Berkala Ilmiah Pendidikan Fisika Vol 4 No 3 Oktober

advertisement
Berkala Ilmiah Pendidikan Fisika Vol 4 No 3 Oktober 2016
MENINGKATKAN KEMAMPUAN SISWA DALAM
MENGAPLIKASIKAN RUMUS FISIKA DENGAN MENGGUNAKAN
METODE PROBLEM SOLVING DALAM SINTAKS
PENGAJARAN LANGSUNG PADA SISWA KELAS VIIB
SMP MUHAMMADIYAH 1 BANJARMASIN
Nurul Atqiya, M. Arifuddin Jamal, dan Andi Ichsan Mahardika
Program Studi Pendidikan Fisika FKIP Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin
[email protected]
ABSTRACT: The students’s low ability in applying physics formula at class VII-B SMP
Muhammadiyah 1 Banjarmasin will obstruct student in learning physics and give negative
effect on learning outcome especially for material that includes formula. Therefore, this
study was conducted to improve the students’s ability in applying physics formula by using
problem solving method in direct instruction model at class VII-B SMP Muhammadiyah 1
Banjarmasin. This study utilized Hopkin’s model of classroom action research which
consisted of 2 cycles, each cycle included plan, action/ observation, and reflection. The
data were obtained from observation and test. The data were analyzed in descriptive
qualitative and quantitative. The findings from first cycles to second cycles of this research
were as follows: (1) The fidelity of lesson plans as a whole increased from 76,86% to
94,47%, (2) the student’s skill procedure classicaly increased from 86,37% to 100%, (3)
the students’s ability in applying physics formula increased from 59,09% to 95,94%, (4)
the student’s learning outcome classicaly increased from 59,09% to 95,94%. So, it can be
concluded that problem solving method in direct instruction model can improve the
students’s ability in applying physics formula in class VIIB SMP Muhammadiyah 1
Banjarmasin.
Keywords: applying physics formula ability, problem solving, direct instruction.
PENDAHULUAN
Ada enam tingkatan tujuan belajar
Pelajaran IPA merupakan salah satu
pada dimensi proses kognitif dalam revisi
mata pelajaran yang wajib diikuti oleh
taksonomi
siswa di sekolah pada jenjang pendidikan
memahami,
menerapkan/
meng-
dasar dan menengah.Pada tingkat SMP,
aplikasikan,
menganalisis,
meng-
materi fisika mengandung rumus-rumus
evaluasi, dan menciptakan (Siregar, dkk,
dan diperlukan perhi-tungan matematis
2014). Dimensi proses kognitif tersebut
dalam menyelesaikan soal. Siswa yang
berurut dari yang paling rendah sampai
tidak
dasar
ke paling tinggi. Artinya kemampuan
kognitif yang memadai akan mengalami
pada tingkat yang lebih tinggi tidak akan
kesulitan dalam mempelajari fisika.
dapat
memiliki
kemampuan
antara
dicapai
lain
apabila
mengingat,
kemampuan
sebelumnya tidak dimiliki oleh siswa.
237
Berkala Ilmiah Pendidikan Fisika Vol 4 No 3 Oktober 2016
Kemampuan siswa kelas VIIB SMP
pelaksanaan metode problem solving
Muhammadiyah 1 Banjarrmasin dalam
dalam sintaks pengajaran langsung?
mengaplikasikan rumus masih sangat
rendah,
hal
ini
tampak
Tujuan penelitian ini secara umum
selama
ialah
untuk
mendeskripsikan
cara
pembelajaran fisika berlangsung, serta
meningkatkan kemampuan siswa dalam
rendahnya hasil belajar dan tes yang
mengaplikasikan rumus fisika dengan
berisi soal berstandar C3 yang diberikan
menggunakan metode problem solving
peneliti pada siswa di kelas tersebut.
dalam sintaks pengajaran langsung.
