Pembiayaan
secara
kolektif
dengan
memperhatikan batas waktu sebagaimana pada huruf D.;
dan
c.
Progres pemenuhan rencana tindak paling kurang secara
triwulanan.
3.11
149
Lanjutan Lampiran 1
D.
Periode Penerapan Estimasi
Estimasi penurunan nilai Pembiayaan secara kolektif sebagaimana
pada huruf B. angka 04. dapat diterapkan paling lambat sampai
dengan 31 Desember 2014. Terhitung sejak 1 Januari 2015, Bank
harus mengukur penurunan nilai dan membentuk CKPN atas
Pembiayaan secara kolektif dengan menggunakan data pengalaman
kerugian spesifik atau kerugian historis dari peer group.
E.
Pengungkapan
Bank yang menerapkan estimasi penurunan nilai Pembiayaan secara
kolektif sebagaimana pada huruf B. harus mengungkapkan hal
tesebut dalam kebijakan akuntansi pada Catatan Atas Laporan
Keuangan.
3.12
150
Lanjutan Lampiran 1
BAGIAN IV AKAD JUAL BELI
IV.1 MURABAHAH
A.
Definisi
01. Murabahah adalah akad jual beli barang dengan harga jual sebesar
beban perolehan ditambah keuntungan yang disepakati dan penjual
harus mengungkapkan beban perolehan barang tersebut kepada
pembeli.
02. Pembiayaan Murabahah, adalah Penyediaan dana dari Bank kepada
nasabah untuk membeli barang dengan menegaskan harga belinya
kepada pembeli (nasabah) dan pembeli (nasabah) membayarnya
dengan harga yang lebih sebagai keuntungan Bank yang disepakati.
03. Aset Murabahah adalah aset yang diperoleh dengan tujuan untuk
dijual kembali dengan menggunakan akad Murabahah.
04. Diskon harga beli adalah pengurangan harga atau penerimaan dalam
bentuk apapun yang diperoleh pihak pembeli (nasabah) dari
pemasok.
05. Harga perolehan adalah harga beli barang oleh Bank sebelum
dikurangi uang muka dari nasabah.
06. Potongan
piutang
Murabahah
adalah
pengurangan
kewajiban
pembeli (nasabah) yang diberikan oleh pihak penjual (Bank).
07. Uang muka (urbun) adalah jumlah yang dibayar oleh pembeli
(nasabah) kepada penjual sebagai bukti komitmen untuk membeli
barang dari penjual.
B.
Dasar Pengaturan
01. PSAK 102 tentang Akuntansi Murabahah.
02. PSAK 55 (2011) tentang Instrumen Keuangan : Pengakuan dan
Pengukuran.
03. PSAK 50 (2010) tentang Instrumen Keuangan : Penyajian.
04. PSAK 60 tentang Instrumen Keuangan : Pengungkapan.
C.
Penjelasan
01. Bagian ini membahas transaksi Murabahah secara normal, tidak
termasuk transaksi Murabahah yang direstrukturisasi.
4.1
151
Lanjutan Lampiran 1
02. Aset yang akan dijual Bank dalam transaksi Murabahah pada
prinsipnya harus dimiliki Bank sebelum akad Murabahah disepakati.
Cara memperoleh aset Murabahah dapat dilakukan secara langsung
oleh Bank atau diwakilkan kepada pihak lain termasuk nasabah.
03. Dalam hal Bank diwakilkan kepada pihak lain, pihak yang mewakili
hanya sebatas pada pencarian informasi barang sesuai spesifikasi
yang diinginkan nasabah. Sedangkan penentuan atas pembelian aset
dari pemasok menjadi kewenangan Bank.
04. Harga perolehan aset Murabahah harus diberitahukan Bank kepada
nasabah.
05. Harga jual Murabahah adalah harga perolehan aset Murabahah
sebelum dikurangi uang muka ditambah dengan marjin yang
disepakati.
06. Murabahah yang dilakukan oleh Bank harus berdasarkan pesanan
nasabah yang bersifat mengikat.
07. Dalam praktik penyaluran pembiayaan Murabahah, Bank sering kali
menerima pendapatan di luar marjin keuntungan seperti pendapatan
administrasi,
dan
beban
lain
yang
terkait
langsung
dengan
pembiayaan Murabahah seperti beban komisi, beban survei, dan
beban lain. Pendapatan dan beban yang terkait langsung dengan
transaksi Murabahah tersebut diakui selaras dengan pengakuan
pendapatan Murabahah secara proporsional sepanjang masa akad.
08. Keuntungan Murabahah secara tunai diakui pada saat penyerahan
barang.
09. Pengakuan
pendapatan
Murabahah
secara
non-tunai
dapat
menggunakan metode anuitas (efektif) atau metode proporsional
(flat).
a. Penggunaan metode anuitas (efektif) didasarkan pada asumsi
bahwa
substansi
pembiayaan
pembiayaan
(financing)
sehingga
Murabahah
pencatatan
merupakan
transaksi
Murabahah dengan metode anuitas (efektif) wajib menggunakan
PSAK 55 (2011) tentang Instrumen Keuangan: Pengakuan dan
Pengukuran, PSAK 50 (2010) tentang Instrumen Keuangan:
Penyajian, PSAK 60: Instrumen Keuangan: Pengungkapan dan
PSAK lain yang relevan, sepanjang tidak bertentangan dengan
prinsip Syariah.
4.2
152
Lanjutan Lampiran 1
b. Dalam
hal
Bank
memilih
untuk
menggunakan
metode
proporsional (flat) maka pencatatan transaksi Murabahah wajib
menggunakan PSAK 102 tentang Akuntansi Murabahah.
10. Ilustrasi pengakuan pendapatan Murabahah:
Bank melakukan transaksi Murabahah dengan nasabah atas aset
Murabahah seharga Rp1.000 dan marjin keuntungan yang disepakati
sebesar Rp200. Pendapatan dan beban lain yang terkait langsung
dengan penyaluran pembiayaan Murabahah masing-masing sebesar
Rp12 dan Rp5. Pembayaran angsuran oleh nasabah dilakukan
selama 12 periode yang besarnya tidak sama setiap periode.
a. Metode anuitas

Pendapatan
pembiayaan
dan
beban
Murabahah
yang
terkait langsung
dikapitalisasi
dengan
dengan
nilai
pembiayaan Murabahah sehingga diperoleh nilai efektif yang
berbeda dengan nilai kontrak pembiayaan.

Perbedaan nilai efektif dengan nilai kontrak Murabahah
diamortisasi sesuai jangka waktu akad dengan menggunakan
metode effective rate.

Pendapatan marjin Murabahah yang diakui tidak boleh
melampaui marjin Murabahah yang telah disepakati pada
akad.

Perlakuan akuntansi untuk transaksi Murabahah yang
menggunakan metode anuitas mengacu pada pengaturan
akuntansi pada PSAK 50, 55 dan 60 serta Pedoman
Akuntansi Perbankan Indonesia (PAPI) sepanjang tidak
bertentangan dengan prinsip Syariah.
4.3
153
Lanjutan Lampiran 1
No
Tahun
Estimasi
Arus Kas
Saldo Awal
Arus kas
Tingkat
Imbalan
Efektif
Angsuran
Pokok
Saldo
Pokok
Tagihan
Imbalan
Amortisas Angsura Saldo Akhir
i dengan n Pokok Arus Kas
EIR
Efektif
Kredit
A
B
C
D
E = D X EIR
F
G
H =G xi
1
1-Jan
(993.00)
2
31-Jan
50.00
993.00
25.19
25.60
974.40
(24.40)
0.79
24.81
968.19
3
28-Feb
50.00
968.19
24.56
26.23
948.17
(23.77)
0.79
25.44
942.75
4
31-Mar
60.00
942.75
23.91
36.87
911.30
(23.13)
0.78
36.09
906.66
5
30-Apr
70.00
906.66
23.00
47.77
863.54
(22.23)
0.77
47.00
859.66
6
31-May
100.00
859.66
21.81
78.93
784.60
(21.07)
0.74
78.19
781.47
7
30-Jun
100.00
781.47
19.82
80.86
703.75
(19.14)
0.68
80.18
701.29
8
31-Jul
100.00
701.29
17.79
82.83
620.91
(17.17)
0.62
82.21
619.08
9
31-Aug
100.00
619.08
15.70
84.85
536.06
(15.15)
0.56
84.30
534.78
10
30-Sep
130.00
534.78
13.57
116.92
419.14
(13.08)
0.49
116.43
418.35
11
31-Oct
140.00
418.35
10.61
129.77
289.37
(10.23)
0.39
129.39
288.96
12
30-Nov
150.00
288.96
7.33
142.94
146.43
(7.06)
0.27
142.67
146.29
13
31-Dec
150.00
146.29
3.71
146.43
(3.57)
0.14
146.29
(200.00)
7.00
I =E-H
J =C -E
K = D+E-F+I
1,000.00
1,200.00
207.00
993.00
(0.00)
(0.00)
b. Metode proporsional

Pendapatan
dan
beban
yang
terkait langsung
dengan
pembiayaan Murabahah tidak dikapitalisasi dengan nilai
pembiayaan Murabahah.

Pendapatan
dan
beban
yang
terkait langsung
dengan
pembiayaan Murabahah diakui selama jangka waktu akad
dengan menggunakan metode yang sama dengan pengakuan
pendapatan Murabahah.

Bank
mengakui
pendapatan
marjin
Murabahah
sesuai
dengan proporsi atau perbandingan antara nilai pokok
Murabahah dan marjin Murabahah yang tercantum pada
akad Murabahah.
Periode
Angsuran
Awal
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
50
50
60
70
100
100
100
100
130
140
150
150
Porsi
Pokok
Margin
42
42
50
58
83
83
83
83
108
117
125
125
8
8
10
12
17
17
17
17
22
23
25
25
Saldo
Pokok
Margin
1000
200
958
192
917
183
867
173
808
162
725
145
642
128
558
112
475
95
367
73
250
50
125
25
0
0
11. Akad Murabahah memperkenankan penawaran harga yang berbeda
untuk cara pembayaran yang berbeda sebelum akad Murabahah
4.4
154
Lanjutan Lampiran 1
dilakukan. Namun jika akad tersebut telah disepakati, maka hanya
ada satu harga (harga dalam akad) yang digunakan. Sedangkan
besarnya angsuran dapat disesuaikan berdasarkan kesepakatan
Bank dengan nasabah.
Diskon harga beli
12. Apabila setelah akad Murabahah pemasok memberikan diskon harga
atas barang yang dibeli, maka diskon harga tersebut dibagi
berdasarkan perjanjian atau persetujuan yang dimuat dalam akad.
Oleh karena itu, klausul pembagian diskon harga tersebut harus
diperjanjikan dalam akad.
Apabila tidak diatur dalam akad, maka diskon tersebut menjadi hak
Bank dan diakui sebagai pendapatan operasi lainnya.
13. Diskon yang terkait dengan pembelian barang, antara lain:
a.
diskon dalam bentuk apapun dari pemasok atas pembelian
barang;
b.
diskon beban asuransi dari perusahaan asuransi dalam rangka
pembelian barang;
c.
komisi dalam bentuk apapun yang diterima terkait dengan
pembelian barang.
Uang muka
14. Bank dapat meminta uang muka kepada nasabah sebagai bukti
komitmen pembelian aset Murabahah sebelum akad disepakati.
a.
Apabila akad Murabahah disepakati, maka uang muka menjadi
bagian pelunasan piutang Murabahah.
b.
Apabila akad Murabahah batal, maka uang muka dikembalikan
kepada nasabah setelah dikurangi kerugian riil yang ditanggung
oleh Bank.
c.
Apabila uang muka itu lebih kecil dari kerugian, maka Bank
dapat meminta tambahan dari nasabah.
15. Keuntungan Murabahah yang diterima Bank dihitung berdasarkan
harga perolehan aset Murabahah setelah memperhitungkan uang
muka yang diserahkan oleh nasabah.
Potongan piutang Murabahah
16. Bank dapat memberikan potongan pada saat pelunasan piutang
Murabahah, apabila nasabah:
a.
melakukan pelunasan pembayaran secara tepat waktu; atau
4.5
155
Lanjutan Lampiran 1
b.
melakukan pelunasan pembayaran lebih cepat dari waktu yang
telah disepakati;
dengan syarat tidak diperjanjikan dalam akad dan besarnya
potongan diserahkan pada kebijakan Bank.
17. Pemberian potongan pelunasan piutang Murabahah dapat dilakukan
dengan menggunakan salah satu metode berikut:
a.
diberikan pada saat pelunasan, yaitu Bank mengurangi piutang
Murabahah dan
hanya
membayar
keuntungan Murabahah, sehingga nasabah
sebesar
selisih
antara
piutang
dengan
potongan pelunasan; atau
b.
diberikan setelah pelunasan, yaitu Bank menerima pelunasan
piutang dari
nasabah dan kemudian membayarkan potongan
pelunasannya kepada nasabah.
18. Bank dapat memberikan potongan dari total piutang Murabahah
yang belum dilunasi apabila nasabah:
a.
melakukan pembayaran cicilan tepat waktu; dan atau
b.
mengalami penurunan kemampuan pembayaran;
dengan syarat tidak diperjanjikan dalam akad dan besarnya
potongan diserahkan pada kebijakan Bank.
19. Bank harus memiliki kebijakan dan kriteria mengenai nasabah yang
membayar cicilan tepat waktu.
20. Pemberian potongan pembayaran cicilan harus dapat dibuktikan
dengan adanya penurunan kemampuan membayar dari nasabah.
21. Kriteria penurunan kemampuan membayar nasabah, antara lain
adalah menurunnya kondisi keuangan nasabah untuk melakukan
kewajiban pembayaran angsuran, baik yang disebabkan karena
faktor mikro, misalnya persaingan industri nasabah maupun faktor
makro, misalnya krisis keuangan.
22. Dalam hal nasabah mengalami tunggakan pembayaran angsuran,
Bank wajib membentuk Cadangan Kerugian Penurunan Nilai untuk
piutang Murabahah sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam
PSAK yang terkait.
Denda
23. Bank dapat mengenakan denda kepada nasabah yang tidak dapat
melakukan pembayaran angsuran piutang Murabahah, dengan
indikasi antara lain:
4.6
156
Lanjutan Lampiran 1
a.
adanya unsur kesengajaan, yaitu nasabah mempunyai dana
tetapi tidak melakukan pembayaran piutang Murabahah; dan
b.
adanya unsur penyalahgunaan dana, yaitu nasabah mempunyai
dana tetapi digunakan terlebih dahulu untuk hal lain.
24. Denda tidak dapat dikenakan kepada nasabah yang tidak/belum
mampu
melunasi
disebabkan
oleh
force
majeur,
jika
dapat
dibuktikan.
25. Denda kepada nasabah didasarkan pada pendekatan ta’zir, yaitu
untuk membuat nasabah lebih disiplin terhadap kewajibannya.
26. Denda yang dikenakan atas nasabah yang lalai merupakan sumber
bagi dana kebajikan.
D.
Perlakuan Akuntansi
D.1 Pengakuan dan Pengukuran
01. Uang muka
a.
Uang muka yang diterima Bank dari nasabah diakui sebagai
uang muka Murabahah dari pembeli sebesar jumlah yang
diterima Bank.
b.
Jika transaksi Murabahah dilaksanakan, maka uang muka
tersebut
diakui sebagai bagian dari
pembayaran piutang
Murabahah (merupakan bagian pokok).
c.
Jika transaksi Murabahah tidak dilaksanakan, maka :
i.
uang muka dikembalikan kepada nasabah sebesar selisih
antara uang muka dengan beban riil dan kerugian atas
pembatalan barang tersebut, apabila uang muka nasabah
lebih besar dari beban-beban riil yang telah dikeluarkan
Bank dan kerugian atas pembatalan, jika ada; atau
ii. Bank mengakui tagihan kepada nasabah sebesar selisih
antara beban riil dengan uang muka dan kerugian atas
pembatalan barang tersebut, apabila uang muka nasabah
lebih kecil dari beban-beban riil yang telah dikeluarkan
Bank dan kerugian atas pembatalan, jika ada.
02. Diskon harga beli dari pemasok dan pihak lain
a.
Sebelum akad Murabahah ditandatangani maka diskon harga
beli tersebut diakui sebagai pengurang harga perolehan aset
Murabahah;
b.
Setelah akad Murabahah ditandatangani dan:
4.7
157
Lanjutan Lampiran 1
i.
diperjanjikan dalam akad, maka bagian diskon harga beli
yang menjadi hak nasabah diakui sebagai kewajiban
kepada nasabah dan bagian diskon yang menjadi hak Bank
diakui sebagai tambahan keuntungan Murabahah.
ii.
tidak diperjanjikan dalam akad, maka diakui sebagai
pendapatan operasi lain.
03. Piutang Murabahah diakui pada saat akad transaksi Murabahah,
sebesar
harga
perolehan
ditambah keuntungan
(marjin)
yang
disepakati. Dalam hal Bank menggunakan metode anuitas, maka
piutang Murabahah yang diakui termasuk pendapatan dan beban
yang belum diamortisasi.
04. Pendapatan dan beban yang terkait langsung dengan transaksi
Murabahah:
a. Metode anuitas,
i.
Pendapatan
dan
beban
yang
terkait langsung
dengan
transaksi Murabahah diakui sebagai bagian dari piutang
Murabahah sebesar pendapatan yang diterima dan beban
yang dikeluarkan.
ii. Pendapatan
dan
beban
tersebut
diamortisasi
dengan
menggunakan metode effective rate sepanjang masa akad.
b. Metode proporsional,
i.
Pendapatan
dan
beban
yang
terkait langsung
dengan
transaksi Murabahah diakui secara terpisah dari piutang
Murabahah sebesar pendapatan yang diterima dan beban
yang dikeluarkan.
ii. Pendapatan
dan
beban
tersebut
diamortisasi
dengan
menggunakan metode yang sama dengan metode pengakuan
pendapatan Murabahah sepanjang masa akad.
05. Dalam hal transaksi Murabahah dilakukan secara tunai, maka
pendapatan
Murabahah
diakui
pada
saat
penyerahan
aset
Murabahah kepada nasabah.
06. Dalam hal transaksi Murabahah dilakukan secara non – tunai, maka
pengakuan pendapatan Murabahah diakui sebagai berikut:
a.
Metode anuitas
i.
Pendapatan
Murabahah
diakui
sebesar
saldo
efektif
Murabahah yang dikalikan dengan effective rate.
4.8
158
Lanjutan Lampiran 1
ii. Pendapatan Murabahah yang diakui tidak boleh melebihi
piutang Murabahah yang disepakati dalam akad Murabahah.
b.
Metode proporsional
Pendapatan Murabahah diakui berdasarkan jumlah pembayaran
angsuran oleh nasabah secara proporsional berdasarkan porsi
marjin Murabahah terhadap piutang Murabahah pada saat akad
ditandatangani.
07. Potongan piutang Murabahah
a.
Potongan
pelunasan
piutang
Murabahah
diakui
sebagai
pengurang pendapatan Murabahah pada saat pelunasan sebesar
jumlah yang diberikan.
b.
Jika potongan pembayaran cicilan piutang Murabahah diberikan
kepada nasabah karena:
i.
membayar cicilan tepat waktu, maka potongan pembayaran
diakui sebagai pengurang pendapatan Murabahah; dan
atau
ii.
adanya penurunan kemampuan pembayaran oleh nasabah,
maka potongan pembayaran diakui sebagai beban Bank.
08. Denda (ta’zir) atas nasabah yang lalai diakui sebagai sumber dana
kebajikan sebesar dana yang diterima Bank.
D.2 Penyajian
01. Uang muka Murabahah dari pembeli disajikan sebagai liabilitas
lainnya.
02. Tagihan kepada nasabah atas pembatalan transaksi Murabahah
dimana uang muka nasabah lebih kecil dari beban riil yang
dikeluarkan nasabah disajikan sebagai piutang qardh.
03. Piutang Murabahah disajikan sebesar saldo pembiayaan Murabahah
nasabah kepada Bank.
04. Marjin Murabahah ditangguhkan disajikan sebagai pos lawan piutang
Murabahah.
05. Beban potongan pelunasan / angsuran Murabahah sebagai pos lawan
pendapatan marjin Murabahah.
06. Dalam hal Bank menggunakan metode proporsional, pendapatan dan
beban yang terkait langsung dengan transaksi Murabahah yang
belum diamortisasi, disajikan sebagai liabilitas lainnya dan aset
lainnya.
4.9
159
Lanjutan Lampiran 1
07. Pendapatan marjin Murabahah yang akan diterima disajikan sebagai
bagian dari aset lainnya pada saat nasabah tergolong performing.
Sedangkan,
apabila
nasabah
tergolong
non-performing
maka
pendapatan marjin Murabahah yang akan diterima disajikan pada
rekening administratif.
08. Cadangan Kerugian Penurunan Nilai Murabahah disajikan sebagai
pos lawan (contra account) piutang Murabahah.
09. Denda (ta’zir) disajikan sebagai komponen dari sumber dana
kebajikan (qardhul hasan).
E.
Ilustrasi Jurnal
01. Penerimaan uang muka dari nasabah
Db. Kas/rekening
Kr. Liabilitas lainnya - uang muka Murabahah dari pembeli
02. Pada saat timbul beban lain yang dikeluarkan oleh Bank
Db. Beban lain yang terkait
Kr. Kas/rekening
03. Pada saat perolehan aset Murabahah
Db. Persediaan/aset Murabahah
Kr. Kas/rekening pemasok/kliring
04. Pada saat penyaluran pembiayaan Murabahah kepada nasabah
(pembayaran secara non-tunai):
A. Metode Anuitas
a.
Transaksi penjualan
Db. Piutang Murabahah
Kr. Marjin Murabahah ditangguhkan
Kr. Persediaan/Aset Murabahah
b.
Pengakuan
pendapatan
yang
terkait
langsung
dengan
transaksi Murabahah
Db. Kas
Kr. Piutang Murabahah - pendapatan yang terkait langsung
c.
Pengakuan beban yang terkait langsung dengan transaksi
Murabahah
Db. Piutang Murabahah - beban yang terkait langsung
Kr. Kas
4.10
160
Lanjutan Lampiran 1
d.
Uang muka nasabah diakui sebagai pembayaran piutang
Db. Liabilitas lainnya - uang muka Murabahah dari pembeli
Kr. Piutang Murabahah – porsi pokok
B. Metode Proporsional
a. Transaksi penjualan
Db. Piutang Murabahah
Kr. Marjin Murabahah ditangguhkan
Kr. Persediaan/Aset Murabahah
b. Pengakuan
pendapatan
yang
terkait
langsung
dengan
transaksi Murabahah
Db. Kas
Kr. Liabilitas lainnya – Pendapatan yang ditangguhkan
c.
Pengakuan beban yang terkait langsung dengan transaksi
Murabahah
Db. Aset lainnya – Beban yang ditangguhkan
Kr. Kas
d. Uang muka nasabah diakui sebagai pembayaran piutang
Db. Liabilitas lainnya - uang muka Murabahah dari pembeli
Kr. Piutang Murabahah – porsi pokok
05. Apabila pesanan nasabah dibatalkan
a.
Uang muka lebih besar daripada kerugian dan beban lain yang
dikeluarkan oleh Bank
Db. Liabilitas lainnya - uang muka Murabahah dari pembeli
Kr. Kerugian penjualan barang pesanan
Kr. Beban lain yang terkait
Kr. Kas/Rekening
b.
Uang muka sama dengan kerugian dan beban lain yang
dikeluarkan oleh Bank
Db. Liabilitas lainnya - uang muka Murabahah dari pembeli
Kr. Kerugian penjualan barang pesanan
Kr. Beban lain yang terkait
c.
Apabila uang muka lebih kecil daripada kerugian dan beban lain
yang dikeluarkan oleh Bank
Db. Tagihan kepada nasabah
Db. Liabilitas lainnya – uang muka Murabahah dari pembeli
Kr. Kerugian penjualan barang pesanan
Kr. Beban lain yang terkait
4.11
161
Lanjutan Lampiran 1
06. Pada saat pengakuan pendapatan diakhir periode pelaporan (akru)
A. Metode Anuitas
Db.
Pendapatan marjin Murabahah yang akan diterima
Db/Kr.Piutang Murabahah
Kr.
Pendapatan marjin Murabahah
B. Metode Proporsional
a. Pengakuan pendapatan marjin Murabahah
Db. Pendapatan marjin Murabahah yang akan diterima
Kr. Pendapatan marjin Murabahah
b. Pengakuan
pendapatan
yang
terkait
langsung
dengan
transaksi Murabahah
Db. Liabilitas lainnya - Pendapatan yang ditangguhkan
Kr. Pendapatan
c.
Pengakuan beban yang terkait langsung dengan transaksi
Murabahah
Db. Beban
Kr. Aset lainnya - Beban yang ditangguhkan
07. Pada saat penerimaan angsuran dari nasabah (pokok dan marjin)
A. Metode Anuitas
Db.
Kas/rekening nasabah
Kr.
Piutang Murabahah
Db.
Marjin Murabahah yang ditangguhkan
Db/Kr.Piutang Murabahah
Kr.
Pendapatan marjin Murabahah
B. Metode Proporsional
Db.
Kas/rekening nasabah
Kr.
Piutang Murabahah
Db.
Marjin Murabahah yang ditangguhkan
Kr.
Pendapatan marjin Murabahah
08. Pemberian potongan angsuran piutang Murabahah:
a.
Angsuran tepat waktu
i.
Pada saat penerimaan angsuran:
Db. Kas/rekening nasabah
Kr. Piutang Murabahah
4.12
162
Lanjutan Lampiran 1
Db. Marjin Murabahah ditangguhkan (jika masih ada)
Kr. Pendapatan marjin Murabahah
ii.
Pada saat pemberian potongan angsuran
Db. Beban potongan angsuran Murabahah
Kr. Kas/rekening nasabah
b.
Penurunan kemampuan pembayaran
i.
Pada saat penerimaan angsuran
Db. Kas/rekening nasabah
Kr. Piutang Murabahah
Db. Marjin Murabahah ditangguhkan (jika masih ada)
Kr. Pendapatan marjin Murabahah
ii.
Pada saat pemberian potongan angsuran
Db. Beban operasional
Kr. Kas/rekening nasabah
09. Pemberian potongan pelunasan dini:
a.
Jika pada saat penyelesaian
Bank
mengurangi
piutang
Murabahah
dan
keuntungan
Murabahah:
i.
Pada saat pemberian potongan pelunasan:
Db. Beban potongan angsuran Murabahah
Kr. Piutang Murabahah
ii.
Pada saat penerimaan pelunasan:
Db. Kas/rekening nasabah
Kr. Piutang Murabahah
Db. Marjin Murabahah ditangguhkan (jika masih ada)
Kr. Pendapatan marjin Murabahah
b.
Jika setelah penyelesaian,
Bank terlebih dulu menerima pelunasan piutang Murabahah
dari nasabah, kemudian Bank membayar potongan pelunasan
dini
Murabahah
kepada
nasabah
dengan
mengurangi
pendapatan Murabahah:
i.
Pada saat penerimaan pelunasan:
Db. Kas/rekening nasabah
Kr. Piutang Murabahah
4.13
163
Lanjutan Lampiran 1
Db. Marjin Murabahah ditangguhkan
Kr. Pendapatan marjin Murabahah
ii.
Pada saat memberi potongan pelunasan
Db. Beban potongan pelunasan
Kr. Kas/rekening nasabah
10. Pada saat penyelesaian piutang Murabahah melalui eksekusi agunan
a.
Pada saat eksekusi agunan
Db. Aset Yang Diambil Alih
Kr. Piutang Murabahah
Db. Marjin Murabahah yang ditangguhkan
Kr. Pendapatan yang ditangguhkan
b.
Pada saat penjualan agunan
i.
Apabila hasil penjualan agunan lebih besar dari kewajiban
nasabah
Db. Kas/rekening
Kr. Aset Yang Diambil Alih
Kr. Rekening nasabah
Db. Pendapatan yang ditangguhkan
Kr. Pendapatan Murabahah
ii.
Apabila hasil penjualan agunan lebih kecil dari kewajiban
nasabah
Db. Kas/rekening
Db. Tagihan kepada nasabah
Kr. Aset Yang Diambil Alih
Db. Pendapatan yang ditangguhkan
Kr. Pendapatan Murabahah
11. Penerimaan denda dari nasabah
Db. Kas/rekening
Kr. Rekening Dana Kebajikan
F.
Pengungkapan
Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain:
4.14
164
Lanjutan Lampiran 1
01. Rincian piutang Murabahah berdasarkan jumlah, jangka waktu, jenis
valuta, kualitas piutang, jenis penggunaan, sektor ekonomi dan
Cadangan Kerugian Penurunan Nilai.
02. Jumlah piutang Murabahah yang diberikan kepada pihak yang
berelasi.
03. Kebijakan dan metode akuntansi untuk pengakuan pendapatan,
Cadangan Kerugian Penurunan Nilai, penghapusan dan penanganan
piutang Murabahah yang bermasalah.
04. Besarnya piutang Murabahah baik yang dibebani sendiri oleh Bank
maupun secara bersama-sama dengan pihak lain sebesar bagian
pembiayaan Bank.
4.15
165
Lanjutan Lampiran 1
IV.2 ISTISHNA
A.
Definisi
01. Istishna adalah akad jual beli dalam bentuk pemesanan pembuatan
barang tertentu dengan kriteria dan persyaratan tertentu yang
disepakati antara pemesan (pembeli/ mustashni') dan penjual
(pembuat/shani').
02. Istishna paralel adalah suatu bentuk akad Istishna’ antara pemesan
(pembeli/mustashni’) dengan penjual (pembuat/shani’), kemudian
untuk
memenuhi
kewajibannya
kepada
mustashni’,
penjual
memerlukan pihak lain sebagai shani’.
03. Pembiayaan Istishna adalah Penyediaan dana dari Bank kepada
nasabah untuk membeli barang sesuai dengan pesanan nasabah
yang menegaskan harga belinya kepada pembeli (nasabah) dan
pembeli (nasabah) membayarnya dengan harga yang lebih sebagai
keuntungan Bank yang disepakati.
B.
Dasar Pengaturan
01. PSAK 104 tentang Akuntansi Istishna.
C.
Penjelasan
01. Spesifikasi dan harga barang pesanan dalam Istishna disepakati oleh
pembeli dan penjual di awal akad. Pada dasarnya harga barang tidak
dapat berubah selama jangka waktu akad, kecuali disepakati oleh
kedua belah pihak.
02. Barang pesanan harus diketahui karakteristiknya secara umum yang
meliputi: jenis, macam, kualitas dan kuantitasnya. Barang pesanan
harus sesuai dengan karakteristik yang telah disepakati antara
pembeli dan penjual. Jika barang pesanan yang dikirimkan salah
atau cacat maka penjual harus bertanggung jawab atas kelalaiannya.
03. Jika nasabah dalam akad Istishna tidak mewajibkan Bank untuk
membuat sendiri barang pesanan, maka untuk memenuhi kewajiban
pada akad pertama, Bank dapat mengadakan akad Istishna kedua
dengan pihak ketiga (pemasok). Akad Istishna kedua ini disebut
4.16
166
Lanjutan Lampiran 1
Istishna paralel. Dalam konteks Bank, piutang Istishna timbul dari
Istishna paralel.
04. Pada dasarnya akad
Istishna tidak dapat dibatalkan, kecuali
memenuhi kondisi:
a.
kedua belah pihak setuju untuk menghentikannya; dan
b.
akad batal demi hukum karena timbul kondisi hukum yang
dapat menghalangi pelaksanaan atau penyelesaian akad.
05. Mekanisme pembayaran Istishna harus disepakati dalam akad dan
dapat dilakukan dengan cara:
a.
Pembayaran dimuka secara keseluruhan atau sebagian setelah
akad namun sebelum pembuatan barang.
b.
Pembayaran saat penyerahan barang atau selama dalam proses
pembuatan barang. Cara pembayaran ini dimungkinkan adanya
pembayaran termin sesuai dengan progres pembuatan aset
Istishna.
c.
Pembayaran ditangguhkan setelah penyerahan barang.
d.
Kombinasi dari cara pembayaran di atas.
06. Metode pengakuan pendapatan Istishna dapat dilakukan dengan
menggunakan metode persentase penyelesaian dan metode akad
selesai. Pada metode persentase penyelesaian, Bank dapat mengakui
pendapatan Istishna sebesar proporsi penyelesaian barang pesanan.
Sedangkan, pada metode akad selesai, Bank
akan
mengakui
pendapatan Istishna pada saat barang telah diserahkan kepada
nasabah.
07. Jika estimasi penyelesaian akad dan biaya untuk penyelesaiannya
tidak dapat ditentukan secara rasional pada akhir periode Laporan
Keuangan, maka digunakan metode akad selesai dengan ketentuan
sebagai berikut:
a.
tidak ada pendapatan Istishna yang diakui sampai dengan
pekerjaan tersebut selesai;
b.
tidak ada harga pokok Istishna yang diakui sampai dengan
pekerjaan tersebut selesai;
c.
tidak ada bagian keuntungan yang diakui dalam Aktiva Istishna
Dalam Penyelesaian sampai dengan pekerjaan tersebut selesai;
dan
d.
pengakuan pendapatan Istishna, harga pokok Istishna, dan
keuntungan dilakukan hanya pada saat penyelesaian pekerjaan.
4.17
167
Lanjutan Lampiran 1
08. Pada pembiayaan Istishna, Bank melakukan pesanan barang kepada
supplier atas pesanan dari nasabah. Pendapatan yang diperoleh Bank
lebih disebabkan untuk aktivitas penyediaan fasilitas pendanaan
kepada nasabah, bukan dari aktivitas pembuatan barang pesanan.
09. Nasabah dapat membayar uang muka barang pesanan kepada Bank
sebelum barang diserahkan kepada nasabah dan Bank juga dapat
membayar uang muka barang pesanan kepada supplier.
10. Bank dapat menagih kepada nasabah atas barang pesanan yang
telah diserahkan dan supplier dapat menagih kepada Bank atas
barang pesanan yang telah diserahkan.
11. Selama barang pesanan masih dibuat, Bank akan menggunakan
rekening Aktiva Istishna Dalam Penyelesaian ketika melakukan
pembayaran kepada supplier dan menggunakan rekening Termin
Istishna ketika melakukan penagihan kepada nasabah.
12. Pengakuan pendapatan untuk transaksi Istishna menggunakan
metode
sebagaimana
pengakuan
pendapatan
pada
transaksi
murabahah.
13. Dalam hal nasabah mengalami tunggakan pembayaran angsuran,
Bank wajib membentuk Cadangan Kerugian Penurunan Nilai untuk
piutang Istishna sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam PSAK
yang terkait.
D.
Perlakuan Akuntansi
D1. Pengakuan dan Pengukuran
01. Uang muka pesanan nasabah yang diterima Bank diakui sebagai
uang muka Istishna sebesar uang yang diterima.
02. Uang muka yang dibayarkan Bank kepada supplier diakui sebagai
uang muka kepada pemasok sebesar uang yang diberikan dan diakui
sebagai Aktiva Istishna Dalam Penyelesaian pada saat barang
diserahkan oleh supplier.
03. Tagihan Bank kepada nasabah atas sebagian barang pesanan yang
telah diserahkan diakui sebagai piutang Istishna sebesar persentase
harga jual yang telah diselesaikan dan diakui sebagai Termin Istishna
sebesar persentase harga pokok yang telah diselesaikan.
04. Tagihan supplier kepada Bank atas sebagian barang pesanan yang
telah diselesaikan diakui sebagai Aktiva Istishna Dalam Penyelesaian
dan utang Istishna sebesar tagihan supplier.
4.18
168
Lanjutan Lampiran 1
05. Dalam hal Bank menggunakan metode persentase penyelesaian maka
Bank dapat mengakui pendapatan Istishna atas pembayaran yang
telah dilakukan nasabah sebesar persentase penyelesaian.
06. Pada saat barang pesanan telah diserahkan kepada nasabah, Bank
melakukan
jurnal
balik
atas
rekening
Aktiva
Istishna
Dalam
Penyelesaian dan Termin Istishna.
07. Utang
Istishna
yang
berasal
dari
transaksi
Istishna
yang
pembayarannya bersamaan dengan proses pembuatan aset Istishna:
a.
diakui pada saat diterima tagihan dari supplier kepada Bank
sebesar nilai tagihan.
b.
dihentikan-pengakuannya dari Laporan Keuangan pada saat
dilakukan pembayaran sebesar jumlah yang dibayar.
08. Uang muka Istishna yang berasal dari transaksi Istishna yang
pembayarannya dilakukan di muka secara penuh:
a.
diakui pada saat pembayaran harga barang diterima dari
nasabah sebesar jumlah yang diterima.
b.
dihentikan-pengakuannya dari Laporan Keuangan pada saat
dilakukan penyerahan barang kepada nasabah sebesar nilai
kontrak.
09. Jika nasabah membayar uang muka kepada Bank dalam proses
pembuatan aset Istishna maka penerimaan uang muka tersebut
diperlakukan sebagai pembayaran termin sebesar jumlah uang muka
yang dibayarkan.
D2. Penyajian
01. Uang muka Istishna disajikan sebagai liabilitas lainnya.
02. Uang muka kepada pemasok disajikan sebagai aset lainnya.
03. Utang Istishna disajikan sebesar tagihan dari pemasok yang belum
dilunasi.
04. Aktiva Istishna Dalam Penyelesaian disajikan sebesar dana yang
dibayarkan Bank kepada supplier.
05. Termin Istishna disajikan sebesar jumlah tagihan termin Bank
kepada nasabah.
06. Piutang Istishna disajikan sebesar jumlah yang belum dilunasi oleh
pembeli akhir.
07. Marjin Istishna ditangguhkan disajikan sebagai pos lawan piutang
murabahah.
4.19
169
Lanjutan Lampiran 1
08. Pendapatan marjin Istishna yang akan diterima disajikan sebagai
bagian dari aset lainnya pada saat nasabah tergolong performing.
Sedangkan,
apabila
nasabah
tergolong
non-performing
maka
pendapatan marjin Istishna yang akan diterima disajikan pada
rekening administratif.
09. Cadangan Kerugian Penurunan Nilai Istishna disajikan sebagai pos
lawan (contra account) piutang Istishna.
E.
Ilustrasi Jurnal
01. Penerimaan uang muka pesanan dari nasabah
Db. Kas/rekening
Kr. Uang muka Istishna
02. Penerimaan barang dari pemasok
a. Mekanisme uang muka
i. Pemberian uang muka
Db. Uang muka kepada pemasok
Kr. Kas/rekening
ii.Penerimaan sebagian barang pesanan dari pemasok
Db. Aset Istishna Dalam Penyelesaian
Kr. Uang Muka kepada pemasok
b. Mekanisme tagihan dari pemasok
i. Menerima tagihan dari pemasok
Db. Aset Istishna Dalam Penyelesaian
Kr. Utang Istishna
ii.Pembayaran kepada pemasok
Db. Utang Istishna
Kr. Kas/rekening
03. Penagihan termin kepada nasabah
Db. Piutang Istishna
Kr. Marjin Istishna ditangguhkan
Kr. Termin Istishna
04. Pembayaran oleh nasabah
Db. Kas
Kr. Piutang Istishna
Db. Marjin Istishna ditangguhkan
Kr. Pendapatan Istishna
4.20
170
Lanjutan Lampiran 1
05. Penyerahan barang kepada nasabah
Db. Termin Istishna
Kr. Aset Istishna Dalam Penyelesaian
06. Pada saat pengakuan pendapatan diakhir periode pelaporan (akru)
Db.Pendapatan marjin murabahah yang akan diterima
Kr. Pendapatan marjin murabahah
F.
Pengungkapan
Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain:
01. Rincian piutang Istishna berdasarkan jumlah, jangka waktu, jenis
valuta dan kualitas piutang dan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai
piutang Istishna.
02. Jumlah piutang murabahah yang diberikan kepada pihak yang
berelasi.
03. Kebijakan
akuntansi
yang
dipergunakan
dalam
pengakuan
pendapatan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai, penghapusan dan
penanganan piutang Istishna yang bermasalah.
04. Besarnya piutang Istishna baik yang dibiayai sendiri oleh Bank
maupun secara bersama-sama dengan pihak lain sebesar bagian
pembiayaan Bank.
05. Jumlah akumulasi biaya atas kontrak berjalan serta pendapatan dan
keuntungan sampai dengan akhir periode berjalan.
06. Jumlah sisa kontrak yang belum selesai menurut spesifikasi dan
syarat kontrak.
07. Klaim tambahan yang belum selesai dan semua denda yang bersifat
kontinjen sebagai akibat keterlambatan pengiriman barang.
08. Nilai kontrak Istishna paralel yang sedang berjalan serta rentang
periode pelaksanaannya.
09. Nilai kontrak Istishna yang telah ditandatangani Bank selama
periode berjalan tetapi belum dilaksanakan dan rentang periode
pelaksanaannya.
10. Rincian utang Istishna berdasarkan jumlah, tujuan (pemasok atau
nasabah), jangka waktu dan jenis mata uang.
11. Utang Istishna kepada nasabah yang merupakan pihak berelasi.
12. Jenis dan kuantitas barang pesanan.
4.21
171
Lanjutan Lampiran 1
IV.3. SALAM
A.
Definisi
Salam adalah akad jual beli barang pesanan (muslam fiih) dengan
pengiriman barang di kemudian hari oleh penjual (muslam illaihi) dan
pelunasannya dilakukan oleh pembeli pada saat akad disepakati sesuai
dengan syarat-syarat tertentu.
B.
Dasar Pengaturan
01.
C.
PSAK 103 tentang Akuntansi Salam.
Penjelasan
01.
Bank dapat bertindak sebagai pembeli dan atau penjual dalam suatu
transaksi Salam. Jika Bank bertindak sebagai pembeli maka Bank
melakukan transaksi Salam, dan jika Bank bertindak sebagai
penjual maka Bank akan memesan kepada pihak lain untuk
menyediakan barang pesanan dalam Salam paralel.
02.
Salam paralel dapat dilakukan dengan syarat:
a.
Akad kedua antara Bank dan pemasok terpisah dari akad
pertama antara Bank dan pembeli akhir; dan
b.
03.
Akad kedua dilakukan setelah akad pertama sah.
Dalam hal Bank bertindak sebagai pembeli, Bank dapat meminta
jaminan kepada pemasok untuk menghindari risiko yang merugikan
Bank.
04.
Piutang Salam merupakan tagihan Bank kepada pemasok yang
harus diselesaikan dalam bentuk penyerahan barang, bukan
penerimaan dalam bentuk uang tunai. Piutang Salam timbul dari
penyerahan uang kepada pemasok senilai barang yang dipesan.
05.
Utang Salam merupakan kewajiban Bank yang harus diselesaikan
dalam bentuk penyerahan barang bukan pembayaran dalam bentuk
uang tunai kepada nasabah.
06.
Spesifikasi dan harga barang pesanan disepakati di awal akad oleh
nasabah dan Bank pada akad pertama atau Bank dengan pemasok
pada akad kedua. Ketentuan harga barang pesanan tidak dapat
berubah selama jangka waktu akad.
07.
Barang pesanan harus diketahui karakteristiknya secara umum
yang meliputi: jenis, macam, kualitas dan kuantitasnya.
4.22
172
Lanjutan Lampiran 1
08.
Barang pesanan harus sesuai dengan karakteristik yang telah
disepakati antara nasabah dan Bank atau Bank dan pemasok. Jika
barang pesanan yang dikirim salah atau cacat maka Bank atau
pemasok harus bertanggung jawab atas kelalaiannya.
09.
Jika Bank tidak menerima sebagian atau seluruh barang pesanan
pada tanggal jatuh tempo pengiriman, maka:
a. Tanggal jatuh tempo pengiriman dapat diperpanjang;
b. Akad Salam dapat dibatalkan sebagian atau seluruhnya; atau
c.
10.
Jaminan atas barang pesanan dapat dieksekusi.
Bank dapat mengenakan denda kepada pemasok. Denda hanya
boleh dikenakan kepada pemasok yang mampu menyelesaikan
kewajibannya, tetapi sengaja tidak melakukannya. Hal ini tidak
berlaku bagi pemasok yang tidak mampu menunaikan kewajibannya
karena force majeur. Denda dikenakan jika pemasok lalai dalam
melakukan kewajibannya sesuai dengan akad, dan denda yang
diterima diakui sebagai bagian dana kebajikan.
11.
Pendapatan Salam diperoleh dari selisih harga jual kepada nasabah
dan harga beli dari pemasok.
D.
Perlakuan Akuntansi
D1. Pengakuan dan Pengukuran
01.
Piutang Salam diakui pada saat penyerahan uang kepada pemasok
sebesar jumlah yang dibayarkan.
02.
Utang Salam diakui pada saat penerimaan uang dari nasabah
sebesar jumlah yang diterima.
03.
Dalam hal dilakukan perpanjangan jangka waktu pengiriman maka
nilai tercatat piutang Salam dicatat sebesar bagian yang belum
dipenuhi sesuai dengan nilai yang tercantum dalam akad.
04.
Dalam hal dilakukan pembatalan sebagian atau seluruh akad
Salam, maka piutang Salam berubah menjadi piutang qardh oleh
pemasok sebesar bagian yang tidak dapat dipenuhi.
05.
Dalam hal dilakukan eksekusi jaminan maka selisih antara nilai
tercatat piutang Salam dan hasil penjualan jaminan tersebut diakui
sebagai piutang kepada pemasok. Sebaliknya, jika hasil penjualan
jaminan tersebut lebih besar dari nilai tercatat piutang Salam maka
selisihnya menjadi hak pemasok.
4.23
173
Lanjutan Lampiran 1
06.
Pendapatan Salam diakui pada saat barang diserahkan kepada
nasabah sebesar selisih antara harga jual kepada nasabah dengan
harga beli dari pemasok.
D2. Penyajian
01. Piutang Salam disajikan sebesar jumlah tercatat.
02. Piutang Salam yang tidak dapat dipenuhi oleh pemasok dan pemasok
menyatakan tidak dapat memenuhi kewajibannya disajikan sebagai
piutang qardh.
03. Utang Salam disajikan sebesar jumlah tercatat.
E.
Ilustrasi Jurnal
E1. Bank Sebagai Pembeli
01.
Pada saat Bank menyerahkan uang kepada pemasok
Db. Piutang Salam
Kr. Kas/Rekening pemasok
02.
Pada saat Bank menerima barang dari pemasok
Db. Persediaan/aset Salam
Kr. Piutang Salam
03.
Pada saat pemasok tidak memenuhi kewajibannya
Db. Piutang qardh dari pemasok
Kr. Piutang Salam
04.
Jika Bank mengeksekusi jaminan atas akad Salam
a.
Penjualan jaminan dengan hasil lebih kecil dari piutang Salam
Db. Kas/kliring
Db. Piutang qardh (pemasok)
Kr. Piutang Salam
b.
Penjualan jaminan dengan hasil lebih besar dari piutang Salam
Db. Kas/kliring
Kr. Rekening pemasok
Kr. Piutang Salam
05. Pada saat pengenaan denda kepada pemasok
Db. Kas/Rekening
Kr. Rekening Dana Kebajikan
E2. Bank Sebagai Penjual
01.
Pada saat Bank menerima uang dari nasabah
Db. Kas/rekening nasabah
Kr. Utang Salam
4.24
174
Lanjutan Lampiran 1
02.
Pada saat Bank menyerahkan barang kepada nasabah
Db. Utang Salam
Kr. Persediaan/aset Salam
Kr. Pendapatan Salam
F.
Pengungkapan
Hal-hal yang harus diungkapkan, antara lain:
01.
Rincian piutang Salam dan utang Salam berdasarkan jumlah, jangka
waktu, jenis valuta, jenis, dan kuantitas barang pesanan.
02.
Piutang Salam dari pemasok dan utang Salam kepada nasabah yang
merupakan pihak berelasi.
4.25
175
Lanjutan Lampiran 1
IV.4.
A.
PERSEDIAAN
Definisi
01.
Persediaan adalah aset yang tersedia untuk dijual dalam kegiatan
usaha biasa dan:
a.
dijual dengan akad murabahah;
b.
disalurkan dalam akad salam atau salam paralel; dan/atau
c.
aset istishna yang telah selesai tetapi belum diserahkan Bank
kepada pembeli akhir.
B.
Dasar Pengaturan
01.
C.
PSAK 14 tentang Persediaan.
Penjelasan
01.
Bank memperoleh persediaan dengan akad murabahah, salam,
istishna dan atau akad lainnya.
02.
03.
Aset yang tidak termasuk dalam pengertian persediaan, adalah:
a.
Aset Istishna Dalam Penyelesaian;
b.
Aset tetap yang digunakan oleh Bank;
c.
Aset ijarah.
Termasuk dalam definisi persediaan adalah persediaan dalam
perjalanan yang memenuhi kriteria berikut:
a.
dalam transaksi pembelian dengan syarat penyerahan FOB
Shipping Point (franco gudang penjual).
b.
dalam transaksi penjualan dengan syarat penyerahan FOB
Destination Point (franco gudang pembeli).
04.
Biaya perolehan meliputi semua biaya pembelian, biaya konversi dan
biaya lain yang timbul sampai persediaan berada dalam kondisi dan
tempat yang siap untuk dijual atau dipakai.
05.
Persediaan diukur dengan menggunakan nilai terendah antara biaya
perolehan dan nilai realisasi neto. Nilai realisasi neto adalah estimasi
harga jual dalam kegiatan usaha dikurangi estimasi biaya yang
diperlukan untuk melakukan penjualan.
4.26
176
Lanjutan Lampiran 1
D.
Perlakuan Akuntansi
D1. Pengakuan dan Pengukuran
01.
Pada
saat
pengakuan
awal
persediaan
diakui
sebesar
biaya
perolehan.
02.
Pada akhir periode pelaporan persediaan diukur sebesar biaya
perolehan dan nilai realisasi neto, mana yang lebih rendah.
D2. Penyajian
Persediaan disajikan sebesar biaya perolehan atau nilai realisasi neto,
mana yang lebih rendah.
E.
Ilustrasi Jurnal
01.
Pada saat perolehan:
Db. Persediaan
Kr. Kas/rekening pemasok/kliring
02.
Pada saat penurunan nilai:
Db. Kerugian penurunan nilai
Kr. Persediaan
03.
Pada saat pemulihan nilai:
Db. Persediaan
Kr. Keuntungan pemulihan nilai
F.
Pengungkapan
Hal-hal yang perlu diungkapkan, antara lain:
01.
Rincian saldo persediaan berdasarkan harga perolehan dan nilai
realisasi neto.
02.
Jumlah
dari
setiap
pemulihan
nilai
persediaan
dari
setiap
penurunan nilai persediaan yang diakui sebagai penghasilan selama
periode pemulihan tersebut.
03.
Kondisi
atau
peristiwa
penyebab
terjadinya
pemulihan
nilai
persediaan.
4.27
177
Lanjutan Lampiran 1
BAGIAN V AKAD BAGI HASIL
V.1 PEMBIAYAAN MUDHARABAH
A.
Definisi
01. Mudharabah adalah akad kerjasama usaha antara dua pihak dimana
pihak pertama (pemilik dana) menyediakan seluruh dana, sedangkan
pihak kedua (pengelola dana) bertindak selaku pengelola, dan
keuntungan dibagi di antara mereka sesuai kesepakatan sedangkan
kerugian finansial hanya ditanggung oleh pemilik dana.
02. Mudharabah muthlaqah adalah mudharabah dimana pemilik dana
memberikan kebebasan kepada pengelola dana dalam pengelolaan
investasinya.
03. Mudharabah muqayyadah adalah mudharabah dimana pemilik dana
memberikan batasan kepada pengelola dana, antara lain mengenai
tempat, cara dan atau obyek investasi.
04. Mudharabah musytarakah adalah bentuk
mudharabah dimana
pengelola dana menyertakan modal atau dananya dalam kerjasama
investasi.
B.
Dasar Pengaturan
01. PSAK 105 tentang Akuntansi Mudharabah.
C.
Penjelasan
01. Mudharabah terdiri dari dua jenis, yaitu Mudharabah muthlaqah dan
Mudharabah muqayyadah. Bagian ini membahas Bank sebagai
shahibul maal (pemilik dana) dalam pembiayaan Mudharabah baik
bersifat mutlaqah maupun muqayyadah.
02. Investasi
Mudharabah
yang
dilakukan
oleh
Bank
disebut
pembiayaan Mudharabah. Pada umumnya pembiayaan Mudharabah
yang dilakukan oleh Bank diberikan dalam bentuk kas yang
dilakukan secara bertahap atau sekaligus.
03. Pengembalian pembiayaan Mudharabah dapat dilakukan bersamaan
dengan distribusi bagi hasil atau pada saat diakhirinya akad
Mudharabah.
04. Bagi hasil Mudharabah dapat dilakukan dengan menggunakan dua
metode, yaitu bagi laba (profit sharing) atau bagi hasil (gross profit
5.1
178
Lanjutan Lampiran 1
margin atau dalam fatwa disebut net revenue sharing). Bagi laba
dihitung dari pendapatan setelah dikurangi dengan harga pokok dan
beban yang berkaitan dengan pengelolaan dana Mudharabah.
Sedangkan
bagi
hasil,
dihitung
dari
pendapatan
pengelolaan
Mudharabah dikurangi harga pokok.
Sebagai ilustrasi:
Penjualan
xxx
Beban pokok penjualan (xxx)
Pendapatan
Beban pengelolaan
Laba
xxx (gross profit margin/net revenue sharing)
(xxx)
xxx (profit sharing)
05. Dalam hal terjadi kerugian dalam usaha nasabah (pengelola dana),
Bank sebagai pemilik dana akan menanggung semua kerugian
sepanjang kerugian tersebut bukan disebabkan oleh kelalaian atau
kesalahan nasabah (pengelola dana).
06. Kelalaian atau kesalahan pengelola dana antara lain ditunjukkan
oleh:
a.
Tidak dipenuhinya persyaratan yang ditentukan di dalam akad;
b.
Tidak terdapat kondisi di luar kemampuan (force majeur) yang
lazim dan/atau yang telah ditentukan di dalam akad; atau
c.
Hasil putusan dari badan arbitrase atau pengadilan.
07. Pada
prinsipnya,
dalam
pembiayaan
mudharabah
tidak
dipersyaratkan adanya jaminan, namun agar tidak terjadi moral
hazard berupa penyimpangan oleh pengelola dana, pemilik dana
dapat meminta jaminan dari pengelola dana atau pihak ketiga.
Jaminan ini hanya dapat dicairkan apabila pengelola dana terbukti
melakukan pelanggaran terhadap hal-hal yang telah disepakati
bersama dalam akad.
08. Pengakuan penghasilan usaha Mudharabah dalam praktik dapat
diketahui berdasarkan laporan bagi hasil atas penghasilan usaha
dari pengelola dana. Tidak diperkenankan mengakui pendapatan
dari proyeksi hasil usaha.
5.2
179
Lanjutan Lampiran 1
D.
Perlakuan Akuntansi
D.1 Pengakuan dan Pengukuran
01. Pembiayaan Mudharabah dalam bentuk kas diakui pada saat
pencairan sebesar jumlah uang yang diberikan Bank kepada
pengelola dana (nasabah).
02. Pembiayaan Mudharabah yang diberikan secara bertahap diakui
pada setiap tahap pembayaran.
03. Pembayaran kembali pembiayaan Mudharabah oleh pengelola dana
(nasabah) akan mengurangi pembiayaan Mudharabah.
04. Kerugian pembiayaan Mudharabah yang terjadi selama masa akad
diakui sebagai Cadangan Kerugian Penurunan Nilai pembiayaan
Mudharabah.
05. Keuntungan yang dihasilkan dari pembiayaan Mudharabah diakui
pada periode terjadinya hak bagi hasil berdasarkan laporan hasil
usaha yang disampaikan nasabah sesuai dengan nisbah yang
disepakati.
06. Keuntungan pembiayaan Mudharabah yang telah menjadi hak Bank
dan belum dibayarkan oleh nasabah diakui sebagai piutang bagi
hasil.
07. Pembiayaan Mudharabah yang diakhiri sebelum jatuh tempo atau
sudah berakhir dan belum diselesaikan oleh nasabah maka saldo
pembiayaan
Mudharabah
tetap
diakui
sebagai
pembiayaan
Mudharabah yang wajib diselesaikan oleh mudharib.
D.2 Penyajian
01.
Pembiayaan
Mudharabah
disajikan
sebesar
saldo
pembiayaan
Mudharabah nasabah kepada Bank.
02.
Piutang bagi hasil disajikan sebagai bagian dari aset lainnya pada
saat nasabah tergolong performing. Sedangkan, apabila nasabah
tergolong non-performing maka piutang bagi hasil disajikan pada
rekening administratif.
03.
Cadangan Kerugian Penurunan Nilai pembiayaan Mudharabah
disajikan
sebagai
pos
lawan
(contra
account)
pembiayaan
Mudharabah.
04.
Pembiayaan Mudharabah yang diakhiri sebelum jatuh tempo atau
sudah berakhir dan belum diselesaikan oleh nasabah tetap disajikan
sebagai bagian dari pembiayaan Mudharabah.
5.3
180
Lanjutan Lampiran 1
E.
Ilustrasi Jurnal
01. Pada saat pemberiaan pembiayaan Mudharabah kepada mudharib
Db. Pembiayaan Mudharabah
Kr. Kas/rekening/kliring
02. Pada saat pengakuan keuntungan Mudharabah
Db. Piutang bagi hasil
Kr.
Pendapatan Mudharabah
03. Pada saat penerimaan keuntungan Mudharabah
Db. Kas/rekening/kliring
Kr.
Piutang bagi hasil
04. Pada saat pengakuan kerugian Mudharabah
Db. Beban Kerugian Penurunan Nilai pembiayaan Mudharabah
Kr. Cadangan Kerugian Penurunan Nilai - pembiayaan Mudharabah
05. Pada saat pembayaran angsuran pokok
Db. Kas/rekening/kliring
Kr. Pembiayaan Mudharabah
06. Pada saat pelunasan pembiayaan Mudharabah
Db. Kas/rekening/kliring
Kr. Pembiayaan Mudharabah
F.
Pengungkapan
Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain:
01. Rincian jumlah pembiayaan Mudharabah berdasarkan sifat akad
(Mudharabah
mutlaqah
atau
Mudharabah
muqayadah),
jenis
penggunaan dan sektor ekonomi.
02. Klasifikasi pembiayaan mudharabah menurut jangka waktu (masa
akad), kualitas pembiayaan, valuta, Cadangan Kerugian Penurunan
Nilai dan tingkat bagi hasil rata-rata.
03. Jumlah dan persentase pembiayaan Mudharabah yang diberikan
kepada pihak-pihak berelasi.
04. Jumlah pembiayaan Mudharabah yang telah direstrukturisasi dan
informasi
lain
tentang
pembiayaan
Mudharabah
yang
dire-
pengendalian
risiko
strukturisasi selama periode berjalan.
05. Kebijakan
manajemen
dalam
pelaksanaan
portofolio pembiayaan Mudharabah.
06. Besarnya pembiayaan
Mudharabah
bermasalah dan
Cadangan
Kerugian Penurunan Nilai untuk setiap sektor ekonomi.
5.4
181
Lanjutan Lampiran 1
07. Kebijakan dan metode yang dipergunakan dalam penanganan
Mudharabah bermasalah.
08. Ikhtisar
pembiayaan
Mudharabah
yang
dihapus
buku
yang
menunjukkan saldo awal, penghapusan selama tahun berjalan,
penerimaan
atas
dihapusbukukan
pembiayaan
dan
pembiayaan
Mudharabah
Mudharabah
yang
yang
telah
telah
dihapustagih dan saldo akhir pembiayaan Mudharabah yang dihapus
buku.
5.5
182
Lanjutan Lampiran 1
V.2 PEMBIAYAAN MUSYARAKAH
A.
Definisi
01. Musyarakah adalah akad kerjasama antara dua pihak atau lebih
untuk
suatu
usaha
tertentu,
dimana
masing-masing
pihak
memberikan kontribusi dana dengan ketentuan bahwa keuntungan
dibagi berdasarkan kesepakatan sedangkan kerugian berdasarkan
porsi kontribusi dana berupa kas maupun aset non-kas yang
diperkenankan oleh Syariah.
02. Musyarakah permanen adalah Musyarakah dengan ketentuan bagian
dana setiap mitra ditentukan sesuai akad dan jumlahnya tetap
hingga akhir masa akad.
03. Musyarakah
menurun
(Musyarakah
muttanaqisah)
adalah
Musyarakah dengan ketentuan bagian dana pihak pertama akan
dialihkan secara bertahap kepada pihak kedua sehingga bagian dana
pihak pertama akan menurun dan pada akhir masa akad pihak
kedua tersebut akan menjadi pemilik penuh usaha tersebut.
04. Mitra aktif adalah mitra yang mengelola usaha Musyarakah, baik
mengelola sendiri atau menunjuk pihak lain atas nama mitra
tersebut.
05. Mitra
pasif
adalah
mitra
yang
tidak
ikut
mengelola
usaha
Musyarakah.
B.
Dasar Pengaturan
01. PSAK 106 tentang Akuntansi Musyarakah.
C.
Penjelasan
01. Musyarakah dapat berupa Musyarakah permanen dan Musyarakah
menurun (Musyarakah muttanaqisah).
02. Bank
dapat bertindak sebagai mitra aktif dan mitra pasif. Untuk
pembahasan ini Bank masih berperan sebagai mitra pasif.
03. Pada umumnya pembiayaan Musyarakah yang diberikan oleh Bank
dalam bentuk kas yang dilakukan secara bertahap atau sekaligus.
04. Keuntungan atau pendapatan Musyarakah dibagi di antara mitra
berdasarkan
nisbah
yang
disepakati,
sedangkan
kerugian
Musyarakah dibagi diantara mitra secara proporsional dengan modal
yang disetor.
5.6
183
Lanjutan Lampiran 1
05. Pengakuan penghasilan usaha Musyarakah dalam praktik dapat
diketahui berdasarkan laporan bagi hasil atas penghasilan usaha
dari mitra aktif. Tidak diperkenankan mengakui pendapatan dari
proyeksi hasil usaha.
06. Dalam pembiayaan Musyarakah setiap mitra tidak dapat menjamin
modal mitra lain, namun setiap mitra dapat meminta mitra lain
untuk menyediakan jaminan atas kelalaian atau kesalahan yang
disengaja.
07. Kelalaian atau kesalahan pengelola dana antara lain ditunjukkan
oleh:
a.
Tidak dipenuhinya persyaratan yang ditentukan di dalam akad.
b.
Tidak terdapat kondisi di luar kemampuan (force majeur) yang
lazim dan/atau yang telah ditentukan di dalam akad.
c.
Hasil putusan dari badan arbitrase atau pengadilan.
08. Dalam pembiayaan Musyarakah muttanaqisah, mitra dapat menyewa
aset yang menjadi dasar (underlying) pembiayaan Musyarakah. Hasil
sewa dari aset tersebut dibagihasilkan di antara mitra berdasarkan
nisbah yang disepakati.
D.
Perlakuan Akuntansi
D.1 Pengakuan dan Pengukuran
01. Pembiayaan Musyarakah dalam bentuk kas diakui pada saat
pencairan sebesar jumlah uang yang diberikan Bank.
02. Pembiayaan Musyarakah yang diberikan secara bertahap diakui
pada setiap tahap pembayaran.
03. Kerugian pembiayaan Musyarakah yang terjadi selama masa akad
diakui pada periode terjadinya secara proporsional sesuai dengan
kontribusi modal sebagai Cadangan Kerugian Penurunan Nilai
pembiayaan Musyarakah.
04. Keuntungan pembiayaan Musyarakah diakui pada periode terjadinya
hak bagi hasil berdasarkan laporan hasil usaha yang disampaikan
nasabah sesuai dengan nisbah yang disepakati.
05. Apabila dalam pembiayaan Musyarakah mengalami kerugian pada
periode sebelumnya, maka keuntungan yang diperoleh pada periode
tersebut harus dialokasikan terlebih dahulu untuk mengurangi
Cadangan Kerugian Penurunan Nilai pembiayaan Musyarakah untuk
5.7
184
Lanjutan Lampiran 1
memulihkan
jumlah
tercatat
pembiayaan
Musyarakah
sampai
dengan nilai pembiayaan Musyarakah awal.
06. Keuntungan pembiayaan Musyarakah yang telah menjadi hak Bank
dan belum dibayarkan oleh nasabah diakui sebagai piutang bagi
hasil.
07. Apabila terjadi kerugian dalam Musyarakah akibat kelalaian atau
penyimpangan mitra Musyarakah, mitra yang melakukan kelalaian
tersebut menanggung beban kerugian tersebut. Kerugian Bank yang
diakibatkan kelalaian atau penyimpangan mitra aktif (nasabah) tetap
diakui sebagai pembiayaan Musyarakah.
08. Pembiayaan
Musyarakah
yang
sudah
berakhir
dan
belum
diselesaikan oleh mitra aktif (nasabah) maka saldo pembiayaan
Musyarakah tetap diakui sebagai pembiayaan Musyarakah yang
wajib diselesaikan oleh mitra aktif.
D.2 Penyajian
01. Pembiayaan Musyarakah
disajikan sebesar saldo pembiayaan
Musyarakah nasabah kepada Bank.
02. Piutang bagi hasil disajikan sebagai bagian dari aset lainnya pada
saat nasabah tergolong performing. Sedangkan, apabila nasabah
tergolong non-performing maka piutang bagi hasil disajikan pada
rekening administratif.
03. Cadangan
disajikan
Kerugian
sebagai
Penurunan
pos
lawan
Nilai
pembiayaan
(contra
account)
Musyarakah
pembiayaan
Musyarakah.
04. Tagihan kepada mitra aktif yang disebabkan akibat kelalaian atau
penyimpangan mitra aktif (nasabah) disajikan sebagai bagian dari
pembiayaan Musyarakah.
05. Pembiayaan Musyarakah yang diakhiri sebelum jatuh tempo atau
sudah berakhir dan belum diselesaikan oleh nasabah tetap disajikan
sebagai bagian dari pembiayaan Musyarakah.
E.
Ilustrasi Jurnal
01. Pada saat Bank membayarkan modal tunai kepada mitra (nasabah)
Db. Pembiayaan Musyarakah
Kr. Kas/rekening/kliring
02. Pada saat pengakuan keuntungan Musyarakah
Db. Piutang bagi hasil
5.8
185
Lanjutan Lampiran 1
Kr. Pendapatan Musyarakah
03. Pada saat penerimaan keuntungan Musyarakah
Db. Kas/rekening/kliring
Kr.
Piutang bagi hasil
04. Pada saat pengakuan kerugian Musyarakah
Db. Beban Kerugian Penurunan Nilai pembiayaan Musyarakah
Kr. Cadangan Kerugian Penurunan Nilai - pembiayaan Musyarakah
05. Pada saat pengakuan keuntungan setelah terjadi kerugian pada
periode sebelumnya
a. Memulihkan kerugian periode sebelumnya
Db.
Cadangan
Kerugian
Penurunan
Nilai
pembiayaan
-
Musyarakah
Kr.
Beban Kerugian Penurunan Nilai pembiayaan Musyarakah
b. Pengakuan kelebihan keuntungan atas kerugian
Db.
Piutang bagi hasil
Kr.
Pendapatan Musyarakah
06. Pada
saat
pembayaran
angsuran
pokok
untuk
Musyarakah
muttanaqisah
Db. Kas/rekening/kliring
Kr. Pembiayaan Musyarakah
07. Pada
saat
terjadi
kerugian
yang
disebabkan
kelalaian
atau
penyimpangan mitra aktif (nasabah)
Db. Piutang kepada mitra aktif (nasabah)
Kr. Cadangan Kerugian Penurunan Nilai - pembiayaan Musyarakah
08. Pada saat pengalihan modal kepada mitra aktif (nasabah)
Db. Kas/rekening
Kr. Pembiayaan Musyarakah
F.
Pengungkapan
Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain:
01. Rincian jumlah pembiayaan Musyarakah berdasarkan modal mitra,
jenis valuta, jenis penggunaan, sektor ekonomi, status bank dalam
pembiayaan Musyarakah (mitra pasif), dan mitra aktif (jika mitra
aktif bukan berasal dari salah satu mitra Musyarakah).
02. Klasifikasi pembiayaan Musyarakah menurut jangka waktu akad
pembiayaan, kualitas pembiayaan, dan tingkat bagi hasil rata-rata.
5.9
186
Lanjutan Lampiran 1
03. Jumlah dan persentase pembiayaan Musyarakah yang diberikan
kepada pihak-pihak berelasi.
04. Jumlah
dan
persentase
pembiayaan
Musyarakah
yang
telah
direstrukturisasi dan informasi lain tentang pembiayaan Musyarakah
yang direstrukturisasi selama periode berjalan.
05. Kebijakan
manajemen
dalam
pelaksanaan
pengendalian
risiko
portofolio pembiayaan Musyarakah.
06. Besarnya pembiayaan Musyarakah bermasalah dan
Cadangan
Kerugian Penurunan Nilai untuk setiap sektor ekonomi.
07. Kebijakan dan metode yang dipergunakan dalam penanganan
Musyarakah bermasalah.
08. Ikhtisar
pembiayaan
Musyarakah
yang
dihapus
buku
yang
menunjukkan saldo awal, penghapusan selama tahun berjalan,
penerimaan
atas
dihapusbukukan
pembiayaan
dan
pembiayaan
Musyarakah
Musyarakah
yang
yang
telah
telah
dihapustagih dan saldo akhir pembiayaan Musyarakah yang dihapus
buku.
5.10
187
Lanjutan Lampiran 1
V.3 DANA SYIRKAH TEMPORER
A.
Definisi
Dana syirkah temporer adalah dana yang diterima sebagai investasi
dengan jangka waktu tertentu dari individu dan pihak lain dimana bank
mempunyai hak untuk mengelola dan menginvestasikan dana tersebut
dengan pembagian hasil investasi berdasarkan kesepakatan.
B.
Dasar Pengaturan
01. PSAK 105 tentang Akuntansi Mudharabah.
02. PSAK 106 tentang Akuntansi Musyarakah.
C.
Penjelasan
01. Dana syirkah temporer adalah dana yang diterima oleh Bank dimana
Bank mempunyai hak untuk mengelola dan menginvestasikan dana,
baik sesuai dengan kebijakan Bank atau kebijakan pembatasan dari
pemilik
dana,
kesepakatan.
disebabkan
dengan
Dalam
kerugian
keuntungan
hal
dana
normal
dibagikan
syirkah
yang
bukan
sesuai
temporer
akibat
dengan
berkurang
dari
unsur
kesalahan yang disengaja, kelalaian, atau pelanggaran kesepakatan,
maka Bank tidak berkewajiban atau menutup kerugian atau
kekurangan dana tersebut.
02. Contoh dari dana syirkah temporer adalah penerimaan dana dari
investasi
mudharabah
muthlaqah,
mudharabah
muqayyadah,
musyarakah, dan akun lain yang sejenis.
03. Hubungan antara Bank dan pemilik dana merupakan hubungan
kemitraan berdasarkan akad mudharabah muthlaqah, mudharabah
muqayyadah
atau
musyarakah.
Bank
mempunyai hak untuk
mengelola dan menginvestasikan dana yang diterima dengan atau
tanpa batasan seperti mengenai tempat, cara, atau obyek investasi.
04. Pemilik
dana
memperoleh
bagian
atas
keuntungan
sesuai
kesepakatan dan menerima kerugian berdasarkan jumlah dana dari
masing-masing pihak. Pembagian hasil dana syirkah temporer dapat
dilakukan dengan:
a.
Konsep bagi laba (profit sharing), atau
b.
Konsep bagi hasil (gross profit margin atau dalam fatwa disebut
net revenue sharing).
5.11
188
Lanjutan Lampiran 1
05. Untuk Bank yang menggunakan metode bagi laba (profit sharing)
dalam akad mudharabah, jika usaha Bank atas pengelolaan dana
nasabah (pemilik dana, shahibul maal) mengalami kerugian maka
seluruh kerugian ditanggung oleh nasabah (pemilik dana, shahibul
maal), kecuali jika ditemukan adanya kelalaian atau kesalahan Bank
sebagai pengelola dana (mudharib).
06. Untuk Bank yang menggunakan metode bagi hasil (gross profit
margin atau dalam fatwa disebut net revenue sharing), maka nasabah
(pemilik dana, shahibul maal) tidak akan kehilangan nilai awal
investasinya, kecuali Bank dilikuidasi dengan kondisi realisasi aset
lebih kecil dari liabilitas.
07. Kelalaian atau kesalahan Bank sebagai pengelola dana, antara lain,
ditunjukkan oleh:
a.
Tidak dipenuhinya persyaratan yang ditentukan di dalam akad;
b.
Tidak terdapat kondisi di luar kemampuan (force majeur) yang
lazim dan/atau yang telah ditentukan di dalam akad; atau
c.
Hasil putusan dari badan arbitrase atau pengadilan
08. Dana syirkah temporer terdiri dari dana mudharabah dalam hal
Bank sebagai pengelola dana (mudharib) dan musyarakah dalam hal
Bank sebagai mitra aktif.
09. Mudharabah dibedakan berdasarkan pembatasan penggunaan dana
menjadi mudharabah mutlaqah dan mudharabah muqayadah.
10. Jenis produk penghimpunan dana mudharabah, antara lain:
a.
Tabungan mudharabah adalah dana mudharabah pada Bank
yang penarikannya hanya dapat dilakukan menurut syarat
tertentu yang disepakati.
b.
Deposito mudharabah adalah dana mudharabah pada Bank
yang penarikannya hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu
dengan pembagian hasil sesuai dengan nisbah yang telah
disepakati di muka antara nasabah (pemilik dana, shahibul
maal) dengan Bank yang bersangkutan.
D.
Perlakuan Akuntansi
D.1 Pengakuan dan Pengukuran
01. Dana mudharabah dari pemilik dana diakui pada saat diterima
sebesar jumlah yang diterima.
5.12
189
Lanjutan Lampiran 1
02. Bagi hasil dana mudharabah diberikan sesuai nisbah yang disepakati
pada awal akad.
03. Dana musyarakah dari nasabah (mitra pasif) diakui pada saat
diterima sebesar jumlah yang diterima.
04. Bagi hasil dana musyarakah diberikan sesuai nisbah yang disepakati
pada awal akad.
D.2 Penyajian
01. Dana mudharabah disajikan sebagai dana syirkah temporer dengan
memisahkan antara:
a.
dana mudharabah yang berasal dari Bank;
b.
dana mudharabah yang berasal dari bukan Bank.
02. Bagi hasil dana mudharabah yang sudah diperhitungkan dan telah
jatuh tempo tetapi belum diserahkan kepada nasabah disajikan
dalam pos kewajiban segera.
03. Bagi hasil dana mudharabah yang sudah diperhitungkan pada akhir
periode tetapi belum jatuh tempo disajikan dalam pos bagi hasil yang
belum dibagikan.
04. Dana musyarakah disajikan sebagai dana syirkah temporer dalam
neraca dengan memisahkan antara:
a.
dana musyarakah yang berasal dari Bank;
b.
dana musyarakah yang berasal dari bukan Bank.
05. Bagi hasil dana musyarakah yang sudah diperhitungkan dan telah
jatuh tempo tetapi belum diserahkan kepada nasabah disajikan
dalam pos kewajiban segera.
06. Bagi hasil dana musyarakah yang sudah diperhitungkan pada akhir
periode tetapi belum jatuh tempo disajikan dalam pos bagi hasil yang
belum dibagikan.
E.
Ilustrasi Jurnal
01. Pada saat penerimaan setoran:
Db. Kas/kliring
Kr. Dana syirkah temporer-tabungan/deposito mudharabah
02. Pada saat penarikan tabungan:
Db. Dana syirkah temporer-tabungan/deposito mudharabah
Kr. Kas/pemindahbukuan/kliring
03. Pada saat dilakukan perhitungan bagi hasil:
Db. Bagian pihak ketiga atas pendapatan
5.13
190
Lanjutan Lampiran 1
Kr. Bagi hasil yang belum dibagikan
04. Pada saat pembayaran bagi hasil:
Db. Bagi hasil yang belum dibagikan
Kr. Kas/rekening/kliring
05. Pada saat deposito mudharabah jatuh tempo:
Db. Dana syirkah temporer-deposito mudharabah
Kr. Kas/rekening/kliring
F.
Pengungkapan
Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain:
01. Isi kesepakatan utama akad mudharabah:
a.
porsi dana;
b.
pembagian hasil usaha.
02. Rincian dana mudharabah yang diterima berdasarkan:
a.
b.
c.
Jenis mudharabah
i.
mudharabah mutlaqah;
ii.
mudharabah muqayadah.
Pemilik dana mudharabah
i.
Bank;
ii.
bukan Bank.
Jenis mata uang dana mudharabah:
i.
Rupiah;
ii.
valuta asing.
03. Rincian dana mudharabah yang disalurkan berdasarkan:
a.
b.
c.
Sumber dana mudharabah yang berasal dari:
i.
mudharabah mutlaqah;
ii.
mudharabah muqayadah.
Penerima dana mudharabah:
i.
Bank;
ii.
bukan Bank Syariah.
Jenis mata uang yang digunakan:
i.
Rupiah;
ii.
valuta asing.
04. Penjelasan mengenai kebijakan penyaluran dana mudharabah.
05. Pihak-pihak yang berelasi, baik nasabah (pemilik dana, shahibul
maal) atau nasabah penerima penyaluran dana mudharabah.
5.14
191
Lanjutan Lampiran 1
06. Jumlah simpanan yang diblokir untuk tujuan tertentu antara lain
sebagai jaminan pembiayaan dan atau transaksi perbankan syariah
lainnya.
5.15
192
Lanjutan Lampiran 1
BAGIAN VI AKAD SEWA
VI.1 IJARAH ATAS ASET BERWUJUD
A.
Definisi
01. Ijarah adalah akad pemindahan hak guna/manfaat atas suatu aset
dalam waktu tertentu dengan pembayaran sewa (ujrah) tanpa diikuti
dengan pemindahan kepemilikan aset itu sendiri.
02. Ijarah muntahiyah bittamlik adalah Ijarah dengan wa’ad perpindahan
kepemilikan obyek Ijarah pada saat tertentu.
03. Obyek Ijarah adalah manfaat dari penggunaan aset berwujud atau
aset tidak berwujud.
04. Umur manfaat adalah suatu periode dimana aset diharapkan akan
digunakan atau jumlah produksi/unit serupa yang diharapkan akan
diperoleh dari aset.
05. Wa’ad adalah janji dari satu pihak kepada pihak lain untuk
melaksanakan suatu transaksi.
B.
Dasar Pengaturan
01. PSAK 107 tentang Akuntansi Ijarah.
02. PSAK 16 tentang Aset Tetap.
03. PSAK 48 tentang Penurunan Nilai Aset.
C.
Penjelasan
01. Ijarah merupakan akad sewa-menyewa suatu aset Ijarah tanpa
adanya perpindahan risiko dan manfaat yang signifikan terkait
kepemilikan aset tersebut, dengan atau tanpa adanya opsi untuk
memindahkan
kepemilikan
dari
pemilik
(Bank)
kepada
penyewa/nasabah pada saat tertentu.
02. Pada umumnya transaksi Ijarah muntahiyah bittamlik muncul
karena adanya kebutuhan untuk memiliki aset tertentu, dimana
pemenuhan kebutuhan atas aset tersebut dipenuhi melalui akad
Ijarah.
03. Bank
dapat
meminta
penyewa/nasabah
untuk
menyerahkan
jaminan atas Ijarah untuk menghindari risiko kerugian.
04. Jumlah, ukuran, dan jenis aset Ijarah harus jelas diketahui dan
tercantum dalam akad.
6.1
193
Lanjutan Lampiran 1
05. Biaya
perbaikan
aset
Ijarah
merupakan
tanggungan
pemilik.
Perbaikan tersebut dapat dilakukan oleh pemilik secara langsung
atau dilakukan oleh penyewa atas persetujuan pemilik.
06. Dalam
transaksi
Ijarah
muntahiyah
bittamlik,
perpindahan
kepemilikan suatu aset dari Bank kepada nasabah dapat dilakukan
jika aktivitas penyewaan telah berakhir atau diakhiri dan aset Ijarah
telah diserahkan kepada nasabah dengan membuat akad terpisah
secara:
a.
hibah;
b.
penjualan sebelum akad berakhir;
c.
penjualan pada akhir masa Ijarah;
d.
Penjualan secara bertahap apabila objeknya bisa dipindahkan
secara bertahap.
07. Dalam transaksi jual dan Ijarah-balik (sale and leaseback) harus
merupakan transaksi yang terpisah dan tidak saling bergantung
(ta’alluq) sehingga harga jual harus dilakukan pada nilai wajar.
08. Dalam transaksi Ijarah dan Ijarah-lanjut (lease and sublease),
pembayaran untuk sewa di muka merupakan aset Ijarah.
09. Biaya
perolehan
aset
Ijarah
mengacu
pada
ketentuan
biaya
perolehan aset tetap di PSAK 16 tentang Aset Tetap.
10. Metode penyusutan, umur manfaat, dan nilai residu dari aset Ijarah
mengacu pada penyusutan aset tetap yang serupa sebagaimana
diatur di PSAK 16 tentang Aset tetap. Umur manfaat aset Ijarah pada
Ijarah muntahiyah bittamlik sesuai dengan masa akad Ijarah.
11. Kebijakan
penyusutan
mencerminkan
pola
atau
konsumsi
amortisasi
yang
yang diharapkan
dipilih
dari
harus
manfaat
ekonomi di masa depan dari obyek Ijarah. Umur ekomonis dapat
berbeda dengan umur teknis. Misalnya, mobil yang dapat dipakai
selama 10 tahun diijarahkan dengan akad ijarah muntahiyah
bittamlik selama 5 tahun. Dengan demikian umur ekonomisnya
adalah 5 tahun.
12. Bank harus melakukan uji penurunan nilai atas aset Ijarah yang
dimiliki secara periodik berdasarkan nilai wajar. Dalam hal terjadi
penurunan nilai, maka Bank wajib membentuk cadangan kerugian
nilai atas aset Ijarah.
13. Apabila terdapat pemulihan nilai atas aset Ijarah yang telah
mengalami penurunan nilai, maka Bank dapat memulihkan aset
6.2
194
Lanjutan Lampiran 1
Ijarah pada nilai bukunya atau nilai yang dapat diperoleh kembali
(recoverable amount), yaitu jumlah yang dapat diperoleh dari
penjualan aset dalam transaksi antarpihak yang bebas (arm’s length
transaction), setelah dikurangi biaya yang terkait (net selling price).
14. Piutang pendapatan sewa atas porsi pokok dibentuk Cadangan
Kerugian Penurunan Nilai sesuai dengan ketentuan yang diatur
dalam PSAK yang terkait.
15. Dalam bagian ini hanya mencakup Bank sebagai pemilik obyek sewa
(lessor) dalam transaksi beli dan Ijarah, beli dan Ijarah-balik, dan
Ijarah dan Ijarah-lanjut.
D.
Perlakuan Akuntansi
D.1 Pengakuan dan Pengukuran
01. Aset Ijarah diakui pada saat diperoleh sebesar biaya perolehan.
02. Pendapatan sewa diakui selama masa akad Bank dengan nasabah.
03. Aset Ijarah disusutkan sesuai kebijakan penyusutan aktiva sejenis
sedangkan aset Ijarah dalam Ijarah muntahiyah bittamlik disusutkan
sesuai masa sewa.
04. Biaya perbaikan aset Ijarah, baik yang dilakukan oleh pemilik
maupun yang dilakukan oleh nasabah dengan persetujuan pemilik
dan biaya tersebut dibebankan kepada pemilik, diakui sebagai beban
Ijarah.
05. Biaya perbaikan aset Ijarah muntahiyah bittamlik melalui penjualan
secara bertahap sebanding dengan bagian kepemilikan masingmasing.
06. Pada saat terjadi penurunan nilai aset Ijarah, Bank mengakui
sebagai kerugian penurunan nilai aset sebesar selisih antara nilai
buku dengan nilai wajar aset Ijarah.
07. Jika berdasarkan evaluasi secara periodik diketahui bahwa jumlah
penurunan nilai berkurang, maka Bank dapat memulihkan kerugian
penurunan nilai yang telah diakui, paling tinggi sebesar Cadangan
Kerugian Penurunan Nilai yang telah dibentuk.
08. Perpindahan kepemilikan aset Ijarah dari Bank kepada nasabah,
dalam Ijarah muntahiyah bittamlik dengan cara:
a.
hibah, maka jumlah tercatat aset Ijarah yang dihibahkan diakui
sebagai beban.
6.3
195
Lanjutan Lampiran 1
b.
penjualan sebelum berakhirnya masa Ijarah, maka selisih
antara harga jual dan jumlah tercatat aset Ijarah diakui sebagai
keuntungan atau kerugian.
c.
penjualan setelah selesainya masa Ijarah, maka selisih antara
harga
jual
dan
jumlah
tercatat
Ijarah
diakui
sebagai
keuntungan atau kerugian.
d.
penjualan secara bertahap, maka:
i. selisih antara harga jual dan jumlah tercatat sebagian objek
Ijarah yang telah dijual diakui sebagai keuntungan atau
kerugian; sedangkan
ii. bagian objek Ijarah yang tidak dibeli penyewa diakui sebagai
aset tidak lancar atau aset lancar sesuai dengan tujuan
penggunaan aset tersebut.
09. Dalam hal Bank melakukan transaksi Ijarah-lanjut, maka aset Ijarah
diamortisasi selama masa Ijarah antara Bank dengan pemilik aset.
10. Bank wajib membentuk Cadangan Kerugian Penurunan Nilai untuk
piutang pendapatan sewa sebesar porsi pokok sewa yang tertunda
sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam PSAK yang terkait.
D.2 Penyajian
01. Objek sewa yang diperoleh Bank disajikan sebagai aset Ijarah.
02. Akumulasi
penyusutan/amortisasi
dan
Cadangan
Kerugian
Penurunan Nilai dari aset Ijarah disajikan sebagai pos lawan aset
Ijarah.
03. Porsi pokok atas pendapatan sewa yang belum dibayar disajikan
sebagai piutang sewa.
04. Porsi ujrah atas pendapatan sewa yang belum dibayar disajikan
sebagai pendapatan sewa yang akan diterima yang merupakan
bagian dari aset lainnya pada saat nasabah tergolong performing.
Sedangkan,
apabila
nasabah
tergolong
non-performing
maka
pendapatan sewa yang akan diterima disajikan pada rekening
administratif.
05. Cadangan Kerugian Penurunan Nilai atas piutang sewa disajikan
sebagai pos lawan (contra account) piutang Ijarah.
06. Beban
penyusutan/amortisasi
aset
Ijarah
disajikan
sebagai
pengurang pendapatan Ijarah pada laporan laba rugi.
6.4
196
Lanjutan Lampiran 1
E.
Ilustrasi Jurnal
01. Pada saat perolehan aset Ijarah
Db. Aset Ijarah
Kr. Kas/rekening
02. Pada saat pengakuan pendapatan Ijarah pada tanggal laporan
Db. Piutang sewa (porsi pokok)
Db. Piutang pendapatan sewa (porsi ujrah)
Kr. Pendapatan Ijarah
03. Pada saat pengakuan penyusutan/amortisasi pada tanggal laporan
Db. Beban penyusutan
Kr. Akumulasi penyusutan
04. Pada saat penerimaan sewa dari nasabah
Dr. Kas/rekening
Kr. Piutang sewa (porsi pokok)
Kr. Piutang pendapatan sewa (porsi ujrah)
05. Pada saat terjadi biaya perbaikan
Db. Beban perbaikan
Kr. Kas/rekening
06. Pada saat terjadi tunggakan pembayaran sewa
a.
nasabah masih tergolong performing
Db. Piutang sewa (porsi pokok)
Db. Piutang pendapatan sewa (porsi ujrah)
Kr. Pendapatan Ijarah
b.
nasabah tergolong non-performing
i.
dilakukan jurnal balik pendapatan sewa
Db. Pendapatan Ijarah
Kr. Piutang pendapatan sewa (porsi ujrah)
ii.
pengakuan atas porsi pokok sewa
Db. Piutang sewa (porsi pokok)
Kr. Pendapatan Ijarah
07. Pada saat pembentukan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai atas
piutang sewa
Db. Beban kerugian penurunan nilai aset keuangan – piutang sewa
Kr. Cadangan Kerugian Penurunan Nilai aset keuangan – piutang
sewa
6.5
197
Lanjutan Lampiran 1
08. Pada saat pemulihan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai atas
piutang sewa
Db. Cadangan Kerugian Penurunan Nilai aset keuangan – piutang
sewa
Kr. Beban kerugian penurunan nilai aset keuangan – piutang sewa
/ Keuntungan pemulihan nilai – piutang sewa
09. Pada saat terjadi penurunan nilai aset Ijarah
Db. Beban kerugian penurunan nilai aset Ijarah
Kr. Cadangan Kerugian Penurunan Nilai aset Ijarah
10. Pada saat terjadi pemulihan nilai aset Ijarah
Db. Cadangan Kerugian Penurunan Nilai aset Ijarah
Kr. Beban kerugian penurunan nilai aset Ijarah/ Keuntungan
pemulihan nilai aset Ijarah
11. Pada saat pengalihan aset Ijarah
a.
Melalui hibah
Db. Akumulasi penyusutan/amortisasi
Db. Cadangan Kerugian Penurunan Nilai aset Ijarah
Db. Beban kerugian
Kr. Aset Ijarah
b.
F.
Melalui penjualan
Db.
Kas/rekening
Db.
Akumulasi penyusutan/amortisasi
Db.
Cadangan Kerugian Penurunan Nilai aset Ijarah
Db/Kr.
Kerugian/keuntungan
Kr.
Aset Ijarah
Pengungkapan
Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain:
01. Sumber dana yang digunakan dalam pembiayaan Ijarah.
02. Jumlah piutang cicilan Ijarah yang akan jatuh tempo hingga dua
tahun terakhir.
03. Jumlah obyek sewa berdasarkan jenis transaksi (Ijarah dan Ijarah
muntahiyah bittamlik), jenis aset dan akumulasi penyusutannya
serta Cadangan Kerugian Penurunan Nilai jika ada, apabila Bank
sebagai pemilik obyek sewa.
6.6
198
Lanjutan Lampiran 1
04. Komitmen yang berhubungan dengan perjanjian Ijarah muntahiyah
bittamlik yang berlaku efektif pada periode Laporan Keuangan
berikutnya.
05. Kebijakan akuntansi yang digunakan atas transaksi Ijarah dan Ijarah
muntahiyyah bittamlik.
06. Transaksi dan saldo dengan pihak-pihak yang berelasi.
6.7
199
Lanjutan Lampiran 1
VI.2 IJARAH ATAS JASA
A.
Definisi
Ijarah atas jasa adalah Ijarah dimana obyek Ijarah adalah manfaat yang
bukan berasal dari aset berwujud.
B.
Dasar Pengaturan
01. PSAK 107 tentang Akuntansi Ijarah.
C.
Penjelasan
01. Transaksi Ijarah atas jasa dikenal dengan istilah pembiayaan
multijasa.
02. Manfaat (jasa) yang bisa di-Ijarah-kan, antara lain, jasa pendidikan,
jasa kesehatan, dan jasa pariwisata rohani.
03. Dalam melakukan transaksi multijasa, Bank melakukan akad Ijarah
dengan pihak pemasok dan kemudian melakukan akad Ijarah lebih
lanjut dengan nasabah.
04. Perolehan aset Ijarah atas jasa diamortisasi sesuai dengan jangka
waktu akad Ijarah Bank dengan pemasok.
05. Perlakuan akuntansi transaksi multijasa mengikuti akuntansi untuk
Ijarah dengan skema sewa dan sewa-lanjut.
D.
Perlakuan Akuntansi
D.1 Pengakuan dan Pengukuran
01. Perolehan aset Ijarah atas jasa diakui sebagai aset Ijarah pada saat
perolehan hak atas jasa sebesar biaya yang terjadi.
02. Pendapatan Ijarah diakui selama masa akad Bank dengan nasabah.
03. Amortisasi atas perolehan aset Ijarah diakui sebagai beban Ijarah.
04. Bank wajib membentuk Cadangan Kerugian Penurunan Nilai untuk
piutang pendapatan multijasa sebesar porsi pokok sewa yang
tertunda sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam PSAK yang
terkait.
D.2 Penyajian
01. Perolehan atas jasa disajikan sebagai bagian aset Ijarah dan
disajikan terpisah dari aset Ijarah lain.
02. Amortisasi atas perolehan aset Ijarah disajikan sebagai pos lawan
dari aset Ijarah.
6.8
200
Lanjutan Lampiran 1
03. Porsi pokok atas pendapatan sewa multijasa yang belum dibayar
disajikan sebagai piutang sewa.
04. Porsi ujrah atas pendapatan sewa multijasa yang belum dibayar
disajikan sebagai pendapatan sewa multijasa yang akan diterima
yang merupakan bagian dari aset lainnya pada saat nasabah
tergolong performing. Sedangkan, apabila nasabah tergolong nonperforming maka pendapatan sewa multijasa yang akan diterima
disajikan pada rekening administratif.
05. Cadangan Kerugian Penurunan Nilai atas piutang sewa disajikan
sebagai pos lawan (contra account) piutang sewa.
06. Beban
amortisasi
aset
Ijarah
disajikan
sebagai
pengurang
pendapatan Ijarah pada laporan laba rugi.
E.
Ilustrasi Jurnal
01. Pada saat perolehan jasa
Db. Aset Ijarah
Kr. Kas/rekening
02. Pada saat pengakuan pendapatan Ijarah pada tanggal laporan
Db. Piutang sewa (porsi pokok)
Db. Piutang pendapatan sewa multijasa (porsi ujrah)
Kr. Pendapatan Ijarah
03. Pada saat pengakuan amortisasi pada tanggal laporan
Db. Beban amortisasi
Kr. Akumulasi amortisasi
04. Pada saat penerimaan sewa dari nasabah
Dr. Kas/rekening
Kr. Piutang sewa (porsi pokok)
Kr. Piutang pendapatan sewa multijasa (porsi ujrah)
05. Pada saat penerimaan sewa dari nasabah
Dr. Kas/rekening
Kr. Piutang sewa (porsi pokok)
Kr. Piutang pendapatan sewa multijasa (porsi ujrah)
06. Pada saat terjadi tunggakan pembayaran sewa
a.
nasabah masih tergolong performing
Db. Piutang sewa (porsi pokok)
Db. Piutang pendapatan sewa multijasa (porsi ujrah)
Kr. Pendapatan Ijarah
6.9
201
Lanjutan Lampiran 1
b.
nasabah tergolong non-performing
i.
dilakukan jurnal balik pendapatan sewa
Db. Pendapatan Ijarah
Kr. Piutang pendapatan sewa multijasa (porsi ujrah)
ii.
pengakuan atas porsi pokok sewa
Db.
Piutang sewa (porsi pokok)
Kr. Pendapatan Ijarah
07. Pada saat pembentukan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai atas
piutang sewa
Db. Beban kerugian penurunan nilai aset keuangan – piutang sewa
Kr. Cadangan Kerugian Penurunan Nilai aset keuangan – piutang
sewa
08. Pada saat pemulihan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai atas
piutang sewa
Db. Cadangan Kerugian Penurunan Nilai aset keuangan – piutang
sewa
Kr. Beban kerugian penurunan nilai aset keuangan – piutang sewa
/ Keuntungan pemulihan nilai – piutang sewa
F.
Pengungkapan
Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain:
01. Sumber dana yang digunakan dalam pembiayaan Ijarah.
02. Rincian perolehan atas jasa berdasarkan jenis.
03. Jumlah piutang cicilan Ijarah yang akan jatuh tempo hingga dua
tahun terakhir.
04. Transaksi dan saldo dengan pihak-pihak yang berelasi.
6.10
202
Lanjutan Lampiran 1
BAGIAN VII AKAD PINJAMAN QARDH
VII.1
A.
PINJAMAN QARDH YANG DIBERIKAN
Definisi
Pinjaman Qardh yang diberikan adalah penyediaan dana atau tagihan
yang dapat dipersamakan dengan itu berdasarkan persetujuan atau
kesepakatan antara peminjam dan pihak yang meminjamkan yang
mewajibkan
peminjam
melunasi
hutangnya
setelah
jangka
waktu
tertentu.
B.
Dasar Pengaturan
01. Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan
Syariah.
C.
Penjelasan
01. Pinjaman Qardh yang diberikan merupakan pinjaman yang tidak
mempersyaratkan adanya imbalan.
02. Akad Qardh dalam Lembaga Keuangan Syariah terdiri dari dua
macam:
a. Akad Qardh yang berdiri sendiri untuk tujuan sosial semata
sebagaimana dimaksud dalam Fatwa DSN-MUI Nomor: 19/DSNMUI/IV/2001 tentang al-Qardh, bukan sebagai sarana atau
kelengkapan bagi transaksi lain dalam produk yang bertujuan
untuk mendapatkan keuntungan;
b. Akad Qardh yang dilakukan sebagai sarana atau kelengkapan
bagi transaksi lain yang menggunakan akad-akad mu’awadhah
(pertukaran dan dapat bersifat komersial) dalam produk yang
bertujuan untuk mendapatkan keuntungan. Penggunaan dana
dari pihak ketiga hanya diperbolehkan untuk tujuan komersial
antara lain seperti produk Rahn Emas, Pembiayaan Pengurusan
Haji Lembaga Keuangan Syariah, Pengalihan Utang, Syariah
Charge Card, Syariah Card, dan Anjak Piutang.
03. Bank dapat meminta jaminan atas pemberian Qardh.
04. Bank hanya boleh mengenakan biaya administrasi atas pinjaman
Qardh.
7.1
203
Lanjutan Lampiran 1
05. Pendapatan yang berasal dari biaya administrasi dalam pinjaman
Qardh yang dananya berasal dari dana pihak ketiga akan dibagihasilkan, sedangkan untuk pinjaman Qardh yang dananya berasal
dari modal Bank tidak dibagi-hasilkan.
06. Ujrah dari akad ijarah atau akad lain yang dilakukan bersamaan
dengan pemberian pinjaman Qardh (untuk rahn, talangan haji, dan
pengalihan utang) yang dananya berasal dari dana pihak ketiga
maka pendapatan yang diperoleh akan dibagi-hasilkan, sedangkan
apabila dananya berasal selain dari dana pihak ketiga pendapatan
yang diperoleh tidak dibagi-hasilkan.
07. Dalam hal nasabah mengalami tunggakan pembayaran angsuran,
Bank membentuk Cadangan Kerugian Penurunan Nilai untuk
pinjaman Qardh sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam PSAK
yang terkait.
D.
Perlakuan Akuntansi
D.1 Pengakuan dan Pengukuran
01. Pinjaman Qardh diakui sebesar jumlah yang dipinjamkan pada saat
terjadinya.
02. Biaya administrasi, bonus, ujrah yang dananya bersumber dari dana
intern diakui sebagai pendapatan operasi lain sebesar jumlah yang
diterima.
03. Biaya administrasi, bonus, ujrah yang dananya bersumber dari dana
pihak ketiga diakui sebagai pendapatan utama lain dan dibagihasilkan sebesar jumlah yang diterima.
D.2 Penyajian
01. Pinjaman Qardh yang bersumber dari intern Bank dan dana pihak
ketiga disajikan pada pos pinjaman Qardh.
02. Cadangan Kerugian Penurunan Nilai pinjaman Qardh disajikan
sebagai pos lawan (contra account) pinjaman Qardh.
E.
Ilustrasi Jurnal
01. Pada saat pinjaman Qardh diberikan
Db. Pinjaman Qardh
Kr. Kas/rekening/kliring
02. Pada saat penerimaan biaya administrasi/bonus/imbalan
Db. Kas
7.2
204
Lanjutan Lampiran 1
Kr. Pendapatan utama lain/pendapatan operasional lain
03. Pada saat pelunasan/cicilan
Db. Kas/rekening/kliring
Kr. Pinjaman Qardh
04. Pada saat pembentukan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai atas
pinjaman Qardh
Db. Beban kerugian penurunan nilai aset keuangan – pinjaman
Qardh
Kr. Cadangan Kerugian Penurunan Nilai aset keuangan – pinjaman
Qardh
05. Pada saat pemulihan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai atas
pinjaman Qardh
Db. Cadangan Kerugian Penurunan Nilai aset keuangan – pinjaman
Qardh
Kr. Beban kerugian penurunan nilai aset keuangan – pinjaman
Qardh/ Keuntungan pemulihan nilai – pinjaman Qardh
F.
Pengungkapan
Hal-hal yang harus diungkapkan, antara lain:
01. Rincian jumlah pinjaman Qardh berdasarkan sumber dana, jenis
penggunaan dan sektor ekonomi.
02. Jumlah pinjaman Qardh yang diberikan kepada pihak yang berelasi.
03. Kebijakan
manajemen
dalam
pelaksanaan
pengendalian
risiko
pinjaman Qardh.
04. Ikhtisar pinjaman Qardh yang dihapus buku yang menunjukkan
saldo awal, penghapusan selama tahun berjalan, penerimaan atas
pinjaman Qardh yang telah dihapusbukukan dan pinjaman Qardh
yang telah dihapus tagih dan saldo akhir pinjaman Qardh yang
dihapus buku.
7.3
205
Lanjutan Lampiran 1
VII.2
A.
PINJAMAN QARDH YANG DITERIMA
Definisi
Pinjaman Qardh yang diterima adalah penerimaan dana berdasarkan
persetujuan
atau
kesepakatan
antara
peminjam
dan
pihak
yang
meminjamkan yang mewajibkan peminjam melunasi hutangnya setelah
jangka waktu tertentu.
