54 BAB IV ANALISIS PERAN GURU DALAM PROSES

advertisement
BAB IV
ANALISIS PERAN GURU DALAM PROSES PENGEMBANGAN KECERDASAN
SPIRITUAL SISWA DI MI WALISONGO PEKAJANGAN
Peran Guru dalam Proses Pengembangan Kecerdasan Spiritual siswa di MI Walisongo
Pekajangan
Kecerdasan Spiritual sudah seharusnya menjadi fokus penting yang ditujukan
pada generasi muda dan harus ditanamkan sejak dini bahkan pengembangan
kecerdasan spiritual dinilai tidak kalah penting dengan kecerdasan yang lain.
Kecerdasan spiritual dianggap penting karena kecerdasan ini merupakan kecerdasan
jiwa dimana seseorang dapat mengatur hidupnya menjadi lebih memiliki makna ,
dalam kecerdasan ini juga dapat terbentuk moral dan spiritualitas seseorang yang
luhur.
Kemrosotan moral serta akhlak yang kini semakin memprihatinkan di
kalangan pelajar yang ditandai maraknya kriminalitas yang dilakukan oleh anak di
usia pelajar, hal tersebut terjadi akibat ketidakmampuan siswa dalam menyikapi hidup
agar lebih bermakna, hal tersebut sudah semestinya diminimalisir dengan pembinaan
dan pengembangan nilai-nilai spiritual siswa, pengembangan kecerdasan spiritual
siswa tersebut dipengaruhi oleh sebuah proses pendidikan mulai dari pendidikan
dalam keluarga, lingkungan bermain, ataupun lingkungan sekolah. Dalam sebuah
pendidikan, proses belajar itu bersifat berkelanjutan tidak secara langsung ataupun
instan. Pendidikan bukan hanya memiliki tujuan akademis saja tapi juga menyangkut
sosial religius siswanya guna peningkatan aktualisasi diri dalam memaknai hidup
secara lebih luas.
54
55
Faktor utama yang menentukan kualitas sebuah pendidikan adalah guru. Sosok
guru tidak hanya menjadi sosok pengajar saja tapi guru merupakan pendidik yang
mendidik siswanya kearah pembentukan kepribadian yang lebih luhur. Seorang guru
harus memberikan keteladanan yang baik bagi peserta didiknya. Menampakan dirinya
sebagai sosok guru sejati yang benar-benar dapat digugu dan ditiru, sehingga tidak
muncul keraguan Siswa berkenaan dengan guru yang menjadi teladan bagi mereka.
Sikap keteladanan guru dalam menanamkan nilai religius maupun spiritual kepada
Siswanya akan memberikan pengaruh posotif yang mengarah pada kepribadian
mereka.
Kecerdasan Spiritual bukan merupakan kecerdasan yang permanen dalam
artian kecerdasan ini dalam pembinaan dan pengembangannya perlu latihan yang
rutin dan berkelanjutan sehingga membentuk menjadi kebiasaan yang merujuk pada
pribadi siswa yang lebih menghargai dan memaknai kehidupan serta bersifat religius,
yang senantiasa tertanam dalam hati. Hal ini membutuhkan kerjasama dari berbagai
pihak baik itu orang tua, masyarakat, maupun guru guna terbentuk pribadi yang
berakhlak mulia.
Dalam UU Sistem Pendidikan Nasional yang dsahkan bulan juli 2003 bab X
pasal 36 ayat 3 tertulis bahwa kurikulum disusun dengan jenjang pendidikan dalam
kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan memperhatikan diantaranya:
a. Peningkatan Iman dan Takwa
b. Peningkatan Akhlak mulia
c. Peningkatan Potensi, kecerdasan, dan minat peserta didik
d. Keragaman potensi daerah dan lingkungan
e. Tuntutan pembangunan daerah dan nasional
f. Perkembangan ilmu Pengetahuan, teknologi dan seni
56
g. Agama
Dalam Undang-undang diatas walaupun tidak secara jelas menyatakan tentang
kecerdasan Spiritual siswa tapi pada garis besarnya kurikulum yang dikehendaki oleh
pemerintah mengacu atau mengarah pada pembinaan kecerdasan spiritual itu sendiri.
Hal itu tertuang pada poin peningkatan Iman dan takwa serta peningkatan akhlak
mulia.
Mengenai Kecerdasan spiritual kepala sekolah Mi walisongo Pekajangan
berpendapat bahwa kecerdasan spiritual merupakan kecerdasan yang menyangkut
akhlak serta kepribadian siswa yang didalamnya berkenaan dengan moral, sikap dan
perilaku keberagamaan seseorang. Sementara Aminudin, S.Pd.I guru agama di Mi
walisongo pekajangan berpendapat bahwa kecerdasan spiritual merupakan kecerdasan
yang sangat penting, karena kecerdasan ini sebenarnya kecerdasan utama untuk
memperoleh kecerdasan yang lain. Kecerdasan spiritual adalah kecerdasan yang
didalamnya mengajarkan bagaimana seseorang berperilaku yang baik serta dapat
membawa diri seseorang kearah yang lebih baik dalam hal akhlak serta moralnya.1
Sementara itu peran terhadap perkembangan kecerdasan spiritual siswa
menurut Aminudin,.S.Pd.I tidak hanya semata-mata peran guru saja tapi juga
melibatkan orang tua siswa guna mencapai tujuan yang diharapkan yaitu
berkembangnya siswa dengan kecerdasan spiritual yang baik dan memiliki akhlak
yang luhur.2
Peran guru dalam mengembangkan kecerdasan siswa di MI Walisongo
Pekajangan sudah berjalan cukup maksimal hal tersebut ditandai dengan :
1
Wawancara kepala sekolah dan guru agama di MI walisongo pekajangan September 2015
2
Aminudin., S.Pd.I guru agama MI walisongo Pekajangan September 2015
57
a. Pemberian kewajiban pada siswa dalam hal ibadah kepada Allah swt sebagai
bentuk rasa syukur, seperti siswa diwajibkan shalat dhuha pada waktu sebelum
istirahat, siswa berkewajiban hafal juz amma dengan tingkatan masing-masing
sesuai jenjang kelas, siswa berkewajiban shalat berjamaah sebelum pulang
sekolah.