Rendahnya
Secara khusus penelitian ini bertujuan
kemampuan
dalam
rumus
akan
mengaplikasikan
untuk
mendeskripsikan
rencana
menghambat siswa dalam memahami
pelaksanaan pembelajaran, keterampilan
pelajaran
itu,
prosedural, kemampuan aplikasi dan
untuk
hasil belajar siswa kelas VIIB SMP
meningkatkan kemampuan siswa dalam
Muhammadiyah 1 Banjarmasin terhadap
mengaplikasikan
pelaksanaan metode problem solving
fisika.
diperlukan
Oleh
suatu
karena
metode
rumus.
Salah
satu
dalam sintaks pengajaran langsung.
metode yang dapat digunakan ialah
metode problem solving dalam sintaks
KAJIAN PUSTAKA
pengajaran langsung.
Kemampuan kognitif tingkat aplikasi
Berdasarkan latar belakang di atas,
rumusan
masalah
penelitian
Kemampuan
secara
tingkat
kemampuan
untuk
umum sebagai berikut: “Bagaimanakah
aplikasi
cara meningkatkan kemampuan siswa
menggunakan
dalam mengaplikasikan rumus fisika
informasi yang telah diketahui ke dalam
dengan menggunakan metode problem
situasi atau konteks baru (Hosnan, 2014:
solving
10). Ratumanan dan Laurens (2003)
dalam
sintaks
pengajaran
adalah
kognitif
atau
menerapkan
langsung pada siswa kelas VIIB SMP
mengemukakan
Muhammadiyah
Banjarmasin?”
menggunakan materi yang dipelajari
Rumusan masalah penelitian secara
dalam situasi baru dan konkrit dapat
khusus yaitu bagaimanakan rencana
meliputi aplikasi dari kaidah-kaidah
pelaksanaan pembelajaran, keterampilan
metode-metode, prinsip-prinsip, konsep-
prosedural, kemampuan aplikasi dan
konsep, hukum-hukum, dan teori-teori.
hasil belajar siswa kelas VIIB SMP
Kemampuan
Muhammadiyah 1 Banjarmasin terhadap
akan dapat dikuasai siswa apabila siswa
1
238
kemampuan
mengaplikasikan
rumus
Berkala Ilmiah Pendidikan Fisika Vol 4 No 3 Oktober 2016
memiliki kemampuan dasar kognitif
keterampilan.” Metode problem solving
mengingat dan memahami. Misalnya
merupakan metode yang termasuk dalam
siswa sudah mengetahui rumus Hukum II
pendekatan
Newton dan memahami variabel dan
masalah.
satuan di dalam rumus tersebut, maka
Inti
siswa
akan
dapat
dengan
mudah
berpikir
dari
dan
berbasis
pembelajaran
yang
menerapkan metode problem solving
mengaplikasikan rumus tersebut dalam
adalah
mengerjakan soal.
Mempraktikkan
Daryanto (2007) mengemukakan
praktik
(Huda,
2014).
langkah-langkah
pemecahan masalah yang telah diajarkan
bahwa pengukuran kemampuan aplikasi
oleh
umumnya
pendekatan
memahami
pemecahan masalah (problem solving).
mendalam.
Melalui pendekatan ini siswa dihadapkan
diungkapkan oleh Confucius (Hosnan,
dengan
2014) yaitu apa yang saya kerjakan, saya
menggunakan
suatu
dipecahkan
masalah
dengan
yang
perlu
menggunakan
guru
dapat
membantu
pelajaran
dengan
Sebagaimana
siswa
lebih
yang
mengerti.
pengetahuan yang telah dimilikinya.
Guru sebaiknya mendorong siswa
Bentuk soal yang sesuai untuk mengukur
melakukan praktik terhadap apa yang
aspek penerapan antara lain pilihan
telah diajarkan dengan cara memberikan
ganda dan uraian. Rumusan kata kerja
latihan-latihan agar siswa terlibat secara
operasional
langsung
aplikasi
untuk
antara
domain
lain:
mendemonstrasikan,
kognitif
menghitung,
menyelesaikan
latihan.
