analisis putusan hakim terhadap tindak pidana turut serta

advertisement
Jurnal Pasca Sarjana Hukum UNS Vol III No. 2 Juli-Desember 2015
ANALISIS PUTUSAN HAKIM TERHADAP TINDAK PIDANA TURUT
SERTA MEMASUKKAN KETERANGAN PALSU KEDALAM AKTA
OTENTIK YANG DILAKUKAN NOTARIS.
Agus Priono
Mahasiswa Magister Kenotariatan Fakultas Hukum UNS
Email: [email protected]
Noor Saptanti, Widodo Tresno Novianto
Dosen Fakultas Hukum UNS
Abstract
This study aims to identify and analyze the application of criminalsanctionagainst counterfeiting
cases authentic deed performed by Notary by analyzing the Supreme Court's Decision No. 1099
K/PID/2010.The type of this research is a doctrinal, it is based on the law concept number
3, the research location is in the library. Types and sources of data used are secondary data.
Data collection techniques used is the study of literature and case studies. The data analysis
techniques done qualitatively. Based on the results of the research and discussion, it can be
conclude that legal reasoning used by the judge in imposing criminal sanctions/punishment
against the Notary (San Smith) as follows : the elements in the provisions of this article are met
by way of the defendant together (participate) with Tony Wijaya to conspire to make authentic
document whose contents as if in accordance with the reality/truth. This act is done deliberately
in accordance with the agreement/bond trading to the detriment of others. Therefore, the actual
size/boundaries presence/absence of an unlawful act by the Notary begins with an examination
of presence/absence of a violation of the provisions laid down in The Act of the Notary (UUJN).
This can be considered important because there is a possibility under the terms UUJN that the
deed in question in accordance with the method/procedure UUJN but on the other hand mentioned
The Keywords: Criminal Sanctions, Forgery Act, Notary.
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisa penerapan sanksi pidana terhadap
kasus pemalsuan akta otentik yang dilakukan oleh Notaris dengan menganalisis Putusan
Mahkamah Agung RI Nomor 1099 K/PID/2010. Penelitian ini merupakan penelitian hukum
doktrinal, dengan memakai konsep hukum yang ke-3, lokasi penelitian adalah di Perpustakaan.
Jenis dan sumber data yang digunakan adalah data sekunder. Teknik pengumpulan data yang
digunakan adalah studi kepustakaan dan studi kasus. Adapun teknik analisis data dilakukan secara
kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan disimpulkan bahwa dasar pertimbangan
hukum yang dipakai oleh hakim dalam menjatuhkan sanksi pidana/pemidanaan terhadap Notaris
(San Smith) sebagai berikut : unsur-unsur dalam ketentuan pasal ini terpenuhi yaitu dengan cara
Terdakwa bersama-sama (turut serta) dengan Tony Wijaya untuk bersekongkol membuat akta
otentik yang isinya seolah-olah sesuai dengan kenyataan/kebenaran. Perbuatan ini dilakukan
dengan sengaja dengan maksud akta tersebut akan dapat dipergunakan (Tony Wijaya) untuk
168
Agus Priono. Analisis Putusan Hakim Terhadap Tindak Pidana Turut Serta Memalsukan ...
memperoleh luas tanah yang tidak sesuai dengan kesepakatan/ikatan jual beli sehingga merugikan
orang lain. Oleh karena itu sebenarnya ukuran/batasan ada/tidaknya perbuatan melawan hukum
oleh Notaris tersebut dimulai dengan pemeriksaan ada/tidaknya pelanggaran terhadap ketentuan
yang diatur dalam Undang-Undang Jabatan Notaris (UUJN). Hal tersebut dapat dianggap penting
karena ada kemungkinan menurut ketentuan UUJN bahwa akta yang bersangkutan telah sesuai
dengan cara/prosedur UUJN tetapi di sisi yang lain disebutkan perbuatan/pelanggaran tersebut
merupakan perbuatan yang memenuhi rumusan suatu tindak pidana oleh aparat penegak hukum.
Kata Kunci: Sanksi Pidana, Pemalsuan Akta, Notaris.
A. Pendahuluan
Kesa da ran m as yar akat m engenai
pentingnya aspek hukum dalam kehidupan
bermasyarakat dan bernegara sudah semakin
maju dan membaik dari hari ke hari, dimana
dalam hubungan hukum tersebut masyarakat
sudah menyadari betapa pentingnya suatu
alat bukti yang dibuat secara tertulis dan
mempunyai kekuatan pembuktian yang kuat
dan terpenuh berupa akta otentik (Maria
S.W. Sumardjono, 2001 : 14). Oleh karena
itu masyarakat membutuhkan seseorang
yang keterangannya dapat diandalkan,dapat
dipercayai, yang tanda tangannya serta
segelnya (capnya) memberi jaminan dan
bukti kuat, seorang ahli yang tidak memihak
dan penasihat yang tidak ada cacatnya
(onkreukbaar atau unimpeachable). Notaris
sebagai
, menjadi salah satu
tumpuan masyarakat dalam memperoleh
penjelasan mengenai hukum, selain sebagai
pejabat yang berwenang dalam pembuatan
akta yang ditujukan menjadi alat bukti
yang kuat dalam suatu proses hukum, yang
pada akhirnya ditujukan dalam rangka
maupun sengketa hukum yang akan terjadi
di kemudian hari (Suen Herief dan Marsudi
Triatmodjo, 2010 : 203-204). Oleh karenanya,
seorang Notaris harus memahami benar
Undang-undang dan hukum yang berkaitan
dengan akta yang akan dibuatnya. Seorang
Notaris dipandang sebagai seseorang (
)
yang keterangan-keterangannya dapat
diandalkan, dapat dipercayai, yang tanda
tangannya serta segelnya (capnya) memberi
jaminan dan bukti kuat, seorang ahli yang
tidak memihak dan penasihat yang tidak ada
cacatnya (onkreukbaar atau unimpeachable),
yang tutup mulut, dan membuat suatu
perjanjian yang dapat melindunginya di harihari yang akan datang.