B.
Dasar Pengaturan
01.
Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan
Syariah.
C.
Penjelasan
01.
Pinjaman Qardh yang diterima merupakan pinjaman yang tidak
mempersyaratkan
adanya
imbalan.
Namun
demikian,
Bank
diperkenankan untuk memberikan imbalan (bonus).
02.
D.
Bank dapat memberikan jaminan atas penerimaan Qardh.
Perlakuan Akuntansi
D.1 Pengakuan dan Pengukuran
01.
Pinjaman Qardh yang diterima diakui sebesar jumlah dana yang
diterima pada saat terjadinya.
02.
Imbalan yang diberikan kepada pemberi pinjaman Qardh diakui
sebagai beban operasional.
D.2 Penyajian
Pinjaman yang diterima disajikan sebesar jumlah nominal yang harus
diselesaikan.
E.
Ilustrasi Jurnal
01. Pada saat pinjaman Qardh diterima
Db. Kas/rekening/kliring
Kr. Pinjaman yang diterima
02. Pada saat pembayaran imbalan
Db. Imbalan Qardh (beban operasional)
Kr. Kas/rekening/kliring
7.4
206
Lanjutan Lampiran 1
03. Pada saat pelunasan/cicilan
Db. Pinjaman yang diterima
Kr. Kas/rekening/kliring
F.
Pengungkapan
Hal-hal yang harus diungkapkan, antara lain:
01.
Rincian pinjaman yang diterima dari pihak berelasi dan pihak tidak
berelasi.
02.
Uraian mengenai isi ketentuan penting dalam akad pinjaman yang
diterima.
03.
Pengungkapan lain.
7.5
207
Lanjutan Lampiran 1
BAGIAN VIII
VIII.1
A.
SURAT BERHARGA
INVESTASI PADA SURAT BERHARGA
Definisi
Investasi pada surat berharga adalah investasi yang ditanamkan pada
surat berharga Syariah komersial, seperti sukuk dan surat berharga
lainnya, antara lain: Sertifikat Investasi Mudharabah Antar Bank (SIMA),
Surat Investasi Komoditas Antar Bank (SIKA), unit penyertaan Syariah
atau kontrak investasi kolektif (reksadana), reverse repo sepanjang tidak
bertentangan dengan prinsip Syariah.
B.
Dasar Pengaturan
01. PSAK 110 tentang Akuntansi Sukuk.
02. PSAK 50 tentang Instrumen Keuangan: Penyajian.
03. PSAK 55 tentang Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran.
04. PSAK 60 tentang Instrumen Keuangan: Pengungkapan.
C.
Penjelasan
01. Investasi
pada
diperbolehkan
surat
berharga
sepanjang
terdapat
yang
fatwa
dilakukan
dari
oleh
Dewan
Bank
Syariah
Nasional – Majelis Ulama Indonesia dan diperkenankan sesuai
dengan ketentuan yang berlaku.
02. Investasi pada surat berharga hanya dapat dilakukan pada surat
berharga yang diterbitkan oleh emiten yang jenis kegiatan usahanya
tidak bertentangan dengan prinsip Syariah.
03. Pada bagian surat berharga ini transaksi investasi
yang dibahas
meliputi, investasi pada sukuk dan surat berharga lain yang sejenis,
investasi reksadana Syariah, dan reverse repo Syariah.
C.1 Investasi pada Sukuk dan Surat Berharga Lain yang Sejenis
01. Investasi
pada
sukuk
dan
surat
berharga
lain
yang
sejenis
diklasifikasikan menjadi:
a.
Diukur pada nilai wajar; dan
b.
Diukur pada biaya perolehan.
02. Basis pengklasifikasian tersebut ditentukan oleh model usaha yang
digunakan Bank.
8.1
208
Lanjutan Lampiran 1
a.
Jika model usahanya bertujuan tidak untuk memperoleh arus
kas
kontraktual
atau
persyaratan
kontraktual
tidak
menentukan tanggal tertentu dan/atau bagi hasil (mudharabah)
atau imbalan (ijarah), maka investasi tersebut diukur pada nilai
wajar.
b.
Jika model usahanya bertujuan untuk memperoleh arus kas
kontraktual dan persyaratan kontraktual menentukan tanggal
tertentu dan/atau bagi hasil (mudharabah) atau imbalan
(ijarah), maka investasi tersebut diukur pada biaya perolehan.
Model usaha dimaksud harus ditetapkan oleh Manajemen Bank dan
tidak diterapkan pada setiap surat berharga secara individual, tetapi
pada level portofolio.
03. Model
usaha
yang
bertujuan
untuk
memperoleh
arus
kas
kontraktual tidak mengharuskan Bank untuk memiliki sukuk hingga
jatuh tempo. Penjualan sukuk sebelum jatuh tempo dapat dilakukan
jika:
a.
Sukuk tidak lagi sesuai dengan kebijakan investasi Bank,
misalnya penurunan peringkat sukuk di bawah peringkat yang
menjadi kebijakan Bank;
b.
Bank membutuhkan dana modal (capital expenditure).
Akan tetapi, jika penjualan sukuk yang melebihi jumlah penjualan
yang tidak sering (infrequent), maka
Bank
harus melakukan
penilaian apakah dan bagaimana penjualan tersebut konsisten
dengan tujuan untuk memperoleh arus kas kontraktual.
04. Jika Bank mengelola kinerja portofolio sukuk dengan tujuan
merealisasikan arus kas melalui penjualan, maka sukuk harus
diklasifikasikan untuk diukur pada nilai wajar.
05. Jika Bank mengelola dan menilai kinerja portofolio sukuk dengan
basis nilai wajar, maka harus diklasifikasikan untuk diukur pada
nilai wajar.
06. Jika Bank memiliki portofolio sukuk untuk tujuan diperdagangkan
(trading), maka harus diklasifikasikan untuk diukur pada nilai wajar.
07. Sukuk dalam kelompok diukur pada nilai wajar tidak dapat
direklasifikasikan ke kelompok diukur pada biaya perolehan, kecuali
terjadi perubahan model usaha sebagaimana dijelaskan di atas.
8.2
209
Lanjutan Lampiran 1
08. Sukuk dapat direklasifikasi dari diukur pada nilai wajar ke diukur
pada biaya perolehan atau sebaliknya jika terdapat perubahan model
usaha.
09. Nilai wajar yang digunakan mengacu pada urutan sebagai berikut:
a.
Kuotasi harga di pasar aktif;
b.
Harga dari transaksi terkini;
c.
Nilai wajar dari instrumen sejenis.
10. Sukuk yang dikelompokkan dalam diukur pada biaya perolehan, jika
terdapat indikasi penurunan nilai, dihitung jumlah terpulihkannya
yaitu jumlah yang akan diperoleh dari pengembalian pokok tanpa
memperhitungkan nilai kininya.
C.2 Investasi pada Reksadana Syariah
01. Investasi pada Reksadana Syariah diklasifikasikan menjadi:
a.
Diukur pada nilai wajar melalui laba rugi (fair value through
profit or loss/FVTPL).
b.
Tersedia untuk dijual (available for sale/AFS).
02. Nilai wajar reksa dana ditentukan berdasarkan nilai aset bersih
(NAB).
03. Reksadana yang dikelompokkan dalam klasifikasi tersedia untuk
dijual, jika terdapat indikasi penurunan nilai maka Bank mengakui
kerugian penurunan nilai. Selanjutnya apabila terdapat pemulihan
nilai maka jumlah terpulihkannya yaitu jumlah yang akan diperoleh
dari pengembalian pokok tanpa memperhitungkan nilai kininya.
C.3 Tagihan Reverse Repo Syariah
01. Transaksi reverse repo SBSN adalah transaksi pembelian SBSN oleh
Bank dari Bank Indonesia, dengan janji penjualan kembali oleh Bank
sesuai dengan harga dan jangka waktu yang disepakati.
02. Transaksi reverse repo SBSN merupakan transaksi yang dilakukan
oleh Bank Indonesia dalam rangka pengurangan likuiditas Bank
atau kontraksi moneter.
03. Transaksi reverse repo SBSN dilakukan dengan menggunakan akad
al bai’ (jual beli) yang disertai dengan al wa’ad (janji) oleh Bank
kepada Bank Indonesia, dalam dokumen terpisah, untuk menjual
kembali SBSN dalam jangka waktu dan harga tertentu yang
disepakati.
04. Jangka waktu transaksi reverse repo SBSN paling singkat satu hari
dan paling lama dua belas bulan yang dinyatakan dalam hari yang
8.3
210
Lanjutan Lampiran 1
dihitung sejak satu hari setelah tanggal setelmen sampai dengan
tanggal jatuh waktu.
05. Harga SBSN ditetapkan dan diumumkan oleh Bank Indonesia di BISSSS dan/atau sarana lainnya dengan mempertimbangkan antara
lain harga pasar masing-masing jenis dan seri SBSN.
06. SBSN yang dapat di-reverse repo-kan terdiri dari SBSN jangka
panjang dan SBSN jangka pendek.
D.
Perlakuan Akuntansi
D.1 Pengakuan dan Pengukuran
01. Sukuk dan Surat Berharga Lain yang Sejenis
a.
Kategori ‘diukur pada nilai wajar’
i.
Pada pengakuan awal, sukuk diukur pada biaya perolehan
yaitu nilai wajarnya sedangkan untuk biaya transaksi
diakui secara terpisah sebagai biaya investasi.
ii.
Setelah pengakuan awal, sukuk diukur pada nilai wajar
dan perubahan nilai wajar diakui dalam laba rugi.
b.
Kategori ‘diukur pada biaya perolehan’
i.
Pada pengakuan awal, sukuk diukur pada biaya perolehan
yaitu nilai wajar ditambah biaya transaksi.
ii.
Setelah pengakuan awal, selisih antara biaya perolehan
dan nilai nominal diamortisasi secara garis lurus selama
jangka waktu sukuk.
iii.
Kerugian penurunan nilai diakui dalam laba rugi tahun
berjalan.
02. Reksadana Syariah
a.
Kategori ‘diukur pada nilai wajar melalui laba rugi’
i.
Pada pengakuan awal, reksadana Syariah diukur pada
biaya perolehan yaitu nilai wajarnya.
ii.
Setelah pengakuan awal, reksadana Syariah diukur pada
nilai wajar dan perubahan nilai wajar diakui dalam laba
rugi.
b.
Kategori ‘tersedia untuk dijual’
i.
Pada pengakuan awal, reksadana Syariah diukur pada
biaya perolehan yaitu nilai wajar ditambah biaya transaksi.
8.4
211
Lanjutan Lampiran 1
ii.
Setelah pengakuan awal, reksadana Syariah diukur pada
nilai dan perubahan nilai wajar diakui dalam penghasilan
komprehensif lain.
iii.
Kerugian penurunan nilai diakui dalam laba rugi tahun
berjalan
03. Tagihan reverse repo Syariah
a.
Pada saat pengakuan awal, tagihan reverse repo Syariah diukur
sebesar jumlah yang dibayarkan.
b.
Setelah pengakuan awal, selisih antara jumlah yang dibayarkan
dan nilai jatuh tempo diamortisasi secara garis lurus sampai
dengan jatuh tempo dan diakui sebagai pendapatan.
D.2 Penyajian
01. Sukuk dalam kategori ‘diukur pada nilai wajar’ disajikan sebesar nilai
wajar, dengan selisih nilai wajar disajikan dalam laba rugi.
02. Sukuk dalam kategori ‘diukur biaya perolehan’ disajikan sebesar
biaya perolehan setelah amortisasi.
03. Reksadana Syariah dalam kategori ‘diukur pada nilai wajar melalui
laba rugi’ disajikan sebesar nilai wajar, dengan selisih nilai wajar
disajikan dalam laba rugi.
04. Reksadana Syariah dalam kategori ‘tersedia untuk dijual’ disajikan
sebesar nilai wajar, dengan selisih nilai wajar disajikan dalam
penghasilan komprehensif lain.
05. Tagihan reverse repo Syariah disajikan sebesar biaya perolehan yang
diamortisasi.
06. Kerugian penurunan nilai disajikan sebagai pos lawan dari investasi
pada surat berharga.
E.
Ilustrasi Jurnal
E.1 Sukuk dalam kategori ‘diukur pada nilai wajar’
01. Pada saat pengakuan awal
Db. Investasi pada surat berharga
Db. Beban investasi
Kr. Kliring
02. Pada akhir periode pelaporan
a. Pengakuan bagi hasil/imbalan
Db. Piutang bagi hasil/imbalan
Kr. Pendapatan investasi
8.5
212
Lanjutan Lampiran 1
b. Jika nilai wajar lebih besar dari nilai tercatat
Db. Investasi pada surat berharga
Kr. Penyesuaian nilai wajar
c. Jika nilai wajar lebih kecil dari nilai tercatat
Db. Penyesuaian nilai wajar
Kr. Investasi pada surat berharga
03. Pada saat penjualan
Db.
Kliring
Db/Kr. Kerugian/keuntungan
Kr.
Investasi pada surat berharga
E.2 Sukuk dalam kategori ‘biaya perolehan’
01. Pada saat pengakuan awal
a.
Untuk transaksi premium
Db. Investasi pada surat berharga – nominal
Db. Investasi pada surat berharga – premium dan biaya
transaksi
Kr. Kliring
b.
Untuk transaksi diskonto
Db. Investasi pada surat berharga – nominal
Kr. Investasi pada surat berharga – diskonto
Kr. Kliring
02. Pada akhir periode pelaporan
a.
Pengakuan bagi hasil/imbalan
Db. Piutang bagi hasil/imbalan
Kr. Pendapatan investasi
b.
Amortisasi premium
Db. Piutang bagi hasil/imbalan
Kr. Investasi pada surat berharga – premium dan biaya
transaksi
Kr. Pendapatan investasi
c.
Amortisasi diskonto
Db. Piutang bagi hasil/imbalan
Db. Investasi pada surat berharga – diskonto
Kr. Pendapatan investasi
03. Pada saat terjadi penurunan nilai
Db. Kerugian penurunan nilai
8.6
213
Lanjutan Lampiran 1
Kr. Cadangan Kerugian Penurunan Nilai
04. Pada saat terjadi pemulihan penurunan nilai
Db. Cadangan Kerugian Penurunan Nilai
Kr. Kerugian penurunan nilai
05. Pada saat jatuh tempo
Db. Kliring
Kr. Investasi pada surat berharga – nominal
E.3 Reksadana Syariah dalam kategori ‘diukur pada nilai wajar melalui
laba rugi’
01. Pada saat pengakuan awal
Db. Investasi pada surat berharga
Db. Beban investasi
Kr. Kliring
02. Pada akhir periode pelaporan
a. Jika nilai wajar lebih besar dari nilai tercatat
Db. Investasi pada surat berharga
Kr. Keuntungan
b. Jika nilai wajar lebih kecil dari nilai tercatat
Db. Kerugian
Kr. Investasi pada surat berharga
03. Pada saat penjualan
Db.
Kliring
Db/Kr. Kerugian/keuntungan
Kr.
Investasi pada surat berharga
E.4 Reksadana Syariah dalam kategori ‘tersedia untuk dijual’
01. Pada saat pengakuan awal
Db. Investasi pada surat berharga
Kr. Kliring
02. Pada akhir periode pelaporan
a. Jika nilai wajar lebih besar dari nilai tercatat
Db. Investasi pada surat berharga
Kr. Penghasilan komprehensif lain
b. Jika nilai wajar lebih kecil dari nilai tercatat
Db. Penghasilan komprehensif lain
Kr. Investasi pada surat berharga
8.7
214
Lanjutan Lampiran 1
03. Pada saat penjualan
Db.
Kliring
Db/Kr.
Penghasilan komprehensif lain
Db/Kr.
Kerugian/keuntungan
Kr.
Investasi pada surat berharga
E.5 Tagihan Reverse Repo Syariah
01. Pada awal transaksi tagihan Reverse Repo Syariah
Db. Tagihan Reverse Repo Syariah
Kr. Tagihan Reverse Repo Syariah – diskonto
Kr. Giro BI
02. Pada saat amortisasi diskonto
Db. Tagihan Reverse Repo Syariah – diskonto
Kr. Pendapatan tagihan Reverse Repo Syariah
03. Pada saat jatuh tempo
Db. Giro BI
Kr. Tagihan Reverse Repo Syariah
F.
Pengungkapan
Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain:
01. Sukuk dan Surat Berharga Lain yang Sejenis
a.
Klasifikasi berdasarkan jumlah;
b.
Tujuan model usaha yang digunakan;
c.
Jumlah yang direklasifikasi, jika ada, dan penyebabnya; dan
d.
Nilai wajar untuk investasi yang diukur pada biaya perolehan.
02. Reksadana Syariah
a.
Ikhtisar kebijakan akuntansi yang penting
b.
Kategorisasi dan jumlah tercatat surat berharga, yaitu ‘diukur
pada nilai wajar melalui laba rugi’ dan ‘tersedia untuk dijual’.
c.
Perubahan nilai wajar yang ‘diukur pada nilai wajar melalui laba
rugi’.
d.
Informasi yang memungkinkan pengguna Laporan Keuangan
mengevaluasi jenis dan besarnya resiko yang timbul dari
aktivitas surat berharga sebagaimana pada huruf e sampai f di
bawah.
e.
Tujuan, kebijakan, dan proses pengelolaan risiko dan metode
pengukuran risiko surat berharga dan perubahan dari periode
sebelumnya (jika ada).
8.8
215
Lanjutan Lampiran 1
f.
Analisis terhadap surat berharga berdasarkan kategori surat
berharga yang memiliki karakteristik ekonomi yang sama.
Analisis tersebut mencakup:
i.
Jumlah
yang
mencerminkan
eksposur
risiko
surat
berharga pada tanggal laporan tanpa memperhitungkan
agunan atau bentuk mitigasi risiko lainnya;
ii.
Jenis dan jumlah agunan serta bentuk mitigasi risiko
lainnya atas eksposur surat berharga sebagaimana pada
butir i diatas.
g.
Jumlah surat berharga yang diterbitkan oleh pihak yang
berelasi.
03. Tagihan reverse repo Syariah
a.
Jangka waktu atau jatuh tempo tagihan reverse repo Syariah.
b.
Tingkat potongan atau diskonto.
8.9
216
Lanjutan Lampiran 1
VIII.2
A.
PENYERTAAN
Definisi
01. Penyertaan adalah penanaman dana Bank dalam bentuk saham baik
dalam Rupiah maupun valuta asing pada bank atau perusahaan
lembaga keuangan bukan bank untuk tujuan investasi jangka
panjang dan tidak untuk diperjualbelikan. Termasuk dalam cakupan
penyertaan adalah penyertaan modal sementara.
02. Penyertaan Modal Sementara adalah penyertaan oleh Bank dalam
perusahaan
debitur
untuk
mengatasi
kegagalan
pembiayaan
sebagaimana yang dimaksud dalam ketentuan Bank Indonesia yang
berlaku.
03. Entitas asosiasi adalah suatu entitas, termasuk entitas nonkorporasi
seperti persekutuan, dimana Bank mempunyai pengaruh signifikan
dan bukan merupakan entitas anak ataupun bagian partisipasi
dalam ventura bersama.
04. Pengendalian bersama entitas adalah suatu entitas dimana Bank
memiliki pengendalian bersama dengan venturer lain atas entitas
tersebut.
B.
Dasar Pengaturan
01. PSAK 12 tentang Bagian Partisipasi dalam Ventura Bersama.
02. PSAK 15 tentang Investasi pada Entitas Asosiasi.
C.
Penjelasan
01. Pengaruh Signifikan
a.
Bank dianggap mempunyai pengaruh signifikan jika mempunyai
secara langsung maupun tidak langsung (melalui entitas anak)
20%-50% hak suara investee, kecuali dapat dibuktikan dengan
jelas bahwa Bank tidak mempunyai pengaruh signifikan.
b.
Bank dianggap tidak mempunyai pengaruh signifikan jika Bank
mempunyai secara langsung maupun tidak langsung (melalui
entitas anak) kurang dari 20% hak suara investee, kecuali dapat
dibuktikan dengan jelas bahwa Bank mempunyai pengaruh
signifikan.
c.
Bukti adanya pengaruh signifikan:
8.10
217
Lanjutan Lampiran 1
i.
Keterwakilan dalam Dewan Direksi dan Dewan Komisaris
atau organ setara di investee.
ii.
Partisipasi dalam proses pembuatan kebijakan, termasuk
partisipasi dalam pengambilan keputusan tentang dividen
atau distribusi lain.
d.
iii.
Adanya transaksi material antara Bank dengan investee.
iv.
Pertukaran personel manajerial.
v.
Penyediaan informasi teknis pokok.
Dalam menilai keberadaan pengaruh signifikan, hak suara
potensial
yang
dimiliki
Bank
dan
investor
lain
harus
dipertimbangkan.
02. Pengendalian Bersama
Pengendalian
Bersama harus didukung oleh suatu perjanjian
kontraktual.
03. Pengendalian
a.
Pengendalian
dianggap
ada
ketika
Bank
memiliki
secara
langsung atau tidak langsung melalui entitas anak lebih dari
setengah
kekuasaan
suara
suatu
entitas,
kecuali
dalam
keadaan yang jarang dapat ditunjukkan secara jelas bahwa
kepemilikan tersebut tidak diikuti dengan pengendalian.
b.
Pengendalian juga ada ketika Bank memiliki setengah atau
kurang kekuasaan suara suatu entitas jika terdapat:
i.
kekuasaan yang melebihi setengah hak suara sesuai
perjanjian dengan investor lain;
ii.
kekuasaan untuk mengatur kebijakan keuangan dan
operasional entitas berdasarkan anggaran dasar atau
perjanjian;
iii.
kekuasaan untuk menunjuk atau mengganti sebagian
besar Dewan Direksi dan Dewan Komisaris atau organ
pengatur setara dan mengendalikan entitas melalui Dewan
atau organ tersebut; atau
iv.
kekuasaan untuk memberikan suara mayoritas pada rapat
Dewan Direksi dan Dewan Komisaris atau organ pengatur
setara dan mengendalikan entitas melalui Dewan Direksi
dan Dewan Komisaris atau organ tersebut.
04. Penyertaan diperlakukan sebagai:
8.11
218
Lanjutan Lampiran 1
a.
Investasi
pada
aset
keuangan
jika
Bank
tidak
memiliki
pengaruh signifikan, pengendalian bersama, atau pengendalian
atas investee. Ketentuan akuntansi untuk investasi pada
instrumen keuangan mengacu ke investasi pada reksadana.
b.
Investasi pada entitas asosiasi jika Bank memiliki pengaruh
signifikan. Investasi pada entitas asosiasi dicatat dengan
menggunakan metode ekuitas.
c.
Investasi
pada
ventura
bersama,
jika
Bank
memiliki
pengendalian bersama. Investasi pada ventura bersama dicatat
dengan menggunakan metode ekuitas.
d.
Investasi pada entitas anak jika Bank memiliki pengendalian.
Entitas anak harus dikonsolidasi.
05. Dalam bagian ini hanya dijelaskan mengenai pencatatan dengan
menggunakan metode ekuitas.
D.
Perlakuan Akuntansi
D.1 Pengakuan dan pengukuran
01. Penyertaan pada awalnya diakui sebesar biaya perolehan.
02. Laba rugi investee diakui sebesar bagian investor atas laba atau rugi
tersebut
sebagai
pendapatan/beban
dan
penambah/pengurang
jumlah tercatat penyertaan.
03. Penghasilan komprehensif lain investee diakui sebesar bagian
investor
atas
penghasilan
komprehensif
lain
tersebut
sebagai
penghasilan komprehensif lain dan penambah/pengurang jumlah
tercatat penyertaan.
04. Dividen tunai diakui sebagai pengurang jumlah tercatat penyertaan.
05. Akumulasi kerugian yang diakui tidak boleh mengakibatkan nilai
investasi menjadi negatif.
D.2 Penyajian
Penyertaan disajikan sebesar jumlah tercatat.
E.
Ilustrasi Jurnal
01. Pada saat penyertaan
Db. Penyertaan
Kr. Rekening
02. Pada saat pengakuan bagian laba
Db. Penyertaan
8.12
219
Lanjutan Lampiran 1
Kr. Bagian laba
03. Pada saat pengakuan bagian rugi
Db. Bagian rugi
Kr. Penyertaan
04. Pada saat pengakuan dividen
Db. Rekening/piutang dividen
Kr. Penyertaan
05. Pada saat pelepasan
Db.
Rekening
Db/Kr. Penghasilan komprehensif lain
Db/Kr. Kerugian/keuntungan
Kr.
F.
Penyertaan
Pengungkapan
01. Investasi pada entitas asosiasi
Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain:
a.
Nilai wajar investasi pada entitas asosiasi yang tersedia kuotasi
harga yang dipublikasikan.
b.
Ringkasan informasi keuangan entitas asosiasi.
c.
Alasan mengapa mempunyai pengaruh signifikan, namun Bank
memiliki kurang dari 20% hak investee.
d.
Alasan mengapa tidak mempunyai pengaruh signifikan, namun
Bank memiliki lebih dari 20% hak investee.
e.
Sifat dan tingkatan pembatasan signifikan atas kemampuan
entitas asosiasi mentransfer dana kepada Bank dalam bentuk
dividen tunai.
f.
Bagian rugi entitas asosiasi yang tidak diakui apabila kerugian
telah melewati nilai investasi.
02. Investasi pada ventura bersama
Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain:
a.
Jumlah liabilitas kontijensi (jika ada) yang ditanggung venturer
sendiri dan para venturer, bagian liabilitas kontijensi ventura
bersama, dan liabilitas kontijensi atas venturer lain.
b.
Komitmen modal venturer sendiri dan para venturer, dan bagian
komitmen modal ventura bersama.
8.13
220
Lanjutan Lampiran 1
c.
Daftar dan penjelasan bagian partisipasi dalam ventura bersama
yang signifikan dan bagian partisipasi kepemilikan dalam
pengendalian bersama entitas.
d.
Jumlah agregat aset, liabilitas, penghasilan dan beban yang
terkait dengan partisipasinya dalam ventura bersama.
8.14
221
Lanjutan Lampiran 1
VIII.3
A.
SURAT BERHARGA YANG DITERBITKAN
Definisi
Surat berharga yang diterbitkan adalah surat berharga Syariah yang
diterbitkan oleh Bank seperti sukuk, sertifikat investasi komoditas antar
bank (SIKA), dan surat berharga lain.
B.
Dasar Pengaturan
01. PSAK 110 tentang Akuntansi Sukuk.
C.
Penjelasan
01. Surat berharga yang diterbitkan oleh Bank antara lain menggunakan
akad ijarah, mudharabah, dan akad Syariah lain.
02. Dalam hal penerbitan surat berharga, khususnya sukuk umumnya
tidak
hanya
menggunakan
satu
akad
(seperti
ijarah
dan
mudharabah) tetapi dapat dikombinasikan dengan akad lain. Semua
akad tersebut diperlakukan sebagai satu kesatuan akad dalam
penerbitan surat berharga.
D.
Perlakuan Akuntansi
D.1 Pengakuan dan Pengukuran
01. Surat berharga dengan akad ijarah dan akad yang lain.
a.
Surat berharga diakui sebesar:
i.
nilai nominal dikurangi diskonto dan biaya yang terkait
dengan penerbitan surat berharga (biaya transaksi);
ii.
nilai nominal ditambah premium dan dikurangi biaya
transaksi.
b.
Selisih antara jumlah tercatat dan nilai nominal diamortisasi
secara garis lurus selama jangka waktu akad dan diakui sebagai
beban penerbitan surat berharga.
c.
Imbalan atau bentuk lain yang dibayarkan kepada pemegang
surat berharga diakui sebagai beban surat berharga.
02. Surat berharga dengan akad mudharabah dan musyarakah.
a.
Surat berharga diakui sebesar nilai nominal.
b.
Biaya
transaksi
diakui
sebagai
beban
ditangguhkan
dan
diamortisasi selama masa akad sebagai beban penerbitan surat
berharga.
8.15
222
Lanjutan Lampiran 1
c.
Bagi hasil yang menjadi hak pemilik surat berharga diakui
sebagai pengurang pendapatan, bukan sebagai beban surat
berharga.
D.2 Penyajian
01. Surat berharga dengan akad ijarah dan akad yang lain disajikan
sebagai liabilitas sebesar nilai nominal dikurangi setelah premium
atau diskonto dan biaya transaksi yang belum diamortisasi.
02. Surat berharga dengan akad mudharabah dan musyarakah disajikan
sebagai
dana
penerbitan
syirkah
surat
temporer
berharga
sebesar
tersebut
nilai
disajikan
nominal.
Biaya
sebagai
beban
tangguhan.
E.
Ilustrasi Jurnal
E.1 Surat berharga dengan akad ijarah dan akad lain
01. Pada saat penerbitan:
a.
Diterbitkan pada nominal
Db. Kas/rekening/kliring
Db. Surat berharga – biaya transaksi
Kr. Surat berharga
b.
Diterbitkan pada premium
Db. Kas/rekening/kliring
Db. Surat berharga – biaya transaksi
Kr. Surat berharga
Kr. Surat berharga – premium
c.
Diterbitkan pada diskonto
Db. Kas/rekening/kliring
Db. Surat berharga – diskonto
Db. Surat berharga – biaya transaksi
Kr. Surat berharga
02. Pada saat amortisasi:
a.
Diterbitkan pada nominal
Db. Beban penerbitan
Kr. Surat berharga – biaya transaksi
Db. Beban surat berharga
Kr. Utang imbalan surat berharga
b.
Diterbitkan pada premium
Db. Beban penerbitan
8.16
223
Lanjutan Lampiran 1
Db. Surat berharga – premium
Kr. Surat berharga – biaya transaksi
Db. Beban surat berharga
Kr. Utang imbalan surat berharga
c.
Diterbitkan pada diskonto
Db. Beban penerbitan
Kr. Surat berharga – diskonto
Kr. Surat berharga – biaya transaksi
Db. Beban surat berharga
Kr. Utang imbalan surat berharga
03. Pada saat pembayaran imbalan:
Db. Utang imbalan surat berharga
Kr. Kas/rekening/kliring
04. Pada saat jatuh tempo:
Db. Surat berharga
Kr. Kas/rekening/kliring
E.2 Surat berharga dengan akad mudharabah dan musyarakah
05. Pada saat penerbitan:
Db. Kas/rekening/kliring
Db. Beban ditangguhkan
Kr. Surat berharga
06. Pada saat amortisasi:
Db. Beban penerbitan
Kr. Beban ditangguhkan
07. Pada saat pengakuan pendapatan bagi hasil:
Db. Kas/rekening/kliring
Kr. Pendapatan yang terkait
Kr. Utang bagi hasil surat berharga
08. Pada saat pembayaran bagi hasil:
Db. Utang bagi hasil surat berharga
Kr. Kas/rekening/kliring
09. Pada saat jatuh tempo:
Db. Surat berharga
Kr. Kas/rekening/kliring
8.17
224
Lanjutan Lampiran 1
F.
Pengungkapan
Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain:
01. Uraian tentang persyaratan utama dalam penerbitan surat berharga,
termasuk:
a.
ringkasan akad Syariah yang digunakan;
b.
aset atau manfaat, atau aktivitas yang mendasari;
c.
besaran imbalan, atau prinsip pembagian hasil usaha, dasar
bagi hasil, dan besaran nisbah bagi hasil;
d.
nilai nominal;
e.
jangka waktu;
f.
persyaratan penting lain.
02. Penjelasan mengenai aset atau manfaat yang mendasari penerbitan
surat berharga dengan akad ijarah, termasuk jenis dan umur
ekonomis.
03. Penjelasan mengenai aktivitas yang mendasari penerbitan surat
berharga
dengan
akad
mudharabah,
termasuk
jenis
usaha,
kecenderungan (tren) usaha, pihak yang mengelola usaha (jika
dilakukan pihak lain).
04. Pengungkapan lain.
8.18
225
Lanjutan Lampiran 1
BAGIAN IX
BANK LAIN
PENEMPATAN PADA BANK INDONESIA DAN
IX.1. KAS
A.
Definisi
Kas adalah mata uang kertas dan logam baik Rupiah maupun valuta
asing yang masih berlaku sebagai alat pembayaran yang sah.
B.
C.
Dasar Pengaturan
01.
PSAK 50 tentang Instrumen Keuangan: Penyajian.
02.
PSAK 55 tentang Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran.
03.
PSAK 60 tentang Instrumen Keuangan: Pengungkapan.
Penjelasan
01.
Dalam pengertian kas termasuk mata uang Rupiah dan valuta asing
yang ditarik dari peredaran dan yang masih dalam tenggang waktu
penukaran ke Bank Indonesia atau Bank Sentral negara yang
bersangkutan. Kas termasuk kas besar, kas kecil, kas ATM dan kas
dalam perjalanan. Kas tidak termasuk emas batangan dan uang
logam yang diterbitkan untuk memperingati peristiwa nasional
(commemorative coin), mata uang emas, logam asing dan kertas asing
yang sudah tidak berlaku.
02.
Saldo mata uang kertas dan logam asing yang ditarik dari peredaran
disajikan dalam rekening ”aset lainnya” sebesar nilai nominal
dikurangi dengan taksiran biaya repatriasi.
03.
Dalam rangka penyusunan Laporan Arus Kas, yang dimaksud
dengan kas dan setara kas adalah:
04.
a.
Kas;
b.
Giro pada Bank Indonesia; dan
c.
Giro pada Bank lain
Kas
merupakan
aset
keuangan
yang
diklasifikasikan
sebagai
“pinjaman yang diberikan dan piutang (loans and receivables)”, yang
dicatat pada nilai nominal dan tidak ada penurunan nilai.
9.1
226
Lanjutan Lampiran 1
D.
Perlakuan Akuntansi
D1. Pengakuan dan Pengukuran
Transaksi kas diakui sebesar nilai nominal.
D2. Penyajian
Kas disajikan pada urutan pertama dalam aset.
E.
Ilustrasi Jurnal
01.
Kas Rupiah
a. Penerimaan setoran:
Db. Kas Rupiah
Kr. Rekening yang dituju
b. Penarikan:
Db. Rekening yang ditarik
Kr. Kas Rupiah
02.
Kas mata uang asing
Lihat penjelasan pada Bagian II.C Metode Pencatatan Transaksi
Mata Uang Asing.
F.
Pengungkapan
Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain:
01.
Klasifikasi kas sebagai “pinjaman yang diberikan dan piutang”;
02.
Kas dalam mesin ATM jika jumlahnya material.
9.2
227
Lanjutan Lampiran 1
IX.2. PENEMPATAN PADA BANK INDONESIA
A.
Definisi
Penempatan pada Bank Indonesia adalah penempatan/tagihan Bank baik
dalam Rupiah maupun valuta asing kepada Bank Indonesia.
B.
C.
Dasar Pengaturan
01.
PSAK 101 tentang Penyajian Laporan Keuangan Syariah.
02.
PSAK 50 tentang Instrumen Keuangan: Penyajian.
03.
PSAK 55 tentang Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran.
04.
PSAK 60 tentang Instrumen Keuangan: Pengungkapan.
Penjelasan
01.
Penempatan pada Bank Indonesia terdiri dari:
a. Giro pada Bank Indonesia, yaitu saldo rekening giro Bank di Bank
Indonesia, baik dalam Rupiah maupun mata uang asing;
b. Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS), yaitu surat berharga
dalam mata uang Rupiah yang diterbitkan oleh Bank Indonesia
berjangka waktu pendek berdasarkan prinsip Syariah; dan
c. Fasilitas Simpanan Bank Indonesia Syariah (FASBIS), yaitu
fasilitas simpanan dalam Rupiah yang disediakan oleh Bank
Indonesia kepada Bank untuk menempatkan dananya di Bank
Indonesia dalam rangka standing facilities berdasakan prinsip
Syariah.
02.
Giro pada Bank Indonesia merupakan salah satu alat likuid dan
tidak dimaksudkan untuk menghasilkan pendapatan.
03.
Giro
pada
Bank
Indonesia
merupakan
aset
keuangan
yang
diklasifikasikan sebagai “pinjaman yang diberikan dan piutang
(loans and receivables)”, yang dicatat pada biaya perolehan yang
diamortisasi. Namun mengingat tidak ada biaya transaksi yang
timbul maka Giro pada Bank Indonesia dicatat pada biaya perolehan
dan tidak ada penurunan nilai.
04.
Jika Bank mendapat fasilitas dari Bank Indonesia untuk menutup
kekurangan giro pada Bank Indonesia maka fasilitas tersebut
disajikan sebagai liabilitas kepada Bank Indonesia.
9.3
228
Lanjutan Lampiran 1
05.
SBIS menggunakan akad ju’alah dan merupakan instrumen moneter
yang tidak dapat diperjualbelikan (non-tradeable) atau dipindahtangankan, dan bukan merupakan bagian dari portofolio investasi
Bank.
06.
FASBIS menggunakan akad wa’diah dengan jangka waktu paling
lama
14
(empat
belas)
hari
kalender
dihitung
dari
tanggal
penyelesaian transaksi sampai dengan tanggal jatuh tempo.
07.
FASBIS tidak dapat diperdagangkan, tidak dapat diagunkan, dan
tidak dapat dicairkan sebelum jatuh tempo.
D.
Perlakuan Akuntansi
D1. Pengakuan dan Pengukuran
01.
Penempatan pada Bank Indonesia diakui sebesar biaya perolehan
(nilai nominal).
02.
Beban yang dikenakan atas denda kekurangan GWM diakui pada
saat dikenakan denda oleh Bank Indonesia sebagai beban operasi
lainnya.
03.
Imbalan atas SBIS diakui secara akrual.
04.
Bonus atas FASBIS diakui pada saat jatuh tempo.
D2. Penyajian
Saldo
rekening
giro
pada
Bank
Indonesia
tidak
boleh
dikurangi/dikompensasi (saling hapus) dengan saldo fasilitas likuiditas
yang diterima Bank dari Bank Indonesia dan fasilitas pendanaan jangka
pendek Syariah.
E.
Ilustrasi Jurnal
01.
Pada saat penempatan:
a.
Giro pada Bank Indonesia
Db. Giro pada Bank Indonesia
Kr. Kas/kliring
b.
Sertifikat Bank Indonesia Syariah
Db. SBIS
Kr. Giro pada Bank Indonesia
c.
Fasilitas Simpanan Bank Indonesia Syariah
Db. FASBIS
Kr. Giro pada Bank Indonesia
9.4
229
Lanjutan Lampiran 1
02.
Pada saat pengakuan bonus atau imbalan
a.
Bonus atas FASBIS yang diakui pada saat jatuh tempo
Db. Giro pada Bank Indonesia
Kr. Pendapatan dari penempatan pada BI - Pendapatan operasi
utama lainnya
b.
Imbalan atas SBIS yang diakui secara akrual
i.
Pada saat pengakuan pendapatan imbalan
Db. Pendapatan imbalan pada SBIS yang akan diterima
Kr. Pendapatan operasi utama lainnya
ii.
Pada saat menerima pembayaran imbalan
Db. Giro pada Bank Indonesia
Kr. Pendapatan imbalan pada SBIS yang akan diterima
03. Pada saat pengakuan beban denda untuk masuk ke kewajiban pada
BI:
Db. Beban operasional
Kr. Giro pada Bank Indonesia
04. Pada saat penarikan:
Db. Kas/kliring
Kr. Giro pada Bank Indonesia
05. Pada saat jatuh tempo:
a.
Sertifikat Bank Indonesia Syariah
Db. Giro pada Bank Indonesia
Kr. SBIS
b.
Fasilitas Simpanan Bank Indonesia Syariah
Db. Giro pada Bank Indonesia
Kr. FASBIS
06. Pada saat mendapat fasilitas pendanaan (kewajiban pada Bank
Indonesia):
Db. Giro pada Bank Indonesia
Kr. Liabilitas kepada Bank Indonesia
F.
Pengungkapan
Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain:
01.
Rincian jumlah penempatan pada Bank Indonesia menurut jenis,
jangka waktu dan jenis mata uang.
9.5
230
Lanjutan Lampiran 1
IX.3. PENEMPATAN PADA BANK LAIN
A.
Definisi
Penempatan pada Bank Lain adalah penempatan/tagihan atau simpanan
milik Bank dalam Rupiah dan atau valuta asing pada Bank Lain, baik
yang melakukan kegiatan operasional di Indonesia maupun diluar
Indonesia baik untuk menunjang kelancaran transaksi antar bank
maupun sebagai secondary reserve dengan maksud untuk memperoleh
penghasilan.
B.
C.
Dasar Pengaturan
01.
PSAK 101 tentang Penyajian Laporan Keuangan Syariah.
02.
PSAK 50 tentang Instrumen Keuangan: Penyajian.
03.
PSAK 55 tentang Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran.
04.
PSAK 60 tentang Instrumen Keuangan: Pengungkapan.
Penjelasan
01.
Penempatan pada Bank Lain adalah penempatan dalam bentuk giro,
tabungan dan deposito pada Bank lain, dan giro dan tabungan pada
bank konvensional.
02.
Pada dasarnya Bank harus melakukan penempatan pada Bank lain.
Dalam hal terdapat penempatan pada bank konvensional, maka
pendapatan
bunga
dan
jasa
giro
yang
diterima
dari
bank
konvensional, diakui sebagai sumber dana kebajikan.
03.
Bagi hasil dan bonus yang diterima dari Bank lain dibagihasilkan
kepada nasabah.
04.
Penempatan pada bank lain merupakan aset keuangan yang
diklasifikasikan sebagai “pinjaman yang diberikan dan piutang
(loans and receivables)”, yang dicatat pada biaya perolehan yang
diamortisasi. Namun mengingat tidak ada biaya transaksi yang
timbul maka penempatan pada bank konvensional dicatat pada
biaya perolehan.
D.
Perlakuan Akuntansi
D1. Pengakuan dan Pengukuran
01.
Penempatan pada Bank lain
9.6
231
Lanjutan Lampiran 1
a. Transaksi penempatan pada Bank lain diakui sebesar nilai
nominal.
b. Bonus dan/atau bagi hasil dari Bank lain diakui sebesar nilai
nominal yang diterima pada saat diterima.
c. Penempatan
pada
Bank
lain
dibentuk
Cadangan
Kerugian
Penurunan Nilai (CKPN) sesuai dengan ketentuan yang diatur
dalam PSAK yang terkait.
02.
Penempatan pada Bank Konvensional
a. Transaksi penempatan pada bank konvensional diakui sebesar
nilai nominal.
b. Pendapatan
bunga
dari
bank
konvensional
diakui
sebagai
penerimaan dana kebajikan pada pos pendapatan non halal
sebesar nilai nominal yang diterima.
c. Penempatan
pada
bank
konvensional
dibentuk
Cadangan
Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) sesuai dengan ketentuan yang
diatur dalam PSAK yang terkait.
D2 Penyajian
01.
Saldo penempatan pada bank lain tidak boleh saling hapus (offsetting) dengan saldo kewajiban kepada bank lain tersebut.
02.
Saldo CKPN dari penempatan pada bank lain disajikan sebagai pos
lawan (contra account) dari penempatan pada bank lain tersebut.
E.
Ilustrasi Jurnal
01.
Penempatan pada Bank lain
a.
Pada saat penempatan:
Db. Penempatan pada Bank lain
Kr. Kas/kliring
b.
Pada saat penerimaan pendapatan:
Db. Penempatan pada Bank lain
Kr. Pendapatan bagi hasil/bonus
c.
Pada saat pembentukan CKPN:
Db. Beban CKPN
Kr. CKPN
d.
Pada saat penarikan/jatuh tempo:
Db. Kas /kliring
Kr. Penempatan pada Bank lain
9.7
232
Lanjutan Lampiran 1
02.
Penempatan pada bank konvensional
a.
Pada saat penempatan:
Db. Penempatan pada bank konvensional
Kr. Kas/kliring
b.
Pada saat penerimaan pendapatan:
Db. Penempatan pada bank konvensional
Kr. Rekening Dana Kebajikan
c.
Pada saat pembentukan CKPN:
Db. Beban CKPN
Kr. CKPN
d.
Pada saat penarikan/jatuh tempo:
Db. Kas/kliring
Kr. Penempatan pada bank konvensional
F. Pengungkapan
Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain:
01.
Penempatan pada Bank lain dengan akad Wadiah
a.
Jenis penempatan (giro wadiah, tabungan wadiah, dan lain
yang sejenis),
02.
b.
Kualitas giro;
c.
Jenis mata uang;
d.
Pihak berelasi;
e.
Jumlah giro yang diblokir dan alasannya; dan
f.
Jumlah yang tidak dapat dicairkan pada bank bermasalah.
Penempatan pada Bank lain dengan akad Mudharabah
a.
Jenis
penempatan
(tabungan
mudharabah,
deposito
mudharabah, dan lain-lain yang sejenis),
b.
Jumlah penempatan;
c.
Jenis mata uang;
d.
Jangka waktu (rata-rata atau per kelompok);
e.
Kualitas penempatan;
f.
Tingkat bagi hasil/bonus;
g.
Pihak berelasi;
h.
Jumlah dana yang diblokir dan alasannya; dan
i.
Jumlah
dana
yang
tidak
dapat
dicairkan
pada
bank
bermasalah, bank beku operasi atau likuidasi termasuk tingkat
9.8
233
Lanjutan Lampiran 1
kemungkinan diterimanya kembali dana tersebut berdasarkan
konfirmasi dari otoritas yang berwenang.
9.9
234
Lanjutan Lampiran 1
IX.4. SIMPANAN DARl BANK LAIN
A. Definisi
01.
Simpanan dari bank lain adalah kewajiban Bank kepada bank lain
baik di dalam negeri maupun di luar negeri dalam bentuk antara lain
giro Wadiah, tabungan Wadiah.
02.
Wadiah adalah titipan bank lain yang harus dijaga dan dikembalikan
setiap saat bila bank penitip menghendaki dananya kembali. Bank
yang menerima titipan bertanggung jawab atas pengembalian titipan
tersebut.
B. Dasar Pengaturan
01.
PSAK 101 tentang Penyajian Laporan Keuangan Syariah.
02.
PSAK 50 tentang Instrumen Keuangan: Penyajian.
03.
PSAK 55 tentang Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran.
04.
PSAK 60 tentang Instrumen Keuangan: Pengungkapan.
C. Penjelasan
01.
Giro Wadiah adalah titipan bank lain pada Bank yang penarikannya
dapat dilakukan setiap saat dengan menggunakan cek, bilyet giro,
sarana
perintah
pembayaran
lainnya
atau
dengan
cara
pemindahbukuan. Termasuk didalamnya giro Wadiah yang diblokir
untuk tujuan tertentu misalnya dalam rangka escrow account, giro
yang diblokir oleh yang berwajib karena suatu perkara.
02.
Tabungan Wadiah adalah titipan bank lain pada Bank yang
penarikannya dapat dilakukan menurut syarat tertentu yang
disepakati dengan kuitansi, sarana perintah pembayaran lainnya
atau dengan cara pemindahbukuan.
D. Perlakuan Akuntansi
D1. Pengakuan dan pengukuran
01.
Giro Wadiah
a. Giro Wadiah diakui sebesar nominal penyetoran atau penarikan
yang dilakukan oleh pemilik rekening.
9.10
235
Lanjutan Lampiran 1
b. Setoran giro Wadiah yang diterima secara tunai diakui pada saat
uang diterima. Setoran giro Wadiah melalui kliring diakui setelah
efektif diterima.
02.
Tabungan Wadiah
a. Tabungan Wadiah diakui sebesar nominal penyetoran atau
penarikan yang dilakukan oleh pemilik rekening.
b. Setoran tabungan Wadiah yang diterima secara tunai diakui pada
saat uang diterima. Setoran tabungan Wadiah melalui kliring
diakui setelah efektif diterima.
03.
Pemberian bonus atas simpanan kepada nasabah diakui sebagai
beban pada saat terjadinya.
D2. Penyajian
Saldo simpanan Wadiah bank lain disajikan sebesar jumlah nominalnya
untuk masing-masing bentuk simpanan.
E. llustrasi Jurnal
01.
Pada saat penerimaan titipan
Db. Kas/kliring/pemindahbukuan
Kr. Giro/tabungan Wadiah bank lain
02.
Pada saat penarikan
Db. Giro/tabungan Wadiah bank lain
Kr. Kas/kliring/pemindahbukuan
03.
Pembayaran bonus giro/tabungan Wadiah bank lain
Db. Beban bonus giro/tabungan Wadiah bank lain
Kr. Giro/tabungan Wadiah bank lain
F. Pengungkapan
Hal-hal yang harus diungkapkan, antara lain:
01.
02.
Rincian simpanan mengenai:
a.
Jumlah dan jenis simpanan, termasuk pihak berelasi.
b.
Jumlah simpanan yang diblokir untuk tujuan tertentu.
Pemberian fasilitas istimewa kepada penyimpan.
9.11
236
Lanjutan Lampiran 1
BAGIAN X ASET TETAP, ASET TIDAK BERWUJUD, DAN
ASET YANG DIAMBIL-ALIH
X.1 ASET TETAP
A.
Definisi
Aset Tetap adalah aset berwujud yang dimiliki untuk digunakan
dalam penyediaan jasa, disewakan kepada pihak lain dalam kegiatan
usaha sehari-hari, atau tujuan administratif, dan digunakan selama
lebih dari satu periode.
B.
Dasar Pengaturan
01. PSAK 16 tentang Aset Tetap.
02. PSAK 30 tentang Sewa.
03. PSAK 48 tentang Penurunan Nilai Aset.
04. ISAK
8
tentang
Penentuan
Apakah
Suatu
Perjanjian
Mengandung Suatu Sewa.
05. ISAK 25 tentang Hak atas Tanah.
C.
Penjelasan
01. Aset Tetap dapat diperoleh dalam bentuk siap pakai atau
dibangun terlebih dahulu sampai siap pakai, atau dari transaksi
sewa pembiayaan.
02. Aset Tetap, antara lain, meliputi tanah, bangunan, alat angkut,
inventaris. Khusus untuk inventaris, perlakuan akuntansinya
tergantung dari kebijakan materialitas.
03. Aset Tetap yang diperoleh untuk tujuan keamanan, mungkin
tidak menambah masa manfaat tetapi diperlukan bagi Bank
untuk memperoleh manfaat ekonomi dari Aset Tetap yang lain.
Perolehan Aset Tetap semacam itu diakui sebagai Aset Tetap.
04. Biaya perolehan untuk Aset Tetap yang diperoleh melalui
pembelian atau dibangun sendiri meliputi:
a.
Harga
perolehannya,
termasuk
bea
impor
dan
pajak
pembelian yang tidak boleh dikreditkan setelah dikurangi
diskon pembelian dan potongan lain;
10.1
237
Lanjutan Lampiran 1
b.
Biaya yang dapat diatribusikan secara langsung untuk
membawa Aset Tetap ke lokasi dan kondisi yang diinginkan
agar Aset Tetap siap digunakan sesuai dengan keinginan
dan maksud manajemen; dan
c.
Estimasi awal biaya pembongkaran dan pemindahan Aset
Tetap dan restorasi lokasi aset.
05. Biaya yang dapat diatribusikan secara langsung, antara lain
adalah:
a.
Biaya imbalan kerja yang timbul secara langsung dari
pembangunan atau perolehan Aset Tetap;
b.
Biaya penyiapan lahan untuk usaha;
c.
Biaya handling dan penyerahan awal;
d.
Biaya perakitan dan instalasi.
e.
Biaya pengujian Aset Tetap apakah Aset Tetap berfungsi
dengan baik.
f.
Komisi profesional, misalnya biaya arsitek.
g.
Biaya pengurusan awal hak legal atas tanah.
06. Biaya yang bukan merupakan biaya perolehan Aset Tetap,
antara lain:
a.
Biaya pembukaan fasilitas baru;
b.
Biaya pengenalan produk baru, termasuk biaya iklan dan
aktivitas promosi;
c.
Biaya penyelenggaraan bisnis di lokasi baru atau kelompok
pelanggan baru, termasuk biaya pelatihan staf;
d.
Administrasi dan biaya overhead umum lain.
07. Untuk Aset Tetap yang diperoleh secara gabungan, biaya
perolehan dari masing-masing Aset Tetap dilakukan secara
proporsional atas nilai wajar dari masing-masing Aset Tetap.
08. Untuk bagian-bagian Aset Tetap yang diganti secara periodik,
namun tidak sering dilakukan atau tidak berulang, biaya
perolehan
bagian
Aset
Tetap
yang
diganti
dihentikan-
pengakuannya, dan bagian Aset Tetap penggantinya diakui
sebagai bagian Aset Tetap sepanjang memenuhi kriteria untuk
diakui sebagai bagian dari Aset Tetap.
09. Suatu bagian yang signifikan dari Aset Tetap mungkin memiliki
umur manfaat dan metode penyusutan yang sama dengan umur
10.2
238
Lanjutan Lampiran 1
manfaat dan metode penyusutan bagian yang signifikan lain dari
aset tersebut. Bagian-bagian tersebut dapat dikelompokkan
menjadi satu dalam menentukan beban penyusutan.
10. Sewa pembiayaan
a.
Aset Tetap yang diperoleh melalui sewa pembiayaan berasal
dari perjanjian sewa dan perjanjian selain sewa tetapi
mengandung sewa.
b.
Perjanjian yang mengandung sewa
i.
Perjanjian
yang
mengandung
sewa
adalah
suatu
perjanjian antara pihak lain dengan Bank yang secara
legal bukan perjanjian sewa, tetapi memberikan hak
kepada Bank untuk menggunakan suatu aset dan
sebagai akibatnya Bank membayarkan suatu imbalan
kepada pihak lain tersebut;
ii.
Suatu
perjanjian
mengandung
sewa
jika
(1)
pemenuhan perjanjian tergantung pada penggunaan
aset tertentu; dan (2) Bank mempunyai kemampuan
atau
hak
untuk
mengoperasikan
aset
atau
mengarahkan pihak lain untuk mengoperasikan aset,
mempunyai
kemampuan
atau
hak
untuk
mengendalikan aset fisik terhadap aset, atau kecil
kemungkinan pihak lain akan mengambil manfaat dari
aset dalam jumlah yang lebih dari tidak signifikan dan
harga yang dibayar Bank bukan harga tetap atau
harga pasar.
c.
Suatu sewa diklasifikasikan sebagai sewa pembiayaan jika
sewa mengalihkan secara substansial seluruh risiko dan
manfaat yang terkait dengan kepemilikan aset.
d.
Suatu sewa diklasifikasikan sebagai sewa operasi jika sewa
tidak mengalihkan secara substansial seluruh risiko dan
manfaat yang terkait dengan kepemilikan aset.
e.
Klasifikasi sewa sebagai sewa pembiayaan atau sewa
operasi didasarkan pada substansi transaksi dan bukan
pada bentuk formal kontraknya.
f.
Kriteria utama yang mengarah pada sewa pembiayaan
adalah:
10.3
239
Lanjutan Lampiran 1
i.
Sewa mengalihkan kepemilikan aset kepada Bank pada
akhir masa sewa.
ii.
Bank mempunyai opsi untuk membeli aset pada harga
yang cukup rendah dibanding nilai wajar pada tanggal
opsi mulai dapat dilaksanakan. Sehingga pada awal
sewa dapat dipastikan bahwa opsi memang akan
dilaksanakan.
iii.
Masa
sewa
adalah
untuk
sebagian
besar
umur
ekonomis aset, meskipun hak milik tidak dialihkan;
iv.
Pada awal sewa, nilai kini dari jumlah pembayaran
sewa minimum secara subtansial mendekati nilai wajar
aset yang disewa;
v.
Aset
yang
disewa
memiliki
karakteristik
khusus
dimana hanya Bank yang dapat menggunakannya
tanpa perlu dimodifikasi secara material.
g.
Kriteria tambahan yang mengarah pada sewa pembiayaan
adalah:
i.
Jika Bank dapat membatalkan sewa, kerugian lessor
yang terkait dengan pembatalan ditanggung oleh Bank.
ii.
Keuntungan atau kerugian dari fluktuasi nilai wajar
residu dibebankan kepada Bank, misalnya, dalam
bentuk potongan harga sewa yang setara dengan
sebagian besar hasil penjualan residu pada akhir sewa;
iii.
Bank memiliki kemampuan untuk melanjutkan sewa
pada periode kedua dengan nilai sewa yang secara
substansial lebih rendah dari nilai sewa pasar.
h.
Kriteria di atas tidak selalu harus konklusif bahwa suatu
sewa adalah sewa pembiayaan. Jika jelas dari fitur lainnya
menunjukkan sewa tidak mengalihkan secara substansial
seluruh
risiko
dan
manfaat
yang
terkait
dengan
kepemilikan, maka sewa tersebut diklasifikasikan sebagai
sewa
operasi.
Misalnya,
besarnya
pembayaran
atas
kepemilikan aset yang dialihkan pada akhir sewa bersifat
variabel dan setara dengan nilai wajarnya, atau jika
terdapat sewa kontinjen.
10.4
240
Lanjutan Lampiran 1
11. Model pengukuran
a.
Model Biaya
Aset Tetap dicatat sebesar biaya perolehan dikurangi
akumulasi penyusutan dan akumulasi rugi penurunan nilai
aset.
b.
Model Revaluasi
i.
Aset Tetap diukur pada jumlah revaluasian, yaitu nilai
wajar pada tanggal revaluasi dikurangi akumulasi
penyusutan dan akumulasi rugi penurunan nilai yang
terjadi setelah tanggal revaluasi.
ii.
Revaluasi dilakukan dengan keteraturan yang cukup
reguler sehingga jumlah tercatat Aset Tetap tidak
berbeda secara signifikan dengan nilai wajar.
iii.
Revaluasi dilakukan sekurang-kurangnya setiap tiga
atau lima tahun.
iv.
Jika suatu Aset Tetap direvaluasi, maka seluruh Aset
Tetap dalam kelompok yang sama harus direvaluasi.
v.
Kerugian penurunan nilai akibat revaluasi diakui
dalam laba rugi. Jika sebelumnya terdapat surplus
revaluasi, maka kerugian penurunan nilai tersebut
terlebih dahulu diakui sebagai pengurang surplus
revaluasi maksimal sebesar saldo surplus revaluasi.
vi.
Kenaikan nilai akibat revaluasi (surplus revaluasi)
diakui dalam penghasilan komprehensif lain. Jika
sebelumnya terjadi penurunan nilai yang telah diakui
dalam laba rugi maka surplus revaluasi diakui dalam
laba rugi maksimal sebesar jumlah penurunan nilai
yang telah diakui.
vii. Surplus revaluasi dalam penghasilan komprehensif
lain dapat dipindahkan dalam saldo laba melalui
Laporan
Perubahan
Ekuitas
ketika
Aset
Tetap
dihentikan pengakuannya, atau dipindahkan dalam
saldo laba melalui Laporan Perubahan Ekuitas seiring
penyusutan Aset Tetap.
viii. Jika
Aset
Tetap
penyusutan
pada
direvaluasi,
tanggal
maka
revaluasi
akumulasi
diperlakukan
10.5
241
Lanjutan Lampiran 1
dengan cara disajikan kembali secara proporsional
dengan perubahan dalam jumlah tercatat bruto aset
sehingga jumlah tercatat aset setelah revaluasi sama
dengan jumlah revaluasiannya.
12. Penyusutan
a.
Bank harus memilih metode penyusutan yang paling
mencerminkan ekspektasi pola konsumsi manfaat ekonomis
masa depan dari aset tersebut.
b.
Bank harus melakukan review minimum setiap akhir tahun
atas metode penyusutan, umur manfaat, dan nilai residu
dari Aset Tetap.
c.
Perubahan metode penyusutan, umur manfaat, dan nilai
residu diterapkan secara prospektif.
d.
Aset Tetap tanah tidak disusutkan, kecuali:
i.
Kondisi
kualitas
tanah
tidak
layak
lagi
untuk
digunakan dalam operasi utama.
ii.
Prediksi
manajemen
perpanjangan
atau
atau
pembaruan
kepastian
hak
bahwa
kemungkinan
besar atau pasti tidak diperoleh.
e.
Tanah dan bangunan merupakan aset yang berbeda dan
harus diperlakukan sebagai aset yang terpisah, meskipun
diperoleh sekaligus. Bangunan memiliki umur manfaat
yang
terbatas,
oleh
karenanya
harus
disusutkan.
Peningkatan nilai tanah dimana di atasnya didirikan
bangunan tidak mempengaruhi penentuan jumlah yang
dapat disusutkan dari bangunan tersebut.
13. Penurunan nilai
a.
Pada setiap tanggal pelaporan Bank harus me-review ada
atau tidaknya indikasi penurunan nilai aset. Jika terdapat
indikasi penurunan nilai aset, maka Bank harus menaksir
jumlah terpulihkan, yaitu nilai wajar dikurangi biaya untuk
menjual.
b.
Indikasi terjadi penurunan nilai antara lain:
i.
Penurunan nilai pasar Aset Tetap secara signifikan
melebihi penurunan akibat proses normal depresiasi
selama periode tertentu.
10.6
242
Lanjutan Lampiran 1
ii.
Perubahan teknologi, pasar, ekonomi, atau lingkup
hukum tempat beroperasi, atau dalam pasar jasa yang
dihasilkan dari aset tersebut secara signifikan selama
periode tertentu, atau diprediksikan akan terjadi dalam
waktu dekat;
iii.
Terdapat bukti mengenai keusangan atau kerusakan
fisik aset;
iv.
Telah terjadi atau akan terjadi dalam waktu dekat
perubahan
signifikan
yang
bersifat
merugikan
sehubungan dengan cara penggunaan aset;
v.
Terdapat
bukti
menunjukkan
dari
bahwa
pelaporan
kinerja
internal
ekonomi
aset
yang
tidak
memenuhi harapan atau akan lebih buruk dari yang
diperkirakan.
14. Penghentian pengakuan:
a.
Aset Tetap dihentikan pengakuannya pada saat dilepaskan,
atau tidak ada manfaat ekonomis masa depan yang
diperkirakan dari penggunaan dan pelepasan atas Aset
Tetap tersebut.
b.
Aset
Tetap
dihentikan
pengakuannya
pada
saat
direklasifikasi menjadi aset dimiliki untuk dijual atau
direklasifikasi ke pos aset lain.
D.
Perlakuan Akuntansi
D.1 Pengakuan dan Pengukuran
01. Pada saat perolehan, Bank mengakui Aset Tetap sebesar biaya
perolehan.
02. Setelah pengakuan awal, Bank dapat mengakui dan mengukur
Aset Tetap dengan menggunakan:
a.
Model biaya
Aset Tetap dicatat sebesar biaya perolehan dikurangi
akumulasi penyusutan dan akumulasi rugi penurunan
nilai.
b.
Model revaluasi
i.
Aset Tetap dicatat sebesar jumlah revaluasian.
10.7
243
Lanjutan Lampiran 1
ii.
Peningkatan
jumlah
tercatat
aset
diakui
dalam
penghasilan komprehensif lain pada bagian surplus
revaluasi.
iii.
Penurunan jumlah tercatat aset diakui dalam laba
rugi.
03. Keuntungan atau kerugian yang timbul dari penghentian
pengakuan Aset Tetap harus diakui dalam laba rugi.
D.2 Penyajian
01. Aset
Tetap
disajikan
sebesar
biaya
perolehan
dikurangi
akumulasi penyusutan dan kerugian penurunan nilai jika
menggunakan model biaya.
02. Aset Tetap disajikan sebesar jumlah revaluasian dikurangi
akumulasi penyusutan dan kerugian penurunan nilai jika
menggunakan model revaluasi.
E.
Ilustrasi Jurnal
01. Pada saat perolehan
Db. Aset Tetap
Kr. Kas/rekening
02. Model Biaya
a.
Pengakuan beban penyusutan
Db. Beban penyusutan
Kr. Akumulasi penyusutan
b.
Terjadi penurunan nilai (jika ada)
Db. Kerugian penurunan nilai
Kr. Cadangan Kerugian Penurunan Nilai
03. Model Revaluasi
a.
Pengakuan beban penyusutan
Db. Beban penyusutan
Kr. Akumulasi penyusutan
b.
Peningkatan nilai wajar
Db. Aset Tetap
Kr. Surplus revaluasi
c.
Penurunan nilai wajar
Db. Kerugian penurunan nilai
Kr. Aset Tetap
10.8
244
Lanjutan Lampiran 1
d.
Pemindahan surplus revaluasi
Db. Surplus revaluasi
Kr. Saldo laba
04. Pada saat penghentian pengakuan
F.
Db.
Kas/rekening
Db.
Akumulasi penyusutan
Db/Kr.
Kerugian/keuntungan
Kr.
Aset Tetap
Pengungkapan
Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain:
01.
Ikhtisar kebijakan akuntansi yang signifikan
02.
Untuk setiap kelompok Aset Tetap perlu diungkapkan:
a.
Dasar pengukuran yang digunakan dalam menentukan
jumlah tercatat bruto.
b.
Metode penyusutan yang digunakan.
c.
Umur manfaat atau tarif penyusutan yang digunakan.
d.
Jumlah
tercatat
bruto
dan
akumulasi
penyusutan
(dijumlahkan dengan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai)
pada awal dan akhir periode.
e.
Rekonsiliasi jumlah tercatat pada awal dan akhir periode
yang menunjukkan:
i.
penambahan;
ii.
Aset Tetap yang direklasifikasi ke aset dimiliki untuk
dijual;
iii.
perolehan melalui kombinasi bisnis;
iv.
peningkatan atau penurunan akibat dari revaluasi
serta dari kerugian penurunan nilai yang diakui dalam
penghasilan komprehensif lain;
v.
kerugian penurunan nilai yang diakui dalam laba rugi;
vi.
kerugian penurunan nilai yang dijurnal balik dalam
laba rugi, jika ada;
vii. penyusutan;
viii. selisih nilai tukar neto yang timbul dalam penjabaran
Laporan Keuangan dari mata uang fungsional menjadi
mata uang pelaporan yang berbeda; dan
10.9
245
Lanjutan Lampiran 1
ix.
perubahan lain.
03. Keberadaan dan jumlah restriksi atas hak milik, dan Aset Tetap
yang dijaminkan untuk utang.
04. Jumlah pengeluaran yang diakui dalam jumlah tercatat Aset
Tetap yang sedang dalam pembangunan.
05. Jumlah komitmen kontraktual dalam perolehan Aset Tetap.
06. Jumlah kompensasi dari pihak ketiga untuk Aset Tetap yang
mengalami penurunan nilai, hilang atau dihentikan yang
dimasukkan dalam laba rugi, jika tidak diungkapkan secara
terpisah pada Laporan Laba Rugi Komprehensif.
07. Sifat
dan
dampak
perubahan
estimasi
akuntansi
yang
berdampak material pada periode berjalan atau diperkirakan
berdampak material pada periode berikutnya:
a.
nilai residu;
b.
estimasi biaya pembongkaran, pemindahan atau restorasi
suatu Aset Tetap;
c.
umur manfaat; dan
d.
metode penyusutan.
08. Jika Aset Tetap disajikan pada jumlah revaluasian, diungkapkan
hal berikut:
a.
Tanggal efektif revaluasi.
b.
Apakah penilai independen dilibatkan.
c.
Metode dan asumsi signifikan yang digunakan dalam
mengestimasi nilai wajar aset.
d.
Penjelasan mengenai nilai wajar aset yang ditentukan
secara langsung berdasarkan harga yang dapat diobservasi
dalam suatu pasar aktif atau transaksi pasar terakhir yang
wajar atau diestimasi menggunakan teknik penilaian lain.
e.
Untuk setiap kelompok Aset Tetap, jumlah tercatat aset
seandainya aset tersebut dicatat dengan model biaya.
f.
Surplus revaluasi, yang menunjukkan perubahan selama
periode dan pembatasan-pembatasan distribusi kepada
pemegang saham.
Hal-hal yang dianjurkan untuk diungkapkan antara lain:
01. Jumlah tercatat Aset Tetap yang tidak dipakai sementara.
10.10
246
Lanjutan Lampiran 1
02. Jumlah tercatat bruto dari setiap Aset Tetap yang telah
disusutkan penuh dan masih digunakan.
03. Jumlah tercatat Aset Tetap yang dihentikan dari penggunaan
aktif dan tidak diklasifikasikan sebagai Aset Tetap tersedia
untuk dijual.
04. Jika model biaya digunakan, nilai wajar Aset Tetap apabila
berbeda secara material dari jumlah tercatat.
10.11
247
Lanjutan Lampiran 1
X.2 ASET TIDAK BERWUJUD
A.
Definisi
Aset
Tidak
Berwujud
adalah
aset
nonmoneter
yang
dapat
diidentifikasikan dan tidak mempunyai wujud fisik serta dimiliki
untuk digunakan dalam menghasilkan atau menyerahkan barang
atau jasa, disewakan kepada pihak lainnya, atau untuk tujuan
administratif.
B.
Dasar Pengaturan
01. PSAK 19 tentang Aset Tidak Berwujud.
02. PSAK 48 tentang Penurunan Nilai Aset.
C.
Penjelasan
01. Aset Tidak Berwujud harus memiliki karakteristik sebagai
berikut:
a.
Keteridentifikasian;
b.
Adanya pengendalian sumber daya;
c.
Adanya manfaat ekonomi di masa depan.
02. Pengeluaran untuk penelitian diakui sebagai beban.
03. Pengeluaran untuk pengembangan diakui sebagai Aset Tidak
Berwujud sepanjang memenuhi semua kriteria berikut:
a.
Kelayakan
teknis
penyelesaian
Aset
Tidak
Berwujud
sehingga aset tersebut dapat digunakan atau dijual.
b.
Niat untuk menyelesaikan Aset Tidak Berwujud tersebut
dan menggunakannya atau menjualnya.
c.
Bagaimana
Aset
Tidak
Berwujud
akan
menghasilkan
kemungkinan besar manfaat ekonomi masa depan. Antara
lain
Bank
mampu
menunjukkan
adanya
pasar
bagi
keluaran Aset Tidak Berwujud itu sendiri, atau, jika Aset
Tidak Berwujud itu akan digunakan secara internal, Bank
mampu menunjukkan kegunaan Aset Tidak Berwujud
tersebut.
d.
Tersedianya kecukupan sumber daya teknis, keuangan, dan
sumber daya lain untuk menyelesaikan pengembangan aset
10.12
248
Lanjutan Lampiran 1
tidak berwujud dan untuk menggunakan atau menjual aset
tersebut.
e.
Kemampuan untuk mengukur secara andal pengeluaran
yang
terkait
dengan
aset
tidak
berwujud
selama
pengembangannya.
04. Beban pengurusan perpanjangan atau pembaruan hak atas
tanah diakui sebagai aset tidak berwujud. Beban tersebut
diamortisasi selama, mana yang lebih pendek antara umur legal
hak atau umur ekonomi tanah. Jika beban pengurusan
perpanjangan atau pembaruan hak atas tanah tidak material,
maka dibebankan pada periode berjalan.
05. Penjelasan
mengenai
amortisasi,
penurunan
nilai,
dan
penghentian-pengakuan Aset Tidak Berwujud mengacu pada
penjelasan di Bagian X.1 tentang Aset Tetap.
D.
Perlakuan Akuntansi
Perlakuan akuntansi mengacu pada Bagian X.1 tentang Aset Tetap.
E.
Ilustrasi Jurnal
Ilustrasi jurnal mengacu pada Bagian X.1 tentang Aset Tetap.
F.
Pengungkapan
Hal-hal yang harus diungkapkan untuk setiap kelompok Aset Tidak
Berwujud dengan memisahkan Aset Tidak Berwujud yang dihasilkan
secara internal dan Aset Tidak Berwujud yang lain:
01. Umur manfaat tidak terbatas atau terbatas dan, jika umur
manfaat terbatas, umur manfaat atau tarif amortisasi yang
digunakan.
02. Metode amortisasi yang digunakan untuk Aset Tidak Berwujud
dengan umur manfaat terbatas.
03. Jumlah tercatat bruto dan akumulasi amortisasi (secara agregat
dengan akumulasi rugi penurunan nilai) pada awal dan akhir
periode.
04. Pos dalam Laporan Laba Rugi Komprehensif yang terdapat
amortisasi Aset Tidak Berwujud.
10.13
249
Lanjutan Lampiran 1
05. Rekonsiliasi atas jumlah tercatat pada awal dan akhir periode
yang menunjukkan:
a.
Penambahan, yang secara terpisah mengindikasikan Aset
Tidak Berwujud dari pengembangan internal, diperoleh
secara terpisah, dan diperoleh melalui kombinasi bisnis.
b.
Aset yang dikelompokkan sebagai aset yang dimiliki untuk
dijual atau termasuk dalam kelompok aset lepasan yang
dikelompokkan sebagai dimiliki untuk dijual dan pelepasan
lain.
c.
Peningkatan atau penurunan selama periode yang berasal
dari revaluasi dan dari pengakuan rugi penurunan nilai
atau pembalikan di pendapatan komprehensif lain (jika
ada).
d.
Rugi penurunan nilai yang diakui dalam laba rugi.
e.
Rugi penurunan nilai yang dibalik dalam laba rugi.
f.
Setiap amortisasi yang diakui.
g.
Selisih kurs neto yang timbul dari penjabaran Laporan
Keuangan ke mata uang penyajian.
h.
Perubahaan lain.
06. Untuk Aset Tidak Berwujud yang dinilai dengan umur manfaat
tidak terbatas, jumlah tercatat aset dan alasan yang mendukung
penilaian umur manfaat tidak terbatas tersebut.
07. Penjelasan, jumlah tercatat, dan sisa periode amortisasi dari
setiap Aset Tidak Berwujud yang material terhadap Laporan
Keuangan entitas.
08. Untuk Aset Tidak Berwujud yang diperoleh melalui hibah
pemerintah dan awalnya diakui pada nilai wajar:
a.
nilai wajar pada pengakuan awal atas aset tersebut;
b.
jumlah tercatatnya; dan
c.
setelah pengakuan awal aset tersebut diukur dengan model
biaya atau model revaluasi.
09. Keberadaan dan jumlah tercatat Aset Tidak Berwujud yang
kepemilikannya
dibatasi
dan
jumlah
tercatat
Aset
Tidak
Berwujud yang menjadi jaminan untuk liabilitas.
10. Nilai komitmen kontraktual untuk akuisisi Aset Tidak Berwujud.
10.14
250
Lanjutan Lampiran 1
Jika menggunakan model revaluasi, maka harus diungkapkan halhal berikut:
01. Berdasarkan kelompok Aset Tidak Berwujud:
a.
tanggal efektif revaluasi;
b.
jumlah tercatat Aset Tidak Berwujud yang direvaluasi; dan
c.
jumlah tercatat yang akan diakui jika Aset Tidak Berwujud
diukur dengan model biaya.
02. Jumlah surplus revaluasi Aset Tidak Berwujud pada awal dan
akhir periode, mengindikasikan perubahan selama periode dan
pembatasan apa pun dalam pendistribusian saldo (surplus)
kepada pemegang saham; dan
03. Metode dan asumsi signifikan dalam mengestimasi nilai wajar
aset tersebut.
10.15
251
Lanjutan Lampiran 1
X.3 ASET YANG DIAMBIL-ALIH
A.
Definisi
Aset yang diambil-alih (AYDA) adalah aset yang diperoleh Bank, baik
melalui
pelelangan
maupun
di
luar
pelelangan
berdasarkan
penyerahan secara sukarela oleh pemilik agunan atau berdasarkan
kuasa untuk menjual di luar lelang dari pemilik agunan dalam hal
nasabah tidak memenuhi kewajibannya kepada Bank.
B.
Dasar Pengaturan
PSAK 58 tentang Aset Tidak Lancar yang Dimiliki untuk Dijual dan
Operasi yang Dihentikan.
C.
Penjelasan
Bank wajib melakukan upaya penyelesaian terhadap AYDA yang
dimiliki
yaitu
mengupayakan
penjualan
dengan
segera
serta
mendokumentasikan upaya penyelesaian tersebut.
D.
Perlakuan Akuntansi
D.1 Pengakuan dan Pengukuran
01. Pada saat pengakuan awal, AYDA dicatat pada nilai wajar
setelah dikurangi biaya untuk menjualnya yaitu maksimum
sebesar
kewajiban
nasabah.
Bank
tidak
dapat
mengakui
keuntungan pada saat pengambilalihan aset.
02. Setelah pengakuan awal, AYDA dicatat sebesar nilai yang lebih
rendah antara nilai tercatat dengan nilai wajarnya setelah
dikurangi biaya untuk menjualnya.
03. Jika AYDA mengalami penurunan nilai, maka Bank mengakui
kerugian.
04. Jika AYDA mengalami pemulihan penurunan nilai, maka Bank
mengakui pemulihan penurunan nilai tersebut maksimum
sebesar kerugian penurunan nilai yang telah diakui.
05. AYDA tidak disusutkan.
06. Pada saat penjualan, selisih antara nilai AYDA yang dibukukan
dan
hasil
penjualannya
diakui
sebagai
keuntungan
atau
kerugian.
10.16
252
Lanjutan Lampiran 1
D.2 Penyajian
AYDA disajikan secara terpisah dari aset lain.
E.
Ilustrasi Jurnal
01. Pada saat perolehan
Db. Aset yang diambil alih
Db. Kerugian (jika ada)
Kr. Pembiayaan terkait
02. Pada akhir periode
a.
Jika terdapat penurunan nilai
Db. Kerugian
Kr. Aset yang diambil alih
b.
Jika terdapat peningkatan nilai
Tidak ada jurnal
c.
Jika terdapat peningkatan nilai dan sebelumnya mengalami
penurunan nilai
Db. Aset yang diambil alih
Kr. Keuntungan
03. Pada saat penjualan
F.
Db.
Kas/rekening
Db/Kr.
Kerugian/keuntungan
Kr.
Aset yang diambil alih
Pengungkapan
Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain:
01. Deskripsi AYDA.
02. Nilai wajar AYDA.
03. Metode
dan
asumsi
signifikan
yang
diterapkan
dalam
menentukan nilai wajar dari AYDA, yang mencakup penyataan
apakah penentuan nilai wajar tersebut didukung oleh bukti
pasar atau lebih banyak berdasarkan faktor lain (yang harus
diungkapkan oleh Bank) karena sifat AYDA tersebut dan
keterbatasan data pasar yang dapat diperbandingkan.
04. Upaya penjualan yang dilakukan oleh Bank.
05. Kerugian penurunan nilai AYDA.
06. Keuntungan atau kerugian yang diakui dari penjualan AYDA.
10.17
253
Lanjutan Lampiran 1
07. Segmen dari AYDA, jika dapat diterapkan.
10.18
254
Lanjutan Lampiran 1
BAGIAN XI LIABILITAS LAIN
XI.1 SIMPANAN
A.
Definisi
01. Simpanan adalah kewajiban Bank kepada pihak ketiga (bukan
bank) berupa giro dan tabungan yang mempergunakan prinsip
Wadiah.
02. Wadiah
adalah
titipan
nasabah
yang
harus
dijaga
dan
dikembalikan setiap saat bila nasabah yang bersangkutan
menghendaki.
bertanggungjawab
Bank
atas
pengembalian
titipan dana tersebut.
B.
Dasar Pengaturan
01. Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan
Syariah.
C.
Penjelasan
01. Giro Wadiah adalah titipan pihak ketiga pada Bank yang
penarikannya dapat dilakukan setiap saat dengan menggunakan
cek, bilyet giro, kartu ATM, sarana perintah pembayaran lainnya
atau dengan cara pemindahbukuan. Termasuk di dalamnya giro
Wadiah yang diblokir untuk tujuan tertentu misalnya dalam
rangka escrow account, giro yang diblokir oleh yang berwajib
karena suatu perkara.
02. Tabungan Wadiah adalah titipan pihak ketiga pada Bank yang
penarikannya dapat dilakukan menurut syarat tertentu yang
disepakati
dengan
kuitansi,
kartu
ATM,
sarana
perintah
pembayaran lainnya atau dengan cara pemindahbukuan.
D.
Perlakuan Akuntansi
D.1 Pengakuan dan pengukuran
01. Giro Wadiah
a.
Giro Wadiah diakui sebesar nominal penyetoran atau
penarikan yang dilakukan oleh pemilik rekening.
11.1
255
Lanjutan Lampiran 1
b.
Setoran giro Wadiah yang diterima secara tunai diakui pada
saat uang diterima. Setoran giro Wadiah melalui kliring
diakui setelah efektif diterima.
02. Tabungan Wadiah
a.
Tabungan Wadiah diakui sebesar nominal penyetoran atau
penarikan yang dilakukan oleh pemilik rekening.
b.
Setoran tabungan Wadiah yang diterima secara tunai diakui
pada saat uang diterima. Setoran tabungan Wadiah melalui
kliring diakui setelah efektif diterima.
03. Pemberian bonus atas simpanan kepada nasabah diakui sebagai
beban pada saat terjadinya.
D.2 Penyajian
Saldo simpanan Wadiah disajikan sebesar jumlah nominalnya untuk
masing-masing bentuk simpanan.
E.
llustrasi Jurnal
01. Pada saat penerimaan titipan
Db. Kas/kliring/pemindahbukuan
Kr. Giro/tabungan Wadiah
02. Pada saat penarikan
Db. Giro/tabungan Wadiah
Kr. Kas/kliring/pemindahbukuan
03. Pembayaran bonus giro/tabungan Wadiah
Db. Beban bonus giro/tabungan Wadiah
Kr. Giro/tabungan Wadiah
Kr. Kewajiban pajak penghasilan
F.
Pengungkapan
Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain:
01. Rincian simpanan mengenai:
a.
Jumlah dan jenis simpanan, termasuk pihak berelasi.
b.
Jumlah simpanan yang diblokir untuk tujuan tertentu.
02. Pemberian fasilitas istimewa kepada penyimpan.
11.2
256
Lanjutan Lampiran 1
XI.2 LIABILITAS SEGERA
A.
Definisi
Liabilitas segera adalah kewajiban Bank kepada pihak lain yang
sifatnya wajib segera dibayarkan sesuai dengan perintah pemberi
amanat atau perjanjian yang ditetapkan sebelumnya.
B.
Dasar Pengaturan
01. Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan
Syariah.
C.
Penjelasan
Liabilitas segera antara lain terdiri dari:
01. Penerimaan pajak termasuk potongan pajak yang masih harus
disetor. Kewajiban pajak untuk transaksi mata uang asing
dibukukan dalam Rupiah dengan menggunakan kurs yang
ditetapkan oleh Menteri Keuangan pada saat pemotongan (pajak
terutang).
02. Liabilitas yang sudah jatuh tempo namun belum ditarik seperti
deposito mudharabah, setoran jaminan, bagi hasil yang belum
diambil shahibul maal.
03. Dana transfer/kiriman uang masuk/keluar.
04. Saldo rekening tabungan dan giro yang sudah ditutup namun
belum diambil oleh pemilik rekening.
05. Komponen-komponen di atas apabila jumlahnya material dapat
dikelompokkan dalam pos tersendiri.
D.
Perlakuan Akuntansi
D.1 Pengakuan dan Pengukuran
Liabilitas segera diakui pada saat timbulnya kewajiban; atau diterima
perintah dari pemberi amanat, baik dari nasabah maupun dari bank
lain.
D.2 Penyajian
Liabilitas segera disajikan sebesar jumlah liabilitas Bank yang wajib
segera dibayarkan.
11.3
257
Lanjutan Lampiran 1
E.
Ilustrasi Jurnal
01. Transfer kiriman uang:
a.
Pada saat diterima dana untuk kiriman uang ke pihak lain
Db. Kas/rekening nasabah/kliring
Kr. Liabilitas segera-kiriman uang
b.
Pada saat dilakukan pembayaran kiriman uang
Db. Liabilitas segera-kiriman uang
Kr. Kas/rekening nasabah/kliring
02. Titipan pajak nasabah
a.
Pada saat diterima dana untuk penyetoran pajak ke
rekening penerimaan negara (bila Bank sebagai bank
persepsi) atau dikirim kembali ke bank lain melalui kliring:
Db. Kas/rekening nasabah/kliring
Kr. Liabilitas segera-setoran pajak nasabah
b.
Pada saat kewajiban pajak disetor ke rekening penerimaan
negara
Db. Liabilitas segera-setoran pajak nasabah
Kr. Kas/rekening nasabah/kliring
03. Bagi hasil deposito yang belum diambil shahibul maal
a.
Pada saat bagi hasil deposito yang jatuh tempo dikeluarkan
namun belum diambil oleh shahibul maal
Db. Beban bagi hasil deposito mudharabah
Kr. Liabilitas segera-bagi hasil deposito mudharabah jatuh
tempo
b.
Pada saat bagi hasil deposito mudharabah jatuh tempo
diambil oleh shahibul maal
Db. Liabilitas segera-bagi hasil deposito mudharabah jatuh
tempo
Kr. Kas/rekening nasabah/kliring
Kr. Liabilitas segera-pajak nasabah
04. Penutupan rekening giro wadiah/tabungan mudharabah
a.
Penutupan rekening giro wadiah/tabungan mudharabah
oleh nasabah atau bank
Dr. Giro wadiah/tabungan mudharabah
Kr. Liabilitas segera-penutupan rekening
b.
Pada saat penyelesaian rekening yang ditutup
11.4
258
Lanjutan Lampiran 1
Dr. Liabilitas segera-penutupan rekening
Kr. Kas/rekening nasabah/kliring
F.
Pengungkapan
Bank perlu mengungkapkan hal-hal yang material seperti: kiriman
uang yang belum diambil oleh nasabah dan penutupan rekening.
11.5
259
Lanjutan Lampiran 1
XI.3 LIABILITAS LAINNYA
A.
Definisi
Liabilitas Lainnya adalah semua kewajiban kepada pihak lain atas
kegiatan utama Bank yang tidak dapat digolongkan ke dalam hutang
salam dan hutang istishna.
B.
Dasar Pengaturan
01.
Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan
Syariah.
C.
Penjelasan
01.
Liabilitas merupakan hutang perusahaan masa kini yang timbul
dari
peristiwa
masa
lalu,
penyelesaiannya
diharapkan
mengakibatkan arus keluar dari sumber daya perusahaan yang
mengandung manfaat ekonomi.
02.
Karakteristik
esensial
liabilitas
adalah
bahwa
perusahaan
mempunyai kewajiban masa kini. Kewajiban adalah suatu tugas
atau
tanggung
jawab
untuk
bertindak
atau
untuk
melaksanakan sesuatu dengan cara tertentu. Kewajiban dapat
dipaksakan menurut hukum sebagai konsekuensi dari kontrak
mengikat atau peraturan perundangan.
03.
Termasuk dalam pos Liabilitas lainnya, antara lain:
a.
Setoran jaminan/margin deposit untuk L/C dan bank
garansi;
D.
b.
Pendapatan fee (ujrah) diterima di muka; dan
c.
Kewajiban pajak tangguhan.
Perlakuan Akuntansi
D1. Pengakuan dan Pengukuran
Liabilitas lainnya berupa:
01.
Setoran jaminan/margin deposit diakui sebesar jumlah dana
yang diterima sebagai jaminan untuk penerbitan bank garansi,
pembukaan L/C atau penyewaan safe deposit box.
02.
Pendapatan fee (ujrah) diterima di muka diakui sebesar jumlah
dana yang diterima yang belum diakui sebagai pendapatan.
11.6
260
Lanjutan Lampiran 1
03.
Kewajiban pajak tangguhan diakui sebesar selisih antara jumlah
pajak terhutang dikurangi jumlah pajak yang telah dibayar
untuk periode berjalan dan periode-periode sebelumnya.
D2. Penyajian
Liabilitas
lainnya
disajikan
secara
gabungan,
kecuali
nilainya
material maka wajib disajikan tersendiri dalam Laporan Posisi
Keuangan.
E.
Ilustrasi Jurnal
01. Setoran jaminan
a.
Pada saat menerima setoran jaminan
Dr. Kas/kliring
Kr. Setoran jaminan
b.
Pada saat setoran jaminan jatuh tempo dan diambil oleh
nasabah
Dr. Setoran jaminan
Kr. Kas/kliring
02. Pada saat penerimaan fee (ujrah)
Db. Kas
Kr. Pendapatan fee (ujrah) diterima di muka
03. Pada saat pengakuan pendapatan fee (ujrah) diterima di muka
Db. Pendapatan fee (ujrah) diterima dimuka
Kr. Pendapatan fee (ujrah)
04. Kewajiban pajak tangguhan, pada saat pengakuan kewajiban
pajak tangguhan
Db. Beban pajak tangguhan
Kr. Kewajiban pajak tangguhan
F.
Pengungkapan
Hal-hal yang harus diungkapkan, antara lain:
01. Rincian Liabilitas lainnya;
02. Kebijakan akuntansi; dan
03. Metode amortisasi dan masa manfaat.
11.7
261
Lanjutan Lampiran 1
XI.4. HUTANG PAJAK
A.
Definisi
Hutang pajak adalah pajak badan usaha yang harus disetorkan ke
kas negara oleh Bank berdasarkan ketentuan yang berlaku.
B.
Dasar Pengaturan
Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan
Syariah.
C.
Penjelasan
01.
Hutang pajak badan usaha harus dibayar dan disetorkan sesuai
dengan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan.
02.
Besarnya hutang pajak pada akhir periode perhitungan final
(berdasarkan
SPT
tahunan)
ditentukan
setelah
dikurangi
dengan uang muka pajak yang dibayarkan setiap bulan.
03.
Pajak yang dipungut dan atau dipotong oleh Bank sebagai wajib
pungut disajikan dalam kewajiban segera, dan harus disetorkan
serta dilaporkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan
di bidang perpajakan.
04.
Hutang Pajak Bumi dan Bangunan disajikan sebagai kewajiban
segera.
D.
Perlakuan Akuntansi
D1. Pengakuan dan Pengukuran
01.
Hutang pajak diakui pada saat terjadinya transaksi atau
kejadian
yang
membayar/menyetor
telah
pajak
mewajibkan
kepada
negara
Bank
sebesar
untuk
pajak
terhutang.
02.
Hutang pajak berkurang pada saat disetorkan ke rekening
penerimaan negara.
D2. Penyajian
Pajak yang terhutang disajikan dalam pos hutang pajak sebesar
jumlah yang harus dibayarkan ke kas negara.
11.8
262
Lanjutan Lampiran 1
E.
Ilustrasi Jurnal
01.
Pada saat membayar uang muka pajak
Db. Uang Muka PPh Pasal 25
Kr. Kas/kliring
02.
Pada saat pengakuan hutang pajak untuk PPh Pasal 29
Db. Pajak PPh Badan
Kr. Uang Muka PPh Pasal 25
Kr. Hutang PPh Pasal 29
03.
Pada saat pembayaran/penyetoran PPh Pasal 29
Db. Hutang PPh Pasal 29
Kr. Kas/kliring
F.
Pengungkapan
Bank harus mengungkapkan rincian hutang pajak berdasarkan jenis
pajak yang dipungut dan dibayar/disetorkan ke rekening penerimaan
negara.
11.9
263
Lanjutan Lampiran 1
XI.5. ESTlMASl KERUGIAN KOMITMEN DAN KONTINJENSI
A.
Definisi
Estimasi
kerugian
komitmen
dan
kontinjensi
adalah
taksiran
kerugian akibat tidak dipenuhinya komitmen dan kontinjensi oleh
nasabah.
B.
Dasar Pengaturan
01. PSAK 57 tentang Kewajiban Diestimasi, Kewajiban Kontinjensi
dan Aset Kontinjensi.
C.
Penjelasan
01. Bank terkadang mengadakan transaksi yang tidak berakibat
pada pengakuan aset dan liabilitas pada Laporan Posisi
Keuangan, tetapi berakibat pada timbulnya komitmen dan
kontinjensi. Transaksi seperti itu seringkali merupakan bagian
yang penting dari kegiatan usaha suatu Bank dan dapat
berdampak signifikan terhadap tingkat risiko yang dihadapi
Bank tersebut.
02. Pada umumnya komitmen dan kontinjensi yang mempunyai
risiko kredit digolongkan dalam kualitas lancar, dalam perhatian
khusus, kurang lancar, diragukan dan macet sesuai dengan
ketentuan Bank Indonesia.
03. Pada umumnya komitmen dan kontinjensi yang telah jatuh
tempo dan nasabah tidak dapat memenuhi kewajibannya
dialihkan
menjadi
pembiayaan.
Selanjutnya
perlakuan
akuntansi untuk komitmen dan kontinjensi yang telah dialihkan
tersebut mengikuti akuntansi untuk pembiayaan.
D.
Perlakuan Akuntansi
D1. Pengakuan dan Pengukuran
01.
Estimasi kerugian komitmen dan kontijensi menjadi provisi
diakui jika:
a.
Bank
memiliki
kewajiban
kini
(baik
bersifat
hukum
maupun bersifat konstruktif) sebagai akibat peristiwa masa
lalu;
11.10
264
Lanjutan Lampiran 1
b.
Kemungkinan
besar
penyelesaian
kewajiban
tersebut
mengakibatkan arus keluar sumber daya yang mengandung
manfaat ekonomi; dan
c.
Estimasi yang handal mengenai jumlah kewajiban tersebut
dapat dibuat
Jika kondisi diatas tidak terpenuhi, maka komitmen dan
kontijensi tidak dapat diakui dan diungkapkan dalam Catatan
Atas Laporan Keuangan.
02.
Besarnya estimasi kerugian komitmen dan kontinjensi dibentuk
minimal sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan diakui
sebagai beban pada periode berjalan.
03.
Estimasi kerugian komitmen dan kontinjensi dapat dilakukan
setiap saat atau pada setiap tanggal Laporan Keuangan.
04.
Jika terjadi perubahan kualitas komitmen dan kontinjensi
setelah
tanggal
Laporan
Posisi
Keuangan
tetapi
sebelum
pemeriksaan lapangan oleh auditor eksternal selesai dilakukan,
maka perubahan tersebut dianggap sebagai peristiwa setelah
tanggal Laporan Posisi Keuangan yang mempengaruhi tanggal
Laporan Posisi Keuangan (subsequent event) dan diakui sebagai
koreksi saldo laba.
05.
Jika perubahan kualitas komitmen dan kontinjensi terjadi
setelah tanggal Laporan Posisi Keuangan dan pemeriksaan
lapangan oleh auditor eksternal telah selesai dilakukan, maka
perubahan tersebut dianggap sebagai perubahan estimasi dan
diakui sebagai koreksi dalam Laporan Laba Rugi tahun berjalan.
D2. Penyajian
Estimasi kerugian komitmen dan kontinjensi yang telah menjadi
provisi disajikan pada Laporan Posisi Keuangan sebagai liabilitas.
E.
llustrasi Jurnal
01.
Pembentukan estimasi kerugian komitmen dan kontinjensi
Db. Beban estimasi kerugian komitmen dan kontinjensi
Kr. Estimasi kerugian komitmen dan kontinjensi
02.
Koreksi kelebihan estimasi kerugian komitmen dan kontinjensi
a.
Jika diketahui pada masa subsequent event:
Db. Estimasi kerugian komitmen dan kontinjensi
11.11
265
Lanjutan Lampiran 1
Kr. Saldo laba
b.
Jika diketahui setelah masa subsequent event:
Db. Estimasi kerugian komitmen dan kontinjensi
Kr. Pendapatan
estimasi
kerugian
komitmen
dan
kerugian
komitmen
dan
kontinjensi
03.
Koreksi
kekurangan
estimasi
kontinjensi
a.
jika diketahui pada masa subsequent event:
Db. Saldo laba
Kr. Estimasi kerugian komitmen dan kontinjensi
b.
jika diketahui setelah masa subsequent event:
Db. Beban estimasi kerugian komitmen dan kontinjensi
Kr. Estimasi kerugian komitmen dan kontinjensi
F.
Pengungkapan
Hal-hal yang harus diungkapkan, antara lain:
01. Ikhtisar perubahan estimasi kerugian komitmen dan kontinjensi
dalam tahun bersangkutan:
a.
Saldo awal tahun (1)
b.
Selisih kurs penjabaran untuk estimasi dalam mata uang
asing (2)
c.
Pembentukan estimasi selama tahun berjalan (3)
d.
Pengurangan pembentukan estimasi selama tahun berjalan
(4)
e.
Koreksi karena pengalihan komitmen dan kontinjensi ke
dalam Laporan Posisi Keuangan (5)
f.
Saldo akhir tahun (1) + (2) + (3) - (4) - (5).
02. Kebijakan dan metode yang digunakan untuk menentukan
estimasi kerugian komitmen dan kontinjensi.
G.
Ketentuan Lain-lain
Komitmen dan kontinjensi dalam mata uang asing wajib dibentuk
estimasi kerugian dalam mata uang asing yang sama.
11.12
266
Lanjutan Lampiran 1
XI.6 PINJAMAN SUBORDlNASl
A.
Definisi
Pinjaman subordinasi adalah pinjaman yang berdasarkan suatu
perjanjian hanya dapat dilunasi apabila Bank telah memenuhi
kewajiban tertentu dan dalam hal terjadi likuidasi hak tagihnya
berlaku paling akhir dari semua kewajiban dan investasi tidak terikat.
B.
Dasar Pengaturan
01.
Kerangka Dasar Penyajian dan Penyusunan Laporan Keuangan
Syariah.
C.
Penjelasan
02.
Tujuan adanya pinjaman subordinasi:
a.
Mengumpulkan dana untuk menambah setoran modal.
b.
Memenuhi kebutuhan dana di Bank dari pemilik atau
pemegang saham.
c.
03.
Memperkuat permodalan Bank.
Prinsip
Syariah
yang
dapat
digunakan
untuk
pinjaman
subordinasi adalah Qardh atau Mudharabah Muqayyadah.
04.
Qardh
merupakan
pinjaman
tanpa
imbalan
yang
memungkinkan peminjam untuk menggunakan dana tersebut
selama jangka waktu tertentu dan wajib mengembalikannya
dalam jumlah yang sama pada akhir periode yang disepakati.
05.
Pinjaman subordinasi yang menggunakan prinsip Qardh harus
memenuhi ketentuan sebagai berikut:
a.
Adanya akad tertulis antara Bank dan pemberi pinjaman;
b.
Pemilik dana dilarang meminta tambahan yang ditetapkan
di muka;
c.
Bank
dapat
memberikan
hadiah/bonus
berdasarkan
kemauan sendiri;
d.
Mendapat persetujuan dari Bank Indonesia;
e.
Tidak dijamin oleh Bank yang bersangkutan dan disetor
penuh;
f.
Minimal berjangka waktu lima tahun;
11.13
267
Lanjutan Lampiran 1
g.
Pelunasan
persetujuan
sebelum
jatuh
tempo
Bank
Indonesia
dan
harus
mendapat
dengan
pelunasan
tersebut permodalan Bank tetap sehat; dan
h.
Hak tagihnya dalam hal likuidasi berlaku paling akhir (jika
ada sisa hasil likuidasi).
06.
Mudharabah Muqayyadah adalah akad mudharabah dimana
shahibul maal memberikan batasan kepada mudharib mengenai
tempat, cara dan obyek investasi.
07.
Pinjaman subordinasi yang menggunakan prinsip Mudharabah
Muqayyadah harus memenuhi ketentuan sebagai berikut:
a.
Adanya akad tertulis antara Bank dan pemberi pinjaman;
b.
Pemilik
dana
memperoleh
nisbah
bagi
hasil
sesuai
kesepakatan;
c.
Mendapat persetujuan dari Bank Indonesia;
d.
Tidak dijamin oleh bank yang bersangkutan dan disetor
penuh;
e.
Minimal berjangka waktu lima tahun;
f.
Pelunasan
persetujuan
sebelum
jatuh
tempo
Bank
Indonesia
dan
harus
mendapat
dengan
pelunasan
tersebut permodalan Bank tetap sehat; dan
g.
Hak tagihnya dalam hal likuidasi berlaku paling akhir (jika
ada sisa hasil likuidasi).
08.
Pinjaman subordinasi yang dapat dijadikan komponen modal
pelengkap ditetapkan berdasarkan ketentuan yang berlaku.
D.
Perlakuan Akuntansi
D1. Pengakuan dan Pengukuran
Pinjaman subordinasi diakui pada saat dana diterima sebesar jumlah
yang disepakati.
D2. Penyajian
Pinjaman subordinasi disajikan di Laporan Posisi Keuangan sebesar
saldo pinjaman subordinasi yang belum dilunasi pada tanggal
laporan.
E.
llustrasi Jurnal
01.
Pada saat pinjaman subordinasi ditandatangani
11.14
268
Lanjutan Lampiran 1
Dr. Tagihan komitmen-pinjaman subordinasi
Kr. Rekening lawan-tagihan komitmen
02.
Pada saat pinjaman subordinasi diterima
Dr. Rekening lawan-tagihan komitmen
Kr. Tagihan komitmen-pinjaman subordinasi
Dr. Kas/kliring/rekening
Kr. Pinjaman subordinasi
03.
Pada saat pengakuan beban bagi hasil/bonus
Db. Beban bagi hasil/bonus
Kr. Liabilitas
segera-bagi
hasil
Mudharabah
Muqayyadah
/bonus Qardh
04.
Pada saat bagi hasil/bonus dibayarkan
Db.
Liabilitas
segera-bagi
hasil
Mudharabah
Muqayyadah
/bonus Qardh
Kr. Kas/kliring/rekening
05.
Pada saat penyelesaian pinjaman subordinasi
a.
Pelunasan
Dr. Pinjaman subordinasi
Kr. Kas/kliring/rekening
b.
Dialihkan menjadi setoran modal
Dr. Pinjaman subordinasi
Kr. Modal disetor
F.
Pengungkapan
Hal-hal yang harus diungkapkan, antara lain:
01. Sumber dana pinjaman subordinasi;
02. Nisbah bagi hasil, jangka waktu dan jatuh tempo;
03. Jenis valuta (Rupiah dan valuta asing); dan
04. Akad yang dipergunakan.
G.