Klipple,
seorang
soal-soal
professor
mengungkapkan,
pendidikan bahasa inggris di Universitas
mengerjakan dengan teliti, menjalankan,
Ludwig Maximilians mengatakan bahwa
menghubungkan,
belajar lebih efektif apabila peserta didik
memecahkan,
menunjukkan,
menggunakan,
dan
secara aktif terlibat di dalam proses
sebagainya (Arifin, 2013).
belajar
Metode Problem Solving
(Suprihatiningrum, 2013) seorang tokoh
Pepkin
2014).
Thorndike
2014)
behaviorisme mengemukakan salah satu
mengemukakan problem solving adalah
hukum belajar bahwa semakin sering
“suatu
suatu
metode
(Shoimin,
(Hosnan,
pembelajaran
yang
tingkah
laku
dilatih,
maka
melakukan pemusatan pada pengajaran
responnya akan semakin kuat (law of
dan keterampilan pemecahan masalah
exercise).
yang
diikuti
dengan
penguatan
239
Berkala Ilmiah Pendidikan Fisika Vol 4 No 3 Oktober 2016
Hanlie Murray, dkk (Huda, 2014)
menjelaskan
bahwa
dirancang
untuk
mengembangkan
pembelajaran
pengetahuan deklaratif dan pengetahuan
pemecahan masalah (problem solving
prosedural siswa yang diajarkan dengan
learning) merupakan salah satu dasar
pola kegiatan yang bertahap, selangkah
teoritis
strategi
demi selangkah (Suhana, 2014). Dengan
pembelajaran yang menjadikan masalah
demikian, pengajaran langsung adalah
sebagai isu utamanya. Langkah-langkah
model pembelajaran yang mengajarkan
dalam problem solving menurut Polya
siswa
(Dewi,
pengetahuan prosedural yang terstruktur
dari
dkk,
berbagai
2015) adalah sebagai
pengetahuan
deklaratif
berikut: (a) memahami masalah, yakni
dan berorientasi pada tujuan.
mencari tahu apa yang diketahui dan apa
Suprijono (2012)
dan
mengemukakan
yang ditanyakan, (b) merencanakan
tahapan model pengajaran langsung: (1)
pemecahannya, yakni menentukan cara
Menyampaikan
menyelesaikan dan mencari hubungan
mempersiapkan
antara data yang diketahui dan apa yang
Mendemonstrasikan pengetahuan atau
ditanyakan,
keterampilan;
dapatkah
dipecahkan
tujuan
peserta
(3)
didik;
dan
(2)
Membimbing
menjadi masalah yang lebih sederhana,
pelatihan; (4) Mengecek pemahaman dan
(c)
menyelesaikan
rencana
langkah
melaksanakan
masalah
sesuai
memberi umpan balik; (5) Memberikan
kedua,
yakni
kesempatan untuk pelatihan lanjutan dan
rencana
dengan
penerapan.
melaksanakan prosedur dalam mencari
Teori
pendukung
pembelajaran
solusi, (d) memeriksa kembali hasil yang
langsung adalah teori behaviorisme dan
diperoleh (looking back), yakni melihat
teori belajar sosial (Suprijono, 2012).
kembali jawaban atau solusi yang telah
Teori behaviorisme menyatakan bahwa
ditemukan.
perubahan tingkah laku merupakan hasil
Model Pengajaaran Langsung
interaksi stimulus dan respons. Tingkah
Pengajaran langsung adalah sebuah
pendekatan
mengajarkan
lingkungan dan hasil belajar, lingkungan
keterampilan-keterampilan dasar untuk
belajar merupakan stimulus yang dapat
pelajaran yang sangat berorientasi pada
dikondisikan oleh guru agar diperoleh
tujuan dan lingkungan pembelajaran
perilaku siswa yang diharapkan. Adapun
yang terstruktur secara ketat (Nur, 2008).
teori belajar sosial menurut Bandura
Model
yang
laku siswa merupakan reaksi terhadap
pengajaran
langsung
khusus
240
Berkala Ilmiah Pendidikan Fisika Vol 4 No 3 Oktober 2016
yaitu seseorang dapat belajarmelalui
Keterangan:
K = Persentase keterlaksanaan
ΣK = Skor rata-rata perfase
ΣN=Skor
rata-rata
maksimum
keterlaksanaan RPP
proses imitasi dan modeling.