Notaris dalam menjalankan tugas
jabatannya membuat akta otentik tidak
luput dari kesalahan atau kekeliruan baik
yang disebabkan karena perilaku yang tidak
profesional atau memihak salah satu pihak,
menambah, mengurangi atau membuat
dan memalsukan akta dari hal-hal yang
seharusnya dapat dihindarinya. Kesalahan
atau kekeliruan atas pembuatan akta Notaris
tersebut disamping dapat menyebabkan
tercabutnya hak seseorang atau terbebaninya
seseorang atas suatu kewajiban, maka Notaris
juga dituntut adanya konsekuensi yuridis
pertanggung jawaban dengan penerapan
sanksi baik sanksi administrasi, perdata
maupun pidana. Perbuatan melawan hukum
dalam konteks pidana (tindak pidana/peristiwa
pidana) merupakan perbuatan yang dilarang
oleh undang-undang dan diancam dengan
pidana apabila memenuhi unsur-unsur antara
lain : (1) adanya tindakan yang dilarang dan
diancam sanksi pidana, adanya akibat tertentu,
keadaan atau hal-hal tertentu/khusus yang
dilarang; (2) adanya kesalahan; dan (3) pelaku
dapat dipertanggung jawabkan. Perumusan
tersebut harus pula tercakup semua unsur dan
169
Jurnal Pasca Sarjana Hukum UNS Vol III No. 2 Juli-Desember 2015
delik (tindak pidana), atas dasar mana dapat
dipidananya pelaku yang telah memenuhi
unsur-unsur tersebut.
Akibat dari perbuatan tersebut, tidak
sedikit Notaris yang harus ditetapkan sebagai
tersangka, terdakwa dan bahkan terpidana
setelah mendapatkan keputusan hukum yang
berkuatan tetap/pasti (inkracht gewijsde van
recht). Salah satunya adalah Notaris San
Smith yang dihukum pidana melalui Putusan
Hakim Pengadilan Negeri Medan Nomor
3036/PID.B/2009/PN Mdn, Pengadilan Tinggi
Nomor 82/PID/2010/PT MDN, dan Putusan
Mahkamah Agung Nomor 1099 K/PID/2010.
Dalam perkara pidana maka yang dicari hakim
adalah kebenaran materiil, dimana hakim
bersikap aktif dalam mencari kebenaran
melalui fakta-fakta yang dikemukakan dimuka
sidang pengadilan. Hal tersebut salah satunya
didasarkan pada asas yang berlaku yaitu tiada
dipidana tanpa ada kesalahan (actus non facit
reum nisi mens sit rea), artinya seseorang
tidak dapat dimintakan pertanggungjawaban
dan dijatuhi pidana jika tidak melakukan
kesalahan.
Yang menarik untuk dikaji dan dianalisis
dalam putusan pemidanaan terhadap
Notaris San Smith tersebut antara lain dasar
pertimbangan hukum yang dipakai baik oleh
Judex Factie maupun Judex Yuris, khususnya
perbuatan memasukkan keterangan palsu
dalam akta otentik sebagai tindak pidana
pemalsuan akta otentik yang dilakukan
Notaris, dan telah memperoleh kekuatan
hukum tetap dan juga penerapan pasal-pasal
yang terhadap tindak pidana tersebut.
B. Metode Penelitian
Dalam penulisan tesis ini dipakai konsep
hukum yang ke-3 yaitu Hukum adalah apa
yang diputuskan oleh hakim in concreto
dan tersistematis sebagai Judge Made Law.
170
Penelitian ini termasuk kedalam jenis penelitian
doktrinal, sedangkan bentuk penelitian
deskriptif . Analisis berdasarkan logika
deduksi. Data Sekunder, meliputi bahan-bahan
hukum primer dan sekunder. Dalam penelitian
ini pendekatan yang dipergunakan adalah
pendekatan perundang-undangan (statute
approach) yaitu pendekatan dilakukan dengan
menelaah semua undang-undang dan regulasi
yang bersangkut paut dengan isu hukum yang
ditangani, dan pendekatan kasus (The Case
Approach) yaitu pendekatan yang dilakukan
dengan cara melakukan telaah terhadap kasus
yang berkaitan dengan isu yang dihadapi
yang telah menjadi putusan pengadilan yang
mempunyai kekuatan hukum tetap. Teknik
pengumpulan data yang digunakan dalam
penelitian hukum ini adalah inventarisasi
data sekunder yang berupa bahan-bahan
hukum yang ada. Memakai logika deduksi
Analisis data dengan logika deduksi, dengan
memperhatikan konsep hukum sebagai normanorma positif di dalam sistem perundangundangan nasional.
C. Hasil Penelitian dan Pembahasan
Kasus ini bermula dari adanya kesepakatan
jual beli antara Ir. Dulang Martapa dengan
Alwijaya atas 17 (tujuh belas) kavling tanah,
HGB atas nama PT. Ira Widya Utama, serta
sebidang tanah seluas 4.269,66 m 2 (meter
persegi), dalam Akta Perjanjian Pendahuluan
Untuk Jual Beli Nomor 138, dihadapan Notaris
Roosmidar SH., pada tanggal 29 Mei 2008.
