Bab 7 - Translators Cafe

advertisement
Bab 7
“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan..”
[Quran 110:1]
Sebagaimana telah dikisahkan sebelumnya, kedua suku Mekkah telah
menyetujui perjanjian Hudaibiya. Pihak yang terlibat dalam perjanjian adalah
suku Khuza’a yang merupakan kaum Muslimin dan Bani Bakr yang terdiri atas
kaum Quraish. Kedua suku ini sebenarnya memiliki dendam lama sejak era PraIslam, yang mana sedikit terlupakan selama beberapa tahun ini. Banyak pihak
memperkirakan, bahwa ketika keduanya bersedia mengikat perjanjian, maka
perdamaian akan hadir diantara keduanya. Akan tetapi ternyata tidaklah demikian.
Bani Bakr berupaya mengobarkan permusuhan kembali. Mereka mengatur sebuah
serbuan malam terhadap Khuza’a yang mana secara rahasia dibantu oleh Kaum
Quraish, yang tidak hanya mempersenjatai mereka, namun juga mengutus
beberapa kesatria terpilih mereka, yaitu Irimah dan Safwan bin Umayyah. Dalam
penyerbuan ini, dua puluh anggota suku Khuza’a terbunuh.
Utusan dari Khuza’a kemudian berangkat menuju Madinah guna
mengabarkan kepada Rasulullah
tentang pelanggaran gencatan senjata yang
semena-mena ini. Utusan ini meminta untuk bertemu dengan perwakilan berbagai
suku dan juga kaum Muslimin serta memohon bantuan.
Abu Sufyan tidak merasa senang oleh bantuan yang diberikan oleh kaum
Quraish dalam penyerbuan ini. Ia kini tengah resah karena ia sesungguhnya tidak
pernah ingin melanggar perjanjian damai. Pemimpin kaum Quraish ini juga takut
akan pembalasan kaum Muslimin. Oleh karena itu, ia melakukan perjalanan ke
Madinah untuk menegosiasikan perjanjian baru. Setibanya di Madinah, mulanya
ia menjumpai putrinya, Umm Habiba, istri Rasulullah. Malang baginya, sang putri
memalingkan wajah dengan dingin.
Berikutnya Abu Sufyan dengan susah payah menjumpai Rasulullah dan
berbicara dengan beliau, mengajukan perjanjian baru, akan tetapi Nabi SAW tetap
diam. Tindakan beliau ini lebih menakutkan dan meresahkan bagi Abu Sufyan
daripada kalimat ancaman dan kemarahan apapun juga.
Tak tahu bagaimana harus menghadapi Rasulullah SAW, Abu Sufyan
kemudian memutuskan untuk meminta bantuan para Sahabat. Ia mengunjungi
Abu Bakar sembari mengajukan permohonan bahwa ia ingin meminta kesempatan
untuk berbicara dengan Nabi SAW guna mengajukan perjanjian baru, akan tetapi
Abu Bakar menolak.
Kemudian Abu Sufyan menemui Umar, yang mana dengan ekpresi laksana
siap berperang, menjawab, “Demi Allah, bila meskipun aku hanya memiliki
balatentara semut, tetap aku akan berperang dengan engkau!”
Abu Sufyan lalu menuju ke kediaman Ali, dan setelah berbicara dengan
Fatimah, ia menemui Ali. “Bila sang Utusan Allah telah berkehendak,” ucap Ali,
“Maka tak ada sesuatu yang dapat mengalihkan kehendaknya..”
“Kemudian apakah yang dapat engkau sarankan?” Tanya Abu Sufyan.
“Engkau adalah pimpinan Quraish, wahai Abu Sufyan! Ciptakanlah
perdamaian antar orang-orangmu.” 1
Saran ini bisa diinterpretasikan bermacam-macam, akan tetapi entah kenapa
Abu Sufyan justru merasa lebih merasa lega dibanding dengan ketika
mengunjungi sahabat Nabi lainnya. Tak tahu apalagi yang bisa dilakukannya, Abu
Sufyan kembali ke Makkah. Ia tidak mendapatkan apapun jua dari kunjungannya
ke Madinah tersebut.