Ketentuan Lain-lain
Pengalihan pinjaman subordinasi menjadi setoran modal hanya dapat
dilakukan berdasarkan ketentuan Bank Indonesia.
11.15
269
Lanjutan Lampiran 1
BAGIAN XII
EKSPOR DAN IMPOR
XII.1 TAGIHAN DAN KEWAJIBAN AKSEPTASI
A. Definisi
01.
Letter of Credit (L/C) adalah suatu akad yang diterbitkan Opening
Bank atas permintaan importir (applicant) dimana Bank berjanji akan
melaksanakan pembayaran kepada eksportir (beneficiary) selama
memenuhi syarat-syarat yang diminta dalam L/C.
02.
Wesel adalah alat penarikan pembayaran yang diterbitkan oleh
eksportir atas dasar suatu L/C.
03.
Ekspor adalah perdagangan dengan cara mengeluarkan barang dari
wilayah pabean Indonesia sesuai ketentuan perundang-undangan
yang berlaku.
04.
Impor adalah perdagangan dengan cara memasukkan barang dari
luar daerah pabean ke dalam wilayah pabean Indonesia sesuai
ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
05.
Beneficiary adalah eksportir yaitu pihak kepada siapa L/C dibuka
(penerima L/C).
06.
Importir adalah pembeli yaitu pihak yang memberi amanat kepada
issuing bank untuk membuka L/C.
07.
Issuing Bank adalah Bank penerbit L/C.
08.
Advising Bank adalah Bank yang diminta oleh Issuing Bank untuk
menyampaikan L/C kepada beneficiary.
09.
Paying Bank adalah Bank yang melakukan pembayaran Sight L/C
atau Deferred Payment L/C.
10.
Confirming Bank adalah Bank yang ikut menjamin pembayaran L/C
kepada beneficiary atas penyerahan dokumen-dokumen yang sesuai
syarat L/C dengan membubuhkan konfirmasinya pada L/C yang
bersangkutan.
11.
Accepting Bank adalah Bank yang menjamin pembayaran wesel
ekspor berjangka yang diterbitkan atas dasar usance L/C dengan
melakukan akseptasi pada wesel yang bersangkutan.
12.
Negotiating Bank adalah Bank yang melakukan pembayaran kepada
eksportir dan mengajukan reimbursement claim kepada Issuing Bank
atau Paying Bank atau Reimbursing Bank.
12.1
270
Lanjutan Lampiran 1
13.
Reimbursing Bank adalah Bank yang telah mendapat otorisasi dari
Issuing Bank untuk membayar reimbursement claim dari Negotiating
Bank.
14.
Revocable L/C adalah L/C yang dapat diubah atau dibatalkan
sepihak oleh Issuing Bank tanpa perlu memperoleh persetujuan
terlebih dahulu dari beneficiary dan pihak-pihak terkait lainnya.
15.
Irrevocable L/C adalah L/C yang tidak dapat diubah atau dibatalkan
tanpa persetujuan terlebih dahulu dari beneficiary dan pihak-pihak
terkait lainnya.
16.
Sight L/C adalah L/C yang pembayarannya kepada beneficiary
dilakukan pada saat dokumen-dokumen L/C diajukan kepada Bank.
17.
Deferred Payment L/C adalah L/C yang pembayarannya kepada
beneficiary dilakukan pada waktu yang ditentukan setelah tanggal
pengajuan dokumen-dokumen yang disyaratkan L/C.
18.
Acceptance L/C adalah L/C yang mengharuskan wesel yang ditarik
oleh beneficiary diaksep oleh Accepting Bank yang akseptasinya
dilakukan
sepanjang
dokumen-dokumen
yang
diajukan
telah
memenuhi syarat L/C.
19.
Negotiation L/C adalah L/C yang pembayarannya kepada beneficiary
dilakukan pada saat pengajuan dokumen-dokumen yang disyaratkan
L/C dan pembayaran tersebut terlebih dahulu atas beban dana
Negotiating Bank.
B. Dasar Pengaturan
01.
PSAK 50 tentang Instrumen Keuangan: Penyajian dan PSAK 55
tentang
Instrumen
Keuangan:
Pengakuan
dan
Pengukuran,
sepanjang tidak bertentangan dengan KDPPLKS.
02.
Entitas syariah, sepanjang praktis, menyajikan Catatan Atas Laporan
Keuangan secara sistematis. Entitas syariah membuat referensi
silang atas setiap pos dalam Laporan Posisi Keuangan, Laporan Laba
Rugi Komprehensif, Laporan Perubahan Ekuitas, Laporan Arus Kas,
Laporan
Sumber dan
Penggunaan
Dana
Zakat, dan
Laporan
Pengunaan Dana Kebijakan untuk informasi yang berhubungan
dalam catatan atas laporan keuangan. (PSAK 101 Revisi 2011,
paragraf 120)
12.2
271
Lanjutan Lampiran 1
03.
Untuk membantu pengguna Laporan Keuangan memahami dan
membandingkan dengan Laporan Keuangan entitas lain, entitas
syariah biasanya menyajikan Catatan Atas Laporan Keuangan
dengan urutan sebagai berikut:
(a) pernyataan atas kepatuhan terhadap SAK (lihat paragraf 19);
(b) ringkasan kebijakan akuntansi signifikan yang diterapkan (lihat
paragraf 125);
(c) informasi tambahan untuk pos-pos yang disajikan dalam Laporan
Perubahan Posisi Keuangan, Laporan Laba Rugi Komprehensif,
Laporan Perubahan Ekuitas, Laporan Arus Kas, Laporan Sumber
dan
Penggunaan
Dana
Zakat,
dan
Laporan
Sumber
dan
Penggunaan Dana Lebajikan sesuai dengan urutan penyajian
laporan dan penyajian masing-masing pos; dan
(d) pengungkapan lain, termasuk:
(i) liabilitas kontinjensi (lihat PSAK 57: Provisi, Liabilitas
Kontinjensi, dan Aset Kontinjensi) dan komitmen kontraktual
yang belum diakui; dan
(ii) pengungkapan informasi nonkeuangan, misalnya tujuan dan
kebijakan manajemen risiko keuangan (lihat PSAK 60
tentang Instrumen Keuangan: Pengungkapan) (PSAK 101
Revisi 2011, Paragraf 121)
04.
Aset
diakui
dalam
Laporan
Posisi
Keuangan
kalau
besar
kemungkinan bahwa manfaat ekonominya di masa depan diperoleh
entitas syariah dan aset tersebut mempunyai nilai atau biaya yang
dapat diukur dengan andal. (KDPPLKS: paragraf 116)
05.
Liabilitas diakui dalam Laporan Posisi Keuangan kalau besar
kemungkinan bahwa pengeluaran sumber daya yang mengandung
manfaat ekonomi akan dilakukan untuk menyelesaikan kewajiban
(obligation) masa kini dan jumlah yang harus diselesaikan dapat
diukur dengan andal. Dalam praktek, kewajiban (obligation) menurut
kontrak yang belum dilaksanakan oleh kedua belah pihak (misalnya,
liabilitas atas pesanan persediaan yang belum diterima) pada
umumnya tidak diakui sebagai liabilitas dalam Laporan Keuangan.
Namun
demikian,
kewajiban
(obligation)
semacam
itu
dapat
memenuhi definisi liabilitas dan, kalau dalam keadaan tertentu
kriteria pengakuan terpenuhi, maka kewajiban (obligation) tersebut
12.3
272
Lanjutan Lampiran 1
dapat dianggap memenuhi syarat pengakuan. Dalam kasus ini,
pengakuan liabilitas mengakibatkan pengakuan aset atau beban yang
bersangkutan (KDPPLKS: paragraf 118).
06.
Penghasilan diakui dalam Laporan Laba Rugi Komprehensif kalau
kenaikan manfaat ekonomi di masa depan yang berkaitan dengan
peningkatan aset atau penurunan liabilitas telah terjadi dan dapat
diukur dengan andal. Ini berarti pengakuan penghasilan terjadi
bersamaan dengan pengakuan kenaikan aset atau penurunan
liabilitas (misalnya, kenaikan bersih aset yang timbul dari penjualan
barang atau jasa atau penurunan liabilitas yang timbul dari
pembebasan pinjaman yang masih harus dibayar) (KDPPLKS:
paragraf 120).
07.
Beban diakui dalam
Laporan
Laba
Rugi
Komprehensif kalau
penurunan manfaat ekonomi masa depan yang berkaitan dengan
penurunan aset atau peningkatan liabilitas telah terjadi dan dapat
diukur dengan andal. Ini berarti pengakuan beban terjadi bersamaan
dengan
pengakuan
kenaikan
liabilitas
atau
penurunan
aset
(misalnya, akrual hak karyawan atau penyusutan aset tetap)
(KDPPLKS: paragraf 122)
08.
Provisi diakui jika:
(a) entitas memiliki kewajiban kini (baik bersifat hukum maupun
bersifat konstruktif) sebagai akibat peristiwa masa lalu;
(b) kemungkinan
besar
penyelesaian
kewajiban
tersebut
mengakibatkan arus keluar sumber daya yang mengandung
manfaat ekonomi; dan
(c) estimasi yang andal mengenai jumlah kewajiban tersebut dapat
dibuat.
Jika kondisi di atas tidak terpenuhi, maka provisi tidak diakui.
(PSAK 57: paragraf 14).
09.
Entitas tidak diperkenankan mengakui liabilitas kontinjensi. (PSAK
57: paragraf 27)
C. Penjelasan
01.
Letter of Credit (L/C) Impor Syariah adalah surat pernyataan akan
membayar kepada Eksportir yang diterbitkan oleh Bank untuk
12.4
273
Lanjutan Lampiran 1
kepentingan Importir dengan pemenuhan persyaratan tertentu sesuai
dengan prinsip Syariah.
Akad untuk L/C terkait transaksi Impor yang sesuai dengan Syariah
dapat digunakan beberapa bentuk:
a. Akad Wakalah bil Ujrah dengan ketentuan:
i.
Importir harus memiliki dana pada Bank sebesar harga
pembayaran barang yang diimpor;
ii. Importir pada Bank melakukan akad Wakalah bil Ujrah untuk
pengurusan dokumen-dokumen transaksi impor;
iii. Besar ujrah harus disepakati diawal dan dinyatakan dalam
bentuk nominal, bukan dalam bentuk prosentase.
b. Akad Wakalah bil Ujrah dan Qardh dengan ketentuan:
i.
Importir tidak memiliki dana cukup pada Bank untuk
pembayaran harga barang yang diimpor;
ii. Importir dan Bank melakukan akad Wakalah bil Ujrah untuk
pengurusan dokumen-dokumen transaksi impor;
iii. Besar ujrah harus disepakati diawal dan dinyatakan dalam
bentuk nominal, bukan dalam bentuk prosentase;
iv. Bank memberikan dana talangan (qardh) kepada importir
untuk pelunasan pembayaran barang impor.
c. Akad Murabahah dengan ketentuan:
i.
Bank
bertindak
selaku
pembeli
yang
mewakili
kepada
importir untuk melakukan transaksi dengan eksportir
ii. Pengurusan dokumen dan pembayaran dilakukan oleh Bank
saat dokumen diterima (at sight) dan/atau tangguh sampai
dengan jatuh tempo (usance);
iii. Bank menjual barang secara murabahah kepada importir,
baik dengan pembayaran tunai maupun cicilan.
iv. Biaya-biaya yang dikeluarkan oleh Bank akan diperhitungkan
sebagai harga perolehan barang.
02.
Akad untuk L/C terkait transaksi Ekspor yang sesuai dengan prinsip
Syariah dapat berupa:
a. Akad Wakalah bil Ujrah dengan ketentuan:
i.
Bank melakukan pengurusan dokumen-dokumen ekspor;
12.5
274
Lanjutan Lampiran 1
ii. Bank melakukan penagihan (collection) kepada bank penerbit
L/C (issuing bank), selanjutnya dibayarkan kepada eksportir
setelah dikurangi ujrah;
iii. Besar ujrah harus disepakati di awal dan dinyatakan dalam
bentuk nominal, bukan dalam prosentase.
b. Akad Wakalah bil Ujrah dan Qardh dengan ketentuan:
i.
Bank melakukan pengurusan dokumen-dokumen ekspor;
ii. Bank melakukan penagihan (collection) kepada bank penerbit
L/C (issuing bank);
iii. Bank memberikan dana talangan (Qardh) kepada nasabah
eksportir sebesar harga barang ekspor;
iv. Besar ujrah harus disepakati di awal dan dinyatakan dalam
bentuk nominal, bukan dalam bentuk prosentase.
v.
Pembayaran ujrah dapat diambil dari dana talangan sesuai
kesepakatan dalam akad.
vi. Antara akad Wakalah bil Ujrah dan akad Qardh, tidak
diperbolehkan adanya keterkaitan (ta’alluq).
c. Akad Wakalah Bil Ujrah dan Mudharabah dengan ketentuan:
i.
Bank memberikan kepada eksportir seluruh dana yang
dibutuhkan dalam proses produksi barang ekspor yang
dipesan oleh importir;
ii. Bank melakukan pengurusan dokumen-dokumen ekspor;
iii. Bank melakukan penagihan (collection) kepada bank penerbit
L/C (Issuing Bank);
iv. Pembayaran oleh bank penerbit L/C dapat dilakukan pada
saat dokumen diterima (at sight) atau pada saat jatuh tempo
(usance);
v.
Pembayaran dari bank penerbit L/C (Issuing Bank) dapat
digunakan untuk:
1) Pembayaran ujrah;
2) Pengembalian dana mudharabah;
3) Pembayaran bagi hasil.
vi. Besar ujrah harus disepakati di awal dan dinyatakan dalam
bentuk nominal, bukan dalam bentuk prosentase.
03.
Mekanisme transaksi Ekspor dan Impor
12.6
275
Lanjutan Lampiran 1
a. Sight LC/SKBDN
Langkah
1
Tindakan
Importir
(applicant)
dan
eksportir
(beneficiary)
menandatangani sales contract
2
Applicant mengajukan permohonan pembukaan sight
LC kepada issuing bank
3
Issuing bank menerbitkan sight LC kepada beneficiary
melalui perantaraan advising bank
4
Advising bank meneruskan sight LC kepada beneficiary
5
Beneficiary
melakukan
pengiriman
barang
dan
mempersiapkan dokumen-dokumen yang disyaratkan
dalam LC
6
Beneficiary mempresentasikan dokumen-dokumen ke
negotiating bank
7
Apabila dokumen sesuai dengan syarat dan kondisi
LC, negotiating bank akan melakukan pembayaran
terlebih
dahulu
kepada
beneficiary
dengan
hak
recourse. Proses ini dikenal dengan istilah negosiasi
8
Negotiating
bank
akan
mengirimkan
dokumen-
dokumen tersebut ke issuing bank
9
Issuing bank akan memeriksa dokumen. Apabila
dokumen
clean,
issuing
bank
akan
melakukan
pembayaran ke negotiating bank
10 & 11
Applicant melakukan pelunasan ke issuing bank dan
mengambil dokumen untuk keperluan pengeluaran
12.7
276
Lanjutan Lampiran 1
barang
b. Usance LC/SKBDN
Langkah
Tindakan
1
Pihak importir (applicant) dan eksportir (Beneficiary)
menandatangani kontrak penjualan
2
Applicant
mengajukan
permohonan
pembukaan
usance LC kepada issuing bank
3
Issuing
bank
menerbitkan
usance
LC
kepada
Beneficiary melalui perantaraan advising bank
4
Advising
bank
meneruskan
usance
LC
kepada
Beneficiary
5
Beneficiary
melakukan
pengiriman
barang
dan
mempersiapkan dokumen-dokumen yang diisyaratkan
dalam LC
6
Beneficiary mempresentasikan dokumen-dokumen ke
negotiating bank
7
Apabila dokumen sesuai dengan syarat dan kondisi
LC, negotiating bank dapat melakukan pembayaran di
muka kepada Beneficiary sebesar nilai dokumen
dikurangi diskon/bunga. Proses ini dikenal dengan
istilah diskonto
8
Negotiating
bank
akan
mengirimkan
dokumen-
dokumen tersebut ke issuing bank
12.8
277
Lanjutan Lampiran 1
9
Issuing bank akan memeriksa dokumen. Apabila
dokumen clean, issuing bank akan mengirimkan
teleks akseptasi ke negotiating bank
10
Applicant menyerahkan surat aksep ke issuing bank
dan
mengambil
dokumen
untuk
keperluan
pengeluaran barang
11
Applicant melakukan pelunasan ke issuing bank pada
saat jatuh tempo
12
Issuing
bank
akan
melakukan
pembayaran
ke
negotiating bank
c. Sight/usance LC/SKBDN dengan pelunasan melalui reimbursing
bank dimana advising bank bukan negotiating bank
Langkah
Tindakan
1
Pihak importir (applicant) dan eksportir (beneficiary)
menandatangani kontrak penjualan
2
Applicant
mengajukan
permohonan
pembukaan
LC/SKBDN kepada issuing bank
3a
Issuing
bank
menerbitkan
LC/SKBDN
kepada
beneficiary melalui perantaraan advising bank
3b
Issuing
bank
memberikan
reimbursement
authorization kepada reimbursing bank
4
Advising
bank
meneruskan
LC/SKBDN
kepada
12.9
278
Lanjutan Lampiran 1
beneficiary
5
Beneficiary mengirimkan/mengapalkan barang sesuai
permintaan dalam LC/SKBDN
6
Beneficiary mempresentasikan dokumen-dokumen ke
negotiating bank
7a
Negotiating
bank
mengirimkan
dokumen
kepada
issuing bank
7b
Negotiating bank melakukan claim kepada reimbursing
bank untuk melakukan pembayaran.
8
Reimbursing
melakukan
pembayaran
kepada
negotiating bank (claiming bank)
9
Negotiating bank melakukan pembayaran kepada
beneficiary
10
Issuing
bank
melakukan
pembayaran
kepada
reimbursing bank
11
Applicant melakukan pelunasan LC/SKBDN kepada
issuing bank
12
Issuing
Bank
menyerahkan
dokumen
kepada
applicant untuk menebus/mengambil barang
04.
Dalam transaksi ekspor impor terdapat 2 perlakuan akuntansi, yaitu:
a. Akuntansi yang terkait dengan aset dan kewajiban keuangan yang
berasal dari hak dan kewajiban kontraktual, antara lain untuk
tagihan dan kewajiban akseptasi serta wesel ekspor yang diambil
alih Bank. Wesel ekspor lebih lanjut dapat dilihat pada Bab
mengenai surat berharga;
b. Akuntansi
yang
terkait
dengan
kewajiban
kontinjensi
dan
kewajiban diestimasi, antara lain untuk jaminan keuangan
(financial guarantee) seperti shipping guarantee.
05.
Pendapatan/biaya dalam transaksi ekspor-impor mencakup komisi
akseptasi,
komisi
pembukaan
LC/SKBDN,
biaya
pengiriman
dokumen, dan komisi negosiasi dokumen.
06.
Tagihan akseptasi termasuk dalam kategori Pinjaman yang Diberikan
dan Piutang.
07.
Kewajiban akseptasi termasuk dalam kategori kewajiban lainnya yang
dicatat pada biaya perolehan diamortisasi.
12.10
279
Lanjutan Lampiran 1
08.
Berdasarkan
cara
penyelesaian
pembayarannya,
LC/SKBDN
dibedakan menjadi:
a. LC/SKBDN atas unjuk (sight payment);
b. LC dengan pembayaran kemudian (deffered payment);
c. LC/SKBDN dengan akseptasi (acceptance);
d. LC/SKBDN dengan negosiasi (negotiation).
09.
LC/SKBDN diterbitkan oleh issuing bank atas permintaan pemohon
(applicant). LC/SKBDN memberi hak kepada Beneficiary untuk
meminta
pembayaran
korespondennya
kepada
berdasarkan
issuing
bank
pemenuhan
melalui
bank
persyaratan
yang
tercantum dalam LC/SKBDN.
SKBDN tunduk pada Peraturan Bank Indonesia sedangkan LC
tunduk
pada
Uniform Customs
and
Practice
for
Documentary
Credits/UCPDC.
10.
Setelah menerima LC/SKBDN dari issuing bank, advising bank
meneruskannya L/C tersebut kepada beneficiary.
11.
Pada saat bank menerima dokumen-dokumen dari beneficiary, Bank
melakukan pemeriksaan dokumen sesuai dengan ketentuan yang
berlaku dan selanjutnya melakukan kegiatan sebagai berikut, sesuai
dengan jenis LC/SKBDN:
a. LC/SKBDN atas unjuk (Sight LC/SKBDN)
Bank pembayar melakukan pembayaran kepada beneficiary (atas
beban issuing bank) sesuai dengan persyaratan LC/SKBDN dan
kemudian meneruskan dokumen-dokumen yang diterima kepada
issuing bank.
b. LC/SKBDN berjangka (Usance LC/SKBDN)
Bank meneruskan dokumen-dokumen yang diterima kepada
issuing bank untuk dimintakan akseptasi dari accepting bank.
c. LC/SKBDN yang ditagih dengan collection
Remitting bank mengirim dokumen-dokumen kepada issuing bank
untuk
ditagihkan
pembayarannya
tanpa
terlebih
dahulu
melakukan pembayaran kepada beneficiary.
LC/SKBDN dengan pembayaran seperti ini terjadi karena antara
lain:
i.
dokumen
yang
diajukan
terdapat
penyimpangan
(discrepancy/ies); atau
12.11
280
Lanjutan Lampiran 1
ii. tidak ada Bank yang bersedia sebagai negotiating bank
12.
Penerimaan dari transaksi akseptasi dianggap sebagai fee base
income dari Bank dan tidak dibagi-hasilkan.
13.
Jika LC mengalami default, maka fasilitas tersebut akan menjadi
pembiayaan dan bagi hasil yang diterima akan dilaporkan dalam bagi
hasil kepada nasabah.
D. Perlakuan Akuntansi
D1.
Pengakuan dan Pengukuran
Transaksi Ekspor
01.
Pada saat menerima L/C dari issuing bank, tidak diakui sebagai
tagihan komitmen atau kontinjensi. Dalam hal Bank penerus L/C
menambahkan konfirmasi untuk menjamin pembayaran L/C maka
Bank mengakui kewajiban komitmen kepada beneficiary dan pada
saat yang sama Bank mengakui tagihan komitmen kepada issuing
bank.
02.
Pada saat Bank meneruskan dan/atau mengkonfirmasi L/C yang
diterimanya dari bank penerbit maka Bank mengakui pendapatan
provisi (advising fee dan/atau confirming fee) yang dipungut.
03.
Sight L/C
Pada saat pembayaran dokumen-dokumen yang diajukan beneficiary,
bank pembayar mengakui sebagai tagihan kepada issuing bank
dalam akun tagihan lainnya-wesel ekspor atau nostro.
04.
Usance (Deferred Payment) L/C
a. Pada saat Bank menerima wesel berjangka yang telah diaksep dari
accepting bank, Bank mengakui tagihan kepada accepting bank
sebagai akun tagihan akseptasi dan kewajiban kepada beneficiary
sebesar nilai L/C.
b. Apabila sebelum jatuh tempo Bank melakukan negosiasi/pengambil-alihan atas tagihan Usance L/C (deferred payment L/C)
maka Bank melakukan pembayaran kepada beneficiary sebesar
nilai L/C dan mengakui tagihan kepada bank penerbit sebesar
nilai L/C dalam akun tagihan lainnya-wesel ekspor berjangka.
c. Bank diperkenankan meminta fee negosiasi/pengambil-alihan
wesel berjangka tersebut namun tidak diperkenankan melakukan
diskonto.
12.12
281
Lanjutan Lampiran 1
d. Apabila Bank pembayar menerima pembayaran dari Issuing
bank/Accepting
bank
pada
saat
jatuh
tempo
atas
tagihan
Usance/deferred payment L/C maka dilakukan penyelesaian atas
tagihan lainnya - wesel ekspor berjangka.
05.
Untuk pembayaran dimuka selain untuk L/C dengan negosiasi dapat
juga dilakukan untuk L/C dengan pembayaran kemudian (deferred
payment L/C) dan L/C dengan akseptasi (acceptance L/C). Perlakuan
akuntansinya mengikuti ketentuan dalam butir 6).
Transaksi Impor
01.
Pada saat membuka L/C, Bank mencatat ke dalam akun:
a. kewajiban komitmen (irrevocable L/C) dalam mata uang asing
sebesar nilai L/C;
b. setoran jaminan impor (jika ada) sesuai mata uang asing dalam
L/C sebesar setoran yang diterima;
c. pendapatan provisi penerbitan L/C sebesar provisi yang diterima.
02.
Pendapatan provisi penerbitan L/C yang diterima diakui sebagai
pendapatan pada saat diterima (basis kas).
03.
Sight L/C
a. Pada saat penerimaan dokumen dari bank koresponden dan
selama masa pemeriksaan (maksimal 7 hari kerja perbankan
setelah diterimanya dokumen) tidak dilakukan penjurnalan (no
journal entry).
b. Setelah pemeriksaan selesai dan dokumen pengapalan (shipping
documents) tidak terdapat penyimpangan (discrepancy/ies) atau
terdapat penyimpangan (discrepancy/ies) tetapi diterima oleh
applicant, maka Bank penerbit L/C mengakui kewajiban dan
melakukan pembayaran kepada bank koresponden sebesar nilai
L/C atau nilai realisasi L/C dan pada saat yang sama mengakui
tagihan kepada applicant sebesar nilai yang sama pada akun
tagihan lainnya.
c. Apabila dokumen termasuk bill of lading belum diterima dari bank
koresponden dan applicant meminta Bank untuk menerbitkan
shipping guarantee, maka Bank penerbit L/C mengakui kewajiban
kepada bank koresponden sebesar nilai L/C atau nilai realisasi
L/C pada akun kewajiban lain-lain dan mengakui tagihan kepada
applicant sebesar nilai yang sama pada akun tagihan lainnya.
12.13
282
Lanjutan Lampiran 1
Pada saat yang sama Bank mengakui tagihan kontinjensi shipping
guarantee kepada applicant dan kewajiban kontinjensi kepada
maskapai pelayaran.
d. Pada saat yang sama dengan transaksi pada butir b) dan c), Bank
penerbit melakukan reversal pencatatan komitmen/kontinjensi
pembukuan L/C sebesar nilai L/C atau nilai realisasi L/C.
e. Pada saat dokumen termasuk bill of lading diterima dari bank
koresponden dan pemeriksaan telah dilakukan (untuk kondisi
butir c). maka perlakuan akuntansi mengikuti butir b). Pada saat
yang sama me-reverse tagihan dan kewajiban kontinjensi dari
penerbitan shipping guarantee.
f. Penyelesaian
tagihan
Issuing
bank
(bank
penerbit)
oleh
applicant/importir dapat dilakukan sebagai berikut:
i.
Applicant menebus dokumen pengapalan (menyelesaikan
kewajibannya) secara tunai setelah dikurangi dengan setoran
jaminan (jika ada).
ii. Applicant menebus dokumen pengapalan (menyelesaikan
kewajibannya) dengan menggunakan fasilitas pembiayaan
mudharabah/musyarakah/murabahah
dari
bank
penerbit
setelah dikurangi dengan setoran jaminan (jika ada).
04.
L/C dengan pembayaran kemudian (Deferred Payment L/C).
a. Dalam hal Bank menerima promes yang diterbitkan oleh pemohon
(applicant) untuk beneficiary sebesar nilai L/C atau nilai realisasi
L/C, maka Bank penerbit tidak mengakui kewajiban kepada
beneficiary atas penerbitan promes tersebut.
b.
i.
Dalam hal promes dijamin (aval) oleh bank penerbit maka
bank penerbit sebagai penjamin (avalis) mengakui tagihan
dan
kewajiban
promes.
Pada
komitmen-penerbitan
saat
yang
sama
efek
sebesar
jumlah
nilai
kewajiban
komitmen/kontinjensi L/C impor dikurangi sebesar nilai
promes.
ii. Apabila applicant (pemohon aval) wanprestasi atas penerbitan
promes tersebut maka bank penerbit sebagai penjamin
(avalis) mengakui kewajiban lainnya-realisasi aval kepada
beneficiary c.q. correspondent bank sebesar nilai promes dan
mengakui tagihan lainnya kepada pemohon aval/applicant
12.14
283
Lanjutan Lampiran 1
sebesar nilai yang sama. Pada saat yang sama mereverse
tagihan dan kewajiban komitmen-penerbitan efek.
c.
i.
Dalam hal promes dijamin (aval) oleh bukan bank penerbit
maka bank penjamin (avalis) mengakui tagihan/kewajiban
komitmen-penerbitan efek sebesar nilai promes. Pada saat
yang
sama
bank
penerbit
L/C
me-reversal
kewajiban
komitmen/kontinjensi L/C impor sebesar nilai L/C atau nilai
realisasi L/C.
ii. Apabila applicant (pemohon aval) wanprestasi atas penerbitan
promes tersebut maka bank penjamin sebagai penjamin
(avalis) mengakui kewajiban lainnya-realisasi aval kepada
beneficiary melalui bank koresponden sebesar nilai promes
dan
mengakui
tagihan
lainnya
kepada
pemohon
aval/applicant sebesar nilai yang sama. Pada saat yang sama
me-reverse tagihan dan kewajiban komitmen-penerbitan efek.
05.
L/C dengan akseptasi (Acceptance L/C).
a. Bank pengaksep adalah Bank penerbit
i.
Pada saat Bank melakukan akseptasi atas wesel berjangka
yang diterbitkan beneficiary, maka Bank pengaksep mengakui
kewajiban kepada beneficiary sebesar nilai wesel yang diaksep
sebagai akun kewajiban akseptasi dan mengakui tagihan
kepada applicant sebesar nilai yang sama sebagai akun
tagihan akseptasi.
ii. Pada saat yang sama jumlah kewajiban komitmen/kontinjensi
L/C impor dikurangi sebesar nilai L/C atau nilai realisasi
L/C.
iii. Apabila
beneficiary
melakukan
pendiskontoan
wesel
berjangka kepada bank pendiskonto maka kewajiban bank
pengaksep beralih dari kewajiban kepada beneficiary menjadi
kewajiban kepada bank pendiskonto. Bank pendiskonto dapat
melakukan
pendiskontoan
ulang
kepada
pihak
lainnya
sehingga kewajiban bank pengaksep beralih kepada bonafide
holder.
b. Bank pengaksep adalah bukan Bank penerbit
i.
Dalam hal bank pengaksep melakukan akseptasi atas wesel
berjangka yang diterbitkan beneficiary, maka:
12.15
284
Lanjutan Lampiran 1
1) Bank pengaksep mengakui kewajiban kepada beneficiary
sebesar nilai wesel yang diaksep sebagai akun kewajiban
akseptasi dan mengakui tagihan kepada bank penerbit
(issuing bank) sebesar nilai yang sama sebagai akun
tagihan akseptasi.
2) Apabila beneficiary melakukan pendiskontoan wesel berjangka kepada bank pendiskonto maka kewajiban bank
pengaksep beralih dari kewajiban kepada beneficiary menjadi kewajiban kepada bank pendiskonto. Bank pendiskonto dapat melakukan pendiskontoan ulang kepada
pihak lainnya sehingga kewajiban bank pengaksep beralih
kepada bonafide holder.
ii. Bank penerbit mengakui kewajiban kepada bank pengaksep
(bank pengaksep ditunjuk oleh bank penerbit) sebesar nilai
wesel yang diaksep sebagai akun kewajiban akseptasi dan
mempunyai tagihan pada applicant sebesar nilai yang sama
sebagai akun tagihan akseptasi.
iii. Pada saat yang sama jumlah kewajiban komitmen/kontinjensi
L/C impor dikurangi sebesar nilai L/C atau nilai realisasi
L/C.
06.
L/C dengan negosiasi (Negotiation L/C).
a. Dalam hal bank penegosiasi menegosiasi wesel unjuk (sight L/C)
maka bank penerbit mengakui kewajiban kepada bank penegosiasi
sebagai akun kewajiban lainnya dan pada saat yang sama
mengakui tagihan kepada applicant dengan nilai yang sama
sebagai akun tagihan lainnya.
b. Dalam hal bank penegosiasi menegosiasi wesel berjangka yang
diaksep oleh bank lain maka bank penerbit mengakui kewajiban
kepada bank pengaksep dalam akun kewajiban akseptasi. Dan
pada saat yang sama mengakui tagihan kepada applicant dalam
akun tagihan akseptasi.
c. Dalam hal bank penegosiasi menegosiasi wesel berjangka yang
diaksep oleh bank penerbit maka bank penerbit mengakui kewajiban
kepada
bank
penegosiasi
dalam
akun
kewajiban
akseptasi. Dan pada saat yang sama mengakui tagihan kepada
applicant dalam akun tagihan akseptasi.
12.16
285
Lanjutan Lampiran 1
D2.
Penyajian
Transaksi Ekspor
01.
Tagihan akseptasi kepada bank koresponden disajikan di Laporan
Posisi Keuangan (on balance sheet) sebesar nilai bruto tagihan bank.
Jika berasal dari valuta asing dijabarkan ke dalam mata uang Rupiah
dengan menggunakan kurs yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.
02.
Tagihan lainnya kepada bank koresponden disajikan di Laporan
Posisi Keuangan (on balance sheet) sebesar nilai bruto tagihan bank.
Jika berasal dari valuta asing dijabarkan ke dalam mata uang Rupiah
dengan menggunakan kurs yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.
03.
Kewajiban akseptasi kepada beneficiary disajikan di Laporan Posisi
Keuangan (on balance sheet) sebesar nilai bruto kewajiban bank. Jika
berasal dari valuta asing dijabarkan ke dalam mata uang Rupiah
dengan menggunakan kurs yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.
04.
Kewajiban lain-lain kepada beneficiary disajikan di Laporan Posisi
Keuangan (on balance sheet) sebesar nilai bruto kewajiban bank. Jika
berasal dari valuta asing dijabarkan ke dalam mata uang Rupiah
dengan menggunakan kurs yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.
05.
Pendapatan diskonto yang ditangguhkan - uang muka/wesel ekspor
berjangka disajikan sebagai offsetting account dari tagihan lainnya uang muka/wesel ekspor berjangka.
Transaksi Impor
01.
Kewajiban komitmen/kontinjensi atas penerbitan L/C diungkapkan
dalam Catatan Atas Laporan Keuangan sebesar jumlah penerbitan
L/C. Jika berasal dari valuta asing dijabarkan ke dalam mata uang
Rupiah dengan menggunakan kurs yang ditetapkan oleh Bank
Indonesia.
02.
Kewajiban komitmen atas penjaminan penerbitan efek diungkapkan
dalam Catatan Atas Laporan Keuangan.
03.
Setoran jaminan impor disajikan di Laporan Posisi Keuangan (on
balance sheet) sebesar jumlah setoran jaminan. Jika berasal dari
valuta asing dijabarkan ke dalam mata uang Rupiah dengan
menggunakan kurs yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.
04.
Tagihan akseptasi kepada applicant disajikan di Laporan Posisi
Keuangan (on balance sheet) sebesar nilai bruto tagihan bank. Jika
12.17
286
Lanjutan Lampiran 1
berasal dari valuta asing dijabarkan ke dalam mata uang Rupiah
dengan menggunakan kurs yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.
05.
Kewajiban akseptasi kepada bank koresponden disajikan di Laporan
Posisi Keuangan (on balance sheet) sebesar nilai bruto kewajiban
bank. Jika berasal dari valuta asing dijabarkan ke dalam mata uang
Rupiah dengan menggunakan kurs yang ditetapkan oleh Bank
Indonesia.
06.
Tagihan lainnya kepada applicant disajikan di Laporan Posisi
Keuangan (on balance sheet) sebesar nilai bruto tagihan bank. Jika
berasal dari valuta asing dijabarkan ke dalam mata uang Rupiah
dengan menggunakan kurs yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.
07.
Kewajiban lainnya kepada bank koresponden disajikan di Laporan
Posisi Keuangan (on balance sheet) sebesar nilai bruto kewajiban
bank. Jika berasal dari valuta asing dijabarkan ke dalam mata uang
Rupiah dengan menggunakan kurs yang ditetapkan oleh Bank
Indonesia.
E. Ilustrasi Jurnal
Transaksi Ekspor
01.
Saat menerima L/C
Tidak dilakukan pembukuan, cukup diregistrasi. Apabila terhadap
penerusan
L/C
kepada
eksportir
dikenakan
provisi
(advising
commision), maka dilakukan:
Db. Kas/rekening/kliring
Kr. Pendapatan advising commision
02.
Saat mengirim dokumen
Tidak dilakukan jurnal.
03.
Saat menerima akseptasi
Db. Tagihan Akseptasi kepada Bank Pengaksep
Kr. Kewajiban Akseptasi kepada beneficiary
04.
Saat pembayaran kepada eksportir
a. L/C atas unjuk (Sight payment L/C)
Db. Nostro/tagihan lainnya-wesel ekspor
Kr. Nasabah/Eksportir
Kr. Pendapatan negosiasi wesel ekspor
12.18
287
Lanjutan Lampiran 1
Kr. Kewajiban segera - titipan pajak nasabah
Kr. Pendapatan lain-lain
b. L/C dengan pembayaran kemudian (Deferred payment L/C)
i.
Jika dibayar sebelum jatuh tempo
Db. Tagihan Lainnya
Kr. Nasabah/Eksportir
Kr. Pendapatan diskonto wesel ekspor yang ditangguhkan
Kr. Pendapatan negosiasi wesel ekspor
Kr. Kewajiban segera - titipan pajak nasabah
Kr. Pendapatan lain-lain
ii. Jika dibayar saat jatuh tempo
1) Bank Pembayar telah menerima pembayaran tetapi belum
dibayarkan kepada eksportir
Db. Nostro
Kr. Kewajiban lainnya
Selanjutnya pada saat membayar kepada eksportir:
Db. Kewajiban lainnya
Kr. Nasabah/Eksportir
Kr. Pendapatan negosiasi wesel ekspor
Kr. Kewajiban segera - titipan pajak nasabah
Kr. Pendapatan lain-lain
2) Bank Pembayar telah menerima pembayaran dan dilakukan pembayaran kepada eksportir
Db. Nostro
Kr. Nasabah/Eksportir
Kr. Pendapatan negosiasi wesel ekspor
Kr. Kewajiban segera - titipan pajak nasabah
Kr. Pendapatan lain-lain
3) Bank
Pembayar
belum
menerima
pembayaran
dan
dilakukan pembayaran kepada eksportir
Db. Tagihan lainnya-wesel ekspor
Kr. Nasabah/Eksportir
Kr. Pendapatan negosiasi wesel ekspor
Kr. Kewajiban segera - titipan pajak nasabah
Kr. Pendapatan lain-lain
c.
L/C dengan akseptasi (Acceptance L/C)
12.19
288
Lanjutan Lampiran 1
i.
Jika dibayar sebelum jatuh tempo
Db. Kewajiban akseptasi kepada nasabah
Kr. Nasabah/Eksportir
Kr. Pendapatan diskonto wesel ekspor
Kr. Pendapatan negosiasi wesel ekspor yang ditangguhkan
Kr. Kewajiban segera - titipan pajak nasabah
Kr. Pendapatan lain-lain
ii. Jika dibayar saat jatuh tempo
Db. Kewajiban akseptasi kepada nasabah
Kr. Nasabah/Eksportir
Kr. Pendapatan negosiasi wesel ekspor
Kr. Kewajiban segera - titipan pajak nasabah
Kr. Pendapatan lain-lain
d. L/C dengan negosiasi (Negotiation L/C)
i.
Jika menegosiasi L/C atas unjuk
((jurnal pembukuan sama seperti butir a). di atas)
ii. Jika menegosiasi L/C berjangka
1) Jika dibayar sebelum jatuh tempo
(a) Akseptasi telah dilakukan
Db. Kewajiban akseptasi
Kr. Nasabah/Eksportir
Kr. Pendapatan
diskonto
wesel
ekspor
yang
di
tangguhkan
Kr. Pendapatan negosiasi wesel ekspor
Kr. Kewajiban segera - titipan pajak nasabah
Kr. Pendapatan lain-lain
Pada saat bersamaan:
Db. Wesel ekspor
Kr. Tagihan akseptasi
(b) Akseptasi belum dilakukan
Db. Tagihan lainnya-uang muka
Kr. Nasabah/Eksportir
Kr. Pendapatan yang ditangguhkan lainnya
Kr. Pendapatan negosiasi wesel ekspor
Kr. Kewajiban segera - titipan pajak nasabah
Kr. Pendapatan lain-lain
12.20
289
Lanjutan Lampiran 1
Pada saat wesel diakseptasi:
Db. Tagihan akseptasi
Kr. Kewajiban akseptasi
Pada saat yang bersamaan
Db. Wesel ekspor
Kr. Tagihan akseptasi
Db. Kewajiban akspetasi
Kr. Tagihan lainnya (uang muka)
Db.
Pendapatan yang ditangguhkan lainnya
Kr.
Pendapatan
diskonto
wesel
ekspor
yang
ditangguhkan
2) Jika dibayar saat jatuh tempo
Db. Nostro
Kr. Nasabah/Eksportir
Kr. Pendapatan negosiasi wesel ekspor
Kr. Kewajiban segera - titipan pajak nasabah
Kr. Pendapatan lain-lain
e.
Saat melakukan amortisasi diskonto WEB
Db. Pendapatan diskonto wesel ekspor yang di tangguhkan
Kr. Pendapatan diskonto wesel ekspor
f.
Saat menerima pembayaran (nota kredit) dari issuing bank
i.
L/C atas unjuk (Sight Payment L/C)
Db. Nostro
Kr. Tagihan lainnya-wesel ekspor
Catatan:
jika
pada
saat
pembayaran
bank
sudah
membukukan langsung ke nostro maka nota kredit yang
diterima dari issuing bank tidak dibukukan lagi (hanya
sebagai konfirmasi) terkecuali ada biaya-biaya luar negeri.
ii. L/C dengan pembayaran kemudian (Deferred Payment L/C)
Db. Nostro
Kr. Tagihan lainnya-wesel ekspor
Catatan:
jika
pada
saat
pembayaran
bank
sudah
membukukan langsung ke nostro maka nota kredit yang
diterima dari issuing bank tidak dibukukan lagi (hanya
12.21
290
Lanjutan Lampiran 1
sebagai konfirmasi) terkecuali ada biaya-biaya luar negeri.
L/C dengan pembayaran kemudian (Deferred Payment L/C).
iii. L/C dengan akseptasi (acceptance L/C)
Db. Nostro
Kr. Tagihan akseptasi kepada bank koresponden
iv. L/C dengan negosiasi (negotiation L/C)
1) Jika menegosiasi L/C atas unjuk
Db. Nostro
Kr. Tagihan lainnya-wesel ekspor
Catatan:
jika
pada
saat
pembayaran
Bank
sudah
membukukan langsung ke nostro maka nota kredit yang
diterima dari issuing bank tidak dibukukan lagi (hanya
sebagai konfirmasi) terkecuali ada biaya-biaya luar negeri.
2) Jika menegosiasi L/C berjangka
Db. Nostro
Kr. Tagihan akseptasi kepada koresponden
a. Dalam hal bank koresponden tidak melakukan pembayaran, maka
jurnal no.6 di atas untuk setiap akun nostro dapat diganti
dengan akun tagihan lainnya-wesel ekspor yang ditolak atau
tetap dibukukan pada akun tagihan lainnya-wesel ekspor.
b. Jurnal penyelesaian tagihan lainnya-wesel ekspor yang ditolak.
Db. Kas/rekening/kliring
Kr. Tagihan lainnya-wesel ekspor yang ditolak
Transaksi Impor
01.
Pada saat membuka L/C Impor
a. L/C Irrevocable
Db. Tagihan komitmen L/C kepada applicant
Kr.
Kewajiban
Komitmen
L/C
impor
kepada
depository
correspondent bank
b. L/C Revocable
Db. Tagihan kontinjensi L/C kepada applicant
Kr.
Kewajiban
Kontinjensi
L/C
impor
kepada
depository
correspondent bank
c. Membukukan provisi pembuka L/C
Db. Kas/nasabah/kliring
12.22
291
Lanjutan Lampiran 1
Kr. Pendapatan Provisi pembukaan L/C Impor
Kr. Pendapatan lain-lain
02.
Pada saat menerima setoran jaminan L/C Impor
Db. Kas/nasabah/kliring
Kr. Setoran Jaminan Impor
Catatan:
Apabila dana setoran jaminan impor berupa rekening giro, deposito
yang diblokir, maka atas dana tersebut cukup diblokir.
03.
Penerimaan Pembayaran/Promes dari Importir sementara Dokumen
Impor belum diterima oleh Bank Penerbit
a. L/C Atas Unjuk (Sight Payment L/C)
i.
Nasabah mengeluarkan barang menggunakan copy dokumen
dengan cara Endorsemen B/L
Db.
Setoran Jaminan L/C Impor
Kr.
Rekening Nasabah/Importir (Pengembalian setoran
jaminan, bila ada)
Db. Rekening Nasabah/Importir
Kr. Kewajiban L/C Impor sight kepada Bank Koresponden
(sebesar
Nilai
Dokumen,
KL
diselesaikan
pada
saat
rekening Nostro telah didebet)
Kr. Pendapatan Komisi L/C Impor (Komisi endorsemen, bila
ada)
Penerimaan setoran pajak impor (bila ada)
Db. Rekening Nasabah/Importir
Kr. Pendapatan Komisi LC Impor (Komisi atas PIUD)
Kr. Kewajiban Segera Lainnya - Pajak - pajak Impor
Me-reverse pencatatan komitmen/kontijensi:
1) L/C Irrevocable
Db. Kewajiban Komitmen L/C impor kepada depository
correspondent bank
Kr. Tagihan komitmen L/C kepada applicant
2) L/C Revocable
Db. Kewajiban Kontinjensi L/C Impor kepada depository
correspondent bank
Kr. Tagihan kontinjensi L/C kepada applicant
12.23
292
Lanjutan Lampiran 1
ii. Nasabah mengeluarkan barang dengan Shipping guarantee
Db. Setoran Jaminan L/C Impor
Kr.
Rekening
Nasabah/Importir
(Pengembalian
setoran
jaminan, bila ada)
Db. Rekening Nasabah/Importir
Kr. Kewajiban L/C Impor Sight kepada Bank Koresponden
(sebesar Nilai
Dokumen, KL diselesaikan pada saat
rekening Nostro telah di debet)
Kr. Pendapatan Komisi L/C Impor (Komisi endorsemen, bila
ada)
Penerimaan Setoran Pajak Impor (bila ada)
Db. Rekening Nasabah/Importir
Kr. Pendapatan Komisi L/C Impor (Komisi atas PIUD)
Kr. Kewajiban Segera Lainnya - Pajak - pajak Impor
Pencatatan Kontinjensi:
Db. Tagihan kontijensi-Shipping guarantee kepada applicant
Kewajiban
Kr.
kontijensi
Shipping
guarantee
kepada
perusahaan ekspedisi
Me-reverse pencatatan kewajiban komitmen/kontijensi:
1) L/C Irrevocable
Db. Kewajiban Komitmen L/C impor kepada depository
correspondent bank
Kr. Tagihan komitmen L/C kepada applicant
2) L/C Revocable
Db. Kewajiban Kontinjensi L/C Impor kepada depository
correspondent bank
Kr. Tagihan kontinjensi L/C kepada applicant
b. L/C dengan Pembayaran Kemudian (Deferred Payment L/C)
i.
Nasabah mengeluarkan barang menggunakan copy dokumen
dengan cara Endorsemen B/L.
Db. Rekening Nasabah/Importir
Kr. Pendapatan Komisi L/C Impor (Komisi Endorsemen, bila
ada)
Penerimaan Setoran Pajak Impor (bila ada)
12.24
293
Lanjutan Lampiran 1
Db. Rekening Nasabah/Importir
Kr. Pendapatan Komisi L/C Impor (Komisi atas PIUD)
Kr. Kewajiban segera lainnya - Pajak - pajak Impor
Pencatatan Komitmen:
Db. Tagihan komitmen L/C Impor Usance endorsement
kepada Nasabah
Kr.Kewajiban komitmen L/C Impor Usance endorsement
kepada Depository Correspondent Bank
Me-reverse pencatatan kewajiban komitmen/kontijensi:
1) L/C Irrevocable
Db. Kewajiban
Komitmen
L/C
outstanding
kepada
depository correspondent bank
Kr. Tagihan komitmen L/C outstanding kepada applicant
2) L/C Revocable
Db. Kewajiban
Kontinjensi
L/C
outstanding
kepada
depository correspondent bank
Kr. Tagihan kontinjensi L/C outstanding kepada applicant
ii. Nasabah mengeluarkan barang dengan Shipping guarantee
Db. Rekening Nasabah/Importir
Kr. Pendapatan
Komisi
L/C
Impor
(Komisi
Shipping
guarantee, bila ada)
Penerimaan Setoran Pajak Impor (bila ada)
Db. Rekening Nasabah/Importir
Kr. Pendapatan Komisi L/C Impor (Komisi atas PIUD)
Kr. Kewajiban Segera Lainnya - Pajak - pajak Impor
Pencatatan Kontijensi:
Db. Tagihan kontinjensi-Shipping guarantee kepada Applicant
Kr.
Kewajiban
kontijensi-Shipping
guarantee
kepada
perusahaan ekspedisi
Me-reverse pencatatan kewajiban komitmen/kontijensi:
1) L/C Irrevocable
Db. Kewajiban
Komitmen
L/C
outstanding
kepada
depository correspondent bank
Kr. Tagihan komitmen L/C outstanding kepada applicant
2) L/C Revocable
12.25
294
Lanjutan Lampiran 1
Db. Kewajiban
Kontinjensi
L/C
outstanding
kepada
depository correspondent bank
Kr. Tagihan kontinjensi L/C outstanding kepada applicant
c. L/C dengan Akseptasi (Acceptance L/C)
i.
Nasabah mengeluarkan barang dengan Endorsemen B/L asli
Db. Rekening Nasabah/Importir
Kr. Pendapatan Komisi L/C Impor (Komisi Endorsemen, bila
ada)
Penerimaan Setoran Pajak Impor (bila ada)
Db. Rekening Nasabah/Importir
Kr. Pendapatan Komisi L/C Impor (Komisi atas PIUD)
Kr. Kewajiban Segera Lainnya - Pajak - pajak Impor
ii. Nasabah mengeluarkan barang dengan Shipping guarantee
Db. Rekening Nasabah/Importir
Kr. Pendapatan
Komisi
L/C
Impor
(Komisi
Shipping
guarantee, bila ada)
Penerimaan Setoran Pajak Impor (bila ada)
Db. Rekening Nasabah/Importir
Kr. Pendapatan Komisi L/C Impor (Komisi atas PIUD)
Kr. Kewajiban Segera Lainnya - Pajak - pajak Impor
Pencatatan Kontinjensi:
Db. Tagihan kontinjensi Shipping guarantee kepada Applicant
Kr.
Kewajiban
kontijensi
Shipping
guarantee
kepada
perusahaan ekspedisi
Me-reverse kewajiban komitmen/kontijensi L/C
1) L/C Irrevocable
Db. Kewajiban Komitmen L/C impor kepada depository
correspondent bank
Kr. Tagihan komitmen L/C kepada applicant
2) L/C Revocable
Db. Kewajiban Kontinjensi L/C Impor kepada depository
correspondent bank
Kr. Tagihan kontinjensi L/C kepada applicant
d. L/C dengan Negosiasi (Negotiation L/C)
i.
Nasabah mengeluarkan barang menggunakan copy dokumen
dengan cara Endorsemen B/L- L/C Atas Unjuk (Sight)
12.26
295
Lanjutan Lampiran 1
Db. Setoran Jaminan L/C Impor
Kr.
Rekening
Nasabah/Importir
(Pengembalian
setoran
jaminan, bila ada)
Db. Rekening Nasabah/Importir
Kr. Kewajiban L/C Impor Sight kepada Bank Koresponden
(sebesar Nilai Dokumen, KL diselesaikan pada saat rekening
Nostro telah di debet)
Kr. Pendapatan Komisi L/C Impor (Komisi Endorsemen, bila
ada)
Penerimaan Setoran Pajak Impor (bila ada)
Db. Rekening Nasabah/Importir
Kr. Pendapatan Komisi LC Import (Komisi atas PIUD)
Kr. Kewajiban Segera Lainnya - Pajak - pajak Impor
ii. Nasabah mengeluarkan barang dengan Shipping guaranteeL/C Atas Unjuk (Sight)
Db. Setoran Jaminan L/C Impor
Kr.
Rekening
Nasabah/Importir
(Pengembalian
setoran
jaminan, bila ada)
Db. Rekening Nasabah/Importir
Kr. Kewajiban L/C Impor Sight kepada Bank Koresponden
(sebesar Nilai Dokumen, KL diselesaikan pada saat rekening
Nostro telah di debet)
Kr. Pendapatan Komisi L/C Impor (Komisi Shipping guarantee,
bila ada)
Penerimaan Setoran Pajak Impor (bila ada)
Db. Rekening Nasabah/Importir
Kr. Pendapatan Komisi L/C Impor (Komisi atas PIUD)
Kr. Kewajiban Segera Lainnya - Pajak - pajak Impor
Pencatatan Kontinjensi:
Db. Tagihan kontijensi-Shipping guarantee kepada applicant
Kr.
Kewajiban
kontijensi-Shipping
guarantee
kepada
perusahaan ekspedisi
Me-reverse kewajiban komitmen/kontijensi L/C
1) L/C Irrevocable
12.27
296
Lanjutan Lampiran 1
Db. Kewajiban Komitmen L/C impor kepada depository
correspondent bank
Kr. Tagihan komitmen L/C kepada applicant
2) L/C Revocable
Db. Kewajiban Kontinjensi L/C Impor kepada depository
correspondent bank
Kr. Tagihan kontinjensi L/C kepada applicant
iii. Nasabah mengeluarkan barang menggunakan copy dokumen
dengan
cara
Endorsemen
B/L-L/C
Berjangka
(Deferred
Payment/Usance L/C)
Db. Rekening Nasabah/Importir
Kr. Pendapatan Komisi L/C Impor (Komisi Endorsemen, bila
ada)
Penerimaan Setoran Pajak Impor (bila ada)
Db. Rekening Nasabah/Importir
Kr. Pendapatan Komisi L/C Impor (Komisi atas PIUD)
Kr. Kewajiban Segera Lainnya - Pajak - pajak Impor
Pencatatan Komitmen:
Db. Tagihan komitmen L/C Impor Usance kepada Nasabah
Kr. Kewajiban komitmen L/C Impor Usance kepada Depository
Correspondent Bank
iv. Nasabah mengeluarkan barang dengan Shipping guarantee L/C Berjangka (Deferred Payment/Usance L/C)
Db.
Rekening Nasabah/Importir
Kr.
Pendapatan
Komisi
L/C
Impor
(Komisi
Shipping
guarantee, bila ada)
Penerimaan Setoran Pajak Impor (bila ada)
Db. Rekening Nasabah/Importir
Kr. Pendapatan Komisi L/C Impor (Komisi atas PIUD)
Kr. Kewajiban Segera Lainnya - Pajak - pajak Impor
Pencatatan Komitmen:
Db. Tagihan Komitmen L/C Impor Usance kepada Nasabah
Kr. Kewajiban komitmen L/C Impor Usance kepada Depository
Correspondent Bank
Pencatatan Kontijensi:
12.28
297
Lanjutan Lampiran 1
Db. Tagihan kontinjensi-Shipping guarantee kepada Applicant
Kr.
Kewajiban
kontinjensi-Shipping
guarantee
kepada
perusahaan ekspedisi
Me-reverse kewajiban komitmen/kontinjensi L/C
1) L/C Irrevocable
Db. Kewajiban Komitmen L/C impor kepada depository
correspondent bank
Kr. Tagihan komitmen L/C kepada applicant
2) L/C Revocable
Db. Kewajiban Kontinjensi L/C Impor kepada depository
correspondent bank
Kr. Tagihan kontinjensi L/C kepada applicant
04.
Penerimaan Dokumen Impor dan Pelunasan Kewajiban kepada Bank
Koresponden
a. L/C Atas Unjuk (Sight Payment L/C)
i.
Terima Dokumen Impor, rekening nostro belum didebet dan
nasabah belum bayar sebelumnya.
1) Penerimaan Dokumen
(a) Reversal Kewajiban Komitmen
Db.Irrevocable L/C LN Masih Berjalan
Kr. Rekening Lawan-Irrevocable L/C LN Masih Berjalan
(b) Pengakuan atas Tagihan dan Kewajiban:
Db.
Tagihan L/C Impor Sight kepada Nasabah
Kr.
Kewajiban
L/C
Impor
Sight
kepada
Bank
Koresponden
2) Penerimaan Pembayaran dari Nasabah
Db. Setoran Jaminan L/C Impor
Kr. Rekening Nasabah/Importir (Pengembalian setoran
jaminan, bila ada)
Db. Rekening Nasabah/Importir
Kr. Tagihan L/C Impor Sight kepada Nasabah
Penerimaan Setoran Pajak Impor (bila ada)
Db. Rekening Nasabah/Importir
Kr. Pendapatan Komisi L/C Impor (Komisi atas PIUD)
Kr. Kewajiban Segera Lainnya - Pajak - pajak Impor
3) Pembayaran kepada Bank Koresponden
12.29
298
Lanjutan Lampiran 1
Db. Kewajiban L/C Impor Sight kepada Bank Koresponden
Kr. Nostro
ii. Terima Dokumen Impor, rekening nostro sudah didebet dan
nasabah belum bayar sebelumnya.
1) Penerimaan Dokumen
2) Reversal Kewajiban Komitmen
Db. Irrevocable L/C LN Masih Berjalan
Kr. Rekening Lawan - Irrevocable L/C LN Masih Berjalan
Db. Tagihan L/C Impor Sight kepada Nasabah
Kr. Nostro
3) Penerimaan Pembayaran dari Nasabah
Db. Setoran Jaminan L/C Impor
Kr. Rekening Nasabah/Importir (Pengembalian setoran
jaminan, bila ada)
Db. Rekening nasabah/importir
Kr. Tagihan L/C Impor Sight kepada Nasabah
Kr. Pendapatan ujrah (Transit Time Interest - bila ada)
4) Penerimaan Setoran Pajak Impor (bila ada)
Db. Rekening Nasabah/Impor
Kr. Pendapatan Komisi L/C Impor (Komisi atas PIUD)
Kr. Kewajiban Segera Lainnya – Pajak - pajak Impor
iii. Terima Dokumen Impor Ex-Endorsement B/L, nasabah sudah
bayar sebelumnya
1) Penerimaan Dokumen
2) Reversal Kewajiban Komitmen
Db. Irrevocable L/C LN Masih Berjalan
Kr. Rekening Lawan-Irrevocable L/C LN Masih Berjalan.
Db. Kewajiban Lain L/C Impor Sight kepada Bank Koresponden
Kr. Nostro
iv. Terima Dokumen Impor Ex-Shipping guarantee nasabah
sudah bayar sebelumnya
1) Penerimaan Dokumen
2) Reversal Kewajiban Komitmen
12.30
299
Lanjutan Lampiran 1
Db. Irrevocable L/C LN Masih Berjalan
Kr. Rekening Lawan-Irrevocable L/C LN Masih Berjalan
Db. Kewajiban Lain L/C
Impor Sight kepada Bank
Koresponden
Kr. Nostro
Catatan:
Penyelesaian Shipping guarantee dilakukan 14 hari setelah
jatuh tempo atau Shipping guarantee dikembalikan
3) Reversal Kewajiban Kontinjen:
Db. Shipping guarantee Berjalan
Kr.
Rekening Lawan-Shipping guarantee Berjalan (Nilai
dokumen)
b. L/C dengan Pembayaran Kemudian (Deferred Payment L/C)
Terima Dokumen Impor tanpa penyimpangan atau Dokumen ExEndorsement atau Dokumen Ex-Shipping guarantee
i.
Penerimaan Dokumen
1) Reversal Kewajiban Komitmen
Db. Irrevocable L/C LN Masih Berjalan L/C Impor Usance
Kr. Rekening Lawan-Irrevocable L/C LN Masih BerjalanL/C Impor Usance
2) Tagihan Komitmen:
Db. Rekening Lawan-Tagihan Pre Aksep L/C Impor Usance
kepada Nasabah
Kr. Tagihan Pre Aksep L/C Impor Usance kepada Nasabah
3) Pengakuan atas Tagihan dan Kewajiban:
Db. Tagihan L/C Impor Usance kepada Nasabah
Kr.
Kewajiban
L/C
Impor
Usance
kepada
Bank
Koresponden
ii. Pada saat Jatuh Tempo Wesel
Db.
Setoran Jaminan L/C Impor
Kr.
Rekening Nasabah/Importir (Pengembalian setoran
jaminan, bila ada)
Db. Rekening nasabah/Importir
Kr. Tagihan L/C Impor Usance kepada Nasabah
12.31
300
Lanjutan Lampiran 1
Db. Kewajiban L/C Impor Usance kepada Bank Koresponden
Kr. Nostro
c. L/C dengan Akseptasi (Acceptance L/C)
Terima Dokumen Impor tanpa penyimpangan atau Dokumen ExEndorsement atau Dokumen Ex-Shipping guarantee
Penerimaan Dokumen
i.
Reversal Kewajiban Komitmen
Db. Irrevocable L/C LN Masih Berjalan-L/C Impor Usance
Kr. Rekening Lawan-Irrevocable L/C LN Masih Berjalan-L/C
Impor Usance
ii. Pada saat Akseptasi
Db. Rekening Nasabah/Importir
Kr. Pendapatan Komisi L/C Impor (Komisi Akseptasi)
iii. Tagihan Komitmen:
Db.
Rekening Lawan-Tagihan Pre Aksep L/C Impor Usance
kepada Nasabah
Kr. Tagihan Pre Aksep L/C Impor Usance kepada Nasabah
iv. Pengakuan atas Tagihan dan Kewajiban:
Db. Tagihan L/C Impor Usance kepada Nasabah
Kr. Kewajiban L/C Impor Usance kepada Bank Koresponden
v.
Pada saat dibebankan biaya akseptasi oleh Accepting bank
Db. Biaya Operasional Lain-Akseptasi Usance L/C Impor
Kr. Nostro
vi. Pada saat Jatuh Tempo Wesel
Db. Setoran Jaminan L/C Impor
Kr. Rekening
Nasabah/Importir
(Pengembalian
setoran
jaminan, bila ada)
Db. Rekening nasabah/importir
Kr. Tagihan L/C Impor Usance kepada Nasabah
Db. Kewajiban L/C Impor Usance kepada Bank Koresponden
Kr. Nostro
d. L/C dengan Negosiasi (Negotiation L/C)
i.
Terima Dokumen Impor, rekening nostro belum didebet dan
nasabah belum bayar sebelumnya-L/C Atas Unjuk (Sight)
12.32
301
Lanjutan Lampiran 1
1) Penerimaan Dokumen
(a) Reversal Kewajiban Komitmen
Db.Irrevocable L/C LN Masih Berjalan
Kr. Rekening Lawan-Irrevocable L/C LN Masih Berjalan
(b) Pengakuan atas Tagihan dan Kewajiban:
Db. Tagihan L/C Impor Sight kepada Nasabah
Kr.
Kewajiban
L/C
Impor
Sight
kepada
Bank
Koresponden
2) Penerimaan Pembayaran dari Nasabah
Db. Setoran Jaminan L/C Impor
Kr. Rekening Nasabah/Importir (Pengembalian setoran
jaminan, bila ada)
Db. Rekening Nasabah/Importir
Kr. Tagihan L/C Impor Sight kepada Nasabah
Penerimaan Setoran Pajak Impor (bila ada)
Db. Rekening Nasabah/Importir
Kr. Pendapatan Komisi L/C Impor (Komisi atas PIUD)
Kr. Kewajiban Segera Lainnya – Pajak - pajak Impor
3) Pembayaran kepada Bank Koresponden
Db. Kewajiban L/C Impor Sight kepada Bank Koresponden
Kr. Nostro
ii. Terima Dokumen Impor, rekening nostro sudah didebet dan
nasabah belum bayar sebelumnya.
1) Penerimaan Dokumen
2) Reversal Kewajiban Komitmen
Db. Irrevocable L/C LN Masih Berjalan
Kr. Rekening Lawan-Irrevocable L/C LN Masih Berjalan
Db. Tagihan L/C Impor Sight kepada Nasabah
Kr. Nostro
3) Penerimaan Pembayaran dari Nasabah
Db. Setoran Jaminan L/C Impor
Kr. Rekening Nasabah/Importir (Pengembalian setoran
jaminan, bila ada)
12.33
302
Lanjutan Lampiran 1
Db. Rekening Nasabah/Importir
Kr. Tagihan L/C Impor Sight kepada Nasabah
Kr. Pendapatan ujrah (Transit Time Interest - bila ada)
Penerimaan Setoran Pajak Impor (bila ada)
Db. Rekening Nasabah/Importir
Kr. Pendapatan Komisi L/C Impor (Komisi atas PIUD)
Kr. Kewajiban Segera Lainnya – Pajak - pajak Impor
iii. Terima Dokumen Impor Ex-Endorsement B/L, nasabah sudah
bayar sebelumnya
1) Penerimaan Dokumen
2) Reversal Kewajiban Komitmen
Db. Irrevocable L/C LN Masih Berjalan
Kr. Rekening Lawan - Irrevocable L/C LN Masih Berjalan
Db. Kewajiban
Lain
L/C
Impor
Sight
kepada
Bank
Koresponden
Kr. Nostro
iv. Terima Dokumen Impor Ex-Shipping guarantee nasabah
sudah bayar sebelumnya
1) Penerimaan Dokumen
2) Reversal Kewajiban Komitmen
Db. Irrevocable L/C LN Masih Berjalan
Kr. Rekening Lawan - Irrevocable L/C LN Masih Berjalan
Db. Kewajiban
Lain
L/C
Impor
Sight
kepada
Bank
Koresponden
Kr. Nostro
Catatan:
Penyelesaian Shipping guarantee dilakukan 14 hari setelah
jatuh tempo atau Shipping guarantee dikembalikan
3) Reversal Kewajiban Kontinjen:
Db. Shipping guarantee Berjalan
Kr. Rekening Lawan - Shipping guarantee Berjalan (Nilai
dokumen)
12.34
303
Lanjutan Lampiran 1
v.
Terima Dokumen Impor tanpa penyimpangan atau Dokumen
Ex-Endorsement atau Dokumen Ex-Shipping guarantee - L/C
Berjangka (Usance)
1) Penerimaan Dokumen
2) Reversal Kewajiban Komitmen
Db. Irrevocable L/C LN Masih Berjalan
Kr. Rekening Lawan - Irrevocable L/C LN Masih Berjalan L/C Impor Usance
3) Pada saat Akseptasi
Db. Rekening Nasabah/Importir
Kr. Pendapatan Komisi L/C Impor (Komisi Akseptasi)
4) Tagihan Komitmen:
Db. Rekening Lawan - Tagihan Pre Aksep L/C Impor
Usance kepada Nasabah
Kr. Tagihan Pre Aksep L/C Impor Usance kepada Nasabah
5) Pengakuan atas Tagihan dan Kewajiban:
Db. Tagihan L/C Impor Usance kepada Nasabah
Kr. Kewajiban
L/C
Impor
Usance
kepada
Bank
Koresponden
6) Pada saat dibebankan biaya akseptasi oleh Accepting bank
Db. Biaya Operasional Lain - Akseptasi Usance L/C Impor
Kr. Nostro
7) Pada saat Jatuh Tempo Wesel
Db. Setoran Jaminan L/C Impor
Kr. Rekening Nasabah/Importir (Pengembalian setoran
jaminan, bila ada)
Db. Rekening nasabah/importir
Kr. Tagihan L/C Impor Usance kepada Nasabah
Db. Kewajiban
L/C
Impor
Usance
kepada
Bank
Koresponden
Kr. Nostro
F. Pengungkapan
Hal-hal yang harus diungkapkan, antara lain:
01.
Nilai L/C yang dikonfirm dalam hal bank bertindak sebagai
confirming bank.
12.35
304
Lanjutan Lampiran 1
02.
Kewajiban komitmen/kontinjensi L/C kepada corespondent bank diungkapkan sebesar jumlah bruto kewajiban komitmen/kontinjensi
(tanpa memperhitungkan setoran jaminan impor) dan dijabarkan
dalam Rupiah dengan menggunakan kurs yang ditetapkan oleh Bank
Indonesia.
03.
Dalam transaksi ekspor:
a. Tagihan
dan
kewajiban
akseptasi
transaksi
ekspor
dengan
Acceptance L/C dan jangka waktu, dan counterparty.
b. Kualitas dan besar penyisihan kerugian yang dibentuk.
c. Fasilitas diskonto wesel ekspor yang diberikan kepada eksportir
dan rata-rata tarif imbalannya.
04.
Dalam transaksi impor
a. Tagihan
dan
kewajiban
akseptasi
transaksi
impor
dengan
Acceptance L/C dan jangka waktu, dan counterparty.
b. Fasilitas pembiayaan Impor yang diberikan.
c. Tagihan Wesel Impor yang belum diselesaikan oleh Importir.
d. Kualitas dan besar penyisihan kerugian yang dibentuk.
G. Ketentuan Lain-lain
Terhadap tagihan karena transaksi Ekspor dan Impor, serta sisa jumlah
L/C yang diterbitkan harus dibentuk penyisihan kerugiannya.
12.36
305
Lanjutan Lampiran 1
BAGIAN XIII
XIII.1
EKUITAS
EKUITAS
01. Ekuitas adalah hak residual atas aset Bank setelah dikurangi
semua liabilitas.
02. Instrumen ekuitas adalah setiap kontrak yang memberikan hak
residual atas aset suatu entitas setelah dikurangi dengan
seluruh liabilitasnya.
03. Instrumen
keuangan
yang
diterbitkan
Bank
merupakan
instrumen ekuitas jika tidak memiliki kewajiban kontraktual
untuk menyerahkan kas atau aset keuangan lain kepada entitas
lain, atau untuk mempertukarkan aset keuangan atau liabilitas
keuangan dengan entitas lain dengan kondisi yang berpotensi
tidak lagi menguntungkan Bank; dan
04. Pos-pos yang termasuk dalam komponen ekuitas, antara lain:
a.
Modal Disetor.
b.
Tambahan Modal Disetor.
c.
Penghasilan Komprehensif Lain.
d.
Saldo Laba.
13.1
306
Lanjutan Lampiran 1
XIII.2
A.
MODAL DISETOR
Definisi
01. Modal Dasar adalah seluruh nilai nominal saham sesuai dengan
anggaran dasar.
02. Modal Disetor adalah modal yang telah efektif diterima bank
sebesar nilai nominal saham.
B.
Dasar Pengaturan
01. PSAK 50 tentang Instrumen Keuangan: Penyajian.
02. Undang Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan
Terbatas.
C.
Penjelasan
01. Saham yang dikeluarkan oleh Bank dapat berupa saham biasa
dan saham lainnya.
02. Bukti penyetoran yang sah antara lain bukti setoran pemegang
saham ke dalam rekening bank atas nama Bank, data dari
Laporan Keuangan yang telah diaudit oleh akuntan, atau
Laporan Posisi Keuangan Bank yang ditandatangani oleh Direksi
dan Dewan Komisaris.
03. Jika waran menyertai penerbitan saham, maka dana perolehan
penerbitan saham tersebut seluruhnya diakui sebagai modal
disetor dan agio saham (jika ada).
04. Dana setoran modal tidak memenuhi kriteria ekuitas disebabkan
masih terdapat unsur ketidakpastian dimana
Bank
tetap
memiliki kewajiban kontraktual untuk mengembalikan dana
tersebut ketika tidak memenuhi ketentuan Bank Indonesia
sebagai modal disetor.
13.2
307
Lanjutan Lampiran 1
D.
Perlakuan Akuntansi
D.1 Pengakuan dan Pengukuran
01. Penambahan modal disetor dicatat berdasarkan:
a.
Jumlah uang yang diterima dan jika dalam bentuk mata
uang asing dinilai dengan kurs yang berlaku pada tanggal
setoran.
b.
Besarnya tagihan atau utang yang dikonversi menjadi
modal.
c.
Setoran saham dalam dividen saham dilakukan dengan
harga wajar saham, yaitu harga pasar tanggal transaksi
untuk Bank yang sahamnya terdaftar di pasar modal, atau
nilai wajar yang disepakati rapat umum pemegang saham
untuk saham yang tidak ada harga pasarnya.
d.
Nilai wajar aset nonkas yang diterima.
02. Pengurangan modal disetor dicatat berdasarkan:
a.
Jumlah uang yang dibayarkan.
b.
Besarnya hutang yang timbul.
c.
Nilai wajar aset nonkas yang diserahkan.
03. Pengeluaran
saham
dicatat
sebesar
nilai
nominal
yang
bersangkutan. Jika jumlah yang diterima dari pengeluaran
saham tersebut lebih besar dari pada nilai nominalnya selisih
yang terjadi dibukukan pada pos agio saham.
D.2 Penyajian
01. Penyajian
modal
dalam
Laporan
Posisi
Keuangan
harus
dilakukan sesuai dengan ketentuan pada anggaran dasar Bank
dan peraturan yang berlaku serta menggambarkan hubungan
keuangan yang ada.
02. Modal Dasar, modal yang ditempatkan dan modal yang disetor,
nilai nominal dan banyaknya saham untuk setiap jenis saham
harus disajikan dalam Laporan Posisi Keuangan.
03. Jika terdapat lebih dari satu jenis saham, hak preferen
dari
suatu golongan saham atas dividen dan pelunasan modal pada
jenis saham harus dinyatakan dalam Laporan Posisi Keuangan.
04. Bila terdapat tunggakan dividen atas saham lainnya dengan hak
dividen
kumulatif,
jumlah
tunggakan
tiap
saham
dan
13.3
308
Lanjutan Lampiran 1
keseluruhan dividen periode sebelumnya harus diungkapkan
dalam Catatan Atas Laporan Keuangan.
E.
Ilustrasi Jurnal
01. Pada saat penyetoran awal modal secara tunai sebesar nilai
nominal
Db. Kas
Kr. Modal disetor
02. Pada saat penyetoran awal modal secara tunai di atas nilai
nominal
Db. Kas
Kr. Modal disetor
Kr. Agio saham
03. Penyetoran modal dalam bentuk barang
Db. Aset yang diterima (nilai wajar)
Kr. Modal disetor
04. Perolehan dana dari penerbitan saham yang disertai waran
Db. Kas
Kr. Modal disetor
Kr. Agio saham (jika ada)
F.
Pengungkapan
Hal-hal yang harus diungkapkan, antara lain:
01. Hal dan keistimewaan dari suatu golongan saham atas dividen
dan pelunasan modal pada saat likuidasi, dalam hal terdapat
lebih dari satu jenis saham.
02. Pembatasan yang melekat pada setiap jenis saham, termasuk
pembatasan atas dividen dan pembayaran kembali atas modal.
03. Jumlah tunggakan dividen atas saham preferen dengan hak
dividen kumulatif dan jumlah keseluruhan dividen periode
sebelumnya.
04. Perubahan atas modal yang ditanam dalam tahun berjalan.
05. Saham beredar yang diperoleh kembali.
06. Saham yang dikuasai oleh entitas anak atau entitas asosiasi.
07. Saham yang dicadangkan untuk hak opsi dan kontrak penjualan
termasuk nilai dan persyaratan.
13.4
309
Lanjutan Lampiran 1
08. Pengungkapan untuk waran:
a.
Dasar penentuan nilai wajar waran.
b.
Nilai waran yang belum dilaksanakan dan nilai waran yang
tidak dilaksanakan (kedaluarsa).
c.
Jumlah waran yang diterbitkan dan beredar serta dampak
dilusinya.
d.
Ikatan-ikatan yang terkait dengan penerbitan waran.
09. Pengungkapan lain.
G.
Ketentuan Lain-lain
01. Pembelian kembali saham yang telah dikeluarkan oleh Bank
wajib
mendapat
Indonesia
dan
persetujuan
dilaksanakan
terlebih
sesuai
dahulu
dengan
dari
Bank
peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
02. Ketentuan Bank Indonesia mengenai Bank.
03. Ketentuan Bank Indonesia mengenai kewajiban penyediaan
modal minimum.
04. Ketentuan Bank Indonesia mengenai pinjaman luar negeri.
05. Ketentuan Bank Indonesia mengenai jumlah
modal inti
minimum Bank.
13.5
310
Lanjutan Lampiran 1
XIII.3
A.
TAMBAHAN MODAL DISETOR
Definisi
Tambahan
modal
disetor
terdiri
dari
berbagai
macam
unsur
penambah modal, seperti agio saham, selisih modal dari transaksi
saham tresuri, selisih kurs modal disetor, selisih transaksi dengan
pihak non-pengendali, dan selisih kombinasi dan pelepasan bisnis
entitas sepengendali.
B.
Dasar Pengaturan
01. PSAK 4 tentang Laporan Keuangan Konsolidasian dan Laporan
Keuangan Tersendiri.
02. PSAK 38 tentang Kombinasi Bisnis Entitas Sepengendali.
03. PSAK 50 tentang Instrumen Keuangan: Penyajian.
04. PSAK 53 tentang Pembayaran Berbasis Saham.
05. Undang Undang Nomor 40 Tahun 2007
tentang Perseroan
Terbatas.
C.
Penjelasan
01. Agio saham yaitu selisih lebih setoran modal yang diterima oleh
Bank
sebagai
akibat
harga
saham
yang
melebihi
nilai
nominalnya.
02. Pembayaran berbasis saham
a.
Dividen atau setara yang dibayarkan kepada karyawan atas
bagian dari kompensasi saham atau instrumen ekuitas lain
yang menjadi hak karyawan dibebankan ke Saldo Laba.
b.
Beban kompensasi program pemberian instrumen ekuitas
kepada karyawan diakui selama masa bakti karyawan,
yaitu dengan mengakui beban kompensasi dan mengkredit
tambahan modal disetor jika kompensasi tersebut untuk
jasa
masa
depan.
Jika
masa
bakti
karyawan
tidak
ditentukan, maka masa bakti karyawan dianggap sama
dengan periode dari tanggal pemberian kompensasi sampai
dengan tanggal saat kompensasi tersebut menjadi hak
karyawan, dan eksekusinya tidak lagi bergantung pada
berlanjut atau tidaknya masa bakti karyawan. Jika program
13.6
311
Lanjutan Lampiran 1
kompensasi diperuntukkan untuk jasa masa lalu, maka
beban
kompensasi
diakui
pada
periode
pemberian
kompensasi.
c.
Jumlah kas atau aset lain yang dibayarkan (atau kewajiban
yang timbul) untuk memperoleh kembali instrumen ekuitas
yang telah menjadi hak karyawan dibebankan ke ekuitas,
dengan syarat jumlah pembayaran tersebut tidak melebihi
nilai instrumen yang diperoleh kembali.
03. Selisih transaksi dengan pihak nonpengendali
a.
Selisih transaki dengan pihak nonpengendali timbul dari
transaksi pelepasan kepemilikan Bank pada entitas anak.
b.
Jika pelepasan sebagian kepemilikan Bank pada entitas
anak
kepada
pihak
lain
yang
menyebabkan
Bank
kehilangan kendali, maka selisih antara harga pelepasan
dan jumlah tercatat kepemilikan yang dilepas diakui
sebagai keuntungan atau kerugian di laba rugi.
c.
Jika pelepasan sebagian kepemilikan Bank pada entitas
anak kepada pihak lain tetapi tidak menyebabkan Bank
kehilangan kendali, maka selisih antara harga pelepasan
dan jumlah tercatat kepemilikan yang dilepas diakui di
ekuitas.
04. Selisih kombinasi dan pelepasan bisnis entitas sepengendali
a.
Selisih kombinasi dan pelepasan bisnis entitas sepengendali
timbul dari transaksi perolehan bisnis dari, atau pelepasan
bisnis kepada, entitas sepengendali.
b.
Selisih antara jumlah yang dibayarkan dan nilai buku
bisnis yang diperoleh dari entitas sepengendali diakui di
ekuitas.
c.
Selisih antara jumlah yang diterima dan nilai buku bisnis
yang dilepas kepada entitas sepengendali diakui di ekuitas.
d.
Biaya yang timbul dari transaksi tersebut diakui sebagai
beban, kecuali biaya terkait dengan penerbitan efek ekuitas
dan efek utang.
13.7
312
Lanjutan Lampiran 1
D.
Perlakuan Akuntansi
D.1 Pengakuan dan Pengukuran
01. Pos Tambahan Modal Disetor tidak boleh didebit atau dikredit
dengan pos laba rugi.
02. Konversi agio menjadi saham digolongkan sebagai modal disetor
sebesar nilai nominal. Konversi agio menjadi saham tidak boleh
digolongkan sebagai pembagian dividen.
03. Agio saham diakui sebesar jumlah neto yang diterima setelah
biaya penerbitan saham dan nilai nominal.
04. Selisih modal dari transaksi saham tresuri diakui sebesar
jumlah neto yang dikeluarkan dan nilai yang diperoleh dari
penerbitan saham, atau jumlah neto yang diterima dan nilai
perolehan dari saham yang dibeli kembali.
05. Selisih kurs modal disetor diakui sebesar kurs ketika modal
disetor diakui dan kurs ketika modal disetor diterima.
06. Selisih transaksi dengan pihak nonpengendali diakui sebesar
hasil pelepasan entitas anak yang tidak menyebabkan hilang
pengendalian dan jumlah tercatat bagian kepemilikan pada
entitas anak yang dilepas.
07. Selisih kombinasi dan pelepasan bisnis entitas sepengendali
diakui sebesar jumlah pembayaran yang diberikan/diterima dan
nilai buku bisnis yang diperoleh/dilepas.
D.2 Penyajian
01. Saham tresuri disajikan sebagai pengurang modal disetor.
02. Pos-pos yang membentuk tambahan modal disetor disajikan
terpisah.
E.
Ilustrasi Jurnal
01. Agio saham
Db. Kas/rekening/kliring
Kr. Modal disetor
Kr. Agio saham
02. Saham tresuri
a.
Pembelian saham tresuri
Db. Saham tresuri
Kr. Kas/rekening/kliring
13.8
313
Lanjutan Lampiran 1
b.
Penjualan saham tresuri
Db. Kas/rekening/kliring
Kr. Saham tresuri
Kr. Selisih pelepasan saham tresuri
03. Selisih transaksi dengan pihak nonpengendali
Db.
Kas/rekening/kliring
Db/Kr.
Selisih transaksi dengan pihak nonpengendali
Kr.
Penyertaan pada entitas anak/aset neto entitas anak
yang dilepas
04. Selisih kombinasi bisnis entitas sepengendali
Db.
Aset neto bisnis yang diperoleh (nilai buku)
Db/Kr.
Selisih kombinasi bisnis entitas sepengendali
Kr.
Kas/rekening/kliring/saham
05. Selisih pelepasan bisnis entitas sepengendali
F.
Db.
Kas/rekening/kliring/saham
Db/Kr.
Selisih pelepasan bisnis entitas sepengendali
Kr.
Aset neto bisnis yang diperoleh (nilai buku)
Pengungkapan
Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain:
01. Rincian pos tambahan modal disetor.
02. Jumlah lembar saham yang diperoleh kembali dan dipegang
Bank (saham tresuri).
03. Informasi opsi saham berikut ini diungkapkan dalam Catatan
Atas Laporan Keuangan:
a.
Jumlah dan rata-rata tertimbang harga eksekusi opsi untuk
setiap kelompok opsi.
b.
Rata-rata
tertimbang
nilai
wajar
opsi
pada
tanggal
pemberian kompensasi yang diberikan dalam suatu periode.
c.
Jumlah dan rata-rata tertimbang nilai wajar pada tanggal
pemberian kompensasi dari instrumen ekuitas selain opsi,
seperti saham tanpa hak, yang diberikan dalam suatu
periode.
d.
Penjelasan mengenai metode dan asumsi signifikan yang
digunakan dalam suatu periode untuk mengestimasi nilai
wajar opsi.
13.9
314
Lanjutan Lampiran 1
e.
Jumlah beban kompensasi yang diakui dalam program
kompensasi berbasis saham.
f.
Perubahan persyaratan signifikan dari program kompensasi
yang sedang berjalan.
04. Rincian yang menunjukan dampak setiap perubahan bagian
kepemilikan Bank /entitas induk pada entitas anak yang tidak
mengakibatkan hilangnya pengendalian atas ekuitas yang dapat
diatribusikan pada pemilik entitas induk.
05. Kombinasi bisnis dan pelepasan bisnis entitas sepengendali
a.
Nama dan penjelasan tentang entitas atau bisnis yang
berkombinasi.
b.
Penjelasan mengenai hubungan kesepengendalian dari
entitas-entitas yang bertransaksi dan bahwa hubungan
tersebut tidak bersifat sementara.
c.
Tanggal efektif transaksi.
d.
Operasi atau kegiatan bisnis yang telah diputuskan untuk
dijual atau dihentikan akibat kombinasi bisnis tersebut.
e.
Kepemilikan entitas atau bisnis yang dialihkan serta jenis
dan jumlah imbalan yang terjadi.
f.
Jumlah tercatat bisnis yang dikombinasikan atau yang
dilepas serta selisih antara jumlah tercatat bisnis tersebut
dan jumlah imbalan yang dialihkan atau imbalan yang
diterima.
g.
Pengungkapan
mengenai
penyajian
kembali
Laporan
Keuangan yang dapat memberikan informasi minimal
meliputi:
i.
ikhtisar angka-angka Laporan Keuangan yang telah
dilaporkan sebelumnya untuk periode yang disajikan
kembali;
ii.
ikhtisar jumlah tercatat aset dan liabilitas entitas atau
bisnis yang dikombinasikan;
iii.
dampak penyesuaian kebijakan akuntansi;
iv.
ikhtisar
angka-angka
Laporan
Keuangan
setelah
disajikan kembali.
06. Pengungkapan lain.
13.10
315
Lanjutan Lampiran 1
XIII.4
A.
PENGHASILAN KOMPREHENSIF LAIN
Definisi
Penghasilan
komprehensif lain adalah
pendapatan dan beban
termasuk penyesuaian reklasifikasi yang tidak diakui dalam bagian
laba rugi.
B.
Dasar Pengaturan
01. PSAK 10 tentang Pengaruh Perubahan Kurs Valuta Asing.
02. PSAK 16 tentang Aset Tetap.
03. PSAK 19 tentang Aset Tak berwujud.
04. PSAK 24 tentang Imbalan Kerja.
05. PSAK
55
tentang
Instrumen
Keuangan:
Pengakuan
dan
Pengukuran.
C.
Penjelasan
01. Penghasilan komprehensif lain terdiri dari:
a.
Perubahan dalam surplus revaluasi aset tetap dan aset
tidak berwujud.
b.
Keuntungan
dan
kerugian
aktuaria
dalam
program
pascakerja imbalan pasti.
c.
Penyesuaian nilai wajar aset keuangan dalam kategori
‘tersedia untuk dijual’.
d.
Keuntungan atau kerugian yang timbul dari selisih kurs
karena penjabaran Laporan Keuangan operasi entitas asing.
02. Penjelasan lebih rinci untuk masing-masing pos penghasilan
komprehensif lain terdapat dalam Bagian XIV: Laporan Laba
Rugi Komprehensif.
D.
Perlakuan Akuntansi
Penjelasan
perlakuan
akuntansi
untuk
masing-masing
pos
penghasilan komprehensif lain terdapat dalam Bagian XIV: Laporan
Laba Rugi Komprehensif.
13.11
316
Lanjutan Lampiran 1
E.
Ilustrasi Jurnal
Ilustrasi jurnal untuk masing-masing pos penghasilan komprehensif
lain terdapat dalam Bagian XIV: Laporan Laba Rugi Komprehensif.
Db. Penghasilan komprehensif lain terkait (Laporan Laba Rugi
Komprehensif)
Kr. Saldo penghasilan komprehensif lain terkait (ekuitas)
Db. Saldo penghasilan komprehensif lain terkait (ekuitas)
Kr. Penghasilan
komprehensif
terkait
(Laporan
Laba
Rugi
Komprehensif)
F.
Pengungkapan
Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain rincian penghasilan
komprehensif lain.
13.12
317
Lanjutan Lampiran 1
XIII.5
A.
SALDO LABA
Definisi
Saldo
Laba
adalah
akumulasi
hasil
usaha
periodik
setelah
memperhitungkan pembagian dividen dan koreksi laba rugi periode
lalu.
B.
Dasar Pengaturan
01. PSAK 1 tentang Penyajian Laporan Keuangan Syariah.
02. Undang-undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan
Terbatas.
C.
Penjelasan
01. Saldo Laba dikelompokkan menjadi:
a.
Cadangan tujuan adalah cadangan yang dibentuk dari laba
bersih setelah pajak yang tujuan penggunaannya telah
ditetapkan.
b.
Cadangan umum adalah cadangan yang dibentuk dari laba
bersih setelah pajak yang dimaksudkan untuk memperkuat
modal.
c.
Sisa laba yang belum dicadangkan terdiri dari:
i.
laba
rugi
periode
lalu
yang
belum
ditetapkan
penggunaannya; dan
ii.
laba rugi periode berjalan.
02. Pos Saldo Laba harus dinyatakan secara terpisah dari pos modal
saham. Seluruh Saldo Laba dianggap bebas untuk dibagikan
sebagai dividen, kecuali jika diberikan indikasi mengenai
pembatasan terhadap Saldo Laba, misalnya dicadangkan untuk
tujuan tertentu, atau untuk memenuhi ketentuan undangundang atau ikatan tertentu.
03. Saldo Laba yang tidak tersedia untuk dibagikan sebagai dividen
karena pembatasan – pembatasan tersebut dilaporkan dalam
pos tersendiri yang menggambarkan tujuan pencadangan yang
dimaksud.
13.13
318
Lanjutan Lampiran 1
D.
Perlakuan Akuntansi
01. Saldo Laba tidak boleh dibebani atau dikredit dengan pos-pos
yang seharusnya diperhitungkan pada laba rugi tahun berjalan.
02. Kewajiban pembagian dividen timbul pada saat deklarasi dividen
dan dengan demikian pada saat tersebut Saldo Laba akan
dibebani dengan jumlah dividen tersebut.
03. Jika dividen dibagikan dalam bentuk saham maka Saldo Laba
akan
didebit
dideklarasikan,
sebesar
nilai
wajar
saham
saat
dividen
modal
saham
akan
dikredit
sebesar
nilai
nominal sedangkan selisih antara nilai wajar dengan nilai
nominal saham diakui sebagai agio/disagio saham.
E.
Ilustrasi Jurnal
01. Pemindahan laba tahun berjalan ke Saldo Laba
Db. Ikhtisar laba rugi
Kr. Saldo Laba
02. Pemindahan rugi tahun berjalan ke Saldo Laba
Db. Saldo Laba
Kr. Ikhtisar laba rugi
03. Pembagian dividen tunai
a.
Pada saat diumumkan
Db. Saldo Laba
Kr. Utang dividen
b.
Pada saat dibayar
Db. Utang dividen
Kr. Kas/rekening
04. Pembagian dividen saham
Db. Saldo Laba
Kr. Modal saham
Kr. Agio saham
F.
Pengungkapan
Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain:
01. Penjatahan (apropriasi) dan pemisahan Saldo Laba, penjelasan
jenis penjatahan dan pemisahan, tujuan penjatahan dan
13.14
319
Lanjutan Lampiran 1
pemisahan Saldo Laba, serta jumlahnya, termasuk perubahan
akun-akun penjatahan atau pemisahan Saldo Laba.
02. Peraturan, perikatan, pembatasan dan jumlah pembatasan
Saldo Laba.
03. Koreksi periode lalu, baik bruto maupun neto setelah pajak,
dengan menjelaskan bentuk kesalahan Laporan Keuangan
terdahulu, dampak koreksi terhadap laba rugi dan nilai saham
per lembar.
04. Jumlah dividen dan dividen per lembar saham, termasuk
keterbatasan Saldo Laba tersedia bagi dividen.
05. Tunggakan dividen, baik jumlah maupun tunggakan per lembar
saham.
06. Pengungkapan deklarasi dividen setelah periode pelaporan,
sebelum Laporan Keuangan diotorisasi untuk terbit.
07. Dividen saham dan pecah saham, termasuk jumlah yang
dikapitalisasi dan saji ulang laba per saham agar Laporan
Keuangan berdaya banding.
08. Pengungkapan lain.
13.15
320
Lanjutan Lampiran 1
BAGIAN XIV
LAPORAN LABA RUGI KOMPREHENSIF
XIV.1 PENGERTIAN
01. Laporan
Laba
Rugi
Komprehensif
adalah
laporan
yang
menyajikan seluruh pos penghasilan dan beban yang diakui
dalam suatu periode yang menunjukkan komponen laba rugi
dan komponen penghasilan komprehensif lain.
02. Laba Komprehensif adalah perubahan ekuitas selama suatu
periode yang dihasilkan dari transaksi dan peristiwa lain selain
perubahan
yang
dihasilkan
dari
transaksi
ekuitas
yaitu
transaksi dengan pemegang saham dalam kapasitasnya sebagai
pemilik.
03. Pendapatan adalah kenaikan manfaat ekonomi selama suatu
periode pelaporan dalam bentuk arus masuk atau penambahan
aset atau penurunan liabilitas yang mengakibatkan kenaikan
ekuitas yang tidak berasal dari kontribusi pemegang saham.
04. Keuntungan adalah pos pendapatan lain yang mungkin timbul
atau mungkin tidak timbul dalam pelaksanaan aktivitas Bank.
05. Beban adalah penurunan manfaat ekonomi selama suatu
periode pelaporan dalam bentuk arus keluar atau penurunan
aset atau kenaikan liabilitas yang mengakibatkan penurunan
ekuitas yang tidak menyangkut distribusi kepada pemegang
saham.
06. Kerugian adalah pos beban lain yang mungkin timbul atau
mungkin tidak timbul dalam pelaksanaan aktivitas Bank.
07. Pendapatan dan beban operasional adalah pendapatan dan
beban dari kegiatan usaha Bank.
08. Pendapatan dan beban nonoperasional adalah pendapatan dan
beban di luar kegiatan usaha Bank.
09. Laporan Laba Rugi Komprehensif menyajikan pos-pos berikut:
a.
Pendapatan pengelolaan dana oleh Bank sebagai mudharib:
i.
pendapatan dari jual beli;
ii.
pendapatan dari sewa;
iii.
pendapatan dari bagi hasil;
iv.
pendapatan usaha utama lain.
14.1
321
Lanjutan Lampiran 1
b.
Hak pihak ketiga atas bagi hasil dana syirkah temporer.
c.
Pendapatan usaha lain.
d.
Beban usaha.
e.
Laba usaha.
f.
Pendapatan non usaha.
g.
Beban non usaha.
h.
Beban pajak penghasilan.
i.
Laba neto.
j.
Penghasilan komprehensif lain.
k.
Laba komprehensif.
14.2
322
Lanjutan Lampiran 1
XIV.2
A.
KOMPONEN LABA RUGI
Definisi
Laba Rugi adalah total pendapatan dikurangi beban, tidak termasuk
komponen penghasilan komprehensif lain.
B.
Dasar Pengaturan
01. PSAK 101 tentang Penyajian Laporan Keuangan Syariah.
02. PSAK 102 tentang Akuntansi Murabahah.
03. PSAK 103 tentang Akuntansi Salam.
04. PSAK 104 tentang Akuntansi Istishna.
05. PSAK 105 tentang Akuntansi Mudharabah.
06. PSAK 106 tentang Akuntansi Musyarakah.
07. PSAK 107 tentang Akuntansi Ijarah.
08. PSAK 110 tentang Akuntansi Sukuk.
09. PSAK 12 tentang Bagian Partisipasi dalam Ventura Bersama.
10. PSAK 15 tentang Investasi pada Entitas Asosiasi.
11. PSAK 23 tentang Pendapatan.
12. PSAK
55
tentang
Instrumen
Keuangan:
Pengakuan
dan
Pengukuran.
13. SAK lain yang relevan.
C.
Penjelasan
01. Penyusunan Laporan Laba Rugi Komprehensif didasarkan pada
pendapatan dan beban yang diakui dengan menggunakan dasar
akrual
sedangkan
perhitungan
distribusi
pendapatan/hasil
usaha menggunakan dasar kas. Oleh karena itu, Bank harus
mampu membedakan pendapatan akrual dan pendapatan yang
kasnya sudah diterima.
02. Pendapatan usaha utama (pendapatan Bank sebagai mudharib)
terdiri dari pendapatan dari jual beli, sewa, bagi hasil, dan
pendapatan utama lain.
03. Hak pihak ketiga atas bagi hasil merupakan bagian bagi hasil
milik
pihak
ketiga
(misalnya
nasabah
penyimpan
dalam
tabungan dan deposito yang didasarkan pada akad mudharabah
14.3
323
Lanjutan Lampiran 1
dan musyarakah) atas hasil pengelolaan dana syirkah temporer
oleh Bank.
04. Pendapatan usaha lain antara lain terdiri dari:
a.
Pendapatan
penyelenggaraan
jasa
Perbankan
Syariah
berbasis imbalan, terdiri dari:
i.
Pendapatan fee wakalah;
ii.
Pendapatan fee kafalah;
iii.
Pendapatan fee hiwalah;
iv.
Pendapatan fee dana investasi terikat;
v.
Pendapatan administrasi;
vi.
Pendapatan lainnya.
b.
Pendapatan bonus giro pada Bank Syariah lain.
c.
Keuntungan transaksi valuta asing.
05. Beban usaha antara lain terdiri dari:
a.
Beban bonus simpanan masyarakat berdasarkan prinsip
wadiah.
b.
Beban kerugian penurunan nilai piutang.
c.
Beban penyusutan.
d.
Beban amortisasi.
e.
Beban/kerugian transaksi valuta asing.
f.
Beban premi dalam rangka penjaminan.
g.
Beban sewa aset yang digunakan sendiri.
h.
Beban promosi.
i.
Beban personalia.
j.
Beban administrasi dan umum.
06. Pendapatan non usaha antara lain terdiri dari:
a.
Keuntungan pelepasan aset tetap.
b.
Pendapatan hibah.
c.
Pendapatan lain.
07. Beban non usaha antara lain terdiri dari:
a.
Kerugian penurunan nilai aset tetap.
b.
Kerugian pelepasan aset tetap.
c.
Beban lain.
14.4
324
Lanjutan Lampiran 1
D.
Perlakuan Akuntansi
01. Pendapatan margin murabahah
a.
Untuk transaksi yang dilakukan secara non-tunai, maka
keuntungan diakui secara proporsional sesuai angsuran
yang jatuh tempo selama masa akad, atau keuntungan
diakui dengan menggunakan metode effective rate of return
(anuitas).
b.
Biaya
transaksi
diakui
selaras
dengan
pengakuan
keuntungan murabahah.
02. Pendapatan neto salam paralel
Pendapatan neto salam paralel diakui pada saat penyerahan
barang kepada nasabah sebesar selisih antara jumlah kas yang
diserahkan kepada pemasok dan jumlah kas yang diterima dari
nasabah.
03. Pendapatan neto istishna paralel
Selisih antara nilai akad dan nilai pemesanan barang yang
diakui secara proporsional selama masa akad, termasuk biaya
transaksinya.
04. Penghasilan dari sewa
a.
Pendapatan sewa diakui selama masa akad pada saat
manfaat atas aset telah diserahkan kepada nasabah.
b.
Keuntungan atau kerugian dari pelepasan aset ijarah diakui
pada saat pelepasan sebesar selisih harga jual dan nilai
tercatat aset ijarah.
c.
Beban yang terkait dengan pengelolaan aset ijarah, antara
lain
beban
penyusutan
dan
amortisasi,
beban
pemeliharaan, dan beban sewa ijarah (transaksi ijarahlanjut), diakui sebagai pengurang penghasilan dari sewa.
05. Pendapatan dari bagi hasil
Pendapatan bagi hasil diakui pada saat Bank menerima laporan
periodik atas usaha yang telah dilakukan oleh nasabah, baik
keuntungan maupun kerugian.
06. Pendapatan usaha utama lain
a.
Pendapatan dari pinjaman qardh diakui pada saat diterima
dari nasabah.
14.5
325
Lanjutan Lampiran 1
b.
Pendapatan investasi pada surat berharga berupa imbal
hasil (dividen, kupon, amortisasi atas premium, diskonto,
dan biaya transaksi, dan keuntungan atau kerugian
pelepasan surat berharga).
c.
Pendapatan lain.
07. Hak pihak ketiga atas bagi hasil
Hak pihak ketiga atas bagi hasil diakui sebagai pengurang
pendapatan yang merupakan porsi Bank sebagai mudharib.
E.
Ilustrasi Jurnal
Ilustrasi
jurnal
mengacu
pada
ilustrasi
jurnal
di
setiap pos
pendapatan dan beban yang terkait.
F.
Pengungkapan
Pengungkapan mengacu pada pengungkapan di masing-masing pos
pendapatan dan beban yang terkait.
14.6
326
Lanjutan Lampiran 1
XIV.3
A.
KOMPONEN PENGHASILAN KOMPREHENSIF LAIN
Definisi
Penghasilan komprehensif lain berisi pos pendapatan dan beban,
termasuk penyesuaian reklasifikasi, yang tidak diakui dalam laba
rugi sebagaimana disyaratkan oleh SAK.
B.
Dasar Pengaturan
01. PSAK 1 tentang Penyajian Laporan Keuangan.
02. PSAK 10 tentang Pengaruh Perubahan Kurs Valuta Asing.
03. PSAK 12 tentang Bagian Partisipasi dalam Ventura Bersama.
04. PSAK 15 tentang Investasi pada Entitas Asosiasi.
05. PSAK 24 tentang Imbalan Kerja.
06. PSAK
55
tentang
Instrumen
Keuangan:
Pengakuan
dan
Pengukuran.
