Prototipe Sistem Nuclear Magnetic Resonance Logging Dengan

advertisement
Prototipe Sistem Nuclear Magnetic Resonance Logging Dengan
Metode Inside-Out Tipe Jackson
Ferry Aziz Arifiyanto, Supriyanto, Lingga Hermanto
Departemen Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Abstrak
Prototipe sistem Nuclear Magnetic Resonance Logging (NMR Log) dengan
metode Inside-Out tipe Jackson telah dibuat. Pembuatan prototipe sistem ini
bertujuan untuk memahami rancangan NMR Log untuk aplikasi eksplorasi di
sumur pengeboran minyak bumi. Sistem terdiri dari koil transceiver, dua magnet
permanen silinder, penghasil pulsa RF, rangkaian transmiter, duplexer, rangkaian
receiver dan osiloskop. Sistem NMR Log ini berhasil mengidentifikasi tiga jenis
fluida (air, gliserin, dan bensin) dengan melihat parameter waktu peluruhan dan
amplitudo dari sinyal Free Induction Decay (FID) akibat munculnya fenomena
NMR pada atom hidrogen (H1) yang terdapat di dalam fluida.
Kata kunci:
NMR , FID, Inside-Out, eksplorasi, loging sumur , hidrogen
Abstract
The prototype of Nuclear Magnetic Resonance Logging (NMR Logs) system with
Jackson types Inside-Out method has been made. Prototyping system aims to
understand the design of NMR Logs for applications in petroleum drilling wells
exploration. The system consists of a coil transceiver, two cylindrical permanent
magnets, RF pulse resource, transmitter circuit, duplexer, receiver circuit and
oscilloscope. NMR Log system is able to identify three types of fluids (water,
glycerin, and gasoline) by consider the parameters of decay time and amplitude of
Free Induction Decay (FID) signal caused by NMR phenomenon of the hydrogen
(H1) atoms in the fluid.
Key words:
NMR Logging, FID, Inside-Out, exploration, well logging, hydrogen
Prototipe sistem..., Ferry Aziz Arifiyanto, FMIPA UI, 2013
1. PENDAHULUAN
Kebutuhan energi di Indonesia maupun di dunia pada umumnya terus
mengalami peningkatan seiring dengan kebutuhan ekonomi dan pertumbuhan
penduduk. Untuk meningkatkan produksi minyak, perlu dimanfaatkan secara
maksimal sumur-sumur tua yang masih bisa produksi maupun mencari sumur
minyak yang baru melalui proses eksplorasi. Meskipun penelitian geologi maupun
seismik mampu memberikan dugaan adanya potensi hidrokarbon di bawah tanah,
akan tetapi sampai saat ini belum ada solusi nyata selain melakukan penggalian
lubang sumur serta mengadakan serangkaian pengukuran di dalam sumur dan
evaluasi data hasil rekaman untuk memastikan ada tidaknya kandungan
hidrokarbon di bawah tanah (Harsono, 1997).
Logging sumur pengeboran dilakukan dengan beberapa metode dan
berbagai instrumennya. Salah satu metode logging yang dilakukan yaitu
menggunakan metode Nuclear Magnetic Resonance Logging (NMR Log). NMR
Log mulai diperkenalkan oleh NUMAR (Perusahaan Halliburton) pada tahun
1991 dengan tool yang disebut MRIL (Coates, 1999). Di industri migas, NMR log
sudah dipakai oleh Schlumberger dan Halliburton untuk jasa pengukuran dengan
biaya yang sangat mahal sehingga menjadi kurang menarik minat perusahaan
migas (Munadi, 2011).
Penelitian ini bertujuan untuk memahami rancangan NMR Log untuk
aplikasi eksplorasi data di sumur pengeboran., memahami cara kerja sistem NMR
Log dengan metode inside-out tipe Jackson dan membuat rancangan probe NMR
Log dengan metode inside-out tipe Jackson.
2. LANDASAN TEORI
a.