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian ini adalah penelitian
tindakan
kelas
(classroom
Tabel 1. Kriteria keterlaksanaan skenario
pembelajaran
No
Persentase
Kriteria
1
0 – 25
Tidak baik
2
26 – 50
Kurang baik
3
51 – 75
Baik
4
76 – 100
Sangat baik
action
research) terdiri dari 2 siklus, setiap
siklus terdiri dari 2 kali pertemuan.
Subjek penelitian ini adalah siswa kelas
VIIB
SMP
Muhammadiyah
1
Banjarmasin yang berjumlah 22 orang
sedangkan
objek
kemampuan
penelitian
Ketuntasan
ialah
siswa
prosedural siswa secara individu
dalam
dihitung dengan rumus:
mengaplikasikan rumus fisika. Prosedur
š‘‡
(š‘)š‘– = ( ) ×100%
penelitian mengikuti model Hopkin yang
terdiri
dari
tahap
keterampilan
(2)
š‘‡š‘–
perencanaan,
keterampilan prosedural, kemampuan
Keterangan:
(š‘)š‘– =proporsi
ketuntasan
keterampilan prosedural per
individu (%)
T = skor yang diperoleh tiap siswa
Ti = skor total
dalam mengaplikasikan rumus, dan hasil
Tabel
pelaksanaan, observasi, dan refleksi.
Ada
empat
karakteristik
yang
diamati antara lain keterlaksanaan RPP,
2.
belajar siswa. Data keterlaksanaan RPP
dan
keterampilan
diamati
prosedural
selama
siswa
No
1
2
3
4
5
pelaksanaan
pembelajaran, dilakukan oleh dua orang
pengamat pada lembar pengamatan. Data
kemampuan
siswa
dalam
Persentase
0 – 20
21 – 40
41 – 60
61 – 80
81 – 100
mengaplikasikan rumus dan hasil belajar
Kriteria
Tidak terampil
Kurang
Cukup
terampil
Terampil
terampil
Sangat
(Ratumanan,terampil
2003:106)
diperoleh dari tes.
Persentase
Kriteria keterampilan
prosedural siswa
Ketuntasan
keterlaksanaan
RPP
prosedural
dihitung dengan rumus:
ļ“K
Kļ€½
ļ‚“ 100 %
ļ“N
siswa
keterampilan
secara
klasikal
dihitung dengan rumus:
(1)
Kļ€½
241
ļ“K
ļ‚“ 100 %
ļ“N
(3)
Berkala Ilmiah Pendidikan Fisika Vol 4 No 3 Oktober 2016
Keterangan:
K = Persentase keterampilan
prosedural
ΣK = Skor rata-rata keterampilan
prosedural yang diperoleh
siswa
ΣN = Skor rata-rata maksimum
keterampilan prosedural
Keterangan:
(p)k
=
proporsi
ketuntasan
kemampuan aplikasi secara
klasikal (%)
N= banyaknya siswa yang mencapai
ketuntasan (p)i
Ni = banyaknya siswa dalam kelas
Penelitian tindakan
Ketuntasan kemampuan siswa
berhasil jika:
dalam mengaplikasikan rumus dan
1) Keterlaksanaan RPP
hasil belajar secara individu dihitung
2) Keterampilan prosedural siswa yang
Agustina, 2011):
š‘‡
š‘‡š‘–
berkategori
3) Persentase
siswa
yang
mampu
70%
4) Ketuntasan klasikal dari tes hasil
belajar minimal mencapai 70%
HASIL DAN PEMBAHASAN
siswa secara klasikal dihitung dengan
Keterlaksanaan RPP
rumus (adaptasi Depdikbud dalam
Berikut
Agustina, 2011: 33):
š‘i
terampil
mengaplikasikan rumus minimal
Ketuntasan kemampuan aplikasi
(p)k = ( ) ×100%
minimal
berjumlah minimal 70%
(4)
Keterangan:
(š‘)š‘– =proporsi
ketuntasan
kemampuan aplikasi secara
individu (%)
T = skor yang diperoleh tiap siswa
Ti = skor total
š‘
berkategori
minimal baik
dengan rumus (Depdikbud dalam
(š‘)š‘– = ( ) ×100
ini dianggap
rekapitulasi
data
keterlaksanaan RPP dari pertemuan 1
siklus I hingga pertemuan 2 siklus II
(5)
dapat dilihat pada Gambar 1.