Segera setelah kepergian Abu Sufyan, Rasulullah memerintahkan sebuah
operasi berskala besar. Apa yang beliau inginkan adalah mempersiapkan dan
menggerakkan pasukan dengan kecepatan yang luar biasa sembari melakukan
pengamatan mendetail dan seksama sehingga Quraish tidak akan menyadari
kedatangan kaum Muslimin sampai mereka tiba di depan pintu rumah mereka.
Sehingga kaum Quraish tak akan punya waktu untuk mengorganisir bala tentara
lainnya dengan meminta bantuan suku-suku tetangga guna menghadapi pasukan
Muslim. Ketika persiapan pasukan tengah dilaksanakan, Rasulullah baru
menyadari bahwa ada seorang wanita tengah berkuda menuju Makkah dengan
sepucuk surat guna memperingatkan warga Makkah tentang persiapan tentara
Muslim. Beliau kemudian mengirimkan Ali dan Zubair agar mengejar sang
1
Ibn Hisham: Vol.2 h.396-7
wanita. Kedua pria gagah berhasil menangkap sang wanita, menemukan pesan
tersebut, kemudian membawanya kembali ke Madinah beserta sang pembawa
pesan.
Bala tentara Muslim mulai diberangkatkan dari Madinah pada tanggal 1
Januari 630 M (8 Ramadan Hijriyah). Banyak perwakilan dari suku-suku Muslim
bergabung dengan Rasulullah di Madinah, dan bertambah lagi perwakilan sukusuku lainnya sepanjang perjalanan. Dalam hal ini, bala tentara Muslim segera
bertambah jumlahnya hingga mencapai 10,000 pejuang. Dengan kekuatan ini,
Nabi Saw tiba di Marr-uz-Zahran, 10 mil sebelah barat laut Makkah, tanpa
satupun orang Quraish yang mengetahui pergerakan ini.2 Ini merupakan
pergerakan pasukan Muslim tercepat yang pernah dilakukan.
Abbas, paman Nabi SAW, telah masuk Islam serta menerima kebenaran
Tauhid. Ketika pasukan Muslim tiba di Juhfa, mereka berjumpa dengan Abbas
dan keluarganya yang kebetulan tengah dalam perjalanan menuju Madinah. Hal
Islamnya Abbah telah membahagiakan hati Rasulullah, yang selama ini amat
dekat dan dalam hubungannya dengan Abbas.
Ketika kaum Muslimin tiba di Marr-uz-Zahran, Abbas menjadi sangat
khawatir akan nasib penduduk Makkah. Ia takut bahwa bila Muslim mengambil
alih Makkah dengan kekuatan, maka tindakan ini akan berujung pada hancurnya
kaum Quraish. Maka ia mendekat pada bagal yang ditunggangi oleh Rasulullah,
untuk meminta izin Rasulullah guna memperingatkan Quraish akan akibatnya bila
bersikap keras kepala mempertahankan diri serta ingin membujuk mereka untuk
berdamai dengan kaum Muslimin.
Saat itu, Abu Sufyan terlihat keluar Makkah untuk melakukan pengawasan
karena rasa khawatirnya akan serangan kaum Muslimin. Abbas yang tengah
menuju Makkah dalam misinya, kemudian menjumpai Abu Sufyan.
“Apakah berita yang akan engkau sampaikan, wahai Abu Fadhl?” tanya
Abu Sufyan.
2
Marr-uz-Zahran adalah sebuah lembah kecil yang sisi dataran rendahnya menjadi Wadi Fatimah
dan melintasi jalan raya Jeddah_Makkah saat ini, sekitar 20 mil dari Makkah.
“Rasulullah,” jawab Abbas, “datang dengan bala tentara berjumlah 10,000
prajurit.”
“Lalu apa yang sebaiknya kami lakukan?”
“Jika pasukan Muslim menaklukkan Makkah dengan kekerasan, maka
pastilah mereka akan memenggal kepala kalian semua. Ikutlah bersamaku
menemui Rasulullah, dan aku akan memohonkan kepadanya untuk mengampuni
nyawamu.”
Abu Sufyan kemudian naik ke atas bagal berboncengan dengan Abbas,
maka mereka berdua pun menuju ke perkemahan prajurit Muslim, tiba setelah
senja. Pada malam itu, Umar adalah pengawas dan tengah berpatroli keliling
perkemahan untuk meminta para penjaga meningkatkan kewaspadaan. Ialah yang
pertama menyaksikan kedua orang ini dan berseru: “Ah! Abu Sufyan, musuh
Allah! Segala puji bagi Allah bahwa engkau telah hadir di perkemahan kami tanpa
jaminan keamanan.”