Teori Nuclear Magnetic Resonance
Sebuah atom terdiri dari inti atom dan elekton yang mengelilinginya. Inti
atom terdiri dari proton yang bermuatan positif dan neutron yang bermuatan
netral, sedangkan elektron bermuatan negatif. Proton dan elektron berputar pada
porosnya (spin). Karena kedua partikel elementer itu memiliki muatan listrik,
maka timbul momen magnet. Momen magnet yang disebabkan karena
berputarnya proton disebut momen magnet inti (Munadi, 2011). Pada keadaan
Prototipe sistem..., Ferry Aziz Arifiyanto, FMIPA UI, 2013
normal, ketika inti atom tidak berada pada suatu medan magnet eksternal, arah
momen magnet inti selalu acak. Ketika diberikan medan magnet luar yang berasal
dari magnet permanen (B0), maka arah dari momen magnet inti akan terpolarisasi
meluruskan dengan arah Bo dan melakukan gerak presesi di sekitar B0. Gerak
presesi mirip seperti gerak gasing yang oleng. Frekuensi dari gerakan presesi
disebut dengan frekuensi Larmour, dengan persamaan:
(1)
Dimana γ adalah rasio giromagnetik, yang diukur dari magnetisasi inti.
Untuk inti atom hidrogen, γ/2π = 42,58 MHz/Tesla. Inti atom lain memiliki γ yang
berbeda (Coates, 1999).
Langkah selanjutnya untuk melakukan pengukuran NMR, yaitu dengan
memberikan medan magnet berosilasi (B1) yang arahnya tegak lurus terhadap B0,
medan magnet permanen. Agar efektif, frekuensi osilasi yang diberikan harus
sama dengan frekuensi Larmour dari proton (Coates, 1999). Pemberian B1
menyebabkan proton melakukan presesi sefase satu sama lain, atau dikenal
dengan resonansi inti atom terhadap magnet, Nuclear Magnetic Resonance.
Pada percobaan NMR Log dengan memberikan sinyal RF berbentuk pulsapulsa, maka energi dari radio frekuensi akan diterima oleh inti atom untuk
berpindah tingkat energi. Lalu setelah radio frekuensi tersebut dihilangkan (pulsa
berakhir), maka inti atom akan mengemisikan kembali energi tersebut dan
menginduksi koil. Koil yang mendapat induksi magnetik tersebut akan
menghasilkan sinyal tegangan yang dapat terukur. Sinyal tersebut meluruh dan
dikenal dengan istilah Free Induction Decay (FID), seperti ada gambar 1.
Prototipe sistem..., Ferry Aziz Arifiyanto, FMIPA UI, 2013
Gambar 1 Grafik FID (Free Induction Decay) yang dideteksi koil transceiver
b.
Probe NMR Log
Probe NMR Log dengan magnet permanen yang pernah dipatenkan oleh
(Jackson, 1982) terdiri dari dua buah magnet permanen berbentuk silinder yang
disusun dengan mempertemukan kedua kutub sejenis. Konfigurasi magnet seperti
ini akan menciptakan suatu daerah medan magnet yang seragam berbentuk toroida
di luar arah radial struktur magnet silinder tersebut, seperti pada gambar 2. Medan
magnet pada daerah toroida tersebut memiliki besar medan magnet yang
maksimal dan berbeda-beda untuk setiap jarak (d) antar dua kutub magnet yang
didekatkan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar 3.
Gambar 2 Pembentukan daerah medan magnet homogen berbentuk toroida
(Jackson, 1982)
Prototipe sistem..., Ferry Aziz Arifiyanto, FMIPA UI, 2013
Gambar 3 Nilai medan magnet pada daerah toroida dan sekitarnya (Zhang, 2000)
Sebuah solenoida ditempatkan di antara magnet untuk menghasilkan medan
magnet osilasi B1 yang tegak lurus dengan medan B0. Medan magnet osilasi B1
dari koil akan mengubah magnetisasi M0 pada daerah medan magnet homogen
berbentuk toroida di lapisan batuan (Luong & et al., 2001). Untuk lebih jelasnya,
dapat dilihat pada gambar 4.
Gambar 4 Perubahan arah magnetisasi M0 akibat adanya medan magnet osilasi
dari koil (Jackson,1982)
Prototipe sistem..., Ferry Aziz Arifiyanto, FMIPA UI, 2013
3.
PERANCANGAN ALAT DAN EKSPERIMEN
Prototipe Sistem NMR Log dirancang dengan mendesain sistem mekanik,
dan sistem elektrik. Untuk perancangan sistem prototipe NMR Log, penulis
membuat blok diagram seperti Gambar 5. Blok diagram tersebebut terdiri atas
bagian input, bagian kendali, dan bagian output, dimana masing-masing bagian
memerlukan catu daya / power supply yang nilainya berbeda-beda sesuai dengan
kebutuhan.