C.
Penjelasan
01. Penghasilan komprehensif lain terdiri dari:
a.
Perubahan surplus revaluasi dari aset tetap dan aset tidak
berwujud.
b.
Keuntungan dan kerugian aktuarial atas program imbalan
pasti.
c.
Selisih kurs dari penjabaran Laporan Keuangan dari entitas
asing.
d.
Penyesuaian nilai wajar dari aset keuangan dalam kategori
‘tersedia untuk dijual’.
e.
Bagian penghasilan komprehensif lain dari entitas asosiasi
dan pengendalian bersama entitas.
02. Surplus revaluasi aset tetap dan aset tidak berwujud muncul
dari penerapan model revaluasi atas aset tetap atau aset tidak
berwujud yang dimiliki Bank.
03. Keuntungan atau kerugian aktuaria merupakan perubahan
dalam nilai kini kewajiban imbalan pasti yang berasal dari
experience adjustments (dampak perbedaan antara asumsi
14.7
327
Lanjutan Lampiran 1
aktuarial sebelumnya dan kejadian aktual yang terjadi) dan
dampak perubahan asumsi aktuarial.
04. Selisih kurs dari penjabaran Laporan Keuangan dari entitas
asing merupakan selisih kurs yang timbul dari penjabaran
Laporan Keuangan entitas anak, entitas asosiasi, ventura
bersama, atau cabang di luar negeri dengan mata uang
fungsional yang berbeda dengan Bank.
05. Penyesuaian nilai wajar dari aset keuangan dalam kategori
‘tersedia untuk dijual’ muncul dari penyesuaian nilai wajar atas
investasi pada saham, reksadana, dan penyertaan
dalam
kategori ‘tersedia untuk dijual’.
06. Bagian penghasilan komprehensif lain dari entitas asosiasi dan
pengendalian
bersama
komprehensif
lain
entitas
yang
muncul
dimiliki
dari
entitas
penghasilan
asosiasi
atau
pengendalian bersama entitas yang dimiliki Bank dan dicatat
dengan menggunakan metode ekuitas.
07. Termasuk
dalam
penghasilan
komprehensif
lain
adalah
penyesuaian reklasifikasi, yaitu jumlah yang direklasifikasi dari
penghasilan komprehensif lain ke laba rugi. Misalnya, jumlah
penyesuaian nilai wajar aset keuangan ‘tersedia untuk dijual’
yang sebelumnya diakui di penghasilan komprehensif lain yang
direklasifikasi ke laba rugi ketika terjadi penjualan aset
keuangan tersebut.
D.
Perlakuan Akuntansi
01. Perlakuan akuntansi untuk surplus revaluasi aset tetap dan aset
tidak berwujud mengacu pada Bagian X tentang Aset Tetap dan
Aset Tidak Berwujud.
02. Keuntungan atau kerugian aktuarial dari program pasca kerja
imbalan pasti diakui dalam penghasilan komprehensif lain
sebesar hasil perhitungan aktuarial.
03. Selisih kurs dari penjabaran Laporan Keuangan dari entitas
asing diakui pada saat penjabaran pos-pos aset, liabilitas,
pendapatan, dan beban dari entitas asing yang menggunakan
mata
uang
fungsional
selain
Rupiah
ke
dalam
Laporan
14.8
328
Lanjutan Lampiran 1
Keuangan Bank yang menggunakan mata uang fungsional
Rupiah.
04. Perlakuan akuntansi untuk selisih penilaian (penyesuaian nilai
wajar) dari aset keuangan dalam kategori ‘tersedia untuk dijual’
mengacu pada Bagian VIII tentang Surat Berharga terkait
dengan investasi saham, reksadana, dan penyertaan.
05. Perlakuan
akuntansi
untuk
bagian
atas
penghasilan
komprehensif lain dari asosiasi dan pengendalian bersama
entitas mengacu pada Bagian VIII tentang Surat Berharga terkait
dengan penyertaan.
E.
Ilustrasi Jurnal
01. Surplus revaluasi aset tetap dan aset tidak berwujud
a.
Aset tetap
Db. Aset tetap
Kr. Akumulasi penyusutan
Kr. Surplus revaluasi
b.
Aset tidak berwujud
Db. Aset tidak berwujud
Kr. Akumulasi amortisasi
Kr. Surplus revaluasi
02. Keuntungan atau kerugian aktuaria dari liabilitas pascakerja
imbalan pasti.
a.
Keuntungan aktuaria dari aset program
Db. Aset program
Kr. Keuntungan aktuaria
b.
Kerugian aktuaria dari aset program
Db. Kerugian aktuaria
Kr. Aset program
c.
Keuntungan aktuaria dari kewajiban program
Db. Liabilitas pascakerja
Kr. Keuntungan aktuaria
d.
Kerugian aktuaria dari kewajiban program
Db. Kerugian aktuaria
Kr. Liabilitas pascakerja
14.9
329
Lanjutan Lampiran 1
03. Selisih kurs penjabaran Laporan Keuangan
Db.
Beban yang terkait
Db.
Aset yang terkait
Db/Kr.
Selisih kurs penjabaran
Kr.
Pendapatan yang terkait
Kr.
Liabilitas yang terkait
04. Penyesuaian nilai wajar dari aset keuangan dalam kategori AFS.
Db/Kr.
Pos investasi yang terkait
Kr/Db.
Penyesuaian nilai wajar
05. Bagian atas penghasilan komprehensif lain dari entitas asosiasi
dan ventura bersama.
a.
Jika penghasilan komprehensif lain dari entitas asosiasi
dan ventura bersama bersaldo kredit (positif).
Db. Investasi
entitas
asosiasi/pengendalian
bersama
entitas
Kr. Bagian atas penghasilan komprehensif lain
b.
Jika penghasilan komprehensif lain dari entitas asosiasi
dan ventura bersama bersaldo debit (negatif).
Db. Bagian atas penghasilan komprehensif lain
Kr. Investasi pada entitas asosiasi/pengendalian bersama
entitas
F.
Pengungkapan
Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain:
01. Rincian penghasilan komprehensif lain.
02. Jumlah pajak penghasilan terkait.
03. Penyesuaian reklasifikasi terkait penghasilan komprehensif lain.
04. Pengungkapan lain.
14.10
330
Lanjutan Lampiran 1
BAGIAN XV
A.
LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS
Definisi
Laporan Perubahan Ekuitas adalah laporan yang menunjukkan
perubahan ekuitas Bank yang menggambarkan peningkatan atau
penurunan aset neto atau kekayaan selama periode pelaporan.
B.
Dasar Pengaturan
01. PSAK 101 tentang Penyajian Laporan Keuangan Syariah.
02. SAK lain yang relevan.
C.
Penjelasan
01. Perubahan
ekuitas
menggambarkan
peningkatan
atau
penurunan aset neto selama suatu periode berdasarkan prinsip
pengukuran tertentu yang dianut dan harus diungkapkan dalam
Laporan Keuangan.
02. Laporan Perubahan Ekuitas, kecuali untuk perubahan yang
berasal dari transaksi ekuitas yaitu transaksi dengan pemegang
saham dalam kapasitasnya sebagai pemilik seperti setoran
modal
dan
pembayaran
dividen,
menggambarkan
jumlah
penghasilan dan beban yang berasal dari kegiatan Bank selama
periode yang bersangkutan.
03. Bank menyajikan, baik dalam Laporan Perubahan Ekuitas atau
Catatan Atas Laporan Keuangan, jumlah dividen yang diakui
sebagai distribusi kepada pemegang saham, dan nilai dividen per
saham.
04. Perubahan ekuitas antara awal dan akhir periode pelaporan
menggambarkan peningkatan dan penurunan aset neto atau
kekayaan selama periode bersangkutan berdasarkan prinsip
pengukuran tertentu yang dianut dan harus diungkapkan dalam
Laporan Keuangan.
05. Laporan Perubahan Ekuitas, kecuali untuk perubahan yang
berasal
dari
transaksi
ekuitas,
menggambarkan
jumlah
keuntungan dan kerugian yang berasal dari kegiatan Bank
selama suatu periode.
15.1
331
Lanjutan Lampiran 1
06. Laporan Perubahan Ekuitas menunjukkan:
a.
Total laba komprehensif
i.
Jumlah yang dapat diatribusikan kepada pemilik
entitas induk;
ii.
Jumlah yang dapat diatribusikan kepada kepentingan
nonpengendali.
b.
Untuk
setiap
komponen
ekuitas,
dampak
penerapan
retrospektif atau penyajian kembali secara retrospektif yang
diakui sesuai dengan PSAK terkait.
c.
Untuk setiap komponen ekuitas, rekonsiliasi antara jumlah
tercatat pada awal dan akhir periode, secara terpisah
mengungkapkan setiap perubahan yang timbul dari:
i.
laba rugi;
ii.
setiap pos penghasilan komprehensif lain;
iii.
transaksi ekuitas yang menunjukkan secara terpisah
konstribusi
dari
pemegang
saham
dan
distribusi
kepada pemegang saham dan perubahan kepemilikan
pada entitas anak yang tidak menyebabkan hilang
pengendalian.
15.2
332
Lanjutan Lampiran 1
BAGIAN XVI
A.
LAPORAN ARUS KAS
Definisi
Laporan Arus Kas adalah Laporan Keuangan yang menunjukan
penerimaan dan pengeluaran kas dan setara kas pada Bank selama
periode tertentu yang dikelompokkan
dalam aktivitas operasi,
investasi, dan pendanaan.
B.
Dasar Pengaturan
01. PSAK 2 tentang Laporan Arus Kas.
02. SAK lain yang relevan.
C.
Penjelasan
01. Kas terdiri dari saldo kas dan rekening giro.
02. Setara kas adalah investasi yang sifatnya sangat likuid,
berjangka pendek, dan yang dengan cepat dapat dijadikan kas
dalam jumlah yang dapat ditentukan dan memiliki risiko
perubahan nilai yang tidak signifikan.
03. Informasi tentang arus kas berguna bagi para pengguna Laporan
Keuangan sebagai dasar untuk menilai kemampuan Bank dalam
menghasilkan kas dan setara kas serta menilai kebutuhan
penggunaan arus kas tersebut.
04. Dalam mengambil keputusan ekonomi, para pengguna Laporan
Keuangan perlu melakukan evaluasi terhadap kemampuan Bank
dalam menghasilkan kas dan setara kas serta kepastian
perolehannya. Evaluasi tersebut untuk mengetahui bagaimana
Bank menghasilkan dan menggunakan kas dan setara kas, serta
kebutuhan kas dan setara kas untuk melaksanakan usaha,
melunasi liabilitas, dan membagikan bagi hasil kepada pemilik
dana/deposan dan dividen kepada pemegang saham.
05. Laporan Arus Kas memberikan informasi historis mengenai
perubahan kas dan setara kas dengan mengklasifikasikan arus
kas berdasarkan aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan
selama suatu periode akuntansi.
16.1
333
Lanjutan Lampiran 1
06. Suatu
transaksi
tertentu
dapat
meliputi
arus
kas
yang
diklasifikasikan ke dalam lebih dari satu aktivitas. Sebagai
contoh:
a.
Pelunasan atas pembiayaan yang diterima oleh Bank
meliputi pokok pembiayaan dan bagi hasil. Bagi hasil
merupakan unsur yang dapat diklasifikasikan sebagai
aktivitas operasi dan pokok pembiayaan merupakan unsur
yang diklasifikasikan sebagai aktivitas pendanaan.
b.
Pinjaman qardh yang diterima oleh Bank meliputi pokok
pinjaman dan imbalan yang diberikan (jika ada dan tidak
diperjanjikan di muka). Imbalan merupakan unsur yang
dapat diklasifikasikan sebagai aktivitas operasi dan pokok
pinjaman merupakan unsur yang diklasifikasikan sebagai
aktivitas pendanaan.
07. Arus kas dari aktivitas operasi
a.
Aktivitas
operasi
adalah
aktivitas
penghasil
utama
pendapatan dan aktivitas lain yang bukan merupakan
aktivitas investasi dan aktivitas pendanaan.
b.
Arus kas dari aktivitas operasi terutama diperoleh dari
aktivitas penghasil utama pendapatan. Oleh karena itu,
arus kas tersebut pada umumnya berasal dari transaksi
dan
peristiwa
lain
yang
mempengaruhi
laba
rugi
komprehensif.
c.
Beberapa contoh arus kas dari aktivitas operasi adalah:
i.
Penerimaan
angsuran/pelunasan
pembiayaan
dari
nasabah.
ii.
Pencairan pembiayaan kepada nasabah.
iii.
Penerimaan kas dari penabung/deposan.
iv.
Pembayaran kas kepada penabung/deposan.
v.
Pembayaran
kas
kepada
dan
untuk
kepentingan
karyawan.
vi.
Pembayaran kas kepada dan penerimaan kas dari
pemasok.
vii. Pembayaran kas atau restitusi pajak penghasilan,
kecuali jika dapat diidentifikasikan secara spesifik
sebagai bagian dari aktivitas pendanaan dan investasi.
16.2
334
Lanjutan Lampiran 1
d.
Arus kas operasi disajikan dengan menggunakan metode
langsung.
08. Arus kas aktivitas investasi
a.
Aktivitas investasi adalah aktivitas perolehan dan pelepasan
aset
jangka
panjang
serta
investasi
lain
yang
tidak
termasuk setara kas.
b.
Beberapa contoh arus kas dari aktivitas investasi adalah:
i.
Pembayaran kas untuk membeli sukuk, efek ekuitas,
dan reksadana.
ii.
Penerimaan kas dari penjualan sukuk, efek ekuitas,
dan reksadana.
iii.
Pembayaran kas untuk membeli aset tetap, aset tak
berwujud, dan aset tidak lancar lain.
iv.
Penerimaan kas dari penjualan aset tetap, aset tak
berwujud, dan aset tidak lancar lain.
c.
Termasuk arus kas dari pelepasan kepemilikan pada entitas
anak yang menyebabkan hilangnya pengendalian.
d.
Untuk investasi pada entitas asosiasi dan ventura bersama
yang dicatat dengan menggunakan metode ekuitas, Bank
membatasi hanya pada arus kas yang terjadi antara
perusahaan dan entitas asosiasi/ventura bersama.
09. Arus kas aktivitas pendanaan
a.
Aktivitas pendanaan adalah aktivitas yang mengakibatkan
perubahan dalam jumlah komposisi kontribusi modal dan
pinjaman.
b.
Beberapa contoh arus kas yang berasal dari aktivitas
pendanaan adalah:
i.
Penerimaan kas dari penerbitan saham.
ii.
Pembayaran kas kepada pemilik untuk menarik atau
menebus saham.
iii.
Penerimaan kas dari penerbitan sukuk, pinjaman, dan
utang lain.
iv.
Pembayaran kas untuk melunasi sukuk, pinjaman, dan
utang lain.
c.
Termasuk arus kas dari pelepasan kepemilikan pada entitas
anak yang tidak menyebabkan hilangnya pengendalian.
16.3
335
Lanjutan Lampiran 1
d.
Pengungkapan terpisah arus kas yang berasal dari aktivitas
pendanaan
adalah
penting
karena
berguna
untuk
memprediksi klaim atas arus masa depan oleh para
penyedia modal perseroan.
10. Mata uang asing
a.
Arus
kas
dalam
mata
uang
asing
diperkenankan
menggunakan kurs yang mendekati kurs sebenarnya.
Sebagai
contoh,
bersangkutan
kurs
dapat
rata-rata
untuk
periode
yang
digunakan
untuk
membukukan
transaksi dalam mata uang asing.
b.
Keuntungan dan kerugian yang belum direalisasi yang
timbul akibat perubahan kurs bukan merupakan arus kas.
c.
Pengaruh perubahan kurs terhadap kas dan setara kas
dalam valuta asing dilaporkan dalam Laporan Arus Kas
untuk merekonsiliasi saldo awal dan akhir kas dan setara
kas. Jumlah selisih kurs tersebut disajikan terpisah dari
arus kas aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan.
11. Pajak penghasilan
a.
Pajak penghasilan atas pendapatan yang diterima dapat
diklasifikasikan sebagai aktivitas operasi, investasi, atau
pendanaan.
b.
Pajak penghasilan biasanya diklasifikasikan sebagai arus
kas dari aktivitas operasi.
c.
Apabila arus kas pajak dialokasikan pada lebih satu jenis
aktivitas, maka jumlah keseluruhan pajak yang dibayar
harus diungkapkan.
16.4
336
Lanjutan Lampiran 1
BAGIAN XVII
BAGI HASIL
A.
LAPORAN REKONSILIASI PENDAPATAN DAN
Definisi
Laporan Rekonsiliasi Pendapatan dan Bagi Hasil adalah laporan yang
menyajikan rekonsiliasi antara pendapatan Bank yang menggunakan
dasar akrual dengan pendapatan dibagihasilkan kepada pemilik dana
yang menggunakan dasar kas.
B.
Dasar Pengaturan
01. PSAK 101 tentang Penyajian Laporan Keuangan Syariah.
C.
Penjelasan
01. Bank menyajikan Laporan Rekonsiliasi Pendapatan dan Bagi
Hasil yang merupakan rekonsiliasi pendapatan Bank, yang
menggunakan
dasar
akrual,
dan
pendapatan
yang
dibagihasilkan kepada pemilik dana yang menggunakan dasar
kas.
02. Selain untuk menyampaikan informasi mengenai pendapatan
usaha utama dan bagi hasil untuk pemilik dana, Laporan
Rekonsiliasi Pendapatan dan Bagi Hasil dapat digunakan untuk
mengetahui arus kas dari pendapatan usaha utama.
03. Perbedaan dasar pengakuan antara pendapatan yang diterima
Bank dengan pendapatan yang dibagihasilkan, mengharuskan
Bank menyajikan Laporan Rekonsiliasi Pendapatan dan Bagi
Hasil sebagai bagian komponen utama Laporan Keuangan.
04. Dalam Laporan Rekonsiliasi Pendapatan dan Bagi Hasil, Bank
menyajikan:
a.
pendapatan usaha utama, dasar akrual;
b.
penyesuaian atas:
i.
dikurangi dengan pendapatan usaha utama periode
berjalan yang kas atau setara kasnya belum diterima;
ii.
ditambah dengan pendapatan usaha utama periode
sebelumnya yang kas atau setara kasnya diterima di
periode berjalan;
c.
pendapatan yang tersedia untuk bagi hasil.
17.1
337
Lanjutan Lampiran 1
d.
bagian Bank atas pendapatan yang tersedia untuk bagi
hasil;
e.
bagian pemilik dana atas pendapatan yang tersedia untuk
bagi hasil.
05. Formula perhitungan pendapatan yang tersedia untuk bagi hasil
adalah:
Pendapatan usaha
utama periode
berjalan
+
pendapatan usaha
pendapatan usaha
utama periode
utama periode
sebelumnya yang kas
atau setara kasnya
-
berjalan yang kas
atau setara
diterima di periode
kasnya belum
berjalan
diterima
06. Penyesuaian atas pendapatan usaha utama dilakukan untuk
menentukan pendapatan usaha utama yang sudah terealisasi
dalam kas atau setara kas (pendapatan yang tersedia untuk bagi
hasil).
07. Penentuan hak pihak ketiga/nasabah penyimpan atas bagi hasil
dana syirkah temporer, adalah sebagai berikut:
a.
Penentuan “porsi pendapatan usaha utama” yang telah
diterima kasnya (dasar kas) yang didanai dari simpanan
nasabah penyimpan berdasarkan akad mudharabah dan
musyarakah dan dari dana lain, yang meliputi:
i.
Jumlah simpanan nasabah yang berhasil dihimpun
selama periode berjalan;
ii.
Jumlah dana yang berhasil disalurkan oleh Bank;
iii.
Hasil penyaluran dana (pendapatan usaha utama)
dasar kas yang diterima Bank; dan
iv.
Jumlah hasil penyaluran dana (pendapatan usaha
utama) dasar kas yang harus dibagihasilkan antara
Bank dan nasabah penyimpan.
17.2
338
Lanjutan Lampiran 1
No
Penghimpunan
dana
1
150.000
150.000
325
Pendapatan
yang dibagihasilkan
325
2
150.000
175.000
350
300
3
150.000
125.000
275
275
b.
Penyaluran
dana
Pendapatan
penyaluran
Keterangan
Semua pendapatan
dibagihasilkan untuk Bank
dan nasabah
300=150.000/175.000 x 350
(pendapatan dibagi-hasil
sebesar proporsi
penghimpunan dana)
- Semua pendapatan
dibagihasilkan
- Ada dana yang belum
disalurkan
Penentuan “hak pihak ketiga atas bagi hasil dana syirkah
temporer”
dengan
menyusun
tabel
penyaluran
revenue/profit yang meliputi:
i.
Jenis produk yang dijadikan sarana penghimpunan
dana nasabah;
ii.
Saldo dana rata-rata selama satu periode untuk setiap
jenis produk penghimpunan dana nasabah dan total
saldo dana rata-rata untuk seluruh jenis produk
penghimpunan dana nasabah;
iii.
Jumlah
pendapatan
penghimpunan
untuk
dana
setiap
nasabah
jenis
produk
yang
akan
dibagihasilkan antara nasabah penyimpan dan Bank
dan total pendapatan yang akan dibagihasilkan untuk
seluruh jenis produk penghimpunan dana nasabah;
iv.
Jumlah porsi bagi hasil secara agregat untuk nasabah
pada setiap jenis produk penghimpunan dana nasabah
dan total bagi hasil untuk nasabah dari seluruh jenis
produk penghimpunan dana nasabah; dan
v.
Jumlah porsi bagi hasil secara agregat untuk Bank
dari setiap jenis produk penghimpunan dana nasabah
dan total porsi bagi hasil untuk Bank dari seluruh
jenis produk penghimpunan dana nasabah.
Jenis
Penghimpunan
Giro mudharabah
Tabungan
mudharabah
Deposito
mudharabah
1 bulan
3 bulan
6 bulan
12 bulan
Total
Saldo rata-rata
A
A1
A2
Pendapatan
yang harus
dibagi hasil
B
B1
B2
A3
A4
A5
A6
A
B3
B4
B5
B6
B
Porsi pemilik dana
Nisbah
Jumlah
Porsi pengelola dana
Nisbah
Jumlah
C
0,25
0,55
D
D1
D2
E
0,75
0,45
F
F1
F2
0,60
0,65
0,67
0,70
C
D3
D4
D5
D6
D
0,40
0,35
0,33
0,3
E
F3
F4
F5
F6
F
17.3
339
Lanjutan Lampiran 1
D.
Pengungkapan
Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain:
01. Rincian pendapatan usaha utama periode sebelumnya yang
diterima di periode berjalan.
02. Rincian pendapatan usaha utama periode berjalan yang belum
diterima kas atau setara kasnya.
03. Rincian pendapatan yang tersedia untuk bagi hasil yang belum
didistribusikan ke pemilik dana.
04. Pengungkapan lain.
17.4
340
Lanjutan Lampiran 1
BAGIAN XVIII LAPORAN SUMBER DAN PENYALURAN DANA
ZAKAT
A.
Definisi
01. Laporan Sumber dan Penyaluran Dana Zakat merupakan
laporan yang menunjukkan sumber dan penyaluran dana zakat
kepada entitas pengelola zakat selama suatu jangka waktu
tertentu, serta saldo dana zakat yang belum disalurkan pada
tanggal tertentu.
02. Zakat merupakan kewajiban Syariah yang harus diserahkan
oleh wajib zakat (muzaki) kepada penerima zakat (mustahiq),
baik melalui amil maupun secara langsung.
B.
Dasar Pengaturan
01. PSAK 101 tentang Penyajian Laporan Keuangan Syariah.
C.
Penjelasan
01. Pembayaran
zakat
dilakukan
apabila
nisab
dan
haulnya
terpenuhi dari harta yang memenuhi kriteria wajib zakat.
02. Bank menyajikan Laporan Sumber dan Penyaluran Dana Zakat
sebagai
komponen
utama
Laporan
Keuangan
dengan
menyajikan:
a.
b.
Dana zakat yang berasal dari:
i.
internal Bank;
ii.
eksternal Bank.
Penyaluran dana zakat kepada entitas pengelola zakat
sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan
yang berlaku.
c.
Kenaikan atau penurunan dana zakat.
d.
Saldo awal dana zakat.
e.
Saldo akhir dana zakat.
03. Sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku, Bank hanya
dapat menyalurkan dana zakat yang diterima kepada lembaga
amil zakat atau badan amil zakat.
04. Sumber dana zakat dari eksternal Bank antara lain:
18.1
341
Lanjutan Lampiran 1
a.
Dana yang disetor atau dipotong dari rekening nasabah
atas perintah nasabah tersebut.
b.
Zakat masyarakat bukan nasabah Bank yang disetor
melalui Bank.
05. Dalam penyaluran dana zakat kepada entitas pengelola zakat,
Bank cukup menyebutkan nama lembaga amil zakat dan badan
amil zakat.
D.
Perlakuan Akuntansi
01. Sumber
dana
zakat
yang
berasal
dari
pemilik
Bank
diperhitungkan dari laba neto sebelum pajak selama periode
satu tahun.
02. Penerimaan dana zakat diakui sebagai liabilitas dan diakui
sebagai pengurang liabilitas ketika disalurkan.
03. Dana zakat disajikan sebagai liabilitas paling likuid.
E.
Ilustrasi Jurnal
01. Pada saat penerimaan dari internal Bank
a.
Zakat Bank
Dr. Beban zakat
Kr. Rekening Dana Zakat
b.
Zakat pemilik Bank
Dr. Kas/rekening
Kr. Rekening Dana Zakat
02. Penerimaan zakat dari eksternal Bank
Dr. Kas/rekening
Kr. Rekening Dana Zakat
03. Pada saat penyaluran zakat
Dr. Rekening Dana Zakat
Kr. Kas/rekening
F.
Pengungkapan
Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain:
01. Sumber dana zakat yang berasal dari internal Bank.
02. Sumber dana zakat yang berasal dari eksternal Bank.
03. Kebijakan penyaluran zakat.
18.2
342
Lanjutan Lampiran 1
04. Proporsi dana yang disalurkan untuk masing-masing entitas
pengelola zakat yang diklasifikasikan menjadi pihak berelasi dan
pihak ketiga.
05. Pengungkapan lain.
18.3
343
Lanjutan Lampiran 1
BAGIAN XIX
KEBAJIKAN
A.
LAPORAN SUMBER DAN PENGGUNAAN DANA
Definisi
01. Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Kebajikan merupakan
laporan yang menunjukkan sumber dan penggunaan dana
kebajikan selama suatu jangka waktu tertentu, serta saldo dana
kebajikan yang menunjukkan dana kebajikan yang belum
disalurkan pada tanggal tertentu.
02. Penerimaan nonhalal adalah semua penerimaan dari kegiatan
yang
tidak
sesuai
dengan
prinsip
Syariah,
antara
lain
penerimaan jasa giro atau bunga yang berasal dari bank umum
konvensional.
B.
Dasar Pengaturan
01. PSAK 101 tentang Penyajian Laporan Keuangan Syariah.
C.
Penjelasan
01. Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Kebajikan adalah salah
satu komponen Laporan Keuangan yang mencerminkan kegiatan
sosial Bank.
02. Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Kebajikan merupakan
laporan yang memberikan informasi agar para pemakai dapat
mengevaluasi aktivitas Bank dalam mengelola dana kebajikan.
03. Bank menyajikan Laporan Sumber dan Penggunaan Dana
Kebajikan sebagai komponen utama Laporan Keuangan, yang
menunjukkan:
a.
Sumber dana kebajikan yang berasal dari penerimaan,
antara lain:
b.
i.
infak;
ii.
sedekah;
iii.
pengembalian dana kebajikan produktif;
iv.
denda; dan
v.
penerimaan nonhalal.
Penggunaan dana kebajikan untuk:
i.
dana kebajikan produktif;
19.1
344
Lanjutan Lampiran 1
ii.
sumbangan; dan
iii.
penggunaan lainnya untuk kepentingan umum.
c.
Kenaikan atau penurunan sumber dana kebajikan.
d.
Saldo awal dana kebajikan.
e.
Saldo akhir dana kebajikan.
04. Dana kebajikan merupakan liabilitas yang paling likuid atau
menjadi prioritas yang pertama untuk segera diselesaikan.
05. Infak dan sedekah adalah dana yang diterima dari eksternal
Bank atau dari rekening nasabah atas perintah nasabah
tersebut.
06. Denda adalah penerimaan dari nasabah atas kelalaian atau
kesengajaan yang mengakibatkan tidak terpenuhinya kewajiban
nasabah sesuai dengan akad, seperti akad murabahah atau
istishna.
07. Penerimaan nonhalal berasal dari penerimaan jasa giro dari
bank konvensional atau penerimaan lainnya yang tidak dapat
dihindari dalam kegiatan operasional Bank.
08. Penerimaan nonhalal pada umumnya terjadi dalam kondisi
darurat atau kondisi yang tidak diinginkan oleh Bank karena
secara prinsip dilarang.
09. Penerimaan nonhalal bukan bagian dari pendapatan Bank
sehingga tidak disajikan di Laporan Laba Rugi Komprehensif,
tetapi sebagai bagian dari sumber dana kebajikan.
10. Dana kebajikan dapat disalurkan sebagai dana bergulir untuk
pinjaman sosial/dana kebajikan produktif, sumbangan, atau
kepentingan umum lain.
D.
Perlakuan Akuntansi
01. Penerimaan dana kebajikan diakui sebagai liabilitas dan diakui
sebagai pengurang liabilitas ketika disalurkan.
02. Dana kebajikan disajikan sebagai liabilitas paling likuid.
E.
Ilustrasi Jurnal
01. Pada saat penerimaan dana kebajikan
Db. Kas/rekening
Kr. Rekening Dana Kebajikan
19.2
345
Lanjutan Lampiran 1
02. Pada saat penyaluran dana kebajikan
Db. Rekening Dana Kebajikan
Kr. Kas/rekening
03. Pada saat pengembalian dana kebajikan
Db. Kas/rekening
Kr. Rekening Dana Kebajikan
F.
Pengungkapan
Hal-hal yang harus diungkapkan antara lain:
01. Sumber dana kebajikan.
02. Kebijakan penyaluran dana kebajikan kepada masing-masing
penerima.
03. Proporsi dana yang disalurkan untuk masing-masing penerima
dana kebajikan yaitu pihak berelasi dan pihak ketiga.
04. Alasan terjadinya dan penggunaan atas penerimaan nonhalal.
05. Pengungkapan lain.
19.3
346
Lanjutan Lampiran 1
BAGIAN XX
A.
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN
Definisi
Catatan Atas Laporan Keuangan merupakan komponen Laporan
Keuangan yang memberikan penjelasan mengenai gambaran umum
Bank, ikhtisar kebijakan akuntansi, penjelasan pos-pos Laporan
Keuangan, dan informasi penting lain.
B.
Dasar pengaturan
01. PSAK 101 tentang Penyajian Laporan Keuangan Syariah.
02. SAK lain yang relevan.
C.
Penjelasan
01. Catatan
Atas
Laporan
Keuangan
harus
disajikan
secara
sistematis. Setiap pos dalam Laporan Posisi Keuangan, Laporan
Laba Rugi Komprehensif, Laporan Perubahan Ekuitas, Laporan
Arus Kas, Laporan Rekonsiliasi Pendapatan dan Bagi Hasil,
Laporan Sumber dan Penyaluran Dana Zakat, dan Laporan
Sumber dan Penggunaan Dana Kebajikan harus berkaitan
dengan informasi yang ada dalam Catatan Atas Laporan
Keuangan.
02. Catatan Atas Laporan Keuangan harus menyajikan pernyataan
yang eksplisit bahwa Laporan Keuangan telah patuh terhadap
SAK. Bank tidak boleh menyebutkan bahwa Laporan Keuangan
telah patuh terhadap SAK, kecuali Laporan Keuangan tersebut
telah mematuhi semua ketentuan dalam SAK.
03. Catatan Atas Laporan Keuangan, khususnya pengungkapan
kebijakan akuntansi yang digunakan, tidak dapat memperbaiki
kebijakan
akuntansi
yang
tidak
tepat
tanpa
melakukan
perbaikan atas kebijakan akuntansi yang tidak tepat tersebut.
04. Catatan Atas Laporan Keuangan mengungkapkan:
a.
Informasi tentang dasar penyusunan Laporan Keuangan
dan kebijakan akuntansi yang dipilih dan diterapkan
terhadap peristiwa dan transaksi yang penting;
b.
informasi
yang
diwajibkan
dalam
PSAK
tetapi
tidak
disajikan dalam Laporan Posisi Keuangan, Laporan Laba
20.1
347
Lanjutan Lampiran 1
Rugi Komprehensif, Laporan Perubahan Ekuitas, Laporan
Arus Kas, Laporan Rekonsiliasi Pendapatan dan Bagi Hasil,
Laporan Sumber dan Penyaluran Dana Zakat, dan Laporan
Sumber dan Penggunaan Dana Kebajikan;
c.
informasi tambahan yang tidak disajikan dalam Laporan
Posisi
Keuangan,
Laporan
Laba
Rugi
Komprehensif,
Laporan Perubahan Ekuitas, Laporan Arus Kas, Laporan
Rekonsiliasi Pendapatan dan Bagi Hasil, Laporan Sumber
dan Penyaluran Dana Zakat, dan Laporan Sumber dan
Penggunaan Dana Kebajikan, tetapi informasi tersebut
diperlukan dalam rangka penyajian secara wajar;
d.
informasi tentang asumsi yang dibuat mengenai masa
depan, dan sumber utama dari estimasi ketidakpastian lain
pada
akhir
signifikan
periode
yang
pelaporan,
mengakibatkan
yang
memiliki
penyesuaian
risiko
material
terhadap jumlah tercatat aset dan liabilitas dalam periode
pelaporan berikutnya;
e.
informasi
yang
memungkinkan
pengguna
Laporan
Keuangan untuk mengevaluasi tujuan, kebijakan, dan
proses Bank dalam mengelola pemodalannya.
05. Untuk pos-pos yang nilainya material, harus dirinci dan
dijelaskan dalam Catatan Atas Laporan Keuangan. Sedangkan
untuk pos-pos yang bersifat khusus harus dirinci dan dijelaskan
pada Catatan Atas Laporan Keuangan tanpa mempertimbangkan
materialitasnya.
06. Untuk pos yang merupakan hasil penggabungan beberapa akun
sejenis harus dirinci dan dijelaskan sifat dari unsur utamanya
dalam Catatan Atas Laporan Keuangan.
07. Catatan Atas Laporan Keuangan harus menunjukkan secara
terpisah jumlah dari setiap jenis transaksi dan saldo dengan
pihak berelasi dan pihak ketiga.
08. Pada beberapa kasus, informasi naratif yang disajikan dalam
Laporan Keuangan periode sebelumnya masih tetap relevan
untuk diungkapkan pada periode berjalan. Misalnya, rincian
tentang sengketa hukum yang dihadapi dengan hasil akhirnya
belum diketahui secara pasti pada periode sebelumnya dan
20.2
348
Lanjutan Lampiran 1
masih dalam proses penyelesaian, perlu diungkapkan kembali
pada periode berjalan. Peningkatan daya banding informasi
antar periode membantu pengguna dalam membuat keputusan
ekonomi,
khususnya
memungkinkan
penilaian
atas
kecenderungan informasi keuangan untuk tujuan prediksi.
09. Rincian subklasifikasi bergantung pada ketentuan SAK, serta
ukuran dan fungsi jumlah yang terkait. Pertimbangan apakah
pos-pos tambahan disajikan secara terpisah didasarkan pada
penilaian dari jumlah, fungsi, dan likuiditas atau jangka waktu
dari aset dan liabilitas.
10. Catatan Atas Laporan Keuangan meliputi penjelasan naratif atau
rincian jumlah yang tertera dalam Laporan Keuangan, serta
informasi tambahan seperti liabilitas kontijensi dan komitmen.
Catatan Atas Laporan Keuangan juga mencakup informasi yang
diharuskan dan dianjurkan untuk diungkapkan dalam PSAK
serta pengungkapan-pengungkapan lain yang diperlukan untuk
menghasilkan penyajian Laporan Keuangan secara wajar.
11. Bank menyajikan Catatan Atas Laporan Keuangan dengan
urutan sebagai berikut:
a.
Pernyataan kepatuhan terhadap SAK.
b.
Pengungkapan mengenai dasar pengukuran dan kebijakan
akuntansi yang diterapkan.
c.
Informasi pendukung pos-pos Laporan Keuangan sesuai
urutan sebagaimana pos-pos tersebut disajikan dalam
Laporan
Keuangan
dan
urutan
penyajian
komponen
Laporan Keuangan.
d.
Pengungkapan lain termasuk kontinjensi, komitmen, dan
pengungkapan keuangan lainnya dan nonkeuangan.
12. Hal yang penting untuk menginformasikan kepada pengguna
mengenai dasar pengukuran yang digunakan dalam Laporan
Keuangan (misalnya, biaya historis, biaya perolehan kini, nilai
realisasi neto, nilai wajar atau jumlah terpulihkan).
13. Dalam memutuskan apakah kebijakan akuntansi tertentu
diungkapkan,
pengungkapan
manajemen
tersebut
akan
mempertimbangkan
membantu
pengguna
apakah
untuk
memahami bagaimana transaksi, peristiwa lain dan kondisi yang
20.3
349
Lanjutan Lampiran 1
tercermin dalam Laporan Posisi Keuangan dan Laporan Kinerja
Keuangan.
14. Bank mengungkapkan sumber estimasi ketidakpastian dalam
satu cara yang dapat membantu pengguna Laporan Keuangan
untuk
memahami
pertimbangan
yang
dibuat
manajemen
tentang masa depan dan sumber estimasi ketidakpastian lain.
15. Bank mengungkapkan informasi yang memungkinkan pengguna
Laporan Keuangan mengevaluasi tujuan, kebijakan, dan proses
dalam mengelola permodalannya.
Bank Indonesia,
Halim Alamsyah
Deputi Gubernur
20.4
350
1
Lampiran 2
LAMPIRAN
SURAT EDARAN BANK INDONESIA
NOMOR 14/ 35 /DPNP TANGGAL 10 DESEMBER 2012
PERIHAL
LAPORAN TAHUNAN BANK UMUM DAN LAPORAN TAHUNAN TERTENTU YANG DISAMPAIKAN KEPADA
BANK INDONESIA
PEDOMAN PENYUSUNAN
LAPORAN TAHUNAN BANK UMUM DAN LAPORAN TAHUNAN TERTENTU
YANG DISAMPAIKAN KEPADA BANK INDONESIA
BANK INDONESIA
351
2
Lanjutan Lampiran 2
PEDOMAN PENGISIAN
PENGUNGKAPAN PERMODALAN SERTA PENGUNGKAPAN EKSPOSUR RISIKO DAN PENERAPAN
MANAJEMEN RISIKO BANK
A. Petunjuk Umum
1. Angka-angka dalam pengungkapan permodalan serta pengungkapan eksposur risiko dan penerapan manajemen
risiko Bank wajib disajikan dalam mata uang rupiah.
2. Cakupan pengungkapan yang diatur dalam pengungkapan permodalan serta pengungkapan eksposur risiko dan
penerapan manajemen risiko merupakan standar minimum informasi yang harus disampaikan Bank. Bank
dimungkinkan untuk melakukan pengungkapan yang lebih luas dalam menggambarkan kecukupan permodalan
yang dimiliki, dan eksposur risiko, praktek manajemen risiko.
3. Pengungkapan permodalan serta pengungkapan eksposur risiko dan penerapan manajemen risiko Bank terdiri
dari pengungkapan untuk Bank secara individual dan pengungkapan untuk Bank secara konsolidasi dengan
perusahaan anak.
4. Bank yang tidak memiliki perusahaan anak, hanya mencantumkan pengungkapan permodalan serta
pengungkapan eksposur risiko dan penerapan manajemen risiko Bank secara individual.
5. Bank yang tidak memiliki eksposur tertentu sesuai dengan persyaratan pengungkapan minimum permodalan
serta pengungkapan eksposur risiko dan penerapan manajemen risiko, tidak perlu mencantumkan tabel yang
terkait dengan pengungkapan eksposur tersebut. Bank hanya perlu mencantumkan penjelasan bahwa Bank
tidak memiliki eksposur pada pengungkapan terkait.
Misalnya: Bank yang tidak memiliki eksposur sekuritisasi aset hanya mencantumkan penjelasan bahwa Bank
tidak memiliki ekposur sekuritisasi aset di bagian pengungkapan sekuritisasi aset.
352
3
Lanjutan Lampiran 2
6. Pengungkapan kualitatif terkait dengan penerapan manajemen risiko mengacu pada ketentuan Bank Indonesia
mengenai penerapan manajemen risiko bagi bank umum.
7. Pengungkapan permodalan serta pengungkapan eksposur risiko dan penerapan manajemen risiko Bank tidak
dipersyaratkan untuk diaudit oleh akuntan publik. Namun demikian, Bank harus melakukan semua upaya
yang diperlukan untuk menjamin keakuratan dari seluruh pengungkapan yang disyaratkan.
8. Pengungkapan permodalan serta pengun
gkapan eksposur risiko dan penerapan manajemen risiko Bank yang
bersifat kuantitatif wajib disajikan dalam bentuk perbandingan dengan laporan periode yang sama tahun
sebelumnya. Khusus untuk penerapan di tahun pertama, Bank tidak perlu melakukan perbandingan dengan
tahun sebelumnya.
353
Lanjutan Lampiran 2
4
B. Petunjuk Khusus
1. Pedoman Pengisian Pengungkapan Struktur Permodalan
Pengungkapan struktur permodalan diisi sesuai dengan ketentuan Bank Indonesia mengenai laporan keuangan
publikasi triwulanan dan bulanan bank umum serta laporan tertentu yang disampaikan kepada Bank
Indonesia.
Tabel 1.a Pengungkapan Kuantitatif Struktur Permodalan Bank Umum
KOMPONEN MODAL
(1)
I
(2)
Posisi Tanggal Laporan
(dalam jutaan rupiah)
Posisi Tanggal Laporan Tahun
Sebelumnya
Bank
Konsolidasi
Bank
Konsolidasi
(3)
(4)
(5)
(6)
KOMPONEN MODAL
A Modal Inti
1 Modal disetor
2 Cadangan Tambahan Modal
3 Modal Inovatif
4 Faktor Pengurang Modal Inti
5 Kepentingan Non Pengendali
B Modal Pelengkap
1 Level Atas (Upper Tier 2)
2 Level Bawah (Lower Tier 2) maksimum 50% Modal Inti
3 Faktor Pengurang Modal Pelengkap
C Faktor Pengurang Modal Inti dan Modal Pelengkap
Eksposur Sekuritisasi
D Modal Pelengkap Tambahan Yang Memenuhi Persyaratan (Tier 3)
E MODAL PELENGKAP TAMBAHAN YANG DIALOKASIKAN UNTUK MENGANTISIPASI RISIKO PASAR
II
III
TOTAL MODAL INTI DAN MODAL PELENGKAP (A + B - C)
TOTAL MODAL INTI, MODAL PELENGKAP,DAN MODAL PELENGKAP TAMBAHAN YANG
DIALOKASIKAN UNTUK MENGANTISIPASI RISIKO PASAR (A + B - C + E)
IV
ASET TERTIMBANG MENURUT RISIKO (ATMR) UNTUK RISIKO KREDIT
V
ASET TERTIMBANG MENURUT RISIKO (ATMR) UNTUK RISIKO OPERASIONAL
VI
ASET TERTIMBANG MENURUT RISIKO (ATMR) UNTUK RISIKO PASAR
A Metode Standar
B
Model Internal
VII RASIO KEWAJIBAN PENYEDIAAN MODAL MINIMUM UNTUK RISIKO KREDIT, RISIKO OPERASIONAL
DAN RISIKO PASAR [III : (IV + V + VI)]
354
Lanjutan Lampiran 2
5
Tabel 1.b Pengungkapan Kuantitatif Struktur Permodalan Bank Asing
(dalam jutaan rupiah)
KOMPONEN MODAL
(1)
I
(2)
Posisi Tanggal
Laporan
Posisi Tanggal
Laporan Tahun
Sebelumnya
(3)
(4)
KOMPONEN MODAL
A Dana Usaha
1
B
Dana Usaha
2 Modal disetor
Cadangan
1
Cadangan umum
C
2 Cadangan tujuan
Laba (rugi) tahun-tahun lalu yang dapat diperhitungkan (100%)
D
Laba (rugi) tahun berjalan yang dapat diperhitungkan (50%)
E
Dana setoran modal
H
Pendapatan komprehensif lainnya: kerugian berasal dari penurunan penyertaan dalam kelompok tersedia
untuk dijual (100%)
Pendapatan komprehensif lainnya: keuntungan berasal dari peningkatan penyertaan dalam kelompok
tersedia untuk dijual (45%)
Revaluasi aset tetap (45%)
I
Selisih kurang antara PPA dan cadangan kerugian penurunan nilai atas aset produktif
J
Penyisihan Penghapusan Aset (PPA) atas aset non produktif yang wajib dihitung
F
G
K
Selisih kurang jumlah penyesuaian nilai wajar dari instrumen keuangan dalam trading book
L
Cadangan umum aset produktif (maks. 1,25% dari ATMR)
M Faktor pengurang modal
Eksposur sekuritisasi
II MODAL BANK ASING (Jumlah A s.d L - M)
III ASET TERTIMBANG MENURUT RISIKO (ATMR) UNTUK RISIKO KREDIT
IV ASET TERTIMBANG MENURUT RISIKO (ATMR) UNTUK RISIKO OPERASIONAL
V
ASET TERTIMBANG MENURUT RISIKO (ATMR) UNTUK RISIKO PASAR
A
VI
Metode Standar
Model Internal
B
RASIO KEWAJIBAN PENYEDIAAN MODAL MINIMUM UNTUK RISIKO KREDIT, RISIKO OPERASIONAL
DAN RISIKO PASAR [II : (III + IV + V)]
355
6
Lanjutan Lampiran 2
2. Pedoman Pengisian Pengungkapan Tagihan Bersih Berdasarkan Wilayah
a. Pengungkapan tagihan bersih dilakukan untuk eksposur aset dalam neraca, eksposur pada transaksi
rekening administratif (TRA) dan eksposur yang menimbulkan risiko kredit akibat kegagalan pihak lawan
(counterparty credit risk).
b. Penetapan kategori portofolio dan perhitungan tagihan bersih mengacu pada ketentuan Bank Indonesia
mengenai perhitungan aset tertimbang menurut risiko untuk risiko kredit dengan menggunakan pendekatan
standar. Untuk eksposur di unit usaha syariah mengacu pada ketentuan Bank Indonesia yang berlaku
untuk Bank yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah.
c. Pembagian wilayah dilakukan berdasarkan kebijakan masing-masing Bank, sesuai laporan manajemen.
Pembagian wilayah ditetapkan minimum 3 wilayah. Bank harus mengungkapkan dalam laporan, rincian dari
masing-masing pembagian wilayah.
d. Penentuan wilayah dilakukan berdasarkan lokasi proyek dari debitur.
356
Lanjutan Lampiran 2
7
Tabel 2.1.a Pengungkapan Tagihan Bersih Berdasarkan Wilayah - Bank secara Individual
(dalam jutaan rupiah)
No.
Kategori Portofolio
(1)
1
(2)
Posisi Tanggal Laporan
Tagihan Bersih Berdasarkan Wilayah
Wilayah 1 Wilayah 2 Wilayah 3
dst.
Total
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya
Tagihan Bersih Berdasarkan Wilayah
Wilayah 1 Wilayah 2 Wilayah 3
dst.
Total
(8)
(9)
(10)
(11)
(12)
Tagihan Kepada Pemerintah
2
Tagihan Kepada Entitas Sektor Publik
3
Tagihan Kepada Bank Pembangunan Multilateral dan Lembaga Internasional
4
Tagihan Kepada Bank
5
Kredit Beragun Rumah Tinggal
6
Kredit Beragun Properti Komersial
7
Kredit Pegawai/Pensiunan
8
Tagihan Kepada Usaha Mikro, Usaha Kecil dan Portofolio Ritel
9
Tagihan kepada Korporasi
10 Tagihan yang Telah Jatuh Tempo
11 Aset Lainnya
12 Eksposur di Unit Usaha Syariah (apabila ada)
Total
Tabel 2.1.b Pengungkapan Tagihan Bersih Berdasarkan Wilayah - Bank secara Konsolidasi dengan
Perusahaan Anak
(dalam jutaan rupiah)
No.
Kategori Portofolio
(1)
1
(2)
Posisi Tanggal Laporan
Tagihan Bersih Berdasarkan Wilayah
Wilayah 1 Wilayah 2 Wilayah 3
dst.
Total
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya
Tagihan Bersih Berdasarkan Wilayah
Wilayah 1 Wilayah 2 Wilayah 3
dst.
Total
(8)
(9)
(10)
(11)
(12)
Tagihan Kepada Pemerintah
2
Tagihan Kepada Entitas Sektor Publik
3
Tagihan Kepada Bank Pembangunan Multilateral dan Lembaga Internasional
4
Tagihan Kepada Bank
5
Kredit Beragun Rumah Tinggal
6
Kredit Beragun Properti Komersial
7
Kredit Pegawai/Pensiunan
8
Tagihan Kepada Usaha Mikro, Usaha Kecil dan Portofolio Ritel
9
Tagihan kepada Korporasi
10 Tagihan yang Telah Jatuh Tempo
11 Aset Lainnya
12 Eksposur di Unit Usaha Syariah (apabila ada)
Total
357
8
Lanjutan Lampiran 2
3. Pedoman Pengisian Pengungkapan Tagihan Bersih Berdasarkan Sisa Jangka Waktu Kontrak
a. Pengungkapan tagihan bersih dilakukan untuk eksposur aset dalam neraca, eksposur pada transaksi
rekening administratif (TRA) dan eksposur yang menimbulkan risiko kredit akibat kegagalan pihak lawan
(counterparty credit risk).
b. Penetapan kategori portofolio dan perhitungan tagihan bersih mengacu pada ketentuan Bank Indonesia
mengenai perhitungan aset tertimbang menurut risiko untuk risiko kredit dengan menggunakan pendekatan
standar. Untuk eksposur di unit usaha syariah mengacu pada ketentuan Bank Indonesia yang berlaku
untuk Bank yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah.
c. Pemetaan kedalam skala waktu dilakukan berdasarkan sisa waktu sampai dengan jatuh tempo sesuai
kontrak untuk pos neraca, TRA dan eksposur yang menimbulkan risiko kredit akibat kegagalan pihak lawan
yang memiliki jatuh tempo kontraktual. Untuk pos neraca, TRA dan eksposur yang menimbulkan risiko
kredit akibat kegagalan pihak lawan yang tidak memiliki jatuh tempo kontraktual (non maturity items)
dimasukkan ke dalam kolom non-kontraktual.
358
Lanjutan Lampiran 2
9
Tabel 2.2.a. Pengungkapan Tagihan Bersih Berdasarkan Sisa Jangka Waktu Kontrak - Bank secara
Individual
(dalam jutaan rupiah)
No.
Kategori Portofolio
(1)
(2)
< 1 tahun
(3)
Posisi Tanggal Laporan
Tagihan bersih berdasarkan sisa jangka waktu kontrak
>1 thn s.d. 3 thn >3 thn s.d. 5 thn
> 5 thn
Non-Kontraktual
(4)
(5)
(6)
(7)
Total
< 1 tahun
(8)
(9)
Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya
Tagihan bersih berdasarkan sisa jangka waktu kontrak
>1 thn s.d. 3 thn >3 thn s.d. 5 thn
> 5 thn
Non-Kontraktual
(10)
(11)
(12)
(13)
Total
(14)
1 Tagihan Kepada Pemerintah
2 Tagihan Kepada Entitas Sektor Publik
3 Tagihan Kepada Bank Pembangunan Multilateral dan Lembaga Internasional
4 Tagihan Kepada Bank
5 Kredit Beragun Rumah Tinggal
6 Kredit Beragun Properti Komersial
7 Kredit Pegawai/Pensiunan
8 Tagihan Kepada Usaha Mikro, Usaha Kecil dan Portofolio Ritel
9 Tagihan kepada Korporasi
10 Tagihan yang Telah Jatuh Tempo
11 Aset Lainnya
12 Eksposur di Unit Usaha Syariah (apabila ada)
Total
Tabel 2.2.b. Pengungkapan Tagihan Bersih Berdasarkan Sisa Jangka Waktu Kontrak - Bank secara
Konsolidasi dengan Perusahaan Anak
(dalam jutaan rupiah)
No.
Kategori Portofolio
(1)
(2)
< 1 tahun
(3)
Posisi Tanggal Laporan
Tagihan bersih berdasarkan sisa jangka waktu kontrak
>1 thn s.d. 3 thn >3 thn s.d. 5 thn
> 5 thn
Non-Kontraktual
(4)
(5)
(6)
(7)
Total
< 1 tahun
(8)
(9)
Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya
Tagihan bersih berdasarkan sisa jangka waktu kontrak
>1 thn s.d. 3 thn >3 thn s.d. 5 thn
> 5 thn
Non-Kontraktual
(10)
(11)
(12)
(13)
Total
(14)
1 Tagihan Kepada Pemerintah
2 Tagihan Kepada Entitas Sektor Publik
3 Tagihan Kepada Bank Pembangunan Multilateral dan Lembaga Internasional
4 Tagihan Kepada Bank
5 Kredit Beragun Rumah Tinggal
6 Kredit Beragun Properti Komersial
7 Kredit Pegawai/Pensiunan
8 Tagihan Kepada Usaha Mikro, Usaha Kecil dan Portofolio Ritel
9 Tagihan kepada Korporasi
10 Tagihan yang Telah Jatuh Tempo
11 Aset Lainnya
12 Eksposur di Unit Usaha Syariah (apabila ada)
Total
359
10
Lanjutan Lampiran 2
4. Pedoman Pengisian Pengungkapan Tagihan Bersih Berdasarkan Sektor Ekonomi
a. Pengungkapan tagihan bersih dilakukan untuk eksposur aset dalam neraca, eksposur pada transaksi
rekening administratif (TRA) dan eksposur yang menimbulkan risiko kredit akibat kegagalan pihak lawan
(counterparty credit risk).
b. Penetapan kategori portofolio dan perhitungan tagihan bersih mengacu pada ketentuan Bank Indonesia
mengenai perhitungan aset tertimbang menurut risiko untuk risiko kredit dengan menggunakan pendekatan
standar. Untuk eksposur di unit usaha syariah mengacu pada ketentuan Bank Indonesia yang berlaku
untuk Bank yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah.
c. Pembagian sektor ekonomi mengacu pada sektor ekonomi yang tercantum dalam Laporan Bulanan Bank
Umum (LBU), dengan tambahan sektor Lainnya untuk sektor ekonomi dari tagihan bersih yang tidak dapat
digolongkan dalam salah satu sektor yang ada.
360
Lanjutan Lampiran 2
11
Tabel 2.3.a. Pengungkapan Tagihan Bersih Berdasarkan Sektor Ekonomi - Bank secara Individual
(dalam jutaan rupiah)
Sektor Ekonomi
No.
(1)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
(2)
Tagihan Kepada Bank
Tagihan Kepada
Tagihan Kepada
Pembangunan Multilateral Tagihan Kepada Kredit Beragun
Entitas Sektor
Pemerintah
dan Lembaga
Bank
Rumah Tinggal
Publik
Internasional
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
Tagihan Kepada
Kredit Beragun
Kredit
Usaha Mikro, Tagihan kepada
Properti
Pegawai/Pensi
Usaha Kecil dan
Korporasi
Komersial
unan
Portofolio Ritel
(8)
(9)
(10)
(11)
Tagihan yang
Telah Jatuh
Tempo
Aset Lainnya
Eksposur di Unit
Usaha Syariah
(apabila ada)
(12)
(13)
(14)
Posisi Tanggal Laporan
Pertanian, perburuan dan Kehutanan
Perikanan
Pertambangan dan Penggalian
Industri pengolahan
Listrik, Gas dan Air
Konstruksi
Perdagangan besar dan eceran
Penyediaan akomodasi dan penyediaan makan minum
Transportasi, pergudangan dan komunikasi
Perantara keuangan
Real estate, usaha persewaan dan jasa perusahaan
Administrasi Pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib
Jasa pendidikan
Jasa kesehatan dan kegiatan sosial
Jasa kemasyarakatan, sosial budaya, hiburan dan perorangan lainnya
Jasa perorangan yang melayani rumah tangga
Badan internasional dan badan ekstra internasional lainnya
Kegiatan yang belum jelas batasannya
Bukan Lapangan Usaha
Lainnya
Total
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya
Pertanian, perburuan dan Kehutanan
Perikanan
Pertambangan dan Penggalian
Industri pengolahan
Listrik, Gas dan Air
Konstruksi
Perdagangan besar dan eceran
Penyediaan akomodasi dan penyediaan makan minum
Transportasi, pergudangan dan komunikasi
Perantara keuangan
Real estate, usaha persewaan dan jasa perusahaan
Administrasi Pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib
Jasa pendidikan
Jasa kesehatan dan kegiatan sosial
Jasa kemasyarakatan, sosial budaya, hiburan dan perorangan lainnya
Jasa perorangan yang melayani rumah tangga
Badan internasional dan badan ekstra internasional lainnya
Kegiatan yang belum jelas batasannya
Bukan Lapangan Usaha
Lainnya
Total
361
Lanjutan Lampiran 2
12
Tabel 2.3.b. Pengungkapan Tagihan Bersih Berdasarkan Sektor Ekonomi - Bank secara Konsolidasi dengan
Perusahaan Anak
(dalam jutaan rupiah)
No.
Sektor Ekonomi
(1)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
(2)
Tagihan Kepada Bank
Tagihan Kepada
Tagihan Kepada
Pembangunan Multilateral Tagihan Kepada Kredit Beragun
Entitas Sektor
Pemerintah
dan Lembaga
Bank
Rumah Tinggal
Publik
Internasional
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
Tagihan Kepada
Kredit Beragun
Kredit
Usaha Mikro, Tagihan kepada
Properti
Pegawai/Pensi
Usaha Kecil dan
Korporasi
Komersial
unan
Portofolio Ritel
(8)
(9)
(10)
(11)
Tagihan yang
Telah Jatuh
Tempo
Aset Lainnya
Eksposur di Unit
Usaha Syariah
(apabila ada)
(12)
(13)
(14)
Posisi Tanggal Laporan
Pertanian, perburuan dan Kehutanan
Perikanan
Pertambangan dan Penggalian
Industri pengolahan
Listrik, Gas dan Air
Konstruksi
Perdagangan besar dan eceran
Penyediaan akomodasi dan penyediaan makan minum
Transportasi, pergudangan dan komunikasi
Perantara keuangan
Real estate, usaha persewaan dan jasa perusahaan
Administrasi Pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib
Jasa pendidikan
Jasa kesehatan dan kegiatan sosial
Jasa kemasyarakatan, sosial budaya, hiburan dan perorangan lainnya
Jasa perorangan yang melayani rumah tangga
Badan internasional dan badan ekstra internasional lainnya
Kegiatan yang belum jelas batasannya
Bukan Lapangan Usaha
Lainnya
Total
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya
Pertanian, perburuan dan Kehutanan
Perikanan
Pertambangan dan Penggalian
Industri pengolahan
Listrik, Gas dan Air
Konstruksi
Perdagangan besar dan eceran
Penyediaan akomodasi dan penyediaan makan minum
Transportasi, pergudangan dan komunikasi
Perantara keuangan
Real estate, usaha persewaan dan jasa perusahaan
Administrasi Pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib
Jasa pendidikan
Jasa kesehatan dan kegiatan sosial
Jasa kemasyarakatan, sosial budaya, hiburan dan perorangan lainnya
Jasa perorangan yang melayani rumah tangga
Badan internasional dan badan ekstra internasional lainnya
Kegiatan yang belum jelas batasannya
Bukan Lapangan Usaha
Lainnya
Total
362
Lanjutan Lampiran 2
13
5. Pedoman Pengisian Pengungkapan Tagihan dan Pencadangan Berdasarkan Wilayah
a. Tagihan adalah nilai tercatat aset keuangan dalam laporan posisi keuangan (neraca) sebelum dikurangi
CKPN (gross).
b. Definisi penurunan nilai dan perhitungan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) aset keuangan
mengacu pada standar akuntansi keuangan yang berlaku.
c. Pembagian wilayah dilakukan berdasarkan kebijakan masing-masing Bank, sesuai laporan manajemen.
Pembagian wilayah ditetapkan minimum 3 wilayah. Bank harus mengungkapkan dalam laporan, rincian dari
masing-masing pembagian wilayah.
d. Penentuan wilayah dilakukan berdasarkan lokasi proyek dari debitur.
e. Tagihan yang telah jatuh tempo mengacu pada definisi kategori portofolio Tagihan yang telah Jatuh Tempo
dalam ketentuan Bank Indonesia mengenai perhitungan aset tertimbang menurut risiko untuk risiko kredit
dengan menggunakan pendekatan standar.
f. Tagihan yang dihapus buku merupakan tagihan yang telah dihapus buku selama periode berjalan.
Tabel 2.4.a. Pengungkapan Tagihan dan Pencadangan Berdasarkan Wilayah - Bank secara Individual
No.
Keterangan
(1)
(2)
Posisi Tanggal Laporan
Wilayah
Wilayah 1 Wilayah 2 Wilayah 3
dst.
(3)
(4)
(5)
(6)
Total
(7)
(dalam jutaan rupiah)
Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya
Wilayah
Wilayah 1 Wilayah 2 Wilayah 3
dst.
Total
(8)
(9)
(10)
(11)
(12)
1 Tagihan
2 Tagihan yang mengalami penurunan nilai (impaired )
a. Belum jatuh tempo
b. Telah jatuh tempo
3 Cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) - Individual
4 Cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) - Kolektif
5 Tagihan yang dihapus buku
363
Lanjutan Lampiran 2
14
Tabel 2.4.b. Pengungkapan Tagihan dan Pencadangan Berdasarkan Wilayah - Bank secara Konsolidasi
dengan Perusahaan Anak
No.
Keterangan
(1)
(2)
Posisi Tanggal Laporan
Wilayah
Wilayah 1 Wilayah 2 Wilayah 3
dst.
(3)
(4)
(5)
(6)
Total
(7)
(dalam jutaan rupiah)
Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya
Wilayah
Wilayah 1 Wilayah 2 Wilayah 3
dst.
Total
(8)
(9)
(10)
(11)
(12)
1 Tagihan
2 Tagihan yang mengalami penurunan nilai (impaired )
a. Belum jatuh tempo
b. Telah jatuh tempo
3 Cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) - Individual
4 Cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) - Kolektif
5 Tagihan yang dihapus buku
6. Pedoman Pengisian Pengungkapan Tagihan dan Pencadangan Berdasarkan Sektor Ekonomi
a. Tagihan adalah nilai tercatat aset keuangan dalam laporan posisi keuangan (neraca) sebelum dikurangi
CKPN (gross).
b. Definisi penurunan nilai dan perhitungan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) aset keuangan
mengacu pada standar akuntansi keuangan yang berlaku.
c. Pembagian sektor ekonomi mengacu pada sektor ekonomi yang tercantum dalam Laporan Bulanan Bank
Umum (LBU), dengan tambahan sektor Lainnya untuk sektor ekonomi dari tagihan
yang tidak dapat
digolongkan dalam salah satu sektor yang ada.
d. Tagihan yang telah jatuh tempo mengacu pada definisi kategori portofolio Tagihan yang telah Jatuh Tempo
dalam ketentuan Bank Indonesia mengenai perhitungan aset tertimbang menurut risiko untuk risiko kredit
dengan menggunakan pendekatan standar.
e. Tagihan yang dihapus buku merupakan tagihan yang telah dihapus buku selama periode berjalan.
364
Lanjutan Lampiran 2
15
Tabel 2.5.a. Pengungkapan Tagihan dan Pencadangan Berdasarkan Sektor Ekonomi - Bank secara
Individual
(dalam jutaan rupiah)
Tagihan yang Mengalami Penurunan Nilai
No.
(1)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
Sektor Ekonomi
(2)
Tagihan
(3)
Belum Jatuh Tempo
Telah jatuh tempo
(4)
(5)
Cadangan kerugian
Cadangan kerugian
penurunan nilai (CKPN) penurunan nilai
Individual
(CKPN) - Kolektif
(6)
(7)
Tagihan yang
dihapus buku
(8)
Posisi Tanggal Laporan
Pertanian, perburuan dan Kehutanan
Perikanan
Pertambangan dan Penggalian
Industri pengolahan
Listrik, Gas dan Air
Konstruksi
Perdagangan besar dan eceran
Penyediaan akomodasi dan penyediaan makan minum
Transportasi, pergudangan dan komunikasi
Perantara keuangan
Real estate, usaha persewaan dan jasa perusahaan
Administrasi Pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib
Jasa pendidikan
Jasa kesehatan dan kegiatan sosial
Jasa kemasyarakatan, sosial budaya, hiburan dan perorangan lainnya
Jasa perorangan yang melayani rumah tangga
Badan internasional dan badan ekstra internasional lainnya
Kegiatan yang belum jelas batasannya
Bukan Lapangan Usaha
Lainnya
Total
Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya
Pertanian, perburuan dan Kehutanan
Perikanan
Pertambangan dan Penggalian
Industri pengolahan
Listrik, Gas dan Air
Konstruksi
Perdagangan besar dan eceran
Penyediaan akomodasi dan penyediaan makan minum
Transportasi, pergudangan dan komunikasi
Perantara keuangan
Real estate, usaha persewaan dan jasa perusahaan
Administrasi Pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib
Jasa pendidikan
Jasa kesehatan dan kegiatan sosial
Jasa kemasyarakatan, sosial budaya, hiburan dan perorangan lainnya
Jasa perorangan yang melayani rumah tangga
Badan internasional dan badan ekstra internasional lainnya
Kegiatan yang belum jelas batasannya
Bukan Lapangan Usaha
Lainnya
Total
365
Lanjutan Lampiran 2
16
Tabel 2.5.b. Pengungkapan Tagihan dan Pencadangan Berdasarkan Sektor Ekonomi - Bank secara
Konsolidasi dengan Perusahaan Anak
(dalam jutaan rupiah)
Tagihan yang Mengalami Penurunan Nilai
No.
(1)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
Sektor Ekonomi
(2)
Posisi Tanggal Laporan
Pertanian, perburuan dan Kehutanan
Perikanan
Pertambangan dan Penggalian
Industri pengolahan
Listrik, Gas dan Air
Konstruksi
Perdagangan besar dan eceran
Penyediaan akomodasi dan penyediaan makan minum
Transportasi, pergudangan dan komunikasi
Perantara keuangan
Real estate, usaha persewaan dan jasa perusahaan
Administrasi Pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib
Jasa pendidikan
Jasa kesehatan dan kegiatan sosial
Jasa kemasyarakatan, sosial budaya, hiburan dan perorangan lainnya
Jasa perorangan yang melayani rumah tangga
Badan internasional dan badan ekstra internasional lainnya
Kegiatan yang belum jelas batasannya
Bukan Lapangan Usaha
Lainnya
Total
Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya
Pertanian, perburuan dan Kehutanan
Perikanan
Pertambangan dan Penggalian
Industri pengolahan
Listrik, Gas dan Air
Konstruksi
Perdagangan besar dan eceran
Penyediaan akomodasi dan penyediaan makan minum
Transportasi, pergudangan dan komunikasi
Perantara keuangan
Real estate, usaha persewaan dan jasa perusahaan
Administrasi Pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib
Jasa pendidikan
Jasa kesehatan dan kegiatan sosial
Jasa kemasyarakatan, sosial budaya, hiburan dan perorangan lainnya
Jasa perorangan yang melayani rumah tangga
Badan internasional dan badan ekstra internasional lainnya
Kegiatan yang belum jelas batasannya
Bukan Lapangan Usaha
Lainnya
Total
Tagihan
(3)
Belum Jatuh Tempo
Telah jatuh tempo
(4)
(5)
Cadangan kerugian
Cadangan kerugian
penurunan nilai (CKPN) - penurunan nilai
Individual
(CKPN) - Kolektif
(6)
(7)
Tagihan yang
dihapus buku
(8)
366
Lanjutan Lampiran 2
17
7. Pedoman Pengisian Pengungkapan Rincian Mutasi Cadangan Kerugian Penurunan Nilai
a. Definisi penurunan nilai dan perhitungan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) aset keuangan
mengacu pada standar akuntansi keuangan yang berlaku.
b. CKPN Individual adalah penyisihan yang dibentuk untuk aset keuangan yang penurunan nilainya dievaluasi
secara individual.
c. CKPN Kolektif adalah penyisihan yang dibentuk untuk aset keuangan yang penurunan nilainya dievaluasi
secara kolektif, yaitu aset keuangan yang penurunan nilainya tidak dievaluasi secara individual dan/atau
dievaluasi secara individual namun tidak terdapat bukti obyektif penurunan nilai.
d. Pembentukan (pemulihan) lainnya dilaporkan antara lain untuk selisih penjabaran valuta asing.
Tabel 2.6.a. Pengungkapan Rincian Mutasi Cadangan Kerugian Penurunan Nilai - Bank secara Individual
No.
Keterangan
(1)
(2)
1
Saldo awal CKPN
2
Pembentukan (pemulihan) CKPN pada periode berjalan (Net)
Posisi Tanggal Laporan
CKPN Individual
CKPN Kolektif
(3)
(4)
(dalam jutaan rupiah)
Posisi Tanggal Laporan Tahun
Sebelumnya
CKPN Individual CKPN Kolektif
(5)
(6)
2.a Pembentukan CKPN pada periode berjalan
2.b Pemulihan CKPN pada periode berjalan
3
CKPN yang digunakan untuk melakukan hapus buku atas tagihan pada peride berjalan
4
Pembentukan (pemulihan) lainnya pada periode berjalan
Saldo akhir CKPN
367
Lanjutan Lampiran 2
18
Tabel 2.6.b. Pengungkapan Rincian Mutasi Cadangan Kerugian Penurunan Nilai - Bank secara Konsolidasi
dengan Perusahaan Anak
No.
Keterangan
(1)
(2)
1
Saldo awal CKPN
2
Pembentukan (pemulihan) CKPN pada periode berjalan (Net)
Posisi Tanggal Laporan
CKPN Individual
CKPN Kolektif
(3)
(4)
(dalam jutaan rupiah)
Posisi Tanggal Laporan Tahun
Sebelumnya
CKPN Individual CKPN Kolektif
(5)
(6)
2.a Pembentukan CKPN pada periode berjalan
2.b Pemulihan CKPN pada periode berjalan
3
CKPN yang digunakan untuk melakukan hapus buku atas tagihan pada peride berjalan
4
Pembentukan (pemulihan) lainnya pada periode berjalan
Saldo akhir CKPN
8. Pedoman Pengisian Pengungkapan Tagihan Bersih Berdasarkan Kategori Portofolio dan Skala Peringkat
a. Pengungkapan tagihan bersih dilakukan untuk eksposur aset dalam neraca, eksposur pada transaksi
rekening administratif (TRA) dan eksposur yang menimbulkan risiko kredit akibat kegagalan pihak lawan
(counterparty credit risk).
b. Penetapan kategori portofolio dan perhitungan tagihan bersih mengacu pada ketentuan Bank Indonesia
mengenai perhitungan aset tertimbang menurut risiko untuk risiko kredit dengan menggunakan pendekatan
standar. Untuk eksposur di unit usaha syariah mengacu pada ketentuan Bank Indonesia yang berlaku
untuk Bank yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah.
c. Lembaga pemeringkat yang diakui dan skala peringkat mengacu pada ketentuan Bank Indonesia mengenai
lembaga pemeringkat dan peringkat yang diakui Bank Indonesia.
368
Lanjutan Lampiran 2
19
Tabel 3.1.a. Pengungkapan Tagihan Bersih Berdasarkan Kategori Portofolio dan Skala Peringkat - Bank
secara Individual
(dalam jutaan rupiah)
Posisi Tanggal Laporan
Tagihan Bersih
Kategori Portofolio
(1)
(2)
Lembaga Pemeringkat
Standard and Poor's
Fitch Rating
Moody's
PT. Fitch Ratings Indonesia
PT ICRA Indonesia
PT Pemeringkat Efek Indonesia
(3)
AAA
AAA
Aaa
AAA (idn)
[Idr]AAA
idAAA
AA+ s.d AAAA+ s.d AAAa1 s.d Aa3
AA+(idn) s.d AA-(idn)
[Idr]AA+ s.d [Idr]AAidAA+ s.d idAA-
A+ s.d AA+ s.d AA1 s.d A3
A+(idn) s.d. A-(idn)
[Idr]A+ s.d [Idr]AidA+ s.d id A-
(4)
(5)
(6)
Peringkat Jangka panjang
BBB+ s.d BBBBB+ s.d BBBBB+ s.d BBBBB+ s.d BBBaa1 s.d Baa3
Ba1 s.d Ba3
BBB+(idn) s.d BBB-(idn) BB+(idn) s.d BB-(idn)
[Idr]BBB+ s.d [Idr]BBB- [Idr]BB+ s.d [Idr]BBid BBB+ s.d id BBBid BB+ s.d id BB(7)
(8)
B+ s.d BB+ s.d BB1 s.d B3
B+(idn) s.d B-(idn)
[Idr]B+ s.d [Idr]Bid B+ s.d id B-
Kurang dari BKurang dari BKurang dari B3
Kurang dari B-(idn)
Kurang dari [Idr]BKurang dari idB-
(9)
(10)
Peringkat Jangka Pendek
A-1
A-2
A-3
F1+ s.d F1
F2
F3
P-1
P-2
P-3
F1+(idn) s.d F1(idn)
F2(idn)
F3(idn)
[Idr]A1+ s.d [Idr]A1 [Idr]A2+ s.d [Idr]A2 [Idr]A3+ s.d [Idr] A3
idA1
idA2
idA3 s.d id A4
(11)
(12)
(13)
Kurang dari A-3
Kurang dari F3
Kurang dari P-3
Kurang dari F3(idn)
Kurang dari [Idr]A3
Kurang dari idA4
(14)
Tanpa Peringkat
Total
(15)
(16)
Tanpa Peringkat
Total
(15)
(16)
1 Tagihan Kepada Pemerintah
2 Tagihan Kepada Entitas Sektor Publik
Tagihan Kepada Bank Pembangunan
3
Multilateral dan Lembaga Internasional
4 Tagihan Kepada Bank
5 Kredit Beragun Rumah Tinggal
6 Kredit Beragun Properti Komersial
7 Kredit Pegawai/Pensiunan
Tagihan Kepada Usaha Mikro, Usaha
8
Kecil dan Portofolio Ritel
9 Tagihan kepada Korporasi
10 Tagihan yang Telah Jatuh Tempo
11 Aset Lainnya
Eksposur di Unit Usaha Syariah (apabila
12
ada)
TOTAL
Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya
Tagihan Bersih
Kategori Portofolio
(1)
(2)
Lembaga Pemeringkat
Standard and Poor's
Fitch Rating
Moody's
PT. Fitch Ratings Indonesia
PT ICRA Indonesia
PT Pemeringkat Efek Indonesia
(3)
AAA
AAA
Aaa
AAA (idn)
[Idr]AAA
idAAA
AA+ s.d AAAA+ s.d AAAa1 s.d Aa3
AA+(idn) s.d AA-(idn)
[Idr]AA+ s.d [Idr]AAidAA+ s.d idAA-
A+ s.d AA+ s.d AA1 s.d A3
A+(idn) s.d. A-(idn)
[Idr]A+ s.d [Idr]AidA+ s.d id A-
(4)
(5)
(6)
Peringkat Jangka panjang
BBB+ s.d BBBBB+ s.d BBBBB+ s.d BBBBB+ s.d BBBaa1 s.d Baa3
Ba1 s.d Ba3
BBB+(idn) s.d BBB-(idn) BB+(idn) s.d BB-(idn)
[Idr]BBB+ s.d [Idr]BBB- [Idr]BB+ s.d [Idr]BBid BBB+ s.d id BBBid BB+ s.d id BB(7)
(8)
B+ s.d BB+ s.d BB1 s.d B3
B+(idn) s.d B-(idn)
[Idr]B+ s.d [Idr]Bid B+ s.d id B-
Kurang dari BKurang dari BKurang dari B3
Kurang dari B-(idn)
Kurang dari [Idr]BKurang dari idB-
(9)
(10)
Peringkat Jangka Pendek
A-1
A-2
A-3
F1+ s.d F1
F2
F3
P-1
P-2
P-3
F1+(idn) s.d F1(idn)
F2(idn)
F3(idn)
[Idr]A1+ s.d [Idr]A1 [Idr]A2+ s.d [Idr]A2 [Idr]A3+ s.d [Idr] A3
idA1
idA2
idA3 s.d id A4
(11)
(12)
(13)
Kurang dari A-3
Kurang dari F3
Kurang dari P-3
Kurang dari F3(idn)
Kurang dari [Idr]A3
Kurang dari idA4
(14)
1 Tagihan Kepada Pemerintah
2 Tagihan Kepada Entitas Sektor Publik
Tagihan Kepada Bank Pembangunan
3
Multilateral dan Lembaga Internasional
4 Tagihan Kepada Bank
5 Kredit Beragun Rumah Tinggal
6 Kredit Beragun Properti Komersial
7 Kredit Pegawai/Pensiunan
Tagihan Kepada Usaha Mikro, Usaha
8
Kecil dan Portofolio Ritel
9 Tagihan kepada Korporasi
10 Tagihan yang Telah Jatuh Tempo
11 Aset Lainnya
Eksposur di Unit Usaha Syariah (apabila
12
ada)
TOTAL
369
Lanjutan Lampiran 2
20
Tabel 3.1.b. Pengungkapan Tagihan Bersih Berdasarkan Kategori Portofolio dan Skala Peringkat - Bank
secara Konsolidasi dengan Perusahaan Anak
(dalam jutaan rupiah)
Posisi Tanggal Laporan
Tagihan Bersih
Kategori Portofolio
(1)
(2)
Lembaga Pemeringkat
Standard and Poor's
Fitch Rating
Moody's
PT. Fitch Ratings Indonesia
PT ICRA Indonesia
PT Pemeringkat Efek Indonesia
(3)
AAA
AAA
Aaa
AAA (idn)
[Idr]AAA
idAAA
AA+ s.d AAAA+ s.d AAAa1 s.d Aa3
AA+(idn) s.d AA-(idn)
[Idr]AA+ s.d [Idr]AAidAA+ s.d idAA-
A+ s.d AA+ s.d AA1 s.d A3
A+(idn) s.d. A-(idn)
[Idr]A+ s.d [Idr]AidA+ s.d id A-
(4)
(5)
(6)
Peringkat Jangka panjang
BBB+ s.d BBBBB+ s.d BBBBB+ s.d BBBBB+ s.d BBBaa1 s.d Baa3
Ba1 s.d Ba3
BBB+(idn) s.d BBB-(idn) BB+(idn) s.d BB-(idn)
[Idr]BBB+ s.d [Idr]BBB- [Idr]BB+ s.d [Idr]BBid BBB+ s.d id BBBid BB+ s.d id BB(7)
(8)
B+ s.d BB+ s.d BB1 s.d B3
B+(idn) s.d B-(idn)
[Idr]B+ s.d [Idr]Bid B+ s.d id B-
Kurang dari BKurang dari BKurang dari B3
Kurang dari B-(idn)
Kurang dari [Idr]BKurang dari idB-
(9)
(10)
Peringkat Jangka Pendek
A-1
A-2
A-3
F1+ s.d F1
F2
F3
P-1
P-2
P-3
F1+(idn) s.d F1(idn)
F2(idn)
F3(idn)
[Idr]A1+ s.d [Idr]A1 [Idr]A2+ s.d [Idr]A2 [Idr]A3+ s.d [Idr] A3
idA1
idA2
idA3 s.d id A4
(11)
(12)
(13)
Kurang dari A-3
Kurang dari F3
Kurang dari P-3
Kurang dari F3(idn)
Kurang dari [Idr]A3
Kurang dari idA4
(14)
Tanpa Peringkat
Total
(15)
(16)
Tanpa Peringkat
Total
(15)
(16)
1 Tagihan Kepada Pemerintah
2 Tagihan Kepada Entitas Sektor Publik
Tagihan Kepada Bank Pembangunan
3
Multilateral dan Lembaga Internasional
4 Tagihan Kepada Bank
5 Kredit Beragun Rumah Tinggal
6 Kredit Beragun Properti Komersial
7 Kredit Pegawai/Pensiunan
Tagihan Kepada Usaha Mikro, Usaha
8
Kecil dan Portofolio Ritel
9 Tagihan kepada Korporasi
10 Tagihan yang Telah Jatuh Tempo
11 Aset Lainnya
Eksposur di Unit Usaha Syariah (apabila
12
ada)
TOTAL
Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya
Tagihan Bersih
Kategori Portofolio
(1)
(2)
Lembaga Pemeringkat
Standard and Poor's
Fitch Rating
Moody's
PT. Fitch Ratings Indonesia
PT ICRA Indonesia
PT Pemeringkat Efek Indonesia
(3)
AAA
AAA
Aaa
AAA (idn)
[Idr]AAA
idAAA
AA+ s.d AAAA+ s.d AAAa1 s.d Aa3
AA+(idn) s.d AA-(idn)
[Idr]AA+ s.d [Idr]AAidAA+ s.d idAA-
A+ s.d AA+ s.d AA1 s.d A3
A+(idn) s.d. A-(idn)
[Idr]A+ s.d [Idr]AidA+ s.d id A-
(4)
(5)
(6)
Peringkat Jangka panjang
BBB+ s.d BBBBB+ s.d BBBBB+ s.d BBBBB+ s.d BBBaa1 s.d Baa3
Ba1 s.d Ba3
BBB+(idn) s.d BBB-(idn) BB+(idn) s.d BB-(idn)
[Idr]BBB+ s.d [Idr]BBB- [Idr]BB+ s.d [Idr]BBid BBB+ s.d id BBBid BB+ s.d id BB(7)
(8)
B+ s.d BB+ s.d BB1 s.d B3
B+(idn) s.d B-(idn)
[Idr]B+ s.d [Idr]Bid B+ s.d id B-
Kurang dari BKurang dari BKurang dari B3
Kurang dari B-(idn)
Kurang dari [Idr]BKurang dari idB-
(9)
(10)
Peringkat Jangka Pendek
A-1
A-2
A-3
F1+ s.d F1
F2
F3
P-1
P-2
P-3
F1+(idn) s.d F1(idn)
F2(idn)
F3(idn)
[Idr]A1+ s.d [Idr]A1 [Idr]A2+ s.d [Idr]A2 [Idr]A3+ s.d [Idr] A3
idA1
idA2
idA3 s.d id A4
(11)
(12)
(13)
Kurang dari A-3
Kurang dari F3
Kurang dari P-3
Kurang dari F3(idn)
Kurang dari [Idr]A3
Kurang dari idA4
(14)
1 Tagihan Kepada Pemerintah
2 Tagihan Kepada Entitas Sektor Publik
Tagihan Kepada Bank Pembangunan
3
Multilateral dan Lembaga Internasional
4 Tagihan Kepada Bank
5 Kredit Beragun Rumah Tinggal
6 Kredit Beragun Properti Komersial
7 Kredit Pegawai/Pensiunan
Tagihan Kepada Usaha Mikro, Usaha
8
Kecil dan Portofolio Ritel
9 Tagihan kepada Korporasi
10 Tagihan yang Telah Jatuh Tempo
11 Aset Lainnya
Eksposur di Unit Usaha Syariah (apabila
12
ada)
TOTAL
370
Lanjutan Lampiran 2
21
9. Pedoman Pengisian Pengungkapan Risiko Kredit Pihak Lawan (Counterparty Credit Risk)
a. Risiko kredit akibat kegagalan pihak lawan, antara lain timbul dari transaksi derivative over the counter (OTC)
dan transaksi repo/reverse repo, baik atas posisi Trading Book maupun Banking Book.
b. Perhitungan risiko kredit akibat kegagalan pihak lawan mengacu pada ketentuan Bank Indonesia mengenai
perhitungan aset tertimbang menurut risiko untuk risiko kredit dengan menggunakan pendekatan standar.
Tabel 3.2.a. Pengungkapan Risiko Kredit Pihak Lawan: Transaksi Derivatif
(dalam jutaan rupiah)
Posisi Tanggal Laporan
Notional Amount
No
Variabel yang Mendasari
Tagihan Kewajiban
> 1 Tahun < 1 Tahun
> 5 Tahun Derivatif Derivatif
< 5 Tahun
Tagihan
Bersih
sebelum
MRK
MRK
Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya
Tagihan
Tagihan
Notional Amount
Tagihan Kewajiban Bersih
Bersih
MRK
> 1 Tahun > 5 Tahun Derivatif Derivatif sebelum
setelah < 1 Tahun
< 5 Tahun
MRK
MRK
Tagihan
Bersih
setelah
MRK
BANK SECARA INDIVIDUAL
1 Suku Bunga
2 Nilai Tukar
3 Lainnya
TOTAL
BANK SECARA KONSOLIDASI
1 Suku Bunga
2 Nilai Tukar
3 Saham
4 Emas
5 Logam selain Emas
6 Lainnya
TOTAL
371
Lanjutan Lampiran 2
22
Tabel 3.2.b.1. Pengungkapan Risiko Kredit Pihak Lawan: Transaksi Repo - Bank secara Individual
(dalam jutaan rupiah)
Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya
Posisi Tanggal Laporan
Kategori Portofolio
No.
(1)
(2)
1 Tagihan Kepada Pemerintah
2 Tagihan Kepada Entitas Sektor Publik
Tagihan Kepada Bank Pembangunan Multilateral
3
dan Lembaga Internasional
4 Tagihan Kepada Bank
Tagihan Kepada Usaha Mikro, Usaha Kecil dan
5
Portofolio Ritel
6 Tagihan kepada Korporasi
7 Eksposur di Unit Usaha Syariah (apabila ada)
Nilai Wajar SSB
Repo
Kewajiban Repo
Tagihan Bersih
ATMR
Nilai Wajar SSB
Repo
Kewajiban
Repo
Tagihan Bersih
ATMR
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)
(9)
(10)
Total
Tabel 3.2.b.2.
Pengungkapan Risiko Kredit Pihak Lawan: Transaksi Repo - Bank secara Konsolidasi
dengan Perusahaan Anak
(dalam jutaan rupiah)
Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya
Posisi Tanggal Laporan
Kategori Portofolio
No.
(1)
(2)
1 Tagihan Kepada Pemerintah
2 Tagihan Kepada Entitas Sektor Publik
Tagihan Kepada Bank Pembangunan Multilateral
3
dan Lembaga Internasional
4 Tagihan Kepada Bank
Tagihan Kepada Usaha Mikro, Usaha Kecil dan
5
Portofolio Ritel
6 Tagihan kepada Korporasi
7 Eksposur di Unit Usaha Syariah (apabila ada)
Nilai Wajar SSB
Repo
Kewajiban Repo
Tagihan Bersih
ATMR
Nilai Wajar SSB
Repo
Kewajiban
Repo
Tagihan Bersih
ATMR
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)
(9)
(10)
Total
372
Lanjutan Lampiran 2
23
Tabel 3.2.c.1. Pengungkapan Risiko Kredit Pihak Lawan: Transaksi Reverse Repo - Bank secara Individual
(dalam jutaan rupiah)
Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya
Posisi Tanggal Laporan
Kategori Portofolio
No.
(1)
(2)
Tagihan Bersih
Nilai MRK
(3)
(4)
Tagihan Bersih ATMR setelah
setelah MRK
MRK
(5)
(6)
Tagihan Bersih
Nilai MRK
Tagihan Bersih
setelah MRK
ATMR setelah
MRK
(7)
(8)
(9)
(10)
1 Tagihan Kepada Pemerintah
2 Tagihan Kepada Entitas Sektor Publik
3
4
5
6
7
Tagihan Kepada Bank Pembangunan Multilateral
dan Lembaga Internasional
Tagihan Kepada Bank
Tagihan Kepada Usaha Mikro, Usaha Kecil dan
Portofolio Ritel
Tagihan kepada Korporasi
Eksposur di Unit Usaha Syariah (apabila ada)
Total
Tabel 3.2.c.2.
Pengungkapan Risiko Kredit Pihak Lawan: Transaksi Reverse Repo - Bank secara
Konsolidasi dengan Perusahaan Anak
(dalam jutaan rupiah)
Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya
Posisi Tanggal Laporan
Kategori Portofolio
No.
(1)
(2)
Tagihan Bersih
Nilai MRK
(3)
(4)
Tagihan Bersih ATMR setelah
setelah MRK
MRK
(5)
(6)
Tagihan Bersih
Nilai MRK
Tagihan Bersih
setelah MRK
ATMR setelah
MRK
(7)
(8)
(9)
(10)
1 Tagihan Kepada Pemerintah
2 Tagihan Kepada Entitas Sektor Publik
3
4
5
6
7
Tagihan Kepada Bank Pembangunan Multilateral
dan Lembaga Internasional
Tagihan Kepada Bank
Tagihan Kepada Usaha Mikro, Usaha Kecil dan
Portofolio Ritel
Tagihan kepada Korporasi
Eksposur di Unit Usaha Syariah (apabila ada)
Total
373
24
Lanjutan Lampiran 2
10. Pedoman Pengisian Pengungkapan Tagihan Bersih Berdasarkan Bobot Risiko setelah Memperhitungkan
Dampak Mitigasi Risiko Kredit
a. Pengungkapan tagihan bersih dilakukan untuk eksposur aset dalam neraca, eksposur pada transaksi
rekening administratif (TRA), dan eksposur yang menimbulkan risiko kredit akibat kegagalan pihak lawan
(counterparty credit risk).
b. Penetapan kategori portofolio, perhitungan tagihan bersih, dan perhitungan dampak mitigasi risiko kredit
(MRK) mengacu pada ketentuan Bank Indonesia mengenai perhitungan aset tertimbang menurut risiko
untuk risiko kredit dengan menggunakan pendekatan standar. Untuk eksposur di unit usaha syariah
mengacu pada ketentuan Bank Indonesia yang berlaku untuk Bank yang melaksanakan kegiatan usaha
berdasarkan prinsip syariah.
c. Khusus untuk eksposur di unit usaha syariah, apabila tidak dapat digolongkan ke dalam kolom bobot
risiko yang tersedia maka dimasukkan ke dalam kolom Lainnya.
d. Beban modal adalah hasil perkalian ATMR dengan rasio minimum KPMM sesuai ketentuan Bank Indonesia
mengenai kewajiban penyediaan modal minimum.
e. Contoh pengisian:
Bank memiliki tagihan yang tergolong dalam kategori portofolio Tagihan kepada Korporasi sebesar Rp100
miliar. Tagihan tidak memiliki peringkat sehingga dikenakan bobot risiko sebesar 100%. Sebagian dari
tagihan dimaksud (Rp30 miliar) dijamin dengan agunan tunai (cash collateral) yang memiliki bobot risiko
0%. Pengisian pada baris Tagihan kepada Korporasi dilakukan sebagai berikut: Rp70 miliar dimasukkan
dalam kolom bobot risiko 100%, dan Rp30 miliar dimasukkan dalam kolom bobot risiko 0%.
374
Lanjutan Lampiran 2
25
Tabel 4.1.a. Pengungkapan Tagihan Bersih Berdasarkan Bobot Risiko Setelah Memperhitungkan Dampak
Mitigasi Risiko Kredit - Bank secara Individual
(dalam jutaan rupiah)
Posisi Tanggal Laporan
No.
Kategori Portofolio
(1)
(2)
Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya
Tagihan Bersih Setelah Memperhitungkan Dampak Mitigasi Risiko Kredit
0%
20%
35%
40%
45%
50%
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)
ATMR
Beban
Modal
(13)
(14)
75% 100% 150% Lainnya
(9)
(10)
(11)
(12)
Tagihan Bersih Setelah Memperhitungkan Dampak Mitigasi Risiko Kredit
0%
20%
35%
40%
45%
50%
(15)
(16)
(17)
(18)
(19)
(20)
ATMR
Beban
Modal
(25)
(26)
75% 100% 150% Lainnya
(21)
(22)
(23)
(24)
A Eksposur Neraca
1 Tagihan Kepada Pemerintah
2 Tagihan Kepada Entitas Sektor Publik
3 Tagihan Kepada Bank Pembangunan Multilateral dan Lembaga Internasional
4 Tagihan Kepada Bank
5 Kredit Beragun Rumah Tinggal
6 Kredit Beragun Properti Komersial
7 Kredit Pegawai/Pensiunan
8 Tagihan Kepada Usaha Mikro, Usaha Kecil dan Portofolio Ritel
9 Tagihan kepada Korporasi
10 Tagihan yang Telah Jatuh Tempo
11 Aset Lainnya
12 Eksposur di Unit Usaha Syariah (apabila ada)
B
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
C
1
2
3
4
5
6
7
Total Eksposur Neraca
Eksposur Kewajiban Komitmen/Kontinjensi pd Transaksi Rekening Administratif
Tagihan Kepada Pemerintah
Tagihan Kepada Entitas Sektor Publik
Tagihan Kepada Bank Pembangunan Multilateral dan Lembaga Internasional
Tagihan Kepada Bank
Kredit Beragun Rumah Tinggal
Kredit Beragun Properti Komersial
Kredit Pegawai/Pensiunan
Tagihan Kepada Usaha Mikro, Usaha Kecil dan Portofolio Ritel
Tagihan kepada Korporasi
Tagihan yang Telah Jatuh Tempo
Eksposur di Unit Usaha Syariah (apabila ada)
Total Eksposur TRA
Eksposur akibat Kegagalan Pihak Lawan (Counterparty Credit Risk)
Tagihan Kepada Pemerintah
Tagihan Kepada Entitas Sektor Publik
Tagihan Kepada Bank Pembangunan Multilateral dan Lembaga Internasional
Tagihan Kepada Bank
Tagihan Kepada Usaha Mikro, Usaha Kecil dan Portofolio Ritel
Tagihan kepada Korporasi
Eksposur di Unit Usaha Syariah (apabila ada)
Total Eksposur Counterparty Credit Risk
375
Lanjutan Lampiran 2
26
Tabel 4.1.b. Pengungkapan Tagihan Bersih Berdasarkan Bobot Risiko Setelah Memperhitungkan Dampak
Mitigasi Risiko Kredit - Bank secara Konsolidasi dengan Perusahaan Anak
(dalam jutaan rupiah)
Posisi Tanggal Laporan
No.
Kategori Portofolio
(1)
(2)
Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya
Tagihan Bersih Setelah Memperhitungkan Dampak Mitigasi Risiko Kredit
0%
20%
35%
40%
45%
50%
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)
ATMR
Beban
Modal
(13)
(14)
75% 100% 150% Lainnya
(9)
(10)
(11)
(12)
Tagihan Bersih Setelah Memperhitungkan Dampak Mitigasi Risiko Kredit
0%
20%
35%
40%
45%
50%
(15)
(16)
(17)
(18)
(19)
(20)
ATMR
Beban
Modal
(25)
(26)
75% 100% 150% Lainnya
(21)
(22)
(23)
(24)
A Eksposur Neraca
1 Tagihan Kepada Pemerintah
2 Tagihan Kepada Entitas Sektor Publik
3 Tagihan Kepada Bank Pembangunan Multilateral dan Lembaga Internasional
4 Tagihan Kepada Bank
5 Kredit Beragun Rumah Tinggal
6 Kredit Beragun Properti Komersial
7 Kredit Pegawai/Pensiunan
8 Tagihan Kepada Usaha Mikro, Usaha Kecil dan Portofolio Ritel
9 Tagihan kepada Korporasi
10 Tagihan yang Telah Jatuh Tempo
11 Aset Lainnya
12 Eksposur di Unit Usaha Syariah (apabila ada)
B
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
C
1
2
3
4
5
6
7
Total Eksposur Neraca
Eksposur Kewajiban Komitmen/Kontinjensi pd Transaksi Rekening Administratif
Tagihan Kepada Pemerintah
Tagihan Kepada Entitas Sektor Publik
Tagihan Kepada Bank Pembangunan Multilateral dan Lembaga Internasional
Tagihan Kepada Bank
Kredit Beragun Rumah Tinggal
Kredit Beragun Properti Komersial
Kredit Pegawai/Pensiunan
Tagihan Kepada Usaha Mikro, Usaha Kecil dan Portofolio Ritel
Tagihan kepada Korporasi
Tagihan yang Telah Jatuh Tempo
Eksposur di Unit Usaha Syariah (apabila ada)
Total Eksposur TRA
Eksposur akibat Kegagalan Pihak Lawan (Counterparty Credit Risk)
Tagihan Kepada Pemerintah
Tagihan Kepada Entitas Sektor Publik
Tagihan Kepada Bank Pembangunan Multilateral dan Lembaga Internasional
Tagihan Kepada Bank
Tagihan Kepada Usaha Mikro, Usaha Kecil dan Portofolio Ritel
Tagihan kepada Korporasi
Eksposur di Unit Usaha Syariah (apabila ada)
Total Eksposur Counterparty Credit Risk
376
27
Lanjutan Lampiran 2
11. Pedoman Pengisian Pengungkapan Tagihan Bersih dan Teknik Mitigasi Risiko Kredit
a. Penetapan kategori portofolio, perhitungan tagihan bersih dan kriteria teknik mitigasi risiko kredit yang
dapat digunakan mengacu pada ketentuan Bank Indonesia mengenai perhitungan aset tertimbang menurut
risiko untuk risiko kredit dengan menggunakan pendekatan standar. Untuk eksposur di unit usaha syariah
mengacu pada ketentuan Bank Indonesia yang berlaku untuk Bank yang melaksanakan kegiatan usaha
berdasarkan prinsip syariah.
b. Khusus untuk eksposur di unit usaha syariah, apabila tidak dapat digolongkan ke dalam kolom teknik
mitigasi risiko yang tersedia maka dimasukkan ke dalam kolom Lainnya.
c. Contoh pengisian:
Bank memiliki tagihan yang tergolong dalam kategori portofolio Tagihan kepada Korporasi sebesar Rp100
miliar. Sebagian dari tagihan dimaksud (Rp30 miliar) dijamin dengan agunan tunai (cash collateral) dan
sebagian tagihan (Rp50 miliar) dijamin dengan garansi dari penerbit yang diakui sesuai ketentuan Bank
Indonesia. Maka sejumlah Rp30 miliar diisi dalam kolom Bagian yang Dijamin dengan Agunan, Rp50 miliar
diisi dalam kolom Bagian yang Dijamin dengan Garansi, dan Rp20 miliar diisi dalam kolom Bagian yang
Tidak Dijamin.
377
Lanjutan Lampiran 2
28
Tabel 4.2.a. Pengungkapan Tagihan Bersih dan Teknik Mitigasi Risiko Kredit - Bank secara Individual
(dalam jutaan rupiah)
No.
Kategori Portofolio
(1)
(2)
A
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
Eksposur Neraca
Tagihan Kepada Pemerintah
Tagihan Kepada Entitas Sektor Publik
Tagihan Kepada Bank Pembangunan Multilateral dan Lembaga Internasional
Tagihan Kepada Bank
Kredit Beragun Rumah Tinggal
Kredit Beragun Properti Komersial
Kredit Pegawai/Pensiunan
Tagihan Kepada Usaha Mikro, Usaha Kecil dan Portofolio Ritel
Tagihan kepada Korporasi
Tagihan yang Telah Jatuh Tempo
Aset Lainnya
Eksposur di Unit Usaha Syariah (apabila ada)
Total Eksposur Neraca
B
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
Eksposur Rekening Adminsitratif
Tagihan Kepada Pemerintah
Tagihan Kepada Entitas Sektor Publik
Tagihan Kepada Bank Pembangunan Multilateral dan Lembaga Internasional
Tagihan Kepada Bank
Kredit Beragun Rumah Tinggal
Kredit Beragun Properti Komersial
Kredit Pegawai/Pensiunan
Tagihan Kepada Usaha Mikro, Usaha Kecil dan Portofolio Ritel
Tagihan kepada Korporasi
Tagihan yang Telah Jatuh Tempo
Eksposur di Unit Usaha Syariah (apabila ada)
Total Eksposur Rekening Administratif
C
1
2
3
4
5
6
7
Eksposur Counterparty Credit Risk
Tagihan Kepada Pemerintah
Tagihan Kepada Entitas Sektor Publik
Tagihan Kepada Bank Pembangunan Multilateral dan Lembaga Internasional
Tagihan Kepada Bank
Tagihan Kepada Usaha Mikro, Usaha Kecil dan Portofolio Ritel
Tagihan kepada Korporasi
Eksposur di Unit Usaha Syariah (apabila ada)
Total Eksposure Counterparty Credit Risk
Tagihan
Bersih
Agunan
(3)
(4)
Posisi Tanggal Laporan
Bagian Yang Dijamin Dengan
Asuransi
Garansi
Kredit
(5)
(6)
Lainnya
Bagian Yang
Tidak Dijamin
Tagihan
Bersih
(7)
(8) = (3)-[(4)+(5)+(6)+(7)]
(9)
Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya
Bagian Yang Dijamin Dengan
Asuransi
Agunan
Garansi
Lainnya
Kredit
(10)
(11)
(12)
(13)
Bagian Yang Tidak
Dijamin
(14) = (9)-[(10)+(11)+(12)+(13)]
Total (A+B+C)
378
Lanjutan Lampiran 2
29
Tabel 4.2.b. Pengungkapan Tagihan Bersih dan Teknik Mitigasi Risiko Kredit - Bank secara Konsolidasi
dengan Perusahaan Anak
(dalam jutaan rupiah)
No.