242
Berkala Ilmiah Pendidikan Fisika Vol 4 No 3 Oktober 2016
Data keterlaksanaan RPP
persentase
120%
100%
80%
60%
40%
20%
0%
Pert 1 Siklus I
Pert 2 Siklus I
Pert 1 Siklus II
Pert 2 Siklus II
Fase 1
100%
97,50%
100%
100%
Fase 2
74,40%
94,64%
98,44%
98,33%
Fase 3
74,17%
87,50%
100%
100%
Fase 4
47,92%
46,88%
75%
81,25%
Fase 5
100%
100%
100%
91,67%
Gambar 1. Rekapitulasi data keterlaksanaan RPP
Gambar 1 di atas menunjukkan
bahwa
keterlaksanaan
setiap
terjadi peningkatan pada siklus II hingga
fase
mencapai indikator.
mengalami fluktuasi selama dua siklus.
Keterampilan prosedural siswa
Fase 1, 2, 3 dan 5 dari awal siklus telah
Adapun hasil keterampilan procedural
memenuhi
siswa dapat dilihat pada gambar 2 di
indikator
keberhasilan
sedangkan fase 4 pada siklus I belum
bawah ini.
memenuhi indikator keberhasilan namun
100%
80%
60%
40%
72,73%
100%
100%
100%
Pert 2 Siklus I
Pert 1 Siklus II
Pert 2 Siklus II
20%
0%
Pert 1 Siklus I
Gambar 2. Rekapitulasi data keterampilan prosedural siswa
Gambar 2 di atas menunjukkan
mengalami peningkatan dan dari awal
bahwa ketrampilan prosedural siswa
siklus
243
telah
memenuhi
indikator
Berkala Ilmiah Pendidikan Fisika Vol 4 No 3 Oktober 2016
keberhasilan. Dengan demikian, metode
deklaratif
problem
prosedural siswa (Suhana, 2014).
solving
dalam
sintaks
dan
keterampilan
pengajaran langsung dapat meningkatkan
Kemampuan
keterampilanprosedural siswa. Hal ini
mengaplikasikan rumus fisika dan
sesuai dengan teori bahwa model
hasil belajar
pengajaran
dapat
Adapun hasil kemampuan siswa dalam
pengetahuan
mengaplikasikan rumus fisika serta hasil
langsung
mengembangkan
siswa
dalam
belajar siswa dapat dilihat pada gambar 3.
100%
80%
60%
95,45%
40%
59,09%
20%
0%
Siklus I
Siklus II
Gambar 3. Kemampuan siswa dalam mengaplikasikan rumus fisika dan hasil belajar
Ketuntasan
kemampuan
siswa
Majid
(2014)
juga
mengungkapkan
dalam mengaplikasikan rumus dan hasil
bahwa hadiah merupakan alat pendorong
belajar pada siklus I belum memenuhi
untuk belajar lebih aktif. Motivasi dalam
indikator keberhasilan dengan persentase
bentuk hadiah ini dapat membuahkan
siswa yang tuntas secara klasikal sebesar
semangat belajar dalam mempelajari
59,09%. Setelah diperoleh tes hasil
materi-materi pelajaran. Sesuai dengan
belajar
segera
hukum akibat (law of effect) yang
tersebut
menyatakan bahwa suatu perbuatan yang
siklus
membagikan
I,
hasil
peneliti
belajar
kepada siswa, memberikan balikan dan
disertai
penguatan, serta memberikan hadiah
cenderung dipertahankan dan diulangi.
kepada
Sedangkan memberikan balikan dan
siswa
Memberitahukan
yang
hasil
tuntas.
belajar
dan
akibat
penguatan
menyenangkan
dimaksudkan
agar
akan
siswa
memberikan penghargaan berupa hadiah
mengetahui dan ingat mana langkah yang
atau pujian merupakan upaya dalam
benar dan mana langkah yang salah,
meningkatkan motivasi (Hosnan, 2014).