Gambar 5 Blok diagram sistem prototipe NMR Log
a. Koil Transceiver
Desain dari koil harus disesuaikan dengan frekuensi yang akan bekerja pada
sistem, yaitu sama dengan frekuensi larmor. Besarnya nilai frekuensi larmor
sebanding dengan besarnya medan magnet homogen yang diberikan. Berdasarkan
hasil pengujian besarnya medan magnet pada daerah toroida, besarnya medan
magnet homogen yang digunakan adalah 12,4 mT. Maka besarnya frekuensi
larmor pada sistem ini dapat dihitung dengan persamaan 1.
Prototipe sistem..., Ferry Aziz Arifiyanto, FMIPA UI, 2013
Frekuensi ini juga harus menjadi frekuensi resonansi pada probe NMR Log.
Probe NMR Log yang terdiri dari kapasitor tunning dan lilitan yang merupakan
sebuah induktor akan membentuk suatu rangkaian resonator. Dengan menentukan
nilai frekuensi sebesar 530 kHz dan kapasitor C 1nF, maka nilai induktor L dapat
dihitung, yaitu mendekati nilai 90uH.
b. Penghasil Pulsa RF
Untuk
menghasilkan
pulsa
RF,
penulis
menggunakan
Siglent
Function/Arbitrary Waveform Generator (AWG Siglent SDG1050). Output CH1
digunakan untuk menghasilkan sinyal RF dengan frekuensi 530 kHz. Output CH2
digunakan untuk menghasilkan pulsa dengan periode 1 ms dengan lebar pulsa
400us. Sedangkan Channel Gate In digunakan sebagai jalur gate pulsa
menggunakan mode ASK (Amplitude Shift Keying) terhadap sinyal RF sehingga
menghasilkan Pulsa RF (gambar 6)
Gambar 6 Blok diagram penghasil pulsa RF
Prototipe sistem..., Ferry Aziz Arifiyanto, FMIPA UI, 2013
(b)
(a)
Gambar 7 Hasil Pulsa RF dengan setting Osiloskop time/div (a) 5 uS dan (b) 500
us
c. Transmitter
Rangkaian transmitter dibuat dengan menggunakan rangkaian penguat kelas
C yang terdiri dari dua transistor dan rangkaian resonator LC. Kapasitor pada
setiap supply berfungsi sebagai kapasitor bias. Transistor 2N3904 merupakan
transistor dengan range frekuensi tinggi, yaitu mencapai 100 MHz (2N3904,
2011).
Gambar 8 Rangkaian transmitter
Prototipe sistem..., Ferry Aziz Arifiyanto, FMIPA UI, 2013
Rangkaian transmitter yang digunakan pada sistem dapat dilihat seperti pada
gambar 8. Sinyal akan di-drive oleh transistor 2N3904 menuju transistor
IRFZ44N, yang merupakan power transistor MOSFET. Transistor IRFZ44N
digunakan sebagai transistor switching dan bisa membatasi tegangan hingga 2 kV
(IRFZ44N, 1999). Arus dari power supply akan di-drive sesuai dengan sinyal
yang masuk dari gate, lalu masuk ke konfigurasi diode 1N4148 yang berfungsi
sebagai barrier.
d. Receiver
Bagian receiver seperti pada gambar 9, didesain dengan menggunakan
operational amplifier (op-amp) LF353. Op-amp ini memiliki gain bandwidth yang
lebar sehingga cocok untuk aplikasi penguat sinyal dengan frekuensi yang cukup
tinggi (LF353, 2013). Penguatan dengan op-amp LF353 dilakukan dengan tiga
tingkat agar menghasilkan gain yang cukup besar, mengingat sinyal NMR sebagai
inputnya memiliki orde yang kecil (uV-mV).