Akta tersebut memuat batas tanah yang akan
dijual, uang panjar (uang muka), harga tanah,
dan hak-hak serta kewajiban penjual dan
pembeli, serta dilampirkan gambar Site Plan
yang distabilo (ditandai) sebagai petunjuk
(Peta) agar tidak keliru dengan batas-batas
yang akan dialihkan dari penjual (Ir. Dulang
Martapa) kepada pembeli (Alwijaya).
Agus Priono. Analisis Putusan Hakim Terhadap Tindak Pidana Turut Serta Memalsukan ...
Site Plan yang telah disepakati merupakan
bagian yang tidak terpisahkan Akta Perjanjian
Pendahuluan Untuk Jual Beli Nomor 138,
dan disepakati juga untuk harga 17 (tujuh
belas) kavling tanah seluas 19.210 m2 (meter
persegi) dengan harga sebesar Rp.1.562.175,/ m2 (meter persegi) dengan jumlah harga
keseluruhan sebesar Rp. 29.989.073.475 / m2
(meter persegi), sehingga total harga adalah
sebesar Rp. 33.191.318.475,-. dan dengan
ditandatangani Akta Perjanjian Pendahuluan
Untuk Jual Beli Nomor 138 pada tanggal
29 Mei 2008 maka si Penjual (Ir. Dulang
Martapa) menerima uang muka sebesar Rp.
2.000.000.000,- (dua milyar rupiah).
Berdalih untuk menindaklanjuti Akta
Perjanjian Pendahuluan Auntuk Jual Beli
Nomor 138 Tanggal 29 Mei 2008 tersebut, Ir.
Dulang Martapa diminta datang oleh Tonny
Wijaya ke Notaris San Smith, SH. Di tempat
dan di hadapan Notaris San Smith terjadi
kesepakatan untuk melakukan dan membuat
Akta Pengikatan Diri Untuk Melakukan Jual
Beli dengan Akta Nomor 165 yang isinya sama
dengan Akta Perjanjian Pendahuluan Jual Beli
Nomor 138 yang dibuat dihadapan Notaris
Roosmidar, SH., baik mengenai luas tanah,
batas tanah, harga tanah, kewajiban dan hak
serta cara pembayaran, yang berbeda dalam
Akta Nomor 165 ini adalah Pembeli atas nama
Tonny Wijaya (dahulunya Alwijaya).
Selanjutnya Terdakwa (Notaris) yang
diminta untuk membuat Akta Pengikatan
Diri Untuk Melakukan Jual Beli Nomor 165
telah bersengkongkol dengan Tonny Wijaya
untuk menempatkan Site Plan/gambar lokasi
tanah yang tidak identik/tidak sama dengan
yang telah disepakati dalam Akta Perjanjian
Pendahuluan untuk Jual Beli Nomor 138. Hal
tersebut menimbulkan kerugian pihak Penjual
(Ir. Dulang Martapa) yaitu adanya selisih luas
tanah seluas 276,34 m2 (meter persegi), dimana
dalam akta nomor 138 seluas 4.269,66 m2
(meter persegi), sedangkan dalam akta nomor
165 seluas 4.546 m2 (meter persegi), yaitu
dengan cara merubah tanda atau petunjuk
dengan stabilo warna kuning pada sisi utara
kavling BHR 51 s/d 57 dan sisi timur kavling
BHR Nomor 58 s/d 59 (hasil pemeriksaan
laboratorium kriminalistik Nomor Lab. 3686/
DTF/IX/2009, tanggal 07 September 2009).
Terdakwa/Notaris San Smith didakwa
melakukan tindak pidana turut serta atau
turut melakukan dengan sengaja memasukkan
keterangan palsu kedalam suatu akta otentik
mengenai suatu hal yang kebenarannya harus
dinyatakan oleh akta itu dengan maksud
untuk memakai atau menyuruh orang lain
memakai akta itu seolah-olah keterangan
itu sesuai dengan kebenarannya. Perbuatan
melawan hukum tersebut dilakukan dengan
cara merubah Site Plan atau gambar lokasi
tanah yang tidak identik atau tidak sama
dengan yang telah disepakati sebelumnya
sesuai dengan akta terdahulu yang dibuat
oleh Notaris Roosmidar, khususnya mengenai
luas tanah yang diperjanjikan itu (dari luas
tanah 4.269,66 m2 (meter persegi) dirubah
menjadi seluas 4.546 m 2 (meter persegi),
akibatnya ada pihak lain (penjual) yang
dirugikan seluas 276,34 m2 (meter persegi).
Penjual telah memberitahukan dan meminta
Terdakwa untuk merubah kembali/membuat
site plan yang asli, namun tidak dikabulkan
oleh Terdakwa. Terdakwa didakwa Jaksa
Penuntut Umun (JPU) dalam dakwaan Primer
dan diancam pidana sebagai mana diatur
dalam Pasal 266 ayat (1) jo Pasal 55 ayat (1)
ke 1 KUHP.