Kategori Portofolio
(1)
(2)
A
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
Eksposur Neraca
Tagihan Kepada Pemerintah
Tagihan Kepada Entitas Sektor Publik
Tagihan Kepada Bank Pembangunan Multilateral dan Lembaga Internasional
Tagihan Kepada Bank
Kredit Beragun Rumah Tinggal
Kredit Beragun Properti Komersial
Kredit Pegawai/Pensiunan
Tagihan Kepada Usaha Mikro, Usaha Kecil dan Portofolio Ritel
Tagihan kepada Korporasi
Tagihan yang Telah Jatuh Tempo
Aset Lainnya
Eksposur di Unit Usaha Syariah (apabila ada)
Total Eksposur Neraca
B
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
Eksposur Rekening Adminsitratif
Tagihan Kepada Pemerintah
Tagihan Kepada Entitas Sektor Publik
Tagihan Kepada Bank Pembangunan Multilateral dan Lembaga Internasional
Tagihan Kepada Bank
Kredit Beragun Rumah Tinggal
Kredit Beragun Properti Komersial
Kredit Pegawai/Pensiunan
Tagihan Kepada Usaha Mikro, Usaha Kecil dan Portofolio Ritel
Tagihan kepada Korporasi
Tagihan yang Telah Jatuh Tempo
Eksposur di Unit Usaha Syariah (apabila ada)
Total Eksposur Rekening Administratif
C
1
2
3
4
5
6
7
Eksposur Counterparty Credit Risk
Tagihan Kepada Pemerintah
Tagihan Kepada Entitas Sektor Publik
Tagihan Kepada Bank Pembangunan Multilateral dan Lembaga Internasional
Tagihan Kepada Bank
Tagihan Kepada Usaha Mikro, Usaha Kecil dan Portofolio Ritel
Tagihan kepada Korporasi
Eksposur di Unit Usaha Syariah (apabila ada)
Total Eksposure Counterparty Credit Risk
Tagihan
Bersih
Agunan
(3)
(4)
Posisi Tanggal Laporan
Bagian Yang Dijamin Dengan
Asuransi
Garansi
Kredit
(5)
(6)
Lainnya
Bagian Yang
Tidak Dijamin
Tagihan
Bersih
(7)
(8) = (3)-[(4)+(5)+(6)+(7)]
(9)
Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya
Bagian Yang Dijamin Dengan
Asuransi
Agunan
Garansi
Lainnya
Kredit
(10)
(11)
(12)
(13)
Bagian Yang Tidak
Dijamin
(14) = (9)-[(10)+(11)+(12)+(13)]
Total (A+B+C)
379
Lanjutan Lampiran 2
30
12. Pedoman Pengisian Pengungkapan Transaksi Sekuritisasi
Perhitungan bobot risiko dan/atau faktor pengurang modal terhadap eksposur sekuritisasi mengacu pada
ketentuan Bank Indonesia yang mengatur mengenai prinsip kehati-hatian dalam aktivitas sekuritisasi aset
bagi bank umum. Untuk tagihan eksposur sekuritisasi selain yang diatur dalam ketentuan tersebut,
penetapan bobot risiko mengacu pada ketentuan Bank Indonesia mengenai perhitungan aset tertimbang
menurut risiko untuk risiko kredit dengan menggunakan pendekatan standar.
Tabel 5.1.a. Pengungkapan Transaksi Sekuritisasi - Bank secara Individual
(dalam jutaan rupiah)
No.
Eksposur Sekuritisasi
Nilai aset yg
disekuritisasi
(1)
(2)
(3)
Posisi Tanggal Laporan
Nilai aset yang disekuritisasi yang
Laba/Rugi dari
mengalami penurunan nilai
aktivitas
Telah jatuh
Belum Jatuh
sekuritisasi
tempo
Tempo
(4)
(5)
(6)
ATMR
Pengurang
Modal
Nilai aset yg
disekuritisasi
(7)
(8)
(9)
Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya
Nilai aset yang disekuritisasi yang
Laba/Rugi dari
mengalami penurunan nilai
aktivitas
ATMR
Telah jatuh
Belum Jatuh
sekuritisasi
tempo
Tempo
(10)
(11)
(12)
(13)
Pengurang
Modal
(14)
1 Bank bertindak sebagai Kreditur Asal
- Jenis eksposur (contoh: tagihan beragun rumah tinggal)
2 Bank bertindak sebagai Penyedia Kredit Pendukung
a. Fasilitas penanggung risiko pertama
- Jenis eksposur (contoh: tagihan beragun rumah tinggal)
b. Fasilitas penanggung risiko kedua
- Jenis eksposur (contoh: tagihan beragun rumah tinggal)
3 Bank bertindak sebagai Penyedia Fasilitas Likuiditas
- Jenis eksposur (contoh: tagihan beragun rumah tinggal)
4 Bank bertindak sebagai Penyedia Jasa
- Jenis eksposur (contoh: tagihan beragun rumah tinggal)
5 Bank bertindak sebagai Bank Kostudian
- Jenis eksposur (contoh: tagihan beragun rumah tinggal)
6 Bank bertindak sebagai Pemodal
a. Senior tranche
- Jenis eksposur (contoh: tagihan beragun rumah tinggal)
b. Junior tranche
- Jenis eksposur (contoh: tagihan beragun rumah tinggal)
380
Lanjutan Lampiran 2
31
Tabel 5.1.b. Pengungkapan Transaksi Sekuritisasi - Bank secara Konsolidasi dengan Perusahaan Anak
(dalam jutaan rupiah)
No.
Eksposur Sekuritisasi
Nilai aset yg
disekuritisasi
(1)
(2)
(3)
Posisi Tanggal Laporan
Nilai aset yang disekuritisasi yang
Laba/Rugi dari
mengalami penurunan nilai
aktivitas
Telah jatuh
Belum Jatuh
sekuritisasi
tempo
Tempo
(4)
(5)
(6)
ATMR
Pengurang
Modal
Nilai aset yg
disekuritisasi
(7)
(8)
(9)
Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya
Nilai aset yang disekuritisasi yang
Laba/Rugi dari
mengalami penurunan nilai
aktivitas
ATMR
Telah jatuh
Belum Jatuh
sekuritisasi
tempo
Tempo
(10)
(11)
(12)
(13)
Pengurang
Modal
(14)
1 Bank bertindak sebagai Kreditur Asal
- Jenis eksposur (contoh: tagihan beragun rumah tinggal)
2 Bank bertindak sebagai Penyedia Kredit Pendukung
a. Fasilitas penanggung risiko pertama
- Jenis eksposur (contoh: tagihan beragun rumah tinggal)
b. Fasilitas penanggung risiko kedua
- Jenis eksposur (contoh: tagihan beragun rumah tinggal)
3 Bank bertindak sebagai Penyedia Fasilitas Likuiditas
- Jenis eksposur (contoh: tagihan beragun rumah tinggal)
4 Bank bertindak sebagai Penyedia Jasa
- Jenis eksposur (contoh: tagihan beragun rumah tinggal)
5 Bank bertindak sebagai Bank Kostudian
- Jenis eksposur (contoh: tagihan beragun rumah tinggal)
6 Bank bertindak sebagai Pemodal
a. Senior tranche
- Jenis eksposur (contoh: tagihan beragun rumah tinggal)
b. Junior tranche
- Jenis eksposur (contoh: tagihan beragun rumah tinggal)
13. Pedoman Pengisian Pengungkapan Ringkasan Aktivitas Transaksi Sekuritisasi dimana Bank Bertindak
sebagai Kreditur Asal
a. Penetapan kategori portofolio mengacu
pada ketentuan Bank Indonesia mengenai perhitungan aset
tertimbang menurut risiko untuk risiko kredit dengan menggunakan pendekatan standar. Untuk eksposur
di unit usaha syariah mengacu pada ketentuan Bank Indonesia yang berlaku untuk Bank yang
melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah.
381
Lanjutan Lampiran 2
32
b. Transaksi sekuritisasi dimana Bank bertindak sebagai kreditur asal mengacu pada ketentuan Bank
Indonesia yang mengatur mengenai prinsip kehati-hatian dalam aktivitas sekuritisasi aset bagi bank
umum. Kolom Nilai Aset yang Disekuritisasi diisi dengan nilai aset yang dialihkan sebesar nilai tercatat
aset di neraca pada tanggal pengalihan. Kolom Keuntungan (Kerugian) Penjualan diisi dengan selisih antara
nilai pengalihan dengan nilai tercatat aset di neraca.
Tabel 5.2.a. Pengungkapan Ringkasan Aktivitas Transaksi Sekuritisasi Bank Bertindak Sebagai Kreditur
Asal - Bank secara Individual
(dalam jutaan rupiah)
Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya
Posisi Tanggal Laporan
No.
(1)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
Underlying Asset
Nilai Aset Yang
Disekuritisasi
Keuntungan (Kerugian)
Penjualan
Nilai Aset Yang
Disekuritisasi
Keuntungan (Kerugian)
Penjualan
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
Tagihan Kepada Pemerintah
Tagihan Kepada Entitas Sektor Publik
Tagihan Kepada Bank Pembangunan Multilateral dan Lembaga
Internasional
Tagihan Kepada Bank
Kredit Beragun Rumah Tinggal
Kredit Beragun Properti Komersial
Kredit Pegawai/Pensiunan
Tagihan Kepada Usaha Mikro, Usaha Kecil dan Portofolio Ritel
Tagihan kepada Korporasi
Aset Lainnya
Eksposur di Unit Usaha Syariah (apabila ada)
Total
382
Lanjutan Lampiran 2
33
Tabel 5.2.b. Pengungkapan Ringkasan Aktivitas Transaksi Sekuritisasi Bank Bertindak Sebagai Kreditur
Asal - Bank secara Konsolidasi dengan Perusahaan Anak
(dalam jutaan rupiah)
Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya
Posisi Tanggal Laporan
No.
(1)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
Underlying Asset
Nilai Aset Yang
Disekuritisasi
Keuntungan (Kerugian)
Penjualan
Nilai Aset Yang
Disekuritisasi
Keuntungan (Kerugian)
Penjualan
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
Tagihan Kepada Pemerintah
Tagihan Kepada Entitas Sektor Publik
Tagihan Kepada Bank Pembangunan Multilateral dan Lembaga
Internasional
Tagihan Kepada Bank
Kredit Beragun Rumah Tinggal
Kredit Beragun Properti Komersial
Kredit Pegawai/Pensiunan
Tagihan Kepada Usaha Mikro, Usaha Kecil dan Portofolio Ritel
Tagihan kepada Korporasi
Aset Lainnya
Eksposur di Unit Usaha Syariah (apabila ada)
Total
14. Pedoman Pengisian Pengungkapan Perhitungan ATMR Risiko Kredit dengan Menggunakan Pendekatan
Standar
Perhitungan ATMR risiko kredit mengacu pada ketentuan Bank Indonesia mengenai perhitungan aset
tertimbang menurut risiko untuk risiko kredit dengan menggunakan pendekatan standar.
383
Lanjutan Lampiran 2
34
Perhitungan ATMR Risiko Kredit Pendekatan Standar - Bank secara Individual
Tabel 6.1.1. Pengungkapan Eksposur Aset di Neraca
(dalam jutaan rupiah)
Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya
Posisi Tanggal Laporan
Kategori Portofolio
No
(1)
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
(2)
Tagihan Kepada Pemerintah
Tagihan Kepada Entitas Sektor Publik
Tagihan Kepada Bank Pembangunan Multilateral dan Lembaga Internasional
Tagihan Kepada Bank
Kredit Beragun Rumah Tinggal
Kredit Beragun Properti Komersial
Kredit Pegawai/Pensiunan
Tagihan Kepada Usaha Mikro, Usaha Kecil dan Portofolio Ritel
Tagihan Kepada Korporasi
Tagihan Yang Telah Jatuh Tempo
Aset Lainnya
Tagihan Bersih
ATMR Sebelum
MRK
ATMR Setelah
MRK
Tagihan Bersih
ATMR Sebelum
MRK
ATMR Setelah
MRK
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)
TOTAL
Tabel 6.1.2. Pengungkapan Eksposur Kewajiban Komitmen/Kontinjensi pada Transaksi
Rekening
Administratif
(dalam jutaan rupiah)
Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya
Posisi Tanggal Laporan
Kategori Portofolio
No
(1)
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
(2)
Tagihan Kepada Pemerintah
Tagihan Kepada Entitas Sektor Publik
Tagihan kepada Bank Pembangunan Multilateral dan Lembaga Internasional
Tagihan kepada Bank
Kredit Beragun Rumah Tinggal
Kredit Beragun Properti Komersial
Kredit Pegawai/Pensiunan
Tagihan Kepada Usaha Mikro, Usaha Kecil dan Portofolio Ritel
Tagihan Kepada Korporasi
Tagihan Yang Telah Jatuh Tempo
Tagihan Bersih
ATMR Sebelum
MRK
ATMR Setelah
MRK
Tagihan Bersih
ATMR Sebelum
MRK
ATMR Setelah
MRK
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)
TOTAL
384
Lanjutan Lampiran 2
35
Tabel 6.1.3. Pengungkapan Eksposur yang Menimbulkan Risiko Kredit akibat Kegagalan Pihak Lawan
(Counterparty Credit Risk)
(dalam jutaan rupiah)
Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya
Posisi Tanggal Laporan
No
Kategori Portofolio
(2)
(1)
1. Tagihan Kepada Pemerintah
2. Tagihan Kepada Entitas Sektor Publik
3. Tagihan kepada Bank Pembangunan Multilateral dan Lembaga Internasional
4. Tagihan kepada Bank
5. Tagihan Kepada Usaha Mikro, Usaha Kecil dan Portofolio Ritel
6. Tagihan Kepada Korporasi
TOTAL
Tagihan Bersih
ATMR Sebelum
MRK
ATMR Setelah
MRK
Tagihan Bersih
ATMR Sebelum
MRK
ATMR Setelah
MRK
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)
Tabel 6.1.4. Pengungkapan Eksposur yang Menimbulkan Risiko Kredit akibat Kegagalan Setelmen
(settlement risk)
(dalam jutaan rupiah)
Posisi Tanggal Laporan
No
Jenis Transaksi
(2)
(1)
1. Delivery versus payment
a. Beban Modal 8% (5-15 hari)
b. Beban Modal 50% (16-30 hari)
c. Beban Modal 75% (31-45 hari)
d. Beban Modal 100% (lebih dari 45 hari)
2. Non-delivery versus payment
Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya
Nilai Eksposur
Faktor Pengurang
Modal
ATMR Setelah
MRK
Nilai Eksposur
Faktor Pengurang
Modal
ATMR Setelah
MRK
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)
TOTAL
385
Lanjutan Lampiran 2
36
Tabel 6.1.5. Pengungkapan Eksposur Sekuritisasi
Posisi Tanggal Laporan
Jenis Transaksi
No
(1)
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
(2)
Fasilitas Kredit Pendukung yang memenuhi persyaratan
Fasilitas Kredit Pendukung yang tidak memenuhi persyaratan
Fasilitas Likuiditas yang memenuhi persyaratan
Fasilitas Likuiditas yang tidak memenuhi persyaratan
Pembelian Efek Beragun Aset yang memenuhi persyaratan
Pembelian Efek Beragun Aset yang tidak memenuhi persyaratan
Faktor Pengurang
Modal
(3)
ATMR
(4)
(dalam jutaan rupiah)
Posisi Tanggal Laporan Tahun
Sebelumnya
Faktor Pengurang
ATMR
Modal
(5)
(6)
Eksposur Sekuritisasi yang tidak tercakup dalam ketentuan Bank Indonesia mengenai prinsipprinsip kehati-hatian dalam aktivitas sekuritisasi aset bagi bank umum.
TOTAL
Tabel 6.1.6. Pengungkapan Eksposur di Unit Usaha Syariah (apabila ada)
Posisi Tanggal Laporan
No
(1)
1. Total Eksposur
(dalam jutaan rupiah)
Posisi Tanggal Laporan Tahun
Sebelumnya
Jenis Transaksi
Faktor Pengurang
Modal
ATMR
Faktor Pengurang
Modal
ATMR
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
Tabel 6.1.7. Pengungkapan Total Pengukuran Risiko Kredit
Posisi Tanggal
Laporan
(dalam jutaan rupiah)
Posisi Tanggal
Laporan Tahun
Sebelumnya
TOTAL ATMR RISIKO KREDIT
TOTAL FAKTOR PENGURANG MODAL
386
Lanjutan Lampiran 2
37
Perhitungan ATMR Risiko Kredit Pendekatan Standar - Bank secara Konsolidasi dengan Perusahaan Anak
Tabel 6.2.1. Pengungkapan Eksposur Aset di Neraca
(dalam jutaan rupiah)
Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya
Posisi Tanggal Laporan
Kategori Portofolio
No
(1)
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
(2)
Tagihan Kepada Pemerintah
Tagihan Kepada Entitas Sektor Publik
Tagihan Kepada Bank Pembangunan Multilateral dan Lembaga Internasional
Tagihan Kepada Bank
Kredit Beragun Rumah Tinggal
Kredit Beragun Properti Komersial
Kredit Pegawai/Pensiunan
Tagihan Kepada Usaha Mikro, Usaha Kecil dan Portofolio Ritel
Tagihan Kepada Korporasi
Tagihan Yang Telah Jatuh Tempo
Aset Lainnya
Tagihan Bersih
ATMR Sebelum
MRK
ATMR Setelah
MRK
Tagihan Bersih
ATMR Sebelum
MRK
ATMR Setelah
MRK
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)
TOTAL
Tabel 6.2.2. Pengungkapan Eksposur Kewajiban Komitmen/Kontinjensi pada Transaksi Rekening
Administratif
(dalam jutaan rupiah)
Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya
Posisi Tanggal Laporan
Kategori Portofolio
No
(1)
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
(2)
Tagihan Kepada Pemerintah
Tagihan Kepada Entitas Sektor Publik
Tagihan kepada Bank Pembangunan Multilateral dan Lembaga Internasional
Tagihan kepada Bank
Kredit Beragun Rumah Tinggal
Kredit Beragun Properti Komersial
Kredit Pegawai/Pensiunan
Tagihan Kepada Usaha Mikro, Usaha Kecil dan Portofolio Ritel
Tagihan Kepada Korporasi
Tagihan Yang Telah Jatuh Tempo
Tagihan Bersih
ATMR Sebelum
MRK
ATMR Setelah
MRK
Tagihan Bersih
ATMR Sebelum
MRK
ATMR Setelah
MRK
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)
TOTAL
387
Lanjutan Lampiran 2
38
Tabel 6.2.3. Pengungkapan Eksposur yang Menimbulkan Risiko Kredit akibat Kegagalan Pihak Lawan
(Counterparty Credit Risk)
(dalam jutaan rupiah)
Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya
Posisi Tanggal Laporan
No
Kategori Portofolio
(2)
(1)
1. Tagihan Kepada Pemerintah
2. Tagihan Kepada Entitas Sektor Publik
3. Tagihan kepada Bank Pembangunan Multilateral dan Lembaga Internasional
4. Tagihan kepada Bank
5. Tagihan Kepada Usaha Mikro, Usaha Kecil dan Portofolio Ritel
6. Tagihan Kepada Korporasi
TOTAL
Tagihan Bersih
ATMR Sebelum
MRK
ATMR Setelah
MRK
Tagihan Bersih
ATMR Sebelum
MRK
ATMR Setelah
MRK
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)
Tabel 6.2.4. Pengungkapan Eksposur yang Menimbulkan Risiko Kredit akibat Kegagalan Setelmen
(settlement risk)
(dalam jutaan rupiah)
Posisi Tanggal Laporan
No
Jenis Transaksi
(2)
(1)
1. Delivery versus payment
a. Beban Modal 8% (5-15 hari)
b. Beban Modal 50% (16-30 hari)
c. Beban Modal 75% (31-45 hari)
d. Beban Modal 100% (lebih dari 45 hari)
2. Non-delivery versus payment
Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya
Nilai Eksposur
Faktor Pengurang
Modal
ATMR Setelah
MRK
Nilai Eksposur
Faktor Pengurang
Modal
ATMR Setelah
MRK
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)
TOTAL
388
Lanjutan Lampiran 2
39
Tabel 6.2.5. Pengungkapan Eksposur Sekuritisasi
Posisi Tanggal Laporan
Jenis Transaksi
No
(1)
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
(2)
Fasilitas Kredit Pendukung yang memenuhi persyaratan
Fasilitas Kredit Pendukung yang tidak memenuhi persyaratan
Fasilitas Likuiditas yang memenuhi persyaratan
Fasilitas Likuiditas yang tidak memenuhi persyaratan
Pembelian Efek Beragun Aset yang memenuhi persyaratan
Pembelian Efek Beragun Aset yang tidak memenuhi persyaratan
Faktor Pengurang
Modal
(3)
ATMR
(4)
(dalam jutaan rupiah)
Posisi Tanggal Laporan Tahun
Sebelumnya
Faktor Pengurang
ATMR
Modal
(5)
(6)
Eksposur Sekuritisasi yang tidak tercakup dalam ketentuan Bank Indonesia mengenai prinsipprinsip kehati-hatian dalam aktivitas sekuritisasi aset bagi bank umum.
TOTAL
Tabel 6.2.6. Pengungkapan Eksposur di Unit Usaha Syariah dan/atau Perusahaan Anak yang Melakukan
Kegiatan Usaha berdasarkan Prinsip Syariah (apabila ada)
Posisi Tanggal Laporan
No
(1)
1. Total Eksposur
Jenis Transaksi
Faktor Pengurang
Modal
ATMR
(2)
(3)
(4)
(dalam jutaan rupiah)
Posisi Tanggal Laporan Tahun
Sebelumnya
Faktor Pengurang
Modal
(5)
ATMR
(6)
Tabel 6.2.7. Pengungkapan Total Pengukuran Risiko Kredit
Posisi Tanggal
Laporan
(dalam jutaan rupiah)
Posisi Tanggal
Laporan Tahun
Sebelumnya
TOTAL ATMR RISIKO KREDIT
TOTAL FAKTOR PENGURANG MODAL
389
Lanjutan Lampiran 2
40
15. Pedoman Pengisian Pengungkapan Risiko Pasar menggunakan Metode Standar
Perhitungan risiko pasar mengacu pada ketentuan Bank Indonesia mengenai penggunaan metode standar
dalam perhitungan KPMM bank umum dengan memperhitungkan risiko pasar.
Tabel 7.1. Pengungkapan Risiko Pasar Dengan Menggunakan Metode Standar
(dalam jutaan rupiah)
No.
Jenis Risiko
(1)
(2)
Posisi Tanggal Laporan
Bank
Konsolidasi
Beban Modal
ATMR
Beban Modal
ATMR
(3)
(4)
(5)
(6)
Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya
Konsolidasi
Bank
Beban Modal
ATMR
Beban Modal
ATMR
(7)
(8)
(9)
(10)
1 Risiko Suku Bunga
a. Risiko Spesifik
b. Risiko Umum
2 Risiko Nilai Tukar
3 Risiko Ekuitas *)
4 Risiko Komoditas *)
5 Risiko Option
Total
*) Untuk bank yang memiliki perusahaan anak yang memiliki eksposur risiko dimaksud
16. Pedoman Pengisian Pengungkapan Risiko Pasar dengan Model Internal (Value at Risk/VaR)
a. Perhitungan risiko pasar mengacu pada ketentuan Bank Indonesia mengenai penggunaan model internal
dalam perhitungan KPMM bank umum dengan memperhitungkan risiko pasar.
b. Rata-rata VaR merupakan perhitungan rata-rata VaR harian selama periode laporan.
c. Maksimum VaR merupakan angka VaR tertinggi selama periode laporan.
d. Minimum VaR merupakan angka VaR terendah selama periode laporan.
e. VaR akhir periode merupakan angka VaR pada akhir periode laporan.
390
Lanjutan Lampiran 2
41
Tabel 7.2.a Pengungkapan Risiko Pasar Dengan Menggunakan Model Internal (Value at Risk/VaR) - Bank
secara Individual
(dalam jutaan rupiah)
No.
(1)
1
2
3
Jenis Risiko
VaR RataRata
(2)
(3)
Posisi Tanggal Laporan
VaR
VaR
Maksimum Minimum
(4)
(5)
VaR Akhir
Periode
(6)
Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya
VaR RataVaR
VaR
VaR Akhir
Rata
Maksimum
Minimum
Periode
(8)
(9)
(10)
(11)
Risiko Suku Bunga
Risiko Nilai Tukar
Risiko Option
Total
Tabel 7.2.b Pengungkapan Risiko Pasar Dengan Menggunakan Model Internal (Value at Risk/VaR) - Bank
secara Konsolidasi dengan Perusahaan Anak
(dalam jutaan rupiah)
No.
(1)
1
2
3
4
5
Jenis Risiko
VaR RataRata
(2)
(3)
Posisi Tanggal Laporan
VaR
VaR
Maksimum
Minimum
(4)
(5)
VaR Akhir
Periode
(6)
Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya
VaR RataVaR
VaR
VaR Akhir
Rata
Maksimum
Minimum
Periode
(8)
(9)
(10)
(11)
Risiko Suku Bunga
Risiko Nilai Tukar
Risiko Ekuitas
Risiko Komoditas
Risiko Option
Total
391
Lanjutan Lampiran 2
42
17. Pedoman Pengisian Pengungkapan Risiko Operasional
Perhitungan risiko operasional mengacu pada ketentuan Bank Indonesia mengenai perhitungan ATMR untuk
risiko operasional dengan menggunakan pendekatan indikator dasar (PID).
Tabel 8.1.a. Pengungkapan Kuantitatif Risiko Operasional - Bank secara Individual
No.
Pendekatan Yang Digunakan
(1)
(2)
Posisi Tanggal Laporan
Pendapatan Bruto (Rata-rata 3
Beban Modal
tahun terakhir)
(3)
(4)
ATMR
(5)
(dalam jutaan rupiah)
Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya
Pendapatan Bruto (Rata-rata 3
Beban Modal
ATMR
tahun terakhir)
(6)
(7)
(8)
1 Pendekatan Indikator Dasar
Total
Tabel 8.1.b. Pengungkapan Kuantitatif Risiko Operasional - Bank secara Konsolidasi dengan Perusahaan
Anak
No.
Pendekatan Yang Digunakan
(1)
(2)
Posisi Tanggal Laporan
Pendapatan Bruto (Rata-rata 3
Beban Modal
tahun terakhir)
(3)
(4)
ATMR
(5)
(dalam jutaan rupiah)
Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya
Pendapatan Bruto (Rata-rata 3
Beban Modal
ATMR
tahun terakhir)
(6)
(7)
(8)
1 Pendekatan Indikator Dasar
Total
392
Lanjutan Lampiran 2
43
18. Pedoman Pengisian Pengungkapan Profil Maturitas Rupiah dan Valas
Pengungkapan profil maturitas rupiah dan valas mengacu pada ketentuan Bank Indonesia mengenai
penerapan manajemen risiko bagi bank umum dan ketentuan Bank Indonesia mengenai laporan berkala bank
umum.
Tabel 9.1.a. Pengungkapan Profil Maturitas Rupiah - Bank secara Individual
(dalam jutaan rupiah)
Posisi Tanggal Laporan
Jatuh Tempo
No.
Pos-pos
(2)
(1)
I NERACA
A Aset
1. Kas
2. Penempatan pada Bank Indonesia
3. Penempatan pada bank lain
4. Surat Berharga
5. Kredit yang diberikan
6. Tagihan lainnya
7. Lain-lain
Total Aset
Saldo
(3)
< 1 bulan
(4)
> 1 bln s.d. 3 > 3 bln s.d. 6
bln
bln
(5)
(6)
Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya
Jatuh Tempo
> 6 bln s.d.
12 bln
> 12 bulan
(7)
(8)
Saldo
(9)
< 1 bulan
(10)
> 1 bln s.d. 3 > 3 bln s.d. 6
bln
bln
(11)
(12)
> 6 bln s.d.
12 bln
> 12 bulan
(13)
(14)
B. Kewajiban
1. Dana Pihak Ketiga
2. Kewajiban pada Bank Indonesia
3. Kewajiban pada bank lain
4. Surat Berharga yang Diterbitkan
5. Pinjaman yang Diterima
6. Kewajiban lainnya
7. Lain-lain
Total Kewajiban
Selisih Aset dengan Kewajiban dalam Neraca
II
REKENING ADMINISTRATIF
A. Tagihan Rekening Administratif
1. Komitmen
2. Kontijensi
Total Tagihan Rekening Administratif
B. Kewajiban Rekening Administratif
1. Komitmen
2. Kontijensi
Total Kewajiban Rekening Administratif
Selisih Tagihan dan Kewajiban dalam Rekening Administratif
Selisih [(IA-IB)+(IIA-IIB)]
Selisih Kumulatif
393
Lanjutan Lampiran 2
44
Tabel 9.1.b. Pengungkapan Profil Maturitas Rupiah - Bank secara Konsolidasi dengan Perusahaan Anak
(dalam jutaan rupiah)
Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya
Posisi Tanggal Laporan
Maturitas Valas - Bank secara IndividualJatuh Tempo
Tabel 9.2.a. Pengungkapan Kuantitatif Profil
Jatuh Tempo
No.
Pos-pos
(2)
(1)
I NERACA
A Aset
1. Kas
2. Penempatan pada Bank Indonesia
3. Penempatan pada bank lain
4. Surat Berharga
5. Kredit yang diberikan
6. Tagihan lainnya
7. Lain-lain
Total Aset
Saldo
(3)
< 1 bulan
(4)
> 1 bln s.d. 3 > 3 bln s.d. 6
bln
bln
(5)
(6)
> 6 bln s.d.
12 bln
> 12 bulan
(7)
(8)
Saldo
(9)
< 1 bulan
(10)
> 1 bln s.d. 3 > 3 bln s.d. 6
bln
bln
(11)
(12)
> 6 bln s.d.
12 bln
> 12 bulan
(13)
(14)
B. Kewajiban
1. Dana Pihak Ketiga
2. Kewajiban pada Bank Indonesia
3. Kewajiban pada bank lain
4. Surat Berharga yang Diterbitkan
5. Pinjaman yang Diterima
6. Kewajiban lainnya
7. Lain-lain
Total Kewajiban
Selisih Aset dengan Kewajiban dalam Neraca
II REKENING ADMINISTRATIF
A. Tagihan Rekening Administratif
1. Komitmen
2. Kontijensi
Total Tagihan Rekening Administratif
B. Kewajiban Rekening Administratif
1. Komitmen
2. Kontijensi
Total Kewajiban Rekening Administratif
Selisih Tagihan dan Kewajiban dalam Rekening Administratif
Selisih [(IA-IB)+(IIA-IIB)]
Selisih Kumulatif
394
Lanjutan Lampiran 2
45
Tabel 9.2.a. Pengungkapan Profil Maturitas Valas - Bank secara Individual
(dalam jutaan rupiah)
Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya
Jatuh Tempo
Posisi Tanggal Laporan
Jatuh Tempo
No.
Pos-pos
(2)
(1)
I NERACA
A Aset
1. Kas
2. Penempatan pada Bank Indonesia
3. Penempatan pada bank lain
4. Surat Berharga
5. Kredit yang diberikan
6. Tagihan lainnya
7. Lain-lain
Total Aset
Saldo
(3)
< 1 bulan
(4)
> 1 bln s.d. 3 > 3 bln s.d. 6
bln
bln
(5)
(6)
> 6 bln s.d.
12 bln
> 12 bulan
(7)
(8)
Saldo
(9)
< 1 bulan
(10)
> 1 bln s.d. 3 > 3 bln s.d. 6
bln
bln
(11)
(12)
> 6 bln s.d.
12 bln
> 12 bulan
(13)
(14)
B. Kewajiban
1. Dana Pihak Ketiga
2. Kewajiban pada Bank Indonesia
3. Kewajiban pada bank lain
4. Surat Berharga yang Diterbitkan
5. Pinjaman yang Diterima
6. Kewajiban lainnya
7. Lain-lain
Total Kewajiban
Selisih Aset dengan Kewajiban dalam Neraca
II REKENING ADMINISTRATIF
A. Tagihan Rekening Administratif
1. Komitmen
2. Kontijensi
Total Tagihan Rekening Administratif
B. Kewajiban Rekening Administratif
1. Komitmen
2. Kontijensi
Total Kewajiban Rekening Administratif
Selisih Tagihan dan Kewajiban dalam Rekening Administratif
Selisih [(IA-IB)+(IIA-IIB)]
Selisih Kumulatif
395
Lanjutan Lampiran 2
46
Tabel 9.2.b. Pengungkapan Profil Maturitas Valas - Bank secara Konsolidasi dengan Perusahaan Anak
(dalam jutaan rupiah)
Posisi Tanggal Laporan
Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya
Jatuh Tempo
Jatuh Tempo
No.
Pos-pos
(2)
(1)
I NERACA
A Aset
1. Kas
2. Penempatan pada Bank Indonesia
3. Penempatan pada bank lain
4. Surat Berharga
5. Kredit yang diberikan
6. Tagihan lainnya
7. Lain-lain
Total Aset
Saldo
(3)
< 1 bulan
(4)
> 1 bln s.d. 3 > 3 bln s.d. 6
bln
bln
(5)
(6)
> 6 bln s.d.
12 bln
> 12 bulan
(7)
(8)
Saldo
(9)
< 1 bulan
(10)
> 1 bln s.d. 3 > 3 bln s.d. 6
bln
bln
(11)
(12)
> 6 bln s.d.
12 bln
> 12 bulan
(13)
(14)
B. Kewajiban
1. Dana Pihak Ketiga
2. Kewajiban pada Bank Indonesia
3. Kewajiban pada bank lain
4. Surat Berharga yang Diterbitkan
5. Pinjaman yang Diterima
6. Kewajiban lainnya
7. Lain-lain
Total Kewajiban
Selisih Aset dengan Kewajiban dalam Neraca
II
REKENING ADMINISTRATIF
A. Tagihan Rekening Administratif
1. Komitmen
2. Kontijensi
Total Tagihan Rekening Administratif
B. Kewajiban Rekening Administratif
1. Komitmen
2. Kontijensi
Total Kewajiban Rekening Administratif
Selisih Tagihan dan Kewajiban dalam Rekening Administratif
Selisih [(IA-IB)+(IIA-IIB)]
Selisih Kumulatif
KEPALA DEPARTEMEN
PENELITIAN DAN PENGATURAN PERBANKAN
MULYA E. SIREGAR
396
Lampiran 3
397
Lanjutan Lampiran 3
398
Lampiran 3a
Lampiran 1a Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 13/30/DPNP tanggal 16 Desember 2011
LAPORAN POSISI KEUANGAN/NERACA BULANAN
Bank
:
Tanggal :
(dalam jutaan rupiah)
No.
POS - POS
BANK
Posisi Tgl. Laporan
ASET
1. Kas
2. Penempatan pada Bank Indonesia
3. Penempatan pada bank lain
4. Tagihan spot dan derivatif
5. Surat berharga
a. Diukur pada nilai wajar melalui laporan laba/rugi
b. Tersedia untuk dijual
c. Dimiliki hingga jatuh tempo
d. Pinjaman yang diberikan dan piutang
6. Surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali (repo )
7. Tagihan atas surat berharga yang dibeli dengan janji dijual kembali (reverse repo )
8. Tagihan akseptasi
9. Kredit
a. Diukur pada nilai wajar melalui laporan laba/rugi
b. Tersedia untuk dijual
c. Dimiliki hingga jatuh tempo
d. Pinjaman yang diberikan dan piutang
10. Pembiayaan syariah 1)
11. Penyertaan
12. Cadangan kerugian penurunan nilai aset keuangan -/a. Surat berharga
b. Kredit
c. Lainnya
13. Aset tidak berwujud
Akumulasi amortisasi aset tidak berwujud -/14. Aset tetap dan inventaris
Akumulasi penyusutan aset tetap dan inventaris -/15. Aset non produktif
a. Properti terbengkalai
b. Aset yang diambil alih
c. Rekening tunda
d. Aset antar kantor 2)
i. Melakukan kegiatan operasional di Indonesia
ii. Melakukan kegiatan operasional di luar Indonesia
16. Cadangan kerugian penurunan nilai aset non keuangan -/17. Sewa pembiayaan 1)
18. Aset pajak tangguhan
19. Aset lainnya
TOTAL ASET
LIABILITAS DAN EKUITAS
LIABILITAS
1. Giro
2. Tabungan
3. Simpanan berjangka
4. Dana investasi revenue sharing 1)
5. Pinjaman dari Bank Indonesia
6. Pinjaman dari bank lain
7. Liabilitas spot dan derivatif
8. Utang atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali (repo )
9. Utang akseptasi
10. Surat berharga yang diterbitkan
399
1
Lanjutan Lampiran 3a
Lampiran 1a Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 13/30/DPNP tanggal 16 Desember 2011
LAPORAN POSISI KEUANGAN/NERACA BULANAN
Bank
:
Tanggal :
(dalam jutaan rupiah)
No.
BANK
Posisi Tgl. Laporan
POS - POS
11. Pinjaman yang diterima
12. Setoran jaminan
13. Liabilitas antar kantor 2)
a. Melakukan kegiatan operasional di Indonesia
b. Melakukan kegiatan operasional di luar Indonesia
14. Liabilitas pajak tangguhan
15. Liabilitas lainnya
16. Dana investasi profit sharing 1)
TOTAL LIABILITAS
EKUITAS
17. Modal disetor
a. Modal dasar
b. Modal yang belum disetor -/c. Saham yang dibeli kembali (treasury stock ) -/18. Tambahan modal disetor
a. Agio
b. Disagio -/c. Modal sumbangan
d. Dana setoran modal
e. Lainnya
19. Pendapatan (kerugian) komprehensif lainnya
a. Penyesuaian akibat penjabaran laporan keuangan dalam mata uang asing
20.
21.
22.
23.
24.
b. Selisih penilaian kembali aset tetap
c. Lainnya
Selisih kuasi reorganisasi 3)
Selisih restrukturisasi entitas sepengendali
Modal pinjaman
Cadangan
a. Cadangan umum
b. Cadangan tujuan
Laba/rugi
a. Tahun-tahun lalu
b. Tahun berjalan
TOTAL EKUITAS
TOTAL LIABILITAS DAN EKUITAS
Keterangan :
1) : Diisi bagi Bank yang memiliki UUS (Unit Usaha Syariah)
Pembiayaan syariah antara lain meliputi Murabahah - net, Salam, Istishna - net, Qardh,
Pembiayaan, Ijarah - net, Transaksi multijasa - net.
2) : Aset antarkantor dan Liabilitas antarkantor disajikan secara netto dalam Neraca.
3) : Disi hanya sampai PSAK yang terkait berlaku
DIREKTUR PENELITIAN DAN
PENGATURAN PERBANKAN,
WIMBOH SANTOSO
400
2
Lampiran 4
401
Lanjutan Lampiran 4
402
Lampiran 2a Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 13/30/DPNP tanggal 16 Desember 2011
Lampiran 4a
LAPORAN LABA RUGI BULANAN
Bank
:
Periode :
(dalam jutaan rupiah)
No.
POS-POS
BANK
Periode Laporan
PENDAPATAN DAN BEBAN OPERASIONAL
A. Pendapatan dan Beban Bunga
1. Pendapatan Bunga
a. Rupiah
b. Valuta asing
2. Beban Bunga
a. Rupiah
b. Valuta asing
Pendapatan (Beban) Bunga bersih
B. Pendapatan dan Beban Operasional selain Bunga
1. a. Peningkatan nilai wajar aset keuangan
i. Surat berharga
ii. Kredit
iii. Spot dan derivatif
iv. Aset keuangan lainnya
b. Penurunan nilai wajar liabilitas keuangan
c. Keuntungan penjualan aset keuangan
i. Surat berharga
ii. Kredit
iii. Aset keuangan lainnya
d. Keuntungan transaksi spot dan derivatif (realised )
e. Keuntungan dari penyertaan dengan equity method
f. Dividen
g. Komisi/provisi/fee dan administrasi
h. Pemulihan atas cadangan kerugian penurunan nilai
i.
Pendapatan lainnya
2. Beban Operasional Selain Bunga
a. Penurunan nilai wajar aset keuangan (mark to market )
i. Surat berharga
ii. Kredit
iii. Spot dan derivatif
iv. Aset keuangan lainnya
b. Peningkatan nilai wajar kewajiban keuangan (mark to market )
c. Kerugian penjualan aset keuangan
i. Surat berharga
ii. Kredit
iii. Aset keuangan lainnya
d. Kerugian transaksi spot dan derivatif (realised )
e. Kerugian penurunan nilai aset keuangan (impairment )
i. Surat berharga
ii. Kredit
iii. Pembiayaan syariah
iv. Aset keuangan lainnya
403
1
Lanjutan Lampiran 4a
Lampiran 2a Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 13/30/DPNP tanggal 16 Desember 2011
LAPORAN LABA RUGI BULANAN
Bank
:
Periode :
(dalam jutaan rupiah)
No.
POS-POS
BANK
Periode Laporan
f. Kerugian terkait risiko operasional *)
g. Kerugian dari penyertaan dengan equity method
h. komisi/provisi/fee dan administrasi
i. Kerugian penurunan nilai aset lainnya (non keuangan)
j. Beban tenaga kerja
k. Beban promosi
l. Beban lainnya
Pendapatan (Beban) Operasional Selain Bunga Bersih
LABA (RUGI) OPERASIONAL
PENDAPATAN (BEBAN) NON OPERASIONAL
1. Keuntungan (kerugian) penjualan aset tetap dan inventaris
2. Keuntungan (kerugian) penjabaran transaksi valuta asing
3. Pendapatan (beban) non operasional lainnya
LABA (RUGI) NON OPERASIONAL
LABA (RUGI) TAHUN BERJALAN
Pajak Penghasilan
a. Taksiran pajak tahun berjalan
b. Pendapatan (beban) pajak tangguhan
LABA (RUGI) BERSIH
TRANSFER LABA (RUGI) KE KANTOR PUSAT **)
*) Diisi untuk kerugian yang sudah terjadi maupun pasti akan terjadi loss dalam jumlah tertentu
**) Diisi hanya untuk Kantor Cabang Bank Asing, apabila ada
DIREKTUR PENELITIAN DAN
PENGATURAN PERBANKAN,
WIMBOH SANTOSO
404
2
Lampiran 5
LAMPIRAN 3
SURAT EDARAN BANK INDONESIA
NOMOR 13/30 /DPNP TANGGAL 16 DESEMBER 2011
PERIHAL
PERUBAHAN KETIGA ATAS SURAT EDARAN BANK INDONESIA NOMOR 3/30/DPNP
TANGGAL 14 DESEMBER 2001 PERIHAL LAPORAN KEUANGAN PUBLIKASI
TRIWULANAN DAN BULANAN BANK UMUM SERTA LAPORAN TERTENTU YANG
DISAMPAIKAN KEPADA BANK INDONESIA
LAPORAN KOMITMEN DAN KONTINJENSI TRIWULANAN
Bank
:
Tanggal :
No.
I
POS-POS
BANK
Posisi
Posisi 31 Desember
Tgl. Laporan
Tahun Sebelumnya
(dalam jutaan rupiah)
KONSOLIDASIAN
Posisi
Posisi 31 Desember
Tgl. Laporan
Tahun Sebelumnya
TAGIHAN KOMITMEN
1. Fasilitas pinjaman yang belum ditarik
a. Rupiah
b. Valuta asing
2. Posisi pembelian spot dan derivatif yang masih berjalan
3. Lainnya
II KEWAJIBAN KOMITMEN
1. Fasilitas kredit kepada nasabah yang belum ditarik
a. BUMN
i.
Committed
- Rupiah
- Valuta asing
ii. Uncommitted
- Rupiah
- Valuta asing
b.
Lainnya
i.
Committed
ii. Uncommitted
2. Fasilitas kredit kepada bank lain yang belum ditarik
a. Committed
i.
Rupiah
ii. Valuta asing
b. Uncommitted
i.
Rupiah
ii. Valuta asing
3. Irrevocable L/C yang masih berjalan
a. L/C luar negeri
b. L/C dalam negeri
4. Posisi penjualan spot dan derivatif yang masih berjalan
5. Lainnya
III. TAGIHAN KONTINJENSI
1. Garansi yang diterima
a. Rupiah
b. Valuta asing
2. Pendapatan bunga dalam penyelesaian
a. Bunga kredit yang diberikan
b. Bunga lainnya
3. Lainnya
IV. KEWAJIBAN KONTINJENSI
1. Garansi yang diberikan
a. Rupiah
b. Valuta asing
2. Lainnya
405
Lampiran 5a
Lampiran 3 a Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 13/30/DPNP tanggal 16 Desember 2011
LAPORAN KOMITMEN DAN KONTINJENSI BULANAN
DONE 28 JAN 2010
Bank :
Tanggal :
(dalam jutaan rupiah)
No.
POS-POS
BANK
Posisi Tgl. Laporan
I TAGIHAN KOMITMEN
1. Fasilitas pinjaman yang belum ditarik
a. Rupiah
b. Valuta asing
2. Posisi pembelian spot dan derivatif yang masih berjalan
3. Lainnya
II KEWAJIBAN KOMITMEN
1. Fasilitas kredit kepada nasabah yang belum ditarik
a. BUMN
i. Committed
- Rupiah
- Valuta asing
ii. Uncommitted
- Rupiah
- Valuta asing
b. Lainnya
i. Committed
ii. Uncommitted
2. Fasilitas kredit kepada bank lain yang belum ditarik
a. Committed
i. Rupiah
ii. Valuta asing
b. Uncommitted
i. Rupiah
ii. Valuta asing
3. Irrevocable L/C yang masih berjalan
a. L/C luar negeri
b. L/C dalam negeri
4. Posisi penjualan spot dan derivatif yang masih berjalan
5. Lainnya
406
1
Lanjutan Lampiran 5a
Lampiran 3 a Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 13/30/DPNP tanggal 16 Desember 2011
LAPORAN KOMITMEN DAN KONTINJENSI BULANAN
DONE 28 JAN 2010
Bank :
Tanggal :
(dalam jutaan rupiah)
No.
POS-POS
BANK
Posisi Tgl. Laporan
III. TAGIHAN KONTINJENSI
1. Garansi yang diterima
a. Rupiah
b. Valuta asing
2. Pendapatan bunga dalam penyelesaian
a. Bunga kredit yang diberikan
b. Bunga lainnya
3. Lainnya
IV. KEWAJIBAN KONTINJENSI
1. Garansi yang diberikan
a. Rupiah
b. Valuta asing
2. Lainnya
DIREKTUR PENELITIAN DAN
PENGATURAN PERBANKAN,
WIMBOH SANTOSO
407
2
Lampiran 6
LAMPIRAN 4
SURAT EDARAN BANK INDONESIA
NOMOR 13/30/DPNP TANGGAL 16 DESEMBER 2011
PERIHAL
PERUBAHAN KETIGA ATAS SURAT EDARAN BANK INDONESIA NOMOR 3/30/DPNP
TANGGAL 14 DESEMBER 2001 PERIHAL LAPORAN KEUANGAN PUBLIKASI
TRIWULANAN DAN BULANAN BANK UMUM SERTA LAPORAN TERTENTU YANG
DISAMPAIKAN KEPADA BANK INDONESIA
LAPORAN TRANSAKSI SPOT DAN DERIVATIF TRIWULANAN
Bank
:
Tanggal
:
(dalam jutaan rupiah)
BANK
TRANSAKSI
NO.
Nilai Notional
Tujuan
Trading
Hedging
Tagihan dan Liabilitas Derivatif
Tagihan
Liabilitas
A. Terkait dengan Nilai Tukar
1
Spot
2
Forward
3
Option
a. Jual
b. Beli
4
Future
5
Swap
6
Lainnya
B. Terkait dengan Suku Bunga
1
Forward
2
Option
a. Jual
b. Beli
3
Future
4
Swap
5
Lainnya
C. Lainnya
JUMLAH
DIREKTUR PENELITIAN DAN
PENGATURAN PERBANKAN,
WIMBOH SANTOSO
408
Lampiran 7
LAMPIRAN 5
SURAT EDARAN BANK INDONESIA
NOMOR 13/30 /DPNP TANGGAL 16 DESEMBER 2011
PERIHAL
PERUBAHAN KETIGA ATAS SURAT EDARAN BANK INDONESIA NOMOR 3/30/DPNP TANGGAL 14 DESEMBER 2001
PERIHAL LAPORAN KEUANGAN PUBLIKASI TRIWULANAN DAN BULANAN BANK UMUM SERTA LAPORAN
TERTENTU YANG DISAMPAIKAN KEPADA BANK INDONESIA
LAPORAN KUALITAS ASET PRODUKTIF DAN INFORMASI LAINNYA
TRIWULANAN
Bank
:
Tanggal
:
(dalam jutaan rupiah)
BANK
No.
POS-POS
L
DPK
Posisi Tanggal Laporan
KL
D
M
Jumlah
L
Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya
DPK
KL
D
M
Jumlah
I. PIHAK TERKAIT
1. Penempatan pada bank lain
a. Rupiah
b. Valuta asing
2. Tagihan spot dan derivatif
a. Rupiah
b. Valuta asing
3. Surat berharga
a. Rupiah
b. Valuta asing
4. Surat berharga yang dijual dengan janji dibeli
kembali (Repo )
a. Rupiah
b. Valuta asing
5. Tagihan atas surat berharga yang dibeli dengan janji
dijual kembali (Reverse Repo )
a. Rupiah
b. Valuta asing
6. Tagihan akseptasi
7. Kredit
a. Debitur Usaha Mikro, Kecil dan Menengah
(UMKM)
i. Rupiah
ii. Valuta asing
b. Bukan debitur UMKM
i. Rupiah
ii. Valuta asing
c. Kredit yang direstrukturisasi
i. Rupiah
ii. Valuta asing
d. Kredit properti
8. Penyertaan
9. Penyertaan modal sementara
10. Komitmen dan kontinjens
a. Rupiah
b. Valuta asing
11. Aset yang diambil alih
II PIHAK TIDAK TERKAIT
1. Penempatan pada bank lain
a. Rupiah
b. Valuta asing
2. Tagihan spot dan derivatif
a. Rupiah
b. Valuta asing
3. Surat berharga
a. Rupiah
b. Valuta asing
4. Surat berharga yang dijual dengan janji dibeli
kembali (Repo )
a. Rupiah
b. Valuta asing
5. Tagihan atas surat berharga yang dibeli dengan janji
dijual kembali (Reverse Repo )
a. Rupiah
b. Valuta asing
6. Tagihan Akseptasi
4091
Lanjutan Lampiran 7
LAMPIRAN 5
SURAT EDARAN BANK INDONESIA
NOMOR 13/30 /DPNP TANGGAL 16 DESEMBER 2011
PERIHAL
PERUBAHAN KETIGA ATAS SURAT EDARAN BANK INDONESIA NOMOR 3/30/DPNP TANGGAL 14 DESEMBER 2001
PERIHAL LAPORAN KEUANGAN PUBLIKASI TRIWULANAN DAN BULANAN BANK UMUM SERTA LAPORAN
TERTENTU YANG DISAMPAIKAN KEPADA BANK INDONESIA
LAPORAN KUALITAS ASET PRODUKTIF DAN INFORMASI LAINNYA
TRIWULANAN
Bank
:
Tanggal
:
(dalam jutaan rupiah)
BANK
No.
POS-POS
L
DPK
Posisi Tanggal Laporan
KL
D
M
Jumlah
L
Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya
DPK
KL
D
M
Jumlah
7. Kredit
a. Debitur Usaha Mikro, Kecil dan Menengah
(UMKM)
i. Rupiah
ii. Valuta asing
b. Bukan debitur UMKM
i. Rupiah
ii. Valuta asing
c. Kredit yang direstrukturisasi
i. Rupiah
ii. Valuta asing
d. Kredit properti
8. Penyertaan
9. Penyertaan modal sementara
10. Transaksi rekening administratif
a. Rupiah
b. Valuta asing
11. Aset yang diambil alih
III INFORMASI LAIN
1. Total aset bank yang dijaminkan :
a. Pada Bank Indonesia
b. Pada pihak lain
2. Total CKPN aset keuangan atas aset produktif
3. Total PPA yang wajib dibentuk atas aset produktif
4. Persentase kredit kepada UMKM terhadap total
kredit
5. Persentase kredit kepada Usaha Mikro Kecil
(UMK) terhadap total kredit
6. Persentase jumlah debitur UMKM terhadap total
debitur
7. Persentase jumlah debitur Usaha Mikro Kecil
(UMK) terhadap total debitur
8. Lainnya
a. Penerusan kredit
b. Penyaluran dana Mudharabah Muqayyadah
c. Aset produktif yang dihapus buku
d. Aset produktif dihapusbuku yang
dipulihkan/berhasil ditagih
e. Aset produktif yang dihapus tagih
CADANGAN PENYISIHAN KERUGIAN
No.
POS-POS
Posisi Tanggal Laporan
CKPN
PPA wajib dibentuk
Individual
Kolektif
Umum
Khusus
Posisi Tanggal Laporan Tahun Sebelumnya
CKPN
PPA wajib dibentuk
Individual
Kolektif
Umum
Khusus
1. Penempatan pada bank lain
2. Tagihan spot dan derivatif
3. Surat berharga
4. Surat berharga yang dijual dengan janji dibeli
kembali (Repo )
5. Tagihan atas surat berharga yang dibeli dengan janji
dijual kembali (Reverse Repo )
6. Tagihan akseptasi
7. Kredit
8. Penyertaan
9. Penyertaan modal sementara
10. Transaksi rekening adminitratif
4102
Lampiran 7a
Lampiran 5a Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 13/30/DPNP tanggal 16 Desember 2011
LAPORAN KUALITAS ASET PRODUKTIF DAN INFORMASI LAINNYA
BULANAN
Bank
:
Tanggal
:
(dalam jutaan rupiah)
Bank
No.
POS-POS
L
DPK
Posisi Tanggal Laporan
KL
D
M
Jumlah
1. Penempatan pada bank lain
a. Rupiah
b. Valuta asing
2. Tagihan spot dan derivatif
a. Rupiah
b. Valuta asing
3. Surat berharga
a. Rupiah
b. Valuta asing
4. Surat berharga yang dijual dengan janji dibeli
kembali (Repo )
a. Rupiah
b. Valuta asing
5. Tagihan atas surat berharga yang dibeli dengan
janji dijual kembali (Reverse Repo )
a. Rupiah
b. Valuta asing
6. Tagihan akseptasi
7. Kredit
a. Debitur Usaha Mikro, Kecil dan Menengah
(UMKM)
i. Rupiah
ii. Valuta asing
b. Bukan debitur UMKM
i. Rupiah
ii. Valuta asing
c. Kredit yang direstrukturisasi
i. Rupiah
ii. Valuta asing
d. Kredit properti
8. Penyertaan
9. Penyertaan modal sementara
10. Komitmen dan kontinjensi
a. Rupiah
b. Valuta asing
11. Aset yang diambil alih
411
Lampiran 5a Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 13/30/DPNP tanggal 16 Desember 2011
Lanjutan Lampiran 7a
LAPORAN KUALITAS ASET PRODUKTIF DAN INFORMASI LAINNYA
BULANAN
Bank
:
Tanggal
:
CADANGAN PENYISIHAN KERUGIAN
No.
POS-POS
1.
Penempatan pada bank lain
2.
Tagihan spot dan derivatif
3.
Surat berharga
4.
Surat berharga yang dijual dengan janji dibeli
kembali (Repo )
5.
Tagihan atas surat berharga yang dibeli dengan
janji dijual kembali (Reverse Repo )
6.
Tagihan akseptasi
7.
Kredit
8.
Penyertaan
9.
Penyertaan modal sementara
10.
Transaksi rekening administratif
Posisi Tanggal Laporan
PPA wajib dibentuk
CKPN
Individual Kolektif
Umum
Khusus
DIREKTUR PENELITIAN DAN
PENGATURAN PERBANKAN,
WIMBOH SANTOSO
412
Lampiran 8.1
413
Lanjutan Lampiran 8.1
414
Lampiran 8.a.1
415
Lampiran 8.2
416
Lampiran 8.a.2
Lampiran 6.a.2 Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 13/30/DPNP tanggal 1 Desember 2011
LAPORAN PERHITUNGAN KEWAJIBAN PENYEDIAAN MODAL MINIMUM BULANAN BANK ASING
Bank
:
Tanggal :
(dalam jutaan rupiah)
Posisi Tanggal
Laporan
Komponen Modal
I. KOMPONEN MODAL
1. Dana Usaha
1.1 Dana usaha
1.2 Modal disetor
2. Cadangan
2.1 Cadangan umum
2.2 Cadangan tujuan
3. Laba (rugi) tahun-tahun lalu yang dapat diperhitungkan (100%)
4. Laba (rugi) tahun berjalan yang dapat diperhitungkan (50%)
5. Dana setoran modal
6. Pendapatan komprehensif lainnya : kerugian berasal dari penurunan penyertaan dalam kelompok
tersedia utk dijual (100%)
7. Pendapatan komprehensif lainnya : keuntungan berasal dari peningkatan penyertaan dalam kelompok
tersedia utk dijual (45%)
8. Revaluasi aset tetap (45%)
9. Selisih kurang antara PPA dan cadangan kerugian penurunan nilai atas aset produktif
10. Penyisihan Penghapusan Aset (PPA) atas aset non produktif yang wajib dihitung
11. Selisih kurang jumlah penyesuaian nilai wajar dari instrumen keuangan dalam trading book
12. Cadangan umum aset produktif (maks. 1,25% dari ATMR)
13. Faktor pengurang modal
Eksposur sekuritisasi
II. MODAL BANK ASING ( Jumlah 1 s.d 12 - 13 )
III.
IV.
V.
VI.
ASET TERTIMBANG MENURUT RISIKO (ATMR) UNTUK RISIKO KREDIT *)
ASET TERTIMBANG MENURUT RISIKO (ATMR) UNTUK RISIKO OPERASIONAL
ASET TERTIMBANG MENURUT RISIKO (ATMR) UNTUK RISIKO PASAR
RASIO KEWAJIBAN PENYEDIAAN MODAL MINIMUM UNTUK RISIKO KREDIT, RISIKO
OPERASIONAL DAN RISIKO PASAR [II : (III + IV + V)]
*) Setelah dikurangi ATMR untuk Risiko Kredit atas seluruh surat berharga dalam Trading Book yang telah diperhitungkan Risiko Pasar
(Risiko Spesifik) untuk posisi Desember 2011
DIREKTUR PENELITIAN DAN
PENGATURAN PERBANKAN,
WIMBOH SANTOSO
417
Lampiran 9
LAMPIRAN 7
SURAT EDARAN BANK INDONESIA
NOMOR 13/30/DPNP TANGGAL 16 DESEMBER 2011
PERIHAL
PERUBAHAN KETIGA ATAS SURAT EDARAN BANK INDONESIA
NOMOR 3/30/DPNP TANGGAL 14 DESEMBER 2001 PERIHAL
LAPORAN KEUANGAN PUBLIKASI TRIWULANAN DAN BULANAN
BANK UMUM SERTA LAPORAN TERTENTU YANG DISAMPAIKAN
KEPADA BANK INDONESIA
LAPORAN RASIO KEUANGAN TRIWULANAN
Bank : ……………………………….
Posisi : ………………………………
Rasio
Posisi Tanggal
Laporan
(dalam %)
Posisi Tanggal
Laporan Tahun
Sebelumnya
Rasio Kinerja
1.
Kewajiban
Penyediaan
Modal
Minimum (KPMM)
2. Aset produktif bermasalah dan aset
non produktif bermasalah terhadap
total aset produktif dan aset non
produktif
3. Aset produktif bermasalah terhadap
total aset produktif
4. Cadangan Kerugian Penurunan
Nilai (CKPN) aset keuangan
terhadap aset produktif
5. NPL gross
6. NPL net
7. Return on Asset (ROA)
8. Return on Equity (ROE)
9. Net Interest Margin (NIM)
10. Biaya
Operasional
terhadap
Pendapatan Operasional (BOPO)
11. Loan to Deposit Ratio (LDR)
1
418
Lanjutan Lampiran 9
LAMPIRAN 7
SURAT EDARAN BANK INDONESIA
NOMOR 13/30/DPNP TANGGAL 16 DESEMBER 2011
PERIHAL
PERUBAHAN KETIGA ATAS SURAT EDARAN BANK INDONESIA
NOMOR 3/30/DPNP TANGGAL 14 DESEMBER 2001 PERIHAL
LAPORAN KEUANGAN PUBLIKASI TRIWULANAN DAN BULANAN
BANK UMUM SERTA LAPORAN TERTENTU YANG DISAMPAIKAN
KEPADA BANK INDONESIA
LAPORAN RASIO KEUANGAN TRIWULANAN
Bank : ……………………………….
Posisi : ………………………………
Rasio
Posisi Tanggal
Laporan
(dalam %)
Posisi Tanggal
Laporan Tahun
Sebelumnya
Kepatuhan (Compliance)
1.
a. Persentase pelanggaran BMPK
i. Pihak terkait
ii. Pihak tidak terkait
b. Persentase pelampauan BMPK
i. Pihak terkait
ii. Pihak tidak terkait
2.
3.
Giro Wajib Minimum (GWM)
a. GWM utama rupiah
b. GWM valuta asing
Posisi Devisa Neto (PDN) secara
keseluruhan
DIREKTUR PENELITIAN DAN
PENGATURAN PERBANKAN,
WIMBOH SANTOSO
2
419
Lampiran 10
420
Lanjutan Lampiran 10
LAMPIRAN 8
SURAT EDARAN BANK INDONESIA
NOMOR 13/30/DPNP TANGGAL 16 DESEMBER 2011
PERIHAL
PERUBAHAN KETIGA ATAS SURAT EDARAN BANK INDONESIA NOMOR 3/30/DPNP TANGGAL 14 DESEMBER
2001 PERIHAL LAPORAN KEUANGAN PUBLIKASI TRIWULANAN DAN BULANAN BANK UMUM SERTA
LAPORAN TERTENTU YANG DISAMPAIKAN KEPADA BANK INDONESIA
PEDOMAN PENYUSUNAN LAPORAN POSISI KEUANGAN/NERACA TRIWULANAN
POS NERACA
LAPORAN KEUANGAN PUBLIKASI
No.
POS NERACA
LAPORAN BULANAN BANK UMUM (LBU)
Sandi LBU
Ekuitas
17.
18.
19.
Modal disetor
17. Modal disetor
a. Modal dasar
a. Modal dasar
b. Modal yang belum disetor -/-
b. Modal yang belum disetor -/-
422
c. Saham yang dibeli kembali (treasury stock ) -/-
c. Saham yang dibeli kembali (treasury stock ) -/-
423
Tambahan modal disetor
18. Tambahan modal disetor
a. Agio
a. Agio
431
b. Disagio -/-
b. Disagio -/-
432
c. Modal sumbangan
c. Modal sumbangan
433
d. Dana setoran modal
d. Dana setoran modal
455
e. Lainnya
e. Lainnya
Pendapatan (kerugian) komprehensif lainnya
i. Faktor penambah
453
ii. Faktor pengurang -/-
454
19. Pendapatan (kerugian) komprehensif lainnya
a. Penyesuaian akibat penjabaran laporan keuangan
a. Penyesuaian akibat penjabaran laporan keuangan
b. keuntungan (kerugian) dari perubahan nilai aset keuangan dalam
i. Faktor penambah
436
ii. Faktor pengurang -/-
437
b. keuntungan (kerugian) dari perubahan nilai aset keuangan dalam diisi oleh Bank (sebagian dari 440 atau 445)
kelompok tersedia untuk dijual
kelompok tersedia untuk dijual
c. lindung nilai arus kas
d. Selisih penilaian kembali aset tetap
d. Selisih penilaian kembali aset tetap
e. bagian pendapatan komprehensif lain dari entitas asosiasi
e. bagian pendapatan komprehensif lain dari entitas asosiasi
diisi oleh Bank (sebagian dari 440 atau 445)
f. keuntungan (kerugian) aktuarial program manfaat pasti
f. keuntungan (kerugian) aktuarial program manfaat pasti
diisi oleh Bank (sebagian dari 440 atau 445)
g. pajak penghasilan terkait dengan laba komprehensif lain
g. pajak penghasilan terkait dengan laba komprehensif lain
diisi oleh Bank (sebagian dari 440 atau 445)
h. lainnya
h. Lainnya
diisi oleh Bank (sebagian dari 440 atau 445)
Selisih kuasi reorganisasi 4)
20. Selisih kuasi reorganisasi
21.
Selisih restrukturisasi entitas sepengendali 5)
21. Selisih restrukturisasi entitas sepengendali
22.
Ekuitas lainnya
22. Ekuitas lainnya
Cadangan
23. Cadangan
24.
diisi oleh Bank (sebagian dari 440 atau 445)
c. lindung nilai arus kas
20.
23.
421
456
Diisi Bank
457
sebagian dari 410 ***)
a. Cadangan umum
a. Cadangan umum
451
b. Cadangan tujuan
b. Cadangan tujuan
452
Laba/rugi
24. Laba/rugi
a. Tahun-tahun lalu
a. Tahun-tahun lalu
b. Tahun berjalan
i. Laba
461
ii. Rugi -/-
462
b. Tahun berjalan
i. Laba
465
ii. Rugi -/-
466
TOTAL EKUITAS YANG DAPAT DIATRIBUSIKAN
KEPADA BANK
25.
Kepentingan non pengendali 6)
25. Kepentingan minoritas (Minority interest)
398 (LBU Konsolidasi)
TOTAL EKUITAS
TOTAL LIABILITAS DAN EKUITAS
TOTAL LIABILITAS DAN EKUITAS
490
Keterangan :
1) : Diisi bagi Bank yang memiliki UUS (Unit Usaha Syariah)
Pembiayaan syariah antara lain meliputi Murabahah - net, Salam, Istishna - net, Qardh, Pembiayaan, Ijarah - net, Transaksi multijasa - net.
2) : Aset antarkantor dan Liabilitas antarkantor disajikan secara netto dalam Neraca.
3) : Diisi pada kolom Bank bagi Bank yang memiliki Unit Usaha Syariah (UUS) dan/atau pada kolom konsolidasi dalam hal
terdapat perusahaan anak yang melakukan kegiatan sewa guna usaha
4) : Disi hanya sampai PSAK yang terkait berlaku
5) : Diisi hanya pada kolom Bank
6) : Diisi hanya pada kolom konsolidasi
*)
diisi untuk komponen modal pinjaman yang tidak dapat dimasukkan sebagai pos ekuitas, termasuk bagian dari surat berharga subordinasi yang diterbitkan Bank
(surat berharga subordinasi dengan fitur opsi konversi), yang tidak memenuhi kriteria ekuitas sebagaimana diatur dalam PSAK yang berlaku.
**)
diisi untuk komponen modal pinjaman yang dapat diperhitungkan sebagai modal, antara lain pinjaman subordinasi.
***) diisi untuk komponen modal pinjaman yang dapat dimasukkan sebagai pos ekuitas, termasuk bagian dari surat berharga subordinasi yang diterbitkan Bank
(surat berharga subordinasi dengan fitur opsi konversi), yang memenuhi kriteria ekuitas sebagaimana diatur dalam PSAK yang berlaku, dan saham preferen.
2
421
Lampiran 10a
Lampiran 8a Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 13/30/DPNP tanggal 16 Desember 2011
PEDOMAN PENYUSUNAN LAPORAN POSISI KEUANGAN/NERACA BULANAN
POS NERACA
LAPORAN KEUANGAN PUBLIKASI
No.
ASET
1.
Kas
POS NERACA
LAPORAN BULANAN BANK UMUM (LBU)
ASET
1. Kas
Sandi LBU
100
2.
Penempatan pada Bank Indonesia
2. Penempatan pada Bank Indonesia
120
3.
Penempatan pada bank lain
3. Penempatan pada bank lain
130
4.
Tagihan spot dan derivatif
4. Tagihan spot dan derivatif
135
5.
Surat berharga
5. Surat berharga
a. Diukur pada nilai wajar melalui laporan laba/rugi
a. Diukur pada nilai wajar melalui laporan laba/rugi
i. Diperdagangkan
138
ii. Ditetapkan untuk diukur pada nilai wajar
139
b. Tersedia untuk dijual
b. Tersedia untuk dijual
c. Dimiliki hingga jatuh tempo
c. Dimiliki hingga jatuh tempo
143
144
d. Pinjaman yang diberikan dan piutang
d. Pinjaman yang diberikan dan piutang
145
( )
6. Surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembalirepo
7. Tagihan atas surat berharga yang dibeli dengan janji dijual
kembali (reverse repo )
160
Tagihan atas surat berharga yang dibeli dengan janji dijual kembali
(reverse repo )
8.
Tagihan akseptasi
8. Tagihan akseptasi
166
9.
Kredit
9. Kredit yang diberikan
6.
7.
Surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembalirepo
( )
a. Diukur pada nilai wajar melalui laporan laba/rugi
a. Diukur pada nilai wajar melalui laporan laba/rugi
i. Diperdagangkan
168
ii. Ditetapkan untuk diukur pada nilai wajar
169
b. Tersedia untuk dijual
b. Tersedia untuk dijual
c. Dimiliki hingga jatuh tempo
c. Dimiliki hingga jatuh tempo
173
d. Pinjaman yang diberikan dan piutang
d. Pinjaman yang diberikan dan piutang
175
10.
Pembiayaan syariah 1)
10. Pembiayaan syariah
11.
Penyertaan
11. Penyertaan
12.
Cadangan kerugian penurunan nilai aset keuangan -/-
12. Cadangan kerugian penurunan nilai aset keuangan -/-
200
a. Surat berharga yang dimiliki
201
b. Kredit yang diberikan
202
c. Lainnya
206
Aset tidak berwujud
Aset tetap dan inventaris
Akumulasi penyusutan aset tetap dan inventaris -/-
15.
174 (LBU Gabungan UUS)
a. Surat berharga
Akumulasi amortisasi aset tidak berwujud -/14.
172
b. Kredit
c. Lainnya
13.
164
Aset non produktif
13. Aset tidak berwujud
Akumulasi amortisasi aset tidak berwujud -/14. Aset tetap dan inventaris
Akumulasi penyusutan aset tetap dan inventaris -/-
212
213
214
215
15. Aset non produktif
a. Properti terbengkalai
a. Properti terbengkalai
217
b. Aset yang diambil alih
b. Aset yang diambil alih
218
c. Rekening tunda
c. Rekening tunda
219
d. Aset antar kantor 2)
d. Aset antar kantor
i. Melakukan kegiatan operasional di Indonesia
i. Melakukan kegiatan operasional di Indonesia
ii. Melakukan kegiatan operasional di luar Indonesia
ii. Melakukan kegiatan operasional di luar Indonesia
223
224
16.
Cadangan kerugian penurunan nilai aset lainnya -/-
16. Cadangan kerugian penurunan nilai aset lainnya -/-
17.
Sewa pembiayaan 1)
17. Sewa pembiayaan
18.
Aset pajak tangguhan
18. Aset pajak tangguhan
19.
Aset Lainnya
19. Rupa-rupa aset
230
TOTAL ASET
290
TOTAL ASET
KEWAJIBAN DAN MODAL
Diisi Bank (sesuai CKPN pada sandi 225)
227 (LBU Konsolidasi)
228
KEWAJIBAN DAN MODAL
1.
Giro
1. Giro
300
2.
Tabungan
2. Tabungan
320
3.
Simpanan berjangka
3. Simpanan berjangka
4.
Dana investasi revenue sharing 1)
4. Dana investasi revenue sharing
330
(LBU Gabungan UUS)
a. Giro
320
b. Tabungan
321
c. Simpanan berjangka
322
d. Lainnya
329
5.
Pinjaman dari Bank Indonesia
5. Kewajiban kepada Bank Indonesia
6.
Pinjaman dari bank lain
6. Kewajiban kepada bank lain
340
350
7.
8.
Liabilitas spot dan derivatif
351
Utang atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali
(repo )
7. Kewajiban spot dan derivatif
8. Kewajiban atas surat berharga yang dijual dengan janji dibeli
kembali (repo )
9.
Utang akseptasi
9. Kewajiban akseptasi
10.
Surat berharga yang diterbitkan
10. Surat berharga yang diterbitkan
355
11.
Pinjaman yang diterima
11. Pinjaman yang diterima
360
352
353
1
422
Lanjutan Lampiran 10a
Lampiran 8a Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 13/30/DPNP tanggal 16 Desember 2011
PEDOMAN PENYUSUNAN LAPORAN POSISI KEUANGAN/NERACA BULANAN
POS NERACA
LAPORAN KEUANGAN PUBLIKASI
No.
POS NERACA
LAPORAN BULANAN BANK UMUM (LBU)
12.
Setoran jaminan
12. Setoran jaminan
13.
Liabilitas antar kantor 2)
13. Kewajiban antarkantor
370
a. Melakukan kegiatan operasional di Indonesia
a. Melakukan kegiatan operasional di Indonesia
b. Melakukan kegiatan operasional di luar Indonesia
b. Melakukan kegiatan operasional di luar Indonesia
14.
Liabilitas pajak tangguhan
15.
Liabilitas lainnya
15. Rupa-rupa kewajiban
16.
Dana investasi profit sharing 1)
16. Dana investasi profit sharing
17.
Modal disetor
Sandi LBU
393
394
14. Kewajiban pajak tangguhan
396
Diisi bank (sandi 400, tidak termasuk PPA TRA)
401 (LBU Gabungan UUS)
Ekuitas
18.
19.
17. Modal disetor
a. Modal dasar
a. Modal dasar
b. Modal yang belum disetor -/-
b. Modal yang belum disetor -/-
422
c. Saham yang dibeli kembali t(reasury stock ) -/-
c. Saham yang dibeli kembali t(reasury stock ) -/-
423
Tambahan modal disetor
421
18. Tambahan modal disetor
a. Agio
a. Agio
431
b. Disagio -/-
b. Disagio -/-
432
c. Modal sumbangan
c. Modal sumbangan
433
d. Dana setoran modal
d. Dana setoran modal
455
e. Lainnya
e. Lainnya
Pendapatan (kerugian) komprehensif lainnya
a. Penyesuaian akibat penjabaran laporan keuangan
i. Faktor penambah
453
ii. Faktor pengurang -/-
454
19. Pendapatan (kerugian) komprehensif lainnya
a. Penyesuaian akibat penjabaran laporan keuangan
i. Faktor penambah
436
ii. Faktor pengurang -/-
437
b Selisih penilaian kembali aset tetap
b Selisih penilaian kembali aset tetap
c Lainnya
c keuntungan/kerugian komprehensif lainnya
456
440 atau 445
20.
Selisih kuasi reorganisasi 3)
20. Selisih kuasi reorganisasi
21.
Selisih restrukturisasi entitas sepengendali
21. Selisih restrukturisasi entitas sepengendali
457
22.
Modal pinjaman
22. Modal pinjaman
410
Cadangan
23. Cadangan
23.
24.
Diisi Bank
a. Cadangan umum
a. Cadangan umum
451
b. Cadangan tujuan
b. Cadangan tujuan
452
Laba/rugi
a. Tahun-tahun lalu
b. Tahun berjalan
TOTAL LIABILITAS DAN EKUITAS
24. Laba/rugi
a. Tahun-tahun lalu
i. Laba
461
ii. Rugi -/-
462
b. Tahun berjalan
i. Laba
465
ii. Rugi -/-
466
TOTAL KEWAJIBAN DAN MODAL
490
Keterangan :
1) : Diisi bagi Bank yang memiliki UUS (Unit Usaha Syariah)
Pembiayaan syariah antara lain meliputi Murabahah - net, Salam, Istishna - net, Qardh, Pembiayaan, Ijarah - net, Transaksi multijasa - net.
2) : Aset antarkantor dan Liabilitas antarkantor disajikan secara netto dalam Neraca.
3) : Disi hanya sampai PSAK yang terkait berlaku
DIREKTUR PENELITIAN DAN
PENGATURAN PERBANKAN,
WIMBOH SANTOSO
2
423
Lampiran 11
424
Lanjutan Lampiran 11
425
Lanjutan Lampiran 11
426
Lanjutan Lampiran 11
427
Lanjutan Lampiran 11
LAMPIRAN 9
SURAT EDARAN BANK INDONESIA
NOMOR 13/30/DPNP TANGGAL 16 DESEMBER 2011
PERIHAL
PERUBAHAN KETIGA ATAS SURAT EDARAN BANK INDONESIA NOMOR 3/30/DPNP
TANGGAL 14 DESEMBER 2001 PERIHAL LAPORAN KEUANGAN PUBLIKASI TRIWULANAN
DAN BULANAN BANK UMUM SERTA LAPORAN TERTENTU YANG DISAMPAIKAN KEPADA
BANK INDONESIA
PEDOMAN PENYUSUNAN LAPORAN LABA RUGI KOMPREHENSIF TRIWULANAN
No.
POS-POS LKP
LBU 2008
Sandi
LBU
LABA (RUGI) NON OPERASIONAL
4450 atau 4500
LABA (RUGI) TAHUN BERJALAN
4550 atau 4600
Pajak penghasilan
a. Taksiran pajak tahun berjalan -/b. Pendapatan (beban) pajak tangguhan
LABA (RUGI) BERSIH
4935
4940 atau 4945
4950 atau 5000
PENDAPATAN KOMPREHENSIF LAIN
a. Penyesuaian akibat penjabaran laporan keuangan dalam mata uang asing
b. keuntungan (kerugian) dari perubahan nilai aset keuangan dalam kelompok
tersedia untuk dijual
diisi oleh Bank
diisi oleh Bank
c. lindung nilai arus kas
diisi oleh Bank
d. keuntungan revaluasi aset tetap
diisi oleh Bank
e. bagian pendapatan komprehensif lain dari entitas asosiasi
diisi oleh Bank
f. keuntungan (kerugian) aktuarial program manfaat pasti
diisi oleh Bank
g. pajak penghasilan terkait dengan laba komprehensif lain
diisi oleh Bank
h. lainnya
diisi oleh Bank
Pendapatan komprehensif lain tahun berjalan - net pajak penghasilan terkait
TOTAL LABA KOMPREHENSIF TAHUN BERJALAN
Laba yang dapat diatribusikan kepada :
PEMILIK
diisi oleh Bank
KEPENTINGAN NON PENGENDALI
diisi oleh Bank
TOTAL LABA TAHUN BERJALAN
Total Laba Komprehensif yang dapat diatribusikan kepada :
PEMILIK
diisi oleh Bank
KEPENTINGAN NON PENGENDALI
diisi oleh Bank
TOTAL LABA KOMPREHENSIF TAHUN BERJALAN
TRANSFER LABA (RUGI) KE KANTOR PUSAT
4850 atau 4900
DIVIDEN
LABA BERSIH PER SAHAM
*)
Diisi untuk kerugian yang kemungkinan besar akan terjadi loss dalam jumlah tertentu
5
428
Lampiran 11a
429
Lanjutan Lampiran 11a
430
Lanjutan Lampiran 11a
431
Lanjutan Lampiran 11a
Lampiran 9a Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 13/30/DPNP tanggal 16 Desember 2011
PEDOMAN PENYUSUNAN LAPORAN LABA RUGI BULANAN
No.
POS-POS LKP
e. Kerugian penurunan nilai aset keuangan (impairment )
LBU 2008
i.
Forward
2965
ii.
Futures
2970
iii. Swap
2975
iv. Option
2980
v.
Spot
2985
vi. Lainnya
3000
e. Kerugian penurunan nilai aset keuangan (impairment )
i. Surat berharga 1)
i.
Surat berharga
3190
ii. Kredit 1)
ii.
Kredit
3220
iii.Pembiayaan syariah 2)
iii. Pembiayaan syariah
iv. Aset keuangan lainnya 1)
iv. Aset keuangan lainnya
1) Penempatan dana antar bank
f. Kerugian terkait risiko operasional
f. i.
ii.
3180
3200
4) Tagihan akseptasi
3210
5) Penyertaan
3230
6) Lainnya
3300
Penyisihan kerugian risiko operasional
1) Kecurangan internal
3560
2) Kejahatan eksternal
3561
3) Praktek ketenagakerjaan dan keselamatan tenaga kerja
3562
4) Klien, produk, dan praktek bisnis
3563
5) Kerusakan aset fisik
3564
6) Gangguan aktivitas bisnis dan kegagalan sistem
3565
7) Manajemen eksekusi, pengiriman dan pemrosesan
3570
h. Komisi/provisi/fee dan administrasi
i.
Komisi/provisi kredit
ii.
Komisi/provisi dari transaksi derivatif
Beban tenaga kerja
j.
3020
3030
3040
iv. lainnya
3100
i.
Kerugian penurunan nilai aset lainnya (non keuangan)
1) Aset tidak berwujud
Diisi Bank (sebagian dari 3420)
2) Aset tetap dan inventaris
Diisi Bank (sebagian dari 3430)
3) Properti terbengkalai
Diisi Bank (sebagian dari 3440)
4) Aset yang diambil alih
Diisi Bank (sebagian dari 3450)
5) Rekening tunda
Diisi Bank (sebagian dari 3460)
6) Antar kantor
Diisi Bank (sebagian dari 3470)
7) Lainnya
Diisi Bank (sebagian dari 3550)
Kerugian penurunan nilai rupa-rupa aset
Diisi Bank (sebagian dari 3555)
Beban tenaga kerja
i.
Gaji dan upah
3640
ii.
Honorarium Komisaris/Dewan Pengawas
3650
iii. Lainnya
k. Beban promosi
k. Beban promosi
l.
l.
Beban lainnya
3010
iii. Fee atas kredit kelolaan
ii.
j.
3320 *)
Kerugian terkait risiko operasional
h. Komisi/provisi/fee dan administrasi
i.
3170
3) Tagihan reverse repo
g. Kerugian dari penyertaan dengan equity method
Kerugian penurunan nilai aset lainnya
3225 (LBU Gabungan UUS)
2) Tagihan derivatif
g. Kerugian dari penyertaan dengan equity method
i.
Sandi
LBU
i.
3690
3850
Premi asuransi
1) kredit
3110
5
432
Lanjutan Lampiran 11a
Lampiran 9a Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 13/30/DPNP tanggal 16 Desember 2011
PEDOMAN PENYUSUNAN LAPORAN LABA RUGI BULANAN
No.
POS-POS LKP
Sandi
LBU
LBU 2008
ii.
2) penjaminan dana pihak ketiga
3120
3) kerugian operasional
3130
4) lainnya
3160
Penyusutan dan amortisasi
1) aset tetap dan inventaris
3340
2) aktiva ijarah
3345 (LBU Gabungan UUS)
3) beban yang ditangguhkan
3350
4) aset tidak berwujud
3360
5) lainnya
3400
iii. Kerugian restrukturisasi kredit
3410
iv. Pendidikan dan latihan
3700
v.
Penelitian dan pengembangan
3750
vi. Sewa
3800
vii. Pajak-pajak (tidak termasuk pajak penghasilan)
3900
viii. Pemeliharaan dan perbaikan
3950
ix. Barang dan jasa
1) Jasa pengolahan teknologi, sistem dan informasi
4000
x.
2) Lainnya
4010
Lainnya
4050
Pendapatan (beban) Operasional Selain Bunga Bersih
1800 - 2500
LABA (RUGI) OPERASIONAL
4150 atau 4200
PENDAPATAN (BEBAN) NON OPERASIONAL
1.
keuntungan (kerugian) penjualan aset tetap dan inventaris
2.
keuntungan (kerugian) penjabaran transaksi valuta asing
3.
Pendapatan (beban) non operasional lainnya
4220 - 4310
4240 - 4330
Pendapatan (beban) non operasional
a. Sewa
4210
b. Penerimaan klaim asuransi kerugian operasional
c. Lainnya
4250
4300 - 4400
LABA (RUGI) NON OPERASIONAL
4450 atau 4500
LABA (RUGI) TAHUN BERJALAN
4550 atau 4600
Pajak penghasilan
a. Taksiran pajak tahun berjalan -/-
4935
b. Pendapatan (beban) pajak tangguhan
4940 atau 4945
LABA (RUGI) BERSIH
4950 atau 5000
TRANSFER LABA (RUGI) KE KANTOR PUSAT
4850 atau 4900
*)
Diisi untuk kerugian yang kemungkinan besar akan terjadi loss dalam jumlah tertentu
DIREKTUR PENELITIAN DAN
PENGATURAN PERBANKAN,
WIMBOH SANTOSO
5
433
Lampiran 12
LAMPIRAN 10
SURAT EDARAN BANK INDONESIA
NOMOR 13/30/DPNP TANGGAL 16 DESEMBER 2011
PERIHAL
PERUBAHAN KETIGA ATAS SURAT EDARAN BANK INDONESIA
NOMOR 3/30/DPNP TANGGAL 14 DESEMBER 2001 PERIHAL
LAPORAN KEUANGAN PUBLIKASI TRIWULANAN DAN BULANAN
BANK UMUM SERTA LAPORAN TERTENTU YANG DISAMPAIKAN
KEPADA BANK INDONESIA
PEDOMAN PENYUSUNAN LAPORAN KOMITMEN DAN KONTINJENSI
POS KOMITMEN DAN KONTINJENSI
LAPORAN KEUANGAN PUBLIKASI
No.
I
POS KOMITMEN DAN KONTINJENSI
LAPORAN BULANAN BANK UMUM
Sandi
TAGIHAN KOMITMEN
TAGIHAN KOMITMEN
1. Fasilitas pinjaman yang belum ditarik
1.
Fasilitas pinjaman yang belum ditarik
495
2. Posisi pembelian spot dan derivatif yang masih berjalan
2.
Posisi pembelian spot dan derivatif yang masih berjalan
521
3. Lainnya
3.
II KEWAJIBAN KOMITMEN
1. Fasilitas kredit kepada nasabah yang belum ditarik
Terkait dengan bank
525
b.
Tidak terkait dengan bank
529
KEWAJIBAN KOMITMEN
1.
a. BUMN
i.
Lainnya
a.
Fasilitas kredit kepada nasabah yang belum ditarik
a.
Committed
ii. Uncommitted
b.
Lainnya
i.
b.
Committed
ii. Uncommitted
2. Fasilitas kredit kepada bank lain yang belum ditarik
2.
BUMN
i.
Committed
533
ii.
Uncommitted
535
Lainnya
i.
Committed
536
ii.
Uncommitted
538
Fasilitas kredit kepada bank lain yang belum ditarik
a. Committed
a.
Committed
542
b. Uncommitted
b.
Uncommitted
544
3. Irrevocable L/C yang masih berjalan
3.
a. L/C luar negeri
b. L/C dalam negeri
Irrevocable L/C yang masih berjalan
a.
L/C luar negeri
561
b.
L/C dalam negeri
562
4. Posisi penjualan spot dan derivatif yang masih berjalan
4.
Posisi penjualan spot dan derivatif yang masih berjalan
570
5. Lainnya
5.
Lainnya
589
III. TAGIHAN KONTINJENSI
TAGIHAN KONTINJENSI
1. Garansi yang diterima
1.
Garansi yang diterima
2. Pendapatan bunga dalam penyelesaian
2.
Pendapatan bunga dalam penyelesaian
591
a. Bunga kredit yang diberikan
a.
Bunga kredit yang diberikan
592
b. Bunga lainnya
b.
Bunga lainnya
597
3. Lainnya
IV. KEWAJIBAN KONTINJENSI
3.
Lainnya
598
KEWAJIBAN KONTINJENSI
1. Garansi yang diberikan
1.
Garansi yang diberikan
599
2. Lainnya
2.
Lainnya
609
DIREKTUR PENELITIAN DAN
PENGATURAN PERBANKAN,
WIMBOH SANTOSO
434
Lampiran 13
435
Lanjutan Lampiran 13
436
Lampiran 14
LAMPIRAN 12
SURAT EDARAN BANK INDONESIA
NOMOR 13/30/DPNP TANGGAL 16 DESEMBER 2011
PERIHAL
PERUBAHAN KETIGA ATAS SURAT EDARAN BANK
INDONESIA NOMOR 3/30/DPNP TANGGAL 14
DESEMBER 2001 PERIHAL LAPORAN KEUANGAN
PUBLIKASI TRIWULANAN DAN BULANAN BANK
UMUM
SERTA
LAPORAN
TERTENTU
YANG
DISAMPAIKAN KEPADA BANK INDONESIA
PEDOMAN PENYUSUNAN LAPORAN KUALITAS ASET PRODUKTIF
DAN INFORMASI LAINNYA
1. Pos-pos Aset Produktif dan Aset Non Produktif disajikan dalam kelompok Pihak
Terkait dan Pihak Tidak Terkait. Pihak Terkait adalah pihak terkait dengan bank
sebagaimana ditetapkan dalam ketentuan Bank Indonesia mengenai batas
maksimum pemberian kredit.
2. Aset Produktif dan Aset Non Produktif selanjutnya dirinci berdasarkan
kualitasnya, yaitu Lancar (L), Dalam Perhatian Khusus (DPK), Kurang Lancar
(KL), Diragukan (D), dan Macet (M) sesuai ketentuan Bank Indonesia mengenai
penilaian kualitas aset bank umum.
3. Definisi pos-pos neraca dalam Lampiran 5 mengacu pada definisi dalam
Laporan Bulanan Bank Umum (LBU).
4. Kredit yang diberikan dibagi dalam 3 bagian, yaitu:
a. Debitur Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM)
Yaitu kredit yang diberikan kepada debitur Usaha Mikro, Kecil, dan
Menengah (UMKM). Pengertian UMKM
mengacu pada
peraturan
perundang-undangan yang berlaku, yaitu saat ini diatur dalam UndangUndang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro,
Kecil, dan Menengah. Dalam pos ini dilaporkan seluruh jenis kredit yang
diberikan kepada debitur UMKM, termasuk kredit properti dan/atau kredit
yang berada dalam status restrukturisasi.
1
437
Lanjutan Lampiran 14
LAMPIRAN 12
SURAT EDARAN BANK INDONESIA
NOMOR 13/30/DPNP TANGGAL 16 DESEMBER 2011
PERIHAL
PERUBAHAN KETIGA ATAS SURAT EDARAN BANK
INDONESIA NOMOR 3/30/DPNP TANGGAL 14
DESEMBER 2001 PERIHAL LAPORAN KEUANGAN
PUBLIKASI TRIWULANAN DAN BULANAN BANK
UMUM
SERTA
LAPORAN
TERTENTU
YANG
DISAMPAIKAN KEPADA BANK INDONESIA
b. Bukan Debitur UMKM
Yaitu kredit yang diberikan kepada bukan debitur Usaha Mikro, Kecil, dan
Menengah (UMKM). Dalam pos ini dilaporkan seluruh jenis kredit yang
diberikan kepada bukan debitur UMKM, termasuk kredit properti dan/atau
kredit yang berada dalam status restrukturisasi.
c. Kredit yang Direstrukturisasi
Yaitu total kredit yang berada dalam status restrukturisasi, baik kredit yang
diberikan kepada debitur UMKM maupun yang diberikan kepada bukan
debitur UMKM, termasuk kredit properti.
d. Kredit Properti
Kredit properti merupakan seluruh kredit terkait properti yang diberikan
kepada debitur UMKM maupun bukan debitur UMKM, termasuk kredit
yang berada dalam status restrukturisasi, yang meliputi kredit kepada:
1) Perusahaan real estate, untuk pengadaan tanah dan bangunan termasuk
fasilitasnya untuk dijual/ disewakan;
2) Kontraktor, untuk pembangunan gedung, perkantoran, perumahan dan
pertokoan; dan
3) Perorangan, untuk pemilikan dan pemugaran rumah.
Dalam LBU, kredit properti mencakup :
i. Penerima kredit Lapangan Usaha yang terdiri dari pemberian kredit di
sektor konstruksi (butir F) dan Real Estate (butir K.1);
ii. Penerima kredit Bukan Lapangan Usaha yang terdiri dari rumah tangga
untuk pemilikan rumah tinggal, flat atau apartemen, rumah toko atau
rumah kantor.
2
438
Lanjutan Lampiran 14
LAMPIRAN 12
SURAT EDARAN BANK INDONESIA
NOMOR 13/30/DPNP TANGGAL 16 DESEMBER 2011
PERIHAL
PERUBAHAN KETIGA ATAS SURAT EDARAN BANK
INDONESIA NOMOR 3/30/DPNP TANGGAL 14
DESEMBER 2001 PERIHAL LAPORAN KEUANGAN
PUBLIKASI TRIWULANAN DAN BULANAN BANK
UMUM
SERTA
LAPORAN
TERTENTU
YANG
DISAMPAIKAN KEPADA BANK INDONESIA
5. Komitmen dan Kontinjensi mencakup kewajiban komitmen dan kewajiban
kontinjensi dalam Lampiran 3 – Daftar Komitmen dan Kontinjensi.
6. Total aset Bank yang dijaminkan adalah aset Bank yang diikat sebagai agunan
atas transaksi tertentu. Dalam aset Bank yang dijaminkan tidak termasuk surat
berharga yang dijual dengan janji dibeli kembali (repo).
7. Penyisihan Penghapusan Aset Produktif dan Penyisihan Penghapusan Aset Non
Produktif yang wajib dibentuk mengacu pada ketentuan Bank Indonesia
mengenai penilaian kualitas aktiva bank umum.
8. Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) adalah cadangan yang wajib
dibentuk Bank sesuai ketentuan dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan
(PSAK) mengenai Instrumen Keuangan dan Pedoman Akuntansi Perbankan
Indonesia (PAPI).
DIREKTUR PENELITIAN DAN
PENGATURAN PERBANKAN,
WIMBOH SANTOSO
3
439
Lampiran 15.1
440
Lanjutan Lampiran 15.1
441
Lanjutan Lampiran 15.1
442
Lampiran 15.2
Lampiran 13.2 Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 13/30/DPNP tanggal 16 Desember 2011
PEDOMAN PERHITUNGAN MODAL BANK ASING
Komponen Modal
+/-
Form
Kolom
Sandi
Sub Sandi
Jumlah
Keterangan
1. Dana Usaha
1.1
diisi yang terkecil antara Declared Dana Usaha dan
Realisasi
Dana usaha
1.1.a. Declared Dana Usaha
1.1.b. Realisasi
KEWAJIBAN
i. Giro
ii. Call Money
iii. Deposits on call
iv. Deposito berjangka
v. Sertifikat deposito
vi. Surat Berharga
vii. Pinjaman yang diterima
viii. Beban bunga/bagi hasil yg masih harus dibayar
ix. Lainnya
ASET
i. Giro
ii. Call Money
iii. Deposits on call
iv. Deposito berjangka
v. Sertifikat deposito
vi. Surat Berharga
vii. Kredit
viii. Dana Usaha
ix. Pendapatan Bunga yang akan diterima
x. Lain-lain
1.2. Modal disetor
2. Cadangan
2.1
Cadangan Umum
2.2
Cadangan Tujuan
Laba
tahun-tahun
lalu yang dapat diperhitungkan (100%)[3.1 - (3.2 + 3.3 + 3.4 +
3.
3.5 + 3.6)] x 100%
3.1
Laba tahun-tahun lalu setelah diperhitungkan Pajak
3.2
Perhitungan aset pajak tangguhan
3.3
Saldo selisih nilai revaluasi aset tetap
3.4
Peningkatan nilai wajar aset tetap
3.5
Peningkatan atau Penurunan nilai wajar atas kewajiban keuangan
3.6
Keuntungan penjualan aset dalam transaksi sekuritisasi
4. Rugi tahun-tahun lalu yang dapat diperhitungkan [4.1 - (4.2 + 4.3 + 4.4 + 4.5 +
4.6)]
4.1
Rugi tahun-tahun lalu
4.2
Perhitungan aset pajak tangguhan
4.3
Saldo selisih nilai revaluasi aset tetap
4.4
Peningkatan nilai wajar aset tetap
4.5
Peningkatan atau Penurunan nilai wajar atas kewajiban keuangan
4.6
Keuntungan penjualan aset dalam transaksi sekuritisasi
+/+
+/+
+/+
+/+
+/+
+/+
+/+
+/+
+/+
35
35
35
35
35
35
35
35
35
II
II
II
II
II
II
II
II
II
010
015
020
025
030
050
060
088+089+090+095
099
000
000
000
000
000
000
000
000
000
-/-/-/-/-/-/-/-/-/-/+/+
20
20
20
20
20
20
20
20
20
20
38
II
II
II
II
II
II
II
II
II
II
III
010
015
025
030
035
050
060
065
088+089+090+095
099
1+3+4+6+7+9
000 dan 999
000 dan 999
000 dan 999
000 dan 999
000 dan 999
000 dan 999
000 dan 999
000 dan 999
+/+
+/+
01
01
451
452
01
01
461
(228-4940) - (3964945)
000 dan 999
+/+
Laba
rugi
akumulasi 2820 atau
2075
Aset Pajak Tangguhan (sandi 228) setelah dikurangi
pendapatan pajak tangguhan tahun berjalan (sandi
4940), dikurangi dengan Kewajiban Pajak
Tangguhan (sandi 396) setelah dikurangi beban
pajak tangguhan tahun berjalan (sandi 4945). Jika
hasil pengurangan kewajiban pajak tangguhan (396)
dikurangi beban pajak tangguhan tahun berjalan
(sandi 4945) > Aset Pajak Tangguhan (sandi 228)
dikurangi pendapatan pajak tangguhan tahun
berjalan (sandi 4940), maka diisi dengan angka 0.
Data diperoleh dari saldo selisih nilai revaluasi aset
tetap yang merupakan pos dalam modal pada
laporan bulan Desember 2007. Data diisi secara
manual.
Diisi jika Bank mengakui pemulihan kerugian
penurunan nilai sebagai keuntungan dalam laporan
laba rugi.
Data diperoleh dari Laporan L/R tahun lalu. Sandi
2820 digunakan bila terjadi peningkatan nilai wajar
atas kewajiban (sebagai faktor pengurang dalam
Laporan L/R) , dan sandi 2075 digunakan bila
terjadi penurunan nilai wajar atas kewajiban
(sebagai faktor penambah dalam Laporan L/R).
Data diperoleh dari Laporan L/R tahun lalu, yang
termasuk dalam sandi 1830 atau 1870 (untuk surat
berharga), dan sandi 1930 atau 1970 (untuk kredit
yang diberikan).
-/01
01
Laba
rugi
462
(228-4940) - (3964945)
akumulasi 2820 atau
2075
Aset Pajak Tangguhan (sandi 228) setelah dikurangi
pendapatan pajak tangguhan tahun berjalan (sandi
4940), dikurangi dengan Kewajiban Pajak
Tangguhan (sandi 396) setelah dikurangi beban
pajak tangguhan tahun berjalan (sandi 4945). Jika
hasil pengurangan kewajiban pajak tangguhan (396)
dikurangi beban pajak tangguhan tahun berjalan
(sandi 4945) > Aset Pajak Tangguhan (sandi 228)
dikurangi pendapatan pajak tangguhan tahun
berjalan (sandi 4940), maka diisi dengan angka 0.
Data diperoleh dari saldo selisih nilai revaluasi aset
tetap yang merupakan pos dalam modal pada
laporan bulan Desember 2007. Data diisi secara
manual.
Diisi jika Bank mengakui pemulihan kerugian
penurunan nilai sebagai keuntungan dalam laporan
laba rugi.
Data diperoleh dari Laporan L/R tahun lalu. Sandi
2820 digunakan bila terjadi peningkatan nilai wajar
atas kewajiban (sebagai faktor pengurang dalam
Laporan L/R) , dan sandi 2075 digunakan bila
terjadi penurunan nilai wajar atas kewajiban
(sebagai faktor penambah dalam Laporan L/R).
Data diperoleh dari Laporan L/R tahun lalu, yang
termasuk dalam sandi 1830 atau 1870 (untuk surat
berharga), dan sandi 1930 atau 1970 (untuk kredit
yang diberikan).
443
Lanjutan Lampiran 15.2
Lampiran 13.2 Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 13/30/DPNP tanggal 16 Desember 2011
PEDOMAN PERHITUNGAN MODAL BANK ASING
Komponen Modal
5. Laba tahun berjalan yang dapat diperhitungkan (50%)[5.1 - (5.2 + 5.3 + 5.4 +
5.5)] x 50%
5.1
Laba tahun berjalan setelah diperhitungkan Pajak
5.2
Perhitungan pajak tangguhan
5.3
Peningkatan nilai wajar aset tetap
5.4
Peningkatan atau Penurunan nilai wajar atas kewajiban keuangan
5.5
Keuntungan penjualan aset dalam transaksi sekuritisasi
+/-
Form
Kolom
Sandi
+/+
Laba
rugi
Laba
rugi
Sub Sandi
Jumlah
Keterangan
Dikurangi transfer ke KP (Form Laba rugi sandi
4850)
4950
4940-4945
Pendapatan Pajak Tangguhan (sandi 4940) - Beban
Pajak Tangguhan (sandi 4945). Jika Beban Pajak
Tangguhan (sandi 4945) > Aset Pajak Tangguhan
(sandi 4940) maka diisi dengan angka 0.
Diisi jika Bank mengakui pemulihan kerugian
penurunan nilai sebagai keuntungan dalam laporan
laba rugi.
Laba
rugi
2820 atau 2075
Sandi 2820 digunakan bila terjadi peningkatan nilai
wajar atas kewajiban (sebagai faktor pengurang
dalam Laporan L/R) , dan sandi 2075 digunakan
bila terjadi penurunan nilai wajar atas kewajiban
(sebagai faktor penambah dalam Laporan L/R).
Sebagai referensi dapat menggunakan Form L/R
sandi 1830 atau 1870 (untuk surat berharga), dan
sandi 1930 atau 1970 (untuk kredit yang diberikan).
6.