Gambar 9 Rangkaian receiver dan amplifier sinyal NMR
Input sinyal NMR yang terdeteksi di koil akan masuk ke dalam kaki
noninverting dari op-amp, sedangakan kaki inverting op-amp dihubungkan
dengan resistor R1 100 Ω lalu dihubungkan ke ground. Resistor R2 1 kΩ
Prototipe sistem..., Ferry Aziz Arifiyanto, FMIPA UI, 2013
digunakan sebagai resistor feedback (Rf) dari kaki inverting op-amp. Setiap kaki
tegangan sumber positif dan negatif dari op-amp, dipasang sebuah lilitan yang
berfungsi sebagai RF choke. Tujuannya agar sinyal dari sumber DC tidak
bercampur dengan sinyal input berupa sinyal AC. Selain itu di antara setiap
tingkatan penguat, digunakan bandpass filter dengan rangkaian LC.
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
a. Medan magnet dari magnet permanen (B0)
Karena ketidakhomogenannya, maka disusunlah dua buah magnet permanen
berbentuk silinder yang didekatkan dua kutubnya yang sejenis. Sumbu z dari
magnet silinder itu disebut sumbu axial, dan arah yang menyebar dari sumbu itu
adalah arah radial. Apabila diukur medan magnet di setiap arah radial untuk setiap
jarak antarkutub magnet di sumbu axial, maka dihasilkan grafik seperti pada
gambar 10.
50
Medan Magnet pada
jarak antar kutub:
10 cm
9 cm
8 cm
7 cm
6 cm
5 cm
Medan Magnet (mT)
40
30
20
10
0
0
2
4
6
8
10
Posisi (cm)
Gambar 10 Pengukuran nilai medan magnet
Dapat dilihat pada grafik gambar 10, bahwa pada daerah titik-titik puncak,
terdapat daerah yang memiliki medan magnet homogen, hal inilah yang perlu
Prototipe sistem..., Ferry Aziz Arifiyanto, FMIPA UI, 2013
dicari untuk menghitung berapa medan magnet di daerah tersebut. Kemudian,
langkah selanjutnya adalah menghitung berapa frekuensi larmor.
Dari grafik gambar 10 juga dapat dilihat bahwa semakin dekat jarak
antarkutub magnet sejenis yang didekatkan, akan semakin besar medan magnet
homogen yang dihasilkan namun semakin kecil jarak antara sumber dengan
daerah homogen tersebut. Artinya jarak yang mampu ditembus oleh medan
magnet dari dinding sumur pengeboran semakin dekat.
Jarak yang menunjukkan adanya medan magnet homogen yang cukup besar
dan jarak axial dari sumbu magnet terjauh adalah pada saat keadaan jarak kedua
kutub magnet sebesar 9 cm. Pada saat itu, medan magnet homogen tercipta di
daerah pada jarak 3 cm dari sumbu axial. Pada jarak 3 cm itu, terdapat medan
magnet homogen sebesar 12,4 mT atai 124 gauss.
b. Pengujian sistem pada sumur buatan
Ketika setiap bagian pada sistem telah diuji, maka langkah selanjutnya
adalah menguji keseluruhan sistem untuk membuktikan adanya fenomena NMR
pada sumur pengujian. Pengujian dilakukan di laboratorium elektronika
Departemen Fisika UI. Gambar pengujian sistem dapat dilihat pada gambar 11
berikut ini.
Gambar 11 Pengambilan data sistem NMR Log pada sumur pengujian buatan
Prototipe sistem..., Ferry Aziz Arifiyanto, FMIPA UI, 2013
Pada gambar 11 dapat dilihat bahwa probe sensor NMR Log yang berisi dua
magnet permanen dan koil transceiver dimasukkan ke dalam simulasi sumur
pengujian. Bagian display (Digital Storage Oscillopscope) dan penghasil pulsa RF
(Arbitrary Waveform Generator) diletakkan pada bagian atas. Rangkaian
transmitter, duplexer dan receiver juga diletakkan di bagian atas, di samping catu
daya.
Gambar 12 Pengambilan data sistem NMR Log pada sumur pengujian buatan
alam keadaan kosong
Hasil pengujian dalam keadaan sumur kosong tanpa fluida dapat dilihat
pada gambar 12. Pada gambar 12 dapat dilihat sinyal berwarna biru merupakan
sinyal output dari transmitter. Sinyal ini merupakan sinyal yang dimasukkan ke
dalam koil dan membangkitkan medan magnet osilasi (B1) dan menginduksi
fluida di dalam sumur pengujian. Sinyal berwana merah merupakan sinyal respon
ataupun sinyal yang dideteksi oleh koil. Ketika pulsa berada pada falling edge,
maka setelah itu seharusnya muncul fenomena Free Induction Decay (FID)
apabila fenomena NMR telah terjadi. Namun karena di dalam sumur tidak ada
fluida yang mengandung hydrogen, maka tidak muncul fenomena NMR dan
akhirnya sinyal FID tidak akan tampak pada layar osiloskop.