b. Menanamkan kepada siswa untuk memiliki pegangan yang kuat terhadap ajaran
Al-Qur’an dan Hadits, hal itu ditandai dengan pembelajaran yang agamis dengan
mengenal Al’qur’an dan hadits.
c. Guru menanamkan nilai moral yang di terapkan pada setiap kesempatannya, baik
dalam pembelajaran maupun diluar pembelajaran, dan hasil yang dicapai dalam
hal ini dapat terlihat dari perilaku siswa yang mayoritas memiliki akhlak yang
baik dan selalu menunjukan moralitas yang luhur.
d. Guru selalu memperhatikan perkembangan siswa dan perilaku siswa dalam
bersikap baik dalam pembelajaran maupun diluar pembelajaran.
e. Setiap guru dan staf di MI walisongo yang selalu berusaha menciptakan akhlak
yang baik bagi siswanya dengan perilaku hidup rukun sesuai ajaran agama. Hal ini
ditandai dengan kebijakan senyum, sapa, dan salam yang diaplikasikan melalui
salam-salaman antara guru dengan siswa dan antar sesama siswa sebelum jam
pelajaran dimulai setiap harinya.
f. Siswa dibekali pengalaman spiritual berupa kegiatan pendekatan diri kepada Allah
Swt melalui ziarah ke makam ulama maupun wali dan juga membaca dzikir dan
shalawat menjelang Ujian.
Namun peran guru dalam mengembangkan Kecerdasan Spiritual Siswa di MI
Walisongo pekajangan berjalan kurang maksimal yang disebabkan adanya kendalakendala, sebagai berikut:
58
1. Kurang atau terbatasnya waktu yang dimiliki seorang guru untuk dapat memantau
kegiatan siswa, sikap siswa, kepribadian maupun perkembangan yang dialami siswa ,
term
asuk didalamnya perkembangan kecerdasan spiritual siswanya.
2. Tuntutan nilai yang telah menjadi patokan utama dalam ujian membuat para guru
secara tidak langsung lebih memprioritaskan pada kecerdasan intelektualitas daripada
kecerdasan spiritual siswa. Diketahui bahwa sistem pendidikan Indonesia yang
dimulai tahun 2003 memberikan patokan nilai pada ujian akhir sehingga mau tidak
mau para guru berusaha keras untuk meraih prestasi kelulusan dan menghindari
jumlah ketidak lulusan siswa. Jadi guru cenderung memprioritaskan IQ daripada SQ.
3. Kecerdasan emosional dan spiritual merupakan kecerdasan yang tidak permanen
sehingga dalam pembinaannya tidak semudah kecerdasan intelektualitas, karena EQ
dan SQ merupakan kecerdasan yang berubah- ubah, terkadang mengalami kenaikan
tapi tidak jarang pula mengalami penurunan yang drastis.
4. Tidak adanya penilaian tertulis secara langsung mengenai sejauh mana kecerdasan
emosional dan spiritual siswa sehingga para guru hanya bisa memantau dan menilai
perkembangan SQ siswa melalui sikap mereka sehari hari dan mengadakan kerja
sama dan interaksi terhadap wali murid mengenai perkembangan karakter siswa.
5. Background pendidikan guru di MI walisongo yang belum semuanya sesuai dengan
fak nya.
Melihat dari kegiatan dan bentuk bimbingan guru di MI Walisongo Pekajangan
dapat di katakan bahwa peran guru terhadap proses pengembangan spiritual siswa di
MI Walisongo Pekajangan memiliki beberapa peran penting diantaranya:
59
a. Peran guru sebagai Fasilitator
Disini guru dapat memfasilitasi siswanya untuk dapat melaksanakan kegiatan yang
bersifat religi seperti siswa diarahkan untuk memanfaatkan waktu luang untuk
bertadarus dan melaksanakan sholat sunah dhuha. Hal ini tercermin ketika guru selalu
memimpin tadarus bersama dan memberikan pengertian agar siswanya senantiasa
khusyu’ dalam berdoa’a.
b. Peran guru sebagai Inspirator
Guru menjadi teladan dari kegiatan yang dilakukan oleh siswanya, guru dapat
memberikan tauladan ataupun contoh yang baik sehingga dapat menjadi inspirator
bagi siswanya. Hal ini tercermin ketika guru selalu lebih dulu berada dimasjid
daripada siswanya guna membimbing siswa untuk sholat dhuha berjamaah.
c. Peran guru sebagai Informator
Guru senantiasa memberikan masukan, pengarahan serta informasi yang jelas kepaa
siswanya untuk senantiasa melaksanakan ibadah fardhu maupun sunnah secara
seimbang. Hal ini tercermin ketika guru mencoba melakukan pengarahan ketika
menjelang shalat dhuha berjamaah dan ketika melaksanakan kegiatan ziarah, dimana
guru memberikan pengetahuan tentang makam siapa yang dijadikan tempat ziarah.
d. Peran guru sebagai pembimbing
Guru senantiasa menjadi sosok orang tua kedua ataupun orang tua di sekolah, dimana
guru harus memposisikan diri secara adil dan bijak serta menjadi pembimbing yang
dapat membimbing siswanya untuk selalu berperilaku baik.
Download