Rugi tahun berjalan yang dapat diperhitungkan (-/-)[6.1 - (6.2 + 6.3 + 6.4 + 6.5)]
6.1
Rugi tahun berjalan
6.2
Perhitungan pajak tangguhan
6.3
Peningkatan nilai wajar aset tetap
6.4
Peningkatan atau Penurunan nilai wajar atas kewajiban keuangan
6.5
Keuntungan penjualan aset dalam transaksi sekuritisasi
7. Dana Setoran Modal
8. Pendapatan Komprehensif Lainnya: Kerugian/ Keuntungan berasal dari
peningkatan/penurunan Penyertaan dalam kelompok tersedia utk dijual
8.1
Selisih lebih (+/+)
45%
8.2
Selisih kurang (-/-)
100%
9. Revaluasi Aset Tetap
9.1
Saldo selisih nilai revaluasi aset tetap
9.2
Keuntungan dari peningkatan nilai wajar aset tetap
-/02
Laba
rugi
5000
4940-4945
Pendapatan Pajak Tangguhan (sandi 4940) - Beban
Pajak Tangguhan (sandi 4945). Jika Beban Pajak
Tangguhan (sandi 4945) > Aset Pajak Tangguhan
(sandi 4940) maka diisi dengan angka 0.
Diisi jika Bank mengakui pemulihan kerugian
penurunan nilai sebagai keuntungan dalam laporan
laba rugi.
Laba
rugi
2820 atau 2075
Sandi 2820 digunakan bila terjadi peningkatan nilai
wajar atas kewajiban (sebagai faktor pengurang
dalam Laporan L/R) , dan sandi 2075 digunakan
bila terjadi penurunan nilai wajar atas kewajiban
(sebagai faktor penambah dalam Laporan L/R).
Sebagai referensi dapat menggunakan Form L/R
sandi 1830 atau 1870 (untuk surat berharga), dan
sandi 1930 atau 1970 (untuk kredit yang diberikan).
45%
45%
10. Selisih kurang antara PPA dan cadangan kerugian penurunan nilai atas aset
produktif
11.
Penyisihan Penghapusan Aset (PPA) atas aset non produktif yang wajib dihitung
12. Selisih kurang jumlah penyesuaian nilai wajar dari instrumen keuangan dalam
trading book
13. Cadangan umum aset produktif (maks. 1,25% dari ATMR)
12.1 Cadangan umum PPA
12.2 Cadangan umum PPA Transaksi Rekening Administratif
14. Faktor Pengurang Modal
Eksposur Sekuritisasi
13.1 Penyediaan fasilitas Kredit Pendukung
a. Sebagai penanggung risiko utama (first loss )
b. Fasilitas Kredit Pendukung yang tidak memenuhi persyaratan
13.2 Penyediaan Fasilitas Likuiditas yang tidak memenuhi syarat
13.3 Penempatan dalam Efek Beragun Aset (EBA)
a. Junior tranche
b. Pembelian kembali EBA melebihi batasan 10% dari Nilai Aset
Keuangan yang dialihkan
13.4 Penyediaan fasilitas yang melebihi 20% dari Nilai Aset Keuangan yang
dialihkan
15. MODAL BANK ASING ( Jumlah 1 s.d 12 - 13 )
+/+
01
455
+/+
-/-
40
40
07
54
+/+
+/+
01
456
Diisi oleh Bank. Nilai ini diambil dari angka 3.3,
angka 3.4, angka 4.3, angka 4.4, angka 5.3, dan
atau angka 6.3
-/-/-/+/+
+/+
-/-/-/-/-/-/-
DIREKTUR PENELITIAN DAN
PENGATURAN PERBANKAN,
WIMBOH SANTOSO
444
Lampiran 16
LAMPIRAN 14
SURAT EDARAN BANK INDONESIA
NOMOR 13/30/DPNP TANGGAL 16 DESEMBER 2011
PERIHAL
PERUBAHAN KETIGA ATAS SURAT EDARAN BANK INDONESIA
NOMOR 3/30/DPNP TANGGAL 14 DESEMBER 2001 PERIHAL
LAPORAN KEUANGAN PUBLIKASI TRIWULAN DAN BULANAN BANK
UMUM SERTA LAPORAN TERTENTU YANG DISAMPAIKAN KEPADA
BANK INDONESIA
PEDOMAN PERHITUNGAN RASIO KEUANGAN
NO.
RASIO
Rasio Kinerja
1.
Kewajiban
Penyediaan Modal
Minimum (KPMM)
2.
Aset produktif
bermasalah dan aset
non produktif
bermasalah terhadap
total aset produktif
dan aset non
produktif
FORMULA
KETERANGAN
Modal
• Perhitungan Modal dan
Aset Tertimbang Menurut
Risiko dilakukan
berdasarkan ketentuan
Bank Indonesia mengenai
kewajiban penyediaan
modal minimum.
• Perhitungan ATMR untuk
Risiko Kredit dan Risiko
Pasar didasarkan pada nilai
tercatat aset dalam neraca
(setelah dikurangi
Cadangan Kerugian
Penurunan Nilai/CKPN).
Aset Tertimbang
Menurut Risiko untuk
Risiko Kredit, Risiko
Operasional, dan Risiko
Pasar
Aset produktif
bermasalah + Aset non
produktif bermasalah
Total aset produktif +
total aset non produktif
• Cakupan komponen dan
kualitas aset produktif dan
aset non produktif sesuai
ketentuan Bank Indonesia
mengenai penilaian kualitas
aset bank umum.
• Aset produktif bermasalah
dan aset non produktif
bermasalah adalah aset
dengan kualitas kurang
lancar, diragukan, dan
macet.
• Aset produktif bermasalah
dan aset non produktif
bermasalah dihitung
berdasarkan nilai tercatat
dalam neraca, secara gross
1
445
Lanjutan Lampiran 16
NO.
3.
RASIO
FORMULA
KETERANGAN
(sebelum dikurangi
Cadangan Kerugian
Penurunan Nilai/CKPN).
• Total aset produktif dan
total aset non produktif
dihitung berdasarkan nilai
tercatat dalam neraca,
secara gross (sebelum
dikurangi Cadangan
Kerugian Penurunan
Nilai/CKPN).
• Angka dihitung per posisi
(tidak disetahunkan).
Aset produktif
bermasalah terhadap
total aset produktif
Aset produktif
bermasalah (diluar
transaksi rekening
administratif)
• Cakupan komponen dan
kualitas aset produktif
sesuai ketentuan Bank
Indonesia mengenai
penilaian kualitas aset bank
umum.
• Aset produktif bermasalah
adalah aset produktif
dengan kualitas kurang
lancar, diragukan, dan
macet.
• Aset produktif bermasalah
dihitung berdasarkan nilai
tercatat dalam neraca,
secara gross (sebelum
dikurangi CKPN).
• Total aset produktif
dihitung berdasarkan nilai
tercatat dalam neraca,
secara gross (sebelum
dikurangi CKPN).
• Angka dihitung per posisi
(tidak disetahunkan).
Total aset produktif
(diluar transaksi
rekening administratif)
4.
Cadangan Kerugian
Penurunan Nilai
(CKPN) aset
keuangan terhadap
aset produktif
CKPN aset keuangan
Total aset produktif
(diluar transaksi
rekening administratif)
• CKPN adalah cadangan
yang wajib dibentuk Bank
sesuai ketentuan dalam
Pernyataan Standar
Akuntansi Keuangan
2
446
Lanjutan Lampiran 16
NO.
5.
RASIO
NPL gross
FORMULA
KETERANGAN
(PSAK) mengenai
Instrumen Keuangan dan
Pedoman Akuntansi
Perbankan Indonesia
(PAPI), yang mencakup
CKPN individual dan
CKPN kolektif.
• Cakupan komponen aset
produktif sesuai ketentuan
Bank Indonesia mengenai
penilaian kualitas aset bank
umum.
• Total aset produktif
dihitung berdasarkan nilai
tercatat dalam neraca
sebelum dikurangi CKPN.
• Angka dihitung per posisi
(tidak disetahunkan).
Kredit bermasalah
• Kredit adalah kredit
sebagaimana diatur dalam
ketentuan Bank Indonesia
mengenai penilaian kualitas
aset bank umum.
• Kredit bermasalah adalah
kredit dengan kualitas
kurang lancar, diragukan,
dan macet.
• Kredit bermasalah dihitung
berdasarkan nilai tercatat
dalam neraca, secara gross
(sebelum dikurangi CKPN).
• Total kredit dihitung
berdasarkan nilai tercatat
dalam neraca, secara gross
(sebelum dikurangi CKPN).
• Angka dihitung per posisi
(tidak disetahunkan).
Total kredit
6.
NPL net
Kredit bermasalah CKPN kredit
Total kredit
• Kredit adalah kredit
sebagaimana diatur dalam
ketentuan Bank Indonesia
mengenai penilaian kualitas
3
447
Lanjutan Lampiran 16
NO.
RASIO
FORMULA
•
•
•
•
•
KETERANGAN
aset bank umum.
Kredit bermasalah adalah
kredit dengan kualitas
kurang lancar, diragukan,
dan macet.
Kredit bermasalah dihitung
berdasarkan nilai tercatat
dalam neraca.
CKPN kredit adalah
cadangan yang wajib
dibentuk Bank sesuai
ketentuan dalam PSAK
mengenai Instrumen
Keuangan dan PAPI, yang
mencakup CKPN kredit
secara individual dan
kolektif.
Total kredit dihitung
berdasarkan nilai tercatat
dalam neraca, secara gross
(sebelum dikurangi CKPN).
Angka dihitung per posisi
(tidak disetahunkan).
7.
ROA
(Return On Assets)
Laba sebelum pajak
Rata- rata total aset
• Yang dimaksud laba
sebelum pajak adalah laba
tahun berjalan sebelum
pajak.
• Perhitungan laba sebelum
pajak disetahunkan.
Contoh:
Untuk posisi Juni:
(akumulasi laba per posisi
Juni dibagi 6) x 12
• Rata-rata total aset:
Contoh:
Untuk posisi Juni:
(penjumlahan total aset
posisi Januari sampai
dengan Juni) dibagi 6
8.
ROE
( Return On Equity)
Laba setelah pajak
Rata-rata ekuitas
• Yang dimaksud laba setelah
pajak adalah laba bersih
4
448
Lanjutan Lampiran 16
NO.
9.
RASIO
NIM
(Net Interest
Margin)
FORMULA
KETERANGAN
tahun berjalan setelah
pajak.
• Penghitungan laba setelah
pajak disetahunkan.
Contoh:
Untuk posisi Juni:
(akumulasi laba per posisi
Juni dibagi 6) x 12
• Rata-rata ekuitas: rata-rata
modal inti (tier 1)
Contoh:
Untuk posisi Juni:
(penjumlahan modal inti
Januari sampai dengan
Juni) dibagi 6
• Perhitungan modal inti
dilakukan berdasarkan
ketentuan Bank Indonesia
mengenai kewajiban
penyediaan modal
minimum.
Pendapatan bunga bersih • Pendapatan bunga bersih:
Pendapatan bunga – beban
Rata-rata aset produktif
bunga
• Pendapatan bunga bersih
disetahunkan.
Contoh:
Untuk posisi Juni :
(akumulasi
pendapatan
bunga bersih per posisi Juni
dibagi 6) x 12
10.
11.
BOPO
(Beban operasional
terhadap pendapatan
operasional)
LDR
(Kredit terhadap
dana pihak ketiga)
Total beban operasional
Total pendapatan
operasional
Kredit
Dana pihak ketiga
Angka dihitung per posisi
(tidak disetahunkan).
• Kredit adalah kredit
sebagaimana diatur dalam
ketentuan Bank Indonesia
mengenai penilaian kualitas
5
449
Lanjutan Lampiran 16
NO.
RASIO
Kepatuhan (Compliance)
1.
a. Persentase
Pelanggaran
BMPK
a.1. Pihak Terkait
a.2. Pihak Tidak
Terkait
b. Persentase
Pelampauan
BMPK
b.1. Pihak Terkait
b.2. Pihak Tidak
Terkait
FORMULA
KETERANGAN
aset bank umum.
• Dana pihak ketiga
mencakup giro, tabungan,
dan deposito (tidak
termasuk antar bank).
Perhitungan pelanggaran dan
pelampauan BMPK dilakukan
sesuai ketentuan BMPK yang
berlaku.
2.
Giro Wajib
Minimum (GWM)
a. GWM RupiahPrimer
b. GWM valuta asing
Perhitungan persentase GWM
Rupiah-Primer dan GWM
Valuta Asing pada posisi
laporan dilakukan sesuai
ketentuan GWM yang
berlaku.
3.
Posisi Devisa Neto
(PDN) secara
keseluruhan
Perhitungan persentase PDN
pada posisi laporan dilakukan
sesuai ketentuan PDN yang
berlaku.
DIREKTUR PENELITIAN DAN
PENGATURAN PERBANKAN,
WIMBOH SANTOSO
6
450
Lampiran 17
Lampiran 1 Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 7/56/DPbS tanggal 9 Desember 2005
Lampiran 1
NERACA
Bank
Tanggal
:
:
(dalam juta rupiah)
BANK
POS - POS
NO.
Posisi Tgl
Laporan
Posisi Tgl Laporan
Sebelumnya
KONSOLIDASI
Posisi Tgl
Laporan
Posisi Tgl Laporan
Sebelumnya
AKTIVA
1.
Kas
2.
Penempatan Pada BI
a.
Giro Wadiah
b. SWBI
3.
Penempatan Pada Bank Lain
a.
Rupiah
PPAP -/b. Valuta asing
PPAP -/4.
Surat Berharga Yang Dimiliki
a.
Rupiah
i. Dimiliki hingga jatuh tempo
ii.Lainnya
PPAP -/-
b. Valuta asing
i. Dimiliki hingga jatuh tempo
ii. Lainnya
PPAP -/5.
Piutang Murabaha
a.Rupiah
a.1. Terkait dengan bank
1. Piutang Murabahah
2. Pendapatan Margin Murabahah yang ditangguhkan -/a.2. Tidak terkait dengan bank
1. Piutang Murabahah
2. Pendapatan Margin Murabahah yang ditangguhkan -/PPAP -/b. Valuta asing
b.1. Terkait dengan bank
1.Piutang Murabahah
2.Pendapatan Margin Murabahah yang ditangguhkan -/b.2. Tidak terkait dengan bank
1.Piutang Murabahah
2.Pendapatan Margin Murabahah yang ditangguhkan -/PPAP -/-
6.
Piutang Salam
7.
Piutang Istishna
PPAP -/Pendapatan Margin Istishna yang ditangguhkan -/PPAP -/8.
Piutang Qardh
9.
Pembiayaan
PPAP -/-
a. Rupiah
a.1.Terkait dengan bank
a.2. Tidak terkait dengan bank
PPAP -/-
b. Valuta asing
b.1. Terkait dengan bank
b.2. Tidak terkait dengan bank
PPAP -/10. Persediaan
11. Ijarah
a. Aktiva Ijarah
b. Akumulasi Penyusutan/Amortisasi Aktiva Ijarah -/PPAP -/12. Tagihan Lainnya
PPAP -/13. Penyertaan
PPAP -/14. Aktiva Istishna' dalam penyelesaian
15. Termin Istishna -/16. Pendapatan yang akan diterima
17. Biaya dibayar dimuka
18. Uang muka pajak
19. Aktiva pajak tangguhan
20. Aktiva Tetap dan Inventaris
Akumulasi Penyusutan Aktiva tetap dan Inventaris -/21. Agunan yang diambil alih
22. Aktiva lain-lain
TOTAL AKTIVA
451
Lampiran 1 Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 7/
/DPbS
tanggal
Desember 2005
Lanjutan Lampiran 17
Lampiran 1
NERACA
Bank
:
Tanggal
:
(dalam juta rupiah)
BANK
POS - POS
NO.
Posisi Tgl
Laporan
Posisi Tgl Laporan
Sebelumnya
KONSOLIDASI
Posisi Tgl
Laporan
Posisi Tgl Laporan
Sebelumnya
PASIVA
1.
Dana Simpanan Wadiah
a.
Giro Wadiah
b. Tabungan Wadiah
2
3
Kewajiban segera lainnya
Kewajiban kepada Bank Indonesia
a.
FPJPS
b. Lainnya
4
Kewajiban Kepada Bank Lain
5
Surat Berharga Yang Diterbitkan
6
Pembiayaan/Pinjaman Yang Diterima
a.
Rupiah
i. Terkait dengan bank
ii.Tidak terkait dengan bank
b. Valuta asing
i. Terkait dengan bank
ii.Tidak terkait dengan bank
7
Estimasi kerugian komitmen dan kontinjensi
8
Beban yang masih harus dibayar
9
Taksiran pajak penghasilan
10
Kewajiban pajak tangguhan
11
Kewajiban Lainnya
12
Pinjaman Subordinasi
a.
Rupiah
i. Terkait dengan bank
ii.Tidak terkait dengan bank
b. Valuta asing
i. Terkait dengan bank
ii.Tidak terkait dengan bank
13
Rupa-Rupa Pasiva
14
Modal Pinjaman
15
Hak minoritas
16 Dana Investasi Tidak Terikat (Mudharabah Muthlaqah)
a.
Tabungan Mudharabah
b. Deposito Mudharabah
b.1. Rupiah
b.2. Valas
17
Ekuitas
a. Modal disetor
b. Agio(disagio)
c. Modal Sumbangan
d. Dana setoran modal
e. Penyesuaian akibat penjabaran laporan keuangan
f. Selisih penilaian kembali aktiva tetap
g. Saldo laba(rugi)
TOTAL PASIVA
PENGURUS BANK
PEMILIK BANK
DEWAN KOMISARIS
Presiden Komisaris
Komisaris
Komisaris
dst
DIREKSI
Direktur
Direktur
Direktur
dst.
Nama
%
Nama
%
Nama
%
Nama
%
Publik
%
DEWAN PENGAWAS SYARIAH
Ketua
Anggota
Anggota
Jakarta, ………………………
Direksi Bank ……………
(…………………………………….)
(…………………………………
452
Lampiran 1a Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 7/ 56 /DPbS tanggal 9 Desember 2005
Lampiran 1a
Lampiran 17a
NERACA PUBLIKASI BULANAN
Bank
Tanggal
:
:
(dalam jutaan rupiah)
BANK
POS - POS
NO.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
Posisi Tgl Laporan
AKTIVA
Kas
Penempatan Pada BI
a. Giro Wadiah
b. SWBI
Penempatan Pada Bank Lain
a. Rupiah
PPAP -/b. Valuta asing
PPAP -/Surat Berharga Yang Dimiliki
a. Rupiah
i. Dimiliki hingga jatuh tempo
ii.Lainnya
PPAP
-/b. Valuta asing
i. Dimiliki hingga jatuh tempo
ii.Lainnya
PPAP
-/Piutang Murabaha
a.Rupiah
a.1. Terkait dengan bank
1. Piutang Murabahah
2. Pendapatan Margin Murabahah yang ditangguhkan -/a.2. Tidak terkait dengan bank
1. Piutang Murabahah
2. Pendapatan Margin Murabahah yang ditangguhkan -/PPAP -/b. Valuta asing
b.1. Terkait dengan bank
1.Piutang Murabahah
2.Pendapatan Margin Murabahah yang ditangguhkan -/b.2. Tidak terkait dengan bank
1.Piutang Murabahah
2.Pendapatan Margin Murabahah yang ditangguhkan -/PPAP -/Piutang Salam
PPAP -/Piutang Istishna
Pendapatan Margin Istishna yang ditangguhkan -/PPAP -/Piutang Qardh
PPAP -/Pembiayaan
a. Rupiah
a.1.Terkait dengan bank
a.2. Tidak terkait dengan bank
PPAP -/-
b. Valuta asing
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
b.1. Terkait dengan bank
b.2. Tidak terkait dengan bank
PPAP -/Persediaan
Ijarah
a. Aktiva Ijarah
b. Akumulasi Penyusutan/Amortisasi Aktiva Ijarah -/PPAP -/Tagihan Lainnya
PPAP -/Penyertaan
PPAP -/Aktiva Istishna' dalam penyelesaian
Termin Istishna -/Pendapatan yang akan diterima
Biaya dibayar dimuka
Uang muka pajak
Aktiva pajak tangguhan
Aktiva Tetap dan Inventaris
Akumulasi Penyusutan Aktiva Tetap dan Inventaris
-/Agunan yang diambil alih
Aktiva lain-lain
TOTAL AKTIVA
453
Lanjutan Lampiran 17a
Lampiran 1a Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 7/
/DPbS tanggal
Desember 2005
Lampiran 1a
NERACA PUBLIKASI BULANAN
Bank
:
Tanggal
:
BANK
POS - POS
NO.
1.
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
Posisi Tgl Laporan
PASIVA
Dana Simpanan Wadiah
a. Giro Wadiah
b. Tabungan Wadiah
Kewajiban segera lainnya
Kewajiban kepada Bank Indonesia
a. FPJPS
b. Lainnya
Kewajiban Kepada Bank Lain
Surat Berharga Yang Diterbitkan
Pembiayaan/Pinjaman Yang Diterima
a. Rupiah
i. Terkait dengan bank
ii.Tidak terkait dengan bank
b. Valuta asing
i. Terkait dengan bank
ii.Tidak terkait dengan bank
Estimasi kerugian komitmen dan kontinjensi
Beban yang masih harus dibayar
Taksiran pajak penghasilan
Kewajiban pajak tangguhan
Kewajiban Lainnya
Pinjaman Subordinasi
a. Rupiah
i. Terkait dengan bank
ii.Tidak terkait dengan bank
b. Valuta asing
i. Terkait dengan bank
ii.Tidak terkait dengan bank
Rupa-rupa pasiva
Modal Pinjaman
Hak minoritas
Dana Investasi Tidak Terikat (Mudharabah Muthlaqah)
a. Tabungan Mudharabah
b. Deposito Mudharabah
b.1. Rupiah
b.2. Valas
Ekuitas
a. Modal disetor
b. Agio (disagio)
c. Modal sumbangan
d. Dana setoran modal
e. Penyesuaian akibat penjabaran laporan keuangan
f. Selisih penilaian kembali aktiva tetap
g. Saldo laba (rugi)
TOTAL PASIVA
454
Lampiran 18
Lampiran 2 Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 7/56/DPbS tanggal 9Desember 2005
Lampiran 2
LAPORAN LABA/RUGI DAN SALDO LABA 1)
Bank :
Periode :
(dalam jutaan rupiah)
BANK
No
Posisi Tgl.Laporan
I.
II.
Pendapatan Operasional setelah distribusi bagi hasil
Untuk Investor Dana Investasi Tidak Terikat ( I - II )
IV.
Beban (pendapatan) penyisihan penghapusan aktiva
V.
Beban (pendapatan) estimasi kerugian komitmen dan kontinjensi
VI.
Beban Operasional lainnya
A. Beban Bonus titipan wadiah
B. Beban administrasi dan umum
C. Beban personalia
D. Beban penurunan nilai surat berharga
E. Beban transaksi valuta asing
F. Beban promosi
G. Beban lainnya
Laba (Rugi) Operasional (III - (IV+V+VI))
PENDAPATAN DAN BEBAN NON OPERASIONAL
Pendapatan Non Operasional
2)
Beban Non Operasional
3)
Laba (Rugi) Non Operasional (VIII - IX)
Laba (Rugi) Tahun Berjalan (VII + X)
Taksiran Pajak Penghasilan
Jumlah Laba (Rugi) 4)
Hak minoritas -/Saldo Laba (rugi) awal tahun
Dividen
Lainnya
Saldo Laba (rugi) akhir Periode
Laba bersih per saham *)
VII.
Posisi Th.Sebelumnya
Posisi Tgl.Laporan
Posisi Th.Sebelumnya
PENDAPATAN DAN BEBAN OPERASIONAL
A. Pendapatan dari Penyaluran Dana
1. Dari Pihak Ketiga Bukan Bank
a. Pendapatan Margin Murabahah
b. Pendapatan Bersih Salam Paralel
c. Pendapatan Bersih Istishna Paralel
i. Pendapatan Istishna'
ii. Harga Pokok Istishna' -/d. Pendapatan Sewa Ijarah
e. Pendapatan bagi hasil Mudharabah
f. Pendapatan bagi hasil Musyarakah
g. Pendapatan dari penyertaan
h. Lainnya
2. Dari Bank Indonesia
a. Bonus SWBI
b. Lainnya
3. Dari bank-bank lain di Indonesia
a. Bonus dari Bank Syariah lain
b. Pendapatan bagi hasil Mudharabah
i. Tabungan Mudharabah
ii. Deposito Mudharabah
iii. Sertifikat Investasi Mudharabah Antarbank
iv. Lainnya
c. Lainnya
B. Pendapatan Operasional Lainnya
1. Jasa Investasi Terikat (Mudharabah Muqayyadah )
2. Jasa layanan
3. Pendapatan dari transaksi valuta asing
4. Koreksi PPAP
5. Koreksi Penyisihan Penghapusan Transaksi
Rekening Administratif
6. Lainnya
Bagi hasil untuk Investor Dana Investasi Tidak Terikat -/1. Pihak ketiga bukan bank
a. Tabungan Mudharabah
b. Deposito Mudharabah
c. Lainnya
2. Bank Indonesia
a. FPJP Syariah
b. Lainnya
3. Bank-bank lain di Indonesia dan diluar Indonesia
a. Tabungan Mudharabah
b. Deposito Mudharabah
c. Sertifikat Investasi Mudharabah Antarbank
d. Lainnya
III.
VIII.
IX.
X.
XI.
XII.
XIII.
XIV.
XV.
XVI.
XVII.
XVIII.
XIX.
KONSOLIDASI
POS - POS
1)
2)
3)
4)
Daftar rincian ini diisi secara akumulatif sejak awal tahun buku bank pelapor sampai dengan tanggal akhir bulan laporan
Sub pos "Lainnya" pada Pendapatan Non Operasional harus dirinci pada Form-42 (Rincian Pendapatan Non-Operasional Lainnya) apabila jumlahnya melebihi 25 % dari total Pendapatan Non Operasional
Sub pos "Lainnya" pada Beban Non Operasional harus dirinci pada Form-43 (Rincian Beban Non-Operasional Lainnya) apabila jumlahnya melebihi 25 % dari total Beban Non Operasional
Jumlah ini harus sama dengan pos 17.b (Laba/Rugi Tahun Berjalan) - Pasiva, Neraca
*)
Hanya untuk bank yang sudah go public
455
Lampiran 18a
Lampiran 2a Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 7/ 56 /DPbS tanggal 9 Desember 2005
Lampiran 2a
LAPORAN LABA/RUGI DAN SALDO LABA - PUBLIKASI BULANAN
NO
Bank
:
Periode :
POS - POS
BANK
Posisi Tgl.Laporan
I.
II.
III.
IV.
PENDAPATAN DAN BEBAN OPERASIONAL
A. Pendapatan dari Penyaluran Dana
1. Dari Pihak Ketiga Bukan Bank
a. Pendapatan Margin Murabahah
b. Pendapatan Bersih Salam Paralel
c. Pendapatan Bersih Istishna Paralel
i.
Pendapatan Istishna'
ii.
Harga Pokok Istishna' -/d. Pendapatan Sewa Ijarah
e. Pendapatan bagi hasil Mudharabah
f. Pendapatan bagi hasil Musyarakah
g. Pendapatan dari penyertaan
h. Lainnya
2. Dari Bank Indonesia
a.
Bonus SWBI
b.
Lainnya
3. Dari bank-bank lain di Indonesia
a. Bonus dari Bank Syariah lain
b. Pendapatan bagi hasil Mudharabah
i.
Tabungan Mudharabah
ii.
Deposito Mudharabah
iii.
Sertifikat Investasi Mudharabah Antarbank
iv.
Lainnya
c. Lainnya
B. Pendapatan Operasional Lainnya
1. Jasa Investasi Terikat (Mudharabah Muqayyadah)
2. Jasa layanan
3. Pendapatan dari transaksi valuta asing
4. Koreksi PPAP
5. Koreksi Penyisihan Penghapusan Transaksi
Rekening Administratif
6. Lainnya
Bagi hasil untuk Investor Dana Investasi Tidak Terikat -/1. Pihak ketiga bukan bank
a. Tabungan Mudharabah
b. Deposito Mudharabah
c. Lainnya
2. Bank Indonesia
a.
FPJP Syariah
b.
Lainnya
3. Bank-bank lain di Indonesia dan diluar Indonesia
a. Tabungan Mudharabah
b. Deposito Mudharabah
c. Sertifikat Investasi Mudharabah Antarbank
d. Lainnya
Pendapatan Operasional setelah distribusi bagi hasil
Untuk Investor Dana Investasi Tidak Terikat ( I - II )
Beban (pendapatan) penyisihan penghapusan aktiva
V.
Beban (pendapatan) estimasi kerugian komitmen dan kontinjensi
VI.
Beban Operasional lainnya
A. Beban Bonus titipan wadiah
B. Beban administrasi dan umum
C. Biaya personalia
D. Beban penurunan nilai surat berharga
E. Beban transaksi valuta asing
F. Beban promosi
G. Beban lainnya
Laba (Rugi) Operasional (III - (IV+V+VI))
PENDAPATAN DAN BEBAN NON OPERASIONAL
Pendapatan Non Operasional
2)
Beban Non Operasional
3)
Laba (Rugi) Non Operasional (VIII - IX)
Laba (Rugi) Tahun Berjalan (VII + X)
Taksiran Pajak Penghasilan
Jumlah Laba (Rugi) 4)
VII.
VIII.
IX.
X.
XI.
XII.
XIII.
1)
2)
3)
4)
Daftar rincian ini diisi secara akumulatif sejak awal tahun buku bank pelapor sampai dengan tanggal akhir bulan laporan
Sub pos "Lainnya" pada Pendapatan Non Operasional harus dirinci pada Form-42 (Rincian Pendapatan Non-Operasional Lainnya) apabila jumlahnya melebihi 25 % dari total Pendapatan Non Operasional
Sub pos "Lainnya" pada Beban Non Operasional harus dirinci pada Form-43 (Rincian Beban Non-Operasional Lainnya) apabila jumlahnya melebihi 25 % dari total Beban Non Operasional
Jumlah ini harus sama dengan pos 17.b (Laba/Rugi Tahun Berjalan) - Pasiva, Neraca
456
Lampiran 19
Lampiran 3 Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 7/ 56 /DPbS tanggal 9 Desember 2005
Lampiran 3
KOMITMEN DAN KONTINJENSI
Bank
Tanggal
:
:
(dalam Juta Rupiah)
Bank
POS - POS
No
Posisi Tgl.Laporan
Posisi Th.Sebelumnya
Konsolidasi
Posisi Tgl.Laporan
Posisi Th.Sebelumnya
KOMITMEN
1
2
3
4
1
2
3
4
5
6
7
Tagihan Komitmen
Fasilitas Pembiayaan Yang diterima dan belum digunakan
Posisi Pembelian Spot Yang Masih Berjalan
a. Terkait dengan Bank
b. Tidak Terkait dengan Bank
Posisi Pembelian Forward Yang Masih Berjalan
a. Terkait dengan Bank
b. Tidak Terkait dengan Bank
Lainnya
Jumlah Tagihan Komitmen
Kewajiban Komitmen
Fasilitas Piutang Qardh yang belum ditarik
Fasilitas Pembiayaan kepada nasabah yang belum ditarik
a. Pembiayaan Mudharabah
b. Pembiayaan Musyarakah
Fasilitas Pembiayaan kepada Bank Syariah Lain yang belum ditarik
Irrevocable L/C yang masih berjalan
Posisi Penjualan Spot Yang Masih Berjalan
a. Terkait dengan Bank
b. Tidak Terkait dengan Bank
Posisi Penjualan Forward Yang Masih Berjalan
a. Terkait dengan Bank
b. Tidak Terkait dengan Bank
Lainnya
Jumlah Kewajiban Komitmen
JUMLAH KOMITMEN BERSIH
1
2
3
1
2
KONTINJENSI
Tagihan Kontinjensi
Garansi (Kafalah) Yang Diterima
Pendapatan yang akan diterima (non-lancar)
a. Terkait dengan bank
b. Tidak terkait dengan bank
Lainnya
Jumlah Tagihan Kontinjensi
Kewajiban Kontinjensi
Garansi (Kafalah) Yang Diberikan
Lainnya
Jumlah Kewajiban Kontinjensi
JUMLAH KONTINJENSI BERSIH
457
Lampiran 19a
Lampiran 3a Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 7/ 56 /DPbS tanggal 9 Desember 2005
Lampiran 3a
KOMITMEN DAN KONTINJENSI PUBLIKASI BULANAN
Bank
Tanggal
:
:
(dalam jutaan rupiah)
No
POS - POS
BANK
Posisi Tgl.Laporan
1
2
3
4
KOMITMEN
Tagihan Komitmen
Fasilitas Pembiayaan Yang diterima dan belum digunakan
Posisi Pembelian Spot Yang Masih Berjalan
a. Terkait dengan Bank
b. Tidak Terkait dengan Bank
Posisi Pembelian Forward Yang Masih Berjalan
a. Terkait dengan Bank
b. Tidak Terkait dengan Bank
Lainnya
Jumlah Tagihan Komitmen
Kewajiban Komitmen
1
Fasilitas Piutang Qardh yang belum ditarik
2
3
4
5
Fasilitas Pembiayaan kepada nasabah yang belum ditarik
Fasilitas Pembiayaan kepada Bank Syariah Lain yang belum ditarik
Irrevocable L/C yang masih berjalan
Posisi Penjualan Spot Yang Masih Berjalan
a. Terkait dengan Bank
b. Tidak Terkait dengan Bank
Posisi Penjualan Forward Yang Masih Berjalan
a. Terkait dengan Bank
b. Tidak Terkait dengan Bank
Lainnya
Jumlah Kewajiban Komitmen
JUMLAH KOMITMEN BERSIH
KONTINJENSI
Tagihan Kontinjensi
Garansi (Kafalah) Yang Diterima
Pendapatan yang akan diterima (non-lancar)
a. Terkait dengan bank
b. Tidak terkait dengan bank
Lainnya
Jumlah Tagihan Kontinjensi
Kewajiban Kontinjensi
Garansi (Kafalah) Yang Diberikan
Lainnya
Jumlah Kewajiban Kontinjensi
JUMLAH KONTINJENSI BERSIH
6
7
1
2
3
1
2
458
Lampiran 20
Lampiran 4 Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 7/ 56 /DPbS tanggal 9 Desember 2005
Lampiran 4
KUALITAS AKTIVA PRODUKTIF DAN INFORMASI LAINNYA
Bank
:
Tanggal :
Bank
No
POS - POS
L
Posisi tanggal laporan
DPK
KL
D
M
Jumlah
L
DPK
Posisi tahun sebelumnya
KL
D
M
Jumlah
A Pihak Terkait
1 Penempatan pada Bank Lain
2 Penempatan pada Bank Indonesia
3 Surat-surat Berharga Syariah
4 Piutang
a. KUK
b. Non-KUK
c. Properti
i. direstrukturisasi
ii. tidak direstrukturisasi
d. Non-properti
i. direstrukturisasi
ii. tidak direstrukturisasi
5 Pembiayaan :
a. KUK
b. Non-KUK
c. Properti
i. direstrukturisasi
ii. tidak direstrukturisasi
d. Non-properti
i. direstrukturisasi
ii. tidak direstrukturisasi
6 Penyertaan pada pihak ketiga
a. Pada perusahaan keuangan non bank
b. Dalam rangka restrukturisasi pembiayaan (Lainnya)
7 Ijarah
8 Tagihan Lain kepada pihak ketiga
9 Komitmen dan Kontinjensi kepada pihak ketiga
B. Pihak Tidak Terkait
1 Penempatan pada Bank Lain
2 Penempatan pada Bank Indonesia
3 Surat-surat Berharga Syariah
4 Piutang
a. KUK
b. Non-KUK
c. Properti
i. direstrukturisasi
ii. tidak direstrukturisasi
d. Non-properti
i. direstrukturisasi
ii. tidak direstrukturisasi
5 Pembiayaan :
a. KUK
b. Non-KUK
c. Properti
i. direstrukturisasi
ii. tidak direstrukturisasi
d. Non-properti
i. direstrukturisasi
ii. tidak direstrukturisasi
6 Penyertaan pada pihak ketiga
a. Pada perusahaan keuangan non bank
b. Dalam rangka restrukturisasi pembiayaan (Lainnya)
7 Ijarah
8 Tagihan Lain kepada pihak ketiga
9 Komitmen dan Kontinjensi kepada pihak ketiga
JUMLAH
10 PPAP yang wajib dibentuk
11 PPAP yang telah dibentuk
459
Lanjutan Lampiran 20
12 Total Asset bank yang dijaminkan
a. Pada Bank Indonesia
b. Pada Pihak lain
13 Persentase KUK terhadap total piutang dan pembiayaan
14 Persentase Jumlah Debitur KUK terhadap Total Debitur
15 Persentase UMKM terhadap total piutang dan pembiayaan
16 Persentase Jumlah Debitur UMKM terhadap Total Debitur
460
Lampiran 20a
Lampiran 4a Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 7/56/DPbS
tanggal 9 Desember 2005
Lampiran 4a
KUALITAS AKTIVA PRODUKTIF DAN INFORMASI LAINNYA - PUBLIKASI BULANAN
Bank
:
Tanggal :
No
POS - POS
L
1
Penempatan pada Bank Lain
2
Penempatan pada Bank Indonesia
Bank
Posisi tanggal laporan
DPK
KL
D
M
Jumlah
3 Surat-surat Berharga Syariah
4. Piutang
a.
KUK
b.
Non-KUK
c.
Properti
i. direstrukturisasi
ii. tidak direstrukturisasi
d.
Non-properti
i. direstrukturisasi
ii. tidak direstrukturisasi
5 Pembiayaan :
a. KUK
b. Non-KUK
c. Properti
i. direstrukturisasi
ii. tidak direstrukturisasi
d. Non-properti
i. direstrukturisasi
ii. tidak direstrukturisasi
6 Penyertaan pada pihak ketiga
a. Pada perusahaan keuangan non bank
b. Dalam rangka restrukturisasi pembiayaan
7 Ijarah
8 Tagihan Lain kepada pihak ketiga
9 Komitmen dan Kontinjensi kepada pihak ketiga
JUMLAH
10 PPAP yang wajib dibentuk
11 PPAP yang telah dibentuk
12 Persentase KUK terhadap total pembiayaan
461
Lampiran 20b
Lampiran 4b Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 7/56/DPbS tanggal 9 Desember 2005
Lampiran 4b
KUALITAS AKTIVA PRODUKTIF DAN INFORMASI LAINNYA
Bank
:
Tanggal :
Bank
No
POS - POS
Form
Posisi tanggal laporan
L
DPK
KL
D
Posisi tahun sebelumnya
M
Jumlah
L
DPK
KL
D
M
Jumlah
A Pihak Terkait
1
Penempatan pada Bank Lain
2
Penempatan pada Bank Indonesia
3
Surat-surat Berharga Syariah
4
Piutang*) **)
a. KUK
b. Non-KUK
c. properti
04,Kol.III.(1)
03
05,Kol.III.2(1)
06,Kol.XI(19),Kol.VII.2(1); 07,Kol.VIII(19),Kol.V.2(1); 08,Kol.XI(19),Kol.VII.2(1) ; 09,Kol.XIII(19),Kol.IX.2(1)
06,Kol.XI(20,30),Kol.VII.2(1); 07,Kol.VIII(20,30),Kol.V.2(1); 08,Kol.XI(20,30),Kol.VII.2(1) ; 09,Kol.XIII(20,30),Kol.IX.2(1)
i. direstrukturisasi
06,Kol.IV(10,40),Kol.VII.2(1),Kol.III(10);08,Kol.IV(10,40),Kol.III(10),Kol.VII.2(1); 09,Kol.VI(10,40),Kol.III(10),Kol.IX.2(1)
ii. tidak direstrukturisasi
06,Kol.IV(10,40),Kol.VII.2(1),Kol.III(20);08,Kol.IV(10,40),Kol.III(20),Kol.VII.2(1); 09,Kol.VI(10,40),Kol.III(20),Kol.IX.2(1)
d. non-properti
i. direstrukturisasi
06,Kol.III(10),Kol.IV(20,29,50,59,71,72,80,85,89),Kol.VII.2(1);07,Kol.III(10),Kol.V.2(1)
08,Kol.III(10),Kol.IV(20,29,50,59,71,72,80,85,89),Kol.VII.2(1) ; 09,Kol.III(10),Kol.VI(20,29,50,59,71,72,80,85,89),Kol.IX.2(1)
ii. tidak direstrukturisasi
5
06,Kol.III(20),Kol.IV(20,29,50,59,71,72,80,85,89),Kol.VII.2(1);07,Kol.III(20),Kol.V.2(1)
08,Kol.III(20),Kol.IV(20,29,50,59,71,72,80,85,89),Kol.VII.2(1) ; 09,Kol.III(20),Kol.VI(20,29,50,59,71,72,80,85,89),Kol.IX.2(1)
Pembiayaan **) :
a. KUK
b. Non-KUK
10,Kol.XIV (19),Kol.IX.2(1)
10,Kol.XIV (20,30),Kol.IX.2(1)
c. properti
i. direstrukturisasi
ii. tidak direstrukturisasi
d. non-properti
i. direstrukturisasi
ii. tidak direstrukturisasi
6.
10,Kol.III (10), Kol.VI(10,40),Kol.IX.2(1)
10,Kol.III(20),Kol.VI(10,40),Kol.IX.2(1)
10,Kol.III(10), Kol.VI (20,29,50,59), Kol.IX.2(1)
10,Kol.III(20), Kol.VI (20,29,50,59), Kol.IX.2(1)
Penyertaan
a. Pada perusahaan keuangan non bank
b. Dalam rangka restrukturisasi pembiayaan (Lainnya)
7
Ijarah
8
Tagihan Lain kepada pihak ketiga
9
Komitmen dan Kontinjensi kepada pihak ketiga
12,Kol.II (10)
12,Kol.II (90)
44,Kol.VII, Kol.XV.2(1)
11,Kol.IV.2 (1)
34,Kol.V.2(1) ; 35,Kol.V.2(1)
B. Pihak Tidak Terkait
1
Penempatan pada Bank Lain
2
Penempatan pada Bank Indonesia
3
Surat-surat Berharga Syariah
4.
Piutang*) **)
a. KUK
b. Non-KUK
c. Properti
04,Kol.III.2(2)
03
05,Kol.III.2(2)
06,07,08,09
06,Kol.XI(19),Kol.VII.2(2);07,Kol.VIII(19),Kol.V.2(2);08,Kol.XI(19),Kol.VII.2(2) ;09,Kol.XIII(19),Kol.IX.2(2)
06,Kol.XI(20,30),Kol.VII.2(2); 07,Kol.VIII(20,30),Kol.V.2(2); 08,Kol.XI(20,30),Kol.VII.2(2) ; 09,Kol.XIII(20,30),Kol.IX.2(2)
i. direstrukturisasi
06,Kol.IV(10,40),Kol.VII.2(2),Kol.III(10);08,Kol.IV(10,40),Kol.III(10),Kol.VII.2(2); 09,Kol.VI(10,40),Kol.III(10),Kol.IX.2(2)
ii. tidak direstrukturisasi
06,Kol.IV(10,40),Kol.VII.2(2),Kol.III(20);08,Kol.IV(10,40),Kol.III(20),Kol.VII.2(2); 09,Kol.VI(10,40),Kol.III(20),Kol.IX.2(2)
d. Non-properti
i. direstrukturisasi
06,Kol.III(10),Kol.IV(20,29,50,59,71,72,80,85,89),Kol.VII.2(2);07,Kol.III(10),Kol.V.2(2)
08,Kol.III(10),Kol.IV(20,29,50,59,71,72,80,85,89),Kol.VII.2(2) ; 09,Kol.III(10),Kol.VI(20,29,50,59,71,72,80,85,89),Kol.IX.2(2)
ii. tidak direstrukturisasi
5
06,Kol.III(20),Kol.IV(20,29,50,59,71,72,80,85,89),Kol.VII.2(2);07,Kol.III(20),Kol.V.2(2)
08,Kol.III(20),Kol.IV(20,29,50,59,71,72,80,85,89),Kol.VII.2(2) ; 09,Kol.III(20),Kol.VI(20,29,50,59,71,72,80,85,89),Kol.IX.2(2)
Pembiayaan **) :
a. KUK
b. Non-KUK
10,Kol.XIV (19),Kol.IX.2(2)
10,Kol.XIV (20,30),Kol.IX.2(2)
c. Properti
i. direstrukturisasi
ii. tidak direstrukturisasi
d. Non-properti
i. direstrukturisasi
ii. tidak direstrukturisasi
10,Kol.III (10), Kol.VI(10,40),Kol.IX.2(2)
10,Kol.III(20),Kol.VI(10,40),Kol.IX.2(2)
10,Kol.III(10), Kol.VI (20,29,50,59), Kol.IX.2(2)
10,Kol.III(20), Kol.VI (20,29,50,59), Kol.IX.2(2)
462
Lanjutan Lampiran 20b
Lampiran 4b Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 7/56/DPbS tanggal 9 Desember 2005
Lampiran 4b
KUALITAS AKTIVA PRODUKTIF DAN INFORMASI LAINNYA
Bank
:
Tanggal :
Bank
No
POS - POS
Form
Posisi tanggal laporan
L
6.
DPK
KL
D
Posisi tahun sebelumnya
M
Jumlah
L
DPK
KL
D
M
Jumlah
Penyertaan pada pihak ketiga
a. Pada perusahaan keuangan non bank
b. Dalam rangka restrukturisasi pembiayaan (Lainnya)
7
Ijarah
8
Tagihan Lain kepada pihak ketiga
9
Komitmen dan Kontinjensi kepada pihak ketiga
10
PPAP yang wajib dibentuk
11
12
PPAP yang telah dibentuk
Total Asset bank yang dijaminkan
12,Kol.II (10)
12,Kol.II (90)
44,Kol.VII, Kol.XV.2(2)
11,Kol.IV.2 (2)
34,Kol.V.2(2) ; 35,Kol.V.2(2)
JUMLAH
a. Pada Bank Indonesia
Sesuai dengan ketentuan PPAP yang wajib dibentuk
04,05,06,07,08,09,10,11,12,34,35,44
Tidak diisi karena tidak ada input dari LBU
b. Pada Pihak lain
13
Persentase KUK terhadap total piutang dan pembiayaan
06,Kol.XI(19),Kol.VII.2(1,2);07,Kol.VIII(19),Kol.V.2(1,2);08,Kol.XI(19),Kol.VII.2(1,2) ;09,Kol.XIII(19),Kol.IX.2(1,2)
10,Kol.XIV (19),Kol.IX.2(1,2)
/ 06,Kol.XVIII ; 07,Kol.XIII ; 08,Kol.XVII ; 09,Kol.XIX ; 10,Kol.XX
14
Persentase Jumlah Debitur KUK terhadap Total Debitur
15
Persentase UMKM terhadap total piutang dan pembiayaan
06,Kol.XI(19,20),Kol.VII.2(1,2); 07,Kol.VIII(19,20),Kol.V.2(1,2); 08,Kol.XI(19,20),Kol.VII.2(1,2) ; 09,Kol.XIII(19,20),Kol.IX.2(1,2)
10,Kol.XIV (19,20),Kol.IX.2(1,2)
/ 06,Kol.XVIII ; 07,Kol.XIII ; 08,Kol.XVII ; 09,Kol.XIX ; 10,Kol.XX
16
Persentase Jumlah Debitur UMKM terhadap Total Debitur
Tidak diisi karena tidak ada input dari LBU
Tidak diisi karena tidak ada input dari LBU
Ket : *) Untuk Piutang Murabaha adalah yang "net" , menggunakan angka saldo harga pokok (Form 06, Kol XVI)
**) total piutang maupun total pembiayaan, jumlah yang diambil bisa jumlah KUK dengan Non-KUK atau jumlah Properti dengan Non-properti (bukan dengan menjumlah KUK + Non-KUK + Properti + Non-properti)
463
Lampiran 20c
Lampiran 4c Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 7/56/DPbS tanggal 9 Desember 2005
Lampiran 4c
PEDOMAN PENYUSUNAN LAPORAN KUALITAS AKTIVA PRODUKTIF
DAN INFORMASI LAINNYA
1. Dalam laporan keuangan publikasi ini, pos-pos yang termasuk dalam aktiva
produktif disajikan dalam kelompok terkait dan tidak terkait. Pihak terkait
adalah pihak-pihak yang terkait dengan bank dan perusahaan dalam kelompok
yang sama dengan bank sebagaimana ditetapkan dalam ketentuan Bank
Indonesia tentang Batas Maksimum Pemberian Kredit. Untuk Laporan
Keuangan Publikasi Bulanan, pos-pos tersebut tidak dikelompokkan
terkait dan tidak terkait.
2. Komponen Aktiva Produktif dirinci berdasarkan kualitasnya yaitu lancar (L),
dalam perhatian khusus (DPK), kurang lancar (KL), diragukan (D) dan macet
(M) sesuai ketentuan Bank Indonesia tentang Kualitas Aktiva Produktif bagi
Bank Syariah. (lihat di sandi kolektibilitas masing-masing aktiva produktif).
3. Pembiayaan adalah pembiayaan sebagaimana diatur dalam Ketentuan Bank
Indonesia tentang Kualitas Aktiva Produktif. Jumlah pos ini sama dengan pos
sandi (160, 161 dan 169) neraca LBUS. Pos ini diuraikan lebih lanjut dengan
pedoman sebagai berikut :
3.1. Pos KUK adalah pembiayaan yang diberikan sesuai dengan
ketentuan Bank Indonesia tentang Pemberian KUK (Sandi Golongan
Pembiayaan 19).
3.2. Pos pembiayaan untuk properti adalah penjumlahan dari jenis penggunaan
untuk modal kerja dan investasi dalam Rupiah dan Valuta asing kepada
bidang usaha produktif yang kegiatannya meliputi bidang kontruksi dan
real estate antara lain pengadaan tanah dan bangunan untuk pembangunan
perkantoran, perhotelan, rumah dan pertokoan, mencakup :
a. perusahaan real estate untuk pengadaan tanah dan bangunan termasuk
fasilitasnya untuk dijual/ disewakan;
464
Lanjutan Lampiran 20c
Lampiran 4c Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 7/56/DPbS tanggal 9 Desember 2005
b. kontraktor untuk pembangunan gedung, perkantoran, perumahan dan
pertokoan; dan
c. perorangan untuk pemilikan dan pemugaran rumah.
Dalam pos ini tidak termasuk Pembiayaan yang tergolong KUK.
Pos ini dibagi 2 (dua) yakni dalam rangka restrukturisasi dan bukan dalam
rangka restrukturisasi.
3.3. Pos pembiayaan properti dan pembiayaan lainnya yang direstrukturisasi
memiliki pengertian restrukturisasi pembiayaan yang berpedoman pada
ketentuan yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia.
4. Ijarah, adalah sama dengan pos sandi 180 dan 185 di Neraca LBUS.
5. Pos penempatan pada bank lain adalah sama dengan pos sandi (130) neraca
LBUS, kecuali penempatan pada bank lain dalam bentuk Setoran Jaminan (45),
Cek Perjalanan (77), Dana Pelunasan Obligasi (80).
6. Pos penempatan pada Bank Indonesia adalah sama dengan pos sandi (120)
neraca LBUS, yang berupa Sertifikat Wadiah Bank Indonesia .
7. Pos surat-surat berharga adalah surat berharga yang dimiliki, berupa wesel
ekspor (140-55), wesel SKBDN (140-57), wesel lainnya (140-59), surat
berharga pasar keuangan syariah lainnya (140-69), sertifikat reksadana syariah
(140-81), obligasi lainnya (140-83), surat berharga pasar modal syariah lainnya
(140-89), pada neraca LBUS.
8. Piutang adalah sama dengan sandi 150,151,152,153,154 dan 159 di neraca
LBUS.
9. Penyertaan kepada pihak ketiga adalah sama dengan sandi (200) neraca LBUS.
10. Tagihan Lain kepada pihak ketiga adalah sama dengan sandi (190) neraca
LBUS.
465
Lanjutan Lampiran 20c
Lampiran 4c Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 7/56/DPbS tanggal 9 Desember 2005
11. Komitmen dan Kontinjensi kepada Pihak Ketiga adalah terdiri dari Irrevocable
L/C yang masih berjalan (561 dan 562), garansi yang diberikan (599).
12. Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif yang wajib dibentuk disusun dengan
berpedoman pada ketentuan Bank Indonesia tentang Penilaian Kualitas Aktiva
Produktif Bank Syariah .
13. Total Aset yang dijaminkan adalah aset Bank yang diikat sebagai agunan atas
transaksi tertentu.
14. Pembiayaan kepada Usaha Mikro,Kecil dan Menengah (UMKM) adalah
pembiayaan dengan jumlah sampai dengan Rp. 5.000.000.000,00 (lima
milyar rupiah).
466
Lampiran 21
Lampiran 5
Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 7/56/DPbS tanggal 9 Desember 2005
Lampiran 5
PERHITUNGAN KEWAJIBAN PENYEDIAAN MODAL MINIMUM
Bank :................................................................ Tanggal : .........................
KETERANGAN
Posisi Tanggal
Posisi Tahun
Laporan
Sebelumnya
I.
KOMPONEN MODAL
A.
MODAL INTI
1.
2.
Modal Disetor
Cadangan Tambahan Modal (Disclosed
Reserves)
a. Agio Saham
b. Disagio (-/-)
c. Modal Sumbangan
d. Cadangan Umum dan Tujuan
e. Laba tahun-tahun lalu setelah
diperhitungkan pajak
f. Rugi tahun-tahun lalu (-/-)
g.
Laba tahun berjalan setelah
diperhitungkan pajak (50%)
h. Rugi tahun berjalan (-/-)
i.
3.
Selisih penjabaran laporan keuangan
Kantor Cabang Luar Negeri
1) Selisih Lebih
2) Selisih Kurang (-/-)
j. Dana Setoran Modal
k. Penurunan nilai Penyertaan pada
portofolio tersedia untuk dijual (-/-)
Goodwill (-/-)
B.
MODAL PELENGKAP
C.
(Maks. 100% dari Modal Inti)
1. Selisih Penilaian Kembali Aktiva Tetap
2. Cadangan Umum Penyisihan Penghapusan
Aktiva Produktif/PPAP (maks. 1,25% dari
ATMR)
3. Modal Pinjaman
4. Investasi Subordinasi (maks.50% dari Modal
Inti)
5. Peningkatan nilai penyertaan pada portofolio
tersedia untuk dijual (45%)
MODAL PELENGKAP TAMBAHAN
467
Lanjutan Lampiran 21
Lampiran 5
Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 7/56/DPbS tanggal 9 Desember 2005
KETERANGAN
Posisi Tanggal
Laporan
Posisi Tahun
Sebelumnya
1. Modal Inti yang dialokasikan untuk Risiko
Pasar.
2. Modal Pelengkap yang tidak digunakan untuk
Risiko Penyaluran Dana.
3. Investasi Subordinasi untuk Risiko Pasar.
4. Jumlah Modal Pelengkap Tambahan (1 s.d 3)
5. Jumlah Modal Pelengkap Tambahan yang
memenuhi kriteria untuk risiko pasar
II. TOTAL MODAL INTI DAN MODAL
PELENGKAP (A+B)
III. TOTAL MODAL INTI,MODAL PELENGKAP,
DAN MODAL PELENGKAP TAMBAHAN
IV. PENYERTAAN (-/-)
V. TOTAL MODAL UNTUK RISIKO KREDIT (II –
IV)
VI. TOTAL MODAL UNTUK RISIKO KREDIT DAN
RISIKO PASAR (III - IV)
VII. AKTIVA TERTIMBANG MENURUT RISIKO
(ATMR) KREDIT
VIII. AKTIVA TERTIMBANG MENURUT RISIKO
PASAR
IX. AKTIVA TERTIMBANG MENURUT RISIKO
KREDIT DAN RISIKO PASAR
X. RASIO KEWAJIBAN PENYEDIAAN MODAL
MINIMUM YANG TERSEDIA UNTUK RISIKO
KREDIT
(V : VII)
XI. RASIO KEWAJIBAN PENYEDIAAN MODAL
MINIMUM YANG TERSEDIA UNTUK RISIKO
KREDIT DAN RISIKO PASAR (VI : IX)
XII. RASIO KEWAJIBAN PENYEDIAAN MODAL
MINIMUM YANG DIWAJIBKAN
468
Lampiran 21a
Lampiran 5a
Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 7/56/DPbS tanggal 9 Desember 2005
Lampiran 5a
PERHITUNGAN KEWAJIBAN PENYEDIAAN MODAL MINIMUM
Bank :................................................................ Tanggal : .........................
KETERANGAN
Posisi Tanggal
Laporan
I.
KOMPONEN MODAL
A.
MODAL INTI
1.
2.
Modal Disetor
Cadangan Tambahan Modal (Disclosed Reserves)
a. Agio Saham
b. Disagio (-/-)
c. Modal Sumbangan
d. Cadangan Umum dan Tujuan
e. Laba tahun-tahun lalu setelah diperhitungkan pajak
f. Rugi tahun-tahun lalu (-/-)
g.
Laba tahun berjalan setelah diperhitungkan pajak
(50%)
h. Rugi tahun berjalan (-/-)
i.
3.
Selisih penjabaran laporan keuangan Kantor Cabang
Luar Negeri
1) Selisih Lebih
2) Selisih Kurang (-/-)
j. Dana Setoran Modal
k. Penurunan nilai Penyertaan pada portofolio tersedia
untuk dijual (-/-)
Goodwill (-/-)
B.
MODAL PELENGKAP
C.
(Maks. 100% dari Modal Inti)
1. Selisih Penilaian Kembali Aktiva Tetap
2. Cadangan Umum Penyisihan Penghapusan Aktiva
Produktif/PPAP (maks. 1,25% dari ATMR)
3. Modal Pinjaman
4. Investasi Subordinasi (maks.50% dari Modal Inti)
5. Peningkatan nilai penyertaan pada portofolio tersedia untuk
dijual (45%)
MODAL PELENGKAP TAMBAHAN
1.
2.
Modal Inti yang dialokasikan untuk Risiko Pasar
Modal Pelengkap yang tidak digunakan untuk Risiko
Penyaluran Dana
469
Lanjutan Lampiran 21a
Lampiran 5a
Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 7/56/DPbS tanggal 9 Desember 2005
KETERANGAN
Posisi Tanggal
Laporan
3.
4.
5.
Investasi Subordinasi untuk Risiko Pasar
Jumlah Modal Pelengkap Tambahan (1 s.d 3)
Jumlah Modal Pelengkap Tambahan yang memenuhi kriteria
untuk risiko pasar
II. TOTAL MODAL INTI DAN MODAL
PELENGKAP (A+B)
III. TOTAL MODAL INTI,MODAL PELENGKAP,
DAN MODAL PELENGKAP TAMBAHAN
IV. PENYERTAAN (-/-)
V. TOTAL MODAL UNTUK RISIKO KREDIT (II – IV)
VI. TOTAL MODAL UNTUK RISIKO KREDIT DAN
RISIKO PASAR (III - IV)
VII. AKTIVA TERTIMBANG MENURUT RISIKO (ATMR) KREDIT
VIII. AKTIVA TERTIMBANG MENURUT RISIKO PASAR
IX.
AKTIVA TERTIMBANG MENURUT RISIKO KREDIT DAN
RISIKO PASAR
X. RASIO KEWAJIBAN PENYEDIAAN MODAL MINIMUM
YANG TERSEDIA UNTUK RISIKO KREDIT
(V : VII)
XI. RASIO KEWAJIBAN PENYEDIAAN MODAL MINIMUM
YANG TERSEDIA UNTUK RISIKO KREDIT DAN RISIKO
PASAR (VI : IX)
XII. RASIO KEWAJIBAN PENYEDIAAN MODAL MINIMUM
YANG DIWAJIBKAN
470
Lampiran 22
Lampiran 6 Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 7/56/DPbS tanggal 9 Desember 2005
Lampiran 6
TABEL PERHITUNGAN RASIO KEUANGAN
Nama Bank : ………………………………………………
NO .
RASIO
I.
1.
Permodalan
a. CAR
(KPMM)
dengan
memperhitungkan risiko kredit/
penyaluran dana
b. CAR
(KPMM)
dengan
memperhitungkan risiko kredit/
penyaluran dana dan risiko pasar
2.
Aktiva tetap terhadap modal
II.
1.
2.
4.
Aktiva Produktif
Aktiva produktif bermasalah (NPA)
a. NPF gross
b. NPF net
PPA produktif
terhadap aktiva
produktif
Pemenuhan PPA produktif
III.
1.
2.
3.
Rentabilitas
ROA
ROE
NIM/NCOM (Net Core Operational
3.
POSISI TGL.LAPORAN
POSISI THN.SEBELUMNYA
Margin)
4.
IV.
1.
OER (Operational Efficiency Ratio)
(BOPO)
Likuiditas
Quick Ratio = Aktiva lancar
Kewajiban lancar
2.
3.
Antar Bank Passiva (SIMA) terhadap
DPK
Deposan Inti terhadap DPK
V.
Kepatuhan (Compliance)
1.
a.
b.
2.
3.
Persentase Pelanggaran BMPK
a.1. Pihak Terkait
a.2. Pihak Tidak Terkait
Persentase Pelampauan BMPK
b.1. Pihak Terkait
b.2. Pihak Tidak Terkait
GWM Rupiah
PDN
471
Lanjutan Lampiran 22
Lampiran 6 Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 7/56/DPbS tanggal 9 Desember 2005
Lampiran 6
472
Lampiran 23
Lampiran 3 Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 8/11/DPbS tanggal 7 Maret 2006
PEDOMAN PENYUSUNAN NERACA
NO.
POS-POS LBUS
POS-POS L/K PUBLIKASI
Sandi LBUS
Catatan untuk Laporan
Keuangan Publikasi Bulanan
AKTIVA
1.
2.
Kas
Penempatan Pada BI
a. Giro Wadiah
b. Sertifikat Wadiah Bank Indonesia
Kas
Penempatan Pada BI
03)
a. Giro Wadiah
b. Sertifikat Wadiah Bank Indonesia
c. Lainnya
Penempatan Pada Bank Lain
a. Rupiah
PPAP -/b. Valuta asing
PPAP -/-
Penempatan Pada Bank lain 04)
Dibedakan berdasarkan jenis valuta :
100
120
120(10)
120(20)
120(90)
Lainnya masuk ke SWBI
3.
130
Jenis Valuta : sandi rupiah dan valas di Daftar Sandi Jenis Valuta (DSJV)
Kol.II
DSJV = (036 - 959)
Rp=360, Valuta asing=Non 360
Jenis :
1 Simpanan Wadiah
a. Giro
b. Tabungan
c. Lainnya
2 Dana Investasi Tidak Terikat
a. Tabungan Mudharabah
b. Deposito Mudharabah
c. Lainnya
3 Pembiayaan
a. Mudharabah
b. Musyarakah
4 Piutang
a. Al-Qardh
b. Lainnya
5 Tagihan akseptasi
130(11)
130(12)
130(19)
130(21)
130(25)
130(30)
130(64)
130(65)
130(67)
130(69)
130(73)
Rupiah
PPAP -/13)
a. Cadangan umum
b. Cadangan khusus
Valuta asing
PPAP
-/13)
a. Cadangan umum
b. Cadangan khusus
4.
Surat Berharga Yang Dimiliki
a. Rupiah
I. Dimiliki hingga jatuh tempo
ii. Lainnya
PPAP -/b. Valuta asing
I. Dimiliki hingga jatuh tempo
ii. Lainnya
PPAP
-/-
205(10)
sebagian 207(10)
207(10)
sebagian 205(10)
205(10)
sebagian 207(10)
207(10)
Kol.II
DSJV (036 - 959)
Rp=360, Valuta asing=Non 360
Tujuan pemilikan :
1. Dimiliki hingga jatuh tempo
2. Lainnya
Kol.IV (1)
Kol.IV (3), Lainnya termasuk
juga bagi "Tersedia untuk dijual"
140(55)
140(57)
140(59)
140(69)
140(81)
140(82)
140(83)
140(89)
140(99)
PENEMPATAN PADA BANK LAIN 04)
1 Surat Berharga Pasar Keuangan Syariah
a. Dimiliki hingga jatuh tempo
i. Sertifikat Investasi Mudharabah Antarbank (IMA)
ii. Lainnya
b. Lainnya
i. Sertifikat Investasi Mudharabah Antarbank (IMA)
ii.Lainnya
2 Surat Berharga Pasar Modal Syariah
a. Dimiliki hingga jatuh tempo
i. Obligasi Syariah Subordinasi
ii. Obligasi Syariah Lainnya
iii. Lainnya
b. Lainnya
i. Obligasi Syariah Subordinasi
ii. Obligasi Syariah Lainnya
iii. Lainnya
RUPA-RUPA AKTIVA 17)
Penyisihan dalam rangka restrukturisasi Surat berharga yang dimiliki
Rupiah
PPAP -/13)
1 Surat berharga yang dimiliki
a. Cadang umum
b. Cadangan khusus
2 Penempatan pada bank lain - surat berharga
a. Cadang umum
b. Cadangan khusus
Valuta asing
PPAP -/13)
1 Surat berharga yang dimiliki
a. Cadang umum
b. Cadangan khusus
2 Penempatan pada bank lain - surat berharga
a. Cadang umum
b. Cadangan khusus
Piutang Murabaha
a. Rupiah
a.1. Terkait dengan bank
1. Piutang Murabaha
2. Pendapatan MarginMurabaha yang ditangguhkan
Total :
sebagian 205(10)
140
Surat Berharga Yang Dimiliki 05)
Dibedakan sesuai jenis valuta :
Jenis valuta : sesuai valuta di Daftar Sandi Jenis Valuta (DSJV)
Jenis :
1 Surat Berharga Pasar Keuangan Syariah
a. Wesel
- Wesel ekspor
- SKBDN
- Lainnya
b. Lainnya
2 Surat Berharga Pasar Modal Syariah
a. Sertifikat Reksadana Syariah
b. Obligasi
- Dalam Rangka Rekapitalisasi Perbankan
. Lainnya
c. Lainnya
3 Lainnya
5
entry dari :
Dibedakan atas jenis valuta :
Jenis valuta : sesuai valuta di Daftar Sandi Jenis Valuta (DSJV)
130(51)
130(53)
130(54)
130(57)
130(58)
130(59)
130(60)
130(61)
130(62)
130(63)
-/-
230,Kol.I (30)
entry dari :
205(20)
207(20)
digabung ke Penempatan
205(10)
(no. 3)
207(10)
entry dari :
205(20)
207(20)
205(10)
207(10)
Kol.VI
DSJV (036 - 959)
-/-
Rp = 360, Valas=Non-360
473
Page 1 of 6
Lanjutan Lampiran 23
Lampiran 3 Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 8/11/DPbS tanggal 7 Maret 2006
PEDOMAN PENYUSUNAN NERACA
NO.
POS-POS LBUS
POS-POS L/K PUBLIKASI
a.2. Tidak terkait dengan bank
1. Piutang Murabaha
2.Pendapatan margin Murabaha yang ditangguhkan
PPAP
-/b. Valuta asing
a.1. Terkait dengan bank
1. Piutang Murabaha
2. Pendapatan margin Murabaha yang ditangguhkan
a.2. Tidak terkait dengan bank
1. Piutang Murabaha
2.Pendapatan margin Murabaha yang ditangguhkan
PPAP
-/-
Sandi LBUS
Dibedakan atas hubungan dengan bank :
1. Terkait dengan Bank
2. Tidak terkait dengan Bank
150,Kol.VII.2(1)
150,Kol.VII.2(2)
-/Piutang Murabahah 06)
Pendapatan Margin Murabahah yang ditangguhkan
150
-/-
06)
-/-
230,Kol.I (31)
Rupiah
PPAP
-/13)
1 Piutang yang tidak direstrukturisasi
a. Cadangan umum
b. Cadangan khusus
2 Piutang yang direstrukturisasi
a. Cadangan umum
b. Cadangan khusus
entry dari :
205(35)
207(31)
205(35)
207(31)
Valuta asing
PPAP
-/13)
1 Piutang yang tidak direstrukturisasi
a. Cadangan umum
b. Cadangan khusus
2 Piutang yang direstrukturisasi
a. Cadangan umum
b. Cadangan khusus
7.
Piutang Salam
PPAP -/-
Piutang Istishna'
Pendapatan Margin Istishna' yang ditangguhkan
PPAP
-/-
entry dari :
205(35)
207(35)
205(31)
207(31)
07)
152
PPAP
-/13)
1 Piutang yang tidak direstrukturisasi
a. Cadangan umum
b. Cadangan khusus
2 Piutang yang direstrukturisasi
a. Cadangan umum
b. Cadangan khusus
entry dari :
Piutang Salam
-/-
Piutang Istishna
08)
Pendapatan margin Istishna' yang ditangguhkan
205(36)
207(36)
205(32)
207(32)
153
-/-
PPAP
-/13)
1 Piutang yang tidak direstrukturisasi
a. Cadangan umum
b. Cadangan khusus
2 Piutang yang direstrukturisasi
a. Cadangan umum
b. Cadangan khusus
8.
Piutang Qardh
PPAP
-/-
Pembiayaan :
a. Rupiah
a.1. Terkait dengan bank
a.2. Tidak terkait dengan bank
PPAP -/b. Valuta asing
b.1. Terkait dengan bank
a.2. Tidak terkait dengan bank
PPAP -/-
154
entry dari :
205(37)
207(37)
205(33)
207(33)
09)
159
PPAP
-/13)
1 Piutang yang tidak direstrukturisasi
a. Cadangan umum
b. Cadangan khusus
2 Piutang yang direstrukturisasi
a. Cadangan umum
b. Cadangan khusus
entry dari :
Piutang Qardh
3
9.
151
-/-
RUPA-RUPA AKTIVA 17)
Penyisihan dalam rangka restrukturisasi Piutang -/-
6.
Catatan untuk Laporan
Keuangan Publikasi Bulanan
Lainnya
(pindahan dari Agunan yang diambil alih)
Pembiayaan 10)
205(38)
207(38)
205(34)
207(34)
90
Dibedakan atas jenis valuta :
Jenis valuta : sesuai valuta di Daftar Sandi Jenis Valuta (DSJV)
Kol.VII
DSJV (036 - 959)
Rp=360,Valuta asing=Non 360
Hubungan dengan bank :
1. Terkait dengan bank
2. Tidak terkait dengan bank
Jenis Pembiayaan :
a. Pembiayaan Mudharabah
b. Pembiayaan Musyarakah
Kol.IX.2. (1)
Kol.IX.2. (2)
160
161
Pembiayaan lainnya (169) masuk ke
Pembiayaan Mudharabah
RUPA-RUPA AKTIVA 17)
Penyisihan dalam rangka restrukturisasi Pembiayaan -/-
Rupiah
PPAP
-/13)
1 Pembiayaan yang tidak direstrukturisasi
a. Cadangan umum
b. Cadangan khusus
2 Pembiayaan yang direstrukturisasi
a. Cadangan umum
b. Cadangan khusus
230,Kol.I (32)
entry dari :
205(56,57,59)
207(56,57,59)
205(51,52,55)
207(51,52,55)
474
Page 2 of 6
Lanjutan Lampiran 23
Lampiran 3 Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 8/11/DPbS tanggal 7 Maret 2006
PEDOMAN PENYUSUNAN NERACA
NO.
POS-POS LBUS
POS-POS L/K PUBLIKASI
Valuta asing
PPAP
-/13)
1 Pembiayaan yang tidak direstrukturisasi
a. Cadangan umum
b. Cadangan khusus
2 Pembiayaan yang direstrukturisasi
a. Cadangan umum
b. Cadangan khusus
10. Persediaan
Persediaan
Ijarah
11. Ijarah
a. Aktiva Ijarah
b. Akumulasi Penyusutan/Amortisasi Aktiva Ijarah
PPAP
-/-
PPAP
-/13)
Tagihan lainnya
a. Cadangan umum
b. Cadangan khusus
13. Penyertaan
PPAP
207(51,52,55)
180,Kol.I (10)
180,Kol.I (15)
180,Kol.I (20)
180,Kol.I (25)
180,Kol.I (30)
180,Kol.I (35)
180,Kol.I (40)
180,Kol.I (45)
180,Kol.I (50)
180,Kol.I (55)
180,Kol.I (60)
180,Kol.I (65)
180,Kol.I (99)
190, Kol.II (11)
190,Kol.II (19)
190,Kol.II (20)
190,Kol.II (30)
190,Kol.II (40)
190,Kol.II (50)
190,Kol.II (90)
entry dari :
205(45)
207(45)
Penyertaan 12)
-/-
Jenis Perusahaan :
1 Lembaga keuangan bukan bank
2 Lainnya
200,Kol.II (10)
Tujuan :
1 Dalam rangka pendirian/kepemilikan anak perusahaan
2 Dalam rangka restrukturisasi piutang/pembiayaan
200,Kol.V (1)
PENEMPATAN PADA BANK LAIN
Penyertaan
200,Kol.II (90)
PPAP
-/13)
1 Penempatan pada bank lain - penyertaan
a. Cadangan umum
b. Cadangan khusus
2 Penyertaan
a. Cadangan umum
b. Cadangan khusus
Aktiva Istishna Dalam Penyelesaian 14)
Tujuan :
a. Dalam rangka Istishna Paralel
b. Lainnya
14. Aktiva Istishna' dalam penyelesaian
Termin Istishna
-/-
16 Pendapatan Yang Akan Diterima
14)
RUPA-RUPA AKTIVA
-/-
RUPA-RUPA AKTIVA
130(90)
230,Kol.I (33)
entry dari :
digabung di Penempatan
205(10)
(No. 3)
207(10)
205(40)
207(40)
210,Kol.II (1)
210,Kol.II (2)
211,Kol.IX
17)
Pendapatan yang akan diterima
a. Pendapatan Ijarah yang akan diterima
b. Lainnya
17 Biaya dibayar dimuka
200,Kol.V (2)
04)
RUPA-RUPA AKTIVA 17)
Penyisihan dalam rangka restrukturisasi Penyertaan -/-
15. Termin Istishna'
205(51,52,55)
205(61)
207(61)
Tagihan Lainnya
11)
Jenis :
1 Dana Talangan
a. Dalam rangka pembiayaan transaksi perdagangan s/d 15 hari
b. Lainnya
2 Tagihan Akseptasi
3 Piutang kepada pembeli
4 Piutang kepada penjual
5 Piutang kepada mudharib
6 Lainnya
-/-
207(56,57,59)
185,Kol.VI
PPAP
-/13)
Ijarah
a. Cadangan umum
b. Cadangan khusus
PPAP
205(56,57,59)
44)
Akumulasi Penyusutan/Amortisasi
12. Tagihan Lainnya
Catatan untuk Laporan
Keuangan Publikasi Bulanan
170
Aktiva Ijarah :
1 Gedung/Ruang kantor
2 Gudang
3 Ruko/Rukan
4 Rumah/Apartemen
5 Hotel
6 Tanah
7 Kendaraan bermotor
8 Mesin
9 Peralatan kantor
10 Kapal laut
11 Pesawat terbang
12 Alat-alat berat (heavy equipment)
13 Lain-lain
-/
Sandi LBUS
230,Kol.I (36)
230,Kol.I (39)
17)
Beban yang dibayar dimuka
Uang Muka Murabahah kepada pemasok
230,Kol.I (50)
230,Kol.I (20)
Hasil offsetting debet Uang muka pajak dan Taksiran pajak penghasilan
18 Uang muka pajak
RUPA-RUPA AKTIVA
17)
230,Kol.I (40)
Uang muka pajak
RUPA-RUPA PASIVA 29)
Taksiran pajak penghasilan
19 Aktiva pajak tangguhan
RUPA-RUPA AKTIVA
-/-
17)
Aktiva pajak tangguhan
20 Aktiva Tetap dan Inventaris
Akumulasi Penyusutan Aktiva Tetap dan Inventaris
-/-
400(30)
Aktiva Tetap dan Inventaris
a. Aktiva Tetap (Tanah, Gedung) dan Inventaris
b. Akumulasi Penyusutan Aktiva Tetap (Gedung) dan Inventaris -/-
230,Kol.I (70)
213 + 215
214 + 216
475
Page 3 of 6
Lanjutan Lampiran 23
Lampiran 3 Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 8/11/DPbS tanggal 7 Maret 2006
PEDOMAN PENYUSUNAN NERACA
NO.
POS-POS LBUS
POS-POS L/K PUBLIKASI
21 Agunan yang diambil alih
RUPA-RUPA AKTIVA
Catatan untuk Laporan
Keuangan Publikasi Bulanan
17)
Agunan yang diambil alih
22 Aktiva lain-lain
Sandi LBUS
Rupa-Rupa Aktiva 17)
1 Emas dan mata uang emas
2 Commemorative coin/notes
a. Nilai Nominal
b. Selisih harga perolehan atas nilai nominal
3 Tagihan inkaso
4 Penyisihan dalam rangka restrukturisasi
-/- Lainnya -/5 Beban yang ditangguhkan
6 Talangan dalam rangka program pemerintah
7 Goodwill
8 Lain-lain
TAGIHAN LAINNYA 11)
Lainnya
PENEMPATAN PADA BANK LAIN 04)
1 Travellers' Cheque (Cek Perjalanan) yang dibeli/diambil alih
2 Setoran jaminan dalam rangka transaksi perdagangan
3 Dana Pelunasan Obligasi
4 Lainnya
Hasil offsetting debet Antar kantor Aktiva dan Antar kantor Pasiva
Antar Kantor Aktiva
a. Melakukan kegiatan operasional di Indonesia
15)
b. Melakukan kegiatan operasional diluar Indonesia 16)
Antar Kantor Pasiva -/a. Melakukan kegiatan operasional di Indonesia 27)
b. Melakukan kegiatan operasional diluar Indonesia 28)
230,Kol.I (45)
230,Kol.I (05)
230,Kol.I (10)
230,Kol.I (15)
230,kol.I (25)
230,Kol.I (34)
230,Kol.I (55)
230,Kol.I (65)
230,Kol.I (75)
230,Kol.I (99)
190,Kol.II (90)
130(77)
130(45)
130(80)
130(99)
223
224
393
394
476
Page 4 of 6
Lanjutan Lampiran 23
Lampiran 3 Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 8/11/DPbS tanggal 7 Maret 2006
PEDOMAN PENYUSUNAN NERACA
NO.
POS-POS LBUS
POS-POS L/K PUBLIKASI
Sandi LBUS
Catatan untuk Laporan
Keuangan Publikasi Bulanan
PASIVA
1.
Dana Simpanan Wadiah
a. Giro Wadiah
b. Tabungan Wadiah
Dana Simpanan Wadiah 18)
Jenis :
1 Giro Wadiah
2 Tabungan Wadiah
3 Lainnya
301,Kol.III (10)
302,Kol.III (20)
309,Kol.III (99)
Sifat :
1 Dapat ditarik sewaktu-waktu
2 Dalam rangka kustodian
3 Diblokir
a. Dalam rangka Escrow Account
b. Dalam rangka setoran jaminan
c. Lainnya
(301,302,309),Kol.II (1)
(301,302,309),Kol.II (2)
(301,302,309),Kol.II (4)
(301,302,309),Kol.II (5)
(301,302,309),Kol.II (9)
Lainnya masuk ke Tab.Wadiah
2
3
Kewajiban segera lainnya
Kewajiban Kepada Bank Indonesia
a. FPJPS
b. Lainnya
KEWAJIBAN LAINNYA 24)
1 Kewajiban kpd pemerintah yg belum dipindahbukukan
2 Bagi hasil yang sudah jatuh tempo
3 Transfer
4 Lainnya
Kewajiban Kepada Bank Indonesia 20)
1 Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek Syariah (FPJPS)
2 Pembiayaan yang diterima (KLBI dalam rangka KUK)
3 Lainnya
365(10)
365(20)
365(30)
365(99)
340 (10)
340 (40)
340 (99)
Lainnya = Pembiayaan yg diterima
dan Lainnya
4
5
Kewajiban Kepada Bank Lain
Surat Berharga Yang Diterbitkan
Kewajiban Kepada Bank Lain 21)
1 Simpanan
a. Giro Wadiah
b. Tabungan Wadiah
c. Lainnya
2 Titipan dalam rangka pembiayaan Mudharabah Muqayyadah
3 Pembiayaan/pinjaman yang diterima
a. Mudharabah
b. Musyarakah
c. Pinjaman Qardh
d. Lainnya
4 Kewajiban akseptasi
Surat Berharga Yang Diterbitkan 22)
Jenis :
1 Surat Berharga Pasar Uang Syariah
2 Surat Berharga Pasar Modal Syariah
a. Obligasi Syariah Subordinasi
b. Obligasi Syariah lainnya
c. Lainnya
3 Cek Perjalanan (TC) yang telah dijual
4 Lain-lain
KEWAJIBAN KEPADA BANK LAIN 21)
1 Surat Berharga Pasar Uang Syariah
a. Sertifikat Investasi Mudharabah Antarbank (IMA)
b. Lainnya
2 Surat Berharga Pasar Modal Syariah
a. Obligasi Syariah Subordinasi
b. Obligasi Syariah Lainnya
c. Lain-lain
6
Pembiayaan/Pinjaman Yang Diterima
a. Rupiah
i. Terkait dengan bank
ii.Tidak terkait dengan bank
b. Valuta asing
i. Terkait dengan bank
ii.Tidak terkait dengan bank
Pembiayaan/Pinjaman Yang Diterima 23)
Jenis :
1 Pembiayaan Mudharabah
2 Pembiayaan Musyarakah
3 Pinjaman Qardh
4 Lainnya
Dibedakan sesuai jenis valuta :
Jenis valuta : sesuai valuta di Daftar Sandi Jenis Valuta (DSJV)
350(10)
350(20)
350(29)
350(50)
350(81)
350(82)
350(83)
350(89)
350(95)
355(51)
355(71)
355(72)
355(79)
355(81)
355(99)
350(51)
350(59)
350(61)
350(62)
350(69)
360(10)
360(20)
360(30)
360(99)
Kol.III
DSJV (036 - 959)
Rp=360, Valuta asing= Non 360
Hubungan dengan bank :
1 Terkait dengan bank
2 Tidak terkait dengan bank
7
8
9
Estimasi kerugian komitmen dan kontinjensi
Beban yang masih harus dibayar
Taksiran pajak penghasilan
RUPA-RUPA PASIVA 29)
Penyisihan Penghapusan utk Transaksi Rekening Administratif
i. Cadangan Umum
ii. Cadangan Khusus
400(80)
400(81)
RUPA-RUPA PASIVA 29)
Beban bagi hasil yang masih harus dibayar
400(20)
Hasil offsetting kredit Taksiran pajak penghasilan dan Uang muka pajak
RUPA-RUPA PASIVA 29)
Taksiran pajak penghasilan
400(30)
RUPA-RUPA AKTIVA
17)
-/-
Uang muka pajak
10 Kewajiban pajak tangguhan
11 Kewajiban Lainnya
Kol.V.2.a(1)
Kol.V.2.a(2)
230,Kol.I (40)
RUPA-RUPA PASIVA 29)
Pasiva pajak tangguhan
Kewajiban Lainnya 24)
1 Uang Muka Murabahah dari pembeli
2 Uang Muka Istishna' dari Pembeli
3 Kewajiban akseptasi
4 Hutang Salam
5 Hutang Istishna' kepada produsen
6 Titipan dalam rangka pembiayaan Mudharabah Muqayyadah
KEWAJIBAN KEPADA BANK LAIN 21)
1 Setoran jaminan
2 Lain-lain
SETORAN JAMINAN 26)
Tujuan :
1 Dalam rangka perdagangan Luar Negeri
2 Dalam rangka perdagangan Dalam Negeri
3 Lainnya
400(85)
365(40)
365(45)
365(50)
365(60)
365(70)
365(80)
350(46)
350(99)
370,Kol.I (1)
370,Kol.I (5)
370,Kol.I (9)
477
Page 5 of 6
Lanjutan Lampiran 23
Lampiran 3 Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 8/11/DPbS tanggal 7 Maret 2006
PEDOMAN PENYUSUNAN NERACA
NO.
POS-POS LBUS
POS-POS L/K PUBLIKASI
RUPA-RUPA PASIVA 29)
1 Deviden yang belum dibayar
2 Pendapatan yang ditangguhkan (bukan dalam rangka restrukturisasi)
i. Pendapatan Istishna'
ii. Lainnya
3 Lain-Lain
Hasil offsetting kredit Antar kantor Aktiva dan Antar kantor Pasiva
Antar Kantor Pasiva
a. Melakukan kegiatan operasional di Indonesia 27)
b. Melakukan kegiatan operasional diluar Indonesia 28)
Antar Kantor Aktiva -/a. Melakukan kegiatan operasional di Indonesia
15)
b. Melakukan kegiatan operasional diluar Indonesia 16)
12 Pinjaman Subordinasi
a. Rupiah
i. Terkait dengan bank
ii.Tidak terkait dengan bank
b. Valuta asing
i. Terkait dengan bank
ii.Tidak terkait dengan bank
Dibedakan sesuai jenis valuta :
Jenis valuta : sesuai valuta di Daftar Sandi Jenis Valuta (DSJV)
400(25)
400(51)
400(59)
400(99)
393
394
223
224
Kol.III
DSJV (036 - 959)
Pinjaman Subordinasi 25)
a. Terkait dengan bank
b. Tidak Terkait dengan bank
368,Kol.II.2a(1)
368,Kol.II.2b(2)
KEWAJIBAN KEPADA BANK LAIN
Pinjaman Subordinasi
a. Terkait dengan bank
b. Tidak Terkait dengan bank
14 Modal Pinjaman
Catatan untuk Laporan
Keuangan Publikasi Bulanan
Rp=360, Valuta asing= Non 360
KEWAJIBAN KEPADA BANK INDONESIA 20)
Pinjaman Subordinasi
13 Rupa-Rupa Pasiva
Sandi LBUS
Rupa-Rupa Pasiva 29)
Pendapatan yang ditangguhkan (dalam rangka restrukturisasi)
i. Pendapatan Istishna'
ii. Lainnya
Modal Pinjaman
340 (30)
21)
350(72)
Kol.III.1 (1)
Kol.III.1 (2)
400(41)
400(49)
410
30)
15 Hak minoritas
(Hanya diisi untuk kolom konsolidasi)
16 Dana investasi Tidak Terikat (Mudharabah Muthlaqah)
a. Tabungan Mudharabah
b. Deposito Mudharabah
b.1. Rupiah
b.2. Valuta asing
Dibedakan sesuai jenis valuta :
Jenis valuta : sesuai valuta di Daftar Sandi Jenis Valuta (DSJV)
Kol.III
DSJV (036 - 959)
Rp=360, Valuta asing= Non 360
Dana Investasi Tidak Terikat
Jenis :
1 Tabungan Mudharabah
2 Deposito Mudharabah
3 Lainnya
19)
321 (21)
322 (22)
329(29)
Lainnya masuk ke Tab.Mudharabah
Kewajiban Kepada Bank Lain
21)
Dana Investasi Tidak Terikat
a. Tabungan Mudharabah
b. Deposito Mudharabah
c. Lainnya
17 Ekuitas :
a. Modal Disetor
b. Agio (disagio)
c. Modal Sumbangan
d. Dana Setoran Modal
e. Penyesuaian akibat penjabaran laporan keuangan
f. Selisih Penilaian Kembali Aktiva Tetap
g. Saldo laba (rugi)
Modal Disetor 31)
a. Modal dasar
b. Modal yang belum disetor -/Perkiraan Tambahan Modal Disetor
a. Agio
b. Disagio
-/c. Modal Sumbangan 32)
d. Dana Setoran Modal 33)
e. Penyesuaian akibat penjabaran laporan keuangan
i. Selisih lebih
ii. Selisih kurang -/Selisih Penilaian Kembali Aktiva Tetap
Saldo laba (rugi) :
Cadangan
a. Cadangan Umum
b. Cadangan Khusus
350(30)
350(35)
350(39)
421
422
431
432
433
434
436
437
445
451
452
Laba/Rugi
a. Tahun-Tahun Lalu
i. Laba
ii. Rugi
-/b. Tahun Berjalan
02)
i. Laba
ii. Rugi
-/-
461
462
465
466
478
Page 6 of 6
Lampiran 24
Lampiran 8 Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 7/ 56 /DPbS tanggal 9 Desember 2005
Lampiran 8
PEDOMAN PENYUSUNAN LABA/RUGI DAN PERUBAHAN SALDO LABA
POS L/K PUBLIKASI
I.
PENDAPATAN DAN BEBAN OPERASIONAL
A. Pendapatan dari Penyaluran Dana
1. Dari Pihak Ketiga Bukan Bank
a. Pendapatan Margin Murabahah
b. Pendapatan Bersih Salam Paralel
c. Pendapatan Bersih Istishna Paralel
i. Pendapatan Istishna'
ii. Harga Pokok Istishna' -/d. Pendapatan Sewa Ijarah
e. Pendapatan bagi hasil Mudharabah
f. Pendapatan bagi hasil Musyarakah
g. Pendapatan dari penyertaan
h. Lainnya
2. Dari Bank Indonesia
a. Bonus SWBI
b. Lainnya
3. Dari bank-bank lain di Indonesia
a. Bonus dari Bank Syariah lain
b. Pendapatan bagi hasil Mudharabah
i. Tabungan Mudharabah
ii. Deposito Mudharabah
iii. Sertifikat Investasi Mudharabah Antarbank
iv. Lainnya
c. Lainnya
LBUS
Sandi LBU
Pendapatan Operasional
A. Pendapatan dari Penyaluran Dana
A.1. Penduduk
1. Dari Pihak Ketiga Bukan Bank
a. Pendapatan Margin Murabahah
b. Pendapatan Bersih Salam Paralel
c. Pendapatan Bersih Istishna Paralel
i. Pendapatan Istishna'
ii. Harga Pokok Istishna' -/d. Pendapatan Sewa Ijarah
e. Pendapatan bagi hasil Mudharabah
f. Pendapatan bagi hasil Musyarakah
g. Pendapatan dari penyertaan
h. Lainnya
2. Dari Bank Indonesia
a. Bonus SWBI
b. Lainnya
3. Dari bank-bank lain di Indonesia
a. Bonus dari Bank Syariah lain
b. Pendapatan bagi hasil Mudharabah
i. Tabungan Mudharabah
ii. Deposito Mudharabah
iii. Sertifikat Investasi Mudharabah Antarbank
iv. Lainnya
c. Lainnya
100
101
A.2. Bukan Penduduk
1. Dari Pihak Ketiga Bukan Bank
a. Pendapatan Margin Murabahah
b. Pendapatan Bersih Salam Paralel
c. Pendapatan Bersih Istishna Paralel
i. Pendapatan Istishna'
ii. Harga Pokok Istishna' -/d. Pendapatan Sewa Ijarah
e. Pendapatan bagi hasil Mudharabah
f. Pendapatan bagi hasil Musyarakah
g. Pendapatan dari penyertaan
h. Lainnya
2 Dari bank-bank lain di Indonesia
a. Bonus dari Bank Syariah lain
b. Pendapatan bagi hasil Mudharabah
i. Tabungan Mudharabah
ii. Deposito Mudharabah
iii. Sertifikat Investasi Mudharabah Antarbank
iv. Lainnya
c. Lainnya
B. Pendapatan Operasional Lainnya
1. Jasa Investasi Terikat (Mudharabah Muqayyadah )
2. Jasa layanan
3. Pendapatan dari transaksi valuta asing
4. Koreksi PPAP
5. Koreksi Penyisihan Penghapusan Transaksi
Rekening Administratif
6. Lainnya
1)
B. Pendapatan Operasional Lainnya
1. Jasa Investasi Terikat (Mudharabah Muqayyadah )
2. Jasa layanan
2.1 Transfer
2.2 Bank garansi
2.3 Inkaso
2.4 Penerbitan L/C
2.5 Lainnya
3. Pendapatan dari transaksi valuta asing
4. Koreksi PPAP
5. Koreksi Penyisihan Penghapusan Transaksi
Rekening Administratif
6. Lainnya
102
103
104
105
106
107
108
109
111
112
113
114
115
116
117
118
119
120
121
122
123
124
125
126
127
129
130
131
132
133
134
135
136
137
138
139
140
141
143
144
145
146
149
479
Lanjutan Lampiran 24
Lampiran 8 Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 7/ 56 /DPbS tanggal 9 Desember 2005
Lampiran 8
PEDOMAN PENYUSUNAN LABA/RUGI DAN PERUBAHAN SALDO LABA
POS L/K PUBLIKASI
II.
Bagi hasil untuk Investor Dana Investasi Tidak Terikat -/1. Pihak ketiga bukan bank
a. Tabungan Mudharabah
b. Deposito Mudharabah
c. Lainnya
2. Bank Indonesia
a. FPJP Syariah
b. Lainnya
3. Bank-bank lain di Indonesia dan diluar Indonesia
a. Tabungan Mudharabah
b. Deposito Mudharabah
c. Sertifikat Investasi Mudharabah Antarbank
d. Lainnya
LBUS
Bagi hasil untuk Investor Dana Investasi Tidak Terikat -/A. Penduduk
1. Pihak ketiga bukan bank
a. Tabungan Mudharabah
b. Deposito Mudharabah
c. Lainnya
2. Bank Indonesia
a. FPJP Syariah
b. Lainnya
3. Bank-bank lain di Indonesia dan diluar Indonesia
a. Tabungan Mudharabah
b. Deposito Mudharabah
c. Sertifikat Investasi Mudharabah Antarbank
d. Lainnya
B. Bukan penduduk
1. Pihak ketiga bukan bank
a. Tabungan Mudharabah
b. Deposito Mudharabah
c. Lainnya
2 Bank-bank lain di Indonesia dan diluar Indonesia
a. Tabungan Mudharabah
b. Deposito Mudharabah
c. Sertifikat Investasi Mudharabah Antarbank
d. Lainnya
III. Pendapatan Operasional setelah distribusi bagi hasil
Untuk Investor Dana Investasi Tidak Terikat ( I - II )
Pendapatan Operasional setelah distribusi bagi hasil
Untuk Investor Dana Investasi Tidak Terikat ( I - II )
A. Surplus
B. Defisit
IV. Beban (pendapatan) Penyisihan Penghapusan Aktiva
Beban operasional
Penyusutan/penyisihan/amortisasi/penghapusan
1 Penyusutan/Amortisasi aktiva Ijarah
2 Surat berharga yang dimiliki
3 Penempatan dana antarbank
4 Piutang
4.1. Piutang Murabahah
4.2. Piutang Salam dan Istishna
4.3. Piutang Qardh
5 Tagihan lainnya
6 Pembiayaan
6.1. Pembiayaan Mudharabah
6.2. Pembiayaan Musyarakah
6.3. Lainnya
7 Penyertaan
8 Lainnya
V.
Beban (pendapatan) estimasi kerugian komitmen dan kontinjensi
Beban operasional
Penyusutan/Penyisihan/amortisasi/penghapusan
Transaksi Rekening Administratif
1)
Sandi LBU
150
151
152
153
154
155
156
157
158
159
160
161
163
164
165
167
169
170
171
172
373
374
375
376
377
380
381
382
383
385
386
389
387
VI. Beban Operasional lainnya
A. Beban Bonus titipan wadiah
Beban operasional
Beban Bonus titipan wadiah
1. Penduduk
1.1. Bank Indonesia
1.2. Bank-bank lain di Indonesia
1.3. Pihak ketiga bukan bank
185
186
189
480
Lanjutan Lampiran 24
Lampiran 8 Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 7/ 56 /DPbS tanggal 9 Desember 2005
Lampiran 8
PEDOMAN PENYUSUNAN LABA/RUGI DAN PERUBAHAN SALDO LABA
POS L/K PUBLIKASI
LBUS
2. Bukan Penduduk
2.1. Bank-bank lain di luar Indonesia
2.2. Pihak ketiga bukan bank
B. Beban administrasi dan umum
Premi Asuransi
Penelitian dan pengembangan
Sewa
Pajak-Pajak (Tidak termasuk pajak penghasilan)
Pemeliharaan dan perbaikan aktiva tetap dan inventaris
F. Penyusutan/Penyisihan/amortisasi/penghapusan
1. Penyusutan aktiva tetap dan inventaris
2. Biaya yang ditangguhkan
D. Beban penurunan nilai surat berharga
E. Beban transaksi valuta asing
F. Beban promosi
G. Beban lainnya
VII. Laba (Rugi) Operasional (III - (IV+V+VI))
PENDAPATAN DAN BEBAN NON OPERASIONAL
VIII Pendapatan Non Operasional
2)
IX Beban Non Operasional
3)
Sandi LBU
190
192
Beban operasional
A.
B.
C.
D.
E.
C. Beban personalia
1)
Beban operasional
A. Tenaga kerja
1. Gaji dan upah
2. Honorarium Komisaris/Dewan Pengawas Syariah/
Direksi
3. Lainnya
B. Pendidikan dan pelatihan
279
320
330
350
360
371
372
301
302
309
310
Beban operasional
Penurunan nilai surat berharga
390
Beban operasional
Beban transaksi valuta asing
200
Beban operasional
Promosi
340
Beban operasional
A. Premi dalam rangka Penjaminan Dana Pihak Ketiga
B. Lainnya
C. Biaya Perbaikan Aktiva Ijarah
272
399
210
Beban non-operasional
Kerugian restrukturisasi Penyaluran dana
Investasi Tidak Terikat
423
Laba (Rugi) Operasional (III - (IV+V+VI))
Pendapatan Non Operasional
A. Keuntungan karena penjualan aktiva tetap dan inventaris
B. Keuntungan Pelepasan Aktiva Ijarah
C. Hasil offsetting kredit Imbalan antar kantor
1. KP/KC di Indonesia (413)
2. KP/KC di luar Indonesia (414)
D. Selisih kurs
E. Lainnya 2)
1 Lainnya
2 Pendapatan pajak tangguhan
Beban Non Operasional
A. Kerugian karena penjualan/kehilangan aktiva tetap
dan inventaris
B. Kerugian Pelepasan Aktiva Ijarah
410
411
412
(413+414) (426+427)
415
419
447
420
421
422
481
Lanjutan Lampiran 24
Lampiran 8 Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 7/ 56 /DPbS tanggal 9 Desember 2005
Lampiran 8
PEDOMAN PENYUSUNAN LABA/RUGI DAN PERUBAHAN SALDO LABA
POS L/K PUBLIKASI
LBUS
C. Denda-denda/sanksi-sanksi
D. Selisih kurs
E. Hasil offsetting debet Imbalan antar kantor
1. KP/KC di Indonesia (426)
2. KP/KC di luar Indonesia (427)
F. Lainnya 3)
X.
Laba (Rugi) Non Operasional (VIII - IX)
Laba (Rugi) Non Operasional (VIII - IX)
XI
Laba (Rugi) Tahun Berjalan (VII + X)
Laba (Rugi) Tahun Berjalan (VII + X))
XII. Taksiran Pajak Penghasilan
XIII. Jumlah Laba (Rugi) 4)
XIV.
XV.
XVI.
XVII.
XVIII
Hak minoritas -/Saldo Laba (rugi) awal tahun
Dividen
Lainnya
Saldo Laba (rugi) akhir Periode
Taksiran Pajak Penghasilan
- Taksiran pajak penghasilan
- Beban pajak tangguhan
Jumlah Laba (Rugi) 4)
1)
Sandi LBU
424
425
(426+427) (413+414)
429
480
448
Laba = 490
Rugi = 500
Entry
Entry
Entry
Entry
(form Neraca)
451+452
461-462
465-466
XIX. Laba bersih per saham *)
1)
2)
4)
Daftar rincian ini diisi secara akumulatif sejak awal tahun buku bank pelapor sampai dengan tanggal akhir bulan laporan
Sub pos "Lainnya" pada Pendapatan Non Operasional harus dirinci pada Form-42 (Rincian Pendapatan Non-Operasional Lainnya) apabila jumlahnya
melebihi 25% dari sandi 410
Sub pos "Lainnya" pada Beban Non Operasional harus dirinci pada Form-43 (Rincian Beban Non-Operasional Lainnya) apabila jumlahnya melebihi 25 %
dari sandi 420
Jumlah ini harus sama dengan pos 17.b (Laba/Rugi Tahun Berjalan) - Pasiva, Neraca
*)
Khusus bank yang sudah go public
3)
482
Lampiran 25
Lampiran 9 Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 7/ 56 /DPbS tanggal 9 Desember 2005
Lampiran 9
PEDOMAN PENYUSUNAN LAPORAN KOMITMEN DAN KONTINJENSI
No
1
2
3
4
POS-POS L/K PUBLIKASI
KOMITMEN
Tagihan Komitmen
Fasilitas Pembiayaan Yang belum diterima dan belum digunakan
POS - POS LBUS
Sandi LBUS
KOMITMEN
Tagihan Komitmen
Fasilitas Pembiayaan Yang Belum Ditarik dari :
a. Bank Indonesia
b. Bank di Dalam negeri
c. Bank di Luar negeri
d. Lainnya
500
505
510
514
Posisi Pembelian Spot Yang masih berjalan
a. Terkait dengan Bank
b. Tidak terkait dengan Bank
Posisi Pembelian Spot Yang Masih Berjalan
a. Terkait dengan Bank
b. Tidak Terkait dengan Bank
515
520
Posisi Pembelian Forward Yang masih berjalan
a. Terkait dengan Bank
b. Tidak terkait dengan Bank
Posisi Pembelian Forward Yang Masih Berjalan
a. Terkait dengan Bank
b. Tidak Terkait dengan Bank
521
524
Lainnya
Lainnya (Tagihan komitmen selain yang diatas)
a. Terkait dengan Bank
b. Tidak Terkait dengan Bank
525
529
Kewajiban Komitmen
Fasilitas Piutang Qardh yang belum ditarik 9)
a. Dalam rangka talangan Ongkos Naik Haji (ONH)
b. Dalam rangka talangan atas transaksi perdagangan > 15 hr
c. Lainnya
531
532
535
Jumlah Tagihan Komitmen
1
2
Kewajiban Komitmen
Fasilitas Piutang Qardh yang belum ditarik
Fasilitas Pembiayaan kepada nasabah yang belum ditarik
a. Pembiayaan Mudharabah
b. Pembiayaan Musyarakah
Fasilitas Pembiayaan kepada nasabah yang belum
ditarik 10)
a. Pembiayaan Mudharabah
b. Pembiayaan Musyarakah
c. Pembiayaan Lainnya
3
Fasilitas Pembiayaan kepada Bank Syariah Lain yang belum ditarik
Fasilitas Pembiayaan kepada Bank Syariah Lain
yang belum ditarik
4
Irrevocable L/C Yang Masih berjalan
Irrevocable L/C yang masih berjalan 34)
a. L/C Luar Negeri
b. L/C Dalam Negeri
561
562
Posisi Penjualan Spot Yang Masih Berjalan
a. Terkait dengan Bank
b. Tidak terkait dengan Bank
Posisi Penjualan Spot Yang Masih Berjalan
a. Terkait dengan Bank
b. Tidak Terkait dengan Bank
571
575
Posisi Penjualan Forward Yang Masih Berjalan
a. Terkait dengan Bank
b. Tidak terkait dengan Bank
Posisi Penjualan Forward Yang Masih Berjalan
a. Terkait dengan Bank
b. Tidak Terkait dengan Bank
576
579
Lainnya
Lainnya (Kewajiban komitmen selain yang diatas)
a. Terkait dengan Bank
b. Tidak Terkait dengan Bank
580
585
5
6
7
1
2
3
Jumlah Kewajiban Komitmen
Jumlah Kewajiban Komitmen
JUMLAH KOMITMEN BERSIH
JUMLAH KOMITMEN BERSIH
KONTINJENSI
Tagihan Kontinjensi
Garansi (Kafalah) Yang Diterima
Pendapatan yang akan diterima (non-lancar)
a. Terkait dengan Bank
b. Tidak terkait dengan Bank
Lainnya
KONTINJENSI
Tagihan Kontinjensi
Garansi (Kafalah) Yang Diterima
Pendapatan yang akan diterima (non-lancar)
a. Terkait dengan bank
i. Pendapatan Sewa Ijarah
ii. Lainnya
Tidak terkait dengan bank
i. Pendapatan Sewa Ijarah
ii. Lainnya
Lainnya
536
537
539
(Lainnya masuk ke Mudharabah)
540
591
592
594
b.