Setelah mengetahui respon dari sensor ketika tidak ada fluida yang
mengandung hidrogen di dalam sumur pengujian, maka dilakukanlah pengujian
dengan memasukkan fluida yang mengandung hidrogen ke dalam sumur
Prototipe sistem..., Ferry Aziz Arifiyanto, FMIPA UI, 2013
pengujian. Fluida itu adalah air (H20), Gliserin (C3H8O3) dan bensin premium
(C8H18). Respon dari sistem NMR Log adalah seperti pada gambar-gambar 13.
(a) (b) (c) Gambar 13 Sinyal FID pada (a) air aquabides (b) gliserin dan (c) bensin premium
Dari gambar 13, kita melihat banyak perbedaan dengan gambar 12 yang
merupakan pengujian pada sumur kosong. Pada bagian sinyal receiver atau sinyal
yang berwarna merah, setelah pulsa falling edge, maka muncul sinyal yang
Prototipe sistem..., Ferry Aziz Arifiyanto, FMIPA UI, 2013
meluruh, sinyal ini juga diterima oleh receiver dari koil yang berada di dalam
sumur berisi fluida pengujian. Sinyal inilah yang disebut dengan sinyal Free
Induction Decay (FID). Sinyal FID akan muncul ketika fenomena NMR terjadi
pada fluida. Sinyal ini dipancarkan oleh fluida untuk kembali ke keadaan
ekuilibrium setelah fluida tidak lagi menerima induksi medan magnet bolak-balik
(B1) dari koil.
Gambar 14 Perbandingan data waktu peluruhan FID pada air aquabides, gliserin
dan bensin premium
Pada gambar 14 kita dapat melihat perbandingan waktu peluruhan (decay
time) antara ketiga jenis fluida pengujian. Bensin premium yang memiliki rumus
kimia C8H18 (oktana) membutuhkan waktu peluruhan yang paling lama dari pada
fluida jenis lain. Gliserin dengan rumus kimia C3H8O3 membutuhkan waktu
peluruhan yang paling cepat di antara yang lain. Sedangkan air dengan rumus
kimia H2O waktu peluruhannya berada di antara waktu peluruhan bensin dan
gliserin.
Apabila diperhatikan nilai viskositas antara ketiga fluida tersebut pada saat
suhu 30o, maka gliserin adalah yang paling viskos (6,29 poise) selanjutnya air
(0,008 poise) dan yang terakhir adalah bensin (0,0056 poise) (Bird, 1987). Nilai
viskositas dari fluida ternyata memiliki hubungan dengan lamanya waktu FID
dari NMR. Hal tersebut juga dibuktikan oleh percobaan terdahulu (Kim, 2008).
Dan pada penelitian ini terbukti bahwa viskositas fluida berbanding terbalik
Prototipe sistem..., Ferry Aziz Arifiyanto, FMIPA UI, 2013
dengan lamanya waktu peluruhan sinyal FID. Semakin viskos suatu fluida maka
semakin cepat waktu peluruhan sinyal FID-nya.
Data lain yang didapat adalah besarnya amplitudo maksimal dari sinyal FID.
Pada gambar 15 dapat dilihat bahwa bensin (C8H18) memiliki amplitudo sinyal
FID yang paling tinggi dibandingkan dengan gliserin (C3H8O3) di urutan kedua
dan air (H2O) di urutan ketiga.