Putusan Pengadilan Negeri Medan Nomor
3036/PID.B/2009/PN Mdn, Tanggal 04
Januari 2010, amar putusan sebagai berikut :
1. Menyatakan Terdakwa San Smith,
SH., tersebut telah terbukti secara sah
dan meyakinkan bersalah melakukan
tindak pidana Turut Serta menyuruh
menempatkan keterangan palsu ke dalam
suatu akta otentik;
2. Menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa
San Smith, SH., tersebut oleh karena itu
171
Jurnal Pasca Sarjana Hukum UNS Vol III No. 2 Juli-Desember 2015
dengan pidana penjara selama 1 (satu)
tahun;
3. Menetapkan lamanya Terdakwa ditahan
dikurangkan seluruhnya dari pidana yang
dijatuhkan;
4. Menetapkan Terdakwa tetap ditahan;
5. Menyatakan barang bukti berupa : Akta
Perjanjian Jual Beli 165 dengan lampiran
lembar SITE PLAN dikembalikan kepada
yang berhak melalui Majelis Pengawas
Daerah Notaris Kota Medan;
6. Membebankan kepada Terdakwa membayar biaya perkara sebesar Rp. 1.000,(seribu rupiah).
Putusan Pengadilan Tinggi Medan Nomor:
82/PID/2010/PT MDN, Tanggal 25 Februari
2010, amar putusan sebagai berikut:
1. Menerima permintaan banding dari Kuasa
Hukum Terdakwa dan Jaksa Penuntut
Umum pada Kejaksaan Negeri Medan
tersebut;
2. Mengubah Putusan Pengadilan Negeri
Medan Nomor : 3036/Pid.B/2009/PN
Mdn, tanggal 04 Januari 2010, yang
dimintakan banding tersebut, sehingga
amar selengkapnya berbunyi sebagai
berikut :
a. Menyatakan Terdakwa San Smith,
SH., tersebut telah terbukti secara sah
dan meyakinkan bersalah melakukan
tindak pidana Turut serta menyuruh
menempatkan keterangan palsu ke
dalam suatu akta otentik;
b. Menjatuhkan pidana oleh karena itu
terhadap Terdakwa dengan pidana
penjara selama 2 (dua) tahun;
c. Memer intahkan agar lam anya
Terdakwa ditahan dikurangkan
seluruhnya dari lamanya pidana yang
dijatuhkan;
d. Menetapkan supaya Terdakwa tetap
ditahan;
e. Memerintahkan agar barang bukti
berupa : Akta Perjanjian Jual Beli
172
165 dengan lampiran tanda terima
f.
SITE PLAN dikembalikan kepada
yang berhak melalui Majelis Pengawas
Daerah Notaris Kota Medan;
M e m b e b a n i Te r d a k w a u n t uk
membayar biaya perkara pada kedua
tingkat peradilan yang untuk tingkat
banding sebesar Rp. 2.000,- (dua ribu
rupiah).
Putusan Mahkamah Agung RI Nomor
1099 K/PID/2010, tanggal 29 Juni 2010, amar
putusan selengkapnya sebagai berikut :
1. Menolak permohonan kasasi dari Pemohon
Kasasi : San Smith, SH., tersebut;
2. Membebankan Pemohon Kasasi/Terdakwa
tersebut membayar biaya perkara dalam
tingkat kasasi sebesar Rp. 2.500,- (dua
ribu lima ratus rupiah).
Pertimbangan hukum Mahkamah Agung
menolak permohonan kasasi Terdakwa
(Notaris San Smith, SH.) antara lain : bahwa
judex facti (Pengadilan Negeri Medan dan
PengadilanTinggi Medan), tidak salah/
tidak bertentangan dengan hukum dan/atau
undang-undang dalam menerapkan hukum
karena telah mempertimbangkan hal-hal
yang relevan secara yuridis dengan benar
yaitu turut serta menyuruh menempatkan
keterangan palsu ke dalam akta otentik yang
dilakukan Terdakwa merupakan perbuatan
pidana. Mengenai alasan penilaian hasil
pembuktian yang bersifat penghargaan tentang
suatu kenyataan tidak dapat dipertimbangkan
dalam pemeriksaan kasasi. Hal ini disebabkan
pada pemeriksaan tingkat kasasi yang
dipertimbangkan antara lain tentang adanya
kelalaian dalam penerapan hukum, adanya
pelanggaran hukum yang berlaku, adanya
kelalaian dalam memenuhi syarat-syarat
yang diwajibkan oleh peraturan perundangundangan yang mengancam kelalaian itu
dengan batalnya putusan yang bersangkutan
atau bila pengadilan tidak berwenang atau
melampaui batas wewenangnya sebagaimana
Agus Priono. Analisis Putusan Hakim Terhadap Tindak Pidana Turut Serta Memalsukan ...
dimaksud dalam Pasal 30 Undang-Undang
Nomor 14 Tahun 1985 jo Undang-Undang
Nomor 5 Tahun 2004 dan perubahan kedua
dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009
Tentang Pokok-Pokok Kekuasaan Kehakiman.
Dasar pertimbangan hukum yang dipakai
oleh hakim dalam menjatuhkan putusan
pidana / pemidanaan terhadap Notaris San
Smith, SH., yaitu mengacu pada ketentuan
Pasal 266 ayat (1) KUHP yang menyebutkan
sebagai berikut : Dasar pertimbangan hukum
yang dipakai oleh hakim dalam menjatuhkan
sanksi pidana/pemidanaan terhadap Notaris
San Smith, SH., sebagai berikut : unsurunsur dalam ketentuan pasal ini terpenuhi
yaitu dengan cara Terdakwa bersama-sama
(turut serta) dengan Tony Wijaya untuk
bersengkongkol membuat akta otentik yang
isinya seolah-olah sesuai dengan kenyataan/
kebenaraan. Perbuatan ini dilakukan dengan
sengaja dengan maksud akta tersebut akan
dapat dipergunakan (Tony Wijaya) untuk
memperoleh luas tanah yang tidak sesuai
dengan kesepakatan/ikatan jual beli sehingga
merugikan orang lain sebagaimana ketentuan
Pasal Pasal 266 ayat (1) KUHP.