Umar kemudian berlari ke kemah Rasulullah, dan Abbas, yang sudah
menduga tindakan Umar, mempercepat laju bagalnya. Mereka bertiga dengan
segera tiba ke kemah Rasulullah, dan kemudian timbullah perdebatan panas antara
Umar dan Abbas. Umar memohon izin untuk memenggal kepala sang musuh
Allah, sementara Abbas bersikeras bahwa ia telah menjanjikan perlindungan
terhadap Abu Sufyan, sehingga ia tidak boleh dilukai hingga kata-katanya
didengarkan. Rasulullah membubarkan mereka bertiga dan meminta mereka
bertiga kembali lagi menghadap keesokan paginya. Abbas kemudian membawa
Abu Sufyan ke tendanya, dimana Abu Sufyan menghabiskan malam tanpa bisa
memicingkan mata sedikitpun
karena bertanya-tanya akan nasib
yang
diterimanya.
Ketika pagi menjelang, Abbas serta Abu Sufyan menuju ke tenda
Rasulullah SAW, dimana beliau menyaksikan mereka tiba sembari berkata,
“Seseorang telah datang dengan tujuan untuk menjadi Muslim, tapi sesungguhnya
bukanlah Muslim dari hatinya.” Ketika mereka berdua tiba di tenda tersebut, Nabi
SAW bertanya, “Wahai Abu Sufyan! Apakah engkau tahu bahwa tiada Tuhan
selain Allah?”
“Aku kini baru saja menyadarinya. Jika ada dewa lain sebagaimana apa
yang aku yakini, benar-benar ada, maka ia pasti disini untuk menyelamatkan
diriku.”
“Dan tahukah engkau bahwa aku adalah Utusan Allah?”
Ini merupakan momen terburuk bagi Abu Sufyan. Ia sangat bangga sebagai
pimpinan Quraish, salah satu yang paling terhormat di sukunya, keturunan dari
Umayyah. Ia selalu menganggap dirinya tak terbandingkan, dan dalam hal ini ia
ada benarnya. Ia secara nyata adalah penguasa Makkah – seseorang yang
dihormati dan dijunjung tinggi oleh warga Makkah. Kini ia berdiri bagaikan
hamba sahaya di hadapan seorang manusia yang pernah ingin ia bunuh serta ia
perangi selama bertahun-tahun, yang kehancurannya diharapkan olehnya hingga
ke tulang sumsum.
“Mengenai hal tersebut,” jawab Abu Sufyan, “Ada sedikit keraguan dalam
pikiranku,”
Abbas berpaling dengan murka kepada Abu Sufyan. “Celakalah engkau,
Abu Sufyan!” Ia mendesis.
“Bersaksilah atau kepalamu akan dipenggal!”
“Aku bersaksi”, ujar Abu Sufyan dengan segera, “bahwa muhammad adalah
Utusan Allah!”
Abbas kini berbisik ke telinga Rasulullah tanpa didengar oleh Abu Sufyan.
“Wahai Utusan Allah,” ia berkata pelan, “Abu Sufyan adalah seseorang yang
berharga diri tinggi. Ia memiliki martabat dan harga diri. Bersediakah engkau
untuk sedikit memberikan kehormatan atas dirinya?”3
Saat itu Rasulullah kemudian bersabda, “Siapapun yang masuk ke rumah
Abu Sufyan akan dijamin keselamatannya.”
Wajah Abu Sufyan terangkat. Ia merasa dihormati oleh Muhammad.
Rasulullah kemudian melanjutkan: “Siapapun yang mengunci pintu rumahnya
akan selamat. Siapapun yang tetap berada dalam masjid akan dijamin
keselamatannya.”
3
Ibn Hisham: Vol.2 h.402-5, Ibn Sadp. 644; Waqidi: Maghazi: h. 327-31
Abu Sufyan kemudian kembali ke Makkah dimana kemudian orang-orang
berkumpul, menunggu kabar akan nasib mereka. Abu Sufyan memberikan
pengumuman di hadapan kerumunan orang tersebut: “Wahai kaum Quraish!