1
2
Jumlah Tagihan Kontinjensi
Jumlah Tagihan Kontinjensi
Kewajiban Kontinjensi
Garansi (Kafalah) Yang Diberikan
Lainnya
Kewajiban Kontinjensi
Garansi (Kafalah) Yang Diberikan
Lainnya
Jumlah Kewajiban Kontinjensi
Jumlah Kewajiban Kontinjensi
JUMLAH KONTINJENSI BERSIH
JUMLAH KONTINJENSI BERSIH
595
597
598
35)
599
609
483
Lampiran 26
Lampiran 10 Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 7/56/DPbS tanggal 9 Desember 2005
Lampiran 10
PEDOMAN PERHITUNGAN
KEWAJIBAN PENYEDIAAN MODAL MINIMUM
1. Perhitungan
Kewajiban
Penyediaan
Modal
Minimum
disusun
dengan
berpedoman pada ketentuan tentang Kewajiban Penyediaan Modal Minimum.
2. Perhitungan komponen Modal hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a. Di dalam perhitungan laba tidak termasuk pengakuan laba karena penerapan
Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 46 tentang Akuntansi Pajak
Penghasilan, seperti dalam perhitungan laba tahun berjalan harus dikeluarkan
pengaruh perhitungan pajak tangguhan (deferred tax)
b. Di dalam komponen modal disetor tidak termasuk pengakuan modal yang
dipesan yang berasal piutang kepada Pemegang Saham sebagaimana ditetapkan
dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 21 tentang Akuntansi
Ekuitas.
c. Yang dimaksud dengan Dana Setoran Modal adalah dana yang sudah disetor
penuh untuk tujuan penambahan modal namun belum didukung dengan
kelengkapan persyaratan untuk dapat digolongkan sebagai modal disetor seperti
pelaksanaan rapat umum pemegang saham maupun pengesahan anggaran dasar
dari instansi yang berwenang. Untuk dapat diperhitungkan sebagai Dana
Setoran Modal maka dana setoran tersebut harus ditempatkan pada rekening
khusus (escrow account) dan penggunaannya harus dengan persetujuan Bank
Indonesia. Dalam hal dana setoran modal berasal dari calon pemilik Bank maka
jika berdasarkan penelitian Bank Indonesia, calon pemilik Bank atau dana
tersebut tidak memenuhi syarat sebagai pemegang saham atau modal, maka
dana tersebut tidak dapat dianggap sebagai komponen modal, dan dapat ditarik
kembali oleh calon pemilik.
484
Lanjutan Lampiran 26
Lampiran 10 Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 7/56/DPbS tanggal 9 Desember 2005
d. Cadangan Revaluasi Aktiva Tetap tidak dapat dikapitalisir kedalam modal
disetor dan atau dibagikan sebagai saham bonus dan atau dividen.
e. Kekurangan Pembentukan Penyisihan Aktiva Produktif oleh Bank merupakan
komponen biaya pada laba tahun berjalan.
f. Yang dimasukkan dalam komponen laba tahun-tahun lalu maupun laba tahun
berjalan adalah jumlah setelah diperhitungkan taksiran pajak, kecuali apabila
Bank diperkenankan untuk dapat mengkompensasi kerugian sesuai ketentuan
perpajakan yang berlaku.
g. Investasi
Investasi Subordinasi
subordinasidalam
dalamLaporan
Laporan
bulanan
syariah
sebagai
bulanan
bankbank
Syariah
adalahdisebut
Pinjaman
Subordinasi
Obligasi Syariah
Subordinasi,
yangjangka
memenuhi
kriteria
sebagai
berikut :
pinjamandan
subordinasi.
Investasi
Subordinasi
panjang
yang
memenuhi
kriteria Bank Indonesia sebagai berikut :
1) Berdasarkan prinsip mudharabah dan musyarakah ;
2) ada perjanjian tertulis antara bank dengan investor ;
3) mendapat persetujuan terlebih dahulu dari Bank Indonesia, dalam
hubungan ini pada saat bank mengajukan permohonan persetujuan, bank
harus menyampaikan program pembayaran kembali investasi subordinasi
tersebut;
4) tidak dijamin oleh bank yang bersangkutan dan telah disetor penuh;
5) minimal berjangka waktu 5 (lima) tahun;
6) pelunasan sebelum jatuh tempo harus mendapat persetujuan dari Bank
Indonesia, dan dengan pelunasan tersebut permodalan bank tetap sehat; dan
7) dalam
hak tagihnya
dalam
hal terjadi
likuidasi
berlaku
paling
dari segala
hal terjadi
likuidasi
hak tagihnya
berlaku
paling
akhirakhir
dari segala
pinjaman
yang
ada (kedudukannya
sama dengan
modal).
pinjaman
yang ada (kedudukannya
sama
dengan modal).
Investasi subordinasi yang direstrukturisasi diperhitungkan sebesar nilai wajar
setelah restrukturisasi. Dampak restrukturisasi tersebut diakui sesuai dengan
standar akuntansi keuangan yang berlaku.
h. Peningkatan nilai penyertaan pada portofolio tersedia untuk dijual merupakan
selisih antara harga pasar dengan nilai perolehan atas penyertaan Bank pada
perusahaan yang sahamnya tercatat di Pasar Modal.
2
485
Lanjutan Lampiran 26
Lampiran 10 Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 7/56/DPbS tanggal 9 Desember 2005
3. Perhitungan Aktiva Tertimbang Menurut Risiko dan Modal
pedoman pada Lampiran 27
10a dan Lampiran
mengacu pada
10b.
28
4. Modal pelengkap tambahan dalam perhitungan Kewajiban Penyediaan Modal
Minimum ádalah investasi subordinasi jangka pendek yang memenuhi kriteria
Bank Indonesia
3
486
Lampiran 27
Lampiran 1 Surat Edaran Bank Indonesia No. 8 /11/ DPbS tanggal 7 Maret 2006
PEDOMAN PERHITUNGAN AKTIVA TERTIMBANG MENURUT RISIKO (ATMR)
BERDASARKAN LBUS
KOMPONEN
BBT.
NOM RES.
%
SANDI
NERACA
FORM
KOLOM
Sandi Bank/
Gol. Penerbit/
Gol. Debitur/
Gol. Tertagih
Gol. Pemohon
Sandi
Jenis
Gol.
Penjamin
Tujuan
Keterangan
AKTIVA TERTIMBANG MENURUT RISIKO
A. AKTIVA NERACA (Rupiah & Valas)
1.
Kas
0
2.
Emas dan Commemorative coins
2.1 Emas dan mata uang emas
2.2 Commemorative coins
0
0
3.
4.
Penempatan pada Bank Indonesia
3.1 Giro Wadiah pada Bank Indonesia
3.2 SWBI
3.3 Lainnya
Penempatan/Tagihan pada bank lain :
4.1 pada bank sentral negara lain
100
230
17
17
05
10 + 15
03
03
03
10
20
90
120
0
0
0
130
*)
0
04
793
11 s.d. 99
4.2 pada bank lain yang dijamin oleh
pemerintah pusat dan bank sentral
*)
0
04
Sandi Bank
Selain 793
11 s.d. 99
4.3 pada bank lain
*)
20
04
Sandi Bank
Selain 793
05
891
4*
Penyaluran dana(penempatan pada bank lain) berasal dari sumber dana PLS
5.
Surat berharga yang dimiliki :
5.1. Surat Berharga Syariah yang diterbitkan oleh pemerintah Negara lain
5.2. Surat Berharga Syariah yang diterbitkan oleh bank sentral negara lain
5.3.1 Yang diterbitkan atau dijamin oleh
bank sentral dan pemerintah pusat
Yang diterbitkan dan dijamin dengan
uang kas,uang kertas asing, emas,
emas, serta giro, deposito dan
tabungan
pada bank yang bersangkutan,
sebesar nilai dari jaminan tersebut
5.3.3 Yang diterbitkan atau dijamin
oleh bank lain, pemerintah
daerah,BUMD, lembaga non departemen di Indonesia, Bank pembangunan Multilateral, IDB
5.3.2
5.3.4 Yang diterbitkan atau dijamin oleh BUMN,
dan perusahaan milik pemerintah pusat negara lain
5.3.5. Yang diterbitkan atau dijamin oleh pihak lain
swasta lainnya
(S&P rating standard atau yg selevel sesuai ketentuan)
5.3.5.1. perusahaan rating AAA s.d AA5.3.5.2. perusahaan rating A+ s.d A5.3.5.3. perusahaan rating BBB+ s.d BBB5.3.5.4. perusahaan rating BB+ s.d B5.3.5.5. perusahaan rating dibawah B5.3.5.6. perusahaan tidak memiliki rating
5*
Penyaluran dana(surat berharga yg dimiliki) berasal dari sumber dana PLS
6.
Piutang
6.1 Piutang kepada atau dijamin :
793, 891,896,897
794 s.d. 795(prime bank)
001, 801 s.d. 809
sebesar prosentase yang dijamin
11 s.d. 99
kecuali 90
(penyertaan)
Selain 001,801 s.d. 809
Hasil perkalian outstanding
dengan bobot risiko
99
891
1dan 3
sebesar prosentase yang dijamin
1
*)
0
140
140
sebesar prosentase yg dijamin
*)
0
05
793
99
sebesar prosentase yg dijamin
0
05
001,801 s.d 809
55 s.d 99
793,891,896, 897
794 s.d 795 (prime bank)
001,801s.d 809
793,891,896, 897
794 s.d 795 (prime bank)
1 dan 3
*)
1 dan 3
sebesar prosentase yang dijamin
*)
0
05
Selain: 801s.d 809,001
55 s.d 99
Sandi Bank
1 dan 3
sebesar prosentase yang dijamin
1 dan 3
sebesar prosentase yang dijamin
891
pelapor ybs
*)
20
05
810 s.d 827, 896,897
Sandi Bank
55 s.d 99
*)
20
05
828 s.d. 848
dan 893
55 s.d 99
828 s.d 848,893,801 s.d 809 1 dan 3
dan 893,793,794 s.d 795
sebesar prosentase yang dijamin
05
849, 851 s.d 889,
894,895, 899
55 s.d 99
801 s.d 809,851 s.d 889,891 1 dan 3
793,892,894,895,896,897,899
hasil perkalian dari outstanding
dengan bobot risiko dari tiap
kelompok rating perusahaan
*)
810 s.d. 827,891, 896,897
801s.d 809,
selain sandi bank pelapor
793,794 s.d 795
20
50
100
100
150
100
1
150 s.d 154,159
Saldo Harga
Pokok
6.1.1 Bank Sentral
*)
0
06 s.d 09
001
jenis pengg.
10 s.d. 89
(untuk salam
tidak ada)
001, 793
1 dan 9 sebesar prosentase yang dijamin
(kecuali
salam)
6.1.2 Pemerintah Pusat
*)
0
06 s.d 09
801 s.d 809
891
jenis pengg.
10 s.d. 89
(untuk salam
tidak ada)
801 s.d 809
891
1 dan 9 sebesar prosentase yang dijamin
(kecuali
salam)
6.1.3 Uang kas, uang kertas asing, emas, mata
uang emas, serta giro, deposito dan
tabungan pada bank yang bersangkutan,
sebesar nilai dari jaminan tersebut.
*)
0
06 s.d 09
Selain : 801 s.d 809,001
891
jenis pengg.
10 s.d. 89
(untuk salam
tidak ada)
Sandi Bank
pelapor ybs
1 dan 9 sebesar prosentase yang dijamin
(kecuali
salam)
6.1.4 Bank lain, pemerintah daerah, BUMD, lembaga
non departemen di Indonesia, Bank
Pembangunan Multilateral, IDB
*)
**)
20
06 s.d 09
810 s.d 827, 896,897
Sandi Bank
jenis pengg.
10 s.d. 89
(untuk salam
tidak ada)
810 s.d 827,891, 896,897
801 - 809,
selain sandi bank pelapor
793,794 s.d 795
1 dan 9 sebesar prosentase yang dijamin
(kecuali
salam)
6.1.5 BUMN dan perusahaan milik pemerintah
pusat negara lain
*)
**)
20
06 s.d 09
828 s.d. 848
dan 893
jenis pengg.
10 s.d. 89
(untuk salam
tidak ada)
828 s.d 848,893,801 s.d 809 1 dan 9 sebesar prosentase yang dijamin
dan 893,793,794 s.d 795
(kecuali
salam)
06 s.d 09
849, 851 s.d 889,
894,895, 899
jenis pengg.
10 s.d. 89
849 s.d 889,801 s.d 809
1 dan 9 sebesar prosentase yang dijamin
892,894,895, 891,
(kecuali
793,794 s.d 795,896,897,899 salam)
851 s.d 889
jenis pengg.
71, 72, 80
6.1.6 Pihak-pihak lainnya
6.1.6.1. perusahaan rating AAA s.d AA6.1.6.2. perusahaan rating A+ s.d A6.1.6.3. perusahaan rating BBB+ s.d BBB6.1.6.4. perusahaan rating BB+ s.d B6.1.6.5. perusahaan rating dibawah B6.1.6.6. perusahaan tidak memiliki rating
6.2. Piutang Pemilikan Rumah yang dijamin oleh hak tanggungan pertama
dengan tujuan untuk dihuni.
*)
20
50
100
100
150
100
*)
35
150
06
6.3. Piutang kepada usaha kecil
*)
**)
85
150 s.d 159
06 s.d 09
6.4. Piutang kepada pegawai/pensiunan
*)
**)
50
150 s.d 159
06 s.d 09
6*
Penyaluran dana(piutang, kecuali qardh) berasal dari sumber dana PLS
7.
Pembiayaan
7.1 Pembiayaan yang diberikan kepada atau dijamin :
851 s.d 889
sebesar outstanding dikalikan
bobot risiko
Gol.piutang
19
1
160,161,169
160,161,169
B. Debet
7.1.1 Bank Sentral
*)
0
10
001
jenis pengg.
10 s.d. 59
001, 793
1 dan 9
sebesar prosentase yang dijamin
7.1.2 Pemerintah Pusat
*)
0
10
801 s.d 809
891
jenis pengg.
10 s.d. 59
801 s.d 809
891
1 dan 9
sebesar prosentase yang dijamin
7.1.3 Uang kas, uang kertas asing, emas, mata
uang emas, serta giro, deposito dan
tabungan pada bank yang bersangkutan,
sebesar nilai dari jaminan tersebut.
*)
0
10
Selain : 801 s.d 809,001
891
jenis pengg.
10 s.d. 59
Sandi Bank
pelapor ybs
1 dan 9
sebesar prosentase yang dijamin
7.1.4 Bank lain, pemerintah daerah, BUMD, lembaga
non departemen di Indonesia, Bank
Pembangunan Multilateral, IDB
*)
**)
20
10
810 s.d 827, 896,897
Sandi Bank
jenis pengg.
10 s.d. 59
810 s.d 827,891, 896,897
801 - 809,
selain sandi bank pelapor
793,794 s.d 795
1 dan 9
sebesar prosentase yang dijamin
7.1.5 BUMN dan perusahaan milik pemerintah
pusat negara lain
*)
**)
20
10
828 s.d. 848
dan 893
jenis pengg.
10 s.d. 59
828 s.d 848,893,801 s.d 809 1 dan 9
dan 893,793,794 s.d 795
sebesar prosentase yang dijamin
487
Page 1 of 3
Lanjutan Lampiran 27
Lampiran 1 Surat Edaran Bank Indonesia No. 8 /11/ DPbS tanggal 7 Maret 2006
PEDOMAN PERHITUNGAN AKTIVA TERTIMBANG MENURUT RISIKO (ATMR)
BERDASARKAN LBUS
BBT.
NOM RES.
%
KOMPONEN
7.1.6 Pihak-pihak lainnya
*)
**)
7.1.6.1. perusahaan rating AAA s.d AA7.1.6.2. perusahaan rating A+ s.d A7.1.6.3. perusahaan rating BBB+ s.d BBB7.1.6.4. perusahaan rating BB+ s.d B7.1.6.5. perusahaan rating dibawah B7.1.6.6. perusahaan tidak memiliki rating
7*
KOLOM
10
7.2. Pembiayaan kepada usaha kecil
*)
**)
85
7.3. Pembiayaan kepada pegawai/pensiunan
*)
**)
50
Penyaluran dana (pembiayaan) berasal dari sumber dana PLS
Sandi Bank/
Gol. Penerbit/
Gol. Debitur/
Gol. Tertagih
Gol. Pemohon
Sandi
Jenis
Gol.
Penjamin
849, 851 s.d 889,
894,895, 899
jenis pengg.
10 s.d. 59
849 s.d 889,801 s.d 809
891,892,894,895, 899
Tujuan
Keterangan
1 dan 9
Hasil perkalian outstanding
dengan bobot risiko
160,161,169
10
Gol.pembiayaan
KUK
1
150
8 Persediaan
100
9 Ijarah (dikurangi dengan akumulasi penyusutan/amortisasi aktiva ijarah)
Aktiva ijarah yang disewakan kepada atau dijamin :
9.1. Bank Sentral
FORM
20
50
100
100
150
100
7** Penyaluran dana PLS yg sumber dana dari wadiah,modal sendiri,qardh, MM
9*
SANDI
NERACA
170
Sandi bank pelapor
ybs
180,185
Sandi bank pelapor
ybs
Nilai Bersih
Aktv.Ijarah
*)
0
44
001
001, 793
1 dan 9
sebesar prosentase yang dijamin
9.2.
Pemerintah Pusat
*)
0
44
801 s.d 809
891
801 s.d 809
891
1 dan 9
sebesar prosentase yang dijamin
9.3.
Uang kas, uang kertas asing, emas, mata
uang emas, serta giro, deposito dan
tabungan pada bank yang bersangkutan,
sebesar nilai dari jaminan tersebut.
*)
0
44
Selain : 801 s.d 809,001
891
Sandi Bank
pelapor ybs
1 dan 9
sebesar prosentase yang dijamin
9.4.
Bank lain, pemerintah daerah, BUMD, lembaga
non departemen di Indonesia, Bank
Pembangunan Multilateral, IDB
*)
20
44
810 s.d 827, 896,897
Sandi Bank
810 s.d 827,891, 896,897
801 s.d 809,
selain sandi bank pelapor
793,794 s.d 795
1 dan 9
sebesar prosentase yang dijamin
9.5.
BUMN dan perusahaan milik pemerintah
pusat negara lain
*)
20
44
828 s.d. 848
dan 893
828 s.d 848,893,801 s.d 809 1 dan 9
dan 893,793,794 s.d 795
sebesar prosentase yang dijamin
9.6.
Pihak-pihak lainnya (khusus untuk Ijarah Muntahiyah BiTtamlik/IMBT)
9.6.1. perusahaan rating AAA s.d AA9.6.2. perusahaan rating A+ s.d A9.6.3. perusahaan rating BBB+ s.d BBB9.6.4. perusahaan rating BB+ s.d B9.6.5. perusahaan rating dibawah B9.6.6. perusahaan tidak memiliki rating
*)
44
849, 851 s.d 889,
894,895, 899
849 s.d 889,801 s.d 809
1 dan 9
892,894,895, 891,
793,794 s.d 795,896,897,899
Hasil perkalian outstanding
dengan bobot risiko
9.7.
Untuk usaha kecil
*)
85
9.8
Untuk pegawai/pensiunan
*)
50
20
50
100
100
150
100
Penyaluran dana (ijarah) berasal dari sumber dana PLS
10 Tagihan lainnya
10.1.Tagihan lainnya kepada atau dijamin :
10.1.1.Bank Sentral
44
1
190
*)
0
11
001
11 s.d. 90
001, 793
sebesar prosentase yang dijamin
10.1.2.Pemerintah Pusat
*)
0
11
801 s.d 809
891
11 s.d. 90
801 s.d 809
891
sebesar prosentase yang dijamin
10.1.3.Uang kas, uang kertas asing, emas, mata
uang emas, serta giro, deposito dan
tabungan pada bank yang bersangkutan,
sebesar nilai dari jaminan tersebut.
*)
0
11
Selain : 801 s.d 809,001
891
11 s.d. 90
Sandi Bank
pelapor ybs
sebesar prosentase yang dijamin
10.1.4.Bank lain, pemerintah daerah, BUMD, lembaga
non departemen di Indonesia, Bank
Pembangunan Multilateral, IDB
*)
20
11
810 s.d 827, 896,897
Sandi Bank
11 s.d. 90
810 s.d 827,891, 896,897
801 s.d 809,
selain sandi bank pelapor
793,794 s.d 795
sebesar prosentase yang dijamin
10.1.5.BUMN dan perusahaan milik pemerintah
pusat negara lain
*)
20
11
828 s.d. 848
dan 893
11 s.d. 90
828 s.d 848,893,801 s.d 809
dan 893,793,794 s.d 795
sebesar prosentase yang dijamin
10.1.6.Pihak-pihak lainnya
10.1.6.1. perusahaan rating AAA s.d AA10.1.6.2. perusahaan rating A+ s.d A10.1.6.3. perusahaan rating BBB+ s.d BBB10.1.6.4. perusahaan rating BB+ s.d B10.1.6.5. perusahaan rating dibawah B10.1.6.6. perusahaan tidak memiliki rating
*)
849, 851 s.d 889,
894,895, 899
11 s.d. 90
849 s.d 889,801 s.d 809
892,894,895, 891,
793,794 s.d 795,896,897,899
11
10.2.Untuk usaha kecil
*)
85
10.3.Untuk pegawai/pensiunan
*)
50
10* Penyaluran dana (tagihan lainnya) berasal dari sumber dana PLS
11** Penyaluran dana PLS yg sumber dana dari wadiah,modal sendiri,qardh, MM
12 Aktiva Istishna' dalam penyelesaian
13 Aktiva tetap dan inventaris (nilai buku)
13.1.Tanah dan Gedung +/+
13.2.Akumulasi penyusutan gedung -/13.3.Inventaris +/+
13.4.Akumulasi penyusutan inventaris -/-
dengan bobot risiko
11
1
10** Penyaluran dana PLS yg sumber dana dari wadiah,modal sendiri,qardh, MM
11 Penyertaan
Penyertaan pada anak perusahaan -/(khusus dalam rangka restrukturisasi pembiayaan)
11* Penyaluran dana (penyertaan) berasal dari sumber dana PLS
Hasil perkalian outstanding
20
50
100
100
150
100
150
*)
100
200
200
12
12
100
210,211
14
100
213
214
215
216
10,90
10,90
1 dan 9
1
150
-/100
-/-
14 Antar Kantor Aktiva
14.1.Kegiatan operasional di Indonesia (Aktiva)
14.2.Kegiatan operasional di luar Indonesia (Aktiva
100
100
223
224
15
16
15 Rupa-rupa aktiva :
100
230
17
Jumlah
sandi bank pelapor ybs
1 dan 9
sandi bank pelapor ybs
Jika Pasiva lebih besar maka
Antar Kantor = nol
Antar kantor DN di net dgn
antar kantor LN
kecuali
05, (10 + 15),
30 s.d 34, 70
16 Jumlah ATMR aktiva neraca
B. REKENING ADMINISTRATIF (Rupiah & Valas)
1. Fasilitas pembiayaan yang belum digunakan yang
disediakan s.d. akhir thn takwim berjalan yang
disediakan bagi atau dijamin oleh/dengan, atau
yg dijamin surat berharga yang diterbitkan oleh :
1.1 Fasilitas Pembiayaan yang diberikan kepada atau dijamin :
1.1.1 Bank Sentral
1.1.2 Pemerintah Pusat
Jumlah A.1 s.d. A.16
536,537,539
Kel. Tarik
0
10
001
jenis pengg.
10 s.d. 89
kecuali
71dan 72
001
sebesar prosentase yang dijamin
0
10
801 s.d 809
jenis pengg.
10 s.d. 89
kecuali
71dan 72
Selain :
001
sebesar prosentase yang dijamin
488
Page 2 of 3
Lanjutan Lampiran 27
Lampiran 1 Surat Edaran Bank Indonesia No. 8 /11/ DPbS tanggal 7 Maret 2006
PEDOMAN PERHITUNGAN AKTIVA TERTIMBANG MENURUT RISIKO (ATMR)
BERDASARKAN LBUS
KOMPONEN
BBT.
NOM RES.
%
SANDI
NERACA
Sandi Bank/
Gol. Penerbit/
Gol. Debitur/
Gol. Tertagih
Gol. Pemohon
KOLOM
Sandi
Jenis
Gol.
Penjamin
Tujuan
Keterangan
1.1.3 Uang kas, uang kertas asing, emas, mata
uang emas, serta giro, deposito dan
tabungan pada bank yang bersangkutan,
sebesar nilai dari jaminan tersebut.
0
10
Selain :
801 s.d 809
jenis pengg.
10 s.d. 89
kecuali
71dan 72
Sandi Bank
pelapor ybs
sebesar prosentase yang dijamin
1.1.4 Bank lain, pemerintah daerah, BUMD, lembaga
non departemen di Indonesia, Bank
Pembangunan Multilateral, IDB
10
10
810 s.d 827, 896, 897
Sandi Bank
jenis pengg.
10 s.d. 89
kecuali
71dan 72
810 s.d 827,891, 896,897
801 s.d 809,
selain sandi bank pelapor
793,794 s.d 795
sebesar prosentase yang dijamin
1.1.5 BUMN dan perusahaan milik pemerintah
pusat negara lain
10
10
828 s.d. 848
dan 893
jenis pengg.
10 s.d. 89
kecuali
71dan 72
828 s.d. 889
891 s.d 895, 899
sebesar prosentase yang dijamin
1.1.6 Pihak-pihak lainnya
Yang diterbitkan atau dijamin oleh pihak swasta lainnya
(S&P rating standard atau yg selevel sesuai ketentuan)
perusahaan rating AAA s.d AAperusahaan rating A+ s.d Aperusahaan rating BBB+ s.d BBBperusahaan rating BB+ s.d Bperusahaan rating dibawah Bperusahaan tidak memiliki rating
10
*)
849, 851 s.d 889,
894,895, 899
jenis pengg.
10 s.d. 89
kecuali
71dan 72
801 s.d 809,849 s.d 889,891 1 dan 3
793,892,894,895,896,897,899
10
25
50
50
75
50
1.1.7 Usaha kecil
hasil perkalian dari outstanding
dengan bobot risiko dari tiap
kelompok rating perusahaan
42,5
1.1.8 Pegawai/Pensiunan
2.
FORM
25
Garansi/Jaminan bank
2.1 Dlm rangka pemberian pembiayaan termasuk standby
L/C & risk-sharing serta endosemen atau aval atas
surat-surat berharga yg diberikan atas permintaan :
2.1.1 Bank Sentral dan pemerintah pusat.
*)
0
599
35
001, 801 s.d 809
30, 40, 50,90
001, 801 s.d 809
2.1.2 Bank lain, pemerintah daerah, BUMD, lembaga non
departemen, bank pembangunan multilateral, IDB
*)
20
599
35
810 s.d 827, 896, 897
Sandi Bank
30, 40, 50,90
810 s.d 827,891, 896,897
801 s.d 809,
selain sandi bank pelapor
793,794 s.d 795
2.1.3 BUMN dan perusahaan milik pemerintah pusat
negara lain.
*)
20
599
35
828 s.d. 848
dan 893
30, 40, 50,90
828 s.d. 889
891 s.d 895, 899
599
35
849, 851 s.d 889,
894,895, 899
30, 40, 50, 90
2.1.4 Pihak-pihak lainnya
Yang diterbitkan atau dijamin oleh pihak swasta lainnya
(S&P rating standard atau yg selevel sesuai ketentuan)
perusahaan rating AAA s.d AAperusahaan rating A+ s.d Aperusahaan rating BBB+ s.d BBBperusahaan rating BB+ s.d Bperusahaan rating dibawah Bperusahaan tidak memiliki rating
801 s.d 809,849 s.d 889,891 1 dan 3
793,892,894,895,896,897,899
hasil perkalian dari outstanding
dengan bobot risiko dari tiap
kelompok rating perusahaan
*)
20
50
100
100
150
100
2.2 Bukan dalam rangka pemberian pembiayaan, seperti bid bonds ,
performance bonds dan advance payments bonds
yang diberikan atas permintaan :
2.2.1 Bank Sentral dan pemerintah pusat
*)
0
599
35
001, 801 s.d 809
10 dan 20
001, 801 s.d 809
2.2.2 Bank lain, pemerintah daerah, BUMD, lembaga non
departemen, bank pembangunan multilateral, IDB
*)
10
599
35
810 - 827, 896, 897
Sandi Bank
10 dan 20
810 s.d 827,891, 896,897
801 s.d 809,
selain sandi bank pelapor
793,794 s.d 795
2.2.3 BUMN dan perusahaan milik pemerintah pusat
negara lain.
*)
10
599
35
828 s.d 849
dan 893
10 dan 20
828 s.d. 889
891 s.d 895, 899
2.2.4 Pihak-pihak lainnya
*)
599
35
849, 851 s.d 889,
894,895, 899
10 dan 20
801 s.d 809,849 s.d 889,891
793,892,894,895,896,897,899
perusahaan rating AAA s.d AAperusahaan rating A+ s.d Aperusahaan rating BBB+ s.d BBBperusahaan rating BB+ s.d Bperusahaan rating dibawah Bperusahaan tidak memiliki rating
10
25
50
50
75
50
2.3. L/C yang masih berlaku (tidak termasuk standby
L/C) yang diberikan atas permintaan :
2.3.1 Bank Sentral dan pemerintah pusat.
2.3.2 Bank lain, pemerintah daerah, BUMD, lembaga non
departemen, bank pembangunan multilateral, IDB
2.3.3 BUMN, dan perusahaan milik pemerintah
pusat negara lain.
2.3.4 Pihak-pihak lainnya
perusahaan rating AAA s.d AAperusahaan rating A+ s.d Aperusahaan rating BBB+ s.d BBBperusahaan rating BB+ s.d Bperusahaan rating dibawah Bperusahaan tidak memiliki rating
*)
*)
*)
0
599
35
001, 801 s.d 809
60, 65
001, 801 s.d 809
0
561 &562
34
001, 801 s.d 809
11, 15
001, 801 s.d 809
810 s.d 827, 896, 897
Sandi Bank Lain
810 s.d 827, 896, 897
Sandi Bank Lain
60, 65
810 s.d 827, 896, 897
Sandi Bank Lain
810 s.d 827, 896, 897
Sandi Bank Lain
4
599
35
4
561 &562
34
4
599
35
4
561 &562
34
*)
828 s.d 849
dan 893
828 s.d 848
dan 893
11, 15
60, 65
11, 15
828 s.d 849
dan 893
828 s.d 848
dan 893
599
35
849 s.d 889,
891,892,894,895, 899
60, 65
849 s.d 889,
891,892,894,895, 899
561 &562
34
849 s.d 889,
891,892,894,895, 899
11, 15
849 s.d 889,
891,892,894,895, 899
4
10
20
20
30
20
3 Jumlah ATMR rekening administratif
C. JUMLAH ATMR ( A.16 + B.3)
KETERANGAN :
a. Bank Sentral
001
b. Bank Sentral negara lain
793
c. Pemerintah Pusat
801-809
d. Pemerintah Pusat atau Bank Sentral
801-809, 001
e. Negara lain
891
f. Bank lain
Seluruh kecuali 001, 793, 801-809
Pemerintah Daerah
828-848, 851-895, 899
BUMD
Lembaga non departemen di Indonesia
Bank Pembangunan Multilateral
g. BUMN
828-848, 891,893
Perusahaan milik pem. Pusat neg. lain
h. Uang kas, uang kertas asing, emas, mata
Sandi bank pelapor
uang emas, giro, deposito dan tabungan
I. Swasta lainnya/pihak lainnya
Kecuali a, b, c, d, e, f, g, h
*) Diisi dengan jumlah nominal setelah dikurangi Cadangan Khusus Penyisihan Penghapusan Aktiva yang telah dibentuk oleh bank
**) Diisi dengan jumlah setelah dikurangi dengan Penyisihan dalam rangka restrukturisasi Pembiayaan {sandi 230(332)} untuk pembiayaan, sandi 230(31) untuk piutang dan
pendapatan yang ditangguhkan yang berasal dari restrukturisasi {sandi 400(41,49)}
j. penyaluran dana yang berasal dari sumber dana berbasis profit & loss sharing diberi bobot risiko 1 %
(hanya untuk bentuk-bentuk penyaluran dana yang diperbolehkan menggunakan sumber dana profit & loss sharing sesuai ketentuan yang berlaku)
k. MM = Mudharabah Mutlaqah (investasi tidak terikat) revenue sharing
l. PLS = Profit and Loss Sharing
489
Page 3 of 3
Lampiran 28
Lampiran
2 Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 8/11/DPbS tanggal 7 Maret 2006
PEDOMAN PERHITUNGAN MODAL
KETERANGAN
I.
Pos- Pos LBUS
Sandi
LBUS
KOMPONEN MODAL
A.
MODAL INTI
1.
2.
Modal Disetor
Cadangan Tambahan Modal
(Disclosed Reserves)
a. Agio Saham
b. Disagio (-/-)
c. Modal Sumbangan
d. Cadangan Umum dan Tujuan
e.
f.
Laba tahun-tahun lalu setelah
diperhitungkan pajak
Rugi tahun-tahun lalu (-/-)
1) Modal Dasar
2) Modal yang belum disetor
-/-
421
Agio
Disagio
-/Modal Sumbangan
1) Cadangan Umum
2) Cadangan Tujuan
Laba tahun-tahun lalu
431
422
432
433
451
452
461
462
Rugi tahun-tahun lalu -/Faktor-faktor adjustment:
1) Dampak pengakuan aktiva pajak
230(70)
tangguhan
Entry
2) Lainnya
g.
Laba tahun berjalan setelah
diperhitungkan pajak (50%)
Laba tahun berjalan
Faktor-faktor adjustment:
1) Perhitungan pajak
2) Dampak
pengakuan
pajak
tangguhan
- Pendapatan pajak
tangguhan
- Beban pajak
tangguhan
3) Kekurangan pembentukan PPAP
4) Lainnya
465
480
-/- 447
448
*)
Entry
h.
Rugi tahun berjalan (-/-)
Rugi tahun berjalan
466
i.
Selisih penjabaran laporan
keuangan Kantor Cabang Luar
Negeri
1) Selisih Lebih
2) Selisih Kurang (-/-)
Penyesuaian akibat penjabaran
laporan keuangan
1) Selisih lebih
2) Selisih kurang
-/-
436
437
1
490
Lanjutan Lampiran 28
Lampiran
2 Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 8/11/DPbS tanggal 7 Maret 2006
KETERANGAN
j.
k.
3.
Dana Setoran Modal
Penurunan nilai Penyertaan pada
portofolio tersedia untuk dijual (-/-)
Goodwill (-/-)
Pos- Pos LBUS
Dana Setoran Modal
Lainnya
Selisih kurang
Rupa-rupa Aktiva
Goodwill
B.
Sandi
LBUS
434
Entry
-/230(75)
-/-
MODAL PELENGKAP
(Maks. 100% dari Modal Inti)
1. Selisih Penilaian Kembali Aktiva Tetap
2.
3.
4.
5.
Cadangan Umum Penyisihan
Penghapusan Aktiva Produktif/PPAP
(maks. 1,25% dari ATMR)
Modal Pinjaman
Investasi Subordinasi (maks.50% dari
Modal Inti)
Peningkatan nilai penyertaan pada
portofolio tersedia untuk dijual (45%)
C. MODAL PELENGKAP TAMBAHAN
1. Modal Inti yang dialokasikan untuk
Risiko Pasar
2. Modal Pelengkap yang tidak digunakan
untuk Risiko Penyaluran Dana
3. Investasi Subordinasi untuk Risiko Pasar
4. Jumlah Modal Pelengkap Tambahan
(1 s.d 3)
5. Jumlah Modal Pelengkap Tambahan
yang memenuhi kriteria untuk risiko
pasar
Selisih penilaian kembali aktiva
tetap
Cadangan umum PPAP Aktiva
Cadangan Umum PPAP transaksi
administratif
Modal pinjaman
Kewajiban
kepada
Bank
Indonesia
Pinjaman Subordinasi
445
205
400(80)
410
340(30)
Kewajiban kepada Bank lain
Pinjaman Subordinasi
Obligasi Syariah Subordinasi
350(72)
350(61)
Surat Berharga yang diterbitkan
Obligasi Syariah Subordinasi
355(71)
Pinjaman Subordinasi
368
Adjustment : amortisasi berdasarkan Entry
jangka waktu yang tersisa
Entry
Lainnya
Selisih lebih
Entry
2
491
Lanjutan Lampiran 28
Lampiran
2 Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 8/11/DPbS tanggal 7 Maret 2006
KETERANGAN
II.
III.
IV.
TOTAL MODAL INTI DAN MODAL
PELENGKAP (A+B)
TOTAL MODAL INTI, MODAL
PELENGKAP, DAN MODAL PELENGKAP
TAMBAHAN
PENYERTAAN (-/-)
Pos- Pos LBUS
Sandi
LBUS
130(90),
200(10),
200(90)
Penyertaan
V.
TOTAL MODAL UNTUK RISIKO KREDIT
(II – IV)
VI. TOTAL MODAL UNTUK RISIKO KREDIT
DAN RISIKO PASAR (III – IV)
VII. AKTIVA TERTIMBANG MENURUT
RISIKO (ATMR) KREDIT
VIII. AKTIVA TERTIMBANG MENURUT
RISIKO PASAR
IX. AKTIVA TERTIMBANG MENURUT
RISIKO KREDIT DAN RISIKO PASAR
X. RASIO KEWAJIBAN PENYEDIAAN
MODAL MINIMUM YANG TERSEDIA
UNTUK RISIKO KREDIT (V : VII)
XI. RASIO KEWAJIBAN PENYEDIAAN
MODAL MINIMUM YANG TERSEDIA
UNTUK RISIKO KREDIT DAN RISIKO
PASAR (VI : IX)
XII. RASIO KEWAJIBAN PENYEDIAAN
MODAL MINIMUM YANG DIWAJIBKAN
*) Selisih kurang PPAP yang telah dibentuk dengan perhitungan PPAP yang wajib dibentuk sesuai data LBU
-
3
492
Lampiran 29
Lampiran 11 Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 7/56/DPbS tanggal 9 Desember 2005
Lampiran 11
PEDOMAN PERHITUNGAN RASIO KEUANGAN
NO .
RASIO
I.
1.
Permodalan
2.
Aktiva tetap terhadap modal
FORMULA
KETERANGAN
Perhitungan Modal dan Aktiva
Modal
a.
CAR
dengan
Menurut
Risiko
Menurut Tertimbang
memperhitungkan
risiko Aktiva Tertimbang
dilakukan berdasarkan ketentuan
Risiko Kredit/penyaluran dana
kredit/penyaluran dana
Kewajiban
Penyediaan
Modal
Minimum Bank Syariah yang
berlaku.
b.
CAR
dengan
Modal
memperhitungkan
risiko Aktiva Tertimbang
Menurut
kredit/penyaluran dana dan Risiko Kredit/penyaluran dana
risiko pasar
dan ATMR risiko pasar
Aktiva tetap dan inventaris
Modal
•
•
•
II.
1.
Aktiva Produktif
Aktiva produktif bermasalah Aktiva produktif bermasalah
(Aktiva
produktif
Total aktiva produktf
bermasalah terhadap total
aktiva produktif) = NPA
NPA = NPEA
EA
•
•
•
•
2.
a. NPF (penyediaan dana
bermasalah) gross
Penyediaan dana bermasalah
Total penyediaan dana
•
•
•
Perhitungan modal dilakukan
berdasarkan
ketentuan
Kewajiban Penyediaan Modal
Minimum yang berlaku.
Termasuk dalam aktiva tetap
adalah inventaris dan aktiva
sewa guna usaha.
Aktiva tetap dan inventaris
dihitung secara gross (tidak
dikurangi penyusutan).
Cakupan komponen dan kualitas
aktiva produktif sesuai ketentuan
yang berlaku.
Aktiva produktif bermasalah
merupakan aktiva produktif
dengan kualitas kurang lancar,
diragukan dan macet.
Aktiva produktif bermasalah
dihitung secara gross (tidak
dikurangi PPAP).
Angka dihitung per posisi (tidak
disetahunkan).
Penyediaan/penyaluran
dana
adalah
berupa
piutang,
pembiayaan dan Ijarah
Pembiayaan
merupakan
pembiayaan yang diberikan
kepada pihak ketiga (tidak
termasuk pembiayaan kepada
bank lain).
Penyediaan dana bermasalah
adalah penyediaan dana dengan
kualitas kurang lancar, diragukan
493
Lanjutan Lampiran 29
Lampiran 11 Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 7/56/DPbS tanggal 9 Desember 2005
Lampiran 11
PEDOMAN PERHITUNGAN RASIO KEUANGAN
NO .
RASIO
FORMULA
KETERANGAN
•
•
b. NPF (penyediaan dana Penyediaan dana bermasalah - •
bermasalah) net
PPAP
Total Penyediaan dana
3
PPA produktif
terhadap Penyisihan
Penghapusan •
aktiva produktif
Aktiva Produktif yang telah
(Penyisihan
Penghapusan dibentuk
Aktiva produktif terhadap
•
Total Aktiva Produktif
total aktiva produktif)
4.
Penyisihan Penghapusan Aktiva •
Pemenuhan PPA produktif
(Penyisihan
Penghapusan produktif yang telah dibentuk
Aktiva produktif yang telah
dibentuk
terhadap
Penyisihan
Penghapusan Penyisihan Penghapusan Aktiva
Aktiva produktif yang wajib Produktif yang wajib dibentuk
dibentuk)
Rentabilitas
ROA
Laba sebelum pajak
•
(Return On Assets)
Total aset
III.
1.
•
2.
ROE
( Return On Equity)
Laba setelah pajak
Modal Disetor
•
•
dan macet.
Penyediaan dana bermasalah
dihitung secara gross (tidak
dikurangi PPAP).
Angka dihitung per posisi (tidak
disetahunkan).
PPAP
adalah
Penyisihan
Penghapusan Aktiva Produktif
sesuai ketentuan tentang PPAP
yang berlaku bagi bank syariah
Cakupan
komponen
dan
kualitas aktiva produktif sesuai
ketentuan yang berlaku.
Angka dihitung per posisi (tidak
disetahunkan).
Perhitungan
Penyisihan
Penghapusan Aktiva produktif
yang wajib dibentuk dilakukan
sesuai ketentuan yang berlaku.
Penghitungan laba sebelum
pajak disetahunkan.
Contoh:
Untuk posisi Juni: (akumulasi
laba per posisi Juni dibagi 6) x
12
Rata-rata total asset,Contoh:
Untuk posisi Juni: (penjumlahan
total aset posisi Januari sampai
dengan Juni) dibagi 6
Penghitungan laba setelah pajak
disetahunkan.
Contoh:
Untuk posisi Juni: (akumulasi
laba per posisi Juni dibagi 6) x
12
Rata-rata modal disetor beserta
Tambahan modal disetor (sandi
421-422, 431-434, 436,437 di
LBUS)
Contoh:
Untuk posisi Juni: (penjumlahan
494
Lanjutan Lampiran 29
Lampiran 11 Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 7/56/DPbS tanggal 9 Desember 2005
Lampiran 11
PEDOMAN PERHITUNGAN RASIO KEUANGAN
NO .
RASIO
FORMULA
KETERANGAN
•
3.
NIM/NCOM
(Net Core
Margin)
Pendapatan
operasional •
Operational utama/penyaluran dana – Beban
operasional
utama/penyaluran
dana
Rata-rata aktiva produktif
•
•
4.
OER
(Operational
Ratio)
BOPO
Total beban operasional
Efficiency Total pendapatan operasional
modal disetor beserta tambahan
modal disetor Januari sampai
dengan Juni) dibagi 6
Perhitungan
modal
disetor
dilakukan berdasarkan ketentuan
Kewajiban Penyediaan Modal
Minimum yang berlaku.
Pendapatan
operasional
utama/penyaluran dana setelah
dikurangi dengan bagi hasil
untuk investor dana investasi
tidak terikat seperti yang
tercantum
dalam
Laporan
Laba/Rugi
Bulanan
sandi
170,LBUS .
Beban operasional utama yaitu
beban bonus wadiah, seperti
yang tercantum dalam Laporan
Laba/Rugi Bulanan (sandi 185
– 192, LBUS) dan biaya
perbaikan aktiva ijarah (sandi
210, LBUS)
Pendapatan (beban) operasional
utama/penyaluran
dana
disetahunkan.
Contoh:
Untuk posisi Juni :
{akumulasi pendapatan (beban)
operasional utama per posisi Juni
dibagi 6} x 12
• Angka dihitung per posisi (tidak
disetahunkan).
• Beban operasional, seperti yang
tercantum
dalam
Laporan
Laba/Rugi sandi 180
• Pendapatan operasional setelah
dikurangi dengan bagi hasil
untuk investor dana investasi
tidak terikat seperti yang
tercantum
dalam
Laporan
Laba/Rugi Bulanan sandi 170
LBUS, form-02
495
Lanjutan Lampiran 29
Lampiran 11 Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 7/56/DPbS tanggal 9 Desember 2005
Lampiran 11
PEDOMAN PERHITUNGAN RASIO KEUANGAN
NO .
RASIO
FORMULA
IV.
1.
Likuiditas
Quick Ratio
2.
Antar Bank Passiva (SIMA)
terhadap DPK
SIMA
DPK
3.
Deposan Inti terhadap DPK
Deposan Inti
DPK
V.
1.
Kepatuhan (Compliance)
a.
b.
2.
3.
Aktiva Lancar
Kewajiban Lancar
Persentase Pelanggaran
BMPK
a.1. Pihak Terkait
a.2. Pihak Tidak Terkait
Persentase Pelampauan
BMPK
b.1. Pihak Terkait
b.2. Pihak Tidak Terkait
GWM Rupiah
(Persentase Giro
Minimum Rupiah)
PDN
(Persentase
Neto)
Posisi
KETERANGAN
•
Aktiva lancar dan kewajiban
lancar adalah aktiva dan
kewajiban yang memiliki jangka
waktu sampai dengan 3 bulan
(lihat maturity profile di LBBU)
• SIMA adalah Sertifikat Investasi
Mudharabah
yg berjangka
waktu s.d 3 bln (90 hari) ; lihat
di sandi 350,Kol.IV (51) form 21
• Deposan inti adalah 25 deposan
terbesar dari Bank
• DPK mencakup Giro, Tab,
Deposito
Perhitungan
pelanggaran
dan
pelampauan BMPK dilakukan sesuai
ketentuan BMPK yang berlaku.
Wajib
Perhitungan persentase GWM pada
posisi laporan dilakukan sesuai
ketentuan GWM yang berlaku.
Devisa
Perhitungan persentase PDN pada
posisi laporan dilakukan sesuai
ketentuan PDN yang berlaku.
496
Lampiran 30
Lampiran 12 Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 7/56/DPbS tanggal 9 Desember 2005
Lampiran 12
LAPORAN SUMBER DAN PENGGUNAAN DANA ZIS
Bank :
Periode :
No
URAIAN
1
Sumber dana ZIS pada awal periode
2
Sumber dana ZIS
a. Zakat dari Bank
b. Zakat dari pihak luar Bank
c. Infaq dan shadaqah
Total Sumber Dana
Penggunaan dana ZIS
2.1. Disalurkan ke lembaga lain
a. Dompet Dhuafa Republika
b. Baitul Maal Hidayatullah
c. Baitul Maal Muamalat
d. Bamuis BNI
e. Dompet Peduli Ummat Daarut Tauhid
f. LAZIS Dewan Da'wah Islamiyah Indonesia
g. LAZIS Muhammadiyah
h. LAZNAS BMT
i. LAZNAS BSM Ummat
j. LAZNAS Persis
k. Pos Keadilan Peduli Ummat (PKPU)
l. Rumah Zakat Indonesia (DSUQ)
m. Yayasan Amanah Takaful
n. Yayasan Baitul Maal Bank Rakyat Indonesia
o. Yayasan Dana Sosial Al Falah
p. Lainnya
2.2. Disalurkan sendiri
Total Penggunaan
3
4
Kenaikan (penurunan) sumber atas penggunaan
5.
Sumber dana ZIS pada akhir periode
Catatan
20x2
20x1
497
Lampiran 31
Lampiran 13 Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 7/56/DPbS
tanggal 9 Desember 2005
Lampiran 13
LAPORAN SUMBER DAN PENGGUNAAN DANA QARDH
Bank
:
Periode :
NO
1
URAIAN
Catatan
20x2
20x1
Sumber Dana Qardh pada awal periode
2 Sumber Dana Qardh
a. Infaq dan shadaqah
b. Denda
c. Sumbangan/Hibah
d. Pendapatan non-halal
e. Lainnya
Total Sumber Dana
3 Penggunaan Dana Qardh
a. Pinjaman
b. Sumbangan
c. Lainnya
Total Penggunaan Qardh
4 Kenaikan (penurunan) sumber atas penggunaan
5. Sumber Dana Qardh pada akhir periode
498
Lampiran 32
Lampiran 14 Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 7/56/DPbS
tanggal 9 Desember 2005
Lampiran 14
LAPORAN PERUBAHAN DANA INVESTASI TERIKAT *)
(Mudharabah Muqayyadah)
Bank
Periode
:
:
Portfolio A
20x2
Portfolio B
20x1
20x2
TOTAL
20x1
20x2
20x1
INFORMASI AWAL PERIODE
Portfolio Pembiayaan(Project)
Saldo Awal
INFORMASI PERIODE BERJALAN
Portfolio Pembiayaan(Project)
Penerimaan dana
Penarikan dana
Keuntungan (rugi) Investasi
Beban/biaya
Fee/penerimaan bank
INFORMASI AKHIR PERIODE
Portfolio Pembiayaan(Project)
Saldo Akhir
*) Untuk bank yang bertindak sebagai agen dalam menyalurkan dana (Channeling agent)
499
Lampiran 33
Lampiran 15 Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 7/56/DPbS
tanggal 9 Desember 2005
Lampiran - 15
DISTRIBUSI
BAGI
HASIL
Bank :
Periode :
Jenis
Penghimpunan
1. Giro Wadiah
a. Bank
b. Non Bank
2. Tabungan Mudharabah
a. Bank
b. Non Bank
3. Deposito Mudharabah
a. Bank
- 1 Bulan
- 3 Bulan
- 6 Bulan
- 12 Bulan
b. Non Bank
- 1 Bulan
- 3 Bulan
- 6 Bulan
- 12 Bulan
Saldo
Rata-rata
Pendapatan yang
harus dibagi hasil
A
A1
B
B1
C
A2
B2
C2
D2
E2
A3
A4
A5
A6
B3
B4
B5
B6
C3
C4
C5
C6
D3
D4
D5
D6
E3
E4
E5
E6
D
E
Nisbah
A
B
C
TOTAL
Ket :
A = Entry
B = B1+B2+B3+B4+B5+B6
C = Entry, untuk penghimpunan jenis wadiah pada kolom nisbah tidak diisi
D = D1+D2+D3+D4+D5+D6
D = B X C , kecuali untuk D1 (tergantung kebijaksanaan bank untuk pemberian bonus wadiah)
E = (D/A X 100%) X 12
Porsi Pemilik Dana
Jumlah bonus
dan bagi hasil
D
D1
Indikasi Rate
of Return
E
E1
500
Lampiran 34
Lampiran. 16 Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 7/56/DPbS tanggal 9 Desember 2005
INFORMASI KEUANGAN USAHA SYARIAH
NERACA
No
POS - POS
A.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
AKTIVA
Kas
Giro Bank Indonesia
Sertifikat Wadiah Bank Indonesia
Penempatan Pada Bank Lain
PPAP Penempatan Pada Bank Lain -/Surat Berharga Yang Dimiliki
PPAP Surat Berharga Yang Dimilki -/Piutang Murabaha
PPAP Piutang Murabaha -/Piutang Lainnya
PPAP Piutang lainnya
-/Pembiayaan Mudharabah dan Musyarakah
PPAP Pembiayaan
-/Pendapatan Yang Masih Akan Diterima
Biaya Dibayar Dimuka
Aktiva Tetap
Akumulasi Penyusutan Aktiva Tetap -/Aktiva Lain-lain
JUMLAH AKTIVA
B.
1
2
3
4
5
6
7
PASIVA
Dana Simpanan Wadiah
Kewajiban Segera Lainnya
Kewajiban Kepada Bank Indonesia (FPJPS)
Kewajiban Kepada Bank Lain
Surat Berharga Yang Diterbitkan
Kewajiban Lain-lain
Dana Investasi tidak terikat
a. Tabungan Mudharabah
b. Deposito Mudharabah
Saldo Laba (Rugi)
JUMLAH PASIVA
8
Posisi Tgl
Laporan
Posisi Tgl
Sebelumnya
Posisi Tgl
Laporan
Posisi Tgl
Sebelumnya
Posisi Tgl
Laporan
Posisi Tgl
Sebelumnya
LABA-RUGI
No.
POS - POS
A. PENDAPATAN OPERASIONAL
1
2
3
4
B.
Margin Murabaha
Bagi Hasil Mudharabah
Bonus
Pendapatan Operasional Lainnya
JUMLAH PENDAPATAN OPERASIONAL
C. Bagi Hasil untuk Investor Dana Investor tdk terikat
D.
E.
F.
1
2
3
4
5
G.
a. Bank
b. Bukan bank
c. Bank Indonesia (FPJPS)
JUMLAH BAGI HASIL
Pendapatan operasional setelah distribusi bagi hasil untuk
investor dana investasi tidak terikat
BEBAN Operasional
Bonus Wadiah
Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif
Beban Umum & Administrasi
Beban Personalia
Beban Lainnya
JUMLAH BEBAN OPERASIONAL
H. PENDAPATAN (BEBAN) OPERASIONAL BERSIH
I.
J.
Pendapatan Non Operasional
Beban Non Operasional
K. LABA (RUGI) NON OPERASIONAL
L.
LABA (RUGI) TAHUN BERJALAN
KOMITMEN DAN KONTINJENSI
1
2
3
4
Fasilitas pembiayaan kepada nasabah yang belum ditarik
Irrevocable L/C yang masih berjalan
Garansi (Kafalah) yang diberikan
Lainnya
………….. , …………………
Dewan Pengawas Syariah
Pimpinan/Kepala Unit Usaha Syairah
501
Lampiran 35
Lampiran 4 Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 8/11/DPbS tanggal 7 Maret 2006
PEDOMAN PENYUSUNAN NERACA - UUS
NO.
POS-POS LBUS
POS-POS L/K PUBLIKASI
Sandi LBUS
Catatan untuk Laporan Keuangan
Publikasi Bulanan
AKTIVA
1.
2
3
Kas
Giro BI
Kas
Penempatan Pada BI
Giro Wadiah
Sertifikat Wadiah Bank Indonesia
100
120
03)
120(10)
120
Penempatan Pada BI
03)
a. Sertifikat Wadiah Bank Indonesia
b. Lainnya
120(20)
120(90)
Lainnya masuk ke SWBI
4
Penempatan Pada Bank Lain
PPAP
Penempatan Pada Bank lain
130
04)
-/Jenis :
1 Simpanan Wadiah
a. Giro
b. Tabungan
c. Lainnya
2 Dana Investasi Tidak Terikat
a. Tabungan Mudharabah
b. Deposito Mudharabah
c. Lainnya
3 Pembiayaan
a. Mudharabah
b. Musyarakah
4 Piutang
a. Al-Qardh
b. Lainnya
5 Tagihan akseptasi
130(11)
130(12)
130(19)
130(21)
130(25)
130(30)
130(64)
130(65)
130(67)
130(69)
130(73)
PPAP -/13)
a. Cadangan umum
b. Cadangan khusus
4.
Surat Berharga Yang Dimiliki
PPAP
entry dari :
Total :
sebagian 205(10)
205(10)
sebagian 207(10)
207(10)
140
Surat Berharga Yang Dimiliki 05)
-/Tujuan pemilikan :
1. Dimiliki hingga jatuh tempo
2. Lainnya
Kol.IV (1)
Kol.IV (3), Lainnya termasuk
juga "Tersedia untuk dijual"
Jenis :
1 Surat Berharga Pasar Keuangan Syariah
a. Wesel
- Wesel ekspor
- SKBDN
- Lainnya
b. Lainnya
2 Surat Berharga Pasar Modal Syariah
a. Sertifikat Reksadana Syariah
b. Obligasi
- Dalam Rangka Rekapitalisasi Perbankan
. Lainnya
c. Lainnya
3 Lainnya
140(55)
140(57)
140(59)
140(69)
140(81)
140(82)
140(83)
140(89)
140(99)
PENEMPATAN PADA BANK LAIN 04)
1 Surat Berharga Pasar Keuangan Syariah
a. Dimiliki hingga jatuh tempo
i. Sertifikat Investasi Mudharabah Antarbank (IMA)
ii. Lainnya
b. Lainnya
i. Sertifikat Investasi Mudharabah Antarbank (IMA)
ii.Lainnya
2 Surat Berharga Pasar Modal Syariah
a. Dimiliki hingga jatuh tempo
i. Obligasi Syariah Subordinasi
ii. Obligasi Syariah Lainnya
iii. Lainnya
b. Lainnya
i. Obligasi Syariah Subordinasi
ii. Obligasi Syariah Lainnya
iii. Lainnya
RUPA-RUPA AKTIVA 17)
Penyisihan dalam rangka restrukturisasi Surat berharga yang dimiliki
PPAP -/13)
1 Surat berharga yang dimiliki
a. Cadang umum
b. Cadangan khusus
2 Penempatan pada bank lain - surat berharga
a. Cadang umum
b. Cadangan khusus
5
130(51)
130(53)
130(54)
130(57)
130(58)
130(59)
130(60)
130(61)
130(62)
130(63)
-/-
230,Kol.I (30)
entry dari :
205(20)
207(20)
digabung ke Penempatan (No.3)
205(10)
207(10)
Piutang Murabaha
Dibedakan atas hubungan dengan bank :
1. Terkait dengan Bank
2. Tidak terkait dengan Bank
PPAP
150,Kol.VII.2(1)
150,Kol.VII.2(2)
-/Piutang Murabahah 06)
Pendapatan Margin Murabahah yang ditangguhkan
RUPA-RUPA AKTIVA 17)
Penyisihan dalam rangka restrukturisasi Piutang -/-
PPAP
-/13)
1 Piutang yang tidak direstrukturisasi
a. Cadangan umum
b. Cadangan khusus
2 Piutang yang direstrukturisasi
a. Cadangan umum
b. Cadangan khusus
150
-/- 06)
151
230,Kol.I (31)
entry dari :
205(35)
207(31)
205(35)
207(31)
502
Page 1 of 5
Lanjutan Lampiran 35
Lampiran 4 Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 8/11/DPbS tanggal 7 Maret 2006
PEDOMAN PENYUSUNAN NERACA - UUS
NO.
6
POS-POS LBUS
POS-POS L/K PUBLIKASI
Sandi LBUS
Catatan untuk Laporan Keuangan
Publikasi Bulanan
Piutang Lain
Piutang Lain
PPAP
a. Piutang Salam
b.Piutang Istishna
-/-
152
07)
08)
153
c. Pendapatan margin Istishna' yang ditangguhkan
d. Piutang Qardh
09)
e. Ijarah
44)
Aktiva Ijarah :
1 Gedung/Ruang kantor
2 Gudang
3 Ruko/Rukan
4 Rumah/Apartemen
5 Hotel
6 Tanah
7 Kendaraan bermotor
8 Mesin
9 Peralatan kantor
10 Kapal laut
11 Pesawat terbang
12 Alat-alat berat (heavy equipment)
13 Lain-lain
-/-
Pembiayaan Mudharabah & Musyarakah
PPAP
180,Kol.I (10)
180,Kol.I (15)
180,Kol.I (20)
180,Kol.I (25)
180,Kol.I (30)
180,Kol.I (35)
180,Kol.I (40)
180,Kol.I (45)
180,Kol.I (50)
180,Kol.I (55)
180,Kol.I (60)
180,Kol.I (65)
180,Kol.I (99)
Akumulasi Penyusutan/Amortisasi
185,Kol.VI
PPAP
-/13)
1 Piutang yang tidak direstrukturisasi
a. Cadangan umum
b. Cadangan khusus
2 Piutang yang direstrukturisasi
a. Cadangan umum
b. Cadangan khusus
3, Lainnya
entry dari :
PPAP
-/13)
Ijarah
a. Cadangan umum
b. Cadangan khusus
7
154
159
205(36, 37, 38)
207(36, 37, 38))
205(32, 33, 34)
207(32, 33, 34)
90
205(61)
207(61)
Pembiayaan 10)
-/Jenis Pembiayaan :
a. Pembiayaan Mudharabah
b. Pembiayaan Musyarakah
160
161
Pembiayaan lainnya (169) masuk
Pembiayaan Mudharabah
RUPA-RUPA AKTIVA 17)
Penyisihan dalam rangka restrukturisasi Pembiayaan -/-
PPAP
-/13)
1 Pembiayaan yang tidak direstrukturisasi
a. Cadangan umum
b. Cadangan khusus
2 Pembiayaan yang direstrukturisasi
a. Cadangan umum
b. Cadangan khusus
8
RUPA-RUPA AKTIVA
Pendapatan Yang Akan Diterima
RUPA-RUPA AKTIVA
Biaya dibayar dimuka
207(56,57,59)
205(51,52,55)
207(51,52,55)
230,Kol.I (36)
230,Kol.I (39)
17)
Beban yang dibayar dimuka
Uang Muka Murabahah kepada pemasok
10 Aktiva Tetap dan Inventaris
Akumulasi Penyusutan Aktiva Tetap dan Inventaris
entry dari :
205(56,57,59)
17)
Pendapatan yang akan diterima
a. Pendapatan Ijarah yang akan diterima
b. Lainnya
9
230,Kol.I (32)
230,Kol.I (50)
230,Kol.I (20)
Aktiva Tetap dan Inventaris
-/-
a. Aktiva Tetap (Tanah, Gedung) dan Inventaris
b. Akumulasi Penyusutan Aktiva Tetap (Gedung) dan Inventaris -/-
213 + 215
214 + 216
11 Aktiva lain-lain
170
Persediaan
Tagihan Lainnya
11)
Jenis :
1 Dana Talangan
a. Dalam rangka pembiayaan transaksi perdagangan s/d 15 hari
b. Lainnya
2 Tagihan Akseptasi
3 Piutang kepada pembeli
4 Piutang kepada penjual
5 Piutang kepada mudharib
6 Lainnya
PPAP
-/13)
Tagihan lainnya
a. Cadangan umum
b. Cadangan khusus
PENYERTAAN
190, Kol.II (11)
190,Kol.II (19)
190,Kol.II (20)
190,Kol.II (30)
190,Kol.II (40)
190,Kol.II (50)
190,Kol.II (90)
entry dari :
205(45)
207(45)
12)
Jenis Perusahaan :
1 Lembaga keuangan bukan bank
2 Lainnya
200,Kol.II (10)
Tujuan :
1 Dalam rangka pendirian/kepemilikan anak perusahaan
2 Dalam rangka restrukturisasi piutang/pembiayaan
200,Kol.V (1)
PENEMPATAN PADA BANK LAIN 04)
Penyertaan
200,Kol.II (90)
200,Kol.V (2)
130(90)
503
Page 2 of 5
Lanjutan Lampiran 35
Lampiran 4 Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 8/11/DPbS tanggal 7 Maret 2006
PEDOMAN PENYUSUNAN NERACA - UUS
NO.
POS-POS LBUS
POS-POS L/K PUBLIKASI
RUPA-RUPA AKTIVA 17)
Penyisihan dalam rangka restrukturisasi Penyertaan -/-
PPAP
-/13)
1 Penempatan pada bank lain - penyertaan
a. Cadangan umum
b. Cadangan khusus
2 Penyertaan
a. Cadangan umum
b. Cadangan khusus
Aktiva Istishna Dalam Penyelesaian 14)
Tujuan :
a. Dalam rangka Istishna Paralel
b. Lainnya
Termin Istishna 14)
-/-
Sandi LBUS
Catatan untuk Laporan Keuangan
Publikasi Bulanan
230,Kol.I (33)
entry dari :
digabung di Penempatan (No.3)
205(10)
207(10)
205(40)
207(40)
210,Kol.II (1)
210,Kol.II (2)
211,Kol.IX
Hasil offsetting debet Uang muka pajak dan Taksiran pajak penghasilan
RUPA-RUPA AKTIVA
17)
Uang muka pajak
230,Kol.I (40)
RUPA-RUPA PASIVA 29)
Taksiran pajak penghasilan
RUPA-RUPA AKTIVA
-/-
17)
230,Kol.I (70)
Aktiva pajak tangguhan
RUPA-RUPA AKTIVA
400(30)
17)
Agunan yang diambil alih
230,Kol.I (45)
Rupa-Rupa Aktiva 17)
1 Emas dan mata uang emas
2 Commemorative coin/notes
a. Nilai Nominal
b. Selisih harga perolehan atas nilai nominal
3 Tagihan inkaso
4 Penyisihan dalam rangka restrukturisasi
-/- Lainnya -/5 Beban yang ditangguhkan
6 Talangan dalam rangka program pemerintah
7 Goodwill
8 Lain-lain
TAGIHAN LAINNYA 11)
Lainnya
230,Kol.I (05)
230,Kol.I (10)
230,Kol.I (15)
230,kol.I (25)
230,Kol.I (34)
230,Kol.I (55)
230,Kol.I (65)
230,Kol.I (75)
230,Kol.I (99)
190,Kol.II (90)
PENEMPATAN PADA BANK LAIN 04)
1 Travellers' Cheque (Cek Perjalanan) yang dibeli/diambil alih
2 Setoran jaminan dalam rangka transaksi perdagangan
3 Dana Pelunasan Obligasi
4 Lainnya
Hasil offsetting debet Antar kantor Aktiva dan Antar kantor Pasiva
Antar Kantor Aktiva
a. Melakukan kegiatan operasional di Indonesia 15)
b. Melakukan kegiatan operasional diluar Indonesia 16)
Antar Kantor Pasiva -/a. Melakukan kegiatan operasional di Indonesia 27)
b. Melakukan kegiatan operasional diluar Indonesia 28)
130(77)
130(45)
130(80)
130(99)
223
224
393
394
504
Page 3 of 5
Lanjutan Lampiran 35
Lampiran 4 Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 8/11/DPbS tanggal 7 Maret 2006
PEDOMAN PENYUSUNAN NERACA - UUS
NO.
POS-POS LBUS
POS-POS L/K PUBLIKASI
Sandi LBUS
Catatan untuk Laporan Keuangan
Publikasi Bulanan
PASIVA
1.
Dana Simpanan Wadiah
Dana Simpanan Wadiah 18)
Jenis :
1 Giro Wadiah
2 Tabungan Wadiah
3 Lainnya
301,Kol.III (10)
302,Kol.III (20)
309,Kol.III (99)
Lainnya masuk ke Tab.Wadiah
2
3
Kewajiban segera lainnya
Kewajiban Kepada Bank Indonesia (FPJPS)
KEWAJIBAN LAINNYA 24)
1 Kewajiban kpd pemerintah yg belum dipindahbukukan
2 Bagi hasil yang sudah jatuh tempo
3 Transfer
4 Lainnya
Kewajiban Kepada Bank Indonesia 20)
1 Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek Syariah (FPJPS)
2 Pembiayaan yang diterima (KLBI dalam rangka KUK)
3 Lainnya
365(10)
365(20)
365(30)
365(99)
340 (10)
340 (40)
340 (99)
Lainnya = Pembiayaan yg diterima
dan Lainnya
4
5
Kewajiban Kepada Bank Lain
Surat Berharga Yang Diterbitkan
Kewajiban Kepada Bank Lain 21)
1 Simpanan
a. Giro Wadiah
b. Tabungan Wadiah
c. Lainnya
2 Titipan dalam rangka pembiayaan Mudharabah Muqayyadah
3 Pembiayaan/pinjaman yang diterima
a. Mudharabah
b. Musyarakah
c. Pinjaman Qardh
d. Lainnya
4 Kewajiban akseptasi
Surat Berharga Yang Diterbitkan 22)
Jenis :
1 Surat Berharga Pasar Uang Syariah
2 Surat Berharga Pasar Modal Syariah
a. Obligasi Syariah Subordinasi
b. Obligasi Syariah lainnya
c. Lainnya
3 Cek Perjalanan (TC) yang telah dijual
4 Lain-lain
KEWAJIBAN KEPADA BANK LAIN 21)
1 Surat Berharga Pasar Uang Syariah
a. Sertifikat Investasi Mudharabah Antarbank (IMA)
b. Lainnya
2 Surat Berharga Pasar Modal Syariah
a. Obligasi Syariah Subordinasi
b. Obligasi Syariah Lainnya
c. Lain-lain
6
Kewajiban Lain-lain
Pembiayaan/Pinjaman Yang Diterima 23)
Jenis :
1 Pembiayaan Mudharabah
2 Pembiayaan Musyarakah
3 Pinjaman Qardh
4 Lainnya
RUPA-RUPA PASIVA 29)
Penyisihan Penghapusan utk Transaksi Rekening Administratif
i. Cadangan Umum
ii. Cadangan Khusus
350(10)
350(20)
350(29)
350(50)
350(81)
350(82)
350(83)
350(89)
350(95)
355(51)
355(71)
355(72)
355(79)
355(81)
355(99)
350(51)
350(59)
350(61)
350(62)
350(69)
360(10)
360(20)
360(30)
360(99)
400(80)
400(81)
RUPA-RUPA PASIVA 29)
Beban bagi hasil yang masih harus dibayar
400(20)
Hasil offsetting kredit Taksiran pajak penghasilan dan Uang muka pajak
RUPA-RUPA PASIVA 29)
Taksiran pajak penghasilan
400(30)
RUPA-RUPA AKTIVA
17)
-/-
Uang muka pajak
230,Kol.I (40)
RUPA-RUPA PASIVA 29)
Pasiva pajak tangguhan
400(85)
Kewajiban Lainnya 24)
1 Uang Muka Murabahah dari pembeli
2 Uang Muka Istishna' dari Pembeli
3 Kewajiban akseptasi
4 Hutang Salam
5 Hutang Istishna' kepada produsen
6 Titipan dalam rangka pembiayaan Mudharabah Muqayyadah
KEWAJIBAN KEPADA BANK LAIN 21)
1 Setoran jaminan
2 Lain-lain
SETORAN JAMINAN 26)
Tujuan :
1 Dalam rangka perdagangan Luar Negeri
2 Dalam rangka perdagangan Dalam Negeri
3 Lainnya
RUPA-RUPA PASIVA 29)
1 Deviden yang belum dibayar
2 Pendapatan yang ditangguhkan (bukan dalam rangka restrukturisasi)
i. Pendapatan Istishna'
ii. Lainnya
3 Lain-Lain
365(40)
365(45)
365(50)
365(60)
365(70)
365(80)
350(46)
350(99)
370,Kol.I (1)
370,Kol.I (5)
370,Kol.I (9)
400(25)
400(51)
400(59)
400(99)
505
Page 4 of 5
Lanjutan Lampiran 35
Lampiran 4 Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 8/11/DPbS tanggal 7 Maret 2006
PEDOMAN PENYUSUNAN NERACA - UUS
NO.
POS-POS LBUS
POS-POS L/K PUBLIKASI
Hasil offsetting kredit Antar kantor Aktiva dan Antar kantor Pasiva
Antar Kantor Pasiva
a. Melakukan kegiatan operasional di Indonesia 27)
b. Melakukan kegiatan operasional diluar Indonesia 28)
Antar Kantor Aktiva -/a. Melakukan kegiatan operasional di Indonesia 15)
b. Melakukan kegiatan operasional diluar Indonesia 16)
Pinjaman Subordinasi 25)
a. Terkait dengan bank
b. Tidak Terkait dengan bank
394
223
224
340 (30)
21)
Rupa-Rupa Pasiva 29)
Pendapatan yang ditangguhkan (dalam rangka restrukturisasi)
i. Pendapatan Istishna'
ii. Lainnya
Dana investasi Tidak Terikat (Mudharabah Muthlaqah)
a. Tabungan Mudharabah
b. Deposito Mudharabah
b.1. Rupiah
b.2. Valuta asing
393
368,Kol.II.2a(1)
KEWAJIBAN KEPADA BANK LAIN
Pinjaman Subordinasi
a. Terkait dengan bank
b. Tidak Terkait dengan bank
7
Catatan untuk Laporan Keuangan
Publikasi Bulanan
368,Kol.II.2b(2)
KEWAJIBAN KEPADA BANK INDONESIA 20)
Pinjaman Subordinasi
Modal Pinjaman
Sandi LBUS
350(72)
Kol.III.1 (1)
Kol.III.1 (2)
400(41)
400(49)
410
30)
Dibedakan sesuai jenis valuta (untuk deposito) :
Jenis valuta : sesuai valuta di Daftar Sandi Jenis Valuta (DSJV)
Kol.III
DSJV (036 - 959)
Rp=360, Valuta asing= Non 360
Dana Investasi Tidak Terikat
Jenis :
1 Tabungan Mudharabah
2 Deposito Mudharabah
3 Lainnya
19)
321 (21)
322 (22)
329(29)
Lainnya masuk ke Tab.Mudharabah
Kewajiban Kepada Bank Lain
21)
Dana Investasi Tidak Terikat
a. Tabungan Mudharabah
b. Deposito Mudharabah
c. Lainnya
8
350(30)
350(35)
350(39)
Saldo Laba (rugi)
Saldo laba (rugi) :
Cadangan
a. Cadangan Umum
b. Cadangan Khusus
451
452
Laba/Rugi
a. Tahun-Tahun Lalu
i. Laba
ii. Rugi
-/b. Tahun Berjalan
02)
i. Laba
ii. Rugi
-/-
461
462
465
466
506
Page 5 of 5
Lampiran 36
Lampiran 18 Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 7/56/DPbS tanggal 9 Desember 2005
Lampiran 18
PEDOMAN PENYUSUNAN LABA/RUGI - UUS
POS L/K PUBLIKASI
A.
1
2
Pendapatan Operasional
Marjin Murabaha
Bagi Hasil Mudharabah
1)
LBUS
A. Pendapatan Operasional
A.1. Penduduk
1. Dari Pihak Ketiga Bukan Bank
a. Pendapatan Margin Murabahah
102
A.2. Bukan Penduduk
1. Dari Pihak Ketiga Bukan Bank
a. Pendapatan Margin Murabahah
120
A.1. Penduduk
1. Dari Pihak Ketiga Bukan Bank
e. Pendapatan bagi hasil Mudharabah
f. Pendapatan bagi hasil Musyarakah
3. Dari bank-bank lain di Indonesia
b. Pendapatan bagi hasil Mudharabah
i. Tabungan Mudharabah
ii. Deposito Mudharabah
iii. Sertifikat Investasi Mudharabah Antarbank
iv. Lainnya
A.2. Bukan Penduduk
1. Dari Pihak Ketiga Bukan Bank
e. Pendapatan bagi hasil Mudharabah
f. Pendapatan bagi hasil Musyarakah
2 Dari bank-bank lain di Indonesia
b. Pendapatan bagi hasil Mudharabah
i. Tabungan Mudharabah
ii. Deposito Mudharabah
iii. Sertifikat Investasi Mudharabah Antarbank
iv. Lainnya
3
Bonus
A.1. Penduduk
2. Dari Bank Indonesia
a. Bonus SWBI
3. Dari bank-bank lain di Indonesia
a. Bonus dari Bank Syariah lain
A.2. Bukan Penduduk
2 Dari bank-bank lain di Indonesia
a. Bonus dari Bank Syariah lain
4
Sandi LBU
107
108
115
116
117
118
125
126
131
132
133
134
112
114
130
Pendapatan Operasional Lainnya
A.1. Penduduk
1. Dari Pihak Ketiga Bukan Bank
b. Pendapatan Bersih Salam Paralel
c. Pendapatan Bersih Istishna Paralel
i. Pendapatan Istishna'
ii. Harga Pokok Istishna' -/d. Pendapatan Sewa Ijarah
g. Pendapatan dari penyertaan
h. Lainnya
2. Dari Bank Indonesia
b. Lainnya
3. Dari bank-bank lain di Indonesia
c. Lainnya
A.2. Bukan Penduduk
1. Dari Pihak Ketiga Bukan Bank
b. Pendapatan Bersih Salam Paralel
103
104
105
106
109
111
113
119
121
507
Lanjutan Lampiran 36
PEDOMAN PENYUSUNAN LABA/RUGI - UUS
POS L/K PUBLIKASI
1)
LBUS
c. Pendapatan Bersih Istishna Paralel
i. Pendapatan Istishna'
ii. Harga Pokok Istishna' -/d. Pendapatan Sewa Ijarah
g. Pendapatan dari penyertaan
h. Lainnya
2 Dari bank-bank lain di Indonesia
c. Lainnya
B. Pendapatan Operasional Lainnya
1. Jasa Investasi Terikat (Mudharabah Muqayyadah )
2. Jasa layanan
2.1 Transfer
2.2 Bank garansi
2.3 Inkaso
2.4 Penerbitan L/C
2.5 Lainnya
3. Pendapatan dari transaksi valuta asing
4. Koreksi PPAP
5. Koreksi Penyisihan Penghapusan Transaksi
Rekening Administratif
6. Lainnya
B.
C.
JUMLAH PENDAPATAN OPERASIONAL
Bagi hasil untuk Investor Dana Investasi Tidak Terikat -/1. Bank
2. Bukan Bank
3. Bank Indonesia
Bagi hasil untuk Investor Dana Investasi Tidak Terikat -/A. Penduduk
1 Bank-bank lain di Indonesia dan diluar Indonesia (Bank)
a. Tabungan Mudharabah
b. Deposito Mudharabah
c. Sertifikat Investasi Mudharabah Antarbank
d. Lainnya
2 Pihak ketiga bukan bank (Bukan Bank)
a. Tabungan Mudharabah
b. Deposito Mudharabah
c. Lainnya
3 Bank Indonesia
a. FPJP Syariah
b. Lainnya
2 Pihak ketiga bukan bank (Bukan Bank)
a. Tabungan Mudharabah
b. Deposito Mudharabah
c. Lainnya
JUMLAH DISTRIBUSI BAGI HASIL
E.
Pendapatan Operasional setelah distribusi bagi hasil
Untuk Investor Dana Investasi Tidak Terikat ( B - D )
F.
Beban Operasional
122
123
124
127
129
135
136
137
138
139
140
141
143
144
145
146
149
( A. 1 + A. 2 + A. 3 + A. 4)
B. Bukan penduduk
1 Bank-bank lain di Indonesia dan diluar Indonesia (Bank)
a. Tabungan Mudharabah
b. Deposito Mudharabah
c. Sertifikat Investasi Mudharabah Antarbank
d. Lainnya
D.
Sandi LBU
156
157
158
159
151
152
153
154
155
164
165
167
169
160
161
163
(C. 1 + C. 2 + C. 3)
Pendapatan Operasional setelah distribusi bagi hasil
Untuk Investor Dana Investasi Tidak Terikat ( A - B )
A. Surplus
B. Defisit
508
Lanjutan Lampiran 36
PEDOMAN PENYUSUNAN LABA/RUGI - UUS
POS L/K PUBLIKASI
1
2
Bonus Wadiah
1)
LBUS
Beban operasional
Beban Bonus titipan wadiah
1. Penduduk
1.1. Bank Indonesia
1.2. Bank-bank lain di Indonesia
1.3. Pihak ketiga bukan bank
2. Bukan Penduduk
2.1. Bank-bank lain di luar Indonesia
2.2. Pihak ketiga bukan bank
Beban operasional
Penyusutan/Penyisihan/amortisasi/penghapusan
Transaksi Rekening Administratif
Beban administrasi dan umum
Premi Asuransi
Penelitian dan pengembangan
Sewa
Pajak-Pajak (Tidak termasuk pajak penghasilan)
Pemeliharaan dan perbaikan aktiva tetap dan inventaris
F. Penyusutan/Penyisihan/amortisasi/penghapusan
1. Penyusutan aktiva tetap dan inventaris
2. Biaya yang ditangguhkan
5
190
192
Beban personalia
373
374
375
376
377
380
381
382
383
385
386
389
387
Beban operasional
A.
B.
C.
D.
E.
4
185
186
189
Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif
Beban operasional
Penyusutan/penyisihan/amortisasi/penghapusan
1 Penyusutan/Amortisasi aktiva Ijarah
2 Surat berharga yang dimiliki
3 Penempatan dana antarbank
4 Piutang
4.1. Piutang Murabahah
4.2. Piutang Salam dan Istishna
4.3. Piutang Qardh
5 Tagihan lainnya
6 Pembiayaan
6.1. Pembiayaan Mudharabah
6.2. Pembiayaan Musyarakah
6.3. Lainnya
7 Penyertaan
8 Lainnya
3
Sandi LBU
279
320
330
350
360
371
372
Beban operasional
A. Tenaga kerja
1. Gaji dan upah
2. Honorarium Komisaris/Dewan Pengawas Syariah/
Direksi
3. Lainnya
B. Pendidikan dan pelatihan
302
309
310
Beban operasional
Penurunan nilai surat berharga
390
Beban operasional
Beban transaksi valuta asing
200
Beban operasional
Promosi
340
301
Beban Lainnya
509
Lanjutan Lampiran 36
PEDOMAN PENYUSUNAN LABA/RUGI - UUS
POS L/K PUBLIKASI
G.
JUMLAH BEBAN OPERASIONAL
1)
LBUS
Beban operasional
A. Premi dalam rangka Penjaminan Dana Pihak Ketiga
B. Lainnya
C. Biaya Perbaikan Aktiva Ijarah
272
399
210
Beban non-operasional
Kerugian restrukturisasi Penyaluran dana
Investasi Tidak Terikat
423
(F. 1 + F. 2 + F. 3 + F. 4 + F. 5)
H.
PENDAPATAN (BEBAN) OPERASIONAL BERSIH (E - G)
PENDAPATAN (BEBAN) OPERASIONAL BERSIH (E - G)
I.
J.
Pendapatan Non Operasional
Beban Non Operasional
3)
Pendapatan Non Operasional
A. Keuntungan karena penjualan aktiva tetap dan inventaris
B. Keuntungan Pelepasan Aktiva Ijarah
C. Hasil offsetting kredit Imbalan antar kantor
1. KP/KC di Indonesia (413)
2. KP/KC di luar Indonesia (414)
D. Selisih kurs
E. Lainnya 2)
1 Lainnya
2 Pendapatan pajak tangguhan
2)
K.
Laba (Rugi) Non Operasional (I - J)
Beban Non Operasional
A. Kerugian karena penjualan/kehilangan aktiva tetap
dan inventaris
B. Kerugian Pelepasan Aktiva Ijarah
C. Denda-denda/sanksi-sanksi
D. Selisih kurs
E. Hasil offsetting debet Imbalan antar kantor
1. KP/KC di Indonesia (426)
2. KP/KC di luar Indonesia (427)
F. Lainnya 3)
Laba (Rugi) Non Operasional (I - J)
L.
Laba (Rugi) Tahun Berjalan (H + K) 4)
Laba (Rugi) Tahun Berjalan (H + K)
1)
2)
Daftar rincian ini diisi secara akumulatif sejak awal tahun buku bank pelapor sampai dengan tanggal akhir bulan laporan
Sub pos "Lainnya" pada Pendapatan Non Operasional harus dirinci pada Form-42 (Rincian Pendapatan Non-Operasional Lainnya) apabila jumlahnya
melebihi 25% dari sandi 410
Sub pos "Lainnya" pada Beban Non Operasional harus dirinci pada Form-43 (Rincian Beban Non-Operasional Lainnya) apabila jumlahnya melebihi 25 %
dari sandi 420
Jumlah ini harus sama dengan pos 17.b (Laba/Rugi Tahun Berjalan) - Pasiva, Neraca
3)
4)
Sandi LBU
410
411
412
(413+414) (426+427)
415
419
447
420
421
422
424
425
(426+427) (413+414)
429
510
Lampiran 37
Lampiran 19 Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 7/56/DPbS
tanggal 9 Desember 2005
Lampiran 19
PEDOMAN PENYUSUNAN KOMITMEN DAN KONTINJENSI - UUS
No
1
2
3
4
POS-POS L/K PUBLIKASI
Fasilitas pembiayaan kepada nasabah yang belum ditarik
Irrevocable L/C yang masih berjalan
Garansi (Kafalah) yang diberikan
POS - POS LBUS
Kewajiban Komitmen
Fasilitas Pembiayaan kepada nasabah yang belum
ditarik 10)
a. Pembiayaan Mudharabah
b. Pembiayaan Musyarakah
c. Pembiayaan Lainnya
Sandi LBUS
536
537
539
(Lainnya masuk ke Mudharabah)
Kewajiban Komitmen
Irrevocable L/C yang masih berjalan 34)
a. L/C Luar Negeri
b. L/C Dalam Negeri
561
562
Kewajiban Kontinjensi
Garansi (Kafalah) Yang Diberikan
599
35)
Lainnya
Tagihan Komitmen
Fasilitas Pembiayaan Yang Belum Ditarik dari :
a. Bank Indonesia
b. Bank di Dalam negeri
c. Bank di Luar negeri
d. Lainnya
500
505
510
514
Posisi Pembelian Spot Yang Masih Berjalan
a. Terkait dengan Bank
b. Tidak Terkait dengan Bank
515
520
Posisi Pembelian Forward Yang Masih Berjalan
a. Terkait dengan Bank
b. Tidak Terkait dengan Bank
521
524
Lainnya (Tagihan komitmen selain yang diatas)
a. Terkait dengan Bank
b. Tidak Terkait dengan Bank
525
529
Kewajiban Komitmen
Fasilitas Piutang Qardh yang belum ditarik 9)
a. Dalam rangka talangan Ongkos Naik Haji (ONH)
b. Dalam rangka talangan atas transaksi perdagangan > 15 hr
c. Lainnya
531
532
535
Fasilitas Pembiayaan kepada Bank Syariah Lain
yang belum ditarik
540
Posisi Penjualan Spot Yang Masih Berjalan
a. Terkait dengan Bank
b. Tidak Terkait dengan Bank
571
575
Posisi Penjualan Forward Yang Masih Berjalan
a. Terkait dengan Bank
b. Tidak Terkait dengan Bank
576
579
Lainnya (Kewajiban komitmen selain yang diatas)
a. Terkait dengan Bank
b. Tidak Terkait dengan Bank
580
585
Jumlah Komitmen Bersih
Tagihan Kontinjensi
Garansi (Kafalah) Yang Diterima
Pendapatan yang akan diterima (non-lancar)
a.
Terkait dengan bank
i. Pendapatan Sewa Ijarah
ii. Lainnya
b. Tidak terkait dengan bank
i. Pendapatan Sewa Ijarah
ii. Pendapatan Margin Murabahah
iii. Pendapatan dari Istishna Paralel
iv. Pendapatan dari Salam Paralel
ii. Lainnya
Lainnya
Kewajiban Kontinjensi
Lainnya
591
592
594
595
597
598
609
Jumlah Kontinjensi Bersih
511
Lampiran 38
Lampiran Surat Edaran Bank Indonesia No. 11/ 33 /DPNP tanggal 8 Desember 2009
PENYESUAIAN
PEDOMAN AKUNTANSI PERBANKAN INDONESIA (PAPI) 2008
BAB III : Penjelasan Umum
2.
Ketentuan Transisi
D.
Estimasi Penurunan Nilai Kolektif Dengan Keterbatasan Pengalaman
Kerugian Spesifik
1.
Cakupan
a.
Penerapan estimasi ini hanya berlaku untuk penurunan nilai
aset keuangan dalam bentuk Kredit dalam:
1)
kategori Pinjaman yang Diberikan dan Piutang,
2)
kategori Dimiliki Hingga Jatuh Tempo, serta
3)
kategori Tersedia Untuk Dijual
yang dilakukan secara kolektif (collective impairment).
b.
Penerapan estimasi ini hanya dapat dilakukan oleh bank-bank
tertentu yang memiliki kondisi keterbatasan sebagaimana pada
angka 3.
2.
Penerapan
a.
Sebagaimana diatur dalam PSAK 55 (Revisi 2006) paragraf 63
dan Pedoman Aplikasi PSAK 55 (Revisi 2006) paragraf
102-105, evaluasi penurunan nilai harus dilakukan berdasarkan
suatu proses estimasi yang dapat menghasilkan satu nilai
kerugian atau kisaran (range) nilai kerugian terbaik yang
mungkin terjadi. Estimasi penurunan nilai secara kolektif
terhadap kelompok aset keuangan dimaksud didasarkan pada
kerugian historis yang pernah dialami aset-aset keuangan yang
memiliki karakteristik risiko kredit yang serupa dengan
karakteristik risiko kredit kelompok aset keuangan tersebut.
Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia |
1
512
Lanjutan Lampiran 38
Jika bank tidak atau kurang memiliki pengalaman kerugian
yang spesifik, maka bank juga dapat menggunakan pengalaman
peer group atas kelompok aset keuangan yang sebanding.
b.
Dalam hal Bank belum dapat melakukan proses estimasi yang
memadai dan belum memiliki data kerugian historis yang
memadai untuk menentukan besarnya penurunan nilai atas
Kredit secara kolektif sesuai persyaratan dalam PSAK 55 dan
PAPI, maka pembentukan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai
(CKPN) dapat menggunakan estimasi yang didasarkan pada
ketentuan Bank Indonesia yang berlaku mengenai Penilaian
Kualitas Aktiva Bank Umum. Acuan pada ketentuan Bank
Indonesia dilakukan dengan pertimbangan bahwa penyusunan
ketentuan tersebut telah didasarkan pada analisis kondisi
perbankan di Indonesia mengenai estimasi besarnya kebutuhan
pencadangan yang didasarkan pada probability of default dan
kerugian historis.
c.
Penerapan estimasi ini dilakukan setelah bank melakukan
proses sebagaimana diatur dalam PSAK 55 (Revisi 2006),
yaitu:
1)
Bank harus mengklasifikasikan Kredit yang akan
dievaluasi secara kolektif; dan
2)
Bank harus mengevaluasi terdapatnya bukti obyektif
mengenai penurunan nilai secara periodik atas Kredit
yang dinilai secara kolektif tersebut.
d.
Pembentukan CKPN atas Kredit secara kolektif sebagaimana
dimaksud pada huruf b di atas dilakukan dengan mengacu pada
pembentukan
cadangan
umum
dan
cadangan
khusus
sebagaimana diatur dalam ketentuan Bank Indonesia mengenai
Penilaian Kualitas Aktiva Bank Umum, yaitu sebagai berikut:
Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia |
2
513
Lanjutan Lampiran 38
1)
1% atas Kredit yang memenuhi kualitas Lancar, kecuali
untuk bagian Kredit yang dijamin dengan agunan tunai
sesuai ketentuan Bank Indonesia dimaksud;
2)
5% atas Kredit yang memenuhi kualitas Dalam Perhatian
Khusus setelah dikurangi nilai agunan sesuai ketentuan
Bank Indonesia dimaksud;
3)
15% atas Kredit yang memenuhi kualitas Kurang Lancar
setelah dikurangi nilai agunan sesuai ketentuan Bank
Indonesia dimaksud;
4)
50% atas Kredit yang memenuhi kualitas Diragukan
setelah dikurangi nilai agunan sesuai ketentuan Bank
Indonesia dimaksud; dan/atau
5)
100% atas Kredit yang memenuhi kualitas Macet setelah
dikurangi nilai agunan sesuai ketentuan Bank Indonesia
dimaksud.
e.
Perhitungan CKPN sebagaimana pada huruf d di atas dihitung
atas
dasar
nilai
tercatat
berdasarkan
biaya
perolehan
diamortisasi (amortised cost).
3.
Kondisi Keterbatasan
a.
Mengacu pada PSAK 55 (Revisi 2006), bank dapat
menerapkan estimasi penurunan nilai Kredit secara kolektif
sebagaimana pada angka 2 huruf d atas sepanjang berada
dalam kondisi berikut:
1)
Bank
tidak
atau
kurang
memiliki
data
tentang
pengalaman kerugian yang spesifik dan andal untuk
menentukan besarnya penurunan nilai Kredit secara
kolektif; dan
2)
Tidak terdapat data pengalaman kerugian historis dari
peer group atas kelompok Kredit yang sebanding
sebagai dasar untuk menentukan besarnya penurunan
nilai atas Kredit secara kolektif.
Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia |
3
514
Lanjutan Lampiran 38
b.
Bank yang tidak menghadapi kondisi sebagaimana pada
huruf a di atas, tidak diperkenankan untuk menggunakan
estimasi penurunan nilai Kredit secara kolektif sebagaimana
pada angka 2 huruf d di atas.
c.
Bank harus melakukan penilaian sendiri (self assessment) atas
terdapat atau tidaknya kondisi sebagaimana pada huruf a
di atas yang memungkinkan bank menerapkan estimasi
penurunan nilai Kredit secara kolektif sebagaimana pada angka
2 huruf d di atas.
d.
Bank harus menyusun dan mendokumentasikan hal-hal berikut:
1)
Hasil self-assessment sebagaimana dimaksud pada huruf c
untuk menerapkan estimasi penurunan nilai Kredit secara
kolektif;
2)
rencana tindak (action plan) yang memuat langkahlangkah yang akan dilakukan untuk memperoleh data
tentang pengalaman kerugian spesifik atau kerugian
historis dari peer group atas Kredit secara kolektif sesuai
persyaratan PSAK No. 55 (Revisi 2006), dengan
memperhatikan batas waktu sebagaimana pada angka 4;
dan
3)
progres pemenuhan rencana tindak paling kurang secara
triwulanan.
4.
Periode Penerapan Estimasi
Estimasi penurunan nilai Kredit secara kolektif sebagaimana
pada angka 2 huruf d dapat diterapkan paling lambat sampai dengan
31 Desember 2011. Terhitung sejak 1 Januari 2012, bank harus
mengukur penurunan nilai dan membentuk CKPN atas Kredit
secara kolektif dengan menggunakan data pengalaman kerugian
spesifik atau kerugian historis dari peer group atas Kredit secara
kolektif, dengan tetap memperhatikan ketentuan dalam Buletin
Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia |
4
515
Lanjutan Lampiran 38
Teknis No. 4 mengenai Ketentuan Transisi Penerapan Awal
PSAK 50 (Revisi 2006) dan PSAK 55 (Revisi 2006) yang
diterbitkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia.
5.
Pengungkapan (Dislosure)
Bank yang menerapkan estimasi penurunan nilai Kredit secara
kolektif sebagaimana pada angka 2 di atas harus mengungkapkan hal
tesebut dalam kebijakan akuntansi pada Catatan Atas Laporan
Keuangan.
Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia |
5
516
Lampiran 39a
517
Lanjutan Lampiran 39a
39b
518
Lampiran 39b
519
Lanjutan Lampiran 39b
520
Lampiran 40
521
Lampiran 41a
522
Lanjutan Lampiran 41a
41b
523
Lanjutan Lampiran 41 a
524
Lampiran 41b
525
Lanjutan Lampiran 41b
526
Lampiran 42
527
Lampiran 43A
LAMPIRAN IA
SURAT EDARAN BANK INDONESIA
NOMOR 15/43/DPNP TANGGAL 21 OKTOBER 2013
PERIHAL
PERUBAHAN ATAS SURAT EDARAN BANK INDONESIA
NOMOR 15/29/DKBU TANGGAL
31 JULI
PERIHAL
DAN
LAPORAN
TAHUNAN
2013
LAPORAN
KEUANGAN PUBLIKASI BANK PERKREDITAN RAKYAT
PENYUSUNAN
LAPORAN KEUANGAN PUBLIKASI
528
Lanjutan Lampiran 43A
Lampiran Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 15/43 /DPNP tanggal 21 Oktober 2013
---------------------------------------------------------------------------------------------------------
BAB I
PENJELASAN UMUM
I.
Tujuan Penyusunan Laporan Keuangan Publikasi
Penyusunan
Laporan
Keuangan
Publikasi
bertujuan
untuk
meningkatkan Transparansi Kondisi Keuangan dan Kinerja Bank
Perkreditan Rakyat melalui penyampaian informasi mengenai
laporan keuangan, informasi lainnya, susunan Pengurus dan
komposisi
Pemegang
Pengendali
secara
Saham
triwulanan
termasuk
kepada
Pemegang
berbagai
Saham
pihak
yang
berkepentingan dengan perkembangan usaha BPR.
II.
BPR Pelapor
BPR Pelapor adalah Kantor Pusat BPR yang menyampaikan
laporan untuk BPR secara konsolidasi.
III.
Penyampaian Pertanyaan
Pertanyaan yang berkenaan dengan pelaporan ditujukan kepada
Bank Indonesia sebagai berikut:
1. Pertanyaan yang berkaitan dengan aplikasi Laporan Bulanan
disampaikan kepada
Departemen Perizinan dan Informasi
Perbankan (DPIP) Bank Indonesia dengan alamat Jl. M.H.
Thamrin No.2 Jakarta 10350.
2. Pertanyaan yang berkaitan dengan Ketentuan Transparansi
Kondisi Keuangan Bank Perkreditan Rakyat disampaikan
kepada Departemen Penelitian dan Pengaturan Perbankan
(DPNP) Bank Indonesia dengan alamat Jl. M.H. Thamrin No.2
Jakarta 10350.
1 529
Lanjutan Lampiran 43A
Lampiran Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 15/43 /DPNP tanggal 21 Oktober 2013
---------------------------------------------------------------------------------------------------------
BAB II
PEDOMAN PENGISIAN LAPORAN KEUANGAN PUBLIKASI TABEL 1 NERACA PT/PD/KOP *) BANK PERKREDITAN RAKYAT ………
Tanggal …………..
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
Pos – Pos
Posisi Tanggal
laporan
Posisi yang sama
tahun
sebelumnya
AKTIVA
Kas
Sertifikat Bank Indonesia
Antarbank Aktiva
a. Pada bank umum
b. Pada BPR
Kredit yang diberikan
a. Pihak terkait
b. Pihak tidak terkait
Penyisihan Penghapusan Aktiva
Produktif -/Aktiva dalam valuta asing
Aktiva Tetap dan Inventaris
a. Tanah dan gedung
b. Akumulasi penyusutan gedung
-/c. Inventaris
d. Akumulasi
penyusutan
inventaris -/Aktiva Lain-Lain
JUMLAH AKTIVA
2 530
Lanjutan Lampiran 43A
Lampiran Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 15/43 /DPNP tanggal 21 Oktober 2013
---------------------------------------------------------------------------------------------------------
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
Pos – Pos
Posisi Tanggal
laporan
Posisi yang sama
tahun
sebelumnya
PASIVA
Kewajiban-kewajiban yang segera
dapat dibayar
Tabungan
a. Pihak terkait
b. Pihak tidak terkait
Deposito berjangka
a. Pihak terkait
b. Pihak tidak terkait
Kewajiban kepada Bank Indonesia
Antarbank Pasiva
Pinjaman Yang Diterima
Pinjaman Subordinasi
Rupa-rupa Pasiva
Ekuitas
a. Modal Dasar
b. Modal yang belum disetor -/c. Agio
d. Disagio -/e. Modal Sumbangan
f. Modal Pinjaman
g. Dana Setoran Modal
h. Cadangan Revaluasi Aktiva
Tetap
i. Cadangan Umum
j. Cadangan Tujuan
k. Laba yang ditahan
l. Laba/rugi tahun berjalan
JUMLAH PASIVA
3 531
Lanjutan Lampiran 43A
Lampiran Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 15/43 /DPNP tanggal 21 Oktober 2013
---------------------------------------------------------------------------------------------------------
PENJELASAN POS – POS NERACA
AKTIVA
1. Kas
Yang dimasukkan ke dalam pos ini adalah sandi 100 Aktiva Neraca
yaitu uang kartal yang ada dalam kas berupa uang kertas dan uang
logam yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia yang menjadi alat
pembayaran yang sah di Indonesia. Commemorative coins/notes
milik BPR yang diterbitkan oleh Bank Indonesia dilaporkan pada
pos Aktiva Lain-Lain.