Penerapan saksi pidana / pemidanaan
dalam Putusan Mahkamah Agung Nomor
1099 K/PID/2010, tanggal 29 Juni 2010
sudah sesuai dengan ketentuan Pasal 266
KUHP dan Undang-Undang Jabatan Notaris.
Pertimbangan hukum Mahkamah Agung
menolak permohonan kasasi Terdakwa
(Notaris San Smith, SH.) antara lain : bahwa
judex facti (Pengadilan Negeri Medan dan
Pengadilan Tinggi Medan), tidak salah/
tidak bertentangan dengan hukum dan/atau
undang-undang dalam menerapkan hukum
karena telah mempertimbangkan hal-hal
yang relevan secara yuridis dengan benar
yaitu turut serta menyuruh menempatkan
keterangan palsu ke dalam akta otentik yang
dilakukan Terdakwa merupakan perbuatan
pidana. Mengenai alasan penilaian hasil
pembuktian yang bersifat penghargaan tentang
suatu kenyataan tidak dapat dipertimbangkan
dalam pemeriksaan kasasi. Hal ini disebabkan
pada pemeriksaan tingkat kasasi yang
dipertimbangkan antara lain tentang adanya
kelalaian dalam penerapan hukum, adanya
pelanggaran hukum yang berlaku, adanya
kelalaian dalam memenuhi syarat-syarat
yang diwajibkan oleh peraturan perundangundangan yang mengancam kelalaian itu
dengan batalnya putusan yang bersangkutan
atau bila pengadilan tidak berwenang atau
melampaui batas wewenangnya sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 30 Undang-Undang
Nomor 14 Tahun 1985 jo Undang-Undang
Nomor 5 Tahun 2004 dan Perubahan Kedua
dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009
Tentang Pokok-Pokok Kekuasaan Kehakiman.
Penerapan sanksi sebagai tanggung
jawab hukum Notaris dalam menjalankan
profesinya digolongkan dalam 2 (dua) bentuk
yaitu: (1) Tanggung jawab hukum Perdata
yaitu apabila Notaris melakukan kesalahan
karena ingkar janji sebagaimana diatur dalam
ketentuan Pasal 1234 KUHPerdata atau
perbuatan melanggar hukum sebagaimana
yang ditentukan Pasal 1365 KUHPerdata; (2)
Tanggung jawab Hukum Pidana bilamana
Notaris telah melakukan perbuatan hukum
yang dilarang oleh undang-undang atau
melakukan kesalahan/perbuatan melawan
hukum baik karena sengaja atau lalai
menimbulkan kerugian pihak lain.
Dalam aturan hukum tertentu, disamping
dijatuhi sanksi administratif, juga dapat
dijatuhi sanksi pidana (secara kumulatif)
yang bersifat comdennatoir (punitif) atau
menghukum. Oleh karena UUJN tidak
mengatur sanksi pidana untuk Notaris yang
melanggar UUJN, sehingga apabila terjadi
pelanggaran hukum pidana maka terhadap
Notaris tunduk dan berlaku tindak pidana
umum yang diatur dalam Kitab UndangUndang Hukum Pidana (KUHP). Apabila
Notaris melakukan penyimpangan sebuah
akta yang dibuatnya sehingga mnimbulkan
173
Jurnal Pasca Sarjana Hukum UNS Vol III No. 2 Juli-Desember 2015
suatu perkara pidana, maka Notaris harus
mempertanggungjawabkan secara pidana
apa yang telah dilakukannya tersebut.
Pertanggungjawaban pidana lahir dengan
diteruskannya celaan yang obyektif terhadap
perbuatan yang dinyatakan sebagai tindak
pidana berdasarkan Hukum Pidana yang
berlaku dan secara subyektif kepada pelaku
yang memenuhi persyaratan untuk dapat
dikenakan pidana karena perbuatannya itu.
Pada prinsipnya penggunaan sanksi
pidana/pemidanaan itu merupakan sanksi
terakhir (ultimum remidium), apabila
peringatan/sanksi yang diberikan sebagai
upaya pencegahan tidak dapat menanggulangi/
mengatasi suatu perbuatan melawan hukum
baik yang dilakukan secara sengaja (dolus)
maupun karena kelalaian (culpa). Tanggung
jawab Notaris secara pidana atas akta yang
dibuatnya tidak diatur dalam UUJN, namun
tanggung jawab Notaris secara pidana
dikenakan apabila Notaris melakukan
perbuatan pidana. Hal tersebut didasarkan
pada asas tidak dipidana jika tidak ada
kesalahan (actus non facit reum nisi mens sit
rea), artinya orang tidak mungkin diminta
pertanggungjawaban dan dijatuhi pidana jika
tidak melakukan kesalahan. Namun seseorang
yang melakukan perbuatan pidana belum tentu
dapat dipidana apabila dia tidak mempunyai
kesalahan.
Prosedur penerapan sanksi pidana berupa
putusan pengadilan yang telah mempunyai
kekuatan hukum yang amar putusannya
menghukum Notaris untuk menjalani
pidana tertentu sebagaimana putusan di atas,
menunjukkan pertanggungjawaban secara
pidana terhadap Notaris yang melakukan
perbuatan melawan hukum dapat dijatuhi
sanksi pidana berupa pidana penjara
sebagaimana di atur dalam Kitab UndangUndang Hukum Pidana (KUHP). Dalam
penjatuhan sanksi terhadap Notaris harus
memenuhi rumusan perbuatan itu dilarang
oleh undang-undang, adanya kerugian yang
174
ditimbulkan dari perbuatan itu, dan perbuatan
tersebut harus bersifat melawan hukum baik
formil maupun materiil.