Gambar 15 Perbandingan amplitudo sinyal FID pada air aquabides, gliserin dan
bensin premium
Banyaknya atom hidrogen yang terkandung di dalam fluida akan sangat
mempengaruhi sinyal FID yang terdeteksi oleh koil, mengingat fenomena Nuclear
Magnetic Resonance (NMR) yang kita lakukan adalah NMR untuk atom
hidrogen. Atom hidrogen yang berada di dalam fluida lebih mudah beresonansi
dengan medan magnet osilasi (B1) karena nilai frekuensi dari B1 sudah
disesuaikan dengan frekuensi larmor dari atom hidrogen. Jumlah atom hidrogen
pada bensin 18 kali lebih banyak, gliserin 8 kali lebih banyak dan air 2 kali lebih
banyak dari jumlah satuan atom hidrogen. Pada penelitian ini sudah terbukti
bahwa banyaknya atom hidrogen pada fluida sebanding dengan amplitudo sinyal
FID akibat adanya fenomena Nuclear Mgnetic Resonance (NMR) yang dideteksi
oleh sistem NMR Log.
Prototipe sistem..., Ferry Aziz Arifiyanto, FMIPA UI, 2013
5. KESIMPULAN DAN SARAN
a. Kesimpulan
Kesimpulan berikut penulis buat berdasarkan pengambilan data yang
diperoleh baik berupa data sensor maupun data hasil pengujian NMR Log:
a) Konfigurasi magnet untuk pengukuran inside-out yang diperkenalkan oleh
(Jackson, 1982) telah berhasil direkonstruksi sebagai prototipe Sistem
NMR Log. Namun ada perbedaan yaitu kuat medan magnet dan jarak
injeksi ke arah radial sumur, hal itu disebabkan karena dimensi sumber
magnet permanen yang berbeda, tapi memiliki pola yang sama.
b) Data amplitudo sinyal FID dari fluida pengujian dapat dibandingkan
sesuai dengan banyaknya jumlah atom hidrogen di dalam fluida tersebut.
Pada penelitian ini, yang paling banyak mengandung atom hidrogen yaitu
bensin
c) Data waktu peluruhan sinyal FID dari fluida pengujian dapat dibandingkan
sesuai dengan viskositas fluida. Pada penelitian ini yang paling tinggi
viskositasnya adalah gliserin.
b. Saran
Berikut ini beberapa saran dari penulis berdasarkan pengalaman penulis
selama pembuatan prototipe sistem NMR Log ini:
a) Sumber medan magnet permanen berbentuk silinder harus memiliki kuat
medan yang cukup besar dan dimensi yang cukup besar agar mampu
menghasilkan medan magnet homogen yang baik pada arah radial sumur
yang lebih jauh.
b) Untuk penelitian selanjutnya, agar dapat merancang rangkaian RF pulse
yang lebih portable.
c) Rangkaian transmitter perlu dimaksimalkan dengan rancangan power
amplifier yang memiliki gain cukup besar.
d) Pengujian terhadap simulasi sumur dengan porositas batuan tertentu perlu
dilakukan untuk penelitian lebih lanjut
Prototipe sistem..., Ferry Aziz Arifiyanto, FMIPA UI, 2013
Daftar Acuan
2N3904. (2011). Datasheet 2N3904. Fairchild Semiconductor.
Bird, R. (1987). Dynamics of Polymeric. New York: Wiley.
Coates, G. R. (1999). NMR Logging Principles and Applications. Houston:
Halliburton Energy Services.
Harsono, A. (1997). Evaluasi Formasi dan Aplikasi Log (edisi 8). Indonesia:
Schlumberger Oil Services.
IRFZ44N. (1999). Datasheet IRFZ44N. Phililps Semiconductor.
Jackson, e. a. (1982). Patent No. 4,350,955. United States.
Kim, T. H. (2008). Pulsed NMR: Relaxation times as function of viscocity and
impurities. 1-5.
LF353. (2013). LF353 Datasheet. Texas Instruments.
Luong, B., & et al. (2001). Optimal Control Technique for Magnet Design in
Inside-Out Nuclear Magnetic Resonance. IEEE TRANSACTIONS ON
MAGNETICS, 1015-1023.
Munadi, S. S. (2011). Piranti Pemanfaatan Resonansi Nuklir – Magnetik dan
Potensi Aplikasinya. Indonesia: . Jakarta: Pusat Penelitian dan
Pengembangan Teknologi Minyak dan Gas, Departemen ESDM.
Zhang, Y. e. (2000). Review of Nuclear Magnetic Resonance Magnet for Oil Well
Logging. IEEE TRANSACTION ON APPLIED SUPERCONDUCTIFITY,
763-766.
Prototipe sistem..., Ferry Aziz Arifiyanto, FMIPA UI, 2013
Download