2. Sertifikat Bank Indonesia (SBI)
Yang dimasukkan ke dalam pos ini adalah sandi 110 Aktiva Neraca
yaitu Sertifikat Bank Indonesia (SBI) atas unjuk dalam rupiah yang
diterbitkan dengan sistem diskonto oleh Bank Indonesia sebagai
pengakuan
hutang
berjangka
waktu
pendek.
SBI
tersebut
dilaporkan sebesar nilai nominalnya.
3. Antarbank Aktiva (ABA)
Yang dimasukkan ke dalam pos ini adalah sandi 120 Aktiva Neraca
yaitu semua jenis simpanan/tagihan BPR dalam rupiah kepada
bank lain di Indonesia antara lain giro, tabungan, deposito
berjangka, sertifikat deposito dan kredit yang diberikan. Khusus
untuk sertifikat deposito dilaporkan sebesar nominalnya dikurangi
dengan bunga yang belum diamortisasi. Pos ini dibedakan antara
ABA pada Bank Umum dan BPR.
4. Kredit yang diberikan
Yang dimasukkan ke dalam pos ini adalah sandi 130 Aktiva Neraca
yaitu baki debet pemberian kredit oleh BPR kepada pihak ketiga
bukan bank, termasuk kredit kepada pengurus dan pegawai BPR.
Pos ini dibedakan antara pihak terkait dan pihak tidak terkait
dengan bank.
4 532
Lanjutan Lampiran 43A
Lampiran Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 15/43 /DPNP tanggal 21 Oktober 2013
--------------------------------------------------------------------------------------------------------5. Penyisihan penghapusan aktiva produktif
Yang dimasukkan ke dalam pos ini adalah sandi 140 Aktiva Neraca
yaitu penyisihan yang dibentuk untuk menutup kemungkinan risiko
kerugian yang timbul sebagai akibat dari tidak dapat diterima
kembali sebagian atau seluruh kredit yang diberikan maupun dana
yang ditempatkan di bank lain selain giro, sebagaimana diatur
dalam
ketentuan
Bank
Indonesia
mengenai
Kualitas
Aktiva
Produktif (KAP) dan Pembentukan Penyisihan Penghapusan Aktiva
Produktif (PPAP) BPR. Pos ini digunakan juga untuk menampung
penerimaan kembali aktiva produktif yang telah dihapusbuku.
6. Aktiva dalam valuta asing
Yang dimasukkan ke dalam pos ini adalah sandi 150 Aktiva Neraca
yaitu mata uang kertas asing, uang logam asing bukan emas dan
travellers cheque yang masih berlaku, milik BPR yang melakukan
kegiatan money changer, yang dijabarkan dalam rupiah. Pos ini
hanya diisi oleh BPR yang memperoleh izin untuk melakukan
kegiatan money changer dari Bank Indonesia.
7. Aktiva tetap dan inventaris
Yang dimasukkan ke dalam pos ini adalah penjumlahan dari sandi
161 dan sandi 165 dikurangi sandi 162 dan sandi 166 Aktiva
Neraca yaitu penjumlahan aktiva tetap dan inventaris milik BPR
dikurangi akumulasi penyusutan gedung dan inventaris.
8. Aktiva Lain-Lain
Yang dimasukkan ke dalam pos ini adalah sandi 180 Aktiva Neraca
yaitu saldo rekening-rekening aktiva lainnya yang tidak dapat
dimasukkan atau digolongkan ke dalam salah satu dari pos 1
sampai dengan 7 di atas. Dalam pos ini dimasukkan pula
commemorative coins/notes yang diterbitkan oleh Bank Indonesia.
5 533
Lanjutan Lampiran 43A
Lampiran Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 15/43 /DPNP tanggal 21 Oktober 2013
---------------------------------------------------------------------------------------------------------
PASIVA
1. Kewajiban-kewajiban yang segera dapat dibayar
Yang dimasukkan ke dalam pos ini adalah sandi 200 Pasiva Neraca
yaitu semua kewajiban BPR yang segera dapat ditagih oleh
pemiliknya dan harus segera dibayar. Kredit yang diberikan yang
bersaldo kredit harus dilaporkan ke dalam pos ini. Termasuk
dilaporkan pada pos ini adalah bunga deposito berjangka yang
secara efektif telah menjadi kewajiban BPR namun belum dibayar
kepada nasabah.
2. Tabungan
Yang dimasukkan ke dalam pos ini adalah sandi 210 Pasiva Neraca
yaitu simpanan – simpanan dari pihak ketiga bukan bank pada BPR
yang penarikannya hanya dapat dilakukan menurut syarat-syarat
tertentu yang disepakati, tetapi tidak dapat ditarik dengan cek,
bilyet giro dan/atau alat yang dipersamakan dengan itu. Pos ini
dibedakan atas tabungan milik pihak terkait dan tidak terkait.
3. Deposito berjangka
Yang dimasukkan ke dalam pos ini adalah sandi 220 Pasiva Neraca
yaitu simpanan milik pihak ketiga bukan bank yang penarikannya
dapat dilakukan menurut suatu jangka waktu tertentu sesuai
dengan perjanjian. Pos ini dibedakan atas deposito milik pihak
terkait dan tidak terkait.
4. Kewajiban kepada Bank Indonesia
Yang dimasukkan ke dalam pos ini adalah sandi 230 Pasiva Neraca
yaitu kewajiban kepada Bank Indonesia.
5. Antarbank pasiva
Yang dimasukkan ke dalam pos ini adalah sandi 240 Pasiva Neraca
yaitu semua jenis kewajiban BPR kepada bank lain antara lain
tabungan, deposito berjangka dan pinjaman yang diterima.
6 534
Lanjutan Lampiran 43A
Lampiran Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 15/43 /DPNP tanggal 21 Oktober 2013
---------------------------------------------------------------------------------------------------------
6. Pinjaman yang diterima
Yang dimasukkan ke dalam pos ini adalah penjumlahan dari sandi
256 dan 257 dari sandi Pasiva Neraca yaitu pinjaman dengan
jangka waktu sampai dengan 3 bulan dan pinjaman dengan jangka
waktu lebih dari 3 bulan.
7. Pinjaman subordinasi
Yang dimasukkan ke dalam sub pos ini adalah sandi 251 Pasiva
Neraca yaitu pinjaman subordinasi yang diterima oleh BPR.
8. Rupa-rupa pasiva
Yang dimasukkan ke dalam pos ini adalah sandi 270 Pasiva Neraca
yaitu saldo rekening pasiva lainnya yang tidak dapat dimasukkan
atau digolongkan ke dalam salah satu dari pos 1 sampai dengan 7
dan 9. Pada pos ini dimasukkan pula pinjaman yang diterima BPR
dari pihak ketiga bukan bank dalam rangka penerusan kredit tetapi
belum disalurkan kepada nasabah.
9. Ekuitas
a. Modal dasar
Yang dimasukkan ke dalam sub pos ini sandi 281 Pasiva Neraca
yaitu jumlah modal atau simpanan pokok dan simpanan wajib
(bagi BPR yang berbadan hukum koperasi) yang tercantum
dalam anggaran dasar Kantor Pusat BPR.
b. Modal yang belum disetor
Yang dimasukkan ke dalam sub pos ini adalah sandi 282 Pasiva
Neraca yaitu jumlah modal atau simpanan pokok dan simpanan
wajib yang belum disetor.
c. Agio
Yang dimasukkan ke dalam sub pos ini adalah sandi 283 Pasiva
Neraca yaitu selisih lebih setoran modal yang diterima oleh BPR
sebagai akibat harga saham yang melebihi nilai nominalnya.
d. Disagio
Yang dimasukkan ke dalam sub pos ini adalah sandi 284 Pasiva
Neraca yaitu selisih kurang setoran modal yang diterima oleh
7 535
Lanjutan Lampiran 43A
Lampiran Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 15/43 /DPNP tanggal 21 Oktober 2013
--------------------------------------------------------------------------------------------------------BPR sebagai akibat harga saham yang lebih rendah dari nilai
nominalnya.
e. Modal sumbangan
Yang dimasukkan ke dalam sub pos ini adalah sandi 285 Pasiva
Neraca yaitu modal yang diperoleh kembali dari sumbangan
saham. Modal yang berasal dari donasi pihak luar yang diterima
oleh BPR yang berbentuk hukum koperasi juga termasuk dalam
pengertian modal sumbangan.
f.
Modal pinjaman
Yang dimasukkan ke dalam sub pos ini adalah sandi 287 Pasiva
Neraca
yaitu
modal
atau
pinjaman
yang
didukung
oleh
instrumen atau warkat yang memiliki sifat seperti modal atau
hutang dengan ciri-ciri sebagaimana dimaksud dalam ketentuan
Bank
Indonesia
mengenai
Kewajiban
Penyediaan
Modal
Minimum (KPMM) BPR. Untuk BPR yang berbadan hukum
koperasi, pengertian modal pinjaman sesuai dengan ketentuan
yang diatur dalam Undang-Undang No.17 tahun 2012 tentang
Koperasi.
g. Dana setoran modal
Yang dimasukkan ke dalam sub pos ini adalah sandi 288 Pasiva
Neraca yaitu dana setoran modal sebagaimana dimaksud dalam
ketentuan Bank Indonesia mengenai KPMM BPR.
h. Cadangan revaluasi aktiva tetap
Yang dimasukkan ke dalam pos ini adalah sandi 289 Pasiva
Neraca yaitu nilai yang dibentuk sebagai akibat dari selisih
penilaian kembali aktiva tetap milik BPR setelah memperoleh
persetujuan dari instansi yang berwenang.
i.
Cadangan umum
Yang dimasukkan ke dalam sub pos ini adalah sandi 291 Pasiva
Neraca yaitu cadangan yang dibentuk dari penyisihan laba yang
ditahan atau dari laba bersih (setelah dikurangi pajak) yang
dimaksudkan untuk memperkuat modal.
j.
Cadangan tujuan
Yang dimasukkan ke dalam sub pos ini adalah sandi 293 Pasiva
Neraca yaitu bagian laba bersih (setelah dikurangi pajak) yang
disisihkan untuk tujuan tertentu.
8 536
Lanjutan Lampiran 43A
Lampiran Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 15/43 /DPNP tanggal 21 Oktober 2013
--------------------------------------------------------------------------------------------------------k. Laba yang ditahan
Yang dimasukkan ke dalam pos ini adalah penjumlahan dari
sandi 295, 302 dan 303 Pasiva Neraca yaitu penjumlahan dari
laba yang ditahan dan laba/rugi tahun lalu.
l.
Laba/rugi tahun berjalan
Yang dimasukkan ke dalam pos ini adalah jumlah dari pos
laba/rugi tahun berjalan dalam perhitungan laba/rugi pada
Lampiran 3.
9 537
Lanjutan Lampiran 43A
Lampiran Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 15/43 /DPNP tanggal 21 Oktober 2013
---------------------------------------------------------------------------------------------------------
TABEL 2 LAPORAN LABA RUGI PT/PD/KOP *) BANK PERKREDITAN RAKYAT ………
Periode ……………..
Periode
Tanggal laporan
POS – POS
Periode yang
sama
tahun sebelumnya
PENDAPATAN
Pendapatan Operasional
- Bunga
- Provisi dan komisi
- lainnya
Jumlah Pendapatan operasional
Pendapatan non Operasional
Jumlah Pendapatan
BEBAN
Beban operasional
- beban bunga
- beban administrasi dan umum
- beban personalia
- penyisihan aktiva produktif
- beban operasional lainnya
Jumlah beban operasional
Beban non operasional
Jumlah Beban
Laba/rugi
sebelum
Penghasilan (PPh)
Taksiran Pajak Penghasilan
Laba/rugi tahun berjalan
Pajak
10 538
Lanjutan Lampiran 43A
Lampiran Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 15/43 /DPNP tanggal 21 Oktober 2013
---------------------------------------------------------------------------------------------------------
PENJELASAN LAPORAN LABA RUGI
PENDAPATAN
1. Pendapatan Operasional
a. Bunga
Yang
dimasukkan
ke
dalam
pos
ini
penjumlahan
sandi
112,113,114,115,116,120 dan 129 dari sandi rincian Laba-Rugi
yaitu pendapatan bunga dari kegiatan usaha BPR, baik dari pihak
ketiga bukan bank maupun bank lain.
b. Provisi dan Komisi
Yang dimasukkan ke dalam pos ini adalah posisi sandi 131 dan
139 dari sandi rincian Laba-Rugi yaitu pendapatan provisi dan
komisi yang diterima oleh BPR.
c. Lainnya
Yang dimasukkan kedalam pos ini adalah sandi 149 yaitu
pendapatan operasional lainnya yang tidak dapat digolongkan ke
dalam salah satu pos angka 1 dan 2 tersebut di atas.
2. Jumlah pendapatan operasional
Merupakan penjumlahan dari angka 1 huruf a, huruf b dan huruf c.
3. Pendapatan non operasional
Yang dimasukkan ke dalam pos ini adalah sandi 290 Rincian Laba
Rugi yaitu semua pendapatan yang berasal dari kegiatan yang
bukan merupakan kegiatan utama BPR.
4. Jumlah Pendapatan
Merupakan penjumlahan dari angka 2 dan angka 3.
BEBAN
5. Beban Operasional
a. Beban bunga
yang dimasukkan ke dalam pos ini adalah penjumlahan sandi
161 sampai dengan 181 Rincian Laba Rugi yaitu beban bunga
11 539
Lanjutan Lampiran 43A
Lampiran Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 15/43 /DPNP tanggal 21 Oktober 2013
--------------------------------------------------------------------------------------------------------atas dana yang diperoleh BPR, baik dari pihak ketiga bukan bank
maupun bank lain.
b. Beban administrasi dan umum
Yang dimasukkan ke dalam pos ini adalah penjumlahan dari
sandi 190, 210, 220, 230, 243, 245 dan 250 Rincian Laba Rugi,
yaitu premi asuransi, sewa, pajak-pajak, pemeliharaan dan
perbaikan, penyusutan aktiva tetap dan inventaris, beban yang
ditangguhkan serta barang dan jasa.
c. Beban personalia
Yang dimasukkan ke dalam pos ini adalah penjumlahan sandi
201,
206
dan
209
Rincian
Laba
Rugi
yaitu
gaji,
upah,
honorarium, biaya pendidikan dan lainnya.
d. Penyisihan aktiva produktif
Yang dimasukkan ke dalam pos ini adalah sandi 241 Rincian
Laba Rugi yaitu biaya penyisihan penghapusan aktiva produktif.
e. Beban operasional lainnya
Yang dimasukkan ke dalam pos ini adalah sandi 269 Rincian
Laba Rugi yaitu beban operasional selain yang telah dilaporkan
diatas.
6. Jumlah beban operasional
Merupakan penjumlahan dari angka 1 sampai dengan angka 5.
7. Beban non operasional
Yang dimasukkan ke dalam pos ini adalah sandi 300 Rincian Laba
Rugi yaitu biaya yang dikeluarkan atas kegiatan yang bukan
merupakan kegiatan utama BPR.
8. Jumlah beban
Merupakan penjumlahan dari angka 6 dan angka 7.
9. Laba/rugi sebelum Pajak Penghasilan (PPh)
Yang dimasukkan ke dalam pos ini adalah sandi 330 atau 340
Rincian Laba Rugi yaitu selisih positif atau selisih negatif dari
seluruh pendapatan operasional dan non operasional dikurangi
beban operasional dan non operasional.
10. Taksiran pajak penghasilan
Yang dimasukkan ke dalam pos ini adalah sandi 350 Rincian Laba
Rugi yaitu taksiran pajak penghasilan tahun berjalan sesuai
ketentuan yang menjadi beban laba tahun berjalan.
12 540
Lanjutan Lampiran 43A
Lampiran Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 15/43 /DPNP tanggal 21 Oktober 2013
--------------------------------------------------------------------------------------------------------11. Laba/rugi tahun berjalan
Yang dimasukkan ke dalam pos ini adalah sandi 360 atau 370
Rincian Laba/Rugi yaitu laba bersih tahun berjalan (setelah
dikurangi taksiran pajak penghasilan) atau rugi tahun berjalan.
13 541
Lanjutan Lampiran 43A
Lampiran Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 15/43 /DPNP tanggal 21 Oktober 2013
---------------------------------------------------------------------------------------------------------
TABEL 3 LAPORAN KOMITMEN DAN KONTINJENSI PT/PD/KOP *) BANK PERKREDITAN RAKYAT ………
Tanggal …………
POS – POS
Posisi tanggal
laporan
Posisi yang sama
tahun sebelumnya
KOMITMEN
1. Fasilitas pinjaman yang diterima
dan belum ditarik
2. Fasilitas kredit kepada nasabah
yang belum ditarik
3. Lain-lain
Jumlah Komitmen
KONTINJENSI
1. Pendapatan
bunga
dalam
penyelesaian
2. Lain-lain
Jumlah Kontinjensi
14 542
Lanjutan Lampiran 43A
Lampiran Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 15/43 /DPNP tanggal 21 Oktober 2013
---------------------------------------------------------------------------------------------------------
PENJELASAN LAPORAN KOMITMEN DAN KONTINJENSI
KOMITMEN
1. Fasilitas pinjaman yang diterima dan belum ditarik
Yang dimasukkan ke dalam rekening ini adalah sandi 320 rekeningrekening administratif yaitu fasilitas pinjaman yang diterima dan
belum ditarik oleh BPR.
2. Fasilitas kredit kepada nasabah yang belum ditarik
Yang dimasukkan ke dalam rekening ini adalah sandi 340 rekeningrekening administratif yaitu fasilitas kredit yang disediakan oleh
BPR bagi nasabahnya dan belum ditarik.
3. Lain-lain
Yang dimasukkan ke dalam pos ini adalah lain-lain komitmen yang
tidak dapat digolongkan ke dalam salah satu pos komitmen angka 1
dan 2 tersebut di atas.
KONTINJENSI
1. Pendapatan bunga dalam penyelesaian
Yang dimasukkan ke dalam pos ini adalah penjumlahan posisi sandi
331 dan 339 dari sandi rekening-rekening administratif yaitu bunga
atas penanaman dana BPR yang kualitasnya tergolong Kurang
Lancar, Diragukan atau Macet namun hingga saat pelaporan masih
belum diterima pembayarannya.
2. Lain-lain
Yang dimasukkan kedalam pos ini adalah lain-lain kontinjensi yang
tidak dapat dimasukkan ke dalam pos kontinjensi pada angka 1 di
atas.
15 543
Lanjutan Lampiran 43A
Lampiran Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 15/43 /DPNP tanggal 21 Oktober 2013
---------------------------------------------------------------------------------------------------------
TABEL 4 KUALITAS AKTIVA PRODUKTIF DAN INFORMASI
LAINNYA PT/PD/KOP *) BANK PERKREDITAN RAKYAT ………
Tanggal …………
KETERANGAN
L
Posisi tanggal laporan
KL
D
M
Jumlah
1.
Penempatan pada bank
lain
2. Kredit yang diberikan
a. Kepada pihak terkait
b. Kepada pihak tidak
terkait
3. Jumlah aktiva produktif
4. NPL net (%)
5. Rasio KPMM (%)
6. Loan to Deposit
Ratio/LDR (%)
7. Return on Asset/ROA
(%)
8. PPAP (%)
9. BOPO (%)
10. Cash Ratio (%)
16 544
Lanjutan Lampiran 43A
Lampiran Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 15/43 /DPNP tanggal 21 Oktober 2013
---------------------------------------------------------------------------------------------------------
PENJELASAN FORMULIR KUALITAS AKTIVA PRODUKTIF
DAN INFORMASI LAINNYA
1. Penempatan pada bank lain
Yang dimasukkan ke dalam pos ini seluruh penempatan pada bank
lain
selain
giro
yang
dikelompokkan
berdasarkan
kualitas
penempatan pada bank lain tersebut.
2. Kredit yang diberikan
Yang dimasukkan ke dalam pos ini adalah kredit yang diberikan
oleh BPR, tidak termasuk yang diberikan kepada bank lain. Pos ini
dibedakan atas kredit yang diberikan kepada pihak terkait dan
pihak tidak terkait dan dikelompokkan berdasarkan kualitas kredit
yang diberikan.
3. Jumlah aktiva produktif
Merupakan penjumlahan dari angka 1 dan angka 2.
4. NPL (neto)
Yang dimasukkan ke dalam pos ini adalah perbandingan antara
kredit yang diberikan (kualitas KL, D dan M) setelah dikurangi PPAP
dengan jumlah kredit yang diberikan.
5. KPMM
Yang dimasukkan ke dalam pos ini adalah perbandingan antara
jumlah modal bank dengan Aktiva Tertimbang Menurut Risiko
(ATMR) sesuai dengan ketentuan Bank Indonesia mengenai KPMM
BPR.
6. LDR
Yang dimasukkan ke dalam pos ini adalah perbandingan antara
kredit yang diberikan oleh BPR dengan dana yang diterima sesuai
dengan ketentuan Bank Indonesia mengenai Penilaian Tingkat
Kesehatan BPR.
7. ROA
Yang dimasukkan ke dalam pos ini adalah perbandingan antara
laba
sebelum
pajak
dalam
12
(dua
belas)
bulan
terakhir
dibandingkan dengan rata-rata Volume Usaha dalam periode yang
sama sesuai dengan ketentuan Bank Indonesia mengenai Penilaian
Tingkat Kesehatan BPR.
17 545
Lanjutan Lampiran 43A
Lampiran Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 15/43 /DPNP tanggal 21 Oktober 2013
---------------------------------------------------------------------------------------------------------
8. PPAP
Yang dimasukkan ke dalam pos ini adalah perbandingan antara
Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif yang telah dibentuk
terhadap Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif yang wajib
dibentuk.
9. BOPO
Yang dimasukkan ke dalam pos ini adalah perbandingan beban
operasional terhadap pendapatan operasional yang diperhitungkan
per posisi (tidak disetahunkan).
10. Cash Ratio
Yang dimasukkan ke dalam pos ini adalah perbandingan antara alat
likuid terhadap hutang lancar sebagaimana diatur dalam ketentuan
Bank Indonesia tentang tata cara penilaian tingkat kesehatan Bank
Perkreditan Rakyat.
18 546
Lanjutan Lampiran 43A
Lampiran Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 15/43 /DPNP tanggal 21 Oktober 2013
---------------------------------------------------------------------------------------------------------
TABEL 5 PENGURUS DAN PEMILIK BPR
PENGURUS BANK
Dewan Komisaris:
1. …………
2. …………
3. dst.
Direksi:
1. …………
2. …………
3. dst.
PEMILIK BANK
1. ………. ………. (…%)
2. ………. ………. (…%)
3. dst.
Pemegang Saham Pengendali
1. …………………..
2. …………………..
3. dst.
Pengisian pengurus dan pemilik BPR sesuai administrasi Bank
Indonesia.
………………, ……………….
Direksi
PT/PD/Kop BPR ………..
……………… ..……………
19 547
Lampiran 43
LAMPIRAN I
SURAT EDARAN BANK INDONESIA
NOMOR 15/29/DKBU TANGGAL 31 JULI 2013
PERIHAL
LAPORAN
TAHUNAN
DAN
LAPORAN
KEUANGAN
PUBLIKASI BANK PERKREDITAN RAKYAT
PENYUSUNAN
LAPORAN KEUANGAN PUBLIKASI
548
Lanjutan Lampiran 43
BAB I
PENJELASAN UMUM
I.
Tujuan Penyusunan Laporan Keuangan Publikasi
Penyusunan
Laporan
Keuangan
Publikasi
bertujuan
untuk
meningkatkan Transparansi Kondisi Keuangan dan Kinerja Bank
Perkreditan Rakyat melalui penyampaian informasi mengenai
laporan keuangan, informasi lainnya, susunan Pengurus dan
komposisi
Pemegang
Pengendali
secara
Saham
triwulanan
termasuk
kepada
Pemegang
berbagai
Saham
pihak
yang
berkepentingan dengan perkembangan usaha BPR.
II.
BPR Pelapor
BPR Pelapor adalah Kantor Pusat BPR yang menyampaikan
laporan untuk BPR secara konsolidasi.
III.
Penyampaian Pertanyaan
Pertanyaan yang berkenaan dengan pelaporan ditujukan kepada
Bank Indonesia sebagai berikut:
1. Pertanyaan yang berkaitan dengan aplikasi Laporan Bulanan
disampaikan kepada
Departemen Perizinan dan Informasi
Perbankan (DPIP) Bank Indonesia dengan alamat Jl. M.H.
Thamrin No.2 Jakarta 10350.
2. Pertanyaan yang berkaitan dengan Ketentuan Transparansi
Kondisi Keuangan Bank Perkreditan Rakyat disampaikan
kepada Departemen Penelitian dan Pengaturan Perbankan
(DPNP) Bank Indonesia dengan alamat Jl. M.H. Thamrin No.2
Jakarta 10350.
2
549
Lanjutan Lampiran 43
BAB II
PEDOMAN PENGISIAN LAPORAN KEUANGAN PUBLIKASI
LAPORAN NERACA
POS-POS
Posisi Tanggal
Laporan
Posisi yang sama
tahun sebelumnya
Posisi Tanggal
Laporan
Posisi yang sama
tahun sebelumnya
ASET
Kas
Kas dalam Valuta Asing
Sertifikat Bank Indonesia
Pendapatan Bunga yang Akan Diterima
Penempatan pada Bank Lain
Penyisihan Kerugian -/Jumlah
Kredit yang Diberikan
a. Kepada BPR
b. Kepada Bank Umum
c. Kepada non bank – pihak terkait
d. Kepada non bank – pihak tidak terkait
Penyisihan Kerugian -/Jumlah
Agunan yang Diambil Alih
Aset Tetap dan Inventaris
a. Tanah dan bangunan
b. Akumulasi penyusutan bangunan -/c. Inventaris
d. Akumulasi penyusutan inventaris -/Aset tidak berwujud
Aset Lain-lain
Jumlah Aset
POS-POS
Kewajiban
Kewajiban Segera
Utang Bunga
Utang Pajak
Simpanan
a.
Tabungan
b.
Deposito
Simpanan dari Bank Lain
Pinjaman Diterima
Dana Setoran Modal – Kewajiban
Kewajiban Imbalan Kerja
Pinjaman Subordinasi
Modal Pinjaman
Kewajiban Lain-lain
Jumlah Kewajiban
3
550
Lanjutan Lampiran 43
POS-POS
Posisi Tanggal
Laporan
Posisi yang sama
tahun sebelumnya
EKUITAS
Modal
Modal Dasar
Modal yang Belum Disetor
-/Tambahan Modal Disetor (Agio Saham)
Modal Sumbangan
Jumlah
Dana Setoran Modal – Ekuitas
Laba/Rugi yang Belum Direalisasi
Surplus Revaluasi Aset Tetap
Saldo Laba
Cadangan Tujuan
Cadangan Umum
Belum ditentukan tujuannya
Total
Jumlah Ekuitas
JUMLAH KEWAJIBAN DAN EKUITAS
4
551
Lanjutan Lampiran 43
PENJELASAN POS-POS NERACA
I.
ASET
1. Kas
Yang dimasukkan dalam pos ini adalah sandi 100 Aset Neraca
yaitu uang kartal yang ada dalam kas berupa uang kertas dan
uang logam yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia yang menjadi
alat pembayaran yang sah di Indonesia. Termasuk dalam pos ini
adalah kas besar, kas dalam mesin Anjungan Tunai Mandiri dan
kas dalam perjalanan.
2. Kas dalam Valuta Asing
Yang dimasukkan ke dalam pos ini adalah sandi 102 Aset
Neraca yaitu mata uang kertas asing, uang logam asing dan
travellers cheque yang masih berlaku yang dimiliki BPR dalam
kegiatan penukaran sebagai Pedagang Valuta Asing.
3. Sertifikat Bank Indonesia
Yang dimasukkan ke dalam pos ini adalah sandi 110 Aset
Neraca yaitu Sertifikat Bank Indonesia atas unjuk dalam rupiah
yang diterbitkan dengan sistem diskonto oleh Bank Indonesia
sebagai pengakuan hutang berjangka waktu pendek yang
dimiliki BPR. Kategori SBI terbagi dua yaitu:
a.
Dimiliki Hingga Jatuh Tempo dimasukkan sebesar biaya
perolehan dikurangi diskonto yang belum diamortisasi dan
ditambah biaya transaksi yang belum diamortisasi,
b.
Tersedia Untuk Dijual dimasukkan sebesar nilai wajar.
4. Pendapatan Bunga yang akan Diterima
Yang dimasukkan ke dalam pos ini adalah sandi 120 Aset
Neraca yaitu pendapatan bunga dari penempatan pada bank lain
dan kredit yang diberikan dengan kualitas lancar (performing)
yang telah diakui sebagai pendapatan tetapi belum diterima
pembayarannya.
5
552
Lanjutan Lampiran 43
5. Penempatan pada Bank Lain
Yang dimasukkan dalam pos ini adalah sandi 130 Aset Neraca
yaitu jumlah dana setiap penempatan BPR pada bank umum
dalam bentuk giro, tabungan, deposito berjangka dan sertifikat
deposito dan pada BPR lain dalam bentuk tabungan dan
deposito berjangka. Saldo penempatan pada bank lain tidak
dapat disalinghapuskan dengan saldo simpanan atau dana yang
diterima dari bank.
6. Penyisihan Kerugian
Yang dimasukkan dalam pos ini adalah sandi 131 Aset Neraca
yaitu penyisihan penghapusan aset produktif (PPAP) yang telah
dibentuk BPR atas penempatan pada bank lain sesuai dengan
Peraturan Bank Indonesia tentang Kualitas Aktiva Produktif dan
Pembentukan Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif (KAP
dan Pembentukan PPAP) BPR.
7. Kredit yang Diberikan
Yang dimasukkan dalam pos ini adalah sandi 140 Aset Neraca
yaitu kredit yang diberikan oleh BPR
pihak ketiga
baik kepada bank atau
bukan bank sebesar baki debet neto yaitu baki
debet dikurangi dengan provisi yang belum diamortisasi dan
ditambah dengan biaya transaksi yang belum diamortisasi.
Khusus untuk kredit yang direstrukturisasi, dalam hal terdapat
pendapatan ditangguhkan dan kerugian restrukturisasi maka
nilai yang dimasukkan setelah memperhitungkan pendapatan
ditangguhkan dalam rangka restrukturisasi dan cadangan
kerugian restrukturisasi.
Pos kredit yang diberikan dibedakan untuk kredit kepada BPR,
kepada Bank Umum, kepada non Bank – Pihak terkait, dan
kepada non Bank – Pihak tidak terkait.
Kredit
yang
diberikan
dalam
rangka
pembiayaan
bersama/konsorsium/ sindikasi, baik BPR bertindak sebagai
bank
induk
(arranger)
maupun
sebagai
bank
peserta
(participant), dimasukkan pada pos ini sebesar porsi tagihan BPR
kepada debitur yang bersangkutan.
6
553
Lanjutan Lampiran 43
Kredit yang diberikan dalam rangka channeling dimana BPR
tidak memiliki risiko kredit tak tertagih tidak dimasukkan pada
pos ini melainkan pada Rekening Administratif.
8. Penyisihan Kerugian
Yang dimasukkan dalam pos ini adalah sandi 141 Aset Neraca
yaitu PPAP yang telah dibentuk BPR atas kredit yang diberikan
sesuai dengan Peraturan Bank Indonesia tentang Kualitas Aktiva
Produktif dan Pembentukan Penyisihan Penghapusan Aktiva
Produktif (KAP dan Pembentukan PPAP) BPR.
9. Agunan yang Diambil Alih
Yang dimasukkan dalam pos ini adalah sandi 200 Aset Neraca
yaitu agunan milik debitur yang diambil alih oleh BPR dalam
rangka penyelesaian kredit dan bersifat sementara untuk segera
diselesaikan
melalui
pelelangan,
atau
diluar
pelelangan
berdasarkan penyerahan secara sukarela oleh pemilik agunan,
atau berdasarkan surat kuasa untuk menjual diluar lelang dari
pemilik
agunan
dalam
kewajibannya kepada BPR.
hal
debitur
tidak
memenuhi
Jumlah yang dimasukkan apabila
pada saat perolehan awal adalah nilai wajar setelah dikurangi
biaya-biaya penjualan maksimum sebesar baki debet kredit
debitur kepada BPR. Adapun untuk periode selanjutnya, nilai
yang dimasukkan adalah sebesar nilai wajar setelah dikurangi
biaya-biaya penjualan atas AYDA atau nilai tercatat, mana yang
lebih rendah.
Dalam hal nilai wajar setelah dikurangi biaya-biaya penjualan
lebih rendah dari nilai tercatat, maka AYDA disajikan sebesar
nilai setelah penurunan. Kerugian atas penurunan nilai dapat
dipulihkan kembali maksimal sebesar akumulasi kerugian
penurunan nilai yang telah diakui.
AYDA yang tidak dapat diselesaikan dalam jangka waktu 1
tahun akan diperhitungkan sebagai pengurang komponen modal
dalam perhitungan KPMM, sebagaimana diatur dalam peraturan
Bank Indonesia tentang KAP dan Pembentukan PPAP BPR.
7
554
Lanjutan Lampiran 43
10. Aset Tetap dan Inventaris serta Akumulasi Penyusutan
a. Aset tetap dan Inventaris
Yang dimasukkan dalam pos ini adalah sandi 210 Aset Neraca
yaitu aset berwujud fisik yang dimiliki BPR dan digunakan
untuk kegiatan operasional, antara lain :
1) Tanah dan bangunan
Dimasukkan sebesar biaya perolehan atas aset tetap
seperti tanah, gedung, rumah atau bangunan lain milik
BPR sampai dengan kondisi aset tetap siap digunakan
untuk operasional. Aset tetap dapat dimasukkan sebesar
nilai revaluasi yaitu nilai hasil penilaian kembali aset tetap
berdasarkan Peraturan Pemerintah yang telah mendapat
persetujuan dari instansi yang berwenang.
2) Inventaris
Dimasukkan sebesar biaya perolehan atas inventaris
seperti perabot dan kendaraan milik BPR sampai dengan
kondisi inventaris siap digunakan untuk operasional.
Inventaris dapat dimasukkan sebesar nilai revaluasi yaitu
nilai hasil penilaian kembali aset tetap berdasarkan
Peraturan Pemerintah yang telah mendapat persetujuan
dari instansi yang berwenang.
Aset dalam bentuk komputer, server dan peralatan sejenis
dimasukkan sebesar nilai
hardware
sedangkan nilai
software dimasukkan dalam pos aset tidak berwujud.
Tidak
termasuk
operasional
BPR
aset
yang
dan
tidak
aset
digunakan
yang
dalam
dalam
masa
pembangunan.
b. Akumulasi Penyusutan dan Penurunan Nilai
Yang dimasukkan dalam pos ini adalah sandi 211 Aset Neraca
yaitu jumlah akumulasi penyusutan dan penurunan nilai aset
tetap dan inventaris yang dimiliki BPR antara lain :
8
555
Lanjutan Lampiran 43
1) Tanah dan bangunan
a)
Jumlah akumulasi beban penyusutan atas biaya
perolehan atau nilai revaluasi aset tetap milik BPR
yang telah dicatat sampai dengan tanggal laporan.
b)
Jumlah
akumulasi
penurunan
nilai
atas
biaya
perolehan atau nilai revaluasi gedung, rumah atau
bangunan lain milik BPR berdasarkan bukti objektif.
Kerugian penurunan nilai dapat dipulihkan kembali
maksimal sampai dengan biaya perolehan atau nilai
revaluasi awal bersih dari penyusutan.
2) Inventaris
a)
Jumlah akumulasi beban penyusutan atas biaya
perolehan atau nilai revaluasi inventaris milik BPR
yang telah dicatat sampai dengan tanggal laporan.
b)
Jumlah
akumulasi
penurunan
nilai
atas
biaya
perolehan atau nilai revaluasi inventaris milik BPR
berdasarkan bukti objektif. Kerugian penurunan nilai
dapat dipulihkan kembali maksimal sampai dengan
biaya perolehan atau nilai revaluasi awal bersih dari
penyusutan.
11. Aset Tidak Berwujud
a. Aset Tidak Berwujud (Sandi 220)
Yang dimasukkan dalam pos ini adalah sandi 220 Aset
Neraca yaitu biaya perolehan atas aset tidak berwujud milik
BPR
sampai dengan kondisi aset tidak berwujud siap
digunakan untuk operasional. Termasuk dalam aset tidak
berwujud adalah aset non moneter/tidak mempunyai wujud
fisik namun dapat diidentifikasi dan digunakan untuk
operasional antara lain program aplikasi bisnis (software)
yang diperoleh secara eksternal.
b. Akumulasi Amortisasi dan Penurunan Nilai (Sandi 221)
Yang dimasukkan dalam pos ini adalah sandi 221 Aset
Neraca yaitu jumlah akumulasi beban amortisasi atas biaya
perolehan yang telah dicatat sampai dengan tanggal laporan
melalui alokasi sistematis selama masa manfaat aset.
9
556
Lanjutan Lampiran 43
Termasuk
dalam
pos
ini
adalah
jumlah
akumulasi
penurunan nilai atas biaya perolehan aset tak berwujud
milik BPR berdasarkan bukti objektif. Kerugian penurunan
nilai dapat dipulihkan kembali maksimal sampai dengan
biaya perolehan atau nilai revaluasi awal bersih dari
amortisasi.
12. Aset Lain-lain
Yang dimasukan dalam pos ini adalah sandi 270 Aset Neraca
yaitu nilai perolehan aset lainnya yang tidak dapat secara layak
digolongkan ke dalam salah satu dari pos aset di atas dan tidak
secara material untuk disajikan tersendiri. Termasuk dalam pos
ini antara lain pajak/biaya dibayar dimuka, piutang kepada
perusahaan
asuransi,
commemorative
coins/notes
yang
diterbitkan oleh Bank Indonesia, saldo mata uang rupiah dan
asing yang telah ditarik dari peredaran namun masih dalam
masa tenggang penukaran, dan lainnya.
II. KEWAJIBAN
1. Kewajiban Segera
Yang dimasukkan
dalam pos ini adalah sandi 300 Kewajiban
yaitu kewajiban BPR
yang telah jatuh tempo dan atau yang
segera dapat ditagih oleh pemiliknya dan harus segera dibayar
baik dengan perintah pemberi amanat maupun tidak.
2. Utang Bunga
Yang dimasukkan dalam pos ini adalah sandi 310 Pasiva yaitu
akrual bunga untuk produk simpanan (tabungan/deposito),
pinjaman yang diterima dan pinjaman subordinasi,baik dari
bank lain atau pihak ketiga bukan bank.
3. Utang Pajak
Yang dimasukkan dalam pos ini adalah sandi 320 Pasiva yaitu
pajak badan terutang yang belum dibayarkan oleh BPR ,
meliputi:
Utang pajak atas PPH 29 (PPH Badan) yang dihitung setelah
berakhirnya masa pajak tahunan yaitu selisih kurang atas
10
557
Lanjutan Lampiran 43
kewajiban pajak penghasilan BPR setelah memperhitungkan
PPH 25 (angsuran pajak / pajak dibayar dimuka).
Utang pajak yang telah ditetapkan oleh kantor pajak antara
lain melalui hasil pemeriksaan.
4. Simpanan
Simpanan adalah dana yang dipercayakan oleh masyarakat di
luar bank umum atau BPR lain kepada BPR berdasarkan
perjanjian penyimpanan dana
a. Tabungan
Yang dimasukkan dalam pos ini adalah sandi 330 Kewajiban
Neraca yaitu simpanan milik pihak ketiga bukan bank pada
BPR
yang penarikannya hanya dapat dilakukan menurut
syarat-syarat tertentu yang disepakati, tetapi tidak dapat
ditarik
dengan
cek,
bilyet
giro,
dan/atau
alat
yang
dipersamakan dengan itu. Nilai yang dimasukkan sebesar
saldo tabungan nasabah setelah dikurangi dengan biaya
transaksi yang belum diamortisasi.
b. Deposito
Yang dimasukkan dalam pos ini adalah sandi 340 Kewajiban
Neraca yaitu simpanan milik pihak ketiga bukan bank pada
BPR yang penarikannya hanya dapat dilakukan menurut
suatu jangka waktu tertentu sesuai dengan perjanjian. Nilai
yang dimasukkan sebesar saldo tabungan nasabah setelah
dikurangi dengan biaya transaksi yang belum diamortisasi.
5. Simpanan dari Bank Lain
Yang dimasukkan dalam pos ini adalah sandi 360 Kewajiban
Neraca yaitu semua kewajiban BPR
berupa tabungan dan
deposito kepada bank lain di Indonesia. Nilai yang dimasukkan
adalah sebesar saldo atau nilai simpanan kepada bank lain
setelah
dikurangi
dengan
biaya
simpanan
pada
transaksi
yang
belum
diamortisasi.
Saldo
atau
nilai
bank
lain
tidak
dapat
disalinghapuskan dengan saldo pos penempatan pada bank lain.
11
558
Lanjutan Lampiran 43
6. Pinjaman Diterima
Yang dimasukkan dalam pos ini adalah sandi 370 Kewajiban
Neraca yaitu semua bentuk pinjaman yang diterima oleh BPR
baik dari bank lain ataupun pihak ketiga bukan bank. Nilai yang
dimasukkan adalah sebesar baki debet kepada bank lain dan
pihak ketiga bukan bank setelah dikurangi dengan biaya
transaksi yang belum diamortisasi.
7. Dana Setoran Modal - Kewajiban
Yang dimasukkan dalam pos ini adalah sandi 400 Kewajiban
Neraca yaitu dana yang telah disetor penuh oleh pemegang
saham atau calon pemegang saham dan diblokir dalam rangka
penambahan modal, namun belum atau tidak dinyatakan
memenuhi ketentuan modal yang berlaku oleh Bank Indonesia
untuk dapat digolongkan sebagai modal disetor.
8. Kewajiban Imbalan Kerja
Yang dimasukkan dalam pos ini adalah sandi 410 Kewajiban
Neraca yaitu kewajiban BPR untuk memberikan imbalan atas
jasa yang diberikan kepada pekerjanya berupa imbalan kerja
jangka pendek, imbalan paska kerja, imbalan kerja jangka
panjang lainnya dan pesangon pemutusan kerja. Nilai yang
dimasukkan adalah jumlah yang didiskontokan.
9. Pinjaman Subordinasi
Yang dimasukkan dalam pos ini adalah sandi 420 Kewajiban
Neraca yaitu pinjaman diterima yang dinyatakan memenuhi
kriteria subordinasi oleh Bank Indonesia sebagaimana diatur
dalam
ketentuan
mengenai
KPMM.
Pinjaman
Subordinasi
bersifat junior atau memiliki kedudukan yang lebih rendah
dibandingkan dengan kreditur – kreditur lainnya. Nilai yang
dimasukkan adalah sebesar nilai pokok pinjaman setelah
dikurangi dengan biaya transaksi yang belum diamortisasi
10. Modal Pinjaman
Yang dimasukkan dalam pos ini adalah sandi 430 Kewajiban
Neraca yaitu pinjaman yang didukung oleh instrumen atau
warkat yang memenuhi persyaratan sebagaimana ketentuan
12
559
Lanjutan Lampiran 43
Bank Indonesia mengenai KPMM. Untuk BPR yang berbadan
hukum koperasi, pengertian modal pinjaman sesuai dengan
ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang No. 17 tahun
2012 tentang Perkoperasian.
11. Kewajiban Lain-lain
Yang dimasukkan dalam pos ini adalah sandi 470 Kewajiban
Neraca yaitu seluruh kewajiban yang tidak dapat digolongkan ke
dalam salah satu dari pos kewajiban tersebut diatas dan tidak
cukup material untuk disajikan dalam pos tersendiri.
III. EKUITAS
1. Modal;
a. Modal Dasar
Yang dimasukkan dalam sub-pos ini adalah sandi 501
Ekuitas Neraca yaitu jumlah modal atau simpanan pokok
dan simpanan wajib bagi BPR yang berbadan hukum
koperasi yang tercantum dalam anggaran dasar Kantor
Pusat BPR.
b. Modal yang Belum Disetor
Yang dimasukkan dalam sub-pos ini adalah sandi 502
Ekuitas Neraca yaitu jumlah modal atau simpanan pokok
dan simpanan wajib yang belum disetor.
c. Tambahan Modal Disetor (Agio Saham)
Yang dimasukkan dalam sub-pos ini adalah sandi 503
Ekuitas Neraca yaitu selisih lebih setoran modal yang
diterima oleh BPR sebagai akibat harga saham yang lebih
tinggi dari nilai nominalnya.
d. Modal Sumbangan
Yang dimasukkan dalam sub-pos ini adalah sandi 505
Ekuitas Neraca yaitu modal yang diperoleh kembali dari
sumbangan saham atau aset lainnya dari pemilik. Modal
yang berasal dari donasi anggota koperasi yang diterima
oleh BPR termasuk dalam pengertian modal sumbangan.
2. Dana setoran modal – Ekuitas;
Yang dimasukkan dalam pos ini adalah sandi 510 Ekuitas
Neraca yaitu dana yang telah disetor penuh oleh pemegang
saham atau calon pemegang saham dan diblokir untuk tujuan
13
560
Lanjutan Lampiran 43
penambahan
modal
serta
telah
dinyatakan
memenuhi
ketentuan permodalan yang berlaku oleh Bank Indonesia,
namun belum didukung dengan kelengkapan persyaratan
untuk dapat digolongkan sebagai modal disetor antara lain
Rapat Umum Pemegang Saham atau Rapat Anggota maupun
pengesahan anggaran dasar dari instansi yang berwenang.
3. Laba/Rugi yang belum direalisasi;
Yang dimasukkan dalam pos ini adalah sandi 520 Ekuitas
Neraca yaitu seluruh potensi keuntungan atau kerugian yang
berasal dari perubahan nilai wajar surat berharga kategori
tersedia untuk dijual dan transaksi lainnya yang berdasarkan
standar akuntansi harus diakui sebagai komponen ekuitas
yang disajikan secara terpisah.
4. Surplus revaluasi aset tetap;
Yang dimasukkan dalam pos ini adalah sandi 530 Ekuitas
Neraca yaitu nilai yang dibentuk sebagai akibat adanya selisih
antara nilai revaluasi atau penilaian kembali dengan nilai
tercatat dari aset tetap dan inventaris milik BPR setelah
memperoleh persetujuan dari instansi yang berwenang.
5. Saldo laba.
Yang dimasukkan dalam pos ini adalah akumulasi hasil usaha
periodik setelah memperhitungkan pembagian dividen, koreksi
laba rugi periode lalu dan reklasifikasi surplus revaluasi aset
tetap. Pos ini dirinci atas :
a. Cadangan Tujuan
Yang dimasukkan dalam sub-pos ini adalah sandi 541
Ekuitas Neraca yaitu bagian laba bersih setelah dikurangi
pajak, yang disisihkan untuk tujuan tertentu.
b. Cadangan Umum
Yang dimasukkan dalam sub-pos ini adalah sandi 542 yaitu
cadangan yang dibentuk dari penyisihan laba yang ditahan
atau dari laba bersih setelah dikurangi pajak, yang
dimaksudkan untuk memperkuat modal.
c. Belum Ditentukan Tujuannya
Yang dimasukkan dalam sub-pos ini adalah penjumlahan
sandi 543 Ekuitas Neraca yaitu laba BPR pada periode
tahun-tahun lalu setelah dikurangi pajak yang oleh Rapat
14
561
Lanjutan Lampiran 43
Umum Pemegang Saham atau Rapat Anggota belum
diputuskan penggunaannya, sandi 544 Ekuitas Neraca
yaitu rugi BPR pada periode tahun-tahun lalu, sandi 545
Ekuitas Neraca yaitu laba tahun berjalan, dan sandi 546
Ekuitas Neraca yaitu rugi tahun berjalan
15
562
Lanjutan Lampiran 43
LAPORAN LABA RUGI
Pos-Pos
Posisi Tanggal
Laporan
Posisi yang sama
tahun sebelumnya
PENDAPATAN DAN BEBAN OPERASIONAL
Pendapatan Bunga
Bunga kontraktual
Amortisasi Provisi
Jumlah Pendapatan Bunga
Beban Bunga
Bunga Kontraktual
Amortisasi Biaya Transaksi
Jumlah Beban Bunga
Jumlah Pendapatan Bunga – Bersih
Pendapatan Operasional lainnya
JUMLAH PENDAPATAN OPERASIONAL
Beban Penyisihan Penghapusan Aset Produktif
Beban Pemasaran
Beban Penelitian dan Pengembangan
Beban Administrasi dan Umum
Beban Operasional lainnya
JUMLAH BEBAN OPERASIONAL
LABA (RUGI) OPERASIONAL
PENDAPATAN DAN BEBAN NON OPERASIONAL
Pendapatan Non Operasional
Beban Non Operasional
Kerugian Penjualan Aset
Lain-lain
PENDAPATAN (BEBAN) NON OPERASIONAL
LABA (RUGI) SEBELUM PAJAK PENGHASILAN
TAKSIRAN PAJAK PENGHASILAN
LABA (RUGI) BERSIH
16
563
Lanjutan Lampiran 43
PENJELASAN LAPORAN LABA/RUGI
I.
Pendapatan Operasional
Yang dimasukkan dalam pendapatan operasional adalah
semua pendapatan yang merupakan hasil dari kegiatan yang
lazim sebagai usaha utama BPR dan dirinci atas:
a. Pendapatan Bunga
Yang dimasukkan dalam pos ini adalah pendapatan bunga
dari penanaman yang dilakukan oleh BPR dalam bentuk
aset produktif antara lain SBI, penempatan pada bank lain
dan kredit yang diberikan pada bank dan pihak ketiga
bukan bank. Termasuk yang dimasukkan dalam pos ini
adalah amortisasi diskonto, provisi dan biaya transaksi
yang dapat diatribusikan secara langsung pada aset
produktif.
Pendapatan bunga antar kantor tidak dimasukkan ke
dalam
pos
ini,
tetapi
dimasukkan
ke
dalam
pos
pendapatan non operasional.
Pendapatan bunga dirinci atas:
1) Bunga Kontraktual
Pendapatan bunga yang diterima oleh BPR
dengan
kontrak
dengan
pihak
lain
atas
sesuai
SBI,
penempatan dana / kredit yang diberikan pada bank
dan
pihak
ketiga
bukan
bank,
tidak
termasuk
amortisasi provisi / biaya transaksi.
a)
Surat Berharga
Adalah amortisasi diskonto SBI yang dimiliki BPR
tidak termasuk pendapatan yang diperoleh atas
penjualan SBI.
b)
Penempatan Pada Bank Lain
Adalah
seluruh
pendapatan
diskonto yang diterima BPR
bunga/amortisasi
atas penempatan
pada bank lain yang dirinci sesuai dengan jenis
berikut:
a) Giro
b) Tabungan
17
564
Lanjutan Lampiran 43
c) Deposito
d) Sertifikat Deposito
c)
Kredit yang Diberikan
Adalah seluruh pendapatan bunga yang diterima
BPR atas kredit yang diberikan kepada bank lain
dan pihak ketiga bukan bank. Dirinci sebagai
berikut:
a) Kepada Bank Lain
b) Kepada Pihak Ketiga Bukan Bank
2) Amortisasi Provisi
Pendapatan yang diterima BPR
atas provisi kredit
yang diberikan kepada bank dan pihak ketiga bukan
bank. Pengakuan provisi kredit dilakukan secara
amortisasi sebagaimana diatur dalam prinsip SAK
ETAP. Provisi kredit dimasukkan menurut kelompok
sebagai berikut:
1.
Kepada bank lain
Adalah
amortisasi
atas
pendapatan
provisi
kredit yang diberikan kepada bank lain.
2.
Kepada pihak ketiga bukan bank
Adalah
amortisasi
atas
pendapatan
provisi
kredit yang diberikan kepada pihak ketiga
bukan bank.
b. Beban Bunga
Yang dimasukkan dalam pos ini adalah semua beban yang
dikeluarkan atas kegiatan yang lazim sebagai usaha BPR,
dan dirinci atas:
1)
Bunga Kontraktual
Yang dimasukkan dalam pos ini adalah beban bunga
yang secara kontraktual diperjanjikan oleh BPR
kepada bank lain atau pihak ketiga bukan bank.
Beban bunga kontraktual tidak termasuk amortisasi
biaya transaksi (transaction cost)
a) Tabungan
Adalah beban bunga atas dana tabungan dari
pihak ketiga bukan bank.
18
565
Lanjutan Lampiran 43
b) Deposito
Adalah beban bunga atas dana deposito dari
pihak ketiga bukan bank.
c) Simpanan dari bank lain
Adalah beban bunga atas dana tabungan/deposito
dari bank lain.
d) Pinjaman yang diterima
Adalah beban atas pinjaman yang diterima dari
Bank Indonesia, bank lain dan pihak ketuga
bukan bank.
e) Pinjaman Subordinasi
Adalah beban bunga atas pinjaman subordinasi
dari bank lain atau pihak ketiga bukan bank.
f)
Lainnya
Termasuk dalam pos ini adalah premi penjaminan
simpanan.
2)
Amortisasi Biaya Transaksi -/Biaya yang dikeluarkan oleh BPR yang terkait secara
langsung
dengan
penempatan
dana
pada
SBI,
penempatan dana pada bank lain serta kredit yang
diberikan kepada bank lain dan pihak ketiga bukan
bank. Pengakuan biaya transaksi dilakukan secara
amortisasi sebagaimana diatur dalam prinsip SAK
ETAP.
a) Surat Berharga
Adalah amortisasi atas biaya transaksi perolehan
SBI
b) Kredit yang Diberikan
i.
Kepada bank lain
Adalah amortisasi atas biaya transaksi kredit
yang diberikan kepada bank lain.
ii.
Kepada pihak ketiga bukan bank
Adalah amortisasi atas biaya transaksi kredit
yang diberikan kepada pihak ketiga bukan
bank.
19
566
Lanjutan Lampiran 43
c. Pendapatan Operasional Lainnya
Yang
dimasukkan
dalam
pos
ini
adalah
seluruh
pendapatan operasional yang diperoleh BPR
selain
pendapatan bunga. Pos ini dirinci atas:
1) Pendapatan jasa transaksi
Adalah pendapatan jasa dalam rangka peningkatan
pelayanan oleh BPR , misalnya payment point dan
ATM.
2) Keuntungan penjualan valuta asing
Adalah keuntungan yang diperoleh BPR sehubungan
dengan kegiatan sebagai pedagang valuta asing.
3) Keuntungan penjualan surat berharga
Adalah keuntungan yang diakui atas penjualan surat
berharga. Pos ini merupakan pengakuan keuntungan
yang belum direalisasi atas surat berharga tersedia
untuk dijual yang sebelumnya dimasukkan di ekuitas.
4) Penerimaan aset produktif yang dihapusbuku
Adalah pendapatan yang diperoleh atas penerimaan
kembali aset produktif yang telah dihapusbuku.
5) Pemulihan penyisihan penghapusan aset produktif
Adalah pendapatan yang diperoleh atas penerimaan
kembali aset produktif yang telah dihapusbuku.
6) Lainnya
Adalah pendapatan operasional selain bunga yang
tidak termasuk dalam huruf a s.d. e diatas, misalnya
pendapatan atas denda yang diperoleh oleh BPR , dll.
II.
Beban Operasional
Yang dimasukkan dalam pos ini adalah semua beban yang
dikeluarkan atas kegiatan yang lazim sebagai usaha BPR, dan
dirinci atas:
a. Beban Administrasi dan Umum
Beban ini terdiri dari:
1)
Beban tenaga kerja
20
567
Lanjutan Lampiran 43
a)
Gaji dan upah
Yang dimasukkan ke dalam pos ini adalah gaji
pokok, upah beserta tunjangan-tunjangan yang
dibayarkan kepada direksi/pengurus harian bagi
BPR berbadan hukum Koperasi dan karyawankaryawan BPR , baik yang berstatus pegawai tetap
maupun tidak tetap sebelum dikurangi dengan
pajak penghasilan dan potongan-potongan lain.
Dalam hal pajak penghasilan ditanggung oleh
BPR, jumlahnya harus ditambahkan ke dalam sub
pos ini.
b)
Honorarium
Termasuk dalam sub pos ini adalah biaya untuk
honorarium komisaris/dewan pengawas BPR.
c)
Lainnya
Yang dimasukkan dalam pos ini adalah semua
biaya tenaga kerja di luar gaji, upah, dan
honorarium, seperti uang lembur dan perawatan
kesehatan.
2)
Beban pendidikan dan pelatihan
Yang dimasukkan dalam pos ini adalah biaya yang
berkaitan dengan pendidikan dan pelatihan yang
diikuti
oleh
pengurus/pegawai
baik
yang
diselenggarakan oleh pihak ketiga maupun intern BPR,
termasuk kursus dan seminar. Dalam pos ini termasuk
juga biaya perjalanan dan akomodasi yang terkait
dengan penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan
tersebut.
3)
Beban sewa
a)
Gedung kantor
Yang dimasukkan dalam pos ini adalah sewa yang
dibayar
oleh
BPR
terkait
dengan
gedung
operasional kantor BPR .
b)
Lainnya
Yang dimasukkan dalam pos ini adalah beban
sewa yang dibayarkan oleh BPR
terkait dengan
21
568
Lanjutan Lampiran 43
beban sewa alat-alat dan sewa perabot, dan beban
sewa lainnya terkait dengan operasional BPR .
4)
Beban penyusutan/penghapusan atas aset tetap dan
inventaris
Yang
dimasukkan
dalam
pos
ini
adalah
beban
adalah
beban
penyusutan aset tetap dan inventaris.
5)
Beban amortisasi aset tidak berwujud
Yang
dimasukkan
dalam
pos
ini
amortisasi terhadap aset tidak berwujud, antara lain
amortisasi atas program aplikasi (software).
6)
Beban premi asuransi
Yang dimasukkan dalam pos ini adalah beban asuransi
pertanggungan atas beban BPR , misalnya asuransi
aset tetap dan inventaris, asuransi tenaga kerja, beban
asuransi uang kas dll. Apabila premi asuransi dibayar
secara
dimuka
maka
jumlah
yang
belum
diamortisasi/dibebankan dimasukkan pada pos aset
lain-lain.
7)
Beban pemeliharaan dan perbaikan
Yang
dimasukkan
dalam
pos
ini
adalah
biaya
pemeliharaan dan perbaikan yang dikeluarkan oleh
BPR untuk pemeliharaan /perbaikan atas aset tetap
dan inventaris yang dimiliki atau disewa oleh BPR .
8)
Beban barang dan jasa
Yang dimasukkan dalam pos ini adalah biaya-biaya
yang dikeluarkan oleh BPR
penerimaan/pemakaian
sehubungan dengan
barang-barang/jasa-jasa
antara lain biaya penerangan, air, telepon, telegram,
alat-alat
tulis
menulis,
biaya
percetakan,
biaya
perjalanan, penginapan, koran dan majalah.
9)
Pajak-pajak
Yang dimasukkan ke dalam pos ini adalah pajak yang
dibayar oleh BPR
seperti pajak buni dan bangunan
dan pajak kendaran milik BPR (tidak termasuk pajak
penghasilan).
22
569
Lanjutan Lampiran 43
b. Beban penyisihan penghapusan aset produktif
Yang
dimasukkan
dalam
pos
ini
adalah
biaya
penghapusan aset produktif baik berupa kredit yang
diberikan
lainnya,
maupun
penempatan
sebagaimana
Indonesia
tentang
diatur
Kualitas
pada
dalam
aset
produktif
Peraturan
Aktiva
Bank
Produktif
dan
Pembentukan Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif
(KAP dan Pembentukan PPAP) BPR. Pos ini dibagi menjadi:
1) Surat Berharga
2) Penempatan pada bank lain
3) Kredit yang diberikan :
a) Kepada bank lain
b) Kepada pihak ketiga bukan bank
c. Beban Pemasaran
Yang dimasukkan dalam pos ini adalah biaya yang
berkaitan dengan promosi produk perbankan dari BPR
mencakup
pula
biaya
edukasi
terhadap
masyarakat
tentang produk perbankan dari BPR . Dalam pos ini
termasuk juga biaya pemberian hadiah yang tidak dapat
diatribusikan langsung pada rekening nasabah dan iklan
dalam rangka promosi.
d. Beban penelitian dan pengembangan
Yang dimasukkan dalam pos ini adalah biaya yang
berkaitan dengan penelitian dan pengembangan yang
dilakukan oleh BPR. Termasuk dalam pos ini adalah biaya
perjalanan
dan
akomodasi
yang
terkait
dengan
penyelenggaraan penelitian dan pengembangan tersebut
serta biaya penelitian dan pengembangan dalam rangka
pendirian dan pembukaan kantor cabang BPR.
e. Beban Operasional lainnya
Yang
dimasukkan
ke
dalam
pos
ini
adalah
beban
operasional yang tidak termasuk ke dalam salah satu dari
pos a s.d e di atas. Beban ini dibagi menjadi :
1) Kerugian penjualan valuta asing
Adalah kerugian yang diperoleh BPR
sehubungan
dengan kegiatan sebagai pedagang valuta asing.
23
570
Lanjutan Lampiran 43
2) Kerugian penjualan surat berharga
Adalah kerugian yang diakui atas penjualan surat
berharga. Pos ini merupakan pengakuan kerugian yang
belum direalisasi atas surat berharga tersedia untuk
dijual yang sebelumnya dimasukkan di ekuitas.
3) Beban kerugian restrukturisasi
Yang dimasukkan dalam pos ini adalah amortisasi
cadangan kerugian yang timbul atas penurunan nilai
kredit
akibat
diperhitungkan
perbaikan
adanya
dengan
kualitas
restrukturisasi
kelebihan
kredit
PPAP
dalam
setelah
karena
rangka
restrukturisasi.
4) Lainnya
Adalah beban selain huruf a. dan b. diatas.
III.
Laba/Rugi Operasional
a. Laba Operasional
Yang dimasukkan dalam pos ini adalah selisih positif dari
pendapatan operasional dikurangi beban operasional.
b. Rugi Operasional
Yang dimasukkan dalam pos ini adalah selisih negatif dari
pendapatan
operasional
dikurangi
dengan
beban
operasional.
IV.
Pendapatan Non – Operasional
Yang dimasukkan dalam pendapatan non operasional adalah
semua pendapatan yang berasal dari kegiatan yang bukan
merupakan kegiatan utama BPR yang dirinci atas:
a. Keuntungan penjualan
Yang dimasukkan dalam pos ini adalah keuntungan
karena penjualan aset tetap dan inventaris milik BPR .
Dalam
pos
ini
termasuk
juga
hasil
suatu
eksekusi/penjualan atas barang-barang jaminan yang
diserahkan oleh debitur kepada BPR (AYDA).
24
571
Lanjutan Lampiran 43
b. Pemulihan penurunan nilai
Yang dimasukkan dalam pos ini adalah pemulihan nilai
wajar atas aset tetap dan inventaris milik BPR
yang
sebelumnya telah mengalami penurunan nilai. Dalam pos
ini termasuk juga pemulihan nilai wajar atas barangbarang jaminan yang diserahkan oleh debitur kepada BPR
(AYDA).
c. Pendapatan ganti rugi asuransi
Yang dimasukkan dalam pos ini adalah pendapatan yang
berasal dari penerimaan klaim asuransi.
d. Bunga Antar Kantor
Yang dimasukkan dalam pos ini adalah pendapatan bunga
yang berasal dari transaksi antar kantor.
e. Selisih Kurs
Yang dimasukkan dalam pos ini adalah keuntungan
selisih kurs, yaitu selisih lebih antara nilai tercatat mata
uang asing berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia pada
tanggal pelaporan dengan nilai tercatat sebelumnya.
f.
Lainnya
Yang dimasukkan ke dalam pos ini adalah pendapatanpendapatan non operasional yang tidak termasuk dalam
angka 1 s.d 5 di atas. Termasuk dalam pos ini adalah
pendapatan yang diperoleh atas penerimaan kembali aset
produktif yang telah dihapustagih
V.
Beban Non – Operasional
Yang dimasukkan ke dalam beban non-operasional adalah
biaya yang dikeluarkan atas kegiatan yang bukan merupakan
kegiatan utama BPR yang dirinci atas :
a. Kerugian Penjualan Aset
Yang dimasukkan dalam pos ini adalah kerugian karena
penjualan / kehilangan aset tetap dan inventaris milik
BPR.
Termasuk dalam pos ini
adalah penjualan /
kehilangan barang-barang jaminan yang diserahkan oleh
debitur kepada BPR (AYDA)
25
572
Lanjutan Lampiran 43
b. Lain-lain
Yang dimasukkan ke dalam pos ini adalah biaya-biaya non
operasional yang tidak termasuk dalam huruf a di atas,
misalnya denda/sanksi kewajiban membayar BPR karena
suatu pelanggaran, sumbangan yang diberikan BPR dan
lain-lain seperti:
1) Kerugian penurunan nilai
Yang dimasukkan dalam pos ini adalah kerugian atas
penurunan nilai wajar aset tetap dan inventaris milik
BPR. Termasuk dalam pos ini penurunan nilai wajar
atas barang-barang jaminan yang diserahkan oleh
debitur kepada BPR (AYDA).
2) Beban bunga antar kantor
Yang dimasukkan dalam pos ini adalah beban bunga
atas dana-dana yang berasal dari transaksi antar
kantor.
3) Selisih kurs
Yang dimasukkan dalam pos ini adalah kerugian
selisih kurs, yaitu selisih kurang antara nilai tercatat
mata uang asing berdasarkan kurs tengah Bank
Indonesia
pada
tanggal
dengan
nilai
tercatat
sebelumnya.
VI.
Laba/Rugi Non – Operasional
a. Laba non-operasional
Adalah selisih positif dari seluruh pendapatan operasional
dan non-operasional dikurangi beban operasional dan
non-operasional.
b. Rugi non-operasional
Adalah selisih negatif dari seluruh pendapatan operasional
dan non-operasional dikurangi beban operasional dan
non-operasional.
VII.
Taksiran Pajak Penghasilan
Yang dimasukkan dalam pos ini adalah taksiran pajak
penghasilan tahun berjalan sesuai ketentuan perpajakan yang
menjadi beban laba tahun berjalan.
26
573
Lanjutan Lampiran 43
VIII. Laba/Rugi Bersih
a. Jumlah Laba
Jumlah laba adalah laba bersih tahun berjalan setelah
dikurangi taksiran pajak penghasilan.
b. Jumlah Rugi
Jumlah rugi adalah rugi tahun berjalan.
27
574
Lanjutan Lampiran 43
LAPORAN KUALITAS AKTIVA PRODUKTIF
Keterangan
L
Posisi tanggal laporan
KL
D
M
Jumlah
Penempatan pada bank lain
Kredit yang diberikan
a.
Kepada BPR
b.
Kepada Bank Umum
c.
Kepada non bank – pihak terkait
d.
Kepada non bank – pihak tidak
terkait
Jumlah Aset Produktif
Rasio – rasio (%)
a.
KPMM
b.
NPL
c.
PPAP
d.
ROA
e.
BOPO
f.
Cash Ratio
g.
LDR
28
575
Lanjutan Lampiran 43
PENJELASAN LAPORAN KUALITAS AKTIVA PRODUKTIF
I.
Penempatan pada Bank lain
Adalah penanaman dana Bank Perkreditan Rakyat pada Bank lain,
dalam bentuk giro tabungan, deposito berjangka, sertifikat deposito,
kredit yang diberikan dan penanaman dana lainnya yang sejenis.
II.
Kredit yang diberikan
Adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan
dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam
meminjam antara BPR dengan pihak lain yang mewajibkan pihak
Peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu
dengan
pemberian
bunga,
imbalan
atau
pembagian
hasil
keuntungan.
Kredit yang diberikan menurut penyalurannya terbagi atas:
1. Kepada BPR
Adalah penyaluran kredit kepada BPR lain yang memiliki maupun
tidak memiliki keterkaitan dengan BPR tersebut
2. Kepada Bank Umum
Adalah penyaluran kredit kepada Bank umum
3. Kepada non Bank – terkait
Adalah
penyaluran
merupakan
kredit
perseorangan
kepada
atau
pihak
non
bank
perusahaan/badan
yang
yang
mempunyai hubungan kepemilikan, kepengurusan, dan/atau
keuangan dengan BPR.
4. Kepada non Bank – tidak terkait
Adalah
penyaluran
kredit
kepada
pihak
non
bank
yang
merupakan perseorangan atau perusahaan/badan yang tidak
mempunyai hubungan kepemilikan, kepengurusan, dan/atau
keuangan dengan BPR.
29
576
Lanjutan Lampiran 43
III. Kolektibilitas
Yang dimaksud dengan kolektibilitas adalah sebagaimana diatur
dalam ketentuan Bank Indonesia mengenai KAP dan Pembentukan
PPAP BPR sebagai berikut:
1. Lancar;
2. Kurang Lancar;
3. Diragukan; dan
4. Macet.
IV. Rasio –Rasio
1. Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM)
Adalah rasio yang mengukur kecukupan Kewajiban Penyediaan
Modal
Minimum
Bank
Perkreditan Rakyat
yang
dihitung
berdasarkan perhitungan Modal dan Aktiva Tertimbang Menurut
Risiko (ATMR) yang berpedoman pada ketentuan Bank Indonesia
tentang KPMM yang berlaku.
2. Non Performing Loan (NPL)
Adalah rasio yang mengukur perbandingan jumlah kredit
bermasalah dengan total kredit yang terdapat pada Bank
Perkreditan Rakyat tersebut dimana:
kredit merupakan kredit yang diberikan kepada pihak ketiga
(tidak termasuk kredit kepada Bank lain);
kredit bermasalah adalah kredit dengan kualitas kurang
lancar, diragukan, dan macet;
kredit bermasalah dihitung secara gross (tidak dikurangi
PPAP);
angka diperhitungkan per posisi (tidak disetahunkan)
30
577
Lanjutan Lampiran 43
3. Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif (PPAP)
Adalah rasio yang digunakan untuk mengukur cadangan yang
harus dibentuk Bank sebesar persentase tertentu dari baki
debet berdasarkan penggolongan kualitas aktiva produktif.
4. Return On Asset (ROA)
Adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan
manajemen
Bank
dalam
memperoleh
keuntungan
secara
keseluruhan dengan membagi Laba sebelum pajak dengan Ratarata total aset.
5. Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO)
Adalah rasio yang mengukur tentang perbandingan Beban
Operasi terhadap Pendapatan Operasi untuk mengetahui tingkat
efisiensi dan kemampuan Bank tersebut dalam menjalankan
kegiatan operasionalnya dengan membagi antara Total beban
operasional dan Total pendapatan operasional yang dihitung per
posisi (tidak disetahunkan).
6. Cash Ratio
Adalah rasio yang mengukur perbandingan antara alat likuid
terhadap hutang lancar sebagaimana diatur dalam ketentuan
Bank Indonesia tentang Tatacara Penilaian Tingkat Kesehatan
Bank Perkreditan Rakyat
7. Loan to Deposit Ratio (LDR)
Adalah rasio yang mengukur tentang perbandingan Kredit
dengan Dana Pihak Ketiga yang terdapat di Bank Perkreditan
Rakyat dimana Kredit merupakan total kredit
yang diberikan
kepada pihak ketiga (tidak termasuk kredit dengan Bank lain)
dan Dana Pihak Ketiga mencakup giro, tabungan, dan deposito
(tidak termasuk antar Bank).
31
578
Lanjutan Lampiran 43
LAPORAN KOMITMEN DAN KONTIJENSI
Pos-Pos
Posisi Tanggal
Laporan
Posisi yang sama
tahun sebelumnya
KOMITMEN
1. Fasilitas pinjaman yang diterima yang belum
ditarik
2. Fasilitas kredit kepada nasabah yang belum ditarik
3. Penerusan kredit (Channeling)
4. Lain-lain
Jumlah komitmen
KONTIJENSI
1. Aset produktif yang dihapus buku
2. Agunan diambil alih dalam rangka proses
penyelesaian kredit
3. Pendapatan bunga dalam penyelesaian
4. Lain-lain
Jumlah kontijensi
32
579
Lanjutan Lampiran 43
PENJELASAN LAPORAN KOMITMEN & KONTINJENSI
I. KOMITMEN
1. Fasilitas pinjaman yang diterima dan belum ditarik
Yang dimasukkan dalam pos ini adalah sandi 600 Rekening
Administratif yaitu fasilitas pinjaman yang diterima oleh BPR dari
bank lain dan/atau dari pihak ketiga yang belum ditarik.
2. Fasilitas kredit kepada nasabah yang belum ditarik
Yang dimasukkan dalam pos ini adalah sandi 620 Rekening
Administratif yaitu fasilitas kredit yang masih disediakan oleh BPR
bagi nasabahnya dan belum ditarik.
3. Penerusan Kredit (Channeling)
Yang dimasukkan dalam pos ini adalah sandi 630 Rekening
Administratif yaitu penyaluran kredit kepada nasabah yang
dananya berasal dari pihak lain, dan atas kredit tersebut BPR
tidak menanggung risiko atas penyaluran kredit tersebut.
4. Lain-lain
Yang dimasukkan ke dalam pos ini adalah sandi 661 Rekening
Administratif yaitu ikatan atau kontrak berupa janji yang tidak
dapat dibatalkan secara sepihak dan harus dilaksanakan apabila
persyaratan yang disepakati bersama dipenuhi.
II. KONTINJENSI
1. Aset produktif yang dihapusbukukan
Yang dimasukkan dalam pos ini adalah sandi 640 Rekening
Administratif yaitu semua rekening produktif baik kredit yang
diberikan
maupun
rekening
produktif
lainnya
yang
telah
dihapusbukukan. Untuk rekening produktif yang telah dilakukan
hapus tagih tidak dilaporkan lagi pada rekening administratif.
2. Agunan diambil alih dalam rangka proses penyelesaian kredit
Yang dimasukkan dalam pos ini adalah semua sandi 650 Rekening
Administratif yaitu agunan milik debitur yang masih dalam proses
pengambilalihan oleh BPR dalam rangka proses penyelesaian
kredit.
33
580
Lanjutan Lampiran 43
3. Pendapatan bunga dalam penyelesaian
Yang dimasukkan dalam pos ini adalah sandi 611 dan sandi 619
Rekening Administratif yaitu bunga atas kredit yang diberikan dan
bunga penemaptan pada bank lain yang kualitasnya tergolong
kurang lancar, diragukan dan macet namun hingga saat pelaporan
masih belum diterima pembayarannya.
4. Lain-lain
Yang dimasukkan dalam pos ini adalah sandi 662 Rekening
Administratif yaitu kondisi atau situasi dengan hasil akhir berupa
keuntungan atau kerugian yang baru dapat dikonfirmasikan
setelah terjadinya satu peristiwa atau lebih pada masa depan.
34
581
Lanjutan Lampiran 43
LAPORAN INFORMASI LAINNYA
PENGURUS BPR
DEWAN
KOMISARIS
1.
2.
3.
dst.
DIREKSI
1.
2.
3.
dst.
PEMILIK BPR
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
PEMILIK SAHAM
(……%)
(……%)
(……%)
(……%)
(……%)
(……%)
(……%)
(……%)
(……%)
(……%)
(……%)
PEMEGANG SAHAM
PENGENDALI
1.
2.
3.
dst.
ULTIMATE
SHAREHOLDER
1.
2.
3.
dst.
*Nama Kantor Akuntan Publik :
*Akuntan Publik yang Menandatangani laporan :
Catatan:
* BPR dengan total asset Rp 10 milyar atau lebih wajib mencantumkan
nama Kantor Akuntan Publik dan nama Akuntan Publik yang
bertanggungjawab terhadap audit (partner in-charge)
………………, ……………….
Direksi
PT/PD/Kop BPR ………..
……………… ..……………
35
582
Lanjutan Lampiran 43
PENJELASAN INFORMASI LAINNYA
I. PENGURUS BANK
Adalah pihak-pihak yang terdapat di Bank perkreditan Rakyat yang
mempunyai wewenang untuk mewakili badan hukum Bank perkreditan
rakyat tersebut seperti Komisaris dan Direksi Bank Perkreditan Rakyat
II. PEMILIK BANK & PEMEGANG SAHAM
adalah
nama
Pemegang
Saham
yang
wajib
dicantumkan
baik
perorangan atau perusahaan yang memiliki saham paling sedikit
sebesar 10% (sepuluh perseratus) dari modal BPR, termasuk Pemegang
Saham Pengendali, sebagai berikut:
1) Dalam hal jumlah Pemegang Saham kurang atau sama dengan
10(sepuluh) orang maka seluruh Pemegang Saham dicantumkan.
2) Dalam hal jumlah Pemegang Saham lebih dari 10 (sepuluh)orang,
tidak terdapat Pemegang Saham yang memiliki paling sedikit 10%
(sepuluh perseratus) saham dan bukan merupakanPemegang Saham
Pengendali, maka yang dicantumkan adalah nama 9 (sembilan)
Pemegang Saham dengan kepemilikan terbesar dan selebihnya diisi
dengan ”lain-lain” sehingga jumlah keseluruhan 100% (seratus
perseratus).
KEPALA GRUP PENGEMBANGAN
BPR & UMKM,
Y. SANTOSO WIBOWO
36
583
Lampiran 44
LAMPIRAN II
SURAT EDARAN BANK INDONESIA
NOMOR 15/29/DKBU TANGGAL 31 JULI 2013
PERIHAL
LAPORAN TAHUNAN DAN LAPORAN KEUANGAN
PUBLIKASI BANK PERKREDITAN RAKYAT
Contoh Perjanjian Antar BPR Dan Kantor Akuntan Publik
PERJANJIAN PEMAKAIAN
JASA KANTOR AKUNTAN PUBLIK
Pihak-pihak yang bertandatangan dibawah ini :
1. Sdr. .......
:
Direktur Utama PT Bank Perkreditan
Rakyat ......., bertempat tinggal di
......., dalam hal ini bertindak dalam
jabatannya tersebut untuk dan atas
nama perseroan berdasarkan
Pasal
.......... Anggaran Dasar PT PT. Bank
Perkreditan Rakyat
perubahannya)
........... (beserta
(jika
telah
ada
perubahan Anggaran Dasar) (berturutturut)
telah
dimuat
Negara Republik
dalam
Berita
Indonesia tanggal
.......... No .........., Tambahan Nomor
.......... selanjutnya disebut sebagai
PIHAK PERTAMA;
2. Sdr. ..........
:
Partner pada Kantor Akuntan Publik
....... . . yang beralamat di ......., yang
dalam hal ini bertindak dalam jabatan
tersebut untuk dan atas nama Kantor
Akuntan Publik .............. berdasarkan
. . . . dan dengan demikian mewakili
1
584
Lanjutan Lampiran 44
Kantor Akuntan Publik ........., untuk
selanjutnya disebut sebagai PIHAK
KEDUA.
terlebih dahulu menerangkan hal-hal sebagai berikut :
- Bahwa PIHAK PERTAMA dengan surat No. ........, menugaskan PIHAK
KEDUA sebagai pihak yang akan melakukan pemeriksaan Laporan
Keuangan Tahunan PT. BPR xxxxx untuk posisi tahun .......;
- Bahwa PIHAK KEDUA, berdasarkan penugasan PIHAK PERTAMA
melalui surat No. ....... tersebut di atas, setuju dan sepakat untuk
melakukan pemeriksaan
Laporan Keuangan Tahunan BPR XYZ
untuk posisi tahun …... sebagaimana ditegaskan PIHAK KEDUA
melalui surat No. ......;
Selanjutnya, sehubungan dengan hal-hal tesebut di atas, PIHAK
PERTAMA dan PIHAK KEDUA sepakat untuk mengadakan Perjanjian
Pemakaian
Jasa Kantor Akuntan Publik untuk selanjutnya disebut
Perjanjian, dengan ketentuan dan syarat-syarat sebagai berikut :
RUANG LINGKUP PEKERJAAN
Pasal 1
PIHAK PERTAMA memberikan pekerjaan kepada PIHAK KEDUA dan
PIHAK KEDUA menerima pekerjaan dari PIHAK PERTAMA untuk
melaksanakan pemeriksaan Laporan Keuangan Tahunan BPR XYZ
untuk posisi tahun ….. dengan ruang lingkup sebagai berikut :
a. Penilaian
atas
penggolongan
kualitas
aktiva
produktif
dan
kecukupan penyisihan penghapusan aktiva produktif yang dibentuk
Bank Perkreditan Rakyat (BPR);
b. Penilaian terhadap aset lain-lain dan agunan yang diambil alih BPR;
c.
Pendapat mengenai kewajaran atas transaksi dengan pihak yang
mempunyai hubungan istimewa maupun transaksi yang dilakukan
dengan perlakuan khusus;
d. Jumlah dan kualitas penyediaan dana kepada pihak terkait;
e.
Rincian pelanggaran batas maksimum pemberian kredit yang
meliputi nama nasabah, kualitas penyediaan dana, persentase dan
jumlah pelanggaran batas maksimum pemberian kredit;
2
585
Lanjutan Lampiran 44
f.
Rincian pelanggaran batas maksimum pemberian kredit yang
meliputi nama nasabah, kualitas penyediaan dana, persentase dan
jumlah pelanggaran batas maksimum pemberian kredit;
g.
Perhitungan Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM);
h. Loan to Deposit Ratio (LDR);
i.
Perbandingan jumlah kredit bermasalah terhadap total kredit yang
diberikan serta penyebab utamanya.
j.
Return on Asset (ROA) dan Beban Operasional terhadap Pendapatan
Operasional (BOPO).
k. Keandalan sistem pelaporan BPR kepada Bank Indonesia dan
pengujian terhadap keandalan laporan-laporan yang disampaikan
oleh BPR kepada Bank Indonesia; dan
l.
Hal-hal lain yang diatur dalam Standar Akuntansi Keuangan yang
berlaku, termasuk catatan atas Laporan Keuangan.
PELAKSANA PEKERJAAN
Pasal 2
(1) Pekerjaan sebagaimana disebutkan dalam Pasal 1 dilaksanakan
oleh 1 (satu) tim yang dibentuk PIHAK KEDUA yang terdiri dari:
1. . . . . selaku partner in charge;
2. . . . . selaku . . . .;
3. . . . . selaku . . . .
(2) Dalam hal pelaksana pekerjaan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1)
mengalami
perubahan,
PIHAK
KEDUA
menyampaikan
pemberitahuan dalam surat penunjukan atau penugasan kepada
PIHAK PERTAMA.
(3) Surat penunjukan atau penugasan dari PIHAK KEDUA sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) merupakan bagian yang tidak terpisahkan
dengan perjanjian ini.
3
586
Lanjutan Lampiran 44
BIAYA JASA
Pasal 3
Biaya pelaksanaan pekerjaan dengan ruang lingkup sebagaimana
dimaksud pada Pasal 1 adalah sebagai berikut : (diatur sesuai
kesepakatan antara BPR dengan KAP).
PAJAK
Pasal 4
(1) Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 10% (sepuluh perseratus)
yang menjadi tanggungan PIHAK PERTAMA langsung dibebankan
pada setiap pembayaran biaya Pekerjaan yang dilakukan oleh PIHAK
PERTAMA.
(2) PIHAK KEDUA wajib menyerahkan kepada PIHAK PERTAMA Surat
Setoran Pajak (SSP) dan Faktur Pajak Pertambahan Nilai (PPN)
untuk dikemudian hari dijadikan tanda bukti bahwa atas biaya
Pekerjaan tersebut telah dipungut Pajak Pertambahan Nilai (PPN).
(3) PIHAK PERTAMA akan menyetorkan Pajak Pertambahan Nilai (PPN)
sebagaimana tersebut di atas ke Rekening Kas Negara untuk dan
atas nama PIHAK KEDUA.
(4) PIHAK PERTAMA akan menyerahkan kembali kepada PIHAK KEDUA
tembusan Surat Setoran Pajak (SSP) yang telah ditandatangani oleh
Pejabat PIHAK PERTAMA sebagai bukti bahwa Pajak Pertambahan
Nilai (PPN) tersebut telah disetorkan ke Rekening Kas Negara.
(5) PIHAK PERTAMA akan memotong Pajak Penghasilan (PPh) atas
biaya-biaya pelaksanaan Pekerjaan yang telah dilakukan oleh PIHAK
KEDUA sebesar ........ % (........... perseratus) dari penghasilan bersih
(netto)
pada
setiap
pembayaran
biaya
pekerjaan
dan
untuk
selanjutnya disetorkan oleh PIHAK PERTAMA ke Rekening Kas
Negara.
(6) Atas
pembayaran
Pajak
Penghasilan
(PPh)
tersebut,
PIHAK
PERTAMA sebagaimana dimaksud dalam ayat (5) akan menyerahkan
4
587
Lanjutan Lampiran 44
tanda bukti pemotongan Pajak Penghasilan (PPh) kepada PIHAK
KEDUA.
HAK DAN KEWAJIBAN
Kewajiban Pihak Pertama dan Pihak Kedua
Pasal 5
(1)
PIHAK PERTAMA wajib membayar seluruh biaya pekerjaan kepada
PIHAK KEDUA berdasarkan permohonan pembayaran realisasi
pekerjaan yang diajukan oleh PIHAK PERTAMA.
(2)
Untuk kelancaran pelaksanaan pekerjaan oleh PIHAK KEDUA,
PIHAK PERTAMA wajib
menyediakan data dan informasi yang
berkaitan dengan ruang lingkup pekerjaan sebagaimana dimaksud
pada Pasal 1.
Pasal 6
(1)
PIHAK KEDUA dan Akuntan Publik yang bertanggung jawab dalam
melakukan pekerjaan wajib melakukan audit sesuai Standar
Profesional Akuntan Publik, kode etik profesi dan peraturan
perundang-undangan yang mengatur mengenai Akuntan Publik.
(2)
Sebelum melaksanakan pekerjaan, PIHAK KEDUA melalui Akuntan
Publik yang bertanggungjawab kepada PIHAK KEDUA dalam
melakukan
audit
wajib
melaporkan
rencana
pelaksanaan
pekerjaan dimaksud kepada Bank Indonesia.
(3)
PIHAK KEDUA wajib menyimpan dan merahasiakan data atau
informasi yang diperoleh dalam pelaksanaan pekerjaan kecuali
PIHAK PERTAMA memberikan persetujuan bahwa data dan
informasi yang diperoleh tersebut dapat diberikan kepada pihak
lain sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
(4)
PIHAK KEDUA wajib menyampaikan laporan hasil audit dan Surat
Komentar (Management Letter) kepada PIHAK PERTAMA dan Bank
Indonesia
paling lambat 4 (empat) bulan setelah berakhirnya
tahun buku yang bersangkutan.
5
588
Lanjutan Lampiran 44
Hak Pihak Pertama dan Pihak Kedua
Pasal 7
(1)
PIHAK PERTAMA berhak meminta laporan hasil audit dan Surat
Komentar (Management Letter) kepada PIHAK KEDUA.
(2)
PIHAK PERTAMA berhak membatalkan perjanjian ini, apabila
PIHAK KEDUA dan Akuntan Publik yang bertanggung jawab serta
bertindak selaku Partner in Charge tidak terdaftar di Bank
Indonesia.
(3)
PIHAK
PERTAMA
berhak
menghentikan
pembayaran
biaya
pekerjaan kepada PIHAK KEDUA apabila PIHAK KEDUA dan/atau
Akuntan Publik yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan
pekerjaan atau selaku Partner in Charge tidak melaksanakan
seluruh atau sebagian tahapan pekerjaan sesuai dengan yang
diperjanjikan.
Pasal 8
(1)
PIHAK KEDUA berhak menerima pembayaran seluruh biaya
pekerjaan dari PIHAK PERTAMA;
(2)
PIHAK KEDUA berhak menghentikan pelaksanaan pekerjaan
apabila
PIHAK
PERTAMA
tidak
pembayaran atas seluruh atau
melaksanakan
kewajiban
sebagian biaya pelaksanaan
pekerjaan sesuai yang diperjanjikan.
(3)
PIHAK KEDUA berhak untuk mengakses data dan informasi yang
berkaitan
dengan
pekerjaan
yang
dilaksanakan
dari
PIHAK
PERTAMA.
JANGKA WAKTU PENYELESAIAN AUDIT DAN BERAKHIRNYA
PERJANJIAN
Pasal 9
PIHAK KEDUA melaksanakan ruang pekerjaan sebagaimana dimaksud
pada Pasal 1 dalam jangka waktu paling lama selama ...... hari yang
dimulai sejak tanggal ..... sampai dengan .......
6
589
Lanjutan Lampiran 44
Pasal 10
(1)
Perjanjian
berakhir
dengan
sendirinya
apabila
pelaksanaan
pekerjaan telah selesai dilakukan yang dibuktikan dengan laporan
audit yang telah disampaikan oleh PIHAK KEDUA kepada PIHAK
PERTAMA.
(2)
Apabila PIHAK PERTAMA dan/atau PIHAK KEDUA tidak berniat
lagi untuk melanjutkan pelaksanaan perjanjian ini, kedua belah
pihak
dapat
mengakhiri
perjanjian
sebelum
jangka
waktu
pelaksanaan pekerjaan sebagaimana dimaksud pada Pasal 9
berakhir dengan kesepakatan tertulis antara PIHAK PERTAMA dan
PIHAK KEDUA.
(3)
Dalam hal para pihak akan mengakhiri perjanjian dengan cara
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) pihak yang akan mengakhiri
menyampaikan pemberitahuan terlebih dahulu untuk
perjanjian
memperoleh persetujuan dari pihak lainnya.
PERSELISIHAN DAN DOMISILI HUKUM
Pasal 11
(1)
Apabila dalam pelaksanaan Perjanjian ini timbul perbedaan
pendapat
atau
perselisihan,
para
pihak
sepakat
untuk
menyelesaikannya secara musyawarah lebih dahulu.
(2)
Dalam hal perbedaan pendapat atau perselisihan sebagaimana
dimaksud
pada
musyawarah,
ayat
(1)
tidak
dapat
diselesaikan
secara
PIHAK PERTAMA dan PIHAK KEDUA sepakat
memilih penyelesaian melalui pengadilan dan untuk itu kedua
pihak memilih domisili hukum di wilayah Pengadilan Negeri
..........xxxx.
LAIN-LAIN
Pasal 12
(1)
Untuk kepentingan pengawasan oleh Bank Indonesia, PIHAK
PERTAMA mengizinkan PIHAK KEDUA untuk menyampaikan
secara langsung kepada Bank Indonesia hal-hal sebagai berikut:
7
590
Lanjutan Lampiran 44
a. Laporan hasil audit;
b. Surat Komentar (Management Letter);
c.
Informasi yang dibutuhkan oleh Bank Indonesia setiap saat
apabila diperlukan, meskipun perjanjian telah berakhir; dan
d. Informasi mengenai temuan audit terkait dengan pelanggaran
terhadap ketentuan perundang-undangan di bidang keuangan
dan/atau perbankan yang dapat membahayakan kelangsungan
usaha BPR.
(2)
Laporan hasil audit dan Surat Komentar (Management Letter)
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan b disampaikan
kepada Bank Indonesia paling lambat 4 (empat) bulan setelah
berakhirnya tahun buku yang bersangkutan.
Pasal 13
(1)
Hal-hal lain yang belum atau belum cukup diatur dan perubahanperubahan dalam Perjanjian ini akan diatur kemudian atas dasar
permufakatan kedua belah pihak yang akan dituangkan dalam
bentuk
surat
atau
perjanjian
tambahan
(addendum),
yang
merupakan kesatuan dan bagian yang tidak dapat terpisahkan
dari Perjanjian ini.
(2)
Semua pemberitahuan dan atau surat menyurat antara kedua
belah pihak sehubungan dengan Perjanjian ini dilakukan secara
tertulis
dan
dianggap
telah
disampaikan
kepada
yang
bersangkutan bilamana ada tanda terima tertulis.
(3)
Pemberitahuan
dan
atau
surat menyurat
berkaitan
dengan
Perjanjian ini dialamatkan kepada :
PIHAK PERTAMA
:
PT BPR .......................
...........................
...........................
PIHAK KEDUA
:
Kantor Akuntan Publik
.....................
................................
................................
8
591
Lanjutan Lampiran 44
Pasal 14
PENUTUP
Perjanjian ini dibuat
dan ditandatangani rangkap 2 (dua) masing-
masing bermeterai cukup dan mempunyai kekuatan hukum yang sama
untuk keperluan masing-masing pihak.
Demikianlah surat Perjanjian ini dibuat dan ditandatangani di
…….
pada hari ....................tanggal ....... bulan ...... tahun .............
PIHAK PERTAMA,
PIHAK KEDUA,
PT. BANK PERKREDITAN RAKYAT
KANTOR AKUNTAN PUBLIK
............................
..............................
Direktur Utama
KEPALA GRUP PENGEMBANGAN
BPR & UMKM,
Y. SANTOSO WIBOWO
9
592
Lampiran 45
Lampiran 1. Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 7/52/ DPbS tanggal 22 November 2005
NERACA
BANK PERKREDITAN RAKYAT SYARIAH …………..
Tanggal …………..
No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
15.
Pos - Pos
9.
Posisi yang sama
th.sebelumnya
Posisi
Tgl.laporan
Posisi yang sama
th.sebelumnya
AKTIVA
Kas
Penempatan Pada Bank Indonesia
Penempatan Pada bank lain
Piutang Murabaha
Piutang Salam
Piutang Istishna
Pembiayaan Mudharabah
Pembiayaan Musyarakah
Ijarah
Qardh
Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif -/Aktiva Istishna
Persediaan
Aktiva Tetap dan Inventaris
Akumulasi penghapusan aktiva tetap
Aktiva lain-lain
JUMLAH
AKTIVA
No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
Posisi
Tgl.laporan
Pos - Pos
PASIVA
Kewajiban Segera
Tabungan Wadiah
Kewajiban Kepada Bank Indonesia
Kewajiban Lain-lain
Pembiayaan/Pinjaman Yang Diterima
Pinjaman Subordinasi
Modal Pinjaman
Dana Investasi Tidak Terikat
a. Tabungan Mudharabah
b. Deposito Mudharabah
Ekuitas
a. Modal Disetor
b. Tambahan Modal Disetor
c. Selisih Penilaian Kembali Aktiva Tetap
d. Cadangan
e. Saldo Laba (Rugi)
J UM L A H P A S I V A
…………….., ……………….
Direksi,
…………………………..
Dewan Pengawas Syariah
………………………….
593
Lampiran 46
Lampiran 2. Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 7/52/ DPbS tanggal 22 November 2005
PERHITUNGAN LABA RUGI
BANK PERKREDITAN RAKYAT SYARIAH…………..
Periode ……………..
POS - POS
Periode tgl.laporan
Periode yang sama
th.sebelumnya
Periode tgl.laporan
Periode yang sama
th.sebelumnya
Periode tgl.laporan
Periode yang sama
th.sebelumnya
I. Pendapatan Operasional
A. Pendapatan Operasional dari Penyaluran Dana
1. Dari Pihak Ketiga Bukan Bank
2. Dari Bank Indonesia
3. Dari bank-bank lain di Indonesia
B. Pendapatan Operasional Lainnya
POS - POS
II. Bagi hasil kepada Pemilik Dana
A. Pihak ketiga bukan bank
1. Tabungan Mudharabah
2. Deposito Mudharabah
3. Lainnya
B. Bank Indonesia
C. Bank – bank lain
-/-
III. Pendapatan Operasional setelah distribusi bagi hasil (I – II)
IV. Beban Operasional
A. Bonus titipan wadiah
B. Beban administrasi dan umum
C. Beban personalia
D. Beban penyisihan penghapusan aktiva produktif
E. Lainnya
POS - POS
V. Laba (Rugi) Operasional (III – IV)
VI. Pendapatan Non Operasional
VII. Beban Non Operasional
VIII. Laba (Rugi) Sebelum Pajak
IX. Zakat
X. Taksiran Pajak Penghasilan
XI. Laba (Rugi) Tahun Berjalan
594
Lampiran 47
Lampiran 3. Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 7/52/ DPbS tanggal 22 November 2005
DAFTAR KOMITMEN DAN KONTINJENSI
BANK PERKREDITAN RAKYAT SYARIAH ……………...
Tanggal …………
POS – POS
Periode tgl.laporan
Periode yang sama
th.sebelumnya
I. Tagihan Komitmen
1. Fasilitas Pembiayaan Yang diterima dan Belum Ditarik
2. Lainnya
II. Kewajiban Komitmen
1. Fasilitas Pembiayaan Yang belum ditarik
2. Lainnya
III. Tagihan Kontinjensi
1. Garansi (Kafalah) Yang Diterima
2. Pendapatan yang akan diterima
3. Lainnya
IV. Kewajiban Kontinjensi
V . Aktiva Produktif yang Dihapusbuku pd Tgl Laporan
VI. Penerusan Dana Mudharabah Muqayyadah (Channeling)
595
Lampiran 48
Lampiran 4. Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 7/52/DPbS tanggal 22 November 2005
KUALITAS AKTIVA PRODUKTIF & INFORMASI LAINNYA PUBLIKASI
BANK PERKREDITAN RAKYAT SYARIAH … … …
Periode … … …
Bank
KETERANGAN
L
KL
Posisi tanggal laporan
D
M
Jumlah
1. Penempatan pada bank lain
2. Piutang
a. Piutang Murabahah
b. Piutang Salam
c. Piutang Istishna
d. Qardh
3. Pembiayaan Mudharabah &
Musyarakah
a. Mudharabah
b. Musyarakah
4. Ijarah
5. Jumlah Aktiva Produktif
6. Aktiva Produktif kepada Pihak
Terkait
7. Rasio Non Performing
Financing (NPF) (%)
8. PPAP yang wajib dibentuk
9. PPAP yang telah dibentuk
PEMILIK
No
Nama
Kepemilikan
DIREKSI
No
1
1
2
2
3
3
DEWAN KOMISARIS
No.
Nama
Jabatan
Nama
DEWAN PENGAWAS SYARIAH
No.
Nama
1
1
2
2
Jabatan
Jabatan
............, ....................
Direksi
....................................
596
Lampiran 49
Lampiran 5. Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 7/52/ DPbS tanggal 22 November 2005
LAPORAN SUMBER DAN PENGGUNAAN ZIS
Bank :
Periode :
No
URAIAN
1.
Sumber dana ZIS pada awal periode
2.
Sumber dana ZIS
a. Zakat dari Bank
b. Zakat dari pihak luar Bank
c. Infaq dan shadaqah
3.
Catatan
20x2
20x1
Total Sumber Dana
Penggunaan dana ZIS
2.1. Disalurkan ke lembaga/pihak lain *)
2.2. Disalurkan sendiri
Total Penggunaan
4.
Kenaikan (penurunan) sumber atas penggunaan
5.
Sumber dana ZIS pada akhir periode
*) Disebutkan nama lembaga/pihak - nya seperti : Dompet Dhuafa Republika, Pos Keadilan Peduli Ummat
(PKPU), Yayasan, dll
597
Lampiran 50
Lampiran 6. Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 7/52/ DPbS tanggal 22 November 2005
LAPORAN SUMBER DAN PENGGUNAAN QARDH
Bank
:
Periode :
NO
URAIAN
1.
Sumber Dana Qardh pada awal periode
2.
Sumber Dana Qardh
a. Infaq dan shadaqah
b. Denda
c. Sumbangan/Hibah
d. Pendapatan non-halal
e. Lainnya
Catatan
20x2
20x1
Total Sumber Dana
3.
Penggunaan Dana Qardh
a. Pinjaman
b. Sumbangan
c. Lainnya
Total Penggunaan Qardh
4.
Kenaikan (penurunan) sumber atas
penggunaan
5.
Sumber Dana Qardh pada akhir
periode
598
Lampiran 51
Lampiran 7 Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 7/52/DPbS
tanggal 22 November 2005
TABEL D I S T R I B U S I
BAGI
HASIL
Bank :
Periode :
Jenis
Penghimpunan
Saldo
Rata-rata
Pendapatan yang
harus dibagi hasil
Nisbah
C
Porsi Pemilik Dana
Jumlah bonus
dan bagi hasil
D
Indikasi Rate
of Return
E
A
B
Giro Wadiah
A1
B1
C1
D1
E1
Tabungan Mudharabah
A2
B2
C2
D2
E2
- 1 Bulan
A3
B3
C3
D3
E3
- 3 Bulan
A4
B4
C4
D4
E4
- 6 Bulan
A5
B5
C5
D5
E5
- 12 Bulan
A6
B6
C6
D6
E6
TOTAL
A
B
C
D
Ket :
A = Entry
B = B1+B2+B3+B4+B5+B6
D = D1+D2+D3+D4+D5+D6
C = Entry
D = B X C , kecuali untuk D1 (tergantung kebijaksanaan bank untuk pemberian bonus wadiah)
E2 = (D2/A2 X 100%) X 12
E
Deposito Mudharabah
599
Lampiran 52
Lampiran 8 Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 7/52/DPbS
tanggal 22 November 2005
LAPORAN PERUBAHAN DANA INVESTASI TERIKAT *)
(Mudharabah Muqayyadah)
Bank :
Periode :
Portofolio A
20x2
20x1
Portofolio B
20x2
20x1
TOTAL
20x2
20x1
INFORMASI AWAL PERIODE
Saldo awal
INFORMASI PERIODE BERJALAN
Penerimaan dana
Penarikan dana
Keuntungan (rugi) Investasi
Beban/biaya
Fee/Penerimaan bank
-/-/-/-
INFORMASI AKHIR PERIODE
Saldo akhir
*) Untuk bank yang bertindak sebagai agen dalam menyalurkan dana (Channeling agent)
600
Download