Dalam penerapan ketentuan Pasal 266
ayat (1) KUHP, tidak ada rumusan mengenai
orang yang disuruh untuk memasukkan
keterangan palsu tersebut, tetapi dapat
diketahui dan secara implisit terkandung
dari unsur/kalimat “ke dalam akta otentik“,
yang mengandung arti bahwa orang tersebut
adalah si pembuat akta otentik. Ini berarti
yang dimaksud dalam keputusan ini adalah
Notaris merupakan salah satu dari pejabat
umum yang berwenang membuat akta
otentik. Notaris dalam pembuatan akta otentik
adalah memenuhi permintaan orang/pihak
yang menghadap, jadi orang yang meminta
inilah yang dimaksud orang yang disuruh
memasukkan keterangan palsu.
Di sisi lain, ada pendapat yang berbeda
yang menyatakan bahwa orang yang
menghadap kepada Notaris memberikan
keterangan-keterangan untuk dicantumkannya
di dalam akta otentik, padahal keterangan
yang diberikan tersebut adalah keterangan
yang tidak benar. Dalam hal ini Notaris tidak
melakukan pemalsuan sebagaimana Pasal 266
ayat (1) KUHP, karena seseorang menghadap
Notaris dan memberikan keterangan tentang
hal-hal yang bertentangan dengan kebenaran.
Jadi disini Notaris itu hanya membuat akta
dan mencantumkan dalam akta apa yang
diberitahukan penghadap. Oleh karena
itu penghadap tidak mungkin melakukan
perbuatan membujuk (Pasal 55 ayat (1)
ke 2 KUHP) atau memberi bantuan (Pasal
56 KUHP) karena tidak ada kejahatan
yang dilakukan Notaris. Notaris tidak
mengetahui bahwa keterangan-keterangan
yang dimasukkan dalam akta itu adalah tidak
benar (H.A.K. H Moch. Anwar, 1982 : 197).
Dalam prespektif Undang-Undang
Jabatan Notaris (UUJN), maka perbuatan
yang dilakukan oleh Notaris tersebut dimulai
Agus Priono. Analisis Putusan Hakim Terhadap Tindak Pidana Turut Serta Memalsukan ...
dari tidak diperhatikannya aturan hukum/
perundangan-undangan yang berlaku yang
terkait dengan tata cara pembuatan akta
otentik sebagaimana yang diisyaratkan dalam
ketentuan Undang-Undang Jabatan Notaris
dan pelanggaran terhadap Kode Etik Notaris.
Ketentuan yang dimaksud adalah kewajiban
dan larangan dalam ketentuan Pasal 16 ayat
(1), ayat (2), ayat (3) dan Pasal 17 serta Kode
Etik Notaris dalam Pasal 3 dan Pasal 4. Suatu
perbuatan melawan hukum pidana yang
dilakukan oleh Notaris dalam jabatannya,
memang selalu didahului dengan pelanggaranpelanggaran terhadap kewajiban dan larangan
dan kode etik baik yang tercantum dalam
ketentuan Pasal 84 dan Pasal 85 UUJN dan
Pasal 3 dan Pasal 4 Kode Etik Notaris.
Hal ini dapat dilihat dari perkara/kasus
Notaris San Smith, SH., perbuatan melawan
hukum pidana yang dilakukan tersebut
didahului dengan pelanggaran terhadap
kewajiban yang tercantum dalam UndangUndang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan
Notaris antara lain : (1) Pasal 16 ayat (1) huruf
a yaitu bertindak jujur, saksama, mandiri, tidak
berpihak dan menjaga kepentingan pihak yang
terkait dalam perbuatan hukum. (2) Pasal
48 ayat (1) yaitu isi akta tidak boleh diubah
atau ditambah, baik berupa penulisan tindih,
penyisipan, pencoretan atau penghapusan dan
menggantinya dengan yang lain. Disamping
itu melakukan pelanggaran terhadap Kode
Etik Notaris Pasal 3 angka (1) dan angka (4)
dan Pasal 4 angka 15.
Dalam prespektif Undang-Undang Jabatan
Notaris (UUJN), sebenarnya perbuatanperbuatan yang telah dilakukan baik oleh
Notaris San Smith, SH., diatur dengan jelas
dalam ketentuan Pasal 84 dan disebutkan
sebagai suatu bentuk pelanggaran, sedangkan
sanksi yang dijatuhkan terhadap pelanggaran
tersebut diatur pada ketentuan Pasal 85 UUJN
tersebut antara lain teguran lisan sampai
dengan pemberhentian dengan tidak hormat
sebagai Notaris. Undang-Undang Jabatan
Notaris juga mengatur mengenai sanksi
terhadap akta otentik yang dibuat oleh Notaris
tersebut diberi sanksi tidak memiliki kekuatan
otentik atau hanya diakui mempunyai kekuatan
sebagai akta di bawah tangan.
Terjadinya pemidanaan/penjatuhan
sanksi pidana terhadap Notaris yang dalam
jabatannya berwenang membuat akta, tanpa
memperhatikan aturan hukum yang berkaitan
dengan tata cara pembuatan akta sebagaimana
diatur dalam UUJN, sebenarnya telah terjadi
kesalahpahaman atau bentuk penafsiran
terhadap kedudukan dan kewenangan seorang
Notaris dalam pembuatan akta otentik sebagai
alat bukti dalam hukum perdata. Bisa saja
terjadi pelanggaran atau perbuatan melawan
hukum yang dilakukan oleh Notaris tersebut
memenuhi unsur-unsur dalam suatu tindak
pidana, namun perbuatan yang dilakukan itu
bukan merupakan pelanggaran berdasarkan
UUJN setelah melalui prosedur mekanisme
pemeriksaan dan penilaian Majelis Pengawas
Daerah (MPD), Majelis Pengawas Wilayah
(MPW) dan Majelis Pengawas Pusat (MPP).