Muhammad telah tiba dengan kekuatan yang tak akan mungkin kalian tandingi.
Bersaksilah atasnya dan kalian akan selamat. Siapapun yang masuk ke dalam
rumahku akan dijamin keselamatannya.” Ini menimbulkan gerutuan di kalangan
orang-orang yang hadir. “Dan berapa orangkah yang kira-kira bisa masuk ke
rumah anda?” Orang-orang bertanya dengan nada menyindir. Abu Sufyan
kemudian menambahkan, “Siapapun yang tetap tinggal di rumahnya dan
mengunci pintunya maka akan selamat. Siapapun yang tetap berada di dalam
masjid akan dijamin keselamatannya.” Pengumuman ini memuaskan kerumunan
tersebut, akan tetapi tidak menyenangkan istrinya, Hind. Ia meraung bagaikan
seekor kucing liar, menampar wajah Abu Sufyan dan menjambak janggutnya.
“Bunuh saja si tua gendut bodoh ini!” ia menjerit di tengah-tengah kerumunan. “Ia
telah berpaling dari kita!” Karena bobot tubuh Hind tidaklah ringan, hal itu
pastilah benar-benar menyakitkan bagi Abu Sufyan. Namun, ia akhirnya berhasil
melepaskan diri dan berjalan menjauh menuju ke rumahnya.
Prajurit Muslim sebenarnya berharap akan ada perlawanan ketika mereka
masuk ke Makkah. Mereka tak pernah menduga bahwa ini akan menjadi operasi
damai meskipun Rasulullah sejatinya memang berharap agar tak ada darah yang
ditumpahkan. Dengan adanya anti-Muslim garis keras seperti Ikrimah dan
Safwan, memang apapun bisa tak terduga. Karena itulah rencana Rasulullah
sebelumnya adalah menaklukkan Makkah dengan sebuah operasi militer.
Makkah terletak di Lembah Ibrahim dan dikelilingi oleh bukit-bukit
berwarna hitam, keras dan kasar yang menjulang hingga 1,000 kaki di atas dataran
lembah. Kota tersebut memiliki empat jalur utama, masing-masing melintasi
bukit-bukit tersebut. Rute ini terbentang mulai dari jalur barat laut (hampir
mendekati arah utara), barat daya, Selatan, dan timur laut. Rasulullah membagi
pasukannya menjadi empat kelompok, masing-masing menutup satu jalur.
Kelompok pasukan utama dikomandani oleh Abu Ubaidah, dimana Rasulullah
sendiri bersamanya untuk memasuki Makkah dari jalur utama, yaitu barat laut,
melewati Azakhir. Pasukan kedua dipimpin oleh Zubair, direncanakan untuk
masuk dari sisi barat daya, melewati perbukitan Kuda. Kelompok ketiga, dipimpin
oleh Ali, akan masuk dari selatan, melalui Kudai; dan yang keempat, di bawah
komando Khalid yang akan masuk dari sisi timur laut, melewati Lait dan
Khandama.
Pergerakan pasukan dari empat sisi menuju satu titik tunggal tersebut
bertujuan untuk memecah musuh ke dalam bagian-bagian kecil dan juga memaksa
mereka menyebar, sehingga mereka tidak akan bisa mengkonsentrasikan
pertempuran pada satu titik sumbu saja. Terlebih lagi, bahkan bila musuh berhasil
menahan laju salah satu kelompok pasukan, maka penyerang akan menyerbu dari
sisi lain dan kemudian akan bisa mengepung musuh yang bertahan. Taktik ini
memiliki probabilitas keberhasilan yang tinggi. Semua persiapan dilaksanakan
untuk melaksanakan taktik ini. Termasuk juga mencegah kaburnya kaum Quraish;
akan tetapi kemudian pada prakteknya, ketika kepungan sedikit mengendur,
beberapa orang berhasil melarikan diri dari Kota Makkah.
Nabi SAW menekankan bahwa tidak boleh ada pertempuran, terkecuali bila
ada perlawanan dengan menggunakan senjata oleh kaum Quraish. Beliau juga
memerintahkan agar tidak boleh ada pembunuhan bagi mereka yang terluka, tak
ada pengejaran bagi mereka yang melarikan diri, dan tak ada pembunuhan bagi
mereka yang ditangkap.