244
Berkala Ilmiah Pendidikan Fisika Vol 4 No 3 Oktober 2016
sehingga pada siklus II kesalahan yang
penyajian contoh perilaku (modeling)
sama tidak terulang kembali.
(Mahmud, 2010).
Penelitian kemudian dilanjutkan ke
Peneliti mengecek pemahaman dan
siklus II. Pada fase 1 model pengajaran
memberi umpan balik kepada siswa pada
langsung, peneliti menyampaikan tujuan
fase 4. Pada fase ini, peneliti memberikan
dan
didik.
soal tugas yang tingkat kesulitan soalnya
Peneliti juga menyampaikan garis besar
melebihi contoh soal dan latihan. Hal ini
mempersiapkan
peserta
materi yang akan dipelajari dan membuat
yel-yel
dengan
meminta
dilakukan untuk mengecek pemahaman
siswa
siswa. Peneliti kemudian memberikan
mengucapkan kalimat “Aku pasti bisa!”
umpan balik, hal ini dilakukan bersama
Hal ini dilakukan untuk memberikan
dengan siswa mencocokkan jawaban
semangat dan membangun sugesti dalam
siswa dengan kunci jawaban serta
diri siswa agar mereka yakin bahwa
setelah selesai pembelajaran mereka pasti
memberikan
bisa
jawaban siswa. Sesuai pernyataan Davies
mencapai
hasil
belajar
yang
penguatan
terhadap
(Hosnan, 2014) bahwa siswa akan belajar
diharapkan sesuai tujuan pembelajaran.
Pembelajaran kemudian dilanjutkan
lebih banyak bilamana setiap langkah
fase
peneliti
segera diberikan penguatan. Fase yang
mengajarkan cara menyelesaikan soal
terakhir yaitu memberikan kesempatan
melalui metode problem solving menurut
untuk pelatihan lanjutan dan penerapan
Polya. Peneliti memberikan penekanan
(fase 5). Peneliti memberikan pekerjaan
disertai gerakan anggota badan, dan
rumah kepada siswa dan menyimpulkan
ke
2.
Pada
fase
2
mengajarkan perkalian angka desimal
pelajaran.
pada siklus II.
Setelah
Berdasarkan data pada Tabel 4.14
langkah-langkah
hasil belajar siswa pada siklus II
penyelesaian soal diajarkan, peneliti
meningkat menjadi 95,45%. dengan
membimbing pelatihan kepada siswa
demikian,
pada fase 3 model pengajaran langsung.
solving
Pada fase ini, siswa belajar menirukan
langsung
langkah-langkah yang telah diajarkan
pengajaran
meningkatkan
(2013) dan Wulandari
Bandura bahwa siswa dapat belajar
(imitation)
dapat
sintaks
problem
hasil
diungkapkan oleh Tampubolon, dkk
social learning yang dikemukakan Albert
peniruan
dalam
metode
belajar siswa. Hal ini sesuai dengan yang
peneliti (imitation). Hal ini sesuai teori
melalui
dengan
(2011) bahwa
pembelajaran problem solving dapat
dan
meningkatkan hasil belajar siswa. Selain
245
Berkala Ilmiah Pendidikan Fisika Vol 4 No 3 Oktober 2016
itu,
Djariyo,
dkk
(2012)
juga
siswa mengerjakan latihan pada fase
mengemukakan bahwa model pengajaran
langsung
dapat
meningkatkan
3.
hasil
(4) Pengajar memberikan balikan dan
belajar siswa.
penguatan
setelah
siswa
mengerjakan tugas pada fase 4.