Apalagi dalam Undang-Undang Jabatan
Notaris (UUJN) maupun Kode Etik Notaris
tidak menyebutkan secara tegas dan jelas
khususnya mengenai bagaimana sanksi
yang dijatuhkan kepada Notaris, yang
telah dijatuhi pemidanaan melalui putusan
hakim yang telah berkekuatan hukum tetap.
Hal ini memungkinkan terjadinya konflik
kepentingan mengingat pada putusan hakim
tersebut tidak terdapat penjatuhan sanksi
pidana tambahan atau dalam prateknya
putusan yang menjatuhkan sanksi pidana/
pemidanaan terhadap Notaris yang telah
terbukti melakukan perbuatan melawan
hukum tidak diketemukan adanya sanksi
pidana tambahan berupa pencabutan hak
seorang Notaris sebagai seorang pejabat
umum yang berwenang membuat akta otentik.
Sebenarnya ukuran/batasan ada/tidaknya
perbuatan melawan hukum oleh Notaris terse-
175
Jurnal Pasca Sarjana Hukum UNS Vol III No. 2 Juli-Desember 2015
but dimulai dengan pemeriksaan ada/tidaknya
pelanggaran terhadap ketentuan yang diatur
dalam UUJN. Hal tersebut dapat dianggap
penting karena ada kemungkinan menurut
ketentuan UUJN bahwa akta yang bersangkutan telah sesuai dengan cara/prosedur UUJN
tetapi disisi yang lain disebutkan perbuatan/
pelanggaran tersebut merupakan perbuatan
yang memenuhi rumusan suatu tindak pidana
oleh aparat penegak hukum. Batasan-batasan
yang dimaksudkan dalam penjatuhan pidana
kepada Notaris antara lain sebagai berikut :
(1) ada tindakan hukum dari Notaris terhadap
aspek formal akta yang sengaja, penuh kesadaran dan keinsyafan serta direncanakan, bahwa
akta yang dibuat dihadapan Notaris atau oleh
Notaris bersama-sama (sepakat) untuk dijadikan dasar untuk melakukan tindak pidana; (2)
ada tindakan hukum dari Notaris dalam membuat akta di hadapan atau oleh Notaris yang
jika diukur berdasarkan UUJN tidak sesuai
dengan UUJN; (3) tindakan Notaris tersebut
tidak sesuai menurut instansi yang berwenang
untuk menilai tindakan suatu Notaris, dalam
hal ini MPN.
Penjatuhan sanksi terhadap Notaris dapat
dilakukan sepanjang batasan-batasan tersebut
diatas dilanggar, artinya di samping memenuhi
rumusan pelanggaran yang tersebut dalam
UUJN dan kode etik jabatan Notaris, juga harus
memenuhi rumusan dalam Kitab UndangUndang Hukum Pidana (KUHP). Putusan
tersebut diatas menunjukkan seorang Notaris
hanya dibebankan pertanggungjawaban
secara pidana terhadap perbuatan melawan
hukum yang dilakukannya, tidak disebutkan
pertanggungjawabkan secara perdata berupa
penggantian kerugian yang diderita oleh
para pihak maupun pertanggungjawaban
administrasi. Namun seharusnya pemberian
ganti rugi juga sangat perlu diberikan kepada
pihak-pihak yang menderita kerugian sebagai
bentuk rasa adil dan perlindungan hukum
akibat adanya tindak pidana yang dilakukan
oleh Notaris dalam pembuatan akta otentik.
176
Implikasi yang dapat ditimbulkan sebagai
berikut : Penjatuhan pidana/pemidanaan kepada
Notaris akan berdampak pada berkurangnya
kepercayaan masyarakat kepada jabatan
Notaris, yang dikhawatirkan menimbulkan
ketidakpastian hukum yang mempengaruhi
kinerja Notaris secara umum. Prosedur
penerapan sanksi pidana berupa putusan
pengadilan yang telah mempunyai kekuatan
hukum yang amar putusannya menghukum
Notaris untuk menjalani pidana tertentu
sebagaimana putusan di atas, menunjukkan
pertanggungjawaban secara pidana terhadap
Notaris yang melakukan perbuatan melawan
hukum dapat dijatuhi sanksi pidana berupa
pidana penjara sebagaimana di atur dalam
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
(KUHP).
D. Simpulan
Dari hasil penelitian dan pembahasan yang
telah dilakukan penulis dapat disimpulkan
antara lain sebagai berikut : (1) Dasar
pertimbangan hukum yang dipakai oleh
hakim dalam menjatuhkan sanksi pidana/
pemidanaan terhadap Notaris San Smith, SH.,
sebagai berikut : (a) Terhadap terdakwa San
Smith : Menurut pertimbangan hakim , unsurunsur dalam ketentuan pasal ini terpenuhi
yaitu dengan cara Terdakwa bersama-sama
(turut serta) dengan Tony Wijaya untuk
bersengkongkol membuat akta otentik yang
isinya seolah-olah sesuai dengan kenyataan/
kebenaraan. Perbuatan ini dilakukan dengan
sengaja dengan maksud akta tersebut akan
dapat dipergunakan (Tony Wijaya) untuk
memperoleh luas tanah yang tidak sesuai
dengan kesepakatan/ikatan jual beli sehingga
merugikan orang lain sebagaimana ketentuan
Pasal 266 ayat (1) KUHP. (b) Unsur-unsur
dalam ketentuan pasal ini terpenuhi dengan cara
Terdakwa bersama-sama (turut serta) dengan
Tony Wijaya untuk bersengkongkol membuat
akta otentik yang isinya seolah-olah sesuai
Agus Priono. Analisis Putusan Hakim Terhadap Tindak Pidana Turut Serta Memalsukan ...