Pendudukan Makkah terjadi pada tanggal 11 Januari 630 M (20 Ramadan 8
Hijriyah). Pendudukan ini terbukti merupakan operasi yang berlangsung damai
tanpa menumpahkan darah kecuali di sektor Khalid. Ikrimah dan Safwan telah
bersatu memimpin sekelompok Quraish garis keras dan beberapa anggota suku
lain serta memutuskan untuk melawan pasukan Muslim. Mereka menjumpai
kelompok pasukan Khalid di Khandama dan ini sebenarnya merupakan hal yang
baru dan aneh bagi Khalid. Dua pimpinan musuh yang berhadapan dengannya di
medan perang tadinya adalah sahabat tersayangnya, Ikrimah dan Safwan; bahkan
Safwan adalah suami dari saudari Khalid, Faktah. Namun, Islam telah mengubah
hubungan tersebut, karena mereka yang kafir bukanlah sahabat atau saudara dari
kaum Muslimin, meskipun di masa lalu demikian.
Pasukan Quraish membuka serangan dengan busur dan anak panah,
kemudian menghunus pedang masing-masing untuk menyerbu; Inilah sebenarnya
yang diharap-harapkan oleh Khalid. Ia menyerbu ke posisi kelompok Quraish, dan
setelah pertempuran jarak dekat yang menegangkan, kaum Quraish terdesak
mundur. Dua belas prajurit Quraish terbunuh dan hanya memakan korban dua
orang dari pasukan Muslim. Ikrimah dan Safwan melarikan diri dari adu senjata
tersebut.
Ketika Rasulullah mengetahui kejadian ini serta mengetahui bahwa ada
sejumlah orang kafir terbunuh, beliau merasa kecewa atas Khalid. Beliau
mengharapkan tiadanya pertumpahan darah, dan begitu mendapati kekejaman
Khalid, beliau khawatir bahwa Khalid akan memulai pertikaian militer dengan
mereka.
Khalid
kemudian
diperintahkan
untuk
mundur
dan
diminta
bertanggungjawab atas tindakannya. Namun kemudian penjelasannya bisa
diterima oleh Nabi SAW, yang kemudian mengakui bahwa Khalid telah
melakukan tindakan yang tepat. Beliau memaklumi bahwa Khalid jelas akan
menyerang lebih ganas apabila ia diserang. Itu sudah menjadi sifatnya secara
alamiah. Akan susah untuk mengubah karakter tersebut.
Segera setelah Makkah ditaklukkan oleh prajurit Muslim, Rasulullah,
beranjak menuju Kabah dan mengitari rumah Allah tersebut sebanyak tujuh kali.
Ini merupakan momen yang agung dalam kehidupan Muhammad. Telah tujuh
tahun berlalu semenjak beliau meninggalkan Makkah sebagai pelarian dengan
Quraish mengejar-ngejar beliau, haus akan darah beliau. Muhammad kini tak lagi
adalah pelarian. Muhammad telah kembali, dan beliau telah kembali sebagai
penguasa Makkah di bawah telapak kakinya. Prajurit Quraish gemetaran tatkala
mereka menunggu di masjid, karena mereka telah sama tahu betapa kejamnya
adat pembalasan dendam di antara suku-suku Arab.
Rasulullah berbalik dan menatap kaum Quraish. Sejenak melintas sebuah
kesunyian panjang ketika mereka yang berkumpul menatap ke arah Rasulullah
SAW, bertanya-tanya akan nasib mereka nantinya. “Wahai kaum Quraish!” Seru
Rasulullah SAW. “Bagaimana semestinya aku memperlakukan engkau?”
“Perlakukanlah kami dengan baik wahai saudara kami yang terhormat serta
putra dari saudara kami yang mulia!” Kerumunan tersebut menjawab.