(5) Pengajar segera membagikan hasil
SIMPULAN
Berdasarkan
hasil
belajar
penelitian,
dan
memberikan
dapat disimpulkan bahwa cara yang
penghargaan berupa hadiah kepada
dapat digunakan untuk meningkatkan
siswa yang tuntas.
kemampuan
siswa
dalam
mengaplikasikan rumus dan hasil belajar
DAFTAR PUSTAKA
siswa dengan menggunakan metode
problem
solving
dalam
sintaks
Arifin,
Z.
(2013).
Evaluasi
Pembelajaran.
Bandung:
PT
Remaja Rosdakarya.
pengajaran langsung pada siswa kelas
VIIB
SMP
Muhammadiyah
1
Daryanto. (2007). Evaluasi Pendidikan.
Jakarta: Rineka Cipta.
Banjarmasin adalah:
(1) Pengajar menyampaikan garis besar
Dewi, R. A., dkk. (2015). Pengembangan
Perangkat Pembelajaran Berbasis
Problem
Solving
untuk
Meningkatkan
Keterampilan
Berpikir Tingkat Tinggi pada Mata
Pelajaran Fisika SMAN 3 Purworejo
Kelas
XI
Tahun
Pelajaran
2014/2015. Jurnal Radiasi .Volume
06 No.1, April 2015.
materi yang akan dipelajari dan
membuat yel-yel dengan meminta
siswa mengucapkan kalimat “Aku
pasti bisa!” pada fase 1 model
pengajaran langsung.
(2) Pengajar memberikan penekanan
disertai dengan gerakan anggota
Hosnan. (2014). Pendekatan Saintifik
dan
Kontekstual
dalam
Pembelajaran Abad 21. Jakarta:
Ghalia Indonesia.
badan dan mengajarkan perhitungan
matematis untuk perkalian angka
desimal
pada
pengajaran
menjelaskan
fase
2
model
langsung
saat
penyelesaian
soal
Huda,
M.
(2014).
Model-model
Pengajaran dan Pembelajaran.
Malang: Pustaka Pelajar.
dengan metode problem solving.
Mahmud. (2010). Psikologi Pendidikan.
Bandung: Pustaka Setia.
(3) Pengajar mengajarkan perhitungan
matematis untuk perkalian angka
Majid, A. (2014). Strategi Pembelajaran.
Bandung: Remaja Rosdakarya.
desimal pada saat membimbing
246
Berkala Ilmiah Pendidikan Fisika Vol 4 No 3 Oktober 2016
Nur, M. (2008). Model Pengajaran
Langsung.
Surabaya:
Unesa
University Press.
Suprihatiningrum, J. (2013). Strategi
Pembelajaran: Teori & Aplikasi.
Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
Ratumanan, T. G. & T. Laurens. (2003).
Evaluasi Hasil Belajar yang
Relevan
dengan
Kurikulum
Berbasis Kompetensi. Surabaya:
Unesa University Press.
Suprijono, A. (2012). Cooperative
Learning. Yogyakarta: Pustaka
Belajar.
Tampubolon, T. & S. F. Sitindaon.
(2013).
Pengaruh
Model
Pembelajaran Problem Solving
Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas
X SMA Negeri 7 Medan. Jurnal
INPAFI. Volume 1, Nomor 3,
Oktober 2013.
Shoimin, A. (2014). 68 Model
Pembelajaran
Inovatif
dalam
Kurikulum2013. Yogyakarta: ArRuzz Media.
Siregar, E. & H. Nara. (2014). Teori
Belajar dan Pembelajaran. Bogor :
Ghalia Indonesia.
Wulandari, G. S.. (2011). Penerapan
model problem solving untuk
meningkatkan hasil belajar IPA
kelas V SDN Tulusrejo 02 Malang.
Skripsi Sarjana. Universitas Negeri
Malang. Tidak Dipublikasikan.
Suhana, C. (2014). Konsep Strategi
Pembelajaran. Bandung: PT Refika
Aditama.
247
Download