dengan kenyataan/kebenaraan. Perbuatan ini
dilakukan dengan sengaja dengan maksud
akta tersebut akan dapat dipergunakan (Tony
Wijaya) untuk memperoleh luas tanah yang
tidak sesuai dengan kesepakatan/ikatan jual
beli sehingga merugikan orang lain dengan
cara merubah Site Plan tanah sehingga tidak
sesuai dengan yang sebenarnya. (2) Penerapan
saksi pidana/pemidanaan dalam Putusan
Mahkamah Agung Nomor 1099 K/PID/2010,
tanggal 29 Juni 2010 sudah sesuai dengan
ketentuan Pasal 266 KUHP dan UndangUndang Jabatan Notaris. Pertimbangan hukum
Mahkamah Agung menolak permohonan
kasasi Terdakwa (Notaris San Smith, SH.)
antara lain : bahwa judex facti (Pengadilan
Negeri Medan dan Pengadilan Tinggi Medan),
tidak salah/tidak bertentangan dengan hukum
dan/atau undang-undang dalam menerapkan
hukum karena telah mempertimbangkan halhal yang relevan secara yuridis dengan benar
yaitu turut serta menyuruh menempatkan
keterangan palsu ke dalam akta otentik yang
dilakukan Terdakwa merupakan perbuatan
pidana. Mengenai alasan penilaian hasil
pembuktian yang bersifat penghargaan tentang
suatu kenyataan tidak dapat dipertimbangkan
dalam pemeriksaan kasasi. Hal ini disebabkan
pada pemeriksaan tingkat kasasi yang
dipertimbangkan antara lain tentang adanya
kelalaian dalam penerapan hukum, adanya
pelanggaran hukum yang berlaku, adanya
kelalaian dalam memenuhi syarat-syarat
yang diwajibkan oleh peraturan perundangundangan yang mengancam kelalaian itu
dengan batalnya putusan yang bersangkutan
atau bila pengadilan tidak berwenang atau
melampaui batas wewenangnya sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 30 Undang-Undang
Nomor 14 Tahun 1985 jo Undang-Undang
Nomor 5 Tahun 2004 dan Perubahan Kedua
dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009
Tentang Pokok-Pokok Kekuasaan Kehakiman.
E. Saran
Dari hasil penelitian yang telah diperoleh,
maka dapat diberikan rekomendasi berupa
saran-saran yang relevan antara lain sebagai
berikut : (1) Perlu adanya revisi berupa
penambahan ketentuan/pasal di dalam
UUJN yang mengatur khusus tentang jenis/
tindak pidana sebagaimana diatur dalam Kitab
Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).
Hal ini diperlukan agar supaya Notaris dapat
mengetahui dengan jelas mengenai bentuk
pelanggaran administrasi atau sebagai suatu
pelanggaran pidana.(2)Diperlukan ketentuan
yang mengatur dengan jelas kedudukan
Notaris yang terkena sanksi pidana yang
berkekuatan hukum tetap, hal ini mengingat
dalam menjaga kepercayaan masyarakat
terhadap citra Notaris. (3) Perlu adanya
tambahan pengetahuan dan pemahaman
penerapan sanksi pidana bagi Notaris melalui
penataran , pelatihan dan sebagainya.
F. Persantunan
Dalam kesempatan ini, disampaikan
ucapan terima kasih kepada semua pihak
yang telah memberi dukungan dan semangat
untuk menyelesaikan penulisan jurnal hukum
ini, yaitu kepada Bapak Dr. WT. Novianto,
SH., M.Hum., dan Ibu Noor Saptanti, SH.,
MH., selaku selaku Pembimbing yang telah
meluangkan waktunya untuk berdiskusi,
memberikan bimbingan, arahan, kemerdekaan
berpikir, memberikan catatan-catatan kritis
dan motivasi yang tak pernah putus dalam
penyelesaian penelitian tesis dan jurnal ini
serta telah menjadi inspirasi bagi penulis;
177
Jurnal Pasca Sarjana Hukum UNS Vol III No. 2 Juli-Desember 2015
Daftar Pustaka
Abdul Ghofur Anshori, 2009, Lembaga
Kenotariatan Indonesia; Perspektif
Hukum dan Etika, UII Press, Yogyakarta.
H.A.K. H Moch. Anwar, 1982, Hukum Pidana
Bagian Khusus (KUHP Buku II) Jilid 1,
Alumni, Bandung.
Liliana Tedjosaputro, 1991, Mal Praktek
Notaris dan Hukum Pidana, CV. Agung,
Semarang.
Maria S.W. Sumardjono, 2001, Kebijakan
Pertanahan: Antara Regulasi dan
Implementasi . Cetakan Pertama,
Penerbit Buku Kompas, Jakarta.
178
Suen Herief dan Marsudi Triatmodjo, 2010,
Tanggung Jawab Sosial Notaris Dalam
Menumbuhkan Kesadaran Hukum
Masyarakat (Pasca lahirnya UndangUndang Nomor 30 Tahun 2004), Jurnal
Penelitian Hukum Gadjah Mada Volume
III, Yogyakarta.
Putusan Pengadilan Negeri Medan Nomor
3036/PID.B/2009/PN Mdn. Pengadilan
Tinggi Nomor 82/PID/2010/PT MDN.
Putusan Mahkamah Agung Nomor 1099 K/
PID/2010.
Download