Rasulullah tersenyum, “Maka pergilah! Kalian semua telah aku maafkan.”4
Rasulullah kini memasuki Kabah dan menyaksikan berhala berjajar di
sepanjang dinding dengan beraneka bentuk dan ukuran. Di sekitar Kabah terdapat
360 berhala yang dipahat dengan kayu atau bebatuan, termasuk patung Ibrahim
yang menggenggam anak panah suci. Rasulullah menggenggam sebilah kayu
besar di genggaman tangannya. Beliau menghela nafas, lalu dengan pukulan keras
serta menggelegar, beliau memecahkan semua berhala tersebut hingga berkepingkeping. Ketika tugas tersebut telah dilaksanakannya, beliau merasakan laksana
sebuah beban berat telah diangkat dari bahunya. Kabah telah dibersihkan dari
dewa-dewa palsu; kini hanya Allah Yang Maha Benar satu-satunya yang akan
disembah di Rumah Allah. Nabi Saw dengan penuh kebahagiaan berseru
(menyerukan Ayat Al Quran) membahana dari atas Kabah: “Yang benar telah
datang dan yang batil telah lenyap."5
Beberapa hari setelahnya dihabiskan untuk melakukan konsolidasi serta
pengorganisasian ulang. Sebagian besar warga Makkah menerima Islam dan
bersumpah setia kepada Utusan Allah.
Sebelum masuk ke dalam Makkah, Rasulullah telah mengumumkan namanama 10 orang – terdiri atas 6 orang pria dan 4 orang wanita yang wajib dibunuh
apabila melihatnya, bahkan meskipun mereka berlindung di dalam Kabah.
Kesepuluh orang ini adalah mereka yang dalam istilah modern sekarang ini
disebut sebagai ‘penjahat perang’. Mereka adalah para murtadin atau orang yang
ikut ambil bagian baik secara langsung maupun tak langsung atas penyiksaan dan
penghianatan kepada kaum Muslimin. Di pucuk daftar tersebut tertulis nama
Ikrimah. Hind, istri dari Abu Sufyan juga salah satu orang diantaranya.
Ketika ia melarikan diri dari pertempuran melawan Khalid, Ikrimah
bersembunyi di dalam kota, dan manakala pasukan Muslim mengendurkan
kewaspadaan mereka, ia meloloskan diri dan kabur ke Yemen dengan tujuan naik
4
5
Ibn Hisham: Vol.2, h.412
Ibid. Vol.2, h.417; Quran: 17:81
kapal ke Abyssinia. Namun, istri Ikrimah, telah menjadi Muslim dan mengajukan
permohonan pengampunan atas kasus suaminya kepada Rasulullah yang
kemudian bersedia untuk mengampuni nyawanya. Wanita ini dengan segera
menuju Yemen, dimana ia menemukan suaminya dan berhasil membujuknya
untuk kembali. Setibanya di Makkah, Ikrimah langsung menghadap Rasulullah
SAW dan berkata, “Akulah salah seorang yang keliru, dan kini telah bertobat.
Ampunilah aku!”6 Rasulullah menerima permohonannya, dan Ikrimah pun
bergabung dalam persaudaraan Islam.
Safwan bin Umayyah, meskipun tidak dimasukkan dalam daftar ‘penjahat
perang’, ketakutan akan keselamatan nyawanya dan melarikan diri ke Jeddah
dengan tujuan menyeberangi Laut Merah dan mengajukan suaka ke Abyssinia.
Seorang temannya, meminta kepada Nabi SAW untuk mengampuni nyawa
Safwan serta menerima tokoh Quraish tersebut untuk kembali. Nabi SAW tidak
pernah berniat untuk membunuh Safwan dan menyatakan bahwa beliau akan
menerima kembalinya Safwan dengan tangan terbuka. Sang teman kemudian
pergi menuju Jeddah serta membawa Safwan kembali. Keturunan Umayyah ini
kemudian bersaksi dan meminta ampun kepada Nabi SAW, tapi tindakan tersebut
merupakan permintaan pribadi dan politik. Sedangkan untuk Islam, ia meminta
Nabi SAW memberikan tangguh dua bulan, agar ia dapat mengubah pikirannya
serta menerima Islam seutuhnya. Nabi SAW memberikan waktu empat bulan
kepadanya.
Diantara para penjahat perang tersebut, hanya tiga orang pria dan dua orang
wanita yang terbunuh. Sisanya diampuni, termasuk juga Hind, serta kemudian
menjadi Muslim.
Setelah menghancurkan berhala-berhala yang berada di Kabah, Rasulullah
mengirimkan pasukan ekspedisi kecil ke wilayah-wilayah di sekelilingnya dimana
berhala lain berada dalam kuil-kuil kecil lokal. Khalid dikirim ke Nakhla untuk
6
Waqidi: Maghazi, h.332
menghancurkan Uzza, yang dianggap sebagai dewi paling agung. Ia
melakukannya dengan ditemani oleh 30 pasukan berkuda.7
Nampaknya terdapat dua buah Uzza, Uzza yang asli dan palsu. Khalid
terlebih dahulu menjumpai yang palsu dan menghancurkannya, kemudian kembali
kepada Nabi SAW untuk melaporkan keberhasilan tugasnya.
“Apakah engkau melihat hal yang terasa tak biasa?” Rasulullah bertanya.
“Tidak”
“Maka
engkau
belum
menghancurkan
Uzza”,
ujar
Rasulullah.
“Berangkatlah kembali.”
Merasa marah dan gemas atas kesalahannya sendiri, Khalid sekali lagi
berkuda menuju Nakhla, dan kali ini ia menjumpai Uzza yang sesungguhnya. Para
penjaga dan pemuja kuil Uzza telah melarikan diri demi nyawa mereka, akan
tetapi sebelum meninggalkan dewi mereka, pendeta kuil tersebut menggantungkan
pedang di leher Uzza berharap bahwa sang berhala kemudian akan membela
dirinya sendiri. Ketika Khalid memasuki kuil tersebut, ia berhadapan dengan
seorang perempuan berkulit hitam telanjang dan meratap. Khalid tidak berhenti
meskipun wanita itu berupaya merayu dirinya dan melindungi berhala tersebut.
Dengan satu tebasan yang kuat, Khalid mengayun pedang untuk membunuh
wanita tersebut. Ia kemudian memecahkan berhala tersebut berkeping-keping,
kemudian kembali ke Makkah untuk melaporkan apa yang ia saksikan dan alami.
“Ya,” ujar Nabi SAW, “Itulah Uzza; dan janganlah pernah lagi ia disembah di
tanah ini.”8
“Turunkanlah lengan kalian!” perintah Khalid. “Orang-orang lain telah
masuk Islam, maka tak perlu bagi engkau untuk mengangkat senjata.”
Salah seorang dari Bani Jazima berseru kepada rekannya: “Ini adalah
Khalid, putra Al Waleed. Waspadailah ia! Setelah menurunkan senjata, maka
Terdapat Lembah Nakhla Valley, kini dikenal sebagai Wadi’ul-Yamaniya, yang mana dapat
dicapai melalui jalan utama antara Makkah dan Taif; dan disanalah terletak Nakhla, dimana Dewi
Uzza, berada di sebelah utara dari Wadi-ul-Yamaniya. Jaraknya adalah sekitar 4 atau 5 mil sebelah
selatan dari Bir-ul-Batha di zaman modern ini
8
Ibn Sad: h.657
7
tangan kalian akan terikat dan setelah tangan kalian terikat, maka akan ada kepala
yang melayang!”9
Sebenarnya, ada pertikaian lama antara klan Khalid dengan Bani Jazima.
Dalam masa pra-Islam, sebuah rombongan kereta Quraish kecil telah melakukan
perjalanan kembali dari Yemen. Penumpang kereta kuda tersebut disergap oleh
Bani Jazina yang kemudian menjarah rombongan tersebut serta membunuh dua
orang penting yang terdapat di rombongan tersebut, yaitu Auf, ayah dari AbdurRahman bin Auf, dan Fakiha, putra dari Al Mugheerah, paman dari Khalid.
Abdur-Rahman kemudian membunuh orang yang telah merampas nyawa
ayahnya, akan tetapi kematian Fakiha belum lagi terbalaskan. Kesemua ini, terjadi
selama masa Jahiliyah.
Orang-orang Bani Jazima kini mulai menentang orang yang memprovokasi
mereka agar melawan Khalid.
“Apakah engkau ingin kami terbantai disini?” Mereka bertanya.
“Semua suku telah tunduk di bawah lengannya dan telah menjadi Muslim.
Perang telah usai.”10
Setelah perdebatan yang berlangsung sesaat, seluruh suku tersebut
menurunkan senjata mereka.
Penyebab apa yang terjadi selanjutnya tidak begitu jelas. Mungkin Khalid
sesaat teringat oleh kekejaman suku tersebut pada masa Jahiliyah (Khalid baru
saja menjadi Muslim beberapa bulan sebelumnya). Di sisi lain mungkin, ada
semangat Islam yang berlebihan dalam hati Khalid dan ia menyangsikan
kebenaran Ketauhidan suku tersebut. Ketika orang-orang dari suku tersebut
menjatuhkan senjatanya, Khalid memerintahkan pasukannya untuk mengikat
tangan mereka di belakang. Kemudian ia memerintahkan untuk memenggal
kepala seluruh tahanan tersebut. Beruntunglah hanya Bani Sulaim yang mematuhi
perintah tersebut serta membunuh tahanan perang di tangan mereka, yang mana
jumlahnya tidak diketahui. Suku lain menolak untuk mematuhi perintah Khalid.
9
Ibn Sad: h.659-60; Ibn Hisham: Vol.2 h.429
Ibid.
10
Ada protes dari Abdullah, putra Umar, dan Abu Qatadah, akan tetapi Khalid
menolak protes tersebut.
Abu Qatadah dengan segera berkuda ke Makkah dan mengabarkan kepada
Rasulullah SAW tentang apa yang dilakukan Khalid.
Rasulullah SAW terperanjat dalam kegetiran yang sangat. Beliau
mengangkat kedua tangannya ke udara dan berseru: “Wahai Allah! Sesungguhnya
aku tiada bertanggungjawab atas apa yang telah dilakukan Khalid.”11
Beliau kemudian mengirimkan Ali dengan sejumlah uang untuk
menunjukkan rasa duka cita kepada Bani Jazima dan bertujuan meminta maaf atas
darah yang telah ditumpahkan. Ali melaksanakan misi tersebut dengan penuh
kemurahan hati dan tidak kembali hingga seluruh anggota suku merasa terhibur
perasaannya.
Khalid kini dipanggil oleh Rasulullah yang menginginkan penjelasan atas
apa yang ia lakukan. Khalid menyatakan bahwa ia tidak percaya bahwa mereka
telah benar-benar Muslim, dimana ia merasa bahwa mereka telah menipunya dan
karena itulah ia meyakini bahwa ia telah membunuh mereka dalam jalan Allah.
Abdur-Rahman bin Auf hadir bersama Rasulullah. Ketika ia mendengar
penjelasan Khalid, ia berkata, “Engkau telah melakukan tindakan Jahiliyah pada
masa Islam.”
Khalid lalu memikirkan cara lain untuk membela dirinya. Ia berkata, “Akan
tetapi aku membalas dendam atas terbunuhnya ayahmu.”
“Engkau berbohong!” potong Abdur-Rahman. “Aku telah membunuh orang
yang membunuh ayahku sejak lama dan mengembalikan kehormatan keluargaku.
Engkau memerintahkan pembantaian Bani Jazima untuk membalas dendam atas
pamanmu, Fakiha.”
Ini menciptakan perdebatan yang panas diantara mereka berdua. Dan hal ini
merupakan kesalahan Khalid, karena Abdur-Rahman adalah salah seorang dari
sepuluh orang yang terberkati, dan karena itulah, memiliki posisi yang semestinya
tidak ditentang. Sebelum perdebatan tersebut tak terkontrol, Rasulullah SAW
menengahi dan berkata dengan tegas, “Jangan lagi engkau tentang pengikutku
11
Ibid.
wahai Khalid! Meskipun engkau memiliki gunung emas dan menghabiskannya di
jalan Allah, engkau tidak akan pernah mencapai status pengikutku.”12 Kalimat
Rasulullah disini mengacu pada kelompok pengikut Nabi di masa awal, dimana
Khalid juga termasuk salah seorang diantaranya.
Khalid segera memohon ampunan. Khalid kemudian dimaafkan; meskipun
demikian ia telah mendapatkan sebuah pelajaran penting, bahwa ia, sebagaimana
halnya juga mereka yang baru-baru ini masuk ke dalam Islam, tidak lagi
mendapatkan status yang sama sebagaimana pengikut Nabi di masa awal,
khususnya Sepuluh Orang yang Terberkati. Khalid akan mengingat hal ini dalam
berbagai peristiwa di masa mendatang.
12
Ibin Sad: Vol.2, h.431
Download